majalahlentera.com - April 2017 | 1
Lentera
RUANG KUDUS,
SAAT KUDUS
edisi #31 | Juni 2017
BACAKILAT IMBAUAN
KEMENTERIAN AGAMA
SISI LAIN
KEHENINGAN
2 | majalahlentera.com - April 2017
Lenteraedisi #31 | Juni 2017
Konten
Penerbit:KOMSOSKeuskupanAgungMedan|Penanggungjawab:RPHubertusLidy,
OSC | Pemimpin Redaksi : RP Hubertus Lidy, OSC | Redaktur Pelaksana : Ananta
Bangun | Langganan dan Iklan : Rina Barus (081370456696) | Keuangan: Sr. Dionisia
Marbun, SCMM | Alamat Redaksi : Catholic Center, Jalan Mataram No. 21 Medan. Tel.
(061) 88817709 | Informasi Liputan dapat dikirim ke e-mail : ­beritalentera@gmail.
com | web: www.komsoskam.com | www.majalahlentera.com
Rekening : BRI Rek. No.0336-01-068622-50-6 a.n. Hubertus Agustus Lidy & BNI
No.0307532799 a.n. Hubertus ­Agustus Lidy
Redaksi menerima tulisan dan foto, maksimal 2halaman kwarto / ketikan 1,5 spasi.
Bataspengirimantulisanadalahakhirminggu­keduasetiapbulannya.Redaksi­berhak
menyunting sebagian/ seluruh isi atau tidak memuat naskah.
4
23
8
14
12
majalahlentera.com - April 2017 | 3
catatan
Editor
Ya, ya, ya.
Kami tahu apa yang terbersit dalam
benak pembaca.“Apa! lagi dan lagi
­mengenai‘keheningan’?”
Benar. Ini adalah isu yang masih relevan
untuk didengungkan. Dan ­kontributor
Lentera, Milda Pinem, menyarikan
inspirasi tersebut dari pemikiran Kardinal
Robert Sarah. Milda mendapati pemikiran
­mengenai nilai vital‘keheningan’tersebut
dalam buku terbaru Kardinal Robert
berjudul ThePowerofSilence:Againstthe
DictatorshipofNoise (2017. Maka Redaksi
kembali menghadirkan ini kepada pembaca
Lentera. Setelah sebelumnya dikupas dalam
esai Pater Anton Lelaona SVD dan Sr. Laurentia
Girsang, SFD.
Pemred Lentera, Pater Hubertus Lidi
OSC mengupas perihal Ruang Kudus dan
Hari Kudus. Karena jatah halaman dan
panjang tulisan, maka tulisan Pater Hubert
disajikan dalam dua edisi. Pada bulan ini
merupakan sajian pertamanya.
Tulisan panjang juga bisa didapati dalam
kolom Feature.Yakni, liputan mengenai
sistem Bacakilat dalam meningkatkan
kemampuan membaca cepat dan pemaha-
man mendalam. Penasaran? Segeralah lirik
kolom Feature tersebut.
Semoga setiap tulisan dan‘pembenahan’
tiada henti ini membuahkan ilham segar
bagi pembaca Lentera.Tabik.
Shalom,
AB
4 | majalahlentera.com - April 2017
telisik
Source: Pexels.com
majalahlentera.com - April 2017 | 5
Aspek pemahaman dan
­penafsiran akan ruang kudus dan
saat kudus, menjadi ­berbeda. Hal
yang ­membedakan disini ­adalah
mumpuni. Dalam arti inilah
saatnya, ­waktunya. Konteksnya
agak sempit dan jangkauan
ke depannya terbatas. Hari
ini, saat ini menjadi ­penting.
Pertanyaannya bagaimana
nilai-nilai Ilahi itu menyentuh
dan mempengaruhi bathinnya
saat berada dalam ruang dan
saat kudus itu? Hal ini ­sangat
berkaitan dengan kualitas
kepribadiaan, ambisi pribadi, dan
kepentingan, serta motivasinya.
Pengantar: belajar dari
Pengalaman
Beberapa tahun yang lalu, waktu
masih bekerja di Papua sebagai
petugas gereja setempat. Ada
fenomena yang menarik, yang
­terjadi usai ibadat pada hari
Minggu. Selalu ada perkelahian
antar umat yang baru keluar dari
gereja dan terjadi di halaman
gereja. Realitas itu membuat
aku jengkel, marah, dan tidak
mengerti. Aku merasa tak ada
gunanya pembinaan, ­pengarahan,
dan seruan persaudaraan,
­kekeluargaan yang aku beritakan
dalam gereja pada saat ibadat.
Gagal total. Suatu kesempatan
saya bertanya kepada bapa uskup,
Ruang Kudus &
Saat Kudus (1)
oleh RP. HUBERTUS A. LIDY, OSC
6 | majalahlentera.com - April 2017
“Bagaimana ini bapa Uskup?”“Oh
itu biasa saja, hari Minggu banyak
umat kumpul. Hari lain mereka
terpencar kemana-mana. Hari
Minggu dengan alasan berdoa,
mereka berkumpul. Pada saat itu
ada yang mencari dan mengejar
kesempatan untuk ­menunjukkan
jago, kehebatannya, dan
­memperjuangkan ­kepentingannya
dan ketenarannya. Pada waktu
itukan banyak yang menonton,
apalagi frater juga ikut ­menonton.
Mereka mencari pengakuan diri,”
ungkap bapa Uskup dengan
santai.
Ada pengalaman lain. Malam hari,
bagi kami para penghuni asrama,
merupakan saat kudus, dalam arti
aktifitas terjadi harus terjadi dalam
suasana tenang, misalnya berdoa,
meditasi, bacaan rohani. Beberapa
anak asrama ­menggunakan
saat teduh untuk maksud lain:
mencuri buah-buahan di sebuah
gudang makanan asrama itu.
Maklum semua penghuni pasti
ada di kamar, sehingga aman,
ga ada lihat. Uniknya sebelum
teman-teman ini menjalankan
aktifitas masuk gudang, mencuri
buah-buahan itu, mereka ­berdoa.
“Tuhan Allah, lindungi kami biar
aktifitas mencuri kami tak ini
ditangkap oleh bapa asrama”,
inilah kira-kira isi doanya. Ternyata
sial. Saat mereka sedang berdoa
dengan khusuknya, datanglah
bapa asrama, tanpa mereka tahu,
berdiri di belakang ­komplotan
itu. Lalu dengan ­suasana
­khusuk pula mereka digiring ke
­kantor asrama itu, agar mereka
­mempertanggungjawabkan
perbuatannya.
Ruang Kudus dan Saat Kudus
Setiap agama, mempunyai tempat
dan waktu khusus untuk urusan
peribadatan atau sembahyang.
Nuansa dan seruan pada ruang
dan saat itu pada umumnya
damai, meneguhkan, dan
­mengajak pertobatan. Harapanya
“Uniknya sebelum teman-teman ini
menjalankan aktifitas masuk gudang,
mencuri buah-buahan itu, mereka
­berdoa. “
majalahlentera.com - April 2017 | 7
agar usai urusan peribadatan
itu umatnya menjadi semakin
bersaudara, dengan sesama yang
hadir, juga sesama yang di luar.
Aspek-aspek rohani, spiritual,
yang diutarakan pada saat itu,
merupakan modal agar umatnya
menjadi lebih baik. Berurusan
dengan yang ilahi, maka waktu
dan tempat demikian ­sungguh
dihormati dan ­dikuduskan.
Bahkan kadang juga menjadi
tempat untuk orang berlindung,
mencari damai, dan keselamatan
dan pertobatan. Seorang pencuri
yang lari berlindung di tempat
ibadat karena dikejar masa, secara
moral perlu dilindungi nyawanya.
Kekudusan ruang dan waktu
sebagai sarana agar setiap insan
yang berada di dalamnya men-
galami kedekatan, nikmat, dan
kebaruan bersama Dia. Aspek ini
amat mempengaruhi kualitas iman
yang beraplikasi pada hidup dan
kesaksiaan sosialnya. Kekudusan
ruang dan waktu secara simbolis
juga melambangkan kekudusan
dari yang disembah yakni Allah
yang Maha Kudus. Corong atau
suara yang keluar dari areal dan
pada waktu kudus ­mencerminkan
hakekat dari Sang Kudus. Damai,
mengajak bersaudara dan
bekerjasama demi kebaikan
manusia.
Source: Graha Annai Maria Velangkanni
8 | majalahlentera.com - April 2017
lentera khusus
Sisi Lain Keheningan, Masihkah?
(Refleksi Buku The Power of Silence)
oleh Milda Longgeita Pinem
Penulis saat ini sedang studi S3 di University of Hull, Inggris
Raya. Seseorang yang pernah bercita-cita hendak seperti Maria
Hartiningsih, wartawan senior Kompas ataupun Simone de
Beauvoir, penulis terkenal dari Perancis, tetapi akhirnya mengajar
di Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.
majalahlentera.com - April 2017 | 9
D
i perpustakaan sebuah
universitas tempat saya
biasa menghabiskan
hari-hari belakangan ini, terdapat
ruang baca di lantai dua. Sebuah
area yang melarang siapa saja
untuk berbicara (keras), tidak
boleh gaduh, bising, tidak direstui
membawa makanan, kecuali
minuman yang tersimpan di
dalam wadah yang aman. Tidak
banyak mahasiswa yang betah di
ruangan ‘soliter’ itu di hari-hari
biasa, kecuali menjelang ujian.
Hanya segelintir orang termasuk
para mahasiswa postgraduate
ataupun para peneliti bermuka
‘kusut’ yang tampak sibuk
membaca lembaran-lembaran
kertas tua, yang selalu menjadi
pengunjung setia. Tak ada
yang cukup berani melangkah
tergesa. Tiada yang punya
nyali menyapa seseorang.
Keheningan adalah keharusan.
Diam adalah kewajiban. Lain
kisah di ruang-ruang lainnya.
Rasa ‘hangat’ takkan membuat
kita merasa sendiri. Kita takkan
merasa sepi. Siapa saja boleh
tertawa. Diizinkan bergurau.
Silahkan berdiskusi. Boleh makan
(diam-diam).
Sungguh keheningan begitu
menakutkan, demikian saya
membatin. Kesunyian adalah
teror. Ia tidaklah digandrungi.
Siapakah yang bisa bertahan
bersamanya? Tanpa‘suara’, kita
akan‘tersesat’. Kita menjadi
‘bukan apa-apa’. Kita bermukim
bersama‘hantu-hantu’. Sungguh
menyeramkan. Kita‘dipaksa’
untuk menghadapi gejolak diri
sendiri. Keramaian ternyata telah
memberi jaminan keamanan
dan kenyamanan. Banyak diam
pun dipandang sebagai wujud
­kelemahan, ketidakpedulian,
bahkan lemahnya kehendak.
Celotehan banal nan dangkal
lebih diminati. Mereka berlomba
dipertontonkan entah di media
sosial, surat kabar, televisi, atau
di mana-mana. Kita ­merelakan
diri terperangkap di dalam rimba
kata-kata, gambar-gambar, dan
imaji-imaji. Kita menceburkan diri
ke dalam ­samudera kebisingan
yang tak bertepi. Suara dan kata
adalah candu.
Tapi tak demikian halnya
bagi Kardinal Robert Sarah.
“Keheningan lebih berharga dari
semua karya manusia. Karena ia
mengekspresikan Tuhan. Revolusi
sejati terlahir dari keheningan”
10 | majalahlentera.com - April 2017
(hal. 54), ungkap sang Kardinal
di dalam buku terbarunya The
Power of Silence: Against the
Dictatorship of Noise (2017). Buku
setebal 247 halaman dan ditulis di
dalam bahasa Perancis dan Inggris.
Kardinal Sarah lahir di Guinea,
Afrika dan konon ditahbiskan
menjadi uskup di usia 34 tahun.
Kardinal Sarah menawarkan sisi
lain dari keheningan yang tidaklah
seburam ruang baca di lantai dua.
Dalam temperamen abad ke-21
ketika‘emosi’kata-kata dan aliran
informasi tak sepenuhnya bisa
kita kuasai, keheningan menjadi
semacam‘penemuan’. Barangkali
ia adalah proses menemukan dan
ditemukan, hingga kita pun bersua
dengan sisi lain dari keheningan.
	 Bagi Kardinal Sarah,
berharganya sebuah kesenyapan,
keheningan, dan kesunyian tak
lain dan bukan karena Tuhan.
Hal inilah yang banyak mewar-
nai bukunya. Bisa dimengerti
karena ia adalah seorang beri-
man dan religius. Tetapi ada sisi
lain, menurut saya, yang juga
digagas olehnya yakni‘kehen-
ingan humanis’:­“keheningan
adalah kemerdekaan terbesar
manusia”(hal. 35). Bila kebanya-
kan manusia di era posmodern
lebih menikmati kegaduhan
facebook dan berita televisi
dibanding kesenyapan ruang
baca di sebuah ­perpustakaan
tua, maka ia agaknya diplomatis,
berpura-pura, dan sentimentil
karena“penerimaan diri yang sejati
hanya mungkin dan ada di dalam
keheningan”(hal. 50), ungkap sang
Kardinal. Bila seseorang punya
pilihan dan pengertian kapan
waktunya untuk berdiam, kapan
masanya untuk berkata-kata,
maka“ia adalah hadiah besar bagi
kemanusiaan”(hal. 67), karena
dunia hari-hari ini adalah budak
dari kebisingan dan ketidakpastian
maka berbahagialah manusia yang
“Keheningan lebih berharga dari
semua karya manusia. Karena ia
­mengekspresikan Tuhan. Revolusi sejati
terlahir dari keheningan “
majalahlentera.com - April 2017 | 11
mampu merevolusi dunia di dalam
keheningan.
Tapi mungkinkah revolusi dunia
terjadi di dalam keheningan?
Kardinal Sarah menempatkan
kemungkinan itu dengan ­puitis
di dalam wujud‘asketisme
­keheningan’:“Keheningan kadang
pahit, tapi manjur. Ibarat pil yang
harus ditelan si sakit. Mereka
yang menelan‘pil pahit kehen-
ingan’akan merasa sendiri dan
kesepian. Tapi percayalah bahwa
yang bertahan akan mampu
­merevolusi dunia, mengubah
hidupnya. Ia akan sembuh”(hal.
61). Bagi saya, sisi lain kehen-
ingan yang ditawarkan oleh
Kardinal Sarah tidak hendak
memberikan ­kenyamanan tapi
justru ­menggugat ­kenyamanan.
Mempersoalkan kenyamanan
semu dari kata-kata, ­keramaian,
popularitas, dan ­kegaduhan yang
menutup ­peluang manusia untuk
­menjelajahi dan menemukan
berbagai kemungkinan baru
yang hanya bisa ditemukan
ketika berdiam. Di dalam kata-
kata, manusia telah dirumuskan
dan dibakukan karena ia sangat
terbatas. Keheningan adalah
sebaliknya. Ia memang tidak
menarik, tidak‘hangat’, bahkan
tampak suram seperti suasana
ruang baca tadi, tetapi keheningan
mampu mengungkap kedalaman
manusia yang tidak bisa selalu
didefenisikan dengan kata-kata. Ia
mampu menjernihkan‘mata’kita
untuk melihat yang tidak terlihat,
termasuk Tuhan sendiri.
Kardinal Robert Sarah
Source: http://foto.ilsole24ore.com
12 | majalahlentera.com - April 2017
1. Melarutkan lemak
Teh memiliki kandungan yang
sangatlah baik sekali untuk
melarutkan lemak. Kandungan
tersebut merupakan essential
oil yang telah terdapat pada
­minuman ini yang memiliki
­manfaat dan khasiat yang berguna
untuk melarutkan lemak dan juga
melancarkan pencernaan.
2. Mengurangi risiko penyakit
jantung dan stroke
Kandungan pelifenol yang
telah ada pada minuman ini
bisa ­membantu anda dalam
menurunkan kadar kolestrol dan
juga tekanan gula darah yang
menjadi penyebab ­penyakit
­jantung dan juga stroke.
Gumpalan darah yang telah
ada pada tubuh anda nantinya
akan menjadi bentuk kolestrol
dengan jumlah besar yang bisa
­menyebabkan serangan jantung
dan juga stroke.
3. Mencegah kanker
Polifenol merupakan antioksidan
yang telah ada di dalam teh
yang memiliki manfaat untuk
melawan kanker. Tetapi perlu
Berbicara tentang manfaat dan khasiat teh tidaklah luput
karena kandungan yang telah ada di dalamnya. Kandungan
yang ada di dalam teh ini yaitu seperti kafein, bioflavonoid,
essential oil dan juga kandungan lainnya yang dipercaya
memiliki manfaat tersendiri. Lalu apa saja manfaat dan
­khasiat teh untuk kesehatan, berikut inilah informasinya.
Khasiat Teh untuk Kesehatan
kesehatan
majalahlentera.com - April 2017 | 13
diketahui bahwa manfaat ini
masih belum begitu meyakinkan
lantaran beberapa peneliti masih
­memberikan hasil positif dan juga
negatif terkait hal ini.
4. Meningkatkan kesehatan gigi
BTeh ini memiliki kandungan
polifenol yang sangatlah efektif
untuk membunuh bakteri yang
telah diakibatkan oleh plak yang
telah menempel di gigi. Plak yang
ada di gigi ini bisa membuat gigi
menjadi berlubang dan juga bisa
menyebabkan masalah lainnya
pada gusi.
5. Mencegah diabetes
Sebuah penelitian yang telah
terjadi pada tahun 2010 bahwa teh
yang berkafein memiliki khasiat
untuk membantu anda dalam
mengurangi resiko untuk terkena
penyakit diabetes atau gula darah.
6. Menghilangkan ngantuk
Kandungan kafein yang ada di
dalamnya ini sangatlah berman-
faat sekali bagi anda karena bisa
mengurangi rasa ngantuk. Jadi
anda tidak perlu heran apabila
anda sering kesulitan tidur setelah
meminumnya dengan jumlah
banyak pada saat siang hari.
7. Melawan radikal bebas
Khasiat teh lainnya telah memiliki
kandungan oxygen radical absorb-
ance capacity yang sangatlah
tinggi. Hal ini merupakan salah
satu cara yang berguna untuk
menghancurkan radikal bebas
yang bisa merusak DNA yang
ada di tubuh. Berbicara tentang
radikal bebas sendiri sangatlah
bahaya jika hanya di diamkan, oleh
sebab itu, harus dicegah sebelum
menyebabkan kanker.
8. Melindungi tulang
Sebuah penelitian telah
­membuktikan bahwa seseorang
yang mengonsumsi teh selama 10
tahun cenderung memiliki tulang
yang kuat. Para peneliti telah
berpendapat bahwa kandungan
yang ada di dalamnya seperti
phytochemical adalah zat yang
bisa membantu melindungi tulang
agar lebih kuat.
9. Meningkatkan metabolisme
tubuh
Teh hijau telah memiliki kand-
ungan polifenol katekin yang
sangatlah bermanfaat sekali untuk
mengeluarkan energi yang ada
di dalam tubuh lantaran bersifat
menghangatkan tubuh. Lemak
yang bisa cepat ter oksidasi dan
juga sensitivitas insulin bisa
membantu dalam meningkatkan
metabolisme tubuh.
Sumber: Khasiat.co |
Gambar: www.tealyra.com
14 | majalahlentera.com - April 2017
feature
Membaca. Cepat. Paham. Ingat selamanya.
Apakah terobosan teknik ini menjawab
tantangan-tantangan tersebut?
Reporter Lentera turut sebagai peserta
untuk menemukan itu semua dalam
feature ini.
BACAKILAT
majalahlentera.com - April 2017 | 15
M
ulanya saya
­mengetahui istilah
Bacakilat dari buku
“Bacakilat for Students” karya
Agus Setiawan dan Juni Anton.
Cukup lama saya memutuskan
untuk membaca buku ini, meski
beberapa kali meliriknya di rak
toko buku Gramedia. Tepatnya
pada tahun 2016, saya akhirnya
membeli dan mulai menukil
benda bersampul dominan biru
langit tersebut. Berpuluh kali
membaca buku ini (tanpa pernah
­menerapkan inti sistem Bacakilat),
saya mulai memahami secuil. Satu
yang paling mengesankan adalah
‘Menetapkan Tujuan’. Tentang
betapa kelemahan umumnya
orang Indonesia ialah tak kuat
menancapkan komitmen untuk
meraih tujuan.
Berangkat dari pemahaman
sedikit tadi, saya menumpuk rasa
penasaran untuk ­‘mendengar’
langsung dari peracik sistem
Bacakilat ini. Lewat tempo
setahun, pada April 2017, saya
menemukannya dalam lini masa
Facebook: “Seminar Bacakilat
3.0 di kota Medan”. Wah.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Seantusias banteng liar, saya
mulai ­menggandeng beberapa
rekan sejawat serta Istri saya, Eva
Susanti Barus untuk turut dalam
acara tersebut.
Satu ide kemudian terbersit dalam
benak saya, bagaimana jika
penelusuran untuk belajar sistem
Bacakilat ini dituangkan menjadi
sebuah tulisan. Meski tak sama
hebat, setidaknya saya juga bisa
belajar gairah dan gaya meliput
Malcolm Gladwell ­maupun mas
Andreas Harsono. Saya ­bersyukur
karena pionir Bacakilat, Agus
Setiawan menyambut baik
permohonan saya (padahal
disampaikan secara lisan). Malah,
Master Trainer dan juga Pimpinan
Aquarius Learning itu bermurah
hati memberi saya ‘kursi’ ikut
dalam Workshop Bacakilat 3.0,
“pikiran manusia hanya akan
penuh jika satu detik ­belajar
satu hal selama 30 juta
tahun!”
16 | majalahlentera.com - April 2017
angkatan ke-158 di Medan, pada
20 Mei 2017.
Setelah bimbang memilih sudut
pandang, saya putuskan menulis
dalam pengalaman saya sendiri.
Sungguh beresiko mengambil
­perspektif secara umum, sebab
belum tentu ‘apa yang saya
pandang berhasil pada diri saya,
berlaku juga bagi orang lain’.
Meski demikian, inspirasi positif
layak mendapat ruang di hati
setiap insan. Sebab buku yang
baik sudah pasti ‘positif’ AIDS
atawa Aku Ingin Dibaca Sekarang.
Tabik.
***
Agus Setiawan seorang murah
senyum dan senang humor. Walau
berbadan agak tambun, ­dengan
lincah dan penuh energi dia
memberi materi dalam Seminar
Bacakilat 3.0, pada (Sabtu) 6 Mei
2017 di Hotel Grand Mercure Maha
Cipta Angkasa - Medan. Gerak
­lincah itu mungkin ­disebabkan
gaya hidup vegetarian yang
dianutnya selama puluhan tahun.
“Memang benar kok. Jangan
­percaya lagi dengan slogan‘4
Sehat, 5 Sempurna’, karena itu
dicetuskan oleh Dinas Peternakan.
Bukan Dinas Kesehatan,”tutur
bapak dua anak ini, disambut
gelak tawa hadirin.
Namun, para hadirin
datang bukan untuk
mendengar gaya hidup
sehat Agus. Mereka hendak
menagih janji-janji yang
ditawarkan oleh Bacakilat.
Diantaranya:“Menguasai
Buku Apapun yang Anda
Inginkan”,“Membaca 1 detik/
halaman”, serta“Mencapai
100% Tujuan
Membaca”.
Semua itu
­diladeni
dengan
sebuah
­terobosan
­belajar
yang
­disebut
Agus sebagai Brain
Based Learning.
Agus Setiawan | Master
Trainer BacaKilat
majalahlentera.com - April 2017 | 17
# Pus Pus, Tolong Cari Informasi
Ini
Sebelum meracik sistem
Bacakilat, Agus menekuni
­berbagai seminar -- dalam dan
luar negeri -- mengenai kiat
­meningkatkan potensi diri.
Dia juga melahap berbagai
literatur tentang pengetahuan
tersebut.“Saya ingat nyaris
berinvestasi sampai Rp1 Miliar.
Dan tentu sampai berhutang
sana-sini,”katanya.“Semua
itu untuk belajar,
belajar dan
belajar.”
Dalam
penelusuran
Agus ada
satu yang
menggelitik
perhatiannya,
yakni potensi
otak ­manusia
dalam ­belajar.
Belajar, di ­konteks
ini, adalah
bagaimana proses
otak menyerap dan
mengolah setiap
informasi.“Dalam
proses ini, ada
tiga bagian yang
berperan vital: Pikiran Sadar (PS),
Hipo-kampus (HK), dan Pikiran
Bawah Sadar (PBS).”Perbandingan
kinerja antara Pikiran Bawah
Sadar vs. Pikiran Sadar adalah
10% ­berbanding 90%.“Dalam
penelitian diketahui bahwa PS
hanya bisa mengolah 5-9 informasi
per detik. Ini lah sebabnya jika
membaca secara ­konvensional,
terutama buku dengan ­informasi
yang baru bagi otak, kita
­cenderung mengantuk dan bosan.”
Bagaimana bisa?
PS sejatinya‘mengail’­informasi
dari PBS. Di saat meminta
­informasi, alat pancing ­tersebut
melewati sebuah‘gerbang’
bernama HK.“Sebagai misal,
saya tanya kepada Anda: Coba
bayangkan (Tugu) Monas. Maka
PS akan berkata kepada HK: Pus
Pus, tolong cariin info gambar
Monas. HK kemudian mencari
info gambar Monas di PBS dan
segera mengirimkannya ke PS,”
terang Agus.“Bagaimana jika saya
meminta informasi yang tidak
pernah Anda ketahui? Katakanlah
saya bilang: Coba bayangkan
buah Tutuli (nama buah ini
hanya karangan Agus). Prosesnya
tetap berlangsung sama. Hanya
saja HK menyampaikan bahwa
18 | majalahlentera.com - April 2017
informasi yang diminta tidak
ditemukan.“PBS tidak bisa
­memberikan referensi jika ia tidak
ada ­datanya. Makanya buah Tutuli
tidak ­muncul,”terang Agus.“Jadi
­seringkali kita jenuh membaca
buku karena buku tidak ada di PBS.
Di mana, setiap kali baca buku HK
tidak bisa menarik informasi dari
bawah sadar karena belum ada.
Jadi kita hanya mengandalkan
pikiran sadar kita saja.”
“Akhirnya pikiran sadar yang
hanya memproses 5-9 hal (dari
riset George A. Miller) akan
bekerja keras untuk membaca.
Dan akhirnya membaca ­menjadi
proses yang berat dan tidak
­menyenangkan. Tidak heran
­kegiatan membaca selalu kalah
dengan yang lain,”katanya.
Brain Based Learning mengubah
kiat belajar secara konvensional
yang hanya mengandalkan PS,
sebaliknya memaksimalkan
potensi PBS. Argumentasinya
adalah PBS memiliki kapasitas
dahsyat. Yaitu, bisa menampung
data sebanyak mungkin hingga
akhir hayat manusia. Prof. Sean
Adams dari Alpha Learningn
Center menyatakan bahwa pikiran
manusia hanya akan penuh jika
satu detik belajar satu hal selama
30 juta tahun!
Akan tetapi, PBS ­memiliki
satu kelemahan yang bisa juga
­menjadi kekuatan ­pemiliknya.
PBS ­cenderung mudah
­menumbuhkan pemikiran
negatif.“Mari kita analogikan
seperti kebun. Jika tidak ­dirawat,
tidak ditanami ­tanaman yang
Anda inginkan. Maka, apa yang
akan tumbuh? Tepat sekali,
rumput liar,”Agus ­menjelaskan.
“Untuk ­mengatasinya, kita
perlu ­memupuk pengetahuan,
­memperluas wawasan, dan
menanamkan pikiran positif terus-
menerus. So, hati-hati dengan
pikiran Anda!”Ini ada benarnya.
Richard Brodie, dalam buku“Virus
AkalBudi”mengatakan bahwa otak
sangat mudah menyerap meme
(virus akalbudi), terutama yang
bersifat negatif.
“Dalam penemuan ­tersebut,
kita memahami bahwa PS bukan
lah tempat menampung ­informasi,
melainkan tempat untuk ­dilewati
informasi. Dengan metode
Bacakilat, saat membaca buku
apa pun yang diinginkan, kita
­membuat PBS belajar duluan.
Yakni dengan menggunakan
priming, kemudian membuat
PS belajar. Dengan demikian,
majalahlentera.com - April 2017 | 19
preconscious processing terjadi.
Tunggu dulu, apa pula
itu ­priming dan preconscious
processing?
Ada tiga cara otak mem-
proses informasi: conscious
processing, subliminal ­processing,
dan ­preconscious processing.
“Sementara, Priming subliminal
adalah melakukan subliminal
­dengan sengaja.”
Conscious Processing
­merupakan cara kerja otak
­mengolah semua informasi secara
sadar. Yakni, hanya memproses 5-9
hal per detik. Sementara ­subliminal
processing adalah informasi
yang masuk di luar kemampuan
pikiran sadar saat memprosesnya.
“Bayangkan saat anda ­mendengar
alunan musik favorit di dalam
mobil yang menyusur ­keramaian.
Apakah semua suara sekitar,
bersamaan dengan alunan musik,
Anda dengar dengan fokus? Tidak.
Pikiran kita akan lebih khusyuk
pada musik tersebut,”terang Agus.
Priming berarti memberikan
informasi lebih dahulu ke pikiran
kita, umumnya tanpa disadari PS.
“Memberikan priming ke PBS, akan
membantu Anda saat ­memahami
buku yang dibaca,”imbuh
Agus.“Dalam Bacakilat, metode
membaca memadukan priming
dengan preconscious processing.
Yang terakhir ini, dimaknai dengan
membuat PBS belajar lebih dahulu,
dan kemudian PBS akan memiliki
referensi yang bisa diberikan PS.”
# Bacakilat dengan otak & mata
Organ tubuh lainnya yang
dipadukan dalam Bacakilat,
tentu saja adalah mata. Agus
­mengingatkan, bahwa Bacakilat
tidak diperuntukkan bagi tuna
netra.“Sebab cara belajar ini
memberdayakan organ mata
yang dapat menyerap 100 juta
bit per detik. Baik yang kita
lihat secara fokus (sel kerucut di
mata) ­maupun di luar fokus yang
umumnya ­terlihat kabur atau blur
(sel batang di mata), atau lebih
dikenal ­pandangan peripheral,”
kata Agus. Karena jumlah sel
20 | majalahlentera.com - April 2017
batang lebih banyak ­daripada
sel kerucut, maka Bacakilat
­memberdayakan potensi sel yang
pertama tersebut.
Saat praktik Bacakilat, saya
dan beberapa hadirin workshop
­merasa bingung. Bagaimana
mungkin setiap halaman yang
dipandang secara kabur itu bisa
masuk ke dalam otak? Agus
mulanya membimbing peserta
untuk melirik cover, back cover
buku yang kami bawa. Kemudian
menuntun kami membaca
Daftar Isi dan Prakata (Kata
Pengantar) dari penulisnya.“Ini
lah informasi yang perlu kita
ketahui sebelum menjawab:
Apa yang saya ­butuhkan dari
buku ini? Artinya, buku harus lah
­menjadi pelayan Anda. Bukan
Anda yang harus melayani-nya
­dengan ­membaca seluruh isi
buku ­tersebut.“Menurut. Prof.
Russel G. Stauffer isi buku yang
bermakna ­hanyalah 4-11%,”
ujar Agus ­sebelum ­melanjutkan
pada (semacam) ­ritual meditasi
untuk ­menenangkan otak. Dia
­menyebutnya‘kondisi genius’. Tak
lama, hanya sekira satu menit.
Satu hal mulai terjawab dalam
penjelasan tersebut. Yah, memang
benar. Suatu kebiasaan lazimnya
majalahlentera.com - April 2017 | 21
adalah pembaca merasa harus
membaca seluruh isi buku hingga
tuntas. Ini mengingatkan saya
pada tugas-tugas masa kuliah
dulu. Yakni, dengan mengutip
beberapa bagian penting dari
buku-buku perpustakaan yang
kami buru.
Namun, membaca ­dengan
­pandangan yang kabur ­dengan
tempo 1 halaman/ detik,
­sepertinya masih tampak absurd.
Suara gesekan kertas yang dinukil
setiap detiknya mendominasi
­suasana ruangan training di
Karibia Boutique Hotel. Kegusaran
berkelindan dan seorang ibu
bertanya:“Apakah benar informasi
dalam buku ini telah terserap ke
dalam otak saya?”Agus bertanya
dengan seulas senyuman:“Apakah
ibu menyadarinya? Jika tidak,
berarti bagus. Karena memang
PBS belajar tanpa disadari PS.”
Agus kemudian menguak
rahasia Bacakilat ini.“Otak tak bisa
mengelak dari pertanyaan. Ketika
orang lain atau diri kita membuat
pertanyaan, terjadilah kontak
antara PS, HK dan PBS. Informasi
yang Anda baca dengan potensi
sel batang mata tadi telah terserap
di PBS dan kemudian memberi
kepada HK saat PS memintanya,”
katanya.“Agar memudahkan
proses tersebut ada satu tahap
yang hendaknya Anda lakukan.
Yakni membuat pemetaan pikiran
atau populer disebut Mind Map.
Dengan membuat Mind Map, akan
terjadi preconscious processing.
Di samping itu, akar-akar seperti
cabang dahan pohon sangat
­disukai otak. Sebab seperti juga
pola saraf dalam otak kita.”
Saya coba menerapkannya di
rumah, dan mendapati beberapa
buku yang mulanya saya baca
secara konvensional dan acak
kini lebih mudah dimengerti.
Benar bahwa kunci pertama ialah
­menegaskan tujuan dari buku
yang hendak dibaca. Apakah
­dipahami sepenuhnya untuk
dijadikan bahan pengajaran? Atau
sekedar menguasai beberapa
bagian untuk menunjang bis-
nis atau karir. Itu akan menjadi
‘bahan bakar’dalam menuntaskan
setiap buku yang hendak dibaca.
Jika diandaikan pertarungan,
Bacakilat bagai senjata untuk
­mengupas setiap bagian buku
yang ­menguatkan pemahaman
dan pembelajaran.
Saya teringat, petuah seorang
pengusaha dari negeri Paman
Sam, Elon Musk, bahwa dia belajar
22 | majalahlentera.com - April 2017
dengan cepat karena fokus agar informasi tersebut mudah dipahami.
“Jangan pernah pulang membawa informasi yang tidak kau pahami,”
katanya sebagaimana dikutip Inc.com.“Gunakan buku sebagai pelayan
Anda. Untuk meningkatkan kapasitas kecerdasan Anda. Bacalah dengan
cepat, karena waktu Anda sangat terbatas. Hidup ini bukan hanya untuk
membaca buku saja,”pungkas Agus.
***
Di akhir sesi workshop, Agus mendatangi saya untuk memberi
sertifikat.“Jangan lupa mengirim challenge (tantangan) 10 Mind Map
ya, pak Bangun,”katanya mengingatkan. Saya menyambut uluran jabat
tangannya dan juga berseloroh,”Jangan lupa mengirim jawaban atas
pertanyaan wawancara dengan majalah Lentera ya, mas Agus.”
“Wah. Iya, iya. Saya akan kirimkan. Hehehehe.”
Kami berdua larut dalam gelak tawa. Sementara senja meliputi kota
Medan. Perlahan-lahan, tak secepat kilat, menuju malam.
Pustaka:
#1 Bacakilat 3.0. Agus Setiawan. Penerbit Buku Aquarius
#2 Virus AkalBudi. Richard Brodie. Kepustakaan Populer Gramedia
#3 Blink. Malcolm Gladwell. Gramedia Pustaka Utama
#4 www.inc.com/quora/elon-musks-surprising-strategy-for-thinking-about-everything.
html
ananta Bangun
Editor dan Penulis di majalah online Lentera.“Bacakilat”adalah tulisan
feature yang mengesankan baginya.“Banyak hal yang belum kita sadari
mengenai potensi otak manusia. Bacakilat menyingkapnya dengan
anggun.”
majalahlentera.com - April 2017 | 23
Br. John De Britto, BM
24 | majalahlentera.com - April 2017
Mirifica.net – KEMENTERIAN
AGAMA Republik Indonesia
dalam hal ini Ditjen Bimbingan
Masyarakat (Bimas) Agama Katolik,
Eusabius Binsasi menawarkan
beberapa solusi untuk mengatasi
persoalan berita hoaks dan isu
intoleransi.
Solusi ini ia sampaikan dalam
sebuah seminar ­memperingati
Hari Komunikasi Sosial Nasional
ke-51 di Sekolah Tinggi
Ilmu Komputer Yos Sudarso
Purwokerto, Sabtu (27/5/2017).
Berikut beberapa solusi yang
disampaikan di hadapan ratusan
peserta seminar :
1. Bersama dengan pemer-
intah, Gereja Katolik melalui
­kegiatan maupun komunikasi
iman menyiarkan dan mem-
berikan bimbingan kepada
masyarakat Katolik, agar memi-
liki ­pemahaman dan komitmen
pada tujuan utama diturunkan-
nya agama, yaitu melindungi
­martabat ­kemanusiaan serta
menjaga ­kelangsungan hidup dan
­perdamaian umat manusia.
2. Bersama pemerintah, para
penggiat/aktivis Katolik yang
memiliki konsen di bidang
­komunikasi memberikan
­pengertian sejauh mana bahaya
isu-isu liar yang berkembang
di media sosial. Sehingga umat
Katolik dapat dengan bijak
memanfaatkan kemajuan
teknologi komunikasi.
3. Turut aktif berpartisipasi
Imbauan Kementerian Agama
tentang Berita Hoaks dan Isu Intoleransi
nasional
majalahlentera.com - April 2017 | 25
dalam memerangi berita-berita
hoaks maupun isu intoleransi
yang ­berpotensi memecah belah
bangsa. Misalnya, melaporkan
pada pemerintah adanya berita-
berita hoaks dan membantu
menyampaikan kebenaran atas
berita tersebut.
4. Dirjen Bimas Katolik juga
memiliki media komunikasi
yakni website ­bimaskatolik.
kemenag.go.id dan Majalah
Bimas Katolik. Kedua media ini
­terbuka untuk umum, artinya
siapapun dapat mengakses dan
­berpartisipasi. Saluran ini juga
dapat ­dimanfaatkan untuk saling
berkomunikasi antara ­pemerintah,
gereja, dan masyarakat Katolik
dengan mengedepankan
­informasi-informasi yang akurat
dan dapat dipercaya.
5. Memanfaatkan forum-forum
dialog sebagai sarana bertukar
pikiran, urun rembuk memberikan
sumbang saran dan ­berkontribusi
bagi pembangunan serta
­perkembangan gereja dan bangsa.
RetnoWulandari
Photo link: AcehOnline.info
26 | majalahlentera.com - April 2017
majalahlentera.com - April 2017 | 27
28 | majalahlentera.com - April 2017

Lentera #31 edisi juni 2017

  • 1.
    majalahlentera.com - April2017 | 1 Lentera RUANG KUDUS, SAAT KUDUS edisi #31 | Juni 2017 BACAKILAT IMBAUAN KEMENTERIAN AGAMA SISI LAIN KEHENINGAN
  • 2.
    2 | majalahlentera.com- April 2017 Lenteraedisi #31 | Juni 2017 Konten Penerbit:KOMSOSKeuskupanAgungMedan|Penanggungjawab:RPHubertusLidy, OSC | Pemimpin Redaksi : RP Hubertus Lidy, OSC | Redaktur Pelaksana : Ananta Bangun | Langganan dan Iklan : Rina Barus (081370456696) | Keuangan: Sr. Dionisia Marbun, SCMM | Alamat Redaksi : Catholic Center, Jalan Mataram No. 21 Medan. Tel. (061) 88817709 | Informasi Liputan dapat dikirim ke e-mail : ­beritalentera@gmail. com | web: www.komsoskam.com | www.majalahlentera.com Rekening : BRI Rek. No.0336-01-068622-50-6 a.n. Hubertus Agustus Lidy & BNI No.0307532799 a.n. Hubertus ­Agustus Lidy Redaksi menerima tulisan dan foto, maksimal 2halaman kwarto / ketikan 1,5 spasi. Bataspengirimantulisanadalahakhirminggu­keduasetiapbulannya.Redaksi­berhak menyunting sebagian/ seluruh isi atau tidak memuat naskah. 4 23 8 14 12
  • 3.
    majalahlentera.com - April2017 | 3 catatan Editor Ya, ya, ya. Kami tahu apa yang terbersit dalam benak pembaca.“Apa! lagi dan lagi ­mengenai‘keheningan’?” Benar. Ini adalah isu yang masih relevan untuk didengungkan. Dan ­kontributor Lentera, Milda Pinem, menyarikan inspirasi tersebut dari pemikiran Kardinal Robert Sarah. Milda mendapati pemikiran ­mengenai nilai vital‘keheningan’tersebut dalam buku terbaru Kardinal Robert berjudul ThePowerofSilence:Againstthe DictatorshipofNoise (2017. Maka Redaksi kembali menghadirkan ini kepada pembaca Lentera. Setelah sebelumnya dikupas dalam esai Pater Anton Lelaona SVD dan Sr. Laurentia Girsang, SFD. Pemred Lentera, Pater Hubertus Lidi OSC mengupas perihal Ruang Kudus dan Hari Kudus. Karena jatah halaman dan panjang tulisan, maka tulisan Pater Hubert disajikan dalam dua edisi. Pada bulan ini merupakan sajian pertamanya. Tulisan panjang juga bisa didapati dalam kolom Feature.Yakni, liputan mengenai sistem Bacakilat dalam meningkatkan kemampuan membaca cepat dan pemaha- man mendalam. Penasaran? Segeralah lirik kolom Feature tersebut. Semoga setiap tulisan dan‘pembenahan’ tiada henti ini membuahkan ilham segar bagi pembaca Lentera.Tabik. Shalom, AB
  • 4.
    4 | majalahlentera.com- April 2017 telisik Source: Pexels.com
  • 5.
    majalahlentera.com - April2017 | 5 Aspek pemahaman dan ­penafsiran akan ruang kudus dan saat kudus, menjadi ­berbeda. Hal yang ­membedakan disini ­adalah mumpuni. Dalam arti inilah saatnya, ­waktunya. Konteksnya agak sempit dan jangkauan ke depannya terbatas. Hari ini, saat ini menjadi ­penting. Pertanyaannya bagaimana nilai-nilai Ilahi itu menyentuh dan mempengaruhi bathinnya saat berada dalam ruang dan saat kudus itu? Hal ini ­sangat berkaitan dengan kualitas kepribadiaan, ambisi pribadi, dan kepentingan, serta motivasinya. Pengantar: belajar dari Pengalaman Beberapa tahun yang lalu, waktu masih bekerja di Papua sebagai petugas gereja setempat. Ada fenomena yang menarik, yang ­terjadi usai ibadat pada hari Minggu. Selalu ada perkelahian antar umat yang baru keluar dari gereja dan terjadi di halaman gereja. Realitas itu membuat aku jengkel, marah, dan tidak mengerti. Aku merasa tak ada gunanya pembinaan, ­pengarahan, dan seruan persaudaraan, ­kekeluargaan yang aku beritakan dalam gereja pada saat ibadat. Gagal total. Suatu kesempatan saya bertanya kepada bapa uskup, Ruang Kudus & Saat Kudus (1) oleh RP. HUBERTUS A. LIDY, OSC
  • 6.
    6 | majalahlentera.com- April 2017 “Bagaimana ini bapa Uskup?”“Oh itu biasa saja, hari Minggu banyak umat kumpul. Hari lain mereka terpencar kemana-mana. Hari Minggu dengan alasan berdoa, mereka berkumpul. Pada saat itu ada yang mencari dan mengejar kesempatan untuk ­menunjukkan jago, kehebatannya, dan ­memperjuangkan ­kepentingannya dan ketenarannya. Pada waktu itukan banyak yang menonton, apalagi frater juga ikut ­menonton. Mereka mencari pengakuan diri,” ungkap bapa Uskup dengan santai. Ada pengalaman lain. Malam hari, bagi kami para penghuni asrama, merupakan saat kudus, dalam arti aktifitas terjadi harus terjadi dalam suasana tenang, misalnya berdoa, meditasi, bacaan rohani. Beberapa anak asrama ­menggunakan saat teduh untuk maksud lain: mencuri buah-buahan di sebuah gudang makanan asrama itu. Maklum semua penghuni pasti ada di kamar, sehingga aman, ga ada lihat. Uniknya sebelum teman-teman ini menjalankan aktifitas masuk gudang, mencuri buah-buahan itu, mereka ­berdoa. “Tuhan Allah, lindungi kami biar aktifitas mencuri kami tak ini ditangkap oleh bapa asrama”, inilah kira-kira isi doanya. Ternyata sial. Saat mereka sedang berdoa dengan khusuknya, datanglah bapa asrama, tanpa mereka tahu, berdiri di belakang ­komplotan itu. Lalu dengan ­suasana ­khusuk pula mereka digiring ke ­kantor asrama itu, agar mereka ­mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ruang Kudus dan Saat Kudus Setiap agama, mempunyai tempat dan waktu khusus untuk urusan peribadatan atau sembahyang. Nuansa dan seruan pada ruang dan saat itu pada umumnya damai, meneguhkan, dan ­mengajak pertobatan. Harapanya “Uniknya sebelum teman-teman ini menjalankan aktifitas masuk gudang, mencuri buah-buahan itu, mereka ­berdoa. “
  • 7.
    majalahlentera.com - April2017 | 7 agar usai urusan peribadatan itu umatnya menjadi semakin bersaudara, dengan sesama yang hadir, juga sesama yang di luar. Aspek-aspek rohani, spiritual, yang diutarakan pada saat itu, merupakan modal agar umatnya menjadi lebih baik. Berurusan dengan yang ilahi, maka waktu dan tempat demikian ­sungguh dihormati dan ­dikuduskan. Bahkan kadang juga menjadi tempat untuk orang berlindung, mencari damai, dan keselamatan dan pertobatan. Seorang pencuri yang lari berlindung di tempat ibadat karena dikejar masa, secara moral perlu dilindungi nyawanya. Kekudusan ruang dan waktu sebagai sarana agar setiap insan yang berada di dalamnya men- galami kedekatan, nikmat, dan kebaruan bersama Dia. Aspek ini amat mempengaruhi kualitas iman yang beraplikasi pada hidup dan kesaksiaan sosialnya. Kekudusan ruang dan waktu secara simbolis juga melambangkan kekudusan dari yang disembah yakni Allah yang Maha Kudus. Corong atau suara yang keluar dari areal dan pada waktu kudus ­mencerminkan hakekat dari Sang Kudus. Damai, mengajak bersaudara dan bekerjasama demi kebaikan manusia. Source: Graha Annai Maria Velangkanni
  • 8.
    8 | majalahlentera.com- April 2017 lentera khusus Sisi Lain Keheningan, Masihkah? (Refleksi Buku The Power of Silence) oleh Milda Longgeita Pinem Penulis saat ini sedang studi S3 di University of Hull, Inggris Raya. Seseorang yang pernah bercita-cita hendak seperti Maria Hartiningsih, wartawan senior Kompas ataupun Simone de Beauvoir, penulis terkenal dari Perancis, tetapi akhirnya mengajar di Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.
  • 9.
    majalahlentera.com - April2017 | 9 D i perpustakaan sebuah universitas tempat saya biasa menghabiskan hari-hari belakangan ini, terdapat ruang baca di lantai dua. Sebuah area yang melarang siapa saja untuk berbicara (keras), tidak boleh gaduh, bising, tidak direstui membawa makanan, kecuali minuman yang tersimpan di dalam wadah yang aman. Tidak banyak mahasiswa yang betah di ruangan ‘soliter’ itu di hari-hari biasa, kecuali menjelang ujian. Hanya segelintir orang termasuk para mahasiswa postgraduate ataupun para peneliti bermuka ‘kusut’ yang tampak sibuk membaca lembaran-lembaran kertas tua, yang selalu menjadi pengunjung setia. Tak ada yang cukup berani melangkah tergesa. Tiada yang punya nyali menyapa seseorang. Keheningan adalah keharusan. Diam adalah kewajiban. Lain kisah di ruang-ruang lainnya. Rasa ‘hangat’ takkan membuat kita merasa sendiri. Kita takkan merasa sepi. Siapa saja boleh tertawa. Diizinkan bergurau. Silahkan berdiskusi. Boleh makan (diam-diam). Sungguh keheningan begitu menakutkan, demikian saya membatin. Kesunyian adalah teror. Ia tidaklah digandrungi. Siapakah yang bisa bertahan bersamanya? Tanpa‘suara’, kita akan‘tersesat’. Kita menjadi ‘bukan apa-apa’. Kita bermukim bersama‘hantu-hantu’. Sungguh menyeramkan. Kita‘dipaksa’ untuk menghadapi gejolak diri sendiri. Keramaian ternyata telah memberi jaminan keamanan dan kenyamanan. Banyak diam pun dipandang sebagai wujud ­kelemahan, ketidakpedulian, bahkan lemahnya kehendak. Celotehan banal nan dangkal lebih diminati. Mereka berlomba dipertontonkan entah di media sosial, surat kabar, televisi, atau di mana-mana. Kita ­merelakan diri terperangkap di dalam rimba kata-kata, gambar-gambar, dan imaji-imaji. Kita menceburkan diri ke dalam ­samudera kebisingan yang tak bertepi. Suara dan kata adalah candu. Tapi tak demikian halnya bagi Kardinal Robert Sarah. “Keheningan lebih berharga dari semua karya manusia. Karena ia mengekspresikan Tuhan. Revolusi sejati terlahir dari keheningan”
  • 10.
    10 | majalahlentera.com- April 2017 (hal. 54), ungkap sang Kardinal di dalam buku terbarunya The Power of Silence: Against the Dictatorship of Noise (2017). Buku setebal 247 halaman dan ditulis di dalam bahasa Perancis dan Inggris. Kardinal Sarah lahir di Guinea, Afrika dan konon ditahbiskan menjadi uskup di usia 34 tahun. Kardinal Sarah menawarkan sisi lain dari keheningan yang tidaklah seburam ruang baca di lantai dua. Dalam temperamen abad ke-21 ketika‘emosi’kata-kata dan aliran informasi tak sepenuhnya bisa kita kuasai, keheningan menjadi semacam‘penemuan’. Barangkali ia adalah proses menemukan dan ditemukan, hingga kita pun bersua dengan sisi lain dari keheningan. Bagi Kardinal Sarah, berharganya sebuah kesenyapan, keheningan, dan kesunyian tak lain dan bukan karena Tuhan. Hal inilah yang banyak mewar- nai bukunya. Bisa dimengerti karena ia adalah seorang beri- man dan religius. Tetapi ada sisi lain, menurut saya, yang juga digagas olehnya yakni‘kehen- ingan humanis’:­“keheningan adalah kemerdekaan terbesar manusia”(hal. 35). Bila kebanya- kan manusia di era posmodern lebih menikmati kegaduhan facebook dan berita televisi dibanding kesenyapan ruang baca di sebuah ­perpustakaan tua, maka ia agaknya diplomatis, berpura-pura, dan sentimentil karena“penerimaan diri yang sejati hanya mungkin dan ada di dalam keheningan”(hal. 50), ungkap sang Kardinal. Bila seseorang punya pilihan dan pengertian kapan waktunya untuk berdiam, kapan masanya untuk berkata-kata, maka“ia adalah hadiah besar bagi kemanusiaan”(hal. 67), karena dunia hari-hari ini adalah budak dari kebisingan dan ketidakpastian maka berbahagialah manusia yang “Keheningan lebih berharga dari semua karya manusia. Karena ia ­mengekspresikan Tuhan. Revolusi sejati terlahir dari keheningan “
  • 11.
    majalahlentera.com - April2017 | 11 mampu merevolusi dunia di dalam keheningan. Tapi mungkinkah revolusi dunia terjadi di dalam keheningan? Kardinal Sarah menempatkan kemungkinan itu dengan ­puitis di dalam wujud‘asketisme ­keheningan’:“Keheningan kadang pahit, tapi manjur. Ibarat pil yang harus ditelan si sakit. Mereka yang menelan‘pil pahit kehen- ingan’akan merasa sendiri dan kesepian. Tapi percayalah bahwa yang bertahan akan mampu ­merevolusi dunia, mengubah hidupnya. Ia akan sembuh”(hal. 61). Bagi saya, sisi lain kehen- ingan yang ditawarkan oleh Kardinal Sarah tidak hendak memberikan ­kenyamanan tapi justru ­menggugat ­kenyamanan. Mempersoalkan kenyamanan semu dari kata-kata, ­keramaian, popularitas, dan ­kegaduhan yang menutup ­peluang manusia untuk ­menjelajahi dan menemukan berbagai kemungkinan baru yang hanya bisa ditemukan ketika berdiam. Di dalam kata- kata, manusia telah dirumuskan dan dibakukan karena ia sangat terbatas. Keheningan adalah sebaliknya. Ia memang tidak menarik, tidak‘hangat’, bahkan tampak suram seperti suasana ruang baca tadi, tetapi keheningan mampu mengungkap kedalaman manusia yang tidak bisa selalu didefenisikan dengan kata-kata. Ia mampu menjernihkan‘mata’kita untuk melihat yang tidak terlihat, termasuk Tuhan sendiri. Kardinal Robert Sarah Source: http://foto.ilsole24ore.com
  • 12.
    12 | majalahlentera.com- April 2017 1. Melarutkan lemak Teh memiliki kandungan yang sangatlah baik sekali untuk melarutkan lemak. Kandungan tersebut merupakan essential oil yang telah terdapat pada ­minuman ini yang memiliki ­manfaat dan khasiat yang berguna untuk melarutkan lemak dan juga melancarkan pencernaan. 2. Mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke Kandungan pelifenol yang telah ada pada minuman ini bisa ­membantu anda dalam menurunkan kadar kolestrol dan juga tekanan gula darah yang menjadi penyebab ­penyakit ­jantung dan juga stroke. Gumpalan darah yang telah ada pada tubuh anda nantinya akan menjadi bentuk kolestrol dengan jumlah besar yang bisa ­menyebabkan serangan jantung dan juga stroke. 3. Mencegah kanker Polifenol merupakan antioksidan yang telah ada di dalam teh yang memiliki manfaat untuk melawan kanker. Tetapi perlu Berbicara tentang manfaat dan khasiat teh tidaklah luput karena kandungan yang telah ada di dalamnya. Kandungan yang ada di dalam teh ini yaitu seperti kafein, bioflavonoid, essential oil dan juga kandungan lainnya yang dipercaya memiliki manfaat tersendiri. Lalu apa saja manfaat dan ­khasiat teh untuk kesehatan, berikut inilah informasinya. Khasiat Teh untuk Kesehatan kesehatan
  • 13.
    majalahlentera.com - April2017 | 13 diketahui bahwa manfaat ini masih belum begitu meyakinkan lantaran beberapa peneliti masih ­memberikan hasil positif dan juga negatif terkait hal ini. 4. Meningkatkan kesehatan gigi BTeh ini memiliki kandungan polifenol yang sangatlah efektif untuk membunuh bakteri yang telah diakibatkan oleh plak yang telah menempel di gigi. Plak yang ada di gigi ini bisa membuat gigi menjadi berlubang dan juga bisa menyebabkan masalah lainnya pada gusi. 5. Mencegah diabetes Sebuah penelitian yang telah terjadi pada tahun 2010 bahwa teh yang berkafein memiliki khasiat untuk membantu anda dalam mengurangi resiko untuk terkena penyakit diabetes atau gula darah. 6. Menghilangkan ngantuk Kandungan kafein yang ada di dalamnya ini sangatlah berman- faat sekali bagi anda karena bisa mengurangi rasa ngantuk. Jadi anda tidak perlu heran apabila anda sering kesulitan tidur setelah meminumnya dengan jumlah banyak pada saat siang hari. 7. Melawan radikal bebas Khasiat teh lainnya telah memiliki kandungan oxygen radical absorb- ance capacity yang sangatlah tinggi. Hal ini merupakan salah satu cara yang berguna untuk menghancurkan radikal bebas yang bisa merusak DNA yang ada di tubuh. Berbicara tentang radikal bebas sendiri sangatlah bahaya jika hanya di diamkan, oleh sebab itu, harus dicegah sebelum menyebabkan kanker. 8. Melindungi tulang Sebuah penelitian telah ­membuktikan bahwa seseorang yang mengonsumsi teh selama 10 tahun cenderung memiliki tulang yang kuat. Para peneliti telah berpendapat bahwa kandungan yang ada di dalamnya seperti phytochemical adalah zat yang bisa membantu melindungi tulang agar lebih kuat. 9. Meningkatkan metabolisme tubuh Teh hijau telah memiliki kand- ungan polifenol katekin yang sangatlah bermanfaat sekali untuk mengeluarkan energi yang ada di dalam tubuh lantaran bersifat menghangatkan tubuh. Lemak yang bisa cepat ter oksidasi dan juga sensitivitas insulin bisa membantu dalam meningkatkan metabolisme tubuh. Sumber: Khasiat.co | Gambar: www.tealyra.com
  • 14.
    14 | majalahlentera.com- April 2017 feature Membaca. Cepat. Paham. Ingat selamanya. Apakah terobosan teknik ini menjawab tantangan-tantangan tersebut? Reporter Lentera turut sebagai peserta untuk menemukan itu semua dalam feature ini. BACAKILAT
  • 15.
    majalahlentera.com - April2017 | 15 M ulanya saya ­mengetahui istilah Bacakilat dari buku “Bacakilat for Students” karya Agus Setiawan dan Juni Anton. Cukup lama saya memutuskan untuk membaca buku ini, meski beberapa kali meliriknya di rak toko buku Gramedia. Tepatnya pada tahun 2016, saya akhirnya membeli dan mulai menukil benda bersampul dominan biru langit tersebut. Berpuluh kali membaca buku ini (tanpa pernah ­menerapkan inti sistem Bacakilat), saya mulai memahami secuil. Satu yang paling mengesankan adalah ‘Menetapkan Tujuan’. Tentang betapa kelemahan umumnya orang Indonesia ialah tak kuat menancapkan komitmen untuk meraih tujuan. Berangkat dari pemahaman sedikit tadi, saya menumpuk rasa penasaran untuk ­‘mendengar’ langsung dari peracik sistem Bacakilat ini. Lewat tempo setahun, pada April 2017, saya menemukannya dalam lini masa Facebook: “Seminar Bacakilat 3.0 di kota Medan”. Wah. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Seantusias banteng liar, saya mulai ­menggandeng beberapa rekan sejawat serta Istri saya, Eva Susanti Barus untuk turut dalam acara tersebut. Satu ide kemudian terbersit dalam benak saya, bagaimana jika penelusuran untuk belajar sistem Bacakilat ini dituangkan menjadi sebuah tulisan. Meski tak sama hebat, setidaknya saya juga bisa belajar gairah dan gaya meliput Malcolm Gladwell ­maupun mas Andreas Harsono. Saya ­bersyukur karena pionir Bacakilat, Agus Setiawan menyambut baik permohonan saya (padahal disampaikan secara lisan). Malah, Master Trainer dan juga Pimpinan Aquarius Learning itu bermurah hati memberi saya ‘kursi’ ikut dalam Workshop Bacakilat 3.0, “pikiran manusia hanya akan penuh jika satu detik ­belajar satu hal selama 30 juta tahun!”
  • 16.
    16 | majalahlentera.com- April 2017 angkatan ke-158 di Medan, pada 20 Mei 2017. Setelah bimbang memilih sudut pandang, saya putuskan menulis dalam pengalaman saya sendiri. Sungguh beresiko mengambil ­perspektif secara umum, sebab belum tentu ‘apa yang saya pandang berhasil pada diri saya, berlaku juga bagi orang lain’. Meski demikian, inspirasi positif layak mendapat ruang di hati setiap insan. Sebab buku yang baik sudah pasti ‘positif’ AIDS atawa Aku Ingin Dibaca Sekarang. Tabik. *** Agus Setiawan seorang murah senyum dan senang humor. Walau berbadan agak tambun, ­dengan lincah dan penuh energi dia memberi materi dalam Seminar Bacakilat 3.0, pada (Sabtu) 6 Mei 2017 di Hotel Grand Mercure Maha Cipta Angkasa - Medan. Gerak ­lincah itu mungkin ­disebabkan gaya hidup vegetarian yang dianutnya selama puluhan tahun. “Memang benar kok. Jangan ­percaya lagi dengan slogan‘4 Sehat, 5 Sempurna’, karena itu dicetuskan oleh Dinas Peternakan. Bukan Dinas Kesehatan,”tutur bapak dua anak ini, disambut gelak tawa hadirin. Namun, para hadirin datang bukan untuk mendengar gaya hidup sehat Agus. Mereka hendak menagih janji-janji yang ditawarkan oleh Bacakilat. Diantaranya:“Menguasai Buku Apapun yang Anda Inginkan”,“Membaca 1 detik/ halaman”, serta“Mencapai 100% Tujuan Membaca”. Semua itu ­diladeni dengan sebuah ­terobosan ­belajar yang ­disebut Agus sebagai Brain Based Learning. Agus Setiawan | Master Trainer BacaKilat
  • 17.
    majalahlentera.com - April2017 | 17 # Pus Pus, Tolong Cari Informasi Ini Sebelum meracik sistem Bacakilat, Agus menekuni ­berbagai seminar -- dalam dan luar negeri -- mengenai kiat ­meningkatkan potensi diri. Dia juga melahap berbagai literatur tentang pengetahuan tersebut.“Saya ingat nyaris berinvestasi sampai Rp1 Miliar. Dan tentu sampai berhutang sana-sini,”katanya.“Semua itu untuk belajar, belajar dan belajar.” Dalam penelusuran Agus ada satu yang menggelitik perhatiannya, yakni potensi otak ­manusia dalam ­belajar. Belajar, di ­konteks ini, adalah bagaimana proses otak menyerap dan mengolah setiap informasi.“Dalam proses ini, ada tiga bagian yang berperan vital: Pikiran Sadar (PS), Hipo-kampus (HK), dan Pikiran Bawah Sadar (PBS).”Perbandingan kinerja antara Pikiran Bawah Sadar vs. Pikiran Sadar adalah 10% ­berbanding 90%.“Dalam penelitian diketahui bahwa PS hanya bisa mengolah 5-9 informasi per detik. Ini lah sebabnya jika membaca secara ­konvensional, terutama buku dengan ­informasi yang baru bagi otak, kita ­cenderung mengantuk dan bosan.” Bagaimana bisa? PS sejatinya‘mengail’­informasi dari PBS. Di saat meminta ­informasi, alat pancing ­tersebut melewati sebuah‘gerbang’ bernama HK.“Sebagai misal, saya tanya kepada Anda: Coba bayangkan (Tugu) Monas. Maka PS akan berkata kepada HK: Pus Pus, tolong cariin info gambar Monas. HK kemudian mencari info gambar Monas di PBS dan segera mengirimkannya ke PS,” terang Agus.“Bagaimana jika saya meminta informasi yang tidak pernah Anda ketahui? Katakanlah saya bilang: Coba bayangkan buah Tutuli (nama buah ini hanya karangan Agus). Prosesnya tetap berlangsung sama. Hanya saja HK menyampaikan bahwa
  • 18.
    18 | majalahlentera.com- April 2017 informasi yang diminta tidak ditemukan.“PBS tidak bisa ­memberikan referensi jika ia tidak ada ­datanya. Makanya buah Tutuli tidak ­muncul,”terang Agus.“Jadi ­seringkali kita jenuh membaca buku karena buku tidak ada di PBS. Di mana, setiap kali baca buku HK tidak bisa menarik informasi dari bawah sadar karena belum ada. Jadi kita hanya mengandalkan pikiran sadar kita saja.” “Akhirnya pikiran sadar yang hanya memproses 5-9 hal (dari riset George A. Miller) akan bekerja keras untuk membaca. Dan akhirnya membaca ­menjadi proses yang berat dan tidak ­menyenangkan. Tidak heran ­kegiatan membaca selalu kalah dengan yang lain,”katanya. Brain Based Learning mengubah kiat belajar secara konvensional yang hanya mengandalkan PS, sebaliknya memaksimalkan potensi PBS. Argumentasinya adalah PBS memiliki kapasitas dahsyat. Yaitu, bisa menampung data sebanyak mungkin hingga akhir hayat manusia. Prof. Sean Adams dari Alpha Learningn Center menyatakan bahwa pikiran manusia hanya akan penuh jika satu detik belajar satu hal selama 30 juta tahun! Akan tetapi, PBS ­memiliki satu kelemahan yang bisa juga ­menjadi kekuatan ­pemiliknya. PBS ­cenderung mudah ­menumbuhkan pemikiran negatif.“Mari kita analogikan seperti kebun. Jika tidak ­dirawat, tidak ditanami ­tanaman yang Anda inginkan. Maka, apa yang akan tumbuh? Tepat sekali, rumput liar,”Agus ­menjelaskan. “Untuk ­mengatasinya, kita perlu ­memupuk pengetahuan, ­memperluas wawasan, dan menanamkan pikiran positif terus- menerus. So, hati-hati dengan pikiran Anda!”Ini ada benarnya. Richard Brodie, dalam buku“Virus AkalBudi”mengatakan bahwa otak sangat mudah menyerap meme (virus akalbudi), terutama yang bersifat negatif. “Dalam penemuan ­tersebut, kita memahami bahwa PS bukan lah tempat menampung ­informasi, melainkan tempat untuk ­dilewati informasi. Dengan metode Bacakilat, saat membaca buku apa pun yang diinginkan, kita ­membuat PBS belajar duluan. Yakni dengan menggunakan priming, kemudian membuat PS belajar. Dengan demikian,
  • 19.
    majalahlentera.com - April2017 | 19 preconscious processing terjadi. Tunggu dulu, apa pula itu ­priming dan preconscious processing? Ada tiga cara otak mem- proses informasi: conscious processing, subliminal ­processing, dan ­preconscious processing. “Sementara, Priming subliminal adalah melakukan subliminal ­dengan sengaja.” Conscious Processing ­merupakan cara kerja otak ­mengolah semua informasi secara sadar. Yakni, hanya memproses 5-9 hal per detik. Sementara ­subliminal processing adalah informasi yang masuk di luar kemampuan pikiran sadar saat memprosesnya. “Bayangkan saat anda ­mendengar alunan musik favorit di dalam mobil yang menyusur ­keramaian. Apakah semua suara sekitar, bersamaan dengan alunan musik, Anda dengar dengan fokus? Tidak. Pikiran kita akan lebih khusyuk pada musik tersebut,”terang Agus. Priming berarti memberikan informasi lebih dahulu ke pikiran kita, umumnya tanpa disadari PS. “Memberikan priming ke PBS, akan membantu Anda saat ­memahami buku yang dibaca,”imbuh Agus.“Dalam Bacakilat, metode membaca memadukan priming dengan preconscious processing. Yang terakhir ini, dimaknai dengan membuat PBS belajar lebih dahulu, dan kemudian PBS akan memiliki referensi yang bisa diberikan PS.” # Bacakilat dengan otak & mata Organ tubuh lainnya yang dipadukan dalam Bacakilat, tentu saja adalah mata. Agus ­mengingatkan, bahwa Bacakilat tidak diperuntukkan bagi tuna netra.“Sebab cara belajar ini memberdayakan organ mata yang dapat menyerap 100 juta bit per detik. Baik yang kita lihat secara fokus (sel kerucut di mata) ­maupun di luar fokus yang umumnya ­terlihat kabur atau blur (sel batang di mata), atau lebih dikenal ­pandangan peripheral,” kata Agus. Karena jumlah sel
  • 20.
    20 | majalahlentera.com- April 2017 batang lebih banyak ­daripada sel kerucut, maka Bacakilat ­memberdayakan potensi sel yang pertama tersebut. Saat praktik Bacakilat, saya dan beberapa hadirin workshop ­merasa bingung. Bagaimana mungkin setiap halaman yang dipandang secara kabur itu bisa masuk ke dalam otak? Agus mulanya membimbing peserta untuk melirik cover, back cover buku yang kami bawa. Kemudian menuntun kami membaca Daftar Isi dan Prakata (Kata Pengantar) dari penulisnya.“Ini lah informasi yang perlu kita ketahui sebelum menjawab: Apa yang saya ­butuhkan dari buku ini? Artinya, buku harus lah ­menjadi pelayan Anda. Bukan Anda yang harus melayani-nya ­dengan ­membaca seluruh isi buku ­tersebut.“Menurut. Prof. Russel G. Stauffer isi buku yang bermakna ­hanyalah 4-11%,” ujar Agus ­sebelum ­melanjutkan pada (semacam) ­ritual meditasi untuk ­menenangkan otak. Dia ­menyebutnya‘kondisi genius’. Tak lama, hanya sekira satu menit. Satu hal mulai terjawab dalam penjelasan tersebut. Yah, memang benar. Suatu kebiasaan lazimnya
  • 21.
    majalahlentera.com - April2017 | 21 adalah pembaca merasa harus membaca seluruh isi buku hingga tuntas. Ini mengingatkan saya pada tugas-tugas masa kuliah dulu. Yakni, dengan mengutip beberapa bagian penting dari buku-buku perpustakaan yang kami buru. Namun, membaca ­dengan ­pandangan yang kabur ­dengan tempo 1 halaman/ detik, ­sepertinya masih tampak absurd. Suara gesekan kertas yang dinukil setiap detiknya mendominasi ­suasana ruangan training di Karibia Boutique Hotel. Kegusaran berkelindan dan seorang ibu bertanya:“Apakah benar informasi dalam buku ini telah terserap ke dalam otak saya?”Agus bertanya dengan seulas senyuman:“Apakah ibu menyadarinya? Jika tidak, berarti bagus. Karena memang PBS belajar tanpa disadari PS.” Agus kemudian menguak rahasia Bacakilat ini.“Otak tak bisa mengelak dari pertanyaan. Ketika orang lain atau diri kita membuat pertanyaan, terjadilah kontak antara PS, HK dan PBS. Informasi yang Anda baca dengan potensi sel batang mata tadi telah terserap di PBS dan kemudian memberi kepada HK saat PS memintanya,” katanya.“Agar memudahkan proses tersebut ada satu tahap yang hendaknya Anda lakukan. Yakni membuat pemetaan pikiran atau populer disebut Mind Map. Dengan membuat Mind Map, akan terjadi preconscious processing. Di samping itu, akar-akar seperti cabang dahan pohon sangat ­disukai otak. Sebab seperti juga pola saraf dalam otak kita.” Saya coba menerapkannya di rumah, dan mendapati beberapa buku yang mulanya saya baca secara konvensional dan acak kini lebih mudah dimengerti. Benar bahwa kunci pertama ialah ­menegaskan tujuan dari buku yang hendak dibaca. Apakah ­dipahami sepenuhnya untuk dijadikan bahan pengajaran? Atau sekedar menguasai beberapa bagian untuk menunjang bis- nis atau karir. Itu akan menjadi ‘bahan bakar’dalam menuntaskan setiap buku yang hendak dibaca. Jika diandaikan pertarungan, Bacakilat bagai senjata untuk ­mengupas setiap bagian buku yang ­menguatkan pemahaman dan pembelajaran. Saya teringat, petuah seorang pengusaha dari negeri Paman Sam, Elon Musk, bahwa dia belajar
  • 22.
    22 | majalahlentera.com- April 2017 dengan cepat karena fokus agar informasi tersebut mudah dipahami. “Jangan pernah pulang membawa informasi yang tidak kau pahami,” katanya sebagaimana dikutip Inc.com.“Gunakan buku sebagai pelayan Anda. Untuk meningkatkan kapasitas kecerdasan Anda. Bacalah dengan cepat, karena waktu Anda sangat terbatas. Hidup ini bukan hanya untuk membaca buku saja,”pungkas Agus. *** Di akhir sesi workshop, Agus mendatangi saya untuk memberi sertifikat.“Jangan lupa mengirim challenge (tantangan) 10 Mind Map ya, pak Bangun,”katanya mengingatkan. Saya menyambut uluran jabat tangannya dan juga berseloroh,”Jangan lupa mengirim jawaban atas pertanyaan wawancara dengan majalah Lentera ya, mas Agus.” “Wah. Iya, iya. Saya akan kirimkan. Hehehehe.” Kami berdua larut dalam gelak tawa. Sementara senja meliputi kota Medan. Perlahan-lahan, tak secepat kilat, menuju malam. Pustaka: #1 Bacakilat 3.0. Agus Setiawan. Penerbit Buku Aquarius #2 Virus AkalBudi. Richard Brodie. Kepustakaan Populer Gramedia #3 Blink. Malcolm Gladwell. Gramedia Pustaka Utama #4 www.inc.com/quora/elon-musks-surprising-strategy-for-thinking-about-everything. html ananta Bangun Editor dan Penulis di majalah online Lentera.“Bacakilat”adalah tulisan feature yang mengesankan baginya.“Banyak hal yang belum kita sadari mengenai potensi otak manusia. Bacakilat menyingkapnya dengan anggun.”
  • 23.
    majalahlentera.com - April2017 | 23 Br. John De Britto, BM
  • 24.
    24 | majalahlentera.com- April 2017 Mirifica.net – KEMENTERIAN AGAMA Republik Indonesia dalam hal ini Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Agama Katolik, Eusabius Binsasi menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi persoalan berita hoaks dan isu intoleransi. Solusi ini ia sampaikan dalam sebuah seminar ­memperingati Hari Komunikasi Sosial Nasional ke-51 di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Yos Sudarso Purwokerto, Sabtu (27/5/2017). Berikut beberapa solusi yang disampaikan di hadapan ratusan peserta seminar : 1. Bersama dengan pemer- intah, Gereja Katolik melalui ­kegiatan maupun komunikasi iman menyiarkan dan mem- berikan bimbingan kepada masyarakat Katolik, agar memi- liki ­pemahaman dan komitmen pada tujuan utama diturunkan- nya agama, yaitu melindungi ­martabat ­kemanusiaan serta menjaga ­kelangsungan hidup dan ­perdamaian umat manusia. 2. Bersama pemerintah, para penggiat/aktivis Katolik yang memiliki konsen di bidang ­komunikasi memberikan ­pengertian sejauh mana bahaya isu-isu liar yang berkembang di media sosial. Sehingga umat Katolik dapat dengan bijak memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi. 3. Turut aktif berpartisipasi Imbauan Kementerian Agama tentang Berita Hoaks dan Isu Intoleransi nasional
  • 25.
    majalahlentera.com - April2017 | 25 dalam memerangi berita-berita hoaks maupun isu intoleransi yang ­berpotensi memecah belah bangsa. Misalnya, melaporkan pada pemerintah adanya berita- berita hoaks dan membantu menyampaikan kebenaran atas berita tersebut. 4. Dirjen Bimas Katolik juga memiliki media komunikasi yakni website ­bimaskatolik. kemenag.go.id dan Majalah Bimas Katolik. Kedua media ini ­terbuka untuk umum, artinya siapapun dapat mengakses dan ­berpartisipasi. Saluran ini juga dapat ­dimanfaatkan untuk saling berkomunikasi antara ­pemerintah, gereja, dan masyarakat Katolik dengan mengedepankan ­informasi-informasi yang akurat dan dapat dipercaya. 5. Memanfaatkan forum-forum dialog sebagai sarana bertukar pikiran, urun rembuk memberikan sumbang saran dan ­berkontribusi bagi pembangunan serta ­perkembangan gereja dan bangsa. RetnoWulandari Photo link: AcehOnline.info
  • 26.
  • 27.
  • 28.