LANDASAN PENDIDIKAN
Landasan Historis Landasan Sosiologis-
kultural
oleh: Muhamad Nurul Haol M.Pd
apa yang di maksud landsan histories
Rangkaian sejarah panjang mengenai
Pendidikan yang berlangsung dari
masa yang lalu dan menjadi sebuah
acuan penyelenggaraan pendidikan di
masa sekarang ini. Hal ini juga
berkaitan dengan sejarah pendidikan
di masa lampau.
Landasan Historis adalah fakta-fakta sejarah yang
dijadikan dasar bagi pengembangan pendidikan baik
menyangkut formulasi tujuan, pengembangan materi,
rancangan model pembelajaran, dan evaluasinya.
LANDASAN SOSIOKULTURAl
Sosiokultural mengatur tingkah laku seseorang
dalam kelompok,
membuat seseorang sensitif terhadap status, dan
membantunya mengetahui apa yang
diharapkan orang lain terhadap dirinya dan apa
yang akan terjadi jika tidak memenuhi
harapan-harapan mereka. Sosiokultural
membantu seseorang untuk mengetahui
seberapa jauh dirinya dapat berperan sebagai
individu dan apa tanggung jawab dirinya
terhadap kelompok
INSPIRED BY
LANDASAN KULTURAL ADALAH PENGEMBANGAN
PENDIDIKAN PANCASILA SEBAGAI CERMINAN
BUDAYA BANGSA DAN TOTALITAS YANG KOMPLEKS
MENCAKUP PENGETAHUAN, KEPERCAYAAN, SENI,
HUKUM, MORAL, ADAT, KEMAMPUAN SERTA
KEBIASAAN-KEBIASAAN YANG BERLAKU.
Reformasi & Kontra
Reformasi (1600an)
a. Realisme
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan alam dan adanya penemuan ilmiah yang baru, mengarahkan
pendidikan pada kehidupan yang bersumber pada keadaan dunia. Pengetahuan yang benar tidak hanya
diperoleh melalui penginderaan saja tetapi melalui persepsi penginderaan (Mudyahardjo, 2008:117).
Tokoh pendidikan zaman realisme yaitu Francis Bacon dan Johann Amos Comeniusm.
Prinsip-prinsip pendidikan yang dikembangkan antara lain:
 Pendidikan lebih dihargai dari pengajaran.
 Pendidikan harus menekankan aktivitas sendiri.
 Penanaman pengertian lebih penting daripada hafalan.
 Pelajaran disesuaikan dengan perkembangan anak, diawali dengan bahasa ibu.
 Pelajaran harus diberikan satu per satu, mulai dari yang mudah, bisa dibantu dengan gambar-gambar.
 Pendidikan diperoleh dari metode induktif, yaitu mulai dari menemukan fakta-fakta khusus kemudian
dianalisa sehingga menimbulkan suatu kesimpulan).
 Anak-anak belajar dari alam.
Zaman ini manusia diberikan kekuasaan berfikir dan bertindak sesuai dengan
keinginannya dan dibutuhkan latihan pengetahuan dan tindakan. Tokoh pendidikan
zaman ini adalah John Locke di abad ke 18. Teorinya yang terkenal adalah leon
Tabularasa yaitu mendidik ibaratnya seperti menulis diatas kertas putih dan dengan
kebebasan dan kekuatan akal yang dimilikinya manusia untuk membentuk
pengetahuannya sendiri. Teori yang membebaskan jiwa manusia ini bisa mengarah
kepada hal – hal yang negatif, seperti intelektualisme, individualisme, dan
materialisme.
Proses belajar menurut John Locke yaitu:
 Mengamati hal-hal yang ada di luar diri manusia.
 Mengingat apa yang telah diamati dan dihafalkan
 Berpikir, yaitu mengolah bahan-bahan yang telah diperoleh tadi, ditimbang-
timbang untuk dirinya sendiri,
Abad ke 18 terjadi reaksi protes aliran Rasionalisme dan muncul aliran yang
bertokohkan J.J Rousseaum. Aliran ini menginginkan keseimbangan antara kekuatan
rasio, hati dan alamiah (pendidikan alam), dan menentang kehidupan yang tidak
wajar di aliran Rasionalisme yaitu korupsi, gaya hidup yang dibuat – buat dan
sebagainya. Adanya aliran Naturalisme manusia didorong untuk memenuhi
kebutuhan dan menemukan jalan kebenaran dalam dirinya sendiri (Mudyaharjo,
2008: 118).Tokoh aliran Naturalisme adalah J.J Rousseau yang menyatakan ada tiga
asas mengajar, yaitu:
 Asas pertumbuhan, bahwa pengajaran harus memberi kesempatan untuk anak-
anak bertumbuh secara wajar dengan cara mempekerjakan mereka sesuai
kebutuhan-kebutuhannya.
 Asas aktivitas, bahwa dengan bekerja anak-anak menjadi aktif yang akan
memberikan pengalaman yang kemudian akan menjadi pengetahuan mereka
 Asas individualitas, maksudnya dengan cara menyiapkan pendidikan sesuai
dengan individualitas masing-masing anak, sehingga mereka berkembang
menurut alamnya sendiri.
Pendidikan merupakan suatu proses perkembangan jiwa sehingga aliran ini disebut
gerakan psikologis dalam pendidikan. Tokoh aliran ini yaitu Pestalozzi, Johan Fredrich
Herbart, Friedrich Wilhelm Frobel, dan Stanley Hall. Konsep pendidikan yang
dikembangkan menurut Pidarta dan Mudyaharjo ada 6 salah satunya yaitu:
 Pengembangan dilakukan sejalan dengan tingkat – tingkat perkembangan anak
(Pidarta, 2007: 116) melalui observasi dan eksperimen (Mudyaharjo, 2008: 114).
 Pengembangan pendidikan mengutamakan perbaikan pendidikan dasar dan
pengembangan pendidikan universal (Mudyaharjo, 2008: 114).
 Intisari konsep pendidikan yang dikemangkan oleh aliran ini adalah:
 Mengaktualisasikan semua potensi anak yang masih laten, membentuk watak susila
dan kepribadian yang harmonis, serta meningkatkan derajat sosial manusia.
 Pengembangan ini dilakukan sejalan dengan tingkat-tingkat perkembangan anak yang
melalui observasi dan eksperimen
 Pendidikan adalah pengembangan pembawaan (nature) yang disertai asuhan yang
baik (marture).
 Pengembangan pendidikan mengutamakan perbaikan pendidikan dasar dan
pengembangan pendidikan universal.
Tokohnya yaitu La Chatolais (Perancis), Fichte (Jerman), dan Jefferson (Amerika
Serikat) dan konsep yang di kembangkan yaitu:
 Menjaga, memperkuat, dan mempertinggi kedudukan Negara
 Mengutamakan pendidikan sekuler, jasmani dan kejuruan
 Materi pelajaran meliputi bahasa dan kesusastraan nasional, pendidikan
kewarganegaraan, lagu – lagu kebangsaan, sejarah dan geografi Negara, dan
pendidikan jasmani.
 Pengaruh negatif pendidikan zaman ini munculnya chaufinisme, yaitu kegilaan atau
kecintaan terhadap tanah air yang berlebih – lebihan seperti yang terjadi di Jerman,
dan menimbulkan pecahnya Perang Dunia 1 (Pidarta, 2007: 120).
Zaman ini lahir pada abad ke 19, liberalisme menyebutkan pendidikan
merupakan alat untuk memperkuat kedudukan penguasa
(pemerintahan) dipelopori oleh Adam Smith dalam bidang ekonomi.
Mengarah pada individualisme seseorang yang memiliki pengetahuan
luas maka berkuasa.
Positivisme adalah percaya adanya kebenaran dan dapat diamati oleh
panca indera sehingga kepercayaan terhadap agama semakin
melemah. Sedangkan tokoh dalam positivisme yaitu Agust Comte.
Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu bahkan
dua generasi, sehingga memungkinkan generasi muda untuk mengembangkan diri,
dan lahirlah sosialogi pendidikan. Kajian sosiologi tentang pendidikan prinsipnya
mencakup semua jalur pendidikan, baik pendidikan di sekolah maupun luar sekolah.
Adapun ruang lingkup sosiologi pendidikan yaitu:
 Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain dan hubungan
kemanusiaan di sekolah, serta pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya
 Sekolah dalam komunitas, yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan
kelompok sosial.
Hinduisme dan Budhisme datang ke Indonesia sekitar abad ke-
5. Hinduisme dan Budhisme merupakan dua agama yang
berbeda, namun di Indonesia keduanya memiliki
kecenderungan sinkretisme, yaitu keyakinan
mempersatukan figur Syiwa dengan Budha sebagai satu
sumber Yang Maha Tinggi. Motto pada lambang Negara
Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika, secara etimologis
berasal dari keyakinan tersebut (Mudyahardjo, 2008: 215).
Zaman ini memiliki tujuan yang sama dengan tujuan kedua
agama tersebut. Pendidikannya dilakukan dalam rangka
penyebaran dan pembinaan kehidupan kedua agama
tersebut.
Bentuk pendidikan yang Islam ada 3 macam, yaitu di Langgar,
Pesantren, dan Madrasah. Bentuk itulah sebenarnya awal
terbentuknya pembelajaran klasikal maupun individual di
Indonesia.
 Langgar: Merupakan tempat pendidikan agama islam
permulaan. Yang terpenting ialah membaca dan menulis huruf
arab. Pengajaran berlangsung secara secara Individual, artinya
seorang guru mengajar seorang anak.
 Pendidikan di pesantren: Tempat pengajaran Agama Islam yang
lebih lanjut dan lebih mendalam ada di pesantren. Pengetahuan
yang diberikan ada 3 bidang yaitu: agama; ilmu pengetahuan;
keterampilan.
 Pendidikan Madrasah: Pada madrasah guru-guru
diperkenankan menerima balasan jasa dalam bentuk uang
(gaji). Lembaga pendidikan ini lebih menekankan pada
pemberian ilmu pengetahuan umum disamping pelajaran
agama. Pendidikan Madrasah diatur berjenjang sejajar dengan
pendidikan dasar dan menengah seperti sekarang ini. Jenjang
ini adalah :
 Tingkat TK : Bustanul
 Tingkat SD : Ibtidaiyah
 Tingkat SMP :Tsanawiyah
 Tingkat SMA : Aliyah
Orang Belanda datang pertama kali tahun 1596 memberikan
pengaruh Kristen dan bertujuan mencari rempah – rempah di pimpin
oleh Cornelis de Houtman. Menghindari adanya persaingan,
pemerintah Belanda mendirikan kongsi dagang VOC (Vreenigds Oost
Indische Compagnie) dan persekutuan dagang Hindia Belanda tahun
1602 (Mudyahardjo, 2008:245). Pengaruh sikap VOC terhadap
pendidikan yaitu tetap membiarkan penyelenggaraan pendidikan
tradisional Nusantara, dan mendukung penyelenggaraan sekolah
untuk tujuan menyebarkan agama Kristen. VOC berpusat pada
pendidikan di wilayah Timur Indonesia (katholik berakar di Batavia
Jakarta) merupakan pusat administrasi kolonial. Selain itu bertujuan
untuk menghapuskan agama Khatolik diganti agama Kristen Protestan,
Calvinisme (Nasution, 2008: 4).
Belanda mendirikan sekolah-sekolah yang tidak hanya
mengajarkan agama saja, tetapi juga mengajarkan pengetahuan
umum. Sekolah-sekolah banyak didirikan di Pulau Ambon,
Ternate, dan Bacan (Maluku). Bahasa pengantar yang
dipergunakan adalah bahasa Melayu dan Belanda. Selain itu
mereka juga mendirikan sekolah untuk calon pegawai VOC.
Sekolah ini didirikan di Ambon dan Jakarta (rizal, 2008).
Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia digambarkan
sebagai berikut:
 Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar
bahasa Belanda untuk anak Belanda, Indonesia dan Cina.
Sekolah dengan pengantar bahasa daerah, dan sekolah
peralihan.
 Pendidikan lanjutan yang meliputi pendidikan umum dan
pendidikan kejuruan.
 Menurut Nasution (1993) ada enam prinsip politik
pendidikan kolonial Belanda di Indonesia, yaitu: Pertama,
dualisme dalam pendidikan dengan adanya sekolah anak
belanda dan untuk anak pribumi, untuk anak yang berada
dan anak yang tidak berada. Kedua, gradualisme yang
ekstrim dengan mengusahakan pendidikan rendah yang
sederhana mungkin bagi anak Indonesia. Ketiga, prinsip
konkordansi yang memaksa semua sekolah berorientasi
barat mengikuti model sekolah di Netherland dan
menghalangi penyesuaian dengan keadaan di Indonesia.
Keempat, kontrol sentral yang ketat. Kelima, tidak adanya
perencanaan pendidikan sistematis. Keenam, pedidikan
pegawai sebagai tujuan utama sekolah.
Setelah itu tokoh-tokoh pendidik mulai muncul tokoh yang berjuang di
bidang pendidikan, antara lain :
 Mohammad Syafei dengan mendirikan INS (Indonesisch
Nederlandse School) di Sumatera Barat pada tahun 1926. Sekolah ini
bertujuan membina anak-anak ke arah hidup yang merdeka melalui
pendidikan hidup mandiri. Model sekolahnya sendiri berupa
asrama.
 Ki Hajar Dewantara yang merupakan pendiri Taman Siswa pada 3
Juli 1922. Semboyan Ki Hajar Dewantara yang sangat terkenal adalah
Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri
Handayani yang artinya kurang lebih adalah yang di depan memberi
contoh, yang ditengah membangun keinginan dan bekerja sama dan
yang dibelakang memberikan daya semangat dan dorongan.
 Kyai Haji Ahmad Dahlan yaitu pendiri organisasi Islam bernama
Muhammadiyah yang berdiri pada tahun 1912. Pendidikan
Muhammadiyah oleh KHA Dahlan mempunyai tujuan yaitu lahirnya
manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai “ulama-ulama
intelek” yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu
yang luas serta sehat jasmani dan rohani.
Sisi positif dari penjajahan Jepang di bidang pendidikan. Pendidikan
dualisme dari Belanda dihapuskan dan digantikan dengan pendidikan
yang sama untuk semua orang. Penggunaan bahasa Indonesia secara
luas diinstruksikan Jepang dalam dunia pendidikan, perkantoran, dan
kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang mempermudah jalannya
bangsa Indonesia untuk merealisasikan Indonesia merdeka tanggal 17
agustus 1945 dan membuat cita-cita bangsa Indonesia menjadi
kenyataan saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan kepada
dunia.
Sistem pendidikan pada masa penjajahan Jepang dapat dijelaskan
sebagai berikut :
 Pendidikan/ Sekolah Rakyat, lama studi 6 tahun termasuk SR adalah
Sekolah Pertama yang merupakan konversi dari Sekolah Dasar 3 atau
5 tahun bagi pribumi pada masa Belanda.
Pendidikan Lanjutan, terdiri dari Shoto Chu Gakko
(Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3
tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah
Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun
Sekolah guru, ada tiga macam sekolah guru :
Sekolah guru 2 tahun = Sjootoo Sihan Gakoo
Sekolah Guru Menengah 4 tahun = Guutoo Sihan
Gakko
Sekolah Guru Tinggi 6 tahun = Kooto Sihan Gakko
Zaman Kemerdekaan (Awal) Pengaruh tersebut
menyebabkan pendidikan bukan menjadi prioritas utama,
prioritas utama Indonesia yaitu untuk mempertahankan
kemerdekaan yang sudah diraih dengan penuh perjuangan.
Adapun tujuan pendidikan masih belum dirumuskan dalam
undang-undang pendidikan. Sistem persekolahan di
Indonesia bekas jajahan Jepnag terus disempurnakan.
Tetapi pelaksanaannya masih belum tercapai sesuai dengan
apa yang diharapkan bahkan pendidikan di daerah-daerah
tidak dapat dilaksanakan. akibat adanya pengaruh
keamanan para pelajar yang terancam, dan banyak pelajar
yang ikut serta dalam mempertahankan perjuangan
kemerdekaan sehingga tidak pergi kesekolah.
Sistem pendidikan Indonesia terdiri atas pendidikan rendah, menengah, dan
tinggi. Pendidikan menekankan untuk membimbing siswanya menjadi warga
Negara yang bertanggung jawab, sesuai dengan dasar keadilan sosial, dan
sekolah harus terbuka bagi setiap penduduk Negara.
 Tujuannya membangun bangsa supaya menjadi bangsa mandiri dan
mampu menyelesaikan revolusinya, baik di dalam maupun diluar.
Pendidikan secara spiritual dapat membina bangsa yang ber-pancasila dan
mempu menyelenggarakan UUD 1945. Sosialisme Indonesia, demokrasi
terpimpin, kepribadian Indonesia, dan merealisasikan ketiga kerangka
tujuan ”Revolusi Indonesia” sesuai dengan membentuk Manipol NKRI dari
wilayah Sabang sampai Merauke. Rangka menyelenggarakan masyarakat
sosialis Indonesia yang adil dan makmur, lahir dan batin, menghapuskan
kolonialisme, mengusahakan dunia baru, tanpa penjajahan, penindasan dan
penghisapan, kearah perdamaian, persahabatan nasional yang sejati dan
abadi (Mudyahardjo, 2008: 403).
 Pendidikan Nasional zaman ‘Orde Lama’ adalah pendidikan
yang diharapkan dapat membangun bangsa agar mandiri
sehingga dapat menyelesaikan revolusinya baik di dalam
maupun di luar; pendidikan yang secara spiritual membina
bangsa yang ber-Pancasila dan melaksanakan UUD 1945,
Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Kepribadian
Indonesia, dan merealisasikan ketiga kerangka tujuan Revolusi
Indonesia sesuai dengan Manipol yaitu :
 Membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berwilayah
dari Sabang sampai Merauke
 Menyelenggarakan masyarakat Sosialis Indonesia yang adil dan
makmur lahir-batin, melenyapkan kolonialisme,
 Mengusahakan dunia baru, tanpa penjajahan, penindasan dan
penghisapan, ke arah perdamaian, persahabatan nasional yang
sejati dan abadi (Mudyahardjo, 2008: 403).
 Haluan penyelenggaraan pendidikan dikoreksi dari
penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh Orde
Lama yaitu dengan menetapkan pendidikan agama
menjadi mata pelajaran dari sekolah dasar sampai dengan
perguruan tinggi. Di samping itu, dikembangkan kebijakan
link and match di bidang pendidikan. Konsep keterkaitan
dan kepadanan ini dijadikan strategi operasional dalam
meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan
pasar (Pidarta, 2008: 137-38). Inovasi-inovasi pendidikan
juga dilakukan untuk mencapai sasaran pendidikan yang
diinginkan. Sistem pendidikannya adalah sentralisasi
dengan berpusat pada pemerintah pusat.
Namun demikian, dalam dunia pendidikan pada masa ini
masih memiliki beberapa kesenjangan. Beberapa
kesenjangan, yaitu (1) kesenjangan okupasional (antara
pendidikan dan dunia kerja), (2) kesenjangan akademik
(pengetahuan yang diperoleh di sekolah kurang bermanfaat
dalam kehidupan sehari-hari), (3) kesenjangan kultural
(pendidikan masih banyak menekankan pada pengetahuan
klasik dan humaniora yang tidak bersumber dari kemajuan
ilmu dan teknologi), dan (4) kesenjangan temporal
(kesenjangan antara wawasan yang dimiliki dengan
wawasan dunia terkini). Namun demikian keberhasilan
pembangunan yang menonjol pada zaman ini adalah (1)
kesadaran beragama dan kebangsaan meningkat dengan
pesat, (2) persatuan dan kesatuan bangsa tetap terkendali,
pertumbuhan ekonomi Indonesia juga meningkat (Pidarta,
2008: 141).
 Bidang pendidikan ada perubahan-perubahan dengan munculnya
Undang-Undang Pendidikan yang baru dan mengubah sistem
pendidikan sentralisasi menjadi desentralisasi, di samping itu
kesejahteraan tenaga kependidikan perlahan-lahan meningkat. Hal
ini memicu peningkatan kualitas profesional mereka. Instrumen-
instrumen untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan juga
diupayakan, misalnya KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), MBS
(Manajemen Berbasis Sekolah), Life Skills (Lima Ketrampilan Hidup),
TQM (Total Quality Management), KTSP (Kurikulum Satuan
Pendidikan).
 Sekarang sudah ada Undang-undang yang mengatur
tentang sistem pendidikan di Indonesia yaitu UU RI No.20
Th.2003, Bab VI. Secara undang-undang pemerintah telah
berusaha menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-
baiknya, setiap tahun dan setiap ada pergantian pimpinan
selalu berupaya untuk menyempurnakan kurikulum, pola
dan strategi pembelajaran, penyempurnaan terarah pada
pembinaan pola dan strategi pembelajaran dan
peningkatan mutu pendidikan.
1. Tujuan Pendidikan
 Pendidikan diharapkan memiliki tujuan dan dapat
mengembangkan berbagai macam potensi siswa, serta
mengembangkan kepribadian siswa secara lebih
harmonis. Tujuan pendidikan diarahkan untuk
mengembangkan aspek keagamaan, kemanusiaan, serta
kemandirian siswa. Di samping itu, tujuan pendidikan
harus diarahkan kepada hal – hal praktis dan memiliki nilai
guna tinggi sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan
sehari – hari.
2. Proses Pendidikan
 Proses pendidikan terutama proses belajar mengajar dan materi pelajaran
harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, mengembangkan
kemandirian dan kerjasama antar siswa dalam pembelajaran,
mengembangkan pembelajaran lintas disiplin ilmu, demokratisasi dalam
pendidikan, serta mengembangkan ilmu dan tehnologi.
3. Kebudayaan Nasional
 Pendidikan harus memajukan perkembangan kebudayaan Nasional.
Kebudayaan nasional merupakan puncak budaya daerah dan menjadi
identitas bangsa Indonesia, supaya tidak hilang terkena arus globalisasi
(Pidarta, 2008: 149).
Wassalamualaikum,Wr.Wb.

landasan pendidikan secara teori hsitoris

  • 1.
    LANDASAN PENDIDIKAN Landasan HistorisLandasan Sosiologis- kultural oleh: Muhamad Nurul Haol M.Pd
  • 2.
    apa yang dimaksud landsan histories Rangkaian sejarah panjang mengenai Pendidikan yang berlangsung dari masa yang lalu dan menjadi sebuah acuan penyelenggaraan pendidikan di masa sekarang ini. Hal ini juga berkaitan dengan sejarah pendidikan di masa lampau.
  • 3.
    Landasan Historis adalahfakta-fakta sejarah yang dijadikan dasar bagi pengembangan pendidikan baik menyangkut formulasi tujuan, pengembangan materi, rancangan model pembelajaran, dan evaluasinya.
  • 4.
    LANDASAN SOSIOKULTURAl Sosiokultural mengaturtingkah laku seseorang dalam kelompok, membuat seseorang sensitif terhadap status, dan membantunya mengetahui apa yang diharapkan orang lain terhadap dirinya dan apa yang akan terjadi jika tidak memenuhi harapan-harapan mereka. Sosiokultural membantu seseorang untuk mengetahui seberapa jauh dirinya dapat berperan sebagai individu dan apa tanggung jawab dirinya terhadap kelompok INSPIRED BY
  • 5.
    LANDASAN KULTURAL ADALAHPENGEMBANGAN PENDIDIKAN PANCASILA SEBAGAI CERMINAN BUDAYA BANGSA DAN TOTALITAS YANG KOMPLEKS MENCAKUP PENGETAHUAN, KEPERCAYAAN, SENI, HUKUM, MORAL, ADAT, KEMAMPUAN SERTA KEBIASAAN-KEBIASAAN YANG BERLAKU.
  • 6.
    Reformasi & Kontra Reformasi(1600an) a. Realisme Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan alam dan adanya penemuan ilmiah yang baru, mengarahkan pendidikan pada kehidupan yang bersumber pada keadaan dunia. Pengetahuan yang benar tidak hanya diperoleh melalui penginderaan saja tetapi melalui persepsi penginderaan (Mudyahardjo, 2008:117). Tokoh pendidikan zaman realisme yaitu Francis Bacon dan Johann Amos Comeniusm. Prinsip-prinsip pendidikan yang dikembangkan antara lain:  Pendidikan lebih dihargai dari pengajaran.  Pendidikan harus menekankan aktivitas sendiri.  Penanaman pengertian lebih penting daripada hafalan.  Pelajaran disesuaikan dengan perkembangan anak, diawali dengan bahasa ibu.  Pelajaran harus diberikan satu per satu, mulai dari yang mudah, bisa dibantu dengan gambar-gambar.  Pendidikan diperoleh dari metode induktif, yaitu mulai dari menemukan fakta-fakta khusus kemudian dianalisa sehingga menimbulkan suatu kesimpulan).  Anak-anak belajar dari alam.
  • 7.
    Zaman ini manusiadiberikan kekuasaan berfikir dan bertindak sesuai dengan keinginannya dan dibutuhkan latihan pengetahuan dan tindakan. Tokoh pendidikan zaman ini adalah John Locke di abad ke 18. Teorinya yang terkenal adalah leon Tabularasa yaitu mendidik ibaratnya seperti menulis diatas kertas putih dan dengan kebebasan dan kekuatan akal yang dimilikinya manusia untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Teori yang membebaskan jiwa manusia ini bisa mengarah kepada hal – hal yang negatif, seperti intelektualisme, individualisme, dan materialisme. Proses belajar menurut John Locke yaitu:  Mengamati hal-hal yang ada di luar diri manusia.  Mengingat apa yang telah diamati dan dihafalkan  Berpikir, yaitu mengolah bahan-bahan yang telah diperoleh tadi, ditimbang- timbang untuk dirinya sendiri,
  • 8.
    Abad ke 18terjadi reaksi protes aliran Rasionalisme dan muncul aliran yang bertokohkan J.J Rousseaum. Aliran ini menginginkan keseimbangan antara kekuatan rasio, hati dan alamiah (pendidikan alam), dan menentang kehidupan yang tidak wajar di aliran Rasionalisme yaitu korupsi, gaya hidup yang dibuat – buat dan sebagainya. Adanya aliran Naturalisme manusia didorong untuk memenuhi kebutuhan dan menemukan jalan kebenaran dalam dirinya sendiri (Mudyaharjo, 2008: 118).Tokoh aliran Naturalisme adalah J.J Rousseau yang menyatakan ada tiga asas mengajar, yaitu:  Asas pertumbuhan, bahwa pengajaran harus memberi kesempatan untuk anak- anak bertumbuh secara wajar dengan cara mempekerjakan mereka sesuai kebutuhan-kebutuhannya.  Asas aktivitas, bahwa dengan bekerja anak-anak menjadi aktif yang akan memberikan pengalaman yang kemudian akan menjadi pengetahuan mereka  Asas individualitas, maksudnya dengan cara menyiapkan pendidikan sesuai dengan individualitas masing-masing anak, sehingga mereka berkembang menurut alamnya sendiri.
  • 9.
    Pendidikan merupakan suatuproses perkembangan jiwa sehingga aliran ini disebut gerakan psikologis dalam pendidikan. Tokoh aliran ini yaitu Pestalozzi, Johan Fredrich Herbart, Friedrich Wilhelm Frobel, dan Stanley Hall. Konsep pendidikan yang dikembangkan menurut Pidarta dan Mudyaharjo ada 6 salah satunya yaitu:  Pengembangan dilakukan sejalan dengan tingkat – tingkat perkembangan anak (Pidarta, 2007: 116) melalui observasi dan eksperimen (Mudyaharjo, 2008: 114).  Pengembangan pendidikan mengutamakan perbaikan pendidikan dasar dan pengembangan pendidikan universal (Mudyaharjo, 2008: 114).  Intisari konsep pendidikan yang dikemangkan oleh aliran ini adalah:  Mengaktualisasikan semua potensi anak yang masih laten, membentuk watak susila dan kepribadian yang harmonis, serta meningkatkan derajat sosial manusia.  Pengembangan ini dilakukan sejalan dengan tingkat-tingkat perkembangan anak yang melalui observasi dan eksperimen  Pendidikan adalah pengembangan pembawaan (nature) yang disertai asuhan yang baik (marture).  Pengembangan pendidikan mengutamakan perbaikan pendidikan dasar dan pengembangan pendidikan universal.
  • 10.
    Tokohnya yaitu LaChatolais (Perancis), Fichte (Jerman), dan Jefferson (Amerika Serikat) dan konsep yang di kembangkan yaitu:  Menjaga, memperkuat, dan mempertinggi kedudukan Negara  Mengutamakan pendidikan sekuler, jasmani dan kejuruan  Materi pelajaran meliputi bahasa dan kesusastraan nasional, pendidikan kewarganegaraan, lagu – lagu kebangsaan, sejarah dan geografi Negara, dan pendidikan jasmani.  Pengaruh negatif pendidikan zaman ini munculnya chaufinisme, yaitu kegilaan atau kecintaan terhadap tanah air yang berlebih – lebihan seperti yang terjadi di Jerman, dan menimbulkan pecahnya Perang Dunia 1 (Pidarta, 2007: 120).
  • 11.
    Zaman ini lahirpada abad ke 19, liberalisme menyebutkan pendidikan merupakan alat untuk memperkuat kedudukan penguasa (pemerintahan) dipelopori oleh Adam Smith dalam bidang ekonomi. Mengarah pada individualisme seseorang yang memiliki pengetahuan luas maka berkuasa. Positivisme adalah percaya adanya kebenaran dan dapat diamati oleh panca indera sehingga kepercayaan terhadap agama semakin melemah. Sedangkan tokoh dalam positivisme yaitu Agust Comte.
  • 12.
    Kegiatan pendidikan merupakansuatu proses interaksi antara dua individu bahkan dua generasi, sehingga memungkinkan generasi muda untuk mengembangkan diri, dan lahirlah sosialogi pendidikan. Kajian sosiologi tentang pendidikan prinsipnya mencakup semua jalur pendidikan, baik pendidikan di sekolah maupun luar sekolah. Adapun ruang lingkup sosiologi pendidikan yaitu:  Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain dan hubungan kemanusiaan di sekolah, serta pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya  Sekolah dalam komunitas, yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial.
  • 14.
    Hinduisme dan Budhismedatang ke Indonesia sekitar abad ke- 5. Hinduisme dan Budhisme merupakan dua agama yang berbeda, namun di Indonesia keduanya memiliki kecenderungan sinkretisme, yaitu keyakinan mempersatukan figur Syiwa dengan Budha sebagai satu sumber Yang Maha Tinggi. Motto pada lambang Negara Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika, secara etimologis berasal dari keyakinan tersebut (Mudyahardjo, 2008: 215). Zaman ini memiliki tujuan yang sama dengan tujuan kedua agama tersebut. Pendidikannya dilakukan dalam rangka penyebaran dan pembinaan kehidupan kedua agama tersebut.
  • 15.
    Bentuk pendidikan yangIslam ada 3 macam, yaitu di Langgar, Pesantren, dan Madrasah. Bentuk itulah sebenarnya awal terbentuknya pembelajaran klasikal maupun individual di Indonesia.  Langgar: Merupakan tempat pendidikan agama islam permulaan. Yang terpenting ialah membaca dan menulis huruf arab. Pengajaran berlangsung secara secara Individual, artinya seorang guru mengajar seorang anak.  Pendidikan di pesantren: Tempat pengajaran Agama Islam yang lebih lanjut dan lebih mendalam ada di pesantren. Pengetahuan yang diberikan ada 3 bidang yaitu: agama; ilmu pengetahuan; keterampilan.
  • 16.
     Pendidikan Madrasah:Pada madrasah guru-guru diperkenankan menerima balasan jasa dalam bentuk uang (gaji). Lembaga pendidikan ini lebih menekankan pada pemberian ilmu pengetahuan umum disamping pelajaran agama. Pendidikan Madrasah diatur berjenjang sejajar dengan pendidikan dasar dan menengah seperti sekarang ini. Jenjang ini adalah :  Tingkat TK : Bustanul  Tingkat SD : Ibtidaiyah  Tingkat SMP :Tsanawiyah  Tingkat SMA : Aliyah
  • 17.
    Orang Belanda datangpertama kali tahun 1596 memberikan pengaruh Kristen dan bertujuan mencari rempah – rempah di pimpin oleh Cornelis de Houtman. Menghindari adanya persaingan, pemerintah Belanda mendirikan kongsi dagang VOC (Vreenigds Oost Indische Compagnie) dan persekutuan dagang Hindia Belanda tahun 1602 (Mudyahardjo, 2008:245). Pengaruh sikap VOC terhadap pendidikan yaitu tetap membiarkan penyelenggaraan pendidikan tradisional Nusantara, dan mendukung penyelenggaraan sekolah untuk tujuan menyebarkan agama Kristen. VOC berpusat pada pendidikan di wilayah Timur Indonesia (katholik berakar di Batavia Jakarta) merupakan pusat administrasi kolonial. Selain itu bertujuan untuk menghapuskan agama Khatolik diganti agama Kristen Protestan, Calvinisme (Nasution, 2008: 4).
  • 18.
    Belanda mendirikan sekolah-sekolahyang tidak hanya mengajarkan agama saja, tetapi juga mengajarkan pengetahuan umum. Sekolah-sekolah banyak didirikan di Pulau Ambon, Ternate, dan Bacan (Maluku). Bahasa pengantar yang dipergunakan adalah bahasa Melayu dan Belanda. Selain itu mereka juga mendirikan sekolah untuk calon pegawai VOC. Sekolah ini didirikan di Ambon dan Jakarta (rizal, 2008). Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia digambarkan sebagai berikut:  Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar bahasa Belanda untuk anak Belanda, Indonesia dan Cina. Sekolah dengan pengantar bahasa daerah, dan sekolah peralihan.
  • 19.
     Pendidikan lanjutanyang meliputi pendidikan umum dan pendidikan kejuruan.  Menurut Nasution (1993) ada enam prinsip politik pendidikan kolonial Belanda di Indonesia, yaitu: Pertama, dualisme dalam pendidikan dengan adanya sekolah anak belanda dan untuk anak pribumi, untuk anak yang berada dan anak yang tidak berada. Kedua, gradualisme yang ekstrim dengan mengusahakan pendidikan rendah yang sederhana mungkin bagi anak Indonesia. Ketiga, prinsip konkordansi yang memaksa semua sekolah berorientasi barat mengikuti model sekolah di Netherland dan menghalangi penyesuaian dengan keadaan di Indonesia. Keempat, kontrol sentral yang ketat. Kelima, tidak adanya perencanaan pendidikan sistematis. Keenam, pedidikan pegawai sebagai tujuan utama sekolah.
  • 20.
    Setelah itu tokoh-tokohpendidik mulai muncul tokoh yang berjuang di bidang pendidikan, antara lain :  Mohammad Syafei dengan mendirikan INS (Indonesisch Nederlandse School) di Sumatera Barat pada tahun 1926. Sekolah ini bertujuan membina anak-anak ke arah hidup yang merdeka melalui pendidikan hidup mandiri. Model sekolahnya sendiri berupa asrama.  Ki Hajar Dewantara yang merupakan pendiri Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Semboyan Ki Hajar Dewantara yang sangat terkenal adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani yang artinya kurang lebih adalah yang di depan memberi contoh, yang ditengah membangun keinginan dan bekerja sama dan yang dibelakang memberikan daya semangat dan dorongan.  Kyai Haji Ahmad Dahlan yaitu pendiri organisasi Islam bernama Muhammadiyah yang berdiri pada tahun 1912. Pendidikan Muhammadiyah oleh KHA Dahlan mempunyai tujuan yaitu lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai “ulama-ulama intelek” yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas serta sehat jasmani dan rohani.
  • 21.
    Sisi positif daripenjajahan Jepang di bidang pendidikan. Pendidikan dualisme dari Belanda dihapuskan dan digantikan dengan pendidikan yang sama untuk semua orang. Penggunaan bahasa Indonesia secara luas diinstruksikan Jepang dalam dunia pendidikan, perkantoran, dan kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang mempermudah jalannya bangsa Indonesia untuk merealisasikan Indonesia merdeka tanggal 17 agustus 1945 dan membuat cita-cita bangsa Indonesia menjadi kenyataan saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan kepada dunia. Sistem pendidikan pada masa penjajahan Jepang dapat dijelaskan sebagai berikut :  Pendidikan/ Sekolah Rakyat, lama studi 6 tahun termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi dari Sekolah Dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi pada masa Belanda.
  • 22.
    Pendidikan Lanjutan, terdiridari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun Sekolah guru, ada tiga macam sekolah guru : Sekolah guru 2 tahun = Sjootoo Sihan Gakoo Sekolah Guru Menengah 4 tahun = Guutoo Sihan Gakko Sekolah Guru Tinggi 6 tahun = Kooto Sihan Gakko
  • 23.
    Zaman Kemerdekaan (Awal)Pengaruh tersebut menyebabkan pendidikan bukan menjadi prioritas utama, prioritas utama Indonesia yaitu untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih dengan penuh perjuangan. Adapun tujuan pendidikan masih belum dirumuskan dalam undang-undang pendidikan. Sistem persekolahan di Indonesia bekas jajahan Jepnag terus disempurnakan. Tetapi pelaksanaannya masih belum tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan bahkan pendidikan di daerah-daerah tidak dapat dilaksanakan. akibat adanya pengaruh keamanan para pelajar yang terancam, dan banyak pelajar yang ikut serta dalam mempertahankan perjuangan kemerdekaan sehingga tidak pergi kesekolah.
  • 24.
    Sistem pendidikan Indonesiaterdiri atas pendidikan rendah, menengah, dan tinggi. Pendidikan menekankan untuk membimbing siswanya menjadi warga Negara yang bertanggung jawab, sesuai dengan dasar keadilan sosial, dan sekolah harus terbuka bagi setiap penduduk Negara.  Tujuannya membangun bangsa supaya menjadi bangsa mandiri dan mampu menyelesaikan revolusinya, baik di dalam maupun diluar. Pendidikan secara spiritual dapat membina bangsa yang ber-pancasila dan mempu menyelenggarakan UUD 1945. Sosialisme Indonesia, demokrasi terpimpin, kepribadian Indonesia, dan merealisasikan ketiga kerangka tujuan ”Revolusi Indonesia” sesuai dengan membentuk Manipol NKRI dari wilayah Sabang sampai Merauke. Rangka menyelenggarakan masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur, lahir dan batin, menghapuskan kolonialisme, mengusahakan dunia baru, tanpa penjajahan, penindasan dan penghisapan, kearah perdamaian, persahabatan nasional yang sejati dan abadi (Mudyahardjo, 2008: 403).
  • 25.
     Pendidikan Nasionalzaman ‘Orde Lama’ adalah pendidikan yang diharapkan dapat membangun bangsa agar mandiri sehingga dapat menyelesaikan revolusinya baik di dalam maupun di luar; pendidikan yang secara spiritual membina bangsa yang ber-Pancasila dan melaksanakan UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Kepribadian Indonesia, dan merealisasikan ketiga kerangka tujuan Revolusi Indonesia sesuai dengan Manipol yaitu :  Membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berwilayah dari Sabang sampai Merauke  Menyelenggarakan masyarakat Sosialis Indonesia yang adil dan makmur lahir-batin, melenyapkan kolonialisme,  Mengusahakan dunia baru, tanpa penjajahan, penindasan dan penghisapan, ke arah perdamaian, persahabatan nasional yang sejati dan abadi (Mudyahardjo, 2008: 403).
  • 26.
     Haluan penyelenggaraanpendidikan dikoreksi dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh Orde Lama yaitu dengan menetapkan pendidikan agama menjadi mata pelajaran dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Di samping itu, dikembangkan kebijakan link and match di bidang pendidikan. Konsep keterkaitan dan kepadanan ini dijadikan strategi operasional dalam meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan pasar (Pidarta, 2008: 137-38). Inovasi-inovasi pendidikan juga dilakukan untuk mencapai sasaran pendidikan yang diinginkan. Sistem pendidikannya adalah sentralisasi dengan berpusat pada pemerintah pusat.
  • 27.
    Namun demikian, dalamdunia pendidikan pada masa ini masih memiliki beberapa kesenjangan. Beberapa kesenjangan, yaitu (1) kesenjangan okupasional (antara pendidikan dan dunia kerja), (2) kesenjangan akademik (pengetahuan yang diperoleh di sekolah kurang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari), (3) kesenjangan kultural (pendidikan masih banyak menekankan pada pengetahuan klasik dan humaniora yang tidak bersumber dari kemajuan ilmu dan teknologi), dan (4) kesenjangan temporal (kesenjangan antara wawasan yang dimiliki dengan wawasan dunia terkini). Namun demikian keberhasilan pembangunan yang menonjol pada zaman ini adalah (1) kesadaran beragama dan kebangsaan meningkat dengan pesat, (2) persatuan dan kesatuan bangsa tetap terkendali, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga meningkat (Pidarta, 2008: 141).
  • 28.
     Bidang pendidikanada perubahan-perubahan dengan munculnya Undang-Undang Pendidikan yang baru dan mengubah sistem pendidikan sentralisasi menjadi desentralisasi, di samping itu kesejahteraan tenaga kependidikan perlahan-lahan meningkat. Hal ini memicu peningkatan kualitas profesional mereka. Instrumen- instrumen untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan juga diupayakan, misalnya KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), Life Skills (Lima Ketrampilan Hidup), TQM (Total Quality Management), KTSP (Kurikulum Satuan Pendidikan).
  • 29.
     Sekarang sudahada Undang-undang yang mengatur tentang sistem pendidikan di Indonesia yaitu UU RI No.20 Th.2003, Bab VI. Secara undang-undang pemerintah telah berusaha menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik- baiknya, setiap tahun dan setiap ada pergantian pimpinan selalu berupaya untuk menyempurnakan kurikulum, pola dan strategi pembelajaran, penyempurnaan terarah pada pembinaan pola dan strategi pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan.
  • 30.
    1. Tujuan Pendidikan Pendidikan diharapkan memiliki tujuan dan dapat mengembangkan berbagai macam potensi siswa, serta mengembangkan kepribadian siswa secara lebih harmonis. Tujuan pendidikan diarahkan untuk mengembangkan aspek keagamaan, kemanusiaan, serta kemandirian siswa. Di samping itu, tujuan pendidikan harus diarahkan kepada hal – hal praktis dan memiliki nilai guna tinggi sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari.
  • 31.
    2. Proses Pendidikan Proses pendidikan terutama proses belajar mengajar dan materi pelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, mengembangkan kemandirian dan kerjasama antar siswa dalam pembelajaran, mengembangkan pembelajaran lintas disiplin ilmu, demokratisasi dalam pendidikan, serta mengembangkan ilmu dan tehnologi. 3. Kebudayaan Nasional  Pendidikan harus memajukan perkembangan kebudayaan Nasional. Kebudayaan nasional merupakan puncak budaya daerah dan menjadi identitas bangsa Indonesia, supaya tidak hilang terkena arus globalisasi (Pidarta, 2008: 149).
  • 32.