KURIKULUM SEPAK BOLA INDONESIA 
Untuk Usia Dini (U5-U12), Usia Muda (U13-U20) & Senior 
Copyright @2012 by Timo Scheunemann 
Penyusun : Timo Scheunemann 
Penulis : Timo Scheunemann 
Claudio Reyna 
DR. Javier Perez 
DR. Paul Gunadi 
Tim Revisi : Bert Pentury, Emral Abus, Indra Syafri 
Penerjemah : Gheeto TW dan Timo Scheunemann 
Lay out : Gheeto TW, Timo Scheunemann, Kasmawati 
Penyunting : Kasmawati 
Tata Letak : Kasmawati 
Desain Sampul : Gheeto TW 
Foto : Koleksi Pribadi Matias Ibo
UCAPAN TERIMA KASIH 
Pertama dan terutama Puji Syukur kepada Tuhan; sumber kekuatan dan kemampuanku. 
Beribu ucapan terima kasih saya tujukan kepada banyak pihak yang ikut andil secara 
langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan Kurikulum Sepak bola Indonesia ini. 
Bp. Djohar Arifin selaku Ketua PSSI, Bp. Bob Hippy selaku Exco Pembinaan Usia Muda PSSI 
dan Bp. Arifin Panigoro atas dukungannya. 
Tom Byer dan Claudio Reyna yang sudah menjembatani perijinan penggunaan sebagian dari 
US Soccer Curriculum. 
Bert Pentury, Emral Abus, Indra Syafri dan Wim Rijsbergen untuk masukan-masukannya. 
DR. Perez, DR. Paul Gunadi, Matias Ibo dan Heru Sugiri untuk sumbangan materinya. 
Gheeto TW dan Kasmawati Wicaksono yang peran dan bantuannya sangat saya hargai. 
Isteri saya tercinta Devi dan orang tua serta kakak saya Sven, Rainer, Ralph dan Silke atas 
dukungan morilnya selama ini. 
Asisten pelatih saya yang setia Heri serta sahabat James, Rino, Nehemia Wagiyono, dan Paul 
Richardson. 
Mentor saya Martin Hagele serta Markus Weidner, Bernd Stroeber, Horst Hrubesch, Inggo 
Weniger, Stefen Freund dan Ralf Peter dari DFB. 
Semua pelatih yang pernah melatih dan semua pemain yang turut andil dalam 
perkembangan saya sebagai pemain dan pelatih sepak bola. 
Terima kasih. 
In Loving Memory : Puji Purnawan (Mantan Punggawa Pra-Olimpiade 1992). 
Untuk Bangsaku demi berkumandangnya “Indonesia Raya” 
di pentas Piala Dunia.
Sambutan Exco Usia Muda 
Pembinaan sepakbola usia muda Indonesia tengah menjadi perhatian yang serius dan terus menerus 
ditekuni PSSI untuk mempersiapkan sebuah desain timnas masa depan Indonesia . 
Fondasi untuk membentuk timnas senior yang tangguh sudah jelas harus dimulai dengan 
mempersiapkan pemain sejak usia muda. Maka pola pembinaan pemain usia muda yang seharusnya 
menjadi tanggung jawab klub telah beralih menjadi “peluang “ dengan hadirnya Akademi Sepakbola 
Nusantara di Indonesia . 
Kehadiran Akademi Nusantara yang dibangun oleh PSSI dengan kepemimpinan pembaharuan telah 
mendapatkan porsi yang layak . Ini dibuktikan dengan adanya kompetisi usia muda dan lahirnya 
kurikulum untuk pelatihan bagi pemain usia muda . 
Visi dari kurikulum pembinaan usia muda ini juga sekaligus menjadi fondasi dasar untuk pembinaan 
pelatih dalam melatih pemain usia muda . 
Target kurikulum sepakbola ini adalah, untuk memberikan panduan bagi para pelatih. Maka 
diharapkan, akan hadir pemain berbakat dan tangguh di Indonesia di masa depan. 
Terima kasih . 
Jakarta , 1 April 2012 
Bob Hippy 
Ketua Komite Pengembangan Sepak Bola Usia Muda
Pendahuluan 
Xavi, gelandang FC Barcelona, saat ditanya soal kehebatan FC Barcelona menjawab demikian, 
“Di La Masia (akademi FC Barcelona) kami tidak ditempa untuk menang namun untuk berkembang.” 
Salah satu kelemahan yang paling mendasar dalam pembinaan “grass root” (U5-U12) dan usia muda 
(U13-U20) di Indonesia adalah fokus SSB yang salah; fokus SSB lebih ke arah menggapai kemenangan 
daripada membina pemain hingga bisa mencapai potensi maksimalnya. 
SSB sibuk menggapai prestasi sebagai klub hingga lupa bahwa prestasi sebenarnya adalah 
pembentukan pemain secara menyeluruh; teknik (bagaimana melakukan sesuatu), taktik (pengertian 
permainan atau pengertian akan mengapa melakukan sesuatu), fisik dan mental (menempa karakter 
yang positif dan kuat yang begitu penting artinya baik untuk kehidupan sang pemain secara 
keseluruhan maupun untuk perkembangannya sebagai pemain bola). 
Sudah saatnya kita bersama menyatukan tekad memberikan yang terbaik untuk Indonesia. Bukan 
untuk kita pribadi atau SSB kita masing-masing namun untuk Indonesia. Mari kita berlomba 
menelurkan pemain-pemain yang berbakat dan berkarakter demi kemajuan sepak bola Indonesia. 
Kurikulum ini adalah bagian dari langkah-langkah konkret yang dilakukan oleh Badan Usia Muda 
PSSI. Dengan adanya kurikulum ini harapan kami program latihan di semua SSB di seluruh Indonesia 
menjadi; (1) lebih berkualitas , (2) lebih “age specific” atau tepat usia, (3) lebih terarah secara baku 
atau dengan kata lain memiliki standar yang sama. 
Segala kekurangan yang ada mohon dimaaafkan. Semoga pada edisi kedua berikutnya dapat lebih 
mendekati sempurna. 
Untuk memahami dan melaksanakan pedoman ini diperlukan kesungguhan dan usaha yang 
maksimal dari anda. Dibutuhkan kemauan untuk belajar serta totalitas dalam melaksanakan profesi 
anda sebagai seorang pelatih. Entah dibayar atau bekerja secara suka rela, seorang pelatih harus 
mengerti bahwa perannya begitu penting di dalam menempa generasi penerus bangsa. Berangkat 
dari pemahaman ini diharapkan anda sebagai seorang pelatih menganggap serius peran anda dan 
karenanya berusaha untuk terus belajar, mempersiapkan latihan secara maksimal dan berinteraksi 
dengan pemain dengan penuh rasa tanggung jawab. 
Tetap semangat, jangan putus asa! Bersama kita bisa meraih keajaiban yang kita idam-idamkan 
bersama; mendengar “Indonesia Raya” berkumandang di pentas Piala Dunia! 
Semoga Tuhan memberkati usaha kita bersama. 
Salam, 
Timo Scheunemann 
Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI
Daftar Isi 
Ucapan Terima kasih ………………......................................................................................... ii 
Sambutan Ketua Umum PSSI ............................................................................................... iii 
Sambutan Ketua Komite Pengembangan Sepak Bola Usia Muda…………………………………….. iv 
Pendahuluan Direktur Pembinan Usia Muda ………………………………………………………………….. v 
Daftar Isi .................................................................................................................. ........... vi 
Keterangan Tanda Gambar: ................................................................................................ ix 
Bab I Prinsip Bermain ................................................................................................. 1 
A. Gaya Permainan : Garis Besar ....................................................................... 1 
B. Gaya Permainan: Spesifikasi ......................................................................... 2 
C. Prinsip Bermain bagi Pelatih, Pemain, dan Tim .............................................. 4 
Bab II Konsep Melatih .................................................................................................. 6 
A. Fondasi Program Pembinaan yang Berkualitas .............................................. 6 
1. Fasilitas/Faktor Pendukung .................................................................... 7 
2. Faktor Pembina (Pelatih) ........................................................................ 8 
3. Program Pembinaan Rutin ..................................................................... 9 
B. Falsafah Program Pembinaan ....................................................................... 10 
1. Hubungan Latihan dengan Pertandingan ………………………………………. ……… 10 
2. Empat Komponen yang saling melengkapi …………………………………….… …… 10 
C. Intisari Materi Kepelatihan ............................................................................ 11 
D. Materi Kepelatihan : Istilah Umum ................................................................ 13 
E. Materi Kepelatihan : Fisik .............................................................................. 14 
1. Hal-hal yang meningkatkan Kemampuan Tubuh ..................................... 14 
2. Pemahaman Istilah-istilah Fisik ............................................................... 15 
F. Materi Kepelatihan Teknik ............................................................................ 19 
1. Pemahaman Istilah-istilah Teknik Menyerang ........................................ 20 
2. Pemahaman Istilah-istilah Teknik Bertahan ............................................ 21 
G. Materi Kepelatihan Taktik ............................................................................. 22 
1. Pemahaman Istilah-istilah Taktik Menyerang ......................................... 23 
2. Pemahaman Istilah-istilah Taktik Bertahan ............................................. 33 
H. Materi kepelatihan Jiwa Kebersamaan (Psychososial)/Mental ...................... 38 
I. Materi Kepelatihan Situasi Standar (Set Piece) dan Formasi .......................... 39 
1. Penjabaran Situasi Standar ..................................................................... 40 
J. Materi Kepelatihan Penjaga Gawang ............................................................ 46 
1. Kualifikasi Penjaga Gawang .................................................................... 47 
K. Gaya kepelatihan .......................................................................................... 53 
1. Garis Besar Mengenai Kepelatihan & Persiapan Latihan ......................... 53 
2. Menciptakan suasana dan sarana berlatih yang kondusif bagi 
perkembangan Pemain ........................................................................... 55 
3. Meracik Menu Latihan & Organisasi Latihan ........................................... 56 
Bab III Kurikulum Sesuai Kelompok Umur ...................................................................... 59 
A. Mengatur Perkembangan Pemain Berdasarkan Umur dan Tingkatan ........... 59
B. Frekuensi Materi Latihan Sesuai Kelompok Umur .......................................... ... 63 
1. Frekuensi Latihan Fisik Sesuai Kelompok Umur .. .......................................... 63 
2. Frekuensi Latihan Teknik Sesuai Kelompok Umur ......................................... 64 
3. Frekuensi Latihan Taktik Sesuai Kelompok Umur........................................... 65 
4. Frekuensi Latihan Jiwa Kebersamaan (Psychososial)/Mental Sesuai 
Kelompok Umur.............................................................................................. 66 
C. Kurikulum setahun untuk masing-masing kelompok umur................................. 67 
D. Struktur Program Latihan Untuk Masing-masing Tingkatan Kelompok Umur..... 81 
1. Tingkat Pemula/Fun Phase (U5-U8 Tahun).................................................... 81 
1) Struktur Program Latihan ..................................................................... 81 
2) Contoh Program Latihan ...................................................................... 82 
2. Tingkat Dasar/Foundation Phase (U9-U12 Tahun) ....................................... 84 
1) Struktur Program Latihan ..................................................................... 84 
2) Contoh Program Latihan ....................................................................... 85 
3. Tingkat Menengah/Formative Phase (U13-U14 Tahun) ............................... 88 
1) Struktur Program Latihan ..................................................................... 88 
2) Contoh Program Latihan ..................................................................... 89 
4. Tingkat Mahir/Final Youth (U15-U20 Tahun) ............................................... 91 
1) Struktur Program Latihan ..................................................................... 91 
2) Contoh Program Latihan ..................................................................... 92 
E. Format Latihan Fisik Untuk Dewasa (15 Tahun keatas) ………………………………... 94 
F. Format latihan Teknik Untuk Dewasa (15 Tahun keatas) ................................. 96 
1. Contoh Latihan Teknik Untuk Dewasa 1 (15 Tahun keatas) ........................ 97 
2. Contoh Latihan Teknik Untuk Dewasa 2 (15 Tahun keatas) ........................ 98 
G. Format latihan Taktik Untuk Dewasa (15 Tahun keatas) ................................. 101 
1. Contoh Latihan Taktik Bertahan ................................................................. 101 
2. Contoh Latihan Taktik Menyerang .............................................................. 103 
Bab IV Kesalahan-kesalahan yang umum terjadi di Indonesia dalam hal organisasi 
latihan, pembuatan program latihan serta eksekusi latihan ................................ 106 
Bab V Teori Sepak Bola Modern .......................................................... ........................... 109 
A. Prinsip-prinsip Sepak Bola Modern ……………………………………………………………… 109 
B. Prinsip-prinsip Dasar Bermain 4-4-2 Dengan Benar ……………………………………. 111 
C. Langkah-Langkah Menuju 4-4-2 (sekaligus 4-3-3) ……………………………………... 118 
D. Pengertian Taktik 4-3-3 ……………………………………………………………………….…….. 135 
1. Pengertian Taktik Lapangan Kecil Sebagai Tahapan Menuju 4-3-3 ……….. 137 
1) Formasi 2-2 ………………………….…………………………………………………………… 138 
2) Formasi 3-1 ……………………………………………..……………………………………… 140 
3) Formasi 3-2 ………………………………………………………………….……………..…… 143 
4) Formasi 3-1-2-1 ……………………………………………………………………….……..… 144 
Bab VI Teori Melatih Secara Modern .............................................................................. 146 
A. Teori Melatih Fisik……………………………………………………………………………………… 146 
1. Komponen Latihan Fisik ……...……………………………………………………………… 146 
2. Kiat Praktis Meningkatkan Fisik Pemain ……………………………………………. 148 
3. Pemahaman Dasar Gizi ……………………………………………………………………… 150 
4. Berbagai Cara Mengevaluasi Fisik Secara Obyektif & Praktis …………….. 152 
5. Panduan Khusus Penggunaan Gym (Fitness Studio) ………………………….… 157 
B. Teori Melatih Teknik …………………………………………………………… ………….… .…… 159 
C. Teori Melatih Taktik ………………………………………………………………………….… …… 161
D. Teori Melatih Mental …………………………………………………………………………………… 163 
1. Pemahaman Dasar ……………………………………………………………………………….. 163 
2. Pembinaan Mental Pemain …………………………………………………………………… 164 
3. Kiat Praktis Meningkatkan Mental Pemain …………………………………………… 170 
Bab VII Berbagai Variasi Latihan Dalam Bentuk Drill dan Permainan Lapangan Kecil……… 173 
A. Variasi Latihan Fisik Dalam Bentuk Drill dan Permainan Lapangan Kecil ...….. 173 
B. Variasi Latihan Teknik Dalam Bentuk Drill dan Permainan Lapangan Kecil …… 179 
C. Variasi Latihan Taktik Dalam Bentuk Drill dan Permainan Lapangan Kecil …… 198 
Bab VIII Mencegah dan Merawat Cedera ........................................................................... 199 
A. Petunjuk Umum ………………………………………………………………………………..………… 199 
B. Penangganan Pada Cedera ……………………………………………………………..…………. 201 
C. Sepuluh Hal Praktis Menangkal Flu ……………………………………………………..……… 220 
Bab IX Pemahaman Dasar Peraturan Pertandingan (Laws of the Game)........................... 222 
Bab X Lampiran ……………………………………………………………………………………………………………. 262 
A. Scouting Pemain ………………………………………………………………………………………….. 262 
B. Formulir Data Diri Pemain & Panduan Scouting …………………………………………… 266 
C. Scouting Tim Lawan …………………………………………………………………………………….. 270 
Daftar Pustaka .............................................................................................................. ......... 278
KETERANGAN GAMBAR
1 
BAB I 
PRINSIP BERMAIN 
A. GAYA PERMAINAN - GARIS BESAR 
Elemen kunci untuk pelatih dan pemain 
yang membentuk gaya permainan 
1. Pertandingan 
Gaya penyerangan 
Semua tim disarankan untuk menunjukkan gaya bermain yang menyerang yang ditunjukkan 
saat menguasai bola dan dengan melakukan pergerakan tanpa bola dengan cepat. 
Transisi cepat dan penyelesaian akhir 
Mendorong semua kelompok umur untuk mengusahakan kecepatan bermain, menghindari 
menggiring bola berlebihan (over dribbling), mengusahakan pergerakan yang terorganisasi 
dan pergerakan cepat tanpa bola serta cepat mencari penyelesaian akhir. 
Posisi spesifik 
Sebuah tim harus memiliki pertahanan yang terorganisasi, menjaga posisi spesifik masing-masing 
dalam formasi. Dilain pihak, pemain akan mencari ruang dan melakukan pergerakan 
untuk mendukung penyerangan walau harus bergerak jauh dari posisi mereka semula. 
2. Formasi 
Formasi 4-3-3 dan 4-2-2 
Tim di kelompok umur 12 tahun ke atas akan menggunakan formasi 4-3-3, (dengan variasi 
4-2-3-1 atau 4-1-2-3 ). Tim di usia lanjutan (U15 ke atas) dapat juga menggunakan formasi 
4-4-2. Untuk usia dini/grassroot (U5 - U12) disarankan bermain 4 v 4 dan 7 v 7 sebagai 
tahapan menuju pemahaman 4-3-3 yang benar.
4 Bek 
Semua formasi yang digunakan oleh tim pada pertandingan 11 v 11 harus terus membuat 
4 baris bek. 4 bek menyediakan konsistensi dalam pertahanan dan memberikan ruang bagi 
bek luar untuk bergerak maju saat menyerang. 
2 
B. GAYA PERMAINAN : SPESIFIKASI 
Elemen kunci bagi pelatih dan pemain yang 
menegaskan gaya permaian 
1. Fisik 
Speed and Agility (Kecepatan dan ketangkasan) 
Kualitas-kualitas ini akan terkandung dalam pertandingan (game) dan permainan yang 
menggunakan bola sejak kelompok usia dini/grassroot (U5 - U12). 
Endurance (Daya Tahan) 
Pemain secara individu dan seluruh tim dilatih untuk mampu melakukan pergerakan dengan 
intensitas tinggi. Usia dini/grassroot (U5 - U12) mendapatkan daya tahan hanya melalui 
game/permainan dan latihan teknik. Latihan khusus endurance diharamkan. 
Ketahanan dan Kekuatan 
Pemain yang kuat mengembangkan kecepatan mereka dengan lebih cepat, mampu 
menangkal cedera dan lebih kompetitif dalam pertandingan. Usia dini/grassroot (U5 - U12) 
tidak perlu berlatih ketahanan dan kekuatan karena belum adanya hormon testosterone. 
2. Teknik 
Passing dan receiving (mengumpan dan menerima bola) 
Passing bola bawah yang dilakukan dengan keras/tegas selagi berhadap-hadapan pada jarak 
yang bervariasi serta menerima bola yang bergerak dilakukan di semua kelompok umur. 
Shooting (melesatkan tembakan) 
Pemain harus menumbuhkan kemampuan untuk shooting dari jarak yang bervariasi. Semua 
pemain harus didorong untuk banyak melakukan shooting dari jarak-jarak yang berbeda 
selama permainan. 
Ball Control and turning (kontrol bola dan berbalik dengan bola) 
Pemain harus didorong untuk tetap mengontrol bola dan menggunakan teknik gerakan 
memutar yang berbeda guna bergerak menjauh dari pemain bertahan.
3 
3. Taktik 
Bermain dari belakang 
Semua tim harus merasa nyaman bermain bola semenjak dari belakang melewati lapangan 
tengah dan dari sana menuju bagian akhir lapangan. Umpan-umpan pendek dari kaki ke 
kaki yang sudah menjadi ciri khas sepak bola Indonesia hendaknya dipertahankan dan 
diperbaiki kualitasnya. 
Possession and Transition (penguasaan bola dan transisi) 
Semua tim harus terus menjaga penguasaan bola dengan hanya menggunakan satu/dua 
sentuhan saja. Pemain harus didorong untuk mendukung dan bergerak sambil berkreasi 
dalam menentukan arah passing. Setelah permainan penguasaan bola berjalan dengan baik 
tim harus belajar bagaimana mengumpan bola dari satu sisi lapangan ke sisi lainnya dengan 
mulus dan efektif. 
Transisi Penyerangan/Pertahanan dan Serangan Balik yang cepat 
Ketika penguasaan bola hilang, pemain harus bereaksi cepat dan melakukan tekanan untuk 
mendapatkan bola kembali. Ketika bola kembali dikuasai, pemain harus segera mungkin 
melakukan serangan balik. 
4. Jiwa Kebersamaan (Psychososial)/Mental 
Respect and Discipline (respek dan disiplin) 
Pemain harus beradaptasi pada aturan di dalam tim dan menghargai rekan satu tim, pelatih, 
wasit dan lawan. 
Cooperation (Kerjasama) 
Setiap pemain menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari tim dalam satu unit, dan harus 
bekerjasama dengan rekan satu tim untuk meraih sasaran bersama dalam tiap sesi dan 
permainan, sebagaimana untuk seluruh musim kompetisi. 
Competitiveness (Menumbuhkan Jiwa Kompetisi) 
Pemain yang memiliki jiwa kompetisi (spirit pantang menyerah) harus dihargai karena usaha 
dan fokus mereka.
4 
C. PRINSIP BERMAIN (PRINSIPLES OF PLAY) 
Untuk pelatih, pemain dan tim 
1. Pelatih 
Permainan penguasaan bola (possession) dan permainan lapangan lebih kecil (small sided 
games) dengan lebih sedikit pemain sangat baik untuk menumbuhkan pengertian taktis 
sekaligus mengasah kemampuan teknis pemain. 
Berlatih dengan lawan dan kompetisi dengan sistim reward and punishment (pemberian 
penghargaan dan hukuman) dalam sesi latihan harus dilakukan untuk menumbuhkan jiwa 
kompetisi dalam diri pemain. 
Permainan yang memiliki intensitas tinggi didasari oleh kecepatan dan ketangkasan. Singkat 
tetapi intensif dalam setiap bagian latihan. Beri waktu untuk istirahat lalu pacu kinerja 
mereka saat latihan sehingga memaksimalkan hasil latihan. 
2. Pemain 
Maksimal satu, dua atau tiga sentuhan : Meminimalkan jumlah sentuhan menambah 
kecepatan permainan. Bermainlah dengan sederhana : jangan paksakan situasi, terlalu 
banyak menggiring bola, sembarangan dengan bola, atau memilih opsi yang sulit. 
Tetap menjaga bola di tanah : Bola yang dimainkan mendatar di atas tanah akan lebih 
mudah dikontrol dan dapat didistribusikan dengan lebih efektif dan cepat oleh tim. 
Akurasi dan kualitas passing : Passing harus keras dan akurat, dengan bobot yang tepat. 
Sentuhan pertama : Pastikan sentuhan pertama dilakukan secara terkontrol tanpa 
menghentikan bola. Sentuhlah bola menjauh dari tekanan dan arahkan ke daerah yang 
bebas. 
Pemahaman dan kewaspadaan : Semua pemain, dengan atau tanpa bola harus terus 
menerus mengamati lapangan, kawan dan lawan. 
Situasi 1 v 1 : Bentuk determinasi pemain untuk secepatnya menguasai bola kembali saat 
bertahan dan bermain sederhana saat menyerang dangan cara menyentuh bola ke samping 
dengan cepat guna melewati lawan. 
Transisi individu : Pemain harus bereaksi dengan cepat ketika penguasaan bola berganti dari 
penyerangan ke pertahanan dan sebaliknya. 
Shooting : Selalu perhatikan gawang lawan. Semua pemain didorong untuk melesatkan 
tembakan. 
Mengambil resiko : Sepak bola adalah olah raga yang memungkinkan terjadinya banyak 
kesalahan. Kesalahan-kesalahan adalah bagian dari permainan dan proses belajar. Pemain 
didorong untuk mengambil resiko dalam sesi latihan guna mengembangkan kecepatan 
bermain.
5 
3. Tim 
Semua pemain bertahan dan semua pemain menyerang : Semua pemain harus terlibat 
dalam permainan sebagai satu unit. 
Ciptakan situasi menang jumlah : Sepak bola adalah permainan yang mengandalkan jumlah 
pemain. Saat menyerang diupayakan untuk menang jumlah sedangkan bertahan untuk 
minimal tidak kalah jumlah. 
Aliran bola : Bola harus mengalir dari dalam ke luar, dari luar ke dalam sisi permainan. Bola 
lebih mudah dikuasai di sisi luar lapangan karena sisi dalam lapangan tekanan lawan lebih 
besar (tentu saja hal ini bisa berubah tergantung situasi). 
Prinsip segitiga dan pilihan arah passing : Pemain yang menguasai bola harus terus menerus 
menerima dukungan dan setidaknya memiliki 2 pilihan untuk melakukan passing. Saat usia 
dini/grassroot (U5-U12) ajarkan pemain membentuk ketupat saat menyerang guna 
menciptakan 3 opsi mengumpan; ke kiri, ke kanan dan kedepan/belakang. 
Kecepatan permainan : Pergerakan cepat bola (saat menyerang), sedangkan saat bertahan 
(tanpa bola) menciptakan situasi 2 v 1 (menang jumlah). 
Pergerakan tanpa bola : Cari ruang terbaik yang tersedia untuk memberikan pilihan arah 
untuk mengumpan bagi pemain yang sedang menguasai bola. 
Melakukan tekanan sebagai satu unit : Melakukan gerakan menekan yang terorganisasi 
dengan rapi (menekan secara bersama-sama) sehingga memaksa lawan melakukan 
kesalahan. 
Perpindahan (Transisi) : Upayakan perpindahan dengan mengurangi jumlah operan yang 
dibutuhkan untuk mendekati area target atau gawang lawan. 
Arah permainan : Permainan mengalir dalam 2 arah (bertahan dan menyerang). Selalu 
tekankan prinsip sederhana namun penting ini dalam semua latihan yang dilakukan. 
Miliki inisiatif selama permainan : Situasi sulit bisa terjadi kapan saja. Tim harus mampu 
beradaptasi saat terjadi situasi yang berbeda/tidak terencana. Beberapa pemain harus 
dipersiapkan sebagai pemimpin rekan-rekannya dilapangan.
6 
BAB II 
KONSEP MELATIH 
A. FONDASI PROGRAM PEMBINAAN YANG BERKUALITAS
7 
1. Fasilitas & Faktor Pendukung 
Lapangan Yang Memadai 
Lapangan paling tidak harus rata (berdebu tidak masalah asal rata). Jika di desa Anda hanya 
ada lapangan kecil, bentuklah tim U12, U10 atau U8, dan bermainlah 5 v 5 atau 7 v 7. 
Pemain berusia 12 tahun keatas harus bermain di lapangan besar sesuai standar FIFA. 
Pengetahuan Gizi 
Orang tua dan pemain memiliki pengetahuan akan gizi dan disiplin dalam mengkonsumsi 
makanan dan minuman yang membantu perkembangan fisik pemain. 
Dukungan Penuh Orang Tua 
Kegiatan anak harus diketahui dan direstui oleh orang tua masing-masing. Dukungan penuh 
tidak berarti tekanan. Biarkan pemain berkembang dengan nyaman; didukung tapi tidak 
ditekan. 
Liga Dan Turnamen Yang Tertata Rapi 
Liga dan turnamen SSB dalam lingkup PENGCAB (Pengurus Cabang) perlu dilaksanakan 
sesering mungkin. Agar tidak tergantung pada PENCAB, bentuklah sebuah asosiasi SSB di 
daerah anda atau bergabunglah secara gratis dengan asosiasi SSB Pusat (ASSBI). Lihat di 
www.ssbindonesia.com. Prinsip kunci adalah bertindaklah secara pro aktif. 
Jumlah Pemain Atau Grup Yang Dibatasi 
Peserta latihan yang terlalu banyak tidak efektif dan sulit untuk diawasi secara individu. 
Banyak Bola! 
Penting tersedia satu bola untuk setiap pemain. 
Cones 
Sediakan cones beragam warna guna efisiensi latihan. 
Kostum dan Rompi 
Kostum dan rompi latihan beragam warna harus tersedia guna efisiensi latihan. 
Peralatan Bantu Lainnya 
Tersedia pula tangga koordinasi, 2-4 gawang kecil, beberapa barbel (2-5 kg), gawang-gawang 
pendek untuk rintangan serta tiang-tiang plastik.
8 
2. Faktor Pembina (Pelatih) 
Kualitas 
 Standar sertifikasi D dan C. 
 Sering/banyak ikut pelatihan atau seminar lebih baik, mau belajar (melalui buku, 
internet, dll). 
 Memiliki semangat, jeli dalam melakukan pembenaran pada pemain. 
Kuantitas 
Pembina yang berkualitas harus banyak, PSSI Pusat dan pengurus propinsi, mutlak perlu 
mengadakan kursus-kursus dan seminar kepelatihan. Coach Bert Pentury saat ini tengah 
melakukan tour ke semua provinsi guna melatih pelatih khusus usia dini/grassroot 
(U5 - U12). 
Teladan 
Seorang pelatih mutlak harus menjadi teladan baik dalam perkataan dan tingkah laku : 
tidak suka omong kotor, tepat waktu, bisa menjaga emosi, tidak melakukan pencurian umur, 
dll. 
Motivator 
Bukan pencela atau pemaki. Sering dan terus menerus memberikan semangat dengan 
perkataan dan bahasa tubuh yang positif. 
Mengutamakan Pendidikan Formal 
Perlu memahami konsep “Student athlete”; seorang pemain adalah seorang murid sekolah, 
baru kemudian menjadi atlit. Dengan kata lain, sekolah harus diutamakan oleh pemain, 
pelatih dan orang tua. CI PELATIH YANG BERKUALITAS 
Dapat Mengelompokkan Kualitas Masing-Masing Pemain 
Pelatih sangat bergantung kepada pemain. Pelatih harus bisa melihat potensi pemain 
misalnya dengan latihan atau pergantian posisi. Yang diperhatikan adalah : Teknik, Speed 
dengan bola, Speed tanpa bola, Visi, Penempatan posisi, Karakter atau Mental. Karakter 
perlu diperhatikan karena karakter adalah faktor penentu kesuksesan pemain itu sendiri 
sekaligus berpengaruh pada kebersamaan tim. 
Berjiwa Pemimpin 
Kualitas pelatih sebagai pemimpin sangat berpengaruh pada respek pemain pada pelatih. 
Sebagai sorang pemimpin pelatih harus : 
 Menjadi Contoh Hidup : Teladan dalam perkataan dan tingkah laku. 
 Mampu menjadi Pengatur / Penengah Hubungan antar manusia : Terutama dibutuhkan 
saat terjadi perselisihan atau ketegangan antar pemain. Baik di dalam tim sendiri 
maupun dengan tim lawan . 
 Peduli pada pemain : Tunjukkan kepedulian kepada para pemain, seperti masalah 
pendidikan atau kesehatan pemain. Jangan sekadar menuntut pemain berprestasi. 
Kenali dan selalu tunjukkan kepedulian anda pada pemain. 
 Kompeten : Memiliki kemampuan yang memadai untuk duduk di dalam posisi pelatih.
Maka perlu untuk terus menerus belajar menambah pengetahuan, baik secara umum 
maupun dalam bidang kepelatihan. 
 Fair (sifat adil) : Pelatih tidak pilih kasih kepada anak-anak didiknya, melihat potensi 
9 
terbaik berdasarkan kemampuan, bukan pilih-pilih. 
 Konsisten : Tegakkan peraturan dan hukum. Pujilah pemain tanpa pandang bulu. Setali 
tiga uang dengan prinsip ini adalah kemampuan pelatih untuk selalu menegakkan 
peraturan tanpa berubah sejalan dengan waktu. 
Pelatih harus mampu/ahli dalam menyusun program latihan 
Buatlah program latihan yang : 
 Realistis : Sesuai kebutuhan saat pertandingan. 
 Variatif : Memiliki kreativitas latihan yang beragam dan tidak membosankan. 
 Metodis : Memiliki metode latihan yang tertata rapi dan berjenjang; , bukan 
sembarangan membuat program latihan. 
 Mencakup semua aspek : Fisik, Teknik, Taktik, Mental dan Karakter. 
 Tematis : Memiliki tema atau tujuan yang dipersiapkan. Dari awal hingga akhir latihan, 
tema latihan terlihat jelas lewat variasi-variasi latihan yang dipilih. Membuat program 
yang tematis dikhususkan bagi usia 15 tahun ke atas dan dewasa. 
 Sesuai prinsip “Benang Merah “ : Masing-masing sesi latihan saling berkaitan, saling 
berhubungan antara latihan yang satu dan yang lainnya sehingga menghasilkan 
keutuhan latihan yang baik. 
 Terencana (Tertulis) : Untuk dokumentasi dan supaya dapat dikoreksi dari waktu ke 
waktu. Merencanakan latihan anda bisa mengetahui perlengkapan apa saja yang 
dibutuhkan sehingga latihan bisa berjalan dengan efektif. 
Pengetahuan Taktik 
Selain masalah teknik, sepak bola juga sangat ditentukan oleh taktik. Pemahaman mendasar 
mengenai taktik yang wajib dimiliki oleh seorang pelatih adalah : 
 Taktik bertahan ; Pengertian permainan saat bertahan sebagai individu/grup/tim. 
 Taktik menyerang ; Pengertian permainan saat menyerang sebagai individu / grup/tim. 
 Situasi standar; Lemparan ke dalam, free kick, tendangan penjuru dan goal kick. 
 Taktik hari pertandingan; Penentuan tipe pemain dan formasi yang dipilih, pergantian 
pemain dan arahan spesifik sesuai kelebihan/kelemahan lawan pada saat bertanding. 
3. Program Pembinaan Sehari-Hari/Rutin 
Program pembinaan yang rutin dilakukan harus mencakup dan sesuai dengan falsafah 
program pembinaan sepak bola modern yang di jabarkan dalam halaman berikut. 
”Practice doesn’t makes perfect, perfect practice makes perfect” 
(latihan saja tidak menghasilkan kematangan, 
tetapi latihan yang matang membuat kematangan)
10 
B. FALSAFAH PROGRAM PEMBINAAN 
Pengertian inti metode melatih 
1. Hubungan Latihan Dengan Pertandingan 
Tujuan dari sesi latihan adalah untuk mempersiapkan pemain untuk kompetisi. 
Pertandingan memperlihatkan perkembangan taktik, teknik, fisik dan jiwa kebersamaan 
(Psychososial)/Mental dalam diri pemain. 
2. Empat Komponen Yang Saling Melengkapi 
Fisik 
Pemain yang kuat dan ulet akan memberikan keuntungan yang besar untuk tim. Sebaliknya 
seorang pemain yang kelelahan harus berjuang sangat berat untuk menjaga konsentrasinya 
dan cenderung melakukan banyak kesalahan. 
Teknik 
Semua pemain di dalam tim diharuskan memiliki kemampuan individu yang sesuai dengan 
posisi masing-masing. Sebagai contoh, seorang pemain tengah tentu memiliki teknik dan 
keahlian yang berbeda dengan seorang pemain di posisi bek luar. 
Taktik 
Bagian ini menolong pemain agar menyatu dengan tim. Tujuannya adalah untuk 
menghasilkan pemain yang cerdas, mampu beradaptasi dalam situasi yang berganti-ganti 
dalam pertandingan-pertandingan yang dihadapi.
Jiwa Kebersamaan (Psychososial)/Mental 
Manusia sering dipengaruhi oleh emosinya. Pelatih harus bisa melatih pemain untuk 
menggunakan emosi-emosi ini untuk keuntungan mereka dan mengarahkan emosi mereka 
menjadi sebuah kekuatan dan bukan kelemahan bagi mereka. 
11 
Titik lemah terbesar pemain kita selain kualitas umpan dan 
kecepatan dalam bermain adalah 
mental dan pengertian taktik. 
Titik lemah pemain = Titik lemah pelatih! 
C. Intisari Materi Kepelatihan 
Area Pengembangan saat berlatih sepak bola 
Materi Kepelatihan 
1. Fisik 
2. Teknik 
3. Taktik 
4. Jiwa kebersamaan (Psychososial)/Mental 
5. Set piece (gerakan dan alur bola yang direncanakan - Situasi 
Standar) 
6. Formasi 
7. Penjaga Gawang
12
13 
D. MATERI KEPELATIHAN : ISTILAH UMUM 
Definisi untuk Istilah-istilah khusus dalam Sepak Bola 
1. Taktik 
Aksi individu atau bersama-sama yang ditunjukkan oleh pemain atau sekelompok pemain 
untuk mengambil kesempatan dari seorang pemain lawan atau sekelompok pemain lawan 
atau tim lawan secara keseluruhan. 
Penjelasan : Sebuah taktik adalah alat untuk membangun strategi. 
Contoh : Perpindahan bola dengan cepat dari satu sisi lapangan ke sisi lain. 
2. Strategi 
Sebuah pemahaman atau ide yang disepakati bersama oleh seluruh anggota tim sejak awal 
pertandingan dengan tujuan mengalahkan lawan. 
Penjelasan : Strategi berhubungan dengan formasi tim dan juga sistim yang digunakan oleh 
tim. 
Contoh : Strategi pertahanan - tiga striker maju guna melakukan tekanan dan pemain 
gelandang tengah mendekati lawan di area tengah untuk menghalangi mereka berbalik. 
Diharapkan dengan cara demikian bola bisa direbut kembali di area pertahanan lawan. 
3. Formasi 
Pengaturan posisi pemain dan pembagian tugas pada masing-masing pemain di lapangan 
yang diatur sejak awal pertandingan. 
Penjelasan : Ini biasanya ditulis dalam tiga angka yang mengidentifikasi pemain di posisi 
pertahanan, tengah dan penyerangan. 
Contoh : 4-3-3, berarti ada 4 pemain bertahan (defenders), 3 pemain tengah (midfielders) 
dan 3 penyerang (strikers). 
4. Sistem 
Sebuah formasi yang secara khusus menyorot pada bentuk dan atau peran untuk satu atau 
beberapa pemain. 
Penjelasan : Sebuah Sistim adalah kombinasi formasi dan strategi. 
Contoh : 4-4-2 dengan bentuk seperti berlian di tengah sehingga memungkinkan pemain bek 
sayap bergerak naik ke area yang lebih luas didepannya.
14 
E. MATERI KEPELATIHAN : FISIK 
1. Hal-hal yang Meningkatkan Kemampuan Tubuh 
1) Kekuatan 
 Daya Tahan Kekuatan/Power 
 Daya Eksplosifitas 
 Kekuatan Maksimal 
2) Daya Tahan 
 Kemampuan Gerak Tubuh (Aerobic Capacity) 
 Kekuatan Gerak Tubuh (Aerobic Power) 
 Tenaga yang Dihasilkan Otot dengan laktat (Anaerobic Lactic) 
 Tenaga yang dihasilkan Otot tanpa Laktat (Anaerobic Alactic) 
3) Kecepatan 
 Reaksi 
 Kemampuan Akselerasi (Acceleration) 
 Kecepatan Maksimal 
 Daya tahan tubuh mempertahankan kecepatan 
 Kemampuan merubah arah lari dengan cepat (Acyclic Speed) 
4) Kelenturan & Mobilitas Otot 
5) Koordinasi & Kelincahan 
6) Kemampuan Motorik Dasar 
7) Daya Tanggap & Kewaspadaan (Awareness)
15 
2. Pemaham Istilah-Istilah Fisik 
Hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan tubuh 
1) Kekuatan 
Kemampuan otot melakukan gerakan tiba-tiba dengan intensitas yang tinggi dan dengan 
beban yang bervariasi. 
Daya Tahan Kekuatan/Power 
Kemampuan untuk memelihara gerakan sentak otot di dalam intensitas dan beban tinggi 
dalam kurun waktu yang lama. 
Dengan Cepat Menghasilkan Kekuatan Tubuh Yang Besar ( Daya Eksplosifitas ) 
Kemampuan untuk mengendalikan gerakan sentak otot di dalam intensitas dan beban 
tinggi dalam kurun waktu sependek mungkin (secepat mungkin). 
Kekuatan Maksimal 
Kemampuan otot melakukan gerak yang maksimal dengan beban dalam kurun waktu 
pendek. 
2) Daya Tahan ( Endurance ) 
Kemampuan tubuh untuk melakukan aktifitas fisik dengan intensitas tertentu dan dalam 
kurun waktu tertentu. 
Kemampuan Gerak Tubuh (Aerobic Capacity) 
Kemampuan untuk melakukan aktivitas gerak tubuh secara aerobic. Pengertian aerobic 
itu sendiri adalah: Tenaga yang dihasilkan otot dengan bantuan oksigen. Semakin lama 
jangka waktu latihan, semakin dominan fungsi oksigen. 
Penjelasan : Ini adalah sebuah aktivitas latihan dengan oksigen yang cukup sehingga 
tidak menyebabkan gangguan tertentu pada tubuh. Artinya karena adanya 
keseimbangan antara produksi energi tubuh dan energi yang digunakan oleh tubuh 
pemain bisa melakukan latihan tanpa halangan. 
Contoh : Tergantung pada usia dan tingkat kemampuan pemain, latihan yang bersifat 
aerobic terjadi secara terus menerus dan dinamis dalam kurun waktu 4 hingga 6 menit 
dan menggunakan sekitar 85% fungsi kerja maksimal jantung. 
Kekuatan Gerak Tubuh (Aerobic Power) 
Kemampuan untuk menggabungkan antara kemampuan aerobic dan sistim energi 
anaerobic di dalam jangka waktu lama dengan tujuan untuk memperoleh performa 
terbaik dalam aktivitas fisik yang dinamis. 
Penjelasan : Ini adalah sebuah latihan dengan persediaan oksigen yang cukup namun 
juga membutuhkan sumber energi lain. Jika sumber energi lain tidak tersedia, akan 
mengakibatkan gangguan dan pengurangan kekuatan pada tubuh. 
Contoh : Tergantung dari usia dan tingkat kemampuan pemain, kondisi ini terjadi pada 
kurun waktu 2 sampai 3 menit dan menggunakan lebih dari 85 % fungsi kerja maksimal 
jantung.
Tenaga Yang Dihasilkan Otot Dengan Laktat (Anaerobic Lactic) 
Merupakan aktivitas fisik yang terus menerus menghasilkan asam laktat konsentrasi 
tinggi di dalam kurun waktu yang pendek. Berbeda dengan aktifitas aerobic yang 
menggunakan oksigen, anaerobic adalah tenaga yang dihasilkan otot tanpa oksigen dan 
laktat terbentuk. Kondisi ini dapat terjadi misalnya saat berlari cepat dalam kurun waktu 
lama. 
Penjelasan : Ketika intensitas latihan terlalu tinggi dan dalam waktu yang lama, sistem 
energi tubuh yang menggunakan oksigen (aerobic) tidak mampu menyediakan semua 
energi yang dibutuhkan dengan cepat. Jika kondisi ini terjadi, maka tubuh membutuhkan 
sistem energi yang lainnya dan hal ini justru menjadi penyebab berkurangnya kekuatan 
tubuh. Oleh sebab itu sistem energi (anaerobic lactic) kemudian menghasilkan sebuah zat 
kimia yang disebut sebagai asam laktat (lactic acid). Jika dalam jumlah banyak akan 
memengaruhi kemampuan tubuh selama aktivitas fisik. Oleh karena itu, tingkat aktivitas 
fisik sewaktu-waktu perlu dikurangi dengan tujuan untuk mendaur ulang asam laktat dan 
mendorong terjadinya performa tingkat tinggi. Untuk alasan inilah, ketahanan pemain 
dalam mentolerir asam laktat yang terbentuk di dalam tubuh menjadi sangat penting. 
Contoh : Tergantung dari kemampuan dan tingkat usia pemain, kondisi seperti ini tercipta 
saat melakukan aktivitas yang dinamis dan berkelanjutan dengan kekuatan maksimal 
selama kurun waktu 45 detik. Sebagai contoh, melakukan sprint selama 45 detik adalah 
contoh aktifitas pengerakan otot tanpa oksigen yang menyebabkan terbentuknya asam 
laktat. 
Tenaga Yang Dihasilkan Otot Tanpa Laktat (Anaerobic Alactic) 
Aktivitas fisik yang dinamis, intensitas tingkat tinggi namun singkat dengan menggunakan 
sumber energi yang tersimpan di dalam otot. Ini adalah tenaga yang dihasilkan otot tanpa 
oksigen dan tanpa terbentuknya laktat. Misalnya seperti yang terjadi pada lari cepat jarak 
pendek. Sebagai contoh, berlari sprint sejauh 20 meter dengan di selingi istirahat adalah 
contoh aktifitas pergerakan otot tanpa oksigen namun tidak sampai menyebabkan 
terbentuknya asam laktat. 
16 
Keterangan Tambahan 
Sistem yang dilakukan tubuh kita saat berolah raga ada 3 tahapan, yaitu: 
a. Anaerobic alactic selama 15 detik pertama 
b. Anaerobic lactic pada 2 menit berikutnya, lalu 
c. Aerobic untuk latihan dengan jangka waktu 4 menit ke atas. 
Jalan kaki, bersepeda atau renang santai termasuk olah raga ringan. Di sini kebutuhan 
otot akan oksigen terpenuhi dengan baik ketika bernafas. Proses pembuatan energinya 
didapat dari karbohidrat dan tidak menghasilkan asam laktat, sehingga energinya bisa 
bertahan lama. Ini berguna untuk diet. 
Sedangkan lari cepat, angkat berat, push up atau olah raga yang lain yang membutuhkan 
tenaga besar dan membutuhkan waktu lama seperti sepak bola, termasuk dalam olah 
raga berat. Ketika tiba-tiba diperlukan energi yang besar di saat oksigen tidak ada maka 
glikolen (zat yang menyimpan cadangan energi pada sel yang dibentuk oleh glukosa) 
dipisahkan untuk membuat energi kembali. Tapi dalam prosesnya akan terjadi 
penumpukan asam laktat sehingga otot pada tubuh menjadi kelelahan dan jika 
berlangsung lama akan terasa capek sekali. 
Ketika berolah raga, oksigen yang masuk melalui pernafasan akan diurai dan menyatu
dengan lemak tubuh supaya otot tetap normal. Lemak bisa diurai dengan energi yang 
digunakan pada saat melakukan olah raga ringan selama 20 menit terus menerus. 
Mengapa kita dapat kelelahan? Kelelahan pada otot di saat tubuh membuat energi, 
disebabkan oleh asam laktat yang dihasilkan oleh glikogen di saat proses 
penguraiannya. Jika melakukan olah raga dengan menumpukkan asam laktat, akan 
mengakibatkan kelelahan pada otot. 
Dalam istilah kesehatan ada istilah yang disebut mitochondria mass, kemampuan sel 
otot untuk menyerap laktat yang terbentuk saat sel otot kekurangan oksigen. Dasar 
endurance yang baik ditambah berlatih keras dalam waktu singkat (interval) 
meningkatkan masa mitochondria. Sedangkan mitochondria itu sendiri adalah semacam 
“pabrik energi” dalam sel otot kita. 
17 
3) Kecepatan 
Kemampuan pemain melakukan gerakan atau menempuh jarak tertentu dalam kurun 
waktu sesingkat mungkin. 
Reaksi 
Proses yang tercepat yang dapat dilakukan seseorang baik secara fisik maupun 
menggunakan otaknya dalam menanggapi peristiwa yang terjadi dilapangan dengan 
tujuan melakukan gerakan yang diperlukan sesuai situasi. 
Kemampuan Akselerasi (Acceleration) 
Peningkatan kecepatan secara tiba-tiba dari posisi berdiri atau langkah lambat ke 
berlari. 
Kecepatan Maksimal 
Gerakan tercepat yang mungkin dilakukan oleh tubuh atau salah satu bagian tubuh. 
Daya Tahan tubuh Mempertahankan Kecepatan (Speed Endurance) 
Menjaga kecepatan semaksimal mungkin sesuai kemampuan selama mungkin. 
Kemampuan Merubah arah lari dengan cepat (Acyclic Speed) 
Berbeda dengan seorang pelari 100 meter, seorang pemain bola harus mampu berlari 
sekaligus merubah arah lari dengan cepat. 
4) Kelenturan Dan Mobilitas Otot 
Kemampuan tubuh atau salah satu bagian dari tubuh untuk menggabungkan kelenturan 
otot dan pergerakan sendi guna mencapai jarak terjauh yang dapat dilakukan. 
5) Koordinasi Dan Kelincahan 
Koordinasi adalah kemampuan pemain mengatur bagian-bagian tubuhnya guna 
menghasilkan gerakan tepat guna dengan mulus. 
Kelincahan (Agility) adalah kemampuan pemain merubah arah dan kecepatan baik saat 
mengolah bola maupun saat melakukan pergerakan tanpa bola. 
Kemampuan koordinasi dan kelincahan berhubungan erat dengan kemampuan-
18 
kemampuan di bawah ini : 
 Balance/Keseimbangan : Kemampuan untuk menilai faktor-faktor di dalam dan 
luar diri pemain sehingga membuat pemain mampu mengendalikan gerakan 
tubuh atau posisi tubuhnya tanpa kehilangan keseimbangan. 
 Persepsi jarak (Depth Perseption) : Kemampuan mengira-ngira jarak dan 
kecepatan bola/lawan. 
 Pergerakan Kompleks (Complex Movement ) : Kemampuan melakukan beberapa 
gerakan tubuh secara bersamaan atau berturut-turut. 
Contoh : Melakukan gerakan berputar dengan bola lalu melakukan trik individu 
untuk kemudian melesatkan tembakan atau umpan adalah gerakan kompleks. 
 Kemampuan bereaksi dengan cepat (badan) dan mengantisipasi situasi (otak). 
 Kemampuan Orientasi : kemampuan untuk cepat kembali mengetahui arah 
setelah terjatuh, tabrakan atau berputar dengan cepat. 
 Kemampuan berganti arah lari (badan) dan berganti fokus (mental) dari 
menyerang ke bertahan dan sebaliknya. 
 Ritme (Rhythm) : Kemampuan merubah ritme lari dari pelan ke cepat, cepat ke 
pelan, langkah kecil ke langkah panjang, langkah panjang ke langkah kecil, serta 
berlari sambil melompat. 
 Keseimbangan : Kemampuan untuk menilai faktor di dalam dan di luar diri 
pemain sehingga membuat pemain mampu mengendalikan gerakan tubuh atau 
posisi tubuhnya tanpa kehilangan keseimbangan. 
6) Kemampuan Motorik Dasar 
Pergerakan tubuh dalam menyesuaikan diri dengan keadaan di luar tubuh (misalnya 
saat berjalan, berlari, melompat, menjatuhkan diri atau mengubah arah tubuh). 
Kemampuan motorik dasar lainnya mencakup menendang, melempar, menangkap dan 
lain-lain. 
7) Daya Tanggap Dan Kewaspadaan (Awareness) 
Ketangkasan di dalam melihat dan menilai situasi tertentu serta mampu menggabungkan 
penilaian dengan aksi yang cepat. 
Umur emas melatih aneka koordinasi dan kelincahan adalah antara 10 – 12 tahun! Utamakan 
juga latihan koordinasi dan kelincahan untuk pemain umur 13 – 15 tahun karena pemain di 
kelompok umur ini umumnya mengalami penurunan kemampuan koordinasi dan kelincahan. 
INGAT : Gabungkan latihan kecepatan, daya tahan, bahkan koordinasi sebanyak mungkin dengan 
bola. Artinya, latihan daya tahan (endurance) didapatkan melalui latihan yang direncanakan 
dengan rapi, dengan intensitas tinggi dan menggunakan bola, dalam bentuk permainan (game) 
atau latihan teknik yang sekaligus melatih daya tahan (endurance). Setali tiga uang kecepatan 
hendaknya selalu dilakukan tanpa bola dan dengan bola, jangan hanya tanpa bola saja.
19 
F. MATERI KEPELATIHAN : TEKNIK MENYERANG 
& BERTAHAN 
TEKNIK MENYERANG 
1. Mengumpan dan menerima umpan (passing and receiving) 
2. Berlari dengan bola (Speed Driblling) 
3. Mengolah bola (Dribbling) 
4. Berbalik dengan bola (Turning) 
5. Melesatkan tembakan (Shooting) 
6. Kontrol Bola (Ball Controll) 
7. Menyundul (Heading) 
8. Menyerang 1 lawan 1 (1 v 1 Attacking) 
9. Melindungi Bola (Shielding the Ball) 
10. Menerima sekaligus berputar (Receiving to Turn) 
11. Umpan Silang dan Penyelesaian akhir (Crossing and Finishing) 
TEKNIK BERTAHAN 
1. Pertahanan 1 v 1 (1 v 1 Defending) 
2. Penempatan Posisi dan sikap tubuh (Body shape) 
3. Melakukan antisipasi
20 
4. Reaksi 
5. Mencegat (Intercept) 
6. Mencegah lawan berbalik 
7. Melakukan tackling 
1. Pemahaman Istilah-Istilah Teknis Menyerang (Ofense) 
Teknik : Kemampan pemain untuk melakukan tugasnya dan mengeksekusi gerakan-gerakan 
sepak bola dengan mulus dan efisien. 
1) Mengumpan dan menerima umpan (passing and receiving) : 
memindahkan bola mendatar atau di udara dari satu pemain ke pemain lainnya 
dengan jarak yang bervariasi. 
2) Berlari dengan bola (Speed Driblling) : Gerakan kontrol pada bola dengan 
kecepatan tinggi tanpa mengubah lintasan bola. 
3) Mengolah bola (Dribbling) : Gerakan kontrol bola dengan rapat, menggunakan 
kedua kaki serta terus meneruskan mengubah lintasan/arah bola. 
4) Berbalik dengan bola (Turning) : Menggunakan satu atau lebih dari satu 
sentuhan pada bola dengan tujuan berputar bersama dengan bola. 
5) Melesatkan Tembakan (Shooting) : Menendang bola ke arah gawang dengan 
tujuan untuk menciptakan gol. 
6) Kontrol Bola (Ball Controll) : Menerima dan mengarahkan bola secara tepat di 
udara atau di lapangan. 
7) Menyudul (Heading) : Mengarahkan bola dengan kepala dengan tujuan untuk 
menjaukan bola dari gawang, passing, atau mencetak gol. 
8) Menyerang 1 lawan 1 (1 v 1 Attacking) : Gerakan penyerangan dengan bola 
di kaki untuk mengalahkan pemain bertahan lawan. Disini yang ditempa adalah Skill 
(kemampuan teknis dengan lawan). 
9) Melindungi Bola (Shielding the Ball) : Menjaga bola dari seorang pemain 
bertahan dengan cara melindungi bola dengan badan.
10) Menerima sekaligus berputar (Receiving to Turn) : Perubahan arah bola 
21 
dengan kaki saat menerima umpan dari rekan tim dengan tujuan untuk 
membuat gerakan berikutnya seperti dribbling, passing, atau shooting. 
11) Umpan Silang dan Penyelesaian akhir (Crossing and Finishing) : 
Umpan bola dari sisi lebar lapangan ke sisi tengah ke arah gawang dengan 
tujuan untuk memberi kesempatan pada rekan satu tim untuk menciptakan gol. 
2. Pemahaman Istilah-Istilah Teknik Bertahan (Defense) 
1) Pertahanan 1 v 1 (1 v 1 Defending) : Berbagai upaya dengan tujuan untuk 
memperoleh kembali penguasaan bola yang dikuasai lawan. 
2) Penempatan posisi dan sikap tubuh ( Body Shape ) : Sikap atau 
penempatan posisi tubuh sehingga pemain dapat melakukan gerakan pertahanan 
berikutnya dengan tepat. 
3) Melakukan Antisipasi 
Antisipasi pemain untuk mempersulit lawan melakukan serangan. Pemain 
bertahan membaca/menebak alur bola atau pergerakan lawan sebelum terjadi. 
4) Reaksi 
Reaksi pemain terhadap gerakan - gerakan lawan sesaat setelah dilakukan. 
5) Mencegat (Intercept) 
Gerakan mencegat alur bola untuk memeroleh kembali penguasaan bola ketika 
bola tersebut sedang dioper oleh pemain-pemain lawan. 
6) Mencegah Lawan Berbalik 
Tekanan pada lawan yang membelakangi gawang dengan tujuan menggagalkan 
niat lawan untuk berbalik menghadap gawang. 
7) Melakukan Tackling 
Kontak yang dibuat dengan kaki ketika bola sedang ada di kaki lawan dengan 
tujuan untuk mencegah gerakan penyerangan berikutnya atau memeroleh 
penguasaan bola kembali.
22 
G. MATERI KEPELATIHAN : TAKTIK 
MENYERANG & BERTAHAN 
Berbagai aspek untuk mengembangkan pemahaman pada sebuah pertandingan/game 
1. Prinsip Penyerangan 
 Mengkreasi ruang (membuka ruang) 
 Mendukung rekan tim (support) 
 Melebar : menggunakan lebar lapangan 
 Memanjang: menggunakan panjang 
Untuk keterangan masing-masing istilah di atas baca halaman-halaman berikut serta bagian 
pengertian sistim 4-4-2 dan 4-3-4 halaman 109 - 145. 
lapangan 
 Berlari diagonal 
 Bermain ke arah depan 
 Kecepatan permainan (bola bawah, 1-3 
sentuhan umpan tegas, banyak 
melakukan pergerakan tanpa bola) 
 Pergantian posisi: saling mengisi posisi 
sesuai situasi 
 Kreativitas (gerakan pemain untuk 
memasuki daerah pertahanan lawan 
dengan cara bervariasi seperti 
“overlap”, umpan 1-2 yang dikenal 
dengan “one-two”, pantulan, 
terobosan, umpan silang, trik individu, 
kecepatan membawa bola atau “speed 
dribbling”) 
2. Penguasaan Bola 
3. Transisi 
4. Kombinasi Permainan 
5. Pergantian sisi Permainan 
 Pergantian langsung dari sisi ke sisi 
 Pergantian sisi dengan memakai 
pemain jangkar sebagai jembatan 
6. Serangan balik (Counter Attacking) 
7. Membangun serangan dari belakang 
8. Melakukan penyelesaian di daerah 
pertahanan lawan 
1. Prinsip Pertahanan 
 Menjaga pemain lawan (marking) 
 Menekan lawan (Press) 
 Melindungi, (cover) 
 Keseimbangan melalui pergeseran 
 Mengamati pergerakan lawan dan 
bola (reaksi) serta mampu 
memprediksi (membaca) arah 
pergerakan/alur bola (antisipasi) 
 Berganti tempat (saling mengisi) 
2. Zona Defense 
 Membentuk “segitiga” dan “pisang” 
 Bergeser bersama secara diagonal 
 Bergantian menjaga lawan (Tidak 
terus menjaga lawan yang sama) 
3. Memberi Tekanan (Pressing) 
 Dilakukan secara kolektif sehingga 
tercipta 2 V 1 (double) atau 3 V 1 
(triple) 
4. Gerakan Mundur dan Kembali ke 
Posisi Awal 
 Lari ke dalam/masuk 
 Mengisi posisi paling belakang lebih 
dulu. 
 1-3 pemain melakukan tekanan, 
memberi waktu pemain lain untuk 
turun kembali ke posisi bertahan 
5. Kepadatan Pertahanan (Compact)
23 
1. Pemahaman Istilah-Istilah Taktik Menyerang ( Ofense) 
1) Prinsip penyerangan : Pergerakan dasar individu atau bersama-sama untuk satu atau 
beberapa pemain yang bertujuan untuk mengkreasi peluang bagi penyerang. 
1a. Mengkreasikan ruang (membuka ruang) : Pergerakan pemain ke ruang kosong untuk 
menghasilkan kesempatan melakukan operan yang efektif. 
Sebagai contoh: 4 v 1 
permainan penguasaan 
bola di mana para pemain 
bergerak ke area lebar 
untuk membuat pilihan 
arah passing. 
Penting: Jangan biasakan 
pemain menempati pojok 
kotak permainan guna 
memudahkan penguasaan 
bola (tidak terkepung di 
pojok). 
1b. Mendukung rekan tim (Support) : Menawarkan bantuan oleh rekan setim yang berada di 
sekitar bola dengan tujuan untuk menerima umpan. 
Satu pemain bergerak 
pada sisi yang dekat 
dengan rekan setim yang 
menguasai bola guna 
menciptakan opsi yang 
jelas.
24 
1c. Aksi Lanjutan (Anschlussaktion) 
Setelah memberikan umpan sang pengumpan melakukan aksi lanjutan bergerak ke 
daerah kosong guna mendukung rekan tim (support). Apabila umpan tidak berhasil aksi 
lanjutan sang pengumpan berupa gerakan bertahan. 
Sebagai contoh : Setelah 
memberikan umpan 
pada pemain depan (1), 
winger bergerak ke sisi kiri 
guna memberi support 
pada pemain depan (2). 
1d. Melebar : menggunakan lebar lapangan. Pergerakan dan distribusi penyerang ke arah 
lebar lapangan untuk menciptakan ruang dan membangun serangan dalam sebuah 
pertandingan/game. 
Seorang pemain bergerak 
ke area lebar untuk 
membuka ruang. 
Tujuannya adalah untuk 
menyulitkan pertahanan 
lawan.
1e. Memanjang : Menggunakan panjang lapangan. Pergerakan seorang pemain atau 
sekelompok pemain ke posisi depan untuk menciptakan opsi saat menyerang dalam 
pertandingan/game. 
Seorang pemain bergerak 
maju dengan tujuan untuk 
memeroleh bola sehingga 
makin dekat dengan 
gawang. 
1f. Overlap run : Pergerakan rekan setim dari belakang pemain yang sedang menguasai bola 
ke arah depan untuk menciptakan kesempatan passing atau keuntungan lainnya untuk 
tim. 
Gelandang tengah 
atau bek sayap berlari 
ke depan dari 
belakang pemain 
sayap untuk 
menciptakan 
kesempatan passing. 
25
1g. Overlap Pass : Umpan kepada rekan se tim yang melakukan overlap run. Umpan 
26 
diberikan secara langsung atau melewati orang ketiga (tidak langsung). 
Sebagai contoh: 
Pemain gelandang 
tengah memberikan 
umpan langsung ke 
pemain sayap yang 
muncul dari belakang 
(1) atau memberikan 
umpan pada striker 
(2a) yang kemudian 
meneruskan pada 
pemain sayap yang 
telah bergerak maju 
(2b). 
1h. Pantulan (Pin ball) dan umpan terobosan (through pass) : Usaha menembus pertahanan 
lawan dengan memantulkan bola serta melakukan umpan terobosan ke daerah di 
belakang garis pertahanan lawan. 
Gelandang 
mengumpankan bola ke 
striker (1) yang 
memantulkan bola 
dengan satu sentuhan 
bisa kembali pada 
gelandang yang sama 
atau ke gelandang 
lainnya (2). Selanjutnya 
gelandang melesatkan 
umpan terobosan 
(diantara pemain 
belakang lawan) ke arah 
sayap kanan yang 
bergerak maju (3).
1i. Umpan One - Two : Melesatkan umpan (biasanya jarak pendek). Untuk kemudian 
27 
melakukan pergerakan (biasanya ke depan) guna langsung menerima umpan kembali. 
Guna membebaskan diri dari 
tekanan lawan seorang 
pemain memberikan umpan 
jarak dekat kepada rekan se 
tim nya (1), melakukan 
pergerakan maju dan langsung 
menerima umpan kembali (2) 
1j. Lari Diagonal : Sebuah gerakan serang diagonal ke arah depan, membuat ruang yang 
biasanya di depan bola untuk menciptakan kesempatan passing. 
Pemain sisi luar 
membuat pergerakan 
diagonal ke arah depan 
dengan tujuan untuk 
membuat kesemapatan 
melakukan passing.
1k. Bermain ke arah depan (Forward play) : Alur bola yang efektif dan tepat ke daerah 
28 
pertahanan lawan atau gawang lawan. 
Gelandang tengah 
mengoper kepada 
pemain lapangan tengah 
atau mengarahkan pada 
striker yang tak dijaga 
lawan guna 
memindahkan bola ke 
daerah pertahanan 
lawan. 
1l. Kecepatan Permainan : Alur bola yang cepat menciptakan kesempatan pada tim 
penyerang untuk menembus pertahanan lawan. 
Pemain dari tim yang 
sama mengoper bola 
dengan cepat dengan 
satu, dua atau tiga 
sentuhan, menghindari 
lawan merebut bola. 
Agar permainan bisa 
berjalan dengan cepat 
sesuai asas sepak bola 
modern bola harus 
dimainkan menyusur 
tanah dengan tegas dan 
tepat. Hindari umpan 
yang memantul (tidak 
mulus) karena akan 
memperlambat 
permainan.
29 
1m. Pergantian Posisi (saling mengisi posisi sesuai situasi) : Sebuah pergantian posisi oleh 
dua orang pemain dalam satu tim, biasanya di depan bola untuk menciptakan kesempatan 
pada pemain bertahan dan menghasilkan pilihan untuk passing. 
Penyerang kiri dan kanan 
saling berganti posisi untuk 
membingungkan perhatian 
pemain bertahan lawan 
dan menciptakan 
kesempatan utnuk passing. 
2) Penguasaan Bola (Possession) : Umpan bola berulang-ulang di antara pemain 
dalam tim yang sama. 
Contoh : 5 v 3. Lima 
pemain di dalam satu tim 
mempertahankan 
penguasaan bola dari 
tekanan tiga pemain 
lawan.
3) Transisi : Upaya untuk mengumpan bola secara kolektif, bersama-sama sebagai sebuah 
tim dimulai dari daerah pertahanan hingga daerah penyerangan tanpa melakukan long 
ball langsung ke depan. 
Usaha bersama untuk 
mengumpan bola mulai 
dari daerah pertahanan 
hingga daerah 
penyerangan. 
4) Kombinasi Permainan : Pengaturan alur bola dengan cepat dan efektif dengan bola 
30 
oleh dua pemain atau lebih dari tim yang sama. 
Aksi yang melibatkan 
tiga pemain dengan 
pergerakan cepat, baik 
kecepatan bola 
maupun kecepatan 
pemain.
5) Pergantian sisi Permainan : Mengirimkan bola dari satu sisi lapangan ke sisi yang 
berseberangan. Misalnya dari sisi kanan luar ke sisi kiri luar, dengan tujuan untuk 
mengacaukan organisasi pertahanan lawan dan mengambil keuntungan dari kelengahan 
lawan. 
Umpan jauh (long 
pass) dari sisi luar 
kanan ke sisi luar kiri, 
dengan tujuan 
mengacaukan 
pertahanan lawan dan 
memudahkan 
pergerakan maju dari 
bola. 
6) Serangan Balik (Counter attack) : Gerakan vertikal yang cepat dan efektif untuk 
mengirim bola ke depan secepatnya setelah tim berhasil merebut bola kembali dengan 
tujuan untuk mengejutkan lawan dan memeroleh keuntungan dari pertahanan lawan 
yang masih belum sempat terorganisir dengan baik. 
Umpan jauh dari 
penjaga gawang 
kepada pemain di 
sisi luar kiri ketika 
bola kembali 
dikuasai, memberi 
peluang kepada 
pertahanan lawan 
yang belum 
terorganisir dengan 
baik. 
31
7) Membangun serangan dari belakang : adalah sebuah usaha bersama untuk 
mengirimkan bola dari daerah pertahanan menuju ke daerah penyerangan melalui 
serangkaian umpan pendek dan sedang (tidak langsung mengumpan jauh ke depan). 
Sebagai contoh : 
Penjaga gawang 
membangun 
serangan melalui bek 
kiri. Bek kiri 
kemudian 
mengumpan pada 
gelandang bertahan 
yang selanjutnya 
mengumpankan bola 
pada sayap kiri. 
8) Penyelesaian di daerah pertahanan lawan : Usaha bersama di sisi ke-3 lapangan, 
32 
(attacking third atau daerah pertahanan lawan) dengan tujuan untuk menciptakan 
kesempatan mencetak gol. 
Sebagai contoh : 
Pemain sayap kiri 
menggiring bola 
memasuki sisi kiri 
pertahanan lawan 
dan memberikan 
umpan silang, 
mencari rekan yang 
dapat melakukan 
penyelesaian akhir.
33 
2. Pemahaman Istilah-istilah Taktik Bertahan (Defense) 
1) Prinsip Pertahanan : Gerakan yang dilakukan baik secara individual atau bersama-sama 
oleh satu atau lebih pemain yang tujuannya mengatasi serangan lawan. 
1a. Menjaga pemain lawan (marking) : Seorang atau sekelompok pemain bertahan 
memerhatikan pemain-pemain penyerang, dengan tujuan mengurangi kesempatan 
mereka berpartisipasi di dalam penyerangan. 
Pertahanan menjaga jalur 
lari lawan, yang berupaya 
mendukung rekan se timnya 
yang sedang menguasai 
bola. 
1b. Menekan lawan (Press) : Aksi individu pemain bertahan yang menjaga dengan tujuan 
untuk melakukan penguasaan bola. 
Seorang pemain bertahan 
mencegah pemain lawan 
agar tidak menguasai bola 
terlalu lama atau berhasil 
memberikan bola kepada 
timnya sekaligus mencoba 
untuk mengambil kembali 
penguasaan bola.
1c. Melindungi (Cover) : Seorang pemain menciptakan garis pertahanan kedua yang 
34 
tujuannya untuk menambah kekuatan pertahanan. 
Seorang pemain 
pertahanan tengah yang 
berada di belakang 
seorang gelandang 
tengah siap membantu 
jika mungkin saja 
penyerang lawan 
mengecoh gelandang 
tengah. 
1d. Keseimbangan melalui Pergeseran : Pergeseran posisi yang terkordinasi dari para pemain 
bertahan, dari satu sisi ke sisi lainnya sesuai dengan pergerakan bola di lapangan 
dengan tujuan untuk mengatur kembali posisi pertahanan (Lihat bagian pengertian 
sistem 4-4-2 dan 4-3-3 serta pengertian taktik lapangan kecil). 
Pergerakan yang 
dilakukan secara kolektif 
(bersama-sama) dengan 
tujuan untuk mengatur 
kembali daerah 
pertahanan di depan 
bola seiring dengan 
pergerakan bola dari 
gelandang tengah ke 
sayap kanan.
1e. Mengikuti (Tracking) : Seorang pemain bertahan mengejar penyerang lawan yang 
35 
membuat gerakan maju untuk menciptakan kesempatan passing. 
Seorang bek kiri 
mengikuti atau menempel 
sayap kanan tim lawan 
guna mencegah adanya 
kesempatan 
mengumpan. 
1f. Berganti tempat (saling mengisi) : Pergantian posisi dari 2 pemain bertahan dengan 
tujuan menggalang pertahanan dengan lebih efisien. 
Seorang bek tengah 
bergerak dari area tengah 
untuk menjaga 
penyerang kanan lawan, 
di saat yang sama bek kiri 
belari ke area tengah 
untuk menempati posisi 
bek tengah.
36 
2) Daerah Pertahanan (Zona Defense) : Pengaturan pemain bertahan di area 
pertahanan berdasarkan ruang (bukan lawan) untuk menciptakan pertahanan yang 
efektif. (lihat bagian pengertian sistem 4-4-2). 
Penyebaran posisi yang 
seimbang dengan jarak 
yang sama dalam area 
pertahanan untuk 
mencegah penyerang 
lawan mencetak gol. 
3) Menekan secara kolektif (Pressing) : gerakan pertahanan yang mantap, terus 
menerus dan terorganisasi dari para pemain bertahan untuk menutup pergerakan para 
penyerang. 
Sebagai contoh : 
Dalam permainan 
6 V 6 ini terjadi tekanan 
dari para pemain 
gelandang tengah dan 
bek kanan untuk 
memeroleh kembali 
penguasaan bola.
37 
4) Gerakan Mundur dan Kembali ke Posisi Awal : Pergerakan seorang atau 
sekelompok pemain belakang, ke arah posisi pertahanan dengan tujuan untuk mengatur 
kembali pola pertahanan tim. 
Pemain bertahan di 
kiri, tengah dan kanan 
berlari ke belakang 
untuk memperkuat 
garis pertahanan dekat 
dengan gawang. 
5) Kepadatan Pertahanan (Compact) : Sebuah aksi penumpukan pemain bertahan di 
area tengah, menjaga gawang mereka dan mencegah tim lawang membangun serangan. 
Para pemain bertahan 
dekat dengan gawang 
mereka sendiri, 
menempatkan diri 
mereka sendiri saling 
berdekatan dalam 
jarak yang sama 
dengan tujuan untuk 
menjaga gawang dan 
mempersulit 
penyerang lawan.
38 
H. MATERI KEPELATIHAN : 
Jiwa Kebersamaan (Psychososial)/Mental 
1. DASAR 
 Motivasi 
 Kepercayaan Diri 
 Kerjasama 
 Membuat Keputusan/Kebulatan Tekad 
2. TINGKAT LANJUT 
 Jiwa Kompetisi 
 Konsentrasi 
 Komitmen 
 Pengendalian Diri 
3. SOSIAL 
 Komunikasi 
 Rasa Hormat (Respek) dan Disiplin
39 
I. MATERI KEPELATIHAN : 
Situasi Standar (Set Piece) & Formasi 
SITUASI STANDAR/BOLA MATI (SET PIECE) 
1. Awal Pertandingan (Kick Off) 
2. Tendangan Gawang (Goal Kick) 
3. Lemparan ke Dalam (Throw-in) 
4. Tendangan Sudut (Corner Kick) 
5. Tendangan Bebas Langsung (Direct Free Kick) 
6. Tendangan Bebas Tidak Langsung (Indirect Free Kick) 
7. Penalti 
[Baca halaman-halaman berikut tentang penjabaran situasi standar/Bola mati] 
FORMASI* 
 5 v 5 = 3 - 1 - 0 Saat bertahan, 1-2-1 (ketupat) saat menyerang 
 6 v 6 = 3 - 2 - 0 Saat bertahan, 1-3-1 saat menyerang 
 7 v 7 = 3 - 2 - 1 Saat bertahan, 2-3-1 saat menyerang 
 8 v 8 = 3 - 1- 2 - 1 Saat bertahan, double diamond/ketupat saat 
menyerang (1 - 2 - 1 - 2 - 1) 
 9 v 9 = 4 - 3 - 1 atau 3 - 3 - 2 
 11 v 11 = 4 - 3 - 3 atau 4 - 4 - 2 
* Termasuk penjaga gawang
40 
1. Penjabaran Situasi Standar (Bola Mati) 
Saya sempat terheran-heran dengan perhatian yang diberikan klub-klub Eropa 
terhadap situasi-situasi standar atau bola mati. Porsi latihan yang tergolong besar diberikan 
untuk melatih tendangan penalti, tendangan bebas, tendangan penjuru, bahkan lemparan 
ke dalam. Hampir setiap latihan diakhiri dengan latihan bola-bola mati. Hal ini dilakukan 
karena rata-rata setiap dua atau tiga gol terjadi lewat situasi bola mati. Tidak percaya? Coba 
Anda perhatikan saat menonton bola di TV. Menurut statistik di majalah Sport Bild edisi 
pertengahan Desember 2006, bisa disimpulkan bahwa pada prinsipnya semakin tinggi kelas 
permainan atau dengan kata lain, semakin tinggi liganya, semakin penting pula situasi 
standar. 
Begitu seringnya kita melihat seorang Ronaldihno, Beckham, Lampard, Ballack, 
Gerrard, dan masih banyak lagi pemain lain yang memecah kebuntuan lewat situsai bola 
mati. Karena statistik membuktikan bahwa situasi standar begitu penting peranannya dalam 
sepak bola masa kini, seorang pelatih yang bijaksana dengan sendirinya akan 
mempersiapkan pasukannya baik dalam menghalau maupun melesatkan bola mati. 
Situasi standar menjadi semakin penting peranannya di era sepak bola modern yang 
begitu kompetetif seperti sekarang ini karena kualitas antar tim secara keseluruhan hampir 
sama. Oleh karena itu, setiap kesempatan bola mati betul-betul dipergunakan dengan sebaik 
mungkin guna memenangkan pertandingan yang sebenarnya berlangsung cukup seimbang. 
1) TENDANGAN BEBAS 
a) Di bawah ini beberapa contoh variasi tendangan bebas: 
Variasi 1 
Keterangan: 
Pemain B berlari ke bola 
seolah- olah akan menendang bola 
untuk kemudian melompati bola 
lalu terus berlari sesuai arah panah. 
Sesaat setelah pemain B mulai 
berlari, pemain A berlari ke arah 
bola, berpura-pura melakukan 
tembakan untuk kemudian 
mengumpankan bola secara 
mendatar ke depan pemain B. 
Pemain B mengumpankan bola 
dengan keras ke mulut gawang guna 
disambar oleh pemain G, F atau E. 
Pemain E, F dan G hendaknya 
mempertajam efek tipuan dengan cara berpura-pura menginginkan bola diumpankan 
kepada mereka secara langsung. 
Penting: Tidak boleh ada pemain di sisi kanan lapangan dengan harapan lawan tidak 
menjaga daerah tersebut. Selain itu umpan dari pemain A ke B harus dilakukan di 
saat yang tepat untuk menghindari off side.
41 
Variasi 2 
Keterangan: 
Pemain A mengumpan 
bola pada pemain B yang berlari 
di depan pagar betis lawan dari 
sebelah kanan ke sebelah kiri 
untuk kemudian menerima bola 
dan melepaskan tembakan ke 
arah gawang lawan. Pemain C 
berlari di belakang pagar betis 
lawan dari kiri ke kanan guna 
mengalihkan perhatian lawan. 
Penting: Pemain C memang off 
side tapi hanya secara pasif 
karena bola tidak mengarah ke 
C melainkan ke B. 
b) Prinsip dasar bertahan saat lawan melakukan tendangan bebas: 
 Semakin dekat letak tendangan bebas ke gawang semakin panjang pagar betis itu 
sendiri. Sebaliknya, semakin jauh letak tendangan bebas semakin sedikit pula 
pemain yang dibutuhkan di dalam barisan pagar betis. 
 Pengaturan pagar betis dilakukan oleh kiper atau seorang pemain depan yang 
berdiri di belakang posisi bola. 
 Pengaturan pagar betis dilakukan sesuai tinggi badan. Pemain tertinggi berdiri di 
sebelah paling luar pagar betis. Semakin ke dalam semakin pendek pula tinggi 
badan pemain. Logikanya di bagian gawang yang terjaga oleh kiper, pagar boleh 
rendah. Bagian gawang yang jauh dari jangkuan kiper idealnya terjaga oleh 
pemain-pemain yang yang setinggi mungkin. 
 Selain pagar betis, penjagaan lawan biasanya dilakukan secara man to man 
marking. Posisi badan pemain bertahan semestinya berada di antara lawan dan 
titik tengah gawang (di atas “invisible line”). 
[Usahakan semua pemain bertahan naik hingga selevel dengan pagar betis. Saat tendangan 
bebas dilakukan satu-dua orang pemain mundur kearah gawang, selebihnya mengikuti 
pergerakan lawan. Sama seperti situasi standar yang lain, pembagian tugas harus jelas. 
Masing-masing pemain mutlak harus mengetahui secara persis tugasnya saat tendangan 
bebas diberikan. Pelatih harus memberi instruksi sebelum pertandingan. Jangan sampai 
situasi standar terjadi baru pemain saling memberi instruksi satu sama yang lain. Secara 
otomatis masing-masing pemain harus mengetahui ke mana dia harus menempatkan 
dirinya]
Catatan : 
“Invisible Line” adalah garis imjinasi yang tentunya tidak bisa dilihat dengan mata. Secara mental 
tarik garis lurus antara bola dan titik tengah gawang. Di atas garis inilah - di antara bola dan titik 
tengah gawang—seorang pemain seharusnya menempatkan dirinya sehingga penjagaan lawan 
secara optimal bisa terlaksana. Bagi seorang penjaga gawang prinsip invisible line juga sangat 
membatu dalam menempatkan posisi. Prinsipnya sama; penjaga gawang menempatkan dirinya di 
atas garis imajinasi yang membentang lurus antara bola yang hendak ditendang ke arah gawang dan 
titik tengah gawang. Semakin jauh posisi bola semakin dekat posisi penjaga gawang dengan garis 
gawang. Sebaliknya, semakin dekat bola ke gawang posisi kiper semakin mendekati bola yang 
hendak ditendang guna menyempitkan sudut tendang. Jangan lupa; tempatkan posisi di atas 
invisible line, jangan disamping kiri atau kanannya (lihat bagian penjaga gawang halaman 46). 
42 
2) TENDANGAN PENJURU 
Variasi tendangan penjuru yang paling populer di Eropa saat ini, khususnya di Jerman adalah 
sebagai berikut: 
Keterangan: 
 Pemain A melakukan 
tendangan penjuru. 
 Pemain I dan J mengawal 
pertahanan untuk mengatisipasi 
kemungkinan serangan balik. 
 Pemain G dan H menjaga second 
line. Dengan kata lain, kedua 
pemain ini bertugas mencari bola 
muntah untuk kemudian secepat 
mungkin melesatkan tembakan ke 
arah gawang lawan. Perlu 
ditekankan bahwa pemain G dan H 
haram mengontrol bola dengan 
lama apalagi mendribel bola. 
Mengumpan pun sebaiknya jangan 
dilakukan karena risiko kehilangan 
bola teralu besar. Apabila pemain second line kehilangan bola ujung-ujungnya adalah 
serangan balik yang bisa fatal akibatnya. Disiplin tinggi untuk bermain aman mutlak 
dimiliki kedua pemain ini. 
 Pemain B berlari ke depan tiang jauh. Tugas pemain B adalah; (1) memberi aba-aba 
kepada pemain A untuk melakukan tendangan penjuru saat semua pemain telah siap, (2) 
mengganggu konsentrasi kiper lawan, serta (3) menyambar bola liar yang sekiranya 
terjadi di daerah tiang jauh. 
 Pemain C, D, E, F berlari sesuai arah lari yang digambarkan di atas. Jarak lari pemain C 
paling pendek, sementara jarak lari pemain F paling jauh. Kecepatan berlari termasuk 
tinggi, mendekati sprint, sehingga bola yang disambar akan melaju dengan deras ke arah 
gawang lawan.
 Posisi awal C, D, E dan F adalah berkelompok sedekat mungkin di atas garis boks penalti 
43 
sejajar dengan tiang jauh gawang lawan. 
 Keempat pemain di atas mulai berlari saat pemain A berancang-ancang melakukan 
tendangan penjuru. Tujuannya salah satu dari keempat pemain tadi bisa melakukan 
heading langsung setelah melakukan sprint pendek tanpa harus berhenti. Dalam posisi 
berdiri secara statis sangat sulit melakukan heading dengan power yang maksimal. 
Dengan kata lain, arah crossing bola harus diarahkan ke depan pemain tujuan. 
Organisasi, Timing yang tepat dan teknik crossing yang sempurna tentu saja hanya bisa 
terealisasi melalui latihan yang tekun. 
Variasi tendangan penjuru dengan bantuan umpan kombinasi yang sering ditemui di Eropa 
dewasa ini adalah sebagai berikut: 
Keterangan: 
 Pemain G melakukan tendangan 
penjuru. 
 Pemain I melakukan gerakan 
tipuan; berlari ke arah gawang 
lawan untuk kemudian secara 
eksplosif berlari ke arah G. Umpan 
yang diberikan oleh G dikembalikan 
kepada G atau I hanya melakukan 
umpan tipuan kepada G untuk 
kemudian menggiring bola ke garis 
gawang diakhiri dengan umpan 
datar yang keras atau umpan 
lambung ke mulut gawang lawan. 
Apabila bola diumpankan kembali 
ke pemain G, ia bisa memilih antara 
melepaskan umpan lambung, menggiring bola untuk kemudian melesatkan tembakan 
atau menyodorkan bola pada pemain lain dengan tujuan melesatkan tembakan. 
 Perhatikan posisi pemain-pemain lainnya. Semua pemain mempunyai tugas yang jelas. 
Selain itu perhatikan bahwa hanya satu pemain saja (B) yang bisa dikatakan tidak 
mempunyai fungsi ofensife atau menyerang. Hal ini disebabkan karena situasi tendangan 
penjuru sudah seharusnya dipergunakan semaksimal mungkin. Ingat: semakin sering gol 
lahir di era sepak bola modern ini melalui situasi standar, termasuk lewat tendangan 
penjuru! Oleh karena itu, berikan arahan sebelum bertanding mengenai tugas masing-masing 
pemain secara jelas baik saat lawan melakukan tendangan penjuru maupun saat 
tim Anda melakukan tendangan penjuru!
44 
3) LEMPARAN KE DALAM ATAU THROW IN 
Lemparan ke dalam sering sekali terabaikan dalam latihan. Sama seperti situasi 
standar lainnya yang lebih ‘terkenal´ pemain seharusnya mengerti di mana mereka harus 
menempatkan posisi. Pembagian tugas harus ada kalau tidak ingin kehilangan kesempatan 
membangun serangan lewat situasi throw in. Teramat sayang apabila bola harus hilang 
hanya karena pemain berlari tanpa arah, tanpa menyesuaikan pergerakannya dengan kawan 
sehingga situasi yang tercipta adalah situasi untung-untungan. Kepemilikan bola yang 
tadinya 100% menjadi hanya 50% karena bola bisa hilang bisa juga tidak. Untuk menghindari 
hal ini lemparan ke dalam harus dilatih dan prinsip dasar pelaksanaannya diketahui oleh 
semua pemain. 
a) Variasi Throw In Terpopuler Di Eropa 
Keterangan: 
 Pemain A melakukan lemparan ke 
dalam. Apabila terjadi throw in di sisi 
kanan bagian tengah lapangan maka 
pemain A adalah sayap kanan tentunya. 
 Pemain B, apabila mengikuti 
skenario seperti di atas, seharusnya 
adalah pemain bek kanan (wing back) 
kalau sistem yang dipakai adalah 4-4-2. 
Tugas pemain B tidak lain adalah 
menjadi seorang pemain jangkar yang 
siap meneruskan bola ke sisi kiri 
lapangan entah secara langsung dengan 
long pass atau melewati pemain bek 
tengah F atau G yang berfungsi sebagai 
´jembatan´. Pemain lain yang bisa 
berfungsi sebagai ´jembatan´ adalah kiper. Seorang kiper yang modern harus senantiasa 
ikut bermain. Artinya, di saat situasi throw in seperti di atas kiper hendaknya bergeser 
sedikit ke sisi kanan lapangan sekaligus maju dan berfungsi sebagai libero. 
 Pemain C adalah pemain defensive mid (Gelandang Bertahan). Biasanya pemain ini 
bergerak ke sebelah kanan pemain A untuk kemudian bergerak ke sebelah kirinya. Itu 
semua tergantung situasi tentunya. 
 Pemain D adalah offensive mid. Awalnya pemain D bergerak ke arah pemain A untuk 
kemudian berlari dengan kecepatan tinggi menyusur garis tepi lapangan. Umumnya 
pemain D adalah target utama saat terjadi throw in. D dan E tentu saja bisa menukar 
posisi sesuai situasi. 
 Pemain H adalah penyerang kiri, pemain I adalah pemain sayap kiri, sedang pemain J 
adalah wing back kiri. Pemain H, I, J dan E siap mendukung serangan apabila variasi 
throw in ini berhasil sesuai rencana. 
 Perhatikan bahwa semua pemain kecuali kiper berada dalam daerah sepanjang kira-kira 
30-40 meter dan lebar sekitar 35 meter. Begitu throw in berhasil dengan baik formasi tim 
langsung mengembang. Pemain diinstruksikan untuk ´membuka´ lapangan dan 
mengoptimalkan lebar lapangan.
Variasi lemparan ke dalam lainnya yang juga cukup populer di Eropa adalah sebagai berikut: 
Keterangan: 
 Pemain A melakukan throw 
in kepada pemain C. 
 Pemain C melakukan 
heading yang diarahkan 
kepada pemain D atau E. 
Sebaiknya umpan heading 
diarahkan ke daerah bebas di 
depan E atau di daerah bebas 
di depan pemain D. 
Di dalam sepak bola hampir selalu ada hukum dasar dalam melakukan sebuah teknik, 
kombinasi atau taktik tertentu. Begitu juga dalam melakukan throw in. 
45 
b) Prinsip dasar pelaksanaan lemparan ke dalam: 
 Semakin cepat throw in dilakukan semakin baik. Apabila throw in tidak dilakukan dengan 
cepat, lawan akan punya waktu lebih untuk mengorganisasi pertahanan. Semakin banyak 
waktu yang diberikan kepada lawan semakin rapi pula organisasi pertahanan lawan 
sehingga semakin sulit pula menemukan celah. 
 Agar eksekusi throw in bisa dilangsungkan dengan cepat, semua pemain harus bereaksi 
dengan cepat dan mengisi posisi masing-masing. Sekali lagi, posisi dan tugas masing-masing 
pemain harus jelas agar pemain bisa cepat bereaksi terhadap situasi throw in dan 
tidak ada waktu yang terbuang dikarenakan kebingungan pemain. 
 Timing (kesempatan) lemparan ke dalam harus tepat dan sinkron dengan pemain lainnya. 
Tidak ada gunanya pemain yang melakukan lemparan ke dalam siap apabila rekan-rekannya 
masih belum siap. Pelempar bola juga harus memperhatikan pergerakan 
mengecoh yang dilakukan rekan-rekannya untuk kemudian melemparkan bola tepat saat 
gerakan tipuan selesai. Terlalu cepat tidak baik karena pemain yang dituju akan kaget 
karena belum siap. Sebaliknya, terlalu lambat juga percuma karena lawan yang tadinya 
terkecoh sudah bisa melakukan penanggulangan masalah sehingga kembali mampu 
menjaga lawan dengan baik dan ketat. 
 Variasi throw in apa pun yang dilakukan, prinsip mengecoh lawan dengan pergerakan 
silang semestinya tetap terkandung di dalamnya. Pergerakan-pergerakan yang rajin, cepat 
serta menipu harus ada supaya pemain yang melemparkan bola memiliki sebanyak 
mungkin opsi atau kemungkinan tujuan dan pemain yang dituju memiliki ruang gerak 
sekaligus sedikit waktu saat menerima bola.
46 
J. MATERI KEPELATIHAN : PENJAGA GAWANG 
Hal-hal khusus Mengenai Fisik, Teknik, Taktik, dan Jiwa Kebersamaan(Psychososial)/ 
Mental Penjaga Gawang 
FISIK 
 Kelincahan dan Reaksi 
 Koordinasi dan Keseimbangan 
 Kelenturan 
 Daya Tanggap dan Kewaspadaan 
 Kebugaran dan Kekuatan 
TEKNIK 
 Penguasaan Bola 
 Penguasaan Bola Menyilang (Crossing) 
 Menjatuhkan diri dan Mengamankan Gawang 
 Kelincahan Kaki 
 Penempatan posisi 
 Menangkap dan Menepis Bola 
TAKTIK 
 Melempar dan membagi bola 
 Mendukung Permainan 
 Mengatur Tempo Permainan
47 
JIWA KEBERSAMAAN (Psychososial)/Mental 
 Kemampuan untuk fokus / Memperhatikan 
 Membuat Keputusan / Kemantapan Hati 
 Keberanian 
 Komunikasi 
A. KUALIFIKASI PENJAGA GAWANG 
1) PENEMPATAN POSISI 
Kemampuan menempatkan posisi adalah modal utama seorang penjaga gawang/ 
kiper yang andal. Apabila seorang penjaga gawang mampu menempatkan posisi dengan 
baik, yang paling sering terjadi adalah penjaga gawang seakan-akan menjadi magnet 
sehingga bola seakan terus melaju ke arah penjaga gawang. Dengan penempatan posisi yang 
benar seorang penjaga gawang tidak perlu melompat jauh ke kiri dan ke kanan. Hal ini 
dikarenakan segitiga yang terbentuk oleh bola dan ke dua tiang gawang menjadi lebih kecil. 
Istilah umumnya adalah memperkecil sudut. Sebenarnya istilah ini dari sudut pandang 
matematika salah. Sudut tidak mungkin menjadi lebih kecil. Untuk lebih jelasnya perhatikan 
diagram-diagram di bawah ini: 
Diagram # 1 
Pada diagram # 1 terlihat 
bagaimana rentang 
gawang yang harus 
dijangkau kiper adalah 3,16 
m ke kiri dan 3,16 m ke 
sebelah kanan kiper. Angka 
3,16 m didapat dari 
perhitungan sebagai 
berikut: 
(rentang gawang : 2) – 
(rentang badan kiper :2) = 
(7,32 m : 2) – (1 m : 2) = 
(3,66 – 0,5) = 3,16 m.
Pada diagram ini juga terlihat bahwa segitiga yang tercipta antara letak bola dan 
kedua tiang gawang cukup luas. Selanjutnya, pada diagram # 2 terlihat kiper bergerak naik 
mendekati lawan. Akibatnya, rentang jarak ke sebelah kiri maupun kanan kiper yang harus 
dijangkau oleh kiper guna menggagalkan tendangan lawan adalah jauh di bawah angka 
3,16 m Semakin naik posisi kiper, semakin kecil luas segitiga. 
48 
Diagram # 2 
Saya pribadi pada umumnya 
menganjurkan kiper untuk naik 
sejauh-jauhnya (paling sedikit 2/3 
jarak antara bola dan garis gawang) 
apabila lawan berada di dekat 
gawang. Apabila posisi bola jauh 
saat shooting dilakukan, kiper cukup 
maju selangkah-dua langkah saja. 
Maksudnya sama: memperkecil 
segitiga (bukan sudut!) yang 
akibatnya adalah rentang jarak yang 
harus dijangkau kiper ke kiri 
maupun ke kanan semakin dekat. 
Efeknya jelas, bola yang dilesatkan 
lawan akan sulit melewati kiper. 
Selain penempatan posisi yang benar secara vertikal (naik-turun), posisi kiper juga 
harus benar secara horisontal (kiri-kanan). Nah, untuk penempatan posisi yang benar secara 
horisontal kiper harus memiliki pengetahuan akan The Invisible Line atau garis lurus yang tak 
tampak. Seorang kiper yang baik akan selalu membuat garis imaginatif antara titik tengah 
gawang dan letak bola. Untuk kemudian memosisikan dirinya di atas garis imajinatif 
tersebut. Perhatikan diagram di bawah ini: 
Diagram # 3 
Saat bola berpindah posisi 
kiper pun diharuskan bergerak agar 
ia bisa terus berada di atas garis 
invisible line. Untuk bisa melakukan 
itu seorang kiper dituntut untuk (1) 
sesekali menoleh ke belakang guna 
mencari titik tengah gawang, dan 
(2) memiliki kecepatan kaki agar 
bisa dengan cepat memosisikan 
dirinya dengan tepat. Oleh karena 
itu, saat melatih posisi kiper seorang 
pelatih yang bijaksana akan 
sekaligus melatih kecepatan kaki.
Perhatikan dua contoh latihan di bawah ini, masing-masing satu contoh latihan untuk 
penempatan posisi yang benar dan satu latihan untuk mengasah kecepatan kaki kiper 
(footwork). 
49 
Contoh latihan posisi: 
Diagram # 4 
Keterangan: 
1) Letakkan sebuah cone di titik 
tengah gawang sebagai alat bantu 
orientasi. 
2) Letakkan beberapa bola di 
berbagai posisi (dekat dan jauh, kiri 
maupun kanan). 
3) Pelatih menunjuk ke sebuah 
bola. Kiper bergerak dari titik 
tengah gawang ke arah bola tanpa 
meninggalkan sedikit pun garis 
invisible line. Asisten pelatih atau 
kiper cadangan memosisikan 
dirinya di belakang gawang guna 
memeriksa ketepatan posisi 
(apakah kiper menyimpang dari 
garis invisible line atau tidak). 
Contoh latihan kecepatan kaki: 
Diagram # 5 
Keterangan: 
1) Buatlah tanda plus dari cones 
masing-masing dengan jarak 3 m 
dari cones pusat. 
2) Instruksikan kepada kiper untuk 
bergerak secepat mungkin dari 
A→B→A→C→A→D→A→E→A 
3) Pergerakan kaki kiper hendaknya 
ke samping, ke belakang, ke depan, 
dst. 
4) Kiper hendaknya bergeser 
dengan langkah-langkah yang kecil, 
sedikit menjinjit dan dengan lutut 
yang sedikit ditekuk. 
5) Sebagai variasi, di akhir 1 set 
pergerakan pelatih bisa melepaskan 
tembakan keras untuk ditangkap 
kiper dengan lengket.
50 
2) BERANI ! 
Keberanian seorang kiper/penjaga gawang begitu penting artinya. Dalam sebuah 
pertandingan, seorang kiper begitu sering harus berhadapan 1 vs 1 dengan pemain lawan. 
Begitu sering terjadi situasi di mana lawan melepaskan tembakan dengan keras dari jarak 
dekat. Betul-betul dibutuhkan sebuah keberanian yang luar biasa. Tanpa mentalitas “berani 
mati” tingkat kehebatan seorang kiper akan drop secara signifikan. 
Bagaimana caranya menanamkan sifat berani dalam diri kiper Anda? Jawabannya: 
sulit! Pada umumnya sifat berani adalah pembawaan sejak kecil. Anak saya Brandon saat 
berusia dua tahun sudah berani meloncat dari ketinggian dua meter lebih ke dalam kolam 
renang, naik seluncur yang begitu tinggi, dan lain-lain. Betul-betul tidak mengenal rasa takut. 
Putri saya Shania Cinta lain lagi. Shania sangat hati-hati dalam bertindak dan cenderung 
tidak berani. Begitu juga dengan orang-orang di seluruh dunia; ada yang berani dan ada yang 
tidak mau ambil risiko. Jadi, bisa dikatakan keberanian adalah bakat alam yang tidak dimiliki 
oleh semua kiper. 
Di sisi lain pemain dan juga pelatih tidak boleh putus asa dan pasrah mengenai 
ketidakberanian seorang kiper. Kiper harus berani. Tidak bisa tidak. Apabila seorang kiper 
tidak ada niat untuk memperbaiki kelemahannya dalam segala hal termasuk dalam hal 
keberanian, maka sebaiknya ia berhenti menjadi seorang kiper. Jadilah pemain catur saja. 
Kita kembali ke pertanyaan semula; bagaimana caranya melatih keberanian seorang kiper? 
Dengan cara sering berdialog untuk menanamkan positive thinking dan kepercayaan diri 
dalam diri kiper Anda. Kalau Anda sendiri adalah seorang kiper, maka cara melatih diri Anda 
sendiri adalah lewat positive self talk atau berbicara dalam hati secara positif; “Aku Bisa! Aku 
berani! Aku adalah singa! Kalaupun luka nanti juga sembuh! Si A bisa kenapa aku tidak?!” 
Dll. Bisa juga lewat mendengarkan musik-musik yang insipratif dan penuh semangat. Selain 
itu tontonlah film-film yang menonjolkan keberanian seperti Gladiator, Any Given Sunday, 
Rudy, dll. 
Hal lain yang dapat Anda lakukan adalah: challenge yourself atau tantang diri Anda 
sendiri melakukan hal-hal yang membutuhkan keberanian. Teman saya Garret Hurtle pernah 
masuk ke dalam kandang buaya. Setelah memegang bahkan duduk di atas beberapa buaya, 
salah satu buaya marah dan hampir saja mencaplok mukanya. Dramatis sekali. Bagaimana 
tidak, antara moncong buaya dan mukanya hanya berjarak sekitar 5 cm! Yang kemudian 
dilakukannya membuat saya lebih tercengang lagi, Garret yang masih schock hebat, saat 
berjalan keluar kandang buaya menyempatkan dirinya memegang punggung seekor buaya. 
Saya bertanya kepadanya,”Apa kamu gila? Kamu hampir mati tadi, kok sempat-sempatnya 
memegang buaya saat keluar?” Garret menjawab dengan pasti, “Kalau saya langsung keluar 
tanpa memegang buaya terlebih dahulu saya akan selamanya takut akan buaya.” Betul-betul 
luar biasa teman saya yang satu ini. Komodo pun di alam bebas dijadikan mainan seakan-akan 
komodo adalah kelinci! 
Tentu saja saya tidak bermaksud mengajak Anda untuk melakukan hal-hal yang “gila” 
seperti Garret. Namun, prinsipnya patut untuk dicontoh: perasaan takut harus dihadapi 
bukan dihindari. Tantanglah perasaan takut itu dan “ciutkan nyalinya!” Selain itu yang bisa 
dilakukan seorang pelatih adalah dengan sengaja membuat program latihan yang 
memberikan kesempatan kepada kiper untuk menantang rasa takutnya. Shooting jarak 
pendek, misalnya, atau simulasikan situasi 1 v 1 (kiper vs penyerang).
Kesimpulannya jelas: 
1. Keberanian mutlak harus dimiliki seorang kiper ! 
2. Kelemahan dalam hal keberanian bisa diperbaiki walaupun sulit. Untuk itu diperlukan 
dedikasi tinggi dan sifat pantang menyerah. Di sinilah letak rahasia orang sukses: manusia 
sukses pantang menyerah. Manusia sukses selalu ingin maju, lebih baik lagi dan lebih baik 
lagi. Manusia sukses melawan rasa malas. Manusia sukses melawan rasa minder dan 
putus asa. Manusia sukses berkata “Tidak bisa tidak, aku harus bisa!” 
51 
3) PEMAIN BOLA YANG ANDAL 
Kemampuan mengolah bola dengan baik mutlak harus dimiliki seorang kiper karena 
seorang kiper sering mendapat umpan dari rekannya selama pertandingan berlangsung. 
Seorang kiper harus mampu mengontrol bola dengan baik, memberikan umpan dengan 
pasti dan tepat, serta paham mengenai ke mana bola harus diarahkan. Maka, biarkan kiper 
ikut berlatih bersama pemain-pemain lain sesering mungkin. Dengan demikian, kemampuan 
mengolah bola dengan kedua kakinya semakin terasah. 
Contoh latihan: 
Lakukan possession game (tim A vs tim B) di seluruh lapangan. Masing-masing tim diperkuat 
seorang kiper yang diperbolehkan menggunakan baik kaki dan tangannya guna mengolah 
bola. 
4) MEMILIKI REAKSI YANG BAIK 
Mampu untuk bereaksi secara cepat adalah sebuah nilai plus yang mahal harganya 
bagi seorang kiper. Betapa tidak, banyak sekali tendangan ke arah gawang dilesatkan dari 
jarak pendek sehingga dibutuhkan kemampuan refleks yang tinggi. 
Guna melatih kemampuan bereaksi seorang kiper, lakukan latihan-latihan di bawah ini: 
Contoh latihan mengasah reaksi #1: 
Diagram # 6 
Keterangan: 
Pelatih (P) melesatkan tembakan 
demi tembakan ke arah gawang. 
Daerah depan gawang telah dipenuhi 
cones-cones tinggi yang berpotensi 
mengubah arah bola. Dengan 
demikian, kiper dituntut bereaksi 
secara cepat dan sigap.
Contoh latihan mengasah reaksi #2: 
Dua kiper berhadap-hadapan dengan jarak 5 m. Masing-masing kiper melemparkan bolanya 
ke arah rekannya secara bersamaan. Bola yang “muntah” harus secepatnya ditangkap. 
Begitu seterusnya. 
52 
5) TEKNIK MENANGKAP BOLA 
Bila bola yang ditangkap kiper ternyata lepas dari genggaman tentu runyam 
akibatnya. Oleh karena itu, seorang kipper hendaknya memiliki teknik menangkap bola 
sesempurna mungkin. Ajarilah kiper Anda untuk membentuk huruf “W” saat menangkap 
bola lambung. Untuk bola yang mengarah ke badan bentuklah huruf “A” (atau sebuah 
segitiga) dengan kedua jari telunjuk dan jempol tangan. Sedangkan untuk bola-bola yang 
menyusur tanah bentuklah huruf “V” dengan kedua telapak tangan Anda. 
6) KUALITAS LOMPATAN 
Rentang gawang yang lebar dan melebihi daya jangkau memaksa seorang penjaga 
gawang untuk memiliki kemampuan lompatan yang mumpuni. Untuk itu teknik melompat 
dengan benar perlu dikuasai. Setali tiga uang kemampuan daya eksplosifitas otot seorang 
penjaga gawang perlu dilatih agar mampu memberikan daya yang dibutuhkan untuk terbang 
ke kiri, ke kanan maupun ke atas. 
Untuk latihan mengasah daya eksplosifitas lihat bagian plyometrics dihalaman 158. 
7) TUBUH YANG LENTUR DAN KOORDINASI YANG MULUS 
Latihan seorang penjaga gawang seharusnya didominasi oleh latihan koordinasi dan 
fleksibilitas. Otot seorang penjaga gawang harus lentur agar mampu melakukan lompatan-lompatan 
serta gerak-gerik dengan seefisien dan semulus mungkin. 
Seorang penjaga gawang yang baik sering diibaratkan seekor kucing yang piawai melompat 
dengan mengandalkan tubuhnya yang lentur. 
Karena itu latihan penjaga gawang hendaknya menghindari segala bentuk latihan yang 
mengakibatkan tubuh menjadi kaku. Setiap latihan yang dilakukan guna memperbaiki daya 
eksplosifitas otot hendaknya diimbangi dengan latihan kelenturan tubuh. 
Demikian Penjabaran sebagian materi kepelatihan untuk penjaga gawang. 
Selengkapnya carilah bahan-bahan panduan khusus penjaga gawang. 
Variasi latihan boleh berbeda namun materi kepelatihan penjaga gawang 
hendaknya mengikuti arahan sesuai kurikulum.
53 
K. GAYA KEPELATIHAN 
1. Garis Besar Mengenai Kepelatihan dan Persiapan latihan 
untuk Para Pelatih 
PRINSIP UMUM 
JIWA KOMPETISI : Semua permainan memiliki unsur kompetisi, menghadiahi tim yang 
menang dan membentuk jiwa kompetisi yang sehat dan senantiasa berlatih dalam suasana 
kompetisi. 
BOLA : Semua latihan harus selalu dilakukan dengan bola. 
KEGEMBIRAAN : Pelatih harus menggunakan kreativitasnya untuk merancang latihan 
yang menyenangkan sekaligus berhubungan dengan sepak bola terutama untuk para 
pemain muda. 
ORGANISASI 
PERSIAPAN : Setiap pelatih harus mempersiapkan dan membuat perencanaan dalam latihan 
sebelum waktu latihan dilaksanakan. Catatan dari semua rencana latihan disimpan sebagai 
arsip. 
SAAT LATIHAN : Jangan hentikan terlalu sering. Pemain harus belajar untuk menemukan 
cara memecahkan masalah tanpa harus diberi tahu terus menerus. Berikan kalimat yang 
jelas, cermat, dan cepat-cepat lanjutkan kembali latihan.
EVALUASI : Ambil beberapa menit setelah jam latihan untuk meninjau kembali dan berikan 
catatan pada apa yang sudah dilakukan dengan baik dan apa yang masih membutuhkan 
perbaikan. 
54 
MELATIH PEMAIN 
PENGUASAAN BOLA DAN PASSING : Teknik dari seorang pemain didasari oleh penguasan 
bola yang sama baiknya dengan akurasi passing yang dilakukannya. Kualitas dan ketepatan 
arah bola pada sentuhan pertama merupakan hal yang amat sangat penting. 
DAYA TANGKAP DAN KEWASPADAAN : Tegaskan kepada mereka untuk terus menegakkan 
kepala dan pandangan mata selalu melihat ke segala penjuru lapangan. Daya tangkap dan 
kewaspadaan adalah bagian penting dari sebuah pertandingan. 
KECEPATAN DAN REAKSI : Setiap latihan menggabungkan kecepatan daya tangkap, 
pengambilan keputusan, dan kemampuan untuk menindaklanjutinya dengan cermat. 
Meningkatkan kecepatan individu akan meningkatkan kecepatan keseluruhan tim. 
MELATIH TIM 
JARAK DAN PERGERAKAN : Menciptakan ruang dengan tujuan untuk mendapatkan bola dan 
memberikan pilihan untuk passing kepada pemain yang sedang menguasai bola sangat 
penting. Artinya tunjukkan kepada para pemain bagaimana bergerak di saat yang tepat. 
MENYERANG – BERTAHAN : Semua pemain menyerang dan bertahan. Berikan aturan yang 
terperinci dan jelaskan gerakan-gerakan yang diperlukan oleh para pemain, baik secara 
perorangan maupun sebagai satu tim. 
KECEPATAN PERMAINAN : Tujuan utama dari tim adalah untuk bermain di dalam kecepatan 
yang maksimal. Mengurangi ruang dan jumlah sentuhan pada bola akan meningkatkan 
kecepatan bermain.
55 
2. Menciptakan Suasana Dan Sarana Berlatih Yang 
Kondusif Bagi Perkembangan Pemain 
Ada empat faktor yang mutlak harus ada di setiap latihan apabila pelatih dan klub 
menginginkan terjadinya perkembangan kualitas pemain: 
Intensitas Latihan 
Asal latihan tidak cukup. Sering saya miris melihat banyaknya SSB yang melatih terlalu 
banyak siswa sekaligus. Alhasil, latihan tidak efektif. Pemain sedikit mendapatkan 
kesempatan/giliran sehingga intensitas latihan rendah. 
Program latihan yang tidak tersusun rapi juga bisa mengakibatkan latihan intensitas tinggi 
tidak tercipta. 
Tanpa latihan berintensitas tinggi seorang pemain tidak mungkin bisa mengembangkan 
kualitas teknik dan fisiknya dengan baik. 
Kualitas Latihan 
Tanpa peralatan fasilitas serta lapangan yang memadai kualitas latihan akan rendah. Kualitas 
Pelatih juga sangat menentukan kualitas latihan. Selain itu faktor-faktor lain seperti daya 
konsentrasi dan semangat pelatih dan pemain juga kebugaran pemain sangat berpengaruh 
pada tinggi rendahnya kualitas latihan. 
Sedang kualitas latihan itu sendiri tentu saja sangat berpengaruh bagi perkembangan 
pemain. Karena masih rendahnya kualitas latihan di Indonesia maka pemain yang tercipta 
juga tidak maksimal. 
Kesimpulannya jelas : apabila Indonesia ingin bersaing dengan dunia Internasional kualitas 
latihan harus diperbaiki sehingga pemain bisa berkembang dengan baik.
Kompetisi dalam Latihan dan dalam Pertandingan 
Kesalahan lain yang umum dilakukan oleh SSB dan Klub-Klub di Indonesia adalah tidak 
adanya falsafah kompetisi di dalam program latihan. Latihan apapun bentuknya , akan lebih 
bergairah, lebih berkualitas dan lebih efektif apabila dilakukan dalam bentuk kompetisi. 
Penjadwalan pertandingan persahabatan yang rutin dan turut serta dalam festival/ 
turnamen/kompetisi juga sangat diperlukan bagi perkembangan kualitas pemain. 
Pemahaman Permainan 
Lewat program latihan dan Coaching Point (CP ) yang terkandung didalamnya peran pelatih 
dan latihan itu sendiri sangat besar bagi perkembangan pemain dalam hal pengertian 
permainan. Saya pribadi sangat sering menjumpai pemain di seluruh Indonesia yang 
mempunyai skill individu dan kecepatan yang mumpuni namun sayang pemahaman 
permainan sangat minim. Awareness tentang dimana bola, kawan dan lawan sering tidak di 
miliki pemain. Selain itu, pemahaman tentang kapan mendribel bola dan kapan harus 
mengumpan bola serta kemana bola harus di umpan juga sangat minim. Pemahaman taktis 
seperti contoh-contoh tadi mutlak harus diajarkan kepada pemain agar perkembangan 
pemain bisa optimal. 
56 
3. Meracik Menu Latihan dan Organisasi Latihan 
LANGKAH 1 
TENTUKAN FOKUS LATIHAN 
Teknik : Sekali latihan fokus 1-2 macam teknik saja. Selalu tandemkan teknik passing 
dengan 1-2 macam teknik lainnya (contoh : passing + shooting atau passing + trik individu) 
Taktik: bertahan/menyerang? (pilih salah satu!). Taktik individu/grup/tim (pilih 1-2 saja 
untuk sekali latihan). 
Fisik: Endurance (ketahanan) dengan dan tanpa bola/power (kekuatan)/koordinasi dan 
kelenturan/speed (kecepatan) dengan dan tanpa bola bisa digabung semua dalam sekali 
latihan atau fokus ke satu-dua bagian saja. Untuk pemain usia muda gabungkan koordinasi 
dengan yang lain (sebisa mungkin hindari endurance tanpa bola) untuk usia 12 tahun 
kebawah fokus ke koordinasi dan kecepatan dengan bola saja.
57 
LANGKAH 2 
MEMBUAT PROGRAM LATIHAN 
 Tertulis supaya terencana dan bisa diarsipkan. 
 Prinsip benang merah : dari awal sampai akhir latihan bagian-bagian latihan terlihat 
selaras, serasi dan saling berhubungan sesuai dengan tema latihan. Tema latihan 
harus terlihat jelas dari awal sampai akhir. 
 Pakai bola! Pakai bola! Pakai bola. 
 Hindari antrean! Modifikasi latihan sehingga antrean tidak terjadi. Contoh: sebagian 
shooting ke dua gawang, sebagian body fitness lalu gantian. 
 Intensitas latihan harus dari santai ke berat. 
 Tingkat kesulitan latihan harus dari gampang ke sulit, dari yang sudah dikenal ke 
latihan yang belum dikenal. 
 Pastikan adanya tekanan (untuk melatih mental) dalam bentuk perlombaan/hadiah/ 
hukuman/tekanan waktu. 
 Pastikan program Anda sesuai metode pembuatan program latihan (tidak asal bikin 
program) mulai dari warm up (10’-15’) sampai cooling down (5’-10’). 
 Coaching point (CP) sebaiknya 3-5 saja agar mudah diserap dan diingat pemain. 
Tuliskan CP di bagian-bagian latihan untuk mengingatkan Anda saat latihan. 
 Tentukan dan tulis berapa menit untuk setiap bagian latihan. 
 Perhatikan program latihan yang sudah Anda buat. Tanyakan pada diri sendiri; sudah 
cukup variatifkah (tidak monoton) latihan ini?? Bagaimana dengan fun aspect atau 
faktor kesenangan? Apakah pemain akan senang dan bergairah mengikuti program 
latihan yang Anda buat? 
 Pastikan variasi-variasi yang Anda pilih efektif, gampang dimengerti dan tidak 
mengakibatkan antrean. HINDARI ANTREAN! 
LANGKAH 3 
PERSIAPAN DI LAPANGAN 
 Amati program Anda; perlengkapan apa saja dan berapa biji yang anda butuhkan. 
 Siapkan rompi/cones/bola/dll untuk sebanyak mungkin macam latihan sebelum 
latihan dimulai!!! Pelatih yang seharusnya pertama sampai di lapangan!!! 
 Ambil waktu beberapa menit untuk sekali lagi memperhatikan coaching points untuk 
setiap bagian latihan yang telah anda tulis. 
LANGKAH 4 
SAAT MELATIH 
 Bila diperlukan adjust atau sesuaikan jumlah pemain, misalnya, atau besar lapangan, 
atau jarak drill dll agar latihan menjadi lebih efektif. 
 Pelatih sebaiknya berdiri di posisi yang central agar bisa leluasa melihat semua 
pemain dan bisa melihat kejadian-kejadian di lapangan dengan jelas. 
 Lakukan pembenaran sesuai coaching points. Lakukan pembenaran dengan jeli tanpa
memakan banyak waktu (berbicara terlalu lama/ terlalu sering). Ingat: tetaplah fokus 
pada 3-5 coaching points yang telah anda persiapkan. Jangan melantur kesana 
kemari. 
 Jangan biarkan pemain kehilangan fokus saat berlatih. Di saat yang sama tetaplah 
berperilaku dan bertutur kata positif. Angkat motivasi pemain. Jaga semangat dan 
fokus Anda. 
58 
LANGKAH 5 
EVALUASI 
Setelah latihan selesai lakukan evaluasi tentang apa saja yang Anda telah lakukan dengan 
benar dan apa saja kesalahan yang Anda lakukan selama latihan. 
Tanyakan pada diri sendiri dan rekan Anda; sudahkah organisasi latihan berjalan dengan 
optimal? Apakah semua bagian latihan dapat diterima dengan baik oleh pemain? Apakah 
coaching points yang anda persiapkan telah anda sampaikan sekaligus bisa dimengerti oleh 
pemain? .
59 
BAB III 
KURIKULUM SESUAI KELOMPOK 
UMUR 
A. Mengatur Perkembangan pemain berdasarkan umur dan 
tingkatan 
Anak-anak TIDAK belajar dengan cara yang sama seperti orang dewasa, khususnya 
ketika proses belajar mencakup intelektual sekaligus aktivitas fisik. 
Umur seseorang menentukan cara ia berhubungan dengan dunia di sekitarnya dan 
dengan sesamanya. Dalam semua proses belajar, umur adalah kunci dalam memilih 
materi dan metode apa yang cocok untuk mengajarkan suatu materi. Sepak bola juga 
demikian. Untuk alasan inilah kita tidak dapat menyamakan latihan antara usia 5 dan 
13 tahun. Frekuensi latihan harus disesuaikan dengan usia pemain. Berdasarkan 
karakteristik dari pertumbuhan manusia dan seorang pemain, kami menyusun 
kurikulum dalam empat kelompok umur . 
Pada tingkat usia ini, anak-ana 
k t i da k memi l ik i 
TINGKAT PEMULA (FUN PHASE) – 5 SAMPAI 8 TAHUN 
kemampuan yang sama seperti orang dewasa untuk mengerti situasi. Mereka 
memahami dunia dengan pemahaman yang berpusat pada diri sendiri. Bagi anak-anak 
mengalami kebersamaan dan berhubungan dengan teman-temannya masih 
sangat berpengaruh. Juga, pengertian pada perasaan atau pikiran orang lain masih 
sangat rendah. Dalam rangka menolong anak-anak membangun pengalaman mereka 
sendiri, banyak latihan bersifat individu (misalnya setiap pemain memiliki bolanya 
masing-masing). Hal yang bersifat taktik dalam pertandingan disederhanakan dalam 
permainan lapangan kecil (40 m x 20 m) dengan sedikit pemain (4 v 4 atau dengan 
kiper 5 v 5). Waktu latihan akan juga menyoroti pelatihan olah raga secara umum 
dan tidak melulu pelatihan sepak bola. 
Untuk Kepentingan latihan bagi tingkat pemula dalam dua kelompok: 
1). 5 dan 6 tahun; 2). 7 dan 8 tahun.
Pada tingkat ini, susunan 
pelatihan (bukan materi latih) 
sudah mirip dengan pemain yang lebih tua. Bagian terpenting latihan adalah yang 
bersifat teknis. Sangat baik dalam usia ini mengembangkan teknik dan pengertian 
akan taktik dasar. Kemampuan anak-anak untuk mengatasi masalah akan 
berkembang dengan pesat. Maka pemain harus mulai diajarkan taktik dasar yang 
dinamis. Pada tingkat ini, pemain ada pada masa pra puber dan memiliki masalah 
keterbatasan fisik terutama pada kekuatan dan ketahanannya. Latihan fisik yang 
diberikan hanya sebatas kecepatan dengan bola, kelincahan (agility) dan koordinasi. 
Para pemain pada 
usia ini telah 
memiliki peningkatan yang baik tentang pengertian permainan. Di lain pihak pada 
umur ini pemain dibatasi oleh keterbatasan fisik dan perubahan-perubahan fisik yang 
muncul seiring dengan masa pubertas. Pelatih harus sangat memerhatikan 
kenyamanannya. Pelatih harus menghindari latihan yang berlebihan dan berfokus 
pada taktik lebih daripada teknik dan mengurangi aspek fisik. Aspek fisik yang paling 
diutamakan untuk usia ini adalah latihan koordinasi dan flexibility. Latihan taktik 
bermain sangat penting pada usia ini. 
Pemain pada usia ini 
memiliki pertumbuhan fisik 
dan mental yang lebih lengkap. Semua bagian dari latihan dapat dikombinasikan dan 
diorganisasikan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi tertinggi dari pemain. 
Kekuatan otot membantu mereka untuk mengembangkan teknik dengan kecepatan 
tinggi dan kecepatan ini membantu pemain untuk bereaksi lebih cepat pada situasi 
taktis. Tingkat ini sangat penting untuk menggabungkan semua bagian dari pelatihan 
sepak bola dengan tujuan untuk menyempurnakan pemahaman pemain. 
60 
TINGKAT DASAR (FOUNDATION) – 9 SAMPAI 12 TAHUN 
Untuk kepentingan latihan bagi tingkat dasar dalam dua kelompok: 
1). 9 dan 10 tahun; 2). 11 dan 12 tahun. 
TINGKAT MENENGAH (FORMATIVE PHASE)– 13 SAMPAI 14 TAHUN 
Untuk kepentingan latihan kelompok ini tidak perlu dipecah. 
TINGKAT MAHIR (FINAL YOUTH) – 15 SAMPAI 20 TAHUN 
Untuk kepentingan latihan bagi tingkat Final Youth menjadi tiga kelompok: 
1). 15 dan 16 tahun; 2). 17 dan 18 tahun; 3). 19 dan 20 tahun. 
Hal-hal di atas adalah beberapa fakta pada perkembangan manusia yang disesuaikan dengan sepak bola. 
Kurikulum ini menggunakan fakta-fakta tersebut dalam menentukan metode kepelatihan yang tepat 
untuk setiap tingkat umur. 
Menyamakan Istilah: 
U 5 - U12 : Usia dini/grassroot 
U13 - U20 : Usia muda 
U 21 ke atas : Senior
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82 
2. Contoh Program Latihan Tingkat Pemula/Fun Phase (U5 - U8) 
Contoh Penekanan/Tujuan : Pemain banyak mendapatkan kesempatan melakukan dribling 
dan shooting . 
Coaching Points : 
 Dribel bola dekat dengan kaki . 
 Shooting menggunakan kaki kura-kura. 
 Posisi kaki tumpuan disebelah bola. 
a) Pemanasan (5 menit) 
Keterangan: 
 Masing-masing pemain mengolah 1 bola. 
 Tanpa keluar dari kotak dan tanpa saling 
berbenturan, pemain mengolah bola dengan 
bebas lalu menghentikan bola secepatnya saat 
ada aba-aba “satu” => stop bola memakai sole 
kaki kiri. Aba-aba “dua” => stop bola memakai 
sole kaki kanan. Aba-aba ‘tiga” => stop bola 
memakai sole kaki kiri dan kanan. 
b) Latihan Fisik ( 10 menit) 
Organisasi sama seperti diatas. Pemain mengolah bola secara bebas diselingi kode peluit 
dari pelatih dengan berbagai variasi: 
 Variasi 1 => Tinggalkan bola, cari bola pemain lain lalu duduk diatas bola. 
 Variasi 2 => Tinggalkan bola, cari bola pemain lain lalu lempar bola keatas dan tangkap 
bola sambil melompat. 
 Variasi 3 => Tinggalkan bola, cari bola pemain lain lalu dribel bola secepatnya keluar 
kotak. 
 Variasi 4 => Tinggalkan bola, lalu berkelompok sesuai aba-aba pelatih, 
( contoh : “berempat”, “berdua”, dll.). 
c) Latihan Teknik mudah (10 menit ) 
Keterangan: 
 Pemain mendribel bola secepatnya sejauh 
kira-kira 5 m tanpa kehilangan kontrol lalu 
melakukan shooting kearah gawang. Pemain 
yang mencetak gol berhak jadi penjaga gawang.
83 
d) Latihan Teknik Kompleks (10 menit) 
Keterangan: 
 Pemain melewati 3 cones lalu 
melesatkan tembakan. (Awas: hindari 
antrian). 
e) Game (20 menit) 
 Main 4 v 4 dengan luas lapangan 30 meter x 20 meter. Ingatkan pemain untuk berani 
melakukan shooting. 
f) Cooling Down (5 menit) 
 Setiap pemain dengan bola masing-masing memantulkan bola lalu menendang keatas 
kemudian menangkap . Gunakan kaki kiri dan kanan secara bergantian.
84
85 
2. Contoh Program Latihan Tingkat Dasar/Foundation (U9 - U12) 
Contoh penekanan/ Tujuan : Pemain maupun melakukan kontrol bola dan passing secara 
akurat. 
Coaching Point : 
 Umpankan bola secara mendatar. 
 Bergerak guna memberi support setelah mengumpankan bola (anschlussaktion). 
 Kontrol bola dekat dengan kaki dan menjauh dari lawan. 
a) Pemanasan ( 10 menit ) 
Variasi 1 ( 5 menit ) 
Keterangan : 
 Pemain mengolah bolanya masing-masing 
secara bebas dan kreatif. Setiap kali 
pelatih meniupkan peluit pemain melakukan 
berbagai gerakan Samba (masing-masing 
empat hitungan saja) lalu mengolah bola 
kembali. 
Variasi 2 ( 5 menit ) 
Keterangan: 
 Dua bola dikuasai 2 pemain yang 
mengolah bola secara bebas tanpa bola 
berhenti (mati). Bola diumpankan pada 
pemain lain (1) dilanjutkan dengan sprint 
pendek maju (2). Pemain yang menerima 
bola lalu mengumpankan bola (3) dan 
melakukan sprint mundur ( 4). Begitu 
seterusnya; Pemain yang menerima bola 
melakukan gerakan yang berbeda dengan 
gerakan sang pengumpan.
86 
b) Latihan Fisik (10 menit ) 
Keterangan : 
 Variasi 1: Pemain berpasangan. Pemain A 
menerima bola dari pemain B dan dengan 
satu sentuhan saja mengumpan balik 
(menggunakan kaki kiri dalam) dilanjutkan 
dengan bergerak menyamping (2 sentuhan 
diantara cones) lalu mengumpan balik 
dengan kaki kanan dalam. Begitu seterusnya . 
 Ganti setelah 1 menit. 
 Variasi 2: Pemain A berlari meliuk-liuk 
melewati cones lalu melakukan tendangan 
volley. 
 Variasi 3: Pemian A bergerak maju mundur melewati cones lalu mengontrol bola yang 
dilemparkan pemain B lalu mengembalikan bola secara menyusur tanah. 
c) Latihan Teknik (20 menit) 
Variasi 1 ( 10 menit ) 
Keterangan: 
 Bagi pemain menjadi 3 pemain 
perkelompok . 
 2 pemain bagian luar melemparkan 
bola ke pemain ditengah yang secepatnya 
mengontrol bola untuk kemudian 
mengumpan balik secara mendatar. 
 Ganti posisi setiap 1 menit sehingga 
masin-masing pemain mendapatkan 
kesempatan berada ditengah. Sedikit 
perlebar jarak lempar untuk menambah 
tingkat kesulitan.
87 
Variasi 2 (10 menit ) 
Keterangan: 
 Pemain A melempar bola ke 
pemain B (1) lalu bergerak ke sisi kiri 
atau kanan (2). Pemain B mengontrol 
bola lalu mendribel bola. Saat lawan 
datang menghadang pemain B bisa 
melakukan umpan one-two dengan 
pemain A (3) atau mendribel bola 
melewati lawan (4). 
 Latih pengertian taktis pemain 
untuk mengetahui kapan harus 
melewati lawan dan kapan 
mengumpan bola. Para pemain terus 
berganti posisi. 
d) Latihan Taktik (15 menit) 
Keterangan: 
 Bagi dalam 2 kelompok ; masing - 
masing kelompok bermain possesion 
3 v 3 + 1 pemain netral. Instruksikan 
pemain netral sebanyak mungkin 
melakukan umpan bola atas yang 
harus dikontrol dan diumpan secara 
mendatar. 
 Ganti pemain netral setiap 4 menit. 
 Setiap 4 menit berikan 1 menit 
istirahat. 
 Koreksi pemain bila melakukan 
kontrol yang salah atau pilihan yang salah antara mengumpan/mendribel bola. 
e) Game (25 menit) 
 Mainkan game 8 v 8 (termasuk kiper). Terus tekan ketiga coaching points yang tertera 
dibagian awal contoh latihan ini. 
f) Cooling Down (5 menit) 
 Jogling bola dua kali diselingi satu kali bola menyetuh tanah.
88
89 
2. Contoh Program Latihan Tingkat Menengah/Formative Phase 
(U13 - U14). 
Contoh Penekanan/Tujuan: Pemain mempraktekan beberapa kombinasi permainan dan 
mendapatkan banyak kesempatan melakukan penyelesaian akhir. 
Coaching Points : 
 Bergerak setelah mengumpan bola dengan tujuan yang jelas ( melakukan overlap/one-two/ 
memosisikan diri sebagai pemain jangkar /meminta umpan terobosan ). 
 Cepat tetapi tenang dimuka gawang saat melakukan penyelesaian akhir. 
a) Pemanasan (10 menit ) 
Keterangan : 
 Pemain berpasangan. Masing-masing 
pasangan menguasai satu bola. Arahkan 
pemain untuk melakukan overlap run 
bekerjasama dengan pasangannya masing 
-masing secara bergantian ( 2 menit ). 
Selanjutnya arahkan pemain untuk 
mencari kesempatan umpan one-two 
diantara pemain lain secara bergantian ( 2 
menit ). Selanjutnya arahkan pemain 
melakukan umpan pantul disusul dengan 
umpan terobosan ( 2 menit ). 
 Untuk 2 menit terakhir bebaskan 
setiap pasangan melakukan ketiga kombinasi diatas secara bebas dan tidak beraturan. 
 Diantara kombinasi yang berbeda bebaskan pemain melakukan gerakan-gerakan samba, 
masing-masing 30 detik. 
b) Latihan Teknik (20 menit) 
Variasi 1 ( 10 menit ) 
Keterangan: 
 Bagi pemain dalam 2 kelompok. Masing-masing 
kelompok bermain 4 v 4 atau 5 v 5. 
Kiper A dan B menguasai bola. Kiper A 
memberikan bola pada tim merah (1) 
sedangkan kiper B mengumpan bola pada 
salah satu pemain putih (2) pemain kedua tim 
menyeberang ke kiper yang lain dengan 
melakukan berbagai kombinasi pantulan, 
overlap, one-two, dan umpan terobosan 
(through pass).
90 
Variasi 2 ( 10 menit ) 
Majukan salah satu gawang kedepan kotak 16 m. Arahkan pemain (8 -10 pemain per 
tim) untuk melakukan latihan yang sama seperti variasi 1. Bedanya pemain setelah 
melakukan berbagai kombinasi berusaha mencetak gol. Pastikan pemain bertindak dengan 
cepat namun tenang (tidak tergesa-gesa atau gugup). 
c) Latihan Fisik (15 menit) 
Biarkan pemain melakukan berbagai gerakan koordinasi menggunakan 1-2 tangga 
koordinasi disusul dengan sprint pendek 5 meter guna mengasah kelincahan dan 
eksplosifitas. 
d) Latihan Taktik (20 menit) 
Variasi 1 ( 10 menit ) 
Tim penyerang menempati posisi masing-masing menggunakan formasi 4-3-3 saat 
bertahan (compact). Bola ditendang kiper lawan sejauh mungkin. Tim penyerang secepatnya 
mengisi posisinya disaat menyerang (membuka) lalu berusaha menciptakan gol melawan 5 
pemain lawan yang memakai formasi 4-1-0. Rotasi pemain setelah 5 menit. 
Variasi 2 ( 10 menit ) 
Sama seperti variasi 1 namun jumlah lawan diperbanyak menjadi 7 yang memakai 
formasi 4-2-1. 
e) Game (25 menit) 
10 menit pertama lakukan pembenaran seperlunya apabila pemain tidak melakukan 
sesuai coaching points yang tertera diawal program latihan ini. 
f) Cooling Down (5 menit) 
Setiap pemain bebas melakukan Jogling menggunakan bolanya masing-masing 
(1 menit) disusul dengan stretching pasif sesuai arahan pelatih. Lakukan stretching dengan 
benar ( tidak asal-asalan atau dengan setengah hati ).
91
92 
2. Contoh Program Latihan Tingkat Mahir /Final Youth (U15 - U20) 
Contoh Penekanan/Tujuan : Menerapkan prinsip-prinsip bertahan khususnya saat 
melakukan pergeseran 1 v 1 dan saat mendobel lawan. 
Coaching Points : 
 Press lawan lalu ikut mundur sesuai kecepatan lawan. 
 Delay lawan sampai ada pemain yang datang membantu. Saat terjadi 2 v 1 berubah 
agresif tanpa bertindak kasar. 
 Bergeser secara diagonal dan cepat. 
a) Pemanasan (10 menit) 
Keterangan: 
 Arahkan pemain bermain 4 v 2 dengan santai 
(3 menit). Selanjutnya pemain melakukan 
berbagai gerakan samba ditempat sesuai arahan 
pelatih (3 menit). Lanjutkan dengan kembali 
bermain 4 v 2 dengan intensitas yang lebih 
tinggi ( 4 menit ). Berikan arahan bagi pemain A 
untuk menekan lawan dari sisi kanan dan pemain 
B mencover ditengah (sedikit condong ke kiri). 
b) Latihan Teknik (20 menit) 
Variasi 1 ( 10 menit ) 
Keterangan: 
 Bagi pemain dengan 3 pemain dalam 1 
kelompok . Pemain A mendribel bola kearah 
pemain B. Pemain B bergerak maju lalu disaat 
yang tepat ikut bergerak mundur agar tidak 
dilewati pemain B. Selanjutnya gantian pemain 
B yang mendribel bola kearah pemain C. Begitu 
seterusnya.
93 
Variasi 2 (10 menit) 
Keterangan: 
 Pemain A mendribel bola kearah pemain B 
yang datang mengganggu. Sesaat kemudian 
datang pemain C membantu mendobel lawan 
sehingga tercipta situasi 2 v 1. Rotasi posisi 
pemain. 
c) Latihan Fisik (10 menit) 
Lihat contoh latihan fisik ( latihan fisik #4 halaman 175 ). Biarkan pemain melakukan 
sprint tanpa bola disusul dengan sprint dengan bola (speed drible). 
d) Latihan Taktik (20 menit) 
Lakukan latihan 6 v 6 dengan menggunakan formasi 4-2-0. Lihat langkah kelima : 
Taktik tim I (halaman 129). Pemain menyerang selalu memulai serangan dari garis tengah 
lapangan. Siapkan 3 gawang kecil dari cones ukuran 3 m disepanjang garis tengah lapangan. 
Saat pemain bertahan berhasil merebut bola secepatnya umpankan bola kesalah satu dari 
ke tiga gawang kecil tadi. 
e) Game (25 menit) 
Mainkan game 11 v 11. Selama 10 menit pertama lakukan pembenaran-pembenaran 
singkat seperlunya guna mengingatkan pemain pada coaching points yang 
telah dijabarkan di awal program latihan ini. Setelah itu biarkan pemain bermain tanpa 
interupsi.
94 
E. FORMAT PROGRAM LATIHAN FISIK UNTUK KELOMPOK UMUR 
15 TAHUN KEATAS 
Tidak ada format khusus untuk latihan fisik. Yang ada adalah panduan yang sebaiknya 
diaplikasikan saat melatih fisik. 
Prinsip-prinsip Latihan Fisik: 
1. Semua bagian fisik seperti endurance (ketahanan), speed (kecepatan), speed-endurance 
(daya tahan saat banyak melakukan sprint), power (kekuatan otot), 
flexibility (kelenturan otot), agility (kelincahan) serta koordinasi (kemampuan tubuh 
untuk singkron atau sejalan dengan perintah otak) harus dilatih secara adil sehingga 
tidak terjadi ketimpangan. 
2. Latihan sprint seharusnya diawal latihan SETELAH pemanasan yang cukup (15 menit). 
Lakukan latihan sprint dengan atau tanpa bola ke beragam arah (maju-mundur-menyamping- 
berputar) sehingga sesuai dengan kebutuhan saat bertanding. Selain itu 
berikan waktu yang cukup diantara tiap-tiap sprint (1 menit per 10 meter sprint) agar 
eksplosifitas tetap terjaga. 
3. Latihan fisik khususnya endurance bisa dilatih dengan menggunakan bola. Gunakan 
permainan lapangan kecil dan drill-drill latihan teknik guna menempa endurance. 
Inilah yang disebut dengan football conditioning (menempa kondisi pemain lewat 
sepakbola itu sendiri). 
Contoh latihan endurance menggunakan permainan: 
 Possession game 5 v 5 dengan limitasi maksimal 2 sentuhan per pemain. 
Contoh latihan endurance menggunakan drill-drill teknik: 
 Pemain berpasangan. Masing-masing pasangan dilengkapi 1 bola. 
 Pemain A melempar bola dari jarak 5 m kepada pemain B yang mengontrol bola di 
udara lalu memberikan umpan balik ke A secara menyusur tanah. 
 Setelah mengumpan bola pemain B berlari mundur 5 - 10 meter sebelum kembali 
menyambut umpan pemain A. 
 Lakukan 5 - 10x sebelum berganti posisi. 
 Macam-macam variasi bisa diterapkan seperti melakukan heading, berputar dengan 
bola, melakukan trik individu dll sebelum berlari mundur 5 - 10 meter. 
 Untuk latihan power baca halaman 157 tentang panduan penggunaan alat-alat fitness 
bagi pemain bola. Selain itu lakukan berbagai gerakan seperti push up, sit-up, dll yang 
dikenal dengan istilah body fitness. Lakukan latihan plyometrics (baca halaman 158) 
kira-kira seminggu sekali. 
 Latihan fisik endurance, power, speed, koordinasi, kelincahan dan flexibility bisa 
diselipkan didalam latihan bertema apapun. Dengan kata lain tidak harus diberikan 
latihan pertema fisik secara khusus. 
INGAT : Latihan dengan intensitas tinggi adalah cara terbaik melatih fisik .
95 
INTENSITAS LATIHAN ITU SENDIRI TERCIPTA APABILA: 
 Latihan terencana dengan baik. 
 Cones, bola dan rompi telah disiapkan dan diatur dilapangan sebelum latihan 
dimulai. 
 Tidak terjadi antrean panjang saat berlatih. 
 Perkecil besar lapangan (lebih capai bermain lapangan kecil daripada lapangan 
besar). 
 Kurangi jumlah sentuhan (lebih capai menggunakan peraturan maksimal 2 sentuhan 
daripada bebas sentuhan). 
 Pemain dan pelatih semangat saat berlatih. 
 Selipkan waktu untuk istirahat sejenak saat berlatih berat (1 menit istirahat tiap 
4 - 7 menit latihan berat). 
Untuk kategori dewasa semua bagian fisik boleh dilatih secara ballance dan teratur. Untuk 
kategori kelompok umur usia dini (5 - 12 tahun) dan usia muda (13 - 20 tahun) ikuti 
panduan spesifik seperti yang tertera di bagian “Kurikulum sesuai kelompok umur” di 
bagian lain buku ini.
96 
F. FORMAT PROGRAM LATIHAN TEKNIK UNTUK KELOMPOK 
UMUR 15 TAHUN KEATAS 
Drill teknik tanpa tekanan 
disambung dengan 
stretching aktif sebagai 
warm up. 
Waktu : 15 menit 
Drill teknik dengan tekanan waktu/ 
lawan/kompetisi/hukuman guna 
menambah tingkat kesulitan dan 
intensitas latihan. 
Waktu : 15 menit 
1 – 3 macam permainan 
lapangan kecil (small sided 
game) yang 
menonjolkan teknik 
tertentu sesuai tema dan 
coaching point (CP) 
latihan. 
Waktu : 30 menit 
Game dengan 
penekanan pada teknik 
tertentu dengan cara 
memberikan tambahan 
peraturan agar teknik 
yang diajarkan/dilatih 
sering tampak saat 
bermain game. 
Waktu : 15 menit 
Game tanpa 
peraturan tambahan 
(bebas). 
Waktu : 15 menit 
Cooling down 
bernuansa teknik 
(Contoh : Jogling) 
disambung dengan 
stretching pasif. 
Waktu : 10 menit 
Untuk contoh latihan teknik secara tematis perhatikan halaman berikut :
97 
1. Contoh latihan Teknik Passing + Shooting untuk Dewasa (Usia 
15 tahun keatas) 
a) Pemanasan (20 menit). 
Keterangan: 
 Satu grup dengan bola 
berhadapan dengan satu grup 
tanpa bola (samba + teknik) lalu 
Stretching terpimpin. 
 Berpasangan (mendekat) —> 
passing kiri-kanan satu sentuhan. 
 Berpasangan (menjauh) —> 3 
sentuhan passing pakai kura-kura. 
 Passing + putar + dribling + 
putar + passing. 
 Stretching bebas. 
b) Drill Shooting - tanpa lawan (15 menit). 
Keterangan: 
 Umpan dari kiri/kanan. 
 Striker boleh pilih pantul ke kiri atau 
kanan. 
Coaching Points: 
 Teknik-teknik shooting : Kaki 
dibekukan, mengayun, letak kaki 
tumpuan di samping bola, tengah bola 
kena tengah kaki. 
 Ikuti shootingan (siap saat bola 
terpantul). 
c) Drill Shooting - dengan lawan (15 menit). 
Keterangan: 
Coaching Points: 
 Lewati lawan dengan kecepatan. 
 Shooting disaat yang tepat.
98 
d) Game shooting (20 menit) 
Keterangan: 
 6 v 6 bikin gol di kedua gawang. 
 Tim Merah : Shooting (bebas sentuhan) 
ke kedua gawang. 
 Tim Putih : Possession (2 sentuhan). 
 Tim Abu-abu : Istirahat/Body Fitness. 
e) Game 11 v 11 (20 menit) 
Peraturan tambahan: 
 Gol hasil shooting diluar kotak penalti => 2 poin. 
f) Cooling Down (5 menit) 
 Jogging. 
 Stretching. 
2. Contoh latihan Teknik Passing + Trik Individu untuk Dewasa 
(Usia 15 tahun keatas) 
a) Pemanasan (10 menit) 
Keterangan: 
 Setiap pemain menguasai bola. 
Selanjutnya ikuti arahan pelatih 
sesuai kode seperti,”Arsenal!”, dll 
yang telah dijelaskan sebelumnya. 
 “Arsenal” ==> Speed dribling 
pendek ke arah kosong. 
 “Arema” ==> Jogling bola. 
 “Persema” ==> bikin macam-macam 
trik individu, 
 Stretching. 
 “Real Madrid” ==> kanan saja. 
 “Barcelona” ==> kiri saja, lalu 
 Stretching.
99 
b) Drill Trik Individu dan passing - tanpa lawan (5 menit) 
Keterangan: 
 3 trik yang berbeda di cones A, B, C 
kemudian passing ke pemain berikutnya. 
c) Drill Trik Individu - dengan lawan (20 menit) 
Simple Training (1 v 1) Complex Trainning (Dribling + Shooting ke gawang) 
Gambar 3 Gambar 4 
d) Permainan menyerupai pertandingan (20 menit) 
Keterangan: 
 Possession Game point bila 
melewati lawan 1 v 1 
ATAU 
 3 v 3 gawang kecil.
100 
e) Game 11 v 11 dengan peraturan tambahan (15 menit) 
Keterangan: 
 Gol => 1 point. 
 Melewati lawan 1 v 1 => 1 point. 
f) Game 11 v 11 tanpa peraturan tambahan (15 menit) 
g) Cooling Down (5 menit) 
 Jogging. 
 Stretching. 
Catatan Tambahan: 
Perhatikan Bahwa: 
 Intensitas makin lama makin meningkat. 
 Dari gampang ke susah. 
 Simple ke complex (menggabungkan beberapa macam teknik menjadi satu latihan). 
 Bervariasi (tidak membosankan). 
 Latihan yang hampir sama persis (Latihan C ke atas) bisa dipakai untuk latihan bertema 
taktik dan teknik individu dalam bertahan! 
Contoh coaching points untuk latihan diatas: 
 Pakai semua bagian kaki dan kedua kaki untuk menggiring/mengolah bola. 
 Giring bola dengan cepat namun terkontrol (bola tidak sampai hilang/lepas). 
 Selalu cari pilihan terbaik antara passing atau melewati lawan dengan trik individu. 
 Lakukan trik dengan mengandalkan perubahan kecepatan dan/atau perubahan arah 
giring. 
INGAT: Pastikan anda melatih sesuai coaching points yang telah anda tetapkan sebelumnya. 
Jangan melantur kesana kemari mengajarkan point-point lain karena akan sulit 
dicerna dan diingat pemain. SEMUA variasi latihan yang anda pilih HARUS bisa 
dipakai untuk mengajarkan coaching points yang telah anda tentukan karena latihan 
harus memiliki TUJUAN!
G. FORMAT PROGRAM LATIHAN TAKTIK UNTUK KELOMPOK 
101 
UMUR 15 TAHUN KEATAS 
Untuk contoh latihan taktik bertahan dan taktik menyerang secara tematis perhatikan 
halaman berikut : 
1. Contoh Latihan Taktik Bertahan (grup) 
a) Pemanasan (15 menit) 
Keterangan: 
 Setiap pemain menguasai bola. 
Selanjutnya ikuti arahan pelatih 
sesuai kode seperti,”Arsenal!”, dll 
yang telah dijelaskan sebelumnya. 
 “Arsenal” => Jogling. 
 “MU” => Trick Individu (3’) 
 Stretching ( 2’) 
 Arsenal + MU ditambah “Arema” 
=> putar balik lalu sprint dan 
“Persema” => Tekan bola maju-mundur 
(3’). 
 Stretching ( 2’) 
 Passing 2 bola [2 sentuhan / 
kelompok] (3’). 
Warm up dalam 
bentuk teknik dan taktik individu 
yang sesuai dengan tema latihan 
diakhiri dengan 
stretching aktif singkat. 
Waktu : 15 – 30 menit 
Pilih salah satu : 
 Latihan taktik individu + grup 
 Latihan taktik grup saja 
 Latihan taktik grup + tim 
{Ingat : Pilih menyerang atau 
bertahan; jangan dicampur 
aduk} 
Waktu : 30 – 40 menit 
Game - tidak harus 11 v 11; 
bisa 6 v 8 misalnya, dll. 
Waktu : 25 – 40 menit 
Cooling Down : Stretching pasif agak 
lama didahului latihan teknik singkat 
(Contoh : Sepakbola tenis 2 v 2 ). 
Waktu : 10 menit
102 
b) Game 4 v 4 tanpa Kiper di atas lahan 40 m x 20 m (15 menit) 
Coaching Points : 
 Formasi bertahan 3-1. 
 Bentuk pisang + segitiga. 
 Isi belakang terlebih dulu. 
 Mendobel lawan (2 v 1). 
 Setelah rebut bola => buka! 
c) Game 5 v 5 tanpa Kiper di atas lahan 40 m x 20 m (15 menit) 
Coaching points : 
 Formasi bertahan 3-2. 
 2 pemain di depan mendobel, satu 
pemain ke kiri dan yang lainnya kekanan. 
 Saat rebut bola —> satu datang, satu 
pergi. 
d) Game 6 v 6 (15 menit) 
Keterangan: 
 Untuk selanjutnya jika sudah 
mengerti bisa diubah menjadi 6 v 8; 
yang menyerang ditambah bek sayap. 
 Permainan selalu di mulai tim putih. 
Coaching points: 
 Segitiga dan pisang. 
 Jarak saat bergeser. 
 Mendobel lawan (2 v 1 dan 3 v 1). 
e) Game 6 v 6 (25 menit) 
 Memakai Formasi bertahan 4-2.
103 
f) Cooling Down (5 menit) 
 Jogging. 
 Stretching pasif. 
Catatan Tambahan : 
 Untuk tema menyerang latihan ini bisa di balik; fokus kini kepada penyerangan. 
 Warm up diganti latihan overlap, one-two, teknik individu, pantulan. Setelah itu latihan 
bisa sama persis dengan Coaching points: 
 Cepat buka setelah merebut bola. 
 Kreatif —> one-two, overlap, pantulan, trik individu. 
 Cari penyelesaian; jangan bertele-tele. 
2. Contoh Latihan Taktik Menyerang (Variasi serangan) 
a) Pemanasan dibagi menjadi 4 grup (12 menit) 
Keterangan: 
 Grup A ( 3 menit ) 
 Lakukan umpan one-two 
dalam boks. 
 Setiap pemain 
melakukan 3x lalu 
bergantian dengan 
pemain lain. 
 Grup B ( 3 menit ) 
 Lakukan overlap 
dalam boks. 
 Setiap pemain 
melakukan 3x overlaping 
lalu bergantian dengan 
pemain lain. 
 Grup C ( 3 menit ) 
 Lakukan umpan 
pantul dari pemain A 
menyeberang ke pemain 
B dan sebaliknya. 
 Grup D ( 3 menit ) 
 Gunakan 2 bola. 2 pemain berpasangan bergantian melakukan umpan pantul dilanjutkan 
dengan umpan terobosan. 
 Stretching.
104 
b) Variasi serangan tanpa lawan (10 menit) 
Keterangan: 
Masing-masing tim mengumpankan bola 
dari satu sisi lapangan lalu menyeberang 
ke sisi lain dan seterusnya. Pastikan kedua 
tim mengumpan bola secara cepat dan 
kreatif (menggunakan overlap, one-two, 
pantulan dan umpan terobosan). 
c) Variasi serangan dengan lawan (20 menit) 
Keterangan: 
 Tim putih silih berganti melakukan 
berbagai variasi serangan dari kiri lalu ke 
kanan. 
 5 pemain putih melawan 4 pemain 
(kurangi jumlah lawan menjadi 3 apabila 
tim putih mengalami kesulitan 
membangun serangan. 
 Tekankan kreatifitas dan kecepatan. 
d) Game 8 v 6 (20 menit) 
Keterangan: 
 8 pemain menyerang melawan 6 
pemain bertahan. 
 Permainan selalu dimulai oleh tim 
putih. 
 Saat tim merah merebut bola gol 
boleh dicetak di 3 gawang kecil. 
 Tekankan kreatifitas dan 
kecepatan dalam bermain.
105 
e) Game 11 v 11 (30 menit) 
f) Cooling down (10 menit) 
 Jogling berempat. 
 Stretching. 
Catatan tambahan: 
 Total latihan 100 menit. 
 Intensitas terjaga dari awal hingga akhir. 
 Dari awal hingga akhir latihan kreatifitas dan kecepatan dalam membangun serangan 
terus ditekankan. 
 Pemain sisa yang tidak terlibat saat latihan berlatih koordinasi dibelakang gawang.
106 
BAB IV 
KESALAHAN-KESALAHAN YANG UMUM TERJADI 
DI INDONESIA DALAM HAL ORGANISASI LATIHAN, 
PEMBUATAN PROGRAM LATIHAN SERTA EKSEKUSI LATIHAN 
Berikut ini adalah contoh-contoh kesalahan yang lazim terjadi dan 
solusinya: 
KESALAHAN-KESALAHAN YANG LAZIM 
TERJADI 
SOLUSI 
Dalam sebuah sesi latihan ada 30 pemain 
yang di latih oleh seorang pelatih saja. 
Bagi sesi latihan menjadi 2 grup. Sesi 
pertama di isi 15 pemain dan sesi kedua di 
isi 15 pemain lainnya. 
Terjadi antrean panjang. Sebagai contoh 
ada 20 pemain yang berlatih shooting. 
Terdapat 2 antrean dengan masing-masing 
antrean berisikan 10 pemain. 
Alhasil, masing-masing pemain sangat 
jarang mendapatkan kesempatan 
shooting. 
Bagi dalam 4 grup. 2 grup melakukan 
shooting ke gawang besar sementara 2 
grup melakukan shooting ke gawang-gawang 
kecil. Agar adil instruksikan pemain 
untuk melakukan rotasi. 
Karena persediaan cones kurang saat 
berlatih dribling terjadi antrean panjang. 
Beli cones secukupnya dan/atau bagi tim 
dalam 3 grup. satu grup berlatih dribling, 
grup lainnya berlatih 1 v 1 sementara grup 
ketiga berlatih joggling misalnya. 
Sebagai pemanasan pemain diinstruksikan 
berlari keliling lapangan. 
Gabungkan pemanasan dengan latihan 
teknik ringan. Pakai bola! 
Tidak tersedia cukup perlengkapan seperti 
bola, cones, rompi, dll. 
Agar latihan bisa berjalan dengan lancar 
dan efektif penuhi semua kebutuhan 
latihan terutama bola. Mutlak dibutuhkan 1 
bola untuk 1 pemain.
107 
Pelatih melatih tanpa program di tangan 
dengan alasan sudah hafal di kepala. 
Latihan yang tidak disiapkan dengan rapi 
akan terlihat asal-asalan dan merusak 
reputasi pelatih dan klub. 
Rencanakan latihan secara rapi dan tertulis! 
Pelatih enggan belajar dengan alasan sudah 
berpengalaman dan cukup melatih 
berdasarkan pengalamannya sebagai 
pemain. 
Rubah sikap Anda! Tekuni dan seriusi 
bidang Anda. Ikuti perkembangan ilmu 
sepak bola modern melalui internet, baca 
buku, berinteraksi dengan pelatih lain serta 
mengikuti seminar dan lisensi kepelatihan 
dengan serius. 
Latihan fisik tanpa bola diberikan pada 
pemain usia dini. 
Ikuti panduan di kurikulum ini tentang 
materi latihan yang seharusnya diberikan 
pada tiap-tiap kelompok umur. 
Pelatih membiarkan kesalahan yang terjadi 
tanpa melakukan pembenaran. 
Terus menerus lakukan pembenaran. 
Karena ini jumlah pemain hendaknya 
terbatas. 
Pelatih membiarkan pemain berlatih 
setengah hati sehingga intensitas latihan 
menurun. 
Pacu semangat pemain secara terus 
menerus. Jangan biarkan pemain 
kehilangan konsentrasi. Jadilah contoh 
dalam hal semangat dengan cara melatih 
dengan semangat. 
Pengelompokan pemain secara tidak 
seimbang dalam hal kemampuan bermain 
sehingga pemain frustasi. 
Kelompokkan pemain berdasarkan 
kemampuan pemain sehingga saat berlatih 
berpasangan pemain tidak frustasi. 
Program latihan kurang bervariasi sehingga 
pemain jenuh. 
Lakukan studi banding ke pelatih-pelatih 
lain dan tim yang bagus serta kembangkan 
sendiri latihan tersebut. 
Bersikaplah proaktif dalam hal mencari 
variasi latihan sehingga dalam sebuah sesi 
latihan anda bisa menyuguhkan berbagai 
variasi latihan. 
Intensitas latihan rendah karena organisasi 
latihan kurang baik. Sebagai contoh 
permainan possession dilakukan 10 v 10. 
Bagi dalam 2 grup. Biarkan pemain bermain 
5 v 5 diselingi dengan 10 v 10 sehingga 
semua pemain lebih sering terlibat. 
Pelatih dan pengurus SSB/Klub tidak 
mengajarkan prinsip-prinsip penting selain 
sepak bola. 
Pelatih dan pengurus hendaknya sangat 
aktif memberi anjuran dan contoh kepada 
anak didik untuk menomorsatukan sekolah, 
menjaga kebersihan, gaya hidup sehat, dll. 
Pelatih dan Klub tidak melek teknologi. Sudah saatnya pelatih dan Klub memiliki 
email, website dan terkoneksi dengan 
PENGCAB, PENGPROV, Asosiasi SSB lokal 
serta ASSBI ( Asosiasi SSB Indonesia) demi 
kelancaran komunikasi dan informasi. 
Pelatih juga perlu mengerti internet dan 
“You Tube” guna menambah ilmu.
108 
Tidak semua pemain mendapatkan 
kesempatan bermain sehingga 
mengakibatkan pemain dan orang tuanya 
frustasi. 
Saat bertanding biasakan memakai aturan 
bebas keluar-masuk. Artinya pemain yang 
sudah keluar boleh masuk kembali dan 
jumlah pergantian bebas. Dengan demikian 
pemain bagus mendapatkan porsi lebih 
namun disaat yang sama semua pemain 
mendapatkan kesempatan bermain. 
Latihan hanya bersifat latihan teknis saja. Ikuti anjuran kurikulum sehingga program 
latihan mencakup semua aspek. Selain itu 
kembangkan pengetahuan taktis anda 
sehingga anda percaya diri memberikan 
materi latihan yang bersifat taktis. 
Permainan lapangan kecil (small sided 
game) berdurasi terlalu lama tanpa 
istirahat. Contoh : permainan possession 
dilakukan selama 15 menit tanpa henti. 
Bagi menjadi 3 sesi yang masing-masing 
berdurasi 4 menit. Berikan kesempatan 
istirahat 1 menit diantara sesi. Dengan cara 
seperti ini intensitas latihan akan terjaga 
(pemain tidak “gembos”). 
Pelatih tidak mengenal nama pemain. Kenali pemain anda! 
Pelatih menyuruh pemain mencuri umur 
atau bermain kasar. 
Rubah sikap dan cara berpikir anda! Anda 
adalah seorang panutan bagi anak didik 
Anda. 
Pelatih marah-marah (terlalu emosional). Jangan bawa-bawa masalah pribadi Anda 
ke lapangan. Tegur pemain dan perbaiki 
kesalahan tanpa emosi. Daripada marah-marah 
berikan saja hukuman push up dll. 
Pertandingan sangat jarang dilakukan. Bentuk asosiasi SSB di daerah anda 
sehingga SSB anda tidak lagi bergantung 
pada PENGCAB setempat. Sebagai SSB anda 
mempunyai kepentingan yang sama 
dengan SSB lain. Oleh karena itu bersatulah 
dan bersikaplah pro aktif dengan 
membentuk asosiasi SSB yang bekerjasama 
dengan PENGCAB namun tidak bergantung 
pada PENGCAB (Independen). 
Turnamen berhadiah uang dan piala 
sehingga rawan terjadi pencurian umur dan 
permainan kasar. 
FIFA menganjurkan aturan “No Trophy, No 
Money, No Medals!” 
Cukup sediakan hadiah berupa berbagai 
perlatan latihan dan piagam bagi semua 
peserta.
109 
BAB V 
TEORI SEPAKBOLA MODERN 
A. Prinsip Sepak bola Modern 
1. Prinsip Bertahan* 
1. Turun (membentuk formasi bertahan di belakang bola) —> menutup. 
2. Bergerak secara bersama-sama sebagai satu kesatuan yg utuh. 
3. Mendobel/mentripel lawan (2 v 1 atau 3 v 1 atau 4 v 1 ) —> agresif! 
4. Menjaga jarak antara lini (± 15 m ) antar pemain satu lini (± 10 m). 
5. Membentuk “segitiga” dan “pisang” (meninggalkan lawan disisi-sisi tanpa 
bola!). 
6. Mendobel ke belakang. 
7. Isi ke belakang (mengisi posisi di barisan belakang terlebih dahulu). 
8. Semua terlibat. 
9. Pakem. Tidak mengacu pada kreatifitas/improvisasi! 
10. Komunikasi! (saling melatih!). 
11. Kiper—berfungsi ganda sebagai libero (keluar dari sarang untuk 
mengantisipasi umpan terobosan!).
110 
2. Prinsip Menyerang* 
1. Cepat membuka. 
2. 1 - 2 sentuhan sehingga permainan menjadi cepat. 
3. Semua terlibat. 
4. Bola datar & tegas. 
5. Kreatif sesuai situasi. Menggunakan senjata : 
· 1 - 2/one - two. 
· Overlap. 
· Terobosan. 
· Pantulan. 
· Trik individu. 
· Shooting jarak jauh. 
· Jangkar. 
· Pindah sisi serangan. 
· Crossing. 
6. Kualitas passing menentukan! 
7. Tidak bertele-tele - cari penyelesaian! 
8. Semua posisi terisi— striker, second striker, jangkar, 3 pemain di belakang. 
* Apapun formasi yang dipakai (entah 4-3-3, 4-4-2, atau formasi lainnya), 
prinsip - prinsip baik saat bertahan maupun menyerang tetap sama. Formasi 
boleh beda tapi prinsip-prinsip sepakbola modern pada dasarnya sama.
111 
B. Prinsip-prinsip dasar bermain 4-4-2 dengan Benar 
1. Prinsip buka-tutup 
Prinsip ini begitu dasar sehingga perlu dikemukakan paling awal. Mudah saja: saat 
lawan menguasai bola posisi tim secara keseluruhan harus mengecil/mengkerut, sedang saat 
menguasai bola tim secara keseluruhan harus membuka lebar dan panjang lapangan selebar 
dan sepanjang mungkin. Saat menerangkan prinsip ini kepada pemain saya sering 
menggunakan alat musik akordeon sebagai ilustrasi; tarik selebar mungkin keluar saat 
menguasai bola dan kempeskan ke dalam saat lawan menguasai bola. Saat berguru di 
Jerman selama setahun penuh saya mendengar ilustrasi lain yang lebih baik lagi; telapak 
tangan yang menggenggam menggambarkan posisi pemain saat bertahan sementara 
telapak tangan yang terbuka lebar menggambarkan posisi pemain saat menyerang. Saya 
pernah melihat cuplikan di televisi saat Joachim Löw, asisten pelatih timnas Jerman di Piala 
Dunia 2006, berbicara kepada pemain soal prinsip ini. Yang menarik, ilustrasi telapak tangan 
yang mengepal lalu membuka lebar juga dipakai Löw guna menjelaskan prinsip ini kepada 
pemain. Ternyata di level tertinggi pun pemain masih harus terus diingatkan tentang prinsip 
dasar yang begitu penting ini. Untuk jelasnya perhatikan diagram-diagram di bawah ini: 
4-4-2 saat lawan menguasai bola 4-4-2 saat menyerang 
2. Prinsip Ordnung (Indonesia: keteraturan) atau penempatan posisi 
yang benar dan rapi 
 Mundur hingga di antara bola dan gawang sendiri 
Perhatikan sekali lagi diagram di atas tentang posisi pemain di saat lawan menguasai 
bola. Keteraturan yang sedemikian rupa hanya bisa terealisasi apabila semua pemain 
memiliki kedisiplinan yang tinggi untuk secepat mungkin mundur saat bola direbut oleh 
lawan. Saat bola berpindah “tangan” semua pemain harus mundur hingga semua 
pemain berada di antara letak bola dan gawang sendiri. Hanya dengan cara demikian
pertahanan bisa digalang bersama-sama sebagai unit: sebelas pemain sebagai kesatuan 
yang utuh bergerak bersama guna merebut bola secepat mungkin. Hanya apabila prinsip 
ini dilakukan pemain maka prinsip nomor tiga (bergerak secara bersama-sama ke arah 
bola) bisa terwujud. 
112 
 Compact 
Dalam bermain bola, khususnya saat menerapkan pola 4-4-2, pemain harus bertindak 
dengan kompak dan compact. Kompak artinya bertindak secara bersama-sama dan 
saling bahu membahu. Kebalikan kompak adalah bertindak secara sendiri-sendiri dan 
"semau gue”. Sikap seperti ini tentu saja sangat merugikan tim secara keseluruhan 
karena sepak bola itu sendiri adalah olahraga tim dan bukan olahraga perorangan. 
Sedang s berarti rapat atau padat. Di saat bertahan, pemain harus menempati posisi 
yang tidak lebih jauh dari sepuluh meter (!) di antara pemain dalam satu lini serta tidak 
lebih jauh dari limabelas meter (!) antar lini. Prinsip ini begitu penting! 
Untuk jelasnya, perhatikan sekali lagi diagram di atas saat lawan menguasai 
bola.Menggalang kekompakan sehingga tim secara keseluruhan tetap bisa menjaga 
posisi yang compact saat bergeser maju-mundur atau ke kiri-kanan adalah tantangan 
yang harus dihadapi bersama oleh pemain dan pelatih. Caranya tidak lain adalah berlatih 
dan berlatih. Gunakan cones, papan tulis, atau kalau perlu video dalam melatih 
kekompakan (kesatuan) dan penempatan posisi yang compact (padat/ rapat). 
 Forechecking (pressing di daerah pertahanan lawan) 
Bertolak dari penempatan posisi pemain yang teratur (jarak antarlini padat serta jarak 
antarpemain dalam satu lini ketat) tim secara keseluruhan bahu-membahu melakukan 
pressing (menekan lawan) dengan tujuan mencuri bola dari kaki lawan. Pressing itu 
sendiri dilakukan di tiga daerah lapangan. Tekanan yang dilakukan di daerah pertahanan 
lawan disebut forechecking atau pressing 1. Umumnya pelatih memberikan instruksi 
sebelum pertandingan tentang di mana pressing akan dilakukan. Posisi pemain saat 
melakukan pressing 1 adalah sebagai berikut: 
Forechecking umumnya dilakukan 
saat ingin memforsir kemenangan, saat 
bertanding melawan lawan yang relatif 
lemah atau saat ketinggalan score. 
Adapun kelemahan utama forechecking 
adalah penggantungan nasib pada 
peraturan off side. Risikonya adalah 
apabila wasit yang memimpin 
pertandingan lemah kinerjanya lawan 
yang lolos dari tekanan akan berhadapan 
langsung dengan dan jaga gawang. 
Dengan kata lain, umpan terobosan 
adalah momok bagi sistem pressing ini. 
 Midfield pressing (pressing yang dilakukan di lapangan tengah) 
Miedfield pressing atau pressing 2 adalah tekanan terhadap lawan yang dimulai di 
lapangan tengah. Artinya, lawan dibiarkan leluasa membangun serangan di daerah 
pertahanannya sendiri tanpa diganggu terlebih dahulu. Baru setelah bola berada di 
daerah lapangan tengah tekanan secara bersama, teratur, dan agresif dilancarkan.
113 
Posisi pemain saat melakukan taktik bermain pressing 2 adalah sebagai berikut: 
Midfield pressing adalah 
variasi pressing yang paling sering dan 
umum dilakukan. Tentu saja saat 
serangan kandas jauh di daerah 
pertahanan lawan pressing 1 
dilakukan. Paling tidak untuk 
sementara waktu. Begitu ada 
kesempatan (seperti terjadi lemparan 
ke dalam dan lain-lain) pemain 
berbondong-bondong kembali pada 
posisinya semula sesuai taktik midfield 
pressing / pressing 2. 
 Fall back (pressing yang dilakukan di daerah pertahanan sendiri) 
Yang dimaksud dengan fall back* adalah penempatan posisi pemain di daerah 
pertahanan sendiri. Lawan dibiarkan bergerak bebas hingga melebihi garis tengah 
lapangan. Bisa dikatakan baru di saat-saat terakhir tekanan terhadap lawan dilakukan. 
Posisi pemain saat melakukan fall back atau pressing 3 adalah sebagai berikut: 
Taktik pressing 3 ini biasanya 
dilakukan oleh tim-tim lemah yang 
hanya berusaha menyerang lewat 
serangan balik. Bisa juga pressing 3 
dilakukan oleh tim yang sebenarnya 
kuat dan hanya sementara mundur 
dikarenakan gempuran lawan yang 
tiba-tiba bertambah hebat sehingga 
membuat kewalahan. Situasi seperti 
ini paling sering terjadi saat lawan 
ket inggalan dan bernafsu 
memenangkan pertandingan. 
Menurut pengamatan saya hal ini 
umumnya terjadi di awal babak 
kedua (lawan baru saja dimotivasi 
pelatihnya untuk mempersering 
gempuran) dan menjelang akhir pertandingan (waktu yang tersedia semakin menipis). 
Keterangan: Dalam bahasa Indonesia “jatuh ke belakang” atau lebih tepatnya mengundurkan/menarik diri”.
114 
3. Prinsip bergerak secara bersama-sama ke arah letak bola 
Sistem bermain 4-4-2 maupun sistem-sistem modern lainnya seperti 3-4-3 atau 4-3-3 
tidak bisa berfungsi dengan baik apabila pemain tidak bergerak secara bersama-sama ke 
arah bola. Sebagai contoh, lawan mengumpan bola kepada pemain 8 (sayap kirinya). 
Pergerakan lawan dengan demikian adalah ke kanan. Semua pemain bergerak serentak ke 
sebelah kanan lapangan. Perhatikan diagram di berikut ini. 
Contoh di atas memakai taktik full back. 
Perhatikan bagaimana baik barisan 
pertahanan maupun barisan lapangan 
tengah membentuk dua pisang! 
Perhatikan juga bagaimana ketat dan 
padatnya posisi pemain satu dengan 
yang lainnya. Perhatikan penempatan 
posisi pemain 3 (bek kiri) dan 8 (sayap 
kiri) yang ikut masuk ke tengah. Hanya 
dengan demikian tim secara 
keseluruhan bisa berdiri dengan 
compact (padat dan ketat) sehingga 
lawan sulit melakukan kombinasi permainan. Permainan lawan menjadi tidak berkembang 
dan bola bisa dengan lebih mudah direbut kembali. 
Bergerak ke arah bola mempunyai tujuan menciptakan situasi 2 v 1 bahkan 3 v 1. 
Pemain yang menggiring bola ditekan secara agresif oleh dua pemain bertahan sekaligus. 
Salah satu pemain bertahan bisa melakukan tekanan dengan total atau agresif karena ada 
pemain bertahan lain yang siap membantu apabila lawan mampu lolos. Sering pemain 
bertahan tidak total dalam menekan lawan karena khawatir dilewati lawan. Saat 
menerapkan sistem bermain 4-4-2 masalah ini bisa teratasi karena adanya pemain bertahan 
lain yang melapis. Prinsip melapis sesama pemain begitu sentral dalam falsafah sistem 4-4-2! 
Pemain harus dibiasakan untuk selalu bersedia melakukan prinsip melapis baik di 
tengah lapangan, di sayap lapangan ataupun melapis ke belakang. Kuncinya pemain rajin 
bergerak dan rajin bergeser secara serentak. Saat bola "melewati” pemain, pemain 
tersebut harus memiliki kedisiplinan yang tinggi untuk ikut turun ke belakang (bergeser 
sesuai posisinya) dan bila mungkin melakukan "melapis ke belakang”. Perhatikan diagram 
melapis ke belakang di samping ini: 
Perhatikan bagaimana pemain 7 
(sayap kanan) dan pemain 9 (penyerang 
kanan) tidak berhenti bermain saat 
bola "melewati” keduanya. Baik pemain 
7 maupun 9 sama-sama memiliki 
kedisiplinan yang tinggi untuk membantu 
pemain 6 (gelandang bertahan) sehingga 
praktis terjadi situasi empat(!) v 1; 
pemain 6 menekan secara agresif (tentu 
saja tanpa melakukan pelanggaran)*, 
pemain 10 (gelandang serang) melapis
pemain 6 dari belakang, sedang pemain 7 dan 9 “melapis ke belakang”. Perhatikan bahwa 
barisan pertahanan juga terlibat secara tidak langsung dengan cara naik ke atas sehingga 
jarak antar lini menjadi padat! Demikian juga pemain 11 (penyerang kiri) ikut bergeser 
sedikit ke belakang dan pemain 8 (sayap kiri) merapatkan posisinya ke arah pemain 6 dan 
10. Ruang yang dimiliki lawan untuk melakukan kombinasi guna membangun serangan 
menjadi sangat minim dikarenakan tim yang bertahan menempatkan diri secara ketat dan 
padat. Sekali lagi: hal ini hanya bisa dicapai apabila semua pemain selalu bergeser ke arah 
bola secara bersama-sama. 
* Keterangan: Melakukan pelanggaran menjadi tidak perlu dilakukan karena situasi toh 
menguntungkan tim sendiri. Melakukan pelanggaran di saat situasi begitu menguntungkan seperti 
ini (4 v 1) adalah bodoh karena dengan demikian situasi akan kembali netral. Lawan mendapatkan 
tendangan bebas sehingga bola yang tadinya sudah hampir terebut kembali bisa leluasa dikuasai 
lawan. 
Pada prinsipnya saat melakukan pergeseran pemain harus selalu berorientasi secara 
115 
berturut-turut pada: 
1. BOLA 
2. TEMAN 
3. LAWAN 
Bandingkan dengan sistem 3-5-2 yang lazim dilakukan di Indonesia. Sistem yang 
memakai sistem man to man marking ini selalu mengarahkan pemain untuk berorientasi 
pada lawan. Dalam sistem 4-4-2, 4-3-3 atau sistem modern lainnya lawan hanya menempati 
nomor 3! Benar-benar sebuah perbedaan yang drastis. 
Secara praktis penerapan falsafah berorientasi kepada (1) bola, (2) kawan dan (3) 
lawan saat melakukan pergeseran bisa kita pelajari sesuai diagram di atas. Kita ambil pemain 
8 (sayap kiri) sebagai contoh. Pemain 8 bergeser ke arah kanan karena letak BOLA adalah di 
sebelah kanannya. Selanjutnya 8 melihat TEMANNYA pemain 10 (gelandang serang) 
meninggalkan posisinya demi melapis pemain 6 dari belakang. Dengan demikian, pemain 8 
harus bergeser lebih jauh ke dalam dari biasanya sehingga jarak kira-kira 10 meter antara 
pemain 10 dan 8 tetap terjaga. Baru kemudian pemain 8 berorientasi pada LAWAN dan 
menempatkan dirinya di antara lawan terdekat dan letak bola sehingga passing line atau 
garis umpan kepada lawan jagaannya bisa tertutup. 
4. Prinsip penggunaan aturan off side 
Prinsip menekan lawan secara serentak di mana semua pemain terlibat (termasuk 
barisan bek yang ikut naik sehingga jarak antara baris tengah dan belakang menjadi dekat 
dan padat) hanya bisa dilakukan karena adanya peraturan off side. Apabila peraturan off side 
itu sendiri tidak ada maka tidak mungkin barisan pertahanan ikut naik baik untuk membantu 
serangan maupun guna membantu lapangan tengah mencuri bola dari lawan. Perlu 
ditekankan di sini bahwa dalam sepak bola modern pemain bertahan tidak ikut maju dengan 
tujuan lawan terperangkap off side! Ini yang sering salah dipahami. Dalam sepak bola 
modern barisan pertahanan ikut naik guna menciptakan barisan pertahanan secara
keseluruhan yang compact. Lawan yang membawa bola tidak diberikan waktu, ketenangan 
dalam bertindak serta tempat. Hal ini hanya bisa terwujud apabila barisan pertahanan ikut 
menopang barisan gelandang dengan cara memperketat dan memperkecil ruang gerak 
lawan. Terperangkapnya penyerang lawan dalam off side hanyalah by product atau produk 
sampingan hasil pergerakan barisan pertahanan yang ikut naik guna menghasilkan 
pertahanan yang compact! Oleh karena itu, istilah "jebakan off side” tidaklah tepat dalam 
sepak bola modern; pemain tidak naik semata-mata agar pemain lawan off side. 
Menurut saya di sinilah letak kelemahan utama sistem 4-4-2 saat dipraktikkan di 
Indonesia. Sistem pressing yang terkandung secara kental dalam falsafah bermain 4-4-2 
sangat bergantung pada penilaian wasit yang jeli saat terjadi off side. Padahal kepercayaan 
publik Indonesia terhadap wasit baik dalam hal moral wasit maupun kemampuan wasit saat 
memimpin pertandingan tergolong minim. Sebuah dilema yang menurut saya bisa 
dipecahkan dengan cara hanya memakai taktik miedfiel dpressing dan taktik fall back. 
Sedang taktik forechecking hendaknya hanya dipraktikkan apabila wasit yang memimpin 
pertandingan diketahui dengan pasti memiliki moral dan kemampuan yang baik. 
116 
5. Prinsip penjaga gawang yang ikut bermain 
Dalam sepak bola modern penjaga gawang tidak hanya semata-mata bertindak 
sebagai penjaga gawang. Seorang penjaga gawang yang modern adalah penjaga gawang dan 
libero sekaligus. Seorang kiper dewasa ini harus mahir memainkan bola dengan kaki, harus 
mahir memberikan umpan pendek dan panjang, harus mahir membaca perkembangan 
serangan lawan serta harus bisa memberikan instruksi yang jelas dan benar kepada barisan 
pertahanan. 
Saat lawan membangun serangan seorang penjaga gawang yang modern harus 
menempatkan diri relatif jauh di depan gawangnya sendiri. Kira-kira di mana seorang libero 
semestinya berada di situlah dia “berdiri”. Berdiri tertulis dalam tanda kutip karena 
kenyataannya kiper modern harus selalu bergerak sesuai letak bola: umumnya antara letak 
bola dan titik tengah gawang! 
Pada piala dunia 2006 Jürgen Klinsmann, pelatih timnas Jerman saat itu, 
mengejutkan dunia dengan keputusannya memilih Jens Lehmann (Arsenal) di atas Oliver 
Kahn (Bayern München). Dalam sebuah konfrensi pers Klinsmann menjelaskan bahwa ada 
10 kriteria yang dibahas secara mendetail sebelum keputusan dilakukan. Dari 10 kriteria 
tersebut ada 9 kriteria di mana kekuatan Lehmann dan Kahn hampir sama. Hanya dalam 
satu kriteria Lehmann jauh unggul di atas Kahn; dalam hal ikut bermain! Lehmann adalah 
seorang pemain bola yang lebih baik dari Kahn. Teknik mengolah bola dan kualitas umpan 
Lehmann sangat baik sehingga dialah yang akhirnya terpilih menjadi kiper No. 1 Jerman. 
Dalam sistem sepak bola modern tidak ada tempat untuk seorang libero. Tapi karena 
barisan pertahanan harus ikut naik guna menghasilkan pertahanan yang compact penjaga 
gawang otomatis harus keluar dari sarangnya guna mengantisipasi umpan terobosan lawan. 
Untuk jelasnya, perhatikan diagram di bawah ini:
Perhatikan bahwa; (1) 
posisi kiper adalah di antara 
bola dan titik tengah gawang 
(invisible line), (2) posisi kiper 
relatif jauh dari mulut gawang , 
dan (3) kiper siap 
meng ant i s i pas i umpan 
terobosan lawan. Ketiga tujuan 
di atas hanya bisa terealisasi 
apabila penjaga gawang 
senantiasa bergerak sesuai 
letak bola dan situasi 
permainan. 
Jarak antara kiper dan barisan pertahanan yang menjadi relatif pendek juga 
menguntungkan disaat bola harus terlebih dahulu diumpankan kepada kiper di saat tekanan 
teralu hebat untuk memaksakan diri memainkan bola ke depan. Menguntungkan karena 
jarak umpan menjadi jauh lebih pendek dibandingkan apabila kiper tetap di sarangnya. Hal 
ini penting dari segi keamanan. Perlu diingat bahwa di bagian sepertiga pertama lapangan 
berlaku hukum safety first atau penekanan terhadap keamanan. Karena semakin pendek 
umpan semakin bagus kualitas umpan itu sendiri maka otomatis semakin amanlah umpan 
yang berjarak pendek. 
Penjaga gawang modern dituntut untuk begitu aktif dalam hal ikut bermain baik di 
saat lawan menguasai bola maupun di saat membangun serangan sehingga istilah "pemain 
gawang” menjadi semakin populer, khususnya di bagian selatan Jerman akhir-akhir ini. 
Banyak pelatih di selatan Jerman bahkan membiasakan diri menyebut sistem 4-4-2 dengan 
1-4-4-2. Kiper ikut dihitung dan disebut karena peran penjaga gawang memang menjadi 
semakin penting di era sepak bola modern ini. Memang sistem 4-4-2 atau 4-4-3 serta 
formasi modern lainnya tidak bisa berfungsi dengan baik apabila tidak ada "pemain gawang” 
yang bertindak sebagai libero*. Oleh karena itu, saya pribadi setuju sistem 4-4-2 disebut 
dengan 1-4-4-2. Paling tidak sebagai wujud hormat saya terhadap kiper sebagai salah satu 
bagian yang penting dalam tim. Apa pun nama sistem yang dipakai, apa pun istilah yang 
diberikan kepada kiper, yang paling penting adalah pemain mengerti bahwa kiper harus ikut 
bermain dengan aktif! 
Keterangan : 
* Tanpa seorang kiper yang sekaligus bertindak sebagai libero, risiko bertahan secara 
modern akan terlalu tinggi. Barisan pertahanan yang naik guna menciptakan pertahanan 
yang compact harus dilapis oleh kiper yang juga ikut naik (keluar dari sarangnya) 
sehingga risiko umpan terobosan dapat diminimalisasi. 
117
118 
C. Langkah Demi Langkah Menuju 4-4-2 
(sekaligus 4-3-3) 
Mengajarkan cara bermain 4-4-2 kepada pemain tidak boleh asal-asalan. Harus ada 
strategi pengajaran yang metodis sehingga pada akhirnya pemain betul-betul mengerti dan 
bisa menerapkan sistem 4-4-2 dengan baik. Sistem 4-4-2 sering dianggap teralu sulit untuk 
dimengerti pemain Indonesia. Benar-benar sebuah opini yang meremehkan intelegensia 
pemain Indonesia! Permasalahan yang sebenarnya adalah banyaknya pelatih yang kurang 
mengerti atau kurang mampu menjelaskan/melatih sistem 4-4-2. Bila ada kemauan untuk 
bekerja keras dan apabila metode melatih 4-4-2 diterapkan, saya yakin semua pemain dan 
semua pelatih Indonesia akan mampu menerapkan sistem 4-4-2 dan juga 4-3-3 dengan 
benar. 
1. Langkah pertama : Taktik Individu 1 v 1 dan 1v 2 
Taktik individu adalah langkah pertama menuju penerapan sistem bermain secara 
modern. Yang dimaksudkan dengan taktik individu adalah kemampuan seorang pemain 
untuk memilih keputusan yang tepat di antara beberapa pilihan. Pada dasarnya taktik adalah 
kenapa seorang pemain melakukan sesuatu sedang teknik adalah bagaimana seorang 
pemain melakukan sesuatu. Dengan demikian, taktik individu adalah tindakan dengan tujuan 
tertentu yang dilakukan oleh satu orang pemain saja. Sebagai contoh speed dribbling* 
adalah taktik individu. Melakukan trik guna mengecoh lawan adalah taktik individu. 
Bagaimana caranya melakukan trik itu sendiri adalah teknik sedang mengapa seorang 
pemain memilih untuk melakukan trik adalah taktik individu. 
Secara teoritis pemain yang menguasai bola memiliki 11 kemungkinan; mengumpan 
kepada 10 pemain lainnya* dan menggiring sendiri bola yang dikuasainya. Pemain yang 
berkelas akan memilih kemungkinan yang terbaik dari kemungkinan-kemungkinan yang ada
tersebut. Apabila pemain memilih untuk bertindak sendiri (melakukan trik, mendribel bola 
dengan cepat, menendang bola keluar atau jauh ke depan dengan pertimbangan keamanan 
dan lain-lain) maka itulah yang disebut dengan taktik individu. Apabila pemain yang 
menguasai bola memilih untuk melakukan wall pass, misalnya, atau overlap pass, maka 
tindakan tersebut disebut taktik grup. Jadi, taktik grup adalah tindakan yang dilakukan 
beberapa pemain secara bersama-sama dengan tujuan tertentu . Dalam hal bertahan ada 
beberapa pengetahuan penting yang perlu diketahui seorang pemain agar memiliki taktik 
individu yang baik. Pada akhirnya pengetahuan taktik individu masingmasing pemain 
terutama dalam hal bertahan adalah modal dasar bermain 4-4-2 dan 4-3-3 secara tim. 
Keterangan: 
* Speed Dribling: Menggiring bola dengan kecepatan tinggi. 
* Tentu saja pada kenyataannya banyak pemain yang tidak mungkin menerima bola 
tanpa kehilangan bola. Pada kenyataannya mungkin hanya ada 4 pemain yang benar-benar 
119 
siap menerima bola. 
Penjabaran taktik individu 
a. 1 v 1 - jarak jauh di sayap dan di tengah 
1. Saat menghadapi lawan yang posisinya relatif jauh, pemain bertahan hendaknya 
melakukan sprint ke arah pemain yang menggiring bola. Hal ini penting untuk 
dilakukan agar jarak antar pemain lawan dan gawang sendiri menjadi sejauh mungkin. 
2. Sesaat sebelum mendekati lawan, pemain bertahan hendaknya berhenti berlari ke 
depan untuk kemudian berbalik lari mundur. Hal ini dilakukan supaya pemain lawan 
tidak bisa dengan mudahnya berlari melewati pemain bertahan. 
3. Apabila lawan berada di daerah sayap, pemain bertahan harus menempatkan dirinya 
sedemikian rupa sehingga kemungkinan bagi lawan menggiring bola ke bagian tengah 
lapangan menjadi tertutup. Logikanya gampang saja: lapangan tengah adalah daerah 
yang jauh lebih berbahaya dikarenakan letak gawang adalah di tengah! Oleh karena 
itu, “giring” pemain lawan ke arah garis tepi lapangan. Gunakan garis tepi lapangan 
sebagai “partner” dalam menekan lawan. 
4. Apabila lawan berada di bagian tengah lapangan poin pertama dan kedua di atas 
tetap berlaku. Perbedaannya, apabila lawan menggiring bola di lapangan bagian 
tengah, pemain bertahan tidak harus “menggiring” lawan ke garis tepi lapangan. 
Kemungkinan itu bisa saja dilakukan tapi tidak mutlak harus dilakukan. Kemungkinan 
lain yang bias dilakukan adalah "menggiring” lawan ke arah teman sehingga terjadi 
situasi 2 v 1. 
5. Apabila tidak ada rekan satu tim yang bisa diajak kerja sama dalam hal merebut bola 
dari lawan maka pemain bertahan harus menggunakan kaki lemah lawan sebagai 
“partner”. Maksudnya demikian “giring” lawan ke sisi kaki lemahnya agar ia kesulitan 
melepaskan tembakan ke arah gawang. Hal ini dilakukan dengan cara menutup sisi 
kuatnya agar lawan terpancing untuk menggiring bola ke sisi lemahnya. Tapi 
bagaimana caranya mengetahui kaki mana merupakan kaki lemah lawan? Mudah 
saja; umumnya kaki yang dipakai untuk menggiring bola adalah kaki kuat lawan. 
Dengan demikian, kaki lemahnya adalah kaki yang tidak dipakai untuk menggiring 
bola!*
6. Sebisa mungkin hindari melakukan pelanggaran. Terutama apabila lawan berada di 
dekat gawang kita. Ingat, situasi standar sering menjadi pemecah kebuntuan dalam 
suatu pertandingan yang sebenarnya berjalan sangat seimbang. 
Keterangan: 
 Tim profesional Eropa umumnya memiliki tim mata-mata yang salah satu tugasnya adalah 
mengamati hal-hal seperti ini. Informasi tersebut diberikan kepada pelatih yang kemudian 
memberikan instruksi kepada pemain-pemainnya sesuai kelebihan dan kelemahan lawan. 
120 
b. 1 v 1 - jarak dekat di sayap dan di tengah 
1. Pada saat jarak lawan dekat dengan posisi pemain bertahan, pemain harus dibiasakan 
untuk sebisa mungkin merebut bola sebelum bola dikuasai oleh lawan. 
2. Apabila memotong bola tidak memungkinkan, paling tidak pemain bertahan harus 
terbiasa untuk secara agresif menekan lawan di saat-saat penyerang menerima bola. 
Masa paling kritis bagi penyerang adalah saat mengontrol bola. Di sinilah kesempatan 
bagi pemain bertahan untuk membuat penyerang tidak tenang/gugup sehingga ia 
membuat kesalahan. 
3. Apabila lawan telah berhasil mengontrol bola sebisa mungkin jangan biarkan lawan 
berbalik hingga menghadap gawang. 
4. Apabila semua hal di atas tidak berhasil dilakukan dan lawan telah berhasil menerima 
bola dengan baik, bahkan berhasil berbalik menghadap gawang, pemain bertahan 
harus menahan diri untuk tidak melakukan step in*. Hal ini berbahaya karena 
penyerang yang berkualitas akan dengan mudah melewati lawan yang sudah terlanjur 
mati langkah. Oleh karena itu, di dalam situasi seperti ini pemain harus belajar untuk 
sabar dan baru masuk mencuri bola apabila lawan melakukan kesalahan dalam hal 
mengontrol bola (bola tidak digiring dengan dekat ke kaki). Apabila ada kawan yang 
siap mendobel, pemain bertahan boleh lebih agresif dalam usahanya mencuri bola. 
Sekali lagi, karena inilah strategi saling mendobel satu dengan yang lainnya mutlak 
harus dikuasai pemain zaman sekarang. 
5. Apabila lawan tetap saja bisa lolos (hal ini kerap terjadi karena dalam sepak bola terka 
dang lawan lebih hebat walaupun kita telah melakukan yang terbaik), hindari 
mengejar lawan dari belakang seperti layaknya sebuah gerbong kereta api. Lakukan 
sprint secepatnya guna memotong pemain lawan sehingga pemain bertahan berada 
di antara titik tengah gawang dan letak bola. Bila ini berhasil dilakukan maka proses di 
atas kembali dimulai dari awal; contain (arahkan lawan ke bagian paling tidak 
berbahaya), dan jangan lakukan step in sampai ada kesempatan yang benar-benar 
bagus. 
6. Tackling hanyalah kemungkinan terakhir apabila semua kemungkinan yang ada telah 
terkuras habis tanpa hasil yang memuaskan. Demikian juga dengan melakukan 
pelanggaran sebaiknya hanya dilakukan apabila tidak ada kemungkinan lain lagi. Itu 
pun hanya sebatas pelanggaran sejenis tactical foul (pelanggaran yang dilakukan demi 
kepentingan taktis) dan bukan pelanggaran brutal. Bedanya jelas, saat melakukan 
tactical foul pemain tidak dalam keadaan emosi, sedang saat melakukan pelanggaran 
biasa pemain kerap kehilangan kendali atas emosi pribadi. 
Keterangan: 
*Step in : Beranjak masuk untuk mencuri bola dari kaki lawan.
121 
c. 1 v 1 - bek berada di belakang punggung penyerang (penyerang 
membelakangi bek) 
1. Situasi ini sering sekali terjadi terutama bagi seorang bek tengah. Pertama-tama yang 
perlu diperhatikan seorang bek saat terjadi situasi seperti ini adalah penempatan 
posisi. Memang pandai menempatkan posisi begitu penting artinya dalam bermain 
sepak bola. Tidak percuma pemain yang relatif tua biasanya semakin mahir bermain 
bola karena memang semakin berpengalaman seorang pemain semakin mahir pemain 
tersebut dalam menempatkan posisi. 
2. Letak posisi bek saat penyerang membelakanginya idealnya adalah: 
(1) Menempel ketat badan penyerang tanpa melakukan kontak badan. Artinya, bek 
tidak menyentuh lawan apalagi melakukan pelanggaran. 
(2) Posisi badan bek setengah muncul ke samping badan penyerang. Artinya, bek 
tidak berdiri 100% di belakang penyerang melainkan hanya 50% saja. Tujuannya 
adalah supaya bek bisa melihat bola bahkan bila mungkin menyerobot bola 
sebelum bola berhasil dikuasai penyerang. 
(3) Munculnya badan bek seharusnya ke arah letak gawang. Sebagai contoh, apabila 
letak gawang berada di sebelah kiri belakang bek, maka badan bek harus muncul 
di sebelah kiri badan penyerang! 
3. Tujuan bek saat bertahan di situasi seperti ini adalah bila mungkin merebut bola 
sebelum bola dikuasai lawan. Apabila menyerobot bola tidak mungkin dilakukan maka 
tujuan bek berikutnya adalah tidak membiarkan lawan berputar dan menghadap 
gawang. Sekali lagi, hindari melakukan pelanggaran karena tendangan bebas sering 
kali berbuah gol! 
d. 1 v 2 - satu pemain bertahan melawan dua penyerang 
1. Walaupun situasi 1 v 2 tidak diinginkan terjadi karena tentu saja tidak menguntungkan 
dan sangat berbahaya, tetap saja sering kali seorang pemain bertahan harus meredam 
dua pemain menyerang sekaligus. Paling tidak untuk sementara waktu sampai pemain 
bertahan lain datang membantu. Oleh karena itu, prinsip utama saat terjadi situasi 1 v 
2 (demikian juga saat terjadi situasi-situasi lain di mana pemain lawan jumlahnya lebih 
banyak daripada pemain bertahan seperti misalnya 2 v 3 atau 3 v 5) adalah mengulur 
waktu. Dengan demikian, pemain bertahan lain diberi waktu untuk datang 
membantu. Merebut bola di saat-saat kurang menguntungkan seperti ini tidak 
menjadi prioritas. Ulur waktu sampai teman datang membantu, baru setelah itu 
merebut bola menjadi prioritas kembali. Lain halnya saat jumlah pemain bertahan 
melebihi jumlah pemain menyerang; di situasi seperti itu tentu saja merebut bola 
menjadi tujuan utama sehingga sikap pemain bertahan seharusnya agresif dan ngotot 
untuk merebut bola. 
2. Situasi 1 v 2 harus rajin dipelajari serta dilatih karena situasi 1 v 2 adalah landasan 
ilmu yang penting dan bisa dipakai untuk situasi kalah jumlah secara umum. Dengan 
kata lain, pengetahuan tentang bagaimana seorang pemain harus bertindak saat 
terjadi situasi 1 v 2 adalah pengetahuan dasar yang juga dibutuhkan saat terjadi 
situasi kalah jumlah yang lain seperti 1 v 3 , 2 v 3 ,3 v 5, dan lain-lain. 
3. Untuk penempatan posisi yang ideal saat terjadi situasi 1 v 2 perhatikan diagram 
berikut ini:
Keterangan: 
Posisi bek harus sedemikian rupa sehingga 
umpan 1 adalah kemungkinan yang dipilih oleh 
lawan yang menguasai bola. Umpan 1 tidak 
berbahaya bahkan menguntungkan bek karena 
memberi waktu pada bek lain untuk turun 
membantu. Umpan 2 harus ditutup bek sehingga 
lawan tidak bisa melepaskan umpan yang sangat 
berbahaya ini! Umpan 3 adalah tanggung jawab 
kiper. Apabila umpan ini dipilih lawan, kiper 
harus sigap untuk memotong bola. Untuk itu 
posisi kiper harus tepat serta keluar dari 
sarangnya. Kiper harus ikut bermain! 
Apabila lawan memutuskan untuk melakukan speed dribbling maka bek harus ikut berlari 
mundur sambil berusaha ‘menggiring‘ lawan ke samping (tepi lapangan). Dari situasi 1 v 2 
kini terjadi 1 v 1! Kini bek tinggal berusaha merebut bola saat bola digiring jauh dari kaki 
lawan dengan cara menyelipkan badannya di antara pemain lawan dan bola. 
Contoh Latihan 
Untuk contoh-contoh latihan sederhana guna melatih prinsip-prinsip taktik dan teknik 
individu saat bertahan, perhatikan diagram-diagram di bawah ini berikut keterangan 
singkatnya: 
Latihan 1 
Keterangan: 
 Latihan A adalah untuk jarak dekat, B 
untuk bertahan jarak jauh dan C untuk 
bertahan di belakang punggung 
penyerang. Biarkan pemain bergiliran 
menempati posisi A, B, lalu C. Hanya saja, 
berikan porsi yang lebih sesuai posisi 
masing-masing pemain. Artinya, biarkan 
bek sayap lebih banyak berlatih di posisi A 
dan B sedang bek tengah lebih banyak 
berlatih di posisi C. Demikian juga untuk 
penyerang, biarkan pemain sayap lebih 
banyak menempati posisi A dan B sedang 
penyerang tengah lebih banyak menempati posisi C. Logikanya simple; biarkan 
pemain berlatih sebanyak mungkin sesuai situasi yang sering terjadi saat bertanding! 
 Untuk latihan A dan C diperlukan orang ketiga yang bertugas mengumpan bola 
kepada penyerang. Di posisi A, bek dilatih untuk menekan lawan sejak saat bola 
dalam perjalanan menuju penyerang. Di posisi C, bek dilatih untuk berdiri dengan 
tepat serta melakukan prinsip-prinsip yang sudah dijabarkan di atas. 
 Di belakang pemain menyerang baik di posisi A, B , maupun C, ditempatkan gawang 
kecil dari cones. Bila bek berhasil merebut bola, mereka diinstruksikan untuk 
mendribel bola melalui gawang kecil tersebut. Sebagai variasi, setelah beberapa 
menit, instruksikan bek untuk mengumpan bola secara mendatar ke dalam gawang 
kecil apabila mereka berhasil merebut bola dari kaki penyerang. 
122
123 
Latihan 2 
Keterangan: 
 Untuk latihan 1 v 2, pada 
awalnya lakukan latihan A. Latihan 
ini dimaksudkan guna melatih 
penempatan posisi yang ideal. 
L a kuk a n k or e k s i a pa bi l a 
penempatan posisi pemain salah. 
Jangan bosan mengoreksi karena 
ini adalah dasar ilmu pertahanan. 
 Beberapa menit kemudian 
lakukan latihan B. Pada latihan B, 
bek mendapat bantuan setelah 
beberapa detik (tiga detik misalnya). 
Artinya setelah tiga detik, dua 
pemain bertahan datang membantu 
sehingga terjadi situasi yang 
menguntungkan; 3 v 2. Latihan ini 
dimaksudkan untuk melatih pemain 
mengulur waktu. Sebaliknya, bagi 
penyerang, latihan ini melatih 
pemain untuk cepat melakukan 
penyelesaian ke arah gawang. Perlu 
diingat, apabila tujuan Anda adalah 
melatih pertahanan, maka 
berkonsentrasilah pada pemain 
bertahan. Pemain menyerang cukup 
diberikan instruksi singkat di awal latihan. Selebihnya, berikan instruksi khusus 
kepada pemain-pemain bertahan saja! 
2. Langkah kedua : taktik grup I – Mendobel lawan (2 v 1) 
Langkah kedua saat mengajarkan sistem 4-4-2 yang benar adalah mengajarkan taktik 
grup. Yang dimaksud dengan taktik grup adalah pencapaian sebuah tujuan secara bersama-sama. 
Dengan kata lain, beberapa pemain melakukan sesuatu dengan maksud dan tujuan 
tertentu secara bersama-sama. Taktik grup yang akan dibahas di sini adalah taktik grup saat 
bertahan. Bertahan secara grup umumnya dibagi menjadi tiga bagian; mendobel lawan 
(menang jumlah), 2 v 3 atau kalah jumlah serta bertahan berempat 4 v 4 (sama jumlah). 
Pemain perlu diberikan pengertian bahwa mendobel lawan atau menciptakan situasi 
menang jumlah adalah tujuan pergeseran! Seperti sudah di bahas sebelumnya, dalam sepak 
bola modern pemain dituntut untuk bergeser secara bersama-sama (sebagai sebuah unit) 
ke arah bola. Dengan bergesernya pemain, terjadi situasi menang jumlah di daerah letak 
bola. Untuk situasi seperti inilah pemain perlu dilatih cara-cara mendobel lawan.
124 
Prinsip dasar saat mendobel lawan: 
 Satu pemain bertugas merebut bola sedang pemain lainnya berfungsi sebagai 
pelapis. Dengan kata lain, kedua pemain bertahan tidak merebut bola secara 
bersama-sama. Ada pembagian tugas yang jelas; satu menekan bola dengan 
agresif sedangkan pemain lainnya berjaga-jaga di dekatnya kalau-kalau pemain 
lawan berhasil lepas dari kawalan pemain bertahan pertama. 
 Saat tidak ada permain pelapis (1 v 1) tugas bek adalah menggiring penyerang ke 
garis samping lapangan atau ke arah posisi teman. Begitu pemain pelapis 
memberikan instruksi “rebut” tanda dia telah siap untuk melapis, bek pertama 
bisa mulai mencurahkan tenaganya untuk merebut bola. Karena ada pemain 
pelapis, bek pertama bisa benarbenar agresif atau ngotot dalam usahanya 
merebut bola. Apabila usahanya gagal dia tahu bahwa masih ada pemain pelapis 
yang bisa meredam pemain lawan tadi. Kuncinya, pemain pelapis harus 
memberikan instruksi! 
 Jangan lakukan pelanggaran! Situasi 2 v 1 atau bahkan lebih (3 v 1) begitu 
menguntungkan bek. Pelanggaran akan memberikan waktu dan tempat kepada 
penyerang yang sebelumnya tidak dimilikinya! 
 Pemain pelapis selalu menempatkan posisinya di antara bola dan titik tengah 
gawang (invisible line ) dengan pertimbangan keamanan. 
Contoh latihan mendobel lawan: 
Keterangan: 
Bola dikuasai pemain . 
Dua pemain dilatih mendobel 
lawan, merebut bola dari 
lawan lalu dengan cepat 
melakukan penyelesaian. 
Setelah beberapa waktu 
gantilah peran kedua tim. kini 
menyerang. Biasakan selalu 
menciptakan situasi kompetisi 
atau bersaing saat latihan. 
Tim yang kalah harus 
membereskan peralatan 
latihan, misalnya, atau 
dihukum push up. Sekali lagi, 
berikan instruksi hanya pada tim bertahan. Sebagai variasi, biarkan pemain pelapis datang 
sedikit terlambat. Dengan demikian bek sekaligus dilatih 1 v 1 sedangkan pemain pelapis 
dilatih untuk memberikan instruksi “rebut” saat ia telah siap melapis! 
3. Langkah ketiga : taktik grup II- 2 v 3 
Saat melatih 2 v 3 perhatikan beberapa coaching points di bawah ini: 
 Pemain bertahan harus selalu saling melapis (saling mengamankan). Dengan kata lain, 
hindari bertahan secara sendiri-sendiri. Bertahanlah secara bersama-sama sebagai grup. 
Untuk jelasnya perhatikan diagram di bawah ini:
Keterangan: 
Terlihat jelas bahwa pemain A bergeser sesuai 
letak bola sedang pemain B melapis/ 
mengamankan pemain A. Prinsip mengamankan 
rekannya ini juga berlaku bagi kiper. Kiper 
hendaknya keluar dari sarangnya guna 
memotong umpan-umpan terobosan. 
 Pemain bertahan yang melapis/mengamankan (pemain B) bertugas menutup umpan-umpan 
ke jantung pertahanan. Dengan demikian pemain lawan ´diundang‘ untuk 
melakukan umpan menyamping. Umpan semacam ini menguntungkan karena memberi 
waktu pada pemain bertahan lain untuk datang membantu. 
 Untuk memberi waktu kepada pemain bertahan lain untuk datang membantu, pemain A 
dan B harus sedikit demi sedikit mundur ke belakang. Kecepatan mundurnya pemain bek 
bergantung pada kecepatan majunya penyerang lawan. Sering terjadi kesalahan dalam 
hal ini; bek tidak bergerak mundur atau kurang cepat dalam bergerak mundur sehingga 
lawan bisa menyelip/melewati bek dengan mudah. Sebaliknya, terlalu cepat mundur 
juga berbahaya karena akan memberikan ruang tembak bagi penyerang. 
 Saat bola berada di bagian tengah lapangan letak posisi kedua bek adalah seperti terlihat 
125 
pada diagram berikut: 
Keterangan: 
Pemain A menutup sisi kuat pemain 
yang menguasai bola. Artinya, sesuai 
contoh diagram, pemain A menempatkan 
dirinya di sebelah kanan penyerang karena 
kaki kanan adalah sisi kuat penyerang 
tersebut. Umumnya kaki yang digunakan 
untuk menggiring bola adalah kaki atau sisi 
kuat pemain tersebut. Perlu diingat, pemain 
A tidak berusaha merebut bola, melainkan 
hanya mencoba mengulur waktu dengan 
cara turun ke belakang secara bertahap 
( sesua i kecepa tan l awan) dan 
´mengundang´ lawan untuk melakukan umpan ke arah samping. 
 Apabila penyerang melakukan overlap run, perhatikan diagram di bawah ini: 
Keterangan: 
Penyerang B yang melakukan 
overlap run diikuti pergerakannya oleh bek 
yang berposisi menjorok ke depan (dalam 
hal ini pemain D). Pemain D bergerak 
diagonal ke belakang agar mampu 
mengamankan umpan terobosan yang 
berbahaya. Pemain E ikut bergerak ke 
belakang-samping guna mengamankan 
daerah tengah pertahanan. Dengan 
demikian penyerang A tidak bisa 
menerobos ke arah gawang melainkan
´diundang´ untuk memberikan umpan kepada C. Umpan kepada C (menyamping) tidak 
berbahaya dan mengulur waktu sehingga pemain bertahan lain ada waktu untuk datang 
membantu. Umpan ke C (ke daerah) harus diantisipasi kiper dengan cara menempatkan diri 
dengan benar. 
126 
Contoh latihan 2 v 3 
Latihan 1 
Keterangan: 
Tim putih di bagian bawah diagram 
dituntut mencetak gol dalam waktu 
kurang dari sepuluh detik. Tim merah 
berusaha merebut bola untuk kemudian 
diumpankan pada tiga rekannya di garis 
tengah lapangan. Kini tim merah 
bermain 3 v 2 melawan tim putih di 
bagian atas diagram. Begitu seterusnya. 
Setelah beberapa menit biarkan pemain 
beristirahat secara aktif (jogging santai 
atau menjogling bola bertiga). Peraturan 
off side tentu saja berlaku seperti biasa. 
Latihan 2 
Keterangan: 
Tim putih menguasai bola dan 
dituntut untuk secepat mungkin 
melakukan penyelesaian akhir. Tim 
merah awalnya bermain 2 v 3, akan 
tetapi beberapa detik kemudian 
ada tambahan dua pemain 
bertahan sehingga terjadi situasi 4 
v 3. Pemain bertahan C dan D yang 
ditempatkan 5-10 meter di 
belakang penyerang diperbolehkan 
turun membantu begitu bola 
bergulir. 
4. Langkah ke empat : taktik grup III- bertahan berempat (4 v 4) 
Langkah berikutnya adalah membiasakan pemain bekerja sama sebagai sebuah 
rantai yang terdiri dari empat mata rantai. Beberapa coaching point penting saat melatih 
bertahan secara rantai dengan empat pemain adalah sebagai berikut: 
1. Arah lari bek tidak boleh saling menyilang. Penjagaan pemain lawan harus diserahkan
kepada bek yang berdiri lebih dekat dengan posisi baru penyerang. Ini adalah perbedaan 
utama antara sistem 4-4-2 atau 4-3-3 modern bila dibandingkan dengan cara bermain 
man to man marking. 
2. Ke empat bek harus bergerak secara bersama-sama ke arah letak bola tanpa 
merenggangkan jarak antar pemain (kira-kira sepuluh meter) sehingga terjadi situasi 
menang jumlah di sisi lapangan tempat bola berada (lihat diagram). 
3. Saling memberikan instruksi mutlak harus dilakukan semua pemain! 
4. Sebagai pedoman, rangkaian posisi pemain seharusnya menyerupai sebuah pisang! 
127 
(Lihat diagram). 
5. Apabila bola berada di bagian tengah lapangan salah satu pemain (sesuai diagram 
pemain B) maju ke depan guna merebut bola. Ketiga bek yang lain bergerak lebih jauh ke 
dalam sehingga pertahanan tetap compact (lihat diagram). 
Penting: ketiga pemain bertahan harus menjaga lini sehingga peraturan off side bisa 
dipergunakan (sesuai contoh diagram, pemain A, C dan D harus membentuk garis lurus). 
Untuk jelasnya perhatikan kedua diagram di bawah ini: 
Diagram 1 Diagram 2 
Keterangan: 
 Pada diagram 1, pemain A menggiring penyerang lawan ke arah luar. Pemain B bertindak 
sebagai pemain pelapis, sedang pemain C dan D ikut bergeser ke arah bola tanpa 
kehilangan keketatan antar mata rantai. Pemain A, B, C dan D membentuk sebuah 
pisang. 
 Pada diagram 2, pemain B maju ke arah pemain yang menguasai bola karena letak 
pemain tersebut paling dekat dengan pemain B. Terbentuk sebuah segi tiga antara 
pemain A, B dan C. Pemain A dan D bergeser ke tengah sehingga keketatan antar mata 
rantai menjadi lebih ketat lagi.
128 
Contoh latihan untuk 4 vs 4: 
Latihan 1. 
Keterangan: 
Pemain putih menyerang 
d i i n s t r uk s i k a n u n t u k 
mengumpankan bola dari kaki 
ke kaki. Keempat bek dilatih 
untuk bergeser ke kiri dan ke 
kanan membentuk pisang dan 
sesekali membentuk segi tiga 
di bagian tengah lapangan. 
Setelah beberapa waktu, 
instruksikan penyerang untuk 
benar -benar berusaha 
mencetak gol. “Bekukan” 
latihan di saat yang tepat 
guna mengoreksi arah lari dan 
penempatan posisi pemain 
bertahan. 
Latihan 2. 
Keterangan: 
Sama seperti latihan 1, hanya 
saja kini tempatkan seorang 
pemain lawan sebagai 
penyerang tengah (9). Barisan 
bek harus membiasakan 
menyerahkan tanggung jawab 
atas penyerang tengah (9) 
dengan saling memberikan 
instruksi. Di saat yang sama 
barisan pertahanan tetap harus 
bergeser ke arah letak bola. 
Apabila sesuai diagram 
penyerang 9 dijaga oleh 4, 
pemain 5 bertugas menjaga 
gelandang serang 10 apabila 10 
mendribel bola ke arah gawang. 
Selang beberapa waktu biarkan penyerang betul-betul berusaha mencetak gol. Barisan 
pertahanan berusaha merebut bola lalu mendribel atau mengumpan bola ke salah satu dari 
kedua gawang kecil dari cones yang tersedia. 
Penting: Latihan ini menuntut dipraktikkannya semua prinsip yang telah dibicarakan sejauh 
ini! Oleh karena itu, pelatih harus jeli dalam melihat kesalahan-kesalahan yang terjadi.
129 
5. Langkah ke lima: Taktik tim I- Empat pemain bertahan ditambah dua 
gelandang bertahan (6 v 5 atau 6 v 6) 
Setelah latihan taktik individu dan latihan taktik grup dilakukan secara saksama, 
langkah metodis berikutnya adalah berlatih taktik bertahan secara tim. Cara pengajaran 
taktik tim itu sendiri bisa dilakukan dalam beberapa jenjang. Dua jenjang utama akan 
dibahas di sini. Jenjang berlatih taktik bertahan secara tim pertama adalah membiasakan 
barisan pertahanan bekerja sama dengan kedua gelandang tengah (pemain 6 dan 10). 
Dengan bergabungnya dua gelandang tengah, fokus latihan kini diarahkan pada 
keketatan posisi antar pemain di dalam lini dan keketatan posisi pemain antarlini. Ke empat 
pemain bek harus selalu berdiri dengan compact! Dengan kata lain, jarak antar barisan bek 
dan barisan gelandang bertahan harus selalu ketat. Tujuannya tentu saja adalah menyulitkan 
lawan menemui celah-celah yang bisa digunakan untuk melakukan kombinasi permainan. 
Selain itu, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, dengan adanya penempatan posisi yang 
compact pemain bertahan akan bisa menciptakan situasi menang jumlah di daerah letak 
bola (flooding the ball). 
Saat melatih taktik secara tim, selalu tekankan pentingnya komunikasi antar pemain. 
Bila pemain tidak saling memberikan instruksi, pemain lawan tidak bisa terjaga dengan baik 
dikarenakan perpindahan tanggung jawab pengawalan tidak berlangsung dengan baik. 
Biasakan pemain menyerukan instruksi-instruksi seperti "jaga dia” , "jaga nomor 11", 
"punyaku”, "ikuti dia” atau "biarkan dia”. Saling memberikan instruksi (bahkan bisa 
dikatakan saling melatih) begitu penting artinya dalam sepak bola modern karena 
pengawalan lawan tidak lagi melulu berlangsung secara man to man. 
Perhatikan posisi ideal pemain-pemain bertahan saat bola berada di sayap sesuai 
diagram di bawah ini: 
Keterangan: 
Pemain 2 dan 6 mendobel ( 2 v 1) 
pemain sayap kiri lawan (8). Bek 
tengah (4) meninggalkan striker 
lawan 11 untuk bersiap membantu 
mengawal sisi kanan pertahanan 
(daerah bergaris). Tugas pemain 4 
dilimpahkan kepada bek tengah 5. 
Striker 9 yang tadinya dijaga bek 
tengah 5 kini dikawal oleh bek 
sayap kiri 3. Pemain 3 sekaligus 
bertugas mengawasi pergerakan 
gelandang sayap kanan lawan (7). 
Bila bola sampai pada 7, pemain 
bek sayap 3 bergeser menjaga 7. Pemain 4 kembali bergeser menjaga 11 dan pemain 
5 kembali menjaga 9. Gelandang bertahan 6 dan 10 tentu saja ikut bergeser; kini 
gelandang bertahan 10 yang ganti membantu bek sayap 3. Perhatikan juga bahwa 
penempatan posisi pemain 5 sesuai gambar adalah di belakang pemain 11 (sisi 
gawang!). Bandingkan dengan diagram selanjutnya di mana pemain 5 harus lebih 
muncul.
Perhatikan posisi ideal pemain bertahan saat bola berada di tengah sesuai diagram-diagram 
berikut ini: 
130 
Diagram 1 
Keterangan: 
Pemain gelandang 6 dan 10 mendobel 
lawan di tengah. Posisi pemain 4 dan 5 
harus sedikit muncul dari belakang 
striker lawan 9 dan 11. Ini penting guna: 
(1) bisa melihat bola, (2) bila ada 
kesempatan bisa merebut bola sebelum 
bola dikuasai striker lawan, dan (3) 
menjaga daerah yang paling berbahaya 
yakni jantung pertahanan (daerah 
bergaris). 
Diagram 2 
Keterangan: 
Apabila salah satu striker lawan 
(misalnya pemain 11) datang 
membantu pemain yang menguasai 
bola, maka bek tengah 4 harus 
mengikuti pergerakan striker lawan 
11! Di saat yang sama pemain 2 dan 5 
bergerak masuk sehingga terbentuk 
segitiga (2, 4 dan 5). Pemain 3 juga 
ikut masuk mengawal striker lawan 9 
sekaligus mengawasi pergerakan 
sayap kanan lawan (7). 
Diagram 3 
Keterangan: 
Apabila gelandang lawan (10) tidak 
bisa didobel dengan baik oleh 
pemain 6 dan 10 (karena kurangnya 
agresivitas atau tidak cukup waktu 
untuk datang mengahampiri pemain 
lawan 10), maka situasi yang kerap 
terjadi adalah sesuai diagram di atas. 
Bola diumpankan kepada striker 9. 
Bila ini terjadi bek tengah 5 harus 
ikut maju mengikuti pergerakan 
striker lawan 9 sehingga pengawalan 
tetap ketat. Pemain 3 dan 4 seperti 
biasa bergeser masuk sehingga 
terjadi segitiga (4, 5 dan 3). Pemain 6
dan 10 harus terus ikut bermain dengan cara mendobel ke belakang. Dengan demikian, 
striker lawan 9 ditekan oleh 3 pemain (6, 10 dan 5)! 
Penting: Situasi boleh berbeda, tapi prinsip-prinsip seperti bergerak secara bersama-sama 
ke arah bola, penempatan posisi yang compact, saling memberikan instruksi saat 
menyerahkan tanggung jawab pengawalan pemain lawan, pembentukan segitiga seperti 
yang diilustrasikan di atas, serta mendobel pemain yang menguasai bola, selalu sama. 
6. Langkah ke enam : Taktik tim II-bermain 11 v 11 sebagai satu kesatuan tim 
131 
yang utuh 
Menentukan formasi bermain 
Menentukan taktik tim dimulai dengan ditetapkannya sebuah formasi bermain. 
Masing-masing formasi dan cara bermain sepak bola mempunyai kelemahan dan 
kelebihannya masing-masing. Formasi 4-4-2 dan 4-4-3 tidak luput dari kelemahan. 
Sebaliknya, formasi 3-5-2 tidak melulu jelek; banyak kelebihan formasi 3-5-2. Yang 
menentukan adalah adanya organisasi yang baik, bukan formasi! Untuk kepentingan 
standarisasi telah ditentukan penggunaan formasi 4-4-3 hingga umur 15 tahun. 
Landasan organisasi yang baik adalah bergeraknya pemain secara bersama-sama. 
Artinya, semua pemain berusaha untuk melakukan hal yang sama! Oleh karena itu, instruksi 
seorang pelatih sangat menentukan. Tanpa adanya seorang pelatih yang memegang kendali, 
permainan akan kacau-balau karena masing-masing pemain melakukan apa yang ia anggap 
baik dan benar. Ada begitu banyak pandangan tentang sepak bola, karena itu harus ada 
instruksi-instruksi yang jelas kepada pemain tentang bagaimana tim akan bermain. 
Pemain yang membangkang (melakukan apa yang ia sendiri anggap benar) atau tidak 
mampu melakukan instruksi (karena skill yang kurang mumpuni , kurang pengertian akan 
taktik atau buruknya kondisi) tentu saja harus dibangkucadangkan. Instruksi pelatih yang 
pertama adalah menetapkan formasi bermain. Selanjutnya pelatih menginstruksikan di 
mana lawan akan mulai ditekan dan bagaimana. 
Di mana menekan lawan? 
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, menekan lawan bisa dilakukan di depan 
(forechecking), di lapangan tengah (midfield pressing) atau di daerah pertahanan sendiri (fall 
back). Ada baiknya sisi positif dan negatif masing-masing letak menekan dibahas di sini. 
a. Forechecking: 
Kelebihan: 
 Dekat gawang lawan, sehingga apabila bola berhasil dicuri, jarak antara bola dan 
gawang lawan relatif dekat! 
 Lawan langsung ditekan sehingga tidak memiliki waktu, tempat dan ketenangan 
yang dibutuhkan dalam mengatur serangan. 
 Karena merasa tertekan, lawan sering terpaksa melepaskan umpan-umpan jauh 
yang sangat mudah untuk dimentahkan. 
 Tim yang lemah akan semakin lemah (tidak berkembang permainannya) sedang
132 
tim yang hebat penguasaan bolanya akan diredam kemampuannya. 
 Bila ada pemain belakang lawan yang lemah, kelemahan tersebut bisa digunakan 
untuk merebut bola. Caranya pemain tim lawan dipancing untuk memberikan 
umpan kepada pemain lemah tersebut untuk kemudian ditekan secara agresif. 
Kekurangan: 
 Umpan jauh ke belakang barisan pertahanan sendiri sangat berbahaya. 
 Sangat menguras tenaga dan konsentrasi. 
 Bila sedikit saja pemain kehilangan keawasannya akan tercipta celah-celah yang 
berbahaya. 
Untuk usia 12 - 15 tahun diajarkan 4-3-3. Di atas 15 tahun pemain boleh diajarkan 
4-4-2 atau formasi lain asal prinsip-prinsip sepakbola modern diterapkan. 
b. Fall back: 
Kelebihan: 
 Sebuah strategi yang menjanjikan apabila lawan jelas menang kelas. 
 Posisi pemain sangat compact sehingga sulit ditembus lawan. 
 Tidak begitu menguras tenaga karena pemain sebatas berreaksi terhadap lawan 
tanpa harus mengejar bola atau menekan lawan. Oleh karena itu, sistem ini tepat 
untuk digunakan di saat-saat kondisi pemain telah terkuras. 
 Strategi yang baik guna mempertahankan kemenangan di akhir pertandingan. 
 Terkadang organisasi pemain kurang baik. Dengan menerapkan strategi fall back 
pemain memeroleh waktu untuk kembali berkonsentrasi atas tugas dan posisinya 
masing-masing. 
Kelemahan: 
 Cara bermain seperti ini membosankan penonton apabila diterapkan sepanjang 
pertandingan. 
 Secara taktis, sistem menekan ini termasuk sistem yang negatif karena cenderung 
menunggu lawan tanpa memberikan tekanan kepada lawan. 
 Strategi yang sangat menyulitkan bagi striker tim itu sendiri, karena serangan 
yang dilakukan hanya sebatas serangan balik. 
 Jarak antara bola (saat berhasil merebut bola) dan gawang lawan sangat jauh. 
 Kalau ada yang berjalan tidak sebagaimana mestinya, situasi yang tercipta sangat 
berbahaya karena jarak antara bola dan gawang sendiri sangat dekat. 
Kesimpulan: 
Karena menguras tenaga, taktik forechecking hendaknya hanya diterapkan untuk sementara 
waktu (tidak 90 menit) dan di saat-saat tertentu (saat tendangan penjuru, di awal babak ke 
satu dan dua, saat teringgal atau saat lawan terkena kartu merah) saja. 
Sedang taktik fall back juga hanya bisa diterapkan di saat-saat tertentu (di akhir 
pertandingan saat mengamankan keunggulan, atau saat bermain dengan 10 atau 9 pemain 
saja) karena mengandung risiko yang termasuk tinggi. Dengan demikian, taktik midfield 
pressing paling cocok untuk digunakan di saat-saat normal dan untuk jangka waktu lama. 
Bisa dikatakan midfield pressing adalah jalan tengah atau hasil kompromi kedua sistem 
menekan yang lain.
Sebagai contoh, midfield pressing cukup menguras tenaga, tapi tidak sebanyak 
forechecking. Oleh karena itu, kebanyakan tim dunia saat ini mengutamakan sistem midfield 
pressing. Sistem ini diutamakan, tapi bukan berarti sistem-sistem lainnya dikesampingkan. 
Idealnya sebuah tim mampu menerapkan semua sistem menekan. FC Barcelona, contohnya, 
menerapkan semua sistem menekan dalam satu pertandingan; terkadang 10 menit mereka 
melakukan forechecking, kemudian 30 menit midfield pressing yang diselingi dengan dua kali 
lima menit fall back guna menghemat tenaga, lalu forechecking lagi di akhir babak. Jumlah 
menit dipakainya masing-masing sistem menekan tentu saja berbeda di setiap pertandingan 
sesuai dengan situasi pertandingan tersebut, tapi biasanya ketiga sistem terpakai dalam 
sebuah pertandingan! 
133 
Bagaimana menekan lawan? 
Umumnya pelatih tim-tim dunia menginstruksikan pemainnya untuk menggiring 
pemain lawan yang menguasai bola ke arah pinggir lapangan. Logikanya gampang saja: 
daerah samping lapangan relatif tidak berbahaya (letak gawang adalah di tengah!). Selain itu 
garis tepi lapangan bisa digunakan sebagai “teman” atau partner guna mendobel lawan. 
Tapi akan banyak juga pelatih yang menginstruksikan pemainnya untuk menggiring 
lawan ke bagian tengah lapangan. Pertimbangannya di bagian tengah lapangan lebih mudah 
tercipta situasi 2 v 1, bahkan 3 v 1. Menurut pengamatan saya, banyak juga pelatih di Eropa 
menginstruksikan pemainnya untuk menggiring ke bagian tengah lapangan kecuali di bagian 
sepertiga lapangan bagian pertahanan. Di sini faktor keamanan diutamakan sehingga 
pemain diinstruksikan untuk menggiring pemain ke arah garis tepi lapangan. 
Setelah pelatih menentukan serta menerangkan taktik-taktik pilihannya kepada 
pemain, maka langkah berikutya adalah membiasakan pemain berlari secara bersama-sama 
ke arah bola tanpa kehilangan posisi yang compact. 
Untuk latihan bergeser ke arah bola lakukan latihan-latihan di bawah ini: 
Latihan 1 
Keterangan: 
Pelatih menginstruksikan arah 
pergeseran. Awalnya cukup 
instruksikan pemain untuk 
bergeser ke samping, ke depan, 
dan diagonal secara garis lurus. 
Setelah beberapa waktu, 
instruksikan pemain untuk 
menempati posisi mendetail 
masing-masing secara tepat 
termasuk memperhitungkan ke 
mana lawan hendak digiring. 
Terbentuknya dua baris 
menyerupai pisang bisa 
digunakan sebagai pedoman 
saat mengoreksi posisi pemain. 
(Latihan ini bisa juga digunakan untuk berlatih kondisi. Dengan demikian latihan kondisi dan 
taktik digabung menjadi satu!).
134 
Latihan 2 
Keterangan: 
Tim putih hanya mengumpankan bola 
dari kaki ke kaki tanpa langsung 
berusaha mencetak gol. Tim merah 
bergeser sesuai letak bola dan 
melakukan semua prinsip yang telah 
dijabarkan sebelumnya. Baru setelah 
bebarapa waktu biarkan putih dan 
merah bermain lepas dengan instruksi 
kepada tim putih untuk bertahan sesuai 
diagram saat kehilangan bola. 
Untuk latihan mengganggu lawan saat membangun serangan serta berlatih 
menggiring lawan, lakukan latihan 9 v 8 ini: 
Latihan 3 
Keterangan: 
Kiper merah memulai 
permainan dengan 
mengumpankan bola ke 
bek tengah (sesuai 
diagram). Tim putih 
bertugas mengganggu 
tim saat membangun 
serangan. Perhatikan 
arah pergeseran dan 
penempatan posisi 
pemain-pemain tim 
putih dan lakukan 
p e n y e s u a i a n / 
pembenaran bila perlu. 
Sebagai variasi awal, 
biarkan tim merah mengumpankan bola dari kaki ke kaki terlebih dahulu tanpa berusaha 
mencetak gol ke salah satu gawang dari cones. Baru kemudian permainan sesungguhnya 
dimulai.

Kurikulum sepak bola indonesia part1

  • 2.
    KURIKULUM SEPAK BOLAINDONESIA Untuk Usia Dini (U5-U12), Usia Muda (U13-U20) & Senior Copyright @2012 by Timo Scheunemann Penyusun : Timo Scheunemann Penulis : Timo Scheunemann Claudio Reyna DR. Javier Perez DR. Paul Gunadi Tim Revisi : Bert Pentury, Emral Abus, Indra Syafri Penerjemah : Gheeto TW dan Timo Scheunemann Lay out : Gheeto TW, Timo Scheunemann, Kasmawati Penyunting : Kasmawati Tata Letak : Kasmawati Desain Sampul : Gheeto TW Foto : Koleksi Pribadi Matias Ibo
  • 3.
    UCAPAN TERIMA KASIH Pertama dan terutama Puji Syukur kepada Tuhan; sumber kekuatan dan kemampuanku. Beribu ucapan terima kasih saya tujukan kepada banyak pihak yang ikut andil secara langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan Kurikulum Sepak bola Indonesia ini. Bp. Djohar Arifin selaku Ketua PSSI, Bp. Bob Hippy selaku Exco Pembinaan Usia Muda PSSI dan Bp. Arifin Panigoro atas dukungannya. Tom Byer dan Claudio Reyna yang sudah menjembatani perijinan penggunaan sebagian dari US Soccer Curriculum. Bert Pentury, Emral Abus, Indra Syafri dan Wim Rijsbergen untuk masukan-masukannya. DR. Perez, DR. Paul Gunadi, Matias Ibo dan Heru Sugiri untuk sumbangan materinya. Gheeto TW dan Kasmawati Wicaksono yang peran dan bantuannya sangat saya hargai. Isteri saya tercinta Devi dan orang tua serta kakak saya Sven, Rainer, Ralph dan Silke atas dukungan morilnya selama ini. Asisten pelatih saya yang setia Heri serta sahabat James, Rino, Nehemia Wagiyono, dan Paul Richardson. Mentor saya Martin Hagele serta Markus Weidner, Bernd Stroeber, Horst Hrubesch, Inggo Weniger, Stefen Freund dan Ralf Peter dari DFB. Semua pelatih yang pernah melatih dan semua pemain yang turut andil dalam perkembangan saya sebagai pemain dan pelatih sepak bola. Terima kasih. In Loving Memory : Puji Purnawan (Mantan Punggawa Pra-Olimpiade 1992). Untuk Bangsaku demi berkumandangnya “Indonesia Raya” di pentas Piala Dunia.
  • 5.
    Sambutan Exco UsiaMuda Pembinaan sepakbola usia muda Indonesia tengah menjadi perhatian yang serius dan terus menerus ditekuni PSSI untuk mempersiapkan sebuah desain timnas masa depan Indonesia . Fondasi untuk membentuk timnas senior yang tangguh sudah jelas harus dimulai dengan mempersiapkan pemain sejak usia muda. Maka pola pembinaan pemain usia muda yang seharusnya menjadi tanggung jawab klub telah beralih menjadi “peluang “ dengan hadirnya Akademi Sepakbola Nusantara di Indonesia . Kehadiran Akademi Nusantara yang dibangun oleh PSSI dengan kepemimpinan pembaharuan telah mendapatkan porsi yang layak . Ini dibuktikan dengan adanya kompetisi usia muda dan lahirnya kurikulum untuk pelatihan bagi pemain usia muda . Visi dari kurikulum pembinaan usia muda ini juga sekaligus menjadi fondasi dasar untuk pembinaan pelatih dalam melatih pemain usia muda . Target kurikulum sepakbola ini adalah, untuk memberikan panduan bagi para pelatih. Maka diharapkan, akan hadir pemain berbakat dan tangguh di Indonesia di masa depan. Terima kasih . Jakarta , 1 April 2012 Bob Hippy Ketua Komite Pengembangan Sepak Bola Usia Muda
  • 6.
    Pendahuluan Xavi, gelandangFC Barcelona, saat ditanya soal kehebatan FC Barcelona menjawab demikian, “Di La Masia (akademi FC Barcelona) kami tidak ditempa untuk menang namun untuk berkembang.” Salah satu kelemahan yang paling mendasar dalam pembinaan “grass root” (U5-U12) dan usia muda (U13-U20) di Indonesia adalah fokus SSB yang salah; fokus SSB lebih ke arah menggapai kemenangan daripada membina pemain hingga bisa mencapai potensi maksimalnya. SSB sibuk menggapai prestasi sebagai klub hingga lupa bahwa prestasi sebenarnya adalah pembentukan pemain secara menyeluruh; teknik (bagaimana melakukan sesuatu), taktik (pengertian permainan atau pengertian akan mengapa melakukan sesuatu), fisik dan mental (menempa karakter yang positif dan kuat yang begitu penting artinya baik untuk kehidupan sang pemain secara keseluruhan maupun untuk perkembangannya sebagai pemain bola). Sudah saatnya kita bersama menyatukan tekad memberikan yang terbaik untuk Indonesia. Bukan untuk kita pribadi atau SSB kita masing-masing namun untuk Indonesia. Mari kita berlomba menelurkan pemain-pemain yang berbakat dan berkarakter demi kemajuan sepak bola Indonesia. Kurikulum ini adalah bagian dari langkah-langkah konkret yang dilakukan oleh Badan Usia Muda PSSI. Dengan adanya kurikulum ini harapan kami program latihan di semua SSB di seluruh Indonesia menjadi; (1) lebih berkualitas , (2) lebih “age specific” atau tepat usia, (3) lebih terarah secara baku atau dengan kata lain memiliki standar yang sama. Segala kekurangan yang ada mohon dimaaafkan. Semoga pada edisi kedua berikutnya dapat lebih mendekati sempurna. Untuk memahami dan melaksanakan pedoman ini diperlukan kesungguhan dan usaha yang maksimal dari anda. Dibutuhkan kemauan untuk belajar serta totalitas dalam melaksanakan profesi anda sebagai seorang pelatih. Entah dibayar atau bekerja secara suka rela, seorang pelatih harus mengerti bahwa perannya begitu penting di dalam menempa generasi penerus bangsa. Berangkat dari pemahaman ini diharapkan anda sebagai seorang pelatih menganggap serius peran anda dan karenanya berusaha untuk terus belajar, mempersiapkan latihan secara maksimal dan berinteraksi dengan pemain dengan penuh rasa tanggung jawab. Tetap semangat, jangan putus asa! Bersama kita bisa meraih keajaiban yang kita idam-idamkan bersama; mendengar “Indonesia Raya” berkumandang di pentas Piala Dunia! Semoga Tuhan memberkati usaha kita bersama. Salam, Timo Scheunemann Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI
  • 7.
    Daftar Isi UcapanTerima kasih ………………......................................................................................... ii Sambutan Ketua Umum PSSI ............................................................................................... iii Sambutan Ketua Komite Pengembangan Sepak Bola Usia Muda…………………………………….. iv Pendahuluan Direktur Pembinan Usia Muda ………………………………………………………………….. v Daftar Isi .................................................................................................................. ........... vi Keterangan Tanda Gambar: ................................................................................................ ix Bab I Prinsip Bermain ................................................................................................. 1 A. Gaya Permainan : Garis Besar ....................................................................... 1 B. Gaya Permainan: Spesifikasi ......................................................................... 2 C. Prinsip Bermain bagi Pelatih, Pemain, dan Tim .............................................. 4 Bab II Konsep Melatih .................................................................................................. 6 A. Fondasi Program Pembinaan yang Berkualitas .............................................. 6 1. Fasilitas/Faktor Pendukung .................................................................... 7 2. Faktor Pembina (Pelatih) ........................................................................ 8 3. Program Pembinaan Rutin ..................................................................... 9 B. Falsafah Program Pembinaan ....................................................................... 10 1. Hubungan Latihan dengan Pertandingan ………………………………………. ……… 10 2. Empat Komponen yang saling melengkapi …………………………………….… …… 10 C. Intisari Materi Kepelatihan ............................................................................ 11 D. Materi Kepelatihan : Istilah Umum ................................................................ 13 E. Materi Kepelatihan : Fisik .............................................................................. 14 1. Hal-hal yang meningkatkan Kemampuan Tubuh ..................................... 14 2. Pemahaman Istilah-istilah Fisik ............................................................... 15 F. Materi Kepelatihan Teknik ............................................................................ 19 1. Pemahaman Istilah-istilah Teknik Menyerang ........................................ 20 2. Pemahaman Istilah-istilah Teknik Bertahan ............................................ 21 G. Materi Kepelatihan Taktik ............................................................................. 22 1. Pemahaman Istilah-istilah Taktik Menyerang ......................................... 23 2. Pemahaman Istilah-istilah Taktik Bertahan ............................................. 33 H. Materi kepelatihan Jiwa Kebersamaan (Psychososial)/Mental ...................... 38 I. Materi Kepelatihan Situasi Standar (Set Piece) dan Formasi .......................... 39 1. Penjabaran Situasi Standar ..................................................................... 40 J. Materi Kepelatihan Penjaga Gawang ............................................................ 46 1. Kualifikasi Penjaga Gawang .................................................................... 47 K. Gaya kepelatihan .......................................................................................... 53 1. Garis Besar Mengenai Kepelatihan & Persiapan Latihan ......................... 53 2. Menciptakan suasana dan sarana berlatih yang kondusif bagi perkembangan Pemain ........................................................................... 55 3. Meracik Menu Latihan & Organisasi Latihan ........................................... 56 Bab III Kurikulum Sesuai Kelompok Umur ...................................................................... 59 A. Mengatur Perkembangan Pemain Berdasarkan Umur dan Tingkatan ........... 59
  • 8.
    B. Frekuensi MateriLatihan Sesuai Kelompok Umur .......................................... ... 63 1. Frekuensi Latihan Fisik Sesuai Kelompok Umur .. .......................................... 63 2. Frekuensi Latihan Teknik Sesuai Kelompok Umur ......................................... 64 3. Frekuensi Latihan Taktik Sesuai Kelompok Umur........................................... 65 4. Frekuensi Latihan Jiwa Kebersamaan (Psychososial)/Mental Sesuai Kelompok Umur.............................................................................................. 66 C. Kurikulum setahun untuk masing-masing kelompok umur................................. 67 D. Struktur Program Latihan Untuk Masing-masing Tingkatan Kelompok Umur..... 81 1. Tingkat Pemula/Fun Phase (U5-U8 Tahun).................................................... 81 1) Struktur Program Latihan ..................................................................... 81 2) Contoh Program Latihan ...................................................................... 82 2. Tingkat Dasar/Foundation Phase (U9-U12 Tahun) ....................................... 84 1) Struktur Program Latihan ..................................................................... 84 2) Contoh Program Latihan ....................................................................... 85 3. Tingkat Menengah/Formative Phase (U13-U14 Tahun) ............................... 88 1) Struktur Program Latihan ..................................................................... 88 2) Contoh Program Latihan ..................................................................... 89 4. Tingkat Mahir/Final Youth (U15-U20 Tahun) ............................................... 91 1) Struktur Program Latihan ..................................................................... 91 2) Contoh Program Latihan ..................................................................... 92 E. Format Latihan Fisik Untuk Dewasa (15 Tahun keatas) ………………………………... 94 F. Format latihan Teknik Untuk Dewasa (15 Tahun keatas) ................................. 96 1. Contoh Latihan Teknik Untuk Dewasa 1 (15 Tahun keatas) ........................ 97 2. Contoh Latihan Teknik Untuk Dewasa 2 (15 Tahun keatas) ........................ 98 G. Format latihan Taktik Untuk Dewasa (15 Tahun keatas) ................................. 101 1. Contoh Latihan Taktik Bertahan ................................................................. 101 2. Contoh Latihan Taktik Menyerang .............................................................. 103 Bab IV Kesalahan-kesalahan yang umum terjadi di Indonesia dalam hal organisasi latihan, pembuatan program latihan serta eksekusi latihan ................................ 106 Bab V Teori Sepak Bola Modern .......................................................... ........................... 109 A. Prinsip-prinsip Sepak Bola Modern ……………………………………………………………… 109 B. Prinsip-prinsip Dasar Bermain 4-4-2 Dengan Benar ……………………………………. 111 C. Langkah-Langkah Menuju 4-4-2 (sekaligus 4-3-3) ……………………………………... 118 D. Pengertian Taktik 4-3-3 ……………………………………………………………………….…….. 135 1. Pengertian Taktik Lapangan Kecil Sebagai Tahapan Menuju 4-3-3 ……….. 137 1) Formasi 2-2 ………………………….…………………………………………………………… 138 2) Formasi 3-1 ……………………………………………..……………………………………… 140 3) Formasi 3-2 ………………………………………………………………….……………..…… 143 4) Formasi 3-1-2-1 ……………………………………………………………………….……..… 144 Bab VI Teori Melatih Secara Modern .............................................................................. 146 A. Teori Melatih Fisik……………………………………………………………………………………… 146 1. Komponen Latihan Fisik ……...……………………………………………………………… 146 2. Kiat Praktis Meningkatkan Fisik Pemain ……………………………………………. 148 3. Pemahaman Dasar Gizi ……………………………………………………………………… 150 4. Berbagai Cara Mengevaluasi Fisik Secara Obyektif & Praktis …………….. 152 5. Panduan Khusus Penggunaan Gym (Fitness Studio) ………………………….… 157 B. Teori Melatih Teknik …………………………………………………………… ………….… .…… 159 C. Teori Melatih Taktik ………………………………………………………………………….… …… 161
  • 9.
    D. Teori MelatihMental …………………………………………………………………………………… 163 1. Pemahaman Dasar ……………………………………………………………………………….. 163 2. Pembinaan Mental Pemain …………………………………………………………………… 164 3. Kiat Praktis Meningkatkan Mental Pemain …………………………………………… 170 Bab VII Berbagai Variasi Latihan Dalam Bentuk Drill dan Permainan Lapangan Kecil……… 173 A. Variasi Latihan Fisik Dalam Bentuk Drill dan Permainan Lapangan Kecil ...….. 173 B. Variasi Latihan Teknik Dalam Bentuk Drill dan Permainan Lapangan Kecil …… 179 C. Variasi Latihan Taktik Dalam Bentuk Drill dan Permainan Lapangan Kecil …… 198 Bab VIII Mencegah dan Merawat Cedera ........................................................................... 199 A. Petunjuk Umum ………………………………………………………………………………..………… 199 B. Penangganan Pada Cedera ……………………………………………………………..…………. 201 C. Sepuluh Hal Praktis Menangkal Flu ……………………………………………………..……… 220 Bab IX Pemahaman Dasar Peraturan Pertandingan (Laws of the Game)........................... 222 Bab X Lampiran ……………………………………………………………………………………………………………. 262 A. Scouting Pemain ………………………………………………………………………………………….. 262 B. Formulir Data Diri Pemain & Panduan Scouting …………………………………………… 266 C. Scouting Tim Lawan …………………………………………………………………………………….. 270 Daftar Pustaka .............................................................................................................. ......... 278
  • 10.
  • 11.
    1 BAB I PRINSIP BERMAIN A. GAYA PERMAINAN - GARIS BESAR Elemen kunci untuk pelatih dan pemain yang membentuk gaya permainan 1. Pertandingan Gaya penyerangan Semua tim disarankan untuk menunjukkan gaya bermain yang menyerang yang ditunjukkan saat menguasai bola dan dengan melakukan pergerakan tanpa bola dengan cepat. Transisi cepat dan penyelesaian akhir Mendorong semua kelompok umur untuk mengusahakan kecepatan bermain, menghindari menggiring bola berlebihan (over dribbling), mengusahakan pergerakan yang terorganisasi dan pergerakan cepat tanpa bola serta cepat mencari penyelesaian akhir. Posisi spesifik Sebuah tim harus memiliki pertahanan yang terorganisasi, menjaga posisi spesifik masing-masing dalam formasi. Dilain pihak, pemain akan mencari ruang dan melakukan pergerakan untuk mendukung penyerangan walau harus bergerak jauh dari posisi mereka semula. 2. Formasi Formasi 4-3-3 dan 4-2-2 Tim di kelompok umur 12 tahun ke atas akan menggunakan formasi 4-3-3, (dengan variasi 4-2-3-1 atau 4-1-2-3 ). Tim di usia lanjutan (U15 ke atas) dapat juga menggunakan formasi 4-4-2. Untuk usia dini/grassroot (U5 - U12) disarankan bermain 4 v 4 dan 7 v 7 sebagai tahapan menuju pemahaman 4-3-3 yang benar.
  • 12.
    4 Bek Semuaformasi yang digunakan oleh tim pada pertandingan 11 v 11 harus terus membuat 4 baris bek. 4 bek menyediakan konsistensi dalam pertahanan dan memberikan ruang bagi bek luar untuk bergerak maju saat menyerang. 2 B. GAYA PERMAINAN : SPESIFIKASI Elemen kunci bagi pelatih dan pemain yang menegaskan gaya permaian 1. Fisik Speed and Agility (Kecepatan dan ketangkasan) Kualitas-kualitas ini akan terkandung dalam pertandingan (game) dan permainan yang menggunakan bola sejak kelompok usia dini/grassroot (U5 - U12). Endurance (Daya Tahan) Pemain secara individu dan seluruh tim dilatih untuk mampu melakukan pergerakan dengan intensitas tinggi. Usia dini/grassroot (U5 - U12) mendapatkan daya tahan hanya melalui game/permainan dan latihan teknik. Latihan khusus endurance diharamkan. Ketahanan dan Kekuatan Pemain yang kuat mengembangkan kecepatan mereka dengan lebih cepat, mampu menangkal cedera dan lebih kompetitif dalam pertandingan. Usia dini/grassroot (U5 - U12) tidak perlu berlatih ketahanan dan kekuatan karena belum adanya hormon testosterone. 2. Teknik Passing dan receiving (mengumpan dan menerima bola) Passing bola bawah yang dilakukan dengan keras/tegas selagi berhadap-hadapan pada jarak yang bervariasi serta menerima bola yang bergerak dilakukan di semua kelompok umur. Shooting (melesatkan tembakan) Pemain harus menumbuhkan kemampuan untuk shooting dari jarak yang bervariasi. Semua pemain harus didorong untuk banyak melakukan shooting dari jarak-jarak yang berbeda selama permainan. Ball Control and turning (kontrol bola dan berbalik dengan bola) Pemain harus didorong untuk tetap mengontrol bola dan menggunakan teknik gerakan memutar yang berbeda guna bergerak menjauh dari pemain bertahan.
  • 13.
    3 3. Taktik Bermain dari belakang Semua tim harus merasa nyaman bermain bola semenjak dari belakang melewati lapangan tengah dan dari sana menuju bagian akhir lapangan. Umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki yang sudah menjadi ciri khas sepak bola Indonesia hendaknya dipertahankan dan diperbaiki kualitasnya. Possession and Transition (penguasaan bola dan transisi) Semua tim harus terus menjaga penguasaan bola dengan hanya menggunakan satu/dua sentuhan saja. Pemain harus didorong untuk mendukung dan bergerak sambil berkreasi dalam menentukan arah passing. Setelah permainan penguasaan bola berjalan dengan baik tim harus belajar bagaimana mengumpan bola dari satu sisi lapangan ke sisi lainnya dengan mulus dan efektif. Transisi Penyerangan/Pertahanan dan Serangan Balik yang cepat Ketika penguasaan bola hilang, pemain harus bereaksi cepat dan melakukan tekanan untuk mendapatkan bola kembali. Ketika bola kembali dikuasai, pemain harus segera mungkin melakukan serangan balik. 4. Jiwa Kebersamaan (Psychososial)/Mental Respect and Discipline (respek dan disiplin) Pemain harus beradaptasi pada aturan di dalam tim dan menghargai rekan satu tim, pelatih, wasit dan lawan. Cooperation (Kerjasama) Setiap pemain menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari tim dalam satu unit, dan harus bekerjasama dengan rekan satu tim untuk meraih sasaran bersama dalam tiap sesi dan permainan, sebagaimana untuk seluruh musim kompetisi. Competitiveness (Menumbuhkan Jiwa Kompetisi) Pemain yang memiliki jiwa kompetisi (spirit pantang menyerah) harus dihargai karena usaha dan fokus mereka.
  • 14.
    4 C. PRINSIPBERMAIN (PRINSIPLES OF PLAY) Untuk pelatih, pemain dan tim 1. Pelatih Permainan penguasaan bola (possession) dan permainan lapangan lebih kecil (small sided games) dengan lebih sedikit pemain sangat baik untuk menumbuhkan pengertian taktis sekaligus mengasah kemampuan teknis pemain. Berlatih dengan lawan dan kompetisi dengan sistim reward and punishment (pemberian penghargaan dan hukuman) dalam sesi latihan harus dilakukan untuk menumbuhkan jiwa kompetisi dalam diri pemain. Permainan yang memiliki intensitas tinggi didasari oleh kecepatan dan ketangkasan. Singkat tetapi intensif dalam setiap bagian latihan. Beri waktu untuk istirahat lalu pacu kinerja mereka saat latihan sehingga memaksimalkan hasil latihan. 2. Pemain Maksimal satu, dua atau tiga sentuhan : Meminimalkan jumlah sentuhan menambah kecepatan permainan. Bermainlah dengan sederhana : jangan paksakan situasi, terlalu banyak menggiring bola, sembarangan dengan bola, atau memilih opsi yang sulit. Tetap menjaga bola di tanah : Bola yang dimainkan mendatar di atas tanah akan lebih mudah dikontrol dan dapat didistribusikan dengan lebih efektif dan cepat oleh tim. Akurasi dan kualitas passing : Passing harus keras dan akurat, dengan bobot yang tepat. Sentuhan pertama : Pastikan sentuhan pertama dilakukan secara terkontrol tanpa menghentikan bola. Sentuhlah bola menjauh dari tekanan dan arahkan ke daerah yang bebas. Pemahaman dan kewaspadaan : Semua pemain, dengan atau tanpa bola harus terus menerus mengamati lapangan, kawan dan lawan. Situasi 1 v 1 : Bentuk determinasi pemain untuk secepatnya menguasai bola kembali saat bertahan dan bermain sederhana saat menyerang dangan cara menyentuh bola ke samping dengan cepat guna melewati lawan. Transisi individu : Pemain harus bereaksi dengan cepat ketika penguasaan bola berganti dari penyerangan ke pertahanan dan sebaliknya. Shooting : Selalu perhatikan gawang lawan. Semua pemain didorong untuk melesatkan tembakan. Mengambil resiko : Sepak bola adalah olah raga yang memungkinkan terjadinya banyak kesalahan. Kesalahan-kesalahan adalah bagian dari permainan dan proses belajar. Pemain didorong untuk mengambil resiko dalam sesi latihan guna mengembangkan kecepatan bermain.
  • 15.
    5 3. Tim Semua pemain bertahan dan semua pemain menyerang : Semua pemain harus terlibat dalam permainan sebagai satu unit. Ciptakan situasi menang jumlah : Sepak bola adalah permainan yang mengandalkan jumlah pemain. Saat menyerang diupayakan untuk menang jumlah sedangkan bertahan untuk minimal tidak kalah jumlah. Aliran bola : Bola harus mengalir dari dalam ke luar, dari luar ke dalam sisi permainan. Bola lebih mudah dikuasai di sisi luar lapangan karena sisi dalam lapangan tekanan lawan lebih besar (tentu saja hal ini bisa berubah tergantung situasi). Prinsip segitiga dan pilihan arah passing : Pemain yang menguasai bola harus terus menerus menerima dukungan dan setidaknya memiliki 2 pilihan untuk melakukan passing. Saat usia dini/grassroot (U5-U12) ajarkan pemain membentuk ketupat saat menyerang guna menciptakan 3 opsi mengumpan; ke kiri, ke kanan dan kedepan/belakang. Kecepatan permainan : Pergerakan cepat bola (saat menyerang), sedangkan saat bertahan (tanpa bola) menciptakan situasi 2 v 1 (menang jumlah). Pergerakan tanpa bola : Cari ruang terbaik yang tersedia untuk memberikan pilihan arah untuk mengumpan bagi pemain yang sedang menguasai bola. Melakukan tekanan sebagai satu unit : Melakukan gerakan menekan yang terorganisasi dengan rapi (menekan secara bersama-sama) sehingga memaksa lawan melakukan kesalahan. Perpindahan (Transisi) : Upayakan perpindahan dengan mengurangi jumlah operan yang dibutuhkan untuk mendekati area target atau gawang lawan. Arah permainan : Permainan mengalir dalam 2 arah (bertahan dan menyerang). Selalu tekankan prinsip sederhana namun penting ini dalam semua latihan yang dilakukan. Miliki inisiatif selama permainan : Situasi sulit bisa terjadi kapan saja. Tim harus mampu beradaptasi saat terjadi situasi yang berbeda/tidak terencana. Beberapa pemain harus dipersiapkan sebagai pemimpin rekan-rekannya dilapangan.
  • 16.
    6 BAB II KONSEP MELATIH A. FONDASI PROGRAM PEMBINAAN YANG BERKUALITAS
  • 17.
    7 1. Fasilitas& Faktor Pendukung Lapangan Yang Memadai Lapangan paling tidak harus rata (berdebu tidak masalah asal rata). Jika di desa Anda hanya ada lapangan kecil, bentuklah tim U12, U10 atau U8, dan bermainlah 5 v 5 atau 7 v 7. Pemain berusia 12 tahun keatas harus bermain di lapangan besar sesuai standar FIFA. Pengetahuan Gizi Orang tua dan pemain memiliki pengetahuan akan gizi dan disiplin dalam mengkonsumsi makanan dan minuman yang membantu perkembangan fisik pemain. Dukungan Penuh Orang Tua Kegiatan anak harus diketahui dan direstui oleh orang tua masing-masing. Dukungan penuh tidak berarti tekanan. Biarkan pemain berkembang dengan nyaman; didukung tapi tidak ditekan. Liga Dan Turnamen Yang Tertata Rapi Liga dan turnamen SSB dalam lingkup PENGCAB (Pengurus Cabang) perlu dilaksanakan sesering mungkin. Agar tidak tergantung pada PENCAB, bentuklah sebuah asosiasi SSB di daerah anda atau bergabunglah secara gratis dengan asosiasi SSB Pusat (ASSBI). Lihat di www.ssbindonesia.com. Prinsip kunci adalah bertindaklah secara pro aktif. Jumlah Pemain Atau Grup Yang Dibatasi Peserta latihan yang terlalu banyak tidak efektif dan sulit untuk diawasi secara individu. Banyak Bola! Penting tersedia satu bola untuk setiap pemain. Cones Sediakan cones beragam warna guna efisiensi latihan. Kostum dan Rompi Kostum dan rompi latihan beragam warna harus tersedia guna efisiensi latihan. Peralatan Bantu Lainnya Tersedia pula tangga koordinasi, 2-4 gawang kecil, beberapa barbel (2-5 kg), gawang-gawang pendek untuk rintangan serta tiang-tiang plastik.
  • 18.
    8 2. FaktorPembina (Pelatih) Kualitas  Standar sertifikasi D dan C.  Sering/banyak ikut pelatihan atau seminar lebih baik, mau belajar (melalui buku, internet, dll).  Memiliki semangat, jeli dalam melakukan pembenaran pada pemain. Kuantitas Pembina yang berkualitas harus banyak, PSSI Pusat dan pengurus propinsi, mutlak perlu mengadakan kursus-kursus dan seminar kepelatihan. Coach Bert Pentury saat ini tengah melakukan tour ke semua provinsi guna melatih pelatih khusus usia dini/grassroot (U5 - U12). Teladan Seorang pelatih mutlak harus menjadi teladan baik dalam perkataan dan tingkah laku : tidak suka omong kotor, tepat waktu, bisa menjaga emosi, tidak melakukan pencurian umur, dll. Motivator Bukan pencela atau pemaki. Sering dan terus menerus memberikan semangat dengan perkataan dan bahasa tubuh yang positif. Mengutamakan Pendidikan Formal Perlu memahami konsep “Student athlete”; seorang pemain adalah seorang murid sekolah, baru kemudian menjadi atlit. Dengan kata lain, sekolah harus diutamakan oleh pemain, pelatih dan orang tua. CI PELATIH YANG BERKUALITAS Dapat Mengelompokkan Kualitas Masing-Masing Pemain Pelatih sangat bergantung kepada pemain. Pelatih harus bisa melihat potensi pemain misalnya dengan latihan atau pergantian posisi. Yang diperhatikan adalah : Teknik, Speed dengan bola, Speed tanpa bola, Visi, Penempatan posisi, Karakter atau Mental. Karakter perlu diperhatikan karena karakter adalah faktor penentu kesuksesan pemain itu sendiri sekaligus berpengaruh pada kebersamaan tim. Berjiwa Pemimpin Kualitas pelatih sebagai pemimpin sangat berpengaruh pada respek pemain pada pelatih. Sebagai sorang pemimpin pelatih harus :  Menjadi Contoh Hidup : Teladan dalam perkataan dan tingkah laku.  Mampu menjadi Pengatur / Penengah Hubungan antar manusia : Terutama dibutuhkan saat terjadi perselisihan atau ketegangan antar pemain. Baik di dalam tim sendiri maupun dengan tim lawan .  Peduli pada pemain : Tunjukkan kepedulian kepada para pemain, seperti masalah pendidikan atau kesehatan pemain. Jangan sekadar menuntut pemain berprestasi. Kenali dan selalu tunjukkan kepedulian anda pada pemain.  Kompeten : Memiliki kemampuan yang memadai untuk duduk di dalam posisi pelatih.
  • 19.
    Maka perlu untukterus menerus belajar menambah pengetahuan, baik secara umum maupun dalam bidang kepelatihan.  Fair (sifat adil) : Pelatih tidak pilih kasih kepada anak-anak didiknya, melihat potensi 9 terbaik berdasarkan kemampuan, bukan pilih-pilih.  Konsisten : Tegakkan peraturan dan hukum. Pujilah pemain tanpa pandang bulu. Setali tiga uang dengan prinsip ini adalah kemampuan pelatih untuk selalu menegakkan peraturan tanpa berubah sejalan dengan waktu. Pelatih harus mampu/ahli dalam menyusun program latihan Buatlah program latihan yang :  Realistis : Sesuai kebutuhan saat pertandingan.  Variatif : Memiliki kreativitas latihan yang beragam dan tidak membosankan.  Metodis : Memiliki metode latihan yang tertata rapi dan berjenjang; , bukan sembarangan membuat program latihan.  Mencakup semua aspek : Fisik, Teknik, Taktik, Mental dan Karakter.  Tematis : Memiliki tema atau tujuan yang dipersiapkan. Dari awal hingga akhir latihan, tema latihan terlihat jelas lewat variasi-variasi latihan yang dipilih. Membuat program yang tematis dikhususkan bagi usia 15 tahun ke atas dan dewasa.  Sesuai prinsip “Benang Merah “ : Masing-masing sesi latihan saling berkaitan, saling berhubungan antara latihan yang satu dan yang lainnya sehingga menghasilkan keutuhan latihan yang baik.  Terencana (Tertulis) : Untuk dokumentasi dan supaya dapat dikoreksi dari waktu ke waktu. Merencanakan latihan anda bisa mengetahui perlengkapan apa saja yang dibutuhkan sehingga latihan bisa berjalan dengan efektif. Pengetahuan Taktik Selain masalah teknik, sepak bola juga sangat ditentukan oleh taktik. Pemahaman mendasar mengenai taktik yang wajib dimiliki oleh seorang pelatih adalah :  Taktik bertahan ; Pengertian permainan saat bertahan sebagai individu/grup/tim.  Taktik menyerang ; Pengertian permainan saat menyerang sebagai individu / grup/tim.  Situasi standar; Lemparan ke dalam, free kick, tendangan penjuru dan goal kick.  Taktik hari pertandingan; Penentuan tipe pemain dan formasi yang dipilih, pergantian pemain dan arahan spesifik sesuai kelebihan/kelemahan lawan pada saat bertanding. 3. Program Pembinaan Sehari-Hari/Rutin Program pembinaan yang rutin dilakukan harus mencakup dan sesuai dengan falsafah program pembinaan sepak bola modern yang di jabarkan dalam halaman berikut. ”Practice doesn’t makes perfect, perfect practice makes perfect” (latihan saja tidak menghasilkan kematangan, tetapi latihan yang matang membuat kematangan)
  • 20.
    10 B. FALSAFAHPROGRAM PEMBINAAN Pengertian inti metode melatih 1. Hubungan Latihan Dengan Pertandingan Tujuan dari sesi latihan adalah untuk mempersiapkan pemain untuk kompetisi. Pertandingan memperlihatkan perkembangan taktik, teknik, fisik dan jiwa kebersamaan (Psychososial)/Mental dalam diri pemain. 2. Empat Komponen Yang Saling Melengkapi Fisik Pemain yang kuat dan ulet akan memberikan keuntungan yang besar untuk tim. Sebaliknya seorang pemain yang kelelahan harus berjuang sangat berat untuk menjaga konsentrasinya dan cenderung melakukan banyak kesalahan. Teknik Semua pemain di dalam tim diharuskan memiliki kemampuan individu yang sesuai dengan posisi masing-masing. Sebagai contoh, seorang pemain tengah tentu memiliki teknik dan keahlian yang berbeda dengan seorang pemain di posisi bek luar. Taktik Bagian ini menolong pemain agar menyatu dengan tim. Tujuannya adalah untuk menghasilkan pemain yang cerdas, mampu beradaptasi dalam situasi yang berganti-ganti dalam pertandingan-pertandingan yang dihadapi.
  • 21.
    Jiwa Kebersamaan (Psychososial)/Mental Manusia sering dipengaruhi oleh emosinya. Pelatih harus bisa melatih pemain untuk menggunakan emosi-emosi ini untuk keuntungan mereka dan mengarahkan emosi mereka menjadi sebuah kekuatan dan bukan kelemahan bagi mereka. 11 Titik lemah terbesar pemain kita selain kualitas umpan dan kecepatan dalam bermain adalah mental dan pengertian taktik. Titik lemah pemain = Titik lemah pelatih! C. Intisari Materi Kepelatihan Area Pengembangan saat berlatih sepak bola Materi Kepelatihan 1. Fisik 2. Teknik 3. Taktik 4. Jiwa kebersamaan (Psychososial)/Mental 5. Set piece (gerakan dan alur bola yang direncanakan - Situasi Standar) 6. Formasi 7. Penjaga Gawang
  • 22.
  • 23.
    13 D. MATERIKEPELATIHAN : ISTILAH UMUM Definisi untuk Istilah-istilah khusus dalam Sepak Bola 1. Taktik Aksi individu atau bersama-sama yang ditunjukkan oleh pemain atau sekelompok pemain untuk mengambil kesempatan dari seorang pemain lawan atau sekelompok pemain lawan atau tim lawan secara keseluruhan. Penjelasan : Sebuah taktik adalah alat untuk membangun strategi. Contoh : Perpindahan bola dengan cepat dari satu sisi lapangan ke sisi lain. 2. Strategi Sebuah pemahaman atau ide yang disepakati bersama oleh seluruh anggota tim sejak awal pertandingan dengan tujuan mengalahkan lawan. Penjelasan : Strategi berhubungan dengan formasi tim dan juga sistim yang digunakan oleh tim. Contoh : Strategi pertahanan - tiga striker maju guna melakukan tekanan dan pemain gelandang tengah mendekati lawan di area tengah untuk menghalangi mereka berbalik. Diharapkan dengan cara demikian bola bisa direbut kembali di area pertahanan lawan. 3. Formasi Pengaturan posisi pemain dan pembagian tugas pada masing-masing pemain di lapangan yang diatur sejak awal pertandingan. Penjelasan : Ini biasanya ditulis dalam tiga angka yang mengidentifikasi pemain di posisi pertahanan, tengah dan penyerangan. Contoh : 4-3-3, berarti ada 4 pemain bertahan (defenders), 3 pemain tengah (midfielders) dan 3 penyerang (strikers). 4. Sistem Sebuah formasi yang secara khusus menyorot pada bentuk dan atau peran untuk satu atau beberapa pemain. Penjelasan : Sebuah Sistim adalah kombinasi formasi dan strategi. Contoh : 4-4-2 dengan bentuk seperti berlian di tengah sehingga memungkinkan pemain bek sayap bergerak naik ke area yang lebih luas didepannya.
  • 24.
    14 E. MATERIKEPELATIHAN : FISIK 1. Hal-hal yang Meningkatkan Kemampuan Tubuh 1) Kekuatan  Daya Tahan Kekuatan/Power  Daya Eksplosifitas  Kekuatan Maksimal 2) Daya Tahan  Kemampuan Gerak Tubuh (Aerobic Capacity)  Kekuatan Gerak Tubuh (Aerobic Power)  Tenaga yang Dihasilkan Otot dengan laktat (Anaerobic Lactic)  Tenaga yang dihasilkan Otot tanpa Laktat (Anaerobic Alactic) 3) Kecepatan  Reaksi  Kemampuan Akselerasi (Acceleration)  Kecepatan Maksimal  Daya tahan tubuh mempertahankan kecepatan  Kemampuan merubah arah lari dengan cepat (Acyclic Speed) 4) Kelenturan & Mobilitas Otot 5) Koordinasi & Kelincahan 6) Kemampuan Motorik Dasar 7) Daya Tanggap & Kewaspadaan (Awareness)
  • 25.
    15 2. PemahamIstilah-Istilah Fisik Hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan tubuh 1) Kekuatan Kemampuan otot melakukan gerakan tiba-tiba dengan intensitas yang tinggi dan dengan beban yang bervariasi. Daya Tahan Kekuatan/Power Kemampuan untuk memelihara gerakan sentak otot di dalam intensitas dan beban tinggi dalam kurun waktu yang lama. Dengan Cepat Menghasilkan Kekuatan Tubuh Yang Besar ( Daya Eksplosifitas ) Kemampuan untuk mengendalikan gerakan sentak otot di dalam intensitas dan beban tinggi dalam kurun waktu sependek mungkin (secepat mungkin). Kekuatan Maksimal Kemampuan otot melakukan gerak yang maksimal dengan beban dalam kurun waktu pendek. 2) Daya Tahan ( Endurance ) Kemampuan tubuh untuk melakukan aktifitas fisik dengan intensitas tertentu dan dalam kurun waktu tertentu. Kemampuan Gerak Tubuh (Aerobic Capacity) Kemampuan untuk melakukan aktivitas gerak tubuh secara aerobic. Pengertian aerobic itu sendiri adalah: Tenaga yang dihasilkan otot dengan bantuan oksigen. Semakin lama jangka waktu latihan, semakin dominan fungsi oksigen. Penjelasan : Ini adalah sebuah aktivitas latihan dengan oksigen yang cukup sehingga tidak menyebabkan gangguan tertentu pada tubuh. Artinya karena adanya keseimbangan antara produksi energi tubuh dan energi yang digunakan oleh tubuh pemain bisa melakukan latihan tanpa halangan. Contoh : Tergantung pada usia dan tingkat kemampuan pemain, latihan yang bersifat aerobic terjadi secara terus menerus dan dinamis dalam kurun waktu 4 hingga 6 menit dan menggunakan sekitar 85% fungsi kerja maksimal jantung. Kekuatan Gerak Tubuh (Aerobic Power) Kemampuan untuk menggabungkan antara kemampuan aerobic dan sistim energi anaerobic di dalam jangka waktu lama dengan tujuan untuk memperoleh performa terbaik dalam aktivitas fisik yang dinamis. Penjelasan : Ini adalah sebuah latihan dengan persediaan oksigen yang cukup namun juga membutuhkan sumber energi lain. Jika sumber energi lain tidak tersedia, akan mengakibatkan gangguan dan pengurangan kekuatan pada tubuh. Contoh : Tergantung dari usia dan tingkat kemampuan pemain, kondisi ini terjadi pada kurun waktu 2 sampai 3 menit dan menggunakan lebih dari 85 % fungsi kerja maksimal jantung.
  • 26.
    Tenaga Yang DihasilkanOtot Dengan Laktat (Anaerobic Lactic) Merupakan aktivitas fisik yang terus menerus menghasilkan asam laktat konsentrasi tinggi di dalam kurun waktu yang pendek. Berbeda dengan aktifitas aerobic yang menggunakan oksigen, anaerobic adalah tenaga yang dihasilkan otot tanpa oksigen dan laktat terbentuk. Kondisi ini dapat terjadi misalnya saat berlari cepat dalam kurun waktu lama. Penjelasan : Ketika intensitas latihan terlalu tinggi dan dalam waktu yang lama, sistem energi tubuh yang menggunakan oksigen (aerobic) tidak mampu menyediakan semua energi yang dibutuhkan dengan cepat. Jika kondisi ini terjadi, maka tubuh membutuhkan sistem energi yang lainnya dan hal ini justru menjadi penyebab berkurangnya kekuatan tubuh. Oleh sebab itu sistem energi (anaerobic lactic) kemudian menghasilkan sebuah zat kimia yang disebut sebagai asam laktat (lactic acid). Jika dalam jumlah banyak akan memengaruhi kemampuan tubuh selama aktivitas fisik. Oleh karena itu, tingkat aktivitas fisik sewaktu-waktu perlu dikurangi dengan tujuan untuk mendaur ulang asam laktat dan mendorong terjadinya performa tingkat tinggi. Untuk alasan inilah, ketahanan pemain dalam mentolerir asam laktat yang terbentuk di dalam tubuh menjadi sangat penting. Contoh : Tergantung dari kemampuan dan tingkat usia pemain, kondisi seperti ini tercipta saat melakukan aktivitas yang dinamis dan berkelanjutan dengan kekuatan maksimal selama kurun waktu 45 detik. Sebagai contoh, melakukan sprint selama 45 detik adalah contoh aktifitas pengerakan otot tanpa oksigen yang menyebabkan terbentuknya asam laktat. Tenaga Yang Dihasilkan Otot Tanpa Laktat (Anaerobic Alactic) Aktivitas fisik yang dinamis, intensitas tingkat tinggi namun singkat dengan menggunakan sumber energi yang tersimpan di dalam otot. Ini adalah tenaga yang dihasilkan otot tanpa oksigen dan tanpa terbentuknya laktat. Misalnya seperti yang terjadi pada lari cepat jarak pendek. Sebagai contoh, berlari sprint sejauh 20 meter dengan di selingi istirahat adalah contoh aktifitas pergerakan otot tanpa oksigen namun tidak sampai menyebabkan terbentuknya asam laktat. 16 Keterangan Tambahan Sistem yang dilakukan tubuh kita saat berolah raga ada 3 tahapan, yaitu: a. Anaerobic alactic selama 15 detik pertama b. Anaerobic lactic pada 2 menit berikutnya, lalu c. Aerobic untuk latihan dengan jangka waktu 4 menit ke atas. Jalan kaki, bersepeda atau renang santai termasuk olah raga ringan. Di sini kebutuhan otot akan oksigen terpenuhi dengan baik ketika bernafas. Proses pembuatan energinya didapat dari karbohidrat dan tidak menghasilkan asam laktat, sehingga energinya bisa bertahan lama. Ini berguna untuk diet. Sedangkan lari cepat, angkat berat, push up atau olah raga yang lain yang membutuhkan tenaga besar dan membutuhkan waktu lama seperti sepak bola, termasuk dalam olah raga berat. Ketika tiba-tiba diperlukan energi yang besar di saat oksigen tidak ada maka glikolen (zat yang menyimpan cadangan energi pada sel yang dibentuk oleh glukosa) dipisahkan untuk membuat energi kembali. Tapi dalam prosesnya akan terjadi penumpukan asam laktat sehingga otot pada tubuh menjadi kelelahan dan jika berlangsung lama akan terasa capek sekali. Ketika berolah raga, oksigen yang masuk melalui pernafasan akan diurai dan menyatu
  • 27.
    dengan lemak tubuhsupaya otot tetap normal. Lemak bisa diurai dengan energi yang digunakan pada saat melakukan olah raga ringan selama 20 menit terus menerus. Mengapa kita dapat kelelahan? Kelelahan pada otot di saat tubuh membuat energi, disebabkan oleh asam laktat yang dihasilkan oleh glikogen di saat proses penguraiannya. Jika melakukan olah raga dengan menumpukkan asam laktat, akan mengakibatkan kelelahan pada otot. Dalam istilah kesehatan ada istilah yang disebut mitochondria mass, kemampuan sel otot untuk menyerap laktat yang terbentuk saat sel otot kekurangan oksigen. Dasar endurance yang baik ditambah berlatih keras dalam waktu singkat (interval) meningkatkan masa mitochondria. Sedangkan mitochondria itu sendiri adalah semacam “pabrik energi” dalam sel otot kita. 17 3) Kecepatan Kemampuan pemain melakukan gerakan atau menempuh jarak tertentu dalam kurun waktu sesingkat mungkin. Reaksi Proses yang tercepat yang dapat dilakukan seseorang baik secara fisik maupun menggunakan otaknya dalam menanggapi peristiwa yang terjadi dilapangan dengan tujuan melakukan gerakan yang diperlukan sesuai situasi. Kemampuan Akselerasi (Acceleration) Peningkatan kecepatan secara tiba-tiba dari posisi berdiri atau langkah lambat ke berlari. Kecepatan Maksimal Gerakan tercepat yang mungkin dilakukan oleh tubuh atau salah satu bagian tubuh. Daya Tahan tubuh Mempertahankan Kecepatan (Speed Endurance) Menjaga kecepatan semaksimal mungkin sesuai kemampuan selama mungkin. Kemampuan Merubah arah lari dengan cepat (Acyclic Speed) Berbeda dengan seorang pelari 100 meter, seorang pemain bola harus mampu berlari sekaligus merubah arah lari dengan cepat. 4) Kelenturan Dan Mobilitas Otot Kemampuan tubuh atau salah satu bagian dari tubuh untuk menggabungkan kelenturan otot dan pergerakan sendi guna mencapai jarak terjauh yang dapat dilakukan. 5) Koordinasi Dan Kelincahan Koordinasi adalah kemampuan pemain mengatur bagian-bagian tubuhnya guna menghasilkan gerakan tepat guna dengan mulus. Kelincahan (Agility) adalah kemampuan pemain merubah arah dan kecepatan baik saat mengolah bola maupun saat melakukan pergerakan tanpa bola. Kemampuan koordinasi dan kelincahan berhubungan erat dengan kemampuan-
  • 28.
    18 kemampuan dibawah ini :  Balance/Keseimbangan : Kemampuan untuk menilai faktor-faktor di dalam dan luar diri pemain sehingga membuat pemain mampu mengendalikan gerakan tubuh atau posisi tubuhnya tanpa kehilangan keseimbangan.  Persepsi jarak (Depth Perseption) : Kemampuan mengira-ngira jarak dan kecepatan bola/lawan.  Pergerakan Kompleks (Complex Movement ) : Kemampuan melakukan beberapa gerakan tubuh secara bersamaan atau berturut-turut. Contoh : Melakukan gerakan berputar dengan bola lalu melakukan trik individu untuk kemudian melesatkan tembakan atau umpan adalah gerakan kompleks.  Kemampuan bereaksi dengan cepat (badan) dan mengantisipasi situasi (otak).  Kemampuan Orientasi : kemampuan untuk cepat kembali mengetahui arah setelah terjatuh, tabrakan atau berputar dengan cepat.  Kemampuan berganti arah lari (badan) dan berganti fokus (mental) dari menyerang ke bertahan dan sebaliknya.  Ritme (Rhythm) : Kemampuan merubah ritme lari dari pelan ke cepat, cepat ke pelan, langkah kecil ke langkah panjang, langkah panjang ke langkah kecil, serta berlari sambil melompat.  Keseimbangan : Kemampuan untuk menilai faktor di dalam dan di luar diri pemain sehingga membuat pemain mampu mengendalikan gerakan tubuh atau posisi tubuhnya tanpa kehilangan keseimbangan. 6) Kemampuan Motorik Dasar Pergerakan tubuh dalam menyesuaikan diri dengan keadaan di luar tubuh (misalnya saat berjalan, berlari, melompat, menjatuhkan diri atau mengubah arah tubuh). Kemampuan motorik dasar lainnya mencakup menendang, melempar, menangkap dan lain-lain. 7) Daya Tanggap Dan Kewaspadaan (Awareness) Ketangkasan di dalam melihat dan menilai situasi tertentu serta mampu menggabungkan penilaian dengan aksi yang cepat. Umur emas melatih aneka koordinasi dan kelincahan adalah antara 10 – 12 tahun! Utamakan juga latihan koordinasi dan kelincahan untuk pemain umur 13 – 15 tahun karena pemain di kelompok umur ini umumnya mengalami penurunan kemampuan koordinasi dan kelincahan. INGAT : Gabungkan latihan kecepatan, daya tahan, bahkan koordinasi sebanyak mungkin dengan bola. Artinya, latihan daya tahan (endurance) didapatkan melalui latihan yang direncanakan dengan rapi, dengan intensitas tinggi dan menggunakan bola, dalam bentuk permainan (game) atau latihan teknik yang sekaligus melatih daya tahan (endurance). Setali tiga uang kecepatan hendaknya selalu dilakukan tanpa bola dan dengan bola, jangan hanya tanpa bola saja.
  • 29.
    19 F. MATERIKEPELATIHAN : TEKNIK MENYERANG & BERTAHAN TEKNIK MENYERANG 1. Mengumpan dan menerima umpan (passing and receiving) 2. Berlari dengan bola (Speed Driblling) 3. Mengolah bola (Dribbling) 4. Berbalik dengan bola (Turning) 5. Melesatkan tembakan (Shooting) 6. Kontrol Bola (Ball Controll) 7. Menyundul (Heading) 8. Menyerang 1 lawan 1 (1 v 1 Attacking) 9. Melindungi Bola (Shielding the Ball) 10. Menerima sekaligus berputar (Receiving to Turn) 11. Umpan Silang dan Penyelesaian akhir (Crossing and Finishing) TEKNIK BERTAHAN 1. Pertahanan 1 v 1 (1 v 1 Defending) 2. Penempatan Posisi dan sikap tubuh (Body shape) 3. Melakukan antisipasi
  • 30.
    20 4. Reaksi 5. Mencegat (Intercept) 6. Mencegah lawan berbalik 7. Melakukan tackling 1. Pemahaman Istilah-Istilah Teknis Menyerang (Ofense) Teknik : Kemampan pemain untuk melakukan tugasnya dan mengeksekusi gerakan-gerakan sepak bola dengan mulus dan efisien. 1) Mengumpan dan menerima umpan (passing and receiving) : memindahkan bola mendatar atau di udara dari satu pemain ke pemain lainnya dengan jarak yang bervariasi. 2) Berlari dengan bola (Speed Driblling) : Gerakan kontrol pada bola dengan kecepatan tinggi tanpa mengubah lintasan bola. 3) Mengolah bola (Dribbling) : Gerakan kontrol bola dengan rapat, menggunakan kedua kaki serta terus meneruskan mengubah lintasan/arah bola. 4) Berbalik dengan bola (Turning) : Menggunakan satu atau lebih dari satu sentuhan pada bola dengan tujuan berputar bersama dengan bola. 5) Melesatkan Tembakan (Shooting) : Menendang bola ke arah gawang dengan tujuan untuk menciptakan gol. 6) Kontrol Bola (Ball Controll) : Menerima dan mengarahkan bola secara tepat di udara atau di lapangan. 7) Menyudul (Heading) : Mengarahkan bola dengan kepala dengan tujuan untuk menjaukan bola dari gawang, passing, atau mencetak gol. 8) Menyerang 1 lawan 1 (1 v 1 Attacking) : Gerakan penyerangan dengan bola di kaki untuk mengalahkan pemain bertahan lawan. Disini yang ditempa adalah Skill (kemampuan teknis dengan lawan). 9) Melindungi Bola (Shielding the Ball) : Menjaga bola dari seorang pemain bertahan dengan cara melindungi bola dengan badan.
  • 31.
    10) Menerima sekaligusberputar (Receiving to Turn) : Perubahan arah bola 21 dengan kaki saat menerima umpan dari rekan tim dengan tujuan untuk membuat gerakan berikutnya seperti dribbling, passing, atau shooting. 11) Umpan Silang dan Penyelesaian akhir (Crossing and Finishing) : Umpan bola dari sisi lebar lapangan ke sisi tengah ke arah gawang dengan tujuan untuk memberi kesempatan pada rekan satu tim untuk menciptakan gol. 2. Pemahaman Istilah-Istilah Teknik Bertahan (Defense) 1) Pertahanan 1 v 1 (1 v 1 Defending) : Berbagai upaya dengan tujuan untuk memperoleh kembali penguasaan bola yang dikuasai lawan. 2) Penempatan posisi dan sikap tubuh ( Body Shape ) : Sikap atau penempatan posisi tubuh sehingga pemain dapat melakukan gerakan pertahanan berikutnya dengan tepat. 3) Melakukan Antisipasi Antisipasi pemain untuk mempersulit lawan melakukan serangan. Pemain bertahan membaca/menebak alur bola atau pergerakan lawan sebelum terjadi. 4) Reaksi Reaksi pemain terhadap gerakan - gerakan lawan sesaat setelah dilakukan. 5) Mencegat (Intercept) Gerakan mencegat alur bola untuk memeroleh kembali penguasaan bola ketika bola tersebut sedang dioper oleh pemain-pemain lawan. 6) Mencegah Lawan Berbalik Tekanan pada lawan yang membelakangi gawang dengan tujuan menggagalkan niat lawan untuk berbalik menghadap gawang. 7) Melakukan Tackling Kontak yang dibuat dengan kaki ketika bola sedang ada di kaki lawan dengan tujuan untuk mencegah gerakan penyerangan berikutnya atau memeroleh penguasaan bola kembali.
  • 32.
    22 G. MATERIKEPELATIHAN : TAKTIK MENYERANG & BERTAHAN Berbagai aspek untuk mengembangkan pemahaman pada sebuah pertandingan/game 1. Prinsip Penyerangan  Mengkreasi ruang (membuka ruang)  Mendukung rekan tim (support)  Melebar : menggunakan lebar lapangan  Memanjang: menggunakan panjang Untuk keterangan masing-masing istilah di atas baca halaman-halaman berikut serta bagian pengertian sistim 4-4-2 dan 4-3-4 halaman 109 - 145. lapangan  Berlari diagonal  Bermain ke arah depan  Kecepatan permainan (bola bawah, 1-3 sentuhan umpan tegas, banyak melakukan pergerakan tanpa bola)  Pergantian posisi: saling mengisi posisi sesuai situasi  Kreativitas (gerakan pemain untuk memasuki daerah pertahanan lawan dengan cara bervariasi seperti “overlap”, umpan 1-2 yang dikenal dengan “one-two”, pantulan, terobosan, umpan silang, trik individu, kecepatan membawa bola atau “speed dribbling”) 2. Penguasaan Bola 3. Transisi 4. Kombinasi Permainan 5. Pergantian sisi Permainan  Pergantian langsung dari sisi ke sisi  Pergantian sisi dengan memakai pemain jangkar sebagai jembatan 6. Serangan balik (Counter Attacking) 7. Membangun serangan dari belakang 8. Melakukan penyelesaian di daerah pertahanan lawan 1. Prinsip Pertahanan  Menjaga pemain lawan (marking)  Menekan lawan (Press)  Melindungi, (cover)  Keseimbangan melalui pergeseran  Mengamati pergerakan lawan dan bola (reaksi) serta mampu memprediksi (membaca) arah pergerakan/alur bola (antisipasi)  Berganti tempat (saling mengisi) 2. Zona Defense  Membentuk “segitiga” dan “pisang”  Bergeser bersama secara diagonal  Bergantian menjaga lawan (Tidak terus menjaga lawan yang sama) 3. Memberi Tekanan (Pressing)  Dilakukan secara kolektif sehingga tercipta 2 V 1 (double) atau 3 V 1 (triple) 4. Gerakan Mundur dan Kembali ke Posisi Awal  Lari ke dalam/masuk  Mengisi posisi paling belakang lebih dulu.  1-3 pemain melakukan tekanan, memberi waktu pemain lain untuk turun kembali ke posisi bertahan 5. Kepadatan Pertahanan (Compact)
  • 33.
    23 1. PemahamanIstilah-Istilah Taktik Menyerang ( Ofense) 1) Prinsip penyerangan : Pergerakan dasar individu atau bersama-sama untuk satu atau beberapa pemain yang bertujuan untuk mengkreasi peluang bagi penyerang. 1a. Mengkreasikan ruang (membuka ruang) : Pergerakan pemain ke ruang kosong untuk menghasilkan kesempatan melakukan operan yang efektif. Sebagai contoh: 4 v 1 permainan penguasaan bola di mana para pemain bergerak ke area lebar untuk membuat pilihan arah passing. Penting: Jangan biasakan pemain menempati pojok kotak permainan guna memudahkan penguasaan bola (tidak terkepung di pojok). 1b. Mendukung rekan tim (Support) : Menawarkan bantuan oleh rekan setim yang berada di sekitar bola dengan tujuan untuk menerima umpan. Satu pemain bergerak pada sisi yang dekat dengan rekan setim yang menguasai bola guna menciptakan opsi yang jelas.
  • 34.
    24 1c. AksiLanjutan (Anschlussaktion) Setelah memberikan umpan sang pengumpan melakukan aksi lanjutan bergerak ke daerah kosong guna mendukung rekan tim (support). Apabila umpan tidak berhasil aksi lanjutan sang pengumpan berupa gerakan bertahan. Sebagai contoh : Setelah memberikan umpan pada pemain depan (1), winger bergerak ke sisi kiri guna memberi support pada pemain depan (2). 1d. Melebar : menggunakan lebar lapangan. Pergerakan dan distribusi penyerang ke arah lebar lapangan untuk menciptakan ruang dan membangun serangan dalam sebuah pertandingan/game. Seorang pemain bergerak ke area lebar untuk membuka ruang. Tujuannya adalah untuk menyulitkan pertahanan lawan.
  • 35.
    1e. Memanjang :Menggunakan panjang lapangan. Pergerakan seorang pemain atau sekelompok pemain ke posisi depan untuk menciptakan opsi saat menyerang dalam pertandingan/game. Seorang pemain bergerak maju dengan tujuan untuk memeroleh bola sehingga makin dekat dengan gawang. 1f. Overlap run : Pergerakan rekan setim dari belakang pemain yang sedang menguasai bola ke arah depan untuk menciptakan kesempatan passing atau keuntungan lainnya untuk tim. Gelandang tengah atau bek sayap berlari ke depan dari belakang pemain sayap untuk menciptakan kesempatan passing. 25
  • 36.
    1g. Overlap Pass: Umpan kepada rekan se tim yang melakukan overlap run. Umpan 26 diberikan secara langsung atau melewati orang ketiga (tidak langsung). Sebagai contoh: Pemain gelandang tengah memberikan umpan langsung ke pemain sayap yang muncul dari belakang (1) atau memberikan umpan pada striker (2a) yang kemudian meneruskan pada pemain sayap yang telah bergerak maju (2b). 1h. Pantulan (Pin ball) dan umpan terobosan (through pass) : Usaha menembus pertahanan lawan dengan memantulkan bola serta melakukan umpan terobosan ke daerah di belakang garis pertahanan lawan. Gelandang mengumpankan bola ke striker (1) yang memantulkan bola dengan satu sentuhan bisa kembali pada gelandang yang sama atau ke gelandang lainnya (2). Selanjutnya gelandang melesatkan umpan terobosan (diantara pemain belakang lawan) ke arah sayap kanan yang bergerak maju (3).
  • 37.
    1i. Umpan One- Two : Melesatkan umpan (biasanya jarak pendek). Untuk kemudian 27 melakukan pergerakan (biasanya ke depan) guna langsung menerima umpan kembali. Guna membebaskan diri dari tekanan lawan seorang pemain memberikan umpan jarak dekat kepada rekan se tim nya (1), melakukan pergerakan maju dan langsung menerima umpan kembali (2) 1j. Lari Diagonal : Sebuah gerakan serang diagonal ke arah depan, membuat ruang yang biasanya di depan bola untuk menciptakan kesempatan passing. Pemain sisi luar membuat pergerakan diagonal ke arah depan dengan tujuan untuk membuat kesemapatan melakukan passing.
  • 38.
    1k. Bermain kearah depan (Forward play) : Alur bola yang efektif dan tepat ke daerah 28 pertahanan lawan atau gawang lawan. Gelandang tengah mengoper kepada pemain lapangan tengah atau mengarahkan pada striker yang tak dijaga lawan guna memindahkan bola ke daerah pertahanan lawan. 1l. Kecepatan Permainan : Alur bola yang cepat menciptakan kesempatan pada tim penyerang untuk menembus pertahanan lawan. Pemain dari tim yang sama mengoper bola dengan cepat dengan satu, dua atau tiga sentuhan, menghindari lawan merebut bola. Agar permainan bisa berjalan dengan cepat sesuai asas sepak bola modern bola harus dimainkan menyusur tanah dengan tegas dan tepat. Hindari umpan yang memantul (tidak mulus) karena akan memperlambat permainan.
  • 39.
    29 1m. PergantianPosisi (saling mengisi posisi sesuai situasi) : Sebuah pergantian posisi oleh dua orang pemain dalam satu tim, biasanya di depan bola untuk menciptakan kesempatan pada pemain bertahan dan menghasilkan pilihan untuk passing. Penyerang kiri dan kanan saling berganti posisi untuk membingungkan perhatian pemain bertahan lawan dan menciptakan kesempatan utnuk passing. 2) Penguasaan Bola (Possession) : Umpan bola berulang-ulang di antara pemain dalam tim yang sama. Contoh : 5 v 3. Lima pemain di dalam satu tim mempertahankan penguasaan bola dari tekanan tiga pemain lawan.
  • 40.
    3) Transisi :Upaya untuk mengumpan bola secara kolektif, bersama-sama sebagai sebuah tim dimulai dari daerah pertahanan hingga daerah penyerangan tanpa melakukan long ball langsung ke depan. Usaha bersama untuk mengumpan bola mulai dari daerah pertahanan hingga daerah penyerangan. 4) Kombinasi Permainan : Pengaturan alur bola dengan cepat dan efektif dengan bola 30 oleh dua pemain atau lebih dari tim yang sama. Aksi yang melibatkan tiga pemain dengan pergerakan cepat, baik kecepatan bola maupun kecepatan pemain.
  • 41.
    5) Pergantian sisiPermainan : Mengirimkan bola dari satu sisi lapangan ke sisi yang berseberangan. Misalnya dari sisi kanan luar ke sisi kiri luar, dengan tujuan untuk mengacaukan organisasi pertahanan lawan dan mengambil keuntungan dari kelengahan lawan. Umpan jauh (long pass) dari sisi luar kanan ke sisi luar kiri, dengan tujuan mengacaukan pertahanan lawan dan memudahkan pergerakan maju dari bola. 6) Serangan Balik (Counter attack) : Gerakan vertikal yang cepat dan efektif untuk mengirim bola ke depan secepatnya setelah tim berhasil merebut bola kembali dengan tujuan untuk mengejutkan lawan dan memeroleh keuntungan dari pertahanan lawan yang masih belum sempat terorganisir dengan baik. Umpan jauh dari penjaga gawang kepada pemain di sisi luar kiri ketika bola kembali dikuasai, memberi peluang kepada pertahanan lawan yang belum terorganisir dengan baik. 31
  • 42.
    7) Membangun serangandari belakang : adalah sebuah usaha bersama untuk mengirimkan bola dari daerah pertahanan menuju ke daerah penyerangan melalui serangkaian umpan pendek dan sedang (tidak langsung mengumpan jauh ke depan). Sebagai contoh : Penjaga gawang membangun serangan melalui bek kiri. Bek kiri kemudian mengumpan pada gelandang bertahan yang selanjutnya mengumpankan bola pada sayap kiri. 8) Penyelesaian di daerah pertahanan lawan : Usaha bersama di sisi ke-3 lapangan, 32 (attacking third atau daerah pertahanan lawan) dengan tujuan untuk menciptakan kesempatan mencetak gol. Sebagai contoh : Pemain sayap kiri menggiring bola memasuki sisi kiri pertahanan lawan dan memberikan umpan silang, mencari rekan yang dapat melakukan penyelesaian akhir.
  • 43.
    33 2. PemahamanIstilah-istilah Taktik Bertahan (Defense) 1) Prinsip Pertahanan : Gerakan yang dilakukan baik secara individual atau bersama-sama oleh satu atau lebih pemain yang tujuannya mengatasi serangan lawan. 1a. Menjaga pemain lawan (marking) : Seorang atau sekelompok pemain bertahan memerhatikan pemain-pemain penyerang, dengan tujuan mengurangi kesempatan mereka berpartisipasi di dalam penyerangan. Pertahanan menjaga jalur lari lawan, yang berupaya mendukung rekan se timnya yang sedang menguasai bola. 1b. Menekan lawan (Press) : Aksi individu pemain bertahan yang menjaga dengan tujuan untuk melakukan penguasaan bola. Seorang pemain bertahan mencegah pemain lawan agar tidak menguasai bola terlalu lama atau berhasil memberikan bola kepada timnya sekaligus mencoba untuk mengambil kembali penguasaan bola.
  • 44.
    1c. Melindungi (Cover): Seorang pemain menciptakan garis pertahanan kedua yang 34 tujuannya untuk menambah kekuatan pertahanan. Seorang pemain pertahanan tengah yang berada di belakang seorang gelandang tengah siap membantu jika mungkin saja penyerang lawan mengecoh gelandang tengah. 1d. Keseimbangan melalui Pergeseran : Pergeseran posisi yang terkordinasi dari para pemain bertahan, dari satu sisi ke sisi lainnya sesuai dengan pergerakan bola di lapangan dengan tujuan untuk mengatur kembali posisi pertahanan (Lihat bagian pengertian sistem 4-4-2 dan 4-3-3 serta pengertian taktik lapangan kecil). Pergerakan yang dilakukan secara kolektif (bersama-sama) dengan tujuan untuk mengatur kembali daerah pertahanan di depan bola seiring dengan pergerakan bola dari gelandang tengah ke sayap kanan.
  • 45.
    1e. Mengikuti (Tracking): Seorang pemain bertahan mengejar penyerang lawan yang 35 membuat gerakan maju untuk menciptakan kesempatan passing. Seorang bek kiri mengikuti atau menempel sayap kanan tim lawan guna mencegah adanya kesempatan mengumpan. 1f. Berganti tempat (saling mengisi) : Pergantian posisi dari 2 pemain bertahan dengan tujuan menggalang pertahanan dengan lebih efisien. Seorang bek tengah bergerak dari area tengah untuk menjaga penyerang kanan lawan, di saat yang sama bek kiri belari ke area tengah untuk menempati posisi bek tengah.
  • 46.
    36 2) DaerahPertahanan (Zona Defense) : Pengaturan pemain bertahan di area pertahanan berdasarkan ruang (bukan lawan) untuk menciptakan pertahanan yang efektif. (lihat bagian pengertian sistem 4-4-2). Penyebaran posisi yang seimbang dengan jarak yang sama dalam area pertahanan untuk mencegah penyerang lawan mencetak gol. 3) Menekan secara kolektif (Pressing) : gerakan pertahanan yang mantap, terus menerus dan terorganisasi dari para pemain bertahan untuk menutup pergerakan para penyerang. Sebagai contoh : Dalam permainan 6 V 6 ini terjadi tekanan dari para pemain gelandang tengah dan bek kanan untuk memeroleh kembali penguasaan bola.
  • 47.
    37 4) GerakanMundur dan Kembali ke Posisi Awal : Pergerakan seorang atau sekelompok pemain belakang, ke arah posisi pertahanan dengan tujuan untuk mengatur kembali pola pertahanan tim. Pemain bertahan di kiri, tengah dan kanan berlari ke belakang untuk memperkuat garis pertahanan dekat dengan gawang. 5) Kepadatan Pertahanan (Compact) : Sebuah aksi penumpukan pemain bertahan di area tengah, menjaga gawang mereka dan mencegah tim lawang membangun serangan. Para pemain bertahan dekat dengan gawang mereka sendiri, menempatkan diri mereka sendiri saling berdekatan dalam jarak yang sama dengan tujuan untuk menjaga gawang dan mempersulit penyerang lawan.
  • 48.
    38 H. MATERIKEPELATIHAN : Jiwa Kebersamaan (Psychososial)/Mental 1. DASAR  Motivasi  Kepercayaan Diri  Kerjasama  Membuat Keputusan/Kebulatan Tekad 2. TINGKAT LANJUT  Jiwa Kompetisi  Konsentrasi  Komitmen  Pengendalian Diri 3. SOSIAL  Komunikasi  Rasa Hormat (Respek) dan Disiplin
  • 49.
    39 I. MATERIKEPELATIHAN : Situasi Standar (Set Piece) & Formasi SITUASI STANDAR/BOLA MATI (SET PIECE) 1. Awal Pertandingan (Kick Off) 2. Tendangan Gawang (Goal Kick) 3. Lemparan ke Dalam (Throw-in) 4. Tendangan Sudut (Corner Kick) 5. Tendangan Bebas Langsung (Direct Free Kick) 6. Tendangan Bebas Tidak Langsung (Indirect Free Kick) 7. Penalti [Baca halaman-halaman berikut tentang penjabaran situasi standar/Bola mati] FORMASI*  5 v 5 = 3 - 1 - 0 Saat bertahan, 1-2-1 (ketupat) saat menyerang  6 v 6 = 3 - 2 - 0 Saat bertahan, 1-3-1 saat menyerang  7 v 7 = 3 - 2 - 1 Saat bertahan, 2-3-1 saat menyerang  8 v 8 = 3 - 1- 2 - 1 Saat bertahan, double diamond/ketupat saat menyerang (1 - 2 - 1 - 2 - 1)  9 v 9 = 4 - 3 - 1 atau 3 - 3 - 2  11 v 11 = 4 - 3 - 3 atau 4 - 4 - 2 * Termasuk penjaga gawang
  • 50.
    40 1. PenjabaranSituasi Standar (Bola Mati) Saya sempat terheran-heran dengan perhatian yang diberikan klub-klub Eropa terhadap situasi-situasi standar atau bola mati. Porsi latihan yang tergolong besar diberikan untuk melatih tendangan penalti, tendangan bebas, tendangan penjuru, bahkan lemparan ke dalam. Hampir setiap latihan diakhiri dengan latihan bola-bola mati. Hal ini dilakukan karena rata-rata setiap dua atau tiga gol terjadi lewat situasi bola mati. Tidak percaya? Coba Anda perhatikan saat menonton bola di TV. Menurut statistik di majalah Sport Bild edisi pertengahan Desember 2006, bisa disimpulkan bahwa pada prinsipnya semakin tinggi kelas permainan atau dengan kata lain, semakin tinggi liganya, semakin penting pula situasi standar. Begitu seringnya kita melihat seorang Ronaldihno, Beckham, Lampard, Ballack, Gerrard, dan masih banyak lagi pemain lain yang memecah kebuntuan lewat situsai bola mati. Karena statistik membuktikan bahwa situasi standar begitu penting peranannya dalam sepak bola masa kini, seorang pelatih yang bijaksana dengan sendirinya akan mempersiapkan pasukannya baik dalam menghalau maupun melesatkan bola mati. Situasi standar menjadi semakin penting peranannya di era sepak bola modern yang begitu kompetetif seperti sekarang ini karena kualitas antar tim secara keseluruhan hampir sama. Oleh karena itu, setiap kesempatan bola mati betul-betul dipergunakan dengan sebaik mungkin guna memenangkan pertandingan yang sebenarnya berlangsung cukup seimbang. 1) TENDANGAN BEBAS a) Di bawah ini beberapa contoh variasi tendangan bebas: Variasi 1 Keterangan: Pemain B berlari ke bola seolah- olah akan menendang bola untuk kemudian melompati bola lalu terus berlari sesuai arah panah. Sesaat setelah pemain B mulai berlari, pemain A berlari ke arah bola, berpura-pura melakukan tembakan untuk kemudian mengumpankan bola secara mendatar ke depan pemain B. Pemain B mengumpankan bola dengan keras ke mulut gawang guna disambar oleh pemain G, F atau E. Pemain E, F dan G hendaknya mempertajam efek tipuan dengan cara berpura-pura menginginkan bola diumpankan kepada mereka secara langsung. Penting: Tidak boleh ada pemain di sisi kanan lapangan dengan harapan lawan tidak menjaga daerah tersebut. Selain itu umpan dari pemain A ke B harus dilakukan di saat yang tepat untuk menghindari off side.
  • 51.
    41 Variasi 2 Keterangan: Pemain A mengumpan bola pada pemain B yang berlari di depan pagar betis lawan dari sebelah kanan ke sebelah kiri untuk kemudian menerima bola dan melepaskan tembakan ke arah gawang lawan. Pemain C berlari di belakang pagar betis lawan dari kiri ke kanan guna mengalihkan perhatian lawan. Penting: Pemain C memang off side tapi hanya secara pasif karena bola tidak mengarah ke C melainkan ke B. b) Prinsip dasar bertahan saat lawan melakukan tendangan bebas:  Semakin dekat letak tendangan bebas ke gawang semakin panjang pagar betis itu sendiri. Sebaliknya, semakin jauh letak tendangan bebas semakin sedikit pula pemain yang dibutuhkan di dalam barisan pagar betis.  Pengaturan pagar betis dilakukan oleh kiper atau seorang pemain depan yang berdiri di belakang posisi bola.  Pengaturan pagar betis dilakukan sesuai tinggi badan. Pemain tertinggi berdiri di sebelah paling luar pagar betis. Semakin ke dalam semakin pendek pula tinggi badan pemain. Logikanya di bagian gawang yang terjaga oleh kiper, pagar boleh rendah. Bagian gawang yang jauh dari jangkuan kiper idealnya terjaga oleh pemain-pemain yang yang setinggi mungkin.  Selain pagar betis, penjagaan lawan biasanya dilakukan secara man to man marking. Posisi badan pemain bertahan semestinya berada di antara lawan dan titik tengah gawang (di atas “invisible line”). [Usahakan semua pemain bertahan naik hingga selevel dengan pagar betis. Saat tendangan bebas dilakukan satu-dua orang pemain mundur kearah gawang, selebihnya mengikuti pergerakan lawan. Sama seperti situasi standar yang lain, pembagian tugas harus jelas. Masing-masing pemain mutlak harus mengetahui secara persis tugasnya saat tendangan bebas diberikan. Pelatih harus memberi instruksi sebelum pertandingan. Jangan sampai situasi standar terjadi baru pemain saling memberi instruksi satu sama yang lain. Secara otomatis masing-masing pemain harus mengetahui ke mana dia harus menempatkan dirinya]
  • 52.
    Catatan : “InvisibleLine” adalah garis imjinasi yang tentunya tidak bisa dilihat dengan mata. Secara mental tarik garis lurus antara bola dan titik tengah gawang. Di atas garis inilah - di antara bola dan titik tengah gawang—seorang pemain seharusnya menempatkan dirinya sehingga penjagaan lawan secara optimal bisa terlaksana. Bagi seorang penjaga gawang prinsip invisible line juga sangat membatu dalam menempatkan posisi. Prinsipnya sama; penjaga gawang menempatkan dirinya di atas garis imajinasi yang membentang lurus antara bola yang hendak ditendang ke arah gawang dan titik tengah gawang. Semakin jauh posisi bola semakin dekat posisi penjaga gawang dengan garis gawang. Sebaliknya, semakin dekat bola ke gawang posisi kiper semakin mendekati bola yang hendak ditendang guna menyempitkan sudut tendang. Jangan lupa; tempatkan posisi di atas invisible line, jangan disamping kiri atau kanannya (lihat bagian penjaga gawang halaman 46). 42 2) TENDANGAN PENJURU Variasi tendangan penjuru yang paling populer di Eropa saat ini, khususnya di Jerman adalah sebagai berikut: Keterangan:  Pemain A melakukan tendangan penjuru.  Pemain I dan J mengawal pertahanan untuk mengatisipasi kemungkinan serangan balik.  Pemain G dan H menjaga second line. Dengan kata lain, kedua pemain ini bertugas mencari bola muntah untuk kemudian secepat mungkin melesatkan tembakan ke arah gawang lawan. Perlu ditekankan bahwa pemain G dan H haram mengontrol bola dengan lama apalagi mendribel bola. Mengumpan pun sebaiknya jangan dilakukan karena risiko kehilangan bola teralu besar. Apabila pemain second line kehilangan bola ujung-ujungnya adalah serangan balik yang bisa fatal akibatnya. Disiplin tinggi untuk bermain aman mutlak dimiliki kedua pemain ini.  Pemain B berlari ke depan tiang jauh. Tugas pemain B adalah; (1) memberi aba-aba kepada pemain A untuk melakukan tendangan penjuru saat semua pemain telah siap, (2) mengganggu konsentrasi kiper lawan, serta (3) menyambar bola liar yang sekiranya terjadi di daerah tiang jauh.  Pemain C, D, E, F berlari sesuai arah lari yang digambarkan di atas. Jarak lari pemain C paling pendek, sementara jarak lari pemain F paling jauh. Kecepatan berlari termasuk tinggi, mendekati sprint, sehingga bola yang disambar akan melaju dengan deras ke arah gawang lawan.
  • 53.
     Posisi awalC, D, E dan F adalah berkelompok sedekat mungkin di atas garis boks penalti 43 sejajar dengan tiang jauh gawang lawan.  Keempat pemain di atas mulai berlari saat pemain A berancang-ancang melakukan tendangan penjuru. Tujuannya salah satu dari keempat pemain tadi bisa melakukan heading langsung setelah melakukan sprint pendek tanpa harus berhenti. Dalam posisi berdiri secara statis sangat sulit melakukan heading dengan power yang maksimal. Dengan kata lain, arah crossing bola harus diarahkan ke depan pemain tujuan. Organisasi, Timing yang tepat dan teknik crossing yang sempurna tentu saja hanya bisa terealisasi melalui latihan yang tekun. Variasi tendangan penjuru dengan bantuan umpan kombinasi yang sering ditemui di Eropa dewasa ini adalah sebagai berikut: Keterangan:  Pemain G melakukan tendangan penjuru.  Pemain I melakukan gerakan tipuan; berlari ke arah gawang lawan untuk kemudian secara eksplosif berlari ke arah G. Umpan yang diberikan oleh G dikembalikan kepada G atau I hanya melakukan umpan tipuan kepada G untuk kemudian menggiring bola ke garis gawang diakhiri dengan umpan datar yang keras atau umpan lambung ke mulut gawang lawan. Apabila bola diumpankan kembali ke pemain G, ia bisa memilih antara melepaskan umpan lambung, menggiring bola untuk kemudian melesatkan tembakan atau menyodorkan bola pada pemain lain dengan tujuan melesatkan tembakan.  Perhatikan posisi pemain-pemain lainnya. Semua pemain mempunyai tugas yang jelas. Selain itu perhatikan bahwa hanya satu pemain saja (B) yang bisa dikatakan tidak mempunyai fungsi ofensife atau menyerang. Hal ini disebabkan karena situasi tendangan penjuru sudah seharusnya dipergunakan semaksimal mungkin. Ingat: semakin sering gol lahir di era sepak bola modern ini melalui situasi standar, termasuk lewat tendangan penjuru! Oleh karena itu, berikan arahan sebelum bertanding mengenai tugas masing-masing pemain secara jelas baik saat lawan melakukan tendangan penjuru maupun saat tim Anda melakukan tendangan penjuru!
  • 54.
    44 3) LEMPARANKE DALAM ATAU THROW IN Lemparan ke dalam sering sekali terabaikan dalam latihan. Sama seperti situasi standar lainnya yang lebih ‘terkenal´ pemain seharusnya mengerti di mana mereka harus menempatkan posisi. Pembagian tugas harus ada kalau tidak ingin kehilangan kesempatan membangun serangan lewat situasi throw in. Teramat sayang apabila bola harus hilang hanya karena pemain berlari tanpa arah, tanpa menyesuaikan pergerakannya dengan kawan sehingga situasi yang tercipta adalah situasi untung-untungan. Kepemilikan bola yang tadinya 100% menjadi hanya 50% karena bola bisa hilang bisa juga tidak. Untuk menghindari hal ini lemparan ke dalam harus dilatih dan prinsip dasar pelaksanaannya diketahui oleh semua pemain. a) Variasi Throw In Terpopuler Di Eropa Keterangan:  Pemain A melakukan lemparan ke dalam. Apabila terjadi throw in di sisi kanan bagian tengah lapangan maka pemain A adalah sayap kanan tentunya.  Pemain B, apabila mengikuti skenario seperti di atas, seharusnya adalah pemain bek kanan (wing back) kalau sistem yang dipakai adalah 4-4-2. Tugas pemain B tidak lain adalah menjadi seorang pemain jangkar yang siap meneruskan bola ke sisi kiri lapangan entah secara langsung dengan long pass atau melewati pemain bek tengah F atau G yang berfungsi sebagai ´jembatan´. Pemain lain yang bisa berfungsi sebagai ´jembatan´ adalah kiper. Seorang kiper yang modern harus senantiasa ikut bermain. Artinya, di saat situasi throw in seperti di atas kiper hendaknya bergeser sedikit ke sisi kanan lapangan sekaligus maju dan berfungsi sebagai libero.  Pemain C adalah pemain defensive mid (Gelandang Bertahan). Biasanya pemain ini bergerak ke sebelah kanan pemain A untuk kemudian bergerak ke sebelah kirinya. Itu semua tergantung situasi tentunya.  Pemain D adalah offensive mid. Awalnya pemain D bergerak ke arah pemain A untuk kemudian berlari dengan kecepatan tinggi menyusur garis tepi lapangan. Umumnya pemain D adalah target utama saat terjadi throw in. D dan E tentu saja bisa menukar posisi sesuai situasi.  Pemain H adalah penyerang kiri, pemain I adalah pemain sayap kiri, sedang pemain J adalah wing back kiri. Pemain H, I, J dan E siap mendukung serangan apabila variasi throw in ini berhasil sesuai rencana.  Perhatikan bahwa semua pemain kecuali kiper berada dalam daerah sepanjang kira-kira 30-40 meter dan lebar sekitar 35 meter. Begitu throw in berhasil dengan baik formasi tim langsung mengembang. Pemain diinstruksikan untuk ´membuka´ lapangan dan mengoptimalkan lebar lapangan.
  • 55.
    Variasi lemparan kedalam lainnya yang juga cukup populer di Eropa adalah sebagai berikut: Keterangan:  Pemain A melakukan throw in kepada pemain C.  Pemain C melakukan heading yang diarahkan kepada pemain D atau E. Sebaiknya umpan heading diarahkan ke daerah bebas di depan E atau di daerah bebas di depan pemain D. Di dalam sepak bola hampir selalu ada hukum dasar dalam melakukan sebuah teknik, kombinasi atau taktik tertentu. Begitu juga dalam melakukan throw in. 45 b) Prinsip dasar pelaksanaan lemparan ke dalam:  Semakin cepat throw in dilakukan semakin baik. Apabila throw in tidak dilakukan dengan cepat, lawan akan punya waktu lebih untuk mengorganisasi pertahanan. Semakin banyak waktu yang diberikan kepada lawan semakin rapi pula organisasi pertahanan lawan sehingga semakin sulit pula menemukan celah.  Agar eksekusi throw in bisa dilangsungkan dengan cepat, semua pemain harus bereaksi dengan cepat dan mengisi posisi masing-masing. Sekali lagi, posisi dan tugas masing-masing pemain harus jelas agar pemain bisa cepat bereaksi terhadap situasi throw in dan tidak ada waktu yang terbuang dikarenakan kebingungan pemain.  Timing (kesempatan) lemparan ke dalam harus tepat dan sinkron dengan pemain lainnya. Tidak ada gunanya pemain yang melakukan lemparan ke dalam siap apabila rekan-rekannya masih belum siap. Pelempar bola juga harus memperhatikan pergerakan mengecoh yang dilakukan rekan-rekannya untuk kemudian melemparkan bola tepat saat gerakan tipuan selesai. Terlalu cepat tidak baik karena pemain yang dituju akan kaget karena belum siap. Sebaliknya, terlalu lambat juga percuma karena lawan yang tadinya terkecoh sudah bisa melakukan penanggulangan masalah sehingga kembali mampu menjaga lawan dengan baik dan ketat.  Variasi throw in apa pun yang dilakukan, prinsip mengecoh lawan dengan pergerakan silang semestinya tetap terkandung di dalamnya. Pergerakan-pergerakan yang rajin, cepat serta menipu harus ada supaya pemain yang melemparkan bola memiliki sebanyak mungkin opsi atau kemungkinan tujuan dan pemain yang dituju memiliki ruang gerak sekaligus sedikit waktu saat menerima bola.
  • 56.
    46 J. MATERIKEPELATIHAN : PENJAGA GAWANG Hal-hal khusus Mengenai Fisik, Teknik, Taktik, dan Jiwa Kebersamaan(Psychososial)/ Mental Penjaga Gawang FISIK  Kelincahan dan Reaksi  Koordinasi dan Keseimbangan  Kelenturan  Daya Tanggap dan Kewaspadaan  Kebugaran dan Kekuatan TEKNIK  Penguasaan Bola  Penguasaan Bola Menyilang (Crossing)  Menjatuhkan diri dan Mengamankan Gawang  Kelincahan Kaki  Penempatan posisi  Menangkap dan Menepis Bola TAKTIK  Melempar dan membagi bola  Mendukung Permainan  Mengatur Tempo Permainan
  • 57.
    47 JIWA KEBERSAMAAN(Psychososial)/Mental  Kemampuan untuk fokus / Memperhatikan  Membuat Keputusan / Kemantapan Hati  Keberanian  Komunikasi A. KUALIFIKASI PENJAGA GAWANG 1) PENEMPATAN POSISI Kemampuan menempatkan posisi adalah modal utama seorang penjaga gawang/ kiper yang andal. Apabila seorang penjaga gawang mampu menempatkan posisi dengan baik, yang paling sering terjadi adalah penjaga gawang seakan-akan menjadi magnet sehingga bola seakan terus melaju ke arah penjaga gawang. Dengan penempatan posisi yang benar seorang penjaga gawang tidak perlu melompat jauh ke kiri dan ke kanan. Hal ini dikarenakan segitiga yang terbentuk oleh bola dan ke dua tiang gawang menjadi lebih kecil. Istilah umumnya adalah memperkecil sudut. Sebenarnya istilah ini dari sudut pandang matematika salah. Sudut tidak mungkin menjadi lebih kecil. Untuk lebih jelasnya perhatikan diagram-diagram di bawah ini: Diagram # 1 Pada diagram # 1 terlihat bagaimana rentang gawang yang harus dijangkau kiper adalah 3,16 m ke kiri dan 3,16 m ke sebelah kanan kiper. Angka 3,16 m didapat dari perhitungan sebagai berikut: (rentang gawang : 2) – (rentang badan kiper :2) = (7,32 m : 2) – (1 m : 2) = (3,66 – 0,5) = 3,16 m.
  • 58.
    Pada diagram inijuga terlihat bahwa segitiga yang tercipta antara letak bola dan kedua tiang gawang cukup luas. Selanjutnya, pada diagram # 2 terlihat kiper bergerak naik mendekati lawan. Akibatnya, rentang jarak ke sebelah kiri maupun kanan kiper yang harus dijangkau oleh kiper guna menggagalkan tendangan lawan adalah jauh di bawah angka 3,16 m Semakin naik posisi kiper, semakin kecil luas segitiga. 48 Diagram # 2 Saya pribadi pada umumnya menganjurkan kiper untuk naik sejauh-jauhnya (paling sedikit 2/3 jarak antara bola dan garis gawang) apabila lawan berada di dekat gawang. Apabila posisi bola jauh saat shooting dilakukan, kiper cukup maju selangkah-dua langkah saja. Maksudnya sama: memperkecil segitiga (bukan sudut!) yang akibatnya adalah rentang jarak yang harus dijangkau kiper ke kiri maupun ke kanan semakin dekat. Efeknya jelas, bola yang dilesatkan lawan akan sulit melewati kiper. Selain penempatan posisi yang benar secara vertikal (naik-turun), posisi kiper juga harus benar secara horisontal (kiri-kanan). Nah, untuk penempatan posisi yang benar secara horisontal kiper harus memiliki pengetahuan akan The Invisible Line atau garis lurus yang tak tampak. Seorang kiper yang baik akan selalu membuat garis imaginatif antara titik tengah gawang dan letak bola. Untuk kemudian memosisikan dirinya di atas garis imajinatif tersebut. Perhatikan diagram di bawah ini: Diagram # 3 Saat bola berpindah posisi kiper pun diharuskan bergerak agar ia bisa terus berada di atas garis invisible line. Untuk bisa melakukan itu seorang kiper dituntut untuk (1) sesekali menoleh ke belakang guna mencari titik tengah gawang, dan (2) memiliki kecepatan kaki agar bisa dengan cepat memosisikan dirinya dengan tepat. Oleh karena itu, saat melatih posisi kiper seorang pelatih yang bijaksana akan sekaligus melatih kecepatan kaki.
  • 59.
    Perhatikan dua contohlatihan di bawah ini, masing-masing satu contoh latihan untuk penempatan posisi yang benar dan satu latihan untuk mengasah kecepatan kaki kiper (footwork). 49 Contoh latihan posisi: Diagram # 4 Keterangan: 1) Letakkan sebuah cone di titik tengah gawang sebagai alat bantu orientasi. 2) Letakkan beberapa bola di berbagai posisi (dekat dan jauh, kiri maupun kanan). 3) Pelatih menunjuk ke sebuah bola. Kiper bergerak dari titik tengah gawang ke arah bola tanpa meninggalkan sedikit pun garis invisible line. Asisten pelatih atau kiper cadangan memosisikan dirinya di belakang gawang guna memeriksa ketepatan posisi (apakah kiper menyimpang dari garis invisible line atau tidak). Contoh latihan kecepatan kaki: Diagram # 5 Keterangan: 1) Buatlah tanda plus dari cones masing-masing dengan jarak 3 m dari cones pusat. 2) Instruksikan kepada kiper untuk bergerak secepat mungkin dari A→B→A→C→A→D→A→E→A 3) Pergerakan kaki kiper hendaknya ke samping, ke belakang, ke depan, dst. 4) Kiper hendaknya bergeser dengan langkah-langkah yang kecil, sedikit menjinjit dan dengan lutut yang sedikit ditekuk. 5) Sebagai variasi, di akhir 1 set pergerakan pelatih bisa melepaskan tembakan keras untuk ditangkap kiper dengan lengket.
  • 60.
    50 2) BERANI! Keberanian seorang kiper/penjaga gawang begitu penting artinya. Dalam sebuah pertandingan, seorang kiper begitu sering harus berhadapan 1 vs 1 dengan pemain lawan. Begitu sering terjadi situasi di mana lawan melepaskan tembakan dengan keras dari jarak dekat. Betul-betul dibutuhkan sebuah keberanian yang luar biasa. Tanpa mentalitas “berani mati” tingkat kehebatan seorang kiper akan drop secara signifikan. Bagaimana caranya menanamkan sifat berani dalam diri kiper Anda? Jawabannya: sulit! Pada umumnya sifat berani adalah pembawaan sejak kecil. Anak saya Brandon saat berusia dua tahun sudah berani meloncat dari ketinggian dua meter lebih ke dalam kolam renang, naik seluncur yang begitu tinggi, dan lain-lain. Betul-betul tidak mengenal rasa takut. Putri saya Shania Cinta lain lagi. Shania sangat hati-hati dalam bertindak dan cenderung tidak berani. Begitu juga dengan orang-orang di seluruh dunia; ada yang berani dan ada yang tidak mau ambil risiko. Jadi, bisa dikatakan keberanian adalah bakat alam yang tidak dimiliki oleh semua kiper. Di sisi lain pemain dan juga pelatih tidak boleh putus asa dan pasrah mengenai ketidakberanian seorang kiper. Kiper harus berani. Tidak bisa tidak. Apabila seorang kiper tidak ada niat untuk memperbaiki kelemahannya dalam segala hal termasuk dalam hal keberanian, maka sebaiknya ia berhenti menjadi seorang kiper. Jadilah pemain catur saja. Kita kembali ke pertanyaan semula; bagaimana caranya melatih keberanian seorang kiper? Dengan cara sering berdialog untuk menanamkan positive thinking dan kepercayaan diri dalam diri kiper Anda. Kalau Anda sendiri adalah seorang kiper, maka cara melatih diri Anda sendiri adalah lewat positive self talk atau berbicara dalam hati secara positif; “Aku Bisa! Aku berani! Aku adalah singa! Kalaupun luka nanti juga sembuh! Si A bisa kenapa aku tidak?!” Dll. Bisa juga lewat mendengarkan musik-musik yang insipratif dan penuh semangat. Selain itu tontonlah film-film yang menonjolkan keberanian seperti Gladiator, Any Given Sunday, Rudy, dll. Hal lain yang dapat Anda lakukan adalah: challenge yourself atau tantang diri Anda sendiri melakukan hal-hal yang membutuhkan keberanian. Teman saya Garret Hurtle pernah masuk ke dalam kandang buaya. Setelah memegang bahkan duduk di atas beberapa buaya, salah satu buaya marah dan hampir saja mencaplok mukanya. Dramatis sekali. Bagaimana tidak, antara moncong buaya dan mukanya hanya berjarak sekitar 5 cm! Yang kemudian dilakukannya membuat saya lebih tercengang lagi, Garret yang masih schock hebat, saat berjalan keluar kandang buaya menyempatkan dirinya memegang punggung seekor buaya. Saya bertanya kepadanya,”Apa kamu gila? Kamu hampir mati tadi, kok sempat-sempatnya memegang buaya saat keluar?” Garret menjawab dengan pasti, “Kalau saya langsung keluar tanpa memegang buaya terlebih dahulu saya akan selamanya takut akan buaya.” Betul-betul luar biasa teman saya yang satu ini. Komodo pun di alam bebas dijadikan mainan seakan-akan komodo adalah kelinci! Tentu saja saya tidak bermaksud mengajak Anda untuk melakukan hal-hal yang “gila” seperti Garret. Namun, prinsipnya patut untuk dicontoh: perasaan takut harus dihadapi bukan dihindari. Tantanglah perasaan takut itu dan “ciutkan nyalinya!” Selain itu yang bisa dilakukan seorang pelatih adalah dengan sengaja membuat program latihan yang memberikan kesempatan kepada kiper untuk menantang rasa takutnya. Shooting jarak pendek, misalnya, atau simulasikan situasi 1 v 1 (kiper vs penyerang).
  • 61.
    Kesimpulannya jelas: 1.Keberanian mutlak harus dimiliki seorang kiper ! 2. Kelemahan dalam hal keberanian bisa diperbaiki walaupun sulit. Untuk itu diperlukan dedikasi tinggi dan sifat pantang menyerah. Di sinilah letak rahasia orang sukses: manusia sukses pantang menyerah. Manusia sukses selalu ingin maju, lebih baik lagi dan lebih baik lagi. Manusia sukses melawan rasa malas. Manusia sukses melawan rasa minder dan putus asa. Manusia sukses berkata “Tidak bisa tidak, aku harus bisa!” 51 3) PEMAIN BOLA YANG ANDAL Kemampuan mengolah bola dengan baik mutlak harus dimiliki seorang kiper karena seorang kiper sering mendapat umpan dari rekannya selama pertandingan berlangsung. Seorang kiper harus mampu mengontrol bola dengan baik, memberikan umpan dengan pasti dan tepat, serta paham mengenai ke mana bola harus diarahkan. Maka, biarkan kiper ikut berlatih bersama pemain-pemain lain sesering mungkin. Dengan demikian, kemampuan mengolah bola dengan kedua kakinya semakin terasah. Contoh latihan: Lakukan possession game (tim A vs tim B) di seluruh lapangan. Masing-masing tim diperkuat seorang kiper yang diperbolehkan menggunakan baik kaki dan tangannya guna mengolah bola. 4) MEMILIKI REAKSI YANG BAIK Mampu untuk bereaksi secara cepat adalah sebuah nilai plus yang mahal harganya bagi seorang kiper. Betapa tidak, banyak sekali tendangan ke arah gawang dilesatkan dari jarak pendek sehingga dibutuhkan kemampuan refleks yang tinggi. Guna melatih kemampuan bereaksi seorang kiper, lakukan latihan-latihan di bawah ini: Contoh latihan mengasah reaksi #1: Diagram # 6 Keterangan: Pelatih (P) melesatkan tembakan demi tembakan ke arah gawang. Daerah depan gawang telah dipenuhi cones-cones tinggi yang berpotensi mengubah arah bola. Dengan demikian, kiper dituntut bereaksi secara cepat dan sigap.
  • 62.
    Contoh latihan mengasahreaksi #2: Dua kiper berhadap-hadapan dengan jarak 5 m. Masing-masing kiper melemparkan bolanya ke arah rekannya secara bersamaan. Bola yang “muntah” harus secepatnya ditangkap. Begitu seterusnya. 52 5) TEKNIK MENANGKAP BOLA Bila bola yang ditangkap kiper ternyata lepas dari genggaman tentu runyam akibatnya. Oleh karena itu, seorang kipper hendaknya memiliki teknik menangkap bola sesempurna mungkin. Ajarilah kiper Anda untuk membentuk huruf “W” saat menangkap bola lambung. Untuk bola yang mengarah ke badan bentuklah huruf “A” (atau sebuah segitiga) dengan kedua jari telunjuk dan jempol tangan. Sedangkan untuk bola-bola yang menyusur tanah bentuklah huruf “V” dengan kedua telapak tangan Anda. 6) KUALITAS LOMPATAN Rentang gawang yang lebar dan melebihi daya jangkau memaksa seorang penjaga gawang untuk memiliki kemampuan lompatan yang mumpuni. Untuk itu teknik melompat dengan benar perlu dikuasai. Setali tiga uang kemampuan daya eksplosifitas otot seorang penjaga gawang perlu dilatih agar mampu memberikan daya yang dibutuhkan untuk terbang ke kiri, ke kanan maupun ke atas. Untuk latihan mengasah daya eksplosifitas lihat bagian plyometrics dihalaman 158. 7) TUBUH YANG LENTUR DAN KOORDINASI YANG MULUS Latihan seorang penjaga gawang seharusnya didominasi oleh latihan koordinasi dan fleksibilitas. Otot seorang penjaga gawang harus lentur agar mampu melakukan lompatan-lompatan serta gerak-gerik dengan seefisien dan semulus mungkin. Seorang penjaga gawang yang baik sering diibaratkan seekor kucing yang piawai melompat dengan mengandalkan tubuhnya yang lentur. Karena itu latihan penjaga gawang hendaknya menghindari segala bentuk latihan yang mengakibatkan tubuh menjadi kaku. Setiap latihan yang dilakukan guna memperbaiki daya eksplosifitas otot hendaknya diimbangi dengan latihan kelenturan tubuh. Demikian Penjabaran sebagian materi kepelatihan untuk penjaga gawang. Selengkapnya carilah bahan-bahan panduan khusus penjaga gawang. Variasi latihan boleh berbeda namun materi kepelatihan penjaga gawang hendaknya mengikuti arahan sesuai kurikulum.
  • 63.
    53 K. GAYAKEPELATIHAN 1. Garis Besar Mengenai Kepelatihan dan Persiapan latihan untuk Para Pelatih PRINSIP UMUM JIWA KOMPETISI : Semua permainan memiliki unsur kompetisi, menghadiahi tim yang menang dan membentuk jiwa kompetisi yang sehat dan senantiasa berlatih dalam suasana kompetisi. BOLA : Semua latihan harus selalu dilakukan dengan bola. KEGEMBIRAAN : Pelatih harus menggunakan kreativitasnya untuk merancang latihan yang menyenangkan sekaligus berhubungan dengan sepak bola terutama untuk para pemain muda. ORGANISASI PERSIAPAN : Setiap pelatih harus mempersiapkan dan membuat perencanaan dalam latihan sebelum waktu latihan dilaksanakan. Catatan dari semua rencana latihan disimpan sebagai arsip. SAAT LATIHAN : Jangan hentikan terlalu sering. Pemain harus belajar untuk menemukan cara memecahkan masalah tanpa harus diberi tahu terus menerus. Berikan kalimat yang jelas, cermat, dan cepat-cepat lanjutkan kembali latihan.
  • 64.
    EVALUASI : Ambilbeberapa menit setelah jam latihan untuk meninjau kembali dan berikan catatan pada apa yang sudah dilakukan dengan baik dan apa yang masih membutuhkan perbaikan. 54 MELATIH PEMAIN PENGUASAAN BOLA DAN PASSING : Teknik dari seorang pemain didasari oleh penguasan bola yang sama baiknya dengan akurasi passing yang dilakukannya. Kualitas dan ketepatan arah bola pada sentuhan pertama merupakan hal yang amat sangat penting. DAYA TANGKAP DAN KEWASPADAAN : Tegaskan kepada mereka untuk terus menegakkan kepala dan pandangan mata selalu melihat ke segala penjuru lapangan. Daya tangkap dan kewaspadaan adalah bagian penting dari sebuah pertandingan. KECEPATAN DAN REAKSI : Setiap latihan menggabungkan kecepatan daya tangkap, pengambilan keputusan, dan kemampuan untuk menindaklanjutinya dengan cermat. Meningkatkan kecepatan individu akan meningkatkan kecepatan keseluruhan tim. MELATIH TIM JARAK DAN PERGERAKAN : Menciptakan ruang dengan tujuan untuk mendapatkan bola dan memberikan pilihan untuk passing kepada pemain yang sedang menguasai bola sangat penting. Artinya tunjukkan kepada para pemain bagaimana bergerak di saat yang tepat. MENYERANG – BERTAHAN : Semua pemain menyerang dan bertahan. Berikan aturan yang terperinci dan jelaskan gerakan-gerakan yang diperlukan oleh para pemain, baik secara perorangan maupun sebagai satu tim. KECEPATAN PERMAINAN : Tujuan utama dari tim adalah untuk bermain di dalam kecepatan yang maksimal. Mengurangi ruang dan jumlah sentuhan pada bola akan meningkatkan kecepatan bermain.
  • 65.
    55 2. MenciptakanSuasana Dan Sarana Berlatih Yang Kondusif Bagi Perkembangan Pemain Ada empat faktor yang mutlak harus ada di setiap latihan apabila pelatih dan klub menginginkan terjadinya perkembangan kualitas pemain: Intensitas Latihan Asal latihan tidak cukup. Sering saya miris melihat banyaknya SSB yang melatih terlalu banyak siswa sekaligus. Alhasil, latihan tidak efektif. Pemain sedikit mendapatkan kesempatan/giliran sehingga intensitas latihan rendah. Program latihan yang tidak tersusun rapi juga bisa mengakibatkan latihan intensitas tinggi tidak tercipta. Tanpa latihan berintensitas tinggi seorang pemain tidak mungkin bisa mengembangkan kualitas teknik dan fisiknya dengan baik. Kualitas Latihan Tanpa peralatan fasilitas serta lapangan yang memadai kualitas latihan akan rendah. Kualitas Pelatih juga sangat menentukan kualitas latihan. Selain itu faktor-faktor lain seperti daya konsentrasi dan semangat pelatih dan pemain juga kebugaran pemain sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya kualitas latihan. Sedang kualitas latihan itu sendiri tentu saja sangat berpengaruh bagi perkembangan pemain. Karena masih rendahnya kualitas latihan di Indonesia maka pemain yang tercipta juga tidak maksimal. Kesimpulannya jelas : apabila Indonesia ingin bersaing dengan dunia Internasional kualitas latihan harus diperbaiki sehingga pemain bisa berkembang dengan baik.
  • 66.
    Kompetisi dalam Latihandan dalam Pertandingan Kesalahan lain yang umum dilakukan oleh SSB dan Klub-Klub di Indonesia adalah tidak adanya falsafah kompetisi di dalam program latihan. Latihan apapun bentuknya , akan lebih bergairah, lebih berkualitas dan lebih efektif apabila dilakukan dalam bentuk kompetisi. Penjadwalan pertandingan persahabatan yang rutin dan turut serta dalam festival/ turnamen/kompetisi juga sangat diperlukan bagi perkembangan kualitas pemain. Pemahaman Permainan Lewat program latihan dan Coaching Point (CP ) yang terkandung didalamnya peran pelatih dan latihan itu sendiri sangat besar bagi perkembangan pemain dalam hal pengertian permainan. Saya pribadi sangat sering menjumpai pemain di seluruh Indonesia yang mempunyai skill individu dan kecepatan yang mumpuni namun sayang pemahaman permainan sangat minim. Awareness tentang dimana bola, kawan dan lawan sering tidak di miliki pemain. Selain itu, pemahaman tentang kapan mendribel bola dan kapan harus mengumpan bola serta kemana bola harus di umpan juga sangat minim. Pemahaman taktis seperti contoh-contoh tadi mutlak harus diajarkan kepada pemain agar perkembangan pemain bisa optimal. 56 3. Meracik Menu Latihan dan Organisasi Latihan LANGKAH 1 TENTUKAN FOKUS LATIHAN Teknik : Sekali latihan fokus 1-2 macam teknik saja. Selalu tandemkan teknik passing dengan 1-2 macam teknik lainnya (contoh : passing + shooting atau passing + trik individu) Taktik: bertahan/menyerang? (pilih salah satu!). Taktik individu/grup/tim (pilih 1-2 saja untuk sekali latihan). Fisik: Endurance (ketahanan) dengan dan tanpa bola/power (kekuatan)/koordinasi dan kelenturan/speed (kecepatan) dengan dan tanpa bola bisa digabung semua dalam sekali latihan atau fokus ke satu-dua bagian saja. Untuk pemain usia muda gabungkan koordinasi dengan yang lain (sebisa mungkin hindari endurance tanpa bola) untuk usia 12 tahun kebawah fokus ke koordinasi dan kecepatan dengan bola saja.
  • 67.
    57 LANGKAH 2 MEMBUAT PROGRAM LATIHAN  Tertulis supaya terencana dan bisa diarsipkan.  Prinsip benang merah : dari awal sampai akhir latihan bagian-bagian latihan terlihat selaras, serasi dan saling berhubungan sesuai dengan tema latihan. Tema latihan harus terlihat jelas dari awal sampai akhir.  Pakai bola! Pakai bola! Pakai bola.  Hindari antrean! Modifikasi latihan sehingga antrean tidak terjadi. Contoh: sebagian shooting ke dua gawang, sebagian body fitness lalu gantian.  Intensitas latihan harus dari santai ke berat.  Tingkat kesulitan latihan harus dari gampang ke sulit, dari yang sudah dikenal ke latihan yang belum dikenal.  Pastikan adanya tekanan (untuk melatih mental) dalam bentuk perlombaan/hadiah/ hukuman/tekanan waktu.  Pastikan program Anda sesuai metode pembuatan program latihan (tidak asal bikin program) mulai dari warm up (10’-15’) sampai cooling down (5’-10’).  Coaching point (CP) sebaiknya 3-5 saja agar mudah diserap dan diingat pemain. Tuliskan CP di bagian-bagian latihan untuk mengingatkan Anda saat latihan.  Tentukan dan tulis berapa menit untuk setiap bagian latihan.  Perhatikan program latihan yang sudah Anda buat. Tanyakan pada diri sendiri; sudah cukup variatifkah (tidak monoton) latihan ini?? Bagaimana dengan fun aspect atau faktor kesenangan? Apakah pemain akan senang dan bergairah mengikuti program latihan yang Anda buat?  Pastikan variasi-variasi yang Anda pilih efektif, gampang dimengerti dan tidak mengakibatkan antrean. HINDARI ANTREAN! LANGKAH 3 PERSIAPAN DI LAPANGAN  Amati program Anda; perlengkapan apa saja dan berapa biji yang anda butuhkan.  Siapkan rompi/cones/bola/dll untuk sebanyak mungkin macam latihan sebelum latihan dimulai!!! Pelatih yang seharusnya pertama sampai di lapangan!!!  Ambil waktu beberapa menit untuk sekali lagi memperhatikan coaching points untuk setiap bagian latihan yang telah anda tulis. LANGKAH 4 SAAT MELATIH  Bila diperlukan adjust atau sesuaikan jumlah pemain, misalnya, atau besar lapangan, atau jarak drill dll agar latihan menjadi lebih efektif.  Pelatih sebaiknya berdiri di posisi yang central agar bisa leluasa melihat semua pemain dan bisa melihat kejadian-kejadian di lapangan dengan jelas.  Lakukan pembenaran sesuai coaching points. Lakukan pembenaran dengan jeli tanpa
  • 68.
    memakan banyak waktu(berbicara terlalu lama/ terlalu sering). Ingat: tetaplah fokus pada 3-5 coaching points yang telah anda persiapkan. Jangan melantur kesana kemari.  Jangan biarkan pemain kehilangan fokus saat berlatih. Di saat yang sama tetaplah berperilaku dan bertutur kata positif. Angkat motivasi pemain. Jaga semangat dan fokus Anda. 58 LANGKAH 5 EVALUASI Setelah latihan selesai lakukan evaluasi tentang apa saja yang Anda telah lakukan dengan benar dan apa saja kesalahan yang Anda lakukan selama latihan. Tanyakan pada diri sendiri dan rekan Anda; sudahkah organisasi latihan berjalan dengan optimal? Apakah semua bagian latihan dapat diterima dengan baik oleh pemain? Apakah coaching points yang anda persiapkan telah anda sampaikan sekaligus bisa dimengerti oleh pemain? .
  • 69.
    59 BAB III KURIKULUM SESUAI KELOMPOK UMUR A. Mengatur Perkembangan pemain berdasarkan umur dan tingkatan Anak-anak TIDAK belajar dengan cara yang sama seperti orang dewasa, khususnya ketika proses belajar mencakup intelektual sekaligus aktivitas fisik. Umur seseorang menentukan cara ia berhubungan dengan dunia di sekitarnya dan dengan sesamanya. Dalam semua proses belajar, umur adalah kunci dalam memilih materi dan metode apa yang cocok untuk mengajarkan suatu materi. Sepak bola juga demikian. Untuk alasan inilah kita tidak dapat menyamakan latihan antara usia 5 dan 13 tahun. Frekuensi latihan harus disesuaikan dengan usia pemain. Berdasarkan karakteristik dari pertumbuhan manusia dan seorang pemain, kami menyusun kurikulum dalam empat kelompok umur . Pada tingkat usia ini, anak-ana k t i da k memi l ik i TINGKAT PEMULA (FUN PHASE) – 5 SAMPAI 8 TAHUN kemampuan yang sama seperti orang dewasa untuk mengerti situasi. Mereka memahami dunia dengan pemahaman yang berpusat pada diri sendiri. Bagi anak-anak mengalami kebersamaan dan berhubungan dengan teman-temannya masih sangat berpengaruh. Juga, pengertian pada perasaan atau pikiran orang lain masih sangat rendah. Dalam rangka menolong anak-anak membangun pengalaman mereka sendiri, banyak latihan bersifat individu (misalnya setiap pemain memiliki bolanya masing-masing). Hal yang bersifat taktik dalam pertandingan disederhanakan dalam permainan lapangan kecil (40 m x 20 m) dengan sedikit pemain (4 v 4 atau dengan kiper 5 v 5). Waktu latihan akan juga menyoroti pelatihan olah raga secara umum dan tidak melulu pelatihan sepak bola. Untuk Kepentingan latihan bagi tingkat pemula dalam dua kelompok: 1). 5 dan 6 tahun; 2). 7 dan 8 tahun.
  • 70.
    Pada tingkat ini,susunan pelatihan (bukan materi latih) sudah mirip dengan pemain yang lebih tua. Bagian terpenting latihan adalah yang bersifat teknis. Sangat baik dalam usia ini mengembangkan teknik dan pengertian akan taktik dasar. Kemampuan anak-anak untuk mengatasi masalah akan berkembang dengan pesat. Maka pemain harus mulai diajarkan taktik dasar yang dinamis. Pada tingkat ini, pemain ada pada masa pra puber dan memiliki masalah keterbatasan fisik terutama pada kekuatan dan ketahanannya. Latihan fisik yang diberikan hanya sebatas kecepatan dengan bola, kelincahan (agility) dan koordinasi. Para pemain pada usia ini telah memiliki peningkatan yang baik tentang pengertian permainan. Di lain pihak pada umur ini pemain dibatasi oleh keterbatasan fisik dan perubahan-perubahan fisik yang muncul seiring dengan masa pubertas. Pelatih harus sangat memerhatikan kenyamanannya. Pelatih harus menghindari latihan yang berlebihan dan berfokus pada taktik lebih daripada teknik dan mengurangi aspek fisik. Aspek fisik yang paling diutamakan untuk usia ini adalah latihan koordinasi dan flexibility. Latihan taktik bermain sangat penting pada usia ini. Pemain pada usia ini memiliki pertumbuhan fisik dan mental yang lebih lengkap. Semua bagian dari latihan dapat dikombinasikan dan diorganisasikan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi tertinggi dari pemain. Kekuatan otot membantu mereka untuk mengembangkan teknik dengan kecepatan tinggi dan kecepatan ini membantu pemain untuk bereaksi lebih cepat pada situasi taktis. Tingkat ini sangat penting untuk menggabungkan semua bagian dari pelatihan sepak bola dengan tujuan untuk menyempurnakan pemahaman pemain. 60 TINGKAT DASAR (FOUNDATION) – 9 SAMPAI 12 TAHUN Untuk kepentingan latihan bagi tingkat dasar dalam dua kelompok: 1). 9 dan 10 tahun; 2). 11 dan 12 tahun. TINGKAT MENENGAH (FORMATIVE PHASE)– 13 SAMPAI 14 TAHUN Untuk kepentingan latihan kelompok ini tidak perlu dipecah. TINGKAT MAHIR (FINAL YOUTH) – 15 SAMPAI 20 TAHUN Untuk kepentingan latihan bagi tingkat Final Youth menjadi tiga kelompok: 1). 15 dan 16 tahun; 2). 17 dan 18 tahun; 3). 19 dan 20 tahun. Hal-hal di atas adalah beberapa fakta pada perkembangan manusia yang disesuaikan dengan sepak bola. Kurikulum ini menggunakan fakta-fakta tersebut dalam menentukan metode kepelatihan yang tepat untuk setiap tingkat umur. Menyamakan Istilah: U 5 - U12 : Usia dini/grassroot U13 - U20 : Usia muda U 21 ke atas : Senior
  • 71.
  • 72.
  • 73.
  • 74.
  • 75.
  • 76.
  • 77.
  • 78.
  • 79.
  • 80.
  • 81.
  • 82.
  • 83.
  • 84.
  • 85.
  • 86.
  • 87.
  • 88.
  • 89.
  • 90.
  • 91.
  • 92.
    82 2. ContohProgram Latihan Tingkat Pemula/Fun Phase (U5 - U8) Contoh Penekanan/Tujuan : Pemain banyak mendapatkan kesempatan melakukan dribling dan shooting . Coaching Points :  Dribel bola dekat dengan kaki .  Shooting menggunakan kaki kura-kura.  Posisi kaki tumpuan disebelah bola. a) Pemanasan (5 menit) Keterangan:  Masing-masing pemain mengolah 1 bola.  Tanpa keluar dari kotak dan tanpa saling berbenturan, pemain mengolah bola dengan bebas lalu menghentikan bola secepatnya saat ada aba-aba “satu” => stop bola memakai sole kaki kiri. Aba-aba “dua” => stop bola memakai sole kaki kanan. Aba-aba ‘tiga” => stop bola memakai sole kaki kiri dan kanan. b) Latihan Fisik ( 10 menit) Organisasi sama seperti diatas. Pemain mengolah bola secara bebas diselingi kode peluit dari pelatih dengan berbagai variasi:  Variasi 1 => Tinggalkan bola, cari bola pemain lain lalu duduk diatas bola.  Variasi 2 => Tinggalkan bola, cari bola pemain lain lalu lempar bola keatas dan tangkap bola sambil melompat.  Variasi 3 => Tinggalkan bola, cari bola pemain lain lalu dribel bola secepatnya keluar kotak.  Variasi 4 => Tinggalkan bola, lalu berkelompok sesuai aba-aba pelatih, ( contoh : “berempat”, “berdua”, dll.). c) Latihan Teknik mudah (10 menit ) Keterangan:  Pemain mendribel bola secepatnya sejauh kira-kira 5 m tanpa kehilangan kontrol lalu melakukan shooting kearah gawang. Pemain yang mencetak gol berhak jadi penjaga gawang.
  • 93.
    83 d) LatihanTeknik Kompleks (10 menit) Keterangan:  Pemain melewati 3 cones lalu melesatkan tembakan. (Awas: hindari antrian). e) Game (20 menit)  Main 4 v 4 dengan luas lapangan 30 meter x 20 meter. Ingatkan pemain untuk berani melakukan shooting. f) Cooling Down (5 menit)  Setiap pemain dengan bola masing-masing memantulkan bola lalu menendang keatas kemudian menangkap . Gunakan kaki kiri dan kanan secara bergantian.
  • 94.
  • 95.
    85 2. ContohProgram Latihan Tingkat Dasar/Foundation (U9 - U12) Contoh penekanan/ Tujuan : Pemain maupun melakukan kontrol bola dan passing secara akurat. Coaching Point :  Umpankan bola secara mendatar.  Bergerak guna memberi support setelah mengumpankan bola (anschlussaktion).  Kontrol bola dekat dengan kaki dan menjauh dari lawan. a) Pemanasan ( 10 menit ) Variasi 1 ( 5 menit ) Keterangan :  Pemain mengolah bolanya masing-masing secara bebas dan kreatif. Setiap kali pelatih meniupkan peluit pemain melakukan berbagai gerakan Samba (masing-masing empat hitungan saja) lalu mengolah bola kembali. Variasi 2 ( 5 menit ) Keterangan:  Dua bola dikuasai 2 pemain yang mengolah bola secara bebas tanpa bola berhenti (mati). Bola diumpankan pada pemain lain (1) dilanjutkan dengan sprint pendek maju (2). Pemain yang menerima bola lalu mengumpankan bola (3) dan melakukan sprint mundur ( 4). Begitu seterusnya; Pemain yang menerima bola melakukan gerakan yang berbeda dengan gerakan sang pengumpan.
  • 96.
    86 b) LatihanFisik (10 menit ) Keterangan :  Variasi 1: Pemain berpasangan. Pemain A menerima bola dari pemain B dan dengan satu sentuhan saja mengumpan balik (menggunakan kaki kiri dalam) dilanjutkan dengan bergerak menyamping (2 sentuhan diantara cones) lalu mengumpan balik dengan kaki kanan dalam. Begitu seterusnya .  Ganti setelah 1 menit.  Variasi 2: Pemain A berlari meliuk-liuk melewati cones lalu melakukan tendangan volley.  Variasi 3: Pemian A bergerak maju mundur melewati cones lalu mengontrol bola yang dilemparkan pemain B lalu mengembalikan bola secara menyusur tanah. c) Latihan Teknik (20 menit) Variasi 1 ( 10 menit ) Keterangan:  Bagi pemain menjadi 3 pemain perkelompok .  2 pemain bagian luar melemparkan bola ke pemain ditengah yang secepatnya mengontrol bola untuk kemudian mengumpan balik secara mendatar.  Ganti posisi setiap 1 menit sehingga masin-masing pemain mendapatkan kesempatan berada ditengah. Sedikit perlebar jarak lempar untuk menambah tingkat kesulitan.
  • 97.
    87 Variasi 2(10 menit ) Keterangan:  Pemain A melempar bola ke pemain B (1) lalu bergerak ke sisi kiri atau kanan (2). Pemain B mengontrol bola lalu mendribel bola. Saat lawan datang menghadang pemain B bisa melakukan umpan one-two dengan pemain A (3) atau mendribel bola melewati lawan (4).  Latih pengertian taktis pemain untuk mengetahui kapan harus melewati lawan dan kapan mengumpan bola. Para pemain terus berganti posisi. d) Latihan Taktik (15 menit) Keterangan:  Bagi dalam 2 kelompok ; masing - masing kelompok bermain possesion 3 v 3 + 1 pemain netral. Instruksikan pemain netral sebanyak mungkin melakukan umpan bola atas yang harus dikontrol dan diumpan secara mendatar.  Ganti pemain netral setiap 4 menit.  Setiap 4 menit berikan 1 menit istirahat.  Koreksi pemain bila melakukan kontrol yang salah atau pilihan yang salah antara mengumpan/mendribel bola. e) Game (25 menit)  Mainkan game 8 v 8 (termasuk kiper). Terus tekan ketiga coaching points yang tertera dibagian awal contoh latihan ini. f) Cooling Down (5 menit)  Jogling bola dua kali diselingi satu kali bola menyetuh tanah.
  • 98.
  • 99.
    89 2. ContohProgram Latihan Tingkat Menengah/Formative Phase (U13 - U14). Contoh Penekanan/Tujuan: Pemain mempraktekan beberapa kombinasi permainan dan mendapatkan banyak kesempatan melakukan penyelesaian akhir. Coaching Points :  Bergerak setelah mengumpan bola dengan tujuan yang jelas ( melakukan overlap/one-two/ memosisikan diri sebagai pemain jangkar /meminta umpan terobosan ).  Cepat tetapi tenang dimuka gawang saat melakukan penyelesaian akhir. a) Pemanasan (10 menit ) Keterangan :  Pemain berpasangan. Masing-masing pasangan menguasai satu bola. Arahkan pemain untuk melakukan overlap run bekerjasama dengan pasangannya masing -masing secara bergantian ( 2 menit ). Selanjutnya arahkan pemain untuk mencari kesempatan umpan one-two diantara pemain lain secara bergantian ( 2 menit ). Selanjutnya arahkan pemain melakukan umpan pantul disusul dengan umpan terobosan ( 2 menit ).  Untuk 2 menit terakhir bebaskan setiap pasangan melakukan ketiga kombinasi diatas secara bebas dan tidak beraturan.  Diantara kombinasi yang berbeda bebaskan pemain melakukan gerakan-gerakan samba, masing-masing 30 detik. b) Latihan Teknik (20 menit) Variasi 1 ( 10 menit ) Keterangan:  Bagi pemain dalam 2 kelompok. Masing-masing kelompok bermain 4 v 4 atau 5 v 5. Kiper A dan B menguasai bola. Kiper A memberikan bola pada tim merah (1) sedangkan kiper B mengumpan bola pada salah satu pemain putih (2) pemain kedua tim menyeberang ke kiper yang lain dengan melakukan berbagai kombinasi pantulan, overlap, one-two, dan umpan terobosan (through pass).
  • 100.
    90 Variasi 2( 10 menit ) Majukan salah satu gawang kedepan kotak 16 m. Arahkan pemain (8 -10 pemain per tim) untuk melakukan latihan yang sama seperti variasi 1. Bedanya pemain setelah melakukan berbagai kombinasi berusaha mencetak gol. Pastikan pemain bertindak dengan cepat namun tenang (tidak tergesa-gesa atau gugup). c) Latihan Fisik (15 menit) Biarkan pemain melakukan berbagai gerakan koordinasi menggunakan 1-2 tangga koordinasi disusul dengan sprint pendek 5 meter guna mengasah kelincahan dan eksplosifitas. d) Latihan Taktik (20 menit) Variasi 1 ( 10 menit ) Tim penyerang menempati posisi masing-masing menggunakan formasi 4-3-3 saat bertahan (compact). Bola ditendang kiper lawan sejauh mungkin. Tim penyerang secepatnya mengisi posisinya disaat menyerang (membuka) lalu berusaha menciptakan gol melawan 5 pemain lawan yang memakai formasi 4-1-0. Rotasi pemain setelah 5 menit. Variasi 2 ( 10 menit ) Sama seperti variasi 1 namun jumlah lawan diperbanyak menjadi 7 yang memakai formasi 4-2-1. e) Game (25 menit) 10 menit pertama lakukan pembenaran seperlunya apabila pemain tidak melakukan sesuai coaching points yang tertera diawal program latihan ini. f) Cooling Down (5 menit) Setiap pemain bebas melakukan Jogling menggunakan bolanya masing-masing (1 menit) disusul dengan stretching pasif sesuai arahan pelatih. Lakukan stretching dengan benar ( tidak asal-asalan atau dengan setengah hati ).
  • 101.
  • 102.
    92 2. ContohProgram Latihan Tingkat Mahir /Final Youth (U15 - U20) Contoh Penekanan/Tujuan : Menerapkan prinsip-prinsip bertahan khususnya saat melakukan pergeseran 1 v 1 dan saat mendobel lawan. Coaching Points :  Press lawan lalu ikut mundur sesuai kecepatan lawan.  Delay lawan sampai ada pemain yang datang membantu. Saat terjadi 2 v 1 berubah agresif tanpa bertindak kasar.  Bergeser secara diagonal dan cepat. a) Pemanasan (10 menit) Keterangan:  Arahkan pemain bermain 4 v 2 dengan santai (3 menit). Selanjutnya pemain melakukan berbagai gerakan samba ditempat sesuai arahan pelatih (3 menit). Lanjutkan dengan kembali bermain 4 v 2 dengan intensitas yang lebih tinggi ( 4 menit ). Berikan arahan bagi pemain A untuk menekan lawan dari sisi kanan dan pemain B mencover ditengah (sedikit condong ke kiri). b) Latihan Teknik (20 menit) Variasi 1 ( 10 menit ) Keterangan:  Bagi pemain dengan 3 pemain dalam 1 kelompok . Pemain A mendribel bola kearah pemain B. Pemain B bergerak maju lalu disaat yang tepat ikut bergerak mundur agar tidak dilewati pemain B. Selanjutnya gantian pemain B yang mendribel bola kearah pemain C. Begitu seterusnya.
  • 103.
    93 Variasi 2(10 menit) Keterangan:  Pemain A mendribel bola kearah pemain B yang datang mengganggu. Sesaat kemudian datang pemain C membantu mendobel lawan sehingga tercipta situasi 2 v 1. Rotasi posisi pemain. c) Latihan Fisik (10 menit) Lihat contoh latihan fisik ( latihan fisik #4 halaman 175 ). Biarkan pemain melakukan sprint tanpa bola disusul dengan sprint dengan bola (speed drible). d) Latihan Taktik (20 menit) Lakukan latihan 6 v 6 dengan menggunakan formasi 4-2-0. Lihat langkah kelima : Taktik tim I (halaman 129). Pemain menyerang selalu memulai serangan dari garis tengah lapangan. Siapkan 3 gawang kecil dari cones ukuran 3 m disepanjang garis tengah lapangan. Saat pemain bertahan berhasil merebut bola secepatnya umpankan bola kesalah satu dari ke tiga gawang kecil tadi. e) Game (25 menit) Mainkan game 11 v 11. Selama 10 menit pertama lakukan pembenaran-pembenaran singkat seperlunya guna mengingatkan pemain pada coaching points yang telah dijabarkan di awal program latihan ini. Setelah itu biarkan pemain bermain tanpa interupsi.
  • 104.
    94 E. FORMATPROGRAM LATIHAN FISIK UNTUK KELOMPOK UMUR 15 TAHUN KEATAS Tidak ada format khusus untuk latihan fisik. Yang ada adalah panduan yang sebaiknya diaplikasikan saat melatih fisik. Prinsip-prinsip Latihan Fisik: 1. Semua bagian fisik seperti endurance (ketahanan), speed (kecepatan), speed-endurance (daya tahan saat banyak melakukan sprint), power (kekuatan otot), flexibility (kelenturan otot), agility (kelincahan) serta koordinasi (kemampuan tubuh untuk singkron atau sejalan dengan perintah otak) harus dilatih secara adil sehingga tidak terjadi ketimpangan. 2. Latihan sprint seharusnya diawal latihan SETELAH pemanasan yang cukup (15 menit). Lakukan latihan sprint dengan atau tanpa bola ke beragam arah (maju-mundur-menyamping- berputar) sehingga sesuai dengan kebutuhan saat bertanding. Selain itu berikan waktu yang cukup diantara tiap-tiap sprint (1 menit per 10 meter sprint) agar eksplosifitas tetap terjaga. 3. Latihan fisik khususnya endurance bisa dilatih dengan menggunakan bola. Gunakan permainan lapangan kecil dan drill-drill latihan teknik guna menempa endurance. Inilah yang disebut dengan football conditioning (menempa kondisi pemain lewat sepakbola itu sendiri). Contoh latihan endurance menggunakan permainan:  Possession game 5 v 5 dengan limitasi maksimal 2 sentuhan per pemain. Contoh latihan endurance menggunakan drill-drill teknik:  Pemain berpasangan. Masing-masing pasangan dilengkapi 1 bola.  Pemain A melempar bola dari jarak 5 m kepada pemain B yang mengontrol bola di udara lalu memberikan umpan balik ke A secara menyusur tanah.  Setelah mengumpan bola pemain B berlari mundur 5 - 10 meter sebelum kembali menyambut umpan pemain A.  Lakukan 5 - 10x sebelum berganti posisi.  Macam-macam variasi bisa diterapkan seperti melakukan heading, berputar dengan bola, melakukan trik individu dll sebelum berlari mundur 5 - 10 meter.  Untuk latihan power baca halaman 157 tentang panduan penggunaan alat-alat fitness bagi pemain bola. Selain itu lakukan berbagai gerakan seperti push up, sit-up, dll yang dikenal dengan istilah body fitness. Lakukan latihan plyometrics (baca halaman 158) kira-kira seminggu sekali.  Latihan fisik endurance, power, speed, koordinasi, kelincahan dan flexibility bisa diselipkan didalam latihan bertema apapun. Dengan kata lain tidak harus diberikan latihan pertema fisik secara khusus. INGAT : Latihan dengan intensitas tinggi adalah cara terbaik melatih fisik .
  • 105.
    95 INTENSITAS LATIHANITU SENDIRI TERCIPTA APABILA:  Latihan terencana dengan baik.  Cones, bola dan rompi telah disiapkan dan diatur dilapangan sebelum latihan dimulai.  Tidak terjadi antrean panjang saat berlatih.  Perkecil besar lapangan (lebih capai bermain lapangan kecil daripada lapangan besar).  Kurangi jumlah sentuhan (lebih capai menggunakan peraturan maksimal 2 sentuhan daripada bebas sentuhan).  Pemain dan pelatih semangat saat berlatih.  Selipkan waktu untuk istirahat sejenak saat berlatih berat (1 menit istirahat tiap 4 - 7 menit latihan berat). Untuk kategori dewasa semua bagian fisik boleh dilatih secara ballance dan teratur. Untuk kategori kelompok umur usia dini (5 - 12 tahun) dan usia muda (13 - 20 tahun) ikuti panduan spesifik seperti yang tertera di bagian “Kurikulum sesuai kelompok umur” di bagian lain buku ini.
  • 106.
    96 F. FORMATPROGRAM LATIHAN TEKNIK UNTUK KELOMPOK UMUR 15 TAHUN KEATAS Drill teknik tanpa tekanan disambung dengan stretching aktif sebagai warm up. Waktu : 15 menit Drill teknik dengan tekanan waktu/ lawan/kompetisi/hukuman guna menambah tingkat kesulitan dan intensitas latihan. Waktu : 15 menit 1 – 3 macam permainan lapangan kecil (small sided game) yang menonjolkan teknik tertentu sesuai tema dan coaching point (CP) latihan. Waktu : 30 menit Game dengan penekanan pada teknik tertentu dengan cara memberikan tambahan peraturan agar teknik yang diajarkan/dilatih sering tampak saat bermain game. Waktu : 15 menit Game tanpa peraturan tambahan (bebas). Waktu : 15 menit Cooling down bernuansa teknik (Contoh : Jogling) disambung dengan stretching pasif. Waktu : 10 menit Untuk contoh latihan teknik secara tematis perhatikan halaman berikut :
  • 107.
    97 1. Contohlatihan Teknik Passing + Shooting untuk Dewasa (Usia 15 tahun keatas) a) Pemanasan (20 menit). Keterangan:  Satu grup dengan bola berhadapan dengan satu grup tanpa bola (samba + teknik) lalu Stretching terpimpin.  Berpasangan (mendekat) —> passing kiri-kanan satu sentuhan.  Berpasangan (menjauh) —> 3 sentuhan passing pakai kura-kura.  Passing + putar + dribling + putar + passing.  Stretching bebas. b) Drill Shooting - tanpa lawan (15 menit). Keterangan:  Umpan dari kiri/kanan.  Striker boleh pilih pantul ke kiri atau kanan. Coaching Points:  Teknik-teknik shooting : Kaki dibekukan, mengayun, letak kaki tumpuan di samping bola, tengah bola kena tengah kaki.  Ikuti shootingan (siap saat bola terpantul). c) Drill Shooting - dengan lawan (15 menit). Keterangan: Coaching Points:  Lewati lawan dengan kecepatan.  Shooting disaat yang tepat.
  • 108.
    98 d) Gameshooting (20 menit) Keterangan:  6 v 6 bikin gol di kedua gawang.  Tim Merah : Shooting (bebas sentuhan) ke kedua gawang.  Tim Putih : Possession (2 sentuhan).  Tim Abu-abu : Istirahat/Body Fitness. e) Game 11 v 11 (20 menit) Peraturan tambahan:  Gol hasil shooting diluar kotak penalti => 2 poin. f) Cooling Down (5 menit)  Jogging.  Stretching. 2. Contoh latihan Teknik Passing + Trik Individu untuk Dewasa (Usia 15 tahun keatas) a) Pemanasan (10 menit) Keterangan:  Setiap pemain menguasai bola. Selanjutnya ikuti arahan pelatih sesuai kode seperti,”Arsenal!”, dll yang telah dijelaskan sebelumnya.  “Arsenal” ==> Speed dribling pendek ke arah kosong.  “Arema” ==> Jogling bola.  “Persema” ==> bikin macam-macam trik individu,  Stretching.  “Real Madrid” ==> kanan saja.  “Barcelona” ==> kiri saja, lalu  Stretching.
  • 109.
    99 b) DrillTrik Individu dan passing - tanpa lawan (5 menit) Keterangan:  3 trik yang berbeda di cones A, B, C kemudian passing ke pemain berikutnya. c) Drill Trik Individu - dengan lawan (20 menit) Simple Training (1 v 1) Complex Trainning (Dribling + Shooting ke gawang) Gambar 3 Gambar 4 d) Permainan menyerupai pertandingan (20 menit) Keterangan:  Possession Game point bila melewati lawan 1 v 1 ATAU  3 v 3 gawang kecil.
  • 110.
    100 e) Game11 v 11 dengan peraturan tambahan (15 menit) Keterangan:  Gol => 1 point.  Melewati lawan 1 v 1 => 1 point. f) Game 11 v 11 tanpa peraturan tambahan (15 menit) g) Cooling Down (5 menit)  Jogging.  Stretching. Catatan Tambahan: Perhatikan Bahwa:  Intensitas makin lama makin meningkat.  Dari gampang ke susah.  Simple ke complex (menggabungkan beberapa macam teknik menjadi satu latihan).  Bervariasi (tidak membosankan).  Latihan yang hampir sama persis (Latihan C ke atas) bisa dipakai untuk latihan bertema taktik dan teknik individu dalam bertahan! Contoh coaching points untuk latihan diatas:  Pakai semua bagian kaki dan kedua kaki untuk menggiring/mengolah bola.  Giring bola dengan cepat namun terkontrol (bola tidak sampai hilang/lepas).  Selalu cari pilihan terbaik antara passing atau melewati lawan dengan trik individu.  Lakukan trik dengan mengandalkan perubahan kecepatan dan/atau perubahan arah giring. INGAT: Pastikan anda melatih sesuai coaching points yang telah anda tetapkan sebelumnya. Jangan melantur kesana kemari mengajarkan point-point lain karena akan sulit dicerna dan diingat pemain. SEMUA variasi latihan yang anda pilih HARUS bisa dipakai untuk mengajarkan coaching points yang telah anda tentukan karena latihan harus memiliki TUJUAN!
  • 111.
    G. FORMAT PROGRAMLATIHAN TAKTIK UNTUK KELOMPOK 101 UMUR 15 TAHUN KEATAS Untuk contoh latihan taktik bertahan dan taktik menyerang secara tematis perhatikan halaman berikut : 1. Contoh Latihan Taktik Bertahan (grup) a) Pemanasan (15 menit) Keterangan:  Setiap pemain menguasai bola. Selanjutnya ikuti arahan pelatih sesuai kode seperti,”Arsenal!”, dll yang telah dijelaskan sebelumnya.  “Arsenal” => Jogling.  “MU” => Trick Individu (3’)  Stretching ( 2’)  Arsenal + MU ditambah “Arema” => putar balik lalu sprint dan “Persema” => Tekan bola maju-mundur (3’).  Stretching ( 2’)  Passing 2 bola [2 sentuhan / kelompok] (3’). Warm up dalam bentuk teknik dan taktik individu yang sesuai dengan tema latihan diakhiri dengan stretching aktif singkat. Waktu : 15 – 30 menit Pilih salah satu :  Latihan taktik individu + grup  Latihan taktik grup saja  Latihan taktik grup + tim {Ingat : Pilih menyerang atau bertahan; jangan dicampur aduk} Waktu : 30 – 40 menit Game - tidak harus 11 v 11; bisa 6 v 8 misalnya, dll. Waktu : 25 – 40 menit Cooling Down : Stretching pasif agak lama didahului latihan teknik singkat (Contoh : Sepakbola tenis 2 v 2 ). Waktu : 10 menit
  • 112.
    102 b) Game4 v 4 tanpa Kiper di atas lahan 40 m x 20 m (15 menit) Coaching Points :  Formasi bertahan 3-1.  Bentuk pisang + segitiga.  Isi belakang terlebih dulu.  Mendobel lawan (2 v 1).  Setelah rebut bola => buka! c) Game 5 v 5 tanpa Kiper di atas lahan 40 m x 20 m (15 menit) Coaching points :  Formasi bertahan 3-2.  2 pemain di depan mendobel, satu pemain ke kiri dan yang lainnya kekanan.  Saat rebut bola —> satu datang, satu pergi. d) Game 6 v 6 (15 menit) Keterangan:  Untuk selanjutnya jika sudah mengerti bisa diubah menjadi 6 v 8; yang menyerang ditambah bek sayap.  Permainan selalu di mulai tim putih. Coaching points:  Segitiga dan pisang.  Jarak saat bergeser.  Mendobel lawan (2 v 1 dan 3 v 1). e) Game 6 v 6 (25 menit)  Memakai Formasi bertahan 4-2.
  • 113.
    103 f) CoolingDown (5 menit)  Jogging.  Stretching pasif. Catatan Tambahan :  Untuk tema menyerang latihan ini bisa di balik; fokus kini kepada penyerangan.  Warm up diganti latihan overlap, one-two, teknik individu, pantulan. Setelah itu latihan bisa sama persis dengan Coaching points:  Cepat buka setelah merebut bola.  Kreatif —> one-two, overlap, pantulan, trik individu.  Cari penyelesaian; jangan bertele-tele. 2. Contoh Latihan Taktik Menyerang (Variasi serangan) a) Pemanasan dibagi menjadi 4 grup (12 menit) Keterangan:  Grup A ( 3 menit )  Lakukan umpan one-two dalam boks.  Setiap pemain melakukan 3x lalu bergantian dengan pemain lain.  Grup B ( 3 menit )  Lakukan overlap dalam boks.  Setiap pemain melakukan 3x overlaping lalu bergantian dengan pemain lain.  Grup C ( 3 menit )  Lakukan umpan pantul dari pemain A menyeberang ke pemain B dan sebaliknya.  Grup D ( 3 menit )  Gunakan 2 bola. 2 pemain berpasangan bergantian melakukan umpan pantul dilanjutkan dengan umpan terobosan.  Stretching.
  • 114.
    104 b) Variasiserangan tanpa lawan (10 menit) Keterangan: Masing-masing tim mengumpankan bola dari satu sisi lapangan lalu menyeberang ke sisi lain dan seterusnya. Pastikan kedua tim mengumpan bola secara cepat dan kreatif (menggunakan overlap, one-two, pantulan dan umpan terobosan). c) Variasi serangan dengan lawan (20 menit) Keterangan:  Tim putih silih berganti melakukan berbagai variasi serangan dari kiri lalu ke kanan.  5 pemain putih melawan 4 pemain (kurangi jumlah lawan menjadi 3 apabila tim putih mengalami kesulitan membangun serangan.  Tekankan kreatifitas dan kecepatan. d) Game 8 v 6 (20 menit) Keterangan:  8 pemain menyerang melawan 6 pemain bertahan.  Permainan selalu dimulai oleh tim putih.  Saat tim merah merebut bola gol boleh dicetak di 3 gawang kecil.  Tekankan kreatifitas dan kecepatan dalam bermain.
  • 115.
    105 e) Game11 v 11 (30 menit) f) Cooling down (10 menit)  Jogling berempat.  Stretching. Catatan tambahan:  Total latihan 100 menit.  Intensitas terjaga dari awal hingga akhir.  Dari awal hingga akhir latihan kreatifitas dan kecepatan dalam membangun serangan terus ditekankan.  Pemain sisa yang tidak terlibat saat latihan berlatih koordinasi dibelakang gawang.
  • 116.
    106 BAB IV KESALAHAN-KESALAHAN YANG UMUM TERJADI DI INDONESIA DALAM HAL ORGANISASI LATIHAN, PEMBUATAN PROGRAM LATIHAN SERTA EKSEKUSI LATIHAN Berikut ini adalah contoh-contoh kesalahan yang lazim terjadi dan solusinya: KESALAHAN-KESALAHAN YANG LAZIM TERJADI SOLUSI Dalam sebuah sesi latihan ada 30 pemain yang di latih oleh seorang pelatih saja. Bagi sesi latihan menjadi 2 grup. Sesi pertama di isi 15 pemain dan sesi kedua di isi 15 pemain lainnya. Terjadi antrean panjang. Sebagai contoh ada 20 pemain yang berlatih shooting. Terdapat 2 antrean dengan masing-masing antrean berisikan 10 pemain. Alhasil, masing-masing pemain sangat jarang mendapatkan kesempatan shooting. Bagi dalam 4 grup. 2 grup melakukan shooting ke gawang besar sementara 2 grup melakukan shooting ke gawang-gawang kecil. Agar adil instruksikan pemain untuk melakukan rotasi. Karena persediaan cones kurang saat berlatih dribling terjadi antrean panjang. Beli cones secukupnya dan/atau bagi tim dalam 3 grup. satu grup berlatih dribling, grup lainnya berlatih 1 v 1 sementara grup ketiga berlatih joggling misalnya. Sebagai pemanasan pemain diinstruksikan berlari keliling lapangan. Gabungkan pemanasan dengan latihan teknik ringan. Pakai bola! Tidak tersedia cukup perlengkapan seperti bola, cones, rompi, dll. Agar latihan bisa berjalan dengan lancar dan efektif penuhi semua kebutuhan latihan terutama bola. Mutlak dibutuhkan 1 bola untuk 1 pemain.
  • 117.
    107 Pelatih melatihtanpa program di tangan dengan alasan sudah hafal di kepala. Latihan yang tidak disiapkan dengan rapi akan terlihat asal-asalan dan merusak reputasi pelatih dan klub. Rencanakan latihan secara rapi dan tertulis! Pelatih enggan belajar dengan alasan sudah berpengalaman dan cukup melatih berdasarkan pengalamannya sebagai pemain. Rubah sikap Anda! Tekuni dan seriusi bidang Anda. Ikuti perkembangan ilmu sepak bola modern melalui internet, baca buku, berinteraksi dengan pelatih lain serta mengikuti seminar dan lisensi kepelatihan dengan serius. Latihan fisik tanpa bola diberikan pada pemain usia dini. Ikuti panduan di kurikulum ini tentang materi latihan yang seharusnya diberikan pada tiap-tiap kelompok umur. Pelatih membiarkan kesalahan yang terjadi tanpa melakukan pembenaran. Terus menerus lakukan pembenaran. Karena ini jumlah pemain hendaknya terbatas. Pelatih membiarkan pemain berlatih setengah hati sehingga intensitas latihan menurun. Pacu semangat pemain secara terus menerus. Jangan biarkan pemain kehilangan konsentrasi. Jadilah contoh dalam hal semangat dengan cara melatih dengan semangat. Pengelompokan pemain secara tidak seimbang dalam hal kemampuan bermain sehingga pemain frustasi. Kelompokkan pemain berdasarkan kemampuan pemain sehingga saat berlatih berpasangan pemain tidak frustasi. Program latihan kurang bervariasi sehingga pemain jenuh. Lakukan studi banding ke pelatih-pelatih lain dan tim yang bagus serta kembangkan sendiri latihan tersebut. Bersikaplah proaktif dalam hal mencari variasi latihan sehingga dalam sebuah sesi latihan anda bisa menyuguhkan berbagai variasi latihan. Intensitas latihan rendah karena organisasi latihan kurang baik. Sebagai contoh permainan possession dilakukan 10 v 10. Bagi dalam 2 grup. Biarkan pemain bermain 5 v 5 diselingi dengan 10 v 10 sehingga semua pemain lebih sering terlibat. Pelatih dan pengurus SSB/Klub tidak mengajarkan prinsip-prinsip penting selain sepak bola. Pelatih dan pengurus hendaknya sangat aktif memberi anjuran dan contoh kepada anak didik untuk menomorsatukan sekolah, menjaga kebersihan, gaya hidup sehat, dll. Pelatih dan Klub tidak melek teknologi. Sudah saatnya pelatih dan Klub memiliki email, website dan terkoneksi dengan PENGCAB, PENGPROV, Asosiasi SSB lokal serta ASSBI ( Asosiasi SSB Indonesia) demi kelancaran komunikasi dan informasi. Pelatih juga perlu mengerti internet dan “You Tube” guna menambah ilmu.
  • 118.
    108 Tidak semuapemain mendapatkan kesempatan bermain sehingga mengakibatkan pemain dan orang tuanya frustasi. Saat bertanding biasakan memakai aturan bebas keluar-masuk. Artinya pemain yang sudah keluar boleh masuk kembali dan jumlah pergantian bebas. Dengan demikian pemain bagus mendapatkan porsi lebih namun disaat yang sama semua pemain mendapatkan kesempatan bermain. Latihan hanya bersifat latihan teknis saja. Ikuti anjuran kurikulum sehingga program latihan mencakup semua aspek. Selain itu kembangkan pengetahuan taktis anda sehingga anda percaya diri memberikan materi latihan yang bersifat taktis. Permainan lapangan kecil (small sided game) berdurasi terlalu lama tanpa istirahat. Contoh : permainan possession dilakukan selama 15 menit tanpa henti. Bagi menjadi 3 sesi yang masing-masing berdurasi 4 menit. Berikan kesempatan istirahat 1 menit diantara sesi. Dengan cara seperti ini intensitas latihan akan terjaga (pemain tidak “gembos”). Pelatih tidak mengenal nama pemain. Kenali pemain anda! Pelatih menyuruh pemain mencuri umur atau bermain kasar. Rubah sikap dan cara berpikir anda! Anda adalah seorang panutan bagi anak didik Anda. Pelatih marah-marah (terlalu emosional). Jangan bawa-bawa masalah pribadi Anda ke lapangan. Tegur pemain dan perbaiki kesalahan tanpa emosi. Daripada marah-marah berikan saja hukuman push up dll. Pertandingan sangat jarang dilakukan. Bentuk asosiasi SSB di daerah anda sehingga SSB anda tidak lagi bergantung pada PENGCAB setempat. Sebagai SSB anda mempunyai kepentingan yang sama dengan SSB lain. Oleh karena itu bersatulah dan bersikaplah pro aktif dengan membentuk asosiasi SSB yang bekerjasama dengan PENGCAB namun tidak bergantung pada PENGCAB (Independen). Turnamen berhadiah uang dan piala sehingga rawan terjadi pencurian umur dan permainan kasar. FIFA menganjurkan aturan “No Trophy, No Money, No Medals!” Cukup sediakan hadiah berupa berbagai perlatan latihan dan piagam bagi semua peserta.
  • 119.
    109 BAB V TEORI SEPAKBOLA MODERN A. Prinsip Sepak bola Modern 1. Prinsip Bertahan* 1. Turun (membentuk formasi bertahan di belakang bola) —> menutup. 2. Bergerak secara bersama-sama sebagai satu kesatuan yg utuh. 3. Mendobel/mentripel lawan (2 v 1 atau 3 v 1 atau 4 v 1 ) —> agresif! 4. Menjaga jarak antara lini (± 15 m ) antar pemain satu lini (± 10 m). 5. Membentuk “segitiga” dan “pisang” (meninggalkan lawan disisi-sisi tanpa bola!). 6. Mendobel ke belakang. 7. Isi ke belakang (mengisi posisi di barisan belakang terlebih dahulu). 8. Semua terlibat. 9. Pakem. Tidak mengacu pada kreatifitas/improvisasi! 10. Komunikasi! (saling melatih!). 11. Kiper—berfungsi ganda sebagai libero (keluar dari sarang untuk mengantisipasi umpan terobosan!).
  • 120.
    110 2. PrinsipMenyerang* 1. Cepat membuka. 2. 1 - 2 sentuhan sehingga permainan menjadi cepat. 3. Semua terlibat. 4. Bola datar & tegas. 5. Kreatif sesuai situasi. Menggunakan senjata : · 1 - 2/one - two. · Overlap. · Terobosan. · Pantulan. · Trik individu. · Shooting jarak jauh. · Jangkar. · Pindah sisi serangan. · Crossing. 6. Kualitas passing menentukan! 7. Tidak bertele-tele - cari penyelesaian! 8. Semua posisi terisi— striker, second striker, jangkar, 3 pemain di belakang. * Apapun formasi yang dipakai (entah 4-3-3, 4-4-2, atau formasi lainnya), prinsip - prinsip baik saat bertahan maupun menyerang tetap sama. Formasi boleh beda tapi prinsip-prinsip sepakbola modern pada dasarnya sama.
  • 121.
    111 B. Prinsip-prinsipdasar bermain 4-4-2 dengan Benar 1. Prinsip buka-tutup Prinsip ini begitu dasar sehingga perlu dikemukakan paling awal. Mudah saja: saat lawan menguasai bola posisi tim secara keseluruhan harus mengecil/mengkerut, sedang saat menguasai bola tim secara keseluruhan harus membuka lebar dan panjang lapangan selebar dan sepanjang mungkin. Saat menerangkan prinsip ini kepada pemain saya sering menggunakan alat musik akordeon sebagai ilustrasi; tarik selebar mungkin keluar saat menguasai bola dan kempeskan ke dalam saat lawan menguasai bola. Saat berguru di Jerman selama setahun penuh saya mendengar ilustrasi lain yang lebih baik lagi; telapak tangan yang menggenggam menggambarkan posisi pemain saat bertahan sementara telapak tangan yang terbuka lebar menggambarkan posisi pemain saat menyerang. Saya pernah melihat cuplikan di televisi saat Joachim Löw, asisten pelatih timnas Jerman di Piala Dunia 2006, berbicara kepada pemain soal prinsip ini. Yang menarik, ilustrasi telapak tangan yang mengepal lalu membuka lebar juga dipakai Löw guna menjelaskan prinsip ini kepada pemain. Ternyata di level tertinggi pun pemain masih harus terus diingatkan tentang prinsip dasar yang begitu penting ini. Untuk jelasnya perhatikan diagram-diagram di bawah ini: 4-4-2 saat lawan menguasai bola 4-4-2 saat menyerang 2. Prinsip Ordnung (Indonesia: keteraturan) atau penempatan posisi yang benar dan rapi  Mundur hingga di antara bola dan gawang sendiri Perhatikan sekali lagi diagram di atas tentang posisi pemain di saat lawan menguasai bola. Keteraturan yang sedemikian rupa hanya bisa terealisasi apabila semua pemain memiliki kedisiplinan yang tinggi untuk secepat mungkin mundur saat bola direbut oleh lawan. Saat bola berpindah “tangan” semua pemain harus mundur hingga semua pemain berada di antara letak bola dan gawang sendiri. Hanya dengan cara demikian
  • 122.
    pertahanan bisa digalangbersama-sama sebagai unit: sebelas pemain sebagai kesatuan yang utuh bergerak bersama guna merebut bola secepat mungkin. Hanya apabila prinsip ini dilakukan pemain maka prinsip nomor tiga (bergerak secara bersama-sama ke arah bola) bisa terwujud. 112  Compact Dalam bermain bola, khususnya saat menerapkan pola 4-4-2, pemain harus bertindak dengan kompak dan compact. Kompak artinya bertindak secara bersama-sama dan saling bahu membahu. Kebalikan kompak adalah bertindak secara sendiri-sendiri dan "semau gue”. Sikap seperti ini tentu saja sangat merugikan tim secara keseluruhan karena sepak bola itu sendiri adalah olahraga tim dan bukan olahraga perorangan. Sedang s berarti rapat atau padat. Di saat bertahan, pemain harus menempati posisi yang tidak lebih jauh dari sepuluh meter (!) di antara pemain dalam satu lini serta tidak lebih jauh dari limabelas meter (!) antar lini. Prinsip ini begitu penting! Untuk jelasnya, perhatikan sekali lagi diagram di atas saat lawan menguasai bola.Menggalang kekompakan sehingga tim secara keseluruhan tetap bisa menjaga posisi yang compact saat bergeser maju-mundur atau ke kiri-kanan adalah tantangan yang harus dihadapi bersama oleh pemain dan pelatih. Caranya tidak lain adalah berlatih dan berlatih. Gunakan cones, papan tulis, atau kalau perlu video dalam melatih kekompakan (kesatuan) dan penempatan posisi yang compact (padat/ rapat).  Forechecking (pressing di daerah pertahanan lawan) Bertolak dari penempatan posisi pemain yang teratur (jarak antarlini padat serta jarak antarpemain dalam satu lini ketat) tim secara keseluruhan bahu-membahu melakukan pressing (menekan lawan) dengan tujuan mencuri bola dari kaki lawan. Pressing itu sendiri dilakukan di tiga daerah lapangan. Tekanan yang dilakukan di daerah pertahanan lawan disebut forechecking atau pressing 1. Umumnya pelatih memberikan instruksi sebelum pertandingan tentang di mana pressing akan dilakukan. Posisi pemain saat melakukan pressing 1 adalah sebagai berikut: Forechecking umumnya dilakukan saat ingin memforsir kemenangan, saat bertanding melawan lawan yang relatif lemah atau saat ketinggalan score. Adapun kelemahan utama forechecking adalah penggantungan nasib pada peraturan off side. Risikonya adalah apabila wasit yang memimpin pertandingan lemah kinerjanya lawan yang lolos dari tekanan akan berhadapan langsung dengan dan jaga gawang. Dengan kata lain, umpan terobosan adalah momok bagi sistem pressing ini.  Midfield pressing (pressing yang dilakukan di lapangan tengah) Miedfield pressing atau pressing 2 adalah tekanan terhadap lawan yang dimulai di lapangan tengah. Artinya, lawan dibiarkan leluasa membangun serangan di daerah pertahanannya sendiri tanpa diganggu terlebih dahulu. Baru setelah bola berada di daerah lapangan tengah tekanan secara bersama, teratur, dan agresif dilancarkan.
  • 123.
    113 Posisi pemainsaat melakukan taktik bermain pressing 2 adalah sebagai berikut: Midfield pressing adalah variasi pressing yang paling sering dan umum dilakukan. Tentu saja saat serangan kandas jauh di daerah pertahanan lawan pressing 1 dilakukan. Paling tidak untuk sementara waktu. Begitu ada kesempatan (seperti terjadi lemparan ke dalam dan lain-lain) pemain berbondong-bondong kembali pada posisinya semula sesuai taktik midfield pressing / pressing 2.  Fall back (pressing yang dilakukan di daerah pertahanan sendiri) Yang dimaksud dengan fall back* adalah penempatan posisi pemain di daerah pertahanan sendiri. Lawan dibiarkan bergerak bebas hingga melebihi garis tengah lapangan. Bisa dikatakan baru di saat-saat terakhir tekanan terhadap lawan dilakukan. Posisi pemain saat melakukan fall back atau pressing 3 adalah sebagai berikut: Taktik pressing 3 ini biasanya dilakukan oleh tim-tim lemah yang hanya berusaha menyerang lewat serangan balik. Bisa juga pressing 3 dilakukan oleh tim yang sebenarnya kuat dan hanya sementara mundur dikarenakan gempuran lawan yang tiba-tiba bertambah hebat sehingga membuat kewalahan. Situasi seperti ini paling sering terjadi saat lawan ket inggalan dan bernafsu memenangkan pertandingan. Menurut pengamatan saya hal ini umumnya terjadi di awal babak kedua (lawan baru saja dimotivasi pelatihnya untuk mempersering gempuran) dan menjelang akhir pertandingan (waktu yang tersedia semakin menipis). Keterangan: Dalam bahasa Indonesia “jatuh ke belakang” atau lebih tepatnya mengundurkan/menarik diri”.
  • 124.
    114 3. Prinsipbergerak secara bersama-sama ke arah letak bola Sistem bermain 4-4-2 maupun sistem-sistem modern lainnya seperti 3-4-3 atau 4-3-3 tidak bisa berfungsi dengan baik apabila pemain tidak bergerak secara bersama-sama ke arah bola. Sebagai contoh, lawan mengumpan bola kepada pemain 8 (sayap kirinya). Pergerakan lawan dengan demikian adalah ke kanan. Semua pemain bergerak serentak ke sebelah kanan lapangan. Perhatikan diagram di berikut ini. Contoh di atas memakai taktik full back. Perhatikan bagaimana baik barisan pertahanan maupun barisan lapangan tengah membentuk dua pisang! Perhatikan juga bagaimana ketat dan padatnya posisi pemain satu dengan yang lainnya. Perhatikan penempatan posisi pemain 3 (bek kiri) dan 8 (sayap kiri) yang ikut masuk ke tengah. Hanya dengan demikian tim secara keseluruhan bisa berdiri dengan compact (padat dan ketat) sehingga lawan sulit melakukan kombinasi permainan. Permainan lawan menjadi tidak berkembang dan bola bisa dengan lebih mudah direbut kembali. Bergerak ke arah bola mempunyai tujuan menciptakan situasi 2 v 1 bahkan 3 v 1. Pemain yang menggiring bola ditekan secara agresif oleh dua pemain bertahan sekaligus. Salah satu pemain bertahan bisa melakukan tekanan dengan total atau agresif karena ada pemain bertahan lain yang siap membantu apabila lawan mampu lolos. Sering pemain bertahan tidak total dalam menekan lawan karena khawatir dilewati lawan. Saat menerapkan sistem bermain 4-4-2 masalah ini bisa teratasi karena adanya pemain bertahan lain yang melapis. Prinsip melapis sesama pemain begitu sentral dalam falsafah sistem 4-4-2! Pemain harus dibiasakan untuk selalu bersedia melakukan prinsip melapis baik di tengah lapangan, di sayap lapangan ataupun melapis ke belakang. Kuncinya pemain rajin bergerak dan rajin bergeser secara serentak. Saat bola "melewati” pemain, pemain tersebut harus memiliki kedisiplinan yang tinggi untuk ikut turun ke belakang (bergeser sesuai posisinya) dan bila mungkin melakukan "melapis ke belakang”. Perhatikan diagram melapis ke belakang di samping ini: Perhatikan bagaimana pemain 7 (sayap kanan) dan pemain 9 (penyerang kanan) tidak berhenti bermain saat bola "melewati” keduanya. Baik pemain 7 maupun 9 sama-sama memiliki kedisiplinan yang tinggi untuk membantu pemain 6 (gelandang bertahan) sehingga praktis terjadi situasi empat(!) v 1; pemain 6 menekan secara agresif (tentu saja tanpa melakukan pelanggaran)*, pemain 10 (gelandang serang) melapis
  • 125.
    pemain 6 daribelakang, sedang pemain 7 dan 9 “melapis ke belakang”. Perhatikan bahwa barisan pertahanan juga terlibat secara tidak langsung dengan cara naik ke atas sehingga jarak antar lini menjadi padat! Demikian juga pemain 11 (penyerang kiri) ikut bergeser sedikit ke belakang dan pemain 8 (sayap kiri) merapatkan posisinya ke arah pemain 6 dan 10. Ruang yang dimiliki lawan untuk melakukan kombinasi guna membangun serangan menjadi sangat minim dikarenakan tim yang bertahan menempatkan diri secara ketat dan padat. Sekali lagi: hal ini hanya bisa dicapai apabila semua pemain selalu bergeser ke arah bola secara bersama-sama. * Keterangan: Melakukan pelanggaran menjadi tidak perlu dilakukan karena situasi toh menguntungkan tim sendiri. Melakukan pelanggaran di saat situasi begitu menguntungkan seperti ini (4 v 1) adalah bodoh karena dengan demikian situasi akan kembali netral. Lawan mendapatkan tendangan bebas sehingga bola yang tadinya sudah hampir terebut kembali bisa leluasa dikuasai lawan. Pada prinsipnya saat melakukan pergeseran pemain harus selalu berorientasi secara 115 berturut-turut pada: 1. BOLA 2. TEMAN 3. LAWAN Bandingkan dengan sistem 3-5-2 yang lazim dilakukan di Indonesia. Sistem yang memakai sistem man to man marking ini selalu mengarahkan pemain untuk berorientasi pada lawan. Dalam sistem 4-4-2, 4-3-3 atau sistem modern lainnya lawan hanya menempati nomor 3! Benar-benar sebuah perbedaan yang drastis. Secara praktis penerapan falsafah berorientasi kepada (1) bola, (2) kawan dan (3) lawan saat melakukan pergeseran bisa kita pelajari sesuai diagram di atas. Kita ambil pemain 8 (sayap kiri) sebagai contoh. Pemain 8 bergeser ke arah kanan karena letak BOLA adalah di sebelah kanannya. Selanjutnya 8 melihat TEMANNYA pemain 10 (gelandang serang) meninggalkan posisinya demi melapis pemain 6 dari belakang. Dengan demikian, pemain 8 harus bergeser lebih jauh ke dalam dari biasanya sehingga jarak kira-kira 10 meter antara pemain 10 dan 8 tetap terjaga. Baru kemudian pemain 8 berorientasi pada LAWAN dan menempatkan dirinya di antara lawan terdekat dan letak bola sehingga passing line atau garis umpan kepada lawan jagaannya bisa tertutup. 4. Prinsip penggunaan aturan off side Prinsip menekan lawan secara serentak di mana semua pemain terlibat (termasuk barisan bek yang ikut naik sehingga jarak antara baris tengah dan belakang menjadi dekat dan padat) hanya bisa dilakukan karena adanya peraturan off side. Apabila peraturan off side itu sendiri tidak ada maka tidak mungkin barisan pertahanan ikut naik baik untuk membantu serangan maupun guna membantu lapangan tengah mencuri bola dari lawan. Perlu ditekankan di sini bahwa dalam sepak bola modern pemain bertahan tidak ikut maju dengan tujuan lawan terperangkap off side! Ini yang sering salah dipahami. Dalam sepak bola modern barisan pertahanan ikut naik guna menciptakan barisan pertahanan secara
  • 126.
    keseluruhan yang compact.Lawan yang membawa bola tidak diberikan waktu, ketenangan dalam bertindak serta tempat. Hal ini hanya bisa terwujud apabila barisan pertahanan ikut menopang barisan gelandang dengan cara memperketat dan memperkecil ruang gerak lawan. Terperangkapnya penyerang lawan dalam off side hanyalah by product atau produk sampingan hasil pergerakan barisan pertahanan yang ikut naik guna menghasilkan pertahanan yang compact! Oleh karena itu, istilah "jebakan off side” tidaklah tepat dalam sepak bola modern; pemain tidak naik semata-mata agar pemain lawan off side. Menurut saya di sinilah letak kelemahan utama sistem 4-4-2 saat dipraktikkan di Indonesia. Sistem pressing yang terkandung secara kental dalam falsafah bermain 4-4-2 sangat bergantung pada penilaian wasit yang jeli saat terjadi off side. Padahal kepercayaan publik Indonesia terhadap wasit baik dalam hal moral wasit maupun kemampuan wasit saat memimpin pertandingan tergolong minim. Sebuah dilema yang menurut saya bisa dipecahkan dengan cara hanya memakai taktik miedfiel dpressing dan taktik fall back. Sedang taktik forechecking hendaknya hanya dipraktikkan apabila wasit yang memimpin pertandingan diketahui dengan pasti memiliki moral dan kemampuan yang baik. 116 5. Prinsip penjaga gawang yang ikut bermain Dalam sepak bola modern penjaga gawang tidak hanya semata-mata bertindak sebagai penjaga gawang. Seorang penjaga gawang yang modern adalah penjaga gawang dan libero sekaligus. Seorang kiper dewasa ini harus mahir memainkan bola dengan kaki, harus mahir memberikan umpan pendek dan panjang, harus mahir membaca perkembangan serangan lawan serta harus bisa memberikan instruksi yang jelas dan benar kepada barisan pertahanan. Saat lawan membangun serangan seorang penjaga gawang yang modern harus menempatkan diri relatif jauh di depan gawangnya sendiri. Kira-kira di mana seorang libero semestinya berada di situlah dia “berdiri”. Berdiri tertulis dalam tanda kutip karena kenyataannya kiper modern harus selalu bergerak sesuai letak bola: umumnya antara letak bola dan titik tengah gawang! Pada piala dunia 2006 Jürgen Klinsmann, pelatih timnas Jerman saat itu, mengejutkan dunia dengan keputusannya memilih Jens Lehmann (Arsenal) di atas Oliver Kahn (Bayern München). Dalam sebuah konfrensi pers Klinsmann menjelaskan bahwa ada 10 kriteria yang dibahas secara mendetail sebelum keputusan dilakukan. Dari 10 kriteria tersebut ada 9 kriteria di mana kekuatan Lehmann dan Kahn hampir sama. Hanya dalam satu kriteria Lehmann jauh unggul di atas Kahn; dalam hal ikut bermain! Lehmann adalah seorang pemain bola yang lebih baik dari Kahn. Teknik mengolah bola dan kualitas umpan Lehmann sangat baik sehingga dialah yang akhirnya terpilih menjadi kiper No. 1 Jerman. Dalam sistem sepak bola modern tidak ada tempat untuk seorang libero. Tapi karena barisan pertahanan harus ikut naik guna menghasilkan pertahanan yang compact penjaga gawang otomatis harus keluar dari sarangnya guna mengantisipasi umpan terobosan lawan. Untuk jelasnya, perhatikan diagram di bawah ini:
  • 127.
    Perhatikan bahwa; (1) posisi kiper adalah di antara bola dan titik tengah gawang (invisible line), (2) posisi kiper relatif jauh dari mulut gawang , dan (3) kiper siap meng ant i s i pas i umpan terobosan lawan. Ketiga tujuan di atas hanya bisa terealisasi apabila penjaga gawang senantiasa bergerak sesuai letak bola dan situasi permainan. Jarak antara kiper dan barisan pertahanan yang menjadi relatif pendek juga menguntungkan disaat bola harus terlebih dahulu diumpankan kepada kiper di saat tekanan teralu hebat untuk memaksakan diri memainkan bola ke depan. Menguntungkan karena jarak umpan menjadi jauh lebih pendek dibandingkan apabila kiper tetap di sarangnya. Hal ini penting dari segi keamanan. Perlu diingat bahwa di bagian sepertiga pertama lapangan berlaku hukum safety first atau penekanan terhadap keamanan. Karena semakin pendek umpan semakin bagus kualitas umpan itu sendiri maka otomatis semakin amanlah umpan yang berjarak pendek. Penjaga gawang modern dituntut untuk begitu aktif dalam hal ikut bermain baik di saat lawan menguasai bola maupun di saat membangun serangan sehingga istilah "pemain gawang” menjadi semakin populer, khususnya di bagian selatan Jerman akhir-akhir ini. Banyak pelatih di selatan Jerman bahkan membiasakan diri menyebut sistem 4-4-2 dengan 1-4-4-2. Kiper ikut dihitung dan disebut karena peran penjaga gawang memang menjadi semakin penting di era sepak bola modern ini. Memang sistem 4-4-2 atau 4-4-3 serta formasi modern lainnya tidak bisa berfungsi dengan baik apabila tidak ada "pemain gawang” yang bertindak sebagai libero*. Oleh karena itu, saya pribadi setuju sistem 4-4-2 disebut dengan 1-4-4-2. Paling tidak sebagai wujud hormat saya terhadap kiper sebagai salah satu bagian yang penting dalam tim. Apa pun nama sistem yang dipakai, apa pun istilah yang diberikan kepada kiper, yang paling penting adalah pemain mengerti bahwa kiper harus ikut bermain dengan aktif! Keterangan : * Tanpa seorang kiper yang sekaligus bertindak sebagai libero, risiko bertahan secara modern akan terlalu tinggi. Barisan pertahanan yang naik guna menciptakan pertahanan yang compact harus dilapis oleh kiper yang juga ikut naik (keluar dari sarangnya) sehingga risiko umpan terobosan dapat diminimalisasi. 117
  • 128.
    118 C. LangkahDemi Langkah Menuju 4-4-2 (sekaligus 4-3-3) Mengajarkan cara bermain 4-4-2 kepada pemain tidak boleh asal-asalan. Harus ada strategi pengajaran yang metodis sehingga pada akhirnya pemain betul-betul mengerti dan bisa menerapkan sistem 4-4-2 dengan baik. Sistem 4-4-2 sering dianggap teralu sulit untuk dimengerti pemain Indonesia. Benar-benar sebuah opini yang meremehkan intelegensia pemain Indonesia! Permasalahan yang sebenarnya adalah banyaknya pelatih yang kurang mengerti atau kurang mampu menjelaskan/melatih sistem 4-4-2. Bila ada kemauan untuk bekerja keras dan apabila metode melatih 4-4-2 diterapkan, saya yakin semua pemain dan semua pelatih Indonesia akan mampu menerapkan sistem 4-4-2 dan juga 4-3-3 dengan benar. 1. Langkah pertama : Taktik Individu 1 v 1 dan 1v 2 Taktik individu adalah langkah pertama menuju penerapan sistem bermain secara modern. Yang dimaksudkan dengan taktik individu adalah kemampuan seorang pemain untuk memilih keputusan yang tepat di antara beberapa pilihan. Pada dasarnya taktik adalah kenapa seorang pemain melakukan sesuatu sedang teknik adalah bagaimana seorang pemain melakukan sesuatu. Dengan demikian, taktik individu adalah tindakan dengan tujuan tertentu yang dilakukan oleh satu orang pemain saja. Sebagai contoh speed dribbling* adalah taktik individu. Melakukan trik guna mengecoh lawan adalah taktik individu. Bagaimana caranya melakukan trik itu sendiri adalah teknik sedang mengapa seorang pemain memilih untuk melakukan trik adalah taktik individu. Secara teoritis pemain yang menguasai bola memiliki 11 kemungkinan; mengumpan kepada 10 pemain lainnya* dan menggiring sendiri bola yang dikuasainya. Pemain yang berkelas akan memilih kemungkinan yang terbaik dari kemungkinan-kemungkinan yang ada
  • 129.
    tersebut. Apabila pemainmemilih untuk bertindak sendiri (melakukan trik, mendribel bola dengan cepat, menendang bola keluar atau jauh ke depan dengan pertimbangan keamanan dan lain-lain) maka itulah yang disebut dengan taktik individu. Apabila pemain yang menguasai bola memilih untuk melakukan wall pass, misalnya, atau overlap pass, maka tindakan tersebut disebut taktik grup. Jadi, taktik grup adalah tindakan yang dilakukan beberapa pemain secara bersama-sama dengan tujuan tertentu . Dalam hal bertahan ada beberapa pengetahuan penting yang perlu diketahui seorang pemain agar memiliki taktik individu yang baik. Pada akhirnya pengetahuan taktik individu masingmasing pemain terutama dalam hal bertahan adalah modal dasar bermain 4-4-2 dan 4-3-3 secara tim. Keterangan: * Speed Dribling: Menggiring bola dengan kecepatan tinggi. * Tentu saja pada kenyataannya banyak pemain yang tidak mungkin menerima bola tanpa kehilangan bola. Pada kenyataannya mungkin hanya ada 4 pemain yang benar-benar 119 siap menerima bola. Penjabaran taktik individu a. 1 v 1 - jarak jauh di sayap dan di tengah 1. Saat menghadapi lawan yang posisinya relatif jauh, pemain bertahan hendaknya melakukan sprint ke arah pemain yang menggiring bola. Hal ini penting untuk dilakukan agar jarak antar pemain lawan dan gawang sendiri menjadi sejauh mungkin. 2. Sesaat sebelum mendekati lawan, pemain bertahan hendaknya berhenti berlari ke depan untuk kemudian berbalik lari mundur. Hal ini dilakukan supaya pemain lawan tidak bisa dengan mudahnya berlari melewati pemain bertahan. 3. Apabila lawan berada di daerah sayap, pemain bertahan harus menempatkan dirinya sedemikian rupa sehingga kemungkinan bagi lawan menggiring bola ke bagian tengah lapangan menjadi tertutup. Logikanya gampang saja: lapangan tengah adalah daerah yang jauh lebih berbahaya dikarenakan letak gawang adalah di tengah! Oleh karena itu, “giring” pemain lawan ke arah garis tepi lapangan. Gunakan garis tepi lapangan sebagai “partner” dalam menekan lawan. 4. Apabila lawan berada di bagian tengah lapangan poin pertama dan kedua di atas tetap berlaku. Perbedaannya, apabila lawan menggiring bola di lapangan bagian tengah, pemain bertahan tidak harus “menggiring” lawan ke garis tepi lapangan. Kemungkinan itu bisa saja dilakukan tapi tidak mutlak harus dilakukan. Kemungkinan lain yang bias dilakukan adalah "menggiring” lawan ke arah teman sehingga terjadi situasi 2 v 1. 5. Apabila tidak ada rekan satu tim yang bisa diajak kerja sama dalam hal merebut bola dari lawan maka pemain bertahan harus menggunakan kaki lemah lawan sebagai “partner”. Maksudnya demikian “giring” lawan ke sisi kaki lemahnya agar ia kesulitan melepaskan tembakan ke arah gawang. Hal ini dilakukan dengan cara menutup sisi kuatnya agar lawan terpancing untuk menggiring bola ke sisi lemahnya. Tapi bagaimana caranya mengetahui kaki mana merupakan kaki lemah lawan? Mudah saja; umumnya kaki yang dipakai untuk menggiring bola adalah kaki kuat lawan. Dengan demikian, kaki lemahnya adalah kaki yang tidak dipakai untuk menggiring bola!*
  • 130.
    6. Sebisa mungkinhindari melakukan pelanggaran. Terutama apabila lawan berada di dekat gawang kita. Ingat, situasi standar sering menjadi pemecah kebuntuan dalam suatu pertandingan yang sebenarnya berjalan sangat seimbang. Keterangan:  Tim profesional Eropa umumnya memiliki tim mata-mata yang salah satu tugasnya adalah mengamati hal-hal seperti ini. Informasi tersebut diberikan kepada pelatih yang kemudian memberikan instruksi kepada pemain-pemainnya sesuai kelebihan dan kelemahan lawan. 120 b. 1 v 1 - jarak dekat di sayap dan di tengah 1. Pada saat jarak lawan dekat dengan posisi pemain bertahan, pemain harus dibiasakan untuk sebisa mungkin merebut bola sebelum bola dikuasai oleh lawan. 2. Apabila memotong bola tidak memungkinkan, paling tidak pemain bertahan harus terbiasa untuk secara agresif menekan lawan di saat-saat penyerang menerima bola. Masa paling kritis bagi penyerang adalah saat mengontrol bola. Di sinilah kesempatan bagi pemain bertahan untuk membuat penyerang tidak tenang/gugup sehingga ia membuat kesalahan. 3. Apabila lawan telah berhasil mengontrol bola sebisa mungkin jangan biarkan lawan berbalik hingga menghadap gawang. 4. Apabila semua hal di atas tidak berhasil dilakukan dan lawan telah berhasil menerima bola dengan baik, bahkan berhasil berbalik menghadap gawang, pemain bertahan harus menahan diri untuk tidak melakukan step in*. Hal ini berbahaya karena penyerang yang berkualitas akan dengan mudah melewati lawan yang sudah terlanjur mati langkah. Oleh karena itu, di dalam situasi seperti ini pemain harus belajar untuk sabar dan baru masuk mencuri bola apabila lawan melakukan kesalahan dalam hal mengontrol bola (bola tidak digiring dengan dekat ke kaki). Apabila ada kawan yang siap mendobel, pemain bertahan boleh lebih agresif dalam usahanya mencuri bola. Sekali lagi, karena inilah strategi saling mendobel satu dengan yang lainnya mutlak harus dikuasai pemain zaman sekarang. 5. Apabila lawan tetap saja bisa lolos (hal ini kerap terjadi karena dalam sepak bola terka dang lawan lebih hebat walaupun kita telah melakukan yang terbaik), hindari mengejar lawan dari belakang seperti layaknya sebuah gerbong kereta api. Lakukan sprint secepatnya guna memotong pemain lawan sehingga pemain bertahan berada di antara titik tengah gawang dan letak bola. Bila ini berhasil dilakukan maka proses di atas kembali dimulai dari awal; contain (arahkan lawan ke bagian paling tidak berbahaya), dan jangan lakukan step in sampai ada kesempatan yang benar-benar bagus. 6. Tackling hanyalah kemungkinan terakhir apabila semua kemungkinan yang ada telah terkuras habis tanpa hasil yang memuaskan. Demikian juga dengan melakukan pelanggaran sebaiknya hanya dilakukan apabila tidak ada kemungkinan lain lagi. Itu pun hanya sebatas pelanggaran sejenis tactical foul (pelanggaran yang dilakukan demi kepentingan taktis) dan bukan pelanggaran brutal. Bedanya jelas, saat melakukan tactical foul pemain tidak dalam keadaan emosi, sedang saat melakukan pelanggaran biasa pemain kerap kehilangan kendali atas emosi pribadi. Keterangan: *Step in : Beranjak masuk untuk mencuri bola dari kaki lawan.
  • 131.
    121 c. 1v 1 - bek berada di belakang punggung penyerang (penyerang membelakangi bek) 1. Situasi ini sering sekali terjadi terutama bagi seorang bek tengah. Pertama-tama yang perlu diperhatikan seorang bek saat terjadi situasi seperti ini adalah penempatan posisi. Memang pandai menempatkan posisi begitu penting artinya dalam bermain sepak bola. Tidak percuma pemain yang relatif tua biasanya semakin mahir bermain bola karena memang semakin berpengalaman seorang pemain semakin mahir pemain tersebut dalam menempatkan posisi. 2. Letak posisi bek saat penyerang membelakanginya idealnya adalah: (1) Menempel ketat badan penyerang tanpa melakukan kontak badan. Artinya, bek tidak menyentuh lawan apalagi melakukan pelanggaran. (2) Posisi badan bek setengah muncul ke samping badan penyerang. Artinya, bek tidak berdiri 100% di belakang penyerang melainkan hanya 50% saja. Tujuannya adalah supaya bek bisa melihat bola bahkan bila mungkin menyerobot bola sebelum bola berhasil dikuasai penyerang. (3) Munculnya badan bek seharusnya ke arah letak gawang. Sebagai contoh, apabila letak gawang berada di sebelah kiri belakang bek, maka badan bek harus muncul di sebelah kiri badan penyerang! 3. Tujuan bek saat bertahan di situasi seperti ini adalah bila mungkin merebut bola sebelum bola dikuasai lawan. Apabila menyerobot bola tidak mungkin dilakukan maka tujuan bek berikutnya adalah tidak membiarkan lawan berputar dan menghadap gawang. Sekali lagi, hindari melakukan pelanggaran karena tendangan bebas sering kali berbuah gol! d. 1 v 2 - satu pemain bertahan melawan dua penyerang 1. Walaupun situasi 1 v 2 tidak diinginkan terjadi karena tentu saja tidak menguntungkan dan sangat berbahaya, tetap saja sering kali seorang pemain bertahan harus meredam dua pemain menyerang sekaligus. Paling tidak untuk sementara waktu sampai pemain bertahan lain datang membantu. Oleh karena itu, prinsip utama saat terjadi situasi 1 v 2 (demikian juga saat terjadi situasi-situasi lain di mana pemain lawan jumlahnya lebih banyak daripada pemain bertahan seperti misalnya 2 v 3 atau 3 v 5) adalah mengulur waktu. Dengan demikian, pemain bertahan lain diberi waktu untuk datang membantu. Merebut bola di saat-saat kurang menguntungkan seperti ini tidak menjadi prioritas. Ulur waktu sampai teman datang membantu, baru setelah itu merebut bola menjadi prioritas kembali. Lain halnya saat jumlah pemain bertahan melebihi jumlah pemain menyerang; di situasi seperti itu tentu saja merebut bola menjadi tujuan utama sehingga sikap pemain bertahan seharusnya agresif dan ngotot untuk merebut bola. 2. Situasi 1 v 2 harus rajin dipelajari serta dilatih karena situasi 1 v 2 adalah landasan ilmu yang penting dan bisa dipakai untuk situasi kalah jumlah secara umum. Dengan kata lain, pengetahuan tentang bagaimana seorang pemain harus bertindak saat terjadi situasi 1 v 2 adalah pengetahuan dasar yang juga dibutuhkan saat terjadi situasi kalah jumlah yang lain seperti 1 v 3 , 2 v 3 ,3 v 5, dan lain-lain. 3. Untuk penempatan posisi yang ideal saat terjadi situasi 1 v 2 perhatikan diagram berikut ini:
  • 132.
    Keterangan: Posisi bekharus sedemikian rupa sehingga umpan 1 adalah kemungkinan yang dipilih oleh lawan yang menguasai bola. Umpan 1 tidak berbahaya bahkan menguntungkan bek karena memberi waktu pada bek lain untuk turun membantu. Umpan 2 harus ditutup bek sehingga lawan tidak bisa melepaskan umpan yang sangat berbahaya ini! Umpan 3 adalah tanggung jawab kiper. Apabila umpan ini dipilih lawan, kiper harus sigap untuk memotong bola. Untuk itu posisi kiper harus tepat serta keluar dari sarangnya. Kiper harus ikut bermain! Apabila lawan memutuskan untuk melakukan speed dribbling maka bek harus ikut berlari mundur sambil berusaha ‘menggiring‘ lawan ke samping (tepi lapangan). Dari situasi 1 v 2 kini terjadi 1 v 1! Kini bek tinggal berusaha merebut bola saat bola digiring jauh dari kaki lawan dengan cara menyelipkan badannya di antara pemain lawan dan bola. Contoh Latihan Untuk contoh-contoh latihan sederhana guna melatih prinsip-prinsip taktik dan teknik individu saat bertahan, perhatikan diagram-diagram di bawah ini berikut keterangan singkatnya: Latihan 1 Keterangan:  Latihan A adalah untuk jarak dekat, B untuk bertahan jarak jauh dan C untuk bertahan di belakang punggung penyerang. Biarkan pemain bergiliran menempati posisi A, B, lalu C. Hanya saja, berikan porsi yang lebih sesuai posisi masing-masing pemain. Artinya, biarkan bek sayap lebih banyak berlatih di posisi A dan B sedang bek tengah lebih banyak berlatih di posisi C. Demikian juga untuk penyerang, biarkan pemain sayap lebih banyak menempati posisi A dan B sedang penyerang tengah lebih banyak menempati posisi C. Logikanya simple; biarkan pemain berlatih sebanyak mungkin sesuai situasi yang sering terjadi saat bertanding!  Untuk latihan A dan C diperlukan orang ketiga yang bertugas mengumpan bola kepada penyerang. Di posisi A, bek dilatih untuk menekan lawan sejak saat bola dalam perjalanan menuju penyerang. Di posisi C, bek dilatih untuk berdiri dengan tepat serta melakukan prinsip-prinsip yang sudah dijabarkan di atas.  Di belakang pemain menyerang baik di posisi A, B , maupun C, ditempatkan gawang kecil dari cones. Bila bek berhasil merebut bola, mereka diinstruksikan untuk mendribel bola melalui gawang kecil tersebut. Sebagai variasi, setelah beberapa menit, instruksikan bek untuk mengumpan bola secara mendatar ke dalam gawang kecil apabila mereka berhasil merebut bola dari kaki penyerang. 122
  • 133.
    123 Latihan 2 Keterangan:  Untuk latihan 1 v 2, pada awalnya lakukan latihan A. Latihan ini dimaksudkan guna melatih penempatan posisi yang ideal. L a kuk a n k or e k s i a pa bi l a penempatan posisi pemain salah. Jangan bosan mengoreksi karena ini adalah dasar ilmu pertahanan.  Beberapa menit kemudian lakukan latihan B. Pada latihan B, bek mendapat bantuan setelah beberapa detik (tiga detik misalnya). Artinya setelah tiga detik, dua pemain bertahan datang membantu sehingga terjadi situasi yang menguntungkan; 3 v 2. Latihan ini dimaksudkan untuk melatih pemain mengulur waktu. Sebaliknya, bagi penyerang, latihan ini melatih pemain untuk cepat melakukan penyelesaian ke arah gawang. Perlu diingat, apabila tujuan Anda adalah melatih pertahanan, maka berkonsentrasilah pada pemain bertahan. Pemain menyerang cukup diberikan instruksi singkat di awal latihan. Selebihnya, berikan instruksi khusus kepada pemain-pemain bertahan saja! 2. Langkah kedua : taktik grup I – Mendobel lawan (2 v 1) Langkah kedua saat mengajarkan sistem 4-4-2 yang benar adalah mengajarkan taktik grup. Yang dimaksud dengan taktik grup adalah pencapaian sebuah tujuan secara bersama-sama. Dengan kata lain, beberapa pemain melakukan sesuatu dengan maksud dan tujuan tertentu secara bersama-sama. Taktik grup yang akan dibahas di sini adalah taktik grup saat bertahan. Bertahan secara grup umumnya dibagi menjadi tiga bagian; mendobel lawan (menang jumlah), 2 v 3 atau kalah jumlah serta bertahan berempat 4 v 4 (sama jumlah). Pemain perlu diberikan pengertian bahwa mendobel lawan atau menciptakan situasi menang jumlah adalah tujuan pergeseran! Seperti sudah di bahas sebelumnya, dalam sepak bola modern pemain dituntut untuk bergeser secara bersama-sama (sebagai sebuah unit) ke arah bola. Dengan bergesernya pemain, terjadi situasi menang jumlah di daerah letak bola. Untuk situasi seperti inilah pemain perlu dilatih cara-cara mendobel lawan.
  • 134.
    124 Prinsip dasarsaat mendobel lawan:  Satu pemain bertugas merebut bola sedang pemain lainnya berfungsi sebagai pelapis. Dengan kata lain, kedua pemain bertahan tidak merebut bola secara bersama-sama. Ada pembagian tugas yang jelas; satu menekan bola dengan agresif sedangkan pemain lainnya berjaga-jaga di dekatnya kalau-kalau pemain lawan berhasil lepas dari kawalan pemain bertahan pertama.  Saat tidak ada permain pelapis (1 v 1) tugas bek adalah menggiring penyerang ke garis samping lapangan atau ke arah posisi teman. Begitu pemain pelapis memberikan instruksi “rebut” tanda dia telah siap untuk melapis, bek pertama bisa mulai mencurahkan tenaganya untuk merebut bola. Karena ada pemain pelapis, bek pertama bisa benarbenar agresif atau ngotot dalam usahanya merebut bola. Apabila usahanya gagal dia tahu bahwa masih ada pemain pelapis yang bisa meredam pemain lawan tadi. Kuncinya, pemain pelapis harus memberikan instruksi!  Jangan lakukan pelanggaran! Situasi 2 v 1 atau bahkan lebih (3 v 1) begitu menguntungkan bek. Pelanggaran akan memberikan waktu dan tempat kepada penyerang yang sebelumnya tidak dimilikinya!  Pemain pelapis selalu menempatkan posisinya di antara bola dan titik tengah gawang (invisible line ) dengan pertimbangan keamanan. Contoh latihan mendobel lawan: Keterangan: Bola dikuasai pemain . Dua pemain dilatih mendobel lawan, merebut bola dari lawan lalu dengan cepat melakukan penyelesaian. Setelah beberapa waktu gantilah peran kedua tim. kini menyerang. Biasakan selalu menciptakan situasi kompetisi atau bersaing saat latihan. Tim yang kalah harus membereskan peralatan latihan, misalnya, atau dihukum push up. Sekali lagi, berikan instruksi hanya pada tim bertahan. Sebagai variasi, biarkan pemain pelapis datang sedikit terlambat. Dengan demikian bek sekaligus dilatih 1 v 1 sedangkan pemain pelapis dilatih untuk memberikan instruksi “rebut” saat ia telah siap melapis! 3. Langkah ketiga : taktik grup II- 2 v 3 Saat melatih 2 v 3 perhatikan beberapa coaching points di bawah ini:  Pemain bertahan harus selalu saling melapis (saling mengamankan). Dengan kata lain, hindari bertahan secara sendiri-sendiri. Bertahanlah secara bersama-sama sebagai grup. Untuk jelasnya perhatikan diagram di bawah ini:
  • 135.
    Keterangan: Terlihat jelasbahwa pemain A bergeser sesuai letak bola sedang pemain B melapis/ mengamankan pemain A. Prinsip mengamankan rekannya ini juga berlaku bagi kiper. Kiper hendaknya keluar dari sarangnya guna memotong umpan-umpan terobosan.  Pemain bertahan yang melapis/mengamankan (pemain B) bertugas menutup umpan-umpan ke jantung pertahanan. Dengan demikian pemain lawan ´diundang‘ untuk melakukan umpan menyamping. Umpan semacam ini menguntungkan karena memberi waktu pada pemain bertahan lain untuk datang membantu.  Untuk memberi waktu kepada pemain bertahan lain untuk datang membantu, pemain A dan B harus sedikit demi sedikit mundur ke belakang. Kecepatan mundurnya pemain bek bergantung pada kecepatan majunya penyerang lawan. Sering terjadi kesalahan dalam hal ini; bek tidak bergerak mundur atau kurang cepat dalam bergerak mundur sehingga lawan bisa menyelip/melewati bek dengan mudah. Sebaliknya, terlalu cepat mundur juga berbahaya karena akan memberikan ruang tembak bagi penyerang.  Saat bola berada di bagian tengah lapangan letak posisi kedua bek adalah seperti terlihat 125 pada diagram berikut: Keterangan: Pemain A menutup sisi kuat pemain yang menguasai bola. Artinya, sesuai contoh diagram, pemain A menempatkan dirinya di sebelah kanan penyerang karena kaki kanan adalah sisi kuat penyerang tersebut. Umumnya kaki yang digunakan untuk menggiring bola adalah kaki atau sisi kuat pemain tersebut. Perlu diingat, pemain A tidak berusaha merebut bola, melainkan hanya mencoba mengulur waktu dengan cara turun ke belakang secara bertahap ( sesua i kecepa tan l awan) dan ´mengundang´ lawan untuk melakukan umpan ke arah samping.  Apabila penyerang melakukan overlap run, perhatikan diagram di bawah ini: Keterangan: Penyerang B yang melakukan overlap run diikuti pergerakannya oleh bek yang berposisi menjorok ke depan (dalam hal ini pemain D). Pemain D bergerak diagonal ke belakang agar mampu mengamankan umpan terobosan yang berbahaya. Pemain E ikut bergerak ke belakang-samping guna mengamankan daerah tengah pertahanan. Dengan demikian penyerang A tidak bisa menerobos ke arah gawang melainkan
  • 136.
    ´diundang´ untuk memberikanumpan kepada C. Umpan kepada C (menyamping) tidak berbahaya dan mengulur waktu sehingga pemain bertahan lain ada waktu untuk datang membantu. Umpan ke C (ke daerah) harus diantisipasi kiper dengan cara menempatkan diri dengan benar. 126 Contoh latihan 2 v 3 Latihan 1 Keterangan: Tim putih di bagian bawah diagram dituntut mencetak gol dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Tim merah berusaha merebut bola untuk kemudian diumpankan pada tiga rekannya di garis tengah lapangan. Kini tim merah bermain 3 v 2 melawan tim putih di bagian atas diagram. Begitu seterusnya. Setelah beberapa menit biarkan pemain beristirahat secara aktif (jogging santai atau menjogling bola bertiga). Peraturan off side tentu saja berlaku seperti biasa. Latihan 2 Keterangan: Tim putih menguasai bola dan dituntut untuk secepat mungkin melakukan penyelesaian akhir. Tim merah awalnya bermain 2 v 3, akan tetapi beberapa detik kemudian ada tambahan dua pemain bertahan sehingga terjadi situasi 4 v 3. Pemain bertahan C dan D yang ditempatkan 5-10 meter di belakang penyerang diperbolehkan turun membantu begitu bola bergulir. 4. Langkah ke empat : taktik grup III- bertahan berempat (4 v 4) Langkah berikutnya adalah membiasakan pemain bekerja sama sebagai sebuah rantai yang terdiri dari empat mata rantai. Beberapa coaching point penting saat melatih bertahan secara rantai dengan empat pemain adalah sebagai berikut: 1. Arah lari bek tidak boleh saling menyilang. Penjagaan pemain lawan harus diserahkan
  • 137.
    kepada bek yangberdiri lebih dekat dengan posisi baru penyerang. Ini adalah perbedaan utama antara sistem 4-4-2 atau 4-3-3 modern bila dibandingkan dengan cara bermain man to man marking. 2. Ke empat bek harus bergerak secara bersama-sama ke arah letak bola tanpa merenggangkan jarak antar pemain (kira-kira sepuluh meter) sehingga terjadi situasi menang jumlah di sisi lapangan tempat bola berada (lihat diagram). 3. Saling memberikan instruksi mutlak harus dilakukan semua pemain! 4. Sebagai pedoman, rangkaian posisi pemain seharusnya menyerupai sebuah pisang! 127 (Lihat diagram). 5. Apabila bola berada di bagian tengah lapangan salah satu pemain (sesuai diagram pemain B) maju ke depan guna merebut bola. Ketiga bek yang lain bergerak lebih jauh ke dalam sehingga pertahanan tetap compact (lihat diagram). Penting: ketiga pemain bertahan harus menjaga lini sehingga peraturan off side bisa dipergunakan (sesuai contoh diagram, pemain A, C dan D harus membentuk garis lurus). Untuk jelasnya perhatikan kedua diagram di bawah ini: Diagram 1 Diagram 2 Keterangan:  Pada diagram 1, pemain A menggiring penyerang lawan ke arah luar. Pemain B bertindak sebagai pemain pelapis, sedang pemain C dan D ikut bergeser ke arah bola tanpa kehilangan keketatan antar mata rantai. Pemain A, B, C dan D membentuk sebuah pisang.  Pada diagram 2, pemain B maju ke arah pemain yang menguasai bola karena letak pemain tersebut paling dekat dengan pemain B. Terbentuk sebuah segi tiga antara pemain A, B dan C. Pemain A dan D bergeser ke tengah sehingga keketatan antar mata rantai menjadi lebih ketat lagi.
  • 138.
    128 Contoh latihanuntuk 4 vs 4: Latihan 1. Keterangan: Pemain putih menyerang d i i n s t r uk s i k a n u n t u k mengumpankan bola dari kaki ke kaki. Keempat bek dilatih untuk bergeser ke kiri dan ke kanan membentuk pisang dan sesekali membentuk segi tiga di bagian tengah lapangan. Setelah beberapa waktu, instruksikan penyerang untuk benar -benar berusaha mencetak gol. “Bekukan” latihan di saat yang tepat guna mengoreksi arah lari dan penempatan posisi pemain bertahan. Latihan 2. Keterangan: Sama seperti latihan 1, hanya saja kini tempatkan seorang pemain lawan sebagai penyerang tengah (9). Barisan bek harus membiasakan menyerahkan tanggung jawab atas penyerang tengah (9) dengan saling memberikan instruksi. Di saat yang sama barisan pertahanan tetap harus bergeser ke arah letak bola. Apabila sesuai diagram penyerang 9 dijaga oleh 4, pemain 5 bertugas menjaga gelandang serang 10 apabila 10 mendribel bola ke arah gawang. Selang beberapa waktu biarkan penyerang betul-betul berusaha mencetak gol. Barisan pertahanan berusaha merebut bola lalu mendribel atau mengumpan bola ke salah satu dari kedua gawang kecil dari cones yang tersedia. Penting: Latihan ini menuntut dipraktikkannya semua prinsip yang telah dibicarakan sejauh ini! Oleh karena itu, pelatih harus jeli dalam melihat kesalahan-kesalahan yang terjadi.
  • 139.
    129 5. Langkahke lima: Taktik tim I- Empat pemain bertahan ditambah dua gelandang bertahan (6 v 5 atau 6 v 6) Setelah latihan taktik individu dan latihan taktik grup dilakukan secara saksama, langkah metodis berikutnya adalah berlatih taktik bertahan secara tim. Cara pengajaran taktik tim itu sendiri bisa dilakukan dalam beberapa jenjang. Dua jenjang utama akan dibahas di sini. Jenjang berlatih taktik bertahan secara tim pertama adalah membiasakan barisan pertahanan bekerja sama dengan kedua gelandang tengah (pemain 6 dan 10). Dengan bergabungnya dua gelandang tengah, fokus latihan kini diarahkan pada keketatan posisi antar pemain di dalam lini dan keketatan posisi pemain antarlini. Ke empat pemain bek harus selalu berdiri dengan compact! Dengan kata lain, jarak antar barisan bek dan barisan gelandang bertahan harus selalu ketat. Tujuannya tentu saja adalah menyulitkan lawan menemui celah-celah yang bisa digunakan untuk melakukan kombinasi permainan. Selain itu, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, dengan adanya penempatan posisi yang compact pemain bertahan akan bisa menciptakan situasi menang jumlah di daerah letak bola (flooding the ball). Saat melatih taktik secara tim, selalu tekankan pentingnya komunikasi antar pemain. Bila pemain tidak saling memberikan instruksi, pemain lawan tidak bisa terjaga dengan baik dikarenakan perpindahan tanggung jawab pengawalan tidak berlangsung dengan baik. Biasakan pemain menyerukan instruksi-instruksi seperti "jaga dia” , "jaga nomor 11", "punyaku”, "ikuti dia” atau "biarkan dia”. Saling memberikan instruksi (bahkan bisa dikatakan saling melatih) begitu penting artinya dalam sepak bola modern karena pengawalan lawan tidak lagi melulu berlangsung secara man to man. Perhatikan posisi ideal pemain-pemain bertahan saat bola berada di sayap sesuai diagram di bawah ini: Keterangan: Pemain 2 dan 6 mendobel ( 2 v 1) pemain sayap kiri lawan (8). Bek tengah (4) meninggalkan striker lawan 11 untuk bersiap membantu mengawal sisi kanan pertahanan (daerah bergaris). Tugas pemain 4 dilimpahkan kepada bek tengah 5. Striker 9 yang tadinya dijaga bek tengah 5 kini dikawal oleh bek sayap kiri 3. Pemain 3 sekaligus bertugas mengawasi pergerakan gelandang sayap kanan lawan (7). Bila bola sampai pada 7, pemain bek sayap 3 bergeser menjaga 7. Pemain 4 kembali bergeser menjaga 11 dan pemain 5 kembali menjaga 9. Gelandang bertahan 6 dan 10 tentu saja ikut bergeser; kini gelandang bertahan 10 yang ganti membantu bek sayap 3. Perhatikan juga bahwa penempatan posisi pemain 5 sesuai gambar adalah di belakang pemain 11 (sisi gawang!). Bandingkan dengan diagram selanjutnya di mana pemain 5 harus lebih muncul.
  • 140.
    Perhatikan posisi idealpemain bertahan saat bola berada di tengah sesuai diagram-diagram berikut ini: 130 Diagram 1 Keterangan: Pemain gelandang 6 dan 10 mendobel lawan di tengah. Posisi pemain 4 dan 5 harus sedikit muncul dari belakang striker lawan 9 dan 11. Ini penting guna: (1) bisa melihat bola, (2) bila ada kesempatan bisa merebut bola sebelum bola dikuasai striker lawan, dan (3) menjaga daerah yang paling berbahaya yakni jantung pertahanan (daerah bergaris). Diagram 2 Keterangan: Apabila salah satu striker lawan (misalnya pemain 11) datang membantu pemain yang menguasai bola, maka bek tengah 4 harus mengikuti pergerakan striker lawan 11! Di saat yang sama pemain 2 dan 5 bergerak masuk sehingga terbentuk segitiga (2, 4 dan 5). Pemain 3 juga ikut masuk mengawal striker lawan 9 sekaligus mengawasi pergerakan sayap kanan lawan (7). Diagram 3 Keterangan: Apabila gelandang lawan (10) tidak bisa didobel dengan baik oleh pemain 6 dan 10 (karena kurangnya agresivitas atau tidak cukup waktu untuk datang mengahampiri pemain lawan 10), maka situasi yang kerap terjadi adalah sesuai diagram di atas. Bola diumpankan kepada striker 9. Bila ini terjadi bek tengah 5 harus ikut maju mengikuti pergerakan striker lawan 9 sehingga pengawalan tetap ketat. Pemain 3 dan 4 seperti biasa bergeser masuk sehingga terjadi segitiga (4, 5 dan 3). Pemain 6
  • 141.
    dan 10 harusterus ikut bermain dengan cara mendobel ke belakang. Dengan demikian, striker lawan 9 ditekan oleh 3 pemain (6, 10 dan 5)! Penting: Situasi boleh berbeda, tapi prinsip-prinsip seperti bergerak secara bersama-sama ke arah bola, penempatan posisi yang compact, saling memberikan instruksi saat menyerahkan tanggung jawab pengawalan pemain lawan, pembentukan segitiga seperti yang diilustrasikan di atas, serta mendobel pemain yang menguasai bola, selalu sama. 6. Langkah ke enam : Taktik tim II-bermain 11 v 11 sebagai satu kesatuan tim 131 yang utuh Menentukan formasi bermain Menentukan taktik tim dimulai dengan ditetapkannya sebuah formasi bermain. Masing-masing formasi dan cara bermain sepak bola mempunyai kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Formasi 4-4-2 dan 4-4-3 tidak luput dari kelemahan. Sebaliknya, formasi 3-5-2 tidak melulu jelek; banyak kelebihan formasi 3-5-2. Yang menentukan adalah adanya organisasi yang baik, bukan formasi! Untuk kepentingan standarisasi telah ditentukan penggunaan formasi 4-4-3 hingga umur 15 tahun. Landasan organisasi yang baik adalah bergeraknya pemain secara bersama-sama. Artinya, semua pemain berusaha untuk melakukan hal yang sama! Oleh karena itu, instruksi seorang pelatih sangat menentukan. Tanpa adanya seorang pelatih yang memegang kendali, permainan akan kacau-balau karena masing-masing pemain melakukan apa yang ia anggap baik dan benar. Ada begitu banyak pandangan tentang sepak bola, karena itu harus ada instruksi-instruksi yang jelas kepada pemain tentang bagaimana tim akan bermain. Pemain yang membangkang (melakukan apa yang ia sendiri anggap benar) atau tidak mampu melakukan instruksi (karena skill yang kurang mumpuni , kurang pengertian akan taktik atau buruknya kondisi) tentu saja harus dibangkucadangkan. Instruksi pelatih yang pertama adalah menetapkan formasi bermain. Selanjutnya pelatih menginstruksikan di mana lawan akan mulai ditekan dan bagaimana. Di mana menekan lawan? Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, menekan lawan bisa dilakukan di depan (forechecking), di lapangan tengah (midfield pressing) atau di daerah pertahanan sendiri (fall back). Ada baiknya sisi positif dan negatif masing-masing letak menekan dibahas di sini. a. Forechecking: Kelebihan:  Dekat gawang lawan, sehingga apabila bola berhasil dicuri, jarak antara bola dan gawang lawan relatif dekat!  Lawan langsung ditekan sehingga tidak memiliki waktu, tempat dan ketenangan yang dibutuhkan dalam mengatur serangan.  Karena merasa tertekan, lawan sering terpaksa melepaskan umpan-umpan jauh yang sangat mudah untuk dimentahkan.  Tim yang lemah akan semakin lemah (tidak berkembang permainannya) sedang
  • 142.
    132 tim yanghebat penguasaan bolanya akan diredam kemampuannya.  Bila ada pemain belakang lawan yang lemah, kelemahan tersebut bisa digunakan untuk merebut bola. Caranya pemain tim lawan dipancing untuk memberikan umpan kepada pemain lemah tersebut untuk kemudian ditekan secara agresif. Kekurangan:  Umpan jauh ke belakang barisan pertahanan sendiri sangat berbahaya.  Sangat menguras tenaga dan konsentrasi.  Bila sedikit saja pemain kehilangan keawasannya akan tercipta celah-celah yang berbahaya. Untuk usia 12 - 15 tahun diajarkan 4-3-3. Di atas 15 tahun pemain boleh diajarkan 4-4-2 atau formasi lain asal prinsip-prinsip sepakbola modern diterapkan. b. Fall back: Kelebihan:  Sebuah strategi yang menjanjikan apabila lawan jelas menang kelas.  Posisi pemain sangat compact sehingga sulit ditembus lawan.  Tidak begitu menguras tenaga karena pemain sebatas berreaksi terhadap lawan tanpa harus mengejar bola atau menekan lawan. Oleh karena itu, sistem ini tepat untuk digunakan di saat-saat kondisi pemain telah terkuras.  Strategi yang baik guna mempertahankan kemenangan di akhir pertandingan.  Terkadang organisasi pemain kurang baik. Dengan menerapkan strategi fall back pemain memeroleh waktu untuk kembali berkonsentrasi atas tugas dan posisinya masing-masing. Kelemahan:  Cara bermain seperti ini membosankan penonton apabila diterapkan sepanjang pertandingan.  Secara taktis, sistem menekan ini termasuk sistem yang negatif karena cenderung menunggu lawan tanpa memberikan tekanan kepada lawan.  Strategi yang sangat menyulitkan bagi striker tim itu sendiri, karena serangan yang dilakukan hanya sebatas serangan balik.  Jarak antara bola (saat berhasil merebut bola) dan gawang lawan sangat jauh.  Kalau ada yang berjalan tidak sebagaimana mestinya, situasi yang tercipta sangat berbahaya karena jarak antara bola dan gawang sendiri sangat dekat. Kesimpulan: Karena menguras tenaga, taktik forechecking hendaknya hanya diterapkan untuk sementara waktu (tidak 90 menit) dan di saat-saat tertentu (saat tendangan penjuru, di awal babak ke satu dan dua, saat teringgal atau saat lawan terkena kartu merah) saja. Sedang taktik fall back juga hanya bisa diterapkan di saat-saat tertentu (di akhir pertandingan saat mengamankan keunggulan, atau saat bermain dengan 10 atau 9 pemain saja) karena mengandung risiko yang termasuk tinggi. Dengan demikian, taktik midfield pressing paling cocok untuk digunakan di saat-saat normal dan untuk jangka waktu lama. Bisa dikatakan midfield pressing adalah jalan tengah atau hasil kompromi kedua sistem menekan yang lain.
  • 143.
    Sebagai contoh, midfieldpressing cukup menguras tenaga, tapi tidak sebanyak forechecking. Oleh karena itu, kebanyakan tim dunia saat ini mengutamakan sistem midfield pressing. Sistem ini diutamakan, tapi bukan berarti sistem-sistem lainnya dikesampingkan. Idealnya sebuah tim mampu menerapkan semua sistem menekan. FC Barcelona, contohnya, menerapkan semua sistem menekan dalam satu pertandingan; terkadang 10 menit mereka melakukan forechecking, kemudian 30 menit midfield pressing yang diselingi dengan dua kali lima menit fall back guna menghemat tenaga, lalu forechecking lagi di akhir babak. Jumlah menit dipakainya masing-masing sistem menekan tentu saja berbeda di setiap pertandingan sesuai dengan situasi pertandingan tersebut, tapi biasanya ketiga sistem terpakai dalam sebuah pertandingan! 133 Bagaimana menekan lawan? Umumnya pelatih tim-tim dunia menginstruksikan pemainnya untuk menggiring pemain lawan yang menguasai bola ke arah pinggir lapangan. Logikanya gampang saja: daerah samping lapangan relatif tidak berbahaya (letak gawang adalah di tengah!). Selain itu garis tepi lapangan bisa digunakan sebagai “teman” atau partner guna mendobel lawan. Tapi akan banyak juga pelatih yang menginstruksikan pemainnya untuk menggiring lawan ke bagian tengah lapangan. Pertimbangannya di bagian tengah lapangan lebih mudah tercipta situasi 2 v 1, bahkan 3 v 1. Menurut pengamatan saya, banyak juga pelatih di Eropa menginstruksikan pemainnya untuk menggiring ke bagian tengah lapangan kecuali di bagian sepertiga lapangan bagian pertahanan. Di sini faktor keamanan diutamakan sehingga pemain diinstruksikan untuk menggiring pemain ke arah garis tepi lapangan. Setelah pelatih menentukan serta menerangkan taktik-taktik pilihannya kepada pemain, maka langkah berikutya adalah membiasakan pemain berlari secara bersama-sama ke arah bola tanpa kehilangan posisi yang compact. Untuk latihan bergeser ke arah bola lakukan latihan-latihan di bawah ini: Latihan 1 Keterangan: Pelatih menginstruksikan arah pergeseran. Awalnya cukup instruksikan pemain untuk bergeser ke samping, ke depan, dan diagonal secara garis lurus. Setelah beberapa waktu, instruksikan pemain untuk menempati posisi mendetail masing-masing secara tepat termasuk memperhitungkan ke mana lawan hendak digiring. Terbentuknya dua baris menyerupai pisang bisa digunakan sebagai pedoman saat mengoreksi posisi pemain. (Latihan ini bisa juga digunakan untuk berlatih kondisi. Dengan demikian latihan kondisi dan taktik digabung menjadi satu!).
  • 144.
    134 Latihan 2 Keterangan: Tim putih hanya mengumpankan bola dari kaki ke kaki tanpa langsung berusaha mencetak gol. Tim merah bergeser sesuai letak bola dan melakukan semua prinsip yang telah dijabarkan sebelumnya. Baru setelah bebarapa waktu biarkan putih dan merah bermain lepas dengan instruksi kepada tim putih untuk bertahan sesuai diagram saat kehilangan bola. Untuk latihan mengganggu lawan saat membangun serangan serta berlatih menggiring lawan, lakukan latihan 9 v 8 ini: Latihan 3 Keterangan: Kiper merah memulai permainan dengan mengumpankan bola ke bek tengah (sesuai diagram). Tim putih bertugas mengganggu tim saat membangun serangan. Perhatikan arah pergeseran dan penempatan posisi pemain-pemain tim putih dan lakukan p e n y e s u a i a n / pembenaran bila perlu. Sebagai variasi awal, biarkan tim merah mengumpankan bola dari kaki ke kaki terlebih dahulu tanpa berusaha mencetak gol ke salah satu gawang dari cones. Baru kemudian permainan sesungguhnya dimulai.