Jurnal Tesa Arsitektur
Pengantar Redaksi
Penanggung Jawab
Dekan Fakultas Arsitektur dan
Desain
Pembina
Wakil Dekan 1 Kelua
Program Studi Arsitektur
Pemimpin Redaksi
Drs. Paulus Hariyono, MT
Penyunting Ahli
Dr. Ir. A. Rudyanto Soesilo, MSA
lr. Edy Prawoto, MT
Ir. Afriyanto Sot'yan S.B., MT, IAI
Dr.-Ing LMF Purwanto
Mitra Bestari
Prof. Ir. Totok Roesmanto. M-Eng
(UNDIP)
Dr. Ir. Eddy Prianto, CES DEA
(UNDIP)
Prof. Ir. Tri Harso Karyono, MA., Ph.D
(Universitas Tarumanegara)
Penyunting Pelaksana
Drs. Paulas Hariyono, MT
Tata Usaha
Tarmi
Yeni
Alamat Redaksi
Program Studi Arsitektur
Fakultas Arsitektur dan Desain
Universitas Katolik Soegijapranata
Jl. Pawiyatan Luhur IV/1
Semarang
Telp. (024)8441555,
Fax(024)8415429, Psw 211, 212
Diterbitkan oleh:
Program Studi Arsitektur
Fakultas Arsitektur dan Desain
UNIKA Soegijapranata Semarang
Jurnal Tesa Arsitektur terbit pertama April
1998. Mulai tahun 2008 terbit tiap
semester bulan Juni dan Desember.
Istilahtesa dicuplik dari kata hipotesa.
Tesa artinya "pernyataan". Tesa
Arsitektur dimaksudkan sebagai
pernyataan dan gagasan di sekitar
arsitektur.
Tesa Arsitektur mulai volume 6 mencoba tampil dengan
baru dan mencoba dengan kualitas tulisan yang lebih berbobot hi
ini dilakukan untuk mengikuti perkembangan jaman yam semakin
kompetitif, kreatif dan atraktif. Upaya ini akan tercanl bila terdapat
kontribusi yang memungkinkan dal Bapak/Ibu/Saudara sekalian. Tesa
volume 6 nomdr 1 ini menampilkan gagasan di sekita
postkolonialisme dan teritori dalam arsitektur Kemudil ditampilkan
pula studi kasus area pedestrian pasar Johar dan stud kelayakan Jawa
Tengah Learning Centre; dan diakhiri bahasaij
tentangstrukturbangunandanpencahayaanalami. Selamat membaca!!
(Daftar hi
POSKOLONIALISME:
GUGATAN TERHADAP DOMINASI MODERNISME
Riandy Tarigan................................................................l}
TERITORI DALAM PERANCANGAN ARSITEKTUR |
Supriyono..................................................................... 11
STUDI PENYIMPANGAN FUNGSI-FUNGSI
AREA PEDESTRIAN DI KAWASAN
SEKITAR PASAR JOHAR SEMARANG
Yulita Titik & MD Nestri Kiswari..........................
STUDI KELAYAKAN JAWA TENGAH
LEARNING CENTRE (JLC) DI KELURAHAN
SENDANG MULYO SEMARANG
Afriyanto Sofyan St.B ..........................................
PEMAHAMAN STRUKTUR RUANG
DALAM DESAIN BANGUNAN
Ch. Koesmartadi .................................
A STUDY OF DAYLIGHTING SYSTEMS IN
RESIDENTIAL BUILDING UNDER
TROPICAL CLIMATE
Moediartianto ...................................................
Jurnal Tesa Arsitektur - Volume 6, Nomer 1, Juni 20(1
wajajj
It
31
51
57;
PEMAHAMAN STRUKTUR RUANG
DALAM DESAIN BANGUNAN
Ch. Koesmartadi
Program Studi Arsitektur - Fakultas Arsitektur dan Desain
Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
ABSTRACT
The building structure design making process is frequently understood as the sum of partial
understandings unified into one big design. This is based on the knowledge of stretch structure
that is considered and then generalized as the wholly constructed building. This model has a
quite serious weakness because the burden energy of the whole building is assumed just
equal to the burden energy of the stretch/portal. This understanding is influenced by the
calculation way in 18
th
century telling that three dimension model, proposed by the experts
of the time, was recognized as the basis in making structure calculation. Such a calculation
was possible since there was no any modern equipment, such as computer, that could
precisely transfer the picture from two dimensions into three. Hence, the two dimensional
structure understanding remains to be the basis for making a building design. This is different
from the steps in making an architectural design that is based on totality or comprehensive
considerations. Therefore, the structure must be adjusted in accordance with the existing
spatial principles. The understanding of space structure possibly adopts any burden, both
vertically and horizontally, since the burden will not weigh only one part of the building but
the whole structure will work together in restraining the burden. This is the meaning of space
structure of the architectural design.
Keywords: space structure, totality, restrain the burden.
ABSTRAK
Pemahaman pembentukan struktur bangunan sering dipahami sebagai pembentukan
konstruksi yang dimulai dari pemahaman secara parsial yang kemudian disusun menjadi
satu kesatuan dalam wujud bentuk bangunan. Pemikiran ini lebih didasarkan pada
pemahaman bahwa pengetahuan struktur bidang merupakan sebuah perwujudan struktur
bidang yang kemudian digeneralisasi menjadi sebuah bentukan bangunan secara
keseluruhan. Model ini memiliki kelemahan karena beban gaya yang bekerja pada bangunan
diasumsikan sebagai sebuah gaya dalam bentuk potongan bidang/ portal yang kemudian
diterjemahkan sebagai bentuk sebuah struktur. Pemikiran ini dipengaruhi oleh model
perhitungan pada abad ke-18. Pemikiran tiga dimensi yang digagas oleh ilmuwan saat itu
diakui sebagai peletak dasar bagi perhitungan struktur, namun karena pada saat itu belum
ada peralatan modern seperti saat ini (computer) maka penggambaran tidak dapat ditransfer
dengan baik, hanya menggunakan media dua dimensi. Sampai saat ini pengertian struktur
secara dua dimensi masih menjadi pijakan dalam mendisain struktur bangunan. Lain dengan
pola pemikiran dasar disain arsitektur yang lebih bertolak dari pemikiran totalitas ataupun
secara keseluruhan, dalam pemikiran struktur pun seharusnya selaras dengan ide
pembentukan disain bangunan yang berdasarkan prinsip keruangan. Pemikiran struktur
ruang pada bangunan bisa mengadopsi segala bentuk beban baik vertikal maupun horizontal
Pemahaman Struktur Ruang dalam Disain Bangunan - CH. KOESMARTADI
salah satu bagian untuk menerima
beban namun rangkaian struktur
bekerja bersama menerima beban
bangunan. Itulah makna struktur
ruang pada disain bangunan
arsitektur.
Kata kunci: struktur ruang, totalitas,
menerima beban.
PENDAHULUAN
Dewasa ini sering muncul pertanyaan baik
dari mahasiswa maupun praktisi arsitektur.
Beberapa tema pertanyaan tersebut diantaranya:
tentang konstruksi bangunan dengan bentang
(misal 12.00 m) dikaitkan dengan bentuk kuda-
kudanya, juga jarak bentang bangunan (9.00 m)
dikaitkan dengan ukuran kolomnya. Demikian
juga pertanyaan lainnya, kalau bentang bangu-
nan, misal: 12.00 M dikaitkan dengan tebal
(tinggi) balok (1/12 h ?) dan sering muncul istilah
balok induk dan balok anak, lalu dimana bapak-
nya?
Jika ingin dicermati kelanjutan atas
pertanyaan-pertanyaan rupanya hanya berkisar
pada pemikiran struktur bidang yang memiliki dua
dimensi dalam pembentukan ruangnya. Hal inilah
yang sering terdengar dari sebagian para maha-
siswa ataupun seorang praktisi dalam menyusun
rancangan denah tanpa memikirkan komponen
dimensi ketiga dalam struktur sehingga mem-
bentuk pemikiran ruang tiga dimensional.
Jika dicermati secara seksama beberapa
pertanyaan tadi belum mencakup struktur secara
keseluruhan, hanya mencakup masalah bidang
atau secara dua dimensi dan belum mencermin-
kan kekuatan secara keruangan tiga dimensi.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Permasalahan inilah
yang mendorong diadakan pembahasan untuk
mendalami kasus-kasus tersebut dan upaya
untuk mencari kelemahan atas beberapa kasus
tersebut, sehhgga dapat diperoleh cara yang
benar dengan melihat sistem struktur secara
benar bagi terbentuknya disain bangunan.
PERMASALAHAN PEMBENTUKAN
STRUKTUR PADA BANGUNAN
Kurikulum pendidikan strata satu arsitektur
di Indonesia khususnya pada pendidikan struktur
dan konstruksi bangunan ditengarai banyak
dipengaruhi oleh kurikulum teknik sipil. Hal ini
dapat diketahui dalam pola pikir bahwa segala
sesuatu yang berkaitan dengan pembentukan
massa bangunan selalu cenderung mulai dibahas
secara parsial berbentuk bidang dahulu, misal:
kuda-kuda ataupun gelegar. Sehingga dalam
membahas strukturnya pun dilihat secara dua
dimensi dan sepotong-potong (gambar 1).
—4fev-
iM;
Gambarl. Konstruksi kuda-kuda yang dipaha-
mi sebagai bidang diilhami dari
para tukang di Belanda (Sumber:
Frick, 2002)
Sistem ini juga ditengarahi oleh pengaruh
sistem perhitungan kekuatan bangunan melalui
mekanika teknik yang menggunakan sistem garis
dan bidang dua dimensi, karena pada saat itu
belum ditemukan media tiga dimensi. Sistem ini
ditengarai mulai berlaku sejak abad ke-18 yang
dipelopori oleh Leonhard Euler, August Ritter, Carl
Culmann, L. Cremona, L van Tetmajer, dan Cross
pada ilmu mekanika teknik. Sistem ini diyakini
sebagai peletak dasar bagi perhitungan mekani-
ka teknik yang sebenarnya telah diterapkan seca-
ra tiga dimensi (gambar 2). Pola pikir perhitungan
ini sampai sekarang masih digunakan (Frick dan
Purwanto. 1997: 17).
52 JURNAL TESA ARSITEKTUR, Nomor 6, Volume 1 Juli 2008
Gambar 2. Logika keseimbangan struktur secara
tiga dimensi (Sumber: Frick dan
Purwanto, 1998:17).
Permasalahannya terletak pada bagai-mana
menstransfer ilmu dan penalaran ilmu tersebut
kepada generasi baru (anak didik) yang menekuni
ilmu arsitektur secara benar (keruangan). Hal
inilah yang menjadi penyebab kelemahan
pengertian ilmu struktur untuk dipahami secara
tiga dimensi yang menjadi dasar pemikiran
arsitektur. Pada sistem ini tampak pemikiran yang
masih menggunakan bentuk bidang ataupun dua
dimensi dimana gaya yang disimulasikan masih
terbatas pada bentuk bidang karena saat itu
memang hanya mengandalkan peralatan manual
dan memang pada saat ditemukan belum ada
peralatan tiga dimensi seperti komputer pada saat
ini.
Demikian juga menurut Frick dan Setiawan
(2005:204) kajian dan penerapan tentang
konstruksi kuda-kuda banyak dipengaruhi oleh
tukang-tukang yang ada di Belanda. Kons-
truksinya masih hanya sebatas pada tatanan dua
dimensi dan belum menyesuaikan kondisi di
Indonesia. Di Belanda rongga di bawah atap
digunakan untuk ruang tidur, sehingga perlu ada
jarak aman untuk luas kamar dan jarak perletakan
rangka kuda-kuda, dan iklim pun sangat men-
dukung. Lain halnya dengan di Indonesia yang
memiliki ragam pembentukan struktur, iklim yang
berbeda serta daerah gempa yang tentunya
memerlukan perhatian.
Pengertian struktur yang terbatas pada dua
dimensi sangat tidak tepat bagi pembentukan
sebuah bangunan. Hal ini tampak pada contoh
sebuah bentuk gambar potongan bangunan yang
belum bisa kita ketahui bentuk dasar denah
bangunannya, apakah berbentuk empat persegi
panjang, bujur sangkar ataupun bentuk lingkaran.
Dari segi statika (mekanika teknik) permasalahan
lebih jelas lagi, sejak dari pendidikan hingga
bekerja para arsitek yang mereka pelajari dan
pahami adalah pemikiran dua dimensi dan kurang
diberi pemaknaan dimensi ketiganya.
Akibatnya dalam sebuah pembentukan
sebuah bangunan arsitektur dengan pendekatan
bidang, ketergantungan pada pemikiran kom-
ponen parsial dua dimensi, seperti tiang/ kolom,
balok serta kuda-kuda yang ditampilkan secara
sendiri-sendiri, dengan pemikiran-pemikiran
tersebut pembentukan ruang arsitektural sangat
terbatas pada pemikiran dua dimensi. Sadar atau
tidak, pendidikan struktur pada bida'ng arsitektur
dimulai dan berasal dari Belanda yang memiliki
karakteristik berbeda dengan Indonesia yang
rawan gempa. Padahal di Indonesia telah lama
berkembang struktur yang diyakini merupakan
produk asli Indonesia, sistem struktur melalui
rumah tradisional, dengan sistem pembentukan
yang sedemikian rupa sehingga membentuk
sistem struktur yang mampu mengadopsi
permasalahan beban horizontal seperti angin,
gempa, secara vertikal seperti beban orang
maupun daya dukung tanah (gambar 3).
Gambar 3. Rumah tradisional yang memasukan
unsur tiga dimensional (Sumber:
Domenig, 2003: 70). •
Pemahaman Struktur Ruang dalam Disain Bangunan - CH. KOESMARTADI 53
Pemikiran pendidikan dalam arsitektur selalu
mencakup tiga dimensi, namun gambar struktur,
konstruksi serta mekanika tekniknya masih
menggunakan sistem dua dimensi (Frick dan
Purwanto, 1997:3) Hal inilah yang cukup meng-
hambat proses pembentukan ruang secara tiga
dimensi.
PEMAHAMAN STRUKTUR RUANG
Pemikiran struktur secara holistik memiliki
pengertian menelaah sebuah bangunan arsitektur
kajian struktur secara menyeluruh. Menurut Frick
dan Purwanto (1997:152) struktur adalah
susunan atau pengaturan bagian gedung yang
menerima beban atau konstruksi utama dari
gedung tanpa memperdulikan apakah konstruksi
tersebut dapat dilihat ataupun tidak kelihatan.
Definisi ini memperlihatkan definisi dengan
penekanan pada susunan dan pengaturan bagian
gedung secara tiga dimensi.
Sedang menurut Schodek (1999:2) struktur
dapat didifinisikan sebagai entitas fisik yang
memiliki sifat keseluruhan yang dapat dipahami
sebagai organisasi unsur-unsur pokok yang
ditempatkan dalam ruang yang didalamnya
karakter keseluruhan itu mendominasi interelasi
bagian-bagiannya. Beberapa definisi diatas
menekankan pola penyaluran beban secara
menyeluruh dengan memperhatikan interelasi
secara keseluruhan (gambar 4).
Gambar 4. System struktur
secara keruangan
(Sumber: Schodek,
1999: 363)
struktural bangunan tertentu secara menyeluruh
yang mampu menahan beban atau member
respon secara internal berupa beban sendiri
maupun beban eksternal yang spesifik terjadi di
Indonesia (gambar 5), berupa beban angin, akibat
gerakan gempa", atau kombinasi keduanya.
■■■h" ;■:
i2SiL
Gambar 5. Struktur bangunan
yang mampu
menerima beban horizontal secara
tiga dimensi (Sumber: Frick dan Ch.
Koes-martadi, 2008: 11)
Secara utuh ditunjukkan oleh Sehodek
(1999:18) yang menggambarkan sebuah
bentukan struktur pada bangunan yang umum
menunjukkan satuan secara volumetric/
keruangan/ tiga dimensi (gambar 6).
Mffi,l:i if'i.; ii.T'-i"'.' !t«:> t.-- -
v>■■'■■-i
Gambar 6: Gambar struktur secara volumetric
(Sumber: Schodek, 1999:18)
Secara luas struktur berfungsi secara
menyeluruh dan berfungsi sebagai satu kesatuan
utuh menyalurkan beban ke dalam tanah. Dasar
pemikiran desain struktur adalah bentuk-bentuk
Pada kajian ini diberikan penjamin atas
kestabilan struktur dengan kemandirian bentuk
struktur dengan konfigurasinya dengan beberapa
metode, pertama dengan penambahan kekuatan
54 JURNAL TESA ARSITEKTUR, Nomor 6, Volume 1 Juli 2008
■5^.
>
E^roan ttanzortai saiu arari
Mttkanretr* penifcti bobaii !aie/ai
Hangka
OtfKSrtg <jesar
secara diagonal sehingga struktur tidak menga-
lami perubahan secara pada jajaran genjang,
ataupun dengan metode lain yakni prinsip dinding
geser dan perkuatan pada hubungan antar
elemen struktur, prinsip-prinsip tersebut tidak
dapat bekerja tanpa melihat struktur secara total
(gambar 7).
s
J

/!
X i
kl.-^  i
Gambar 7: Metode dinding geser secara
keruangan (Sumber Frick dan
Koesmartadi, 2008: 8)
Hal ini tampak pada uraian struktur secara
keruangan yang dapat bekerja secara mandiri
baik dari gaya vertikal maupun horizontal dan
tinjauan parsialpun diperlihatkan namun dalam
konteks keseluruhan.
Pada struktur dengan prinsip ruang kesatuan
bekerjanya gaya juga dituangkan dalam bentuk
tiga dimensi, sehingga uraian kinerja struktur juga
terdeteksi, dengan demikian sistem struktur akan
bekerja secara tiga dimensi (gambar 9).
buat penghuni nyaman dan aman tinggal di dalam
ruang. Struktur berfungsi sebagai sarana
penyalur beban baik secara vertikal, horizontal,
maupun kombinasi keduanya. Pada hakikatnya
sistem ruang dan sistem struktur akan bekerja
secara optimal karena seluruh komponen struktur
secara terpadu melawan gaya yang bekerja.
Analisis secara keruangan terhadap unjuk kerja
struktur adalah sesuai dengan makna disain
arsitektur yang menekankan pada aspek
keruangan dan volumetric.
Pembentukan struktur pada disain bangunan
arsitektur berjalan mengikuti pola dan proses
pembentukan bangunan, sehingga apapun
prosesnya struktur akan turut berproses secara
keruangan. Berpikir secara tiga dimensi dimulai
dari awal sejak ide pembentukan massa
bangunan yang ditandai dengan sketsa tiga
dimensi yang memberikan inspirasi susunan
struktur bangunan. Pada bidang pendidikan
arsitektur, mata kuliah konstruksi dapat meng-
gunakan maket tiga dimensi yang diberi
pembebanan sehingga diketahui reaksinya dan
cara penanggulangannya (gambar 10).
Gambar 9. Kinerja struktur terdeteksi secara tiga
dimensi (Sumber: Frick dan
Koesmartadi. Ch., 2008:5)
KELEBIHAN PEMBENTUKAN STRUKTUR
RUANG UNTUK DISAIN ARSITEKTUR
Inti dari disain arsitektur adalah senyawa
antara fungsi dan bentuk (dan gaya) yang mem-
Gambar 10: Pemahaman Struktur secara tiga
dimensi melalui percobaan. (Sumber,
penulis 2008)
Pembentukan struktur selain mengikuti teori
yang telah ada, bisa juga mengikuti fenomena
alam yang ada namun kekakuan struktur tetap
diutamakan, misal prinsip struktur sarang laba-
laba yang diterapkan pada Stadion Utama
Olimpiade di Bejing, Cina (gambar 11)
PemahamanStrukturRuangdalamDisainBangunan-CH.KOESMARTADI 55
Gambar 11. Penerapan struktur secara ruang dan
detail salah satu sudut Stadion Olim-
piade di Beijing Cina (Sumber,
Kompas, 2008).
PENUTUP
Dari pembahasan di atas dapat dikatakan
bahwa pada prinsipnya sistem struktur bangunan
bekerja atas dasar aksi dan reaksi. Dalam aksi
tersebut berpengaruh secara langsung maupun
tidak langsung terhadap berdirinya sebuah
bangunan secara keseluruhan, sehingga reaksi-
nya pun bergerak secara keseluruhan pula. Pola
struktur bangunan secara keseluruhan merupa-
kan bentuk secara keruangan, karena memiliki
aspek ruang yakni tiga dimensi, yaitu ada
panjang, lebar dan tinggi dan ketiganya bekerja
secara bersama-sama. Sebagai saran dalam
merancang sistem struktur bangunan dianjurkan
mendeteksi dan menginvetarisasi beban secara
keseluruhan dalam satu model struktur, untuk
selanjutnya diurai dalam beberapa bagian secara
berkaitan yang menghasilkan satu rahgkaian
jaringan struktur secara utuh dan menyeluruh.
DAFTAR PUSTAKA
Domenig, dkk. 2003. Indonesian Houses. Leiden:
KITLV.
Frick, Heinz dan Purwanto. 1997. Sistem Bentuk
Struktur Bangunan. Yogyakarta: Kanisius &
Soegijapranata University Press.
Frick, Heinz dan Mulyani. 2006. Pedoman
Bangunan Tahan Gempa. Yogyakarta:
Kanisius & Lembaga Pendidikan LMB.
Frick, Heinz dan Setiawan. 2005. Ilmu Konstruksi
Struktur Bangunan. Yogyakarta: Kanisius &
Soegijapranata University Press.
Frick, Heinz dan Koesmartadi. 2008. "Konstruksi
Berkelanjutan" dalam Proceeding Seminar
Nasional Rehabilitasi Permukiman Pasca
Gempa. Semarang: Program Studi Arsitektur
Fakultas Arsitektur dan Desain Unika
Soegijapranata.
Scodek, D. Daniel. 1999. Struktur (terjemahan)
1999. Jakarta: Erlangga.
Steele, James. 1994. Architecture in Process.
New York: Academy Editions.
Verhandelingen. 2003. Indonesian Houses.
Leiden: KITLV Press.
56 JURNALTESAARSITEKTUR, Nomor 6, Volume 1 Juli 2008

Koes4

  • 1.
    Jurnal Tesa Arsitektur PengantarRedaksi Penanggung Jawab Dekan Fakultas Arsitektur dan Desain Pembina Wakil Dekan 1 Kelua Program Studi Arsitektur Pemimpin Redaksi Drs. Paulus Hariyono, MT Penyunting Ahli Dr. Ir. A. Rudyanto Soesilo, MSA lr. Edy Prawoto, MT Ir. Afriyanto Sot'yan S.B., MT, IAI Dr.-Ing LMF Purwanto Mitra Bestari Prof. Ir. Totok Roesmanto. M-Eng (UNDIP) Dr. Ir. Eddy Prianto, CES DEA (UNDIP) Prof. Ir. Tri Harso Karyono, MA., Ph.D (Universitas Tarumanegara) Penyunting Pelaksana Drs. Paulas Hariyono, MT Tata Usaha Tarmi Yeni Alamat Redaksi Program Studi Arsitektur Fakultas Arsitektur dan Desain Universitas Katolik Soegijapranata Jl. Pawiyatan Luhur IV/1 Semarang Telp. (024)8441555, Fax(024)8415429, Psw 211, 212 Diterbitkan oleh: Program Studi Arsitektur Fakultas Arsitektur dan Desain UNIKA Soegijapranata Semarang Jurnal Tesa Arsitektur terbit pertama April 1998. Mulai tahun 2008 terbit tiap semester bulan Juni dan Desember. Istilahtesa dicuplik dari kata hipotesa. Tesa artinya "pernyataan". Tesa Arsitektur dimaksudkan sebagai pernyataan dan gagasan di sekitar arsitektur. Tesa Arsitektur mulai volume 6 mencoba tampil dengan baru dan mencoba dengan kualitas tulisan yang lebih berbobot hi ini dilakukan untuk mengikuti perkembangan jaman yam semakin kompetitif, kreatif dan atraktif. Upaya ini akan tercanl bila terdapat kontribusi yang memungkinkan dal Bapak/Ibu/Saudara sekalian. Tesa volume 6 nomdr 1 ini menampilkan gagasan di sekita postkolonialisme dan teritori dalam arsitektur Kemudil ditampilkan pula studi kasus area pedestrian pasar Johar dan stud kelayakan Jawa Tengah Learning Centre; dan diakhiri bahasaij tentangstrukturbangunandanpencahayaanalami. Selamat membaca!! (Daftar hi POSKOLONIALISME: GUGATAN TERHADAP DOMINASI MODERNISME Riandy Tarigan................................................................l} TERITORI DALAM PERANCANGAN ARSITEKTUR | Supriyono..................................................................... 11 STUDI PENYIMPANGAN FUNGSI-FUNGSI AREA PEDESTRIAN DI KAWASAN SEKITAR PASAR JOHAR SEMARANG Yulita Titik & MD Nestri Kiswari.......................... STUDI KELAYAKAN JAWA TENGAH LEARNING CENTRE (JLC) DI KELURAHAN SENDANG MULYO SEMARANG Afriyanto Sofyan St.B .......................................... PEMAHAMAN STRUKTUR RUANG DALAM DESAIN BANGUNAN Ch. Koesmartadi ................................. A STUDY OF DAYLIGHTING SYSTEMS IN RESIDENTIAL BUILDING UNDER TROPICAL CLIMATE Moediartianto ................................................... Jurnal Tesa Arsitektur - Volume 6, Nomer 1, Juni 20(1 wajajj It 31 51 57;
  • 2.
    PEMAHAMAN STRUKTUR RUANG DALAMDESAIN BANGUNAN Ch. Koesmartadi Program Studi Arsitektur - Fakultas Arsitektur dan Desain Universitas Katolik Soegijapranata Semarang ABSTRACT The building structure design making process is frequently understood as the sum of partial understandings unified into one big design. This is based on the knowledge of stretch structure that is considered and then generalized as the wholly constructed building. This model has a quite serious weakness because the burden energy of the whole building is assumed just equal to the burden energy of the stretch/portal. This understanding is influenced by the calculation way in 18 th century telling that three dimension model, proposed by the experts of the time, was recognized as the basis in making structure calculation. Such a calculation was possible since there was no any modern equipment, such as computer, that could precisely transfer the picture from two dimensions into three. Hence, the two dimensional structure understanding remains to be the basis for making a building design. This is different from the steps in making an architectural design that is based on totality or comprehensive considerations. Therefore, the structure must be adjusted in accordance with the existing spatial principles. The understanding of space structure possibly adopts any burden, both vertically and horizontally, since the burden will not weigh only one part of the building but the whole structure will work together in restraining the burden. This is the meaning of space structure of the architectural design. Keywords: space structure, totality, restrain the burden. ABSTRAK Pemahaman pembentukan struktur bangunan sering dipahami sebagai pembentukan konstruksi yang dimulai dari pemahaman secara parsial yang kemudian disusun menjadi satu kesatuan dalam wujud bentuk bangunan. Pemikiran ini lebih didasarkan pada pemahaman bahwa pengetahuan struktur bidang merupakan sebuah perwujudan struktur bidang yang kemudian digeneralisasi menjadi sebuah bentukan bangunan secara keseluruhan. Model ini memiliki kelemahan karena beban gaya yang bekerja pada bangunan diasumsikan sebagai sebuah gaya dalam bentuk potongan bidang/ portal yang kemudian diterjemahkan sebagai bentuk sebuah struktur. Pemikiran ini dipengaruhi oleh model perhitungan pada abad ke-18. Pemikiran tiga dimensi yang digagas oleh ilmuwan saat itu diakui sebagai peletak dasar bagi perhitungan struktur, namun karena pada saat itu belum ada peralatan modern seperti saat ini (computer) maka penggambaran tidak dapat ditransfer dengan baik, hanya menggunakan media dua dimensi. Sampai saat ini pengertian struktur secara dua dimensi masih menjadi pijakan dalam mendisain struktur bangunan. Lain dengan pola pemikiran dasar disain arsitektur yang lebih bertolak dari pemikiran totalitas ataupun secara keseluruhan, dalam pemikiran struktur pun seharusnya selaras dengan ide pembentukan disain bangunan yang berdasarkan prinsip keruangan. Pemikiran struktur ruang pada bangunan bisa mengadopsi segala bentuk beban baik vertikal maupun horizontal Pemahaman Struktur Ruang dalam Disain Bangunan - CH. KOESMARTADI
  • 3.
    salah satu bagianuntuk menerima beban namun rangkaian struktur bekerja bersama menerima beban bangunan. Itulah makna struktur ruang pada disain bangunan arsitektur. Kata kunci: struktur ruang, totalitas, menerima beban. PENDAHULUAN Dewasa ini sering muncul pertanyaan baik dari mahasiswa maupun praktisi arsitektur. Beberapa tema pertanyaan tersebut diantaranya: tentang konstruksi bangunan dengan bentang (misal 12.00 m) dikaitkan dengan bentuk kuda- kudanya, juga jarak bentang bangunan (9.00 m) dikaitkan dengan ukuran kolomnya. Demikian juga pertanyaan lainnya, kalau bentang bangu- nan, misal: 12.00 M dikaitkan dengan tebal (tinggi) balok (1/12 h ?) dan sering muncul istilah balok induk dan balok anak, lalu dimana bapak- nya? Jika ingin dicermati kelanjutan atas pertanyaan-pertanyaan rupanya hanya berkisar pada pemikiran struktur bidang yang memiliki dua dimensi dalam pembentukan ruangnya. Hal inilah yang sering terdengar dari sebagian para maha- siswa ataupun seorang praktisi dalam menyusun rancangan denah tanpa memikirkan komponen dimensi ketiga dalam struktur sehingga mem- bentuk pemikiran ruang tiga dimensional. Jika dicermati secara seksama beberapa pertanyaan tadi belum mencakup struktur secara keseluruhan, hanya mencakup masalah bidang atau secara dua dimensi dan belum mencermin- kan kekuatan secara keruangan tiga dimensi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Permasalahan inilah yang mendorong diadakan pembahasan untuk mendalami kasus-kasus tersebut dan upaya untuk mencari kelemahan atas beberapa kasus tersebut, sehhgga dapat diperoleh cara yang benar dengan melihat sistem struktur secara benar bagi terbentuknya disain bangunan. PERMASALAHAN PEMBENTUKAN STRUKTUR PADA BANGUNAN Kurikulum pendidikan strata satu arsitektur di Indonesia khususnya pada pendidikan struktur dan konstruksi bangunan ditengarai banyak dipengaruhi oleh kurikulum teknik sipil. Hal ini dapat diketahui dalam pola pikir bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan pembentukan massa bangunan selalu cenderung mulai dibahas secara parsial berbentuk bidang dahulu, misal: kuda-kuda ataupun gelegar. Sehingga dalam membahas strukturnya pun dilihat secara dua dimensi dan sepotong-potong (gambar 1). —4fev- iM; Gambarl. Konstruksi kuda-kuda yang dipaha- mi sebagai bidang diilhami dari para tukang di Belanda (Sumber: Frick, 2002) Sistem ini juga ditengarahi oleh pengaruh sistem perhitungan kekuatan bangunan melalui mekanika teknik yang menggunakan sistem garis dan bidang dua dimensi, karena pada saat itu belum ditemukan media tiga dimensi. Sistem ini ditengarai mulai berlaku sejak abad ke-18 yang dipelopori oleh Leonhard Euler, August Ritter, Carl Culmann, L. Cremona, L van Tetmajer, dan Cross pada ilmu mekanika teknik. Sistem ini diyakini sebagai peletak dasar bagi perhitungan mekani- ka teknik yang sebenarnya telah diterapkan seca- ra tiga dimensi (gambar 2). Pola pikir perhitungan ini sampai sekarang masih digunakan (Frick dan Purwanto. 1997: 17). 52 JURNAL TESA ARSITEKTUR, Nomor 6, Volume 1 Juli 2008
  • 4.
    Gambar 2. Logikakeseimbangan struktur secara tiga dimensi (Sumber: Frick dan Purwanto, 1998:17). Permasalahannya terletak pada bagai-mana menstransfer ilmu dan penalaran ilmu tersebut kepada generasi baru (anak didik) yang menekuni ilmu arsitektur secara benar (keruangan). Hal inilah yang menjadi penyebab kelemahan pengertian ilmu struktur untuk dipahami secara tiga dimensi yang menjadi dasar pemikiran arsitektur. Pada sistem ini tampak pemikiran yang masih menggunakan bentuk bidang ataupun dua dimensi dimana gaya yang disimulasikan masih terbatas pada bentuk bidang karena saat itu memang hanya mengandalkan peralatan manual dan memang pada saat ditemukan belum ada peralatan tiga dimensi seperti komputer pada saat ini. Demikian juga menurut Frick dan Setiawan (2005:204) kajian dan penerapan tentang konstruksi kuda-kuda banyak dipengaruhi oleh tukang-tukang yang ada di Belanda. Kons- truksinya masih hanya sebatas pada tatanan dua dimensi dan belum menyesuaikan kondisi di Indonesia. Di Belanda rongga di bawah atap digunakan untuk ruang tidur, sehingga perlu ada jarak aman untuk luas kamar dan jarak perletakan rangka kuda-kuda, dan iklim pun sangat men- dukung. Lain halnya dengan di Indonesia yang memiliki ragam pembentukan struktur, iklim yang berbeda serta daerah gempa yang tentunya memerlukan perhatian. Pengertian struktur yang terbatas pada dua dimensi sangat tidak tepat bagi pembentukan sebuah bangunan. Hal ini tampak pada contoh sebuah bentuk gambar potongan bangunan yang belum bisa kita ketahui bentuk dasar denah bangunannya, apakah berbentuk empat persegi panjang, bujur sangkar ataupun bentuk lingkaran. Dari segi statika (mekanika teknik) permasalahan lebih jelas lagi, sejak dari pendidikan hingga bekerja para arsitek yang mereka pelajari dan pahami adalah pemikiran dua dimensi dan kurang diberi pemaknaan dimensi ketiganya. Akibatnya dalam sebuah pembentukan sebuah bangunan arsitektur dengan pendekatan bidang, ketergantungan pada pemikiran kom- ponen parsial dua dimensi, seperti tiang/ kolom, balok serta kuda-kuda yang ditampilkan secara sendiri-sendiri, dengan pemikiran-pemikiran tersebut pembentukan ruang arsitektural sangat terbatas pada pemikiran dua dimensi. Sadar atau tidak, pendidikan struktur pada bida'ng arsitektur dimulai dan berasal dari Belanda yang memiliki karakteristik berbeda dengan Indonesia yang rawan gempa. Padahal di Indonesia telah lama berkembang struktur yang diyakini merupakan produk asli Indonesia, sistem struktur melalui rumah tradisional, dengan sistem pembentukan yang sedemikian rupa sehingga membentuk sistem struktur yang mampu mengadopsi permasalahan beban horizontal seperti angin, gempa, secara vertikal seperti beban orang maupun daya dukung tanah (gambar 3). Gambar 3. Rumah tradisional yang memasukan unsur tiga dimensional (Sumber: Domenig, 2003: 70). • Pemahaman Struktur Ruang dalam Disain Bangunan - CH. KOESMARTADI 53
  • 5.
    Pemikiran pendidikan dalamarsitektur selalu mencakup tiga dimensi, namun gambar struktur, konstruksi serta mekanika tekniknya masih menggunakan sistem dua dimensi (Frick dan Purwanto, 1997:3) Hal inilah yang cukup meng- hambat proses pembentukan ruang secara tiga dimensi. PEMAHAMAN STRUKTUR RUANG Pemikiran struktur secara holistik memiliki pengertian menelaah sebuah bangunan arsitektur kajian struktur secara menyeluruh. Menurut Frick dan Purwanto (1997:152) struktur adalah susunan atau pengaturan bagian gedung yang menerima beban atau konstruksi utama dari gedung tanpa memperdulikan apakah konstruksi tersebut dapat dilihat ataupun tidak kelihatan. Definisi ini memperlihatkan definisi dengan penekanan pada susunan dan pengaturan bagian gedung secara tiga dimensi. Sedang menurut Schodek (1999:2) struktur dapat didifinisikan sebagai entitas fisik yang memiliki sifat keseluruhan yang dapat dipahami sebagai organisasi unsur-unsur pokok yang ditempatkan dalam ruang yang didalamnya karakter keseluruhan itu mendominasi interelasi bagian-bagiannya. Beberapa definisi diatas menekankan pola penyaluran beban secara menyeluruh dengan memperhatikan interelasi secara keseluruhan (gambar 4). Gambar 4. System struktur secara keruangan (Sumber: Schodek, 1999: 363) struktural bangunan tertentu secara menyeluruh yang mampu menahan beban atau member respon secara internal berupa beban sendiri maupun beban eksternal yang spesifik terjadi di Indonesia (gambar 5), berupa beban angin, akibat gerakan gempa", atau kombinasi keduanya. ■■■h" ;■: i2SiL Gambar 5. Struktur bangunan yang mampu menerima beban horizontal secara tiga dimensi (Sumber: Frick dan Ch. Koes-martadi, 2008: 11) Secara utuh ditunjukkan oleh Sehodek (1999:18) yang menggambarkan sebuah bentukan struktur pada bangunan yang umum menunjukkan satuan secara volumetric/ keruangan/ tiga dimensi (gambar 6). Mffi,l:i if'i.; ii.T'-i"'.' !t«:> t.-- - v>■■'■■-i Gambar 6: Gambar struktur secara volumetric (Sumber: Schodek, 1999:18) Secara luas struktur berfungsi secara menyeluruh dan berfungsi sebagai satu kesatuan utuh menyalurkan beban ke dalam tanah. Dasar pemikiran desain struktur adalah bentuk-bentuk Pada kajian ini diberikan penjamin atas kestabilan struktur dengan kemandirian bentuk struktur dengan konfigurasinya dengan beberapa metode, pertama dengan penambahan kekuatan 54 JURNAL TESA ARSITEKTUR, Nomor 6, Volume 1 Juli 2008 ■5^. > E^roan ttanzortai saiu arari Mttkanretr* penifcti bobaii !aie/ai Hangka OtfKSrtg <jesar
  • 6.
    secara diagonal sehinggastruktur tidak menga- lami perubahan secara pada jajaran genjang, ataupun dengan metode lain yakni prinsip dinding geser dan perkuatan pada hubungan antar elemen struktur, prinsip-prinsip tersebut tidak dapat bekerja tanpa melihat struktur secara total (gambar 7). s J /! X i kl.-^ i Gambar 7: Metode dinding geser secara keruangan (Sumber Frick dan Koesmartadi, 2008: 8) Hal ini tampak pada uraian struktur secara keruangan yang dapat bekerja secara mandiri baik dari gaya vertikal maupun horizontal dan tinjauan parsialpun diperlihatkan namun dalam konteks keseluruhan. Pada struktur dengan prinsip ruang kesatuan bekerjanya gaya juga dituangkan dalam bentuk tiga dimensi, sehingga uraian kinerja struktur juga terdeteksi, dengan demikian sistem struktur akan bekerja secara tiga dimensi (gambar 9). buat penghuni nyaman dan aman tinggal di dalam ruang. Struktur berfungsi sebagai sarana penyalur beban baik secara vertikal, horizontal, maupun kombinasi keduanya. Pada hakikatnya sistem ruang dan sistem struktur akan bekerja secara optimal karena seluruh komponen struktur secara terpadu melawan gaya yang bekerja. Analisis secara keruangan terhadap unjuk kerja struktur adalah sesuai dengan makna disain arsitektur yang menekankan pada aspek keruangan dan volumetric. Pembentukan struktur pada disain bangunan arsitektur berjalan mengikuti pola dan proses pembentukan bangunan, sehingga apapun prosesnya struktur akan turut berproses secara keruangan. Berpikir secara tiga dimensi dimulai dari awal sejak ide pembentukan massa bangunan yang ditandai dengan sketsa tiga dimensi yang memberikan inspirasi susunan struktur bangunan. Pada bidang pendidikan arsitektur, mata kuliah konstruksi dapat meng- gunakan maket tiga dimensi yang diberi pembebanan sehingga diketahui reaksinya dan cara penanggulangannya (gambar 10). Gambar 9. Kinerja struktur terdeteksi secara tiga dimensi (Sumber: Frick dan Koesmartadi. Ch., 2008:5) KELEBIHAN PEMBENTUKAN STRUKTUR RUANG UNTUK DISAIN ARSITEKTUR Inti dari disain arsitektur adalah senyawa antara fungsi dan bentuk (dan gaya) yang mem- Gambar 10: Pemahaman Struktur secara tiga dimensi melalui percobaan. (Sumber, penulis 2008) Pembentukan struktur selain mengikuti teori yang telah ada, bisa juga mengikuti fenomena alam yang ada namun kekakuan struktur tetap diutamakan, misal prinsip struktur sarang laba- laba yang diterapkan pada Stadion Utama Olimpiade di Bejing, Cina (gambar 11)
  • 7.
  • 8.
    Gambar 11. Penerapanstruktur secara ruang dan detail salah satu sudut Stadion Olim- piade di Beijing Cina (Sumber, Kompas, 2008). PENUTUP Dari pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya sistem struktur bangunan bekerja atas dasar aksi dan reaksi. Dalam aksi tersebut berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap berdirinya sebuah bangunan secara keseluruhan, sehingga reaksi- nya pun bergerak secara keseluruhan pula. Pola struktur bangunan secara keseluruhan merupa- kan bentuk secara keruangan, karena memiliki aspek ruang yakni tiga dimensi, yaitu ada panjang, lebar dan tinggi dan ketiganya bekerja secara bersama-sama. Sebagai saran dalam merancang sistem struktur bangunan dianjurkan mendeteksi dan menginvetarisasi beban secara keseluruhan dalam satu model struktur, untuk selanjutnya diurai dalam beberapa bagian secara berkaitan yang menghasilkan satu rahgkaian jaringan struktur secara utuh dan menyeluruh. DAFTAR PUSTAKA Domenig, dkk. 2003. Indonesian Houses. Leiden: KITLV. Frick, Heinz dan Purwanto. 1997. Sistem Bentuk Struktur Bangunan. Yogyakarta: Kanisius & Soegijapranata University Press. Frick, Heinz dan Mulyani. 2006. Pedoman Bangunan Tahan Gempa. Yogyakarta: Kanisius & Lembaga Pendidikan LMB. Frick, Heinz dan Setiawan. 2005. Ilmu Konstruksi Struktur Bangunan. Yogyakarta: Kanisius & Soegijapranata University Press. Frick, Heinz dan Koesmartadi. 2008. "Konstruksi Berkelanjutan" dalam Proceeding Seminar Nasional Rehabilitasi Permukiman Pasca Gempa. Semarang: Program Studi Arsitektur Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Soegijapranata. Scodek, D. Daniel. 1999. Struktur (terjemahan) 1999. Jakarta: Erlangga. Steele, James. 1994. Architecture in Process. New York: Academy Editions. Verhandelingen. 2003. Indonesian Houses. Leiden: KITLV Press. 56 JURNALTESAARSITEKTUR, Nomor 6, Volume 1 Juli 2008