Apa yang dimaksud dengan Jalur
Rempah?
Hasil Konstruksi
Jalur rempah sebelumnya Jalur Sutra walaupun
jalur rempah tidak digunakan oleh para pelaut.
Istilah orang barat“spice Islands= kepulauan
Maluku Sebagai Penghasil Rempah
India menyebut Svarnadwipa =Pulau Sumatra
Bir Pletok
Jalur Rempah Pra Modern
Abad ke- 5 SM Peradaban besar di dunia
1. Yunani -> Romawi
2. Persia
3. India
4. Cina
Abad Ke-2 SM
Laut Tengah ->Cina Serta Jepang
(Sutra, Emas, Tekstil, besi , Perak dll)
Awal Rempah di Konsumsi
Mesir, Yunani dan Romawi berasal dari Malabar India (Lada), Kayu
Manis dari Srilanka
Menurut Frank Hubungan Perniagaan antara Cina
dan Nusantara Pada abad Ke -12 M lebih
dominan Rempah2.
Anthony Reid = pelayaran dan peniagaan di
nusantara lebih cocok disebut jalur rempah
ketimbang jalur sutra.
 Sejak perkembangan Islam abad ke- 7M -> 13M
menjadi cikal bakal perkembangan perdagangan
Rempah di Nusantara
Bahkan sejak Runtuhnya Konstantinopel oleh
kerajaan Turky 1453
Munculnya Kerajaan Baru
Abad Ke -14
Aceh -> Pidie dan Samudra pasai (Lada)
Abad Ke-16
Sumatra dan Jawa -> Kesultanan Aceh dan
Banten
Kalimantan -> Kesultanan Banjar
Sulawesi -> Kerajaan Gowa-Tallo
Maluku -> Ternate dan Tidore
Kota Perdagangan Besar (Enterpot) Kota Kota Pelabuhan Baru
Malaka (abda ke-15M)
 Asia Selatan dan Barat Seperti
Benggala, Calcut, Gujarat, Ormu Aden
dan Alexandria sampai Ke Italia (Laut
Tengah)
 Asia Timur seperti Ayuthaya di Siam
lalu Kanton Cina
 Aceh
 Banten
 Makassar
Abad Ke-16M
Pengaruh Asing
Monopoli Cengkeh di Maluku VOC
Abad ke- 15 Portugis, Spanyol, Inggris dan
Belanda
Abad ke-17 Belanda
Dampak
Catatan G.P. Secundus dan peta buatan
Claudius Ptolomaeus.
Surat Sultan Banten kepada Raja James I dan terjemahannya
dalam Bahasa Inggris oleh William Foster pada 1933.
Quizizz
Asesmen
1. Apa Hubungan Jalur Rempah dengan Jalur
Perdagangan Global?
2. Bagaimana Cikal Bakal Lahirnya Budaya
Bahari di Indonesia
3. Bagaiamanakah Jalur Rempah dapat
menciptakan Kebhinekaan Global?
4. Apa sikap yang Perlu diterapkan dalam
menjalin hubungan perdgangan?
Terimakasih
Jauh sebelum bangsa Eropa datang ke Nusantara, ribuan
tahun lalu, Jalur Rempah adalah rute nenek moyang kita
menjalin hubungan antarpulau, suku, bangsa, dengan
membawa rempah sebagai nilai untuk membangun
persahabatan yang membentuk asimilasi budaya dan
diplomasi di setiap pesinggahan. Jalur inilah yang
akhirnya menghubungkan Nusantara dan Dunia.
Datangnya penutur bahasa Austronesia ke Nusantara
sekitar 4.500 tahun lalu dengan perahu menjadi awal
pertukaran rempah dan komoditas lain antarpulau di
Indonesia Timur. Budaya mereka inilah yang menjadi cikal
bakal lahirnya budaya bahari yang melayarkan rempah
hingga ke Asia Selatan sampai Afrika Timur.
Jejak kayu gaharu ditemukan di India. Cengkih
dan kayu manis dari Indonesia timur sudah ada
di Mesir dan Laut Merah. Nenek moyang kita
juga membawa rempah ke Asia Tenggara, hingga
ke Campa, Kamboja, sehingga terjadi persebaran
budaya logam dari Dongson (Vietnam) hingga ke
Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.
Sejak awal Masehi, Jalur Rempah telah
menghubungkan India dan Tiongkok. Tercatat,
sudah ada pelaut Jawa yang mendarat di Tiongkok
pada abad ke-2 Masehi. Kapal-kapal Nusantara
digunakan para biarawan dari Tiongkok untuk pergi
belajar agama Buddha di Suvarnadvipa atau
Sriwijaya dan di India. Kerajaan besar Sriwijaya,
Mataram Hindu, Singasari, dan Majapahit
menjadikan perdagangan rempah sebagai jalur
interaksi utama yang menghubungkan Nusantara
dengan Asia Tenggara, Tiongkok, Asia Selatan, Asia
Barat, hingga ke Afrika Timur.
Jack Turner menulis dalam bukunya Spice, The
History of a Temptation (2005):
“Tidak ada rempah-rempah yang menempuh perjalanan lebih jauh
ataupun lebih eksotis daripada cengkih, pala, dan bunga pala Maluku.
Setelah panen di hutan pala di Banda atau di bawah bayangan gunung
vulkanik Ternate dan Tidore. Selanjutnya kemungkinan besar, rempah
tersebut dimuat dalam salah satu cadik yang masih melintasi pulau-
pulau di Nusantara. Rempah bisa juga dibawa oleh pedagang China
yang diketahui telah mengunjungi Maluku dari sejak abad ke-13.
Bergerak ke barat melewati Sulawesi, Borneo, dan Jawa melalui Selat
Malaka, rempah-rempah tersebut lalu dikapalkan menuju India dan
pasar rempah di Malabar. Selanjutnya komoditas itu dikirim dengan
kapal Arab menyeberangi Samudera Hindia menuju Teluk Persia atau
Laut Merah. Di salah satu dari sekian banyak pelabuhan tua, Basra,
Jeddah, Muskat atau Aqaba, rempah lalu dialihkan ke dalam karavan
besar menyusuri gurun pasir menuju pasar-pasar jazirah Arab dan
Alexandria dan Levant. Baru setelah mencapai perairan Mediterania,
rempah-rempah akhirnya tiba di tangan bangsa Eropa.”
Bukti awal adanya peran Nusantara dalam percaturan dagang di
Samudra Hindia datang dari seorang astronom Yunani bernama
Claudius Ptolomaeus yang tinggal di Alexandria, Mesir, pada abad ke-1
M. Ia menulis Guide to Geography, peta kuno di mana di dalamnya
tercantum nama sebuah kota bernama Barus, yang nampaknya
merupakan kota pelabuhan kuno yang amat penting di Sumatera dan
dunia. Nama metropolitan kuno ini mengingatkan kita pada sebuah
komoditas aromatik rempah yang kala itu amat berharga dan
senantiasa diburu oleh bangsa-bangsa mancanegara (Yunani-Romawi,
Mesir, Arab, Tiongkok, Hindustan), yakni kapur barus (Guillot, 2014).
Bukti kuno perdagangan rempah lainnya berasal dari Terqa, suatu situs
di Mesopotamia (sekarang Syria) di mana penggalian arkeologi
menemukan jambangan berisi Cengkih di gudang dapur rumah
sederhana tahun 1721 SM (Liggett, 1982).
Terkait dengan ini Anthony Reid, sejarawan terkemuka dalam
kajian Asia menyatakan dalam buku Southeast Asia in the Age of
Commerce, 1450-1680: Volume 2, Expansion and Crisis (1993):
“Cengkih dan kadang-kadang pala dan bunga
pala disebut di dalam catatan perdagangan di
Kairo dan Alexandria sejak abad ke-10, tapi
semuanya itu sangat jarang dan mahal di Eropa
hingga akhir abad ke-14. Orang Tiongkok juga
mengenal cengkih dan pala pada masa Dinasti
Tang tetapi menggunakannya dengan hemat
sebelum abad ke 15.”
• Para pedagang dari Melayu, Arab, Persia, dan Tiongkok membeli rempah dari
Nusantara, kemudian dibawa dengan kapal ke Teluk Persia dan didistribusikan ke
seluruh Eropa melalui Konstantinopel (Istanbul) di wilayah Turki saat ini–dengan
harga mencapai 600 kali lipat (Turner 2005).
• Tergiur tingginya harga rempah di pasaran dunia, sejak abad 15 Masehi bangsa-
bangsa Eropa mulai tergerak mencari wilayah kepulauan penghasil rempah-
rempah, hingga kemudian mencapai wilayah Nusantara. Dalam usaha mencari
rempah-rempah itu, mereka berinteraksi dan berkompetisi dengan berbagai
bangsa di dunia dalam suatu jaringan perdagangan global. Pada abad ini, lahir
sistem pelayaran modern yang dipicu oleh persaingan menemukan rempah yang
masyhur di Eropa meski belum diketahui persis dari mana asalnya. Aroma wangi
rempah Nusantara yang dikatakan turut mengubah wajah Eropa dari sistem
monarki feodal menjadi negara modern, semakin menggerakkan persaingan
pelayaran dunia. Wilayah Nusantara mulai terpetakan dengan jelas dalam jaringan
perdagangan dunia. Sejumlah catatan para pelawat dunia yang sempat singgah di
Nusantara memberi kesaksian wanginya aroma Rempah Nusantara di tengah
kegiatan perdagangan dunia yang tercipta di wilayah Nusantara.
Perdagangan rempah di Nusantara meninggalkan jejak
peradaban berupa peninggalan situs sejarah, ritus budaya,
hingga melahirkan beragam produk budaya yang terinspirasi
dari alam Nusantara yang kaya. Nampak sekali, di masa lalu
orang-orang dari berbagai bangsa berbondong-bondong ke
Nusantara tidak semata untuk berdagang, tetapi lebih pada
untuk membangun peradaban. Mulai dari Pelabuhan Barus di
Sumatera Utara yang diperkirakan ahli sudah berusia lebih
dari 5000 tahun, hingga era kerajaan-kerajaan di Nusantara
dengan bandar, seperti di Lamuri, Padang, Bengkulu,
Lampung, Banten, Jepara, Tuban, Gresik, Banjarmasin,
Makassar, Bali, dan Ternate-Tidore di Maluku–semuanya
terbentuk karena perdagangan rempah-rempah.
Poros perdagangan rempah-rempah global Asia, India–
Nusantara–Tiongkok, melalui perairan Hindia hingga Pasifik
juga meninggalkan jejak peradaban yang signifikan. Terletak di
sepanjang jalur maritim tersibuk di dunia, Nusantara dari
masa ke masa telah menjadi daerah strategis yang amat
penting dan tujuan perdagangan selama ribuan tahun. Tak
pelak, sebagai akibat dari lalu lintas laut yang padat ke Asia
Timur, Timur Tengah, Afrika, Eropa dan sebaliknya, banyak
peradaban berinteraksi; bertukar pengetahuan, pengalaman,
dan budaya. Ia menjelma sebagai ruang silaturahmi
antarmanusia lintas bangsa sekaligus sarana pertukaran dan
pemahaman antarbudaya yang mempertemukan berbagai
ide, konsep, gagasan, dan praksis, melampaui konteks ruang
dan waktu–dipertemukan oleh sungai, laut, dan samudra.
Jalur rempah menyebabkan berkembangnya beragam
pengetahuan dan kebudayaan yang bukan saja menjadi
warisan bagi Indonesia, namun juga merupakan warisan
bagi dunia. Karena posisi geopolitik dan geoekonominya
sangat strategis, terletak di antara dua benua dan
samudra, Indonesia merupakan “global meeting
point” dan sekaligus “global melting point”. Berkat
rempah, Nusantara menjadi tempat bertemunya manusia
dari berbagai belahan dunia dan menjadi wilayah
persemaian dan silang budaya yang mempertemukan
berbagai ide, gagasan, konsep, ilmu pengetahuan, agama,
bahasa, estetika, hingga adat kebiasaan. Jalur
perdagangan rempah-rempah melalui laut inilah yang
menjadi sarana bagi pertukaran antarbudaya yang
berkontribusi penting dalam membentuk peradaban
dunia.

Jalur Rempah.pptx

  • 2.
    Apa yang dimaksuddengan Jalur Rempah? Hasil Konstruksi Jalur rempah sebelumnya Jalur Sutra walaupun jalur rempah tidak digunakan oleh para pelaut. Istilah orang barat“spice Islands= kepulauan Maluku Sebagai Penghasil Rempah India menyebut Svarnadwipa =Pulau Sumatra
  • 9.
  • 12.
    Jalur Rempah PraModern Abad ke- 5 SM Peradaban besar di dunia 1. Yunani -> Romawi 2. Persia 3. India 4. Cina Abad Ke-2 SM Laut Tengah ->Cina Serta Jepang (Sutra, Emas, Tekstil, besi , Perak dll) Awal Rempah di Konsumsi Mesir, Yunani dan Romawi berasal dari Malabar India (Lada), Kayu Manis dari Srilanka
  • 13.
    Menurut Frank HubunganPerniagaan antara Cina dan Nusantara Pada abad Ke -12 M lebih dominan Rempah2. Anthony Reid = pelayaran dan peniagaan di nusantara lebih cocok disebut jalur rempah ketimbang jalur sutra.  Sejak perkembangan Islam abad ke- 7M -> 13M menjadi cikal bakal perkembangan perdagangan Rempah di Nusantara Bahkan sejak Runtuhnya Konstantinopel oleh kerajaan Turky 1453
  • 14.
    Munculnya Kerajaan Baru AbadKe -14 Aceh -> Pidie dan Samudra pasai (Lada) Abad Ke-16 Sumatra dan Jawa -> Kesultanan Aceh dan Banten Kalimantan -> Kesultanan Banjar Sulawesi -> Kerajaan Gowa-Tallo Maluku -> Ternate dan Tidore
  • 15.
    Kota Perdagangan Besar(Enterpot) Kota Kota Pelabuhan Baru Malaka (abda ke-15M)  Asia Selatan dan Barat Seperti Benggala, Calcut, Gujarat, Ormu Aden dan Alexandria sampai Ke Italia (Laut Tengah)  Asia Timur seperti Ayuthaya di Siam lalu Kanton Cina  Aceh  Banten  Makassar Abad Ke-16M
  • 17.
    Pengaruh Asing Monopoli Cengkehdi Maluku VOC Abad ke- 15 Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda Abad ke-17 Belanda
  • 19.
  • 20.
    Catatan G.P. Secundusdan peta buatan Claudius Ptolomaeus.
  • 26.
    Surat Sultan Bantenkepada Raja James I dan terjemahannya dalam Bahasa Inggris oleh William Foster pada 1933.
  • 27.
  • 28.
    Asesmen 1. Apa HubunganJalur Rempah dengan Jalur Perdagangan Global? 2. Bagaimana Cikal Bakal Lahirnya Budaya Bahari di Indonesia 3. Bagaiamanakah Jalur Rempah dapat menciptakan Kebhinekaan Global? 4. Apa sikap yang Perlu diterapkan dalam menjalin hubungan perdgangan?
  • 29.
  • 30.
    Jauh sebelum bangsaEropa datang ke Nusantara, ribuan tahun lalu, Jalur Rempah adalah rute nenek moyang kita menjalin hubungan antarpulau, suku, bangsa, dengan membawa rempah sebagai nilai untuk membangun persahabatan yang membentuk asimilasi budaya dan diplomasi di setiap pesinggahan. Jalur inilah yang akhirnya menghubungkan Nusantara dan Dunia. Datangnya penutur bahasa Austronesia ke Nusantara sekitar 4.500 tahun lalu dengan perahu menjadi awal pertukaran rempah dan komoditas lain antarpulau di Indonesia Timur. Budaya mereka inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya budaya bahari yang melayarkan rempah hingga ke Asia Selatan sampai Afrika Timur.
  • 31.
    Jejak kayu gaharuditemukan di India. Cengkih dan kayu manis dari Indonesia timur sudah ada di Mesir dan Laut Merah. Nenek moyang kita juga membawa rempah ke Asia Tenggara, hingga ke Campa, Kamboja, sehingga terjadi persebaran budaya logam dari Dongson (Vietnam) hingga ke Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.
  • 32.
    Sejak awal Masehi,Jalur Rempah telah menghubungkan India dan Tiongkok. Tercatat, sudah ada pelaut Jawa yang mendarat di Tiongkok pada abad ke-2 Masehi. Kapal-kapal Nusantara digunakan para biarawan dari Tiongkok untuk pergi belajar agama Buddha di Suvarnadvipa atau Sriwijaya dan di India. Kerajaan besar Sriwijaya, Mataram Hindu, Singasari, dan Majapahit menjadikan perdagangan rempah sebagai jalur interaksi utama yang menghubungkan Nusantara dengan Asia Tenggara, Tiongkok, Asia Selatan, Asia Barat, hingga ke Afrika Timur.
  • 33.
    Jack Turner menulisdalam bukunya Spice, The History of a Temptation (2005): “Tidak ada rempah-rempah yang menempuh perjalanan lebih jauh ataupun lebih eksotis daripada cengkih, pala, dan bunga pala Maluku. Setelah panen di hutan pala di Banda atau di bawah bayangan gunung vulkanik Ternate dan Tidore. Selanjutnya kemungkinan besar, rempah tersebut dimuat dalam salah satu cadik yang masih melintasi pulau- pulau di Nusantara. Rempah bisa juga dibawa oleh pedagang China yang diketahui telah mengunjungi Maluku dari sejak abad ke-13. Bergerak ke barat melewati Sulawesi, Borneo, dan Jawa melalui Selat Malaka, rempah-rempah tersebut lalu dikapalkan menuju India dan pasar rempah di Malabar. Selanjutnya komoditas itu dikirim dengan kapal Arab menyeberangi Samudera Hindia menuju Teluk Persia atau Laut Merah. Di salah satu dari sekian banyak pelabuhan tua, Basra, Jeddah, Muskat atau Aqaba, rempah lalu dialihkan ke dalam karavan besar menyusuri gurun pasir menuju pasar-pasar jazirah Arab dan Alexandria dan Levant. Baru setelah mencapai perairan Mediterania, rempah-rempah akhirnya tiba di tangan bangsa Eropa.”
  • 34.
    Bukti awal adanyaperan Nusantara dalam percaturan dagang di Samudra Hindia datang dari seorang astronom Yunani bernama Claudius Ptolomaeus yang tinggal di Alexandria, Mesir, pada abad ke-1 M. Ia menulis Guide to Geography, peta kuno di mana di dalamnya tercantum nama sebuah kota bernama Barus, yang nampaknya merupakan kota pelabuhan kuno yang amat penting di Sumatera dan dunia. Nama metropolitan kuno ini mengingatkan kita pada sebuah komoditas aromatik rempah yang kala itu amat berharga dan senantiasa diburu oleh bangsa-bangsa mancanegara (Yunani-Romawi, Mesir, Arab, Tiongkok, Hindustan), yakni kapur barus (Guillot, 2014). Bukti kuno perdagangan rempah lainnya berasal dari Terqa, suatu situs di Mesopotamia (sekarang Syria) di mana penggalian arkeologi menemukan jambangan berisi Cengkih di gudang dapur rumah sederhana tahun 1721 SM (Liggett, 1982).
  • 35.
    Terkait dengan iniAnthony Reid, sejarawan terkemuka dalam kajian Asia menyatakan dalam buku Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680: Volume 2, Expansion and Crisis (1993): “Cengkih dan kadang-kadang pala dan bunga pala disebut di dalam catatan perdagangan di Kairo dan Alexandria sejak abad ke-10, tapi semuanya itu sangat jarang dan mahal di Eropa hingga akhir abad ke-14. Orang Tiongkok juga mengenal cengkih dan pala pada masa Dinasti Tang tetapi menggunakannya dengan hemat sebelum abad ke 15.”
  • 36.
    • Para pedagangdari Melayu, Arab, Persia, dan Tiongkok membeli rempah dari Nusantara, kemudian dibawa dengan kapal ke Teluk Persia dan didistribusikan ke seluruh Eropa melalui Konstantinopel (Istanbul) di wilayah Turki saat ini–dengan harga mencapai 600 kali lipat (Turner 2005). • Tergiur tingginya harga rempah di pasaran dunia, sejak abad 15 Masehi bangsa- bangsa Eropa mulai tergerak mencari wilayah kepulauan penghasil rempah- rempah, hingga kemudian mencapai wilayah Nusantara. Dalam usaha mencari rempah-rempah itu, mereka berinteraksi dan berkompetisi dengan berbagai bangsa di dunia dalam suatu jaringan perdagangan global. Pada abad ini, lahir sistem pelayaran modern yang dipicu oleh persaingan menemukan rempah yang masyhur di Eropa meski belum diketahui persis dari mana asalnya. Aroma wangi rempah Nusantara yang dikatakan turut mengubah wajah Eropa dari sistem monarki feodal menjadi negara modern, semakin menggerakkan persaingan pelayaran dunia. Wilayah Nusantara mulai terpetakan dengan jelas dalam jaringan perdagangan dunia. Sejumlah catatan para pelawat dunia yang sempat singgah di Nusantara memberi kesaksian wanginya aroma Rempah Nusantara di tengah kegiatan perdagangan dunia yang tercipta di wilayah Nusantara.
  • 38.
    Perdagangan rempah diNusantara meninggalkan jejak peradaban berupa peninggalan situs sejarah, ritus budaya, hingga melahirkan beragam produk budaya yang terinspirasi dari alam Nusantara yang kaya. Nampak sekali, di masa lalu orang-orang dari berbagai bangsa berbondong-bondong ke Nusantara tidak semata untuk berdagang, tetapi lebih pada untuk membangun peradaban. Mulai dari Pelabuhan Barus di Sumatera Utara yang diperkirakan ahli sudah berusia lebih dari 5000 tahun, hingga era kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan bandar, seperti di Lamuri, Padang, Bengkulu, Lampung, Banten, Jepara, Tuban, Gresik, Banjarmasin, Makassar, Bali, dan Ternate-Tidore di Maluku–semuanya terbentuk karena perdagangan rempah-rempah.
  • 39.
    Poros perdagangan rempah-rempahglobal Asia, India– Nusantara–Tiongkok, melalui perairan Hindia hingga Pasifik juga meninggalkan jejak peradaban yang signifikan. Terletak di sepanjang jalur maritim tersibuk di dunia, Nusantara dari masa ke masa telah menjadi daerah strategis yang amat penting dan tujuan perdagangan selama ribuan tahun. Tak pelak, sebagai akibat dari lalu lintas laut yang padat ke Asia Timur, Timur Tengah, Afrika, Eropa dan sebaliknya, banyak peradaban berinteraksi; bertukar pengetahuan, pengalaman, dan budaya. Ia menjelma sebagai ruang silaturahmi antarmanusia lintas bangsa sekaligus sarana pertukaran dan pemahaman antarbudaya yang mempertemukan berbagai ide, konsep, gagasan, dan praksis, melampaui konteks ruang dan waktu–dipertemukan oleh sungai, laut, dan samudra.
  • 40.
    Jalur rempah menyebabkanberkembangnya beragam pengetahuan dan kebudayaan yang bukan saja menjadi warisan bagi Indonesia, namun juga merupakan warisan bagi dunia. Karena posisi geopolitik dan geoekonominya sangat strategis, terletak di antara dua benua dan samudra, Indonesia merupakan “global meeting point” dan sekaligus “global melting point”. Berkat rempah, Nusantara menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai belahan dunia dan menjadi wilayah persemaian dan silang budaya yang mempertemukan berbagai ide, gagasan, konsep, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, estetika, hingga adat kebiasaan. Jalur perdagangan rempah-rempah melalui laut inilah yang menjadi sarana bagi pertukaran antarbudaya yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia.