•Haji Wanita
1. Kewajiban Haji dan Umrah bagi Wanita
Kewajiban haji dan umrah bagi wanita sama saja dengan laki – laki, hanya
saja ditambah satu syarat lagi yaitu wajib adanya Mahrom ( suami atau orang yang
dipercaya ).
Sebagian ulama’ menggolongkan istitha’ah wanita termasuk Ghairu
Mubasyarah, dengan pengertian walaupun ia tidak memiliki harta, akan tetapi
suaminya mampu dan mau membawanya haji maka baginya wajib melaksanakan
haji. Beberapa pendapat mengatakan bahwa untuk melaksanakan wajib haji (
‫جاةاللسل م‬ّ‫ة‬ ‫ح‬ ) bagi wanita, izin suaminya / mahromnya tidak menjadi syarat istitha’ah
baginya.
2. Pelaksanaan Haji dan Umrah Wanita
Pelaksanaan Haji dan Umrah bagi wanita ada beberapa hal yang berbeda
dengan laki – laki yaitu:
a. Pakaian ihramnya adalah pakaian sehari – hari yang menutup seluruh
auratnya kecuali wajah dan kedua tangan dari ujung jari sampai
pergelangan (pakaian yang berjahit ).
b. Tidak di sunahkan berlari—lari pada tiga putaran Thawafnya ( antara
rukun Iraqi sampai rukun Yamani ).
c. Tidak mengeraskan suara dalam membaca talbiyah.
d. Tidak berlari – lari kecil dalam sa’i diantara dua pilar hijau ( hanya
disunahkan mempercepat langkahnya ).
e. Tidak diperbolehkan menggunduli kepalanya, akan tetapi hanya
memotong ujung– ujung rambutnya sepanjang jari.
3. Rukhshah ( keringanan ) bagi wanita dalam pelaksanaan haji.
Dalam pelaksanaan haji , wanita diberikan rukhshah ( keringanan )
sebagai berikut :
a. Tidak wajib thawaf wada’ saat menjelang kepergiannya meninggalkan
tanah haram apabila dalam keadaan haid atau nifas.
b. Diperbolehkan meninggalkan muzdalifah ke Mina lebih dahulu untuk
melontar Jumroh Aqabah setelah lewat tengah malam ( sebelum terbit
fajar hari Nahr 10 Zulhijjah ) berdasarkan hadist riwayat Bukhari Muslim
dari Asma binti Abu Bakar saat ditanya oleh Abdullah ( pembantunya )
Asma menjawab :
‫ي‬َّ  ‫ن‬َ‫ّي‬‫ب‬ُ‫ن‬‫يبا‬َ‫ّي‬‫ال‬َّ  ‫ك‬ُ‫ن‬‫ن‬َّ  ‫أ‬َ‫ّي‬‫ل‬َ‫ّي‬ ‫و‬ْ‫َل‬ ‫س‬ُ‫ن‬ ‫ر‬َ‫ّي‬‫ل‬ّ‫ل‬ ‫ا‬‫صلي‬‫ل‬ّ‫ل‬ ‫ا‬‫عليه‬‫ل م‬ّ‫ل‬‫وس‬‫ن‬َ‫ّي‬ ‫ذ‬ِ‫َن‬‫أ‬َ‫ّي‬‫ن‬ِ‫َن‬ ‫ع‬ْ‫َل‬ ‫ظ‬َّ  ‫لل‬ِ‫َن‬
(‫عليه‬ ‫متفق‬ )
Artinya:
Tidak wahai anakku, Rasulullah Saw telah memberi izin bagi wanita
yang mengalami kesulitan bepergian ( untuk berangkat lebih cepat ).
c. Diperbolehkan menutup wajahnya saat ihram apabila bertemu dengan
laki – laki lain ( bukan Mahrom ).

Haji wanita

  • 1.
    •Haji Wanita 1. KewajibanHaji dan Umrah bagi Wanita Kewajiban haji dan umrah bagi wanita sama saja dengan laki – laki, hanya saja ditambah satu syarat lagi yaitu wajib adanya Mahrom ( suami atau orang yang dipercaya ). Sebagian ulama’ menggolongkan istitha’ah wanita termasuk Ghairu Mubasyarah, dengan pengertian walaupun ia tidak memiliki harta, akan tetapi suaminya mampu dan mau membawanya haji maka baginya wajib melaksanakan haji. Beberapa pendapat mengatakan bahwa untuk melaksanakan wajib haji ( ‫جاةاللسل م‬ّ‫ة‬ ‫ح‬ ) bagi wanita, izin suaminya / mahromnya tidak menjadi syarat istitha’ah baginya. 2. Pelaksanaan Haji dan Umrah Wanita Pelaksanaan Haji dan Umrah bagi wanita ada beberapa hal yang berbeda dengan laki – laki yaitu: a. Pakaian ihramnya adalah pakaian sehari – hari yang menutup seluruh auratnya kecuali wajah dan kedua tangan dari ujung jari sampai pergelangan (pakaian yang berjahit ). b. Tidak di sunahkan berlari—lari pada tiga putaran Thawafnya ( antara rukun Iraqi sampai rukun Yamani ). c. Tidak mengeraskan suara dalam membaca talbiyah. d. Tidak berlari – lari kecil dalam sa’i diantara dua pilar hijau ( hanya disunahkan mempercepat langkahnya ). e. Tidak diperbolehkan menggunduli kepalanya, akan tetapi hanya memotong ujung– ujung rambutnya sepanjang jari. 3. Rukhshah ( keringanan ) bagi wanita dalam pelaksanaan haji. Dalam pelaksanaan haji , wanita diberikan rukhshah ( keringanan ) sebagai berikut : a. Tidak wajib thawaf wada’ saat menjelang kepergiannya meninggalkan tanah haram apabila dalam keadaan haid atau nifas. b. Diperbolehkan meninggalkan muzdalifah ke Mina lebih dahulu untuk melontar Jumroh Aqabah setelah lewat tengah malam ( sebelum terbit fajar hari Nahr 10 Zulhijjah ) berdasarkan hadist riwayat Bukhari Muslim
  • 2.
    dari Asma bintiAbu Bakar saat ditanya oleh Abdullah ( pembantunya ) Asma menjawab : ‫ي‬َّ ‫ن‬َ‫ّي‬‫ب‬ُ‫ن‬‫يبا‬َ‫ّي‬‫ال‬َّ ‫ك‬ُ‫ن‬‫ن‬َّ ‫أ‬َ‫ّي‬‫ل‬َ‫ّي‬ ‫و‬ْ‫َل‬ ‫س‬ُ‫ن‬ ‫ر‬َ‫ّي‬‫ل‬ّ‫ل‬ ‫ا‬‫صلي‬‫ل‬ّ‫ل‬ ‫ا‬‫عليه‬‫ل م‬ّ‫ل‬‫وس‬‫ن‬َ‫ّي‬ ‫ذ‬ِ‫َن‬‫أ‬َ‫ّي‬‫ن‬ِ‫َن‬ ‫ع‬ْ‫َل‬ ‫ظ‬َّ ‫لل‬ِ‫َن‬ (‫عليه‬ ‫متفق‬ ) Artinya: Tidak wahai anakku, Rasulullah Saw telah memberi izin bagi wanita yang mengalami kesulitan bepergian ( untuk berangkat lebih cepat ). c. Diperbolehkan menutup wajahnya saat ihram apabila bertemu dengan laki – laki lain ( bukan Mahrom ).