DOKTRIN PANGAN UTAMA, MEMENJARAKAN
                 KEBERAGAMAN PANGAN INDONESIA


                          Oleh: Muhammad Nawab al Hasan


     Beras sebagai pangan utama Indonesia sepertinya sudah menjadi doktrin
tersendiri. Hampir disetiap kesempatan masyarakat Indonesia tersasa kurang lengkap
jika belum mengkonsumsi komoditas pangan yang satu ini. Seakan-akan makanan
orang Indonesia adalah beras.
     Jika dilihat dari sejarahnya, pada dasarnya beras sendiri bukanlah komoditas
pertanian yang berasal dari Indonesia. Kultivar beras bila dilacak dari asal-usulnya
berasal dari daratan India, Mesir, sampai pada Thailand. Sehingga dapat dikatan
komoditas beras di Indonesia merupakan kultivar yang di Introduksi dari luar daratan
bumi pertiwi. Hal ini tidak mengherankan jika kualitas beras kita kalah dengan kualitas
dari Thailand, karena kultivar induknya memang berada disana. Namun, anehnya malah
komoditas ini yang banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia.
     Entah alasan apa yang membuat penduduk Indonesia sangat mencintai kutivar ini
yang apabila diusut sebenarnya kultivar ini berasal dari hasil introduksi. Jika ditilik
lebih lanjut, Indonesia yang berada pada garis Zamrud katulistiwa ini mempunyai
ragam kultivar pangan yang merupakan kultivar asli dari tanah Indonesia. Keberagaman
ini bisa dikatakan bukan hanya keberagaman yang sederhana, melainkan keragaman
yang sangat kompleks. Sangat subur tanah Indonesia dengan produk kultivar aslinya
yang sangat beragam seperti umbu-umbi, sayur-mayur, dan buah-buahan. Yang justru
anehnya komoditi ini tidak menjadi pangan utama orang Indonesia.
     Menilik sejarah banyak pendapat yang menyatakan bahwa doktrin beras sebagai
pangan utama orang Indonesia ditanam oleh penjajah ketika masih menjajah Indonesia.
Mengapa hal ini dilakukan? Jawabannya cukup masuk akal jika kita melihat nutrisi
yang terkandung dalam beras. Nutrisi yang terkandung dalam beras tidak lebih bagus,
malah berada dibawah daripada nutrisi yang terkandung pada tanaman pangan asli
Indonesia. Coba bandingkan saja dengan salah satu kultivar asli Indonesia yang
bernama pisang. Jika dibandingkan dengan pisang, nutrisi yang terkandung dalam beras
jelas kalah jauh. Baik itu dari aspek nutrisi utama seperti karbohidrat, protein, lemak,
maupun nutrisi-nutrisi mikro lainnya seperti vitamin dan zat-zat yang bermanfaat bagi
tubuh yang bermanfaat bagi tubuh. Dengan mendoktrin beras sebagi pangan utama
secara tidak langsung bangsa penjajah sudah melakukan strategi lewat asupan gizi bagi
masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti berhasil, dan apabila dikatakan dengan melihat
kondisi saat ini bangsa Indonesia kalau boleh dikatakan kalah dengan bangsa lain,
secara asupan nutrisi kita bisa dibilang mengalami kekalahan tersebut.
      Bagaimana kita bisa bangkit dari kekalahan ini. Satu-satunya jalan yang bisa
ditempuh adalah kembalikan diversifikasi pangan bebaskan keberagaman pangan
Indonesia. Kita harus kembali pada komoditi yang dianugerahkan langsung oleh tuhan
ke tanah bumi pertiwi tercinta ini. Jika hal ini dilakukan banyak aspek positif yang
dapat dinikmati oleh bangsa Indonesia. Baik yang berdampak pada petani, pedagang,
maupun konsumen. Selanjutnya akan berdampak pula pada produktivitas masyarakat
Indonesia, seperti kata pepatah “didalam raga yang sehat, terdapat jiwa yang kuat”.
Sehingga masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat yang lemah yang hanya bisa
mengeluh. Tatpi masyarakat yang sehat, mampu berpikir jernih, dan berproduktivitas
tinggi.
      Oleh karena itu, mari kita kembali ke komoditi pangan asli kitayang telah
dinugerahkan oleh Tuhan. Kita tidak harus secara penuh meninggalkan beras dalam
konsumsi keseharian kita. Tetapi, kita harus mengurangi konsumsinya dan
menggantinya dengan produk komoditas pangan asli Indonesia seperti umbi-umbi,
sayur-mayur, dan buah-buahan. Selain mengurangi ketergantungan pada beras, dengan
begitu kita juga dapat membantu taraf hidup petani. Peningkatan taraf hidup petani
sama dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia, karena tidak bisa
dipungkiri negara kita adalah negara agraris dengan pelaku pertanian terbesar dan hasil
pertanian yang sebenarnya mahakaya.
      Mari kita patahkan doktrin pangan utama yang mnenyesatkan kita, kita kembali
ke jalan yang benar dengan mengkonsumsi produk pangan asli indonesia. Bebaskan
kembali keanekaragaman produk pangan utama Indonesia. TANI JOYO!

Essai

  • 1.
    DOKTRIN PANGAN UTAMA,MEMENJARAKAN KEBERAGAMAN PANGAN INDONESIA Oleh: Muhammad Nawab al Hasan Beras sebagai pangan utama Indonesia sepertinya sudah menjadi doktrin tersendiri. Hampir disetiap kesempatan masyarakat Indonesia tersasa kurang lengkap jika belum mengkonsumsi komoditas pangan yang satu ini. Seakan-akan makanan orang Indonesia adalah beras. Jika dilihat dari sejarahnya, pada dasarnya beras sendiri bukanlah komoditas pertanian yang berasal dari Indonesia. Kultivar beras bila dilacak dari asal-usulnya berasal dari daratan India, Mesir, sampai pada Thailand. Sehingga dapat dikatan komoditas beras di Indonesia merupakan kultivar yang di Introduksi dari luar daratan bumi pertiwi. Hal ini tidak mengherankan jika kualitas beras kita kalah dengan kualitas dari Thailand, karena kultivar induknya memang berada disana. Namun, anehnya malah komoditas ini yang banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia. Entah alasan apa yang membuat penduduk Indonesia sangat mencintai kutivar ini yang apabila diusut sebenarnya kultivar ini berasal dari hasil introduksi. Jika ditilik lebih lanjut, Indonesia yang berada pada garis Zamrud katulistiwa ini mempunyai ragam kultivar pangan yang merupakan kultivar asli dari tanah Indonesia. Keberagaman ini bisa dikatakan bukan hanya keberagaman yang sederhana, melainkan keragaman yang sangat kompleks. Sangat subur tanah Indonesia dengan produk kultivar aslinya yang sangat beragam seperti umbu-umbi, sayur-mayur, dan buah-buahan. Yang justru anehnya komoditi ini tidak menjadi pangan utama orang Indonesia. Menilik sejarah banyak pendapat yang menyatakan bahwa doktrin beras sebagai pangan utama orang Indonesia ditanam oleh penjajah ketika masih menjajah Indonesia. Mengapa hal ini dilakukan? Jawabannya cukup masuk akal jika kita melihat nutrisi yang terkandung dalam beras. Nutrisi yang terkandung dalam beras tidak lebih bagus, malah berada dibawah daripada nutrisi yang terkandung pada tanaman pangan asli Indonesia. Coba bandingkan saja dengan salah satu kultivar asli Indonesia yang bernama pisang. Jika dibandingkan dengan pisang, nutrisi yang terkandung dalam beras jelas kalah jauh. Baik itu dari aspek nutrisi utama seperti karbohidrat, protein, lemak,
  • 2.
    maupun nutrisi-nutrisi mikrolainnya seperti vitamin dan zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh yang bermanfaat bagi tubuh. Dengan mendoktrin beras sebagi pangan utama secara tidak langsung bangsa penjajah sudah melakukan strategi lewat asupan gizi bagi masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti berhasil, dan apabila dikatakan dengan melihat kondisi saat ini bangsa Indonesia kalau boleh dikatakan kalah dengan bangsa lain, secara asupan nutrisi kita bisa dibilang mengalami kekalahan tersebut. Bagaimana kita bisa bangkit dari kekalahan ini. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah kembalikan diversifikasi pangan bebaskan keberagaman pangan Indonesia. Kita harus kembali pada komoditi yang dianugerahkan langsung oleh tuhan ke tanah bumi pertiwi tercinta ini. Jika hal ini dilakukan banyak aspek positif yang dapat dinikmati oleh bangsa Indonesia. Baik yang berdampak pada petani, pedagang, maupun konsumen. Selanjutnya akan berdampak pula pada produktivitas masyarakat Indonesia, seperti kata pepatah “didalam raga yang sehat, terdapat jiwa yang kuat”. Sehingga masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat yang lemah yang hanya bisa mengeluh. Tatpi masyarakat yang sehat, mampu berpikir jernih, dan berproduktivitas tinggi. Oleh karena itu, mari kita kembali ke komoditi pangan asli kitayang telah dinugerahkan oleh Tuhan. Kita tidak harus secara penuh meninggalkan beras dalam konsumsi keseharian kita. Tetapi, kita harus mengurangi konsumsinya dan menggantinya dengan produk komoditas pangan asli Indonesia seperti umbi-umbi, sayur-mayur, dan buah-buahan. Selain mengurangi ketergantungan pada beras, dengan begitu kita juga dapat membantu taraf hidup petani. Peningkatan taraf hidup petani sama dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia, karena tidak bisa dipungkiri negara kita adalah negara agraris dengan pelaku pertanian terbesar dan hasil pertanian yang sebenarnya mahakaya. Mari kita patahkan doktrin pangan utama yang mnenyesatkan kita, kita kembali ke jalan yang benar dengan mengkonsumsi produk pangan asli indonesia. Bebaskan kembali keanekaragaman produk pangan utama Indonesia. TANI JOYO!