Ahmad Madu
SEBUAH INSPIRASI UNTUK HIDUP LEBIH BAHAGIA.
CHAPTER -1:
MENTALITAS JUARA
Alkisah, ada seekor tikus yang bosan
menghindari seekor kucing.  Si tikus
lalu berdoa, memohon agar dirinya bisa
menjadi kucing. Dan secara ajaib do-
anya terkabul. Ia pun berubah menjadi
kucing.
Tapi itu tak bertahan lama. Ia resah ma-
sih harus berlari-lari kali ini menghindar
dari si anjing. Ia pun lalu berdoa lagi me-
mohon agar bisa menjadi anjing. Dan
ajaib! ia seketika berubah menjadi an-
jing.
Tapi, tak lama ia menikmati menjadi an-
jing, ia harus berlari lagi. Kali ini
menghindari anak-anak nakal yang se-
lalu mengganggunya di ujung jalan. Ia
pun lagi-lagi berdoa agar ia bisa beru-
bah menyerupai anak-anak itu. Tapi……
Tuhan berkata, 'Percuma saja kuubah
dirimu jadi apapun, karena mentalmu
1
MENTALITAS POSITIF ADALAH
PONDASI SUKSES
tetap saja mental seekor tikus! Maka,
ku kembalikan sajalah kamu menjadi
tikus'.
Cerita diatas semoga benar-benar men-
yadarkan kita akan pentingnya sebuah
MENTALITAS.  Baik Anda yang
sekarang menjadi karyawan atau pen-
gusaha, haruslah memiliki mental pe-
menang. Mental peme-
nang adalah selalu
proaktif fokus mencari
peluang, solusi, penuh
dengan ide kreatif dan
selalu mengasah ke-
mampuannya untuk
mampu bersaing.
Karena jika kita tidak
memilikinya, pasti ban-
yak mengalami kekalahan & keterpuru-
kan. Mentalitas kita pun di uji saat tan-
tangan datang melanda. Dan terka-
dang dalam diri kita muncul lah yang di
namakan mental defense. Sebagai con-
toh yang bukan sosok mental peme-
nang, banyak karyawan yang berpuluh-
puluh tahun kerjapun, banyak yang po-
sisinya masih sama sampai menjelang
masa pensiun. Tidak ada pengemban-
gan dalam diri mereka dan dalam kese-
hariannya pun hanya mengeluh tentang
keadaan. Dari sisi pengusaha, Ada juga
pengusaha yang tidak berkembang dan
akhirnya bangkrut. Karena mereka ti-
dak mau menjemput rejeki, maunya
menunggu. Alhasil mereka tidak bisa
bersaing dengan kompetitior, banyak
hutang yang belum dilunasi, tak jarang
dari mereka stress dan mengalami
gangguan jiwa.
Jika saya amati,
kebanyakan dari
mereka gagal bu-
kan mereka tidak
bisa, tapi tidak
mempunyai sikap
mental positif un-
tuk berkembang,
kebanyakan diantara mereka tidak mau
mencoba dan…. mereka mempunyai si-
fat “dewa”. Hehehe.. ya, sudah merasa
paling tahu, paling benar, dan tidak
menerima saran. Dan bagi Anda, baik
karyawan dan pengusaha yang
merasakan hal ini, simaklah baik-baik
apa yang dikatakan Joe Vitale seorang
presiden hypnothic marketing di Texas,
“Semua orang bisa segera sukses,
asal mereka mempunyai mental yang
2
positif. Dan mental positif adalah
mereka yang selalu mengambil tinda-
kan terus menerus dengan berbagai
cara dan mau bertanya kepada orang
yang sudah lebih dahulu sukses”.
Berbicara mengenai mentalitas, saya
teringat dengan pepatah yang  menga-
takan, rumput tetangga selalu tampak
lebih hijau. Begitu pun dalam analogi si
pemalas vs pemburu. Terkadang, baik
pengusaha atau karyawan sering
merasa iri dengan karyawan atau pen-
gusaha yang sudah berhasil. Mereka
akhirnya larut dalam berandai-andai. An-
dai saya bisa seperti mereka, kapan ya
bisa seperti mereka, andai Tuhan tidak
memberikan kepedihan ini (Loh…loh ko
jadi nyalahin Tuhan ya). Hm.. sering
mereka tidak sadari bahwa orang yang
sukses baik jadi karyawan atau pengu-
saha, sebenarnya mereka telah mem-
bayar harga yang mahal demi menca-
pai kesuksesannya. Dan orang sukses
inilah yang sering disebut sebagai pem-
buru handal. Tak kenal lelah, tidak ter-
pengaruh hal negatif. Mereka selalu
bersemangat untuk mencari buruan-
nya. Selalu menyusun strategi agar
bisa bersaing dengan pemburu lain.
Dan mereka selalu merawat bedil seba-
gai senjatanya dan berlatih di waktu
senggang.
Berbicara soal mentalitas, jangan-
jangan selama ini kita hanya menjadi si
complainer. Suatu sikap yang mudah
menuntut, mengharapkan situasi berja-
lan sebagaimana mestinya. Bersikap
idealis tapi idealisme ini lebih dipakai un-
tuk mengeluh dan mengkritik berbagai
hal yang tidak disukainya. Si complainer
ini membangun dalam diri mereka
emosi-emosi tidak menyenangkan yang
selalu dibagikan setiap saat. Tidak
jarang energi negatif mereka mempen-
garuhi orang lain. Dan pada akhirnya
dalam hal produktivitas pun mereka
rendah. Akibatnya jika Anda seorang
karyawan atau pengusaha yang mem-
punyai sikap complainer bersiaplah
karir Anda melaju dengan lambat bah-
kan mengalami kemunduran. Maka mu-
lai dari sekarang mari membangun
mental go-getter.
 
Go-getter adalah sikap optimis dan be-
rusaha melakukan sesuatu untuk mem-
perbaiki keadaan. Terhadap berbagai
3
situasi yang tidak menyenangkan, para
go-getter ini pun berusaha melakukan
sesuatu untuk mengubahnya. Mereka
berfokus pada energi serta emosi yang
menyenangkan. Saat mereka mampu
melakukan sesuatu untuk merubah,
mereka akan bertindak. Namun, tatkala
tidak mampu melakukan sesuatu,
mereka akan berkata, “Baiklah, kita ti-
dak bisa mengubah sesuatupun disini,
kita terima dulu. Kalau ada yang sa-
lah, kita akan selalu bisa membi-
carakan untuk mengubahnya”. Seman-
gat mereka yang demikian, justru mem-
buat mereka cepat beradaptasi den-
gan situasi dan merekalah yang
akhirnya mencapai hal yang terbaik
dari situasi maupun aturan yang beru-
bah.
Masih soal mentalitas, saya teringat ki-
sah klasik tentang seekor domba yang
jengkel karena dikejar-kejar serigala.
Maka, suatu hari ia memutuskan untuk
memakai baju seperti serigala. Wah…
betapa bahagianya saat Ia memakai
baju serigala itu. Ia merasa kini ia tidak
ketakutan lagi. Setelah baju serigala ia
kenakan, dengan gagah ia berjalan ke
kawanan serigala. Tidak ada seekor se-
rigala pun yang mencurigainya. Namun,
datanglah saat dimana seekor serigala
mulai melolong dan mengeram menge-
luarkan taringnya karena siap berkelahi
diantara sesama mereka, tiba-tiba apa
yang terjadi dengan domba yang ber-
baju serigala itu? Hu….. seluruh tu-
buhnya menjadi gemeteran, dan ia pun
jatuh pingsan!
Cerita tadi adalah gambaran yang
menarik mengenai perlunya mengubah
mentalitas sebelum mengubah kebi-
asaan dan cara hidup kita. Segalanya
dimulai dari apa yang kita pikirkan.
Pada domba itu yang berubah hanyalah
fisik luarnya saja. Namun, jiwa dan men-
tal yang mengendalikan fisik itu masih
tetap seekor domba. Tidak heran kan
jika domba tersebut pingsan, tatkala
4
para serigala mulai mengeluarkan
taring-taringnya.
Hal yang sama juga berlaku pada para
karyawan atau pengusaha yang ingin
menjadi sosok berprestasi. Untuk ber-
prestasi biasanya setiap proses dimulai
dengan begitu bersemangat, antusias
dan penuh percaya diri. Di awal-awal
memulai proses, mereka begitu ber-
tenaga dan penuh vitalitas. Namun, da-
tanglah masa-masa kelam, ketika kesuli-
tan dan tantangan mulai berdatangan.
Keadaan ideal yang mereka impikan
dan perhitungkan, ternyata tidak ter-
jadi. Datanglah rasa pesimis melanda,
semangat mereka pun mulai mengen-
dor. Mereka akhirnya mulai membay-
angkan kembali pada kenyamanan un-
tuk menjadi seseorang yang biasa saja
tanpa prestasi. Tak perlu lebih produktif
pun, tetap di gaji, itu kata karyawan. Tak
perlu terlalu berinovasi pun, toh juga pe-
langgan datang tiap hari, itu kata pengu-
saha.
Mengenai mental pemenang, saya ter-
ingat dengan sosok Jackie Chan. Seba-
gai salah satu dari segelintir bintang
film Asia yang berhasil diakui Holly-
wood, perjuangan Jackie Vhan sungguh
meletihkan . Lahir tahun 1956 di ke-
luarga yang sangat miskin, dia lalu diki-
rim ke China Opera Academy sejak usia
7 tahun. Selama sepuluh tahun ia di
didik dengan cara-cara brutal untuk per-
tunjukan silat. Sebulan sekali, ia hidup
dari anggota palang merah yang men-
datangi mereka untuk memberikan
makanan serta pakaian yang layak.
Karena Jackie Chan memiliki mental pe-
menang, penggemblengan atas kesem-
purnaan yang didapatnya selama sepu-
luh tahun sejak usia mudanya menjadi-
kannya sebagai aktor dengan disiplin
tinggi untuk mencapai kesempurnaan
dalam bidangnya.  Kesempurnaan bagi-
nya adalah sebuah obsesi dan kesenan-
gan. Ia mengatakan, “Senang rasanya
ketika orang menonton film saya lalu
berkata, hebat sekali, bagaimana ia
melakukannya?” Jackie Chan telah
5
membayar ongkosnya sejak kecil den-
gan cara dicambuk, dipukul dan
berjam-jam dipaksa berlatih selama pu-
luhan tahun. Itulah ongkos yang harus
dibayar olehnya. Waw… itulah mentali-
tas seorang pemenang. Untuk menjadi
seperti sekarang,
Jackie Chan harus
membayar harga yang
mahal terlebih dahulu
sebelum akhirnya dia
dibayar mahal he-
hehe….
Dari cerita diatas, da-
pat dibayangkan jika
Jackie Chan tidak
mempunyai mental se-
orang pemenang,
pasti pada saat penggemblengan dia
akan lari, lapor polisi, berteriak, update
status (waktu itu mungkin belum ada
hehe). Atau dia akan sering mengeluh
kesakitan dan mengkritik para men-
tornya bahwa cara mendidik yang
mereka lakukan salah. Jika itu sampai
terjadi, kita semua tidak akan mengenal
sosok Jackie Chan, seorang master
bela diri.
Pada akhirnya, jika kita ingin lebih suk-
ses dari sekarang mulailah untuk mem-
bentuk mental pemenang yang selalu
ingin mengembangkan potensi yang di-
miliki. Terus melakukan tindakan demi
tindakan untuk mencapai tujuan yang
kita inginkan. Tidak
menjadi sosok com-
plainer yang setiap
harinya hanya menge-
luh dan mengkritik di
belakang tanpa mem-
berikan aksi solusi
yang nyata. Jadi lah so-
sok  go-getter yang
mempunyai mental pe-
menang dan selalu
fokus pada solusi. Sa-
darlah jika kita memiliki mental peme-
nang, untuk menjadi lebih sukses dan
berprestasi ada ongkos yang harus di-
bayar. Perlu diingat, yang instan terka-
dang tidak sehat!
Pertanyaannya, berapa ongkos yang
berani Anda bayar untuk mencapai ke-
suksesan dalam bidang yang Anda
tekuni sekarang?
6
Sahabat, semoga makna dari tulisan ini
bermanfaat bagi kita semua. Mari
bersama-sama mencapai kesuksesan
dengan memiliki sikap mental peme-
nang. “When you grow, Your income
will grow” – Zig ziglar
Have A Great Day!
Ahmad Madu
7

ebook - mentalitas pemenang

  • 1.
    Ahmad Madu SEBUAH INSPIRASIUNTUK HIDUP LEBIH BAHAGIA. CHAPTER -1: MENTALITAS JUARA
  • 2.
    Alkisah, ada seekortikus yang bosan menghindari seekor kucing.  Si tikus lalu berdoa, memohon agar dirinya bisa menjadi kucing. Dan secara ajaib do- anya terkabul. Ia pun berubah menjadi kucing. Tapi itu tak bertahan lama. Ia resah ma- sih harus berlari-lari kali ini menghindar dari si anjing. Ia pun lalu berdoa lagi me- mohon agar bisa menjadi anjing. Dan ajaib! ia seketika berubah menjadi an- jing. Tapi, tak lama ia menikmati menjadi an- jing, ia harus berlari lagi. Kali ini menghindari anak-anak nakal yang se- lalu mengganggunya di ujung jalan. Ia pun lagi-lagi berdoa agar ia bisa beru- bah menyerupai anak-anak itu. Tapi…… Tuhan berkata, 'Percuma saja kuubah dirimu jadi apapun, karena mentalmu 1 MENTALITAS POSITIF ADALAH PONDASI SUKSES
  • 3.
    tetap saja mentalseekor tikus! Maka, ku kembalikan sajalah kamu menjadi tikus'. Cerita diatas semoga benar-benar men- yadarkan kita akan pentingnya sebuah MENTALITAS.  Baik Anda yang sekarang menjadi karyawan atau pen- gusaha, haruslah memiliki mental pe- menang. Mental peme- nang adalah selalu proaktif fokus mencari peluang, solusi, penuh dengan ide kreatif dan selalu mengasah ke- mampuannya untuk mampu bersaing. Karena jika kita tidak memilikinya, pasti ban- yak mengalami kekalahan & keterpuru- kan. Mentalitas kita pun di uji saat tan- tangan datang melanda. Dan terka- dang dalam diri kita muncul lah yang di namakan mental defense. Sebagai con- toh yang bukan sosok mental peme- nang, banyak karyawan yang berpuluh- puluh tahun kerjapun, banyak yang po- sisinya masih sama sampai menjelang masa pensiun. Tidak ada pengemban- gan dalam diri mereka dan dalam kese- hariannya pun hanya mengeluh tentang keadaan. Dari sisi pengusaha, Ada juga pengusaha yang tidak berkembang dan akhirnya bangkrut. Karena mereka ti- dak mau menjemput rejeki, maunya menunggu. Alhasil mereka tidak bisa bersaing dengan kompetitior, banyak hutang yang belum dilunasi, tak jarang dari mereka stress dan mengalami gangguan jiwa. Jika saya amati, kebanyakan dari mereka gagal bu- kan mereka tidak bisa, tapi tidak mempunyai sikap mental positif un- tuk berkembang, kebanyakan diantara mereka tidak mau mencoba dan…. mereka mempunyai si- fat “dewa”. Hehehe.. ya, sudah merasa paling tahu, paling benar, dan tidak menerima saran. Dan bagi Anda, baik karyawan dan pengusaha yang merasakan hal ini, simaklah baik-baik apa yang dikatakan Joe Vitale seorang presiden hypnothic marketing di Texas, “Semua orang bisa segera sukses, asal mereka mempunyai mental yang 2
  • 4.
    positif. Dan mentalpositif adalah mereka yang selalu mengambil tinda- kan terus menerus dengan berbagai cara dan mau bertanya kepada orang yang sudah lebih dahulu sukses”. Berbicara mengenai mentalitas, saya teringat dengan pepatah yang  menga- takan, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Begitu pun dalam analogi si pemalas vs pemburu. Terkadang, baik pengusaha atau karyawan sering merasa iri dengan karyawan atau pen- gusaha yang sudah berhasil. Mereka akhirnya larut dalam berandai-andai. An- dai saya bisa seperti mereka, kapan ya bisa seperti mereka, andai Tuhan tidak memberikan kepedihan ini (Loh…loh ko jadi nyalahin Tuhan ya). Hm.. sering mereka tidak sadari bahwa orang yang sukses baik jadi karyawan atau pengu- saha, sebenarnya mereka telah mem- bayar harga yang mahal demi menca- pai kesuksesannya. Dan orang sukses inilah yang sering disebut sebagai pem- buru handal. Tak kenal lelah, tidak ter- pengaruh hal negatif. Mereka selalu bersemangat untuk mencari buruan- nya. Selalu menyusun strategi agar bisa bersaing dengan pemburu lain. Dan mereka selalu merawat bedil seba- gai senjatanya dan berlatih di waktu senggang. Berbicara soal mentalitas, jangan- jangan selama ini kita hanya menjadi si complainer. Suatu sikap yang mudah menuntut, mengharapkan situasi berja- lan sebagaimana mestinya. Bersikap idealis tapi idealisme ini lebih dipakai un- tuk mengeluh dan mengkritik berbagai hal yang tidak disukainya. Si complainer ini membangun dalam diri mereka emosi-emosi tidak menyenangkan yang selalu dibagikan setiap saat. Tidak jarang energi negatif mereka mempen- garuhi orang lain. Dan pada akhirnya dalam hal produktivitas pun mereka rendah. Akibatnya jika Anda seorang karyawan atau pengusaha yang mem- punyai sikap complainer bersiaplah karir Anda melaju dengan lambat bah- kan mengalami kemunduran. Maka mu- lai dari sekarang mari membangun mental go-getter.   Go-getter adalah sikap optimis dan be- rusaha melakukan sesuatu untuk mem- perbaiki keadaan. Terhadap berbagai 3
  • 5.
    situasi yang tidakmenyenangkan, para go-getter ini pun berusaha melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Mereka berfokus pada energi serta emosi yang menyenangkan. Saat mereka mampu melakukan sesuatu untuk merubah, mereka akan bertindak. Namun, tatkala tidak mampu melakukan sesuatu, mereka akan berkata, “Baiklah, kita ti- dak bisa mengubah sesuatupun disini, kita terima dulu. Kalau ada yang sa- lah, kita akan selalu bisa membi- carakan untuk mengubahnya”. Seman- gat mereka yang demikian, justru mem- buat mereka cepat beradaptasi den- gan situasi dan merekalah yang akhirnya mencapai hal yang terbaik dari situasi maupun aturan yang beru- bah. Masih soal mentalitas, saya teringat ki- sah klasik tentang seekor domba yang jengkel karena dikejar-kejar serigala. Maka, suatu hari ia memutuskan untuk memakai baju seperti serigala. Wah… betapa bahagianya saat Ia memakai baju serigala itu. Ia merasa kini ia tidak ketakutan lagi. Setelah baju serigala ia kenakan, dengan gagah ia berjalan ke kawanan serigala. Tidak ada seekor se- rigala pun yang mencurigainya. Namun, datanglah saat dimana seekor serigala mulai melolong dan mengeram menge- luarkan taringnya karena siap berkelahi diantara sesama mereka, tiba-tiba apa yang terjadi dengan domba yang ber- baju serigala itu? Hu….. seluruh tu- buhnya menjadi gemeteran, dan ia pun jatuh pingsan! Cerita tadi adalah gambaran yang menarik mengenai perlunya mengubah mentalitas sebelum mengubah kebi- asaan dan cara hidup kita. Segalanya dimulai dari apa yang kita pikirkan. Pada domba itu yang berubah hanyalah fisik luarnya saja. Namun, jiwa dan men- tal yang mengendalikan fisik itu masih tetap seekor domba. Tidak heran kan jika domba tersebut pingsan, tatkala 4
  • 6.
    para serigala mulaimengeluarkan taring-taringnya. Hal yang sama juga berlaku pada para karyawan atau pengusaha yang ingin menjadi sosok berprestasi. Untuk ber- prestasi biasanya setiap proses dimulai dengan begitu bersemangat, antusias dan penuh percaya diri. Di awal-awal memulai proses, mereka begitu ber- tenaga dan penuh vitalitas. Namun, da- tanglah masa-masa kelam, ketika kesuli- tan dan tantangan mulai berdatangan. Keadaan ideal yang mereka impikan dan perhitungkan, ternyata tidak ter- jadi. Datanglah rasa pesimis melanda, semangat mereka pun mulai mengen- dor. Mereka akhirnya mulai membay- angkan kembali pada kenyamanan un- tuk menjadi seseorang yang biasa saja tanpa prestasi. Tak perlu lebih produktif pun, tetap di gaji, itu kata karyawan. Tak perlu terlalu berinovasi pun, toh juga pe- langgan datang tiap hari, itu kata pengu- saha. Mengenai mental pemenang, saya ter- ingat dengan sosok Jackie Chan. Seba- gai salah satu dari segelintir bintang film Asia yang berhasil diakui Holly- wood, perjuangan Jackie Vhan sungguh meletihkan . Lahir tahun 1956 di ke- luarga yang sangat miskin, dia lalu diki- rim ke China Opera Academy sejak usia 7 tahun. Selama sepuluh tahun ia di didik dengan cara-cara brutal untuk per- tunjukan silat. Sebulan sekali, ia hidup dari anggota palang merah yang men- datangi mereka untuk memberikan makanan serta pakaian yang layak. Karena Jackie Chan memiliki mental pe- menang, penggemblengan atas kesem- purnaan yang didapatnya selama sepu- luh tahun sejak usia mudanya menjadi- kannya sebagai aktor dengan disiplin tinggi untuk mencapai kesempurnaan dalam bidangnya.  Kesempurnaan bagi- nya adalah sebuah obsesi dan kesenan- gan. Ia mengatakan, “Senang rasanya ketika orang menonton film saya lalu berkata, hebat sekali, bagaimana ia melakukannya?” Jackie Chan telah 5
  • 7.
    membayar ongkosnya sejakkecil den- gan cara dicambuk, dipukul dan berjam-jam dipaksa berlatih selama pu- luhan tahun. Itulah ongkos yang harus dibayar olehnya. Waw… itulah mentali- tas seorang pemenang. Untuk menjadi seperti sekarang, Jackie Chan harus membayar harga yang mahal terlebih dahulu sebelum akhirnya dia dibayar mahal he- hehe…. Dari cerita diatas, da- pat dibayangkan jika Jackie Chan tidak mempunyai mental se- orang pemenang, pasti pada saat penggemblengan dia akan lari, lapor polisi, berteriak, update status (waktu itu mungkin belum ada hehe). Atau dia akan sering mengeluh kesakitan dan mengkritik para men- tornya bahwa cara mendidik yang mereka lakukan salah. Jika itu sampai terjadi, kita semua tidak akan mengenal sosok Jackie Chan, seorang master bela diri. Pada akhirnya, jika kita ingin lebih suk- ses dari sekarang mulailah untuk mem- bentuk mental pemenang yang selalu ingin mengembangkan potensi yang di- miliki. Terus melakukan tindakan demi tindakan untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Tidak menjadi sosok com- plainer yang setiap harinya hanya menge- luh dan mengkritik di belakang tanpa mem- berikan aksi solusi yang nyata. Jadi lah so- sok  go-getter yang mempunyai mental pe- menang dan selalu fokus pada solusi. Sa- darlah jika kita memiliki mental peme- nang, untuk menjadi lebih sukses dan berprestasi ada ongkos yang harus di- bayar. Perlu diingat, yang instan terka- dang tidak sehat! Pertanyaannya, berapa ongkos yang berani Anda bayar untuk mencapai ke- suksesan dalam bidang yang Anda tekuni sekarang? 6
  • 8.
    Sahabat, semoga maknadari tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Mari bersama-sama mencapai kesuksesan dengan memiliki sikap mental peme- nang. “When you grow, Your income will grow” – Zig ziglar Have A Great Day! Ahmad Madu 7