DESAIN JUDUL PTK

   NAMA        : SABARINA

    NIM            : F04116015

A. Latar belakang

   1. Nilai siswa di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sekolah.

   2. Kesulitan siswa untuk memahami ide-ide yang terdapat dalam materi pelajaran

      matematika yang

      diajarkan.

   3. Tujuan pembelajaran kurang terkait dengan apersepi.

   4. Siswa kurang merespon pada saat proses apersepsi dengan di tandai siswa tidak dapat

      menjawab pertanyaan guru

   5. Proses eksplorasi dan elaborasi belum terlaksana

   6. Proses konfirmasi mendominasi kegiatan pembelajaran

   7. Metode mengajar yang di gunakan cendrung ceramah

   8. Media kit dan media pembelajara (LKS) kurang di gunakan secara optimal.

   9. Buku teks merupakan andalan guru

   10. RPP jarang di gunakan oleh guru

B. Judul

   1. UPAYA          MENINGGKATKAN          PEMAHAMAN          KONSEP     MATEMATIKA

      MELALAUI            PEMANFAATAN         MEDIA         PEMBELAJARAN        BERBASIS

      LINGKUNGAN DENGAN PEDEKATAN KONSTEKSTUAL ( CTL ) DI KELAS VIII

      A SMPN 1 SALALATIGA
A. JUDUL DESAIN PENELITIAN

       UPAYA PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALAUI PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN
       BERBASIS LINGKUNGAN DENGAN PEDEKATAN KONSTEKSTUAL ( CTL ) DI KELAS VIII A SMPN 1
       SALALATIGA

   B. LATAR BELAKANG

           Setiap tahun nilai Ujian Nasional pada bidang studi matematika sangat rendah, selalu
di bawah kriteria ketuntasan minimal ( KKM ) , hanya 15% dari 65 siswa yang tuntas. Guru
merasa kurang puas dengan hasil kelulusan yang tidak sesuai dengan harapan.
        Bukti-bukti empiris di lapangan menunjukan masih banyak siswa mengalami kesulitan
dalam belajar geometri mulai tingkat asar sampai perguruan tinggi. Beberapa penelitian
menunjukan prestasi matematika, kususnya geometri siswa sekolah dasar masih rendah (Trias;
2008), sedangkan di SMP di temukan masih banyak siswa yang belum memahai konsep-konsep
geometri. Pada penelitian     Kusmaningrum (2009 ) di temukan banyak yang salah dalam
menyelesaikan soal-soal mengenai unsur-unsur kubus dan balok pada siswa SMP dan masih
banyak siswa yang menyatakan kubus bukan balok.
        Matematika adalah objek benda yang bersifat abstrak. Karena itu wajar kalau memang
tidak bisa langsung dipahami oleh siswa. Siswa merasa mendapat kesulitan untuk memahami
ide-ide yang abstrak yang dituangkan secara konkret. Hal itu dimungkinkan karena lemahnya
daya serap siswa, guru tidak memanfaatkan media berbasis lingkungan dengan pendekatan
kontekstual ( CTL ) secara optimal ditandainya dengan siswa tidak bisa menjawab dan pasif
setelah guru memberikan apersepi pelajaran yang lain yang sebenarnya ada kaitan dengan materi
yang diajarkan. Siswa nampak bingung untuk menyambungkan mata pelajaran yang lama
dengan materi yang akan diajarkan. Sehingga pelajaran matematika menjadi kurang menarik.
       Pada saat mengajar di bagian inti, proses eksplorasi sukar dilakukan, hal ini terjadi karena
guru telah terbiasa dengan menjelaskan materi terlebih dahulu, padahal isi eksplorasi adalah
menggali pengetahuan siswa secara maksimal, oleh karena proses eksplorasi belum berjalan
dengan maksimal, akibatnya proses elaborasi menjadi terhambat sehingga sulit untuk mencapai
tujuan pembelajaran itu sendiri.
       Dalam upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal dan mempermudah
pemahaman konsep-konsep matematika yang abstrak perlu adanya penggunaan dan pemanfaatan
media lingkungan dengan pendekatan kontekstual ( CTL ) secara maksimal, diharapkan siswa
memahami materi belajaran untuk mempermudah konsep-konsep matematika yang abstrak
menjadi lebih kongkrit dapat melihat , meraba, mengungkapkan secara langsung objek yang
sedang dipelajari. Konsep abstrak yang disajikan dengan media akan mempermudah siswa
memahami, mengerti serta dapat menanamkan konsep - konsep dari tingkat yang lebih mudah
sampai ke tingkat yang lebih sulit. Media berbasis lingkungan dapat menurunkan keabstrakan
konsep sehingga lebih mudah di maknai. Apalagi digunakan secara tepat akan membuat
pelajaran matematika lebih menarik dan menyenangkan, karena siswa dapat terlihat aktif dalam
kegiatan pembelajaran. Aktivitas mentalnya menjadi lebih hidup sehingga dapat membangkitkan
gairah untuk menerima materi yang akan di ajarkan. siswa dapat mengkonstruksikan sendiri
pengetahuan dalam ranah kognitif. Siswa tidak menerima begitu saja pengetahuan dari guru
tetapi menemukannya sendiri. Dengan demikian pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik
dan menyenangkan sehingga menghindari terbentuknya sikap negative siswa terhadap
matematika.
       Untuk dapat menggunakan media berbasis lingkungan dengan pendekatan kontekstual
(CTL ) dengan baik dan benar, guru dituntut memiliki kompetensi pedagogik yang memadai,
guru juga harus menguasai materi pembelajaran secara teoritis, supaya mengetahui bagaimana
cara menggunakan media tersebut secara praktis agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
          Sayangnya, masih banyak guru matematika yang kurang terlatih. Hal ini dapat dilihat

    dari tiga indikator utama, yakni rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya guru dengan

    ijazah di bidang matematika dan kurangnya pengembangan professional (Surapratana, 2007:

    25). Hasil penelitian PPPPTK Matematika Yogyakarta (2007) menunjukkan bahwa hampir

    sebagian besar guru matematika masih menggunakan cara-cara tradisional dalam proses

    pembelajarannya. Guru masih menggunakan paradigma memindahkan pengetahuan dari

    otak guru ke otak siswa. Siswa menjadi subjek pasif yang hanya menerima kucuran ceramah

    guru tentang pengetahuan. Rutinitas seperti ini membuat siswa bosan, apalagi metode yang

    digunakan guru kurang sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Guru juga lebih banyak

    menggunakan metode ceramah , dimana guru sangat mendominasi kelas, akibatnya siswa
menjadi pasif karena kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Apalagi kalau

guru kurang interaktif, tidak komunikatif terhadap siswa, juga guru kurang memberikan

bimbingan individu maka siswa menjadi tidak tertarik pada matematika dan berpotensi

membentuk sikap negatif siswa terhadap matematika.


      Pada saat proses pembelajaran berlangsung guru tidak bisa mengembangkan dan

mengaitkan kan materi dalam kehidupan sehari-hari dan terlalu terpaku dengan buku paket

dari percetakan, akibatnya siswa tidak dapat memahami apa yang dia dapatkan disekolah,

padahal materi matematika banyak yang melibatkat siswa dalam kegiatan sehari-hari. Guru

juga tidak merancang lembaran kerja siswa ( LKS) yang sesuai dengan kebutuhan materi

pelajaran serta situasi dan kondisi siswa setempat. Guru hanya memakai LKS yang sudah

tersedia yang di peroleh dari penerbit akibatnya materi yang ada kurang di cerna oleh siswa,

karena di duga si pembuat LKS berada di lingkungan lain yang belum tentu sama dengan

tempat peneliti bertugas.


     Oleh karena itu dapat dipahami jika pembelajaran matematika yang selama ini di

berikan agak sukar di terima dan di pahami oleh siswa.


     Diakhir pembelajaran guru kurang membimbing dan mengarahkan siswa untuk

membuat kesimpulan di mana materi yang telah di sampaikan sangat penting untuk

dipahami dan di kaitkan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa kurang memaknai

pembelajaran yang telah diberikan.


     Dari keadaan tersebut guru harus merubah cara proses pembelajaran yang konvesional

menjadi proses pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang diajarkan

sesuai dengan situasi kondisi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang di milikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-

hari sebagai individu, keluarga, masyarakat dan bangsa.


     Dengan proses pendekatan CTL dan          media berbasis lingkungan yang tepat, di

harapkan siswa mampu membangun sendiri pembelajan matematika yang lebih kongkret,

realistis, aktual, menyenangkan dan lebih bermakna, sehingga dapat meningkatkat motivsi

dan hasil belajar siswa. Hal ini di karenakan dalam CTL semua panca indra siswa di aktifkan

dan di manfaatkan secara serentak dalam proses belajar mengajar. Memanfaatan Media

berbasis lingkungan dengan pendekatan kontekstual ( CTL )                lebih menekankan

peberdayaan siswa, sehingga hasil belajar bukan hanya sebatas pengambilan nilai melainkan

menghayati dan memaknai dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


     Aktivitas siswa di mulai dari kegiatan awal seperti apersepsi dan motivasi, disini peran

guru sangat mutlak di perlukan untuk pada apersepsi dimana guru bisa mengaitkan pelajaran

yang lalu dengan pelajaran akan diterima siswa, disinilah penggalian motivasi siswa

dimulai. Guru harus bisa menjembatani kegitan awal seperti kegiatan apersepsi dan motivasi

ke proses kegiatan inti. Disilah kegiatan ekplorasi siswa dimulai dengan menggali

kemampuan siswa yang lalu sehingga dapat mengaitkan materi yang sudah dipelajari dengan

materi baru yang akan di ajarkan dengan melibatkan siswa yang disajikan secara bervariasi

mengunakan media berbasis lingkungan, dengan demikian di harapkan siswa mampu

memahami konsep matematika dan mengingat kembali materi yang sudah diajarkan dan

merasa termotivasi untuk menerima materi baru. Guru mengarah kan siswa untuk terlibat

langsung dalam proses pengebangan materi pemebelajaran dengan pendekatan CTL.
Diharapkan siswa mampu mengontruksikan pembelajaran yang abstrak menjadi lebih

nyata dan aktifitas mendengar, lisan, menulis, dan aktifitas motorik siswa lebih nyata.


       Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan

   martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pendidikan harus adaptif terhadap

   perubahan zaman. Kita lupa bahwa indikator keberhasilan pendidikan adalah bahwa anak

   didik kita sejahtera, jika aktivitas belajar menyenangkan dan menggairahkan.


       Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada

   pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah.

   Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan

   mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan materi terbukti

   berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak

   memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi di

   kelas-kelas sekolah kita. Pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning/CTL)

   yang   berbasis   lingkungan    adalah   suatu   pendekatan    pembelajaran     yang   dari

   karakteristiknya memenuhi harapan itu. Sekarang ini pembelajaran kontekstual berbasis

   lingkungan akan      menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dalam upaya

   menghidupkan kelas secara maksimal. Kelas yang hidup diharapkan dapat mengimbangi

   perubahan yang terjadi di luar sekolah yang demikian cepat.


      Ada sejumlah alasan mengapa pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan sekolah

   dikembangkan sekarang ini. Pertama, penerapan konteks budaya dalam pengembangan

   silabus, penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks akan mendorong sebagian besar

   siswa untuk tetap tertarik dan terlibat dalam kegiatan pendidikan. Kedua, penerapan
konteks sosial dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman guru, dan buku

teks yang dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggota

masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap

perkembangan masyarakat. Ketiga, penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan

keterampilan komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa untuk secara penuh terlibat

dalam kegiatan pendidikan dan masyarakat. Keempat, penerapan konteks ekonomi akan

berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan sosial. Kelima, penerapan konteks

politik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang berbagai isu yang dapat

berpengaruh terhadap masyarakat (Abdurrahman & Bintaro, 2000:73).Paradigma

pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan sekolah, hendaknya juga dapat

membangun kecakapan hidup (life skill) dan berfokus pada pemberdayaan peserta didik.

Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru perlu berbasis pada lingkungan sekolah

dalam lingkup kompetensi personal, sosial, akademik, dan vokasional. Matematika

sebagai ilmu dasar yang menjadi generator ilmu pengetahuan dan teknologi yang dalam

kehidupan manusia sangat dibutuhkan eksistensinya, tentu menjadi skala prioritas untuk

diajarkan kepada masyarakat belajar, sehingga dengan dikuasainya matematika

diharapkan dapat menunjang upaya penguasaan ilmu pengetahuan (sains) yang lain.

Karena, aturan-aturan dalam matematika yang menjadi landasan teknologi, sejauh ini

hanya dapat diungkapkan dalam bahasa matematika. Perkembangan matematika di akhir

abad 20 ini telah dimanfaatkan oleh beberapa negara maju dalam menguasai teknologi.

Perkembangan matematika tersebut, pada suatu saat nanti akan berpengaruh terhadap

pendidikan matematika di Indonesia (Soedjadi, 2000:5).Penguasaan konsep matematika

berikut kemampuan siswa dalam mendemonstrasikan matematika merupakan syarat
mutlak untuk menguasai ilmu matematika. Karena, matematika hakekatnya belajar

konsep dan struktur-struktur secara beraturan, sistematik, utuh tak terpisahkan serta

tersusun dan terorganisir menurut hierarkhi penguasaannya. Penguasaan konsep dasar

matematika menentukan terhadap upaya penguasaan konsep berikutnya, bahkan sangat

menentukan terhadap kemampuan seseorang dalam menguasai ilmu pengetahuan dan

teknologi secara menyeluruh. Untuk itu, dalam dunia pendidikan, konsep matematika

haruslah benar-benar dikuasai oleh siswa, karena matematika sebagai sumber ilmu,

sehingga siswa sebagai peserta didik dapat menerima dan menyerap matematika dengan

mudah, mantap, dan mencapai kompetensi dasar sesuai dengan standar kompetensi yang

telah digariskan oleh kurikulum tingkat satuan pendidikan. Seiring dengan pemberlakuan

KTSP yang menitikberatkan pada kompetensi dan kecakapan hidup (life skill), model

pembelajaranpun dituntut untuk mampu menjawab tuntutan masyarakat belajar bahwa

ilmu pengetahuan matematika dipandang sebagai ilmu yang harus realistik dan benar-

benar terkait erat serta membantu siswa dalam memecahkan masalah matematika dalam

kehidupan sehari-hari. Salah satu model pembelajaran aktif yang dipandang mampu

menjawab tuntutan itu adalah pendekatan kontekstual berbasis Lingkungan, sebagai

bagian dari pendekatan aktif yang membimbing siswa agar belajar bermakna dalam

suasana yang nyaman, menyenangkan dan dapat meningkatkan kemampuan siswa SMPN

1 Salatiga dalam penguasaan konsep matematika. Itulah sebabnya penulis melakukan

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul Upaya Meninggkatkan Pemahaman

Konsep Matematika Melalaui Pemanfaatan Media Pembelajaran Berbasis Lingkungan

Dengan Pendekatan Kontekstual (CTL ) di Kelas VIII A SMPN 1 Salatiga.
Permendiknas No.22 tahun 2006 menjelaskan tujuan pembelajaran matematika

antaranya: (1) Siswa dapat memahami konsep matematika, (2) Melakukan manipulasi

matematika dalam menyusun generalisasi, (3) Memecahkan masalah meliputi merancang

dan menyelesaikan model matematika, (4) mengomunikasikan gagasan dengan media

untuk menjelaskan keadaan atau masalah, (5) memiliki sikap menghargai matematika

dalam kehidupan.


    Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika tersebut maka pemilihan media

dan pendekatan pembelajaran untuk mengoptimalkan pemahaman konsep matematika

sangat penting. Maka di gunakan media berbasis lingkungan dengan pendekatan

konstekstual ( CTL ) dengan unsur-unsur belajar yang terdapat didalamnya sesuai dengan

tujuan pembelajaran matematika dalam Permendiknas No.22 tahun 2006 dan membuat

siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar.


   Aktivitas siswa adalah kegiatan siswa mulai dari pelaksanaan RPP pada saat KBM

berlangsung. Aktivitas siswa meliputi; aktivitas mendengar aktivitas lisan aktivitas

menulis dan aktivitan motorik. Coline (dalam Kusdarwati, 2007 ) menungkapkan bahwa

manusia dapat dapat menyimpan memori visual, auditoricara , dan kinestik ( somatis )

dala bagian otak yang berbeda, sehingga cara belajar multi sensori adalah cara belajar

yang paling efektif


   Hasil belajar adalah skor atau nilai yang di peroleh siswa berdasarkan kriteria tertentu

dari setiap tujuan pembelajaran yang di berikan oleh guru.
Matematika adalah sebagai salah satu ilmu eksak yang mengharuskan pada siswa

untuk benar-benar memahami konsep, benar-benar mengerti dan bisa menguasai materi.

Karena alasan inilah sebagian siswa mengambil kesimpulan bahwa matematika

merupakan pelajaran yang sulit, sukar di pahami, dan tidak sedikit siswa SMP N 1

Salatiga yang menjadikan pelajaran matematika paling sulit di bandingkan pelajaran yang

lain.


        Di sini penulis mengambil pelajaran matematika dengan pokok bahasan Kubus dan

Balok melalui Pemanfatan           Media Berbasis Lingkungan         dengan Pendekatan

Konstekstual ( CTL ) untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika di Kelas

VIII A SMP N 1 Salatiga. Walau materi ini sudah di kenalkan sejak siswa di sekolah

dasar, namun setelah mengikuti pembelajaran di sekolah menengah, hasil ulangan harian

masih di bawah KKM mata pelajaran, pada kopetensi dasar menghitung luas sisi Kubus

dan Balok, rata-rata hasil ulangan hanya 56,7 dan yang mencapai ketuntasan hanya 40 %

dari 34 siswa, dengan KKM saat itu 65.


    Setelah diadakan analisis ulangan secara klasikal, ternyata 63% siswa salah

menghitung luas sisi tegak, dan 47% siswa tidak bisa menyelesaikan operasi hitung dan

pembagian dengan benar terutama pada bangun ruang Kubus dan Balok .


    Dari kenyataan tersebut disimpulkan bahwa siswa kurang memahami konsep luas

sisi tegak pada bangun ruang Kubus dan Balok.


        Dugaan sementara terhadap kesalahan yang dilakukan siswa adalah :
-   Siswa hanya menghafal rumus luas sisi bangun ruang Kubus dan Balok, siswa

                      tidak mengkonstruksi konsep tersebut pada diri siswa dalam penemuan. Oleh

                      sebab itu peneliti mencoba membantu untuk mengatasi masalah tersebut

                      menggunakan LKS dengan media yang berbasis lingkungan dengan

                      pendekatan Kontekstual ( CTL ) pada materi Luas sisi bangun ruang Kubus

                      dan Balok, supaya siswa dapat memahami konsep matematika dan dapat

                      menyelesaikan dan dapat menghitung luas sisi tegak bangun ruang kubus dan

                      balok

                  -   Untuk membantu siswa dalam dalam mengatasi masalah operasi hitung,

                      peneliti memberikan apersepsi pada pendahuluan pembelajaran dengan

                      mengingatkan kembali operasi perkalian dan pembagian pada bilangan Asli.


               Selain alasan tersebut, peneliti akan melaksanakan PTK dengan Media Berbasis

Lingkungan yang erat kaitannya dengan pedekatan Konstekstual ( CTL ). Di mana media yang

berbasis lingkungan, terutama lingkungan sekolah sangat mudah dan menyediakan media yang

di perlukan untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika, karena lingkungan

menyediakan bayak benda-benda yang berkaitan dengan pelajaram matematika, terutama bangun

ruang Kubus dan Balok seperti kotak-kotak bekas air mineral, bak air, bangunan sekolah dan

lain – lain.


    Media berbasis lingkungan adalah suatu media yang tersedia dan menyajikan berbagai

komponen dalam lingkungan siswa, yang dapat merangsang untuk belajar dan juga sebagai

sumber belajar. Sedangkan pendekatan Konstekstual ( CTL ) mempunyai karakteristik sebagai

berikut;
C. RUMUSAN MASALAH

  BEDASARKAN LATARBLAKANG DIATAS maka dapat di rumuskan permasalahan sebagai

  berikut, apakah penerapa model pembaelajaran langsung Judu...... dapat meningkatkan

  pemahaman siswa pada materi kubus dAN balok, di kelas VIIA Smpn 1 Saltiga ?

D. PEMECAHAN MASALAH

  Pemecahan masalah yg akan di gunakan dalam penelitian ini adalah dengan Penelitian Tindakan

  kelas berupa penerapan model pembeljaran langsung ( CTL) dapat meningkatkan pemahaman

  konsep matematika pada materi Kubus dan balok di kelas VIII A SMPN 1 Salatiga

E. TUJUAN PENELITIAN

  Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa pada

  materi Kubus dan balok di kelas VIIIA SMPN 1 Salatiga, dengan menggunaan model

  pembelajaran kontekstual (CTL)

Desain judul ptk

  • 1.
    DESAIN JUDUL PTK NAMA : SABARINA NIM : F04116015 A. Latar belakang 1. Nilai siswa di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sekolah. 2. Kesulitan siswa untuk memahami ide-ide yang terdapat dalam materi pelajaran matematika yang diajarkan. 3. Tujuan pembelajaran kurang terkait dengan apersepi. 4. Siswa kurang merespon pada saat proses apersepsi dengan di tandai siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guru 5. Proses eksplorasi dan elaborasi belum terlaksana 6. Proses konfirmasi mendominasi kegiatan pembelajaran 7. Metode mengajar yang di gunakan cendrung ceramah 8. Media kit dan media pembelajara (LKS) kurang di gunakan secara optimal. 9. Buku teks merupakan andalan guru 10. RPP jarang di gunakan oleh guru B. Judul 1. UPAYA MENINGGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALAUI PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS LINGKUNGAN DENGAN PEDEKATAN KONSTEKSTUAL ( CTL ) DI KELAS VIII A SMPN 1 SALALATIGA
  • 2.
    A. JUDUL DESAINPENELITIAN UPAYA PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALAUI PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS LINGKUNGAN DENGAN PEDEKATAN KONSTEKSTUAL ( CTL ) DI KELAS VIII A SMPN 1 SALALATIGA B. LATAR BELAKANG Setiap tahun nilai Ujian Nasional pada bidang studi matematika sangat rendah, selalu di bawah kriteria ketuntasan minimal ( KKM ) , hanya 15% dari 65 siswa yang tuntas. Guru merasa kurang puas dengan hasil kelulusan yang tidak sesuai dengan harapan. Bukti-bukti empiris di lapangan menunjukan masih banyak siswa mengalami kesulitan dalam belajar geometri mulai tingkat asar sampai perguruan tinggi. Beberapa penelitian menunjukan prestasi matematika, kususnya geometri siswa sekolah dasar masih rendah (Trias; 2008), sedangkan di SMP di temukan masih banyak siswa yang belum memahai konsep-konsep geometri. Pada penelitian Kusmaningrum (2009 ) di temukan banyak yang salah dalam menyelesaikan soal-soal mengenai unsur-unsur kubus dan balok pada siswa SMP dan masih banyak siswa yang menyatakan kubus bukan balok. Matematika adalah objek benda yang bersifat abstrak. Karena itu wajar kalau memang tidak bisa langsung dipahami oleh siswa. Siswa merasa mendapat kesulitan untuk memahami ide-ide yang abstrak yang dituangkan secara konkret. Hal itu dimungkinkan karena lemahnya daya serap siswa, guru tidak memanfaatkan media berbasis lingkungan dengan pendekatan kontekstual ( CTL ) secara optimal ditandainya dengan siswa tidak bisa menjawab dan pasif setelah guru memberikan apersepi pelajaran yang lain yang sebenarnya ada kaitan dengan materi yang diajarkan. Siswa nampak bingung untuk menyambungkan mata pelajaran yang lama dengan materi yang akan diajarkan. Sehingga pelajaran matematika menjadi kurang menarik. Pada saat mengajar di bagian inti, proses eksplorasi sukar dilakukan, hal ini terjadi karena guru telah terbiasa dengan menjelaskan materi terlebih dahulu, padahal isi eksplorasi adalah menggali pengetahuan siswa secara maksimal, oleh karena proses eksplorasi belum berjalan dengan maksimal, akibatnya proses elaborasi menjadi terhambat sehingga sulit untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri. Dalam upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal dan mempermudah pemahaman konsep-konsep matematika yang abstrak perlu adanya penggunaan dan pemanfaatan
  • 3.
    media lingkungan denganpendekatan kontekstual ( CTL ) secara maksimal, diharapkan siswa memahami materi belajaran untuk mempermudah konsep-konsep matematika yang abstrak menjadi lebih kongkrit dapat melihat , meraba, mengungkapkan secara langsung objek yang sedang dipelajari. Konsep abstrak yang disajikan dengan media akan mempermudah siswa memahami, mengerti serta dapat menanamkan konsep - konsep dari tingkat yang lebih mudah sampai ke tingkat yang lebih sulit. Media berbasis lingkungan dapat menurunkan keabstrakan konsep sehingga lebih mudah di maknai. Apalagi digunakan secara tepat akan membuat pelajaran matematika lebih menarik dan menyenangkan, karena siswa dapat terlihat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Aktivitas mentalnya menjadi lebih hidup sehingga dapat membangkitkan gairah untuk menerima materi yang akan di ajarkan. siswa dapat mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dalam ranah kognitif. Siswa tidak menerima begitu saja pengetahuan dari guru tetapi menemukannya sendiri. Dengan demikian pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik dan menyenangkan sehingga menghindari terbentuknya sikap negative siswa terhadap matematika. Untuk dapat menggunakan media berbasis lingkungan dengan pendekatan kontekstual (CTL ) dengan baik dan benar, guru dituntut memiliki kompetensi pedagogik yang memadai, guru juga harus menguasai materi pembelajaran secara teoritis, supaya mengetahui bagaimana cara menggunakan media tersebut secara praktis agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sayangnya, masih banyak guru matematika yang kurang terlatih. Hal ini dapat dilihat dari tiga indikator utama, yakni rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya guru dengan ijazah di bidang matematika dan kurangnya pengembangan professional (Surapratana, 2007: 25). Hasil penelitian PPPPTK Matematika Yogyakarta (2007) menunjukkan bahwa hampir sebagian besar guru matematika masih menggunakan cara-cara tradisional dalam proses pembelajarannya. Guru masih menggunakan paradigma memindahkan pengetahuan dari otak guru ke otak siswa. Siswa menjadi subjek pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Rutinitas seperti ini membuat siswa bosan, apalagi metode yang digunakan guru kurang sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Guru juga lebih banyak menggunakan metode ceramah , dimana guru sangat mendominasi kelas, akibatnya siswa
  • 4.
    menjadi pasif karenakurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Apalagi kalau guru kurang interaktif, tidak komunikatif terhadap siswa, juga guru kurang memberikan bimbingan individu maka siswa menjadi tidak tertarik pada matematika dan berpotensi membentuk sikap negatif siswa terhadap matematika. Pada saat proses pembelajaran berlangsung guru tidak bisa mengembangkan dan mengaitkan kan materi dalam kehidupan sehari-hari dan terlalu terpaku dengan buku paket dari percetakan, akibatnya siswa tidak dapat memahami apa yang dia dapatkan disekolah, padahal materi matematika banyak yang melibatkat siswa dalam kegiatan sehari-hari. Guru juga tidak merancang lembaran kerja siswa ( LKS) yang sesuai dengan kebutuhan materi pelajaran serta situasi dan kondisi siswa setempat. Guru hanya memakai LKS yang sudah tersedia yang di peroleh dari penerbit akibatnya materi yang ada kurang di cerna oleh siswa, karena di duga si pembuat LKS berada di lingkungan lain yang belum tentu sama dengan tempat peneliti bertugas. Oleh karena itu dapat dipahami jika pembelajaran matematika yang selama ini di berikan agak sukar di terima dan di pahami oleh siswa. Diakhir pembelajaran guru kurang membimbing dan mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan di mana materi yang telah di sampaikan sangat penting untuk dipahami dan di kaitkan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa kurang memaknai pembelajaran yang telah diberikan. Dari keadaan tersebut guru harus merubah cara proses pembelajaran yang konvesional menjadi proses pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang diajarkan sesuai dengan situasi kondisi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan
  • 5.
    antara pengetahuan yangdi milikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari- hari sebagai individu, keluarga, masyarakat dan bangsa. Dengan proses pendekatan CTL dan media berbasis lingkungan yang tepat, di harapkan siswa mampu membangun sendiri pembelajan matematika yang lebih kongkret, realistis, aktual, menyenangkan dan lebih bermakna, sehingga dapat meningkatkat motivsi dan hasil belajar siswa. Hal ini di karenakan dalam CTL semua panca indra siswa di aktifkan dan di manfaatkan secara serentak dalam proses belajar mengajar. Memanfaatan Media berbasis lingkungan dengan pendekatan kontekstual ( CTL ) lebih menekankan peberdayaan siswa, sehingga hasil belajar bukan hanya sebatas pengambilan nilai melainkan menghayati dan memaknai dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas siswa di mulai dari kegiatan awal seperti apersepsi dan motivasi, disini peran guru sangat mutlak di perlukan untuk pada apersepsi dimana guru bisa mengaitkan pelajaran yang lalu dengan pelajaran akan diterima siswa, disinilah penggalian motivasi siswa dimulai. Guru harus bisa menjembatani kegitan awal seperti kegiatan apersepsi dan motivasi ke proses kegiatan inti. Disilah kegiatan ekplorasi siswa dimulai dengan menggali kemampuan siswa yang lalu sehingga dapat mengaitkan materi yang sudah dipelajari dengan materi baru yang akan di ajarkan dengan melibatkan siswa yang disajikan secara bervariasi mengunakan media berbasis lingkungan, dengan demikian di harapkan siswa mampu memahami konsep matematika dan mengingat kembali materi yang sudah diajarkan dan merasa termotivasi untuk menerima materi baru. Guru mengarah kan siswa untuk terlibat langsung dalam proses pengebangan materi pemebelajaran dengan pendekatan CTL.
  • 6.
    Diharapkan siswa mampumengontruksikan pembelajaran yang abstrak menjadi lebih nyata dan aktifitas mendengar, lisan, menulis, dan aktifitas motorik siswa lebih nyata. Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pendidikan harus adaptif terhadap perubahan zaman. Kita lupa bahwa indikator keberhasilan pendidikan adalah bahwa anak didik kita sejahtera, jika aktivitas belajar menyenangkan dan menggairahkan. Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita. Pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning/CTL) yang berbasis lingkungan adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan itu. Sekarang ini pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan akan menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dalam upaya menghidupkan kelas secara maksimal. Kelas yang hidup diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang terjadi di luar sekolah yang demikian cepat. Ada sejumlah alasan mengapa pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan sekolah dikembangkan sekarang ini. Pertama, penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks akan mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan terlibat dalam kegiatan pendidikan. Kedua, penerapan
  • 7.
    konteks sosial dalampengembangan silabus, penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks yang dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggota masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat. Ketiga, penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan masyarakat. Keempat, penerapan konteks ekonomi akan berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan sosial. Kelima, penerapan konteks politik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap masyarakat (Abdurrahman & Bintaro, 2000:73).Paradigma pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan sekolah, hendaknya juga dapat membangun kecakapan hidup (life skill) dan berfokus pada pemberdayaan peserta didik. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru perlu berbasis pada lingkungan sekolah dalam lingkup kompetensi personal, sosial, akademik, dan vokasional. Matematika sebagai ilmu dasar yang menjadi generator ilmu pengetahuan dan teknologi yang dalam kehidupan manusia sangat dibutuhkan eksistensinya, tentu menjadi skala prioritas untuk diajarkan kepada masyarakat belajar, sehingga dengan dikuasainya matematika diharapkan dapat menunjang upaya penguasaan ilmu pengetahuan (sains) yang lain. Karena, aturan-aturan dalam matematika yang menjadi landasan teknologi, sejauh ini hanya dapat diungkapkan dalam bahasa matematika. Perkembangan matematika di akhir abad 20 ini telah dimanfaatkan oleh beberapa negara maju dalam menguasai teknologi. Perkembangan matematika tersebut, pada suatu saat nanti akan berpengaruh terhadap pendidikan matematika di Indonesia (Soedjadi, 2000:5).Penguasaan konsep matematika berikut kemampuan siswa dalam mendemonstrasikan matematika merupakan syarat
  • 8.
    mutlak untuk menguasaiilmu matematika. Karena, matematika hakekatnya belajar konsep dan struktur-struktur secara beraturan, sistematik, utuh tak terpisahkan serta tersusun dan terorganisir menurut hierarkhi penguasaannya. Penguasaan konsep dasar matematika menentukan terhadap upaya penguasaan konsep berikutnya, bahkan sangat menentukan terhadap kemampuan seseorang dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh. Untuk itu, dalam dunia pendidikan, konsep matematika haruslah benar-benar dikuasai oleh siswa, karena matematika sebagai sumber ilmu, sehingga siswa sebagai peserta didik dapat menerima dan menyerap matematika dengan mudah, mantap, dan mencapai kompetensi dasar sesuai dengan standar kompetensi yang telah digariskan oleh kurikulum tingkat satuan pendidikan. Seiring dengan pemberlakuan KTSP yang menitikberatkan pada kompetensi dan kecakapan hidup (life skill), model pembelajaranpun dituntut untuk mampu menjawab tuntutan masyarakat belajar bahwa ilmu pengetahuan matematika dipandang sebagai ilmu yang harus realistik dan benar- benar terkait erat serta membantu siswa dalam memecahkan masalah matematika dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu model pembelajaran aktif yang dipandang mampu menjawab tuntutan itu adalah pendekatan kontekstual berbasis Lingkungan, sebagai bagian dari pendekatan aktif yang membimbing siswa agar belajar bermakna dalam suasana yang nyaman, menyenangkan dan dapat meningkatkan kemampuan siswa SMPN 1 Salatiga dalam penguasaan konsep matematika. Itulah sebabnya penulis melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul Upaya Meninggkatkan Pemahaman Konsep Matematika Melalaui Pemanfaatan Media Pembelajaran Berbasis Lingkungan Dengan Pendekatan Kontekstual (CTL ) di Kelas VIII A SMPN 1 Salatiga.
  • 9.
    Permendiknas No.22 tahun2006 menjelaskan tujuan pembelajaran matematika antaranya: (1) Siswa dapat memahami konsep matematika, (2) Melakukan manipulasi matematika dalam menyusun generalisasi, (3) Memecahkan masalah meliputi merancang dan menyelesaikan model matematika, (4) mengomunikasikan gagasan dengan media untuk menjelaskan keadaan atau masalah, (5) memiliki sikap menghargai matematika dalam kehidupan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika tersebut maka pemilihan media dan pendekatan pembelajaran untuk mengoptimalkan pemahaman konsep matematika sangat penting. Maka di gunakan media berbasis lingkungan dengan pendekatan konstekstual ( CTL ) dengan unsur-unsur belajar yang terdapat didalamnya sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika dalam Permendiknas No.22 tahun 2006 dan membuat siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Aktivitas siswa adalah kegiatan siswa mulai dari pelaksanaan RPP pada saat KBM berlangsung. Aktivitas siswa meliputi; aktivitas mendengar aktivitas lisan aktivitas menulis dan aktivitan motorik. Coline (dalam Kusdarwati, 2007 ) menungkapkan bahwa manusia dapat dapat menyimpan memori visual, auditoricara , dan kinestik ( somatis ) dala bagian otak yang berbeda, sehingga cara belajar multi sensori adalah cara belajar yang paling efektif Hasil belajar adalah skor atau nilai yang di peroleh siswa berdasarkan kriteria tertentu dari setiap tujuan pembelajaran yang di berikan oleh guru.
  • 10.
    Matematika adalah sebagaisalah satu ilmu eksak yang mengharuskan pada siswa untuk benar-benar memahami konsep, benar-benar mengerti dan bisa menguasai materi. Karena alasan inilah sebagian siswa mengambil kesimpulan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit, sukar di pahami, dan tidak sedikit siswa SMP N 1 Salatiga yang menjadikan pelajaran matematika paling sulit di bandingkan pelajaran yang lain. Di sini penulis mengambil pelajaran matematika dengan pokok bahasan Kubus dan Balok melalui Pemanfatan Media Berbasis Lingkungan dengan Pendekatan Konstekstual ( CTL ) untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika di Kelas VIII A SMP N 1 Salatiga. Walau materi ini sudah di kenalkan sejak siswa di sekolah dasar, namun setelah mengikuti pembelajaran di sekolah menengah, hasil ulangan harian masih di bawah KKM mata pelajaran, pada kopetensi dasar menghitung luas sisi Kubus dan Balok, rata-rata hasil ulangan hanya 56,7 dan yang mencapai ketuntasan hanya 40 % dari 34 siswa, dengan KKM saat itu 65. Setelah diadakan analisis ulangan secara klasikal, ternyata 63% siswa salah menghitung luas sisi tegak, dan 47% siswa tidak bisa menyelesaikan operasi hitung dan pembagian dengan benar terutama pada bangun ruang Kubus dan Balok . Dari kenyataan tersebut disimpulkan bahwa siswa kurang memahami konsep luas sisi tegak pada bangun ruang Kubus dan Balok. Dugaan sementara terhadap kesalahan yang dilakukan siswa adalah :
  • 11.
    - Siswa hanya menghafal rumus luas sisi bangun ruang Kubus dan Balok, siswa tidak mengkonstruksi konsep tersebut pada diri siswa dalam penemuan. Oleh sebab itu peneliti mencoba membantu untuk mengatasi masalah tersebut menggunakan LKS dengan media yang berbasis lingkungan dengan pendekatan Kontekstual ( CTL ) pada materi Luas sisi bangun ruang Kubus dan Balok, supaya siswa dapat memahami konsep matematika dan dapat menyelesaikan dan dapat menghitung luas sisi tegak bangun ruang kubus dan balok - Untuk membantu siswa dalam dalam mengatasi masalah operasi hitung, peneliti memberikan apersepsi pada pendahuluan pembelajaran dengan mengingatkan kembali operasi perkalian dan pembagian pada bilangan Asli. Selain alasan tersebut, peneliti akan melaksanakan PTK dengan Media Berbasis Lingkungan yang erat kaitannya dengan pedekatan Konstekstual ( CTL ). Di mana media yang berbasis lingkungan, terutama lingkungan sekolah sangat mudah dan menyediakan media yang di perlukan untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika, karena lingkungan menyediakan bayak benda-benda yang berkaitan dengan pelajaram matematika, terutama bangun ruang Kubus dan Balok seperti kotak-kotak bekas air mineral, bak air, bangunan sekolah dan lain – lain. Media berbasis lingkungan adalah suatu media yang tersedia dan menyajikan berbagai komponen dalam lingkungan siswa, yang dapat merangsang untuk belajar dan juga sebagai sumber belajar. Sedangkan pendekatan Konstekstual ( CTL ) mempunyai karakteristik sebagai berikut;
  • 12.
    C. RUMUSAN MASALAH BEDASARKAN LATARBLAKANG DIATAS maka dapat di rumuskan permasalahan sebagai berikut, apakah penerapa model pembaelajaran langsung Judu...... dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi kubus dAN balok, di kelas VIIA Smpn 1 Saltiga ? D. PEMECAHAN MASALAH Pemecahan masalah yg akan di gunakan dalam penelitian ini adalah dengan Penelitian Tindakan kelas berupa penerapan model pembeljaran langsung ( CTL) dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika pada materi Kubus dan balok di kelas VIII A SMPN 1 Salatiga E. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa pada materi Kubus dan balok di kelas VIIIA SMPN 1 Salatiga, dengan menggunaan model pembelajaran kontekstual (CTL)