LAMPIRAN I PERATURAN GUBERNUR ACEH
                                               NOMOR : 26 Tahun 2010
                                               TANGGAL : 1 Mei 2010


                             RINGKASAN
                    PERUBAHAN RPJM ACEH 2007-2012



       Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) merupakan satu tahapan
rencana pembangunan yang harus disusun oleh semua tingkatan pemerintahan,
baik   pemerintah   pusat   maupan   pemerintah   daerah,   sebagaimana    yang
diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (UNDANG-UNDANG SPPN). Pemerintah Aceh
dalam hal ini sudah mempunyai RPJM Aceh priode 2007 - 2012 yang ditetapkan
dengan Peraturan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 21 tahun 2007
tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam 2007 - 2012.
       Sesuai dengan ketentuan Pasal 19 ayat (3) Undang-Undang SPPN, RPJM
Aceh ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan
setelah kepala daerah dilantik, dan seterusnya merupakan suatu dokumen yang
menjadi   acuan bagi penyusunan Rencana Kerja Tahunan Pemerintah Daerah
dalam bentuk dokumen Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA), sebagai landasan
penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (RAPBA).
       Berdasarkan Undang-Undang SPPN, ditegaskan bahwa RPJMA disusun
dengan maksud untuk menjabarkan Visi dan Misi Gubernur kepala daerah jangka
waktu lima tahun. Dalam RPJMA harus tergambar rencana pembangunan yang
terukur baik anggaran maupun target capaian yang diinginkan dalam rangka
melakukan perubahan dari suatu kondisi kepada kondisi yang lebih baik.
       RPJM Aceh Tahun 2007 - 2012 yang sudah ditetapkan dengan Peraturan
Gubernur Aceh pada tanggal 7 Mei 2007 sudah dilaksanakan selama priode 2007,
2008, 2009 dan 2010. Namun demikian dalam pelaksanaannya ada sebagian
program/kegiatan yang dilaksanakan tidak tercantum dalam RPJM Aceh tersebut,
maka untuk mengadopsi program/kegiatan tersebut perlu dilakukan evaluasi dan
perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat 3 huruf b Peraturan

                                       i
Presiden Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010 - 2014.
           Tujuan review dan perubahan RPJM Aceh Tahun 2007 - 2012 adalah
untuk menilai tingkat capaian target dan capaian program kegiatan yang telah dan
akan dilaksanakan serta penyesuaian target nasional. Selanjutnya hasil evaluasi
dan perubahan RPJM Aceh ini dijabarkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Aceh
(RKPA) sebagai pedoman penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Aceh (RAPBA).
      Selama kurun waktu tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 sudah
dilaksanakan berbagai program/kegiatan pembangunan di Aceh dari berbagai
sumber dana baik Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN), APBA
maupun donor serta swasta. Akan tetapi belum semua program/kegiatan yang
direncanakan sudah dilaksanakan sesuai periode waktu dan sumber dana yang
direncanakan. Hal ini disebabkan berbagai faktor yang mempengaruhi rencana
tersebut, seperti keterbatasan dana yang tersedia, adanya bencana alam yang
terjadi diluar perkiraan sebelumnya serta adanya kebutuhan mendesak yang tidak
dapat ditunda-tunda.
      Review dan perubahan RPJM Aceh 2007 - 2012 dilakukan dengan membagi
kelompok program/kegiatan dalam empat kuadran (kelompok). Hasil review dan
perubahan yang dilakukan terhadap RPJM Aceh Priode 2007 - 2012             sebagai
berikut:
1. Kuadran I ; berisi program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM Aceh
                   2007 – 2012 dan sudah tuntas dilaksanakan (6 persen).
2. Kuadran II ; berisi program/kegiatan yang ada dalam RPJM Aceh 2007 –
                   2012, tetapi belum mencapai target (26 persen).
3. Kuadran III; berisi program/kegiatan yang ada dalam RPJM Aceh 2007-2012,
                   tetapi bukan prioritas sehingga tidak dilaksanakan (28 persen).
4. Kuadran IV ; berisi program/kegiatan yang tidak ada dalam RPJM Aceh
                   2007–2012, tetapi dilaksanakan pada tahun 2007-2010 dan
                   masih perlu dituntaskan pada tahun 2011-2012 (40 persen).




                                         ii
Hasil evaluasi RPJM Aceh terdiri dari Buku I (berupa narasi) dan Buku II
(berupa rincian program/kegiatan), menggambarkan bahwa realisasi capaian
target yang ingin dicapai masih belum sepenuhnya dapat dilaksanakan. Hal ini
disebabkan   karena   ada beberapa kegiatan yang mendesak        yang harus
dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi daerah. Program/Kegiatan yang
tertera dalam Buku II RPJM Aceh hasil perubahan merupakan capaian target yang
akan dilaksanakan kedepan, dengan mempertimbangkan ketersediaan anggaran
setiap tahunnya.
      Hasil perubahan RPJM Aceh tahun 2007-2012 menjadi pedoman bagi
Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota dalam menyusun program/kegiatan
tahunan.




                                     iii
DAFTAR ISI


RINGKASAN PERUBAHAN RPJM ACEH 2007-2012 ..............................................                                          i
DAFTAR ISI .........................................................................................................          iv
DAFTAR TABEL......................................................................................................           viii
DAFTAR GAMBAR..................................................................................................               xi
BAB   I   PENDAHULUAN..................................................................................                      I-1
          1.1 Latar Belakang ................................................................................               I-1
          1.2 Maksud dan Tujuan .........................................................................                   I-2
          1.3 Landasan Hukum ............................................................................                   I-3
          1.4 Hubungan RPJM dan Review RPJM Dengan Dokumen
                Perencanaan Lainnya........................................................................                 I-5
          1.5 Sistematika Penulisan .......................................................................                 I-6

BAB        II    GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH..............................................                                 II-1
                 2.1 Geografis ..........................................................................................    II-1
                 2.2 Perekonomian ...................................................................................        II-2
                     2.2.1 Kondisi Ekonomi Makro ...........................................................                 II-2
                           2.2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi..............................................                         II-2
                           2.2.1.2 Tingkat Inflasi ..........................................................                II-3
                           2.2.1.3 Tingkat Pengangguran Terbuka.................................                             II-4
                           2.2.1.4 Tingkat Kemiskinan ..................................................                     II-6
                     2.2.2 Sektor-Sektor Produksi ...........................................................                II-7
                           2.2.2.1 Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura ..............                                  II-8
                           2.2.2.2 Perkebunan..............................................................                 II-10
                           2.2.2.3 Peternakan ..............................................................                II-13
                           2.2.2.4 Kelautan dan Perikanan ...........................................                       II-15
                           2.2.2.5 Kehutanan ...............................................................                II-17
                           2.2.2.6 Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM..........                                   II-18
                           2.2.2.7 Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk........................                              II-22
                           2.2.2.8 Ketahanan Pangan ...................................................                     II-25
                           2.2.2.9 Penyuluhan ..............................................................                II-29
                           2.2.2.10 Perkembangan dan Prospek Investasi........................                              II-30
                     2.2.3 Keuangan Aceh ......................................................................             II-31
                           2.2.3.1 Pendapatan Asli Aceh (PAA) ......................................                        II-32
                           2.2.3.2 Dana Perimbangan ...................................................                     II-33
                           2.2.3.3 Dana Otonomi Khusus ..............................................                       II-33
                           2.2.3.4 Tabungan Pemerintah Aceh ......................................                          II-34
                           2.2.3.5 Sumber Pendapatan Aceh Lainnya.............................                              II-34
                           2.2.3.6 Pengelolaan Keuangan dan kekayaan Aceh ................                                  II-35
                 2.3 Agama, Sosial dan Budaya ...............................................................               II-36
                     2.3.1 Agama ..................................................................................         II-36
                     2.3.2 Sosial Budaya ........................................................................           II-39
                     2.3.3 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ..................                                  II-40
                     2.3.4 Pemuda dan Olah Raga ..........................................................                  II-40
                     2.3.5 Pariwisata ..............................................................................        II-43


                                                                 iv
2.4 Pendidikan .....................................................................................      II-48
                2.4.1 Pemerataan dan Perluasan Akses ............................................                     II-49
                2.4.2 Mutu, Relevansi dan Daya Saing..............................................                    II-52
                2.4.3 Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Pencitraan Publik.......................                        II-54
                2.4.4 Pendidikan Berbasis Nilai Islami ..............................................                 II-55
            2.5 Kesehatan ........................................................................................    II-56
                2.5.1 Status Kesehatan....................................................................            II-57
                2.5.2 Pelayanan Kesehatan..............................................................               II-61
                2.5.3 Kondisi Kesehatan Lingkungan ................................................                   II-64
                2.5.4 Pembiayaan Kesehatan ...........................................................                II-66
                2.5.5 Fasilitas Kesehatan ................................................................            II-67
                2.5.6 Sumber Daya Tenaga Kesehatan .............................................                      II-67
            2.6 Sarana dan Prasarana .......................................................................          II-68
                2.6.1 Sumber Daya Air ....................................................................            II-68
                2.6.2 Bina Marga dan Cipta Karya ....................................................                 II-75
                2.6.3 Perhubungan ........................................................................            II-78
                       2.6.3.1 Transportasi Darat ..............................................                      II-79
                       2.6.3.2 Angkutan Jalan Rel (Prasarana Kereta Api Aceh) ........                                II-82
                       2.6.3.3 Transportasi Laut .....................................................                II-83
                       2.6.3.4 Transportasi Udara...................................................                  II-88
                       2.6.3.5 Pos dan Telekomunikasi ...........................................                     II-90
                       2.6.3.6 Komunikasi, Informasi dan Telematika ......................                            II-92
                2.6.4 Lingkungan Hidup .................................................................              II-94
                2.6.5 Pertanahan.……………………… ..................................................                         II-96
                2.6.6 Energi dan Sumber Daya Mineral ............................................                     II-96
                2.6.7 Kebencanaan.........................................................................           II-102
            2.7 Pemerintahan Umum .......................................................................            II-111
                2.7.1 Pemerintahan Aceh ..............................................................               II-111
                2.7.2 Pemerintahan Mukim ............................................................                II-117
                2.7.3 Pemerintahan Gampong ......................................................                    II-118
                2.7.4 Pelayanan Kependudukan dan Catatan Sipil ..........................                            II-120
                2.7.5 Perizinan ..............................................................................       II-123
                2.7.6 Keimigrasian ........................................................................          II-124
                2.7.7 Ketertiban Umum ................................................................               II-124
            2.8 Rencana Aksi Kesinambungan Rekonstruksi Aceh ...............................                         II-125
            2.9 Badan Reintegrasi Aceh ....................................................................          II-126

BAB   III VISI DAN MISI .................................................................................. III-1
          3.1 Visi ............................................................................................... III-1
          3.2 Misi ................................................................................................. III-1




                                                           v
BAB   IV   STRATEGI PEMBANGUNAN ACEH.....................................................                              IV-1
           4.1 Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan
               Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan..............................................                        IV-1
           4.2 Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber
               Daya Energi Pendukung Investasi......................................................                    IV-3
               4.2.1 Sumber Daya Air ...................................................................                IV-3
               4.2.2 Bina Marga dan Cipta Karya...................................................                      IV-4
               4.2.3 Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika..............                                    IV-5
               4.2.4 Lingkungan Hidup .................................................................                 IV-7
               4.2.5 Pertanahan ...........................................................................             IV-8
               4.2.6 Energi dan Sumber Daya Mineral ...........................................                         IV-8
           4.3 Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan
               Belajar .............................................................................................   IV-10
               4.3.1 Pemerataan dan Perluasan Akses ..........................................                         IV-10
               4.3.2 Mutu, Relevansi dan Daya Saing ............................................                       IV-11
               4.3.3 Tata Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik .....................                            IV-11
               4.3.4 Penerapan Sistem Pendidikan Bernuansa Islami .....................                                IV-11
           4.4 Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan ...................                                 IV-12
           4.5 Pembangunan Syari’at Islam, Sosial dan Budaya ................................                          IV-13
               4.5.1 Syari’at Islam .......................................................................            IV-13
               4.5.2 Sosial Budaya.......................................................................              IV-14
           4.6 Penciptaan Pemerintah Yang Baik dan Bersih Serta
               Penyehatan Birokrasi Pemerintahan ..................................................                    IV-15
           4.7 Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana ..................................                            IV-16

BAB   V    ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH............................................                                   V-1
           5.1 Arah Kebijakan Pengelolaan Pendapatan............................................                        V-2
           5.2 Arah Kebijakan Pengelolaan Belanja ..................................................                    V-6
           5.3 Arah Kebijakan Umum Anggaran ......................................................                      V-7

BAB   VI   ARAH KEBIJAKAN UMUM .................................................................. VI-1
           6.1 Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan
               Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan.............................................. VI-1
           6.2 Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber
               Daya Energi Pendukung Investasi...................................................... VI-3
               6.2.1 Sumber Daya Air .................................................................. VI-4
               6.2.2 Bina Marga dan Cipta Karya .................................................. VI-5
               6.2.3 Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika ............. VI-6
               6.2.4 Lingkungan Hidup ................................................................ VI-7
               6.2.5 Pertanahan .......................................................................... VI-7
               6.2.6 Energi dan Sumber Daya Mineral........................................... VI-8
           6.3 Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan
               Belajar ............................................................................................. VI-9
               6.3.1 Pemerataan dan Perluasan Akses .......................................... VI-9
               6.3.2 Mutu, Relevansi dan Daya Saing............................................ VI-10




                                                           vi
6.3.3   Tata Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik.....................            VI-10
                    6.3.4   Penerapan Sistem Pendidikan Bernuansa Islami.....................                VI-11
             6.4    Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan ...................                  VI-11
             6.5    Pembanguan Syari’at Islam, Sosial dan Budaya ..................................          VI-12
             6.6    Penciptaan Pemerintah Yang Baik dan Bersih Serta
                    Penyehatan Birokrasi Pemerintahan...................................................     VI-14
             6.7    Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana ..................................             VI-15

BAB    VII PROGRAM PEMBANGUNAN ACEH ..........................................................               VII-1
           7.1 Midterm Review Pelaksanaan RPJM 2007-2012 .................................                    VII-1
           7.2 Revisi dan Penyesuaian RPJM 2007-2012 ...........................................              VII-4
           7.3 Hasil Revisi Program dan Kegiatan.....................................................         VII-4

BAB   VIII PENUTUP ........................................................................................... VIII-1
           8.1 Program Transisi .............................................................................. VIII-1
           8.2 Kaidah Pelaksanaan.......................................................................... VIII-1

LAMPIRAN-LAMPIRAN




                                                         vii
DAFTAR TABEL


 1. Tabel II.1      : Laju Pertumbuhan Ekonomi Aceh Tahun 2008 dan 2009
                      Menurut Lapangan Usaha......................................................              II-3

 2. Tabel. II.2 : Perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka di Aceh Selama
                  Periode 2006 – 2010..............................................................             II-5

 3. Tabel. II.3     : Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin di Aceh Selama Periode
                      2007-2009.............................................................................    II-7

 4. Tabel II.4      : Perkembangan Produktivitas Tanaman Pangan Menurut
                      Komoditi di Aceh Tahun 2007-2009 ........................................                II-10

 5. Tabel II.5      : Luas Areal Tanaman Perkebunan Rakyat dan Besar Menurut
                      Komoditi di Aceh Tahun 2007-2009 ........................................                II-11

 6. Tabel II.6      : Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat dan Besar Menurut
                      Komoditi di Aceh Tahun 2007–2009* ......................................                 II-12

 7. Tabel II.7      : Perkembangan Populasi Ternak Menurut Jenis di Aceh Tahun
                      2008-2009.............................................................................   II-14

 8. Tabel II.8      : Perkembangan Produksi Telur Menurut Jenisd di Aceh tahun
                      2008-2009.............................................................................   II-15

 9. Tabel II.9      : Produksi Perikanan di Aceh Tahun 2007-2009 .........................                     II-16

10. Tabel II.10     : Perkembangan Industri Di Aceh Tahun 2007-2009...................                         II-19

11. Tabel II.11 : Perkembangan Koperasi di Aceh Tahun 2004-2009..................                              II-22

12. Tabel II.12 : Kesempatan kerja Menurut Sektor Usaha Tahun 2009 .............                               II-23

13. Tabel II.13 : Produksi beberapa komoditi pangan penting tahun 2007-2008 .                                  II-26

14. Tabel II.14 :       Kondisi Sebaran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) per
                        Kabupaten/Kota.....................................................................    II-29

15. Tabel II.15 : Jumlah BPP dan Koptan per Kabupaten/Kota Tahun 2009 ........                                 II-30

16. Tabel II.16 : Jumlah Realisasi Sumber Penerimaan Daerah lainnya
                  2008-2009............................................................................. II-34




                                                        viii
17. Tabel II.17 : Jumlah Penduduk Aceh Menurut Kelompok Umur di Provinsi
                  Aceh Tahun 2008 .................................................................. II-41

18. Tabel II.18 :        Jumlah Objek Wisata Menurut Jenis di Aceh ........................... II-444

19. Tabel II.19 : Jumlah Kunjungan Wisatawan Tahun 2005-2009 ..................... II-45

20. Tabel II.20 : Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka
                  Partisipasi Murni Penduduk Usia Sekolah di Aceh 2007 – 2009.                              II-49

21. Tabel II.21 : Proyeksi Angka Partisipasi Murni ............................................. II-50

22. Tabel II.22 : Jumlah Sekolah di Aceh Tahun 2008/2009 .............................. II-50

23. Tabel II.23 : Jumlah Guru Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2008/2009 .... II-53

24. Tabel. II.24 : 10 (sepuluh) Jenis Penyakit Terbanyak Berbasis Puskesmas dan
                   Rumah Sakit.......................................................................... II-58

25. Tabel: II.25 : Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar di Aceh 2007-
                   2008 ..................................................................................... II-62

26. Tabel. II.26 : Peningkatan Cakupan Imunisasi ............................................. II-63

27. Tabel II.27 : Sumber Pembiayaan Kesehatan.............................................. II-66

28. TabelL II.28 : Pengembangan Pengelolaan Wilayah Sungai (Ws) di Aceh ....... II-69

29. TabelL II.29 : Pengembangan Daerah Irigasi (DI) di Aceh ............................. II-72

30. TabelL II.30 : Pengembangan Waduk di Wilayah Aceh .................................. II-74

31. Tabel II.31 : Kerusakan Lingkungan di Pemerintah Aceh ............................. II-95

32. Tabel II.32 : Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit Wilayah
                  Aceh Tahun 2008 .................................................................. II-97

33. Tabel II.33 : Komposisi Beban Puncak pada Tahun 2008 ............................. II-99

34. Tabel II.34 : Bencana Gunung Api Aceh ..................................................... II-105

35. Tabel II.35 : Rincian Jejang Pendidikan PNS Pada Pemerintah Aceh ............. II-112

36. Tabel II.36 : Jumlah PNS pada pemerintah kabupaten/kota di Provinsi
                  Aceh ..................................................................................... II-114



                                                         ix
37. Tabel 5.1   : Proyeksi dan Prospek Pendapatan Daerah Aceh Tahun
                  2007-2012.............................................................................   V-10

38. Tabel 7.1   : Review Pelaksanaan Kegiatan/Anggaran Pembangunan
                  periode tahun 2007 - 2010 menurut kriteria Kuadran ............... VII-2

39. Tabel 7.2   : Review perubahan RPJM 2007-2012 berdasarkan 7 (tujuh)
                  Prioritas Pembangunan .......................................................... VII-4




                                                     x
DAFTAR GAMBAR




1.   Gambar II.1 : Peta Kejadian Bencana Geologis di Aceh ................................ II-104

2.   Gambar II.2 : Peta Kejadian Bencana Hidro-meteorologis di Aceh................. II-107

3.   Gambar VII.1 : Skema Kuadran dan Kriteria Review Program RPJM Aceh
                    2007-2012 ...........................................................................   VII-2




                                                         xi
BAB I
                                    PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang

        Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) merupakan satu tahapan
rencana pembangunan yang harus disusun oleh semua tingkatan pemerintahan,
baik pemerintah pusat maupan pemerintah daerah,                    sebagaimana yang
diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional. Pemerintah Aceh dalam hal ini sudah
mempunyai RPJM Aceh periode 2007-2012 yang ditetapkan dengan Peraturan
Gubernur Aceh Nomor         21 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Aceh 2007-2012.
        Sesuai dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional bahwa Rencana Pembangunan Jangka
Menengah       (RPJM)    Pemerintah      Daerah     disusun    dengan   maksud     untuk
menjabarkan Visi dan Misi Gubernur sebagai kepala daerah dalam jangka waktu
lima     tahun,   kemudian      RPJM     tersebut    harus    menggambarkan      rencana
pembangunan yang terukur baik anggaran maupun target capaian yang diinginkan
dalam rangka melakukan perubahan dari suatu kondisi kepada kondisi yang lebih
baik.
        Sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 sudah dilaksanakan berbagai
program/kegiatan pembangunan di Aceh dari berbagai sumber dana baik APBN,
APBA maupun Donor dan swasta, namun program dan kegiatan yang
direncanakan belum semuanya dapat dilaksanakan sesuai dengan RPJM. Hal ini
disebabkan oleh banyaknya faktor yang mempengaruhi rencana tersebut seperti
keterbatasan dana yang tersedia, terjadinya bencana alam serta adanya kegiatan
mendesak lainnya yang harus segera dilaksanakan.
        Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2010-2014, pasal 2
ayat 3.b yang disebutkan bahwa RPJMN berfungsi sebagai bahan penyusunan dan
perbaikan RPJM Daerah dengan memperhatikan tugas Pemerintah di Daerah
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                           I-1
dalam mencapai sasaran Nasional yang termuat dalam RPJM Nasional, dari hal
tersebut maka RPJM Aceh sudah selayaknya dilakukan evaluasi dan penyesuaian
dengan tetap berorientasi pada VISI dan MISI Pemerintah Aceh yang sudah
ditetapkan.
      Evaluasi dan penyesuaian RPJM Aceh 2007-2012 dibagi dalam empat
kwadran (kelompok) yaitu: kwadran pertama berisi semua program/kegiatan
prioritas yang ada dalam RPJM dilaksanakan dengan sempurna dan mencapai
target, kwadran kedua berisi program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM
dilaksanakan tapi belum mencapai target, kwadran ketiga berisi program/kegiatan
prioritas tidak ada dalam RPJM tapi dilaksanakan dan kwadran keempat berisi
program/kegiatan yang tidak prioritas dalam RPJM tapi dilaksanakan.
      Hasil evaluasi dan penyesuaian yang dilakukan terhadap RPJM Aceh Periode
2007-2012 sebagai berikut:
1. Kwadran Pertama yang berisi program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM
   Aceh 2007 - 2012 dan dilaksanakan dengan sempurna sebesar 6 persen;
2. Kwadran Kedua yang berisi program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM
   Aceh 2007 - 2012 dilaksanakan tapi belum mencapai target sebesar 26 persen;
3. Kwadran Ketiga yang berisi program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM
   Aceh 2007-2012 tapi tidak dilaksanakan sebesar 28 persen;
4. Kwadran Keempat yang berisi program/kegiatan yang tidak ada dalam RPJM
   Aceh 2007 - 2012 tapi dilaksanakan sebesar 40 persen.
      Hasil Evaluasi dan penyesuaian tersebut menggambarkan bahwa realisasi
capaian target yang ingin dicapai masih jauh dari yang diharapkan, maka untuk
mengejar      target   yang   sudah     direncanakan         perlu   dilakukan   penyesuaian
program/kegiatan       baik   yang     sudah    dilaksanakan         maupun      yang   belum
dilaksanakan dalam periode dua tahun lagi.


1.2   Maksud dan Tujuan

      Sesuai dengan ketentuan Pasal 19 ayat (3) Undang-undang Nomor 25 tahun
2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, RPJM Daerah
ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                I-2
kepala daerah dilantik, yang kemudian menjadi suatu dokumen sebagai acuan
untuk penyusunan Rencana Kerja Tahunan Pemerintah Daerah dalam bentuk
dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan sebagai landasan
penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD).
       RPJM Aceh Tahun 2007 - 2012 yang telah ditetapkan dengan Peraturan
Gubernur Aceh Nomor 21 tahun 2007 sudah dilaksanakan selama priode 2007,
2008, 2009 dan 2010, namun banyak program/kegiatan yang dilaksanakan tidak
ada dalam RPJM Aceh tersebut, maka perlu dilakukan evaluasi dan penyesuaian
sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 5 tahun 2010 pasal 2 ayat 3 point b.
       Tujuan evaluasi dan penyesuaian RPJM Aceh priode 2007-2012 adalah untuk
menilai tingkat capaian target dan program kegiatan yang telah dan akan
dilaksanakan serta penyesuaian target nasional (RPJMN 2010-2014). Selanjutnya
hasil evaluasi dan penyesuaian RPJM Aceh ini akan menjadi                 acuan untuk
penyusunan Rencana Kerja Tahunan Pemerintah Aceh dalam bentuk dokumen
Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) sebagai landasan penyusunan Rancangan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (RAPBA).



1.3    Landasan Hukum

       Beberapa peraturan dan perundang-undangan yang mendasari evaluasi dan
penyesuaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh periode
2007-2012 adalah sebagai berikut:
1.    Undang-undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom
      Provinsi Aceh dan Perubahan Provinsi Sumatera Utara;
2.    Undang-undang       Nomor      44    Tahun     1999    tentang   Penyelenggaraan
      Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh;
3.    Undang-undang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan
      Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 tahun 2000 tentang Kawasan
      Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang;
4.    Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
5.    Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         I-3
6.   Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
     sebagaimana telah diubah dengan Undang–undang Nomor 8 Tahun 2005
     tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3
     Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 32 tentang
     Pemerintahan Daerah menjadi Undang-undang;
7.   Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat
     dan Daerah;
8.   Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
     Pembangunan Nasional;
9.   Undang-undang Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan
     Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2005 tentang Badan
     Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi
     Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan dan Kepulauan Nias Provinsi
     Sumatera Utara menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Republik
     Indonesia Tahun 2005 (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2005
     Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4550);
10. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh;
11. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
     Jangka Panjang Nasional;
12. Peraturan     Pemerintah      Nomor     25   Tahun       2000   tentang   Kewenangan
     Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Provinsi sebagai Daerah Otonom;
13. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005               tentang Rencana Pembangunan
     Jangka Menengah Nasional 2004-2009;
14. Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pengakhiran Masa Tugas
     Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat
     Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias dan Provinsi
     Sumatera Utara dan Kesinambungan Rehabilitasi dan Rekontruksi di Wilayah
     Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera
     Utara;
15. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana
     Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014;


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                           I-4
16. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ tentang Petunjuk
      Penyusunan Dokumen RPJP dan RPJM Daerah;
17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
      Pengelolaan Keuangan Daerah;
18. Qanun Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Mukim Dalam Propinsi
      NAD;
19. Qanun Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Gampong Dalam Propinsi
      NAD sebagai salah satu Landasan Hukum;
20. Qanun Aceh Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Aceh
      (Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2008 Nomor 01,
      Tambahan Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 11);
21. Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengalokasian
      Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi dan Penggunaan Dana
      Otonomi Khusus (Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2008
      Nomor 12, Tambahan Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Nomor
      12).


1.4    Hubungan RPJM dan Review RPJM dengan Dokumen Perencanaan
       Lainnya

       Sebagaimana kita ketahui bahwa perencanaan adalah suatu proses untuk
menentukan tindakan masa depan yang tepat melalui urutan pilihan dengan
memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Untuk mencapai proses tersebut,
maka keterkaitan suatu dokumen perencanaan dengan dokumen perencanaan
lainnya sangat erat dan menentukan. Dalam hal ini hubungan hasil evaluasi dan
penyesuaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh ini dengan
Kebijakan      Pembangunan         Nasional      maupun      Rencana   Pembangunan
Kabupaten/Kota diharapkan tetap sinergis saling berkaitan suatu sama lain sesuai
dengan kewenangan masing-masing.
       Hasil Penyesuaian RPJM Aceh ini menjadi pedoman dalam rangka
penyesuian dokumen-dokumen lainnya seperti:



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                     I-5
1. Rencana pembangunan lima tahunan Satuan Kerja Perangkat Aceh yang
   selanjutnya disebut Rencana Strategis (Renstra) SKPA;
2. Rencana Pembangunan Tahunan Aceh, yang selanjutnya disebut Rencana
   Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) adalah dokumen perencanaan daerah untuk
   periode 1 (satu) tahun.
3. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Aceh, yang
   selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Aceh (Renja-SKPA)
   adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1
   (satu) tahun.

        Dengan demikian diharapkan akan              terciptanya sinkronisasi   program
pembangunan antar sektor dan wilayah baik bersifat jangka panjang, menengah,
maupun jangka pendek, sehingga terwujudnya pembangunan yang terpadu dan
berkelanjutan.

1.5. Sistimatika Penulisan

BAB I      :   PENDAHULUAN
               Terdiri dari latar belakang; maksud dan tujuan; landasan hukum;
               hubungan RPJM dengan dokumen perencanaan lainnya; dan
               Sistematika Penulisan.

BAB II     :   GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
               Dalam bab ini diuraikan kondisi akhir tahun 2009 Terdiri dari kondisi
               geografis;  Pemberdayaan       Ekonomi     Masyarakat,    Perluasan
               Kesempatan Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan; Pembangunan
               dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung
               Investasi; Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan
               Kesempatan Belajar; Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan
               Kesehatan; Pembangunan Syari’at Islam, Sosial dan Budaya;
               Penciptaan Pemerintah yang Baik dan Bersih serta Penyehatan
               Birokrasi Pemerintahan; Penanganan dan Pengurangan Resiko
               Bencana.


BAB III    :   VISI DAN MISI
               Tetap tidak berubah




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          I-6
BAB IV     :   STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH
               Strategis disesuaikan dengan kondisi akhir 2009 Terdiri dari
               Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan Kerja
               dan Penanggulangan Kemiskinan; Pembangunan dan Pemeliharaan
               Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi;
               Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan Belajar;
               Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan;
               Pembangunan Syari’at Islam, Sosial dan Budaya; Penciptaan
               Pemerintah yang Baik dan Bersih serta Penyehatan Birokrasi
               Pemerintahan; Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana.

BAB V      :   ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
               Disesuaikan dengan kondisi akhir 2009

BAB VI     :   ARAH KEBIJAKAN UMUM
               Disesuaikan dengan kondisi 2009
               Terdiri dari Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum; Ekonomi;
               Infrastruktur; Pendidikan; Kesehatan; Agama, Sosial dan Budaya.

BAB VII    :   PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH
               Disesuaikan dengan hasil pembahasan Pokja
               Tabel Program Pembangunan Daerah 2007-2012

BAB VIII :     PENUTUP

LAMPIRAN-LAMPIRAN




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                 I-7
BAB II
                        GAMBARAN UMUM KONDISI ACEH

2.1 Geografis

       Aceh terletak di ujung Barat laut Pulau Sumatera (2o-6o Lintang Utara dan
95o-98o Bujur Timur) dengan Ibukota Banda Aceh, memiliki luas wilayah 5.675.841
ha (12,26 persen dari luas pulau Sumatera), dan sekaligus terletak pada posisi
strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas perdagangan Nasional dan Internasional
yang menghubungkan belahan dunia timur dan barat.
       Aceh memiliki 119 pulau, 35 gunung, 73 sungai besar, 2 buah danau dan
sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan hutan sebesar 3.862.249,26 ha
yang terdiri dari hutan yang dilindungi dan hutan produksi. Hutan yang dilindungi
terdiri dari hutan suaka alam 115.122,15 ha, hutan pelestarian alam 647.344,82,
hutan lindung 2.481.442,86, dan taman buru 84.962,53 ha, selanjutnya hutan
produksi terdiri dari hutan produksi terbatas 13.331,54, hutan produksi
122.781,15 ha, dan hutan produksi konversi 37.284,20 ha. Aceh mempunyai
beragam kekayaan sumberdaya alam antara lain minyak dan gas bumi, pertanian,
industri, perkebunan (kelapa sawit, karet, kelapa, cengkeh, kakao, kopi,
tembakau), perikanan darat dan laut, pertambangan umum (logam, batu bara,
emas, dan mineral lainnya).
       Pemerintah Aceh terdiri dari 18 Kabupaten dan 5 Kota, 276 Kecamatan, 731
Mukim dan 6.424 gampong atau desa. Secara topografi Aceh terdiri dari 47,58
persen wilayah yang bergunung, 24,63 persen merupakan daerah datar, 10
persen merupakan daerah berbukit, 10,55 persen merupakan wilayah berombak
dan selebihnya wilayah bergelombang. Keterangan tersebut menurut klasilifikasi
slope (kelerengan), yaitu < 2 persen datar, 2-8 persen berombak, 8-15 persen
bergelombang, 15-25 persen berbukit dan >25 persen bergunung.
       Karakteristik lahan di Aceh pada Tahun 2008 sebagian besar didominasi
oleh hutan, dengan luas 3.549.813 Ha atau 58,15 persen. Penggunaan lahan
terluas kedua adalah perkebunan besar dan kecil mencapai 827.030 Ha atau 13,65
persen dari luas total wilayah Aceh. Luas lahan pertanian sawah dan pertanian

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                    II-1
tanah kering semusim mencapai 449,514 Ha atau 7.59 persen dan selebihnya
lahan pertambangan, industri, perkampungan perairan darat, tanah terbuka dan
lahan suaka alam lainnya dibawah 5.99 persen.


2.2       Perekonomian

2.2.1     Kondisi Ekonomi Makro


2.2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi


        Jika diukur dari kenaikan PDRB, perekonomian Aceh secara keseluruhan
(termasuk migas) selama dua tahun terakhir (2008-2009) secara berturut-turut
mengalami pertumbuhan negatif yaitu sebesar -5,27 persen dan -5,58 persen.
Akan tetapi tanpa migas perekonomian Aceh selama periode tersebut justru
mengalami perkembangan yang menggembirakan yaitu mengalami pertumbuhan
positif secara berturut-turut sebesar 1,88 persen dan 3,92 persen.
        Penyebab utama pertumbuhan             negatif (kontraksi) perekonomian Aceh
secara keseluruhan (termasuk migas) selama beberapa tahun terakhir adalah
disebabkan oleh semakin menurunnya kontribusi minyak dan gas bumi terhadap
PDRB. Akibat masih dominannya kontribusi minyak dan gas bumi terhadap PDRB
Aceh menyebabkan perubahannya berdampak signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi secara keseluruhan.
        Jika tanpa memperhitungkan nilai kontribusi minyak dan gas bumi, selama
periode 2008-2009 semua sektor usaha mengalami pertumbuhan positif.
Pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor listrik dan air bersih yang diikuti oleh
sektor keuangan, industri pengolahan, perdagangan hotel dan restoran, jasa-jasa,
pengangkutan dan komunikasi, pertanian, bangunan, serta pertambangan dan
penggalian.
        Pertumbuhan ekonomi Aceh tahun 2008 dan 2009 menurut lapangan usaha
(sektor-sektor) secara lebih terinci dapat dilihat pada Tabel II.1 dibawah ini:




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-2
Tabel II.1
                      Laju Pertumbuhan Ekonomi Aceh
                Tahun 2008 dan 2009 Menurut Lapangan Usaha

                                                             Pertumbuhan (persen)
                     LAPANGAN USAHA
                                                              2008        2009**
                               (1)                             (2)          (3)

     1.     Pertanian                                          0,81        3,09
     2.     Pertambangan dan Penggalian                       -27,31      -49,24
            -   Tanpa Gas                                     -1,01        1,38
     3.     Industri Pengolahan                               -7,73        -6,06
            -   Tanpa Gas                                      3,57        5,03
     4.     Listrik dan Air Bersih                            12,73       27,07
     5.     Bangunan                                          -0,85        3,16
     6.     Perdagangan, Hotel dan Restoran                    4,59        3,28
     7.     Pengangkutan dan Komunikasi                        1,38        4,68
     8.     Keuangan, Persewaan, Jasa Perusahaan               5,16        9,61
     9.     Jasa – Jasa                                        1,21        4,68
            PDRB                                              -5,27       -5,58
            PDRB TanpaMigas                                    1,88        3,92
      Sumber : BPS Aceh, 2010
      Catatan : *) angka sementara
               **) angka sangat sementara



          Mencermati perkembangan partumbuhan ekonomi Aceh yang semakin
meningkat selama beberapa tahun terakhir khususnya pertumbuhan ekonomi
tanpa migas, bahwa pertumbuhan tersebut masih jauh dibawah pertumbuhan
ekonomi nasional yang tumbuh sekitar 4,5 persen pada tahun 2009.

2.2.1.2     Tingkat Inflasi


       Jika diamati perkembangan harga-harga barang di dua kota utama Aceh
(Banda Aceh dan Lhokseumawe), tingkat inflasi yang terjadi di Aceh pada tahun
2009 tercatat sangat rendah selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2009
tingkat inflasi yang terjadi di Kota Banda Aceh adalah sebesar 3,5 persen jauh

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-3
lebih rendah dibandingkan tahun 2008 yang sebesar 10,27 persen. Sedangkan
tingkat inflasi di Kota Lhokseumawe pada tahun 2009 sebesar 3,96 persen juga
jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat inflasi yang terjadi pada tahun
2008 yaitu sebesar 13,78 persen.
       Tingkat suku bunga yang relatif rendah selama tahun 2009 ternyata tidak
memberi pengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi di Aceh dalam kurun waktu
yang sama. Rendahnya inflasi yang terjadi selama tahun 2009 jika dibandingkan
dengan tahun-tahun sebelumnya cenderung terutama dipengaruhi oleh kebijakan
pemerintah yang tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif
Dasar Listrik (TDR) selama tahun 2009.
       Disamping itu, berkurangnya secara drastis aktifitas rehabilitasi dan
rekonstruksi Aceh selama tahun 2009, dari sisi demand telah menyebabkan
turunnya     permintaan      terhadap     barang     dan     jasa   kebutuhan   kegiatan
pembangunan. Sedangkan dari sisi supply, perbaikan infrastruktur, unit-unit
produksi dan system distribusi barang telah menciptakan pasar yang lebih
sempurna, dan fenomena tersebut juga memberi andil cukup besar terhadap
rendahnya tingkat inflasi selama tahun 2009.
       Rendahnya tingkat inflasi di Aceh pada tahun 2009 jika dibandingkan
dengan tingkat inflasi yang terjadi pada beberapa tahun sebelumnya, maka
kondisi tersebut minimal perlu dipertahankan agar pembangunan ekonomi terus
dapat ditingkatkan.


2.2.1.3    Tingkat Pengangguran Terbuka

       Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan salah satu indikator yang
dapat menggambarkan kondisi umum perekonomian suatu wilayah, dan sekaligus
memberikan gambaran aktivitas masyarakat dalam mencapai kesejahteraan. TPT
diukur berdasarkan persentase jumlah angkatan kerja yang tidak bekerja yang
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kondisi sosial, budaya, dan
ekonomi lingkungan, serta kondisi internal angkatan kerja itu sendiri.
       Jumlah angkatan kerja di Aceh pada tahun 2009 mencapai 1,897 juta orang
mengalami penambahan sekitar 104 ribu orang dari kondisi 2008 yang hanya

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-4
sebanyak 1,793 juta orang. Sedangkan jumlah penduduk yang bekerja pada tahun
2009 adalah sebanyak 1,732 juta orang atau bertambah sekitar 110 ribu orang
dari tahun 2008 yang hanya sebanyak 1,622 juta orang. Peningkatan jumlah
orang yang bekerja lebih besar dari peningkatan jumlah angkatan kerja yang
terjadi pada tahun 2009 telah menyebabkan menurunnya TPT di Aceh. Kondisi
yang yang sama, juga terjadi selama beberapa tahun sebelumnya, akibat semakin
bertambahnya kesempatan kerja dan semakin luasnya lapangan usaha yang
tercipta.
         Semakin kondusifnya keamanan daerah dan semakin baiknya kondisi
berbagai sarana dan prasarana daerah, serta semakin terbukanya akses daerah
terhadap dunia luar telah mendorong masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam
akselerasi pembangunan Aceh.                Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya
tumbuh unit-unit usaha kecil dan menengah baik oleh pelaku-pelaku ekonomi lokal
maupun tumbuh melalui kemitraan dengan pengusaha-pengusaha luar daerah dan
asing.
         Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Aceh pada tahun 2009 (kondisi
bulan Agustus) adalah sebesar 8,71 persen yaitu mengalami penurunan sebesar
0,85 persen dari TPT tahun 2008 (pada bulan yang sama) yang mencapai 9,56
persen. Pada tahun 2010 (kondisi Februari), TPT di Aceh semakin menurun yaitu
8,60 persen yang berarti mengalami penurunan sebesar 0,11 persen selama satu
semester.
         Perkembangan TPT di Aceh selama 5 tahun terakhir adalah seperti
diperlihatkan pada Tabel II.2 dibawah ini:
                                    Tabel. II.2
                   Perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka
                        di Aceh Selama Periode 2006 - 2010

                           TAHUN                   Tingkat Pengangguran
                                                            (%)
                             2006                           10,43
                             2007                            9,84
                             2008                            9,56
                             2009                            8,71
                            2010*)                           8,60
            Sumber : BPS Aceh, 10 Februari 2010
            *) kondisi Februari 2010

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       II-5
Walaupun TPT di Aceh terus mengalami penurun selama lima tahun
terakhir, namun kondisi tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan TPT
nasional yang pada tahun 2009 sebesar 8,14 persen. Kondisi tersebut perlu
menjadi perhatian dan memerlukan beberapa kebijakan agar TPT di Aceh mampu
ditekan minimal setara dengan nasional.


2.2.1.4     Tingkat Kemiskinan


       Kondisi damai yang masih terpelihara dengan baik saat ini merupakan
suatu modal yang sangat besar bagi Aceh dalam melaksanakan berbagai program
pembangunan, terutama yang berdampak langsung terhadap pemberdayaan
ekonomi masyarakat dan diharapkan dapat berimbas terhadap                menurunnya
jumlah penduduk miskin.
       Tingkat kemiskinan di Aceh selama periode 2007-2009 terus mengalami
penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007 tingkat kemiskinan di Aceh
adalah sebesar 26,65 persen yang pada tahun-tahun selanjutnya terus menurun
menjadi 23,53 persen di 2008 dan 21,80 persen pada tahun 2009.
       Sebagaimana halnya dengan kondisi penyebaran penduduk miskin secara
nasional, bahwa penduduk miskin di Aceh juga lebih banyak berdomisili di daerah
perdesaan dibandingkan dengan yang bermukim di perkotaan. Berdasarkan data
statistik tahun 2009, bahwa dari total jumlah penduduk miskin yang mencapai
892.900 jiwa yang berdomisili di pedesaan adalah sebanyak 710.700 jiwa,
sedangkan yang berdomisili di perkotaan sebesar 182.200 jiwa. Secara
persentase, bahwa 24,34 persen penduduk desa adalah tergolong miskin,
sedangkan penduduk kota hanya 15,45 persen yang tergolong miskin. Tingginya
persentase pendudk miskin di pedesaan cenderung disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranya adalah masih rendahnya rata-rata tingkat pendidikan (skill),
minimnya     infrastruktur, serta terbatasnya akses          terhadap arus informasi
pembangunan dan teknologi.
       Perkembangan penduduk miskin di Aceh selama periode 2007-2009 dapat
dilihat pada Tabel II.3 dibawah ini:


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                      II-6
Tabel. II.3
                      Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin
                        di Aceh Selama Periode 2007-2009

                                                             Persentase Penduduk
                                Jumlah Penduduk Miskin
              Tahun                                                 Miskin
                                      (ribu orang)
                                                                     (%)
               2007                       1.083,6                   26,65
               2008                       956,7                     23,53
               2009                       892,9                     21,80
        Sumber : BPS Aceh tahun 2009


2.2.2        Sektor-Sektor Produksi

         Secara umum, sektor pertanian dalam arti luas masih menjadi penyumbang

utama terhadap          PDRB Aceh dimana pada tahun 2009 kontribusinya adalah

sebesar 33,69 persen. Dengan demikian sektor pertanian menjadi penyokong

utama perekonomian Aceh, disamping juga masih sebagai mata pencaharian

utama masyarakat. Akan tetapi dalam pengembangannya, sektor ini masih banyak

menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan, antara lain adalah:

a.   Masih tingginya konflik kepentingan dalam pemanfaatan lahan yang

     ditunjukkan dengan tingginya konversi lahan pertanian sehingga hal ini dapat

     mengancam tingkat produksi pertanian;

b.   Masih kurang memadainya infrastruktur pertanian, terutama jaringan irigasi,

     jalan    usaha     tani,   saluran    tambak,   pelabuhan   perikanan,   dan   balai

     pembibitan/perbenihan, sehingga produktivitas sektor pertanian tergolong

     masih rendah;

c.   Pengembangan komoditi belum fokus pada komodi unggulan yang memiliki

     prospek pasar serta nilai tambah yang tinggi

d.   Skala usaha pertanian rakyat tergolong masih sangat kecil, terutama jika

     dibandingkan dengan potensi ketersediaan lahan yang ada

e.   Masih lemahnya aplikasi teknologi dalam proses produksi dan pengolahan

     hasil akibat belum optimalnya mekanisasi dan penyuluhan pertanian.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-7
f.   Lemahnya akses petani terhadap sumber informasi terutama yang berkaitan

     dengan teknologi, pasar, dan permodalan/perbankan; dan

g.   Masih lemahnya kelembagaan petani dan kemitraan usaha.

2.2.2.1    Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

       Produksi komoditi pangan Aceh dalam beberapa tahun terakhir secara
keseluruhan menunjukkan perkembangan yang positif. Tahun 2009 (berdasarkan
angka sementara), produksi padi mengalami peningkatan sebesar 10,23 persen
yaitu dari 1.402.287 juta ton pada tahun 2008 meningkat menjadi 1.545.769 ton
pada tahun 2009. Produksi tersebut terdiri dari padi sawah (1.528.737 ton) dan
padi ladang (17.032 ton). Sedangkan komoditi pangan yang mengalami
peningkatan produksi paling signifikan adalah jagung dan kedelai, dimana pada
tahun 2009 peningkatannya mencapai di atas 20 persen. Produksi jagung
mengalami peningkatan sebesar 22,16 persen yaitu sebesar 112.894 ton pada
tahun 2008 meningkat menjadi 137.910 ton pada tahun 2009. Produksi kedelai
bahkan mengalami peningkatan yang luar biasa yaitu sebesar 44,55 persen, dari
43.885 ton pada tahun 2008 meningkat menjadi 63.436 ton pada tahun 2009.
       Komoditi pangan yang mengalami pertumbuhan produksi negatif adalah
kacang tanah dan kacang hijau. Produksi kacang tanah pada tahun 2009 hanya
mencapai 5.899 ton atau menurun sebesar 423 ton (-6,69 persen) jika dibanding
dengan tahun 2008 yang produksinya mencapai 6.322 ton. Sedangkan kacang
hijau yang terjadi penurunan sebesar 439 ton (-24,70 persen) jika dibandingkan
dengan produksi tahun 2008 yaitu sebesar 1.439 ton menurun menjadi 1.338 ton
pada tahun 2009
       Dinilai dari sisi produktivitas, pada tahun 2009 hampir semua komoditi
tanaman pangan mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya
kecuali pada komoditi kacang tanah dan kacang hijau. Peningkatan produktivitas
salah satunya mencerminkan sejauhmana penerapan teknologi pertanian yang
diaplikasikan oleh petani untuk meningkatkan hasil produksinya per satuan luas,


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                 II-8
seperti penggunaan benih unggul, aplikasi teknologi pendukung lainnya (seperti
pupuk dan pengendalian OPT), dan dukungan infrastruktur seperti irigasi teknis.
       Peningkatan produktivitas pertanian pangan dan hortikultura harus tetap
menjadi prioritas ke depan, mengingat produktivitas yang tinggi akan berdampak
pada peningkatan kesejahteraan             petani   ke arah yang    lebih baik. Laju
perkembangan produktivitas komoditi pangan di Aceh untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Tabel II.4.
       Permasalahan yang sangat substansial dalam pengembangan komoditi
pangan dan hortikultura adalah permasalahan ketersediaan bibit/benih unggul dan
pemasaran. Penggunaan varietas unggul sering menjadi kendala dimana petani
masih sangat tergantung dari bantuan pemerintah akibat belum tersedianya unit
produksi bibit/benih unggul yang representatife dan mudah diakses oleh
masyarakat. Selama ini sebagian besar kebutuhan bibit/benih unggul masih
didatangkan dari luar daerah dengan harga yang mahal sehingga penggunaan
bibit/benih unggul oleh petani masih sangat minim dan cendrung bergantung dari
bantuan pemerintah.
       Sedangkan persoalan utama pemasaran adalah masih rendahnya harga jual
komoditi ditingkat petani, terutama disaat panen raya. Pada saat musim panen
raya    petani    cenderung      menjual     dengan     harga   murah   akibat   belum
berkembangnya industri pengolahan dan masih lemahnya system mata rantai
perdagangan (supplay chain). Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka
sangat diperlukan dukungan ketersediaan unit pengolahan hasil dengan kapasitas
yang cukup dan modern, serta terbentuknya sistem perdagangan komoditi yang
tangguh dan berkeadilan. Dengan demikian nantinya diharapkan petani lebih
termotivasi untuk berusaha di sektor pangan dan hortikultura dengan prinsip
agribisnis, dan daerah dapat memperoleh nilai tambah yang lebih besar.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-9
TABEL II.4
                 Perkembangan Produktivitas Tanaman Pangan
                         Menurut Komoditi di Aceh
                            Tahun 2007 - 2009

                                     Produktivitas (Kwt/Ha)                Perkembangan
        No        Komoditi                                                  2007 - 2009
                                      2007        2008       2009*)             (%)
          1    Padi                    42,51       42,51         43,32          0,63
          2    Jagung                  34,03       33,04         34,67             0,62
          3    Kedelai                 12.99       13,34         14,08             2,93
          4    Kacang Tanah            12,11       12,12         12,59             1,30
          5    Kacang Hijau            11,04       10,44         10,49            -1,69
          6    Ubi Kayu               124,02      124,16       127,47              0,92
          7    Ubi Jalar               98,49       99,41       100,68              0,73
       Sumber: Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Aceh, Februari 2009 (data diolah).
       Keterangan: *) 2009 merupakan Angka Sementara.



2.2.2.2       Perkebunan


       Sektor perkebunan telah memberikan sumbangan yang cukup berarti
terhadap perekonomian daerah termasuk sumber pendapatan masyarakat.
Sedangkan dari sisi aspek sosial, usaha perkebunan telah mampu memberikan
lapangan pekerjaan yang cukup luas bagi masyarakat dimana secara langsung
ikut mengurangi pengangguran. Disamping itu usaha perkebunan juga ikut
mendukung kelestarian sumberdaya alam seperti pelestarian sumberdaya air dan
penyediaan oksigen bagi kehidupan dalam konteks mendukung visi Aceh Green.
       Luas areal perkebunan sampai dengan tahun 2009 di Aceh mencapai
900.080 Ha, mengalami peningkatan sebesar 10,67 persen dari tahun 2008,
dimana hal ini cenderung disebabkan karena semakin kondusifnya keamanan di
Aceh. Peningkatan luas areal tertinggi terjadi pada komoditi kemiri yang
mengalami kenaikan sebesar 57,94 persen, kemudian diikuti oleh nilam sebesar
32,48 persen. Kelapa Sawit masih mendominasi luas areal perkebunan di Aceh,
yakni 313.813 Ha atau 34,86 persen, yang diikuti oleh Karet 132.694 Ha (14,74
persen) dan Kopi 121.938 Ha (13,54 persen) serta Kelapa Dalam 101.150 Ha

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                II-10
(11,30 persen). Lebih jelas mengenai luas areal berbagai komoditi unggulan
perkebunan di Aceh tahun 2007-2009 disajikan dalam Tabel II.5.
                                   TABEL II.5
                 Luas Areal Tanaman Perkebunan Rakyat dan Besar
                   Menurut Komoditi di Aceh Tahun 2007 – 2009


                                                LUAS AREAL                    PERTUMBUHAN
         NO      KOMODITI
                                   2007            2008         2009         2008      2009
           1   KARET                111.872        114.661      132.694         2,49    15,73
           2   KELAPA SAWIT         269.885        287.104      313.813         6,38        9,30
           3   KELAPA DALAM         108.421        101.996      101.750        -5,93     -0,24
           4   KOPI                 112.138        111.880      121.938        -0,23        8,99
           5   CENGKEH               22.165         22.187       22.117         0,10     -0,32
           6   PALA                  17.773         18.230       20.256         2,57    11,11
           7   PINANG                35.320         35.984       37.895         1,88        5,31
           8   KAKAO                 50.101         74.547       78.805        48,79        5,71
           9   LADA                    1020               974      1022        -4,51        4,93
          10   KEMIRI                24.306         13.725       21.677       -43,53    57,94
          11   NILAM                   3144           3205         4246         1,94    32,48
          12   TEMBAKAU                   836             829          943     -0,84    13,75
          13   KELAPA HYBRIDA         3.867          3.760        2.209        -2,77    -41,25
          14   GAMBIR                     233             214          200     -8,15     -6,54
          15   KUNYIT                     807             772          446     -4,34    -42,23
          16   JAHE                   1.214               433          609    -64,33    40,65
          17   TEBU                   6.233          6.407        6.706         2,79        4,67
          18   ANEKA TANAMAN         35.056         16.417       32.754       -53,17    99,51

                   JUMLAH           804.391        813.325      900.080         1,11    10,67
       Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Tahun 2009 (data diolah)

       Total produksi berbagai komoditi perkebunan pada tahun 2009 tidak
mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2008.
Pertumbuhan produksi tertinggi terjadi pada komoditi nilam yaitu 291,03 persen
yang diikuti oleh kakao 225,51 persen dan tebu 103,34 persen, sedangkan
terendah terjadi pada komoditi cengkeh sebesar -61,11 persen. Produksi kelapa
sawit masih merupakan yang tertinggi diantara komoditi perkebunan lainnya
yaitu sebesar 311.045 ton TBS atau (46,73 persen), dan produksi minyak sawit
sebesar 286.452 ton serta inti sawit sebesar 129.412 ton. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat dalam Tabel II.6.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                              II-11
TABEL II.6
                 Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat dan Besar
                  Menurut Komoditi di Aceh Tahun 2007–2009*


                                               PRODUKSI                    PERTUMBUHAN
        NO.      KOMODITI
                                  2007          2008          2009        2008        2009
         1    KARET                63.144         68.611       70.634       8,66         2,95
         2    KELAPA SAWIT        752.049        799.904      311.045       6,36        -61,11
         3    KELAPA DALAM         64.387         52.325       56.875      -18,73        8,70
         4    KOPI                 48.080         47.811       50.190       -0,56        4,98
         5    CENGKEH               2.114          1.949           714      -7,81       -63,37
         6    PALA                  5.706          4.495        5.458      -21,22       21,42
         7    PINANG               19.158         14.982       22.396      -21,80       49,49
         8    KAKAO                19.303         27.295       88.847      41,40       225,51
         9    LADA                    252           182            274     -27,78       50,55
         10   KEMIRI               18.082         11.304       14.756      -37,48       30,54
         11   NILAM                   118           156            610     32,20       291,03
         12   TEMBAKAU                230           215            316      -6,52       46,98
         13   KELAPA HYBRIDA        1.216          2.107        1.133      73,27        -46,23
         14   GAMBIR                     67            66            78     -1,49       18,18
         15   KUNYIT                2.117          2.001           768      -5,48       -61,62
         16   JAHE                  4.064          2.257        2.589      -44,46       14,71
         17   TEBU                 16.318         16.423       33.394       0,64       103,34
         18   ANEKA TANAMAN         9.628          5.449        5.489      -43,40        0,73

                  JUMLAH        1.026.033    1.057.532      665.566         3,07        -37,06
       Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Tahun 2009 (data diolah)

       Pengembangan komoditi perkebunan di Aceh selama ini masih menghadapi
beberapa permasalahan substansial yang hampir sama dengan permasalahan di
sektor pertanian pangan dan hortikultura, yaitu permasalahan ketersediaan bibit
unggul dan penanganan pasca panen. Sebagian besar bibit unggul masih harus
didatangkan dari daerah lain dan sulit diakses oleh petani, serta harga yang
relative mahal. Akibatnya petani cenderung menggunakan bibit yang bukan
klon/varietas    anjuran     sehingga         berimbas      pada     rendahnya      produktivitas
perkebunan rakyat terutama jika dibandingkan dengan perkebunan besar.
       Permasalahan pasca panen terutama berkaitan dengan masih rendahnya
harga komoditi di tingkat petani sehingga hasil kebun tidak dimanfaatkan secara
optimal. Rendahnya harga komoditi perkebunan ditingkat petani disebabkan oleh

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                   II-12
beberapa hal diantaranya yang terpenting adalah akibat rendahnya kualitas
pengolahan hasil panen, lemahnya sistim kelembagaan petani, dan minimnya
ketersediaan unit pengolahan hasil perkebunan.


2.2.2.3. Peternakan

     Pembangunan sektor peternakan di Aceh mempunyai peranan strategis
dalam upaya pemantapan ketahanan pangan hewani dan pemberdayaan ekonomi
masyarakat.     Pembangunan        peternakan      merupakan     bagian    integral    dari
pembangunan pertanian dalam arti luas dan di ditujukan kepada upaya
peningkatan produksi peternakan yang sekaligus untuk meningkatkan pendapatan
dan kesejahteraan petani ternak, memenuhi kebutuhan pangan dan gizi, serta
menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat.
Disamping itu usaha peternakan juga berperan dalam mendorong pengembangan
agroindustri dan agribisnis.
     Sejalan dengan program Nasional Pencapaian Swasembada Daging Sapi
(PSDS) pada tahun 2014, pemerintah Aceh terus berusaha untuk menambah
jumlah populasi ternak baik dengan mendatangkan ternak dari luar Aceh
maupun melalui inseminasi buatan yang secara efektif mampu mengatasi
masalah fertilasi ternak. Di samping itu, pola pengembangannya juga difokuskan
pada pengembangan kawasan-kawasan peternakan terpadu baik untuk kawasan
peternakan sapi maupun kawasan peternakan ayam petelur.
     Selama     periode     2008-2009      total   populasi   ternak   terus   mengalami
pertumbuhan. Pada tahun 2008 total populasi ternak berjumlah 14.840.889 ekor,
mengalami peningkatan sebesar 3,97 persen pada tahun 2009 dengan total
populasi sebesar 15.430.451 ekor. Populasi ternak yang mengalami peningkatan
terbesar adalah domba dengan peningkatan sebesar 17,61 persen atau dengan
jumlah populasi sebesar 184.747 ekor jika dibandingkan dengan tahun 2008
dengan jumlah populasi sebesar 157.081 ekor, kemudian disusul oleh ayam
pedaging dengan peningkatan sebesar 10 persen atau dengan jumlah populasi
sebesar 1.480.939 ekor jika dibandingkan dengan tahun 2008 dengan jumlah
populasi sebesar 1.346.308 ekor. Sedangkan terendah terdapat pada kambing
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            II-13
dengan penumbuhan sebesar 0,93 persen, ayam buras sebesar 2,99 persen, itik
dan puyuh masing-masing hanya tumbuh sebesar 3 persen. Lebih jelasnya
mengenai perkembangan populasi ternak dapat dillihat pada Tabel II.7.
                                 Tabel II.7
                 Perkembangan Populasi Ternak Menurut Jenis
                         Di Aceh Tahun 2008 - 2009

                                                                          Pertumbuhan
                                       Populasi Ternak (ekor)
          No      Jenis Ternak                                                (%)
                                          2008               2009             2009
           1     Sapi Perah                    32         35                        9,37
           2     Sapi Potong              641.093    688.118                        7,33
           3     Kerbau                   280,662    299.763                        6,80
           4     Kuda                       3.243      3.357                        3,51
           5     Kambing                  697.426    703.593                        0,93
           6     Domba                    157.081    184.757                       17,61
           7     Babi                         333        321                       -3,60
           8     Ayam Buras             8.904.869  9.172.015                        2,99
           9     Ayam Ras                 181.887    190.799                        4,89
           10    Petelur
                 Ayam                   1.346.308  1.480.939                       10,00
           11    Pedaging
                 Itik                   2.596.927  2.674.835                        3,00
           12    Puyuh                     31.028     31.959                        3,00
                  Total               14.840.889 15.430.451                        3,97
         Sumber: Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh Tahun 2010 (data diolah).


     Jumlah produksi telur menurut jenis di Aceh tahun 2008 - 2009 mengalami
kenaikan sebesar 8,50 persen. Telur ayam buras mengalami kenaikan tertinggi
sebesar 11,36 persen sedangkan pada jenis telur ayam ras juga terjadi
peningkatan yaitu sebesar 11,27 persen dan itik sebesar 2,88 persen. Gambaran
mengenai perkembangan Produksi telur Aceh tahun 2008 - 2009 dapat dilihat
pada Tabel II.8 berikut:




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                             II-14
Tabel II.8
                     Perkembangan Produksi Telur Menurut Jenis
                            di Aceh tahun 2008 - 2009

                                                                          Pertumbuhan
                                                      Produksi (Kg)
          No               Jenis                                               (%)
                                               2008           2009            2009
          1            Ayam Buras            7.384.695 8.223.564               11,36

          2        Ayam Ras Petelur            885.606       985.450           11,27

          3                 Itik             9.580.128 9.856.250                2,88

                        Total              17.850.429 19065264                  8,50
       Sumber: Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh Tahun 2010 (data diolah).


     Rendahnya produksi telur dalam daerah, disebabkan karena tingginya biaya
produksi akibat pakan ternak yang masih harus didatangkan dari luar Aceh
sehingga harga jual telur menjadi mahal jika dibandingkan dengan harga telur
pasokan yang masuk dari luar daerah Aceh. Keadaan ini menyebabkan daya
saing peternak dalam daerah menjadi rendah, sehingga motivasi masyarakat
untuk berusaha dibidang ini menjadi menurun.
     Melihat pertumbuhan penduduk Aceh yang terus bertambah dan kondisi
sosial ekonomi yang cenderung semakin membaik, maka diperkirakan dalam
kurun waktu lima tahun mendatang permintaan terhadap daging dan telur tidak
akan seimbang dengan ketersediaan dalam daerah, untuk itu perlu dilakukan
kajian yang strategis dalam menyeimbangkan supply dan demand pangan
daging dan telur dimasa yang akan datang.


2.2.2.4    Kelautan dan Perikanan

     Aceh yang terletak di ujung Utara/Barat Pulau Sumatera memiliki peranan
yang sangat strategis dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan
nasional mengingat letaknya di antara dua perairan, yaitu Selat Malaka di bagian
Utara/Timur dan Samudera Indonesia di bagian Barat/Selatan. Panjang garis
pantai Aceh sekitar 1.660 km dengan luas perairan laut sekitar 295.370 km 2 yang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                              II-15
terdiri dari perairan teritorial dan perairan kepulauan seluas               56.563 km2 dan
Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 238.807 km 2.
     Produksi perikanan di Aceh selama tiga tahun terakhir mengalami
pertumbuhan baik pada jenis perikanan tangkap maupun perikanan budidaya.
Pada tahun 2008 total produksi perikanan Aceh adalah sebesar 167.907,5 ton
dan mengalami peningkatan sebesar 1,52 persen terhadap produksi tahun 2007
yang hanya mencapai sebesar 165.396,6 ton. Pada tahun 2009 total produksi
perikanan mencapai 172.962,6 ton atau mengalami pertumbuhan sebesar 3,01
persen.
     Perikanan dan kelautan merupakan sektor yang mengalami kehancuran
sangat fatal pada saat bencana tsunami. Namun pertumbuhan produksi
perikanan yang terjadi selama tiga tahun terakhir walaupun tidak terlalu
signifikan menandakan mulai pulihnya kembali sektor ini dari kehancuran. Untuk
lebih rincinya produksi perikanan Aceh tahun 2007-2009 dapat dilihat dalam
Tabel II.9.
                                     Tabel II.9
                             Produksi Perikanan di Aceh
                                 Tahun 2007 - 2009

                                                      Jumlah Produksi (ton)
          No       Klasifikasi
                                            2007                  2008           2009*
          1.  Perikanan
                                            129.730,9            130.271,4       134.179,5
              Tangkap
          2. Perikanan
                                              35.665,7            37.636,1        38.765,1
              Budidaya
                 Total                     165.396,6           167.907,5        172.962,6
            Pertumbuhan (%)                     5,20                1,52             3,01
       Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Tahun 2008 (data diolah)
       Ket : *) Angka sementara

     Secara keseluruhan pertumbuhan rata-rata produksi perikanan selama
2007-2009 adalah sebesar 3,24 persen dengan perincian pertumbuhan tahunan
produksi perikanan tangkap sebesar 3,41 persen dan perikanan budidaya
sebesar 4,25 persen. Produksi perikanan tangkap umumnya didominasi oleh
kelompok ikan pelagis seperti tuna, tongkol, kembung, cakalang, selar, tenggiri


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                               II-16
dan layang. Kelompok udang dan bandeng memberi sumbangan terbesar dari
subsektor budidaya perikanan.
     Jumlah prasarana yang tersedia di sektor Kelautan dan Perikanan masih
sangat minim bila dibandingkan dengan potensi perikanan Aceh. Kondisi ini
mencerminkan bahwa pengembangan sektor perikanan di Aceh ini belum
didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai.
     Untuk itu kedepan perlu pengembangan sarana dan prasarana kelautan dan
perikanan seperti pelabuhan perikanan, pengembangan balai benih ikan,
pengembangan sarana tangkap serta motorisasi armada perikanan dalam upaya
meningkatkan daya jelajah dan produktivitas nelayan.


2.2.2.5    Kehutanan


     Kawasan Hutan Aceh yang ditetapkan berdasarkan Penunjukan Kawasan
Hutan dan Perairan sesuai dengan keputusan Menteri Kehutanan No. 170/Kpts-
II/2000 tanggal 29 Juni 2000 adalah seluas ± 3.335.613 Ha (daratan), dengan
kawasan perairannya seluruhnya adalah seluas 3.549.813 ha. Luas kawasan hutan
ini meliputi 62,74 persen dari luas daratan Aceh. Kawasan hutan ini terdiri dari
kawasan Hutan Konservasi, Hutan Lindung dan kawasan Hutan Produksi.
     Kondisi kawasan hutan di Aceh umumnya belum mantap. Dari sepanjang
5.056 Km batas luar kawasan hutan, yang baru terealisir tata batasnya sepanjang
3.523,60 Km (69 persen). Sedangkan batas fungsi pada umumnya belum
terealisir. Kenyataan ini menyebabkan lemahnya kepastian hukum dalam
pengelolaan sumber daya hutan dan dalam menghadapi permasalahan okupasi
kawasan hutan.
     Berdasarkan data yang ada saat ini (Baplan, 2002), menunjukkan bahwa
indikasi kawasan hutan yang perlu direhabilitasi adalah seluas 2.125.300 ha
(mencapai 37 persen luas daratan Aceh) baik yang berada di dalam kawasan
maupun di luar kawasan. Kondisi tersebut mengharuskan adanya komitmen
semua pihak untuk mendukung pemulihan kawasan hutan melalui kegiatan
rehabilitasi hutan secara nasional. Hal ini sejalan dengan prioritas kebijakan


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                 II-17
pembangunan nasional di bidang sumberdaya alam yaitu melindungi dan
merehabilitasi SDA agar kualitas dan daya dukungnya tetap terjaga, sekaligus
menjamin tersedianya ruang yang memadai bagi kehidupan masyarakat.
     Dengan berlakunya UUPA Nomor 11 tahun 2006, Pemerintah Aceh memiliki
kewenangan dalam pengambilan kebijakan, pengaturan dan penyelenggaraan
kegiatan yang berdampak antar kabupaten/kota. Mendasari Undang-undang
tersebut dan memperhatikan kondisi geografis yang ada, maka pengelolaan hutan
di Aceh dibagi atas 5 (lima) Daerah Aliran Sungai (DAS), dan dalam
implementasinya akan dibentuk 4 Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).
     Kawasan lindung pada kawasan hutan seluas 2.697.133 Ha (80,86 persen)
yang terdiri dari hutan konservasi 852.633 Ha dan hutan lindung seluas 1.844.500
Ha, sedangkan kawasan budidaya hutan atau hutan produksi seluas 638.580 Ha
terdiri dari hutan produksi terbatas 37.300 Ha dan hutan produksi tetap
601.280 Ha.

2.2.2.6    Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM

     Populasi industri Aceh didominasi oleh industri kecil menengah. Jumlah
usaha industri kecil menengah terus mengalami perkembangan dan pada 2009
telah mencapai sebesar 35.660 unit meningkat tajam hingga 67,64 persen dari
tahun 2008 yang populasinya berjumlah 21.275 unit. Peningkatan yang
signifikan tersebut disebabkan oleh tumbuh dan berkembangnya industri kecil
menengah. Sedangkan populasi industri besar sampai tahun 2009 mengalami
stagnansi atau dengan kata lain tidak mengalami peningkatan populasi.
Perkembangan industri dari tahun 2007 sampai dengan 2009 dapat dilihat pada
Tabel II.10. Akan tetapi laju perkembangan populasi industri tidak diikuti oleh
laju peningkatan investasi yang signifikan. Tahun 2009 nilai total investasi
industri bernilai 147.1 Triliyun tidak berbeda jauh dengan nilai investasi industri
tahun 2008 yang berjumlah 146.9 Triliyun. Penurunan aktivitas produksi dari
beberapa industri besar yang ada di Aceh akibat kurangnya pasokan bahan baku
dan diharapkan persoalan ini segera dapat diatasi.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                    II-18
Tabel II.10
                           Perkembangan Industri Di Aceh
                                Tahun 2007 - 2009

        No       Kelompok Industri               2007            2008          2009

          1.   Industri Kecil Menengah        20.231 unit     21.267 unit    35.652 unit
          2.   Industri Besar                        8 unit         8 unit        8 unit

               JUMLAH                         20.239 unit     21.275 unit    35.660 unit
      Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM, 2009.

        Kinerja ekspor Aceh secara umum cenderung mengalami peningkatan.
Setelah mengalami kejatuhan pada tahun 2001, nilai ekspor Aceh mengalami
perkembangan yang positif walaupun peningkatannya sedikit fluktuatif. Tahun
2007 nilai ekspor mengalami penurunan hanya mencapai USD 1.854,23 Juta, tapi
kemudian tahun 2008 meningkat kembali menjadi USD 2.234,13 juta.                           Nilai
ekspor non migas juga mengalami perkembangan yang menggembirakan, walau
pun belum signifikan pengaruhnya terhadap total nilai ekpor.
       Sedangkan       ekspor     non migas        termasuk      komoditi pertanian terus
mengalami perkembangan yang menggembirakan. Setelah sempat meningkat 5
kali lipat pada tahun 2007, ekspor non migas meningkat tajam sampai 80% pada
tahun 2008, meski dalam tahun tersebut terjadi krisis finansial global. Ekspor
beberapa komoditi mengalami peningkatan dimana komodi yang mengalami
peningkatan tertinggi adalah komoditi pupuk. Disamping itu sejak kondisi
keamanan pasca konflik semakin kondusif nilai ekspor komoditi perkebunan
serperti kopi dan coklat terus meningkat. Tahun 2009 nilai ekspor kopi mencapai
USD 22,66 juta. Namun demikian bila dibandingkan dengan nilai ekspor
keseluruhan, nilai ekspor non-migas terutama komoditi pertanian masih sangat
rendah.
       Sama halnya dengan ekspor, kondisi impor Aceh juga mengalami
peningkatan. Tahun 2007 dan tahun 2008 nilai impor meningkat tajam dari USD
30,65 juta menjadi 384,24 pada tahun 2008. Peningkatan nilai impor tersebut
terutama disebabkan oleh meningkatnya impor barang-barang konsumsi rumah
tangga, bahan makanan dan barang produk industri lainnya. Sedangkan impor


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                 II-19
barang modal masih sangat kecil, dan gejala ini tidak sehat dalam mendorong
pengembangan industri daerah.
       Seiring dengan nilai ekspor dan impor yang sama-sama menunjukkan
trend meningkat, surplus neraca perdagangan luar negeri Aceh juga mengalami
peningkatan. Tahun 2007 neraca perdagangan Aceh surplus sebesar USD
1.823,59 juta dan tahun 2008 meningkat menjadi USD 1.849,89 juta.
       Secara keseluruhan negara tujuan ekspor utama Aceh masih didominasi
oleh negara-negara Asia Timur seperti China, Jepang, Korea serta negara-negara
ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Begitu juga dengan impor,
87,25 persen berasal dari negara Asia Timur dan ASEAN. Sisanya 12,75 persen
berasal dari negara-negara Eropa Barat seperti Ingris, Switzerland dan Jerman
serta dari Amirika Serikat.
       Sektor Koperasi dan UKM merupakan bagian yang cukup penting dan
strategis terhadap pembangunan ekonomi Aceh. Peran strategis tersebut terkait
dengan jumlah, sebaran dan potensi yang dimiliki bahkan perannya dapat
menciptakan lapangan kerja yang cukup memadai serta menjadi faktor utama
pendorong sektor riil.
       Kondisi tahun 2008 skala usaha di Aceh didominasi oleh usaha mikro,
dengan jumlah pelaku usaha sebesar 307 ribu orang atau 83 persen. Kemudian
diikuti oleh usaha kecil dengan pelaku usaha sebanyak 60 ribu orang atau 16
persen. Kemudian diikuti oleh usaha menengah dengan jumlah pelaku usaha 1.6
ribu orang atau 0.44 persen. Sebagian besar pelaku UKM memiliki usaha di sektor
perdagangan. Tahun 2008 UKM yang berada di sektor perdagangan berjumlah
212.5 ribu tenaga kerja atau lebih dari 57 persen. Hal ini karena usaha di sektor
ini relatif lebih mudah dan tidak membutuhkan modal besar.
        Pada tahun 2009 perkembangan Koperasi mengalami peningkatan menjadi
6.614 unit (0,67 persen) baik ditinjau dari indikator kelembagaan maupun dari
indikator usaha. Jumlah Koperasi pada tahun 2008 jumlah Koperasi tercatat
sebanyak 6.570 unit yang tersebar di seluruh Provinsi. Peningkatan tersebut juga
diikuti oleh jumlah Koperasi yang tidak aktif sebesar 35,37 persen atau sebanyak
2.324 unit.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  II-20
Jumlah anggota Koperasi tahun 2009 sebanyak 519.314 orang atau
meningkat dari tahun 2008 sebanyak 1.199 orang seiring bertambahnya jumlah
unit Koperasi. Disisi lain Koperasi sebagai badan usaha juga memberikan
konstribusi terhadap penyerapan tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak
langsung. Dari sisi jumlah dana yang terhimpun baik simpanan anggota maupun
modal yang disetor dalam bentuk lainnya mengalami peningkatan yang signifikan.
Jumlah     Simpanan        Anggota      mencapai      Rp.      1.176,192      milyar    dan     Modal
luar/pinjaman sebesar Rp 295,007 Milyar. Modal Koperasi bersumber dari APBD,
APBN,     Perbankan dan Lembaga Keuangan lainnya. Saat ini Koperasi mampu
menyerap tenaga kerja sebanyak 8.841 orang. Berdasarkan peringkat dari
Kementerian Koperasi dan UKM kondisi koperasi di Aceh masih sangat
memprihantinkan. Dari jumlah 6.614 unit koperasi hanya 2.990 unit yang aktif,
dan dari yang aktif tersebut hanya 24 unit yang berperingkat baik. Oleh karena itu
perlu usaha keras pemerintah dan masyarakat untuk menjadikan koperasi menjadi
sokoguru ekonomi bangsa. Adapun perkembangan koperasi, jumlah simpanan,
volume usaha dapat dilihat dalam tabel II.11 berikut:
                                        Tabel II.11
                               Perkembangan Koperasi di Aceh
                                     Tahun 2004 -2009

                                                             Tahun
 No           Uraian                                                                                Ket
                               2004      2005       2006        2007        2008        2009*
        Jumlah Koperasi
  1                             4.872      5.011     5.533         5.800      6.570       6.614
        (Unit)
        Jumlah Anggota
  2     (Orang)               415.827   441.494    460.537     485.254      494.564     519.314

        Jumlah Karyawan
  3     (Orang)                 5.028      5.791     5.010         5.036      5.499       6.698

        Jumlah Manajer
  4     (Orang)                   937      1.407     1.649         1.570      1.580       2.143

        Jumlah Simpanan
  5     (Rp Juta)             211,940   149,949    201,605     252,980      283.019    1.176.192

        Modal Pinjaman
  6     (Rp Juta)             225,119   190,122    263,224     368,874      349.380     295.007

        Volume Usaha
  7     (Rp Juta )            234,308   280,698    780,107     823,975     1.054.440    604.589

        Sisa Hasil Usaha
  8                            21,403    24,197     56,960     163,159      383.343      45.530
        (Rp Juta )
Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM, 2009
Keterangan: *) Sampai dengan Juni 2009
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                         II-21
2.2.2.7     Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk

     Perkembangan tingkat          penganguran di Aceh selama periode 2006-2009
menunjukkan tren yang terus menurun, dimana pada tahun 2006 Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) di Aceh adalah sebesar 10,43 persen, tahun 2007
turun menjadi 9,84 persen, tahun 2008 turun lagi menjadi 9,56 persen, dan pada
tahun 2009 kembali menjadi 8,71 persen. Bila diamati perkembangan jumlah
angkatan kerja di Aceh yang setiap tahun terus bertambah, dimana pada tahun
2006 adalah sebanyak 1.813.000 orang dan pada tahun 2009 menjadi 1.898.000
orang atau mengalami kenaikan sebesar 4,67 persen. Sebaliknya jumlah
pengangguran di Aceh justru mengalami penurunan yang signifikan yaitu 189.000
orang pada tahun 2006 dan menjadi 165.000 orang pada tahun 2009, atau
mengalami penurunan sebesar 12,70 persen atau rata-rata turun 4.2 persen per
tahun.
     Lebih besarnya persentase penurunan jumlah orang yang menganggur jika
dibandingkan dengan persentase kenaikan jumlah angkatan kerja mengakibatkan
TPT terus dapat ditekan setiap tahunnya. Hal ini diperkirakan sebagai dampak dari
semakin luasnya lapangan kerja yang tercipta dan semakin meningkatnya peluang
kesempatan berusaha bagi masyarakat. Sektor pertanian masih menjadi andalan
penyerapan tenaga kerja. Disamping itu dengan semakin membaiknya iklim usaha
di masyarakat sehingga tumbuh suburnya usaha-usaha rakyat di sektor informal
yang ikut menyumbang untuk penyerapan tenaga kerja.
     Kesempatan kerja dan berusaha pada tahun 2009, masih di dominasi oleh
sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan yaitu sebesar
48,89 persen diikuti oleh sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan
sebesar 19,13 persen, sedangkan yang terendah sektor industri pengolahan yaitu
sebesar 4,66 persen. Berdasarkan jenis kelamin masih didominasi oleh kaum pria
yaitu sebesar 63,48 persen, dari uraian tersebut, menggambarkan bahwa serapan
tenaga kerja berdasarkan sektor lapangan usaha tersebut, terindikasi pada sektor
pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan masih merupakan lapangan
usaha utama bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usahanya dan


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  II-22
membuka peluang berusahan dalam upaya meningkatkan taraf hidupnya. Untuk
lebih jelas dapat dilihat dalam tabel II.12


                                  Tabel II.12
                     Kesempatan kerja Menurut Sektor Usaha
                                 Tahun 2009

   NO.               SEKTOR USAHA                  LAKI-LAKI   PEREMPUAN     (L+P)

         Pertanian, Kehutanan,
    1.                                              514.096     332.999    847.095
         Perburuan dan Perikanan

    2.   Industri Pengolahan                         36.882     43.890      80.772

         Perdangan Besar, Enceran,
    3.                                              157.642     106.811    264.453
         Rumah Makan dan Hotel

    4.   Jasa Kemasyarakatan                        193.294     138.214    331.508

         Lainnya (Pertambangan dan
    5.                                              202.345      6.388     208.733
         Penggalian, Listrik, Gas dan
         Air, Bangunan,      Angkutan,
         Pergudangan danKomunikasi,
         Keuangan, Asuransi, Usaha
         Persewaan Bangunan, Tanah
         dan Jasa Perusahaan)
                        JUMLAH                     1.104.259    628.302    1.732.561


 Sumber: Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk, 2009



     Angkatan kerja Aceh pada tahun 2009 mencapai 1,9 juta orang. Angkatan
kerja tersebut didonominasi oleh angkatan kerja muda yang berumur antara 20-39
tahun. Sampai 20 tahun kedepan angkatan kerja ini masih berada dalam umur
produktif. Ini merupakan aset Aceh mengejar pertumbuhan ekonominya. Akan
tetapi sayang produktifitasnya masih rendah. Rendahnya produktivitas ini dan
relatif tingginya UMR masih menjadi masalah yang harus segera diatasi.
Penetapan UMR Aceh Rp 1 juta per bulan lebih tinggi dari nasional berdampak
terhadap tingkat daya saing Aceh dalam menarik investasi di sektor formal.
Produktivitas tenaga kerja yang rendah juga sangat mempengaruhi daya saing


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-23
daerah. Produktivitas pekerja Aceh memang masih sangat rendah. Kemajuan yang
diharapkan nampaknya belum membuahkan hasil yang memadai.
     Walupun      angka     pengangguran       terus   mengalami   penurunan,   namun
prosentasenya masih cukup tinggi yang berada di atas rata-rata nasional yang
berada pada level 7.8 persen. Hal ini disebabkan salah satunya oleh daya serap
pekerja formal yang masih sangat rendah. Rendahnya daya serap pekerja formal
terkait dengan berbagai permasalahan dan hambatan dalam berinvestasi yang
mewarnai kondisi pasar kerja. Untuk itu, tantangan yang dihadapi dalam beberapa
tahun mendatang adalah upaya mendorong perpindahan pekerja dari pekerjaan
yang memiliki produktivitas rendah ke pekerjaan yang memiliki produktivitas
tinggi. Sehingga dalam pembangunan jangka panjang Aceh, hal ini dapat teratasi
dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisah dengan pengurangan angka
kemiskinan.
     Dalam upaya pengembangan kawasan dan percepatan pertumbuhan
kawasan tertinggal di Aceh, sejak tahun 1976 telah dilakukan pembukaan
permukiman baru, pada tahun 2009 jumlah lokasi 160 lokasi transmigrasi dan
jumlah penempatan 41.358 KK atau 169.188 jiwa. Sejak periode tahun 2007
hingga 2009 telah dilakukan penempatan pada 18 lokasi untuk 1.928 KK, dengan
rincian pada tahun 2007 sebanyak 1.119 KK, pada tahun 2008 dan 400 KK pada
tahun 2009. Selanjutnya untuk rencana penempatan terhadap pengembangan
kawasan, pembukaan lokasi permukiman transmigrasi untuk tahun 2010 sebanyak
4 lokasi dan 145 KK. Selanjutnya untuk tahun 2011 sebanyak 13 lokasi untuk 1600
KK dan tahun 2012 direncanakan sebanyak 6 lokasi untuk 880 KK.
     Berdasarkan Undang-Undang Kependudukan Nomor 1992, pembangunan
kependudukan diarahkan pada pengendalian kualitas penduduk, pengerahan
mobilitas dan pengembangan penduduk sebagai Sumber Daya Manusia (SDM)
agar menjadi kekuatan pembangunan. Pembangunan kependudukan harus
dilaksanakan merata yang dilakukan secara bersama, menyeluruh, terpadu,
terarah, bertahap dan berkelanjutan. Sehubungan dengan itu pemerintah pusat
telah memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah untuk mengambil
langkah yang lebih realistis dalam melaksanakan program kependudukan sesuai

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       II-24
dengan aspirasi masyarakat, sehingga pemerintah daerah dapat merencanakan,
melaksanakan,        mengendalikan      dan     memonitor       terhadap     pembangunan
kependudukan di Aceh. Namun dalam pelaksanaan pengembangan kawasan
tertinggal   untuk     pembangunan       permukiman          penduduk    telah    mengalami
pergeseran dan perubahan kebijakan penyelenggaraannya dan mengakibatkan
ruang lingkup perencanaan berubah seiring dengan perkembangan.



2.2.2.8      Ketahanan Pangan


     Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia baik untuk
kebutuhan biologis tubuh maupun kebutuhan aktivitas manusia sehari-hari oleh
karena itu pemenuhan pangan bagi masyarakat adalah mutlak harus dipenuhi. Hal
ini jelas diamanatkan dalam UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang pangan, bahwa
pemerintah bersama masyarakat mempunyai kewajiban untuk mengwujudkan
ketahanan pangan.
     Berdasarkan       data-data    tentang     produksi      bahan     pangan,    walaupun
mengalami fluktuasi pertumbuhan baik kelompok serealea, kacang-kacangan,
umbi-umbian, daging, sayur-sayuran dan buah-buahan, namun produksi pangan
Aceh mengalami surplus sehingga mampu memasok sebagian produksi ke daerah
lain setiap tahunnya. Kondisi surplus tersebut diasumsikan karena jumlah produksi
pangan melebihi kebutuhan pangan penduduk dan kebutuhan lainnya seperti
industri makanan.
     Berdasarkan hasil pemantauan selama ini bahwa, kebutuhan komoditi
pangan pokok di Aceh merupakan hasil produksi lokal, kecuali untuk beberapa
komoditi seperti gula, minyak makan, terigu, sebagian buah-buahan, telur, susu,
kedelai dan lain-lain merupakan hasil pasokan dari daerah lainnya. Hal ini
mencerminkan bahwa industri pengolahan bahan makanan di Aceh belum
berkembang dengan baik.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            II-25
Lebih jelasnya produksi beberapa komoditi pangan di Aceh dapat dilihat pada
tabel II.13 berikut:
                                       Tabel II.13
       Produksi beberapa komoditi pangan penting tahun 2007-2008

                                               Produksi (ton)          Pertumbuhan
    No        Komoditas Pangan
                                        Tahun 2007       Tahun 2008         (%)
      I.   Pangan Nabati
      1    Beras                             878.346         870.055      (0,94)
      2    Jagung                            121.388         112.894       (7,0)
      3    Kedele                             18.945          43.885     131,64
      4    Kacang Tanah                        7.917           6.322     (20,15)
      5    Ubi Kayu                           41.873          38.402      (8,29)
      6    Ubi Jalar                          14.974          13.173     (12,03)
     II.   Pangan Hewani
      1    Daging rumaninsia                  10.515          11.227      6,76
      2    Daging unggas                      16.677          16.951      1,70
      3    Telur                              23.114          23.830      3,10
      4    Ikan                              154.265         157.020      1,78
   Sumber : Data Distan/Disnak/Diskan diolah BKP2 Aceh

      Dari aspek kerawanan pangan, kondisi masyarakat miskin indentik dengan
kelompok masyarakat yang mengalami rawan pangan, karena mempunyai
keterbatasan dalam mengakses pangan untuk kebutuhan sehari-hari. Tingkat
kemiskinan di Aceh tergolong masih sangat tinggi yaitu 21,8 persen pada tahun
2009 jika dibandingkan dengan tingkat kemiskinan nasional yang hanya 14,2
persen, sehingga kerawanan pangan masih menjadi kendala dalam sistem
ketahanan pangan daerah
      Menurut     analisis parameter      kerawanan      pangan, telah   disusun     peta
kerawanan pangan (Food Insecurity Atlas/FIA) atas survey Tahun 2009 bahwa di
Aceh terdapat Kabupaten-Kabupaten rawan pangan dengan kategori 2 dan 3.
Untuk katagori prioritas 2 terdapat 3 kabupaten yaitu: Kabupaten Nagan Raya,
Gayo Lues dan Aceh Singkil, sedangkan katagori prioritas 3 sebanyak 2 kabupaten
yaitu : Aceh Jaya dan Aceh Utara.
      Perkembangan harga pangan pokok dan strategis merupakan salah satu
indikator yang dapat digunakan untuk mengamati situasi                 pasokan pangan.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                           II-26
Ketersediaan pangan yang cukup dan distribusi yang lancar sangat menentukan
terhadap perilaku pasar.
     Pada tahun 2009, harga beras pada tingkat konsumen adalah Rp.5.300,-
hingga Rp. 7.800,- per kg, terjadi ketidak stabilan harga yang sangat signifikan,
sementara harga gula pasir relatif stabil, dengan kisaran harga untuk gula pasir
dalam negeri berkisar Rp. 9.900 hingga 10.400,-. Sedangkan harga rata-rata
tepung terigu stabil berkisar Rp.7.200,- hingga Rp.9.000,- per kg, sedangkan
minyak goreng stabil berkisar Rp. 9.800,- hingga Rp. 11.500,- per kg. Di samping
itu harga telur ayam ras tidak stabil dengan kisaran harga Rp. 16.500,- hingga
Rp. 26.8000, per kg.
     Secara umum harga ikan stabil namun terjadi gejolak yang relatif kecil
terutama pada saat peralihan musim, sedangkan cabe sangat berfluktuasi
sepanjang tahun dengan kisaran harga Rp. 8.500,- hingga Rp. Rp.42.000,- per kg.
Sementara itu komoditas bawang merah juga mengalami fluktuasi harga yang
cukup tinggi, dengan harga kisaran Rp. 10.000 hingga Rp. 22.000,- per kg.
     Penganekaragaman           konsumsi       pangan        merupakan     upaya    untuk
memantapkan atau membudayakan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi
seimbang dan aman dalam jumlah dan komposisi yang cukup guna memenuhi
kebutuhan gizi untuk mendukung hidup sehat, aktif dan produktif. Indikator untuk
mengukur      tingkat   keanekaragaman        dan    keseimbangan    konsumsi      pangan
masyarakat adalah dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) sebesar 95 dan
diharapkan dapat dicapai pada tahun 2015.
     Berdasarkan data Susenas tahun 2008 konsumsi beras di Aceh yaitu 114,13
kg/kapita/tahun,     telah    terjadi   penurunan       konsumsi   16,15    kg/kap/tahun
dibandingkan tahun 2004 sebesar 131,32 kg/kap/thn, namun penurunan tersebut
belum mencapai target yang ditetapkan dalam WNPG tahun 2004 yaitu sebesar
91,25 kg/kap/tahun
     Tingkat konsumsi pangan rata-rata orang Indonesia diukur dari konsumsi
energi pada tahun 2008 sebesar 2.038 kkal/kap/hari sudah melebihi anjuran
WNPG (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi) VIII tahun 2004 sebesar 2.000
kkal/kap/hari. Begitu pula dengan rata-rata konsumsi protein sebesar 57.49

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-27
gram/kapita/hari, telah melebihi angka anjuran sebesar 52 gram/kapita/hari.
Meskipun demikian, pencapaian tersebut belum diiringi dengan pemenuhan
kualitas konsumsi pangan penduduk yang ditandai dengan skor keragaman
konsumsi pangan sebesar 81,9 pada tahun 2008 untuk Aceh baru tercapai 73,4
dari target skor Pola Pangan Harapan (PPH) senilai 95. Untuk Aceh konsumsi
protein baru tercapai 30,1 gr protein/kapita/hari, belum sesuai dengan anjuran.
     Analisis terhadap data SUSENAS tahun 2008 juga menunjukkan bahwa pola
konsumsi pangan penduduk Indonesia hingga tahun 2008 masih terdapat
ketimpangan, karena (1) masih tingginya konsumsi padi-padian; (2) masih
kurangnya konsumsi pangan hewani; dan (3) masih rendahnya konsumsi umbi-
umbian, sayur dan buah, serta kacang-kacangan, dan pangan hewani. Data
tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan konsumsi pada padi-padian
terutama beras sebagai          pangan pokok        masih sangat   tinggi, sedangkan
pemanfaatan sumber–sumber pangan lokal seperti umbi, jagung, dan sagu masih
rendah.
     Sesuai dengan hasil Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) tahun
2004, bahwa sasaran angka kecukupan konsumsi total energi adalah sebesar
2.000 Kkal/kap/hari yang akan dicapai pada tahun 2020 untuk Indonesia.


2.2.2.9     Penyuluhan

     Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan
Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dalam pasal 1 disebutkan bahwa penyuluhan
merupakan proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar
mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam
mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya
sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas, efisiensi usaha, pendapatan dan
kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi
lingkungan hidup.
     Penyuluh adalah ujung tombak dalam mencerdaskan dan memberdayakan
petani yang merupakan pelaku utama pembangunan pertanian.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                     II-28
Saat ini jumlah penyuluh di Aceh adalah sebanyak 3.204 orang yang terdiri dari
PNS 1.246 orang dan penyuluh THL-TB sebanyak 1958 orang. THL- TB adalah
Tenaga Harian Lepas Tugas Bantu Penyuluh Pertanian yang direkrut oleh
Kementrian Pertanian dan ditempat di wilayah binaan masing-masing. Sebaran
penyuluh di 23 kabupaten/Kota secara rinci dapat dilihat pada tabel II.14 di bawah
ini:
                            Tabel II.14
Kondisi Sebaran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) per Kabupaten/Kota

          No.    KABUPATEN/KOTA                     Penyuluh (Org)               Ket.
                                             PNS             THL-TB     Jumlah
           1               2                  3                4          5       6
             1   PROVINSI                         55               -        55
             2   Banda Aceh                        9              62        71
             3   Aceh Besar                      115             190       305
             4   Pidie                            60             213       273
             5   Pidie Jaya                       18             109       127
             6   Bireuen                         149             138       287
             7   Aceh Tengah                      68             127       195
             8   Aceh Utara                      147             129       276
             9   Kota Lhok Seumawe                12              14        26
            10   Aceh Timur                      106             140       246
            11   Langsa                           23              22        45
            12   Aceh Tamiang                     30              70       100
            13   Aceh Tenggara                    56             113       169
            14   Gayo Lues                        13              88       101
            15   Aceh Jaya                        28              42        70
            16   Aceh Barat                       68              83       151
            17   Nagan Raya                       60              57       117
            18   Simelue                          16               5        21
            19   Abdya                            45              62       107
            20   Aceh Selatan                     56             158       214
            21   Aceh Singkil                     40              56        96
            22   Subulussalam                     13               -        13
            23   Sabang                           13               3        16
            24   Bener Meriah                     46              77       123


                        Total                  1,246            1,958    3,204




       Kondisi penyuluh pertanian setelah otonomi daerah sangat memprihatikan,
banyak tenaga penyuluh senior dan ahli telah beralih status dari fungsional ke
struktural disamping memasuki masa pensiun, hal ini mengakibatkan kekurangan
tenaga penyuluh lapangan baik secara kuantitas maupun kualitas dan berakibat
tidak optimalnya proses pendampingan dan pembinaan di kelompok-kelompok tani
atau Gapoktan.
       Pada tahun 2009 kelembagaan penyuluhan di Aceh adalah berjumlah 246
Balai Penyuluh Pertanian (BPP) dari 276 BPP yang dibutuhkan (89,13 persen) atau
masih dibutuhkan sebanyak 30 BPP lagi.                 Sedangkan kelembagaan petani
berjumlah 10.561 Kelompok tani, yang tersebar di 23 Kabupaten/Kota. Secara

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-29
rinci jumlah BPP dan Kelompok Tani per masing-masing kabupaten/kota dapat
dilihat pada tabel II.15 berikut ini:
                               Tabel II.15
           Jumlah BPP dan Koptan per Kabupaten/Kota Tahun 2009

          No.   KABUPATEN/KOTA                  Jumlah               Jumlah Kelembagaan
                                        Kecamatan        Desa        BPP         Koptan
           1              2                 3             4           5            6
            1   Banda Aceh                      9            110         2                 90
            2   Aceh Besar                     23            604         8                603
            3   Pidie                          23            727        25              1,062
            4   Pidie Jaya                      8            222         8                611
            5   Bireuen                        17            609        18                783
            6   Aceh Tengah                    14            270        10                166
            7   Aceh Utara                     27            854        29                852
            8   Kota Lhok Seumawe               4             74         2                 54
            9   Aceh Timur                     24            512        24                998
           10   Langsa                          5             51         3                 98
           11   Aceh Tamiang                   12            214        11                424
           12   Aceh Tenggara                  16            386        16                962
           13   Gayo Lues                      11            136        11                557
           14   Aceh Jaya                       6            172         6                227
           15   Aceh Barat                     12            321        13                494
           16   Nagan Raya                      8            222         9                746
           17   Simelue                         8            137         8                125
           18   Abdya                           9            133         3                209
           19   Aceh Selatan                   16            248        16                418
           20   Aceh Singkil                   10            116        10                189
           21   Subulussalam                    5             74         6                175
           22   Sabang                          2             36         2                 49
           23   Bener Meriah                    7            232         6                669


                       Total                   276           6,460     246             10,561




     Fasilitas penyuluh pertanian terutama kenderaan roda 2 (dua) dan mobil
Penyuluhan Keliling (Luh-ling Unit) sangat minim dan fasilitas ini sangat
dibutuhkan guna meningkatkan mobilitas penyuluh untuk menjangkau wialayah
yang cukup luas dan jauh, namun selama otonomi pertambahan kenderaan
operasional penyuluh sangat kecil. Tahun 2009 jumlah tenaga penyuluh PNS di
Aceh sebanyak 1.246 orang dan hanya sebanyak 1.191 orang berada di lapangan.
Dari total Penyuluh di lapangan, baru 354 orang yang memiliki kenderaan
operasional.

2.2.2.10 Perkembangan dan Prospek Investasi

     Pembangunan        ekonomi     suatu    daerah     disamping    dari    sumber   dana
Pemerintah juga membutuhkan berbagai sumber lainnya seperti investasi dari
swasta baik PMA (Penanaman Modal Asing) maupun PMDN (Penanaman Modal
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            II-30
Dalam Negeri). Dari data yang tersedia jumlah perusahaan PMA dan PMDN di
Aceh hingga akhir tahun 2009 adalah 269 perusahaan yang terdiri dari 121
perusahaan PMA dan 168 perusahaan PMDN.
     Dari 121 perusahaan PMA, sebanyak 36 perusahaan yang tidak aktif/macet,
11 perusahaan yang telah berproduksi serta 74 perusahaan dalam tahap
pembangunan/persiapan.          Sedangkan       perusahaan   PMDN   sebanyak    168
perusahaan terdiri dari 105 perusahaan yang tidak aktif/macet, 47 perusahaan
telah berproduksi serta 16 perusahaan yang masih tahap pembangunan/
persiapan. Sementara itu, realisasi investasi sampai dengan akhir tahun 2009
untuk PMA sebesar US$ 143.318.795.166 dan PMDN Rp. 6.280.047.045.730.


2.2.3       Keuangan Aceh

     Berdasarkan Undang-undang Nomor 34 tahun 2000 tentang Pajak dan
Retribusi Daerah, Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan Undang-undang Nomor 11
Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Sumber Keuangan Aceh menjadi lebih
luas. Sumber-sumber keuangan tersebut adalah Pendapatan Asli Aceh (PAA),
Dana Perimbangan dan Dana Otonomi Khusus.
     Selama beberapa tahun terakhir Aceh telah menerima arus masuk
pendapatan yang belum pernah terjadi sebelunya. Tingkat sumber daya keuangan
Aceh diperkirakan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.          Pendapatan
terebut teruma karena adanya Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang
Pemerintah Aceh yang mulai diimplementasikan sejak tahun 2008. Melalui
Undang-Undang tersebut Aceh mendapat hak berupa dana tambahan bagi hasil
Migas dan dana otonomi khusus. Akan tetapi hak tersebut terbatas pada masa
waktu 20 tahun. Penerimaan Aceh dari dana otonomi khusus yang dimulai sejak
tahun 2008 terus meningkat. Pada tahun 2008 kemampuan fiskal Aceh meningkat
sangat signifikan dengan nilai mencapai Rp 5.167.853.549.264. kemudian pada
tahun 2009 meningkat lagi menjadi Rp 6.786.212.000.000. Ini merupakan
kekuatan fiskal Aceh yang harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                     II-31
mengejar pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Aceh.

2.2.3.1        Pendapatan Asli Aceh (PAA)


       Pendapatan Asli Aceh (PAA) terdiri atas pajak daerah, retribusi daerah,
keuntungan perusahaan daerah, zakat dan berbagai sumber PAD lainnya. Secara
komposisi pajak daerah merupakan sumber pemasukan utama terhadap PAA.
Pajak daerah yang menjadi kewenangan provinsi terdiri atas Pajak Kendaraan
Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), Pajak Bahan
Bakar Kenderaan Bermotor (PBBKB), Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air
Permukaan, Pajak Kendaraan di Atas Air, serta Bea Balik Nama Kendaraan di Atas
Air. Penerimaan pajak daerah hingga tahun 2009 masih didominasi oleh jenis PKB,
BBNKB, dan PBBKB.
       Realisasi penerimaan pajak daerah dua tahun terakhir cenderung tidak
mengalami peningkatan. Tahun 2008 dan Tahun 2009 pemasukan PPA dari pajak
daerah persis sama yaitu berjumlah Rp 476.975.000.000,-
       Selain pajak daerah, retribusi dan zakat juga merupakan bagian dari PAA
yang    memiliki prospek      cukup baik untuk memperkuat kemampuan keuangan
daerah pada masa yang akan datang. Walaupun retribusi selama 5 tahun terakhir
realisasi penerimaannya belum mampu mengimbangi realisasi penerimaan pajak
daerah,    namun      perkembangannya        setiap    tahun   juga   terus   mengalami
peningkatan. Tahun 2008 Restribusi Darah mencapai Rp 12.705.574.475 dan
tahun 2009 meningkat menjadi Rp 13.264.165.424 atau meningkat 4.39. Hal ini
ditandai mulai membaiknya kondisi ekonomi dan membaiknya penyelenggaraan
pemerintahan daerah.
       Zakat     sebagai      salah      satu     sumber       PAA    belum     dikelola
dengan baik. Hal ini disebabkan belum adanya Qanun yang mengatur lebih lanjut
tentang zakat sebagai sumber PAA seperti yang diatur dalam Undang-undang
Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Penerimaan zakat juga terus
mengalami peningkatan. Tahun 2008 penerimaan dari zakat hanya mencapai
Rp 1.836.000.000, meningkat tajam pada tahun 2009 menjadi Rp 3.000.000.000.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-32
Peluang penerimaan dari zakat akan terus dapat ditingkatkan apabila Baitul Mal
yang berwenang mengelola zakat mendapat kepercayaan dari masyarakat.
     Secara kesuluruhan PPA dua tahun terakhir sedikit mengalami peningkatan.
Adapun jumlahnya secara berturu-turut adalah Rp. 795.709.401.264 dan
Rp 795.872.000.000,-.


2.2.3.2     Dana Perimbangan

     Dana perimbangan bersumber dari APBN, dimaksudkan untuk memberikan
kepastian pendanaan daerah berdasarkan pasal 10 ayat (1) Undang-undang
Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintah Daerah. Dana perimbangan tersebut terdiri atas :
a. Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak;
b. Dana Alokasi Umum (DAU), dan;
c. Dana Alokasi Khusus (DAK).
     Akibat adanya sumber pumasukan dari Tambahan Bagihasil Migas sesuai
dengan UU PA maka Penerimaan dari sumber Dana Perimbangan mengalami
peningkatan yang sangat signifikan pada tahun 2009 yang mencapai Rp
2.262.058.000.000,-. meningakat 191.88 persen.                Tahun sebelumnya hanya
berjumlah Rp 775.001.250.000,-.


2.2.3.3     Dana Otonomi Khusus

     Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA),
berdasarkan pasal 183 ayat 2, Pemerintah Aceh mendapatkan dana otonomi
khusus selama 20 tahun dengan rincian untuk tahun pertama yaitu mulai tahun
2008 sampai tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 persen (dua persen)
dari plafon Dana Alokasi Umum (DAU) Nasional dan untuk tahun keenam belas
sampai dengan tahun kedua puluh setara dengan 1 persen (satu persen) dari
plafon Dana Alokasi Umum (DAU) Nasional.
     Dana otonomi khusus yang diterima oleh pemerintah Aceh pada tahun 2008
sebesar    Rp.     3.590.142.898.000       dan     tahun     2009   meningkat   menjadi
Rp 3.728.282.000.000. Pendapatan dari sumber Otonomi Khusus ini diperkirakan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-33
akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang
diperkirakan terus membaik dan memberi dampak terhadap pendapatan nasional.


2.2.3.4       Tabungan Pemerintah Aceh


     Tabungan Pemerintah Aceh adalah kemampuan daerah menyisihkan
sebagian pendapatan untuk mendanai pelayanan publik meliputi pelayanan
prasarana dan sarana serta fasilitas publik. Tabungan pemerintah ini berasal dari
seluruh pendapatan daerah dikurangi dengan belanja rutin/aparatur yang harus
dilakukan oleh pemerintah Aceh.


2.2.3.5       Sumber Pendapatan Aceh Lainnya

     Sumber pendapatan daerah lainnya berasal dari pemerintah (sumber-sumber
yang sah dan tidak mengikat), di antaranya terdiri atas bantuan dana
penyeimbang murni, bantuan dana penyeimbang kebijakan (ad.hoc) dan bantuan
dana penyeimbang formasi pegawai. Berdasarkan struktur APBA tahun 2010, jenis
penerimaan daerah lainnya disesuaikan dengan jenis pendapatan hibah, dana
darurat, dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya, dana
penyesuaian dan otonomi khusus serta bantuan keuangan dari provinsi atau
pemerintah daerah lainnya. Realisasi sumber Pendapatan lainnya yang sah sejak
tahun 2008 sampai dengan 2009 dapat dilihat pada Tabel II.16.


                                      Tabel II.16
                     Jumlah Realisasi Sumber Penerimaan Daerah
                                 lainnya 2008-2009

          NO       TAHUN                              REALISASI (Rp)
          1          2008                                        3.597.142.898.000
          2          2009                                        3.728.282.000.000
       Sumber: Dinas Pengelolaan Kekayaan Aceh 2010




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                     II-34
2.2.3.6     Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh

      Sesuai dengan yang tercantum dalam Undang Undang Nomor 11 Tahun
2006, bahwa penyelenggaraan urusan Pemerintahan Aceh diikuti dengan
pemberian sumber pendanaan dan pengelolaan keuangan harus tertib, taat asas,
proporsional, efisien, efektif, transparan, dan akuntabel dengan memperhatikan
asas keadilan, kepatutan, kewajaran, dan memberi manfaat yang besar bagi
masyarakat. Mengacu pada hal tersebut, maka setiap tahunnya ruang lingkup
pengelolaan keuangan Aceh meliputi:
1.   Hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi Aceh serta
     melakukan pinjaman;
2.   Kewajiban Aceh untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan Aceh,
     melaksanakan pembangunan Aceh dan membayar tagihan pihak ketiga;
3.   Pengelolaan pendapatan Aceh;
4.   Pengelolaan belanja Aceh;
5.   Pengelolaan pembiayaan Aceh yang meliputi aspek kekayaan Aceh yang
     dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang,
     barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk
     kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah, kekayaan pihak lain yang
     dikuasai oleh pemerintah Aceh dalam rangka penyelenggaraan tugas
     pemerintahan Aceh dan/atau kepentingan umum.
      Ruang lingkup pengelolaan keuangan dilakukan agar pelaksanaan program
dan kegiatan yang telah direncanakan dapat dicapai sesuai dengan target capaian
tahunan. Pengelolaan keuangan Aceh dilaksanakan dalam suatu sistem yang
terintegrasi dan diwujudkan dalam APBA dengan mengacu kepada penyusunan
anggaran berbasis kinerja berdasarkan Peraturan perundang-undangan yang
berlaku. APBA tersebut lazimnya ditetapkan setiap tahun melalui Qanun Aceh.
      Arah dan kebijakan keuangan Aceh tahun 2007 - 2012 yang ditempuh dalam
meningkatkan Pendapatan Aceh adalah:
1. Menghimpun penerimaan dari semua sumber pendapatan daerah secara
     optimal sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku;




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  II-35
2. Mengupayakan peningkatan Pendapatan Asli Aceh dari masing-masing bagian
   pendapatan Aceh sehingga kebutuhan pembiayaan Pemerintah Aceh dapat
   dipenuhi secara tepat dan cukup; dan
3. Memberdayakan segenap potensi yang dimiliki untuk dapat meningkatkan
   pendapatan Aceh.

2.3        Agama, Sosial dan Budaya

2.3.1. Agama

       Pelaksanaan Syari`at Islam secara kaffah di Aceh mengacu pada Al-Qur’an
dan Sunnah Rasulullah (Al-Hadits) yang penjabarannya lebih lanjut didasarkan
pada     Undang-Undang       Nomor     44   Tahun     1999   tentang   Penyelenggaraan
Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh              dan Undang-undang Nomor 11
Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang secara teknis akan diatur dengan
Qanun Aceh. Masyarakat Aceh sejak awal kemerdekaan sudah memperjuangkan
agar Syari`at Islam secara formal dan resmi menjadi sumber nilai dan sumber
penuntun perilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tataran kehidupan
pribadi,     kehidupan      bermasyarakat,        maupun     dalam     penyelenggaraan
pemerintahan. Dalam pepatah Aceh disebutkan bahwa hubungan syari`at dengan
adat adalah seperti hubungan benda dengan sifatnya: hukom ngoen adat lage zat
ngoen sifeut. Artinya hukum syari`at dengan adat di Aceh menyatu sedemikian
rupa, merasuk dan menyusup ke dalam semua segi dan sendi kehidupan.
       Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Aceh
memiliki hak untuk melaksanakan Syari`at Islam secara lebih luas, di dalam
berbagai bidang kehidupan dan pemerintahan. Pemerintah Aceh memiliki hak
menyusun dan menerapkan hukum materil di bidang perdata kekeluargaan,
perdata keharta-bendaan, pidana serta hukum acara perdata dan pidana
berdasarkan Syari`at Islam dengan cara menuangkannya ke dalam Qanun Aceh.
Begitu juga dengan pemberian sanksi (hukuman) untuk pelanggaran pidana di
dalam Qanun Aceh ini juga dapat mengikuti ketentuan yang ada dalam Syari`at
Islam secara penuh, tidak dibatasi oleh peraturan perundangan yang ada.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       II-36
Selanjutnya     sebagai     upaya      pemantapan       pelaksanaan   Syariat   Islam,
Pemerintah Aceh membentuk Mahkamah Syar`iyah yang berwenang menangani
perkara perdata dan pidana berdasarkan Syari`at Islam, yang telah dituangkan ke
dalam Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2002 tentang Peradilan Syari’at Islam. Dalam
pelaksanaan     penuntutannya       tetap     dilakukan      oleh   kejaksaan,   sedangkan
penyidikan dilakukan oleh Wilayatul Hisbah (WH) yang merupakan bagian dari
Polisi Pamong Praja dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di bawah koordinasi
Kepolisian Republik Indonesia.
     Sebagian hukum yang berlaku di Aceh adalah hukum berdasar Syari`at
Islam, namun dalam pelaksanaannya lembaga dan aparatur pusat belum
maksimal dalam memahami qanun-qanun Aceh. Oleh karena itu Pemerintah Aceh
perlu memberikan dukungan berupa sosialisasi, pelatihan dan pemahaman kepada
aparat hukum yang berada di bawah instansi vertikal di Aceh sehingga
pelaksanaan tugas penerapan Syariat Islam dapat berjalan dengan baik dan
sempurna. Di samping itu, Pemerintah Aceh perlu melakukan koordinasi dan
konsultasi yang lebih intensif mengenai pembiayaan lembaga dan aparat
pemerintah yang melaksanakan tugas khusus (otonomi khusus) yang pada saat ini
masih belum memadai.
     Penyediaan tenaga pelaksana penegakan hukum sebagai perangkat provinsi,
yaitu WH sebagai Polisi Pamong Praja dan PPNS, belum terintegrasi antara satu
dengan lainnya ke dalam sistem yang ada secara memadai. untuk itu, Pemerintah
Aceh perlu menetapkan model yang dianggap sesuai dengan kondisi Aceh yang
menjalankan Syari`at Islam secara kaffah dalam kerangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
     Dalam upaya mempercepat implementasi Syariat Islam dan adat Aceh hingga
ke tingkat pemerintahan paling rendah (gampong), Pemerintah Aceh saat ini
sedang berupaya menata kembali pemerintahan gampong dan mukim sesuai
dengan tuntunan dan aturan adat, antara lain dengan mengembalikan pimpinan
gampong kepada Keuchik dan Teungku Imeum bersama Tuha Peuet, serta
membentuk kembali Lembaga Mukim dengan Qanun Aceh Nomor 4 Tahun 2003
tentang Pemerintahan Mukim dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tetapi

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            II-37
upaya ini belum maksimal karena belum semua unsur perangkat pemerintahan
gampong dan mukim diatur dengan peraturan yang setara. Sebagai contoh,
keberadaan Keuchik telah diatur dengan Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2003
tentang Pemerintahan Gampong dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,
Sedangkan keberadaan Teungku Imeum Meunasah diserahkan pengaturannya
kepada Qanun Kabupaten/Kota.
     Pelatihan dan pengenalan kembali fungsi dan peran teungku Imuem perlu
menjadi prioritas dalam penerapan syariat Islam. Dengan pelatihan tersebut
diharapkan teungku Imeum dapat mengenali semua tugasnya dengan baik,
seperti; menjadi pengawas atas wali anak yatim, melindungi harta anak yatim,
serta mengelola zakat dan harta agama yang ada di gampong dengan tertib dan
memanfaatkannya secara tepat. Di samping itu, teungku Imeum hendaknya dapat
meningkatkan kualitas pelayanan peribadatan dan kemasyarakatan, misalnya;
menghidupkan meunasah dengan shalat berjamaah dan pengajian, membimbing
dan mengawasi kegiatan warga masyarakat agar sesuai dengan syariat Islam,
serta menyelesaikan sengketa dalam keluarga dan masyarakat berdasarkan
syari`at yang telah menyatu dengan adat.
     Persoalan lain yang dihadapi saat ini adalah kurangnya pemahaman dan
pengamalan ajaran agama di kalangan masyarakat khususnya di daerah
perbatasan. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah adalah
dengan penempatan da’i di daerah perbatasan.
     Pelayanan kehidupan beragama juga dinilai belum memadai. Hal ini terlihat
dari belum optimalnya pemanfaatan tempat peribadatan, kurangnya tenaga
pelayanan baik dalam kualitas maupun kuantitas, serta belum optimalnya
pengelolaan dana sosial keagamaan dan harta agama. Selain itu, kesadaran
masyarakat terhadap pembayaran dan pendistribusian zakat masih sangat rendah,
padahal zakat merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Aceh (PAA), sesuai
dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 Pasal 180. Demikian juga harta
agama dalam bentuk wakaf belum dimanfaatkan secara optimal bahkan ada yang
tidak terurus dan terlindungi dengan baik, sehingga perlu disusun dan ditetapkan
sebuah sistem dan mekanisme pengelolaan yang tepat.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                 II-38
Baitul Mal sebagai badan pengelola harta agama perlu dibenahi dan
dioptimalkan fungsinya sehingga harta agama dan zakat dapat dikelola secara
lebih baik, diharapkan dapat membantu pembiayaan pembangunan khususnya
dalam pengentasan kemiskinan.


2.3.2    Sosial Budaya

     Budaya Aceh sangat terikat dengan nilai-nilai agama Islam, namun demikian
ada beberapa bagian dalam kalangan masyarakat yang masih terpengaruh oleh
kebiasaan sebelum datangnya Agama Islam, misalnya adat istiadat seperti kenduri
tolak bala, kenduri laot, kenduri blang, kenduri glee dan lain-lain. Pemerintah Aceh
dalam rangka menggali kembali, memelihara, melestarikan dan mengembangkan
adat dan budaya Aceh sesuai dengan kebijakan pemerintah tentang pelaksanaan
Syariat Islam telah membentuk Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam yang tertuang dalam Qanun Nomor 3 Tahun 2004.

     Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menunjukkan bahwa pasca konflik
dan gempa bumi di susul gelombang tsunami mengakibatkan menurunnya tingkat
kesejahteraan sosial masyarakat Aceh. Permasalahan kesejahteraan sosial sesuai
data terakhir menunjukkan jumlah fakir miskin ±495.668 KK, anak terlantar
±83.114 jiwa, anak jalanan 590 jiwa, anak nakal 1.832 jiwa, anak korban tindak
kekerasan 5.909 jiwa, lanjut usia terlantar 13.649 jiwa, penyandang cacat 27.710
jiwa, wanita rawan sosial ekonomi 42.767 jiwa, korban penyalahgunaan napza
1.487 jiwa, gelandangan pengemis 1.884 jiwa, eks. penyakit kronis 4.289 jiwa,
komunitas adat terpencil 1.315 KK, eks narapidana 1.156 jiwa, korban bencana
19.379 KK, tuna susila 320 jiwa, anak yatim piatu 67.632 jiwa, keluarga berumah
tidak layak huni 236.461 KK, masyarakat yang tinggal         daerah rawan bencana
23.848 KK, keluarga pahlawan nasional perintis kemerdekaan 3.987 jiwa.
Disamping itu, terdapat juga permasalahan korban konflik serta menurunnya
kemampuan organisasi sosial masyarakat dalam melaksanakan usaha-usaha
kesejahteraan sosial di dalam masyarakat.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                    II-39
2.3.3      Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

     Sejak awal kerajaan Aceh, perempuan sudah memegang peranan dalam
bidang ekonomi, politik dan perjuangan kemerdekaan. Dengan kata lain
perempuan Aceh sudah berperan dalam rumah tangga, politik, dan kebijakan
publik. Akan tetapi saat ini peranan perempuan semakin kecil terutama dalam
bidang politik dan kebijakan publik. Disamping itu kurang sekali kesempatan yang
diberikan kepada perempuan untuk berperan sebagai pemimpin di pedesaan,
kecamatan dan di tingkat kabupaten/kota. Hanya sedikit perempuan yang
berkiprah dalam bidang pemerintahan. Bagaimanapun perempuan punya potensi
dalam berbagai bidang, seperti politik dan ekonomi. Namun demikian banyak
perempuan yang berkiprah dalam bidang pendidikan karena sebagai pendidik
relatif tidak banyak masalah yang dihadapi dibandingkan dalam bidang politik.
     Saat ini masih banyak terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak
dalam rumah tangga. Demikian pula halnya dengan eksploitasi terhadap
perempuan dan anak. Walaupun persoalan ini masih sedikit terjadi di Aceh, tetapi
jika tidak ada kepedulian dari semua pihak maka eksploitasi terhadap perempuan
dan anak akan semakin meningkat. Persoalan gender dengan memberikan
kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek
kehidupan bermasyarakat dan bernegara perlu mendapat perhatian.


2.3.4 Pemuda dan Olah Raga

     Pemuda merupakan komponen bangsa yang sering dijadikan indikator
keberhasilan ataupun kemunduran suatu bangsa karena pemuda merupakan
pelopor perubahan (tranformation agent) dalam pembangunan suatu bangsa.
Dalam struktur demografi Aceh, kelompok usia muda merupakan bagian terbesar
dari total penduduk. Data statistik 2008 menunjukkan populasi penduduk usia
muda kelompok umur 15-44 tahun mencapai angka 2.175,7 juta jiwa (50,67
persen). Kenyataan ini menunjukan bahwa penduduk Aceh tergolong kelompok
penduduk ekspansif karena sebagian besar penduduknya berada dalam kelompok



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  II-40
usia muda. Jumlah penduduk Aceh menurut kelompok umur dapat dilihat pada
tabel II.17 berikut:
                                 Tabel II.17
               Jumlah Penduduk Aceh Menurut Kelompok Umur
                        Di Provinsi Aceh Tahun 2008

No                     Kelompok Umur                           Jumlah
 1                          0–4                                       453,4
 2                          5–9                                       427,3
 3                         10 – 14                                    448,8
 4                         15 – 19                                    462,1
 5                         20 – 24                                    442,7
 6                         25 – 29                                    381,9
 7                         30 – 34                                    337,4
 8                         35 – 39                                    293,0
 9                         40 – 44                                    258,6
10                         45 – 49                                    216,1
11                         50 – 54                                    163,2
12                         55 – 59                                    129,4
13                         60 – 64                                    100,7
14                          65 +                                      179,3
                        Total                                      4.293,9
Sumber : Aceh Dalam Angka, 2009


     Berdasarkan tabel II.17 Jumlah kelompok umur (15-19 Tahun) adalah jumlah
terbesar dari komposisi penduduk Aceh. Itu berarti dalam kurun waktu beberapa
tahun kedepan akan terjadi bonus demografi, dimana akan terdapat lebih banyak
kelompok penduduk usia muda (produktif) di banding usia tidak produktif.
     Peningkatan jumlah penduduk usia muda, apabila tidak diikuti dengan
pembinaan yang baik, akan menimbulkan berbagai kerawanan sosial, seperti :
pengangguran, dekadensi moral, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba dan
zat-zat adiktif lainnya, serta perbuatan yang mengarah pada tindak kriminal.
Kondisi seperti ini menjadi lebih parah lagi karena tidak tersedianya lapangan
kerja yang dapat menampung mereka. Untuk itu perlu adanya usaha yang konkrit
dalam rangka memberdayakan pemuda agar memiliki keunggulan dan daya saing
Aceh serta mampu memberikan kontribusi yang nyata terhadap masyarakat,
bangsa dan negara.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                 II-41
Program pembinaan kepemudaan saat ini belum terkoordinir secara optimal,
baik pada tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota. Rendahnya
partisipasi masyarakat, dunia usaha, dan organisasi-organisasi kepemudaan dalam
peningkatan SDM dan produktivitas pemuda menyebabkan fokus pembinaan
pemuda belum mengarah pada peningkatan keterampilan hidup (life skill) yang
bertujuan     untuk     meningkatkan      kesejahteraan      dan    kelangsungan     hidup
(livelyhood). Pembinaan-pembinaan yang selama ini dilakukan baik oleh lembaga
pemerintah maupun non pemerintah masih bersifat parsial (satu aspek saja) dan
belum menyeluruh (holistic).
     Pemerintah daerah telah berupaya melakukan pembinaan dan pemberdayaan
terhadap organisasi-organisasi kepemudaan di Aceh dalam bentuk dukungan
pendanaan yang bersifat stimulan, sebagai upaya meningkatkan kemandirian
organisasi guna mengaktualisasikan berbagai program pembinaan bagi generasi
muda. Beberapa kegiatan kepemudaan yang telah dan akan terus dilakukan
diantaranya; pertukaran pemuda antar daerah dan antar negara, pemilihan dan
keikutsertaan dalam kegiatan Paskibraka Daerah dan Nasional setiap tanggal 17
Agustus, keikutsertaan pemuda Aceh dalam Kapal Pemuda Nusantara, serta
pembinaan      dialog    pemuda      tingkat    provinsi     yang   dimaksudkan      untuk
menumbuhkan           semangat      kebersamaan,        keterbukaan,    toleransi,    dan
kesetiakawanan sosial yang tinggi.
     Meskipun mengalami berbagai hambatan dan keterbatasan, beberapa cabang
olahraga di Aceh berhasil mengukir prestasi dalam kancah kompetisi nasional.
Pada cabang Bola Basket, klub bola basket PIM Aceh berhasil menjadi juara
KOBATAMA BRITAMA 2005/2006, begitu juga pada cabang bola kaki, 2 tim
sepakbola Aceh berhasil masuk dalam jajaran elit persepakbolaan Indonesia
dengan lolosnya Persiraja Banda Aceh dan PSSB Bireuen ke dalam divisi utama
Ligina Djarum Super 2007.
     Prestasi pemuda di bidang olah raga saat ini belum begitu membanggakan.
Hanya beberapa cabang olahraga saja yang mampu menghasilkan prestasi
gemilang di tingkat nasional, yaitu; cabang angkat berat, anggar, dan pencak silat.
Pada PON 2004 di Palembang, Aceh hanya berhasil menduduki peringkat 21 dari

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                           II-42
32 provinsi. Begitu juga pada Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS), Aceh
hanya berada pada peringkat 21 dengan perolehan 6 medali emas, 2 perak, dan 1
perunggu.
     Mencermati kondisi tersebut, Pemerintah Aceh menyusun rencana strategis
pembinaan prestasi olah raga sepak bola, Pemerintah Aceh menggagas dan
mengambil alternatif pembinaan prestasi sepakbola dengan kegiatan pembinaan
dan pelatihan atlet sepak bola usia 16 tahun ke Paraguay dengan jumlah atlet
sebanyak 30 orang. Tujuan yang diharapkan adalah : (1) Menggali dan
menyiapkan atlet Sepakbola Kabupaten/Kota                    untuk dibina sejak dini, (2)
Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya cabang olahraga
Sepak Bola melalui IPTEK dan IMTAQ, (3) melahirkan atlet yang berkualitas dan
profesional masa depan.
     Pembinaan bakat dan pembibitan olah raga juga menjadi prioritas dan terus
dilakukan, baik melalui event kompetisi maupun peningkatan SDM olahraga dan
diklat, seperti pembinaan diklat olahraga SMA Tunas Bangsa, peningkatan SDM
Olahraga, pembinaan olahraga santri, kegiatan pemasyarakatan olahraga dan
kesegaran jasmani seperti senam massal, gerak jalan, lomba lari serta kompetisi
berbagai cabang olah raga. Aceh sendiri memiliki cabang-cabang olahraga
tradisional yang berpotensi untuk dibina dan dikembangkan menjadi olahraga
prestasi.
     Kegiatan-kegiatan pembinaan olah raga di Aceh harus dilaksanakan secara
intensif untuk menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap olahraga,
sehingga menjadi medium pembentukan pribadi yang sehat jasmani dan rohani,
disiplin, dan memiliki jati diri yang kuat.


2.3.5 Pariwisata


       Berdasarkan       Undang-undang         Nomor         10   Tahun   2009    tentang
Kepariwisataan. Objek dan daya tarik wisata dibagi kedalam 3 kelompok yaitu
Objek dan daya tarik wisata alam, objek dan daya tarik wisata budaya dan objek



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-43
dan daya tarik wisata minat khusus. Aceh memiliki ketiga objek dan daya tarik
wisata tersebut dan tersebar di setiap Kabupaten dan Kota.
        Ketiga jenis objek dan daya tarik wisata tersebut terdiri dari ciptaan Allah
SWT berupa keadaan alam, flora dan fauna, hutan, tumbuh-tumbuhan binatang
langka dan lain-lain. Sedangkan objek dan daya tarik wisata budaya berupa karya
manusia terdiri dari museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni
budaya, wisata agro, wisata tirta, wisata pertualangan, taman rekreasi dan tempat
hiburan. Sedangkan Objek wisata yang menjadi sasaran minat khusus seperti
berburu, mendaki gunung, gua, industri dan kerajinan, tempat perbelanjaan,
sungai air deras, tempat-tempat ibadah, tempat ziarah. Secara lebih jelas dapat
dilihat pada tabel II.18.
                                  Tabel II.18
                     Jumlah Objek Wisata Menurut Jenis di Aceh

                                                                   Jenis Objek
 No             Kab/Kota            Jlh Objek                                                   Ket
                                                     Alam          Budaya        Minat Khusus
 1        Banda Aceh                     42            4             22                16
 2        Aceh Besar                     73           22             46                5
 3        Pidie                          45           20             14                11
 4        Bireuen                        35           25              7                4
 5        Aceh Utara                     33            9             19                5
 6        Lhokseumawe                    15            8              2                5
 7        Aceh Tengah                    71           33             28                10
 8        Bener Meriah                   28           25              3                0
 9        Langsa                         11            5              4                1
 10       Aceh Timur                     37           19             16                2
 11       Aceh Tamiang                   11            9              2                0
 12       Aceh Barat Daya                33           15              3                0
 13       Aceh Selatan                  108           74             21                13
 14       Aceh Singkil                   32           22              2                8
 15       Aceh Barat                     44           26             16                2
 16       Simeulue                       19           13              0                6
 17       Nagan Raya                     25           14             10                2
 18       Aceh Jaya                      14           12              2                0
 19       Aceh Tenggara                  19           12              3                3
 20       Subulussalam                   7             4              3                0
 21       Gayo Lues                      38           26              7                5
 22       Pidie Jaya                     46           12             33                1
 23       Sabang                         22           17              5                0
             TOTAL                      808           426            268               99
Sumber : Data Base Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh (2009)



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                      II-44
Potensi pariwisata Aceh secara umum sangat menarik, memiliki potensi
wisata bahari yang sangat banyak karena dikelilingi oleh laut beserta puluhan
pulau-pulau kecil. Lokasi Suaka alam/objek wisata alam ada di lokasi 23
Kabupaten dan Kota.
        Fasilitas pendukung pariwisata Pemerintah Aceh sebagai berikut 20 hotel
bintang, 25 hotel dan homestay dengan total 1.910 kamar dengan kapasitas 3.820
tempat tidur, 414 rumah makan/restoran dengan total meja 2.861 dengan
kapasitas sekitar 14.227 kursi dan 75 Biro Perjalanan wisata (BPW).

        Akibat konflik berkepanjangan dan kehancuran kawasan wisata pantai
akibat bencana tsunami, telah berdampak buruk pada sektor kepariwisataan
Aceh. Jumlah wisatawan asing dan lokal yang berkunjung ke daerah ini semakin
menurun, sehingga secara langsung mempengaruhi usaha bidang jasa perhotelan,
rumah makan dan usaha jasa lainnya. Akan tetapi setelah berakhirnya konplik
dengan ditandatangani Perjanjian Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005, maka
minat wisatawan Mancanegara dan Nusantara datang ke Aceh dari tahun ke tahun
semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat pada tabel II.19.

                                  Tabel II.19
                   Jumlah Kunjungan Wisatawan Tahun 2005 - 2009

                                                    Tahun
   No      Klasifikasi Kunjungan
                                          2005           2006           2007         2008       2009
   1.    Wisatawan Mancanegara            4.414         11.524         13.835       17.282    18.589
   2.      Wisatawan Nusantara          296.801        395.691        595.546       710.081   712.630
 Sumber : Data Base Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh (2009)


        Untuk masa yang akan datang diharapkan sektor pariwisata menjadi sektor
unggulan dalam rangka penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat ekonomi
lemah. Dibangunnya monumen dan Musium Tsunami oleh Badan Rehabilitasi dan
Rekonstruksi dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral merupakan andil
yang sangat besar dalam meningkatkan kunjungan wisata baik dalam maupun
luar negeri, demikian juga dilakukan pembinaan kepada masyarakat disekitar
objek wisata, penyediaan sarana dan prasarana kepariwisataan, membuka
peluang sebesar-besarnya kepada investor untuk dapat menanam modalnya di
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                        II-45
Aceh dengan mempermudah layanan dan meringakan beban pajak bagi investor
yang berminat.
         Dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan baik mancanegara
maupun nusantara yang berkunjung ke Aceh. Dukungan yang sangat besar dari
Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yodoyono, pada saat peresmian Bandara
Internasional SIM di Banda Aceh adalah pemberian kewenangan untuk
pelaksanaan “Visa On Arrival (VOA)” atau “Visa Kunjungan Saat Kedatangan
(VKSK)” bagi Warga Negara Asing (WNA) yang masuk melalui pintu Aceh seperti
layaknya Bandara Internasional lainnya di Indonesia.
         Pemberlakuan VOA di Bandara SIM merupakan sebuah langkah maju dan
perlu mendapat dukungan semua pihak, sekaligus menjadi salah satu komponen
penting (bukan satu-satunya) dalam rangka memajukan dan mempromosikan
potensi pariwisata Aceh kepada wisatawan dalam dan luar negeri.
         Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa banyak wisatawan
asing yang berminat untuk berkunjung ke Aceh, khususnya untuk menikmati
pesona alam dan keindahan budaya Aceh serta berbagai peninggalan Tsunami.
Namun demikian, kebijakan VOA yang                diberlakukan di Aceh nantinya akan
mempermudah dan memperlancar minat wisatawan luar negeri untuk berkunjung
ke Aceh melalui Bandara Internasional SIM.
         Seiring dengan semakin berkembangnya sektor kepariwisataan secara
global yang didukung oleh kemajuan sistem informasi, teknologi dan komunikasi
(ITC) yang ditandai dengan peningkatan arus kunjungan wisatawan internasional,
secara tidak langsung telah mempengaruhi berbagai tuntutan penyediaan
komponen atau produk-produk pariwisata yang dibutuhkan oleh wisatawan.
Penyediaan berbagai produk pariwisata tersebut (supply side) dianggap penting
untuk memenuhi kebutuhan wisatawan pada saat berkunjung di sebuah kawasan
wisata     yang      mencakup       ketersediaan       daya   tarik   wisata   (wisata
alam/budaya/sejarah), informasi wisata (leaflet, booklet, brosur), aksesibilitas
wisata (sistem transportasi), fasilitas wisata (akomodasi, money changer) dan
industri wisata (agen perjalanan, makanan dan minuman, tour operator,
pramuwisata dan souvenir wisata). Berbagai inisiatif kedepan yang sifatnya

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       II-46
membangun akan dilakukan oleh Pemerintah Aceh berkerjasama dengan para
stakeholder lainnya dalam rangka mendukung keberhasilan pemberlakuan VOA di
Aceh.
        Pariwisata Aceh untuk saat ini dan kedepan diarahkan pada perwujudan
pengembangan pariwisata pada 4 (empat) hal, yaitu sebagai berikut :
1. Syari’at Islam sebagai potensi wisata. Wisata yang berlandaskan Islami bukan
   berarti membatasi kegiatan wisatawan non muslim. Namun perlu adanya
   toleransi     dalam     penyediaan      kegiatan-kegiatan       wisata     yang     dapat
   mengakomodasi kegiatan wisatanya, dalam hal ini harus diterapkan konsep
   bahwa syari’at Islam sebagai usaha untuk menjadikan industri pariwisata yang
   ada agar sesuai dengan pokok-pokok ajaran Islam.
2. Penyiapan masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Bahwa sebagian
   masyarakat       Aceh     masih     belum     dapat       menerima      kegiatan-kegiatan
   kepariwisataan, mengingat citra pariwisata yang terbayangkan banyak yang
   melanggar aturan dalam syari’at Islam. Disisi lain, sektor pariwisata dalam
   syariat Islam bukan merupakan sesuatu yang dilarang, selama masih mengikuti
   pokok-pokok ajaran agama. Untuk itu akan dilakukan adanya penyiapan
   penguatan masyarakat dalam proses pengembangan pariwisata dalam bentuk
   sosialisasi   dan     menumbuhkan       pemahaman          masyarakat     akan    kegiatan
   pariwisata.
3. Pengembangan pintu masuk utama. Mengenai pengembangan pintu masuk
   utama dalam pengembagan wisata di Aceh harus dilakukan kesamaan persepsi
   dan mainshaet yaitu berupa Pola pikir terhadap Pulau Sabang dan Bandara
   Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) di Blang Bintang, Aceh Besar,
   menjadi fokus utama yang harus dikembangkan. Sabang mempunyai
   pelabuhan yang akan ditingkatkan menjadi pelabuhan internasional sebagai
   salah satu pintu masuk utama bagi pengembangan kepariwisataan di Aceh.
   Kalau Sabang menjadi andalan pintu masuk utama jalur laut, maka Bandara
   Sultan Iskandar Muda akan memegang peranan penting sebagai pntu utama
   Aceh dari jalur udara.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                              II-47
4. Pengembangan Pariwisata yang berwawasan lingkungan. Pengembangan
   pariwisata di Aceh harus diarahkan untuk selalu menjaga kebersihan dan
   kelestarian lingkungan hidup. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang
   mengajarkan bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari Iman, wisata
   berwawasan lingkungan juga sesuai dengan konsep wisata yang berkelanjutan,
   dimana salah satunya adalah menjaga dan melestarikan lingkungan.


2.4    Pendidikan

      Pendidikan merupakan urusan strategis yang masih menjadi kewenangan
negara, namun karena keistimewaan dan kekhususan daerah, Pemerintah Aceh
memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan
karakteristik, potensi, dan kebutuhan masyarakat Aceh, yaitu pendidikan yang
Islami sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Qanun Aceh Nomor 23 Tahun
2002 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, yang kemudian direvisi menjadi Qanun
No.5 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.
      Dalam hubungannya dengan keistimewaan Aceh di bidang pendidikan, maka
sejak Tahun 1990 melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 420/435/1990
tanggal 31 Agustus 1990 telah dibentuk Majelis Pendidikan Daerah (MPD), sebuah
badan normatif berbasis masyarakat yang berfungsi memberikan pendapat, saran
dan    pertimbangan      kepada     pemerintah     daerah    mengenai   kebijakan    dan
pelaksanaan pendidikan di Aceh, pada Tahun 2006 telah disusun Qanun Nomor 03
tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Majelis Pendidikan Daerah (MPD)
Provinsi Aceh.
      Reformasi pendidikan di tingkat nasional sebenarnya telah dimulai pada saat
Pemerintah RI melakukan reformasi tata pemerintahan dari sistem sentralistik ke
sistem desentralistik. Pengalihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi
dan efektifitas manajemen pendidikan guna meningkatkan kinerja pendidikan
secara menyeluruh, sehingga pemerintah daerah mempunyai kewenangan:
(1) mengawasi dan menilai penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur,
jenjang dan jenis pendidikan baik negeri maupun swasta, (2) memberikan
pendapat dan pertimbangan dalam menyusun rancangan anggaran pendidikan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-48
Aceh, (3) mengontrol mutu pendidikan dan (4) mengembangkan sistem
pendidikan berbasis nilai Islami.
     Dalam rangka reformasi pendidikan, Pemerintah Aceh telah mengeluarkan
Peraturan Gubernur Aceh No. 26 Tahun 2007 tentang Renstra Pendidikan Aceh
Tahun 2007-2012 yang memberikan pemahaman menyangkut kondisi pendidikan,
arah kebijakan dan tujuan reformasi pendidikan, serta menguraikan berbagai
kebijakan dan strategi dalam mencapai target pembangunan pendidikan yang
telah ditetapkan.

2.4.1 Pemerataan dan Perluasan Akses

      Implementasi sistem pendidikan selama konflik dan bencana tsunami cukup
berat sehingga APK/APM kelompok usia 7 - 12 Tahun di SD/MI menunjukkan
kecenderungan berfluktuasi, namun posisi rata-ratanya di atas 90 persen dapat
dipertahankan, bahkan pada kelompok usia 13 - 15 Tahun di SMP/MTs dan usia
16 - 18 Tahun di pendidikan menengah menunjukkan indikasi yang terus
membaik, secara rinci dapat dilihat pada tabel II.20.

                               Tabel II.20
      Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi
             Murni Penduduk Usia Sekolah di Aceh 2007 - 2009

                                                                      Tahun
                         Indikator
                                                             2007     2008      2009
      APK PAUD Formal (TK/RA)                                16,00%    20.00%   23.00%
      APM - SD/MI/Paket A                                    94.66%    95.06%   95.50%
      APM - SMP/MTs/SMPLB/Paket B                            86.52%    89.49%   92.59%
      APK - SMP/MTs/SMPLB/Paket B                            96.59%    97.16%   101.28%
      APM - SMA/MA/SMK/SMALB/Paket C                         65,92%    68.50%   70.26%
      APK - SMA/MA/SMK/SMALB/Paket C                         72,06%    73.60%   74.75%
      APK - Perguruan Tinggi                                 19.00%    19.15%   19.40%
      Sumber: Dinas Pendidikan (2009)

     Diproyeksikan pada Tahun 2012 APM untuk tingkat PAUD TK/RA mencapai
27 persen, tingkat SD/MI mencapai 96 persen, tingkat SMP/MTS mencapai 95
persen dan tingkat SMA/MA/SMK/MAK mencapai 70 persen.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         II-49
Tabel II.21
                            Proyeksi Angka Partisipasi Murni

                    Level                             2007          Target 2012
      TK/RA (4 - 6 Tahun)                         16,00%               27%
      SD/MI (7 - 12 Tahun)                        94,66%               96%
      SMP/MTS (13 - 15 Tahun)                     86,52%               95%
      SMA/MA/SMK (16 - 18 Tahun)                  65,92%               70%



     Ketersediaan dan penyebaran lembaga pendidikan yang memadai dan
merata merupakan salah satu faktor penting dalam upaya peningkatan APK/APM.
Sampai akhir Tahun 2009, di seluruh Aceh terdapat 1.135 unit TK/RA, 3.838 unit
SD/MI/SDLB, 972 unit SMP/MTs/SMPLB, dan 644 unit SMA/MA/SMALB/SMK
(termasuk SMK Kecil dan Kelas Jauh). Pada jenjang SD/MI; 33,06 persen ruang
kelas sekolah rusak sedang/ringan dan 24,08 persen rusak berat, pada tingkat
SMP/MTs; 19,06 persen rusak sedang/ringan dan 17,19 persen rusak berat, dan
pada tingkat SMA/MA; 14,85 persen rusak sedang/ringan dan 10,69 persen rusak
berat. Secara rinci jumlah sekolah dapat dilihat pada tabel II.22.
     Selain pendidikan dasar dan menengah, pemerintah Aceh juga menaruh
perhatian terhadap akses layanan pendidikan tinggi. Sampai akhir Tahun 2009, di
Aceh telah berdiri 76 perguruan tinggi, yang terdiri dari; 8 unit Perguruan Tinggi
Negeri (PTN) dan 68 unit Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang tersebar diseluruh
wilayah Aceh.
                                            Tabel II.22
                      Jumlah Sekolah di Aceh Tahun 2008/2009

                                         SD/MI           SMP/MTs       SMA/MA/SMK
    No    Kabupaten/Kota    TK/RA
                                       SD        MI     SMP   MTs    SMA     MA   SMK
      1   Simeulue            14       110       12      33    9      15      4     2
      2   Aceh Singkil        41       95         5      26   13      19      8     2
      3   Aceh Selatan        68       193       35      30   15      19     11     5
      4   Aceh Tenggara       29       155       26      36   20      21     11     4
      5   Aceh Timur          37       264       46      32   20      20     12     4
      6   Aceh Tengah         88       175       24      34   14      14      9     2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-50
7   Aceh Barat          28       143      34      22   18    17     6     3
      8   Aceh Besar          129      204      51      50   22    33    17     2
      9   Pidie               108      275      60      51   24    25    12     5
     10   Bireuen             78       228      58      51    8    29     6     4
     11   Aceh Utara          106      352      51      72   40    36    23     7
     12   Aceh Barat Daya     24       108      16      15    4    11     1     4
     13   Gayo Lues           15       91       10      17    4    10     2     1
     14   Aceh Tamiang        77       160      21      45   22    17    12     6
     15   Nagan Raya          22       125      20      22    4    14     3     2
     16   Aceh Jaya           17       94       20      17    2     7     4     4
     17   Bener Meriah        31       116      20      30   15    14    10     3
     18   Pidie Jaya          65       89       24      15   11     7     7     1
     19   Banda Aceh          77       81       12      27    9    26     7     7
     20   Sabang               8       30        5      7     2     2     1     1
     21   Langsa              27       61        8      13    7     9     6     8
     22   Lhokseumawe         32       60        8      17   11     9     6     5
     23   Subulussalam        14       70        3      11    5     7     3     0
              Total          1135     3279     569     673   299   381   181   82
    Sumber: Dinas Pendidikan Aceh, 2009


     Selain pendidikan dasar dan menengah, pemerintah Aceh juga menaruh
perhatian terhadap akses layanan pendidikan tinggi. Sampai akhir Tahun 2009, di
Aceh telah berdiri 76 perguruan tinggi, yang terdiri dari; 8 unit Perguruan Tinggi
Negeri (PTN) dan 68 unit Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang tersebar diseluruh
wilayah Aceh.
     Ditinjau dari sudut pandang kesetaraan gender, saat ini tidak terlihat adanya
perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan
layanan pendidikan. Rasio siswa perempuan terhadap siswa laki-laki tingkat SD/MI
sebesar 100,3 persen, pada tingkat SMP/MTS sebesar 102,1 persen, dan pada
tingkat SMA/MA/SMK sebesar 104,0 persen. Sementara pada tingkat Pendidikan
Tinggi, Rasio perempuan terhadap laki-laki mencapai 134,4 persen. Hal ini
diperkirakan sebagai akibat dari banyaknya jumlah perguruan tinggi yang
membuka program studi Keperawatan dan Kebidanan di seluruh Aceh. Pada
Tahun 2012 diharapkan komposisi anak laki-laki akan meningkat mencapai
keseimbangan dengan anak perempuan pada semua jenjang pendidikan.
     Kondisi Tahun 2006, jumlah penduduk buta aksara latin usia 15 Tahun ke
atas sebesar 161.209 orang atau 6,02 persen dari total penduduk usia 15 Tahun
ke atas dan sampai Tahun 2012 angka tersebut diproyeksikan berkurang menjadi

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                     II-51
4,5   persen.    Kelompok      usia   15-24    Tahun     merupakan   sasaran   prioritas
pemberantasan buta aksara, sedangkan usia di atas 25 Tahun merupakan sasaran
tambahan     yang    perlu    ditangani    melalui   program   keaksaraan   fungsional.
Pemerintah Aceh tidak hanya melakukan program penghapusan buta aksara latin,
tetapi juga penghapusan buta aksara Al-Qur’an dengan indikator kemampuan
membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
      Permasalahan pendidikan tidak hanya menyangkut penyediaan layanan
pendidikan formal bagi peserta didik, tetapi juga pembekalan ilmu pengetahuan
(knowledge) dan ketrampilan (life skills) bagi setiap anggota masyarakat melalui
program Pendidikan Non Formal (PNF). Pemberantasan buta aksara (illiteracy)
perlu dilakukan secara serius sebagai upaya untuk mencerdaskan seluruh rakyat
dan mendukung pembelajaran sepanjang hidup (life long learning).
      Ketersediaan fasilitas pendidikan terus bertambah dari tahun ke tahun,
namun penyebarannya masih belum merata hingga ke daerah-daerah terpencil,
terutama ditingkat SMP/MTs dan SMA/MA/SMK. Kendala lainnya yang dihadapi
adalah manajemen sekolah dan sumber daya guru belum maksikmal, penyebaran
guru yang belum merata antara satu daerah dengan daerah lainnya.

2.4.2 Mutu, Relevansi dan Daya Saing

      Penyediaan layanan pendidikan yang berkualitas berkaitan erat dengan
ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan dalam jumlah dan kualitas yang
memadai. Penyebaran guru yang tidak merata, dan rendahnya kualifikasi dan
kompetensi profesional guru masih menjadi permasalahan klasik dalam dunia
pendidikan, sehingga pemerintah terus menerus berupaya melakukan penataan
penyebaran, serta melaksanakan pendidikan dan pelatihan dalam rangka
peningkatan SDM pendidik dan tenaga kependidikan.

      Rasio siswa per guru pada Tahun 2008/2009 telah melampaui rasio nasional,
yaitu; pada tingkat SD/MI sebesar 1:13, pada tingkat SMP/MTs 1:9, dan tingkat
SMA/MA/SMK mencapai 1:10.
      Persentase guru yang berkualifikasi S1/D4 pada tingkat SD/MI hanya 35,61
persen, sedangkan pada tingkat SMP/MTS sebesar 53,30 persen dan pada tingkat
SMA/MA/SMK mencapai 82,33 persen. Melihat kenyataan tersebut, perlu
diupayakan secepatnya peningkatan kualifikasi guru ke jenjang S1/D4 dan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-52
pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru. Pada Tahun 2012 diproyeksikan
sebesar 70 persen guru SD/MI, 100 persen guru SMP/MTS dan SMA/MA/SMK telah
memiliki kualifikasi minimum S1/D4 atau yang sederajat.
        Fasilitas pendukung dalam peningkatan mutu pembelajaran belum memadai,
seperti    ketersediaan      ruang    perpustakaan,      laboratorium,        buku    dan     alat
praktek/peraga siswa, serta rendahnya partisipasi masyarakat atau dunia
usaha/industri juga menjadi penyebab lain rendahnya mutu pendidikan di Aceh.
Jumlah sekolah yang memiliki perpustakaan pada tingkat SD/MI sebesar 3 persen,
SMP/MTs sebesar 56,51 persen, SMA/MA sebesar 61,50 persen dan SMK/MAK
hanya 10 persen. Jumlah sekolah yang memiliki laboratorium IPA pada jenjang
SMP/MTs sebesar 60,41 persen, SMA/MA sebesar 71,22 persen, dan SMK/MAK
sebesar 66 persen. Sampai dengan akhir 2006 baru 11 persen sekolah menengah
(54 sekolah) yang telah dirintis untuk melaksanakan pembelajaran berbasis
Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT based learning).

        Jumlah guru dan jenjang pendidikan tahun 2008 – 2009 yang tersebar di
kabupaten/kota secara rinci dapat dilihat pata tabel II.23.

                                  Tabel II.23
            Jumlah Guru Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2008/2009

                                         SD/MI         SMP/MTs              SMA/MA/SMK
    No      Kabupaten/Kota    TK/RA
                                       SD      MI     SMP   MTs       SMA       MA     SMK

    1      Simeulue            36      936    80      1,428    45     407       82     40

    2      Aceh Singkil       180     1,913   48      438     398     653       129    49

    3      Aceh Selatan       279     1,985   272     652     1,002   705       294    129

    4      Aceh Tenggara      147     1,317   216     2,205   308     713       697    209

    5      Aceh Timur         238     2,499   360     1,093   962     863       156    100

    6      Aceh Tengah        171     1,986   186     1,316   576     508       130    124

    7      Aceh Barat         137     1,259   264     818     140     654       121    209

    8      Aceh Besar         533      996    686     1,769   745     1,414     184    177

    9      Pidie              228     1,994   472     1,041   689     1,195     302    270

    10     Bireuen            297     1,770   336     2,764   252     1,258     156    209

    11     Aceh Utara         595     3,610   312     1,209   1,392   1,384     467    236

    12     Aceh Barat Daya    168     1,171   136     405      41     482       27     82

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                   II-53
13   Gayo Lues            23      793      56      525     127      219      34      19

    14   Aceh Tamiang         355    1,806    168     1,497    610      678     212     138

    15   Nagan Raya           79     1,740    152      731     120      291      55      33

    16   Aceh Jaya            26      780     136      506     103      244      34      52

    17   Bener Meriah         90     1,106    160      852     394      275     218     123

    18   Pidie Jaya           75     1,031    160      560      55      344      35      10

    19   Banda Aceh           561    1,438    152     2,041    596     1,161    264     326

    20   Sabang               25      277      81      392      64      106      34      46

    21   Langsa               223     829      68      530      35      454     229     284

    22   Lhokseumawe          199     738     116      448     726      527     159     344

    23   Subulussalam         55     1,583     49      219      25      70       15      48

             Total           4,720   33,557   4,666   23,439   9,405   14,605   4,034   3,257
     Sumber: Dinas Pendidikan Aceh, 2009
     Pada Tahun 2012 diproyeksikan seluruh sekolah mulai tingkat SMP/MTs
sampai jenjang SMA/MA/SMK telah memiliki laboratorium dan perpustakaan, serta
sebahagian besar lembaga pendidikan menengah telah menerapkan pembelajaran
berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT).
     Pada Tahun ajaran 2008/2009, nilai rata-rata Ujian Nasional (UN) yang
dicapai lulusan SMP/MTs adalah 7,06. Sedangkan SMA/MA/SMK adalah 6,75.
Pada Tahun pelajaran 2011/2012, angka lulusan diharapkan mencapai masing-
masing menjadi 99 persen pada tingkat SD/MI, 95,00 persen pada tingkat
SMP/MTs, serta 89,00 persen pada tingkat SMA/MA dan 85 persen SMK. Capaian
hasil UASBN SD/MI diupayakan mencapai 6,75, hasil UN SMP/MTs mencapai
rata-rata 7,31, hasil Unian Nasional (UN) SMA/MA mencapai 7,40, dan SMK
mencapai rata-rata 7,00.


2.4.3 Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Pencitraan Publik

     Bervariasinya cara merespons pemaknaan Good Governance di kalangan
pelaksana pendidikan baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota dan satuan
pendidikan, menyebabkan upaya penguatan tata kelola, akuntabilitas dan
pencitraan publik belum berjalan dengan baik. Belum terlaksananya perencanaan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                    II-54
yang mengacu pada Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), lemahnya dukungan
Sistem Informasi Management (SIM) untuk menunjang efektifitas perencanaan
serta kurangnya pengawasan dan evaluasi (internal dan eksternal) merupakan
kendala yang masih dijumpai di lapangan.
     Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada tingkat satuan
pendidikan secara bertahap telah mulai diterapkan, yang ditandai dengan
meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan
dan pengawasan di sekolah, namun belum berfungsi secara optimal. Untuk itu
pembinaan dan pengembangan Gugus SD/MI dan Pendidikan Luar Biasa (PLB),
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), SMP dan Pendidikan Menengah akan
dilanjutkan bersama Pemerintah Kabupaten/Kota dengan menyediakan insentif
pembinaan gugus melalui APBA dan APBN dengan target lebih dari 600 gugus
pada Tahun 2011.
     Dalam kurun waktu 2007 - 2012 akan ditempuh langkah-langkah penguatan
tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik melalui peningkatan kapasitas dan
kompetensi aparat perencanaan dan penganggaran serta pengelola pendidikan,
mengembangkan aplikasi SIM secara terintegrasi, memantapkan pelaksanaan MBS
dengan meningkatkan partisipasi masyarakat melalui peningkatan kapasitas
Majelis Pendidikan Daerah dan Komite Sekolah, meningkatkan pengawasan dan
evaluasi (internal dan eksternal) serta mempercepat penyelesaian tindak lanjut
temuan aparat pemeriksa.


2.4.4 Pendidikan Berbasis Nilai Islami


     Pemerintah Aceh terus berupaya meningkatkan pendidikan berbasis nilai
Islami antara lain dengan melakukan pelatihan Fahmul Qur’an kepada guru-guru
yang nantinya bisa ditransfer kepada siswa di setiap jenjang sekolah. Khusus
untuk murid Sekolah Dasar telah dilaksanakan pengajian Al-Qur’an sebagai
kegiatan ekstrakurikuler dalam rangka meningkatkan kemampuan baca tulis Al-
Qur’an dan pemahaman isi kandungannya. Selain itu penambahan jam pelajaran
agama Islam pada tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK adalah merupakan upaya untuk
meningkatkan pemahaman nilai-nilai Islam di kalangan siswa.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                   II-55
Dalam upaya penerapan pendidikan berbasis nilai Islami, pemerintah masih
menemui kendala-kendala yang cukup berarti, seperti; belum rampungnya
Kurikulum Plus (kurikulum nasional dan kurikulum lokal yang bernuansa Islami),
masih banyaknya        sekolah-sekolah yang tidak memiliki sarana praktek ibadah
(mushalla), kurangnya buku-buku pendidikan agama Islam                  dan alat-alat
peraga/praktek,     belum     adanya    Standar     Operasional dan   Prosedur (SOP)
penerapan sistem pendidikan Islami, serta lemahnya kemampuan guru dalam
mengintegrasikan muatan yang bernuansa Islami kedalam setiap mata pelajaran
yang diasuhnya. Di samping itu, pengakuan (akreditasi) dan peningkatan mutu
lembaga pendidikan dayah atau pesantren sebagai lembaga pendidikan formal
alternatif belum terlaksana secara maksimal.
     Upaya penyediaan akses layanan pendidikan bagi masyarakat Aceh yang
telah menerapkan syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupannya semakin luas
dengan diakuinya dayah atau pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan
formal sesuai dengan karakter dan kekhususan daerah.             Upaya serius untuk
menyetarakan dayah dengan lembaga pendidikan formal lainnya dilakukan dengan
cara akreditasi dayah-dayah yang ada di seluruh Aceh yang pada saat ini
berjumlah sekitar 1.200         dayah. Sebanyak 412 dayah diantaranya telah
terakreditasi.


2.5. Kesehatan

     Pembangunan Kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak
dasar rakyat untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang-
Undang Dasar 1945 pasal 28 ayat (1) dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992
dan No 36 Tahun 2010 tentang Kesehatan. Pembangunan Kesehatan harus
dipandang sebagai suatu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya
manusia, yang antara lain diukur dengan Index Pembangunan Manusia (IPM).
Dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan dibutuhkan perubahan cara pandang
(mindset) dari paradigma sakit ke paradigma sehat, sejalan dengan Visi Aceh
Mandiri untuk hidup sehat secara berkeadilan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                      II-56
2.5.1 Status Kesehatan

     Gambaran       status kesehatan      diuraikan berdasarkan pencapaian beberapa
indikator seperti; umur harapan hidup, Angka Kematian Bayi (AKB), Angka
Kematian Ibu (AKI), gizi balita dan ibu hamil, serta sebaran penyakit menular.

a) Umur Harapan Hidup (UHH)

     Berdasarkan data BPS perkembangan Umur Harapan Hidup (UHH) di Aceh
tahun 2005 adalah 68 tahun, tahun 2006 adalah 68,3 tahun, tahun 2007 adalah
69,08 tahun. Sejalan dengan membaiknya pelayanan kesehatan diharapkan UHH
pada tahun 2012 menjadi 70 tahun.


b) Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)

     Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan
indikator yang paling sensitif untuk menentukan derajat kesehatan suatu
bangsa/daerah. Pada Tahun 2006 AKI Aceh sebesar 237/100.000 kelahiran hidup
dan pada Tahun 2009 AKI menurun menjadi 179/100.000 kelahiran hidup. Pada
Tahun 2010 hingga 2015 target penurunan AKI secara bertahap akan diupayakan
hingga menjadi 125/100.000 kelahiran hidup sesuai dengan target MDGs 2015.
     Sementara itu Angka Kematian Bayi (AKB) di Aceh pada Tahun 2006 sebesar

40/1000 kelahiran hidup. Pada Tahun 2009 AKB Aceh menunjukkan penurunan

menjadi 25/1000 kelahiran hidup (SDKI 2007). Pada Tahun 2010 secara bertahap

akan terus diupayakan penurunan AKB hingga menjadi 26/1.000 kelahiran hidup

pada Tahun 2012 dan terus menurun hingga 15/1000 kelahiran hidup pada Tahun

2015 untuk mendukung target MDGs 2015.

c) Angka Kesakitan


     Angka kesakitan di Aceh adalah 22,3 persen, Infeksi Saluran Pernafasan Akut

(ISPA) dan diare masih menjadi penyakit utama yang dikeluhkan masyarakat.

Melihat kondisi lingkungan dan perilaku hidup sehat masyarakat yang masih

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                    II-57
memerlukan perhatian maka target angka kesakitan pada Tahun 2012 akan

diturunkan menjadi 15 persen. Dari Sistim Pencatatan Pelaporan Terpadu

Puskesmas (SP2TP) menggambarkan 10 (sepuluh) jenis penyakit yang berasal dari

kunjungan puskesmas dan rumah sakit.

                                  Tabel. II.24
                10 (sepuluh) Jenis Penyakit Terbanyak Berbasis
                         Puskesmas dan Rumah Sakit
       No           Jenis Penyakit     Jumlah         No            Jenis Penyakit      Jumlah
                      (Berbasis        Kasus                       (Berbasis Rumah      Kasus
                     Puskesmas)                                         Sakit)
        1   ISPA                           167.947     1    ISPA                            2.482
        2   Diare                           45.009     2    Diare & Gastroentritis          2.628
        3   Malaria Klinis                   3.918     3    Demam Tifoid                    1.486
        4   Diare berdarah                   3.900     4    Cedera                          1.239
        5   Tersangka TBC Paru               3.552     5    Hypertensi                       998
        6   TBC paru BTA(+)                  1.494     6    TBC paru BTA(+)                  995
        7   Pneumonia                        1.449     7    DM                               773
        8   Tifus Perut Klinis                1051     8    Stroke                           771
        9   Campak                              967    9    Demam Berdarah Dengue            710
       10   Demam Berdarah Dengue               566   10    Pneumonia                        605

     Sumber : Pengumpulan data formulir SP2TP Puskesmas dan Laporan Rumah Sakit, 2009


     Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat di Aceh adalah penyakit infeksi
menular yang berbasis lingkungan seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA),
diare, malaria, tipus abdominalis, tuberkulosis paru dan pneumonia, namun
demikian mulai terjadi peningkatan penyakit degeneratif dan keganasan yang
mempunyai resiko terhadap kesakitan dan kematian seperti penyakit jantung dan
pembuluh darah, diabetes mellitus dan kanker.
     Terjadinya beban ganda ini (penyakit menular dan penyakit degenaratif)
disebabkan karena transisi epidemiologi dan perubahan piramida penduduk akan
memberi konsekuensi terhadap jumlah dan jenis pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan masyarakat di masa mendatang. Salah satu upaya kegiatan yang
dilakukan untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya peningkatan kasus dan
munculnya penyakit baru telah dilakukan surveilans terpadu penyakit.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                II-58
Dari hasil kegiatan tersebut terindentifikasi beberapa jenis penyakit dan pola
penyebarannya di masyarakat. Jenis penyakit diare banyak menyerang golongan
anak terutama balita. tahun 2005 kasus penderita diare 73.892 kasus dengan
penderita balita 37.801 orang (51,22 persen), sedangkan pada Tahun 2006 terjadi
85.071 kasus dan balita yang kena diare 36.960 orang (43,45 persen), dan pada
Tahun 2008 kasus penderita diare turun menjadi 42.850 kasus (17,88 persen).
     Penyakit malaria merupakan penyakit endemis beberapa daerah di Aceh,
pada tahun 2006 terjadi kasus malaria klinis 29.283 dan malaria positif 4.852
kasus. Pada tahun 2008 terjadi 36.012 kasus malaria klinis dan malaria positif
5.738 kasus. Angka kematian malaria tahun 2006 sebesar 0,01 persen, sehingga
pada tahun 2012 angka kematian malaria ditargetkan menjadi 0 persen.
     Jumlah kasus Tuberkulosis (TB) Paru pada tahun 2005 sebanyak 4.143 kasus

(kasus baru 48,1 persen) sedangkan tahun 2006 ditemukan sebesar 4.209 kasus

(kasus baru 50,2 persen), menunjukkan terjadinya peningkatan kasus karena

penemuan kasus aktif (active case finding) di lapangan. Pengendalian penyakit TB

dengan strategy DOTS (Directly Observed Treatment, Shortcourse chemoteraphy)

hingga Tahun 2008 telah dilakukan di seluruh kabupaten kota. Strategy ini telah

dapat menurunkan insiden kasus TB dari 130/100.000 penduduk menjadi

104/100.000 penduduk. Pada tahun 2012 ditargetkan semua kasus dapat

terdeteksi dan diobati (case detection rate 100 persen).

     Jumlah kasus dan kematian Demam Berdarah Dengue (DBD) pada tahun

2005 dijumpai 629 kasus sedangkan pada tahun 2006 meningkat menjadi 777

kasus. Angka kematian DBD tahun 2005 sebesar 1,59 persen sedangkan pada

tahun 2006 menjadi 1,80 persen. Kasus DBD tertinggi di 3 kabupaten/kota, yaitu;

Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Aceh Besar. Di Kota Banda Aceh, kasus DBD

pada tahun 2007 mencapai 834 kasus, namun pada tahun 2008 menurun menjadi

593 kasus. Hal ini disebabkan program DBD Watch yang dilaksanakan Pemerintah

Kota Banda Aceh yang didukung oleh masyarakat. Sedangkan di Kota

Lhokseumawe dari hanya 255 kasus pada tahun 2007 meningkat menjadi 632

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                    II-59
kasus pada tahun 2008, sementara di Kabupaten Aceh Besar terjadi peningkatan

dari 160 kasus tahun 2007 menjadi 391 kasus tahun 2008. Terjadinya peningkatan

kasus disebabkan karena kondisi lingkungan yang tidak memadai sebagai akibat

dari bencana alam. Dengan mempertimbangkan faktor lingkungan fisik dan

biologis, keterbukaan daerah (transportasi yang memadai) dan mobilitas

penduduk yang tinggi maka pada tahun 2012 ditargetkan semua fasilitas

pelayanan kesehatan mampu meminimalisir kasus kematian dan terlaksananya

kegiatan sistim kewaspadaan dini di masyarakat. Sehingga angka kesakitan dan

kematian bisa diturunkan.

     Penyakit menular HIV/AIDS telah teridentifikasi pada tahun 2005 sebanyak 2
kasus AIDS sedangkan tahun 2006 dijumpai 7 kasus (4 kasus terdiagnosa AIDS
dan 3 kasus positif HIV). Kasus ini terus meningkat dari tahun ke tahun, 9 kasus
ditemukan pada tahun 2007 dan 10 kasus ditemukan pada tahun 2008, sehingga
total kasus HIV/AIDS yang teidentifikasi hingga tahun 2008 mencapai 29 kasus,
dengan 13 kasus kematian. Keadaan ini harus menjadi perhatian semua pihak dan
diharapkan pada tahun 2010 diseluruh kabupaten/kota sudah terbentuk Komisi
Penanggulangan HIV/AIDS, sehingga target penurunan HIV/AIDS pada tahun
2012 dapat tercapai.
     Penyakit flu burung merupakan ancaman baru terhadap masalah kesehatan,
pada Tahun 2006 telah ditemukan kasus pada unggas di 10 kabupaten/kota,
sementara pada manusia belum dijumpai. Namun Aceh termasuk dalam katagori
daerah terancam, karena bertetangga dengan Provinsi Sumatera Utara yang telah
dijumpai kasus flu burung pada manusia. Untuk menghadapi ancaman tersebut
maka Pemerintah Aceh mempersiapkan Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin
menjadi rumah sakit umum rujukan provinsi dan mempersiapkan Rumah Sakit Cut
Meutia Lhokseumawe, RS Cut Nyak Dhien Meulaboh dan RS Datu Beru Takengon
menjadi rumah sakit rujukan wilayah. Disamping mempersiapkan pusat-pusat
rujukan juga tidak kalah pentingnya dilakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang
antisipasi terhadap kemungkinan flu burung.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                 II-60
Disamping penyakit menular, penyakit tidak menular seperti penyakit
hipertensi, diabetes, kanker masih merupakan masalah kesehatan masyarakat
terutama di perkotaan yang kemungkinan disebabkan karena perilaku dan pola
hidup.


d) Gizi

     Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) pada Balita tahun 2006 memperlihatkan
penurunan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk. Pada tahun 2005 prevalensi gizi
buruk sebesar 4,02 persen dan prevalensi gizi kurang sebesar 34,6 persen. Pada
tahun 2006 terjadi penurunan yaitu prevalensi gizi buruk sebesar 3,2 persen,
sedangkan prevalensi gizi kurang sebesar 19,6 persen. Angka ini lebih rendah dari
angka nasional 25,8 persen (gizi kurang) dan 8,5 persen untuk prevalensi gizi
buruk. Upaya penurunan prevalensi masalah gizi ini terus dilakukan dan
ditargetkan pada tahun 2012 prevalensi gizi buruk dapat diturunkan menjadi < 1
persen (sudah menjadi bukan masalah kesehatan masyarakat) dan prevalensi gizi
kurang menjadi < 15 persen.
     Selain asupan gizi yang kurang serta penyakit infeksi yang merupakan akibat
langsung dari kematian, masalah sosial ekonomi masyarakat yang rendah,
ketidaktersediaan pangan di tingkat keluarga dan pola asuh ditingkat keluarga
adalah merupakan         faktor   yang    turut   mempengaruhi   kondisi   status    gizi
masyarakat.


2.5.2.      Pelayanan Kesehatan
a) Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

     Pasca tsunami tahun 2005 fasilitas pelayanan kesehatan sebagian besar
mengalami kerusakan sehingga pelayanan kesehatan banyak ditangani oleh
berbagai klinik dan pos-pos kesehatan yang didirikan oleh NGO dan lembaga
lainnya. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2009 Jumlah fasilitas kesehatan dasar
yang dapat diakses oleh masyarakat semakin baik, terlihat dari peningkatan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-61
jumlah Puskesmas Rawat Inap, dari 89 unit pada tahun 2007 menjadi 118 unit
pada tahun 2008. Seiring dengan bertambahnya Puskesmas Rawat Inap, maka
jumlah Puskesmas Non rawat Inap, Puskesmas Pembantu dan Puskesmas keliling
semakin berkurang.

                              Tabel: II.25
     Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar di Aceh 2007-2008

                                              Puskesmas
           Sarana/           Puskesmas                             Puskesmas      Puskesmas
                                              Non Rawat
            Tahun            Rawat Inap                            Pembantu         Keliling
                                                 Inap

            2007                   89             199                 911            306


            2008                  118             174                 903            292

     Sumber: Profil Kesehatan Aceh, 2009

     Selain itu, fasilitas layanan kesehatan yang terdekat dan langsung dapat
menjangkau masyarakat desa adalah Poskesdes/polindes dan Posyandu. Jumlah
Poskesdes/Polindes dan Posyandu pada Tahun 2008 masing-masing mencapai
2.269    unit   dan     7.150     unit.    Dari   jumlah     ini     terlihat   bahwa   fasilitas
Poskesdes/Polindes masih sangat rendah, yaitu 35,16 persen dari jumlah desa
(6.424 desa).


b) Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

     Cakupan pelayanan Ante Natal Care (ANC) pada tahun 2005 cakupan
Kunjungan pertama ibu hamil (K1) sebesar 83,12 persen dan Kunjungan keempat
kalinya ibu hamil memberi indikasi untuk mutu pelayanan adalah sebesar 71,92
persen. Sementara pada tahun 2006 cakupan K1 86,23 persen dan K4 76,15
persen. Walaupun terjadi peningkatan cakupan, namun kenaikan ini belum
memberikan gambaran yang menggembirakan karena target nasional untuk ANC
yaitu 90 persen.
     Untuk pencapaian target Tahun 2012 maka upaya peningkatan pelayanan
kesehatan ibu hamil menjadi prioritas utama, yaitu semua kelompok sasaran ibu

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                 II-62
hamil akses ke fasilitas kesehatan (100 persen) dan kunjungan keempat kalinya
kepada tenaga kesehatan (K4) meningkat.
     Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan juga terlihat
meningkat. Tahun 2005 sebesar 64,7 persen              dan terjadi peningkatan sebesar
75,6 persen pada tahun 2006, namun hal ini masih dibawah target                 nasional
sebesar 80 persen. Sedangkan target pada tahun 2012 diharapkan akan tercapai
sebesar 85 persen.

c) Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif


     Pemberian ASI Eksklusif yang direkomendasikan adalah ASI saja sampai bayi
berusia 6 bulan. Di Aceh angka cakupan pemberian ASI eksklusif masih jauh dari
target yang diharapkan. Persentase pemberian ASI eksklusif pada tahun 2005
sebesar 6 persen dari ibu yang melahirkan, pada tahun 2006 sebesar 7,5 persen,
pada tahun 2008 sebesar 10,39 persen dan pada tahun 2012 program pemberian
ASI eksklusif dapat ditingkatkan menjadi 60 persen melalui kegiatan promosi
kesehatan.


d) Pelayanan Imunisasi Bayi dan Balita

     Pelaksanaan imunisasi pada bayi dan balita merupakan program utama
dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Setiap Tahunnya
menunjukkan peningkatan yang signifikan. Cakupan Imunisasi BCG, DPT- 1, DPT-
3, Polio-4, Campak, HB-3 dari tahun ke tahun terlihat pada tabel II.26.
                                   Tabel. II.26
                          Peningkatan Cakupan Imunisasi

     Jenis Imunisasi               Target            2004     2005       2006

   1. BCG                            90%              60%     80.1%      92.8%
   2. DPT-1                          90%              68%     80.9%      93.2%
   3. DPT-3                          80%              65%     74.1%      84.2%
   4. Polio-4                        80%              64%     71.0%      83.4%
   5. Cam pak                        80%              64%     71.7%      83.9%



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         II-63
Peningkatan cakupan ini disebabkan karena ketersediaan logistik imunisasi di
setiap level pelayanan. Situasi wilayah yang kondusif memungkinkan semua
petugas    kesehatan      mampu      menjangkau       kelompok      sasaran.    Selain     itu
penyelenggaraan PIN yang telah berlangsung secara terus menerus memberi
kontribusi terhadap peningkatan cakupan. Pada tahun 2012 diharapkan target
Universal Child Immunization (UCI) dapat dicapai (90 persen).

2.5.3 Kondisi Kesehatan lingkungan

     Menilai keadaan lingkungan sehat ada 4 (empat) indikator yaitu (1)
persentase keluarga yang memiliki persediaan air minum sehat, (2) keluarga yang
memiliki jamban sehat, (3) persentase keluarga yang mengelola sampah dan
(4) keluarga yang mengelola air limbahnya dengan baik. Keadaan ini masih jauh
dari yang diharapkan karena situasi lingkungan yang kurang sehat dan perilaku
hidup sehat yang masih perlu mendapat perhatian serta kerusakan lingkungan
akibat bencana yang demikian parah sehingga indikator keberhasilan program ini
belum mencapai target.
     Sampai     tahun    2012    pembenahan        kondisi   ini   telah   diawali   dengan
penyuluhan, pergerakan masyarakat serta peningkatan sarana dan prasarana
yang memadai, dengan demikian diharapkan akan terbentuk desa sehat mandiri
sekaligus sebagai cikal bakal kabupaten/kota sehat.



a) Air Bersih


     Ketersediaan sarana dan prasarana dasar permukiman berupa air bersih
secara merata dan berkelanjutan turut menentukan tingkat kesejahteraan
masyarakat. tahun 2006 jumlah keluarga yang memiliki akses air bersih masih
sangat minim. Pada tahun 2008 persediaan air bersih dikeluarga 64,00 persen,
Sumber air bersih tertinggi yang digunakan setiap keluarga berasal dari sumur
terlindung 43,03 persen persen, sumur tidak terlindung 24.2 persen, Air ledeng
(pipa) hanya 11,01 persen, sumur pompa 1,67 persen, Air sungai 6 persen, Air
kemasan 5 persen, mata air terlindung 4 persen dan air hujan 1 persen.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                               II-64
Penyediaan air minum berbasis masyarakat yang berpedoman pada Kebijakan
Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis
Masyarakat (AMPL-BM) telah berkembang pesat didukung pendanaan baik
pemerintah maupun pihak lain, seperti lembaga donor, lembaga swadaya
masyarakat (LSM),        swasta    (investasi    langsung maupun    Corporate   Sosial
Responsibility) dan Masyarakat. Peningkatan kualitas perencanaan dilakukan
melalui fasilitasi pemerintah Aceh dalam mengimplementasikan Kebijakan Nasional
AMPL-BM.
     Terkait dengan pengelolaan air bersih dan jaringannya, terdapat beberapa
instansi pemerintah yang terkait, yakni Perusahaan Daerah Air Minum, Dinas Bina
Marga dan Cipta Karya dan Dinas Kesehatan. PDAM mengelola distribusi air, disain
teknis pembangunan sarana dan prasarana PDAM tersebut berada di bawah
kewenangan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, sedangkan Dinas Kesehatan
hanya memiliki kewenangan menilai parameter kesehatan dari air yang
didistribusikan. Pada tahun 2012 target air bersih diharapkan mencapai 80 persen.

b) Rumah Sehat


     Pada     tahun    2005    telah    dilakukan    pemeriksaan   rumah   dibeberapa
kabupaten/kota menunjukkan kondisi 42,20 persen dinyatakan sehat dari 401.780
rumah yang dilakukan pemeriksaan. Tahun 2008 jumlah rumah sehat mencapai
58,25 persen. Dari data tersebut maka program sosialisasi terhadap masyarakat
untuk membangun rumah yang sehat terus dilakukan sehingga vektor penyebab
penyakit dari lingkungan sekitar rumah dapat diperkecil. Pada tahun 2012 target
yang diharapkan sebesar 75 persen.


c) Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar


     Pada tahun 2008 ketersediaan jamban keluarga 64,46 persen, ketersediaan

tempat sampah 14,38 persen dan tempat pengelolaan air limbah keluarga 26,35

persen. Dari data tersebut terlihat bahwa masih ada 35,64 persen keluarga yang

tidak memiliki jamban keluarga, 85,72 persen belum memiliki tempat sampah, dan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                      II-65
74,65 persen belum memiliki tempat pengolahan air limbah. Pada Tahun 2012

ditargetkan 80 persen keluarga telah memiliki jamban keluarga, tempat sampah,

dan sarana pengolahan air limbah.


2.5.4. Pembiayaan Kesehatan

       Secara umum, sumber pembiayaan kesehatan Aceh dapat dikelompokkan
menjadi tiga kelompok, yakni: 1) pembiayaan pemerintah; 2) pembiayaan
bersumber dari lembaga pemberi bantuan/donor; dan 3) pembiayaan rumah
tangga dan sektor swasta. Kontribusi masyarakat dalam pembiayaan kesehatan
masih sangat kecil, hasil Susenas tahun 2005 memperlihatkan bahwa kontribusi
per kapita masyarakat Aceh untuk pembiayaan kesehatan selama ini hanya
Rp. 44.847 per kapita/tahun atau sekitar US$ 5 per kapita/Tahun.

       Pasca bencana tsunami pembiayaan kesehatan mengalami peningkatan yang
signifikan dengan adanya sumber dana baru yang berasal dari dana bantuan luar
negeri dan APBN yang dikelola oleh BRR.

                                   Tabel II.27
                          Sumber Pembiayaan Kesehatan


                                 Tahun 2006           Tahun 2007
  No      Sumber Dana                                                      Ket
                                  (Rp.1000)            (Rp.1000)

   1     APBA                      35.381.267          43.046.438,

   2     APBN(Dekon)               96.810.932          68.545.480,
                                                                           RSU
   3     APBN TP                   38.661.000          89.100.000,
                                                                     Provinsi,kab/kota
   4     DAK                      117.600.000         157.898.000,

   5     ADB-DHS                   10.352.937          29.259.058,

   6     ADB-CWSH                  41.014.000           1.246.040,

   7     BRR Prov.                133.377.510         113.302.925,

         TOTAL                    473.197.646         502.397.941,


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-66
Pemerintah memprioritaskan tujuan investasi di sektor kesehatan dalam
jangka pendek yakni menghindari economic loss akibat penyakit dan kematian,
dan tujuan investasi jangka panjang yakni human capital investment untuk
pencapaian Millenium Development Goals pada tahun 2015. Pemerintah Aceh
pada tahun 2010 menyelenggarakan pembiayaan kesehatan bagi masyarakat Aceh
melalui program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).


2.5.5 Fasilitas Kesehatan

     Profil kesehatan tahun 2009 menunjukkan jumlah Rumah Sakit Umum di
Aceh sebanyak 49 unit, Puskesmas sebanyak 292 unit dengan pembagian
puskesmas rawat inap 118 unit dan puskesmas non rawat inap 174 unit. Secara
rasio pembangunan puskesmas di Aceh telah mencukupi dimana seluruh
kecamatan telah memiliki puskesmas dengan rasio setiap 100.000 penduduk.
Selain fasilitas kesehatan tersebut diatas di Aceh telah tersedia Pos Kesehatan
Desa (Poskesdes/Polindes) sejumlah 2.269 (35,16 persen), Pos Pelayanan
Terpadu (Posyandu) sebanyak 7.150 unit, dan Puskesmas Pembantu (Pustu)
sebanyak      852     unit.    Pada      tahun     2012      diharapkan   pembangunan
Poskesdes/Polindes mencapai 50 persen.


2.5.6. Sumber Daya Tenaga Kesehatan


      Permasalahan tenaga kesehatan di Aceh menyangkut jumlah, kualifikasi
yang kurang memadai dan distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata.
Berdasarkan profil kesehatan 2009, terlihat bahwa rasio tenaga kesehatan
terhadap 100,000 penduduk masih dibawah sasaran, kecuali rasio bidan, yang
sudah memadai terhadap rasio penduduk. Sedangkan rasio dokter umum, dokter
gigi, perawat, ahli gizi, dan ahli sanitasi, masih di bawah target rasio. Keberadaan
dan distribusi doker spesialis juga merupakan persoalan yang cukup besar di Aceh.
Sebagian besar tenaga spesialis terkonsentrasi di rumah sakit perkotaan.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       II-67
Pada tahun 2009 tenaga kesehatan di Aceh berjumlah               31.216 personil,
yang terdiri dari: tenaga medis (3,88 persen), tenaga perawat dan bidan (34,25
persen), tenaga farmasi (1,96 persen), tenaga gizi (1,14 persen), tenaga teknisi
medis (1,82 persen), tenaga sanitasi (2,59 persen), tenaga kesmas (2,42 persen),
tenaga kesehatan (48,06 persen), Dokter Spesialis (0,66 persen), Dokter Umum
(2,67 persen) dan Dokter Gigi (0,55 persen). Rasio dokter spesialis per 1:34.050
penduduk, dokter umum 1:6.330 penduduk, Bidan puskesmas 1:3.093 penduduk,
Perawat 1:1.408 Penduduk dan Bidan di desa 1:1,6 desa. Masalah terbesar adalah
penyediaan dokter spesialis dasar (Kebidanan, anak, penyakit dalam dan bedah)
ditambah spesialis penunjang, Anestesi dan Radiologi yang penyebarannya belum
merata.
        Pada tahun 2012 ditargetkan 50 persen kebutuhan tenaga dapat terpenuhi
melalui pendidikan dan pelatihan berbasis kompentensi, kontrak tenaga medis dan
para medis, pendidikan formal serta rekrutmen. Disamping itu perlunya
pengembangan        institusi   pendidikan     kesehatan      termasuk   penyempurnaan
kurikulum pendidikan.

2.6       Sarana dan Prasarana

2.6.1     Sumber Daya Air

a)    Pengelolaan Wilayah Sungai

        Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam
satu atau lebih daerah aliran sungai dan atau pulau-pulau kecil yang luasnya
kurang    atau   sama     dengan     2.000    km2..   Dalam    pembagian    kewenangan
pengelolaan wilayah sungai, sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
Nomor 11 A/PRT/M/2006 telah menetapkan beberapa kategori berdasarkan letak
geografis dan posisi strategis wilayah sungai lintas negara, wilayah sungai lintas
provinsi, wilayah sungai strategis nasional, dikelola oleh pemerintah pusat.
Wilayah sungai lintas kabupaten/kota, dikelola oleh pemerintah provinsi. Wilayah
sungai dalam satu kabupaten/kota dikelola oleh pemerintah kabupaten/kota.
        Sesuai dengan Permen PU dimaksud, Aceh memiliki 11 (sebelas) wilayah
sungai, seperti pada tabel II.28.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-68
TabelL II.28
                Pengembangan Pengelolaan Wilayah Sungai (Ws) Di Aceh
          WILAYAH SUNGAI (WS)                                      Pengelolaan Sumber Daya Air
                                         LINGKUP WS
            DI PROVINSI NAD                                  Konservasi   Pendayagunaan
                                                                                      Peng.Daya Rusak

       (Penetapan dalam RTRWN)
       A. Pengelola: Pemeritah Pusat
        1. WS Meureudu - Baro    Strategis Nasional            XX             XX           XX
        2. WS Jambo Aye          Strategis Nasional            XX             XX           XX
        3. WS Woyla -Seunagan Strategis Nasional               XX             XX           XX
        4. WS Tripa - Bateue     Strategis Nasional            XX             XX           XX
        5. WS Alas - Singkil     Lintas Provinsi NAD-Sumut     XX             XX           XX

       (Penetapan dalam RTRW Aceh)
       B. Pengelola: Pemerintah Aceh
        1. WS Krueng Aceh         Lintas Kab./Kota             XX             XX           XX
        2. WS Pase - Peusangan Lintas Kab./Kota                XX             XX           XX
        3. WS Tamiang - Langsa Lintas Kab./Kota                XX             XX           XX
        4. WS Teunom - Lambesoi Lintas Kab./Kota               XX             XX           XX
        5. WS Krueng Baru - Kluet Lintas Kab./Kota             XX             XX           XX

       C. Pengelola: Pemkab Simeulue
       6. WS Pulau Simeulue     Dalam Kabupaten Simeulue       XX             XX           XX
       Sumber: RTRWN & Permen PU No.11A/PRT/M/2006.
              XX
       Catatan: = langkah/kegiatan yang direncanakan/ditetapkan.



      Aceh memiliki 408 (empat ratus delapan) daerah aliran sungai (DAS) dengan
kondisi topografis daratan Aceh yang di bagian tengahnya membentang
pengunungan bukit barisan, menyebabkan panjang sungai yang ada rata-rata
relatif pendek sehingga ketika terjadi hujan lebat sering menyebabkan banjir
dengan kecepatan aliran yang tinggi. Hal ini menyebabkan tingginya angkutan
sedimen yang selanjutnya diendapkan di muara sungai membentuk delta dan
menyebabkan penutupan muara.
      Pada beberapa muara sungai, endapan sedimen yang terjadi telah
menyebabkan hambatan aliran banjir dan mengganggu lalu lintas kapal/perahu
nelayan. Sungai-sungai yang muaranya sudah bermasalah antara lain: Krueng
Aceh di Aceh Besar, Krueng Baro di Pidie dan Krueng Ulim di Kabupaten Pidie
Jaya, Krueng Peudada di Kabupaten Bireuen, Krueng Idi di Kabupaten Aceh Timur,
Krueng Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang, dan Krueng Meureubo di Kabupaten
Aceh Barat, Krueng Seunagan di Kabupaten Nagan Raya, dan Krueng Singkil di
Kabupaten Aceh Singkil.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                      II-69
Untuk mengatasi permasalahan muara dilakukan dengan pengerukan dan
pembangunan Jetty, dan hal ini telah dilakukan pada muara sungai Krueng Aceh
dalam penanganan banjir kanal di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar,
serta di Krueng Idi Kabupaten Aceh Timur.
      Untuk penanganan wilayah sungai Lawe Alas Kabupaten Aceh Singkil yang
merupakan sungai terpanjang di Aceh termasuk kategori sungai lintas provinsi
dikelola oleh Pemerintah Pusat. Wilayah sungai Mereudu-Baro, Jambo Aye, Woyla-
Seunagan dan Tripa-Batee, termasuk wilayah sungai strategis nasional yang juga
dikelola Pemerintah Pusat. Selanjutnya wilayah sungai Krueng Aceh, Pase-
Peusangan, Tamiang-Langsa, Teunom-Lambesoi, dan Krueng Baru-Kluet termasuk
wilayah sungai lintas kabupaten/kota yang dikelola Pemerintah Provinsi. Wilayah
sungai lain yang tidak termasuk ketiga kategori di atas, pengelolaannya menjadi
tanggungjawab Pemerintah Kabupaten/Kota.
      Permasalahan sungai yang sangat krusial adalah banjir, erosi tebing,
sedimentasi dan pendangkalan muara. Dari sungai-sungai yang bermasalah di
Aceh, sampai saat ini telah dibangun prasarana banjir dan pengendalian sungai
sepanjang 109.304 km.
      Berdasarkan      potensi    sumber     daya    air,    wilayah   sungai   di   Aceh
dikelompokkan menjadi 3 (tiga) wilayah yaitu : 1). wilayah sungai Krueng Aceh
hingga Tiro termasuk wilayah kering dengan curah hujan kurang dari 1.500 mm
pertahun; 2). wilayah sungai Mereudu dan sepanjang pantai timur termasuk
wilayah sedang dengan curah hujan 1.500-3.000 mm pertahun; dan 3). wilayah
pantai barat termasuk wilayah basah dengan curah hujan 3.000-4.500 mm
pertahun.

b) Pengembangan Daerah Irigasi

      Potensi lahan pertanian yang tersedia seluas 849.275 ha terdiri dari sawah
beririgasi, sawah tadah hujan, dan daerah rawa. Luas total areal sawah yang
sudah beririgasi adalah 349.774 ha yang terdiri dari: 99.676 ha yang sudah
berigasi teknis, 132.092 ha beririgasi semi teknis, dan 118.006 ha irigasi desa,
Luas sawah tadah hujan adalah 54.746 ha. Sedangkan luas daerah rawa yang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                           II-70
berpotensi untuk dijadikan sawah adalah 444.755 ha, yang terdiri dari; rawa lebak
seluas 366.055 ha dan rawa pantai seluas 78.700 ha.
      Salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya air yang paling signifikan bagi
pengembangan wilayah Aceh adalah pengembangan irigasi atau pengairan, yang
mendukung pengembangan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Dengan
lahirnya Undang–Undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air,
wewenang dan tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam
pengelolaan daerah irigasi dibagi berdasarkan luasan daerah irigasi. Wewenang
dan tanggungjawab pemerintah pusat pada wilayah irigasi yang luasnya lebih
besar dari 3.000 ha, pemerintah provinsi pada luas 1.000 sampai dengan 3.000 ha
dan pemerintah kabupaten untuk luas lebih kecil dari 1.000 ha.
      Secara garis besar untuk pengembangan Daerah Irigasi (DI) yang
ditetapkan di atas mencakup:

1. Pemantapan: dalam arti dominan bersifat mempertahankan dan memelihara
   agar kualitas dan kuantitas yang terkandung di dalamnya tetap efektif
   memberikan pelayanan;

2. pengembangan: dalam arti dominan bersifat pengembangan atau perluasan
   dari yang sudah ada, revitalisasi yang sudah ada namun mengalami penurunan
   kualitas dan/atau kuantitas pelayanan, dan/atau pengembangan baru.
      Daerah Irigasi (DI) yang ditetapkan sesuai Keputusan Menteri PU
No.390/KPTS/M/2007 adalah DI pada tingkat kewenangan Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Aceh sejumlah 56 DI, yang 12 DI di antaranya merupakan
kewenangan Pemerintah Pusat dan 44 DI kewenangan Pemerintah Aceh, seperti
pada tabel II.29.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  II-71
TABEL II.29
                                  Pengembangan Daerah Irigasi (Di) Di Aceh
            DI (Daerah Irigasi)           Luas Baku (Ha)      Kewenangan        Lokasi: Kab./Kota         Keterangan

    1.   DI Jambo Aye Langkahan                19.360,00   Pemerintan Pusat   Aceh Utara, Aceh Timur   Peningkatan
    2.   DI Kr.Jreue/Keuliling                  8.077,00   Pemerintan Pusat   Aceh Besar               Pemantapan
    3.   DI Kr.Aceh/Leubok                      7.884,00   Pemerintan Pusat   Aceh Besar               Pemantapan
    4.   DI Pante Lhong                         6.562,00   Pemerintan Pusat   Bireuen                  Peningkatan
    5.   DI Paya Nie                            3.121,00   Pemerintan Pusat   Bireuen                  Peningkatan
    6.   DI Alue Ubay                           4.144,00   Pemerintan Pusat   Aceh Utara               Peningkatan
    7.   DI Krueng Pase                         8.791,00   Pemerintan Pusat   Aceh Utara               Peningkatan
    8.   DI Datar Diana                         3.200,00   Pemerintan Pusat   Bener Meriah             Peningkatan
    9.   DI Jeuram                             12.446,00   Pemerintan Pusat   Nagan Raya               Pengembangan
   10.   DI Susoh                               5.793,00   Pemerintan Pusat   Aceh Barat Daya          Peningkatan
   11.   DI Kutacane Lama                       5.425,00   Pemerintan Pusat   Aceh Tenggara            Peningkatan
   12.   DI Baro Raya                          19.118,00   Pemerintan Pusat   Pidie                    Peningkatan
   13.   DI Samalanga                           2.144,00   Pemerintah Aceh    Bireuen, Pidie Jaya      Peningkatan
   14.   DI Paya Ketengga/Alue Merbo            2.200,00   Pemerintah Aceh    Langsa, Aceh Timur       Peningkatan
   15.   DI Krueng Pandrah                      1.203,00   Pemerintah Aceh    Bireuen                  Peningkatan
   16.   DI Krueng Peudada                      1.071,00   Pemerintah Aceh    Bireuen                  Peningkatan
   17.   DI Krueng Nalan                        1.750,00   Pemerintah Aceh    Bireuen                  Peningkatan
   18.   DI Cubo/Trienggadeng                   1.909,00   Pemerintah Aceh    Pidie Jaya               Peningkatan
   19.   DI Krueng Rajui                        1.100,00   Pemerintah Aceh    Pidie                    Peningkatan
   20.   DI Meureudu                            1.729,00   Pemerintah Aceh    Pidie Jaya               Peningkatan
   21.   DI Jamuan                              1.000,00   Pemerintah Aceh    Aceh Utara               Peningkatan
   22.   DI Krueng Tuan                         2.226,00   Pemerintah Aceh    Aceh Utara               Peningkatan
   23.   DI Alue Tumeureu                       2.500,00   Pemerintah Aceh    Aceh Timur               Peningkatan
   24.   DI Jambo Reuhat                        2.625,00   Pemerintah Aceh    Aceh Timur               Peningkatan
   25.   DI Uteun Dama                          1.300,00   Pemerintah Aceh    Aceh Timur               Peningkatan
   26.   DI Peunaron                            1.550,00   Pemerintah Aceh    Aceh Timur               Peningkatan
   27.   DI Tanggulon                           2.000,00   Pemerintah Aceh    Aceh Tamiang             Peningkatan
   28.   DI Paya Prang                          2.600,00   Pemerintah Aceh    Aceh Tamiang             Peningkatan
   29.   DI Kermal                              1.200,00   Pemerintah Aceh    Aceh Tamiang             Peningkatan
   30.   DI Bebesan Jamur Barat                 2.000,00   Pemerintah Aceh    Aceh Tengah              Peningkatan
   31.   DI Pante Kuyun                         1.557,00   Pemerintah Aceh    Aceh Jaya                Peningkatan
   32.   DI Ceurace                             2.000,00   Pemerintah Aceh    Aceh Jaya                Pengembangan
   33.   DI Babah Nipah                         2.000,00   Pemerintah Aceh    Aceh Jaya                Pengembangan
   34.   DI Patek                               2.650,00   Pemerintah Aceh    Aceh Jaya                Pengembangan
   35.   DI Tanoh Anoi                          2.500,00   Pemerintah Aceh    Aceh Jaya                Pengembangan
   36.   DI Lambesoi                            2.000,00   Pemerintah Aceh    Aceh Jaya                Pengembangan
   37.   DI Sefuluh                             1.000,00   Pemerintah Aceh    Simeulue                 Pengembangan
   38.   DI Lafakha                             1.085,00   Pemerintah Aceh    Simeulue                 Pengembangan
   39.   DI Suak Lamatan                        1.000,00   Pemerintah Aceh    Simeulue                 Pengembangan
   40.   DI Alue Limeng                         2.980,00   Pemerintah Aceh    Aceh Barat Daya          Pengembangan
   41.   DI Babah Rote                          1.550,00   Pemerintah Aceh    Aceh Barat Daya          Pengembangan
   42.   DI Manggeng                            1.604,00   Pemerintah Aceh    Aceh Barat Daya          Pengembangan
   43.   DI Gunung Pudung                       2.250,00   Pemerintah Aceh    Aceh Selatan             Pengembangan
   44.   DI Paya Dapur                          2.390,00   Pemerintah Aceh    Aceh Selatan             Pengembangan
   45.   DI Jambo Dalem                         1.000,00   Pemerintah Aceh    Aceh Selatan             Pengembangan
   46.   DI Ujung Tanoh                         1.000,00   Pemerintah Aceh    Aceh Selatan             Pengembangan
   47.   DI Trumon                              2.000,00   Pemerintah Aceh    Aceh Selatan             Pengembangan
   48.   DI Beutong                             1.100,00   Pemerintah Aceh    Aceh Selatan             Pengembangan
   49.   DI Kutacane Lama Atas                  1.144,00   Pemerintah Aceh    Aceh Tenggara            Peningkatan
   50.   DI Lawe Bulan                          1.050,00   Pemerintah Aceh    Aceh Tenggara            Peningkatan
   51.   DI Lawe Kinga/Maha Singkil             1.595,00   Pemerintah Aceh    Aceh Tenggara            Peningkatan
   52.   DI Terumtung Pedi                      1.500,00   Pemerintah Aceh    Aceh Tenggara            Peningkatan
   53.   DI Siluk-luk                           1.710,00   Pemerintah Aceh    Aceh Tenggara            Peningkatan
   54.   DI Kuta Tinggi                         1.200,00   Pemerintah Aceh    Aceh Tenggara            Peningkatan
   55.   DI Weih Sejuk                          2.175,00   Pemerintah Aceh    Gayo Lues                Pengembangan
   56.   DI Weih Tillis                         2.500,00   Pemerintah Aceh    Gayo Lues                Pengembangan
  Sumber: KepMen PU No.390/KPTS/M/2007.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                                             II-72
c) Pengembangan Waduk dan Bendungan

      Dengan kondisi topografi yang berupa pegunungan dan bukit-bukit, Aceh
mempunyai beberapa lokasi yang sangat berpotensi untuk di bangun waduk dan
embung. Sampai tahun 2010 telah dibangun 5 buah embung dan 1 buah waduk.
Salah satu lokasi yang sangat prospektif untuk dibangun waduk adalah di daerah
hulu DAS Jambo Aye di Kabupaten Aceh Utara. Berdasarkan hasil studi kelayakan
yang dilakukan oleh konsultan Rendel Williamson Hydro, Randel Parkman serta
Kennedy & Donkin, pada lokasi tersebut mempunyai kapasitas tampungan waduk
sebesar 4.170.000.000 m3 yang dapat digunakan untuk keperluan irigasi, air
minum, perkotaan dan pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas terpasang
160 Mega Watt. Disamping itu terdapat juga potensi–potensi waduk yang penting
seperti Rukoh di Kabupaten Pidie dengan kapasitas tampungan 142.473.000 m3
yang dapat mengatasi masalah kekurangan air di Daerah Irigasi Baro Raya seluas
19.280 ha, dan Waduk Keumuning di Langsa untuk mengatasi banjir dan air
minum.
      Pemanfaatan waduk tersebut sebagian besar memang untuk mendukung
prasarana irigasi, namun ada sejumlah waduk dengan pemanfaatan lainnya yaitu
sumber air baku untuk air bersih dan pembangkit tenaga listrik. Tabel di bawah ini
merupakan daftar waduk di wilayah Aceh yang akan ditingkatkan dan
dikembangkan.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                   II-73
Tabel II.30
                              Pengembangan Waduk Di Wilayah Aceh
                               Sumber Air                 Kabupaten/Kota
No.      Waduk/Bendungan                                                         Pemanfaatan        Besaran
                               (DI/Daerah Irigasi)        (Kecamatan)
     1. Waduk Keuliling        Alue Keuliling             Aceh Besar            Irigasi             1.631,2 Ha
                               (DI Kr. Jreue/Keuliling)   (Kec.Kuta Cot Glie)
     2. Embung Lambadeuk       Alue Lambadeuk             Aceh Besar            Air Bersih &               t.a
                               (DI Krueng Aceh)           (Kec.Peukan Bada)     Irigasi                    t.a
     3. Waduk Leubok           Krueng Leubok              Aceh Besar            Irigasi                515 Ha
                               (DI Kr. Aceh/Leubok)       (Kec.Montasik)
     4. Waduk Rajui            Krueng Rajui               Pidie                 Irigasi              1.000 Ha
                               (DI Krueng Rajui)          (Kec.Padang Tiji)
     5. Waduk Rukoh            Krueng Rukoh               Pidie                 Irigasi (Suplesi     6.920 Ha
                               (DI Baro Raya)             (Kec. Seruway)        DI Baro Raya)
     6. Waduk Tiro             Krueng Tiro                Pidie                 Irigasi              6.330 Ha
                               (DI Baro Raya)             (Kec. Tiro Truseb)
     7. Bendung Karet          Krueng Peusangan           Bireuen               Irigasi                    t.a
        Krueng Peusangan
     8. Bendungan Jambo Aye    Kr.Jambo Aye & Kr.Rubek    Aceh Utara            Irigasi             10.000 Ha
                               (DI Jambo Aye/Langkahan)   (Kec. Langkahan)      Listrik               160 MW
     9. Waduk Langsa           Krueng Langsa              Aceh Timur                                       t.a

 10. Waduk Rimo                Lae Pengecilan          Aceh Singkil             Irigasi                750 Ha
                                                       (Kec. Rimo)              Air Bersih           2.071 KK
 11. Waduk Sianjo-anjo          Sungai Sianjo-anjo     Aceh Singkil             Irigasi                850 Ha
                                                       (Kec.Simpang Kanan)      Air Bersih             865 KK
 12. Waduk Paya Seunara         Ekosistem Rawa         Sabang                   Air Bersih                 t.a
                                                       (Kec. Suka Karya)
Sumber: Dep PU Ditjen SDA Satker Balai WSS-I Keg.Pengembangan Air Baku NAD.
Catatan: t.a = tidak/belum ada data.




d)      Pengamanan Pantai

         Aceh mempunyai garis pantai sepanjang 2.422 km yang terdiri dari: garis
pantai Aceh daratan sepanjang 1.660 km, Aceh kepulauan sepanjang 762 km
terdiri Pulau Sabang sepanjang 62 km, dan Pulau Simeulue sepanjang 700 km.
Dari total panjang garis pantai tersebut yang rawan mengalami kerusakan akibat
abrasi sekitar 400 km.
         Sejak tahun 2005 sampai dengan 2009                        telah dibangun prasarana
pengaman pantai sepanjang 30,797 km dan tanggul pengaman air pasang yang
membatasi daerah tambak dan permukiman sepanjang 24,625 km.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                         II-74
2.6.2     Bina Marga dan Cipta Karya


        Sistem jaringan jalan yang tersedia di Aceh sepanjang 18.943,08 km. yang
terdiri dari jalan nasional sepanjang 1.782,78 km, jalan Provinsi sepanjang
1.701,82 km dan jalan kabupaten sepanjang 10.426,56 km. Kondisinya sampai
saat ini adalah, kondisi mantap jalan nasional adalah 86,18 persen dengan
panjang 1.345,24 km dalam kondisi baik, 191,24 km kondisi sedang, 239,30
kondisi rusak berat, dan 7 km belum tembus. Untuk kondisi mantap jalan provinsi
sebesar 65,90 persen dengan panjang 637 kondisi mantap, 484,13 kondisi
sedang, 560,30 kondisi rusak berat, dan 20 km belum tembus.
        Sementara kondisi perkerasan sampai dengan saat ini jalan nasional dengan
pengerasan aspal sebesar 91,75 persen, pengerasan kerikil 3,81 persen dan jalan
tanah 4,47 persen. Sedangan jalan provinsi sampai dengan saat ini dengan
pengerasan aspal sebesar 49,91 persen, pengerasan kerikil 35,95 persen dan jalan
tanah 14,14 persen.
        Penyebaran jaringan jalan di Aceh terdiri dari lintas Timur, lintas Tengah,
lintas Barat, feeder road, jalan perkotaan, dan jalan di kepulauan. Sampai dengan
saat ini kemampuan Pemerintah untuk meningkatkan jenis konstruksi jalan relatif
sangat kecil, dibawah 10 persen dari total panjang jalan. Penanganan jalan
banyak bertumpu pada perbaikan-perbaikan untuk mempertahankan kondisi jalan.
        Jumlah jembatan pada lintasan jalan nasional sebanyak 794 buah dengan
total panjang 20.393 m. Dari jumlah tersebut sebanyak 660 buah atau sepanjang
16.497 m (80,90 persen) telah dibangun baru (diganti), sedangkan 134 buah lagi
yang setara dengan 3.895,90 m atau 19,10 persen belum diganti masih
merupakan jembatan lama.
        Pada ruas jalan provinsi terdapat 638 buah jembatan dengan total panjang
14.137,00 m. Diantaranya 399 buah telah dibangun baru sepanjang 5.971,70 m
atau 42,24 persen. Sedangkan sisanya 239 buah atau 8.165,30 m atau 57,76
persen masih menunggu penggantian. Penggantian diperlukan terutama karena
lebar jembatan yang belum mencukupi, serta kondisinya sendiri sudah tidak
mantap lagi.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                    II-75
Untuk menghadapi tingkat pertumbuhan kendaraan yang cukup tinggi dan
mendukung aktivitas sosial ekonomi masyarakat diharapkan kedepan dilakukan
pembangunan jalan high way dua jalur lintas Timur dengan lebar daerah
penguasaan jalan (Road Of Way/ROW) minimal 100 meter.
      Pembangunan perkotaan pada umumnya berkembang pesat dan berfungsi
sebagai pusat aktivitas masyarakat yang dilengkapi dengan berbagai prasarana
dan sarana, baik pelayanan primer maupun sekunder. Kondisi itu menyebabkan
meningkatnya hasrat perpindahan penduduk dari desa ke kota. Perpindahan itu
menyebabkan pertambahan penduduk melebihi daya tampung kota serta melebihi
kemampuan pemerintah untuk menyediakan prasarana dan sarana perkotaan.
Kemudian tumbuhlah kawasan-kawasan kumuh dan tidak sesuai lagi dengan
aturan lingkungan permukiman yang sehat.
      Kondisi tersebut diatas dapat dilihat dari segi penataan bangunan,
penempatan jalan dan fasilitas umum lainnya cenderung memanfaatkan tanah
kosong tanpa mempertimbangkan aksesibilitas dan manfaatnya, sehingga kondisi
sanitasi   yang    tidak   memenuhi      syarat    dengan    utilitas   yang   buruk    dan
mencerminkan tata kehidupan yang kurang sehat dan tidak nyaman.
      Pada kawasan perkotaan masih ditemui genangan air akibat hujan seluas ±
410 ha dengan frekuensi 2 sampai dengan 4 kali setahun, untuk itu diperlukan
jaringan drainase yang baik agar genangan segera dapat dialirkan ke badan air
terdekat. Ditambah lagi akibat gempa dan tsunami terjadi penurunan permukaan
tanah, sehingga semakin luasnya daerah genangan pada beberapa kawasan.
      Data pembangunan prasarana air bersih telah ada di 23 kabupaten/kota
dengan kapasitas terpasang saat ini 4.451,5 lt/dt yang terdiri dari prasarana dan
sarana air bersih perkotaan kapasitas 2.582 lt/dt dengan jumlah unit terbangun 55
unit. Prasarana dan sarana air bersih ibu kota kecamatan (IKK) kapasitas 849 lt/dt
dengan jumlah unit terbangun 92 unit IKK dan prasarana dan sarana air bersih
perdesaan kapasitas 1020,5 lt/dt dengan jumlah unit terbangun 310 unit.
      Prasarana dan sarana air bersih yang beroperasi 2.553,3 lt/dt, terdiri atas air
bersih perkotaan 1.947 lt/dt, air bersih ibukota kecamatan (IKK) 478 lt/dt dan air
bersih perdesaan 128,3 lt/dt. Prasarana dan sarana air bersih yang tidak

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                             II-76
beroperasi (dalam kondisi rusak) 583 lt/dt terdiri atas air bersih perkotaan 355
lt/dt, air bersih ibukota kecamatan (IKK) 156 lt/dt dan air bersih pedesaan 67
lt/dt. Instalasi air bersih perkotaan yang belum beroperasi 150 lt/dt. Sementatra
itu prasarana dan sarana air bersih dalam tahap pembangunan 170 lt/dt terdiri
dari air bersih perkotaan 120 lt/dt dan air bersih ibukota kecamatan (IKK) 50 lt/dt,
disamping itu, 1000,2 lt/dt tidak diketahui operasionalnya yang terdiri dari air
bersih perkotaan 10 lt/dt, air bersih ibukota kecamatan (IKK) 165 lt/dt dan
pedesaan 852 lt/dt.
       Dengan kapasitas yang terpasang dan seluruh unit terbangun berfungsi,
diharapkan mampu melayani 2.124.249 jiwa atau 52,5 persen dari jumlah
penduduk, dimana daerah perkotaan mampu terlayani 79,6 persen, daerah
kecamatan mampu terlayani 51,6 persen dan pedesaan mampu terlayani 70,6
persen sesuai denngan cakupan daerah pelayanan. Namun target tersebut tidak
akan tercapai, hal ini disebabkan tingginya tingkat kebocoran /kehilangan air fisik
mencapai lebih dari 60 persen dari jumlah produksi, manajemen pengelolaan
sistem penyediaan air minum di Provinsi Aceh masih buruk dan rendahnya sumber
daya manusia yang ada saat ini. Khususnya tingkat pelayanan air bersih di
perkotaan baru mencapai 27,4 persen. Sedangkan target MDGs sampai tahun
2015 mencapai 80 persen penduduk perkotaan dan 60 persen penduduk
pedesaan.
       Jumlah pengelola air minum di Aceh masih sangat terbatas, belum semua
kabupaen/kota memiliki perusahaan air minum. Tahun 2009 jumlah PDAM di Aceh
baru 14 buah, jumlah ini masih sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan
masyarakat baik di pedesaan atau perkotaan dengan kapasitas terpasang saat ini
adalah 4,451,5 lt/dtk.
       Untuk menangani limbah rumah tangga khususnya limbah manusia, telah
dibangun Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di 6 kabupaten/kota, namun
yang     beroperasi   hanya     di   3   kabupaten/kota,       yaitu   Kota   Banda     Aceh,
Lhokseumawe dan Kabupaten Bireuen. Persentase pelayanan masih sangat
rendah     dan   diharapkan     pada     tahun   2015,       IPLT   telah   tersedia   di   15



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                              II-77
kabupaten/kota lainnya sehingga dapat melayani 60 persen limbah penduduk di
perkotaan.
      Penanganan persampahan masih dalam batas kawasan komersil, tempat
fasilitas umum di perkotaan dengan tingkat pelayanan masih 25 persen. Melalui
Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, Pemerintah Aceh telah menyalurkan bantuan
peralatan berupa Tempat Pembuangan Sementara (TPS), container, armroll truck,
truck sampah, transfer dipo, gerobak sampah dan bulldozer. Pada tahun 2015,
diharapkan semua kabupaten/kota telah menyediakan Tempat Pembuangan Akhir
(TPA) sampah, sehingga 60 persen sampah di perkotaan dapat teratasi.
      Penyediaan perumahan kepada korban konflik masih juga menjadi perhatian
karena dari total 26.751 unit rumah terbakar, telah dibangun kembali melalui dana
reintegrasi Aceh, sedangkan rumah penduduk miskin baru tertangani sebanyak
15.670 unit dari jumlah kebutuhan 236.461 unit di seluruh Aceh.
      Pada kawasan terisolir dan perbatasan masih ditemui adanya desa-desa
tertinggal yang belum bebas dari keterisolasian, keterbelakangan baik secara
ekonomi, pendidikan, kesehatan lingkungan maupun sosial budaya. Untuk itu
Pemerintah Aceh akan mengusahakan pelaksanaannya melalui pembangunan,
perbaikan,    pemugaran,      peremajaan      serta    pengelolaan   dan   pemeliharaan
prasarana dan sarana secara terpadu dan berkelanjutan.
      Bidang tata ruang ditujukan untuk menata kembali struktur ruang, pola
ruang yang didasarkan pada rencana tata ruang nasional sebagai dasar
pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Implementasi
pembangunan Aceh kedepan menerapkan prinsip Aceh Green yang berorientasi
pada ekonomi lingkungan yang mengutamakan keseimbangan antar aspek dan
pertimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan dengan pembangunan antar dan
intra generasi.


2.6.3 Perhubungan


      Transportasi, pos dan telekomunikasi, informasi dan Telematika merupakan
urat nadi perekonomian Aceh, dan keberadaannya sangat diharapkan oleh

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-78
masyarakat. Guna mendukung perekonomian yang lebih baik, membuka
keterisolasian     dan   keterbelakangan      daerah    diperlukan       pembangunan    dan
peningkatan transportasi dan telekomunikasi.
         Dalam perencanaan pembangunan sarana dan prasarana tranportasi, pos
dan telekomunikasi, kita tidak hanya melihat berdasarkan keinginan dari suatu
daerah tetapi juga harus dilihat dari segi kebutuhan dan pemanfaatannya serta
pengembangan lebih lanjut. Prasarana yang diinginkan berdasarkan sistem
transportasi wilayah dan keterpaduan berbagai Moda yang ada, baik intermoda
maupun antarmoda sehingga pola pergerakan penumpang dan barang menjadi
efektif dan efisien.


2.6.3.1      Transportasi Darat

a)     Angkutan Jalan Raya
         Jaringan jalan di Aceh meliputi lintas pantai Utara-Timur, lintas pantai Barat-
Selatan, lintas tengah dan feeder road yang menghubungkan seluruh daerah
pedalaman Aceh. Akibat terjadinya gempa bumi dan gelombang tsunami 26
Desember 2004 sebagian besar jalan lintas Barat–Selatan, mulai dari perbatasan
Banda Aceh menuju Aceh Besar, Aceh Jaya dan Aceh Barat mengalami rusak atau
terkelupas termasuk hancurnya jembatan serta fasilitas keselamatan lalu lintas
jalan.
         Diharapkan semua sarana dan prasarana termasuk fasilitas keselamatan
angkutan jalan raya baik di jalan kabupaten, jalan provinsi maupun jalan nasional
dalam kondisi mantap, sehingga dapat memberikan kondisi yang aman, nyaman,
efektif dan efisien kepada masyarakat pengguna jalan. Demikian juga dengan
ketersediaan terminal AKAP/AKDP yang representatif dan jumlah bus angkutan
yang      memadai.     Pembangunan      jalan   beserta      fasilitas   pendukung   seperti
pembangunan fasilitas keselamatan untuk jalan-jalan Nasional berupa rambu,
marka, traffic light, delineator, guardrail, juga pembangunan beberapa terminal,
keselamatan dan sarana pendukung lainnya dapat didanai melalui APBA, APBN
atau sumber lainnya.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                             II-79
b)   Angkutan Perairan Daratan
         Angkutan perairan daratan saat ini kondisinya sudah memadai, banyak
daerah-daerah yang dihubungkan aliran sungai dan tidak terjangkau oleh
angkutan jalan raya namun dengan tersedianya angkutan sungai sudah dapat
terpenuhi sarana i dan Simpang Kanan di Kabupaten Aceh Singkil serta aliran
sungai Krueng Meureuangkutan seperti sungai Tamiang di Kabupaten Aceh
Tamiang, aliran sungai Simpang Kirbo dan Suak Seumaseh di Kabupaten Aceh
Barat.
         Sarana dan prasarana angkutan perairan darat perlu menjadi perhatian
pemerintah, hal ini dikarenakan fasilitas yang tersedia hanya alat angkut milik
masyarakat yang kurang memenuhi standar keselamatan. Demkian juga halnya
dengan angkutan danau terutama Danau Laut Tawar di Aceh Tengah, fasilitas
yang tersedia belum memadai.



c)   Angkutan Penyeberangan
               Kondisi prasarana angkutan penyeberangan yang telah dibangun
sebagian telah hancur akibat gempa dan tsunami serta penurunan permukaan
tanah yang mengakibatkan permukaan dermaga ikut turun sehingga tinggi muka
air tidak sesuai lagi dengan kapal yang beroperasi.
      Gambaran umum terhadap kondisi eksisting untuk beberapa infrastruktur
pelabuhan penyeberangan di Aceh sebagai berikut :
1.   Pelabuhan Ulee Lheue–Banda Aceh dibangun pada tahun 2000, kapasitas
     dermaga 2.000 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 5 m LWS, pasca gempa dan
     tsunami mengalami kerusakan berat (hancur total) baik fasilitas sisi darat
     maupun fasilitas sisi laut. Pemerintah Australia melalui UNDP telah membantu
     memfungsikan kembali pelabuhan penyeberangan tersebut untuk melayani
     penyeberangan rute Banda Aceh-Balohan dan Banda Aceh-Pulau Aceh.
2.   Pelabuhan Penyeberangan Balohan-Sabang dibangun pada tahun 2001,
     kapasitas dermaga 1.500 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 4 m LWS, pasca
     gempa dan tsunami mengalami kerusakan pada beberapa fasilitas sisi laut
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  II-80
(Breasting Dolphin rusak berat, dermaga ponton kapal cepat rusak ringan)
     dan sisi darat (terminal rusak ringan, gangway rusak berat, talud rusak berat,
     pagar rusak berat, lapangan parkir dan jalan rusak ringan). Pembangunan
     kembali kerusakan tersebut telah diperbaiki melalui dana BRR Aceh-Nias dan
     juga melalui APBN dan APBA.
3.   Pelabuhan Penyeberangan Lamteng, Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar yang
     dibangun pada tahun 2002, kapasitas dermaga 600 GRT, kedalaman kolam
     pelabuhan 4 - 5 m LWS, pasca gempa dan tsunami hanya mengalami
     kerusakan ringan pada talud, saat ini Pelabuhan tersebut telah berfungsi
     kembali melayani rute penyeberangan Pulau Aceh - Banda Aceh dan Pulau
     Aceh - Balohan (Sabang).
4.   Pelabuhan Penyeberangan Meulaboh - Aceh Barat dibangun pada tahun 1981,
     kapasitas dermaga 500 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 4 m LWS, pasca
     gempa dan tsunami mengalami kerusakan berat (hancur total) baik pada
     fasilitas sisi darat maupun fasilitas sisi laut. Sampai dengan saat ini belum
     dibangun kembali.
5.   Pelabuhan Penyeberangan Labuhan Haji - Aceh Selatan dibangun pada tahun
     1992, kapasitas dermaga 1.500 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 6 m LWS,
     pasca gempa dan tsunami masih bisa berfungsi meskipun mengalami
     kerusakan ringan pada fasilitas darat (gedung terminal rusak ringan, talud
     causeway rusak ringan, pos tiket rusak berat, pagar rusak total, lapangan
     parkir dan jalan lingkungan pelabuhan rusak berat) yang digunakan untuk
     penyeberangan Labuhan Haji - Sinabang Kabupaten Simeulue, pada saat ini
     telah beroperasi kembali secara normal.
6.   Pelabuhan Penyeberangan Sinabang dibangun pada tahun 1982, kapasitas
     dermaga 500 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 6 m LWS, pasca gempa dan
     tsunami tidak bisa berfungsi secara normal, banyak fasilitas yang mengalami
     kerusakan pada fasilitas darat (gedung terminal rusak total, lapangan parkir
     rusak berat, talud rusak berat, pagar rusak ringan, jalan pelabuhan rusak
     berat), catwalk & breasting dolphin rusak berat (sisi laut), sehingga diperlukan
     review design dan telah dilakukan feasibility study untuk relokasi ke lokasi

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                     II-81
baru di lokasi Teluk Kolok sekitar ± 6 km dari kota Sinabang saat ini dalam
     tahap pelaksanaan.
7.   Pelabuhan Penyeberangan Singkil dibangun pada tahun 2002, kapasitas
     dermaga 600 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 5 m LWS, pasca gempa dan
     tsunami tidak bisa berfungsi secara normal. yang mengalami kerusakan pada
     fasilitas darat (Gedung terminal rusak berat, parkir rusak berat, Talud
     causeway-pagar rusak total, jalan rusak berat), catwalk-blok beton-breasting
     dan mooring dolphin rusak berat (sisi laut). Pasca gempa 28 Maret 2005 tidak
     layak untuk digunakan lagi sehingga perlu direlokasi ke tempat lain, sehingga
     diperlukan review design dan telah dilakukan feasibility study untuk relokasi
     ke lokasi baru di Pulau Sarok sekitar ± 200 m dari lokasi lama, namun sampai
     saat ini belum dibangun.
8.   Pulau Banyak - Aceh Singkil pelabuhan penyeberangan yang dibangun pada
     tahun 2002, kapasitas dermaga 600 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 5 m
     LWS, akibat gempa dan tsunami mengalami kerusakan terutama pada fasilitas
     darat (Gedung terminal rusak ringan, Talud causeway rusak berat, pos tiket
     rusak berat, jalan lingkungan pelabuhan rusak ringan). Pelabuhan yang
     melayani penyeberangan rute Pulau Banyak - Singkil dan Pulau Banyak -
     Sinabang (Simeulue) saat ini telah beroperasi kembali secara normal.


2.6.3.2    Angkutan Jalan Rel (Prasarana Kereta Api Aceh)

       Angkutan dengan menggunakan sarana kereta api pernah beroperasi di
Aceh    menyusuri pantai Timur - Utara dari Banda Aceh ke Sumatera Utara,
operasional ini terhenti sejak 1974. Pemerintah Aceh saat ini telah berupaya untuk
menghidupkan kembali prasarana kereta api Aceh dengan membangun jalan rel
mulai Banda Aceh sampai menyambung dengan Sumatra Utara. Standarisasi rel
yang digunakan kelas I dengan lebar spoor 1.435 mm dengan kecepatan rencana
120 Km/ jam dan radius lengkung minimum 800 m, tekanan gandar maksimum 18
ton. Panjang total keseluruhan dari Banda Aceh - Medan 586 km (484 km berada
di Pemerintah Aceh).


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                   II-82
Dalam perencanaan ini ditetapkan adanya keterpaduan antarmoda rel
dengan angkutan laut, jalan rel yang di bangun akan menghubungkan pelabuhan
Kuala Langsa dan pelabuhan Krueng Geukeuh. Untuk lintasan baru yang dibangun
bila membutuhkan lahan maka tanggung jawab pembiayaan pembebasan lahan
adalah 25% masing-masing ditanggung oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota yang dilintasi serta sisanya oleh pemerintah pusat.
      Survey/studi kelayakan telah dilakukan oleh konsultan SNCF dari Perancis,
hasil studi tersebut sudah ditindaklanjuti dengan detail engenering design (DED).
Sesuai dengan rencana, pembangunan fisik dimulai secara bertahap mulai tahun
2007. Sampai dengan tahun 2008 rel kereta api baru terbangun sepanjang + 22
km mulai dari Simpang Krueng Mane hingga Cunda, tahun 2009 pelaksanaan
pembangunan lebih dititikberatkan pada fasilitas pendukung dan pelengkap
lainnya, diharapkan pada akhir tahun 2010 dapat dioperasionalkan.


2.6.3.3    Transportasi Laut

     Aceh sebagian besar wilayahnya berbatasan dengan perairan maka
transportasi laut memegang peranan penting dalam rangka peningkatan
perekonomian. Pada saat ini Aceh memiliki 10 Pelabuhan Laut/ Samudera baik
dengan status diusahakan maupun tidak diusahakan, terdapat 4 (empat)
Pelabuhan Laut yang diusahakan/dikelola oleh PT. Pelindo-I yaitu: di pantai Timur
terdapat, Pelabuhan Malahayati - Aceh Besar, Pelabuhan Krueng Geukueh -
Lhokseumawe        dan Pelabuhan Kuala Langsa - Langsa dan di pantai barat
Pelabuhan Umum Meulaboh - Aceh Barat.
     Pelabuhan Laut yang tidak diusahakan/dikelola oleh administrasi pelayaran
(adpel), kantor pelayaran (kanpel), Departemen perhubungan (Dephub) adalah
Pelabuhan Calang, Pelabuhan Susoh, Pelabuhan Tapaktuan, Pelabuhan Sinabang
dan Pelabuhan Singkil. Sedangkan pelabuhan bebas Sabang di kelola oleh
Pemerintah Aceh.
     Gambaran       umum      terhadap     kondisi   eksisting   beberapa   infrastruktur
pelabuhan laut sebagai berikut:


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         II-83
1.   Pelabuhan Sabang yang dibangun kembali pada tahun 1991, kapasitas sandar
     10.000 DWT, dermaga (180 x 25) m, kedalaman kolam pelabuhan melebihi
     15 m LWS, pasca gempa dan tsunami masih bisa berfungsi secara normal,
     namun masih ada beberapa fasilitas yang mengalami kerusakan seperti pagar
     dan gudang. Diharapkan untuk masa yang akan datang Pelabuhan Sabang
     menjadi Hub Internasional untuk Indonesia wilayah barat. Saat ini dengan
     menggunakan dana APBN melalui BPKS sedang diperluas dermaga dengan
     menutup bagian kolam antar trestle sehingga bisa lebih memudahkan
     operasional bongkar muat kontainer.
2.   Pelabuhan Malahayati - Aceh Besar dibangun kembali pada tahun 1976,
     kapasitas sandar 5.000 DWT, dermaga (100 x 15) m, kedalaman kolam 6 m
     LWS, pasca gempa dan tsunami masih bisa berfungsi meskipun tidak normal,
     terdapat fasilitas yang mengalami kerusakan berat yaitu gedung terminal,
     gudang tertutup, kantor operasional, pagar hancur total dan lapangan
     penumpukan. Pembanguan kembali fasilitas yang rusak telah dilakukan oleh
     pemerintah pusat dan Pemerintah Belanda berupa trestle pelabuhan tersebut
     sepanjang (140 x 25) m dan fasilitas lainnya.
3.   Pelabuhan Calang - Aceh Jaya dibangun kembali pada tahun 1977,
     kedalaman kolam pelabuhan di teluk Calang cukup memungkinkan dibangun
     suatu pelabuhan laut yang besar dan mampu disandari oleh kapal dengan
     bobot mati diatas 10.000 DWT. Pelabuhan Calang direncanakan menjadi
     pelabuhan besar yang representatif untuk pantai Barat - Selatan Aceh. DED
     untuk pelabuhan ini telah selesai dibuat dengan bantuan dana dari UNDP.
     Target sampai dengan desember 2010 adalah selesainya pembuatan dermaga
     untuk sandar kapal penumpang ro-ro, sedangkan untuk pembuatan dermaga
     kapal barang akan dikerjakan pada tahun 2011.
4.   Pelabuhan Meulaboh memiliki dermaga beton 50 M X 8 M, kedalaman kolam
     pelabuhan 2 - 4 m LWS, dan hanya dapat disandari oleh kapal sampai 2.000
     DWT. Pasca Tsunami kedalaman kolam semakin dangkal dan beberapa tiang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012               II-84
penyangga dermaga yang patah, sehingga belum bisa disandari oleh kapal
     karena kolam pelabuhan yang terlalu dangkal. Kapal besar yang akan masuk
     ke pelabuhan terpaksa lego jangkar di lepas pantai Meulaboh jauh dari
     dermaga pelabuhan laut yang ada sekarang. Saat ini palang merah singapura
     telah selesai membangun sebuah pelabuhan laut di lokasi baru dengan
     panjang 92 M x 25 M, dan sudah dioperasionalkan. Namun demikian masih
     banyak fasilitas penunjang operasional lainnya yang belum tersedia seperti
     instalasi listrik, air bersih, gedung operasional, gudang, lapangan penumpukan
     dan lain-lain.
5.   Pelabuhan Susoh - Aceh Barat Daya dibangun tahun 2004 termasuk
     pelabuhan laut dengan status tidak diusahakan, memiliki dermaga finger
     beton 35 m x 10 m, kedalaman kolam pelabuhan 4-6 m LWS. Pasca tsunami
     kondisi dermaga masih baik, hanya talud dan gedung kantor pelabuhan dan
     gudang mengalami rusak ringan. Pelabuhan ini merupakan satu-satunya pintu
     masuk jalur laut yang ada di Kabupaten Aceh Barat Daya.
6.   Pelabuhan     Sinabang-Simeulue       dibangun     tahun     1997,     dermaga      beton
     (70 x 8) m, kedalaman kolam 6 - 8 m LWS, mampu disandari oleh kapal 5.000
     DWT. Pasca gempa dan tsunami sarana dan prasarana pelabuhan mengalami
     rusak berat seperti trestel kapal cepat (dermaga lama) hancur/runtuh. Melalui
     BRR Aceh-Nias telah dilakukan perbaikan, namun pada saat gempa bumi pada
     bulan April 2010 kembali terjadi kerusakan pada sisi darat sehingga pelabuhan
     tidak bisa berfungsi secara normal dan masih perlu dilakukan perbaikan.
7.   Pelabuhan Tapaktuan dibangun tahun 1992 termasuk pelabuhan dengan
     status tidak diusahakan, memiliki dermaga beton (50 x 8) m, kedalaman
     kolam pelabuhan 6-7 m LWS. Dermaganya mampu disandari oleh kapal
     dengan bobot mati           3.000 DWT. Pasca tsunami pelabuhan Tapaktuan
     mengalami        rusak   ringan   sehingga    perlu     dilakukan    rehabilitasi   untuk
     mengembalikan kepada fungsi normal dalam melayani transportasi laut di
     daerah ini dan masih banyak fasilitas penunjang yang perlu dibenahi.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                               II-85
Operasional pelabuhan masih bisa berjalan meskipun tidak begitu normal.
     Telah   dilakukan     rehabilitasi   dan    rekonstruksi   pelabuhan   ini   dengan
     membangun dermaga tambahan dan beberapa fasilitas penunjang operasional
     lainnya seperti gudang, kantor operasional, lapangan penumpukan dan lain-
     lain dan telah dapat difungsikan untuk melayani kapal dengan bobot mati
     sampai 5.000 DWT.
8.   Pelabuhan Singkil - Aceh Singkil dibangun tahun 1995, dermaga beton
     (50 x 8) m, kedalaman kolam 4 - 6 m LWS, mampu disandari oleh kapal 4.000
     DWT. Kerusakan yang terjadi akibat gempa dan tsunami tanggal 26 Desember
     2004 tergolong tidak terlalu berat, namun musibah gempa tanggal 28 Maret
     2005 sebesar 8,2 SR mengakibatkan kerusakan yang cukup signifikan, kondisi
     permukaan tanah umumnya di Singkil mengalami penurunan 1 - 1,5 m,
     sehingga pelabuhan terendam dengan air seperti jalan masuk, kantor
     operasional dan gudang tertutup. Untuk itu diperlukan penanganan segera
     terhadap fasilitas yang rusak agar berfungsi kembali. Perbaikan jalan masuk
     menuju pelabuhan sepanjang ±700 m telah dilakukan melalui dana BRR.
     Untuk rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas sisi laut dan sisi darat pelabuhan
     laut, akan dilakukan dengan mengacu kepada hasil study berupa Review
     Desain pelabuhan ini yang telah selesai dilaksanakan pada tahun 2006.
9.   Pelabuhan Krueng Geukueh-Lhokseumawe dibangun tahun 1986 termasuk
     pelabuhan dengan status diusahakan, memiliki dermaga beton (268 x 25) m,
     kedalaman kolam pelabuhan 10 m LWS dan mampu disandari oleh kapal
     dengan bobot mati 20.000 DWT. Pasca tsunami pelabuhan Lhokseumawe
     mengalami rusak ringan dan telah dilakukan rehabilitasi dan masih ada
     fasilitas penunjang yang perlu dibenahi. Pelabuhan ini menjadi pintu masuk
     untuk pantai timur Aceh.
10. Pelabuhan Kuala Langsa-Kota Langsa dibangun tahun 1987 termasuk
     pelabuhan dengan status diusahakan oleh PT. Pelindo I, memiliki dermaga
     beton (75 x 15) m, kedalaman kolam pelabuhan 7 m LWS mampu disandari


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         II-86
oleh kapal dengan bobot mati 6.000 DWT. Pasca tsunami pelabuhan Kuala
    Langsa     relatif   tidak    mengalami      kerusakan   yang   berarti   sehingga
    operasionalnya masih bisa berjalan secara normal. Namun masih banyak
    fasilitas penunjang yang perlu dibenahi. Pelabuhan ini dipersiapkan untuk
    menjadi pelabuhan dengan skala regional dan menjadi salah satu pintu masuk
    untuk pantai Timur Aceh.

     Selain pelabuhan laut baik yang diusahakan dan tidak diusahakan, di Aceh
juga terdapat beberapa Pelabuhan Rakyat (Pelra) yang umumnya mengalami
kerusakan baik ringan maupun berat dan hancur total seperti Pelra Kuala Bakti
yang perlu dilakukan review design, sedangkan yang rusak ringan dan rusak berat
perlu dilakukan rehabilitasi segera supaya bisa kembali berfungsi secara normal
untuk melayani transportasi masyarakat khususnya pasca musibah gempa dan
tsunami. Diantara pelabuhan rakyat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pelabuhan Rakyat Pulau Banyak-Aceh Singkil
2. Pelabuhan Rakyat Kuala Idi-Aceh Timur
3. Pelabuhan Rakyat Kuala Tari-Pidie
4. Pelabuhan Rakyat Kuala Bakti-Simeulue
5. Pelabuhan Rakyat Sibigo-Simeulue
6. Pelabuhan Rakyat Sibadeh-Aceh Selatan

     Untuk kelancaran transportasi laut diharapkan semua sarana dan prasarana
telah dibangun/dikembangkan untuk semua pelabuhan baik pelabuhan laut
maupun pelabuhan rakyat (pelra). Terbangunnya fasilitas untuk sisi darat seperti
gedung terminal, kantor operasional, peralatan bongkar muat, dan sebagainya.
Demikian juga untuk fasilitas sisi laut seperti dermaga, trestle, fasilitas navigasi
(fasilitas keselamatan pelayaran seperti rambu suar dll) juga harus sudah
memadai sesuai dengan hirarki dan master plan yang sedang dibuat saat ini.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       II-87
2.6.3.4    Transportasi Udara

     Fasilitas pelayanan transportasi udara tersebar di beberapa lokasi di wilayah
Aceh baik bandara umum (komersil dan perintis) maupun bandara khusus sebagai
berikut:
a. Bandara      umum/perintis,      yaitu    bandara     yang   melayani   penerbangan
   umum/perintis, seperti Bandara Sultan Iskandar Muda - Banda Aceh (bandara
   komersil), Bandara Malikussaleh - Lhokseumawe (statusnya juga masih sebagai
   bandara khusus yang dikelola oleh PT. Arun LNG meskipun saat ini juga sudah
   mulai digunakan untuk komersil/umum/perintis), Bandara Lasikin - Sinabang,
   Bandara Cut Nyak Dhien - Meulaboh, Bandara Maimun Saleh - Sabang,
   Bandara T. Cut Ali - Tapaktuan, Bandara Kuala Batu - Blang Pidie, Bandara
   Alas Leuser - Kutacane.
b. Bandar Udara Khusus yakni di Lhoksukon Bandara Point “A“ dengan kapasitas
   CN 235 yang dikelola oleh Exxon Mobile Oil.

     Gambaran umum terhadap kondisi eksisting beberapa infrastruktur bandara
adalah sebagai berikut:
1. Bandara Sultan Iskandar Muda - Banda Aceh mulai beroperasi pada tahun
   1952, jarak dari pusat kota Banda Aceh ± 16 km, runway (2.500 x 45) m, saat
   ini mampu didarati oleh pesawat berbadan lebar jenis B-737 dan A-330.
   Bandara ini melayani penerbangan nasional dan internasional juga berfungsi
   sebagai pangkalan TNI-AU (Lanud) Iskandar Muda. Kondisi saat ini bandara
   SIM melayani sekitar 16 kali fligt (landing dan take off) setiap hari oleh
   maskapai penerbangan nasional dan internasional.
2. Bandara Maimun Saleh – Kota Sabang, jarak dari pusat kota Sabang ± 7 km,
   runway (1.850 x 30) m, saat ini mampu didarati oleh pesawat dengan jenis
   F-28. Bandara ini menjadi entry point transportasi udara untuk Pulau Weh
   (Sabang). Melayani penerbangan perintis dan logistik Pangkalan TNI-AU
   (Lanud) Maimun Saleh serta operasional logistik pasca tsunami. Bandara ini
   dipersiapkan menjadi bandara internasional terbatas.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       II-88
3. Bandara Cut Nyak Dhien – Kabupaten Nagan Raya runway (1.400 x 30) m,
   saat ini mampu di darati oleh pesawat dengan jenis Cassa 212 dan F-27.
   Bandara ini menjadi entry point transportasi udara untuk wilayah pantai Barat
   Aceh, melayani penerbangan perintis dan logistik TNI AU serta operasional
   bantuan logistik pasca tsunami. Pada saat ini telah selesai dilakukan rehabilitasi
   dan rekonstruksi bandara dan sudah dioperasionalkan.
4. Bandara Kuala Batee - Kabupaten Abdya, jarak dari pusat kota Blang Pidie ±
   15 km, runway (800 x 23) m, saat ini mampu didarati oleh pesawat dengan
   jenis Cassa 212. Saat ini bandara ini sudah melayani kembali penerbangan
   perintis rute Banda Aceh - Blang Pidie - Tapaktuan - Medan (PP).
5. Bandara T. Cut Ali - Tapaktuan, beroperasi pada tahun 1976, jarak dari pusat
   kota Tapaktuan ± 21 km, runway (750 x 23) m, saat ini mampu didarati oleh
   pesawat dengan jenis Cassa 212 / Dash-7. Saat ini selain melayani
   penerbangan perintis rute Banda Aceh - Blang Pidie - Tapaktuan - Medan (PP),
   juga telah melayani penerbangan komersial yang dilakukan oleh maskapai
   penerbangan Wings Air.
6. Bandara Lasikin - Sinabang, beroperasi pada tahun 1978, jarak dari pusat kota
   Sinabang ± 11 km, runway (900 x 23) m, saat ini mampu didarati oleh
   pesawat dengan jenis Cassa 212/Dash-7 dan jenis F-28 Pada saat ini telah
   diselesaikan rehabilitasi dan rekonstruksi termasuk pengembangan runway
   menjadi (1.200 x 23) m dan telah beroperasi secara lebih maksimal dengan
   tetap malayani penerbangan perintis dengan rute Sinabang – Medan –
   Meulaboh B. Aceh.
7. Bandara Malikussaleh - Lhokseumawe, beroperasi pada tahun 1985, jarak dari
   pusat kota Lhokseumawe ± 35 km, runway (1.850 x 30) m, saat ini mampu
   didarati oleh pesawat dengan jenis F-28 dan B-737 seri 200 (terbatas). sampai
   saat ini tetap melayani penerbangan khusus PT. Arun LNG dan komersil
   dengan rute Medan - Lhokseumawe.
8. Bandara Rembele - Takengon, jarak dari pusat kota Takengon ± 20 km,
   runway (1.200 x 30) m, mampu didarati oleh pesawat dengan jenis F-27,



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                     II-89
Cassa 212 dan Dash 7. Sampai saat ini tetap melayani penerbangan perintis
   dengan rute Medan - Takengon - Banda Aceh.
9. Bandara Syekh Hamzah Fansyuri - Singkil, jarak dari pusat kota Singkil ± 22
   km, runway yang direncanakan (800 x 23) m diperuntukkan untuk
   penerbangan perintis dengan jenis pesawat Cassa 212. Bandara baru ini
   diharapkan bisa menjadi pintu masuk transportasi udara untuk wilayah
   Kabupaten Aceh Singkil dalam rangka pengembangan wilayah yang memiliki
   potensi SDA yang cukup banyak seperti hasil hutan, perkebunan sawit, dan
   lain-lain.
10. Bandara Alas Leuser - Kutacane, jarak dari Kutacane           ± 20 km, memiliki
   runway (1.200 x 30) m yang dibangun dengan bantuan dana Uni Eropa dan
   APBA Pemerintah Aceh untuk fasilitas sisi darat lainnya, memiliki kapasitas CN -
   212 dan Fokker 50, saat ini melayani penerbangan perintis dengan rute Banda
   Aceh - Kutacane - Medan.


2.6.3.5    Pos dan Telekomunikasi

     Bidang Pos dan Telekomunikasi merupakan salah satu Bidang yang bernaung
dibawah Dinas Perhubungan Komunikasi, Informasi dan Telematika Aceh dengan
tugas utama melaksanakan pengawasan dan pengendalian serta evaluasi kegiatan
usaha jasa pos dan jasa telekomunikasi serta pembinaan terhadap organisasi yang
bergerak dibidang komunikasi radio.
     Pelayanan Pos di Aceh telah menjangkau ke seluruh kabupaten/kota sampai
dengan ke pelosok desa, hal ini ditunjang oleh sebanyak 102 unit kantor pos
didukung oleh 31 unit pelayanan pos bergerak keliling kota, 66 unit pelayanan pos
bergerak keliling desa dan 93 unit pelayanan pos non kantor lainnya serta
didukung oleh usaha jasa swasta yang bergerak dibidang perposan yakni usaha
jasa titipan yang berjumlah 49 unit baik yang bersifat lokal, nasional dan
internasional dan tersebar di seluruh Kabupaten/Kota.
     Demikian pula halnya dengan jasa telekomunikasi, kondisi saat ini
masyarakat      disuguhkan     oleh   berbagai     kemudahan   pelayanan   di   bidang
telekomunikasi dengan kehadiran berbagai operator telekomunikasi yang semakin

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       II-90
banyak dengan tarif yang bersaing dan mampu memberi kemudahan dalam
berkomunikasi. Sampai akhir tahun 2009 Operator Telekomunikasi yang sudah
mempunyai izin beroperasi di Aceh sejumlah 6 (enam) perusahaan yaitu PT.
Telkomsel, PT. Excecomindo Pratama, Kandatel Aceh, PT. Gallery Smart Telecom
BNA, PT. Indosat dan PT. Huchison Cp. Telkom BNA.
     Untuk pelayanan dibidang telekomunikasi baik fixed telepon maupun selular
telepon telah menjangkau keseluruh Kabupaten/Kota dalam wilayah Aceh.
Kapasitas terpakai untuk fixed telepon telah mencapai 88.766 SST (Satuan
Sambungan Telepon), persentase keberhasilan panggil sebesar 75,64 persen serta
didukung oleh 881 unit warung telekomunikasi. Sedangkan untuk telepon selular
terjadi persaingan yang sehat antar sesama operator telepon selular dalam
pengembangan area layanan, hal ini ditandai dengan menjamurnya pembangunan
Tower Base Transceiver Stasion di Aceh. Pada akhir tahun 2010 akan terbangun
tower pada 13 titik yang tersebar pada 4 Kabupaten/Kota, yaitu Kota Sabang,
Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Jaya. Tower
Telekomunikasi yang akan dibangun sejumlah 56 titik dan tersebar di seluruh
Aceh dengan ketinggian 80 m, 90 m dan 100 m dan dapat difungsikan sebagai
Tower Bersama.
     Meskipun demikian, masih banyak daerah-daerah pedesaan yang belum
menikmati fasilitas telekomunikasi, hal ini merupakan tanggung jawab dari
pemerintah pusat dengan program USO (Universal Service Obligation) dan tidak
tertutup   kemungkinan       pemerintah      daerah    berpeluang   untuk   memperluas
pelayanan dibidang telekomunikasi dengan cara kerja sama operasi (KSO) dengan
operator yang telah ada atau membangun jaringan telekomunikasi tersendiri yang
diusahakan oleh suatu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
     Disamping itu terdapat organisasi pengguna frekuensi radio yang menjadi
binaan Dinas Perhubungan Aceh yaitu RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia)
yang sampai dengan saat ini telah beranggotakan sebanyak 1.036 orang dan
ORARI (Organisasi Radio Amatir Indonesia) sebanyak 652 orang. Penggunaan
frekuensi radio oleh organisasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
dalam menanggulangi keadaan darurat dan bencana alam. Setiap anggota

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       II-91
organisasi berkewajiban memberikan prioritas pengiriman dan penyampaian
informasinya kepada Dinas Perhubungan Aceh sehingga diharapkan para
pengambil keputusan dapat mengetahui adanya musibah dan dapat mengambil
tindakan yang diperlukan dengan cepat dan akurat.
     Pelayanan penggunaan frekuensi radio merupakan pelayanan publik tidak
seluruhnya dikelola secara sentral, regulasinya ditetapkan secara nasional namun
pengelolaannya dapat diatur secara bertingkat sesuai ruang lingkup jangkauan
pelayanannya diharapkan dapat meningkatkan sumber Pendapatan Asli Daerah
(PAD). Hal ini harus didukung oleh regulasi yang tegas, sumber daya manusia
yang handal serta sarana dan prasarana yang memadai sebagaimana yang
diamanatkan      dalam     Undang-Undang         Nomor       11    Tahun   2006   Tentang
Pemerintahan Aceh khususnya dibidang komunikasi dan informasi.


2.6.3.6      Komunikasi, Informasi dan Telematika

     Pembangunan bidang Komunikasi, Informasi dan Telematika meliputi
pembangunan dan pengembangan Sistim Informasi Manajemen Daerah (SIMDA),
penyediaan infrastruktur,       penyediaan dan pengelolaan data serta melakukan
pembinaan terhadap sumber daya aparatur di bidang teknologi komunikasi dan
informasi.
     Berdasarkan kebijakan, program dan kegiatan yang dilaksanakan, indikator
kinerja yang telah dihasilkan dapat digambarkan sebagai berikut:
1.   Adanya Pengembangan dan Pembinaan terhadap penyiaran daerah untuk
     menertibkan siaran Media Radio dan Televisi yang berkualitas;
2.   Membangun fasilitas-fasilitas Media Center untuk mendukung penyebaran
     informasi secara cepat dan akurat terhadap seluruh masayarkat;
3.   Pembangunan dan pengembangan infrastruktur                   jaringan komunikasi data
     dan informasi yang telah tersedia berupa                Bandwidth untuk kebutuhan
     Dinas/Badan/Lembaga Daerah dengan kapasitas 20 Mbps yang terdiri dari 15
     Mbps untuk download dan 5 Mbps Upload;
4.   Untuk Jaringan 23 Kabupaten/kota bandwith yang disediakan sebesar 3 Mbps
     Simetris termasuk di dalamnya untuk bandwith transforder SCPS 7.936 Kbps
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                           II-92
dan BVP 7963 Kbps. Semua SKPA dan 23 kabupaten memiliki server masing-
     masing dan saling terkoneksi;
5.   Dalam     kaitan    ini   juga   sudah    dilakukan      pengembangan   Infrastruktur
     Telematika berupa jaringan interkoneksi Pemerintah Aceh telah dikembangkan
     pada perangkat kerja di Pemerintah Aceh, yaitu pada 17 (tujuh belas) Dinas,
     19 (Sembilan belas) Badan) dan 1 (satu) Lembaga;
6.   Di    samping      itu    Pemerintah     Aceh    merencanakan    akan    membangun
     Telekomunikasi Aceh          (TELCO) menggunakan Teknologi BWA,                dimana
     pembangunannya akan dilakukan secara bertahap selama 5 tahun dan
     diharapkan selesai pada tahun 2015;
7.   Untuk mendukung penerapan sistem informasi manajemen pemerintah daerah
     telah dibangun sejumlah infrastruktur (perangkat keras) dan aplikasi sistem
     informasi (perangkat lunak) pengolah data untuk Dinas/Badan/Lembaga
     Daerah, namun belum terpenuhi seluruhnya dan terhadap aplikasi yang telah
     selesai dibangun;
8.   Database yang telah selesai dibangun meliputi database kepegawaian, sarana
     dan prasarana umum pemerintahan, korban konflik, korban tsunami,
     pertambangan dan energi, kesehatan, pendidikan, anak yatim, perikanan,
     pimpinan pemerintahan, diklat aparatur, koperasi dan UKM, pariwisata dan
     database sms Center Gubernur;
9.   Pembangunan         dan     Pengembangan        portal   pemerintah   daerah   adalah
     penyediaan situs www.bappeda.provaceh.go.id               sebagai media penyebaran
     informasi Pemerintah Provinsi Aceh melalui internet dan kegiatan ini telah
     diselenggarakan kembali mulai pasca tsunami;
10. Untuk ketersediaan data di dalam database dan portal www.nad.go.id telah
     dilaksanakan kegiatan pengumpulan data, verifikasi data, updating dan
     backup data.
11. Gambaran umum kondisi eksisting terkait dengan sumber daya aparatur
     adalah sebagai berikut:
     - PNS Tenaga Teknis di bidang ICT Pemerintah Aceh dengan latar belakang
          pendidikan Teknologi Komputer, khususnya pada Dinas Perhubungan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                           II-93
Komunikasi Informasi & Telematika          (Dishubkomintel)   yang mempunyai
        fungsi tugas serta kewenangan menjalankan Telematika Pemerintah Aceh
        sebanyak 16 orang dengan berbagai bidang keahlian (programmer,
        operator jaringan, design grafis, master web, pengelola sistim informasi)
        belum termasuk PNS Tenaga teknis Komputer yang berada pada SKPA lain;
    - Menjalin hubungan dengan out resourching (UNSYIAH, KPLI, Yayasan Air
        Putih & Komunitas IT lainnya);
    - Melakukan pengiriman PNS Tenaga Teknis Komputer untuk mengikuti
        pendidikan dan pelatihan di Luar Daerah dalam bidang teknologi Informasi
        & komunikasi;
12. Pembinaan dan pengembangan sumber daya aparatur bidang teknologi
    komunikasi dan informasi telah dilaksanakan Bimbingan Teknis, Workshop dan
    sosialisasi serta proses alih teknologi informasi lainnya yang dilaksanakan
    pada saat pengembangan sistem infromasi kepada egawai negeri sipil baik di
    lingkungan Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota.

     Diharapkan pada masa yang akan datang dapat terlaksananya penerapan
e-Government, tersedianya database pada masing-masing Dinas/Badan/Lembaga
Daerah, tersedianya sumberdaya aparatur yang handal dibidang teknologi
komunikasi dan informasi serta tersedianya infrastruktur telematika daerah.



2.6.4 Lingkungan Hidup

     Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang tidak terkendali
dapat    menimbulkan       kecendrungan      pemanfaatan     sumberdaya   alam   yang
berlebihan (over exploitation), sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan dan
penurunan kualitas daya dukung lingkungan. Keluhan masyarakat yang menuntut
perbaikan kualitas lingkungan ditujukan kepada Pemerintah Daerah sehingga
program kegiatan pengelolaan lingkungan melalui koordinasi pemantauan,
pengawasan dan upaya pemulihan kualitas dan fungsi lingkungan mutlak
diperlukan.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       II-94
Kondisi lingkungan semakin terpuruk akibat eksploitasi sumber daya alam
hutan secara besar-besaran tanpa diimbangi dengan kegiatan rehabilitasi atau
pemulihan fungsi hutan secara proporsional, begitu juga akibat kegiatan
penambangan galian C yang tidak terkendali menyebabkan kerusakan daerah
aliran sungai yang berdampak hancurnya infrastruktur pendukung ekonomi.
Secara rinci dapat dilihat pada tabel II.31.
                                       Tabel II.31
                   Kerusakan Lingkungan di Pemerintah Aceh

             No.             Ekosistem                       Luas Dampak
              1.    Terumbu Karang                                97.250 Ha
              2.    Manggrove                                     25.000 Ha
              3.    Padang Lamun                                     600 Ha
              4.    Muara Sungai                                     7,5 Km
              5.    Sumber air                                  1000 sumur
              6.    Hutan                                         48.925 Ha
              7.    Restorasi pantai                                300 Km
              8.    Kehilangan lahan                             53.735 titik
               Sumber : CGI (2005)

     Kegiatan pemantauan, pengawasan dan upaya pemulihan perlu dilakukan
pengkajian/penelitian     lebih lanjut terhadap dampak dari kerusakan yang
diakibatkan oleh limbah tsunami, pencemaran udara yang terjadi akibat aktivitas
rehabilitasi dan rekonstruksi (debu, polusi kendaraan). Selanjutnya permasalahan
krusial yang sering muncul dalam pengelolaan lingkungan hidup antara lain:
perubahan iklim, perambahan kawasan hutan, iIllegal logging, illegal mining,
kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), pencemaran air dan udara, serta kerusakan
kawasan pesisir.
     Alih fungsi lahan berupa perubahan fungsi lahan dari lahan pertanian ke
pemukiman, dari lahan konservasi ke kawasan budidaya ditemukan di beberapa
Kabupaten/Kota seperti di Aceh Besar, Aceh Utara, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Barat,
Nagan Raya, Aceh Selatan, Subulussalam, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Gayo
Lues,   Aceh Timur, dan Tamiang membuat lingkungan menjadi rentan terhadap
ancaman banjir, erosi dan tanah longsor.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                      II-95
Pada saat ini, terdapat 1.626.800 ha lahan kritis dimana 788.600 ha berada
di dalam kawasan hutan (14.7 persen dari total wilayah hutan) dan 738.200 ha
berada di luar kawasan hutan (13.7 persen total wilayah hutan). Menurut
peruntukan lahan seluas 232.902,35 ha (4,24 persen) lahan diklasifikasikan
sebagai lahan kritis. Lahan kritis tersebut terdiri dari padang rumput/ilalang seluas
223.985 ha (3,91 persen), tanah terbuka (tandus, rusak, pembukaan lahan) seluas
18.574,35 ha dan lahan pertambangan 443 ha (0,01 persen). Lahan kritis tersebut
berpotensi mengakibatkan erosi dan sedimentasi di sekitar DAS.

2.6.5 Pertanahan

     Tanah merupakan salah satu asset masyarakat yang sangat berharga dan
perlu mendapatkan jaminan hukum melalui sertifikasi, Pemerintah Aceh sesuai
dengan     Undang-undang       Nomor      11   tahun    2006   mengamanatkan       Badan
Pertanahan Nasional menjadi Badan Otonomi Daerah. Hal ini sangat diharapkan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan pengsertifikatan lahan sebagai salah satu
modal usaha bagi masyarakat. Sampai saat ini sertifikasi yang sudah diserahkan
kepada masyarakat         diperkirakan sebanyak 68.855         sertifikat   baik   melalui
APBA/APBN dan BRR.
     Selain itu inventarisasi lahan dan registrasi penguasaan kepemilikan,
penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T), penataan pulau-pulau kecil terluar
diperbatasan. Di masa yang akan datang Badan Pertanahan menjadi Badan
Otonomi di daerah baik provinsi maupun kabupaten.



2.6.6 Energi dan Sumber Daya Mineral

     Pelayanan listrik Aceh dilakukan oleh PT. PLN, Pemerintah Aceh hanya
memfokuskan melakukan usaha pelayanan pada daerah-daerah terpencil yang
belum terjangkau oleh PT PLN. Kondisi ketenagalistrikan di Aceh                     dapat
digambarkan sebagai berikut :
1.   Kebutuhan energi listrik untuk Aceh saat ini di suplai dari beberapa sistem
     dengan porsi, yaitu:


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                           II-96
a. Sistem Transmisi 150 kV Sumut-Aceh sebesar 70,12 persen
          b. PLTD Isolated sebesar 26,62 persen
          c. Sistem Distribusi 20 kV dari wilayah Sumut sebesar 3,26 persen.
          d. PLTMH Isolated sebesar 0,75 persen.
          Kondisi kelistrikan yang tersambung dalam sistem 150 kV Sumut-Aceh masih
          mengalami defisit. Untuk mengatasi defisit tersebut sering harus dilakukan
          penurunan tegangan (brown out) dan dalam kondisi tertentu terpaksa
          dilakukan pemadaman bergilir.
          Daerah isolated yang masih mengalami defisit adalah daerah Aceh Tengah,
          dan Aceh Singkil. Untuk mengatasi defisit pada kedua daerah tersebut
          dilakukan dengan memanfaatkan suplai 20 kV dari Gardu Induk yang
          terdekat.
2.        Kapasitas terpasang, pembangkit di Aceh saat ini sebesar 146,5 MW dengan
          daya mampu rata-rata 98 MW. Sebagian dari pembangkit tersebut merupakan
          isolated murni dan sebagian lagi tersambung ke sistem transmisi 150 kV
          melalui jaringan distribusi 20 kV. Pembangkit tersebut sebagian besar (99
          persen) adalah jenis PLTD dengan menggunakan bahan bakar minyak (BBM).
          Gambaran daya mampu dan daya terpasang pembangkit tertera pada tabel
          II.32.
                                     Tabel II.32
                   Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit
                               Wilayah Aceh Tahun 2008

                                                          DAYA             DAYA
     NO.              SYSTEM              JENIS         TERPASANG         MAMPU
                                                           (MW)            (MW)
     I.      GRID 150 Kv *                                      28.7           21.9
           1 Sistem Sumut-Aceh         PLTD                     15.1           14.0
           2 Sistem Sigli              PLTD                     13.6            7.9

     II.       SISTEM ISOLATED                                   114.2         73.3
           1   Sistem Sabang           PLTD                        8.1          4.2
           2   Sistem Takengon         PLTD                       12.8          8.3
           3   Sistem Meulaboh         PLTD                       34.1         21.6
               - Sewa Genset/rental    PLTD                        6.8          4.8
           4   Sistem Sinabang         PLTD                        5.4          3.8


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                      II-97
5 Sistem Blang Pidie           PLTD                    13.7            7.4
        6 Sistem Tapaktuan             PLTD                     7.0            5.3
        7 Sistem Kutacane              PLTD                     9.1            6.2
          - PLTM Seupakat              PLTM                     1.9            1.6
        8 Sistem Blangkejeren          PLTD                     5.4            3.7
        9 Sistem Subulussalam          PLTD                     9.9            6.4

            ISOLATED
     III.   TERSEBAR                                            3.6            2.8
            (Pulau Aceh, Pusong,       PLTD                     3.6            2.8
            Pulau Balai, Kuala Baru,
            Haloban)
                         TOTAL                                146.5           98.0
 Sumber : PLN (Persero) Wilayah Aceh


3.     Sistem distribusi saat ini, telah mampu mendistribusikan energi listrik sampai
       pelosok Aceh dengan rasio elektrifikasi sampai Desember 2008 sebesar 87,21
       persen. Kualitas tegangan jaringan distribusi untuk beberapa lokasi masih di
       bawah standar, hal ini disebabkan jaringan tegangan menengah (JTM) yang
       terpasang mencapai 165 km dari Pusat Pembangkit/Gardu Induk, sehingga
       tegangan pada sisi SUTM mencapai 16,5 kV dan pada sisi pelanggan
       mencapai 170 volt.
4.     Gardu Induk yang telah beroperasi sebanyak 7 (tujuh) unit berada di
       sepanjang pantai timur yang disuplai dari system Transmisi 150/20 kV Sumut-
       Aceh. Beban puncak total PLN wilayah Aceh pada tahun 2008 sebesar 255
       MW dengan produksi sebesar 1.365 GWh. 70 persen dari produksi tersebut
       diterima dari system intekoneksi 150 KVa Sumut-Aceh, komposisi beban
       puncak digambarkan pada tabel II.33.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                      II-98
Tabel II.33
                         Komposisi Beban Puncak pada Tahun 2008
                                           Produksi            DAYA
                                                                           Faktor Beban
        NO.        Sistem Interkoneksi                       TERPASANG
                                         [GWh]     [%]                         (%)
                                                                (MW)
        I.         GRID 150 Kv            1017.5      74.5         178.8          66.08
               1   Sistem Sumut-Aceh       553.3      40.5         104.7           60.3
               2   Sistem Banda Aceh       359.6      26.3          55.4           74.1
               3   Sistem Sigli            104.6       7.7          18.7           63.9

                   SISTEM
        II.        ISOLATED
               1   Sistem Sabang            17.6       1.3           2.9           69.4
               2   Sistem Takengon          48.3       3.5          14.1           39.1
               3   Sistem Meulaboh         104.5       7.6          23.0           51.8
               4   Sistem Blang Pidie       36.2       2.6           7.0           59.0
               5   Sistem Tapaktuan         26.7       2.0           4.8           63.4
               6   Sistem Sinabang          15.2       1.1           2.7           64.8
               7   Sistem Kutacane          40.2       2.9           8.6           53.3
               4   Sistem Blangkejeren      12.3       0.9           3.0           47.0
               5   Sistem Subulussalam      44.4       3.2           9.2           55.0

                   ISOLATED
        III.       TERSEBAR                    3       0.2           0.9           29.2
                     TOTAL                1365.9      100           255
       Sumber : PLN (Persero) Wilayah Aceh
5.   Penyaluran energi listrik dalam wilayah Aceh juga mengalami susut distribusi,
     kehilangan energi listrik pada saat penyaluran dari pembangkit ke pelanggan
     yang diakibatkan oleh berbagai faktor. Faktor penyebab susut distribusi
     tersebut antara lain:
     a. Faktor teknis adalah kehilangan energi listrik yang diakibatkan oleh kondisi
       peralatan yang digunakan.
     b. Faktor non teknis, diakibatkan dari kesalahan admisnistrasi dan pemakaian
       listrik secara illegal.
6.   SAIDI/SAIFI merupakan tolak ukur keandalan penyaluran energi listrik yang
     meliputi lama dan jumlah pemadaman rata-rata yang dirasakan oleh
     pengguna listrik dalam periode tertentu. Untuk tahun 2005, besarnya SAIDI
     mencapai 2.203,77 menit/pelanggan, sedangkan SAIFI 45 kali/pelanggan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                II-99
7.   Pelayanan listrik pada daerah terpencil yang belum terjangkau oleh PT.PLN
     dalam jangka pendek telah dilakukan beberapa upaya antara lain pemasangan
     Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro
     Hidro (PLTMH). Jumlah PLTS yang telah disebar pada 11 Kabupaten/Kota
     sampai akhir tahun 2004 berjumlah 880 buah (50-120 WP), namun kondisinya
     lebih dari 80 % telah mengalami kerusakan. PLTMH yang telah dibangun
     dibeberapa Kabupaten seperti Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh
     Utara dan Aceh Timur hampir seluruhnya telah mengalami kerusakan
     sehingga tidak dapat berfungsi lagi. Hal ini disebabkan oleh keadaan konflik
     sehingga lokasi di pedalaman tidak mungkin dijangkau untuk pemantauan.
       Penggunaan energi untuk pembangkitan tenaga listrik saat ini masih
bertumpu pada Bahan Bakar Minyak, kecuali sebagian kecil saja yang
memanfaatkan energi alternatif. Usaha pemanfatan sumber energi Non BBM
dalam skala besar seperti Power Plant Nagan Raya 2 x 100 MW sedang dalam
proses tender, PLTA Peusangan 2 x 43 MW dilanjutkan kembali pembangunannya
setelah beberapa tahun terhenti. PLTP Jaboi 1 x 50 MW, PLTP Seulawah Agam 1 x
180 MW dan PLTU Krueng Raya 1 x 100 MW sedang dalam tahap pembuatan
Feasibility Study.
     Sampai saat ini kegaiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain
Inventarisasi Lokasi Pengembangan Energi, Survey Pendahuluan Geothermal
Seulawah Agam, Penyusunan Rancangan Qanun Kelistrikan, Pembangunan PLTMH
untuk Pengembangan Listrik Pedesaan.
     Usaha pertambangan umum di Pemerintah Aceh dimulai pada tahun 1985
oleh PT. Rao Kencana sebagai pemegang Kuasa Pertambangan (KP) bahan galian
timah hitam Lokop Aceh Timur. Di susul PT. Samana Citra Agung sebagai
pemegang KP untuk bahan galian pasir besi di Lamapanah/Leungah Kecamatan
Seulimum Kabupaten Aceh Besar. Kemudian secara berturut-turut tampil investor
lainnya, yaitu PT. Ara Tutut sebagai pemegang KP bahan galian emas dan PT.
Bintang Purna Manggala sebagai pemegang KP Batubara yang keduanya berlokasi
di kabupaten Aceh Barat, sedangkan PT. Pulau Peunasi Mineral merupakan
pemegang KP bahan galian emas di Pulau Nasi Kabupaten Aceh Besar.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                II-100
Perizinan dalam bentuk Kontrak Karya (KK) mulai beroperasi di Aceh pada
tahun 1995 yang dipelopori oleh PT. Miwah Tambang Emas. Perjanjian Karya
Pengusahaan Pertambangan Batubara              (PKP2B)       ada     dua    perusahaan      yang
beroperasi di     Kabupaten     Aceh     Barat    pada       tahun       1996/1997,    yaitu PT.
Meulaboho Energitama dan PT. Aceh Resources and Mineral Coorporation.
     Tahun 2005 perkembangan usaha pertambangan Mineral dan Batubara di
Aceh mengalami peningkatan yang cukup berarti, data rekapitulasi jumlah usaha
pertambangan menunjukkan bahwa jumlah Kuasa Pertambangan (KP) sebanyak
25   terdiri   atas   11    Pertambangan       Batubara,      8    Pertambangan        Emas,   2
Pertambangan Timah Hitam, 2 Pertambangan Bijih Besi, 1 Pertambangan Pasir
Besi dan 1 Kontrak Karya Pertambangan Emas dan Mineral pengikutnya.
     Khusus untuk pertambangan Pasir Besi yang telah memasuki tahap
Eksploitasi dan Kontrak Karya Pertambangan Emas Eksplorasi, merupakan usaha
pertambangan yang selama ini dikelola oleh Pemerintah Pusat karena proses
perizinannya dilakukan sebelum masa Otonomi Daerah.
     Sumber      penerimaan     daerah     bukan    pajak         yang    berasal   dari   usaha
pertambangan umum adalah berupa iuran tetap (Land Rent/Dead Rent), Iuran
Eksploitasi/Produksi (Royalty) dan Iuran Eksplorasi. Iuran Tetap adalah iuran yang
dibayarkan kepada negara sebagai imbalan atas kesempatan penyelidikan umum,
Eksplorasi atau Eksploitasi pada suatu wilayah kuasa pertambangan. Iuran
Eksploitasi adalah Iuran Produksi yang dibayarkan kepada negara atas hasil yang
diperoleh dari usaha pertambangan Eksploitasi sesuatu atau lebih bahan galian.
      Besarnya bagi hasil penerimaan pertambangan umum berdasarkan Undang-
Undang Nomor 25 tahun 1999 adalah sebagai berikut: Iuran Tetap/Landrent:
Pusat 20 persen, Provinsi 16 persen dan Kabupaten/Kota 64 persen. Iuran
Produksi/Royalty : Pusat 20 persen, Provinsi 16 persen, Kabupaten/Kota penghasil
32 persen dan Pemerataan Kabupaten/Kota 32 persen. Mekanisme pembayaran
iuran-iuran tersebut selama ini yaitu disetorkan langsung oleh perusahaan yang
bersangkutan      100      persen   ke   Kas     Negara,      dan        kemudian     Pemerintah
mendistribusikannya kepada Provinsi dan Kabupaten/Kota sesuai proporsinya.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                 II-101
Program/kegiatan       dalam     bidang    pertambangan            adalah         Pengawasan
terhadap Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan serta pendataan
sumur bor tanpa izin, Survei Cadangan Migas dalam 4 Blok, Pengawasan Usaha
Pertambangan, Pembangunan Pabrik Bahan Galian Posphat di Aceh Tamiang,
Pertemuan Pengusaha Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan,
Bantuan Peralatan bagi usaha Pertambangan Rakyat, , Pemboran Air Bawah
Tanah, Pemeliharaan Sumur Bor, Survey Pendahuluan Cadangan Batu Bara, Kab.
Aceh Barat,       Intensifikasi Pengelolaan Penerimaan Migas Pemerintah Aceh,
Penyusunan Rancangan Qanun Pertambangan Umum.
     Jumlah sumur bor yang telah dibangun sebanyak 84 unit, kondisi saat ini
rusak sebanyak 6 unit disebabkan oleh tsunami dan 1 unit akibat teknis
operasional. Untuk masa yang akan datang perlu diaktifkan kembali usaha
pertambangan yang telah terhenti dan mempercepat eksplorasi potensi tambang
bagi perusahaan yang telah memegang izin dan kepada perusahaan yang tidak
melakukan aktifitas eksplorasi akan diambil tindakan. Pendataan kembali hasil
produksi di bidang pertambangan, pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan
pertambangan umum dan rakyat akan ditingkatkan. Selanjutnya direncanakan
pembangunan sumur bor dan sumur pantau pada daerah-daerah yang kritis air,
pengawasan pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan ditingkatkan,
sosialisasi peraturan pemboran air bawah tanah, survei potensi tambang,
pembinaan dan bantuan teknis serta peralatan bagi usaha pertambangan rakyat
dan penyelesaian beberapa Qanun yang terkait dengan pertambangan.

2.6.7 Kebencanaan

      Terjadinya bencana di Aceh tidak terlepas dari masih belum cukup baiknya
pengelolaan     lingkungan     yang    berkelanjutan.        Pencemaran          dan    kerusakan
lingkungan seperti pengrusakan hutan, pencemaran air, udara, tanah dan
terjadinya    penggalian     tambang      merupakan          indikasi     penurunan       kualitas
lingkungan di beberapa Kabupaten/Kota seperti Aceh Besar, Lhokseumawe, Pidie,
Pidie Jaya, Aceh Utara, Bener Meriah dan Aceh Tamiang. Turunnya kualitas



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                  II-102
lingkungan     dapat    merupakan      salah    satu   potensi   ancaman   yang   harus
diperhitungkan sedini mungkin.

      Potensi bencana di Aceh diprediksikan tidak akan berkurang secara
signifikan. Pada dasarnya semua jenis bencana, baik yang disebabkan oleh alam
dan non alam selalu berpotensi mengancam kehidupan,korban jiwa, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis bagi masyarakat.
Mengingat kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis           Aceh maka
diperlukan suatu upaya menyeluruh dalam rangka penanggulangan bencana, baik
ketika bencana itu terjadi, sudah terjadi, maupun bencana yang berpotensi di
masa yang akan datang. Hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab
pemerintah Aceh dalam melindungi segenap warga dengan tujuan untuk
memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan, termasuk
perlindungan atas korban bencana.


1.    Geologis

      Aceh berada di jalur penunjaman dari pertemuan lempeng Asia dan
Australia, serta berada di bagian ujung patahan besar Sumatera yang membelah
pulau Sumatra dari Aceh sampai Selat Sunda; menyebabkan Aceh memiliki catatan
bencana geologis yang cukup panjang. Kejadian bencana geologis di Aceh dapat
dilihat di Gambar II.1.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-103
Gambar II.1 Peta Kejadian Bencana Geologis di Aceh




                           (Sumber data: Badan Penanggulangan Bencana Aceh)




            Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Aceh

      Kejadian tsunami di Aceh pernah terjadi pada tahun 1797, 1891, 1907 dan
2004. Kejadian tsunami 26 Desember 2004 mengakibatkan 126.915 jiwa
meninggal, 37.063 jiwa hilang, kira-kira 100.000 jiwa menderita luka berat dan
luka ringan disertai 517.000 unit rumah hilang.
      Kabupaten/Kota yang pernah mengalami kejadian tsunami adalah Banda
Aceh, Aceh Jaya, Aceh Besar, Aceh Barat, Sabang, Nagan Raya, Aceh Barat Daya,
Simeulue, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Aceh Timur
ancaman ini akan tetap terjadi di Kabupaten/Kota yang sama.
      Gempa bumi yang terjadi selama kurun waktu 2005-2009 di Aceh sebanyak
27 kali. Kejadian diprediksi akan berulang karena Aceh berada diatas tumbukan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                    II-104
lempeng dan patahan. Dampak yang ditimbulkan selama kurun waktu tersebut
yaitu korban jiwa sebanyak 62 orang, kerusakan harta benda diperkirakan
mencapai 25 – 50 Miliar rupiah, kerusakan sarana dan prasarana 20 – 40 persen,
sedangkan cakupan wilayah yang terkena gempa sekitar 60 – 80 persen, dan 5
persen berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat (terganggunya
mata pencaharian). Kabupaten/Kota yang diperkirakan akan terkena dampak
adalah: Kota Banda Aceh, Kab. Aceh Jaya, Kab. Aceh Barat, Kab. Nagan Raya,
Kab. Simeleu, Kab. Aceh Barat Daya, Kab. Singkil, Kab. Aceh Selatan, Kota
Subulussalam, Kota Sabang, Kab. Aceh Besar, Kab. Pidie, Kab. Aceh Tengah, Kab.
Gayo Luwes dan Kabupaten Aceh Tenggara.
      Letusan gunung api merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal
dengan istilah “erupsi”. Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona
penunjaman lempeng dan kegempaan aktif.
      Di Aceh terdapat 3 gunung api tipe A, yaitu gunung Peut Sagoe di
Kabupaten Pidie, Gunung Bur Ni Telong di Kabupaten Bener Meriah dan gunung
Seulawah Agam di Kabupaten Aceh Besar. Sejarah letusan gunung api di Aceh
yang pernah terjadi dapat di lihat di Tabel II.34.
                                    Tabel II.34
                              Bencana Gunung Api Aceh

      No     Nama Gunung                            Kejadian dan Korban
      1  Gunung Peut Sagoe                 Tahun 1919, 1920, 1978, 1998 tidak
                                           ada catatan korban jiwa.
      2     Gunung Bur Ni Telong           Tahun 1837, 1839, 1856, 1919, dan
                                           1924, dan tidak ada catatan korban
                                           jiwa
      3     Gunung Seulawah Agam           Tahun 1600, 1839 dan 1975, dan
                                           tidak ada catatan korban jiwa
     Sumber: Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana, Badan Geologi


      Tanah longsor yang terjadi           selama kurun waktu 2007-2009 di Aceh
sebanyak 26 kali. Dampak kerusakan harta benda yang ditimbulkan diperkirakan
mencapai 50 – 100 Miliar rupiah, kerusakan sarana dan prasarana 20 – 40 persen,
sedangkan cakupan wilayah yang terkena longsor sangat luas 20 – 40 persen,



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  II-105
serta berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat (terganggunya
mata pencarian) sebesar 5 – 10 persen.
      Kabupaten/Kota yang diprediksi masih akan mengalami kejadian ini adalah:
Kota Sabang, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Selatan,
Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Timur,
Kabupaten Gayo Luwes, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Aceh Singkil dan
Kabupaten Simeleu.
      Sedangkan Kabupaten/Kota yang melaporkan kejadian tanah longsor dalam
3 (tiga) tahun terakhir adalah Sabang, Subulussalam, Bireuen, Nagan Raya, Aceh
Barat, Aceh Selatan, Pidie, Aceh Utara, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah,
Aceh Barat Daya, dan Aceh Timur. Kejadian ini mengakibatkan 300 unit rumah
rusak, 165 Ha Kebun/Sawah rusak, 6.2 Ha hutan rusak, dan 55.25 km jaringan
jalan/bendungan.


2.   Hidro-meteorologis

      Aceh memiliki tingkat kompleksitas hidro-meteorologis yang cukup tinggi.
Dimensi alam menyebabkan Aceh mengalami hampir semua jenis bencana hidro-
meteorologis seperti puting beliung, banjir, abrasi dan sedimentasi, badai siklon
tropis serta kekeringan.
a.   Puting Beliung
     Kejadian puting beliung sering ditemui di wilayah Aceh, hingga saat ini masih
     sulit diprediksi lokasi dan waktu kejadian bencana puting beliung. Puting
     beliung terjadi di Aceh hampir merata di berbagai daerah. Data kejadian 3
     tahun terakhir (dari tahun 2006-2009) terjadi 30 kali bencana puting beliung
     di 14 Kabupaten Kota. Kabupaten Aceh Utara mencatat kejadian tertinggi
     dibandingkan Kabupaten Kota lainnya.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                 II-106
Untuk melihat kabupaten/kota di Aceh yang rawan bencana geologis dapat
dilihat di Gambar II.2.


        Gambar II.2. Peta Kejadian Bencana Hidro-meteorologis di Aceh




              Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Aceh

b.   Banjir
     Banjir hampir merata terjadi di berbagai wilayah Aceh, data kejadian 3 tahun
     banjir (dari tahun 2006-2009) terjadi 106 kali bencana banjir di 22 dari 23
     Kabupaten Kota. Elemen         berisiko yang rentan ketika terjadi banjir adalah

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                    II-107
lahan pertanian, peternakan, perdagangan dan jasa di 22 kabupaten/kota di
     Aceh, kecuali Kabupaten Simeulu.
     Kabupaten      Aceh    Utara     tercatat    kejadian      tertinggi   dibandingkan
     Kabupaten/Kota lainnya. Kabupaten kota lain yang terkena bencana banjir
     adalah Lhokseumawe, Tamiang, Aceh Besar, Bireuen dan Nagan Raya,
     Sabang, Aceh Barat Daya, Aceh Barat, Subulussalam, Singkil, Gayo Lues, Aceh
     Tengah, Bener Meriah, Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan
     Langsa.


c.   Abrasi, Erosi dan Sedimentasi.
     Abrasi pada 10 tahun terakhir terjadi di pantai barat Aceh yang meliputi
     Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Singkil,
     dan Aceh Besar. Di pesisir utara dan timur Aceh bencana abrasi terjadi di
     Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur,
     dan Langsa.
     Kejadian erosi ini ditemui di Aceh Tenggara (Sungai Lawe Alas), Aceh Tengah
     (Kawasan Danau Laut Tawar), Tamiang (Krueng Tamiang), Aceh Utara
     (Krueng Pase), Bireuen (Krueng Peusangan), Aceh Besar (Krueng Aceh), Pidie
     (Krueng Tiro, Krueng Baro), Pidie Jaya (Krueng Beuracan), Aceh Barat
     (Krueng Meureubo), dan Nagan Raya (Krueng Tripa).
     Akibat sedimentasi yang terjadi dapat                   mengganggu     perekonomian
     masyarakat,      dangkalnya jalur pelayaran, rusaknya ekosistem terutama
     terumbu karang dan transportasi. DAS yang mengalami dampak sedimentasi
     besar     pada sungai Krueng Aceh, Krueng Peusangan, Sungai Tamiang dan
     sungai Krueng Meurebo. Sedimentasi juga terjadi di danau-danau yang ada di
     Aceh.


d.   Badai Siklon Tropis.
     Aceh hingga saat ini mencatat bahwa belum ada jenis badai siklon yang
     langsung melanda kawasan Aceh. Namun demikian, ekor dari badai-badai
     yang biasanya tumbuh di kawasan Lautan Hindia sering memberi dampak
     terutama di kawasan pesisir Barat dan Selatan Aceh.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-108
Potensi badai dapat terjadi di seluruh Kabupaten/Kota yang berada di pesisir
     pantai, yaitu Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Kota
     Lhokseumawe,Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa, Tamiang, Aceh Jaya,
     Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil.


e.   Kekeringan
     Daerah yang sering kali mengalami kekeringan yaitu kabupaten Aceh Besar,
     Pidie, Pidie Jaya, Bireun, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, dan
     Tamiang. Meskipun hingga saat ini belum tercatat jumlah korban jiwa akibat
     bencana kekeringan di Aceh, dampak kekeringan cukup berkontribusi
     terhadap produktifitas pertanian.


3.      Bencana Sosial dan Kesehatan

        Kejadian bencana sosial yang menonjol di Aceh adalah konflik yang berlatar
belakang ideologi dan ekonomi, serta Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti penyakit
menular dan atau tidak menular yang dipicu oleh perilaku manusia itu sendiri. Perlu
keseimbangan pemanfaatan sumber daya alam dalam pembangunan fasilitas
infrastruktur,   transportasi    umum,      permukiman       dengan   melihat   sejarah
kebencanaan, sehingga didapatkan efisiensi ekonomi dalam mengantisipasi
Millenium Development Goals (MDGs) 2015. Secara tidak langsung Aceh dapat
menjadi tempat pembelajaran tentang kebencanaan dan sebagai laboratorium
alam.
a. Konflik
     Aceh mempunyai sejarah panjang tentang konflik antar kelompok dan atau
     antar golongan masyarakat. Konflik yang pernah terjadi di Aceh Seperti Perang
     Cumbok (1945-1946), Pemberontakkan DI/TII (1953-1962) dan juga yang
     paling lama adalah Gerakan Aceh Merdeka (1976-2005). Dari ketiga konflik
     yang ada di Aceh hampir semuanya dilatar belakangi oleh perbedaan
     pandangan politik.     Semua hal diatas merupakan suatu pembelajaran yang
     dapat menjadi contoh bagi daerah atau Negara lain untuk penyelesaiaan


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       II-109
masalah     konflik.    Diperlukan   suatu    kompetensi       tentang   modul-modul
     penyelesaian konflik pada pendidikan formal maupun non-formal.


b. Kebakaran
     Data yang dihimpun WALHI Aceh, kebakaran ladang dan atau hutan di Aceh
     pada tahun 2008,        tercatat 395 titik api, angka ini terbanyak kedua untuk
     Provinsi di pulau Sumatera. Titik api tersebut terdapat di Kabupaten Aceh
     Barat, Aceh Jaya, Singkil, dan Aceh Tengah. Kebakaran lahan gambut juga
     sering terjadi, antara lain di perbatasan Kabupaten Aceh Barat – Aceh Jaya,
     yakni di kawasan Desa Leuhan, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh.
     Disamping kebakaran lahan atau           hutan, Aceh juga mengalami frekuensi
     kebakaran pemukiman yang cukup tinggi. Data semester pertama di tahun
     2008 menunjukkan bahwa bencana kebakaran perumahan/pemukiman telah
     menimbulkan luka ringan 5 jiwa luka berat 7 jiwa, mengungsi 1.228 jiwa dan
     meninggal dunia 10 jiwa (Satkorlak Aceh, 2009) dengan wilayah kejadian
     tersebar di 11 kabupaten/kota. Pengamatan sekilas kejadian kebakaran di
     permukiman dan atau pasar pada umumnya disebabkan oleh hubungan
     singkat arus listrik.

c.   Wabah Penyakit.
     Data Dinas Kesehatan Aceh menunjukkan Kota Banda Aceh menonjol dalam
     penyakit DBD dan flu H1N1; Kabupaten Aceh Utara menonjol dalam Diare dan
     HIV/AIDS, penyakit malaria paling banyak ditemukan di Kabupaten Aceh Besar,
     lumpuh layu dan tetanus neonatorum banyak ditemukan di Kabupaten Pidie.
     Kasus Diare banyak menyerang golongan umur anak-anak terutama balita, hal
     ini dapat mempengaruhi perkembangan pertumbuhan dan status gizi anak.
     Kasus Diare pada tahun 2007 berjumlah 100.789 orang dan Jumlah kasus
     diare pada Balita 45.157 orang, Semua Kabupaten/Kota merupakan daerah
     yang rawan diare pada balita terutama kasus yang sering terjadi di Pidie, Aceh
     Utara,    Bireun,   Aceh    Timur,   Aceh    tengah,    Aceh    Tamiang    dan    Kota
     Lhokseumawe.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            II-110
Demam Berdarah Dengue (DBD) pada tahun 2007 jumlah kasus sebesar 1.724
   kasus dan menyebar di 16 (enam belas) Kabupaten/Kota. Kabupaten/kota
   yang rawan terhadap DBD adalah: Kota Banda Aceh, Aceh Besar, kota
   Lhokseumawe, Kota Langsa, Aceh Barat, Aceh Tamiang dan Aceh Pidie, Biruen,
   Aceh Utara.


d. Kegagalan Teknologi.
   Kegagalan teknologi adalah semua kejadian yang diakibatkan oleh kesalahan
   desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam penggunaan
   teknologi dan/atau industri. Aceh mempunyai beberapa industry strategis
   seperti pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan kilang LNG Arun di Kabupaten
   Aceh Utara, PT SAI di Aceh Besar yang mempergunakan teknologi tinggi dalam
   proses produksi dan berpotensi mengalami kegagalan ataupun kecelakaan
   yang berdampak bagi lingkungan sekitarnya. Disamping itu beberapa
   penggunaan teknologi lain seperti transportasi, pengolahan kelapa sawit dan
   karet mempunyai potensi ancaman yang sangat nyata bagi masyarakat Aceh.
   Data 10 tahun terakhir tidak tercatat kejadian bencana akibat kegagalan
   teknologi baik karena teknologi itu sendiri ataupun akibat sabotase.


2.7     Pemerintahan Umum

2.7.1 Pemerintahan Aceh

      Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah serta Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2006 tentang         Pemerintahan Aceh (UU-PA) memberikan implikasi yang
mendasar dan mengarah pada reformasi kelembagaan dan manajemen publik.
      Untuk mendukung pelaksanaan Pemerintahan Aceh ke depan, maka perlu
ditunjang dengan tersedianya sumberdaya manusia aparatur yang profesional dan
proporsional agar mutu pelayanan dapat ditingkatkan. Dengan demikian kontrol
hirarkis dalam organisasi dialihkan ke tangan para aparatur yang berhadapan
langsung dengan pelayanan masyarakat. Dalam konteks pemberdayaan organisasi

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                II-111
lokal, hendaknya kontrol aturan dan kontrol administrasi dari tingkat pusat
dikurangi agar memiliki keleluasaan bekerja untuk mengendalikan pemerintahan
dan mengembangkan kemampuan organisasinya.
     Pemerintah Provinsi Aceh mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk
melakukan pemberdayaan, pembangunan, monitoring evaluasi serta pelayanan
publik secara profesional. Untuk terlaksananya tata kelola pemerintahan yang baik
(good governance), Pemerintah Aceh akan menggunakan seluruh tenaga dan
kemampuan sumberdaya aparatur yang handal dan potensial dibidangnya sesuai
dengan kompetensi yang ada.
        Ditinjau dari tingkat pendidikan formal jumlah Aparatur Daerah/Pegawai
Negeri Sipil didominasi sarjana (S1), jumlah ini relatif baik namun masih perlu
dianalisis berdasarkan kualifikasi, potensi teknis dan penempatan pada bidang
terkait, berikut rincian jumlah jenjang pendidikan formal aparatur/PNS Tahun
2009:

                                      TABEL. II.35
                         RINCIAN JEJANG PENDIDIKAN PNS
                             PADA PEMERINTAH ACEH

              NO.              PENDIDIKAN                      JUMLAH

              1.     Doktor (S3)                                    4 orang
              2.     Pasca Sarjana (S2)                          630 orang
              3.     Sarjana (S1)                              3.835 orang
              4.     Sarjana (DIV)                  .               9 orang
              5.     Diploma (DIII)                             1.086 orang
              6.     Diploma (DII)                               17 orang
              7.     Diploma (DII)                                15 orang
              8.     SLTA Sederajat                 .           2.604 orang
              9.     SLTP                                        185 orang
              10.    SD                                            66 orang


                     Jumlah                                  8.451 orang
            Sumber : Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Aceh (tahun 2009)




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-112
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor. 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh khususnya yang berkaitan dengan pasal 107, Pemerintah
Pusat dalam hal ini Menteri Dalam Negeri memiliki kawajiban untuk menyusun
rancangan peraturan pemerintah tentang kewenangan, mekanisme dan prosedur
pengangkatan dan pemberhentian sekretaris daerah provinsi dan sekretaris
kabupaten/kota        serta     pengaturan     tentang       pembinaan   karir   Aparatur
Daerah/Pegawai Negeri Sipil pada umumnya.
       Pola pembinaan karir terhadap Aparatur Daerah/Pegawai Negeri Sipil
Pemerintah     Aceh     harus     tetap   mengacu      kepada     pola   pembinaan     dan
pengembangan karir Aparatur Daerah/Pegawai Negeri Sipil secara nasional yang
pada dasarnya merupakan wewenang dan tanggung jawab Presiden. Agar supaya
sasaran dan arah pembinaan karir Pegawai dilingkungan Pemerintah Aceh dapat
terwujud sebagaimana yang kita harapkan dan masih tetap dalam bingkai NKRI.
       Berikut pada tabel II.35 disajikan jumlah dan komposisi Aparatur
Daerah/Pegawai Negeri Sipil pada Kabupaten/Kota sebanyak 75.468 orang (tahun
2009) dengan rincian masing-masing di bawah ini:




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                           II-113
TABEL. II.36
               JUMLAH PNS PADA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
                            DI PROVINSI ACEH


      NO.            KABUPATEN/KOTA                            JUMLAH

        1.   Kota Banda Aceh                                 5.605   orang
        2.   Kota Sabang                                     1.530   orang
        3.   Kabupaten Aceh Besar                            7.032   orang
        4.   Kabupaten Pidie                                 9.295   orang
        5.   Kabupaten Bireun                                6.310   orang
        6.   Kabupaten Aceh Utara                            6.917   orang
        7.   Kota Lhokseumawe                                1.911   orang
        8.   Kabupaten Aceh Tengah                           3.891   orang
        9.   Kabupaten Bener Meriah                          1.625   orang
       10.   Kabupate Aceh Timur                             5.218   orang
       11.   Kabupaten AcehTamiang                           2.534   orang
       12.   Kabupaten Kota Langsa                           2.733   orang
       13.   Kabupaten Aceh Tenggara                         3.658   orang
       14.   Kabupaten Gayo Lues                             1.084   orang
       15.   Kabupaten Aceh Singkil                          1.920   orang
       16.   Kabupaten Aceh Selatan                          3.617   orang
       17.   Kabupaten Aceh Barat Daya                       1.893   orang
       18.   Kabupaten Nagan Raya                            2.135   orang
       19.   Kabupaten Aceh Barat                            3.960   orang
       20.   Kabupaten Aceh Jaya                             1.157   orang
       21.   Kabupaten Simelue                               1.443   orang
    Sumber : Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Aceh (tahun 2009)

       Dari gambaran umum di atas bahwa ketersedian tenaga PNS pada
kabupaten/kota masih relatif belum memadai baik kualitas maupun kuantitas SDM,
terutama pada daerah kabupaten pemekaran. Permasalahan ini akan berdampak
pada proses percepatan pembangunan dan perbaikan pelayan publik pada level
Pemerintahan Kecamatan dan Pemerintahan Desa. Sebagai institusi yang langsung
berhadapan dengan masyarakat, kinerja pemerintahan desa masih relatif belum
memadai, dimana sebanyak 6.219 desa dan kelurahan yang ada di Provinsi Aceh
terdapat 874 kantor dalam keadaan baik dan 1257 rusak sedangkan kantor desa
yang belum ada sebanyak 4.115 unit.
       Sedangkan pada tingkat kemukiman, jumlah mukim sebanyak 731 mukim,
kantor yang sudah dibangun dan dalam keadaan baik hanya berjumlah 21 unit
dan sisanya sebanyak 681 mukim belum tersedia kantor. Disisi lain, penempatan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-114
atau distribusi Aparatur Daerah/Pegawai Negeri Sipil belum juga merata disamping
sarana dan prasarana belum memadai terutama pada kabupaten pemekaran,
sehingga mengakibatkan kualitas pelayanan publik belum berjalan secara optimal.
       Sejalan      dengan    dinamika      pembangunan,        dalam     penyelenggaraan
Pemerintahan terdapat berbagai hambatan antara lain (1) hambatan politik,
ekonomi, dan lingkungan, (2) kelemahan institusi, (3) ketidakmampuan SDM di
bidang teknis dan administrasi, (4) kekurangan dalam bentuk teknis, (5)
kurangnya desentralisasi dan partisipasi, (6) pengaturan waktu (timing), (7) sistim
informasi yang kurang mendukung, (8) perbedaan agenda tujuan antara aktor
dan, (9) dukungan yang berkesinambungan.
       Pelaksanaan       pembangunan        tidak    terlepas      dari   perubahan     dan
perkembangan kondisi ekologi administrasi publik, terutama tantangan yang perlu
mendapatkan perhatian dan penyesuaian-penyesuaian dalam penerapan strategi
pembangunan meliputi: Penerapan UU-PA; Globalisasi informasi; Netralitas
Pegawai Negeri; Sistem politik; Perdagangan bebas dan semangat reformasi
dengan     segala    implikasinya.    Dalam     hubungan     ini    kualitas   perencanaan
pembangunan diharapkan dapat menjawab tantangan perubahan tersebut dengan
tetap berpijak pada strategi pembangunan berkelanjutan yang didukung dengan
konsep pembangunan manusia (human development).
       Pemerintahan Aceh bertugas menjalankan MoU Helsinky                     dan   amanat
UU-PA/2006       diberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab
kepada Penyelenggaraan pemerintah di Aceh secara proporsional. Artinya,
pelimpahan tanggung jawab akan diikuti oleh pengaturan pembagian, dan
pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan
keuangan pusat dan daerah. Disisi lain isu-isu dalam pemerintahan Aceh adalah
isu demokratisasi, good governance (bebas KKN), hak asasi, kelangsungan bumi
dan lingkungan. Atas berbagai tuntutan demikian, diperlukan suatu strategi
dengan formula kebijakan yang cerdas, berani dan terukur serta visioner dalam
kerangka kelangsungan dan keutuhan bangsa di masa-masa mendatang.
       Terdapat tiga aspek utama yang mendukung keberhasilan Pemerintahan
Aceh, yaitu pengawasan, pengendalian, dan pemeriksaan. Ketiga hal tersebut

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            II-115
pada dasarnya berbeda baik konsep maupun aplikasinya. Pengawasan mengacu
pada tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh pihak lain diluar eksekutif (yaitu
masyarakat      dan    DPRA/DPRK)        untuk    mengawasi     kinerja    pemerintahan.
Pengendalian adalah mekanisme yang dilakukan oleh eksekutif (Pemerintahan
Aceh) untuk menjamin dilaksanakannya sistem dan kebijakan manajemen
sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Pemeriksaan (audit) merupakan
kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang memiliki independensi dan memiliki
kompetensi profesional untuk memeriksa.
       Kemampuan aparatur daerah dalam mejalankan otonomi akan menghadapi
berbagai tantangan, terutama dalam rangka meningkatkan PAD, melayani
investasi domestik maupun asing, menyusun perencanaan strategi pembangunan
dearah dan mengelola proses pelaksanaan pembangunan. Tantangan ini hanya
akan mampu dihadapi oleh pemerintahan Aceh (baik eksekutif maupun legislatif)
yang bervisi strategik dengan melibatkan peran serta masyarakat.
Permasalahan yang perlu mendapat perhatian dan prioritas kedepan adalah :
1. Penyelesaian       peraturan-peraturan        daerah/qanun       sebagaimana    yang
   diamantkan oleh UUPA.
2. Belum terimplementasinya ketentuan (regulasi) secara optimal
3. Terbatasnya Alokasi Anggaran dari Pemerintah Pusat/Povinsi/ Kabupaten/Kota
   ke Pemerintahan Kecamatan, Mukim dan Gampong
4. Masih kurangnya tenaga dan kemampuan sumberdaya aparatur yang handal
   dibidangnya.
5. Penyebaran Aparatur Daerah/Pegawai Negeri Sipil belum merata antara satu
   kabupaten dengan kabupaten lainnya.
       Pada      konteks     pelayanan       publik,    perbaikan    dan    peningkatan
kelembagaan/instiusi perlu ditindaklanjuti seperti pelayanan satu atap (one top
service) dan peningkatan kelembagaan pada level pemerintahan kecamatan
hingga ke pemerintahan gampong yang langsung berhadapan dengan masyarakat
(front-line employees).




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        II-116
2.7.2 Pemerintahan Mukim

       Pemerintahan mukim yang pernah berjaya sejak zaman kesultanan, zaman
penjajahan dan diawal kemerdekaan. Lembaga Mukim menjadi tidak berdaya
setelah Pemerintah memberlakukan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1974 tentang
Pemerintahan di Daerah dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang
Pemerintahan      Desa,     kedua     Undang-undang          tersebut   menganut   sistem
penyeragaman bentuk dan susunan Pemerintahan Daerah dan Desa secara
Nasional sehingga Mukim di Aceh tidak diakui lagi sebagai salah satu strata
Pemerintahan di Propinsi Daerah Istimewa Aceh.
       Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan dengan segala daya
upaya akhirnya Pemerintahan Mukim di Aceh telah diakui kembali secara nasional.
Pengakuan tersebut tertuang langsung dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun
2001 tentang Otonomi khusus bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai
Provinsi    Aceh dan dipertegas dengan undang-undang Nomor 11 Tahun 2006
tentang Pemerintahan Aceh.
       Bahwa dengan pemberlakuan Otonomi khusus di Provinsi                  Aceh, mukim
sudah dikukuhkan kembali menjadi lembaga pemerintahan dalam sistem
penyelenggaraan pemerintahan daerah di Aceh. Mukim adalah kesatuan
masyarakat hukum di Aceh yang terdiri dari beberapa gampong yang mempunyai
batas wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri, berkedudukan langsung
dibawah Kecamatan/Sagoe Cut atau nama lain yang dipimpin oleh Imuem Mukim.
Oleh       karena itu Mukim mempunyai kewenangan yang luas dalam rangka
menyelenggarakan        Pemerintahan,       pelaksanaan       pembangunan,    pembinaan
kemasyarakatan dan pelaksanaan Syari’at Islam.
       Pemerintah Aceh telah menetapkan kebijakan yang sangat strategis yaitu
menetapkan Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 4 Tahun 2003
tentang Pemerintahan Mukim dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dimana
Qanun tersebut harus di implementasikan dalam Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         II-117
2.7.3 Pemerintahan Gampong

       Dalam Undang-undang Nomor 32                Tahun 2004 tantang Pemerintahan
Daerah ditegaskan bahwa Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya
disebut Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas
wilayah yang berwewenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang
diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
       Pemerintah Aceh diberikan kewenangan secara luas dan leluasa untuk
menata sistem Pemerintahan Daerah sesuai dengan nilai-nilai luhur masyarakat
Aceh sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh. Implementasi ketentuan dalam Undang-undang tersebut,
sebelumnya telah ditetapkan Qanun (Perda) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Gampong. Oleh karena itu di Provinsi
Aceh istilah lain dari Desa adalah Gampong.
       Gampong sebagai kesatuan masyarakat hukum memiliki hak dan kekuasaan
dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat terutama
dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat memiliki peran dan posisi yang
strategis, karena :
1. Mempunyai susunan Pemerintahan asli berdasarkan hak asal usul yang bersifat
   istimewa.
2. Penyelenggaraan       Pemerintahan       Gampong      merupakan   sub   sistem   dari
   penyelenggaraan Pemerintah Aceh dan juga sub sistem Pemerintahan
   Nasional.
3. Gampong dapat melakukan perbuatan hukum, baik hukum politik, hukum
   perdata maupun hukum adat, memiliki harta kekayaan, harta benda, dan
   bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di Pengadilan.
4. Sebagai perwujudan Demokrasi, di Gampong dibentuk Tuha Peut atau sebutan
   lain sabagi Lembaga yang menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat
   serta mengawasi jalannya Pemerintahan Gampong.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                      II-118
5. Di Gampong dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan sesuai dengan
   kebutuhan yang merupakan mitra kerja Pemerintahan Gampong.
6. Gampong memiliki sumber pembiayaan.
7. Geuchik mempunyai wewenang untuk mendamaikan perkara/sengketa dari
   pada warganya dan adat dan sengketa adat lainnya.
8. Gampong merupakan titik konsentrasi pelaksanaan Syari’at Islam.

       Secara obyektif keberadaan Pemerintahan Mukim dan Gampong, Tuha Peut
dan Lembaga Kemasyarakatan Mukim dan Gampong dalam melaksanakan
kegiatannya untuk mewujudkan kemandirian serta kesejahteraan masyarakat
sebagaimana dimaksudkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004, Qanun Nomor 4
Tahun 2003 dan Qanun Nomor 5 Tahun 2003 masih belum optimal.
       Beberapa permasalahan yang dihadapi Pemerintahan Mukim dan Gampong
adalah sebagai berikut:
1. Belum optimalnya penyelenggaraan pemerintahan Mukim dan Gampong dalam
   memberikan pelayanan kepada masyarakat.
2. Masih terbatasnya peran Tuha Peut dalam menampung dan menyalurkan
   aspirasi masyarakat serta mendorong peran aktif masyarakat.
3. Masih    terbatasnya     kemampuan        Lembaga         Kemasyarakatan   Mukim   dan
   Gampong dalam menggalang partisipasi dan swadaya gotong royong
   masyarakat.
4. Kurang berkembangnya usaha ekonomi masyarakat baik di Gampong maupun
   di tingkat Kemukiman.
5. Sangat terbatasnya sarana dan prasarana perkantoran Pemerintahan Mukim
   dan Gampong.
6. Keswadayaan dan          kemandirian     masyarakat        belum dioptimalkan   dalam
   membangun, memanfaatkan, memelihara dan mengembangkan hasil-hasil
   pembangunan.
7. Peraturan perundang-undangan yang dibutuhkan belum lengkap.
8. Fasilitasi Pemerintah dan Pemerintah Daerah sering terlambat.
9. Kualitas aparatur Pemerintahan Mukim dan Gampong dan Tuha Peut sangat
   terbatas.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         II-119
10. Sangat terbatasnya kesejahteraan aparat Pemerintahan Mukim dan Gampong
   dan Tuha Peut.
11. Terjadinya inkonsistensi aturan dan kewenangan.


       Bertolak dari berbagai permasalahan tersebut Pemerintah dan Pemerintah
Daerah sangat mendesak untuk melakukan berbagai kegiatan untuk lebih
memantapkan, menguatkan dan mengembangkan Pemerintahan Mukim dan
Pemerintahan Gampong dengan prioritas :
1. Pembangunan sarana dan prasarana Kantor Mukim, Geuchik dan Peralatan
   Kerja dan mobiler.
2. Mengembangkan sumber pendapatan dan asset Imuem Mukim dan Gampong
   serta menyusun keuangan secara efisien, efektif, transparan dan akuntable.
3. Mengembangkan dan menguatnya kemitraan bagi para penyelenggaraan
   Pemerintahan Mukim dan Pemerintahan Gampong.
4. Mengembangkan Usaha Ekonomi Masyarakat melalui Program Pengembangan
   Ekonomi Masyarakat Kemukiman (PEMK).
5. Mengembangkan sistem implementasi Administrasi Pemerintahan Mukim dan
   Pemerintahan Gampong yang mudah, cepat dan murah.
6. Terjaminnya tingkat kesejahteraan para penyelenggara Pemerintahan Mukim
   dan Pemerintahan Gampong (Tidak diberikan dalam bentuk insentif atau upah
   jerih tapi harus dalam bentuk gaji Imum Mukim dan gaji Geuchik atau sebutan
   lain).
7. Mengembangkan jiwa kegotong royongan, keswadayaan, solidaritas dan
   persaudaraan masyarakat dalam memecahkan persoalan masyarakat yang
   dihadapi.
       Oleh karena itu kegiatan tersebut di atas penting dilaksanakan mengingat
Pemerintahan Mukim dan Pemerintahan Gampong merupakan garis terdepan
dalam pelayanan kepada masyarakat serta menjadi tonggak utama untuk
keberhasilan pelaksanaan semua Program pembangunan.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                II-120
2.7.4 Pelayanan Kependudukan dan Catatan Sipil

       Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 16 ayat (1) huruf l UUPA, ditegaskan
bahwa pelayanan kependudukan dan catatan sipil merupakan salah satu urusan
wajib Pemerintah Aceh. Penempatan urusan pelayanan kependudukan dan catatan
sipil sebagai urusan wajib, mempunyai arti bahwa Pemerintah Aceh mempunyai
wewenang (sebagai hak sekaligus sebagai kewajiban) untuk menyelenggarakan
pelayanan dalam bidang kependudukan dan catatan                  sipil. Hak dan kewajiban
dimaksud termasuk hak dan kewajiban mengatur yang menjadi kewenangannya,
dan hak dan kewajiban mengurus (termasuk membiayai). Tentunya, hak dan
kewajiban dimaksud (mengatur dan mengurus), harus dalam kerangka atau
mempertimbangkan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 14 ayat (3) UUPA
yang berbunyi “Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib
dilakukan dengan berpedoman pada standar pelayanan minimal, dilaksanakan
secara bertahap, dan ditetapkan oleh Pemerintah”.
       Registrasi penduduk merupakan kegiatan utama dalam rangka memberikan
pelayanan kependudukan dan catatan sipil. Administrasi kependudukan memuat
tentang kegiatan pendaftaran dan pencatatan kejadian vital penduduk (kelahiran,
kematian, perpindahan, perkawinan, perceraian dan perubahan status lainnya).
Tujuan      penyelenggaraan         administrasi      kependudukan         adalah      untuk
mendokumentasikan data-data yang berkaitan dengan pencatatan melalui suatu
sistem registrasi yang terpadu dan pelaporan data kependudukan agar terciptanya
tertib administrasi dan legalisasi sebagai dokumen bagi setiap penduduk. Akan
tetapi, dalam pengelolaan registrasi penduduk sampai saat ini dihadapkan pada
berbagai    kendala      yang    menyebabkan        penyelenggaraan        belum     berjalan
sebagaimana diharapkan. Akibatnya data dan informasi kependudukan yang
berbasis individu dan berskala mikro belum dapat dikembangkan untuk
dimanfaatkan      bagi   kepentingan      penyusunan         perencanaan    dan     kebijakan
pembangunan. Sementara tuntutan ketersediaan data mikro dan rutin makin
mendesak sebagai konsekuensi kebutuhan perencanaan dalam era otomomi
daerah kabupaten dan kota yang menjadi sentral pembangunan. Disisi lain, untuk
kepentingan individu atau masyarakat, pencatatan penduduk akan memberikan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                             II-121
keabsahan dari kejadian vital tersebut sebagai dokumen resmi yang antara lain
diperlukan dalam urusan pelayanan publik.
       Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2007-2012 di
bidang administrasi kependudukan diharapkan dapat sinergi dengan RPJM
Nasional 2004-2009. Sasaran yang ingin dicapai adalah terwujudnya tertib
administrasi    kependudukan, yang         dimulai dengan    terselenggara registrasi
penduduk. Dengan tertibnya administrasi kependudukan tersebut diharapkan
mampu menghasilkan data dan informasi perkembangan kependudukan pada
berbagai tingkat secara akurat, tepat, menyeluruh dan mudah diakses, sehingga
menjadi acuan bagi perumusan kebijakan dan program pembangunan.
       Permasalahan yang masih dihadapi adalah: (a) masih lemahnya koordinasi
penyelenggaraan adminstrasi kependudukan antara Pemerintah Provinsi dengan
Pemerintah Kab/kota; (b) masih lemahnya pemberian bimbingan, supervisi dan
konsultasi pelaksanaan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil; (c) lemahnya
pembinaan dan sosialisasi penyelenggaraan administrasi kependudukan; (d)
belum tertibnya pengelolaan dan penyajian data kependudukan; dan (e) lemahnya
koordinasi pengawasan atas penyelenggaraaan administrasi kependudukan. Di
samping itu koordinasi dengan instansi vertikal yang menangani pencatatan sipil
juga sangat lemah baik pada tingkat provinsi maupun kab/kota.
       Untuk mencapai sasaran tersebut, maka perlu penguatan instansi
pelaksana administrasi kependudukan dan catatan sipil, dengan tujuan: (a)
menggembangkan sistem administrasi kependudukan yang terpadu dan efisien,
termasuk registrasi penduduk; (b) meningkatkan cakupan dan ketepatan
pelaporan pendaftaran penduduk dari tingkat terendah sampai ketingkat pusat
secara cepat, tepat dan lengkap; (c) mengembangkan organisasi atau unit kerja
pendaftaran penduduk diberbagai tingkatan mulai dari tingkat kecamatan sampai
tingkat provinsi; (d) peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang
arti penting registrasi dan administrasi kependudukan sebagai sumber data mikro
dan rutin untuk mendukung terselenggara pengelolaan sistem administrasi
kependudukan yang efektif dan efisien; (e) menyusun rancangan undang-undang
(Qanun) tentang registrasi penduduk.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                     II-122
Dalam     rangka     pelaksanaan      program     kerja   pengembangan       sistem
administrasi kependudukan tersebut, termasuk registrasi penduduk, di Provinsi
Aceh, maka lebih dahulu perlu melakukan suatu penelitian untuk mengetahui
potensi dan permasalahan dalam penyelenggaraan administrasi kependudukan,
terutama registrasi penduduk secara permanen dan online setiap saat dan dimulai
pada level pemerintahan yang terendah (gampong) hingga ke tingkat provinsi.
Pelaksanaan registrasi administrasi kependudukan tersebut dapat dilaksanakan
oleh pemerintahan desa dan harus didukung dengan peningkatan SDM dan
penyediaan fasilitas pendukung.


2.7.5 Perizinan


       Penyediaan pelayanan pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat yang berkaitan dengan kebutuhan dasar, barang-barang publik (public
goods), berbagai perizinan, dan lain-lain belum sepenuhnya berkembang dengan
baik. Berbagai prosedur perizinan belum disusun sesuai dengan prinsip-prinsip
pelayanan yang mudah, murah dan cepat. Pelayanan perizinan juga belum
didasarkan pada standar pelayanan minimal.
       Pulihnya kondisi       keamanan      menimbulkan      gairah    masyarakat   untuk
berusaha kembali        dalam    berbagai    aktifitas ekonomi.       Jumlah izin usaha
perdagangan (SIUP) pada Tahun 2005 misalnya cukup tinggi, berjumlah 41.452
termasuk usaha skala besar, menengah dan kecil. Sementara pada Tahun 2001,
yang kondisi keamanannya belum pulih, jumlah SIUP hanya 2.678 buah untuk
semua jenis perdagangan.
       Dalam rangka menghadapi berbagai urusan pemerintahan di bidang
perekonomian, perdagangan, investasi, pariwisata, dan lain-lain, sesuai dengan
kewenangan yang diberikan oleh Udang-Undang No. 11 Tahun 2006, perlu
ditinjau kembali berbagai prosedur dan sistem pelayanan perizinan. Pelayanan
perizinan secara cepat dan tepat oleh pemerintah dapat memberi dukungan
terhadap pembangunan ekonomi sesuai harapan masyarakat.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-123
2.7.6 Keimigrasian


       Pelayanan publik pada keimigrasian harus dapat ditingkatkan, kondisi yang
ada selama ini masih menunjukkan pelayanan yang belum profesional. Oleh
karena itu perlu perbaikan manajemen dengan melakukan perubahan mekanisme,
penetapan prosesur yang jelas dan sistem pelayanan yang terpadu. Sejalan
dengan globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan
ekonomi dunia, maka akan berimplikasi pada terjadinya lalulintas atau masuknya
warga negara asing (imigrasi), baik melalui investasi maupun kunjungan
wisatawan.
       Penyediaan pelayanan publik di sektor keimigrasian diharapkan dapat terus
ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitas sarana dan prasarana               agar
terciptanya kualitas pelayanan yang cepat, tepat dan terjangkau. Secara simultan
fenomena ini harus mampu dilaksanakan oleh Pemerintahan Aceh seiring dengan
tingginya tingkat kemajuan ekonomi yang menyebabkan berubahnya tuntutan
kebutuhan masyarakat.


2.7.7 Ketertiban Umum

       Pasca MoU Helsinky dan UU-PA, ketertiban umum di Pemerintah Aceh
relatif kondusif namun masih perlu terus ditingkatkan, terutama dalam pelayanan
dan penegakan hukum. Persoalan utama dalam pelayanan dan penegakan hukum
adalah masih kurang profesionalnya lembaga pelayanan dan penegakan hukum.
Lembaga kepolisian harus memiliki profesionalisme dalam mengintegrasikan aspek
struktural (institusi, organisasi, susunan dan kedudukan), aspek (filosofi, doktrin,
kewenangan, kompetensi, kemampuan, fungsi dan iptek), dan aspek kultural
(manajemen sumberdaya, manajemen operasional dan sistem pengamanan di
masyarakat). Sumberdaya manusia sebagai tulang punggung institusi polisi masih
memprihatinkan, kuantitas polisi belum memenuhi standar yang ditetapkan oleh
PBB yaitu 1 (satu) personil polisi untuk 400 orang penduduk (1:40). Rasio jumlah
personil polisi dengan jumlah penduduk pada Tahun 2004 secara nasional adalah
1 berbanding 475.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                   II-124
Dari segi kuantitas lebih baik, namun mengingat luasnya wilayah, jumlah
personil polisi di Aceh harus disesuaikan dengan luas wilayah daerah ini.
Peningkatan profesionalisme polisi secara keseluruhan memerlukan penguatan
kapasitas yang meliputi moral dan etika, budaya kerja, motivasi, pendidikan, dan
pelatihan, serta peralatan. Disamping itu, agar masyarakat mampu membina
sistem keamanan dan ketertiban di lingkungannya, polisi harus berperan sebagai
pembina dan penyelia dalam rangka mendukung terbentuknya mekanisme
community policing. Ketertiban umum merupakan tanggung jawab bersama, oleh
karena itu menjaga ketertiban harus dimulai dari diri setiap warga negara dan
masyarakat. Kewenangan pemerintah hanya sebatas menjalankan kebijakan
melalui berbagai regulasi. Setiap warga negara dan masyarakat wajib setia
menjaga ketertiban dan keamanan, serta berhak mendapat jaminan perlindungan
hukum, jaminan keamanan dan ketertiban.


2.8     Rencana Aksi Kesinambungan Rekonstruksi Aceh


        Penyusunan Rencana Aksi Kesinambungan Rekonstruksi dan Percepatan
Pembangunan        Aceh    adalah     untuk    menyediakan        pedoman    bagi   upaya
kesinambungan rekonstruksi dan percepatan pembangunan Aceh, untuk mengejar
ketertinggalan menuju kesejahteraan rakyat dan pembangunan berkelanjutan.
        Rencana Aksi Kesinambungan Rekontruksi                Provinsi Aceh 2010-2012
dengan Peraturan Gubernur Nomor 13 Tahun 2010 merupakan penajaman fokus
kepada penuntasan program, pengelolaan dan pemeliharaan aset hasil rehabilitasi
dan rekontruksi, fungsionalisasi hasil rehabilitasi dan rekontruksi serta penguatan
kapasitas pemerintah daerah, upaya penguatan institusi daerah ini diperlukan
dalam     rangka    memastikan       terjadinya     keselarasan     dan    kesinambungan
pembangunan di Provinsi Aceh pasca 2009 baik dalam memelihara dan merawat
seluruh kemajuan yang ada maupun melanjutkan dan mengembangkan program-
program percepatan pembangunan provinsi Aceh ke depan. Selanjutnya, untuk
mengatasi ketertinggalan Aceh akibat dihimpit konflik dan bencana tsunami maka
diperlukan suatu rencana aksi percepatan pembangunan Aceh ke depan yang
difokuskan    kepada      pengembangan        infrastruktur   stretegis,    pengembangan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          II-125
ekonomi strategis, dan pengembangan sosial kemasyarakatan. Rencana Aksi
Kesinambungan Rekontruksi Provinsi Aceh 2010-2012.


2.9    Badan Reintegrasi Aceh

       Sebagai tindaklanjut kesepakatan damai MoU-Helsinki, telah disusun
serangkaian kebijakan serta pelaksanaannya, yang secara keseluruhan terus
berproses sampai saat ini, melalui penerbitan Inpres 15/2005 tentang Pelaksanaan
Nota Kesepahaman Helsinki, dan diditegaskan melalui Direktif Menko Polhukam
No. Dir-67/Menko.Polhukam/12/2005             tentang    Optimalisasi   Inpres   15/2005.
Khususnya tentang Program Reintegrasi telah dilakukan berbagai langkah
tindaklanjut melalui BRA (Badan Reintegrasi-Damai Aceh), sesuai agenda
pelaksanaan program reintegrasi yang disepakati Pusat-Daerah untuk 3 (tiga)
Tahun mulai 2005 hingga 2007, dan dilanjutkan pada Tahun 2008-2011.
Berdasarkan rencana kerja dan pendanaan Program Reintegrasi yang disusun
bersama oleh Bappenas dan BRA pada September 2005, total kebutuhan
pendanaan untuk proses reintegrasi Aceh secara keseluruhan berjumlah Rp 1.500
miliar, untuk tiga Tahun (2005-2007), dan telah dikoreksi pada Tahun 2010
menjadi berjumlah Rp 2.100 miliar.
       MoU-Helsinki yang memuat prinsip-prinsip dasar bagi terciptanya suasana
damai yang berkelanjutan, telah ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinki.
Prinsip-prinsip dasar tersebut harus diimplementasikan oleh Pemerintah RI,
termasuk Pemda Aceh, dan GAM. Dalam MoU Helsinki terdapat minimal 19 butir
kewajiban RI dalam MoU tersebut yang harus segera ditindaklanjuti meliputi:
aspek politik, hukum, HAM, keamanan, sosial, dan aspek ekonomi.
       Pemerintah Aceh membentuk Badan Reintegrasi-Damai Aceh berdasarkan
Keputusan Gubernur No. 330/438/2007 tanggal 26 Agustus 2008 tentang
Pembentukan Badan Reintegrasi-Damai Aceh. Dana reintegrasi bersumber dari
APBN dan APBD. Kebutuhan pendanaan dialokasikan secara bertahap dalam 3
Tahun anggaran:
1. Tahun 2005 dialokasikan Rp200 miliar, melalui APBN-P 2005;
2. Tahun 2006 dialokasikan Rp600 miliar melalui APBN 2006;

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         II-126
3. Tahun 2007 dialokasikan Rp250 miliar melalui APBN 2007.
       Dengan adanya koreksi kebutuhan pendanaan reintegrasi damai Aceh yang
memerlukan tambahan dana sebesar Rp 600 miliar, yang disebabkan adanya
eskalasi satuan harga rumah yang perlu dibangun, maka pada Tahun 2008-2010,
dengan rincian:
1. Tahun 2008 dialokasikan Rp 250 miliar melalui APBN 2008;
2. Tahun 2009 dialokasikan Rp 200 miliar melalui APBN-P 2009;
3. Tahun 2010 dialokasikan Rp 200 miliar melalui APBN 2010.
       Untuk memenuhi kebutuhan keseluruhan, maka pada Tahun 2011 akan
dialokasikan Rp 200 miliar melalui APBN 2011. Permasalahan-permasalahan yang
selama ini timbul adalah belum adanya kepastian dana yang tersedia bagi
kelanjutan program Reintegrasi Aceh, Penyaluran dana APBN tidak bersamaan,
perlakuan terhadap date line sama dengan APBN lainnya, kemudian belum adanya
suatu ketetapan atau aturan terhadap besarnya bantuan (kompensasi diyat), dan
sebagian besar penerima bantuan rumah di pedalaman, sehingga dana yang
tersedia kurang memadai.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012             II-127
BAB III
                                     VISI DAN MISI


3.1 Visi
      Terwujudnya perubahan yang fundamental di Aceh dalam segala sektor
kehidupan masyarakat Aceh dan pemerintahan, yang menjunjung tinggi asas
transparansi dan akuntabilitas bagi terbentuknya suatu pemerintahan Aceh yang
bebas dari praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, sehingga pada tahun
2012 Aceh akan tumbuh menjadi negeri makmur yang berkeadilan dan adil dalam
kemakmuran.


3.2 Misi
a.    Kepemimpinan Yang Aspiratif, Inovatif, dan Intuitif

      1)     Membangun suatu mekanisme kontrol yang ketat agar para pemimpin
             formal dari level tertinggi sampai level yang terendah memperlihatkan
             keteladanan yang baik, taat beragama, hidup sederhana, menegakkan
             keadilan, taat pada hukum, tidak melakukan KKN dalam bentuk
             apapun, sehingga memberi contoh keteladanan bagi masyarakat.

      2)     Pemimpin harus memiliki sikap inovatif dan intuitif yang tinggi dalam
             menciptakan dan melaksanakan kebijakan agar selalu dalam koridor
             kepentingan rakyat. Pemimpin dan pejabat negara adalah "Orang
             Besar", namun kebesarannya bukan karena dia berpangkat tinggi,
             kaya raya atau berketurunan bangsawan tetapi karena dia dengan
             setia telah menjadi pelayan rakyatnya.



b.    Aparatur Pemerintah Yang Bersih, Kompeten dan Berwibawa,
      Bebas Dari Korupsi dan Penyalahgunaan Kekuasaan

      1)     Memperbaiki kesejahteraan PNS/pejabat negara sebagai prioritas
             utama, melalui pendapatan dan gaji yang layak.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                   III-1
2)     Memberikan reward bagi PNS/pejabat negara yang berprestasi dan
             punishment (sanksi/hukuman) bagi mereka yang melalaikan tugasnya.

      3)     Memperbaiki kembali system penerimaan PNS dimana akan dilakukan
             secara lebih ketat sehingga diperoleh PNS yang berkualitas dan tidak
             mengandung unsur KKN.


c.    Penegakan Hukum

      1)     Pemerintah Aceh akan berusaha sekuat tenaga membantu agar
             pengadilan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Walaupun bidang
             kehakiman menjadi wewenang Pemerintah Indonesia, Pemerintah
             Aceh akan berusaha agar pejabat dan PNS yang berdinas di Aceh
             dalam bidang penegakan hukum akan mendapat fasilitas yang sama
             dengan pejabat dan PNS yang berada di bawah Pemerintah Aceh.

      2)     Pemerintah Aceh dengan bekerjasama dengan aparat penegak hukum
             akan membangun mekanisme agar rakyat pencari keadilan dapat dan
             berani mengawasi proses hukum yang terjadi di dalam dan di luar
             pengadilan dan mengawasi perilaku para hakim serta aparat penegak
             hukum lainnya.


d.    Pengembangan Sumberdaya Manusia

      1)     Pendidikan akan dijadikan sebagai media pemerataan kesempatan
             untuk berkembang (mobilitas vertikal) bagi semua lapisan masyarakat,
             terutama masyarakat lapisan bawah.

      2)     Kualitas dan mutu sekolah di seluruh Aceh akan ditingkatkan baik
             kualitas fisik bangunannya maupun kualitas para pendidik terutama
             administrasinya.

      3)     Pemerintah     Aceh    akan    memberikan       subsidi   untuk   universitas-
             universitas atau perguruan tinggi di Aceh guna meningkatkan mutu
             sumberdaya manusia dan fasilitas pendidikan (sarana penunjang).

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            III-2
4)     Pemerintah Aceh akan mengusahakan pendidikan gratis minimal bagi
             murid sekolah dasar (SD/MI) sampai dengan Sekolah Lanjutan Atas
             (SLTA/MA) Sekolah akan dibersihkan dari pungutan yang membebani
             orang tua siswa.

      5)     Pemerintah Aceh juga mengupayakan sesuai dengan kemampuan
             ekonomi Pemerintah Aceh pembebasan biaya pendidikan bagi semua
             anak yatim korban konflik dan korban tsunami sampai tamat
             Perguruan Tinggi (S1).

      6)     Pemerintah      Aceh     akan     mengusahakan       (sesuai   kemampuan
             pemerintahan Aceh)         pembebasan       uang   kuliah   atau   sekurang-
             kurangnya akan dikembangkan sistem subsidi yang adil untuk semua
             program studi S1 yang memenuhi kriteria dan kualifikasi tertentu.

      7)     Pemerintah Aceh akan meminta kepada institusi-institusi/lembaga
             pendidikan pencetak tenaga pendidik untuk meningkatkan standar
             mutu penerimaan calon tenaga pendidik dengan menaikkan rating
             kualifikasi penerimaan mahasiswa baru. Institusi ini akan mendapat
             perhatian khusus dari Pemerintah Aceh.

      8)     Institusi-institusi pendidikan agama seperti dayah akan mendapat
             perhatian serius dari Pemerintah Aceh.

      9)     Pemerintah Aceh akan memberikan perhatian khusus dalam bentuk
             program-program beasiswa secara luas untuk mahasiswa cerdas dan
             berprestasi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 dan S3 di
             universitas-universitas terkemuka di luar negeri.

      10)    Dalam rangka pemerataan kesempatan pendidikan, Pemerintah Aceh
             akan mengembangkan sistem subsidi/beasiswa kepada mereka yang
             secara ekonomi tidak mampu namun memiliki keinginan dan
             kemampuan kecerdasan untuk melanjutkan pendidikan.

      11)    Di daerah-daerah tertentu          akan dikembangkan        sekolah-sekolah
             kejuruan (vocational).


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          III-3
12)    Sekurang-kurangnya 30% APBA akan digunakan untuk pendidikan.

      13)    Pemerintah Aceh akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
             kepada masyarakat.

      14)    Pemerintah Aceh bertekad akan memberantas penyakit-penyakit
             menular klasik seperti Malaria, TBC, DBD, Lepra, dan sebagaimana.

      15)    Pemerintah Aceh akan memberikan pelayanan medis gratis bagi ibu
             hamil dan anak.

      16)    Meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak dalam berbagai
             bidang khususnya pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, politik,
             adat istiadat dan agama.


e.    Perekonomian

      1)     Membangun kembali infrastruktur perekonomian di seluruh Aceh
             sehingga akhirnya seluruh teritorial Aceh dapat menjadi satu kesatuan
             politik dan satu kesatuan ekonomi.

      2)     Pemerintah Aceh akan memperlakukan pelaku ekonomi sebagai
             partner pembangunan.

      3)     Pemerintah      Aceh     akan     memberikan    perhatian   serius   pada
             pengembangan ekonomi kerakyatan untuk mencapai keadilan di
             bidang ekonomi.

      4)     Pemerintah Aceh secara proaktif akan mengidentifikasi semua sumber
             ekonomi yang berbiaya tinggi (high cost economy) untuk mengatasi
             dan mencari jalan keluarnya.

      5)     Pemerintah Aceh akan mendorong bangkitnya kembali semangat
             kewirausahaan rakyat Aceh seperti yang pernah kita saksikan pada
             periode tahun 1940-an sampai dengan tahun 1980-an. Pengusaha
             Aceh harus dapat bangkit kembali menjadi masyarakat ekonomi yang
             handal.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        III-4
6)     Perdagangan luar negeri, terutama dengan Malaysia, Singapura,
             Thailand, India, dan lain-lain harus kembali digalakkan.

      7)     Produksi agrobisnis tradisional masyarakat harus memperoleh pasar
             yang layak, yaitu dengan membuka pemasaran ke luar negeri.

      8)     Di setiap kabupaten akan dibangun kebun-kebun percobaan dan
             percontohan (pilot project) agar rakyat dapat memperoleh penyuluhan
             dan dapat memperoleh bibit unggul sesuai dengan kondisi alam di
             tempat itu.

      9)     Para mantan gerilyawan GAM dan korban konflik akan diperhatikan
             secara serius untuk memperoleh kehidupan ekonomi yang layak
             melalui penyediaan modal dan lapangan kerja yang memadai.

      10)     Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
             dan berkesadaran resiko bencana.

      11)     Keberhasilan transisi dari rehabilitasi dan rekonstruksi dampak
             tsunami.


f.    Politik

      1)     Pemerintah Aceh akan berusaha sekuat tenaga agar seluruh Rakyat
             Aceh mendapat perlakuan yang adil, baik dalam bidang politik dan
             hukum maupun dalam bidang ekonomi, dengan memperhatikan
             potensi dan karakteristik masing-masing.

      2)     Kepala dan Wakil Kepala Pemerintahan di setiap level harus menjadi
             satu kesatuan yang saling mengisi dengan pembagian tugas yang
             jelas. Sementara Bupati/Walikota menjadi mandataris rakyat di
             daerahnya masing-masing.

      3)     Semua lembaga politik, lembaga adat, dan lembaga keagamaan harus
             menjalankan kegiatannya berdasarkan fungsi masing-masing dan tidak
             boleh ada tumpang tindih dalam hal fungsi dan wewenang.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                 III-5
4)     Partai lokal harus menjadi sarana demokrasi yang menciptakan
             kestabilan politik, kemandirian, dan kemakmuran bagi Rakyat Aceh.


g.    Sumber Daya Alam

      1)     Penerimaan Pemerintah Aceh yang berasal dari bagi hasil kekayaan
             alam akan digunakan secara adil, efisien, dan bertanggungjawab
             untuk kesejahteraan dan kemakmuran seluruh Rakyat Aceh.

      2)     Pemerintah Aceh akan meninjau kembali Hak Pengelolaan Hutan
             (HPH). Jika selama ini HPH hanya diberikan kepada pengusaha, maka
             dimasa mendatang, Pemerintah Aceh akan menciptakan sistem
             pengelolaan hutan yang dikelola sendiri oleh rakyat secara lestari,
             berkesinambungan dan bertanggung jawab untuk kepentingan rakyat
             Aceh sendiri.

      3)     Pemerintah Aceh akan melarang dan membatasi penebangan hutan
             yang dilakukan secara liar, kecuali untuk keperluan domestik rakyat
             yang dilakukan secara terkontrol.

      4)     Pemerintah Aceh akan melakukan eksploitasi dan eksplorasi sumber
             kekayaan        alam      lainnya,     terutama    pertambangan,       dengan
             mempertimbangkan secara serius kelestarian ekosistem.


h.    Adat Istiadat, Kebudayaan, dan Olahraga

      1)     Pemerintah Aceh akan memberi perhatian lebih secara seksama dan
             mendukung upaya-upaya untuk mengembangan adat istiadat dan
             budaya     Aceh,       antara   lain   dengan     mendorong   rakyat    untuk
             menghidupkan kembali pendidikan tatacara sopan-santun ke-Acehan
             dalam keluarga serta akan menyelenggarakan secara reguler festival
             dan seni Aceh.
      2)     Pemerintah Aceh akan membangun sarana olahraga dan seni yang
             merata di seluruh Aceh dan akan mendukung partisipasi Aceh dalam
             event olahraga dan seni secara lokal, nasional, dan internasional.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            III-6
BAB IV
                            STRATEGI PEMBANGUNAN ACEH


       Perumusan strategi pembangunan didasarkan pada kerangka analisis
terhadap faktor lingkungan strategis. Proses perumusan strategi perlu dilakukan
mengingat     faktor     strategis   lingkungan      akan     menentukan     keberhasilan
pelaksanaan visi dan misi yang ditetapkan. Keberadaan faktor-faktor lingkungan
strategis yang dimaksud terdiri dari faktor lingkungan internal strategis dan
faktor lingkungan eksternal strategis yang merupakan kerangka dasar,
mengingat     pada      faktor   tersebut    dapat   ditemukan      berbagai    kekuatan,
kelemahan, peluang dan tantangan. Analisis faktor lingkungan internal strategis
dan faktor eksternal strategis mengisyaratkan bahwa implementasi strategi
yang tepat dapat mewujudkan peningkatan dan optimalisasi setiap program
dan kegiatan secara menyeluruh.
       Visi dan misi Pemerintah Aceh diwujudkan melalui pelaksanaan 7 (tujuh)
prioritas pembangunan secara proporsional yaitu: 1) Pemberdayaan ekonomi
masyarakat, perluasan kesempatan kerja dan penanggulangan kemiskinan,                     2)
Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur dan sumber daya energi
pendukung investasi, 3). Peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan
kesempatan belajar, 4). Peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan
kesehatan, 5). Pembangunan syariat islam sosial dan budaya, 6). Penciptaan
pemerintah yang baik dan bersih serta penyehatan birokrasi pemerintaan, 7).
Penanganan dan pengurangan resiko bencana.


4.1   Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan
      Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan
       Pembangunan         perekonomian      Aceh     tidak    terlepas   sebagai      upaya
pemberdayaan       ekonomi       masyarakat,    perluasan      kesempatan      kerja     dan
penanggulangan         kemiskinan    dalam     rangka   meningkatkan       kesejahteraan
masyarakat. Ketiga prioritas tersebut sangat ditentukan oleh tiga aspek


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                              IV-1
ekonomi makro yaitu pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan dan tingkat
pengangguran terbuka.
       Pertumbuhan ekonomi Aceh saat ini telah menunjukkan perkembangan
yang positif, namun kondisi tersebut masih dibawah rata-rata nasional.
Demikian pula halnya dengan tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran
yang semakin menurun, hal tersebut masih berada diatas rata-rata nasional.
Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menurunkan tingkat
kemiskinan dan tingkat pengangguran hingga mencapai kondisi yang lebih baik,
maka strategi yang ditempuh adalah:
1. Peningkatan serta percepatan upaya revitalisasi pertanian dan perikanan
    sehingga menjadi sektor ekonomi andalan yang berkelanjutan
2. Meningkatkan produksi sektor ril baik secara kuantitas maupun kualitas,
    terutama fokus pada komoditi-komoditi unggulan yang berorientasi pasar
3. Mengembangkan dan             meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana
    pendukung produksi serta pemasaran secara terintegrasi
4. Membangun serta mendorong pengembangan unit-unit penyedia sarana
    produksi
5. Melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pendistribusian sarana
    produksi bagi masyarakat
6. Mendorong tumbuhnya industri-industri pengolahan           terutama yang
    berbasis bahan baku lokal
7. Pemberdayaan UMKM, koperasi, serta memfasilitasi terjalinnya kemitraan
    dengan kelompok usaha besar
8. Mendorong terjadinya peningkatan realisasi investasi swasta baik nasional
    maupun asing
9. Mendorong terjadinya peningkatan aktivitas perdagangan dalam dan luar
    negeri
10. Mendorong peningkatan kapasitas sektor finansial serta peningkatan fungsi
    intermediasi perbankan
11. Peningkatkan kualitas sumber daya petani, nelayan, dan kompetensi tenaga
    kerja
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012              IV-2
12. Pengembangan kawasan-kawasan potensial dan cepat tumbuh melalui
     pembangunan pemukiman baru
13. Peningkatan ketahanan dan keamanan pangan serta perbaikan gizi
     masyarakat
14. Pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di kawasan sekitar hutan,
     serta pengembangan hutan tanaman rakyat
15. Pelestarian sumber daya hutan dan pengendalian Daerah Aliran Sungai
     (DAS)
16. Mengupayakan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam rangka
     kemandirian dan kesinambungan pembiayaan pembangunan
17. Meningkatkan kerjasama pembanguanan ekonomi baik secara kelembagaan
     maupun kawasan


4.2    Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya
       Energi Pendukung Investasi

       Dalam rangka penyediaan infrastruktur dan sumber daya energy
pendukung investasi diperlukan strategi yang diselaraskan dengan prioritas
pembangunan Pemerintah Aceh sesuai dengan kondisi dan potensi daerah.
Sarana dan prasarana pendukung investasi yang belum memadai menyebabkan
masih adanya daerah terpencil dan terisolir. Pembangunan Bidang Sarana dan
Prasarana memegang peranan penting untuk menghilangkan disparitas antar
wilayah, maka diperlukan langkah-langkah atau strategi sebagai berikut:


4.2.1 Sumber Daya Air

       Strategi Pembangunan Bidang Sumber Daya Air Tahun 2007–2012
adalah:
1.    Menyusun pola terpadu pengembangan pengelolaan sumber daya air
      sebagai kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau
      dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan
      sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                IV-3
2.   Menyusun pola pengelolaan aset irigasi untuk mengetahui kondisi kinerja
     masing-masing jaringan irigasi dengan membentuk Dewan Sumber Daya
     Air Aceh dan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) di
     masing-masing Wilayah Sungai.
3.   Membangun waduk dan embung beserta sarana dan prasarana yang
     berfungsi sebagai pengawaten air, sumber daya air, dan pengendali daya
     rusak air, yang dibarengi dengan kegiatan konservasi DAS.
4.   Membuat perangkat hukum yang berhubungan dengan sumber daya air di
     Aceh.
5.   Memelihara dan meningkatkan fungsi sarana dan prasarana konservasi
     sumber daya air dan jaringan irigasi yang telah ada, melalui kegiatan
     operasi dan pemeliharaan (OP) irigasi dan membangun laboratorium
     konservasi pada DAS.
6.   Mengoptimalkan fungsi dan peran Perkumpulan Petani Pemakai Air
     (P3A)/Kejruen Blang, dengan membentuk Komisi Irigasi (Komir) Aceh.
7.   Membangun dan meningkatkan irigasi teknis pada lahan-lahan potensial
     serta membangun sarana dan prasarana pemanfaatan air tanah secara
     terkendali.
8.   Memelihara dan meningkatkan fungsi konstruksi sungai, muara, dan pantai
     yang berfungsi sebagai pengendali daya rusak air.
9.   Membangun konstruksi pengendali daya rusak air di sungai, muara, dan
     pantai serta fasilitas sarana peringatan dini banjir kiriman sungai.


4.2.2 Bina Marga dan Cipta Karya

       Strategi pembangunan bidang kebinamargaan dan keciptakaryaan
adalah:
1.   Pembangunan, peningkatan dan pemeliharaan jalan nasional lintas Timur,
     lintas Barat, lintas tengah, pembangunan, peningkatan dan pemeliharaan
     jalan provinsi, jalan kabupaten/Kota, jalan menuju sentra produksi dan
     jalan strategis lainnya.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  IV-4
2.   Mendukung pembangunan kawasan yang berpotensi dan cepat tumbuh
     dengan menyediakan jaringan jalan dan jembatan yang memenuhi
     kebutuhan pergerakan barang dan jasa di seluruh wilayah kawasan.
3.   Membuka       dan    meningkatkan      aksesibilitas    daerah   terpencil/terisolir,
     perbatasan dan kepulauan untuk mengurangai kesenjangan antar daerah.
4.   Meningkatkan penguasaan teknologi tepat guna di bidang prasarana jalan.
5.   Meningkatkan daya dukung, kapasitas, dan geometrik jalan.
6.   Meningkatkan        kesadaran     hukum       masyarakat    dalam     pemanfaatan
     prasarana jalan.
7.   Pembangunan jalan highway lintas Timur dari Banda Aceh ke perbatasan
     Sumatra Utara dengan dimulai dengan penentuan alignment jalan
     highway, studi Amdal, dan pembebasan tanah.
8.   Menyediakan sarana dan prasarana dasar pemukiman, air bersih, sanitasi,
     fasilitas umum bagi masyarakat, dengan berpedoman kepada tata ruang
     serta tata bangunan yang mempertimbangkan resiko bencana sesuai
     dengan aturan yang sudah ditetapkan termasuk pembangunan kawasan
     perbatasan dan terisolir.
9.   Menyediakan rumah sederhana bagi kaum dhuafa/korban kerusuhan/
     bencana alam,
10. Menyiapkan/memberikan              informasi      pembangunan         infrastruktur/
     permukiman kepada pihak swasta dan masyarakat.
11. Mendorong peningkatan kemampuan SDM jasa konstruksi.
12. Meningkatkan dukungan terhadap pengembangan teknologi permukiman
     yang berorientasi terhadap faktor alam.


4.2.3 Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika

       Strategi Pembangunan Bidang Perhubungan, Komunikasi, Informasi, dan
Telematika Tahun 2007 - 2012 adalah :
1.   Melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana transportasi
     darat dan penyeberangan, pelabuhan laut, pelabuhan rakyat, bandar

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          IV-5
udara yang hancur akibat gempa tektonik dan gelombang tsunami
     sehingga pelayanan terhadap masyarakat dapat pulih kembali.
2.   Mengembangkan          prasarana     dan     sarana     transportasi   darat    dan
     penyeberangan, pelabuhan laut, pelabuhan rakyat, bandar udara sehingga
     memberikan akses transportasi yang lebih baik bagi masyarakat.
3.   Melakukan penambahan armada ferry dan lintasan baru sebagai upaya
     penyediaan sarana transportasi bagi masyarakat kepulauan.
4.   Meningkatkan pelayanan dan menekan angka kecelakaan lalu lintas bagi
     pengguna kendaraan di jalan raya.
5.   Mempertahankan subsidi angkutan perintis penyeberangan sebagai upaya
     membuka isolasi daerah dan memacu perkembangan perekonomian
     wilayah.
6.   Mengembangkan angkutan kereta api sebagai angkutan massal yang
     cepat, murah, hemat energi, berwawasan lingkungan untuk meningkatkan
     mobilitas barang dan penumpang.
7.   Membangun pelabuhan baru dengan kapasitas >10.000 DWT di wilayah
     pantai Barat-Selatan dan pantai Utara-Timur sehingga dapat menjadi
     pusat penyebaran (hub) dan pintu masuk bagi kegiatan ekspor-impor bagi
     masing-masing wilayah tersebut sekaligus menghilangkan ketergantungan
     terhadap pelabuhan Belawan (SUMUT).
8.   Mengembangkan pelabuhan Sabang sebagai International Hub dan pintu
     masuk Indonesia wilayah barat di masa depan.
9.   Mengembangkan Pelabuhan Malahayati untuk mendukung Kawasan
     Ekonomi Terpadu (KAPET) Bandar Aceh Darussalam.
10. Membangun bandara baru dalam rangka menyediakan alternatif                      moda
     transportasi yang cepat dan dapat membuka isolasi daerah serta
     mengantisipasi terputusnya hubungan darat dan laut sebagai akibat
     bencana seperti yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dan gempa
     tanggal 28 Maret 2005.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          IV-6
11. Mengembangkan Bandara Sultan Iskandar Muda (Banda Aceh) sebagai
     Bandara Internasional Hub dan Embarkasi Haji agar dapat didarati oleh
     pesawat sejenis B747 serta pengembangan fasilitas pendukung lainnya.
12. Mengembangkan Bandara Maimun Saleh Sabang, Cut Nyak Dhien
     Meulaboh, Lasikin Sinabang dan Rembele Takengon sebagai bandara
     utama di Provinsi Aceh yang dapat didarati oleh pesawat sejenis F-28.
13. Meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur telematika daerah dalam
     rangka integrasi data dan pelayanan informasi kepada publik.
14. Menyediakan koneksi dengan menggunakan teknologi Wireless 5,8 Ghz
     dari dishubkomintel dengan seluruh SKPA
15. Menyediakan sarana dan prasarana jaringan di 23 kabupaten/kota masing-
     masing berupa VSAT, 1 Noc dan 2 remote client, 3 BTS yang memiliki
     Wireless Akses Point yang bisa di gunakan oleh masyarakat secara gratis,
     8 unit personal komputer untuk telecenter bagi masyarakat, 8 unit telpon
     analog berbasis Voip.
16. Penyediaan pusat informasi dan komunikasi Aceh dalam mewujudkan Aceh
     Cyber Province melalui membangun Gedung Seuramo Aceh yang berfungsi
     sebagai Media Center Aceh.
17. Penyediaan sistem telekomunikasi dengan dasar BWA (Broadband Wireless
     Access)    yang     bertujuan    untuk    meningkatkan   pemanfaatan   sistem
     tekhnologi informasi/ komunikasi oleh seluruh kalangan masyarakat di
     Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.


4.2.4 Lingkungan Hidup


       Strategi pembangunan bidang lingkungan hidup tahun 2007 - 2012
adalah:
1.   Meningkatkan kualitas lingkungan hidup secara merata dengan melibatkan
     partisipasi semua stake holders dan penegakan hukum dalam pengelolaan
     sumber daya alam dan lingkungan.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                   IV-7
2.   Melakukan penelitian dampak lingkungan penggunaan mercury, khususnya
     di kawasan pertambangan emas Gunong Ujeun Kabupaten Aceh Jaya;
     Sawang Kabupaten Aceh Selatan dan Geumpang Kabupaten Pidie, serta
     Valuasi Ekonomi Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah dan Aneuk
     Laot di Kota Sabang.
3.   Pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang meliputi antara lain
     pengendalian konflik satwa, penetapan tapal batas antara Kawasan
     Ekosistem Leuser (KEL) dan diluar KEL.
4.   Pengelolaan dan Rehabilitasi Terumbu Karang dan Mangrove 35 ha di
     Kabupaten Aceh Besar dan Pidie Jaya.
5.   Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 5 - 10 ha masing-
     masing di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Kota Lhokseumawe,
     Kota Langsa, Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Barat.
6.   Pengembangan desa model yang ramah lingkungan merupakan prioritas
     untuk dijadikan pilot project pada masing-masing Kabupaten/Kota.
7.   Konservasi sumberdaya air dan pengendalian kerusakan sungai Alas
     Kabupaten Aceh Singkil.


4.2.5 Pertanahan

       Strategi Pembangunan Bidang Lingkungan Hidup Tahun 2007 - 2012
adalah:
1.   Menginventarisasi penguasaan, pemilikan, pemanfaatan dan penggunaan
     tanah (P4T) serta menyediakan sertifikat tanah bagi masyarakat ekonomi
     lemah dan wilayah perbatasan.
2.   Pecepatan pelimpahan Badan pertanahan menjadi Badan Otonomi di
     Daerah.

4.2.6 Energi dan Sumber Daya Mineral

       Strategi Pembangunan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun
2007 - 2012 adalah:

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012              IV-8
1.   Mengupayakan percepatan pembangunan pusat-pusat pembangkit yang
     akan diinterkoneksikan ke sistem 150 kV Sumut-Aceh, dimana saat ini
     sedang dalam pelaksanaan (committed) yaitu:

     a.   PLTU Batubara di Kabupaten Nagan Raya dengan total kapasitas 2 x
          100 MW yang direncanakan beroperasi pada akhir tahun 2011 (tahap
          konstruksi).
     b.   PLTP Seulawah di Kabupaten Aceh Besar dengan total kapasitas 2 x
          20 MW yang akan beroperasi pada akhir tahun 2012.
     c.   PLTA Peusangan I dan II di Kabupaten Aceh Tengah dengan total
          kapasitas 2 x 43 MW dibiayai dari Loan JBIC (Japan Bank International
          Company) dan direncanakan beroperasi pada tahun 2011 dan 2013.
     d.   PLTA Lawe Mamas di Kabupaten Aceh Tenggara dengan total
          kapasitas 3 x 30 MW yang direncanakan beroperasi pada tahun 2015.

2.   Meningkatkan pengembangan pembangkit di system isolated yang
     memiliki kapasitas terpasang sebesar 146,5 MW, dimana saat ini dengan
     daya mampu sebesar 96 MW.
3.   Pengembangan system transmisi 150 kV Tahun 2011 adalah Brastagi-
     Kutacane, Bireun-Takengon, Sidikalang-Subulussalam. Pada Tahun 2012
     adalah     Sigli-Meulaboh,      Meulaboh-Blangpidie,    Blangpidie-Tapaktuan,
     Incomer GI Jantho, Incomer GI Panton Labu, Incomer GI Cot Trueng.
     Pada tahun 2013 dilakukan pembangunan Incomer GI Samalanga dan
     pada tahun 2014 pengembangan transmisi Jantho-Krueng Raya dan
     Kutacane-Blangkejeren.
4.   Penambahan kapasitas trafo gardu induk (GI) dilakukan sejak tahun 2010
     sampai dengan 2019 sebesar 420 MVA dan GI uprating adalah sebesar
     350 MVA.
5.   Menyediakan dan mendayagunakan sumberdaya alam tambang yang
     berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup serta
     menyediakan informasi geologi dan sumber daya mineral.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                   IV-9
4.3     Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan
        Belajar

      Permasalahan pendidikan tidak hanya menyangkut penyediaan layanan
pendidikan formal bagi peserta didik, tetapi juga pembekalan ilmu pengetahuan
(knowledge) dan ketrampilan (life skills) bagi setiap anggota masyarakat
melalui program Pendidikan Non Formal (PNF). Pemberantasan buta aksara
(illiteracy) perlu dilakukan secara serius sebagai upaya untuk mencerdaskan
seluruh rakyat dan mendukung pembelajaran sepanjang hidup (life long
learning).

      Strategi pembangunan Pendidikan dan pemerataan kesempatan belajar di
Aceh akan dilakukan melalui:


4.3.1 Pemerataan dan Perluasan Akses

      Strategi utama untuk meningkatkan pemerataan dan perluasan akses
adalah:
1.    Mengurangi hambatan biaya pada tingkat pendidikan usia dini, pendidikan
      dasar, menengah, dayah dan luar sekolah.
2.    Meningkatkan efektivitas internal dan tingkat kelangsungan sekolah di
      setiap jenjang pendidikan.
3.    Meningkatkan partisipasi yang lebih besar dari masyarakat dan dunia
      usaha.
4.    Mengembangkan fasilitas pendidikan yang fokus dalam rangka menghapus
      hambatan kesempatan belajar dan perluasan akses penyediaan pendidikan
      dasar dan menengah di daerah-daerah terpencil, pemukiman terpencar dan
      daerah kepulauan.
5.    Meningkatkan pengembangan Perguruan Tinggi sesuai dengan prioritas
      dan arah pengembangan daerah.
6.    Pengembangan fasilitas dayah dalam menunjang pelayanan pendidikan
      yang bermutu.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012             IV-10
4.3.2 Mutu, Relevansi dan Daya Saing

     Strategi utama untuk meningkatkan mutu, relevansi, dan daya saing
adalah:
1.   Meningkatkan      kinerja   pelayanan      pendidikan   pada   semua   jenjang
     pendidikan
2.   Mengupayakan       desentralisasi    sekolah/manajemen     kelembagaan,     dan
     manajemen perencanaan pengembangan guru.
3.   Meningkatkan reformasi kurikulum dan bahan ajar sesuai dengan standar
     yang telah ditetapkan.
4.   Meningkatkan monitoring kinerja sekolah/kelembagaan dan prestasi siswa.
5.   Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana penunjang pembelajaran yang
     bermutu.
6.   Mengembangkan pendidikan unggulan pada jenjang pendidikan dasar,
     menengah dan dayah.
7.   Mengoptimalkan pembinaan dan pengembangan kelembagaan, kurikulum,
     manajemen, serta akreditasi dayah.
8.   Mengoptimalkan penelitian dan pengembangan pendidikan.


4.3.3 Tata Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik

     Strategi utama untuk meningkatkan tata kelola, akuntabilitas, dan
pencitraan publik adalah :
1.   Memperkuat sistem perencanaan, pengawasan, monitoring dan evaluasi.
2.   Meningkatkan sistem manajemen kelembagaan dan sekolah.
3.   Meningkatkan tata kelola yang akuntabel dan transparan.
4.   Meningkatkan koordinasi antar PT/PTS dan Akreditasi pendidikan.


4.3.4 Penerapan Sistem Pendidikan Bernuansa Islami

     Strategi utama untuk mempercepat penerapan sistem pendidikan yang
bernuansa Islami adalah:


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                     IV-11
1.    Meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak terkait dalam rangka
      penerapan syari’at Islam.
2.    Meningkatkan sarana peribadatan, media pembelajaran dan penerapan
      budaya yang menunjang pendidikan bernuansa Islami.
3.    Meningkatkan kualitas guru dalam metode internalisasi nilai-nilai Islami.
4.    Meningkatkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan sistem pendidikan yang
      bernuansa Islami secara berkala.
5.    Mengupayakan penambahan jam pelajaran agama di sekolah dan pelatihan
      tentang pemahaman Al-Qur’an.


4.4      Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan


      Dalam rangka peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan
Aceh yang pada saat ini masih perlu ditingkatkan meliputi aspek status
kesehatan (umur harapan hidup, angka kematian ibu dan angka kematian bayi,
angka kesakitan, status gizi), pelayanan kesehatan, kondisi kesehatan
lingkungan, pembiayaan kesehatan, fasilitas kesehatan dan sumber daya
kesehatan maka perlu ditempuh Strategi sebagai berikut:
1.    Meningkatkan pelayanan kesehatan minimal bagi masyarakat.
2.    Meningkatkan     kuantitas     dan    kualitas    tenaga   kesehatan   melalui
      perencanaan yang tepat, penempatan tenaga kesehatan dan peningkatan
      kapasitas yang sesuai untuk mendukung pembangunan sistem kesehatan
      daerah.
3.    Meningkatkan jangkauan, pemerataan, efisiensi dan mutu pelayanan
      kesehatan.
4.    Meningkatkan pencegahan dan pengendalian penyakit serta kesehatan
      lingkungan termasuk penanggulangan bencana.
5.    Memperkuat mekanisme rujukan dengan memanfaatkan rumah sakit
      dengan pelayanan unggulan.
6.    Meningkatkan pendidikan kesehatan masyarakat melalui promosi kesehatan
      dan mengembangkan sistem informasi kesehatan berbasis data teknologi.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                    IV-12
7.    Melakukan penelitian terhadap kebijakan dan masalah kesehatan.
8.    Mengembangkan pola Badan Layanan Umum (BLU) di rumah sakit provinsi
      dan kabupaten/kota.
9.    Meningkatkan     koordinasi    dan   kerjasama         lintas   sektor,   masyarakat,
      termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat Lokal, Nasional dan Internasional
      di setiap upaya pembangunan kesehatan melalui advokasi.
10. Meningkatkan fasilitas pendidikan kesehatan dan kedokteran.
11. Meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan dasar.
12. Meningkatkan Jaminan Kesehatan kepada Masyarakat Miskin diseluruh
      Aceh (JKA) dalam bentuk pengobatan gratis.
13. Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung lainnya.


4.5     Pembangunan Syariat Islam, Sosial dan Budaya

4.5.1 Syari’at Islam
      Syari`at Islam di Aceh secara resmi telah menjadi sumber nilai dan
sumber penuntun perilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tataran
kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, maupun dalam penyelenggaraan
pemerintahan. Strategi pembangunan syari’at Islam adalah sebagai berikut:
1.    Meningkatkan peran ulama dalam semua sektor kehidupan pemerintah dan
      masyarakat.
2.    Meningkatkan kerjasama dan koordinasi keagamaan baik dengan instansi
      terkait maupun lembaga keagamaan tingkat Nasional dan Internasional.
3.    Meningkatkan kualitas pendidikan agama di sekolah-sekolah dan perguruan
      tinggi.
4.    Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran masyarakat
      tentang pelaksanaan Syari’at Islam.
5.    Meningkatkan pengawasan tentang pelaksanaan Syari’at Islam.
6.    Meningkatkan pemberdayaan lembaga keagamaan dalam melakukan
      sertifikasi, penatausahaan, pengelolaan dan pemberdayaan harta agama.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                           IV-13
4.5.2 Sosial Budaya
     Budaya masyarakat Aceh memiliki karakteristik yang berbeda dengan
budaya daerah lain, masyarakat Aceh selalu mempertahankan jati diri dan
kepribadian yang mendasari nilai-nilai islami. Begitu juga kehidupan sosial erat
kaitannya dengan budaya dan adat istiadat yang bersendikan syari’at
sebagaimana ditamsilkan dalam syair ”hukom ngoen adat lage zat ngoen
sifeut”. Untuk itu strategi yang ditempuh sebagai berikut:
1.   Meningkatkan kualitas dan pelayanan kesejahteraan sosial di seluruh Aceh.
2.   Meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya sosial.
3.   Mengembangkan dan membangun ekonomi masyarakat pedesaan dan
     pengentasan kemiskinan.
4.   Meningkatkan dan penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan
     anak dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pembangunan.
5.   Meningkatkan kualitas hidup dan perlindungan hukum terhadap perempuan
     dan anak.
6.   Meningkatkan      peran    dan   hubungan      antar      lembaga pemuda        serta
     pengembangan sistem kaderisasi organisasi kepemudaan.
7.   Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pemuda dalam rangka
     Menanggulangi dampak demoralitas pemuda.
8.   Membudayakan olahraga di kalangan masyarakat.
9.   Memotivasi     penguatan       institusi   keolahragaan       di     daerah   melalui
     bantuan/subsidi.
10. Meningkatkan penguatan peran kelembagaan adat.
11. Memaksimalkan peran dan koordinasi antar lembaga adat dengan pihak-
     pihak yang terkait.
12. Mengembangkan apresiasi budaya, kesenian, bahasa dan adat istiadat.
13. Melestarikan dan memelihara situs dan cagar budaya.
14. Meningkatkan       jumlah    wisatawan      dalam        dan   luar   negeri   dengan
     mengikutsertakan peran serta masyarakat, berlandaskan pada sosial
     budaya ke-Acehan dan bernuansa Islami.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          IV-14
15. Menumbuhkan kultur demokrasi yang sehat, kompetitif dialogis dan
     rasional.
16. Melestarikan dan menghargai nilai-nilai kepahlawanan para pejuang.
17. Menggali dan membina kekayaan adat istiadat, seni, budaya dan bahasa.
18. Meningkatkan penguatan fungsi meunasah sebagai pusat pemberdayaan
     masyarakat.
19. Meningkatkan penegakan hukum adat di tingkat gampong dan kemukiman.


4.6 Penciptaan Pemerintah Yang Baik dan Bersih Serta Penyehatan
     Birokrasi Pemerintahan


     Dalam       rangka   menciptakan      pemerintahan      yang   baik   dan   bersih
sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat dalam menjalankan roda
pemerintahan mulai dari pemerintah gampong, mukim, kecamatan, kabupaten
dan provinsi perlu dilakukan strategi sebagai berikut:
1.   Mewujudkan pemerintahan yang transparan, partisipatif dan akuntabel.
2.   Membangun kelembagaan pemerintah daerah yang sesuai dengan
     kebutuhan.
3.   Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung kinerja.
4.   Memperjelas kewenangan antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota,
     kecamatan dan gampong.
5.   Memfasilitasi penyelesaian masalah tata ruang dan batas wilayah
     administrasi bagi kabupaten/kota.
6.   Menyelesaikan pemetaan, pemberian nama-nama, toponomi pulau kecil
     dan terluar.
7.   Menetapkan batas wilayah administrasi, titik kordinat, dan penguasaan
     wilayah secara ekonomi dan sosial budaya.
8.   Meningkatkan kapasitas Sumber Daya aparatur.
9.   Melakukan revitalisasi baperjakat dalam penempatan dan penjenjangan
     karir aparatur.
10. Memberikan penghargaan dan sanksi kepada aparatur secara adil.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       IV-15
11. Menerapkan sistem birokrasi pemerintahan yang baik dan bersih.
12. Meningkatkan pemahaman berbangsa dan bernegara dalam rangka
      memeliharan keutuhan NKRI.
13. Meningkatkan pengetahuan kader politik yang bebas, adil dan islami serta
      memihak kepentingan masyarakat.
14. menjamin perbedaan berpendapat dan berpolitik
15. Meningkatkan etika dan pendidikan politik yang sehat melalui rasa saling
      percaya dan menghargai (sportifitas) di dalam kelompok masyarakat.
16. Meningkatkan pemahaman terhadap hukum di Aceh dan Pengkajian
      materi hukum sesuai dengan amanah UUPA.
17. Meningkatkan kapasitas dan sumber daya aparat penegak hukum serta
      dukungan sarana dan prasarana.
18. Mengupayakan bantuan hukum dalam kasus prodeo dan Peningkatan
      penyuluhan hukum kepada masyarakat.
19. Melakukan Inventarisasi kebijakan kabupaten/kota yang bertentangan
      dengan kepentingan umum dan ketentuan perundang-undangan lebih
      tinggi.
20. Meningkatkan kapasitas           aparatur dan      penyediaan   fasilitas   sarana,
      prasarana Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).


4.7    Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana

      Secara substansial, penanggulangan bencana dilakukan sejak awal yaitu
dengan mengurangi ancaman, meningkatkan kapasitas dan mengurangi
kerentanan individu dan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan pemetaan
ancaman bencana, kerentanan dan kapasitas masyarakat dengan menganalisa
risiko secara komprehensif.
      Strategi penanggulangan bencana secara umum dilakukan dengan
mengurangi resiko ancaman yang meliputi :




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       IV-16
1.   Meningkatkan perlindungan daerah atau kawasan lindung dari eksploitasi
     ekonomi yang bersifat destruktif, melalui regulasi dan penegakan hukum
     serta perkuatan fungsi masyarakat sekitar kawasan untuk mengelolanya.
2.   Meningkatkan pembangunan ekonomi masyarakat bagi pelaku usaha skala
     mikro, kecil dan menengah sebagai bagian peningkatan kapasitas ekonomi
     masyarakat.
3.   Meningkatkan        pembangunan,        pemeliharaan      dan     pendayagunaan
     infrastruktur secara optimal sebagai salah satu bagian dari pengurangan
     ancaman bencana.
4.   Mengupayakan penyediaan sarana dan prasarana dasar yang bersifat
     antisipatif dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana termasuk
     prosedur standar pelayanan.
5.   Meningkatkan       pemberdayaan         masyarakat      melalui   penyebarluasan
     informasi, pelatihan ketrampilan dalam rangka penanganan pengurangan
     resiko bencana.
6.   Meningkatkan peran aktif semua komponen masyarakat (termasuk dunia
     usaha dan instansi vertikal di daerah) sebagai satu kesatuan sistem
     masyarakat Aceh sebagai subyek dan atau obyek dalam pengurangan
     risiko bencana.
7.   Meningkatkan pemahaman dan peran SKPA/SKPK dalam penyelenggaraan
     pengurangan risiko bencana.
8.   Memberikan perhatian khusus kepada wanita, anak dan lansia dalam hal
     mewujudkan kesejajaran dan menumbuhkan kemitraan.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                     IV-17
BAB V
                       ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN ACEH



        Arah kebijakan keuangan Aceh yaitu mengelola pendapatan dan belanja
daerah sehingga mendukung berbagai kebijakan Pemerintah Daerah dalam
penyusunan program dan kegiatan secara efektif dan efisien sehingga tercapai
sasaran sesuai dengan tujuan yang direncanakan.
        Pengelolaan keuangan Aceh dilaksanakan dalam suatu sistem yang
terintegrasi yang diwujudkan dalam APBA mengacu kepada penyusunan anggaran
berbasis kinerja yang setiap tahun ditetapkan dengan qanun. Adapun ruang
lingkup pengelolaan keuangan Aceh meliputi:
1. Hak untuk memungut pajak dan retribusi serta melakukan pinjaman;
2. Kewajiban      untuk     membiayai      penyelenggaraan   urusan   pemerintahan,
   melaksanakan pembangunan dan membayar tagihan pihak ketiga;
3. Pengelolaan pendapatan Aceh;
4. Pengelolaan belanja Aceh;
5. Pengelolaan pembiayaan daerah yang meliputi aspek kekayaan daerah yang
   dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang,
   barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan
   yang dipisahkan pada perusahaan daerah, kekayaan pihak lain yang dikuasai
   oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan
   daerah dan/atau kepentingan umum.

        Dalam rangka penyelenggaraan urusan Pemerintahan Aceh berdasarkan
UUPA,    diikuti dengan pemberian sumber pendanaan kepada Pemerintah Aceh.
Oleh karena itu, keuangan daerah harus diarahkan pengelolaannya secara tertib,
taat azas sesuai peraturan perundang-undangan, efisien, efektif, transparan, dan
akuntabel dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan memberi manfaat
yang besar bagi masyarakat.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                     V-1
5.1     Arah Kebijakan Pengelolaan Pendapatan

        Dalam pengelolaan anggaran pendapatan daerah harus diperhatikan upaya
peningkatan pendapatan pajak dan retribusi daerah secara terus menerus tanpa
harus menambah beban bagi masyarakat. Pendapatan daerah yang berasal dari
PAA dalam struktur APBA merupakan elemen yang cukup penting peranannya
dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pemberian pelayanan
kepada publik. Apabila dikaitkan dengan pembiayaan daerah secara keseluruhan,
maka pendapatan daerah yang berasal dari daerah sendiri (PAA) merupakan
alternatif   utama     dalam    mendukung        program     kegiatan   penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan publik di samping pendapatan yang berasal dari
Pemerintah berdasarkan UUPA.
        Kondisi Umum Anggaran Pendapatan Aceh tahun 2007-2012 disusun
dengan mempertimbangkan adanya berbagai perubahan ke arah semakin
membaiknya kondisi keamanan pasca kesepakatan damai antara RI-GAM di
Helsinki Finlandia yang ditindaklanjuti dengan pengesahan Undang-undang Nomor
11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Kondisi ini diikuti dengan mulai
normalnya kondisi sosial serta psikologis masyarakat pasca bencana alam dan
gelombang Tsunami yang berpengaruh kepada semakin membaiknya tatanan
kehidupan masyarakat.
        Untuk membiayai berbagai program kegiatan Pemerintah Daerah, baik
urusan wajib maupun urusan pilihan dalam kerangka meningkatkan pelayanan
kepada masyarakat sangat ditentukan oleh ketersediaan dana. Berdasarkan pasal
179 ayat (2) UUPA, Pendapatan Daerah terdiri atas PAA, Dana Perimbangan, Dana
Otonomi Khusus, dan lain-lain pendapatan yang sah.
        Adapun jenis PAA terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, keuntungan perusahaan daerah,
zakat dan lain-lain Pendapatan Asli Aceh yang sah.
        Dana perimbangan sebagaimana dimaksud di atas terdiri atas:
1.    Dana bagi hasil pajak, yaitu bagian dari : (a) penerimaan Pajak Bumi dan
      Bangunan (PBB) sebesar 90 persen (sembilan puluh persen); (b) penerimaan
      Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar 80 persen

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          V-2
(delapan puluh persen); dan (c) penerimaan Pajak Penghasilan (PPh Pasal 25
     dan Pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri dan PPh Pasal 21)
     sebesar 20 persen (dua puluh persen).
2.   Dana bagi hasil yang bersumber dari hidrokarbon dan sumber daya alam lain,
     yaitu: (a) bagian dari kehutanan sebesar 80 persen (delapan puluh persen);
     (b) bagian dari perikanan sebesar 80 persen (delapan puluh persen); (c)
     bagian dari pertambangan umum sebesar 80 persen (delapan puluh persen);
     (d) bagian dari pertambangan panas bumi sebesar 80 persen (delapan puluh
     persen);(e) bagian dari pertambangan minyak sebesar 15 persen (lima belas
     persen); dan (f) bagian dari pertambangan gas bumi sebesar 30 persen (tiga
     puluh persen).
3.   Dana Alokasi Umum (DAU).
4.   Dana Alokasi Khusus (DAK).
5. Dana Tambahan Bagi Hasil Migas dan Dana OTSUS tambahan 2 persen dari
     DAU Nasional selama 15 Tahun dan dilanjutkan 1 persen dari DAU Nasional
     selama 5 tahun.
       Selain dana bagi hasil sebagaimana disebutkan di atas, Pemerintah Aceh
mendapat tambahan dana bagi hasil minyak dan gas bumi yang merupakan
bagian dari penerimaan Pemerintah Aceh, yaitu bagian dari: 1). pertambangan
minyak sebesar 55 persen (lima puluh lima persen); dan 2) pertambangan gas
bumi sebesar 40 persen (empat puluh persen).
       Pemerintah Aceh berwenang mengelola tambahan dana bagi hasil minyak
dan gas bumi sebagaimana dimaksud di atas. Dana tersebut merupakan
pendapatan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). Dimana 30
persen (tiga puluh persen) dari pendapatan tersebut dialokasikan untuk
membiayai pendidikan dan 70 persen (tujuh puluh persen) dialokasikan untuk
membiayai program pembangunan yang disepakati bersama antara Pemerintah
Aceh dengan pemerintah kabupaten/kota. Program pembangunan yang sudah
disepakati tersebut dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh.
       Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota mengelola APBA/APBK
secara tertib, taat kepada peraturan perundang-undangan, efisien, efektif,


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                 V-3
transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan,
kepatutan dan manfaat untuk masyarakat. Pengelolaan APBA dan APBK
dilaksanakan melalui suatu sistem yang diwujudkan dalam APBA dan APBK,
mengacu kepada penyusunan anggaran yang berbasis kinerja yang setiap
tahunnya diatur dengan qanun.
       Alokasi anggaran belanja untuk pelayanan publik dalam APBA/APBK
diupayakan lebih besar dari alokasi anggaran belanja untuk aparatur. Dalam
keadaan tertentu, Pemerintahan Aceh dan pemerintahan kabupaten/kota dapat
menyusun APBA/APBK yang berbeda dengan ketentuan di atas.
       Anggaran untuk penyelenggaraan pendidikan paling sedikit 20 persen (dua
puluh persen) dari APBA/APBK dan diperuntukkan bagi pendidikan Pada tingkat
sekolah      dasar      dan       menengah.         Pengelolaan     dana     pendidikan
dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota
dalam pertanggungjawaban APBA/APBK.
       Pemerintah      melaksanakan       prinsip    transparansi   dalam   pengelolaan
keuangan daerah. Pemerintah Aceh harus menerima auditor independen yang
ditunjuk oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan pemeriksaan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BPK menyerahkan
hasil pemeriksaan tersebut kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh.
       Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota berwenang mengatur
tata cara pengadaan barang dan jasa yang menggunakan dana APBA dan APBK
dengan berpedoman Padaperaturan perundang-undangan. Pemerintah Aceh
menetapkan sistem akuntansi keuangan dengan berpedoman Pada standar
akuntansi pemerintahan.
       Pemerintah Aceh berwenang menetapkan persyaratan untuk lembaga
keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank dalam penyaluran kredit di
Aceh sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Selanjutnya pemerintah Aceh dapat menetapkan tingkat suku bunga tertentu
setelah mendapatkan kesepakatan dengan lembaga keuangan bank dan lembaga
keuangan bukan bank terkait.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         V-4
Pemerintah Aceh dapat menanggung beban bunga akibat tingkat suku
bunga untuk program pembangunan tertentu yang telah disepakati dengan DPRA.
Bank asing dapat membuka cabang atau perwakilan di Aceh sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
        Setiap pelimpahan wewenang pemerintah kepada Gubernur sebagai Wakil
Pemerintah di daerah disertai dengan dana. Kegiatan dekonsentrasi di daerah
dilaksanakan oleh satuan kerja perangkat daerah yang ditetapkan oleh Gubernur.
Gubernur Aceh memberitahukan rencana kerja dan anggaran pemerintah yang
berkaitan dengan tugas yang dilimpahkan dalam rangka dekonsentrasi kepada
DPRA.
        Dalam hal tugas pembantuan dari Pemerintah kepada Pemerintah Aceh dan
pemerintah kabupaten/kota, mukim/gampong disertai dengan dana. Kegiatan
tugas pembantuan dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang
ditetapkan    oleh     gubernur,     bupati/walikota.        Gubernur,   bupati/   walikota
memberitahukan rencana kerja dan anggaran Pemerintah yang berkaitan dengan
tugas pembantuan kepada DPRA/DPRK. Semua barang yang diperoleh dari dana
tugas pembantuan menjadi barang milik negara. Barang milik negara dapat
dihibahkan    kepada     Pemerintah      Daerah,    pemerintah      kabupaten/kota,    dan
mukim/gampong.
        Arah dan kebijakan keuangan daerah tahun 2007 - 2012 yang ditempuh
dalam meningkatkan Pendapatan Daerah adalah :
1.   Menghimpun penerimaan dari semua sumber pendapatan daerah secara
     optimal sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku;
2.   Mengupayakan peningkatan PAA dari masing-masing bagian pendapatan
     daerah    sehingga kebutuhan pembiayaan Pemerintah Aceh dapat dipenuhi
     secara tepat dan cukup; dan
3.   Memberdayakan segenap potensi yang dimiliki untuk dapat meningkatkan
     pendapatan daerah.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                             V-5
Agar arah dan kebijakan pendapatan daerah tersebut dapat dicapai, maka
ditetapkan beberapa strategi yaitu:
1.    Pemberdayaan segenap aparatur, dengan cara meningkatkan motivasi, disiplin
      dan etos kerja guna dapat meningkatkan kinerja;
2.    Meningkatkan koordinasi dengan segenap instansi/institusi dalam rangka
      mengoptimalkan pendapatan daerah baik di daerah maupun pusat serta antar
      provinsi;
3.    Memperluas     jangkauan      pelayanan,     dengan       membuka   tempat-tempat
      pelayanan pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan lainnya di
      kabupaten/kota sepanjang dapat meningkatkan penerimaan pendapatan
      daerah;
4.    Sosialisasi melalui pemanfaatan berbagai media komunikasi dalam rangka
      intensifikasi pemungutan      pajak daerah, retribusi daerah, dan penerimaan
      lain-lain yang sah;
5.    Melakukan pendekatan yang intensif dengan berbagai pihak, baik dalam
      rangka peningkatan sumbangan pihak ketiga maupun penerimaan yang
      bersumber dari bagi hasil dan Dana Alokasi Umum (DAU);
6.    Mempecepat penetapan qanun yang mengatur tentang berbagai PAA yang
      belum ada pengaturannya; dan
7.    Reformasi pelayanan investasi sebagai bagian dari sistem perekonomian
      nasional dalam rangka penciptaan perekonomian Aceh yang terbuka dan
      tanpa hambatan.


5.2     Arah Kebijakan Pengelolaan Belanja

        Belanja Aceh diarahkan kepada peningkatan proporsi belanja yang berpihak
untuk kepentingan publik, di samping tetap menjaga eksistensi penyelenggaraan
pemerintahan.       Dalam      penggunaannya,         belanja    daerah   harus   tetap
mengedepankan efisiensi dan efektivitas serta penghematan yang dilakukan
dengan cara penganggaran belanja yang mengacu pada penyusunan anggaran
berbasis kinerja sesuai dengan prioritas program kegiatan.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         V-6
Dalam rangka peningkatan sumber daya manusia, Pemerintah Aceh
mengupayakan 20 persen dari total belanja setiap tahunnya untuk membiayai
pembangunan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang
Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selanjutnya
sebagaimana yang diamanatkan oleh UUPA bahwa kebijakan belanja khusus
pemanfaatan pendapatan yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus dan
Tambahan Dana Bagi Hasil Migas adalah sesuai yang diatur oleh Qanun Nomor 2
Tahun 2008.
         Sebagaimana ketentuan yang telah diatur pada penjelasan pasal 17 ayat 3
dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan pasal
83 ayat 2 berikut penjelasannya dalam Undang-undang Nomor 33 tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah,
maka jumlah kumulatif defisit anggaran tidak diperkenankan melebihi 3 persen
dari Produk Domestik Regional Bruto tahun bersangkutan.


5.3      Arah Kebijakan Umum Anggaran
a)       Pendapatan Daerah

         Formulasi kebijakan dalam mendukung pengelolaan anggaran pendapatan
Aceh akan lebih difokuskan Pada upaya untuk mobilisasi pendapatan asli daerah
dan penerimaan daerah lainnya. Kebijakan pendapatan daerah Provinsi Aceh
tahun 2007-2012 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 5 -
6 persen serta diperkirakan akan dapat meningkatkan penerimaan daerah.
Pertumbuhan komponen pajak daerah, retribusi daerah, penerimaan dari zakat,
bagian laba dari BUMD dan hasil Perusahaan Daerah akan menjadi faktor yang
penting dalam mendorong pertumbuhan PAA untuk masa yang akan datang. PAA
yang      besar    akan      meningkatkan        kemampuan   membiayai   kegiatan
pembangunan/investasi, sedangkan biaya rutin dibiayai oleh dana pemerintah
pusat.
         Dana Perimbangan merupakan komponen dari Bagi Hasil Pajak sebagai
bagian yang penting dalam meningkatkan pendapatan daerah untuk periode 2007-
2012. Disamping dana perimbangan, pemerintah Aceh mendapat Dana Otonomi

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                   V-7
Khusus sebagaimana diatur dalam UUPA. Dana Otonomi khusus ini ditujukan
untuk membiayai kegiatan pembangunan seperti pembangunan dan pemeliharaan
infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, perbaikan
pendidikan, kehidupan sosial, dan kesehatan. Dana Otonomi Khusus ini berlaku
untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun, dengan rincian untuk tahun pertama
sampai dengan tahun kelima belas yang besarnya setara dengan 2% (dua persen)
plafon Dana Alokasi Umum Nasional dan untuk tahun keenam belas sampai
dengan tahun kedua puluh yang besarnya setara dengan 1% (satu persen) plafon
Dana Alokasi Umum Nasional.
       Ketentuan dimaksud berlaku untuk daerah Aceh sesuai dengan batas
wilayah    Aceh.     Program      pembangunannya             dituangkan   dalam   program
pembangunan provinsi dan kabupaten/kota di Aceh dengan memperhatikan
keseimbangan kemajuan pembangunan antar kabupaten/kota untuk dijadikan
dasar pemanfaatan dana otonomi khusus yang pengelolaannya diadministrasikan
Pada Pemerintah Provinsi Aceh. Penggunaan Dana Otonomi Khusus dilakukan
untuk setiap tahun anggaran yang diatur lebih lanjut dalam Qanun Aceh.
Selanjutnya untuk mengkoordinasikan tambahan Dana Bagi Hasil dan Dana
Otonomi Khusus, Gubernur dapat membentuk satuan unit kerja.
       Terdapat beberapa hal yang cukup signifikan terkait dengan prospek
keuangan daerah ke depan antara lain adalah, Bahwa peranan pajak daerah dan
BUMD dalam memberikan sumbangan kepada PAA kedepan akan semakin
penting. Untuk itu, upaya ekstensifikasi melalui perluasan basis pajak tanpa harus
menambah beban kepada masyarakat dan intensifikasi melalui upaya yang terus
menerus dalam melakukan perbaikan kedalam dan senantiasa meningkatkan
kesadaran wajib pajak dan retribusi tetap dilanjutkan secara konsisten, termasuk
upaya meningkatkan efisiensi, baik di tubuh penyelenggara pemerintahan daerah
Provinsi Aceh maupun pada setiap perusahaan daerah.
       Disamping upaya ekstensifikasi PAA sebagaimana yang telah disampaikan,
juga perlu prioritas pembangunan harus benar-benar fokus pada sektor-sektor
yang mampu menarik investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi dalam
upaya memperluas basis PAA dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            V-8
Penerimaan PAA selama ini sangat didominasi oleh Pajak Kendaraan
Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Pada tahun
2007, kedua jenis PAA ini diperkirakan akan mengalami           kenaikan yang cukup
berarti, terutama dengan meningkatnya penambahan jumlah kenderaan baru
akibat meningkatnya kesejahteraan rakyat. Perubahan-perubahan yang terjadi
perlu dicermati secara tepat dalam menetapkan perkiraan yang lebih realistik
untuk tahun 2007 - 2012.
       Di samping itu, pasca pengesahan UUPA dan suksesnya Pemilihan Kepala
Daerah secara langsung akan berdampak Pada berkembangnya perekonomian
daerah yang Padagilirannya dapat memperbesar jumlah basis dan kapasitas PAA.
       Perkiraan PAA yang direncanakan tetap mengacu kepada ketentuan
Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000, Juncto Peraturan Pemerintah Nomor 65
Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 tentang
Retribusi Daerah.
       Retribusi daerah merupakan bagian yang cukup berarti dari penerimaan
PAA. Retribusi ini terkait dengan pengelolaan kepemilikan sumber daya alam yang
dikuasai oleh Pemerintah Daerah dan pungutan atas pelayanan publik. Pelayanan
publik yang baik dan luas berpengaruh secara positif terhadap peningkatan
retribusi daerah.
       Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah termasuk bagi hasil keuntungan
yang diperoleh dari Perusahaan Daerah, sumbangan pihak ketiga, penerimaan
atas pelayanan oleh Dinas atau Unit Kerja lainnya, jasa giro dan lain-lain, dapat
ditingkatkan melalui pembinaan dan sosialisasi yang intensif.
       Penetapan zakat sebagai salah satu sumber PAA oleh Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2001 jo UUPA No. 11 Tahun 2006. Zakat, harta wakaf, dan
harta agama dikelola oleh Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/Kota. Zakat
yang dibayar menjadi faktor pengurang terhadap jumlah pajak penghasilan
terhutang dari wajib pajak. Oleh karena itu, potensi ini perlu ditangani secara
tepat dengan        mempersiapkan Qanun          dan    manajemen yang   baik   untuk
mengelolanya.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       V-9
Secara teoritis, pendapatan daerah akan sangat dipengaruhi oleh kondisi
perekonomian Aceh yang akan terjadi sampai dengan tahun 2012, atau dengan
kata lain, bahwa suatu pendapatan daerah - termasuk Pendapatan Asli Aceh -
harus benar-benar mampu merespon perkembangan ekonomi yang diperkirakan
akan terjadi.
         Basis PAA pada dasarnya ditentukan oleh besaran kegiatan ekonomi di
daerah. Besaran kegiatan ekonomi dapat diukur dengan perkembangaan PDRB.
Seterusnya perkembangan PDRB tergantung pada besaran investasi dan efisiensi
penggunaan modal yang dapat diukur dengan rasio tambahan modal terhadap
tambahan        pendapatan        (ICOR).     Beberapa        asumsi   ekonomi        makro     yang
berpengaruh pada peningkatan PAA antara lain:
a.   Pertumbuhan ekonomi Aceh diperkirakan berkisar antara 5 - 6% selama
     periode 2007 - 2012.
b.   Selama periode 2007-2012 proyeksi tingkat inflasi diperkirakan akan mencapai
     sekitar 8 persen untuk setiap tahunnya, dan;
c.   Incremental Capital Output Ratio (ICOR) tahunan selama periode proyeksi
     adalah sekitar antara 3,9 kemudian menurun menjadi 3,5 dalam tahun 2012.
         Proyeksi pendapatan daerah sesuai dengan berbagai sumber pendapatan
yang telah dijelaskan dapat ditunjukkan PadaTabel 5.1.


                                            Tabel V.1
                          Proyeksi dan Prospek Pendapatan Daerah Aceh
                                        Tahun 2007-2012
                                         (Jutaan rupiah)
                  Jenis
      No                     2007           2008       2009        2010        2011           2012
             Pendapatan
     1      PAA              537.500        625.500    714.700     806.208      897.310        989.909
     2      Dana
                           3.319.647    3.443.123     3.624.648   3.846.620    4.126.316      4.642.948
            Perimbangan
     3      Dana Otsus        -         3.800.000     4.180.000   4.598.000    5.057.800      5.563.580
            Jumlah         3.857.147    7.868.623     8.519.348   9.250.828   10.081.426   11.196.437




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                      V-10
b)     Belanja Aceh

       Kebijakan belanja daerah sampai dengan tahun 2012 diperkirakan masih
didominasi oleh belanja langsung berkisar sekitar 75 - 80 persen. Sedangkan
untuk belanja tidak langsung berkisar 20 - 25 persen. Belanja daerah yang
diakomodasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) merupakan
rencana belanja tahunan untuk membiayai berbagai kegiatan pemerintah baik
yang bersifat rutin maupun pembangunan ditetapkan dengan qanun. Berdasarkan
pasal 26 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah, belanja daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan
urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota
yang terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan ditetapkan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
       Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan
meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban
daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan,
kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan
sistem jaminan sosial.
       Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan melalui perluasan
lapangan kerja, pencapaian standar hidup minimal berdasarkan urusan wajib
pemerintah Aceh sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
       Belanja daerah diklasifikasikan menurut organisasi, fungsi, program dan
kegiatan, serta jenis belanja. Sedangkan klasifikasi belanja menurut organisasi
disesuaikan dengan susunan organisasi pemerintahan daerah. Adapun klasifikasi
belanja menurut fungsi terdiri dari:
a.   Klasifikasi berdasarkan urusan pemerintahan;
b.   Klasifikasi untuk tujuan keselarasan serta keterpaduan dalam rangka
     pengelolaan keuangan negara.
c.   Klasifikasi belanja berdasarkan urusan pemerintahan diklasifikasikan menurut
     kewenangan       pemerintahan      provinsi    dan      kabupaten/kota.   Sedangkan
     klasifikasi belanja menurut fungsi digunakan untuk tujuan keselarasan dan
     keterpaduan pengelolaan keuangan negara terdiri dari: 1) pelayanan umum;
     2) ketertiban dan keamanan; 3) ekonomi; 4) lingkungan hidup; 5) perumahan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                          V-11
dan fasilitas umum; 6) kesehatan; 7) pariwisata dan budaya; 8) agama; 9)
     pendidikan; serta 10) perlindungan sosial.
d.   Klasifikasi belanja menurut program dan kegiatan disesuaikan dengan urusan
     pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.
       Beberapa asumsi pokok yang akan mempengaruhi kebijakan belanja daerah
kedepan adalah:
a.   Perkiraan penerimaan pendapatan daerah diharapkan dapat terpenuhi,
     sehingga dapat memberikan dukungan terhadap pertumbuhan perekonomian
     daerah    dan    mampu       mencukupi      kebutuhan   pelayanan   dasar   serta
     penyelenggaraan pemerintahan
b.   Perkiraan kebutuhan belanja daerah dapat mendanai program-program
     strategis daerah dalam mendukung dan menjaga target-target indikator yang
     telah ditetapkan.
       Dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan yang lebih berkualitas
dan berdaya guna bagi masyarakat maka prioritas belanja Aceh juga diarahkan
untuk membiayai penuntasan asset, fungsionalisasi asset dan percepatan
pembangunan Aceh.


c)     Pembiayaan Daerah
       Pembiayaan Daerah merupakan setiap penerimaan yang perlu dibayar
kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun
anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya.
Pembiayaan daerah tersebut meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup
defisit atau untuk memanfaatkan surplus.
       Pembiayaan daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran
pembiayaan. Berdasarkan PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah yang merupakan pelaksanaan UU Nomor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Penerimaan
pembiayaan mencakup;
a. SiLPA tahun anggaran sebelumnya;


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       V-12
b. SiLPA tahun anggaran sebelumnya mencakup sisa dana untuk mendanai
   kegiatan lanjutan, uang pihak ketiga yang belum diselesaikan, pelampauan
   target pendapatan daerah, penerimaan dan pengeluaran lainnya yang belum
   diselesaikan melalui kas daerah sampai dengan akhir tahun anggaran
   sebelumnya.
c. Pencairan dana cadangan;
d. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan;
e. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan dapat berupa hasil penjualan
   perusahaan milik daerah/BUMD dan penjualan aset milik pemerintah daerah
   yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga, atau hasil divestasi penyertaan
   modal pemerintah daerah;
f. Penerimaan pinjaman;
g. Termasuk dalam penerimaan pinjaman daerah adalah penerbitan obligasi
   daerah yang akan direalisasikan PAA tahun anggaran berkenan;
h. Penerimaan kembali pemberian pinjaman;


       Sedangkan pengeluaran pembiayaan mencakup:
a. Pembentukan dana cadangan;
b. Penyertaan modal pemerintah daerah;
c. Pembayaran pokok utang; dan
d. Pemberian pinjaman.
       Pembiayaan netto merupakan selisih lebih penerimaan pembiayaan
terhadap pengeluaran pembiayaan. Jumlah pembiayaan netto harus dapat
menutup defisit anggaran.
       Adapun kebijakan yang ditetapkan dalam menyertai Pembiayaan Daerah
yang dapat ditempuh adalah optimalisasi sumber penerimaan pembiayaan yang
paling mungkin dapat dilakukan secara cepat, yaitu dari Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran Tahun Lalu. Selain itu juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan
pengeluaran pembiayaan yang timbul dari pernyertaan modal dan pembayaran
utang pokok yang jatuh tempo.
       Asumsi dasar yang menyertai dalam penetapan kebijakan pembiayaan di
atas, adalah alternatif pembiayaan dari sisi penerimaan diharapkan mampu
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                V-13
memenuhi kebutuhan pembiayaan dari sisi pengeluaran. Alternatif penerimaan
pembiayaan yang bisa dikembangkan, seperti : pinjaman daerah, penerbitan surat
obligasi dan penjualan aset, baik yang akan dipergunakan untuk penyertaan modal
maupun pembayaran angsuran utang pokok yang akan jatuh tempo, ataupun
program pengeluaran pembiayaan lainnya yang timbul sebagai akibat dari
pengembangan alternatif penerimaan pembiayaan.
        Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat memperoleh
pinjaman dari Pemerintah yang dananya bersumber dari luar negeri atau
bersumber selain dari pinjaman luar negeri dengan persetujuan Menteri Keuangan
setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Dalam Negeri. Pemerintah Aceh dan
pemerintah kabupaten/kota dapat memperoleh pinjaman dari dalam negeri yang
bukan berasal dari pemerintah dengan pertimbangan Menteri Dalam Negeri.
        Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat menerima hibah
dari luar negeri dengan kewajiban memberitahukan kepada Pemerintah dan
Dewan      Perwakilan     Rakyat     Aceh     (DPRA)/        Dewan   Perwakilan   Rakyat
Kabupaten/Kota (DPRK). Penerimaan hibah bersifat tidak mengikat secara politis
baik terhadap Pemerintah, Pemerintah Aceh, dan pemerintah kabupaten/kota;
tidak mempengaruhi kebijakan Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota;
tidak dilarang oleh peraturan perundang-undangan; dan tidak bertentangan
dengan ideologi negara. Dalam hal hibah mensyaratkan adanya kewajiban yang
harus dipenuhi Pemerintah seperti hibah yang terkait dengan pinjaman dan yang
mensyaratkan adanya dana pendamping, harus dilakukan melalui Pemerintah dan
diberitahukan kepada DPRA/DPRK.
        Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat menerbitkan
obligasi daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah Aceh
dan pemerintah kabupaten/kota dapat menyediakan dana cadangan yang
disisihkan untuk menampung kebutuhan yang memerlukan dana relatif besar yang
tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran.
        Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat melakukan
penyertaan modal/kerja sama pada/dengan Badan Usaha Milik Negara/Daerah
dan/atau badan usaha milik swasta atas dasar prinsip saling menguntungkan.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         V-14
Penyertaan modal/kerja sama dapat ditambah, dikurangi, dijual kepada pihak lain,
dan/atau dapat dilakukan divestasi atau dialihkan kepada badan usaha milik
daerah. Penyertaan modal/kerja sama tersebut dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan dan anggaran yang timbul akibat penyertaan
modal/kerja sama dicantumkan dalam APBA/APBK.
       Adapun kebijakan yang ditetapkan dalam menyertai Pembiayaan Daerah
adalah sebagai berikut :
a.   Pendapatan Daerah tahun 2007 - 2012 diperkirakan akan mengalami
     pertumbuhan rata-rata sekitar 25 persen, sedangkan kebutuhan Belanja
     Daerah diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 30
     persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkiraan kebutuhan belanja
     daerah lebih besar dari perkiraan pendapatan daerah, sehingga APBD tahun
     2007 - 2012 diperkirakan akan mengalami defisit anggaran rata-rata sekitar
     15 persen.
b.   Optimalisasi sumber penerimaan pembiayaan yang paling mungkin dapat
     dilakukan secara cepat, yaitu dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun
     Lalu. Selain itu juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran
     pembiayaan yang timbul dari pernyertaan modal dan pembayaran utang
     pokok yang jatuh tempo.
       Asumsi dasar yang menyertai dalam penetapan kebijakan pembiayaan
diatas, adalah :
a.   Kumulatif defisit APBD tahun 2007 - 2012 diperkirakan rata-rata sekitar 38
     persen dari proyeksi PDRB tahun 2006 - 2010.
b.   Alternatif pembiayaan dari sisi penerimaan diharapkan mampu memenuhi
     kebutuhan pembiayaan dari sisi pengeluaran.
       Alternatif penerimaan pembiayaan yang bisa dikembangkan, seperti:
pinjaman daerah, penerbitan surat obligasi dan penjualan aset - baik yang akan
dipergunakan untuk penyertaan modal maupun pembayaran angsuran utang
pokok yang akan jatuh tempo, ataupun program pengeluaraan pembiayaan
lainnya yang timbul sebagai akibat dari pengembangan alternatif penerimaan
pembiayaan.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                 V-15
Khusus     dalam     pengelolaan      pinjaman        daerah,   harus   diperhatikan
kemampuan daerah dalam menyediakan sejumlah dana untuk menutup kewajiban
membayar. Berdasarkan perhitungan kasar dengan menerapkan metode kalkulasi
Debt Service Coverage Ratio (DSCR) menunjukkan bahwa, prospek kemampuan
daerah (APBA) Aceh selama periode 2007 - 2012 menunjukkan rata-rata DSCR
sebesar 46,22 atau rata-rata diatas batas rasio yang dipersyaratkan (2,5). Hal ini
mengindikasikan bahwa kemampuan APBA dalam menyediakan sejumlah dana
dalam periode waktu tertentu untuk menutup kewajiban membayar pinjaman
masih bisa dilakukan.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            V-16
BAB VI
                              ARAH KEBIJAKAN UMUM


        Berdasarkan UU No 11 tahun                2006 tentang Pemerintahan Aceh,
penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah menggunakan asas otonomi dan
tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan yang bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan     rakyat    secara    menyeluruh.      Untuk     itu   pemerintah    daerah
mempunyai peluang yang besar untuk melakukan perubahan-perubahan yang
bersifat fundamental dalam segala aspek kehidupan masyarakat yang di
implimentasikan melalui berbagai kebijakan umum pemerintah daerah.
        Arah kebijakan umum pemerintah Provinsi Aceh selama jangka waktu 2007-
2012 adalah sebagai berikut:


6.1    Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan Kerja
       dan Penanggulangan Kemiskinan


        Arah kebijakan umum pembangunan ekonomi Aceh pada dasarnya adalah
dalam rangka mewujudkan peningkatan aktivitas perekonomian daerah yang
bertujuan    untuk    meningkatkan       kesejahteraan       masyarakat,   melalui   upaya
peningkatan pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 5 -6 persen, penurunan
tingkat kemiskinan menjadi sekitar 16 persen dan tingkat pengangguran mampu
ditekan menjadi 7,6 persen.
        Adapun untuk mencapai hal sebagaimana tersebut diatas maka perlu
ditempuh beberapa kebijakan sebagai berikut:

1.    Peningkatan pengelolaan potensi pertanian dan perikanan seoptimal mungkin
      dengan prinsip-prinsip agribisnis sebagai tulang punggung ekonomi daerah
      yang berkelanjutan
2.    Pengembangan komoditi unggulan daerah melalui pola kluster dengan
      memperkuat sistim mata rantai produksi (supply chain)



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                             VI-1
3.   Pembangunan dan peningkatan kapasitas sarana dan prasarana pendukung
     produksi termasuk prioritas fungsionalisasi aset, terutama di kawasan-
     kawasan sentra produksi pertanian, perikanan, industri, dan perdagangan
4.   Percepatan pemanfaatan mekanisasi di sektor industri kerajinan, pertanian
     dan perikanan,      termasuk motorisasi armada perikanan dalam              upaya
     meningkatkan daya jelajah dan produktivitas nelayan.
5.   Pengembangan dan peningkatan kapasitas unit penyedia sarana produksi
     serta peningkatan pengendalian dan pengawasan distribusi sarana produksi
     sehingga mudah dapat diakses oleh masyarakat
6.   Peningkatan produktivitas lahan budidaya pertanian dan perikanan melalui
     upaya intensifikasi, diversifikasi, optimalisasi termasuk peningkatan Indeks
     Penanaman (IP), dan rehabilitasi lahan-lahan yang terlantar
7.   Mengupayakan tumbuhnya dan berkembangnya industri pengolahan hasil,
     terutama yang berbasis bahan baku lokal di kawasan-kawasan sentra produksi
8.   Peningkatan kompetensi tenaga kerja formal dan informal, serta pelaku UMKM
     melalui pengembangan dan peningkatan kapasitas Balai Latihan Kerja serta
     pelatihan-pelatihan kejuruan
9.   Melakukan pembinaan dan pengawasan penggunaan dan penyaluran tenaga
     kerja untuk kebutuhan lokal maupun luar negeri
10. Percepatan aplikasi teknologi di sektor pertanian dan perikanan melalui
     penguatan kelembagaan dan sistem penyuluhan
11. Penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat dengan sasaran utama usaha-
     usaha kelompok dan koperasi
12. Memfasilitasi peningkatan jalinan kemitraan usaha yang lebih luas antara
     kelompok usaha besar dengan pelaku UMKM dan industri rumah tangga
13. Mengupayakan        peningkatan      fungsi    intermediasi   perbankan,   terutama
     penyaluran kredit bagi pelaku UMKM dan industri rumah tangga
14. Pencegahan penebangan dan perdagangan kayu illegal melalui penguatan dan
     pembinaan satuan pengamanan hutan dalam rangka terciptanya hutan lestari
     dan pengembangan ekonomi berkelanjutan



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         VI-2
15. Pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan
      melalui pemanfaatan hasil hutan non kayu dan pengembangan hutan rakyat
16. Meningkatkan kemandirian pangan bagi masyarakat di kawasan-kawasan
      yang teridentifikasi rawan pangan, serta peningkatan penganekaragaman
      pangan berbasis sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal
17. Melakukan pengendalian dan pengawasan distribusi bahan pangan, serta
      meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan beragam,
      bergizi seimbang dan aman
18. Penyediaan fasilitas pemukiman baru pada kawasab-kawasan potensi dan
      memberikan bantuan stimulasi untuk pengembangan usaha ekonomi bagi
      penduduk yang dimukimkan berbasis potensi lokal.
19. Pengembangan sistem informasi dan promosi yang dapat menarik investasi
      untuk menanamkan modalnya di daerah, baik PMA maupun PMDN.
20. Mengupayakan terjadinya peningkatan aktivitas perdagangan dalam daerah
      hingga terjadinya pasar sempurna, termasuk melakukan pengawasan dan
      pengendalian distribusi barang serta pengembangan dan peningkatan sarana
      dan prasarana pemasaran
21. Melakukan upaya meningkatnya ekspor daerah baik peningkatan volume
      maupun nilai, terutama komoditi-komoditi yang memiliki nilai tambah tinggi
      bagi daerah



6.2     Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya
        Energi Pendukung Investasi

        Untuk tercapainya tujuan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur
dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi sesuai dengan strategi yang telah
ditetapkan, maka perlu adanya dukungan kebijakan pembangunan dalam
pelaksanaan program dan kegiatan yang dilaksanakan.
        Arah Kebijakan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber
Daya Energi Pendukung Investasi tahun 2007 - 2012 sebagai berikut:



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  VI-3
6.2.1      Sumber Daya Air

        Kebijakan pembangunan sumber daya air dilakukan dengan 9 (sembilan)
pendekatan pokok, yaitu:
1. Terkelolanya penyelenggaraan konservasi sumber daya air demi terjaganya
   kelangsungan keberadaan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber
   daya air.
2. Terkelolanya     penyelenggaraan       pendayagunaan      sumber   daya   air   demi
   terwujudnya pemanfaatan sumber daya air secara berkelanjutan dengan
   mengutamakan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil.
3. Terkelolanya penyelenggaraan pengendalian daya rusak air demi terwujudnya
   rasa aman masyarakat terhadap daya rusak air.
4. Terkelolanya sistem informasi sumber daya air demi terwujudnya jaringan
   informasi sumber daya air yang tersebar dan dapat diakses oleh berbagai pihak
   yang berkepentingan dalam bidang sumber daya air.
5. Terbangunnya jaringan irigasi baru Wilayah Pantai Barat-Selatan di 4 daerah
   irigasi dan di 5 daerah rawa; Wilayah Pantai Utara-Timur di 4 daerah irigasi.
6. Terperbaikinya jaringan irigasi berdasarkan kewenangan nasional seluas
   146.536 ha (15 DI), kewenangan provinsi seluas 69.354 ha (40 DI) dan
   kewenangan Kabupaten/Kota seluas 127.706 ha (652 DI).
7. Tersedianya air baku untuk irigasi dengan membangun dan meningkatkan
   fungsi waduk sebanyak 4 unit, embung sebanyak 3 unit dan situ sebanyak 9
   unit.
8. Memfungsikan kembali DI yang rusak : DI Jambo Aye (19.360 ha) dan DI.
   Pante Lhong (6.562 ha) serta optimalisasi daerah irigasi sebanyak 9 DI.
9. Terkendalinya banjir dan pengamanan pantai secara selektif terutama pada
   areal produktif.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         VI-4
6.2.2    Bina Marga dan Cipta Karya

        Kebijakan pembangunan kebinamargaan dan keciptakaryaan dilakukan
dengan 10 (sepuluh) pendekatan pokok, yaitu:
1. Terbukanya aksesibilitas daerah terpencil/terisolir, perbatasan dan kepulauan
   dengan menyediakan jaringan jalan dan jembatan untuk mendukung kawasan
   yang berpotensi dan cepat tumbuh.
2. Terselenggaranya peningkatkan pelayanan prasarana jalan yang terintegrasi
   dengan standar minimal MST 10 ton pada ruas jalan nasional dan provinsi
   serta MST 8 ton pada ruas-ruas jalan strategis.
3. Terlaksananya rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana jalan sehingga tercapai
   fungsional jalan nasional sepanjang 1.782,78 km dan jalan provinsi sepanjang
   1.701,82 km dapat tercapai.
4. Terlaksananya pembangunan dan peningkatan ruas-ruas jalan nasional lintas
   timur sepanjang 55 km, lintas barat sepanjang 30 km, lintas tengah sepanjang
   11 km. Selanjutnya pembangunan dan peningkatanruas-ruas jalan provinsi
   sepanjang 95 km, serta jalan strategis lainnya termasuk jalan desa sepanjang
   10 km.
5. Terwujudnya pembangunan jalan yang menghubungkan Pantai Barat – Tengah
   - Pantai Timur untuk menghilangkan disparitas antar wilayah.
6. Terlaksananya pembangunan dan rehabilitasi rumah korban bencana/dhuafa
   sebanyak 500 unit serta penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman.
7. Terbangunnya prasarana air minum dan sanitasi baik di perkotaan maupun di
   pedesan sebanyak 500 unit.
8. Terselenggaranya       pembinaan      tata   bangunan     dan   pemberdayaan   jasa
   konstruksi;
9. Terpadunya tata ruang provinsi dengan tata ruang kabupaten/kota, dengan
   titik berat pada penanganan kawasan-kawasan strategis/prioritas dan kawasan
   lintas kabupaten.
10. Terbangunnya kawasan perbatasan dan terisolir dalam rangka peningkatan
   ekonomi masyarakat.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                        VI-5
6.2.3    Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika

        Kebijakan    pembangunan        perhubungan,         komunikasi,   informasi   dan
telematika dilakukan dengan 10 (sepuluh) pendekatan pokok, yaitu :

1. Terlaksananya       pembangunan,        pengembangan         sarana     dan    prasarana
   transportasi, pos dan telekomunikasi di wilayah perbatasan dan terisolir serta
   terehabilitasinya sarana dan prasarana transportasi, pos dan telekomunikasi
   yang hancur akibat gempa tektonik dan tsunami,
2. Terlaksananya pengembangan sistem transportasi wilayah terpadu, harmonis
   dan sinergi serta aparatur yang mandiri.
3. Terindentifikasi inventarisasi data dan penyebaran informasi pembangunan
   dengan melakukan peningkatan kerjasama pemerintah daerah dengan
   organisasi, lembaga pers dan media massa.
4. Terjalinnya hubungan kerjasama penyebarluasan informasi melalui TVRI dan
   RRI serta melakukan pengawasan terhadap penyiaran media informasi swasta
5. Terbangunnya fasilitas e-Government Pemerintah Aceh guna meningkatkan
   kualitas penyelenggaraan administrasi Pemerintahan Aceh yang berbasis
   teknologi komunikasi dan informasi dalam rangka memberikan palayanan
   informasi kepada publik secara transparan dan akuntabel.
6. Terselenggaranya pembinaan sumberdaya aparatur Pemerintah Aceh yang
   memiliki pengetahuan dan keahlian dalam mengelola teknologi komunikasi dan
   sistem informasi.
7. Terbangunnya sarana angkutan kereta api diwilayah pesisir timur Aceh yang
   menghubungkan Aceh ke batas Sumatera Utara sepanjang 486 Km.
8. Terbangunnya pelabuhan baru di wilayah Pantai Barat-Selatan dan pantai
   Utara -Timur dengan kapasitas 10.000 DTW.
9. Terlaksnanya      pengembangan        pelabuhan      Malahayati    untuk      mendukung
   Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET) Bandar Aceh Darussalam.
10. Terlaksananya pembangunan dan pengembangan bandara untuk melayani
   penerbangan Domestik dan Internasional serta meningkatkan pelayanan
   trasportasi udar antar kabupaten/Kota.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                             VI-6
6.2.4    Lingkungan Hidup

        Kebijakan pembangunan lingkungan hidup dilakukan dengan 6 (enam)
pendekatan pokok, yaitu:

1.   Terkendalinya pencemaran lingkungan melalui pencegahan dan pengendalian
     dampak dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan
     lingkungan hidup yang berkelanjutan.
2.   Tersedianya peralatan dan sumber daya aparatur dalam pengendalian dampak
     lingkungan dengan memanfaatkan media massa untuk pelayanan informasi
     lingkungan hidup kepada masyarakat.
3.   Melakukan optimalisasi bentuk dan kinerja institusi pengelolaan lingkungan
     serta peningkatan koordinasi antar pemangku kepentingan dalam pengelolaan
     lingkungan hidup.
4.   Terkendalinya     pengelolaan      Kawasan     Ekosistem      Lauser       (KEL)   secara
     berkelanjutan dalam menjaga keseimbangan pemanfaatan ruang yang serasi
     antara kawasan lindung dan budidaya.
5.   Terpeliharanya terumbu karang, manggrove dan konservasi daerah aliran
     sungai dalam rangka memulihkan kembali daya dukung lingkungan dan
     antisipasi ancaman terhadap abrasi pantai dan sungai.
6.   Terbangunnya ruang terbuka hijau dan desa model yang ramah lingkungan di
     setiap kabupaten/kota.


6.2.5    Pertanahan

        Kebijakan pembangunan pertanahan dilakukan dengan 3 (tiga) pendekatan
pokok, yaitu:

1.   Terselenggaranya        peningkatan     kualitas    pelayanan        dan      administrasi
     pertanahan      serta    penyediaan     informasi       pertanahan     bagi     keperluan
     pembangunan dan investasi.
2.   Terlaksananya     penataan      dan    pengendalian       penguasaan,       penggunaan,
     pemanfaatan dan pemilikan tanah serta pengembangan dan penguatan
     lembaga pertanahan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                VI-7
3.   Menyelesaikan sengketa pertanahan, penyusunan neraca penggunaan tanah,
     pemetaan/revisi penatagunaan tanah, konsolidasi tanah, identifikasi dan
     penegasan tanah negara serta penertiban administrasi land reform.


6.2.6    Energi dan Sumber Daya Mineral

        Kebijakan pembangunan energi dan sumber daya mineral dilakukan dengan
9 (sembilan) pendekatan pokok, yaitu:

1.   Terealisasinya peningkatan peluang eksploitasi pertambangan skala besar,
     menengah dan kecil serta membina, mengawasi dan menertibkan usaha
     pertambangan yang berpotensi merusak lingkungan.
2.   Terlaksananya peningkatkan keterampilan sumber daya aparatur dalam
     pengelolaan dan pengawasan usaha pertambangan.
3.   Terlaksananya peningkatan pemahaman masyarakat penambang dan dunia
     usaha terhadap peraturan dan perundang-undangan di bidang pertambangan.
4.   Terselenggaranya peningkatan pelayanan dan informasi pertambangan,
     termasuk informasi kawasan-kawasan yang rentan terhadap bencana geologi.
5.   Tersedianya data potensi sumber-sumber energi baru sebagai energi alternatif
     dan potensi pertambangan.
6.   Terbangunnya sarana dan prasarana sumber-sumber air bawah tanah yang
     memenuhi standar kesehatan di kawasan krisis air.
7.   Tersedianya perangkat hukum di bidang energi, mineral, batubara, panas
     bumi dan air bawah tanah.
8.   Terlaksananya pembangunan PLTMH baik skala besar maupun kecil terutama
     untuk pedesaan/kawasan yang tidak terjangkau jaringan listrik PLN.
9.   Terealisasinya     penambahan        pembangkit         listrin   non   diesel   dengan
     memanfaatkan potensi energi primer pada sub-sistem isolated dengan
     sasaran pengurangan biaya pokok penyediaan (BPP) yang berpengaruh
     terhadap usaha menekan biaya operasional pada sektor pembangkitan dan harga
     tarif (Rp/kWh) penjualan energi listrik. Pembangkit-pembangkit dimaksud adalah:




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                              VI-8
a.    PLTU batubara di Kabupaten Nagan Raya dengan total kapasitas 2 x 100
            MW yang direncanakan beroperasi pada akhir tahun 2011 (tahap
            konstruksi).
      b.    PLTP Seulawah di Kabupaten Aceh Besar dengan total kapasitas 2 x 20
            MW yang akan beroperasi pada akhir tahun 2012. Pre-feasibility (FS)
            telah dilakukan pada tahun 2008 dan saat ini dalam proses pelelangan
            WKP oleh Pemerintah Aceh.
      c.    PLTA Peusangan I dan II di Kabupaten Aceh Tengah dengan total
            kapasitas 2 x 43 MW dibiayai dari Loan JBIC (Japan Bank International
            Company) dan direncanakan beroperasi pada tahun 2011 dan 2013.
            Contract Loan Aggreement dengan pihak JBIC telah ditandatangani pada
            29 Maret 2006.
      d.    PLTA Lawe Mamas di Kabupaten Aceh Tenggara dengan total kapasitas 3
            x 30 MW yang direncanakan beroperasi pada tahun 2015. Saat ini masih
            dalam Pre-FS dan MoU.



6.3        Peningkatan Mutu        Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan
           Belajar

      Menindaklanjuti strategi Pembangunan dalam rangka peningkatan mutu
pendidikan dan pemerataan kesempatan belajar baik pendidikan formal maupun
pendidikan non formal bagi peserta didik dan anggota masyarakat melalui
perbekalan       ilmu   pengetahuan     (knowledge)     dan   ketrampilan   (life   skills).
Pemberantasan buta aksara (illiteracy) perlu dilakukan secara serius sebagai
upaya untuk mencerdaskan seluruh rakyat dan mendukung pembelajaran
sepanjang hidup (life long learning) maka kebijakan yang ditempuh sebagai
berikut:

6.3.1 Pemerataan dan Perluasan Akses

1. Tersedianya beasiswa dan bantuan biaya pendidikan usia dini, pendidikan
   dasar, menengah, dayah dan luar sekolah.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            VI-9
2. Terlaksananya efektivitas internal dan tingkat kelangsungan sekolah di setiap
   jenjang pendidikan.
3. Terciptanya partisipasi yang lebih besar dari masyarakat dan dunia usaha.
4. Tersedianya fasilitas pendidikan yang fokus dalam rangka menghapus
   hambatan kesempatan belajar dan perluasan akses penyediaan pendidikan
   dasar dan menengah di daerah-daerah terpencil, pemukiman terpencar dan
   daerah kepulauan.
5. Terciptanya pengembangan Perguruan Tinggi sesuai dengan prioritas dan arah
   pengembangan daerah.
6. Tersedianya fasilitas dayah dalam menunjang pelayanan pendidikan yang
   bermutu.


6.3.2 Mutu, Relevansi dan Daya Saing

1. Terciptanya kinerja pelayanan pendidikan pada semua jenjang pendidikan
2. Terwujudnya desentralisasi sekolah/manajemen kelembagaan, dan manajemen
   perencanaan pengembangan guru.
3. Tersedianyan kurikulum dan bahan ajar sesuai dengan standar yang telah
   ditetapkan.
4. Terlaksananya monitoring kinerja sekolah/kelembagaan dan prestasi siswa.
5. Tersedianya sarana penunjang pembelajaran yang bermutu dan berkualitas.
6. Terwujudnya pendidikan unggulan pada jenjang pendidikan dasar, menengah
   dan dayah.
7. Terlaksananya pembinaan dan pengembangan kelembagaan, kurikulum,
   manajemen, serta akreditasi dayah.
8. Terlaksananya penelitian dan pengembangan pendidikan secara optimal.


6.3.3 Tata Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik

1. Tersedianya sistem perencanaan, pengawasan, monitoring dan evaluasi.
2. Tersedianya sistem manajemen kelembagaan dan sekolah.


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  VI-10
3. Terlaksananya tata kelola yang akuntabel dan transparan.
4. Terlaksananya koordinasi antar PT/PTS dan Akreditasi pendidikan.


6.3.4 Penerapan Sistem Pendidikan Bernuansa Islami

1.    Terlaksananya koordinasi dengan berbagai pihak terkait dalam rangka
      penerapan syari’at Islam.
2.    Tersedianya sarana peribadatan, media pembelajaran dan penerapan budaya
      yang menunjang pendidikan bernuansa Islami.
3.    Terciptanya kualitas guru dalam metode internalisasi nilai-nilai Islami.
4.    Terlaksananya monitoring dan evaluasi pelaksanaan sistem pendidikan yang
      bernuansa Islami secara berkala.
5.    Terlaksananya penambahan jam pelajaran agama di sekolah dan pelatihan
      tentang pemahaman Al-Qur’an.


6.4     Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan

      Menindaklanjuti strategi Pembangunan dalam rangka peningkatan mutu dan
pemerataan pelayanan kesehatan yang meliputi aspek status kesehatan (umur
harapan hidup, angka kematian ibu dan angka kematian bayi, angka kesakitan,
status gizi), pelayanan kesehatan, kondisi kesehatan lingkungan, pembiayaan
kesehatan, fasilitas kesehatan dan sumber daya kesehatan maka kebijakan umum
yang ditempuh sebagai berikut:
1.    Terbangunnya sarana dan prasarana pelayanan kesehatan dasar, rujukan dan
      pelayanan kesehatan khusus.
2.    Tersedianya tenaga kesehatan sesuai kebutuhan daerah dalam rangka
      penyediaan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat.
3.    Tersedianya fasilitas kesehatan kepada masyarakat yang mudah dijangkau .
4.    Terlaksananya sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyakit serta
      terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat.
5.    Terciptanya   mekanisme       rujukan    yang    baik   antar   institusi   pelayanan
      kesehatan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            VI-11
6.    Bertambahnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan diseluruh lapisan
      masyarakat.
7.    Tersedianya arah dan kebijakan yang jelas dalam hal pelayanan kesehatan.
8.    Terlaksananya penerapan pola BLU Rumah Sakit di Kabupaten/Kota.
9.    Terlaksananya koordinasi lintas sektor, LSM lokal maupun luar negeri dalam
      rangka pelayanan kesehatan.
10. Terbangunnya fasilitas pendidikan yang memadai dalam rangka peningkatan
      pengetahuan tenaga medis.
11. Terwujudnya pelaksanaan program JKA dalam rangka pelayanan kesehatan
      yang baik, berkualitas secara gratis kepada masyarakat miskin.


6.5     Pembangunan Syariat Islam, Sosial dan Budaya

      Pelaksanaan Syari`at Islam di Aceh yang mennjadi sumber nilai dan sumber
penuntun perilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tataran kehidupan
pribadi,      kehidupan     bermasyarakat,        maupun     dalam    penyelenggaraan
pemerintahan. Kebijakan umum yang ditempuh dalam pelaksanaan pembangunan
syari’at Islam secara kaffah di Aceh sebagai berikut:
1.    Terpadunya pelaksanaan kegiatan pelayanan keagamaan antara pemerintah,
      ulama dan masyarakat secara optimal.
2.    Terkoordinasinya kerja sama keagamaan baik dengan instansi terkait maupun
      lembaga keagamaan tingkat Nasional dan Internasional.
3.    Terlaksananya pendidikan agama di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi
      yang berkualitas.
4.    Terjadinya peningkatan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran masyarakat
      tentang pelaksanaan syari’at Islam.
5.    Terlaksananya pengawasan syari’at Islam secara kaffah dalam masyarakat.
6.    Terlaksananya    pemberdayaan        lembaga      keagamaan    dalam   melakukan
      sertifikasi, penatausahaan, pengelolaan dan pemberdayaan harta agama.
7.    Terlaksananya pelayanan kesejahteraan sosial yang berkualitas di seluruh
      Aceh.
8.    Terlaksananya peningkatan dan pengembangan potensi sumber daya sosial.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                       VI-12
9.   Terbangun dan berkembangnya ekonomi masyarakat pedesaan dalam rangka
     pengentasan kemiskinan.
10. Terlaksananya peningkatan dan penguatan kelembagaan pengarusutamaan
     gender dan anak dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pembangunan.
11. Terlaksananya peningkatan kualitas hidup dan perlindungan hukum terhadap
     perempuan dan anak.
12. Terlaksananya peningkatan terhadap peran dan hubungan antar lembaga
     pemuda serta pengembangan sistem kaderisasi organisasi kepemudaan.
13. Terjadinya peningkatan pengetahuan dan keterampilan pemuda dalam rangka
     menanggulangi dampak demoralitas pemuda.
14. Terciptanyan hidup yang sehat dalam masyarakat melalui kegiatan olahraga.
15. Termotivasinya       penguatan      institusi   keolahragaan   di   daerah    melalui
     bantuan/subsidi.
16. Terjadinya peningkatan dan penguatan peran kelembagaan adat dalam
     masyarakat.
17. Terjadinya peningkatan peran dan koordinasi antar lembaga adat dengan
     pihak-pihak yang terkait secara maksimal
18. Terwujudnya pengembangan apresiasi budaya, kesenian, bahasa dan adat
     istiadat.
19. Terwujudnya pelestarian dan pemeliharaan situs dan cagar budaya.
20. Terjadinya peningkatan jumlah wisatawan dalam dan luar negeri dengan
     mengikutsertakan masyarakat.
21. Terwujudnya pertumbuhan kultur demokrasi yang sehat, kompetitif dialogis
     dan rasional.
22. Terciptanya penghargaan terhadap nilai-nilai kepahlawanan para pejuang.
23. Terbinanya kekayaan adat istiadat, seni, budaya dan bahasa dalam kehidupan
     masyarakat.
24. Terjadinya       peningkatan    penguatan       fungsi   meunasah   sebagai    pusat
     pemberdayaan masyarakat.
25. Terlaksananya penegakan hukum adat di tingkat gampong dan kemukiman.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         VI-13
6.6 Penciptaan Pemerintah Yang Baik dan Bersih Serta Penyehatan
     Birokrasi Pemerintahan
     Untuk menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih sebagaimana yang
diharapkan oleh masyarakat mulai dari pemerintah gampong, mukim, kecamatan,
kabupaten dan provinsi dilakukan melalui kebijakan sebagai berikut:
1.   Terwujudnya pemerintahan yang transparan, partisipatif dan akuntabel.
2.   Terbangunnya      kelembagaan       pemerintah      daerah   yang   sesuai   dengan
     kebutuhan.
3.   Tersedianya sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkah dalam rangka
     pencapaian target kinerja.
4.   Terselenggaranya kewenangan antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota,
     kecamatan dan gampong.
5.   Terfasilitasi penyelesaian masalah tata ruang dan batas wilayah administrasi
     bagi kabupaten/kota.
6.   Terlaksananya pemetaan, pemberian nama-nama, toponomi pulau kecil dan
     terluar.
7.   Tertatanya batas wilayah administrasi, titik kordinat, dan penguasaan wilayah
     secara ekonomi dan sosial budaya.
8.   Tersedianya kapasitas sumber daya aparatur.
9.   Terwujudnya revitalisasi baperjakat dalam penempatan dan penjenjangan
     karir aparatur.
10. Terlaksananya penghargaan dan sanksi kepada aparatur secara adil.
11. Terlaksananya penerapan sistem birokrasi pemerintahan yang baik dan bersih.
12. Terlaksananya peningkatan pemahaman berbangsa dan bernegara dalam
     rangka memeliharan keutuhan NKRI.
13. Terlaksananya peningkatan pengetahuan kader politik yang bebas, adil dan
     islami serta memihak kepentingan masyarakat.
14. Terjaminnya perbedaan berpendapat dan berpolitik
15. Terselenggaranya peningkatan etika dan pendidikan politik yang sehat melalui
     rasa saling percaya dan menghargai (sportifitas) di dalam kelompok
     masyarakat.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         VI-14
16. Terselenggaranya peningkatan pemahaman terhadap hukum di Aceh dan
      Pengkajian materi hukum sesuai dengan amanah UUPA.
17. Terselenggaranya peningkatan kapasitas dan sumber daya aparat penegak
      hukum serta dukungan sarana dan prasarana.
18. Terlaksananya       pemberian     bantuan     hukum      dalam   kasus   prodeo    dan
      Peningkatan penyuluhan hukum kepada masyarakat.
19. Terlaksananya inventarisasi kebijakan kabupaten/kota yang bertentangan
      dengan kepentingan umum dan ketentuan perundang-undangan lebih tinggi.
20. Terlaksananya peningkatan kapasitas aparatur dan penyediaan fasilitas
      sarana, prasarana Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).


6.7     Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana

      Pengurangan      risiko   bencana     merupakan        tanggungjawab   pemerintah,
masyarakat dan lembaga - lembaga kemasyarakatan yang dilaksanakan secara
bersama - sama dengan prinsip kemitraan dan kesejajaran peran, maka
diperlukan kebijakan dalam penanganannya.
      Arah Kebijakan Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana adalah
sebagai berikut:
1.    Mengurangi ancaman bahaya melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan
      kearifan lokal dengan tetap memperhatikan perubahan - perubahan global
      yang berdampak pada kondisi lokal.
2.    Mengurangi kerentanan masyarakat di daerah ancaman bahaya dengan cara
      memberikan pengetahuan yang memadahi tentang ancaman mendasarkan
      pada analisis risiko.
3.    Meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pendidikan, pelatihan dan
      pemberdayaan secara terus menerus khususnya di daerah ancaman.
4.    Mengedepankan keterbukaan dengan pola kemitraan dalam penyelenggaraan
      Pengurangan Risiko Bencana melalui keterbukaan tatakelola termasuk
      penyediaan informasi yang berimbang bagi masyarakat.
5.    Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan pemerintah lokal dengan
      mengoptimalkan potensi, sumber daya dan kearifan local melalui optimalisasi

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                            VI-15
peran birokrasi, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat serta
     pimpinan informal lain yang berkembang dalam masyarakat.
6.   Mendorong dan meningkatkan peran dan partisipasi perempuan dalam
     pengurangan risiko bencana baik dalam ranah domestic(rumah tangga)
     maupun diluar rumah tangga melalui pengarus utamaan gender dalam semua
     kegiatan yang melibatkan masyarakat.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012            VI-16
BAB VII
                         PROGRAM PEMBANGUNAN ACEH


7.1    Midterm Review Pelaksanaan RPJM 2007-2012
        Program dan kegiatan yang tercantum di dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah (RPJM) 2007-2009 yang telah ditetapkan melalui Peraturan
Gubernur Nomor 21 tahun 2007 merupakan acuan yang harus dipedomani oleh
seluruh Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA). Walaupun demikian, seiring
dengan perkembangan situasi dan kondisi daerah yang sangat dinamis, masih
diperlukannya kelanjutan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami, adanya
anggaran tambahan yang bersumber dari Otsus Migas, dan perlunya penyesuaian
program RPJM Daerah akibat ditetapkannya PP No. 5 tahun 2010, maka program
dan kegiatan yang tercantum dalam RPJM 2007-2012 perlu untuk direview.
       Hasil review RPJM 2007-2012 diharapkan tidak hanya dapat memberikan
gambaran tentang pencapaian kinerja Pemerintah Aceh, tetapi juga menjadi
pedoman penyusunan program dan kegiatan lanjutan pada Tahun 2011-2012.
       Review RPJM dilaksanakan dengan mengikuti beberapa kriteria yang
digambarkan pada Gambar VII.1. Program dan kegiatan dikelompokkan ke dalam
4 (empat) kuadran yakni Kuadran I, II, III dan IV dengan kriteria sebagai berikut:
1.    Kuadran I adalah program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM Aceh
      2007 - 2012 dan sudah tuntas dilaksanakan pada periode tahun 2007-2010.
2.    Kuadran II merupakan program/kegiatan yang ada dalam RPJM Aceh 2007 -
      2012, tetapi dalam pelaksanaannya belum mencapai target.
3.    Kuadran III berisi program/kegiatan yang ada dalam RPJM Aceh 2007 - 2012,
      tetapi bukan prioritas sehingga tidak dilaksanakan.
4.    Sedangkan Kuadran IV adalah program/kegiatan yang tidak ada dalam RPJM
      Aceh 2007 - 2012, tetapi dilaksanakan pada tahun 2007 - 2010 dan masih
      perlu dituntaskan pada tahun 2011 - 2012.




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  VII-1
I           6%                                               II          26 %
                      TARGET RPJM YANG                                                    TARGET RPJM YANG BELUM
                      SELESAI SEMPURNA                                                    SELESAI, PRIORITAS YANG
                                                                                          AKAN DILANJUTKA UNTUK
                                                                                          2011-2012




                     IV         40 %                                              III         28 %
                      TIDAK ADA DI DALAM RPJM                                             TARGET RPJM YANG TIDAK
                      TETAPI PRIORITAS/TELAH DAN                                          DILAKSANAKAN, DIHAPUS
                      DILANJUTKAN UNTUK                                                   KARENA TIDAK PRIORITAS
                      DILAKSANAKAN




         Gambar VII.1 Skema Kuadran dan Kriteria Review Program RPJM Aceh
                      2007-2012


         Hasil dari review pelaksanaan program dan kegiatan RPJM 2007-2012,
khususnya untuk pelaksanaan program dan kegiatan RPJM 2007-2009 disajikan
pada Tabel VII.1 dan VII.2

                            Tabel VII.1
 Review Pelaksanaan Kegiatan/Anggaran Pembangunan periode tahun
               2007 - 2010 menurut kriteria Kuadran

                                Indikasi             PAGU INDIKATIF RPJM                 ANGGARAN DEFINITIF             REALISASI 2007-2009
       Kualifikasi              Kegiatan                 2007-2012                           2007-2010                + ASUMSI REALISASI 2010
 No.
       Kuadaran                      % thdp                            % thdp                              % thdp                        % thdp
                          Jlh                           (Rp)                                (Rp)                          (Rp)
                                      total                             total                               total                        RPJM
 1.         I               150             6.00   2,853,380,009,385        4.5        8,063,635,099,239      29.2   5,924,441,932,246    207.6

 2.        II               706            26.00 43,360,100,241,747        68.4 11,862,364,304,677            43.0   9,876,247,141,392     22.8

 3.        III              766            28.00 17,199,159,788,868        27.1                      -         -                   -           -

 4.        IV             1,094            40.00                 -          -          7,658,531,849,774      27.8   6,343,876,464,718     -

       Grand Total        2,716            100.0 63,412,640,040,000      100.0 27,584,531,253,690            100.0 22,144,565,538,355     34.92




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                                                             VII-2
Tabel VII.1 memberikan gambaran bahwa realiasi kegiatan/anggaran yang
termasuk ke dalam Kuadran I hanya mencapai 6 persen dari total 150 kegiatan
dalam RPJM 2007-2012. Hal ini mengindikasikan bahwa pada umumnya kegiatan
yang telah ditetapkan di dalam RPJM Aceh 2007-2012 belum sepenuhnya
dipedomani oleh para SKPA. Hal ini disebabkan antara lain terlambatnya
pengesahan DIPA APBA pada tahun berjalan, masih terkonsentrasinya program
dan kegiatan penuntasan rehabilitasi dan rekonstruksi dan beban pekerjaan yang
semakin berat akibat penambahan program yang bersumber dari dana
Otsus/Migas.
       Kegiatan yang masih belum memenuhi target (Kuadran II) mencapai 26
persen akan dituntaskan pada tahun berikutnya. Kegiatan ini menjadi prioritas
untuk dipedomani oleh para SKPA untuk dilaksanakan sesuai dengan hasil revisi
RPJM Aceh 2007 - 2012.
       Kegiatan yang tergolong ke dalam Kuadran III mencapai 28 persen adalah
kegiatan yang ada dalam RPJM 2007 - 2012 tetapi tidak menjadi prioritas lagi
untuk dilaksanakan oleh para SKPA.
       Kegiatan yang tergolong ke dalam Kuadran IV mencapai 40 persen adalah
kegiatan yang tidak ada dalam RPJM 2007 - 2012 tetapi dianggap prioritas untuk
dilaksanakan oleh para SKPA. Kenyataan ini (Kuadran III dan IV) terjadi karena
adanya perubahan kondisi aktual di lapangan yang memerlukan penyesuaian. Di
samping itu, adanya perubahan kebijakan Nasional dengan ditetapkannya
Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 2010 yang mengharuskan penyesuaian antara
RPJM Daerah dengan RPJM Nasional.
       Dari evaluasi pelaksanaan pembangunan pada periode tahun 2007-2010,
dapat dilihat kualifikasi program/kegiatan ke dalam kuadran I, II, III, dan IV yang
masing-masing menunjukkan tingkat prioritas pelaksanaan pembangunan yang
digunakan untuk melakukan penyesuaian (revisi) RPJM 2007-2012. Adapun revisi
yang dilakukan adalah penyesuaian target, penghapusan program yang tidak
prioritas lagi untuk dilaksanakan, dan penambahan program baru yang telah
dilaksanakan tetapi belum ada pada RPJM 2007-2012.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                  VII-3
7.2      Revisi dan Penyesuaian RPJM 2007-2012
         Revisi dan penyesuaian RPJM 2007-2012 dilakukan dengan cara melakukan
penyesuaian target, penghapusan program yang tidak prioritas lagi untuk
dilaksanakan, dan penambahan program prioritas baru yang sebelumnya telah
dilaksanakan pada periode 2007-2010 tetapi belum ada pada RPJM 2007-2012.
Hasil revisi dan penyesuaian RPJM 2007-2012 berdasarkan 7 (tujuh)                                                          Prioritas
Pembangunan menunjukkan bahwa pada awalnya total program yang telah
ditetapkan sebanyak 197 program, maka setelah direvisi total program tersebut
berubah menjadi 261 program. Perubahan jumlah program ini berkaitan dengan
penetapan PP No.5 tahun 2010 yang mengharuskan penyesuaian RPJM daerah
dengan RPJM Nasional. Seiring dengan perubahan total program tersebut, maka
total anggaran indikatif juga berubah menjadi Rp 59.903.248.000.000. Perubahan
program berdasarkan prioritas pembangunan dapat dilihat pada Tabel VII.2.

                                 Tabel VII.2
           Review perubahan RPJM 2007-2012 berdasarkan 7 (tujuh)
                          Prioritas Pembangunan

                                                                                                     Indikatif Kebutuhan Anggaran
                                                                      Jumlah Program
                                                                                                          (dalam juta rupiah)
  No                    Prioritas Pembangunan
                                                               Awal       Direvisi   Perubahan     Awal        Direvisi    Perubahan

       Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan
  1                                                               59            90       53%     19.585.817   12.902.007        -34%
       Kesempatan Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan
       Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber
  2                                                               41            46       12%     26.525.077   24.960.814            -6%
       Daya Energi Pendukung Investasi
       Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan
  3                                                               11            19       73%      5.474.307   10.414.128        90%
       Belajar

  4    Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan        13            19       46%      1.054.938    3.811.338       261%

  5    Pembangunan Syariat Islam, Sosial dan Budaya               40            46       15%      2.649.253    2.255.337        -15%
       Penciptaan Pemerintahan yang Baik dan Bersih serta
  6                                                               28            37       32%      1.534.944    1.224.684        -20%
       Penyehatan Birokrasi Pemerintahan
  7    Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana                      5          7       40%      6.588.304    4.334.941        -34%

                              Total                              197           264       41%     63.412.640   59.903.248            -6%



7.3      Hasil Revisi Program dan Kegiatan
         Hasil revisi program dan kegiatan Pembangunan Daerah (Matrik tahunan
dan lima tahunan) disajikan dalam Buku II. Hasil revisi RPJM Aceh 2007-2012
akan menjadi acuan bagi para SKPA dalam menyusun program dan kegiatan
prioritas pada Tahun 2011-2012.



Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                                                                   VII-4
BAB VIII
                                        PENUTUP


8.1     Program Transisi

        Apabila hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) Aceh priode 2007 - 2012 ini sudah habis masa berlakunya dan
Gubernur Wakil Gubernur berikutnya belum terpilih, maka pada masa vakum ini
arah pembangunan daerah masih berpedoman pada penyesuaian dan evaluasi
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh 2007 - 2012. Rencana Jangka
Menengah transisi ini akan dipakai sampai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih
berikut sudah dilantik.


8.2     Kaidah Pelaksanaan

        Hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Provinsi Aceh Tahun 2007-2012 ini tetap merupakan penjabaran dari visi, misi dan
program Gubernur dan Wakil Gubernur hasil Pilkada yang dilangsungkan secara
langsung Tahun 2006.
        Hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Aceh Tahun 2007 - 2012 ini menjadi pedoman bagi Satuan Kerja Perangkat
Daerah Aceh (SKPA) dalam menyusun Rencana Strategis (RENSTRA) SKPA dan
merupakan      pedoman       bagi    kabupaten/kota.         Hasil   Penyesuaian   Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Aceh Tahun 2007 - 2012 ini selanjutnya menjadi
pedoman bagi menyusun Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA).

        Untuk itu perlu ditetapkan kaidah-kaidah pelaksanaan sebagai berikut:
8.3 Satuan Kerja Perangkat Daerah Aceh (SKPA) berkewajiban menyusun Rencana
      Strategis Dinas yang memuat Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi, kebijakan
      dan Program serta Kegiatan Pokok pembangunan sesuai dengan tugas dan
      fungsinya. Renstra tersebut harus disusun berdasarkan dan berpedoman
      kepada hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                           VIII-1
Menengah Aceh Tahun 2007 - 2012 yang nantinya akan menjadi Rencana
       Kerja Pemerintah Aceh (RKPA).
8.4Penguatan peran para stakeholders/pelaku dalam pelaksanaan hasil penyesuaian
      dan evalusi RPJM Aceh, Satuan Kerja Perangkat Daerah Aceh (SKPA),
      Pemerintah kabupaten/kota maupun masyarakat termasuk dunia usaha juga
      berkewajiban untuk melaksanakan program-program yang tertera dalam Hasil
      penyesuaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh                       2007 - 2012
      dengan sebaik-baiknya.
8.5Pemerintah kabupaten/kota berkewajiban melakukan penyesuaian dan evaluasi
      terhadap Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah kabupaten/kota
      yang sudah pernah ditetapkan, dengan tetap berisi penjabaran Visi, Misi, dan
      Program Kepala Daerah kabuapten/kota. Satuan Kerja Perangkat Daerah
      Kabupaten/Kota harus juga melakukan penyesuaian Rencana Strategis
      Dinasnya dengan berpedoman pada hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana
      Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2007 - 2012.
8.6Merupakan dasar evalusi dan laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan
      tahunan,     dalam     rangka     meningkatkan       efektifitas   dalam   pelaksanaan
      pembangunan yang telah ditetapkan dalam hasil penyesuaian dan evaluasi
      Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh 2007 - 2012, Badan
      Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh berkewajiban untuk melaksanakan
      pemantauan terhadap penjabaran hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana
      Pembangunan Jangka Menengah Aceh 2007 - 2012 ke dalam Rencana
      Strategis Satuan Kerja Perangkat Aceh dan Rencana Pembangunan Jangka
      Menengah Kabupaten/Kota.




   Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012                         VIII-2

Buku i final

  • 1.
    LAMPIRAN I PERATURANGUBERNUR ACEH NOMOR : 26 Tahun 2010 TANGGAL : 1 Mei 2010 RINGKASAN PERUBAHAN RPJM ACEH 2007-2012 Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) merupakan satu tahapan rencana pembangunan yang harus disusun oleh semua tingkatan pemerintahan, baik pemerintah pusat maupan pemerintah daerah, sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UNDANG-UNDANG SPPN). Pemerintah Aceh dalam hal ini sudah mempunyai RPJM Aceh priode 2007 - 2012 yang ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 21 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 2007 - 2012. Sesuai dengan ketentuan Pasal 19 ayat (3) Undang-Undang SPPN, RPJM Aceh ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah kepala daerah dilantik, dan seterusnya merupakan suatu dokumen yang menjadi acuan bagi penyusunan Rencana Kerja Tahunan Pemerintah Daerah dalam bentuk dokumen Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA), sebagai landasan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (RAPBA). Berdasarkan Undang-Undang SPPN, ditegaskan bahwa RPJMA disusun dengan maksud untuk menjabarkan Visi dan Misi Gubernur kepala daerah jangka waktu lima tahun. Dalam RPJMA harus tergambar rencana pembangunan yang terukur baik anggaran maupun target capaian yang diinginkan dalam rangka melakukan perubahan dari suatu kondisi kepada kondisi yang lebih baik. RPJM Aceh Tahun 2007 - 2012 yang sudah ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Aceh pada tanggal 7 Mei 2007 sudah dilaksanakan selama priode 2007, 2008, 2009 dan 2010. Namun demikian dalam pelaksanaannya ada sebagian program/kegiatan yang dilaksanakan tidak tercantum dalam RPJM Aceh tersebut, maka untuk mengadopsi program/kegiatan tersebut perlu dilakukan evaluasi dan perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat 3 huruf b Peraturan i
  • 2.
    Presiden Republik IndonesiaNomor 5 tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010 - 2014. Tujuan review dan perubahan RPJM Aceh Tahun 2007 - 2012 adalah untuk menilai tingkat capaian target dan capaian program kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan serta penyesuaian target nasional. Selanjutnya hasil evaluasi dan perubahan RPJM Aceh ini dijabarkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) sebagai pedoman penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (RAPBA). Selama kurun waktu tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 sudah dilaksanakan berbagai program/kegiatan pembangunan di Aceh dari berbagai sumber dana baik Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN), APBA maupun donor serta swasta. Akan tetapi belum semua program/kegiatan yang direncanakan sudah dilaksanakan sesuai periode waktu dan sumber dana yang direncanakan. Hal ini disebabkan berbagai faktor yang mempengaruhi rencana tersebut, seperti keterbatasan dana yang tersedia, adanya bencana alam yang terjadi diluar perkiraan sebelumnya serta adanya kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditunda-tunda. Review dan perubahan RPJM Aceh 2007 - 2012 dilakukan dengan membagi kelompok program/kegiatan dalam empat kuadran (kelompok). Hasil review dan perubahan yang dilakukan terhadap RPJM Aceh Priode 2007 - 2012 sebagai berikut: 1. Kuadran I ; berisi program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM Aceh 2007 – 2012 dan sudah tuntas dilaksanakan (6 persen). 2. Kuadran II ; berisi program/kegiatan yang ada dalam RPJM Aceh 2007 – 2012, tetapi belum mencapai target (26 persen). 3. Kuadran III; berisi program/kegiatan yang ada dalam RPJM Aceh 2007-2012, tetapi bukan prioritas sehingga tidak dilaksanakan (28 persen). 4. Kuadran IV ; berisi program/kegiatan yang tidak ada dalam RPJM Aceh 2007–2012, tetapi dilaksanakan pada tahun 2007-2010 dan masih perlu dituntaskan pada tahun 2011-2012 (40 persen). ii
  • 3.
    Hasil evaluasi RPJMAceh terdiri dari Buku I (berupa narasi) dan Buku II (berupa rincian program/kegiatan), menggambarkan bahwa realisasi capaian target yang ingin dicapai masih belum sepenuhnya dapat dilaksanakan. Hal ini disebabkan karena ada beberapa kegiatan yang mendesak yang harus dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi daerah. Program/Kegiatan yang tertera dalam Buku II RPJM Aceh hasil perubahan merupakan capaian target yang akan dilaksanakan kedepan, dengan mempertimbangkan ketersediaan anggaran setiap tahunnya. Hasil perubahan RPJM Aceh tahun 2007-2012 menjadi pedoman bagi Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota dalam menyusun program/kegiatan tahunan. iii
  • 4.
    DAFTAR ISI RINGKASAN PERUBAHANRPJM ACEH 2007-2012 .............................................. i DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv DAFTAR TABEL...................................................................................................... viii DAFTAR GAMBAR.................................................................................................. xi BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. I-1 1.1 Latar Belakang ................................................................................ I-1 1.2 Maksud dan Tujuan ......................................................................... I-2 1.3 Landasan Hukum ............................................................................ I-3 1.4 Hubungan RPJM dan Review RPJM Dengan Dokumen Perencanaan Lainnya........................................................................ I-5 1.5 Sistematika Penulisan ....................................................................... I-6 BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH.............................................. II-1 2.1 Geografis .......................................................................................... II-1 2.2 Perekonomian ................................................................................... II-2 2.2.1 Kondisi Ekonomi Makro ........................................................... II-2 2.2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi.............................................. II-2 2.2.1.2 Tingkat Inflasi .......................................................... II-3 2.2.1.3 Tingkat Pengangguran Terbuka................................. II-4 2.2.1.4 Tingkat Kemiskinan .................................................. II-6 2.2.2 Sektor-Sektor Produksi ........................................................... II-7 2.2.2.1 Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura .............. II-8 2.2.2.2 Perkebunan.............................................................. II-10 2.2.2.3 Peternakan .............................................................. II-13 2.2.2.4 Kelautan dan Perikanan ........................................... II-15 2.2.2.5 Kehutanan ............................................................... II-17 2.2.2.6 Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM.......... II-18 2.2.2.7 Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk........................ II-22 2.2.2.8 Ketahanan Pangan ................................................... II-25 2.2.2.9 Penyuluhan .............................................................. II-29 2.2.2.10 Perkembangan dan Prospek Investasi........................ II-30 2.2.3 Keuangan Aceh ...................................................................... II-31 2.2.3.1 Pendapatan Asli Aceh (PAA) ...................................... II-32 2.2.3.2 Dana Perimbangan ................................................... II-33 2.2.3.3 Dana Otonomi Khusus .............................................. II-33 2.2.3.4 Tabungan Pemerintah Aceh ...................................... II-34 2.2.3.5 Sumber Pendapatan Aceh Lainnya............................. II-34 2.2.3.6 Pengelolaan Keuangan dan kekayaan Aceh ................ II-35 2.3 Agama, Sosial dan Budaya ............................................................... II-36 2.3.1 Agama .................................................................................. II-36 2.3.2 Sosial Budaya ........................................................................ II-39 2.3.3 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak .................. II-40 2.3.4 Pemuda dan Olah Raga .......................................................... II-40 2.3.5 Pariwisata .............................................................................. II-43 iv
  • 5.
    2.4 Pendidikan ..................................................................................... II-48 2.4.1 Pemerataan dan Perluasan Akses ............................................ II-49 2.4.2 Mutu, Relevansi dan Daya Saing.............................................. II-52 2.4.3 Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Pencitraan Publik....................... II-54 2.4.4 Pendidikan Berbasis Nilai Islami .............................................. II-55 2.5 Kesehatan ........................................................................................ II-56 2.5.1 Status Kesehatan.................................................................... II-57 2.5.2 Pelayanan Kesehatan.............................................................. II-61 2.5.3 Kondisi Kesehatan Lingkungan ................................................ II-64 2.5.4 Pembiayaan Kesehatan ........................................................... II-66 2.5.5 Fasilitas Kesehatan ................................................................ II-67 2.5.6 Sumber Daya Tenaga Kesehatan ............................................. II-67 2.6 Sarana dan Prasarana ....................................................................... II-68 2.6.1 Sumber Daya Air .................................................................... II-68 2.6.2 Bina Marga dan Cipta Karya .................................................... II-75 2.6.3 Perhubungan ........................................................................ II-78 2.6.3.1 Transportasi Darat .............................................. II-79 2.6.3.2 Angkutan Jalan Rel (Prasarana Kereta Api Aceh) ........ II-82 2.6.3.3 Transportasi Laut ..................................................... II-83 2.6.3.4 Transportasi Udara................................................... II-88 2.6.3.5 Pos dan Telekomunikasi ........................................... II-90 2.6.3.6 Komunikasi, Informasi dan Telematika ...................... II-92 2.6.4 Lingkungan Hidup ................................................................. II-94 2.6.5 Pertanahan.……………………… .................................................. II-96 2.6.6 Energi dan Sumber Daya Mineral ............................................ II-96 2.6.7 Kebencanaan......................................................................... II-102 2.7 Pemerintahan Umum ....................................................................... II-111 2.7.1 Pemerintahan Aceh .............................................................. II-111 2.7.2 Pemerintahan Mukim ............................................................ II-117 2.7.3 Pemerintahan Gampong ...................................................... II-118 2.7.4 Pelayanan Kependudukan dan Catatan Sipil .......................... II-120 2.7.5 Perizinan .............................................................................. II-123 2.7.6 Keimigrasian ........................................................................ II-124 2.7.7 Ketertiban Umum ................................................................ II-124 2.8 Rencana Aksi Kesinambungan Rekonstruksi Aceh ............................... II-125 2.9 Badan Reintegrasi Aceh .................................................................... II-126 BAB III VISI DAN MISI .................................................................................. III-1 3.1 Visi ............................................................................................... III-1 3.2 Misi ................................................................................................. III-1 v
  • 6.
    BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN ACEH..................................................... IV-1 4.1 Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan.............................................. IV-1 4.2 Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi...................................................... IV-3 4.2.1 Sumber Daya Air ................................................................... IV-3 4.2.2 Bina Marga dan Cipta Karya................................................... IV-4 4.2.3 Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika.............. IV-5 4.2.4 Lingkungan Hidup ................................................................. IV-7 4.2.5 Pertanahan ........................................................................... IV-8 4.2.6 Energi dan Sumber Daya Mineral ........................................... IV-8 4.3 Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan Belajar ............................................................................................. IV-10 4.3.1 Pemerataan dan Perluasan Akses .......................................... IV-10 4.3.2 Mutu, Relevansi dan Daya Saing ............................................ IV-11 4.3.3 Tata Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik ..................... IV-11 4.3.4 Penerapan Sistem Pendidikan Bernuansa Islami ..................... IV-11 4.4 Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan ................... IV-12 4.5 Pembangunan Syari’at Islam, Sosial dan Budaya ................................ IV-13 4.5.1 Syari’at Islam ....................................................................... IV-13 4.5.2 Sosial Budaya....................................................................... IV-14 4.6 Penciptaan Pemerintah Yang Baik dan Bersih Serta Penyehatan Birokrasi Pemerintahan .................................................. IV-15 4.7 Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana .................................. IV-16 BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH............................................ V-1 5.1 Arah Kebijakan Pengelolaan Pendapatan............................................ V-2 5.2 Arah Kebijakan Pengelolaan Belanja .................................................. V-6 5.3 Arah Kebijakan Umum Anggaran ...................................................... V-7 BAB VI ARAH KEBIJAKAN UMUM .................................................................. VI-1 6.1 Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan.............................................. VI-1 6.2 Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi...................................................... VI-3 6.2.1 Sumber Daya Air .................................................................. VI-4 6.2.2 Bina Marga dan Cipta Karya .................................................. VI-5 6.2.3 Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika ............. VI-6 6.2.4 Lingkungan Hidup ................................................................ VI-7 6.2.5 Pertanahan .......................................................................... VI-7 6.2.6 Energi dan Sumber Daya Mineral........................................... VI-8 6.3 Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan Belajar ............................................................................................. VI-9 6.3.1 Pemerataan dan Perluasan Akses .......................................... VI-9 6.3.2 Mutu, Relevansi dan Daya Saing............................................ VI-10 vi
  • 7.
    6.3.3 Tata Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik..................... VI-10 6.3.4 Penerapan Sistem Pendidikan Bernuansa Islami..................... VI-11 6.4 Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan ................... VI-11 6.5 Pembanguan Syari’at Islam, Sosial dan Budaya .................................. VI-12 6.6 Penciptaan Pemerintah Yang Baik dan Bersih Serta Penyehatan Birokrasi Pemerintahan................................................... VI-14 6.7 Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana .................................. VI-15 BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN ACEH .......................................................... VII-1 7.1 Midterm Review Pelaksanaan RPJM 2007-2012 ................................. VII-1 7.2 Revisi dan Penyesuaian RPJM 2007-2012 ........................................... VII-4 7.3 Hasil Revisi Program dan Kegiatan..................................................... VII-4 BAB VIII PENUTUP ........................................................................................... VIII-1 8.1 Program Transisi .............................................................................. VIII-1 8.2 Kaidah Pelaksanaan.......................................................................... VIII-1 LAMPIRAN-LAMPIRAN vii
  • 8.
    DAFTAR TABEL 1.Tabel II.1 : Laju Pertumbuhan Ekonomi Aceh Tahun 2008 dan 2009 Menurut Lapangan Usaha...................................................... II-3 2. Tabel. II.2 : Perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka di Aceh Selama Periode 2006 – 2010.............................................................. II-5 3. Tabel. II.3 : Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin di Aceh Selama Periode 2007-2009............................................................................. II-7 4. Tabel II.4 : Perkembangan Produktivitas Tanaman Pangan Menurut Komoditi di Aceh Tahun 2007-2009 ........................................ II-10 5. Tabel II.5 : Luas Areal Tanaman Perkebunan Rakyat dan Besar Menurut Komoditi di Aceh Tahun 2007-2009 ........................................ II-11 6. Tabel II.6 : Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat dan Besar Menurut Komoditi di Aceh Tahun 2007–2009* ...................................... II-12 7. Tabel II.7 : Perkembangan Populasi Ternak Menurut Jenis di Aceh Tahun 2008-2009............................................................................. II-14 8. Tabel II.8 : Perkembangan Produksi Telur Menurut Jenisd di Aceh tahun 2008-2009............................................................................. II-15 9. Tabel II.9 : Produksi Perikanan di Aceh Tahun 2007-2009 ......................... II-16 10. Tabel II.10 : Perkembangan Industri Di Aceh Tahun 2007-2009................... II-19 11. Tabel II.11 : Perkembangan Koperasi di Aceh Tahun 2004-2009.................. II-22 12. Tabel II.12 : Kesempatan kerja Menurut Sektor Usaha Tahun 2009 ............. II-23 13. Tabel II.13 : Produksi beberapa komoditi pangan penting tahun 2007-2008 . II-26 14. Tabel II.14 : Kondisi Sebaran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) per Kabupaten/Kota..................................................................... II-29 15. Tabel II.15 : Jumlah BPP dan Koptan per Kabupaten/Kota Tahun 2009 ........ II-30 16. Tabel II.16 : Jumlah Realisasi Sumber Penerimaan Daerah lainnya 2008-2009............................................................................. II-34 viii
  • 9.
    17. Tabel II.17: Jumlah Penduduk Aceh Menurut Kelompok Umur di Provinsi Aceh Tahun 2008 .................................................................. II-41 18. Tabel II.18 : Jumlah Objek Wisata Menurut Jenis di Aceh ........................... II-444 19. Tabel II.19 : Jumlah Kunjungan Wisatawan Tahun 2005-2009 ..................... II-45 20. Tabel II.20 : Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni Penduduk Usia Sekolah di Aceh 2007 – 2009. II-49 21. Tabel II.21 : Proyeksi Angka Partisipasi Murni ............................................. II-50 22. Tabel II.22 : Jumlah Sekolah di Aceh Tahun 2008/2009 .............................. II-50 23. Tabel II.23 : Jumlah Guru Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2008/2009 .... II-53 24. Tabel. II.24 : 10 (sepuluh) Jenis Penyakit Terbanyak Berbasis Puskesmas dan Rumah Sakit.......................................................................... II-58 25. Tabel: II.25 : Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar di Aceh 2007- 2008 ..................................................................................... II-62 26. Tabel. II.26 : Peningkatan Cakupan Imunisasi ............................................. II-63 27. Tabel II.27 : Sumber Pembiayaan Kesehatan.............................................. II-66 28. TabelL II.28 : Pengembangan Pengelolaan Wilayah Sungai (Ws) di Aceh ....... II-69 29. TabelL II.29 : Pengembangan Daerah Irigasi (DI) di Aceh ............................. II-72 30. TabelL II.30 : Pengembangan Waduk di Wilayah Aceh .................................. II-74 31. Tabel II.31 : Kerusakan Lingkungan di Pemerintah Aceh ............................. II-95 32. Tabel II.32 : Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit Wilayah Aceh Tahun 2008 .................................................................. II-97 33. Tabel II.33 : Komposisi Beban Puncak pada Tahun 2008 ............................. II-99 34. Tabel II.34 : Bencana Gunung Api Aceh ..................................................... II-105 35. Tabel II.35 : Rincian Jejang Pendidikan PNS Pada Pemerintah Aceh ............. II-112 36. Tabel II.36 : Jumlah PNS pada pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Aceh ..................................................................................... II-114 ix
  • 10.
    37. Tabel 5.1 : Proyeksi dan Prospek Pendapatan Daerah Aceh Tahun 2007-2012............................................................................. V-10 38. Tabel 7.1 : Review Pelaksanaan Kegiatan/Anggaran Pembangunan periode tahun 2007 - 2010 menurut kriteria Kuadran ............... VII-2 39. Tabel 7.2 : Review perubahan RPJM 2007-2012 berdasarkan 7 (tujuh) Prioritas Pembangunan .......................................................... VII-4 x
  • 11.
    DAFTAR GAMBAR 1. Gambar II.1 : Peta Kejadian Bencana Geologis di Aceh ................................ II-104 2. Gambar II.2 : Peta Kejadian Bencana Hidro-meteorologis di Aceh................. II-107 3. Gambar VII.1 : Skema Kuadran dan Kriteria Review Program RPJM Aceh 2007-2012 ........................................................................... VII-2 xi
  • 12.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) merupakan satu tahapan rencana pembangunan yang harus disusun oleh semua tingkatan pemerintahan, baik pemerintah pusat maupan pemerintah daerah, sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Pemerintah Aceh dalam hal ini sudah mempunyai RPJM Aceh periode 2007-2012 yang ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 21 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh 2007-2012. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Pemerintah Daerah disusun dengan maksud untuk menjabarkan Visi dan Misi Gubernur sebagai kepala daerah dalam jangka waktu lima tahun, kemudian RPJM tersebut harus menggambarkan rencana pembangunan yang terukur baik anggaran maupun target capaian yang diinginkan dalam rangka melakukan perubahan dari suatu kondisi kepada kondisi yang lebih baik. Sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 sudah dilaksanakan berbagai program/kegiatan pembangunan di Aceh dari berbagai sumber dana baik APBN, APBA maupun Donor dan swasta, namun program dan kegiatan yang direncanakan belum semuanya dapat dilaksanakan sesuai dengan RPJM. Hal ini disebabkan oleh banyaknya faktor yang mempengaruhi rencana tersebut seperti keterbatasan dana yang tersedia, terjadinya bencana alam serta adanya kegiatan mendesak lainnya yang harus segera dilaksanakan. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2010-2014, pasal 2 ayat 3.b yang disebutkan bahwa RPJMN berfungsi sebagai bahan penyusunan dan perbaikan RPJM Daerah dengan memperhatikan tugas Pemerintah di Daerah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 I-1
  • 13.
    dalam mencapai sasaranNasional yang termuat dalam RPJM Nasional, dari hal tersebut maka RPJM Aceh sudah selayaknya dilakukan evaluasi dan penyesuaian dengan tetap berorientasi pada VISI dan MISI Pemerintah Aceh yang sudah ditetapkan. Evaluasi dan penyesuaian RPJM Aceh 2007-2012 dibagi dalam empat kwadran (kelompok) yaitu: kwadran pertama berisi semua program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM dilaksanakan dengan sempurna dan mencapai target, kwadran kedua berisi program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM dilaksanakan tapi belum mencapai target, kwadran ketiga berisi program/kegiatan prioritas tidak ada dalam RPJM tapi dilaksanakan dan kwadran keempat berisi program/kegiatan yang tidak prioritas dalam RPJM tapi dilaksanakan. Hasil evaluasi dan penyesuaian yang dilakukan terhadap RPJM Aceh Periode 2007-2012 sebagai berikut: 1. Kwadran Pertama yang berisi program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM Aceh 2007 - 2012 dan dilaksanakan dengan sempurna sebesar 6 persen; 2. Kwadran Kedua yang berisi program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM Aceh 2007 - 2012 dilaksanakan tapi belum mencapai target sebesar 26 persen; 3. Kwadran Ketiga yang berisi program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM Aceh 2007-2012 tapi tidak dilaksanakan sebesar 28 persen; 4. Kwadran Keempat yang berisi program/kegiatan yang tidak ada dalam RPJM Aceh 2007 - 2012 tapi dilaksanakan sebesar 40 persen. Hasil Evaluasi dan penyesuaian tersebut menggambarkan bahwa realisasi capaian target yang ingin dicapai masih jauh dari yang diharapkan, maka untuk mengejar target yang sudah direncanakan perlu dilakukan penyesuaian program/kegiatan baik yang sudah dilaksanakan maupun yang belum dilaksanakan dalam periode dua tahun lagi. 1.2 Maksud dan Tujuan Sesuai dengan ketentuan Pasal 19 ayat (3) Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 I-2
  • 14.
    kepala daerah dilantik,yang kemudian menjadi suatu dokumen sebagai acuan untuk penyusunan Rencana Kerja Tahunan Pemerintah Daerah dalam bentuk dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan sebagai landasan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD). RPJM Aceh Tahun 2007 - 2012 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 21 tahun 2007 sudah dilaksanakan selama priode 2007, 2008, 2009 dan 2010, namun banyak program/kegiatan yang dilaksanakan tidak ada dalam RPJM Aceh tersebut, maka perlu dilakukan evaluasi dan penyesuaian sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2010 pasal 2 ayat 3 point b. Tujuan evaluasi dan penyesuaian RPJM Aceh priode 2007-2012 adalah untuk menilai tingkat capaian target dan program kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan serta penyesuaian target nasional (RPJMN 2010-2014). Selanjutnya hasil evaluasi dan penyesuaian RPJM Aceh ini akan menjadi acuan untuk penyusunan Rencana Kerja Tahunan Pemerintah Aceh dalam bentuk dokumen Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) sebagai landasan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (RAPBA). 1.3 Landasan Hukum Beberapa peraturan dan perundang-undangan yang mendasari evaluasi dan penyesuaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh periode 2007-2012 adalah sebagai berikut: 1. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Provinsi Aceh dan Perubahan Provinsi Sumatera Utara; 2. Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh; 3. Undang-undang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang; 4. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 5. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 I-3
  • 15.
    6. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang–undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 32 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-undang; 7. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah; 8. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; 9. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4550); 10. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh; 11. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional; 12. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Provinsi sebagai Daerah Otonom; 13. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009; 14. Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pengakhiran Masa Tugas Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias dan Provinsi Sumatera Utara dan Kesinambungan Rehabilitasi dan Rekontruksi di Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara; 15. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014; Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 I-4
  • 16.
    16. Surat EdaranMenteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP dan RPJM Daerah; 17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 18. Qanun Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Mukim Dalam Propinsi NAD; 19. Qanun Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Gampong Dalam Propinsi NAD sebagai salah satu Landasan Hukum; 20. Qanun Aceh Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Aceh (Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2008 Nomor 01, Tambahan Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 11); 21. Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengalokasian Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi dan Penggunaan Dana Otonomi Khusus (Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2008 Nomor 12, Tambahan Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 12). 1.4 Hubungan RPJM dan Review RPJM dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Sebagaimana kita ketahui bahwa perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat melalui urutan pilihan dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Untuk mencapai proses tersebut, maka keterkaitan suatu dokumen perencanaan dengan dokumen perencanaan lainnya sangat erat dan menentukan. Dalam hal ini hubungan hasil evaluasi dan penyesuaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh ini dengan Kebijakan Pembangunan Nasional maupun Rencana Pembangunan Kabupaten/Kota diharapkan tetap sinergis saling berkaitan suatu sama lain sesuai dengan kewenangan masing-masing. Hasil Penyesuaian RPJM Aceh ini menjadi pedoman dalam rangka penyesuian dokumen-dokumen lainnya seperti: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 I-5
  • 17.
    1. Rencana pembangunanlima tahunan Satuan Kerja Perangkat Aceh yang selanjutnya disebut Rencana Strategis (Renstra) SKPA; 2. Rencana Pembangunan Tahunan Aceh, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun. 3. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Aceh, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Aceh (Renja-SKPA) adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. Dengan demikian diharapkan akan terciptanya sinkronisasi program pembangunan antar sektor dan wilayah baik bersifat jangka panjang, menengah, maupun jangka pendek, sehingga terwujudnya pembangunan yang terpadu dan berkelanjutan. 1.5. Sistimatika Penulisan BAB I : PENDAHULUAN Terdiri dari latar belakang; maksud dan tujuan; landasan hukum; hubungan RPJM dengan dokumen perencanaan lainnya; dan Sistematika Penulisan. BAB II : GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Dalam bab ini diuraikan kondisi akhir tahun 2009 Terdiri dari kondisi geografis; Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan; Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi; Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan Belajar; Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan; Pembangunan Syari’at Islam, Sosial dan Budaya; Penciptaan Pemerintah yang Baik dan Bersih serta Penyehatan Birokrasi Pemerintahan; Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana. BAB III : VISI DAN MISI Tetap tidak berubah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 I-6
  • 18.
    BAB IV : STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Strategis disesuaikan dengan kondisi akhir 2009 Terdiri dari Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan; Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi; Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan Belajar; Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan; Pembangunan Syari’at Islam, Sosial dan Budaya; Penciptaan Pemerintah yang Baik dan Bersih serta Penyehatan Birokrasi Pemerintahan; Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana. BAB V : ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Disesuaikan dengan kondisi akhir 2009 BAB VI : ARAH KEBIJAKAN UMUM Disesuaikan dengan kondisi 2009 Terdiri dari Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum; Ekonomi; Infrastruktur; Pendidikan; Kesehatan; Agama, Sosial dan Budaya. BAB VII : PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Disesuaikan dengan hasil pembahasan Pokja Tabel Program Pembangunan Daerah 2007-2012 BAB VIII : PENUTUP LAMPIRAN-LAMPIRAN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 I-7
  • 19.
    BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI ACEH 2.1 Geografis Aceh terletak di ujung Barat laut Pulau Sumatera (2o-6o Lintang Utara dan 95o-98o Bujur Timur) dengan Ibukota Banda Aceh, memiliki luas wilayah 5.675.841 ha (12,26 persen dari luas pulau Sumatera), dan sekaligus terletak pada posisi strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas perdagangan Nasional dan Internasional yang menghubungkan belahan dunia timur dan barat. Aceh memiliki 119 pulau, 35 gunung, 73 sungai besar, 2 buah danau dan sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan hutan sebesar 3.862.249,26 ha yang terdiri dari hutan yang dilindungi dan hutan produksi. Hutan yang dilindungi terdiri dari hutan suaka alam 115.122,15 ha, hutan pelestarian alam 647.344,82, hutan lindung 2.481.442,86, dan taman buru 84.962,53 ha, selanjutnya hutan produksi terdiri dari hutan produksi terbatas 13.331,54, hutan produksi 122.781,15 ha, dan hutan produksi konversi 37.284,20 ha. Aceh mempunyai beragam kekayaan sumberdaya alam antara lain minyak dan gas bumi, pertanian, industri, perkebunan (kelapa sawit, karet, kelapa, cengkeh, kakao, kopi, tembakau), perikanan darat dan laut, pertambangan umum (logam, batu bara, emas, dan mineral lainnya). Pemerintah Aceh terdiri dari 18 Kabupaten dan 5 Kota, 276 Kecamatan, 731 Mukim dan 6.424 gampong atau desa. Secara topografi Aceh terdiri dari 47,58 persen wilayah yang bergunung, 24,63 persen merupakan daerah datar, 10 persen merupakan daerah berbukit, 10,55 persen merupakan wilayah berombak dan selebihnya wilayah bergelombang. Keterangan tersebut menurut klasilifikasi slope (kelerengan), yaitu < 2 persen datar, 2-8 persen berombak, 8-15 persen bergelombang, 15-25 persen berbukit dan >25 persen bergunung. Karakteristik lahan di Aceh pada Tahun 2008 sebagian besar didominasi oleh hutan, dengan luas 3.549.813 Ha atau 58,15 persen. Penggunaan lahan terluas kedua adalah perkebunan besar dan kecil mencapai 827.030 Ha atau 13,65 persen dari luas total wilayah Aceh. Luas lahan pertanian sawah dan pertanian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-1
  • 20.
    tanah kering semusimmencapai 449,514 Ha atau 7.59 persen dan selebihnya lahan pertambangan, industri, perkampungan perairan darat, tanah terbuka dan lahan suaka alam lainnya dibawah 5.99 persen. 2.2 Perekonomian 2.2.1 Kondisi Ekonomi Makro 2.2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi Jika diukur dari kenaikan PDRB, perekonomian Aceh secara keseluruhan (termasuk migas) selama dua tahun terakhir (2008-2009) secara berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif yaitu sebesar -5,27 persen dan -5,58 persen. Akan tetapi tanpa migas perekonomian Aceh selama periode tersebut justru mengalami perkembangan yang menggembirakan yaitu mengalami pertumbuhan positif secara berturut-turut sebesar 1,88 persen dan 3,92 persen. Penyebab utama pertumbuhan negatif (kontraksi) perekonomian Aceh secara keseluruhan (termasuk migas) selama beberapa tahun terakhir adalah disebabkan oleh semakin menurunnya kontribusi minyak dan gas bumi terhadap PDRB. Akibat masih dominannya kontribusi minyak dan gas bumi terhadap PDRB Aceh menyebabkan perubahannya berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Jika tanpa memperhitungkan nilai kontribusi minyak dan gas bumi, selama periode 2008-2009 semua sektor usaha mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor listrik dan air bersih yang diikuti oleh sektor keuangan, industri pengolahan, perdagangan hotel dan restoran, jasa-jasa, pengangkutan dan komunikasi, pertanian, bangunan, serta pertambangan dan penggalian. Pertumbuhan ekonomi Aceh tahun 2008 dan 2009 menurut lapangan usaha (sektor-sektor) secara lebih terinci dapat dilihat pada Tabel II.1 dibawah ini: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-2
  • 21.
    Tabel II.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Aceh Tahun 2008 dan 2009 Menurut Lapangan Usaha Pertumbuhan (persen) LAPANGAN USAHA 2008 2009** (1) (2) (3) 1. Pertanian 0,81 3,09 2. Pertambangan dan Penggalian -27,31 -49,24 - Tanpa Gas -1,01 1,38 3. Industri Pengolahan -7,73 -6,06 - Tanpa Gas 3,57 5,03 4. Listrik dan Air Bersih 12,73 27,07 5. Bangunan -0,85 3,16 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 4,59 3,28 7. Pengangkutan dan Komunikasi 1,38 4,68 8. Keuangan, Persewaan, Jasa Perusahaan 5,16 9,61 9. Jasa – Jasa 1,21 4,68 PDRB -5,27 -5,58 PDRB TanpaMigas 1,88 3,92 Sumber : BPS Aceh, 2010 Catatan : *) angka sementara **) angka sangat sementara Mencermati perkembangan partumbuhan ekonomi Aceh yang semakin meningkat selama beberapa tahun terakhir khususnya pertumbuhan ekonomi tanpa migas, bahwa pertumbuhan tersebut masih jauh dibawah pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh sekitar 4,5 persen pada tahun 2009. 2.2.1.2 Tingkat Inflasi Jika diamati perkembangan harga-harga barang di dua kota utama Aceh (Banda Aceh dan Lhokseumawe), tingkat inflasi yang terjadi di Aceh pada tahun 2009 tercatat sangat rendah selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2009 tingkat inflasi yang terjadi di Kota Banda Aceh adalah sebesar 3,5 persen jauh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-3
  • 22.
    lebih rendah dibandingkantahun 2008 yang sebesar 10,27 persen. Sedangkan tingkat inflasi di Kota Lhokseumawe pada tahun 2009 sebesar 3,96 persen juga jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat inflasi yang terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 13,78 persen. Tingkat suku bunga yang relatif rendah selama tahun 2009 ternyata tidak memberi pengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi di Aceh dalam kurun waktu yang sama. Rendahnya inflasi yang terjadi selama tahun 2009 jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya cenderung terutama dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDR) selama tahun 2009. Disamping itu, berkurangnya secara drastis aktifitas rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh selama tahun 2009, dari sisi demand telah menyebabkan turunnya permintaan terhadap barang dan jasa kebutuhan kegiatan pembangunan. Sedangkan dari sisi supply, perbaikan infrastruktur, unit-unit produksi dan system distribusi barang telah menciptakan pasar yang lebih sempurna, dan fenomena tersebut juga memberi andil cukup besar terhadap rendahnya tingkat inflasi selama tahun 2009. Rendahnya tingkat inflasi di Aceh pada tahun 2009 jika dibandingkan dengan tingkat inflasi yang terjadi pada beberapa tahun sebelumnya, maka kondisi tersebut minimal perlu dipertahankan agar pembangunan ekonomi terus dapat ditingkatkan. 2.2.1.3 Tingkat Pengangguran Terbuka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan salah satu indikator yang dapat menggambarkan kondisi umum perekonomian suatu wilayah, dan sekaligus memberikan gambaran aktivitas masyarakat dalam mencapai kesejahteraan. TPT diukur berdasarkan persentase jumlah angkatan kerja yang tidak bekerja yang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kondisi sosial, budaya, dan ekonomi lingkungan, serta kondisi internal angkatan kerja itu sendiri. Jumlah angkatan kerja di Aceh pada tahun 2009 mencapai 1,897 juta orang mengalami penambahan sekitar 104 ribu orang dari kondisi 2008 yang hanya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-4
  • 23.
    sebanyak 1,793 jutaorang. Sedangkan jumlah penduduk yang bekerja pada tahun 2009 adalah sebanyak 1,732 juta orang atau bertambah sekitar 110 ribu orang dari tahun 2008 yang hanya sebanyak 1,622 juta orang. Peningkatan jumlah orang yang bekerja lebih besar dari peningkatan jumlah angkatan kerja yang terjadi pada tahun 2009 telah menyebabkan menurunnya TPT di Aceh. Kondisi yang yang sama, juga terjadi selama beberapa tahun sebelumnya, akibat semakin bertambahnya kesempatan kerja dan semakin luasnya lapangan usaha yang tercipta. Semakin kondusifnya keamanan daerah dan semakin baiknya kondisi berbagai sarana dan prasarana daerah, serta semakin terbukanya akses daerah terhadap dunia luar telah mendorong masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam akselerasi pembangunan Aceh. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya tumbuh unit-unit usaha kecil dan menengah baik oleh pelaku-pelaku ekonomi lokal maupun tumbuh melalui kemitraan dengan pengusaha-pengusaha luar daerah dan asing. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Aceh pada tahun 2009 (kondisi bulan Agustus) adalah sebesar 8,71 persen yaitu mengalami penurunan sebesar 0,85 persen dari TPT tahun 2008 (pada bulan yang sama) yang mencapai 9,56 persen. Pada tahun 2010 (kondisi Februari), TPT di Aceh semakin menurun yaitu 8,60 persen yang berarti mengalami penurunan sebesar 0,11 persen selama satu semester. Perkembangan TPT di Aceh selama 5 tahun terakhir adalah seperti diperlihatkan pada Tabel II.2 dibawah ini: Tabel. II.2 Perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka di Aceh Selama Periode 2006 - 2010 TAHUN Tingkat Pengangguran (%) 2006 10,43 2007 9,84 2008 9,56 2009 8,71 2010*) 8,60 Sumber : BPS Aceh, 10 Februari 2010 *) kondisi Februari 2010 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-5
  • 24.
    Walaupun TPT diAceh terus mengalami penurun selama lima tahun terakhir, namun kondisi tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan TPT nasional yang pada tahun 2009 sebesar 8,14 persen. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dan memerlukan beberapa kebijakan agar TPT di Aceh mampu ditekan minimal setara dengan nasional. 2.2.1.4 Tingkat Kemiskinan Kondisi damai yang masih terpelihara dengan baik saat ini merupakan suatu modal yang sangat besar bagi Aceh dalam melaksanakan berbagai program pembangunan, terutama yang berdampak langsung terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat dan diharapkan dapat berimbas terhadap menurunnya jumlah penduduk miskin. Tingkat kemiskinan di Aceh selama periode 2007-2009 terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007 tingkat kemiskinan di Aceh adalah sebesar 26,65 persen yang pada tahun-tahun selanjutnya terus menurun menjadi 23,53 persen di 2008 dan 21,80 persen pada tahun 2009. Sebagaimana halnya dengan kondisi penyebaran penduduk miskin secara nasional, bahwa penduduk miskin di Aceh juga lebih banyak berdomisili di daerah perdesaan dibandingkan dengan yang bermukim di perkotaan. Berdasarkan data statistik tahun 2009, bahwa dari total jumlah penduduk miskin yang mencapai 892.900 jiwa yang berdomisili di pedesaan adalah sebanyak 710.700 jiwa, sedangkan yang berdomisili di perkotaan sebesar 182.200 jiwa. Secara persentase, bahwa 24,34 persen penduduk desa adalah tergolong miskin, sedangkan penduduk kota hanya 15,45 persen yang tergolong miskin. Tingginya persentase pendudk miskin di pedesaan cenderung disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah masih rendahnya rata-rata tingkat pendidikan (skill), minimnya infrastruktur, serta terbatasnya akses terhadap arus informasi pembangunan dan teknologi. Perkembangan penduduk miskin di Aceh selama periode 2007-2009 dapat dilihat pada Tabel II.3 dibawah ini: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-6
  • 25.
    Tabel. II.3 Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin di Aceh Selama Periode 2007-2009 Persentase Penduduk Jumlah Penduduk Miskin Tahun Miskin (ribu orang) (%) 2007 1.083,6 26,65 2008 956,7 23,53 2009 892,9 21,80 Sumber : BPS Aceh tahun 2009 2.2.2 Sektor-Sektor Produksi Secara umum, sektor pertanian dalam arti luas masih menjadi penyumbang utama terhadap PDRB Aceh dimana pada tahun 2009 kontribusinya adalah sebesar 33,69 persen. Dengan demikian sektor pertanian menjadi penyokong utama perekonomian Aceh, disamping juga masih sebagai mata pencaharian utama masyarakat. Akan tetapi dalam pengembangannya, sektor ini masih banyak menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan, antara lain adalah: a. Masih tingginya konflik kepentingan dalam pemanfaatan lahan yang ditunjukkan dengan tingginya konversi lahan pertanian sehingga hal ini dapat mengancam tingkat produksi pertanian; b. Masih kurang memadainya infrastruktur pertanian, terutama jaringan irigasi, jalan usaha tani, saluran tambak, pelabuhan perikanan, dan balai pembibitan/perbenihan, sehingga produktivitas sektor pertanian tergolong masih rendah; c. Pengembangan komoditi belum fokus pada komodi unggulan yang memiliki prospek pasar serta nilai tambah yang tinggi d. Skala usaha pertanian rakyat tergolong masih sangat kecil, terutama jika dibandingkan dengan potensi ketersediaan lahan yang ada e. Masih lemahnya aplikasi teknologi dalam proses produksi dan pengolahan hasil akibat belum optimalnya mekanisasi dan penyuluhan pertanian. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-7
  • 26.
    f. Lemahnya akses petani terhadap sumber informasi terutama yang berkaitan dengan teknologi, pasar, dan permodalan/perbankan; dan g. Masih lemahnya kelembagaan petani dan kemitraan usaha. 2.2.2.1 Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Produksi komoditi pangan Aceh dalam beberapa tahun terakhir secara keseluruhan menunjukkan perkembangan yang positif. Tahun 2009 (berdasarkan angka sementara), produksi padi mengalami peningkatan sebesar 10,23 persen yaitu dari 1.402.287 juta ton pada tahun 2008 meningkat menjadi 1.545.769 ton pada tahun 2009. Produksi tersebut terdiri dari padi sawah (1.528.737 ton) dan padi ladang (17.032 ton). Sedangkan komoditi pangan yang mengalami peningkatan produksi paling signifikan adalah jagung dan kedelai, dimana pada tahun 2009 peningkatannya mencapai di atas 20 persen. Produksi jagung mengalami peningkatan sebesar 22,16 persen yaitu sebesar 112.894 ton pada tahun 2008 meningkat menjadi 137.910 ton pada tahun 2009. Produksi kedelai bahkan mengalami peningkatan yang luar biasa yaitu sebesar 44,55 persen, dari 43.885 ton pada tahun 2008 meningkat menjadi 63.436 ton pada tahun 2009. Komoditi pangan yang mengalami pertumbuhan produksi negatif adalah kacang tanah dan kacang hijau. Produksi kacang tanah pada tahun 2009 hanya mencapai 5.899 ton atau menurun sebesar 423 ton (-6,69 persen) jika dibanding dengan tahun 2008 yang produksinya mencapai 6.322 ton. Sedangkan kacang hijau yang terjadi penurunan sebesar 439 ton (-24,70 persen) jika dibandingkan dengan produksi tahun 2008 yaitu sebesar 1.439 ton menurun menjadi 1.338 ton pada tahun 2009 Dinilai dari sisi produktivitas, pada tahun 2009 hampir semua komoditi tanaman pangan mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya kecuali pada komoditi kacang tanah dan kacang hijau. Peningkatan produktivitas salah satunya mencerminkan sejauhmana penerapan teknologi pertanian yang diaplikasikan oleh petani untuk meningkatkan hasil produksinya per satuan luas, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-8
  • 27.
    seperti penggunaan benihunggul, aplikasi teknologi pendukung lainnya (seperti pupuk dan pengendalian OPT), dan dukungan infrastruktur seperti irigasi teknis. Peningkatan produktivitas pertanian pangan dan hortikultura harus tetap menjadi prioritas ke depan, mengingat produktivitas yang tinggi akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani ke arah yang lebih baik. Laju perkembangan produktivitas komoditi pangan di Aceh untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel II.4. Permasalahan yang sangat substansial dalam pengembangan komoditi pangan dan hortikultura adalah permasalahan ketersediaan bibit/benih unggul dan pemasaran. Penggunaan varietas unggul sering menjadi kendala dimana petani masih sangat tergantung dari bantuan pemerintah akibat belum tersedianya unit produksi bibit/benih unggul yang representatife dan mudah diakses oleh masyarakat. Selama ini sebagian besar kebutuhan bibit/benih unggul masih didatangkan dari luar daerah dengan harga yang mahal sehingga penggunaan bibit/benih unggul oleh petani masih sangat minim dan cendrung bergantung dari bantuan pemerintah. Sedangkan persoalan utama pemasaran adalah masih rendahnya harga jual komoditi ditingkat petani, terutama disaat panen raya. Pada saat musim panen raya petani cenderung menjual dengan harga murah akibat belum berkembangnya industri pengolahan dan masih lemahnya system mata rantai perdagangan (supplay chain). Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka sangat diperlukan dukungan ketersediaan unit pengolahan hasil dengan kapasitas yang cukup dan modern, serta terbentuknya sistem perdagangan komoditi yang tangguh dan berkeadilan. Dengan demikian nantinya diharapkan petani lebih termotivasi untuk berusaha di sektor pangan dan hortikultura dengan prinsip agribisnis, dan daerah dapat memperoleh nilai tambah yang lebih besar. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-9
  • 28.
    TABEL II.4 Perkembangan Produktivitas Tanaman Pangan Menurut Komoditi di Aceh Tahun 2007 - 2009 Produktivitas (Kwt/Ha) Perkembangan No Komoditi 2007 - 2009 2007 2008 2009*) (%) 1 Padi 42,51 42,51 43,32 0,63 2 Jagung 34,03 33,04 34,67 0,62 3 Kedelai 12.99 13,34 14,08 2,93 4 Kacang Tanah 12,11 12,12 12,59 1,30 5 Kacang Hijau 11,04 10,44 10,49 -1,69 6 Ubi Kayu 124,02 124,16 127,47 0,92 7 Ubi Jalar 98,49 99,41 100,68 0,73 Sumber: Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Aceh, Februari 2009 (data diolah). Keterangan: *) 2009 merupakan Angka Sementara. 2.2.2.2 Perkebunan Sektor perkebunan telah memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap perekonomian daerah termasuk sumber pendapatan masyarakat. Sedangkan dari sisi aspek sosial, usaha perkebunan telah mampu memberikan lapangan pekerjaan yang cukup luas bagi masyarakat dimana secara langsung ikut mengurangi pengangguran. Disamping itu usaha perkebunan juga ikut mendukung kelestarian sumberdaya alam seperti pelestarian sumberdaya air dan penyediaan oksigen bagi kehidupan dalam konteks mendukung visi Aceh Green. Luas areal perkebunan sampai dengan tahun 2009 di Aceh mencapai 900.080 Ha, mengalami peningkatan sebesar 10,67 persen dari tahun 2008, dimana hal ini cenderung disebabkan karena semakin kondusifnya keamanan di Aceh. Peningkatan luas areal tertinggi terjadi pada komoditi kemiri yang mengalami kenaikan sebesar 57,94 persen, kemudian diikuti oleh nilam sebesar 32,48 persen. Kelapa Sawit masih mendominasi luas areal perkebunan di Aceh, yakni 313.813 Ha atau 34,86 persen, yang diikuti oleh Karet 132.694 Ha (14,74 persen) dan Kopi 121.938 Ha (13,54 persen) serta Kelapa Dalam 101.150 Ha Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-10
  • 29.
    (11,30 persen). Lebihjelas mengenai luas areal berbagai komoditi unggulan perkebunan di Aceh tahun 2007-2009 disajikan dalam Tabel II.5. TABEL II.5 Luas Areal Tanaman Perkebunan Rakyat dan Besar Menurut Komoditi di Aceh Tahun 2007 – 2009 LUAS AREAL PERTUMBUHAN NO KOMODITI 2007 2008 2009 2008 2009 1 KARET 111.872 114.661 132.694 2,49 15,73 2 KELAPA SAWIT 269.885 287.104 313.813 6,38 9,30 3 KELAPA DALAM 108.421 101.996 101.750 -5,93 -0,24 4 KOPI 112.138 111.880 121.938 -0,23 8,99 5 CENGKEH 22.165 22.187 22.117 0,10 -0,32 6 PALA 17.773 18.230 20.256 2,57 11,11 7 PINANG 35.320 35.984 37.895 1,88 5,31 8 KAKAO 50.101 74.547 78.805 48,79 5,71 9 LADA 1020 974 1022 -4,51 4,93 10 KEMIRI 24.306 13.725 21.677 -43,53 57,94 11 NILAM 3144 3205 4246 1,94 32,48 12 TEMBAKAU 836 829 943 -0,84 13,75 13 KELAPA HYBRIDA 3.867 3.760 2.209 -2,77 -41,25 14 GAMBIR 233 214 200 -8,15 -6,54 15 KUNYIT 807 772 446 -4,34 -42,23 16 JAHE 1.214 433 609 -64,33 40,65 17 TEBU 6.233 6.407 6.706 2,79 4,67 18 ANEKA TANAMAN 35.056 16.417 32.754 -53,17 99,51 JUMLAH 804.391 813.325 900.080 1,11 10,67 Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Tahun 2009 (data diolah) Total produksi berbagai komoditi perkebunan pada tahun 2009 tidak mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2008. Pertumbuhan produksi tertinggi terjadi pada komoditi nilam yaitu 291,03 persen yang diikuti oleh kakao 225,51 persen dan tebu 103,34 persen, sedangkan terendah terjadi pada komoditi cengkeh sebesar -61,11 persen. Produksi kelapa sawit masih merupakan yang tertinggi diantara komoditi perkebunan lainnya yaitu sebesar 311.045 ton TBS atau (46,73 persen), dan produksi minyak sawit sebesar 286.452 ton serta inti sawit sebesar 129.412 ton. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Tabel II.6. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-11
  • 30.
    TABEL II.6 Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat dan Besar Menurut Komoditi di Aceh Tahun 2007–2009* PRODUKSI PERTUMBUHAN NO. KOMODITI 2007 2008 2009 2008 2009 1 KARET 63.144 68.611 70.634 8,66 2,95 2 KELAPA SAWIT 752.049 799.904 311.045 6,36 -61,11 3 KELAPA DALAM 64.387 52.325 56.875 -18,73 8,70 4 KOPI 48.080 47.811 50.190 -0,56 4,98 5 CENGKEH 2.114 1.949 714 -7,81 -63,37 6 PALA 5.706 4.495 5.458 -21,22 21,42 7 PINANG 19.158 14.982 22.396 -21,80 49,49 8 KAKAO 19.303 27.295 88.847 41,40 225,51 9 LADA 252 182 274 -27,78 50,55 10 KEMIRI 18.082 11.304 14.756 -37,48 30,54 11 NILAM 118 156 610 32,20 291,03 12 TEMBAKAU 230 215 316 -6,52 46,98 13 KELAPA HYBRIDA 1.216 2.107 1.133 73,27 -46,23 14 GAMBIR 67 66 78 -1,49 18,18 15 KUNYIT 2.117 2.001 768 -5,48 -61,62 16 JAHE 4.064 2.257 2.589 -44,46 14,71 17 TEBU 16.318 16.423 33.394 0,64 103,34 18 ANEKA TANAMAN 9.628 5.449 5.489 -43,40 0,73 JUMLAH 1.026.033 1.057.532 665.566 3,07 -37,06 Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Tahun 2009 (data diolah) Pengembangan komoditi perkebunan di Aceh selama ini masih menghadapi beberapa permasalahan substansial yang hampir sama dengan permasalahan di sektor pertanian pangan dan hortikultura, yaitu permasalahan ketersediaan bibit unggul dan penanganan pasca panen. Sebagian besar bibit unggul masih harus didatangkan dari daerah lain dan sulit diakses oleh petani, serta harga yang relative mahal. Akibatnya petani cenderung menggunakan bibit yang bukan klon/varietas anjuran sehingga berimbas pada rendahnya produktivitas perkebunan rakyat terutama jika dibandingkan dengan perkebunan besar. Permasalahan pasca panen terutama berkaitan dengan masih rendahnya harga komoditi di tingkat petani sehingga hasil kebun tidak dimanfaatkan secara optimal. Rendahnya harga komoditi perkebunan ditingkat petani disebabkan oleh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-12
  • 31.
    beberapa hal diantaranyayang terpenting adalah akibat rendahnya kualitas pengolahan hasil panen, lemahnya sistim kelembagaan petani, dan minimnya ketersediaan unit pengolahan hasil perkebunan. 2.2.2.3. Peternakan Pembangunan sektor peternakan di Aceh mempunyai peranan strategis dalam upaya pemantapan ketahanan pangan hewani dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pembangunan peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian dalam arti luas dan di ditujukan kepada upaya peningkatan produksi peternakan yang sekaligus untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani ternak, memenuhi kebutuhan pangan dan gizi, serta menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat. Disamping itu usaha peternakan juga berperan dalam mendorong pengembangan agroindustri dan agribisnis. Sejalan dengan program Nasional Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS) pada tahun 2014, pemerintah Aceh terus berusaha untuk menambah jumlah populasi ternak baik dengan mendatangkan ternak dari luar Aceh maupun melalui inseminasi buatan yang secara efektif mampu mengatasi masalah fertilasi ternak. Di samping itu, pola pengembangannya juga difokuskan pada pengembangan kawasan-kawasan peternakan terpadu baik untuk kawasan peternakan sapi maupun kawasan peternakan ayam petelur. Selama periode 2008-2009 total populasi ternak terus mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2008 total populasi ternak berjumlah 14.840.889 ekor, mengalami peningkatan sebesar 3,97 persen pada tahun 2009 dengan total populasi sebesar 15.430.451 ekor. Populasi ternak yang mengalami peningkatan terbesar adalah domba dengan peningkatan sebesar 17,61 persen atau dengan jumlah populasi sebesar 184.747 ekor jika dibandingkan dengan tahun 2008 dengan jumlah populasi sebesar 157.081 ekor, kemudian disusul oleh ayam pedaging dengan peningkatan sebesar 10 persen atau dengan jumlah populasi sebesar 1.480.939 ekor jika dibandingkan dengan tahun 2008 dengan jumlah populasi sebesar 1.346.308 ekor. Sedangkan terendah terdapat pada kambing Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-13
  • 32.
    dengan penumbuhan sebesar0,93 persen, ayam buras sebesar 2,99 persen, itik dan puyuh masing-masing hanya tumbuh sebesar 3 persen. Lebih jelasnya mengenai perkembangan populasi ternak dapat dillihat pada Tabel II.7. Tabel II.7 Perkembangan Populasi Ternak Menurut Jenis Di Aceh Tahun 2008 - 2009 Pertumbuhan Populasi Ternak (ekor) No Jenis Ternak (%) 2008 2009 2009 1 Sapi Perah 32 35 9,37 2 Sapi Potong 641.093 688.118 7,33 3 Kerbau 280,662 299.763 6,80 4 Kuda 3.243 3.357 3,51 5 Kambing 697.426 703.593 0,93 6 Domba 157.081 184.757 17,61 7 Babi 333 321 -3,60 8 Ayam Buras 8.904.869 9.172.015 2,99 9 Ayam Ras 181.887 190.799 4,89 10 Petelur Ayam 1.346.308 1.480.939 10,00 11 Pedaging Itik 2.596.927 2.674.835 3,00 12 Puyuh 31.028 31.959 3,00 Total 14.840.889 15.430.451 3,97 Sumber: Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh Tahun 2010 (data diolah). Jumlah produksi telur menurut jenis di Aceh tahun 2008 - 2009 mengalami kenaikan sebesar 8,50 persen. Telur ayam buras mengalami kenaikan tertinggi sebesar 11,36 persen sedangkan pada jenis telur ayam ras juga terjadi peningkatan yaitu sebesar 11,27 persen dan itik sebesar 2,88 persen. Gambaran mengenai perkembangan Produksi telur Aceh tahun 2008 - 2009 dapat dilihat pada Tabel II.8 berikut: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-14
  • 33.
    Tabel II.8 Perkembangan Produksi Telur Menurut Jenis di Aceh tahun 2008 - 2009 Pertumbuhan Produksi (Kg) No Jenis (%) 2008 2009 2009 1 Ayam Buras 7.384.695 8.223.564 11,36 2 Ayam Ras Petelur 885.606 985.450 11,27 3 Itik 9.580.128 9.856.250 2,88 Total 17.850.429 19065264 8,50 Sumber: Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh Tahun 2010 (data diolah). Rendahnya produksi telur dalam daerah, disebabkan karena tingginya biaya produksi akibat pakan ternak yang masih harus didatangkan dari luar Aceh sehingga harga jual telur menjadi mahal jika dibandingkan dengan harga telur pasokan yang masuk dari luar daerah Aceh. Keadaan ini menyebabkan daya saing peternak dalam daerah menjadi rendah, sehingga motivasi masyarakat untuk berusaha dibidang ini menjadi menurun. Melihat pertumbuhan penduduk Aceh yang terus bertambah dan kondisi sosial ekonomi yang cenderung semakin membaik, maka diperkirakan dalam kurun waktu lima tahun mendatang permintaan terhadap daging dan telur tidak akan seimbang dengan ketersediaan dalam daerah, untuk itu perlu dilakukan kajian yang strategis dalam menyeimbangkan supply dan demand pangan daging dan telur dimasa yang akan datang. 2.2.2.4 Kelautan dan Perikanan Aceh yang terletak di ujung Utara/Barat Pulau Sumatera memiliki peranan yang sangat strategis dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan nasional mengingat letaknya di antara dua perairan, yaitu Selat Malaka di bagian Utara/Timur dan Samudera Indonesia di bagian Barat/Selatan. Panjang garis pantai Aceh sekitar 1.660 km dengan luas perairan laut sekitar 295.370 km 2 yang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-15
  • 34.
    terdiri dari perairanteritorial dan perairan kepulauan seluas 56.563 km2 dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 238.807 km 2. Produksi perikanan di Aceh selama tiga tahun terakhir mengalami pertumbuhan baik pada jenis perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Pada tahun 2008 total produksi perikanan Aceh adalah sebesar 167.907,5 ton dan mengalami peningkatan sebesar 1,52 persen terhadap produksi tahun 2007 yang hanya mencapai sebesar 165.396,6 ton. Pada tahun 2009 total produksi perikanan mencapai 172.962,6 ton atau mengalami pertumbuhan sebesar 3,01 persen. Perikanan dan kelautan merupakan sektor yang mengalami kehancuran sangat fatal pada saat bencana tsunami. Namun pertumbuhan produksi perikanan yang terjadi selama tiga tahun terakhir walaupun tidak terlalu signifikan menandakan mulai pulihnya kembali sektor ini dari kehancuran. Untuk lebih rincinya produksi perikanan Aceh tahun 2007-2009 dapat dilihat dalam Tabel II.9. Tabel II.9 Produksi Perikanan di Aceh Tahun 2007 - 2009 Jumlah Produksi (ton) No Klasifikasi 2007 2008 2009* 1. Perikanan 129.730,9 130.271,4 134.179,5 Tangkap 2. Perikanan 35.665,7 37.636,1 38.765,1 Budidaya Total 165.396,6 167.907,5 172.962,6 Pertumbuhan (%) 5,20 1,52 3,01 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Tahun 2008 (data diolah) Ket : *) Angka sementara Secara keseluruhan pertumbuhan rata-rata produksi perikanan selama 2007-2009 adalah sebesar 3,24 persen dengan perincian pertumbuhan tahunan produksi perikanan tangkap sebesar 3,41 persen dan perikanan budidaya sebesar 4,25 persen. Produksi perikanan tangkap umumnya didominasi oleh kelompok ikan pelagis seperti tuna, tongkol, kembung, cakalang, selar, tenggiri Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-16
  • 35.
    dan layang. Kelompokudang dan bandeng memberi sumbangan terbesar dari subsektor budidaya perikanan. Jumlah prasarana yang tersedia di sektor Kelautan dan Perikanan masih sangat minim bila dibandingkan dengan potensi perikanan Aceh. Kondisi ini mencerminkan bahwa pengembangan sektor perikanan di Aceh ini belum didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Untuk itu kedepan perlu pengembangan sarana dan prasarana kelautan dan perikanan seperti pelabuhan perikanan, pengembangan balai benih ikan, pengembangan sarana tangkap serta motorisasi armada perikanan dalam upaya meningkatkan daya jelajah dan produktivitas nelayan. 2.2.2.5 Kehutanan Kawasan Hutan Aceh yang ditetapkan berdasarkan Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan sesuai dengan keputusan Menteri Kehutanan No. 170/Kpts- II/2000 tanggal 29 Juni 2000 adalah seluas ± 3.335.613 Ha (daratan), dengan kawasan perairannya seluruhnya adalah seluas 3.549.813 ha. Luas kawasan hutan ini meliputi 62,74 persen dari luas daratan Aceh. Kawasan hutan ini terdiri dari kawasan Hutan Konservasi, Hutan Lindung dan kawasan Hutan Produksi. Kondisi kawasan hutan di Aceh umumnya belum mantap. Dari sepanjang 5.056 Km batas luar kawasan hutan, yang baru terealisir tata batasnya sepanjang 3.523,60 Km (69 persen). Sedangkan batas fungsi pada umumnya belum terealisir. Kenyataan ini menyebabkan lemahnya kepastian hukum dalam pengelolaan sumber daya hutan dan dalam menghadapi permasalahan okupasi kawasan hutan. Berdasarkan data yang ada saat ini (Baplan, 2002), menunjukkan bahwa indikasi kawasan hutan yang perlu direhabilitasi adalah seluas 2.125.300 ha (mencapai 37 persen luas daratan Aceh) baik yang berada di dalam kawasan maupun di luar kawasan. Kondisi tersebut mengharuskan adanya komitmen semua pihak untuk mendukung pemulihan kawasan hutan melalui kegiatan rehabilitasi hutan secara nasional. Hal ini sejalan dengan prioritas kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-17
  • 36.
    pembangunan nasional dibidang sumberdaya alam yaitu melindungi dan merehabilitasi SDA agar kualitas dan daya dukungnya tetap terjaga, sekaligus menjamin tersedianya ruang yang memadai bagi kehidupan masyarakat. Dengan berlakunya UUPA Nomor 11 tahun 2006, Pemerintah Aceh memiliki kewenangan dalam pengambilan kebijakan, pengaturan dan penyelenggaraan kegiatan yang berdampak antar kabupaten/kota. Mendasari Undang-undang tersebut dan memperhatikan kondisi geografis yang ada, maka pengelolaan hutan di Aceh dibagi atas 5 (lima) Daerah Aliran Sungai (DAS), dan dalam implementasinya akan dibentuk 4 Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). Kawasan lindung pada kawasan hutan seluas 2.697.133 Ha (80,86 persen) yang terdiri dari hutan konservasi 852.633 Ha dan hutan lindung seluas 1.844.500 Ha, sedangkan kawasan budidaya hutan atau hutan produksi seluas 638.580 Ha terdiri dari hutan produksi terbatas 37.300 Ha dan hutan produksi tetap 601.280 Ha. 2.2.2.6 Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Populasi industri Aceh didominasi oleh industri kecil menengah. Jumlah usaha industri kecil menengah terus mengalami perkembangan dan pada 2009 telah mencapai sebesar 35.660 unit meningkat tajam hingga 67,64 persen dari tahun 2008 yang populasinya berjumlah 21.275 unit. Peningkatan yang signifikan tersebut disebabkan oleh tumbuh dan berkembangnya industri kecil menengah. Sedangkan populasi industri besar sampai tahun 2009 mengalami stagnansi atau dengan kata lain tidak mengalami peningkatan populasi. Perkembangan industri dari tahun 2007 sampai dengan 2009 dapat dilihat pada Tabel II.10. Akan tetapi laju perkembangan populasi industri tidak diikuti oleh laju peningkatan investasi yang signifikan. Tahun 2009 nilai total investasi industri bernilai 147.1 Triliyun tidak berbeda jauh dengan nilai investasi industri tahun 2008 yang berjumlah 146.9 Triliyun. Penurunan aktivitas produksi dari beberapa industri besar yang ada di Aceh akibat kurangnya pasokan bahan baku dan diharapkan persoalan ini segera dapat diatasi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-18
  • 37.
    Tabel II.10 Perkembangan Industri Di Aceh Tahun 2007 - 2009 No Kelompok Industri 2007 2008 2009 1. Industri Kecil Menengah 20.231 unit 21.267 unit 35.652 unit 2. Industri Besar 8 unit 8 unit 8 unit JUMLAH 20.239 unit 21.275 unit 35.660 unit Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM, 2009. Kinerja ekspor Aceh secara umum cenderung mengalami peningkatan. Setelah mengalami kejatuhan pada tahun 2001, nilai ekspor Aceh mengalami perkembangan yang positif walaupun peningkatannya sedikit fluktuatif. Tahun 2007 nilai ekspor mengalami penurunan hanya mencapai USD 1.854,23 Juta, tapi kemudian tahun 2008 meningkat kembali menjadi USD 2.234,13 juta. Nilai ekspor non migas juga mengalami perkembangan yang menggembirakan, walau pun belum signifikan pengaruhnya terhadap total nilai ekpor. Sedangkan ekspor non migas termasuk komoditi pertanian terus mengalami perkembangan yang menggembirakan. Setelah sempat meningkat 5 kali lipat pada tahun 2007, ekspor non migas meningkat tajam sampai 80% pada tahun 2008, meski dalam tahun tersebut terjadi krisis finansial global. Ekspor beberapa komoditi mengalami peningkatan dimana komodi yang mengalami peningkatan tertinggi adalah komoditi pupuk. Disamping itu sejak kondisi keamanan pasca konflik semakin kondusif nilai ekspor komoditi perkebunan serperti kopi dan coklat terus meningkat. Tahun 2009 nilai ekspor kopi mencapai USD 22,66 juta. Namun demikian bila dibandingkan dengan nilai ekspor keseluruhan, nilai ekspor non-migas terutama komoditi pertanian masih sangat rendah. Sama halnya dengan ekspor, kondisi impor Aceh juga mengalami peningkatan. Tahun 2007 dan tahun 2008 nilai impor meningkat tajam dari USD 30,65 juta menjadi 384,24 pada tahun 2008. Peningkatan nilai impor tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya impor barang-barang konsumsi rumah tangga, bahan makanan dan barang produk industri lainnya. Sedangkan impor Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-19
  • 38.
    barang modal masihsangat kecil, dan gejala ini tidak sehat dalam mendorong pengembangan industri daerah. Seiring dengan nilai ekspor dan impor yang sama-sama menunjukkan trend meningkat, surplus neraca perdagangan luar negeri Aceh juga mengalami peningkatan. Tahun 2007 neraca perdagangan Aceh surplus sebesar USD 1.823,59 juta dan tahun 2008 meningkat menjadi USD 1.849,89 juta. Secara keseluruhan negara tujuan ekspor utama Aceh masih didominasi oleh negara-negara Asia Timur seperti China, Jepang, Korea serta negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Begitu juga dengan impor, 87,25 persen berasal dari negara Asia Timur dan ASEAN. Sisanya 12,75 persen berasal dari negara-negara Eropa Barat seperti Ingris, Switzerland dan Jerman serta dari Amirika Serikat. Sektor Koperasi dan UKM merupakan bagian yang cukup penting dan strategis terhadap pembangunan ekonomi Aceh. Peran strategis tersebut terkait dengan jumlah, sebaran dan potensi yang dimiliki bahkan perannya dapat menciptakan lapangan kerja yang cukup memadai serta menjadi faktor utama pendorong sektor riil. Kondisi tahun 2008 skala usaha di Aceh didominasi oleh usaha mikro, dengan jumlah pelaku usaha sebesar 307 ribu orang atau 83 persen. Kemudian diikuti oleh usaha kecil dengan pelaku usaha sebanyak 60 ribu orang atau 16 persen. Kemudian diikuti oleh usaha menengah dengan jumlah pelaku usaha 1.6 ribu orang atau 0.44 persen. Sebagian besar pelaku UKM memiliki usaha di sektor perdagangan. Tahun 2008 UKM yang berada di sektor perdagangan berjumlah 212.5 ribu tenaga kerja atau lebih dari 57 persen. Hal ini karena usaha di sektor ini relatif lebih mudah dan tidak membutuhkan modal besar. Pada tahun 2009 perkembangan Koperasi mengalami peningkatan menjadi 6.614 unit (0,67 persen) baik ditinjau dari indikator kelembagaan maupun dari indikator usaha. Jumlah Koperasi pada tahun 2008 jumlah Koperasi tercatat sebanyak 6.570 unit yang tersebar di seluruh Provinsi. Peningkatan tersebut juga diikuti oleh jumlah Koperasi yang tidak aktif sebesar 35,37 persen atau sebanyak 2.324 unit. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-20
  • 39.
    Jumlah anggota Koperasitahun 2009 sebanyak 519.314 orang atau meningkat dari tahun 2008 sebanyak 1.199 orang seiring bertambahnya jumlah unit Koperasi. Disisi lain Koperasi sebagai badan usaha juga memberikan konstribusi terhadap penyerapan tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari sisi jumlah dana yang terhimpun baik simpanan anggota maupun modal yang disetor dalam bentuk lainnya mengalami peningkatan yang signifikan. Jumlah Simpanan Anggota mencapai Rp. 1.176,192 milyar dan Modal luar/pinjaman sebesar Rp 295,007 Milyar. Modal Koperasi bersumber dari APBD, APBN, Perbankan dan Lembaga Keuangan lainnya. Saat ini Koperasi mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 8.841 orang. Berdasarkan peringkat dari Kementerian Koperasi dan UKM kondisi koperasi di Aceh masih sangat memprihantinkan. Dari jumlah 6.614 unit koperasi hanya 2.990 unit yang aktif, dan dari yang aktif tersebut hanya 24 unit yang berperingkat baik. Oleh karena itu perlu usaha keras pemerintah dan masyarakat untuk menjadikan koperasi menjadi sokoguru ekonomi bangsa. Adapun perkembangan koperasi, jumlah simpanan, volume usaha dapat dilihat dalam tabel II.11 berikut: Tabel II.11 Perkembangan Koperasi di Aceh Tahun 2004 -2009 Tahun No Uraian Ket 2004 2005 2006 2007 2008 2009* Jumlah Koperasi 1 4.872 5.011 5.533 5.800 6.570 6.614 (Unit) Jumlah Anggota 2 (Orang) 415.827 441.494 460.537 485.254 494.564 519.314 Jumlah Karyawan 3 (Orang) 5.028 5.791 5.010 5.036 5.499 6.698 Jumlah Manajer 4 (Orang) 937 1.407 1.649 1.570 1.580 2.143 Jumlah Simpanan 5 (Rp Juta) 211,940 149,949 201,605 252,980 283.019 1.176.192 Modal Pinjaman 6 (Rp Juta) 225,119 190,122 263,224 368,874 349.380 295.007 Volume Usaha 7 (Rp Juta ) 234,308 280,698 780,107 823,975 1.054.440 604.589 Sisa Hasil Usaha 8 21,403 24,197 56,960 163,159 383.343 45.530 (Rp Juta ) Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM, 2009 Keterangan: *) Sampai dengan Juni 2009 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-21
  • 40.
    2.2.2.7 Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Perkembangan tingkat penganguran di Aceh selama periode 2006-2009 menunjukkan tren yang terus menurun, dimana pada tahun 2006 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Aceh adalah sebesar 10,43 persen, tahun 2007 turun menjadi 9,84 persen, tahun 2008 turun lagi menjadi 9,56 persen, dan pada tahun 2009 kembali menjadi 8,71 persen. Bila diamati perkembangan jumlah angkatan kerja di Aceh yang setiap tahun terus bertambah, dimana pada tahun 2006 adalah sebanyak 1.813.000 orang dan pada tahun 2009 menjadi 1.898.000 orang atau mengalami kenaikan sebesar 4,67 persen. Sebaliknya jumlah pengangguran di Aceh justru mengalami penurunan yang signifikan yaitu 189.000 orang pada tahun 2006 dan menjadi 165.000 orang pada tahun 2009, atau mengalami penurunan sebesar 12,70 persen atau rata-rata turun 4.2 persen per tahun. Lebih besarnya persentase penurunan jumlah orang yang menganggur jika dibandingkan dengan persentase kenaikan jumlah angkatan kerja mengakibatkan TPT terus dapat ditekan setiap tahunnya. Hal ini diperkirakan sebagai dampak dari semakin luasnya lapangan kerja yang tercipta dan semakin meningkatnya peluang kesempatan berusaha bagi masyarakat. Sektor pertanian masih menjadi andalan penyerapan tenaga kerja. Disamping itu dengan semakin membaiknya iklim usaha di masyarakat sehingga tumbuh suburnya usaha-usaha rakyat di sektor informal yang ikut menyumbang untuk penyerapan tenaga kerja. Kesempatan kerja dan berusaha pada tahun 2009, masih di dominasi oleh sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan yaitu sebesar 48,89 persen diikuti oleh sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan sebesar 19,13 persen, sedangkan yang terendah sektor industri pengolahan yaitu sebesar 4,66 persen. Berdasarkan jenis kelamin masih didominasi oleh kaum pria yaitu sebesar 63,48 persen, dari uraian tersebut, menggambarkan bahwa serapan tenaga kerja berdasarkan sektor lapangan usaha tersebut, terindikasi pada sektor pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan masih merupakan lapangan usaha utama bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usahanya dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-22
  • 41.
    membuka peluang berusahandalam upaya meningkatkan taraf hidupnya. Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam tabel II.12 Tabel II.12 Kesempatan kerja Menurut Sektor Usaha Tahun 2009 NO. SEKTOR USAHA LAKI-LAKI PEREMPUAN (L+P) Pertanian, Kehutanan, 1. 514.096 332.999 847.095 Perburuan dan Perikanan 2. Industri Pengolahan 36.882 43.890 80.772 Perdangan Besar, Enceran, 3. 157.642 106.811 264.453 Rumah Makan dan Hotel 4. Jasa Kemasyarakatan 193.294 138.214 331.508 Lainnya (Pertambangan dan 5. 202.345 6.388 208.733 Penggalian, Listrik, Gas dan Air, Bangunan, Angkutan, Pergudangan danKomunikasi, Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah dan Jasa Perusahaan) JUMLAH 1.104.259 628.302 1.732.561 Sumber: Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk, 2009 Angkatan kerja Aceh pada tahun 2009 mencapai 1,9 juta orang. Angkatan kerja tersebut didonominasi oleh angkatan kerja muda yang berumur antara 20-39 tahun. Sampai 20 tahun kedepan angkatan kerja ini masih berada dalam umur produktif. Ini merupakan aset Aceh mengejar pertumbuhan ekonominya. Akan tetapi sayang produktifitasnya masih rendah. Rendahnya produktivitas ini dan relatif tingginya UMR masih menjadi masalah yang harus segera diatasi. Penetapan UMR Aceh Rp 1 juta per bulan lebih tinggi dari nasional berdampak terhadap tingkat daya saing Aceh dalam menarik investasi di sektor formal. Produktivitas tenaga kerja yang rendah juga sangat mempengaruhi daya saing Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-23
  • 42.
    daerah. Produktivitas pekerjaAceh memang masih sangat rendah. Kemajuan yang diharapkan nampaknya belum membuahkan hasil yang memadai. Walupun angka pengangguran terus mengalami penurunan, namun prosentasenya masih cukup tinggi yang berada di atas rata-rata nasional yang berada pada level 7.8 persen. Hal ini disebabkan salah satunya oleh daya serap pekerja formal yang masih sangat rendah. Rendahnya daya serap pekerja formal terkait dengan berbagai permasalahan dan hambatan dalam berinvestasi yang mewarnai kondisi pasar kerja. Untuk itu, tantangan yang dihadapi dalam beberapa tahun mendatang adalah upaya mendorong perpindahan pekerja dari pekerjaan yang memiliki produktivitas rendah ke pekerjaan yang memiliki produktivitas tinggi. Sehingga dalam pembangunan jangka panjang Aceh, hal ini dapat teratasi dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisah dengan pengurangan angka kemiskinan. Dalam upaya pengembangan kawasan dan percepatan pertumbuhan kawasan tertinggal di Aceh, sejak tahun 1976 telah dilakukan pembukaan permukiman baru, pada tahun 2009 jumlah lokasi 160 lokasi transmigrasi dan jumlah penempatan 41.358 KK atau 169.188 jiwa. Sejak periode tahun 2007 hingga 2009 telah dilakukan penempatan pada 18 lokasi untuk 1.928 KK, dengan rincian pada tahun 2007 sebanyak 1.119 KK, pada tahun 2008 dan 400 KK pada tahun 2009. Selanjutnya untuk rencana penempatan terhadap pengembangan kawasan, pembukaan lokasi permukiman transmigrasi untuk tahun 2010 sebanyak 4 lokasi dan 145 KK. Selanjutnya untuk tahun 2011 sebanyak 13 lokasi untuk 1600 KK dan tahun 2012 direncanakan sebanyak 6 lokasi untuk 880 KK. Berdasarkan Undang-Undang Kependudukan Nomor 1992, pembangunan kependudukan diarahkan pada pengendalian kualitas penduduk, pengerahan mobilitas dan pengembangan penduduk sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) agar menjadi kekuatan pembangunan. Pembangunan kependudukan harus dilaksanakan merata yang dilakukan secara bersama, menyeluruh, terpadu, terarah, bertahap dan berkelanjutan. Sehubungan dengan itu pemerintah pusat telah memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah untuk mengambil langkah yang lebih realistis dalam melaksanakan program kependudukan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-24
  • 43.
    dengan aspirasi masyarakat,sehingga pemerintah daerah dapat merencanakan, melaksanakan, mengendalikan dan memonitor terhadap pembangunan kependudukan di Aceh. Namun dalam pelaksanaan pengembangan kawasan tertinggal untuk pembangunan permukiman penduduk telah mengalami pergeseran dan perubahan kebijakan penyelenggaraannya dan mengakibatkan ruang lingkup perencanaan berubah seiring dengan perkembangan. 2.2.2.8 Ketahanan Pangan Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia baik untuk kebutuhan biologis tubuh maupun kebutuhan aktivitas manusia sehari-hari oleh karena itu pemenuhan pangan bagi masyarakat adalah mutlak harus dipenuhi. Hal ini jelas diamanatkan dalam UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang pangan, bahwa pemerintah bersama masyarakat mempunyai kewajiban untuk mengwujudkan ketahanan pangan. Berdasarkan data-data tentang produksi bahan pangan, walaupun mengalami fluktuasi pertumbuhan baik kelompok serealea, kacang-kacangan, umbi-umbian, daging, sayur-sayuran dan buah-buahan, namun produksi pangan Aceh mengalami surplus sehingga mampu memasok sebagian produksi ke daerah lain setiap tahunnya. Kondisi surplus tersebut diasumsikan karena jumlah produksi pangan melebihi kebutuhan pangan penduduk dan kebutuhan lainnya seperti industri makanan. Berdasarkan hasil pemantauan selama ini bahwa, kebutuhan komoditi pangan pokok di Aceh merupakan hasil produksi lokal, kecuali untuk beberapa komoditi seperti gula, minyak makan, terigu, sebagian buah-buahan, telur, susu, kedelai dan lain-lain merupakan hasil pasokan dari daerah lainnya. Hal ini mencerminkan bahwa industri pengolahan bahan makanan di Aceh belum berkembang dengan baik. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-25
  • 44.
    Lebih jelasnya produksibeberapa komoditi pangan di Aceh dapat dilihat pada tabel II.13 berikut: Tabel II.13 Produksi beberapa komoditi pangan penting tahun 2007-2008 Produksi (ton) Pertumbuhan No Komoditas Pangan Tahun 2007 Tahun 2008 (%) I. Pangan Nabati 1 Beras 878.346 870.055 (0,94) 2 Jagung 121.388 112.894 (7,0) 3 Kedele 18.945 43.885 131,64 4 Kacang Tanah 7.917 6.322 (20,15) 5 Ubi Kayu 41.873 38.402 (8,29) 6 Ubi Jalar 14.974 13.173 (12,03) II. Pangan Hewani 1 Daging rumaninsia 10.515 11.227 6,76 2 Daging unggas 16.677 16.951 1,70 3 Telur 23.114 23.830 3,10 4 Ikan 154.265 157.020 1,78 Sumber : Data Distan/Disnak/Diskan diolah BKP2 Aceh Dari aspek kerawanan pangan, kondisi masyarakat miskin indentik dengan kelompok masyarakat yang mengalami rawan pangan, karena mempunyai keterbatasan dalam mengakses pangan untuk kebutuhan sehari-hari. Tingkat kemiskinan di Aceh tergolong masih sangat tinggi yaitu 21,8 persen pada tahun 2009 jika dibandingkan dengan tingkat kemiskinan nasional yang hanya 14,2 persen, sehingga kerawanan pangan masih menjadi kendala dalam sistem ketahanan pangan daerah Menurut analisis parameter kerawanan pangan, telah disusun peta kerawanan pangan (Food Insecurity Atlas/FIA) atas survey Tahun 2009 bahwa di Aceh terdapat Kabupaten-Kabupaten rawan pangan dengan kategori 2 dan 3. Untuk katagori prioritas 2 terdapat 3 kabupaten yaitu: Kabupaten Nagan Raya, Gayo Lues dan Aceh Singkil, sedangkan katagori prioritas 3 sebanyak 2 kabupaten yaitu : Aceh Jaya dan Aceh Utara. Perkembangan harga pangan pokok dan strategis merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengamati situasi pasokan pangan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-26
  • 45.
    Ketersediaan pangan yangcukup dan distribusi yang lancar sangat menentukan terhadap perilaku pasar. Pada tahun 2009, harga beras pada tingkat konsumen adalah Rp.5.300,- hingga Rp. 7.800,- per kg, terjadi ketidak stabilan harga yang sangat signifikan, sementara harga gula pasir relatif stabil, dengan kisaran harga untuk gula pasir dalam negeri berkisar Rp. 9.900 hingga 10.400,-. Sedangkan harga rata-rata tepung terigu stabil berkisar Rp.7.200,- hingga Rp.9.000,- per kg, sedangkan minyak goreng stabil berkisar Rp. 9.800,- hingga Rp. 11.500,- per kg. Di samping itu harga telur ayam ras tidak stabil dengan kisaran harga Rp. 16.500,- hingga Rp. 26.8000, per kg. Secara umum harga ikan stabil namun terjadi gejolak yang relatif kecil terutama pada saat peralihan musim, sedangkan cabe sangat berfluktuasi sepanjang tahun dengan kisaran harga Rp. 8.500,- hingga Rp. Rp.42.000,- per kg. Sementara itu komoditas bawang merah juga mengalami fluktuasi harga yang cukup tinggi, dengan harga kisaran Rp. 10.000 hingga Rp. 22.000,- per kg. Penganekaragaman konsumsi pangan merupakan upaya untuk memantapkan atau membudayakan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman dalam jumlah dan komposisi yang cukup guna memenuhi kebutuhan gizi untuk mendukung hidup sehat, aktif dan produktif. Indikator untuk mengukur tingkat keanekaragaman dan keseimbangan konsumsi pangan masyarakat adalah dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) sebesar 95 dan diharapkan dapat dicapai pada tahun 2015. Berdasarkan data Susenas tahun 2008 konsumsi beras di Aceh yaitu 114,13 kg/kapita/tahun, telah terjadi penurunan konsumsi 16,15 kg/kap/tahun dibandingkan tahun 2004 sebesar 131,32 kg/kap/thn, namun penurunan tersebut belum mencapai target yang ditetapkan dalam WNPG tahun 2004 yaitu sebesar 91,25 kg/kap/tahun Tingkat konsumsi pangan rata-rata orang Indonesia diukur dari konsumsi energi pada tahun 2008 sebesar 2.038 kkal/kap/hari sudah melebihi anjuran WNPG (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi) VIII tahun 2004 sebesar 2.000 kkal/kap/hari. Begitu pula dengan rata-rata konsumsi protein sebesar 57.49 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-27
  • 46.
    gram/kapita/hari, telah melebihiangka anjuran sebesar 52 gram/kapita/hari. Meskipun demikian, pencapaian tersebut belum diiringi dengan pemenuhan kualitas konsumsi pangan penduduk yang ditandai dengan skor keragaman konsumsi pangan sebesar 81,9 pada tahun 2008 untuk Aceh baru tercapai 73,4 dari target skor Pola Pangan Harapan (PPH) senilai 95. Untuk Aceh konsumsi protein baru tercapai 30,1 gr protein/kapita/hari, belum sesuai dengan anjuran. Analisis terhadap data SUSENAS tahun 2008 juga menunjukkan bahwa pola konsumsi pangan penduduk Indonesia hingga tahun 2008 masih terdapat ketimpangan, karena (1) masih tingginya konsumsi padi-padian; (2) masih kurangnya konsumsi pangan hewani; dan (3) masih rendahnya konsumsi umbi- umbian, sayur dan buah, serta kacang-kacangan, dan pangan hewani. Data tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan konsumsi pada padi-padian terutama beras sebagai pangan pokok masih sangat tinggi, sedangkan pemanfaatan sumber–sumber pangan lokal seperti umbi, jagung, dan sagu masih rendah. Sesuai dengan hasil Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) tahun 2004, bahwa sasaran angka kecukupan konsumsi total energi adalah sebesar 2.000 Kkal/kap/hari yang akan dicapai pada tahun 2020 untuk Indonesia. 2.2.2.9 Penyuluhan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dalam pasal 1 disebutkan bahwa penyuluhan merupakan proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Penyuluh adalah ujung tombak dalam mencerdaskan dan memberdayakan petani yang merupakan pelaku utama pembangunan pertanian. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-28
  • 47.
    Saat ini jumlahpenyuluh di Aceh adalah sebanyak 3.204 orang yang terdiri dari PNS 1.246 orang dan penyuluh THL-TB sebanyak 1958 orang. THL- TB adalah Tenaga Harian Lepas Tugas Bantu Penyuluh Pertanian yang direkrut oleh Kementrian Pertanian dan ditempat di wilayah binaan masing-masing. Sebaran penyuluh di 23 kabupaten/Kota secara rinci dapat dilihat pada tabel II.14 di bawah ini: Tabel II.14 Kondisi Sebaran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) per Kabupaten/Kota No. KABUPATEN/KOTA Penyuluh (Org) Ket. PNS THL-TB Jumlah 1 2 3 4 5 6 1 PROVINSI 55 - 55 2 Banda Aceh 9 62 71 3 Aceh Besar 115 190 305 4 Pidie 60 213 273 5 Pidie Jaya 18 109 127 6 Bireuen 149 138 287 7 Aceh Tengah 68 127 195 8 Aceh Utara 147 129 276 9 Kota Lhok Seumawe 12 14 26 10 Aceh Timur 106 140 246 11 Langsa 23 22 45 12 Aceh Tamiang 30 70 100 13 Aceh Tenggara 56 113 169 14 Gayo Lues 13 88 101 15 Aceh Jaya 28 42 70 16 Aceh Barat 68 83 151 17 Nagan Raya 60 57 117 18 Simelue 16 5 21 19 Abdya 45 62 107 20 Aceh Selatan 56 158 214 21 Aceh Singkil 40 56 96 22 Subulussalam 13 - 13 23 Sabang 13 3 16 24 Bener Meriah 46 77 123 Total 1,246 1,958 3,204 Kondisi penyuluh pertanian setelah otonomi daerah sangat memprihatikan, banyak tenaga penyuluh senior dan ahli telah beralih status dari fungsional ke struktural disamping memasuki masa pensiun, hal ini mengakibatkan kekurangan tenaga penyuluh lapangan baik secara kuantitas maupun kualitas dan berakibat tidak optimalnya proses pendampingan dan pembinaan di kelompok-kelompok tani atau Gapoktan. Pada tahun 2009 kelembagaan penyuluhan di Aceh adalah berjumlah 246 Balai Penyuluh Pertanian (BPP) dari 276 BPP yang dibutuhkan (89,13 persen) atau masih dibutuhkan sebanyak 30 BPP lagi. Sedangkan kelembagaan petani berjumlah 10.561 Kelompok tani, yang tersebar di 23 Kabupaten/Kota. Secara Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-29
  • 48.
    rinci jumlah BPPdan Kelompok Tani per masing-masing kabupaten/kota dapat dilihat pada tabel II.15 berikut ini: Tabel II.15 Jumlah BPP dan Koptan per Kabupaten/Kota Tahun 2009 No. KABUPATEN/KOTA Jumlah Jumlah Kelembagaan Kecamatan Desa BPP Koptan 1 2 3 4 5 6 1 Banda Aceh 9 110 2 90 2 Aceh Besar 23 604 8 603 3 Pidie 23 727 25 1,062 4 Pidie Jaya 8 222 8 611 5 Bireuen 17 609 18 783 6 Aceh Tengah 14 270 10 166 7 Aceh Utara 27 854 29 852 8 Kota Lhok Seumawe 4 74 2 54 9 Aceh Timur 24 512 24 998 10 Langsa 5 51 3 98 11 Aceh Tamiang 12 214 11 424 12 Aceh Tenggara 16 386 16 962 13 Gayo Lues 11 136 11 557 14 Aceh Jaya 6 172 6 227 15 Aceh Barat 12 321 13 494 16 Nagan Raya 8 222 9 746 17 Simelue 8 137 8 125 18 Abdya 9 133 3 209 19 Aceh Selatan 16 248 16 418 20 Aceh Singkil 10 116 10 189 21 Subulussalam 5 74 6 175 22 Sabang 2 36 2 49 23 Bener Meriah 7 232 6 669 Total 276 6,460 246 10,561 Fasilitas penyuluh pertanian terutama kenderaan roda 2 (dua) dan mobil Penyuluhan Keliling (Luh-ling Unit) sangat minim dan fasilitas ini sangat dibutuhkan guna meningkatkan mobilitas penyuluh untuk menjangkau wialayah yang cukup luas dan jauh, namun selama otonomi pertambahan kenderaan operasional penyuluh sangat kecil. Tahun 2009 jumlah tenaga penyuluh PNS di Aceh sebanyak 1.246 orang dan hanya sebanyak 1.191 orang berada di lapangan. Dari total Penyuluh di lapangan, baru 354 orang yang memiliki kenderaan operasional. 2.2.2.10 Perkembangan dan Prospek Investasi Pembangunan ekonomi suatu daerah disamping dari sumber dana Pemerintah juga membutuhkan berbagai sumber lainnya seperti investasi dari swasta baik PMA (Penanaman Modal Asing) maupun PMDN (Penanaman Modal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-30
  • 49.
    Dalam Negeri). Daridata yang tersedia jumlah perusahaan PMA dan PMDN di Aceh hingga akhir tahun 2009 adalah 269 perusahaan yang terdiri dari 121 perusahaan PMA dan 168 perusahaan PMDN. Dari 121 perusahaan PMA, sebanyak 36 perusahaan yang tidak aktif/macet, 11 perusahaan yang telah berproduksi serta 74 perusahaan dalam tahap pembangunan/persiapan. Sedangkan perusahaan PMDN sebanyak 168 perusahaan terdiri dari 105 perusahaan yang tidak aktif/macet, 47 perusahaan telah berproduksi serta 16 perusahaan yang masih tahap pembangunan/ persiapan. Sementara itu, realisasi investasi sampai dengan akhir tahun 2009 untuk PMA sebesar US$ 143.318.795.166 dan PMDN Rp. 6.280.047.045.730. 2.2.3 Keuangan Aceh Berdasarkan Undang-undang Nomor 34 tahun 2000 tentang Pajak dan Retribusi Daerah, Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Sumber Keuangan Aceh menjadi lebih luas. Sumber-sumber keuangan tersebut adalah Pendapatan Asli Aceh (PAA), Dana Perimbangan dan Dana Otonomi Khusus. Selama beberapa tahun terakhir Aceh telah menerima arus masuk pendapatan yang belum pernah terjadi sebelunya. Tingkat sumber daya keuangan Aceh diperkirakan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Pendapatan terebut teruma karena adanya Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh yang mulai diimplementasikan sejak tahun 2008. Melalui Undang-Undang tersebut Aceh mendapat hak berupa dana tambahan bagi hasil Migas dan dana otonomi khusus. Akan tetapi hak tersebut terbatas pada masa waktu 20 tahun. Penerimaan Aceh dari dana otonomi khusus yang dimulai sejak tahun 2008 terus meningkat. Pada tahun 2008 kemampuan fiskal Aceh meningkat sangat signifikan dengan nilai mencapai Rp 5.167.853.549.264. kemudian pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi Rp 6.786.212.000.000. Ini merupakan kekuatan fiskal Aceh yang harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-31
  • 50.
    mengejar pertumbuhan ekonomidan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh. 2.2.3.1 Pendapatan Asli Aceh (PAA) Pendapatan Asli Aceh (PAA) terdiri atas pajak daerah, retribusi daerah, keuntungan perusahaan daerah, zakat dan berbagai sumber PAD lainnya. Secara komposisi pajak daerah merupakan sumber pemasukan utama terhadap PAA. Pajak daerah yang menjadi kewenangan provinsi terdiri atas Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), Pajak Bahan Bakar Kenderaan Bermotor (PBBKB), Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan, Pajak Kendaraan di Atas Air, serta Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air. Penerimaan pajak daerah hingga tahun 2009 masih didominasi oleh jenis PKB, BBNKB, dan PBBKB. Realisasi penerimaan pajak daerah dua tahun terakhir cenderung tidak mengalami peningkatan. Tahun 2008 dan Tahun 2009 pemasukan PPA dari pajak daerah persis sama yaitu berjumlah Rp 476.975.000.000,- Selain pajak daerah, retribusi dan zakat juga merupakan bagian dari PAA yang memiliki prospek cukup baik untuk memperkuat kemampuan keuangan daerah pada masa yang akan datang. Walaupun retribusi selama 5 tahun terakhir realisasi penerimaannya belum mampu mengimbangi realisasi penerimaan pajak daerah, namun perkembangannya setiap tahun juga terus mengalami peningkatan. Tahun 2008 Restribusi Darah mencapai Rp 12.705.574.475 dan tahun 2009 meningkat menjadi Rp 13.264.165.424 atau meningkat 4.39. Hal ini ditandai mulai membaiknya kondisi ekonomi dan membaiknya penyelenggaraan pemerintahan daerah. Zakat sebagai salah satu sumber PAA belum dikelola dengan baik. Hal ini disebabkan belum adanya Qanun yang mengatur lebih lanjut tentang zakat sebagai sumber PAA seperti yang diatur dalam Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Penerimaan zakat juga terus mengalami peningkatan. Tahun 2008 penerimaan dari zakat hanya mencapai Rp 1.836.000.000, meningkat tajam pada tahun 2009 menjadi Rp 3.000.000.000. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-32
  • 51.
    Peluang penerimaan darizakat akan terus dapat ditingkatkan apabila Baitul Mal yang berwenang mengelola zakat mendapat kepercayaan dari masyarakat. Secara kesuluruhan PPA dua tahun terakhir sedikit mengalami peningkatan. Adapun jumlahnya secara berturu-turut adalah Rp. 795.709.401.264 dan Rp 795.872.000.000,-. 2.2.3.2 Dana Perimbangan Dana perimbangan bersumber dari APBN, dimaksudkan untuk memberikan kepastian pendanaan daerah berdasarkan pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dana perimbangan tersebut terdiri atas : a. Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak; b. Dana Alokasi Umum (DAU), dan; c. Dana Alokasi Khusus (DAK). Akibat adanya sumber pumasukan dari Tambahan Bagihasil Migas sesuai dengan UU PA maka Penerimaan dari sumber Dana Perimbangan mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada tahun 2009 yang mencapai Rp 2.262.058.000.000,-. meningakat 191.88 persen. Tahun sebelumnya hanya berjumlah Rp 775.001.250.000,-. 2.2.3.3 Dana Otonomi Khusus Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), berdasarkan pasal 183 ayat 2, Pemerintah Aceh mendapatkan dana otonomi khusus selama 20 tahun dengan rincian untuk tahun pertama yaitu mulai tahun 2008 sampai tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 persen (dua persen) dari plafon Dana Alokasi Umum (DAU) Nasional dan untuk tahun keenam belas sampai dengan tahun kedua puluh setara dengan 1 persen (satu persen) dari plafon Dana Alokasi Umum (DAU) Nasional. Dana otonomi khusus yang diterima oleh pemerintah Aceh pada tahun 2008 sebesar Rp. 3.590.142.898.000 dan tahun 2009 meningkat menjadi Rp 3.728.282.000.000. Pendapatan dari sumber Otonomi Khusus ini diperkirakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-33
  • 52.
    akan terus meningkatseiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan terus membaik dan memberi dampak terhadap pendapatan nasional. 2.2.3.4 Tabungan Pemerintah Aceh Tabungan Pemerintah Aceh adalah kemampuan daerah menyisihkan sebagian pendapatan untuk mendanai pelayanan publik meliputi pelayanan prasarana dan sarana serta fasilitas publik. Tabungan pemerintah ini berasal dari seluruh pendapatan daerah dikurangi dengan belanja rutin/aparatur yang harus dilakukan oleh pemerintah Aceh. 2.2.3.5 Sumber Pendapatan Aceh Lainnya Sumber pendapatan daerah lainnya berasal dari pemerintah (sumber-sumber yang sah dan tidak mengikat), di antaranya terdiri atas bantuan dana penyeimbang murni, bantuan dana penyeimbang kebijakan (ad.hoc) dan bantuan dana penyeimbang formasi pegawai. Berdasarkan struktur APBA tahun 2010, jenis penerimaan daerah lainnya disesuaikan dengan jenis pendapatan hibah, dana darurat, dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya, dana penyesuaian dan otonomi khusus serta bantuan keuangan dari provinsi atau pemerintah daerah lainnya. Realisasi sumber Pendapatan lainnya yang sah sejak tahun 2008 sampai dengan 2009 dapat dilihat pada Tabel II.16. Tabel II.16 Jumlah Realisasi Sumber Penerimaan Daerah lainnya 2008-2009 NO TAHUN REALISASI (Rp) 1 2008 3.597.142.898.000 2 2009 3.728.282.000.000 Sumber: Dinas Pengelolaan Kekayaan Aceh 2010 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-34
  • 53.
    2.2.3.6 Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh Sesuai dengan yang tercantum dalam Undang Undang Nomor 11 Tahun 2006, bahwa penyelenggaraan urusan Pemerintahan Aceh diikuti dengan pemberian sumber pendanaan dan pengelolaan keuangan harus tertib, taat asas, proporsional, efisien, efektif, transparan, dan akuntabel dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, kewajaran, dan memberi manfaat yang besar bagi masyarakat. Mengacu pada hal tersebut, maka setiap tahunnya ruang lingkup pengelolaan keuangan Aceh meliputi: 1. Hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi Aceh serta melakukan pinjaman; 2. Kewajiban Aceh untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan Aceh, melaksanakan pembangunan Aceh dan membayar tagihan pihak ketiga; 3. Pengelolaan pendapatan Aceh; 4. Pengelolaan belanja Aceh; 5. Pengelolaan pembiayaan Aceh yang meliputi aspek kekayaan Aceh yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah, kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah Aceh dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan Aceh dan/atau kepentingan umum. Ruang lingkup pengelolaan keuangan dilakukan agar pelaksanaan program dan kegiatan yang telah direncanakan dapat dicapai sesuai dengan target capaian tahunan. Pengelolaan keuangan Aceh dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi dan diwujudkan dalam APBA dengan mengacu kepada penyusunan anggaran berbasis kinerja berdasarkan Peraturan perundang-undangan yang berlaku. APBA tersebut lazimnya ditetapkan setiap tahun melalui Qanun Aceh. Arah dan kebijakan keuangan Aceh tahun 2007 - 2012 yang ditempuh dalam meningkatkan Pendapatan Aceh adalah: 1. Menghimpun penerimaan dari semua sumber pendapatan daerah secara optimal sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku; Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-35
  • 54.
    2. Mengupayakan peningkatanPendapatan Asli Aceh dari masing-masing bagian pendapatan Aceh sehingga kebutuhan pembiayaan Pemerintah Aceh dapat dipenuhi secara tepat dan cukup; dan 3. Memberdayakan segenap potensi yang dimiliki untuk dapat meningkatkan pendapatan Aceh. 2.3 Agama, Sosial dan Budaya 2.3.1. Agama Pelaksanaan Syari`at Islam secara kaffah di Aceh mengacu pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Al-Hadits) yang penjabarannya lebih lanjut didasarkan pada Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang secara teknis akan diatur dengan Qanun Aceh. Masyarakat Aceh sejak awal kemerdekaan sudah memperjuangkan agar Syari`at Islam secara formal dan resmi menjadi sumber nilai dan sumber penuntun perilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tataran kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dalam pepatah Aceh disebutkan bahwa hubungan syari`at dengan adat adalah seperti hubungan benda dengan sifatnya: hukom ngoen adat lage zat ngoen sifeut. Artinya hukum syari`at dengan adat di Aceh menyatu sedemikian rupa, merasuk dan menyusup ke dalam semua segi dan sendi kehidupan. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Aceh memiliki hak untuk melaksanakan Syari`at Islam secara lebih luas, di dalam berbagai bidang kehidupan dan pemerintahan. Pemerintah Aceh memiliki hak menyusun dan menerapkan hukum materil di bidang perdata kekeluargaan, perdata keharta-bendaan, pidana serta hukum acara perdata dan pidana berdasarkan Syari`at Islam dengan cara menuangkannya ke dalam Qanun Aceh. Begitu juga dengan pemberian sanksi (hukuman) untuk pelanggaran pidana di dalam Qanun Aceh ini juga dapat mengikuti ketentuan yang ada dalam Syari`at Islam secara penuh, tidak dibatasi oleh peraturan perundangan yang ada. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-36
  • 55.
    Selanjutnya sebagai upaya pemantapan pelaksanaan Syariat Islam, Pemerintah Aceh membentuk Mahkamah Syar`iyah yang berwenang menangani perkara perdata dan pidana berdasarkan Syari`at Islam, yang telah dituangkan ke dalam Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2002 tentang Peradilan Syari’at Islam. Dalam pelaksanaan penuntutannya tetap dilakukan oleh kejaksaan, sedangkan penyidikan dilakukan oleh Wilayatul Hisbah (WH) yang merupakan bagian dari Polisi Pamong Praja dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di bawah koordinasi Kepolisian Republik Indonesia. Sebagian hukum yang berlaku di Aceh adalah hukum berdasar Syari`at Islam, namun dalam pelaksanaannya lembaga dan aparatur pusat belum maksimal dalam memahami qanun-qanun Aceh. Oleh karena itu Pemerintah Aceh perlu memberikan dukungan berupa sosialisasi, pelatihan dan pemahaman kepada aparat hukum yang berada di bawah instansi vertikal di Aceh sehingga pelaksanaan tugas penerapan Syariat Islam dapat berjalan dengan baik dan sempurna. Di samping itu, Pemerintah Aceh perlu melakukan koordinasi dan konsultasi yang lebih intensif mengenai pembiayaan lembaga dan aparat pemerintah yang melaksanakan tugas khusus (otonomi khusus) yang pada saat ini masih belum memadai. Penyediaan tenaga pelaksana penegakan hukum sebagai perangkat provinsi, yaitu WH sebagai Polisi Pamong Praja dan PPNS, belum terintegrasi antara satu dengan lainnya ke dalam sistem yang ada secara memadai. untuk itu, Pemerintah Aceh perlu menetapkan model yang dianggap sesuai dengan kondisi Aceh yang menjalankan Syari`at Islam secara kaffah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam upaya mempercepat implementasi Syariat Islam dan adat Aceh hingga ke tingkat pemerintahan paling rendah (gampong), Pemerintah Aceh saat ini sedang berupaya menata kembali pemerintahan gampong dan mukim sesuai dengan tuntunan dan aturan adat, antara lain dengan mengembalikan pimpinan gampong kepada Keuchik dan Teungku Imeum bersama Tuha Peuet, serta membentuk kembali Lembaga Mukim dengan Qanun Aceh Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Mukim dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tetapi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-37
  • 56.
    upaya ini belummaksimal karena belum semua unsur perangkat pemerintahan gampong dan mukim diatur dengan peraturan yang setara. Sebagai contoh, keberadaan Keuchik telah diatur dengan Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Gampong dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sedangkan keberadaan Teungku Imeum Meunasah diserahkan pengaturannya kepada Qanun Kabupaten/Kota. Pelatihan dan pengenalan kembali fungsi dan peran teungku Imuem perlu menjadi prioritas dalam penerapan syariat Islam. Dengan pelatihan tersebut diharapkan teungku Imeum dapat mengenali semua tugasnya dengan baik, seperti; menjadi pengawas atas wali anak yatim, melindungi harta anak yatim, serta mengelola zakat dan harta agama yang ada di gampong dengan tertib dan memanfaatkannya secara tepat. Di samping itu, teungku Imeum hendaknya dapat meningkatkan kualitas pelayanan peribadatan dan kemasyarakatan, misalnya; menghidupkan meunasah dengan shalat berjamaah dan pengajian, membimbing dan mengawasi kegiatan warga masyarakat agar sesuai dengan syariat Islam, serta menyelesaikan sengketa dalam keluarga dan masyarakat berdasarkan syari`at yang telah menyatu dengan adat. Persoalan lain yang dihadapi saat ini adalah kurangnya pemahaman dan pengamalan ajaran agama di kalangan masyarakat khususnya di daerah perbatasan. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah adalah dengan penempatan da’i di daerah perbatasan. Pelayanan kehidupan beragama juga dinilai belum memadai. Hal ini terlihat dari belum optimalnya pemanfaatan tempat peribadatan, kurangnya tenaga pelayanan baik dalam kualitas maupun kuantitas, serta belum optimalnya pengelolaan dana sosial keagamaan dan harta agama. Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap pembayaran dan pendistribusian zakat masih sangat rendah, padahal zakat merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Aceh (PAA), sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 Pasal 180. Demikian juga harta agama dalam bentuk wakaf belum dimanfaatkan secara optimal bahkan ada yang tidak terurus dan terlindungi dengan baik, sehingga perlu disusun dan ditetapkan sebuah sistem dan mekanisme pengelolaan yang tepat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-38
  • 57.
    Baitul Mal sebagaibadan pengelola harta agama perlu dibenahi dan dioptimalkan fungsinya sehingga harta agama dan zakat dapat dikelola secara lebih baik, diharapkan dapat membantu pembiayaan pembangunan khususnya dalam pengentasan kemiskinan. 2.3.2 Sosial Budaya Budaya Aceh sangat terikat dengan nilai-nilai agama Islam, namun demikian ada beberapa bagian dalam kalangan masyarakat yang masih terpengaruh oleh kebiasaan sebelum datangnya Agama Islam, misalnya adat istiadat seperti kenduri tolak bala, kenduri laot, kenduri blang, kenduri glee dan lain-lain. Pemerintah Aceh dalam rangka menggali kembali, memelihara, melestarikan dan mengembangkan adat dan budaya Aceh sesuai dengan kebijakan pemerintah tentang pelaksanaan Syariat Islam telah membentuk Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang tertuang dalam Qanun Nomor 3 Tahun 2004. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menunjukkan bahwa pasca konflik dan gempa bumi di susul gelombang tsunami mengakibatkan menurunnya tingkat kesejahteraan sosial masyarakat Aceh. Permasalahan kesejahteraan sosial sesuai data terakhir menunjukkan jumlah fakir miskin ±495.668 KK, anak terlantar ±83.114 jiwa, anak jalanan 590 jiwa, anak nakal 1.832 jiwa, anak korban tindak kekerasan 5.909 jiwa, lanjut usia terlantar 13.649 jiwa, penyandang cacat 27.710 jiwa, wanita rawan sosial ekonomi 42.767 jiwa, korban penyalahgunaan napza 1.487 jiwa, gelandangan pengemis 1.884 jiwa, eks. penyakit kronis 4.289 jiwa, komunitas adat terpencil 1.315 KK, eks narapidana 1.156 jiwa, korban bencana 19.379 KK, tuna susila 320 jiwa, anak yatim piatu 67.632 jiwa, keluarga berumah tidak layak huni 236.461 KK, masyarakat yang tinggal daerah rawan bencana 23.848 KK, keluarga pahlawan nasional perintis kemerdekaan 3.987 jiwa. Disamping itu, terdapat juga permasalahan korban konflik serta menurunnya kemampuan organisasi sosial masyarakat dalam melaksanakan usaha-usaha kesejahteraan sosial di dalam masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-39
  • 58.
    2.3.3 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sejak awal kerajaan Aceh, perempuan sudah memegang peranan dalam bidang ekonomi, politik dan perjuangan kemerdekaan. Dengan kata lain perempuan Aceh sudah berperan dalam rumah tangga, politik, dan kebijakan publik. Akan tetapi saat ini peranan perempuan semakin kecil terutama dalam bidang politik dan kebijakan publik. Disamping itu kurang sekali kesempatan yang diberikan kepada perempuan untuk berperan sebagai pemimpin di pedesaan, kecamatan dan di tingkat kabupaten/kota. Hanya sedikit perempuan yang berkiprah dalam bidang pemerintahan. Bagaimanapun perempuan punya potensi dalam berbagai bidang, seperti politik dan ekonomi. Namun demikian banyak perempuan yang berkiprah dalam bidang pendidikan karena sebagai pendidik relatif tidak banyak masalah yang dihadapi dibandingkan dalam bidang politik. Saat ini masih banyak terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam rumah tangga. Demikian pula halnya dengan eksploitasi terhadap perempuan dan anak. Walaupun persoalan ini masih sedikit terjadi di Aceh, tetapi jika tidak ada kepedulian dari semua pihak maka eksploitasi terhadap perempuan dan anak akan semakin meningkat. Persoalan gender dengan memberikan kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara perlu mendapat perhatian. 2.3.4 Pemuda dan Olah Raga Pemuda merupakan komponen bangsa yang sering dijadikan indikator keberhasilan ataupun kemunduran suatu bangsa karena pemuda merupakan pelopor perubahan (tranformation agent) dalam pembangunan suatu bangsa. Dalam struktur demografi Aceh, kelompok usia muda merupakan bagian terbesar dari total penduduk. Data statistik 2008 menunjukkan populasi penduduk usia muda kelompok umur 15-44 tahun mencapai angka 2.175,7 juta jiwa (50,67 persen). Kenyataan ini menunjukan bahwa penduduk Aceh tergolong kelompok penduduk ekspansif karena sebagian besar penduduknya berada dalam kelompok Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-40
  • 59.
    usia muda. Jumlahpenduduk Aceh menurut kelompok umur dapat dilihat pada tabel II.17 berikut: Tabel II.17 Jumlah Penduduk Aceh Menurut Kelompok Umur Di Provinsi Aceh Tahun 2008 No Kelompok Umur Jumlah 1 0–4 453,4 2 5–9 427,3 3 10 – 14 448,8 4 15 – 19 462,1 5 20 – 24 442,7 6 25 – 29 381,9 7 30 – 34 337,4 8 35 – 39 293,0 9 40 – 44 258,6 10 45 – 49 216,1 11 50 – 54 163,2 12 55 – 59 129,4 13 60 – 64 100,7 14 65 + 179,3 Total 4.293,9 Sumber : Aceh Dalam Angka, 2009 Berdasarkan tabel II.17 Jumlah kelompok umur (15-19 Tahun) adalah jumlah terbesar dari komposisi penduduk Aceh. Itu berarti dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan akan terjadi bonus demografi, dimana akan terdapat lebih banyak kelompok penduduk usia muda (produktif) di banding usia tidak produktif. Peningkatan jumlah penduduk usia muda, apabila tidak diikuti dengan pembinaan yang baik, akan menimbulkan berbagai kerawanan sosial, seperti : pengangguran, dekadensi moral, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba dan zat-zat adiktif lainnya, serta perbuatan yang mengarah pada tindak kriminal. Kondisi seperti ini menjadi lebih parah lagi karena tidak tersedianya lapangan kerja yang dapat menampung mereka. Untuk itu perlu adanya usaha yang konkrit dalam rangka memberdayakan pemuda agar memiliki keunggulan dan daya saing Aceh serta mampu memberikan kontribusi yang nyata terhadap masyarakat, bangsa dan negara. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-41
  • 60.
    Program pembinaan kepemudaansaat ini belum terkoordinir secara optimal, baik pada tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota. Rendahnya partisipasi masyarakat, dunia usaha, dan organisasi-organisasi kepemudaan dalam peningkatan SDM dan produktivitas pemuda menyebabkan fokus pembinaan pemuda belum mengarah pada peningkatan keterampilan hidup (life skill) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kelangsungan hidup (livelyhood). Pembinaan-pembinaan yang selama ini dilakukan baik oleh lembaga pemerintah maupun non pemerintah masih bersifat parsial (satu aspek saja) dan belum menyeluruh (holistic). Pemerintah daerah telah berupaya melakukan pembinaan dan pemberdayaan terhadap organisasi-organisasi kepemudaan di Aceh dalam bentuk dukungan pendanaan yang bersifat stimulan, sebagai upaya meningkatkan kemandirian organisasi guna mengaktualisasikan berbagai program pembinaan bagi generasi muda. Beberapa kegiatan kepemudaan yang telah dan akan terus dilakukan diantaranya; pertukaran pemuda antar daerah dan antar negara, pemilihan dan keikutsertaan dalam kegiatan Paskibraka Daerah dan Nasional setiap tanggal 17 Agustus, keikutsertaan pemuda Aceh dalam Kapal Pemuda Nusantara, serta pembinaan dialog pemuda tingkat provinsi yang dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, keterbukaan, toleransi, dan kesetiakawanan sosial yang tinggi. Meskipun mengalami berbagai hambatan dan keterbatasan, beberapa cabang olahraga di Aceh berhasil mengukir prestasi dalam kancah kompetisi nasional. Pada cabang Bola Basket, klub bola basket PIM Aceh berhasil menjadi juara KOBATAMA BRITAMA 2005/2006, begitu juga pada cabang bola kaki, 2 tim sepakbola Aceh berhasil masuk dalam jajaran elit persepakbolaan Indonesia dengan lolosnya Persiraja Banda Aceh dan PSSB Bireuen ke dalam divisi utama Ligina Djarum Super 2007. Prestasi pemuda di bidang olah raga saat ini belum begitu membanggakan. Hanya beberapa cabang olahraga saja yang mampu menghasilkan prestasi gemilang di tingkat nasional, yaitu; cabang angkat berat, anggar, dan pencak silat. Pada PON 2004 di Palembang, Aceh hanya berhasil menduduki peringkat 21 dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-42
  • 61.
    32 provinsi. Begitujuga pada Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS), Aceh hanya berada pada peringkat 21 dengan perolehan 6 medali emas, 2 perak, dan 1 perunggu. Mencermati kondisi tersebut, Pemerintah Aceh menyusun rencana strategis pembinaan prestasi olah raga sepak bola, Pemerintah Aceh menggagas dan mengambil alternatif pembinaan prestasi sepakbola dengan kegiatan pembinaan dan pelatihan atlet sepak bola usia 16 tahun ke Paraguay dengan jumlah atlet sebanyak 30 orang. Tujuan yang diharapkan adalah : (1) Menggali dan menyiapkan atlet Sepakbola Kabupaten/Kota untuk dibina sejak dini, (2) Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya cabang olahraga Sepak Bola melalui IPTEK dan IMTAQ, (3) melahirkan atlet yang berkualitas dan profesional masa depan. Pembinaan bakat dan pembibitan olah raga juga menjadi prioritas dan terus dilakukan, baik melalui event kompetisi maupun peningkatan SDM olahraga dan diklat, seperti pembinaan diklat olahraga SMA Tunas Bangsa, peningkatan SDM Olahraga, pembinaan olahraga santri, kegiatan pemasyarakatan olahraga dan kesegaran jasmani seperti senam massal, gerak jalan, lomba lari serta kompetisi berbagai cabang olah raga. Aceh sendiri memiliki cabang-cabang olahraga tradisional yang berpotensi untuk dibina dan dikembangkan menjadi olahraga prestasi. Kegiatan-kegiatan pembinaan olah raga di Aceh harus dilaksanakan secara intensif untuk menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap olahraga, sehingga menjadi medium pembentukan pribadi yang sehat jasmani dan rohani, disiplin, dan memiliki jati diri yang kuat. 2.3.5 Pariwisata Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Objek dan daya tarik wisata dibagi kedalam 3 kelompok yaitu Objek dan daya tarik wisata alam, objek dan daya tarik wisata budaya dan objek Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-43
  • 62.
    dan daya tarikwisata minat khusus. Aceh memiliki ketiga objek dan daya tarik wisata tersebut dan tersebar di setiap Kabupaten dan Kota. Ketiga jenis objek dan daya tarik wisata tersebut terdiri dari ciptaan Allah SWT berupa keadaan alam, flora dan fauna, hutan, tumbuh-tumbuhan binatang langka dan lain-lain. Sedangkan objek dan daya tarik wisata budaya berupa karya manusia terdiri dari museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya, wisata agro, wisata tirta, wisata pertualangan, taman rekreasi dan tempat hiburan. Sedangkan Objek wisata yang menjadi sasaran minat khusus seperti berburu, mendaki gunung, gua, industri dan kerajinan, tempat perbelanjaan, sungai air deras, tempat-tempat ibadah, tempat ziarah. Secara lebih jelas dapat dilihat pada tabel II.18. Tabel II.18 Jumlah Objek Wisata Menurut Jenis di Aceh Jenis Objek No Kab/Kota Jlh Objek Ket Alam Budaya Minat Khusus 1 Banda Aceh 42 4 22 16 2 Aceh Besar 73 22 46 5 3 Pidie 45 20 14 11 4 Bireuen 35 25 7 4 5 Aceh Utara 33 9 19 5 6 Lhokseumawe 15 8 2 5 7 Aceh Tengah 71 33 28 10 8 Bener Meriah 28 25 3 0 9 Langsa 11 5 4 1 10 Aceh Timur 37 19 16 2 11 Aceh Tamiang 11 9 2 0 12 Aceh Barat Daya 33 15 3 0 13 Aceh Selatan 108 74 21 13 14 Aceh Singkil 32 22 2 8 15 Aceh Barat 44 26 16 2 16 Simeulue 19 13 0 6 17 Nagan Raya 25 14 10 2 18 Aceh Jaya 14 12 2 0 19 Aceh Tenggara 19 12 3 3 20 Subulussalam 7 4 3 0 21 Gayo Lues 38 26 7 5 22 Pidie Jaya 46 12 33 1 23 Sabang 22 17 5 0 TOTAL 808 426 268 99 Sumber : Data Base Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh (2009) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-44
  • 63.
    Potensi pariwisata Acehsecara umum sangat menarik, memiliki potensi wisata bahari yang sangat banyak karena dikelilingi oleh laut beserta puluhan pulau-pulau kecil. Lokasi Suaka alam/objek wisata alam ada di lokasi 23 Kabupaten dan Kota. Fasilitas pendukung pariwisata Pemerintah Aceh sebagai berikut 20 hotel bintang, 25 hotel dan homestay dengan total 1.910 kamar dengan kapasitas 3.820 tempat tidur, 414 rumah makan/restoran dengan total meja 2.861 dengan kapasitas sekitar 14.227 kursi dan 75 Biro Perjalanan wisata (BPW). Akibat konflik berkepanjangan dan kehancuran kawasan wisata pantai akibat bencana tsunami, telah berdampak buruk pada sektor kepariwisataan Aceh. Jumlah wisatawan asing dan lokal yang berkunjung ke daerah ini semakin menurun, sehingga secara langsung mempengaruhi usaha bidang jasa perhotelan, rumah makan dan usaha jasa lainnya. Akan tetapi setelah berakhirnya konplik dengan ditandatangani Perjanjian Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005, maka minat wisatawan Mancanegara dan Nusantara datang ke Aceh dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat pada tabel II.19. Tabel II.19 Jumlah Kunjungan Wisatawan Tahun 2005 - 2009 Tahun No Klasifikasi Kunjungan 2005 2006 2007 2008 2009 1. Wisatawan Mancanegara 4.414 11.524 13.835 17.282 18.589 2. Wisatawan Nusantara 296.801 395.691 595.546 710.081 712.630 Sumber : Data Base Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh (2009) Untuk masa yang akan datang diharapkan sektor pariwisata menjadi sektor unggulan dalam rangka penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat ekonomi lemah. Dibangunnya monumen dan Musium Tsunami oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral merupakan andil yang sangat besar dalam meningkatkan kunjungan wisata baik dalam maupun luar negeri, demikian juga dilakukan pembinaan kepada masyarakat disekitar objek wisata, penyediaan sarana dan prasarana kepariwisataan, membuka peluang sebesar-besarnya kepada investor untuk dapat menanam modalnya di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-45
  • 64.
    Aceh dengan mempermudahlayanan dan meringakan beban pajak bagi investor yang berminat. Dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun nusantara yang berkunjung ke Aceh. Dukungan yang sangat besar dari Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yodoyono, pada saat peresmian Bandara Internasional SIM di Banda Aceh adalah pemberian kewenangan untuk pelaksanaan “Visa On Arrival (VOA)” atau “Visa Kunjungan Saat Kedatangan (VKSK)” bagi Warga Negara Asing (WNA) yang masuk melalui pintu Aceh seperti layaknya Bandara Internasional lainnya di Indonesia. Pemberlakuan VOA di Bandara SIM merupakan sebuah langkah maju dan perlu mendapat dukungan semua pihak, sekaligus menjadi salah satu komponen penting (bukan satu-satunya) dalam rangka memajukan dan mempromosikan potensi pariwisata Aceh kepada wisatawan dalam dan luar negeri. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa banyak wisatawan asing yang berminat untuk berkunjung ke Aceh, khususnya untuk menikmati pesona alam dan keindahan budaya Aceh serta berbagai peninggalan Tsunami. Namun demikian, kebijakan VOA yang diberlakukan di Aceh nantinya akan mempermudah dan memperlancar minat wisatawan luar negeri untuk berkunjung ke Aceh melalui Bandara Internasional SIM. Seiring dengan semakin berkembangnya sektor kepariwisataan secara global yang didukung oleh kemajuan sistem informasi, teknologi dan komunikasi (ITC) yang ditandai dengan peningkatan arus kunjungan wisatawan internasional, secara tidak langsung telah mempengaruhi berbagai tuntutan penyediaan komponen atau produk-produk pariwisata yang dibutuhkan oleh wisatawan. Penyediaan berbagai produk pariwisata tersebut (supply side) dianggap penting untuk memenuhi kebutuhan wisatawan pada saat berkunjung di sebuah kawasan wisata yang mencakup ketersediaan daya tarik wisata (wisata alam/budaya/sejarah), informasi wisata (leaflet, booklet, brosur), aksesibilitas wisata (sistem transportasi), fasilitas wisata (akomodasi, money changer) dan industri wisata (agen perjalanan, makanan dan minuman, tour operator, pramuwisata dan souvenir wisata). Berbagai inisiatif kedepan yang sifatnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-46
  • 65.
    membangun akan dilakukanoleh Pemerintah Aceh berkerjasama dengan para stakeholder lainnya dalam rangka mendukung keberhasilan pemberlakuan VOA di Aceh. Pariwisata Aceh untuk saat ini dan kedepan diarahkan pada perwujudan pengembangan pariwisata pada 4 (empat) hal, yaitu sebagai berikut : 1. Syari’at Islam sebagai potensi wisata. Wisata yang berlandaskan Islami bukan berarti membatasi kegiatan wisatawan non muslim. Namun perlu adanya toleransi dalam penyediaan kegiatan-kegiatan wisata yang dapat mengakomodasi kegiatan wisatanya, dalam hal ini harus diterapkan konsep bahwa syari’at Islam sebagai usaha untuk menjadikan industri pariwisata yang ada agar sesuai dengan pokok-pokok ajaran Islam. 2. Penyiapan masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Bahwa sebagian masyarakat Aceh masih belum dapat menerima kegiatan-kegiatan kepariwisataan, mengingat citra pariwisata yang terbayangkan banyak yang melanggar aturan dalam syari’at Islam. Disisi lain, sektor pariwisata dalam syariat Islam bukan merupakan sesuatu yang dilarang, selama masih mengikuti pokok-pokok ajaran agama. Untuk itu akan dilakukan adanya penyiapan penguatan masyarakat dalam proses pengembangan pariwisata dalam bentuk sosialisasi dan menumbuhkan pemahaman masyarakat akan kegiatan pariwisata. 3. Pengembangan pintu masuk utama. Mengenai pengembangan pintu masuk utama dalam pengembagan wisata di Aceh harus dilakukan kesamaan persepsi dan mainshaet yaitu berupa Pola pikir terhadap Pulau Sabang dan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) di Blang Bintang, Aceh Besar, menjadi fokus utama yang harus dikembangkan. Sabang mempunyai pelabuhan yang akan ditingkatkan menjadi pelabuhan internasional sebagai salah satu pintu masuk utama bagi pengembangan kepariwisataan di Aceh. Kalau Sabang menjadi andalan pintu masuk utama jalur laut, maka Bandara Sultan Iskandar Muda akan memegang peranan penting sebagai pntu utama Aceh dari jalur udara. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-47
  • 66.
    4. Pengembangan Pariwisatayang berwawasan lingkungan. Pengembangan pariwisata di Aceh harus diarahkan untuk selalu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang mengajarkan bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari Iman, wisata berwawasan lingkungan juga sesuai dengan konsep wisata yang berkelanjutan, dimana salah satunya adalah menjaga dan melestarikan lingkungan. 2.4 Pendidikan Pendidikan merupakan urusan strategis yang masih menjadi kewenangan negara, namun karena keistimewaan dan kekhususan daerah, Pemerintah Aceh memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan masyarakat Aceh, yaitu pendidikan yang Islami sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Qanun Aceh Nomor 23 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, yang kemudian direvisi menjadi Qanun No.5 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Dalam hubungannya dengan keistimewaan Aceh di bidang pendidikan, maka sejak Tahun 1990 melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 420/435/1990 tanggal 31 Agustus 1990 telah dibentuk Majelis Pendidikan Daerah (MPD), sebuah badan normatif berbasis masyarakat yang berfungsi memberikan pendapat, saran dan pertimbangan kepada pemerintah daerah mengenai kebijakan dan pelaksanaan pendidikan di Aceh, pada Tahun 2006 telah disusun Qanun Nomor 03 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Provinsi Aceh. Reformasi pendidikan di tingkat nasional sebenarnya telah dimulai pada saat Pemerintah RI melakukan reformasi tata pemerintahan dari sistem sentralistik ke sistem desentralistik. Pengalihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas manajemen pendidikan guna meningkatkan kinerja pendidikan secara menyeluruh, sehingga pemerintah daerah mempunyai kewenangan: (1) mengawasi dan menilai penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan baik negeri maupun swasta, (2) memberikan pendapat dan pertimbangan dalam menyusun rancangan anggaran pendidikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-48
  • 67.
    Aceh, (3) mengontrolmutu pendidikan dan (4) mengembangkan sistem pendidikan berbasis nilai Islami. Dalam rangka reformasi pendidikan, Pemerintah Aceh telah mengeluarkan Peraturan Gubernur Aceh No. 26 Tahun 2007 tentang Renstra Pendidikan Aceh Tahun 2007-2012 yang memberikan pemahaman menyangkut kondisi pendidikan, arah kebijakan dan tujuan reformasi pendidikan, serta menguraikan berbagai kebijakan dan strategi dalam mencapai target pembangunan pendidikan yang telah ditetapkan. 2.4.1 Pemerataan dan Perluasan Akses Implementasi sistem pendidikan selama konflik dan bencana tsunami cukup berat sehingga APK/APM kelompok usia 7 - 12 Tahun di SD/MI menunjukkan kecenderungan berfluktuasi, namun posisi rata-ratanya di atas 90 persen dapat dipertahankan, bahkan pada kelompok usia 13 - 15 Tahun di SMP/MTs dan usia 16 - 18 Tahun di pendidikan menengah menunjukkan indikasi yang terus membaik, secara rinci dapat dilihat pada tabel II.20. Tabel II.20 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni Penduduk Usia Sekolah di Aceh 2007 - 2009 Tahun Indikator 2007 2008 2009 APK PAUD Formal (TK/RA) 16,00% 20.00% 23.00% APM - SD/MI/Paket A 94.66% 95.06% 95.50% APM - SMP/MTs/SMPLB/Paket B 86.52% 89.49% 92.59% APK - SMP/MTs/SMPLB/Paket B 96.59% 97.16% 101.28% APM - SMA/MA/SMK/SMALB/Paket C 65,92% 68.50% 70.26% APK - SMA/MA/SMK/SMALB/Paket C 72,06% 73.60% 74.75% APK - Perguruan Tinggi 19.00% 19.15% 19.40% Sumber: Dinas Pendidikan (2009) Diproyeksikan pada Tahun 2012 APM untuk tingkat PAUD TK/RA mencapai 27 persen, tingkat SD/MI mencapai 96 persen, tingkat SMP/MTS mencapai 95 persen dan tingkat SMA/MA/SMK/MAK mencapai 70 persen. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-49
  • 68.
    Tabel II.21 Proyeksi Angka Partisipasi Murni Level 2007 Target 2012 TK/RA (4 - 6 Tahun) 16,00% 27% SD/MI (7 - 12 Tahun) 94,66% 96% SMP/MTS (13 - 15 Tahun) 86,52% 95% SMA/MA/SMK (16 - 18 Tahun) 65,92% 70% Ketersediaan dan penyebaran lembaga pendidikan yang memadai dan merata merupakan salah satu faktor penting dalam upaya peningkatan APK/APM. Sampai akhir Tahun 2009, di seluruh Aceh terdapat 1.135 unit TK/RA, 3.838 unit SD/MI/SDLB, 972 unit SMP/MTs/SMPLB, dan 644 unit SMA/MA/SMALB/SMK (termasuk SMK Kecil dan Kelas Jauh). Pada jenjang SD/MI; 33,06 persen ruang kelas sekolah rusak sedang/ringan dan 24,08 persen rusak berat, pada tingkat SMP/MTs; 19,06 persen rusak sedang/ringan dan 17,19 persen rusak berat, dan pada tingkat SMA/MA; 14,85 persen rusak sedang/ringan dan 10,69 persen rusak berat. Secara rinci jumlah sekolah dapat dilihat pada tabel II.22. Selain pendidikan dasar dan menengah, pemerintah Aceh juga menaruh perhatian terhadap akses layanan pendidikan tinggi. Sampai akhir Tahun 2009, di Aceh telah berdiri 76 perguruan tinggi, yang terdiri dari; 8 unit Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 68 unit Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang tersebar diseluruh wilayah Aceh. Tabel II.22 Jumlah Sekolah di Aceh Tahun 2008/2009 SD/MI SMP/MTs SMA/MA/SMK No Kabupaten/Kota TK/RA SD MI SMP MTs SMA MA SMK 1 Simeulue 14 110 12 33 9 15 4 2 2 Aceh Singkil 41 95 5 26 13 19 8 2 3 Aceh Selatan 68 193 35 30 15 19 11 5 4 Aceh Tenggara 29 155 26 36 20 21 11 4 5 Aceh Timur 37 264 46 32 20 20 12 4 6 Aceh Tengah 88 175 24 34 14 14 9 2 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-50
  • 69.
    7 Aceh Barat 28 143 34 22 18 17 6 3 8 Aceh Besar 129 204 51 50 22 33 17 2 9 Pidie 108 275 60 51 24 25 12 5 10 Bireuen 78 228 58 51 8 29 6 4 11 Aceh Utara 106 352 51 72 40 36 23 7 12 Aceh Barat Daya 24 108 16 15 4 11 1 4 13 Gayo Lues 15 91 10 17 4 10 2 1 14 Aceh Tamiang 77 160 21 45 22 17 12 6 15 Nagan Raya 22 125 20 22 4 14 3 2 16 Aceh Jaya 17 94 20 17 2 7 4 4 17 Bener Meriah 31 116 20 30 15 14 10 3 18 Pidie Jaya 65 89 24 15 11 7 7 1 19 Banda Aceh 77 81 12 27 9 26 7 7 20 Sabang 8 30 5 7 2 2 1 1 21 Langsa 27 61 8 13 7 9 6 8 22 Lhokseumawe 32 60 8 17 11 9 6 5 23 Subulussalam 14 70 3 11 5 7 3 0 Total 1135 3279 569 673 299 381 181 82 Sumber: Dinas Pendidikan Aceh, 2009 Selain pendidikan dasar dan menengah, pemerintah Aceh juga menaruh perhatian terhadap akses layanan pendidikan tinggi. Sampai akhir Tahun 2009, di Aceh telah berdiri 76 perguruan tinggi, yang terdiri dari; 8 unit Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 68 unit Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang tersebar diseluruh wilayah Aceh. Ditinjau dari sudut pandang kesetaraan gender, saat ini tidak terlihat adanya perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan layanan pendidikan. Rasio siswa perempuan terhadap siswa laki-laki tingkat SD/MI sebesar 100,3 persen, pada tingkat SMP/MTS sebesar 102,1 persen, dan pada tingkat SMA/MA/SMK sebesar 104,0 persen. Sementara pada tingkat Pendidikan Tinggi, Rasio perempuan terhadap laki-laki mencapai 134,4 persen. Hal ini diperkirakan sebagai akibat dari banyaknya jumlah perguruan tinggi yang membuka program studi Keperawatan dan Kebidanan di seluruh Aceh. Pada Tahun 2012 diharapkan komposisi anak laki-laki akan meningkat mencapai keseimbangan dengan anak perempuan pada semua jenjang pendidikan. Kondisi Tahun 2006, jumlah penduduk buta aksara latin usia 15 Tahun ke atas sebesar 161.209 orang atau 6,02 persen dari total penduduk usia 15 Tahun ke atas dan sampai Tahun 2012 angka tersebut diproyeksikan berkurang menjadi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-51
  • 70.
    4,5 persen. Kelompok usia 15-24 Tahun merupakan sasaran prioritas pemberantasan buta aksara, sedangkan usia di atas 25 Tahun merupakan sasaran tambahan yang perlu ditangani melalui program keaksaraan fungsional. Pemerintah Aceh tidak hanya melakukan program penghapusan buta aksara latin, tetapi juga penghapusan buta aksara Al-Qur’an dengan indikator kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Permasalahan pendidikan tidak hanya menyangkut penyediaan layanan pendidikan formal bagi peserta didik, tetapi juga pembekalan ilmu pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (life skills) bagi setiap anggota masyarakat melalui program Pendidikan Non Formal (PNF). Pemberantasan buta aksara (illiteracy) perlu dilakukan secara serius sebagai upaya untuk mencerdaskan seluruh rakyat dan mendukung pembelajaran sepanjang hidup (life long learning). Ketersediaan fasilitas pendidikan terus bertambah dari tahun ke tahun, namun penyebarannya masih belum merata hingga ke daerah-daerah terpencil, terutama ditingkat SMP/MTs dan SMA/MA/SMK. Kendala lainnya yang dihadapi adalah manajemen sekolah dan sumber daya guru belum maksikmal, penyebaran guru yang belum merata antara satu daerah dengan daerah lainnya. 2.4.2 Mutu, Relevansi dan Daya Saing Penyediaan layanan pendidikan yang berkualitas berkaitan erat dengan ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Penyebaran guru yang tidak merata, dan rendahnya kualifikasi dan kompetensi profesional guru masih menjadi permasalahan klasik dalam dunia pendidikan, sehingga pemerintah terus menerus berupaya melakukan penataan penyebaran, serta melaksanakan pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan SDM pendidik dan tenaga kependidikan. Rasio siswa per guru pada Tahun 2008/2009 telah melampaui rasio nasional, yaitu; pada tingkat SD/MI sebesar 1:13, pada tingkat SMP/MTs 1:9, dan tingkat SMA/MA/SMK mencapai 1:10. Persentase guru yang berkualifikasi S1/D4 pada tingkat SD/MI hanya 35,61 persen, sedangkan pada tingkat SMP/MTS sebesar 53,30 persen dan pada tingkat SMA/MA/SMK mencapai 82,33 persen. Melihat kenyataan tersebut, perlu diupayakan secepatnya peningkatan kualifikasi guru ke jenjang S1/D4 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-52
  • 71.
    pelatihan untuk meningkatkankompetensi guru. Pada Tahun 2012 diproyeksikan sebesar 70 persen guru SD/MI, 100 persen guru SMP/MTS dan SMA/MA/SMK telah memiliki kualifikasi minimum S1/D4 atau yang sederajat. Fasilitas pendukung dalam peningkatan mutu pembelajaran belum memadai, seperti ketersediaan ruang perpustakaan, laboratorium, buku dan alat praktek/peraga siswa, serta rendahnya partisipasi masyarakat atau dunia usaha/industri juga menjadi penyebab lain rendahnya mutu pendidikan di Aceh. Jumlah sekolah yang memiliki perpustakaan pada tingkat SD/MI sebesar 3 persen, SMP/MTs sebesar 56,51 persen, SMA/MA sebesar 61,50 persen dan SMK/MAK hanya 10 persen. Jumlah sekolah yang memiliki laboratorium IPA pada jenjang SMP/MTs sebesar 60,41 persen, SMA/MA sebesar 71,22 persen, dan SMK/MAK sebesar 66 persen. Sampai dengan akhir 2006 baru 11 persen sekolah menengah (54 sekolah) yang telah dirintis untuk melaksanakan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT based learning). Jumlah guru dan jenjang pendidikan tahun 2008 – 2009 yang tersebar di kabupaten/kota secara rinci dapat dilihat pata tabel II.23. Tabel II.23 Jumlah Guru Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2008/2009 SD/MI SMP/MTs SMA/MA/SMK No Kabupaten/Kota TK/RA SD MI SMP MTs SMA MA SMK 1 Simeulue 36 936 80 1,428 45 407 82 40 2 Aceh Singkil 180 1,913 48 438 398 653 129 49 3 Aceh Selatan 279 1,985 272 652 1,002 705 294 129 4 Aceh Tenggara 147 1,317 216 2,205 308 713 697 209 5 Aceh Timur 238 2,499 360 1,093 962 863 156 100 6 Aceh Tengah 171 1,986 186 1,316 576 508 130 124 7 Aceh Barat 137 1,259 264 818 140 654 121 209 8 Aceh Besar 533 996 686 1,769 745 1,414 184 177 9 Pidie 228 1,994 472 1,041 689 1,195 302 270 10 Bireuen 297 1,770 336 2,764 252 1,258 156 209 11 Aceh Utara 595 3,610 312 1,209 1,392 1,384 467 236 12 Aceh Barat Daya 168 1,171 136 405 41 482 27 82 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-53
  • 72.
    13 Gayo Lues 23 793 56 525 127 219 34 19 14 Aceh Tamiang 355 1,806 168 1,497 610 678 212 138 15 Nagan Raya 79 1,740 152 731 120 291 55 33 16 Aceh Jaya 26 780 136 506 103 244 34 52 17 Bener Meriah 90 1,106 160 852 394 275 218 123 18 Pidie Jaya 75 1,031 160 560 55 344 35 10 19 Banda Aceh 561 1,438 152 2,041 596 1,161 264 326 20 Sabang 25 277 81 392 64 106 34 46 21 Langsa 223 829 68 530 35 454 229 284 22 Lhokseumawe 199 738 116 448 726 527 159 344 23 Subulussalam 55 1,583 49 219 25 70 15 48 Total 4,720 33,557 4,666 23,439 9,405 14,605 4,034 3,257 Sumber: Dinas Pendidikan Aceh, 2009 Pada Tahun 2012 diproyeksikan seluruh sekolah mulai tingkat SMP/MTs sampai jenjang SMA/MA/SMK telah memiliki laboratorium dan perpustakaan, serta sebahagian besar lembaga pendidikan menengah telah menerapkan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT). Pada Tahun ajaran 2008/2009, nilai rata-rata Ujian Nasional (UN) yang dicapai lulusan SMP/MTs adalah 7,06. Sedangkan SMA/MA/SMK adalah 6,75. Pada Tahun pelajaran 2011/2012, angka lulusan diharapkan mencapai masing- masing menjadi 99 persen pada tingkat SD/MI, 95,00 persen pada tingkat SMP/MTs, serta 89,00 persen pada tingkat SMA/MA dan 85 persen SMK. Capaian hasil UASBN SD/MI diupayakan mencapai 6,75, hasil UN SMP/MTs mencapai rata-rata 7,31, hasil Unian Nasional (UN) SMA/MA mencapai 7,40, dan SMK mencapai rata-rata 7,00. 2.4.3 Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Pencitraan Publik Bervariasinya cara merespons pemaknaan Good Governance di kalangan pelaksana pendidikan baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota dan satuan pendidikan, menyebabkan upaya penguatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik belum berjalan dengan baik. Belum terlaksananya perencanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-54
  • 73.
    yang mengacu padaManajemen Berbasis Sekolah (MBS), lemahnya dukungan Sistem Informasi Management (SIM) untuk menunjang efektifitas perencanaan serta kurangnya pengawasan dan evaluasi (internal dan eksternal) merupakan kendala yang masih dijumpai di lapangan. Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada tingkat satuan pendidikan secara bertahap telah mulai diterapkan, yang ditandai dengan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan di sekolah, namun belum berfungsi secara optimal. Untuk itu pembinaan dan pengembangan Gugus SD/MI dan Pendidikan Luar Biasa (PLB), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), SMP dan Pendidikan Menengah akan dilanjutkan bersama Pemerintah Kabupaten/Kota dengan menyediakan insentif pembinaan gugus melalui APBA dan APBN dengan target lebih dari 600 gugus pada Tahun 2011. Dalam kurun waktu 2007 - 2012 akan ditempuh langkah-langkah penguatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik melalui peningkatan kapasitas dan kompetensi aparat perencanaan dan penganggaran serta pengelola pendidikan, mengembangkan aplikasi SIM secara terintegrasi, memantapkan pelaksanaan MBS dengan meningkatkan partisipasi masyarakat melalui peningkatan kapasitas Majelis Pendidikan Daerah dan Komite Sekolah, meningkatkan pengawasan dan evaluasi (internal dan eksternal) serta mempercepat penyelesaian tindak lanjut temuan aparat pemeriksa. 2.4.4 Pendidikan Berbasis Nilai Islami Pemerintah Aceh terus berupaya meningkatkan pendidikan berbasis nilai Islami antara lain dengan melakukan pelatihan Fahmul Qur’an kepada guru-guru yang nantinya bisa ditransfer kepada siswa di setiap jenjang sekolah. Khusus untuk murid Sekolah Dasar telah dilaksanakan pengajian Al-Qur’an sebagai kegiatan ekstrakurikuler dalam rangka meningkatkan kemampuan baca tulis Al- Qur’an dan pemahaman isi kandungannya. Selain itu penambahan jam pelajaran agama Islam pada tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK adalah merupakan upaya untuk meningkatkan pemahaman nilai-nilai Islam di kalangan siswa. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-55
  • 74.
    Dalam upaya penerapanpendidikan berbasis nilai Islami, pemerintah masih menemui kendala-kendala yang cukup berarti, seperti; belum rampungnya Kurikulum Plus (kurikulum nasional dan kurikulum lokal yang bernuansa Islami), masih banyaknya sekolah-sekolah yang tidak memiliki sarana praktek ibadah (mushalla), kurangnya buku-buku pendidikan agama Islam dan alat-alat peraga/praktek, belum adanya Standar Operasional dan Prosedur (SOP) penerapan sistem pendidikan Islami, serta lemahnya kemampuan guru dalam mengintegrasikan muatan yang bernuansa Islami kedalam setiap mata pelajaran yang diasuhnya. Di samping itu, pengakuan (akreditasi) dan peningkatan mutu lembaga pendidikan dayah atau pesantren sebagai lembaga pendidikan formal alternatif belum terlaksana secara maksimal. Upaya penyediaan akses layanan pendidikan bagi masyarakat Aceh yang telah menerapkan syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupannya semakin luas dengan diakuinya dayah atau pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan formal sesuai dengan karakter dan kekhususan daerah. Upaya serius untuk menyetarakan dayah dengan lembaga pendidikan formal lainnya dilakukan dengan cara akreditasi dayah-dayah yang ada di seluruh Aceh yang pada saat ini berjumlah sekitar 1.200 dayah. Sebanyak 412 dayah diantaranya telah terakreditasi. 2.5. Kesehatan Pembangunan Kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang- Undang Dasar 1945 pasal 28 ayat (1) dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 dan No 36 Tahun 2010 tentang Kesehatan. Pembangunan Kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang antara lain diukur dengan Index Pembangunan Manusia (IPM). Dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan dibutuhkan perubahan cara pandang (mindset) dari paradigma sakit ke paradigma sehat, sejalan dengan Visi Aceh Mandiri untuk hidup sehat secara berkeadilan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-56
  • 75.
    2.5.1 Status Kesehatan Gambaran status kesehatan diuraikan berdasarkan pencapaian beberapa indikator seperti; umur harapan hidup, Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI), gizi balita dan ibu hamil, serta sebaran penyakit menular. a) Umur Harapan Hidup (UHH) Berdasarkan data BPS perkembangan Umur Harapan Hidup (UHH) di Aceh tahun 2005 adalah 68 tahun, tahun 2006 adalah 68,3 tahun, tahun 2007 adalah 69,08 tahun. Sejalan dengan membaiknya pelayanan kesehatan diharapkan UHH pada tahun 2012 menjadi 70 tahun. b) Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang paling sensitif untuk menentukan derajat kesehatan suatu bangsa/daerah. Pada Tahun 2006 AKI Aceh sebesar 237/100.000 kelahiran hidup dan pada Tahun 2009 AKI menurun menjadi 179/100.000 kelahiran hidup. Pada Tahun 2010 hingga 2015 target penurunan AKI secara bertahap akan diupayakan hingga menjadi 125/100.000 kelahiran hidup sesuai dengan target MDGs 2015. Sementara itu Angka Kematian Bayi (AKB) di Aceh pada Tahun 2006 sebesar 40/1000 kelahiran hidup. Pada Tahun 2009 AKB Aceh menunjukkan penurunan menjadi 25/1000 kelahiran hidup (SDKI 2007). Pada Tahun 2010 secara bertahap akan terus diupayakan penurunan AKB hingga menjadi 26/1.000 kelahiran hidup pada Tahun 2012 dan terus menurun hingga 15/1000 kelahiran hidup pada Tahun 2015 untuk mendukung target MDGs 2015. c) Angka Kesakitan Angka kesakitan di Aceh adalah 22,3 persen, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan diare masih menjadi penyakit utama yang dikeluhkan masyarakat. Melihat kondisi lingkungan dan perilaku hidup sehat masyarakat yang masih Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-57
  • 76.
    memerlukan perhatian makatarget angka kesakitan pada Tahun 2012 akan diturunkan menjadi 15 persen. Dari Sistim Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) menggambarkan 10 (sepuluh) jenis penyakit yang berasal dari kunjungan puskesmas dan rumah sakit. Tabel. II.24 10 (sepuluh) Jenis Penyakit Terbanyak Berbasis Puskesmas dan Rumah Sakit No Jenis Penyakit Jumlah No Jenis Penyakit Jumlah (Berbasis Kasus (Berbasis Rumah Kasus Puskesmas) Sakit) 1 ISPA 167.947 1 ISPA 2.482 2 Diare 45.009 2 Diare & Gastroentritis 2.628 3 Malaria Klinis 3.918 3 Demam Tifoid 1.486 4 Diare berdarah 3.900 4 Cedera 1.239 5 Tersangka TBC Paru 3.552 5 Hypertensi 998 6 TBC paru BTA(+) 1.494 6 TBC paru BTA(+) 995 7 Pneumonia 1.449 7 DM 773 8 Tifus Perut Klinis 1051 8 Stroke 771 9 Campak 967 9 Demam Berdarah Dengue 710 10 Demam Berdarah Dengue 566 10 Pneumonia 605 Sumber : Pengumpulan data formulir SP2TP Puskesmas dan Laporan Rumah Sakit, 2009 Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat di Aceh adalah penyakit infeksi menular yang berbasis lingkungan seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare, malaria, tipus abdominalis, tuberkulosis paru dan pneumonia, namun demikian mulai terjadi peningkatan penyakit degeneratif dan keganasan yang mempunyai resiko terhadap kesakitan dan kematian seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes mellitus dan kanker. Terjadinya beban ganda ini (penyakit menular dan penyakit degenaratif) disebabkan karena transisi epidemiologi dan perubahan piramida penduduk akan memberi konsekuensi terhadap jumlah dan jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat di masa mendatang. Salah satu upaya kegiatan yang dilakukan untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya peningkatan kasus dan munculnya penyakit baru telah dilakukan surveilans terpadu penyakit. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-58
  • 77.
    Dari hasil kegiatantersebut terindentifikasi beberapa jenis penyakit dan pola penyebarannya di masyarakat. Jenis penyakit diare banyak menyerang golongan anak terutama balita. tahun 2005 kasus penderita diare 73.892 kasus dengan penderita balita 37.801 orang (51,22 persen), sedangkan pada Tahun 2006 terjadi 85.071 kasus dan balita yang kena diare 36.960 orang (43,45 persen), dan pada Tahun 2008 kasus penderita diare turun menjadi 42.850 kasus (17,88 persen). Penyakit malaria merupakan penyakit endemis beberapa daerah di Aceh, pada tahun 2006 terjadi kasus malaria klinis 29.283 dan malaria positif 4.852 kasus. Pada tahun 2008 terjadi 36.012 kasus malaria klinis dan malaria positif 5.738 kasus. Angka kematian malaria tahun 2006 sebesar 0,01 persen, sehingga pada tahun 2012 angka kematian malaria ditargetkan menjadi 0 persen. Jumlah kasus Tuberkulosis (TB) Paru pada tahun 2005 sebanyak 4.143 kasus (kasus baru 48,1 persen) sedangkan tahun 2006 ditemukan sebesar 4.209 kasus (kasus baru 50,2 persen), menunjukkan terjadinya peningkatan kasus karena penemuan kasus aktif (active case finding) di lapangan. Pengendalian penyakit TB dengan strategy DOTS (Directly Observed Treatment, Shortcourse chemoteraphy) hingga Tahun 2008 telah dilakukan di seluruh kabupaten kota. Strategy ini telah dapat menurunkan insiden kasus TB dari 130/100.000 penduduk menjadi 104/100.000 penduduk. Pada tahun 2012 ditargetkan semua kasus dapat terdeteksi dan diobati (case detection rate 100 persen). Jumlah kasus dan kematian Demam Berdarah Dengue (DBD) pada tahun 2005 dijumpai 629 kasus sedangkan pada tahun 2006 meningkat menjadi 777 kasus. Angka kematian DBD tahun 2005 sebesar 1,59 persen sedangkan pada tahun 2006 menjadi 1,80 persen. Kasus DBD tertinggi di 3 kabupaten/kota, yaitu; Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Aceh Besar. Di Kota Banda Aceh, kasus DBD pada tahun 2007 mencapai 834 kasus, namun pada tahun 2008 menurun menjadi 593 kasus. Hal ini disebabkan program DBD Watch yang dilaksanakan Pemerintah Kota Banda Aceh yang didukung oleh masyarakat. Sedangkan di Kota Lhokseumawe dari hanya 255 kasus pada tahun 2007 meningkat menjadi 632 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-59
  • 78.
    kasus pada tahun2008, sementara di Kabupaten Aceh Besar terjadi peningkatan dari 160 kasus tahun 2007 menjadi 391 kasus tahun 2008. Terjadinya peningkatan kasus disebabkan karena kondisi lingkungan yang tidak memadai sebagai akibat dari bencana alam. Dengan mempertimbangkan faktor lingkungan fisik dan biologis, keterbukaan daerah (transportasi yang memadai) dan mobilitas penduduk yang tinggi maka pada tahun 2012 ditargetkan semua fasilitas pelayanan kesehatan mampu meminimalisir kasus kematian dan terlaksananya kegiatan sistim kewaspadaan dini di masyarakat. Sehingga angka kesakitan dan kematian bisa diturunkan. Penyakit menular HIV/AIDS telah teridentifikasi pada tahun 2005 sebanyak 2 kasus AIDS sedangkan tahun 2006 dijumpai 7 kasus (4 kasus terdiagnosa AIDS dan 3 kasus positif HIV). Kasus ini terus meningkat dari tahun ke tahun, 9 kasus ditemukan pada tahun 2007 dan 10 kasus ditemukan pada tahun 2008, sehingga total kasus HIV/AIDS yang teidentifikasi hingga tahun 2008 mencapai 29 kasus, dengan 13 kasus kematian. Keadaan ini harus menjadi perhatian semua pihak dan diharapkan pada tahun 2010 diseluruh kabupaten/kota sudah terbentuk Komisi Penanggulangan HIV/AIDS, sehingga target penurunan HIV/AIDS pada tahun 2012 dapat tercapai. Penyakit flu burung merupakan ancaman baru terhadap masalah kesehatan, pada Tahun 2006 telah ditemukan kasus pada unggas di 10 kabupaten/kota, sementara pada manusia belum dijumpai. Namun Aceh termasuk dalam katagori daerah terancam, karena bertetangga dengan Provinsi Sumatera Utara yang telah dijumpai kasus flu burung pada manusia. Untuk menghadapi ancaman tersebut maka Pemerintah Aceh mempersiapkan Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin menjadi rumah sakit umum rujukan provinsi dan mempersiapkan Rumah Sakit Cut Meutia Lhokseumawe, RS Cut Nyak Dhien Meulaboh dan RS Datu Beru Takengon menjadi rumah sakit rujukan wilayah. Disamping mempersiapkan pusat-pusat rujukan juga tidak kalah pentingnya dilakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang antisipasi terhadap kemungkinan flu burung. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-60
  • 79.
    Disamping penyakit menular,penyakit tidak menular seperti penyakit hipertensi, diabetes, kanker masih merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di perkotaan yang kemungkinan disebabkan karena perilaku dan pola hidup. d) Gizi Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) pada Balita tahun 2006 memperlihatkan penurunan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk. Pada tahun 2005 prevalensi gizi buruk sebesar 4,02 persen dan prevalensi gizi kurang sebesar 34,6 persen. Pada tahun 2006 terjadi penurunan yaitu prevalensi gizi buruk sebesar 3,2 persen, sedangkan prevalensi gizi kurang sebesar 19,6 persen. Angka ini lebih rendah dari angka nasional 25,8 persen (gizi kurang) dan 8,5 persen untuk prevalensi gizi buruk. Upaya penurunan prevalensi masalah gizi ini terus dilakukan dan ditargetkan pada tahun 2012 prevalensi gizi buruk dapat diturunkan menjadi < 1 persen (sudah menjadi bukan masalah kesehatan masyarakat) dan prevalensi gizi kurang menjadi < 15 persen. Selain asupan gizi yang kurang serta penyakit infeksi yang merupakan akibat langsung dari kematian, masalah sosial ekonomi masyarakat yang rendah, ketidaktersediaan pangan di tingkat keluarga dan pola asuh ditingkat keluarga adalah merupakan faktor yang turut mempengaruhi kondisi status gizi masyarakat. 2.5.2. Pelayanan Kesehatan a) Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Pasca tsunami tahun 2005 fasilitas pelayanan kesehatan sebagian besar mengalami kerusakan sehingga pelayanan kesehatan banyak ditangani oleh berbagai klinik dan pos-pos kesehatan yang didirikan oleh NGO dan lembaga lainnya. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2009 Jumlah fasilitas kesehatan dasar yang dapat diakses oleh masyarakat semakin baik, terlihat dari peningkatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-61
  • 80.
    jumlah Puskesmas RawatInap, dari 89 unit pada tahun 2007 menjadi 118 unit pada tahun 2008. Seiring dengan bertambahnya Puskesmas Rawat Inap, maka jumlah Puskesmas Non rawat Inap, Puskesmas Pembantu dan Puskesmas keliling semakin berkurang. Tabel: II.25 Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar di Aceh 2007-2008 Puskesmas Sarana/ Puskesmas Puskesmas Puskesmas Non Rawat Tahun Rawat Inap Pembantu Keliling Inap 2007 89 199 911 306 2008 118 174 903 292 Sumber: Profil Kesehatan Aceh, 2009 Selain itu, fasilitas layanan kesehatan yang terdekat dan langsung dapat menjangkau masyarakat desa adalah Poskesdes/polindes dan Posyandu. Jumlah Poskesdes/Polindes dan Posyandu pada Tahun 2008 masing-masing mencapai 2.269 unit dan 7.150 unit. Dari jumlah ini terlihat bahwa fasilitas Poskesdes/Polindes masih sangat rendah, yaitu 35,16 persen dari jumlah desa (6.424 desa). b) Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Cakupan pelayanan Ante Natal Care (ANC) pada tahun 2005 cakupan Kunjungan pertama ibu hamil (K1) sebesar 83,12 persen dan Kunjungan keempat kalinya ibu hamil memberi indikasi untuk mutu pelayanan adalah sebesar 71,92 persen. Sementara pada tahun 2006 cakupan K1 86,23 persen dan K4 76,15 persen. Walaupun terjadi peningkatan cakupan, namun kenaikan ini belum memberikan gambaran yang menggembirakan karena target nasional untuk ANC yaitu 90 persen. Untuk pencapaian target Tahun 2012 maka upaya peningkatan pelayanan kesehatan ibu hamil menjadi prioritas utama, yaitu semua kelompok sasaran ibu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-62
  • 81.
    hamil akses kefasilitas kesehatan (100 persen) dan kunjungan keempat kalinya kepada tenaga kesehatan (K4) meningkat. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan juga terlihat meningkat. Tahun 2005 sebesar 64,7 persen dan terjadi peningkatan sebesar 75,6 persen pada tahun 2006, namun hal ini masih dibawah target nasional sebesar 80 persen. Sedangkan target pada tahun 2012 diharapkan akan tercapai sebesar 85 persen. c) Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif Pemberian ASI Eksklusif yang direkomendasikan adalah ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Di Aceh angka cakupan pemberian ASI eksklusif masih jauh dari target yang diharapkan. Persentase pemberian ASI eksklusif pada tahun 2005 sebesar 6 persen dari ibu yang melahirkan, pada tahun 2006 sebesar 7,5 persen, pada tahun 2008 sebesar 10,39 persen dan pada tahun 2012 program pemberian ASI eksklusif dapat ditingkatkan menjadi 60 persen melalui kegiatan promosi kesehatan. d) Pelayanan Imunisasi Bayi dan Balita Pelaksanaan imunisasi pada bayi dan balita merupakan program utama dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Setiap Tahunnya menunjukkan peningkatan yang signifikan. Cakupan Imunisasi BCG, DPT- 1, DPT- 3, Polio-4, Campak, HB-3 dari tahun ke tahun terlihat pada tabel II.26. Tabel. II.26 Peningkatan Cakupan Imunisasi Jenis Imunisasi Target 2004 2005 2006 1. BCG 90% 60% 80.1% 92.8% 2. DPT-1 90% 68% 80.9% 93.2% 3. DPT-3 80% 65% 74.1% 84.2% 4. Polio-4 80% 64% 71.0% 83.4% 5. Cam pak 80% 64% 71.7% 83.9% Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-63
  • 82.
    Peningkatan cakupan inidisebabkan karena ketersediaan logistik imunisasi di setiap level pelayanan. Situasi wilayah yang kondusif memungkinkan semua petugas kesehatan mampu menjangkau kelompok sasaran. Selain itu penyelenggaraan PIN yang telah berlangsung secara terus menerus memberi kontribusi terhadap peningkatan cakupan. Pada tahun 2012 diharapkan target Universal Child Immunization (UCI) dapat dicapai (90 persen). 2.5.3 Kondisi Kesehatan lingkungan Menilai keadaan lingkungan sehat ada 4 (empat) indikator yaitu (1) persentase keluarga yang memiliki persediaan air minum sehat, (2) keluarga yang memiliki jamban sehat, (3) persentase keluarga yang mengelola sampah dan (4) keluarga yang mengelola air limbahnya dengan baik. Keadaan ini masih jauh dari yang diharapkan karena situasi lingkungan yang kurang sehat dan perilaku hidup sehat yang masih perlu mendapat perhatian serta kerusakan lingkungan akibat bencana yang demikian parah sehingga indikator keberhasilan program ini belum mencapai target. Sampai tahun 2012 pembenahan kondisi ini telah diawali dengan penyuluhan, pergerakan masyarakat serta peningkatan sarana dan prasarana yang memadai, dengan demikian diharapkan akan terbentuk desa sehat mandiri sekaligus sebagai cikal bakal kabupaten/kota sehat. a) Air Bersih Ketersediaan sarana dan prasarana dasar permukiman berupa air bersih secara merata dan berkelanjutan turut menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. tahun 2006 jumlah keluarga yang memiliki akses air bersih masih sangat minim. Pada tahun 2008 persediaan air bersih dikeluarga 64,00 persen, Sumber air bersih tertinggi yang digunakan setiap keluarga berasal dari sumur terlindung 43,03 persen persen, sumur tidak terlindung 24.2 persen, Air ledeng (pipa) hanya 11,01 persen, sumur pompa 1,67 persen, Air sungai 6 persen, Air kemasan 5 persen, mata air terlindung 4 persen dan air hujan 1 persen. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-64
  • 83.
    Penyediaan air minumberbasis masyarakat yang berpedoman pada Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM) telah berkembang pesat didukung pendanaan baik pemerintah maupun pihak lain, seperti lembaga donor, lembaga swadaya masyarakat (LSM), swasta (investasi langsung maupun Corporate Sosial Responsibility) dan Masyarakat. Peningkatan kualitas perencanaan dilakukan melalui fasilitasi pemerintah Aceh dalam mengimplementasikan Kebijakan Nasional AMPL-BM. Terkait dengan pengelolaan air bersih dan jaringannya, terdapat beberapa instansi pemerintah yang terkait, yakni Perusahaan Daerah Air Minum, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya dan Dinas Kesehatan. PDAM mengelola distribusi air, disain teknis pembangunan sarana dan prasarana PDAM tersebut berada di bawah kewenangan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, sedangkan Dinas Kesehatan hanya memiliki kewenangan menilai parameter kesehatan dari air yang didistribusikan. Pada tahun 2012 target air bersih diharapkan mencapai 80 persen. b) Rumah Sehat Pada tahun 2005 telah dilakukan pemeriksaan rumah dibeberapa kabupaten/kota menunjukkan kondisi 42,20 persen dinyatakan sehat dari 401.780 rumah yang dilakukan pemeriksaan. Tahun 2008 jumlah rumah sehat mencapai 58,25 persen. Dari data tersebut maka program sosialisasi terhadap masyarakat untuk membangun rumah yang sehat terus dilakukan sehingga vektor penyebab penyakit dari lingkungan sekitar rumah dapat diperkecil. Pada tahun 2012 target yang diharapkan sebesar 75 persen. c) Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar Pada tahun 2008 ketersediaan jamban keluarga 64,46 persen, ketersediaan tempat sampah 14,38 persen dan tempat pengelolaan air limbah keluarga 26,35 persen. Dari data tersebut terlihat bahwa masih ada 35,64 persen keluarga yang tidak memiliki jamban keluarga, 85,72 persen belum memiliki tempat sampah, dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-65
  • 84.
    74,65 persen belummemiliki tempat pengolahan air limbah. Pada Tahun 2012 ditargetkan 80 persen keluarga telah memiliki jamban keluarga, tempat sampah, dan sarana pengolahan air limbah. 2.5.4. Pembiayaan Kesehatan Secara umum, sumber pembiayaan kesehatan Aceh dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yakni: 1) pembiayaan pemerintah; 2) pembiayaan bersumber dari lembaga pemberi bantuan/donor; dan 3) pembiayaan rumah tangga dan sektor swasta. Kontribusi masyarakat dalam pembiayaan kesehatan masih sangat kecil, hasil Susenas tahun 2005 memperlihatkan bahwa kontribusi per kapita masyarakat Aceh untuk pembiayaan kesehatan selama ini hanya Rp. 44.847 per kapita/tahun atau sekitar US$ 5 per kapita/Tahun. Pasca bencana tsunami pembiayaan kesehatan mengalami peningkatan yang signifikan dengan adanya sumber dana baru yang berasal dari dana bantuan luar negeri dan APBN yang dikelola oleh BRR. Tabel II.27 Sumber Pembiayaan Kesehatan Tahun 2006 Tahun 2007 No Sumber Dana Ket (Rp.1000) (Rp.1000) 1 APBA 35.381.267 43.046.438, 2 APBN(Dekon) 96.810.932 68.545.480, RSU 3 APBN TP 38.661.000 89.100.000, Provinsi,kab/kota 4 DAK 117.600.000 157.898.000, 5 ADB-DHS 10.352.937 29.259.058, 6 ADB-CWSH 41.014.000 1.246.040, 7 BRR Prov. 133.377.510 113.302.925, TOTAL 473.197.646 502.397.941, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-66
  • 85.
    Pemerintah memprioritaskan tujuaninvestasi di sektor kesehatan dalam jangka pendek yakni menghindari economic loss akibat penyakit dan kematian, dan tujuan investasi jangka panjang yakni human capital investment untuk pencapaian Millenium Development Goals pada tahun 2015. Pemerintah Aceh pada tahun 2010 menyelenggarakan pembiayaan kesehatan bagi masyarakat Aceh melalui program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). 2.5.5 Fasilitas Kesehatan Profil kesehatan tahun 2009 menunjukkan jumlah Rumah Sakit Umum di Aceh sebanyak 49 unit, Puskesmas sebanyak 292 unit dengan pembagian puskesmas rawat inap 118 unit dan puskesmas non rawat inap 174 unit. Secara rasio pembangunan puskesmas di Aceh telah mencukupi dimana seluruh kecamatan telah memiliki puskesmas dengan rasio setiap 100.000 penduduk. Selain fasilitas kesehatan tersebut diatas di Aceh telah tersedia Pos Kesehatan Desa (Poskesdes/Polindes) sejumlah 2.269 (35,16 persen), Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebanyak 7.150 unit, dan Puskesmas Pembantu (Pustu) sebanyak 852 unit. Pada tahun 2012 diharapkan pembangunan Poskesdes/Polindes mencapai 50 persen. 2.5.6. Sumber Daya Tenaga Kesehatan Permasalahan tenaga kesehatan di Aceh menyangkut jumlah, kualifikasi yang kurang memadai dan distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata. Berdasarkan profil kesehatan 2009, terlihat bahwa rasio tenaga kesehatan terhadap 100,000 penduduk masih dibawah sasaran, kecuali rasio bidan, yang sudah memadai terhadap rasio penduduk. Sedangkan rasio dokter umum, dokter gigi, perawat, ahli gizi, dan ahli sanitasi, masih di bawah target rasio. Keberadaan dan distribusi doker spesialis juga merupakan persoalan yang cukup besar di Aceh. Sebagian besar tenaga spesialis terkonsentrasi di rumah sakit perkotaan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-67
  • 86.
    Pada tahun 2009tenaga kesehatan di Aceh berjumlah 31.216 personil, yang terdiri dari: tenaga medis (3,88 persen), tenaga perawat dan bidan (34,25 persen), tenaga farmasi (1,96 persen), tenaga gizi (1,14 persen), tenaga teknisi medis (1,82 persen), tenaga sanitasi (2,59 persen), tenaga kesmas (2,42 persen), tenaga kesehatan (48,06 persen), Dokter Spesialis (0,66 persen), Dokter Umum (2,67 persen) dan Dokter Gigi (0,55 persen). Rasio dokter spesialis per 1:34.050 penduduk, dokter umum 1:6.330 penduduk, Bidan puskesmas 1:3.093 penduduk, Perawat 1:1.408 Penduduk dan Bidan di desa 1:1,6 desa. Masalah terbesar adalah penyediaan dokter spesialis dasar (Kebidanan, anak, penyakit dalam dan bedah) ditambah spesialis penunjang, Anestesi dan Radiologi yang penyebarannya belum merata. Pada tahun 2012 ditargetkan 50 persen kebutuhan tenaga dapat terpenuhi melalui pendidikan dan pelatihan berbasis kompentensi, kontrak tenaga medis dan para medis, pendidikan formal serta rekrutmen. Disamping itu perlunya pengembangan institusi pendidikan kesehatan termasuk penyempurnaan kurikulum pendidikan. 2.6 Sarana dan Prasarana 2.6.1 Sumber Daya Air a) Pengelolaan Wilayah Sungai Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang atau sama dengan 2.000 km2.. Dalam pembagian kewenangan pengelolaan wilayah sungai, sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 A/PRT/M/2006 telah menetapkan beberapa kategori berdasarkan letak geografis dan posisi strategis wilayah sungai lintas negara, wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai strategis nasional, dikelola oleh pemerintah pusat. Wilayah sungai lintas kabupaten/kota, dikelola oleh pemerintah provinsi. Wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota dikelola oleh pemerintah kabupaten/kota. Sesuai dengan Permen PU dimaksud, Aceh memiliki 11 (sebelas) wilayah sungai, seperti pada tabel II.28. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-68
  • 87.
    TabelL II.28 Pengembangan Pengelolaan Wilayah Sungai (Ws) Di Aceh WILAYAH SUNGAI (WS) Pengelolaan Sumber Daya Air LINGKUP WS DI PROVINSI NAD Konservasi Pendayagunaan Peng.Daya Rusak (Penetapan dalam RTRWN) A. Pengelola: Pemeritah Pusat 1. WS Meureudu - Baro Strategis Nasional XX XX XX 2. WS Jambo Aye Strategis Nasional XX XX XX 3. WS Woyla -Seunagan Strategis Nasional XX XX XX 4. WS Tripa - Bateue Strategis Nasional XX XX XX 5. WS Alas - Singkil Lintas Provinsi NAD-Sumut XX XX XX (Penetapan dalam RTRW Aceh) B. Pengelola: Pemerintah Aceh 1. WS Krueng Aceh Lintas Kab./Kota XX XX XX 2. WS Pase - Peusangan Lintas Kab./Kota XX XX XX 3. WS Tamiang - Langsa Lintas Kab./Kota XX XX XX 4. WS Teunom - Lambesoi Lintas Kab./Kota XX XX XX 5. WS Krueng Baru - Kluet Lintas Kab./Kota XX XX XX C. Pengelola: Pemkab Simeulue 6. WS Pulau Simeulue Dalam Kabupaten Simeulue XX XX XX Sumber: RTRWN & Permen PU No.11A/PRT/M/2006. XX Catatan: = langkah/kegiatan yang direncanakan/ditetapkan. Aceh memiliki 408 (empat ratus delapan) daerah aliran sungai (DAS) dengan kondisi topografis daratan Aceh yang di bagian tengahnya membentang pengunungan bukit barisan, menyebabkan panjang sungai yang ada rata-rata relatif pendek sehingga ketika terjadi hujan lebat sering menyebabkan banjir dengan kecepatan aliran yang tinggi. Hal ini menyebabkan tingginya angkutan sedimen yang selanjutnya diendapkan di muara sungai membentuk delta dan menyebabkan penutupan muara. Pada beberapa muara sungai, endapan sedimen yang terjadi telah menyebabkan hambatan aliran banjir dan mengganggu lalu lintas kapal/perahu nelayan. Sungai-sungai yang muaranya sudah bermasalah antara lain: Krueng Aceh di Aceh Besar, Krueng Baro di Pidie dan Krueng Ulim di Kabupaten Pidie Jaya, Krueng Peudada di Kabupaten Bireuen, Krueng Idi di Kabupaten Aceh Timur, Krueng Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang, dan Krueng Meureubo di Kabupaten Aceh Barat, Krueng Seunagan di Kabupaten Nagan Raya, dan Krueng Singkil di Kabupaten Aceh Singkil. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-69
  • 88.
    Untuk mengatasi permasalahanmuara dilakukan dengan pengerukan dan pembangunan Jetty, dan hal ini telah dilakukan pada muara sungai Krueng Aceh dalam penanganan banjir kanal di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, serta di Krueng Idi Kabupaten Aceh Timur. Untuk penanganan wilayah sungai Lawe Alas Kabupaten Aceh Singkil yang merupakan sungai terpanjang di Aceh termasuk kategori sungai lintas provinsi dikelola oleh Pemerintah Pusat. Wilayah sungai Mereudu-Baro, Jambo Aye, Woyla- Seunagan dan Tripa-Batee, termasuk wilayah sungai strategis nasional yang juga dikelola Pemerintah Pusat. Selanjutnya wilayah sungai Krueng Aceh, Pase- Peusangan, Tamiang-Langsa, Teunom-Lambesoi, dan Krueng Baru-Kluet termasuk wilayah sungai lintas kabupaten/kota yang dikelola Pemerintah Provinsi. Wilayah sungai lain yang tidak termasuk ketiga kategori di atas, pengelolaannya menjadi tanggungjawab Pemerintah Kabupaten/Kota. Permasalahan sungai yang sangat krusial adalah banjir, erosi tebing, sedimentasi dan pendangkalan muara. Dari sungai-sungai yang bermasalah di Aceh, sampai saat ini telah dibangun prasarana banjir dan pengendalian sungai sepanjang 109.304 km. Berdasarkan potensi sumber daya air, wilayah sungai di Aceh dikelompokkan menjadi 3 (tiga) wilayah yaitu : 1). wilayah sungai Krueng Aceh hingga Tiro termasuk wilayah kering dengan curah hujan kurang dari 1.500 mm pertahun; 2). wilayah sungai Mereudu dan sepanjang pantai timur termasuk wilayah sedang dengan curah hujan 1.500-3.000 mm pertahun; dan 3). wilayah pantai barat termasuk wilayah basah dengan curah hujan 3.000-4.500 mm pertahun. b) Pengembangan Daerah Irigasi Potensi lahan pertanian yang tersedia seluas 849.275 ha terdiri dari sawah beririgasi, sawah tadah hujan, dan daerah rawa. Luas total areal sawah yang sudah beririgasi adalah 349.774 ha yang terdiri dari: 99.676 ha yang sudah berigasi teknis, 132.092 ha beririgasi semi teknis, dan 118.006 ha irigasi desa, Luas sawah tadah hujan adalah 54.746 ha. Sedangkan luas daerah rawa yang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-70
  • 89.
    berpotensi untuk dijadikansawah adalah 444.755 ha, yang terdiri dari; rawa lebak seluas 366.055 ha dan rawa pantai seluas 78.700 ha. Salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya air yang paling signifikan bagi pengembangan wilayah Aceh adalah pengembangan irigasi atau pengairan, yang mendukung pengembangan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Dengan lahirnya Undang–Undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, wewenang dan tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan daerah irigasi dibagi berdasarkan luasan daerah irigasi. Wewenang dan tanggungjawab pemerintah pusat pada wilayah irigasi yang luasnya lebih besar dari 3.000 ha, pemerintah provinsi pada luas 1.000 sampai dengan 3.000 ha dan pemerintah kabupaten untuk luas lebih kecil dari 1.000 ha. Secara garis besar untuk pengembangan Daerah Irigasi (DI) yang ditetapkan di atas mencakup: 1. Pemantapan: dalam arti dominan bersifat mempertahankan dan memelihara agar kualitas dan kuantitas yang terkandung di dalamnya tetap efektif memberikan pelayanan; 2. pengembangan: dalam arti dominan bersifat pengembangan atau perluasan dari yang sudah ada, revitalisasi yang sudah ada namun mengalami penurunan kualitas dan/atau kuantitas pelayanan, dan/atau pengembangan baru. Daerah Irigasi (DI) yang ditetapkan sesuai Keputusan Menteri PU No.390/KPTS/M/2007 adalah DI pada tingkat kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh sejumlah 56 DI, yang 12 DI di antaranya merupakan kewenangan Pemerintah Pusat dan 44 DI kewenangan Pemerintah Aceh, seperti pada tabel II.29. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-71
  • 90.
    TABEL II.29 Pengembangan Daerah Irigasi (Di) Di Aceh DI (Daerah Irigasi) Luas Baku (Ha) Kewenangan Lokasi: Kab./Kota Keterangan 1. DI Jambo Aye Langkahan 19.360,00 Pemerintan Pusat Aceh Utara, Aceh Timur Peningkatan 2. DI Kr.Jreue/Keuliling 8.077,00 Pemerintan Pusat Aceh Besar Pemantapan 3. DI Kr.Aceh/Leubok 7.884,00 Pemerintan Pusat Aceh Besar Pemantapan 4. DI Pante Lhong 6.562,00 Pemerintan Pusat Bireuen Peningkatan 5. DI Paya Nie 3.121,00 Pemerintan Pusat Bireuen Peningkatan 6. DI Alue Ubay 4.144,00 Pemerintan Pusat Aceh Utara Peningkatan 7. DI Krueng Pase 8.791,00 Pemerintan Pusat Aceh Utara Peningkatan 8. DI Datar Diana 3.200,00 Pemerintan Pusat Bener Meriah Peningkatan 9. DI Jeuram 12.446,00 Pemerintan Pusat Nagan Raya Pengembangan 10. DI Susoh 5.793,00 Pemerintan Pusat Aceh Barat Daya Peningkatan 11. DI Kutacane Lama 5.425,00 Pemerintan Pusat Aceh Tenggara Peningkatan 12. DI Baro Raya 19.118,00 Pemerintan Pusat Pidie Peningkatan 13. DI Samalanga 2.144,00 Pemerintah Aceh Bireuen, Pidie Jaya Peningkatan 14. DI Paya Ketengga/Alue Merbo 2.200,00 Pemerintah Aceh Langsa, Aceh Timur Peningkatan 15. DI Krueng Pandrah 1.203,00 Pemerintah Aceh Bireuen Peningkatan 16. DI Krueng Peudada 1.071,00 Pemerintah Aceh Bireuen Peningkatan 17. DI Krueng Nalan 1.750,00 Pemerintah Aceh Bireuen Peningkatan 18. DI Cubo/Trienggadeng 1.909,00 Pemerintah Aceh Pidie Jaya Peningkatan 19. DI Krueng Rajui 1.100,00 Pemerintah Aceh Pidie Peningkatan 20. DI Meureudu 1.729,00 Pemerintah Aceh Pidie Jaya Peningkatan 21. DI Jamuan 1.000,00 Pemerintah Aceh Aceh Utara Peningkatan 22. DI Krueng Tuan 2.226,00 Pemerintah Aceh Aceh Utara Peningkatan 23. DI Alue Tumeureu 2.500,00 Pemerintah Aceh Aceh Timur Peningkatan 24. DI Jambo Reuhat 2.625,00 Pemerintah Aceh Aceh Timur Peningkatan 25. DI Uteun Dama 1.300,00 Pemerintah Aceh Aceh Timur Peningkatan 26. DI Peunaron 1.550,00 Pemerintah Aceh Aceh Timur Peningkatan 27. DI Tanggulon 2.000,00 Pemerintah Aceh Aceh Tamiang Peningkatan 28. DI Paya Prang 2.600,00 Pemerintah Aceh Aceh Tamiang Peningkatan 29. DI Kermal 1.200,00 Pemerintah Aceh Aceh Tamiang Peningkatan 30. DI Bebesan Jamur Barat 2.000,00 Pemerintah Aceh Aceh Tengah Peningkatan 31. DI Pante Kuyun 1.557,00 Pemerintah Aceh Aceh Jaya Peningkatan 32. DI Ceurace 2.000,00 Pemerintah Aceh Aceh Jaya Pengembangan 33. DI Babah Nipah 2.000,00 Pemerintah Aceh Aceh Jaya Pengembangan 34. DI Patek 2.650,00 Pemerintah Aceh Aceh Jaya Pengembangan 35. DI Tanoh Anoi 2.500,00 Pemerintah Aceh Aceh Jaya Pengembangan 36. DI Lambesoi 2.000,00 Pemerintah Aceh Aceh Jaya Pengembangan 37. DI Sefuluh 1.000,00 Pemerintah Aceh Simeulue Pengembangan 38. DI Lafakha 1.085,00 Pemerintah Aceh Simeulue Pengembangan 39. DI Suak Lamatan 1.000,00 Pemerintah Aceh Simeulue Pengembangan 40. DI Alue Limeng 2.980,00 Pemerintah Aceh Aceh Barat Daya Pengembangan 41. DI Babah Rote 1.550,00 Pemerintah Aceh Aceh Barat Daya Pengembangan 42. DI Manggeng 1.604,00 Pemerintah Aceh Aceh Barat Daya Pengembangan 43. DI Gunung Pudung 2.250,00 Pemerintah Aceh Aceh Selatan Pengembangan 44. DI Paya Dapur 2.390,00 Pemerintah Aceh Aceh Selatan Pengembangan 45. DI Jambo Dalem 1.000,00 Pemerintah Aceh Aceh Selatan Pengembangan 46. DI Ujung Tanoh 1.000,00 Pemerintah Aceh Aceh Selatan Pengembangan 47. DI Trumon 2.000,00 Pemerintah Aceh Aceh Selatan Pengembangan 48. DI Beutong 1.100,00 Pemerintah Aceh Aceh Selatan Pengembangan 49. DI Kutacane Lama Atas 1.144,00 Pemerintah Aceh Aceh Tenggara Peningkatan 50. DI Lawe Bulan 1.050,00 Pemerintah Aceh Aceh Tenggara Peningkatan 51. DI Lawe Kinga/Maha Singkil 1.595,00 Pemerintah Aceh Aceh Tenggara Peningkatan 52. DI Terumtung Pedi 1.500,00 Pemerintah Aceh Aceh Tenggara Peningkatan 53. DI Siluk-luk 1.710,00 Pemerintah Aceh Aceh Tenggara Peningkatan 54. DI Kuta Tinggi 1.200,00 Pemerintah Aceh Aceh Tenggara Peningkatan 55. DI Weih Sejuk 2.175,00 Pemerintah Aceh Gayo Lues Pengembangan 56. DI Weih Tillis 2.500,00 Pemerintah Aceh Gayo Lues Pengembangan Sumber: KepMen PU No.390/KPTS/M/2007. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-72
  • 91.
    c) Pengembangan Wadukdan Bendungan Dengan kondisi topografi yang berupa pegunungan dan bukit-bukit, Aceh mempunyai beberapa lokasi yang sangat berpotensi untuk di bangun waduk dan embung. Sampai tahun 2010 telah dibangun 5 buah embung dan 1 buah waduk. Salah satu lokasi yang sangat prospektif untuk dibangun waduk adalah di daerah hulu DAS Jambo Aye di Kabupaten Aceh Utara. Berdasarkan hasil studi kelayakan yang dilakukan oleh konsultan Rendel Williamson Hydro, Randel Parkman serta Kennedy & Donkin, pada lokasi tersebut mempunyai kapasitas tampungan waduk sebesar 4.170.000.000 m3 yang dapat digunakan untuk keperluan irigasi, air minum, perkotaan dan pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas terpasang 160 Mega Watt. Disamping itu terdapat juga potensi–potensi waduk yang penting seperti Rukoh di Kabupaten Pidie dengan kapasitas tampungan 142.473.000 m3 yang dapat mengatasi masalah kekurangan air di Daerah Irigasi Baro Raya seluas 19.280 ha, dan Waduk Keumuning di Langsa untuk mengatasi banjir dan air minum. Pemanfaatan waduk tersebut sebagian besar memang untuk mendukung prasarana irigasi, namun ada sejumlah waduk dengan pemanfaatan lainnya yaitu sumber air baku untuk air bersih dan pembangkit tenaga listrik. Tabel di bawah ini merupakan daftar waduk di wilayah Aceh yang akan ditingkatkan dan dikembangkan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-73
  • 92.
    Tabel II.30 Pengembangan Waduk Di Wilayah Aceh Sumber Air Kabupaten/Kota No. Waduk/Bendungan Pemanfaatan Besaran (DI/Daerah Irigasi) (Kecamatan) 1. Waduk Keuliling Alue Keuliling Aceh Besar Irigasi 1.631,2 Ha (DI Kr. Jreue/Keuliling) (Kec.Kuta Cot Glie) 2. Embung Lambadeuk Alue Lambadeuk Aceh Besar Air Bersih & t.a (DI Krueng Aceh) (Kec.Peukan Bada) Irigasi t.a 3. Waduk Leubok Krueng Leubok Aceh Besar Irigasi 515 Ha (DI Kr. Aceh/Leubok) (Kec.Montasik) 4. Waduk Rajui Krueng Rajui Pidie Irigasi 1.000 Ha (DI Krueng Rajui) (Kec.Padang Tiji) 5. Waduk Rukoh Krueng Rukoh Pidie Irigasi (Suplesi 6.920 Ha (DI Baro Raya) (Kec. Seruway) DI Baro Raya) 6. Waduk Tiro Krueng Tiro Pidie Irigasi 6.330 Ha (DI Baro Raya) (Kec. Tiro Truseb) 7. Bendung Karet Krueng Peusangan Bireuen Irigasi t.a Krueng Peusangan 8. Bendungan Jambo Aye Kr.Jambo Aye & Kr.Rubek Aceh Utara Irigasi 10.000 Ha (DI Jambo Aye/Langkahan) (Kec. Langkahan) Listrik 160 MW 9. Waduk Langsa Krueng Langsa Aceh Timur t.a 10. Waduk Rimo Lae Pengecilan Aceh Singkil Irigasi 750 Ha (Kec. Rimo) Air Bersih 2.071 KK 11. Waduk Sianjo-anjo Sungai Sianjo-anjo Aceh Singkil Irigasi 850 Ha (Kec.Simpang Kanan) Air Bersih 865 KK 12. Waduk Paya Seunara Ekosistem Rawa Sabang Air Bersih t.a (Kec. Suka Karya) Sumber: Dep PU Ditjen SDA Satker Balai WSS-I Keg.Pengembangan Air Baku NAD. Catatan: t.a = tidak/belum ada data. d) Pengamanan Pantai Aceh mempunyai garis pantai sepanjang 2.422 km yang terdiri dari: garis pantai Aceh daratan sepanjang 1.660 km, Aceh kepulauan sepanjang 762 km terdiri Pulau Sabang sepanjang 62 km, dan Pulau Simeulue sepanjang 700 km. Dari total panjang garis pantai tersebut yang rawan mengalami kerusakan akibat abrasi sekitar 400 km. Sejak tahun 2005 sampai dengan 2009 telah dibangun prasarana pengaman pantai sepanjang 30,797 km dan tanggul pengaman air pasang yang membatasi daerah tambak dan permukiman sepanjang 24,625 km. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-74
  • 93.
    2.6.2 Bina Marga dan Cipta Karya Sistem jaringan jalan yang tersedia di Aceh sepanjang 18.943,08 km. yang terdiri dari jalan nasional sepanjang 1.782,78 km, jalan Provinsi sepanjang 1.701,82 km dan jalan kabupaten sepanjang 10.426,56 km. Kondisinya sampai saat ini adalah, kondisi mantap jalan nasional adalah 86,18 persen dengan panjang 1.345,24 km dalam kondisi baik, 191,24 km kondisi sedang, 239,30 kondisi rusak berat, dan 7 km belum tembus. Untuk kondisi mantap jalan provinsi sebesar 65,90 persen dengan panjang 637 kondisi mantap, 484,13 kondisi sedang, 560,30 kondisi rusak berat, dan 20 km belum tembus. Sementara kondisi perkerasan sampai dengan saat ini jalan nasional dengan pengerasan aspal sebesar 91,75 persen, pengerasan kerikil 3,81 persen dan jalan tanah 4,47 persen. Sedangan jalan provinsi sampai dengan saat ini dengan pengerasan aspal sebesar 49,91 persen, pengerasan kerikil 35,95 persen dan jalan tanah 14,14 persen. Penyebaran jaringan jalan di Aceh terdiri dari lintas Timur, lintas Tengah, lintas Barat, feeder road, jalan perkotaan, dan jalan di kepulauan. Sampai dengan saat ini kemampuan Pemerintah untuk meningkatkan jenis konstruksi jalan relatif sangat kecil, dibawah 10 persen dari total panjang jalan. Penanganan jalan banyak bertumpu pada perbaikan-perbaikan untuk mempertahankan kondisi jalan. Jumlah jembatan pada lintasan jalan nasional sebanyak 794 buah dengan total panjang 20.393 m. Dari jumlah tersebut sebanyak 660 buah atau sepanjang 16.497 m (80,90 persen) telah dibangun baru (diganti), sedangkan 134 buah lagi yang setara dengan 3.895,90 m atau 19,10 persen belum diganti masih merupakan jembatan lama. Pada ruas jalan provinsi terdapat 638 buah jembatan dengan total panjang 14.137,00 m. Diantaranya 399 buah telah dibangun baru sepanjang 5.971,70 m atau 42,24 persen. Sedangkan sisanya 239 buah atau 8.165,30 m atau 57,76 persen masih menunggu penggantian. Penggantian diperlukan terutama karena lebar jembatan yang belum mencukupi, serta kondisinya sendiri sudah tidak mantap lagi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-75
  • 94.
    Untuk menghadapi tingkatpertumbuhan kendaraan yang cukup tinggi dan mendukung aktivitas sosial ekonomi masyarakat diharapkan kedepan dilakukan pembangunan jalan high way dua jalur lintas Timur dengan lebar daerah penguasaan jalan (Road Of Way/ROW) minimal 100 meter. Pembangunan perkotaan pada umumnya berkembang pesat dan berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat yang dilengkapi dengan berbagai prasarana dan sarana, baik pelayanan primer maupun sekunder. Kondisi itu menyebabkan meningkatnya hasrat perpindahan penduduk dari desa ke kota. Perpindahan itu menyebabkan pertambahan penduduk melebihi daya tampung kota serta melebihi kemampuan pemerintah untuk menyediakan prasarana dan sarana perkotaan. Kemudian tumbuhlah kawasan-kawasan kumuh dan tidak sesuai lagi dengan aturan lingkungan permukiman yang sehat. Kondisi tersebut diatas dapat dilihat dari segi penataan bangunan, penempatan jalan dan fasilitas umum lainnya cenderung memanfaatkan tanah kosong tanpa mempertimbangkan aksesibilitas dan manfaatnya, sehingga kondisi sanitasi yang tidak memenuhi syarat dengan utilitas yang buruk dan mencerminkan tata kehidupan yang kurang sehat dan tidak nyaman. Pada kawasan perkotaan masih ditemui genangan air akibat hujan seluas ± 410 ha dengan frekuensi 2 sampai dengan 4 kali setahun, untuk itu diperlukan jaringan drainase yang baik agar genangan segera dapat dialirkan ke badan air terdekat. Ditambah lagi akibat gempa dan tsunami terjadi penurunan permukaan tanah, sehingga semakin luasnya daerah genangan pada beberapa kawasan. Data pembangunan prasarana air bersih telah ada di 23 kabupaten/kota dengan kapasitas terpasang saat ini 4.451,5 lt/dt yang terdiri dari prasarana dan sarana air bersih perkotaan kapasitas 2.582 lt/dt dengan jumlah unit terbangun 55 unit. Prasarana dan sarana air bersih ibu kota kecamatan (IKK) kapasitas 849 lt/dt dengan jumlah unit terbangun 92 unit IKK dan prasarana dan sarana air bersih perdesaan kapasitas 1020,5 lt/dt dengan jumlah unit terbangun 310 unit. Prasarana dan sarana air bersih yang beroperasi 2.553,3 lt/dt, terdiri atas air bersih perkotaan 1.947 lt/dt, air bersih ibukota kecamatan (IKK) 478 lt/dt dan air bersih perdesaan 128,3 lt/dt. Prasarana dan sarana air bersih yang tidak Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-76
  • 95.
    beroperasi (dalam kondisirusak) 583 lt/dt terdiri atas air bersih perkotaan 355 lt/dt, air bersih ibukota kecamatan (IKK) 156 lt/dt dan air bersih pedesaan 67 lt/dt. Instalasi air bersih perkotaan yang belum beroperasi 150 lt/dt. Sementatra itu prasarana dan sarana air bersih dalam tahap pembangunan 170 lt/dt terdiri dari air bersih perkotaan 120 lt/dt dan air bersih ibukota kecamatan (IKK) 50 lt/dt, disamping itu, 1000,2 lt/dt tidak diketahui operasionalnya yang terdiri dari air bersih perkotaan 10 lt/dt, air bersih ibukota kecamatan (IKK) 165 lt/dt dan pedesaan 852 lt/dt. Dengan kapasitas yang terpasang dan seluruh unit terbangun berfungsi, diharapkan mampu melayani 2.124.249 jiwa atau 52,5 persen dari jumlah penduduk, dimana daerah perkotaan mampu terlayani 79,6 persen, daerah kecamatan mampu terlayani 51,6 persen dan pedesaan mampu terlayani 70,6 persen sesuai denngan cakupan daerah pelayanan. Namun target tersebut tidak akan tercapai, hal ini disebabkan tingginya tingkat kebocoran /kehilangan air fisik mencapai lebih dari 60 persen dari jumlah produksi, manajemen pengelolaan sistem penyediaan air minum di Provinsi Aceh masih buruk dan rendahnya sumber daya manusia yang ada saat ini. Khususnya tingkat pelayanan air bersih di perkotaan baru mencapai 27,4 persen. Sedangkan target MDGs sampai tahun 2015 mencapai 80 persen penduduk perkotaan dan 60 persen penduduk pedesaan. Jumlah pengelola air minum di Aceh masih sangat terbatas, belum semua kabupaen/kota memiliki perusahaan air minum. Tahun 2009 jumlah PDAM di Aceh baru 14 buah, jumlah ini masih sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat baik di pedesaan atau perkotaan dengan kapasitas terpasang saat ini adalah 4,451,5 lt/dtk. Untuk menangani limbah rumah tangga khususnya limbah manusia, telah dibangun Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di 6 kabupaten/kota, namun yang beroperasi hanya di 3 kabupaten/kota, yaitu Kota Banda Aceh, Lhokseumawe dan Kabupaten Bireuen. Persentase pelayanan masih sangat rendah dan diharapkan pada tahun 2015, IPLT telah tersedia di 15 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-77
  • 96.
    kabupaten/kota lainnya sehinggadapat melayani 60 persen limbah penduduk di perkotaan. Penanganan persampahan masih dalam batas kawasan komersil, tempat fasilitas umum di perkotaan dengan tingkat pelayanan masih 25 persen. Melalui Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, Pemerintah Aceh telah menyalurkan bantuan peralatan berupa Tempat Pembuangan Sementara (TPS), container, armroll truck, truck sampah, transfer dipo, gerobak sampah dan bulldozer. Pada tahun 2015, diharapkan semua kabupaten/kota telah menyediakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, sehingga 60 persen sampah di perkotaan dapat teratasi. Penyediaan perumahan kepada korban konflik masih juga menjadi perhatian karena dari total 26.751 unit rumah terbakar, telah dibangun kembali melalui dana reintegrasi Aceh, sedangkan rumah penduduk miskin baru tertangani sebanyak 15.670 unit dari jumlah kebutuhan 236.461 unit di seluruh Aceh. Pada kawasan terisolir dan perbatasan masih ditemui adanya desa-desa tertinggal yang belum bebas dari keterisolasian, keterbelakangan baik secara ekonomi, pendidikan, kesehatan lingkungan maupun sosial budaya. Untuk itu Pemerintah Aceh akan mengusahakan pelaksanaannya melalui pembangunan, perbaikan, pemugaran, peremajaan serta pengelolaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana secara terpadu dan berkelanjutan. Bidang tata ruang ditujukan untuk menata kembali struktur ruang, pola ruang yang didasarkan pada rencana tata ruang nasional sebagai dasar pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Implementasi pembangunan Aceh kedepan menerapkan prinsip Aceh Green yang berorientasi pada ekonomi lingkungan yang mengutamakan keseimbangan antar aspek dan pertimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan dengan pembangunan antar dan intra generasi. 2.6.3 Perhubungan Transportasi, pos dan telekomunikasi, informasi dan Telematika merupakan urat nadi perekonomian Aceh, dan keberadaannya sangat diharapkan oleh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-78
  • 97.
    masyarakat. Guna mendukungperekonomian yang lebih baik, membuka keterisolasian dan keterbelakangan daerah diperlukan pembangunan dan peningkatan transportasi dan telekomunikasi. Dalam perencanaan pembangunan sarana dan prasarana tranportasi, pos dan telekomunikasi, kita tidak hanya melihat berdasarkan keinginan dari suatu daerah tetapi juga harus dilihat dari segi kebutuhan dan pemanfaatannya serta pengembangan lebih lanjut. Prasarana yang diinginkan berdasarkan sistem transportasi wilayah dan keterpaduan berbagai Moda yang ada, baik intermoda maupun antarmoda sehingga pola pergerakan penumpang dan barang menjadi efektif dan efisien. 2.6.3.1 Transportasi Darat a) Angkutan Jalan Raya Jaringan jalan di Aceh meliputi lintas pantai Utara-Timur, lintas pantai Barat- Selatan, lintas tengah dan feeder road yang menghubungkan seluruh daerah pedalaman Aceh. Akibat terjadinya gempa bumi dan gelombang tsunami 26 Desember 2004 sebagian besar jalan lintas Barat–Selatan, mulai dari perbatasan Banda Aceh menuju Aceh Besar, Aceh Jaya dan Aceh Barat mengalami rusak atau terkelupas termasuk hancurnya jembatan serta fasilitas keselamatan lalu lintas jalan. Diharapkan semua sarana dan prasarana termasuk fasilitas keselamatan angkutan jalan raya baik di jalan kabupaten, jalan provinsi maupun jalan nasional dalam kondisi mantap, sehingga dapat memberikan kondisi yang aman, nyaman, efektif dan efisien kepada masyarakat pengguna jalan. Demikian juga dengan ketersediaan terminal AKAP/AKDP yang representatif dan jumlah bus angkutan yang memadai. Pembangunan jalan beserta fasilitas pendukung seperti pembangunan fasilitas keselamatan untuk jalan-jalan Nasional berupa rambu, marka, traffic light, delineator, guardrail, juga pembangunan beberapa terminal, keselamatan dan sarana pendukung lainnya dapat didanai melalui APBA, APBN atau sumber lainnya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-79
  • 98.
    b) Angkutan Perairan Daratan Angkutan perairan daratan saat ini kondisinya sudah memadai, banyak daerah-daerah yang dihubungkan aliran sungai dan tidak terjangkau oleh angkutan jalan raya namun dengan tersedianya angkutan sungai sudah dapat terpenuhi sarana i dan Simpang Kanan di Kabupaten Aceh Singkil serta aliran sungai Krueng Meureuangkutan seperti sungai Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang, aliran sungai Simpang Kirbo dan Suak Seumaseh di Kabupaten Aceh Barat. Sarana dan prasarana angkutan perairan darat perlu menjadi perhatian pemerintah, hal ini dikarenakan fasilitas yang tersedia hanya alat angkut milik masyarakat yang kurang memenuhi standar keselamatan. Demkian juga halnya dengan angkutan danau terutama Danau Laut Tawar di Aceh Tengah, fasilitas yang tersedia belum memadai. c) Angkutan Penyeberangan Kondisi prasarana angkutan penyeberangan yang telah dibangun sebagian telah hancur akibat gempa dan tsunami serta penurunan permukaan tanah yang mengakibatkan permukaan dermaga ikut turun sehingga tinggi muka air tidak sesuai lagi dengan kapal yang beroperasi. Gambaran umum terhadap kondisi eksisting untuk beberapa infrastruktur pelabuhan penyeberangan di Aceh sebagai berikut : 1. Pelabuhan Ulee Lheue–Banda Aceh dibangun pada tahun 2000, kapasitas dermaga 2.000 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 5 m LWS, pasca gempa dan tsunami mengalami kerusakan berat (hancur total) baik fasilitas sisi darat maupun fasilitas sisi laut. Pemerintah Australia melalui UNDP telah membantu memfungsikan kembali pelabuhan penyeberangan tersebut untuk melayani penyeberangan rute Banda Aceh-Balohan dan Banda Aceh-Pulau Aceh. 2. Pelabuhan Penyeberangan Balohan-Sabang dibangun pada tahun 2001, kapasitas dermaga 1.500 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 4 m LWS, pasca gempa dan tsunami mengalami kerusakan pada beberapa fasilitas sisi laut Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-80
  • 99.
    (Breasting Dolphin rusakberat, dermaga ponton kapal cepat rusak ringan) dan sisi darat (terminal rusak ringan, gangway rusak berat, talud rusak berat, pagar rusak berat, lapangan parkir dan jalan rusak ringan). Pembangunan kembali kerusakan tersebut telah diperbaiki melalui dana BRR Aceh-Nias dan juga melalui APBN dan APBA. 3. Pelabuhan Penyeberangan Lamteng, Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar yang dibangun pada tahun 2002, kapasitas dermaga 600 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 4 - 5 m LWS, pasca gempa dan tsunami hanya mengalami kerusakan ringan pada talud, saat ini Pelabuhan tersebut telah berfungsi kembali melayani rute penyeberangan Pulau Aceh - Banda Aceh dan Pulau Aceh - Balohan (Sabang). 4. Pelabuhan Penyeberangan Meulaboh - Aceh Barat dibangun pada tahun 1981, kapasitas dermaga 500 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 4 m LWS, pasca gempa dan tsunami mengalami kerusakan berat (hancur total) baik pada fasilitas sisi darat maupun fasilitas sisi laut. Sampai dengan saat ini belum dibangun kembali. 5. Pelabuhan Penyeberangan Labuhan Haji - Aceh Selatan dibangun pada tahun 1992, kapasitas dermaga 1.500 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 6 m LWS, pasca gempa dan tsunami masih bisa berfungsi meskipun mengalami kerusakan ringan pada fasilitas darat (gedung terminal rusak ringan, talud causeway rusak ringan, pos tiket rusak berat, pagar rusak total, lapangan parkir dan jalan lingkungan pelabuhan rusak berat) yang digunakan untuk penyeberangan Labuhan Haji - Sinabang Kabupaten Simeulue, pada saat ini telah beroperasi kembali secara normal. 6. Pelabuhan Penyeberangan Sinabang dibangun pada tahun 1982, kapasitas dermaga 500 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 6 m LWS, pasca gempa dan tsunami tidak bisa berfungsi secara normal, banyak fasilitas yang mengalami kerusakan pada fasilitas darat (gedung terminal rusak total, lapangan parkir rusak berat, talud rusak berat, pagar rusak ringan, jalan pelabuhan rusak berat), catwalk & breasting dolphin rusak berat (sisi laut), sehingga diperlukan review design dan telah dilakukan feasibility study untuk relokasi ke lokasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-81
  • 100.
    baru di lokasiTeluk Kolok sekitar ± 6 km dari kota Sinabang saat ini dalam tahap pelaksanaan. 7. Pelabuhan Penyeberangan Singkil dibangun pada tahun 2002, kapasitas dermaga 600 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 5 m LWS, pasca gempa dan tsunami tidak bisa berfungsi secara normal. yang mengalami kerusakan pada fasilitas darat (Gedung terminal rusak berat, parkir rusak berat, Talud causeway-pagar rusak total, jalan rusak berat), catwalk-blok beton-breasting dan mooring dolphin rusak berat (sisi laut). Pasca gempa 28 Maret 2005 tidak layak untuk digunakan lagi sehingga perlu direlokasi ke tempat lain, sehingga diperlukan review design dan telah dilakukan feasibility study untuk relokasi ke lokasi baru di Pulau Sarok sekitar ± 200 m dari lokasi lama, namun sampai saat ini belum dibangun. 8. Pulau Banyak - Aceh Singkil pelabuhan penyeberangan yang dibangun pada tahun 2002, kapasitas dermaga 600 GRT, kedalaman kolam pelabuhan 5 m LWS, akibat gempa dan tsunami mengalami kerusakan terutama pada fasilitas darat (Gedung terminal rusak ringan, Talud causeway rusak berat, pos tiket rusak berat, jalan lingkungan pelabuhan rusak ringan). Pelabuhan yang melayani penyeberangan rute Pulau Banyak - Singkil dan Pulau Banyak - Sinabang (Simeulue) saat ini telah beroperasi kembali secara normal. 2.6.3.2 Angkutan Jalan Rel (Prasarana Kereta Api Aceh) Angkutan dengan menggunakan sarana kereta api pernah beroperasi di Aceh menyusuri pantai Timur - Utara dari Banda Aceh ke Sumatera Utara, operasional ini terhenti sejak 1974. Pemerintah Aceh saat ini telah berupaya untuk menghidupkan kembali prasarana kereta api Aceh dengan membangun jalan rel mulai Banda Aceh sampai menyambung dengan Sumatra Utara. Standarisasi rel yang digunakan kelas I dengan lebar spoor 1.435 mm dengan kecepatan rencana 120 Km/ jam dan radius lengkung minimum 800 m, tekanan gandar maksimum 18 ton. Panjang total keseluruhan dari Banda Aceh - Medan 586 km (484 km berada di Pemerintah Aceh). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-82
  • 101.
    Dalam perencanaan iniditetapkan adanya keterpaduan antarmoda rel dengan angkutan laut, jalan rel yang di bangun akan menghubungkan pelabuhan Kuala Langsa dan pelabuhan Krueng Geukeuh. Untuk lintasan baru yang dibangun bila membutuhkan lahan maka tanggung jawab pembiayaan pembebasan lahan adalah 25% masing-masing ditanggung oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota yang dilintasi serta sisanya oleh pemerintah pusat. Survey/studi kelayakan telah dilakukan oleh konsultan SNCF dari Perancis, hasil studi tersebut sudah ditindaklanjuti dengan detail engenering design (DED). Sesuai dengan rencana, pembangunan fisik dimulai secara bertahap mulai tahun 2007. Sampai dengan tahun 2008 rel kereta api baru terbangun sepanjang + 22 km mulai dari Simpang Krueng Mane hingga Cunda, tahun 2009 pelaksanaan pembangunan lebih dititikberatkan pada fasilitas pendukung dan pelengkap lainnya, diharapkan pada akhir tahun 2010 dapat dioperasionalkan. 2.6.3.3 Transportasi Laut Aceh sebagian besar wilayahnya berbatasan dengan perairan maka transportasi laut memegang peranan penting dalam rangka peningkatan perekonomian. Pada saat ini Aceh memiliki 10 Pelabuhan Laut/ Samudera baik dengan status diusahakan maupun tidak diusahakan, terdapat 4 (empat) Pelabuhan Laut yang diusahakan/dikelola oleh PT. Pelindo-I yaitu: di pantai Timur terdapat, Pelabuhan Malahayati - Aceh Besar, Pelabuhan Krueng Geukueh - Lhokseumawe dan Pelabuhan Kuala Langsa - Langsa dan di pantai barat Pelabuhan Umum Meulaboh - Aceh Barat. Pelabuhan Laut yang tidak diusahakan/dikelola oleh administrasi pelayaran (adpel), kantor pelayaran (kanpel), Departemen perhubungan (Dephub) adalah Pelabuhan Calang, Pelabuhan Susoh, Pelabuhan Tapaktuan, Pelabuhan Sinabang dan Pelabuhan Singkil. Sedangkan pelabuhan bebas Sabang di kelola oleh Pemerintah Aceh. Gambaran umum terhadap kondisi eksisting beberapa infrastruktur pelabuhan laut sebagai berikut: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-83
  • 102.
    1. Pelabuhan Sabang yang dibangun kembali pada tahun 1991, kapasitas sandar 10.000 DWT, dermaga (180 x 25) m, kedalaman kolam pelabuhan melebihi 15 m LWS, pasca gempa dan tsunami masih bisa berfungsi secara normal, namun masih ada beberapa fasilitas yang mengalami kerusakan seperti pagar dan gudang. Diharapkan untuk masa yang akan datang Pelabuhan Sabang menjadi Hub Internasional untuk Indonesia wilayah barat. Saat ini dengan menggunakan dana APBN melalui BPKS sedang diperluas dermaga dengan menutup bagian kolam antar trestle sehingga bisa lebih memudahkan operasional bongkar muat kontainer. 2. Pelabuhan Malahayati - Aceh Besar dibangun kembali pada tahun 1976, kapasitas sandar 5.000 DWT, dermaga (100 x 15) m, kedalaman kolam 6 m LWS, pasca gempa dan tsunami masih bisa berfungsi meskipun tidak normal, terdapat fasilitas yang mengalami kerusakan berat yaitu gedung terminal, gudang tertutup, kantor operasional, pagar hancur total dan lapangan penumpukan. Pembanguan kembali fasilitas yang rusak telah dilakukan oleh pemerintah pusat dan Pemerintah Belanda berupa trestle pelabuhan tersebut sepanjang (140 x 25) m dan fasilitas lainnya. 3. Pelabuhan Calang - Aceh Jaya dibangun kembali pada tahun 1977, kedalaman kolam pelabuhan di teluk Calang cukup memungkinkan dibangun suatu pelabuhan laut yang besar dan mampu disandari oleh kapal dengan bobot mati diatas 10.000 DWT. Pelabuhan Calang direncanakan menjadi pelabuhan besar yang representatif untuk pantai Barat - Selatan Aceh. DED untuk pelabuhan ini telah selesai dibuat dengan bantuan dana dari UNDP. Target sampai dengan desember 2010 adalah selesainya pembuatan dermaga untuk sandar kapal penumpang ro-ro, sedangkan untuk pembuatan dermaga kapal barang akan dikerjakan pada tahun 2011. 4. Pelabuhan Meulaboh memiliki dermaga beton 50 M X 8 M, kedalaman kolam pelabuhan 2 - 4 m LWS, dan hanya dapat disandari oleh kapal sampai 2.000 DWT. Pasca Tsunami kedalaman kolam semakin dangkal dan beberapa tiang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-84
  • 103.
    penyangga dermaga yangpatah, sehingga belum bisa disandari oleh kapal karena kolam pelabuhan yang terlalu dangkal. Kapal besar yang akan masuk ke pelabuhan terpaksa lego jangkar di lepas pantai Meulaboh jauh dari dermaga pelabuhan laut yang ada sekarang. Saat ini palang merah singapura telah selesai membangun sebuah pelabuhan laut di lokasi baru dengan panjang 92 M x 25 M, dan sudah dioperasionalkan. Namun demikian masih banyak fasilitas penunjang operasional lainnya yang belum tersedia seperti instalasi listrik, air bersih, gedung operasional, gudang, lapangan penumpukan dan lain-lain. 5. Pelabuhan Susoh - Aceh Barat Daya dibangun tahun 2004 termasuk pelabuhan laut dengan status tidak diusahakan, memiliki dermaga finger beton 35 m x 10 m, kedalaman kolam pelabuhan 4-6 m LWS. Pasca tsunami kondisi dermaga masih baik, hanya talud dan gedung kantor pelabuhan dan gudang mengalami rusak ringan. Pelabuhan ini merupakan satu-satunya pintu masuk jalur laut yang ada di Kabupaten Aceh Barat Daya. 6. Pelabuhan Sinabang-Simeulue dibangun tahun 1997, dermaga beton (70 x 8) m, kedalaman kolam 6 - 8 m LWS, mampu disandari oleh kapal 5.000 DWT. Pasca gempa dan tsunami sarana dan prasarana pelabuhan mengalami rusak berat seperti trestel kapal cepat (dermaga lama) hancur/runtuh. Melalui BRR Aceh-Nias telah dilakukan perbaikan, namun pada saat gempa bumi pada bulan April 2010 kembali terjadi kerusakan pada sisi darat sehingga pelabuhan tidak bisa berfungsi secara normal dan masih perlu dilakukan perbaikan. 7. Pelabuhan Tapaktuan dibangun tahun 1992 termasuk pelabuhan dengan status tidak diusahakan, memiliki dermaga beton (50 x 8) m, kedalaman kolam pelabuhan 6-7 m LWS. Dermaganya mampu disandari oleh kapal dengan bobot mati 3.000 DWT. Pasca tsunami pelabuhan Tapaktuan mengalami rusak ringan sehingga perlu dilakukan rehabilitasi untuk mengembalikan kepada fungsi normal dalam melayani transportasi laut di daerah ini dan masih banyak fasilitas penunjang yang perlu dibenahi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-85
  • 104.
    Operasional pelabuhan masihbisa berjalan meskipun tidak begitu normal. Telah dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi pelabuhan ini dengan membangun dermaga tambahan dan beberapa fasilitas penunjang operasional lainnya seperti gudang, kantor operasional, lapangan penumpukan dan lain- lain dan telah dapat difungsikan untuk melayani kapal dengan bobot mati sampai 5.000 DWT. 8. Pelabuhan Singkil - Aceh Singkil dibangun tahun 1995, dermaga beton (50 x 8) m, kedalaman kolam 4 - 6 m LWS, mampu disandari oleh kapal 4.000 DWT. Kerusakan yang terjadi akibat gempa dan tsunami tanggal 26 Desember 2004 tergolong tidak terlalu berat, namun musibah gempa tanggal 28 Maret 2005 sebesar 8,2 SR mengakibatkan kerusakan yang cukup signifikan, kondisi permukaan tanah umumnya di Singkil mengalami penurunan 1 - 1,5 m, sehingga pelabuhan terendam dengan air seperti jalan masuk, kantor operasional dan gudang tertutup. Untuk itu diperlukan penanganan segera terhadap fasilitas yang rusak agar berfungsi kembali. Perbaikan jalan masuk menuju pelabuhan sepanjang ±700 m telah dilakukan melalui dana BRR. Untuk rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas sisi laut dan sisi darat pelabuhan laut, akan dilakukan dengan mengacu kepada hasil study berupa Review Desain pelabuhan ini yang telah selesai dilaksanakan pada tahun 2006. 9. Pelabuhan Krueng Geukueh-Lhokseumawe dibangun tahun 1986 termasuk pelabuhan dengan status diusahakan, memiliki dermaga beton (268 x 25) m, kedalaman kolam pelabuhan 10 m LWS dan mampu disandari oleh kapal dengan bobot mati 20.000 DWT. Pasca tsunami pelabuhan Lhokseumawe mengalami rusak ringan dan telah dilakukan rehabilitasi dan masih ada fasilitas penunjang yang perlu dibenahi. Pelabuhan ini menjadi pintu masuk untuk pantai timur Aceh. 10. Pelabuhan Kuala Langsa-Kota Langsa dibangun tahun 1987 termasuk pelabuhan dengan status diusahakan oleh PT. Pelindo I, memiliki dermaga beton (75 x 15) m, kedalaman kolam pelabuhan 7 m LWS mampu disandari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-86
  • 105.
    oleh kapal denganbobot mati 6.000 DWT. Pasca tsunami pelabuhan Kuala Langsa relatif tidak mengalami kerusakan yang berarti sehingga operasionalnya masih bisa berjalan secara normal. Namun masih banyak fasilitas penunjang yang perlu dibenahi. Pelabuhan ini dipersiapkan untuk menjadi pelabuhan dengan skala regional dan menjadi salah satu pintu masuk untuk pantai Timur Aceh. Selain pelabuhan laut baik yang diusahakan dan tidak diusahakan, di Aceh juga terdapat beberapa Pelabuhan Rakyat (Pelra) yang umumnya mengalami kerusakan baik ringan maupun berat dan hancur total seperti Pelra Kuala Bakti yang perlu dilakukan review design, sedangkan yang rusak ringan dan rusak berat perlu dilakukan rehabilitasi segera supaya bisa kembali berfungsi secara normal untuk melayani transportasi masyarakat khususnya pasca musibah gempa dan tsunami. Diantara pelabuhan rakyat tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pelabuhan Rakyat Pulau Banyak-Aceh Singkil 2. Pelabuhan Rakyat Kuala Idi-Aceh Timur 3. Pelabuhan Rakyat Kuala Tari-Pidie 4. Pelabuhan Rakyat Kuala Bakti-Simeulue 5. Pelabuhan Rakyat Sibigo-Simeulue 6. Pelabuhan Rakyat Sibadeh-Aceh Selatan Untuk kelancaran transportasi laut diharapkan semua sarana dan prasarana telah dibangun/dikembangkan untuk semua pelabuhan baik pelabuhan laut maupun pelabuhan rakyat (pelra). Terbangunnya fasilitas untuk sisi darat seperti gedung terminal, kantor operasional, peralatan bongkar muat, dan sebagainya. Demikian juga untuk fasilitas sisi laut seperti dermaga, trestle, fasilitas navigasi (fasilitas keselamatan pelayaran seperti rambu suar dll) juga harus sudah memadai sesuai dengan hirarki dan master plan yang sedang dibuat saat ini. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-87
  • 106.
    2.6.3.4 Transportasi Udara Fasilitas pelayanan transportasi udara tersebar di beberapa lokasi di wilayah Aceh baik bandara umum (komersil dan perintis) maupun bandara khusus sebagai berikut: a. Bandara umum/perintis, yaitu bandara yang melayani penerbangan umum/perintis, seperti Bandara Sultan Iskandar Muda - Banda Aceh (bandara komersil), Bandara Malikussaleh - Lhokseumawe (statusnya juga masih sebagai bandara khusus yang dikelola oleh PT. Arun LNG meskipun saat ini juga sudah mulai digunakan untuk komersil/umum/perintis), Bandara Lasikin - Sinabang, Bandara Cut Nyak Dhien - Meulaboh, Bandara Maimun Saleh - Sabang, Bandara T. Cut Ali - Tapaktuan, Bandara Kuala Batu - Blang Pidie, Bandara Alas Leuser - Kutacane. b. Bandar Udara Khusus yakni di Lhoksukon Bandara Point “A“ dengan kapasitas CN 235 yang dikelola oleh Exxon Mobile Oil. Gambaran umum terhadap kondisi eksisting beberapa infrastruktur bandara adalah sebagai berikut: 1. Bandara Sultan Iskandar Muda - Banda Aceh mulai beroperasi pada tahun 1952, jarak dari pusat kota Banda Aceh ± 16 km, runway (2.500 x 45) m, saat ini mampu didarati oleh pesawat berbadan lebar jenis B-737 dan A-330. Bandara ini melayani penerbangan nasional dan internasional juga berfungsi sebagai pangkalan TNI-AU (Lanud) Iskandar Muda. Kondisi saat ini bandara SIM melayani sekitar 16 kali fligt (landing dan take off) setiap hari oleh maskapai penerbangan nasional dan internasional. 2. Bandara Maimun Saleh – Kota Sabang, jarak dari pusat kota Sabang ± 7 km, runway (1.850 x 30) m, saat ini mampu didarati oleh pesawat dengan jenis F-28. Bandara ini menjadi entry point transportasi udara untuk Pulau Weh (Sabang). Melayani penerbangan perintis dan logistik Pangkalan TNI-AU (Lanud) Maimun Saleh serta operasional logistik pasca tsunami. Bandara ini dipersiapkan menjadi bandara internasional terbatas. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-88
  • 107.
    3. Bandara CutNyak Dhien – Kabupaten Nagan Raya runway (1.400 x 30) m, saat ini mampu di darati oleh pesawat dengan jenis Cassa 212 dan F-27. Bandara ini menjadi entry point transportasi udara untuk wilayah pantai Barat Aceh, melayani penerbangan perintis dan logistik TNI AU serta operasional bantuan logistik pasca tsunami. Pada saat ini telah selesai dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi bandara dan sudah dioperasionalkan. 4. Bandara Kuala Batee - Kabupaten Abdya, jarak dari pusat kota Blang Pidie ± 15 km, runway (800 x 23) m, saat ini mampu didarati oleh pesawat dengan jenis Cassa 212. Saat ini bandara ini sudah melayani kembali penerbangan perintis rute Banda Aceh - Blang Pidie - Tapaktuan - Medan (PP). 5. Bandara T. Cut Ali - Tapaktuan, beroperasi pada tahun 1976, jarak dari pusat kota Tapaktuan ± 21 km, runway (750 x 23) m, saat ini mampu didarati oleh pesawat dengan jenis Cassa 212 / Dash-7. Saat ini selain melayani penerbangan perintis rute Banda Aceh - Blang Pidie - Tapaktuan - Medan (PP), juga telah melayani penerbangan komersial yang dilakukan oleh maskapai penerbangan Wings Air. 6. Bandara Lasikin - Sinabang, beroperasi pada tahun 1978, jarak dari pusat kota Sinabang ± 11 km, runway (900 x 23) m, saat ini mampu didarati oleh pesawat dengan jenis Cassa 212/Dash-7 dan jenis F-28 Pada saat ini telah diselesaikan rehabilitasi dan rekonstruksi termasuk pengembangan runway menjadi (1.200 x 23) m dan telah beroperasi secara lebih maksimal dengan tetap malayani penerbangan perintis dengan rute Sinabang – Medan – Meulaboh B. Aceh. 7. Bandara Malikussaleh - Lhokseumawe, beroperasi pada tahun 1985, jarak dari pusat kota Lhokseumawe ± 35 km, runway (1.850 x 30) m, saat ini mampu didarati oleh pesawat dengan jenis F-28 dan B-737 seri 200 (terbatas). sampai saat ini tetap melayani penerbangan khusus PT. Arun LNG dan komersil dengan rute Medan - Lhokseumawe. 8. Bandara Rembele - Takengon, jarak dari pusat kota Takengon ± 20 km, runway (1.200 x 30) m, mampu didarati oleh pesawat dengan jenis F-27, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-89
  • 108.
    Cassa 212 danDash 7. Sampai saat ini tetap melayani penerbangan perintis dengan rute Medan - Takengon - Banda Aceh. 9. Bandara Syekh Hamzah Fansyuri - Singkil, jarak dari pusat kota Singkil ± 22 km, runway yang direncanakan (800 x 23) m diperuntukkan untuk penerbangan perintis dengan jenis pesawat Cassa 212. Bandara baru ini diharapkan bisa menjadi pintu masuk transportasi udara untuk wilayah Kabupaten Aceh Singkil dalam rangka pengembangan wilayah yang memiliki potensi SDA yang cukup banyak seperti hasil hutan, perkebunan sawit, dan lain-lain. 10. Bandara Alas Leuser - Kutacane, jarak dari Kutacane ± 20 km, memiliki runway (1.200 x 30) m yang dibangun dengan bantuan dana Uni Eropa dan APBA Pemerintah Aceh untuk fasilitas sisi darat lainnya, memiliki kapasitas CN - 212 dan Fokker 50, saat ini melayani penerbangan perintis dengan rute Banda Aceh - Kutacane - Medan. 2.6.3.5 Pos dan Telekomunikasi Bidang Pos dan Telekomunikasi merupakan salah satu Bidang yang bernaung dibawah Dinas Perhubungan Komunikasi, Informasi dan Telematika Aceh dengan tugas utama melaksanakan pengawasan dan pengendalian serta evaluasi kegiatan usaha jasa pos dan jasa telekomunikasi serta pembinaan terhadap organisasi yang bergerak dibidang komunikasi radio. Pelayanan Pos di Aceh telah menjangkau ke seluruh kabupaten/kota sampai dengan ke pelosok desa, hal ini ditunjang oleh sebanyak 102 unit kantor pos didukung oleh 31 unit pelayanan pos bergerak keliling kota, 66 unit pelayanan pos bergerak keliling desa dan 93 unit pelayanan pos non kantor lainnya serta didukung oleh usaha jasa swasta yang bergerak dibidang perposan yakni usaha jasa titipan yang berjumlah 49 unit baik yang bersifat lokal, nasional dan internasional dan tersebar di seluruh Kabupaten/Kota. Demikian pula halnya dengan jasa telekomunikasi, kondisi saat ini masyarakat disuguhkan oleh berbagai kemudahan pelayanan di bidang telekomunikasi dengan kehadiran berbagai operator telekomunikasi yang semakin Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-90
  • 109.
    banyak dengan tarifyang bersaing dan mampu memberi kemudahan dalam berkomunikasi. Sampai akhir tahun 2009 Operator Telekomunikasi yang sudah mempunyai izin beroperasi di Aceh sejumlah 6 (enam) perusahaan yaitu PT. Telkomsel, PT. Excecomindo Pratama, Kandatel Aceh, PT. Gallery Smart Telecom BNA, PT. Indosat dan PT. Huchison Cp. Telkom BNA. Untuk pelayanan dibidang telekomunikasi baik fixed telepon maupun selular telepon telah menjangkau keseluruh Kabupaten/Kota dalam wilayah Aceh. Kapasitas terpakai untuk fixed telepon telah mencapai 88.766 SST (Satuan Sambungan Telepon), persentase keberhasilan panggil sebesar 75,64 persen serta didukung oleh 881 unit warung telekomunikasi. Sedangkan untuk telepon selular terjadi persaingan yang sehat antar sesama operator telepon selular dalam pengembangan area layanan, hal ini ditandai dengan menjamurnya pembangunan Tower Base Transceiver Stasion di Aceh. Pada akhir tahun 2010 akan terbangun tower pada 13 titik yang tersebar pada 4 Kabupaten/Kota, yaitu Kota Sabang, Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Jaya. Tower Telekomunikasi yang akan dibangun sejumlah 56 titik dan tersebar di seluruh Aceh dengan ketinggian 80 m, 90 m dan 100 m dan dapat difungsikan sebagai Tower Bersama. Meskipun demikian, masih banyak daerah-daerah pedesaan yang belum menikmati fasilitas telekomunikasi, hal ini merupakan tanggung jawab dari pemerintah pusat dengan program USO (Universal Service Obligation) dan tidak tertutup kemungkinan pemerintah daerah berpeluang untuk memperluas pelayanan dibidang telekomunikasi dengan cara kerja sama operasi (KSO) dengan operator yang telah ada atau membangun jaringan telekomunikasi tersendiri yang diusahakan oleh suatu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Disamping itu terdapat organisasi pengguna frekuensi radio yang menjadi binaan Dinas Perhubungan Aceh yaitu RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) yang sampai dengan saat ini telah beranggotakan sebanyak 1.036 orang dan ORARI (Organisasi Radio Amatir Indonesia) sebanyak 652 orang. Penggunaan frekuensi radio oleh organisasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dalam menanggulangi keadaan darurat dan bencana alam. Setiap anggota Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-91
  • 110.
    organisasi berkewajiban memberikanprioritas pengiriman dan penyampaian informasinya kepada Dinas Perhubungan Aceh sehingga diharapkan para pengambil keputusan dapat mengetahui adanya musibah dan dapat mengambil tindakan yang diperlukan dengan cepat dan akurat. Pelayanan penggunaan frekuensi radio merupakan pelayanan publik tidak seluruhnya dikelola secara sentral, regulasinya ditetapkan secara nasional namun pengelolaannya dapat diatur secara bertingkat sesuai ruang lingkup jangkauan pelayanannya diharapkan dapat meningkatkan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini harus didukung oleh regulasi yang tegas, sumber daya manusia yang handal serta sarana dan prasarana yang memadai sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh khususnya dibidang komunikasi dan informasi. 2.6.3.6 Komunikasi, Informasi dan Telematika Pembangunan bidang Komunikasi, Informasi dan Telematika meliputi pembangunan dan pengembangan Sistim Informasi Manajemen Daerah (SIMDA), penyediaan infrastruktur, penyediaan dan pengelolaan data serta melakukan pembinaan terhadap sumber daya aparatur di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Berdasarkan kebijakan, program dan kegiatan yang dilaksanakan, indikator kinerja yang telah dihasilkan dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Adanya Pengembangan dan Pembinaan terhadap penyiaran daerah untuk menertibkan siaran Media Radio dan Televisi yang berkualitas; 2. Membangun fasilitas-fasilitas Media Center untuk mendukung penyebaran informasi secara cepat dan akurat terhadap seluruh masayarkat; 3. Pembangunan dan pengembangan infrastruktur jaringan komunikasi data dan informasi yang telah tersedia berupa Bandwidth untuk kebutuhan Dinas/Badan/Lembaga Daerah dengan kapasitas 20 Mbps yang terdiri dari 15 Mbps untuk download dan 5 Mbps Upload; 4. Untuk Jaringan 23 Kabupaten/kota bandwith yang disediakan sebesar 3 Mbps Simetris termasuk di dalamnya untuk bandwith transforder SCPS 7.936 Kbps Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-92
  • 111.
    dan BVP 7963Kbps. Semua SKPA dan 23 kabupaten memiliki server masing- masing dan saling terkoneksi; 5. Dalam kaitan ini juga sudah dilakukan pengembangan Infrastruktur Telematika berupa jaringan interkoneksi Pemerintah Aceh telah dikembangkan pada perangkat kerja di Pemerintah Aceh, yaitu pada 17 (tujuh belas) Dinas, 19 (Sembilan belas) Badan) dan 1 (satu) Lembaga; 6. Di samping itu Pemerintah Aceh merencanakan akan membangun Telekomunikasi Aceh (TELCO) menggunakan Teknologi BWA, dimana pembangunannya akan dilakukan secara bertahap selama 5 tahun dan diharapkan selesai pada tahun 2015; 7. Untuk mendukung penerapan sistem informasi manajemen pemerintah daerah telah dibangun sejumlah infrastruktur (perangkat keras) dan aplikasi sistem informasi (perangkat lunak) pengolah data untuk Dinas/Badan/Lembaga Daerah, namun belum terpenuhi seluruhnya dan terhadap aplikasi yang telah selesai dibangun; 8. Database yang telah selesai dibangun meliputi database kepegawaian, sarana dan prasarana umum pemerintahan, korban konflik, korban tsunami, pertambangan dan energi, kesehatan, pendidikan, anak yatim, perikanan, pimpinan pemerintahan, diklat aparatur, koperasi dan UKM, pariwisata dan database sms Center Gubernur; 9. Pembangunan dan Pengembangan portal pemerintah daerah adalah penyediaan situs www.bappeda.provaceh.go.id sebagai media penyebaran informasi Pemerintah Provinsi Aceh melalui internet dan kegiatan ini telah diselenggarakan kembali mulai pasca tsunami; 10. Untuk ketersediaan data di dalam database dan portal www.nad.go.id telah dilaksanakan kegiatan pengumpulan data, verifikasi data, updating dan backup data. 11. Gambaran umum kondisi eksisting terkait dengan sumber daya aparatur adalah sebagai berikut: - PNS Tenaga Teknis di bidang ICT Pemerintah Aceh dengan latar belakang pendidikan Teknologi Komputer, khususnya pada Dinas Perhubungan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-93
  • 112.
    Komunikasi Informasi &Telematika (Dishubkomintel) yang mempunyai fungsi tugas serta kewenangan menjalankan Telematika Pemerintah Aceh sebanyak 16 orang dengan berbagai bidang keahlian (programmer, operator jaringan, design grafis, master web, pengelola sistim informasi) belum termasuk PNS Tenaga teknis Komputer yang berada pada SKPA lain; - Menjalin hubungan dengan out resourching (UNSYIAH, KPLI, Yayasan Air Putih & Komunitas IT lainnya); - Melakukan pengiriman PNS Tenaga Teknis Komputer untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan di Luar Daerah dalam bidang teknologi Informasi & komunikasi; 12. Pembinaan dan pengembangan sumber daya aparatur bidang teknologi komunikasi dan informasi telah dilaksanakan Bimbingan Teknis, Workshop dan sosialisasi serta proses alih teknologi informasi lainnya yang dilaksanakan pada saat pengembangan sistem infromasi kepada egawai negeri sipil baik di lingkungan Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota. Diharapkan pada masa yang akan datang dapat terlaksananya penerapan e-Government, tersedianya database pada masing-masing Dinas/Badan/Lembaga Daerah, tersedianya sumberdaya aparatur yang handal dibidang teknologi komunikasi dan informasi serta tersedianya infrastruktur telematika daerah. 2.6.4 Lingkungan Hidup Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang tidak terkendali dapat menimbulkan kecendrungan pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan (over exploitation), sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan dan penurunan kualitas daya dukung lingkungan. Keluhan masyarakat yang menuntut perbaikan kualitas lingkungan ditujukan kepada Pemerintah Daerah sehingga program kegiatan pengelolaan lingkungan melalui koordinasi pemantauan, pengawasan dan upaya pemulihan kualitas dan fungsi lingkungan mutlak diperlukan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-94
  • 113.
    Kondisi lingkungan semakinterpuruk akibat eksploitasi sumber daya alam hutan secara besar-besaran tanpa diimbangi dengan kegiatan rehabilitasi atau pemulihan fungsi hutan secara proporsional, begitu juga akibat kegiatan penambangan galian C yang tidak terkendali menyebabkan kerusakan daerah aliran sungai yang berdampak hancurnya infrastruktur pendukung ekonomi. Secara rinci dapat dilihat pada tabel II.31. Tabel II.31 Kerusakan Lingkungan di Pemerintah Aceh No. Ekosistem Luas Dampak 1. Terumbu Karang 97.250 Ha 2. Manggrove 25.000 Ha 3. Padang Lamun 600 Ha 4. Muara Sungai 7,5 Km 5. Sumber air 1000 sumur 6. Hutan 48.925 Ha 7. Restorasi pantai 300 Km 8. Kehilangan lahan 53.735 titik Sumber : CGI (2005) Kegiatan pemantauan, pengawasan dan upaya pemulihan perlu dilakukan pengkajian/penelitian lebih lanjut terhadap dampak dari kerusakan yang diakibatkan oleh limbah tsunami, pencemaran udara yang terjadi akibat aktivitas rehabilitasi dan rekonstruksi (debu, polusi kendaraan). Selanjutnya permasalahan krusial yang sering muncul dalam pengelolaan lingkungan hidup antara lain: perubahan iklim, perambahan kawasan hutan, iIllegal logging, illegal mining, kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), pencemaran air dan udara, serta kerusakan kawasan pesisir. Alih fungsi lahan berupa perubahan fungsi lahan dari lahan pertanian ke pemukiman, dari lahan konservasi ke kawasan budidaya ditemukan di beberapa Kabupaten/Kota seperti di Aceh Besar, Aceh Utara, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Selatan, Subulussalam, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Gayo Lues, Aceh Timur, dan Tamiang membuat lingkungan menjadi rentan terhadap ancaman banjir, erosi dan tanah longsor. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-95
  • 114.
    Pada saat ini,terdapat 1.626.800 ha lahan kritis dimana 788.600 ha berada di dalam kawasan hutan (14.7 persen dari total wilayah hutan) dan 738.200 ha berada di luar kawasan hutan (13.7 persen total wilayah hutan). Menurut peruntukan lahan seluas 232.902,35 ha (4,24 persen) lahan diklasifikasikan sebagai lahan kritis. Lahan kritis tersebut terdiri dari padang rumput/ilalang seluas 223.985 ha (3,91 persen), tanah terbuka (tandus, rusak, pembukaan lahan) seluas 18.574,35 ha dan lahan pertambangan 443 ha (0,01 persen). Lahan kritis tersebut berpotensi mengakibatkan erosi dan sedimentasi di sekitar DAS. 2.6.5 Pertanahan Tanah merupakan salah satu asset masyarakat yang sangat berharga dan perlu mendapatkan jaminan hukum melalui sertifikasi, Pemerintah Aceh sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 mengamanatkan Badan Pertanahan Nasional menjadi Badan Otonomi Daerah. Hal ini sangat diharapkan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pengsertifikatan lahan sebagai salah satu modal usaha bagi masyarakat. Sampai saat ini sertifikasi yang sudah diserahkan kepada masyarakat diperkirakan sebanyak 68.855 sertifikat baik melalui APBA/APBN dan BRR. Selain itu inventarisasi lahan dan registrasi penguasaan kepemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T), penataan pulau-pulau kecil terluar diperbatasan. Di masa yang akan datang Badan Pertanahan menjadi Badan Otonomi di daerah baik provinsi maupun kabupaten. 2.6.6 Energi dan Sumber Daya Mineral Pelayanan listrik Aceh dilakukan oleh PT. PLN, Pemerintah Aceh hanya memfokuskan melakukan usaha pelayanan pada daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau oleh PT PLN. Kondisi ketenagalistrikan di Aceh dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Kebutuhan energi listrik untuk Aceh saat ini di suplai dari beberapa sistem dengan porsi, yaitu: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-96
  • 115.
    a. Sistem Transmisi150 kV Sumut-Aceh sebesar 70,12 persen b. PLTD Isolated sebesar 26,62 persen c. Sistem Distribusi 20 kV dari wilayah Sumut sebesar 3,26 persen. d. PLTMH Isolated sebesar 0,75 persen. Kondisi kelistrikan yang tersambung dalam sistem 150 kV Sumut-Aceh masih mengalami defisit. Untuk mengatasi defisit tersebut sering harus dilakukan penurunan tegangan (brown out) dan dalam kondisi tertentu terpaksa dilakukan pemadaman bergilir. Daerah isolated yang masih mengalami defisit adalah daerah Aceh Tengah, dan Aceh Singkil. Untuk mengatasi defisit pada kedua daerah tersebut dilakukan dengan memanfaatkan suplai 20 kV dari Gardu Induk yang terdekat. 2. Kapasitas terpasang, pembangkit di Aceh saat ini sebesar 146,5 MW dengan daya mampu rata-rata 98 MW. Sebagian dari pembangkit tersebut merupakan isolated murni dan sebagian lagi tersambung ke sistem transmisi 150 kV melalui jaringan distribusi 20 kV. Pembangkit tersebut sebagian besar (99 persen) adalah jenis PLTD dengan menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Gambaran daya mampu dan daya terpasang pembangkit tertera pada tabel II.32. Tabel II.32 Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit Wilayah Aceh Tahun 2008 DAYA DAYA NO. SYSTEM JENIS TERPASANG MAMPU (MW) (MW) I. GRID 150 Kv * 28.7 21.9 1 Sistem Sumut-Aceh PLTD 15.1 14.0 2 Sistem Sigli PLTD 13.6 7.9 II. SISTEM ISOLATED 114.2 73.3 1 Sistem Sabang PLTD 8.1 4.2 2 Sistem Takengon PLTD 12.8 8.3 3 Sistem Meulaboh PLTD 34.1 21.6 - Sewa Genset/rental PLTD 6.8 4.8 4 Sistem Sinabang PLTD 5.4 3.8 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-97
  • 116.
    5 Sistem BlangPidie PLTD 13.7 7.4 6 Sistem Tapaktuan PLTD 7.0 5.3 7 Sistem Kutacane PLTD 9.1 6.2 - PLTM Seupakat PLTM 1.9 1.6 8 Sistem Blangkejeren PLTD 5.4 3.7 9 Sistem Subulussalam PLTD 9.9 6.4 ISOLATED III. TERSEBAR 3.6 2.8 (Pulau Aceh, Pusong, PLTD 3.6 2.8 Pulau Balai, Kuala Baru, Haloban) TOTAL 146.5 98.0 Sumber : PLN (Persero) Wilayah Aceh 3. Sistem distribusi saat ini, telah mampu mendistribusikan energi listrik sampai pelosok Aceh dengan rasio elektrifikasi sampai Desember 2008 sebesar 87,21 persen. Kualitas tegangan jaringan distribusi untuk beberapa lokasi masih di bawah standar, hal ini disebabkan jaringan tegangan menengah (JTM) yang terpasang mencapai 165 km dari Pusat Pembangkit/Gardu Induk, sehingga tegangan pada sisi SUTM mencapai 16,5 kV dan pada sisi pelanggan mencapai 170 volt. 4. Gardu Induk yang telah beroperasi sebanyak 7 (tujuh) unit berada di sepanjang pantai timur yang disuplai dari system Transmisi 150/20 kV Sumut- Aceh. Beban puncak total PLN wilayah Aceh pada tahun 2008 sebesar 255 MW dengan produksi sebesar 1.365 GWh. 70 persen dari produksi tersebut diterima dari system intekoneksi 150 KVa Sumut-Aceh, komposisi beban puncak digambarkan pada tabel II.33. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-98
  • 117.
    Tabel II.33 Komposisi Beban Puncak pada Tahun 2008 Produksi DAYA Faktor Beban NO. Sistem Interkoneksi TERPASANG [GWh] [%] (%) (MW) I. GRID 150 Kv 1017.5 74.5 178.8 66.08 1 Sistem Sumut-Aceh 553.3 40.5 104.7 60.3 2 Sistem Banda Aceh 359.6 26.3 55.4 74.1 3 Sistem Sigli 104.6 7.7 18.7 63.9 SISTEM II. ISOLATED 1 Sistem Sabang 17.6 1.3 2.9 69.4 2 Sistem Takengon 48.3 3.5 14.1 39.1 3 Sistem Meulaboh 104.5 7.6 23.0 51.8 4 Sistem Blang Pidie 36.2 2.6 7.0 59.0 5 Sistem Tapaktuan 26.7 2.0 4.8 63.4 6 Sistem Sinabang 15.2 1.1 2.7 64.8 7 Sistem Kutacane 40.2 2.9 8.6 53.3 4 Sistem Blangkejeren 12.3 0.9 3.0 47.0 5 Sistem Subulussalam 44.4 3.2 9.2 55.0 ISOLATED III. TERSEBAR 3 0.2 0.9 29.2 TOTAL 1365.9 100 255 Sumber : PLN (Persero) Wilayah Aceh 5. Penyaluran energi listrik dalam wilayah Aceh juga mengalami susut distribusi, kehilangan energi listrik pada saat penyaluran dari pembangkit ke pelanggan yang diakibatkan oleh berbagai faktor. Faktor penyebab susut distribusi tersebut antara lain: a. Faktor teknis adalah kehilangan energi listrik yang diakibatkan oleh kondisi peralatan yang digunakan. b. Faktor non teknis, diakibatkan dari kesalahan admisnistrasi dan pemakaian listrik secara illegal. 6. SAIDI/SAIFI merupakan tolak ukur keandalan penyaluran energi listrik yang meliputi lama dan jumlah pemadaman rata-rata yang dirasakan oleh pengguna listrik dalam periode tertentu. Untuk tahun 2005, besarnya SAIDI mencapai 2.203,77 menit/pelanggan, sedangkan SAIFI 45 kali/pelanggan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-99
  • 118.
    7. Pelayanan listrik pada daerah terpencil yang belum terjangkau oleh PT.PLN dalam jangka pendek telah dilakukan beberapa upaya antara lain pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Jumlah PLTS yang telah disebar pada 11 Kabupaten/Kota sampai akhir tahun 2004 berjumlah 880 buah (50-120 WP), namun kondisinya lebih dari 80 % telah mengalami kerusakan. PLTMH yang telah dibangun dibeberapa Kabupaten seperti Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Utara dan Aceh Timur hampir seluruhnya telah mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi lagi. Hal ini disebabkan oleh keadaan konflik sehingga lokasi di pedalaman tidak mungkin dijangkau untuk pemantauan. Penggunaan energi untuk pembangkitan tenaga listrik saat ini masih bertumpu pada Bahan Bakar Minyak, kecuali sebagian kecil saja yang memanfaatkan energi alternatif. Usaha pemanfatan sumber energi Non BBM dalam skala besar seperti Power Plant Nagan Raya 2 x 100 MW sedang dalam proses tender, PLTA Peusangan 2 x 43 MW dilanjutkan kembali pembangunannya setelah beberapa tahun terhenti. PLTP Jaboi 1 x 50 MW, PLTP Seulawah Agam 1 x 180 MW dan PLTU Krueng Raya 1 x 100 MW sedang dalam tahap pembuatan Feasibility Study. Sampai saat ini kegaiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain Inventarisasi Lokasi Pengembangan Energi, Survey Pendahuluan Geothermal Seulawah Agam, Penyusunan Rancangan Qanun Kelistrikan, Pembangunan PLTMH untuk Pengembangan Listrik Pedesaan. Usaha pertambangan umum di Pemerintah Aceh dimulai pada tahun 1985 oleh PT. Rao Kencana sebagai pemegang Kuasa Pertambangan (KP) bahan galian timah hitam Lokop Aceh Timur. Di susul PT. Samana Citra Agung sebagai pemegang KP untuk bahan galian pasir besi di Lamapanah/Leungah Kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar. Kemudian secara berturut-turut tampil investor lainnya, yaitu PT. Ara Tutut sebagai pemegang KP bahan galian emas dan PT. Bintang Purna Manggala sebagai pemegang KP Batubara yang keduanya berlokasi di kabupaten Aceh Barat, sedangkan PT. Pulau Peunasi Mineral merupakan pemegang KP bahan galian emas di Pulau Nasi Kabupaten Aceh Besar. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-100
  • 119.
    Perizinan dalam bentukKontrak Karya (KK) mulai beroperasi di Aceh pada tahun 1995 yang dipelopori oleh PT. Miwah Tambang Emas. Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) ada dua perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Aceh Barat pada tahun 1996/1997, yaitu PT. Meulaboho Energitama dan PT. Aceh Resources and Mineral Coorporation. Tahun 2005 perkembangan usaha pertambangan Mineral dan Batubara di Aceh mengalami peningkatan yang cukup berarti, data rekapitulasi jumlah usaha pertambangan menunjukkan bahwa jumlah Kuasa Pertambangan (KP) sebanyak 25 terdiri atas 11 Pertambangan Batubara, 8 Pertambangan Emas, 2 Pertambangan Timah Hitam, 2 Pertambangan Bijih Besi, 1 Pertambangan Pasir Besi dan 1 Kontrak Karya Pertambangan Emas dan Mineral pengikutnya. Khusus untuk pertambangan Pasir Besi yang telah memasuki tahap Eksploitasi dan Kontrak Karya Pertambangan Emas Eksplorasi, merupakan usaha pertambangan yang selama ini dikelola oleh Pemerintah Pusat karena proses perizinannya dilakukan sebelum masa Otonomi Daerah. Sumber penerimaan daerah bukan pajak yang berasal dari usaha pertambangan umum adalah berupa iuran tetap (Land Rent/Dead Rent), Iuran Eksploitasi/Produksi (Royalty) dan Iuran Eksplorasi. Iuran Tetap adalah iuran yang dibayarkan kepada negara sebagai imbalan atas kesempatan penyelidikan umum, Eksplorasi atau Eksploitasi pada suatu wilayah kuasa pertambangan. Iuran Eksploitasi adalah Iuran Produksi yang dibayarkan kepada negara atas hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan Eksploitasi sesuatu atau lebih bahan galian. Besarnya bagi hasil penerimaan pertambangan umum berdasarkan Undang- Undang Nomor 25 tahun 1999 adalah sebagai berikut: Iuran Tetap/Landrent: Pusat 20 persen, Provinsi 16 persen dan Kabupaten/Kota 64 persen. Iuran Produksi/Royalty : Pusat 20 persen, Provinsi 16 persen, Kabupaten/Kota penghasil 32 persen dan Pemerataan Kabupaten/Kota 32 persen. Mekanisme pembayaran iuran-iuran tersebut selama ini yaitu disetorkan langsung oleh perusahaan yang bersangkutan 100 persen ke Kas Negara, dan kemudian Pemerintah mendistribusikannya kepada Provinsi dan Kabupaten/Kota sesuai proporsinya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-101
  • 120.
    Program/kegiatan dalam bidang pertambangan adalah Pengawasan terhadap Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan serta pendataan sumur bor tanpa izin, Survei Cadangan Migas dalam 4 Blok, Pengawasan Usaha Pertambangan, Pembangunan Pabrik Bahan Galian Posphat di Aceh Tamiang, Pertemuan Pengusaha Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan, Bantuan Peralatan bagi usaha Pertambangan Rakyat, , Pemboran Air Bawah Tanah, Pemeliharaan Sumur Bor, Survey Pendahuluan Cadangan Batu Bara, Kab. Aceh Barat, Intensifikasi Pengelolaan Penerimaan Migas Pemerintah Aceh, Penyusunan Rancangan Qanun Pertambangan Umum. Jumlah sumur bor yang telah dibangun sebanyak 84 unit, kondisi saat ini rusak sebanyak 6 unit disebabkan oleh tsunami dan 1 unit akibat teknis operasional. Untuk masa yang akan datang perlu diaktifkan kembali usaha pertambangan yang telah terhenti dan mempercepat eksplorasi potensi tambang bagi perusahaan yang telah memegang izin dan kepada perusahaan yang tidak melakukan aktifitas eksplorasi akan diambil tindakan. Pendataan kembali hasil produksi di bidang pertambangan, pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan pertambangan umum dan rakyat akan ditingkatkan. Selanjutnya direncanakan pembangunan sumur bor dan sumur pantau pada daerah-daerah yang kritis air, pengawasan pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan ditingkatkan, sosialisasi peraturan pemboran air bawah tanah, survei potensi tambang, pembinaan dan bantuan teknis serta peralatan bagi usaha pertambangan rakyat dan penyelesaian beberapa Qanun yang terkait dengan pertambangan. 2.6.7 Kebencanaan Terjadinya bencana di Aceh tidak terlepas dari masih belum cukup baiknya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Pencemaran dan kerusakan lingkungan seperti pengrusakan hutan, pencemaran air, udara, tanah dan terjadinya penggalian tambang merupakan indikasi penurunan kualitas lingkungan di beberapa Kabupaten/Kota seperti Aceh Besar, Lhokseumawe, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Bener Meriah dan Aceh Tamiang. Turunnya kualitas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-102
  • 121.
    lingkungan dapat merupakan salah satu potensi ancaman yang harus diperhitungkan sedini mungkin. Potensi bencana di Aceh diprediksikan tidak akan berkurang secara signifikan. Pada dasarnya semua jenis bencana, baik yang disebabkan oleh alam dan non alam selalu berpotensi mengancam kehidupan,korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis bagi masyarakat. Mengingat kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis Aceh maka diperlukan suatu upaya menyeluruh dalam rangka penanggulangan bencana, baik ketika bencana itu terjadi, sudah terjadi, maupun bencana yang berpotensi di masa yang akan datang. Hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah Aceh dalam melindungi segenap warga dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan, termasuk perlindungan atas korban bencana. 1. Geologis Aceh berada di jalur penunjaman dari pertemuan lempeng Asia dan Australia, serta berada di bagian ujung patahan besar Sumatera yang membelah pulau Sumatra dari Aceh sampai Selat Sunda; menyebabkan Aceh memiliki catatan bencana geologis yang cukup panjang. Kejadian bencana geologis di Aceh dapat dilihat di Gambar II.1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-103
  • 122.
    Gambar II.1 PetaKejadian Bencana Geologis di Aceh (Sumber data: Badan Penanggulangan Bencana Aceh) Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Aceh Kejadian tsunami di Aceh pernah terjadi pada tahun 1797, 1891, 1907 dan 2004. Kejadian tsunami 26 Desember 2004 mengakibatkan 126.915 jiwa meninggal, 37.063 jiwa hilang, kira-kira 100.000 jiwa menderita luka berat dan luka ringan disertai 517.000 unit rumah hilang. Kabupaten/Kota yang pernah mengalami kejadian tsunami adalah Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Besar, Aceh Barat, Sabang, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Simeulue, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Aceh Timur ancaman ini akan tetap terjadi di Kabupaten/Kota yang sama. Gempa bumi yang terjadi selama kurun waktu 2005-2009 di Aceh sebanyak 27 kali. Kejadian diprediksi akan berulang karena Aceh berada diatas tumbukan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-104
  • 123.
    lempeng dan patahan.Dampak yang ditimbulkan selama kurun waktu tersebut yaitu korban jiwa sebanyak 62 orang, kerusakan harta benda diperkirakan mencapai 25 – 50 Miliar rupiah, kerusakan sarana dan prasarana 20 – 40 persen, sedangkan cakupan wilayah yang terkena gempa sekitar 60 – 80 persen, dan 5 persen berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat (terganggunya mata pencaharian). Kabupaten/Kota yang diperkirakan akan terkena dampak adalah: Kota Banda Aceh, Kab. Aceh Jaya, Kab. Aceh Barat, Kab. Nagan Raya, Kab. Simeleu, Kab. Aceh Barat Daya, Kab. Singkil, Kab. Aceh Selatan, Kota Subulussalam, Kota Sabang, Kab. Aceh Besar, Kab. Pidie, Kab. Aceh Tengah, Kab. Gayo Luwes dan Kabupaten Aceh Tenggara. Letusan gunung api merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”. Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona penunjaman lempeng dan kegempaan aktif. Di Aceh terdapat 3 gunung api tipe A, yaitu gunung Peut Sagoe di Kabupaten Pidie, Gunung Bur Ni Telong di Kabupaten Bener Meriah dan gunung Seulawah Agam di Kabupaten Aceh Besar. Sejarah letusan gunung api di Aceh yang pernah terjadi dapat di lihat di Tabel II.34. Tabel II.34 Bencana Gunung Api Aceh No Nama Gunung Kejadian dan Korban 1 Gunung Peut Sagoe Tahun 1919, 1920, 1978, 1998 tidak ada catatan korban jiwa. 2 Gunung Bur Ni Telong Tahun 1837, 1839, 1856, 1919, dan 1924, dan tidak ada catatan korban jiwa 3 Gunung Seulawah Agam Tahun 1600, 1839 dan 1975, dan tidak ada catatan korban jiwa Sumber: Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana, Badan Geologi Tanah longsor yang terjadi selama kurun waktu 2007-2009 di Aceh sebanyak 26 kali. Dampak kerusakan harta benda yang ditimbulkan diperkirakan mencapai 50 – 100 Miliar rupiah, kerusakan sarana dan prasarana 20 – 40 persen, sedangkan cakupan wilayah yang terkena longsor sangat luas 20 – 40 persen, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-105
  • 124.
    serta berpengaruh terhadapkondisi sosial ekonomi masyarakat (terganggunya mata pencarian) sebesar 5 – 10 persen. Kabupaten/Kota yang diprediksi masih akan mengalami kejadian ini adalah: Kota Sabang, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Gayo Luwes, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Simeleu. Sedangkan Kabupaten/Kota yang melaporkan kejadian tanah longsor dalam 3 (tiga) tahun terakhir adalah Sabang, Subulussalam, Bireuen, Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Selatan, Pidie, Aceh Utara, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Barat Daya, dan Aceh Timur. Kejadian ini mengakibatkan 300 unit rumah rusak, 165 Ha Kebun/Sawah rusak, 6.2 Ha hutan rusak, dan 55.25 km jaringan jalan/bendungan. 2. Hidro-meteorologis Aceh memiliki tingkat kompleksitas hidro-meteorologis yang cukup tinggi. Dimensi alam menyebabkan Aceh mengalami hampir semua jenis bencana hidro- meteorologis seperti puting beliung, banjir, abrasi dan sedimentasi, badai siklon tropis serta kekeringan. a. Puting Beliung Kejadian puting beliung sering ditemui di wilayah Aceh, hingga saat ini masih sulit diprediksi lokasi dan waktu kejadian bencana puting beliung. Puting beliung terjadi di Aceh hampir merata di berbagai daerah. Data kejadian 3 tahun terakhir (dari tahun 2006-2009) terjadi 30 kali bencana puting beliung di 14 Kabupaten Kota. Kabupaten Aceh Utara mencatat kejadian tertinggi dibandingkan Kabupaten Kota lainnya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-106
  • 125.
    Untuk melihat kabupaten/kotadi Aceh yang rawan bencana geologis dapat dilihat di Gambar II.2. Gambar II.2. Peta Kejadian Bencana Hidro-meteorologis di Aceh Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Aceh b. Banjir Banjir hampir merata terjadi di berbagai wilayah Aceh, data kejadian 3 tahun banjir (dari tahun 2006-2009) terjadi 106 kali bencana banjir di 22 dari 23 Kabupaten Kota. Elemen berisiko yang rentan ketika terjadi banjir adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-107
  • 126.
    lahan pertanian, peternakan,perdagangan dan jasa di 22 kabupaten/kota di Aceh, kecuali Kabupaten Simeulu. Kabupaten Aceh Utara tercatat kejadian tertinggi dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya. Kabupaten kota lain yang terkena bencana banjir adalah Lhokseumawe, Tamiang, Aceh Besar, Bireuen dan Nagan Raya, Sabang, Aceh Barat Daya, Aceh Barat, Subulussalam, Singkil, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Langsa. c. Abrasi, Erosi dan Sedimentasi. Abrasi pada 10 tahun terakhir terjadi di pantai barat Aceh yang meliputi Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Aceh Besar. Di pesisir utara dan timur Aceh bencana abrasi terjadi di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, dan Langsa. Kejadian erosi ini ditemui di Aceh Tenggara (Sungai Lawe Alas), Aceh Tengah (Kawasan Danau Laut Tawar), Tamiang (Krueng Tamiang), Aceh Utara (Krueng Pase), Bireuen (Krueng Peusangan), Aceh Besar (Krueng Aceh), Pidie (Krueng Tiro, Krueng Baro), Pidie Jaya (Krueng Beuracan), Aceh Barat (Krueng Meureubo), dan Nagan Raya (Krueng Tripa). Akibat sedimentasi yang terjadi dapat mengganggu perekonomian masyarakat, dangkalnya jalur pelayaran, rusaknya ekosistem terutama terumbu karang dan transportasi. DAS yang mengalami dampak sedimentasi besar pada sungai Krueng Aceh, Krueng Peusangan, Sungai Tamiang dan sungai Krueng Meurebo. Sedimentasi juga terjadi di danau-danau yang ada di Aceh. d. Badai Siklon Tropis. Aceh hingga saat ini mencatat bahwa belum ada jenis badai siklon yang langsung melanda kawasan Aceh. Namun demikian, ekor dari badai-badai yang biasanya tumbuh di kawasan Lautan Hindia sering memberi dampak terutama di kawasan pesisir Barat dan Selatan Aceh. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-108
  • 127.
    Potensi badai dapatterjadi di seluruh Kabupaten/Kota yang berada di pesisir pantai, yaitu Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Kota Lhokseumawe,Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa, Tamiang, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil. e. Kekeringan Daerah yang sering kali mengalami kekeringan yaitu kabupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireun, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, dan Tamiang. Meskipun hingga saat ini belum tercatat jumlah korban jiwa akibat bencana kekeringan di Aceh, dampak kekeringan cukup berkontribusi terhadap produktifitas pertanian. 3. Bencana Sosial dan Kesehatan Kejadian bencana sosial yang menonjol di Aceh adalah konflik yang berlatar belakang ideologi dan ekonomi, serta Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti penyakit menular dan atau tidak menular yang dipicu oleh perilaku manusia itu sendiri. Perlu keseimbangan pemanfaatan sumber daya alam dalam pembangunan fasilitas infrastruktur, transportasi umum, permukiman dengan melihat sejarah kebencanaan, sehingga didapatkan efisiensi ekonomi dalam mengantisipasi Millenium Development Goals (MDGs) 2015. Secara tidak langsung Aceh dapat menjadi tempat pembelajaran tentang kebencanaan dan sebagai laboratorium alam. a. Konflik Aceh mempunyai sejarah panjang tentang konflik antar kelompok dan atau antar golongan masyarakat. Konflik yang pernah terjadi di Aceh Seperti Perang Cumbok (1945-1946), Pemberontakkan DI/TII (1953-1962) dan juga yang paling lama adalah Gerakan Aceh Merdeka (1976-2005). Dari ketiga konflik yang ada di Aceh hampir semuanya dilatar belakangi oleh perbedaan pandangan politik. Semua hal diatas merupakan suatu pembelajaran yang dapat menjadi contoh bagi daerah atau Negara lain untuk penyelesaiaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-109
  • 128.
    masalah konflik. Diperlukan suatu kompetensi tentang modul-modul penyelesaian konflik pada pendidikan formal maupun non-formal. b. Kebakaran Data yang dihimpun WALHI Aceh, kebakaran ladang dan atau hutan di Aceh pada tahun 2008, tercatat 395 titik api, angka ini terbanyak kedua untuk Provinsi di pulau Sumatera. Titik api tersebut terdapat di Kabupaten Aceh Barat, Aceh Jaya, Singkil, dan Aceh Tengah. Kebakaran lahan gambut juga sering terjadi, antara lain di perbatasan Kabupaten Aceh Barat – Aceh Jaya, yakni di kawasan Desa Leuhan, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh. Disamping kebakaran lahan atau hutan, Aceh juga mengalami frekuensi kebakaran pemukiman yang cukup tinggi. Data semester pertama di tahun 2008 menunjukkan bahwa bencana kebakaran perumahan/pemukiman telah menimbulkan luka ringan 5 jiwa luka berat 7 jiwa, mengungsi 1.228 jiwa dan meninggal dunia 10 jiwa (Satkorlak Aceh, 2009) dengan wilayah kejadian tersebar di 11 kabupaten/kota. Pengamatan sekilas kejadian kebakaran di permukiman dan atau pasar pada umumnya disebabkan oleh hubungan singkat arus listrik. c. Wabah Penyakit. Data Dinas Kesehatan Aceh menunjukkan Kota Banda Aceh menonjol dalam penyakit DBD dan flu H1N1; Kabupaten Aceh Utara menonjol dalam Diare dan HIV/AIDS, penyakit malaria paling banyak ditemukan di Kabupaten Aceh Besar, lumpuh layu dan tetanus neonatorum banyak ditemukan di Kabupaten Pidie. Kasus Diare banyak menyerang golongan umur anak-anak terutama balita, hal ini dapat mempengaruhi perkembangan pertumbuhan dan status gizi anak. Kasus Diare pada tahun 2007 berjumlah 100.789 orang dan Jumlah kasus diare pada Balita 45.157 orang, Semua Kabupaten/Kota merupakan daerah yang rawan diare pada balita terutama kasus yang sering terjadi di Pidie, Aceh Utara, Bireun, Aceh Timur, Aceh tengah, Aceh Tamiang dan Kota Lhokseumawe. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-110
  • 129.
    Demam Berdarah Dengue(DBD) pada tahun 2007 jumlah kasus sebesar 1.724 kasus dan menyebar di 16 (enam belas) Kabupaten/Kota. Kabupaten/kota yang rawan terhadap DBD adalah: Kota Banda Aceh, Aceh Besar, kota Lhokseumawe, Kota Langsa, Aceh Barat, Aceh Tamiang dan Aceh Pidie, Biruen, Aceh Utara. d. Kegagalan Teknologi. Kegagalan teknologi adalah semua kejadian yang diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam penggunaan teknologi dan/atau industri. Aceh mempunyai beberapa industry strategis seperti pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan kilang LNG Arun di Kabupaten Aceh Utara, PT SAI di Aceh Besar yang mempergunakan teknologi tinggi dalam proses produksi dan berpotensi mengalami kegagalan ataupun kecelakaan yang berdampak bagi lingkungan sekitarnya. Disamping itu beberapa penggunaan teknologi lain seperti transportasi, pengolahan kelapa sawit dan karet mempunyai potensi ancaman yang sangat nyata bagi masyarakat Aceh. Data 10 tahun terakhir tidak tercatat kejadian bencana akibat kegagalan teknologi baik karena teknologi itu sendiri ataupun akibat sabotase. 2.7 Pemerintahan Umum 2.7.1 Pemerintahan Aceh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah serta Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UU-PA) memberikan implikasi yang mendasar dan mengarah pada reformasi kelembagaan dan manajemen publik. Untuk mendukung pelaksanaan Pemerintahan Aceh ke depan, maka perlu ditunjang dengan tersedianya sumberdaya manusia aparatur yang profesional dan proporsional agar mutu pelayanan dapat ditingkatkan. Dengan demikian kontrol hirarkis dalam organisasi dialihkan ke tangan para aparatur yang berhadapan langsung dengan pelayanan masyarakat. Dalam konteks pemberdayaan organisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-111
  • 130.
    lokal, hendaknya kontrolaturan dan kontrol administrasi dari tingkat pusat dikurangi agar memiliki keleluasaan bekerja untuk mengendalikan pemerintahan dan mengembangkan kemampuan organisasinya. Pemerintah Provinsi Aceh mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melakukan pemberdayaan, pembangunan, monitoring evaluasi serta pelayanan publik secara profesional. Untuk terlaksananya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), Pemerintah Aceh akan menggunakan seluruh tenaga dan kemampuan sumberdaya aparatur yang handal dan potensial dibidangnya sesuai dengan kompetensi yang ada. Ditinjau dari tingkat pendidikan formal jumlah Aparatur Daerah/Pegawai Negeri Sipil didominasi sarjana (S1), jumlah ini relatif baik namun masih perlu dianalisis berdasarkan kualifikasi, potensi teknis dan penempatan pada bidang terkait, berikut rincian jumlah jenjang pendidikan formal aparatur/PNS Tahun 2009: TABEL. II.35 RINCIAN JEJANG PENDIDIKAN PNS PADA PEMERINTAH ACEH NO. PENDIDIKAN JUMLAH 1. Doktor (S3) 4 orang 2. Pasca Sarjana (S2) 630 orang 3. Sarjana (S1) 3.835 orang 4. Sarjana (DIV) . 9 orang 5. Diploma (DIII) 1.086 orang 6. Diploma (DII) 17 orang 7. Diploma (DII) 15 orang 8. SLTA Sederajat . 2.604 orang 9. SLTP 185 orang 10. SD 66 orang Jumlah 8.451 orang Sumber : Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Aceh (tahun 2009) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-112
  • 131.
    Sesuai dengan amanatUndang-Undang Nomor. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh khususnya yang berkaitan dengan pasal 107, Pemerintah Pusat dalam hal ini Menteri Dalam Negeri memiliki kawajiban untuk menyusun rancangan peraturan pemerintah tentang kewenangan, mekanisme dan prosedur pengangkatan dan pemberhentian sekretaris daerah provinsi dan sekretaris kabupaten/kota serta pengaturan tentang pembinaan karir Aparatur Daerah/Pegawai Negeri Sipil pada umumnya. Pola pembinaan karir terhadap Aparatur Daerah/Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Aceh harus tetap mengacu kepada pola pembinaan dan pengembangan karir Aparatur Daerah/Pegawai Negeri Sipil secara nasional yang pada dasarnya merupakan wewenang dan tanggung jawab Presiden. Agar supaya sasaran dan arah pembinaan karir Pegawai dilingkungan Pemerintah Aceh dapat terwujud sebagaimana yang kita harapkan dan masih tetap dalam bingkai NKRI. Berikut pada tabel II.35 disajikan jumlah dan komposisi Aparatur Daerah/Pegawai Negeri Sipil pada Kabupaten/Kota sebanyak 75.468 orang (tahun 2009) dengan rincian masing-masing di bawah ini: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-113
  • 132.
    TABEL. II.36 JUMLAH PNS PADA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI ACEH NO. KABUPATEN/KOTA JUMLAH 1. Kota Banda Aceh 5.605 orang 2. Kota Sabang 1.530 orang 3. Kabupaten Aceh Besar 7.032 orang 4. Kabupaten Pidie 9.295 orang 5. Kabupaten Bireun 6.310 orang 6. Kabupaten Aceh Utara 6.917 orang 7. Kota Lhokseumawe 1.911 orang 8. Kabupaten Aceh Tengah 3.891 orang 9. Kabupaten Bener Meriah 1.625 orang 10. Kabupate Aceh Timur 5.218 orang 11. Kabupaten AcehTamiang 2.534 orang 12. Kabupaten Kota Langsa 2.733 orang 13. Kabupaten Aceh Tenggara 3.658 orang 14. Kabupaten Gayo Lues 1.084 orang 15. Kabupaten Aceh Singkil 1.920 orang 16. Kabupaten Aceh Selatan 3.617 orang 17. Kabupaten Aceh Barat Daya 1.893 orang 18. Kabupaten Nagan Raya 2.135 orang 19. Kabupaten Aceh Barat 3.960 orang 20. Kabupaten Aceh Jaya 1.157 orang 21. Kabupaten Simelue 1.443 orang Sumber : Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Aceh (tahun 2009) Dari gambaran umum di atas bahwa ketersedian tenaga PNS pada kabupaten/kota masih relatif belum memadai baik kualitas maupun kuantitas SDM, terutama pada daerah kabupaten pemekaran. Permasalahan ini akan berdampak pada proses percepatan pembangunan dan perbaikan pelayan publik pada level Pemerintahan Kecamatan dan Pemerintahan Desa. Sebagai institusi yang langsung berhadapan dengan masyarakat, kinerja pemerintahan desa masih relatif belum memadai, dimana sebanyak 6.219 desa dan kelurahan yang ada di Provinsi Aceh terdapat 874 kantor dalam keadaan baik dan 1257 rusak sedangkan kantor desa yang belum ada sebanyak 4.115 unit. Sedangkan pada tingkat kemukiman, jumlah mukim sebanyak 731 mukim, kantor yang sudah dibangun dan dalam keadaan baik hanya berjumlah 21 unit dan sisanya sebanyak 681 mukim belum tersedia kantor. Disisi lain, penempatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-114
  • 133.
    atau distribusi AparaturDaerah/Pegawai Negeri Sipil belum juga merata disamping sarana dan prasarana belum memadai terutama pada kabupaten pemekaran, sehingga mengakibatkan kualitas pelayanan publik belum berjalan secara optimal. Sejalan dengan dinamika pembangunan, dalam penyelenggaraan Pemerintahan terdapat berbagai hambatan antara lain (1) hambatan politik, ekonomi, dan lingkungan, (2) kelemahan institusi, (3) ketidakmampuan SDM di bidang teknis dan administrasi, (4) kekurangan dalam bentuk teknis, (5) kurangnya desentralisasi dan partisipasi, (6) pengaturan waktu (timing), (7) sistim informasi yang kurang mendukung, (8) perbedaan agenda tujuan antara aktor dan, (9) dukungan yang berkesinambungan. Pelaksanaan pembangunan tidak terlepas dari perubahan dan perkembangan kondisi ekologi administrasi publik, terutama tantangan yang perlu mendapatkan perhatian dan penyesuaian-penyesuaian dalam penerapan strategi pembangunan meliputi: Penerapan UU-PA; Globalisasi informasi; Netralitas Pegawai Negeri; Sistem politik; Perdagangan bebas dan semangat reformasi dengan segala implikasinya. Dalam hubungan ini kualitas perencanaan pembangunan diharapkan dapat menjawab tantangan perubahan tersebut dengan tetap berpijak pada strategi pembangunan berkelanjutan yang didukung dengan konsep pembangunan manusia (human development). Pemerintahan Aceh bertugas menjalankan MoU Helsinky dan amanat UU-PA/2006 diberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada Penyelenggaraan pemerintah di Aceh secara proporsional. Artinya, pelimpahan tanggung jawab akan diikuti oleh pengaturan pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. Disisi lain isu-isu dalam pemerintahan Aceh adalah isu demokratisasi, good governance (bebas KKN), hak asasi, kelangsungan bumi dan lingkungan. Atas berbagai tuntutan demikian, diperlukan suatu strategi dengan formula kebijakan yang cerdas, berani dan terukur serta visioner dalam kerangka kelangsungan dan keutuhan bangsa di masa-masa mendatang. Terdapat tiga aspek utama yang mendukung keberhasilan Pemerintahan Aceh, yaitu pengawasan, pengendalian, dan pemeriksaan. Ketiga hal tersebut Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-115
  • 134.
    pada dasarnya berbedabaik konsep maupun aplikasinya. Pengawasan mengacu pada tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh pihak lain diluar eksekutif (yaitu masyarakat dan DPRA/DPRK) untuk mengawasi kinerja pemerintahan. Pengendalian adalah mekanisme yang dilakukan oleh eksekutif (Pemerintahan Aceh) untuk menjamin dilaksanakannya sistem dan kebijakan manajemen sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Pemeriksaan (audit) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang memiliki independensi dan memiliki kompetensi profesional untuk memeriksa. Kemampuan aparatur daerah dalam mejalankan otonomi akan menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam rangka meningkatkan PAD, melayani investasi domestik maupun asing, menyusun perencanaan strategi pembangunan dearah dan mengelola proses pelaksanaan pembangunan. Tantangan ini hanya akan mampu dihadapi oleh pemerintahan Aceh (baik eksekutif maupun legislatif) yang bervisi strategik dengan melibatkan peran serta masyarakat. Permasalahan yang perlu mendapat perhatian dan prioritas kedepan adalah : 1. Penyelesaian peraturan-peraturan daerah/qanun sebagaimana yang diamantkan oleh UUPA. 2. Belum terimplementasinya ketentuan (regulasi) secara optimal 3. Terbatasnya Alokasi Anggaran dari Pemerintah Pusat/Povinsi/ Kabupaten/Kota ke Pemerintahan Kecamatan, Mukim dan Gampong 4. Masih kurangnya tenaga dan kemampuan sumberdaya aparatur yang handal dibidangnya. 5. Penyebaran Aparatur Daerah/Pegawai Negeri Sipil belum merata antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya. Pada konteks pelayanan publik, perbaikan dan peningkatan kelembagaan/instiusi perlu ditindaklanjuti seperti pelayanan satu atap (one top service) dan peningkatan kelembagaan pada level pemerintahan kecamatan hingga ke pemerintahan gampong yang langsung berhadapan dengan masyarakat (front-line employees). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-116
  • 135.
    2.7.2 Pemerintahan Mukim Pemerintahan mukim yang pernah berjaya sejak zaman kesultanan, zaman penjajahan dan diawal kemerdekaan. Lembaga Mukim menjadi tidak berdaya setelah Pemerintah memberlakukan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1974 tentang Pemerintahan di Daerah dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, kedua Undang-undang tersebut menganut sistem penyeragaman bentuk dan susunan Pemerintahan Daerah dan Desa secara Nasional sehingga Mukim di Aceh tidak diakui lagi sebagai salah satu strata Pemerintahan di Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan dengan segala daya upaya akhirnya Pemerintahan Mukim di Aceh telah diakui kembali secara nasional. Pengakuan tersebut tertuang langsung dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi khusus bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Aceh dan dipertegas dengan undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Bahwa dengan pemberlakuan Otonomi khusus di Provinsi Aceh, mukim sudah dikukuhkan kembali menjadi lembaga pemerintahan dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah di Aceh. Mukim adalah kesatuan masyarakat hukum di Aceh yang terdiri dari beberapa gampong yang mempunyai batas wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri, berkedudukan langsung dibawah Kecamatan/Sagoe Cut atau nama lain yang dipimpin oleh Imuem Mukim. Oleh karena itu Mukim mempunyai kewenangan yang luas dalam rangka menyelenggarakan Pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pelaksanaan Syari’at Islam. Pemerintah Aceh telah menetapkan kebijakan yang sangat strategis yaitu menetapkan Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Mukim dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dimana Qanun tersebut harus di implementasikan dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-117
  • 136.
    2.7.3 Pemerintahan Gampong Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tantang Pemerintahan Daerah ditegaskan bahwa Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwewenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah Aceh diberikan kewenangan secara luas dan leluasa untuk menata sistem Pemerintahan Daerah sesuai dengan nilai-nilai luhur masyarakat Aceh sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Implementasi ketentuan dalam Undang-undang tersebut, sebelumnya telah ditetapkan Qanun (Perda) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Gampong. Oleh karena itu di Provinsi Aceh istilah lain dari Desa adalah Gampong. Gampong sebagai kesatuan masyarakat hukum memiliki hak dan kekuasaan dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat terutama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat memiliki peran dan posisi yang strategis, karena : 1. Mempunyai susunan Pemerintahan asli berdasarkan hak asal usul yang bersifat istimewa. 2. Penyelenggaraan Pemerintahan Gampong merupakan sub sistem dari penyelenggaraan Pemerintah Aceh dan juga sub sistem Pemerintahan Nasional. 3. Gampong dapat melakukan perbuatan hukum, baik hukum politik, hukum perdata maupun hukum adat, memiliki harta kekayaan, harta benda, dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di Pengadilan. 4. Sebagai perwujudan Demokrasi, di Gampong dibentuk Tuha Peut atau sebutan lain sabagi Lembaga yang menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat serta mengawasi jalannya Pemerintahan Gampong. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-118
  • 137.
    5. Di Gampongdapat dibentuk lembaga kemasyarakatan sesuai dengan kebutuhan yang merupakan mitra kerja Pemerintahan Gampong. 6. Gampong memiliki sumber pembiayaan. 7. Geuchik mempunyai wewenang untuk mendamaikan perkara/sengketa dari pada warganya dan adat dan sengketa adat lainnya. 8. Gampong merupakan titik konsentrasi pelaksanaan Syari’at Islam. Secara obyektif keberadaan Pemerintahan Mukim dan Gampong, Tuha Peut dan Lembaga Kemasyarakatan Mukim dan Gampong dalam melaksanakan kegiatannya untuk mewujudkan kemandirian serta kesejahteraan masyarakat sebagaimana dimaksudkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004, Qanun Nomor 4 Tahun 2003 dan Qanun Nomor 5 Tahun 2003 masih belum optimal. Beberapa permasalahan yang dihadapi Pemerintahan Mukim dan Gampong adalah sebagai berikut: 1. Belum optimalnya penyelenggaraan pemerintahan Mukim dan Gampong dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. 2. Masih terbatasnya peran Tuha Peut dalam menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat serta mendorong peran aktif masyarakat. 3. Masih terbatasnya kemampuan Lembaga Kemasyarakatan Mukim dan Gampong dalam menggalang partisipasi dan swadaya gotong royong masyarakat. 4. Kurang berkembangnya usaha ekonomi masyarakat baik di Gampong maupun di tingkat Kemukiman. 5. Sangat terbatasnya sarana dan prasarana perkantoran Pemerintahan Mukim dan Gampong. 6. Keswadayaan dan kemandirian masyarakat belum dioptimalkan dalam membangun, memanfaatkan, memelihara dan mengembangkan hasil-hasil pembangunan. 7. Peraturan perundang-undangan yang dibutuhkan belum lengkap. 8. Fasilitasi Pemerintah dan Pemerintah Daerah sering terlambat. 9. Kualitas aparatur Pemerintahan Mukim dan Gampong dan Tuha Peut sangat terbatas. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-119
  • 138.
    10. Sangat terbatasnyakesejahteraan aparat Pemerintahan Mukim dan Gampong dan Tuha Peut. 11. Terjadinya inkonsistensi aturan dan kewenangan. Bertolak dari berbagai permasalahan tersebut Pemerintah dan Pemerintah Daerah sangat mendesak untuk melakukan berbagai kegiatan untuk lebih memantapkan, menguatkan dan mengembangkan Pemerintahan Mukim dan Pemerintahan Gampong dengan prioritas : 1. Pembangunan sarana dan prasarana Kantor Mukim, Geuchik dan Peralatan Kerja dan mobiler. 2. Mengembangkan sumber pendapatan dan asset Imuem Mukim dan Gampong serta menyusun keuangan secara efisien, efektif, transparan dan akuntable. 3. Mengembangkan dan menguatnya kemitraan bagi para penyelenggaraan Pemerintahan Mukim dan Pemerintahan Gampong. 4. Mengembangkan Usaha Ekonomi Masyarakat melalui Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat Kemukiman (PEMK). 5. Mengembangkan sistem implementasi Administrasi Pemerintahan Mukim dan Pemerintahan Gampong yang mudah, cepat dan murah. 6. Terjaminnya tingkat kesejahteraan para penyelenggara Pemerintahan Mukim dan Pemerintahan Gampong (Tidak diberikan dalam bentuk insentif atau upah jerih tapi harus dalam bentuk gaji Imum Mukim dan gaji Geuchik atau sebutan lain). 7. Mengembangkan jiwa kegotong royongan, keswadayaan, solidaritas dan persaudaraan masyarakat dalam memecahkan persoalan masyarakat yang dihadapi. Oleh karena itu kegiatan tersebut di atas penting dilaksanakan mengingat Pemerintahan Mukim dan Pemerintahan Gampong merupakan garis terdepan dalam pelayanan kepada masyarakat serta menjadi tonggak utama untuk keberhasilan pelaksanaan semua Program pembangunan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-120
  • 139.
    2.7.4 Pelayanan Kependudukandan Catatan Sipil Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 16 ayat (1) huruf l UUPA, ditegaskan bahwa pelayanan kependudukan dan catatan sipil merupakan salah satu urusan wajib Pemerintah Aceh. Penempatan urusan pelayanan kependudukan dan catatan sipil sebagai urusan wajib, mempunyai arti bahwa Pemerintah Aceh mempunyai wewenang (sebagai hak sekaligus sebagai kewajiban) untuk menyelenggarakan pelayanan dalam bidang kependudukan dan catatan sipil. Hak dan kewajiban dimaksud termasuk hak dan kewajiban mengatur yang menjadi kewenangannya, dan hak dan kewajiban mengurus (termasuk membiayai). Tentunya, hak dan kewajiban dimaksud (mengatur dan mengurus), harus dalam kerangka atau mempertimbangkan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 14 ayat (3) UUPA yang berbunyi “Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib dilakukan dengan berpedoman pada standar pelayanan minimal, dilaksanakan secara bertahap, dan ditetapkan oleh Pemerintah”. Registrasi penduduk merupakan kegiatan utama dalam rangka memberikan pelayanan kependudukan dan catatan sipil. Administrasi kependudukan memuat tentang kegiatan pendaftaran dan pencatatan kejadian vital penduduk (kelahiran, kematian, perpindahan, perkawinan, perceraian dan perubahan status lainnya). Tujuan penyelenggaraan administrasi kependudukan adalah untuk mendokumentasikan data-data yang berkaitan dengan pencatatan melalui suatu sistem registrasi yang terpadu dan pelaporan data kependudukan agar terciptanya tertib administrasi dan legalisasi sebagai dokumen bagi setiap penduduk. Akan tetapi, dalam pengelolaan registrasi penduduk sampai saat ini dihadapkan pada berbagai kendala yang menyebabkan penyelenggaraan belum berjalan sebagaimana diharapkan. Akibatnya data dan informasi kependudukan yang berbasis individu dan berskala mikro belum dapat dikembangkan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan penyusunan perencanaan dan kebijakan pembangunan. Sementara tuntutan ketersediaan data mikro dan rutin makin mendesak sebagai konsekuensi kebutuhan perencanaan dalam era otomomi daerah kabupaten dan kota yang menjadi sentral pembangunan. Disisi lain, untuk kepentingan individu atau masyarakat, pencatatan penduduk akan memberikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-121
  • 140.
    keabsahan dari kejadianvital tersebut sebagai dokumen resmi yang antara lain diperlukan dalam urusan pelayanan publik. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2007-2012 di bidang administrasi kependudukan diharapkan dapat sinergi dengan RPJM Nasional 2004-2009. Sasaran yang ingin dicapai adalah terwujudnya tertib administrasi kependudukan, yang dimulai dengan terselenggara registrasi penduduk. Dengan tertibnya administrasi kependudukan tersebut diharapkan mampu menghasilkan data dan informasi perkembangan kependudukan pada berbagai tingkat secara akurat, tepat, menyeluruh dan mudah diakses, sehingga menjadi acuan bagi perumusan kebijakan dan program pembangunan. Permasalahan yang masih dihadapi adalah: (a) masih lemahnya koordinasi penyelenggaraan adminstrasi kependudukan antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Kab/kota; (b) masih lemahnya pemberian bimbingan, supervisi dan konsultasi pelaksanaan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil; (c) lemahnya pembinaan dan sosialisasi penyelenggaraan administrasi kependudukan; (d) belum tertibnya pengelolaan dan penyajian data kependudukan; dan (e) lemahnya koordinasi pengawasan atas penyelenggaraaan administrasi kependudukan. Di samping itu koordinasi dengan instansi vertikal yang menangani pencatatan sipil juga sangat lemah baik pada tingkat provinsi maupun kab/kota. Untuk mencapai sasaran tersebut, maka perlu penguatan instansi pelaksana administrasi kependudukan dan catatan sipil, dengan tujuan: (a) menggembangkan sistem administrasi kependudukan yang terpadu dan efisien, termasuk registrasi penduduk; (b) meningkatkan cakupan dan ketepatan pelaporan pendaftaran penduduk dari tingkat terendah sampai ketingkat pusat secara cepat, tepat dan lengkap; (c) mengembangkan organisasi atau unit kerja pendaftaran penduduk diberbagai tingkatan mulai dari tingkat kecamatan sampai tingkat provinsi; (d) peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang arti penting registrasi dan administrasi kependudukan sebagai sumber data mikro dan rutin untuk mendukung terselenggara pengelolaan sistem administrasi kependudukan yang efektif dan efisien; (e) menyusun rancangan undang-undang (Qanun) tentang registrasi penduduk. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-122
  • 141.
    Dalam rangka pelaksanaan program kerja pengembangan sistem administrasi kependudukan tersebut, termasuk registrasi penduduk, di Provinsi Aceh, maka lebih dahulu perlu melakukan suatu penelitian untuk mengetahui potensi dan permasalahan dalam penyelenggaraan administrasi kependudukan, terutama registrasi penduduk secara permanen dan online setiap saat dan dimulai pada level pemerintahan yang terendah (gampong) hingga ke tingkat provinsi. Pelaksanaan registrasi administrasi kependudukan tersebut dapat dilaksanakan oleh pemerintahan desa dan harus didukung dengan peningkatan SDM dan penyediaan fasilitas pendukung. 2.7.5 Perizinan Penyediaan pelayanan pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan kebutuhan dasar, barang-barang publik (public goods), berbagai perizinan, dan lain-lain belum sepenuhnya berkembang dengan baik. Berbagai prosedur perizinan belum disusun sesuai dengan prinsip-prinsip pelayanan yang mudah, murah dan cepat. Pelayanan perizinan juga belum didasarkan pada standar pelayanan minimal. Pulihnya kondisi keamanan menimbulkan gairah masyarakat untuk berusaha kembali dalam berbagai aktifitas ekonomi. Jumlah izin usaha perdagangan (SIUP) pada Tahun 2005 misalnya cukup tinggi, berjumlah 41.452 termasuk usaha skala besar, menengah dan kecil. Sementara pada Tahun 2001, yang kondisi keamanannya belum pulih, jumlah SIUP hanya 2.678 buah untuk semua jenis perdagangan. Dalam rangka menghadapi berbagai urusan pemerintahan di bidang perekonomian, perdagangan, investasi, pariwisata, dan lain-lain, sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Udang-Undang No. 11 Tahun 2006, perlu ditinjau kembali berbagai prosedur dan sistem pelayanan perizinan. Pelayanan perizinan secara cepat dan tepat oleh pemerintah dapat memberi dukungan terhadap pembangunan ekonomi sesuai harapan masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-123
  • 142.
    2.7.6 Keimigrasian Pelayanan publik pada keimigrasian harus dapat ditingkatkan, kondisi yang ada selama ini masih menunjukkan pelayanan yang belum profesional. Oleh karena itu perlu perbaikan manajemen dengan melakukan perubahan mekanisme, penetapan prosesur yang jelas dan sistem pelayanan yang terpadu. Sejalan dengan globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi dunia, maka akan berimplikasi pada terjadinya lalulintas atau masuknya warga negara asing (imigrasi), baik melalui investasi maupun kunjungan wisatawan. Penyediaan pelayanan publik di sektor keimigrasian diharapkan dapat terus ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitas sarana dan prasarana agar terciptanya kualitas pelayanan yang cepat, tepat dan terjangkau. Secara simultan fenomena ini harus mampu dilaksanakan oleh Pemerintahan Aceh seiring dengan tingginya tingkat kemajuan ekonomi yang menyebabkan berubahnya tuntutan kebutuhan masyarakat. 2.7.7 Ketertiban Umum Pasca MoU Helsinky dan UU-PA, ketertiban umum di Pemerintah Aceh relatif kondusif namun masih perlu terus ditingkatkan, terutama dalam pelayanan dan penegakan hukum. Persoalan utama dalam pelayanan dan penegakan hukum adalah masih kurang profesionalnya lembaga pelayanan dan penegakan hukum. Lembaga kepolisian harus memiliki profesionalisme dalam mengintegrasikan aspek struktural (institusi, organisasi, susunan dan kedudukan), aspek (filosofi, doktrin, kewenangan, kompetensi, kemampuan, fungsi dan iptek), dan aspek kultural (manajemen sumberdaya, manajemen operasional dan sistem pengamanan di masyarakat). Sumberdaya manusia sebagai tulang punggung institusi polisi masih memprihatinkan, kuantitas polisi belum memenuhi standar yang ditetapkan oleh PBB yaitu 1 (satu) personil polisi untuk 400 orang penduduk (1:40). Rasio jumlah personil polisi dengan jumlah penduduk pada Tahun 2004 secara nasional adalah 1 berbanding 475. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-124
  • 143.
    Dari segi kuantitaslebih baik, namun mengingat luasnya wilayah, jumlah personil polisi di Aceh harus disesuaikan dengan luas wilayah daerah ini. Peningkatan profesionalisme polisi secara keseluruhan memerlukan penguatan kapasitas yang meliputi moral dan etika, budaya kerja, motivasi, pendidikan, dan pelatihan, serta peralatan. Disamping itu, agar masyarakat mampu membina sistem keamanan dan ketertiban di lingkungannya, polisi harus berperan sebagai pembina dan penyelia dalam rangka mendukung terbentuknya mekanisme community policing. Ketertiban umum merupakan tanggung jawab bersama, oleh karena itu menjaga ketertiban harus dimulai dari diri setiap warga negara dan masyarakat. Kewenangan pemerintah hanya sebatas menjalankan kebijakan melalui berbagai regulasi. Setiap warga negara dan masyarakat wajib setia menjaga ketertiban dan keamanan, serta berhak mendapat jaminan perlindungan hukum, jaminan keamanan dan ketertiban. 2.8 Rencana Aksi Kesinambungan Rekonstruksi Aceh Penyusunan Rencana Aksi Kesinambungan Rekonstruksi dan Percepatan Pembangunan Aceh adalah untuk menyediakan pedoman bagi upaya kesinambungan rekonstruksi dan percepatan pembangunan Aceh, untuk mengejar ketertinggalan menuju kesejahteraan rakyat dan pembangunan berkelanjutan. Rencana Aksi Kesinambungan Rekontruksi Provinsi Aceh 2010-2012 dengan Peraturan Gubernur Nomor 13 Tahun 2010 merupakan penajaman fokus kepada penuntasan program, pengelolaan dan pemeliharaan aset hasil rehabilitasi dan rekontruksi, fungsionalisasi hasil rehabilitasi dan rekontruksi serta penguatan kapasitas pemerintah daerah, upaya penguatan institusi daerah ini diperlukan dalam rangka memastikan terjadinya keselarasan dan kesinambungan pembangunan di Provinsi Aceh pasca 2009 baik dalam memelihara dan merawat seluruh kemajuan yang ada maupun melanjutkan dan mengembangkan program- program percepatan pembangunan provinsi Aceh ke depan. Selanjutnya, untuk mengatasi ketertinggalan Aceh akibat dihimpit konflik dan bencana tsunami maka diperlukan suatu rencana aksi percepatan pembangunan Aceh ke depan yang difokuskan kepada pengembangan infrastruktur stretegis, pengembangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-125
  • 144.
    ekonomi strategis, danpengembangan sosial kemasyarakatan. Rencana Aksi Kesinambungan Rekontruksi Provinsi Aceh 2010-2012. 2.9 Badan Reintegrasi Aceh Sebagai tindaklanjut kesepakatan damai MoU-Helsinki, telah disusun serangkaian kebijakan serta pelaksanaannya, yang secara keseluruhan terus berproses sampai saat ini, melalui penerbitan Inpres 15/2005 tentang Pelaksanaan Nota Kesepahaman Helsinki, dan diditegaskan melalui Direktif Menko Polhukam No. Dir-67/Menko.Polhukam/12/2005 tentang Optimalisasi Inpres 15/2005. Khususnya tentang Program Reintegrasi telah dilakukan berbagai langkah tindaklanjut melalui BRA (Badan Reintegrasi-Damai Aceh), sesuai agenda pelaksanaan program reintegrasi yang disepakati Pusat-Daerah untuk 3 (tiga) Tahun mulai 2005 hingga 2007, dan dilanjutkan pada Tahun 2008-2011. Berdasarkan rencana kerja dan pendanaan Program Reintegrasi yang disusun bersama oleh Bappenas dan BRA pada September 2005, total kebutuhan pendanaan untuk proses reintegrasi Aceh secara keseluruhan berjumlah Rp 1.500 miliar, untuk tiga Tahun (2005-2007), dan telah dikoreksi pada Tahun 2010 menjadi berjumlah Rp 2.100 miliar. MoU-Helsinki yang memuat prinsip-prinsip dasar bagi terciptanya suasana damai yang berkelanjutan, telah ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinki. Prinsip-prinsip dasar tersebut harus diimplementasikan oleh Pemerintah RI, termasuk Pemda Aceh, dan GAM. Dalam MoU Helsinki terdapat minimal 19 butir kewajiban RI dalam MoU tersebut yang harus segera ditindaklanjuti meliputi: aspek politik, hukum, HAM, keamanan, sosial, dan aspek ekonomi. Pemerintah Aceh membentuk Badan Reintegrasi-Damai Aceh berdasarkan Keputusan Gubernur No. 330/438/2007 tanggal 26 Agustus 2008 tentang Pembentukan Badan Reintegrasi-Damai Aceh. Dana reintegrasi bersumber dari APBN dan APBD. Kebutuhan pendanaan dialokasikan secara bertahap dalam 3 Tahun anggaran: 1. Tahun 2005 dialokasikan Rp200 miliar, melalui APBN-P 2005; 2. Tahun 2006 dialokasikan Rp600 miliar melalui APBN 2006; Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-126
  • 145.
    3. Tahun 2007dialokasikan Rp250 miliar melalui APBN 2007. Dengan adanya koreksi kebutuhan pendanaan reintegrasi damai Aceh yang memerlukan tambahan dana sebesar Rp 600 miliar, yang disebabkan adanya eskalasi satuan harga rumah yang perlu dibangun, maka pada Tahun 2008-2010, dengan rincian: 1. Tahun 2008 dialokasikan Rp 250 miliar melalui APBN 2008; 2. Tahun 2009 dialokasikan Rp 200 miliar melalui APBN-P 2009; 3. Tahun 2010 dialokasikan Rp 200 miliar melalui APBN 2010. Untuk memenuhi kebutuhan keseluruhan, maka pada Tahun 2011 akan dialokasikan Rp 200 miliar melalui APBN 2011. Permasalahan-permasalahan yang selama ini timbul adalah belum adanya kepastian dana yang tersedia bagi kelanjutan program Reintegrasi Aceh, Penyaluran dana APBN tidak bersamaan, perlakuan terhadap date line sama dengan APBN lainnya, kemudian belum adanya suatu ketetapan atau aturan terhadap besarnya bantuan (kompensasi diyat), dan sebagian besar penerima bantuan rumah di pedalaman, sehingga dana yang tersedia kurang memadai. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 II-127
  • 146.
    BAB III VISI DAN MISI 3.1 Visi Terwujudnya perubahan yang fundamental di Aceh dalam segala sektor kehidupan masyarakat Aceh dan pemerintahan, yang menjunjung tinggi asas transparansi dan akuntabilitas bagi terbentuknya suatu pemerintahan Aceh yang bebas dari praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, sehingga pada tahun 2012 Aceh akan tumbuh menjadi negeri makmur yang berkeadilan dan adil dalam kemakmuran. 3.2 Misi a. Kepemimpinan Yang Aspiratif, Inovatif, dan Intuitif 1) Membangun suatu mekanisme kontrol yang ketat agar para pemimpin formal dari level tertinggi sampai level yang terendah memperlihatkan keteladanan yang baik, taat beragama, hidup sederhana, menegakkan keadilan, taat pada hukum, tidak melakukan KKN dalam bentuk apapun, sehingga memberi contoh keteladanan bagi masyarakat. 2) Pemimpin harus memiliki sikap inovatif dan intuitif yang tinggi dalam menciptakan dan melaksanakan kebijakan agar selalu dalam koridor kepentingan rakyat. Pemimpin dan pejabat negara adalah "Orang Besar", namun kebesarannya bukan karena dia berpangkat tinggi, kaya raya atau berketurunan bangsawan tetapi karena dia dengan setia telah menjadi pelayan rakyatnya. b. Aparatur Pemerintah Yang Bersih, Kompeten dan Berwibawa, Bebas Dari Korupsi dan Penyalahgunaan Kekuasaan 1) Memperbaiki kesejahteraan PNS/pejabat negara sebagai prioritas utama, melalui pendapatan dan gaji yang layak. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 III-1
  • 147.
    2) Memberikan reward bagi PNS/pejabat negara yang berprestasi dan punishment (sanksi/hukuman) bagi mereka yang melalaikan tugasnya. 3) Memperbaiki kembali system penerimaan PNS dimana akan dilakukan secara lebih ketat sehingga diperoleh PNS yang berkualitas dan tidak mengandung unsur KKN. c. Penegakan Hukum 1) Pemerintah Aceh akan berusaha sekuat tenaga membantu agar pengadilan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Walaupun bidang kehakiman menjadi wewenang Pemerintah Indonesia, Pemerintah Aceh akan berusaha agar pejabat dan PNS yang berdinas di Aceh dalam bidang penegakan hukum akan mendapat fasilitas yang sama dengan pejabat dan PNS yang berada di bawah Pemerintah Aceh. 2) Pemerintah Aceh dengan bekerjasama dengan aparat penegak hukum akan membangun mekanisme agar rakyat pencari keadilan dapat dan berani mengawasi proses hukum yang terjadi di dalam dan di luar pengadilan dan mengawasi perilaku para hakim serta aparat penegak hukum lainnya. d. Pengembangan Sumberdaya Manusia 1) Pendidikan akan dijadikan sebagai media pemerataan kesempatan untuk berkembang (mobilitas vertikal) bagi semua lapisan masyarakat, terutama masyarakat lapisan bawah. 2) Kualitas dan mutu sekolah di seluruh Aceh akan ditingkatkan baik kualitas fisik bangunannya maupun kualitas para pendidik terutama administrasinya. 3) Pemerintah Aceh akan memberikan subsidi untuk universitas- universitas atau perguruan tinggi di Aceh guna meningkatkan mutu sumberdaya manusia dan fasilitas pendidikan (sarana penunjang). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 III-2
  • 148.
    4) Pemerintah Aceh akan mengusahakan pendidikan gratis minimal bagi murid sekolah dasar (SD/MI) sampai dengan Sekolah Lanjutan Atas (SLTA/MA) Sekolah akan dibersihkan dari pungutan yang membebani orang tua siswa. 5) Pemerintah Aceh juga mengupayakan sesuai dengan kemampuan ekonomi Pemerintah Aceh pembebasan biaya pendidikan bagi semua anak yatim korban konflik dan korban tsunami sampai tamat Perguruan Tinggi (S1). 6) Pemerintah Aceh akan mengusahakan (sesuai kemampuan pemerintahan Aceh) pembebasan uang kuliah atau sekurang- kurangnya akan dikembangkan sistem subsidi yang adil untuk semua program studi S1 yang memenuhi kriteria dan kualifikasi tertentu. 7) Pemerintah Aceh akan meminta kepada institusi-institusi/lembaga pendidikan pencetak tenaga pendidik untuk meningkatkan standar mutu penerimaan calon tenaga pendidik dengan menaikkan rating kualifikasi penerimaan mahasiswa baru. Institusi ini akan mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Aceh. 8) Institusi-institusi pendidikan agama seperti dayah akan mendapat perhatian serius dari Pemerintah Aceh. 9) Pemerintah Aceh akan memberikan perhatian khusus dalam bentuk program-program beasiswa secara luas untuk mahasiswa cerdas dan berprestasi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 dan S3 di universitas-universitas terkemuka di luar negeri. 10) Dalam rangka pemerataan kesempatan pendidikan, Pemerintah Aceh akan mengembangkan sistem subsidi/beasiswa kepada mereka yang secara ekonomi tidak mampu namun memiliki keinginan dan kemampuan kecerdasan untuk melanjutkan pendidikan. 11) Di daerah-daerah tertentu akan dikembangkan sekolah-sekolah kejuruan (vocational). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 III-3
  • 149.
    12) Sekurang-kurangnya 30% APBA akan digunakan untuk pendidikan. 13) Pemerintah Aceh akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat. 14) Pemerintah Aceh bertekad akan memberantas penyakit-penyakit menular klasik seperti Malaria, TBC, DBD, Lepra, dan sebagaimana. 15) Pemerintah Aceh akan memberikan pelayanan medis gratis bagi ibu hamil dan anak. 16) Meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak dalam berbagai bidang khususnya pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, politik, adat istiadat dan agama. e. Perekonomian 1) Membangun kembali infrastruktur perekonomian di seluruh Aceh sehingga akhirnya seluruh teritorial Aceh dapat menjadi satu kesatuan politik dan satu kesatuan ekonomi. 2) Pemerintah Aceh akan memperlakukan pelaku ekonomi sebagai partner pembangunan. 3) Pemerintah Aceh akan memberikan perhatian serius pada pengembangan ekonomi kerakyatan untuk mencapai keadilan di bidang ekonomi. 4) Pemerintah Aceh secara proaktif akan mengidentifikasi semua sumber ekonomi yang berbiaya tinggi (high cost economy) untuk mengatasi dan mencari jalan keluarnya. 5) Pemerintah Aceh akan mendorong bangkitnya kembali semangat kewirausahaan rakyat Aceh seperti yang pernah kita saksikan pada periode tahun 1940-an sampai dengan tahun 1980-an. Pengusaha Aceh harus dapat bangkit kembali menjadi masyarakat ekonomi yang handal. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 III-4
  • 150.
    6) Perdagangan luar negeri, terutama dengan Malaysia, Singapura, Thailand, India, dan lain-lain harus kembali digalakkan. 7) Produksi agrobisnis tradisional masyarakat harus memperoleh pasar yang layak, yaitu dengan membuka pemasaran ke luar negeri. 8) Di setiap kabupaten akan dibangun kebun-kebun percobaan dan percontohan (pilot project) agar rakyat dapat memperoleh penyuluhan dan dapat memperoleh bibit unggul sesuai dengan kondisi alam di tempat itu. 9) Para mantan gerilyawan GAM dan korban konflik akan diperhatikan secara serius untuk memperoleh kehidupan ekonomi yang layak melalui penyediaan modal dan lapangan kerja yang memadai. 10) Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan berkesadaran resiko bencana. 11) Keberhasilan transisi dari rehabilitasi dan rekonstruksi dampak tsunami. f. Politik 1) Pemerintah Aceh akan berusaha sekuat tenaga agar seluruh Rakyat Aceh mendapat perlakuan yang adil, baik dalam bidang politik dan hukum maupun dalam bidang ekonomi, dengan memperhatikan potensi dan karakteristik masing-masing. 2) Kepala dan Wakil Kepala Pemerintahan di setiap level harus menjadi satu kesatuan yang saling mengisi dengan pembagian tugas yang jelas. Sementara Bupati/Walikota menjadi mandataris rakyat di daerahnya masing-masing. 3) Semua lembaga politik, lembaga adat, dan lembaga keagamaan harus menjalankan kegiatannya berdasarkan fungsi masing-masing dan tidak boleh ada tumpang tindih dalam hal fungsi dan wewenang. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 III-5
  • 151.
    4) Partai lokal harus menjadi sarana demokrasi yang menciptakan kestabilan politik, kemandirian, dan kemakmuran bagi Rakyat Aceh. g. Sumber Daya Alam 1) Penerimaan Pemerintah Aceh yang berasal dari bagi hasil kekayaan alam akan digunakan secara adil, efisien, dan bertanggungjawab untuk kesejahteraan dan kemakmuran seluruh Rakyat Aceh. 2) Pemerintah Aceh akan meninjau kembali Hak Pengelolaan Hutan (HPH). Jika selama ini HPH hanya diberikan kepada pengusaha, maka dimasa mendatang, Pemerintah Aceh akan menciptakan sistem pengelolaan hutan yang dikelola sendiri oleh rakyat secara lestari, berkesinambungan dan bertanggung jawab untuk kepentingan rakyat Aceh sendiri. 3) Pemerintah Aceh akan melarang dan membatasi penebangan hutan yang dilakukan secara liar, kecuali untuk keperluan domestik rakyat yang dilakukan secara terkontrol. 4) Pemerintah Aceh akan melakukan eksploitasi dan eksplorasi sumber kekayaan alam lainnya, terutama pertambangan, dengan mempertimbangkan secara serius kelestarian ekosistem. h. Adat Istiadat, Kebudayaan, dan Olahraga 1) Pemerintah Aceh akan memberi perhatian lebih secara seksama dan mendukung upaya-upaya untuk mengembangan adat istiadat dan budaya Aceh, antara lain dengan mendorong rakyat untuk menghidupkan kembali pendidikan tatacara sopan-santun ke-Acehan dalam keluarga serta akan menyelenggarakan secara reguler festival dan seni Aceh. 2) Pemerintah Aceh akan membangun sarana olahraga dan seni yang merata di seluruh Aceh dan akan mendukung partisipasi Aceh dalam event olahraga dan seni secara lokal, nasional, dan internasional. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 III-6
  • 152.
    BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN ACEH Perumusan strategi pembangunan didasarkan pada kerangka analisis terhadap faktor lingkungan strategis. Proses perumusan strategi perlu dilakukan mengingat faktor strategis lingkungan akan menentukan keberhasilan pelaksanaan visi dan misi yang ditetapkan. Keberadaan faktor-faktor lingkungan strategis yang dimaksud terdiri dari faktor lingkungan internal strategis dan faktor lingkungan eksternal strategis yang merupakan kerangka dasar, mengingat pada faktor tersebut dapat ditemukan berbagai kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan. Analisis faktor lingkungan internal strategis dan faktor eksternal strategis mengisyaratkan bahwa implementasi strategi yang tepat dapat mewujudkan peningkatan dan optimalisasi setiap program dan kegiatan secara menyeluruh. Visi dan misi Pemerintah Aceh diwujudkan melalui pelaksanaan 7 (tujuh) prioritas pembangunan secara proporsional yaitu: 1) Pemberdayaan ekonomi masyarakat, perluasan kesempatan kerja dan penanggulangan kemiskinan, 2) Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur dan sumber daya energi pendukung investasi, 3). Peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan kesempatan belajar, 4). Peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan, 5). Pembangunan syariat islam sosial dan budaya, 6). Penciptaan pemerintah yang baik dan bersih serta penyehatan birokrasi pemerintaan, 7). Penanganan dan pengurangan resiko bencana. 4.1 Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan Pembangunan perekonomian Aceh tidak terlepas sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat, perluasan kesempatan kerja dan penanggulangan kemiskinan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketiga prioritas tersebut sangat ditentukan oleh tiga aspek Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-1
  • 153.
    ekonomi makro yaitupertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka. Pertumbuhan ekonomi Aceh saat ini telah menunjukkan perkembangan yang positif, namun kondisi tersebut masih dibawah rata-rata nasional. Demikian pula halnya dengan tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran yang semakin menurun, hal tersebut masih berada diatas rata-rata nasional. Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menurunkan tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran hingga mencapai kondisi yang lebih baik, maka strategi yang ditempuh adalah: 1. Peningkatan serta percepatan upaya revitalisasi pertanian dan perikanan sehingga menjadi sektor ekonomi andalan yang berkelanjutan 2. Meningkatkan produksi sektor ril baik secara kuantitas maupun kualitas, terutama fokus pada komoditi-komoditi unggulan yang berorientasi pasar 3. Mengembangkan dan meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana pendukung produksi serta pemasaran secara terintegrasi 4. Membangun serta mendorong pengembangan unit-unit penyedia sarana produksi 5. Melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pendistribusian sarana produksi bagi masyarakat 6. Mendorong tumbuhnya industri-industri pengolahan terutama yang berbasis bahan baku lokal 7. Pemberdayaan UMKM, koperasi, serta memfasilitasi terjalinnya kemitraan dengan kelompok usaha besar 8. Mendorong terjadinya peningkatan realisasi investasi swasta baik nasional maupun asing 9. Mendorong terjadinya peningkatan aktivitas perdagangan dalam dan luar negeri 10. Mendorong peningkatan kapasitas sektor finansial serta peningkatan fungsi intermediasi perbankan 11. Peningkatkan kualitas sumber daya petani, nelayan, dan kompetensi tenaga kerja Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-2
  • 154.
    12. Pengembangan kawasan-kawasanpotensial dan cepat tumbuh melalui pembangunan pemukiman baru 13. Peningkatan ketahanan dan keamanan pangan serta perbaikan gizi masyarakat 14. Pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di kawasan sekitar hutan, serta pengembangan hutan tanaman rakyat 15. Pelestarian sumber daya hutan dan pengendalian Daerah Aliran Sungai (DAS) 16. Mengupayakan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam rangka kemandirian dan kesinambungan pembiayaan pembangunan 17. Meningkatkan kerjasama pembanguanan ekonomi baik secara kelembagaan maupun kawasan 4.2 Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi Dalam rangka penyediaan infrastruktur dan sumber daya energy pendukung investasi diperlukan strategi yang diselaraskan dengan prioritas pembangunan Pemerintah Aceh sesuai dengan kondisi dan potensi daerah. Sarana dan prasarana pendukung investasi yang belum memadai menyebabkan masih adanya daerah terpencil dan terisolir. Pembangunan Bidang Sarana dan Prasarana memegang peranan penting untuk menghilangkan disparitas antar wilayah, maka diperlukan langkah-langkah atau strategi sebagai berikut: 4.2.1 Sumber Daya Air Strategi Pembangunan Bidang Sumber Daya Air Tahun 2007–2012 adalah: 1. Menyusun pola terpadu pengembangan pengelolaan sumber daya air sebagai kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-3
  • 155.
    2. Menyusun pola pengelolaan aset irigasi untuk mengetahui kondisi kinerja masing-masing jaringan irigasi dengan membentuk Dewan Sumber Daya Air Aceh dan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) di masing-masing Wilayah Sungai. 3. Membangun waduk dan embung beserta sarana dan prasarana yang berfungsi sebagai pengawaten air, sumber daya air, dan pengendali daya rusak air, yang dibarengi dengan kegiatan konservasi DAS. 4. Membuat perangkat hukum yang berhubungan dengan sumber daya air di Aceh. 5. Memelihara dan meningkatkan fungsi sarana dan prasarana konservasi sumber daya air dan jaringan irigasi yang telah ada, melalui kegiatan operasi dan pemeliharaan (OP) irigasi dan membangun laboratorium konservasi pada DAS. 6. Mengoptimalkan fungsi dan peran Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)/Kejruen Blang, dengan membentuk Komisi Irigasi (Komir) Aceh. 7. Membangun dan meningkatkan irigasi teknis pada lahan-lahan potensial serta membangun sarana dan prasarana pemanfaatan air tanah secara terkendali. 8. Memelihara dan meningkatkan fungsi konstruksi sungai, muara, dan pantai yang berfungsi sebagai pengendali daya rusak air. 9. Membangun konstruksi pengendali daya rusak air di sungai, muara, dan pantai serta fasilitas sarana peringatan dini banjir kiriman sungai. 4.2.2 Bina Marga dan Cipta Karya Strategi pembangunan bidang kebinamargaan dan keciptakaryaan adalah: 1. Pembangunan, peningkatan dan pemeliharaan jalan nasional lintas Timur, lintas Barat, lintas tengah, pembangunan, peningkatan dan pemeliharaan jalan provinsi, jalan kabupaten/Kota, jalan menuju sentra produksi dan jalan strategis lainnya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-4
  • 156.
    2. Mendukung pembangunan kawasan yang berpotensi dan cepat tumbuh dengan menyediakan jaringan jalan dan jembatan yang memenuhi kebutuhan pergerakan barang dan jasa di seluruh wilayah kawasan. 3. Membuka dan meningkatkan aksesibilitas daerah terpencil/terisolir, perbatasan dan kepulauan untuk mengurangai kesenjangan antar daerah. 4. Meningkatkan penguasaan teknologi tepat guna di bidang prasarana jalan. 5. Meningkatkan daya dukung, kapasitas, dan geometrik jalan. 6. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat dalam pemanfaatan prasarana jalan. 7. Pembangunan jalan highway lintas Timur dari Banda Aceh ke perbatasan Sumatra Utara dengan dimulai dengan penentuan alignment jalan highway, studi Amdal, dan pembebasan tanah. 8. Menyediakan sarana dan prasarana dasar pemukiman, air bersih, sanitasi, fasilitas umum bagi masyarakat, dengan berpedoman kepada tata ruang serta tata bangunan yang mempertimbangkan resiko bencana sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan termasuk pembangunan kawasan perbatasan dan terisolir. 9. Menyediakan rumah sederhana bagi kaum dhuafa/korban kerusuhan/ bencana alam, 10. Menyiapkan/memberikan informasi pembangunan infrastruktur/ permukiman kepada pihak swasta dan masyarakat. 11. Mendorong peningkatan kemampuan SDM jasa konstruksi. 12. Meningkatkan dukungan terhadap pengembangan teknologi permukiman yang berorientasi terhadap faktor alam. 4.2.3 Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika Strategi Pembangunan Bidang Perhubungan, Komunikasi, Informasi, dan Telematika Tahun 2007 - 2012 adalah : 1. Melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana transportasi darat dan penyeberangan, pelabuhan laut, pelabuhan rakyat, bandar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-5
  • 157.
    udara yang hancurakibat gempa tektonik dan gelombang tsunami sehingga pelayanan terhadap masyarakat dapat pulih kembali. 2. Mengembangkan prasarana dan sarana transportasi darat dan penyeberangan, pelabuhan laut, pelabuhan rakyat, bandar udara sehingga memberikan akses transportasi yang lebih baik bagi masyarakat. 3. Melakukan penambahan armada ferry dan lintasan baru sebagai upaya penyediaan sarana transportasi bagi masyarakat kepulauan. 4. Meningkatkan pelayanan dan menekan angka kecelakaan lalu lintas bagi pengguna kendaraan di jalan raya. 5. Mempertahankan subsidi angkutan perintis penyeberangan sebagai upaya membuka isolasi daerah dan memacu perkembangan perekonomian wilayah. 6. Mengembangkan angkutan kereta api sebagai angkutan massal yang cepat, murah, hemat energi, berwawasan lingkungan untuk meningkatkan mobilitas barang dan penumpang. 7. Membangun pelabuhan baru dengan kapasitas >10.000 DWT di wilayah pantai Barat-Selatan dan pantai Utara-Timur sehingga dapat menjadi pusat penyebaran (hub) dan pintu masuk bagi kegiatan ekspor-impor bagi masing-masing wilayah tersebut sekaligus menghilangkan ketergantungan terhadap pelabuhan Belawan (SUMUT). 8. Mengembangkan pelabuhan Sabang sebagai International Hub dan pintu masuk Indonesia wilayah barat di masa depan. 9. Mengembangkan Pelabuhan Malahayati untuk mendukung Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET) Bandar Aceh Darussalam. 10. Membangun bandara baru dalam rangka menyediakan alternatif moda transportasi yang cepat dan dapat membuka isolasi daerah serta mengantisipasi terputusnya hubungan darat dan laut sebagai akibat bencana seperti yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dan gempa tanggal 28 Maret 2005. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-6
  • 158.
    11. Mengembangkan BandaraSultan Iskandar Muda (Banda Aceh) sebagai Bandara Internasional Hub dan Embarkasi Haji agar dapat didarati oleh pesawat sejenis B747 serta pengembangan fasilitas pendukung lainnya. 12. Mengembangkan Bandara Maimun Saleh Sabang, Cut Nyak Dhien Meulaboh, Lasikin Sinabang dan Rembele Takengon sebagai bandara utama di Provinsi Aceh yang dapat didarati oleh pesawat sejenis F-28. 13. Meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur telematika daerah dalam rangka integrasi data dan pelayanan informasi kepada publik. 14. Menyediakan koneksi dengan menggunakan teknologi Wireless 5,8 Ghz dari dishubkomintel dengan seluruh SKPA 15. Menyediakan sarana dan prasarana jaringan di 23 kabupaten/kota masing- masing berupa VSAT, 1 Noc dan 2 remote client, 3 BTS yang memiliki Wireless Akses Point yang bisa di gunakan oleh masyarakat secara gratis, 8 unit personal komputer untuk telecenter bagi masyarakat, 8 unit telpon analog berbasis Voip. 16. Penyediaan pusat informasi dan komunikasi Aceh dalam mewujudkan Aceh Cyber Province melalui membangun Gedung Seuramo Aceh yang berfungsi sebagai Media Center Aceh. 17. Penyediaan sistem telekomunikasi dengan dasar BWA (Broadband Wireless Access) yang bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan sistem tekhnologi informasi/ komunikasi oleh seluruh kalangan masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 4.2.4 Lingkungan Hidup Strategi pembangunan bidang lingkungan hidup tahun 2007 - 2012 adalah: 1. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup secara merata dengan melibatkan partisipasi semua stake holders dan penegakan hukum dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-7
  • 159.
    2. Melakukan penelitian dampak lingkungan penggunaan mercury, khususnya di kawasan pertambangan emas Gunong Ujeun Kabupaten Aceh Jaya; Sawang Kabupaten Aceh Selatan dan Geumpang Kabupaten Pidie, serta Valuasi Ekonomi Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah dan Aneuk Laot di Kota Sabang. 3. Pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang meliputi antara lain pengendalian konflik satwa, penetapan tapal batas antara Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan diluar KEL. 4. Pengelolaan dan Rehabilitasi Terumbu Karang dan Mangrove 35 ha di Kabupaten Aceh Besar dan Pidie Jaya. 5. Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 5 - 10 ha masing- masing di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Kota Lhokseumawe, Kota Langsa, Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Barat. 6. Pengembangan desa model yang ramah lingkungan merupakan prioritas untuk dijadikan pilot project pada masing-masing Kabupaten/Kota. 7. Konservasi sumberdaya air dan pengendalian kerusakan sungai Alas Kabupaten Aceh Singkil. 4.2.5 Pertanahan Strategi Pembangunan Bidang Lingkungan Hidup Tahun 2007 - 2012 adalah: 1. Menginventarisasi penguasaan, pemilikan, pemanfaatan dan penggunaan tanah (P4T) serta menyediakan sertifikat tanah bagi masyarakat ekonomi lemah dan wilayah perbatasan. 2. Pecepatan pelimpahan Badan pertanahan menjadi Badan Otonomi di Daerah. 4.2.6 Energi dan Sumber Daya Mineral Strategi Pembangunan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun 2007 - 2012 adalah: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-8
  • 160.
    1. Mengupayakan percepatan pembangunan pusat-pusat pembangkit yang akan diinterkoneksikan ke sistem 150 kV Sumut-Aceh, dimana saat ini sedang dalam pelaksanaan (committed) yaitu: a. PLTU Batubara di Kabupaten Nagan Raya dengan total kapasitas 2 x 100 MW yang direncanakan beroperasi pada akhir tahun 2011 (tahap konstruksi). b. PLTP Seulawah di Kabupaten Aceh Besar dengan total kapasitas 2 x 20 MW yang akan beroperasi pada akhir tahun 2012. c. PLTA Peusangan I dan II di Kabupaten Aceh Tengah dengan total kapasitas 2 x 43 MW dibiayai dari Loan JBIC (Japan Bank International Company) dan direncanakan beroperasi pada tahun 2011 dan 2013. d. PLTA Lawe Mamas di Kabupaten Aceh Tenggara dengan total kapasitas 3 x 30 MW yang direncanakan beroperasi pada tahun 2015. 2. Meningkatkan pengembangan pembangkit di system isolated yang memiliki kapasitas terpasang sebesar 146,5 MW, dimana saat ini dengan daya mampu sebesar 96 MW. 3. Pengembangan system transmisi 150 kV Tahun 2011 adalah Brastagi- Kutacane, Bireun-Takengon, Sidikalang-Subulussalam. Pada Tahun 2012 adalah Sigli-Meulaboh, Meulaboh-Blangpidie, Blangpidie-Tapaktuan, Incomer GI Jantho, Incomer GI Panton Labu, Incomer GI Cot Trueng. Pada tahun 2013 dilakukan pembangunan Incomer GI Samalanga dan pada tahun 2014 pengembangan transmisi Jantho-Krueng Raya dan Kutacane-Blangkejeren. 4. Penambahan kapasitas trafo gardu induk (GI) dilakukan sejak tahun 2010 sampai dengan 2019 sebesar 420 MVA dan GI uprating adalah sebesar 350 MVA. 5. Menyediakan dan mendayagunakan sumberdaya alam tambang yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup serta menyediakan informasi geologi dan sumber daya mineral. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-9
  • 161.
    4.3 Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan Belajar Permasalahan pendidikan tidak hanya menyangkut penyediaan layanan pendidikan formal bagi peserta didik, tetapi juga pembekalan ilmu pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (life skills) bagi setiap anggota masyarakat melalui program Pendidikan Non Formal (PNF). Pemberantasan buta aksara (illiteracy) perlu dilakukan secara serius sebagai upaya untuk mencerdaskan seluruh rakyat dan mendukung pembelajaran sepanjang hidup (life long learning). Strategi pembangunan Pendidikan dan pemerataan kesempatan belajar di Aceh akan dilakukan melalui: 4.3.1 Pemerataan dan Perluasan Akses Strategi utama untuk meningkatkan pemerataan dan perluasan akses adalah: 1. Mengurangi hambatan biaya pada tingkat pendidikan usia dini, pendidikan dasar, menengah, dayah dan luar sekolah. 2. Meningkatkan efektivitas internal dan tingkat kelangsungan sekolah di setiap jenjang pendidikan. 3. Meningkatkan partisipasi yang lebih besar dari masyarakat dan dunia usaha. 4. Mengembangkan fasilitas pendidikan yang fokus dalam rangka menghapus hambatan kesempatan belajar dan perluasan akses penyediaan pendidikan dasar dan menengah di daerah-daerah terpencil, pemukiman terpencar dan daerah kepulauan. 5. Meningkatkan pengembangan Perguruan Tinggi sesuai dengan prioritas dan arah pengembangan daerah. 6. Pengembangan fasilitas dayah dalam menunjang pelayanan pendidikan yang bermutu. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-10
  • 162.
    4.3.2 Mutu, Relevansidan Daya Saing Strategi utama untuk meningkatkan mutu, relevansi, dan daya saing adalah: 1. Meningkatkan kinerja pelayanan pendidikan pada semua jenjang pendidikan 2. Mengupayakan desentralisasi sekolah/manajemen kelembagaan, dan manajemen perencanaan pengembangan guru. 3. Meningkatkan reformasi kurikulum dan bahan ajar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. 4. Meningkatkan monitoring kinerja sekolah/kelembagaan dan prestasi siswa. 5. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana penunjang pembelajaran yang bermutu. 6. Mengembangkan pendidikan unggulan pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan dayah. 7. Mengoptimalkan pembinaan dan pengembangan kelembagaan, kurikulum, manajemen, serta akreditasi dayah. 8. Mengoptimalkan penelitian dan pengembangan pendidikan. 4.3.3 Tata Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik Strategi utama untuk meningkatkan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik adalah : 1. Memperkuat sistem perencanaan, pengawasan, monitoring dan evaluasi. 2. Meningkatkan sistem manajemen kelembagaan dan sekolah. 3. Meningkatkan tata kelola yang akuntabel dan transparan. 4. Meningkatkan koordinasi antar PT/PTS dan Akreditasi pendidikan. 4.3.4 Penerapan Sistem Pendidikan Bernuansa Islami Strategi utama untuk mempercepat penerapan sistem pendidikan yang bernuansa Islami adalah: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-11
  • 163.
    1. Meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak terkait dalam rangka penerapan syari’at Islam. 2. Meningkatkan sarana peribadatan, media pembelajaran dan penerapan budaya yang menunjang pendidikan bernuansa Islami. 3. Meningkatkan kualitas guru dalam metode internalisasi nilai-nilai Islami. 4. Meningkatkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan sistem pendidikan yang bernuansa Islami secara berkala. 5. Mengupayakan penambahan jam pelajaran agama di sekolah dan pelatihan tentang pemahaman Al-Qur’an. 4.4 Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan Dalam rangka peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan Aceh yang pada saat ini masih perlu ditingkatkan meliputi aspek status kesehatan (umur harapan hidup, angka kematian ibu dan angka kematian bayi, angka kesakitan, status gizi), pelayanan kesehatan, kondisi kesehatan lingkungan, pembiayaan kesehatan, fasilitas kesehatan dan sumber daya kesehatan maka perlu ditempuh Strategi sebagai berikut: 1. Meningkatkan pelayanan kesehatan minimal bagi masyarakat. 2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan melalui perencanaan yang tepat, penempatan tenaga kesehatan dan peningkatan kapasitas yang sesuai untuk mendukung pembangunan sistem kesehatan daerah. 3. Meningkatkan jangkauan, pemerataan, efisiensi dan mutu pelayanan kesehatan. 4. Meningkatkan pencegahan dan pengendalian penyakit serta kesehatan lingkungan termasuk penanggulangan bencana. 5. Memperkuat mekanisme rujukan dengan memanfaatkan rumah sakit dengan pelayanan unggulan. 6. Meningkatkan pendidikan kesehatan masyarakat melalui promosi kesehatan dan mengembangkan sistem informasi kesehatan berbasis data teknologi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-12
  • 164.
    7. Melakukan penelitian terhadap kebijakan dan masalah kesehatan. 8. Mengembangkan pola Badan Layanan Umum (BLU) di rumah sakit provinsi dan kabupaten/kota. 9. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama lintas sektor, masyarakat, termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat Lokal, Nasional dan Internasional di setiap upaya pembangunan kesehatan melalui advokasi. 10. Meningkatkan fasilitas pendidikan kesehatan dan kedokteran. 11. Meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan dasar. 12. Meningkatkan Jaminan Kesehatan kepada Masyarakat Miskin diseluruh Aceh (JKA) dalam bentuk pengobatan gratis. 13. Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung lainnya. 4.5 Pembangunan Syariat Islam, Sosial dan Budaya 4.5.1 Syari’at Islam Syari`at Islam di Aceh secara resmi telah menjadi sumber nilai dan sumber penuntun perilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tataran kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan. Strategi pembangunan syari’at Islam adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan peran ulama dalam semua sektor kehidupan pemerintah dan masyarakat. 2. Meningkatkan kerjasama dan koordinasi keagamaan baik dengan instansi terkait maupun lembaga keagamaan tingkat Nasional dan Internasional. 3. Meningkatkan kualitas pendidikan agama di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. 4. Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pelaksanaan Syari’at Islam. 5. Meningkatkan pengawasan tentang pelaksanaan Syari’at Islam. 6. Meningkatkan pemberdayaan lembaga keagamaan dalam melakukan sertifikasi, penatausahaan, pengelolaan dan pemberdayaan harta agama. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-13
  • 165.
    4.5.2 Sosial Budaya Budaya masyarakat Aceh memiliki karakteristik yang berbeda dengan budaya daerah lain, masyarakat Aceh selalu mempertahankan jati diri dan kepribadian yang mendasari nilai-nilai islami. Begitu juga kehidupan sosial erat kaitannya dengan budaya dan adat istiadat yang bersendikan syari’at sebagaimana ditamsilkan dalam syair ”hukom ngoen adat lage zat ngoen sifeut”. Untuk itu strategi yang ditempuh sebagai berikut: 1. Meningkatkan kualitas dan pelayanan kesejahteraan sosial di seluruh Aceh. 2. Meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya sosial. 3. Mengembangkan dan membangun ekonomi masyarakat pedesaan dan pengentasan kemiskinan. 4. Meningkatkan dan penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pembangunan. 5. Meningkatkan kualitas hidup dan perlindungan hukum terhadap perempuan dan anak. 6. Meningkatkan peran dan hubungan antar lembaga pemuda serta pengembangan sistem kaderisasi organisasi kepemudaan. 7. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pemuda dalam rangka Menanggulangi dampak demoralitas pemuda. 8. Membudayakan olahraga di kalangan masyarakat. 9. Memotivasi penguatan institusi keolahragaan di daerah melalui bantuan/subsidi. 10. Meningkatkan penguatan peran kelembagaan adat. 11. Memaksimalkan peran dan koordinasi antar lembaga adat dengan pihak- pihak yang terkait. 12. Mengembangkan apresiasi budaya, kesenian, bahasa dan adat istiadat. 13. Melestarikan dan memelihara situs dan cagar budaya. 14. Meningkatkan jumlah wisatawan dalam dan luar negeri dengan mengikutsertakan peran serta masyarakat, berlandaskan pada sosial budaya ke-Acehan dan bernuansa Islami. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-14
  • 166.
    15. Menumbuhkan kulturdemokrasi yang sehat, kompetitif dialogis dan rasional. 16. Melestarikan dan menghargai nilai-nilai kepahlawanan para pejuang. 17. Menggali dan membina kekayaan adat istiadat, seni, budaya dan bahasa. 18. Meningkatkan penguatan fungsi meunasah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. 19. Meningkatkan penegakan hukum adat di tingkat gampong dan kemukiman. 4.6 Penciptaan Pemerintah Yang Baik dan Bersih Serta Penyehatan Birokrasi Pemerintahan Dalam rangka menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat dalam menjalankan roda pemerintahan mulai dari pemerintah gampong, mukim, kecamatan, kabupaten dan provinsi perlu dilakukan strategi sebagai berikut: 1. Mewujudkan pemerintahan yang transparan, partisipatif dan akuntabel. 2. Membangun kelembagaan pemerintah daerah yang sesuai dengan kebutuhan. 3. Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung kinerja. 4. Memperjelas kewenangan antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan gampong. 5. Memfasilitasi penyelesaian masalah tata ruang dan batas wilayah administrasi bagi kabupaten/kota. 6. Menyelesaikan pemetaan, pemberian nama-nama, toponomi pulau kecil dan terluar. 7. Menetapkan batas wilayah administrasi, titik kordinat, dan penguasaan wilayah secara ekonomi dan sosial budaya. 8. Meningkatkan kapasitas Sumber Daya aparatur. 9. Melakukan revitalisasi baperjakat dalam penempatan dan penjenjangan karir aparatur. 10. Memberikan penghargaan dan sanksi kepada aparatur secara adil. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-15
  • 167.
    11. Menerapkan sistembirokrasi pemerintahan yang baik dan bersih. 12. Meningkatkan pemahaman berbangsa dan bernegara dalam rangka memeliharan keutuhan NKRI. 13. Meningkatkan pengetahuan kader politik yang bebas, adil dan islami serta memihak kepentingan masyarakat. 14. menjamin perbedaan berpendapat dan berpolitik 15. Meningkatkan etika dan pendidikan politik yang sehat melalui rasa saling percaya dan menghargai (sportifitas) di dalam kelompok masyarakat. 16. Meningkatkan pemahaman terhadap hukum di Aceh dan Pengkajian materi hukum sesuai dengan amanah UUPA. 17. Meningkatkan kapasitas dan sumber daya aparat penegak hukum serta dukungan sarana dan prasarana. 18. Mengupayakan bantuan hukum dalam kasus prodeo dan Peningkatan penyuluhan hukum kepada masyarakat. 19. Melakukan Inventarisasi kebijakan kabupaten/kota yang bertentangan dengan kepentingan umum dan ketentuan perundang-undangan lebih tinggi. 20. Meningkatkan kapasitas aparatur dan penyediaan fasilitas sarana, prasarana Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). 4.7 Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana Secara substansial, penanggulangan bencana dilakukan sejak awal yaitu dengan mengurangi ancaman, meningkatkan kapasitas dan mengurangi kerentanan individu dan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan pemetaan ancaman bencana, kerentanan dan kapasitas masyarakat dengan menganalisa risiko secara komprehensif. Strategi penanggulangan bencana secara umum dilakukan dengan mengurangi resiko ancaman yang meliputi : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-16
  • 168.
    1. Meningkatkan perlindungan daerah atau kawasan lindung dari eksploitasi ekonomi yang bersifat destruktif, melalui regulasi dan penegakan hukum serta perkuatan fungsi masyarakat sekitar kawasan untuk mengelolanya. 2. Meningkatkan pembangunan ekonomi masyarakat bagi pelaku usaha skala mikro, kecil dan menengah sebagai bagian peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat. 3. Meningkatkan pembangunan, pemeliharaan dan pendayagunaan infrastruktur secara optimal sebagai salah satu bagian dari pengurangan ancaman bencana. 4. Mengupayakan penyediaan sarana dan prasarana dasar yang bersifat antisipatif dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana termasuk prosedur standar pelayanan. 5. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui penyebarluasan informasi, pelatihan ketrampilan dalam rangka penanganan pengurangan resiko bencana. 6. Meningkatkan peran aktif semua komponen masyarakat (termasuk dunia usaha dan instansi vertikal di daerah) sebagai satu kesatuan sistem masyarakat Aceh sebagai subyek dan atau obyek dalam pengurangan risiko bencana. 7. Meningkatkan pemahaman dan peran SKPA/SKPK dalam penyelenggaraan pengurangan risiko bencana. 8. Memberikan perhatian khusus kepada wanita, anak dan lansia dalam hal mewujudkan kesejajaran dan menumbuhkan kemitraan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 IV-17
  • 169.
    BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN ACEH Arah kebijakan keuangan Aceh yaitu mengelola pendapatan dan belanja daerah sehingga mendukung berbagai kebijakan Pemerintah Daerah dalam penyusunan program dan kegiatan secara efektif dan efisien sehingga tercapai sasaran sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Pengelolaan keuangan Aceh dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi yang diwujudkan dalam APBA mengacu kepada penyusunan anggaran berbasis kinerja yang setiap tahun ditetapkan dengan qanun. Adapun ruang lingkup pengelolaan keuangan Aceh meliputi: 1. Hak untuk memungut pajak dan retribusi serta melakukan pinjaman; 2. Kewajiban untuk membiayai penyelenggaraan urusan pemerintahan, melaksanakan pembangunan dan membayar tagihan pihak ketiga; 3. Pengelolaan pendapatan Aceh; 4. Pengelolaan belanja Aceh; 5. Pengelolaan pembiayaan daerah yang meliputi aspek kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah, kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum. Dalam rangka penyelenggaraan urusan Pemerintahan Aceh berdasarkan UUPA, diikuti dengan pemberian sumber pendanaan kepada Pemerintah Aceh. Oleh karena itu, keuangan daerah harus diarahkan pengelolaannya secara tertib, taat azas sesuai peraturan perundang-undangan, efisien, efektif, transparan, dan akuntabel dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan memberi manfaat yang besar bagi masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-1
  • 170.
    5.1 Arah Kebijakan Pengelolaan Pendapatan Dalam pengelolaan anggaran pendapatan daerah harus diperhatikan upaya peningkatan pendapatan pajak dan retribusi daerah secara terus menerus tanpa harus menambah beban bagi masyarakat. Pendapatan daerah yang berasal dari PAA dalam struktur APBA merupakan elemen yang cukup penting peranannya dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pemberian pelayanan kepada publik. Apabila dikaitkan dengan pembiayaan daerah secara keseluruhan, maka pendapatan daerah yang berasal dari daerah sendiri (PAA) merupakan alternatif utama dalam mendukung program kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik di samping pendapatan yang berasal dari Pemerintah berdasarkan UUPA. Kondisi Umum Anggaran Pendapatan Aceh tahun 2007-2012 disusun dengan mempertimbangkan adanya berbagai perubahan ke arah semakin membaiknya kondisi keamanan pasca kesepakatan damai antara RI-GAM di Helsinki Finlandia yang ditindaklanjuti dengan pengesahan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Kondisi ini diikuti dengan mulai normalnya kondisi sosial serta psikologis masyarakat pasca bencana alam dan gelombang Tsunami yang berpengaruh kepada semakin membaiknya tatanan kehidupan masyarakat. Untuk membiayai berbagai program kegiatan Pemerintah Daerah, baik urusan wajib maupun urusan pilihan dalam kerangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sangat ditentukan oleh ketersediaan dana. Berdasarkan pasal 179 ayat (2) UUPA, Pendapatan Daerah terdiri atas PAA, Dana Perimbangan, Dana Otonomi Khusus, dan lain-lain pendapatan yang sah. Adapun jenis PAA terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, keuntungan perusahaan daerah, zakat dan lain-lain Pendapatan Asli Aceh yang sah. Dana perimbangan sebagaimana dimaksud di atas terdiri atas: 1. Dana bagi hasil pajak, yaitu bagian dari : (a) penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 90 persen (sembilan puluh persen); (b) penerimaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar 80 persen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-2
  • 171.
    (delapan puluh persen);dan (c) penerimaan Pajak Penghasilan (PPh Pasal 25 dan Pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri dan PPh Pasal 21) sebesar 20 persen (dua puluh persen). 2. Dana bagi hasil yang bersumber dari hidrokarbon dan sumber daya alam lain, yaitu: (a) bagian dari kehutanan sebesar 80 persen (delapan puluh persen); (b) bagian dari perikanan sebesar 80 persen (delapan puluh persen); (c) bagian dari pertambangan umum sebesar 80 persen (delapan puluh persen); (d) bagian dari pertambangan panas bumi sebesar 80 persen (delapan puluh persen);(e) bagian dari pertambangan minyak sebesar 15 persen (lima belas persen); dan (f) bagian dari pertambangan gas bumi sebesar 30 persen (tiga puluh persen). 3. Dana Alokasi Umum (DAU). 4. Dana Alokasi Khusus (DAK). 5. Dana Tambahan Bagi Hasil Migas dan Dana OTSUS tambahan 2 persen dari DAU Nasional selama 15 Tahun dan dilanjutkan 1 persen dari DAU Nasional selama 5 tahun. Selain dana bagi hasil sebagaimana disebutkan di atas, Pemerintah Aceh mendapat tambahan dana bagi hasil minyak dan gas bumi yang merupakan bagian dari penerimaan Pemerintah Aceh, yaitu bagian dari: 1). pertambangan minyak sebesar 55 persen (lima puluh lima persen); dan 2) pertambangan gas bumi sebesar 40 persen (empat puluh persen). Pemerintah Aceh berwenang mengelola tambahan dana bagi hasil minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud di atas. Dana tersebut merupakan pendapatan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). Dimana 30 persen (tiga puluh persen) dari pendapatan tersebut dialokasikan untuk membiayai pendidikan dan 70 persen (tujuh puluh persen) dialokasikan untuk membiayai program pembangunan yang disepakati bersama antara Pemerintah Aceh dengan pemerintah kabupaten/kota. Program pembangunan yang sudah disepakati tersebut dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh. Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota mengelola APBA/APBK secara tertib, taat kepada peraturan perundang-undangan, efisien, efektif, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-3
  • 172.
    transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan, kepatutan dan manfaat untuk masyarakat. Pengelolaan APBA dan APBK dilaksanakan melalui suatu sistem yang diwujudkan dalam APBA dan APBK, mengacu kepada penyusunan anggaran yang berbasis kinerja yang setiap tahunnya diatur dengan qanun. Alokasi anggaran belanja untuk pelayanan publik dalam APBA/APBK diupayakan lebih besar dari alokasi anggaran belanja untuk aparatur. Dalam keadaan tertentu, Pemerintahan Aceh dan pemerintahan kabupaten/kota dapat menyusun APBA/APBK yang berbeda dengan ketentuan di atas. Anggaran untuk penyelenggaraan pendidikan paling sedikit 20 persen (dua puluh persen) dari APBA/APBK dan diperuntukkan bagi pendidikan Pada tingkat sekolah dasar dan menengah. Pengelolaan dana pendidikan dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dalam pertanggungjawaban APBA/APBK. Pemerintah melaksanakan prinsip transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah. Pemerintah Aceh harus menerima auditor independen yang ditunjuk oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan pemeriksaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BPK menyerahkan hasil pemeriksaan tersebut kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh. Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota berwenang mengatur tata cara pengadaan barang dan jasa yang menggunakan dana APBA dan APBK dengan berpedoman Padaperaturan perundang-undangan. Pemerintah Aceh menetapkan sistem akuntansi keuangan dengan berpedoman Pada standar akuntansi pemerintahan. Pemerintah Aceh berwenang menetapkan persyaratan untuk lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank dalam penyaluran kredit di Aceh sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya pemerintah Aceh dapat menetapkan tingkat suku bunga tertentu setelah mendapatkan kesepakatan dengan lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank terkait. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-4
  • 173.
    Pemerintah Aceh dapatmenanggung beban bunga akibat tingkat suku bunga untuk program pembangunan tertentu yang telah disepakati dengan DPRA. Bank asing dapat membuka cabang atau perwakilan di Aceh sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Setiap pelimpahan wewenang pemerintah kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di daerah disertai dengan dana. Kegiatan dekonsentrasi di daerah dilaksanakan oleh satuan kerja perangkat daerah yang ditetapkan oleh Gubernur. Gubernur Aceh memberitahukan rencana kerja dan anggaran pemerintah yang berkaitan dengan tugas yang dilimpahkan dalam rangka dekonsentrasi kepada DPRA. Dalam hal tugas pembantuan dari Pemerintah kepada Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota, mukim/gampong disertai dengan dana. Kegiatan tugas pembantuan dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan oleh gubernur, bupati/walikota. Gubernur, bupati/ walikota memberitahukan rencana kerja dan anggaran Pemerintah yang berkaitan dengan tugas pembantuan kepada DPRA/DPRK. Semua barang yang diperoleh dari dana tugas pembantuan menjadi barang milik negara. Barang milik negara dapat dihibahkan kepada Pemerintah Daerah, pemerintah kabupaten/kota, dan mukim/gampong. Arah dan kebijakan keuangan daerah tahun 2007 - 2012 yang ditempuh dalam meningkatkan Pendapatan Daerah adalah : 1. Menghimpun penerimaan dari semua sumber pendapatan daerah secara optimal sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku; 2. Mengupayakan peningkatan PAA dari masing-masing bagian pendapatan daerah sehingga kebutuhan pembiayaan Pemerintah Aceh dapat dipenuhi secara tepat dan cukup; dan 3. Memberdayakan segenap potensi yang dimiliki untuk dapat meningkatkan pendapatan daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-5
  • 174.
    Agar arah dankebijakan pendapatan daerah tersebut dapat dicapai, maka ditetapkan beberapa strategi yaitu: 1. Pemberdayaan segenap aparatur, dengan cara meningkatkan motivasi, disiplin dan etos kerja guna dapat meningkatkan kinerja; 2. Meningkatkan koordinasi dengan segenap instansi/institusi dalam rangka mengoptimalkan pendapatan daerah baik di daerah maupun pusat serta antar provinsi; 3. Memperluas jangkauan pelayanan, dengan membuka tempat-tempat pelayanan pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan lainnya di kabupaten/kota sepanjang dapat meningkatkan penerimaan pendapatan daerah; 4. Sosialisasi melalui pemanfaatan berbagai media komunikasi dalam rangka intensifikasi pemungutan pajak daerah, retribusi daerah, dan penerimaan lain-lain yang sah; 5. Melakukan pendekatan yang intensif dengan berbagai pihak, baik dalam rangka peningkatan sumbangan pihak ketiga maupun penerimaan yang bersumber dari bagi hasil dan Dana Alokasi Umum (DAU); 6. Mempecepat penetapan qanun yang mengatur tentang berbagai PAA yang belum ada pengaturannya; dan 7. Reformasi pelayanan investasi sebagai bagian dari sistem perekonomian nasional dalam rangka penciptaan perekonomian Aceh yang terbuka dan tanpa hambatan. 5.2 Arah Kebijakan Pengelolaan Belanja Belanja Aceh diarahkan kepada peningkatan proporsi belanja yang berpihak untuk kepentingan publik, di samping tetap menjaga eksistensi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam penggunaannya, belanja daerah harus tetap mengedepankan efisiensi dan efektivitas serta penghematan yang dilakukan dengan cara penganggaran belanja yang mengacu pada penyusunan anggaran berbasis kinerja sesuai dengan prioritas program kegiatan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-6
  • 175.
    Dalam rangka peningkatansumber daya manusia, Pemerintah Aceh mengupayakan 20 persen dari total belanja setiap tahunnya untuk membiayai pembangunan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selanjutnya sebagaimana yang diamanatkan oleh UUPA bahwa kebijakan belanja khusus pemanfaatan pendapatan yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus dan Tambahan Dana Bagi Hasil Migas adalah sesuai yang diatur oleh Qanun Nomor 2 Tahun 2008. Sebagaimana ketentuan yang telah diatur pada penjelasan pasal 17 ayat 3 dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan pasal 83 ayat 2 berikut penjelasannya dalam Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maka jumlah kumulatif defisit anggaran tidak diperkenankan melebihi 3 persen dari Produk Domestik Regional Bruto tahun bersangkutan. 5.3 Arah Kebijakan Umum Anggaran a) Pendapatan Daerah Formulasi kebijakan dalam mendukung pengelolaan anggaran pendapatan Aceh akan lebih difokuskan Pada upaya untuk mobilisasi pendapatan asli daerah dan penerimaan daerah lainnya. Kebijakan pendapatan daerah Provinsi Aceh tahun 2007-2012 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 5 - 6 persen serta diperkirakan akan dapat meningkatkan penerimaan daerah. Pertumbuhan komponen pajak daerah, retribusi daerah, penerimaan dari zakat, bagian laba dari BUMD dan hasil Perusahaan Daerah akan menjadi faktor yang penting dalam mendorong pertumbuhan PAA untuk masa yang akan datang. PAA yang besar akan meningkatkan kemampuan membiayai kegiatan pembangunan/investasi, sedangkan biaya rutin dibiayai oleh dana pemerintah pusat. Dana Perimbangan merupakan komponen dari Bagi Hasil Pajak sebagai bagian yang penting dalam meningkatkan pendapatan daerah untuk periode 2007- 2012. Disamping dana perimbangan, pemerintah Aceh mendapat Dana Otonomi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-7
  • 176.
    Khusus sebagaimana diaturdalam UUPA. Dana Otonomi khusus ini ditujukan untuk membiayai kegiatan pembangunan seperti pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, perbaikan pendidikan, kehidupan sosial, dan kesehatan. Dana Otonomi Khusus ini berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun, dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas yang besarnya setara dengan 2% (dua persen) plafon Dana Alokasi Umum Nasional dan untuk tahun keenam belas sampai dengan tahun kedua puluh yang besarnya setara dengan 1% (satu persen) plafon Dana Alokasi Umum Nasional. Ketentuan dimaksud berlaku untuk daerah Aceh sesuai dengan batas wilayah Aceh. Program pembangunannya dituangkan dalam program pembangunan provinsi dan kabupaten/kota di Aceh dengan memperhatikan keseimbangan kemajuan pembangunan antar kabupaten/kota untuk dijadikan dasar pemanfaatan dana otonomi khusus yang pengelolaannya diadministrasikan Pada Pemerintah Provinsi Aceh. Penggunaan Dana Otonomi Khusus dilakukan untuk setiap tahun anggaran yang diatur lebih lanjut dalam Qanun Aceh. Selanjutnya untuk mengkoordinasikan tambahan Dana Bagi Hasil dan Dana Otonomi Khusus, Gubernur dapat membentuk satuan unit kerja. Terdapat beberapa hal yang cukup signifikan terkait dengan prospek keuangan daerah ke depan antara lain adalah, Bahwa peranan pajak daerah dan BUMD dalam memberikan sumbangan kepada PAA kedepan akan semakin penting. Untuk itu, upaya ekstensifikasi melalui perluasan basis pajak tanpa harus menambah beban kepada masyarakat dan intensifikasi melalui upaya yang terus menerus dalam melakukan perbaikan kedalam dan senantiasa meningkatkan kesadaran wajib pajak dan retribusi tetap dilanjutkan secara konsisten, termasuk upaya meningkatkan efisiensi, baik di tubuh penyelenggara pemerintahan daerah Provinsi Aceh maupun pada setiap perusahaan daerah. Disamping upaya ekstensifikasi PAA sebagaimana yang telah disampaikan, juga perlu prioritas pembangunan harus benar-benar fokus pada sektor-sektor yang mampu menarik investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi dalam upaya memperluas basis PAA dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-8
  • 177.
    Penerimaan PAA selamaini sangat didominasi oleh Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Pada tahun 2007, kedua jenis PAA ini diperkirakan akan mengalami kenaikan yang cukup berarti, terutama dengan meningkatnya penambahan jumlah kenderaan baru akibat meningkatnya kesejahteraan rakyat. Perubahan-perubahan yang terjadi perlu dicermati secara tepat dalam menetapkan perkiraan yang lebih realistik untuk tahun 2007 - 2012. Di samping itu, pasca pengesahan UUPA dan suksesnya Pemilihan Kepala Daerah secara langsung akan berdampak Pada berkembangnya perekonomian daerah yang Padagilirannya dapat memperbesar jumlah basis dan kapasitas PAA. Perkiraan PAA yang direncanakan tetap mengacu kepada ketentuan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000, Juncto Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 tentang Retribusi Daerah. Retribusi daerah merupakan bagian yang cukup berarti dari penerimaan PAA. Retribusi ini terkait dengan pengelolaan kepemilikan sumber daya alam yang dikuasai oleh Pemerintah Daerah dan pungutan atas pelayanan publik. Pelayanan publik yang baik dan luas berpengaruh secara positif terhadap peningkatan retribusi daerah. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah termasuk bagi hasil keuntungan yang diperoleh dari Perusahaan Daerah, sumbangan pihak ketiga, penerimaan atas pelayanan oleh Dinas atau Unit Kerja lainnya, jasa giro dan lain-lain, dapat ditingkatkan melalui pembinaan dan sosialisasi yang intensif. Penetapan zakat sebagai salah satu sumber PAA oleh Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 jo UUPA No. 11 Tahun 2006. Zakat, harta wakaf, dan harta agama dikelola oleh Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/Kota. Zakat yang dibayar menjadi faktor pengurang terhadap jumlah pajak penghasilan terhutang dari wajib pajak. Oleh karena itu, potensi ini perlu ditangani secara tepat dengan mempersiapkan Qanun dan manajemen yang baik untuk mengelolanya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-9
  • 178.
    Secara teoritis, pendapatandaerah akan sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian Aceh yang akan terjadi sampai dengan tahun 2012, atau dengan kata lain, bahwa suatu pendapatan daerah - termasuk Pendapatan Asli Aceh - harus benar-benar mampu merespon perkembangan ekonomi yang diperkirakan akan terjadi. Basis PAA pada dasarnya ditentukan oleh besaran kegiatan ekonomi di daerah. Besaran kegiatan ekonomi dapat diukur dengan perkembangaan PDRB. Seterusnya perkembangan PDRB tergantung pada besaran investasi dan efisiensi penggunaan modal yang dapat diukur dengan rasio tambahan modal terhadap tambahan pendapatan (ICOR). Beberapa asumsi ekonomi makro yang berpengaruh pada peningkatan PAA antara lain: a. Pertumbuhan ekonomi Aceh diperkirakan berkisar antara 5 - 6% selama periode 2007 - 2012. b. Selama periode 2007-2012 proyeksi tingkat inflasi diperkirakan akan mencapai sekitar 8 persen untuk setiap tahunnya, dan; c. Incremental Capital Output Ratio (ICOR) tahunan selama periode proyeksi adalah sekitar antara 3,9 kemudian menurun menjadi 3,5 dalam tahun 2012. Proyeksi pendapatan daerah sesuai dengan berbagai sumber pendapatan yang telah dijelaskan dapat ditunjukkan PadaTabel 5.1. Tabel V.1 Proyeksi dan Prospek Pendapatan Daerah Aceh Tahun 2007-2012 (Jutaan rupiah) Jenis No 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Pendapatan 1 PAA 537.500 625.500 714.700 806.208 897.310 989.909 2 Dana 3.319.647 3.443.123 3.624.648 3.846.620 4.126.316 4.642.948 Perimbangan 3 Dana Otsus - 3.800.000 4.180.000 4.598.000 5.057.800 5.563.580 Jumlah 3.857.147 7.868.623 8.519.348 9.250.828 10.081.426 11.196.437 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-10
  • 179.
    b) Belanja Aceh Kebijakan belanja daerah sampai dengan tahun 2012 diperkirakan masih didominasi oleh belanja langsung berkisar sekitar 75 - 80 persen. Sedangkan untuk belanja tidak langsung berkisar 20 - 25 persen. Belanja daerah yang diakomodasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) merupakan rencana belanja tahunan untuk membiayai berbagai kegiatan pemerintah baik yang bersifat rutin maupun pembangunan ditetapkan dengan qanun. Berdasarkan pasal 26 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, belanja daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan ditetapkan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan melalui perluasan lapangan kerja, pencapaian standar hidup minimal berdasarkan urusan wajib pemerintah Aceh sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Belanja daerah diklasifikasikan menurut organisasi, fungsi, program dan kegiatan, serta jenis belanja. Sedangkan klasifikasi belanja menurut organisasi disesuaikan dengan susunan organisasi pemerintahan daerah. Adapun klasifikasi belanja menurut fungsi terdiri dari: a. Klasifikasi berdasarkan urusan pemerintahan; b. Klasifikasi untuk tujuan keselarasan serta keterpaduan dalam rangka pengelolaan keuangan negara. c. Klasifikasi belanja berdasarkan urusan pemerintahan diklasifikasikan menurut kewenangan pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota. Sedangkan klasifikasi belanja menurut fungsi digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara terdiri dari: 1) pelayanan umum; 2) ketertiban dan keamanan; 3) ekonomi; 4) lingkungan hidup; 5) perumahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-11
  • 180.
    dan fasilitas umum;6) kesehatan; 7) pariwisata dan budaya; 8) agama; 9) pendidikan; serta 10) perlindungan sosial. d. Klasifikasi belanja menurut program dan kegiatan disesuaikan dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. Beberapa asumsi pokok yang akan mempengaruhi kebijakan belanja daerah kedepan adalah: a. Perkiraan penerimaan pendapatan daerah diharapkan dapat terpenuhi, sehingga dapat memberikan dukungan terhadap pertumbuhan perekonomian daerah dan mampu mencukupi kebutuhan pelayanan dasar serta penyelenggaraan pemerintahan b. Perkiraan kebutuhan belanja daerah dapat mendanai program-program strategis daerah dalam mendukung dan menjaga target-target indikator yang telah ditetapkan. Dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan yang lebih berkualitas dan berdaya guna bagi masyarakat maka prioritas belanja Aceh juga diarahkan untuk membiayai penuntasan asset, fungsionalisasi asset dan percepatan pembangunan Aceh. c) Pembiayaan Daerah Pembiayaan Daerah merupakan setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan daerah tersebut meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus. Pembiayaan daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Berdasarkan PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang merupakan pelaksanaan UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Penerimaan pembiayaan mencakup; a. SiLPA tahun anggaran sebelumnya; Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-12
  • 181.
    b. SiLPA tahunanggaran sebelumnya mencakup sisa dana untuk mendanai kegiatan lanjutan, uang pihak ketiga yang belum diselesaikan, pelampauan target pendapatan daerah, penerimaan dan pengeluaran lainnya yang belum diselesaikan melalui kas daerah sampai dengan akhir tahun anggaran sebelumnya. c. Pencairan dana cadangan; d. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan; e. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan dapat berupa hasil penjualan perusahaan milik daerah/BUMD dan penjualan aset milik pemerintah daerah yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga, atau hasil divestasi penyertaan modal pemerintah daerah; f. Penerimaan pinjaman; g. Termasuk dalam penerimaan pinjaman daerah adalah penerbitan obligasi daerah yang akan direalisasikan PAA tahun anggaran berkenan; h. Penerimaan kembali pemberian pinjaman; Sedangkan pengeluaran pembiayaan mencakup: a. Pembentukan dana cadangan; b. Penyertaan modal pemerintah daerah; c. Pembayaran pokok utang; dan d. Pemberian pinjaman. Pembiayaan netto merupakan selisih lebih penerimaan pembiayaan terhadap pengeluaran pembiayaan. Jumlah pembiayaan netto harus dapat menutup defisit anggaran. Adapun kebijakan yang ditetapkan dalam menyertai Pembiayaan Daerah yang dapat ditempuh adalah optimalisasi sumber penerimaan pembiayaan yang paling mungkin dapat dilakukan secara cepat, yaitu dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu. Selain itu juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran pembiayaan yang timbul dari pernyertaan modal dan pembayaran utang pokok yang jatuh tempo. Asumsi dasar yang menyertai dalam penetapan kebijakan pembiayaan di atas, adalah alternatif pembiayaan dari sisi penerimaan diharapkan mampu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-13
  • 182.
    memenuhi kebutuhan pembiayaandari sisi pengeluaran. Alternatif penerimaan pembiayaan yang bisa dikembangkan, seperti : pinjaman daerah, penerbitan surat obligasi dan penjualan aset, baik yang akan dipergunakan untuk penyertaan modal maupun pembayaran angsuran utang pokok yang akan jatuh tempo, ataupun program pengeluaran pembiayaan lainnya yang timbul sebagai akibat dari pengembangan alternatif penerimaan pembiayaan. Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat memperoleh pinjaman dari Pemerintah yang dananya bersumber dari luar negeri atau bersumber selain dari pinjaman luar negeri dengan persetujuan Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Dalam Negeri. Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat memperoleh pinjaman dari dalam negeri yang bukan berasal dari pemerintah dengan pertimbangan Menteri Dalam Negeri. Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat menerima hibah dari luar negeri dengan kewajiban memberitahukan kepada Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA)/ Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRK). Penerimaan hibah bersifat tidak mengikat secara politis baik terhadap Pemerintah, Pemerintah Aceh, dan pemerintah kabupaten/kota; tidak mempengaruhi kebijakan Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota; tidak dilarang oleh peraturan perundang-undangan; dan tidak bertentangan dengan ideologi negara. Dalam hal hibah mensyaratkan adanya kewajiban yang harus dipenuhi Pemerintah seperti hibah yang terkait dengan pinjaman dan yang mensyaratkan adanya dana pendamping, harus dilakukan melalui Pemerintah dan diberitahukan kepada DPRA/DPRK. Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat menerbitkan obligasi daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat menyediakan dana cadangan yang disisihkan untuk menampung kebutuhan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran. Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat melakukan penyertaan modal/kerja sama pada/dengan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan/atau badan usaha milik swasta atas dasar prinsip saling menguntungkan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-14
  • 183.
    Penyertaan modal/kerja samadapat ditambah, dikurangi, dijual kepada pihak lain, dan/atau dapat dilakukan divestasi atau dialihkan kepada badan usaha milik daerah. Penyertaan modal/kerja sama tersebut dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan anggaran yang timbul akibat penyertaan modal/kerja sama dicantumkan dalam APBA/APBK. Adapun kebijakan yang ditetapkan dalam menyertai Pembiayaan Daerah adalah sebagai berikut : a. Pendapatan Daerah tahun 2007 - 2012 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 25 persen, sedangkan kebutuhan Belanja Daerah diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 30 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkiraan kebutuhan belanja daerah lebih besar dari perkiraan pendapatan daerah, sehingga APBD tahun 2007 - 2012 diperkirakan akan mengalami defisit anggaran rata-rata sekitar 15 persen. b. Optimalisasi sumber penerimaan pembiayaan yang paling mungkin dapat dilakukan secara cepat, yaitu dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu. Selain itu juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran pembiayaan yang timbul dari pernyertaan modal dan pembayaran utang pokok yang jatuh tempo. Asumsi dasar yang menyertai dalam penetapan kebijakan pembiayaan diatas, adalah : a. Kumulatif defisit APBD tahun 2007 - 2012 diperkirakan rata-rata sekitar 38 persen dari proyeksi PDRB tahun 2006 - 2010. b. Alternatif pembiayaan dari sisi penerimaan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pembiayaan dari sisi pengeluaran. Alternatif penerimaan pembiayaan yang bisa dikembangkan, seperti: pinjaman daerah, penerbitan surat obligasi dan penjualan aset - baik yang akan dipergunakan untuk penyertaan modal maupun pembayaran angsuran utang pokok yang akan jatuh tempo, ataupun program pengeluaraan pembiayaan lainnya yang timbul sebagai akibat dari pengembangan alternatif penerimaan pembiayaan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-15
  • 184.
    Khusus dalam pengelolaan pinjaman daerah, harus diperhatikan kemampuan daerah dalam menyediakan sejumlah dana untuk menutup kewajiban membayar. Berdasarkan perhitungan kasar dengan menerapkan metode kalkulasi Debt Service Coverage Ratio (DSCR) menunjukkan bahwa, prospek kemampuan daerah (APBA) Aceh selama periode 2007 - 2012 menunjukkan rata-rata DSCR sebesar 46,22 atau rata-rata diatas batas rasio yang dipersyaratkan (2,5). Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan APBA dalam menyediakan sejumlah dana dalam periode waktu tertentu untuk menutup kewajiban membayar pinjaman masih bisa dilakukan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 V-16
  • 185.
    BAB VI ARAH KEBIJAKAN UMUM Berdasarkan UU No 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Untuk itu pemerintah daerah mempunyai peluang yang besar untuk melakukan perubahan-perubahan yang bersifat fundamental dalam segala aspek kehidupan masyarakat yang di implimentasikan melalui berbagai kebijakan umum pemerintah daerah. Arah kebijakan umum pemerintah Provinsi Aceh selama jangka waktu 2007- 2012 adalah sebagai berikut: 6.1 Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan Arah kebijakan umum pembangunan ekonomi Aceh pada dasarnya adalah dalam rangka mewujudkan peningkatan aktivitas perekonomian daerah yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 5 -6 persen, penurunan tingkat kemiskinan menjadi sekitar 16 persen dan tingkat pengangguran mampu ditekan menjadi 7,6 persen. Adapun untuk mencapai hal sebagaimana tersebut diatas maka perlu ditempuh beberapa kebijakan sebagai berikut: 1. Peningkatan pengelolaan potensi pertanian dan perikanan seoptimal mungkin dengan prinsip-prinsip agribisnis sebagai tulang punggung ekonomi daerah yang berkelanjutan 2. Pengembangan komoditi unggulan daerah melalui pola kluster dengan memperkuat sistim mata rantai produksi (supply chain) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-1
  • 186.
    3. Pembangunan dan peningkatan kapasitas sarana dan prasarana pendukung produksi termasuk prioritas fungsionalisasi aset, terutama di kawasan- kawasan sentra produksi pertanian, perikanan, industri, dan perdagangan 4. Percepatan pemanfaatan mekanisasi di sektor industri kerajinan, pertanian dan perikanan, termasuk motorisasi armada perikanan dalam upaya meningkatkan daya jelajah dan produktivitas nelayan. 5. Pengembangan dan peningkatan kapasitas unit penyedia sarana produksi serta peningkatan pengendalian dan pengawasan distribusi sarana produksi sehingga mudah dapat diakses oleh masyarakat 6. Peningkatan produktivitas lahan budidaya pertanian dan perikanan melalui upaya intensifikasi, diversifikasi, optimalisasi termasuk peningkatan Indeks Penanaman (IP), dan rehabilitasi lahan-lahan yang terlantar 7. Mengupayakan tumbuhnya dan berkembangnya industri pengolahan hasil, terutama yang berbasis bahan baku lokal di kawasan-kawasan sentra produksi 8. Peningkatan kompetensi tenaga kerja formal dan informal, serta pelaku UMKM melalui pengembangan dan peningkatan kapasitas Balai Latihan Kerja serta pelatihan-pelatihan kejuruan 9. Melakukan pembinaan dan pengawasan penggunaan dan penyaluran tenaga kerja untuk kebutuhan lokal maupun luar negeri 10. Percepatan aplikasi teknologi di sektor pertanian dan perikanan melalui penguatan kelembagaan dan sistem penyuluhan 11. Penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat dengan sasaran utama usaha- usaha kelompok dan koperasi 12. Memfasilitasi peningkatan jalinan kemitraan usaha yang lebih luas antara kelompok usaha besar dengan pelaku UMKM dan industri rumah tangga 13. Mengupayakan peningkatan fungsi intermediasi perbankan, terutama penyaluran kredit bagi pelaku UMKM dan industri rumah tangga 14. Pencegahan penebangan dan perdagangan kayu illegal melalui penguatan dan pembinaan satuan pengamanan hutan dalam rangka terciptanya hutan lestari dan pengembangan ekonomi berkelanjutan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-2
  • 187.
    15. Pemberdayaan ekonomimasyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan melalui pemanfaatan hasil hutan non kayu dan pengembangan hutan rakyat 16. Meningkatkan kemandirian pangan bagi masyarakat di kawasan-kawasan yang teridentifikasi rawan pangan, serta peningkatan penganekaragaman pangan berbasis sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal 17. Melakukan pengendalian dan pengawasan distribusi bahan pangan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman 18. Penyediaan fasilitas pemukiman baru pada kawasab-kawasan potensi dan memberikan bantuan stimulasi untuk pengembangan usaha ekonomi bagi penduduk yang dimukimkan berbasis potensi lokal. 19. Pengembangan sistem informasi dan promosi yang dapat menarik investasi untuk menanamkan modalnya di daerah, baik PMA maupun PMDN. 20. Mengupayakan terjadinya peningkatan aktivitas perdagangan dalam daerah hingga terjadinya pasar sempurna, termasuk melakukan pengawasan dan pengendalian distribusi barang serta pengembangan dan peningkatan sarana dan prasarana pemasaran 21. Melakukan upaya meningkatnya ekspor daerah baik peningkatan volume maupun nilai, terutama komoditi-komoditi yang memiliki nilai tambah tinggi bagi daerah 6.2 Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi Untuk tercapainya tujuan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi sesuai dengan strategi yang telah ditetapkan, maka perlu adanya dukungan kebijakan pembangunan dalam pelaksanaan program dan kegiatan yang dilaksanakan. Arah Kebijakan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi tahun 2007 - 2012 sebagai berikut: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-3
  • 188.
    6.2.1 Sumber Daya Air Kebijakan pembangunan sumber daya air dilakukan dengan 9 (sembilan) pendekatan pokok, yaitu: 1. Terkelolanya penyelenggaraan konservasi sumber daya air demi terjaganya kelangsungan keberadaan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air. 2. Terkelolanya penyelenggaraan pendayagunaan sumber daya air demi terwujudnya pemanfaatan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. 3. Terkelolanya penyelenggaraan pengendalian daya rusak air demi terwujudnya rasa aman masyarakat terhadap daya rusak air. 4. Terkelolanya sistem informasi sumber daya air demi terwujudnya jaringan informasi sumber daya air yang tersebar dan dapat diakses oleh berbagai pihak yang berkepentingan dalam bidang sumber daya air. 5. Terbangunnya jaringan irigasi baru Wilayah Pantai Barat-Selatan di 4 daerah irigasi dan di 5 daerah rawa; Wilayah Pantai Utara-Timur di 4 daerah irigasi. 6. Terperbaikinya jaringan irigasi berdasarkan kewenangan nasional seluas 146.536 ha (15 DI), kewenangan provinsi seluas 69.354 ha (40 DI) dan kewenangan Kabupaten/Kota seluas 127.706 ha (652 DI). 7. Tersedianya air baku untuk irigasi dengan membangun dan meningkatkan fungsi waduk sebanyak 4 unit, embung sebanyak 3 unit dan situ sebanyak 9 unit. 8. Memfungsikan kembali DI yang rusak : DI Jambo Aye (19.360 ha) dan DI. Pante Lhong (6.562 ha) serta optimalisasi daerah irigasi sebanyak 9 DI. 9. Terkendalinya banjir dan pengamanan pantai secara selektif terutama pada areal produktif. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-4
  • 189.
    6.2.2 Bina Marga dan Cipta Karya Kebijakan pembangunan kebinamargaan dan keciptakaryaan dilakukan dengan 10 (sepuluh) pendekatan pokok, yaitu: 1. Terbukanya aksesibilitas daerah terpencil/terisolir, perbatasan dan kepulauan dengan menyediakan jaringan jalan dan jembatan untuk mendukung kawasan yang berpotensi dan cepat tumbuh. 2. Terselenggaranya peningkatkan pelayanan prasarana jalan yang terintegrasi dengan standar minimal MST 10 ton pada ruas jalan nasional dan provinsi serta MST 8 ton pada ruas-ruas jalan strategis. 3. Terlaksananya rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana jalan sehingga tercapai fungsional jalan nasional sepanjang 1.782,78 km dan jalan provinsi sepanjang 1.701,82 km dapat tercapai. 4. Terlaksananya pembangunan dan peningkatan ruas-ruas jalan nasional lintas timur sepanjang 55 km, lintas barat sepanjang 30 km, lintas tengah sepanjang 11 km. Selanjutnya pembangunan dan peningkatanruas-ruas jalan provinsi sepanjang 95 km, serta jalan strategis lainnya termasuk jalan desa sepanjang 10 km. 5. Terwujudnya pembangunan jalan yang menghubungkan Pantai Barat – Tengah - Pantai Timur untuk menghilangkan disparitas antar wilayah. 6. Terlaksananya pembangunan dan rehabilitasi rumah korban bencana/dhuafa sebanyak 500 unit serta penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman. 7. Terbangunnya prasarana air minum dan sanitasi baik di perkotaan maupun di pedesan sebanyak 500 unit. 8. Terselenggaranya pembinaan tata bangunan dan pemberdayaan jasa konstruksi; 9. Terpadunya tata ruang provinsi dengan tata ruang kabupaten/kota, dengan titik berat pada penanganan kawasan-kawasan strategis/prioritas dan kawasan lintas kabupaten. 10. Terbangunnya kawasan perbatasan dan terisolir dalam rangka peningkatan ekonomi masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-5
  • 190.
    6.2.3 Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika Kebijakan pembangunan perhubungan, komunikasi, informasi dan telematika dilakukan dengan 10 (sepuluh) pendekatan pokok, yaitu : 1. Terlaksananya pembangunan, pengembangan sarana dan prasarana transportasi, pos dan telekomunikasi di wilayah perbatasan dan terisolir serta terehabilitasinya sarana dan prasarana transportasi, pos dan telekomunikasi yang hancur akibat gempa tektonik dan tsunami, 2. Terlaksananya pengembangan sistem transportasi wilayah terpadu, harmonis dan sinergi serta aparatur yang mandiri. 3. Terindentifikasi inventarisasi data dan penyebaran informasi pembangunan dengan melakukan peningkatan kerjasama pemerintah daerah dengan organisasi, lembaga pers dan media massa. 4. Terjalinnya hubungan kerjasama penyebarluasan informasi melalui TVRI dan RRI serta melakukan pengawasan terhadap penyiaran media informasi swasta 5. Terbangunnya fasilitas e-Government Pemerintah Aceh guna meningkatkan kualitas penyelenggaraan administrasi Pemerintahan Aceh yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi dalam rangka memberikan palayanan informasi kepada publik secara transparan dan akuntabel. 6. Terselenggaranya pembinaan sumberdaya aparatur Pemerintah Aceh yang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam mengelola teknologi komunikasi dan sistem informasi. 7. Terbangunnya sarana angkutan kereta api diwilayah pesisir timur Aceh yang menghubungkan Aceh ke batas Sumatera Utara sepanjang 486 Km. 8. Terbangunnya pelabuhan baru di wilayah Pantai Barat-Selatan dan pantai Utara -Timur dengan kapasitas 10.000 DTW. 9. Terlaksnanya pengembangan pelabuhan Malahayati untuk mendukung Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET) Bandar Aceh Darussalam. 10. Terlaksananya pembangunan dan pengembangan bandara untuk melayani penerbangan Domestik dan Internasional serta meningkatkan pelayanan trasportasi udar antar kabupaten/Kota. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-6
  • 191.
    6.2.4 Lingkungan Hidup Kebijakan pembangunan lingkungan hidup dilakukan dengan 6 (enam) pendekatan pokok, yaitu: 1. Terkendalinya pencemaran lingkungan melalui pencegahan dan pengendalian dampak dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan. 2. Tersedianya peralatan dan sumber daya aparatur dalam pengendalian dampak lingkungan dengan memanfaatkan media massa untuk pelayanan informasi lingkungan hidup kepada masyarakat. 3. Melakukan optimalisasi bentuk dan kinerja institusi pengelolaan lingkungan serta peningkatan koordinasi antar pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan hidup. 4. Terkendalinya pengelolaan Kawasan Ekosistem Lauser (KEL) secara berkelanjutan dalam menjaga keseimbangan pemanfaatan ruang yang serasi antara kawasan lindung dan budidaya. 5. Terpeliharanya terumbu karang, manggrove dan konservasi daerah aliran sungai dalam rangka memulihkan kembali daya dukung lingkungan dan antisipasi ancaman terhadap abrasi pantai dan sungai. 6. Terbangunnya ruang terbuka hijau dan desa model yang ramah lingkungan di setiap kabupaten/kota. 6.2.5 Pertanahan Kebijakan pembangunan pertanahan dilakukan dengan 3 (tiga) pendekatan pokok, yaitu: 1. Terselenggaranya peningkatan kualitas pelayanan dan administrasi pertanahan serta penyediaan informasi pertanahan bagi keperluan pembangunan dan investasi. 2. Terlaksananya penataan dan pengendalian penguasaan, penggunaan, pemanfaatan dan pemilikan tanah serta pengembangan dan penguatan lembaga pertanahan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-7
  • 192.
    3. Menyelesaikan sengketa pertanahan, penyusunan neraca penggunaan tanah, pemetaan/revisi penatagunaan tanah, konsolidasi tanah, identifikasi dan penegasan tanah negara serta penertiban administrasi land reform. 6.2.6 Energi dan Sumber Daya Mineral Kebijakan pembangunan energi dan sumber daya mineral dilakukan dengan 9 (sembilan) pendekatan pokok, yaitu: 1. Terealisasinya peningkatan peluang eksploitasi pertambangan skala besar, menengah dan kecil serta membina, mengawasi dan menertibkan usaha pertambangan yang berpotensi merusak lingkungan. 2. Terlaksananya peningkatkan keterampilan sumber daya aparatur dalam pengelolaan dan pengawasan usaha pertambangan. 3. Terlaksananya peningkatan pemahaman masyarakat penambang dan dunia usaha terhadap peraturan dan perundang-undangan di bidang pertambangan. 4. Terselenggaranya peningkatan pelayanan dan informasi pertambangan, termasuk informasi kawasan-kawasan yang rentan terhadap bencana geologi. 5. Tersedianya data potensi sumber-sumber energi baru sebagai energi alternatif dan potensi pertambangan. 6. Terbangunnya sarana dan prasarana sumber-sumber air bawah tanah yang memenuhi standar kesehatan di kawasan krisis air. 7. Tersedianya perangkat hukum di bidang energi, mineral, batubara, panas bumi dan air bawah tanah. 8. Terlaksananya pembangunan PLTMH baik skala besar maupun kecil terutama untuk pedesaan/kawasan yang tidak terjangkau jaringan listrik PLN. 9. Terealisasinya penambahan pembangkit listrin non diesel dengan memanfaatkan potensi energi primer pada sub-sistem isolated dengan sasaran pengurangan biaya pokok penyediaan (BPP) yang berpengaruh terhadap usaha menekan biaya operasional pada sektor pembangkitan dan harga tarif (Rp/kWh) penjualan energi listrik. Pembangkit-pembangkit dimaksud adalah: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-8
  • 193.
    a. PLTU batubara di Kabupaten Nagan Raya dengan total kapasitas 2 x 100 MW yang direncanakan beroperasi pada akhir tahun 2011 (tahap konstruksi). b. PLTP Seulawah di Kabupaten Aceh Besar dengan total kapasitas 2 x 20 MW yang akan beroperasi pada akhir tahun 2012. Pre-feasibility (FS) telah dilakukan pada tahun 2008 dan saat ini dalam proses pelelangan WKP oleh Pemerintah Aceh. c. PLTA Peusangan I dan II di Kabupaten Aceh Tengah dengan total kapasitas 2 x 43 MW dibiayai dari Loan JBIC (Japan Bank International Company) dan direncanakan beroperasi pada tahun 2011 dan 2013. Contract Loan Aggreement dengan pihak JBIC telah ditandatangani pada 29 Maret 2006. d. PLTA Lawe Mamas di Kabupaten Aceh Tenggara dengan total kapasitas 3 x 30 MW yang direncanakan beroperasi pada tahun 2015. Saat ini masih dalam Pre-FS dan MoU. 6.3 Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan Belajar Menindaklanjuti strategi Pembangunan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan kesempatan belajar baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal bagi peserta didik dan anggota masyarakat melalui perbekalan ilmu pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (life skills). Pemberantasan buta aksara (illiteracy) perlu dilakukan secara serius sebagai upaya untuk mencerdaskan seluruh rakyat dan mendukung pembelajaran sepanjang hidup (life long learning) maka kebijakan yang ditempuh sebagai berikut: 6.3.1 Pemerataan dan Perluasan Akses 1. Tersedianya beasiswa dan bantuan biaya pendidikan usia dini, pendidikan dasar, menengah, dayah dan luar sekolah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-9
  • 194.
    2. Terlaksananya efektivitasinternal dan tingkat kelangsungan sekolah di setiap jenjang pendidikan. 3. Terciptanya partisipasi yang lebih besar dari masyarakat dan dunia usaha. 4. Tersedianya fasilitas pendidikan yang fokus dalam rangka menghapus hambatan kesempatan belajar dan perluasan akses penyediaan pendidikan dasar dan menengah di daerah-daerah terpencil, pemukiman terpencar dan daerah kepulauan. 5. Terciptanya pengembangan Perguruan Tinggi sesuai dengan prioritas dan arah pengembangan daerah. 6. Tersedianya fasilitas dayah dalam menunjang pelayanan pendidikan yang bermutu. 6.3.2 Mutu, Relevansi dan Daya Saing 1. Terciptanya kinerja pelayanan pendidikan pada semua jenjang pendidikan 2. Terwujudnya desentralisasi sekolah/manajemen kelembagaan, dan manajemen perencanaan pengembangan guru. 3. Tersedianyan kurikulum dan bahan ajar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. 4. Terlaksananya monitoring kinerja sekolah/kelembagaan dan prestasi siswa. 5. Tersedianya sarana penunjang pembelajaran yang bermutu dan berkualitas. 6. Terwujudnya pendidikan unggulan pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan dayah. 7. Terlaksananya pembinaan dan pengembangan kelembagaan, kurikulum, manajemen, serta akreditasi dayah. 8. Terlaksananya penelitian dan pengembangan pendidikan secara optimal. 6.3.3 Tata Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik 1. Tersedianya sistem perencanaan, pengawasan, monitoring dan evaluasi. 2. Tersedianya sistem manajemen kelembagaan dan sekolah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-10
  • 195.
    3. Terlaksananya tatakelola yang akuntabel dan transparan. 4. Terlaksananya koordinasi antar PT/PTS dan Akreditasi pendidikan. 6.3.4 Penerapan Sistem Pendidikan Bernuansa Islami 1. Terlaksananya koordinasi dengan berbagai pihak terkait dalam rangka penerapan syari’at Islam. 2. Tersedianya sarana peribadatan, media pembelajaran dan penerapan budaya yang menunjang pendidikan bernuansa Islami. 3. Terciptanya kualitas guru dalam metode internalisasi nilai-nilai Islami. 4. Terlaksananya monitoring dan evaluasi pelaksanaan sistem pendidikan yang bernuansa Islami secara berkala. 5. Terlaksananya penambahan jam pelajaran agama di sekolah dan pelatihan tentang pemahaman Al-Qur’an. 6.4 Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan Menindaklanjuti strategi Pembangunan dalam rangka peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan yang meliputi aspek status kesehatan (umur harapan hidup, angka kematian ibu dan angka kematian bayi, angka kesakitan, status gizi), pelayanan kesehatan, kondisi kesehatan lingkungan, pembiayaan kesehatan, fasilitas kesehatan dan sumber daya kesehatan maka kebijakan umum yang ditempuh sebagai berikut: 1. Terbangunnya sarana dan prasarana pelayanan kesehatan dasar, rujukan dan pelayanan kesehatan khusus. 2. Tersedianya tenaga kesehatan sesuai kebutuhan daerah dalam rangka penyediaan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat. 3. Tersedianya fasilitas kesehatan kepada masyarakat yang mudah dijangkau . 4. Terlaksananya sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyakit serta terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat. 5. Terciptanya mekanisme rujukan yang baik antar institusi pelayanan kesehatan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-11
  • 196.
    6. Bertambahnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan diseluruh lapisan masyarakat. 7. Tersedianya arah dan kebijakan yang jelas dalam hal pelayanan kesehatan. 8. Terlaksananya penerapan pola BLU Rumah Sakit di Kabupaten/Kota. 9. Terlaksananya koordinasi lintas sektor, LSM lokal maupun luar negeri dalam rangka pelayanan kesehatan. 10. Terbangunnya fasilitas pendidikan yang memadai dalam rangka peningkatan pengetahuan tenaga medis. 11. Terwujudnya pelaksanaan program JKA dalam rangka pelayanan kesehatan yang baik, berkualitas secara gratis kepada masyarakat miskin. 6.5 Pembangunan Syariat Islam, Sosial dan Budaya Pelaksanaan Syari`at Islam di Aceh yang mennjadi sumber nilai dan sumber penuntun perilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tataran kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kebijakan umum yang ditempuh dalam pelaksanaan pembangunan syari’at Islam secara kaffah di Aceh sebagai berikut: 1. Terpadunya pelaksanaan kegiatan pelayanan keagamaan antara pemerintah, ulama dan masyarakat secara optimal. 2. Terkoordinasinya kerja sama keagamaan baik dengan instansi terkait maupun lembaga keagamaan tingkat Nasional dan Internasional. 3. Terlaksananya pendidikan agama di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang berkualitas. 4. Terjadinya peningkatan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pelaksanaan syari’at Islam. 5. Terlaksananya pengawasan syari’at Islam secara kaffah dalam masyarakat. 6. Terlaksananya pemberdayaan lembaga keagamaan dalam melakukan sertifikasi, penatausahaan, pengelolaan dan pemberdayaan harta agama. 7. Terlaksananya pelayanan kesejahteraan sosial yang berkualitas di seluruh Aceh. 8. Terlaksananya peningkatan dan pengembangan potensi sumber daya sosial. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-12
  • 197.
    9. Terbangun dan berkembangnya ekonomi masyarakat pedesaan dalam rangka pengentasan kemiskinan. 10. Terlaksananya peningkatan dan penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pembangunan. 11. Terlaksananya peningkatan kualitas hidup dan perlindungan hukum terhadap perempuan dan anak. 12. Terlaksananya peningkatan terhadap peran dan hubungan antar lembaga pemuda serta pengembangan sistem kaderisasi organisasi kepemudaan. 13. Terjadinya peningkatan pengetahuan dan keterampilan pemuda dalam rangka menanggulangi dampak demoralitas pemuda. 14. Terciptanyan hidup yang sehat dalam masyarakat melalui kegiatan olahraga. 15. Termotivasinya penguatan institusi keolahragaan di daerah melalui bantuan/subsidi. 16. Terjadinya peningkatan dan penguatan peran kelembagaan adat dalam masyarakat. 17. Terjadinya peningkatan peran dan koordinasi antar lembaga adat dengan pihak-pihak yang terkait secara maksimal 18. Terwujudnya pengembangan apresiasi budaya, kesenian, bahasa dan adat istiadat. 19. Terwujudnya pelestarian dan pemeliharaan situs dan cagar budaya. 20. Terjadinya peningkatan jumlah wisatawan dalam dan luar negeri dengan mengikutsertakan masyarakat. 21. Terwujudnya pertumbuhan kultur demokrasi yang sehat, kompetitif dialogis dan rasional. 22. Terciptanya penghargaan terhadap nilai-nilai kepahlawanan para pejuang. 23. Terbinanya kekayaan adat istiadat, seni, budaya dan bahasa dalam kehidupan masyarakat. 24. Terjadinya peningkatan penguatan fungsi meunasah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. 25. Terlaksananya penegakan hukum adat di tingkat gampong dan kemukiman. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-13
  • 198.
    6.6 Penciptaan PemerintahYang Baik dan Bersih Serta Penyehatan Birokrasi Pemerintahan Untuk menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat mulai dari pemerintah gampong, mukim, kecamatan, kabupaten dan provinsi dilakukan melalui kebijakan sebagai berikut: 1. Terwujudnya pemerintahan yang transparan, partisipatif dan akuntabel. 2. Terbangunnya kelembagaan pemerintah daerah yang sesuai dengan kebutuhan. 3. Tersedianya sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkah dalam rangka pencapaian target kinerja. 4. Terselenggaranya kewenangan antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan gampong. 5. Terfasilitasi penyelesaian masalah tata ruang dan batas wilayah administrasi bagi kabupaten/kota. 6. Terlaksananya pemetaan, pemberian nama-nama, toponomi pulau kecil dan terluar. 7. Tertatanya batas wilayah administrasi, titik kordinat, dan penguasaan wilayah secara ekonomi dan sosial budaya. 8. Tersedianya kapasitas sumber daya aparatur. 9. Terwujudnya revitalisasi baperjakat dalam penempatan dan penjenjangan karir aparatur. 10. Terlaksananya penghargaan dan sanksi kepada aparatur secara adil. 11. Terlaksananya penerapan sistem birokrasi pemerintahan yang baik dan bersih. 12. Terlaksananya peningkatan pemahaman berbangsa dan bernegara dalam rangka memeliharan keutuhan NKRI. 13. Terlaksananya peningkatan pengetahuan kader politik yang bebas, adil dan islami serta memihak kepentingan masyarakat. 14. Terjaminnya perbedaan berpendapat dan berpolitik 15. Terselenggaranya peningkatan etika dan pendidikan politik yang sehat melalui rasa saling percaya dan menghargai (sportifitas) di dalam kelompok masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-14
  • 199.
    16. Terselenggaranya peningkatanpemahaman terhadap hukum di Aceh dan Pengkajian materi hukum sesuai dengan amanah UUPA. 17. Terselenggaranya peningkatan kapasitas dan sumber daya aparat penegak hukum serta dukungan sarana dan prasarana. 18. Terlaksananya pemberian bantuan hukum dalam kasus prodeo dan Peningkatan penyuluhan hukum kepada masyarakat. 19. Terlaksananya inventarisasi kebijakan kabupaten/kota yang bertentangan dengan kepentingan umum dan ketentuan perundang-undangan lebih tinggi. 20. Terlaksananya peningkatan kapasitas aparatur dan penyediaan fasilitas sarana, prasarana Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). 6.7 Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana Pengurangan risiko bencana merupakan tanggungjawab pemerintah, masyarakat dan lembaga - lembaga kemasyarakatan yang dilaksanakan secara bersama - sama dengan prinsip kemitraan dan kesejajaran peran, maka diperlukan kebijakan dalam penanganannya. Arah Kebijakan Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana adalah sebagai berikut: 1. Mengurangi ancaman bahaya melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal dengan tetap memperhatikan perubahan - perubahan global yang berdampak pada kondisi lokal. 2. Mengurangi kerentanan masyarakat di daerah ancaman bahaya dengan cara memberikan pengetahuan yang memadahi tentang ancaman mendasarkan pada analisis risiko. 3. Meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pendidikan, pelatihan dan pemberdayaan secara terus menerus khususnya di daerah ancaman. 4. Mengedepankan keterbukaan dengan pola kemitraan dalam penyelenggaraan Pengurangan Risiko Bencana melalui keterbukaan tatakelola termasuk penyediaan informasi yang berimbang bagi masyarakat. 5. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan pemerintah lokal dengan mengoptimalkan potensi, sumber daya dan kearifan local melalui optimalisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-15
  • 200.
    peran birokrasi, tokohagama, tokoh masyarakat dan tokoh adat serta pimpinan informal lain yang berkembang dalam masyarakat. 6. Mendorong dan meningkatkan peran dan partisipasi perempuan dalam pengurangan risiko bencana baik dalam ranah domestic(rumah tangga) maupun diluar rumah tangga melalui pengarus utamaan gender dalam semua kegiatan yang melibatkan masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VI-16
  • 201.
    BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN ACEH 7.1 Midterm Review Pelaksanaan RPJM 2007-2012 Program dan kegiatan yang tercantum di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2007-2009 yang telah ditetapkan melalui Peraturan Gubernur Nomor 21 tahun 2007 merupakan acuan yang harus dipedomani oleh seluruh Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA). Walaupun demikian, seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi daerah yang sangat dinamis, masih diperlukannya kelanjutan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami, adanya anggaran tambahan yang bersumber dari Otsus Migas, dan perlunya penyesuaian program RPJM Daerah akibat ditetapkannya PP No. 5 tahun 2010, maka program dan kegiatan yang tercantum dalam RPJM 2007-2012 perlu untuk direview. Hasil review RPJM 2007-2012 diharapkan tidak hanya dapat memberikan gambaran tentang pencapaian kinerja Pemerintah Aceh, tetapi juga menjadi pedoman penyusunan program dan kegiatan lanjutan pada Tahun 2011-2012. Review RPJM dilaksanakan dengan mengikuti beberapa kriteria yang digambarkan pada Gambar VII.1. Program dan kegiatan dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kuadran yakni Kuadran I, II, III dan IV dengan kriteria sebagai berikut: 1. Kuadran I adalah program/kegiatan prioritas yang ada dalam RPJM Aceh 2007 - 2012 dan sudah tuntas dilaksanakan pada periode tahun 2007-2010. 2. Kuadran II merupakan program/kegiatan yang ada dalam RPJM Aceh 2007 - 2012, tetapi dalam pelaksanaannya belum mencapai target. 3. Kuadran III berisi program/kegiatan yang ada dalam RPJM Aceh 2007 - 2012, tetapi bukan prioritas sehingga tidak dilaksanakan. 4. Sedangkan Kuadran IV adalah program/kegiatan yang tidak ada dalam RPJM Aceh 2007 - 2012, tetapi dilaksanakan pada tahun 2007 - 2010 dan masih perlu dituntaskan pada tahun 2011 - 2012. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VII-1
  • 202.
    I 6% II 26 % TARGET RPJM YANG TARGET RPJM YANG BELUM SELESAI SEMPURNA SELESAI, PRIORITAS YANG AKAN DILANJUTKA UNTUK 2011-2012 IV 40 % III 28 % TIDAK ADA DI DALAM RPJM TARGET RPJM YANG TIDAK TETAPI PRIORITAS/TELAH DAN DILAKSANAKAN, DIHAPUS DILANJUTKAN UNTUK KARENA TIDAK PRIORITAS DILAKSANAKAN Gambar VII.1 Skema Kuadran dan Kriteria Review Program RPJM Aceh 2007-2012 Hasil dari review pelaksanaan program dan kegiatan RPJM 2007-2012, khususnya untuk pelaksanaan program dan kegiatan RPJM 2007-2009 disajikan pada Tabel VII.1 dan VII.2 Tabel VII.1 Review Pelaksanaan Kegiatan/Anggaran Pembangunan periode tahun 2007 - 2010 menurut kriteria Kuadran Indikasi PAGU INDIKATIF RPJM ANGGARAN DEFINITIF REALISASI 2007-2009 Kualifikasi Kegiatan 2007-2012 2007-2010 + ASUMSI REALISASI 2010 No. Kuadaran % thdp % thdp % thdp % thdp Jlh (Rp) (Rp) (Rp) total total total RPJM 1. I 150 6.00 2,853,380,009,385 4.5 8,063,635,099,239 29.2 5,924,441,932,246 207.6 2. II 706 26.00 43,360,100,241,747 68.4 11,862,364,304,677 43.0 9,876,247,141,392 22.8 3. III 766 28.00 17,199,159,788,868 27.1 - - - - 4. IV 1,094 40.00 - - 7,658,531,849,774 27.8 6,343,876,464,718 - Grand Total 2,716 100.0 63,412,640,040,000 100.0 27,584,531,253,690 100.0 22,144,565,538,355 34.92 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VII-2
  • 203.
    Tabel VII.1 memberikangambaran bahwa realiasi kegiatan/anggaran yang termasuk ke dalam Kuadran I hanya mencapai 6 persen dari total 150 kegiatan dalam RPJM 2007-2012. Hal ini mengindikasikan bahwa pada umumnya kegiatan yang telah ditetapkan di dalam RPJM Aceh 2007-2012 belum sepenuhnya dipedomani oleh para SKPA. Hal ini disebabkan antara lain terlambatnya pengesahan DIPA APBA pada tahun berjalan, masih terkonsentrasinya program dan kegiatan penuntasan rehabilitasi dan rekonstruksi dan beban pekerjaan yang semakin berat akibat penambahan program yang bersumber dari dana Otsus/Migas. Kegiatan yang masih belum memenuhi target (Kuadran II) mencapai 26 persen akan dituntaskan pada tahun berikutnya. Kegiatan ini menjadi prioritas untuk dipedomani oleh para SKPA untuk dilaksanakan sesuai dengan hasil revisi RPJM Aceh 2007 - 2012. Kegiatan yang tergolong ke dalam Kuadran III mencapai 28 persen adalah kegiatan yang ada dalam RPJM 2007 - 2012 tetapi tidak menjadi prioritas lagi untuk dilaksanakan oleh para SKPA. Kegiatan yang tergolong ke dalam Kuadran IV mencapai 40 persen adalah kegiatan yang tidak ada dalam RPJM 2007 - 2012 tetapi dianggap prioritas untuk dilaksanakan oleh para SKPA. Kenyataan ini (Kuadran III dan IV) terjadi karena adanya perubahan kondisi aktual di lapangan yang memerlukan penyesuaian. Di samping itu, adanya perubahan kebijakan Nasional dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 2010 yang mengharuskan penyesuaian antara RPJM Daerah dengan RPJM Nasional. Dari evaluasi pelaksanaan pembangunan pada periode tahun 2007-2010, dapat dilihat kualifikasi program/kegiatan ke dalam kuadran I, II, III, dan IV yang masing-masing menunjukkan tingkat prioritas pelaksanaan pembangunan yang digunakan untuk melakukan penyesuaian (revisi) RPJM 2007-2012. Adapun revisi yang dilakukan adalah penyesuaian target, penghapusan program yang tidak prioritas lagi untuk dilaksanakan, dan penambahan program baru yang telah dilaksanakan tetapi belum ada pada RPJM 2007-2012. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VII-3
  • 204.
    7.2 Revisi dan Penyesuaian RPJM 2007-2012 Revisi dan penyesuaian RPJM 2007-2012 dilakukan dengan cara melakukan penyesuaian target, penghapusan program yang tidak prioritas lagi untuk dilaksanakan, dan penambahan program prioritas baru yang sebelumnya telah dilaksanakan pada periode 2007-2010 tetapi belum ada pada RPJM 2007-2012. Hasil revisi dan penyesuaian RPJM 2007-2012 berdasarkan 7 (tujuh) Prioritas Pembangunan menunjukkan bahwa pada awalnya total program yang telah ditetapkan sebanyak 197 program, maka setelah direvisi total program tersebut berubah menjadi 261 program. Perubahan jumlah program ini berkaitan dengan penetapan PP No.5 tahun 2010 yang mengharuskan penyesuaian RPJM daerah dengan RPJM Nasional. Seiring dengan perubahan total program tersebut, maka total anggaran indikatif juga berubah menjadi Rp 59.903.248.000.000. Perubahan program berdasarkan prioritas pembangunan dapat dilihat pada Tabel VII.2. Tabel VII.2 Review perubahan RPJM 2007-2012 berdasarkan 7 (tujuh) Prioritas Pembangunan Indikatif Kebutuhan Anggaran Jumlah Program (dalam juta rupiah) No Prioritas Pembangunan Awal Direvisi Perubahan Awal Direvisi Perubahan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan 1 59 90 53% 19.585.817 12.902.007 -34% Kesempatan Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber 2 41 46 12% 26.525.077 24.960.814 -6% Daya Energi Pendukung Investasi Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan 3 11 19 73% 5.474.307 10.414.128 90% Belajar 4 Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan 13 19 46% 1.054.938 3.811.338 261% 5 Pembangunan Syariat Islam, Sosial dan Budaya 40 46 15% 2.649.253 2.255.337 -15% Penciptaan Pemerintahan yang Baik dan Bersih serta 6 28 37 32% 1.534.944 1.224.684 -20% Penyehatan Birokrasi Pemerintahan 7 Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana 5 7 40% 6.588.304 4.334.941 -34% Total 197 264 41% 63.412.640 59.903.248 -6% 7.3 Hasil Revisi Program dan Kegiatan Hasil revisi program dan kegiatan Pembangunan Daerah (Matrik tahunan dan lima tahunan) disajikan dalam Buku II. Hasil revisi RPJM Aceh 2007-2012 akan menjadi acuan bagi para SKPA dalam menyusun program dan kegiatan prioritas pada Tahun 2011-2012. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VII-4
  • 205.
    BAB VIII PENUTUP 8.1 Program Transisi Apabila hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh priode 2007 - 2012 ini sudah habis masa berlakunya dan Gubernur Wakil Gubernur berikutnya belum terpilih, maka pada masa vakum ini arah pembangunan daerah masih berpedoman pada penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh 2007 - 2012. Rencana Jangka Menengah transisi ini akan dipakai sampai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih berikut sudah dilantik. 8.2 Kaidah Pelaksanaan Hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Aceh Tahun 2007-2012 ini tetap merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Gubernur dan Wakil Gubernur hasil Pilkada yang dilangsungkan secara langsung Tahun 2006. Hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh Tahun 2007 - 2012 ini menjadi pedoman bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah Aceh (SKPA) dalam menyusun Rencana Strategis (RENSTRA) SKPA dan merupakan pedoman bagi kabupaten/kota. Hasil Penyesuaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh Tahun 2007 - 2012 ini selanjutnya menjadi pedoman bagi menyusun Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA). Untuk itu perlu ditetapkan kaidah-kaidah pelaksanaan sebagai berikut: 8.3 Satuan Kerja Perangkat Daerah Aceh (SKPA) berkewajiban menyusun Rencana Strategis Dinas yang memuat Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi, kebijakan dan Program serta Kegiatan Pokok pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Renstra tersebut harus disusun berdasarkan dan berpedoman kepada hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VIII-1
  • 206.
    Menengah Aceh Tahun2007 - 2012 yang nantinya akan menjadi Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA). 8.4Penguatan peran para stakeholders/pelaku dalam pelaksanaan hasil penyesuaian dan evalusi RPJM Aceh, Satuan Kerja Perangkat Daerah Aceh (SKPA), Pemerintah kabupaten/kota maupun masyarakat termasuk dunia usaha juga berkewajiban untuk melaksanakan program-program yang tertera dalam Hasil penyesuaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh 2007 - 2012 dengan sebaik-baiknya. 8.5Pemerintah kabupaten/kota berkewajiban melakukan penyesuaian dan evaluasi terhadap Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah kabupaten/kota yang sudah pernah ditetapkan, dengan tetap berisi penjabaran Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah kabuapten/kota. Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten/Kota harus juga melakukan penyesuaian Rencana Strategis Dinasnya dengan berpedoman pada hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2007 - 2012. 8.6Merupakan dasar evalusi dan laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan tahunan, dalam rangka meningkatkan efektifitas dalam pelaksanaan pembangunan yang telah ditetapkan dalam hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh 2007 - 2012, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh berkewajiban untuk melaksanakan pemantauan terhadap penjabaran hasil penyesuaian dan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh 2007 - 2012 ke dalam Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Aceh dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten/Kota. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2007-2012 VIII-2