POLA PEMBELAJARAN DI INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM
(Sekolah, Madrasah dan Pesantren)
Di Susun Oleh:
1.Muhammad Yuchdi Prasetya (20202020)
2.Mardika Sandra (2020202106)
3.Lydia Thoivatur Rosida (2020202097)
Mata Kuliah :
Metodologi Pembelajaran
Dosen Pengampu :
DR.,MARDELI,M.A
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG
2022
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh .....
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik,
hidayah dan inayah-Nya, sehingga kami selaku penulis dapat menyelesaikan makalah dengan
judul: pola pembelajaran di institusi pendidikan islam (sekolah,madrasah,dan pesantren) dari
mata kuliah metodologi pendidikan dengan hadirnya makalah ini dapat memberikan informasi
bagi para pembaca khususnya mahasiswa/i program studi Pendidikan Agama Islam.
Adapun isi dari makalah ini tentang,pola pembelajaran di institusi pendidikan islam
(sekolah,madrasah dan pesantren), semoga makalah ini dapat menambah wawasan kita semua
dan semoga tugas ini yang diberikan oleh Bunda DR.,MARDELI ,M.A. dapat menjadi ilmu
yang bermanfaat untuk kita semua.
Penyusun menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna masih banyak kekurangan
dalam penyusunan makalah ini, karena keterbatasan kemampuan yang penyusun miliki. Oleh
karena itu kami menerima kritik dan saran dari para pembaca sebagai perbaikan bagi kami
selaku penyusun makalah ini untuk masa yang akan datang.
Kami selaku penyusun makalah Metodologi pendidikan ini mengucapkan banyak
terima kasih dan semoga makalah ini dapat menjadi jembatan ilmu yang bermanfaat bagi kita
semua. Aamiin.
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…
Palembang,11 Mei 2022
Kelompok 9
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................
DAFTAR ISI.............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................
1.1 Latar Belakang..............................................................................................
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................
1.3 Tujuan ..........................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................
2.1 Konsep dasar.................................................................................................
2.2 Tujuan pendidikan agama islam (sekolah,madrasah pesantren) ..................
1. Madrasah ........................................................................................................
2. Pesantren ........................................................................................................
3. Sekolah ...........................................................................................................
BAB III PENUTUP..................................................................................................
3.1 Kesimpulan ...................................................................................................
3.2 Saran..............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................
1.1 Latar Belakang
Kajian tentang perbandingan madrasah, pondok pesantren, dan sekolah –sebagai tiga
“bentuk pendidikan” yang terbesar di Indonesia– khususnya terkait dengan implementasi
Pendidikan Agama Islam bukan sebuah hal baru. Diskusi tentang itu sesungguhnya telah ada
sejak pemerintah Indonesia meresmikan “madrasah” melalui SKB Tiga Menteri Tahun 1975
sebagai lembaga pendidikan yang diakui sebagaimana sekolah umum. Lalu pada akhir-akhir
inipun pesantren –sebagai corak pendidikan asli milik masyarakat Indonesia– pasca disahkan
UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 juga telah mendapat tempat yang “sejajar” dengan lembaga
pendidikan lainnya di mata pemerintah. Mesikipun keberadaan pesantren “murni” di mata
pemerintah diletakkan pada jalur pendidikan nonformal.
Oleh sebab itu wajar bila setelahnya terjadi penilaian, perbandingan, dan pembaharuan
terhadap masing-masing (tiga) bentuk pendidikan tersebut.
Apabila melihat pada keadaan sebelum lahirnya UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003,
sesungguhnya posisi pesantren diasingkan dan terdiskriminasi dari sistem pendidikan
Nasional. Pada waktu itu pesantren dipandang bukanlah sebagai lembaga pendidikan yang
“pantas” untuk disandingkan dengan lembaga sekolah umum. Meski demikian, peran pesantren
dalam pembangunan bangsa Indonesia sangat besar, utamanya dalam mendidik moral anak
bangsa yang sebagian besar dari kalangan “miskin” dan termarjinalkan. Dari sudut pandang itu
dapat dirasakan jasa mencolok pesantren selama ini adalah meningkatkan keimanan,
ketakwaan, dan akhlak mulia.
Adapun dari sudut perbandingan, secara istilah (terminologi), antara madrasah dan pesantren
tidak memiliki perbedaan. Artinya, keduanya sama-sama sebagai lembaga pendidikan yang ciri
utamanya adalah untuk mendalami dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Namun demikian,
sesungguhnya tetap ada perbedaan. Utamanya dari tinjauan historis, bahwa awal berdirinya
madrasah di Indonesia ditengarai banyak keinginan untuk mengadakan pembaruan
(transformasi) sistem pendidikan Islam yang lama, yaitu pesantren. Pada akhirnya, tujuan
secara terperinci dan metode pengelolaan (manajemen) dari kedua bentuk lembaga pendidikan
Islam tersebut benar-benar berbeda.
Lebih rinci, sesungguhnya pesantren secara formal diposisikan ke dalam jenis pendidikan
keagamaan. Sedangkan madrasah dan sekolah (MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA) diposisikan
sebagai jenis pendidikan umum, serta (MAK/SMK) masuk dalam jenis pendidikan
kejuruan. Dari situ dapat dikatakan bahwa pesantren hanya memfokuskan diri pada
pembelajaran keagamaan Islam saja, sedangkan madrasah selain mempelajari ilmu agama
Islam juga memberikan ilmu umum. Implikasinya, pesantren cenderung diminati oleh
masyarakat yang ingin mendalami agama Islam saja tanpa ilmu lain. Serta Madrasah diminati
oleh masyarakat yang mendambakan keterpaduan di antara dua ilmu tersebut.
1.2 Rumusan masalah
a. Konsep dasar tentang bentuk pendidikan di Indonesia yang meliputi Madrasah,
Pesantren, dan Sekolah.
b. Kencenderungan masyarakat dalam memilih bentuk Pendidikan..
1.3 Tujuan
1. untuk mengetahui pola pembelajaran institusi pendidikan islam (sekolah, madrasah
dan pesantren.)
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 . Konsep Dasar
A. Bentuk Pendidikan Agama islam di Indonesia
Sebenarnya Bentuk dan penyebutan lembaga pendidikan di indonesia sangat banyak.
Namun,secara garis besar-salah satunya yang mempunyai siswa terbanyak adalah lembaga
pendidikan yang berbentuk madrasah,pesantren dan sekolah. Menurut Muhammad Ali
Pendidikan Islam dapat di klasifikasikan ke dalam tiga bentuk.
Pertama, Pendidikan Agama Diselenggarakan dalam bentuk pendidikan Agama islam (PAI)
di satuan pendidikan pada semua jenjang dan jalur pendidikan. Itu artinya dalam pemahaman
penulisan, pendidikan islam hanya berwujud alokasi mata pelajaran saja pada sekolah umum,
yang wajib diberikan kepada murid.
Kedua pendidikan umum yang berciri khas islam pada satuan pendidikan di semua jenjang
dan jalur pendidikan. Baik madrasah maupun sekolah umum yang bercirikan islam (sekolah
islam) Misalnya SMP islam Ataupun SMP Maarifah masuk ke dalam bentuk nmor dua ini.
Ketiga, pendidikan keagamaan islam pada berbagai satuan pendidikan diniyah dan
pesantren yang diselenggarakan pada semua jalur pendidikan (tidak ada penjelasan tentang
jenjang pendidikannya).
1. Madrasah
Madrasah adalah sekolah atau perguruan yang didasarkan pada agama islam. Sedangkan
jenjangnya ada Madrasah ibtidaiyah yaitu sekolah agama islam tingkat dasar (SD), Madrasah
tsanawiyah yaitu sekolah agama islam tingkat menengah pertama (SMP), Dan Madrasah
Aliyah Yaitu sekolah agama islam pada tingkat menengah atas (SMA).
Dapat disimpulkan madrasah adalah lembaga pendidikan yang diakui secara hukum yang
orientasi utamanya untuk mengadakan pembaharuan pendidikan islam. Baik dari segi ke
ilmuan,manajemen,sistem pembelajaran dan pasca terbitnya SKB 3 menteri 1975 yaitu untuk
memenuhi formalitas (ijazah dll).
Pola pembelajaran di madrasah adapun pola atau metode pembelajaran yang di gunakan atau
diterapkan oleh madrasah ialah sebagai berikut :
a. Metode ceramah adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan komunikasi
lisan. Metode ceramah ekonomis dan efektif untuk keperluan penyampaian
informasi dan pengertian. Kelemahannya adalah bahwa siswa cenderung pasif,
pengaturan kecepatan secara klasikal ditentukan oleh pengajar.1
b. Metode tanya jawab adalah cara belajar mengajar yang diterapkan guru dengan
jalan guru mengajukan pertanyaan dan siswa menjawab,atau sebaliknya siswa
bertanya dan guru menjawab. Tujuan bertanya jawab adalah mengecek penguasaan
siswa atas fakta dan materi yang telah diajarkan,sementara diskusi untuk melatih
anak menghubungkan fakta dan konsep dalam membahas masalah yang lebih
kompleks.2
c. Metode Diskusi adalah Suatu proses penglihatan dua atau lebih individu yang
berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan sasaran
yang sudah tertentu melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan
pendapat, atau pemecahan masalah. Metode diskusi adalah suatu cara penyajian
bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada para siswa
(kelompok-kelompok siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna
mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative
pemecahan atas suatu masalah.3
d. Metode cerita Adalah cara menyampaikan sesuatu atau memberikan penjelasan
secara lisan. Bercerita dapat untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku pada
masyarakat. 4
2. Pesantren
1 J.j. Hasibuan dan moedjiono,proses Belajar mengajar,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2009),hlm.13
2 . Hendayat soetopo, pendidikan dan pemebelajaran,Universitas Muhammadiyah Malang,2005),hlm.154.
3 . Jamal Ma’mur Asmani,7 Tips aplikasih pakem,(Jogja: Diva pers,2011}, hlm,37.
4 . Drs. Jhoni Dimyati,Pembelajaran terpadu,hlm,89.
Kata pesantren berasal dari kata dasar “santri” sehingga bisa menjadi kata
pesantrian atau yang lebih dikenal dengan pesantren.
Dalam kamus Besar bahasa Indonesia kata pesantren berarti “asrama tempat santri
atau tempat murid- murid belajar mengaji” atau bisa diartikan sebagai “pondok.”
Sedangkan pondok punya arti pertama “bangunan untuk tempat sementara”
(seperti yang didirikan di ladang, di hutan, kedua “rumah (sebutan untuk
merendahkan diri ),” Ketiga bangunan tempat tinggal yang berpetak-petak dan
berdinding bilik dan beratap rumbaI (tempat tinggal beberapa keluarga), empat
“madrasah dan asrama (tempat mengaji,belajar agama islam).”
Metode pembelajaran di pesantren ada yang bersifat tradisional, yaitu metode
pembelajaran yang diselenggarakan menurut kebiasaan-kebiasaan yang telah lama
dipergunakan dalam institusi pesantren atau merupakan metode pembelajaran asli
pesantren.
Ada pula metode pembelajaran baru (tajdid), yaitu metode pembelajaran hasil
pembaharuan kalangan pesantren dengan mengintrodusir metode-metode yang
berkembang di masyarakat modern. Penerapan metode baru juga diikuti dengan
penerapan sistem baru,yaitu sistem sekolah atau klasikal 5.
Pola pembelajaran di madrasah adapun pola atau metode pembelajaran yang di
gunakan atau diterapkan oleh pesantren ialah sebagai berikut :
a. Metode sorogan
sorogan berasal dari kata sorog (bahasa jawa), yang berarti menyodorkan,sebab
setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapan kyai atau pembantunya
(badal,asistenkyai). Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana
seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling
mengenal antara keduanya.
Pembelajaran dengan sistem sorogan biasanya diselenggarakan pada ruang
tertentu. Ada tempat duduk kyai atau ustadz, didepannya ada meja pendek untuk
meletakkan kitab bagi santri yang menghadap.
5 . Tim pengembangan ilmu pendidikan,2007:453.
Inti metode sorogan adalah berlangsungnya proses belajar mengajar secara face to
face antara kyai dan santri. Keunggulan metode ini adalah kyai secara pasti
mengetahui kualitas anak didik nya, bag santri yang IQ nya tinggi akan cepat
menyelesaikan pelajaran, mendapatkan penjelasan yang pasti dari seorang kyai.
Kelemahannya adalah metode ini membutuhkan waktu yang sangat banyak.
b. Metode wetonan/Bandongan
Wetonan istilah ini berasal dari kata wektu(bahasa Jawa) yang berarti waktu,
sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu tertentu,yaitu sebelum dan atau
sesudah melakukan solat fardhu. Metode weton ini merupakan metode
kuliah,dimana para santri mengikuti pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab
masing-masing dan membuat catatan padanya. Istilah wetonan ini di jawa barat di
sebut dengan bandongan.
Pelaksanaan metode ini yaitu: Kyai membaca,menerjemahkan,menerangkan dan
sering kali mengulas teks-teks kitab berbahasa arab tanpa harakat (gundul). Santri
dengan memegang kitab yang sama, masing-masing melakukan pendhabitan
harakat kata langsung dibawah kata yang dimaksud agar dapat memahami teks.
3. SEKOLAH
Kata “sekolah” salah satunya memiliki arti “bangunan atau lembaga untuk belajar
dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.” Arti lainnya yaitu
“usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan),pelajaran,pengajaran.”
Pola pembelajaran di madrasah adapun pola atau metode pembelajaran yang di
gunakan atau diterapkan oleh sekolah ialah sebagai berikut :
a. Metode tanya jawab adalah cara belajar mengajar yang diterapkan guru dengan
jalan guru mengajukan pertanyaan dan siswa menjawab,atau sebaliknya siswa
bertanya dan guru menjawab. Tujuan bertanya jawab adalah mengecek penguasaan
siswa atas fakta dan materi yang telah diajarkan,sementara diskusi untuk melatih
anak menghubungkan fakta dan konsep dalam membahas masalah yang lebih
kompleks.
c. Metode Diskusi adalah Suatu proses penglihatan dua atau lebih individu yang
berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan sasaran
yang sudah tertentu melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan
pendapat, atau pemecahan masalah. Metode diskusi adalah suatu cara penyajian
bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada para siswa
(kelompok-kelompok siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna
mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative
pemecahan atas suatu masalah.
d. Metode cerita Adalah cara menyampaikan sesuatu atau memberikan penjelasan
secara lisan. Bercerita dapat untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku pada
masyarakat.
2.2 Tujuan Pendidikan Agama Islam di Madrasah, Pesantren, dan Sekolah
Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa merupakan sebuah nilai yang tidak bisa dielakkan. Setiap elemen warga negara
wajib mengimplimentasikan perilaku, aturan, dan termasuk juga pendidikan yang
didasarkan pada Ketuhan Yang Maha Esa. Dengan kata lain, semua yang
bersangkut paut pada dunia pendidikan dimuarakan pada satu dasar utama yaitu
Ketuhanan Yang Maha Esa. Baru kemudian diturunkan ke dasar-dasar yang lain.
Untuk cara pelaksanaannya lebih rinci tergantung pada masing-masing bentuk
pendidikan.
Hal tersebut sesuai dengan pembahasan halaman sebelumnya, yaitu tentang UUD
1945 amandemen ke-4 Pasal 31 ayat 3. Serta menurut amanat UU Sisdiknas No. 20
Tahun 2003 bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Lebih rinci berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 55 Tahun
2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan disebutkan bahwa tujuan
penyelenggaraan pendidikan pesantren adalah untuk menanamkan keimanan dan
ketakwaan kepada Allah SWT, akhlak mulia, serta tradisi pesantren untuk
mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik untuk
menjadi ahli ilmu agama Islam seta menjadi muslim yang memiliki keterampilan
atau keahlianan sebagai penunjang pembangunan kehidupan yang Islami di
masyarakat.
ada beberapa implikasi yang harus dilaksanakan oleh seluruh elemen bangsa, yaitu:
a. Tidak ada pandang bulu atau pengecualian bahwa semua jalur, jenjang, dan
jenis pendidikan harus bermuatan nilai-nilai ”ketuhanan.”
b. Pendidikan “berketuhanan” lebih diutamakan, baru kemudian pendidikan ilmu
lain.
Dapat disimpulkan, dari tiga bentuk pendidikan dalam pembahasan ini maka
tujuan pendidikan Islamnya tidak serta merta secara detail harus disamakan. Harus
diadakan assessment outcome, yaitu menelaah terlebih dahulu tolak ukur
“kesuksesan” seperti apa yang ingin dicapai atau diutamakan. Hal itu sekaligus
dikaitkan dengan pengetahuan pendidik tentang sejauh mana kemampuan peserta
didik. Misalnya, tolak ukurnya adalah bisa mengerjakan sholat dhuha secara rutin,
bisa membaca bacaan sholat dengan benar, membaca kitab kuning, bisa memimpin
tahlilan, atau bisa menghafal ayat al Quran dan sebagainya. Oleh karena itu, setiap
lembaga pendidikan harus memperhatikan hasil pendidikan Islam yang
berupa produk, output, dan outcome seperti apa yang ingin dicapai

BAB II Metodologi Pembelajaran .docx

  • 1.
    POLA PEMBELAJARAN DIINSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM (Sekolah, Madrasah dan Pesantren) Di Susun Oleh: 1.Muhammad Yuchdi Prasetya (20202020) 2.Mardika Sandra (2020202106) 3.Lydia Thoivatur Rosida (2020202097) Mata Kuliah : Metodologi Pembelajaran Dosen Pengampu : DR.,MARDELI,M.A PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG 2022
  • 2.
    KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum warohmatullahiwabarakatuh ..... Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik, hidayah dan inayah-Nya, sehingga kami selaku penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul: pola pembelajaran di institusi pendidikan islam (sekolah,madrasah,dan pesantren) dari mata kuliah metodologi pendidikan dengan hadirnya makalah ini dapat memberikan informasi bagi para pembaca khususnya mahasiswa/i program studi Pendidikan Agama Islam. Adapun isi dari makalah ini tentang,pola pembelajaran di institusi pendidikan islam (sekolah,madrasah dan pesantren), semoga makalah ini dapat menambah wawasan kita semua dan semoga tugas ini yang diberikan oleh Bunda DR.,MARDELI ,M.A. dapat menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua. Penyusun menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, karena keterbatasan kemampuan yang penyusun miliki. Oleh karena itu kami menerima kritik dan saran dari para pembaca sebagai perbaikan bagi kami selaku penyusun makalah ini untuk masa yang akan datang. Kami selaku penyusun makalah Metodologi pendidikan ini mengucapkan banyak terima kasih dan semoga makalah ini dapat menjadi jembatan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Aamiin. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh… Palembang,11 Mei 2022 Kelompok 9
  • 3.
    DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.............................................................................................. DAFTARISI............................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN......................................................................................... 1.1 Latar Belakang.............................................................................................. 1.2 Rumusan Masalah......................................................................................... 1.3 Tujuan .......................................................................................................... BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................... 2.1 Konsep dasar................................................................................................. 2.2 Tujuan pendidikan agama islam (sekolah,madrasah pesantren) .................. 1. Madrasah ........................................................................................................ 2. Pesantren ........................................................................................................ 3. Sekolah ........................................................................................................... BAB III PENUTUP.................................................................................................. 3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 3.2 Saran.............................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................
  • 4.
    1.1 Latar Belakang Kajiantentang perbandingan madrasah, pondok pesantren, dan sekolah –sebagai tiga “bentuk pendidikan” yang terbesar di Indonesia– khususnya terkait dengan implementasi Pendidikan Agama Islam bukan sebuah hal baru. Diskusi tentang itu sesungguhnya telah ada sejak pemerintah Indonesia meresmikan “madrasah” melalui SKB Tiga Menteri Tahun 1975 sebagai lembaga pendidikan yang diakui sebagaimana sekolah umum. Lalu pada akhir-akhir inipun pesantren –sebagai corak pendidikan asli milik masyarakat Indonesia– pasca disahkan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 juga telah mendapat tempat yang “sejajar” dengan lembaga pendidikan lainnya di mata pemerintah. Mesikipun keberadaan pesantren “murni” di mata pemerintah diletakkan pada jalur pendidikan nonformal. Oleh sebab itu wajar bila setelahnya terjadi penilaian, perbandingan, dan pembaharuan terhadap masing-masing (tiga) bentuk pendidikan tersebut. Apabila melihat pada keadaan sebelum lahirnya UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, sesungguhnya posisi pesantren diasingkan dan terdiskriminasi dari sistem pendidikan Nasional. Pada waktu itu pesantren dipandang bukanlah sebagai lembaga pendidikan yang “pantas” untuk disandingkan dengan lembaga sekolah umum. Meski demikian, peran pesantren dalam pembangunan bangsa Indonesia sangat besar, utamanya dalam mendidik moral anak bangsa yang sebagian besar dari kalangan “miskin” dan termarjinalkan. Dari sudut pandang itu dapat dirasakan jasa mencolok pesantren selama ini adalah meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Adapun dari sudut perbandingan, secara istilah (terminologi), antara madrasah dan pesantren tidak memiliki perbedaan. Artinya, keduanya sama-sama sebagai lembaga pendidikan yang ciri utamanya adalah untuk mendalami dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Namun demikian, sesungguhnya tetap ada perbedaan. Utamanya dari tinjauan historis, bahwa awal berdirinya madrasah di Indonesia ditengarai banyak keinginan untuk mengadakan pembaruan (transformasi) sistem pendidikan Islam yang lama, yaitu pesantren. Pada akhirnya, tujuan secara terperinci dan metode pengelolaan (manajemen) dari kedua bentuk lembaga pendidikan Islam tersebut benar-benar berbeda. Lebih rinci, sesungguhnya pesantren secara formal diposisikan ke dalam jenis pendidikan keagamaan. Sedangkan madrasah dan sekolah (MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA) diposisikan sebagai jenis pendidikan umum, serta (MAK/SMK) masuk dalam jenis pendidikan kejuruan. Dari situ dapat dikatakan bahwa pesantren hanya memfokuskan diri pada
  • 5.
    pembelajaran keagamaan Islamsaja, sedangkan madrasah selain mempelajari ilmu agama Islam juga memberikan ilmu umum. Implikasinya, pesantren cenderung diminati oleh masyarakat yang ingin mendalami agama Islam saja tanpa ilmu lain. Serta Madrasah diminati oleh masyarakat yang mendambakan keterpaduan di antara dua ilmu tersebut. 1.2 Rumusan masalah a. Konsep dasar tentang bentuk pendidikan di Indonesia yang meliputi Madrasah, Pesantren, dan Sekolah. b. Kencenderungan masyarakat dalam memilih bentuk Pendidikan.. 1.3 Tujuan 1. untuk mengetahui pola pembelajaran institusi pendidikan islam (sekolah, madrasah dan pesantren.)
  • 6.
    BAB II PEMBAHASAN 2.1 .Konsep Dasar A. Bentuk Pendidikan Agama islam di Indonesia Sebenarnya Bentuk dan penyebutan lembaga pendidikan di indonesia sangat banyak. Namun,secara garis besar-salah satunya yang mempunyai siswa terbanyak adalah lembaga pendidikan yang berbentuk madrasah,pesantren dan sekolah. Menurut Muhammad Ali Pendidikan Islam dapat di klasifikasikan ke dalam tiga bentuk. Pertama, Pendidikan Agama Diselenggarakan dalam bentuk pendidikan Agama islam (PAI) di satuan pendidikan pada semua jenjang dan jalur pendidikan. Itu artinya dalam pemahaman penulisan, pendidikan islam hanya berwujud alokasi mata pelajaran saja pada sekolah umum, yang wajib diberikan kepada murid. Kedua pendidikan umum yang berciri khas islam pada satuan pendidikan di semua jenjang dan jalur pendidikan. Baik madrasah maupun sekolah umum yang bercirikan islam (sekolah islam) Misalnya SMP islam Ataupun SMP Maarifah masuk ke dalam bentuk nmor dua ini. Ketiga, pendidikan keagamaan islam pada berbagai satuan pendidikan diniyah dan pesantren yang diselenggarakan pada semua jalur pendidikan (tidak ada penjelasan tentang jenjang pendidikannya). 1. Madrasah Madrasah adalah sekolah atau perguruan yang didasarkan pada agama islam. Sedangkan jenjangnya ada Madrasah ibtidaiyah yaitu sekolah agama islam tingkat dasar (SD), Madrasah tsanawiyah yaitu sekolah agama islam tingkat menengah pertama (SMP), Dan Madrasah Aliyah Yaitu sekolah agama islam pada tingkat menengah atas (SMA). Dapat disimpulkan madrasah adalah lembaga pendidikan yang diakui secara hukum yang orientasi utamanya untuk mengadakan pembaharuan pendidikan islam. Baik dari segi ke
  • 7.
    ilmuan,manajemen,sistem pembelajaran danpasca terbitnya SKB 3 menteri 1975 yaitu untuk memenuhi formalitas (ijazah dll). Pola pembelajaran di madrasah adapun pola atau metode pembelajaran yang di gunakan atau diterapkan oleh madrasah ialah sebagai berikut : a. Metode ceramah adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan komunikasi lisan. Metode ceramah ekonomis dan efektif untuk keperluan penyampaian informasi dan pengertian. Kelemahannya adalah bahwa siswa cenderung pasif, pengaturan kecepatan secara klasikal ditentukan oleh pengajar.1 b. Metode tanya jawab adalah cara belajar mengajar yang diterapkan guru dengan jalan guru mengajukan pertanyaan dan siswa menjawab,atau sebaliknya siswa bertanya dan guru menjawab. Tujuan bertanya jawab adalah mengecek penguasaan siswa atas fakta dan materi yang telah diajarkan,sementara diskusi untuk melatih anak menghubungkan fakta dan konsep dalam membahas masalah yang lebih kompleks.2 c. Metode Diskusi adalah Suatu proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat, atau pemecahan masalah. Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas suatu masalah.3 d. Metode cerita Adalah cara menyampaikan sesuatu atau memberikan penjelasan secara lisan. Bercerita dapat untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat. 4 2. Pesantren 1 J.j. Hasibuan dan moedjiono,proses Belajar mengajar,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2009),hlm.13 2 . Hendayat soetopo, pendidikan dan pemebelajaran,Universitas Muhammadiyah Malang,2005),hlm.154. 3 . Jamal Ma’mur Asmani,7 Tips aplikasih pakem,(Jogja: Diva pers,2011}, hlm,37. 4 . Drs. Jhoni Dimyati,Pembelajaran terpadu,hlm,89.
  • 8.
    Kata pesantren berasaldari kata dasar “santri” sehingga bisa menjadi kata pesantrian atau yang lebih dikenal dengan pesantren. Dalam kamus Besar bahasa Indonesia kata pesantren berarti “asrama tempat santri atau tempat murid- murid belajar mengaji” atau bisa diartikan sebagai “pondok.” Sedangkan pondok punya arti pertama “bangunan untuk tempat sementara” (seperti yang didirikan di ladang, di hutan, kedua “rumah (sebutan untuk merendahkan diri ),” Ketiga bangunan tempat tinggal yang berpetak-petak dan berdinding bilik dan beratap rumbaI (tempat tinggal beberapa keluarga), empat “madrasah dan asrama (tempat mengaji,belajar agama islam).” Metode pembelajaran di pesantren ada yang bersifat tradisional, yaitu metode pembelajaran yang diselenggarakan menurut kebiasaan-kebiasaan yang telah lama dipergunakan dalam institusi pesantren atau merupakan metode pembelajaran asli pesantren. Ada pula metode pembelajaran baru (tajdid), yaitu metode pembelajaran hasil pembaharuan kalangan pesantren dengan mengintrodusir metode-metode yang berkembang di masyarakat modern. Penerapan metode baru juga diikuti dengan penerapan sistem baru,yaitu sistem sekolah atau klasikal 5. Pola pembelajaran di madrasah adapun pola atau metode pembelajaran yang di gunakan atau diterapkan oleh pesantren ialah sebagai berikut : a. Metode sorogan sorogan berasal dari kata sorog (bahasa jawa), yang berarti menyodorkan,sebab setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapan kyai atau pembantunya (badal,asistenkyai). Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal antara keduanya. Pembelajaran dengan sistem sorogan biasanya diselenggarakan pada ruang tertentu. Ada tempat duduk kyai atau ustadz, didepannya ada meja pendek untuk meletakkan kitab bagi santri yang menghadap. 5 . Tim pengembangan ilmu pendidikan,2007:453.
  • 9.
    Inti metode soroganadalah berlangsungnya proses belajar mengajar secara face to face antara kyai dan santri. Keunggulan metode ini adalah kyai secara pasti mengetahui kualitas anak didik nya, bag santri yang IQ nya tinggi akan cepat menyelesaikan pelajaran, mendapatkan penjelasan yang pasti dari seorang kyai. Kelemahannya adalah metode ini membutuhkan waktu yang sangat banyak. b. Metode wetonan/Bandongan Wetonan istilah ini berasal dari kata wektu(bahasa Jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu tertentu,yaitu sebelum dan atau sesudah melakukan solat fardhu. Metode weton ini merupakan metode kuliah,dimana para santri mengikuti pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya. Istilah wetonan ini di jawa barat di sebut dengan bandongan. Pelaksanaan metode ini yaitu: Kyai membaca,menerjemahkan,menerangkan dan sering kali mengulas teks-teks kitab berbahasa arab tanpa harakat (gundul). Santri dengan memegang kitab yang sama, masing-masing melakukan pendhabitan harakat kata langsung dibawah kata yang dimaksud agar dapat memahami teks. 3. SEKOLAH Kata “sekolah” salah satunya memiliki arti “bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.” Arti lainnya yaitu “usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan),pelajaran,pengajaran.” Pola pembelajaran di madrasah adapun pola atau metode pembelajaran yang di gunakan atau diterapkan oleh sekolah ialah sebagai berikut : a. Metode tanya jawab adalah cara belajar mengajar yang diterapkan guru dengan jalan guru mengajukan pertanyaan dan siswa menjawab,atau sebaliknya siswa bertanya dan guru menjawab. Tujuan bertanya jawab adalah mengecek penguasaan siswa atas fakta dan materi yang telah diajarkan,sementara diskusi untuk melatih anak menghubungkan fakta dan konsep dalam membahas masalah yang lebih kompleks.
  • 10.
    c. Metode Diskusiadalah Suatu proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat, atau pemecahan masalah. Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas suatu masalah. d. Metode cerita Adalah cara menyampaikan sesuatu atau memberikan penjelasan secara lisan. Bercerita dapat untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat. 2.2 Tujuan Pendidikan Agama Islam di Madrasah, Pesantren, dan Sekolah Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sebuah nilai yang tidak bisa dielakkan. Setiap elemen warga negara wajib mengimplimentasikan perilaku, aturan, dan termasuk juga pendidikan yang didasarkan pada Ketuhan Yang Maha Esa. Dengan kata lain, semua yang bersangkut paut pada dunia pendidikan dimuarakan pada satu dasar utama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Baru kemudian diturunkan ke dasar-dasar yang lain. Untuk cara pelaksanaannya lebih rinci tergantung pada masing-masing bentuk pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan pembahasan halaman sebelumnya, yaitu tentang UUD 1945 amandemen ke-4 Pasal 31 ayat 3. Serta menurut amanat UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Lebih rinci berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan disebutkan bahwa tujuan
  • 11.
    penyelenggaraan pendidikan pesantrenadalah untuk menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, akhlak mulia, serta tradisi pesantren untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik untuk menjadi ahli ilmu agama Islam seta menjadi muslim yang memiliki keterampilan atau keahlianan sebagai penunjang pembangunan kehidupan yang Islami di masyarakat. ada beberapa implikasi yang harus dilaksanakan oleh seluruh elemen bangsa, yaitu: a. Tidak ada pandang bulu atau pengecualian bahwa semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan harus bermuatan nilai-nilai ”ketuhanan.” b. Pendidikan “berketuhanan” lebih diutamakan, baru kemudian pendidikan ilmu lain. Dapat disimpulkan, dari tiga bentuk pendidikan dalam pembahasan ini maka tujuan pendidikan Islamnya tidak serta merta secara detail harus disamakan. Harus diadakan assessment outcome, yaitu menelaah terlebih dahulu tolak ukur “kesuksesan” seperti apa yang ingin dicapai atau diutamakan. Hal itu sekaligus dikaitkan dengan pengetahuan pendidik tentang sejauh mana kemampuan peserta didik. Misalnya, tolak ukurnya adalah bisa mengerjakan sholat dhuha secara rutin, bisa membaca bacaan sholat dengan benar, membaca kitab kuning, bisa memimpin tahlilan, atau bisa menghafal ayat al Quran dan sebagainya. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan harus memperhatikan hasil pendidikan Islam yang berupa produk, output, dan outcome seperti apa yang ingin dicapai