BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pasar modal merupakan indikator kemajuan perekonomian suatu
Negara serta menunjang perkembangan ekonomi Negara yang
bersangkurtan. Didalam berputarnya roda perekonomian suatu Negara,
sumber dana bagi pembiayaan-pembiayaan beroperasinya perusahaan-
perusahaan yang merupakan tulang ekonomi suatu Negara sangat
terbatas, maka perlu dicarikan adanya solusi pembiayaan yang bersifat
jangka panjang. Pasar modal muncul sebagai suatu alternatif untuk
solusi pembiayaan jangka panjang. Dengan dukungan dan jangka
panjang ini, roda pembangunan di bidang swasta dapat berjalan sesuai
dengan apa yang telah direncanakan.
Salah satu sisi lain dengan adanya pasar modal adalah semakin
banyak perusahaan yang akan go-public. Yang berarti sebagian saham
dari perusahaan-perusahaan tersebut akan ikut dimiliki oleh masyarakat
luas, yang berarti secara makro ekonomi merupakan pemerataan
pendapatan. Sedangkan dari sisi kualitas perusahaan-perusahaan yang
beroperasi, perusahaan-perusahaan publik harus bersifat terbuka yang
berarti dari segi manajemen perusahaan dituntut profesionalisme yang
tinggi karena adanya sorotan positif dari masyarakat luas. Dengan
pengelolaan yang profesional maka kualitas perusahaan akan meningkat.
Modal ekuitas sebagai suatu komoditas pasar modal diterbitkan
dalam bentuk saham seperti saham biasa dan saham preferen.
Sebagaimana analogi dengan pasar tradisional dimana merupakan
tempat berlangsungnya proses jual-beli antara para penjual dan pembeli.
Demikian juga pasar modal, proses transaksi atas komoditas modal
membutuhkan suatu tempat tertentu untuk melaksanakan kegiatan
perdagangan. Tempat inilah yang untuk selanjutnya disebut bursa efek
yang didalam Bahasa inggris disebut stock exchange (Ang, 1997:3.2-
3.4).
Pesatnya pembangunan yang terjadi di Bursa Efek Indonesia
(BEI) saat ini tidak terlepas dari peran investor yang melakukan
transaksi di BEI. Sebelum investor memutuskan untuk menginvestasikan
dananya di pasar modal, investor perlu melakukan beberapa penilaian
dengan cermat terhadap emiten. Investor harus yakin bahwa informasi
yang diterimanya adalah informasi yang benar, serta tidak ada pihak lain
yang memanipulasi informasi tersebut (Ratih, 2009 dalam Lidya dan
Sany, 2013).
Apabila perusahaan sudah menjalankan praktik akuntansi yang
baik, maka manajemen menggunakan teknik analisa ROA (Return On
Asset) untuk mengukur efisiensi penggunaan modal kerja, efisiensi
produksi, dan efisiensi bagian penjualan. ROA (Return On Asset)selain
bertujuan untuk keperluan kontrol juga berguna untuk keperluan
perencanaan, seperti sebagai dasar untuk pengambilan keputusan apabila
perusahaan ingin melakukan ekspansi. Semakin tinggi ROA (Return On
Asset) perusahaan, maka akan semakin besar pula tingkat keuntungan
yang dicapai oleh perusahaan. ROA (Return On Asset) perlu
dipertimbangkan oleh investor dalam berinvestasi saham, karena para
investor membutuhkan indikator untuk dapat memprediksi perubahan
harga saham. Dengan melakukan analisis laporan keuangan perusahaan
melalui penghitungan rasio-rasio keuangan diharapkan dapat
memberikan informasi yang dibutuhkan oleh investor.
Dalam penelitian Raharjo dan Muid (2013) menunjukkan adanya
pengaruh ROA (Return On Asset) terhadap Harga Saham. Hal ini juga
dibuktikan oleh penelitian Lidya dan Sani (2013) yang meneliti
pengaruh ROA (Return On Asset) terhadap harga saham. Hasil yang
didapat dari penelitian tersebut yaitu terdapat pengaruh signifikan ROA
(Return On Asset) terhadap harga saham. Namun berbeda dengan
penelitian Meilinda dan Endang (2012) yang mengatakan tidak adanya
pengaruh yang signifikan antara ROA (Return On Asset) terhadap Harga
Saham.
Indikator lain mengenai kinerja suatu perusahaan ditunjukkan
oleh besarnya EPS (Earning Per Share). EPS (Earning Per Share)
merupakan salah satu informasi akuntansi yang menunjukkan besarnya
keuntungan bersih per lembar saham yang dapat dihasilkan oleh
perusahaan. Menurut Zaki Baridwan (2004:443) yang dimaksud dengan
EPS (Earning Per Share) adalah jumlah pendapatan yang diperoleh
dalam satu periode untuk setiap lembar saham yang beredar.
Pada umumnya investor akan mengharapkan manfaat dari
investasinya dalam bentuk laba per lembar saham, sebab EPS (Earning
Per Share)ini menggambarkan jumlah keuntungan yang diperoleh untuk
setiap lembar sahamnya. EPS (Earning Per Share) yang tinggi
menandakan bahwa perusahaan tersebut kondisi dan kinerjanya dalam
keadaan baik sehingga mampu memberikan tingkat kesejahteraan yang
tinggi kepada pemegang sahamnya, maka biasanya permintaan terhadap
saham tersebut akan naik sehingga harga saham perusahaan tersebut ikut
meningkat (Susanna, 2000 dalam Lidya dan Sany, 2013).
Raharjo dan Muid (2013) melakukan penelitian analisis pengaruh
faktor fundamental terhadap harga saham menunjukkan tidak adanya
pengaruh EPS (Earning Per Share) terhadap harga saham. Namun hal
ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Damayanti et al
(2014) dan Yulsiati (2016) yang menyatakan EPS (Earning Per Share)
berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham.
Selanjutnya, variabel lain yang dapat mempengaruhi harga
saham adalah Tingkat Suku Bunga. Menurut Boediono (1998) dalam
Lidya dan Sany (2013) tingkat suku bunga adalah harga dari
penggunaan uang tersebut untuk jangka waktu yang ditentukan bersama.
Harga ini biasanya % per satuan waktu (misalnya per bulan atau per
tahun, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku) Albelson (1998) dalam
Lidya dan Sany (2013). Du Bois (1996) dalam Lidya dan Sany (2013)
mengatakan bahwa Tingkat Suku Bunga merupakan kunci penentu
dalam perkembangan harga saham. Kenaikan suku bunga akan
berpengaruh bagi pelaku pasar modal. Pergerakan suku bunga yang
fluktuatif dan cenderung meningkat akan mempengaruhi pergerakan
sektor riil. Akibat meningkatnya suku bunga, para pemilik modal akan
lebih suka menanamkan uangnya di bank daripada berinvestasi dalam
bentuk saham.
Dalam penelitian Aurora dan Riyadi (2013) Tingkat Suku Bunga
sangat mempengaruhi pergerakan Harga Saham dimana pengaruh antara
variabel suku bunga dengan Harga Saham yakni negatif atau berlawanan
arah. Penelitian ini menunjukkan bahwa suku bunga masih merupakan
parameter instrumen investasi yang menjadi acuan bagi masyarakat.
Data menunjukkan bahwa nilai terendah suku bunga pada tahun 2013-
2014 sebesar 5.75% yang ditetapkan oleh Bank Indonesia pada tanggal
10 Januari 2013, pada tahun berikutnya penetapan suku bunga SBI
mengalami kenaikan dengan nilai tertinggi 7.75% yang ditetapkan pada
tanggal 18 Nopember 2014. Sehingga dikarenakan Suku Bunga SBI
yang menjadi acuan bunga deposito naik masyarakat mengalihkan
investasinya ke bank.
Menurut teori analisis fundamental dikatakan bahwa peningkatan
suku bunga SBI diikuti dengan suku bunga simpanan yang akan
menyebabkan investor cenderung mengalihkan dananya dalam bentuk
simpanan deposito denga pendapatan/return yang lebih tinggi dan
tingkat risiko yang lebih rendah daripada berinvestasi pada saham
(Tandelilin, 2010 : 343). Meningkatnya suku bunga SBI menyebabkan
investor enggan untuk berinvestasi saham sehingga menyebabkan
permintaan saham berkurang serta mengakibatkan penuruan harga
saham. Namun Hal ini tidak sependapat dengan penelitian yang
dilakukan oleh Lidya dan Sany (2013) yang menyatakan bahwa Tingkat
Suku Bunga SBI tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham.
Faktor fundamental lain yang dapat mempengaruhi harga saham
perusahaan yaitu ROE (Return On Equity) yang merupakan rasio
pengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan
dengan memanfaatkan modal yang dimiliki oleh perusahaan. Rasio ini
menunjukkan tingkat kesuksesan manajemen dalam memaksimalkan
tingkat pengembalian kepada pemegang saham. Semakin tinggi rasio ini
akan semakin baik, karena memberikan tingkat pengembalian yang lebih
besar kepada pemegang saham. Informasi peningkatan ROE (Return On
Equity) akan diterima pasar sebagai sinyal baik yang akan memberikan
masukan positif bagi investor dalam pengambilan keputusan untuk
pembelian saham. Hal ini membuat permintaan saham semakin
meningkat sehingga harganya pun akan naik. Pernyataan tersebut
diperkuat oleh hasil penelitian Nurfadillah (2011) dalam Raharjo dan
Muid (2013). Didalam penelitian Hutami (2012) serta Meilinda dan
Endang (2012) menyatakan bahwa ROE berpengaruh signifikan
terhadap Harga Saham, namun dari penelitian Darnita (2013) tidak
menunjukkan adanya pengaruh yang signifakan ROE (Return On
Equity) terhadap harga saham.
Penulis dalam penelitian ini mengembangkan penelitian dari
Lidya dan Sany yang menguji adanya pengaruh ROA (Return On Asset),
EPS (Earning Per Share), dan Tingkat Suku Bunga SBI terhadap harga
saham. Hasil dari ketiga variabel independen tersebut menunjukkan
hanya ROA (Reurn On Asset) dan EPS (Earning Per Share) yang secara
parsial mempunyai pengaruh terhadap Harga Saham, sedangkan Tingkat
Suku Bunga SBI secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap
harga saham. Selanjutnya peneliti menambah satu variabel yang dapat
mengindikasi adanya pengaruh terhadap saham, yaitu ROE (Return On
Equity) dan memperpanjang periode penelitian menjadi 2 tahun yaitu
pada tahun 2013 – 2014.
Peneliti mengambil variabel ROE (Return On Equity) karena
dalam penelitian sebelumnya terdapat ketidakkonsistenan hasil
penelitian dari Astrid, Darminto dan Husaini (2012) yang berjudul
Pengaruh DER, ROE, dan EPS terhadap Harga Saham pada Perusahaan
Food and Beverages yang Terdaftar di BEI. Hasil dari penelitian
tersebut menunjukkan EPS berpengaruh terhadap Harga Saham, namun
dari penelitian Raharjo dan Muid (2013) yang berjudul Analisis
Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental Rasio Keuangan Terhadap Harga
Saham menunjukkan tidak adanya pengaruh ROE terhadap Harga
Saham.
Tabel 1.1
Tabel Research Gap
NO
VARIABEL HASIL
Independen Dependen
Meilinda
&
Endang
(2012)
Raharjo
& Muid
(2013)
Lidya
&
Sany
(2013)
Aurora
&
Ryadi
(2013)
1 ROA
Harga
Saham
Tidak Ya Ya
2 EPS Ya Tidak Tidak
3
Tingkat
Suku Bunga
Tidak Ya
4 ROE Ya Tidak Tidak
Sumber : Jurnal Akuntansi online
ROA (Return On Asset) dipilih sebagai faktor yang
mempengaruhi Harga Saham, karena ROA (Return On Asset) merupakan
rasio yang mewakili pengembalian atas seluruh aktivitas perusahaan.
EPS (Earning Per Share)dipilih karena EPS (Earning Per Share)
menunjukkan berapa rupiah laba yang diterima oleh investor untuk
setiap lembar saham. Kemudian ROE (Return On Equity) menunjukkan
informasi mengenai kesuksesan manajemen dalam memaksimalkan
tingkat pengembalian kepada pemegang saham. Dan yang terakhir,
Tingkat Suku Bunga SBI merupakan salah satu faktor eksternal yang
dapat mempengaruhi harga saham.
Berdasarkan kajian teori di atas, jurnal akuntansi, dan review
penelitian terdahulu mengenai harga saham, maka penelitian ini
mengambil judul “PENGARUH RETURN ON ASSET (ROA), EARNING
PER SHARE (EPS), TINGKAT SUKU BUNGA SBI DAN RETURN
ON EQUITY (ROE) TERHADAP HARGA SAHAM PADA
PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA
EFEK INDONESIA TAHUN 2013-2014”.
1.2 Rumusan Masalah
Penelitian-penelitian tentang Harga Saham beserta pengaruhnya
telah banyak dilakukan. Sesuai dengan research gap pada latar belakang
diatas penelitian ini akan menguji kembali faktor-faktor yang
mempengaruhi Harga Saham. Pasar modal muncul sebagai suatu
alternatif untuk solusi pembiayaan jangka panjang. Dengan dukungan
dan jangka panjang ini, roda pembangunan di bidang swasta dapat
berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Permasalahan harga
pasar saham merupakan masalah yang penting berpengaruh terhadap
likuiditas sekuritas di pasar sekunder, sehingga faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi harga saham menarik untuk diteliti kembali.
Dengan demikian pertanyaan yang dirumuskan dalam penelitian
ini adalah :
1. Apakah terdapat pengaruh ROA terhadap harga saham pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI?
2. Apakah terdapat pengaruh EPS terhadap harga saham pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI?
3. Apakah terdapat pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI terhadap harga
saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI?
4. Apakah terdapat pengaruh ROE terhadap harga saham pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka dapat dirumuskan
tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Untuk menguji secara empiris pengaruh ROA terhadap harga saham
pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
2. Untuk menguji secara empiris pengaruh EPS terhadap harga saham
pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
3. Untuk menguji secara empiris pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI
terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI).
4. Untuk menguji secara empiris pengaruh ROE terhadap harga saham
pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
teoritis maupun praktis sebagai berikut :
1.4.1 Manfaat Teoritis
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan
pemikiran untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam
menganalisis laporan keuangan khususnya analisis rasio keuangan.
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Bagi Investor
Pengetahuan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
investor atas informasi keuangan dalam pengambilan keputusan
untuk berinvestasi di pasar modal dengan tujuan dapat
memperkecil risiko investor yang mungkin dapat terjadi sebagai
akibat dalam pembelian saham di pasar modal.
b. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi apabila
perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan menjadi alternatif
bagi perusahaan dalam mengambil suatu keputusan.

4 bab 1

  • 1.
    BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Pasar modal merupakan indikator kemajuan perekonomian suatu Negara serta menunjang perkembangan ekonomi Negara yang bersangkurtan. Didalam berputarnya roda perekonomian suatu Negara, sumber dana bagi pembiayaan-pembiayaan beroperasinya perusahaan- perusahaan yang merupakan tulang ekonomi suatu Negara sangat terbatas, maka perlu dicarikan adanya solusi pembiayaan yang bersifat jangka panjang. Pasar modal muncul sebagai suatu alternatif untuk solusi pembiayaan jangka panjang. Dengan dukungan dan jangka panjang ini, roda pembangunan di bidang swasta dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Salah satu sisi lain dengan adanya pasar modal adalah semakin banyak perusahaan yang akan go-public. Yang berarti sebagian saham dari perusahaan-perusahaan tersebut akan ikut dimiliki oleh masyarakat luas, yang berarti secara makro ekonomi merupakan pemerataan pendapatan. Sedangkan dari sisi kualitas perusahaan-perusahaan yang beroperasi, perusahaan-perusahaan publik harus bersifat terbuka yang berarti dari segi manajemen perusahaan dituntut profesionalisme yang tinggi karena adanya sorotan positif dari masyarakat luas. Dengan pengelolaan yang profesional maka kualitas perusahaan akan meningkat.
  • 2.
    Modal ekuitas sebagaisuatu komoditas pasar modal diterbitkan dalam bentuk saham seperti saham biasa dan saham preferen. Sebagaimana analogi dengan pasar tradisional dimana merupakan tempat berlangsungnya proses jual-beli antara para penjual dan pembeli. Demikian juga pasar modal, proses transaksi atas komoditas modal membutuhkan suatu tempat tertentu untuk melaksanakan kegiatan perdagangan. Tempat inilah yang untuk selanjutnya disebut bursa efek yang didalam Bahasa inggris disebut stock exchange (Ang, 1997:3.2- 3.4). Pesatnya pembangunan yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini tidak terlepas dari peran investor yang melakukan transaksi di BEI. Sebelum investor memutuskan untuk menginvestasikan dananya di pasar modal, investor perlu melakukan beberapa penilaian dengan cermat terhadap emiten. Investor harus yakin bahwa informasi yang diterimanya adalah informasi yang benar, serta tidak ada pihak lain yang memanipulasi informasi tersebut (Ratih, 2009 dalam Lidya dan Sany, 2013). Apabila perusahaan sudah menjalankan praktik akuntansi yang baik, maka manajemen menggunakan teknik analisa ROA (Return On Asset) untuk mengukur efisiensi penggunaan modal kerja, efisiensi produksi, dan efisiensi bagian penjualan. ROA (Return On Asset)selain bertujuan untuk keperluan kontrol juga berguna untuk keperluan perencanaan, seperti sebagai dasar untuk pengambilan keputusan apabila perusahaan ingin melakukan ekspansi. Semakin tinggi ROA (Return On
  • 3.
    Asset) perusahaan, makaakan semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan. ROA (Return On Asset) perlu dipertimbangkan oleh investor dalam berinvestasi saham, karena para investor membutuhkan indikator untuk dapat memprediksi perubahan harga saham. Dengan melakukan analisis laporan keuangan perusahaan melalui penghitungan rasio-rasio keuangan diharapkan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh investor. Dalam penelitian Raharjo dan Muid (2013) menunjukkan adanya pengaruh ROA (Return On Asset) terhadap Harga Saham. Hal ini juga dibuktikan oleh penelitian Lidya dan Sani (2013) yang meneliti pengaruh ROA (Return On Asset) terhadap harga saham. Hasil yang didapat dari penelitian tersebut yaitu terdapat pengaruh signifikan ROA (Return On Asset) terhadap harga saham. Namun berbeda dengan penelitian Meilinda dan Endang (2012) yang mengatakan tidak adanya pengaruh yang signifikan antara ROA (Return On Asset) terhadap Harga Saham. Indikator lain mengenai kinerja suatu perusahaan ditunjukkan oleh besarnya EPS (Earning Per Share). EPS (Earning Per Share) merupakan salah satu informasi akuntansi yang menunjukkan besarnya keuntungan bersih per lembar saham yang dapat dihasilkan oleh perusahaan. Menurut Zaki Baridwan (2004:443) yang dimaksud dengan EPS (Earning Per Share) adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk setiap lembar saham yang beredar.
  • 4.
    Pada umumnya investorakan mengharapkan manfaat dari investasinya dalam bentuk laba per lembar saham, sebab EPS (Earning Per Share)ini menggambarkan jumlah keuntungan yang diperoleh untuk setiap lembar sahamnya. EPS (Earning Per Share) yang tinggi menandakan bahwa perusahaan tersebut kondisi dan kinerjanya dalam keadaan baik sehingga mampu memberikan tingkat kesejahteraan yang tinggi kepada pemegang sahamnya, maka biasanya permintaan terhadap saham tersebut akan naik sehingga harga saham perusahaan tersebut ikut meningkat (Susanna, 2000 dalam Lidya dan Sany, 2013). Raharjo dan Muid (2013) melakukan penelitian analisis pengaruh faktor fundamental terhadap harga saham menunjukkan tidak adanya pengaruh EPS (Earning Per Share) terhadap harga saham. Namun hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Damayanti et al (2014) dan Yulsiati (2016) yang menyatakan EPS (Earning Per Share) berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham. Selanjutnya, variabel lain yang dapat mempengaruhi harga saham adalah Tingkat Suku Bunga. Menurut Boediono (1998) dalam Lidya dan Sany (2013) tingkat suku bunga adalah harga dari penggunaan uang tersebut untuk jangka waktu yang ditentukan bersama. Harga ini biasanya % per satuan waktu (misalnya per bulan atau per tahun, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku) Albelson (1998) dalam Lidya dan Sany (2013). Du Bois (1996) dalam Lidya dan Sany (2013) mengatakan bahwa Tingkat Suku Bunga merupakan kunci penentu dalam perkembangan harga saham. Kenaikan suku bunga akan
  • 5.
    berpengaruh bagi pelakupasar modal. Pergerakan suku bunga yang fluktuatif dan cenderung meningkat akan mempengaruhi pergerakan sektor riil. Akibat meningkatnya suku bunga, para pemilik modal akan lebih suka menanamkan uangnya di bank daripada berinvestasi dalam bentuk saham. Dalam penelitian Aurora dan Riyadi (2013) Tingkat Suku Bunga sangat mempengaruhi pergerakan Harga Saham dimana pengaruh antara variabel suku bunga dengan Harga Saham yakni negatif atau berlawanan arah. Penelitian ini menunjukkan bahwa suku bunga masih merupakan parameter instrumen investasi yang menjadi acuan bagi masyarakat. Data menunjukkan bahwa nilai terendah suku bunga pada tahun 2013- 2014 sebesar 5.75% yang ditetapkan oleh Bank Indonesia pada tanggal 10 Januari 2013, pada tahun berikutnya penetapan suku bunga SBI mengalami kenaikan dengan nilai tertinggi 7.75% yang ditetapkan pada tanggal 18 Nopember 2014. Sehingga dikarenakan Suku Bunga SBI yang menjadi acuan bunga deposito naik masyarakat mengalihkan investasinya ke bank. Menurut teori analisis fundamental dikatakan bahwa peningkatan suku bunga SBI diikuti dengan suku bunga simpanan yang akan menyebabkan investor cenderung mengalihkan dananya dalam bentuk simpanan deposito denga pendapatan/return yang lebih tinggi dan tingkat risiko yang lebih rendah daripada berinvestasi pada saham (Tandelilin, 2010 : 343). Meningkatnya suku bunga SBI menyebabkan investor enggan untuk berinvestasi saham sehingga menyebabkan
  • 6.
    permintaan saham berkurangserta mengakibatkan penuruan harga saham. Namun Hal ini tidak sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Lidya dan Sany (2013) yang menyatakan bahwa Tingkat Suku Bunga SBI tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham. Faktor fundamental lain yang dapat mempengaruhi harga saham perusahaan yaitu ROE (Return On Equity) yang merupakan rasio pengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan modal yang dimiliki oleh perusahaan. Rasio ini menunjukkan tingkat kesuksesan manajemen dalam memaksimalkan tingkat pengembalian kepada pemegang saham. Semakin tinggi rasio ini akan semakin baik, karena memberikan tingkat pengembalian yang lebih besar kepada pemegang saham. Informasi peningkatan ROE (Return On Equity) akan diterima pasar sebagai sinyal baik yang akan memberikan masukan positif bagi investor dalam pengambilan keputusan untuk pembelian saham. Hal ini membuat permintaan saham semakin meningkat sehingga harganya pun akan naik. Pernyataan tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Nurfadillah (2011) dalam Raharjo dan Muid (2013). Didalam penelitian Hutami (2012) serta Meilinda dan Endang (2012) menyatakan bahwa ROE berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham, namun dari penelitian Darnita (2013) tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifakan ROE (Return On Equity) terhadap harga saham. Penulis dalam penelitian ini mengembangkan penelitian dari Lidya dan Sany yang menguji adanya pengaruh ROA (Return On Asset),
  • 7.
    EPS (Earning PerShare), dan Tingkat Suku Bunga SBI terhadap harga saham. Hasil dari ketiga variabel independen tersebut menunjukkan hanya ROA (Reurn On Asset) dan EPS (Earning Per Share) yang secara parsial mempunyai pengaruh terhadap Harga Saham, sedangkan Tingkat Suku Bunga SBI secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Selanjutnya peneliti menambah satu variabel yang dapat mengindikasi adanya pengaruh terhadap saham, yaitu ROE (Return On Equity) dan memperpanjang periode penelitian menjadi 2 tahun yaitu pada tahun 2013 – 2014. Peneliti mengambil variabel ROE (Return On Equity) karena dalam penelitian sebelumnya terdapat ketidakkonsistenan hasil penelitian dari Astrid, Darminto dan Husaini (2012) yang berjudul Pengaruh DER, ROE, dan EPS terhadap Harga Saham pada Perusahaan Food and Beverages yang Terdaftar di BEI. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan EPS berpengaruh terhadap Harga Saham, namun dari penelitian Raharjo dan Muid (2013) yang berjudul Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham menunjukkan tidak adanya pengaruh ROE terhadap Harga Saham.
  • 8.
    Tabel 1.1 Tabel ResearchGap NO VARIABEL HASIL Independen Dependen Meilinda & Endang (2012) Raharjo & Muid (2013) Lidya & Sany (2013) Aurora & Ryadi (2013) 1 ROA Harga Saham Tidak Ya Ya 2 EPS Ya Tidak Tidak 3 Tingkat Suku Bunga Tidak Ya 4 ROE Ya Tidak Tidak Sumber : Jurnal Akuntansi online ROA (Return On Asset) dipilih sebagai faktor yang mempengaruhi Harga Saham, karena ROA (Return On Asset) merupakan rasio yang mewakili pengembalian atas seluruh aktivitas perusahaan. EPS (Earning Per Share)dipilih karena EPS (Earning Per Share) menunjukkan berapa rupiah laba yang diterima oleh investor untuk setiap lembar saham. Kemudian ROE (Return On Equity) menunjukkan informasi mengenai kesuksesan manajemen dalam memaksimalkan tingkat pengembalian kepada pemegang saham. Dan yang terakhir, Tingkat Suku Bunga SBI merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi harga saham. Berdasarkan kajian teori di atas, jurnal akuntansi, dan review penelitian terdahulu mengenai harga saham, maka penelitian ini mengambil judul “PENGARUH RETURN ON ASSET (ROA), EARNING PER SHARE (EPS), TINGKAT SUKU BUNGA SBI DAN RETURN ON EQUITY (ROE) TERHADAP HARGA SAHAM PADA
  • 9.
    PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANGTERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2013-2014”. 1.2 Rumusan Masalah Penelitian-penelitian tentang Harga Saham beserta pengaruhnya telah banyak dilakukan. Sesuai dengan research gap pada latar belakang diatas penelitian ini akan menguji kembali faktor-faktor yang mempengaruhi Harga Saham. Pasar modal muncul sebagai suatu alternatif untuk solusi pembiayaan jangka panjang. Dengan dukungan dan jangka panjang ini, roda pembangunan di bidang swasta dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Permasalahan harga pasar saham merupakan masalah yang penting berpengaruh terhadap likuiditas sekuritas di pasar sekunder, sehingga faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga saham menarik untuk diteliti kembali. Dengan demikian pertanyaan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah terdapat pengaruh ROA terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI? 2. Apakah terdapat pengaruh EPS terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI? 3. Apakah terdapat pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI? 4. Apakah terdapat pengaruh ROE terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI?
  • 10.
    1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkanidentifikasi masalah di atas maka dapat dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut : 1. Untuk menguji secara empiris pengaruh ROA terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). 2. Untuk menguji secara empiris pengaruh EPS terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). 3. Untuk menguji secara empiris pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). 4. Untuk menguji secara empiris pengaruh ROE terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). 1.4 Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis maupun praktis sebagai berikut : 1.4.1 Manfaat Teoritis Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam menganalisis laporan keuangan khususnya analisis rasio keuangan.
  • 11.
    1.4.2 Manfaat Praktis a.Bagi Investor Pengetahuan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan investor atas informasi keuangan dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi di pasar modal dengan tujuan dapat memperkecil risiko investor yang mungkin dapat terjadi sebagai akibat dalam pembelian saham di pasar modal. b. Bagi Perusahaan Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi apabila perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan menjadi alternatif bagi perusahaan dalam mengambil suatu keputusan.