Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik
dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA)
DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2016
KELOMPOK KOMPETENSI A
MODUL GURU PEMBELAJAR
MATA PELAJARAN BIOLOGI
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
PEDAGOGI:
PERKEMBANGAN DAN POTENSI PESERTA DIDIK
Penulis:
Dr. Elly Herliani, M.Phil., M.Si.
PROFESIONAL:
EKOSISTEM, KEANEKARAGAMAN HAYATI,
STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
Penulis:
Rini Nuareni, M.Si., dkk.
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik
dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA)
DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2016
KELOMPOK KOMPETENSI A
MODUL GURU PEMBELAJAR
MATA PELAJARAN BIOLOGI
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
PERKEMBANGAN DAN
POTENSI PESERTA DIDIK
Penulis:
Dr. Elly Herliani, M.Phil., M.Si.
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik
dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA)
DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2016
11
Penulis:
Dr. Elly Herliani, M.Phil., M.Si.
MODUL GURU PEMBELAJAR
MATA PELAJARAN BIOLOGI
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
KELOMPOK KOMPETENSI A
PERKEMBANGAN DAN POTENSI
PESERTA DIDIK
MODUL GURU PEMBELAJAR
MATA PELAJARAN BIOLOGI
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
KELOMPOK KOMPETENSI A
PERKEMBANGAN DAN POTENSI
PESERTA DIDIK
Penanggung Jawab
Dr. Sediono Abdullah
Penulis
Dr. Elly Herliani, M.Phil., M.Si. 022-4231191 elly.herliani@gmail.com
Penyunting
Dr. Dedi Herawadi
Penelaah
Dr. Riandi
Dr. Sri Anggraeni, M.Si.
Dr. Soni Suhandono
Dra. Tati Hermawati, M.Si.
Drs. Triastono Imam P., M.Pd.
Penata Letak
Zuhe Safitra, M.Pd.
Copyright ©2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA)
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Dilarang menggandakan sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
KATA SAMBUTAN iii
Peran guru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai kunci
keberhasilan belajar siswa. Guru profesional adalah guru yang kompeten
membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan
pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadikan guru sebagai komponen
yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
dalam peningkatan mutu pendidikan terutama menyangkut kompetensi guru.
Pengembangan profesionalitas guru melalui program Guru Pembelajar (GP)
merupakan upaya peningkatan kompetensi untuk semua guru. Sejalan dengan
hal tersebut, pemetaan kompetensi guru telah dilakukan melalui uji kompetensi
guru (UKG) untuk kompetensi pedagogi dan profesional pada akhir tahun 2015.
Hasil UKG menunjukkan peta kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam
penguasaan pengetahuan. Peta kompetensi guru tersebut dikelompokkan
menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak lanjut pelaksanaan UKG
diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru paska UKG melalui program Guru
Pembelajar. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai agen
perubahan dan sumber belajar utama bagi peserta didik. Program Guru
Pembelajar dilaksanakan melalui pola tatap muka, dalam jaringan atau daring
(online), dan campuran (blended) tatap muka dengan online.
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
(PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Kelautan dan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(LP3TK KPTK), dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala
Sekolah (LP2KS) merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat
Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab dalam
mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru
sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan tersebut
KATA SAMBUTAN
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KATA SAMBUTANiv
adalah modul untuk program GP tatap muka dan GP online untuk semua mata
pelajaran dan kelompok kompetensi. Dengan modul ini diharapkan program GP
memberikan sumbangan yang sangat besar dalam peningkatan kualitas
kompetensi guru.
Mari kita sukseskan program GP ini untuk mewujudkan “Guru Mulia Karena
Karya.”
Jakarta, Februari 2016
Direktur Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan
Sumarna Surapranata, Ph.D.
NIP. 195908011985032001
KATA PENGANTAR v
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul
Guru Pembelajar Mata Pelajaran IPA SMP, Fisika SMA, Kimia SMA dan Biologi
SMA. Modul ini merupakan model bahan belajar (learning material) yang dapat
digunakan guru untuk belajar lebih mandiri dan aktif.
Modul Guru Pembelajar disusun dalam rangka fasilitasi program peningkatan
kompetensi guru paska UKG yang telah diselenggarakan oleh Direktorat
Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Materi modul dikembangkan
berdasarkan Standar Kompetensi Guru sesuai Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi Guru yang dijabarkan menjadi Indikator Pencapaian Kompetensi
Guru.
Modul Guru Pembelajar untuk masing-masing mata pelajaran dijabarkan ke
dalam 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Materi pada masing-masing modul
kelompok kompetensi berisi materi kompetensi pedagogi dan kompetensi
profesional guru mata pelajaran, uraian materi, tugas, dan kegiatan
pembelajaran, serta diakhiri dengan evaluasi dan uji diri untuk mengetahui
ketuntasan belajar. Bahan pengayaan dan pendalaman materi dimasukkan pada
beberapa modul untuk mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta kegunaan dan aplikasinya dalam pembelajaran maupun
kehidupan sehari hari.
Modul ini telah ditelaah dan direvisi oleh tim, baik internal maupun eksternal
(praktisi, pakar, dan para pengguna). Namun demikian, kami masih berharap
kepada para penelaah dan pengguna untuk selalu memberikan masukan dan
penyempurnaan sesuai kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan
teknologi terkini.
KATA PENGANTAR
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KATA PENGANTARvi
Besar harapan kami kiranya kritik, saran, dan masukan untuk lebih
menyempurnakan isi materi serta sistematika modul dapat disampaikan ke
PPPPTK IPA untuk perbaikan edisi yang akan datang. Masukan-masukan dapat
dikirimkan melalui email para penyusun modul atau ke: p4tkipa@yahoo.com.
Akhirnya kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para
pengarah dari jajaran Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan,
Manajemen, Widyaiswara, Staf PPPPTK IPA, Dosen, Guru, dan Kepala Sekolah
serta Pengawas Sekolah yang telah berpartisipasi dalam penyelesaian modul ini.
Semoga peran serta dan kontribusi Bapak dan Ibu semuanya dapat memberikan
nilai tambah dan manfaat dalam peningkatan kompetensi guru IPA di Indonesia.
Bandung, April 2016
Kepala PPPPTK IPA,
Dr. Sediono, M.Si.
NIP. 195909021983031002
LISTRIK untuk SMP
DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
vii
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
Hal
KATA SAMBUTAN iii
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xi
PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 1
C. Peta Kompetensi 2
D. Ruang Lingkup 2
E. Cara Penggunaan Modul 3
KEGIATAN PEMBELAJARAN
I. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK 5
A. Tujuan 5
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 5
C. Uraian Materi 6
D. Aktivitas Pembelajaran 8
E. Latihan/Kasus/Tugas 9
F. Rangkuman 9
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 10
II. PERKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL 11
A. Tujuan 11
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 11
C. Uraian Materi 12
D. Aktivitas Pembelajaran 16
E. Latihan/Kasus/Tugas 17
F. Rangkuman 17
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 18
DAFTAR ISI
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
viii
III. PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN 19
A. Tujuan 19
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 19
C. Uraian Materi 20
D. Aktivitas Pembelajaran 22
E. Latihan/Kasus/Tugas 23
F. Rangkuman 24
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 24
IV. KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK
SOSIAL
25
A. Tujuan 25
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 25
C. Uraian Materi 26
D. Aktivitas Pembelajaran 30
E. Latihan/Kasus/Tugas 31
F. Rangkuman 32
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 33
V. PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL 34
A. Tujuan 34
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 34
C. Uraian Materi 35
D. Aktivitas Pembelajaran 39
E. Latihan/Kasus/Tugas 40
F. Rangkuman 42
G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut 42
VI. SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR 43
A. Tujuan 43
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 43
C. Uraian Materi 43
D. Aktivitas Pembelajaran 46
E. Latihan/Kasus/Tugas 47
F. Rangkuman 48
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 48
VII. IDENTIFIKASI KEMAMPUAN DAN KESULITAN BELAJAR 49
A. Tujuan 49
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 49
C. Uraian Materi 50
D. Aktivitas Pembelajaran 55
E. Latihan/Kasus/Tugas 56
LISTRIK untuk SMP
DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
ix
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
F. Rangkuman 57
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 58
EVALUASI 59
PENUTUP 63
DAFTAR PUSTAKA 65
GLOSARIUM 67
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
x
Hal
Tabel 1
Kompetisi guru mapel dan indikator pencapaian
kompetensi
2
DAFTAR TABEL
LISTRIK untuk SMP
DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
xi
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
Hal
Gambar 3.1 pembelajaran untuk pengembangan fisik dan kesehatan 22
Gambar 5.1 Pembelajaran untuk pengembangan moral dan spiritual 43
Gambar 6.1
Pembelajaran untuk membangun sikap dan kebiasaan
belajar
51
DAFTAR GAMBAR
LISTRIK untuk SMP
PENDAHULUAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
1
A. Latar Belakang
Modul ini membahas tentang kompetensi Pedagogi yang pertama dan keenam
dalam Permendiknas nomor 16 tahun 2007, yaitu Karakteristik Peserta Didik dan
Pengembangan Potensi Peserta Didik. Penguasaan guru atas konsep dan
implementasi dari kedua kompetensi inti ini dapat membekali guru dalam
tugasnya untuk menghantarkan peserta didik asuhannya memperoleh
pencapaian terbaik mereka sesuai dengan karakteristiknya. Dengan demikian,
potensi yang dimiliki seluruh peserta didik dapat mewujud dalam bentuk prestasi
yang beragam. Kompetensi ini merupakan kompetensi dasar dalam
pembelajaran, oleh karena itu guru wajib mengenal karakteristik dan potensi
peserta didik serta cara mengembangkannya mengingat peserta didik adalah
subjek yang akan dibelajarkan. Dengan demikian guru wajib mengenal
karakteristik dan potensi peserta didik serta cara mengembangkannya.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan
Tenaga Kependidikan, telah menetapkan Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan (PKB) sebagai salah satu modus untuk meningkatkan kompetensi
guru. Untuk kepentingan itu perlu dibuat modul yang akan menjadi bahan ajar
dalam PKB tersebut yang diturunkan dari permendiknas nomor 16 tahun 2007.
Pemanfaatan modul disesuaikan dengan kebutuhan guru yang diketahui dari
hasil Uji Kompetensi Guru (UKG).
B. Tujuan
Tujuan penyusunan modul ini adalah untuk membekali guru pembelajar dalam
menguasai kompetensi Mengenal Karakteristik Peserta Didik dan
Mengembangkan Potensi Peserta Didik yang merupakan kompetensi ke-1 dan
ke-6 Permendiknas nomor 16 tahun 2007.
PENDAHULUAN
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
PENDAHULUAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
2
Setelah mengikuti pembelajaran yang menggunakan modul ini diharapkan
guru pembelajar dapat memahami konsep karakteristik peserta didik yang
disajikan menjadi tujuh topik, mengidentifikasi perkembangannya, dan
menentukan pembelajaran yang memfasilitasi pengembangan masing-
masing aspek karakeristik peserta didik tersebut.
C. Peta Kompetensi
Kompetensi Inti dan Kompetensi Guru Mata Pelajaran yang diharapkan
setelah belajar dengan modul ini tercantum pada tabel 1 berikut.
Tabel 1. Kompetensi Inti dan Kompetensi Guru
Kompetensi Inti Kompetensi Guru Kelas
1. Menguasai
karakteristik peserta
didik dari aspek fisik,
moral, sosial, kultural,
emosional, dan
intelektual.
1.1. Memahami karakteristik peserta didik usia
sekolah dasar yang berkaitan dengan aspek
fisik, intelektual, sosial-emosional, moral,
spiritual, dan latar belakang sosial-budaya.
1.2. Mengidentifikasi potensi peserta didik usia
sekolah dasar dalam lima mata pelajaran SMA.
1.3. Mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik
usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran
SMA.
1.4. Mengidentifikasi kesulitan peserta belajar usia
sekolah dasar dalam lima mata pelajaran SMA.
2. Memfasilitasi
pengembangan
potensi peserta didik
untuk
mengaktualisasikan
berbagai potensi yang
dimiliki.
2.1. Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran
untuk mendorong peserta didik mencapai
prestasi belajar secara optimal.
2.2. Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran
untuk mengaktualisasikan potensi peserta
didik, termasuk krea tivitasnya.
D. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup materi pada Modul ini disusun dalam empat bagian, yaitu
bagian Pendahuluan, Kegiatan Pembelajaran, Evaluasi dan Penutup. Bagian
pendahuluan berisi paparan tentang latar belakang modul kelompok
kompetensi A, tujuan belajar, kompetensi guru yang diharapkan dicapai
LISTRIK untuk SMP
PENDAHULUAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
3
setelah pembelajaran, ruang lingkup dan saran penggunaan modul. Bagian
kegiatan pembelajaran berisi Tujuan, Indikator Pencapaian Kompetensi,
Uraian Materi, Aktivitas Pembelajaran, Latihan/Kasus/Tugas, Rangkuman,
Umpan Balik dan Tindak Lanjut Bagian akhir terdiri dari Kunci Jawaban
Latihan/Kasus/Tugas, Evaluasi dan Penutup.
Rincian materi pada modul adalah sebagai berikut:
1. Perkembangan Peserta Didik
2. Perkembangan Kemampuan Intelektual
3. Perkembangan Fisik dan Kesehatan
4. Perkembangan Kecerdasan Emosi dan Perkembangan Sosial
5. Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual
6. Perkembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar
7. Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar.
E. CARA PENGGUNAAN MODUL
Cara penggunaan modul pada setiap Kegiatan Pembelajaran secara umum
sesuai dengan skenario setiap penyajian materi. Langkah-langkah belajar
secara umum adalah sebagai berikut.
Pendahuluan
Review
Mengkaji
materi modul
Melakukan aktivitas
pembelajaran
(diskusi/
ekperimen/latihan)
Presentasi
dan
Konfirmasi
Latihan
Soal Uji
Kompetensi
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
PENDAHULUAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
4
Deskripsi Kegiatan
1. Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan fasilitator memberi kesempatan kepada
guru pembelajar untuk mempelajari :
a. latar belakang yang memuat gambaran materi
b. tujuan penyusunan modul mencakup tujuan semua kegiatan
pembelajaran setiap materi
c. kompetensi atau indikator yang akan dicapai atau ditingkatkan
melalui modul.
d. ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran
e. langkah-langkah penggunaan modul
2. Mengkaji Materi
Pada kegiatan ini fasilitator memberi kesempatan kepada guru
pembelajar untuk mempelajari materi yang diuraikan secara singkat
sesuai dengan indikator pencapaian hasil belajar. Guru pembelajar
dapat mempelajari materi secara individual atau kelompok.
3. Melakukan Aktivitas Pembelajaran
Pada kegiatan ini guru pembelajar melakukan kegiatan pembelajaran
sesuai dengan rambu-rambu/intruksi yang tertera pada modul baik
berupa diskusi materi, melakukan eksperimen, dan latihan.
Pada kegiatan ini guru pembelajar secara aktif menggali informasi,
mengumpulkan data dan mengolah data sampai membuat kesimpulan
kegiatan.
4. Presentasi dan Konfirmasi
Pada kegiatan ini guru pembelajar melakukan presentasi hasil kegiatan
sedangkan fasilitator melakukan konfirmasi terhadap materi dibahas
bersama.
5. Latihan Soal Uji Kompetensi
Pada kegiatan ini guru pembelajar berlatih menganalisis dan menjawab
soal yang kualitas dan kesukarannya setara dengan soal UKG.
6. Review Kegiatan
Pada kegiatan ini guru pembelajar dan penyaji mereview materi
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
KELOMPOK KOMPETENSI A
5
Tugas utama guru dalam pembelajaran adalah mengantarkan peserta didik pada
prestasi terbaik sesuai dengan potensinya. Informasi mengenai karakteristik
peserta didik dalam berbagai aspek sangat penting karena menjadi satu acuan
dalam menentukan kedalaman dan keluasan materi serta pembelajarannya
sehingga sesuai dengan perkembangan peserta didik.
A. Tujuan
Setelah melaksanakan pembelajaran dalam modul ini, guru pembelajar
diharapkan dapat memahami konsep perkembangan perilaku dan pribadi peserta
didik, tahapan, dan prinsip-prinsipnya.
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan
beberapa indikator tentang karakteristik peserta didik berikut ini:
1. Menjelaskan perkembangan peserta didik pada usia remaja.
2. Menjelaskan keragaman karakteristik peserta didik dan faktor-faktor
penyebabnya.
3. Menjelaskan implikasi prinsip-prinsip perkembangan perilaku dan pribadi
peserta didik terhadap pendidikan.
4. Menjelaskan tugas-tugas perkembangan remaja.
5. Mengidentifikasi informasi yang diperlukan untuk membuat profil karakteristik
peserta didik secara komprehensif
6. Menentukan kegiatan untuk memfasilitasi variasi perkembangan peserta
didik.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1:
KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
KELOMPOK KOMPETENSI A
6
C. Uraian Materi
1. Perkembangan Peserta Didik
Pertumbuhan dan perkembangan adalah dua istilah yang berbeda tetapi tidak
berdiri sendiri. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan alamiah secara
kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis. Menurut
Libert, Paulus, dan Strauss (Sunarto, 2002: 39) bahwa perkembangan adalah
proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi
kematangan dan interaksinya dengan lingkungan. Dengan demikian pada batas-
batas tertentu perkembangan dapat dipercepat melalui proses belajar.
2. Keragaman Karakteristik Individual Peserta Didik
Peserta didik yang melakukan kegiatan belajar atau proses pendidikan adalah
individu Karena itu dalam proses dan kegiatan belajar peserta didik tidak bisa
dilepaskan dari karakteristik, kemampuan dan perilaku individualnya. Menurut
Makmun (2009:53) keragaman karakteristik peserta didik yang paling penting
dipahami oleh guru adalah keragaman dalam kecakapan (ability) dan
kepribadian. Keragaman individual terjadi karena adanya interelasi dan
interdependensi antara faktor pembawaan faktor lingkungan dan kematangan
(siap berfungsinya aspek-aspek psikofisik individu).
3. Perkembangan Masa Remaja
Masa remaja merupakan periode yang penting, yaitu perubahan-perubahan yang
dialami masa remaja akan memberikan dampak langsung pada individu dan
akan mempengaruhi periode selanjutnya. Perkembangan fisik dan mental yang
cepat menuntut remaja untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut dan
membentuk perilaku, nilai, dan sikap baru. Menurut Konopka (Yusuf, 2006:7)
bahwa masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus
perkembangan peserta didik, dan merupakan masa transisi (dari masa kanak-
kanak ke masa dewasa yang diarahkan kepada perkembangan masa dewasa
yang sehat.
Masa remaja menurutt Mappiare (Ali, 2014:9) dibagi menjadi masa remaja awal;
yaitu uisa 12/13 sampai 17/18 tahun, dan remaja akhir yaitu 17/18 tahun sampai
21/22 tahun. Selanjutnya Santrock (2007:20-21) bahwa masa remaja awal (early
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
7
adolescence) kurang lebih berlangsung pada usia menengah pertama atau
menengah akhir.
Menurut Erickson (Santrock, 2010:87) masa remaja merupakan masa
berkembangnya self-identity (kesadaran akan identitas diri). Remaja harus
memutuskan siapakah dirinya, apa keunikannya, apa tujuan hidupnya. BIla
remaja berhasil menemukan jati dirinya, maka akan memiliki kepribadian yang
sehat. Sebaliknya apabila gagal mengatasi krisis identitas, maka akan
mengalami kebingungan (confusion) sehingga cenderung memiliki kepribadian
yang tidak sehat (maladjustment).
4. Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik
Menurut Havigurst (Hurlock, 2013:9) tugas-tugas perkembangan adalah tugas
yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan
individu. Tugas-tugas perkembangan remaja adalah sebagai berikut:
a. mencapai hubungan-hubungan yang baru dan lebih matang dengan teman-
teman sebaya dari kedua jenis
b. mencapai suatu peranan sosial sebagai pria dan wanita
c. menerima dan menggunakan fisik secara efektif
d. mencapai kebebasan emosional dari orangtua dan orang lainnya
e. mencapai kebebasan keterjaminan ekonomi
f. memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan/jabatan
g. mempersiapkan diri untuk persiapan pernikahan dan berkeluarga
h. mengembangkan konsep-konsep dan keterampilan intelektual yang
diperlukan sebagai warga negara yang kompeten
i. secara sosial menghendaki dan mencapai kemampuan bertindak secara
bertanggung jawab
j. Mempelajari dan mengembangkan seperangkat sistem nilai-nilai dan etika
sebagi pegangan untuk bertindak.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
KELOMPOK KOMPETENSI A
8
5. Identifikasi Keragaman Karakteristik Peserta Didik
Keragaman karakteristik peserta didik yang paling penting dipahami oleh guru
adalah keragaman dalam kecakapan (ability) dan kepribadian. Guru dapat
mengidentifikasinya, antara lain melalui:
a. Pengamatan, guru mengamati perilaku peserta didik pada saat KBM dengan
menggunakan pedoman pengamatan, dan pengamatan insidentil.
b. Wawancara, angket atau inventori, dan studi dokumentasi
c. Bekerja sama dengan wali kelas dan guru BK
d. Informasi dari rekan guru dan orangtua serta teman-teman peserta didik.
6. Implementasi Dalam Pembelajaran
Dalam pembelajaran guru harus memperhatikan tahap dan tugas-tugas
perkembangan serta keragaman karakteristik individu diantaranya yaitu:
a. Menyusun RPP yang sesuai dengan tahap dan tuigas perkembangan
peserta didik pada masa remaja.
b. Guru perlu merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan
keragaman karakteristik peserta didik, dan menciptakan iklim belajar
mengajar yang kondusif agar setiap individu dapat belajar secara optimal.
c. Adanya perbedaan dalam kecepatan perkembangan, maka dalam
pembelajaran perlu adanya pendekatan individualitas disamping kelompok
d. Guru memberi motivasi kepada setiap peserta didik agar melakukan apa
yang diharapkan dari mereka oleh kelompok sosial pada masa remaja.
D. Aktivitas Pembelajaran
1. Kegiatan 1. Perkembangan Peserta Didik
a. Tujuan: melalui tugas membuat peta pikiran dan diskusi, peserta
diharapkan dapat memahami materi perkembangan peserta didik.
b. Tugas:
1) Buatlah peta pikiran, bagan atau bentuk lain untuk: a)
Perkembangan Peserta Didik, prinsip-prinsipnya, dan implikasinya
dalam pendidikan b) Tugas Perkembangan remaja, dan c)
pembelajaran untuk memfasilitasinya.
2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasil kegiatan.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
9
2. Kegiatan 2. Profil Karakteristk Peserta Didik
a. Tujuan: melalui diksusi dan presentasi hasil kegiatan peserta dapat
mengidentifikasi informasi untuk membuat profil karakteristik peserta
didik secara komprehensif dan mengusulkan alternatif kegiatan untuk
memfasilitasi variasi perkembangan peserta didik.
b. Tugas
Diskusikan dalam kelompok informasi yang diperlukan untuk membuat
profil karakteristik peserta didik secara komprehensif, idntfikas alternatif
kegiatan untuk memfasilitasi variasi perkembangan peserta didik, dan
presentasikan hasil kegiatan.
.
E. Latihan/Kasus/Tugas
1. Sangat penting bagi guru memahami tahapan dan tugas perkembangan
peserta didik, jelaskan apa manfaat pemahaman tersebut!
2. Jelaskan 3 aspek perkembangan masa remaja dengan ciri-cirinya!
3. Sangat penting bagi guru memahami karakteristik individual kemampuan
dan perilaku peserta didik, jelaskan implikasinya terhadap pembelajaran!
F. Rangkuman
1. Peserta didik adalah individu yang unik yang memiliki potensi , kecakapan
dan karakteristik pribadi. Karena itu dalam proses dan kegiatan belajar
peserta didik tidak bisa dilepaskan dari karakteristik individualnya.
2. Remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus
perkembangan peserta didik, dan merupakan masa transisi (dari masa
kanak-kanak ke masa dewasa) yang diarahkan kepada perkembangan masa
dewasa yang sehat. Menurut Erickson masa remaja merupakan masa
berkembangnya identitas diri (self-identity).
3. Pemahaman tahap dan tugas perkembangan dapat digunakan oleh pendidik
dalam menentukan apa yang harus diberikan kepada peserta didik pada
masa-masa tertentu, dan bagaimana caranya mengajar atau menyajikan
pengalaman belajar kepada peserta didik pada masa-masa tertentu.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
KELOMPOK KOMPETENSI A
10
G. Umpan Balik danTindak Lanjut
Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul dan sebelum melanjutkan
ke topik berikutnya, lakukanlah uji diri. Perkirakan tingkat keberhasilan Anda
dengan melihat kunci jawaban. jika melebihi 85%, silahkan lanjutkan, namun jika
kurang dari itu, sebaiknya pelajari ulang. Anda dianjurkan menambah wawasan
misalnya tentang keragaman perkembangan karakteristik peserta didik, cara
mengidentifikasinya, dan alternatif kegiatan untuk memfasilitasi keragaman
tersebut.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
11
Informasi mengenai karakteristik peserta didik dalam aspek intelektual menjadi
satu acuan dalam menentukan materi dan mengeksplorasi berbagai aspek untuk
fasilitasi peserta didik agar sesuai dengan perkembangan peserta didik termasuk
kecerdasan majemuk dan gaya belajar mereka.
A. Tujuan
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar diharapkan dapat
memahami konsep intelegensi, ciri-ciri dan tahapan perkembangan intelektual;
cara mengidentifikasi perkembangan kemampuan intelektual; dan menentukan
pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan kemampuan intelektual dan
kreativitas peserta didik.
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan
beberapa indikator tentang perkembangan kemampuan intelektual berikut ini:
1. Menjelaskan tahapan perkembangan kognitif peserta didik.
2. Mengidentifikasi kemampuan intelektual peserta didik.
3. Menentukan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi perbedaan
kemampuan intelektual peserta didik.
4. Menjelaskan manfaat memahami kecerdasan majemuk peserta didik untuk
memfasilitasi perkembangan yang optimal.
5. Menjelaskan cara mengimplementasikan kecerdasan majemuk dalam
pembelajaran.
6. Menjelaskan cara mengembangkan kreativitas melalui pembelajaran.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2:
PERKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
12
C. Uraian Materi
1. Kemampuan Intelektual
Kecerdasan umum (general intelligence) atau kemampuan intelektual merupakan
kemampuan mental umum yang mendasari kemampuannya untuk mengatasi
kerumitan kognitif (Gunawan, 2006: 218). Kemampuan umum dikaitkan dengan
kemampuan untuk pemecahan masalah, berpikir abstrak, keahlian dalam
pembelajaran. Seseorang yang memiliki kemampuan intelektual atau intelegensi
yang tinggi akan bertindak efisien dan efektif dalam memecahkan segala
persoalan hidupnya (Syaodih, 2007:256). Kemampuan intelektual merupakan
potensi bawaan (potenstial ability), namun beberapa penilitian menunjukkan
dalam perkembangannya dipengaruhi oleh kualitas lingkungan.
2. Karakteristik Perkembangan Kognitif Peserta Didik
Tahap perkembangan berpikir pada masa remaja menurut Piaget
(Santrock,2010:56) berada pada tahap berpikir operasional formal. Tahap ini
ditandai oleh kemampuan berpikir abstrak, Idealistik, dan berpikir lebih logis
seperti menyusun rencana dan memecahkan masalah. Tipe pemikirian logis ini
disebut juga pemikiran deduktif hipotesis (hypothetical-deductive-reasoning).
Anak usia 11-15 tahun (SMP) berada pada fase formal operasional, namun
banyak peserta didik kemampuan berpikir abstraknya masih terbatas (Santrock,
2010:57). Sedangkan kemampuan intelektualnya mengalami perkembangan
yang paling pesat (terutama bagi remaja yang bersekolah) dan bakat (aptitude)
mulai menunjukkan kecenderunan-kecenderungan secara lebih jelas.
3. Kecerdasan Majemuk
Menurut Gardner (Syaodih, 2011:95) tingkat inteligensi atau IQ bukan satu-
satunya yang dapat meramalkan keberhasilan seseorang tetapi ada kecerdasan
dalam spektrum yang lebih luas yaitu kecerdasan majemuk (multiple intelligent).
Setiap anak memiliki kecenderungan dari delapan kecerdasan, meskipun
memiliki tingkat penguasaan yang berbeda yaitu:
a. Kecerdasan bahasa (verbal-linguistic intelligence), kecakapan berpikir
melalui kata-kata, menggunakan bahasa untuk menyatakan dan memaknai
arti yang kompleks.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Gembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
13
b. Kecerdasan matematika – logis (logical-mathematical intelligence),
kecakapan untuk menyelesaikan operasi.
c. Kecerdasan spasial–visual (visual-spatial intelligence), kecakapan berpikir
dalam ruang tiga dimensi.
d. Kecerdasan kinestetis atau gerakan fisik (kinesthetic intelligence).
Kecakapan melakukan gerakan dan keterampilan-kecekatan fisik.
e. Kecerdasan musik (musical intelligence). Kecakapan untuk menghasilkan
dan menghargai musik, sensitivitas terhadap melodi, ritme, nada, tangga
nada.
f. Kecerdasan hubungan sosial (interpersonal intelligence). Kecakapan
memahami dan merespon serta berinteraksi dengan orang lain secara
efektif.
g. Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence). Kecakapan
memahami diri dan menata kehidupannya sendiri.
h. Kecerdasan naturalis hakekatnya adalah kecakapan manusia untuk
mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta.
i. Konsep kecerdasan majemuk bukanlah hal baru, ahli-ahli lain menyebutnya
sebagai bakat atau aptitude.
4. Kreativitas
Setiap orang memiliki potensi kreatif meskipun dalam derajat yang berbeda
(DePorter ,2001:293). Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru,
berbeda, unik, baik itu berbentuk lisan, tulisan, maupun konkret atau abstrak dan
kreativitas timbul dari pemikiran divergen (Hurlock, 1978:5). Berpikir divergen
mempertimbangkan beberapa jawaban yang mungkin ada untuk suatu masalah.
Sedangkan De Bono (1991:8) menyebutnya berpikir lateral, pola berpikir lateral
selalu berkaitan dengan ide-ide baru, maka nampak erat kaitannya dengan pola
berpikir kreatif. Menurut Hurlock (2013:4) bahwa orang yang kreatif tidak selalu
memiliki inteligensi yang tinggi, kadang-kadang ditemukan orang yang memiliki
bakat kreatifnya tinggi tetapi tingkat kecerdasannya rendah, dan tidak semua
orang yang tingkat kecerdasannya tinggi adalah pencipta.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
14
a. Karakteristik Kreativitas
Beberapa ahli psikologi mengemukakan karakteristik kreativitas, menurut
Utami Munandar (Ali, 2014:52) mengemukakan ciri-ciri kreativitas,
diantaranya (1) Senang mencari pengalaman baru; (2) Memiliki keasyikan
dalam mengerjakan tugas-tugas sulit; (3) Memiliki inisiatif; (4) Sangat
tekun; (4) Cenderung bersikap kritis terhadap orang lain; (6) Berani
menyatakan pendapat dan keyakinannya; (7) Selalu ingin tahu; (8) Pekak
atau perasa; (9) Enerjik dan ulet; (10) Menyenangi tugas-tugas yang
majemuk; (11) Percaya diri; (12) Memiliki rasa humor: (13) Memiliki rasa
keindahan; (14) Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi.
b. Tahap-Tahap Kreativitas
Keberhasilan orang-orang kreatif dalam mencapai ide, gagasan,
pemecahan, cara kerja, karya baru menurut Wallas (Ali, 2014:51)
biasanya melewati beberapa tahapan sebagi berikut ini.
1) Persiapan meletakan dasar. Mempelajari latar belakang masalah, seluk
beluk dan problematiknya.
2) Inkubasi: mengambil waktu untuk meninggalkan masalah, istirahat, santai
3) Iluminasi (illumination) atau insight: tahap mendapatkan ide, gagasan,
pemecahan, penyelesaian, cara kerja, jawaban baru.
4) Verifikasi/produksi (verification/production): menghadapi dan memecahkan
masalah-masalah praktis, sehubungan dengan perwujudan ide, gagasan,
pemecahan, penyelesaian, cara kerja, jawaban baru.
c. Kreativitas Remaja
Perkembangan kreativitas berkaitan erat dengan perkembangan kognitif
(Ali, 2014:47. Remaja berada pada tahap operasional formal, sehingga
pada masa remaja merupakan tahap yang sangat potensial untuk
mengembangkan kreativitas. Orangtua dan guru mempunyai peranan
yang penting dalam mengembangkan kreativitas, antara lain cara
mendidik yang demokratis dan permisif, menyediakan sarana dan
prasarana yang memadai serta mengutamakan proses daripada hasil.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Gembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
15
5. Cara Mengidentifikasi Kecerdasan Peserta Didik
a. Pengamatan
Menurut Makmun (2009:56) guru dapat menandai kecerdasan umum peserta
didik dengan cara membandingkan dengan peserta didik lainnya di dalam kelas.
1) Peserta didik yang cenderung selalu lebih cepat dan mudah memahami
materi pelajaran dan menyelesaikan tugasnya, dibandingkan dengan teman-
temannya, lebih awal dari waktu yang telah ditetapkan (accelarated
learning).
2) Peserta didik yang cenderung selalu mencapai hasil rata-rata saja dan
hanya dapat menyelesaikan tugasnya sesuai batas waktu yang ditetapkan
dibandingkan dengan teman-temannya.(average student)
3) Peserta didik yang cenderung selalu memiliki kesulitan dalam memahami
materi pelajaran, mencapai hasil yang lebih rendah dari teman-temannya,
dan hampir selalu tidak dapat menyelesaikan tugas pekerjaannya sesuai
batas waktu yang ditetapkan, (slow learners).
Meskipun hasil melalui pengamatan ini hanya bersifat tentatif akan tetapi dapat
memberi kontribusi kepada guru untuk melakukan penyesuaian yang memadai
terhadap kondisi objektif peserta didiknya.
b. Analisis Produk
Produk yang dianalisis adalah Hasil Ulangan/Tes.dan tugas, wawancara,
dokumentasi berupa data prestasi belajar, sikap perilaku peserta didik, hasil
psikotes bila ada dsb.
Cara-cara identifikasi tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi
kecerdasan majemuk dan bakat (tetapi dilakukan pada bidang studi/keterampilan
tertentu),. serta kreatiivitas. Cara-cara identifikasi tersebut di atas dapat saling
melengkapi untuk mendapatkan informasi yang komprehensif mengenai potensi
peserta didik.
6. Implikasi terhadap Pembelajaran
Berikut ini adalah hal yang dapat dilakukan guru.
a. Rancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman dalam kemampuan
Intelektual, kecerdasan majemuk, kemampuan kognitif, dan kreativitas agar
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
16
tercapai prestasi terbaiknya sesuai dengan potensinya, termasuk
pertimbangkan pemikir operasional konkret yang mungkin masih ada di
kelas Anda.
b. Rancang pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan
kreativitas.
c. Ciptakan iklim belajar-mengajar yang kondusif untuk memfasilitasi
perkembangan pribadi peserta didik secara optimal.
d. Berikan layanan individual disamping kelompok kepada peserta didik yang
sangat cerdas atau yang lambat belajar.
D. Aktivitas Pembelajaran
1. Kegiatan 1. Perkembangan Kemampuan Intelektual Peserta Didik
a. Tujuan: melalui tugas membuat peta pikiran dan diskusi peserta
diharapkan dapat memahami identifikasi kemampuan intelektual dan
menggunakannya untuk memfasilitasi perkembangan kemampuan
intekektual peserta didik.
b. Tugas:
1) Buatlah peta pikiran atau bagan tentang pengembangan
kemampuan intelektual meliputi: a) konsep intelegensi, b) ciri-ciri
dan tahapan perkembangan intelektual, c) cara mengidentifikasi
perkembangan kemampuan intelektual, d) cara menentukan
pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan kemampuan
intelektual peserta didik.
2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasilnya.
2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi
a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan
presentasi hasil kegiatan peserta dapat mengidentifikasi perkembangan
kemampuan intelektual peserta didik dan menggunakanya untuk
pembelajaran yang lebih baik.
b. Tugas
1) Curah pendapat mengenai kasus pengembangan kemampuan
intelektual peserta didik yang terjadi di kelas guru pembelajar dan
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Gembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
17
mengkaji kasus yang termasuk dalam lingkup perkembangan
kemampuan intelektual peserta didik.
2) Pilih satu kasus, diskusikan dalam kelompok, usulkan alternatif
langkah-langkah pemecahan masalah untuk itu dan presentasikan
hasil kegiatan.
E. Latihan/Kasus/Tugas
1. Jelaskan cara mengembangkan berpikir kreatif melalui pembelajaran!
2. Peserta didik SMP berada pada tahap perkembangan formal operasional,
namun masih banyak peserta didik yang kemampuan berpikirnya abstraknya
terbatas, karena masih melakukan konsolidasi terhadap kemampuan
operasional konkret. Sebagai guru apa yang akan bapak/ibu lakukan?
3. Kerjakanlah kasus di kelas yang diasuh Bu Aisah identifikasi masalahnya,
dan usulkan alternatif tindakan untuk membimbing anak tersebut. Bekerjalah
dalam kelompok dan presentasikan hasilnya.
Berikut adalah kasus beberapa anak asuh Bu Aisyah yang sedang ditangani:
1) mencapai KKM melalui remedial dengan nilai di batas KKM, 2) rentang IQ
normal bawah; 3) persepsi terhadap mata pelajaran IPA kurang tepat karena
menganggapnya sulit; 4) memiliki konsep diri yang negatif terhadap mata
pelajaran IPA karena berpikir tidak akan mampu menguasainya; 5)
umumnya dapat mengerjakan tugas jika mendapat pendampingan yang
intensif.
F. Rangkuman
1. Intelegensi atau kemampuan intelektual adalah kemampuan mental umum
yang mendasari kemampuannya untuk mengatasi kerumitan kognitif.
2. Tahap perkembangan berpikir pada masa remaja menurut Piaget berada
pada tahap berpikir operasional formal, remaja bernalar lebih abstrak, idealis
dan lebih logis. Tipe pemikiran logis ini disebut juga penalaran deduktif-
hipotetis.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
18
3. Anak usia 11-15 tahun (SMP) berada pada fase formal operasional, namun
banyak peserta didik kemampuan berpikir abstraknya masih terbatas.
Sedangkan kemampuan intelektual mengalami perkembangan yang paling
pesat.
4. Teori kecerdasan majemuk dari Howard Gardner yaitu kecerdasan linguistik,
matematik-logis, visual-spasial, musikal, kinestetis, interpersonal,
intrapersonal, naturalis,
5. Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru, berbeda, dan unik
yang timbul dari pemikiran divergen.
G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut
Lakukan uji diri seperti dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Anda dianjurkan
berlatih menggunakan kasus kelas Anda dan susunlah alternatif solusi untuk
peserta didik yang teridentifikasi mengalami kendala. Untuk menambah wawasan
dianjuran pula untuk mempelajari metodologi pembelajaran yang sesuai untuk
mengembangkan kemampuan intelektual yang beragam.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
19
Untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai karakteristik peserta didik,
maka disamping memahami perkembangan aspek psikologis juga harus
memahami perkembangan aspek fisik peserta didik. Perkembangan fisik sangat
penting dipelajari, karena akan mempengaruhi perilaku anak-anak sehari-hari.
Pengaruh perkembangan fisik secara langsung menentukan keterampilan anak
dalam bergerak, sedangkan secara tidak langsung, pertumbuhan dan
perkembangan fisik akan mempengaruhi anak dalam memandang dirinya sendiri
dan memandang orang lain. Hal ini akan tercermin dari pola penyesuaian diri
anak secara umum
A. Tujuan
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar diharapkan dapat
memahami ciri-ciri perkembangan fisik remaja dan ciri-ciri remaja yang sehat
secara fisik; mengidentifikasi kondisi kesehatan fisik peserta didik dan
menentukan pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik yang memiliki
karakteristik fisik tertentu.
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan
beberapa indikator tentang perkembangan fisik dan kesehatan berikut ini.
1. Mendeskripsikan ciri-ciri perkembangan fisik remaja.
2. Mendeskripsikan ciri-ciri remaja yang sehat secara fisik.
3. Menjelaskan dampak perubahan fisik terhadap perilaku.
4. Mengidentifikasi kondisi kesehatan fisik peserta didik.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3:
PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
20
5. Menentukan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik dengan
kesehatan fisik kurang baik.
C. Uraian Materi
Pemahaman pendidik terhadap kondisi fisik peserta didik sangat penting, karena
dalam kegiatan belajar tidak hanya melibatkan proses mental saja, akan tetapi
melibatkan kegiatan fisik. Menurut Makmun (2009:95) normalitas dari konstitusi,
struktur, dan kondisi jasmaniah seorang anak akan mempengaruhi normalitas
kepribadiannya, khususnya yang bekaitan dengan masalah citra diri (body–
image), konsep diri (self-concept), dan harga diri (self-esteem). Selain itu terlalu
cepat atau keterlambatan dalam mencapai kematangan pertumbuhan fisik dan
kesehatan juga akan menimbulkan permasalahan terhadap sikap dan perilaku
peserta didik pada umumnya, dan khususnya pada kegiatan belajar.
1. Perkembangan Fisik remaja Awal
Masa remaja adalah masa yang begitu penting dalam hidup manusia, karena
masa tersebut terjadi proses awal kematangan organ reproduksi manusia yang
disebut sebagai masa pubertas. Matangnya organ reproduksi memungkinkan
remaja pria mengalami mimpi basah dan remaja wanita mengalami haid pertama
atau menarche (Yusuf, 2006:7). Pubertas tidak sama dengan masa remaja, akan
tetapi pubertas merupakan awal yang penting yang menandai masa remaja.
Masa remaja awal (early.dolescence) berlangsung di masa SMP atau SMA, dan
perubahan pubertas terbanyak terjadi pada masa ini (Santrock,2007:20).
Selanjutnya Hurlock (2003:188) menyatakan bahwa pubertas adalah suatu
periode dimana terjadi pertumbuhan yang cepat dan perubahan proporsi tubuh
yang mencolok.
2. Ciri-ciri Perkembangan Fisik Remaja dan Keanekaragaman
Proporsi Tubuh
Selama masa remaja terjadi perubahan-perubahan pada seluruh tubuh, baik
bagian dalam maupun bagian luar tubuh, baik perubahan struktur tubuh maupun
fungsinya. Faktanya hampir semua bagian tubuh perubahannya mengikuti irama
yang tetap, sehingga waktu terjadinya dapat diperkirakan sebelumnya.
Perubahan tersebut nampak jelas pada masa remaja awal.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
21
Perubahan-perubahan fisik yang penting dan yang terjadi pada masa remaja
menurut Sunarto (2002:82) adalah (1) perubahan ukuran tubuh; (2) tubuh yang
kurang proporsional; (3) ciri kelamin primer; (4) ciri kelamin sekunder. Perbedaan
proporsi tubuh di antara remaja disebabkan percepatan pertumbuhan dan proses
kematangan seksual.
3. Dampak Perubahan Fisik
Perubahan fisik pada masa remaja berpengaruh terhadap keadaan fisik dan
psikologis remaja, diantaranya terhadap aspek emosional, sosial maupun
kepribadian. Hal ini akan memberikan pengaruh terhadap karakteristik sikap dan
perilaku remaja. Menurut Ridwan (2004: 118-119) beberapa pengaruh
perubahan fisik terhadap sikap dan perilaku, yaitu :
a. Ingin menyendiri. Remaja mulai menarik diri dari teman-temannya dan dari
berbagai kegiatan keluarga.
b. Bosan. Remaja mulai bosan dengan permainan yang sebelumnya amat
digemari, bosan dengan tugas-tugas sekolah, kegiatan-kegiatan sosial dan
kehidupan pada umumnya.
c. Inkoordinasi. Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi pada
koordinasi gerakan. remaja merasa canggung dan janggal selama beberapa
waktu.
d. Antagonisme Sosial. Remaja seringkali tidak mau bekerja sama, sering
membantah dan menentang, bermusuhan antara dua jenis kelamin.
e. Emosi yang meninggi. Kemurungan, merajuk, ledakan amarah dan
kecenderungan untuk menangis.
f. Hilangnya kepercayaan diri. Remaja banyak yang mengalami rendah diri
karena kritik yang bertubi-tubi datang dari orang tuanya
g. Terlalu Sederhana Remaja berpenampilan sangat sederhana karena takut
orang lain akan memperhatikan perubahan tubuhnya dan memberi komentar
yang buruk.
4. Cara Mengidentifikasi Pertumbuhan Fisik dan Kesehatan Fisik
Peserta Didik
Cara mengidentifikasi kondisi dan kesehatan fisik peserta didik di dalam kegiatan
belajar mengajar sama dengan cara identifikasi pada materi pembelajaran 2.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
22
5. Implikasi dalam Pembelajaran
Normalitas jasmaniah, keterlambatan, atau terlalu cepatnya dalam mencapai
kematangan dalam pertumbuhan fisik serta kesehatan dapat menimbulkan
permasalahan terhadap sikap dan perilaku peserta didik pada umumnya dan
pada kegiatan belajar khususnya. Berikut ini hal yang dapat dilakukan guru.
a. Miliki data kondisi fisik dan kesehatan setiap peserta didik, dan
memperhatikan kesehatan peserta didik pada awal pembelajaran.
b. Beri perhatian khusus kepada peserta didik yang mengalami gangguan
panca indera.
c. Miliki pemahaman yang empatik kepada peserta didik yang memiliki penyakit
kronis/bawaan dan tubuh kurang normal seperti cacat fisik.
d. Kerja sama dengan guru BK, wali kelas, dan orangtua, serta dengan tenaga
ahli (dokter dan psikolog) jika diperlukan penanganan khusus.
e. Bimbing peserta didik untuk mensyukuri keadaan fisiknya dan bagaimana
memelihara kesehatan serta menggunakan tubuhnya secara efektif.
Gambar 3.1 Pembelajaran untuk Pengembangan Fisik dan Kesehatan
D. Aktivitas Pembelajaran
1. Kegiatan 1. Perkembangan Fisik dan Kesehatan Peserta Didik
a. Tujuan: melalui tugas diskusi dan membuat peta pikiran peserta
diharapkan dapat memahami materi perkembangan fisik dan kesehatan
peserta didik
b. Tugas:
1) Buatlah peta pikiran atau bagan tentang perkembangan fisik dan
kesehatan yang meliputi : a) Perkembangan aspek fisik, b) ciri-ciri
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
23
remaja yang sehat secara fisik, c) pengaruh perkembangan fisik
terhadap perilaku.
2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasil kegiatan.
2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi
a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan
presentasi peserta dapat mengidentifikasi kasus perkembangan fisik
dan kesehatan peserta didik dan menyusun alternatif solusi untuk itu.
b. Tugas
1) Curah pendapat mengenai kasus perkembangan fisik dan
kesehatan remaja yang terjadi di kelas dan mengkaji kasus yang
termasuk dalam lingkup perkembangan fisik dan kesehatan.
2) Pilih satu kasus, diskusikan dalam kelompok, usulkan alternatif
untuk membantu kasus tersebut dan presentasikan hasil kegiatan.
E. Latihan/Kasus/Tugas
1. Perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja terjadi sangat mencolok dan
jelas sehingga dapat mengganggu keseimbangan yang sebelumnya
terbentuk, hal ini sering menimbulkan emosi yang meninggi, jelaskan?
2. Mengapa guru harus memiliki pemahaman empatik dan perhatian kepada
peserta didik, terutama pada anak yang memiliki kelemahan, kecacatan,
atau memiliki penyakit yang kronis?
3. Kerjakanlah kasus yang ditangani Bu Milati, identifikasi gejala, dan
masalahnya serta usulkan alternatif solusi untuk itu. Bekerjalah dalam
kelompok dan presentasikan hasilnya.
Bu Milati adalah guru IPA dan sedang menyusun program untuk
menangani beberapa peserta didik perempuan asuhannya di kelas 8 yang
sering sakit kepala, kejang, sakit perut yang kadang-kadang sampai
muntah dan pingsan saat mereka sedang menstruasi. Disamping itu
mereka cenderung lebih suka menyendiri dan mudah marah. Informasi
yang berhasil dikumpulkannya diperoleh dari peserta didik, teman-teman
dekatnya, guru BK, dan sejawat guru. Dari hasil wawancara dengan
peserta didik diketahui mereka sering merasa lelah, tertekan, dan nafsu
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
24
makan yang menurun. Gejala-gejala seperti ini baru mereka rasakan sejak
mulai menstruasi.
F. Rangkuman
1. Perkembangan fisik berpengaruh kepada perkembangan kepribadian,
khususnya yang bekaitan dengan masalah citra diri(body–image) konsep diri
(self-concept), harga diri (self-esteem).
2. Pada masa remaja terjadi proses awal kematangan organ reproduksi
manusia yang disebut sebagai masa pubertas. Pubertas merupakan awal
yang penting yang menandai masa remaja. Pada masa pubertas terjadi
pertumbuhan fisik yang cepat dan perubahan proporsi tubuh yang mencolok.
3. Ciri-ciri perkembangan tubuh remaja yaitu, perubahan ukuran tubuh,
proporsi tubuh yang kurang proporsional, ciri-ciri kelamin primer dan
sekunder.
4. Pengaruh perubahan fisik terhadap sikap dan perilaku peserta didik
diantaranya ingin menyendiri, bosan, inkoordinasi, antagonisme sosial,
emosi yang meninggi, hilangnya kepercayaan diri, terlalu sederhana.
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Lakukan uji diri seperti yang dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Anda dianjurkan
untuk berlatih menggunakan kasus di kelas Anda. Anda dianjurkan pula
mempelajari pengembangan aspek-aspek yang berpengaruh terhadap
kepribadian khususnya terkait masalah imej fisik (body-image), konsep diri
(selfconcept), self-esteem, dan harga diri. Penanganan kematangan
pertumbuhan fisik dan kesehatan yang terlalu cepat atau lambat sebaiknya
diperdalam agar bisa ditangani dengan tepat sehingga tidak sampai
menimbulkan masalah sikap, perilaku, dan pembelajaran.
KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
25
Menurut Gardner untuk meraih sukses, diperlukan kecerdasan dalam spektrum
yang luas yaitu kecerdasan majemuk diantaranya kecerdasan intrapersonal yang
sudah menyentuh aspek emosional. Manusia adalah mahluk sosial, tetapi sifat-
sifat sosial tidak dibawa sejak lahir. Sifat-sifat sosial diperoleh melalui proses
belajar melalui interaksi dengan lingkungan sosial. Belajar menjadi pribadi sosial
tidak diperoleh dalam waktu singkat, tapi manusia belajar searah dengan siklus
kehidupan, dengan periode kemajuan yang pesat kemudian mendatar.
A. Tujuan
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar diharapkan dapat
memahami konsep perkembangan aspek sosial dan kecerdasan emosi;
identifikasi perkembangan kecerdasan emosi dan keterampilan perilaku sosial;
serta implementasinya dalam pembelajaran.
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan
beberapa indikator tentang kecerdasan emosi dan perkembangan aspek berikut
ini:
1. Menjelaskan tahapan perkembangan kecerdasan emosi peserta didik.
2. Membedakan ciri-ciri perilaku peserta didik yang memiliki kecerdasan emosi
tinggi dengan rendah.
3. Mengidentifikasi kecerdasan emosi peserta didik.
4. Mendeskripsikan proses perkembangan aspek sosial peserta didik.
5. Membedakan ciri-ciri perilaku sosial peserta didik antara yang berperilaku
sosial baik dan kurang baik.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4:
KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK
SOSIAL
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
26
6. Mengidentifikasi keterampilan perilaku sosial peserta didik.
7. Menentukan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi pengembangan
kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik.
C. URAIAN MATERI
1. Perkembangan Emosi
Emosi dapat didefinisikan sebagai suatu suasana yang kompleks dan getaran
jiwa yang menyertai atau muncul sebelum/sesudah terjadinya perilaku (Makmun,
2009:114). Emosi tidak hanya melibatkan perasaan dan pikiran, aspek biologis
dan psikologis, namun disertai serangkaian tindakan. Menurut Hurlock
(2003:213) perkembangan emosi dipengaruhi oleh faktor kematangan dan faktor
belajar, tetapi faktor belajar lebih penting, karena belajar merupakan faktor yang
lebih dapat dikendalikan. Terdapat berbagai cara dalam mengendalikan
lingkungan untuk menjamin pembinaan pola-pola emosi yang diinginkan,
orangtua dan guru dapat membantu anak untuk memiliki pola reaksi emosi yang
diinginkan melalui pengajaran dan bimbingan.
a. Pengendalian Emosi
Untuk dapat melakukan penyesuaian sosial yang baik, peserta didik harus
mampu mengendalikan emosi dengan baik. Anak harus belajar mengekspresikan
emosi dengan cara yang dapat diterima secara sosial.. Menurut Hurlock
(2003:231) mengendalikan emosi adalah mengarahkan energi emosi ke saluran
ekspresi yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial. Dalam
mengendalikan emosi, anak harus belajar bagaimana cara menangani
rangsangan yang membangkitkan emosi dan bagaimana cara mengatasi reaksi
yang biasa menyertai emosi.
b. Karakteristik Aspek Emosi Remaja Awal
Menurut Yusuf (2006:9) masa remaja merupakan masa memuncaknya
emosionalitas, Matangnya organ-organ reproduksi mempengaruhi emosi atau
perasaan-perasaan baru yang sebelumnya tidak pernah dialami, seperti
perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan
jenis. Perkembangan emosi pada masa remaja awal bersifat sensitif dan reaktif
(kritis) yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosi
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
27
cenderung memuncak dan kurang stabil,, emosinya sering bersifat negatif dan
temperamental (mudah marah/tersinggung, atau mudah sedih/murung). Kondisi
ini terutama pada remaja yang hidup di lingkungan yang tidak harmonis.
khususnya lingkungan keluarga.
c. Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosi memiliki peran yang penting dalam pendidikan, maupun dunia
kerja bahkan ke semua bidang kehidupan yang melibatkan hubungan antar
manusia. Menurut Goleman (1997:57) bahwa setiap orang tentu memiliki
kemampuan yang berbeda-beda dalam wilayah kecerdasan emosi, mungkin
beberapa orang yang amat terampil dalam menangani kecemasan sendiri akan
tetapi sulit mengatasi rasa marah. Kecerdasan emosional memiliki lima wilayah
utama, yaitu sebagai berikut ini.
1) Mengenali emosi diri. Mengenali perasaan saat perasaan itu muncul
2) Mengelola Emosi, kemampuan mengendalikan diri, mengatur suasana hati.
3) Memotivasi diri sendiri., kemampuan mengelola emosi sebagai alat untuk
mencapai tujuan.
4) Mengenali emosi orang lain, kemampuan berempati kepada orang lain.
5) Membina hubungan dengan orang lain sebagian besar merupakan
keterampilan memahami dan mengelola emosi orang lain.
Peter Salovey dan John Mayer menjelaskan kualitas-kualitas emosional yang
penting untuk mencapai kesuksesan (Shapiro, 1997:5). Kualitas-kualitas tersebut
di antaranya adalah: (1) Empati; (2) Mengungkapkan dan memahami perasaan;
(3)Mengendalikan amarah; (4)Kemandirian; (5) Kemampuan menyesuaikan diri;
(6) Disukai; (7) Kemampuan memecahkan masalah antarpribadi(8) Ketekunan;
(9) Kesetiakawanan; (10)Keramahan; (11) Sikap Hormat.
2. Perkembangan Sosial
Manusia sebagai mahluk sosial akan terus menerus melakukan penyesuaian diri
dengan lingkungan sosial sepanjang hidupnya, Melakukan interaksi sosial
dengan individu maupun kelompok, berperilaku sesuai dengan norma-norma
social, moral, dan harapan masyarakat serta kebudayaan. Yusuf (2014:122)
menyatakan bahwa perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
28
dalam hubungan sosial. Pencapaian kematangan diperoleh memalui proses
belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan oranglain atau proses sosialisasi.
a. Karakteristik Perilaku Sosial Remaja
Masa remaja kaitannya dengan pengembangan nilai- nilai yang selaras dengan
nilai-nilai orang dewasa yang akan dimasukinya, yaitu tugas untuk
mengembangan perilaku sosial yang bertanggung jawab Pada masa remaja
berkembang social cognition, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, hal
ini mendorong remaja untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya.
Masa ini ditandai oleh sikap konformitas, yaitu kecenderungan untuk meniru,
mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran/hobi, atau keinginan
orang lain Sikap konformitas berubah seiring dengan bertambahnya usia dan
berkembangnya kemampuan berpikir yang lebih matang (Yusuf, 2006:10).
Perubahan perilaku sosial yang paling menonjol pada masa remaja adalah
menyukai lawan jenis. Remaja senang mengikuti berbagai kegiatan sosial,
semakin banyak kesempatan untuk melakukan aktivitas sosial yang baik, maka
wawasan sosialnya lebih luas, penyesuaian diriyang lebih baik, dan
meningkatnya kompetensi sosial seperti kemampuan berkomunikasi.
b. Status Sosial Teman Sebaya
Penerimaan sosial berkaitan dengan kualitas pribadi yaitu banyaknya sifat-sifat
baik, menarik dan keterampilan sosial. Berdasarkan hubungan sosial di antara
peserta didik ada empat status teman sebaya menurut Rubin, Bukowski&Parker,
Wentzel & Asker, Wentzel & Battle (Santrock,2010:100) yaitu :
1) Anak popular disukai oleh teman sebayanya dan seringkali dinominasikan
sebagai teman yang terbaik, karena memiliki keterampilan sosial yang tinggi.
2) Anak yang diabaikan (neglected children) jarang dinominasikan sebagai
teman terbaik, tetapi bukan karena tidak disukai oleh teman sebayanya.
3) Anak yang ditolak (rejected chidren) jarang dinominasikan sebagai teman
terbaik dan sering dibenci oleh teman sebayanya. Anak menunjukkan agresi
tinggi, menarik diri, serta kemampuan sosial dan kognitif yang rendah. Anak
yang ditolak, menurut Buke & Ladd (Santrock, 2010:100) mengalami
masalah penyesuaian diri yang serius dibanding anak yang diabaikan.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
29
4) Anak kontrovesial sering dinominasikan sebagai teman terbaik tapi sering
tidak disukai.Anak kontroversial tinggi dalam penerimaan dan penolakan.
Penolakan oleh teman sebaya mempengaruhi prestasi belajar, munculnya
masalah emosi, dan cenderung meningkatnya risiko kenakalan remaja.
c. Kecerdasan Emosi dan Keterampilan Sosial
Kecerdasan emosi dan keterampilan sosial akan membentuk karakter,
berdasarkan beberapa hasil penelitian bahwa kecerdasan emosi dan
keterampilan sosial lebih penting dari inteligensi (IQ) dalam mencapai
keberhasilan hidup. Kecerdasan emosi (EQ) membuat anak memiliki semangat
yang tinggi dalam belajar atau disukai oleh teman-temannya dalam kegiatan
bermain, maka hal itu akan membawa keberhasilan ketika memasuki dunia kerja
atau berkeluarga. Menurut Shapiro (1997:1975) bahwa kecerdasan emosi dan
keterampilan sosial dapat diajarkan kepada anak sesuai dengan usia dan tahap
perkembangannya. Disarikan dari penjelasan Shapiro cara mengajarkan
kecerdasan emosi dan keterampilan sosial antara lain bagaimana, (1) membina
hubungan persahabatan; (2) tata karma; (3) bekerja dalam kelompok; (4)
berbicara dan mendengarkan secara efektif; (5) mengatasi masalah dengan
teman yang nakal ; (6) berempati terhadap orang lain; (7) mencapai prestasi
tinggi; (8) memecahkan masalah; (9) memotivasi diri bila menghadapi masa-
masa yang sulit; (10) percaya diri saat menghadapi situasi yang sulit; (11)
menjalin keakraban.
d. Identifikasi Kecerdasan Emosi dan Keterampilan Sosial Peserta Didik
Guru dapat melakukan identifikasi kecerdasan emosi dan keterampilan sosial
dengan cara yang sama seperti pada identifikasi materi pembelajaran 2.
e. Implementasi dalam Pembelajaran
1) Prioritaskan identifikasi peserta didik yang diduga memiliki kecerdasan
emosi dan keterampilan sosial yang rendah.
2) Pahami keragaman dalam kecerdasan emosi dan keterampilan sosial
peserta didik, serta bersikap bijak menghadapi mereka yang memiliki
kecerdasan emosi dan keterampilan sosial yang rendah.
3) Sebagai model sosial tampilkan perilaku yang mencerminkan kecerdasan
emosi dan keterampilan sosial yang tinggi serta Ikhlas dalam mengajar.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
30
4) Ciptakan iklim belajar yang kondusif bagi perkembangan kecerdasan emosi
dan sosial, yaitu iklim yang demokratis, nyaman, tidak tegang, diselingi
humor, dan suasana gembira.
5) Rancang pembelajaran dengan memasukan aspek kecerdasan emosi dan
keterampilan social, melalui disiplin, bimbingan dan pembiasaan yang
disertai penguatan, serta pembelajaran berbasis kelompok disamping
klasikal.
6) Bmbing peserta didik untuk mengekspresikan emosi yang bisa diterima
secara sosial.
7) Bekerja sama dengan guru BK, wali kelas dan orangtua untuk membantu
peserta didik mengembangkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial.
D. Aktivitas Pembelajaran
1. Kegiatan 1. Kecerdasan Emosional dan Perkembangan Sosial
a. Tujuan: melalui tugas membaca, diskusi, dan membuat peta pikiran
peserta diharapkan dapat memahami kecerdasan emosi dan
perkembangan sosial, identifikasi, dan fasilitasinya melalui pembelajaran
untuk meningkatkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial.
b. Tugas:
1) Buatlah peta pikiran, bagan mengenai kecerdasan emosi dan
perkembangan sosial meliputi: a) tahapan perkembangan
kecerdasan emosi peserta didik; b) ciri-ciri perilaku peserta didik
yang memiliki kecerdasan emosi tinggi dan rendah; c) identifikasi
kecerdasan emosi peserta didik; d) proses perkembangan aspek
sosial peserta didik, e) ciri-ciri perilaku sosial peserta didik antara
yang baik dan kurang baik; f) identifikasi keterampilan perilaku
sosial peserta didik; g) pembelajaran yang memfasilitasi
pengembangan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta
didik.
2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasilnya.
2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi
a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan
presentasi hasil kegiatan peserta dapat mengidentifikasi perkembangan
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
31
kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik serta
menggunakannya untuk pengembangannya melalui pembelajaran.
b. Tugas
1) Curah pendapat mengenai kasus kecerdasan emosi dan
perkembangan sosial peserta didik yang terjadi di kelas guru
pembelajar dan mengkaji kasus yang termasuk dalam lingkup
perkembangan kecerdasan emosi dan perkembangan sosial
peserta didik.
2) Pilih satu kasus, diskusikan dalam kelompok, usulkan alternaif
solusi untuk itu dan presentasikan hasil kegiatan.
E. Latihan/Kasus/Tugas
1. Salah satu aspek yang penting dalam kecerdasan emosi adalah
pengendalian emosi. Mengapa peserta didik harus diajarkan cara
mengendalikan emosi, jelaskan?
2. Remaja perlu mendapat bimbingan dari orang tua dan guru serta orang
dewasa lainnya agar memiliki kemampuan dalam memilih teman sebaya,
jelaskan?
3. Kerjakanlah kasus-kasus berikut ini, identifikasi gejala dan masalahnya,
serta usulkan alternatif solusi untuk itu. Bekerjalah dalam kelompok dan
presentasikan hasilnya.
Berikut simpulan Pak Amir dari informasi yang berhasil dikumpulkan terkait
beberapa anak asuhnya.
1) saat bekerja sama dalam kelompok kadang-kadang tidak dapat
mengendalikan diri dan cenderung marah saat pendapatnya tidak
diterima.
2) kadang-kadang merasa paling benar sehingga kurang dapat menghargai
pemikiran anggota kelompok lainnya.
3) marah terhadap guyonan dimana teman lainnya merasa hal tersebut
biasa saja
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
32
Berikut adalah informasi yang berhasil dikumpulkan Bu Zainab terkait anak
asuh yang sedang ditangani:
1) seringkali terlambat dalam menyelesaikan tugas, kadang-kadang
tidak menyelesaikan tugas di kelas, tidak melaksanakan tugas
sesuai kesepakatan saat kerja kelompok;
2) saat pembelajaran menggunakan HP secara sembunyi-sembunyi
3) sering keluar masuk saat pembelajaran
4) tidak memasukan baju atasan ke dalam rok, melipat bagian ujung
lengan baju, tidak menggunakan sepatu wajib,
5) bolos pada jam terakhir
4. Tentukanlah kasus perkembangan kecerdasan dan aspek sosial dari peserta
didik di kelas Anda, identifikasi gejala dan masalahnya, serta rancang apa
yang sebaiknya Anda lakukan sebagai alternatif solusi!
F. Rangkuman
1. Perkembangan emosi pada masa remaja awal bersifat sensitif dan reaktif
(kritis) emosi cenderung memuncak dan kurang stabil,, emosinya sering
bersifat negatif dan temperamental. Selain itu munculnya perasaan baru
seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim
dengan lawan jenis.
2. Kecerdasan emosi memiliki lima wilayah, yaitu (1) mengenali emosi diri; (2)
mengelola emosi diri; (3) memotivasi diri sendiri; (4) mengenali emosi orang
lain; (5) membina hubungan.
3. Pada masa remaja berkembang social cognition yaitu kemampuan untuk
memahami orang lain, dan konformitas.
4. Perubahan perilaku sosial yang paling menonjol pada masa remaja adalah
hubungan dengan lawan jenis, dan senang mengikuti berbagai aktivitas
sosial.
5. Penerimaan sosial oleh teman sebaya sangat penting karena berkaitan
dengan harga diri, karena itu remaja harus mampu mengendalikan emosi
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
33
dan memiliki keterampilan sosial. Empat status hubungan sosial teman
sebaya yaitu anak popular, anak yang diabaikan, anak yang ditolak, dan
anak kontroversial.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
34
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Lakukanlah uji diri seperti dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Anda dianjurkan
untuk berlatih menggunakan kasus di kelas Anda, mempelajari instrumen
identifikasi yang relevan, metodologi pembelajaran serta cara mengembangkan
iklim belajar yang kondusif untuk mengembangkan kecerdasan emosi dan
perkembangan keterampilan sosial.
34 KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial.
Perilaku moral dikendalikan oleh konsep-konsep moral–peraturan perilaku yang
telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya. Konsep-konsep moral
menentukan pola perilaku yang diharapkan oleh masyarakat. Memahami nilai-
nilai yang dapat mengontrol perilaku dalam suatu masyarakat dan mengatur
perilaku seseorang secara benar merupakan bagian yang penting dari
perkembangan konsep benar dan salah, hal itu berubah sejalan dengan tumbuh
dewasa. Manusia diciptakan dengan fitrah sebagai hambaNya untuk beribadah
kepadaNya. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya God-Spot pada otak
manusia. Pada God-Spot itulah terdapat fitrah manusia yang terdalam.
A. Tujuan
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar diharapkan dapat
memahami konsep perkembangan aspek moral dan kecerdasan spiritual;
identifikasi ciri-ciri moral dan kecerdasan spiritual peserta didik; dan
implementasinya dalam pembelajaran.
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan
beberapa indikator tentang perkembangan moral dan kecerdasan spiritual
berikut ini:
1. Mendeskripsikan tahapan perkembangan aspek moral peserta didik.
2. Membedakan ciri-ciri moral peserta didik yang tinggi dan rendah.
3. Mengidentifikasi moral peserta didik.
4. Mendeskripsikan tahapan perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 5:
PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN
SPIRITUAL
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
35
5. Membedakan ciri-ciri perilaku peserta didik yang memiliki kecerdasan
spiritual tinggi dan rendah
6. Mengidentifikasi kecerdasan spiritual peserta didik
7. Menentukan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan
aspek moral dan kecerdasan spiritual peserta didik
C. Uraian Materi
1. Perkembangan Moral
Setiap individu sebagai bagian dari masyarakat diharapkan bersikap sesuai
dengan cara yang disetujui masyarakat. Berperilaku sesuai dengan yang
disetujui masyarakat diperoleh melalui proses yang panjang dan lama yang terus
berlanjut sampai usia remaja. Interaksi sosial memegang peranan penting dalam
perkembangan moral, karena anak mempunyai kesempatan untuk belajar kode
moral dan mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana orang lain
memberikan penilaian.
a. Tingkat danTahapan Perkembangan Moral
Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada
penalaran moral dan berkembang secara bertahap (Santrock, 2010:119).
Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg
adalah internalisasi, yaitu perubahan perkembangan dari perilaku yang
dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara
internal.
Tingkat Satu: Penalaran Prakonvensional.Penalaran prakonvensional adalah
tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada
tingkat ini anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral tetapi
dikendalikan oleh hadiah dan hukuman eksternal.
Tahap 1: Orientasi hukuman dan ketaatan.
Tahap 2: Orientasi ganjaran (the instrumental relativist orientat).
Tingkat Dua: Penalaran Konvensional. Pada tingkat penalaran konvensional
individu memandang apa yang diharapkan keluarga, kelompok atau bangsa.
Setia dan mendukung aturan sosial bukan sekedar konformitas, melainkan
berharga. Pada tahap ini sudah terjadi internalisasi tetapi belum sepenuhnya.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
36
Tahap 3: Norma-norma interpersonal.
Tahap 4: Orientasi otoritas (authority and social order maintaining orientation).
Tingkat Tiga: Penalaran Pascakonvensional. Penalaran pascakonvensional
adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini
terjadi internalisasi moral pada individu dan tidak didasarkan pada standa-
standar moral orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral
alternatif, menjajaki pilihan, kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode
moral pribadi.
Tahap 5: Orientasi kontrak sosial.
Tahap 6: Prinsip-prinsip etika universal.
b. Perkembangan Moral Masa Remaja
Menurut Hurlock (2006:225) salah satu tugas perkembangan yang penting pada
masa remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok atau
sosial-budayanya. Remaja harus berperilaku sesuai dengan harapan-harapan
sosial tanpa dibimbing dan di awasi, didorong, dan diancam dengan hukuman
seperti saat masa anak-anak. Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep
moral pada masa anak-anak dengan prinsip-prinsip moral yang berlaku umum,
dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi menjadi
pedoman untuk berperilaku baik. Mitchel menegaskan remaja harus
mengendalikan perilakunya sendiri, yang dulu menjadi tanggung jawab orangtua
dan guru. (Hurlock, 2006:225). Remaja umumnya berada pada tingkat
pascakonvensional, Pada tingkat ini terjadi internalisasi moral dan tidak
didasarkan pada standar-standar moral orang lain. Bila remaja telah mencapai
tingkat pascakonvensional, berarti remaja telah mencapai kematangan sistem
moral.
c. Karakteristik Umum Perilaku Moral Remaja Awal
Peserta didik bersikap kritis terhadap perilaku orangtua, guru, atau orang dewasa
lainnya, peserta didik akan menilai apakah perilaku mereka adalah asli atau
bersifat kepura-puraan (hypocrite). Remaja mengidentifikasikan dirinya dengan
tokoh-tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya (Makmun,
2009:134) Remaja membentuk kode moral sebagai pedoman berperilaku, dan
beberapa remaja dilengkapi dengan kode moral yang diperoleh dari pelajaran
agama.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
37
Menurut Santrock (2007:315) perilaku moral adalah perilaku prososial, yang
melibatkan sifat untuk menolong orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri
(altruisme). Sifat empati berkontribusi terhadap perkembangan moral remaja.
Selanjutnya Lawrence Walker (Santrock, 2007::319) menyatakan diantara
kebijaksanaan moral yang diutamakan adalah kejujuran, kebenaran, dapat
dipercaya, kepedulian, keharuan, keprihatinan, dan konsiderasi, loyalitas dan
mendengarkan kata hati.
2. Kecerdasan Spiritual
Menurut Agustian (2001:57) kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk
memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan. Dengan demikian
ia akan mengawali segala sesuatunya dengan nama Tuhan, menjalaninya sesuai
dengan perintah Tuhan dan mengembalikan apapun hasilnya kepada Tuhan.
Zohar dan Marshal menyatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan
kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia, karena paling berperan dalam
kehidupan manusia (Agustian, 2001:57). Kecerdasan spiritual merupakan aspek
yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian manusia., dan merupakan
landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.
a. Proses Perkembangan Kecerdasan Spiritual dan Penghayatan
Keagamaan
Agama tidak sama dengan spiritualitas, namun menurut Mikley (Desmita,
2014:208) agama merupakan salah satu dimensi dari spiritualitas disamping
dimensi eksistensial. Dimensi eksistesial dari spiritualitas berfokus pada tujuan
dan makna hidup, sedangkan dimensi agama dari spiritualitas berfokus pada
hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Kuasa
Potensi kecerdasan spiritual berkembang karena adanya pengaruh interaksi
dengan lingkungan sekitar sampai akhir hayatnya.. Menurut Daradjat (2010:75)
bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan penghayatan keagamaan
adalah orangtua, guru dan dan lingkungan..Pemahaman tentang penghayatan
keagamaan sejalan dengan dengan perkembangan kognitifnya. Oleh karena itu
menurut Desmita (2014:282) meskipun pada masa awal anak-anak, mereka
telah diajarkan agama tetapi pada masa remaja mereka mempertanyakan
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
38
kebenaran keyakinan agama mereka sendiri. Remaja juga memperlihatkan
pemahaman agama yang lebih abstrak dan logis.
Menurut Kay dalam Pikunas (Yusuf, 2006:13) bahwa dalam perkembangan
kesadaran beragama pada masa remaja, tugas utamanya adalah mencapai
kematangan sistem moral untuk membimbing perilakunya. Kematangan remaja
belum dikatakan sempurna, apabila belum menunjukkan kode moral yang dapat
diterima secara universal.
b. Krakteristik Perilaku Penghayatan Keagamaan dan Spiritual Peserta
Didik
Menurut Makmun (2009;134) gambaran umum perilaku religius pada masa
remaja awal, mulai mempertanyakan secara kritis dan skeptis mengenai
keberadaan dan sifat kemurahan serta keadilan Tuhan . Penghayatan
keagamaan sehari-hari dilakukan mungkin berdasarkan atas pertimbangan
adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya, masih mencari dan
mencoba menemukan pegangan hidupnya. Berkenaan dengan corak berpikir
yang kritis dan skeptis, maka diperlukan bimbingan dan pendidikan yang efektif
dari orangtua dan guru. agar peserta didik memiliki kesadaran beragama yang
baik, memiliki keimanan dan ketaqwaan yang tinggi, sehingga peserta didik
memiliki akhlaq mulia.
c. Identifikasi Perilaku Moral dan Kecerdasan Spiritual Peserta Didik
Cara identifikasi aspek moral dan kecerdasan spiritual peserta didik sama
dengan cara identifikasi yang telah diuraikan pada materi pembelajaran 1.
d. Implementasi dalam Pembelajaran
1) Jadilah social model dengan menampilkan sikap dan perilaku yang
mencerminkan kepribadian dan moral yang baik, serta cerdas secara
spiritual,
2) Bersikaplah menerima semua peserta didik, terutama peserta didik dengan
perilaku moral dan kecerdasan spiritual yang masih rendah serta ciptakan
iklim belajar yang kondusif bagi perkembangan pribadi peserta didik agar
tercapai perkembangan yang optimal.
3) Rancang pembelajaran dengan memasukan aspek moral atau karakter dan
spiritual yang terintegrasi dalam pembelajaran.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
39
4) Kembangkan perilaku moral dan spiritual melalui, pembiasaan dan disiplin
yang disertai konsekuensi yang mendidik.
5) Biasakan berdoa sebelum dan sesudah belajar dan dorong peserta didik
untuk rajin beribadah serta libatkan dalam kegiatan keagamaan dan sosial.
6) Buat suatu proyek/tugas kelompok/kelas yang dapat meningkatkan sikap
altruisme. (sikap membantu orang lain dengan ikhlas).
7) Bekerja sama dengan wali kelas, guru BK dan guru agama serta orangtua
untuk membantu meningkatkan perilaku moral dan kecerdasan spiritual.
Gambar 5.1 Pembelajaran untuk Pengembangan Moral dan Spiritual
D. Aktivitas Pembelajaran
1. Kegiatan 1. Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual
a. Tujuan: melalui tugas membaca, diskusi, dan membuat peta pikiran
peserta diharapkan dapat memahami perkembangan moral dan
kecerdasan spiritual, identifikasi, dan fasilitasinya melalui pembelajaran
untuk meningkatkan perkembangan moral dan kecerdasan spiritual.
b. Tugas:
1) Buatlah peta pikiran atau bagan mengenai perkembangan moral
dan kecerdasan spiritual, meliputi: a) tahapan perkembangan aspek
moral peserta didik; b) ciri-ciri moral peserta didik yang tinggi dan
rendah; c) identifikasi moral peserta didik; d) tahapan
perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik; e) ciri-ciri perilaku
peserta didik yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi dan rendah;
f) identifikasi kecerdasan spiritual peserta didik; g) pembelajaran
yang memfasilitasi perkembangan aspek moral dan kecerdasan
spiritual peserta didik.
2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasilnya.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
40
2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi
a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan
presentasi hasil kegiatan peserta dapat mengidentifikasi perkembangan
moral dan kecerdasan spiritual peserta didik dan menggunakanya untuk
pembelajaran yang lebih baik bagi pengembangan moral dan
kecerdasan spiritual.
b. Tugas
1) Curah pendapat mengenai kasus perkembangan moral dan
kecerdasan spiritual peserta didik yang terjadi di kelas dan mengkaji
kasus yang termasuk dalam lingkup perkembangan moral dan
kecerdasan spiritual peserta didik.
2) Pilih satu kasus, identifikasi masalahnya, diskusikan dalam
kelompok, usulkan alternaif solusi untuk itu, dan presentasikan hasil
kegiatan.
E. Latihan/Kasus/Tugas
1. Pada masa remaja diharapkan mencapai kematangan dalam aspek moral
memiliki kode moral yang menjadi pedoman hidupnya. Bagaimana caranya
agar proses internalisasi nilai-nilai moral dapat dicapai pada usia remaja?
2. Peserta didik pada masa remaja awal cenderung memiliki sikap skeptis
terhadap penghayatan keagamaan. Apa dampaknya kepada perilaku religius
peserta didik?
3. Kerjakanlah kasus di kelas Bu Rahmi dan Bu Nani berikut ini, identifikasi
gejala dan masalahnya, serta usulkan alternatif solusi untuk itu. Bekerjalah
dalam kelompok dan presentasikan hasilnya.
Dari upayanya itu Bu Rahmi memperoleh informasi tentang masalah yang
dihadapi beberapa peserta didik asuhannya sbb.
a. menyontek dalam mengerjakan tugas kelas, pekerjaan rumah, hasil
pekerjaan saat praktikum, bahkan ulangan.
b. tidak menyelesaikan tugas yang diberikan, misalnya tidak mengerjakan
tugas kelompok sesuai pembagian tugas, sering lalai dalam
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
41
melaksanakan tugas yang diberikan untuk kegiatan kelas lainnya seperti
tugas piket.
c. kurang memiliki sopan santun baik dalam ucapan maupun tindakan dalam
berinteraksi dengan sesama teman kadang-kadang juga dengan orang
lain yang lebih tua.
Bu Nani memperoleh informasi tentang masalah yang dihadapi beberapa
peserta didik asuhannya sbb.
a. mudah stress kalau nilai ulangan buruk, setelah ditanyakan ternyata yang
bersangkutan merasa kecewa karena telah berusaha untuk belajar dan
berlatih dengan keras tapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan dan
merasa bahwa mereka layak mendapatkan nilai yang lebih baik
b. beberapa peserta didik ada yang tidak berani mencoba sesuatu yang
baru, alasan mereka karena takut gagal dan kecewa
c. Beberapa peserta didik seringkali murung dan tampak tidak bersemangat.
Alasan mereka karena tidak terlalu menyukai mata pelajaran IPA dan
merasa terpaksa mempelajarinya.
d. Informasi dari teman-teman terdekatnya, beberapa orang dari peserta
yang bermasalah ternyata agak lalai dalam melaksanakan kewajiban
beribadah
4. Tentukanlah kasus dalam pengembangan moral dan kecerdasan spiritual
yang terjadi di kelas Anda, identifikasi masalahnya, dan rancang apa yang
sebaiknya Anda lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut!
F. Rangkuman
1. Tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg adalah, (1)
prakonvensional; (2) konvensional; (3) pascakonvensional. Remaja
umumnya berada pada tingkat perkembangan ketiga, yaitu moralitas
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
42
pascakonvensional, pada tahap ini terjadi internalisasi moral dan tidak
didasarkan pada standar-standar moral orang lain.
2. Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral pada masa anak-anak
dengan prinsip-prinsip moral yang berlaku umum, dan merumuskannya ke
dalam kode moral yang akan berfungsi menjadi pedoman untuk berperilaku
baik. melalui proses internalisasi.
3. Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan manusia untuk mengenali
potensi fitrah dirinya dalam mengenal TuhanNya, sebagai hambaNya untuk
beribadah kepadaNya.
4. Karakteristik perilaku perilaku moral remaja awal adalah bersikap kritis,
skeptis, dan mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh moralitas yang
dipandang tepat dengan tipe idolanya.
5. Gambaran umum perilaku religius pada masa remaja awal yaitu mulai
mempertanyakan secara kritis dan skeptis mengenai keberadaan dan sifat
kemurahan serta keadilan Tuhan YME.
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Lakukan uji diri seperti yang dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Anda dianjurkan
untuk berlatih menggunakan kasus di kelas yang diampu. Sebaiknya Anda juga
mempelajari metodologi pembelajaran dan cara mengembangkan iklim belajar
yang kondusif untuk mengembangkan perkembangan moral dan kecerdasan
spiritual.
KEIATAN PEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
43
Guru perlu memahami sikap dan kebiasaan belajar peserta didik yang menjadi
asuhannya karena dengan informasi tersebut guru dapat menyesuaikan
pembelajaran agar tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan baik. Melalui
pembelajaran guru dapat memfasilitasi pengembangan peserta didik yang sikap
dan kebiasaan belajarnya belum baik.
A. Tujuan
Setelah melaksanakan pembelajaran dalam modul ini, guru pembelajar
diharapkan dapat: memahami ciri-ciri peserta didik yang memiliki sikap dan
kebiasaan belajar yang baik, mengidentifikasi sikap dan kebiasaan belajar
peserta didik, serta menentukan pembelajaran yang memfasilitasi
pengembangannya.
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan
beberapa indikator tentang sikap dan kebiasaan belajar berikut ini:
1. Mendeskripsikan ciri-ciri peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan
belajar yang baik;
2. Mengidentifikasi sikap dan kebiasaan belajar peserta didik;
3. Menentukan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi pengembangan
sikap dan kebiasaan belajar peserta didik.
C. Uraian Materi
1. Sikap dan Kebiasaan Belajar
Sikap belajar adalah kecenderungan peserta didik untuk melakukan atau tidak
melakukan kegiatan belajar sebagai dampak dari pandangan dan perasaannya
KEGIATAN PEMBELAJARAN 6:
SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEIATAN PEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
44
terhadap kegiatan belajar (Yusuf, 2006:116). Apabila siswa memiliki pandangan
positif bahwa belajar itu penting untuk mengembangkan kualitas diri dan merasa
senang terhadap kegiatan belajar, maka peserta didik tersebut cenderung akan
melakukan kegiatan belajar dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya apabila
memandang belajar itu tidak penting dan tidak menyenangkan, maka cenderung
malas belajar.
Menurut Yusuf (,2006:117) kebiasaan belajar merupakan perilaku peserta didik
yang relatif menetap dalam aktivitas belajarnya sebagai hasil pembiasaan atau
perilaku yang diulang-ulang.Sikap berbeda dengan kebiasaan, akan tetapi ada
hubungan antara sikap dan kebiasaan, yaitu sikap mungkin sekali dinyatakan
dalam kebiasaan tingkah laku tertentu.
Sikap dan kebiasaan belajar merupakan perilaku peserta didik yang dilakukan
secara berulang-ulang dan relatif menetap dalam kegiatan belajarnya, sebagai
dampak dari perasaan dan pandangannya terhadap belajar. Sikap dan
kebiasaan belajar bisa positif maupun negatif, tergantung bagaimana perasaan
dan pandangannya terhadap kegiatan belajar. Dengan demikian sikap dan
kebiasaan belajar merupakan hasil proses belajar melalui pembiasaan dan
proses kognitif, sehingga sikap dan kebiasaan belajar yang negatif dapat diubah
atau dimodifikasi melalui proses belajar yang baru atau belajar kembali.
2. Pengaruh Sikap dan Kebiasaan Belajar terhadap Prestasi Belajar
Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar atau mencapai tujuan pembelajaran (Makmun, 2009::165).
Peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif akan
menunjukkan perilaku dalam kegiatan belajar secara efektif dan efisien, baik
dalam merencanakan kegiatan belajar dan mengikuti kegiatan belajar,
memahami dan penguasaan materi. pelajaran, serta mempersiapkan untuk
mengikuti ulangan atau ujian. Perilaku tersebut dilakukan baik pada kegiatan
disekolah dirumah maupun kegiatan kelompok.
Menurut Covey (2001:24) bahwa kebiasaan akan menjadikan seseorang sukses
atau menghancurkannya, dan kebiasaan akan membentuk suatu karakter. Sikap
dan kebiasaan belajar yang positif akan membentuk karakter yang baik seperti
rajin, tekun dan disiplin. tangguh dalam menghadapi hal-hal yang megganggu
LISTRIK untuk SMP
KEIATAN PEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
45
kegiatan belajar (bila menghadapi kesulitan belajar, hambatan emosional
masalah remaja dan stress dsb.). serta produktif, begitu pula sebaliknya.. Sikap
dan kebiasaan belajar tidak hanya mempengaruhi prestasi belajar, tetapi juga
akan mempengaruhi karakter seseorang.
3. Ciri-ciri Peserta Didik Dengan Sikap dan Kebiasaan Belajar Yang
Positif
Menurut Yusuf (2006:117) ciri-ciri perilaku peserta didik yang memiliki sikap
kebiasaan belajar positif, antara lain:
a. Menyenangi pelajaran (teori dan praktek) dan senang mengikuti kegiatan
pembelajaran yang diprogramkan oleh sekolah.
b. Masuk kelas tepat pada waktunya, memperhatikan penjelasan guru, dan
membuat catatan pelajaran dalam buku khusus secara rapi dan lengkap
c. Senang bertanya apabila tidak memahaminya dan berpartisipasi aktif dalam
kegiatan dsikusi kelas
d. Memiliki jadwal belajar yang teratur dan disiplin diri dalam belajar, serta
mengerjakan tugas-tugas atau PR sebaik-baiknya
e. Membaca buku-buku pelajaran secara teratur dan senang membaca buku-
buku lainnya, majalah, dan koran yang isinya relevan dengan pelajaran,
serta meminjam buku-buku keperpustakaan untuk menambah wawasan
keilmuan
f. Ulet atau tekun dalam melaksanakan pelajaran maupun praktek dan tidak
mudah putus asa apabila mengalami kegagalan dalam belajar
4. Identifikasi Sikap dan Kebiasaan Belajar
Cara mengidentifikasi sikap dan kebiasaan belajar peserta didik sama dengan
cara identifikasi pada materi pembelajaran 1. Dalam melakukan inventori sikap
dan kebiasaan belajar bisa bekerja sama dengan guru BK.
5. Implikasi dalam Pembelajaran
Sikap dan kebiasaan merupakan suatu factor yang menentukankeberhasilan
peserta didik dalam bidang akademik dan keberhasilan hidup di masa depan,
maka:
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEIATAN PEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
46
Jadi model/teladan dengan memiliki sikap positif terhadap pekerjaan seperti
disiplin, rajin, semangat, senang membaca buku, dan sebagainya.
a. Rancang pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan mudah dipahami
b. Ciptakan iklim belajar yang kondusif yang memudahkan siswa untuk
mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik.
c. Berikan informasi manfaat materi yang akan diajarkan dalam kehidupan
sehari-hari, studi lanjut, dan pekerjaan terbangun sikap positif terhadap mata
pelajaran.
d. Tingkatkan sikap dan kebiasaan belajar dengan pembiasaan dan disiplin
yang disertai konsekuensi yang mendidik.
e. Bersikap menerima dan bijak terutama kepada peserta didik yang sikap dan
kebiasaan belajarnya negatif.
f. Kerjasama dengan wali kelas guru BK dan orangtua peserta didik untuk
meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar peserta didik.
Gambar 6.1. Pembelajaran untuk Membangun Sikap dan Kebiasaan Belajar
D. Aktivitas Pembelajaran
1. Kegiatan 1. Pengembangan Sikap dna Kebiasaan Belajar
a. Tujuan: melalui tugas membaca, diskusi, dan membuat peta pikiran
peserta diharapkan dapat memahami konsep sikap dan kebiasaan
belajar, identifikasinya dan pengembanganya melalui pembelajaran.
b. Tugas:
1) Buatlah peta pikiran atau bagan mengenai kemampuan awal dan
kesulitan belajar meliputi: a) ciri-ciri peserta didik yang memiliki
sikap dan kebiasaan belajar yang baik; b) cara identifikasinya, c)
dan pengembangannya melalui pembelajaran.
2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasilnya.
LISTRIK untuk SMP
KEIATAN PEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
47
2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi
a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan
presentasi hasil kegiatan peserta dapat mengidentifikasi sikap dan
kebiasaan belajar dan pengembangannya melalui pembelajaran.
b. Tugas
1) Curah pendapat mengenai kasus sikap dan kebiasaan belajar
peserta didik yang terjadi di kelas dan mengkaji kasus yang
termasuk dalam lingkup sikap dan kebiasaan belajar peserta didik.
2) Pilih satu kasus/kelompok, diskusikan dalam kelompok, usulkan
alternatif solusi untuk itu dan presentasikan hasil kegiatan.
E. Latihan/Kasus/Tugas
1. Sikap dan kebiasaan belajar merupakan aspek yang sangat penting dalam
pembelajaran. Oleh karena itu penting bagi guru untuk membimbing peserta
didiknya memiliki sikap dan kebiasaan belajar, jelaskan!
2. Salah satu faktor eksternal penyebab sikap kebiasaan belajar yang negatif
adalah faktor guru. Bagaimana upaya bapak/ibu sebagai guru untuk
meningkatkan sikap kebiasan belajar yang positif?
3. Kerjakanlah kasus berikut ini, tentukan apa yang harus dilakukan untuk
melengkapi data kemampuan awal peserta didik yang belum lengkap.
Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikan hasilnya.
Berikut adalah kondisi beberapa anak asuh Bu Fatimah.
1) jarang memperhatikan guru saat pembelajaran tapi melakukan kegiatan
seperti ngobrol, main HP secarasembunyi-sembunyi, menggambar, atau
kegiatan lainnya
2) kurang aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar namunduduk manis
mendengarkan saja
3) jarang membuat pekerjaan rumah atau terlambatmenyerahkan tugas
4) jarang membuat catatan sehingga catatannya tidak lengkap,tidak
sistematis, dan tidak mudah dipahami
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEIATAN PEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
48
5) sering terlambat datang ke sekolah
6) belajar tidak teratur dan hanya dilakukan jika ada ulangan saja
7) motivasi untuk memperkaya pelajaran rendah dan merasa cukupdengan
informasi dari catatan dan buku pegangan saja
8) sering keluar masuk saat pembelajaran karena tidak bisa menjaga
perhatian fokus terlalu lama.
F. Rangkuman
1. Sikap dan kebiasaan belajar merupakan hasil belajar melalui operant
conditioning dan proses kognitif, sehingga sikap dan kebiasaan belajar yang
kurang efektif dapat diubah atau dimodifikasi melalui proses belajar yang
baru.
2. Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap prestasi belajar. Sikap dan kebiasaan belajar tidak hanya
berdampak pada prestasi belajar, tapi juga berpengaruh terhadap
pembentukan karakter.
3. Peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif akan
menunjukkan perilaku dalam kegiatan belajar secara efektif dan efisien.
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Lakukan uji diri seperti yang dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Sebaiknya
peserta berlatih dari kasus kelas yang diasuh sebagai subjek latihan. Peserta
juga dianjurkan untuk menambah wawasan terkait berbagai metode untuk
membangun sikap dan kebiasaan belajar serta cara belajar efektif.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
49
Keragaman karakteristik perilaku dan pribadi peserta didik dipengaruhi banyak
faktor, oleh karena itu peserta didik dengan umur yang sama tidak selalu memiliki
kesiapan yang sama dalam menerima pelajaran di sekolah. Guru perlu
menentukan keadaan karakteristik perilaku dan pribadi peserta didik sebelum
memulai pembelajaran. Tidak semua peserta didik berhasil mencapai tujuan-
tujuan belajar sesuai dengan taraf kualifikasi yang diharapkan. Indikasi
kegagalan mencapai tujuan belajar perlu diidentifikasi untuk mendapatkan solusi.
A. Tujuan
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar diharapkan dapat
memahami konsep kemampuan awal dan kesulitan belajar; cara
mengidentifikasinya, faktor kesulitan belajar; dan menggunakan hasilnya
untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih baik.
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan
beberapa indikator tentang perkembangan kemampuan intelektual berikut ini:
1. Menjelaskan cara mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik.
2. Mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik.
3. Mengidentifikasi kesulitan belajar.
4. Menjelaskan faktor-faktor kesulitan belajar.
5. Menentukan kegiatan pembelajaran yang kondusif berdasarkan hasil
identifikasi kemampuan awal dan kesulitan belajar peserta didik.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 7:
IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN
BELAJAR
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
50
C. Uraian Materi
1. Bekal Ajar Awal
Keberhasilan proses belajar-mengajar antara lain dipengaruhi oleh karakteristik
peserta didik baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Meskipun guru
menghadapi kelompok kelas yang terdiri dari peserta didik yang memiliki umur
yang relatif sama, namun mereka tidak dapat diberi perlakukan yang sama. Oleh
karena itu pada awal proses belajar mengajar guru harus meneliti dulu tingkat
dan jenis karakteristik perilaku siswa yang telah dimilikinya pada saat akan
memasuki pembelajaran. (entering behavior) atau bekal ajar awal peserta didik.
Bekal ajar awal menjadi dasar bagaimana proses belajar sebaiknya
direncanakan.dan apakah tujuan intruksional khusus yang semula dirumuskan
harus mengalami perubahan. Apalagi bila kemampuan awal berkaitan dengan
kemampuan prasyarat untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Makmun (2002:224) dengan mengetahui gambaran tentang entering
behavior peserta didik, maka akan memberikan banyak bantuan kepada guru,
diantaranya sebagai berikut.
a. Untuk mengetahui seberapa jauh adanya kesamaan individual antara peserta
didik dalam taraf kesiapannya, kematangan, serta tingkat penguasaanya dari
pengetahuan dan ketarampilan dasar sebagai landasan bagi penyajian bahan
baru.
b. Dapat mempertimbangkan dalam memilih bahan, prosedur, metode, teknik
dan alat bantu belajar-mengajar yang sesuai.
c. Membandingkan nilai pre-tes dengan post-tes sehingga diperoleh indikator
atau petunjuk seberapa banyak perubahan perilaku itu telah terjadi pada
peserta didik, sebagai hasil pengaruh dari proses belajar mengajar
Hal penting bagi guru sebelum merencanakan dan melaksanakan kegiatan
mengajar, seyogyanya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
Dengan memperhatikan tingkatan kelas, jenis bidang studi, usia dan waktu yang
tersedia dan terencana.
a. Sejauh manakah batas-batas (jenis dan ruang lingkup materi pengetahuan
yang telah diketahui dan dikuasai peserta didik yang akan kita ajar?
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
51
b. Tingkat dan tahap serta jenis kemampuan (kognitif, afektif, psikomotor)
manakah yang telah dicapai dan dikuasai peserta didik yang akan kita ajar?
c. Apakah siswa sudah cukup siap dan matang (secara intelektual, emosional)
untuk menerima bahan dan pola-pola perilaku yang akan kita ajarkan itu?
Menurut Makmun (200:225:) perilaku awal (entering behavior) meliputi jenis dan
ruang lingkup pengetahuan yang telah dikuasai dan diketahui peserta didik,
tingkat dan tahap serta jenis kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor yang
telah dicapai peserta didik.
2. Identifikasi Kemampuan Awal Peserta Didik
Identifikasi jenis dan ruang lingkup pengetahuan yang telah diketahui dan
dikuasai peserta didik, antara lain adalah sebagai berikut:
a. Pada saat memulai pembelajaran berikan pertanyaan-pertanyaan mengenai
materi yang telah diberikan terdahulu (apersepsi)sebelum menyajikan materi
baru
b. Memberikan pre-tes dengan menggunakan instrumen pengukuran prestasi
belajar yang memadai syarat (validitas, realibilitas dan sebagainya)
sebelum..mereka memulai pembelajaran. Instrumen pengukuran prestasi
belajar yang digunakan pada pre-test biasanya setara dengan post-test
c. Identifikasi tingkat dan tahap serta jenis kemampuan (kognitif, afektif,
psikomotor) yang telah dicapai oleh peserta didik.
3. Implementasi Dalam Pembelajaran.
a. Sebelum pembelajaan tentukan bekal ajar awal atau kemampuan awal
peserta didik, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
b. Tidak setiap aspek kemampuan peserta didik pada awal pembelajaran sama
pentingnya. Akan tetapi menentukan aspek mana yang penting sebagai titik
awal dalam interaksi guru dengan peserta didik. selama proses belajar itu
berlangsung, tergantung pada tujuan pembelajaran.
c. Jika kemampuan yang menjadi prasyarat untuk mencapai tujuan
pembelajaran, guru harus memberikan beberapa pertanyaan secara lisan
kepada kelas atau memberikan tes awal berupa tes tulis singkat.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
52
d. Jadikan keragaman bekal ajar awal menjadi dasar pertimbangan perencanaan
dan pengelolaan pembelajaran, baik dalam memilih bahan, prosedur, metode,
teknik dan media pembelajaran sesuai dengan bekal ajar awal peserta didik.
e. Ketika akan mengajar perlu dikenali minat dan motivasi belajar, serta sikap
belajar peserta didik.
4. Kesulitan Belajar
Tidak semua peserta didik berhasil mencapai tujuan-tujuan belajar sesuai
dengan taraf kualifikasi yang diharapkan. Apabila peserta didik menunjukkan
kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya, maka peserta didik
dikatakan mengalami kesulitan belajar.
a. Ciri Peserta Didik Gagal Mencapai Tujuan Belajar
Menurut Burton (Makmun, 2002: 307) peserta didik dikatakan gagal jika memiliki
ciri-ciri sebagai berikut.
1) Dalam batas waktu yang ditentukan peserta didik tidak mencapai ukuran
tingkat keberhasilan atau KKM yang telah ditetapkan oleh guru.
2) Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang seharusnya sesuai
dengan tingkat intelegensinya. Kasus peserta didik ini disebut underachievers
(prestasinya tidak sesuai dengan kemampuan intelektualnya).
3) Tidak mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial
sesuai dengan pola organisme pada fase perkembangan tertentu. Kasus ini
tersebut dikatakan ke dalam slow learners (peserta didik yang lambat belajar).
4) Tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai
prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus peserta
didik ini dapat dikategorikan ke dalam slow learners atau belum matang
sehingga mungkin harus menjadi pengulang.
5) Peserta didik diduga mengalami kesulitan belajar apabila tidak berhasil
mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu berdasarkan indikator atau
ukuran kapasitas (taraf intelegensi) atau kemampuan dalam program
pelajaran atau tingkat perkembangan. Kualifikasi hasil belajar meliputi aspek
kognitif, afektif, dan psikomotor.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
53
b. Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar
Menurut Burton (Makmun, 2002:310) diagnostik kesulitan belajar
berdasarkan pada teknik dan instrumen yang digunakan dalam
pelaksanaannya yaitu sebagai berikut ini.
1) Diagnosis Umum
Tujuan tahap ini untuk menemukan siapakah yang diduga mengalami
kelemahan tertentu, biasa digunakan tes baku, seperti yang digunakan
untuk evaluasi dan pengukuran hasil belajar dan psikologis
2) Diagnosis Analitik
Tujuannya untuk mengetahui di mana letak kelemahan itu terjadi. Pada
tahap ini biasanya digunakan tes diagnosis.
3) Diagnosis Psikologi
Tujuannya untuk mengetahui faktor penyebab kesulitan belajar. Teknik,
pendekatan, dan instrumen yang digunakan antara lain sebagai berikut (1)
Observasi; (2) Analisis karya tulis; (3) Analisi proses dan respon lisan; (4)
Analisis berbagai catatan objektif;(5) Analisi berbagai catatan objektif;(6)
Wawancara; (7) pendekatan laboratories dan klinis;(8) Studi kasus.
c. Mengidentifikasi Kesulitan Belajar Peserta Didik
1) Menandai dan Menemukan Kesulitan Belajar
a) Untuk mengetahui peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar
dilakukan dengan membandingkan nilai peserta didik dengan kriteria yang
telah ditetapkan sebagai batas lulus (KKM, rata-rata kelas). Peserta didik yang
prestasi belajarnya di bawah KKM diduga memiliki kesulitan belajar.
b) Untuk mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar dapat
pula dilakukan dengan memperhatikan atau menganalisa catatan observasi
atau laporan proses kegiatan belajar, yaitu (1) Penggunaan catatan belajar
siswa untuk mengetahui cepat atau lambat dalam menyelesaikan tugas atau
pekerjaannya; (2) Catatan kehadiran; (3) catatan atau bagan partisipasi untuk
mengetahui aktivitas dan partisipasi peserta didik; (4) catatan sosiometri
dilakukan pada bidang sstudi yang menuntut bekerja sama dalam peserta
didik kelompok.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
54
2) Melokalisasikan Letak Kesulitan Belajar
Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui pada bidang studi mana kesulitan
belajar itu terjadi dan bagaimana karakteristik kesulitan belajar peserta didik.
Berikut ini adalah cara melokalisasi letak kesulitan belajar.
a) Mengidentifikasi Kesulitan Belajar pada Bidang Studi Tertentu
Pada bidang studi mana saja peserta didik mengalami kesulitan belajar.
b) Mengidentifikasi pada Kawasan Tujuan Belajar dan Bagian Ruang Lingkup
Materi Pelajaran Manakah Kesulitan Belajar Terjadi
Untuk mengetahui materi pelajaran yang mengalami kesulitan belajar bisa
dilakukan dengan menganalisa lembar jawaban siswa pada tes ulangan umum
semester, dapat pula pada pelaksanaan evaluasi reflektif, formatif, atau dengan
rancangan pre-posttest bila belum ada tes diagnostik khusus.
c) Analisis Terhadap Catatan Mengenai Proses Belajar
Untuk mengetahui kesulitan belajar pada aspek-aspek proses belajar tertentu
dilakukan dengan menganalisis empiris terhadap catatan keterlambatan
penyelesaian tugas atau soal, absensi, kurang aktif dalam partisipasi, kurang
penyesuaian sosial. Hasil analisis tersebut dengan jelas menunjukkan posisi dari
kasus-kasus yang bersangkutan.
3) Mengidentifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
a) Bila kasus kelompok (mayoritas peserta didik memiliki kesulitan belajar) maka
faktor penyebab kesulitan belajar berasal luar diri peserta didik. Kemungkinan
besar faktor penyebabnya kondisi sekolah atau faktor guru.
b) Bila kasusnya individual maka faktor penyebabnya kemungkinan berasal dari
diri peserta didik, yaitu dapat bersumber pada (a) Kemampuan dasar atau
potensi yaitu intelegensi dan bakat; (b) Bukan yang bersifat potensial.
4) Membuat Alternatif Bantuan
5) Melakukan Tindak Remedial atau Membuat Referal
5. Implementasi dalam Pembelajaran
a. Pahami gejala-gejala anak yang memiliki kesulitan belajar.
b. identifikasi kesulitan belajar dan bantulah peserta didik mengatasi kesulitan
belajarnya.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
55
c. Berikan layanan pembelajaran remedial/membuat rujukan
d. Bantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar untuk
mengoptimalkan prestasi belajarnya, dan meningkatkan kepercayaan
dirinya, minat, serta sikap postif terhadap pelajaran.
e. Bekerja sama dengan wali kelas, guru BK dan orangtua.
f. Rancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman peserta didik untuk
mencegah terjadinya kesulitan belajar
D. Aktivitas Pembelajaran
1. Kegiatan 1. Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar
a. Tujuan: melalui tugas membaca, diskusi, dan membuat peta pikiran
peserta diharapkan dapat memahami konsep kemampuan awal dan
kesulitan belajar, faktor kesulitan belajar, cara mengidentifikasi
kemampuan awal dan kesulitan belajar, dan pemanfaatanya untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran.
b. Tugas:
1) Buatlah peta pikiran atau bagan mengenai kemampuan awal dan
kesulitan belajar meliputi: a) kemampuan awal peserta didik dan
cara mengidentifikasinya, b) tingkat, tahap, dan jenis kemampuan
awal peserta didk yang perlu diketahui guru, c) kesulitan belajar dan
cara identifikasinya, d) faktor kesulitan belajar, e) serta
pemanfaatannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasilnya.
2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi
a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan
presentasi hasil kegiatan peserta dapat mengidentifikasi kemampuan
belajar awal dan kesulitan belajar peserta didik dan menggunakanya
untuk pembelajaran yang lebih baik.
b. Tugas
1) Curah pendapat mengenai kasus kemampuan awal dan kesulitan
belajar peserta didik yang terjadi di kelas dan mengkaji kasus yang
termasuk dalam lingkup kemampuan awal dan kesulitan belajar
peserta didik.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
56
2) Pilih satu kasus/kelompok, diskusikan dalam kelompok, usulkan
alternatif solusi untuk itu dan presentasikan hasil kegiatan, untuk
tugas berikut ini.
a) Identifikasilah data kemampuan awal peserta didik di kelas
yang Anda asuh dan tentukan apa yang harus dilakukan untuk
melengkapi data yang kurang lengkap, dan rancang bagaimana
cara menggunakan data tersebut untuk memfasilitasi
peningkatan pencapaian terbaik mereka sesuai potensinya.
b) Tentukanlah kasus peserta didik di kelas Anda yang mengalami
kesulitan belajar, identifikasi faktor penyebab, dan rancang apa
yang sebaiknya Anda lakukan sebagai alternatif solusinya!
E. Latihan/Kasus/Tugas
1. Sebelum memasuki pembelajaran, guru harus menentukan dahulu
kemampuan awal atau bekal ajar peserta didik. Jelaskan mengapa guru harus
memahami dan melakukan itu!
2. Bagaimana cara seorang guru mengidentifikasi kemampuan awal inteligensi
peserta didik?
3. Bagimana caranya bapak/ibu mengidentifikasi faktor penyebab kesulitan
belajar yang berasal dari dalam diri peserta didik, yang sumbernya bukan dari
faktor potensi?
4. Kerjakanlah kasus berikut ini, tentukan apa yang harus dilakukan untuk
melengkapi data kemampuan awal peserta didik yang belum lengkap.
Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikan hasilnya.
Dari data hasil UH diketahui ada 5 orang dengan skor dibawah skor
ketuntasan belajar yaitu Andi, Budi, Cici, Dudi, dan Ema. Skor kelimanya
relatif berdekatan namun agak jauh dari skor ketuntasan belajar. Dari hasil
analisis jawaban diketahui soal-soal yang tidak bisa dijawab adalah
pertanyaan terkait materi yang memerlukan pemahaman yang komprehensif
yaitu tentang analisis data, membuat simpulan dari hasil analisis data.
Andi dan Cici termasuk yang sering terlambat jika jadwal pembelajaran pada
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
57
jam ke 1 dan 2. Budi, Dudi, Ema jarang bisa menyelesaikan tugas tepat
waktu baik tugas di kelas maupun pekerjaan rumah. Pada saat kegiatan
kelompok, aktivitas ketiganya tidak terlalu aktif.
Hasil wawancara Bu Khadijah dengan kelimanya menunjukkan Andi dan Cici
termasuk anak yang terlalu dilindungi orangtua sehingga cenderung dimanja
dan kurang mandiri. Sebaliknya orangtua Budi, Dudi, dan Ema cenderung
melepas sehingga perkembangan prestasinya tidak tercermati dengan baik
karenanya tumbuh kebiasaan belajar yang kurang baik seperti malas belajar
dan motivasi belajar yang rendah. Dalam hal pergaulan sehari-hari
kelimanya adalah peserta didik yang pandai bergaul karena memiliki cukup
banyak teman.
F. Rangkuman
1. Sebelum memasuki dan memulai kegiatan belajar-mengajar guru harus
mengetahui bekal awal awal peserta didik. Hal ini akan memberikan bantuan
kepada guru dalam merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan
kemampuan awal peserta didik. Aspek-aspek bekal awal ajar peserta didik
meliputi fungsi kognitif, fungsi afektif, psikomotor.
2. Untuk mengidentifikasi jenis dan ruang lingkup pengetahuan yang telah
diketahui dan dikuasai peserta didik apat dilakukan dengan memberikan
pertanyaan mengenai materi yang terdahulu (apersepsi) dan pre- tes sebelum
mereka memulai dengan kegiatan belajar-mengajar.
3. Peserta didik diduga mengalami kesulitan belajar apabila tidak berhasil
mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu berdasarkan indikator atau
ukuran kapasitas (taraf intelegensi) atau kemampuan dalam program
pelajaran atau tingkat perkembangan. Kualifikasi hasil belajar meliputi aspek
kognitif, afektif, dan psikomotor.
4. Langkah-langkah dalam mengidentifikasi kesulitan belajar, yaitu (1) menandai
dan menemukan kesulitan belajar, untuk mengetahui siapa-siapa yang
mengalami kesulitan belajar ;(2) melokalisasi letak kesulitan untuk mengetahui
di manakah kelemahan-kelemahan itu terjadi; (3) mengidentifikasi faktor
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
58
penyebab kesulitan belajar untuk mengetahui mengapa kelemahan-
kelemahan itu terjadi.
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Lakukan uji diri seperti yang dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Sebaiknya
peserta banyak berlatih dari kasus kelas yang diasuh sebagai subjek latihan.
Peserta juga dianjurkan untuk menambah pengetahuan dan wawasan terkait
berbagai instrumen identifikasi untuk berbagai aspek dalam kemampuan awal,
penggunaanya, dan pemanfaatan hasilnya. Materi lain yang layak dipelajari
adalah cara melakukan remedial, pengayaan, dan metodologi pembelajaran
untuk memfasilitasi tindak lanjut remedial/ pengayaan.
` EVALUASI
KELOMPOK KOMPETENSI A
59
1. Peserta didik yang berada pada tahap pemikiran operasional formal dari
Piaget, salah satu karakteristiknya adalah berpikir lebih logis. Mereka mulai
berpikir seperti ilmuwan, membuat rencana pemecahan masalah dan secara
sistematis menguji solusinya. Tipe pemikiran ini disebut...
A. penalaran hipotetis deduktif
B. penalaran hipotetis induktif
C. penalaran sintetis analisis
D. penalaran deduktif-induktif
2. Bu Nurul memberi sanksi edukatif, membimbing dan mengawasi siswanya
yang berperilaku tidak bertanggung jawab dan tidak jujur serta kurang
menghargai hak-hak orang lain. Hal itu dilakukan merekaagar berperilaku
sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku umum. Perilaku siswa tersebut
menurut Kohlberg belum mencapai tingkat perkembangan moral pasca
konvensional karena...
A. perilakunya masih dikendalikan oleh faktor eksternal
B. anak patuh karena takut mendapat hukuman dari pihak sekolah
C. anak patuh karena kuatir guru tidak menyukainya
D. perilakunya didasarkan pada nilai-nilai moral kelompok sebayanya
3. Peserta didik pada masa remaja awal cenderung bersifat sensitif dan reaktif
yang sangat kuat terhadap berbagai situasi sosial, dan mudah marah/
tersinggung atau mudah sedih/murung, perilaku remaja tersebut
menunjukkan keadaan...
A. emosi yang memuncak
B. pribadi yang sulit diatur
EVALUASI
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
EVALUASI
KELOMPOK KOMPETENSI A
60
C. perilaku yang menyimpang
D. remaja yang bermasalah
4. Pada masa remaja terjadi pertumbuhan yang cepat dan perubahan proporsi
tubuh yang mencolok. Perubahan proporsi tubuh yang mencolok
menyebabkan anak menjadi kaku dan canggung selama beberapa waktu.
Perubahan fisik tersebut menyebabkan sikap dan perilaku
A. inkordinasi
B. ingin menyendiri
C. psikomotorik
D. kurang percaya diri
5. Untuk memahami bagaimana caranya mengajar kepada peserta didik pada
masa tertentu, dan memahami apa yang harus diberikan kepada peserta
didik, maka guru harus memahami...
A. Tahapan dan tugas perkembangan peserta didik
B. Tugas dan variasi perkembangan peserta didik
C. Tugas dan pola perkembangan peserta didik
D. Tahapan dan tempo perkembangan peserta
6. Peserta didik harus memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, karena
selain berpengaruh terhadap prestasi belajar juga berpengaruh terhadap
pembentukan...
A. karakter
B. minat belajar
C. motivasi belajar
D. suasana hati
7. Peserta didik yang cenderung selalu lebih cepat dan mudah memahami
materi pelajaran dan menyelesaikan tugasnya, dibandingkan dengan teman-
temannya, lebih awal dari waktu yang telah ditetapkan, diduga kemampuan
inetelektualnya ...
A. di atas rata-rata kelompok sebayanya
B. rata-rata kelompok sebayanya
LISTRIK untuk SMP
EVALUASI
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran IPA SMP
61
C. termasuk anak jenius
D. normal sesuai dengan usianya
8. Bu Sisca sedang menganalisis lembar jawab ulangan tengah semester
peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar. Langkah identifikasi
masalah yang dilakukan Bu Sisca bertujuan mengetahui...
A. materi pelajaran yang mengalami kesulitan
B. jenis kesulitan belajar yang dialami peserta didik
C. menandai peserta didik yang mengalami kesulitan belajar
D. mengetahui faktor penyebab kesulitan belajar
9. Peserta didik yang rajin namun prestasi belajarnya hampir di semua bidang
studi di bawah KKM, anak tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang
diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat berikutnya,
sehingga anak mungkin harus menjadi pengulang. Dari ciri-ciri tersebut
diduga peserta didik termasuk ...
A. anak yang lambat belajar
B. anak yang tidak berprestasi
C. anak yang sulit belajar
D. prestasi anak tidak optimal
10. Prestasi Hana di sebagian besar bidang studi di atas KKM, namun Hana
memiliki prestasi belajar yang sangat bagus pada bidang studi IPA. Nilai
ulangannya selalu mendekati nilai sempurna Bakat Hani di bidang studi IPA
didukung oleh kegemarannya membaca. Apa yang harus dilakukan oleh
guru untuk mengembangkan bakat Hana?
A. memfasilitasi peserta didik untuk memperdalam materi kurikulum yang
diajarkan sesuai bakatnya.
B. memfasilitasi peserta didik untuk memperdalam materi kurikulum yang
diajarkan sesuai minatnya.
C. menjadikan peserta didik tersebut sebagai pendidik sebaya pada saat
pembelajaran kelompok.
D. memberikan berbagai tugas mandiri sekaligus melatih keterampilan
belajarnya.
`
PENUTUP
KELOMPOK KOMPETENSI A
63
Modul Pedagogi Guru Pembelajar Mata Pelajaran biologi Kelompok Kompetensi
A yang berjudul Perkembangan dan Potensi Peserta Didik disiapkan untuk guru
pada kegiatan diklat baik secara mandiri maupun tatap muka di lembaga
pelatihan atau di MGMP. Materi modul disusun sesuai dengan kompetensi
pedagogik yang harus dicapai guru pada Kelompok Kompetensi A. Guru dapat
belajar dan melakukan kegiatan diklat ini sesuai dengan rambu-rambu/instruksi
yang tertera pada modul baik berupa diskusi materi, eksperimen, latihan dsb.
Modul ini juga mengarahkan dan membimbing guru pembelajar dan para
widyaiswara/fasilitator untuk menciptakan proses kolaborasi belajar dan berlatih
dalam pelaksanaan diklat.
Untuk pencapaian kompetensi pada Kelompok Kompetensi A ini, guru
diharapkan secara aktif menggali informasi, memecahkan masalah dan berlatih
soal-soal evaluasi yang tersedia pada modul.
Isi modul ini masih perlu penyempurnaan, masukan-masukan atau perbaikan
terhadap isi modul sangat kami harapkan.
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
KELOMPOK KOMPETENSI A
65
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, A.G. 2001. ESQ: Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: Arga
Ali, M., dan Asrori, M. 2014. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta: Bumi Aksara.
Atkinson, R.L., Atkinson, R.C., Hilgard, E.R. 1996. Pengantar Psikologi, Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Chaplin, J.P. 1999. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT. Raja Garfindo
Persada
DePorter, B. dan Hernacks, M. 2001. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
DePorter, B., Reardon, M., Nouri, S.S. 2001. Quantum Teaching. Bandung:
Kaifa.
Djamarah, S. B. 2002. Pikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Gunawan, A., W. 2006. Genius Learning Strategi. Jakarta: PT. Gramdeia
Pustaka Utama.
Hurlock, E.B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Jonni, K. 2006. Psikologi unuk Anak dan Remaja II. Batam: Karisma Publishing
Group.
LN. Yusuf, S. 2012. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT
Remaja Rosda Karya.
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
DAFTAR PUSTAKA
KELOMPOK KOMPETENSI A
66
LN. Yusuf,S. 2006. Program Bimbingan dan Konsling di Sekolah (SLTP dan
SLTA). Bandung: Pustaka Bani Qraisyi.
Loree, M.R. 1970. Psychology of Education. New York: The Ronald Press.
Makmun, A., S. 2002. Psikologi Kependidikan. Bandung: C.V. Rosda Karya.
Natawijaya, R.,Psikologi Perkembangan. Jakarta : Dep.Dik.Bud.
Nurihsan, A. J., & Agustin, M. 2013. Dinamika Perkembangan Anak & Remaja.
Tinjauan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. Bandung: Refika
Aditama.
Santrock, J,W. 2012. Life-Span Development. Edisi ke 13, Jilid 1. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Sukmadinata, N. S. 2007. Bimbingan dan Konseiing dalam Praktek.
Mengembangkan Potensi dan kepribadian Siswa. Bandung: Maestro.
Sunarto, H., Hartono,A.,B. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: P.T.
Asdi Mahasatya.
Surya. 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Yayasan Bhakti
Winaya.
Syah, M. 1995. Psikologi Pendidikan. Dengan Pendekatan Baru. Bandung.
Rosda Karya.
Witheringtpn, H.C. 1978. Educational Psychology. Boston: Ginn and Cp.
Yeon, Weinstein. 1996. A Teachers World, Psychology in the Classroom: Mc.
Graw-Hill, Inc.
GLOSARIUM
KELOMPOK KOMPETENSI A
67
Adolesence : yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Masa remaja
merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak
ke masa dewasa. Istilah adolensence mempunyai
arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan
mental, emosional sosial dan fisik
Conformity : kecenderungan untuk meniru, mengikuti opini,
pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran/hobi, atau
keinginan orang lain
Entering behavior : Tingkat dan jenis karakteristik perilaku siswa yang
telah dimilikinya pada saat akan memasuki kegiatan
belajar-mengajar.
Self-identity : Kesadaran akan diri sendiri. Mengenal dan
menghayati diri sebagai pribadi sendiri serta tidak
tenggelam dalam peran yang dimainkannya.
Social cognition : merupakan cara individu untuk menganalisa,
mengingat dan menggunakan informasi mengenai
kejadian atau peristiwa-peristiwa sosial (Baron &
Byrne ,2000)
Underachiever : Peserta didik yang memiliki prestasi belajar di bawah
kemampuan intelektualnya (intelegensi). Peserta
didik gagal mencapai prestasi belajar sesuai
kapasitasnya.
Kecerdasan spiritual : kemampuan untuk memberi makna ibadah
terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui
langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah,
menuju manusia seutuhnya dan memiliki pola
GLOSARIUM
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
GLOSARIUM
KELOMPOK KOMPETENSI A
68
pemikiran integralistik serta berprinsip “hanya karena
Allah”
God Spot : adalah salah satu titik berupa syaraf kecil di dalam
otak manusia yang dapat merespon dari aspek
agama dan Ketuhanan.
Moral : istilah manusia menyebut ke manusia atau orang
lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif
Prosocial behavior : Mencakup pada tindakan-tindakan: sharing
(membagi), cooperative (kerjasama), donating
(menyumbang), helping (menolong), honesty
(kejujuran), generosity (kedermawanan), serta
mempertimbangkan hak dan kejesahteraan orang
lain (Eisenberg dan Mussen)
Pascaconventional
rasoning
: Tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral
Kohlberg. Pada tingkat ini terjadi internalisasi moral
pada individu dan tidak didasarkan pada standa-
standar moral orang lain.
Rejected children : anak yang ditolak yaitu jarang dinominasikan
sebagai teman terbaik dan sering dibenci oleh
teman-teman sebayanya. Anak menunjukkan agresi
tinggi, menarik diri, serta kemampuan sosial dan
kognitif yang rendah
Social cognition : yaitu kemampuan untuk memahami orang lain,
kemampuan ini mendorong untuk membina
hubungan dengan teman sebaya
Social self : yaitu pribadi dalam masyarakat, budaya, bangsa.
dan perilaku sosial
Withdrawal –
expansive
: anak cenderung menarik diri dari lingkungannya,
mereka sering menyendiri dan cenderung introvert
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik
dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA)
DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik
dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA)
DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2016
KELOMPOK KOMPETENSI A
MODUL GURU PEMBELAJAR
MATA PELAJARAN BIOLOGI
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
EKOSISTEM, KEANEKARAGAMAN
HAYATI, STRUKTUR DAN FUNGSI
JARINGAN, DAN SISTEM GERAK
PADA MANUSIA
Penulis:
Rini Nuraeni, M.Si., dkk.
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik
dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA)
DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2016
11
Penulis:
Rini Nuraeni, M.Si., Zaenal Arifin, M.Si., Arief
Husein Maulani, M.Si., Yanni Puspitaningsih, M.Si.
MODUL GURU PEMBELAJAR
MATA PELAJARAN BIOLOGI
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
KELOMPOK KOMPETENSI A
EKOSISTEM, KEANEKARAGAMAN
HAYATI, STRUKTUR DAN FUNGSI
JARINGAN DAN SISTEM GERAK
PADA MANUSIA
KELOMPOK KOMPETENSI A
EKOSISTEM, KEANEKARAGAMAN
HAYATI, STRUKTUR DAN FUNGSI
JARINGAN DAN SISTEM GERAK
PADA MANUSIA
Penanggung Jawab
Dr. Sediono Abdullah
Penyusun
Rini Nuraeni, S.Si., M.Si.
Zaenal Arifin, M.Si.
Arief Husein Maulani, M.Si.
Yanni Puspitaningsih, M.Si.
022-4231191
022-4231191
022-4231191
022-4231191
rinur_sedc@yahoo.com
zaenal.p4tkipa@gmail.com
maula02@yahoo.com
iko_yanni@yahoo.com
Penyunting
Dr. Dedi Herawadi
Penelaah
Dr. Riandi
Dr. Sri Anggraeni, M.Si.
Dr. Soni Suhandono
Dra. Tati Hermawati, M.Si.
Drs. Triastono Imam P., M.Pd.
Disainer Grafis/Layouter
Zuhe Safitra, M.Pd.
Copyright ©2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu
Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA),
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Dilarang menggandakan sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
KATA SAMBUTAN iii
Peran guru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai kunci
keberhasilan belajar siswa. Guru profesional adalah guru yang kompeten
membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan
pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadikan guru sebagai komponen
yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
dalam peningkatan mutu pendidikan terutama menyangkut kompetensi guru.
Pengembangan profesionalitas guru melalui program Guru Pembelajar (GP)
merupakan upaya peningkatan kompetensi untuk semua guru. Sejalan dengan
hal tersebut, pemetaan kompetensi guru telah dilakukan melalui uji kompetensi
guru (UKG) untuk kompetensi pedagogi dan profesional pada akhir tahun 2015.
Hasil UKG menunjukkan peta kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam
penguasaan pengetahuan. Peta kompetensi guru tersebut dikelompokkan
menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak lanjut pelaksanaan UKG
diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru paska UKG melalui program Guru
Pembelajar. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai agen
perubahan dan sumber belajar utama bagi peserta didik. Program Guru
Pembelajar dilaksanakan melalui pola tatap muka, dalam jaringan atau daring
(online), dan campuran (blended) tatap muka dengan online.
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
(PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Kelautan dan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(LP3TK KPTK), dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala
Sekolah (LP2KS) merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat
Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab dalam
mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru
sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan tersebut
KATA SAMBUTAN
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KATA SAMBUTANiv
adalah modul untuk program GP tatap muka dan GP online untuk semua mata
pelajaran dan kelompok kompetensi. Dengan modul ini diharapkan program GP
memberikan sumbangan yang sangat besar dalam peningkatan kualitas
kompetensi guru.
Mari kita sukseskan program GP ini untuk mewujudkan “Guru Mulia Karena
Karya.”
Jakarta, Februari 2016
Direktur Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan
Sumarna Surapranata, Ph.D.
NIP. 195908011985032001
KATA PENGANTAR v
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul
Guru Pembelajar Mata Pelajaran IPA SMP, Fisika SMA, Kimia SMA dan Biologi
SMA. Modul ini merupakan model bahan belajar (learning material) yang dapat
digunakan guru untuk belajar lebih mandiri dan aktif.
Modul Guru Pembelajar disusun dalam rangka fasilitasi program peningkatan
kompetensi guru paska UKG yang telah diselenggarakan oleh Direktorat
Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Materi modul dikembangkan
berdasarkan Standar Kompetensi Guru sesuai Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi Guru yang dijabarkan menjadi Indikator Pencapaian Kompetensi
Guru.
Modul Guru Pembelajar untuk masing-masing mata pelajaran dijabarkan ke
dalam 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Materi pada masing-masing modul
kelompok kompetensi berisi materi kompetensi pedagogi dan kompetensi
profesional guru mata pelajaran, uraian materi, tugas, dan kegiatan
pembelajaran, serta diakhiri dengan evaluasi dan uji diri untuk mengetahui
ketuntasan belajar. Bahan pengayaan dan pendalaman materi dimasukkan pada
beberapa modul untuk mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta kegunaan dan aplikasinya dalam pembelajaran maupun
kehidupan sehari hari.
Modul ini telah ditelaah dan direvisi oleh tim, baik internal maupun eksternal
(praktisi, pakar, dan para pengguna). Namun demikian, kami masih berharap
kepada para penelaah dan pengguna untuk selalu memberikan masukan dan
penyempurnaan sesuai kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan
teknologi terkini.
KATA PENGANTAR
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KATA PENGANTARvi
Besar harapan kami kiranya kritik, saran, dan masukan untuk lebih
menyempurnakan isi materi serta sistematika modul dapat disampaikan ke
PPPPTK IPA untuk perbaikan edisi yang akan datang. Masukan-masukan dapat
dikirimkan melalui email para penyusun modul atau ke: p4tkipa@yahoo.com.
Akhirnya kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para
pengarah dari jajaran Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan,
Manajemen, Widyaiswara, Staf PPPPTK IPA, Dosen, Guru, dan Kepala Sekolah
serta Pengawas Sekolah yang telah berpartisipasi dalam penyelesaian modul ini.
Semoga peran serta dan kontribusi Bapak dan Ibu semuanya dapat memberikan
nilai tambah dan manfaat dalam peningkatan kompetensi guru IPA di Indonesia.
Bandung, April 2016
Kepala PPPPTK IPA,
Dr. Sediono, M.Si.
NIP. 195909021983031002
LISTRIK untuk SMP
DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
vii
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
Hal
KATA SAMBUTAN iii
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR xi
PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 2
C. Peta Kompetensi 2
D. Ruang Lingkup 3
E. Cara Penggunaan Modul 4
KEGIATAN PEMBELAJARAN
EKOSISTEM 6
A. Tujuan 6
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 6
C. Uraian Materi 7
D. Aktivitas Pembelajaran 29
E. Latihan/Kasus/Tugas 31
F. Rangkuman 32
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 33
KEANEKARAGAMAN HAYATI 34
A. Tujuan 34
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 34
C. Uraian Materi 35
D. Aktivitas Pembelajaran 56
E. Latihan/Kasus/Tugas 59
F. Rangkuman 60
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 61
DAFTAR ISI
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
viii
STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN 62
A. Tujuan 62
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 62
C. Uraian Materi 63
D. Aktivitas Pembelajaran 82
E. Latihan/Kasus/Tugas 86
F. Rangkuman 88
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 89
SISTEM GERAK PADA MANUSIA 90
A. Tujuan 90
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 90
C. Uraian Materi 91
D. Aktivitas Pembelajaran 111
E. Latihan/Kasus/Tugas 114
F. Rangkuman 115
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 116
KUNCI JAWABAN LATIHAN/KASUS/TUGAS 117
EVALUASI 119
PENUTUP 125
DAFTAR PUSTAKA 127
GLOSARIUM 129
LISTRIK untuk SMP
DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
ix
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
Hal
Tabel 1 Kompetensi Inti dan Kompetensi Guru 2
DAFTAR TABEL
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
x
Hal
Gambar 1.1 Rantai makanan 15
Gambar 1.2 Jaring-jaring maknan 16
Gambar 1.3 Piramida maknan 17
Gambar 1.4 Aliran energi materi 19
Gambar 1.5 Siklus nitrogen 20
Gambar 1.6 Siklus karbon 21
Gambar 1.7 Siklus air 21
Gambar 1.8 Siklus fosfor 22
Gambar 1.9 Siklus sulfur 23
Gambar 1.10 Struktur hutan hujan tropis 23
Gambar 1.11 Kebakaran hutan 24
Gambar 1.12 Suksesi primer 25
Gambar 1.13 Suksesi tumbuhan dalam suatu rawa 26
Gambar 2.1 Peta dunia 36
Gambar 2.2 Pola sebaran keanekaragaman hayaati di indonesia 39
Gambar 2.3 Berbagai barietas ikan koki 40
Gambar 2.4 Keanekaragaman jenis ikan hias air tawar 41
Gambar 2.5 Contoh keanekaragaman ekosistem 42
Gambar 2.6 Rantai makanan 43
Gambar 2.7 Pada gambar A dan B tampak perubahan tutupan
hutan
47
Gambar 2.8 Koridor untuk mengatasi fragmentasi habitat 48
DAFTAR GAMBAR
LISTRIK untuk SMP
DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
xi
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
Gambar 2.9 Peta sebaran 25 kawasan 51
Gambar 2.10 Tabel 25 kawasan Hotspot Diversity 52
Gambar 2.11 Kawasan Heart of Borneo 53
Gambar 3.1 Jaringan pada daun dengan sel-sel epidermis 65
Gambar 3.2 Letak epidermis terhadap jaringan lainya pada
penampung melintang batang tumbuhan
66
Gambar 3.3 Jaringan parenkim 67
Gambar 3.4 Jaringan kolenkim 68
Gambar 3.5 Jaringan sklerenkim 69
Gambar 3.6 Sel trakeid 70
Gambar 3.7 Sel-sel floem 71
Gambar 3.8 Jaringan gabus 72
Gambar 3.9 Jaringan ikat pada manusia 76
Gambar 3.10 Jaringan darah 78
Gambar 3.11 Otot polos 79
Gambar 3.12 Otot lurik 80
Gambar 3.13 Otot jantung 80
Gambar 3.14 Struktur sel saraf 81
Gambar 3.15 Pertemuan sel saraf dengan sel saraf lainnya yang
dihuungkan oleh sinapsis
81
Gambar 4.1 Kerjasama santara rangka dan otot menghasilkan
gerakan
91
Gambar 4.2 Pembentukan tulang 93
Gambar 4.3 Struktur tulang pipa 94
Gambar 4.4 Struktur tulang pendek 95
Gambar 4.5 Struktur tulang pipih 95
Gambar 4.6 Tulang tidak beraturan 96
Gambar 4.7 Tulang sesamoid 96
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR
KELOMPOK KOMPETENSI A
xii
Gambar 4.8 Tulang satura 97
Gambar 4.9 Tulang kompak dan tulang spon 97
Gambar 4.10 Struktur tulang panjang 98
Gambar 4.11 Struktur tulang pipih 99
Gambar 4.12 Struktur mikroskopik tulang kompak 100
Gambar 4.13 Sendi engsel 105
Gambar 4.14 Seni putar 105
Gambar 4.15 Sendi pelana 106
Gambar 4.16 Sendi peluru 106
Gambar 4.17 Struktur otot 107
Gambar 4.18 Aktin dan miosin dalam sel otot 107
Gambar 4.19 Filamen aktin dan miosin yang saling meluncur 108
Gambar 4.20 Tiga bentuk patah tulang 109
Gambar 4.21 Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang
keras
111
Gambar 4.22 Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang
rawan
112
PENDAHULUAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
1
A. Latar Belakang
Guru saat ini menjadi sebuah profesi yang menuntut pelakunya untuk terus
belajar dan mengembangkan diri. Tidak hanya menjadi tuntutan profesi, akan
tetapi juga tuntutan dari peraturan menteri Pendidikan agar profesi guru
menjalankan kegiatan pengembangan keprofesian secara berkelanjutan agar
dapat melaksanakan tugas profesionalnya. Modul Diklat Guru Pembelajaran
(GP) pada intinya merupakan model bahan belajar (learning material) yang
menuntut peserta pelatihan untuk belajar lebih mandiri dan aktif. Untuk
membantu guru meningkatkan kompetensi profesional dan pedagogik disusun
modul diklat GP yang terbagi atas 10 Kelompok Kompetensi (KK).
Modul ini merupakan Modul Diklat GP KK A yang digunakan pada diklat GP KK
A. Modul ini dapat digunakan dengan baik pada diklat tatap muka maupun diklat
on line. Selain terdapat pembahasan materi pedagogi di setiap modul, terdapat
pula materi profesional yang membidik kompetensi profesional guru. Modul KK A
bagi guru Biologi berisi beberapa materi bahasan standar kompetensi guru
(SKG) yang telah ditetapkan didalam pemetaan Standar Kompetesi Guru Biologi.
Materi profesional dalam modul ini antara lain adalah Ekosistem,
Keanekaragaman Hayati, serta Struktur dan Fungsi Jaringan. Setiap materi diklat
ini dikemas dalam suatu kegiatan pembelajaran yang meliputi: Tujuan, Indikator
Pencapaian Kompetensi, Uraian Materi, Aktivitas Pembelajaran,
Latihan/Kasus/Tugas, Rangkuman, Umpan Balik dan Tindak Lanjut dan Kunci
Jawaban.
PENDAHULUAN
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
PENDAHULUAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
2
B. Tujuan
Setelah melaksanakan pembelajaran dalam modul ini, guru pembelajar
diharapkan dapat:
1. Mendeskripsikan dan menerapkan konsep-konsep Ekosistem, serta
menggunakan dan menerapkan kegiatan dan sikap ilmiah pada
pembelajaran Ekosistem.
2. Menjelaskan keterkaitan antara faktor-faktor penyebab dengan tingkat
keanekaragaman hayati, manfaat keanekaragaman hayati dalam kehidupan,
dan upaya pelestarian keanekaragaman hayati.
3. menjelaskan secara tepat dan mengidentifikasi fungsi jaringan-jaringan
penyusun organ pada tumbuhan melalui kegiatan mengkaji modul dan
praktik pengamatan.
C. Peta Kompetensi
Kompetensi Inti dan Kompetensi Guru Mata Pelajaran yang diharapkan setelah
mempelajari modul ini tercantum pada tabel 1 berikut.
Tabel 1. Kompetensi Inti dan Kompetensi Guru
Kompetensi Guru Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Memahami konsep-
konsep, hukum-hukum,
dan teori-teori biologi
serta penerapannya
secara fleksibel.
2. Memahami proses
berpikir biologi dalam
mempelajari proses dan
gejala alam.
1. Menyebutkan jenis komponen ekosistem
2. Menguraikan pola interaksi dalam ekosistem
3. Menyusun pola makan dalam ekosistem
4. Mendiskusikan siklus biogeokimia dalam ekosistem
5. Mengenal suksesi ekosistem
6. Mendiskusikan upaya manusia dalam pemeliharaan
ekosistem.
7. Menjelaskan konsep keanekaragaman hayati
8. Menjelaskan konsep tingkat keanekaragaman hayati
(genetik, jenis, hingga ekosistem)
9. Mengidentifikasi pola sebaran keanekaragaman hayati
di Indonesia (Orientalis, Peralihan, dan Australis)
10. Menjelaskan manfaat keanekaragaman hayati
11. Menjelaskan faktor-faktor penurunan kehati dan
12. Mengidentifikasi dampak penurunan kehati
LISTRIK untuk SMP
PENDAHULUAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
3
Kompetensi Guru Indikator Pencapaian Kompetensi
13. Menjelaskan upaya-upaya konservasi sumber daya
hayati
14. Menjelaskan sistem klasifikasi makhluk hidup
15. Membuat kunci determinasi makhluk hidup sederhana
16. Menyebutkan ciri-ciri jaringan meristem.
17. Menyebutkan contoh-contoh jaringan meristem.
18. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan
epidermis dan fungsinya pada tumbuhan
19. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan dasar
dan fungsinya pada tumbuhan.
20. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan
penyokong dan fungsinya pada tumbuhan
21. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan
pengangkut dan fungsinya pada tumbuhan
22. Menjelaskan struktur dan fungsi jaringan epitel pada
hewan atau manusia.
23. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan
penunjang dan fungsinya pada hewan.
24. Menjelaskan struktur dan fungsi saraf pada manusia.
25. Melakukan pengamatan jaringan epitel hewan dengan
menggunakan mikroskop.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup materi pada Modul ini disusun dalam empat bagian, yaitu bagian
Pendahuluan, Kegiatan Pembelajaran, Evaluasi dan Penutup. Bagian
pendahuluan berisi paparan tentang latar belakang modul kelompok kompetensi
B, tujuan belajar, kompetensi guru yang diharapkan dicapai setelah
pembelajaran, ruang lingkup dan saran penggunaan modul. Bagian kegiatan
pembelajaran berisi Tujuan, Indikator Pencapaian Kompetensi, Uraian Materi,
Aktivitas Pembelajaran, Latihan/Kasus/Tugas, Rangkuman, Umpan Balik dan
Tindak Lanjut Bagian akhir terdiri dari Kunci Jawaban Latihan/Kasus/Tugas,
Evaluasi dan Penutup.
Rincian materi pada modul adalah sebagai berikut.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
PENDAHULUAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
4
1. Ekosistem
2. Keanekaragaman Hayati
3. Struktur dan Fungsi Tumbuhan
E. Cara Penggunaan Modul
Cara penggunaan modul pada setiap Kegiatan Pembelajaran secara umum
sesuai dengan skenario setiap penyajian mata diklat. Langkah-langkah belajar
secara umum adalah sbb.
Deskripsi Kegiatan
1. Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan fasilitator memberi kesempatan kepada guru
pembelajar untuk mempelajari:
a. latar belakang yang memuat gambaran materi diklat.
b. tujuan penyusunan modul mencakup tujuan semua kegiatan
pembelajaran setiap materi diklat.
c. kompetensi atau indikator yang akan dicapai atau ditingkatkan melalui
modul.
d. ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran.
e. langkah-langkah penggunaan modul.
2. Mengkaji materi diklat
Pendahuluan
Review
Mengkaji
materi modul
Melakukan aktivitas
pembelajaran
( diskusi/
ekperimen/latihan)
Presentasi
dan
Konfirmasi
Latihan
Soal Uji
Kompeten
si
LISTRIK untuk SMP
PENDAHULUAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
5
Pada kegiatan ini fasilitator memberi kesempatan kepada guru pembelajar
untuk mempelajari materi diklat yang diuraikan secara singkat sesuai dengan
indikator pencapaian hasil belajar. Peserta dapat mempelajari materi secara
individual atau kelompok
3. Melakukan aktivitas pembelajaran
Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan
rambu-rambu/intruksi yang tertera pada modul baik berupa diskusi materi,
melakukan eksperimen, latihan dsb.
Pada kegiatan ini peserta secara aktif menggali informasi, mengumpulkan
data dan mengolah data sampai membuat kesimpulan kegiatan
4. Presentasi dan Konfirmasi
Pada kegiatan ini peserta melakukan presentasi hasil kegiatan sedangkan
fasilitator melakukan konfirmasi terhadap materi dibahas bersama
5. Review Kegiatan
Pada kegiatan ini peserta dan penyaji mereview materi
6 KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
A. Tujuan
Setelah mempelajari uraian materi dalam modul ini, diharapkan peserta dapat:
1. Mendeskripsikan dan menerapkan konsep-konsep Ekosistem.
2. Menggunakan dan menerapkan kegiatan dan sikap ilmiah pada
pembelajaran Ekosistem.
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi
Sedangkan indikator yang diharapkan dari guru pembelajar, yaitu:
1. Menyebutkan jenis komponen ekosistem
2. Menguraikan pola interaksi dalam ekosistem
3. Menyusun pola makan dalam ekosistem
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1:
EKOSISTEM
Seperti kita ketahui bahwa lingkungan hidup kita sudah sangat
mengkhawatirkan, bencana alam karena kelalaian manusia selalu terjadi di
musim hujan seperti banjir dan longsor. Demikian halnya, kejadian kekeringan
terjadi di musim hujan. Disadari atau tidak, semua itu akibat ulah manusia yang
tidak hidup sesuai dengan alam, yakni memanfaatkan alam tanpa perhitungan.
Mata pelajaran Biologi memiliki peranan penting dalam usaha pengelolaan
lingkungan hidup. Hal tersebut karena Biologi mempelajari aspek kehidupan,
baik di masa lampau maupun sekarang, termasuk di dalamnya lingkungan
hidup. Selain itu, pembelajaran Biologi dapat mengembangkan teknologi dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, mempelajari lingkungan hidup
termasuk cakupan pembelajaran Biologi. Memahami lingkungan hidup
merupakan tanggung jawab setiap warga negara untuk memeliharanya. Di
samping itu, setiap organisme memerlukan lingkungan sebagai tempat
hidupnya.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
7
4. Mendiskusikan siklus biogeokimia dalam ekosistem
5. Mengenal suksesi ekosistem
6. Mendiskusikan upaya manusia dalam pemeliharaan ekosistem.
C. Uraian Materi
Ekosistem meliputi semua organisme dalam suatu daerah tertentu dan faktor-
faktor abiotik yang berinteraksi dengannya, atau suatu komunitas dengan
lingkungan fisiknya. (Campbell, 2004). Ekosistem dapat dipahami dan dipelajari
dalam berbagai ukuran, asalkan ada komponen pokok (biotik dan abiotik) yang
bekerja bersamaan untuk mencapai semacam kemantapan fungsional. Memang
kebanyakan ekosistem tidak pernah dapat ditentukan benar batasan-
batasannya. Reiners (1986), dalam Stilling (1992), berpendapat bahwa untuk
alasan ini dan yang lainnya ekosistem hendaknya paling sedikit merupakan
suatu tingkat organisasi ekologi. Ia menyarankan tentang kekurangan suatu
sistem yang logis dari prinsip-prinsip yang berhubungan dan suatu pemahaman
yang baik serta keluasan fokus yang diterima. Keuntungan yang paling besar
dari ekologi ekosistem adalah aliran energi dan siklus nutrien, dimana komunitas
dan populasi dapat diperbandingkan satu sama lain dan di dalam tingkatan trofik
tertentu.
Istilah ekosistem ini pertama kali digunakan oleh A.C. Tansley pada tahun 1935.
Tansley telah banyak membantu penelitian dan pemikiran ahli ekologi modern
lainnya. Friederich (1930) menggunakan istilah holocoen, sedangkan
Thienemenn (1939) menggunakan biosistem untuk istilah ekosistem ini. Tetapi
sampai sekarang yang sering digunakan adalah istilah ekosistem. Ilmu yang
mempelajari tentang ekosistem ini disebut juga ekologi, yang dibedakan lagi
menjadi autekologi dan sinekologi. Autekologi mempelajari hubungan antara
individu dengan lingkungannya. Sedangkan sinekologi mempelajari hubungan
antara populasi atau komunitas dengan lingkungannya. Lingkungan diartikan
sebagai segala sesuatu yang terdapat disekitar organisme hidup yang
mempengaruhi perilaku dan reproduksi organisme tersebut.
Makhluk hidup dalam kehidupannya akan melakukan hubungan timbal balik
dengan segala sesuatu di lingkungan sekitarnya. Lingkungan tempat hidup
makhluk hidup ini juga disebut habitat. Ada berbagai macam habitat tetapi pada
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
8
dasarnya hanya dua, yaitu habitat aquatik (sungai, danau, dan laut), serta habitat
terestrial atau daratan.
Hubungan timbal balik atau interaksi antara makhluk hidup dengan
lingkungannya terjadi karena makhluk hidup mengambil sesuatu dari lingkungan.
Misalnya, makanan, minuman, tempat membuat sarang, dan sebagainya.
Sementara organisme juga memberikan atau menempatkan, sesuatu kepada
lingkungannya. Apa saja yang diberikan makhluk hidup tersebut terhadap
lingkungannya? Makhluk hidup ini selanjutnya kita sebut organisme. Organisme
akan mengeluarkan sisa-sisa pencernaan dan lain-lain ke lingkungannya. Ada
juga organisme yang mengeluarkan gas ke lingkungannya.
Setiap organisme hidup (biotik) di lingkungan atau di suatu daerah berinteraksi
dengan faktor-faktor fisik dan kimia yang biasa disebut faktor biotik (yang tidak
hidup). Faktor biotik dengan abiotik saling mempengaruhi atau saling
mengadakan pertukaran material yang merupakan suatu sistem. Disebut sistem
karena penyebaran organisme hidup di dalam lingkunagntidak terjadi secara
acak, menunjukkan suatu “keteraturan” sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
Setiap sistem yang demikian disebut ekosistem. Jadi komunitas dengan
lingkungan fisiknya membentuk ekosistem.
1. Komponen Ekosistem
Ekosistem merupakan suatu kesatuan dinamis yang terdiri atas komunitas
berbagai spesies yang berinteraksi dengan lingkungannya baik biotik maupun
abiotik.
a. Faktor Biotik
Merupakan bagian hidup dari lingkungan, termasuk semua organisme yang
dapat berinteraksi satu sama lain. Makhluk hidup sebagai komponen biotik terdiri
dari individu, populasi dan komunitas.
1) Individu
Bila kita mengamati organisme satu persatu sebagai individu, maka individu ini
dapat kita lihat, dihitung, diukur, dipakai percobaan. Kadang-kadang organisme
itu berkelompok menjadi satu sehingga keseluruhannya terlihat sebagai individu.
Misalnya binatang karang, rumpun bambu dan lain-lain.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
9
Pengertian individu ini menimbulkan kesukaran, bila kita melihat anak ayam
menetas dari telur yang di hasilkan oleh seekor ayam, ini jelas bahwa individu
baru berasal dari individu yang telah ada.
2) Populasi
Populasi berhubungan dengan jenis individu, waktu dan tempat. kepadatan
populasi artinya individu-individu dihubungkan dengan ruang yang ditempati,
Misalnya, di kelas A 40 orang, dikatakan kepadatan populasi 40 orang tiap kelas.
Kumpulan individu yang hidup di suatu tempat pada suatu waktu tertentu.
Spesies adalah kelompok organisme yang mampu berbiak silang sesamanya
dan menghasilkan keturunan yang fertil (pada kondisi alami).
3) Komunitas
Kelompok organisme yang hidup bersama-sama terdiri dari bermacam-macam
populasi disebut komunitas. Suatu komunitas biotik terdiri dari tumbuh-tumbuhan,
hewan dan manusia.
Setiap makhluk hidup mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda dalam
lingkungannya. Secara garis besar Jabatan atau fungsi organisme dalam suatu
komunitas dibedakan menjadi 4 kelompok, yaitu produsen, konsumen, pengurai,
dan detritivor.
Produsen atau penghasil terdiri atas organisme autotrof, yaitu organisme yang
dapat mensintesis (membuat) makanan sendiri. Organisme autotrof menyusun
senyawa organik dari senyawa anorganik melalui fotosintes atau kemosintesis.
Organisme autotrof biasanya adalah tumbuhan berklorofil, beberapa jenis bakteri
dan ganggang biru.
Konsumen atau pemakai terdiri atas organisme heterotrof, yaitu organisme yang
menggunakan senyawa organik yang dihasilkan oleh produsen. Termasuk ke
dalam konsumen adalah hewan dan manusia.
Pengurai disebut juga perombak atau dekomposer, adalah organisme heterotrof
yang menguraikan produsen dan konsumen yang sudah mati. Dalam
penguraiannya materi organik yang kompleks akan diubah menjadi materi yang
lebih sederhanadan akhirnya menjadi mineral-mineral yang dimanfaatkan
kembali oleh produsen. Pengurai umumnya berupa mikroorganisme seperti
bakteri dan jamur.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
10
Selain pengurai ada kelompok mikroorganime yang termasuk detritivor. Detritivor
adalah organisme yang memakan bahan organik (sampah - serasah ) menjadi
partikel-partikel yang lebih kecil (detritus), misalnya cacing tanah, serangga
tanah, siput, keluwing dan tripang.
b. Faktor Abiotik
Abiotik merupakan komponen fisik atau bagian yang tidak hidup dari lingkungan.
Kemampuan organisme untuk hidup dan berkembang biak tergantung pada
faktor fisika dan kimia lingkungannya. Misalnya air, tanah, suhu, cahaya, udara,
tekanan udara, topografi, tekanan udara.
1) Air
Air diperlukan oleh tumbuhan untuk fotosintesis. Selain itu, juga air berguna
untuk melarutkan mineral dalam tanah sehingga mudah diserap oleh akar
tumbuhan, dan menjaga kesegaran tumbuhan. Bagi hewan darat air berguna
untuk minum, bagi hewan air untuk melarutkan oksigen. Sebagian besar tubuh
mahluk hidup terdiri dari air dan setiap hari membutuhkan air.sedang air
berfungsi: a) sebagai pelarut zat yang diperlukan tubuh, b) sebagai alat transpor
zat dalam tubuh, c) mengatur suhu tubuh, d) tempat bereaksinya zat dalam
tubuh.
2) Tanah
Tanah selain berfungsi sebagai tempat berpijaknya makhluk hidup jugaTanah
bertindak sebagai substrat atau tempat hidup organisme. Tanah juga
menyediakan kebutuhan makhluk hidup seperti unsur hara dan mineral. Suatu
jenis individu mungkin tidak cocok hidup di sembarang tanah, sebab tanah yang
berbeda mungkin memiliki pH yang berbeda, kelembapan yang berbeda maupun
tingkat kesuburan yang berbeda
3) Suhu
Mahluk hidup dapat hidup dengan suhu tertentu, yaitu:
a) Suhu maksimum: suhu yg paling tinggi yang masih memungkinkan untuk
hidup.
b) Suhu optimum; suhu yang paling baik untuk hidup.
c) Suhu minimum: suhu yg paling rendah yg masih memungkinkan untuk hidup.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
11
4) Cahaya
Cahaya matahari, merupakan sumber energi di bumi. Semua mahluk hidup baik
langsung maupun tak langsung energinya berasal dari matahari. Cahaya
matahari merupakan komponen abiotik yang berfungsi sebagai energi primer
bagi ekosistem. Sebagai sumber energi utama, cahaya penting untuk prose
fotosintesis.
5) Udara
Komponen udara yang terpenting adalah O2 (Oksigen) untuk proses pembakaran
zat dalam tubuh, sedangkan CO2 (karbon dioksida) bahan mentah dalam proses
asimilasi.
6) Tekanan udara
Faktor ini tidak berpengaruh secara langsung pada mahluk hidup, karena
makhluk hidup dapat menyesuaikan diri.
7) Topografi
Topografi meliputi faktor altitude, yaitu ketinggian suatu tempat yang diukur dari
permukaan laut dan latitude, yaitu letak lintang yang diukur dari garis
khatulistiwa. Topografi mempunyai pengaruh yang besar terhadap penyebaran.
makhluk hidup yang tampak jelas pada penyebaran tumbuhan. Hal ini
disebabkan adanya perbedaan topografi yang mengakibatkan intensitas cahaya,
suhu, dan curah hujan berbeda-beda di setiap tempat.
8) Iklim
Iklim merupakan komponen abiotik yang terbentuk sebagai hasil interaksi
berbagai komponen abiotik lainnya, seperti kelembaban udara, suhu dan curah
hujan. Iklim sangat memengaruhi kesuburan tanah, tetapi kesuburan tanah tidak
berpengaruh terhadap iklim.
2. Interaksi dalam ekosistem
Ekosistem merupakan suatu kesatuan yang lengkap, yang di dalamnya terdapat
berbagai komunitas yang saling mempengaruhi (berinteraksi). lnteraksi dalam
ekosistem dapat terjadi antar organisme maupun antara organisme dengan
lingkungannya. Hubungan antar organisme dapat bersifat saling
menguntungkan, merugikan, bahkan saling berkompetisi. Pola-pola interaksi
dalam ekosistem dapat berupa interaksi antar faktor biotik maupun antara faktor
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
12
biotik dengan faktor abiotik, baik dalam tingkat spesies, populasi, maupun
komunitas.
a. Interaksi Antara Faktor Biotik dengan Abiotik
Keberadaan faktor biotik atau organisme baik secara langsung maupun tidak
langsung dipengaruhi oleh faktor abiotik. Faktor abiotik yang mempengaruhi
organisme antara lain berupa kondisi tanah, kandungan unsur hara, iklim
(kelembaban, suhu), kandungan air, dan topografi.
Suatu contoh yang sangat nyata, di daerah-daerah yang curah hujannya tinggi
mempunyal jenis tumbuhan yang berbeda dengan daerah yang curah hujannya
rendah. Hewan dan tumbuhan yang hidup di hutan berbeda dengan hewan atau
tumbuhan yang hidup di padang rumput atau di gurun.
Selain itu, faktor abiotik juga dapat mempengaruhi populasi organisme. Misalnya
populasi nyamuk akan meningkat sangat drastispada musim hujan, beberapa
tumbuhan akan semakin cepat bertambah populasinya pada musim hujan.
Sebaliknya, pada musim kemarau beberapa tumbuhan, misalnya rumput
mengalami penurunan populasi.
b. Interaksi Antarfaktor Biotik
Interaksi antar faktor biotik dapat terjadi pada tingkat individu atau spesies,
populasi. dan komunitas. lnteraksi tersebut dapat berupa kompetisi, predasi, dan
simbiosis.
1) Kompetisi
Kompetisi adalah bentuk hubungan antara spesies yang satu dengan yang lain
jika terjadi persaingan di antara mereka. Persaingan dapat terjadi karena faktor
makanan, tempat hidup, atau pasangan hidup.
Contoh:
a) Kompetisi antara kambing, kerbau, dan sapi dalam usaha memenuhi
kebutuhan makan yang berupa rumput.
b) Kompetisi antara tanaman jagung dengan rumput dalam memenuhi unsur
hara dalam tanah.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
13
2) Simbiosis
Simbiosis adalah hubungan erat antara dua organisme dan spesies yang
berbeda yang hidup bersama di suatu daerah. Simbiosis dapat digolongkan
menjadi tiga sebagal berikut.
a) Simbiosis mutualisme, jika kedua organisme mendapatkan keuntungan dari
hubungan tersebut.
Contoh:
 Simbiosis antara Iebah dengan tanaman berbunga. Lebah mendapatkan
makanan berup nektar, sebaliknya lebah membantu penyerbukan.
 Simbiosis antara tanaman Leguminosae dengan bakteri Rhizobium
radicicolla. Rhizobium radicicolla mampu menambat oksigen bebas untuk
sumber energi. Gas nitrogen akan mengalami oksidasi menjadi ion nitrat,
yang dapat diserap oleh tumbuhan Leguminosae..
 Simbiosis antara jamur Ascomycotina dangan alga hijau membentuk lumut
kerak. Dalam lumut kerak jamur Ascomycotina menyerap unsur hara dan
dalam tanah, termasuk air. Oleh alga hijau air dan CO2 digunakan sebagai
bahan dasar pembuatan makanan (zat gula) rnelalui fotosintesis.
 Simbiosis antara rayap dengan sejenis Flagellata yang hidup di dalam usus
rayap. Flagellata yang hidup dalam usus rayap membantu pencernaan
selulosa, dalam rangka memenuhi kebutuhan makannya.
b) Simbiosis komensalisme, jika salah satu organisme mendapat keuntungan,
sedang organisme yang lain tidak dirugikan.
Contoh:
 Simbiosis antara ikan remora dengan ikan hiu. Ikan remora mendapatkan
sisa- sisa makanan dan ikan hiu.
 Simbiosis antara tanaman epifit dengan tumbuhan bertajuk tinggi. Tumbuhan
menyediakan med. tumbuh atau tempat menempel bagi tanaman epifit.
 Simbiosis antara ikan badut dengan anemon laut. Anemon laut menyediakan
persembunyian atau perangkap makanan bagi ikan badut.
c) Simbiosis parasitisme, jika salah satu organisme mendapat keuntungan,
sedang organisme yang lain dirugikan. Organisme yang mendapat
keuntungan dinamakan parasit, sedang yang mendapat kerugian dinamakan
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
14
inang atau hospes. Organisme parasit mendapat keuntungan karena
mendapat zat-zat makanan dan tubuh inang.
Contoh:
 Kutu rambut pada kepala manusia (ektoparasit).
 Pinjal pada kulit anjing (ektoparasit).
 Cacing perut (Ascaris lumbricoides) dan cacing pita dalam usus manusia
(endoparasit).
 Benalu dan tali putri yang menempel pada tanaman tertentu, misalnya pada
pohon mangga, jambu dan jeruk.
3) Antibiosis
Antibiosis adalah hubungan antara dua organisme yang satu menghambat
pertumbuhan organisme yang lainnya.
Contoh:
a) Jamur Penicillium menghambat pertumbuhan bakteri dengan mengeluarkan
zat antibiotik penisilin.
b) Jamur Aspergillus flavus menghasilkan aflatoksin yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri.
4) Predasi
Predasi adalah hubungan antara pemangsa (predator) dengan mangsa. Predasi
dapat dilihat dengan jelas pada rantai makanan atau jaring-jaring makanan, yaltu
antara konsumen I dengan konsumen II atau antara konsumen II dengan
konsumen III. Organisme yang memakan organisme lain disebut predator.
Perhatikan peristiwa predasi pada rantai makanan di di bawah ini.
Padi Tikus Ular Elang
(P1) (K1) (K2) (K3)
5) Pola Makan
a) Rantai Makanan dan Jaring-Jaring Makanan
Selain terjadi interaksi antar faktor biotik didalam rantai makanan terjadi pula
interaksi faktor biotik-abiotik. Hubungan antar faktor biotik yang menyusun rantai
Predasi
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
15
makanan dengan faktor abiotik (lingkungan) dapat terjadi secara langsung
maupun tidak langsung. Ketersediaan unsur hara dalam tanah sangat
mempengaruhi kehidupan tumbuhan (produsen). Kelangsungan hidup secara
langsung mempengaruhi kehidupan konsumen I, sebaliknya ketersediaan unsur
hara dalam tanah tidak berpengaruh secara langsung terhadap konsumen. Hal
yang sama dapat juga terjadi pada jaring-jaring makanan. Jaring-jaring makanan
adalah sekumpulan rantai makanan yang saling berhubungan satu sama lain.
Pada hutan muda, jumlah total bahan organik makin meningkat setiap tahun
dengan meningkatnya ukuran pohon. Ini pun merupakan penyimpanan, tetapi
jika hutan menjadi dewasa, bahan organik akan hilang karena kematian dan
kehancuran. Energi yang hilang (hancur) tersebut, jika ditambahkan dengan
kehilangan karena dimakan hewan, maka jumlahnya sama dengan produk bersih
tumbuhan. Dalam hal ini tidak ada pertambahan lebih lanjut dalam biomassa dari
tahun ke tahun. Istilah biomassa digunakan untuk melukiskan seluruh bahan
organik yang terdapat dalam satu ekosistem.
Jika sebagian biomassa suatu tumbuhan dimakan, energi itu diteruskan ke suatu
heterotrof. Pada belalang misalnya, untuk tumbuh dan melaksanakan
kegiatannya berkat energi yang tersimpan dalam tumbuhan yang dimakannya.
Pada gilirannya, herbivora akan menyediakan makanan untuk karnivora.
Belalang tadi dapat dimakan oleh katak. Proses pemindahan energi dari makhluk
ke makhluk dapat berlanjut. Katak dapat dimakan oleh ular, yang pada gilirannya
ular dimakan oleh burung elang.
Gambar 1.1: Rantai makanan (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource
Library. Mc.Graw Hill Co.)
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
16
Lintasan konsumsi makanan seperti di atas di sebut "Rantai Makanan", atau
"food chains“ makanan berasal dari organisme autotrofik. Organisme yang
langsung memakan tumbuhan disebut herbivor (konsumen primer), yang
memakan herbivor disebut karnivor (konsumen sekunder), dan yang memakan
konsumen sekunder disebut konsumen tersier. Setiap tingkatan organisme
dalam satu rantai makanan disebut tingkatan tropik.
Gambar 1.2: jaring-jaring makanan (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani
Visual Resource Library. Mc.Graw Hill Co.)
b) Piramida Makanan
Pada ekosistem yang mantap jumlah produsen tebih besar daripada konsumen.
Apabi dirinci Iebih tanjut, jumlah produsen Iebih besar daripada konsumen I,
konsumen I Iebih besar daripada konsumen II, konsumen II Iebih besar daripada
konsumen III, demikian seterusnya. Apabila keadaan tersebut kita gambarkan
akan membentuk suatu piramida makanan, seperti terlihat pada gambar di
samping. Piramida makanan yaitu tingkatan organisasi makhluk hidup yang
didasarkan atas hubungan makan memakan.
Setiap kelompok organisme di dalam piramida makanan menempati tingkat
tertentu, yang disebut tingkat trotik. Produsen selatu menempati trotik I,
konsumen primer menempati trofik II, konsumen sekunder menempati trofik III,
demikian seterusnya. Semakin rendah tingkat trofiknya, semakin besar
kandungan energi atau biomassanya.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
17
Gambar 1.3: Piramida makanan (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual
Resource Library. Mc.Graw Hill Co.)
Piramida makanan disebut juga piramida jumlah dan merupakan salah satu jenis
piramida ekologi. Menurut fungsinya, piramida ekologi terbagi menjadi beberapa
macam sebagai berikut.
1) Piramida Jumlah
Tingkatan trotik pada piramida jum didasarkan pada penghitungan jurnlah
individu tiap satuan luas, yaitu per m Contoh piramida jumlah seperti berikut ini.
3 ekor elang (konsumen II)
100 ekor ular (konsumen I)
9.000 ekor tikus herbivora)
100.000 tumbuhan (produsen)
2) Piramida Biomassa
Penentuan tiap tingkatan trofik pada piramida biomassa didasarkan pada
pengukuran massa individu dalam gram berat kering per m2
. Contoh piramida
biomassa seperti berikut.
10 gr/m2
(konsumen I)
100 gr/ m2
(herbivora)
1.000 gr/ m2
(produsen)
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
18
3) Piramida Energi
Penentuan tingkatan trofik pada piramida energi didasarkan pada energi yang
dapat dikeluarkan oleh individu yang dinyatakan dalam mg berat kering per m2
hari. Contoh piramida biomassa seperti berikut ini:
2,4 K kaI/ni (konsumen 1)
2.0,9 K ka (herbivora)
22.0,1 K ka (produsen)
c) Aliran Energi
Dalam suatu rantai rnakanan terjadi peristiwa makan dan dimakan antara
produsen dan konsumen. Perhatikan lagi gambar rantai makanan di depan.
Ketika tikus makan padi, terjadi perpindahan materi kimia dan padi (produsen) ke
tubuh tikus (konsumen). Demikian juga ketika tikus dimakan ular, terjadi
perpindahan mateni atau energi dan tikus (konsumen I) ke ular (konsumen II).
Demikian seterusnya hingga materi kembali lagi ke alam, yaitu saat hewan mati
dan diuraikan menjadi materi yang Iebih sederhana oleh jasad pengurai. Dengan
demikian, dalam peristiwa makan dan dimakan terjadi aliran energi. Di alam
aliran energi berjalan dan lingkungan abiotik (matahari), organisme (produsen)
konsurnen kembali ke alam (udara, air, dan tanah).
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
19
Tidak semua energi berpindah dan trofik satu ke trofik berikutnya, karena
sebagian energi itu telah digunakan untuk melakukan kegiatan hidup oleh
organisme dalam trofik tensebut. Jadi, energi yang diteruskan dan organisme
satu (produsen) menuju organisme yang lain (konsumen) selalu lebih kecil.
Apabila digambarkan, aliran energi dan trofik yang Iebih rendah menuju trofik
yang lebih tinggi merupakan piramida, dan disebut piramida energi.
Gambar 1.4 Aliran energi dan materi
Piramida energi merupakan piramida yang ideal untuk menunjukkan hubungan
antar organisme pada tiap tingkatan trofik. Hal ini karena adanya beberapa
kelebihan piramida energi, yaitu sebagai berikut:
1) Mempertimbangkan kecepatan produksi.
2) Berat dua spesies yang sama tidak berarti memiliki energi yang sama.
3) Dapat digunakan untuk membandingkan berbagai ekosistem.
4) Mementingkan kedudukan populasi dalam suatu ekosistem.
5) Dapat mengetahui konsumen yang paling produktif ditinjau dan sisi keluaran
energi.
3. Siklus Biogeokimia
Daur biogeokimia adalah siklus yang melibatkan senyawa kimia yang berpindah
tempat melalui organisme sebagai perantara kemudian senyawa ini kembali ke
lingkungan fisiknya. Pembangun tubuh organisme adálah mateni yang tersusun
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
20
dan unsur-unsur kimia. Unsur-unsur yang ada di alam ini tidak mungkin habis
karena mengalami daur ulang (sikius zat). Beberapa siklus unsur atau zat kimia
yang penting antara lain siklus nitrogen (N), sikius karbon (K), dan siklus air.
a. Siklus Nitrogen
Tahapan siklus nitrogen berlangsung sebagai berikut.
1) Atmosfer mengandung 80% nitrogen bebas (N2) tumbuhan dapat menyerap
nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3).
2) Beberapa bakteri pada bintil akar Leguminosae dan beberapa ganggang
dapat memfiksasi N2 dan udara.
3) Halilintar juga menghasilkan bentuk senyawa N2 dan O senyawa tersebut
terbawa air hujan berupa nitrat dan nitrit.
4) Mikroorganisme mengurai bangkai dan kotoran menjadi amonium, bakteri
denitrifikasi, dalam tanah mengural nitnat menjadi N bebas ke udara.
Gambar 1.5: Siklus Nitrogen (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library.
Mc.Graw Hill Co.)
b. Siktus Karbon
Tahapan siklus Karbon berlangsung sebagai berikut.
1) Karbon di udara dalam bentuk CO2 dan dapat tertarut datam air.
2) Pada tumbuhan darat maupun fitoplankton di dalam air CO2 diubah menjadi
karbohidrat melalui proses fotosintesis. Dalam totosintésis, dihasilkan pula
O2 yang dilepas ke udara.
3) Karbohidrat digunakan oleh konsumen untuk mendapatkan energi,
Konsumen juga melakukan respirasi serta me CO2 ke udara.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
21
4) Bakteri dan jamur saat mengurai bangkai metepaskan CO2 ke udara.
5) Penguralan oleh bakteri yang berjalan lambat dapat mengakibatkan
penumpukan karbon bentuk batu bara dan minyak bumi.
Gambar 1.6: Siklus Karbon (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library.
Mc.Graw Hill Co.)
c. Siklus Air
Tahapan siklus Air berlangsung sebagai berikut.
1) Air di bumi dapat berupa air permukaan (rawa, danau, lautan) maupun air
tanah.
2) Siklus air dibedakan menjadi dua yaitu sikius pendek dan panjang.
3) Siklus air pendek yaitu air laut menguap, uap air di udara dingin mengalami
kondensasi menjadi titik-titik air dan jatuh sebagai hujan, selanjutnya kembali
ke laut.
4) Siklus air panjang yaitu uap air yang berasal dan berbagai proses
penguapan, jatuh sebagai hujan di daratan kemudian melalui sungai atau air
tanah kembali ke laut.
Gambar 1.7: Siklus Air (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library.
Mc.Graw Hill Co.)
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
22
d. Siklus Fosfor
Fungsi fosfor bagi makhluk hidup, antara lain fosfor dalam bentuk adenosin
trifosta (ATP) merupakan bahan bakar (energi) bagi makhluk hidup.
Cadangan fosfat yang dapat larut, dapat digunakan langsung sebagai zat hara
primer dalam sintesis protein oleh tumbuhan.
Melalui rantai makanan fosfat dapat beralih ke tingkat tropik yang lebih tinggi.
Jika organisme mati, fosfor dikembalikan ke tanah melalui proses penguraian
Kelebihan fosfat yang diekskresikan burung dan ikan dalam tinjanya juga
mengembalikan fosfor ke lingkungan. Guano (doposit kotoran burung) juga
merupakan akumulasi fosfor yang dikembalikan ke daratan.
Gambar 1.8 Siklus Fosfor (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual
Resource Library. Mc.Graw Hill Co.)
e. Sulfur/ Belerang
Sulfur terdapat dalam bentuk sulfat anorganik. Sulfur direduksi oleh bakteri
menjadi sulfida dan kadang-kadang terdapat dalam bentuk sulfur dioksida atau
hidrogen sulfida. Hidrogen sulfida ini sering kali bersifat mematikan makhluk
hidup di perairan, pada umumnya dihasilkan dari penguraian bahan organik yang
mati. lon sulfat kemudian diserap tumbuhan dan diubah menjadi protein. Jika
jaringan tumbuhan atau binatang mati akan mengalami pfoses penguraian.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
23
Beberapa jenis bakteri dapat mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi sulfat
kembali. Besi (Fe) dalam sedimen bereaksi dengan sulfida membentuk
ferosulfida (FeS) yang mengendap.
Gambar 1.9 Siklus Sulfur
4. Perubahan Ekosistem
Sepanjang masa ekosistem mengalami perubahan struktur maupun fungsi.
Perubahan pembahas ini mungkin hanya fluktuasi setempat yang tidak berarti,
tetapi mungkin juga cukup besar sehingga dapat mengubah stabilitas hubungan
suatu ekosistem.
Perubahan ekosistem disebabkan oIeh hal-hal berikut.
a. Perkembangan secara alami suatu ekosistem berupa perubahan-perubahan
yang berlangsung dalam ekosistem dalam perjalanannya menuju
kedewasaan atau keseimbangan. Perkembangan alami ini dikenal dengan
istilah suksesi.
Gambar 1.10 Struktur hutan hujan tropis (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual
Resource Library. Mc.Graw Hill Co.)
Tanah
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
24
b. Pengaruh atau faktor luar biasanya akibat ulah manusia.
Gambar 1.11 Kebakaran hutan
5. Suksesi
Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah
secara teratur disebut suksesi. Suksesi terjadi akibat dari perubahan lingkungan
fisik dalam komunitas. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau
ekosistem klimaks. Dikatakan klimaks karena ekosistem tersebut sudah stabil
atau tidak akan berubah lagi.
a. Faktor Dalam Penyebab Suksesi
Contoh klasik untuk menggambarkan peristiwa suksesi adalah kejadian di
gunung Krakatau, Jawa Barat. Pada tahun 1883 Gunung Krakatau meletus,
semua kehidupan di gunung tersebut musnah. Seratus tahun kemudian ternyata
di tempat tersebut sudah terbentuk hutan kembali.
Gangguan Alam
Lahan gundul
dan gersang
Alga dan
lumut
kerak
Lumut dan
tumbuhan
paku
Rumput Perdu Pohon
Padang
rumput
HutanSemak
belukar
1
2
3 4
5 6 7
8 9 10
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
25
Gambar 1.12 Suksesi primer (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource
Library. Mc.Graw Hill Co.)
Mula-mula yang berkoloni adalah sejenis lumut kerak (lichen) dan beberapa jenis
lumut tertentu. Asam-asam yang dieksresi oleh Lichen itu menghancurkan
substrat batuan dan menyediakan sedikit tanah. Partikel tanah tambahan
terbentuk karena penghancuran oleh iklim dan terbawa angin. penghancuran dan
pembusukan terhadap lichen dapat menambahkan sedikit humus, sehingga
lumut lain menetap. Setiap musim terdapat pertumbuhan baru yang lama
membusuk (menyediakan humus). Tidak lama kemudian tersedia cukup tanah
untuk paku-pakuan dan kemudian tumbuh rerumputan, kemudian semak (perdu).
Keadaan ini menyediakan kondisi pertumbuhan yang amat baik untuk biji-biji
tumbuhan tinggi (pohon).
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
26
Gambar 1.13 Suksesi tumbuhan dalam suatu rawa yang dimulai dengan batang
tumbuhan rawa, yang tumbuh keluar daridalam air, rnaka terbentuk selapis vegetasi yang
makin lama makin tebal sesuai dengan tahun-tahun yang berlalu dan area perairan
terbuka makin menciut (Chaerun dkk. 2002).
Biji, spora dan benih dalam bentuk lain datang dari luar dan sampai ke substrat
baru dibawa oleh angin, air atau hewan. Tumbuhan atau organisme lain yang
mampu menghuni untuk pertama kali disebut tumbuhan pelopor (vegetasi
perintis). Disebut vegetasi perintis karena organisme tersebut mampu membuka
lahan untuk hidupnya organisme lain. Suksesi yang terjadi pada suatu lahan
yang rusak total ( tidak ada organisme yang hidup) disebut suksesi primer.
Jenis suksesi yang kedua adalah suksesi sekunder. Suksesi sekunder terjadi jika
suatu komunitas atau ekosistem alami terganggu, baik secara alami maupun
buatan, dan gangguan tersebut. Banjir kebakaran tidak merusak total ekosistem
tersebut. Banjir, kebakaran, angin kencang, gelombang laut, dan penebangan
hutan merupakan contoh-contoh gangguan tersebut.
b. Faktor-Faktor Luar Penyebab Suksesi
Selain disebabkan oleh peristiwa suksesi alam, perubahan-perubahan
lingkungan disebabkan oleh ulah manusia. Bahkan ulah manusia sangat besar
peranannya dalam mengubah keseimbangan lingkungan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi kemudahan kepada
manusia memperlakukan lingkungan sesuai kehendaknya. Penebangan hutan
menjadi semena-mena. Pembukaan lahan untuk kepentingan-kepentingan
tertentu seperti real estate, villa, atau bahkan pabrik-pabrik industri dilakukan
tanpa perhitungan yang matang. Penggunaan dinamit atau trawl (pukat harimau)
dalam menangkap ikan dan masih banyak lagi.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
27
Berikut ini adalah beberapa kenyataan perubahan lingkungan yang terjadi akibat
ulah manusia:
1) Menciutnya Areal Hutan
Banyak hal yang dapat menyebabkan menciutnya areal hutan, antara lain:
a) Penebangan liar
Menurut penelitian tahun 1986/1987, penebangan kayu untuk tujuan komersial
mencapai 80 ribu hektar/tahun.
b) Kebakaran hutan
Walaupun kebakaran hutan dapat terjadi secara alami, tetapi ulah manusia
kadang-kadang dapat memicu peristiwa. Kebakaran hutan akan menurunkan
kualitas tanah tersebut, sehingga sulit untuk ditanami lagi. Dalam periode 1979-
1984 kebakaran hutan mencapai 70 ribu hektar/tahun.
- Pembukaan hutan untuk tujuan proyek-proyek pembangunan pada periode
yang sama mencapai 250 hektar/tahun
- Akibat konversi lahan untuk perkebunan termasuk peladangan berpindah (di
Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya)
2) Meningkatnya Pencemaran
Menurut Supardi (1994) yang dimaksud pencemaran lingkungan adalah
terjadinya pencemaran yang dapat menyebabkan penurunan kualitas lingkungan
dan terganggunya kesehatan serta ketenangan makhluk hidup. Sedangkan
menurut Sasatra Wijaya (1991) pencemaran lingkungan terjadi apabila ada
penyimpangan dari lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran dan berakibat
jelek terhadap lingkungan.
6. Upaya manusia dalam pemeliharaan Ekosistem
Air, udara, dan tanah adalah sumber daya alam (SDA) "milik bersama".
Penyalahgunaan SDA milik bersama tersebut/ disebabkan oleh diabaikannya,
biaya-biaya lingkungan hidup yang timbul di dalam aktivitas pembangunan,
misalnya pabrik semen tidak menukirkan pencemaran udara, karena fungsinya
memproduksi semen. Nelayan hanya memikirkan bagaimana mendapatkan ikan
sebanyak-banyaknya, pengusaha hutan hanya memikirkan kayu sebanyak-
banyaknya. Contoh lain sebuah pabrik tekstil meminimalkan ongkos dengan cara
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
28
membuang limbahnya langsung ke sungai. Simgai tercemar dan masyarakat
yang menanggung ongkos pembersihannya.
Bertolak dari asas lingkungan hidup adalah milik bersama, berarti
pemeliharaannya juga harus dilaksanakan bersama.
7. Upaya Memperbaiki Ekosistem
Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk menjaga atau memperbaiki
kerusakan ekosistem:
a. Tidak menebang hutan sembarangan. Penebangan hutan harus sesuai
dengan peraturan HPH yang berlaku. Syarat penebangan hutan antara lain
harus menggunakan sistem "tebang pilih", dan harus menanam kembali
setdah menebang.
b. Mengalakkan penghijauan/reboisasi
c. Mencegah kebakaran hutan.
Kebakaran hutan mungkin dapat dicegah antara lain dengan membuat menara-
menara pengawas, agar pehigas dapat mengawasi kejadian-kejadian dengan
segera, menghindari pembuatan api di hutan.
d. Membuat suaka margasatwa, cagar alam, taman nasional, taman burung,
hutan lindung dan sebagainya
e. Penataan tata ruang wilayah perlu direncanakan. Setiap daerah dibangun
sesuai dengan zona peruntukannya seperti zona industri, pemukiman,
perkebunan, dan pertanian.
f. Proyek pembangunan yang berdampak negatif harus dikendalikan melalui
penerapan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
g. Pengendalian kerusakan lingkungan melalui pengelolaan daerah aliran
sungai (DAS), rehabilitasi bekas pembangunan dan bekas galian tambang
dan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan
h. Penanggulangan pencemaran tanah, air, dan udara, misalnya:
1) tidak menggunakan pestisida, fungisida dan herbisida tanpa aturan;
2) mencari pestisida pengganti (pengendalian hama sec. biologi);
3) tidak membuang limbah sembarangan;
4) pengembangan baku mutu air dan udara;
5) menggunakan pupuk buatan sesuai aturan;
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
29
6) mengelola sampah/limbah dengan prinsip3R;
a) Reduce yaitu mengurangi pengguraan jenis barang yang banyak sampah
b) Reuse, yaitu menggunakan kembali barang atau kemasan barang yang
sudah dipakai
c) Recycle, yaitu mendaur ulang sampah yang dihasilkan
i. Pengembangan peraturan perundang-undangan mengenai lingkungan hidup
j. Penerapan hukum yang tegas bagi pelanggar peraturan.
D. Aktivitas Pembelajaran
Komponen Abiotik dan Biotik
Kegiatan 1: Menyiapkan Sampel Tanah
Cara Kerja:
1. Pilihlah lokasi tanah yang akan diobservasi.
2. Buatlah galian atau irisan tanah vertikal sedalam lebih kurang 30 cm
dengan lebar lebih kurang 10 cm (lihat gambar).
3. Buatlah batas pada tanah tersebut hingga terlihat irisan vertikal tanah
terbagi menjadi 3 bagian a, b, dan c.
4. Dengan menggunakan pisau tajam, ambilah 3 bagian tanah tersebut
masing masing ditempatkan pada 3 wadah yang berbeda.
5. Lakukan observasi selanjutnya dengan menggunakan 3 sampel tanah
Ini.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
30
Kegiatan 2: Mengidentiflkasi Hewan Tanah dan Dekomposer pada
Sampel Tanah
Cara kerja:
1. Ambil tanah sampel (dan wadah a).
2. Tebarkan di atas koran bekas.
3. Pisahkan Invertebrata besar, seperti cacing tanah, dan sampel
tanah.
4. Buatlah identifikasi sederhana hasil temuan Anda, dan susunlah
dalam tabel pengamatan.
5. Lakukan kegiatan yang sama dengan tanah sampel dan wadah b
dan c.
6. Ambil tanah sampel, tanah yang sudah dipisahkan dan lnvertebrata
besar.
7. Masukkan ke dalam corong kaca atau plastik (lihat contoh
perangkat dalam gambar).
8. Tempatkan sebuah penutup khusus yang bagian tengah dipasang
lampu (25 watt).
9. Amati dan buatlah identifikasi dekomposer kecil yang jatuh ke
dalam larutan 5% gliserin + 50% alkohol pada gelas piala.
10.Masukkan ke dalam tabel data.
11.Lakukan kegiatan yang sama untuk 2 tanah sampel lainnya.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
31
Pertanyaan:
1. Bandingkan hasil temuan Anda dari 3 jenis sampel tanah!
2. Buatlah perbandingan jumlah Invertebrata tanah pada lapisan a, b,
dan c!
3. Apa yang dapat Anda terangkan tentang hubungan Invertebrata
dengan tanah sampel ini?
4. Mengapa mikroorganisme tanah yang ada pada corong cenderung
jatuh ke gelas piala?
5. Bandingkan basil temuan Anda dan 3 sampel tanah tentang:
a. macam dekomposer.
b. jumlah dekomposer yang tertangkap, Apa pendapat Anda?
1) Dan hasil kegiatan 2a-2b, adakah organisme yang mendominasi
habitat tanah sampel? Jelaskan!
E. Latihan
Pilihlah satu jawaban yang benar.
1. Kelompok-kelompok hewan yang ada di padang rumput dalam konsep
ekosistem merupakan…
a. ekosistem
b. species
c. populasi
d. komunitas
Soal 2 dan 3 berdasarkan gambar berikut!
(sumber: http://www.temukanpengertian.com/2015/08/pengertian-redasi.html?m=0)
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
32
2. Bentuk interaksi pada gambar di atas adalah…
a. kompetisi
b. parasitisme
c. predasi
d. mutualisme
3. Interaksi itu terjadi antara…
a. individu dengan individu
b. populasi dengan populasi
c. biotik dengan abiotik
d. spesies dengan spesies
4. Parasit yang hidup menempel pada inangnya dan mengambil zat makanan
dari tubuh inangnya disebut…
a. hemiparasit
b. parasit fakultatif
c. endoparasit
d. parasit obligat
5. Komponen abiotik dalam suatu ekosistem adalah…
a. mikroba, cahaya, suhu
b. tanah, air, mikroba
c. tanah, udara, bakteri
d. suhu, cahaya matahari, tanah
F. Rangkuman
Perlu kita sadari bahwa manusia bukan saja dapat mengubah lingkungannya
tetapi juga merupakan bagian fungsional dari lingkungan itu, karena untuk
kebutuhan hidup seperti makanan, pengolahan air minum, dan lainnya
bergantung pada proses-proses biologi.
Dalam ekosistem komponen biotik dan abiotik masing-masing saling
mempengaruhi sesamanya atau berinteraksi keduanya, jadi ekosistem tidak
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
KELOMPOK KOMPETENSI A
ModulGuru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
33
hanya keanekaragaman makhluk hidup saja tetapi juga semua faktor fisikokimia
yang membentuk lingkungannya.
Ekosistem tidak selalui dalam keadaan stabil, adakalanya terjadi intervensi yang
menyebabkan sistem bergeser ke suatu arah, tetapi akhirnya akan bergeser
kembali dengan arah yang berlawanan.Pada umumnya suatu ekosistem tidak
merupakan sistem yang tertutup, sehingga perubahan atau gangguan dari luar
ataupun dari dalam dapat datang membawa selingan dalam keseimbangan.ini
dapat berupa migrasi organisme atau spesies, kebakaran, banjir, tanah longsor,
hujan abu, kekeringan dan gangguan-ganggguan yang berasal dari manusia.
Gangguan-gangguan tersebut menimbulkan goncangan, tetapi kemudian sistem
akan pulih kembali asalkan goncangan tidak melampaui batas toleransi alam
meresponnya.
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah menyelesaikan soal latihan ini, Anda dapat memperkirakan tingkat
keberhasilan Anda dengan melihat kunci/rambu-rambu jawaban yang terdapat
pada bagian akhir modul ini. Jika Anda memperkirakan bahwa pencapaian Anda
sudah melebihi 85%, silahkan Anda terus mempelajari Kegiatan Pembelajaran
berikutnya, namun jika Anda menganggap pencapaian Anda masih kurang dari
85%, sebaiknya Anda ulangi kembali mempelajari kegiatan Pembelajaran ini.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
34
Pembelajaran ini membahas topik tentang keanekaragaman hayati dan
biosistematika yang meliputi konsep keanekaragaman hayati, manfaat
keanekaragaman hayati, dampak penurunan dan upaya konservasi
keanekaragaman hayati, serta konsep biosistematika. Seperti yang sudah
diketahui bahwa Indonesia merupakan negara megabiodiversitas, yang
memberikan kontribusi positif bagi kehidupan manusia. Pembelajaran ini sangat
penting bagi guru agar dapat menumbuhkan kesadaran, baik untuk guru maupun
anak didiknya, untuk turut berkontribusi nyata dalam upaya menjaga kelestarian
sumber daya hayati di lingkungan sekitar pada khususnya, dan di Indonesia
pada umumnya.
A. Tujuan
Menjelaskan keterkaitan antara faktor-faktor penyebab dengan tingkat
keanekaragaman hayati, manfaat keanekaragaman hayati dalam kehidupan, dan
upaya pelestarian keanekaragaman hayati.
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan
beberapa indikator tentang keanekaragaman hayati berikut ini.
1. Menjelaskan konsep keanekaragaman hayati.
2. Menjelaskan konsep tingkat keanekaragaman hayati (genetik, jenis, hingga
ekosistem).
3. Mengidentifikasi pola sebaran keanekaragaman hayati di Indonesia
(Orientalis, Peralihan, dan Australis).
4. Menjelaskan manfaat keanekaragaman hayati.
5. Menjelaskan faktor-faktor penurunan kehati.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2:
KEANEKARAGAMAN HAYATI
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
35KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
35
6. Mengidentifikasi dampak penurunan kehati.
7. Menjelaskan upaya-upaya konservasi sumber daya hayati.
C. Uraian Materi
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah keseluruhan gen, spesies, dan
ekosistem di suatu kawasan. Keanekaragaman hayati merupakan kajian yang
sangat penting karena akan berkaitan erat dengan kehidupan manusia sebagai
salah satu bagian di dalam sistem kehidupan. Dalam kajian keanekaragaman
hayati di dunia, Indonesia selalu termasuk ke dalam negara yang
diperbincangkan karena merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya
hayatinya. Berbicara mengenai keanekaragaman hayati, sudut pandang kita
selalu terbatas pada sumber daya hayati di daratan saja, namun dengan
semakin berkembangnya kajian-kajian kelautan, maka keanekaragaman hayati di
lautan juga mulai diperhitungkan. Hal ini disebabkan Indonesia merupakan
negara kepulauan terbesar di dunia, sehingga menjadi negara yang sangat
diperhitungkan dalam hal biodiversitas di dunia.
Indonesia merupakan salah satu dari 17 negara yang termasuk ke dalam negara
megabiodiversitas, yaitu negara yang mempunyai tingkat keanekaragaman
hayati yang sangat tinggi. Negara-negara tersebut adalah Afrika Selatan,
Amerika Serikat, Australia, Brasil, Cina, Ekuador, Filipina, India, Indonesia,
Kolombia, Kongo, Madagaskar, Malaysia, Meksiko, Papua Nugini, Peru, dan
Venezuela. Hutan tropis Indonesia beserta Brazil dan Kongo adalah wilayah
dengan keanekaragaman spesies darat tertinggi di dunia (Sutarno, 2015).
Negara megabiodiversitas dihuni oleh sedikitnya 2/3 dari semua spesies
vertebrata non-ikan dan 3/4 dari semua spesies tumbuhan tinggi di dunia.
Konsep negara megabiodiversitas disusun atas 4 premis, yaitu:
1. Keanekaragaman setiap negara sangat penting bagi kelangsungan hidup
negara itu, dan harus menjadi komponen dasar setiap strategi pembangunan
nasional atau regional;
2. Keanekaragaman hayati tidak merata di bumi, dan beberapa negara,
terutama di daerah tropis, memiliki konsentrasi biodiversitas yang jauh lebih
besar daripada negara-negara lain;
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
36
3. Beberapa negara yang paling kaya spesies dan keanekaragaman hayati
juga memiliki ekosistem yang berada di bawah ancaman paling parah;
4. Untuk mencapai dampak maksimum dari sumber daya yang terbatas ini,
upaya konservasi harus dikonsentrasikan (tapi tidak eksklusif) di negara-
negara terkaya dalam keanekaragaman dan endemisme namun paling
terancam keberadaanya.
(Sutarno, 2015)
Gambar 2.1. Peta Dunia (sumber: http://pics-about-space.com/)
Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Keanekaragaman Hayati
Coba Saudara perhatikan Gambar 2.1, apa yang dapat saudara amati dari
gambar tersebut? Ya, benar. saudara dapat memperhatikan adanya perbedaan
warna di setiap kawasan. Terdapat warna hijau, coklat, dan juga putih di daratan.
Apakah Saudara menyadari, kawasan di sepanjang garis khatulistiwa berwarna
hijau? Kawasan tersebut yaitu Benua Amerika bagian selatan termasuk
diantaranya Brazil, Venezuela, Kolombia, dan seterusnya. Selain itu juga bagian
tengah dari Benua Afrika, termasuk diantaranya Kenya, Kongo, Tanzania, dan
seterusnya. Akhirnya dapat kita amati bahwa Indonesia, negara kita, merupakan
salahsatu negara di Benua Asia yang terletak di garis khatulistiwa, yang tampak
dari atas berwarna hijau.
Fakta lain menunjukan bahwa jika kita bergerak ke bagian utara atau selatan dari
garis khatulistiwa, tampak ada perubahan warna dari daratan cenderung menjadi
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
37KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
37
coklat. Kawasan di sebelah utara diantaranya Benua Afrika bagian utara,
termasuk diantaranya Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, dan seterusnya, yang
terkenal dengan gurunnya yaitu Gurun Sahara. Di Benua Asia dapat kita amati
kawasan Timur Tengah juga didominasi oleh warna coklat. Kemudian sebagian
dari negara Amerika Serikat juga tampak terdapat daerah yang berwarna coklat.
Sedangkan di sebelah selatan diantaranya Benua Australia dan juga Benua
Afrika bagian selatan yang didominasi warna coklat. Lebih ekstrim lagi jika kita
lihat di kawasan paling utara dan juga selatan, didominasi oleh warna putih, yaitu
kawasan kutub utara dan juga selatan.
Warna hijau menandakan bahwa di kawasan tersebut tertutup oleh vegetasi,
sedangkan warna coklat berarti merupakan kawasan terbuka yang berupa gurun.
Warna putih di kedua kutub menandakan bahwa kawasan tersebut ditutupi oleh
es. Apa yang dapat Saudara simpulkan dari fakta tersebut? Ya, ternyata letak
geografis sangat berkaitan erat dengan keanekaragaman hayati. Vegetasi
merupakan produsen, dengan kata lain adalah sumber energi bagi makhluk
hidup lainnya. Namun yang harus kita fikirkan, mengapa kawasan yang
tampaknya tertutup oleh vegetasi tersebut pada umumnya merupakan kawasan
yang berada di sepanjang garis khatulistiwa? Ya, tepat sekali. Vegetasi dapat
tumbuh dengan baik jika lingkungan menyediakan apa yang menjadi
kebutuhannya. Apa yang menjadi kebutuhan pokok vegetasi atau tumbuhan?
Tentunya sumber energi utama yang diperlukan tumbuhan untuk hidup adalah
energi cahaya matahari. Telah sama-sama kita pahami bahwa di daerah
khatulistiwa intensitas cahaya matahari paling tinggi daripada belahan bumi
lainnya. Hal ini lah yang menyebabkan kawasan sepanjang khatulistiwa sangat
kaya akan vegetasi. Kita patut bersyukur karena Tuhan Yang Mahakuasa telah
menempatkan negara kita tepat di garis khatulistiwa.
Jika suatu daerah kaya akan vegetasi, maka akibatnya akan mendukung
makhluk hidup lain yang menjadi konsumennya untuk bertahan hidup. Demikian
juga dengan makhluk hidup lain pada tingkat trofik yang lebih tinggi, karena
sumber makanannya pun ikut tersedia. Hal tersebut sangat mendukung
terbentuknya keanekaragaman hayati di suatu kawasan.
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
38
Pola Sebaran Keanekaragaman Hayati di Indonesia
Merujuk pada Gambar 2.1, jika kita perhatikan dengan cermat, satu-satunya
kawasan di daerah tropis (khatulistiwa) yang mempunyai keunikan tersendiri
adalah Indonesia. Indonesia merupakan satu-satunya negara kepulauan terbesar
yang dilalui garis khatulistiwa. Selain itu, posisi Indonesia diapit oleh dua benua
(Asia dan Australia) juga dua samudera (Samudra Hindia dan Pasifik). Hal
tersebut mengakibatkan Indonesia menjadi negara yang kaya sumber daya
hayatinya, tidak hanya di daratan saja, bahkan kaya sumber daya hayati di
lautannya.
Keunikan tersebut sangat memengaruhi pola sebaran hayati, sehingga para
ilmuwan terdahulu telah meneliti pola sebaran hayati di Indonesia. Terdapat garis
pembatas yang membagi Indonesia menjadi tiga daerah, yaitu Garis Wallacea
dan Garis Weber (Gambar 2.2). Ketiga daerah tersebut mempunyai tipe makhluk
hidup yang berbeda-beda. Daerah paling barat Indonesia yang dibatasi oleh
Garis Wallacea merupakan kawasan Orientalis. Daerah paling timur yang
dibatasi oleh Garis Weber merupakan kawasan Australis. Sedangkan daerah
yang berada di tengah-tengah yang dibatasi oleh garis Wallaceae dan Weber
disebut dengan kawasan Wallacea atau kawasan peralihan.
Setiap daerah tersebut ternyata mempunyai ciri khas masing-masing. Daerah
Orientalis mempunyai karakter fauna diantaranya mammalia berukuran besar,
banyak jenis-jenis primata, dan jenis-jenis burung berkicau yang tidak berwarna
cerah. Contohnya yaitu Gajah, Harimau, Orang Utan, Lutung, Jalak Kerbau,
Jalak Bali, dan lain-lain. Daerah Australis mempunyai karakter fauna diantaranya
mammalia berkantung dan jenis-jenis burung berwarna cerah. Contohnya yaitu
Kangguru, Kasuari, Cendrawasih, dan lain-lain. Sedangkan di daerah peralihan,
atau daerah Wallacea, antara orientalis dan australis mempunyai karakter yang
berbeda dari kedua daerah yang mengapitnya. Contoh faunanya diantaranya
Anoa, Babirusa, Burung Maleo, Komodo, dan lain-lain.
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
39KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
39
Gambar 2.2. Pola sebaran keanekaragaman hayati di Indonesia
(sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Wallace_Line)
Menurut Saudara, apa yang menyebabkan keunikan pola sebaran
keanekaragaman hayati di Indonesia? Apakah Saudara pernah mendengar
pergerakan lempeng bumi? Ya, ternyata pola sebaran keanekaragaman hayati di
Indonesia berkaitan erat dengan fenomena geologis pergerakan lempeng bumi.
Jika Saudara perhatikan warna lautan pada Gambar 5, ada yang berwarna biru
muda, ada yang biru tua. Hal itu menandakan perbedaan kedalaman lautan.
Pada zaman dahulu kawasan Indonesia bagian barat masih menyatu dengan
Benua Asia, yang disebut dengan istilah Paparan Sunda (Sundaland). Begitu
pula kawasan Indonesia bagian timur masih menyatu dengan Benua Australia,
yang disebut dengan Paparan Sahul (Sahulland). Pada masa itu makhluk hidup
bebas menjelajah di masing-masing paparan tersebut, hingga pada zaman es di
kutub mencair, permukaan air laut bertambah tinggi sehingga menjadikan
daratan yang rendah tertutup oleh lautan. Setelah itu terbentuklah kepulauan-
kepulauan yang terpisah-pisah dengan menyisakan jenis-jenis flora dan fauna
yang tertinggal di kawasan tersebut. Hal ini lah yang menyebabkan karakter flora
fauna di daerah Orientalis serupa dengan flora dan fauna di Benua Asia.
Demikian juga karakter flora fauna di daerah Australis serupa dengan flora dan
fauna di Benua Australia. Lalu bagaimana halnya dengan Daerah Wallacea yang
diapit oleh daerah Orientalis dan Australis? Ternyata daerah Wallacea atau
peralihan tersebut dari zaman dahulu memang sudah terpisah dari kedua
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
40
paparan, sehingga memiliki karakter flora dan fauna yang tidak sama dengan
Orientalis maupun Australis.
Tingkat Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati dapat dilihat dari tiga tingkat, yaitu keanekaragaman
hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem.
1. Keanekaragaman Hayati Tingkat Genetik
Keanekaragaman hayati tingkat genetik mempunyai arti bahwa keanekaragaman
tersebut merupakan keanekaragaman yang disebabkan oleh variasi genetik.
Agar lebih jelas, mari kita amati keanekaragaman tingkat genetik ini pada
makhluk hidup yang masih ada dalam satu jenis. Sebagai contoh, Saudara dapat
mengamati Gambar 2.3.
Gambar 2.3. Berbagai varietas Ikan Koi
(sumber: http://www.championbayaquatics.com/ChampionkoiVarieties.html)
Apa yang Saudara amati dari Gambar 3 tersebut? Saudara dapat melihat variasi
ikan koi dari warnanya. Ada yang berwarna putih, putih merah, putih hitam, putih
hitam merah, kuning, dan seterusnya. Apa dugaan Saudara yang menyebabkan
terjadinya variasi tersebut? Benar, variasi warna tersebut disebabkan oleh
ekspresi dari gen (fenotip) yang dimiliki oleh ikan koi. Jadi, dalam satu jenis ikan
koi ini, variasi dari fenotipnya sangat beragam. Inilah yang kita sebut dengan
keanekaragaman hayati tingkat genetik. Silakan amati contoh lain di sekitar
Saudara yang dapat membuktikan adanya keanekaragaman hayati tingkat
genetik.
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
41KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
41
2. Keanekaragaman Hayati Tingkat Jenis
Keanekaragaman hayati tingkat jenis merupakan keanekaragaman yang terjadi
sebagai akibat dari adanya variasi berbagai jenis makhluk hidup. Dengan kata
lain keanekaragaman ini dapat kita amati mulai dari tingkat marga.
Gambar 2.4. Keanekaragaman jenis ikan hias air tawar
(sumber: http://aquariumprosmn.com/)
Sebagai contoh dapat kita amati pada Gambar 2.4 yaitu berbagai jenis ikan yang
hidup di air tawar. Pada gambar tersebut dapat kita amati adanya variasi bentuk,
warna, ukuran, dan seterusnya pada jenis-jenis ikan yang berbeda.
3. Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem
Keanekaragaman hayati tingkat ekosistem merupakan keanekaragaman yang
terbentuk sebagai akibat dari adanya variasi interaksi kelompok makhluk hidup
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
42
dengan lingkungannya. Variasi interaksi tersebut akan menghasilkan tipe
lingkungan yang berbeda-beda pula. Sebagai contoh, coba Saudara perhatikan
berbagai jenis ekosistem yang ada. Tentunya setelah diamati, Saudara dapat
melihat adanya perbedaan jenis-jenis makhluk hidup yang menempati suatu
ekosistem dengan karakter lingkungan tempat hidupnya. Contoh
keanekaragaman ekosistem dapat Saudara amati pada Gambar 2.5.
Gambar 2.5. Contoh keanekaragaman ekosistem
(diambil dari berbagai sumber)
Manfaat Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati mempunyai peranan yang sangat penting bagi stabilitas
ekosistem, termasuk manusia di dalamnya sebagai salah satu komponen di
dalam ekosistem. Oleh karena itu pemanfaatan sumber daya hayati harus
dilakukan secara bijaksana. Semakin tinggi tingkat keanekaragaman hayati,
maka akan semakin mantap dan stabil suatu ekosistem. Apakah Saudara masih
ingat tentang rantai makanan dan jaring-jaring makanan? Coba Saudara
perhatikan contoh rantai makanan dan jaring-jaring makanan pada Gambar 2.6.
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
43KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
43
a b
Gambar 2.6. Rantai Makanan (a); Jaring-jaring makanan (b)
(sumber: https://www.tes.com)
Apa yang akan terjadi jika pada rantai makanan tersebut populasi belalang
dihilangkan? Ya tepat sekali. Jika populasi belalang berkurang atau sampai tidak
ada, maka populasi rumput akan bertambah, sedangkan tikus semakin
berkurang karena kehabisan makanan. Jika populasi tikus berkurang, maka
populasi burung elang pun akan ikut terancam. Hal itu terjadi jika dalam satu
ekosistem komunitas penghuninya tidak beragam. Namun jika kita
menghilangkan populasi belalang yang ada pada gambar jaring-jaring makanan,
maka akan sedikit organisme yang akan terganggu populasinya karena masih
ada alternatif sumber makanan yang lain. Dengan kata lain, semakin tinggi
keanekaragaman hayati, maka semakin mantap ekosistem yang ada.
Jika kestabilan ekosistem terjaga, maka manusia sebagai salahsatu komponen
dalam ekosistem akan ikut terjaga pula keberadaannya. Saudara tentu seringkali
mendengar peristiwa perusakan perkebunan atau perumahan oleh kawanan
gajah, harimau yang memangsa hewan ternak, bahkan kelaparan manusia di
suatu daerah, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Tentunya Saudara pasti sudah
memiliki jawabannya.
Keanekaragaman hayati memiliki banyak manfaat baik yang langsung dapat kita
rasakan maupun yang tidak. Secara umum manfaatnya terbagi ke dalam tiga
kelompok, yaitu (FAO 2013):
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
44
a. Jasa Ekosistem seperti: air minum yang bersih, pembentukan dan
perlindungan tanah, penyimpanan dan daur hara, mengurangi dan menerap
polusi, berkontribusi terhadap stabilitas iklim, pemeliharaan ekosistem, dan
penyerbukan tanaman.
b. Sumber daya hayati, seperti: makanan, obatobatan, bahan baku industri,
tanaman hias, stok untuk pemuliaan dan penyimpanan populasi.
c. Manfaat sosial, seperti: pendidikan, rekreasi dan penelitian, serta budaya.
Berikut ini adalah contoh-contoh nyata dari manfaat keanekaragaman hayati
untuk manusia:
1. Sumber daya alam penghasil kebutuhan primer atau sekunder
Kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan dapat terpenuhi dari berbagai
macam sumber daya hayati. Misalnya untuk keperluan sandang, sumber daya
hayati yang dapat dimanfaatkan diantaranya wol, kapas, serat kepompong ulat
sutra, serat rami, serat nanas, dan masih banyak lagi. Sumber daya hayati yang
dapat memenuhi pangan sangat melimpah, diantaranya ada tumbuhan sumber
karbohidrat seperti padi, singkong, dan sagu, tumbuhan sumber protein seperti
kacang-kacangan, atau berbagai jenis ikan dan daging ternak Termasuk di
dalamnya kebutuhan manusia akan obat-obatan dapat dipenuhi pula oleh
berbagai macam tumbuhan ataupun hewan. Kebutuhan papan diantaranya
diperoleh dari pohon jati, mahoni, meranti, ataupun kelapa.
2. Sumber plasma nutfah
Keanekaragaman hayati yang ada akan menyimpan berbagai macam kode-kode
genetik yang tersimpan dalam setiap organisme. Keragaman genetik tersebut
akan menjadi sumber bagi manusia untuk pemuliaan berbagai jenis tumbuhan
ataupun hewan demi pemenuhan berbagai jenis kebutuhan manusia.
3. Manfaat keilmuan
Keanekaragaman hayati dapat menyediakan berbagai objek penelitian yang
sangat berguna bagi kehidupan manusia.
4. Estetika
Dari segi kebutuhan estetika, banyak sekali berbagai jenis tumbuhan dan hewan
yang dapat dimanfaatkan. Namun tentunya pemanfaatan ini harus
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
45KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
45
memperhatikan hukum yang berlaku, karena banyak sekali jenis-jenis tumbuhan
maupun hewan eksotis yang dilindungi karena terancam punah.
Faktor Penyebab Penurunan Keanekaragaman Hayati
Beberapa fenomena alam tak dapat dipungkiri dapat mempengaruhi stabilitas
suatu ekosistem, seperti adanya bencana alam berupa erupsi gunung berapi,
kebakaran hutan, tsunami, dan sebagainya. Secara alami, komponen-komponen
penyusun ekosistem akan selalu berusaha menuju kesetimbangan. Ekosistem
yang rusak dapat melakukan suksesi untuk menuju kesetimbangan lagi. Namun
terlepas dari hal tersebut, faktor utama yang dapat mengganggu kesetimbangan
tersebut adalah aktivitas manusia. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
Penyebab utamanya adalah peningkatan populasi manusia di muka bumi.
Semakin tinggi populasi maka semakin tinggi pula tingkat penggunaan sumber
daya alam yang tersedia. Jika penggunaan tersebut dilakukan secara terus
menerus dan tidak bijaksana, maka pada akhirnya akan berpotensi terhadap
kepunahan dari organisme tertentu.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan kepunahan diantaranya:
1. Perusakan Habitat
Habitat merupakan tempat tinggal berbagai jenis organisme yang menyediakan
semua kebutuhan bagi seluruh penghuninya melalui proses interaksi antar
semua komponen. Apa yang akan terjadi jika habitat tersebut rusak? Tentu saja,
jika habitat rusak, maka daya dukungnya terhadap semua organisme
penghuninya akan berkurang bahkan sama sekali hilang. Dampaknya organisme
yang ada tidak akan mampu memenuhi semua kebutuhan hidupnya.
Perusakan habitat yang menjadi sorotan utama di Indonesia adalah perusakan
hutan alam (deforestasi) untuk berbagai macam alasan. Beberapa penyebab dari
kerusakan hutan dan deforestasi di Indonesia adalah:
a. konversi hutan alam menjadi lahan tanaman tahunan.
b. konversi hutan alam menjadi lahan pertanian dan perkebunan.
c. eksplorasi dan eksploitasi industri ekstraktif pada kawasan hutan (batu bara,
migas, geothermal).
d. pembakaran hutan dan lahan.
e. konversi hutan alam untuk transmigrasi dan infrastruktur lainnya.
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
46
f. pemekaran wilayah menjadi daerah otonomi baru (terjadi di beberapa
daerah).
Akibat deforestasi tersebut banyak sekali flora maupun fauna yang terancam
eksistensinya. Selain itu menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara
penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.
Kerusakan alam dan hilangnya habitat telah menyebabkan puluhan ribu spesies
terancam punah. Dari 20 negara di dunia yang jenis-jenis alamiahnya terancam,
maka Indonesia menduduki posisi ke-5, dimana terdapat 1126 spesies yang
terancam punah, terdiri dari mamalia, burung, reptil, amfibia, ikan dan moluska
(Darlington, 2010)
Hasil dari sebuah penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen dari hutan
tropis di pulau Kalimantan telah hancur selama 40 terakhir akibat kebakaran,
industri penebangan kayu dan industri perkebunan. Penelitian itu berdasarkan
pada analisis dari tutupan hutan Kalimantan sejak tahun 1973 hingga tahun
2010. Berdasarkan data yang diperoleh, menunjukkan bahwa lebih dari
seperempat hutan saja yang masih tetap utuh. Perubahan tutupan hutan di
Kalimantan dapat dilihat pada Gambar 2.7.
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
47KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
47
Gambar 2.7. Pada gambar A dan B tampak perubahan tutupan hutan.
Warna merah di gambar B adalah kawasan hutan yang hilang. Pada gambar D,
warna hijau muda merupakan kawasan hutan yang ditebang, warna hitam adalah
perkebunan kelapa sawit dan tanaman industri, dan warna hijau tua merupkan
hutan yang tersisa. (Gaveau, 2013)
2. Fragmentasi Habitat
Fragmentasi habitat merupakan suatu peristiwa yang menyebabkan habitat
terbagi menjadi dua daerah atau lebih. Aktivitas manusia yang dapat
mengakibatkan fragmentasi ini diantaranya pembuatan jalan, pembukaan areal
pertanian, dan perkotaan atau kegiatan lainnya.
Dengan adanya fragmentasi habitat, maka akan mengganggu stabilitas
ekosistem. Mengapa demikian? Pada suatu habitat dikenal ada istilah daerah
tepi, dimana pada umumnya jenis-jenis makhluk hidup tidak akan bisa
menempati daerah tersebut karena daerah tersebut cenderung kurang mampu
untuk memberikan perlindungan (edge effect). Jika suatu habitat terfragmentasi,
maka luas daerah tepi akan bertambah, dengan kata lain luas zona habitat yang
aman bagi jenis-jenis makhluk hidup akan semakin berkurang.
Fragmentasi habitat juga dapat mengancam kelestarian suatu organisme, karena
dapat memperkecil potensi suatu spesies untuk menyebar dan
berkolonisasi. Banyak jenis-jenis burung, mamalia, dan serangga di pedalaman
hutan menjadi tidak mampu untuk menjelajah ke tempat lain karena koridornya
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
48
terputus oleh jalan raya, perkotaan, dan lain-lain. Penurunan kemampuan jelajah
hewan ini dapat berakibat pula pada penurunan penyebaran tumbuhan yang
mekanisme dispersalnya bergantung pada hewan tersebut.
Di beberapa negara, proses fragmentasi habitat yang memang tidak dapat
terelakkan diimbangi dengan upaya yang dapat memfasilitasi jenis-jenis hewan
untuk dapat melintasi daerah terbuka secara aman. Upaya tersebut diantaranya
dengan membangun koridor yang aman bagi hewan untuk melintas (Gambar
2.8).
Gambar 2.8. Koridor untuk mengatasi fragmentasi habitat
(sumber: https://firstforwildlife.wordpress.com)
3. Degradasi Habitat
Komunitas di suatu habitat dapat mengalami degradasi walaupun habitat
tersebut tidak langsung terlihat kerusakannya. Faktor eksternal tersebut dapat
dengan bebas masuk ke dalam suatu habitat. Salah satu contohnya adalah
pencemaran air atau udara. Limbah atau bahan kimia berbahaya baik dalam
bentuk gas, cair, maupun padat akan mengancam komunitas pada suatu habitat
yang dilaluinya.
Beberapa contoh kasus berdampak langsung terhadap hidupan liar. Misalnya, 4
jenis amfibia sering terjebak dalam botol dan sampah, 18 jenis reptil terjebah
dalam perangkap udang, jaring atau kantung plastik; 49 jenis burung sering
terkena tali pancing atau jaring ikan, 49 mamalia laut terperangkap pada tali,
jaring dan sesampahan; 97 jenis invertebrata laut terkena pancing, terjebak
dalam kantung plastik, botol minumandan sesampahan lainnya; 46 jenis ikan
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
49KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
49
terjebak dalam tali pancing, jaring atau kantung plastik; dan 4 jenis coral dan
spons terkena pancing atau sampah (Ocean Conservancy, 2012).
4. Penggunaan spesies yang berlebih untuk kepentingan manusia
Pemanfaatan suatu jenis hewan atau tumbuhan di alam akan berakibat
menurunnya jumlah populasi jenis tersebut bahkan punah. Oleh karena itu
pemanfaatan suatu jenis tersebut harus dilakukan dengan berdasarkan prinsip
penggunaan yang berkelanjutan, yaitu pemanenan dari suatu jenis di alam pada
periode tertentu dilakukan berdasarkan keberadaan dan tingkat pembaharuan
oleh proses pertumbuhan secara alami.
5. Introduksi spesies-spesies eksotik
Pertumbuhan populasi manusia yang sangat tinggi telah mengubah cara
pandang manusia secara ekonomi untuk pemenuhan segala kebutuhannya. Dari
segi pertanian misalnya, dampak yang ditimbulkan adalah adanya perubahan
sebaran spesies, terutama spesies yang mempunyai nilai ekonomi. Manusia
dengan sengaja membawa atau mendatangkan jenis-jenis hewan peliharaan dan
tumbuhan budidaya dari suatu tempat ke tempat lain untuk dibudidayakan
(introduksi). Akibatnya banyak jenis hewan maupun tumbuhan yang berkembang
biak bukan di habitat aslinya. Banyak jenis-jenis introduksi ini yang kemudian
menjadi liar di komunitas lokal. Selain itu proses introduksi dapat pula terjadi
secara alami atau tidak disengaja. Misalnya tikus dan serangga yang terbawa
kapal laut atau kapal udara, atau biji tanaman terbawa oleh manusia.
Dua kemungkinan yang akan berlaku untuk jenis-jenis introduksi tersebut yaitu
tidak dapat bertahan hidup di daerah barunya karena lingkungan baru tersebut
tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya, atau dapat bertahan hidup bahkan
membentuk koloni di tempat barunya yang akan bertambah besar jumlah
populasinya. Biasanya koloni ini akan berkompetisi dengan organisme lokal
untuk mendapatkan bahan makanan yang jumlahnya terbatas. Akibatnya hewan
atau tumbuhan introduksi dapat mengubah habitat lokal, sehingga organisme asli
tidak dapat hidup lagi di tempat itu.
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
50
6. Karakter spesies terhadap kepunahan
Secara alamiah, semua spesies mempunyai potensi yang berbeda-beda untuk
menjadi punah. Kerentanan suatu jenis terhadap kepunahan umumnya
ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Spesies yang mempunyai sebaran geografis sempit, umumnya rentan
terhadap kerusakan habitat oleh kegiatan manusia.
b. Spesies yang terdiri dari satu atau sedikit populasi akan sangat rentan
terhadap kerusakan habitat dibandingkan dengan spesies yang terdiri dari
banyak populasi
c. Spesies yang memiliki ukuran populasi yang kecil akan mudah punah akibat
pengaruh variasi demografi dan lingkungan serta hilangnya
keanekaragaman genetik bila dibandingkan dengan spesies yang berukuran
populasinya yang besar.
d. Spesies yang ukuran populasinya cenderung menurun akan mudah punah
bilamana penyebab penurunan tidak dapat diketahui dan diperbaiki.
e. Spesies yang memiliki densitas rendah per satuan luas, terutama pada
kawasan yang terfrsgmentasi akan mudah mengalami kepunahan.
f. Spesies yang memerlukan jelajah yang luas akan sangat rentan terhadap
kepunahan bilamana wilayah jelajahnya dirusak atau mengalami
fragmentasi.
g. Hewan yang mempunyai ukuran tubuh yang besar akan memiliki wilayah
jelajah yang luas serta makanan yang lebih banyak secara individu, serta
rentan untuk diburu maupun dirusak wilayah jelajahnya maupun habitat
untuk mencari makan dan minumnya.
h. Spesies yang tidak memiliki kemampuan menyebar yang baik di alam akan
sangat rentan terhadap perubahan dan perusakan habitat, karena spesies
tersebut tidak mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
i. Spesies yang bermigrasi musiman akan sangat rentan terhadap kepunahan
karena ketidakmampuan bertahan di habitatnya.
j. Spesies yang mempunyai keanekaragaman genetik yang rendah akan lebih
banyak kemungkinan punah karena penyakit, atau perubahan lingkungan.
k. Spesies yang memiliki relung tertentu akan rentan terhadap kepunahan
apabila relung tempat hidupnya rusak.
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
51KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
51
Upaya Konservasi Keanekaragaman Hayati
Walaupun Indonesia termasuk ke dalam negara megabiodiversitas, namun
karena pemanfaatan sumber daya alamnya yang belum dikelola secara
bijaksana membuat Indonesia termasuk ke dalam salah satu kawasan yang
tingkat kepunahan biodiversitasnya sangat tinggi di dunia (Sutarno, 2015).
Dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati global, para konservasionis
telah menetapkan kawasan-kawasan yang menjadi prioritas utama konservasi
yang diistilahkan dengan biodiversity hotspot. Penetapan hotspot tersebut
dilakukan dengan mengidentifikasi kawasan yang memiliki konsentrasi yang
sangat tinggi dari jenis-jenis hewan endemik yang terancam oleh hilangnya
habitat secara luar biasa.
Secara spesifik, suatu daerah hotspot biodiversitas dunia secara ketat harus
memenuhi dua kriteria, yaitu:
1. harus memiliki minimal 1.500 tumbuhan vaskular endemik yang tidak
tergantikan
2. harus memiliki 30% atau kurang dari vegetasi alami asli, sehingga cukup
terancam.
Gambar 2.9. Peta sebaran 25 kawasan Diversity Hotspot di dunia, termasuk diantaranya
kawasan Sundaland (Paparan Sunda) dan Wallacea
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
MODUL A
52
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
Gambar 2.10. Tabel 25 kawasan Hotspot Diversity (Myers, dkk., 2000)
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK MODUL A
53
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
Hasilnya terdapat 25 hotspot diseluruh dunia yang memiliki luas hanya 1,4% dari
permukaan daratan Bumi yang dihuni oleh 44% spesies tumbuhan vaskular dan
35% spesies hewan vertebrata di seluruh dunia (Gambar 2.9 dan 2.10).
Kawasan Indonesia termasuk ke dalam salahsatu “hotspot” prioritas konservasi
dunia, yaitu kawasan Sundaland (Nusantara Barat) atau kita kenal dengan
Kawasan Asiatis/Orientalis dan kawasan Wallace. Sedangkan sebagian wilayah
Indonesia lainnya termasuk ke dalam salah satu katagori kawasan kawasan
alami dengan biodiversitas yang tinggi, yaitu Sahulland (Nusantara Timur) atau
kita kenal dengan Kawasan Australis (Mittermeier, 2000). Lautan Indonesia juga
memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi karena menjadi pusat
segitiga karang dunia.
Sebagai contoh kasus dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati, adanya
ancaman deforestasi yang begitu tinggi di pulau Kalimantan seiring dengan
meningkatnya permintaan dunia terhadap minyak sawit, maka ditetapkanlah
kawasan Heart of Borneo (HoB) sebagai kawasan konservasi internasional. Luas
kawasan HoB tersebut yaitu 30% dari luas Pulau Borneo, yang mencakup lebih
dari 22 juta hektar hutan hujan tropis dari tiga negara, yaitu Indonesia
(Kalimantan), Malaysia (Sabah dan Sarawak), dan Brunei Darussalam. Kawasan
ini adalah hamparan terbesar yang tersisa dari hutan tropis yang melintas batas
negara di Asia Tenggara (Van Paddenburg et al. 2012).
Gambar 2.11. Kawasan Heart of Borneo
(sumber: http://www.wwf.org.au)
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
54
Adanya ancaman deforestasi yang begitu tinggi di pulau Kalimantan seiring
dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap minyak sawit, maka
ditetapkanlah kawasan Heart of Borneo (HoB) sebagai kawasan konservasi
internasional (Gambar 2.10). Luas kawasan HoB tersebut yaitu 30% dari luas
Pulau Borneo, yang mencakup lebih dari 22 juta hektar hutan hujan tropis dari
tiga negara, yaitu Indonesia (Kalimantan), Malaysia (Sabah dan Sarawak), dan
Brunei Darussalam. Kawasan ini adalah hamparan terbesar yang tersisa dari
hutan tropis yang melintas batas negara di Asia Tenggara (Van Paddenburg et
al. 2012).
Visi yang ingin dicapai melalui inisiatif Heart of Borneo adalah terwujudnya
pengelolaan dan konservasi yang efektif di kawasan hutan hujan ekuator Heart
of Borneo yang meliputi 23 juta hektar melalui jejaring kawasan lindung, hutan
produksi dan penggunaan lahan yang berkelanjutan, yang memberi manfaat bagi
masyarakat dan alam, melalui kerjasama internasional yang dipimpin oleh
masing-masing pemerintah negara di Borneo (Indonesia, Malaysia, dan Brunei
Darussalam), yang didukung oleh industri dan upaya global yang berkelanjutan.
Misi pengelolaan kawasan Heart of Borneo adalah pada tahun 2020:
1. Duapuluh tiga juta hektar jejaring kawasan lindung, cadangan lintas batas,
dan koridor dikelola secara berkelanjutan dan zona penyangga berfungsi
untuk menjamin masa depan semua spesies prioritas dan kawasan HoB
endemik didirikan.
2. Tidak ada konversi hutan yang bernilai konservasi tinggi untuk penggunaan
lahan lain di kawasan HoB.
3. Mekanisme pembiayaan jangka panjang memberikan manfaat diversifikasi
dan adil bagi masyarakat lokal dan pemerintah, dan meningkatkan barang
dan jasa ekosistem.
Program atau inisiatif Heart of Borneo dikembangkan tidak hanya untuk tujuan-
tujuan konservasi semata, namun lebih penting lagi bertujuan untuk
pembangunan berkelanjutan di kawasan HoB. Lingkungan dan keanekaragaman
hayati merupakan pilar-pilar program HoB selain sosial ekonomi dan
pengembangan institusi. Oleh karena itu, khusus di wilayah Indonesia, kerjasama
lintas sektoral dan peran serta aktif pemerintah propinsi dan kabupaten di
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
55KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
55
kawasan HoB menjadi sangat penting. Pemberdayaan dan peran serta
masyarakat lokal, yaitu masyarakat lokal yang berinteraksi langsung dengan
sumberdaya alam di kawasan HoB, harus menjadi bagian pokok dalam
pembangunan di kawasan HoB.
Secara terperinci, tujuan pengelolaan kawasan Heart of Borneo adalah sebagai
berikut:
1. Mendorong pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan di jejaring kawasan
konservasi, kawasan lindung serta hutan produksi dan penggunaan lahan
lainnya;
2. Terwujudnya implementasi kebijakan dan penegakan hukum yang
mendukung pengelolaan kawasan HoB secara berkelanjutan dengan
memperhatikan perjanjian multilateral dan bilateral yang ada.
3. Terwujudnya pembangunan berkelanjutan berbasis kaidah-kaidah ilmiah dan
kearifan lokal bagi peningkatan kesejahteraaan masyarakat melalui
penerapan pengelolaan berkelanjutan, perlindungan, pendidikan dan
pelatihan, maupun kegiatan lainnya yang relevan dengan pengelolaan lintas
batas, konservasi dan pengembangan wilayah di kawasan HoB.
Sebagai tindaklanjut deklarasi Heart of Borneo, pemerintah ketiga negara
menyusun rencana aksi yang disebut sebagai Heart of Borneo Strategic Plan of
Action (HoB SPA). Beberapa program yang disepakati bersama dalam dokumen
ini adalah:
1. Pengelolaan kawasan lintas batas negara
Ketiga negara memahami adanya perbedaaan pemanfaatan lahan di kawasan
perbatasan, sehingga penting untuk meningkatkan kerjasama lintas batas dalam
kegiatan pengelolaan hutan dan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan.
Tujuan program pengelolaan kawasan lintas batas negara adalah untuk
mengatasi isu-isu pengelolaan sumberdaya alam dan kesejahteraan sosial
ekonomi masyarakat lokal di kawasan perbatasan.
2. Pengelolaan kawasan lindung
Peran kawasan lindung sangat penting dalam upaya mempertahankan fungsi
dan potensinya, sehingga pengelolaan secara efektif menjadi penting melalui
konservasi kekayaan keanekaragaman hayati. Tujuan program pengelolaan
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
56
kawasan lindung adalah untuk meningkatkan dan mempromosikan pengelolaan
yang efektif kawasan lindung di kawasan HoB, dengan penekanan pada
perbatasan, dalam upaya untuk menglestarikan dan memelihara
keanekaragaman hayati hutan serta keterkaitan ekologisnya.
3. Pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan;
Kegiatan industri kehutanan, pertanian dan industri lainnya perlu dilakukan
dengan mengikuti kaidah-kaidah konservasi dan pembangunan berkelanjutan.
Hal ini untuk menjaga keberadaan tutupan hutan, kekayaan keanekaragaman
hayati dan fungsi sebagai menara air bagi kawasan di bawahnya. Tujuan
program pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan adalah untuk
mengelola sumberdaya alam di luar jejaring kawasan lindung melalui
pengembangan dan implementasi pemanfaatan lahan yang berkelanjutan.
4. Pengembangan ekowisata;
Pengembangan Ekowisata merupakan salah satu pilar pengembangan sosial
ekonomi, sehinga kerjasama antar negara HoB sangat penting dengan
mempertimbangkan perencanaan ekowisata di masing-masing negara. Tujuan
program pengembangan ekowisata adalah untuk mengenal dan melindungi nilai
alam yang khusus dan tempat-tempat budaya di kawasan HoB.
5. Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia.
Pengembangan kapasitas bagi sebagian besar masyarakat di kawasan HoB
diperlukan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan produk hutan dan
pertanian dalam upaya menuju kelestarian hasil. Tujuan program peningkatan
kapasitas sumberdaya manusia adalah untuk memastikan implementasi inisiatif
Heart of Borneo yang efektif di semua tingkat, baik di publik dan sektor swasta
dan di tingkat masyarakat lokal.
D. AKTIVITAS PEMBELAJARAN
Lembar Kegiatan 1
Tingkat Keanekaragaman Hayati
1. Tujuan
a. Mengidentifikasi keragaman ciri morfologi dalam satu spesies
b. Menjelaskan konsep keanekaragaman hayati tingkat genetik
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
57KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
57
2. Alat dan Bahan
a. Alat tulis
b. Kamera
3. Cara Kerja
a. Mengamati berbagai ciri morfologi manusia dalam satu kelompok,
yang meliputi bentuk hidung, bentuk telinga, warna rambut, bentuk
rambut, warna iris mata, dan warna kulit.
b. Jika memungkinkan, ambilah gambar karakter morfologi tersebut
dengan kamera
c. Mencatat deskripsi ciri morfologi pada tabel.
4. Hasil Pengamatan
Tabel pengamatan
No. Nama
Bentuk
hidung
Bentuk
telinga
Warna
Rambut
Bentuk
Rambut
Warna
iris
mata
Warna
kulit
1.
2.
3.
...
5. Pertanyaan
a. Berdasarkan hasil pengamatan Saudara, keanekaragaman morfologi
tersebut mencerminkan tingkat keanekaragaman hayati pada level
mana? Jelaskan alasan Saudara!
b. Faktor apa yang memengaruhi adanya variasi morfologi tersebut?
Lembar Kegiatan 2
Keanekaragaman Jenis Tumbuhan
1.Tujuan
a. Mendeskripsikan karakter morfologi tumbuhan
b. Mengidentifikasi keanekaragaman jenis tumbuhan berdasarkan
karakter morfologi
2.Alat dan Bahan
a. Berbagai jenis tumbuhan di lingkungan sekitar
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
58
b. Gunting/pisau/cutter
c. Kaca pembesar
d. Alat tulis
3.Cara Kerja
a. Mengamati berbagai jenis tumbuhan yang ada di sekitar kelas.
b. Mendeskripsikan ciri morfologi tumbuhan yang meliputi daun, bunga,
buah, dan batang
c. Mencatat deskripsi ciri morfologi pada tabel.
4.Hasil Pengamatan
Tabel pengamatan
No. Nama Jenis
Daun
Bunga Buah
Batang
Bentuk Tulang
Daun
Bentuk Kayu
1.
2.
3.
...
5.Pertanyaan
a. Ada berapa jenis bentuk daun yang Saudara amati? Sebutkan contoh
jenis tumbuhannya.
b. Ada berapa jenis bentuk pertulangan daun yang Saudara amati?
Sebutkan contoh jenis tumbuhannya.
c. Ada berapa jenis morfologi bunga yang Saudara amati? Sebutkan
contoh jenis tumbuhannya.
d. Ada berapa jenis buah yang Saudara amati? Sebutkan contoh jenis
tumbuhannya.
Ada berapa jenis bentuk penampang melintang batang yang Saudara
Amati? Sebutkan contoh jenis tumbuhannya.
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
59KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
59
E. LATIHAN/ KASUS /TUGAS
1. Dampak yang terjadi terhadap kesejahteraan manusia dari adanya
keanekaragaman genetik pada organisme adalah:
a. Mengurangi tingkat kesejahteraan dan sumber plasma nutfah
b. Memperkaya sumber plasma nutfah untuk menciptakan bibit baru
c. Rekayasa genetika dapat merusak keberadaan plasma nutfah.
d. Menyulitkan pengenalan sumber alam hayati secara menyeluruh
2. Keunikan jenis-jenis hewan yang tersebar di daerah Australis, yaitu ….
a. banyak hewan berkantung
b. banyak jenis-jenis hewan primata
c. spesies mamalia berukuran tubuh besar
d. banyak jenis burung yang bersuara merdu
3. Faktor yang tidak mempengaruhi pola penyebaran fauna di Indonesia
yaitu ...
a. Pergerakan lempeng bumi
b. Adanya barrier geologis
c. Upaya introduksi jenis makhluk hidup
d. Tipe flora dan fauna dari daerah penyangganya
4. Jenis kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang panjang, kacang
buncis, dan kacang kedelai, merupakan contoh dari keanekaragaman
hayati tingkat ....
a. Genetik c. populasi
b. Jenis d. Ekosistem
5. Salahsatu faktor yang dapat menyebabkan kepunahan makhluk hidup
yaitu ....
a. Penangkaran hewan langka di luar habitatnya
b. Penggunaan bibit unggul secara masif
c. Pengendalian overpopulasi pada hewan
PPPPTK IPA
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
60
d. Pembangunan koridor pada habitat yang terfragmentasi
F. RANGKUMAN
Indonesia merupakan salahsatu dari 17 negara yang termasuk ke dalam negara
megabiodiversitas, yaitu negara yang mempunyai tingkat keanekaragaman
hayati yang sangat tinggi. Namun karena pemanfaatan sumber daya alamnya
yang belum dikelola secara bijaksana Indonesia termasuk ke dalam salah satu
kawasan yang tingkat kepunahan biodiversitasnya sangat tinggi pula di dunia.
Dilihat dari sisi geografis, Indonesia merupakan kawasan yang unik karena
merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terletak pada garis khatulistiwa,
dan terletak diantara dua benua dan dua samudera. Keunikan tersebut sangat
memengaruhi pola sebaran hayati. Para ilmuwan telah meneliti pola sebaran
hayati di Indonesia, dan membagi Indonesia menjadi tiga daerah yang dibatasi
oleh Garis Wallacea dan Garis Weber. Ketiga daerah tersebut mempunyai tipe
makhluk hidup yang berbeda-beda. Daerah paling barat Indonesia yang dibatasi
oleh Garis Wallacea merupakan kawasan Orientalis. Daerah paling timur yang
dibatasi oleh Garis Weber merupakan kawasan Australis. Sedangkan daerah
yang berada di tengah-tengah yang dibatasi oleh garis Wallaceae dan Weber
disebut dengan kawasan Wallacea atau kawasan peralihan.
Keanekaragaman hayati dapat dilihat dari tiga tingkat, yaitu keanekaragaman
hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem. Keanekaragaman hayati tingkat genetik
mempunyai arti bahwa keanekaragaman tersebut merupakan keanekaragaman
yang disebabkan oleh variasi genetik. Keanekaragaman hayati tingkat jenis
merupakan keanekaragaman yang terjadi sebagai akibat dari adanya variasi
berbagai jenis makhluk hidup. Dengan kata lain keanekaragaman ini dapat kita
amati mulai dari tingkat marga. Keanekaragaman hayati tingkat ekosistem
merupakan keanekaragaman yang terbentuk sebagai akibat dari adanya variasi
interaksi kelompok makhluk hidup dengan lingkungannya.
Manfaat keanekaragaman hayati secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga
hal, yaitu:
1. Jasa Ekosistem, seperti: air minum yang bersih, pembentukan dan
perlindungan tanah, penyimpanan dan daur hara, mengurangi dan menerap
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
61KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
KELOMPOK KOMPETENSI A
61
polusi berkontribusi terhadap stabilitas iklim, pemeliharaan ekosistem, dan
penyerbukan tanaman.
2. Sumber daya hayati, seperti: makanan, obat-obatan, bahan baku industri,
tanaman hias, stok untuk pemuliaan dan penyimpanan populasi.
3. Manfaat sosial, seperti: pendidikan rekreasi dan penelitian, serta budaya.
4. Beberapa hal yang dapat menyebabkan kepunahan diantaranya:
a. Perusakan Habitat
b. Fragmentasi Habitat
c. Degradasi Habitat
d. Penggunaan spesies yang berlebih untuk kepentingan manusia
e. Introduksi spesies-spesies eksotik
f. Karakter spesies terhadap kepunahan
Dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati global, para konservasionis
telah menetapkan kawasan-kawasan yang menjadi prioritas utama konservasi
yang diistilahkan dengan biodiversity hotspot. Penetapan hotspot tersebut
dilakukan dengan mengidentifikasi kawasan yang memiliki konsentrasi yang
sangat tinggi dari jenis-jenis hewan endemik yang terancam oleh hilangnya
habitat secara luar biasa. Terdapat 25 hotspot di seluruh dunia yang memiliki
luas hanya 1,4% dari permukaan daratan Bumi yang dihuni oleh 44% spesies
tumbuhan vaskular dan 35% spesies hewan vertebrata di seluruh dunia.
Kawasan Sundaland dan Wallacea termasuk salahsatu dari 25 hotspot diversity.
G. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT
Setelah Saudara mempelajari keanekaragaman hayati dan biosistematika
menggunakan modul ini, diharapkan Saudara dapat lebih memahami keterkaitan
antara faktor-faktor penyebab dengan tingkat keanekaragaman hayati, manfaat
keanekaragaman hayati dalam kehidupan, upaya pelestarian keanekaragaman
hayati, serta dasar-dasar klasifikasi keanekaragaman hayati. Jika ada hal-hal
yang dinilai belum tercapai, rencanakan apa yang akan Saudara lakukan untuk
mencapai kompetensi tersebut.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
62
Kegiatan pembelajaran kelompok kompetensi A topik Struktur dan Fungsi
Jaringan membahas tentang jenis-jenis jaringan pada tumbuhan dan hewan.
Selain membahas jenisnya, dibahas pula mengenai fungsi jaringan tersebut.
Bahan ajar ini berisi uraian materi dan praktikum yang mengacu pada standar isi
di Sekolah Menengah Atas untuk mata pelajaran Biologi. Modul pelatihan ini
disusun sebagai bahan belajar guru untuk mencapai kompetensi sesuai dengan
kompetensi guru mata pelajaran yang telah ditetapkan.
A. Tujuan
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran II diharapkan guru dapat:
1. menyebutkan dengan tepat ciri-ciri serta contoh jaringan penyusun pada
organ-organ tumbuhan melalui kegiatan diskusi dan mengkaji modul;
2. menjelaskan secara tepat fungsi jaringan-jaringan penyusun organ pada
tumbuhan melalui kegiatan mengkaji modul.
3. mengidentifikasi jaringan-jaringan tumbuhan melalui kegiatan pengamatan di
laboraotorium.
4. mengidentifikasi jaringan-jaringan hewan melalui kegiatan pengamatan di
laboraotorium.
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan
beberapa indikator tentang struktur dan fungsi jaringan berikut ini.
1. Menyebutkan ciri-ciri jaringan meristem.
2. Menyebutkan contoh-contoh jaringan meristem.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3:
STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
MAKHLUK HIDUP
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
63
3. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan epidermis dan fungsinya
pada tumbuhan
4. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan dasar dan fungsinya pada
tumbuhan.
5. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan penyokong dan fungsinya
pada tumbuhan
6. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan pengangkut dan fungsinya
pada tumbuhan
7. Menjelaskan struktur dan fungsi jaringan epitel pada hewan atau manusia.
8. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan penunjang dan fungsinya
pada hewan.
9. Menjelaskan struktur dan fungsi saraf pada manusia.
10. Melakukan pengamatan jaringan epitel hewan dengan menggunakan
mikroskop.
C. Uraian Materi
Jaringan Tumbuhan
Tumbuhan adalah makhluk hidup multiseluler yang memiliki kerumitan dalam
strukturnya apabila diamati dengan mikroskop. Dari pengamatan tersebut dapat
diidentifikasi keberadaan sel-sel yang berlainan bentuk dan fungsinya, juga
didapati jaringan yang beragam di berbagai tempat, bahkan ditemui pula jaringan
yang serupa di tempat yang berbeda-beda. Pengetahuan tentang jaringan apa
saja yang menyusun organ-organ tumbuhan dapat memudahkan kita untuk
memahami bagaimana suatu tumbuhan bisa hidup dan menjalani fungsinya.
Jaringan Meristem dan Fungsinya
Pengertian jaringan adalah sekumpulan sel dengan bentuk dan fungsi yang
sama. Dengan demikian, jaringan meristem dapat diartikan sebagai sekumpulan
sel dengan bentuk dan fungsi yang sama serta memiliki sifat meristematik. Sel-
sel meristematik tersebut aktif membelah sehingga menghasilkan sel-sel anakan
yang banyak. Sebagian sel-sel anakan tersebut ada yang tetap mempertahankan
diri sebagai meristem sementara sel-sel anakan yang lain akan mengalami
diferensiasi (perubahan bentuk dan fungsi). Sel-sel yang mengalami diferensiasi
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
64
tersebut keluar dari meristem dan akhirnya menjadi tergabung ke dalam jaringan
lain dan menjadi suatu bagian utama dari tumbuhan. Kelompok jaringan ini akan
menjadi jaringan permanen.
Berdasarkan asal pembentukannya, jaringan meristem dapat dikelompokkan
menjadi tiga macam, yaitu promeristem, meristem primer, dan meristem
sekunder. Promeristem adalah jaringan meristem yang telah ada ketika
tumbuhan masih dalam tingkat embrio. Sementara meristem primer merupakan
jaringan meristem yang ditemukan pada tumbuhan dewasa serta biasa
ditemukan pada ujung batang (yang mengakibatkan tumbuhan bertambah tinggi)
dan ujung akar (yang mengakibatkan akar bertambah dalam/panjang). Jaringan
meristem primer di bagian ujung batang dan ujung akar tersebut dinamakan juga
meristem apikal. Kelompok terakhir meristem adalah meristem sekunder, yaitu
jaringan meristem yang berasal dari jaringan yang telah mengalami diferensiasi.
Contoh meristem sekunder adalah kambium. Kambium menyebabkan
pertumbuhan sekunder yang ditandai dengan membesarnya batang pada
tumbuhan dikotil dan Gymnospermae. Kambium tumbuh ke arah luar membentuk
kulit batang dan ke arah dalam membentuk kayu. Pada masa pertumbuhan,
kambium yang tumbuh ke arah dalam lebih aktif dibandingkan dengan kambium
yang tumbuh kearah luar. Hal ini menyebabkan kulit batang lebih tipis
dibandingkan kayu.
Berdasarkan posisinya, jaringan meristem dibedakan menjadi meristem apikal,
meristem lateral, dan meristem interkalar.
Jaringan Epidermis Tumbuhan
Jaringan epidermis selalu terletak paling luar pada setiap organ tumbuhan. Anda
dapat membayangkan lapisan epidermis ini sebagai kulit manusia, atau pakaian
yang melindungi. Jelas artinya bahwa fungsi lapisan epidermis adalah
melindungi bagian dalam organ bersangkutan dari keadaan seperti hilangnya air
karena penguapan, kerusakan mekanik, perubahan suhu, dan hilangnya zat-zat
makanan.
Jaringan epidermis memiliki beberapa ciri antara lain:
1. terdiri dari sel-sel hidup;
2. berbentuk persegi panjang;
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
65
3. sel-selnya rapat tanpa ruang antarsel;
4. tidak memiliki klorofil;
5. mampu membentuk modifikasi jaringan epidermis. Beberapa modifikasi
epidermis antara lain adalah stomata, spina (duri), sel kipas, sel kersik, dan
trikomata (rambut-rambut).
Seperti yang Anda amati pada gambar 2.64 dan gambar 2.65 terdapat lapisan
jaringan epidermis yang membatasi organ dengan lingkungan luarnya. Lapisan
epidermis menjadi jaringan yang tipis (umumnya 1 lapis sel) dan karena
lokasinya tersebut, epidermis menjadi tempat untuk terjadinya pertukaran zat.
Pada batang dan daun (atau bagian manapun dari tumbuhan yang berada di
atas tanah) sebenarnya lapisan epidermis dilindungi oleh kutikula (senyawa
lemak) sebagai pelindung tambahan, terutama membantu tumbuhan menekan
laju penguapan air dari daun, batang, dan biji. Selain itu pula melindungi dari
patogen, kerusakan akibat gangguan fisik/mekanis.
Gambar 3.1. Jaringan pada daun dengan sel-sel epidermis
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
66
Gambar 3.2. letak epidermis terhadap jaringan lainnya pada penampang melintang
batang tumbuhan
Jaringan Dasar (Parenkim)
Jaringan dasar dikenal dengan istilah parenkim. Disebut jaringan dasar karena
jaringan ini ditemukan hampir di setiap bagian tumbuhan baik pada akar, batang,
daun, daging buah, atau endosperm. Begitu pula jaringan ini dapat ditemukan di
setiap jenis tumbuhan. Pada batang yang dipotong melintang, Anda amati bahwa
sebagian besarnya pasti adalah jaringan dasar ini. Alasan selain itu karena
parenkim juga terdapat di antara jaringan lain misalnya di antara xylem dan
floem.
Ciri-ciri jaringan parenkim yang membedakanya dengan jaringan lain adalah:
1. sel-selnya merupakan sel hidup yang berukuran besar dan tipis, serta
umumnya berbentuk segi enam;
2. memiliki banyak vakuola;
3. letak inti sel mendekati dasar sel;
4. mampu bersifat merismatik karena dapat membelah diri; dan
5. memiliki ruang antar sel yang banyak sehingga letaknya tidak rapat.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
67
Gambar 3.3. Jaringan parenkim
Pada gambar 3.3 Anda dapat mengamati sel-sel pada jaringan dasar yang
ukuran selnya besar-besar (ruang vakuolanya besar), bentuknya bervariasi,
dinding sel tipis, serta ruang antar sel yang renggang. Oleh karena jaringan
dasar ini dapat ditemukan di setiap tumbuhan, maka fungsi jaringan ini berbeda-
beda untuk setiap tumbuhan yang berbeda. Misalnya pada tumbuhan kaktus,
jaringan dasar akan berfungsi menyimpan air. Pada tumbuhan eceng gondok,
jaringan dasar/parenkim akan menyimpan udara pada ruang antar sel. Pada
umbi-umbian, maka jaringan dasar akan berfungsi menyimpan cadangan
makanan.
Jaringan Penyokong
Jaringan penyokong dikenal juga dengan nama jaringan mekanik, jaringan
penunjang, atau jaringan penguat. Anda bisa membayangkannya seperti tulang
pada tubuh manusia, jaringan inilah yang menunjang bentuk tumbuhan hingga
dapat berdiri dengan kokoh. Jaringan ini menguatkan karena memiliki sel-sel
dengan dinding sel yang tebal dan kuat, juga karena sel-selnya telah mengalami
spesialisasi. Jaringan penyokong berfungsi untuk menguatkan/menegakkan
batang dan daun, melindungi biji atau embrio, serta melindungi berkas
pengangkut (vaskuler). Ada 2 jenis jaringan penyokong, yaitu jaringan kolenkim
dan jaringan sklerenkim.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
68
Jaringan Kolenkim
Sifat utama dari jaringan kolenkim adalah sel-sel penyusunnya hidup dan dinding
selnya banyak mengandung selulosa. Sifatnya mirip jaringan parenkim, dan
dapat dianggap sebagai jaringan parenkim khusus yang menunjang organ muda
pada tumbuhan. Kolenkim terdapat langsung di bawah atau dekat permukaan
batang muda dan tangkai daun muda, namun jarang ditemukan pada akar.
Gambar 3.4. Jaringan kolenkim
Sel-sel kolenkim mengalami penebalan di sudut-sudut selnya, tidak merata pada
seluruh permukaan dinding sel. Dinding selulosa yang tebal pada kolenkim
menyebabkan organ bersangkutan memiliki sifat lentur. Oleh karena itu, kolenkim
baik sekali untuk menopang organ yang aktif tumbuh karena sel-selnya dapat
meregang untuk menyesuaikan diri dengan perpanjangan organ.
Jaringan Sklerenkim
Jaringan sklerenkim merupakan jaringan penunjang pada organ tumbuhan yang
telah dewasa. Dengan demikian sel-sel dewasa jaringan skerenkim telah mati
dan memiliki dinding sel yang tebal, biasanya berlignin (mempunyai zat kayu).
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
69
Gambar 3.5. Jaringan sklerenkim
Ada 2 kelompok besar jaringan sklerenkim, yaitu:
1. Serabut/serat. Serabut merupakan sel yang panjang dan sempit yang
berujung runcing. Sel-sel ini biasanya berkumpul menjadi sebuah jalur
panjang, sementara ujung-ujungnya yang runcing bertumpang tindih dan
menyatu dengan kuat. Serabut sklerenkim terdapat pada sebagian besar
bagian tumbuhan.
2. Sklereid merupakan sel-sel tumbuhan yang telah mati, bentuknya
bervariasi dan berdinding keras yang tahan terhadap tekanan. Sklereid
dapat dijumpai dalam keadaan tunggal atau berkelompok kecil di antara
sel-sel lain, misalnya butiran pada daging buah jambu biji dan buah pir.
Sklereid pada batok kelapa adalah contoh yang baik dari bagian tumbuhan
yang mengandung serabut dan sklereid.
Jaringan Pengangkut
Nama lain jaringan pengangkut adalah berkas vaskular. Sebagaimana namanya
yaitu vaskular (pembuluh), jaringan ini berwujud saluran/pipa. Anda dapat
membayangkan jaringan pengangkut ini sebagai pipa-pipa pembuluh darah yang
mengantarkan oksigen dan zat makanan ke seluruh bagian tubuh. Jaringan
pengangkut ini berfungsi mengangkut air dan unsur hara, serta mengedarkan zat
makanan hasil fotosintesis dari satu bagian ke bagian lain tumbuhan.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
70
Jaringan pengangkut pada tumbuhan di bagi menjadi dua kelompok berdasarkan
fungsinya.
1. Xylem
Xylem (pembuluh kayu) berfungsi untuk menyalurkan air dan unsur hara dari
akar ke daun. Xylem merupakan jaringan pengangkut yang rumit. Xylem
tersusun dari parenkim dan serabut, serta trakeid, dan komponen pembuluh
(trakea). Sebagaimana telah diulas di atas, trakeid adalah sel-sel tumbuhan yang
dindingnya mengalami lignifikasi (penebalan oleh senyawa lignin) dan sel-selnya
akan mati setelah dewasa. Trakea yang membentuk xylem merupakan sel-sel
silinder yang mati setelah dewasa, bagian ujungnya saling menyatu membentuk
sebuah tabung pengangkut air bersel banyak. Dinding ujung (kadang-kadang
juga dinding samping) komponen pembuluh ini berlubang-lubang yang
merupakan tempat air lewat dengan bebas dari satu sel ke sel lain.
Gambar 3.6. Sel Trakeid
2. Floem
Floem (pembuluh tapis) merupakan jaringan yang berfungsi mengangkut lalu
menyalurkan zat-zat makanan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
71
tumbuhan. Jaringan floem sangat rumit, terdiri atas berbagai macam bentuk sel
dan diantaranya ada yang masih hidup dan ada pula yang telah mati.
Komponen floem antara lain adalah parenkim floem yang berfungsi menyimpan
cadangan makanan dan berperan sebagai sekat pemisah antara floem yang satu
dengan yang lain. Serabut floem merupakan jaringan sklerenkim yang berfungsi
untuk memperkuat jaringan pembuluh. Selain itu, komponen lain dari floem
adalah pembuluh tapis dan sel pengiring/penyerta.
Gambar 3.7. Sel-sel floem
a. Komponen floem memiliki ciri-ciri dinding sel yang tipis dan inti sel-nya
hilang. Sel-sel unsur tapis memanjang dan ujungnya bersatu membentuk
suatu pembuluh. Pada komponen pembuluh tapis, dinding ujungnya saling
berlekatan dengan dinding ujung sel di bawahnya atau di atas sehingga
membentuk deretan sel-sel memanjang yang disebut pembuluh tapis.
b. Sel pengiring/pengantar berukuran lebih kecil dibandingkan sel penyusun
komponen pembuluh tapis dan memiliki sifat meristematis. Sel pengiring
berperan untuk memberi makan sel-sel penyusun komponen pembuluh
tapis yang masih hidup. Sel pengiring hanya dijumpai pada Angiospermae.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
72
Jaringan Gabus
Jaringan gabus sering berfungsi menggantikan epidermis ketika lapisan
epidermis tersebut rusak karena usia atau faktor lain sehingga jaringan lain di
bawahnya terlindung dari kehilangan banyak air dan gangguan mekanik.
Jaringan gabus dibentuk oleh kambium gabus yang bernama felogen. Jaringan
gabus tersebut membentuk jaringan ke arah dalam yang tersusun dari sel-sel
hidup dan dinamakan feloderm. Sebaliknya, kambium gabus membentuk
jaringan ke arah luar yang tersusun dari sel-sel mati yang dinamakan felem.
Felem inilah yang bersifat tidak tembus air (impermeabel) karena dinding selnya
mengalami penebalan oleh suberin.
Gambar 3.8. Jaringan gabus
Jaringan Hewan
Hewan adalah makhluk hidup multiseluler lainnya selain tumbuhan yang memiliki
beraneka ragam jaringan. Jaringan pada hewan pada prinsipnya sama dengan
jaringan tumbuhan, yaitu tersusun dari sel-sel yang memiliki bentuk, ukuran, dan
fungsi serupa. Akan tetapi terdapat banyak perbedaan penampakan pada
jaringan hewan apabila diamati di bawah mikroskop disebabkan karena terdapat
perbedaan besar pada struktur sel hewan dibandingkan sel tumbuhan. Oleh
sebab itu pengamatan struktur jaringan dengan menggunakan mikroskop
menjadi keniscayaan yang akan memperkuat pemahaman Anda mengenai
materi struktur jaringan tumbuhan dan hewan.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
73
Jaringan pada hewan ada 2 kelompok utama, yaitu jaringan germinal dan
jaringan somatis. Jaringan germinal terletak di dalam gonad (organ yang
memproduksi sel sperma atau ovum) dan merupakan jaringan yang secara terus
menerus menghasilkan sel benih/sel kelamin. Sementara sebagian besar
jaringan lain adalah jaringan somatis/jaringan tubuh yang terdiri dari 4 jaringan
dasar, yaitu jaringan epitel, jaringan pengikat/penunjang, jaringan saraf, dan
jaringan otot.
Jaringan Epitel pada Hewan atau Manusia
Jaringan epitel merupakan lapisan terluar dari organ yang menjadi pemisah
antara organ dan lingkungan luarnya. Tersusun secara kompak dan tidak ada
ruang antarsel. Dengan demikian fungsi yang paling mendasar dari jaringan
epitel adalah menjadi pelindung bagi jaringan atau organ yang dibungkusnya.
Baik melindungi dari gangguan mekanis seperti gesekkan, benda tajam, tekanan,
panas, dan gangguan patogen/mikroorganisme atau senyawa berbahaya. Akan
tetapi fungsi epitel tidak semata melindungi saja, epitel memiliki fungsi-fungsi lain
yang pada dasarnya terkait dengan keberadaan strukturnya yang melapisi
bagian terluar organ-organ. Diantara fungsi-fungsi jaringan epitel tersebut
adalah:
1. Perlindungan
Jaringan epitel menutupi permukaan dalam organ, melindunginya dari gangguan
mekanis dari luar seperti panas, tekanan, gesekkan atau dari gangguan
mikroorganisme, senyawa berbahaya, atau melindungi dari kehilangan air yang
berlebihan
Sekresi
Jaringan epitel berperan sebagai kelenjar yang mengeluarkan zat-zat seperti
hormon, enzim, pelumas/lubrikasi agar permukaan epitel tetap basah (organ
tertentu).
2. Absorbsi
Jaringan epitel yang melapisi permukaan dalam usus membantu dalam proses
penyerapan nutrisi hasil pencernaan makanan.
3. Menerima rangsang/impuls
Jaringan epitel yang mengandung ujung saraf sensorik, misalnya pada lidah,
telinga, hidung, dan kulit.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
74
4. Ekskresi
Jaringan epitel yang mengekskresikan limbah seperti sel-sel eiptel kelenjar
keringat dan sel epitel di ginjal
5. Difusi
Jaringan epitel menjadi tempat terjadinya difusi gas atau cairan.
Berikut pembahasan jenis-jenis jaringan epitel berdasarkan bentuk serta
susunannya beserta fungsi yang dimilikinya.
1. Jaringan Epitel Selapis
Jaringan ini tersusun dari selapis sel. Berdasarkan bentuk sel‐sel penyusunnya,
jaringan ini diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Epitel pipih selapis
sel‐sel epitel ini pipih dan tipis, berisi sedikit sitoplasma yang membungkus inti di
bagian tengah. Sehingga berfungsi dalam pertukaran/difusi gas, zat, atau cairan.
Misalnya epitel yang terdapat di alveoli lapisan dalam pembuluh darah
(pertukaran O2 dan CO2), pembuluh limfe, kapsul Browman, dan dinding
pembuluh kapiler darah.
b. Epitel kubus selapis
Jaringan epitel kubus selapis berfungsi dalam sekresi dan melindungi. Contoh ini
terdapat pada permukaan ovarium, kelenjar tiroid, saluran neufron ginjal, retina
mata, dan kelenjar gondok.
c. Epitel silindris selapis
Epitel ini terdiri atas selapis sel berbentuk panjang dan sempit. Ada yang memiliki
silia pada permukaanya seperti di oviduk. Jaringan ini melapisi seluruh saluran
pencernaan yang diselingi oleh sel goblet yang menghasilkan mukus (lendir)
untuk melindungi lambung dari asam lambung misalnya pada lambung dan jonjot
usus, selain itu terdapat pula pada saluran pernapasan atas dan kantung
empedu.
d. Epitel selapis bersilia
Epitel bersilia terdiri atas sel‐sel yang berbentuk batang bersilia di tepi luar yang
berfungsi menghasilkan lendir untuk menangkap benda asing yang masuk.
Getaran silia menimbulkan aliran. Jaringan ini terdapat pada saluran pernapasan
atas/trakea.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
75
e. Epitel berlapis semu
Jika kita perhatikan akan tampak beberapa sel dengan
ketinggian berbeda karena tidak semua sel mencapai permukaan yang bebas.
Meskipun demikian, epitel ini terdiri atas selapis sel‐sel tebal dan tiap‐tiap selnya
melekat pada membran basal. Jaringan epitelium ini dapat kita jumpai
pada saluran kencing dan tenggorokan, uretra jantan, saluran reproduksi jantan,
serta epididimis (saluran sperma).
2. Jaringan Epitel Berlapis
Jaringan epitel berlapis apabila dibandingkan dengan epitel sederhana memiliki
bentuk dan susunan lebih kuat karena tersusun atas beberapa lapis sel. Jaringan
epitel berlapis meliputi:
a. epitel pipih berlapis, terdapat pada sebagian kerongkongan, dan epidermis
kulit vertebrata.
b. epitel kubus berlapis, terdapat pada saluran besar beberapa kelenjar
seperti di kelenjar ludah, kelenjar susu, dan pangkal esofagus;
c. berfungsi dalam eksresi, adsorpsi, sebagai saluran ekskresi kelenjar ludah
dan kelenjar susu terdapat pada saluran kelenjar susu, kelenjar ludah
submandibula.
Epitel Kelenjar
Epitel kelenjar merupakan jenis jaringan epitel yang berfungsi membentuk
kelenjar. Kelenjar tersebut menghasilkan cairan yang kandungannya berbeda
dengan darah dan cairan sel lainnya. Bentuk sel-sel di dalam epitel kelenjar tidak
sama, tapi umumnya berbentuk tubular (tabung) atau kubus serta meliputi organ-
organ yang berhubungan dengan sekresi. Terdapat 2 jenis kelenjar yaitu,
kelenjar eksokrin dan endokrin. Kelenjar eksokrin mensekresikan cairan melalui
saluran ke permukaan misalnya kelenjar pada kulit dan kelenjar pada saluran
pencernaan. Kelenjar endokrin mensekresikan cairan ke dalam jaringan bersama
darah, misalnya hormon.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
76
Jaringan Penunjang dan Jaringan Otot pada Hewan
Jaringan penunjang (penyokong) memiliki istilah lain yaitu jaringan pengikat.
Jaringan ini terdapat pada tubuh manusia dan hewan dengan perannya sebagai
pengisi celah antarjaringan, memberi kekuatan dan bentuk, membungkus organ-
organ tubuh sekaligus mengikatnya/menghubungkannya dengan jaringan lain,
atau sekaligus pula melindunginya (pada organ-organ yang lemah dan rentan
benturan). Peran tersebut dimiliki oleh jaringan penunjang disebabkan jaringan
ini menjalankan beberapa fungsi di antaranya seperti menyimpan lemak,
melindungi dari mikroorganisme, memproduksi darah, menghasilkan matriks
yang keras, dan lain-lain. Jaringan penunjang terdiri atas jaringan ikat, jaringan
skeleton, dan jaringan darah.
1. Jaringan Ikat
Seperti nama yang disandangnya, jaringan ikat merupakan jaringan yang
berfungsi untuk mengikat (menghubungkan) satu jaringan dengan jaringan
lainnya. Berdasarkan fungsinya tersebut Anda tentu mafhum jika jaringan ikat
tidak terdapat di permukaan luar tubuh dan bahkan jaringan ikat memiliki
pembuluh darah. Jaringan ikat pada dasarnya adalah sekumpulan jalinan matriks
yang terdiri dari serabut kolagen, serabut elastin, dan serabut retikuler. Jaringan
ikat dibedakan menjadi jaringan ikat padat, jaringan ikat longgar, dan jaringan
lemak.
Gambar 3.9. Jaringan ikat pada manusia
Jaringan ikat padat terbagi lagi ke dalam 2 jenis yaitu jaringan ikat kolagen dan
jaringan ikat elastis. Jaringan ikat kolagen contohnya adalah tendon yang
melekatkan otot pada tulang. Jaringan ikat elastis contohnya adalah ligamen
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
77
yang mengikat tulang-tulang dengan persendian. Ligamen tersusun dari serabut
elastis.
Jaringan ikat longgar adalah jaringan ikat yang paling banyak ditemukan pada
tubuh hewan vertebrata. Jaringan ini menghubungkan epitel dengan jaringan
atau organ di bawahnya serta menjaga organ-organ agar berada pada
tempatnya. Jaringan ikat mengandung berbagai jenis sel dan serabut. Sel yang
ada diantaranya sel fibroblas, mast cell, sel lemak, sel makrofag (sel yang
‘memakan’ patogen, mikroorganisme asing sel mati). Serabut yang ada antara
lain serabut kolagen dan serabut elastis.
2. Jaringan Skeleton
Jaringan skeleton/tulang merupakan jaringan yang paling keras dan kuat. Selain
mengandung sedikit air, jaringan ini tersusun dari kalsium fosfat dan kalsium
karbonat. Pada vertebrata terdapat 2 macam jaringan tulang, yaitu tulang rawan
dan tulang keras. Tulang rawan (kartilago) terbuat dari matriks yang
mengandung sel-sel kondroblas. Sementara tulang keras sifatnya lebih keras
daripada tulang rawan karena matriksnya sebagian besar adalah garam
anorganik seperti kalsium fosfat. Berdasarkan susunan matriksnya jaringan
tulang keras dibedakan menjadi tulang kompak dan tulang spons. Kombinasi zat
organik dan anorganik menghasilkan struktur yang kuat pada tulang kompak.
Tulang spons matriksnya berongga, mengandung sumsum merah yang
memproduksi sel-sel darah merah.
3. Jaringan Darah
Jaringan darah letaknya berada di pembuluh darah, tersusun atas cairan
(plasma) yang di dalam cairan tersebut terdapat sel-sel darah merah, sel-sel
darah putih, dan keping darah. Darah merupakan cairan yang terdapat pada
manusia dan hewan tingkat tinggi yang berfungsi dalam membawa gas oksigen,
karbondioksida, serta zat-zat terlarut lain (glukosa, asam lemak, asam amino,
hormon, dan lain-lain) dan mengangkutnya dari satu bagian tubuh ke bagian
tubuh lain. Darah menjadi bagian penting dari kehidupan, organisme yang
mengalami kekurangan darah bisa mengalami gangguan bahkan kematian.
Sel darah merah (eritrosit) merupakan unsur yang membuat cairan darah terlihat
berwarna merah, jumlahnya paling banyak dibanding sel darah putih atau keping
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
78
darah, sel darah merah tidak mempunyai inti, mengandung hemoglobin untuk
mengikat oksigen, sehingga sel darah merah menjadi kunci penting bagi
kehidupan organisme karena ia berperan mengangkut oksigen ke jaringan-
jaringan hingga sel-sel di seluruh bagian tubuh.
Sel darah putih (leukosit) bertanggung jawab dalam memusnahkan bibit penyakit
atau benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh (seperti virus
dan bakteri). Sel darah putih memiliki inti sel, tidak berwarna, jumlahnya sekitar
7.000-25.000 sel pertetes pada orang sehat. Ada 5 jenis sel darah putih yang
jumlah, bentuk, dan fungsinya berbeda, yaitu eosinofil, basophil, neutrofil,
limfpsot, dan monosit.
Trombosit atau keping darah bertanggung jawab dalam pembekuan darah
(membantu darah membeku/berhenti mengalir misalnya saat terjadi luka). Saat
pembuluh darah pecah, trombosit berkumpul di daerah luka sampai terjadinya
proses pembekuan darah yang bisa menutup kebocoran karena luka.
Plasma darah adalah bagian cair dari jaringan darah, terdiri dari 90% air dan 7-
8% protein. Di dalam plasma inilah terlarut garam-garam, glukosa, lemak, asam
amino, dan lain-lain (senyawa-senyawa hasil metabolisme). Pembuluh darah
yang berupa pipa tempat mengalirnya darah memiliki dinding yang permeabel
bagi air dan elektrolit, sehingga plasma darah secara terus menerus saling
bertukar zat dengan cairan tubuh.
Gambar 3.10. Jaringan darah
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
79
Jaringan Otot
Jaringan otot tersusun dari sel-sel yang mampu berkontraksi dan berelaksasi
dikarenakan kandungan miofibril. Otot menjadi alat gerak aktif karena
kemampuannya berkontraksi, dan berpasangan dengan tulang yang berfungsi
sebagai alat gerak pasif. Pada manusia dan vertebrata, gerakan tubuh secara
seluruhnya disebabkan oleh kontraksi otot yang menempel pada rangka.
Termasuk pada alat cerna seperti usus terdapat jaringan otot yang bekerja untuk
menekan dan mendorong benda di dalam organ tersebut hingga terjadi
pergerakan. Ada 3 macam otot berdasarkan struktur dan cara kerjanya yaitu otot
polos, otot lurik, dan otot jantung.
Otot polos terletak di organ-organ dalam yang bekerja secara tidak sadar seperti
di usus, pembuluh darah, saluran kemih, dan lain-lain otot polos tidak mudah
lelah meski terus beraktivitas dan memiliki reaksi yang lambat. Ciri-ciri selnya
adalah berbentuk seperti tabung tapi lancip di kedua ujungnya, berinti sel satu
yang terletak di tengah sel.
Gambar 3.11. Otot polos
Otot lurik letaknya melekat terhadap rangka yang bercorak lurik-lurik. Karena
perannya sebagai alat gerak aktif maka otot lurik termasuk otot yang bekerja
secara sadar, cepat reaksinya terhadap rangsangan, dan mudah lelah jika
bekerja secara keras terus menerus. Ciri otot ini selain bercorak lurik adalah
memiliki inti sel yang terletak di tepi sel. Otot jantung terletak hanya di organ
jantung. Sifatnya berkerja secara tidak sadar dan tidak mudah lelah. Ciri otot
jantung mirip dengan otot lurik, namun bercabang-cabang serta jumlah intinya 1
kadang 2 buah.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
80
Gambar 3.12. Otot Lurik Gambar 3.13. Otot Jantung
Jaringan Saraf Pada Manusia
Jaringan saraf tersusun dari sel-sel yang bernama neuron. Jaringan saraf
berfungsi untuk menghantarkan rangsang (impuls) dari panca indra ke saraf
pusat dan dari saraf pusat ke organ-organ lainnya. Di panca indra terletak
reseptor (penerima rangsang), yang pertama kali berinteraksi dengan rangsang
yang berasal dari luar/lingkungan. Misalnya pada organ lidah sehingga kita bisa
merasakan sensasi rasa manis, asam, pahit, pedas, dan sebagainya, atau pada
kulit saat kita merasakan panas, dingin, halus, dan kasar.
Berdasarkan fungsi tersebut, dapat Anda simulasikan di benak Anda sendiri
mengenai struktur neuron yang panjang karena harus menghubungkan impuls
dari lokasi peneriman rangsang (di seluruh bagian tubuh) ke saraf pusat (otak
dan sumsum tulang belakang). Berdasarkan fungsi tersebut pula dapat
dibedakan 3 jenis neuron, yaitu neuron sensorik, neuron motorik, dan neuron
penghubung.
Neuron sensorik menghantarkan impuls dari reseptor ke saraf pusat, neuron
motorik menghantarkan impuls dari saraf pusat ke organ sasaran, sedangkan
neuron penghubung merupakan neuron yang menghubungkan neuron sensorik
dan neuron motorik.
Neuron mempunyai struktur yang unik untuk bisa berhubungan dengan neuron-
neuron lain (gambar 10.8.). Satu sel neuron tersusun atas badan sel, dendrit,
dan akson. Di badan sel terletak inti sel, dan dari badan akson menjulur
sitoplasma yang bercabang-cabang disebut dendrit yang berfungsi
menghantarkan impuls ke badan sel. Sementara akson adalah perpanjangan
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
81
sitoplasma yang paling panjang dan dibungkus myelin untuk menghantarkan
impuls ke sel neuron lain, atau ke efektor (organ penerima rangsang).
Gambar 3.14. Struktur sel saraf
Bagian akson yang panjang seperti Anda amati, tersusun dari bagian yang
dibungkus myelin dan ada juga bagian kecil yang tidak terbungkus (bernama
nodus Ranvier). Bungkus/seludang myelin dibentuk oleh sel-sel Schwann
berfungsi sebagai isolator, meningkatkan konduksi, selain untuk memberi nutrisi
serta regenerasi akson rusak.
Dalam jaringan saraf, sel neuron bertemu dengan sel neuron lainnya dan
pertemuan kedua sel tersebut dinamakan sinapsis. Sinapsis menjadi
persimpangan tempat mengalirnya impuls dari satu sel neuron ke sel neuron
berikutnya. Sinapsis tersebut membuat impuls berjalan satu arah, memecah
impuls ke beberapa neuron, atau mengumpulan beberapa impuls ke satu neuron
tunggal.
Gambar 3.15. Pertemuan sel saraf dengan sel saraf lainnya yang dihubungkan oleh
sinapsis
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
82
Komunikasi yang dilakukan sel-sel neuron melalui sinapsis terdiri dari dua jenis
sinyal, yaitu listrik dan kimiawi. Dengan menggunakan struktur khusus dari sel
neuron dapat digunakan arus listrik untuk menerima, menghantarkan, serta
mengatur arus informasi ke lokasi yang jauh di dalam tubuh. Sementara untuk
menghantarkan informasi dari satu sel ke sel lainnya, neuron lebih
mengandalkan sinyal dari senyawa kimia yang bernama neurotransmitter.
D. Aktivitas Pembelajaran
Kegiatan pengamatan jaringan tumbuhan dan hewan merupakan pengalaman
yang perlu dialami langsung dan tidak dapat dilepaskan dari aktivitas
pembelajaran dalam rangka membentuk sikap ilmiah guru. Dalam kegiatan
berikut ini, Anda akan melakukan pengamatan terhadap jaringan meristem
tumbuhan dan jaringan epitel hewan. Aktivitas pengamatan yang akan dilakukan
juga menuntut guru untuk mampu mempraktekkan dasar keselamatan kerja di
laboratorium IPA.
Sebelum beraktivitas menggunakan mikroskop, penting bagi Anda untuk
memahami rambu-rambu di bawah ini sebagai bagian dari keselamatan kerja
1. Mengenal bagian-bagian mikroskop dan fungsinya.
2. Memahami cara penanganan mikroskop semenjak penyimpanan sampai
persiapan.
3. Memahami cara penggunaan mikroskop.
4. Berhati-hati dengan penggunaan kaca slide yang tipis yang ujungnya tajam
(awas! Bisa melukai).
Kegiatan I. Cara Menggunakan Mikroskop
Mikroskop adalah alat yang relatif mahal dan membutuhkan penanganan yang
benar. Pastikan mikroskop diletakkan di meja yang kokoh, tidak mudah goyang,
dan roboh. Jika Anda hendak membawa atau memindahkan mikroskop, gunakan
kedua tangan. Tangan kiri memegang bagian leher, sementara tangan kanan
memegang bagian dasar mikroskop.
Langkah I: Siapkan mikroskop dan preparat siap pakai.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
83
Langkah II: Putar revolver dan gunakan lensa objektif dengan perbesaran paling
kecil Biasanya lensa ini memiliki ukuran paling pendek (misalnya lensa yang
berukuran 4X).
Langkah III: Simpan preparat di meja objek dan jepit dengan menggunakan
penjepit objek. Pastikan objek pengamatan tepat di atas lubang kecil di tengah
meja objek.
Langkah IV: Putar pemutar fokus kasar sehingga didapat jarak yang cukup dekat
antara preparat dengan lensa objektif. Tetap usahakan agar jangan sampai lensa
menyentuh preparat.
Langkah V: Putar diafragma untuk mengatur cahaya yang diperlukan untuk
pengamatan.
Langkah VI: Mulai memutar pemutar fokus kasar agar lensa objektif dan kaca
objek menjauh, dan amati gambar yang dihasilkan melalui lensa okuler. Putar
secara perlahan sampai didapat gambar yang cukup jelas.
Langkah VII: Gunakan pemutar fokus halus dengan memutarnya untuk
mempertegas fokus gambar sehingga diperoleh gambar yang jauh lebih jelas.
Perlu diingat! jangan mengganti lensa objektif untuk meningkatkan pembesaran
gambar sebelum Anda mendapat gambar dengan fokus yang jelas.
Langkah VIII
Setelah mendapat fokus gambar yang baik, putar revolver untuk mengganti lensa
objektif ke perbesaran berikutnya. Gunakan pemutar fokus halus untuk mengatur
fokus karena pada tahap ini jarak antar lensa dan preparat sudah sangat dekat.
Keterangan Lain:
Untuk memperbesar gambar objek, pertama kali cahaya diproyeksikan melalui
lubang di meja objek sehingga mengenai objek yang diamati lalu diteruskan
hingga sampai ke lensa objektif. Lalu terbentuklah sebuah gambar di lensa
objektif tersebut yang kemudian menjadi sebuah objek bagi lensa okuler yang
sekaligus memperbesar ukuran gambar. Dengan demikian total perbesaran yang
bisa dilakukan sebuah mikroskop adalah perbesaran yang dimiliki lensa objektif
dikali perbesaran yang dimiliki lensa okuler.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
84
Kegiatan II. Jaringan Epidermis Tumbuhan
I. Setelah melakukan kegiatan ini Anda diharapkan dapat:
1. Menggambar jaringan epidermis dan jaringan dasar pada preparat
batang, akar dan daun serta.
2. Menunjukkan struktur stomata dan trikomata pada preparat epidermis
daun atau batang.
3. Menemukan perbedaan struktur jaringan dasar/parenkim pada beberapa
preparat organ yang berbeda.
II. Alat dan bahan
1. Mikroskop
2. Pinset
3. Sediaan kering penampang melintang akar, batang, dan daun Rheo
discolor.
4. Sediaan kering penampang membujur daun Rheo discolor.
III. Cara kerja
1. Amati sediaan kering penampang melintang akar, batang dan daun
mulai dari perbesaran 40X! Gambarlah seluruh penampakkan dari
sediaan yang kamu amati ! berilah keterangan gambar yang Anda buat,
tunjukkan lokasi jaringan epidermis dan jaringan dasar.
2. Amati sediaan kering penampang melintang akar, batang dan daun
mulai dari perbesaran 100X! Identifikasilah keberadaan trikomata pada
beberapa preparat yang Anda amati.
3. Amati sediaan penampang membujur daun. Gunakan perbesaran 40X.
Temukanlah struktur stomata.
4. Amati kembali beberapa penampang melintang organ yang berbeda
(missal: akar, batang, dan daun). Bandingkan bentuk dan ciri-ciri
jaringan dasar (sel-sel parenkim) di setiap organ tersebut. Apakah ada
perbedaannya yang bisa Anda amati?
IV. Hasil dan Pertanyaan
1. Gambar jaringan epidermis pada penampang melintang akar, batang,
dan daun tumbuhan.
2. Gambar trikomata.
3. Gambar stomata.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
85
4. Perbedaan jaringan dasar/parenkim pada organ yang berbeda.
Gambarkan atau uraikanlah perbedaaan struktur jaringan/atau sel-sel
parenkim yang Anda amati!
Kegiatan III. Struktur Jaringan Hewan
I. Tujuan
Setelah melakukan kegiatan ini, Anda diharapkan dapat mengetahui
perbedaan antara jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan saraf, dan jaringan
otot.
II. Alat dan bahan
1. Sediaan kering penampang melintang epitel
2. Sediaan kering penampang melintang tulang
3. Sediaan kering penampang melintang saraf
4. Sediaan kering penampang melintang otot
III. Cara kerja
1. Amatilah sediaan kering dari jaringan epitel, jaringan tulang, jaringan
saraf, dan jaringan otot dengan menggunakan mikroskop pada
pembesaran objektif 40X. Gambarlah setiap jaringan preparat yang
Anda amati tersebut.
2. Tulislah nama-nama bagian yang ada pada setiap jaringan.
3. Gantilah lensa objektif mikroskop dengan pembesaran 100X. Amatilah
kembali struktur jaringan tersebut lalu gambarlah sesuai pengamatan
Anda.
4. Tulis nama-nama bagian tulang rawan.
IV. Hasil pengamatan
1. Gambar jaringan epitel
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
86
2. Gambar sel tulang
3. Gambar jaringan saraf
4. Gambar jaringan otot
E. Latihan/Kasus/Tugas
Bacalah terlebih dahulu pernyataan di bawah ini dengan baik, kemudian pilihlah
jawaban yang Anda anggap paling benar dengan memberi tanda (x) pada
jawaban tersebut.
1. Akibat dari pertumbuhan primer yang dihasilkan oleh meristem apikal
adalah....
a. tumbuhan semakin tinggi
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
87
b. tumbuhan semakin besar ke samping
c. tumbuhan segera berbunga
d. tumbuhan semakin mengeras lapisan luarnya
2. Struktur pada jaringan epidermis daun yang merupakan diferensiasi dari
sel-sel epidermis yang dapat membuka dan menutup, dan tempat
terjadinya pertukaran gas adalah …
a. Trikomata c. Kutikula
b. Stomata d. Lentisel
3. Jaringan yang dapat ditemukan di hampir setiap organ tumbuhan dan
bisa memiliki beragam fungsi adalah …
a. Epidermis c. Parenkim
b. Meristem d. Pembuluh
4. Jaringan parenkim pada tumbuhan terletak di …
a. Bagian batang tumbuhan dikotil
b. Bagian batang tumbuhan monokotil
c. Bagian daun semua jenis tumbuhan
d. Semua bagian tumbuhan
5. Xilem adalah jaringan yang berfungsi untuk
a. Mengisi organ tanaman
b. Mengangkut air dan mineral dari akar
c. Menghantarkan gas
d. Mendistribusikan hasil fotosintesis
6. Jaringan epitel yang tidak bisa menerima rangsang terdapat pada
jaringan epitel di daerah …
a. Telinga c. Kelenjar keringat
b. Lidah d. Hidung
7. Tendon yang melekatkan otot pada tulang termasuk ke dalam jaringan …
a. Rangka/skeleton c. Ikat padat
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
88
b. Darah d. Ikat longgar
F. Rangkuman
Jaringan tumbuhan terdiri atas 2 jenis, yaitu jaringan meristem (selnya aktif
membelah dan tetap bersifat meristematik) dan jaringan permanen (sel-selnya
sudah terspesialisasi, menjadi jaringan tertentu pada tumbuhan). Berdasarkan
asal pembentukannya, meristem dikelompokkan menjadi promeristem, meristem
primer, dan meritem sekunder. Sedangkan berdasarkan posisinya, jaringan
meristem dibedakan menjadi meristem apikal, meristem lateral, dan meristem
interkalar.
Jaringan permanen berdasarkan fungsinya terdiri atas jaringan epidermis,
Jaringan dasar, jaringan penyokong, jaringan pengangkut, dan jaringan gabus.
Jaringan epidermis ibarat pakaian yang terletak di bagian paling luar, melindungi
bagian dalam organ. Sel-selnya dapat berdiferensiasi untuk membantu
menjalankan fungsi jaringan epidermis, menjadi stomata dan trikomata.
Jaringan dasar atau parenkim terdapat di setiap organ baik pada jaringan akar,
batang, daun, maupun buah. Jaringan dasar tersusun dari sel-sel parenkim yang
bisa berfungsi sebagai tempat fotosintesis, untuk menyimpan makanan dan air,
dan sebagainya. Jaringan penyokong berfungsi untuk menunjang dan
menguatkan bentuk tumbuhan karena sel-selnya memiliki dinding sel yang kuat
dan telah terspesialisasi bentuknya. Ada 2 jenis jaringan penyokong yaitu
jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim. Jaringan pengangkut/pembuluh terdiri
atas xylem dan floem. Xilem berfungsi untuk menyalurkan air dan unsur hara dari
akar ke daun, sementara floem berfungsi untuk mengangkut lalu menyalurkan
zat-zat makanan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.
jaringan somatis/jaringan tubuh yang terdiri dari 4 jaringan dasar, yaitu jaringan
epitel, jaringan pengikat/penunjang, jaringan saraf, dan jaringan otot.
Jaringan saraf berfungsi untuk menghantarkan rangsan (impuls) dari panca indra
ke saraf pusat dan dari saraf pusat ke efektor (seperti otot dan kelenjar).
Jaringan epitel merupakan lapisan terluar dari organ yang menjadi pemisah
antara organ dan lingkungan luarnya. Tersusun secara kompak dan tidak ada
ruang antarsel. fungsi-fungsi jaringan epitel tersebut adalah sebagai
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
89
perlindungan, sebagai alat sekresi, untuk absorbsi, menerima rangsang/impuls,
alat ekskresi, dan sebagai alat difusi. Jaringan penunjang pada hewan berfungsi
mengisi celah antarjaringan, memberi kekuatan dan bentuk, membungkus organ-
organ tubuh sekaligus mengikatnya/menghubungkannya dengan jaringan lain,
atau sekaligus pula melindunginya. Jaringan penunjang terdiri dari jaringan ikat,
jaringan skeleton, dan jaringan darah. Jaringan otot pada manusia dan hewan
adalah jaringan yang bisa berkontraksi dan berelaksasi. Secara garis besar ada
3 jenis otot, yaitu otot olos, otot lurik, dan otot jantung.
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah Anda menyelesaikan soal latihan di atas, Anda dapat menghitung tingkat
keberhasilan Anda dengan menggunakan kunci/rambu-rambu jawaban yang
terdapat pada bagian akhir modul ini. Jika Anda memperkirakan bahwa
pencapaian Anda sudah melebihi 80%, silahkan terus mempelajari kegiatan
Pembelajaran berikutnya. Tamun jika Anda pencapaian Anda masih kurang dari
80%, sebaiknya Anda ulangi kembali mempelajari kegiatan pembelajaran ini.
90 KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
A. Tujuan
Setelah mempelajari materi Sistem Gerak pada Manusia, peserta diharapkan
dapat:
1. Mengidentifikasi struktur dan fungsi sistem gerak pada manusia dengan
benar
2. Mengkaitkan struktur dan fungsi sistem gerak dengan mekanisme gerak
pada manusia dengan benar
3. Mengidentifikasi kelainan yang terjadi pada sistem gerak dengan tepat.
B. Indikator Ketercapaian Kompetensi
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan
beberapa indikator tentang keanekaragaman hayati berikut ini.
1. Menjelaskan fungsi rangka sebagai penyusun sistem gerak pada manusia
2. Menjelaskan fungsi otot sebagai penyusun sistem gerak pada manusia
3. Mendeskripsikan struktur tulang pada manusia
4. Mendeskripsikan perkembangan dan pertumbuhan tulang
5. Mendeskripsikan struktur otot pada manusia
6. Menjelaskan mekanisme kontraksi otot pada manusia
7. Mendeskripsikan hubungan antar tulang yang membentuk berbagai
persendian
8. Mengidentifikasi berbagai gangguan atau penyakit pada sistem gerak
manusia.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4:
SISTEM GERAK PADA MANUSIA
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
91
C. Uraian Materi
Manusia mempunyai kemampuan bergerak dan berpindah tempat. Gerak terjadi
oleh adanya kerja sama antara rangka dan otot. Rangka manusia disusun oleh
lebih dari 200 buah tulang. Beberapa tulang saling menyatu, dan tulang-tulang
yang lainnya terhubung dengan sendi oleh ligamen yang memungkinkan
terjadinya pergerakan. Otot menempel pada tulang dan menghubungkan tulang
yang satu dengan tulang lainnya. Otot mempunyai kemampuan berkontraksi
yang dapat menggerakkan tulang dengan mekanisme tertentu sehingga otot
disebut alat gerak aktif, sedang tulang disebut alat gerak pasif.
Gambar 4.1. Kerjasama antara Rangka dan Otot Menghasilkan Gerakan
(Sumber: http://kelipet.com/2015/09/pengertian-dan-jenis-otot/, diunduh tanggal
6/1/2016)
1. Sistem Rangka pada Manusia
Manusia memiliki rangka dalam yang disusun oleh tulang keras (disebut juga
tulang rangka atau tulang) dan tulang rawan. Rangka manusia dibentuk dari
tulang tunggal atau gabungan tulang (seperti tengkorak) yang ditunjang oleh
struktur lain, seperti ligamen (jaringan ikat yang menghubungkan antara tulang
yang satu dengan tulang lainnya), tendon (jaringan ikat yang menghubungkan
otot dengan tulang), dan otot.
a. Guna Rangka
Sistem rangka memiliki lima fungsi utama yaitu :
1) Penopang/Penegak Tubuh
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
92
Sistem rangka menyediakan struktur yang mampu menopang seluruh tubuh.
Tulang-tulang penyusun rangka secara sendiri atau dalam kelompok
menyediakan tempat sangkutan bagi berbagai jaringan lunak dan organ.
2) Tempat Penyimpanan Kalsium dan Lemak
Di dalam tulang terdapat berbagai mineral seperti kalsium, kalium, dan natrium.
Kalsium (zat kapur) merupakan mineral utama pembentuk tulang. Apabila tubuh
kekurangan kalsium, tubuh akan mengambilnya dari tulang dan jika terjadi terus
menerus, tulang dapat menjadi tipis, rapuh, dan mudah patah. Selain sebagai
cadangan mineral, tulang rangka menyimpan cadangan energi dalam bentuk
lemak yang disimpan pada sumsum tulang kuning.
3) Penghasil Sel-Sel Darah
Sel darah merah, sel darah putih, dan komponen darah lainnya dihasilkan pada
sumsum tulang merah yang mengisi ruangan dalam kebanyakan tulang,
terutama pada tulang pendek, tulang pipih, tulang tak beraturan, jaringan
kanselus (tulang berbentuk spons) pada ujung tulang pipa, tulang rusuk, dan
tulang dada.
4) Pelindung Alat-Alat Tubuh Penting
Jaringan dan organ lunak dikelilingi dan dilindungi rangka. Sebagai contoh,
tulang rusuk melindungi jantung dan paru-paru; tengkorak melindungi otak; ruas-
ruas tulang belakang melindungi sumsum tulang belakang; gelang panggul
melindungi sistem reproduksi dan sistem pencernaan.
5) Alat Pergerakan
Tulang-tulang bertindak sebagai pengungkit apabila otot-otot yang melekat pada
tulang itu berkontraksi menghasilkan gerakan yang bertumpu pada sendi.
b. Perkembangan dan Pertumbuhan Tulang
Tulang pada bayi sebagian besar disusun oleh tulang rawan. Tulang rawan,
sebagian besar terdiri atas kolagen, bersifat pejal dan lentur. Dengan tumbuhnya
bayi, sel-sel tulang rawan digantikan dengan tulang keras yang memiliki struktur
lingkaran konsentris dari kalsium dan fosfat di antara sel-sel tulang. Proses
perubahan dari tulang rawan ke sel tulang keras dinamakan penulangan
(osifikasi). Proses penulangan berlanjut hingga remaja dan dewasa. Epifisis
adalah area bagi pertumbuhan secara memanjang bagi tulang-tulang panjang
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
93
sewaktu kanak-kanak. Pada masa pertumbuhan ini sel-sel pada epifisis
membelah dan memanjangkan tulang. Ketika kita tumbuh, tulang bertambah
keras dan bertambah berat, tetapi kelenturannya berkurang. Hal itu berarti tulang
bertambah kuat tetapi mudah patah.
Gambar 4.2. Pembentukan Tulang
(Sumber : http://sulaiman4fun.blogspot. co.id/ 2012/07/ osifikasi-sekunder-yang-terdiri-
dari.html, diunduh tanggal 6/1/2016)
Gambar 4.2. di atas menunjukkan pembentukan tulang dari tulang rawan.
Sewaktu embrio, semua tulang pipa pada mulanya berupa batang tulang rawan
yang diselubungi oleh suatu membran (perikondrium). Sebuah pusat penulangan
pertama disebut diafisis tampak di tengah jaringan yang kemudian menjadi
tulang pipa. Kalsium ditimbun dalam matriks dan sel-sel tulang berkembang.
Perikondrium menjadi periosteum, selanjutnya tulang tumbuh baik secara
melingkar maupun memanjang. Selanjutnya tulang yang sedang tumbuh terdiri
atas batang (diafisis) dan ujung (epifisis).
Dalam proses perkembangan selanjutnya timbul pusat penulangan kedua di
setiap ujung epifisisnya. Dalam hal ini penulangan berawal dari daerah itu dan
meluas ke arah batang juga ke arah ujung setiap epifisisnya. Ujung tulang tetap
ditutupi oleh tulang rawan hialin yang menjadi tulang rawan sendi. Di antara
batang dan setiap ujung terdapat selapis tulang rawan. Lapisan ini disebut tulang
rawan epifisis yang tetap ada sampai tulang menjadi dewasa.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
94
c. Struktur Tulang
Tulang (osteon), terdiri atas sel-sel tulang yang banyak mengandung senyawa
kapur dan fosfat. Senyawa kapur dan fosfat yang terkandung alam tulang
mengakibatkan tulang menjadi keras.
1) Macam-Macam Tulang Berdasarkan Bentuk Tulang
a) Tulang panjang atau tulang pipa.
Kelompok tulang ini secara umum lebih panjang, lebar, berbentuk silinder dan
berfungsi sebagai pengungkit. Tulang panjang terletak pada lengan atas, lengan
bawah, paha, betis, telapak kaki, jari, dan ibu jari. Tulang paha merupakan tulang
panjang terbesar dan terberat pada tubuh.
Gambar 4.3. Struktur tulang pipa
(Sumber: https://kknbergerakuntuk8f.wordpress.com/ diunduh tanggal 3/9/2015)
b) Tulang pendek
Tulang pendek bentuknya mirip kubus, contohnya adalah tulang-tulang pada
pergelangan tangan dan tulang-tulang pada pergelangan kaki, berperan
memindahkan daya. Tulang bentuk ini sebagian besar disusun oleh jaringan
tulang jarang (berbentuk spons).
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
95
Gambar 4.4. Struktur tulang pendek
(Sumber: http://bone.co.id/2011/05/06/fraktur-tulang-karpal/, diunduh tanggal 3/9/2015)
c) Tulang pipih
Tulang pipih bentuknya tipis dan lengkung terdiri atas dua lapisan tulang kompak
(tulang keras), di tengahnya terdapat lapisan tulang seperti spons. Tulang pipih
antara lain membentuk atap pada tulang kepala, juga ditemukan pada tulang
dada, tulang rusuk, dan tulang belikat. Tulang ini menyediakan perlindungan bagi
penempatan jaringan lunak dan menyediakan permukaan bagi perlekatan otot-
otot rangka.
Gambar 4.5. Struktur tulang pipih
(Sumber : https://kknbergerakuntuk8f.wordpress.com/, diunduh tanggal 3/9/2015)
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
96
d) Tulang yang tidak beraturan
Tulang jenis ini adalah tulang yang tidak dapat digolongkan dalam salah satu dari
ketiga bentuk tadi. Tulang tersebut berfungsi sebagai tempat pelekatan otot atau
persendian. Tulang tidak beraturan ditemukan pada ruas-ruas tulang belakang,
tulang pada panggul, dan beberapa tulang tengkorak.
Gambar 4.6. Tulang tidak beraturan
(Sumber : http://abhique.blogspot.com/2009/10/anatomi-sistem-muskuloskeletal.html,
diunduh tanggal 3/9/2015)
e) Tulang sesamoid
Umumnya berukuran kecil, pipih, dan bentuknya mirip biji wijen (lihat Gambar 7).
Tulang ini berkembang di dalam tendon dan otot-otot, umumnya berada dekat
sendi misal pada lutut, tangan dan tungkai.
Gambar 4.7. Tulang sesamoid (Sumber :
http://m.dev.tempo.co/read/news/2010/12/23/060301024/Mengatasi-Sesamoiditis,
diunduh tanggal 3/9/2015)
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
97
f) Tulang sutura
Tulang sutura berukuran kecil, pipih, dan bentuknya tidak beraturan. Tulang
sutura terletak di antara tulang pipih pada tengkorak, dengan jumlah, bentuk, dan
posisi bervariasi pada tiap individu.
Gambar 4.8. Tulang sutura
(Sumber : http://www.sridianti.com/klasifikasi-sendi-berdasar-struktur-dan-fungsi.html,
diunduh tanggal 3/9/2015)
2) Macam- Macam Tulang Berdasarkan Bahan Penyusun Tulang
a) Tulang atau Osteon
Tulang terdiri atas hampir 50% air. Bagian padat tulang, terdiri atas berbagai
bahan mineral (sekitar 33,5%) terutama garam kalsium dan bahan seluler
(sekitar 16,5%). Struktur tulang yang dapat dilihat dengan mata telanjang adalah
struktur kasar.
(1) Struktur Kasar
Setiap tulang rangka berisi dua bentuk jaringan tulang yaitu (1) tulang kompak
(padat) dan (2) tulang berbentuk spon. Tulang kompak selalu berada pada
permukaan tulang membentuk lapisan pelindung yang kuat. Tulang spon terletak
di bagian dalam tulang.
Gambar 4.9. Tulang kompak dan tulang spon
(Sumber : http://budisma.net/2015/01/struktur-dan-fungsi-jaringan-tulang.html,
diunduh tanggal 3/9/2015)
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
98
Gambar 4.10 di bawah ini memperlihatkan anatomi tulang paha, tulang yang
mewakili tulang panjang. Tulang panjang memiliki batang yang berbentuk tubular
(pipa) disebut diafisis. Pada setiap ujung tulang terdapat suatu area
perpanjangan dikenal sebagai epifisis. Diafisis dihubungkan dengan setiap
epifisis melalui suatu area dikenal sebagai metafisis.
Gambar 4.10. Struktur Tulang Panjang
(Sumber : http://fungsi.web.id/2015/05/fungsi-tulang-pada-manusia-secara-umum.html,
diunduh tanggal 6/1/2016)
Dinding diafisis terdiri atas lapisan tulang kompak yang mengelilingi ruang pusat
disebut rongga sumsum. Epifisis sebagian besar berupa tulang berbentuk spon
dengan pembungkus yang tipis disebut korteks (tulang kompak). Sel-sel pada
tulang spon membentuk banyak rongga. Susunan rongga seperti itu
menyediakan kekuatan untuk mendukung beban yang berat. Tulang spon
bertindak sebagai bantalan yang mampu menyerap kejutan atau benturan.
Rongga sumsum pada diafisis dan ruang di antara efipisis dan lempengan
epifisis mengandung sumsum tulang, dan berkurang kandungan jaringan ikatnya.
Dikenal ada dua macam sumsum tulang yaitu sumsum tulang kuning dan
sumsum tulang merah. Sumsum tulang kuning didominasi oleh sel-sel lemak.
Sumsum tulang merah sebagian besar terdiri dari sel darah merah, sel darah
putih, dan sel-sel induk yang menghasilkan kedua jenis sel darah tersebut.
Sumsum tulang kuning merupakan cadangan energi yang penting, juga dapat
membuat sel-sel darah dalam keadaan darurat, misalnya setelah orang
mengalami perdarahan.
Gambar 4.11. memperlihatkan struktur tulang pipih pada tengkorak (tulang
pelipis). Struktur tulang pipih mirip sandwich, dengan lapisan tulang kompak di
bagian luarnya yang menutupi bagian tengah berisi tulang spon. Meskipun
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
99
sumsum tulang terdapat di dalam tulang spon, namun tidak terdapat rongga
sumsum.
Gambar 4.11. Struktur Tulang Pipih (Sumber : Setiawan, 2007)
(2) Struktur Halus
Periosteum adalah membran yang melapisi dan melekat erat pada bagian luar
tulang, kecuali di antara persendian karena di bagian ini dilapisi oleh tulang
rawan. Di dalam periosteum banyak terdapat pembuluh darah. Pembuluh darah
yang berasal dari periosteum bercabang-cabang ke dalam tulang. Periosteum
penting untuk menebalkan tulang dan menyembuhkan patah tulang (fraktur).
Pada irisan melintang tulang kompak, dapat dilihat adanya suatu bentuk yang
terdiri atas lingkaran-lingkaran atau lempengan konsentris (lihat Gambar 12). Di
dalam pusat setiap lingkaran terdapat suatu saluran yang disebut saluran
Havers. Lempengan tulang atau lamela disusun konsentris sekitar saluran
havers. Di antara lempeng itu terdapat ruang-ruang kecil disebut lakuna. Lakuna
mengandung sel-sel tulang yang saling bersambungan satu dengan yang lain,
juga disambungkan dengan saluran Havers di bagian tengah oleh saluran kecil
yang disebut kanalikuli. Satu sistem Havers yang lengkap adalah sebagai
berikut.
− Saluran Havers, berada di pusat berisi urat saraf, pembuluh darah, dan
pembuluh limfe.
− Lamela (lempeng tulang) yang tersusun memusat.
− Lakuna yang mengandung sel tulang.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
100
− Kanalikuli yang memancar di antara lakuna dan menggandengkannya
dengan saluran Havers.
Gambar 4.12. Struktur Mikroskopik Tulang Kompak:
A. Bagian tulang panjang dalam irisan melintang dan membujur
B. Tiga lamela yang konsentris mengelilingi saluran Havers
(Sumber: Setiawan, 2007)
Tulang terdiri atas sel-sel dan matriks. Matriks adalah kompenen non hidup pada
jaringan ikat, yang dibangun atas suatu anyaman serat yang terbenam dalam
suatu bahan dasar homogen. Bahan dasar homogen ini biasanya berbentuk
cairan, ada pula yang berbentuk jeli, ataupun berupa padatan. Jenis-jenis matriks
adalah :
− semen, tersusun dari molekul karbohidrat;
− kolagen, bentuknya seperti serat;
− mineral, misalnya kalsium, fosfat, dan karbonat.
Ada tiga jenis sel tulang, yaitu:
− osteoblas, sel yang membangun tulang;
− osteosit, sel tulang yang matang; dan
− osteoklas, yaitu sel yang menghancurkan tulang.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
101
Dengan aksi dari sel-sel tersebut, tulang dalam keadaan hidup dibentuk dan
dihancurkan secara terus menerus.
(3) Tulang Rawan atau Kartilago
Tulang rawan terbuat dari bahan yang padat, bening, dan putih kebiru-biruan,
bersifat sangat kuat. Tulang tersebut ditemukan terutama pada sendi dan di
antara dua tulang. Tulang rawan tidak mengandung pembuluh darah, tetapi
diselubungi membran, yaitu perikondrion, tempat tulang rawan mendapatkan
darah.
Tiga jenis utama tulang rawan :
• Tulang rawan hialin
Terdiri atas serabut kolagen (serat berbahan protein sejenis gelatin) yang
terbenam dalam bahan dasar yang bening dan ulet. Dijumpai menutupi ujung
tulang pipa sebagai tulang rawan sendi. Juga pada tulang rawan rusuk, pada
hidung, laring, trakea, dan pada bronkus.
• Tulang rawan fibrosa
Tulang rawan fibrosa disusun oleh berkas-berkas serabut dengan sel tulang
rawan tersusun di antara berkas serabut itu, dijumpai pada tempat yang
memerlukan kekuatan besar. Tulang rawan fibrosa ada di bagian dalam rongga
tulang panggul, dan tulang belikat. Juga sebagai tulang rawan penghubung
seperti pada cakram intervertebralis pada tulang belakang, dan bantalan tulang
rawan pada tulang kemaluan.
• Tulang rawan elastik
Sering disebut tulang rawan elastik kuning, karena mengandung sejumlah besar
serabut elastik berwarna kuning. Terdapat pada daun telinga, epiglotis, dan
tabung Eustachius. Jika ditekan atau dibengkokkan terasa lentur dan cepat
kembali ke bentuknya semula.
d. Struktur Rangka
1) Sistem Rangka
a) Rangka Badan (Aksial), terdiri atas :
− Tengkorak (terdiri atas 8 buah tulang kranium atau tempurung kepala dan 14
buah tulang wajah).
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
102
− Tulang-tulang yang berhubungan dengan tengkorak (terdiri atas 6 buah
tulang pendengaran dan 1 buah tulang hioid).
− Rangka dada (terdiri atas 1 buah tulang dada dan 24 buah tulang rusuk)
− Rangkaian tulang belakang (terdiri atas 7 ruas tulang leher, 12 ruas tulang
belakang bagian dada, 5 ruas tulang bagian pinggang 1 buah tulang
kelangkang yang disusun oleh 5 ruas yang rudimenter menjadi satu, dan 1
buah tulang tungging yang disusun oleh 4 ruas yang rudimenter menjadi
satu).
Tengkorak
Tulang-tulang pada tengkorak melindungi otak dan menjaga saluran masuk
sistem pencernaan (rongga mulut) serta lobang masuk sistem respirasi (rongga
hidung). Tengkorak terdiri atas 22 buah tulang, yaitu 8 buah tulang yang
membentuk tempurung kepala (kranium) dan 14 buah tulang yang
bersambungan membentuk tulang wajah.
Tujuh buah tulang tambahan bergabung dengan tengkorak yaitu 6 buah tulang-
tulang pendengaran (tulang landasan, martil, dan sanggurdi masing-masing satu
pasang) berada di sebelah dalam tulang pelipis, dan tulang hioid dihubungkan
dengan bagian bawah tulang pelipis oleh sepasang ligamen.
Tempurung kepala terdiri atas 8 buah tulang, yaitu 1 buah tulang kepala
belakang, 2 buah tulang ubun-ubun, 1 buah tulang dahi, 2 buah tulang pelipis, 1
buah tulang baji, dan 1 buah tulang tapis yang tersambung oleh sutura.
Tempurung kepala memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi tulang tengkorak
adalah melindungi otak.
Tulang Belakang
Ruas-ruas tulang belakang disusun oleh 33 buah tulang kecil yang dikenal
sebagai vertebra. Ruas-ruas tulang belakang melindungi sumsum tulang
belakang. Setiap tonjolan tulang belakang merupakan satu ruas tulang yang
terpisah. Di antara tulang-tulang itu terdapat lempengan tulang rawan disebut
cakram yang bertindak sebagai bantalan untuk meredam kejutan.
Ruas-ruas tulang belakang dibagi dalam beberapa daerah.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
103
− Ruas-ruas tulang leher (7 buah) terdapat pada daerah leher yang
mendukung kepala. Adanya ruas-ruas tulang ini membuat leher dapat lentur
dan memungkinkan kepala dapat digerakkan ke berbagai arah.
− Di bawah leher terdapat 12 ruas tulang belakang bagian dada. Tulang ini ikut
membantu mendukung kerangka rongga dada.
− Selanjutnya 5 buah ruas tulang belakang bagian pinggang merupakan
penyangga utama berat badan. Tulang pinggang merupakan ruas tulang
belakang terbesar dan terkuat.
− Selanjutnya 5 ruas tulang kelangkang yang menyatu di daerah kelangkang.
Tulang ini pun menyatu dengan tulang panggul di kedua sisinya. Gabungan
tulang kelangkang dengan tulang usus disebut tulang panggul. Di bawah
tulang kelangkang terdapat tulang tungging (tulang ekor) yang terdiri atas 3 –
5 ruas tulang yang menyatu.
Rangka Dada
Tulang-tulang pada daerah dada membentuk sejenis sangkar yang melindungi
jantung dan paru-paru. Tulang dada merupakan tulang pipih berada di bagian
tengah dan depan rongga dada. Tulang dada merupakan tempat melekatnya
tulang rusuk dan otot-otot yang membantu kita bernapas. Tulang rusuk juga
melindungi jantung.
Tujuh pasang tulang rusuk paling atas pada ujungnya terdapat tulang rawan dan
langsung bersambungan dengan tulang dada. Tiga pasang tulang rusuk di
bawahnya tidak langsung berhubungan dengan tulang dada. Ketiga pasang
tulang ini berhubungan dengan tulang rawan yang menyambung pada tulang
dada. Dua pasang tulang rusuk paling bawah sama sekali tidak melekat pada
tulang dada. Kedua pasang tulang rusuk ini hanya melekat di bagian belakang.
b) Rangka Anggota Gerak (Apendikular)
Gelang Bahu
Tulang belikat bersama tulang selangka membentuk gelang bahu. Gelang bahu
menyediakan tempat hubungan bagi lengan pada rangka aksial.
Lengan
Salah satu ujung tulang lengan atas melekat pada gelang bahu. Ujung bawah
bertemu dengan dua buah tulang lengan bawah pada sendi siku.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
104
Tangan
Terdapat delapan buah tulang pada pergelangan tangan, tersusun atas dua
baris, empat tulang dalam setiap baris. Adanya tulang ini membuat pergelang
tangan leluasa bergerak. Tulang-tulang pergelangan tangan bersambungan
dengan lima tulang yang membentuk telapak tangan. Setiap jari memiliki tiga
buah tulang, kecuali pada ibu jari yang hanya dua tulang. Ujung ibu jari dapat
menyentuh semua ujung jari lainnya.
Gelang Panggul
Tulang panggul membentuk gelang yang kuat dapat menyeimbangkan berat
tubuh pada kaki. Gelang panggul juga melindung kebanyakan organ yang ada
pada rongga perut, khususnya organ reproduksi. Walaupun gelang panggul
terdiri atas banyak tulang, tulang-tulang itu bersambungan sangat erat dan
menyatu, sehingga tampaknya hanya sebuah tulang.
Tungkai
Tulang paha merupakan tulang terbesar, terkuat, dan terberat di dalam tubuh.
Hal itu disebabkan tulang paha harus mendukung berat tubuh bagian atas
sewaktu berjalan, berlari, atau sewaktu kita melompat. Masing-masing tulang
paha memanjang dari panggul sampai lutut. Di bawah lutut, terdapat dua buah
tulang yang lebih kecil yang membagi beban berat tubuh. Tulang yang lebih
besar (tulang kering) menyangga beban lebih banyak yang berasal dari tulang
paha dan diteruskan pada kaki. Tulang yang lebih kecil (tulang betis) membantu
tumit bergerak dengan leluasa. Tempurung lutut selalu berada di tempatnya,
diikat oleh tendon dari otot sekitarnya. Tulang ini melindungi sendi lutut dan
memungkinkan lutut membengkok secara halus.
Kaki
Struktur kaki mirip struktur tangan, tetapi kaki lebih kuat dan lebih kaku.
Sebagaimana halnya tangan, lima buah tulang membentuk telapak kaki. Tulang-
tulang ini berhubungan dengan tulang-tulang jari kaki. Ibu jari kaki, mirip dengan
ibu jari tangan, hanya terdiri atas dua buah tulang. Jari kaki lainnya terdiri atas
tiga buah tulang. Tulang terbesar pada kaki dan tulang yang terkecil pada jari
kaki berperan menyerap kejutan sewaktu berjalan.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
105
e. Sendi
Tempat bertemunya dua buah tulang dinamakan sendi. Sendi diikat oleh ligamen
dan tendon. Terdapat tiga jenis sendi (1) sendi dengan gerakan bebas, (2) sendi
dengan gerakan terbatas, (3) sendi yang tidak dapat bergerak. Sendi dengan
gerakan bebas ada 4 jenis, yaitu (1) sendi engsel; (2) sendi putar; (3) sendi
luncur/pelana; dan (4) sendi peluru.
Sendi engsel adalah jika gerakan dapat dilakukan ke satu arah. Contoh sendi
engsel adalah sendi pada lutut dan siku.
Gambar 4.13. Sendi engsel
(Sumber : Setiawan, 2007)
Pada sendi putar, tulang yang satu mengitari tulang yang lain. Bentuk seperti ini
memungkinkan tulang itu saling menyilang. Contoh, ujung dua buah tulang pada
lengan bawah, tulang hasta dan pengumpil, bertemu membentuk sendi putar
pada siku.
Gambar 4.14. Sendi putar
(Sumber : Setiawan, 2007)
Sendi pelana memungkinkan tulang yang satu meluncur pada tulang yang lain.
Tulang-tulang pada pergelangan tangan membentuk sendi pelana, dengan
fleksibilitas yang tinggi. Sendi semacam ini terdapat juga pada tulang-tulang
pergelangan kaki.
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
106
Gambar 4.15. Sendi pelana
(Sumber: Setiawan, 2007)
Sendi peluru terbentuk dengan ujung tulang yang berbentuk bola masuk pada
bagian tulang lainnya yang berbentuk mangkuk. Sendi yang terdapat pada bahu
dan panggul merupakan contoh sendi ini. Sendi peluru memungkinkan gerakan
ke semua arah.
Gambar 4.16. Sendi peluru
Sumber: http://biologipedia.blogspot.com/2010/10/sendi-pelana.html, diunduh tanggl
4/9/2015)
2. Sistem Otot Manusia
− Otot Lurik
Dikatakan otot lurik karena adanya daerah gelap dan daerah yang terang
berselangan kalau dilihat dengan mikroskop. Otot lurik diisebut juga otot sadar
karena bekerja menurut perintah otak.
− Otot Polos
Di bawah mikroskop otot polos tampak polos. Bekerjanya dibawah kesadaran
kita, misalnya pada rahim, usus, pembuluh darah, dan saluran kelamin.
− Otot Jantung
Bekerjanya dibawah kesadaran kita, bentuknya bergaris melintang. Otot jantung
hanya terdapat pada dinding jantung.
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
107
a. Struktur anatomi otot
Setiap otot terdiri dari beberapa ratus hingga beberapa ribu sel otot. Di dalam
setiap sel otot terdapat banyak struktur yang mirip benang yang disebut miofibril.
Gambar 4.17. Struktur otot
(Sumber : http://contohlaporan.blogspot.com/2009/11/mekanisme-kerja-otot.html,
diunduh tanggal 4/9/2015)
Pada setiap miofibril terdapat banyak filamen tebal dan filamen tipis yang
susunannya sejajar. Setiap filamen tipis terdiri atas dua untaian manik-manik
yang saling berpilin. Butir-butir manik-manik tersebut adalah molekul globular dari
aktin. Setiap filamen tebal terdiri atas sekumpulan molekul miosin. Aktin dan
miosin merupakan protein yang menggerakkan otot. Molekul miosin memiliki
bagian kepala dan bagian ekor yang panjang. Molekul aktin dan miosin
merupakan komponen dari sarkomer.
b. Mekanisme Kontraksi Otot
Otot dalam tubuh akan berkontraksi jika mendapatkan rangsangan. Proses
kontraksi otot didahului dengan datangnya impuls saraf. Ribuan filamen aktin
disusun sejajar satu sama lain di sepanjang sel otot, yang diselingi dengan
filamen yang lebih tebal yang terbentuk dari protein yang disebut miosin (gambar
4.18).
Gambar 4.18. Aktin dan miosin dalam sel otot (Sumber : Campbell, 2002)
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
108
Kontraksi sel otot terjadi akibat filamen aktin dan miosin yang saling meluncur
melewati yang lain, yang akan memperpendek selnya. Dalam sel otot, filamen
aktin terletak sejajar dengan filamen miosin tebal. Miosin bertindak sebagai
molekul motor dengan bantuan lengan yang “menjalankan” kedua jenis filamen
itu untuk saling melewati yang lainnya. Kerja tim dari banyak filamen yang
meluncur seperti ini membuat seluruh sel otot dapat memendek.
Gambar 4.19. Filamen aktin dan miosin yang saling meluncur
(Sumber : http://deborafilifos.blogspot.com/2013/03/sistem-otot.html, diunduh tanggal
4/9/2015)
c. Cara Kerja Otot
1) Otot sinergis
Yaitu hubungan antar otot yang cara kerjanya saling mendukung/bekerja
sama/menimbulkan gerakan yang searah. Untuk menggerakan tulang dari satu
posisi ke posisi yang lain, kemudian kembali ke posisi semula, diperlukan paling
sedikit dua macam otot dengan kerja berbeda.
Contoh:
• Seluruh otot pronator yang mengatur pergerakan telapak tangan untuk
menelungkup.
• Seluruh otot supinator yang mengatur pergerakan telapak tangan
menengadah.
2) Otot antagonis
Otot antagonis adalah dua otot atau lebih yang tujuan kerjanya berlawanan.
Contoh otot antagonis adalah otot bisep dan trisep. Untuk mengangkat lengan
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
109
bawah, otot bisep berkontraksi dan otot trisep berelaksasi. Untuk menurunkan
lengan bawah, otot trisep berkontraksi dan otot bisep berelaksasi.
Macam otot antagonis:
• Otot ekstensor (meluruskan) dengan fleksor (membengkokkan).
• Otot abductor (menjauhi sumbu badan) dengan adductor (mendekatisumbu
badan).
• Otot supinator (menengadah) dengan pronator (menelungkup).
• Otot depressor (gerakan ke bawah) dengan elevator (gerakan ke atas).
3. Gangguan/Penyakit pada Sistem Rangka
a. Osteoporosis
Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang menjadi tipis, rapuh, keropos dan
mudah patah akibat berkurangnya massa tulang, khususnya kalsium yang terjadi
pada waktu lama. Komplikasi serius dari osteoporosis yang sering terjadi adalah
patah tulang.
b. Patah Tulang
Patah tulang disebut juga fraktura dapat berupa sebagian dapat pula seluruhnya.
Gambar 19. memperlihatkan tiga bentuk patah tulang.
1) “Fraktura batang hijau” merupakan patah tulang sebagian yang umum terjadi
pada anak-anak.
2) Patah tulang sederhana terjadi jika tulang retak menjadi dua bagian, tetapi
ujung tulang yang patah tidak keluar kulit.
3) patah tulang riuk (terbuka), ujung tulang yang patah menyobek kulit dan
muncul ke luar. Pada patah tulang jenis ini ujung tulang yang keluar mudah
diserang bibit penyakit.
Gambar 4.20.Tiga Bentuk Patah Tulang
kiri:green-stick; tengah: sederhana; kanan: terbuka (Sumber: Setiawan, 2007)
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
110
c. Luka pada Sendi
Kecelakaan pada sendi yang paling umum adalah keseleo. Keseleo terjadi jika
ligamen dan tendon di sekitar sendi terenggut. Pada keseleo yang hebat jaringan
itu dapat robek.
Bentuk lain kecelakaan pada sendi adalah dislokasi. Pada kasus dislokasi, ujung
tulang tertarik ke luar sendi. Ligamen yang menghubungkan tulang pada sendi
terenggut dan sobek.
Bursitis merupakan masalah sendi yang tidak secara langsung berhubungan
dengan luka. Bursitis merupakan peradangan dengan rasa sakit pada kantung
kecil di dekat sendi. Kantung ini, disebut bursae, terletak di antara tendon atau di
antara tendon dan tulang. Tanpa kantung ini tendon akan bergesekan satu
dengan yang lainnya.
d. Masalah pada Kaki
Ketika kita berdiri dengan telapak kaki menempel pada lantai, tampak bahwa
bagian tengah telapak kaki kita tidak menyentuh lantai. Bagian ini dinamakan
lengkung kaki. Lengkung kaki terbentuk dari susunan tulang-tulang pada kaki
dan tekanan di antara tulang-tulang itu yang diikat oleh ligamen dan otot. Struktur
ini membuat telapak kaki mirip pegas. Jika kaki menginjak lantai, lengkung kaki
sedikit memipih lalu melengkung kembali. Kerja pegas ini mampu meredam
kejutan dan menggunakan energi untuk melengkungkan kembali lengkung kaki
pada langkah berikutnya. Kadangkala lengkung kaki menjadi pipih. Hal itu berarti
semua bagian alas kaki menyentuh lantai. Hal itu berakibat berat badan tidak
berada di pusat. Membuat kulit dan otot pergelangan kaki bekerja lebih berat
untuk menyeimbangkan tubuh. Sakit pada lengkung kaki, pergelangan kaki, dan
otot betis merupakan pertanda turunnya lengkung kaki. Wanita yang
mengenakan sepatu dengan hak tinggi dapat menyebabkan lengkung kaki
memipih. Sepatu dengan bantalan kecil, disebut arch supports dapat membantu
keadaan ini.
Problem pada kaki lainnya adalah bunion. Bunion merupakan pembengkakan
yang berat pada sendi ibu jari kaki. Bunion dapat disebabkan oleh arthritis atau
tidak seimbangnya otot pada kaki dan tungkai. Juga dapat disebabkan karena
menggunakan sepatu sempit yang menekan jari secara bersamaan. Persendian
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
111
pada ibu jari merupakan sendi engsel yang memungkinkan ibu jari bergerak ke
atas dan ke bawah. Mengenakan sepatu sempit, mengakibatkan jari dan sendi
mendapat tekanan dari satu sisi. Pada tahap awal terbentuk bunion, sepatu yang
lebar diperlukan, namun pembedahan sangat diperlukan pada kasus lanjutan.
e. Arthritis
Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan dan pengembangan jaringan di
sekitar sendi. Dengan beberapa macam arthriris, sendi menjadi kaku dan terjadi
kerusakan tetap karena robeknya jaringan sendi.
D. Aktivitas Pembelajaran
LEMBAR KEGIATAN 1
MENGAMATI STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN TULANG
Pendahuluan
Sel tulang keras dinamakan osteosit yang dibentuk secara berurutan dari dalam
sel ke luar sehingga proses pembentukannya konsentris. Setiap sel tulang keras
yang proses pembentukannya konsentris melingkari suatu pembuluh darah dan
saraf membentuk suatu Sistem Havers. Sel-sel tulang dihubungkan satu sama
lainnya dengan kanalikuli (saluran kecil). Sel-sel tulangpun dihubungkan dengan
saluran Havers melalui saluran kecil.
Sel tulang rawan disebut kondrosit. Kondrosit ditemukan dalam rongga yang
disebut lakuna, yang bersifat lentur. Tidak seperti tulang-tulang keras, tulang
rawan tidak mempunyai pembuluh darah. Sel tulang rawan memperoleh zat-zat
dengan cara difusi dari pembuluh darah terdekat.
Gambar 4.21. Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang keras
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
112
Gambar 4.22. Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang rawan
Tujuan
Mengetahui perbedaan antara struktur tulang keras dan struktur tulang rawan.
Alat dan bahan
1. Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang keras
2. Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang rawan.
Cara kerja
1. Amatilah sediaan kering tulang keras dengan menggunakan mikroskop
pembesaran 40X. Gambarlah jaringan tulang keras preparat yang Anda lihat.
2. Tulis nama bagian yang disebut osteosit dan saluran Havers.
3. Amatilah sediaan keting tulang rawan dnegan menggunakan mikroskop
pembesaran 40X. Gambarlah sel tulang rawan seperti pada preparat yang
Anda lihat.
4. Gantilah lensa mikroskop dengan pembesaran 100X. Amatilah struktur
tulang rawan. Gambarlah stuktur tulang rawan preparat yang Anda lihat.
5. Tulis nama-nama bagian tulang rawan.
Hasil pengamatan
1. Gambar jaringan tulang keras
2. Gambar sel tulang rawan
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
113
LEMBAR KEGIATAN 2
I. Tujuan
Peserta dapat memahami materi sistem gerak pada manusia
II. Jawablah pertanyaan berikut!
1. Jelaskan karakteristik otot sebagai alat gerak aktif!
2. Jelaskan perbedaan antara otot polos, otot lurik, dan otot jantung!
Letak inti sel: ..................................................................................
Jumlah inti sel: ...............................................................................
Bentuk sel: .....................................................................................
Sifat kerja sel: ................................................................................
Letak inti sel: ..................................................................................
Jumlah inti sel: ................................................................................
Bentuk sel: ......................................................................................
Sifat kerja sel: .................................................................................
Letak inti sel: ..................................................................................
Jumlah inti sel: ................................................................................
Bentuk sel: .....................................................................................
Sifat kerja sel: ................................................................................
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
114
3. Perhatikanlah gambar di Lembar Kegiatan!
4. Berilah keterangan pada setiap bagian otot yang ditunjuk pada gambar
tersebut!
5. Jelaskanlah mekanisme gerak otot!
6. Jelaskanlah (minimal 4) macam gangguan pada sistem otot!
E. Latihan/Kasus/Tugas
1. Berikut adalah fungsi rangka, kecuali ….
a. membentuk sel darah
b. melindungi alat tubuh yang lemah
c. alat gerak pasif
d. tempat melekatnya otot polos
2. Sendi peluru ditunjukkan oleh hubungan antara tulang ….
a. lengan atas dengan tulang belikat
b. tulang selangka dengan tulang dada
c. tulang lengan atas dengan tulang rusuk
d. tulang rusuk dengan tulang belikat
3. Pembengkokan tulang kearah samping disebut ….
a. lordosis
b. kifosis
c. skoliosis
d. layuh semu
4. Infeksi sifilis pada anak dalam kandungan dapat menyebabkan kerusakan
cakra epifise tulang pipa. Hal ini dapat mengakibatkan tulang menjadi tidak
bertenaga, disebut ….
a. urai sendi
b. fraktura
c. layuh semu
d. patah tulang
LISTRIK untuk SMP
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajaran
Mata Pelajaran Biologi SMA
115
5. Contoh sinartrosis antara lain hubungan ….
a. antara tulang tengkorak
b. tulang duduk dan tulang paha
c. tulang jari-jari dan tulang telapak tangan
d. ruas-ruas tulang pinggang
F. Rangkuman
Gerak terjadi oleh adanya kerja sama antara rangka dan otot. Otot menempel
pada tulang dan menghubungkan tulang yang satu dengan tulang lainnya. Otot
mempunyai kemampuan berkontraksi yang dapat menggerakkan tulang dengan
mekanisme tertentu sehingga otot disebut alat gerak aktif, sedang tulang disebut
alat gerak pasif.
Sistem rangka memiliki lima fungsi utama yaitu sebagai penopang/penegak
tubuh, tempat penyimpanan kalsium dan lemak, penghasil sel-sel darah,
pelindung alat-alat tubuh penting, dan sebagai alat pergerakan. Tulang pada bayi
sebagian besar disusun oleh tulang rawan. Dengan tumbuhnya bayi, sel-sel
tulang rawan digantikan dengan tulang keras yang memiliki struktur lingkaran
konsentris dari kalsium dan fosfat di antara sel-sel tulang. Proses perubahan dari
tulang rawan ke sel tulang keras dinamakan penulangan (osifikasi). Berdasarkan
bentuknya, tulang-tulang itu dibedakan menjadi: tulang panjang/tulang pipa,
tulang pendek, tulang pipih, tulang tidak beraturan, tulang sesamoid, dan tulang
sutura. Menurut bahan penyusunnya, tulang dapat dikelompokkan atas tulang
keras atau biasa disebut tulang saja (osteon) dan tulang rawan (kartilago).
Sistem rangka terdiri dari rangka badan (rangka aksial) dan rangka anggota
gerak (rangka apendikular). Komponen rangka aksial adalah tengkorak dan
tulang-tulang yang berhubungan dengan tengkorak, rangka dada, dan rangkaian
tulang belakang. Lengan (gelang bahu, lengan, dan tangan) serta tungkai
(gelang panggul, tungkai, dan kaki) yang berhubungan dengan rangka aksial
membentuk rangka apendikular.
Tempat bertemunya dua buah tulang dinamakan sendi. Konstruksi sendi
bervariasi semuanya memungkinkan tulang-tulang pada sambungan itu
bergerak, atau mencegah terjadinya gerakan. Tiga jenis sendi adalah (1) sendi
dengan gerakan bebas, (2) sendi dengan gerakan terbatas, (3) sendi yang tidak
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN
KELOMPOK KOMPETENSI A
116
dapat bergerak. Ada empat jenis sendi dengan gerakan bebas, yaitu (1) sendi
engsel; (2) sendi putar; (3) sendi luncur/pelana; dan (4) sendi peluru.
Dilihat dari bentuk dan cara kerjanya jaringan otot dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
Otot Lurik (otot bergaris melintang), otot polos, dan otot jantung. Di dalam setiap
sel otot terdapat banyak struktur yang mirip benang yang disebut miofibril. Otot
dalam tubuh akan berkontraksi jika mendapatkan rangsangan. Kontraksi sel otot
terjadi akibat filamen aktin dan miosin yang saling meluncur melewati yang lain,
yang akan memperpendek selnya. Berdasarkan cara kerjanya dibedakan
menjadi : Otot sinergis dan otot antagonis.
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah mempelajari materi sistem gerak pada manusia pada modul ini, Anda
dapat meningkatkan pemahaman Anda dengan mencari literatur dari sumber lain
yang relevan dengan materi ini, menganalisis video yang berkaitan dengan
mekanisme gerak pada manusia, atau mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang
dihadapi dalam mempelajari materi ini pada forum MGMP.
117KUNCI JAWABAN LATIHAN/KASUS/TUGAS
KELOMPOK KOMPETENSI A
A. KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM
1 2 3 4 5
A C A D D
B. KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
1 2 3 4 5
B A C B B
C. KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI
JARINGAN MAKHLUK HIDUP
1 2 3 4 5 6 7
A B C D B B C
D. KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 4: SISTEM GERAK PADA
MANUSIA
1 2 3 4 5
D A C C A
KUNCI JAWABAN LATIHAN/KASUS/TUGAS
119EVALUASI
KELOMPOK KOMPETENSI A
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat.
1. Bagian tulang pipa yang dapat tumbuh memanjang adalah ……
A. diafise
B. epifise
C. osteoblas
D. cakra epifise
2. Sendi putar adalah bentuk sendi yang memungkinkan gerakan …..
A. bebas dan berporos tiga
B. rotasi dan berporos satu
C. maju mundur dan berporos dua
D. menggeser dan tak berporos
3. Kebiasaan membawa tas hanya di salah satu sisi bahu dapat
menyebabkan terjadinya kelainan tulang ….
A. lordosis C. skoliosis
B. kifosis D. nekrosis
4. Gerak menengadahkan tangan dan menelungkupkan tangan
merupakan gerak ….
A. fleksi – ekstensi
B. adduksi - abduksi
C. elevasi – depresi
D. supinasi – pronasi
EVALUASI
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
EVALUASI
KELOMPOK KOMPETENSI A
120
5. Saat kita menarik napas dan mengembuskan nafas, otot-otot antar
tulang rusuk bekerja secara ……
A. sinergis
B. antagonis
C. abduksi
D. elevasi
6. Kelompok-kelompok hewan yang ada di padang rumput dalam konsep
ekosistem merupakan…
A. ekosistem
B. species
C. populasi
D. komunitas
Soal 7 dan 8 berdasarkan gambar berikut!
(sumber: http://www.temukanpengertian.com/2015/08/pengertian-redasi.html?m=0)
7. Bentuk interaksi pada gambar di atas adalah…
A. kompetisi
B. parasitisme
C. predasi
D. mutualisme
8. Interaksi itu terjadi antara…
A. individu dengan individu
B. populasi dengan populasi
C. biotik dengan abiotik
D. spesies dengan spesies
LISTRIK untuk SMP
EVALUASI
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran IPA SMA
121
9. Parasit yang hidup menempel pada inangnya dan mengambil zat
makanan dari tubuh inangnya disebut…
A. hemiparasit
B. parasit fakultatif
C. endoparasit
D. parasit obligat
10. Komponen abiotik dalam suatu ekosistem adalah…
A. mikroba, cahaya, suhu
B. tanah, air, mikroba
C. tanah, udara, bakteri
D. suhu, cahaya matahari, tanah
11. Dampak yang terjadi terhadap kesejahteraan manusia dari adanya
keanekaragaman genetik pada organisme adalah:
A. Mengurangi tingkat kesejahteraan dan sumber plasma nutfah
B. Memperkaya sumber plasma nutfah untuk menciptakan bibit baru
C. Rekayasa genetika dapat merusak keberadaan plasma nutfah.
D. Menyulitkan pengenalan sumber alam hayati secara menyeluruh
12. Keunikan jenis-jenis hewan yang tersebar di daerah Australis, yaitu ….
A. banyak hewan berkantung
B. banyak jenis-jenis hewan primata
C. spesies mamalia berukuran tubuh besar
D. banyak jenis burung yang bersuara merdu
13. Faktor yang tidak mempengaruhi pola penyebaran fauna di Indonesia
yaitu ...
A. Pergerakan lempeng bumi
B. Adanya barrier geologis
C. Upaya introduksi jenis makhluk hidup
D. Tipe flora dan fauna dari daerah penyangganya
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
EVALUASI
KELOMPOK KOMPETENSI A
122
14. Jenis kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang panjang, kacang
buncis, dan kacang kedelai, merupakan contoh dari keanekaragaman
hayati tingkat ....
A. Genetik
B. Jenis
C. Populasi
D. Ekosistem
15. Salahsatu faktor yang dapat menyebabkan kepunahan makhluk hidup
yaitu ....
A. Penangkaran hewan langka di luar habitatnya
B. Penggunaan bibit unggul secara masif
C. Pengendalian overpopulasi pada hewan
D. Pembangunan koridor pada habitat yang terfragmentasi
16. Akibat dari pertumbuhan primer yang dihasilkan oleh meristem apikal
adalah....
A. tumbuhan semakin tinggi
B. tumbuhan semakin besar ke samping
C. tumbuhan segera berbunga
D. tumbuhan semakin mengeras lapisan luarnya
17. Struktur pada jaringan epidermis daun yang merupakan diferensiasi dari
sel-sel epidermis yang dapat membuka dan menutup, dan tempat
terjadinya pertukaran gas adalah ….
A. Trikomata
B. Stomata
C. Kutikula
D. Lentisel
LISTRIK untuk SMP
EVALUASI
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran IPA SMA
123
18. Jaringan yang dapat ditemukan di hampir setiap organ tumbuhan dan
bisa memiliki beragam fungsi adalah …
A. Epidermis
B. Meristem
C. Parenkim
D. Pembuluh
19. Jaringan parenkim pada tumbuhan terletak di …
A. Bagian batang tumbuhan dikotil
B. Bagian batang tumbuhan monokotil
C. Bagian daun semua jenis tumbuhan
D. Semua bagian tumbuhan
20. Xilem adalah jaringan yang berfungsi untuk
A. Mengisi organ tanaman
B. Mengangkut air dan mineral dari akar
C. Menghantarkan gas
D. Mendistribusikan hasil fotosintesis
PENUTUP
KELOMPOK KOMPETENSI A
125
Modul Profesional Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi Kelompok
Kompetensi A yang berjudul Ekosistem, Keanekaragaman hayati, Struktur &
Fungsi Jaringan disiapkan untuk membantu guru. Materi modul disusun sesuai
dengan kompetensi pedagogik yang harus dicapai guru pada Kelompok
Kompetensi A. Guru dapat belajar dan melakukan kegiatan ini sesuai dengan
rambu-rambu/instruksi yang tertera pada modul baik berupa diskusi materi,
eksperimen, latihan dsb. Modul ini juga mengarahkan dan membimbing guru
pemblajar dan para widyaiswara/fasilitator untuk menciptakan proses kolaborasi
belajar dan berlatih.
Untuk pencapaian kompetensi pada Kelompok Kompetensi A ini, guru
diharapkan secara aktif menggali informasi, memecahkan masalah dan berlatih
soal-soal evaluasi yang tersedia pada modul.
Isi modul ini masih dalam penyempurnaan, masukan-masukan atau perbaikan
terhadap isi modul sangat kami harapkan.
PENUTUP
DAFTAR ISI PUSTAKA
KELOMPOK KOMPETENSI A
127
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G., 1997. Biology: Concepts &
Connections Callifornia: Benjamin/Cumming Publishing Co.
Chaerun Anwar dan Dedi M. Rachman. 2002. Intisari Biologi SMU. Penerbit
Bandung: Pustaka Setia.
Irwan, Z. D. 2003. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem, Komunitas,
dan Lingkungan. Jakarta: Bumi Aksara.
Soemarwoto, O., 2001. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta:
Penerbit Djambatan.
Tim OBI. 2004. Biologi Untuk SMA: Ringkasan Materi Olimpiade Biologi
Internasional. Bandung: OBI-Dirjen Dikmenum.
GLOSARIUM
KELOMPOK KOMPETENSI A
129
Asimilasi : penyerapan bahan-bahan sederhana oleh organisme
dan diubah menjadi molekul-molekul kompleks.
Autotrof : organisme yang dapat membuat makanan sendiri dari
bahan anorganik di alam.
Biomassa : berat semua organisme yang berada dalam satu tingkat
trofik kehidupan.
Dekomposer : makhluk hidup yang menyerap nutrisi dari organisme
yang telah mati, baik tumbuhan maupun hewan,
kemudian mengubahnya menjadi bentuk anorganik.
Ekosistem : suatu komunitas dengan lingkungan fisik tempat
hidupnya.
Ekologi : cabang biologi yang mempelajari hubungan antara
organisme dengan lingkungan sekitarnya
Fotoautotrof : organisme yang menggunakan energi cahaya matahari
dalam membuat makanan.
Fotosintesis : pengubahan energi cahaya menjadi energi kimiawi yang
disimpan dalam bentuk glukosa atau senyawa organik
lainnya; terjadi pada tumbuhan, algae, dan prokariotik
tertentu
Herbivora : organisme pemakan tumbuhan, contoh : rusa, sapi, dan
banteng
Heterotrof : organisme yang mendapatkan makanan dari luar
tubuhnya karena tidak dapat membuat makanannya
sendiri.
Iklim Pola cuaca, khususnya menegnai
GLOSARIUM
PPPPTK IPA
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud
GLOSARIUM
KELOMPOK KOMPETENSI A
130
suhu,kelembapan,keadaan angin,dan tekanan udara
pada suatu wilayah selama setahun,dipengaruhi oleh
bletak geografi,ketinggian dari permukaan laut dan
keadaan lingkungan ;dibedakan iklaim basah,iklim
kering,iklimpanas,iklim sedang,dan iklim dingin.
Karnivora : organisme pemakan daging, contoh : harimau, burung
alap-alap, dan ular sanca.
Komensalisme : hubungan antarmakhluk hidup yang berbeda jenis, yang
satu beruntung dari yang lain tanpa merugikan atau
menguntungkannya.
Komponen
abiotik
: komponen ekosistem yang berupa benda-benda tak
hidup, seperti tanah, air dan udara.
Komponen
biotik
: Komponen biotik komponen ekosistem yang berupa
makhluk hidup, yaitu manusia, hewan dan tumbuhan.
Komunitas : kumpulan populasi dari berbagai spesies yang saling
berinteraksi baik langsung maupun tidak langsung.
Konsumen : makhluk hidup yang tidak dapat menghasilkan makanan
sendiri sehingga memakan mahluk lain.
Mutualisme : hubungan antar makhluk hidup yang berbeda jenis dan
saling menguntungkan.
Omnivora : organisme pemakan daging dan tumbuhan, contoh :
beruang, penyu, dan kera
Organisme : segala jenis makhluk hidup yang mampu menjalankan
proses-proses kehidupan.
Parasit : organisme yang hidup pada atau di dalam organisme
lain dan mengambil makanannya.
Plankton : tumbuhan (fitoplankton) atau hewan (zooplankton) renik
air tawar atau air laut yang posisi dan persebarannya
bergantung dan ditentukan oleh gerakan atau arus air
serta massa udara sekitarnya ,meskipun mampu untuk
bergerak sendiri secara terbatas
Populasi : kelompok individu dari satu spesies yang sama hidup
LISTRIK untuk SMP
GLOSARIUM
KELOMPOK KOMPETENSI A
Modul Guru Pembelajar
Mata Pelajaran Biologi SMA
131
dalam suatu daerah geografik tertentu (habitatnya).
Predasi : hubungan pemangsa dengan yang dimangsa
Produsen : makhluk hidup yang dapat menghasilkan makanan
sendiri dan biasanya mengawali suatu rantai makanan.
Rantai Makanan : suatu rangkaian perpindahan energi melalui proses
makan memakan.
Siklus : Suatu proses yang melibatkan beberapa komponen dan
berlangsung secara terus menerus
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik
dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA)
DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik
dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA)
DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2016

Kk a biologi

  • 1.
    Pusat Pengembangan danPemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2016 KELOMPOK KOMPETENSI A MODUL GURU PEMBELAJAR MATA PELAJARAN BIOLOGI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) PEDAGOGI: PERKEMBANGAN DAN POTENSI PESERTA DIDIK Penulis: Dr. Elly Herliani, M.Phil., M.Si. PROFESIONAL: EKOSISTEM, KEANEKARAGAMAN HAYATI, STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN Penulis: Rini Nuareni, M.Si., dkk.
  • 2.
    Pusat Pengembangan danPemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2016 KELOMPOK KOMPETENSI A MODUL GURU PEMBELAJAR MATA PELAJARAN BIOLOGI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) PERKEMBANGAN DAN POTENSI PESERTA DIDIK Penulis: Dr. Elly Herliani, M.Phil., M.Si.
  • 3.
    Pusat Pengembangan danPemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2016 11 Penulis: Dr. Elly Herliani, M.Phil., M.Si. MODUL GURU PEMBELAJAR MATA PELAJARAN BIOLOGI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) KELOMPOK KOMPETENSI A PERKEMBANGAN DAN POTENSI PESERTA DIDIK
  • 4.
    MODUL GURU PEMBELAJAR MATAPELAJARAN BIOLOGI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) KELOMPOK KOMPETENSI A PERKEMBANGAN DAN POTENSI PESERTA DIDIK Penanggung Jawab Dr. Sediono Abdullah Penulis Dr. Elly Herliani, M.Phil., M.Si. 022-4231191 elly.herliani@gmail.com Penyunting Dr. Dedi Herawadi Penelaah Dr. Riandi Dr. Sri Anggraeni, M.Si. Dr. Soni Suhandono Dra. Tati Hermawati, M.Si. Drs. Triastono Imam P., M.Pd. Penata Letak Zuhe Safitra, M.Pd. Copyright ©2016 Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hak Cipta Dilindungi Undang-undang Dilarang menggandakan sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  • 5.
    KATA SAMBUTAN iii Peranguru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai kunci keberhasilan belajar siswa. Guru profesional adalah guru yang kompeten membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadikan guru sebagai komponen yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam peningkatan mutu pendidikan terutama menyangkut kompetensi guru. Pengembangan profesionalitas guru melalui program Guru Pembelajar (GP) merupakan upaya peningkatan kompetensi untuk semua guru. Sejalan dengan hal tersebut, pemetaan kompetensi guru telah dilakukan melalui uji kompetensi guru (UKG) untuk kompetensi pedagogi dan profesional pada akhir tahun 2015. Hasil UKG menunjukkan peta kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam penguasaan pengetahuan. Peta kompetensi guru tersebut dikelompokkan menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak lanjut pelaksanaan UKG diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru paska UKG melalui program Guru Pembelajar. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai agen perubahan dan sumber belajar utama bagi peserta didik. Program Guru Pembelajar dilaksanakan melalui pola tatap muka, dalam jaringan atau daring (online), dan campuran (blended) tatap muka dengan online. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kelautan dan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LP3TK KPTK), dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS) merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab dalam mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan tersebut KATA SAMBUTAN
  • 6.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KATA SAMBUTANiv adalah modul untuk program GP tatap muka dan GP online untuk semua mata pelajaran dan kelompok kompetensi. Dengan modul ini diharapkan program GP memberikan sumbangan yang sangat besar dalam peningkatan kualitas kompetensi guru. Mari kita sukseskan program GP ini untuk mewujudkan “Guru Mulia Karena Karya.” Jakarta, Februari 2016 Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Sumarna Surapranata, Ph.D. NIP. 195908011985032001
  • 7.
    KATA PENGANTAR v Pujidan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran IPA SMP, Fisika SMA, Kimia SMA dan Biologi SMA. Modul ini merupakan model bahan belajar (learning material) yang dapat digunakan guru untuk belajar lebih mandiri dan aktif. Modul Guru Pembelajar disusun dalam rangka fasilitasi program peningkatan kompetensi guru paska UKG yang telah diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Materi modul dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Guru sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru yang dijabarkan menjadi Indikator Pencapaian Kompetensi Guru. Modul Guru Pembelajar untuk masing-masing mata pelajaran dijabarkan ke dalam 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Materi pada masing-masing modul kelompok kompetensi berisi materi kompetensi pedagogi dan kompetensi profesional guru mata pelajaran, uraian materi, tugas, dan kegiatan pembelajaran, serta diakhiri dengan evaluasi dan uji diri untuk mengetahui ketuntasan belajar. Bahan pengayaan dan pendalaman materi dimasukkan pada beberapa modul untuk mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kegunaan dan aplikasinya dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari hari. Modul ini telah ditelaah dan direvisi oleh tim, baik internal maupun eksternal (praktisi, pakar, dan para pengguna). Namun demikian, kami masih berharap kepada para penelaah dan pengguna untuk selalu memberikan masukan dan penyempurnaan sesuai kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi terkini. KATA PENGANTAR
  • 8.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KATA PENGANTARvi Besar harapan kami kiranya kritik, saran, dan masukan untuk lebih menyempurnakan isi materi serta sistematika modul dapat disampaikan ke PPPPTK IPA untuk perbaikan edisi yang akan datang. Masukan-masukan dapat dikirimkan melalui email para penyusun modul atau ke: p4tkipa@yahoo.com. Akhirnya kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para pengarah dari jajaran Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Manajemen, Widyaiswara, Staf PPPPTK IPA, Dosen, Guru, dan Kepala Sekolah serta Pengawas Sekolah yang telah berpartisipasi dalam penyelesaian modul ini. Semoga peran serta dan kontribusi Bapak dan Ibu semuanya dapat memberikan nilai tambah dan manfaat dalam peningkatan kompetensi guru IPA di Indonesia. Bandung, April 2016 Kepala PPPPTK IPA, Dr. Sediono, M.Si. NIP. 195909021983031002
  • 9.
    LISTRIK untuk SMP DAFTARISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR KELOMPOK KOMPETENSI A vii Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA Hal KATA SAMBUTAN iii KATA PENGANTAR v DAFTAR ISI vii DAFTAR TABEL x DAFTAR GAMBAR xi PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Tujuan 1 C. Peta Kompetensi 2 D. Ruang Lingkup 2 E. Cara Penggunaan Modul 3 KEGIATAN PEMBELAJARAN I. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK 5 A. Tujuan 5 B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 5 C. Uraian Materi 6 D. Aktivitas Pembelajaran 8 E. Latihan/Kasus/Tugas 9 F. Rangkuman 9 G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 10 II. PERKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL 11 A. Tujuan 11 B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 11 C. Uraian Materi 12 D. Aktivitas Pembelajaran 16 E. Latihan/Kasus/Tugas 17 F. Rangkuman 17 G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 18 DAFTAR ISI
  • 10.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR KELOMPOK KOMPETENSI A viii III. PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN 19 A. Tujuan 19 B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 19 C. Uraian Materi 20 D. Aktivitas Pembelajaran 22 E. Latihan/Kasus/Tugas 23 F. Rangkuman 24 G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 24 IV. KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL 25 A. Tujuan 25 B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 25 C. Uraian Materi 26 D. Aktivitas Pembelajaran 30 E. Latihan/Kasus/Tugas 31 F. Rangkuman 32 G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 33 V. PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL 34 A. Tujuan 34 B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 34 C. Uraian Materi 35 D. Aktivitas Pembelajaran 39 E. Latihan/Kasus/Tugas 40 F. Rangkuman 42 G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut 42 VI. SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR 43 A. Tujuan 43 B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 43 C. Uraian Materi 43 D. Aktivitas Pembelajaran 46 E. Latihan/Kasus/Tugas 47 F. Rangkuman 48 G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 48 VII. IDENTIFIKASI KEMAMPUAN DAN KESULITAN BELAJAR 49 A. Tujuan 49 B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 49 C. Uraian Materi 50 D. Aktivitas Pembelajaran 55 E. Latihan/Kasus/Tugas 56
  • 11.
    LISTRIK untuk SMP DAFTARISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR KELOMPOK KOMPETENSI A ix Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA F. Rangkuman 57 G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 58 EVALUASI 59 PENUTUP 63 DAFTAR PUSTAKA 65 GLOSARIUM 67
  • 12.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR KELOMPOK KOMPETENSI A x Hal Tabel 1 Kompetisi guru mapel dan indikator pencapaian kompetensi 2 DAFTAR TABEL
  • 13.
    LISTRIK untuk SMP DAFTARISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR KELOMPOK KOMPETENSI A xi Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA Hal Gambar 3.1 pembelajaran untuk pengembangan fisik dan kesehatan 22 Gambar 5.1 Pembelajaran untuk pengembangan moral dan spiritual 43 Gambar 6.1 Pembelajaran untuk membangun sikap dan kebiasaan belajar 51 DAFTAR GAMBAR
  • 15.
  • 16.
    PENDAHULUAN KELOMPOK KOMPETENSI A 1 A.Latar Belakang Modul ini membahas tentang kompetensi Pedagogi yang pertama dan keenam dalam Permendiknas nomor 16 tahun 2007, yaitu Karakteristik Peserta Didik dan Pengembangan Potensi Peserta Didik. Penguasaan guru atas konsep dan implementasi dari kedua kompetensi inti ini dapat membekali guru dalam tugasnya untuk menghantarkan peserta didik asuhannya memperoleh pencapaian terbaik mereka sesuai dengan karakteristiknya. Dengan demikian, potensi yang dimiliki seluruh peserta didik dapat mewujud dalam bentuk prestasi yang beragam. Kompetensi ini merupakan kompetensi dasar dalam pembelajaran, oleh karena itu guru wajib mengenal karakteristik dan potensi peserta didik serta cara mengembangkannya mengingat peserta didik adalah subjek yang akan dibelajarkan. Dengan demikian guru wajib mengenal karakteristik dan potensi peserta didik serta cara mengembangkannya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, telah menetapkan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) sebagai salah satu modus untuk meningkatkan kompetensi guru. Untuk kepentingan itu perlu dibuat modul yang akan menjadi bahan ajar dalam PKB tersebut yang diturunkan dari permendiknas nomor 16 tahun 2007. Pemanfaatan modul disesuaikan dengan kebutuhan guru yang diketahui dari hasil Uji Kompetensi Guru (UKG). B. Tujuan Tujuan penyusunan modul ini adalah untuk membekali guru pembelajar dalam menguasai kompetensi Mengenal Karakteristik Peserta Didik dan Mengembangkan Potensi Peserta Didik yang merupakan kompetensi ke-1 dan ke-6 Permendiknas nomor 16 tahun 2007. PENDAHULUAN
  • 17.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud PENDAHULUAN KELOMPOK KOMPETENSI A 2 Setelah mengikuti pembelajaran yang menggunakan modul ini diharapkan guru pembelajar dapat memahami konsep karakteristik peserta didik yang disajikan menjadi tujuh topik, mengidentifikasi perkembangannya, dan menentukan pembelajaran yang memfasilitasi pengembangan masing- masing aspek karakeristik peserta didik tersebut. C. Peta Kompetensi Kompetensi Inti dan Kompetensi Guru Mata Pelajaran yang diharapkan setelah belajar dengan modul ini tercantum pada tabel 1 berikut. Tabel 1. Kompetensi Inti dan Kompetensi Guru Kompetensi Inti Kompetensi Guru Kelas 1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual. 1.1. Memahami karakteristik peserta didik usia sekolah dasar yang berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, sosial-emosional, moral, spiritual, dan latar belakang sosial-budaya. 1.2. Mengidentifikasi potensi peserta didik usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran SMA. 1.3. Mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran SMA. 1.4. Mengidentifikasi kesulitan peserta belajar usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran SMA. 2. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. 2.1. Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mendorong peserta didik mencapai prestasi belajar secara optimal. 2.2. Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mengaktualisasikan potensi peserta didik, termasuk krea tivitasnya. D. RUANG LINGKUP Ruang lingkup materi pada Modul ini disusun dalam empat bagian, yaitu bagian Pendahuluan, Kegiatan Pembelajaran, Evaluasi dan Penutup. Bagian pendahuluan berisi paparan tentang latar belakang modul kelompok kompetensi A, tujuan belajar, kompetensi guru yang diharapkan dicapai
  • 18.
    LISTRIK untuk SMP PENDAHULUAN KELOMPOKKOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 3 setelah pembelajaran, ruang lingkup dan saran penggunaan modul. Bagian kegiatan pembelajaran berisi Tujuan, Indikator Pencapaian Kompetensi, Uraian Materi, Aktivitas Pembelajaran, Latihan/Kasus/Tugas, Rangkuman, Umpan Balik dan Tindak Lanjut Bagian akhir terdiri dari Kunci Jawaban Latihan/Kasus/Tugas, Evaluasi dan Penutup. Rincian materi pada modul adalah sebagai berikut: 1. Perkembangan Peserta Didik 2. Perkembangan Kemampuan Intelektual 3. Perkembangan Fisik dan Kesehatan 4. Perkembangan Kecerdasan Emosi dan Perkembangan Sosial 5. Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual 6. Perkembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar 7. Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar. E. CARA PENGGUNAAN MODUL Cara penggunaan modul pada setiap Kegiatan Pembelajaran secara umum sesuai dengan skenario setiap penyajian materi. Langkah-langkah belajar secara umum adalah sebagai berikut. Pendahuluan Review Mengkaji materi modul Melakukan aktivitas pembelajaran (diskusi/ ekperimen/latihan) Presentasi dan Konfirmasi Latihan Soal Uji Kompetensi
  • 19.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud PENDAHULUAN KELOMPOK KOMPETENSI A 4 Deskripsi Kegiatan 1. Pendahuluan Pada kegiatan pendahuluan fasilitator memberi kesempatan kepada guru pembelajar untuk mempelajari : a. latar belakang yang memuat gambaran materi b. tujuan penyusunan modul mencakup tujuan semua kegiatan pembelajaran setiap materi c. kompetensi atau indikator yang akan dicapai atau ditingkatkan melalui modul. d. ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran e. langkah-langkah penggunaan modul 2. Mengkaji Materi Pada kegiatan ini fasilitator memberi kesempatan kepada guru pembelajar untuk mempelajari materi yang diuraikan secara singkat sesuai dengan indikator pencapaian hasil belajar. Guru pembelajar dapat mempelajari materi secara individual atau kelompok. 3. Melakukan Aktivitas Pembelajaran Pada kegiatan ini guru pembelajar melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rambu-rambu/intruksi yang tertera pada modul baik berupa diskusi materi, melakukan eksperimen, dan latihan. Pada kegiatan ini guru pembelajar secara aktif menggali informasi, mengumpulkan data dan mengolah data sampai membuat kesimpulan kegiatan. 4. Presentasi dan Konfirmasi Pada kegiatan ini guru pembelajar melakukan presentasi hasil kegiatan sedangkan fasilitator melakukan konfirmasi terhadap materi dibahas bersama. 5. Latihan Soal Uji Kompetensi Pada kegiatan ini guru pembelajar berlatih menganalisis dan menjawab soal yang kualitas dan kesukarannya setara dengan soal UKG. 6. Review Kegiatan Pada kegiatan ini guru pembelajar dan penyaji mereview materi
  • 20.
    KEGIATAN PEMBELAJARAN 1:KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK KELOMPOK KOMPETENSI A 5 Tugas utama guru dalam pembelajaran adalah mengantarkan peserta didik pada prestasi terbaik sesuai dengan potensinya. Informasi mengenai karakteristik peserta didik dalam berbagai aspek sangat penting karena menjadi satu acuan dalam menentukan kedalaman dan keluasan materi serta pembelajarannya sehingga sesuai dengan perkembangan peserta didik. A. Tujuan Setelah melaksanakan pembelajaran dalam modul ini, guru pembelajar diharapkan dapat memahami konsep perkembangan perilaku dan pribadi peserta didik, tahapan, dan prinsip-prinsipnya. B. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan beberapa indikator tentang karakteristik peserta didik berikut ini: 1. Menjelaskan perkembangan peserta didik pada usia remaja. 2. Menjelaskan keragaman karakteristik peserta didik dan faktor-faktor penyebabnya. 3. Menjelaskan implikasi prinsip-prinsip perkembangan perilaku dan pribadi peserta didik terhadap pendidikan. 4. Menjelaskan tugas-tugas perkembangan remaja. 5. Mengidentifikasi informasi yang diperlukan untuk membuat profil karakteristik peserta didik secara komprehensif 6. Menentukan kegiatan untuk memfasilitasi variasi perkembangan peserta didik. KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
  • 21.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK KELOMPOK KOMPETENSI A 6 C. Uraian Materi 1. Perkembangan Peserta Didik Pertumbuhan dan perkembangan adalah dua istilah yang berbeda tetapi tidak berdiri sendiri. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan alamiah secara kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis. Menurut Libert, Paulus, dan Strauss (Sunarto, 2002: 39) bahwa perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksinya dengan lingkungan. Dengan demikian pada batas- batas tertentu perkembangan dapat dipercepat melalui proses belajar. 2. Keragaman Karakteristik Individual Peserta Didik Peserta didik yang melakukan kegiatan belajar atau proses pendidikan adalah individu Karena itu dalam proses dan kegiatan belajar peserta didik tidak bisa dilepaskan dari karakteristik, kemampuan dan perilaku individualnya. Menurut Makmun (2009:53) keragaman karakteristik peserta didik yang paling penting dipahami oleh guru adalah keragaman dalam kecakapan (ability) dan kepribadian. Keragaman individual terjadi karena adanya interelasi dan interdependensi antara faktor pembawaan faktor lingkungan dan kematangan (siap berfungsinya aspek-aspek psikofisik individu). 3. Perkembangan Masa Remaja Masa remaja merupakan periode yang penting, yaitu perubahan-perubahan yang dialami masa remaja akan memberikan dampak langsung pada individu dan akan mempengaruhi periode selanjutnya. Perkembangan fisik dan mental yang cepat menuntut remaja untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut dan membentuk perilaku, nilai, dan sikap baru. Menurut Konopka (Yusuf, 2006:7) bahwa masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan peserta didik, dan merupakan masa transisi (dari masa kanak- kanak ke masa dewasa yang diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. Masa remaja menurutt Mappiare (Ali, 2014:9) dibagi menjadi masa remaja awal; yaitu uisa 12/13 sampai 17/18 tahun, dan remaja akhir yaitu 17/18 tahun sampai 21/22 tahun. Selanjutnya Santrock (2007:20-21) bahwa masa remaja awal (early
  • 22.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 7 adolescence) kurang lebih berlangsung pada usia menengah pertama atau menengah akhir. Menurut Erickson (Santrock, 2010:87) masa remaja merupakan masa berkembangnya self-identity (kesadaran akan identitas diri). Remaja harus memutuskan siapakah dirinya, apa keunikannya, apa tujuan hidupnya. BIla remaja berhasil menemukan jati dirinya, maka akan memiliki kepribadian yang sehat. Sebaliknya apabila gagal mengatasi krisis identitas, maka akan mengalami kebingungan (confusion) sehingga cenderung memiliki kepribadian yang tidak sehat (maladjustment). 4. Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik Menurut Havigurst (Hurlock, 2013:9) tugas-tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu. Tugas-tugas perkembangan remaja adalah sebagai berikut: a. mencapai hubungan-hubungan yang baru dan lebih matang dengan teman- teman sebaya dari kedua jenis b. mencapai suatu peranan sosial sebagai pria dan wanita c. menerima dan menggunakan fisik secara efektif d. mencapai kebebasan emosional dari orangtua dan orang lainnya e. mencapai kebebasan keterjaminan ekonomi f. memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan/jabatan g. mempersiapkan diri untuk persiapan pernikahan dan berkeluarga h. mengembangkan konsep-konsep dan keterampilan intelektual yang diperlukan sebagai warga negara yang kompeten i. secara sosial menghendaki dan mencapai kemampuan bertindak secara bertanggung jawab j. Mempelajari dan mengembangkan seperangkat sistem nilai-nilai dan etika sebagi pegangan untuk bertindak.
  • 23.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK KELOMPOK KOMPETENSI A 8 5. Identifikasi Keragaman Karakteristik Peserta Didik Keragaman karakteristik peserta didik yang paling penting dipahami oleh guru adalah keragaman dalam kecakapan (ability) dan kepribadian. Guru dapat mengidentifikasinya, antara lain melalui: a. Pengamatan, guru mengamati perilaku peserta didik pada saat KBM dengan menggunakan pedoman pengamatan, dan pengamatan insidentil. b. Wawancara, angket atau inventori, dan studi dokumentasi c. Bekerja sama dengan wali kelas dan guru BK d. Informasi dari rekan guru dan orangtua serta teman-teman peserta didik. 6. Implementasi Dalam Pembelajaran Dalam pembelajaran guru harus memperhatikan tahap dan tugas-tugas perkembangan serta keragaman karakteristik individu diantaranya yaitu: a. Menyusun RPP yang sesuai dengan tahap dan tuigas perkembangan peserta didik pada masa remaja. b. Guru perlu merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keragaman karakteristik peserta didik, dan menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif agar setiap individu dapat belajar secara optimal. c. Adanya perbedaan dalam kecepatan perkembangan, maka dalam pembelajaran perlu adanya pendekatan individualitas disamping kelompok d. Guru memberi motivasi kepada setiap peserta didik agar melakukan apa yang diharapkan dari mereka oleh kelompok sosial pada masa remaja. D. Aktivitas Pembelajaran 1. Kegiatan 1. Perkembangan Peserta Didik a. Tujuan: melalui tugas membuat peta pikiran dan diskusi, peserta diharapkan dapat memahami materi perkembangan peserta didik. b. Tugas: 1) Buatlah peta pikiran, bagan atau bentuk lain untuk: a) Perkembangan Peserta Didik, prinsip-prinsipnya, dan implikasinya dalam pendidikan b) Tugas Perkembangan remaja, dan c) pembelajaran untuk memfasilitasinya. 2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasil kegiatan.
  • 24.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 9 2. Kegiatan 2. Profil Karakteristk Peserta Didik a. Tujuan: melalui diksusi dan presentasi hasil kegiatan peserta dapat mengidentifikasi informasi untuk membuat profil karakteristik peserta didik secara komprehensif dan mengusulkan alternatif kegiatan untuk memfasilitasi variasi perkembangan peserta didik. b. Tugas Diskusikan dalam kelompok informasi yang diperlukan untuk membuat profil karakteristik peserta didik secara komprehensif, idntfikas alternatif kegiatan untuk memfasilitasi variasi perkembangan peserta didik, dan presentasikan hasil kegiatan. . E. Latihan/Kasus/Tugas 1. Sangat penting bagi guru memahami tahapan dan tugas perkembangan peserta didik, jelaskan apa manfaat pemahaman tersebut! 2. Jelaskan 3 aspek perkembangan masa remaja dengan ciri-cirinya! 3. Sangat penting bagi guru memahami karakteristik individual kemampuan dan perilaku peserta didik, jelaskan implikasinya terhadap pembelajaran! F. Rangkuman 1. Peserta didik adalah individu yang unik yang memiliki potensi , kecakapan dan karakteristik pribadi. Karena itu dalam proses dan kegiatan belajar peserta didik tidak bisa dilepaskan dari karakteristik individualnya. 2. Remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan peserta didik, dan merupakan masa transisi (dari masa kanak-kanak ke masa dewasa) yang diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. Menurut Erickson masa remaja merupakan masa berkembangnya identitas diri (self-identity). 3. Pemahaman tahap dan tugas perkembangan dapat digunakan oleh pendidik dalam menentukan apa yang harus diberikan kepada peserta didik pada masa-masa tertentu, dan bagaimana caranya mengajar atau menyajikan pengalaman belajar kepada peserta didik pada masa-masa tertentu.
  • 25.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK KELOMPOK KOMPETENSI A 10 G. Umpan Balik danTindak Lanjut Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul dan sebelum melanjutkan ke topik berikutnya, lakukanlah uji diri. Perkirakan tingkat keberhasilan Anda dengan melihat kunci jawaban. jika melebihi 85%, silahkan lanjutkan, namun jika kurang dari itu, sebaiknya pelajari ulang. Anda dianjurkan menambah wawasan misalnya tentang keragaman perkembangan karakteristik peserta didik, cara mengidentifikasinya, dan alternatif kegiatan untuk memfasilitasi keragaman tersebut.
  • 26.
    KEGIATAN PEMBELAJARAN 2:PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL KELOMPOK KOMPETENSI A 11 Informasi mengenai karakteristik peserta didik dalam aspek intelektual menjadi satu acuan dalam menentukan materi dan mengeksplorasi berbagai aspek untuk fasilitasi peserta didik agar sesuai dengan perkembangan peserta didik termasuk kecerdasan majemuk dan gaya belajar mereka. A. Tujuan Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar diharapkan dapat memahami konsep intelegensi, ciri-ciri dan tahapan perkembangan intelektual; cara mengidentifikasi perkembangan kemampuan intelektual; dan menentukan pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan kemampuan intelektual dan kreativitas peserta didik. B. Indikator Ketercapaian Kompetensi Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan beberapa indikator tentang perkembangan kemampuan intelektual berikut ini: 1. Menjelaskan tahapan perkembangan kognitif peserta didik. 2. Mengidentifikasi kemampuan intelektual peserta didik. 3. Menentukan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi perbedaan kemampuan intelektual peserta didik. 4. Menjelaskan manfaat memahami kecerdasan majemuk peserta didik untuk memfasilitasi perkembangan yang optimal. 5. Menjelaskan cara mengimplementasikan kecerdasan majemuk dalam pembelajaran. 6. Menjelaskan cara mengembangkan kreativitas melalui pembelajaran. KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PERKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL
  • 27.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL KELOMPOK KOMPETENSI A 12 C. Uraian Materi 1. Kemampuan Intelektual Kecerdasan umum (general intelligence) atau kemampuan intelektual merupakan kemampuan mental umum yang mendasari kemampuannya untuk mengatasi kerumitan kognitif (Gunawan, 2006: 218). Kemampuan umum dikaitkan dengan kemampuan untuk pemecahan masalah, berpikir abstrak, keahlian dalam pembelajaran. Seseorang yang memiliki kemampuan intelektual atau intelegensi yang tinggi akan bertindak efisien dan efektif dalam memecahkan segala persoalan hidupnya (Syaodih, 2007:256). Kemampuan intelektual merupakan potensi bawaan (potenstial ability), namun beberapa penilitian menunjukkan dalam perkembangannya dipengaruhi oleh kualitas lingkungan. 2. Karakteristik Perkembangan Kognitif Peserta Didik Tahap perkembangan berpikir pada masa remaja menurut Piaget (Santrock,2010:56) berada pada tahap berpikir operasional formal. Tahap ini ditandai oleh kemampuan berpikir abstrak, Idealistik, dan berpikir lebih logis seperti menyusun rencana dan memecahkan masalah. Tipe pemikirian logis ini disebut juga pemikiran deduktif hipotesis (hypothetical-deductive-reasoning). Anak usia 11-15 tahun (SMP) berada pada fase formal operasional, namun banyak peserta didik kemampuan berpikir abstraknya masih terbatas (Santrock, 2010:57). Sedangkan kemampuan intelektualnya mengalami perkembangan yang paling pesat (terutama bagi remaja yang bersekolah) dan bakat (aptitude) mulai menunjukkan kecenderunan-kecenderungan secara lebih jelas. 3. Kecerdasan Majemuk Menurut Gardner (Syaodih, 2011:95) tingkat inteligensi atau IQ bukan satu- satunya yang dapat meramalkan keberhasilan seseorang tetapi ada kecerdasan dalam spektrum yang lebih luas yaitu kecerdasan majemuk (multiple intelligent). Setiap anak memiliki kecenderungan dari delapan kecerdasan, meskipun memiliki tingkat penguasaan yang berbeda yaitu: a. Kecerdasan bahasa (verbal-linguistic intelligence), kecakapan berpikir melalui kata-kata, menggunakan bahasa untuk menyatakan dan memaknai arti yang kompleks.
  • 28.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Gembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 13 b. Kecerdasan matematika – logis (logical-mathematical intelligence), kecakapan untuk menyelesaikan operasi. c. Kecerdasan spasial–visual (visual-spatial intelligence), kecakapan berpikir dalam ruang tiga dimensi. d. Kecerdasan kinestetis atau gerakan fisik (kinesthetic intelligence). Kecakapan melakukan gerakan dan keterampilan-kecekatan fisik. e. Kecerdasan musik (musical intelligence). Kecakapan untuk menghasilkan dan menghargai musik, sensitivitas terhadap melodi, ritme, nada, tangga nada. f. Kecerdasan hubungan sosial (interpersonal intelligence). Kecakapan memahami dan merespon serta berinteraksi dengan orang lain secara efektif. g. Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence). Kecakapan memahami diri dan menata kehidupannya sendiri. h. Kecerdasan naturalis hakekatnya adalah kecakapan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta. i. Konsep kecerdasan majemuk bukanlah hal baru, ahli-ahli lain menyebutnya sebagai bakat atau aptitude. 4. Kreativitas Setiap orang memiliki potensi kreatif meskipun dalam derajat yang berbeda (DePorter ,2001:293). Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru, berbeda, unik, baik itu berbentuk lisan, tulisan, maupun konkret atau abstrak dan kreativitas timbul dari pemikiran divergen (Hurlock, 1978:5). Berpikir divergen mempertimbangkan beberapa jawaban yang mungkin ada untuk suatu masalah. Sedangkan De Bono (1991:8) menyebutnya berpikir lateral, pola berpikir lateral selalu berkaitan dengan ide-ide baru, maka nampak erat kaitannya dengan pola berpikir kreatif. Menurut Hurlock (2013:4) bahwa orang yang kreatif tidak selalu memiliki inteligensi yang tinggi, kadang-kadang ditemukan orang yang memiliki bakat kreatifnya tinggi tetapi tingkat kecerdasannya rendah, dan tidak semua orang yang tingkat kecerdasannya tinggi adalah pencipta.
  • 29.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL KELOMPOK KOMPETENSI A 14 a. Karakteristik Kreativitas Beberapa ahli psikologi mengemukakan karakteristik kreativitas, menurut Utami Munandar (Ali, 2014:52) mengemukakan ciri-ciri kreativitas, diantaranya (1) Senang mencari pengalaman baru; (2) Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas sulit; (3) Memiliki inisiatif; (4) Sangat tekun; (4) Cenderung bersikap kritis terhadap orang lain; (6) Berani menyatakan pendapat dan keyakinannya; (7) Selalu ingin tahu; (8) Pekak atau perasa; (9) Enerjik dan ulet; (10) Menyenangi tugas-tugas yang majemuk; (11) Percaya diri; (12) Memiliki rasa humor: (13) Memiliki rasa keindahan; (14) Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi. b. Tahap-Tahap Kreativitas Keberhasilan orang-orang kreatif dalam mencapai ide, gagasan, pemecahan, cara kerja, karya baru menurut Wallas (Ali, 2014:51) biasanya melewati beberapa tahapan sebagi berikut ini. 1) Persiapan meletakan dasar. Mempelajari latar belakang masalah, seluk beluk dan problematiknya. 2) Inkubasi: mengambil waktu untuk meninggalkan masalah, istirahat, santai 3) Iluminasi (illumination) atau insight: tahap mendapatkan ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian, cara kerja, jawaban baru. 4) Verifikasi/produksi (verification/production): menghadapi dan memecahkan masalah-masalah praktis, sehubungan dengan perwujudan ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian, cara kerja, jawaban baru. c. Kreativitas Remaja Perkembangan kreativitas berkaitan erat dengan perkembangan kognitif (Ali, 2014:47. Remaja berada pada tahap operasional formal, sehingga pada masa remaja merupakan tahap yang sangat potensial untuk mengembangkan kreativitas. Orangtua dan guru mempunyai peranan yang penting dalam mengembangkan kreativitas, antara lain cara mendidik yang demokratis dan permisif, menyediakan sarana dan prasarana yang memadai serta mengutamakan proses daripada hasil.
  • 30.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Gembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 15 5. Cara Mengidentifikasi Kecerdasan Peserta Didik a. Pengamatan Menurut Makmun (2009:56) guru dapat menandai kecerdasan umum peserta didik dengan cara membandingkan dengan peserta didik lainnya di dalam kelas. 1) Peserta didik yang cenderung selalu lebih cepat dan mudah memahami materi pelajaran dan menyelesaikan tugasnya, dibandingkan dengan teman- temannya, lebih awal dari waktu yang telah ditetapkan (accelarated learning). 2) Peserta didik yang cenderung selalu mencapai hasil rata-rata saja dan hanya dapat menyelesaikan tugasnya sesuai batas waktu yang ditetapkan dibandingkan dengan teman-temannya.(average student) 3) Peserta didik yang cenderung selalu memiliki kesulitan dalam memahami materi pelajaran, mencapai hasil yang lebih rendah dari teman-temannya, dan hampir selalu tidak dapat menyelesaikan tugas pekerjaannya sesuai batas waktu yang ditetapkan, (slow learners). Meskipun hasil melalui pengamatan ini hanya bersifat tentatif akan tetapi dapat memberi kontribusi kepada guru untuk melakukan penyesuaian yang memadai terhadap kondisi objektif peserta didiknya. b. Analisis Produk Produk yang dianalisis adalah Hasil Ulangan/Tes.dan tugas, wawancara, dokumentasi berupa data prestasi belajar, sikap perilaku peserta didik, hasil psikotes bila ada dsb. Cara-cara identifikasi tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi kecerdasan majemuk dan bakat (tetapi dilakukan pada bidang studi/keterampilan tertentu),. serta kreatiivitas. Cara-cara identifikasi tersebut di atas dapat saling melengkapi untuk mendapatkan informasi yang komprehensif mengenai potensi peserta didik. 6. Implikasi terhadap Pembelajaran Berikut ini adalah hal yang dapat dilakukan guru. a. Rancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman dalam kemampuan Intelektual, kecerdasan majemuk, kemampuan kognitif, dan kreativitas agar
  • 31.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL KELOMPOK KOMPETENSI A 16 tercapai prestasi terbaiknya sesuai dengan potensinya, termasuk pertimbangkan pemikir operasional konkret yang mungkin masih ada di kelas Anda. b. Rancang pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas. c. Ciptakan iklim belajar-mengajar yang kondusif untuk memfasilitasi perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. d. Berikan layanan individual disamping kelompok kepada peserta didik yang sangat cerdas atau yang lambat belajar. D. Aktivitas Pembelajaran 1. Kegiatan 1. Perkembangan Kemampuan Intelektual Peserta Didik a. Tujuan: melalui tugas membuat peta pikiran dan diskusi peserta diharapkan dapat memahami identifikasi kemampuan intelektual dan menggunakannya untuk memfasilitasi perkembangan kemampuan intekektual peserta didik. b. Tugas: 1) Buatlah peta pikiran atau bagan tentang pengembangan kemampuan intelektual meliputi: a) konsep intelegensi, b) ciri-ciri dan tahapan perkembangan intelektual, c) cara mengidentifikasi perkembangan kemampuan intelektual, d) cara menentukan pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan kemampuan intelektual peserta didik. 2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasilnya. 2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan presentasi hasil kegiatan peserta dapat mengidentifikasi perkembangan kemampuan intelektual peserta didik dan menggunakanya untuk pembelajaran yang lebih baik. b. Tugas 1) Curah pendapat mengenai kasus pengembangan kemampuan intelektual peserta didik yang terjadi di kelas guru pembelajar dan
  • 32.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Gembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 17 mengkaji kasus yang termasuk dalam lingkup perkembangan kemampuan intelektual peserta didik. 2) Pilih satu kasus, diskusikan dalam kelompok, usulkan alternatif langkah-langkah pemecahan masalah untuk itu dan presentasikan hasil kegiatan. E. Latihan/Kasus/Tugas 1. Jelaskan cara mengembangkan berpikir kreatif melalui pembelajaran! 2. Peserta didik SMP berada pada tahap perkembangan formal operasional, namun masih banyak peserta didik yang kemampuan berpikirnya abstraknya terbatas, karena masih melakukan konsolidasi terhadap kemampuan operasional konkret. Sebagai guru apa yang akan bapak/ibu lakukan? 3. Kerjakanlah kasus di kelas yang diasuh Bu Aisah identifikasi masalahnya, dan usulkan alternatif tindakan untuk membimbing anak tersebut. Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikan hasilnya. Berikut adalah kasus beberapa anak asuh Bu Aisyah yang sedang ditangani: 1) mencapai KKM melalui remedial dengan nilai di batas KKM, 2) rentang IQ normal bawah; 3) persepsi terhadap mata pelajaran IPA kurang tepat karena menganggapnya sulit; 4) memiliki konsep diri yang negatif terhadap mata pelajaran IPA karena berpikir tidak akan mampu menguasainya; 5) umumnya dapat mengerjakan tugas jika mendapat pendampingan yang intensif. F. Rangkuman 1. Intelegensi atau kemampuan intelektual adalah kemampuan mental umum yang mendasari kemampuannya untuk mengatasi kerumitan kognitif. 2. Tahap perkembangan berpikir pada masa remaja menurut Piaget berada pada tahap berpikir operasional formal, remaja bernalar lebih abstrak, idealis dan lebih logis. Tipe pemikiran logis ini disebut juga penalaran deduktif- hipotetis.
  • 33.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PEREKEMBANGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL KELOMPOK KOMPETENSI A 18 3. Anak usia 11-15 tahun (SMP) berada pada fase formal operasional, namun banyak peserta didik kemampuan berpikir abstraknya masih terbatas. Sedangkan kemampuan intelektual mengalami perkembangan yang paling pesat. 4. Teori kecerdasan majemuk dari Howard Gardner yaitu kecerdasan linguistik, matematik-logis, visual-spasial, musikal, kinestetis, interpersonal, intrapersonal, naturalis, 5. Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru, berbeda, dan unik yang timbul dari pemikiran divergen. G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Lakukan uji diri seperti dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Anda dianjurkan berlatih menggunakan kasus kelas Anda dan susunlah alternatif solusi untuk peserta didik yang teridentifikasi mengalami kendala. Untuk menambah wawasan dianjuran pula untuk mempelajari metodologi pembelajaran yang sesuai untuk mengembangkan kemampuan intelektual yang beragam.
  • 34.
    KEGIATAN PEMBELAJARAN 3:PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN KELOMPOK KOMPETENSI A 19 Untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai karakteristik peserta didik, maka disamping memahami perkembangan aspek psikologis juga harus memahami perkembangan aspek fisik peserta didik. Perkembangan fisik sangat penting dipelajari, karena akan mempengaruhi perilaku anak-anak sehari-hari. Pengaruh perkembangan fisik secara langsung menentukan keterampilan anak dalam bergerak, sedangkan secara tidak langsung, pertumbuhan dan perkembangan fisik akan mempengaruhi anak dalam memandang dirinya sendiri dan memandang orang lain. Hal ini akan tercermin dari pola penyesuaian diri anak secara umum A. Tujuan Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar diharapkan dapat memahami ciri-ciri perkembangan fisik remaja dan ciri-ciri remaja yang sehat secara fisik; mengidentifikasi kondisi kesehatan fisik peserta didik dan menentukan pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik yang memiliki karakteristik fisik tertentu. B. Indikator Ketercapaian Kompetensi Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan beberapa indikator tentang perkembangan fisik dan kesehatan berikut ini. 1. Mendeskripsikan ciri-ciri perkembangan fisik remaja. 2. Mendeskripsikan ciri-ciri remaja yang sehat secara fisik. 3. Menjelaskan dampak perubahan fisik terhadap perilaku. 4. Mengidentifikasi kondisi kesehatan fisik peserta didik. KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN
  • 35.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN KELOMPOK KOMPETENSI A 20 5. Menentukan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik dengan kesehatan fisik kurang baik. C. Uraian Materi Pemahaman pendidik terhadap kondisi fisik peserta didik sangat penting, karena dalam kegiatan belajar tidak hanya melibatkan proses mental saja, akan tetapi melibatkan kegiatan fisik. Menurut Makmun (2009:95) normalitas dari konstitusi, struktur, dan kondisi jasmaniah seorang anak akan mempengaruhi normalitas kepribadiannya, khususnya yang bekaitan dengan masalah citra diri (body– image), konsep diri (self-concept), dan harga diri (self-esteem). Selain itu terlalu cepat atau keterlambatan dalam mencapai kematangan pertumbuhan fisik dan kesehatan juga akan menimbulkan permasalahan terhadap sikap dan perilaku peserta didik pada umumnya, dan khususnya pada kegiatan belajar. 1. Perkembangan Fisik remaja Awal Masa remaja adalah masa yang begitu penting dalam hidup manusia, karena masa tersebut terjadi proses awal kematangan organ reproduksi manusia yang disebut sebagai masa pubertas. Matangnya organ reproduksi memungkinkan remaja pria mengalami mimpi basah dan remaja wanita mengalami haid pertama atau menarche (Yusuf, 2006:7). Pubertas tidak sama dengan masa remaja, akan tetapi pubertas merupakan awal yang penting yang menandai masa remaja. Masa remaja awal (early.dolescence) berlangsung di masa SMP atau SMA, dan perubahan pubertas terbanyak terjadi pada masa ini (Santrock,2007:20). Selanjutnya Hurlock (2003:188) menyatakan bahwa pubertas adalah suatu periode dimana terjadi pertumbuhan yang cepat dan perubahan proporsi tubuh yang mencolok. 2. Ciri-ciri Perkembangan Fisik Remaja dan Keanekaragaman Proporsi Tubuh Selama masa remaja terjadi perubahan-perubahan pada seluruh tubuh, baik bagian dalam maupun bagian luar tubuh, baik perubahan struktur tubuh maupun fungsinya. Faktanya hampir semua bagian tubuh perubahannya mengikuti irama yang tetap, sehingga waktu terjadinya dapat diperkirakan sebelumnya. Perubahan tersebut nampak jelas pada masa remaja awal.
  • 36.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 21 Perubahan-perubahan fisik yang penting dan yang terjadi pada masa remaja menurut Sunarto (2002:82) adalah (1) perubahan ukuran tubuh; (2) tubuh yang kurang proporsional; (3) ciri kelamin primer; (4) ciri kelamin sekunder. Perbedaan proporsi tubuh di antara remaja disebabkan percepatan pertumbuhan dan proses kematangan seksual. 3. Dampak Perubahan Fisik Perubahan fisik pada masa remaja berpengaruh terhadap keadaan fisik dan psikologis remaja, diantaranya terhadap aspek emosional, sosial maupun kepribadian. Hal ini akan memberikan pengaruh terhadap karakteristik sikap dan perilaku remaja. Menurut Ridwan (2004: 118-119) beberapa pengaruh perubahan fisik terhadap sikap dan perilaku, yaitu : a. Ingin menyendiri. Remaja mulai menarik diri dari teman-temannya dan dari berbagai kegiatan keluarga. b. Bosan. Remaja mulai bosan dengan permainan yang sebelumnya amat digemari, bosan dengan tugas-tugas sekolah, kegiatan-kegiatan sosial dan kehidupan pada umumnya. c. Inkoordinasi. Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi pada koordinasi gerakan. remaja merasa canggung dan janggal selama beberapa waktu. d. Antagonisme Sosial. Remaja seringkali tidak mau bekerja sama, sering membantah dan menentang, bermusuhan antara dua jenis kelamin. e. Emosi yang meninggi. Kemurungan, merajuk, ledakan amarah dan kecenderungan untuk menangis. f. Hilangnya kepercayaan diri. Remaja banyak yang mengalami rendah diri karena kritik yang bertubi-tubi datang dari orang tuanya g. Terlalu Sederhana Remaja berpenampilan sangat sederhana karena takut orang lain akan memperhatikan perubahan tubuhnya dan memberi komentar yang buruk. 4. Cara Mengidentifikasi Pertumbuhan Fisik dan Kesehatan Fisik Peserta Didik Cara mengidentifikasi kondisi dan kesehatan fisik peserta didik di dalam kegiatan belajar mengajar sama dengan cara identifikasi pada materi pembelajaran 2.
  • 37.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN KELOMPOK KOMPETENSI A 22 5. Implikasi dalam Pembelajaran Normalitas jasmaniah, keterlambatan, atau terlalu cepatnya dalam mencapai kematangan dalam pertumbuhan fisik serta kesehatan dapat menimbulkan permasalahan terhadap sikap dan perilaku peserta didik pada umumnya dan pada kegiatan belajar khususnya. Berikut ini hal yang dapat dilakukan guru. a. Miliki data kondisi fisik dan kesehatan setiap peserta didik, dan memperhatikan kesehatan peserta didik pada awal pembelajaran. b. Beri perhatian khusus kepada peserta didik yang mengalami gangguan panca indera. c. Miliki pemahaman yang empatik kepada peserta didik yang memiliki penyakit kronis/bawaan dan tubuh kurang normal seperti cacat fisik. d. Kerja sama dengan guru BK, wali kelas, dan orangtua, serta dengan tenaga ahli (dokter dan psikolog) jika diperlukan penanganan khusus. e. Bimbing peserta didik untuk mensyukuri keadaan fisiknya dan bagaimana memelihara kesehatan serta menggunakan tubuhnya secara efektif. Gambar 3.1 Pembelajaran untuk Pengembangan Fisik dan Kesehatan D. Aktivitas Pembelajaran 1. Kegiatan 1. Perkembangan Fisik dan Kesehatan Peserta Didik a. Tujuan: melalui tugas diskusi dan membuat peta pikiran peserta diharapkan dapat memahami materi perkembangan fisik dan kesehatan peserta didik b. Tugas: 1) Buatlah peta pikiran atau bagan tentang perkembangan fisik dan kesehatan yang meliputi : a) Perkembangan aspek fisik, b) ciri-ciri
  • 38.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 23 remaja yang sehat secara fisik, c) pengaruh perkembangan fisik terhadap perilaku. 2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasil kegiatan. 2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan presentasi peserta dapat mengidentifikasi kasus perkembangan fisik dan kesehatan peserta didik dan menyusun alternatif solusi untuk itu. b. Tugas 1) Curah pendapat mengenai kasus perkembangan fisik dan kesehatan remaja yang terjadi di kelas dan mengkaji kasus yang termasuk dalam lingkup perkembangan fisik dan kesehatan. 2) Pilih satu kasus, diskusikan dalam kelompok, usulkan alternatif untuk membantu kasus tersebut dan presentasikan hasil kegiatan. E. Latihan/Kasus/Tugas 1. Perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja terjadi sangat mencolok dan jelas sehingga dapat mengganggu keseimbangan yang sebelumnya terbentuk, hal ini sering menimbulkan emosi yang meninggi, jelaskan? 2. Mengapa guru harus memiliki pemahaman empatik dan perhatian kepada peserta didik, terutama pada anak yang memiliki kelemahan, kecacatan, atau memiliki penyakit yang kronis? 3. Kerjakanlah kasus yang ditangani Bu Milati, identifikasi gejala, dan masalahnya serta usulkan alternatif solusi untuk itu. Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikan hasilnya. Bu Milati adalah guru IPA dan sedang menyusun program untuk menangani beberapa peserta didik perempuan asuhannya di kelas 8 yang sering sakit kepala, kejang, sakit perut yang kadang-kadang sampai muntah dan pingsan saat mereka sedang menstruasi. Disamping itu mereka cenderung lebih suka menyendiri dan mudah marah. Informasi yang berhasil dikumpulkannya diperoleh dari peserta didik, teman-teman dekatnya, guru BK, dan sejawat guru. Dari hasil wawancara dengan peserta didik diketahui mereka sering merasa lelah, tertekan, dan nafsu
  • 39.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: PERKEMBANGAN FISIK DAN KESEHATAN KELOMPOK KOMPETENSI A 24 makan yang menurun. Gejala-gejala seperti ini baru mereka rasakan sejak mulai menstruasi. F. Rangkuman 1. Perkembangan fisik berpengaruh kepada perkembangan kepribadian, khususnya yang bekaitan dengan masalah citra diri(body–image) konsep diri (self-concept), harga diri (self-esteem). 2. Pada masa remaja terjadi proses awal kematangan organ reproduksi manusia yang disebut sebagai masa pubertas. Pubertas merupakan awal yang penting yang menandai masa remaja. Pada masa pubertas terjadi pertumbuhan fisik yang cepat dan perubahan proporsi tubuh yang mencolok. 3. Ciri-ciri perkembangan tubuh remaja yaitu, perubahan ukuran tubuh, proporsi tubuh yang kurang proporsional, ciri-ciri kelamin primer dan sekunder. 4. Pengaruh perubahan fisik terhadap sikap dan perilaku peserta didik diantaranya ingin menyendiri, bosan, inkoordinasi, antagonisme sosial, emosi yang meninggi, hilangnya kepercayaan diri, terlalu sederhana. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Lakukan uji diri seperti yang dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Anda dianjurkan untuk berlatih menggunakan kasus di kelas Anda. Anda dianjurkan pula mempelajari pengembangan aspek-aspek yang berpengaruh terhadap kepribadian khususnya terkait masalah imej fisik (body-image), konsep diri (selfconcept), self-esteem, dan harga diri. Penanganan kematangan pertumbuhan fisik dan kesehatan yang terlalu cepat atau lambat sebaiknya diperdalam agar bisa ditangani dengan tepat sehingga tidak sampai menimbulkan masalah sikap, perilaku, dan pembelajaran.
  • 40.
    KEGIATAN KOMPETENSI 4:KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL KELOMPOK KOMPETENSI A 25 Menurut Gardner untuk meraih sukses, diperlukan kecerdasan dalam spektrum yang luas yaitu kecerdasan majemuk diantaranya kecerdasan intrapersonal yang sudah menyentuh aspek emosional. Manusia adalah mahluk sosial, tetapi sifat- sifat sosial tidak dibawa sejak lahir. Sifat-sifat sosial diperoleh melalui proses belajar melalui interaksi dengan lingkungan sosial. Belajar menjadi pribadi sosial tidak diperoleh dalam waktu singkat, tapi manusia belajar searah dengan siklus kehidupan, dengan periode kemajuan yang pesat kemudian mendatar. A. Tujuan Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar diharapkan dapat memahami konsep perkembangan aspek sosial dan kecerdasan emosi; identifikasi perkembangan kecerdasan emosi dan keterampilan perilaku sosial; serta implementasinya dalam pembelajaran. B. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan beberapa indikator tentang kecerdasan emosi dan perkembangan aspek berikut ini: 1. Menjelaskan tahapan perkembangan kecerdasan emosi peserta didik. 2. Membedakan ciri-ciri perilaku peserta didik yang memiliki kecerdasan emosi tinggi dengan rendah. 3. Mengidentifikasi kecerdasan emosi peserta didik. 4. Mendeskripsikan proses perkembangan aspek sosial peserta didik. 5. Membedakan ciri-ciri perilaku sosial peserta didik antara yang berperilaku sosial baik dan kurang baik. KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL
  • 41.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL KELOMPOK KOMPETENSI A 26 6. Mengidentifikasi keterampilan perilaku sosial peserta didik. 7. Menentukan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi pengembangan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik. C. URAIAN MATERI 1. Perkembangan Emosi Emosi dapat didefinisikan sebagai suatu suasana yang kompleks dan getaran jiwa yang menyertai atau muncul sebelum/sesudah terjadinya perilaku (Makmun, 2009:114). Emosi tidak hanya melibatkan perasaan dan pikiran, aspek biologis dan psikologis, namun disertai serangkaian tindakan. Menurut Hurlock (2003:213) perkembangan emosi dipengaruhi oleh faktor kematangan dan faktor belajar, tetapi faktor belajar lebih penting, karena belajar merupakan faktor yang lebih dapat dikendalikan. Terdapat berbagai cara dalam mengendalikan lingkungan untuk menjamin pembinaan pola-pola emosi yang diinginkan, orangtua dan guru dapat membantu anak untuk memiliki pola reaksi emosi yang diinginkan melalui pengajaran dan bimbingan. a. Pengendalian Emosi Untuk dapat melakukan penyesuaian sosial yang baik, peserta didik harus mampu mengendalikan emosi dengan baik. Anak harus belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang dapat diterima secara sosial.. Menurut Hurlock (2003:231) mengendalikan emosi adalah mengarahkan energi emosi ke saluran ekspresi yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial. Dalam mengendalikan emosi, anak harus belajar bagaimana cara menangani rangsangan yang membangkitkan emosi dan bagaimana cara mengatasi reaksi yang biasa menyertai emosi. b. Karakteristik Aspek Emosi Remaja Awal Menurut Yusuf (2006:9) masa remaja merupakan masa memuncaknya emosionalitas, Matangnya organ-organ reproduksi mempengaruhi emosi atau perasaan-perasaan baru yang sebelumnya tidak pernah dialami, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis. Perkembangan emosi pada masa remaja awal bersifat sensitif dan reaktif (kritis) yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosi
  • 42.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANKOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 27 cenderung memuncak dan kurang stabil,, emosinya sering bersifat negatif dan temperamental (mudah marah/tersinggung, atau mudah sedih/murung). Kondisi ini terutama pada remaja yang hidup di lingkungan yang tidak harmonis. khususnya lingkungan keluarga. c. Kecerdasan Emosi Kecerdasan emosi memiliki peran yang penting dalam pendidikan, maupun dunia kerja bahkan ke semua bidang kehidupan yang melibatkan hubungan antar manusia. Menurut Goleman (1997:57) bahwa setiap orang tentu memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam wilayah kecerdasan emosi, mungkin beberapa orang yang amat terampil dalam menangani kecemasan sendiri akan tetapi sulit mengatasi rasa marah. Kecerdasan emosional memiliki lima wilayah utama, yaitu sebagai berikut ini. 1) Mengenali emosi diri. Mengenali perasaan saat perasaan itu muncul 2) Mengelola Emosi, kemampuan mengendalikan diri, mengatur suasana hati. 3) Memotivasi diri sendiri., kemampuan mengelola emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan. 4) Mengenali emosi orang lain, kemampuan berempati kepada orang lain. 5) Membina hubungan dengan orang lain sebagian besar merupakan keterampilan memahami dan mengelola emosi orang lain. Peter Salovey dan John Mayer menjelaskan kualitas-kualitas emosional yang penting untuk mencapai kesuksesan (Shapiro, 1997:5). Kualitas-kualitas tersebut di antaranya adalah: (1) Empati; (2) Mengungkapkan dan memahami perasaan; (3)Mengendalikan amarah; (4)Kemandirian; (5) Kemampuan menyesuaikan diri; (6) Disukai; (7) Kemampuan memecahkan masalah antarpribadi(8) Ketekunan; (9) Kesetiakawanan; (10)Keramahan; (11) Sikap Hormat. 2. Perkembangan Sosial Manusia sebagai mahluk sosial akan terus menerus melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sosial sepanjang hidupnya, Melakukan interaksi sosial dengan individu maupun kelompok, berperilaku sesuai dengan norma-norma social, moral, dan harapan masyarakat serta kebudayaan. Yusuf (2014:122) menyatakan bahwa perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan
  • 43.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL KELOMPOK KOMPETENSI A 28 dalam hubungan sosial. Pencapaian kematangan diperoleh memalui proses belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan oranglain atau proses sosialisasi. a. Karakteristik Perilaku Sosial Remaja Masa remaja kaitannya dengan pengembangan nilai- nilai yang selaras dengan nilai-nilai orang dewasa yang akan dimasukinya, yaitu tugas untuk mengembangan perilaku sosial yang bertanggung jawab Pada masa remaja berkembang social cognition, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, hal ini mendorong remaja untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya. Masa ini ditandai oleh sikap konformitas, yaitu kecenderungan untuk meniru, mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran/hobi, atau keinginan orang lain Sikap konformitas berubah seiring dengan bertambahnya usia dan berkembangnya kemampuan berpikir yang lebih matang (Yusuf, 2006:10). Perubahan perilaku sosial yang paling menonjol pada masa remaja adalah menyukai lawan jenis. Remaja senang mengikuti berbagai kegiatan sosial, semakin banyak kesempatan untuk melakukan aktivitas sosial yang baik, maka wawasan sosialnya lebih luas, penyesuaian diriyang lebih baik, dan meningkatnya kompetensi sosial seperti kemampuan berkomunikasi. b. Status Sosial Teman Sebaya Penerimaan sosial berkaitan dengan kualitas pribadi yaitu banyaknya sifat-sifat baik, menarik dan keterampilan sosial. Berdasarkan hubungan sosial di antara peserta didik ada empat status teman sebaya menurut Rubin, Bukowski&Parker, Wentzel & Asker, Wentzel & Battle (Santrock,2010:100) yaitu : 1) Anak popular disukai oleh teman sebayanya dan seringkali dinominasikan sebagai teman yang terbaik, karena memiliki keterampilan sosial yang tinggi. 2) Anak yang diabaikan (neglected children) jarang dinominasikan sebagai teman terbaik, tetapi bukan karena tidak disukai oleh teman sebayanya. 3) Anak yang ditolak (rejected chidren) jarang dinominasikan sebagai teman terbaik dan sering dibenci oleh teman sebayanya. Anak menunjukkan agresi tinggi, menarik diri, serta kemampuan sosial dan kognitif yang rendah. Anak yang ditolak, menurut Buke & Ladd (Santrock, 2010:100) mengalami masalah penyesuaian diri yang serius dibanding anak yang diabaikan.
  • 44.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANKOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 29 4) Anak kontrovesial sering dinominasikan sebagai teman terbaik tapi sering tidak disukai.Anak kontroversial tinggi dalam penerimaan dan penolakan. Penolakan oleh teman sebaya mempengaruhi prestasi belajar, munculnya masalah emosi, dan cenderung meningkatnya risiko kenakalan remaja. c. Kecerdasan Emosi dan Keterampilan Sosial Kecerdasan emosi dan keterampilan sosial akan membentuk karakter, berdasarkan beberapa hasil penelitian bahwa kecerdasan emosi dan keterampilan sosial lebih penting dari inteligensi (IQ) dalam mencapai keberhasilan hidup. Kecerdasan emosi (EQ) membuat anak memiliki semangat yang tinggi dalam belajar atau disukai oleh teman-temannya dalam kegiatan bermain, maka hal itu akan membawa keberhasilan ketika memasuki dunia kerja atau berkeluarga. Menurut Shapiro (1997:1975) bahwa kecerdasan emosi dan keterampilan sosial dapat diajarkan kepada anak sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya. Disarikan dari penjelasan Shapiro cara mengajarkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial antara lain bagaimana, (1) membina hubungan persahabatan; (2) tata karma; (3) bekerja dalam kelompok; (4) berbicara dan mendengarkan secara efektif; (5) mengatasi masalah dengan teman yang nakal ; (6) berempati terhadap orang lain; (7) mencapai prestasi tinggi; (8) memecahkan masalah; (9) memotivasi diri bila menghadapi masa- masa yang sulit; (10) percaya diri saat menghadapi situasi yang sulit; (11) menjalin keakraban. d. Identifikasi Kecerdasan Emosi dan Keterampilan Sosial Peserta Didik Guru dapat melakukan identifikasi kecerdasan emosi dan keterampilan sosial dengan cara yang sama seperti pada identifikasi materi pembelajaran 2. e. Implementasi dalam Pembelajaran 1) Prioritaskan identifikasi peserta didik yang diduga memiliki kecerdasan emosi dan keterampilan sosial yang rendah. 2) Pahami keragaman dalam kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik, serta bersikap bijak menghadapi mereka yang memiliki kecerdasan emosi dan keterampilan sosial yang rendah. 3) Sebagai model sosial tampilkan perilaku yang mencerminkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial yang tinggi serta Ikhlas dalam mengajar.
  • 45.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL KELOMPOK KOMPETENSI A 30 4) Ciptakan iklim belajar yang kondusif bagi perkembangan kecerdasan emosi dan sosial, yaitu iklim yang demokratis, nyaman, tidak tegang, diselingi humor, dan suasana gembira. 5) Rancang pembelajaran dengan memasukan aspek kecerdasan emosi dan keterampilan social, melalui disiplin, bimbingan dan pembiasaan yang disertai penguatan, serta pembelajaran berbasis kelompok disamping klasikal. 6) Bmbing peserta didik untuk mengekspresikan emosi yang bisa diterima secara sosial. 7) Bekerja sama dengan guru BK, wali kelas dan orangtua untuk membantu peserta didik mengembangkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial. D. Aktivitas Pembelajaran 1. Kegiatan 1. Kecerdasan Emosional dan Perkembangan Sosial a. Tujuan: melalui tugas membaca, diskusi, dan membuat peta pikiran peserta diharapkan dapat memahami kecerdasan emosi dan perkembangan sosial, identifikasi, dan fasilitasinya melalui pembelajaran untuk meningkatkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial. b. Tugas: 1) Buatlah peta pikiran, bagan mengenai kecerdasan emosi dan perkembangan sosial meliputi: a) tahapan perkembangan kecerdasan emosi peserta didik; b) ciri-ciri perilaku peserta didik yang memiliki kecerdasan emosi tinggi dan rendah; c) identifikasi kecerdasan emosi peserta didik; d) proses perkembangan aspek sosial peserta didik, e) ciri-ciri perilaku sosial peserta didik antara yang baik dan kurang baik; f) identifikasi keterampilan perilaku sosial peserta didik; g) pembelajaran yang memfasilitasi pengembangan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik. 2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasilnya. 2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan presentasi hasil kegiatan peserta dapat mengidentifikasi perkembangan
  • 46.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANKOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 31 kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik serta menggunakannya untuk pengembangannya melalui pembelajaran. b. Tugas 1) Curah pendapat mengenai kasus kecerdasan emosi dan perkembangan sosial peserta didik yang terjadi di kelas guru pembelajar dan mengkaji kasus yang termasuk dalam lingkup perkembangan kecerdasan emosi dan perkembangan sosial peserta didik. 2) Pilih satu kasus, diskusikan dalam kelompok, usulkan alternaif solusi untuk itu dan presentasikan hasil kegiatan. E. Latihan/Kasus/Tugas 1. Salah satu aspek yang penting dalam kecerdasan emosi adalah pengendalian emosi. Mengapa peserta didik harus diajarkan cara mengendalikan emosi, jelaskan? 2. Remaja perlu mendapat bimbingan dari orang tua dan guru serta orang dewasa lainnya agar memiliki kemampuan dalam memilih teman sebaya, jelaskan? 3. Kerjakanlah kasus-kasus berikut ini, identifikasi gejala dan masalahnya, serta usulkan alternatif solusi untuk itu. Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikan hasilnya. Berikut simpulan Pak Amir dari informasi yang berhasil dikumpulkan terkait beberapa anak asuhnya. 1) saat bekerja sama dalam kelompok kadang-kadang tidak dapat mengendalikan diri dan cenderung marah saat pendapatnya tidak diterima. 2) kadang-kadang merasa paling benar sehingga kurang dapat menghargai pemikiran anggota kelompok lainnya. 3) marah terhadap guyonan dimana teman lainnya merasa hal tersebut biasa saja
  • 47.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL KELOMPOK KOMPETENSI A 32 Berikut adalah informasi yang berhasil dikumpulkan Bu Zainab terkait anak asuh yang sedang ditangani: 1) seringkali terlambat dalam menyelesaikan tugas, kadang-kadang tidak menyelesaikan tugas di kelas, tidak melaksanakan tugas sesuai kesepakatan saat kerja kelompok; 2) saat pembelajaran menggunakan HP secara sembunyi-sembunyi 3) sering keluar masuk saat pembelajaran 4) tidak memasukan baju atasan ke dalam rok, melipat bagian ujung lengan baju, tidak menggunakan sepatu wajib, 5) bolos pada jam terakhir 4. Tentukanlah kasus perkembangan kecerdasan dan aspek sosial dari peserta didik di kelas Anda, identifikasi gejala dan masalahnya, serta rancang apa yang sebaiknya Anda lakukan sebagai alternatif solusi! F. Rangkuman 1. Perkembangan emosi pada masa remaja awal bersifat sensitif dan reaktif (kritis) emosi cenderung memuncak dan kurang stabil,, emosinya sering bersifat negatif dan temperamental. Selain itu munculnya perasaan baru seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis. 2. Kecerdasan emosi memiliki lima wilayah, yaitu (1) mengenali emosi diri; (2) mengelola emosi diri; (3) memotivasi diri sendiri; (4) mengenali emosi orang lain; (5) membina hubungan. 3. Pada masa remaja berkembang social cognition yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, dan konformitas. 4. Perubahan perilaku sosial yang paling menonjol pada masa remaja adalah hubungan dengan lawan jenis, dan senang mengikuti berbagai aktivitas sosial. 5. Penerimaan sosial oleh teman sebaya sangat penting karena berkaitan dengan harga diri, karena itu remaja harus mampu mengendalikan emosi
  • 48.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANKOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 33 dan memiliki keterampilan sosial. Empat status hubungan sosial teman sebaya yaitu anak popular, anak yang diabaikan, anak yang ditolak, dan anak kontroversial.
  • 49.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN KOMPETENSI 4: KECERDASAN EMOSI DAN PERKEMBANGAN ASPEK SOSIAL KELOMPOK KOMPETENSI A 34 G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Lakukanlah uji diri seperti dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Anda dianjurkan untuk berlatih menggunakan kasus di kelas Anda, mempelajari instrumen identifikasi yang relevan, metodologi pembelajaran serta cara mengembangkan iklim belajar yang kondusif untuk mengembangkan kecerdasan emosi dan perkembangan keterampilan sosial.
  • 50.
    34 KEGIATAN PEMBELAJARAN5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL KELOMPOK KOMPETENSI A Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Perilaku moral dikendalikan oleh konsep-konsep moral–peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya. Konsep-konsep moral menentukan pola perilaku yang diharapkan oleh masyarakat. Memahami nilai- nilai yang dapat mengontrol perilaku dalam suatu masyarakat dan mengatur perilaku seseorang secara benar merupakan bagian yang penting dari perkembangan konsep benar dan salah, hal itu berubah sejalan dengan tumbuh dewasa. Manusia diciptakan dengan fitrah sebagai hambaNya untuk beribadah kepadaNya. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya God-Spot pada otak manusia. Pada God-Spot itulah terdapat fitrah manusia yang terdalam. A. Tujuan Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar diharapkan dapat memahami konsep perkembangan aspek moral dan kecerdasan spiritual; identifikasi ciri-ciri moral dan kecerdasan spiritual peserta didik; dan implementasinya dalam pembelajaran. B. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan beberapa indikator tentang perkembangan moral dan kecerdasan spiritual berikut ini: 1. Mendeskripsikan tahapan perkembangan aspek moral peserta didik. 2. Membedakan ciri-ciri moral peserta didik yang tinggi dan rendah. 3. Mengidentifikasi moral peserta didik. 4. Mendeskripsikan tahapan perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik. KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL
  • 51.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 35 5. Membedakan ciri-ciri perilaku peserta didik yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi dan rendah 6. Mengidentifikasi kecerdasan spiritual peserta didik 7. Menentukan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan aspek moral dan kecerdasan spiritual peserta didik C. Uraian Materi 1. Perkembangan Moral Setiap individu sebagai bagian dari masyarakat diharapkan bersikap sesuai dengan cara yang disetujui masyarakat. Berperilaku sesuai dengan yang disetujui masyarakat diperoleh melalui proses yang panjang dan lama yang terus berlanjut sampai usia remaja. Interaksi sosial memegang peranan penting dalam perkembangan moral, karena anak mempunyai kesempatan untuk belajar kode moral dan mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana orang lain memberikan penilaian. a. Tingkat danTahapan Perkembangan Moral Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap (Santrock, 2010:119). Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg adalah internalisasi, yaitu perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal. Tingkat Satu: Penalaran Prakonvensional.Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral tetapi dikendalikan oleh hadiah dan hukuman eksternal. Tahap 1: Orientasi hukuman dan ketaatan. Tahap 2: Orientasi ganjaran (the instrumental relativist orientat). Tingkat Dua: Penalaran Konvensional. Pada tingkat penalaran konvensional individu memandang apa yang diharapkan keluarga, kelompok atau bangsa. Setia dan mendukung aturan sosial bukan sekedar konformitas, melainkan berharga. Pada tahap ini sudah terjadi internalisasi tetapi belum sepenuhnya.
  • 52.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL KELOMPOK KOMPETENSI A 36 Tahap 3: Norma-norma interpersonal. Tahap 4: Orientasi otoritas (authority and social order maintaining orientation). Tingkat Tiga: Penalaran Pascakonvensional. Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini terjadi internalisasi moral pada individu dan tidak didasarkan pada standa- standar moral orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan, kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi. Tahap 5: Orientasi kontrak sosial. Tahap 6: Prinsip-prinsip etika universal. b. Perkembangan Moral Masa Remaja Menurut Hurlock (2006:225) salah satu tugas perkembangan yang penting pada masa remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok atau sosial-budayanya. Remaja harus berperilaku sesuai dengan harapan-harapan sosial tanpa dibimbing dan di awasi, didorong, dan diancam dengan hukuman seperti saat masa anak-anak. Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral pada masa anak-anak dengan prinsip-prinsip moral yang berlaku umum, dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi menjadi pedoman untuk berperilaku baik. Mitchel menegaskan remaja harus mengendalikan perilakunya sendiri, yang dulu menjadi tanggung jawab orangtua dan guru. (Hurlock, 2006:225). Remaja umumnya berada pada tingkat pascakonvensional, Pada tingkat ini terjadi internalisasi moral dan tidak didasarkan pada standar-standar moral orang lain. Bila remaja telah mencapai tingkat pascakonvensional, berarti remaja telah mencapai kematangan sistem moral. c. Karakteristik Umum Perilaku Moral Remaja Awal Peserta didik bersikap kritis terhadap perilaku orangtua, guru, atau orang dewasa lainnya, peserta didik akan menilai apakah perilaku mereka adalah asli atau bersifat kepura-puraan (hypocrite). Remaja mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya (Makmun, 2009:134) Remaja membentuk kode moral sebagai pedoman berperilaku, dan beberapa remaja dilengkapi dengan kode moral yang diperoleh dari pelajaran agama.
  • 53.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 37 Menurut Santrock (2007:315) perilaku moral adalah perilaku prososial, yang melibatkan sifat untuk menolong orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri (altruisme). Sifat empati berkontribusi terhadap perkembangan moral remaja. Selanjutnya Lawrence Walker (Santrock, 2007::319) menyatakan diantara kebijaksanaan moral yang diutamakan adalah kejujuran, kebenaran, dapat dipercaya, kepedulian, keharuan, keprihatinan, dan konsiderasi, loyalitas dan mendengarkan kata hati. 2. Kecerdasan Spiritual Menurut Agustian (2001:57) kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan. Dengan demikian ia akan mengawali segala sesuatunya dengan nama Tuhan, menjalaninya sesuai dengan perintah Tuhan dan mengembalikan apapun hasilnya kepada Tuhan. Zohar dan Marshal menyatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia, karena paling berperan dalam kehidupan manusia (Agustian, 2001:57). Kecerdasan spiritual merupakan aspek yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian manusia., dan merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. a. Proses Perkembangan Kecerdasan Spiritual dan Penghayatan Keagamaan Agama tidak sama dengan spiritualitas, namun menurut Mikley (Desmita, 2014:208) agama merupakan salah satu dimensi dari spiritualitas disamping dimensi eksistensial. Dimensi eksistesial dari spiritualitas berfokus pada tujuan dan makna hidup, sedangkan dimensi agama dari spiritualitas berfokus pada hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Kuasa Potensi kecerdasan spiritual berkembang karena adanya pengaruh interaksi dengan lingkungan sekitar sampai akhir hayatnya.. Menurut Daradjat (2010:75) bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan penghayatan keagamaan adalah orangtua, guru dan dan lingkungan..Pemahaman tentang penghayatan keagamaan sejalan dengan dengan perkembangan kognitifnya. Oleh karena itu menurut Desmita (2014:282) meskipun pada masa awal anak-anak, mereka telah diajarkan agama tetapi pada masa remaja mereka mempertanyakan
  • 54.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL KELOMPOK KOMPETENSI A 38 kebenaran keyakinan agama mereka sendiri. Remaja juga memperlihatkan pemahaman agama yang lebih abstrak dan logis. Menurut Kay dalam Pikunas (Yusuf, 2006:13) bahwa dalam perkembangan kesadaran beragama pada masa remaja, tugas utamanya adalah mencapai kematangan sistem moral untuk membimbing perilakunya. Kematangan remaja belum dikatakan sempurna, apabila belum menunjukkan kode moral yang dapat diterima secara universal. b. Krakteristik Perilaku Penghayatan Keagamaan dan Spiritual Peserta Didik Menurut Makmun (2009;134) gambaran umum perilaku religius pada masa remaja awal, mulai mempertanyakan secara kritis dan skeptis mengenai keberadaan dan sifat kemurahan serta keadilan Tuhan . Penghayatan keagamaan sehari-hari dilakukan mungkin berdasarkan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya, masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidupnya. Berkenaan dengan corak berpikir yang kritis dan skeptis, maka diperlukan bimbingan dan pendidikan yang efektif dari orangtua dan guru. agar peserta didik memiliki kesadaran beragama yang baik, memiliki keimanan dan ketaqwaan yang tinggi, sehingga peserta didik memiliki akhlaq mulia. c. Identifikasi Perilaku Moral dan Kecerdasan Spiritual Peserta Didik Cara identifikasi aspek moral dan kecerdasan spiritual peserta didik sama dengan cara identifikasi yang telah diuraikan pada materi pembelajaran 1. d. Implementasi dalam Pembelajaran 1) Jadilah social model dengan menampilkan sikap dan perilaku yang mencerminkan kepribadian dan moral yang baik, serta cerdas secara spiritual, 2) Bersikaplah menerima semua peserta didik, terutama peserta didik dengan perilaku moral dan kecerdasan spiritual yang masih rendah serta ciptakan iklim belajar yang kondusif bagi perkembangan pribadi peserta didik agar tercapai perkembangan yang optimal. 3) Rancang pembelajaran dengan memasukan aspek moral atau karakter dan spiritual yang terintegrasi dalam pembelajaran.
  • 55.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 39 4) Kembangkan perilaku moral dan spiritual melalui, pembiasaan dan disiplin yang disertai konsekuensi yang mendidik. 5) Biasakan berdoa sebelum dan sesudah belajar dan dorong peserta didik untuk rajin beribadah serta libatkan dalam kegiatan keagamaan dan sosial. 6) Buat suatu proyek/tugas kelompok/kelas yang dapat meningkatkan sikap altruisme. (sikap membantu orang lain dengan ikhlas). 7) Bekerja sama dengan wali kelas, guru BK dan guru agama serta orangtua untuk membantu meningkatkan perilaku moral dan kecerdasan spiritual. Gambar 5.1 Pembelajaran untuk Pengembangan Moral dan Spiritual D. Aktivitas Pembelajaran 1. Kegiatan 1. Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual a. Tujuan: melalui tugas membaca, diskusi, dan membuat peta pikiran peserta diharapkan dapat memahami perkembangan moral dan kecerdasan spiritual, identifikasi, dan fasilitasinya melalui pembelajaran untuk meningkatkan perkembangan moral dan kecerdasan spiritual. b. Tugas: 1) Buatlah peta pikiran atau bagan mengenai perkembangan moral dan kecerdasan spiritual, meliputi: a) tahapan perkembangan aspek moral peserta didik; b) ciri-ciri moral peserta didik yang tinggi dan rendah; c) identifikasi moral peserta didik; d) tahapan perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik; e) ciri-ciri perilaku peserta didik yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi dan rendah; f) identifikasi kecerdasan spiritual peserta didik; g) pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan aspek moral dan kecerdasan spiritual peserta didik. 2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasilnya.
  • 56.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL KELOMPOK KOMPETENSI A 40 2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan presentasi hasil kegiatan peserta dapat mengidentifikasi perkembangan moral dan kecerdasan spiritual peserta didik dan menggunakanya untuk pembelajaran yang lebih baik bagi pengembangan moral dan kecerdasan spiritual. b. Tugas 1) Curah pendapat mengenai kasus perkembangan moral dan kecerdasan spiritual peserta didik yang terjadi di kelas dan mengkaji kasus yang termasuk dalam lingkup perkembangan moral dan kecerdasan spiritual peserta didik. 2) Pilih satu kasus, identifikasi masalahnya, diskusikan dalam kelompok, usulkan alternaif solusi untuk itu, dan presentasikan hasil kegiatan. E. Latihan/Kasus/Tugas 1. Pada masa remaja diharapkan mencapai kematangan dalam aspek moral memiliki kode moral yang menjadi pedoman hidupnya. Bagaimana caranya agar proses internalisasi nilai-nilai moral dapat dicapai pada usia remaja? 2. Peserta didik pada masa remaja awal cenderung memiliki sikap skeptis terhadap penghayatan keagamaan. Apa dampaknya kepada perilaku religius peserta didik? 3. Kerjakanlah kasus di kelas Bu Rahmi dan Bu Nani berikut ini, identifikasi gejala dan masalahnya, serta usulkan alternatif solusi untuk itu. Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikan hasilnya. Dari upayanya itu Bu Rahmi memperoleh informasi tentang masalah yang dihadapi beberapa peserta didik asuhannya sbb. a. menyontek dalam mengerjakan tugas kelas, pekerjaan rumah, hasil pekerjaan saat praktikum, bahkan ulangan. b. tidak menyelesaikan tugas yang diberikan, misalnya tidak mengerjakan tugas kelompok sesuai pembagian tugas, sering lalai dalam
  • 57.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 41 melaksanakan tugas yang diberikan untuk kegiatan kelas lainnya seperti tugas piket. c. kurang memiliki sopan santun baik dalam ucapan maupun tindakan dalam berinteraksi dengan sesama teman kadang-kadang juga dengan orang lain yang lebih tua. Bu Nani memperoleh informasi tentang masalah yang dihadapi beberapa peserta didik asuhannya sbb. a. mudah stress kalau nilai ulangan buruk, setelah ditanyakan ternyata yang bersangkutan merasa kecewa karena telah berusaha untuk belajar dan berlatih dengan keras tapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan dan merasa bahwa mereka layak mendapatkan nilai yang lebih baik b. beberapa peserta didik ada yang tidak berani mencoba sesuatu yang baru, alasan mereka karena takut gagal dan kecewa c. Beberapa peserta didik seringkali murung dan tampak tidak bersemangat. Alasan mereka karena tidak terlalu menyukai mata pelajaran IPA dan merasa terpaksa mempelajarinya. d. Informasi dari teman-teman terdekatnya, beberapa orang dari peserta yang bermasalah ternyata agak lalai dalam melaksanakan kewajiban beribadah 4. Tentukanlah kasus dalam pengembangan moral dan kecerdasan spiritual yang terjadi di kelas Anda, identifikasi masalahnya, dan rancang apa yang sebaiknya Anda lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut! F. Rangkuman 1. Tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg adalah, (1) prakonvensional; (2) konvensional; (3) pascakonvensional. Remaja umumnya berada pada tingkat perkembangan ketiga, yaitu moralitas
  • 58.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: PERKEMBANGAN MORAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL KELOMPOK KOMPETENSI A 42 pascakonvensional, pada tahap ini terjadi internalisasi moral dan tidak didasarkan pada standar-standar moral orang lain. 2. Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral pada masa anak-anak dengan prinsip-prinsip moral yang berlaku umum, dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi menjadi pedoman untuk berperilaku baik. melalui proses internalisasi. 3. Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan manusia untuk mengenali potensi fitrah dirinya dalam mengenal TuhanNya, sebagai hambaNya untuk beribadah kepadaNya. 4. Karakteristik perilaku perilaku moral remaja awal adalah bersikap kritis, skeptis, dan mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. 5. Gambaran umum perilaku religius pada masa remaja awal yaitu mulai mempertanyakan secara kritis dan skeptis mengenai keberadaan dan sifat kemurahan serta keadilan Tuhan YME. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Lakukan uji diri seperti yang dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Anda dianjurkan untuk berlatih menggunakan kasus di kelas yang diampu. Sebaiknya Anda juga mempelajari metodologi pembelajaran dan cara mengembangkan iklim belajar yang kondusif untuk mengembangkan perkembangan moral dan kecerdasan spiritual.
  • 59.
    KEIATAN PEMBELAJARAN 6:SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A 43 Guru perlu memahami sikap dan kebiasaan belajar peserta didik yang menjadi asuhannya karena dengan informasi tersebut guru dapat menyesuaikan pembelajaran agar tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan baik. Melalui pembelajaran guru dapat memfasilitasi pengembangan peserta didik yang sikap dan kebiasaan belajarnya belum baik. A. Tujuan Setelah melaksanakan pembelajaran dalam modul ini, guru pembelajar diharapkan dapat: memahami ciri-ciri peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang baik, mengidentifikasi sikap dan kebiasaan belajar peserta didik, serta menentukan pembelajaran yang memfasilitasi pengembangannya. B. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan beberapa indikator tentang sikap dan kebiasaan belajar berikut ini: 1. Mendeskripsikan ciri-ciri peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang baik; 2. Mengidentifikasi sikap dan kebiasaan belajar peserta didik; 3. Menentukan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi pengembangan sikap dan kebiasaan belajar peserta didik. C. Uraian Materi 1. Sikap dan Kebiasaan Belajar Sikap belajar adalah kecenderungan peserta didik untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan belajar sebagai dampak dari pandangan dan perasaannya KEGIATAN PEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR
  • 60.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEIATAN PEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A 44 terhadap kegiatan belajar (Yusuf, 2006:116). Apabila siswa memiliki pandangan positif bahwa belajar itu penting untuk mengembangkan kualitas diri dan merasa senang terhadap kegiatan belajar, maka peserta didik tersebut cenderung akan melakukan kegiatan belajar dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya apabila memandang belajar itu tidak penting dan tidak menyenangkan, maka cenderung malas belajar. Menurut Yusuf (,2006:117) kebiasaan belajar merupakan perilaku peserta didik yang relatif menetap dalam aktivitas belajarnya sebagai hasil pembiasaan atau perilaku yang diulang-ulang.Sikap berbeda dengan kebiasaan, akan tetapi ada hubungan antara sikap dan kebiasaan, yaitu sikap mungkin sekali dinyatakan dalam kebiasaan tingkah laku tertentu. Sikap dan kebiasaan belajar merupakan perilaku peserta didik yang dilakukan secara berulang-ulang dan relatif menetap dalam kegiatan belajarnya, sebagai dampak dari perasaan dan pandangannya terhadap belajar. Sikap dan kebiasaan belajar bisa positif maupun negatif, tergantung bagaimana perasaan dan pandangannya terhadap kegiatan belajar. Dengan demikian sikap dan kebiasaan belajar merupakan hasil proses belajar melalui pembiasaan dan proses kognitif, sehingga sikap dan kebiasaan belajar yang negatif dapat diubah atau dimodifikasi melalui proses belajar yang baru atau belajar kembali. 2. Pengaruh Sikap dan Kebiasaan Belajar terhadap Prestasi Belajar Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar atau mencapai tujuan pembelajaran (Makmun, 2009::165). Peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif akan menunjukkan perilaku dalam kegiatan belajar secara efektif dan efisien, baik dalam merencanakan kegiatan belajar dan mengikuti kegiatan belajar, memahami dan penguasaan materi. pelajaran, serta mempersiapkan untuk mengikuti ulangan atau ujian. Perilaku tersebut dilakukan baik pada kegiatan disekolah dirumah maupun kegiatan kelompok. Menurut Covey (2001:24) bahwa kebiasaan akan menjadikan seseorang sukses atau menghancurkannya, dan kebiasaan akan membentuk suatu karakter. Sikap dan kebiasaan belajar yang positif akan membentuk karakter yang baik seperti rajin, tekun dan disiplin. tangguh dalam menghadapi hal-hal yang megganggu
  • 61.
    LISTRIK untuk SMP KEIATANPEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 45 kegiatan belajar (bila menghadapi kesulitan belajar, hambatan emosional masalah remaja dan stress dsb.). serta produktif, begitu pula sebaliknya.. Sikap dan kebiasaan belajar tidak hanya mempengaruhi prestasi belajar, tetapi juga akan mempengaruhi karakter seseorang. 3. Ciri-ciri Peserta Didik Dengan Sikap dan Kebiasaan Belajar Yang Positif Menurut Yusuf (2006:117) ciri-ciri perilaku peserta didik yang memiliki sikap kebiasaan belajar positif, antara lain: a. Menyenangi pelajaran (teori dan praktek) dan senang mengikuti kegiatan pembelajaran yang diprogramkan oleh sekolah. b. Masuk kelas tepat pada waktunya, memperhatikan penjelasan guru, dan membuat catatan pelajaran dalam buku khusus secara rapi dan lengkap c. Senang bertanya apabila tidak memahaminya dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan dsikusi kelas d. Memiliki jadwal belajar yang teratur dan disiplin diri dalam belajar, serta mengerjakan tugas-tugas atau PR sebaik-baiknya e. Membaca buku-buku pelajaran secara teratur dan senang membaca buku- buku lainnya, majalah, dan koran yang isinya relevan dengan pelajaran, serta meminjam buku-buku keperpustakaan untuk menambah wawasan keilmuan f. Ulet atau tekun dalam melaksanakan pelajaran maupun praktek dan tidak mudah putus asa apabila mengalami kegagalan dalam belajar 4. Identifikasi Sikap dan Kebiasaan Belajar Cara mengidentifikasi sikap dan kebiasaan belajar peserta didik sama dengan cara identifikasi pada materi pembelajaran 1. Dalam melakukan inventori sikap dan kebiasaan belajar bisa bekerja sama dengan guru BK. 5. Implikasi dalam Pembelajaran Sikap dan kebiasaan merupakan suatu factor yang menentukankeberhasilan peserta didik dalam bidang akademik dan keberhasilan hidup di masa depan, maka:
  • 62.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEIATAN PEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A 46 Jadi model/teladan dengan memiliki sikap positif terhadap pekerjaan seperti disiplin, rajin, semangat, senang membaca buku, dan sebagainya. a. Rancang pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan mudah dipahami b. Ciptakan iklim belajar yang kondusif yang memudahkan siswa untuk mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. c. Berikan informasi manfaat materi yang akan diajarkan dalam kehidupan sehari-hari, studi lanjut, dan pekerjaan terbangun sikap positif terhadap mata pelajaran. d. Tingkatkan sikap dan kebiasaan belajar dengan pembiasaan dan disiplin yang disertai konsekuensi yang mendidik. e. Bersikap menerima dan bijak terutama kepada peserta didik yang sikap dan kebiasaan belajarnya negatif. f. Kerjasama dengan wali kelas guru BK dan orangtua peserta didik untuk meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar peserta didik. Gambar 6.1. Pembelajaran untuk Membangun Sikap dan Kebiasaan Belajar D. Aktivitas Pembelajaran 1. Kegiatan 1. Pengembangan Sikap dna Kebiasaan Belajar a. Tujuan: melalui tugas membaca, diskusi, dan membuat peta pikiran peserta diharapkan dapat memahami konsep sikap dan kebiasaan belajar, identifikasinya dan pengembanganya melalui pembelajaran. b. Tugas: 1) Buatlah peta pikiran atau bagan mengenai kemampuan awal dan kesulitan belajar meliputi: a) ciri-ciri peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang baik; b) cara identifikasinya, c) dan pengembangannya melalui pembelajaran. 2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasilnya.
  • 63.
    LISTRIK untuk SMP KEIATANPEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 47 2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan presentasi hasil kegiatan peserta dapat mengidentifikasi sikap dan kebiasaan belajar dan pengembangannya melalui pembelajaran. b. Tugas 1) Curah pendapat mengenai kasus sikap dan kebiasaan belajar peserta didik yang terjadi di kelas dan mengkaji kasus yang termasuk dalam lingkup sikap dan kebiasaan belajar peserta didik. 2) Pilih satu kasus/kelompok, diskusikan dalam kelompok, usulkan alternatif solusi untuk itu dan presentasikan hasil kegiatan. E. Latihan/Kasus/Tugas 1. Sikap dan kebiasaan belajar merupakan aspek yang sangat penting dalam pembelajaran. Oleh karena itu penting bagi guru untuk membimbing peserta didiknya memiliki sikap dan kebiasaan belajar, jelaskan! 2. Salah satu faktor eksternal penyebab sikap kebiasaan belajar yang negatif adalah faktor guru. Bagaimana upaya bapak/ibu sebagai guru untuk meningkatkan sikap kebiasan belajar yang positif? 3. Kerjakanlah kasus berikut ini, tentukan apa yang harus dilakukan untuk melengkapi data kemampuan awal peserta didik yang belum lengkap. Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikan hasilnya. Berikut adalah kondisi beberapa anak asuh Bu Fatimah. 1) jarang memperhatikan guru saat pembelajaran tapi melakukan kegiatan seperti ngobrol, main HP secarasembunyi-sembunyi, menggambar, atau kegiatan lainnya 2) kurang aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar namunduduk manis mendengarkan saja 3) jarang membuat pekerjaan rumah atau terlambatmenyerahkan tugas 4) jarang membuat catatan sehingga catatannya tidak lengkap,tidak sistematis, dan tidak mudah dipahami
  • 64.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEIATAN PEMBELAJARAN 6: SIKAP DAN KEBIASAAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A 48 5) sering terlambat datang ke sekolah 6) belajar tidak teratur dan hanya dilakukan jika ada ulangan saja 7) motivasi untuk memperkaya pelajaran rendah dan merasa cukupdengan informasi dari catatan dan buku pegangan saja 8) sering keluar masuk saat pembelajaran karena tidak bisa menjaga perhatian fokus terlalu lama. F. Rangkuman 1. Sikap dan kebiasaan belajar merupakan hasil belajar melalui operant conditioning dan proses kognitif, sehingga sikap dan kebiasaan belajar yang kurang efektif dapat diubah atau dimodifikasi melalui proses belajar yang baru. 2. Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar. Sikap dan kebiasaan belajar tidak hanya berdampak pada prestasi belajar, tapi juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter. 3. Peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif akan menunjukkan perilaku dalam kegiatan belajar secara efektif dan efisien. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Lakukan uji diri seperti yang dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Sebaiknya peserta berlatih dari kasus kelas yang diasuh sebagai subjek latihan. Peserta juga dianjurkan untuk menambah wawasan terkait berbagai metode untuk membangun sikap dan kebiasaan belajar serta cara belajar efektif.
  • 65.
    KEGIATAN PEMBELAJARAN 7:IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A 49 Keragaman karakteristik perilaku dan pribadi peserta didik dipengaruhi banyak faktor, oleh karena itu peserta didik dengan umur yang sama tidak selalu memiliki kesiapan yang sama dalam menerima pelajaran di sekolah. Guru perlu menentukan keadaan karakteristik perilaku dan pribadi peserta didik sebelum memulai pembelajaran. Tidak semua peserta didik berhasil mencapai tujuan- tujuan belajar sesuai dengan taraf kualifikasi yang diharapkan. Indikasi kegagalan mencapai tujuan belajar perlu diidentifikasi untuk mendapatkan solusi. A. Tujuan Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar diharapkan dapat memahami konsep kemampuan awal dan kesulitan belajar; cara mengidentifikasinya, faktor kesulitan belajar; dan menggunakan hasilnya untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih baik. B. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan beberapa indikator tentang perkembangan kemampuan intelektual berikut ini: 1. Menjelaskan cara mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik. 2. Mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik. 3. Mengidentifikasi kesulitan belajar. 4. Menjelaskan faktor-faktor kesulitan belajar. 5. Menentukan kegiatan pembelajaran yang kondusif berdasarkan hasil identifikasi kemampuan awal dan kesulitan belajar peserta didik. KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR
  • 66.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A 50 C. Uraian Materi 1. Bekal Ajar Awal Keberhasilan proses belajar-mengajar antara lain dipengaruhi oleh karakteristik peserta didik baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Meskipun guru menghadapi kelompok kelas yang terdiri dari peserta didik yang memiliki umur yang relatif sama, namun mereka tidak dapat diberi perlakukan yang sama. Oleh karena itu pada awal proses belajar mengajar guru harus meneliti dulu tingkat dan jenis karakteristik perilaku siswa yang telah dimilikinya pada saat akan memasuki pembelajaran. (entering behavior) atau bekal ajar awal peserta didik. Bekal ajar awal menjadi dasar bagaimana proses belajar sebaiknya direncanakan.dan apakah tujuan intruksional khusus yang semula dirumuskan harus mengalami perubahan. Apalagi bila kemampuan awal berkaitan dengan kemampuan prasyarat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Makmun (2002:224) dengan mengetahui gambaran tentang entering behavior peserta didik, maka akan memberikan banyak bantuan kepada guru, diantaranya sebagai berikut. a. Untuk mengetahui seberapa jauh adanya kesamaan individual antara peserta didik dalam taraf kesiapannya, kematangan, serta tingkat penguasaanya dari pengetahuan dan ketarampilan dasar sebagai landasan bagi penyajian bahan baru. b. Dapat mempertimbangkan dalam memilih bahan, prosedur, metode, teknik dan alat bantu belajar-mengajar yang sesuai. c. Membandingkan nilai pre-tes dengan post-tes sehingga diperoleh indikator atau petunjuk seberapa banyak perubahan perilaku itu telah terjadi pada peserta didik, sebagai hasil pengaruh dari proses belajar mengajar Hal penting bagi guru sebelum merencanakan dan melaksanakan kegiatan mengajar, seyogyanya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Dengan memperhatikan tingkatan kelas, jenis bidang studi, usia dan waktu yang tersedia dan terencana. a. Sejauh manakah batas-batas (jenis dan ruang lingkup materi pengetahuan yang telah diketahui dan dikuasai peserta didik yang akan kita ajar?
  • 67.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 51 b. Tingkat dan tahap serta jenis kemampuan (kognitif, afektif, psikomotor) manakah yang telah dicapai dan dikuasai peserta didik yang akan kita ajar? c. Apakah siswa sudah cukup siap dan matang (secara intelektual, emosional) untuk menerima bahan dan pola-pola perilaku yang akan kita ajarkan itu? Menurut Makmun (200:225:) perilaku awal (entering behavior) meliputi jenis dan ruang lingkup pengetahuan yang telah dikuasai dan diketahui peserta didik, tingkat dan tahap serta jenis kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor yang telah dicapai peserta didik. 2. Identifikasi Kemampuan Awal Peserta Didik Identifikasi jenis dan ruang lingkup pengetahuan yang telah diketahui dan dikuasai peserta didik, antara lain adalah sebagai berikut: a. Pada saat memulai pembelajaran berikan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang telah diberikan terdahulu (apersepsi)sebelum menyajikan materi baru b. Memberikan pre-tes dengan menggunakan instrumen pengukuran prestasi belajar yang memadai syarat (validitas, realibilitas dan sebagainya) sebelum..mereka memulai pembelajaran. Instrumen pengukuran prestasi belajar yang digunakan pada pre-test biasanya setara dengan post-test c. Identifikasi tingkat dan tahap serta jenis kemampuan (kognitif, afektif, psikomotor) yang telah dicapai oleh peserta didik. 3. Implementasi Dalam Pembelajaran. a. Sebelum pembelajaan tentukan bekal ajar awal atau kemampuan awal peserta didik, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotor. b. Tidak setiap aspek kemampuan peserta didik pada awal pembelajaran sama pentingnya. Akan tetapi menentukan aspek mana yang penting sebagai titik awal dalam interaksi guru dengan peserta didik. selama proses belajar itu berlangsung, tergantung pada tujuan pembelajaran. c. Jika kemampuan yang menjadi prasyarat untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru harus memberikan beberapa pertanyaan secara lisan kepada kelas atau memberikan tes awal berupa tes tulis singkat.
  • 68.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A 52 d. Jadikan keragaman bekal ajar awal menjadi dasar pertimbangan perencanaan dan pengelolaan pembelajaran, baik dalam memilih bahan, prosedur, metode, teknik dan media pembelajaran sesuai dengan bekal ajar awal peserta didik. e. Ketika akan mengajar perlu dikenali minat dan motivasi belajar, serta sikap belajar peserta didik. 4. Kesulitan Belajar Tidak semua peserta didik berhasil mencapai tujuan-tujuan belajar sesuai dengan taraf kualifikasi yang diharapkan. Apabila peserta didik menunjukkan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya, maka peserta didik dikatakan mengalami kesulitan belajar. a. Ciri Peserta Didik Gagal Mencapai Tujuan Belajar Menurut Burton (Makmun, 2002: 307) peserta didik dikatakan gagal jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut. 1) Dalam batas waktu yang ditentukan peserta didik tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau KKM yang telah ditetapkan oleh guru. 2) Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang seharusnya sesuai dengan tingkat intelegensinya. Kasus peserta didik ini disebut underachievers (prestasinya tidak sesuai dengan kemampuan intelektualnya). 3) Tidak mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola organisme pada fase perkembangan tertentu. Kasus ini tersebut dikatakan ke dalam slow learners (peserta didik yang lambat belajar). 4) Tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus peserta didik ini dapat dikategorikan ke dalam slow learners atau belum matang sehingga mungkin harus menjadi pengulang. 5) Peserta didik diduga mengalami kesulitan belajar apabila tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu berdasarkan indikator atau ukuran kapasitas (taraf intelegensi) atau kemampuan dalam program pelajaran atau tingkat perkembangan. Kualifikasi hasil belajar meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
  • 69.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 53 b. Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar Menurut Burton (Makmun, 2002:310) diagnostik kesulitan belajar berdasarkan pada teknik dan instrumen yang digunakan dalam pelaksanaannya yaitu sebagai berikut ini. 1) Diagnosis Umum Tujuan tahap ini untuk menemukan siapakah yang diduga mengalami kelemahan tertentu, biasa digunakan tes baku, seperti yang digunakan untuk evaluasi dan pengukuran hasil belajar dan psikologis 2) Diagnosis Analitik Tujuannya untuk mengetahui di mana letak kelemahan itu terjadi. Pada tahap ini biasanya digunakan tes diagnosis. 3) Diagnosis Psikologi Tujuannya untuk mengetahui faktor penyebab kesulitan belajar. Teknik, pendekatan, dan instrumen yang digunakan antara lain sebagai berikut (1) Observasi; (2) Analisis karya tulis; (3) Analisi proses dan respon lisan; (4) Analisis berbagai catatan objektif;(5) Analisi berbagai catatan objektif;(6) Wawancara; (7) pendekatan laboratories dan klinis;(8) Studi kasus. c. Mengidentifikasi Kesulitan Belajar Peserta Didik 1) Menandai dan Menemukan Kesulitan Belajar a) Untuk mengetahui peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan membandingkan nilai peserta didik dengan kriteria yang telah ditetapkan sebagai batas lulus (KKM, rata-rata kelas). Peserta didik yang prestasi belajarnya di bawah KKM diduga memiliki kesulitan belajar. b) Untuk mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar dapat pula dilakukan dengan memperhatikan atau menganalisa catatan observasi atau laporan proses kegiatan belajar, yaitu (1) Penggunaan catatan belajar siswa untuk mengetahui cepat atau lambat dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaannya; (2) Catatan kehadiran; (3) catatan atau bagan partisipasi untuk mengetahui aktivitas dan partisipasi peserta didik; (4) catatan sosiometri dilakukan pada bidang sstudi yang menuntut bekerja sama dalam peserta didik kelompok.
  • 70.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A 54 2) Melokalisasikan Letak Kesulitan Belajar Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui pada bidang studi mana kesulitan belajar itu terjadi dan bagaimana karakteristik kesulitan belajar peserta didik. Berikut ini adalah cara melokalisasi letak kesulitan belajar. a) Mengidentifikasi Kesulitan Belajar pada Bidang Studi Tertentu Pada bidang studi mana saja peserta didik mengalami kesulitan belajar. b) Mengidentifikasi pada Kawasan Tujuan Belajar dan Bagian Ruang Lingkup Materi Pelajaran Manakah Kesulitan Belajar Terjadi Untuk mengetahui materi pelajaran yang mengalami kesulitan belajar bisa dilakukan dengan menganalisa lembar jawaban siswa pada tes ulangan umum semester, dapat pula pada pelaksanaan evaluasi reflektif, formatif, atau dengan rancangan pre-posttest bila belum ada tes diagnostik khusus. c) Analisis Terhadap Catatan Mengenai Proses Belajar Untuk mengetahui kesulitan belajar pada aspek-aspek proses belajar tertentu dilakukan dengan menganalisis empiris terhadap catatan keterlambatan penyelesaian tugas atau soal, absensi, kurang aktif dalam partisipasi, kurang penyesuaian sosial. Hasil analisis tersebut dengan jelas menunjukkan posisi dari kasus-kasus yang bersangkutan. 3) Mengidentifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar a) Bila kasus kelompok (mayoritas peserta didik memiliki kesulitan belajar) maka faktor penyebab kesulitan belajar berasal luar diri peserta didik. Kemungkinan besar faktor penyebabnya kondisi sekolah atau faktor guru. b) Bila kasusnya individual maka faktor penyebabnya kemungkinan berasal dari diri peserta didik, yaitu dapat bersumber pada (a) Kemampuan dasar atau potensi yaitu intelegensi dan bakat; (b) Bukan yang bersifat potensial. 4) Membuat Alternatif Bantuan 5) Melakukan Tindak Remedial atau Membuat Referal 5. Implementasi dalam Pembelajaran a. Pahami gejala-gejala anak yang memiliki kesulitan belajar. b. identifikasi kesulitan belajar dan bantulah peserta didik mengatasi kesulitan belajarnya.
  • 71.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 55 c. Berikan layanan pembelajaran remedial/membuat rujukan d. Bantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar untuk mengoptimalkan prestasi belajarnya, dan meningkatkan kepercayaan dirinya, minat, serta sikap postif terhadap pelajaran. e. Bekerja sama dengan wali kelas, guru BK dan orangtua. f. Rancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman peserta didik untuk mencegah terjadinya kesulitan belajar D. Aktivitas Pembelajaran 1. Kegiatan 1. Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar a. Tujuan: melalui tugas membaca, diskusi, dan membuat peta pikiran peserta diharapkan dapat memahami konsep kemampuan awal dan kesulitan belajar, faktor kesulitan belajar, cara mengidentifikasi kemampuan awal dan kesulitan belajar, dan pemanfaatanya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. b. Tugas: 1) Buatlah peta pikiran atau bagan mengenai kemampuan awal dan kesulitan belajar meliputi: a) kemampuan awal peserta didik dan cara mengidentifikasinya, b) tingkat, tahap, dan jenis kemampuan awal peserta didk yang perlu diketahui guru, c) kesulitan belajar dan cara identifikasinya, d) faktor kesulitan belajar, e) serta pemanfaatannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 2) Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikanlah hasilnya. 2. Kegiatan 2. Kasus dan Alternatif Solusi a. Tujuan: melalui tugas pemecahan kasus, dikusi kelompok, dan presentasi hasil kegiatan peserta dapat mengidentifikasi kemampuan belajar awal dan kesulitan belajar peserta didik dan menggunakanya untuk pembelajaran yang lebih baik. b. Tugas 1) Curah pendapat mengenai kasus kemampuan awal dan kesulitan belajar peserta didik yang terjadi di kelas dan mengkaji kasus yang termasuk dalam lingkup kemampuan awal dan kesulitan belajar peserta didik.
  • 72.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A 56 2) Pilih satu kasus/kelompok, diskusikan dalam kelompok, usulkan alternatif solusi untuk itu dan presentasikan hasil kegiatan, untuk tugas berikut ini. a) Identifikasilah data kemampuan awal peserta didik di kelas yang Anda asuh dan tentukan apa yang harus dilakukan untuk melengkapi data yang kurang lengkap, dan rancang bagaimana cara menggunakan data tersebut untuk memfasilitasi peningkatan pencapaian terbaik mereka sesuai potensinya. b) Tentukanlah kasus peserta didik di kelas Anda yang mengalami kesulitan belajar, identifikasi faktor penyebab, dan rancang apa yang sebaiknya Anda lakukan sebagai alternatif solusinya! E. Latihan/Kasus/Tugas 1. Sebelum memasuki pembelajaran, guru harus menentukan dahulu kemampuan awal atau bekal ajar peserta didik. Jelaskan mengapa guru harus memahami dan melakukan itu! 2. Bagaimana cara seorang guru mengidentifikasi kemampuan awal inteligensi peserta didik? 3. Bagimana caranya bapak/ibu mengidentifikasi faktor penyebab kesulitan belajar yang berasal dari dalam diri peserta didik, yang sumbernya bukan dari faktor potensi? 4. Kerjakanlah kasus berikut ini, tentukan apa yang harus dilakukan untuk melengkapi data kemampuan awal peserta didik yang belum lengkap. Bekerjalah dalam kelompok dan presentasikan hasilnya. Dari data hasil UH diketahui ada 5 orang dengan skor dibawah skor ketuntasan belajar yaitu Andi, Budi, Cici, Dudi, dan Ema. Skor kelimanya relatif berdekatan namun agak jauh dari skor ketuntasan belajar. Dari hasil analisis jawaban diketahui soal-soal yang tidak bisa dijawab adalah pertanyaan terkait materi yang memerlukan pemahaman yang komprehensif yaitu tentang analisis data, membuat simpulan dari hasil analisis data. Andi dan Cici termasuk yang sering terlambat jika jadwal pembelajaran pada
  • 73.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 57 jam ke 1 dan 2. Budi, Dudi, Ema jarang bisa menyelesaikan tugas tepat waktu baik tugas di kelas maupun pekerjaan rumah. Pada saat kegiatan kelompok, aktivitas ketiganya tidak terlalu aktif. Hasil wawancara Bu Khadijah dengan kelimanya menunjukkan Andi dan Cici termasuk anak yang terlalu dilindungi orangtua sehingga cenderung dimanja dan kurang mandiri. Sebaliknya orangtua Budi, Dudi, dan Ema cenderung melepas sehingga perkembangan prestasinya tidak tercermati dengan baik karenanya tumbuh kebiasaan belajar yang kurang baik seperti malas belajar dan motivasi belajar yang rendah. Dalam hal pergaulan sehari-hari kelimanya adalah peserta didik yang pandai bergaul karena memiliki cukup banyak teman. F. Rangkuman 1. Sebelum memasuki dan memulai kegiatan belajar-mengajar guru harus mengetahui bekal awal awal peserta didik. Hal ini akan memberikan bantuan kepada guru dalam merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan awal peserta didik. Aspek-aspek bekal awal ajar peserta didik meliputi fungsi kognitif, fungsi afektif, psikomotor. 2. Untuk mengidentifikasi jenis dan ruang lingkup pengetahuan yang telah diketahui dan dikuasai peserta didik apat dilakukan dengan memberikan pertanyaan mengenai materi yang terdahulu (apersepsi) dan pre- tes sebelum mereka memulai dengan kegiatan belajar-mengajar. 3. Peserta didik diduga mengalami kesulitan belajar apabila tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu berdasarkan indikator atau ukuran kapasitas (taraf intelegensi) atau kemampuan dalam program pelajaran atau tingkat perkembangan. Kualifikasi hasil belajar meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. 4. Langkah-langkah dalam mengidentifikasi kesulitan belajar, yaitu (1) menandai dan menemukan kesulitan belajar, untuk mengetahui siapa-siapa yang mengalami kesulitan belajar ;(2) melokalisasi letak kesulitan untuk mengetahui di manakah kelemahan-kelemahan itu terjadi; (3) mengidentifikasi faktor
  • 74.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 7: IDENTIFIKASI KEMAMPUAN AWAL DAN KESULITAN BELAJAR KELOMPOK KOMPETENSI A 58 penyebab kesulitan belajar untuk mengetahui mengapa kelemahan- kelemahan itu terjadi. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Lakukan uji diri seperti yang dijelaskan pada pembelajaran ke-1. Sebaiknya peserta banyak berlatih dari kasus kelas yang diasuh sebagai subjek latihan. Peserta juga dianjurkan untuk menambah pengetahuan dan wawasan terkait berbagai instrumen identifikasi untuk berbagai aspek dalam kemampuan awal, penggunaanya, dan pemanfaatan hasilnya. Materi lain yang layak dipelajari adalah cara melakukan remedial, pengayaan, dan metodologi pembelajaran untuk memfasilitasi tindak lanjut remedial/ pengayaan.
  • 75.
    ` EVALUASI KELOMPOK KOMPETENSIA 59 1. Peserta didik yang berada pada tahap pemikiran operasional formal dari Piaget, salah satu karakteristiknya adalah berpikir lebih logis. Mereka mulai berpikir seperti ilmuwan, membuat rencana pemecahan masalah dan secara sistematis menguji solusinya. Tipe pemikiran ini disebut... A. penalaran hipotetis deduktif B. penalaran hipotetis induktif C. penalaran sintetis analisis D. penalaran deduktif-induktif 2. Bu Nurul memberi sanksi edukatif, membimbing dan mengawasi siswanya yang berperilaku tidak bertanggung jawab dan tidak jujur serta kurang menghargai hak-hak orang lain. Hal itu dilakukan merekaagar berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku umum. Perilaku siswa tersebut menurut Kohlberg belum mencapai tingkat perkembangan moral pasca konvensional karena... A. perilakunya masih dikendalikan oleh faktor eksternal B. anak patuh karena takut mendapat hukuman dari pihak sekolah C. anak patuh karena kuatir guru tidak menyukainya D. perilakunya didasarkan pada nilai-nilai moral kelompok sebayanya 3. Peserta didik pada masa remaja awal cenderung bersifat sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai situasi sosial, dan mudah marah/ tersinggung atau mudah sedih/murung, perilaku remaja tersebut menunjukkan keadaan... A. emosi yang memuncak B. pribadi yang sulit diatur EVALUASI
  • 76.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud EVALUASI KELOMPOK KOMPETENSI A 60 C. perilaku yang menyimpang D. remaja yang bermasalah 4. Pada masa remaja terjadi pertumbuhan yang cepat dan perubahan proporsi tubuh yang mencolok. Perubahan proporsi tubuh yang mencolok menyebabkan anak menjadi kaku dan canggung selama beberapa waktu. Perubahan fisik tersebut menyebabkan sikap dan perilaku A. inkordinasi B. ingin menyendiri C. psikomotorik D. kurang percaya diri 5. Untuk memahami bagaimana caranya mengajar kepada peserta didik pada masa tertentu, dan memahami apa yang harus diberikan kepada peserta didik, maka guru harus memahami... A. Tahapan dan tugas perkembangan peserta didik B. Tugas dan variasi perkembangan peserta didik C. Tugas dan pola perkembangan peserta didik D. Tahapan dan tempo perkembangan peserta 6. Peserta didik harus memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, karena selain berpengaruh terhadap prestasi belajar juga berpengaruh terhadap pembentukan... A. karakter B. minat belajar C. motivasi belajar D. suasana hati 7. Peserta didik yang cenderung selalu lebih cepat dan mudah memahami materi pelajaran dan menyelesaikan tugasnya, dibandingkan dengan teman- temannya, lebih awal dari waktu yang telah ditetapkan, diduga kemampuan inetelektualnya ... A. di atas rata-rata kelompok sebayanya B. rata-rata kelompok sebayanya
  • 77.
    LISTRIK untuk SMP EVALUASI KELOMPOKKOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran IPA SMP 61 C. termasuk anak jenius D. normal sesuai dengan usianya 8. Bu Sisca sedang menganalisis lembar jawab ulangan tengah semester peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar. Langkah identifikasi masalah yang dilakukan Bu Sisca bertujuan mengetahui... A. materi pelajaran yang mengalami kesulitan B. jenis kesulitan belajar yang dialami peserta didik C. menandai peserta didik yang mengalami kesulitan belajar D. mengetahui faktor penyebab kesulitan belajar 9. Peserta didik yang rajin namun prestasi belajarnya hampir di semua bidang studi di bawah KKM, anak tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat berikutnya, sehingga anak mungkin harus menjadi pengulang. Dari ciri-ciri tersebut diduga peserta didik termasuk ... A. anak yang lambat belajar B. anak yang tidak berprestasi C. anak yang sulit belajar D. prestasi anak tidak optimal 10. Prestasi Hana di sebagian besar bidang studi di atas KKM, namun Hana memiliki prestasi belajar yang sangat bagus pada bidang studi IPA. Nilai ulangannya selalu mendekati nilai sempurna Bakat Hani di bidang studi IPA didukung oleh kegemarannya membaca. Apa yang harus dilakukan oleh guru untuk mengembangkan bakat Hana? A. memfasilitasi peserta didik untuk memperdalam materi kurikulum yang diajarkan sesuai bakatnya. B. memfasilitasi peserta didik untuk memperdalam materi kurikulum yang diajarkan sesuai minatnya. C. menjadikan peserta didik tersebut sebagai pendidik sebaya pada saat pembelajaran kelompok. D. memberikan berbagai tugas mandiri sekaligus melatih keterampilan belajarnya.
  • 79.
  • 80.
    PENUTUP KELOMPOK KOMPETENSI A 63 ModulPedagogi Guru Pembelajar Mata Pelajaran biologi Kelompok Kompetensi A yang berjudul Perkembangan dan Potensi Peserta Didik disiapkan untuk guru pada kegiatan diklat baik secara mandiri maupun tatap muka di lembaga pelatihan atau di MGMP. Materi modul disusun sesuai dengan kompetensi pedagogik yang harus dicapai guru pada Kelompok Kompetensi A. Guru dapat belajar dan melakukan kegiatan diklat ini sesuai dengan rambu-rambu/instruksi yang tertera pada modul baik berupa diskusi materi, eksperimen, latihan dsb. Modul ini juga mengarahkan dan membimbing guru pembelajar dan para widyaiswara/fasilitator untuk menciptakan proses kolaborasi belajar dan berlatih dalam pelaksanaan diklat. Untuk pencapaian kompetensi pada Kelompok Kompetensi A ini, guru diharapkan secara aktif menggali informasi, memecahkan masalah dan berlatih soal-soal evaluasi yang tersedia pada modul. Isi modul ini masih perlu penyempurnaan, masukan-masukan atau perbaikan terhadap isi modul sangat kami harapkan. PENUTUP
  • 83.
    DAFTAR PUSTAKA KELOMPOK KOMPETENSIA 65 DAFTAR PUSTAKA Agustian, A.G. 2001. ESQ: Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: Arga Ali, M., dan Asrori, M. 2014. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara. Atkinson, R.L., Atkinson, R.C., Hilgard, E.R. 1996. Pengantar Psikologi, Jakarta: Penerbit Erlangga. Chaplin, J.P. 1999. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT. Raja Garfindo Persada DePorter, B. dan Hernacks, M. 2001. Quantum Learning. Bandung: Kaifa. DePorter, B., Reardon, M., Nouri, S.S. 2001. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa. Djamarah, S. B. 2002. Pikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Gunawan, A., W. 2006. Genius Learning Strategi. Jakarta: PT. Gramdeia Pustaka Utama. Hurlock, E.B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Erlangga. Jonni, K. 2006. Psikologi unuk Anak dan Remaja II. Batam: Karisma Publishing Group. LN. Yusuf, S. 2012. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
  • 84.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud DAFTAR PUSTAKA KELOMPOK KOMPETENSI A 66 LN. Yusuf,S. 2006. Program Bimbingan dan Konsling di Sekolah (SLTP dan SLTA). Bandung: Pustaka Bani Qraisyi. Loree, M.R. 1970. Psychology of Education. New York: The Ronald Press. Makmun, A., S. 2002. Psikologi Kependidikan. Bandung: C.V. Rosda Karya. Natawijaya, R.,Psikologi Perkembangan. Jakarta : Dep.Dik.Bud. Nurihsan, A. J., & Agustin, M. 2013. Dinamika Perkembangan Anak & Remaja. Tinjauan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. Bandung: Refika Aditama. Santrock, J,W. 2012. Life-Span Development. Edisi ke 13, Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga. Sukmadinata, N. S. 2007. Bimbingan dan Konseiing dalam Praktek. Mengembangkan Potensi dan kepribadian Siswa. Bandung: Maestro. Sunarto, H., Hartono,A.,B. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: P.T. Asdi Mahasatya. Surya. 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Yayasan Bhakti Winaya. Syah, M. 1995. Psikologi Pendidikan. Dengan Pendekatan Baru. Bandung. Rosda Karya. Witheringtpn, H.C. 1978. Educational Psychology. Boston: Ginn and Cp. Yeon, Weinstein. 1996. A Teachers World, Psychology in the Classroom: Mc. Graw-Hill, Inc.
  • 85.
    GLOSARIUM KELOMPOK KOMPETENSI A 67 Adolesence: yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik Conformity : kecenderungan untuk meniru, mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran/hobi, atau keinginan orang lain Entering behavior : Tingkat dan jenis karakteristik perilaku siswa yang telah dimilikinya pada saat akan memasuki kegiatan belajar-mengajar. Self-identity : Kesadaran akan diri sendiri. Mengenal dan menghayati diri sebagai pribadi sendiri serta tidak tenggelam dalam peran yang dimainkannya. Social cognition : merupakan cara individu untuk menganalisa, mengingat dan menggunakan informasi mengenai kejadian atau peristiwa-peristiwa sosial (Baron & Byrne ,2000) Underachiever : Peserta didik yang memiliki prestasi belajar di bawah kemampuan intelektualnya (intelegensi). Peserta didik gagal mencapai prestasi belajar sesuai kapasitasnya. Kecerdasan spiritual : kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya dan memiliki pola GLOSARIUM
  • 86.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud GLOSARIUM KELOMPOK KOMPETENSI A 68 pemikiran integralistik serta berprinsip “hanya karena Allah” God Spot : adalah salah satu titik berupa syaraf kecil di dalam otak manusia yang dapat merespon dari aspek agama dan Ketuhanan. Moral : istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif Prosocial behavior : Mencakup pada tindakan-tindakan: sharing (membagi), cooperative (kerjasama), donating (menyumbang), helping (menolong), honesty (kejujuran), generosity (kedermawanan), serta mempertimbangkan hak dan kejesahteraan orang lain (Eisenberg dan Mussen) Pascaconventional rasoning : Tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini terjadi internalisasi moral pada individu dan tidak didasarkan pada standa- standar moral orang lain. Rejected children : anak yang ditolak yaitu jarang dinominasikan sebagai teman terbaik dan sering dibenci oleh teman-teman sebayanya. Anak menunjukkan agresi tinggi, menarik diri, serta kemampuan sosial dan kognitif yang rendah Social cognition : yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, kemampuan ini mendorong untuk membina hubungan dengan teman sebaya Social self : yaitu pribadi dalam masyarakat, budaya, bangsa. dan perilaku sosial Withdrawal – expansive : anak cenderung menarik diri dari lingkungannya, mereka sering menyendiri dan cenderung introvert
  • 87.
    Pusat Pengembangan danPemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2016
  • 88.
    Pusat Pengembangan danPemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2016 KELOMPOK KOMPETENSI A MODUL GURU PEMBELAJAR MATA PELAJARAN BIOLOGI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) EKOSISTEM, KEANEKARAGAMAN HAYATI, STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN, DAN SISTEM GERAK PADA MANUSIA Penulis: Rini Nuraeni, M.Si., dkk.
  • 89.
    Pusat Pengembangan danPemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2016 11 Penulis: Rini Nuraeni, M.Si., Zaenal Arifin, M.Si., Arief Husein Maulani, M.Si., Yanni Puspitaningsih, M.Si. MODUL GURU PEMBELAJAR MATA PELAJARAN BIOLOGI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) KELOMPOK KOMPETENSI A EKOSISTEM, KEANEKARAGAMAN HAYATI, STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN DAN SISTEM GERAK PADA MANUSIA
  • 90.
    KELOMPOK KOMPETENSI A EKOSISTEM,KEANEKARAGAMAN HAYATI, STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN DAN SISTEM GERAK PADA MANUSIA Penanggung Jawab Dr. Sediono Abdullah Penyusun Rini Nuraeni, S.Si., M.Si. Zaenal Arifin, M.Si. Arief Husein Maulani, M.Si. Yanni Puspitaningsih, M.Si. 022-4231191 022-4231191 022-4231191 022-4231191 rinur_sedc@yahoo.com zaenal.p4tkipa@gmail.com maula02@yahoo.com iko_yanni@yahoo.com Penyunting Dr. Dedi Herawadi Penelaah Dr. Riandi Dr. Sri Anggraeni, M.Si. Dr. Soni Suhandono Dra. Tati Hermawati, M.Si. Drs. Triastono Imam P., M.Pd. Disainer Grafis/Layouter Zuhe Safitra, M.Pd. Copyright ©2016 Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA), Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Hak Cipta Dilindungi Undang-undang Dilarang menggandakan sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  • 91.
    KATA SAMBUTAN iii Peranguru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai kunci keberhasilan belajar siswa. Guru profesional adalah guru yang kompeten membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadikan guru sebagai komponen yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam peningkatan mutu pendidikan terutama menyangkut kompetensi guru. Pengembangan profesionalitas guru melalui program Guru Pembelajar (GP) merupakan upaya peningkatan kompetensi untuk semua guru. Sejalan dengan hal tersebut, pemetaan kompetensi guru telah dilakukan melalui uji kompetensi guru (UKG) untuk kompetensi pedagogi dan profesional pada akhir tahun 2015. Hasil UKG menunjukkan peta kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam penguasaan pengetahuan. Peta kompetensi guru tersebut dikelompokkan menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak lanjut pelaksanaan UKG diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru paska UKG melalui program Guru Pembelajar. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai agen perubahan dan sumber belajar utama bagi peserta didik. Program Guru Pembelajar dilaksanakan melalui pola tatap muka, dalam jaringan atau daring (online), dan campuran (blended) tatap muka dengan online. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kelautan dan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LP3TK KPTK), dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS) merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab dalam mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan tersebut KATA SAMBUTAN
  • 92.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KATA SAMBUTANiv adalah modul untuk program GP tatap muka dan GP online untuk semua mata pelajaran dan kelompok kompetensi. Dengan modul ini diharapkan program GP memberikan sumbangan yang sangat besar dalam peningkatan kualitas kompetensi guru. Mari kita sukseskan program GP ini untuk mewujudkan “Guru Mulia Karena Karya.” Jakarta, Februari 2016 Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Sumarna Surapranata, Ph.D. NIP. 195908011985032001
  • 93.
    KATA PENGANTAR v Pujidan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran IPA SMP, Fisika SMA, Kimia SMA dan Biologi SMA. Modul ini merupakan model bahan belajar (learning material) yang dapat digunakan guru untuk belajar lebih mandiri dan aktif. Modul Guru Pembelajar disusun dalam rangka fasilitasi program peningkatan kompetensi guru paska UKG yang telah diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Materi modul dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Guru sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru yang dijabarkan menjadi Indikator Pencapaian Kompetensi Guru. Modul Guru Pembelajar untuk masing-masing mata pelajaran dijabarkan ke dalam 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Materi pada masing-masing modul kelompok kompetensi berisi materi kompetensi pedagogi dan kompetensi profesional guru mata pelajaran, uraian materi, tugas, dan kegiatan pembelajaran, serta diakhiri dengan evaluasi dan uji diri untuk mengetahui ketuntasan belajar. Bahan pengayaan dan pendalaman materi dimasukkan pada beberapa modul untuk mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kegunaan dan aplikasinya dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari hari. Modul ini telah ditelaah dan direvisi oleh tim, baik internal maupun eksternal (praktisi, pakar, dan para pengguna). Namun demikian, kami masih berharap kepada para penelaah dan pengguna untuk selalu memberikan masukan dan penyempurnaan sesuai kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi terkini. KATA PENGANTAR
  • 94.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KATA PENGANTARvi Besar harapan kami kiranya kritik, saran, dan masukan untuk lebih menyempurnakan isi materi serta sistematika modul dapat disampaikan ke PPPPTK IPA untuk perbaikan edisi yang akan datang. Masukan-masukan dapat dikirimkan melalui email para penyusun modul atau ke: p4tkipa@yahoo.com. Akhirnya kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para pengarah dari jajaran Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Manajemen, Widyaiswara, Staf PPPPTK IPA, Dosen, Guru, dan Kepala Sekolah serta Pengawas Sekolah yang telah berpartisipasi dalam penyelesaian modul ini. Semoga peran serta dan kontribusi Bapak dan Ibu semuanya dapat memberikan nilai tambah dan manfaat dalam peningkatan kompetensi guru IPA di Indonesia. Bandung, April 2016 Kepala PPPPTK IPA, Dr. Sediono, M.Si. NIP. 195909021983031002
  • 95.
    LISTRIK untuk SMP DAFTARISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR KELOMPOK KOMPETENSI A vii Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA Hal KATA SAMBUTAN iii KATA PENGANTAR v DAFTAR ISI vii DAFTAR TABEL ix DAFTAR GAMBAR xi PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Tujuan 2 C. Peta Kompetensi 2 D. Ruang Lingkup 3 E. Cara Penggunaan Modul 4 KEGIATAN PEMBELAJARAN EKOSISTEM 6 A. Tujuan 6 B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 6 C. Uraian Materi 7 D. Aktivitas Pembelajaran 29 E. Latihan/Kasus/Tugas 31 F. Rangkuman 32 G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 33 KEANEKARAGAMAN HAYATI 34 A. Tujuan 34 B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 34 C. Uraian Materi 35 D. Aktivitas Pembelajaran 56 E. Latihan/Kasus/Tugas 59 F. Rangkuman 60 G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 61 DAFTAR ISI
  • 96.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR KELOMPOK KOMPETENSI A viii STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN 62 A. Tujuan 62 B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 62 C. Uraian Materi 63 D. Aktivitas Pembelajaran 82 E. Latihan/Kasus/Tugas 86 F. Rangkuman 88 G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 89 SISTEM GERAK PADA MANUSIA 90 A. Tujuan 90 B. Indikator Ketercapaian Kompetensi 90 C. Uraian Materi 91 D. Aktivitas Pembelajaran 111 E. Latihan/Kasus/Tugas 114 F. Rangkuman 115 G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 116 KUNCI JAWABAN LATIHAN/KASUS/TUGAS 117 EVALUASI 119 PENUTUP 125 DAFTAR PUSTAKA 127 GLOSARIUM 129
  • 97.
    LISTRIK untuk SMP DAFTARISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR KELOMPOK KOMPETENSI A ix Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA Hal Tabel 1 Kompetensi Inti dan Kompetensi Guru 2 DAFTAR TABEL
  • 98.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR KELOMPOK KOMPETENSI A x Hal Gambar 1.1 Rantai makanan 15 Gambar 1.2 Jaring-jaring maknan 16 Gambar 1.3 Piramida maknan 17 Gambar 1.4 Aliran energi materi 19 Gambar 1.5 Siklus nitrogen 20 Gambar 1.6 Siklus karbon 21 Gambar 1.7 Siklus air 21 Gambar 1.8 Siklus fosfor 22 Gambar 1.9 Siklus sulfur 23 Gambar 1.10 Struktur hutan hujan tropis 23 Gambar 1.11 Kebakaran hutan 24 Gambar 1.12 Suksesi primer 25 Gambar 1.13 Suksesi tumbuhan dalam suatu rawa 26 Gambar 2.1 Peta dunia 36 Gambar 2.2 Pola sebaran keanekaragaman hayaati di indonesia 39 Gambar 2.3 Berbagai barietas ikan koki 40 Gambar 2.4 Keanekaragaman jenis ikan hias air tawar 41 Gambar 2.5 Contoh keanekaragaman ekosistem 42 Gambar 2.6 Rantai makanan 43 Gambar 2.7 Pada gambar A dan B tampak perubahan tutupan hutan 47 Gambar 2.8 Koridor untuk mengatasi fragmentasi habitat 48 DAFTAR GAMBAR
  • 99.
    LISTRIK untuk SMP DAFTARISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR KELOMPOK KOMPETENSI A xi Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA Gambar 2.9 Peta sebaran 25 kawasan 51 Gambar 2.10 Tabel 25 kawasan Hotspot Diversity 52 Gambar 2.11 Kawasan Heart of Borneo 53 Gambar 3.1 Jaringan pada daun dengan sel-sel epidermis 65 Gambar 3.2 Letak epidermis terhadap jaringan lainya pada penampung melintang batang tumbuhan 66 Gambar 3.3 Jaringan parenkim 67 Gambar 3.4 Jaringan kolenkim 68 Gambar 3.5 Jaringan sklerenkim 69 Gambar 3.6 Sel trakeid 70 Gambar 3.7 Sel-sel floem 71 Gambar 3.8 Jaringan gabus 72 Gambar 3.9 Jaringan ikat pada manusia 76 Gambar 3.10 Jaringan darah 78 Gambar 3.11 Otot polos 79 Gambar 3.12 Otot lurik 80 Gambar 3.13 Otot jantung 80 Gambar 3.14 Struktur sel saraf 81 Gambar 3.15 Pertemuan sel saraf dengan sel saraf lainnya yang dihuungkan oleh sinapsis 81 Gambar 4.1 Kerjasama santara rangka dan otot menghasilkan gerakan 91 Gambar 4.2 Pembentukan tulang 93 Gambar 4.3 Struktur tulang pipa 94 Gambar 4.4 Struktur tulang pendek 95 Gambar 4.5 Struktur tulang pipih 95 Gambar 4.6 Tulang tidak beraturan 96 Gambar 4.7 Tulang sesamoid 96
  • 100.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR KELOMPOK KOMPETENSI A xii Gambar 4.8 Tulang satura 97 Gambar 4.9 Tulang kompak dan tulang spon 97 Gambar 4.10 Struktur tulang panjang 98 Gambar 4.11 Struktur tulang pipih 99 Gambar 4.12 Struktur mikroskopik tulang kompak 100 Gambar 4.13 Sendi engsel 105 Gambar 4.14 Seni putar 105 Gambar 4.15 Sendi pelana 106 Gambar 4.16 Sendi peluru 106 Gambar 4.17 Struktur otot 107 Gambar 4.18 Aktin dan miosin dalam sel otot 107 Gambar 4.19 Filamen aktin dan miosin yang saling meluncur 108 Gambar 4.20 Tiga bentuk patah tulang 109 Gambar 4.21 Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang keras 111 Gambar 4.22 Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang rawan 112
  • 101.
    PENDAHULUAN KELOMPOK KOMPETENSI A 1 A.Latar Belakang Guru saat ini menjadi sebuah profesi yang menuntut pelakunya untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Tidak hanya menjadi tuntutan profesi, akan tetapi juga tuntutan dari peraturan menteri Pendidikan agar profesi guru menjalankan kegiatan pengembangan keprofesian secara berkelanjutan agar dapat melaksanakan tugas profesionalnya. Modul Diklat Guru Pembelajaran (GP) pada intinya merupakan model bahan belajar (learning material) yang menuntut peserta pelatihan untuk belajar lebih mandiri dan aktif. Untuk membantu guru meningkatkan kompetensi profesional dan pedagogik disusun modul diklat GP yang terbagi atas 10 Kelompok Kompetensi (KK). Modul ini merupakan Modul Diklat GP KK A yang digunakan pada diklat GP KK A. Modul ini dapat digunakan dengan baik pada diklat tatap muka maupun diklat on line. Selain terdapat pembahasan materi pedagogi di setiap modul, terdapat pula materi profesional yang membidik kompetensi profesional guru. Modul KK A bagi guru Biologi berisi beberapa materi bahasan standar kompetensi guru (SKG) yang telah ditetapkan didalam pemetaan Standar Kompetesi Guru Biologi. Materi profesional dalam modul ini antara lain adalah Ekosistem, Keanekaragaman Hayati, serta Struktur dan Fungsi Jaringan. Setiap materi diklat ini dikemas dalam suatu kegiatan pembelajaran yang meliputi: Tujuan, Indikator Pencapaian Kompetensi, Uraian Materi, Aktivitas Pembelajaran, Latihan/Kasus/Tugas, Rangkuman, Umpan Balik dan Tindak Lanjut dan Kunci Jawaban. PENDAHULUAN
  • 102.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud PENDAHULUAN KELOMPOK KOMPETENSI A 2 B. Tujuan Setelah melaksanakan pembelajaran dalam modul ini, guru pembelajar diharapkan dapat: 1. Mendeskripsikan dan menerapkan konsep-konsep Ekosistem, serta menggunakan dan menerapkan kegiatan dan sikap ilmiah pada pembelajaran Ekosistem. 2. Menjelaskan keterkaitan antara faktor-faktor penyebab dengan tingkat keanekaragaman hayati, manfaat keanekaragaman hayati dalam kehidupan, dan upaya pelestarian keanekaragaman hayati. 3. menjelaskan secara tepat dan mengidentifikasi fungsi jaringan-jaringan penyusun organ pada tumbuhan melalui kegiatan mengkaji modul dan praktik pengamatan. C. Peta Kompetensi Kompetensi Inti dan Kompetensi Guru Mata Pelajaran yang diharapkan setelah mempelajari modul ini tercantum pada tabel 1 berikut. Tabel 1. Kompetensi Inti dan Kompetensi Guru Kompetensi Guru Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Memahami konsep- konsep, hukum-hukum, dan teori-teori biologi serta penerapannya secara fleksibel. 2. Memahami proses berpikir biologi dalam mempelajari proses dan gejala alam. 1. Menyebutkan jenis komponen ekosistem 2. Menguraikan pola interaksi dalam ekosistem 3. Menyusun pola makan dalam ekosistem 4. Mendiskusikan siklus biogeokimia dalam ekosistem 5. Mengenal suksesi ekosistem 6. Mendiskusikan upaya manusia dalam pemeliharaan ekosistem. 7. Menjelaskan konsep keanekaragaman hayati 8. Menjelaskan konsep tingkat keanekaragaman hayati (genetik, jenis, hingga ekosistem) 9. Mengidentifikasi pola sebaran keanekaragaman hayati di Indonesia (Orientalis, Peralihan, dan Australis) 10. Menjelaskan manfaat keanekaragaman hayati 11. Menjelaskan faktor-faktor penurunan kehati dan 12. Mengidentifikasi dampak penurunan kehati
  • 103.
    LISTRIK untuk SMP PENDAHULUAN KELOMPOKKOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 3 Kompetensi Guru Indikator Pencapaian Kompetensi 13. Menjelaskan upaya-upaya konservasi sumber daya hayati 14. Menjelaskan sistem klasifikasi makhluk hidup 15. Membuat kunci determinasi makhluk hidup sederhana 16. Menyebutkan ciri-ciri jaringan meristem. 17. Menyebutkan contoh-contoh jaringan meristem. 18. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan epidermis dan fungsinya pada tumbuhan 19. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan dasar dan fungsinya pada tumbuhan. 20. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan penyokong dan fungsinya pada tumbuhan 21. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan pengangkut dan fungsinya pada tumbuhan 22. Menjelaskan struktur dan fungsi jaringan epitel pada hewan atau manusia. 23. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan penunjang dan fungsinya pada hewan. 24. Menjelaskan struktur dan fungsi saraf pada manusia. 25. Melakukan pengamatan jaringan epitel hewan dengan menggunakan mikroskop. D. Ruang Lingkup Ruang lingkup materi pada Modul ini disusun dalam empat bagian, yaitu bagian Pendahuluan, Kegiatan Pembelajaran, Evaluasi dan Penutup. Bagian pendahuluan berisi paparan tentang latar belakang modul kelompok kompetensi B, tujuan belajar, kompetensi guru yang diharapkan dicapai setelah pembelajaran, ruang lingkup dan saran penggunaan modul. Bagian kegiatan pembelajaran berisi Tujuan, Indikator Pencapaian Kompetensi, Uraian Materi, Aktivitas Pembelajaran, Latihan/Kasus/Tugas, Rangkuman, Umpan Balik dan Tindak Lanjut Bagian akhir terdiri dari Kunci Jawaban Latihan/Kasus/Tugas, Evaluasi dan Penutup. Rincian materi pada modul adalah sebagai berikut.
  • 104.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud PENDAHULUAN KELOMPOK KOMPETENSI A 4 1. Ekosistem 2. Keanekaragaman Hayati 3. Struktur dan Fungsi Tumbuhan E. Cara Penggunaan Modul Cara penggunaan modul pada setiap Kegiatan Pembelajaran secara umum sesuai dengan skenario setiap penyajian mata diklat. Langkah-langkah belajar secara umum adalah sbb. Deskripsi Kegiatan 1. Pendahuluan Pada kegiatan pendahuluan fasilitator memberi kesempatan kepada guru pembelajar untuk mempelajari: a. latar belakang yang memuat gambaran materi diklat. b. tujuan penyusunan modul mencakup tujuan semua kegiatan pembelajaran setiap materi diklat. c. kompetensi atau indikator yang akan dicapai atau ditingkatkan melalui modul. d. ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran. e. langkah-langkah penggunaan modul. 2. Mengkaji materi diklat Pendahuluan Review Mengkaji materi modul Melakukan aktivitas pembelajaran ( diskusi/ ekperimen/latihan) Presentasi dan Konfirmasi Latihan Soal Uji Kompeten si
  • 105.
    LISTRIK untuk SMP PENDAHULUAN KELOMPOKKOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 5 Pada kegiatan ini fasilitator memberi kesempatan kepada guru pembelajar untuk mempelajari materi diklat yang diuraikan secara singkat sesuai dengan indikator pencapaian hasil belajar. Peserta dapat mempelajari materi secara individual atau kelompok 3. Melakukan aktivitas pembelajaran Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rambu-rambu/intruksi yang tertera pada modul baik berupa diskusi materi, melakukan eksperimen, latihan dsb. Pada kegiatan ini peserta secara aktif menggali informasi, mengumpulkan data dan mengolah data sampai membuat kesimpulan kegiatan 4. Presentasi dan Konfirmasi Pada kegiatan ini peserta melakukan presentasi hasil kegiatan sedangkan fasilitator melakukan konfirmasi terhadap materi dibahas bersama 5. Review Kegiatan Pada kegiatan ini peserta dan penyaji mereview materi
  • 106.
    6 KEGIATAN PEMBELAJARAN1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A A. Tujuan Setelah mempelajari uraian materi dalam modul ini, diharapkan peserta dapat: 1. Mendeskripsikan dan menerapkan konsep-konsep Ekosistem. 2. Menggunakan dan menerapkan kegiatan dan sikap ilmiah pada pembelajaran Ekosistem. B. Indikator Ketercapaian Kompetensi Sedangkan indikator yang diharapkan dari guru pembelajar, yaitu: 1. Menyebutkan jenis komponen ekosistem 2. Menguraikan pola interaksi dalam ekosistem 3. Menyusun pola makan dalam ekosistem KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM Seperti kita ketahui bahwa lingkungan hidup kita sudah sangat mengkhawatirkan, bencana alam karena kelalaian manusia selalu terjadi di musim hujan seperti banjir dan longsor. Demikian halnya, kejadian kekeringan terjadi di musim hujan. Disadari atau tidak, semua itu akibat ulah manusia yang tidak hidup sesuai dengan alam, yakni memanfaatkan alam tanpa perhitungan. Mata pelajaran Biologi memiliki peranan penting dalam usaha pengelolaan lingkungan hidup. Hal tersebut karena Biologi mempelajari aspek kehidupan, baik di masa lampau maupun sekarang, termasuk di dalamnya lingkungan hidup. Selain itu, pembelajaran Biologi dapat mengembangkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, mempelajari lingkungan hidup termasuk cakupan pembelajaran Biologi. Memahami lingkungan hidup merupakan tanggung jawab setiap warga negara untuk memeliharanya. Di samping itu, setiap organisme memerlukan lingkungan sebagai tempat hidupnya.
  • 107.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 7 4. Mendiskusikan siklus biogeokimia dalam ekosistem 5. Mengenal suksesi ekosistem 6. Mendiskusikan upaya manusia dalam pemeliharaan ekosistem. C. Uraian Materi Ekosistem meliputi semua organisme dalam suatu daerah tertentu dan faktor- faktor abiotik yang berinteraksi dengannya, atau suatu komunitas dengan lingkungan fisiknya. (Campbell, 2004). Ekosistem dapat dipahami dan dipelajari dalam berbagai ukuran, asalkan ada komponen pokok (biotik dan abiotik) yang bekerja bersamaan untuk mencapai semacam kemantapan fungsional. Memang kebanyakan ekosistem tidak pernah dapat ditentukan benar batasan- batasannya. Reiners (1986), dalam Stilling (1992), berpendapat bahwa untuk alasan ini dan yang lainnya ekosistem hendaknya paling sedikit merupakan suatu tingkat organisasi ekologi. Ia menyarankan tentang kekurangan suatu sistem yang logis dari prinsip-prinsip yang berhubungan dan suatu pemahaman yang baik serta keluasan fokus yang diterima. Keuntungan yang paling besar dari ekologi ekosistem adalah aliran energi dan siklus nutrien, dimana komunitas dan populasi dapat diperbandingkan satu sama lain dan di dalam tingkatan trofik tertentu. Istilah ekosistem ini pertama kali digunakan oleh A.C. Tansley pada tahun 1935. Tansley telah banyak membantu penelitian dan pemikiran ahli ekologi modern lainnya. Friederich (1930) menggunakan istilah holocoen, sedangkan Thienemenn (1939) menggunakan biosistem untuk istilah ekosistem ini. Tetapi sampai sekarang yang sering digunakan adalah istilah ekosistem. Ilmu yang mempelajari tentang ekosistem ini disebut juga ekologi, yang dibedakan lagi menjadi autekologi dan sinekologi. Autekologi mempelajari hubungan antara individu dengan lingkungannya. Sedangkan sinekologi mempelajari hubungan antara populasi atau komunitas dengan lingkungannya. Lingkungan diartikan sebagai segala sesuatu yang terdapat disekitar organisme hidup yang mempengaruhi perilaku dan reproduksi organisme tersebut. Makhluk hidup dalam kehidupannya akan melakukan hubungan timbal balik dengan segala sesuatu di lingkungan sekitarnya. Lingkungan tempat hidup makhluk hidup ini juga disebut habitat. Ada berbagai macam habitat tetapi pada
  • 108.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 8 dasarnya hanya dua, yaitu habitat aquatik (sungai, danau, dan laut), serta habitat terestrial atau daratan. Hubungan timbal balik atau interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya terjadi karena makhluk hidup mengambil sesuatu dari lingkungan. Misalnya, makanan, minuman, tempat membuat sarang, dan sebagainya. Sementara organisme juga memberikan atau menempatkan, sesuatu kepada lingkungannya. Apa saja yang diberikan makhluk hidup tersebut terhadap lingkungannya? Makhluk hidup ini selanjutnya kita sebut organisme. Organisme akan mengeluarkan sisa-sisa pencernaan dan lain-lain ke lingkungannya. Ada juga organisme yang mengeluarkan gas ke lingkungannya. Setiap organisme hidup (biotik) di lingkungan atau di suatu daerah berinteraksi dengan faktor-faktor fisik dan kimia yang biasa disebut faktor biotik (yang tidak hidup). Faktor biotik dengan abiotik saling mempengaruhi atau saling mengadakan pertukaran material yang merupakan suatu sistem. Disebut sistem karena penyebaran organisme hidup di dalam lingkunagntidak terjadi secara acak, menunjukkan suatu “keteraturan” sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Setiap sistem yang demikian disebut ekosistem. Jadi komunitas dengan lingkungan fisiknya membentuk ekosistem. 1. Komponen Ekosistem Ekosistem merupakan suatu kesatuan dinamis yang terdiri atas komunitas berbagai spesies yang berinteraksi dengan lingkungannya baik biotik maupun abiotik. a. Faktor Biotik Merupakan bagian hidup dari lingkungan, termasuk semua organisme yang dapat berinteraksi satu sama lain. Makhluk hidup sebagai komponen biotik terdiri dari individu, populasi dan komunitas. 1) Individu Bila kita mengamati organisme satu persatu sebagai individu, maka individu ini dapat kita lihat, dihitung, diukur, dipakai percobaan. Kadang-kadang organisme itu berkelompok menjadi satu sehingga keseluruhannya terlihat sebagai individu. Misalnya binatang karang, rumpun bambu dan lain-lain.
  • 109.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 9 Pengertian individu ini menimbulkan kesukaran, bila kita melihat anak ayam menetas dari telur yang di hasilkan oleh seekor ayam, ini jelas bahwa individu baru berasal dari individu yang telah ada. 2) Populasi Populasi berhubungan dengan jenis individu, waktu dan tempat. kepadatan populasi artinya individu-individu dihubungkan dengan ruang yang ditempati, Misalnya, di kelas A 40 orang, dikatakan kepadatan populasi 40 orang tiap kelas. Kumpulan individu yang hidup di suatu tempat pada suatu waktu tertentu. Spesies adalah kelompok organisme yang mampu berbiak silang sesamanya dan menghasilkan keturunan yang fertil (pada kondisi alami). 3) Komunitas Kelompok organisme yang hidup bersama-sama terdiri dari bermacam-macam populasi disebut komunitas. Suatu komunitas biotik terdiri dari tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Setiap makhluk hidup mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda dalam lingkungannya. Secara garis besar Jabatan atau fungsi organisme dalam suatu komunitas dibedakan menjadi 4 kelompok, yaitu produsen, konsumen, pengurai, dan detritivor. Produsen atau penghasil terdiri atas organisme autotrof, yaitu organisme yang dapat mensintesis (membuat) makanan sendiri. Organisme autotrof menyusun senyawa organik dari senyawa anorganik melalui fotosintes atau kemosintesis. Organisme autotrof biasanya adalah tumbuhan berklorofil, beberapa jenis bakteri dan ganggang biru. Konsumen atau pemakai terdiri atas organisme heterotrof, yaitu organisme yang menggunakan senyawa organik yang dihasilkan oleh produsen. Termasuk ke dalam konsumen adalah hewan dan manusia. Pengurai disebut juga perombak atau dekomposer, adalah organisme heterotrof yang menguraikan produsen dan konsumen yang sudah mati. Dalam penguraiannya materi organik yang kompleks akan diubah menjadi materi yang lebih sederhanadan akhirnya menjadi mineral-mineral yang dimanfaatkan kembali oleh produsen. Pengurai umumnya berupa mikroorganisme seperti bakteri dan jamur.
  • 110.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 10 Selain pengurai ada kelompok mikroorganime yang termasuk detritivor. Detritivor adalah organisme yang memakan bahan organik (sampah - serasah ) menjadi partikel-partikel yang lebih kecil (detritus), misalnya cacing tanah, serangga tanah, siput, keluwing dan tripang. b. Faktor Abiotik Abiotik merupakan komponen fisik atau bagian yang tidak hidup dari lingkungan. Kemampuan organisme untuk hidup dan berkembang biak tergantung pada faktor fisika dan kimia lingkungannya. Misalnya air, tanah, suhu, cahaya, udara, tekanan udara, topografi, tekanan udara. 1) Air Air diperlukan oleh tumbuhan untuk fotosintesis. Selain itu, juga air berguna untuk melarutkan mineral dalam tanah sehingga mudah diserap oleh akar tumbuhan, dan menjaga kesegaran tumbuhan. Bagi hewan darat air berguna untuk minum, bagi hewan air untuk melarutkan oksigen. Sebagian besar tubuh mahluk hidup terdiri dari air dan setiap hari membutuhkan air.sedang air berfungsi: a) sebagai pelarut zat yang diperlukan tubuh, b) sebagai alat transpor zat dalam tubuh, c) mengatur suhu tubuh, d) tempat bereaksinya zat dalam tubuh. 2) Tanah Tanah selain berfungsi sebagai tempat berpijaknya makhluk hidup jugaTanah bertindak sebagai substrat atau tempat hidup organisme. Tanah juga menyediakan kebutuhan makhluk hidup seperti unsur hara dan mineral. Suatu jenis individu mungkin tidak cocok hidup di sembarang tanah, sebab tanah yang berbeda mungkin memiliki pH yang berbeda, kelembapan yang berbeda maupun tingkat kesuburan yang berbeda 3) Suhu Mahluk hidup dapat hidup dengan suhu tertentu, yaitu: a) Suhu maksimum: suhu yg paling tinggi yang masih memungkinkan untuk hidup. b) Suhu optimum; suhu yang paling baik untuk hidup. c) Suhu minimum: suhu yg paling rendah yg masih memungkinkan untuk hidup.
  • 111.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 11 4) Cahaya Cahaya matahari, merupakan sumber energi di bumi. Semua mahluk hidup baik langsung maupun tak langsung energinya berasal dari matahari. Cahaya matahari merupakan komponen abiotik yang berfungsi sebagai energi primer bagi ekosistem. Sebagai sumber energi utama, cahaya penting untuk prose fotosintesis. 5) Udara Komponen udara yang terpenting adalah O2 (Oksigen) untuk proses pembakaran zat dalam tubuh, sedangkan CO2 (karbon dioksida) bahan mentah dalam proses asimilasi. 6) Tekanan udara Faktor ini tidak berpengaruh secara langsung pada mahluk hidup, karena makhluk hidup dapat menyesuaikan diri. 7) Topografi Topografi meliputi faktor altitude, yaitu ketinggian suatu tempat yang diukur dari permukaan laut dan latitude, yaitu letak lintang yang diukur dari garis khatulistiwa. Topografi mempunyai pengaruh yang besar terhadap penyebaran. makhluk hidup yang tampak jelas pada penyebaran tumbuhan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan topografi yang mengakibatkan intensitas cahaya, suhu, dan curah hujan berbeda-beda di setiap tempat. 8) Iklim Iklim merupakan komponen abiotik yang terbentuk sebagai hasil interaksi berbagai komponen abiotik lainnya, seperti kelembaban udara, suhu dan curah hujan. Iklim sangat memengaruhi kesuburan tanah, tetapi kesuburan tanah tidak berpengaruh terhadap iklim. 2. Interaksi dalam ekosistem Ekosistem merupakan suatu kesatuan yang lengkap, yang di dalamnya terdapat berbagai komunitas yang saling mempengaruhi (berinteraksi). lnteraksi dalam ekosistem dapat terjadi antar organisme maupun antara organisme dengan lingkungannya. Hubungan antar organisme dapat bersifat saling menguntungkan, merugikan, bahkan saling berkompetisi. Pola-pola interaksi dalam ekosistem dapat berupa interaksi antar faktor biotik maupun antara faktor
  • 112.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 12 biotik dengan faktor abiotik, baik dalam tingkat spesies, populasi, maupun komunitas. a. Interaksi Antara Faktor Biotik dengan Abiotik Keberadaan faktor biotik atau organisme baik secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh faktor abiotik. Faktor abiotik yang mempengaruhi organisme antara lain berupa kondisi tanah, kandungan unsur hara, iklim (kelembaban, suhu), kandungan air, dan topografi. Suatu contoh yang sangat nyata, di daerah-daerah yang curah hujannya tinggi mempunyal jenis tumbuhan yang berbeda dengan daerah yang curah hujannya rendah. Hewan dan tumbuhan yang hidup di hutan berbeda dengan hewan atau tumbuhan yang hidup di padang rumput atau di gurun. Selain itu, faktor abiotik juga dapat mempengaruhi populasi organisme. Misalnya populasi nyamuk akan meningkat sangat drastispada musim hujan, beberapa tumbuhan akan semakin cepat bertambah populasinya pada musim hujan. Sebaliknya, pada musim kemarau beberapa tumbuhan, misalnya rumput mengalami penurunan populasi. b. Interaksi Antarfaktor Biotik Interaksi antar faktor biotik dapat terjadi pada tingkat individu atau spesies, populasi. dan komunitas. lnteraksi tersebut dapat berupa kompetisi, predasi, dan simbiosis. 1) Kompetisi Kompetisi adalah bentuk hubungan antara spesies yang satu dengan yang lain jika terjadi persaingan di antara mereka. Persaingan dapat terjadi karena faktor makanan, tempat hidup, atau pasangan hidup. Contoh: a) Kompetisi antara kambing, kerbau, dan sapi dalam usaha memenuhi kebutuhan makan yang berupa rumput. b) Kompetisi antara tanaman jagung dengan rumput dalam memenuhi unsur hara dalam tanah.
  • 113.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 13 2) Simbiosis Simbiosis adalah hubungan erat antara dua organisme dan spesies yang berbeda yang hidup bersama di suatu daerah. Simbiosis dapat digolongkan menjadi tiga sebagal berikut. a) Simbiosis mutualisme, jika kedua organisme mendapatkan keuntungan dari hubungan tersebut. Contoh:  Simbiosis antara Iebah dengan tanaman berbunga. Lebah mendapatkan makanan berup nektar, sebaliknya lebah membantu penyerbukan.  Simbiosis antara tanaman Leguminosae dengan bakteri Rhizobium radicicolla. Rhizobium radicicolla mampu menambat oksigen bebas untuk sumber energi. Gas nitrogen akan mengalami oksidasi menjadi ion nitrat, yang dapat diserap oleh tumbuhan Leguminosae..  Simbiosis antara jamur Ascomycotina dangan alga hijau membentuk lumut kerak. Dalam lumut kerak jamur Ascomycotina menyerap unsur hara dan dalam tanah, termasuk air. Oleh alga hijau air dan CO2 digunakan sebagai bahan dasar pembuatan makanan (zat gula) rnelalui fotosintesis.  Simbiosis antara rayap dengan sejenis Flagellata yang hidup di dalam usus rayap. Flagellata yang hidup dalam usus rayap membantu pencernaan selulosa, dalam rangka memenuhi kebutuhan makannya. b) Simbiosis komensalisme, jika salah satu organisme mendapat keuntungan, sedang organisme yang lain tidak dirugikan. Contoh:  Simbiosis antara ikan remora dengan ikan hiu. Ikan remora mendapatkan sisa- sisa makanan dan ikan hiu.  Simbiosis antara tanaman epifit dengan tumbuhan bertajuk tinggi. Tumbuhan menyediakan med. tumbuh atau tempat menempel bagi tanaman epifit.  Simbiosis antara ikan badut dengan anemon laut. Anemon laut menyediakan persembunyian atau perangkap makanan bagi ikan badut. c) Simbiosis parasitisme, jika salah satu organisme mendapat keuntungan, sedang organisme yang lain dirugikan. Organisme yang mendapat keuntungan dinamakan parasit, sedang yang mendapat kerugian dinamakan
  • 114.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 14 inang atau hospes. Organisme parasit mendapat keuntungan karena mendapat zat-zat makanan dan tubuh inang. Contoh:  Kutu rambut pada kepala manusia (ektoparasit).  Pinjal pada kulit anjing (ektoparasit).  Cacing perut (Ascaris lumbricoides) dan cacing pita dalam usus manusia (endoparasit).  Benalu dan tali putri yang menempel pada tanaman tertentu, misalnya pada pohon mangga, jambu dan jeruk. 3) Antibiosis Antibiosis adalah hubungan antara dua organisme yang satu menghambat pertumbuhan organisme yang lainnya. Contoh: a) Jamur Penicillium menghambat pertumbuhan bakteri dengan mengeluarkan zat antibiotik penisilin. b) Jamur Aspergillus flavus menghasilkan aflatoksin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. 4) Predasi Predasi adalah hubungan antara pemangsa (predator) dengan mangsa. Predasi dapat dilihat dengan jelas pada rantai makanan atau jaring-jaring makanan, yaltu antara konsumen I dengan konsumen II atau antara konsumen II dengan konsumen III. Organisme yang memakan organisme lain disebut predator. Perhatikan peristiwa predasi pada rantai makanan di di bawah ini. Padi Tikus Ular Elang (P1) (K1) (K2) (K3) 5) Pola Makan a) Rantai Makanan dan Jaring-Jaring Makanan Selain terjadi interaksi antar faktor biotik didalam rantai makanan terjadi pula interaksi faktor biotik-abiotik. Hubungan antar faktor biotik yang menyusun rantai Predasi
  • 115.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 15 makanan dengan faktor abiotik (lingkungan) dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Ketersediaan unsur hara dalam tanah sangat mempengaruhi kehidupan tumbuhan (produsen). Kelangsungan hidup secara langsung mempengaruhi kehidupan konsumen I, sebaliknya ketersediaan unsur hara dalam tanah tidak berpengaruh secara langsung terhadap konsumen. Hal yang sama dapat juga terjadi pada jaring-jaring makanan. Jaring-jaring makanan adalah sekumpulan rantai makanan yang saling berhubungan satu sama lain. Pada hutan muda, jumlah total bahan organik makin meningkat setiap tahun dengan meningkatnya ukuran pohon. Ini pun merupakan penyimpanan, tetapi jika hutan menjadi dewasa, bahan organik akan hilang karena kematian dan kehancuran. Energi yang hilang (hancur) tersebut, jika ditambahkan dengan kehilangan karena dimakan hewan, maka jumlahnya sama dengan produk bersih tumbuhan. Dalam hal ini tidak ada pertambahan lebih lanjut dalam biomassa dari tahun ke tahun. Istilah biomassa digunakan untuk melukiskan seluruh bahan organik yang terdapat dalam satu ekosistem. Jika sebagian biomassa suatu tumbuhan dimakan, energi itu diteruskan ke suatu heterotrof. Pada belalang misalnya, untuk tumbuh dan melaksanakan kegiatannya berkat energi yang tersimpan dalam tumbuhan yang dimakannya. Pada gilirannya, herbivora akan menyediakan makanan untuk karnivora. Belalang tadi dapat dimakan oleh katak. Proses pemindahan energi dari makhluk ke makhluk dapat berlanjut. Katak dapat dimakan oleh ular, yang pada gilirannya ular dimakan oleh burung elang. Gambar 1.1: Rantai makanan (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library. Mc.Graw Hill Co.)
  • 116.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 16 Lintasan konsumsi makanan seperti di atas di sebut "Rantai Makanan", atau "food chains“ makanan berasal dari organisme autotrofik. Organisme yang langsung memakan tumbuhan disebut herbivor (konsumen primer), yang memakan herbivor disebut karnivor (konsumen sekunder), dan yang memakan konsumen sekunder disebut konsumen tersier. Setiap tingkatan organisme dalam satu rantai makanan disebut tingkatan tropik. Gambar 1.2: jaring-jaring makanan (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library. Mc.Graw Hill Co.) b) Piramida Makanan Pada ekosistem yang mantap jumlah produsen tebih besar daripada konsumen. Apabi dirinci Iebih tanjut, jumlah produsen Iebih besar daripada konsumen I, konsumen I Iebih besar daripada konsumen II, konsumen II Iebih besar daripada konsumen III, demikian seterusnya. Apabila keadaan tersebut kita gambarkan akan membentuk suatu piramida makanan, seperti terlihat pada gambar di samping. Piramida makanan yaitu tingkatan organisasi makhluk hidup yang didasarkan atas hubungan makan memakan. Setiap kelompok organisme di dalam piramida makanan menempati tingkat tertentu, yang disebut tingkat trotik. Produsen selatu menempati trotik I, konsumen primer menempati trofik II, konsumen sekunder menempati trofik III, demikian seterusnya. Semakin rendah tingkat trofiknya, semakin besar kandungan energi atau biomassanya.
  • 117.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 17 Gambar 1.3: Piramida makanan (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library. Mc.Graw Hill Co.) Piramida makanan disebut juga piramida jumlah dan merupakan salah satu jenis piramida ekologi. Menurut fungsinya, piramida ekologi terbagi menjadi beberapa macam sebagai berikut. 1) Piramida Jumlah Tingkatan trotik pada piramida jum didasarkan pada penghitungan jurnlah individu tiap satuan luas, yaitu per m Contoh piramida jumlah seperti berikut ini. 3 ekor elang (konsumen II) 100 ekor ular (konsumen I) 9.000 ekor tikus herbivora) 100.000 tumbuhan (produsen) 2) Piramida Biomassa Penentuan tiap tingkatan trofik pada piramida biomassa didasarkan pada pengukuran massa individu dalam gram berat kering per m2 . Contoh piramida biomassa seperti berikut. 10 gr/m2 (konsumen I) 100 gr/ m2 (herbivora) 1.000 gr/ m2 (produsen)
  • 118.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 18 3) Piramida Energi Penentuan tingkatan trofik pada piramida energi didasarkan pada energi yang dapat dikeluarkan oleh individu yang dinyatakan dalam mg berat kering per m2 hari. Contoh piramida biomassa seperti berikut ini: 2,4 K kaI/ni (konsumen 1) 2.0,9 K ka (herbivora) 22.0,1 K ka (produsen) c) Aliran Energi Dalam suatu rantai rnakanan terjadi peristiwa makan dan dimakan antara produsen dan konsumen. Perhatikan lagi gambar rantai makanan di depan. Ketika tikus makan padi, terjadi perpindahan materi kimia dan padi (produsen) ke tubuh tikus (konsumen). Demikian juga ketika tikus dimakan ular, terjadi perpindahan mateni atau energi dan tikus (konsumen I) ke ular (konsumen II). Demikian seterusnya hingga materi kembali lagi ke alam, yaitu saat hewan mati dan diuraikan menjadi materi yang Iebih sederhana oleh jasad pengurai. Dengan demikian, dalam peristiwa makan dan dimakan terjadi aliran energi. Di alam aliran energi berjalan dan lingkungan abiotik (matahari), organisme (produsen) konsurnen kembali ke alam (udara, air, dan tanah).
  • 119.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 19 Tidak semua energi berpindah dan trofik satu ke trofik berikutnya, karena sebagian energi itu telah digunakan untuk melakukan kegiatan hidup oleh organisme dalam trofik tensebut. Jadi, energi yang diteruskan dan organisme satu (produsen) menuju organisme yang lain (konsumen) selalu lebih kecil. Apabila digambarkan, aliran energi dan trofik yang Iebih rendah menuju trofik yang lebih tinggi merupakan piramida, dan disebut piramida energi. Gambar 1.4 Aliran energi dan materi Piramida energi merupakan piramida yang ideal untuk menunjukkan hubungan antar organisme pada tiap tingkatan trofik. Hal ini karena adanya beberapa kelebihan piramida energi, yaitu sebagai berikut: 1) Mempertimbangkan kecepatan produksi. 2) Berat dua spesies yang sama tidak berarti memiliki energi yang sama. 3) Dapat digunakan untuk membandingkan berbagai ekosistem. 4) Mementingkan kedudukan populasi dalam suatu ekosistem. 5) Dapat mengetahui konsumen yang paling produktif ditinjau dan sisi keluaran energi. 3. Siklus Biogeokimia Daur biogeokimia adalah siklus yang melibatkan senyawa kimia yang berpindah tempat melalui organisme sebagai perantara kemudian senyawa ini kembali ke lingkungan fisiknya. Pembangun tubuh organisme adálah mateni yang tersusun
  • 120.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 20 dan unsur-unsur kimia. Unsur-unsur yang ada di alam ini tidak mungkin habis karena mengalami daur ulang (sikius zat). Beberapa siklus unsur atau zat kimia yang penting antara lain siklus nitrogen (N), sikius karbon (K), dan siklus air. a. Siklus Nitrogen Tahapan siklus nitrogen berlangsung sebagai berikut. 1) Atmosfer mengandung 80% nitrogen bebas (N2) tumbuhan dapat menyerap nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3). 2) Beberapa bakteri pada bintil akar Leguminosae dan beberapa ganggang dapat memfiksasi N2 dan udara. 3) Halilintar juga menghasilkan bentuk senyawa N2 dan O senyawa tersebut terbawa air hujan berupa nitrat dan nitrit. 4) Mikroorganisme mengurai bangkai dan kotoran menjadi amonium, bakteri denitrifikasi, dalam tanah mengural nitnat menjadi N bebas ke udara. Gambar 1.5: Siklus Nitrogen (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library. Mc.Graw Hill Co.) b. Siktus Karbon Tahapan siklus Karbon berlangsung sebagai berikut. 1) Karbon di udara dalam bentuk CO2 dan dapat tertarut datam air. 2) Pada tumbuhan darat maupun fitoplankton di dalam air CO2 diubah menjadi karbohidrat melalui proses fotosintesis. Dalam totosintésis, dihasilkan pula O2 yang dilepas ke udara. 3) Karbohidrat digunakan oleh konsumen untuk mendapatkan energi, Konsumen juga melakukan respirasi serta me CO2 ke udara.
  • 121.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 21 4) Bakteri dan jamur saat mengurai bangkai metepaskan CO2 ke udara. 5) Penguralan oleh bakteri yang berjalan lambat dapat mengakibatkan penumpukan karbon bentuk batu bara dan minyak bumi. Gambar 1.6: Siklus Karbon (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library. Mc.Graw Hill Co.) c. Siklus Air Tahapan siklus Air berlangsung sebagai berikut. 1) Air di bumi dapat berupa air permukaan (rawa, danau, lautan) maupun air tanah. 2) Siklus air dibedakan menjadi dua yaitu sikius pendek dan panjang. 3) Siklus air pendek yaitu air laut menguap, uap air di udara dingin mengalami kondensasi menjadi titik-titik air dan jatuh sebagai hujan, selanjutnya kembali ke laut. 4) Siklus air panjang yaitu uap air yang berasal dan berbagai proses penguapan, jatuh sebagai hujan di daratan kemudian melalui sungai atau air tanah kembali ke laut. Gambar 1.7: Siklus Air (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library. Mc.Graw Hill Co.)
  • 122.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 22 d. Siklus Fosfor Fungsi fosfor bagi makhluk hidup, antara lain fosfor dalam bentuk adenosin trifosta (ATP) merupakan bahan bakar (energi) bagi makhluk hidup. Cadangan fosfat yang dapat larut, dapat digunakan langsung sebagai zat hara primer dalam sintesis protein oleh tumbuhan. Melalui rantai makanan fosfat dapat beralih ke tingkat tropik yang lebih tinggi. Jika organisme mati, fosfor dikembalikan ke tanah melalui proses penguraian Kelebihan fosfat yang diekskresikan burung dan ikan dalam tinjanya juga mengembalikan fosfor ke lingkungan. Guano (doposit kotoran burung) juga merupakan akumulasi fosfor yang dikembalikan ke daratan. Gambar 1.8 Siklus Fosfor (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library. Mc.Graw Hill Co.) e. Sulfur/ Belerang Sulfur terdapat dalam bentuk sulfat anorganik. Sulfur direduksi oleh bakteri menjadi sulfida dan kadang-kadang terdapat dalam bentuk sulfur dioksida atau hidrogen sulfida. Hidrogen sulfida ini sering kali bersifat mematikan makhluk hidup di perairan, pada umumnya dihasilkan dari penguraian bahan organik yang mati. lon sulfat kemudian diserap tumbuhan dan diubah menjadi protein. Jika jaringan tumbuhan atau binatang mati akan mengalami pfoses penguraian.
  • 123.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 23 Beberapa jenis bakteri dapat mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi sulfat kembali. Besi (Fe) dalam sedimen bereaksi dengan sulfida membentuk ferosulfida (FeS) yang mengendap. Gambar 1.9 Siklus Sulfur 4. Perubahan Ekosistem Sepanjang masa ekosistem mengalami perubahan struktur maupun fungsi. Perubahan pembahas ini mungkin hanya fluktuasi setempat yang tidak berarti, tetapi mungkin juga cukup besar sehingga dapat mengubah stabilitas hubungan suatu ekosistem. Perubahan ekosistem disebabkan oIeh hal-hal berikut. a. Perkembangan secara alami suatu ekosistem berupa perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ekosistem dalam perjalanannya menuju kedewasaan atau keseimbangan. Perkembangan alami ini dikenal dengan istilah suksesi. Gambar 1.10 Struktur hutan hujan tropis (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library. Mc.Graw Hill Co.) Tanah
  • 124.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 24 b. Pengaruh atau faktor luar biasanya akibat ulah manusia. Gambar 1.11 Kebakaran hutan 5. Suksesi Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara teratur disebut suksesi. Suksesi terjadi akibat dari perubahan lingkungan fisik dalam komunitas. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks. Dikatakan klimaks karena ekosistem tersebut sudah stabil atau tidak akan berubah lagi. a. Faktor Dalam Penyebab Suksesi Contoh klasik untuk menggambarkan peristiwa suksesi adalah kejadian di gunung Krakatau, Jawa Barat. Pada tahun 1883 Gunung Krakatau meletus, semua kehidupan di gunung tersebut musnah. Seratus tahun kemudian ternyata di tempat tersebut sudah terbentuk hutan kembali. Gangguan Alam Lahan gundul dan gersang Alga dan lumut kerak Lumut dan tumbuhan paku Rumput Perdu Pohon Padang rumput HutanSemak belukar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
  • 125.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 25 Gambar 1.12 Suksesi primer (Estella Lavelin at.al. 1998. Botani Visual Resource Library. Mc.Graw Hill Co.) Mula-mula yang berkoloni adalah sejenis lumut kerak (lichen) dan beberapa jenis lumut tertentu. Asam-asam yang dieksresi oleh Lichen itu menghancurkan substrat batuan dan menyediakan sedikit tanah. Partikel tanah tambahan terbentuk karena penghancuran oleh iklim dan terbawa angin. penghancuran dan pembusukan terhadap lichen dapat menambahkan sedikit humus, sehingga lumut lain menetap. Setiap musim terdapat pertumbuhan baru yang lama membusuk (menyediakan humus). Tidak lama kemudian tersedia cukup tanah untuk paku-pakuan dan kemudian tumbuh rerumputan, kemudian semak (perdu). Keadaan ini menyediakan kondisi pertumbuhan yang amat baik untuk biji-biji tumbuhan tinggi (pohon).
  • 126.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 26 Gambar 1.13 Suksesi tumbuhan dalam suatu rawa yang dimulai dengan batang tumbuhan rawa, yang tumbuh keluar daridalam air, rnaka terbentuk selapis vegetasi yang makin lama makin tebal sesuai dengan tahun-tahun yang berlalu dan area perairan terbuka makin menciut (Chaerun dkk. 2002). Biji, spora dan benih dalam bentuk lain datang dari luar dan sampai ke substrat baru dibawa oleh angin, air atau hewan. Tumbuhan atau organisme lain yang mampu menghuni untuk pertama kali disebut tumbuhan pelopor (vegetasi perintis). Disebut vegetasi perintis karena organisme tersebut mampu membuka lahan untuk hidupnya organisme lain. Suksesi yang terjadi pada suatu lahan yang rusak total ( tidak ada organisme yang hidup) disebut suksesi primer. Jenis suksesi yang kedua adalah suksesi sekunder. Suksesi sekunder terjadi jika suatu komunitas atau ekosistem alami terganggu, baik secara alami maupun buatan, dan gangguan tersebut. Banjir kebakaran tidak merusak total ekosistem tersebut. Banjir, kebakaran, angin kencang, gelombang laut, dan penebangan hutan merupakan contoh-contoh gangguan tersebut. b. Faktor-Faktor Luar Penyebab Suksesi Selain disebabkan oleh peristiwa suksesi alam, perubahan-perubahan lingkungan disebabkan oleh ulah manusia. Bahkan ulah manusia sangat besar peranannya dalam mengubah keseimbangan lingkungan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi kemudahan kepada manusia memperlakukan lingkungan sesuai kehendaknya. Penebangan hutan menjadi semena-mena. Pembukaan lahan untuk kepentingan-kepentingan tertentu seperti real estate, villa, atau bahkan pabrik-pabrik industri dilakukan tanpa perhitungan yang matang. Penggunaan dinamit atau trawl (pukat harimau) dalam menangkap ikan dan masih banyak lagi.
  • 127.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 27 Berikut ini adalah beberapa kenyataan perubahan lingkungan yang terjadi akibat ulah manusia: 1) Menciutnya Areal Hutan Banyak hal yang dapat menyebabkan menciutnya areal hutan, antara lain: a) Penebangan liar Menurut penelitian tahun 1986/1987, penebangan kayu untuk tujuan komersial mencapai 80 ribu hektar/tahun. b) Kebakaran hutan Walaupun kebakaran hutan dapat terjadi secara alami, tetapi ulah manusia kadang-kadang dapat memicu peristiwa. Kebakaran hutan akan menurunkan kualitas tanah tersebut, sehingga sulit untuk ditanami lagi. Dalam periode 1979- 1984 kebakaran hutan mencapai 70 ribu hektar/tahun. - Pembukaan hutan untuk tujuan proyek-proyek pembangunan pada periode yang sama mencapai 250 hektar/tahun - Akibat konversi lahan untuk perkebunan termasuk peladangan berpindah (di Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya) 2) Meningkatnya Pencemaran Menurut Supardi (1994) yang dimaksud pencemaran lingkungan adalah terjadinya pencemaran yang dapat menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan terganggunya kesehatan serta ketenangan makhluk hidup. Sedangkan menurut Sasatra Wijaya (1991) pencemaran lingkungan terjadi apabila ada penyimpangan dari lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran dan berakibat jelek terhadap lingkungan. 6. Upaya manusia dalam pemeliharaan Ekosistem Air, udara, dan tanah adalah sumber daya alam (SDA) "milik bersama". Penyalahgunaan SDA milik bersama tersebut/ disebabkan oleh diabaikannya, biaya-biaya lingkungan hidup yang timbul di dalam aktivitas pembangunan, misalnya pabrik semen tidak menukirkan pencemaran udara, karena fungsinya memproduksi semen. Nelayan hanya memikirkan bagaimana mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya, pengusaha hutan hanya memikirkan kayu sebanyak- banyaknya. Contoh lain sebuah pabrik tekstil meminimalkan ongkos dengan cara
  • 128.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 28 membuang limbahnya langsung ke sungai. Simgai tercemar dan masyarakat yang menanggung ongkos pembersihannya. Bertolak dari asas lingkungan hidup adalah milik bersama, berarti pemeliharaannya juga harus dilaksanakan bersama. 7. Upaya Memperbaiki Ekosistem Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk menjaga atau memperbaiki kerusakan ekosistem: a. Tidak menebang hutan sembarangan. Penebangan hutan harus sesuai dengan peraturan HPH yang berlaku. Syarat penebangan hutan antara lain harus menggunakan sistem "tebang pilih", dan harus menanam kembali setdah menebang. b. Mengalakkan penghijauan/reboisasi c. Mencegah kebakaran hutan. Kebakaran hutan mungkin dapat dicegah antara lain dengan membuat menara- menara pengawas, agar pehigas dapat mengawasi kejadian-kejadian dengan segera, menghindari pembuatan api di hutan. d. Membuat suaka margasatwa, cagar alam, taman nasional, taman burung, hutan lindung dan sebagainya e. Penataan tata ruang wilayah perlu direncanakan. Setiap daerah dibangun sesuai dengan zona peruntukannya seperti zona industri, pemukiman, perkebunan, dan pertanian. f. Proyek pembangunan yang berdampak negatif harus dikendalikan melalui penerapan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) g. Pengendalian kerusakan lingkungan melalui pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), rehabilitasi bekas pembangunan dan bekas galian tambang dan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan h. Penanggulangan pencemaran tanah, air, dan udara, misalnya: 1) tidak menggunakan pestisida, fungisida dan herbisida tanpa aturan; 2) mencari pestisida pengganti (pengendalian hama sec. biologi); 3) tidak membuang limbah sembarangan; 4) pengembangan baku mutu air dan udara; 5) menggunakan pupuk buatan sesuai aturan;
  • 129.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 29 6) mengelola sampah/limbah dengan prinsip3R; a) Reduce yaitu mengurangi pengguraan jenis barang yang banyak sampah b) Reuse, yaitu menggunakan kembali barang atau kemasan barang yang sudah dipakai c) Recycle, yaitu mendaur ulang sampah yang dihasilkan i. Pengembangan peraturan perundang-undangan mengenai lingkungan hidup j. Penerapan hukum yang tegas bagi pelanggar peraturan. D. Aktivitas Pembelajaran Komponen Abiotik dan Biotik Kegiatan 1: Menyiapkan Sampel Tanah Cara Kerja: 1. Pilihlah lokasi tanah yang akan diobservasi. 2. Buatlah galian atau irisan tanah vertikal sedalam lebih kurang 30 cm dengan lebar lebih kurang 10 cm (lihat gambar). 3. Buatlah batas pada tanah tersebut hingga terlihat irisan vertikal tanah terbagi menjadi 3 bagian a, b, dan c. 4. Dengan menggunakan pisau tajam, ambilah 3 bagian tanah tersebut masing masing ditempatkan pada 3 wadah yang berbeda. 5. Lakukan observasi selanjutnya dengan menggunakan 3 sampel tanah Ini.
  • 130.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 30 Kegiatan 2: Mengidentiflkasi Hewan Tanah dan Dekomposer pada Sampel Tanah Cara kerja: 1. Ambil tanah sampel (dan wadah a). 2. Tebarkan di atas koran bekas. 3. Pisahkan Invertebrata besar, seperti cacing tanah, dan sampel tanah. 4. Buatlah identifikasi sederhana hasil temuan Anda, dan susunlah dalam tabel pengamatan. 5. Lakukan kegiatan yang sama dengan tanah sampel dan wadah b dan c. 6. Ambil tanah sampel, tanah yang sudah dipisahkan dan lnvertebrata besar. 7. Masukkan ke dalam corong kaca atau plastik (lihat contoh perangkat dalam gambar). 8. Tempatkan sebuah penutup khusus yang bagian tengah dipasang lampu (25 watt). 9. Amati dan buatlah identifikasi dekomposer kecil yang jatuh ke dalam larutan 5% gliserin + 50% alkohol pada gelas piala. 10.Masukkan ke dalam tabel data. 11.Lakukan kegiatan yang sama untuk 2 tanah sampel lainnya.
  • 131.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 31 Pertanyaan: 1. Bandingkan hasil temuan Anda dari 3 jenis sampel tanah! 2. Buatlah perbandingan jumlah Invertebrata tanah pada lapisan a, b, dan c! 3. Apa yang dapat Anda terangkan tentang hubungan Invertebrata dengan tanah sampel ini? 4. Mengapa mikroorganisme tanah yang ada pada corong cenderung jatuh ke gelas piala? 5. Bandingkan basil temuan Anda dan 3 sampel tanah tentang: a. macam dekomposer. b. jumlah dekomposer yang tertangkap, Apa pendapat Anda? 1) Dan hasil kegiatan 2a-2b, adakah organisme yang mendominasi habitat tanah sampel? Jelaskan! E. Latihan Pilihlah satu jawaban yang benar. 1. Kelompok-kelompok hewan yang ada di padang rumput dalam konsep ekosistem merupakan… a. ekosistem b. species c. populasi d. komunitas Soal 2 dan 3 berdasarkan gambar berikut! (sumber: http://www.temukanpengertian.com/2015/08/pengertian-redasi.html?m=0)
  • 132.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A 32 2. Bentuk interaksi pada gambar di atas adalah… a. kompetisi b. parasitisme c. predasi d. mutualisme 3. Interaksi itu terjadi antara… a. individu dengan individu b. populasi dengan populasi c. biotik dengan abiotik d. spesies dengan spesies 4. Parasit yang hidup menempel pada inangnya dan mengambil zat makanan dari tubuh inangnya disebut… a. hemiparasit b. parasit fakultatif c. endoparasit d. parasit obligat 5. Komponen abiotik dalam suatu ekosistem adalah… a. mikroba, cahaya, suhu b. tanah, air, mikroba c. tanah, udara, bakteri d. suhu, cahaya matahari, tanah F. Rangkuman Perlu kita sadari bahwa manusia bukan saja dapat mengubah lingkungannya tetapi juga merupakan bagian fungsional dari lingkungan itu, karena untuk kebutuhan hidup seperti makanan, pengolahan air minum, dan lainnya bergantung pada proses-proses biologi. Dalam ekosistem komponen biotik dan abiotik masing-masing saling mempengaruhi sesamanya atau berinteraksi keduanya, jadi ekosistem tidak
  • 133.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM KELOMPOK KOMPETENSI A ModulGuru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 33 hanya keanekaragaman makhluk hidup saja tetapi juga semua faktor fisikokimia yang membentuk lingkungannya. Ekosistem tidak selalui dalam keadaan stabil, adakalanya terjadi intervensi yang menyebabkan sistem bergeser ke suatu arah, tetapi akhirnya akan bergeser kembali dengan arah yang berlawanan.Pada umumnya suatu ekosistem tidak merupakan sistem yang tertutup, sehingga perubahan atau gangguan dari luar ataupun dari dalam dapat datang membawa selingan dalam keseimbangan.ini dapat berupa migrasi organisme atau spesies, kebakaran, banjir, tanah longsor, hujan abu, kekeringan dan gangguan-ganggguan yang berasal dari manusia. Gangguan-gangguan tersebut menimbulkan goncangan, tetapi kemudian sistem akan pulih kembali asalkan goncangan tidak melampaui batas toleransi alam meresponnya. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Setelah menyelesaikan soal latihan ini, Anda dapat memperkirakan tingkat keberhasilan Anda dengan melihat kunci/rambu-rambu jawaban yang terdapat pada bagian akhir modul ini. Jika Anda memperkirakan bahwa pencapaian Anda sudah melebihi 85%, silahkan Anda terus mempelajari Kegiatan Pembelajaran berikutnya, namun jika Anda menganggap pencapaian Anda masih kurang dari 85%, sebaiknya Anda ulangi kembali mempelajari kegiatan Pembelajaran ini.
  • 134.
    KEGIATAN PEMBELAJARAN 2:KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 34 Pembelajaran ini membahas topik tentang keanekaragaman hayati dan biosistematika yang meliputi konsep keanekaragaman hayati, manfaat keanekaragaman hayati, dampak penurunan dan upaya konservasi keanekaragaman hayati, serta konsep biosistematika. Seperti yang sudah diketahui bahwa Indonesia merupakan negara megabiodiversitas, yang memberikan kontribusi positif bagi kehidupan manusia. Pembelajaran ini sangat penting bagi guru agar dapat menumbuhkan kesadaran, baik untuk guru maupun anak didiknya, untuk turut berkontribusi nyata dalam upaya menjaga kelestarian sumber daya hayati di lingkungan sekitar pada khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. A. Tujuan Menjelaskan keterkaitan antara faktor-faktor penyebab dengan tingkat keanekaragaman hayati, manfaat keanekaragaman hayati dalam kehidupan, dan upaya pelestarian keanekaragaman hayati. B. Indikator Ketercapaian Kompetensi Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan beberapa indikator tentang keanekaragaman hayati berikut ini. 1. Menjelaskan konsep keanekaragaman hayati. 2. Menjelaskan konsep tingkat keanekaragaman hayati (genetik, jenis, hingga ekosistem). 3. Mengidentifikasi pola sebaran keanekaragaman hayati di Indonesia (Orientalis, Peralihan, dan Australis). 4. Menjelaskan manfaat keanekaragaman hayati. 5. Menjelaskan faktor-faktor penurunan kehati. KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI
  • 135.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 35KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 35 6. Mengidentifikasi dampak penurunan kehati. 7. Menjelaskan upaya-upaya konservasi sumber daya hayati. C. Uraian Materi Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah keseluruhan gen, spesies, dan ekosistem di suatu kawasan. Keanekaragaman hayati merupakan kajian yang sangat penting karena akan berkaitan erat dengan kehidupan manusia sebagai salah satu bagian di dalam sistem kehidupan. Dalam kajian keanekaragaman hayati di dunia, Indonesia selalu termasuk ke dalam negara yang diperbincangkan karena merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya hayatinya. Berbicara mengenai keanekaragaman hayati, sudut pandang kita selalu terbatas pada sumber daya hayati di daratan saja, namun dengan semakin berkembangnya kajian-kajian kelautan, maka keanekaragaman hayati di lautan juga mulai diperhitungkan. Hal ini disebabkan Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, sehingga menjadi negara yang sangat diperhitungkan dalam hal biodiversitas di dunia. Indonesia merupakan salah satu dari 17 negara yang termasuk ke dalam negara megabiodiversitas, yaitu negara yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Negara-negara tersebut adalah Afrika Selatan, Amerika Serikat, Australia, Brasil, Cina, Ekuador, Filipina, India, Indonesia, Kolombia, Kongo, Madagaskar, Malaysia, Meksiko, Papua Nugini, Peru, dan Venezuela. Hutan tropis Indonesia beserta Brazil dan Kongo adalah wilayah dengan keanekaragaman spesies darat tertinggi di dunia (Sutarno, 2015). Negara megabiodiversitas dihuni oleh sedikitnya 2/3 dari semua spesies vertebrata non-ikan dan 3/4 dari semua spesies tumbuhan tinggi di dunia. Konsep negara megabiodiversitas disusun atas 4 premis, yaitu: 1. Keanekaragaman setiap negara sangat penting bagi kelangsungan hidup negara itu, dan harus menjadi komponen dasar setiap strategi pembangunan nasional atau regional; 2. Keanekaragaman hayati tidak merata di bumi, dan beberapa negara, terutama di daerah tropis, memiliki konsentrasi biodiversitas yang jauh lebih besar daripada negara-negara lain;
  • 136.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 36 3. Beberapa negara yang paling kaya spesies dan keanekaragaman hayati juga memiliki ekosistem yang berada di bawah ancaman paling parah; 4. Untuk mencapai dampak maksimum dari sumber daya yang terbatas ini, upaya konservasi harus dikonsentrasikan (tapi tidak eksklusif) di negara- negara terkaya dalam keanekaragaman dan endemisme namun paling terancam keberadaanya. (Sutarno, 2015) Gambar 2.1. Peta Dunia (sumber: http://pics-about-space.com/) Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Keanekaragaman Hayati Coba Saudara perhatikan Gambar 2.1, apa yang dapat saudara amati dari gambar tersebut? Ya, benar. saudara dapat memperhatikan adanya perbedaan warna di setiap kawasan. Terdapat warna hijau, coklat, dan juga putih di daratan. Apakah Saudara menyadari, kawasan di sepanjang garis khatulistiwa berwarna hijau? Kawasan tersebut yaitu Benua Amerika bagian selatan termasuk diantaranya Brazil, Venezuela, Kolombia, dan seterusnya. Selain itu juga bagian tengah dari Benua Afrika, termasuk diantaranya Kenya, Kongo, Tanzania, dan seterusnya. Akhirnya dapat kita amati bahwa Indonesia, negara kita, merupakan salahsatu negara di Benua Asia yang terletak di garis khatulistiwa, yang tampak dari atas berwarna hijau. Fakta lain menunjukan bahwa jika kita bergerak ke bagian utara atau selatan dari garis khatulistiwa, tampak ada perubahan warna dari daratan cenderung menjadi
  • 137.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 37KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 37 coklat. Kawasan di sebelah utara diantaranya Benua Afrika bagian utara, termasuk diantaranya Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, dan seterusnya, yang terkenal dengan gurunnya yaitu Gurun Sahara. Di Benua Asia dapat kita amati kawasan Timur Tengah juga didominasi oleh warna coklat. Kemudian sebagian dari negara Amerika Serikat juga tampak terdapat daerah yang berwarna coklat. Sedangkan di sebelah selatan diantaranya Benua Australia dan juga Benua Afrika bagian selatan yang didominasi warna coklat. Lebih ekstrim lagi jika kita lihat di kawasan paling utara dan juga selatan, didominasi oleh warna putih, yaitu kawasan kutub utara dan juga selatan. Warna hijau menandakan bahwa di kawasan tersebut tertutup oleh vegetasi, sedangkan warna coklat berarti merupakan kawasan terbuka yang berupa gurun. Warna putih di kedua kutub menandakan bahwa kawasan tersebut ditutupi oleh es. Apa yang dapat Saudara simpulkan dari fakta tersebut? Ya, ternyata letak geografis sangat berkaitan erat dengan keanekaragaman hayati. Vegetasi merupakan produsen, dengan kata lain adalah sumber energi bagi makhluk hidup lainnya. Namun yang harus kita fikirkan, mengapa kawasan yang tampaknya tertutup oleh vegetasi tersebut pada umumnya merupakan kawasan yang berada di sepanjang garis khatulistiwa? Ya, tepat sekali. Vegetasi dapat tumbuh dengan baik jika lingkungan menyediakan apa yang menjadi kebutuhannya. Apa yang menjadi kebutuhan pokok vegetasi atau tumbuhan? Tentunya sumber energi utama yang diperlukan tumbuhan untuk hidup adalah energi cahaya matahari. Telah sama-sama kita pahami bahwa di daerah khatulistiwa intensitas cahaya matahari paling tinggi daripada belahan bumi lainnya. Hal ini lah yang menyebabkan kawasan sepanjang khatulistiwa sangat kaya akan vegetasi. Kita patut bersyukur karena Tuhan Yang Mahakuasa telah menempatkan negara kita tepat di garis khatulistiwa. Jika suatu daerah kaya akan vegetasi, maka akibatnya akan mendukung makhluk hidup lain yang menjadi konsumennya untuk bertahan hidup. Demikian juga dengan makhluk hidup lain pada tingkat trofik yang lebih tinggi, karena sumber makanannya pun ikut tersedia. Hal tersebut sangat mendukung terbentuknya keanekaragaman hayati di suatu kawasan.
  • 138.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 38 Pola Sebaran Keanekaragaman Hayati di Indonesia Merujuk pada Gambar 2.1, jika kita perhatikan dengan cermat, satu-satunya kawasan di daerah tropis (khatulistiwa) yang mempunyai keunikan tersendiri adalah Indonesia. Indonesia merupakan satu-satunya negara kepulauan terbesar yang dilalui garis khatulistiwa. Selain itu, posisi Indonesia diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) juga dua samudera (Samudra Hindia dan Pasifik). Hal tersebut mengakibatkan Indonesia menjadi negara yang kaya sumber daya hayatinya, tidak hanya di daratan saja, bahkan kaya sumber daya hayati di lautannya. Keunikan tersebut sangat memengaruhi pola sebaran hayati, sehingga para ilmuwan terdahulu telah meneliti pola sebaran hayati di Indonesia. Terdapat garis pembatas yang membagi Indonesia menjadi tiga daerah, yaitu Garis Wallacea dan Garis Weber (Gambar 2.2). Ketiga daerah tersebut mempunyai tipe makhluk hidup yang berbeda-beda. Daerah paling barat Indonesia yang dibatasi oleh Garis Wallacea merupakan kawasan Orientalis. Daerah paling timur yang dibatasi oleh Garis Weber merupakan kawasan Australis. Sedangkan daerah yang berada di tengah-tengah yang dibatasi oleh garis Wallaceae dan Weber disebut dengan kawasan Wallacea atau kawasan peralihan. Setiap daerah tersebut ternyata mempunyai ciri khas masing-masing. Daerah Orientalis mempunyai karakter fauna diantaranya mammalia berukuran besar, banyak jenis-jenis primata, dan jenis-jenis burung berkicau yang tidak berwarna cerah. Contohnya yaitu Gajah, Harimau, Orang Utan, Lutung, Jalak Kerbau, Jalak Bali, dan lain-lain. Daerah Australis mempunyai karakter fauna diantaranya mammalia berkantung dan jenis-jenis burung berwarna cerah. Contohnya yaitu Kangguru, Kasuari, Cendrawasih, dan lain-lain. Sedangkan di daerah peralihan, atau daerah Wallacea, antara orientalis dan australis mempunyai karakter yang berbeda dari kedua daerah yang mengapitnya. Contoh faunanya diantaranya Anoa, Babirusa, Burung Maleo, Komodo, dan lain-lain.
  • 139.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 39KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 39 Gambar 2.2. Pola sebaran keanekaragaman hayati di Indonesia (sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Wallace_Line) Menurut Saudara, apa yang menyebabkan keunikan pola sebaran keanekaragaman hayati di Indonesia? Apakah Saudara pernah mendengar pergerakan lempeng bumi? Ya, ternyata pola sebaran keanekaragaman hayati di Indonesia berkaitan erat dengan fenomena geologis pergerakan lempeng bumi. Jika Saudara perhatikan warna lautan pada Gambar 5, ada yang berwarna biru muda, ada yang biru tua. Hal itu menandakan perbedaan kedalaman lautan. Pada zaman dahulu kawasan Indonesia bagian barat masih menyatu dengan Benua Asia, yang disebut dengan istilah Paparan Sunda (Sundaland). Begitu pula kawasan Indonesia bagian timur masih menyatu dengan Benua Australia, yang disebut dengan Paparan Sahul (Sahulland). Pada masa itu makhluk hidup bebas menjelajah di masing-masing paparan tersebut, hingga pada zaman es di kutub mencair, permukaan air laut bertambah tinggi sehingga menjadikan daratan yang rendah tertutup oleh lautan. Setelah itu terbentuklah kepulauan- kepulauan yang terpisah-pisah dengan menyisakan jenis-jenis flora dan fauna yang tertinggal di kawasan tersebut. Hal ini lah yang menyebabkan karakter flora fauna di daerah Orientalis serupa dengan flora dan fauna di Benua Asia. Demikian juga karakter flora fauna di daerah Australis serupa dengan flora dan fauna di Benua Australia. Lalu bagaimana halnya dengan Daerah Wallacea yang diapit oleh daerah Orientalis dan Australis? Ternyata daerah Wallacea atau peralihan tersebut dari zaman dahulu memang sudah terpisah dari kedua
  • 140.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 40 paparan, sehingga memiliki karakter flora dan fauna yang tidak sama dengan Orientalis maupun Australis. Tingkat Keanekaragaman Hayati Keanekaragaman hayati dapat dilihat dari tiga tingkat, yaitu keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem. 1. Keanekaragaman Hayati Tingkat Genetik Keanekaragaman hayati tingkat genetik mempunyai arti bahwa keanekaragaman tersebut merupakan keanekaragaman yang disebabkan oleh variasi genetik. Agar lebih jelas, mari kita amati keanekaragaman tingkat genetik ini pada makhluk hidup yang masih ada dalam satu jenis. Sebagai contoh, Saudara dapat mengamati Gambar 2.3. Gambar 2.3. Berbagai varietas Ikan Koi (sumber: http://www.championbayaquatics.com/ChampionkoiVarieties.html) Apa yang Saudara amati dari Gambar 3 tersebut? Saudara dapat melihat variasi ikan koi dari warnanya. Ada yang berwarna putih, putih merah, putih hitam, putih hitam merah, kuning, dan seterusnya. Apa dugaan Saudara yang menyebabkan terjadinya variasi tersebut? Benar, variasi warna tersebut disebabkan oleh ekspresi dari gen (fenotip) yang dimiliki oleh ikan koi. Jadi, dalam satu jenis ikan koi ini, variasi dari fenotipnya sangat beragam. Inilah yang kita sebut dengan keanekaragaman hayati tingkat genetik. Silakan amati contoh lain di sekitar Saudara yang dapat membuktikan adanya keanekaragaman hayati tingkat genetik.
  • 141.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 41KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 41 2. Keanekaragaman Hayati Tingkat Jenis Keanekaragaman hayati tingkat jenis merupakan keanekaragaman yang terjadi sebagai akibat dari adanya variasi berbagai jenis makhluk hidup. Dengan kata lain keanekaragaman ini dapat kita amati mulai dari tingkat marga. Gambar 2.4. Keanekaragaman jenis ikan hias air tawar (sumber: http://aquariumprosmn.com/) Sebagai contoh dapat kita amati pada Gambar 2.4 yaitu berbagai jenis ikan yang hidup di air tawar. Pada gambar tersebut dapat kita amati adanya variasi bentuk, warna, ukuran, dan seterusnya pada jenis-jenis ikan yang berbeda. 3. Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem Keanekaragaman hayati tingkat ekosistem merupakan keanekaragaman yang terbentuk sebagai akibat dari adanya variasi interaksi kelompok makhluk hidup
  • 142.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 42 dengan lingkungannya. Variasi interaksi tersebut akan menghasilkan tipe lingkungan yang berbeda-beda pula. Sebagai contoh, coba Saudara perhatikan berbagai jenis ekosistem yang ada. Tentunya setelah diamati, Saudara dapat melihat adanya perbedaan jenis-jenis makhluk hidup yang menempati suatu ekosistem dengan karakter lingkungan tempat hidupnya. Contoh keanekaragaman ekosistem dapat Saudara amati pada Gambar 2.5. Gambar 2.5. Contoh keanekaragaman ekosistem (diambil dari berbagai sumber) Manfaat Keanekaragaman Hayati Keanekaragaman hayati mempunyai peranan yang sangat penting bagi stabilitas ekosistem, termasuk manusia di dalamnya sebagai salah satu komponen di dalam ekosistem. Oleh karena itu pemanfaatan sumber daya hayati harus dilakukan secara bijaksana. Semakin tinggi tingkat keanekaragaman hayati, maka akan semakin mantap dan stabil suatu ekosistem. Apakah Saudara masih ingat tentang rantai makanan dan jaring-jaring makanan? Coba Saudara perhatikan contoh rantai makanan dan jaring-jaring makanan pada Gambar 2.6.
  • 143.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 43KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 43 a b Gambar 2.6. Rantai Makanan (a); Jaring-jaring makanan (b) (sumber: https://www.tes.com) Apa yang akan terjadi jika pada rantai makanan tersebut populasi belalang dihilangkan? Ya tepat sekali. Jika populasi belalang berkurang atau sampai tidak ada, maka populasi rumput akan bertambah, sedangkan tikus semakin berkurang karena kehabisan makanan. Jika populasi tikus berkurang, maka populasi burung elang pun akan ikut terancam. Hal itu terjadi jika dalam satu ekosistem komunitas penghuninya tidak beragam. Namun jika kita menghilangkan populasi belalang yang ada pada gambar jaring-jaring makanan, maka akan sedikit organisme yang akan terganggu populasinya karena masih ada alternatif sumber makanan yang lain. Dengan kata lain, semakin tinggi keanekaragaman hayati, maka semakin mantap ekosistem yang ada. Jika kestabilan ekosistem terjaga, maka manusia sebagai salahsatu komponen dalam ekosistem akan ikut terjaga pula keberadaannya. Saudara tentu seringkali mendengar peristiwa perusakan perkebunan atau perumahan oleh kawanan gajah, harimau yang memangsa hewan ternak, bahkan kelaparan manusia di suatu daerah, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Tentunya Saudara pasti sudah memiliki jawabannya. Keanekaragaman hayati memiliki banyak manfaat baik yang langsung dapat kita rasakan maupun yang tidak. Secara umum manfaatnya terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu (FAO 2013):
  • 144.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 44 a. Jasa Ekosistem seperti: air minum yang bersih, pembentukan dan perlindungan tanah, penyimpanan dan daur hara, mengurangi dan menerap polusi, berkontribusi terhadap stabilitas iklim, pemeliharaan ekosistem, dan penyerbukan tanaman. b. Sumber daya hayati, seperti: makanan, obatobatan, bahan baku industri, tanaman hias, stok untuk pemuliaan dan penyimpanan populasi. c. Manfaat sosial, seperti: pendidikan, rekreasi dan penelitian, serta budaya. Berikut ini adalah contoh-contoh nyata dari manfaat keanekaragaman hayati untuk manusia: 1. Sumber daya alam penghasil kebutuhan primer atau sekunder Kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan dapat terpenuhi dari berbagai macam sumber daya hayati. Misalnya untuk keperluan sandang, sumber daya hayati yang dapat dimanfaatkan diantaranya wol, kapas, serat kepompong ulat sutra, serat rami, serat nanas, dan masih banyak lagi. Sumber daya hayati yang dapat memenuhi pangan sangat melimpah, diantaranya ada tumbuhan sumber karbohidrat seperti padi, singkong, dan sagu, tumbuhan sumber protein seperti kacang-kacangan, atau berbagai jenis ikan dan daging ternak Termasuk di dalamnya kebutuhan manusia akan obat-obatan dapat dipenuhi pula oleh berbagai macam tumbuhan ataupun hewan. Kebutuhan papan diantaranya diperoleh dari pohon jati, mahoni, meranti, ataupun kelapa. 2. Sumber plasma nutfah Keanekaragaman hayati yang ada akan menyimpan berbagai macam kode-kode genetik yang tersimpan dalam setiap organisme. Keragaman genetik tersebut akan menjadi sumber bagi manusia untuk pemuliaan berbagai jenis tumbuhan ataupun hewan demi pemenuhan berbagai jenis kebutuhan manusia. 3. Manfaat keilmuan Keanekaragaman hayati dapat menyediakan berbagai objek penelitian yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. 4. Estetika Dari segi kebutuhan estetika, banyak sekali berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang dapat dimanfaatkan. Namun tentunya pemanfaatan ini harus
  • 145.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 45KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 45 memperhatikan hukum yang berlaku, karena banyak sekali jenis-jenis tumbuhan maupun hewan eksotis yang dilindungi karena terancam punah. Faktor Penyebab Penurunan Keanekaragaman Hayati Beberapa fenomena alam tak dapat dipungkiri dapat mempengaruhi stabilitas suatu ekosistem, seperti adanya bencana alam berupa erupsi gunung berapi, kebakaran hutan, tsunami, dan sebagainya. Secara alami, komponen-komponen penyusun ekosistem akan selalu berusaha menuju kesetimbangan. Ekosistem yang rusak dapat melakukan suksesi untuk menuju kesetimbangan lagi. Namun terlepas dari hal tersebut, faktor utama yang dapat mengganggu kesetimbangan tersebut adalah aktivitas manusia. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Penyebab utamanya adalah peningkatan populasi manusia di muka bumi. Semakin tinggi populasi maka semakin tinggi pula tingkat penggunaan sumber daya alam yang tersedia. Jika penggunaan tersebut dilakukan secara terus menerus dan tidak bijaksana, maka pada akhirnya akan berpotensi terhadap kepunahan dari organisme tertentu. Beberapa hal yang dapat menyebabkan kepunahan diantaranya: 1. Perusakan Habitat Habitat merupakan tempat tinggal berbagai jenis organisme yang menyediakan semua kebutuhan bagi seluruh penghuninya melalui proses interaksi antar semua komponen. Apa yang akan terjadi jika habitat tersebut rusak? Tentu saja, jika habitat rusak, maka daya dukungnya terhadap semua organisme penghuninya akan berkurang bahkan sama sekali hilang. Dampaknya organisme yang ada tidak akan mampu memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Perusakan habitat yang menjadi sorotan utama di Indonesia adalah perusakan hutan alam (deforestasi) untuk berbagai macam alasan. Beberapa penyebab dari kerusakan hutan dan deforestasi di Indonesia adalah: a. konversi hutan alam menjadi lahan tanaman tahunan. b. konversi hutan alam menjadi lahan pertanian dan perkebunan. c. eksplorasi dan eksploitasi industri ekstraktif pada kawasan hutan (batu bara, migas, geothermal). d. pembakaran hutan dan lahan. e. konversi hutan alam untuk transmigrasi dan infrastruktur lainnya.
  • 146.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 46 f. pemekaran wilayah menjadi daerah otonomi baru (terjadi di beberapa daerah). Akibat deforestasi tersebut banyak sekali flora maupun fauna yang terancam eksistensinya. Selain itu menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Kerusakan alam dan hilangnya habitat telah menyebabkan puluhan ribu spesies terancam punah. Dari 20 negara di dunia yang jenis-jenis alamiahnya terancam, maka Indonesia menduduki posisi ke-5, dimana terdapat 1126 spesies yang terancam punah, terdiri dari mamalia, burung, reptil, amfibia, ikan dan moluska (Darlington, 2010) Hasil dari sebuah penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen dari hutan tropis di pulau Kalimantan telah hancur selama 40 terakhir akibat kebakaran, industri penebangan kayu dan industri perkebunan. Penelitian itu berdasarkan pada analisis dari tutupan hutan Kalimantan sejak tahun 1973 hingga tahun 2010. Berdasarkan data yang diperoleh, menunjukkan bahwa lebih dari seperempat hutan saja yang masih tetap utuh. Perubahan tutupan hutan di Kalimantan dapat dilihat pada Gambar 2.7.
  • 147.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 47KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 47 Gambar 2.7. Pada gambar A dan B tampak perubahan tutupan hutan. Warna merah di gambar B adalah kawasan hutan yang hilang. Pada gambar D, warna hijau muda merupakan kawasan hutan yang ditebang, warna hitam adalah perkebunan kelapa sawit dan tanaman industri, dan warna hijau tua merupkan hutan yang tersisa. (Gaveau, 2013) 2. Fragmentasi Habitat Fragmentasi habitat merupakan suatu peristiwa yang menyebabkan habitat terbagi menjadi dua daerah atau lebih. Aktivitas manusia yang dapat mengakibatkan fragmentasi ini diantaranya pembuatan jalan, pembukaan areal pertanian, dan perkotaan atau kegiatan lainnya. Dengan adanya fragmentasi habitat, maka akan mengganggu stabilitas ekosistem. Mengapa demikian? Pada suatu habitat dikenal ada istilah daerah tepi, dimana pada umumnya jenis-jenis makhluk hidup tidak akan bisa menempati daerah tersebut karena daerah tersebut cenderung kurang mampu untuk memberikan perlindungan (edge effect). Jika suatu habitat terfragmentasi, maka luas daerah tepi akan bertambah, dengan kata lain luas zona habitat yang aman bagi jenis-jenis makhluk hidup akan semakin berkurang. Fragmentasi habitat juga dapat mengancam kelestarian suatu organisme, karena dapat memperkecil potensi suatu spesies untuk menyebar dan berkolonisasi. Banyak jenis-jenis burung, mamalia, dan serangga di pedalaman hutan menjadi tidak mampu untuk menjelajah ke tempat lain karena koridornya
  • 148.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 48 terputus oleh jalan raya, perkotaan, dan lain-lain. Penurunan kemampuan jelajah hewan ini dapat berakibat pula pada penurunan penyebaran tumbuhan yang mekanisme dispersalnya bergantung pada hewan tersebut. Di beberapa negara, proses fragmentasi habitat yang memang tidak dapat terelakkan diimbangi dengan upaya yang dapat memfasilitasi jenis-jenis hewan untuk dapat melintasi daerah terbuka secara aman. Upaya tersebut diantaranya dengan membangun koridor yang aman bagi hewan untuk melintas (Gambar 2.8). Gambar 2.8. Koridor untuk mengatasi fragmentasi habitat (sumber: https://firstforwildlife.wordpress.com) 3. Degradasi Habitat Komunitas di suatu habitat dapat mengalami degradasi walaupun habitat tersebut tidak langsung terlihat kerusakannya. Faktor eksternal tersebut dapat dengan bebas masuk ke dalam suatu habitat. Salah satu contohnya adalah pencemaran air atau udara. Limbah atau bahan kimia berbahaya baik dalam bentuk gas, cair, maupun padat akan mengancam komunitas pada suatu habitat yang dilaluinya. Beberapa contoh kasus berdampak langsung terhadap hidupan liar. Misalnya, 4 jenis amfibia sering terjebak dalam botol dan sampah, 18 jenis reptil terjebah dalam perangkap udang, jaring atau kantung plastik; 49 jenis burung sering terkena tali pancing atau jaring ikan, 49 mamalia laut terperangkap pada tali, jaring dan sesampahan; 97 jenis invertebrata laut terkena pancing, terjebak dalam kantung plastik, botol minumandan sesampahan lainnya; 46 jenis ikan
  • 149.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 49KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 49 terjebak dalam tali pancing, jaring atau kantung plastik; dan 4 jenis coral dan spons terkena pancing atau sampah (Ocean Conservancy, 2012). 4. Penggunaan spesies yang berlebih untuk kepentingan manusia Pemanfaatan suatu jenis hewan atau tumbuhan di alam akan berakibat menurunnya jumlah populasi jenis tersebut bahkan punah. Oleh karena itu pemanfaatan suatu jenis tersebut harus dilakukan dengan berdasarkan prinsip penggunaan yang berkelanjutan, yaitu pemanenan dari suatu jenis di alam pada periode tertentu dilakukan berdasarkan keberadaan dan tingkat pembaharuan oleh proses pertumbuhan secara alami. 5. Introduksi spesies-spesies eksotik Pertumbuhan populasi manusia yang sangat tinggi telah mengubah cara pandang manusia secara ekonomi untuk pemenuhan segala kebutuhannya. Dari segi pertanian misalnya, dampak yang ditimbulkan adalah adanya perubahan sebaran spesies, terutama spesies yang mempunyai nilai ekonomi. Manusia dengan sengaja membawa atau mendatangkan jenis-jenis hewan peliharaan dan tumbuhan budidaya dari suatu tempat ke tempat lain untuk dibudidayakan (introduksi). Akibatnya banyak jenis hewan maupun tumbuhan yang berkembang biak bukan di habitat aslinya. Banyak jenis-jenis introduksi ini yang kemudian menjadi liar di komunitas lokal. Selain itu proses introduksi dapat pula terjadi secara alami atau tidak disengaja. Misalnya tikus dan serangga yang terbawa kapal laut atau kapal udara, atau biji tanaman terbawa oleh manusia. Dua kemungkinan yang akan berlaku untuk jenis-jenis introduksi tersebut yaitu tidak dapat bertahan hidup di daerah barunya karena lingkungan baru tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya, atau dapat bertahan hidup bahkan membentuk koloni di tempat barunya yang akan bertambah besar jumlah populasinya. Biasanya koloni ini akan berkompetisi dengan organisme lokal untuk mendapatkan bahan makanan yang jumlahnya terbatas. Akibatnya hewan atau tumbuhan introduksi dapat mengubah habitat lokal, sehingga organisme asli tidak dapat hidup lagi di tempat itu.
  • 150.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 50 6. Karakter spesies terhadap kepunahan Secara alamiah, semua spesies mempunyai potensi yang berbeda-beda untuk menjadi punah. Kerentanan suatu jenis terhadap kepunahan umumnya ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu: a. Spesies yang mempunyai sebaran geografis sempit, umumnya rentan terhadap kerusakan habitat oleh kegiatan manusia. b. Spesies yang terdiri dari satu atau sedikit populasi akan sangat rentan terhadap kerusakan habitat dibandingkan dengan spesies yang terdiri dari banyak populasi c. Spesies yang memiliki ukuran populasi yang kecil akan mudah punah akibat pengaruh variasi demografi dan lingkungan serta hilangnya keanekaragaman genetik bila dibandingkan dengan spesies yang berukuran populasinya yang besar. d. Spesies yang ukuran populasinya cenderung menurun akan mudah punah bilamana penyebab penurunan tidak dapat diketahui dan diperbaiki. e. Spesies yang memiliki densitas rendah per satuan luas, terutama pada kawasan yang terfrsgmentasi akan mudah mengalami kepunahan. f. Spesies yang memerlukan jelajah yang luas akan sangat rentan terhadap kepunahan bilamana wilayah jelajahnya dirusak atau mengalami fragmentasi. g. Hewan yang mempunyai ukuran tubuh yang besar akan memiliki wilayah jelajah yang luas serta makanan yang lebih banyak secara individu, serta rentan untuk diburu maupun dirusak wilayah jelajahnya maupun habitat untuk mencari makan dan minumnya. h. Spesies yang tidak memiliki kemampuan menyebar yang baik di alam akan sangat rentan terhadap perubahan dan perusakan habitat, karena spesies tersebut tidak mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. i. Spesies yang bermigrasi musiman akan sangat rentan terhadap kepunahan karena ketidakmampuan bertahan di habitatnya. j. Spesies yang mempunyai keanekaragaman genetik yang rendah akan lebih banyak kemungkinan punah karena penyakit, atau perubahan lingkungan. k. Spesies yang memiliki relung tertentu akan rentan terhadap kepunahan apabila relung tempat hidupnya rusak.
  • 151.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 51KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 51 Upaya Konservasi Keanekaragaman Hayati Walaupun Indonesia termasuk ke dalam negara megabiodiversitas, namun karena pemanfaatan sumber daya alamnya yang belum dikelola secara bijaksana membuat Indonesia termasuk ke dalam salah satu kawasan yang tingkat kepunahan biodiversitasnya sangat tinggi di dunia (Sutarno, 2015). Dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati global, para konservasionis telah menetapkan kawasan-kawasan yang menjadi prioritas utama konservasi yang diistilahkan dengan biodiversity hotspot. Penetapan hotspot tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi kawasan yang memiliki konsentrasi yang sangat tinggi dari jenis-jenis hewan endemik yang terancam oleh hilangnya habitat secara luar biasa. Secara spesifik, suatu daerah hotspot biodiversitas dunia secara ketat harus memenuhi dua kriteria, yaitu: 1. harus memiliki minimal 1.500 tumbuhan vaskular endemik yang tidak tergantikan 2. harus memiliki 30% atau kurang dari vegetasi alami asli, sehingga cukup terancam. Gambar 2.9. Peta sebaran 25 kawasan Diversity Hotspot di dunia, termasuk diantaranya kawasan Sundaland (Paparan Sunda) dan Wallacea
  • 152.
    KEGIATAN PEMBELAJARAN 2:KEANEKARAGAMAN HAYATI MODUL A 52 PPPPTK IPA Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud Gambar 2.10. Tabel 25 kawasan Hotspot Diversity (Myers, dkk., 2000)
  • 153.
    KEGIATAN PEMBELAJARAN 2:KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK MODUL A 53 Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA Hasilnya terdapat 25 hotspot diseluruh dunia yang memiliki luas hanya 1,4% dari permukaan daratan Bumi yang dihuni oleh 44% spesies tumbuhan vaskular dan 35% spesies hewan vertebrata di seluruh dunia (Gambar 2.9 dan 2.10). Kawasan Indonesia termasuk ke dalam salahsatu “hotspot” prioritas konservasi dunia, yaitu kawasan Sundaland (Nusantara Barat) atau kita kenal dengan Kawasan Asiatis/Orientalis dan kawasan Wallace. Sedangkan sebagian wilayah Indonesia lainnya termasuk ke dalam salah satu katagori kawasan kawasan alami dengan biodiversitas yang tinggi, yaitu Sahulland (Nusantara Timur) atau kita kenal dengan Kawasan Australis (Mittermeier, 2000). Lautan Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi karena menjadi pusat segitiga karang dunia. Sebagai contoh kasus dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati, adanya ancaman deforestasi yang begitu tinggi di pulau Kalimantan seiring dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap minyak sawit, maka ditetapkanlah kawasan Heart of Borneo (HoB) sebagai kawasan konservasi internasional. Luas kawasan HoB tersebut yaitu 30% dari luas Pulau Borneo, yang mencakup lebih dari 22 juta hektar hutan hujan tropis dari tiga negara, yaitu Indonesia (Kalimantan), Malaysia (Sabah dan Sarawak), dan Brunei Darussalam. Kawasan ini adalah hamparan terbesar yang tersisa dari hutan tropis yang melintas batas negara di Asia Tenggara (Van Paddenburg et al. 2012). Gambar 2.11. Kawasan Heart of Borneo (sumber: http://www.wwf.org.au)
  • 154.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 54 Adanya ancaman deforestasi yang begitu tinggi di pulau Kalimantan seiring dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap minyak sawit, maka ditetapkanlah kawasan Heart of Borneo (HoB) sebagai kawasan konservasi internasional (Gambar 2.10). Luas kawasan HoB tersebut yaitu 30% dari luas Pulau Borneo, yang mencakup lebih dari 22 juta hektar hutan hujan tropis dari tiga negara, yaitu Indonesia (Kalimantan), Malaysia (Sabah dan Sarawak), dan Brunei Darussalam. Kawasan ini adalah hamparan terbesar yang tersisa dari hutan tropis yang melintas batas negara di Asia Tenggara (Van Paddenburg et al. 2012). Visi yang ingin dicapai melalui inisiatif Heart of Borneo adalah terwujudnya pengelolaan dan konservasi yang efektif di kawasan hutan hujan ekuator Heart of Borneo yang meliputi 23 juta hektar melalui jejaring kawasan lindung, hutan produksi dan penggunaan lahan yang berkelanjutan, yang memberi manfaat bagi masyarakat dan alam, melalui kerjasama internasional yang dipimpin oleh masing-masing pemerintah negara di Borneo (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam), yang didukung oleh industri dan upaya global yang berkelanjutan. Misi pengelolaan kawasan Heart of Borneo adalah pada tahun 2020: 1. Duapuluh tiga juta hektar jejaring kawasan lindung, cadangan lintas batas, dan koridor dikelola secara berkelanjutan dan zona penyangga berfungsi untuk menjamin masa depan semua spesies prioritas dan kawasan HoB endemik didirikan. 2. Tidak ada konversi hutan yang bernilai konservasi tinggi untuk penggunaan lahan lain di kawasan HoB. 3. Mekanisme pembiayaan jangka panjang memberikan manfaat diversifikasi dan adil bagi masyarakat lokal dan pemerintah, dan meningkatkan barang dan jasa ekosistem. Program atau inisiatif Heart of Borneo dikembangkan tidak hanya untuk tujuan- tujuan konservasi semata, namun lebih penting lagi bertujuan untuk pembangunan berkelanjutan di kawasan HoB. Lingkungan dan keanekaragaman hayati merupakan pilar-pilar program HoB selain sosial ekonomi dan pengembangan institusi. Oleh karena itu, khusus di wilayah Indonesia, kerjasama lintas sektoral dan peran serta aktif pemerintah propinsi dan kabupaten di
  • 155.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 55KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 55 kawasan HoB menjadi sangat penting. Pemberdayaan dan peran serta masyarakat lokal, yaitu masyarakat lokal yang berinteraksi langsung dengan sumberdaya alam di kawasan HoB, harus menjadi bagian pokok dalam pembangunan di kawasan HoB. Secara terperinci, tujuan pengelolaan kawasan Heart of Borneo adalah sebagai berikut: 1. Mendorong pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan di jejaring kawasan konservasi, kawasan lindung serta hutan produksi dan penggunaan lahan lainnya; 2. Terwujudnya implementasi kebijakan dan penegakan hukum yang mendukung pengelolaan kawasan HoB secara berkelanjutan dengan memperhatikan perjanjian multilateral dan bilateral yang ada. 3. Terwujudnya pembangunan berkelanjutan berbasis kaidah-kaidah ilmiah dan kearifan lokal bagi peningkatan kesejahteraaan masyarakat melalui penerapan pengelolaan berkelanjutan, perlindungan, pendidikan dan pelatihan, maupun kegiatan lainnya yang relevan dengan pengelolaan lintas batas, konservasi dan pengembangan wilayah di kawasan HoB. Sebagai tindaklanjut deklarasi Heart of Borneo, pemerintah ketiga negara menyusun rencana aksi yang disebut sebagai Heart of Borneo Strategic Plan of Action (HoB SPA). Beberapa program yang disepakati bersama dalam dokumen ini adalah: 1. Pengelolaan kawasan lintas batas negara Ketiga negara memahami adanya perbedaaan pemanfaatan lahan di kawasan perbatasan, sehingga penting untuk meningkatkan kerjasama lintas batas dalam kegiatan pengelolaan hutan dan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan. Tujuan program pengelolaan kawasan lintas batas negara adalah untuk mengatasi isu-isu pengelolaan sumberdaya alam dan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat lokal di kawasan perbatasan. 2. Pengelolaan kawasan lindung Peran kawasan lindung sangat penting dalam upaya mempertahankan fungsi dan potensinya, sehingga pengelolaan secara efektif menjadi penting melalui konservasi kekayaan keanekaragaman hayati. Tujuan program pengelolaan
  • 156.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 56 kawasan lindung adalah untuk meningkatkan dan mempromosikan pengelolaan yang efektif kawasan lindung di kawasan HoB, dengan penekanan pada perbatasan, dalam upaya untuk menglestarikan dan memelihara keanekaragaman hayati hutan serta keterkaitan ekologisnya. 3. Pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan; Kegiatan industri kehutanan, pertanian dan industri lainnya perlu dilakukan dengan mengikuti kaidah-kaidah konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Hal ini untuk menjaga keberadaan tutupan hutan, kekayaan keanekaragaman hayati dan fungsi sebagai menara air bagi kawasan di bawahnya. Tujuan program pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan adalah untuk mengelola sumberdaya alam di luar jejaring kawasan lindung melalui pengembangan dan implementasi pemanfaatan lahan yang berkelanjutan. 4. Pengembangan ekowisata; Pengembangan Ekowisata merupakan salah satu pilar pengembangan sosial ekonomi, sehinga kerjasama antar negara HoB sangat penting dengan mempertimbangkan perencanaan ekowisata di masing-masing negara. Tujuan program pengembangan ekowisata adalah untuk mengenal dan melindungi nilai alam yang khusus dan tempat-tempat budaya di kawasan HoB. 5. Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia. Pengembangan kapasitas bagi sebagian besar masyarakat di kawasan HoB diperlukan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan produk hutan dan pertanian dalam upaya menuju kelestarian hasil. Tujuan program peningkatan kapasitas sumberdaya manusia adalah untuk memastikan implementasi inisiatif Heart of Borneo yang efektif di semua tingkat, baik di publik dan sektor swasta dan di tingkat masyarakat lokal. D. AKTIVITAS PEMBELAJARAN Lembar Kegiatan 1 Tingkat Keanekaragaman Hayati 1. Tujuan a. Mengidentifikasi keragaman ciri morfologi dalam satu spesies b. Menjelaskan konsep keanekaragaman hayati tingkat genetik
  • 157.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 57KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 57 2. Alat dan Bahan a. Alat tulis b. Kamera 3. Cara Kerja a. Mengamati berbagai ciri morfologi manusia dalam satu kelompok, yang meliputi bentuk hidung, bentuk telinga, warna rambut, bentuk rambut, warna iris mata, dan warna kulit. b. Jika memungkinkan, ambilah gambar karakter morfologi tersebut dengan kamera c. Mencatat deskripsi ciri morfologi pada tabel. 4. Hasil Pengamatan Tabel pengamatan No. Nama Bentuk hidung Bentuk telinga Warna Rambut Bentuk Rambut Warna iris mata Warna kulit 1. 2. 3. ... 5. Pertanyaan a. Berdasarkan hasil pengamatan Saudara, keanekaragaman morfologi tersebut mencerminkan tingkat keanekaragaman hayati pada level mana? Jelaskan alasan Saudara! b. Faktor apa yang memengaruhi adanya variasi morfologi tersebut? Lembar Kegiatan 2 Keanekaragaman Jenis Tumbuhan 1.Tujuan a. Mendeskripsikan karakter morfologi tumbuhan b. Mengidentifikasi keanekaragaman jenis tumbuhan berdasarkan karakter morfologi 2.Alat dan Bahan a. Berbagai jenis tumbuhan di lingkungan sekitar
  • 158.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 58 b. Gunting/pisau/cutter c. Kaca pembesar d. Alat tulis 3.Cara Kerja a. Mengamati berbagai jenis tumbuhan yang ada di sekitar kelas. b. Mendeskripsikan ciri morfologi tumbuhan yang meliputi daun, bunga, buah, dan batang c. Mencatat deskripsi ciri morfologi pada tabel. 4.Hasil Pengamatan Tabel pengamatan No. Nama Jenis Daun Bunga Buah Batang Bentuk Tulang Daun Bentuk Kayu 1. 2. 3. ... 5.Pertanyaan a. Ada berapa jenis bentuk daun yang Saudara amati? Sebutkan contoh jenis tumbuhannya. b. Ada berapa jenis bentuk pertulangan daun yang Saudara amati? Sebutkan contoh jenis tumbuhannya. c. Ada berapa jenis morfologi bunga yang Saudara amati? Sebutkan contoh jenis tumbuhannya. d. Ada berapa jenis buah yang Saudara amati? Sebutkan contoh jenis tumbuhannya. Ada berapa jenis bentuk penampang melintang batang yang Saudara Amati? Sebutkan contoh jenis tumbuhannya.
  • 159.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 59KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 59 E. LATIHAN/ KASUS /TUGAS 1. Dampak yang terjadi terhadap kesejahteraan manusia dari adanya keanekaragaman genetik pada organisme adalah: a. Mengurangi tingkat kesejahteraan dan sumber plasma nutfah b. Memperkaya sumber plasma nutfah untuk menciptakan bibit baru c. Rekayasa genetika dapat merusak keberadaan plasma nutfah. d. Menyulitkan pengenalan sumber alam hayati secara menyeluruh 2. Keunikan jenis-jenis hewan yang tersebar di daerah Australis, yaitu …. a. banyak hewan berkantung b. banyak jenis-jenis hewan primata c. spesies mamalia berukuran tubuh besar d. banyak jenis burung yang bersuara merdu 3. Faktor yang tidak mempengaruhi pola penyebaran fauna di Indonesia yaitu ... a. Pergerakan lempeng bumi b. Adanya barrier geologis c. Upaya introduksi jenis makhluk hidup d. Tipe flora dan fauna dari daerah penyangganya 4. Jenis kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang panjang, kacang buncis, dan kacang kedelai, merupakan contoh dari keanekaragaman hayati tingkat .... a. Genetik c. populasi b. Jenis d. Ekosistem 5. Salahsatu faktor yang dapat menyebabkan kepunahan makhluk hidup yaitu .... a. Penangkaran hewan langka di luar habitatnya b. Penggunaan bibit unggul secara masif c. Pengendalian overpopulasi pada hewan
  • 160.
    PPPPTK IPA Direktorat Gurudan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 60 d. Pembangunan koridor pada habitat yang terfragmentasi F. RANGKUMAN Indonesia merupakan salahsatu dari 17 negara yang termasuk ke dalam negara megabiodiversitas, yaitu negara yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Namun karena pemanfaatan sumber daya alamnya yang belum dikelola secara bijaksana Indonesia termasuk ke dalam salah satu kawasan yang tingkat kepunahan biodiversitasnya sangat tinggi pula di dunia. Dilihat dari sisi geografis, Indonesia merupakan kawasan yang unik karena merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terletak pada garis khatulistiwa, dan terletak diantara dua benua dan dua samudera. Keunikan tersebut sangat memengaruhi pola sebaran hayati. Para ilmuwan telah meneliti pola sebaran hayati di Indonesia, dan membagi Indonesia menjadi tiga daerah yang dibatasi oleh Garis Wallacea dan Garis Weber. Ketiga daerah tersebut mempunyai tipe makhluk hidup yang berbeda-beda. Daerah paling barat Indonesia yang dibatasi oleh Garis Wallacea merupakan kawasan Orientalis. Daerah paling timur yang dibatasi oleh Garis Weber merupakan kawasan Australis. Sedangkan daerah yang berada di tengah-tengah yang dibatasi oleh garis Wallaceae dan Weber disebut dengan kawasan Wallacea atau kawasan peralihan. Keanekaragaman hayati dapat dilihat dari tiga tingkat, yaitu keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem. Keanekaragaman hayati tingkat genetik mempunyai arti bahwa keanekaragaman tersebut merupakan keanekaragaman yang disebabkan oleh variasi genetik. Keanekaragaman hayati tingkat jenis merupakan keanekaragaman yang terjadi sebagai akibat dari adanya variasi berbagai jenis makhluk hidup. Dengan kata lain keanekaragaman ini dapat kita amati mulai dari tingkat marga. Keanekaragaman hayati tingkat ekosistem merupakan keanekaragaman yang terbentuk sebagai akibat dari adanya variasi interaksi kelompok makhluk hidup dengan lingkungannya. Manfaat keanekaragaman hayati secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga hal, yaitu: 1. Jasa Ekosistem, seperti: air minum yang bersih, pembentukan dan perlindungan tanah, penyimpanan dan daur hara, mengurangi dan menerap
  • 161.
    Modul Guru Pembelajar MataPelajaran Biologi SMA 61KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI KELOMPOK KOMPETENSI A 61 polusi berkontribusi terhadap stabilitas iklim, pemeliharaan ekosistem, dan penyerbukan tanaman. 2. Sumber daya hayati, seperti: makanan, obat-obatan, bahan baku industri, tanaman hias, stok untuk pemuliaan dan penyimpanan populasi. 3. Manfaat sosial, seperti: pendidikan rekreasi dan penelitian, serta budaya. 4. Beberapa hal yang dapat menyebabkan kepunahan diantaranya: a. Perusakan Habitat b. Fragmentasi Habitat c. Degradasi Habitat d. Penggunaan spesies yang berlebih untuk kepentingan manusia e. Introduksi spesies-spesies eksotik f. Karakter spesies terhadap kepunahan Dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati global, para konservasionis telah menetapkan kawasan-kawasan yang menjadi prioritas utama konservasi yang diistilahkan dengan biodiversity hotspot. Penetapan hotspot tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi kawasan yang memiliki konsentrasi yang sangat tinggi dari jenis-jenis hewan endemik yang terancam oleh hilangnya habitat secara luar biasa. Terdapat 25 hotspot di seluruh dunia yang memiliki luas hanya 1,4% dari permukaan daratan Bumi yang dihuni oleh 44% spesies tumbuhan vaskular dan 35% spesies hewan vertebrata di seluruh dunia. Kawasan Sundaland dan Wallacea termasuk salahsatu dari 25 hotspot diversity. G. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Setelah Saudara mempelajari keanekaragaman hayati dan biosistematika menggunakan modul ini, diharapkan Saudara dapat lebih memahami keterkaitan antara faktor-faktor penyebab dengan tingkat keanekaragaman hayati, manfaat keanekaragaman hayati dalam kehidupan, upaya pelestarian keanekaragaman hayati, serta dasar-dasar klasifikasi keanekaragaman hayati. Jika ada hal-hal yang dinilai belum tercapai, rencanakan apa yang akan Saudara lakukan untuk mencapai kompetensi tersebut.
  • 162.
    KEGIATAN PEMBELAJARAN 3:STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 62 Kegiatan pembelajaran kelompok kompetensi A topik Struktur dan Fungsi Jaringan membahas tentang jenis-jenis jaringan pada tumbuhan dan hewan. Selain membahas jenisnya, dibahas pula mengenai fungsi jaringan tersebut. Bahan ajar ini berisi uraian materi dan praktikum yang mengacu pada standar isi di Sekolah Menengah Atas untuk mata pelajaran Biologi. Modul pelatihan ini disusun sebagai bahan belajar guru untuk mencapai kompetensi sesuai dengan kompetensi guru mata pelajaran yang telah ditetapkan. A. Tujuan Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran II diharapkan guru dapat: 1. menyebutkan dengan tepat ciri-ciri serta contoh jaringan penyusun pada organ-organ tumbuhan melalui kegiatan diskusi dan mengkaji modul; 2. menjelaskan secara tepat fungsi jaringan-jaringan penyusun organ pada tumbuhan melalui kegiatan mengkaji modul. 3. mengidentifikasi jaringan-jaringan tumbuhan melalui kegiatan pengamatan di laboraotorium. 4. mengidentifikasi jaringan-jaringan hewan melalui kegiatan pengamatan di laboraotorium. B. Indikator Ketercapaian Kompetensi Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan beberapa indikator tentang struktur dan fungsi jaringan berikut ini. 1. Menyebutkan ciri-ciri jaringan meristem. 2. Menyebutkan contoh-contoh jaringan meristem. KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN MAKHLUK HIDUP
  • 163.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 63 3. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan epidermis dan fungsinya pada tumbuhan 4. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan dasar dan fungsinya pada tumbuhan. 5. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan penyokong dan fungsinya pada tumbuhan 6. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan pengangkut dan fungsinya pada tumbuhan 7. Menjelaskan struktur dan fungsi jaringan epitel pada hewan atau manusia. 8. Menjelaskan keterkaitan antara struktur jaringan penunjang dan fungsinya pada hewan. 9. Menjelaskan struktur dan fungsi saraf pada manusia. 10. Melakukan pengamatan jaringan epitel hewan dengan menggunakan mikroskop. C. Uraian Materi Jaringan Tumbuhan Tumbuhan adalah makhluk hidup multiseluler yang memiliki kerumitan dalam strukturnya apabila diamati dengan mikroskop. Dari pengamatan tersebut dapat diidentifikasi keberadaan sel-sel yang berlainan bentuk dan fungsinya, juga didapati jaringan yang beragam di berbagai tempat, bahkan ditemui pula jaringan yang serupa di tempat yang berbeda-beda. Pengetahuan tentang jaringan apa saja yang menyusun organ-organ tumbuhan dapat memudahkan kita untuk memahami bagaimana suatu tumbuhan bisa hidup dan menjalani fungsinya. Jaringan Meristem dan Fungsinya Pengertian jaringan adalah sekumpulan sel dengan bentuk dan fungsi yang sama. Dengan demikian, jaringan meristem dapat diartikan sebagai sekumpulan sel dengan bentuk dan fungsi yang sama serta memiliki sifat meristematik. Sel- sel meristematik tersebut aktif membelah sehingga menghasilkan sel-sel anakan yang banyak. Sebagian sel-sel anakan tersebut ada yang tetap mempertahankan diri sebagai meristem sementara sel-sel anakan yang lain akan mengalami diferensiasi (perubahan bentuk dan fungsi). Sel-sel yang mengalami diferensiasi
  • 164.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 64 tersebut keluar dari meristem dan akhirnya menjadi tergabung ke dalam jaringan lain dan menjadi suatu bagian utama dari tumbuhan. Kelompok jaringan ini akan menjadi jaringan permanen. Berdasarkan asal pembentukannya, jaringan meristem dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu promeristem, meristem primer, dan meristem sekunder. Promeristem adalah jaringan meristem yang telah ada ketika tumbuhan masih dalam tingkat embrio. Sementara meristem primer merupakan jaringan meristem yang ditemukan pada tumbuhan dewasa serta biasa ditemukan pada ujung batang (yang mengakibatkan tumbuhan bertambah tinggi) dan ujung akar (yang mengakibatkan akar bertambah dalam/panjang). Jaringan meristem primer di bagian ujung batang dan ujung akar tersebut dinamakan juga meristem apikal. Kelompok terakhir meristem adalah meristem sekunder, yaitu jaringan meristem yang berasal dari jaringan yang telah mengalami diferensiasi. Contoh meristem sekunder adalah kambium. Kambium menyebabkan pertumbuhan sekunder yang ditandai dengan membesarnya batang pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae. Kambium tumbuh ke arah luar membentuk kulit batang dan ke arah dalam membentuk kayu. Pada masa pertumbuhan, kambium yang tumbuh ke arah dalam lebih aktif dibandingkan dengan kambium yang tumbuh kearah luar. Hal ini menyebabkan kulit batang lebih tipis dibandingkan kayu. Berdasarkan posisinya, jaringan meristem dibedakan menjadi meristem apikal, meristem lateral, dan meristem interkalar. Jaringan Epidermis Tumbuhan Jaringan epidermis selalu terletak paling luar pada setiap organ tumbuhan. Anda dapat membayangkan lapisan epidermis ini sebagai kulit manusia, atau pakaian yang melindungi. Jelas artinya bahwa fungsi lapisan epidermis adalah melindungi bagian dalam organ bersangkutan dari keadaan seperti hilangnya air karena penguapan, kerusakan mekanik, perubahan suhu, dan hilangnya zat-zat makanan. Jaringan epidermis memiliki beberapa ciri antara lain: 1. terdiri dari sel-sel hidup; 2. berbentuk persegi panjang;
  • 165.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 65 3. sel-selnya rapat tanpa ruang antarsel; 4. tidak memiliki klorofil; 5. mampu membentuk modifikasi jaringan epidermis. Beberapa modifikasi epidermis antara lain adalah stomata, spina (duri), sel kipas, sel kersik, dan trikomata (rambut-rambut). Seperti yang Anda amati pada gambar 2.64 dan gambar 2.65 terdapat lapisan jaringan epidermis yang membatasi organ dengan lingkungan luarnya. Lapisan epidermis menjadi jaringan yang tipis (umumnya 1 lapis sel) dan karena lokasinya tersebut, epidermis menjadi tempat untuk terjadinya pertukaran zat. Pada batang dan daun (atau bagian manapun dari tumbuhan yang berada di atas tanah) sebenarnya lapisan epidermis dilindungi oleh kutikula (senyawa lemak) sebagai pelindung tambahan, terutama membantu tumbuhan menekan laju penguapan air dari daun, batang, dan biji. Selain itu pula melindungi dari patogen, kerusakan akibat gangguan fisik/mekanis. Gambar 3.1. Jaringan pada daun dengan sel-sel epidermis
  • 166.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 66 Gambar 3.2. letak epidermis terhadap jaringan lainnya pada penampang melintang batang tumbuhan Jaringan Dasar (Parenkim) Jaringan dasar dikenal dengan istilah parenkim. Disebut jaringan dasar karena jaringan ini ditemukan hampir di setiap bagian tumbuhan baik pada akar, batang, daun, daging buah, atau endosperm. Begitu pula jaringan ini dapat ditemukan di setiap jenis tumbuhan. Pada batang yang dipotong melintang, Anda amati bahwa sebagian besarnya pasti adalah jaringan dasar ini. Alasan selain itu karena parenkim juga terdapat di antara jaringan lain misalnya di antara xylem dan floem. Ciri-ciri jaringan parenkim yang membedakanya dengan jaringan lain adalah: 1. sel-selnya merupakan sel hidup yang berukuran besar dan tipis, serta umumnya berbentuk segi enam; 2. memiliki banyak vakuola; 3. letak inti sel mendekati dasar sel; 4. mampu bersifat merismatik karena dapat membelah diri; dan 5. memiliki ruang antar sel yang banyak sehingga letaknya tidak rapat.
  • 167.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 67 Gambar 3.3. Jaringan parenkim Pada gambar 3.3 Anda dapat mengamati sel-sel pada jaringan dasar yang ukuran selnya besar-besar (ruang vakuolanya besar), bentuknya bervariasi, dinding sel tipis, serta ruang antar sel yang renggang. Oleh karena jaringan dasar ini dapat ditemukan di setiap tumbuhan, maka fungsi jaringan ini berbeda- beda untuk setiap tumbuhan yang berbeda. Misalnya pada tumbuhan kaktus, jaringan dasar akan berfungsi menyimpan air. Pada tumbuhan eceng gondok, jaringan dasar/parenkim akan menyimpan udara pada ruang antar sel. Pada umbi-umbian, maka jaringan dasar akan berfungsi menyimpan cadangan makanan. Jaringan Penyokong Jaringan penyokong dikenal juga dengan nama jaringan mekanik, jaringan penunjang, atau jaringan penguat. Anda bisa membayangkannya seperti tulang pada tubuh manusia, jaringan inilah yang menunjang bentuk tumbuhan hingga dapat berdiri dengan kokoh. Jaringan ini menguatkan karena memiliki sel-sel dengan dinding sel yang tebal dan kuat, juga karena sel-selnya telah mengalami spesialisasi. Jaringan penyokong berfungsi untuk menguatkan/menegakkan batang dan daun, melindungi biji atau embrio, serta melindungi berkas pengangkut (vaskuler). Ada 2 jenis jaringan penyokong, yaitu jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim.
  • 168.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 68 Jaringan Kolenkim Sifat utama dari jaringan kolenkim adalah sel-sel penyusunnya hidup dan dinding selnya banyak mengandung selulosa. Sifatnya mirip jaringan parenkim, dan dapat dianggap sebagai jaringan parenkim khusus yang menunjang organ muda pada tumbuhan. Kolenkim terdapat langsung di bawah atau dekat permukaan batang muda dan tangkai daun muda, namun jarang ditemukan pada akar. Gambar 3.4. Jaringan kolenkim Sel-sel kolenkim mengalami penebalan di sudut-sudut selnya, tidak merata pada seluruh permukaan dinding sel. Dinding selulosa yang tebal pada kolenkim menyebabkan organ bersangkutan memiliki sifat lentur. Oleh karena itu, kolenkim baik sekali untuk menopang organ yang aktif tumbuh karena sel-selnya dapat meregang untuk menyesuaikan diri dengan perpanjangan organ. Jaringan Sklerenkim Jaringan sklerenkim merupakan jaringan penunjang pada organ tumbuhan yang telah dewasa. Dengan demikian sel-sel dewasa jaringan skerenkim telah mati dan memiliki dinding sel yang tebal, biasanya berlignin (mempunyai zat kayu).
  • 169.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 69 Gambar 3.5. Jaringan sklerenkim Ada 2 kelompok besar jaringan sklerenkim, yaitu: 1. Serabut/serat. Serabut merupakan sel yang panjang dan sempit yang berujung runcing. Sel-sel ini biasanya berkumpul menjadi sebuah jalur panjang, sementara ujung-ujungnya yang runcing bertumpang tindih dan menyatu dengan kuat. Serabut sklerenkim terdapat pada sebagian besar bagian tumbuhan. 2. Sklereid merupakan sel-sel tumbuhan yang telah mati, bentuknya bervariasi dan berdinding keras yang tahan terhadap tekanan. Sklereid dapat dijumpai dalam keadaan tunggal atau berkelompok kecil di antara sel-sel lain, misalnya butiran pada daging buah jambu biji dan buah pir. Sklereid pada batok kelapa adalah contoh yang baik dari bagian tumbuhan yang mengandung serabut dan sklereid. Jaringan Pengangkut Nama lain jaringan pengangkut adalah berkas vaskular. Sebagaimana namanya yaitu vaskular (pembuluh), jaringan ini berwujud saluran/pipa. Anda dapat membayangkan jaringan pengangkut ini sebagai pipa-pipa pembuluh darah yang mengantarkan oksigen dan zat makanan ke seluruh bagian tubuh. Jaringan pengangkut ini berfungsi mengangkut air dan unsur hara, serta mengedarkan zat makanan hasil fotosintesis dari satu bagian ke bagian lain tumbuhan.
  • 170.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 70 Jaringan pengangkut pada tumbuhan di bagi menjadi dua kelompok berdasarkan fungsinya. 1. Xylem Xylem (pembuluh kayu) berfungsi untuk menyalurkan air dan unsur hara dari akar ke daun. Xylem merupakan jaringan pengangkut yang rumit. Xylem tersusun dari parenkim dan serabut, serta trakeid, dan komponen pembuluh (trakea). Sebagaimana telah diulas di atas, trakeid adalah sel-sel tumbuhan yang dindingnya mengalami lignifikasi (penebalan oleh senyawa lignin) dan sel-selnya akan mati setelah dewasa. Trakea yang membentuk xylem merupakan sel-sel silinder yang mati setelah dewasa, bagian ujungnya saling menyatu membentuk sebuah tabung pengangkut air bersel banyak. Dinding ujung (kadang-kadang juga dinding samping) komponen pembuluh ini berlubang-lubang yang merupakan tempat air lewat dengan bebas dari satu sel ke sel lain. Gambar 3.6. Sel Trakeid 2. Floem Floem (pembuluh tapis) merupakan jaringan yang berfungsi mengangkut lalu menyalurkan zat-zat makanan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian
  • 171.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 71 tumbuhan. Jaringan floem sangat rumit, terdiri atas berbagai macam bentuk sel dan diantaranya ada yang masih hidup dan ada pula yang telah mati. Komponen floem antara lain adalah parenkim floem yang berfungsi menyimpan cadangan makanan dan berperan sebagai sekat pemisah antara floem yang satu dengan yang lain. Serabut floem merupakan jaringan sklerenkim yang berfungsi untuk memperkuat jaringan pembuluh. Selain itu, komponen lain dari floem adalah pembuluh tapis dan sel pengiring/penyerta. Gambar 3.7. Sel-sel floem a. Komponen floem memiliki ciri-ciri dinding sel yang tipis dan inti sel-nya hilang. Sel-sel unsur tapis memanjang dan ujungnya bersatu membentuk suatu pembuluh. Pada komponen pembuluh tapis, dinding ujungnya saling berlekatan dengan dinding ujung sel di bawahnya atau di atas sehingga membentuk deretan sel-sel memanjang yang disebut pembuluh tapis. b. Sel pengiring/pengantar berukuran lebih kecil dibandingkan sel penyusun komponen pembuluh tapis dan memiliki sifat meristematis. Sel pengiring berperan untuk memberi makan sel-sel penyusun komponen pembuluh tapis yang masih hidup. Sel pengiring hanya dijumpai pada Angiospermae.
  • 172.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 72 Jaringan Gabus Jaringan gabus sering berfungsi menggantikan epidermis ketika lapisan epidermis tersebut rusak karena usia atau faktor lain sehingga jaringan lain di bawahnya terlindung dari kehilangan banyak air dan gangguan mekanik. Jaringan gabus dibentuk oleh kambium gabus yang bernama felogen. Jaringan gabus tersebut membentuk jaringan ke arah dalam yang tersusun dari sel-sel hidup dan dinamakan feloderm. Sebaliknya, kambium gabus membentuk jaringan ke arah luar yang tersusun dari sel-sel mati yang dinamakan felem. Felem inilah yang bersifat tidak tembus air (impermeabel) karena dinding selnya mengalami penebalan oleh suberin. Gambar 3.8. Jaringan gabus Jaringan Hewan Hewan adalah makhluk hidup multiseluler lainnya selain tumbuhan yang memiliki beraneka ragam jaringan. Jaringan pada hewan pada prinsipnya sama dengan jaringan tumbuhan, yaitu tersusun dari sel-sel yang memiliki bentuk, ukuran, dan fungsi serupa. Akan tetapi terdapat banyak perbedaan penampakan pada jaringan hewan apabila diamati di bawah mikroskop disebabkan karena terdapat perbedaan besar pada struktur sel hewan dibandingkan sel tumbuhan. Oleh sebab itu pengamatan struktur jaringan dengan menggunakan mikroskop menjadi keniscayaan yang akan memperkuat pemahaman Anda mengenai materi struktur jaringan tumbuhan dan hewan.
  • 173.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 73 Jaringan pada hewan ada 2 kelompok utama, yaitu jaringan germinal dan jaringan somatis. Jaringan germinal terletak di dalam gonad (organ yang memproduksi sel sperma atau ovum) dan merupakan jaringan yang secara terus menerus menghasilkan sel benih/sel kelamin. Sementara sebagian besar jaringan lain adalah jaringan somatis/jaringan tubuh yang terdiri dari 4 jaringan dasar, yaitu jaringan epitel, jaringan pengikat/penunjang, jaringan saraf, dan jaringan otot. Jaringan Epitel pada Hewan atau Manusia Jaringan epitel merupakan lapisan terluar dari organ yang menjadi pemisah antara organ dan lingkungan luarnya. Tersusun secara kompak dan tidak ada ruang antarsel. Dengan demikian fungsi yang paling mendasar dari jaringan epitel adalah menjadi pelindung bagi jaringan atau organ yang dibungkusnya. Baik melindungi dari gangguan mekanis seperti gesekkan, benda tajam, tekanan, panas, dan gangguan patogen/mikroorganisme atau senyawa berbahaya. Akan tetapi fungsi epitel tidak semata melindungi saja, epitel memiliki fungsi-fungsi lain yang pada dasarnya terkait dengan keberadaan strukturnya yang melapisi bagian terluar organ-organ. Diantara fungsi-fungsi jaringan epitel tersebut adalah: 1. Perlindungan Jaringan epitel menutupi permukaan dalam organ, melindunginya dari gangguan mekanis dari luar seperti panas, tekanan, gesekkan atau dari gangguan mikroorganisme, senyawa berbahaya, atau melindungi dari kehilangan air yang berlebihan Sekresi Jaringan epitel berperan sebagai kelenjar yang mengeluarkan zat-zat seperti hormon, enzim, pelumas/lubrikasi agar permukaan epitel tetap basah (organ tertentu). 2. Absorbsi Jaringan epitel yang melapisi permukaan dalam usus membantu dalam proses penyerapan nutrisi hasil pencernaan makanan. 3. Menerima rangsang/impuls Jaringan epitel yang mengandung ujung saraf sensorik, misalnya pada lidah, telinga, hidung, dan kulit.
  • 174.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 74 4. Ekskresi Jaringan epitel yang mengekskresikan limbah seperti sel-sel eiptel kelenjar keringat dan sel epitel di ginjal 5. Difusi Jaringan epitel menjadi tempat terjadinya difusi gas atau cairan. Berikut pembahasan jenis-jenis jaringan epitel berdasarkan bentuk serta susunannya beserta fungsi yang dimilikinya. 1. Jaringan Epitel Selapis Jaringan ini tersusun dari selapis sel. Berdasarkan bentuk sel‐sel penyusunnya, jaringan ini diklasifikasikan sebagai berikut. a. Epitel pipih selapis sel‐sel epitel ini pipih dan tipis, berisi sedikit sitoplasma yang membungkus inti di bagian tengah. Sehingga berfungsi dalam pertukaran/difusi gas, zat, atau cairan. Misalnya epitel yang terdapat di alveoli lapisan dalam pembuluh darah (pertukaran O2 dan CO2), pembuluh limfe, kapsul Browman, dan dinding pembuluh kapiler darah. b. Epitel kubus selapis Jaringan epitel kubus selapis berfungsi dalam sekresi dan melindungi. Contoh ini terdapat pada permukaan ovarium, kelenjar tiroid, saluran neufron ginjal, retina mata, dan kelenjar gondok. c. Epitel silindris selapis Epitel ini terdiri atas selapis sel berbentuk panjang dan sempit. Ada yang memiliki silia pada permukaanya seperti di oviduk. Jaringan ini melapisi seluruh saluran pencernaan yang diselingi oleh sel goblet yang menghasilkan mukus (lendir) untuk melindungi lambung dari asam lambung misalnya pada lambung dan jonjot usus, selain itu terdapat pula pada saluran pernapasan atas dan kantung empedu. d. Epitel selapis bersilia Epitel bersilia terdiri atas sel‐sel yang berbentuk batang bersilia di tepi luar yang berfungsi menghasilkan lendir untuk menangkap benda asing yang masuk. Getaran silia menimbulkan aliran. Jaringan ini terdapat pada saluran pernapasan atas/trakea.
  • 175.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 75 e. Epitel berlapis semu Jika kita perhatikan akan tampak beberapa sel dengan ketinggian berbeda karena tidak semua sel mencapai permukaan yang bebas. Meskipun demikian, epitel ini terdiri atas selapis sel‐sel tebal dan tiap‐tiap selnya melekat pada membran basal. Jaringan epitelium ini dapat kita jumpai pada saluran kencing dan tenggorokan, uretra jantan, saluran reproduksi jantan, serta epididimis (saluran sperma). 2. Jaringan Epitel Berlapis Jaringan epitel berlapis apabila dibandingkan dengan epitel sederhana memiliki bentuk dan susunan lebih kuat karena tersusun atas beberapa lapis sel. Jaringan epitel berlapis meliputi: a. epitel pipih berlapis, terdapat pada sebagian kerongkongan, dan epidermis kulit vertebrata. b. epitel kubus berlapis, terdapat pada saluran besar beberapa kelenjar seperti di kelenjar ludah, kelenjar susu, dan pangkal esofagus; c. berfungsi dalam eksresi, adsorpsi, sebagai saluran ekskresi kelenjar ludah dan kelenjar susu terdapat pada saluran kelenjar susu, kelenjar ludah submandibula. Epitel Kelenjar Epitel kelenjar merupakan jenis jaringan epitel yang berfungsi membentuk kelenjar. Kelenjar tersebut menghasilkan cairan yang kandungannya berbeda dengan darah dan cairan sel lainnya. Bentuk sel-sel di dalam epitel kelenjar tidak sama, tapi umumnya berbentuk tubular (tabung) atau kubus serta meliputi organ- organ yang berhubungan dengan sekresi. Terdapat 2 jenis kelenjar yaitu, kelenjar eksokrin dan endokrin. Kelenjar eksokrin mensekresikan cairan melalui saluran ke permukaan misalnya kelenjar pada kulit dan kelenjar pada saluran pencernaan. Kelenjar endokrin mensekresikan cairan ke dalam jaringan bersama darah, misalnya hormon.
  • 176.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 76 Jaringan Penunjang dan Jaringan Otot pada Hewan Jaringan penunjang (penyokong) memiliki istilah lain yaitu jaringan pengikat. Jaringan ini terdapat pada tubuh manusia dan hewan dengan perannya sebagai pengisi celah antarjaringan, memberi kekuatan dan bentuk, membungkus organ- organ tubuh sekaligus mengikatnya/menghubungkannya dengan jaringan lain, atau sekaligus pula melindunginya (pada organ-organ yang lemah dan rentan benturan). Peran tersebut dimiliki oleh jaringan penunjang disebabkan jaringan ini menjalankan beberapa fungsi di antaranya seperti menyimpan lemak, melindungi dari mikroorganisme, memproduksi darah, menghasilkan matriks yang keras, dan lain-lain. Jaringan penunjang terdiri atas jaringan ikat, jaringan skeleton, dan jaringan darah. 1. Jaringan Ikat Seperti nama yang disandangnya, jaringan ikat merupakan jaringan yang berfungsi untuk mengikat (menghubungkan) satu jaringan dengan jaringan lainnya. Berdasarkan fungsinya tersebut Anda tentu mafhum jika jaringan ikat tidak terdapat di permukaan luar tubuh dan bahkan jaringan ikat memiliki pembuluh darah. Jaringan ikat pada dasarnya adalah sekumpulan jalinan matriks yang terdiri dari serabut kolagen, serabut elastin, dan serabut retikuler. Jaringan ikat dibedakan menjadi jaringan ikat padat, jaringan ikat longgar, dan jaringan lemak. Gambar 3.9. Jaringan ikat pada manusia Jaringan ikat padat terbagi lagi ke dalam 2 jenis yaitu jaringan ikat kolagen dan jaringan ikat elastis. Jaringan ikat kolagen contohnya adalah tendon yang melekatkan otot pada tulang. Jaringan ikat elastis contohnya adalah ligamen
  • 177.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 77 yang mengikat tulang-tulang dengan persendian. Ligamen tersusun dari serabut elastis. Jaringan ikat longgar adalah jaringan ikat yang paling banyak ditemukan pada tubuh hewan vertebrata. Jaringan ini menghubungkan epitel dengan jaringan atau organ di bawahnya serta menjaga organ-organ agar berada pada tempatnya. Jaringan ikat mengandung berbagai jenis sel dan serabut. Sel yang ada diantaranya sel fibroblas, mast cell, sel lemak, sel makrofag (sel yang ‘memakan’ patogen, mikroorganisme asing sel mati). Serabut yang ada antara lain serabut kolagen dan serabut elastis. 2. Jaringan Skeleton Jaringan skeleton/tulang merupakan jaringan yang paling keras dan kuat. Selain mengandung sedikit air, jaringan ini tersusun dari kalsium fosfat dan kalsium karbonat. Pada vertebrata terdapat 2 macam jaringan tulang, yaitu tulang rawan dan tulang keras. Tulang rawan (kartilago) terbuat dari matriks yang mengandung sel-sel kondroblas. Sementara tulang keras sifatnya lebih keras daripada tulang rawan karena matriksnya sebagian besar adalah garam anorganik seperti kalsium fosfat. Berdasarkan susunan matriksnya jaringan tulang keras dibedakan menjadi tulang kompak dan tulang spons. Kombinasi zat organik dan anorganik menghasilkan struktur yang kuat pada tulang kompak. Tulang spons matriksnya berongga, mengandung sumsum merah yang memproduksi sel-sel darah merah. 3. Jaringan Darah Jaringan darah letaknya berada di pembuluh darah, tersusun atas cairan (plasma) yang di dalam cairan tersebut terdapat sel-sel darah merah, sel-sel darah putih, dan keping darah. Darah merupakan cairan yang terdapat pada manusia dan hewan tingkat tinggi yang berfungsi dalam membawa gas oksigen, karbondioksida, serta zat-zat terlarut lain (glukosa, asam lemak, asam amino, hormon, dan lain-lain) dan mengangkutnya dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain. Darah menjadi bagian penting dari kehidupan, organisme yang mengalami kekurangan darah bisa mengalami gangguan bahkan kematian. Sel darah merah (eritrosit) merupakan unsur yang membuat cairan darah terlihat berwarna merah, jumlahnya paling banyak dibanding sel darah putih atau keping
  • 178.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 78 darah, sel darah merah tidak mempunyai inti, mengandung hemoglobin untuk mengikat oksigen, sehingga sel darah merah menjadi kunci penting bagi kehidupan organisme karena ia berperan mengangkut oksigen ke jaringan- jaringan hingga sel-sel di seluruh bagian tubuh. Sel darah putih (leukosit) bertanggung jawab dalam memusnahkan bibit penyakit atau benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh (seperti virus dan bakteri). Sel darah putih memiliki inti sel, tidak berwarna, jumlahnya sekitar 7.000-25.000 sel pertetes pada orang sehat. Ada 5 jenis sel darah putih yang jumlah, bentuk, dan fungsinya berbeda, yaitu eosinofil, basophil, neutrofil, limfpsot, dan monosit. Trombosit atau keping darah bertanggung jawab dalam pembekuan darah (membantu darah membeku/berhenti mengalir misalnya saat terjadi luka). Saat pembuluh darah pecah, trombosit berkumpul di daerah luka sampai terjadinya proses pembekuan darah yang bisa menutup kebocoran karena luka. Plasma darah adalah bagian cair dari jaringan darah, terdiri dari 90% air dan 7- 8% protein. Di dalam plasma inilah terlarut garam-garam, glukosa, lemak, asam amino, dan lain-lain (senyawa-senyawa hasil metabolisme). Pembuluh darah yang berupa pipa tempat mengalirnya darah memiliki dinding yang permeabel bagi air dan elektrolit, sehingga plasma darah secara terus menerus saling bertukar zat dengan cairan tubuh. Gambar 3.10. Jaringan darah
  • 179.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 79 Jaringan Otot Jaringan otot tersusun dari sel-sel yang mampu berkontraksi dan berelaksasi dikarenakan kandungan miofibril. Otot menjadi alat gerak aktif karena kemampuannya berkontraksi, dan berpasangan dengan tulang yang berfungsi sebagai alat gerak pasif. Pada manusia dan vertebrata, gerakan tubuh secara seluruhnya disebabkan oleh kontraksi otot yang menempel pada rangka. Termasuk pada alat cerna seperti usus terdapat jaringan otot yang bekerja untuk menekan dan mendorong benda di dalam organ tersebut hingga terjadi pergerakan. Ada 3 macam otot berdasarkan struktur dan cara kerjanya yaitu otot polos, otot lurik, dan otot jantung. Otot polos terletak di organ-organ dalam yang bekerja secara tidak sadar seperti di usus, pembuluh darah, saluran kemih, dan lain-lain otot polos tidak mudah lelah meski terus beraktivitas dan memiliki reaksi yang lambat. Ciri-ciri selnya adalah berbentuk seperti tabung tapi lancip di kedua ujungnya, berinti sel satu yang terletak di tengah sel. Gambar 3.11. Otot polos Otot lurik letaknya melekat terhadap rangka yang bercorak lurik-lurik. Karena perannya sebagai alat gerak aktif maka otot lurik termasuk otot yang bekerja secara sadar, cepat reaksinya terhadap rangsangan, dan mudah lelah jika bekerja secara keras terus menerus. Ciri otot ini selain bercorak lurik adalah memiliki inti sel yang terletak di tepi sel. Otot jantung terletak hanya di organ jantung. Sifatnya berkerja secara tidak sadar dan tidak mudah lelah. Ciri otot jantung mirip dengan otot lurik, namun bercabang-cabang serta jumlah intinya 1 kadang 2 buah.
  • 180.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 80 Gambar 3.12. Otot Lurik Gambar 3.13. Otot Jantung Jaringan Saraf Pada Manusia Jaringan saraf tersusun dari sel-sel yang bernama neuron. Jaringan saraf berfungsi untuk menghantarkan rangsang (impuls) dari panca indra ke saraf pusat dan dari saraf pusat ke organ-organ lainnya. Di panca indra terletak reseptor (penerima rangsang), yang pertama kali berinteraksi dengan rangsang yang berasal dari luar/lingkungan. Misalnya pada organ lidah sehingga kita bisa merasakan sensasi rasa manis, asam, pahit, pedas, dan sebagainya, atau pada kulit saat kita merasakan panas, dingin, halus, dan kasar. Berdasarkan fungsi tersebut, dapat Anda simulasikan di benak Anda sendiri mengenai struktur neuron yang panjang karena harus menghubungkan impuls dari lokasi peneriman rangsang (di seluruh bagian tubuh) ke saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Berdasarkan fungsi tersebut pula dapat dibedakan 3 jenis neuron, yaitu neuron sensorik, neuron motorik, dan neuron penghubung. Neuron sensorik menghantarkan impuls dari reseptor ke saraf pusat, neuron motorik menghantarkan impuls dari saraf pusat ke organ sasaran, sedangkan neuron penghubung merupakan neuron yang menghubungkan neuron sensorik dan neuron motorik. Neuron mempunyai struktur yang unik untuk bisa berhubungan dengan neuron- neuron lain (gambar 10.8.). Satu sel neuron tersusun atas badan sel, dendrit, dan akson. Di badan sel terletak inti sel, dan dari badan akson menjulur sitoplasma yang bercabang-cabang disebut dendrit yang berfungsi menghantarkan impuls ke badan sel. Sementara akson adalah perpanjangan
  • 181.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 81 sitoplasma yang paling panjang dan dibungkus myelin untuk menghantarkan impuls ke sel neuron lain, atau ke efektor (organ penerima rangsang). Gambar 3.14. Struktur sel saraf Bagian akson yang panjang seperti Anda amati, tersusun dari bagian yang dibungkus myelin dan ada juga bagian kecil yang tidak terbungkus (bernama nodus Ranvier). Bungkus/seludang myelin dibentuk oleh sel-sel Schwann berfungsi sebagai isolator, meningkatkan konduksi, selain untuk memberi nutrisi serta regenerasi akson rusak. Dalam jaringan saraf, sel neuron bertemu dengan sel neuron lainnya dan pertemuan kedua sel tersebut dinamakan sinapsis. Sinapsis menjadi persimpangan tempat mengalirnya impuls dari satu sel neuron ke sel neuron berikutnya. Sinapsis tersebut membuat impuls berjalan satu arah, memecah impuls ke beberapa neuron, atau mengumpulan beberapa impuls ke satu neuron tunggal. Gambar 3.15. Pertemuan sel saraf dengan sel saraf lainnya yang dihubungkan oleh sinapsis
  • 182.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 82 Komunikasi yang dilakukan sel-sel neuron melalui sinapsis terdiri dari dua jenis sinyal, yaitu listrik dan kimiawi. Dengan menggunakan struktur khusus dari sel neuron dapat digunakan arus listrik untuk menerima, menghantarkan, serta mengatur arus informasi ke lokasi yang jauh di dalam tubuh. Sementara untuk menghantarkan informasi dari satu sel ke sel lainnya, neuron lebih mengandalkan sinyal dari senyawa kimia yang bernama neurotransmitter. D. Aktivitas Pembelajaran Kegiatan pengamatan jaringan tumbuhan dan hewan merupakan pengalaman yang perlu dialami langsung dan tidak dapat dilepaskan dari aktivitas pembelajaran dalam rangka membentuk sikap ilmiah guru. Dalam kegiatan berikut ini, Anda akan melakukan pengamatan terhadap jaringan meristem tumbuhan dan jaringan epitel hewan. Aktivitas pengamatan yang akan dilakukan juga menuntut guru untuk mampu mempraktekkan dasar keselamatan kerja di laboratorium IPA. Sebelum beraktivitas menggunakan mikroskop, penting bagi Anda untuk memahami rambu-rambu di bawah ini sebagai bagian dari keselamatan kerja 1. Mengenal bagian-bagian mikroskop dan fungsinya. 2. Memahami cara penanganan mikroskop semenjak penyimpanan sampai persiapan. 3. Memahami cara penggunaan mikroskop. 4. Berhati-hati dengan penggunaan kaca slide yang tipis yang ujungnya tajam (awas! Bisa melukai). Kegiatan I. Cara Menggunakan Mikroskop Mikroskop adalah alat yang relatif mahal dan membutuhkan penanganan yang benar. Pastikan mikroskop diletakkan di meja yang kokoh, tidak mudah goyang, dan roboh. Jika Anda hendak membawa atau memindahkan mikroskop, gunakan kedua tangan. Tangan kiri memegang bagian leher, sementara tangan kanan memegang bagian dasar mikroskop. Langkah I: Siapkan mikroskop dan preparat siap pakai.
  • 183.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 83 Langkah II: Putar revolver dan gunakan lensa objektif dengan perbesaran paling kecil Biasanya lensa ini memiliki ukuran paling pendek (misalnya lensa yang berukuran 4X). Langkah III: Simpan preparat di meja objek dan jepit dengan menggunakan penjepit objek. Pastikan objek pengamatan tepat di atas lubang kecil di tengah meja objek. Langkah IV: Putar pemutar fokus kasar sehingga didapat jarak yang cukup dekat antara preparat dengan lensa objektif. Tetap usahakan agar jangan sampai lensa menyentuh preparat. Langkah V: Putar diafragma untuk mengatur cahaya yang diperlukan untuk pengamatan. Langkah VI: Mulai memutar pemutar fokus kasar agar lensa objektif dan kaca objek menjauh, dan amati gambar yang dihasilkan melalui lensa okuler. Putar secara perlahan sampai didapat gambar yang cukup jelas. Langkah VII: Gunakan pemutar fokus halus dengan memutarnya untuk mempertegas fokus gambar sehingga diperoleh gambar yang jauh lebih jelas. Perlu diingat! jangan mengganti lensa objektif untuk meningkatkan pembesaran gambar sebelum Anda mendapat gambar dengan fokus yang jelas. Langkah VIII Setelah mendapat fokus gambar yang baik, putar revolver untuk mengganti lensa objektif ke perbesaran berikutnya. Gunakan pemutar fokus halus untuk mengatur fokus karena pada tahap ini jarak antar lensa dan preparat sudah sangat dekat. Keterangan Lain: Untuk memperbesar gambar objek, pertama kali cahaya diproyeksikan melalui lubang di meja objek sehingga mengenai objek yang diamati lalu diteruskan hingga sampai ke lensa objektif. Lalu terbentuklah sebuah gambar di lensa objektif tersebut yang kemudian menjadi sebuah objek bagi lensa okuler yang sekaligus memperbesar ukuran gambar. Dengan demikian total perbesaran yang bisa dilakukan sebuah mikroskop adalah perbesaran yang dimiliki lensa objektif dikali perbesaran yang dimiliki lensa okuler.
  • 184.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 84 Kegiatan II. Jaringan Epidermis Tumbuhan I. Setelah melakukan kegiatan ini Anda diharapkan dapat: 1. Menggambar jaringan epidermis dan jaringan dasar pada preparat batang, akar dan daun serta. 2. Menunjukkan struktur stomata dan trikomata pada preparat epidermis daun atau batang. 3. Menemukan perbedaan struktur jaringan dasar/parenkim pada beberapa preparat organ yang berbeda. II. Alat dan bahan 1. Mikroskop 2. Pinset 3. Sediaan kering penampang melintang akar, batang, dan daun Rheo discolor. 4. Sediaan kering penampang membujur daun Rheo discolor. III. Cara kerja 1. Amati sediaan kering penampang melintang akar, batang dan daun mulai dari perbesaran 40X! Gambarlah seluruh penampakkan dari sediaan yang kamu amati ! berilah keterangan gambar yang Anda buat, tunjukkan lokasi jaringan epidermis dan jaringan dasar. 2. Amati sediaan kering penampang melintang akar, batang dan daun mulai dari perbesaran 100X! Identifikasilah keberadaan trikomata pada beberapa preparat yang Anda amati. 3. Amati sediaan penampang membujur daun. Gunakan perbesaran 40X. Temukanlah struktur stomata. 4. Amati kembali beberapa penampang melintang organ yang berbeda (missal: akar, batang, dan daun). Bandingkan bentuk dan ciri-ciri jaringan dasar (sel-sel parenkim) di setiap organ tersebut. Apakah ada perbedaannya yang bisa Anda amati? IV. Hasil dan Pertanyaan 1. Gambar jaringan epidermis pada penampang melintang akar, batang, dan daun tumbuhan. 2. Gambar trikomata. 3. Gambar stomata.
  • 185.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 85 4. Perbedaan jaringan dasar/parenkim pada organ yang berbeda. Gambarkan atau uraikanlah perbedaaan struktur jaringan/atau sel-sel parenkim yang Anda amati! Kegiatan III. Struktur Jaringan Hewan I. Tujuan Setelah melakukan kegiatan ini, Anda diharapkan dapat mengetahui perbedaan antara jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan saraf, dan jaringan otot. II. Alat dan bahan 1. Sediaan kering penampang melintang epitel 2. Sediaan kering penampang melintang tulang 3. Sediaan kering penampang melintang saraf 4. Sediaan kering penampang melintang otot III. Cara kerja 1. Amatilah sediaan kering dari jaringan epitel, jaringan tulang, jaringan saraf, dan jaringan otot dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran objektif 40X. Gambarlah setiap jaringan preparat yang Anda amati tersebut. 2. Tulislah nama-nama bagian yang ada pada setiap jaringan. 3. Gantilah lensa objektif mikroskop dengan pembesaran 100X. Amatilah kembali struktur jaringan tersebut lalu gambarlah sesuai pengamatan Anda. 4. Tulis nama-nama bagian tulang rawan. IV. Hasil pengamatan 1. Gambar jaringan epitel
  • 186.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 86 2. Gambar sel tulang 3. Gambar jaringan saraf 4. Gambar jaringan otot E. Latihan/Kasus/Tugas Bacalah terlebih dahulu pernyataan di bawah ini dengan baik, kemudian pilihlah jawaban yang Anda anggap paling benar dengan memberi tanda (x) pada jawaban tersebut. 1. Akibat dari pertumbuhan primer yang dihasilkan oleh meristem apikal adalah.... a. tumbuhan semakin tinggi
  • 187.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 87 b. tumbuhan semakin besar ke samping c. tumbuhan segera berbunga d. tumbuhan semakin mengeras lapisan luarnya 2. Struktur pada jaringan epidermis daun yang merupakan diferensiasi dari sel-sel epidermis yang dapat membuka dan menutup, dan tempat terjadinya pertukaran gas adalah … a. Trikomata c. Kutikula b. Stomata d. Lentisel 3. Jaringan yang dapat ditemukan di hampir setiap organ tumbuhan dan bisa memiliki beragam fungsi adalah … a. Epidermis c. Parenkim b. Meristem d. Pembuluh 4. Jaringan parenkim pada tumbuhan terletak di … a. Bagian batang tumbuhan dikotil b. Bagian batang tumbuhan monokotil c. Bagian daun semua jenis tumbuhan d. Semua bagian tumbuhan 5. Xilem adalah jaringan yang berfungsi untuk a. Mengisi organ tanaman b. Mengangkut air dan mineral dari akar c. Menghantarkan gas d. Mendistribusikan hasil fotosintesis 6. Jaringan epitel yang tidak bisa menerima rangsang terdapat pada jaringan epitel di daerah … a. Telinga c. Kelenjar keringat b. Lidah d. Hidung 7. Tendon yang melekatkan otot pada tulang termasuk ke dalam jaringan … a. Rangka/skeleton c. Ikat padat
  • 188.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 88 b. Darah d. Ikat longgar F. Rangkuman Jaringan tumbuhan terdiri atas 2 jenis, yaitu jaringan meristem (selnya aktif membelah dan tetap bersifat meristematik) dan jaringan permanen (sel-selnya sudah terspesialisasi, menjadi jaringan tertentu pada tumbuhan). Berdasarkan asal pembentukannya, meristem dikelompokkan menjadi promeristem, meristem primer, dan meritem sekunder. Sedangkan berdasarkan posisinya, jaringan meristem dibedakan menjadi meristem apikal, meristem lateral, dan meristem interkalar. Jaringan permanen berdasarkan fungsinya terdiri atas jaringan epidermis, Jaringan dasar, jaringan penyokong, jaringan pengangkut, dan jaringan gabus. Jaringan epidermis ibarat pakaian yang terletak di bagian paling luar, melindungi bagian dalam organ. Sel-selnya dapat berdiferensiasi untuk membantu menjalankan fungsi jaringan epidermis, menjadi stomata dan trikomata. Jaringan dasar atau parenkim terdapat di setiap organ baik pada jaringan akar, batang, daun, maupun buah. Jaringan dasar tersusun dari sel-sel parenkim yang bisa berfungsi sebagai tempat fotosintesis, untuk menyimpan makanan dan air, dan sebagainya. Jaringan penyokong berfungsi untuk menunjang dan menguatkan bentuk tumbuhan karena sel-selnya memiliki dinding sel yang kuat dan telah terspesialisasi bentuknya. Ada 2 jenis jaringan penyokong yaitu jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim. Jaringan pengangkut/pembuluh terdiri atas xylem dan floem. Xilem berfungsi untuk menyalurkan air dan unsur hara dari akar ke daun, sementara floem berfungsi untuk mengangkut lalu menyalurkan zat-zat makanan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan. jaringan somatis/jaringan tubuh yang terdiri dari 4 jaringan dasar, yaitu jaringan epitel, jaringan pengikat/penunjang, jaringan saraf, dan jaringan otot. Jaringan saraf berfungsi untuk menghantarkan rangsan (impuls) dari panca indra ke saraf pusat dan dari saraf pusat ke efektor (seperti otot dan kelenjar). Jaringan epitel merupakan lapisan terluar dari organ yang menjadi pemisah antara organ dan lingkungan luarnya. Tersusun secara kompak dan tidak ada ruang antarsel. fungsi-fungsi jaringan epitel tersebut adalah sebagai
  • 189.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 89 perlindungan, sebagai alat sekresi, untuk absorbsi, menerima rangsang/impuls, alat ekskresi, dan sebagai alat difusi. Jaringan penunjang pada hewan berfungsi mengisi celah antarjaringan, memberi kekuatan dan bentuk, membungkus organ- organ tubuh sekaligus mengikatnya/menghubungkannya dengan jaringan lain, atau sekaligus pula melindunginya. Jaringan penunjang terdiri dari jaringan ikat, jaringan skeleton, dan jaringan darah. Jaringan otot pada manusia dan hewan adalah jaringan yang bisa berkontraksi dan berelaksasi. Secara garis besar ada 3 jenis otot, yaitu otot olos, otot lurik, dan otot jantung. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Setelah Anda menyelesaikan soal latihan di atas, Anda dapat menghitung tingkat keberhasilan Anda dengan menggunakan kunci/rambu-rambu jawaban yang terdapat pada bagian akhir modul ini. Jika Anda memperkirakan bahwa pencapaian Anda sudah melebihi 80%, silahkan terus mempelajari kegiatan Pembelajaran berikutnya. Tamun jika Anda pencapaian Anda masih kurang dari 80%, sebaiknya Anda ulangi kembali mempelajari kegiatan pembelajaran ini.
  • 190.
    90 KEGIATAN PEMBELAJARAN4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A A. Tujuan Setelah mempelajari materi Sistem Gerak pada Manusia, peserta diharapkan dapat: 1. Mengidentifikasi struktur dan fungsi sistem gerak pada manusia dengan benar 2. Mengkaitkan struktur dan fungsi sistem gerak dengan mekanisme gerak pada manusia dengan benar 3. Mengidentifikasi kelainan yang terjadi pada sistem gerak dengan tepat. B. Indikator Ketercapaian Kompetensi Setelah melaksanakan pembelajaran, guru pembelajar dapat menunjukkan beberapa indikator tentang keanekaragaman hayati berikut ini. 1. Menjelaskan fungsi rangka sebagai penyusun sistem gerak pada manusia 2. Menjelaskan fungsi otot sebagai penyusun sistem gerak pada manusia 3. Mendeskripsikan struktur tulang pada manusia 4. Mendeskripsikan perkembangan dan pertumbuhan tulang 5. Mendeskripsikan struktur otot pada manusia 6. Menjelaskan mekanisme kontraksi otot pada manusia 7. Mendeskripsikan hubungan antar tulang yang membentuk berbagai persendian 8. Mengidentifikasi berbagai gangguan atau penyakit pada sistem gerak manusia. KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: SISTEM GERAK PADA MANUSIA
  • 191.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 91 C. Uraian Materi Manusia mempunyai kemampuan bergerak dan berpindah tempat. Gerak terjadi oleh adanya kerja sama antara rangka dan otot. Rangka manusia disusun oleh lebih dari 200 buah tulang. Beberapa tulang saling menyatu, dan tulang-tulang yang lainnya terhubung dengan sendi oleh ligamen yang memungkinkan terjadinya pergerakan. Otot menempel pada tulang dan menghubungkan tulang yang satu dengan tulang lainnya. Otot mempunyai kemampuan berkontraksi yang dapat menggerakkan tulang dengan mekanisme tertentu sehingga otot disebut alat gerak aktif, sedang tulang disebut alat gerak pasif. Gambar 4.1. Kerjasama antara Rangka dan Otot Menghasilkan Gerakan (Sumber: http://kelipet.com/2015/09/pengertian-dan-jenis-otot/, diunduh tanggal 6/1/2016) 1. Sistem Rangka pada Manusia Manusia memiliki rangka dalam yang disusun oleh tulang keras (disebut juga tulang rangka atau tulang) dan tulang rawan. Rangka manusia dibentuk dari tulang tunggal atau gabungan tulang (seperti tengkorak) yang ditunjang oleh struktur lain, seperti ligamen (jaringan ikat yang menghubungkan antara tulang yang satu dengan tulang lainnya), tendon (jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang), dan otot. a. Guna Rangka Sistem rangka memiliki lima fungsi utama yaitu : 1) Penopang/Penegak Tubuh
  • 192.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 92 Sistem rangka menyediakan struktur yang mampu menopang seluruh tubuh. Tulang-tulang penyusun rangka secara sendiri atau dalam kelompok menyediakan tempat sangkutan bagi berbagai jaringan lunak dan organ. 2) Tempat Penyimpanan Kalsium dan Lemak Di dalam tulang terdapat berbagai mineral seperti kalsium, kalium, dan natrium. Kalsium (zat kapur) merupakan mineral utama pembentuk tulang. Apabila tubuh kekurangan kalsium, tubuh akan mengambilnya dari tulang dan jika terjadi terus menerus, tulang dapat menjadi tipis, rapuh, dan mudah patah. Selain sebagai cadangan mineral, tulang rangka menyimpan cadangan energi dalam bentuk lemak yang disimpan pada sumsum tulang kuning. 3) Penghasil Sel-Sel Darah Sel darah merah, sel darah putih, dan komponen darah lainnya dihasilkan pada sumsum tulang merah yang mengisi ruangan dalam kebanyakan tulang, terutama pada tulang pendek, tulang pipih, tulang tak beraturan, jaringan kanselus (tulang berbentuk spons) pada ujung tulang pipa, tulang rusuk, dan tulang dada. 4) Pelindung Alat-Alat Tubuh Penting Jaringan dan organ lunak dikelilingi dan dilindungi rangka. Sebagai contoh, tulang rusuk melindungi jantung dan paru-paru; tengkorak melindungi otak; ruas- ruas tulang belakang melindungi sumsum tulang belakang; gelang panggul melindungi sistem reproduksi dan sistem pencernaan. 5) Alat Pergerakan Tulang-tulang bertindak sebagai pengungkit apabila otot-otot yang melekat pada tulang itu berkontraksi menghasilkan gerakan yang bertumpu pada sendi. b. Perkembangan dan Pertumbuhan Tulang Tulang pada bayi sebagian besar disusun oleh tulang rawan. Tulang rawan, sebagian besar terdiri atas kolagen, bersifat pejal dan lentur. Dengan tumbuhnya bayi, sel-sel tulang rawan digantikan dengan tulang keras yang memiliki struktur lingkaran konsentris dari kalsium dan fosfat di antara sel-sel tulang. Proses perubahan dari tulang rawan ke sel tulang keras dinamakan penulangan (osifikasi). Proses penulangan berlanjut hingga remaja dan dewasa. Epifisis adalah area bagi pertumbuhan secara memanjang bagi tulang-tulang panjang
  • 193.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 93 sewaktu kanak-kanak. Pada masa pertumbuhan ini sel-sel pada epifisis membelah dan memanjangkan tulang. Ketika kita tumbuh, tulang bertambah keras dan bertambah berat, tetapi kelenturannya berkurang. Hal itu berarti tulang bertambah kuat tetapi mudah patah. Gambar 4.2. Pembentukan Tulang (Sumber : http://sulaiman4fun.blogspot. co.id/ 2012/07/ osifikasi-sekunder-yang-terdiri- dari.html, diunduh tanggal 6/1/2016) Gambar 4.2. di atas menunjukkan pembentukan tulang dari tulang rawan. Sewaktu embrio, semua tulang pipa pada mulanya berupa batang tulang rawan yang diselubungi oleh suatu membran (perikondrium). Sebuah pusat penulangan pertama disebut diafisis tampak di tengah jaringan yang kemudian menjadi tulang pipa. Kalsium ditimbun dalam matriks dan sel-sel tulang berkembang. Perikondrium menjadi periosteum, selanjutnya tulang tumbuh baik secara melingkar maupun memanjang. Selanjutnya tulang yang sedang tumbuh terdiri atas batang (diafisis) dan ujung (epifisis). Dalam proses perkembangan selanjutnya timbul pusat penulangan kedua di setiap ujung epifisisnya. Dalam hal ini penulangan berawal dari daerah itu dan meluas ke arah batang juga ke arah ujung setiap epifisisnya. Ujung tulang tetap ditutupi oleh tulang rawan hialin yang menjadi tulang rawan sendi. Di antara batang dan setiap ujung terdapat selapis tulang rawan. Lapisan ini disebut tulang rawan epifisis yang tetap ada sampai tulang menjadi dewasa.
  • 194.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 94 c. Struktur Tulang Tulang (osteon), terdiri atas sel-sel tulang yang banyak mengandung senyawa kapur dan fosfat. Senyawa kapur dan fosfat yang terkandung alam tulang mengakibatkan tulang menjadi keras. 1) Macam-Macam Tulang Berdasarkan Bentuk Tulang a) Tulang panjang atau tulang pipa. Kelompok tulang ini secara umum lebih panjang, lebar, berbentuk silinder dan berfungsi sebagai pengungkit. Tulang panjang terletak pada lengan atas, lengan bawah, paha, betis, telapak kaki, jari, dan ibu jari. Tulang paha merupakan tulang panjang terbesar dan terberat pada tubuh. Gambar 4.3. Struktur tulang pipa (Sumber: https://kknbergerakuntuk8f.wordpress.com/ diunduh tanggal 3/9/2015) b) Tulang pendek Tulang pendek bentuknya mirip kubus, contohnya adalah tulang-tulang pada pergelangan tangan dan tulang-tulang pada pergelangan kaki, berperan memindahkan daya. Tulang bentuk ini sebagian besar disusun oleh jaringan tulang jarang (berbentuk spons).
  • 195.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 95 Gambar 4.4. Struktur tulang pendek (Sumber: http://bone.co.id/2011/05/06/fraktur-tulang-karpal/, diunduh tanggal 3/9/2015) c) Tulang pipih Tulang pipih bentuknya tipis dan lengkung terdiri atas dua lapisan tulang kompak (tulang keras), di tengahnya terdapat lapisan tulang seperti spons. Tulang pipih antara lain membentuk atap pada tulang kepala, juga ditemukan pada tulang dada, tulang rusuk, dan tulang belikat. Tulang ini menyediakan perlindungan bagi penempatan jaringan lunak dan menyediakan permukaan bagi perlekatan otot- otot rangka. Gambar 4.5. Struktur tulang pipih (Sumber : https://kknbergerakuntuk8f.wordpress.com/, diunduh tanggal 3/9/2015)
  • 196.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 96 d) Tulang yang tidak beraturan Tulang jenis ini adalah tulang yang tidak dapat digolongkan dalam salah satu dari ketiga bentuk tadi. Tulang tersebut berfungsi sebagai tempat pelekatan otot atau persendian. Tulang tidak beraturan ditemukan pada ruas-ruas tulang belakang, tulang pada panggul, dan beberapa tulang tengkorak. Gambar 4.6. Tulang tidak beraturan (Sumber : http://abhique.blogspot.com/2009/10/anatomi-sistem-muskuloskeletal.html, diunduh tanggal 3/9/2015) e) Tulang sesamoid Umumnya berukuran kecil, pipih, dan bentuknya mirip biji wijen (lihat Gambar 7). Tulang ini berkembang di dalam tendon dan otot-otot, umumnya berada dekat sendi misal pada lutut, tangan dan tungkai. Gambar 4.7. Tulang sesamoid (Sumber : http://m.dev.tempo.co/read/news/2010/12/23/060301024/Mengatasi-Sesamoiditis, diunduh tanggal 3/9/2015)
  • 197.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 97 f) Tulang sutura Tulang sutura berukuran kecil, pipih, dan bentuknya tidak beraturan. Tulang sutura terletak di antara tulang pipih pada tengkorak, dengan jumlah, bentuk, dan posisi bervariasi pada tiap individu. Gambar 4.8. Tulang sutura (Sumber : http://www.sridianti.com/klasifikasi-sendi-berdasar-struktur-dan-fungsi.html, diunduh tanggal 3/9/2015) 2) Macam- Macam Tulang Berdasarkan Bahan Penyusun Tulang a) Tulang atau Osteon Tulang terdiri atas hampir 50% air. Bagian padat tulang, terdiri atas berbagai bahan mineral (sekitar 33,5%) terutama garam kalsium dan bahan seluler (sekitar 16,5%). Struktur tulang yang dapat dilihat dengan mata telanjang adalah struktur kasar. (1) Struktur Kasar Setiap tulang rangka berisi dua bentuk jaringan tulang yaitu (1) tulang kompak (padat) dan (2) tulang berbentuk spon. Tulang kompak selalu berada pada permukaan tulang membentuk lapisan pelindung yang kuat. Tulang spon terletak di bagian dalam tulang. Gambar 4.9. Tulang kompak dan tulang spon (Sumber : http://budisma.net/2015/01/struktur-dan-fungsi-jaringan-tulang.html, diunduh tanggal 3/9/2015)
  • 198.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 98 Gambar 4.10 di bawah ini memperlihatkan anatomi tulang paha, tulang yang mewakili tulang panjang. Tulang panjang memiliki batang yang berbentuk tubular (pipa) disebut diafisis. Pada setiap ujung tulang terdapat suatu area perpanjangan dikenal sebagai epifisis. Diafisis dihubungkan dengan setiap epifisis melalui suatu area dikenal sebagai metafisis. Gambar 4.10. Struktur Tulang Panjang (Sumber : http://fungsi.web.id/2015/05/fungsi-tulang-pada-manusia-secara-umum.html, diunduh tanggal 6/1/2016) Dinding diafisis terdiri atas lapisan tulang kompak yang mengelilingi ruang pusat disebut rongga sumsum. Epifisis sebagian besar berupa tulang berbentuk spon dengan pembungkus yang tipis disebut korteks (tulang kompak). Sel-sel pada tulang spon membentuk banyak rongga. Susunan rongga seperti itu menyediakan kekuatan untuk mendukung beban yang berat. Tulang spon bertindak sebagai bantalan yang mampu menyerap kejutan atau benturan. Rongga sumsum pada diafisis dan ruang di antara efipisis dan lempengan epifisis mengandung sumsum tulang, dan berkurang kandungan jaringan ikatnya. Dikenal ada dua macam sumsum tulang yaitu sumsum tulang kuning dan sumsum tulang merah. Sumsum tulang kuning didominasi oleh sel-sel lemak. Sumsum tulang merah sebagian besar terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, dan sel-sel induk yang menghasilkan kedua jenis sel darah tersebut. Sumsum tulang kuning merupakan cadangan energi yang penting, juga dapat membuat sel-sel darah dalam keadaan darurat, misalnya setelah orang mengalami perdarahan. Gambar 4.11. memperlihatkan struktur tulang pipih pada tengkorak (tulang pelipis). Struktur tulang pipih mirip sandwich, dengan lapisan tulang kompak di bagian luarnya yang menutupi bagian tengah berisi tulang spon. Meskipun
  • 199.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 99 sumsum tulang terdapat di dalam tulang spon, namun tidak terdapat rongga sumsum. Gambar 4.11. Struktur Tulang Pipih (Sumber : Setiawan, 2007) (2) Struktur Halus Periosteum adalah membran yang melapisi dan melekat erat pada bagian luar tulang, kecuali di antara persendian karena di bagian ini dilapisi oleh tulang rawan. Di dalam periosteum banyak terdapat pembuluh darah. Pembuluh darah yang berasal dari periosteum bercabang-cabang ke dalam tulang. Periosteum penting untuk menebalkan tulang dan menyembuhkan patah tulang (fraktur). Pada irisan melintang tulang kompak, dapat dilihat adanya suatu bentuk yang terdiri atas lingkaran-lingkaran atau lempengan konsentris (lihat Gambar 12). Di dalam pusat setiap lingkaran terdapat suatu saluran yang disebut saluran Havers. Lempengan tulang atau lamela disusun konsentris sekitar saluran havers. Di antara lempeng itu terdapat ruang-ruang kecil disebut lakuna. Lakuna mengandung sel-sel tulang yang saling bersambungan satu dengan yang lain, juga disambungkan dengan saluran Havers di bagian tengah oleh saluran kecil yang disebut kanalikuli. Satu sistem Havers yang lengkap adalah sebagai berikut. − Saluran Havers, berada di pusat berisi urat saraf, pembuluh darah, dan pembuluh limfe. − Lamela (lempeng tulang) yang tersusun memusat. − Lakuna yang mengandung sel tulang.
  • 200.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 100 − Kanalikuli yang memancar di antara lakuna dan menggandengkannya dengan saluran Havers. Gambar 4.12. Struktur Mikroskopik Tulang Kompak: A. Bagian tulang panjang dalam irisan melintang dan membujur B. Tiga lamela yang konsentris mengelilingi saluran Havers (Sumber: Setiawan, 2007) Tulang terdiri atas sel-sel dan matriks. Matriks adalah kompenen non hidup pada jaringan ikat, yang dibangun atas suatu anyaman serat yang terbenam dalam suatu bahan dasar homogen. Bahan dasar homogen ini biasanya berbentuk cairan, ada pula yang berbentuk jeli, ataupun berupa padatan. Jenis-jenis matriks adalah : − semen, tersusun dari molekul karbohidrat; − kolagen, bentuknya seperti serat; − mineral, misalnya kalsium, fosfat, dan karbonat. Ada tiga jenis sel tulang, yaitu: − osteoblas, sel yang membangun tulang; − osteosit, sel tulang yang matang; dan − osteoklas, yaitu sel yang menghancurkan tulang.
  • 201.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 101 Dengan aksi dari sel-sel tersebut, tulang dalam keadaan hidup dibentuk dan dihancurkan secara terus menerus. (3) Tulang Rawan atau Kartilago Tulang rawan terbuat dari bahan yang padat, bening, dan putih kebiru-biruan, bersifat sangat kuat. Tulang tersebut ditemukan terutama pada sendi dan di antara dua tulang. Tulang rawan tidak mengandung pembuluh darah, tetapi diselubungi membran, yaitu perikondrion, tempat tulang rawan mendapatkan darah. Tiga jenis utama tulang rawan : • Tulang rawan hialin Terdiri atas serabut kolagen (serat berbahan protein sejenis gelatin) yang terbenam dalam bahan dasar yang bening dan ulet. Dijumpai menutupi ujung tulang pipa sebagai tulang rawan sendi. Juga pada tulang rawan rusuk, pada hidung, laring, trakea, dan pada bronkus. • Tulang rawan fibrosa Tulang rawan fibrosa disusun oleh berkas-berkas serabut dengan sel tulang rawan tersusun di antara berkas serabut itu, dijumpai pada tempat yang memerlukan kekuatan besar. Tulang rawan fibrosa ada di bagian dalam rongga tulang panggul, dan tulang belikat. Juga sebagai tulang rawan penghubung seperti pada cakram intervertebralis pada tulang belakang, dan bantalan tulang rawan pada tulang kemaluan. • Tulang rawan elastik Sering disebut tulang rawan elastik kuning, karena mengandung sejumlah besar serabut elastik berwarna kuning. Terdapat pada daun telinga, epiglotis, dan tabung Eustachius. Jika ditekan atau dibengkokkan terasa lentur dan cepat kembali ke bentuknya semula. d. Struktur Rangka 1) Sistem Rangka a) Rangka Badan (Aksial), terdiri atas : − Tengkorak (terdiri atas 8 buah tulang kranium atau tempurung kepala dan 14 buah tulang wajah).
  • 202.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 102 − Tulang-tulang yang berhubungan dengan tengkorak (terdiri atas 6 buah tulang pendengaran dan 1 buah tulang hioid). − Rangka dada (terdiri atas 1 buah tulang dada dan 24 buah tulang rusuk) − Rangkaian tulang belakang (terdiri atas 7 ruas tulang leher, 12 ruas tulang belakang bagian dada, 5 ruas tulang bagian pinggang 1 buah tulang kelangkang yang disusun oleh 5 ruas yang rudimenter menjadi satu, dan 1 buah tulang tungging yang disusun oleh 4 ruas yang rudimenter menjadi satu). Tengkorak Tulang-tulang pada tengkorak melindungi otak dan menjaga saluran masuk sistem pencernaan (rongga mulut) serta lobang masuk sistem respirasi (rongga hidung). Tengkorak terdiri atas 22 buah tulang, yaitu 8 buah tulang yang membentuk tempurung kepala (kranium) dan 14 buah tulang yang bersambungan membentuk tulang wajah. Tujuh buah tulang tambahan bergabung dengan tengkorak yaitu 6 buah tulang- tulang pendengaran (tulang landasan, martil, dan sanggurdi masing-masing satu pasang) berada di sebelah dalam tulang pelipis, dan tulang hioid dihubungkan dengan bagian bawah tulang pelipis oleh sepasang ligamen. Tempurung kepala terdiri atas 8 buah tulang, yaitu 1 buah tulang kepala belakang, 2 buah tulang ubun-ubun, 1 buah tulang dahi, 2 buah tulang pelipis, 1 buah tulang baji, dan 1 buah tulang tapis yang tersambung oleh sutura. Tempurung kepala memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi tulang tengkorak adalah melindungi otak. Tulang Belakang Ruas-ruas tulang belakang disusun oleh 33 buah tulang kecil yang dikenal sebagai vertebra. Ruas-ruas tulang belakang melindungi sumsum tulang belakang. Setiap tonjolan tulang belakang merupakan satu ruas tulang yang terpisah. Di antara tulang-tulang itu terdapat lempengan tulang rawan disebut cakram yang bertindak sebagai bantalan untuk meredam kejutan. Ruas-ruas tulang belakang dibagi dalam beberapa daerah.
  • 203.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 103 − Ruas-ruas tulang leher (7 buah) terdapat pada daerah leher yang mendukung kepala. Adanya ruas-ruas tulang ini membuat leher dapat lentur dan memungkinkan kepala dapat digerakkan ke berbagai arah. − Di bawah leher terdapat 12 ruas tulang belakang bagian dada. Tulang ini ikut membantu mendukung kerangka rongga dada. − Selanjutnya 5 buah ruas tulang belakang bagian pinggang merupakan penyangga utama berat badan. Tulang pinggang merupakan ruas tulang belakang terbesar dan terkuat. − Selanjutnya 5 ruas tulang kelangkang yang menyatu di daerah kelangkang. Tulang ini pun menyatu dengan tulang panggul di kedua sisinya. Gabungan tulang kelangkang dengan tulang usus disebut tulang panggul. Di bawah tulang kelangkang terdapat tulang tungging (tulang ekor) yang terdiri atas 3 – 5 ruas tulang yang menyatu. Rangka Dada Tulang-tulang pada daerah dada membentuk sejenis sangkar yang melindungi jantung dan paru-paru. Tulang dada merupakan tulang pipih berada di bagian tengah dan depan rongga dada. Tulang dada merupakan tempat melekatnya tulang rusuk dan otot-otot yang membantu kita bernapas. Tulang rusuk juga melindungi jantung. Tujuh pasang tulang rusuk paling atas pada ujungnya terdapat tulang rawan dan langsung bersambungan dengan tulang dada. Tiga pasang tulang rusuk di bawahnya tidak langsung berhubungan dengan tulang dada. Ketiga pasang tulang ini berhubungan dengan tulang rawan yang menyambung pada tulang dada. Dua pasang tulang rusuk paling bawah sama sekali tidak melekat pada tulang dada. Kedua pasang tulang rusuk ini hanya melekat di bagian belakang. b) Rangka Anggota Gerak (Apendikular) Gelang Bahu Tulang belikat bersama tulang selangka membentuk gelang bahu. Gelang bahu menyediakan tempat hubungan bagi lengan pada rangka aksial. Lengan Salah satu ujung tulang lengan atas melekat pada gelang bahu. Ujung bawah bertemu dengan dua buah tulang lengan bawah pada sendi siku.
  • 204.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 104 Tangan Terdapat delapan buah tulang pada pergelangan tangan, tersusun atas dua baris, empat tulang dalam setiap baris. Adanya tulang ini membuat pergelang tangan leluasa bergerak. Tulang-tulang pergelangan tangan bersambungan dengan lima tulang yang membentuk telapak tangan. Setiap jari memiliki tiga buah tulang, kecuali pada ibu jari yang hanya dua tulang. Ujung ibu jari dapat menyentuh semua ujung jari lainnya. Gelang Panggul Tulang panggul membentuk gelang yang kuat dapat menyeimbangkan berat tubuh pada kaki. Gelang panggul juga melindung kebanyakan organ yang ada pada rongga perut, khususnya organ reproduksi. Walaupun gelang panggul terdiri atas banyak tulang, tulang-tulang itu bersambungan sangat erat dan menyatu, sehingga tampaknya hanya sebuah tulang. Tungkai Tulang paha merupakan tulang terbesar, terkuat, dan terberat di dalam tubuh. Hal itu disebabkan tulang paha harus mendukung berat tubuh bagian atas sewaktu berjalan, berlari, atau sewaktu kita melompat. Masing-masing tulang paha memanjang dari panggul sampai lutut. Di bawah lutut, terdapat dua buah tulang yang lebih kecil yang membagi beban berat tubuh. Tulang yang lebih besar (tulang kering) menyangga beban lebih banyak yang berasal dari tulang paha dan diteruskan pada kaki. Tulang yang lebih kecil (tulang betis) membantu tumit bergerak dengan leluasa. Tempurung lutut selalu berada di tempatnya, diikat oleh tendon dari otot sekitarnya. Tulang ini melindungi sendi lutut dan memungkinkan lutut membengkok secara halus. Kaki Struktur kaki mirip struktur tangan, tetapi kaki lebih kuat dan lebih kaku. Sebagaimana halnya tangan, lima buah tulang membentuk telapak kaki. Tulang- tulang ini berhubungan dengan tulang-tulang jari kaki. Ibu jari kaki, mirip dengan ibu jari tangan, hanya terdiri atas dua buah tulang. Jari kaki lainnya terdiri atas tiga buah tulang. Tulang terbesar pada kaki dan tulang yang terkecil pada jari kaki berperan menyerap kejutan sewaktu berjalan.
  • 205.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 105 e. Sendi Tempat bertemunya dua buah tulang dinamakan sendi. Sendi diikat oleh ligamen dan tendon. Terdapat tiga jenis sendi (1) sendi dengan gerakan bebas, (2) sendi dengan gerakan terbatas, (3) sendi yang tidak dapat bergerak. Sendi dengan gerakan bebas ada 4 jenis, yaitu (1) sendi engsel; (2) sendi putar; (3) sendi luncur/pelana; dan (4) sendi peluru. Sendi engsel adalah jika gerakan dapat dilakukan ke satu arah. Contoh sendi engsel adalah sendi pada lutut dan siku. Gambar 4.13. Sendi engsel (Sumber : Setiawan, 2007) Pada sendi putar, tulang yang satu mengitari tulang yang lain. Bentuk seperti ini memungkinkan tulang itu saling menyilang. Contoh, ujung dua buah tulang pada lengan bawah, tulang hasta dan pengumpil, bertemu membentuk sendi putar pada siku. Gambar 4.14. Sendi putar (Sumber : Setiawan, 2007) Sendi pelana memungkinkan tulang yang satu meluncur pada tulang yang lain. Tulang-tulang pada pergelangan tangan membentuk sendi pelana, dengan fleksibilitas yang tinggi. Sendi semacam ini terdapat juga pada tulang-tulang pergelangan kaki.
  • 206.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 106 Gambar 4.15. Sendi pelana (Sumber: Setiawan, 2007) Sendi peluru terbentuk dengan ujung tulang yang berbentuk bola masuk pada bagian tulang lainnya yang berbentuk mangkuk. Sendi yang terdapat pada bahu dan panggul merupakan contoh sendi ini. Sendi peluru memungkinkan gerakan ke semua arah. Gambar 4.16. Sendi peluru Sumber: http://biologipedia.blogspot.com/2010/10/sendi-pelana.html, diunduh tanggl 4/9/2015) 2. Sistem Otot Manusia − Otot Lurik Dikatakan otot lurik karena adanya daerah gelap dan daerah yang terang berselangan kalau dilihat dengan mikroskop. Otot lurik diisebut juga otot sadar karena bekerja menurut perintah otak. − Otot Polos Di bawah mikroskop otot polos tampak polos. Bekerjanya dibawah kesadaran kita, misalnya pada rahim, usus, pembuluh darah, dan saluran kelamin. − Otot Jantung Bekerjanya dibawah kesadaran kita, bentuknya bergaris melintang. Otot jantung hanya terdapat pada dinding jantung.
  • 207.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 107 a. Struktur anatomi otot Setiap otot terdiri dari beberapa ratus hingga beberapa ribu sel otot. Di dalam setiap sel otot terdapat banyak struktur yang mirip benang yang disebut miofibril. Gambar 4.17. Struktur otot (Sumber : http://contohlaporan.blogspot.com/2009/11/mekanisme-kerja-otot.html, diunduh tanggal 4/9/2015) Pada setiap miofibril terdapat banyak filamen tebal dan filamen tipis yang susunannya sejajar. Setiap filamen tipis terdiri atas dua untaian manik-manik yang saling berpilin. Butir-butir manik-manik tersebut adalah molekul globular dari aktin. Setiap filamen tebal terdiri atas sekumpulan molekul miosin. Aktin dan miosin merupakan protein yang menggerakkan otot. Molekul miosin memiliki bagian kepala dan bagian ekor yang panjang. Molekul aktin dan miosin merupakan komponen dari sarkomer. b. Mekanisme Kontraksi Otot Otot dalam tubuh akan berkontraksi jika mendapatkan rangsangan. Proses kontraksi otot didahului dengan datangnya impuls saraf. Ribuan filamen aktin disusun sejajar satu sama lain di sepanjang sel otot, yang diselingi dengan filamen yang lebih tebal yang terbentuk dari protein yang disebut miosin (gambar 4.18). Gambar 4.18. Aktin dan miosin dalam sel otot (Sumber : Campbell, 2002)
  • 208.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 108 Kontraksi sel otot terjadi akibat filamen aktin dan miosin yang saling meluncur melewati yang lain, yang akan memperpendek selnya. Dalam sel otot, filamen aktin terletak sejajar dengan filamen miosin tebal. Miosin bertindak sebagai molekul motor dengan bantuan lengan yang “menjalankan” kedua jenis filamen itu untuk saling melewati yang lainnya. Kerja tim dari banyak filamen yang meluncur seperti ini membuat seluruh sel otot dapat memendek. Gambar 4.19. Filamen aktin dan miosin yang saling meluncur (Sumber : http://deborafilifos.blogspot.com/2013/03/sistem-otot.html, diunduh tanggal 4/9/2015) c. Cara Kerja Otot 1) Otot sinergis Yaitu hubungan antar otot yang cara kerjanya saling mendukung/bekerja sama/menimbulkan gerakan yang searah. Untuk menggerakan tulang dari satu posisi ke posisi yang lain, kemudian kembali ke posisi semula, diperlukan paling sedikit dua macam otot dengan kerja berbeda. Contoh: • Seluruh otot pronator yang mengatur pergerakan telapak tangan untuk menelungkup. • Seluruh otot supinator yang mengatur pergerakan telapak tangan menengadah. 2) Otot antagonis Otot antagonis adalah dua otot atau lebih yang tujuan kerjanya berlawanan. Contoh otot antagonis adalah otot bisep dan trisep. Untuk mengangkat lengan
  • 209.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 109 bawah, otot bisep berkontraksi dan otot trisep berelaksasi. Untuk menurunkan lengan bawah, otot trisep berkontraksi dan otot bisep berelaksasi. Macam otot antagonis: • Otot ekstensor (meluruskan) dengan fleksor (membengkokkan). • Otot abductor (menjauhi sumbu badan) dengan adductor (mendekatisumbu badan). • Otot supinator (menengadah) dengan pronator (menelungkup). • Otot depressor (gerakan ke bawah) dengan elevator (gerakan ke atas). 3. Gangguan/Penyakit pada Sistem Rangka a. Osteoporosis Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang menjadi tipis, rapuh, keropos dan mudah patah akibat berkurangnya massa tulang, khususnya kalsium yang terjadi pada waktu lama. Komplikasi serius dari osteoporosis yang sering terjadi adalah patah tulang. b. Patah Tulang Patah tulang disebut juga fraktura dapat berupa sebagian dapat pula seluruhnya. Gambar 19. memperlihatkan tiga bentuk patah tulang. 1) “Fraktura batang hijau” merupakan patah tulang sebagian yang umum terjadi pada anak-anak. 2) Patah tulang sederhana terjadi jika tulang retak menjadi dua bagian, tetapi ujung tulang yang patah tidak keluar kulit. 3) patah tulang riuk (terbuka), ujung tulang yang patah menyobek kulit dan muncul ke luar. Pada patah tulang jenis ini ujung tulang yang keluar mudah diserang bibit penyakit. Gambar 4.20.Tiga Bentuk Patah Tulang kiri:green-stick; tengah: sederhana; kanan: terbuka (Sumber: Setiawan, 2007)
  • 210.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 110 c. Luka pada Sendi Kecelakaan pada sendi yang paling umum adalah keseleo. Keseleo terjadi jika ligamen dan tendon di sekitar sendi terenggut. Pada keseleo yang hebat jaringan itu dapat robek. Bentuk lain kecelakaan pada sendi adalah dislokasi. Pada kasus dislokasi, ujung tulang tertarik ke luar sendi. Ligamen yang menghubungkan tulang pada sendi terenggut dan sobek. Bursitis merupakan masalah sendi yang tidak secara langsung berhubungan dengan luka. Bursitis merupakan peradangan dengan rasa sakit pada kantung kecil di dekat sendi. Kantung ini, disebut bursae, terletak di antara tendon atau di antara tendon dan tulang. Tanpa kantung ini tendon akan bergesekan satu dengan yang lainnya. d. Masalah pada Kaki Ketika kita berdiri dengan telapak kaki menempel pada lantai, tampak bahwa bagian tengah telapak kaki kita tidak menyentuh lantai. Bagian ini dinamakan lengkung kaki. Lengkung kaki terbentuk dari susunan tulang-tulang pada kaki dan tekanan di antara tulang-tulang itu yang diikat oleh ligamen dan otot. Struktur ini membuat telapak kaki mirip pegas. Jika kaki menginjak lantai, lengkung kaki sedikit memipih lalu melengkung kembali. Kerja pegas ini mampu meredam kejutan dan menggunakan energi untuk melengkungkan kembali lengkung kaki pada langkah berikutnya. Kadangkala lengkung kaki menjadi pipih. Hal itu berarti semua bagian alas kaki menyentuh lantai. Hal itu berakibat berat badan tidak berada di pusat. Membuat kulit dan otot pergelangan kaki bekerja lebih berat untuk menyeimbangkan tubuh. Sakit pada lengkung kaki, pergelangan kaki, dan otot betis merupakan pertanda turunnya lengkung kaki. Wanita yang mengenakan sepatu dengan hak tinggi dapat menyebabkan lengkung kaki memipih. Sepatu dengan bantalan kecil, disebut arch supports dapat membantu keadaan ini. Problem pada kaki lainnya adalah bunion. Bunion merupakan pembengkakan yang berat pada sendi ibu jari kaki. Bunion dapat disebabkan oleh arthritis atau tidak seimbangnya otot pada kaki dan tungkai. Juga dapat disebabkan karena menggunakan sepatu sempit yang menekan jari secara bersamaan. Persendian
  • 211.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 111 pada ibu jari merupakan sendi engsel yang memungkinkan ibu jari bergerak ke atas dan ke bawah. Mengenakan sepatu sempit, mengakibatkan jari dan sendi mendapat tekanan dari satu sisi. Pada tahap awal terbentuk bunion, sepatu yang lebar diperlukan, namun pembedahan sangat diperlukan pada kasus lanjutan. e. Arthritis Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan dan pengembangan jaringan di sekitar sendi. Dengan beberapa macam arthriris, sendi menjadi kaku dan terjadi kerusakan tetap karena robeknya jaringan sendi. D. Aktivitas Pembelajaran LEMBAR KEGIATAN 1 MENGAMATI STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN TULANG Pendahuluan Sel tulang keras dinamakan osteosit yang dibentuk secara berurutan dari dalam sel ke luar sehingga proses pembentukannya konsentris. Setiap sel tulang keras yang proses pembentukannya konsentris melingkari suatu pembuluh darah dan saraf membentuk suatu Sistem Havers. Sel-sel tulang dihubungkan satu sama lainnya dengan kanalikuli (saluran kecil). Sel-sel tulangpun dihubungkan dengan saluran Havers melalui saluran kecil. Sel tulang rawan disebut kondrosit. Kondrosit ditemukan dalam rongga yang disebut lakuna, yang bersifat lentur. Tidak seperti tulang-tulang keras, tulang rawan tidak mempunyai pembuluh darah. Sel tulang rawan memperoleh zat-zat dengan cara difusi dari pembuluh darah terdekat. Gambar 4.21. Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang keras
  • 212.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 112 Gambar 4.22. Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang rawan Tujuan Mengetahui perbedaan antara struktur tulang keras dan struktur tulang rawan. Alat dan bahan 1. Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang keras 2. Sediaan kering penampang melintang jaringan tulang rawan. Cara kerja 1. Amatilah sediaan kering tulang keras dengan menggunakan mikroskop pembesaran 40X. Gambarlah jaringan tulang keras preparat yang Anda lihat. 2. Tulis nama bagian yang disebut osteosit dan saluran Havers. 3. Amatilah sediaan keting tulang rawan dnegan menggunakan mikroskop pembesaran 40X. Gambarlah sel tulang rawan seperti pada preparat yang Anda lihat. 4. Gantilah lensa mikroskop dengan pembesaran 100X. Amatilah struktur tulang rawan. Gambarlah stuktur tulang rawan preparat yang Anda lihat. 5. Tulis nama-nama bagian tulang rawan. Hasil pengamatan 1. Gambar jaringan tulang keras 2. Gambar sel tulang rawan
  • 213.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 113 LEMBAR KEGIATAN 2 I. Tujuan Peserta dapat memahami materi sistem gerak pada manusia II. Jawablah pertanyaan berikut! 1. Jelaskan karakteristik otot sebagai alat gerak aktif! 2. Jelaskan perbedaan antara otot polos, otot lurik, dan otot jantung! Letak inti sel: .................................................................................. Jumlah inti sel: ............................................................................... Bentuk sel: ..................................................................................... Sifat kerja sel: ................................................................................ Letak inti sel: .................................................................................. Jumlah inti sel: ................................................................................ Bentuk sel: ...................................................................................... Sifat kerja sel: ................................................................................. Letak inti sel: .................................................................................. Jumlah inti sel: ................................................................................ Bentuk sel: ..................................................................................... Sifat kerja sel: ................................................................................
  • 214.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 114 3. Perhatikanlah gambar di Lembar Kegiatan! 4. Berilah keterangan pada setiap bagian otot yang ditunjuk pada gambar tersebut! 5. Jelaskanlah mekanisme gerak otot! 6. Jelaskanlah (minimal 4) macam gangguan pada sistem otot! E. Latihan/Kasus/Tugas 1. Berikut adalah fungsi rangka, kecuali …. a. membentuk sel darah b. melindungi alat tubuh yang lemah c. alat gerak pasif d. tempat melekatnya otot polos 2. Sendi peluru ditunjukkan oleh hubungan antara tulang …. a. lengan atas dengan tulang belikat b. tulang selangka dengan tulang dada c. tulang lengan atas dengan tulang rusuk d. tulang rusuk dengan tulang belikat 3. Pembengkokan tulang kearah samping disebut …. a. lordosis b. kifosis c. skoliosis d. layuh semu 4. Infeksi sifilis pada anak dalam kandungan dapat menyebabkan kerusakan cakra epifise tulang pipa. Hal ini dapat mengakibatkan tulang menjadi tidak bertenaga, disebut …. a. urai sendi b. fraktura c. layuh semu d. patah tulang
  • 215.
    LISTRIK untuk SMP KEGIATANPEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A Modul Guru Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA 115 5. Contoh sinartrosis antara lain hubungan …. a. antara tulang tengkorak b. tulang duduk dan tulang paha c. tulang jari-jari dan tulang telapak tangan d. ruas-ruas tulang pinggang F. Rangkuman Gerak terjadi oleh adanya kerja sama antara rangka dan otot. Otot menempel pada tulang dan menghubungkan tulang yang satu dengan tulang lainnya. Otot mempunyai kemampuan berkontraksi yang dapat menggerakkan tulang dengan mekanisme tertentu sehingga otot disebut alat gerak aktif, sedang tulang disebut alat gerak pasif. Sistem rangka memiliki lima fungsi utama yaitu sebagai penopang/penegak tubuh, tempat penyimpanan kalsium dan lemak, penghasil sel-sel darah, pelindung alat-alat tubuh penting, dan sebagai alat pergerakan. Tulang pada bayi sebagian besar disusun oleh tulang rawan. Dengan tumbuhnya bayi, sel-sel tulang rawan digantikan dengan tulang keras yang memiliki struktur lingkaran konsentris dari kalsium dan fosfat di antara sel-sel tulang. Proses perubahan dari tulang rawan ke sel tulang keras dinamakan penulangan (osifikasi). Berdasarkan bentuknya, tulang-tulang itu dibedakan menjadi: tulang panjang/tulang pipa, tulang pendek, tulang pipih, tulang tidak beraturan, tulang sesamoid, dan tulang sutura. Menurut bahan penyusunnya, tulang dapat dikelompokkan atas tulang keras atau biasa disebut tulang saja (osteon) dan tulang rawan (kartilago). Sistem rangka terdiri dari rangka badan (rangka aksial) dan rangka anggota gerak (rangka apendikular). Komponen rangka aksial adalah tengkorak dan tulang-tulang yang berhubungan dengan tengkorak, rangka dada, dan rangkaian tulang belakang. Lengan (gelang bahu, lengan, dan tangan) serta tungkai (gelang panggul, tungkai, dan kaki) yang berhubungan dengan rangka aksial membentuk rangka apendikular. Tempat bertemunya dua buah tulang dinamakan sendi. Konstruksi sendi bervariasi semuanya memungkinkan tulang-tulang pada sambungan itu bergerak, atau mencegah terjadinya gerakan. Tiga jenis sendi adalah (1) sendi dengan gerakan bebas, (2) sendi dengan gerakan terbatas, (3) sendi yang tidak
  • 216.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN KELOMPOK KOMPETENSI A 116 dapat bergerak. Ada empat jenis sendi dengan gerakan bebas, yaitu (1) sendi engsel; (2) sendi putar; (3) sendi luncur/pelana; dan (4) sendi peluru. Dilihat dari bentuk dan cara kerjanya jaringan otot dibagi menjadi 3 macam, yaitu: Otot Lurik (otot bergaris melintang), otot polos, dan otot jantung. Di dalam setiap sel otot terdapat banyak struktur yang mirip benang yang disebut miofibril. Otot dalam tubuh akan berkontraksi jika mendapatkan rangsangan. Kontraksi sel otot terjadi akibat filamen aktin dan miosin yang saling meluncur melewati yang lain, yang akan memperpendek selnya. Berdasarkan cara kerjanya dibedakan menjadi : Otot sinergis dan otot antagonis. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Setelah mempelajari materi sistem gerak pada manusia pada modul ini, Anda dapat meningkatkan pemahaman Anda dengan mencari literatur dari sumber lain yang relevan dengan materi ini, menganalisis video yang berkaitan dengan mekanisme gerak pada manusia, atau mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam mempelajari materi ini pada forum MGMP.
  • 217.
    117KUNCI JAWABAN LATIHAN/KASUS/TUGAS KELOMPOKKOMPETENSI A A. KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 1: EKOSISTEM 1 2 3 4 5 A C A D D B. KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 2: KEANEKARAGAMAN HAYATI 1 2 3 4 5 B A C B B C. KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 3: STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN MAKHLUK HIDUP 1 2 3 4 5 6 7 A B C D B B C D. KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 4: SISTEM GERAK PADA MANUSIA 1 2 3 4 5 D A C C A KUNCI JAWABAN LATIHAN/KASUS/TUGAS
  • 220.
    119EVALUASI KELOMPOK KOMPETENSI A Pilihlahsatu jawaban yang paling tepat. 1. Bagian tulang pipa yang dapat tumbuh memanjang adalah …… A. diafise B. epifise C. osteoblas D. cakra epifise 2. Sendi putar adalah bentuk sendi yang memungkinkan gerakan ….. A. bebas dan berporos tiga B. rotasi dan berporos satu C. maju mundur dan berporos dua D. menggeser dan tak berporos 3. Kebiasaan membawa tas hanya di salah satu sisi bahu dapat menyebabkan terjadinya kelainan tulang …. A. lordosis C. skoliosis B. kifosis D. nekrosis 4. Gerak menengadahkan tangan dan menelungkupkan tangan merupakan gerak …. A. fleksi – ekstensi B. adduksi - abduksi C. elevasi – depresi D. supinasi – pronasi EVALUASI
  • 221.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud EVALUASI KELOMPOK KOMPETENSI A 120 5. Saat kita menarik napas dan mengembuskan nafas, otot-otot antar tulang rusuk bekerja secara …… A. sinergis B. antagonis C. abduksi D. elevasi 6. Kelompok-kelompok hewan yang ada di padang rumput dalam konsep ekosistem merupakan… A. ekosistem B. species C. populasi D. komunitas Soal 7 dan 8 berdasarkan gambar berikut! (sumber: http://www.temukanpengertian.com/2015/08/pengertian-redasi.html?m=0) 7. Bentuk interaksi pada gambar di atas adalah… A. kompetisi B. parasitisme C. predasi D. mutualisme 8. Interaksi itu terjadi antara… A. individu dengan individu B. populasi dengan populasi C. biotik dengan abiotik D. spesies dengan spesies
  • 222.
    LISTRIK untuk SMP EVALUASI KELOMPOKKOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran IPA SMA 121 9. Parasit yang hidup menempel pada inangnya dan mengambil zat makanan dari tubuh inangnya disebut… A. hemiparasit B. parasit fakultatif C. endoparasit D. parasit obligat 10. Komponen abiotik dalam suatu ekosistem adalah… A. mikroba, cahaya, suhu B. tanah, air, mikroba C. tanah, udara, bakteri D. suhu, cahaya matahari, tanah 11. Dampak yang terjadi terhadap kesejahteraan manusia dari adanya keanekaragaman genetik pada organisme adalah: A. Mengurangi tingkat kesejahteraan dan sumber plasma nutfah B. Memperkaya sumber plasma nutfah untuk menciptakan bibit baru C. Rekayasa genetika dapat merusak keberadaan plasma nutfah. D. Menyulitkan pengenalan sumber alam hayati secara menyeluruh 12. Keunikan jenis-jenis hewan yang tersebar di daerah Australis, yaitu …. A. banyak hewan berkantung B. banyak jenis-jenis hewan primata C. spesies mamalia berukuran tubuh besar D. banyak jenis burung yang bersuara merdu 13. Faktor yang tidak mempengaruhi pola penyebaran fauna di Indonesia yaitu ... A. Pergerakan lempeng bumi B. Adanya barrier geologis C. Upaya introduksi jenis makhluk hidup D. Tipe flora dan fauna dari daerah penyangganya
  • 223.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud EVALUASI KELOMPOK KOMPETENSI A 122 14. Jenis kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang panjang, kacang buncis, dan kacang kedelai, merupakan contoh dari keanekaragaman hayati tingkat .... A. Genetik B. Jenis C. Populasi D. Ekosistem 15. Salahsatu faktor yang dapat menyebabkan kepunahan makhluk hidup yaitu .... A. Penangkaran hewan langka di luar habitatnya B. Penggunaan bibit unggul secara masif C. Pengendalian overpopulasi pada hewan D. Pembangunan koridor pada habitat yang terfragmentasi 16. Akibat dari pertumbuhan primer yang dihasilkan oleh meristem apikal adalah.... A. tumbuhan semakin tinggi B. tumbuhan semakin besar ke samping C. tumbuhan segera berbunga D. tumbuhan semakin mengeras lapisan luarnya 17. Struktur pada jaringan epidermis daun yang merupakan diferensiasi dari sel-sel epidermis yang dapat membuka dan menutup, dan tempat terjadinya pertukaran gas adalah …. A. Trikomata B. Stomata C. Kutikula D. Lentisel
  • 224.
    LISTRIK untuk SMP EVALUASI KELOMPOKKOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran IPA SMA 123 18. Jaringan yang dapat ditemukan di hampir setiap organ tumbuhan dan bisa memiliki beragam fungsi adalah … A. Epidermis B. Meristem C. Parenkim D. Pembuluh 19. Jaringan parenkim pada tumbuhan terletak di … A. Bagian batang tumbuhan dikotil B. Bagian batang tumbuhan monokotil C. Bagian daun semua jenis tumbuhan D. Semua bagian tumbuhan 20. Xilem adalah jaringan yang berfungsi untuk A. Mengisi organ tanaman B. Mengangkut air dan mineral dari akar C. Menghantarkan gas D. Mendistribusikan hasil fotosintesis
  • 227.
    PENUTUP KELOMPOK KOMPETENSI A 125 ModulProfesional Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi Kelompok Kompetensi A yang berjudul Ekosistem, Keanekaragaman hayati, Struktur & Fungsi Jaringan disiapkan untuk membantu guru. Materi modul disusun sesuai dengan kompetensi pedagogik yang harus dicapai guru pada Kelompok Kompetensi A. Guru dapat belajar dan melakukan kegiatan ini sesuai dengan rambu-rambu/instruksi yang tertera pada modul baik berupa diskusi materi, eksperimen, latihan dsb. Modul ini juga mengarahkan dan membimbing guru pemblajar dan para widyaiswara/fasilitator untuk menciptakan proses kolaborasi belajar dan berlatih. Untuk pencapaian kompetensi pada Kelompok Kompetensi A ini, guru diharapkan secara aktif menggali informasi, memecahkan masalah dan berlatih soal-soal evaluasi yang tersedia pada modul. Isi modul ini masih dalam penyempurnaan, masukan-masukan atau perbaikan terhadap isi modul sangat kami harapkan. PENUTUP
  • 230.
    DAFTAR ISI PUSTAKA KELOMPOKKOMPETENSI A 127 DAFTAR PUSTAKA Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G., 1997. Biology: Concepts & Connections Callifornia: Benjamin/Cumming Publishing Co. Chaerun Anwar dan Dedi M. Rachman. 2002. Intisari Biologi SMU. Penerbit Bandung: Pustaka Setia. Irwan, Z. D. 2003. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem, Komunitas, dan Lingkungan. Jakarta: Bumi Aksara. Soemarwoto, O., 2001. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan. Tim OBI. 2004. Biologi Untuk SMA: Ringkasan Materi Olimpiade Biologi Internasional. Bandung: OBI-Dirjen Dikmenum.
  • 233.
    GLOSARIUM KELOMPOK KOMPETENSI A 129 Asimilasi: penyerapan bahan-bahan sederhana oleh organisme dan diubah menjadi molekul-molekul kompleks. Autotrof : organisme yang dapat membuat makanan sendiri dari bahan anorganik di alam. Biomassa : berat semua organisme yang berada dalam satu tingkat trofik kehidupan. Dekomposer : makhluk hidup yang menyerap nutrisi dari organisme yang telah mati, baik tumbuhan maupun hewan, kemudian mengubahnya menjadi bentuk anorganik. Ekosistem : suatu komunitas dengan lingkungan fisik tempat hidupnya. Ekologi : cabang biologi yang mempelajari hubungan antara organisme dengan lingkungan sekitarnya Fotoautotrof : organisme yang menggunakan energi cahaya matahari dalam membuat makanan. Fotosintesis : pengubahan energi cahaya menjadi energi kimiawi yang disimpan dalam bentuk glukosa atau senyawa organik lainnya; terjadi pada tumbuhan, algae, dan prokariotik tertentu Herbivora : organisme pemakan tumbuhan, contoh : rusa, sapi, dan banteng Heterotrof : organisme yang mendapatkan makanan dari luar tubuhnya karena tidak dapat membuat makanannya sendiri. Iklim Pola cuaca, khususnya menegnai GLOSARIUM
  • 234.
    PPPPTK IPA Direktorat JenderalGuru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud GLOSARIUM KELOMPOK KOMPETENSI A 130 suhu,kelembapan,keadaan angin,dan tekanan udara pada suatu wilayah selama setahun,dipengaruhi oleh bletak geografi,ketinggian dari permukaan laut dan keadaan lingkungan ;dibedakan iklaim basah,iklim kering,iklimpanas,iklim sedang,dan iklim dingin. Karnivora : organisme pemakan daging, contoh : harimau, burung alap-alap, dan ular sanca. Komensalisme : hubungan antarmakhluk hidup yang berbeda jenis, yang satu beruntung dari yang lain tanpa merugikan atau menguntungkannya. Komponen abiotik : komponen ekosistem yang berupa benda-benda tak hidup, seperti tanah, air dan udara. Komponen biotik : Komponen biotik komponen ekosistem yang berupa makhluk hidup, yaitu manusia, hewan dan tumbuhan. Komunitas : kumpulan populasi dari berbagai spesies yang saling berinteraksi baik langsung maupun tidak langsung. Konsumen : makhluk hidup yang tidak dapat menghasilkan makanan sendiri sehingga memakan mahluk lain. Mutualisme : hubungan antar makhluk hidup yang berbeda jenis dan saling menguntungkan. Omnivora : organisme pemakan daging dan tumbuhan, contoh : beruang, penyu, dan kera Organisme : segala jenis makhluk hidup yang mampu menjalankan proses-proses kehidupan. Parasit : organisme yang hidup pada atau di dalam organisme lain dan mengambil makanannya. Plankton : tumbuhan (fitoplankton) atau hewan (zooplankton) renik air tawar atau air laut yang posisi dan persebarannya bergantung dan ditentukan oleh gerakan atau arus air serta massa udara sekitarnya ,meskipun mampu untuk bergerak sendiri secara terbatas Populasi : kelompok individu dari satu spesies yang sama hidup
  • 235.
    LISTRIK untuk SMP GLOSARIUM KELOMPOKKOMPETENSI A Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi SMA 131 dalam suatu daerah geografik tertentu (habitatnya). Predasi : hubungan pemangsa dengan yang dimangsa Produsen : makhluk hidup yang dapat menghasilkan makanan sendiri dan biasanya mengawali suatu rantai makanan. Rantai Makanan : suatu rangkaian perpindahan energi melalui proses makan memakan. Siklus : Suatu proses yang melibatkan beberapa komponen dan berlangsung secara terus menerus
  • 236.
    Pusat Pengembangan danPemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2016
  • 237.
    Pusat Pengembangan danPemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2016