KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENGATASI INFLASI 
inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus dalam periode waktu tertentu. 
Dalam mengatasi inflasi pemerintah menggunakan 3 kebijakan : 
1. Kebijakan moneter 
2. Kebijakan fiskal 
3. Kebijakan non moneter 
A. Kebijakan Moneter 
Kebijakan Moneter adalah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional dengan cara mengubah 
jumlah uang yang beredar. Penyebab inflasi diantara jumlah uang yang beredar terlalu banyak sehingga dengan 
kebijakan ini diharapkan jumlah uang yang beredar dapat dikurangi menuju kondisi normal. Untuk menjalankan 
kebijakan ini Bank Indonesia menjalankan beberapa politik/kebijakan yaitu politik diskonto, politik pasar terbuka dan 
menaikan cash ratio. 
1) Politik Diskonto ditujukan untuk menaikan tingkat bunga karena dengan bunga kredit tinggi maka aktivitas ekonomi 
yang menggunakan dana pinjaman akan tertahan karena modal pinjaman menjadi mahal. 
2) Politik Pasar Terbuka dilakukan dengan cara menawarkan surat berharga ke pasar modal. Dengan cara ini diharapkan 
masyarakat membeli surat berharga tersebut seperti SBI yang memiliki tingkat bunga tinggi, dan ini merupakan upaya 
agar uang yang beredar di masyarakat mengalami penurunan jumlahnya. 
3) Cash Ratio artinya cadangan yang diwajibkan oleh Bank Sentral kepada bank-bank umum yang besarnya tergantung 
kepada keputusan dari bank sentral/pemerintah. Dengan jalan menaikan perbandingan antara uang yang beredar dengan 
uang yang mengendap di dalam kas mengakibatkan kemampuan bank untuk menciptakan kredit berkurang sehingga 
jumlah uang yang beredar akan berkurang. 
B. Kebijakan Fiskal 
Kebijakan Fiskal adalah kebijakan yang berhubugan dengan finansial pemerintah ( penerimaan dan pengeluaran 
pemerintah ). Bentuk kebijakan ini antara lain: 
1) Pengurangan pengeluaran pemerintah, sehingga pengeluaran keseluruhan dalam perekonomian bisa dikendalikan. 
2) Menaikkan pajak, akan mengakibatkan penerimaan uang masyarakat berkurang dan ini berpengaruh pada daya beli 
masyarakat yang menurun, dan tentunya permintaan akan barang dan jasa yang bersifat konsumtif tentunya berkurang. 
C. Kebijakan Non Moneter 
Kebijakan Non-Moneter dapat dilakukan dengan cara menaikan hasil produksi, kebijakan upah dan pengawasan 
harga dan distribusi barang. 
1) Menaikan hasil produksi, cara ini cukup efektif mengingat inflasi disebabkan oleh kenaikan jumlah barang 
konsumsi tidak seimbang dengan jumlah uang yang beredar. Oleh karena itu pemerintah membuat prioritas produksi 
atau memberi bantuan (subsidi) kepada sektor produksi bahan bakar, produksi beras. 
2) Kebijakan upah, tidak lain merupakan upaya menstabilkan upah/gaji, dalam pengertian bahwa upah tidak sering 
dinaikan karena kenaikan yang relatif sering dilakukan akan dapat meningkatkan daya beli dan pada akhirnya akan 
meningkatkan permintaan terhadap barang-barang secara keseluruhan dan pada akhirnya akan menimbulkan inflasi. 
3) Pengawasan harga dan distribusi barang dimaksudkan agar harga tidak terjadi kenaikan, hal ini seperti yang 
dilakukan pemerintah dalam menetapkan harga tertinggi (harga eceran tertinggi/HET). Pengendalian harga yang baik 
tidak akan berhasil tanpa ada pengawasan. Pengawasan yang baik biasanya akan menimbulkan pasar gelap. Untuk 
menghindari pasar gelap maka distribusi barang harus dapat dilakukan dengan lancar, seperti yang dilakukan 
pemerintah melalui Bulog atau KUD. 
Kebijakan Pemerintah di Bidang 
Pendidikan 
Senin, 11 Mei 2009 
Pendidikan merupakan salah satu faktor utama untuk dapat mencapai kemakmuran suatu negara, sebagaimana 
diatur secara tegas dalam pasal 31 ayat (1) Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang menyatakan bahwa 
setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Ayat (2) menegaskan bahwa setiap wa rga negara wajib 
mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Ayat (3) menetapkan bahwa Pemerintah 
mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan 
ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
Sedangkan ayat (4) menugaskan negara untuk memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang -kurangnya 20 
persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta dari anggaran pendapa tan daerah (APBD) 
untuk mememenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. 
Aturan yang termuat dalam Ayat (4) tersebut menunjukkan betapa penting dan betapa prioritasnya bidang 
pendidikan di bumi nusantara ini. Sebanyak 20 persen atau seperlima anggaran pemerintah pusat dan seperlima 
anggaran pemerintah daerah harus dialokasikan untuk menyelenggarakan pendidikan. 
Dengan demikian, jelaslah bahwa negara kita menempatkan pendidikan pada prioritas pertama dengan 
mengalokasikan anggaran terbesar dari semua sektor. Pendidikan merupakan sektor yang memang perlu 
diprioritaskan negara karena menyentuh langsung hak masyarakat, dan sangat terkait erat dengan 
pembangunan sumber daya manusia masa depan. 
Dalam upaya meningkatan aksesibilitas dan mutu pendidikan nasional, sejak beberapa tahun lalu pemerintah 
telah mengucurkan bantuan dana pembangunan pendidikan dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang 
Pendidikan. 
Capaian Kinerja Depdiknas 
Sebagaimana disinggung diatas bahwa pendidikan merupakan program pemerintah yang paling prioritas. 
Capaian kinerja Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) selama Kabinet Indonesia Bersatu, antara lain, 
dapat digambarkan dalam tabel ”Capaian Kinerja 2005 – 2008 dan Target 2009” dibawah ini. 
Tabel tersebut menunjukkan bahwa realisasi dari sejumlah program mampu melebihi target. Misalnya, Angka 
Partisipasi Murni untuk SD/MI/SDLB/Paket A pada tahun 2008 telah mencapai 95,14%. Angka ini telah 
melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 2009, yaitu 95,00%. Demikian juga dengan rata-rata nilai ujian 
nasional untuk SD dan SLTA yang dicapai siswa pada tahun 2008, yaitu secara berturut -turut sebesar 7,03 dan 
7,17. Angka ini telah melampaui target yang ditetapkan pada tahun 2009, yaitu secara berturut -turut sebesar 
5,50 dan 7,00. Guru yang memenuhi kualifikasi S-1/D-4 pada tahun 2009 ditargetkan sebanyak 40,00%, namun 
angka ini telah terlewati pada tahun 2008 dengan capaian sebesar 47,04%.
Selain indikator yang tertera dalam tabel, Departemen Pendidikan Nasional juga melaporkan sejumlah indikator 
lain yang menunjukkan hasil yang menggembiarakan juga telah dicapai. Misalnya, pencapaian target rintisan 
sekolah madrasah yang bertaraf internasional yang mencapai 1.043 sekolah pada tahun 2008. Perol ehan medali 
emas pada berbagai olimpiade internasional juga membanggakan karena pelajar Indonesia meraih 117 medali 
emas dalam berbagai kompetisi tingkat dunia pada tahun 2008. Perguruan tinggi berkelas dunia dengan ukuran 
100 besar Asia atau 500 besar dunia selalu melampaui target dengan baik. Pada tahun 2008, Universitas 
Indonesia naik peringkat dari 395 pada 2007 menjadi 287, Institut Tenologi Bandung naik ke peringkat 315 dari 
semula 369, sedangkan Universitas Gadjah Mada naik ke peringkat 316 dari 360. 
Untuk tahun 2010, Depdiknas telah membuat beberapa Rancangan Kegiatan Prioritas, mencakup peningkatan 
kualitas Dikdas 9 tahun yang merata; peningkatan akses, kualitas dan relevansi pendidikan menengah dan 
tinggi; peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan non formal serta peningkatan profesionalisme dan 
kesejahteraan pendidik. 
KEBIJAKAN-KEBIJAKAN DALAM BIDANG KESEHATAN 
A. Dasar Hukum 
1. Undang-undang No. 23 Tahun 1992 pasal 23 tentang kesehatan, dimana pelayanan kesehatan dilaksanakan 
disetiap tempat kerja yang memiliki karyawan 10 orang atau lebih dari 10 orang. 
B. Visi dan Misi pembangunan kesehatan 
Pada Tahun 2010, bangsa Indonesia akan mencapai suatu keadaan dimana masyarakat: 
 Hidup dalam lingkungan sehat 
 Mempraktekkan perilaku hidup bersih dan sehat 
 Memiliki kemampuan menyediakan, memilih, mendapatkan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang 
bermutu secara adil dan merata sehingga memiliki derajat kesehatan tinggi. 
C. Misi untuk mencapai visi Indonesia Sehat 2010 
 Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.
 Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. 
 Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau. 
 Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. 
 Membantu pihak-pihak terkait (khususnya dalam bidang pelayanan kesehatan). 
D. Strategi 
1. Untuk mencapai keberhasilan program secara efektif dan efisien, maka dikembangkan strategi 
pelaksanaan kegiatan berikut. 
2. Perencanaan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan berdasarkan skala prioritas. 
3. Intensifikasi penemuan dan penetalaksanaan dini penyakit dan masalah kesehatan masyarakat. 
4. Pengendalian masyarakat berbasis lingkungan. 
5. Melakukan monitoring evaluasi serta kajian program dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan 
teknologi yang tepat guna untuk mendukung program. 
6. Meningkatkan kemitraan melalui kegiatan lintas program, lintas sector serta memberdayakan partisipasi 
masyarakat. 
7. Meningkatkan peran dan fungsi sesuai dengan kewenangan daerah serta memanfaatkan sumber daya 
pusat melalui system penganggara. 
E. Perubahan Paradigma 
Perubahan paradigma yang diutarakan oleh Bapak Mentri Kesehatan di DPR tanggal 15 September 1998 
apabila dilaksanakan akan membawa dampak yang cukup luas. Hal ini disebabkan karena pengorganisasian upaya 
kesehatan yang ada, tenaga-tenaga kesehatan yang ada, fasilitas pelayanan kesehatan yang ada, peraturan 
perundangan yang ada adalah merupakan wahana dan sarana pendukung dari penyelenggaraan kesehatan yang 
berorientasi pada upaya penyembuhan penyakit. Maka untuk mendukung terselenggaranya paradigma sehat yang 
berorientasi pada upaya promotif, preventif, proaktif. Sehingga setiap individu dalam masyarakat tidak berusaha 
atau tidak tahu untuk mempraktekkan gaya hidup sehat seperti olahraga, makan-makanan sehat, tidak merokok dan 
istirahat yang cukup. Pemerintah harus ikut bertanggung jawab atas terciptanya gaya hidup sehat dikalangan 
masyarakat yang selama ini kurang dilakukan secara sungguh-sungguh. 
F. System Pelayanan Kesehatan 
System adalah gabungan dari elemen-elemen (sub system) di dalam suatu proses atau struktur dan berfungsi 
sebagai satu kesatuan organisasi. Adapun system pelayanannya sebagai berikut: 
a. Masukan (input) 
Adalah sub elemen-sub elemen yang diperlukan sebagai masukan untuk berfungsinya system. 
b. Proses 
Ialah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan. 
c. Keluaran (output) 
Ialah hal yang dihasilkan proses. 
d. Dampak (impact)
Akibat yang dihasilkan oleh keluaran setelah beberapa waktu lamanya 
e. Umpan balik (feed back) 
Ialah juga merupakan hasil dari proses yang sekaligus masukan untuk system tersebut. 
f. Lingkungan (enviromment) 
Ialah dunia diluar system untuk mempengaruhi system tersebut. 
Secara umum pelayanan kesehatan ialah merupakan sub system pelayanan kesehatan yang tujuan 
utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran 
masyarakat. 
Pelayanan kesehatan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta perlu memperhatikan 
beberapa ketentuan antara lain: 
a. Penanggung jawab 
Suatu system pelayana kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Namun demikian di Indonesia dalam hal ini 
Departemen Kesehatan merupakan tanggung jawab yang paling tinggi. Artinya pengawasan, standar pelayanan. 
b. Standar pelayanan 
System pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta harus berdasarkan pada suatu standar tertentu. Di 
Indonesia standar ini telah ditentukan oleh Dep artemen Kesehatan, dengan adany a “Buku Pedoman Puskesmas”. 
c. Hubungan kerja 
Pembagian kerja yang jelas antara bagian yang satu dengan yang lain. Artinya fasilitas kesehatan tersebut harus 
mempunyai struktur organisasi yang jelas menggambarkan hubungan kerja baik horizontal maupun vertical. 
d. Pengorganisasian potensi 
System pelayanan pengorganisasian, upaya ini penting terutama di Indonesia. Karena adanya keterbatasan sumber-sumber 
daya dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat, perlu keikut sertaan. 
G. Organisasi Depkes 
Seiring dengan diterbitkannya surat keputusan menteri kesehatan RI No.130 tahun 2000 tentang organisasi 
dan tata kerja Depkes. Setelah kepala biro organisasi yang lama menggulirkan reorganisasi di lingkungan Depkes, 
dengan demikian terjadi perampingan-perampingan jabatan structural. Tetapi bukan berarti pekerjaan biro organisasi 
telah selesai, hal ini merupakan titik dimulainya pekerjaan-pekerjaan biro organisasi. Tujuan utama nantinya adalah 
Dep artemen Kesehatan merup akan dep artemen y ang “hemat struktur kay a fungsi”. Dep kes terutama biro organisasi
saat ini sedang menyelesaikan tiga pekerjaan besar, yaitu: uraia structural, hubungan tata kerja dan jabatan. Berkaitan 
dengan UU No. 22 tahun 2000 tentang otonomi daerah dan disusul dengan adanya PP No.25 tahun 2000 tentang 
kewenangan pemerintah daerah. Kewenangan propinsi adalah daerah otonomi, hal ini juga merupakan pokok 
pembahasan dari biro organisasi. Karena dengan adanya PP No.25 tersebut akan menggeser kewenangan-kewenangan 
pusat ke daerah sebagai oprasion pelaksanaan sedangkan pusat nantinya hanya pedoman-pedoman atau standar-standar. 
Sebagai bahasan khusus tentang PP No.25 tahun 2000, Depkes akan mengadakan pertemuan p ara bupati seluruh 
Indonesia.

Kebijakan pemerintah dalam mengatasi inflasi

  • 1.
    KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAMMENGATASI INFLASI inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus dalam periode waktu tertentu. Dalam mengatasi inflasi pemerintah menggunakan 3 kebijakan : 1. Kebijakan moneter 2. Kebijakan fiskal 3. Kebijakan non moneter A. Kebijakan Moneter Kebijakan Moneter adalah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional dengan cara mengubah jumlah uang yang beredar. Penyebab inflasi diantara jumlah uang yang beredar terlalu banyak sehingga dengan kebijakan ini diharapkan jumlah uang yang beredar dapat dikurangi menuju kondisi normal. Untuk menjalankan kebijakan ini Bank Indonesia menjalankan beberapa politik/kebijakan yaitu politik diskonto, politik pasar terbuka dan menaikan cash ratio. 1) Politik Diskonto ditujukan untuk menaikan tingkat bunga karena dengan bunga kredit tinggi maka aktivitas ekonomi yang menggunakan dana pinjaman akan tertahan karena modal pinjaman menjadi mahal. 2) Politik Pasar Terbuka dilakukan dengan cara menawarkan surat berharga ke pasar modal. Dengan cara ini diharapkan masyarakat membeli surat berharga tersebut seperti SBI yang memiliki tingkat bunga tinggi, dan ini merupakan upaya agar uang yang beredar di masyarakat mengalami penurunan jumlahnya. 3) Cash Ratio artinya cadangan yang diwajibkan oleh Bank Sentral kepada bank-bank umum yang besarnya tergantung kepada keputusan dari bank sentral/pemerintah. Dengan jalan menaikan perbandingan antara uang yang beredar dengan uang yang mengendap di dalam kas mengakibatkan kemampuan bank untuk menciptakan kredit berkurang sehingga jumlah uang yang beredar akan berkurang. B. Kebijakan Fiskal Kebijakan Fiskal adalah kebijakan yang berhubugan dengan finansial pemerintah ( penerimaan dan pengeluaran pemerintah ). Bentuk kebijakan ini antara lain: 1) Pengurangan pengeluaran pemerintah, sehingga pengeluaran keseluruhan dalam perekonomian bisa dikendalikan. 2) Menaikkan pajak, akan mengakibatkan penerimaan uang masyarakat berkurang dan ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang menurun, dan tentunya permintaan akan barang dan jasa yang bersifat konsumtif tentunya berkurang. C. Kebijakan Non Moneter Kebijakan Non-Moneter dapat dilakukan dengan cara menaikan hasil produksi, kebijakan upah dan pengawasan harga dan distribusi barang. 1) Menaikan hasil produksi, cara ini cukup efektif mengingat inflasi disebabkan oleh kenaikan jumlah barang konsumsi tidak seimbang dengan jumlah uang yang beredar. Oleh karena itu pemerintah membuat prioritas produksi atau memberi bantuan (subsidi) kepada sektor produksi bahan bakar, produksi beras. 2) Kebijakan upah, tidak lain merupakan upaya menstabilkan upah/gaji, dalam pengertian bahwa upah tidak sering dinaikan karena kenaikan yang relatif sering dilakukan akan dapat meningkatkan daya beli dan pada akhirnya akan meningkatkan permintaan terhadap barang-barang secara keseluruhan dan pada akhirnya akan menimbulkan inflasi. 3) Pengawasan harga dan distribusi barang dimaksudkan agar harga tidak terjadi kenaikan, hal ini seperti yang dilakukan pemerintah dalam menetapkan harga tertinggi (harga eceran tertinggi/HET). Pengendalian harga yang baik tidak akan berhasil tanpa ada pengawasan. Pengawasan yang baik biasanya akan menimbulkan pasar gelap. Untuk menghindari pasar gelap maka distribusi barang harus dapat dilakukan dengan lancar, seperti yang dilakukan pemerintah melalui Bulog atau KUD. Kebijakan Pemerintah di Bidang Pendidikan Senin, 11 Mei 2009 Pendidikan merupakan salah satu faktor utama untuk dapat mencapai kemakmuran suatu negara, sebagaimana diatur secara tegas dalam pasal 31 ayat (1) Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Ayat (2) menegaskan bahwa setiap wa rga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Ayat (3) menetapkan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
  • 2.
    Sedangkan ayat (4)menugaskan negara untuk memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang -kurangnya 20 persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta dari anggaran pendapa tan daerah (APBD) untuk mememenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Aturan yang termuat dalam Ayat (4) tersebut menunjukkan betapa penting dan betapa prioritasnya bidang pendidikan di bumi nusantara ini. Sebanyak 20 persen atau seperlima anggaran pemerintah pusat dan seperlima anggaran pemerintah daerah harus dialokasikan untuk menyelenggarakan pendidikan. Dengan demikian, jelaslah bahwa negara kita menempatkan pendidikan pada prioritas pertama dengan mengalokasikan anggaran terbesar dari semua sektor. Pendidikan merupakan sektor yang memang perlu diprioritaskan negara karena menyentuh langsung hak masyarakat, dan sangat terkait erat dengan pembangunan sumber daya manusia masa depan. Dalam upaya meningkatan aksesibilitas dan mutu pendidikan nasional, sejak beberapa tahun lalu pemerintah telah mengucurkan bantuan dana pembangunan pendidikan dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Pendidikan. Capaian Kinerja Depdiknas Sebagaimana disinggung diatas bahwa pendidikan merupakan program pemerintah yang paling prioritas. Capaian kinerja Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) selama Kabinet Indonesia Bersatu, antara lain, dapat digambarkan dalam tabel ”Capaian Kinerja 2005 – 2008 dan Target 2009” dibawah ini. Tabel tersebut menunjukkan bahwa realisasi dari sejumlah program mampu melebihi target. Misalnya, Angka Partisipasi Murni untuk SD/MI/SDLB/Paket A pada tahun 2008 telah mencapai 95,14%. Angka ini telah melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 2009, yaitu 95,00%. Demikian juga dengan rata-rata nilai ujian nasional untuk SD dan SLTA yang dicapai siswa pada tahun 2008, yaitu secara berturut -turut sebesar 7,03 dan 7,17. Angka ini telah melampaui target yang ditetapkan pada tahun 2009, yaitu secara berturut -turut sebesar 5,50 dan 7,00. Guru yang memenuhi kualifikasi S-1/D-4 pada tahun 2009 ditargetkan sebanyak 40,00%, namun angka ini telah terlewati pada tahun 2008 dengan capaian sebesar 47,04%.
  • 3.
    Selain indikator yangtertera dalam tabel, Departemen Pendidikan Nasional juga melaporkan sejumlah indikator lain yang menunjukkan hasil yang menggembiarakan juga telah dicapai. Misalnya, pencapaian target rintisan sekolah madrasah yang bertaraf internasional yang mencapai 1.043 sekolah pada tahun 2008. Perol ehan medali emas pada berbagai olimpiade internasional juga membanggakan karena pelajar Indonesia meraih 117 medali emas dalam berbagai kompetisi tingkat dunia pada tahun 2008. Perguruan tinggi berkelas dunia dengan ukuran 100 besar Asia atau 500 besar dunia selalu melampaui target dengan baik. Pada tahun 2008, Universitas Indonesia naik peringkat dari 395 pada 2007 menjadi 287, Institut Tenologi Bandung naik ke peringkat 315 dari semula 369, sedangkan Universitas Gadjah Mada naik ke peringkat 316 dari 360. Untuk tahun 2010, Depdiknas telah membuat beberapa Rancangan Kegiatan Prioritas, mencakup peningkatan kualitas Dikdas 9 tahun yang merata; peningkatan akses, kualitas dan relevansi pendidikan menengah dan tinggi; peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan non formal serta peningkatan profesionalisme dan kesejahteraan pendidik. KEBIJAKAN-KEBIJAKAN DALAM BIDANG KESEHATAN A. Dasar Hukum 1. Undang-undang No. 23 Tahun 1992 pasal 23 tentang kesehatan, dimana pelayanan kesehatan dilaksanakan disetiap tempat kerja yang memiliki karyawan 10 orang atau lebih dari 10 orang. B. Visi dan Misi pembangunan kesehatan Pada Tahun 2010, bangsa Indonesia akan mencapai suatu keadaan dimana masyarakat:  Hidup dalam lingkungan sehat  Mempraktekkan perilaku hidup bersih dan sehat  Memiliki kemampuan menyediakan, memilih, mendapatkan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata sehingga memiliki derajat kesehatan tinggi. C. Misi untuk mencapai visi Indonesia Sehat 2010  Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.
  • 4.
     Mendorong kemandirianmasyarakat untuk hidup sehat.  Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau.  Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.  Membantu pihak-pihak terkait (khususnya dalam bidang pelayanan kesehatan). D. Strategi 1. Untuk mencapai keberhasilan program secara efektif dan efisien, maka dikembangkan strategi pelaksanaan kegiatan berikut. 2. Perencanaan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan berdasarkan skala prioritas. 3. Intensifikasi penemuan dan penetalaksanaan dini penyakit dan masalah kesehatan masyarakat. 4. Pengendalian masyarakat berbasis lingkungan. 5. Melakukan monitoring evaluasi serta kajian program dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat guna untuk mendukung program. 6. Meningkatkan kemitraan melalui kegiatan lintas program, lintas sector serta memberdayakan partisipasi masyarakat. 7. Meningkatkan peran dan fungsi sesuai dengan kewenangan daerah serta memanfaatkan sumber daya pusat melalui system penganggara. E. Perubahan Paradigma Perubahan paradigma yang diutarakan oleh Bapak Mentri Kesehatan di DPR tanggal 15 September 1998 apabila dilaksanakan akan membawa dampak yang cukup luas. Hal ini disebabkan karena pengorganisasian upaya kesehatan yang ada, tenaga-tenaga kesehatan yang ada, fasilitas pelayanan kesehatan yang ada, peraturan perundangan yang ada adalah merupakan wahana dan sarana pendukung dari penyelenggaraan kesehatan yang berorientasi pada upaya penyembuhan penyakit. Maka untuk mendukung terselenggaranya paradigma sehat yang berorientasi pada upaya promotif, preventif, proaktif. Sehingga setiap individu dalam masyarakat tidak berusaha atau tidak tahu untuk mempraktekkan gaya hidup sehat seperti olahraga, makan-makanan sehat, tidak merokok dan istirahat yang cukup. Pemerintah harus ikut bertanggung jawab atas terciptanya gaya hidup sehat dikalangan masyarakat yang selama ini kurang dilakukan secara sungguh-sungguh. F. System Pelayanan Kesehatan System adalah gabungan dari elemen-elemen (sub system) di dalam suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi. Adapun system pelayanannya sebagai berikut: a. Masukan (input) Adalah sub elemen-sub elemen yang diperlukan sebagai masukan untuk berfungsinya system. b. Proses Ialah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan. c. Keluaran (output) Ialah hal yang dihasilkan proses. d. Dampak (impact)
  • 5.
    Akibat yang dihasilkanoleh keluaran setelah beberapa waktu lamanya e. Umpan balik (feed back) Ialah juga merupakan hasil dari proses yang sekaligus masukan untuk system tersebut. f. Lingkungan (enviromment) Ialah dunia diluar system untuk mempengaruhi system tersebut. Secara umum pelayanan kesehatan ialah merupakan sub system pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran masyarakat. Pelayanan kesehatan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta perlu memperhatikan beberapa ketentuan antara lain: a. Penanggung jawab Suatu system pelayana kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Namun demikian di Indonesia dalam hal ini Departemen Kesehatan merupakan tanggung jawab yang paling tinggi. Artinya pengawasan, standar pelayanan. b. Standar pelayanan System pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta harus berdasarkan pada suatu standar tertentu. Di Indonesia standar ini telah ditentukan oleh Dep artemen Kesehatan, dengan adany a “Buku Pedoman Puskesmas”. c. Hubungan kerja Pembagian kerja yang jelas antara bagian yang satu dengan yang lain. Artinya fasilitas kesehatan tersebut harus mempunyai struktur organisasi yang jelas menggambarkan hubungan kerja baik horizontal maupun vertical. d. Pengorganisasian potensi System pelayanan pengorganisasian, upaya ini penting terutama di Indonesia. Karena adanya keterbatasan sumber-sumber daya dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat, perlu keikut sertaan. G. Organisasi Depkes Seiring dengan diterbitkannya surat keputusan menteri kesehatan RI No.130 tahun 2000 tentang organisasi dan tata kerja Depkes. Setelah kepala biro organisasi yang lama menggulirkan reorganisasi di lingkungan Depkes, dengan demikian terjadi perampingan-perampingan jabatan structural. Tetapi bukan berarti pekerjaan biro organisasi telah selesai, hal ini merupakan titik dimulainya pekerjaan-pekerjaan biro organisasi. Tujuan utama nantinya adalah Dep artemen Kesehatan merup akan dep artemen y ang “hemat struktur kay a fungsi”. Dep kes terutama biro organisasi
  • 6.
    saat ini sedangmenyelesaikan tiga pekerjaan besar, yaitu: uraia structural, hubungan tata kerja dan jabatan. Berkaitan dengan UU No. 22 tahun 2000 tentang otonomi daerah dan disusul dengan adanya PP No.25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah daerah. Kewenangan propinsi adalah daerah otonomi, hal ini juga merupakan pokok pembahasan dari biro organisasi. Karena dengan adanya PP No.25 tersebut akan menggeser kewenangan-kewenangan pusat ke daerah sebagai oprasion pelaksanaan sedangkan pusat nantinya hanya pedoman-pedoman atau standar-standar. Sebagai bahasan khusus tentang PP No.25 tahun 2000, Depkes akan mengadakan pertemuan p ara bupati seluruh Indonesia.