1.
RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena
adanya berbagai tantangan yang dihad...
terkait dengan pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains, serta mutu, investasi
dan transformasi pa...
pembelajaran lebih bersifat personal atau berbasiskan masing-masing individu, maka yang harus
dikembangkan sekarang adalah...
lainnya ini tidak sesuai lagi dengan tuntutan globalisasi yang menuntut agar semua mata pelajaran harus
berkontribusi terh...
rencana pelaksanaan pembelajaran dan pelaksanaan proses pembelajaran dan penilaian. Oleh sebab itu,
agar kompetensi lulusa...
(Gambar 8). Gambar 8 Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan untuk
kelas IV SD juga me...
Pengembangan kurikulum dalam dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan lagi, karena setiap
lembaga pendidikan mengingin organ...
4. Pandangan kalangan intelektual yang berubah
5. Pemikiran baru mengenai proses belajar mengajar
6. Eksploitasi ilmu peng...
disesuaikan dengan tingkatan peserta didik maka tujuan pembelajaran akan sulit tercapai. Untuk
itu para pakar pengembang k...
 Perubahan sistem:ada matapelajaran wajib dan ada matapelajaran pilihan
 Terjadi pengurangan matapelajaran yang harus di...
keterampilan, dan pengetahuan Kedudukan mata pelajaran (ISI) Kompetensi yang semula
diturunkan dari matapelajaran berubah ...
peminatan, antar minat, dan pendalaman minat SMA/SMK SMA dan SMK tanpa kesamaan
kompetensi SMA dan SMK memiliki mata pelaj...
pengolahan data, dan statistik sejak kelas VII serta materi lain sesuai dengan standar internasional
7 Matematika adalah e...
3. Bagaimana Strategi dan Implementasi
Kurikulum 2013? Betulkah?
OPINI | 28 January 2013 | 13:14 Dibaca: 3002 Komentar: 5 ...
Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada
pergantian Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan...
a. Prof. Dr. Conny R. Semiawan (Guru Besar Universitas Negeri Jakarta)
b. Dr. Ratna Megawangi (Direktur The Indonesian Her...
Wapres Boediono dalam artikelnya di Kompas (27/8). Seperti ingin menggugat lambat dan
lemahnya sistem pendidikan kita dala...
Meskipun pelibatan semua pemangku kepentingan telah dilakukan, jika dilihat dari sudut
pandang arah peru bahan kurikulum y...
membaca dengan saksama rancangan kurikulum 2013 tersebut dan melihat ada beberapa
perubahan signifikan yang hendak dicapai...
aspek kapasitas guru dengan model pendekatan teacher competence development approach.
Jika dilihat pada tabel, terlihat de...
1. Belum sepenuhnya menekankan pendidikan karakter
2. Belum menghasilkan Keterampilan sesuai kebutuhan
3. Pengetahuan-peng...
Proses Pembelajaran
1. Berpusat pada guru (teacher centered learning)
2. Sifat pembelajaran yang berorientasi pada buku te...
Pendidik dan Tenaga Kependidikan
1. Memenuhi kompetensi profesi saja
2. Fokus pada ukuran kinerja
Kurikulum 2013
Pendidik ...
dan pedoman
Permasalahan Kurikulum 2006
No Pe
1. Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya ma...
Pada Kurikulum 2013 nanti ada perubahan mendasar disbanding kurikulum sekarang, yaitu
antara lain :
1. Untuk SD meminimumk...
Kurikulum, yang dituangkan dalam
Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70
Tahun 2013
Permendiknas No 23 Tahun 2006
2 Aspek kompe...
5. Penilaian Hasil Belajar Dalam Pelaksanaan
Kurikulum 2013
Submitted by admin on December 10, 2013 – 5:38 am3 Comments | ...
Penilaian Tradisional Penilaian Autentik
Memilih/Merespon: Siswa memililh jawaban,
menentukan pilihan, dan menjawab dengan...
siswa menentukan solusi atas masalah yang telah mereka rumuskan dalam kegiatan awal pembelajaran.berbagai
sumber yang memi...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Rasional pengembangan kurikulum 2013 pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi

12,671

Published on

rsion

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
12,671
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
266
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Rasional pengembangan kurikulum 2013 pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi

  1. 1. 1. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. Disamping itu, di dalam menghadapi tuntutan perkembangan zaman, dirasa perlu adanya penyempurnaan pola pikir dan penguatan tata kelola kurikulum serta pendalaman dan perluasan materi. Dan hal pembelajaran yang tidak kalah pentingnya adalah perlunya penguatan proses pembelajaran dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Tantangan Internal Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan, standar biaya, standar sarana prasarana,standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar kompetensi lulusan. Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. Terkait dengan tantangan internal pertama, berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mengupayakan agar penyelenggaraan pendidikan dapat mencapai ke delapan standar yang telah ditetapkan. Di dalam Standar Pengelolaan hal-hal yang dikembangkan antara lain adalah Manajemen Berbasis Sekolah. Rehabilitasi gedung sekolah dan penyediaan laboratorium serta perpustakaan sekolah terus dilaksanakan agar setiap sekolah yang ada di Indonesia dapat mencapai Standar Sarana-Prasarana yang telah ditetapkan. Dalam mencapaiStandar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, berbagai upaya yang dilakukan antara lain adalah peningkatan kualifikasi dan sertifikasi guru, pembayaran tunjangan sertifikasi, serta uji kompetensi dan pengukuran kinerja guru. Standar Isi, Standar Proses,Standar Penilaian, dan Standar Kompetensi Lulusan adalah merupakan standar yang terkait dengan kurikulum yang perlu secara terus menerus dikaji agar peserta didik yang melalui proses pendidikan dapat memiliki kompetensi yang telah ditetapkan. (Gambar 1). Gambar 1 Terkait dengan perkembangan penduduk, saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak- anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%. Gambar 2 Ini berarti bahwa pada tahun 2020-2035 sumber daya manusia (SDM) Indonesia usia produktif akan melimpah. SDM yang melimpah ini apabila memiliki kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya. Namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar SDM usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi SDM yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban (Gambar 2). Tantangan Eksternal Tantangan eksternalyang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan, kompetensi yang diperlukan di masa depan, persepsi masyarakat,perkembangan pengetahuan dan pedagogi, serta berbagaifenomena negatif yang mengemuka. Tantangan masa depan antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Di era globalisasi juga akan terjadi perubahan-perubahan yang cepat. Dunia akan semakin transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas.Hubungan komunikasi, informasi, dan transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat sebagai akibat dari revolusi industri dan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Arus globalisasi juga akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern seperti dapat terlihat di WTO,ASEAN Community, APEC,dan AFTA. Tantangan masa depan juga
  2. 2. terkait dengan pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains, serta mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan. Keikutsertaan Indonesia di dalam studi International TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) dan PISA (Program for International Student Assessment) sejak tahun 1999 juga menunjukkan bahwa capaian anak-anak Indonesia tidak menggembirakan dalam beberapa kali laporan yang dikeluarkan TIMSS dan PISA yang hanya menduduki peringkat empat besar dari bawah. Penyebab capaian ini antara lain adalah karena banyaknya materi uji yang ditanyakan di TIMSS dan PISA tidak terdapat dalam kurikulum Indonesia. Gambar 3 Kompetensi masa depan yang diperlukan dalam menghadapi arus globalisasi antara lain berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda,dan kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal. Disamping itu generasiIndonesia juga harus memiliki minat luas dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja, memiliki kecerdasan sesuaidengan bakat/minatnya, dan memiliki rasa tanggung- jawab terhadap lingkungan. Dilihat dari persepsi masyarakat,pendidikan di Indonesia saat ini dinilai terlalu menitik-beratkan pada aspek kognitif dan beban siswa dianggap terlalu berat. Selain itu pendidikan juga dinilai kurang bermuatan karakter. Penyelenggaraan pendidikan juga perlu memperhatikan perkembangan pengetahuan yang terkait dengan perkembangan neurologi dan psikologi serta perkembangan pedagogi yang terkait dengan observation-based (discovery) learning serta collaborative learning. Tantangan eksternal lainnya berupa fenomena negatif yang mengemuka antara lain terkait dengan masalah perkelahian pelajar, masalah narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam ujian, dan gejolak sosial di masyarakat (social unrest) Penyempurnaan Pola Pikir Pendidikan yang sesuaidengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir. Laporan BSNP tahun 2010 dengan judul Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI menegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam menghadapi masa depan perlu dilakukan perubahan paradigma pembelajaran melalui pergeseran tata cara penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pembelajaran di dalam kelas atau lingkungan sekitar lembaga pendidikan tempat peserta didik menimba ilmu. Pergeseran itu meliputi proses pembelajaran sebagai berikut: a. Dariberpusat pada guru menuju berpusat pada siswa. Jika dahulu biasanya yang terjadi adalah guru berbicara dan siswa mendengar, menyimak, dan menulis, maka sekarang guru harus lebih banyak mendengarkan siswanya saling berinteraksi, berargumen, berdebat, dan berkolaborasi. Fungsi guru dari pengajar berubah dengan sendirinya menjadi fasilitator bagi siswa-siswanya. b. Dari satu arah menuju interaktif. Jika dahulu mekanisme pembelajaran yang terjadi adalah satu arah dari guru ke siswa, maka saat ini harus terdapat interaksi yang cukup antara guru dan siswa dalam berbagai bentuk komunikasinya. Guru berusaha membuat kelas semenarik mungkin melalui berbagai pendekatan interaksi yang dipersiapkan dan dikelola. c. Dari isolasi menuju lingkungan jejaring. Jika dahulu siswa hanya dapat bertanya pada guru dan berguru pada buku yang ada di dalam kelas semata,maka sekarang ini yang bersangkutan dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh via internet. d. Dari pasif menuju aktif-menyelidiki. Jika dahulu siswa diminta untuk pasif saja mendengarkan dan menyimak baik-baik apa yang disampaikan gurunya agar mengerti, maka sekarang disarankan agar siswa lebih aktif dengan cara memberikan berbagai pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya. e. Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata. Jika dahulu contoh-contoh yang diberikan guru kepada siswanya kebanyakan bersifat artifisial, maka saat ini sang guru harus dapat memberikan contoh-contoh yang sesuaidengan konteks kehidupan sehari-hari dan relevan dengan bahan yang diajarkan. f. Dari pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim. Jika dahulu proses
  3. 3. pembelajaran lebih bersifat personal atau berbasiskan masing-masing individu, maka yang harus dikembangkan sekarang adalah model pembelajaran yang mengedepankan kerjasama antar individu. g. Dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan. Jika dahulu ilmu atau materi yang diajarkan lebih bersifat umum (semua materi yang dianggap perlu diberikan), maka saat ini harus dipilih ilmu atau materi yang benar-benar relevan untuk ditekuni dan diperdalam secara sungguh-sungguh (hanya materi yang relevan bagi kehidupan sang siswa yang diberikan). h. Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru. Jika dahulu siswa hanya menggunakan sebagian panca inderanya dalam menangkap materi yang diajarkan guru (mata dan telinga), maka sekarang semua panca indera dan komponen jasmani-rohani harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran (kognitif, afektif, dan psikomotorik). i. Darialat tunggal menuju alat multimedia. Jika dahulu guru hanya mengandalkan papan tulis untuk mengajar, maka saat ini diharapkan guru dapat menggunakan beranekaragam peralatan dan teknologi pendidikan yang tersedia, baik yang bersifat konvensional maupun modern. j. Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif. Jika dahulu siswa harus selalu setuju dengan pendapat guru dan tidak boleh sama sekali menentangnya, maka saat ini harus ada dialog antara guru dan siswa untuk mencapai kesepakatan bersama. k. Dariproduksi massa menuju kebutuhan pelanggan. Jika dahulu semua siswa tanpa kecuali memperoleh bahan atau konten materi yang sama, maka sekarang ini setiap siswa berhak untuk mendapatkan konten sesuai dengan ketertarikan atau keunikan potensi yang dimilikinya. l. Dari usaha sadar tunggal menuju jamak. Jika dahulu siswa harus secara seragam mengikuti sebuah cara dalam berproses maka yang harus ditonjolkan sekarang justru adanya keberagaman inisiatif yang timbul dari masing-masing individu. m. Dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak. Jika dahulu siswa hanya mempelajari sebuah materi atau fenomena dari satu sisi pandang ilmu, maka sekarang konteks pemahaman akan jauh lebih baik dimengerti melalui pendekatan pengetahuan multi disiplin. n. Dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan. Jika dahulu seluruh kontrol dan kendali kelas ada pada sang guru, maka sekarang siswa diberi kepercayaan untuk bertanggung jawab atas pekerjaan dan aktivitasnya masing- masing. o. Dari pemikiran faktual menuju kritis. Jika dahulu hal-hal yang dibahas di dalam kelas lebih bersifat faktual, maka sekarang harus dikembangkan pembahasan terhadap berbagai hal yang membutuhkan pemikiran kreatif dan kritis untuk menyelesaikannya. p. Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan. Jika dahulu yang terjadi di dalam kelas adalah “pemindahan” ilmu dari guru ke siswa, maka dalam abad XXI ini yang terjadi di kelas adalah pertukaran pengetahuan antara guru dan siswa maupun antara siswa dengan sesamanya. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan kompetensi lulusan yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dirumuskan berdasarkan kebutuhan pada tingkat individu, masyarakat, bangsa dan negara,serta peradaban. Untuk mencapai kompetensi lulusan ini, yang dirumuskan dalam bentuk Standar Kompetensi Lulusan (SKL), kemudian dirumuskan materi inti pembelajaran yang dirumuskan dalam bentuk Standar Isi (SI), proses pembelajaran yang dirumuskan dalam bentuk Standar Proses,dan proses penilaian dalam bentuk Standar Penilaian. Selanjutnya dirumuskan secara lebih detil mata pelajaran apa saja yang perlu diajarkan untuk memenuhi pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan. Dilihat dari pendekatan yang dilakukan dalam penyusunan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan KTSP 2006, dapat disimpulkan bahwa SKL dirumuskan dari beberapa mata pelajaran yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Ini berartibahwa SKL satuan pendidikan ditetapkan dengan mengacu kepada mata pelajaran yang harus diajarkan kepada peserta didik, atau dengan kata lain mata pelajaran menjadi penentu rumusan SKL. Model pengembangan seperti ini mengakibatkan terjadinya pemisahan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Pemisahan mata pelajaran yang lepas satu dengan yang
  4. 4. lainnya ini tidak sesuai lagi dengan tuntutan globalisasi yang menuntut agar semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan dan konteks pemahaman akan jauh lebih baik dimengerti melalui pendekatan pengetahuan multidisiplin. Sejalan dengan itu, perlu dilakukan penyempurnaan pola pikir dan penggunaan pendekatan baru dalam perumusan Standar Kompetensi Lulusan. Perumusan SKL di dalam KBK 2004 dan KTSP 2006 yang diturunkan dari SI harus diubah menjadi perumusan yang diturunkan dari kebutuhan. Pendekatan dalam penyusunan SKL pada KBK 2004 dan KTSP 2006 dapat dilihat di Gambar 4 dan penyempurnaan pola pikir perumusan kurikulum dapat dilihat di Tabel 1. Gambar 4 Tabel 1 Penguatan Tata Kelola Kurikulum Penguatan tata kelola kurikulum diatur dengan mengacu pada UU 20/2003 tentang Sisdiknas. Pasal38 ayat (1) pada UU No. 20 Tahun 23 tentang Sisdiknas mengatur bahwa “Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan pemerintah.” Selanjutnya ayat (2) pada pasal yang sama mengatur bahwa “Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuaidengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah.” Di dalam Penjelasan Umum undang-undang yang sama dijelaskan bahwa “Pembaruan sistem pendidikan memerlukan strategi tertentu. Srategi pembangunan pendidikan nasional dalam undang-undang ini meliputi: ... 2. pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi.” Selanjutnya di dalam Penjelasan Pasal35 yang terkait dengan kompetensi dijelaskan bahwa “Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.” Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dijelaskan bahwa “Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.” Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 dimulai dari penyusunan kerangka dasar kurikulum yang diturunkan dari tujuan pendidikan nasional dan berdasarkan landasan filosofis, yuridis, dan konseptual yang selanjutnya diturunkan ke dalam struktur kurikulum. Dari struktur kurikulum selanjutnya diturunkan menjadi standar isi yang memuat berbagai mata pelajaran dengan rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk masing-masing mata pelajaran. Selanjutnya disusun standar proses,standar kompetensi lulusan, dan standar penilaian yang kemudian diturunkan ke dalam pedoman dan silabus. Selanjutnya silabus diturunkan menjadi rencana pelaksanaan pembelajaran dan buku teks untuk seterusnya dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran dan penilaian. Perbedaan Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 terletak pada peran guru pada bagian akhir kerangka kerja penyusunan kurikulum. Kalau di dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, peran satuan pendidikan dan guru terbatas pada penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang diturunkan dari silabus yang sudah tersedia dan pemilihan buku teks siswa untuk selanjutnya melaksanakan proses pembelajaran dan penilaian. Sedangkan di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006, peranan satuan pendidikan dan guru diperluas lebih lanjut sampai pada penyusunan silabus berdasarkan pedoman yang diberikan. Peranan satuan pendidikan dan guru yang diperluas sampai penyusunan silabus ini berakibat pada pemilihan buku teks oleh satuan pendidikan dan guru yang sangat beragam. Dalam kenyataannya, satuan pendidikan dan guru memilih buku yang dihasilkan dari berbagai kurikulum, seperti Kurikulum 1994, Kurikulum 2004, Kurikulum 2006, atau bahkan dari sumber yang tidak jelas rujukannya. Pemilihan buku teks yang beragam ini juga tentunya akan menghasilkan silabus yang sangat berbeda satu sama lain yang seterusnya diturunkan menjadi
  5. 5. rencana pelaksanaan pembelajaran dan pelaksanaan proses pembelajaran dan penilaian. Oleh sebab itu, agar kompetensi lulusan dapat dicapai sesuaidengan yang telah ditetapkan, perlu ada perubahan yang signifikan. Pada Kurikulum 2013, penyusunan kurikulum dimulai dengan menetapkan standar kompetensi lulusan berdasarkan kesiapan peserta didik, tujuan pendidikan nasional, dan kebutuhan. Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus, tapi disusun pada tingkat nasional. Guru lebih diberikan kesempatan mengembangkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugas-tugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru. Perbandingan kerangka kerja penyusunan kurikulum dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5 Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilakukan Balitbang pada tahun 2010 juga menunjukkan bahwa secara umum total waktu pembelajaran yang dialokasikan oleh banyak guru untuk beberapa mata pelajaran di SD, SMP,dan SMA lebih kecil dari total waktu pembelajaran yang dialokasikan menurut Standar Isi. Disamping itu, dikaitkan dengan kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan KTSP,ada kemungkinan waktu yang dialokasikan dalam Standar Isi tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. Hasil monitoring dan evaluasi ini juga menunjukkan bahwa banyak kompetensi yang perumusannya sulit dipahami guru, dan kalau diajarkan kepada siswa sulit dicapai oleh siswa.Rumusan kompetensi juga sulit dijabarkan ke dalam indikator dengan akibat sulit dijabarkan ke pembelajaran, sulit dijabarkan ke penilaian, sulit diajarkan karena terlalu kompleks, dan sulit diajarkan karena keterbatasan sarana,media, dan sumber belajar. Untuk menjamin ketercapaian kompetensi sesuai dengan yang telah ditetapkan dan untuk memudahkan pemantauan dan supervisi pelaksanaan pengajaran, perlu diambil langkah penguatan tata kelola antara lain dengan menyiapkan pada tingkat pusat buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku pegangan siswa dan buku pegangan guru. Karena guru merupakan faktor yang sangat penting di dalam pelaksanaan kurikulum, maka sangat penting untuk menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan. Untuk menjamin keterlaksanaan implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran, juga perlu diperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah. Pendalaman dan Perluasan Materi Berdasarkan analisis hasil PISA 2009, ditemukan bahwa dari 6 (enam) level kemampuan yang dirumuskan di dalam studi PISA,hampir semua peserta didik Indonesia hanya mampu menguasai pelajaran sampai level 3 (tiga) saja, sementara negara lain yang terlibat di dalam studi ini banyak yang mencapailevel 4 (empat), 5 (lima), dan 6 (enam). Dengan keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi yang dapat disimpulkan dari hasil studi ini, hanya satu, yaitu yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman (Gambar 6). Gambar 6 Analisis hasil TIMSS tahun 2007 dan 2011 di bidang matematika dan IPA untuk peserta didik kelas 2 SMP juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Untuk bidang matematika, lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah, sementara misalnya di Taiwan hampir 50% peserta didiknya mampu mencapai level tinggi dan advance. Darihasil ini dapat disimpulkan bahwa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau yang distandarkan di tingkat internasional (Gambar 7). Gambar 7 Untuk bidang IPA,pencapaian peserta didik kelas 2 SMP juga tidak jauh berbeda dengan pencapaian yang mereka peroleh untuk bidang matematika. Hasil studi pada tahun 2007 dan 20011 menunjukkan bahwa lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah, sementara hampir 40% peserta didik Taiwan mampu mencapai level tinggi dan lanjut (advanced). Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama, kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini adalah bahwa apa yang diajarkan kepada peserta didik di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau distandarkan di tingkat internasional.
  6. 6. (Gambar 8). Gambar 8 Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan untuk kelas IV SD juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil studi untuk tingkat SMP seperti yang dipaparkan terdahulu. Dalam hal membaca, lebih dari 95% peserta didik Indonesia di SD kelas IV juga hanya mampu mencapai level menengah, sementara lebih dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Halini juga menunjukkan bahwa apa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan dan distandarkan pada tingkat internasional (Gambar 9). Gambar 9 Hasil analisis lebih jauh untuk studi TIMSS dan PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat kategori, yaitu: - low mengukur kemampuan sampai level knowing - intermediate mengukur kemampuan sampai level applying - high mengukur kemampuan sampai level reasoning - advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information. Tabel 2 Analisis lebih jauh untuk membandingkan kurikulum IPA SMP kelas VIII yang ada di Indonesia dengan materi yang terdapat di TIMSS menunjukkan bahwa terdapat beberapa topik yang sebenarnya belum diajarkan di kelas VIII SMP (Tabel 2). Halyang sama juga terdapat di kurikulum matematika kelas VIII SMP di mana juga terdapat beberapa topik yang belum diajarkan di kelas XIII. Lebih parahnya lagi, malah terdapat beberapa topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini, sehingga menyulitkan bagi peserta didik kelas VIII SMP menjawab pertanyaan yang terdapat di dalam TIMSS (Tabel 3). Tabel 3 Hal yang sama juga terjadi di kurikulum matematika kelas IV SD pada studi internasional di mana juga terdapat topik yang belum diajarkan pada kelas IV dan topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini, seperti bisa dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Dalam kaitan itu, perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi peserta didik, mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. Disamping itu juga perlu dievaluasi ulang tingkat kedalaman materi sesuai dengan tuntutan perbandingan internasional dan menyusun kompetensi dasar yang sesuai dengan materi yang dibutuhkan. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca juga, artikel yang berhubungan dengan Artikel RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013, antara lain : GURU SEBAGAI PELAKSANA KURIKULUM PERLUNYA PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 BUKU TEMATIK KURIKULUM 2013 SD DOWNLOAD KELOMPOK MATAPELAJARAN PEMINATANKURIKULUM2013 SMA/MA KURIKULUM 2013 SMA KELOMPOK MATA PELAJARAN WAJIBKURIKULUM 2013 SMK TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI KOMPETENSI STRUKTUR KURIKULUM 2013 KURIKULUM 2013 SMK /MAK SENI RUPA DAN KRIYA KOMPETENSI DAN STRUKTUR KURIKULUM 2013 KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013 KURIKULUM 2013 MATERI DIKLAT SUPERVISI PEMBELAJARAN (PENGAWAS) MODUL KURIKULUM 2013 MATERI DIKLAT PENGELOLAAN PEMBELAJARAN BERDASARKAN PEMINATAN PENGEMBANGAN SILABUS KURIKULUM 2013 RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 RAPORT SMP SESUAI KURIKULUM 2013 PENILAIAN RAPORT SD SESUAI KURIKULUM 2013 CONTOH PEMBELAJARAN SAINTIFIKDI SD Bila Artikel RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 dirasa bermanfaat untuk Anda, sudi kiranya Anda berikan G plus one anda kami juga sangat bahagia bila anda suka dengan Tulisan RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 ini Dan kami sangat berterimakasih, kepada anda yang telah meninggalkan komentarnya dibawah ini. .... Baca Selengkapnya di : HTTP://WWW.M-EDUKASI.WEB.ID/2013/06/RASIONAL- PENGEMBANGAN-KURIKULUM-2013.HTML Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
  7. 7. Pengembangan kurikulum dalam dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan lagi, karena setiap lembaga pendidikan mengingin organisasinya mempunyai perkembangan yang pesat, sehingga dapat menarik para kalangan pendidik, semakin banyak peminat, juga semakin pesat pula input yang dihasilkan oleh lembaga. Pesatnya pendidik pada lembaga pendidikan diukur dari seberapakah para kepala sekolah dan guru dapat memenej di sekolah. Salah satu hal terpenting yang harus dimenej secara efektif dan efisien adalah masalah kurikulum. Ada beberapa alasan mengapa kurikulum perlu dikembangkan sebaik mungkin, diantaranya; a. Konsevatif Kurikulum Kurikulum yang tidak sesuai dengan tuntutan sosial, tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga tidak sesuai dengan dunia kerja, maka sudah jelas kurikulum akan mengalami problem, yaitu akan terjadi pengangguran pada lulusan sekolah. Dengan melihat data tersdebut kurikulum perlu dirubah, dikembangkan dan diperbaruhi[1] kurikulum yang telah usang korbannya bukan hanya terletak pada peserta didik saja, tapi dampak negatifnya akan menimpa pada lembaga sekolah. Lembaga akan dijauhi masyarakat, sekolah akan ketinggalan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga akan sulit akan membangun tujuan nasional yang telah direncanakan pada sebelumnya.[2] Kurikulum pendidikan harus bersifat dinamis, senantiasa berubah menyesuaikan dengan keadaan suapaya dapat memantapkan belajar dan hasil belajar. Secara garis besar perubahan kurikulum dilatar belakangi oleh beberapa hal. Akan tetapi kata- kata perubahan bukan menghapus kurikulum sebelumnya secara sepenuhnya akan tetapi menyempurnakan dan mengembangkan , diantaranya adalah: 1. Adanya perkembangan dan perubahan bangsa yang satu dengan yang lain. Dengan demikian perubahan perhatian dan perluasan bentuk pembelajaran harus mendapat perhatian.[3] 2. Industri dan produksi 3. Orientasi politik dan praktek kenegaraan
  8. 8. 4. Pandangan kalangan intelektual yang berubah 5. Pemikiran baru mengenai proses belajar mengajar 6. Eksploitasi ilmu pengetahuan 7. Perubahan dalam masyarakat b. Sentralisasi dan desentralisasi kurikulum Sentralisasi merupakan problem kurikulum yang paling utama, yang memunculkan pengembangan kurikulum tingkat otonomi daerah, sebagaimana yang dikemukakan oleh menteri pendidikan fuad Hasan, bahwa tidak mungkin diterapkannyua kurikukulum yang baku (sentralisasi) di seluruh indonesia. karena setiap daerah mempunyai kadar potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berbeda, diharapkan dengan potensi tersebut setiap daerah dapat mengembangkan dan mengelola sesuai dengan potensinya masing-masing. Dimana potensi-potensi tersebut dapat diintegrasikan dalam kurikulum muatan lokal.[4] Diberikannya kesempatan untuk mengembangkan dan mengelola potensi daerah masing-masing, dengan harapan dapat membangun wilyahnya sendiri sehingga lulusan dari sekolah nantinya tidak meninggalkan lingkungannya sendiri. Kalau setiap sekolah tidak diberikan kesempatan demikian, di khawatir kan para kalangan pendidikan akan terasingkan oleh lingkungan, dan daerahnya akan kosong karena tidak adanya potensi yang dapat dikembangkan. Dalam mengangapi Fuad Hasan winarno surachtmad ( Mantan IKIP jakarta) mengemukakan, bahwa sebenarnya indonesia tidak pernah menerapkan kurikulum fleksibel. Kurikulum yang diberlakukan di sekolah hanya satu dan pusat, sehingga faktor daerah seringkali kurang diperhatikan. Didalam pengelolaan, seharusnya dihindari sentralisasi kurikulum, dan digunakan sebanyak mungkin desentralisasi kurikulum. Untuk menuju kurikulum yang berbasis desentralisasi tersebut diperlukan pengembangan kurikulum. c. Tingkat kematangan siswa Tingkat kematangan siswa juga menjadi alasan pengembangan kurikulum, karena setiap peserta didik mempunyai jenjang pendidikan yang berbeda. Jika kurikulum pendidikan tidak berusaha
  9. 9. disesuaikan dengan tingkatan peserta didik maka tujuan pembelajaran akan sulit tercapai. Untuk itu para pakar pengembang kurikulum membuat suatu pemikiran agar anak dapat belajar dengan baik, memperoleh ilmu pengetahuan, merubah sikap, dan memperoleh pengalaman, dengan cara mengembangkan kurikulum yang berdasarkan azas psikologi peserta didik.[5] 2. A. Perbedaan Esensial Perbedaan esensial pembelajaran kurikulum 2013 dengan kurikulum 2016 adalah pendekatantematik terpadu di SD, tematik terpadu pada IPA dan IPS di SMP dan pendekatan mata pelajaran ,serta peminatan di SMA dan SMK. Perbedaan yang lebih luas secara esensial dapatdilihatdalam materi pada ElemenPerubahan pada Kurikulum 2013 (1349) B. Pegeseran pada SKL(Standar Kompetensi Lulusan): Kurikulum 2013 meningkatkan dan menyeimbangkan softskills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap,keterampilan,dan pengetahuan.Di samping itu,kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran berubah menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi.Berberapa pergeseran dapatdilhatpula pada tiap jenjang seperti di bawah ini Karakteristik SD  Holistik berbasis sains (alam,sosial,dan budaya)  Jumlah matapelajaran dari 10 menjadi 6  Jumlah jam bertambah 4 JP/minggu akibatperubahan pendekatan pembelajaran Karakteristik SMP  TIK menjadi media semua matapelajaran  Pengembangan diri terintegrasi pada setiap matapelajaran dan ekstrakurikuler  Jumlah matapelajaran dari 12 menjadi 10  Jumlah jam bertambah 6 JP/minggu akibatperubahan pendekatan pembelajaran SMA
  10. 10.  Perubahan sistem:ada matapelajaran wajib dan ada matapelajaran pilihan  Terjadi pengurangan matapelajaran yang harus diikuti siswa  Jumlah jam bertambah 1 JP/minggu akibatperubahan pendekatan pembelajaran SMK  Penambahan jenis keahlian berdasarkan spektrum kebutuhan (6 program keahlian,40 bidang keahlian,121 kompetensi keahlian)  Pengurangan adaptifdan normatif,penambahan produktif  produktifdisesuaikan dengan trend perkembangan d D. Standar Proses Pembelajaran  Standar Proses yang semula terfokus pada Eksplorasi,Elaborasi,dan Konfirmasi dilengkapi dengan Mengamati,Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan,dan Mencipta.  Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas,tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat  Guru bukan satu-satunya sumber belajar.  Sikap tidak diajarkan secara verbal,tetapi melalui contoh dan teladan  SD : Tematik terpadu  SMP: IPA dan IPS masing-masing diajarkan secara terpadu  SMA: Adanya mata pelajaran wajib dan pilihan sesuai dengan bakatdan minatnya  SMK: Kompetensi keterampilan yang sesuai dengan standar industri E. Penilaian Hasil Belajar Komponen perubahan pada penilaian hasil belajar:  Penilaian berbasis kompetensi  Pergeseran dari penilain melalui tes [mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja],menuju penilaian otentik [mengukur semua kompetensi sikap,keterampilan,dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil]  MemperkuatPAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal)  Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL  Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuatsiswa sebagai instrumen utama penilaian Untuk meningkatkan kelengkapan informasi tentang elemen pergeseeran dapatdilihatdalam power point yang dapat diunduh. 1. KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM 2013 PPT - 1.2 2. 2 Elemen Perubahan Standar Kompetensi Lulusan Standar Proses Standar Isi Standar Penilaian Elemen Perubahan 3. 3 Elemen Perubahan Elemen Deskripsi SD SMP SMA SMK Kompetensi Lulusan Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap,
  11. 11. keterampilan, dan pengetahuan Kedudukan mata pelajaran (ISI) Kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran berubah menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi. Pendekatan (ISI) Kompetensi dikembangkan melalui: Tematik terpadu dalam semua mata pelajaran Mata pelajaran Mata pelajaran Vokasinal 4. 4 Elemen Deskripsi SD SMP SMA SMK Struktur Kurikulum (Mata pelajaran dan alokasi waktu) (ISI) • Holistik berbasis sains (alam, sosial, dan budaya) • Jumlah matapelajaran dari 10 menjadi 6 • Jumlah jam bertambah 4 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran • TIK menjadi media semua matapelajaran • Pengembangan diri terintegrasi pada setiap matapelajaran dan ekstrakurikuler • Jumlah matapelajaran dari 12 menjadi 10 • Jumlah jam bertambah 6 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran • Perubahan sistem: ada matapelajaran wajib dan ada matapelajaran pilihan • Terjadi pengurangan matapelajaran yang harus diikuti siswa • Jumlah jam bertambah 1 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran • Penambahan jenis keahlian berdasarkan spektrum kebutuhan (6 program keahlian, 40 bidang keahlian, 121 kompetensi keahlian) • Pengurangan adaptif dan normatif, penambahan produktif • produktif disesuaikan dengan trend perkembangan di Industri Elemen Perubahan 5. 5 Elemen Perubahan Elemen Deskripsi SD SMP SMA SMK Proses pembelajar- an • Standar Proses yang semula terfokus pada Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi dilengkapi dengan Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta. • Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat • Guru bukan satu-satunya sumber belajar. • Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan • Tematik dan terpadu • IPA dan IPS masing- masing diajarkan secara terpadu • Adanya mata pelajaran wajib dan pilihan sesuai dengan bakat dan minatnya • Kompetensi keterampilan yang sesuai dengan standar industri 6. 6 Elemen Deskripsi SD SMP SMA SMK Penilaian hasil belajar • Penilaian berbasis kompetensi • Pergeseran dari penilain melalui tes [mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja], menuju penilaian otentik [mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil] • Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal) • Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL • Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian Ekstrakurikuler • Pramuka (wajib) • UKS • PMR • Bahasa Inggris • Pramuka (wajib) • OSIS • UKS • PMR • Dll • Pramuka (wajib) • OSIS • UKS • PMR • Dll • Pramuka (wajib) • OSIS • UKS • PMR • Dll Elemen Perubahan 7. KTSP 2006 Kurikulum 2013 Ket Mata pelajaran tertentu mendukung kompetensi tertentu Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi [sikap, keterampilan, pengetahuan] Semua Jenjang Mata pelajaran dirancang berdiri sendiri dan memiliki kompetensi dasar sendiri Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas Semua Jenjang Bahasa Indonesia sejajar dengan mapel lain Bahasa Indonesia sebagai penghela mapel lain [sikap dan keterampilan berbahasa} SD Tiap mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan berbeda Semua mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan yang sama [saintifik] melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar,.... Semua Jenjang Tiap jenis konten pembelajaran diajarkan terpisah [separated curriculum] Bermacam jenis konten pembelajaran diajarkan terkait dan terpadu satu sama lain [cross curriculum atau integrated curriculum] SD Konten ilmu pengetahuan diintegrasikan dan dijadikan penggerak konten pembelajaran lainnya SD Perbedaan Esensial Kurikulum 2013 7 8. KTSP 2006 Kurikulum 2013 Ket Tematik untuk kelas I – III [belum integratif] Tematik Integratif untuk Kelas I – VI SD TIK adalah mata pelajaran sendiri TIK merupakan sarana pembelajaran, dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain SMP Bahasa Indonesia sebagai pengetahuan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge SMP/ SMA/SMK Untuk SMA, ada penjurusan sejak kelas XI Tidak ada penjurusan di SMA. Ada mata pelajaran wajib,
  12. 12. peminatan, antar minat, dan pendalaman minat SMA/SMK SMA dan SMK tanpa kesamaan kompetensi SMA dan SMK memiliki mata pelajaran wajib yang sama terkait dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, dan sikap. SMA/SMK Penjurusan di SMK sangat detil [sampai keahlian] Penjurusan di SMK tidak terlalu detil [sampai bidang studi], didalamnya terdapat pengelompokkan peminatan dan pendalaman SMA/SMK Perbedaan Esensial Kurikulum 2013 8 9. Perubahan untuk Semua Mata Pelajaran No Implementasi Kurikulum Lama Kurikulum Baru 1 Materi disusun untuk memberikan pengetahuan kepada siswa Materi disusun seimbang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan 2 Pendekatan pembelajaran adalah siswa diberitahu tentang materi yang harus dihafal [siswa diberi tahu]. Pendekatan pembelajaran berdasarkan pengamatan, pertanyaan, pengumpulan data, penalaran, dan penyajian hasilnya melalui pemanfaatan berbagai sumber-sumber belajar [siswa mencari tahu] 3 Penilaian pada pengetahuan melalui ulangan dan ujian Penilaian otentik pada aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan berdasarkan portofolio. 9 10. Perubahan pada Ilmu Pengetahuan Sosial No Implementasi Kurikulum Lama Kurikulum Baru 1 Materi disajikan terpisah menjadi Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi Materi disajikan terpadu, tidak dipisah dalam kelompok Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi. 2 Tidak ada platform, semua kajian berdiri sejajar Menggunakan Geografi sebagai platform kajian dengan pertimbangan semua kejadian dan kegiatan terikat dengan lokasi. Tujuannya adalah menekankan pentingnya konektivitas ruang dalam memperkokoh NKRI. Kajian sejarah, sosiologi, budaya, dan ekonomi disajikan untuk mendukung terbentuknya konektivitas yang lebih kokoh. 3 Diajarkan oleh guru berbeda (team teaching) dengan sertifikasi berdasarkan mata kajian Diajarkan oleh satu orang guru yang memberikan wawasan terpadu antar mata kajian tersebut sehingga siswa dapat memahami pentingnya keterpaduan antar mata kajian tersebut sebelum mendalaminya secara terpisah dan lebih mendalam pada jenjang selanjutnya 10 11. Perubahan pada Ilmu Pengetahuan Alam No Implementasi Kurikulum Lama Kurikulum Baru 1 Materi disajikan terpisah antara Fisika, Kimia, dan Biologi Materi disajikan terpadu, tidak dipisah dalam kelompok Fisika, Kimia, Biologi 2 Tidak ada platform, semua kajian berdiri sejajar Menggunakan Biologi sebagai platform kajian dengan pertimbangan semua kejadian dan fenomena alam terkait dengan benda beserta interaksi diantara benda-benda tersebut. Tujuannya adalah menekankan pentingnya interaksi biologi, fisika, kimia dan kombinasinya dalam membentuk ikatan yang stabil. 3 Materi ilmu bumi dan anta-riksa masih belum memadai [sebagian dibahas di IPS] Diperkaya dengan materi ilmu bumi dan antariksa sesuai dengan standar internasional 4 Materi kurang mendalam dan cenderung hafalan Materi diperkaya dengan kebutuhan siswa untuk berfikir kritis dan analitis sesuai dengan standar internasional 5 Diajarkan oleh guru berbeda (team teaching) dengan sertifikasi berdasarkan mata kajian Diajarkan oleh satu orang guru yang memberikan wawasan terpadu antar mata kajian tersebut sehingga siswa dapat memahami pentingnya keterpaduan antar mata kajian tersebut sebelum mendalaminya secara terpisah dan lebih mendalam pada jenjang selanjutnya 11 12. Perubahan pada Matematika No Implementasi Kurikulum Lama Kurikulum Baru 1 Langsung masuk ke materi abstrak Mulai dari pengamatan permasalahan konkret, kemudian ke semi konkret, dan akhirnya abstraksi permasalahan 2 Banyak rumus yang harus dihafal untuk menyelesaikan permasalahan (hanya bisa menggunakan) Rumus diturunkan oleh siswa dan permasalahan yang diajukan harus dapat dikerjakan siswa hanya dengan rumus-rumus dan pengertian dasar (tidak hanya bisa mnggunakan tetapi juga memahami asal-usulnya) 3 Permasalahan matematika selalu diasosiasikan dengan [direduksi menjadi] angka Perimbangan antara matematika dengan angka dan tanpa angka [gambar, grafik, pola, dsb] 4 Tidak membiasakan siswa untuk berfikir kritis [hanya mekanistis] Dirancang supaya siswa harus berfikir kritis untuk menyelesaikan permasalahan yang diajukan 5 Metode penyelesaian masalah yang tidak terstruktur Membiasakan siswa berfikir algoritmis 6 Data dan statistik dikenalkan di kelas IX saja Memperluas materi mencakup peluang,
  13. 13. pengolahan data, dan statistik sejak kelas VII serta materi lain sesuai dengan standar internasional 7 Matematika adalah eksak Mengenalkan konsep pendekatan dan perkiraan 12 13. Perubahan pada Bahasa Indonesia/Inggris No Implementasi Kurikulum Lama Kurikulum Baru 1 Materi yang diajarkan ditekankan pada tatabahasa/struktur bahasa Materi yang dijarkan ditekankan pada kompetensi berbahasa sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan gagasan dan pengetahuan 2 Siswa tidak dibiasakan membaca dan memahami makna teks yang disajikan Siswa dibiasakan membaca dan memahami makna teks serta meringkas dan menyajikan ulang dengan bahasa sendiri 3 Siswa tidak dibiasakan menyusun teks yang sistematis, logis, dan efektif Siswa dibiasakan menyusun teks yang sistematis, logis, dan efektif melalui latihan-latihan penyusunan teks 4 Siswa tidak dikenalkan tentang aturan-aturan teks yang sesuai dengan kebutuhan Siswa dikenalkan dengan aturan-aturan teks yang sesuai sehingga tidak rancu dalam proses penyusunan teks (sesuai dengan situasi dan kondisi: siapa, apa, dimana) 5 Kurang menekankan pada pentingnya ekspresi dan spontanitas dalam berbahasa Siswa dibiasakan untuk dapat mengekspresikan dirinya dan pengetahuannya dengan bahasa yang meyakinkan secara spontan 13 14. Perubahan pada Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran No Implementasi Kurikulum Lama Kurikulum Baru 1 Materi disajikan berdasarkan empat pilar dengan pembahasan yang terpisah- pisah Materi disajikan tidak berdasarkan pada pengelompokkan menurut empat pilar kebangsaan tetapi berdasarkan keterpaduan empat pilar dalam pembentukan karakter bangsa 2 Materi disajikan berdasarkan pasokan yang ada pada empat pilar kebangsaan Materi disajikan berdasarkan kebutuhan untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab (taat norma, asas, dan aturan) 3 Tidak ada penekanan pada tindakan nyata sebagai warga negara yang baik Adanya kompetensi yang dituntut dari siswa untuk melakukan tindakan nyata sebagai warga negara yang baik 4 Pancasila dan Kewarganegaraan disajikan sebagai pengetahuan yang harus dihafal Pancasila dan Kewarganegaraan bukan hanya pengetahuan, tetapi ditunjukkan melalui tindakan nyata dan sikap keseharian. 14 15. PROSES PEMBELAJARAN PROSES PENILAIAN Kemampuan kreativitas diperoleh melalui:  Observing [mengamati]  Questioning [menanya]  Associating [menalar]  Experimenting [mencoba]  Networking [Membentuk jejaring] Proses yang Mendukung Kreativitas Pendekatan saintifik dan kontekstual  penilaian berbasis portofolio  pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal,  memberi nilai bagi jawaban nyeleneh,  menilai proses pengerjaannya bukan hanya hasilnya,  penilaian spontanitas/ekspresif,  dll Penilaian Otentik 15 16. 16 Terima Kasih
  14. 14. 3. Bagaimana Strategi dan Implementasi Kurikulum 2013? Betulkah? OPINI | 28 January 2013 | 13:14 Dibaca: 3002 Komentar: 5 0 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Proses pendidikan dapat menjadikan seseorang menjadi lebih dewasa, melalui sebuah pendidikan maka seseorang akan menjadi berfikir dan bersikap lebih dewasa. Pendidikan dibagi menjadi dua kelompok yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal. Penidikan non formal merupakan suatu pendidikan yang dilaksanakan oleh lembaha-lembaga tertentu yang fokus terhadap salah satu bidang, misalnya kursus bahasa inggris, kursus menjahit, dan yang lainnya yang bersifat keterampilan. sedangkan pendidikan formal merupakan pendidikan yang dilaksanakan oleh lembaga yang bertujuan untuk mencerdaskan bangsa. Pendidikan formal dilaksanakan oleh sekolah-sekolah yang memiliki jenjang- jenjang tertentu. Mulai dari sekolah tingkat usia dini hingga perguruan tinggi. Dalam proses pendidikan perlu adanya suatu manajemen pendidikan, baik itu tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Manajemen pendidikan itu berfungsi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu faktor yang perlu ada pengaturan yang baik itu adalah pengaturan kurikulum. Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai. oleh sebab itu kurikulum merupakan salah satu indikator untuk Suatu negara dikatakan maju apabila kualitas pendidikan nya baik. Negara Indonesia merupakan suatu negara yang besar yang merupakan suatu negara multikultur. Ada sekitar 200 suku bangsa yang ada di negara ini. sebagai suatu negara yang besar, Indonesia membutuhkan manajemen pendidikan yang baik guna mebangun suatu bangsa. dalam bidang kurikulum, Indonesia pernah mengalami beberapa kali pergantian kurikulum.
  15. 15. Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya. Saat ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sedang mempublikasikan rancangan pendidikan yang baru yaitu Kurikulum 2013. kurikulum ini merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Menurut Mendikbud, upaya ini untuk mengurangi beban guru. Pasalnya banyak guru belum kompeten dalam merancang berbagai perangkat pembelajaran.Perangkat pembelajaran kurikulum 2013 akan disediakan oleh pemerintah. Pelaksanaan kurikulum 2013 ini rencananya akan dilaksanakan pada bulan juni 2013 dalam pengajaran 2013/2014. namun meskipun demikian, masih ada beberapa sekolah yang belum siap dalam penerapan kurikulum baru ini. Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu Sosial, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta akan menyelenggarakan Seminar 2013 dengan tema “Menyongsong Kurikulum 2013: Strategi dan Implementasi oleh Sekolah”. Seminar ini akan mensosialisasikan tentang bagaiman pelaksanaan dan implementasi bagi sekolah dalam pelaksanaannya. Acara seminar ini akan dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 2 Maret 2013 di Aula UPT Perpustakaan Universitas Negeri Jakarta dimulai pada pukul 08.00 s.d. selesai. dalam seminar ini kami mengundang berbagai ahli dan perwakilan sekolah guna mempersiapkannya. Diantaranya adalah sebagi berikut : Keynote Speech : Prof. Dr. Musliar Kasim (Wamendikbud RI) Sesi 1: “Implementasi Kurikulum 2013 Untuk Menyiapkan Generasi Emas 2045″
  16. 16. a. Prof. Dr. Conny R. Semiawan (Guru Besar Universitas Negeri Jakarta) b. Dr. Ratna Megawangi (Direktur The Indonesian Heritage) Sesi 2: “Sekolah Menjawab Kurikulum 2013 (antara harapan dan tantangan) a. Prof. Dr. Said Hamid Hasan (Guru Besar UPI/ Pakar Kurikulum) b. Suparno Sastro, S.Pd. (Perwakilan Pendidikan Menengah) c. Perwakilan pendidikan dasar. Mari kita sama sama terlibat dalam penentuan kebijakan pemerintah! Strategi Implementasi Kurikulum Baru JIKA tak ada kendala, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan mengesahkan rancangan kurikulum 2013 sebagai pengembangan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan. Secara umum, materi rancangan kurikulum 2013 sebenarnya seperti kembali ke periode kurikulum berbasis kompetensi (KBK), tetapi titik tekan pada kompetensi dan proses implementasi kurikulum sajalah yang hendak diubah. Kurikulum 2013 dengan berani mengedepankan aspek kompetensi sikap (attitude) ketimbang pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Pada proses pengembangan kurikulum sebelumnya peran serta guru dan masyarakat nyaris tak terdengar, sedangkan pada rancangan kurikulum 2013 pemerintah melakukan langkah berani dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan, termasuk guru dan masyarakat, terlibat di dalamnya. Iklan di laman daring detik.com yang memuat rancangan kurikulum agar dikritisi masyarakat, sebagai salah satu strategi uji publik sebelum diimplementasikan, jelas merupakan tradisi baru. Saya dan kawan-kawan di sekolah membaca dengan saksama rancangan kurikulum 2013 tersebut dan melihat ada beberapa perubahan signifikan yang hendak dicapai pemerintah. Jika dilihat dari perspektif manajemen kurikulum, rencana kurikulum 2013 sesungguhnya telah maksimal dalam membuat basis teoritis dan filosofis konstruksi kurikulum. Salah satu landasan pengembangan kurikulum 2013 secara kasatmata mengambil hampir semua usulan
  17. 17. Wapres Boediono dalam artikelnya di Kompas (27/8). Seperti ingin menggugat lambat dan lemahnya sistem pendidikan kita dalam merespons setiap situasi aktual yang terjadi di tengah masyarakat, Boediono merujuk contoh delapan kemampuan yang harus dimiliki setiap mahasiswa S-1 yang lulus dari Harvard University. Kemampuan itulah yang kemudian diadaptasi oleh Kemendikbud sebagai alasan pengembangan kurikulum 2013, yaitu terdiri dari kemampuan berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, menjadi warga negara yang bertanggung jawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal, memiliki minat luas dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja, memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Tak ada yang salah dengan rumusan dan alasan pengem bangan kurikulum tersebut. Hanya, jika diamati secara saksama, rencana kurikulum 2013 ini bagi saya masih kurang kuat mengagendakan penguatan kapasitas sekolah dalam rangka menumbuhkan budaya sekolah yang sehat. Strategi implementasi rancangan kurikulum ini seolah hanya fokus pada pengembangan kurikulum itu sendiri, dengan tema sentral memperbaiki rancangan kurikulum itu sendiri serta kondisi kapasitas dan kemampuan guru. Artinya, jika dilihat dari aspek perbandingan arah perubahan kurikulum yang dikehendaki, rancangan kurikulum 2013 sesungguhnya telah mencoba mengadopsi pendekatan yang dinamis, yang titik tekannya memang diarahkan bukan hanya kepada substansi kurikulum, melainkan juga rencana perbaikan kemampuan guru. Dalam 30 tahun terakhir, perubahan kurikulum di Indonesia selalu bersifat top-down approach, dengan mengambil perubahan pada aspek kurikulum dengan menggunakan simplistic curriculum change approach, atau fokus perubahan yang menitikberatkan pada aspek kapasitas guru dengan model pendekatan teacher competence development approach. Jika dilihat pada tabel, terlihat dengan jelas bahwa pendekatan dalam dynamic curriculum change approach baru saja dirancang dalam rencana kurikulum 2013, di mana titik tekan berada pada substansi kurikulum itu sendiri dan kompetensi guru.
  18. 18. Meskipun pelibatan semua pemangku kepentingan telah dilakukan, jika dilihat dari sudut pandang arah peru bahan kurikulum yang diinginkan, tampaknya agenda untuk memasukkan secara serius perbaikan manajemen sekolah belum dimasukkan ke skema perubahan kurikulum. Yin Cheong Cheng dalam Effectiveness of Curriculum Change in School: An Organizational Perspective (1994) mengingatkan agar perubahan kurikulum bisa berlangsung setidaknya di tiga level, yaitu individu guru, kelompok, dan sekolah. Organizational model of curriculum change ini jelas harus memasukkan agenda seperti perbaikan manajemen sekolah, memberlakukan kurikulum berbasis sekolah (school-based curriculum), serta membiarkan sekolah memiliki strategi implementasi kurikulum berdasarkan perencanaan pengembangan sekolah yang sesuai dengan visi dan misi. Karena itu, melakukan mekanisme dan prosedur pengangkatan kepala sekolah yang terbuka dan menetapkan kualifikasi yang sesuai dengan tujuan pengembangan kurikulum 2013 adalah imperatif. Demikian juga, melakukan workshop penguatan kapasitas kepemimpinan dan manajemen sekolah merupakan keharusan yang tidak bisa diabaikan dalam proses implementasi kurikulum 2013. Wallahua'lam bi al-sawab. 4. Strategi Implementasi Kurikulum Baru JIKA tak ada kendala, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan mengesahkan rancangan kurikulum 2013 sebagai pengembangan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan. Secara umum, materi rancangan kurikulum 2013 sebenarnya seperti kembali ke periode kurikulum berbasis kompetensi (KBK), tetapi titik tekan pada kompetensi dan proses implementasi kurikulum sajalah yang hendak diubah. Kurikulum 2013 dengan berani mengedepankan aspek kompetensi sikap (attitude) ketimbang pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Pada proses pengembangan kurikulum sebelumnya peran serta guru dan masyarakat nyaris tak terdengar, sedangkan pada rancangan kurikulum 2013 pemerintah melakukan langkah berani dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan, termasuk guru dan masyarakat, terlibat di dalamnya. Iklan di laman daring detik.com yang memuat rancangan kurikulum agar dikritisi masyarakat, sebagai salah satu strategi uji publik sebelum diimplementasikan, jelas merupakan tradisi baru. Saya dan kawan-kawan di sekolah
  19. 19. membaca dengan saksama rancangan kurikulum 2013 tersebut dan melihat ada beberapa perubahan signifikan yang hendak dicapai pemerintah. Jika dilihat dari perspektif manajemen kurikulum, rencana kurikulum 2013 sesungguhnya telah maksimal dalam membuat basis teoritis dan filosofis konstruksi kurikulum. Salah satu landasan pengembangan kurikulum 2013 secara kasatmata mengambil hampir semua usulan Wapres Boediono dalam artikelnya di Kompas (27/8). Seperti ingin menggugat lambat dan lemahnya sistem pendidikan kita dalam merespons setiap situasi aktual yang terjadi di tengah masyarakat, Boediono merujuk contoh delapan kemampuan yang harus dimiliki setiap mahasiswa S-1 yang lulus dari Harvard University. Kemampuan itulah yang kemudian diadaptasi oleh Kemendikbud sebagai alasan pengembangan kurikulum 2013, yaitu terdiri dari kemampuan berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, menjadi warga negara yang bertanggung jawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal, memiliki minat luas dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja, memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Tak ada yang salah dengan rumusan dan alasan pengem bangan kurikulum tersebut. Hanya, jika diamati secara saksama, rencana kurikulum 2013 ini bagi saya masih kurang kuat mengagendakan penguatan kapasitas sekolah dalam rangka menumbuhkan budaya sekolah yang sehat. Strategi implementasi rancangan kurikulum ini seolah hanya fokus pada pengembangan kurikulum itu sendiri, dengan tema sentral memperbaiki rancangan kurikulum itu sendiri serta kondisi kapasitas dan kemampuan guru. Artinya, jika dilihat dari aspek perbandingan arah perubahan kurikulum yang dikehendaki, rancangan kurikulum 2013 sesungguhnya telah mencoba mengadopsi pendekatan yang dinamis, yang titik tek annya memang diarahkan bukan hanya kepada substansi kurikulum, melainkan juga rencana perbaikan kemampuan guru. Dalam 30 tahun terakhir, perubahan kurikulum di Indonesia selalu bersifat top-down approach, dengan mengambil perubahan pada aspek kurikulum dengan menggunakan simplistic curriculum change approach, atau fokus perubahan yang menitikberatkan pada
  20. 20. aspek kapasitas guru dengan model pendekatan teacher competence development approach. Jika dilihat pada tabel, terlihat dengan jelas bahwa pendekatan dalam dynamic curriculum change approach baru saja dirancang dalam rencana kurikulum 2013, di mana titik tekan berada pada substansi kurikulum itu sendiri dan kompetensi guru. Meskipun pelibatan semua pemangku kepentingan telah dilakukan, jika dilihat dari sudut pandang arah peru bahan kurikulum yang diinginkan, tampaknya agenda untuk memasukkan secara serius perbaikan manajemen sekolah belum dimasukkan ke skema perubahan kurikulum. Yin Cheong Cheng dalam Effectiveness of Curriculum Change in School: An Organizational Perspective (1994) mengingatkan agar perubahan kurikulum bisa berlangsung setidaknya di tiga level, yaitu individu guru, kelompok, dan sekolah. Organizational model of curriculum change ini jelas harus memasukkan agenda seperti perbaikan manajemen sekolah, memberlakukan kurikulum berbasis sekolah (school-based curriculum), serta membiarkan sekolah memiliki strategi implementasi kurikulum berdasarkan perencanaan pengembangan sekolah yang sesuai dengan visi dan misi. Karena itu, melakukan mekanisme dan prosedur pengangkatan kepala sekolah yang terbuka dan menetapkan kualifikasi yang sesuai dengan tujuan pengembangan kurikulum 2013 adalah imperatif. Demikian juga, melakukan workshop penguatan kapasitas kepemimpinan dan manajemen sekolah merupakan keharusan yang tidak bisa diabaikan dalam proses implementasi kurikulum 2013. Wallahua'lam bi al-sawab. Perbedaan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013 04.03 Diposkan oleh DavitDwi Setiawan Label:Makalah dan Artikel Kuliah Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013 Menurutpara penyusunkurikulum 2013, perbedaan antara kurikulum 2006 dan kurikulum 2013 adalah sebagai berikut : Kurikulum 2006 Kompetensi Lulusan
  21. 21. 1. Belum sepenuhnya menekankan pendidikan karakter 2. Belum menghasilkan Keterampilan sesuai kebutuhan 3. Pengetahuan-pengetahuan lepas Kurikulum 2013 Kompetensi Lulusan 1. Berkarakter mulia 2. Keterampilan yang relevan 3. Pengetahuan-pengetahuan terkait Kurikulum 2006 Materi Pembelajaran 1. Belum relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan 2. Beban belajar terlalu berat 3. Terlalu luas, kurang mendalam Kurikulum 2013 Materi Pembelajaran 1. Relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan 2. Materi esensial 3. Sesuai dengan tingkat perkembangan anak Kurikulum 2006
  22. 22. Proses Pembelajaran 1. Berpusat pada guru (teacher centered learning) 2. Sifat pembelajaran yang berorientasi pada buku teks 3. Buku teks hanya memuat materi bahasan Kurikulum 2013 Proses Pembelajaran 1. Berpusat pada peserta didik (student centered active learning) 2. Sifat pembelajaran yang kontekstual 3. Bukuteksmemuatmateri dan prosespembelajaran,sistempenilaiansertakompetensi yangdiharapkan Kurikulum 2006 Penilaian 1. Menekankan aspek kogniti 2. Test menjadi cara penilaian yang dominan Kurikulum 2013 Penilaian 1. Menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik secara proporsional 2. Penilaian test dan portofolio saling melengkapi Kurikulum 2006
  23. 23. Pendidik dan Tenaga Kependidikan 1. Memenuhi kompetensi profesi saja 2. Fokus pada ukuran kinerja Kurikulum 2013 Pendidik dan Tenaga Kependidikan . Memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan personal . Motivasi mengajar Kurikulum 2006 Pengelolaan Kurikulum 1. Satuan pendidikan mempunyai kebebasan dalam pengelolaan kurikulum 2. Masih terdapat kecenderungan satuan pendidikan menyusun kurikulum tanpa mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah 3. Pemerintah hanya menyiapkan sampai standar isi mata pelajaran Kurikulum 2013 Pengelolaan Kurikulum 1. Pemerintah Pusat dan Daerah memiliki kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan. 2. Satuan pendidikan mampu menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah 3. Pemerintah menyiapkan semua komponen kurikulum sampai buku teks
  24. 24. dan pedoman Permasalahan Kurikulum 2006 No Pe 1. Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak. 2. Kurikulumbelumsepenuhnyaberbasiskompetensi sesuai dengantuntutanfungsi dantujuan pendidikan nasional. 3. Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan. 4. Beberapakompetensi yangdibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum. 5. Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global. 6. Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru. 7. Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (sikap, keterampilan, dan pengetahuan) dan belum tegas menuntut adanya remediasi secara berkala. 8. DenganKTSP memerlukandokumenkurikulumyanglebihrinci agartidak menimbulkanmulti tafsir. Menurut kurikulum meliputi sejumlah mata pelajaran yang ditempuh dalam suatu jenjang pendidikan. Dalam Kurikulum sekarang (KTSP), materi muatan local dan kegiatan pengembangan diri merupakanbagiandari muatankurikulum. Misalnya untuk kurikulum SMP dan MTs terdiri dari 10 mata pelajaran, muatan local, dan pengembangan diri yang harus di berikan kepada peserta didik.
  25. 25. Pada Kurikulum 2013 nanti ada perubahan mendasar disbanding kurikulum sekarang, yaitu antara lain : 1. Untuk SD meminimumkanjumlahmatapelajarandenganhasildari 10 dapat dikurangi menjadi6melalui pengintergrasian beberapa mata pelajaran :  IPA menjadi materi pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dll.  IPS menjadi materi pembahasan pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, dll  Muatan Lokal menjadi materi pembahasan Seni Budaya dan Prakarya serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.  Mata pelajaran Pengembangan Diri diintergrasikan ke semua pelajaran 2. Untuk SD menambah 4 jam pelajaran dalam per minggu akibat perubahan proses pembelajaran dan penilaian. 3. Untuk SMP meminimumkan jumlah mata pelajran dengan hasil dari 12 dapat dikurangi menjadi 10 melalui pengintergrasian beberapa mata pelajaran :  TIK menjadi sarana pembelajaran pada semua mata pelajaran, tidak berdiri sendiri.  Muatan Lokal menjadi materi pembahasan Seni Budaya dan Prakarya.  Mata Pelajaran Pengembangan Diri diintergrasikan ke semua mata pelajaran. 4. Untuk SMP menambah 6 jam pelajaran per minggu sebagai akibat dari perubahan pendekatan proses pembelajaran dan proses penilaian. Kurikulum 2013 sudah diimplementasikan pada tahun pelajaran 2013/2014 pada sekolah-sekolah tertentu (terbatas). Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 Juli 2013. Sesuatu yang baru tentu mempunyai perbedaan dengan yang lama. Begitu pula kurikulum 2013 mempunyai perbedaan dengan KTSP. Berikut ini adalah perbedaan kurikulum 2013 dan KTSP. No Kurikulum 2013 KTSP 1 SKL (Standar Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu, melalui Permendikbud No 54 Tahun 2013. Setelah itu baru ditentukan Standar Isi, yang bebentuk Kerangka Dasar Standar Isi ditentukan terlebih dahulu melaui Permendiknas No 22 Tahun 2006. Setelah itu ditentukan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) melalui
  26. 26. Kurikulum, yang dituangkan dalam Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013 Permendiknas No 23 Tahun 2006 2 Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan lebih menekankan pada aspek pengetahuan 3 di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-VI di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-III 4 Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit dibanding KTSP Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibanding Kurikulum 2013 5 Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan ilmiah (saintific approach), yaitu standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta. Standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi 6 TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran TIK sebagai mata pelajaran 7 Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil. Penilaiannya lebih dominan pada aspek pengetahuan 8 Pramuka menjadi ekstrakuler wajib Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib 9 Pemintan (Penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang SMA/MA Penjurusan mulai kelas XI 10 BK lebih menekankan mengembangkan potensi siswa BK lebih pada menyelesaikan masalah siswa Itulah beberpa perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP. Walaupun kelihatannya terdapat perbedaan yang sangat jauh antara Kurikulum 2013 dan KTSP, namun sebenarnya terdapat kesamaan ESENSI Kurikulum 2013 dan KTSP. Misal pendekatan ilmiah (Saintific Approach) yang pada hakekatnya adalah pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP). Masalah pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila guru tidak paham dan tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.
  27. 27. 5. Penilaian Hasil Belajar Dalam Pelaksanaan Kurikulum 2013 Submitted by admin on December 10, 2013 – 5:38 am3 Comments | 3,698 Penilaian otentik merupakan ciri khas kuriulum 2013. Pelaksananya mengukur masukan (input), proses,dan keluaran (output) pembelajaran (Permendikbud 81a 2013). Melaksanakan penilaian autentik, seperti yang dijelaskan dalam paduan penilaian proses dan hasil belajar dari DirektoratPSMA menyatakan bahwa dalam melaksanakan penilaian autentik guru hendaknya memperhatikan tujuh kriteria berikut: 1. Dilakukan secara menyeleuruh untuk menilai masukan,proses,dan keluaran pembelajaran. 2. Terpadu dengan pembelajaran. 3. Menilai kesiapan,proses,dan haslil blajar peserta didik secara utuh. 4. Meliputi ranah sikap , keterampilan,dan pengetahuan. 5. Relevan dengan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. 6. Tidak hanya mengukur yang siswa ketahui,tetapi mengukur yang peserta didik lakukan. Panduan praktis di atas sesuai dengan hasil analisis Jon Mueller sebagaimana yang dapatdilihatpada table di bawah ini.
  28. 28. Penilaian Tradisional Penilaian Autentik Memilih/Merespon: Siswa memililh jawaban, menentukan pilihan, dan menjawab dengan uraian. Melaksanakan kegiatan:Siswa melakukan aktivitas yang sesungguhnya sehingga memperoleh pengalaman belajar. Dikondisikan: Akavitas siswa dikondisikan sesuai dengan keinginan penguji, seperti memilih jawaban yang dikodisikan guru. Kenyataan Hidup: Guru menilai kenyataan yang sesungguhnya siswa lakukan pada kehidupan nyata dalam waktu pendek. Mengingat/ Menyatakan:Siswa mengingat atau menyatakan informasi yang mereka kuasai. Konstruksi/Aplikasi: Penilaian Autentik memperhatikan siswa menganalisis atau mengaplikasikan ilmu dalam proses berkreasi, berinovasi atau mencipta.. Struktur Dirancang Guru: Siswa perlu berhati- hati untuk mengembangkan struktur yang guru harapkan, memenuhi target seperti yang guru inginkan. Struktur Prilaku Dikembangkan Siswa:Penilaian autenik memberi ruang kepada siswa mengembangkan konstruksi sesuai dengan keinginannya Bukti Tidak Langsung: Dalam penilaian tradisional melaluites pilihan ganda, misalnya, memperoleh bukti kompetensi siswa tidak langsung Bukti Langsung: Dalam penilaian autentik guru memperoleh bukti langsung tentang perkembangan kompetensi yang ditunjukkan siswa secara langsung Disarikan dari :Jon Mueller: http://jfmueller.faculty.noctrl.edu/toolbox/whatisit.htm Pada panduan pelaksanaan Kurikulum 2013,Pemendikbud 81A,menjelaskan bahwa yang menjadi sasaran penilain ialan proses dan hasil belajar siswa.Penilain proses meliputi aktivitas mengamati,menanya;mengumpulkan informasi,mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.Yang termasuk aktivitas dalam mengamati adalah menyimak, membaca,dan melihat. Aktivitas menanya meliputi kegaitan mengajukan pertanyaan tentang informasi yang belum siswa pahami dari yang diamatinya.Karena itu pembelajaran dianjurkan dimulai dari siswa mencari tahu dengan cara bertanya dengan benar.Pada langkah ini siswa merumuskan pertanyaan untuk merumuskan yang ingin dipelajarinya.Karenanya pertanyaan selain menggali rasa ingin tahunya,juga dapatmenggali ruang pikiran untuk mengembangkan dugaan sementara atau hipotesis. Untuk menjawab pertanyaan yang telah diajukannya siswa mencoba menghimpun informasidengan cara membaca sumber belajar yang ada dalam kelas, mengamati objek,mengamati kejadian,melakukan percobaan,mengadakan wawancara dari nara sumber,menonton filem,melakukan kunjungan ke perpustakaan,mengeksplorasi dari internet, atau menggali sumber lain seperti diskusi dengan teman dalam kelompok.Di sini terkandung kegiatan eksplorasi, elaborasi,dan konfirmasi. Kegiatan dilanjutdengan mengolah informasi yang sudah siswa himpun.Pengolahan informasi seperti menganalisis,mengelompokkan data yang sejenis,membadingkan perbedaan,membandingkan kosep yang bertentangan sehingga siswa dapatmenambah keluasan dan kedalaman informasi.Melalui pengolahan informasi
  29. 29. siswa menentukan solusi atas masalah yang telah mereka rumuskan dalam kegiatan awal pembelajaran.berbagai sumber yang memiliki pendapatyang berbeda sampai pada yang bertentangan.Dari hasil analisis siswa mencoba merumuskan kesimpulan.Dalam proses ini sebenarnya siswa mengembangkan pengalaman menalar atau mengasosiasi. Pada proses mengolah informasi siswa perlu mendapatkan dorongan untuk bersikap jujur,teliti,disiplin, taataturan, kerja keras,serta menerapkan keterampilan berpikir,menerapkan prosedur dan menafsirkan data sehingga dapat memperoleh menyimpulkan . Kegiatan inti berikutnya adalah menyampaikan hasil pengamatan atau mengkomunikasikan kesimpulan.Pada tahap ini siswa belajar ujntuk mengomunikasikan materi yang mereka pelajari baik secara lisan,tertulis,atau menggunakan media. Data hasil penilain meliputi data perkembangan belajar siswa dalam proses pelaksanaan belajar sehari-hari hasil pengamatan guru,penilaian diri,dan penilaian teman,hasil ulangan harian lisan maupun tulisan,nilai hasil karya, dan nilai tugas yang terhimpun menjadi nilai portofolio. Untuk mengolah nilai,DirektoratPembinaan SMA memberi rambu penelaian sebagai berikut:  Pedoman Penilaian (975)

×