FONOLOGI
DI PANTI WREDA BANYUMAS
Asrifiana
Santiatun
Eko Febri P.
Lilis Nurhayati
Panti Weda adalah tempat para
lanjut usia (lansia) tinggal
dengan berbagai alasan. Di sana
mereka dapat saling berbagi
cerita karena usia mereka relatif
sebaya.
Kasus yang sering kami temukan berkaitan
dengan fonologi adalah kasus pada
pengucapan bunyi-bunyi konsonan.
Di antara bunyi-bunyi itu yang paling sulit
diucapkan oleh para lansia adalah bunyi S.
Menurut kami, itu dikarenakan oleh sudah
tanggalnya sebagian besar gigi para lansia
tersebut.
Bunyi S adalah bunyi apiko-alveolar. Alat-alat
ucap yang dominan adalah ujung lidah dan
ujung gigi atas. Untuk mengucapkan bunyi itu,
artikulator (ujung lidah) menyentuh titik
artikulasi (ujung gigi atas). Jika gigi atas
tanggal, maka dalam pengucapan bunyi tersebut
akan mengalami kesulitan dan dalam
pengucapannya tidak sempurna.Bunyi yang
muncul adalah bunyi (sh) pada shad.
Faktor lain yang meneyebabkan kasus itu ada
adalah faktor pendidikan dan kondisi hati.
Seseorang yang berpendidikan tinggi cenderung
lebih awet muda. Hal itu menyebabkan
lambatnya penurunan fungsi-fungsi organ tubuh,
dalam hal ini alat-alat ucap.
Lalu, berkaitan dengan kondisi hati. Dari seorang
lansia yang kami ajak bercakap (Ipoh), kami
menemukan bahwa beliau berada di panti
tersebut karena ditelantarkan oleh keluarga
beliau. Hal itu membuat beliau stres dan
membuat fungsi otak semakin menurun. Beliau
lebih pikun dibandingkan dengan para lansia lain
yang lebih berumur. Sealin itu, dari segi fisik,
beliau terlihat lebih tua dari lansia yang lain.
Beberapa lansia yang kami observasi
(pengucapan bunyi)
• Ipoh (80th), beliau mengalami kesulitan dalam
pengucapan bunyi S dan R.
• Wawa (77th), beliau dapat mengucapkan bunyi
vokal A, I, U, E, O dengan cepat namun tak
terdengar jelas.
• Hong ( 70an), beliau adalah lulusan ITB. Beliau
mengidap penyakit alzeimer.
• Anna(67th), beliau tidak bersekolah.
Menyebabkan kepikunan yang lebih dari pada
lansia lain.
• Kebanyakan lansia yang menjadi obyek
observasi kami mengalami masalah
pendengaran.
Foto2 :D
Fonologi

Fonologi

  • 1.
    FONOLOGI DI PANTI WREDABANYUMAS Asrifiana Santiatun Eko Febri P. Lilis Nurhayati
  • 2.
    Panti Weda adalahtempat para lanjut usia (lansia) tinggal dengan berbagai alasan. Di sana mereka dapat saling berbagi cerita karena usia mereka relatif sebaya.
  • 3.
    Kasus yang seringkami temukan berkaitan dengan fonologi adalah kasus pada pengucapan bunyi-bunyi konsonan. Di antara bunyi-bunyi itu yang paling sulit diucapkan oleh para lansia adalah bunyi S.
  • 4.
    Menurut kami, itudikarenakan oleh sudah tanggalnya sebagian besar gigi para lansia tersebut. Bunyi S adalah bunyi apiko-alveolar. Alat-alat ucap yang dominan adalah ujung lidah dan ujung gigi atas. Untuk mengucapkan bunyi itu, artikulator (ujung lidah) menyentuh titik artikulasi (ujung gigi atas). Jika gigi atas tanggal, maka dalam pengucapan bunyi tersebut akan mengalami kesulitan dan dalam pengucapannya tidak sempurna.Bunyi yang muncul adalah bunyi (sh) pada shad.
  • 5.
    Faktor lain yangmeneyebabkan kasus itu ada adalah faktor pendidikan dan kondisi hati. Seseorang yang berpendidikan tinggi cenderung lebih awet muda. Hal itu menyebabkan lambatnya penurunan fungsi-fungsi organ tubuh, dalam hal ini alat-alat ucap. Lalu, berkaitan dengan kondisi hati. Dari seorang lansia yang kami ajak bercakap (Ipoh), kami menemukan bahwa beliau berada di panti tersebut karena ditelantarkan oleh keluarga beliau. Hal itu membuat beliau stres dan membuat fungsi otak semakin menurun. Beliau lebih pikun dibandingkan dengan para lansia lain yang lebih berumur. Sealin itu, dari segi fisik, beliau terlihat lebih tua dari lansia yang lain.
  • 6.
    Beberapa lansia yangkami observasi (pengucapan bunyi) • Ipoh (80th), beliau mengalami kesulitan dalam pengucapan bunyi S dan R. • Wawa (77th), beliau dapat mengucapkan bunyi vokal A, I, U, E, O dengan cepat namun tak terdengar jelas. • Hong ( 70an), beliau adalah lulusan ITB. Beliau mengidap penyakit alzeimer. • Anna(67th), beliau tidak bersekolah. Menyebabkan kepikunan yang lebih dari pada lansia lain. • Kebanyakan lansia yang menjadi obyek observasi kami mengalami masalah pendengaran.
  • 7.