KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BONE
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM ISLAM
Jl. HOS Cokroaminoto Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan
www.iain-bone.ac.id
Pertemuan KE 12
MANTUQ, MAFHUM, ZAHIR, MUAWWAL
Dosen Pengajar
Zahran R, S.Sy.,M.H
MANTUQ
Secara Bahasa berarti “suatu yang diucapkan” menurut istilah mantuq adalah Suatu makna yang
ditunjukkan oleh lafazh yang ada dalam objek pembicaraan (makan tersurat). Atau suatu hal atau hukum
yang diterangkan oleh suatu lafal sesuai bunyi lafal itu sendiri
Contoh 1 yaitu firman Allah SWT. QS Al Isra’:23
‫ا‬
َ ‫ل‬
َ ‫ف‬
‫ُل‬‫ق‬
َ ‫ت‬
‫َا‬‫م‬ُ ‫ه‬َّ‫ل‬
ٍّ
‫ف‬ُٔ ‫ا‬
‫َا‬‫ل‬َ‫و‬
‫ا‬َ ‫م‬ُ‫ْه‬‫ر‬َ ‫ْه‬‫ن‬
َ ‫ت‬
‫ل‬
ُ ‫َق‬‫و‬
‫َا‬‫م‬ُ ‫ه‬َّ‫ل‬
ً
‫ْل‬‫و‬
َ ‫ق‬
‫ا‬
‫ا‬‫ِيم‬‫ر‬َ‫ك‬
﴿
٢٣
﴾
Artinya: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (QS Al Isra’ [17]:23)
Penjelasannya mantuq dalam ayat tersebut yaitu ucapan lafadz itu sendiri, yaitu kata uffin yang bermakna
jangan katakan perkataan yang keji kepada kedua orang tuamu.
Contohnya yaitu firman Allah SWT. QS Al nisa’: 10
ً
‫ۡم‬‫ُل‬‫ظ‬ً
ٰ
‫َى‬‫م‬ََٰ ‫ت‬َ ‫ي‬ۡ‫ًَٱل‬‫ل‬ََٰ‫ۡو‬‫م‬َ‫ًَأ‬‫ن‬‫و‬
ُ ‫ُل‬‫ك‬ۡ‫أ‬َ‫ًَي‬‫ن‬‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ًٱل‬ َّ
‫ن‬ ِ‫إ‬
ۖ‫ا‬ٗ‫ر‬‫ا‬َ‫ًۡن‬‫م‬ِ ‫ِه‬‫ن‬‫ُو‬‫ط‬
ُ ‫يًب‬ِ‫ًَف‬‫ن‬‫و‬
ُ ‫ُل‬‫ك‬ۡ‫أ‬َ‫اًي‬
َ ‫م‬َّ‫ن‬ ِ‫اًإ‬
ً‫ٗا‬‫ر‬‫ِي‬‫َع‬‫س‬ًَ‫ن‬ۡ‫و‬
َ ‫ل‬ ۡ‫َص‬ ‫َي‬‫س‬َ‫و‬
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim,
sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam
api yang menyala-nyala (neraka).
MAFHUM Suatu makna yang ditunjukkan berdasarkan pemahaman terhadap makna yang berada dibalik
lafazh (makna tersirat).
1. MAFHUM MUWAFAKAH
2. MAFHUM MUKHALAFAH
Mafhum yang apabila hukum-hukum yang tidak disebutkan dalam lafal itu cocok atau atau sesuai dengan yang disebutkan dalam lafal tersebut tidak berlawanan..
Pemahaman yang apabila hukum yang tidak disebutkan didalam lafal itu berlawanan dengan apa yang disebutkan dalam lafal tersebut.
Contoh 1: fahwal khithab
‫ا‬
َ ‫ل‬
َ ‫ف‬
‫ُل‬‫ق‬
َ ‫ت‬
‫َا‬‫م‬ُ ‫ه‬َّ‫ل‬
ٍّ
‫ف‬ُٔ ‫ا‬
‫َا‬‫ل‬َ‫و‬
‫ا‬َ ‫م‬ُ‫ْه‬‫ر‬َ ‫ْه‬‫ن‬
َ ‫ت‬
‫ل‬
ُ ‫َق‬‫و‬
‫َا‬‫م‬ُ ‫ه‬َّ‫ل‬
‫ا‬‫ْل‬‫و‬
َ ‫ق‬
‫ا‬‫ِيم‬‫ر‬َ‫ك‬
﴿
٢٣
﴾
Artinya: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan
yang mulia. (QS Al Isra’ [17]:23)
contoh 2: lahnul khithab (sama)
ً َّ
‫ن‬ ِ‫إ‬
‫ٗا‬‫ر‬‫ِي‬‫َع‬‫س‬ًَ‫ن‬ۡ‫و‬
َ ‫ل‬ ۡ‫َص‬ ‫َي‬‫س‬َ‫و‬ًۖ‫ا‬ٗ‫ر‬‫ا‬َ‫ًۡن‬‫م‬ِ ‫ِه‬‫ن‬‫ُو‬‫ط‬
ُ ‫يًب‬ِ‫ًَف‬‫ن‬‫و‬
ُ ‫ُل‬‫ك‬ۡ‫أ‬َ‫اًي‬
َ ‫م‬َّ‫ن‬ ِ‫اًإ‬‫م‬ۡ‫ُل‬‫ظ‬ً
ٰ
‫َى‬‫م‬ََٰ ‫ت‬َ ‫ۡي‬‫ًَٱل‬‫ل‬ََٰ‫ۡو‬‫م‬َ‫ًَأ‬‫ن‬‫و‬
ُ ‫ُل‬‫ك‬ۡ‫أ‬َ‫ًَي‬‫ن‬‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ٱل‬
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala
(neraka).
Contoh 1:
ً
َ‫ج‬ًَ‫ن‬‫ي‬ِ‫َٰن‬َ ‫م‬َ ‫ًۡث‬‫م‬ُ‫ُوه‬‫د‬
ِ ‫ۡل‬‫ج‬‫ٱ‬َ ‫ًف‬َ‫ء‬ٓ‫َا‬‫د‬َ‫ه‬ُ ‫ًِش‬‫ة‬َ‫ع‬
َ ‫ۡب‬‫ر‬َ‫ِأ‬‫ًب‬ْ‫ا‬‫و‬
ُ ‫ت‬ۡ‫أ‬َ‫ًۡي‬‫م‬َ ‫ًل‬َّ‫ُم‬‫ث‬ً ِ
‫َٰت‬َ ‫ن‬َ‫ص‬ۡ‫ُح‬ ‫ۡم‬‫ًَٱل‬‫ن‬‫ُو‬‫م‬ۡ‫ر‬َ‫ًَي‬‫ن‬‫ِي‬‫ذ‬َّ‫َٱل‬‫و‬
ً
َ ‫ۡب‬‫ق‬
َ ‫َاًت‬‫ل‬َ‫و‬ًٗ‫ة‬َ‫د‬ۡ ‫ل‬
ًَ‫ن‬‫ُو‬‫ق‬َََِِٰٰۡ‫ًُٱل‬‫م‬ُ‫ًَه‬ََِِٰٓ
َ ‫ْل‬‫و‬‫و‬‫أ‬َ‫و‬ً‫ٗا‬َٗ ََ‫ًأ‬‫َة‬‫د‬ََٰ‫ه‬َ ‫ًۡش‬‫م‬ُ ‫ه‬َ ‫ًل‬ْ‫ا‬‫و‬
ُ ‫ل‬
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu)
delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.
Contoh 2 :
ً ٞ‫َٰت‬َ‫م‬‫و‬
ُ ‫ۡل‬‫ع‬ َّ‫ًم‬ٞ ‫ُر‬‫ه‬ۡ‫ش‬َ‫ًأ‬ ‫و‬
‫ج‬
َ ‫ۡح‬‫ل‬‫ٱ‬
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi/tertentu
Syarat-Syarat Mafhum
1.Tidak membatalkan mantuq (an-nisa : 101)
2.Mafhum ini bukan dalam kerangka kebiasaan yang umum
(an-nisa: 23)
3.Mafhum ini bukan dalam kerangka “mubalogah (ali-Imran
130 )
ZHAHIR : MUAWWAL
Zhahir adalah lafazh yang mengandung dua makna atau lebih dimana salah satu maknanya lebih kuat dari pada makna
lainnya
Ta’wil adalah proses pengambilan makna yang lemah/ memalingkan /mengalihkan makna lafal dari makna zahir karena
adanya dalil
Muawwal adalah makna lafal yang marjuh, namun diambil karena terdapat dalil. Atau ketika makna lemah yang diambil
maka makna lemah inilah yang disebut muawwal.
Contoh : hukum asal perintah adalah wajib (makna zahir) dan
makna lemahnya adalah sunnah (muawwal) ketika perintah ini dialihkan dari wajib ke makna Sunnah
maka ini lah yang disebut takwil
Hukum mengamalkan zhahir wajib bagi mukallaf mengamalkan hukum dari makna yang rajah dari suatu lafazh, dan
tidak boleh meninggalkan makna tersebut kecuali terdapat dalil sahih yang menta’wilnya atau mentakhsisnya atau
menasakhnya.
• Zahir ialah lafaz yang bisa langsung dipahami maknanya ketika di ucapkan tetapi disertai kemungkinan adanya makna
yang lain yang lemah
Contoh : al baqaroh : 173
‫ا‬َ ‫م‬َّ‫ن‬ ِ‫إ‬
ً
َ‫م‬ َّ‫َر‬‫ح‬
ً
ُ‫م‬ُ‫ك‬ۡ‫ي‬
َ ‫ل‬َ ‫ع‬
ً
َ‫َة‬ ‫ۡت‬‫ي‬َ‫ۡم‬‫ل‬‫ٱ‬
ً
َ‫م‬ َّ‫َٱلد‬‫و‬
ً
َ‫م‬ۡ ‫ح‬َ‫ل‬َ‫و‬
ً
ِ‫ر‬‫ِي‬‫ز‬‫ِن‬‫ۡخ‬‫ل‬‫ٱ‬
ًٓ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬
ًَّ
‫ِل‬‫ه‬‫و‬‫أ‬
‫ِۦ‬‫ه‬ِ ‫ب‬
ً
ِ ‫ل‬
ً
ِ‫ر‬ۡ‫ي‬َ‫غ‬
ِۖ‫ه‬َّ‫ٱلل‬
ٍّ
‫َن‬ ‫م‬
َ ‫ف‬
ٍّ
‫ُٔر‬‫ط‬ۡ‫ٱض‬
ٍّ
َ‫ر‬ۡ‫ي‬َ ‫غ‬
ٍّ
‫اغ‬َ‫ب‬
‫َا‬‫ل‬َ‫و‬
ٍّ
‫اد‬َ ‫ع‬
ً
ٓ‫ا‬
َ ‫ل‬َ ‫ف‬
ً
َ ‫ۡم‬‫ث‬ ِ‫إ‬
ِ‫ه‬ۡ‫ي‬
َ ‫ل‬َ ‫ع‬
ًَّ
‫ن‬ ِ‫إ‬
ً
َ ‫ه‬َّ‫ٱلل‬
ً
ٞ‫ر‬‫ُو‬ََٰ‫غ‬
ً
‫ِيم‬‫ح‬ َّ‫ر‬
173.Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih)
disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
Lafal al-baghi : untuk menyubut orang yang bodoh(tidak tau) dan juga orang yang zalim (melampaui batas)
Orang zalim : makna yang rajah (kuat) makna orang yang bodoh pertama adalah marjuh (lemah)
Contoh : al-baqarah 222
ً
ٰ
‫ى‬َّ‫َت‬‫ح‬ً َّ
‫ُن‬‫وه‬
ُ ‫َب‬ ‫ۡر‬‫ق‬
َ ‫َاًت‬‫ل‬َ‫و‬ًِ‫ض‬‫ِي‬‫ح‬َ‫ۡم‬‫ل‬‫يًٱ‬ِ‫ًف‬َ‫ء‬ ٓ‫ا‬َِِ‫ًٱلن‬ْ‫ا‬‫و‬
ُ ‫ِل‬‫ز‬َ ‫ۡت‬‫ع‬‫ٱ‬َ ‫ٗىًف‬‫ذ‬َ‫ًَأ‬‫ُو‬‫ًه‬ۡ‫ل‬
ُ ‫ق‬
ٍّ
َ ‫ي‬
ٍََّۖ‫ن‬ۡ‫ر‬ُٔ‫ه‬ۡ‫ط‬
222. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka,
sebelum mereka suci.
 Berhentinya dara haid disebut suci, sementara wudhu dan mandi juga disebut suci
 Makna yang ditunjukkan aath-thuhru (suci) lebih jelas untuk makna yang kedua (wudhu dan mandi)
• Muawwal lafadz yang di artikan dengan makna yang marjuh (lemah) karena adanya dalil yang menghalangi ketika
diartikan dengan makna yang rajah (kuat)
Contoh : al isra : 24
ً ۡ
‫ِض‬َٰۡ‫َٱخ‬‫و‬
‫َا‬‫م‬ُ ‫ه‬َ ‫ل‬
ٍّ
َ‫ح‬‫ا‬َ ‫َن‬‫ج‬
ٍّ
‫ل‬ ُّ‫ٱلذ‬
ً
َ‫ن‬ِ‫م‬
ً
ِ‫ة‬َ ‫ۡم‬‫ح‬َّ‫ٱلر‬
‫ل‬
ُ ‫َق‬‫و‬
ًِ
‫ب‬ َّ‫ر‬
‫َا‬‫م‬ُ‫ه‬ۡ‫م‬َ‫ح‬ۡ‫ر‬‫ٱ‬
‫ا‬َ ‫َم‬‫ك‬
ً
َ‫ر‬
‫ي‬ِِ‫ا‬َََّ‫ّب‬
‫ٗا‬‫ر‬‫ِي‬‫َغ‬‫ص‬
24. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku,
kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
Cat: sayap: tangan :mengayomi/tunduk /patuh dan bermuamalah
Contoh-Contoh Zahir
ُ
‫د‬َ‫ي‬
ُ
َ
‫ق‬ۡ‫و‬
َ
‫ُِف‬
‫ه‬
‫ٱَّلل‬
ُ
َ
‫أ‬
ُِ‫د‬ۡ‫ي‬
ُۡۚ
ۡ‫م‬ِ‫ه‬‫ي‬
Tangan Allah di atas tangan mereka
ُ‫ا‬َ‫ه‬َٰ َ
‫ن‬ۡ‫ي‬
َ
‫ن‬َ‫ُب‬َ‫ء‬
ٓ
‫ا‬َ‫م‬ ‫ه‬‫ٱلس‬َ‫و‬
ُ
‫د‬ۡ‫ي‬
َ
‫أ‬ِ‫ب‬
ُِ‫س‬‫و‬‫م‬
َ
‫اُل‬
‫ه‬
‫ِإَون‬
ُُ
َ
َ‫و‬‫ُع‬
Dan langit itu Kami bangun dengan
kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami
benar-benar berkuasa
ُ
‫ه‬
‫َّل‬ِ‫إ‬ُ ٌ
‫ِك‬‫ل‬‫ا‬
َ
‫ُه‬ٍ‫ء‬ ۡ َ
‫َُش‬
ُّ
‫ُك‬
‫ۥ‬‫ه‬َ‫ه‬ۡ‫ج‬َ‫و‬
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah
pada dua ayat ini ditemukan lafal ‫د‬ۡ‫ي‬
َ
‫أ‬ yang memiliki dua arti yaitu
“tangan” dan “kekuasaan” tp lafal ini menurut zahirnya adalah
“tanagan”. Jadi arti zahirnya lafal ‫د‬ۡ‫ي‬
َ
‫أ‬ adalah “tangan” sekalipun dapat diartikan
“kekuasaan” sebagai arti kiasan atau majaz, sebab untuk menentukan arti “kekuasaan”,
masih memerlukan beberapa argumentasi yang kuat dan harus sesuai. Jika tidak bisa
menunjukkan argumentasi lafal ‫د‬ۡ‫ي‬
َ
‫أ‬ diartikan kekuasaan maka lafal tersebut harus
diartikan zahirnya yaitu “tangan”
Pada ayat ini ditemukan adanya lafal ُ
‫ه‬َ‫ه‬ۡ‫ج‬َ‫و‬ artinya “muka tuhan” arti lafal ini
memerlukan pentakwilan, sehingga artinya adalah “dzat Tuhan”. Jadi kata
ُ
‫ه‬َ‫ه‬ۡ‫ج‬َ‫و‬ (muka tuhan) artinya berubah menajdi “Dzat Allah SWT” (karena
makannya berubah maka ini lah yang disebut muawwal)
ISTIMBATH BAYANI
MUAFAQAH
MAFHUM
MANTUQ
GHAIRU SHORI
SHORIH
MUKHLAFAH
NASH : MANSUKH
ZHAHIR : MUAWWAL
MUJMAL:
MUBAYYAN
NASAKH
TA’WIL
BAYAN
Petunjuk suatu lafal nash
atas hukum kepeada
seluruh pengertian yang
dikehendaki/atau
sebagiannya saja
Petunjuk lafazh atas suatu
ketentuan hukum yang
diperoleh melalui iltizam
(dengan melihat keterkaitan
yang tidak bisa dipisahkan
dari mantuq. )
suatu lafal yang tidak
mengandung kemunngkinan
beragam makna keculali hanya 1
maknanya
Makna yang sifatnya
samar/tidak jelas tapi
merupakan makna yang
terikat dengan makna teks

UQ MATERI 9.pdf

  • 1.
    KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIKINDONESIA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BONE FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM ISLAM Jl. HOS Cokroaminoto Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan www.iain-bone.ac.id Pertemuan KE 12 MANTUQ, MAFHUM, ZAHIR, MUAWWAL Dosen Pengajar Zahran R, S.Sy.,M.H
  • 2.
    MANTUQ Secara Bahasa berarti“suatu yang diucapkan” menurut istilah mantuq adalah Suatu makna yang ditunjukkan oleh lafazh yang ada dalam objek pembicaraan (makan tersurat). Atau suatu hal atau hukum yang diterangkan oleh suatu lafal sesuai bunyi lafal itu sendiri Contoh 1 yaitu firman Allah SWT. QS Al Isra’:23 ‫ا‬ َ ‫ل‬ َ ‫ف‬ ‫ُل‬‫ق‬ َ ‫ت‬ ‫َا‬‫م‬ُ ‫ه‬َّ‫ل‬ ٍّ ‫ف‬ُٔ ‫ا‬ ‫َا‬‫ل‬َ‫و‬ ‫ا‬َ ‫م‬ُ‫ْه‬‫ر‬َ ‫ْه‬‫ن‬ َ ‫ت‬ ‫ل‬ ُ ‫َق‬‫و‬ ‫َا‬‫م‬ُ ‫ه‬َّ‫ل‬ ً ‫ْل‬‫و‬ َ ‫ق‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫ِيم‬‫ر‬َ‫ك‬ ﴿ ٢٣ ﴾ Artinya: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (QS Al Isra’ [17]:23) Penjelasannya mantuq dalam ayat tersebut yaitu ucapan lafadz itu sendiri, yaitu kata uffin yang bermakna jangan katakan perkataan yang keji kepada kedua orang tuamu. Contohnya yaitu firman Allah SWT. QS Al nisa’: 10 ً ‫ۡم‬‫ُل‬‫ظ‬ً ٰ ‫َى‬‫م‬ََٰ ‫ت‬َ ‫ي‬ۡ‫ًَٱل‬‫ل‬ََٰ‫ۡو‬‫م‬َ‫ًَأ‬‫ن‬‫و‬ ُ ‫ُل‬‫ك‬ۡ‫أ‬َ‫ًَي‬‫ن‬‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ًٱل‬ َّ ‫ن‬ ِ‫إ‬ ۖ‫ا‬ٗ‫ر‬‫ا‬َ‫ًۡن‬‫م‬ِ ‫ِه‬‫ن‬‫ُو‬‫ط‬ ُ ‫يًب‬ِ‫ًَف‬‫ن‬‫و‬ ُ ‫ُل‬‫ك‬ۡ‫أ‬َ‫اًي‬ َ ‫م‬َّ‫ن‬ ِ‫اًإ‬ ً‫ٗا‬‫ر‬‫ِي‬‫َع‬‫س‬ًَ‫ن‬ۡ‫و‬ َ ‫ل‬ ۡ‫َص‬ ‫َي‬‫س‬َ‫و‬ Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).
  • 3.
    MAFHUM Suatu maknayang ditunjukkan berdasarkan pemahaman terhadap makna yang berada dibalik lafazh (makna tersirat). 1. MAFHUM MUWAFAKAH 2. MAFHUM MUKHALAFAH Mafhum yang apabila hukum-hukum yang tidak disebutkan dalam lafal itu cocok atau atau sesuai dengan yang disebutkan dalam lafal tersebut tidak berlawanan.. Pemahaman yang apabila hukum yang tidak disebutkan didalam lafal itu berlawanan dengan apa yang disebutkan dalam lafal tersebut. Contoh 1: fahwal khithab ‫ا‬ َ ‫ل‬ َ ‫ف‬ ‫ُل‬‫ق‬ َ ‫ت‬ ‫َا‬‫م‬ُ ‫ه‬َّ‫ل‬ ٍّ ‫ف‬ُٔ ‫ا‬ ‫َا‬‫ل‬َ‫و‬ ‫ا‬َ ‫م‬ُ‫ْه‬‫ر‬َ ‫ْه‬‫ن‬ َ ‫ت‬ ‫ل‬ ُ ‫َق‬‫و‬ ‫َا‬‫م‬ُ ‫ه‬َّ‫ل‬ ‫ا‬‫ْل‬‫و‬ َ ‫ق‬ ‫ا‬‫ِيم‬‫ر‬َ‫ك‬ ﴿ ٢٣ ﴾ Artinya: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (QS Al Isra’ [17]:23) contoh 2: lahnul khithab (sama) ً َّ ‫ن‬ ِ‫إ‬ ‫ٗا‬‫ر‬‫ِي‬‫َع‬‫س‬ًَ‫ن‬ۡ‫و‬ َ ‫ل‬ ۡ‫َص‬ ‫َي‬‫س‬َ‫و‬ًۖ‫ا‬ٗ‫ر‬‫ا‬َ‫ًۡن‬‫م‬ِ ‫ِه‬‫ن‬‫ُو‬‫ط‬ ُ ‫يًب‬ِ‫ًَف‬‫ن‬‫و‬ ُ ‫ُل‬‫ك‬ۡ‫أ‬َ‫اًي‬ َ ‫م‬َّ‫ن‬ ِ‫اًإ‬‫م‬ۡ‫ُل‬‫ظ‬ً ٰ ‫َى‬‫م‬ََٰ ‫ت‬َ ‫ۡي‬‫ًَٱل‬‫ل‬ََٰ‫ۡو‬‫م‬َ‫ًَأ‬‫ن‬‫و‬ ُ ‫ُل‬‫ك‬ۡ‫أ‬َ‫ًَي‬‫ن‬‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ٱل‬ Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Contoh 1: ً َ‫ج‬ًَ‫ن‬‫ي‬ِ‫َٰن‬َ ‫م‬َ ‫ًۡث‬‫م‬ُ‫ُوه‬‫د‬ ِ ‫ۡل‬‫ج‬‫ٱ‬َ ‫ًف‬َ‫ء‬ٓ‫َا‬‫د‬َ‫ه‬ُ ‫ًِش‬‫ة‬َ‫ع‬ َ ‫ۡب‬‫ر‬َ‫ِأ‬‫ًب‬ْ‫ا‬‫و‬ ُ ‫ت‬ۡ‫أ‬َ‫ًۡي‬‫م‬َ ‫ًل‬َّ‫ُم‬‫ث‬ً ِ ‫َٰت‬َ ‫ن‬َ‫ص‬ۡ‫ُح‬ ‫ۡم‬‫ًَٱل‬‫ن‬‫ُو‬‫م‬ۡ‫ر‬َ‫ًَي‬‫ن‬‫ِي‬‫ذ‬َّ‫َٱل‬‫و‬ ً َ ‫ۡب‬‫ق‬ َ ‫َاًت‬‫ل‬َ‫و‬ًٗ‫ة‬َ‫د‬ۡ ‫ل‬ ًَ‫ن‬‫ُو‬‫ق‬َََِِٰٰۡ‫ًُٱل‬‫م‬ُ‫ًَه‬ََِِٰٓ َ ‫ْل‬‫و‬‫و‬‫أ‬َ‫و‬ً‫ٗا‬َٗ ََ‫ًأ‬‫َة‬‫د‬ََٰ‫ه‬َ ‫ًۡش‬‫م‬ُ ‫ه‬َ ‫ًل‬ْ‫ا‬‫و‬ ُ ‫ل‬ Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Contoh 2 : ً ٞ‫َٰت‬َ‫م‬‫و‬ ُ ‫ۡل‬‫ع‬ َّ‫ًم‬ٞ ‫ُر‬‫ه‬ۡ‫ش‬َ‫ًأ‬ ‫و‬ ‫ج‬ َ ‫ۡح‬‫ل‬‫ٱ‬ (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi/tertentu
  • 4.
    Syarat-Syarat Mafhum 1.Tidak membatalkanmantuq (an-nisa : 101) 2.Mafhum ini bukan dalam kerangka kebiasaan yang umum (an-nisa: 23) 3.Mafhum ini bukan dalam kerangka “mubalogah (ali-Imran 130 )
  • 5.
    ZHAHIR : MUAWWAL Zhahiradalah lafazh yang mengandung dua makna atau lebih dimana salah satu maknanya lebih kuat dari pada makna lainnya Ta’wil adalah proses pengambilan makna yang lemah/ memalingkan /mengalihkan makna lafal dari makna zahir karena adanya dalil Muawwal adalah makna lafal yang marjuh, namun diambil karena terdapat dalil. Atau ketika makna lemah yang diambil maka makna lemah inilah yang disebut muawwal. Contoh : hukum asal perintah adalah wajib (makna zahir) dan makna lemahnya adalah sunnah (muawwal) ketika perintah ini dialihkan dari wajib ke makna Sunnah maka ini lah yang disebut takwil Hukum mengamalkan zhahir wajib bagi mukallaf mengamalkan hukum dari makna yang rajah dari suatu lafazh, dan tidak boleh meninggalkan makna tersebut kecuali terdapat dalil sahih yang menta’wilnya atau mentakhsisnya atau menasakhnya.
  • 6.
    • Zahir ialahlafaz yang bisa langsung dipahami maknanya ketika di ucapkan tetapi disertai kemungkinan adanya makna yang lain yang lemah Contoh : al baqaroh : 173 ‫ا‬َ ‫م‬َّ‫ن‬ ِ‫إ‬ ً َ‫م‬ َّ‫َر‬‫ح‬ ً ُ‫م‬ُ‫ك‬ۡ‫ي‬ َ ‫ل‬َ ‫ع‬ ً َ‫َة‬ ‫ۡت‬‫ي‬َ‫ۡم‬‫ل‬‫ٱ‬ ً َ‫م‬ َّ‫َٱلد‬‫و‬ ً َ‫م‬ۡ ‫ح‬َ‫ل‬َ‫و‬ ً ِ‫ر‬‫ِي‬‫ز‬‫ِن‬‫ۡخ‬‫ل‬‫ٱ‬ ًٓ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬ ًَّ ‫ِل‬‫ه‬‫و‬‫أ‬ ‫ِۦ‬‫ه‬ِ ‫ب‬ ً ِ ‫ل‬ ً ِ‫ر‬ۡ‫ي‬َ‫غ‬ ِۖ‫ه‬َّ‫ٱلل‬ ٍّ ‫َن‬ ‫م‬ َ ‫ف‬ ٍّ ‫ُٔر‬‫ط‬ۡ‫ٱض‬ ٍّ َ‫ر‬ۡ‫ي‬َ ‫غ‬ ٍّ ‫اغ‬َ‫ب‬ ‫َا‬‫ل‬َ‫و‬ ٍّ ‫اد‬َ ‫ع‬ ً ٓ‫ا‬ َ ‫ل‬َ ‫ف‬ ً َ ‫ۡم‬‫ث‬ ِ‫إ‬ ِ‫ه‬ۡ‫ي‬ َ ‫ل‬َ ‫ع‬ ًَّ ‫ن‬ ِ‫إ‬ ً َ ‫ه‬َّ‫ٱلل‬ ً ٞ‫ر‬‫ُو‬ََٰ‫غ‬ ً ‫ِيم‬‫ح‬ َّ‫ر‬ 173.Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Lafal al-baghi : untuk menyubut orang yang bodoh(tidak tau) dan juga orang yang zalim (melampaui batas) Orang zalim : makna yang rajah (kuat) makna orang yang bodoh pertama adalah marjuh (lemah) Contoh : al-baqarah 222 ً ٰ ‫ى‬َّ‫َت‬‫ح‬ً َّ ‫ُن‬‫وه‬ ُ ‫َب‬ ‫ۡر‬‫ق‬ َ ‫َاًت‬‫ل‬َ‫و‬ًِ‫ض‬‫ِي‬‫ح‬َ‫ۡم‬‫ل‬‫يًٱ‬ِ‫ًف‬َ‫ء‬ ٓ‫ا‬َِِ‫ًٱلن‬ْ‫ا‬‫و‬ ُ ‫ِل‬‫ز‬َ ‫ۡت‬‫ع‬‫ٱ‬َ ‫ٗىًف‬‫ذ‬َ‫ًَأ‬‫ُو‬‫ًه‬ۡ‫ل‬ ُ ‫ق‬ ٍّ َ ‫ي‬ ٍََّۖ‫ن‬ۡ‫ر‬ُٔ‫ه‬ۡ‫ط‬ 222. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.  Berhentinya dara haid disebut suci, sementara wudhu dan mandi juga disebut suci  Makna yang ditunjukkan aath-thuhru (suci) lebih jelas untuk makna yang kedua (wudhu dan mandi) • Muawwal lafadz yang di artikan dengan makna yang marjuh (lemah) karena adanya dalil yang menghalangi ketika diartikan dengan makna yang rajah (kuat) Contoh : al isra : 24 ً ۡ ‫ِض‬َٰۡ‫َٱخ‬‫و‬ ‫َا‬‫م‬ُ ‫ه‬َ ‫ل‬ ٍّ َ‫ح‬‫ا‬َ ‫َن‬‫ج‬ ٍّ ‫ل‬ ُّ‫ٱلذ‬ ً َ‫ن‬ِ‫م‬ ً ِ‫ة‬َ ‫ۡم‬‫ح‬َّ‫ٱلر‬ ‫ل‬ ُ ‫َق‬‫و‬ ًِ ‫ب‬ َّ‫ر‬ ‫َا‬‫م‬ُ‫ه‬ۡ‫م‬َ‫ح‬ۡ‫ر‬‫ٱ‬ ‫ا‬َ ‫َم‬‫ك‬ ً َ‫ر‬ ‫ي‬ِِ‫ا‬َََّ‫ّب‬ ‫ٗا‬‫ر‬‫ِي‬‫َغ‬‫ص‬ 24. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". Cat: sayap: tangan :mengayomi/tunduk /patuh dan bermuamalah
  • 7.
    Contoh-Contoh Zahir ُ ‫د‬َ‫ي‬ ُ َ ‫ق‬ۡ‫و‬ َ ‫ُِف‬ ‫ه‬ ‫ٱَّلل‬ ُ َ ‫أ‬ ُِ‫د‬ۡ‫ي‬ ُۡۚ ۡ‫م‬ِ‫ه‬‫ي‬ Tangan Allahdi atas tangan mereka ُ‫ا‬َ‫ه‬َٰ َ ‫ن‬ۡ‫ي‬ َ ‫ن‬َ‫ُب‬َ‫ء‬ ٓ ‫ا‬َ‫م‬ ‫ه‬‫ٱلس‬َ‫و‬ ُ ‫د‬ۡ‫ي‬ َ ‫أ‬ِ‫ب‬ ُِ‫س‬‫و‬‫م‬ َ ‫اُل‬ ‫ه‬ ‫ِإَون‬ ُُ َ َ‫و‬‫ُع‬ Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa ُ ‫ه‬ ‫َّل‬ِ‫إ‬ُ ٌ ‫ِك‬‫ل‬‫ا‬ َ ‫ُه‬ٍ‫ء‬ ۡ َ ‫َُش‬ ُّ ‫ُك‬ ‫ۥ‬‫ه‬َ‫ه‬ۡ‫ج‬َ‫و‬ Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah pada dua ayat ini ditemukan lafal ‫د‬ۡ‫ي‬ َ ‫أ‬ yang memiliki dua arti yaitu “tangan” dan “kekuasaan” tp lafal ini menurut zahirnya adalah “tanagan”. Jadi arti zahirnya lafal ‫د‬ۡ‫ي‬ َ ‫أ‬ adalah “tangan” sekalipun dapat diartikan “kekuasaan” sebagai arti kiasan atau majaz, sebab untuk menentukan arti “kekuasaan”, masih memerlukan beberapa argumentasi yang kuat dan harus sesuai. Jika tidak bisa menunjukkan argumentasi lafal ‫د‬ۡ‫ي‬ َ ‫أ‬ diartikan kekuasaan maka lafal tersebut harus diartikan zahirnya yaitu “tangan” Pada ayat ini ditemukan adanya lafal ُ ‫ه‬َ‫ه‬ۡ‫ج‬َ‫و‬ artinya “muka tuhan” arti lafal ini memerlukan pentakwilan, sehingga artinya adalah “dzat Tuhan”. Jadi kata ُ ‫ه‬َ‫ه‬ۡ‫ج‬َ‫و‬ (muka tuhan) artinya berubah menajdi “Dzat Allah SWT” (karena makannya berubah maka ini lah yang disebut muawwal)
  • 9.
    ISTIMBATH BAYANI MUAFAQAH MAFHUM MANTUQ GHAIRU SHORI SHORIH MUKHLAFAH NASH: MANSUKH ZHAHIR : MUAWWAL MUJMAL: MUBAYYAN NASAKH TA’WIL BAYAN Petunjuk suatu lafal nash atas hukum kepeada seluruh pengertian yang dikehendaki/atau sebagiannya saja Petunjuk lafazh atas suatu ketentuan hukum yang diperoleh melalui iltizam (dengan melihat keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan dari mantuq. ) suatu lafal yang tidak mengandung kemunngkinan beragam makna keculali hanya 1 maknanya Makna yang sifatnya samar/tidak jelas tapi merupakan makna yang terikat dengan makna teks