1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menjama’ dan mengqashar shalat termasuk rukhshah
(kelonggaran/keringanan) yang diberikan Allah SWT kepada hambanya
karena adanya kondisi yang menyulitkan bila shalat dilakukan dalam keadaan
biasa. Rukhsah ini merupakan shodaqoh dari Allah SWT yang dianjurkan
untuk diterima dengan penuh ketawadhu’an.
Namun jika ada musafir yang tidak mengqashar shalatnya maka shalatnnya
tetap sah, hanya saja kurang sesuai dengan sunnah karena Nabi saw senantiasa
menjama’ dan mengqashar shalatnya saat melakukan safar. Dan yang
seharusnya selaku umat muslim harus menerima shodaqoh/keringanan
(rukhsah) yang diberikan oleh Allah kepada hambanya.
halat berjamaah merupakan kewajiban bagi tiap-tiap mukmin laki-laki, tidak
ada keringanan untuk meninggalkannya terkecuali ada udzur (yang dibenarkan
dalam agama).
HR. Muslim dan Muttafaq ‘alaih adalah dua dari sekian banyak sabda
Rasulallah SAW. yang menegaskan bahwa sholat itu amatlah penting terutama
sholat berjamaah. Tetapi dewasa ini umat islam tidak terlalu memperdulikan
panggilan adzan yang terdengar di telinganya. Banyak alasan yang di dapat
dari hal tersebut. Salah satunya adalah kurangnya pengetahuan umat Islam
akan dalil-dalil sholat berjamaah.
Maka dari itu penulis membuat makalah yang berjudul “SHOLAT
BERJAMAAH” yang insya Allah akan membantu pengetahuan akan
pentingnya sholat berjamaah.
2
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan niat ?
2. Apa yang dimaksud dengan Qadha’, Jama’, dan Qashar Shalat ?
3. Apa yang dimaksud dengan shalat bejamaah ?
1.3 TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui apa itu niat.
2. Untuk mengetahui apa itu Qadha’, Jama’, dan Qashar Shalat.
3. Untuk mengetahui apa itu shalat berjamaah
3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pelafalan Niat
Niat adalah amalan dari hati dan hanya Allah yang mengetahuinya. Niat
itu sendiri tempatnya di dalam hati dan bukanlah di lisan. Hal ini berdasarkan
ijma’ atau bisa disebut dengan kesepakatan para ulama sebagaimana yang
diwakili oleh Ahmad bin Abdul Harim Abul Abbas Al Haroni dalam Majmu’
Fatawanya.
Setiap orang yang melakukan suatu amalan pasti telah memiliki niat
terlebih dahulu. Karena tidak mungkin orang yang berakal yang punya ikhtiar
(pilihan) melakukan suatu amalan tanpa niat. Seandainya seseorang disodorkan air
kemudian dia membasuh kedua tangan, berkumur-kumur hingga membasuh kaki,
maka tidak masuk akal jika dia melakukan pekerjaan tersebut -yaitu berwudhu-
tanpa niat. Sehingga sebagian ulama mengatakan,”Seandainya Allah membebani
kita suatu amalan tanpa niat, niscaya ini adalah pembebanan yang sulit
dilakukan.
Secara logika mungkin dapat kita jawab. Bayangkan berapa banyak niat
yang harus kita hafal untuk mengerjakan shalat mulai dari shalat sunat sebelum
shubuh, shalat fardhu shubuh, shalat sunnah dhuha, shalat sunnah sebelum
dzuhur, dst. Sangat banyak sekali niat yang harus kita hafal karena harus
dilafalkan. Karena ini pula banyak orang yang meninggalkan amalan karena tidak
mengetahui niatnya atau karena lupa. Ini sungguh sangat menyusahkan kita.
Padahal Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya agama
itu mudah.” (HR. Bukhari).
Adapun hukum melafalkan niat shalat pada saat menjelang takbiratul
ihram menurut kesepakatan para pengikut mazhab Imam Syafi’Iy dan pengikut
mazhab Imam Ahmad bin Hambali adalah sunnah, karena melafalkan niat
sebelum takbir dapat membantu untuk meningkatkan hati sehingga membuat
seseorang lebih khusyu’ dalam melksanakan shalatnya. Jika seseorang salah
dalam melafalkan niat sehingga tidak sesuai dengan niatnya. Seperti melafalkan
4
niat shalat Ashar tetapi niat yang di baca adalah niat shalat Dzuhur, maka yang
dianggap adalah niatnya bukan lafal niatnya.
Di dalam sholat mengeraskan bacaan niat adalah wajib dan tidak pula
sunnah dengan kesepakatan seluruh ulama. Bahkan hal tersebut adalah bid’ah
yang bertentangan dengan syari’at. Jika seseorang berkeyakinan bahwa perbuatan
ini adalah bagian dari ajaran syariat, maka ia adalah orang yang jahil,
menyimpang. Dan berhak mendapatkan hukuman ta’zir.
2.2 Qadla’, jama’, dan Qashar Shalat
Shalat jamak adalah shalat yang menggabungkan dua shalat fardhu dan
dilakukan pada satu waktu, bisa di awal atau bisa juga di akhir. Dalam memahami
shalat jamak ini juga harus tahu terlebih dahulu shalat apa saja yang bisa dijamak
atau digabungkan menjadi satu waktu.
Shalat yang bisa dijamak adalah shalat Dzuhur dengan shalat Ashar,
kemudian shalat Maghrib dengan shalat Isya’. Contohnya menjamak shalat
Dzuhur dengan shalat Ashar. Bisa dilakukan langsung pada waktu Dzuhur atau di
waktu Ashar. Begitu pula dengan menjamak shalat Maghrib dan shalat Isya’, bisa
dilakukan waktu Maghrib atau waktu Isya’.
A. Pembagian Shalat Jamak
Shalat jamak ini dibagi menjadi dua macam:
1. Pertama, Jamak Takdim
Jamak Takdim ini adalah penggabungan antara dua shalat fardhu, yang
pelaksanaan shalatnya dilakukan di awal waktu shalat yang pertama (diawalkan)
Misalnya: shalat Dzuhur dan shalat Ashar, dikerjakan satu waktu, tepatnya waktu
Dzuhur, atau shalat Maghrib dan shalat Isya’ yang dikerjakan waktu shalat
Maghrib
2. Jamak Takhir.
Jamak Takhir adalah penggabungan antara dua shalat fardhu, yang
pelaksanaan shalatnya dilakukan pada waktu shalat fardhu yang kedua
(diakhirkan).
5
Misalnya: shalat Dzuhur dan shalat Ashar yang dikerjakan pada waktu shalat
Ashar, atau shalat Maghrib dan shalat Isya’ yang dilakukan ketika memasuki
waktu Isya’
B. Syarat – Syarat Sahnya Melaksanakan Shalat Jamak
Adapun syarat-syarat sahnya untuk menjamak shalat ini adalah sebagai
berikut:
Untuk Jamak takdim syaratnya adalah :
1. Berniat untuk melaksanakan shalat jamak takdim.
2. Shalat dikerjakan secara urut,Tidak ada selingan apapun ketika melakukan
dua shalat fardhu tersebut.
3. Untuk Jamak Takhir yang membedakan adalah niatnya, selebihnya sama
dengan syarat shalat jamak takdim. Ketika seseorang ingin melakukan
shalatnya dengan jamak takhir, maka orang tersebut sudah harus berniat
untuk shalat jamak takhir terlebih dahulu ketika masuk waktu shalat yang
pertama.
C. Cara Pelaksanaan Shalat Jamak
Cara melaksanakan shalat jamak ini adalah seperti shalat biasanya, tinggal
memilih apakah kita akan melakukan jamak takdim atau jamak takhir. Berkaitan
bacaan, gerakan, rekaat serta rukunnya tidak ada yang membedakannya kecuali
niat shalatnya.
Orang – Orang yang Dibolehkan Melaksanakan Shalat JamakKarena
shalat jamak ini adalah salah satu keringanan terhadap seseorang. Maka, tidak
semua orang dibolehkan melakukan shalat fardhunya dengan cara dijamak. Ada
kriteria-kriteria tertentu orang dibolehkan melakukan shalat fardhunya dengan
dijamak. Antara lain adalah:Orang yang sedang dalam keadaan sakit atau uzur
yang berkepanjangan, Orang yang sedang dalam keadaan bepergian jauh atau
musafir, Orang yang sedang dalam kondisi dan situasi yang penting, sehingga
tidak mudah bagi orang tersebut untuk meninggalkannya.Orang yang shalat
berjamaah di masjid, dan kemudian turun hujan lebat. (Terutama yang rumahnya
jauh dari masjid, sehingga menjadi halangan untuk pulang).
6
D. Pengertian Shalat Qasar
Dalam ibadah shalat ada istilah lain selain shalat jamak, yakni shalat qasar. Shalat
fardhu yang dilakukan dengan meringkas bilangan rakaatnya. Seperti dari empat
rakaaat diringgkas menjadi dua rakaat. Untuk shalat yang rakaatnya kurang dari
empat, maka tidak dibolehkan untuk mengqasarnya. Seperti shalat Shubuh dan
Maghrib.
E. Syarat – Syarat Sahnya Melaksanakan Shalat Qasar
Mengqasar shalat fardhu ini tentu juga tidak sembarang orang dibolehkan.
Ada syarat-syarat sah yang menjadikan shalatnya disebut dengan shalat qasar,
yaitu:
Niat untuk mengqasar shalat. Shalat yang diqasar adalah shalat yang jumlah
rakaatnya ada empat rakaat shalat Dzuhur, Ashar dan Isya’.
Memenuhi jarak perjalanan yang menjadi syarat shalat qasar, lebih dari 77 km
Perjalanan yang dilakukan mempunyai tujuan yang baik dan benar. Seperti untuk
bersilaturahmi, mencari ilmu, berdagang dan lain-lain.
Untuk cara pelaksanaan shalat qasar ini adalah seperti shalat subuh, yakni dua
rakaat.
Orang – Orang yang Dibolehkan Melakukan Shalat Qasar
Seperti halnya penjelasan shalat jamak di atas, shalat qasar ini juga tidak boleh
dilakukan sembarang orang. Ada pengecualian tersendiri bagi orang-orang yang
dibolehkan melaksanakan ibadah shalat jamak dan shalat qasar ini.
Shalat qasar ini diberlakukan bagi mereka yang sedang sakit atau mereka yang
dalam keadaan bepergian jauh atau ketika seseorang sedang dalam kondisi tidak
aman.
F. Pengertian Shalat Jamak plus Qasar (Jamak Qasar)
Untuk pengertian shalat jamak qasar ini adalah shalat dua waktu yang
digabung bersama-sama dalam satu waktu yang mana bilangan rakaatnya
diringkas sekalian. Waktu shalat jamak qasar ini sendiri tergantung orang yang
7
melaksanakannya, apakah di waktu awal (Jamak Takdim) atau waktu akhir
(Jamak Takhir)
Cara Melaksanakan Shalat Jamak Qasar
Berdasarkan shalat jamaknya, cara melaksanakan shalat ini terbagi menjadi dua
macam:
 Shalat Jamak Takdim yang dilakukan dengan qasar.
Misalnya shalat Dzuhur dan Shalat Ashar, yang semuanya digabungkan pada
waktu Dzuhur, dan dilaksanakan pada waktu Dzuhur juga. masing-masing hanya
dikerjakan dengan dua rakaat saja.
Begitu juga dengan shalat Maghrib dan shalat Isya’ caranya adalah melakukan
shalat Maghrib di waktu Maghrib dahulu tiga rakaat, dilanjutkan dengan
melaksanakan shalat Isya’ dua rakaat. Semua gerakan, bacaan dan rukunnya sama
seperti ketika melaksanakan ibadah shalat fardhu, yang berbeda adalah niatnya.
 Shalat Jamak Takhir yang dilakukan dengan qasar.
Untuk shalat jamak takhir yang dilakukan dengan qasar ini pelaksanaannya adalah
sama dengan jamak takdim qasar. Yang membedakan hanyalah niat serta waktu
pelaksanaannya yang dilakukan pada waktu shalat yang kedua atau terakhir.
Misalnya, shalat Dzuhur yang digabung dengan shalat Ashar, yang
pelaksanaan shalatnya dilakukan ketika waktu shalat Ashar. Maka, caranya adalah
dengan shalat Dzuhur dahulu dua rakaat dilanjutkan dengan shalat Ashar dua
rakaat kemudian.
Begitu juga dengan shalat Maghrib dan Isya’ sama seperti dengan jamak
takdim qasar, tetapi yang ini dilakukan di waktu yang akhir.
G. Manfaat dari Shalat Jamak Qasar
Setelah kita pelajari mengenai materi yang dijelaskan di atas, tentulah ada
sedikit manfaat yang bisa kita ambil dan bisa kita telaah mengenai betapa Maha
8
Murahnya Allah swt., yang telah memberikan berbagai keringanan dalam
beridabah.
Khususnya tentang shalat yang merupakan tiang agama bagi kita
semuanya. Adapun manfaat dari shalat jamak qasar ini antara lain adalah:
Merupakan salah satu keringanan dari Allah swt., kepada hamba-hamba-
Nya, sehingga menjadi pelajaran sendiri bahwa betapa pentingnya ibadah shalat
tersebut. Menjadikan hati tenang, aman dan tidak galau, karena sudah
melaksanakan ibadah shalat yang menjadi kewajiban bagi semua umat Islam
Tidak minder dan tidak takut ketika sedang dalam kondisi yang genting sekalipun,
karena ibadah shalatnya senantiasa dijaga
Memudahkan seseorang yang sedang sakit atau punya halangan
Memberikan kemudahan bagi seseorang yang melakukan perjalanan jauh,
sehingga tidak memakan banyak waktu.
1) Shalat Jamak Takdim
Jamak takdim dikerjakan pada waktu shalat yang pertama. Maksudnya, jika anda
akan menjamak shalat dzuhur dan ashar, maka anda mengerjakannya saat waktu
dzuhur. Begitupun maghrib dan isya yang dilakukan saat waktu maghrib tiba.
Urutannya, kerjakan shalat yang pertama kemudian shalat kedua tanpa diselingi
kegiatan apapun. Maksudnya, setelah salam pada shalat dzuhur anda langsung
berdiri mengerjakan shalat ashar. Keduannya dikerjakan 4 rakaat tanpa dikurangi,
berikut niatnya:
 Niat shalat jamak takdim dzuhur
‫أ‬ُ‫ص‬َ‫ل‬ ِّ‫ي‬ ‫ل‬‫ر‬ ْ‫ض‬‫ل‬َ ‫يظلا‬ ‫ص‬‫ض‬ِْ‫أ‬‫ر‬‫عب‬ َ‫ك‬‫ع‬‫ل‬‫ا‬‫ت‬‫ل‬‫ظ‬ ‫ع‬َ‫ج‬ ْ‫م‬ِّ‫و‬ْ‫ع‬‫ل‬‫ا‬ ‫اا‬ ‫ص‬‫ض‬ْ‫ص‬‫ل‬‫ا‬‫عب‬ َ‫د‬‫ع‬‫ل‬‫ء‬‫ل‬‫ع‬ ‫ص‬ِ ‫عبت‬‫ل‬‫ا‬‫ل‬‫ى‬
Ushollii fardlozh zhuhri arba’a raka’aatin majmuu’an ma’al ashri adaa-an lillaahi
ta’aalaa.
“Aku sengaja shalat fardu dhuhur empat rakaat yang dijama’ dengan Ashar, fardu
karena Allah Ta’aala”
Untuk shalat ashar nya, anda tidak perlu menggunakan niat shalat jamak lagi,
melainkan membaca niat shalat ashar seperti biasa.
9
2) Shalat Jamak Takhir
Jamak takhir adalah kebalikan dari jamak takdim, yakni mengerjakan dua shalat
fardu pada waktu shalat yang kedua (adalah waktu ashar dan isya).
 Niat shalat zhuhur jamak takhir dengan ashar
‫أ‬ُ‫ص‬َ‫ل‬ ِّ‫ي‬ ‫ل‬‫ر‬ ْ‫ض‬‫ل‬َ ِْ‫أ‬‫ر‬‫يظلاعب‬ ‫ص‬‫ض‬ َ‫ك‬‫ع‬‫ل‬‫ا‬‫ت‬‫ل‬‫ظ‬ ‫ع‬َ‫ج‬ ْ‫م‬ِّ‫و‬ْ‫ع‬‫ل‬‫ا‬ ‫اا‬ ‫ص‬‫ض‬ْ‫ص‬‫ل‬‫ا‬‫عب‬ َ‫د‬‫ع‬‫ل‬‫ء‬‫ل‬‫ع‬ ‫ص‬ِ ‫عبت‬‫ل‬‫ا‬‫ل‬‫ى‬
Ushollii fardlozh zhuhri arba’a raka’aatin majmuu’an ma’al ashri adaa-an lillaahi
ta’aalaa.
“Aku sengaja shalat fardu dhuhur empat rakaat yang dijama’ dengan Ashar,
fardu karena Allah Ta’aala”
Kedua shalat dilakukan pada waktu ashar, bisa zhuhur dulu, bisa ashar dulu.
 Niat shalat ashar jamak takhir dengan zhuhur (Kedua shalat dilakukan
pada waktu ashar)
‫أ‬ُ‫ص‬َ‫ل‬ ِّ‫ي‬ ‫ل‬‫ر‬ ْ‫ض‬‫ل‬َ ‫ص‬‫ض‬ْ‫ص‬‫ل‬‫ا‬‫عب‬ ‫ا‬ ‫يظل‬ َ‫ك‬‫ع‬‫ل‬‫ا‬‫ت‬‫ل‬‫ظ‬ ‫ع‬َ‫ج‬ ْ‫م‬ِّ‫و‬ْ‫ع‬‫ل‬‫ا‬ ‫اا‬ ‫ص‬‫ض‬ِْ‫أ‬‫ر‬‫عب‬ َ‫د‬‫ع‬‫ل‬‫ء‬‫ل‬‫ع‬ ‫ص‬ِ ‫عبت‬‫ل‬‫ا‬‫ل‬‫ى‬
Ushollii fardlol ‘ashri arba’a raka’aatin majmuu’an ma’azh zhuhri adaa-an lillaahi
ta’aalaa.
“Aku sengaja shalat fardu Ashar empat rakaat yang dijama’ dengan dhuhur,
fardu karena Allah Ta’aala”
Note: Untuk shalat maghrib dan isya, tinggal menyesuaikan bacaan niatnya.
Shalat Qashar
Berbeda dengan shalat jamak yang menggambungkan, shalat qasar artinya
meringkas. Rukhsah shalat qasar ialah meringkas 4 rakaat menjadi 2 rakaat.
Contoh, shalat dzuhur dikerjakan 2 rakaat, begitupun shalat ashar dan isya.
INGAT: hanya shalat dengan jumlah 4 rakaat yang boleh di qasar. Maka dari itu,
anda tidak diperbolehkan meng qasar shalat subuh dan maghrib.
Allah berfirman dalam al Qur’an surat An Nisa ayat 101 yang artinya: “Dan
apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu menqashar
shalatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir, sesungguhnya orang-orang
kafir itu musuh yang nyata bagimu,” Q.S.(An Nisa: 101)
‫ت‬ُ‫ص‬َ‫ل‬ ِّ‫ع‬ ‫ل‬‫ر‬ ْ‫ض‬‫ل‬َ ‫ص‬‫ض‬ِْ‫أ‬‫ر‬‫عب‬ ‫ص‬‫ْك‬‫ع‬‫ل‬‫ت‬‫ل‬‫ا‬ْ‫ت‬‫ل‬‫ظ‬ ‫ع‬َ‫ض‬ْ‫ص‬‫ل‬‫ا‬ َ‫د‬‫ع‬‫ل‬‫ء‬‫ل‬‫ع‬ ‫ص‬ ّ ‫ص‬ِ ‫ت‬‫ل‬‫ب‬‫ع‬‫ل‬‫ا‬‫ل‬‫ى‬
Usholli farduzh dzuhri qasran rok’ataini lillahi ta’ala
“Niat shalat fardhu dzuhur secara qashar dua rakaat karena Allah”
Shalat Jamak Qasar
10
Betapa murahnya Allah S.W.T. Selain memperbolehkan hambanya menjamak
atau mengqashar ibadah shalatnya. Allah juga mengizinkan kita untuk
mengerjakan shalat jamak qashar, yakni digabung dan diringkas. Artinya anda
mengerjakan 2 shalat fardu dalam satu waktu dan juga meringkasnya. Shalat
jamak qashar bisa dilakukan secara takdim maupun takhir. Lafadzkan niat shalat
jamak qashar sebagai berikut:
 Niat shalat qashar dan jamak taqdim
‫َأ‬ ‫ي‬ ‫ضر‬ َ ‫رِض‬ ‫عب‬ ‫ا‬‫جو‬ ‫م‬ ‫قدي‬ ‫ى‬ ‫صض‬ ‫ا‬ ‫عب‬ ‫ل‬ ‫صضع‬ ‫ا‬ ‫عك‬ ‫ت‬ ‫ا‬ ‫ظت‬ ِ ‫أ‬ ‫اعب‬ ‫ى‬
Ushallii fardhazh zhuhri rak’ataini qashran majmuu’an ilaihil ‘ashru adaa’an
lillaahi ta’aalaa.
“Aku berniat shalat fardhu zhuhur 2 rakaat, qashar, dengan menjamak ashar
kepadanya, karena Allah ta’ala.”
 Niat shalat qashar dan jamak ta’khir:
‫َأ‬ ‫ي‬ ‫ضر‬ َ ‫رِض‬ ‫عب‬ ‫ا‬‫جو‬ ‫عض‬ ‫أخ‬ ‫ى‬ ‫صض‬ ‫ا‬ ‫عب‬ ‫ل‬ ‫صضع‬ ‫ا‬ ‫عك‬ ‫ت‬ ‫ا‬ ‫ظت‬ ِ ‫أ‬ ‫اعب‬ ‫ى‬
Ushallii fardhal ‘ashri rak’ataini qashran majmuu’an ilazh zhuhri adaa’an lillaahi
ta’aalaa.
“aku berniat shalat fardhua shar 2 rakaat, qashar, dengan menjamaknya kepada
zhuhur, karena Allah ta’ala.”
Syarat-Syarat Sah Shalat Jamak, Qasar dan Jamak Qashar
Shalat jamak dan qashar memang diperuntukan bagi ummat muslim yang sedang
melakukan perjalanan jauh atau karena halangan lain sehingga tidak dapat
mengerjakan shalat fardu tepat pada waktunya. Hal ini meliputi:
 Melakukan perjalanan jauh minimal 81 kilometer (sesuai kesepakatan para
ulama)
 Perjalanan tidak bertujuan untuk hal negatif atau berbuat dosa
 Sedang dalam keadaan bahaya; hujan lebat disertai angin kencang, perang
atau bencana lainnya.
11
2.3 Salat berjamaah
(Arab: ‫الة‬ ‫عوعجة‬ ‫عب‬ Sholatul jama'ah) merujuk pada aktivitas salat yang
dilakukan secara bersama-sama. Salat ini dilakukan oleh minimal dua orang
dengan salah seorang menjadi imam (pemimpin) dan yang lainnya
menjadi makmum.
Fardhu `ain adalah wajib, dalam salat berjamaah, yang memiliki
pendapat fardhu `ain ini adalah Atha` bin Abi Rabah, Al Auza`i, Abu Tsaur, Ibnu
Khuzaymah, Ibnu Hibban, umumnya ulama Al Hanafiyah dan mazhab Hanabilah.
Atha` berkata bahwa kewajiban yang harus dilakukan dan tidak halal selain itu,
yaitu ketika seseorang mendengar azan, haruslah dia mendatanginya untuk salat.
Ada hadits yang mengatakan bahwa jika seorang mendengar azan, kemudian tidak
salat berjamaah maka orang itu tidak menginginkan kebaikan maka kebaikan itu
sendiri tidak menginginkannya pula. Dengan demikian bila seorang muslim
meninggalkan salat jamaah tanpa uzur, dia berdoa namun salatnya tetap syah.
Kemudian ada hadits yang menjelaskan jika ada orang yang tidak salat berjamaah,
maka nabi akan membakar rumah-rumah orang yang tidak menghadiri salat
berjamaah.
Yang mengatakan fardhu kifayah adalah Al Imam Asy Syafi`i dan Abu
Hanifah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Habirah dalam kitab Al Ifshah jilid 1
halaman 142. Demikian juga dengan jumhur (mayoritas) ulama baik yang lampau
(mutaqaddimin) maupun yang berikutnya (mutaakhkhirin). Termasuk juga
pendapat kebanyakan ulama dari kalangan mazhab Al Hanafiyah dan Al
Malikiyah.
Dikatakan sebagai fardhu kifayah maksudnya adalah bila sudah ada yang
menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain untuk melakukannya.
Sebaliknya, bila tidak ada satu pun yang menjalankan salat jamaah, maka
berdosalah semua orang yang ada di situ. Hal itu karena salat jamaah itu adalah
bagian dari syiar agama Islam.
Di dalam kitab Raudhatut Thalibin karya Imam An Nawawi disebutkan
bahwa: "Salat jamaah itu itu hukumnya fardhu `ain untuk salat Jumat. Sedangkan
untuk salat fardhu lainnya, ada beberapa pendapat. Yang paling shahih hukumnya
12
adalah fardhu kifayah, tetapi juga ada yang mengatakan hukumnya sunnah dan
yang lain lagi mengatakan hukumnya fardhu `ain."
Mereka berpegangan dengan memakai dalil yang mengatakan bahwa, jika
ada orang yang tidak melaksanakan salat berjamaah maka setan telah menguasai
mereka, dalam hadits tersebut, Muhammad menganalogikan orang yang
meninggalkan salat jamaah dengan seekor domba yang terpisah dari kelompoknya
makanakan diterkam oleh serigala.
Hadits dari Malik bin Huwairits menjelaskan ia mendengar ada hadits
yang menjelaskan pentingnya mengajarkan salat kepada keluarga bila waktu salat
telah tiba, maka lantunkanlah azan dan yang tertua maka menjadi imam
salat.Kemudian ada penjelasan bahwa salat berjamaah lebih utama sebanyak 27
derajat dibandingkan salat sendirian.
Sunnah muakkadah adalah sunnah yang sangat ditekankan untuk
dilaksanakan, dan sangat dianjurkan agar tidak ditinggalkan. Pendapat ini
didukung oleh mazhab Al Hanafiyah dan Al Malikiyah sebagaimana disebutkan
oleh Imam As-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar jilid 3 halaman 146. Ia
berkata bahwa pendapat yang paling tengah dalam masalah hukum salat
berjamaah adalah sunnah muakkadah. Sedangkan pendapat yang mengatakan
bahwa hukumnya fardhu `ain, fardhu kifayah atau syarat syahnya salat, tentu
tidak bisa diterima.
Al Karkhi dari ulama Al Hanafiyah berkata bahwa salat berjamaah itu
hukumnya sunnah, namun tidak disunnahkan untuk tidak mengikutinya kecuali
karena uzur. Dalam hal ini pengertian kalangan mazhab Al Hanafiyah tentang
sunnah muakkadah sama dengan wajib bagi orang lain. Artinya, sunnah
muakkadah itu sama dengan wajib.
Khalil, seorang ulama dari kalangan mazhab Al Malikiyah dalam
kitabnya Al Mukhtashar mengatakan bahwa salat fardhu berjamaah selain salat
Jumat hukumnya sunnah muakkadah. Ibnul Juzzi berkata bahwa salat fardhu yang
dilakukan secara berjamaah itu hukumnya fardhu sunnah muakkadah.
Dalil yang mereka gunakan untuk pendapat mereka antara lain adalah dalil
bahwa salat berjamaah memiliki keutamaan derajat lebih banyak jumlah 27
13
derajat,Kemudian pendapat lain menjelaskan lagi bahwa salat jamaah berjamaah
tidak wajib. Selain itu mereka juga menggunakan hadits yang mengatakan bahwa
orang yang salat berjamaah hanya mendapatkan ganjaran (pahala) terbesar adalah
orang yang menunggu salat berjamaah bersama imam, daripada salat sendirian.
imam sendiri adalah seseorang yang memimpin sholat di barisan paling depan
(laki-laki) dan makmum adalah orang-orang yang melakukan sholat di
belakangnya. Berikut ini adalah syarat-syarat jika seseorang menjadi imam:
• Muslim
• Akil Baligh
• Laki-laki (untuk imam di masjid)
• Mahir Al-Quran
• Suci dari hadats besar dan hadats kecil
Sedangkan seorang makmum juga harus suci dari hadats kecil dan besar dan tidak
boleh mendahului makmum ketika melakukan sholat. Setelah syarat tersebut di atas
terpenuhi maka sholat berjamaah secara sah boleh dilakukan.
 Tata cara sholat berjamaah yang benar dalam Islam
1. Membaca Niat
Membaca niat di dalam sholat berjamaah dibedakan menjadi dua macam
yaitu bacaan niat sebagai imam dan bacaan niat sebagai makmum. Pelafalan niat
sendiri tergantung pada sholat yang hendak dilakukan pada saat itu. Misalnya
pada saat itu adalah waktunya sholat dhuhur, maka beginilah cara membaca niat
antara imam dan makmum yang benar.
Sebagai imam Usholli fardodh dhuhri arba'a raka'atim mustaqbilal qiblati
adaa-an imaaman lillahi ta'ala Artinya,
“Saya niat sholat fardhu dhuhur dua rakaat dengan adzan menjadi imam karena
Allah Ta'ala.”
14
Sebagai makmum
Usholli fardodh dhuhri arba'a raka'atim mustaqbilal qiblati adaa-an imaaman
lillahi ta'ala
Artinya,
“Saya niat sholat fardhu dhuhur dua rakaat dengan adzan menjadi makmum
karena Allah Ta'ala.”
2. Makmum berdiri di barisan belakang imam
Posisi seperti ini sudah jelas dalam tatanan sholat berjamaah dalam islam
yang benar. Dimana tidak ada sorang pun yang posisi nya sejajar dengan imam
atau mendahului imam ketika melakukan sholat secara berjamaah. Jika ruangan
penuh maka posisi makmum boleh dekat dengan imam dengan tumit makmum
minimal tidak mendahului tumit imam. Tatanan tersebut bisa dikatakan sholat
berjamaah sah. Namun jika makmum berada di posisi yang sejajar dengan
makmum atau mendahului maka sholat berjamaah bisa dikatakan tidak sah.
3. Mengikuti dan mengetahui gerakan imam
Seperti yang kita tahu bahwa imam adalah seseorang yang memimpin
ketika sholat berjamaah. Maka dari itu seluruh makmum harus mengikuti gerakan
imam ketika sholat. Contohnya ketika imam melakukan gerakan ruku', I'tidal,
sujud dan seterusnya. Makmum harus mengikuti gerakan-gerakan itu serta
membaca doa di setiap gerakannya tanpa mendahului imam. Sedangkan makmum
yang berada di shaf paling belakang juga harus tetap mengikuti gerakan sholat
oleh shaf yang ada di depannya. Begitulah seterusnya supaya tidak ada
ketertinggalan antara shaf depan, tengah, dan belakang.
4. Berada pada dalam satu masjid (imam dan makmum)
Penting menjaga jarak antara imam dan makmum. Jarak atau posisi antara
imam dan makmum tidak boleh saling berjauhan dan harus berada dalam satu
masjid. Namun apabila ada beberapa makmum yang terpaksa harus keluar masjid
15
karena keadaan masjid sudah penuh maka sah-sah saja asalkan makmum dapat
mengetahui gerakan imam dengan jelas.
A. Tata Cara SholatBerjamaahJikaMakmumTerlambat
Dalam ajaran islam, makmum yang terlambat melakukan sholat berjamaah masih
dapat mengikuti sholat yang sedang berlangsung. Pastinya dengan beberapa
ketentuan.
• Tetap memasuki masjid dengan tenang dan tidak boleh gaduh.
• Jika makmum terlambat ketika imam dalam posisi ruku', sujud atau
posisi yang lainnya maka hendaknya makmum yang terlambat segera
menyusul dengan membaca niat, takbiratul ihram kemudian langsung
menyusul gerakan sholat imam pada saat itu.
• Tetap melaksanakan sholat dengan jumlah rakaat sholat yang pada saat
itu dikerjakan. Misalnya pada saat itu sedang melakukan sholat dhuhur.
Jika makmum terlambat satu rakaat maka ia tetap melakukan tahiyat
akhir, lalu ketika imam salam hendaknya makmum berdiri untuk
menyelesaikan satu rakaat lagi. Begitu seterusnya jika terlambat sampai 2
dan tiga rakaat.
B. ManfaatdanKeutamaanSholatBerjamaah
• Mendapat pahala sebanyak 27 kali lipat
Sholat berjamaah lebih banyak pahalanya dibandingkan sholat sendirian.
Oleh karena itu akan lebih baik jika kita mengerjakan sholat secara berjamaah.
Hal ini sesuai dengan sebuah hadist Rasulullah SAW,
“Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dibanding sholat sendirian.” (HR.
Bukhari dan muslim.
• Sebagai naungan dari Allah SWT pada hari kiamat
16
Nabi Muhammad SAW pernah berkata bahwa kelak di hari kiamat nanti akan ada
7 golongan umat muslim yang mendapat naungan dari Allah SWT, termasuk di
dalamnya adalah golongan “seseorang yang hatinya bergantung di masjid-
masjid.”
• Diangkat derajatnya oleh Allah SWT
Hal ini sesuai dengan hadits riwayat muslim yang berkata,
“Menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke
masjid-masjid, dan menunggu sholat setelah melaksanakan sholat. Maka, itulah
ar-tibath (berjuang di jalan Allah).” (HR. Muslim)
Hadits tersebut mengatakan bahwa orang-orang yang melaksanakan sholat di
masjid diumpamakan sebagai seseorang yang berjuang di jalan Allah sehingga
Allah SWT akan menaikkan derajatnya dan menghapus dosanya.
• Dijanjikan surga oleh Allah SWT
Selain diangkat derajatnya dan dimuliakan di akhirat kelak, orang-orang yang
melaksanakan ibadah sholat di masjid secara berjamaah juga dijanjikan surga oleh
Allah SWT. Seperti yang sabda Rasulullah SAW berikut ini,
“Ada tiga golongan yang semuanya dijamin oleh Allah Ta'ala, yaitu orang yang
keluar untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Alah sampai Dia
mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam surga atau mengembalikannya
dengan membawa pahala dan ghanimah, kemudian orang yang pergi ke masjid,
maka ia dijamin oleh Allah sampai Dia mewafatkannya lalu memasukannya ke
dalam surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala, dan orang yang
masuk rumahnya dengan mengucap salam, maka ia dijamin oleh Allah.” (HR.
Abu Dawud)
17
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat difahami bahwa shalat jama’ dan qashar
merupakan rukhsah dan dibolehkan dalam bepergian atau keadaan darurat.
Prinsipnya selagi manusia mempunyai kesempatan untuk melakukan shalat dan
tidak menjadi darurat, selayaknya manusia tidak malu untuk segera melaksanakan
shalat seperti biasanya. Menjadi suatu kewajiban bagi yang melaksanakan shalat
menjadi suri tauladan bagi yang lain sehingga mengajari yang lainnya. Karena
yang demikian adalah dari syi’ar Islam yang mesti dimuliakan.
Bagi yang mendapati kesulitan atau kesukaran dalam tiap kali shalat pada
waktunya maka memungkinkan baginya untuk menjama’ shalat. Pemaparan hal
itu sudah dikemukakan di atas tetapi dengan syarat tidak menjadi kebiasaan dan
rutin dan hal tersebut tidak bermaksud selain untuk memudahkan dan tidak
menyulitkan umat. Demikian, meski sering jalan-jalan, dan menempuh perjalanan
panjang jangan lupa melaksakan sholat 5 waktu.
Shalat berjam’ah tidaklah sah hukumnya apabila dilakukan dengan
mengikuti sholat berjam’ah melalui siaran radio atau televisi dirumah mereka
secara sendirian maupun berjama’ah. Shalat berjamaah dapat dikatakan sah
apabila imam dan makmum berada dalam satu tempat sehingga makmum dapat
mengikuti gerakan imam meskipun dengan alat bantu seperti LCD, Pengeras suara
atau media elektronik lainnya. Dilakukan dengan tidak memutus.
18
DAFTAR PUSTAKA
 https://portal-ilmu.com/shalat-jamak-shalat-qasar-shalat-jamak-qasar/
 https://plus.kapanlagi.com/tata-cara-sholat-berjamaah-yang-benar-
lengkap-dengan-adab-dan-keutamaannya-number-3005f3.html
 shalat Qashar Jama Penulis: Ahmad Sarwat, Lc., MA Terbit ,28 August
2018

Tugas 1 1[1]

  • 1.
    1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Menjama’ dan mengqashar shalat termasuk rukhshah (kelonggaran/keringanan) yang diberikan Allah SWT kepada hambanya karena adanya kondisi yang menyulitkan bila shalat dilakukan dalam keadaan biasa. Rukhsah ini merupakan shodaqoh dari Allah SWT yang dianjurkan untuk diterima dengan penuh ketawadhu’an. Namun jika ada musafir yang tidak mengqashar shalatnya maka shalatnnya tetap sah, hanya saja kurang sesuai dengan sunnah karena Nabi saw senantiasa menjama’ dan mengqashar shalatnya saat melakukan safar. Dan yang seharusnya selaku umat muslim harus menerima shodaqoh/keringanan (rukhsah) yang diberikan oleh Allah kepada hambanya. halat berjamaah merupakan kewajiban bagi tiap-tiap mukmin laki-laki, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya terkecuali ada udzur (yang dibenarkan dalam agama). HR. Muslim dan Muttafaq ‘alaih adalah dua dari sekian banyak sabda Rasulallah SAW. yang menegaskan bahwa sholat itu amatlah penting terutama sholat berjamaah. Tetapi dewasa ini umat islam tidak terlalu memperdulikan panggilan adzan yang terdengar di telinganya. Banyak alasan yang di dapat dari hal tersebut. Salah satunya adalah kurangnya pengetahuan umat Islam akan dalil-dalil sholat berjamaah. Maka dari itu penulis membuat makalah yang berjudul “SHOLAT BERJAMAAH” yang insya Allah akan membantu pengetahuan akan pentingnya sholat berjamaah.
  • 2.
    2 1.2 RUMUSAN MASALAH 1.Apa yang dimaksud dengan niat ? 2. Apa yang dimaksud dengan Qadha’, Jama’, dan Qashar Shalat ? 3. Apa yang dimaksud dengan shalat bejamaah ? 1.3 TUJUAN MASALAH 1. Untuk mengetahui apa itu niat. 2. Untuk mengetahui apa itu Qadha’, Jama’, dan Qashar Shalat. 3. Untuk mengetahui apa itu shalat berjamaah
  • 3.
    3 BAB II PEMBAHASAN 2.1 PelafalanNiat Niat adalah amalan dari hati dan hanya Allah yang mengetahuinya. Niat itu sendiri tempatnya di dalam hati dan bukanlah di lisan. Hal ini berdasarkan ijma’ atau bisa disebut dengan kesepakatan para ulama sebagaimana yang diwakili oleh Ahmad bin Abdul Harim Abul Abbas Al Haroni dalam Majmu’ Fatawanya. Setiap orang yang melakukan suatu amalan pasti telah memiliki niat terlebih dahulu. Karena tidak mungkin orang yang berakal yang punya ikhtiar (pilihan) melakukan suatu amalan tanpa niat. Seandainya seseorang disodorkan air kemudian dia membasuh kedua tangan, berkumur-kumur hingga membasuh kaki, maka tidak masuk akal jika dia melakukan pekerjaan tersebut -yaitu berwudhu- tanpa niat. Sehingga sebagian ulama mengatakan,”Seandainya Allah membebani kita suatu amalan tanpa niat, niscaya ini adalah pembebanan yang sulit dilakukan. Secara logika mungkin dapat kita jawab. Bayangkan berapa banyak niat yang harus kita hafal untuk mengerjakan shalat mulai dari shalat sunat sebelum shubuh, shalat fardhu shubuh, shalat sunnah dhuha, shalat sunnah sebelum dzuhur, dst. Sangat banyak sekali niat yang harus kita hafal karena harus dilafalkan. Karena ini pula banyak orang yang meninggalkan amalan karena tidak mengetahui niatnya atau karena lupa. Ini sungguh sangat menyusahkan kita. Padahal Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari). Adapun hukum melafalkan niat shalat pada saat menjelang takbiratul ihram menurut kesepakatan para pengikut mazhab Imam Syafi’Iy dan pengikut mazhab Imam Ahmad bin Hambali adalah sunnah, karena melafalkan niat sebelum takbir dapat membantu untuk meningkatkan hati sehingga membuat seseorang lebih khusyu’ dalam melksanakan shalatnya. Jika seseorang salah dalam melafalkan niat sehingga tidak sesuai dengan niatnya. Seperti melafalkan
  • 4.
    4 niat shalat Ashartetapi niat yang di baca adalah niat shalat Dzuhur, maka yang dianggap adalah niatnya bukan lafal niatnya. Di dalam sholat mengeraskan bacaan niat adalah wajib dan tidak pula sunnah dengan kesepakatan seluruh ulama. Bahkan hal tersebut adalah bid’ah yang bertentangan dengan syari’at. Jika seseorang berkeyakinan bahwa perbuatan ini adalah bagian dari ajaran syariat, maka ia adalah orang yang jahil, menyimpang. Dan berhak mendapatkan hukuman ta’zir. 2.2 Qadla’, jama’, dan Qashar Shalat Shalat jamak adalah shalat yang menggabungkan dua shalat fardhu dan dilakukan pada satu waktu, bisa di awal atau bisa juga di akhir. Dalam memahami shalat jamak ini juga harus tahu terlebih dahulu shalat apa saja yang bisa dijamak atau digabungkan menjadi satu waktu. Shalat yang bisa dijamak adalah shalat Dzuhur dengan shalat Ashar, kemudian shalat Maghrib dengan shalat Isya’. Contohnya menjamak shalat Dzuhur dengan shalat Ashar. Bisa dilakukan langsung pada waktu Dzuhur atau di waktu Ashar. Begitu pula dengan menjamak shalat Maghrib dan shalat Isya’, bisa dilakukan waktu Maghrib atau waktu Isya’. A. Pembagian Shalat Jamak Shalat jamak ini dibagi menjadi dua macam: 1. Pertama, Jamak Takdim Jamak Takdim ini adalah penggabungan antara dua shalat fardhu, yang pelaksanaan shalatnya dilakukan di awal waktu shalat yang pertama (diawalkan) Misalnya: shalat Dzuhur dan shalat Ashar, dikerjakan satu waktu, tepatnya waktu Dzuhur, atau shalat Maghrib dan shalat Isya’ yang dikerjakan waktu shalat Maghrib 2. Jamak Takhir. Jamak Takhir adalah penggabungan antara dua shalat fardhu, yang pelaksanaan shalatnya dilakukan pada waktu shalat fardhu yang kedua (diakhirkan).
  • 5.
    5 Misalnya: shalat Dzuhurdan shalat Ashar yang dikerjakan pada waktu shalat Ashar, atau shalat Maghrib dan shalat Isya’ yang dilakukan ketika memasuki waktu Isya’ B. Syarat – Syarat Sahnya Melaksanakan Shalat Jamak Adapun syarat-syarat sahnya untuk menjamak shalat ini adalah sebagai berikut: Untuk Jamak takdim syaratnya adalah : 1. Berniat untuk melaksanakan shalat jamak takdim. 2. Shalat dikerjakan secara urut,Tidak ada selingan apapun ketika melakukan dua shalat fardhu tersebut. 3. Untuk Jamak Takhir yang membedakan adalah niatnya, selebihnya sama dengan syarat shalat jamak takdim. Ketika seseorang ingin melakukan shalatnya dengan jamak takhir, maka orang tersebut sudah harus berniat untuk shalat jamak takhir terlebih dahulu ketika masuk waktu shalat yang pertama. C. Cara Pelaksanaan Shalat Jamak Cara melaksanakan shalat jamak ini adalah seperti shalat biasanya, tinggal memilih apakah kita akan melakukan jamak takdim atau jamak takhir. Berkaitan bacaan, gerakan, rekaat serta rukunnya tidak ada yang membedakannya kecuali niat shalatnya. Orang – Orang yang Dibolehkan Melaksanakan Shalat JamakKarena shalat jamak ini adalah salah satu keringanan terhadap seseorang. Maka, tidak semua orang dibolehkan melakukan shalat fardhunya dengan cara dijamak. Ada kriteria-kriteria tertentu orang dibolehkan melakukan shalat fardhunya dengan dijamak. Antara lain adalah:Orang yang sedang dalam keadaan sakit atau uzur yang berkepanjangan, Orang yang sedang dalam keadaan bepergian jauh atau musafir, Orang yang sedang dalam kondisi dan situasi yang penting, sehingga tidak mudah bagi orang tersebut untuk meninggalkannya.Orang yang shalat berjamaah di masjid, dan kemudian turun hujan lebat. (Terutama yang rumahnya jauh dari masjid, sehingga menjadi halangan untuk pulang).
  • 6.
    6 D. Pengertian ShalatQasar Dalam ibadah shalat ada istilah lain selain shalat jamak, yakni shalat qasar. Shalat fardhu yang dilakukan dengan meringkas bilangan rakaatnya. Seperti dari empat rakaaat diringgkas menjadi dua rakaat. Untuk shalat yang rakaatnya kurang dari empat, maka tidak dibolehkan untuk mengqasarnya. Seperti shalat Shubuh dan Maghrib. E. Syarat – Syarat Sahnya Melaksanakan Shalat Qasar Mengqasar shalat fardhu ini tentu juga tidak sembarang orang dibolehkan. Ada syarat-syarat sah yang menjadikan shalatnya disebut dengan shalat qasar, yaitu: Niat untuk mengqasar shalat. Shalat yang diqasar adalah shalat yang jumlah rakaatnya ada empat rakaat shalat Dzuhur, Ashar dan Isya’. Memenuhi jarak perjalanan yang menjadi syarat shalat qasar, lebih dari 77 km Perjalanan yang dilakukan mempunyai tujuan yang baik dan benar. Seperti untuk bersilaturahmi, mencari ilmu, berdagang dan lain-lain. Untuk cara pelaksanaan shalat qasar ini adalah seperti shalat subuh, yakni dua rakaat. Orang – Orang yang Dibolehkan Melakukan Shalat Qasar Seperti halnya penjelasan shalat jamak di atas, shalat qasar ini juga tidak boleh dilakukan sembarang orang. Ada pengecualian tersendiri bagi orang-orang yang dibolehkan melaksanakan ibadah shalat jamak dan shalat qasar ini. Shalat qasar ini diberlakukan bagi mereka yang sedang sakit atau mereka yang dalam keadaan bepergian jauh atau ketika seseorang sedang dalam kondisi tidak aman. F. Pengertian Shalat Jamak plus Qasar (Jamak Qasar) Untuk pengertian shalat jamak qasar ini adalah shalat dua waktu yang digabung bersama-sama dalam satu waktu yang mana bilangan rakaatnya diringkas sekalian. Waktu shalat jamak qasar ini sendiri tergantung orang yang
  • 7.
    7 melaksanakannya, apakah diwaktu awal (Jamak Takdim) atau waktu akhir (Jamak Takhir) Cara Melaksanakan Shalat Jamak Qasar Berdasarkan shalat jamaknya, cara melaksanakan shalat ini terbagi menjadi dua macam:  Shalat Jamak Takdim yang dilakukan dengan qasar. Misalnya shalat Dzuhur dan Shalat Ashar, yang semuanya digabungkan pada waktu Dzuhur, dan dilaksanakan pada waktu Dzuhur juga. masing-masing hanya dikerjakan dengan dua rakaat saja. Begitu juga dengan shalat Maghrib dan shalat Isya’ caranya adalah melakukan shalat Maghrib di waktu Maghrib dahulu tiga rakaat, dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Isya’ dua rakaat. Semua gerakan, bacaan dan rukunnya sama seperti ketika melaksanakan ibadah shalat fardhu, yang berbeda adalah niatnya.  Shalat Jamak Takhir yang dilakukan dengan qasar. Untuk shalat jamak takhir yang dilakukan dengan qasar ini pelaksanaannya adalah sama dengan jamak takdim qasar. Yang membedakan hanyalah niat serta waktu pelaksanaannya yang dilakukan pada waktu shalat yang kedua atau terakhir. Misalnya, shalat Dzuhur yang digabung dengan shalat Ashar, yang pelaksanaan shalatnya dilakukan ketika waktu shalat Ashar. Maka, caranya adalah dengan shalat Dzuhur dahulu dua rakaat dilanjutkan dengan shalat Ashar dua rakaat kemudian. Begitu juga dengan shalat Maghrib dan Isya’ sama seperti dengan jamak takdim qasar, tetapi yang ini dilakukan di waktu yang akhir. G. Manfaat dari Shalat Jamak Qasar Setelah kita pelajari mengenai materi yang dijelaskan di atas, tentulah ada sedikit manfaat yang bisa kita ambil dan bisa kita telaah mengenai betapa Maha
  • 8.
    8 Murahnya Allah swt.,yang telah memberikan berbagai keringanan dalam beridabah. Khususnya tentang shalat yang merupakan tiang agama bagi kita semuanya. Adapun manfaat dari shalat jamak qasar ini antara lain adalah: Merupakan salah satu keringanan dari Allah swt., kepada hamba-hamba- Nya, sehingga menjadi pelajaran sendiri bahwa betapa pentingnya ibadah shalat tersebut. Menjadikan hati tenang, aman dan tidak galau, karena sudah melaksanakan ibadah shalat yang menjadi kewajiban bagi semua umat Islam Tidak minder dan tidak takut ketika sedang dalam kondisi yang genting sekalipun, karena ibadah shalatnya senantiasa dijaga Memudahkan seseorang yang sedang sakit atau punya halangan Memberikan kemudahan bagi seseorang yang melakukan perjalanan jauh, sehingga tidak memakan banyak waktu. 1) Shalat Jamak Takdim Jamak takdim dikerjakan pada waktu shalat yang pertama. Maksudnya, jika anda akan menjamak shalat dzuhur dan ashar, maka anda mengerjakannya saat waktu dzuhur. Begitupun maghrib dan isya yang dilakukan saat waktu maghrib tiba. Urutannya, kerjakan shalat yang pertama kemudian shalat kedua tanpa diselingi kegiatan apapun. Maksudnya, setelah salam pada shalat dzuhur anda langsung berdiri mengerjakan shalat ashar. Keduannya dikerjakan 4 rakaat tanpa dikurangi, berikut niatnya:  Niat shalat jamak takdim dzuhur ‫أ‬ُ‫ص‬َ‫ل‬ ِّ‫ي‬ ‫ل‬‫ر‬ ْ‫ض‬‫ل‬َ ‫يظلا‬ ‫ص‬‫ض‬ِْ‫أ‬‫ر‬‫عب‬ َ‫ك‬‫ع‬‫ل‬‫ا‬‫ت‬‫ل‬‫ظ‬ ‫ع‬َ‫ج‬ ْ‫م‬ِّ‫و‬ْ‫ع‬‫ل‬‫ا‬ ‫اا‬ ‫ص‬‫ض‬ْ‫ص‬‫ل‬‫ا‬‫عب‬ َ‫د‬‫ع‬‫ل‬‫ء‬‫ل‬‫ع‬ ‫ص‬ِ ‫عبت‬‫ل‬‫ا‬‫ل‬‫ى‬ Ushollii fardlozh zhuhri arba’a raka’aatin majmuu’an ma’al ashri adaa-an lillaahi ta’aalaa. “Aku sengaja shalat fardu dhuhur empat rakaat yang dijama’ dengan Ashar, fardu karena Allah Ta’aala” Untuk shalat ashar nya, anda tidak perlu menggunakan niat shalat jamak lagi, melainkan membaca niat shalat ashar seperti biasa.
  • 9.
    9 2) Shalat JamakTakhir Jamak takhir adalah kebalikan dari jamak takdim, yakni mengerjakan dua shalat fardu pada waktu shalat yang kedua (adalah waktu ashar dan isya).  Niat shalat zhuhur jamak takhir dengan ashar ‫أ‬ُ‫ص‬َ‫ل‬ ِّ‫ي‬ ‫ل‬‫ر‬ ْ‫ض‬‫ل‬َ ِْ‫أ‬‫ر‬‫يظلاعب‬ ‫ص‬‫ض‬ َ‫ك‬‫ع‬‫ل‬‫ا‬‫ت‬‫ل‬‫ظ‬ ‫ع‬َ‫ج‬ ْ‫م‬ِّ‫و‬ْ‫ع‬‫ل‬‫ا‬ ‫اا‬ ‫ص‬‫ض‬ْ‫ص‬‫ل‬‫ا‬‫عب‬ َ‫د‬‫ع‬‫ل‬‫ء‬‫ل‬‫ع‬ ‫ص‬ِ ‫عبت‬‫ل‬‫ا‬‫ل‬‫ى‬ Ushollii fardlozh zhuhri arba’a raka’aatin majmuu’an ma’al ashri adaa-an lillaahi ta’aalaa. “Aku sengaja shalat fardu dhuhur empat rakaat yang dijama’ dengan Ashar, fardu karena Allah Ta’aala” Kedua shalat dilakukan pada waktu ashar, bisa zhuhur dulu, bisa ashar dulu.  Niat shalat ashar jamak takhir dengan zhuhur (Kedua shalat dilakukan pada waktu ashar) ‫أ‬ُ‫ص‬َ‫ل‬ ِّ‫ي‬ ‫ل‬‫ر‬ ْ‫ض‬‫ل‬َ ‫ص‬‫ض‬ْ‫ص‬‫ل‬‫ا‬‫عب‬ ‫ا‬ ‫يظل‬ َ‫ك‬‫ع‬‫ل‬‫ا‬‫ت‬‫ل‬‫ظ‬ ‫ع‬َ‫ج‬ ْ‫م‬ِّ‫و‬ْ‫ع‬‫ل‬‫ا‬ ‫اا‬ ‫ص‬‫ض‬ِْ‫أ‬‫ر‬‫عب‬ َ‫د‬‫ع‬‫ل‬‫ء‬‫ل‬‫ع‬ ‫ص‬ِ ‫عبت‬‫ل‬‫ا‬‫ل‬‫ى‬ Ushollii fardlol ‘ashri arba’a raka’aatin majmuu’an ma’azh zhuhri adaa-an lillaahi ta’aalaa. “Aku sengaja shalat fardu Ashar empat rakaat yang dijama’ dengan dhuhur, fardu karena Allah Ta’aala” Note: Untuk shalat maghrib dan isya, tinggal menyesuaikan bacaan niatnya. Shalat Qashar Berbeda dengan shalat jamak yang menggambungkan, shalat qasar artinya meringkas. Rukhsah shalat qasar ialah meringkas 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Contoh, shalat dzuhur dikerjakan 2 rakaat, begitupun shalat ashar dan isya. INGAT: hanya shalat dengan jumlah 4 rakaat yang boleh di qasar. Maka dari itu, anda tidak diperbolehkan meng qasar shalat subuh dan maghrib. Allah berfirman dalam al Qur’an surat An Nisa ayat 101 yang artinya: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu menqashar shalatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir, sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu,” Q.S.(An Nisa: 101) ‫ت‬ُ‫ص‬َ‫ل‬ ِّ‫ع‬ ‫ل‬‫ر‬ ْ‫ض‬‫ل‬َ ‫ص‬‫ض‬ِْ‫أ‬‫ر‬‫عب‬ ‫ص‬‫ْك‬‫ع‬‫ل‬‫ت‬‫ل‬‫ا‬ْ‫ت‬‫ل‬‫ظ‬ ‫ع‬َ‫ض‬ْ‫ص‬‫ل‬‫ا‬ َ‫د‬‫ع‬‫ل‬‫ء‬‫ل‬‫ع‬ ‫ص‬ ّ ‫ص‬ِ ‫ت‬‫ل‬‫ب‬‫ع‬‫ل‬‫ا‬‫ل‬‫ى‬ Usholli farduzh dzuhri qasran rok’ataini lillahi ta’ala “Niat shalat fardhu dzuhur secara qashar dua rakaat karena Allah” Shalat Jamak Qasar
  • 10.
    10 Betapa murahnya AllahS.W.T. Selain memperbolehkan hambanya menjamak atau mengqashar ibadah shalatnya. Allah juga mengizinkan kita untuk mengerjakan shalat jamak qashar, yakni digabung dan diringkas. Artinya anda mengerjakan 2 shalat fardu dalam satu waktu dan juga meringkasnya. Shalat jamak qashar bisa dilakukan secara takdim maupun takhir. Lafadzkan niat shalat jamak qashar sebagai berikut:  Niat shalat qashar dan jamak taqdim ‫َأ‬ ‫ي‬ ‫ضر‬ َ ‫رِض‬ ‫عب‬ ‫ا‬‫جو‬ ‫م‬ ‫قدي‬ ‫ى‬ ‫صض‬ ‫ا‬ ‫عب‬ ‫ل‬ ‫صضع‬ ‫ا‬ ‫عك‬ ‫ت‬ ‫ا‬ ‫ظت‬ ِ ‫أ‬ ‫اعب‬ ‫ى‬ Ushallii fardhazh zhuhri rak’ataini qashran majmuu’an ilaihil ‘ashru adaa’an lillaahi ta’aalaa. “Aku berniat shalat fardhu zhuhur 2 rakaat, qashar, dengan menjamak ashar kepadanya, karena Allah ta’ala.”  Niat shalat qashar dan jamak ta’khir: ‫َأ‬ ‫ي‬ ‫ضر‬ َ ‫رِض‬ ‫عب‬ ‫ا‬‫جو‬ ‫عض‬ ‫أخ‬ ‫ى‬ ‫صض‬ ‫ا‬ ‫عب‬ ‫ل‬ ‫صضع‬ ‫ا‬ ‫عك‬ ‫ت‬ ‫ا‬ ‫ظت‬ ِ ‫أ‬ ‫اعب‬ ‫ى‬ Ushallii fardhal ‘ashri rak’ataini qashran majmuu’an ilazh zhuhri adaa’an lillaahi ta’aalaa. “aku berniat shalat fardhua shar 2 rakaat, qashar, dengan menjamaknya kepada zhuhur, karena Allah ta’ala.” Syarat-Syarat Sah Shalat Jamak, Qasar dan Jamak Qashar Shalat jamak dan qashar memang diperuntukan bagi ummat muslim yang sedang melakukan perjalanan jauh atau karena halangan lain sehingga tidak dapat mengerjakan shalat fardu tepat pada waktunya. Hal ini meliputi:  Melakukan perjalanan jauh minimal 81 kilometer (sesuai kesepakatan para ulama)  Perjalanan tidak bertujuan untuk hal negatif atau berbuat dosa  Sedang dalam keadaan bahaya; hujan lebat disertai angin kencang, perang atau bencana lainnya.
  • 11.
    11 2.3 Salat berjamaah (Arab:‫الة‬ ‫عوعجة‬ ‫عب‬ Sholatul jama'ah) merujuk pada aktivitas salat yang dilakukan secara bersama-sama. Salat ini dilakukan oleh minimal dua orang dengan salah seorang menjadi imam (pemimpin) dan yang lainnya menjadi makmum. Fardhu `ain adalah wajib, dalam salat berjamaah, yang memiliki pendapat fardhu `ain ini adalah Atha` bin Abi Rabah, Al Auza`i, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibban, umumnya ulama Al Hanafiyah dan mazhab Hanabilah. Atha` berkata bahwa kewajiban yang harus dilakukan dan tidak halal selain itu, yaitu ketika seseorang mendengar azan, haruslah dia mendatanginya untuk salat. Ada hadits yang mengatakan bahwa jika seorang mendengar azan, kemudian tidak salat berjamaah maka orang itu tidak menginginkan kebaikan maka kebaikan itu sendiri tidak menginginkannya pula. Dengan demikian bila seorang muslim meninggalkan salat jamaah tanpa uzur, dia berdoa namun salatnya tetap syah. Kemudian ada hadits yang menjelaskan jika ada orang yang tidak salat berjamaah, maka nabi akan membakar rumah-rumah orang yang tidak menghadiri salat berjamaah. Yang mengatakan fardhu kifayah adalah Al Imam Asy Syafi`i dan Abu Hanifah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Habirah dalam kitab Al Ifshah jilid 1 halaman 142. Demikian juga dengan jumhur (mayoritas) ulama baik yang lampau (mutaqaddimin) maupun yang berikutnya (mutaakhkhirin). Termasuk juga pendapat kebanyakan ulama dari kalangan mazhab Al Hanafiyah dan Al Malikiyah. Dikatakan sebagai fardhu kifayah maksudnya adalah bila sudah ada yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak ada satu pun yang menjalankan salat jamaah, maka berdosalah semua orang yang ada di situ. Hal itu karena salat jamaah itu adalah bagian dari syiar agama Islam. Di dalam kitab Raudhatut Thalibin karya Imam An Nawawi disebutkan bahwa: "Salat jamaah itu itu hukumnya fardhu `ain untuk salat Jumat. Sedangkan untuk salat fardhu lainnya, ada beberapa pendapat. Yang paling shahih hukumnya
  • 12.
    12 adalah fardhu kifayah,tetapi juga ada yang mengatakan hukumnya sunnah dan yang lain lagi mengatakan hukumnya fardhu `ain." Mereka berpegangan dengan memakai dalil yang mengatakan bahwa, jika ada orang yang tidak melaksanakan salat berjamaah maka setan telah menguasai mereka, dalam hadits tersebut, Muhammad menganalogikan orang yang meninggalkan salat jamaah dengan seekor domba yang terpisah dari kelompoknya makanakan diterkam oleh serigala. Hadits dari Malik bin Huwairits menjelaskan ia mendengar ada hadits yang menjelaskan pentingnya mengajarkan salat kepada keluarga bila waktu salat telah tiba, maka lantunkanlah azan dan yang tertua maka menjadi imam salat.Kemudian ada penjelasan bahwa salat berjamaah lebih utama sebanyak 27 derajat dibandingkan salat sendirian. Sunnah muakkadah adalah sunnah yang sangat ditekankan untuk dilaksanakan, dan sangat dianjurkan agar tidak ditinggalkan. Pendapat ini didukung oleh mazhab Al Hanafiyah dan Al Malikiyah sebagaimana disebutkan oleh Imam As-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar jilid 3 halaman 146. Ia berkata bahwa pendapat yang paling tengah dalam masalah hukum salat berjamaah adalah sunnah muakkadah. Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya fardhu `ain, fardhu kifayah atau syarat syahnya salat, tentu tidak bisa diterima. Al Karkhi dari ulama Al Hanafiyah berkata bahwa salat berjamaah itu hukumnya sunnah, namun tidak disunnahkan untuk tidak mengikutinya kecuali karena uzur. Dalam hal ini pengertian kalangan mazhab Al Hanafiyah tentang sunnah muakkadah sama dengan wajib bagi orang lain. Artinya, sunnah muakkadah itu sama dengan wajib. Khalil, seorang ulama dari kalangan mazhab Al Malikiyah dalam kitabnya Al Mukhtashar mengatakan bahwa salat fardhu berjamaah selain salat Jumat hukumnya sunnah muakkadah. Ibnul Juzzi berkata bahwa salat fardhu yang dilakukan secara berjamaah itu hukumnya fardhu sunnah muakkadah. Dalil yang mereka gunakan untuk pendapat mereka antara lain adalah dalil bahwa salat berjamaah memiliki keutamaan derajat lebih banyak jumlah 27
  • 13.
    13 derajat,Kemudian pendapat lainmenjelaskan lagi bahwa salat jamaah berjamaah tidak wajib. Selain itu mereka juga menggunakan hadits yang mengatakan bahwa orang yang salat berjamaah hanya mendapatkan ganjaran (pahala) terbesar adalah orang yang menunggu salat berjamaah bersama imam, daripada salat sendirian. imam sendiri adalah seseorang yang memimpin sholat di barisan paling depan (laki-laki) dan makmum adalah orang-orang yang melakukan sholat di belakangnya. Berikut ini adalah syarat-syarat jika seseorang menjadi imam: • Muslim • Akil Baligh • Laki-laki (untuk imam di masjid) • Mahir Al-Quran • Suci dari hadats besar dan hadats kecil Sedangkan seorang makmum juga harus suci dari hadats kecil dan besar dan tidak boleh mendahului makmum ketika melakukan sholat. Setelah syarat tersebut di atas terpenuhi maka sholat berjamaah secara sah boleh dilakukan.  Tata cara sholat berjamaah yang benar dalam Islam 1. Membaca Niat Membaca niat di dalam sholat berjamaah dibedakan menjadi dua macam yaitu bacaan niat sebagai imam dan bacaan niat sebagai makmum. Pelafalan niat sendiri tergantung pada sholat yang hendak dilakukan pada saat itu. Misalnya pada saat itu adalah waktunya sholat dhuhur, maka beginilah cara membaca niat antara imam dan makmum yang benar. Sebagai imam Usholli fardodh dhuhri arba'a raka'atim mustaqbilal qiblati adaa-an imaaman lillahi ta'ala Artinya, “Saya niat sholat fardhu dhuhur dua rakaat dengan adzan menjadi imam karena Allah Ta'ala.”
  • 14.
    14 Sebagai makmum Usholli fardodhdhuhri arba'a raka'atim mustaqbilal qiblati adaa-an imaaman lillahi ta'ala Artinya, “Saya niat sholat fardhu dhuhur dua rakaat dengan adzan menjadi makmum karena Allah Ta'ala.” 2. Makmum berdiri di barisan belakang imam Posisi seperti ini sudah jelas dalam tatanan sholat berjamaah dalam islam yang benar. Dimana tidak ada sorang pun yang posisi nya sejajar dengan imam atau mendahului imam ketika melakukan sholat secara berjamaah. Jika ruangan penuh maka posisi makmum boleh dekat dengan imam dengan tumit makmum minimal tidak mendahului tumit imam. Tatanan tersebut bisa dikatakan sholat berjamaah sah. Namun jika makmum berada di posisi yang sejajar dengan makmum atau mendahului maka sholat berjamaah bisa dikatakan tidak sah. 3. Mengikuti dan mengetahui gerakan imam Seperti yang kita tahu bahwa imam adalah seseorang yang memimpin ketika sholat berjamaah. Maka dari itu seluruh makmum harus mengikuti gerakan imam ketika sholat. Contohnya ketika imam melakukan gerakan ruku', I'tidal, sujud dan seterusnya. Makmum harus mengikuti gerakan-gerakan itu serta membaca doa di setiap gerakannya tanpa mendahului imam. Sedangkan makmum yang berada di shaf paling belakang juga harus tetap mengikuti gerakan sholat oleh shaf yang ada di depannya. Begitulah seterusnya supaya tidak ada ketertinggalan antara shaf depan, tengah, dan belakang. 4. Berada pada dalam satu masjid (imam dan makmum) Penting menjaga jarak antara imam dan makmum. Jarak atau posisi antara imam dan makmum tidak boleh saling berjauhan dan harus berada dalam satu masjid. Namun apabila ada beberapa makmum yang terpaksa harus keluar masjid
  • 15.
    15 karena keadaan masjidsudah penuh maka sah-sah saja asalkan makmum dapat mengetahui gerakan imam dengan jelas. A. Tata Cara SholatBerjamaahJikaMakmumTerlambat Dalam ajaran islam, makmum yang terlambat melakukan sholat berjamaah masih dapat mengikuti sholat yang sedang berlangsung. Pastinya dengan beberapa ketentuan. • Tetap memasuki masjid dengan tenang dan tidak boleh gaduh. • Jika makmum terlambat ketika imam dalam posisi ruku', sujud atau posisi yang lainnya maka hendaknya makmum yang terlambat segera menyusul dengan membaca niat, takbiratul ihram kemudian langsung menyusul gerakan sholat imam pada saat itu. • Tetap melaksanakan sholat dengan jumlah rakaat sholat yang pada saat itu dikerjakan. Misalnya pada saat itu sedang melakukan sholat dhuhur. Jika makmum terlambat satu rakaat maka ia tetap melakukan tahiyat akhir, lalu ketika imam salam hendaknya makmum berdiri untuk menyelesaikan satu rakaat lagi. Begitu seterusnya jika terlambat sampai 2 dan tiga rakaat. B. ManfaatdanKeutamaanSholatBerjamaah • Mendapat pahala sebanyak 27 kali lipat Sholat berjamaah lebih banyak pahalanya dibandingkan sholat sendirian. Oleh karena itu akan lebih baik jika kita mengerjakan sholat secara berjamaah. Hal ini sesuai dengan sebuah hadist Rasulullah SAW, “Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dibanding sholat sendirian.” (HR. Bukhari dan muslim. • Sebagai naungan dari Allah SWT pada hari kiamat
  • 16.
    16 Nabi Muhammad SAWpernah berkata bahwa kelak di hari kiamat nanti akan ada 7 golongan umat muslim yang mendapat naungan dari Allah SWT, termasuk di dalamnya adalah golongan “seseorang yang hatinya bergantung di masjid- masjid.” • Diangkat derajatnya oleh Allah SWT Hal ini sesuai dengan hadits riwayat muslim yang berkata, “Menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid-masjid, dan menunggu sholat setelah melaksanakan sholat. Maka, itulah ar-tibath (berjuang di jalan Allah).” (HR. Muslim) Hadits tersebut mengatakan bahwa orang-orang yang melaksanakan sholat di masjid diumpamakan sebagai seseorang yang berjuang di jalan Allah sehingga Allah SWT akan menaikkan derajatnya dan menghapus dosanya. • Dijanjikan surga oleh Allah SWT Selain diangkat derajatnya dan dimuliakan di akhirat kelak, orang-orang yang melaksanakan ibadah sholat di masjid secara berjamaah juga dijanjikan surga oleh Allah SWT. Seperti yang sabda Rasulullah SAW berikut ini, “Ada tiga golongan yang semuanya dijamin oleh Allah Ta'ala, yaitu orang yang keluar untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Alah sampai Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala dan ghanimah, kemudian orang yang pergi ke masjid, maka ia dijamin oleh Allah sampai Dia mewafatkannya lalu memasukannya ke dalam surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala, dan orang yang masuk rumahnya dengan mengucap salam, maka ia dijamin oleh Allah.” (HR. Abu Dawud)
  • 17.
    17 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Daripaparan di atas dapat difahami bahwa shalat jama’ dan qashar merupakan rukhsah dan dibolehkan dalam bepergian atau keadaan darurat. Prinsipnya selagi manusia mempunyai kesempatan untuk melakukan shalat dan tidak menjadi darurat, selayaknya manusia tidak malu untuk segera melaksanakan shalat seperti biasanya. Menjadi suatu kewajiban bagi yang melaksanakan shalat menjadi suri tauladan bagi yang lain sehingga mengajari yang lainnya. Karena yang demikian adalah dari syi’ar Islam yang mesti dimuliakan. Bagi yang mendapati kesulitan atau kesukaran dalam tiap kali shalat pada waktunya maka memungkinkan baginya untuk menjama’ shalat. Pemaparan hal itu sudah dikemukakan di atas tetapi dengan syarat tidak menjadi kebiasaan dan rutin dan hal tersebut tidak bermaksud selain untuk memudahkan dan tidak menyulitkan umat. Demikian, meski sering jalan-jalan, dan menempuh perjalanan panjang jangan lupa melaksakan sholat 5 waktu. Shalat berjam’ah tidaklah sah hukumnya apabila dilakukan dengan mengikuti sholat berjam’ah melalui siaran radio atau televisi dirumah mereka secara sendirian maupun berjama’ah. Shalat berjamaah dapat dikatakan sah apabila imam dan makmum berada dalam satu tempat sehingga makmum dapat mengikuti gerakan imam meskipun dengan alat bantu seperti LCD, Pengeras suara atau media elektronik lainnya. Dilakukan dengan tidak memutus.
  • 18.
    18 DAFTAR PUSTAKA  https://portal-ilmu.com/shalat-jamak-shalat-qasar-shalat-jamak-qasar/ https://plus.kapanlagi.com/tata-cara-sholat-berjamaah-yang-benar- lengkap-dengan-adab-dan-keutamaannya-number-3005f3.html  shalat Qashar Jama Penulis: Ahmad Sarwat, Lc., MA Terbit ,28 August 2018