SISTEM
PERUMAHAN
DAN
PERMUKIMAN
DR.IR.DRS.SYAHRIAR TATO.SH.SAB.SSN.MS.MH.MM
TEORI TEORI TENTANG
PERUMAHAN DAN
PERMUKIMAN
Menurut John F.C Turner, 1972, dalam bukunya Freedom
To Build mengatakan, “Rumah adalah bagian yang utuh
dari permukiman, dan bukan hasil fisik sekali jadi semata,
melainkan merupakan suatu proses yang terus
berkembang dan terkait dengan mobilitas sosial ekonomi
penghuninya dalam suatu kurun waktu. Yang terpenting
dan rumah adalah dampak terhadap penghuni, bukan
wujud atau standar fisiknya. Selanjutnya dikatakan bahwa
interaksi antara rumah dan penghuni adalah apa yang
diberikan rumah kepada penghuni serta apa yang
dilakukan penghuni terhadap rumah”.
LANJUTAN 1
Pengertian dasar permukiman dalam Undang-Undang
No.1 tahun 2011 adalah bagian dari lingkungan hunian
yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang
mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta
mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain dikawasan
perkotaan atau kawasan perdesaan.
LANJUTAN 2
Menurut Koestoer (1995) batasan permukiman adalah
terkait erat dengan konsep lingkungan hidup dan
penaaan ruang. P ermukiman adalah area tanah yang
digunakan sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang
mendukung peri kehidupan dan merupakan bagian dari
lingkungan hidup di luar kawasaan lindung baik yang
berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan.
LANJUTAN 3
Parwata (2004) menyatakan bahwa permukiman adalah
suatu tempat bermukim manusia yang telah disiapkan
secara matang dan menunjukkan suatu tujuan yang jelas,
sehingga memberikan kenyamanan kepada penghuninya.
Permukiman (Settlement) merupakan suatu proses
seseorang mencapai dan menetap pada suatu daerah.
Kegunaan dari sebuah permukiman adalah tidak hanya
untuk menyediakan tempat tinggal dan melindungi
tempat bekerja tetapi juga menyediakan fasilitas untuk
pelayanan, komunikasi, pendidikan dan rekreasi.
LANJUTAN 4
Menurut Parwata (2004) permukiman terdiri dari:
(1) isi, yaitu manusia sendiri maupun masyarakat;dan
(2)wadah,yaitu fisik hunian yang terdiri dar ialam dan
elemen-elemen buatan manusia. Dua elemen
permukiman tersebut, selanjutnya dapat dibagi ke dalam
lima elemen yaitu:
(1) alam yang meliputi: topografi, geologi, tanah, air,
tumbuh-tumbuhan, hewan, dan iklim;
(2) (2) manusia yang meliputi: kebutuhan biologi
(ruang,udara, temperatur, dsb), perasaan dan
persepsi, kebutuhan emosional, dan nilai moral;
LANJUTAN 5
(3) masyarakat yang meliputi: kepadatan dan komposisi p
e n d u d u k , k e l o m p o k s o s i a l , k e b u d a y a a n
, p e n ge m b a n g a n e k o n o m i , p e n d i d i k a n ,
hukum dan administrasi;
(4) fisik bangunan yang meliputi: rumah, pelayanan
masyarakat (sekolah, rumah sakit, dsb), fasilitas rekreasi,
pusat perbelanjaan dan pemerintahan, industri,
kesehatan, hukum dan administrasi; dan
(5) jaringan (net work) yang meliputi: sistem jaringan air
bersih, sistem jaringan listrik, sistem transportasi, sistem
komunikasi, sistem manajemen kepemilikan, drainase dan
air kotor, dan tata letak fisik.
LANJUTAN 6
Menurut Siswono Yudohusodo (Rumah Untuk Seluruh
Rakyat, 1991: 432), rumah adalah bangunan yang
berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana
pembinaan keluarga. Jadi, selain berfungsi sebagai
tempat tinggal atau hunian yang digunakan untuk
berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup
lainnya, rumah merupakan tempat awal pengembangan
kehidupan.
LANJUTAN 7
Menurut Turner (1972:164-167), terdapat tiga fungsi yang
terkandung dalam rumah:
1. Rumah sebagai penunjang identitas keluarga, yang
diwujudkan dalam kualitas hunian atau perlindungan yang
diberian rumah. Kebutuhan tempat tinggal dimaksudkan
agar penghuni mempunyai tempat tinggal atau berteduh
secukupnya untuk melindungi keluarga dari iklim setempat.
2. Rumah sebagai penunjang kesempatan keluarga untuk
berkembang dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi
atau fungsi pengembangan keluarga. Fungsi ini diwudkan
dalam lokasi tempat rumah itu didirikan. Kebutuhan berupa
akses ini diterjemahkan dalam pemenuhan kebutuhan sosial
dan kemudahan ke tempat kerja guna mendapatkan sumber
penghasilan.
LANJUTAN 8
 Rumah sebagai penunjang rasa aman dalam arti
terjaminnya kehidupan keluarga di masa depan setelah
mendapatkan rumah, jaminan keamanan lingkungan
perumahan yang ditempati serta jaminan keamanan
berupa kepemilikan rumah dan lahan.
 Rumah sebagai kebutuhan dasar manusia,
perwujudannya bervariasi menurut siapa penghuni
atau pemiliknya. Berdasarkan hierarchy of need
(Maslow, 1954:10),
LANJUTAN 9
kebutuhan akan rumah dapat didekati sebagai:
1. Physiological needs (kebutuhan akan makan dan minum),
merupakan kebutuhan biologis yang hampir sama untuk setiap
orang, yang juga merupakan kebuthan terpenting selain rumah,
sandang, dan pangan juga termasuk dalam tahap ini.
2. Safety or security needs (kebutuhan akan keamanan),merupakan
tempat berlindung bagi penghuni dari gangguan manusia dan
lingkungan yang tidak diinginkan.
3.Social or afiliation needs (kebutuhan berinteraksi), sebagai tempat
untuk berinteraksi dengan keluarga dan teman.
4.Self actualiztion needs (kebutuhan akan ekspresi diri), rumah
bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi menjadi tempat untuk
mengaktualisasikan diri.
LANJUTAN 10
Lingkungan permukiman merupakan suatu sistem yang terdiri dari lima
elemen, yaitu (K. Basset dan John R. Short, 1980, dalam Kurniasih) :
-Nature (unsur alami), mencakup sumber-sumber daya alam seperti
topografi, hidrologi, tanah, iklim, maupun unsur hayati yaitu vegetasi
dan fauna.
-Man (manusia sebagai individu), mencakup segala kebutuhan
pribadinya seperti biologis, emosional, nilai-nilai moral, perasaan, dan
perepsinya.
-Society (masyarakat), adanya manusia sebagai kelompok masyarakat.
-Shells (tempat), dimana mansia sebagai individu maupun kelompok
melangsungkan kegiatan atau melaksanakan kehidupan.
-Network (jaringan), merupakan sistem alami maupun buatan manusia,
yang menunjang berfungsinya lingkungan permukiman tersebut seperti
jalan, air bersih, listrik, dan sebagainya.
Bentuk-bentuk Permukiman
Sebuah permukiman terbentuk dari komponen-komponen
dasar yaitu:
(1) rumah-rumah dan tanah beserta rumah;
(2) tanah kapling rumah dan ruang tanah beserta rumah; dan
(3) tapak rumah dan perkarangan rumah . Perkarangan
rumah atau tempat-tempat rumah biasanya disusun dalam
kelompok- kelompok yang homogen dalam segi bentuk,
fungsi, ukuran, asal mula dan susunan spasial. Dua atau lebih
kelompok-kelompok dapat membentuk sebuah komplek.
Bentuk dari permukiman dinyatakan dalam bentuk tempat
dan bentuk perencanaan tanah. Perencanaan tanah dibentuk
oleh kelompok-kelompok dan komplek-komplek dari tempat
rumah dan perkarangan rumah.
Pola Penyebaran Pembangunan
Perumahan dan Permukiman
Pola penyebaran pembangunan perumahan dan
permukiman di wilayah desa kota menurut Koestoer (1995),
pembentukannya berakar dari pola campuran antara c i r i p
e r k o t a a n d a n p e r d e s a a n . A d a p e r b e d a a n m
e n d a s a r p o l a p e m b a n gu n a n permukiman di
perkotaan dan perdesaan. Wilayah permukiman di perkotaan
sering disebut sebagai daerah perumahan, memiliki
keteraturan bentuk secara fisik. Artinya sebagian besar
rumah menghadap secara teratur ke arah kerangka jalan
yang ada dan sebagian besar terdiri dari bangunan
permanen, berdinding tembok dan dilengkapi dengan
penerangan listrik. Kerangka jalannya pun ditata secara
bertingkat mulai dari jalan raya, penghubung hingga jalan
lingkungan atau lokal.
LANJUTAN 1
 Karakteristik kawasan permukiman penduduk
perdesaan ditandai terutama oleh ketidakteraturan
bentuk fisik rumah. Pola permukimannya cenderung
berkelompok membentuk perkampungan yang
letaknya tidak jauh dari sumber air, misalnya sungai.
Pola permukiman perdesaan masih sangat tradisional
banyak mengikuti pola bentuk sungai, karena sungai
disamping sebagai sumber kehidupan sehari-hari juga
berfungsi sebagai jalur transportasi antar wilayah.
PERSYARATAN PERMUKIMAN
persyaratan untuk menjadikan suatu lokasi sebagai lokasi
permukiman. Kriteria tersebut antara lain:
1.Tersedianya lahan yang cukup bagi pembangunan lingkungan dan
dilengkapi dengan prasarana lingkungan, utilitas umum dan fasilitas
sosial.
2.Bebas dari pencemaran air, pencemaran udara dan kebisingan,
baik yang berasal dari sumber daya buatan atau dari sumber daya
alam (gas beracun, sumber air beracun, dsb).
3.Terjamin tercapainya tingkat kualitas lingkungan hidup yang sehat
bagi pembinaan individu dan masyarakat penghuni.
4.Kondisi tanahnya bebas banjir dan memiliki kemiringan tanah 0-15
%, sehingga dapat dibuat sistem saluran air hujan (drainase) yang
baik serta memiliki daya dukung yang memungkinkan untuk
dibangun perumahan.
LANJUTAN 1
5.Adanya kepastian hukum bagi masyarakat penghuni terhadap
tanah dan bangunan diatasnya yang sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, yaitu :
-Lokasinya harus strategis dan tidak terganggu oleh kegiatan
lainnya.
-Mempunyai akses terhadap pusat-pusat pelayanan, seperti
pelayanan kesehatan, perdagangan, dan pendidikan.
-Mempunyai fasilitas drainase, yang dapat mengalirkan air hujan
dengan cepat dan tidak sampai menimbulkan genangan air.
-Mempunyai fasilitas penyediaan air bersih, berupa jaringan
distribusi yang siap untuk disalurkan ke masing-masing rumah.
-Dilengkapi dengan fasilitas pembuangan air kotor, yang dapat
dibuat dengan sistem individual yaitu tanki septik dan lapangan
rembesan, ataupun tanki septik komunal.
Rumah Sederhana
Sehat(RsSehat)
1. Kebutuhan Minimal Masa (penampilan) dan Ruang luar-
dalam)
Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan
aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Aktivitas
seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja,
duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak
lainnya. Dari hasil kajian, kebutuhan ruang p erorang ada
lah 9 m2 den gan p erhitungan ketinggian rata-rata langit
-langit adalah 2.80 m, contoh kebutuhan luas mi imum
untuk rumah sederhana sehat adalah 27 m2
Lanjutan 1
Rumah sederhana sehat memungkinkan penghuni untuk
dapat hidup sehat, dan menjalankan kegiatan hidup
sehari-hari secara layak. Kebutuhan minimum ruangan
pada rumah sederhana sehat perlu memperhatikan
beberapa ketentuan sebagai berikut:
a.Kebutuhan luas perjiwa
b. Kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK)
c. Kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK)
d. Butuhan luas lahan per unit bangunan
Kebutuhan Kesehatan dan
Kenyamanan
R u m a h s e b a ga i t e m p a t t i n gg a l y a n g m e
m e n u h i s y a r a t k e s e h a t a n d a n
kenyamanan dipengaruhi oleh 3 (tiga) aspek, yaitu
pencahayaan, penghawaan, serta suhu udara dan
kelembaban dalam ruangan. Aspek-aspek tersebut
merupakan dasar atau kaidah perencanaan rumah sehat
dan nyaman.
LANJUTAN 1
a. Pencahayaan
M at a h a r i s e b a g a i p o t e n s i t e r b e s a r y a n
g d a p a t d i gu n a k a n s e b a gaI pencahayaan alami
pada siang hari. Pencahayaan yang dimaksud adalah
penggunaan terang langit, dengan ketentuan sebagai
berikut:cuaca dalam keadaan cerah dan tidak berawan,
ruangan kegiatan mendapatkan cukup banyak cahaya,
ruang kegiatan mendapatkan distribusi cahaya secara
merata.
LANJUTAN 2
b. Penghawaan
Udara merupakan kebutuhan pokok manusia untuK bernafas sepanjang
hidupnya. Udara akan sangat berpengaruh dalam menentukan
kenyamanan pada bangunan rumah. Kenyamanan akan memberikan
kesegaran terhadap penghuni dan terciptanya rumah yang sehat,
apabila terjadi pengaliran atau pergantian udara secara kontinyu melalui
ruangan-ruangan, serta lubang-lubang pada bidang pembatas dinding
atau partisi sebagai ventilasi. Agar diperoleh kesegaran udara dalam
ruangan dengan cara penghawaan alami, maka dapat dilakukan dengan
memberikan atau mengadakan peranginan silang (ventilasi silang)
dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Lubang penghawaan minimal 5 % (lima persen) dari luas lantai
ruangan;
(2) Udara yang mengalir masuk sama dengan volume udara yang keluar;
(3) Udara yang masuk tidak berasal dari asap dapur atau kamar
mandi/WC.
LANJUTAN 3
c. Suhu udara dan kelembaban
Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan
bangunan
disekitarnya. Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu
kenyamanan ruangan kegiatan dalam bangunan seperti:
ruangan keluarga, tidur, tamu dan kerja. Suhu udara dan
kelembaban rumah dinyatakan sehat dan nyaman, apabila
suhu udara dankelembaban udara ruangan sesuai dengan
suhu tubuh manusia normal. Suhu u d a r a d a n k e l e m b
a b a n r u a n ga n s a n ga t d i p e n g a r u h i o l e h p e n
gh a w a a n d a n pencahayaan. Penghawaan yang kurang
atau tidak lancar akan menjadikan ruangan terasa pengap
atau sumpek dan akan menimbulkan kelembaban tinggi
dalam ruangan.
LANJUTAN 4
Untuk mengatur suhu udara dan kelembaban normal
untuk ruangan dan penghuni dalam melakukan
kegiatannya, perlu memperhatikan: (1) keseimbangan
penghawaan antara volume udara yang masuk dan
keluar;
(2) Pencahayaan yang cukup pada ruangan dengan
perabotan yang tidak bergerak;
(3) Menghindari perabotan yang menutupi sebagian besar
luas lantai ruangan.
LANJUTAN 5
3. Kebutuhan Minimal Keamanan dan Keselamatan
-Pada dasarnya bagian-bagian struktur pokok untuk
bangunan rumah tinggal sederhana adalah: pondasi,
dinding (dan kerangka bangunan), atap serta lantai.
Sedangkan bagian-bagian lain seperti langit-langit, talang
dan sebagainya merupakan estetika struktur bangunan
saja.
LANJUTAN 6
Perumahan sehat harus memenuhi syarat kesehatan
lingkungan, ketertiban, keserasian lingkungan, prasarana dan
sarana. Persyaratan tersebut di antaranya:
1) Memenuhi segi kesehatan lingkungan artinya
komponen-komponen perumahan yang mempengaruhi
kesehatan masyarakat hendaknya dilengkapi sesuai
dengan k e b u t u h a n , s e p e rt i :
( 1 ) p e ny e d i a a n p r a s a r a n a l i n gk u n ga n ;
( 2 ) p e n y e d i a a n fasilitas lingkungan;
(3) pengamanan lingkungan terhadap pencemaran.
LANJUTAN 7
2) Memenuhi segi ketertiban perumahan akan berada
pada kondisi aman dan tertib, apabila: (1) mematuhi
peraturan tata letak bangunan dan perumahan agar t e r
h i n d a r d a r i b e r b a ga i b e n c a n a s e p e r t i k e
b a k a r a n d a n l o n gs o r ; d a n
( 2 ) dilengkapi dengan penerangan jalan yang cukup dan
warga bertanggungjawab terhadap pemeliharaannya.
LANJUTAN 8
3) Memperhatikan keserasian lingkungan
Untuk dapat tinggal dengan aman dan nyaman dalam suatu
perumahan, perlu diusahakan hal-hal sebagai berikut:
(1).melestarikan pohon pelindung dan taman untuk menguatkan
tanah dan penyimpanan air dan penyegaran udara serta
memberikan pemandangan indah;
(2) memberi penerangan alami dan buatan yang mencukupi;
(3) mengatur tata letak perumahan sehingga cukup serasi;
(4) cukup jauh jaraknya dengan komplek industri yang
mengeluarkan banyak asap kotor dan mengandung racun atau debu
atau dapat menyakibatkan pencemaran udara atau air dan tanah;
dan
(5) cukup jauh dari tempat-tempat yang dapat mengganggu
kesehatan, kesejahteraan dan moral masyarakat.
LANJUTAN 9
4) Terpenuhi prasarana lingkungan yang lengkap sesuai
dengan jumlah dan kebutuhan penduduknya:
(1) jaringan jalan dan jembatan;
(2) system pemberian air minum atau air bersih;
(3) jaringan listrik;
(4) jaringan telepon;
(5) sitem pembuangan air hujan (saluran terbuka atau
tertutup dan air kotor atau limbah rumah tangga); dan (6)
sistem pengangkutan dan pembuangan sampah dan
kotoran lainnya.
Elemen Standar Tata Ruang
Rumah
Kendala keterjangkauan masyarakat terhadap Rumah
Sederhana Sehat (Rs Sehat), telah diupayakan menyiasati
kondisi tersebut melalui satu rancangan rumah antara
yaitu RIT (Rumah Inti Tumbuh) sebagai rumah cikal bakal
Rumah Sederhana Sehat. Rancangan RIT memenuhi
tuntutan kebutuhan paling mendasar dari penghuni untuk
mengembangkan rumahnya, dalam upaya peningkatan
kualitas kenyamanan, dan kesehatan penghuni dalam
melakukan kegiatan hidup sehari-hari, dengan ruang-
ruang yang perlu disediakan sekurang-kurangnya terdiri
dari:
LANJUTAN 1
a. 1 ruang tidur yang memenuhi persyaratan keamanan
dengan bagian- bagiannya
tertutup oleh dinding dan atap serta memiliki
pencahayaan yang cukup berdasarkan perhitungan serta
ventilasi cukup dan terlindung dari cuaca. Bagian ini
merupakan ruang yang utuh sesuai dengan fungsi
utamannya.
LANJUTAN 2
b. Satu ruang serbaguna merupakan ruang kelengkapan
rumah dimana didalamnya dilakukan interaksi antara
keluarga dan dapat melakukan aktivitas-aktivitas lainnya.
Ruang ini terbentuk dari kolom, lantai dan atap, tanpa
dinding sehingga merupakan ruang terbuka namun masih
memenuhi persyaratan minimal untuk menjalankan
fungsi awal dalam sebuah rumah sebelum dikembangkan.
LANJUTAN 3
c. Satu kamar mandi/kakus/cuci merupakan dari bagian
ruang servis yang sangat menentukan apakah rumah
tersebut dapat berfungsi atau tidak, khususnya untuk
kegiatan mandi kakus atau cuci.
LANJUTAN 4
-Permukiman harus dilayani oleh fasilitas pembuangan
sampah secara teratur agar lingkungan permukiman tetap
nyaman.
-Dilengkapi dengan fasilitas umum, seperti taman
bermain untuk anak, lapangan atau taman, tempat
beribadah, pendidikan dan kesehatan sesuai dengan skala
besarnya permukiman tersebut.
-Dilayani oleh jaringan listrik dan telepon.
(Sumber: “Pedoman Teknik Pembangunan Perumahan
Sederhana Tidak Bersusun” Departemen PU)
LANJUTAN 5
Joseph De Chiara dalam Standar Perencanaan Tapak, 1994,
dimana yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan
perumahan tapak untuk perumahan apabila ingin dicapai
pembangunan dan pemeliharaan yang sehat, antara lain:
Sifat Khas Fisis Tapak yang Penting
1. Kondisi tanah dan bawah tanah.
Kondisi bawah tanah dan harus sesuai dengan untuk
pekerjaan galian dan persiapan, peletakan jaringan utilitas
serta pelandaian dan penanaman, memberikan daya dukung
yang baik untuk penghematan konstruksi bangunan yang
akan dibangun. Untuk menghemat konstruksi, sebaiknya
lapisan bawa tanah tidak mengandung batuan keras atau
rintangan lain untk efisiensi galian utilitas pondasi atau
kolong bangunan.
LANJUTAN 6
2. Air tanah dan drainase
Muka air tanah yang relatif rendah untuk untuk
melingdungi bangunan dari genangan pada kolong
bangunan dan gangguan air selokan, tidak adanya rawa,
dan kelandaian lereng yang cukup memungkinkan
penyaluran curah hujan permukaan normal dan
kelancaran aliran air selokan.
3.Keterbebasan dari banjir permukaan
Daerah pembangunan harus terbebas dari bahaya banjir
permukaan yang disebabkan oleh sungai, danau atau air
pasang.
LANJUTAN 7
4.Kesesuaian penapakan bangunan yang akan
direncanakan
Lahan tidak boleh terlalu curam demi kebaikan
kelandaian dalam kaitannya dengan kostruksi hunian.
Tapak bangunan tidak boleh mempunyai ketinggian
melebihi kemampuan jangkuan air untuk keperluan
rumah tangga dan penangulangan kebakaran.
LANJUTAN 8
5.Kesesuaian untuk akses dan sirkulasi
Topografi harus memungkinkan pencapaian yang baik
oleh kendaraan maupun pejalan kaki, ke dan di dalam
tapak. Topografi juga harus memungkinkan pelandaian
yang sesuai dengan standar yang ada.
LANJUTAN 9
6.Kesesuaian untuk pembangunan ruang terbuka
Lahan untuk halaman pribadi, tempat bermain dan taman
lingkungan harus memungkinkan pelandaian dan
pembangunan yang sesuai dengan spesifikasi.
LANJUTAN 10
7.Keterbatasan dari bahaya kecelakaan topografi
Daerah yang akan dibangun hendaknya bebas dari
kondisi topografi yang dapat menyebabkan kecelakaan,
seperti galian, lubang yang menganga, dan garis pantai
yang berbahaya.
Ketersediaan Pelayanan Saniter
dan Perlindungan
1.Persediaan air dan pembuangan air selokan saniter
Sistem persediaan air dan pembuangan harus dipandang
sebagai pelayanan saniter jangka panjang dan bukan
hanya sekedar instalasi fisis. Penyetujuan dini dari pihak
berwenang dibidang kesehatan merupakan prasyarat
untuk pembuatan fasilitas pembuangan air kotor pada
tapak dan untuk usulan pengembangan jaringan air
maupun selokan yang akan melayani tapak tersebut.
LANJUTAN 1
2.Pembuangan sampah
Apabila pelayanan sampah kota dapat diadakan, maka
pemilihan tapak yang menyangkut hal ini tidak akan
menemui masalah. Tetapi kebutuhan fasilitas pengolahan
sampah pada tapak atau di sekitas tapak untuk
penguburan, pembakaran dan proses kimiawi
memerlukan upaya penelaahan untuk pengalaman.
Masalah yang utama adalah pemisahan lahan untuk
pembuangan, penghindaran bau-bauan yang disebar
oleh angin serta penggunaan metode pembuangan untuk
mencegah bersarangnya tikus dan pembiakan serangga.
LANJUTAN 2
3. Listrik, bahan bakar dan komunikasi
Listrik sangat penting untuk setiap rumah, tetapi karena
pelayanan listrik biasanya dapat diperluas untuk suatu
pembangunan dan dapat dibangkitkan apabila diperlukan
maka listrik jarang menimbulkanmaslah dalam pemilihan
tapak. Gas tidak dianggap sebagai utilitas yang penting.
Apabila keperluan gas berada di luar jangkauan jaringan
pelayanan, maka tabung gas bertekanan tinggi yang
mudah diangkut dapat digunakan. Pelayanan telepon,
seperti listrik dapat diperluas untuk tapak yang
memerlukannya.
LANJUTAN 3
4. Pengamanan oleh polisi dan penyelamat kebakaran
 Kelayakan perlindungan oleh polisi tidak begitu
terpengaruh oleh lokasi, tetapi seperti halnya
perlindungan terhadap kebakaran, apabila letak
tempatnya terisolir maka segi pembiayaan harus
diperhitungkan.
Keterbatasan Dari Bahaya dan
Gangguan Setempat
1.Bahaya kecelakaan
Bahaya utama kecelakaan utama adalah tabarakan
dengan kendaraan bermotor lainnya, bahaya api dan
ledakan, jatuh, dan tenggelam. Penyebab tabrakan adalah
lalu lintas jalan dan jalan kereta api serta musibah
pendaratan pesawat terbang di dekat jalur pendaratan.
LANJUTAN 1
2.Kebisingan dan getaran
Kebisingan yang berlebihan, kadang-kadang disertai
getaran biasanya dihasilkan oleh jalan kereta api, bandar
udara, lalu lintas, industri berat, peluit kapal, dan
sebagainya. Perumahan tidak boleh terletak pada tapak
yang terus menerus dilanda kebisingan yang tidak
terkendali, terutama di malam hari.
LANJUTAN 2
 3. Bau-bauan, asap dan debu
 Sumber bau-bauan yang tidak sedap biasanya adalah:
 Pabrik, industri, terutama rumah potong hewan,
penyamakan kulit dan pabrik yang menghasilkan produk
dari binatang; industri karet, kimia dan pupuk, pewarnaan
atau pencucian tekstil; pabrik kertas, sabun dan cat; dan
pabrik gas.
 Tempat pembuangan sampah, terutama apabila proses
pemusnahan melibatkan pembakaran.
 Sungai yang dikotori air selokan, atau instalasi
pengolahan tinja yang tidak berjalan dengan sempurna.
LANJUTAN 3
.Peternakan, terutama babi dan kambing, terutama apabila
dipelihara secara berdesak-desakan dan dalam keadaan
kotor.
-Asap lalu lintas kendaraan bermotor dan kereta api dengan
bahan bakar batubara. Sumber asap dan debu yang sering
dijumpai adalah industri, jalur kereta api, tempat
pembuangan dan kebakaran sampah. Debu juga berasal dari
lahan terbuka seperti lahan kosong, perkebunan yang tidak
ditanami, tempat rekreasi yang tak terurus dan daerah
berdebu yang luas.
(Dirangkum dari: Joseph De Chiara; Lee E. Koppelman.
Standar Perencanaan Tapak. 1994.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
BERKEMBANGNYA
PERMUKIMAN.
menurut Siswono, ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi perkembangan permukiman yang dapat
dilihat dari 9 aspek, antara lain: letak geografis,
kependudukan, sarana dan prasarana, ekonomi dan
keterjangkauan daya beli, sosial budaya, ilmu
pengetahuan dan teknologi, kelembagaan, dan peran
serta masyarakat
 (Sumber : Siswono, dkk)
LANJUTAN 1
1. Faktor geografi
Letak geografis suatu permukiman sangat menentukan
keberhasilan pembangunan suatu kawasan. Permukiman
yang letaknya terpencil dan sulit dijangkau akan sangat
lambat untuk berkembang. Topografi suatu kawasan juga
berpengaruh, jika topografi kawasan tersebut tidak datar
maka akan sulit bagi daerah tersebut untuk berkembang.
Lingkungan alam dapat mempengaruhi kondisi permukiman,
sehingga menambah kenyamanan penghuni permukiman.
LANJUTAN 2
2. Faktor Kependudukan
Perkembangan penduduk yang tinggi, merupakan
permasalahan yang memberikan pengaruh yang sangat
besar terhadap pembangunan permukiman. Jumlah
penduduk yang besar merupakan sumber daya dan potensi
bagi pembangunan, apabila dapat diarahkan menjadi
manusia pembangunan yang efektif dan efisien. Tetapi
sebaliknya, jumlah penduduk yang besar itu akan merupakan
beban dan dapat menimbulkan permasalahan bila tidak
diarahkan dengan baik. Disamping itu, penyebaran
penduduk secara demografis yang tidak merata, merupakan
permasalahan lain berpengaruh terhadap pembangunan
perumahan.
LANJUTAN 3
3. Faktor Kelembagaan
Faktor lain yang berpengaruh terhadap pembangunan perumahan adalah
perangkat kelembagaan yang berfungsi sebagai pemegang kebijaksanaan,
pembinaan, dan pelaksanaan baik sektor pemerintah maupun sektor swasta, baik
di pusat maupun di daerah. Secara keseluruhan perangkat kelembagaan tersebut
belum merupakan suatu sistem terpadu.Pemda memegang peranan dan
mempunyai posisi strategis dalam pelaksanaan pembangunan perumahan. Namun
unsur-unsur perumahan di Tingkat Daerah yang melaksanakan program khusus
untuk koordinasi, baik dalam koordinasi vertikal maupun horisontal dalam
pembangunan perumahan, masih perlu dimantapkan dalam mempersiapkan
aparaturnya.
Termasuk didalamnya adalah kebijaksanaan yang mengatur kawasan permukiman,
keberadaan lembaga-lembaga desa, misalnya LKMD, Karang Taruna, Kelompok
wanita dan sebagainya.
LANJUTAN 4
4. Faktor Swadaya dan Peran Serta Masyarakat
Dalam rangka membantu golongan masyarakat yang berpenghasilan
rendah, menengah, tidak tetap, perlu dikembangkan pembangunan
perumahan secara swadaya masyarakat yang dilakukan oleh berbagai
organisasi non-pemerintah. Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa
masyarakat yang berpenghasilan tidak tetap serta amat rendah dan tidak
berkemampuan tersebut mampu membangun rumahnya sendiri dengan
proses bertahap, yakni mula-mula dengan bahan bangunan bekas atau
sederhana, kemudian lambat laun diperbaiki dengan bangunan
permanen bahkan ada pula beberapa rumah yang sudah bertingkat.
Faktor swadaya dan peran serta masyarakat atau aspek sosial tersebut
juga meliputi kehidupan sosial masyarakat, kehidupan bertetangga,
gotong royong dan pekerjaan bersama lainnya.
LANJUTAN 5
5. Sosial dan Budaya
Faktor sosial budaya merupakan faktor internal yang
mempengaruhi perkembangan permukiman. Sikap dan
pandangan seseorang terhadap rumahnya, adat istiadat
suatu daerah, kehidupan bertetangga, dan proses
modernisasi merupakan faktor-faktor sosial budaya. Rumah
tidak hanya sebagai tempat berteduh dan berlindung
terhadap bahaya dari luar, tetapi berkembang menjadi
sarana yang dapat menunjukkan citra dan jati diri
penghuninya.
LANJUTAN 6
6. Ekonomi dan Keterjangkauan Daya Beli
Aspek ekonomi meliputi yang berkaitan dengan mata pencaharian.
Tingkat perekonomian suatu daerah yang tinggi dapat
meningkatkan perkembangan permukiman. Tingkat perekonomian
suatu daerah akan mempengaruhi tingkat pendapatan seseorang.
Makin tinggi pendapatan sesorang, maka makin tinggi pula
kemampuan orang tersebut dalam memiliki rumah. Hal ini akan
meningkatkan perkembangan permukiman di suatu daerah.
Keterjangkauan daya beli masyarakat terhadap suatu rumah akan
mempengaruhi perkembangan permukiman. Semakin murah harga
suatu rumah di daerah tertentu, semakin banyak pula orang yang
membeli rumah, maka semakin berkembanglah permukiman yang
ada.
LANJUTAN 7
7. Sarana dan Prasarana
Kelengkapan sarana dan prasarana dari suatu perumahan
dan permukiman dapat mempengaruhi perkembangan
permukiman di suatu wilayah. Dengan adanya sarana dan
prasarana yang memadai dapat memudahkan
penduduknya untuk beraktivitas sehari-hari. Semakin
lengkap sarana dan prasarana yang tersedia maka
semakin banyak pula orang yang berkeinginan bertempat
tinggal di daerah tersebut.
LANJUTAN 8
8. Pertanahan
Kenaikan harga lahan sebagai akibat penyediaan
kelangkaan lahan untuk permukiman, menyebabkan
timbulnya slum dan squatter.
LANJUTAN 9
9. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat
meningkatkan perkembangan perumahan dan permukiman.
Dengan diciptakannya teknologi-teknologi baru dalam
bidang jasa konstruksi dan bahan bangunan maka membuat
pembangunan suatu rumah akan semakin cepat dan dapat
menghemat waktu. Sehingga semakin banyak pula orang-
orang yang ingin membangun rumahnya. Hal ini akan
meningkatkan perkembangan permukiman.
CULTURAL LANDSCAPE
FEATURE
Amos Rapoport (1983) juga menyatakan bahwa permukiman
dapat dilihat sebagai suatu bentang lahan budaya (cultural
landscape feature) terutama permukiman tradisional yang
wujud fisiknya sangat besar kaitannya dengan budaya,
dimana ciri-cirinya adalah:
1. Di dalamnya terdapat hubungan/kaitan antara berbagai
elemen dan juga sifat dan elemen-elemen tersebut,
termasuk antara lingkungan binaan dengan lingkungan
alami.
LANJUTAN 1
2.Mempunyai ciri dan karakteristik yang khas, umumnya
mengandung budaya yang spesifik.
3.Tidak dirancang oleh seorang perancang. Perancangan
merupakan suatu konsep yang lebih luas yang merupakan
perwujudan dan keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan
manusia, sebuah pilihan diantara berbagai alternatif yang
memungkinkan.
4.Terdapat sifat-sifat spesifik dan pilihan-pilihan tersebut
yaitu didasarkan atas hukum yang berlaku, merefleksikan
budaya pada kelompoknya.
LANJUTAN 2
5.Merupakan sistem pilihan dan gaya hidup, meliputi pilihan-
pilihan bagaimana menentukan material, waktu dan sumber-
sumber simbolik.
6.Bentang budaya misalnya permukiman adalah merupakan
sebuah produk dan sistem pilihan tersebut.
7.Konservasi-preservasi dan bentang budaya yang
merupakan suatu tingkatan dan kualitas lingkungan.
Konservasi dan prisip-prinsip dalam bentang budaya
tradisional dapat diterapkan dalam rancangan yang baru.
LANJUTAN 3
8.Kualitas lingkungan, yang menyangkut persepsi (terkait
dengan psikologikal, sosio kultur) dan standar (terkait
dengan studi fisik dan lingkungan).
LANJUTAN 4
Kebijakan dan strategi nasional penyelenggaraan perumahan dan
permukiman menyebutkan bahwa rumah merupakan salah satu
kebutuhan dasar manusia disamping pangan, sandang, pendidikan dan
kesehatan. Selain berfungsi sebagai pelindung terhadap gangguan
alam/cuaca dan makhluk lainnya, rumah juga memiliki peran sosial
budaya sebagai pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya dan nilai
kehidupan, penyiapan generasi muda, dan sebagai manifestasi jati diri.
Dalam kerangka hubungan ekologis antara manusia dan lingkungannya
maka terlihat jelas bahwa kualitas sumber daya manusia di masa yang
akan datang sangat dipengaruhi oleh kualitas perumahan dan
permukimannya. (Sumber: Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan
dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Permukiman )
PENGERTIAN PERUMAHAN
Perumahan dan Permukiman, perumahan berada dan
merupakan bagian dari permukiman, perumahan adalah
kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan
prasarana dan sarana lingkungan
Pembangunan perumahan diyakini juga mampu mendorong
lebih dari seratus macam kegiatan industri yang berkaitan
dengan bidang perumahan dan permukiman (Sumber:
Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan dan Permukiman
Departemen Permukiman dan Prasarana Permukiman )
PENGERTIAN PERMUKIMAN
Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar
kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan
maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat
kegiatan yang mendukung perikehidupan dan
penghidupan. Satuan lingkungan permukiman adalah
kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran
dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana
lingkungan yang terstruktur
PENATAAN PERUMAHAN DAN
PERMUKIMAN
 penataan perumahan dan permukiman berlandaskan
asas manfaat, adil dan merata, kebersamaan dan
kekeluargaan, kepercayaan pada diri sendiri,
keterjangkauan, dan kelestarian lingkungan hidup.
 Jadi, pemukiman adalah suatu wilayah atau area yang
ditempati oleh seseorang atau kelompok manusia.
Pemukiman memiliki kaitan yang cukup erat dengan
kondisi alam dan sosial kemasyarakatan sekitar.
LANJUTAN 1
penataan perumahan dan permukiman bertujuan untuk:
-Memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan
dasar manusia, dalam rangka peningkatan dan pemerataan
kesejahteraan rakyat;
-Mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak
dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur;
-Memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran
penduduk yang rasional;
-Menunjang pembangunan di bidang ekonomi, sosial ,
budaya, dan bidang-bidang lain.
LANJUTAN 2
Pemenuhan kebutuhan permukiman diwujudkan melalui
pembangunan kawasan permukiman skala besar yang
terencana secara menyeluruh dan terpadu dengan
pelaksanaan yang bertahap. Pembangunan kawasan
permukiman tersebut ditujukan untuk menciptakan kawasan
permukiman yang tersusun atas satuan-satuan lingkungan
permukiman dan mengintegrasikan secara terpadu dan
meningkatkan kualitas lingkungan perumahan yang telah
ada di dalam atau di sekitarnya, yang dihubungkan oleh
jaringan transportasi sesuai dengan kebutuhan dengan
kawasan lain yang memberikan berbagai pelayanan dan
kesempatan kerja.
LANJUTAN 3
 Pembangunan perumahan dan permukiman
diselenggarakan berdasarkan rencana tata ruang
wilayah perkotaan dan rencana tata ruang wilayah
bukan perkotaan yang menyeluruh dan terpadu yang
ditetapkan olch pemerintah daerah dengan
mepertimbangkan berbagai aspck yang terkait serta
rencana, program, dan prioritas pembangunan
perumahan dan permukiman.
AMANAH UU NO.1/2011
TENTANG PERUMAHAN DAN
PERMUKIMAN
 Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin,
bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan
hidup yang baik dan sehat, yang merupakan
kebutuhan dasar manusia, dan yang mempunyai peran
yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta
kepribadian bangsa sebagai salah satu upaya
membangun manusia Indonesia seutuhnya, berjati diri,
mandiri, dan produktif
LANJUTAN 1
 Negara bertanggung jawab melindungi segenap
bangsa Indonesia melalui penyelenggaraan
perumahan dan kawasan permukiman agar masyarakat
mampu bertempat tinggal serta menghuni rumah
yang layak dan terjangkau di dalam perumahan yang
sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan di seluruh
wilayah Indonesia.
LANJUTAN 2
Pemerintah perlu lebih berperan dalam menyediakan dan
memberikan kemudahan dan bantuan perumahan dan
kawasan permukiman bagi masyarakat melalui
penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman
yang berbasis kawasan serta keswadayaan masyarakat
sehingga merupakan satu kesatuan fungsional dalam wujud
tata ruang fisik, kehidupan ekonomi, dan sosial budaya yang
mampu menjamin kelestarian lingkungan hidup sejalan
dengan semangat demokrasi, otonomi daerah, dan
keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
LANJUTAN 3
 Pertumbuhan dan pembangunan wilayah yang kurang
memperhatikan keseimbangan bagi kepentingan
masyarakat berpenghasilan rendah mengakibatkan
kesulitan masyarakat untuk memperoleh rumah yang
layak dan terjangkau.
PENYELENGGARAAN
PERUMAHAN
Penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman merupakan
aktualisasi pandangan bangsa Indonesia dalam memposisikan nilai
strategis rumah yang layak dan terjangkau didukung dengan
prasarana, sarana, dan utilitas umum yang memadai. Ketersediaan
rumah yang layak huni baik dalam bentuk rumah tunggal, rumah
deret, maupun rumah susun merupakan sarana pendidikan dan
pengembangan kepribadian yang lebih responsif yang dapat
meningkatkan kewibawaan bangsa dalam pergaulan dunia. Dalam
rangka menjamin penyelenggaraan perumahan dan kawasan
permukiman yang efektif dan efisien perlu didukung oleh
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya melalui
Pembinaan Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman.
LANJUTAN 1
Pembinaan Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan
Permukiman merupakan upaya yang dilakukan oleh Menteri,
gubernur, dan/atau bupati/walikota untuk mewujudkan
tercapainya tujuan penyelenggaraan perumahan dan
kawasan permukiman. Pembinaan dilakukan dalam lingkup
perencanaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan.
Tanggung jawab pemerintah dilakukan melalui koordinasi;
sosialisasi peraturan perundang-undangan; bimbingan,
supervisi dan konsultasi; pendidikan dan pelatihan;
penelitian dan pengembangan; pendampingan dan
pemberdayaan; serta pengembangan sistem informasi dan
komunikasi.
LANJUTAN 2
Pengaturan Pembinaan Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan
Permukiman akan memberikan kemudahan dalam mewujudkan
penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman melalui
peningkatan kapasitas terkait sumber daya manusia, prasarana dan
sarana, kelembagaan, dan pendanaan dengan mengikutsertakan peran
pemangku kepentingan di bidang perumahan dan kawasan
permukiman, antara lain kalangan pelaku pembangunan, perbankan,
profesional, akademisi, maupun masyarakat. Hal ini akan menciptakan
keseimbangan dalam penyusunan, pelaksanaan, maupun pengawasan
kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah
sehingga mewujudkan manajemen pemerintahan yang kuat dengan
berpedoman pada tata pemerintahan yang baik.
RUMAH
 Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi
sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana
pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat
penghuninya serta aset bagi pemiliknya.
PERUMAHAN
 Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian
dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan,
yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas
umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang
layak huni.
PERMUKIMAN
 Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian
yang terdiri dari satu satuan perumahan yang
mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta
mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan
perkotaan, dan kawasan perdesaan.
LINGKUNGAN HUNIAN
 Lingkungan Hunian adalah bagian dari kawasan
permukiman yang terdiri atas lebih dari satu satuan
permukiman.
KAWASAN PERMUKIMAN
 Kawasan Permukiman adalah bagian dari lingkungan
hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan
perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian
dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan
dan penghidupan.
PRASARANA
 Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan
hunian yang memenuhi standar tertentu untuk
kebutuhan bertempat tinggal yang layak, sehat, aman,
dan nyaman.
SARANA
 Sarana adalah fasilitas dalam lingkungan hunian yang
berfungsi untuk mendukung penyelenggaraan dan
pengembangan kehidupan sosial, budaya, dan
ekonomi.
UTILITAS
 Utilitas Umum adalah kelengkapan penunjang untuk
pelayanan lingkungan hunian.
MBR
 Masyarakat Berpenghasilan Rendah selanjutnya
disingkat MBR adalah masyarakat yang mempunyai
keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat
dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah.
SKALA BESARAN
 perumahan dengan jumlah rumah sekurang-kurangnya
15 (lima belas) sampai dengan 1.000 (seribu) rumah;
 permukiman dengan jumlah rumah sekurang-kurangnya
1.000 (seribu) sampai dengan 3.000 (tiga ribu) rumah;
 lingkungan hunian dengan jumlah rumah
sekurangkurangnya 3.000 (tiga ribu) sampai dengan
10.000 (sepuluh ribu) rumah; dan
 kawasan permukiman dengan jumlah rumah lebih dari
10.000 (sepuluh ribu) rumah.

property_1_pptx.pptxytythtthghgffvbfdgesfsfdgdfhfh

  • 1.
  • 2.
    TEORI TEORI TENTANG PERUMAHANDAN PERMUKIMAN Menurut John F.C Turner, 1972, dalam bukunya Freedom To Build mengatakan, “Rumah adalah bagian yang utuh dari permukiman, dan bukan hasil fisik sekali jadi semata, melainkan merupakan suatu proses yang terus berkembang dan terkait dengan mobilitas sosial ekonomi penghuninya dalam suatu kurun waktu. Yang terpenting dan rumah adalah dampak terhadap penghuni, bukan wujud atau standar fisiknya. Selanjutnya dikatakan bahwa interaksi antara rumah dan penghuni adalah apa yang diberikan rumah kepada penghuni serta apa yang dilakukan penghuni terhadap rumah”.
  • 3.
    LANJUTAN 1 Pengertian dasarpermukiman dalam Undang-Undang No.1 tahun 2011 adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain dikawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.
  • 4.
    LANJUTAN 2 Menurut Koestoer(1995) batasan permukiman adalah terkait erat dengan konsep lingkungan hidup dan penaaan ruang. P ermukiman adalah area tanah yang digunakan sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung peri kehidupan dan merupakan bagian dari lingkungan hidup di luar kawasaan lindung baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan.
  • 5.
    LANJUTAN 3 Parwata (2004)menyatakan bahwa permukiman adalah suatu tempat bermukim manusia yang telah disiapkan secara matang dan menunjukkan suatu tujuan yang jelas, sehingga memberikan kenyamanan kepada penghuninya. Permukiman (Settlement) merupakan suatu proses seseorang mencapai dan menetap pada suatu daerah. Kegunaan dari sebuah permukiman adalah tidak hanya untuk menyediakan tempat tinggal dan melindungi tempat bekerja tetapi juga menyediakan fasilitas untuk pelayanan, komunikasi, pendidikan dan rekreasi.
  • 6.
    LANJUTAN 4 Menurut Parwata(2004) permukiman terdiri dari: (1) isi, yaitu manusia sendiri maupun masyarakat;dan (2)wadah,yaitu fisik hunian yang terdiri dar ialam dan elemen-elemen buatan manusia. Dua elemen permukiman tersebut, selanjutnya dapat dibagi ke dalam lima elemen yaitu: (1) alam yang meliputi: topografi, geologi, tanah, air, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan iklim; (2) (2) manusia yang meliputi: kebutuhan biologi (ruang,udara, temperatur, dsb), perasaan dan persepsi, kebutuhan emosional, dan nilai moral;
  • 7.
    LANJUTAN 5 (3) masyarakatyang meliputi: kepadatan dan komposisi p e n d u d u k , k e l o m p o k s o s i a l , k e b u d a y a a n , p e n ge m b a n g a n e k o n o m i , p e n d i d i k a n , hukum dan administrasi; (4) fisik bangunan yang meliputi: rumah, pelayanan masyarakat (sekolah, rumah sakit, dsb), fasilitas rekreasi, pusat perbelanjaan dan pemerintahan, industri, kesehatan, hukum dan administrasi; dan (5) jaringan (net work) yang meliputi: sistem jaringan air bersih, sistem jaringan listrik, sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem manajemen kepemilikan, drainase dan air kotor, dan tata letak fisik.
  • 8.
    LANJUTAN 6 Menurut SiswonoYudohusodo (Rumah Untuk Seluruh Rakyat, 1991: 432), rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Jadi, selain berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian yang digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup lainnya, rumah merupakan tempat awal pengembangan kehidupan.
  • 9.
    LANJUTAN 7 Menurut Turner(1972:164-167), terdapat tiga fungsi yang terkandung dalam rumah: 1. Rumah sebagai penunjang identitas keluarga, yang diwujudkan dalam kualitas hunian atau perlindungan yang diberian rumah. Kebutuhan tempat tinggal dimaksudkan agar penghuni mempunyai tempat tinggal atau berteduh secukupnya untuk melindungi keluarga dari iklim setempat. 2. Rumah sebagai penunjang kesempatan keluarga untuk berkembang dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi atau fungsi pengembangan keluarga. Fungsi ini diwudkan dalam lokasi tempat rumah itu didirikan. Kebutuhan berupa akses ini diterjemahkan dalam pemenuhan kebutuhan sosial dan kemudahan ke tempat kerja guna mendapatkan sumber penghasilan.
  • 10.
    LANJUTAN 8  Rumahsebagai penunjang rasa aman dalam arti terjaminnya kehidupan keluarga di masa depan setelah mendapatkan rumah, jaminan keamanan lingkungan perumahan yang ditempati serta jaminan keamanan berupa kepemilikan rumah dan lahan.  Rumah sebagai kebutuhan dasar manusia, perwujudannya bervariasi menurut siapa penghuni atau pemiliknya. Berdasarkan hierarchy of need (Maslow, 1954:10),
  • 11.
    LANJUTAN 9 kebutuhan akanrumah dapat didekati sebagai: 1. Physiological needs (kebutuhan akan makan dan minum), merupakan kebutuhan biologis yang hampir sama untuk setiap orang, yang juga merupakan kebuthan terpenting selain rumah, sandang, dan pangan juga termasuk dalam tahap ini. 2. Safety or security needs (kebutuhan akan keamanan),merupakan tempat berlindung bagi penghuni dari gangguan manusia dan lingkungan yang tidak diinginkan. 3.Social or afiliation needs (kebutuhan berinteraksi), sebagai tempat untuk berinteraksi dengan keluarga dan teman. 4.Self actualiztion needs (kebutuhan akan ekspresi diri), rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi menjadi tempat untuk mengaktualisasikan diri.
  • 12.
    LANJUTAN 10 Lingkungan permukimanmerupakan suatu sistem yang terdiri dari lima elemen, yaitu (K. Basset dan John R. Short, 1980, dalam Kurniasih) : -Nature (unsur alami), mencakup sumber-sumber daya alam seperti topografi, hidrologi, tanah, iklim, maupun unsur hayati yaitu vegetasi dan fauna. -Man (manusia sebagai individu), mencakup segala kebutuhan pribadinya seperti biologis, emosional, nilai-nilai moral, perasaan, dan perepsinya. -Society (masyarakat), adanya manusia sebagai kelompok masyarakat. -Shells (tempat), dimana mansia sebagai individu maupun kelompok melangsungkan kegiatan atau melaksanakan kehidupan. -Network (jaringan), merupakan sistem alami maupun buatan manusia, yang menunjang berfungsinya lingkungan permukiman tersebut seperti jalan, air bersih, listrik, dan sebagainya.
  • 13.
    Bentuk-bentuk Permukiman Sebuah permukimanterbentuk dari komponen-komponen dasar yaitu: (1) rumah-rumah dan tanah beserta rumah; (2) tanah kapling rumah dan ruang tanah beserta rumah; dan (3) tapak rumah dan perkarangan rumah . Perkarangan rumah atau tempat-tempat rumah biasanya disusun dalam kelompok- kelompok yang homogen dalam segi bentuk, fungsi, ukuran, asal mula dan susunan spasial. Dua atau lebih kelompok-kelompok dapat membentuk sebuah komplek. Bentuk dari permukiman dinyatakan dalam bentuk tempat dan bentuk perencanaan tanah. Perencanaan tanah dibentuk oleh kelompok-kelompok dan komplek-komplek dari tempat rumah dan perkarangan rumah.
  • 14.
    Pola Penyebaran Pembangunan Perumahandan Permukiman Pola penyebaran pembangunan perumahan dan permukiman di wilayah desa kota menurut Koestoer (1995), pembentukannya berakar dari pola campuran antara c i r i p e r k o t a a n d a n p e r d e s a a n . A d a p e r b e d a a n m e n d a s a r p o l a p e m b a n gu n a n permukiman di perkotaan dan perdesaan. Wilayah permukiman di perkotaan sering disebut sebagai daerah perumahan, memiliki keteraturan bentuk secara fisik. Artinya sebagian besar rumah menghadap secara teratur ke arah kerangka jalan yang ada dan sebagian besar terdiri dari bangunan permanen, berdinding tembok dan dilengkapi dengan penerangan listrik. Kerangka jalannya pun ditata secara bertingkat mulai dari jalan raya, penghubung hingga jalan lingkungan atau lokal.
  • 15.
    LANJUTAN 1  Karakteristikkawasan permukiman penduduk perdesaan ditandai terutama oleh ketidakteraturan bentuk fisik rumah. Pola permukimannya cenderung berkelompok membentuk perkampungan yang letaknya tidak jauh dari sumber air, misalnya sungai. Pola permukiman perdesaan masih sangat tradisional banyak mengikuti pola bentuk sungai, karena sungai disamping sebagai sumber kehidupan sehari-hari juga berfungsi sebagai jalur transportasi antar wilayah.
  • 16.
    PERSYARATAN PERMUKIMAN persyaratan untukmenjadikan suatu lokasi sebagai lokasi permukiman. Kriteria tersebut antara lain: 1.Tersedianya lahan yang cukup bagi pembangunan lingkungan dan dilengkapi dengan prasarana lingkungan, utilitas umum dan fasilitas sosial. 2.Bebas dari pencemaran air, pencemaran udara dan kebisingan, baik yang berasal dari sumber daya buatan atau dari sumber daya alam (gas beracun, sumber air beracun, dsb). 3.Terjamin tercapainya tingkat kualitas lingkungan hidup yang sehat bagi pembinaan individu dan masyarakat penghuni. 4.Kondisi tanahnya bebas banjir dan memiliki kemiringan tanah 0-15 %, sehingga dapat dibuat sistem saluran air hujan (drainase) yang baik serta memiliki daya dukung yang memungkinkan untuk dibangun perumahan.
  • 17.
    LANJUTAN 1 5.Adanya kepastianhukum bagi masyarakat penghuni terhadap tanah dan bangunan diatasnya yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu : -Lokasinya harus strategis dan tidak terganggu oleh kegiatan lainnya. -Mempunyai akses terhadap pusat-pusat pelayanan, seperti pelayanan kesehatan, perdagangan, dan pendidikan. -Mempunyai fasilitas drainase, yang dapat mengalirkan air hujan dengan cepat dan tidak sampai menimbulkan genangan air. -Mempunyai fasilitas penyediaan air bersih, berupa jaringan distribusi yang siap untuk disalurkan ke masing-masing rumah. -Dilengkapi dengan fasilitas pembuangan air kotor, yang dapat dibuat dengan sistem individual yaitu tanki septik dan lapangan rembesan, ataupun tanki septik komunal.
  • 18.
    Rumah Sederhana Sehat(RsSehat) 1. KebutuhanMinimal Masa (penampilan) dan Ruang luar- dalam) Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Dari hasil kajian, kebutuhan ruang p erorang ada lah 9 m2 den gan p erhitungan ketinggian rata-rata langit -langit adalah 2.80 m, contoh kebutuhan luas mi imum untuk rumah sederhana sehat adalah 27 m2
  • 19.
    Lanjutan 1 Rumah sederhanasehat memungkinkan penghuni untuk dapat hidup sehat, dan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari secara layak. Kebutuhan minimum ruangan pada rumah sederhana sehat perlu memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: a.Kebutuhan luas perjiwa b. Kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK) c. Kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK) d. Butuhan luas lahan per unit bangunan
  • 20.
    Kebutuhan Kesehatan dan Kenyamanan Ru m a h s e b a ga i t e m p a t t i n gg a l y a n g m e m e n u h i s y a r a t k e s e h a t a n d a n kenyamanan dipengaruhi oleh 3 (tiga) aspek, yaitu pencahayaan, penghawaan, serta suhu udara dan kelembaban dalam ruangan. Aspek-aspek tersebut merupakan dasar atau kaidah perencanaan rumah sehat dan nyaman.
  • 21.
    LANJUTAN 1 a. Pencahayaan Mat a h a r i s e b a g a i p o t e n s i t e r b e s a r y a n g d a p a t d i gu n a k a n s e b a gaI pencahayaan alami pada siang hari. Pencahayaan yang dimaksud adalah penggunaan terang langit, dengan ketentuan sebagai berikut:cuaca dalam keadaan cerah dan tidak berawan, ruangan kegiatan mendapatkan cukup banyak cahaya, ruang kegiatan mendapatkan distribusi cahaya secara merata.
  • 22.
    LANJUTAN 2 b. Penghawaan Udaramerupakan kebutuhan pokok manusia untuK bernafas sepanjang hidupnya. Udara akan sangat berpengaruh dalam menentukan kenyamanan pada bangunan rumah. Kenyamanan akan memberikan kesegaran terhadap penghuni dan terciptanya rumah yang sehat, apabila terjadi pengaliran atau pergantian udara secara kontinyu melalui ruangan-ruangan, serta lubang-lubang pada bidang pembatas dinding atau partisi sebagai ventilasi. Agar diperoleh kesegaran udara dalam ruangan dengan cara penghawaan alami, maka dapat dilakukan dengan memberikan atau mengadakan peranginan silang (ventilasi silang) dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Lubang penghawaan minimal 5 % (lima persen) dari luas lantai ruangan; (2) Udara yang mengalir masuk sama dengan volume udara yang keluar; (3) Udara yang masuk tidak berasal dari asap dapur atau kamar mandi/WC.
  • 23.
    LANJUTAN 3 c. Suhuudara dan kelembaban Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan bangunan disekitarnya. Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan ruangan kegiatan dalam bangunan seperti: ruangan keluarga, tidur, tamu dan kerja. Suhu udara dan kelembaban rumah dinyatakan sehat dan nyaman, apabila suhu udara dankelembaban udara ruangan sesuai dengan suhu tubuh manusia normal. Suhu u d a r a d a n k e l e m b a b a n r u a n ga n s a n ga t d i p e n g a r u h i o l e h p e n gh a w a a n d a n pencahayaan. Penghawaan yang kurang atau tidak lancar akan menjadikan ruangan terasa pengap atau sumpek dan akan menimbulkan kelembaban tinggi dalam ruangan.
  • 24.
    LANJUTAN 4 Untuk mengatursuhu udara dan kelembaban normal untuk ruangan dan penghuni dalam melakukan kegiatannya, perlu memperhatikan: (1) keseimbangan penghawaan antara volume udara yang masuk dan keluar; (2) Pencahayaan yang cukup pada ruangan dengan perabotan yang tidak bergerak; (3) Menghindari perabotan yang menutupi sebagian besar luas lantai ruangan.
  • 25.
    LANJUTAN 5 3. KebutuhanMinimal Keamanan dan Keselamatan -Pada dasarnya bagian-bagian struktur pokok untuk bangunan rumah tinggal sederhana adalah: pondasi, dinding (dan kerangka bangunan), atap serta lantai. Sedangkan bagian-bagian lain seperti langit-langit, talang dan sebagainya merupakan estetika struktur bangunan saja.
  • 26.
    LANJUTAN 6 Perumahan sehatharus memenuhi syarat kesehatan lingkungan, ketertiban, keserasian lingkungan, prasarana dan sarana. Persyaratan tersebut di antaranya: 1) Memenuhi segi kesehatan lingkungan artinya komponen-komponen perumahan yang mempengaruhi kesehatan masyarakat hendaknya dilengkapi sesuai dengan k e b u t u h a n , s e p e rt i : ( 1 ) p e ny e d i a a n p r a s a r a n a l i n gk u n ga n ; ( 2 ) p e n y e d i a a n fasilitas lingkungan; (3) pengamanan lingkungan terhadap pencemaran.
  • 27.
    LANJUTAN 7 2) Memenuhisegi ketertiban perumahan akan berada pada kondisi aman dan tertib, apabila: (1) mematuhi peraturan tata letak bangunan dan perumahan agar t e r h i n d a r d a r i b e r b a ga i b e n c a n a s e p e r t i k e b a k a r a n d a n l o n gs o r ; d a n ( 2 ) dilengkapi dengan penerangan jalan yang cukup dan warga bertanggungjawab terhadap pemeliharaannya.
  • 28.
    LANJUTAN 8 3) Memperhatikankeserasian lingkungan Untuk dapat tinggal dengan aman dan nyaman dalam suatu perumahan, perlu diusahakan hal-hal sebagai berikut: (1).melestarikan pohon pelindung dan taman untuk menguatkan tanah dan penyimpanan air dan penyegaran udara serta memberikan pemandangan indah; (2) memberi penerangan alami dan buatan yang mencukupi; (3) mengatur tata letak perumahan sehingga cukup serasi; (4) cukup jauh jaraknya dengan komplek industri yang mengeluarkan banyak asap kotor dan mengandung racun atau debu atau dapat menyakibatkan pencemaran udara atau air dan tanah; dan (5) cukup jauh dari tempat-tempat yang dapat mengganggu kesehatan, kesejahteraan dan moral masyarakat.
  • 29.
    LANJUTAN 9 4) Terpenuhiprasarana lingkungan yang lengkap sesuai dengan jumlah dan kebutuhan penduduknya: (1) jaringan jalan dan jembatan; (2) system pemberian air minum atau air bersih; (3) jaringan listrik; (4) jaringan telepon; (5) sitem pembuangan air hujan (saluran terbuka atau tertutup dan air kotor atau limbah rumah tangga); dan (6) sistem pengangkutan dan pembuangan sampah dan kotoran lainnya.
  • 30.
    Elemen Standar TataRuang Rumah Kendala keterjangkauan masyarakat terhadap Rumah Sederhana Sehat (Rs Sehat), telah diupayakan menyiasati kondisi tersebut melalui satu rancangan rumah antara yaitu RIT (Rumah Inti Tumbuh) sebagai rumah cikal bakal Rumah Sederhana Sehat. Rancangan RIT memenuhi tuntutan kebutuhan paling mendasar dari penghuni untuk mengembangkan rumahnya, dalam upaya peningkatan kualitas kenyamanan, dan kesehatan penghuni dalam melakukan kegiatan hidup sehari-hari, dengan ruang- ruang yang perlu disediakan sekurang-kurangnya terdiri dari:
  • 31.
    LANJUTAN 1 a. 1ruang tidur yang memenuhi persyaratan keamanan dengan bagian- bagiannya tertutup oleh dinding dan atap serta memiliki pencahayaan yang cukup berdasarkan perhitungan serta ventilasi cukup dan terlindung dari cuaca. Bagian ini merupakan ruang yang utuh sesuai dengan fungsi utamannya.
  • 32.
    LANJUTAN 2 b. Saturuang serbaguna merupakan ruang kelengkapan rumah dimana didalamnya dilakukan interaksi antara keluarga dan dapat melakukan aktivitas-aktivitas lainnya. Ruang ini terbentuk dari kolom, lantai dan atap, tanpa dinding sehingga merupakan ruang terbuka namun masih memenuhi persyaratan minimal untuk menjalankan fungsi awal dalam sebuah rumah sebelum dikembangkan.
  • 33.
    LANJUTAN 3 c. Satukamar mandi/kakus/cuci merupakan dari bagian ruang servis yang sangat menentukan apakah rumah tersebut dapat berfungsi atau tidak, khususnya untuk kegiatan mandi kakus atau cuci.
  • 34.
    LANJUTAN 4 -Permukiman harusdilayani oleh fasilitas pembuangan sampah secara teratur agar lingkungan permukiman tetap nyaman. -Dilengkapi dengan fasilitas umum, seperti taman bermain untuk anak, lapangan atau taman, tempat beribadah, pendidikan dan kesehatan sesuai dengan skala besarnya permukiman tersebut. -Dilayani oleh jaringan listrik dan telepon. (Sumber: “Pedoman Teknik Pembangunan Perumahan Sederhana Tidak Bersusun” Departemen PU)
  • 35.
    LANJUTAN 5 Joseph DeChiara dalam Standar Perencanaan Tapak, 1994, dimana yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan perumahan tapak untuk perumahan apabila ingin dicapai pembangunan dan pemeliharaan yang sehat, antara lain: Sifat Khas Fisis Tapak yang Penting 1. Kondisi tanah dan bawah tanah. Kondisi bawah tanah dan harus sesuai dengan untuk pekerjaan galian dan persiapan, peletakan jaringan utilitas serta pelandaian dan penanaman, memberikan daya dukung yang baik untuk penghematan konstruksi bangunan yang akan dibangun. Untuk menghemat konstruksi, sebaiknya lapisan bawa tanah tidak mengandung batuan keras atau rintangan lain untk efisiensi galian utilitas pondasi atau kolong bangunan.
  • 36.
    LANJUTAN 6 2. Airtanah dan drainase Muka air tanah yang relatif rendah untuk untuk melingdungi bangunan dari genangan pada kolong bangunan dan gangguan air selokan, tidak adanya rawa, dan kelandaian lereng yang cukup memungkinkan penyaluran curah hujan permukaan normal dan kelancaran aliran air selokan. 3.Keterbebasan dari banjir permukaan Daerah pembangunan harus terbebas dari bahaya banjir permukaan yang disebabkan oleh sungai, danau atau air pasang.
  • 37.
    LANJUTAN 7 4.Kesesuaian penapakanbangunan yang akan direncanakan Lahan tidak boleh terlalu curam demi kebaikan kelandaian dalam kaitannya dengan kostruksi hunian. Tapak bangunan tidak boleh mempunyai ketinggian melebihi kemampuan jangkuan air untuk keperluan rumah tangga dan penangulangan kebakaran.
  • 38.
    LANJUTAN 8 5.Kesesuaian untukakses dan sirkulasi Topografi harus memungkinkan pencapaian yang baik oleh kendaraan maupun pejalan kaki, ke dan di dalam tapak. Topografi juga harus memungkinkan pelandaian yang sesuai dengan standar yang ada.
  • 39.
    LANJUTAN 9 6.Kesesuaian untukpembangunan ruang terbuka Lahan untuk halaman pribadi, tempat bermain dan taman lingkungan harus memungkinkan pelandaian dan pembangunan yang sesuai dengan spesifikasi.
  • 40.
    LANJUTAN 10 7.Keterbatasan daribahaya kecelakaan topografi Daerah yang akan dibangun hendaknya bebas dari kondisi topografi yang dapat menyebabkan kecelakaan, seperti galian, lubang yang menganga, dan garis pantai yang berbahaya.
  • 41.
    Ketersediaan Pelayanan Saniter danPerlindungan 1.Persediaan air dan pembuangan air selokan saniter Sistem persediaan air dan pembuangan harus dipandang sebagai pelayanan saniter jangka panjang dan bukan hanya sekedar instalasi fisis. Penyetujuan dini dari pihak berwenang dibidang kesehatan merupakan prasyarat untuk pembuatan fasilitas pembuangan air kotor pada tapak dan untuk usulan pengembangan jaringan air maupun selokan yang akan melayani tapak tersebut.
  • 42.
    LANJUTAN 1 2.Pembuangan sampah Apabilapelayanan sampah kota dapat diadakan, maka pemilihan tapak yang menyangkut hal ini tidak akan menemui masalah. Tetapi kebutuhan fasilitas pengolahan sampah pada tapak atau di sekitas tapak untuk penguburan, pembakaran dan proses kimiawi memerlukan upaya penelaahan untuk pengalaman. Masalah yang utama adalah pemisahan lahan untuk pembuangan, penghindaran bau-bauan yang disebar oleh angin serta penggunaan metode pembuangan untuk mencegah bersarangnya tikus dan pembiakan serangga.
  • 43.
    LANJUTAN 2 3. Listrik,bahan bakar dan komunikasi Listrik sangat penting untuk setiap rumah, tetapi karena pelayanan listrik biasanya dapat diperluas untuk suatu pembangunan dan dapat dibangkitkan apabila diperlukan maka listrik jarang menimbulkanmaslah dalam pemilihan tapak. Gas tidak dianggap sebagai utilitas yang penting. Apabila keperluan gas berada di luar jangkauan jaringan pelayanan, maka tabung gas bertekanan tinggi yang mudah diangkut dapat digunakan. Pelayanan telepon, seperti listrik dapat diperluas untuk tapak yang memerlukannya.
  • 44.
    LANJUTAN 3 4. Pengamananoleh polisi dan penyelamat kebakaran  Kelayakan perlindungan oleh polisi tidak begitu terpengaruh oleh lokasi, tetapi seperti halnya perlindungan terhadap kebakaran, apabila letak tempatnya terisolir maka segi pembiayaan harus diperhitungkan.
  • 45.
    Keterbatasan Dari Bahayadan Gangguan Setempat 1.Bahaya kecelakaan Bahaya utama kecelakaan utama adalah tabarakan dengan kendaraan bermotor lainnya, bahaya api dan ledakan, jatuh, dan tenggelam. Penyebab tabrakan adalah lalu lintas jalan dan jalan kereta api serta musibah pendaratan pesawat terbang di dekat jalur pendaratan.
  • 46.
    LANJUTAN 1 2.Kebisingan dangetaran Kebisingan yang berlebihan, kadang-kadang disertai getaran biasanya dihasilkan oleh jalan kereta api, bandar udara, lalu lintas, industri berat, peluit kapal, dan sebagainya. Perumahan tidak boleh terletak pada tapak yang terus menerus dilanda kebisingan yang tidak terkendali, terutama di malam hari.
  • 47.
    LANJUTAN 2  3.Bau-bauan, asap dan debu  Sumber bau-bauan yang tidak sedap biasanya adalah:  Pabrik, industri, terutama rumah potong hewan, penyamakan kulit dan pabrik yang menghasilkan produk dari binatang; industri karet, kimia dan pupuk, pewarnaan atau pencucian tekstil; pabrik kertas, sabun dan cat; dan pabrik gas.  Tempat pembuangan sampah, terutama apabila proses pemusnahan melibatkan pembakaran.  Sungai yang dikotori air selokan, atau instalasi pengolahan tinja yang tidak berjalan dengan sempurna.
  • 48.
    LANJUTAN 3 .Peternakan, terutamababi dan kambing, terutama apabila dipelihara secara berdesak-desakan dan dalam keadaan kotor. -Asap lalu lintas kendaraan bermotor dan kereta api dengan bahan bakar batubara. Sumber asap dan debu yang sering dijumpai adalah industri, jalur kereta api, tempat pembuangan dan kebakaran sampah. Debu juga berasal dari lahan terbuka seperti lahan kosong, perkebunan yang tidak ditanami, tempat rekreasi yang tak terurus dan daerah berdebu yang luas. (Dirangkum dari: Joseph De Chiara; Lee E. Koppelman. Standar Perencanaan Tapak. 1994.
  • 49.
    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGNYA PERMUKIMAN. menurutSiswono, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan permukiman yang dapat dilihat dari 9 aspek, antara lain: letak geografis, kependudukan, sarana dan prasarana, ekonomi dan keterjangkauan daya beli, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, kelembagaan, dan peran serta masyarakat  (Sumber : Siswono, dkk)
  • 50.
    LANJUTAN 1 1. Faktorgeografi Letak geografis suatu permukiman sangat menentukan keberhasilan pembangunan suatu kawasan. Permukiman yang letaknya terpencil dan sulit dijangkau akan sangat lambat untuk berkembang. Topografi suatu kawasan juga berpengaruh, jika topografi kawasan tersebut tidak datar maka akan sulit bagi daerah tersebut untuk berkembang. Lingkungan alam dapat mempengaruhi kondisi permukiman, sehingga menambah kenyamanan penghuni permukiman.
  • 51.
    LANJUTAN 2 2. FaktorKependudukan Perkembangan penduduk yang tinggi, merupakan permasalahan yang memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pembangunan permukiman. Jumlah penduduk yang besar merupakan sumber daya dan potensi bagi pembangunan, apabila dapat diarahkan menjadi manusia pembangunan yang efektif dan efisien. Tetapi sebaliknya, jumlah penduduk yang besar itu akan merupakan beban dan dapat menimbulkan permasalahan bila tidak diarahkan dengan baik. Disamping itu, penyebaran penduduk secara demografis yang tidak merata, merupakan permasalahan lain berpengaruh terhadap pembangunan perumahan.
  • 52.
    LANJUTAN 3 3. FaktorKelembagaan Faktor lain yang berpengaruh terhadap pembangunan perumahan adalah perangkat kelembagaan yang berfungsi sebagai pemegang kebijaksanaan, pembinaan, dan pelaksanaan baik sektor pemerintah maupun sektor swasta, baik di pusat maupun di daerah. Secara keseluruhan perangkat kelembagaan tersebut belum merupakan suatu sistem terpadu.Pemda memegang peranan dan mempunyai posisi strategis dalam pelaksanaan pembangunan perumahan. Namun unsur-unsur perumahan di Tingkat Daerah yang melaksanakan program khusus untuk koordinasi, baik dalam koordinasi vertikal maupun horisontal dalam pembangunan perumahan, masih perlu dimantapkan dalam mempersiapkan aparaturnya. Termasuk didalamnya adalah kebijaksanaan yang mengatur kawasan permukiman, keberadaan lembaga-lembaga desa, misalnya LKMD, Karang Taruna, Kelompok wanita dan sebagainya.
  • 53.
    LANJUTAN 4 4. FaktorSwadaya dan Peran Serta Masyarakat Dalam rangka membantu golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah, menengah, tidak tetap, perlu dikembangkan pembangunan perumahan secara swadaya masyarakat yang dilakukan oleh berbagai organisasi non-pemerintah. Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa masyarakat yang berpenghasilan tidak tetap serta amat rendah dan tidak berkemampuan tersebut mampu membangun rumahnya sendiri dengan proses bertahap, yakni mula-mula dengan bahan bangunan bekas atau sederhana, kemudian lambat laun diperbaiki dengan bangunan permanen bahkan ada pula beberapa rumah yang sudah bertingkat. Faktor swadaya dan peran serta masyarakat atau aspek sosial tersebut juga meliputi kehidupan sosial masyarakat, kehidupan bertetangga, gotong royong dan pekerjaan bersama lainnya.
  • 54.
    LANJUTAN 5 5. Sosialdan Budaya Faktor sosial budaya merupakan faktor internal yang mempengaruhi perkembangan permukiman. Sikap dan pandangan seseorang terhadap rumahnya, adat istiadat suatu daerah, kehidupan bertetangga, dan proses modernisasi merupakan faktor-faktor sosial budaya. Rumah tidak hanya sebagai tempat berteduh dan berlindung terhadap bahaya dari luar, tetapi berkembang menjadi sarana yang dapat menunjukkan citra dan jati diri penghuninya.
  • 55.
    LANJUTAN 6 6. Ekonomidan Keterjangkauan Daya Beli Aspek ekonomi meliputi yang berkaitan dengan mata pencaharian. Tingkat perekonomian suatu daerah yang tinggi dapat meningkatkan perkembangan permukiman. Tingkat perekonomian suatu daerah akan mempengaruhi tingkat pendapatan seseorang. Makin tinggi pendapatan sesorang, maka makin tinggi pula kemampuan orang tersebut dalam memiliki rumah. Hal ini akan meningkatkan perkembangan permukiman di suatu daerah. Keterjangkauan daya beli masyarakat terhadap suatu rumah akan mempengaruhi perkembangan permukiman. Semakin murah harga suatu rumah di daerah tertentu, semakin banyak pula orang yang membeli rumah, maka semakin berkembanglah permukiman yang ada.
  • 56.
    LANJUTAN 7 7. Saranadan Prasarana Kelengkapan sarana dan prasarana dari suatu perumahan dan permukiman dapat mempengaruhi perkembangan permukiman di suatu wilayah. Dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai dapat memudahkan penduduknya untuk beraktivitas sehari-hari. Semakin lengkap sarana dan prasarana yang tersedia maka semakin banyak pula orang yang berkeinginan bertempat tinggal di daerah tersebut.
  • 57.
    LANJUTAN 8 8. Pertanahan Kenaikanharga lahan sebagai akibat penyediaan kelangkaan lahan untuk permukiman, menyebabkan timbulnya slum dan squatter.
  • 58.
    LANJUTAN 9 9. IlmuPengetahuan dan Teknologi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat meningkatkan perkembangan perumahan dan permukiman. Dengan diciptakannya teknologi-teknologi baru dalam bidang jasa konstruksi dan bahan bangunan maka membuat pembangunan suatu rumah akan semakin cepat dan dapat menghemat waktu. Sehingga semakin banyak pula orang- orang yang ingin membangun rumahnya. Hal ini akan meningkatkan perkembangan permukiman.
  • 59.
    CULTURAL LANDSCAPE FEATURE Amos Rapoport(1983) juga menyatakan bahwa permukiman dapat dilihat sebagai suatu bentang lahan budaya (cultural landscape feature) terutama permukiman tradisional yang wujud fisiknya sangat besar kaitannya dengan budaya, dimana ciri-cirinya adalah: 1. Di dalamnya terdapat hubungan/kaitan antara berbagai elemen dan juga sifat dan elemen-elemen tersebut, termasuk antara lingkungan binaan dengan lingkungan alami.
  • 60.
    LANJUTAN 1 2.Mempunyai ciridan karakteristik yang khas, umumnya mengandung budaya yang spesifik. 3.Tidak dirancang oleh seorang perancang. Perancangan merupakan suatu konsep yang lebih luas yang merupakan perwujudan dan keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan manusia, sebuah pilihan diantara berbagai alternatif yang memungkinkan. 4.Terdapat sifat-sifat spesifik dan pilihan-pilihan tersebut yaitu didasarkan atas hukum yang berlaku, merefleksikan budaya pada kelompoknya.
  • 61.
    LANJUTAN 2 5.Merupakan sistempilihan dan gaya hidup, meliputi pilihan- pilihan bagaimana menentukan material, waktu dan sumber- sumber simbolik. 6.Bentang budaya misalnya permukiman adalah merupakan sebuah produk dan sistem pilihan tersebut. 7.Konservasi-preservasi dan bentang budaya yang merupakan suatu tingkatan dan kualitas lingkungan. Konservasi dan prisip-prinsip dalam bentang budaya tradisional dapat diterapkan dalam rancangan yang baru.
  • 62.
    LANJUTAN 3 8.Kualitas lingkungan,yang menyangkut persepsi (terkait dengan psikologikal, sosio kultur) dan standar (terkait dengan studi fisik dan lingkungan).
  • 63.
    LANJUTAN 4 Kebijakan danstrategi nasional penyelenggaraan perumahan dan permukiman menyebutkan bahwa rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia disamping pangan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Selain berfungsi sebagai pelindung terhadap gangguan alam/cuaca dan makhluk lainnya, rumah juga memiliki peran sosial budaya sebagai pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya dan nilai kehidupan, penyiapan generasi muda, dan sebagai manifestasi jati diri. Dalam kerangka hubungan ekologis antara manusia dan lingkungannya maka terlihat jelas bahwa kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh kualitas perumahan dan permukimannya. (Sumber: Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Permukiman )
  • 64.
    PENGERTIAN PERUMAHAN Perumahan danPermukiman, perumahan berada dan merupakan bagian dari permukiman, perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan Pembangunan perumahan diyakini juga mampu mendorong lebih dari seratus macam kegiatan industri yang berkaitan dengan bidang perumahan dan permukiman (Sumber: Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Permukiman )
  • 65.
    PENGERTIAN PERMUKIMAN Permukiman adalahbagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Satuan lingkungan permukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang terstruktur
  • 66.
    PENATAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN penataan perumahan dan permukiman berlandaskan asas manfaat, adil dan merata, kebersamaan dan kekeluargaan, kepercayaan pada diri sendiri, keterjangkauan, dan kelestarian lingkungan hidup.  Jadi, pemukiman adalah suatu wilayah atau area yang ditempati oleh seseorang atau kelompok manusia. Pemukiman memiliki kaitan yang cukup erat dengan kondisi alam dan sosial kemasyarakatan sekitar.
  • 67.
    LANJUTAN 1 penataan perumahandan permukiman bertujuan untuk: -Memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, dalam rangka peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat; -Mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur; -Memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran penduduk yang rasional; -Menunjang pembangunan di bidang ekonomi, sosial , budaya, dan bidang-bidang lain.
  • 68.
    LANJUTAN 2 Pemenuhan kebutuhanpermukiman diwujudkan melalui pembangunan kawasan permukiman skala besar yang terencana secara menyeluruh dan terpadu dengan pelaksanaan yang bertahap. Pembangunan kawasan permukiman tersebut ditujukan untuk menciptakan kawasan permukiman yang tersusun atas satuan-satuan lingkungan permukiman dan mengintegrasikan secara terpadu dan meningkatkan kualitas lingkungan perumahan yang telah ada di dalam atau di sekitarnya, yang dihubungkan oleh jaringan transportasi sesuai dengan kebutuhan dengan kawasan lain yang memberikan berbagai pelayanan dan kesempatan kerja.
  • 69.
    LANJUTAN 3  Pembangunanperumahan dan permukiman diselenggarakan berdasarkan rencana tata ruang wilayah perkotaan dan rencana tata ruang wilayah bukan perkotaan yang menyeluruh dan terpadu yang ditetapkan olch pemerintah daerah dengan mepertimbangkan berbagai aspck yang terkait serta rencana, program, dan prioritas pembangunan perumahan dan permukiman.
  • 70.
    AMANAH UU NO.1/2011 TENTANGPERUMAHAN DAN PERMUKIMAN  Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, yang merupakan kebutuhan dasar manusia, dan yang mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa sebagai salah satu upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya, berjati diri, mandiri, dan produktif
  • 71.
    LANJUTAN 1  Negarabertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia melalui penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman agar masyarakat mampu bertempat tinggal serta menghuni rumah yang layak dan terjangkau di dalam perumahan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.
  • 72.
    LANJUTAN 2 Pemerintah perlulebih berperan dalam menyediakan dan memberikan kemudahan dan bantuan perumahan dan kawasan permukiman bagi masyarakat melalui penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman yang berbasis kawasan serta keswadayaan masyarakat sehingga merupakan satu kesatuan fungsional dalam wujud tata ruang fisik, kehidupan ekonomi, dan sosial budaya yang mampu menjamin kelestarian lingkungan hidup sejalan dengan semangat demokrasi, otonomi daerah, dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  • 73.
    LANJUTAN 3  Pertumbuhandan pembangunan wilayah yang kurang memperhatikan keseimbangan bagi kepentingan masyarakat berpenghasilan rendah mengakibatkan kesulitan masyarakat untuk memperoleh rumah yang layak dan terjangkau.
  • 74.
    PENYELENGGARAAN PERUMAHAN Penyelenggaraan perumahan dankawasan permukiman merupakan aktualisasi pandangan bangsa Indonesia dalam memposisikan nilai strategis rumah yang layak dan terjangkau didukung dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum yang memadai. Ketersediaan rumah yang layak huni baik dalam bentuk rumah tunggal, rumah deret, maupun rumah susun merupakan sarana pendidikan dan pengembangan kepribadian yang lebih responsif yang dapat meningkatkan kewibawaan bangsa dalam pergaulan dunia. Dalam rangka menjamin penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman yang efektif dan efisien perlu didukung oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya melalui Pembinaan Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman.
  • 75.
    LANJUTAN 1 Pembinaan PenyelenggaraanPerumahan dan Kawasan Permukiman merupakan upaya yang dilakukan oleh Menteri, gubernur, dan/atau bupati/walikota untuk mewujudkan tercapainya tujuan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman. Pembinaan dilakukan dalam lingkup perencanaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan. Tanggung jawab pemerintah dilakukan melalui koordinasi; sosialisasi peraturan perundang-undangan; bimbingan, supervisi dan konsultasi; pendidikan dan pelatihan; penelitian dan pengembangan; pendampingan dan pemberdayaan; serta pengembangan sistem informasi dan komunikasi.
  • 76.
    LANJUTAN 2 Pengaturan PembinaanPenyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman akan memberikan kemudahan dalam mewujudkan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman melalui peningkatan kapasitas terkait sumber daya manusia, prasarana dan sarana, kelembagaan, dan pendanaan dengan mengikutsertakan peran pemangku kepentingan di bidang perumahan dan kawasan permukiman, antara lain kalangan pelaku pembangunan, perbankan, profesional, akademisi, maupun masyarakat. Hal ini akan menciptakan keseimbangan dalam penyusunan, pelaksanaan, maupun pengawasan kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah sehingga mewujudkan manajemen pemerintahan yang kuat dengan berpedoman pada tata pemerintahan yang baik.
  • 77.
    RUMAH  Rumah adalahbangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya serta aset bagi pemiliknya.
  • 78.
    PERUMAHAN  Perumahan adalahkumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.
  • 79.
    PERMUKIMAN  Permukiman adalahbagian dari lingkungan hunian yang terdiri dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan, dan kawasan perdesaan.
  • 80.
    LINGKUNGAN HUNIAN  LingkunganHunian adalah bagian dari kawasan permukiman yang terdiri atas lebih dari satu satuan permukiman.
  • 81.
    KAWASAN PERMUKIMAN  KawasanPermukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
  • 82.
    PRASARANA  Prasarana adalahkelengkapan dasar fisik lingkungan hunian yang memenuhi standar tertentu untuk kebutuhan bertempat tinggal yang layak, sehat, aman, dan nyaman.
  • 83.
    SARANA  Sarana adalahfasilitas dalam lingkungan hunian yang berfungsi untuk mendukung penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi.
  • 84.
    UTILITAS  Utilitas Umumadalah kelengkapan penunjang untuk pelayanan lingkungan hunian.
  • 85.
    MBR  Masyarakat BerpenghasilanRendah selanjutnya disingkat MBR adalah masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah.
  • 86.
    SKALA BESARAN  perumahandengan jumlah rumah sekurang-kurangnya 15 (lima belas) sampai dengan 1.000 (seribu) rumah;  permukiman dengan jumlah rumah sekurang-kurangnya 1.000 (seribu) sampai dengan 3.000 (tiga ribu) rumah;  lingkungan hunian dengan jumlah rumah sekurangkurangnya 3.000 (tiga ribu) sampai dengan 10.000 (sepuluh ribu) rumah; dan  kawasan permukiman dengan jumlah rumah lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) rumah.