Tarikh Tasyri’:
Terminologi, Ruang Lingkup
Presentasi Kuliah | Marhamah Saleh | Maret 2011
Terminologi
• Tarikh artinya catatan tentang perhitungan
tanggal, hari, bulan dan tahun. Juga diartikan
sebagai sejarah atau riwayat.
• Tasyri’ berarti penetapan atau pemberlakuan
syariat yang berlangsung sejak diutusnya
Rasulullah saw dan berakhir hingga wafat
beliau. Para ulama kemudian memperluas
pembahasan tarikh (sejarah) tasyri’ sehingga
mencakup pula perkembangan fiqh Islami dan
proses kodifikasinya serta ijtihad-ijtihad para
ulama sepanjang sejarah umat Islam. Tasyri’
juga bermakna legislation, enactment of law,
penetapan undang-undang dalam agama Islam.
• Tarikh al-tasyri’ menurut Muhammad Ali al-Sayis :
“Ilmu yang membahas keadaan hukum Islam pada
masa kerasulan (Rasulullah SAW masih hidup) dan
sesudahnya dengan periodisasi munculnya hukum
serta hal-hal yang berkaitan dengannya, (membahas)
ciri-ciri spesifikasi keadaan fuqaha’ dan mujtahid
dalam merumuskan hukum-hukum tersebut”.
• Menurut Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf, tasyri’
adalah pembentukan dan penetapan perundang-
undangan yang mengatur hukum perbuatan orang
mukallaf dan hal-hal yang terjadi tentang berbagai
keputusan serta peristiwa di kalangan mereka. Jika
sumbernya dari Allah dengan perantaraan Rasul dan
kitab-kitabnya, maka dinamakan al-Tasyri’ al-Ilahiyah.
Jika sumbernya dari manusia baik secara individual
URGENSI MEMPELAJARI TARIKH TASYRI’
 Dapat mengetahui prinsip dan tujuan syariat Islam.
 Dapat mengetahui kesempurnaan dan syumuliyah
(integralitas) ajaran Islam terhadap seluruh aspek
kehidupan.
 Dapat menghargai usaha dan jasa para ulama, mulai dari
para sahabat Rasulullah saw hingga para imam dan
murid-murid mereka dalam mengisi khazanah ilmu dan
peradaban kaum muslimin.
 Dapat tumbuh dalam diri kita kebanggaan terhadap
Syariat Islam sekaligus optimisme akan kembalinya
siyadah al-syari’ah (kepemimpinan syariat) dalam
kehidupan umat di masa depan.
 Dapat melahirkan sikap hidup toleran, dan untuk mewarisi
pemikiran ulama klasik serta langkah-langkah ijtihadnya
agar dapat mengembangkan gagasan-gagasannya.
RUANG LINGKUP TARIKH TASYRI’
1. Periodisasi hukum
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi dan ciri-
ciri spesifikasinya
3. Fuqaha’ dan mujtahid
4. Pemikiran para mujtahid serta sistem
pemikiran yang dipakai atau sistem istinbath.
MACAM-MACAM TASYRI’
Secara umum tasyri’ dapat dibedakan menjadi
dua yaitu: dilihat dari sudut sumbernya, dan
dari sudut kekuatannya.
• Tasyri’ dilihat dari sudut sumbernya
dibentuk pada periode Rasulullah SAW yaitu
al-Qur’an dan Sunah.
• Tasyri’ yang dilihat dari kekuatan dan
kandungannya mencakup ijtihad sahabat,
tabi’in dan ulama sesudahnya. Tasyri’ tipe
kedua ini dalam pandangan Umar Sulaiman
al-Asyqar dapat dibedakan menjadi dua
bidang: ibadah dan mu’amalat.
ISLAM A COMPREHENSIVE WAY OF
LIFE (KĀMIL & SYĀMIL)
ISLAM
AQIDAH SYARIAH AKHLAQ
MUAMALAH IBADAH
Hakekat Beragama Islam
SYARIAH
-
FIQH AKHLAQ (Ihsan)
AQIDAH (iman)
SYARIAH
(Islam)
SYARIAH
(Islam)
SYARIAH
-
FIQH
ALUR PEMBENTUKAN FIQH
(1) Sumber hukum Islam: al-Quran dan hadits, (2) lalu muncul USHUL FIQH
sebagai metodologi dalam penarikan hukum menggunakan pola pikir deduktif,
(3) selanjutnya menghasilkan hukum FIQH dengan materi yang beragam dalam
kitab yang sangat banyak. Setelah diteliti persamaan hukum fiqh menggunakan
pola pikir induktif, kemudian dikelompokkan dari masalah-masalah yang serupa,
(4) akhirnya disimpulkan menjadi QAWA’ID FIQHIYYAH yang memudahkan
ulama dalam menentukan hukum fiqh terhadap persoalan baru. (5) setelah
melalui pengujian dan dengan dukungan ushul fiqh, maka natijahnya adalah
terbentuknya hukum FIQH BARU, QANUN, maupun fatwa terhadap
permasalahan kontemporer.
SUMBER
SUMBER
HUKUM
HUKUM
(Al-Quran dan Hadits)
(Al-Quran dan Hadits)
USHUL
USHUL
FIQH
FIQH
(+ Kaidah Ushul)
(+ Kaidah Ushul)
FIQH
FIQH
(hasil dari pola
(hasil dari pola
istinbath al-ahkam))
istinbath al-ahkam))
QAWA’ID
QAWA’ID
FIQHIYYAH
FIQHIYYAH
(Kaidah Fiqh)
(Kaidah Fiqh)
FIQH BARU
FIQH BARU
(QANUN)
(QANUN)
PRINSIP-PRINSI TASYRI’
• Tidak Mempersulit ( ‫الحرج‬ ‫عدم‬
(
… ‫َا‬
‫ه‬َ
‫ع‬ْ‫س‬ُ
‫و‬ ‫ِل‬
‫إ‬ ‫ًا‬
‫س‬ْ‫ف‬َ
‫ن‬ ُ
ّ
‫ل‬‫ا‬ ُ
‫ف‬ّ
‫ل‬َ
‫ك‬ُ
‫ي‬ ‫ل‬. (QS. Al-Baqarah:
286).
‫حرج‬ ‫من‬ ‫الدين‬ ‫فى‬ ‫عليكم‬ ‫جعل‬ ‫وما‬ (QS. Al-Hajj:
78)
‫َة‬
‫ح‬ْ‫م‬َ
‫س‬‫ال‬ ِ
‫ة‬َ
‫ف‬‫ِي‬
‫ن‬َ
‫ح‬‫بال‬ ُ
‫ت‬‫ِث‬
‫ع‬ُ
‫ب‬ (Aku diutus dengan agama
yang ringan)
Dalam menetapkan syariat, Islam senantiasa
memperhitungkan kemampuan manusia dalam
melaksanaknnya. Itu diwujudkan dengan
mamberikan kemudahan dan kelonggaran
(tasamuh wa rukhsah) kepada manusia, agar
menerima ketetapan hukum dengan kesanggupan
B. Mengurangi Beban ( ‫التكاليف‬ ‫تقليل‬ )
ْ‫ن‬ِ
‫إ‬َ
‫و‬ ْ‫م‬ُ
‫ك‬ْ‫ؤ‬ُ
‫س‬َ
‫ت‬ ْ‫م‬ُ
‫ك‬َ
‫ل‬ َ
‫د‬ْ‫ب‬ُ
‫ت‬ ْ‫ن‬ِ
‫إ‬ َ
‫ء‬‫َا‬
‫ي‬ْ‫ش‬َ
‫أ‬ ْ‫ن‬َ
‫ع‬ ‫ُوا‬
‫ل‬َ
‫أ‬ْ‫س‬َ
‫ت‬ ‫ل‬ ‫ُوا‬
‫ن‬َ
‫م‬‫آ‬ َ
‫ن‬‫ِي‬
‫ذ‬ّ
‫ل‬‫ا‬ ‫َا‬
‫ه‬ّ
‫ي‬َ
‫أ‬ ‫َا‬
‫ي‬
ٌ
‫ر‬‫ُو‬
‫ف‬َ
‫غ‬ ُ
ّ
‫ل‬‫َا‬
‫و‬ ‫َا‬
‫ه‬ْ‫ن‬َ
‫ع‬ ُ
ّ
‫ل‬‫ا‬ ‫َا‬
‫ف‬َ
‫ع‬ ْ‫م‬ُ
‫ك‬َ
‫ل‬ َ
‫د‬ْ‫ب‬ُ
‫ت‬ ُ
‫ن‬‫ْآ‬‫ر‬ُ
‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ
‫ل‬ّ
‫ز‬َ
‫ن‬ُ
‫ي‬ َ
‫ن‬‫ِي‬
‫ح‬ ‫َا‬
‫ه‬ْ‫ن‬َ
‫ع‬ ‫ُوا‬
‫ل‬َ
‫أ‬ْ‫س‬َ
‫ت‬
ٌ
‫م‬‫ِي‬
‫ل‬َ
‫ح‬
.
‫المائدة‬
101
‫َل‬
‫ف‬ ً
‫ا‬َ
‫د‬‫ُو‬
‫د‬ُ
‫ح‬ ّ
‫د‬َ
‫ح‬َ
‫و‬ ،‫َا‬
‫ه‬‫ُو‬
‫ع‬ّ
‫ي‬َ
‫ض‬ُ
‫ت‬ ‫َل‬
‫ف‬ َ
‫ض‬ِ
‫ئ‬‫َا‬
‫ر‬َ
‫ف‬ َ
‫ض‬َ
‫ر‬َ
‫ف‬ َ
‫ل‬‫ا‬ ّ
‫ن‬ِ
‫إ‬
َ
‫ء‬‫َا‬
‫ي‬ْ‫ش‬َ
‫أ‬ ْ‫ن‬َ
‫ع‬ َ
‫ت‬َ
‫ك‬َ
‫س‬َ
‫و‬ ،‫َا‬
‫ه‬‫ُو‬
‫ك‬ِ
‫ه‬َ
‫ت‬ْ‫ن‬َ
‫ت‬ ‫َل‬
‫ف‬ َ
‫ء‬‫َا‬
‫ي‬ْ‫ش‬َ
‫أ‬ َ
‫م‬ّ
‫ر‬َ
‫ح‬َ
‫و‬ ‫َا‬
‫ه‬‫ُو‬
‫د‬َ
‫ت‬ْ‫ع‬َ
‫ت‬
‫َا‬
‫ه‬ْ‫ن‬َ
‫ع‬ ‫ُوا‬
‫ث‬َ
‫ح‬ْ‫ب‬َ
‫ت‬ ‫َل‬
‫ف‬ ٍ
‫ن‬‫َا‬
‫ي‬ْ‫س‬ِ
‫ن‬ َ
‫ر‬ْ‫ي‬َ
‫غ‬ ْ‫م‬ُ
‫ك‬َ
‫ل‬ ً
‫ة‬َ
‫م‬ْ‫ح‬َ
‫ر‬
.
‫رواه‬ ‫حسن‬ ‫حديث‬
‫وغيره‬ ‫الدارقطني‬.
Prinsip ini merupakan akibat logis bagi tidak adanya hal
menyulitkan, karena didalam banyaknya bebanan berakibat
menyempitkan (haraj). Juga sebagai langkah prenventif
(penanggulangan) terhadap mukallaf dari pengurangan atau
penambahan dalam kewajiban agama. Hal ini guna
memperingan dan menjaga nilai-nilai kemaslahatan manusia
pada umumnya, agar tercipta suatu pelaksanaan hukum
َ
‫ل‬‫َا‬
‫ق‬َ
‫ف‬
ُ
‫س‬‫ّا‬
‫ن‬‫ال‬ ‫َا‬
‫ه‬ّ
‫ي‬َ
‫أ‬ “
!
َ
‫ل‬‫َا‬
‫ق‬َ
‫ف‬ “ ‫ْا‬‫و‬ّ
‫ج‬َ
‫ح‬َ
‫ف‬ ّ
‫ج‬َ
‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ
‫م‬ُ
‫ك‬ْ‫ي‬َ
‫ل‬َ
‫ع‬ ُ
‫ل‬‫ا‬ َ
‫ض‬َ
‫ر‬َ
‫ف‬ ْ‫د‬َ
‫ق‬
ٌ
‫ل‬ُ
‫ج‬َ
‫ر‬
:
ِ
‫ل‬‫ا‬ َ
‫ل‬ْ‫و‬ُ
‫س‬َ
‫ر‬ ‫َا‬
‫ي‬ ‫؟‬ ٍ
‫م‬‫َا‬
‫ع‬ ّ
‫ل‬ُ
‫ك‬َ
‫أ‬
!
َ
‫ت‬َ
‫ك‬َ
‫س‬َ
‫ف‬
.
‫ًا‬
‫ث‬َ
‫ل‬َ
‫ث‬ ‫َا‬
‫ه‬َ
‫ل‬‫َا‬
‫ق‬ ‫ّى‬
‫ت‬َ
‫ح‬
.
َ
‫ل‬‫َا‬
‫ق‬َ
‫ف‬
ُ
‫ت‬ْ‫ل‬ُ
‫ق‬ ْ‫و‬َ
‫ل‬” “‫وسلم‬ ‫عليه‬ ‫ال‬ ‫صلى‬ ِ
‫ل‬‫ا‬ ُ
‫ل‬ْ‫و‬ُ
‫س‬َ
‫ر‬
:
ْ‫م‬َ
‫ع‬َ
‫ن‬
.
ْ‫ت‬َ
‫ب‬َ
‫ج‬َ
‫و‬َ
‫ل‬
.
‫َا‬
‫م‬َ
‫ل‬َ
‫و‬
“ْ‫م‬ُ
‫ت‬ْ‫ع‬َ
‫ط‬َ
‫ت‬ْ‫س‬‫ا‬
.
ْ‫م‬ُ
‫ك‬ُ
‫ت‬ْ‫ك‬َ
‫ر‬َ
‫ت‬ ‫َا‬
‫م‬ ‫ِي‬
‫ن‬ْ‫و‬ُ
‫ر‬َ
‫ذ‬” َ
‫ل‬‫َا‬
‫ق‬ ّ
‫م‬ُ
‫ث‬
.
َ
‫ن‬‫َا‬
‫ك‬ ْ‫ن‬َ
‫م‬ َ
‫ك‬َ
‫ل‬َ
‫ه‬ ‫َا‬
‫م‬ّ
‫ن‬ِ
‫إ‬َ
‫ف‬
ْ‫م‬ِ
‫ه‬ِ
‫ئ‬‫َا‬
‫ي‬ِ
‫ب‬ْ‫ن‬َ
‫أ‬ ‫َى‬
‫ل‬َ
‫ع‬ ْ‫م‬ِ
‫ه‬ِ
‫ف‬َ
‫ل‬ِ
‫ت‬ْ‫خ‬‫َا‬
‫و‬ ْ‫م‬ِ
‫ه‬ِ
‫ل‬‫َا‬
‫ؤ‬ُ
‫س‬ ِ
‫ة‬َ
‫ر‬ْ‫ث‬َ
‫ك‬ِ
‫ب‬ ْ‫م‬ُ
‫ك‬َ
‫ل‬ْ‫ب‬َ
‫ق‬
.
ْ‫م‬ُ
‫ك‬ُ
‫ت‬ْ‫ر‬َ
‫م‬َ
‫أ‬ ‫َا‬
‫ذ‬ِ
‫إ‬ِ
‫ف‬
ْ‫م‬ُ
‫ت‬ْ‫ع‬َ
‫ط‬َ
‫ت‬ْ‫س‬‫ا‬ ‫َا‬
‫م‬ ُ
‫ه‬ْ‫ن‬ِ
‫م‬ ‫ْا‬‫و‬ُ
‫ت‬ْ‫أ‬َ
‫ف‬ ٍ
‫ء‬ْ‫ي‬َ
‫ش‬ِ
‫ب‬
.
ُ
‫ه‬ْ‫و‬ُ
‫ع‬َ
‫د‬َ
‫ف‬ ٍ
‫ء‬ْ‫ي‬َ
‫ش‬ ْ‫ن‬َ
‫ع‬ ْ‫م‬ُ
‫ك‬ُ
‫ت‬ْ‫ي‬َ
‫ه‬َ
‫ن‬ ‫َا‬
‫ذ‬ِ
‫إ‬َ
‫و‬
Rasulullah Saw. pernah berpidato di hadapan kami, beliau berkata: Wahai
manusia! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ibadah haji atas kamu sekalian,
maka berhajilah! Seorang lelaki bertanya: Apakah setiap tahun, wahai
Rasulullah? Beliau diam tidak menjawab. Sehingga lelaki itu mengulangi
pertanyaannya sampai tiga kali. Rasulullah Saw kemudian menjawab: Jika aku
katakan “ya”, niscaya akan wajib setiap tahun dan kamu sekalian tidak akan
mampu melaksanakannya. Beliau melanjutkan: Biarkanlah apa yang telah aku
katakan kepada kamu sekalian! Sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah
binasa karena mereka banyak bertanya dan berselisih dengan nabi-nabinya.
Maka apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu sekalian, laksanakanlah
sesuai dengan kemampuanmu dan jika aku melarang sesuatu kepada kamu
C. Penetapan Hukum secara Periodik/Berangsur-angsur
( ‫التشريع‬ ‫في‬ ‫التدريج‬ )
Hukum syariat dalam al-Quran tidak diturunkan secara
serta merta dengan format yang final, melainkan secara
bertahap, dengan maksud agar umat tidak merasa
terkejut dengan syariat yang tiba-tiba. Karenanya,
wahyu al-Quran senantiasa turun sesuai dengan
kondisi dan realita yang terjadi pada waktu itu.
Contoh, untuk menetapkan keharaman minuman
khamr.
• Sebagai langkah pertama, yang dilakukan Nabi saw
adalah mendiamkan kebiasaan buruk, akan tetapi Nabi
sendiri menghindarinya.
C. Lanjutan Penetapan Hukum secara Periodik/
Berangsur-angsur ( ‫التشريع‬ ‫في‬ ‫التدريج‬ )
• Kedua, menyinggung manfat ataupun madlaratnya
secara global. (QS. Al-Baqarah: 219)
ِ
‫س‬‫ّا‬
‫ن‬‫ِل‬
‫ل‬ ُ
‫ع‬ِ
‫ف‬‫َا‬
‫ن‬َ
‫م‬َ
‫و‬ ٌ
‫ر‬‫ِي‬
‫ب‬َ
‫ك‬ ٌ
‫م‬ْ‫ث‬ِ
‫إ‬ ‫َا‬
‫م‬ِ
‫ه‬‫ِي‬
‫ف‬ ْ‫ل‬ُ
‫ق‬ ِ
‫ر‬ِ
‫س‬ْ‫ي‬َ
‫م‬ْ‫ل‬‫َا‬
‫و‬ ِ
‫ر‬ْ‫م‬َ
‫خ‬ْ‫ل‬‫ا‬ ِ
‫ن‬َ
‫ع‬ َ
‫ك‬َ
‫ن‬‫ُو‬
‫ل‬َ
‫أ‬ْ‫س‬َ
‫ي‬
‫َا‬
‫م‬ِ
‫ه‬ِ
‫ع‬ْ‫ف‬ّ
‫ن‬ ‫ِن‬
‫م‬ ُ
‫ر‬َ
‫ب‬ْ‫ك‬َ
‫أ‬ ‫َآ‬
‫م‬ُ
‫ه‬ُ
‫م‬ْ‫ث‬ِ
‫إ‬َ
‫و‬
• Kemudian segera disusul dengan menyinggung efek
khamr bagi pelaksanaan ibadah (al-Nisa’: 43)
ٰ‫ى‬ّ
‫ت‬َ
‫ح‬ ٰ‫ى‬َ
‫ر‬‫َا‬
‫ك‬ُ
‫س‬ ْ‫م‬ُ
‫ت‬‫َن‬
‫أ‬َ
‫و‬ َ
‫ة‬َ
‫ل‬ّ
‫ص‬‫ال‬ ‫ُوا‬
‫ب‬َ
‫ر‬ْ‫ق‬َ
‫ت‬ َ
‫ل‬ ‫ُوا‬
‫ن‬َ
‫م‬‫آ‬ َ
‫ن‬‫ِي‬
‫ذ‬ّ
‫ل‬‫ا‬ ‫َا‬
‫ه‬ّ
‫ي‬َ
‫أ‬ ‫َا‬
‫ي‬
َ
‫ن‬‫ُو‬
‫ل‬‫ُو‬
‫ق‬َ
‫ت‬ ‫َا‬
‫م‬ ‫ُوا‬
‫م‬َ
‫ل‬ْ‫ع‬َ
‫ت‬
• Ketiga, menetapkan hukum tegas. Dalam contoh
tersebut, Syari’ (Allah dan Rasul-Nya) menetapkan
hukum haram minum khamr secara tegas, sebagai
D. Sejalan dengan Kemaslahatan Universal
Seluruh hukum yang terdapat dalam al-Quran
diperuntukkan demi kepentingan dan perbaikan
kehidupan umat, baik mengenai jiwa, akal, keturunan,
agama, maupun pengelolaan harta benda, sehingga
penerapan hukumnya al-Quran senantiasa
memperhitungkan lima kemaslahatan tsb.
• ‘Abd al-Wahab Khalaf berkata, “Dalam membentuk
hukum, Syãri’ (Allah dan Rasul-Nya) selalu membuat ‘illat
(rasio logis) yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia,
juga menunjukkan beberapa bukti bahwa tujuan legislasi
hukum tersebut untuk mewujudkan kemashlahatan manusia.
Disamping itu, Syãri’ menetapkan hukum-hukum itu sejalan
dengan tiadanya ‘illat yang mengiringinya. Oleh karena itu,
Allah mensyariatkan sebagian hukum kemudian merevisinya
• Prinsip Persamaan dan Keadilan (al-Musāwāh
wa al-’Adālah)
Persamaan hak adalah salah satu prinsip utama
syariat Islam, baik yang berkaitan dengan ibadah atau
muamalah. Persamaan hak tersebut tidak hanya
berlaku bagi umat Islam, tapi juga bagi seluruh
agama. Mereka diberi hak untuk memutuskan hukum
sesuai dengan ajaran masing-masing, kecuali kalau
mereka dengan sukarela meminta keputusan hukum
sesuai hukum Islam.
…ِ
‫ل‬ْ‫د‬َ
‫ع‬ْ‫ل‬‫ِا‬
‫ب‬ ‫ُوا‬
‫م‬ُ
‫ك‬ْ‫ح‬َ
‫ت‬ ْ‫ن‬َ
‫أ‬ ِ
‫س‬‫ّا‬
‫ن‬‫ال‬ َ
‫ن‬ْ‫ي‬َ
‫ب‬ ْ‫م‬ُ
‫ت‬ْ‫م‬َ
‫ك‬َ
‫ح‬ ‫َا‬
‫ذ‬ِ
‫إ‬َ
‫و‬ (QS. Al-Nisa’:
58)
SYARIAT ISLAM vs. HUKUM
WADH’I (HUKUM POSITIF)
‘Abdul Qadir ‘Audah dalam bukunya “Al-Tasyri’
Al-Jina-i fi Al-Islam” (Hukum Pidana dalam Islam)
menyebutkan beberapa keunggulan syariat Islam
atas hukum dan undang-undang buatan
manusia, di antaranya:
1. Hukum wadh’i tidak mengandung keadilan
yang hakiki karena dibuat oleh manusia yang
memiliki hawa nafsu serta kepentingan.
Sedangkan syariat Islam bersumber dari Allah
Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan
makhluk-Nya sehingga keadilan-nya adalah
sebuah kepastian.
SYARIAT ISLAM vs. HUKUM
WADH’I (HUKUM POSITIF)
2. Manusia tidak tahu pasti apa yang akan
terjadi di masa depan, maka hukum dan
peraturan yang dibuatnya hanya
mempertimbangkan ‘kekinian’ dan ‘kesinian’
serta pasti perlu diubah dan diperbaiki di lain
tempat dan waktu. Berbeda dengan syariat
Islam yang ber-sumber dari Dzat yang Maha
Mengetahui masa lalu, kini dan masa depan,
pasti mampu menjawab tantangan setiap
tempat dan zaman.
SYARIAT ISLAM vs. HUKUM
WADH’I (HUKUM POSITIF)
3. Hukum wadh’i memiliki prinsip-prinsip yang
terbatas, diawali kemunculannya dari aturan
keluarga, kemudian berkembang menjadi aturan
suku atau kabilah dst. Dan baru memiliki teori-
teori ilmiahnya pada abad ke-19. Berbeda dengan
syariat Islam yang sejak masa kehidupan
Rasulullah saw telah menjadi undang-undang
yang lengkap dan sempurna memenuhi segala
kebutuhan individu, keluarga, masyarakat, negara
serta hubungan internasional. Syariat Islam tidak
terbatas hanya untuk kaum atau bangsa tertentu
melainkan untuk semua manusia sepanjang zaman
4. Hukum wadh’i hanya mengatur hubungan sesama
manusia tanpa memiliki konsep aqidah tauhid yang
menghubungkan semua itu dengan Allah. Sedangkan
syariat Islam dilandasi oleh tauhid dan keimanan
kepada Allah dan hari akhir yang menjadi motivasi
utama ketaatan seorang hamba kepada syariat Allah.
Hukum wadh’i hanya mengandalkan sangsi hukum
semata dan ini memberi kesempatan kepada para
penjahat untuk mencari celah kelemahan hukum dan
menggunakan berbagai tipu muslihat agar lepas dari
jeratan hukum. Sedangkan syariat Islam, sanksi hukum
hanyalah salah satu faktor untuk membuat masyarakat
menjadi baik dan tertib. Motivasi spiritual, berupa
pengawasan Allah, rasa harap akan ridha-Nya dan takut
akan murka-Nya menjadi faktor utama ketaatan warga
SYARIAT ISLAM vs. HUKUM
WADH’I (HUKUM POSITIF)
5. Hukum wadh’i mengabaikan faktor-faktor akhlaq dan
menganggap pelanggaran hukum hanya terbatas pada
hal-hal yang membahayakan individu atau masyarakat
secara langsung. Namun hukum wadh’i tidak memberi
sangsi atas perbuatan zina, misalnya, kecuali jika ada
unsur paksaan dari salah satu pihak. Sedangkan syariat
Islam adalah syariat akhlaq yang memperhatikan
kebaikan mental dan fisik masyarakat secara umum,
memperhatikan kebahagiaan dunia akhirat sekaligus.
Islam melarang dan menetapkan sangsi atas zina karena
ia adalah perbuatan keji yang diharamkan Allah Swt,
meskipun dilakukan suka sama suka.
SELAMAT BELAJAR
Selamat membaca, menulis, searching,
Selamat membaca, menulis, searching,
Googling, diskusi, dan presentasi.
Googling, diskusi, dan presentasi.
Keaktifan dan kesungguhan Anda adalah
Keaktifan dan kesungguhan Anda adalah
kunci kesuksesan studi.
kunci kesuksesan studi.

presentasi1-terminologikomparasi-110416004938-phpapp02.pdf

  • 1.
    Tarikh Tasyri’: Terminologi, RuangLingkup Presentasi Kuliah | Marhamah Saleh | Maret 2011
  • 2.
    Terminologi • Tarikh artinyacatatan tentang perhitungan tanggal, hari, bulan dan tahun. Juga diartikan sebagai sejarah atau riwayat. • Tasyri’ berarti penetapan atau pemberlakuan syariat yang berlangsung sejak diutusnya Rasulullah saw dan berakhir hingga wafat beliau. Para ulama kemudian memperluas pembahasan tarikh (sejarah) tasyri’ sehingga mencakup pula perkembangan fiqh Islami dan proses kodifikasinya serta ijtihad-ijtihad para ulama sepanjang sejarah umat Islam. Tasyri’ juga bermakna legislation, enactment of law, penetapan undang-undang dalam agama Islam.
  • 3.
    • Tarikh al-tasyri’menurut Muhammad Ali al-Sayis : “Ilmu yang membahas keadaan hukum Islam pada masa kerasulan (Rasulullah SAW masih hidup) dan sesudahnya dengan periodisasi munculnya hukum serta hal-hal yang berkaitan dengannya, (membahas) ciri-ciri spesifikasi keadaan fuqaha’ dan mujtahid dalam merumuskan hukum-hukum tersebut”. • Menurut Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf, tasyri’ adalah pembentukan dan penetapan perundang- undangan yang mengatur hukum perbuatan orang mukallaf dan hal-hal yang terjadi tentang berbagai keputusan serta peristiwa di kalangan mereka. Jika sumbernya dari Allah dengan perantaraan Rasul dan kitab-kitabnya, maka dinamakan al-Tasyri’ al-Ilahiyah. Jika sumbernya dari manusia baik secara individual
  • 4.
    URGENSI MEMPELAJARI TARIKHTASYRI’  Dapat mengetahui prinsip dan tujuan syariat Islam.  Dapat mengetahui kesempurnaan dan syumuliyah (integralitas) ajaran Islam terhadap seluruh aspek kehidupan.  Dapat menghargai usaha dan jasa para ulama, mulai dari para sahabat Rasulullah saw hingga para imam dan murid-murid mereka dalam mengisi khazanah ilmu dan peradaban kaum muslimin.  Dapat tumbuh dalam diri kita kebanggaan terhadap Syariat Islam sekaligus optimisme akan kembalinya siyadah al-syari’ah (kepemimpinan syariat) dalam kehidupan umat di masa depan.  Dapat melahirkan sikap hidup toleran, dan untuk mewarisi pemikiran ulama klasik serta langkah-langkah ijtihadnya agar dapat mengembangkan gagasan-gagasannya.
  • 5.
    RUANG LINGKUP TARIKHTASYRI’ 1. Periodisasi hukum 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi dan ciri- ciri spesifikasinya 3. Fuqaha’ dan mujtahid 4. Pemikiran para mujtahid serta sistem pemikiran yang dipakai atau sistem istinbath.
  • 6.
    MACAM-MACAM TASYRI’ Secara umumtasyri’ dapat dibedakan menjadi dua yaitu: dilihat dari sudut sumbernya, dan dari sudut kekuatannya. • Tasyri’ dilihat dari sudut sumbernya dibentuk pada periode Rasulullah SAW yaitu al-Qur’an dan Sunah. • Tasyri’ yang dilihat dari kekuatan dan kandungannya mencakup ijtihad sahabat, tabi’in dan ulama sesudahnya. Tasyri’ tipe kedua ini dalam pandangan Umar Sulaiman al-Asyqar dapat dibedakan menjadi dua bidang: ibadah dan mu’amalat.
  • 7.
    ISLAM A COMPREHENSIVEWAY OF LIFE (KĀMIL & SYĀMIL) ISLAM AQIDAH SYARIAH AKHLAQ MUAMALAH IBADAH
  • 8.
    Hakekat Beragama Islam SYARIAH - FIQHAKHLAQ (Ihsan) AQIDAH (iman) SYARIAH (Islam) SYARIAH (Islam) SYARIAH - FIQH
  • 9.
    ALUR PEMBENTUKAN FIQH (1)Sumber hukum Islam: al-Quran dan hadits, (2) lalu muncul USHUL FIQH sebagai metodologi dalam penarikan hukum menggunakan pola pikir deduktif, (3) selanjutnya menghasilkan hukum FIQH dengan materi yang beragam dalam kitab yang sangat banyak. Setelah diteliti persamaan hukum fiqh menggunakan pola pikir induktif, kemudian dikelompokkan dari masalah-masalah yang serupa, (4) akhirnya disimpulkan menjadi QAWA’ID FIQHIYYAH yang memudahkan ulama dalam menentukan hukum fiqh terhadap persoalan baru. (5) setelah melalui pengujian dan dengan dukungan ushul fiqh, maka natijahnya adalah terbentuknya hukum FIQH BARU, QANUN, maupun fatwa terhadap permasalahan kontemporer. SUMBER SUMBER HUKUM HUKUM (Al-Quran dan Hadits) (Al-Quran dan Hadits) USHUL USHUL FIQH FIQH (+ Kaidah Ushul) (+ Kaidah Ushul) FIQH FIQH (hasil dari pola (hasil dari pola istinbath al-ahkam)) istinbath al-ahkam)) QAWA’ID QAWA’ID FIQHIYYAH FIQHIYYAH (Kaidah Fiqh) (Kaidah Fiqh) FIQH BARU FIQH BARU (QANUN) (QANUN)
  • 10.
    PRINSIP-PRINSI TASYRI’ • TidakMempersulit ( ‫الحرج‬ ‫عدم‬ ( … ‫َا‬ ‫ه‬َ ‫ع‬ْ‫س‬ُ ‫و‬ ‫ِل‬ ‫إ‬ ‫ًا‬ ‫س‬ْ‫ف‬َ ‫ن‬ ُ ّ ‫ل‬‫ا‬ ُ ‫ف‬ّ ‫ل‬َ ‫ك‬ُ ‫ي‬ ‫ل‬. (QS. Al-Baqarah: 286). ‫حرج‬ ‫من‬ ‫الدين‬ ‫فى‬ ‫عليكم‬ ‫جعل‬ ‫وما‬ (QS. Al-Hajj: 78) ‫َة‬ ‫ح‬ْ‫م‬َ ‫س‬‫ال‬ ِ ‫ة‬َ ‫ف‬‫ِي‬ ‫ن‬َ ‫ح‬‫بال‬ ُ ‫ت‬‫ِث‬ ‫ع‬ُ ‫ب‬ (Aku diutus dengan agama yang ringan) Dalam menetapkan syariat, Islam senantiasa memperhitungkan kemampuan manusia dalam melaksanaknnya. Itu diwujudkan dengan mamberikan kemudahan dan kelonggaran (tasamuh wa rukhsah) kepada manusia, agar menerima ketetapan hukum dengan kesanggupan
  • 11.
    B. Mengurangi Beban( ‫التكاليف‬ ‫تقليل‬ ) ْ‫ن‬ِ ‫إ‬َ ‫و‬ ْ‫م‬ُ ‫ك‬ْ‫ؤ‬ُ ‫س‬َ ‫ت‬ ْ‫م‬ُ ‫ك‬َ ‫ل‬ َ ‫د‬ْ‫ب‬ُ ‫ت‬ ْ‫ن‬ِ ‫إ‬ َ ‫ء‬‫َا‬ ‫ي‬ْ‫ش‬َ ‫أ‬ ْ‫ن‬َ ‫ع‬ ‫ُوا‬ ‫ل‬َ ‫أ‬ْ‫س‬َ ‫ت‬ ‫ل‬ ‫ُوا‬ ‫ن‬َ ‫م‬‫آ‬ َ ‫ن‬‫ِي‬ ‫ذ‬ّ ‫ل‬‫ا‬ ‫َا‬ ‫ه‬ّ ‫ي‬َ ‫أ‬ ‫َا‬ ‫ي‬ ٌ ‫ر‬‫ُو‬ ‫ف‬َ ‫غ‬ ُ ّ ‫ل‬‫َا‬ ‫و‬ ‫َا‬ ‫ه‬ْ‫ن‬َ ‫ع‬ ُ ّ ‫ل‬‫ا‬ ‫َا‬ ‫ف‬َ ‫ع‬ ْ‫م‬ُ ‫ك‬َ ‫ل‬ َ ‫د‬ْ‫ب‬ُ ‫ت‬ ُ ‫ن‬‫ْآ‬‫ر‬ُ ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ ‫ل‬ّ ‫ز‬َ ‫ن‬ُ ‫ي‬ َ ‫ن‬‫ِي‬ ‫ح‬ ‫َا‬ ‫ه‬ْ‫ن‬َ ‫ع‬ ‫ُوا‬ ‫ل‬َ ‫أ‬ْ‫س‬َ ‫ت‬ ٌ ‫م‬‫ِي‬ ‫ل‬َ ‫ح‬ . ‫المائدة‬ 101 ‫َل‬ ‫ف‬ ً ‫ا‬َ ‫د‬‫ُو‬ ‫د‬ُ ‫ح‬ ّ ‫د‬َ ‫ح‬َ ‫و‬ ،‫َا‬ ‫ه‬‫ُو‬ ‫ع‬ّ ‫ي‬َ ‫ض‬ُ ‫ت‬ ‫َل‬ ‫ف‬ َ ‫ض‬ِ ‫ئ‬‫َا‬ ‫ر‬َ ‫ف‬ َ ‫ض‬َ ‫ر‬َ ‫ف‬ َ ‫ل‬‫ا‬ ّ ‫ن‬ِ ‫إ‬ َ ‫ء‬‫َا‬ ‫ي‬ْ‫ش‬َ ‫أ‬ ْ‫ن‬َ ‫ع‬ َ ‫ت‬َ ‫ك‬َ ‫س‬َ ‫و‬ ،‫َا‬ ‫ه‬‫ُو‬ ‫ك‬ِ ‫ه‬َ ‫ت‬ْ‫ن‬َ ‫ت‬ ‫َل‬ ‫ف‬ َ ‫ء‬‫َا‬ ‫ي‬ْ‫ش‬َ ‫أ‬ َ ‫م‬ّ ‫ر‬َ ‫ح‬َ ‫و‬ ‫َا‬ ‫ه‬‫ُو‬ ‫د‬َ ‫ت‬ْ‫ع‬َ ‫ت‬ ‫َا‬ ‫ه‬ْ‫ن‬َ ‫ع‬ ‫ُوا‬ ‫ث‬َ ‫ح‬ْ‫ب‬َ ‫ت‬ ‫َل‬ ‫ف‬ ٍ ‫ن‬‫َا‬ ‫ي‬ْ‫س‬ِ ‫ن‬ َ ‫ر‬ْ‫ي‬َ ‫غ‬ ْ‫م‬ُ ‫ك‬َ ‫ل‬ ً ‫ة‬َ ‫م‬ْ‫ح‬َ ‫ر‬ . ‫رواه‬ ‫حسن‬ ‫حديث‬ ‫وغيره‬ ‫الدارقطني‬. Prinsip ini merupakan akibat logis bagi tidak adanya hal menyulitkan, karena didalam banyaknya bebanan berakibat menyempitkan (haraj). Juga sebagai langkah prenventif (penanggulangan) terhadap mukallaf dari pengurangan atau penambahan dalam kewajiban agama. Hal ini guna memperingan dan menjaga nilai-nilai kemaslahatan manusia pada umumnya, agar tercipta suatu pelaksanaan hukum
  • 12.
    َ ‫ل‬‫َا‬ ‫ق‬َ ‫ف‬ ُ ‫س‬‫ّا‬ ‫ن‬‫ال‬ ‫َا‬ ‫ه‬ّ ‫ي‬َ ‫أ‬ “ ! َ ‫ل‬‫َا‬ ‫ق‬َ ‫ف‬“ ‫ْا‬‫و‬ّ ‫ج‬َ ‫ح‬َ ‫ف‬ ّ ‫ج‬َ ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ ‫م‬ُ ‫ك‬ْ‫ي‬َ ‫ل‬َ ‫ع‬ ُ ‫ل‬‫ا‬ َ ‫ض‬َ ‫ر‬َ ‫ف‬ ْ‫د‬َ ‫ق‬ ٌ ‫ل‬ُ ‫ج‬َ ‫ر‬ : ِ ‫ل‬‫ا‬ َ ‫ل‬ْ‫و‬ُ ‫س‬َ ‫ر‬ ‫َا‬ ‫ي‬ ‫؟‬ ٍ ‫م‬‫َا‬ ‫ع‬ ّ ‫ل‬ُ ‫ك‬َ ‫أ‬ ! َ ‫ت‬َ ‫ك‬َ ‫س‬َ ‫ف‬ . ‫ًا‬ ‫ث‬َ ‫ل‬َ ‫ث‬ ‫َا‬ ‫ه‬َ ‫ل‬‫َا‬ ‫ق‬ ‫ّى‬ ‫ت‬َ ‫ح‬ . َ ‫ل‬‫َا‬ ‫ق‬َ ‫ف‬ ُ ‫ت‬ْ‫ل‬ُ ‫ق‬ ْ‫و‬َ ‫ل‬” “‫وسلم‬ ‫عليه‬ ‫ال‬ ‫صلى‬ ِ ‫ل‬‫ا‬ ُ ‫ل‬ْ‫و‬ُ ‫س‬َ ‫ر‬ : ْ‫م‬َ ‫ع‬َ ‫ن‬ . ْ‫ت‬َ ‫ب‬َ ‫ج‬َ ‫و‬َ ‫ل‬ . ‫َا‬ ‫م‬َ ‫ل‬َ ‫و‬ “ْ‫م‬ُ ‫ت‬ْ‫ع‬َ ‫ط‬َ ‫ت‬ْ‫س‬‫ا‬ . ْ‫م‬ُ ‫ك‬ُ ‫ت‬ْ‫ك‬َ ‫ر‬َ ‫ت‬ ‫َا‬ ‫م‬ ‫ِي‬ ‫ن‬ْ‫و‬ُ ‫ر‬َ ‫ذ‬” َ ‫ل‬‫َا‬ ‫ق‬ ّ ‫م‬ُ ‫ث‬ . َ ‫ن‬‫َا‬ ‫ك‬ ْ‫ن‬َ ‫م‬ َ ‫ك‬َ ‫ل‬َ ‫ه‬ ‫َا‬ ‫م‬ّ ‫ن‬ِ ‫إ‬َ ‫ف‬ ْ‫م‬ِ ‫ه‬ِ ‫ئ‬‫َا‬ ‫ي‬ِ ‫ب‬ْ‫ن‬َ ‫أ‬ ‫َى‬ ‫ل‬َ ‫ع‬ ْ‫م‬ِ ‫ه‬ِ ‫ف‬َ ‫ل‬ِ ‫ت‬ْ‫خ‬‫َا‬ ‫و‬ ْ‫م‬ِ ‫ه‬ِ ‫ل‬‫َا‬ ‫ؤ‬ُ ‫س‬ ِ ‫ة‬َ ‫ر‬ْ‫ث‬َ ‫ك‬ِ ‫ب‬ ْ‫م‬ُ ‫ك‬َ ‫ل‬ْ‫ب‬َ ‫ق‬ . ْ‫م‬ُ ‫ك‬ُ ‫ت‬ْ‫ر‬َ ‫م‬َ ‫أ‬ ‫َا‬ ‫ذ‬ِ ‫إ‬ِ ‫ف‬ ْ‫م‬ُ ‫ت‬ْ‫ع‬َ ‫ط‬َ ‫ت‬ْ‫س‬‫ا‬ ‫َا‬ ‫م‬ ُ ‫ه‬ْ‫ن‬ِ ‫م‬ ‫ْا‬‫و‬ُ ‫ت‬ْ‫أ‬َ ‫ف‬ ٍ ‫ء‬ْ‫ي‬َ ‫ش‬ِ ‫ب‬ . ُ ‫ه‬ْ‫و‬ُ ‫ع‬َ ‫د‬َ ‫ف‬ ٍ ‫ء‬ْ‫ي‬َ ‫ش‬ ْ‫ن‬َ ‫ع‬ ْ‫م‬ُ ‫ك‬ُ ‫ت‬ْ‫ي‬َ ‫ه‬َ ‫ن‬ ‫َا‬ ‫ذ‬ِ ‫إ‬َ ‫و‬ Rasulullah Saw. pernah berpidato di hadapan kami, beliau berkata: Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ibadah haji atas kamu sekalian, maka berhajilah! Seorang lelaki bertanya: Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah? Beliau diam tidak menjawab. Sehingga lelaki itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Rasulullah Saw kemudian menjawab: Jika aku katakan “ya”, niscaya akan wajib setiap tahun dan kamu sekalian tidak akan mampu melaksanakannya. Beliau melanjutkan: Biarkanlah apa yang telah aku katakan kepada kamu sekalian! Sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah binasa karena mereka banyak bertanya dan berselisih dengan nabi-nabinya. Maka apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu sekalian, laksanakanlah sesuai dengan kemampuanmu dan jika aku melarang sesuatu kepada kamu
  • 13.
    C. Penetapan Hukumsecara Periodik/Berangsur-angsur ( ‫التشريع‬ ‫في‬ ‫التدريج‬ ) Hukum syariat dalam al-Quran tidak diturunkan secara serta merta dengan format yang final, melainkan secara bertahap, dengan maksud agar umat tidak merasa terkejut dengan syariat yang tiba-tiba. Karenanya, wahyu al-Quran senantiasa turun sesuai dengan kondisi dan realita yang terjadi pada waktu itu. Contoh, untuk menetapkan keharaman minuman khamr. • Sebagai langkah pertama, yang dilakukan Nabi saw adalah mendiamkan kebiasaan buruk, akan tetapi Nabi sendiri menghindarinya.
  • 14.
    C. Lanjutan PenetapanHukum secara Periodik/ Berangsur-angsur ( ‫التشريع‬ ‫في‬ ‫التدريج‬ ) • Kedua, menyinggung manfat ataupun madlaratnya secara global. (QS. Al-Baqarah: 219) ِ ‫س‬‫ّا‬ ‫ن‬‫ِل‬ ‫ل‬ ُ ‫ع‬ِ ‫ف‬‫َا‬ ‫ن‬َ ‫م‬َ ‫و‬ ٌ ‫ر‬‫ِي‬ ‫ب‬َ ‫ك‬ ٌ ‫م‬ْ‫ث‬ِ ‫إ‬ ‫َا‬ ‫م‬ِ ‫ه‬‫ِي‬ ‫ف‬ ْ‫ل‬ُ ‫ق‬ ِ ‫ر‬ِ ‫س‬ْ‫ي‬َ ‫م‬ْ‫ل‬‫َا‬ ‫و‬ ِ ‫ر‬ْ‫م‬َ ‫خ‬ْ‫ل‬‫ا‬ ِ ‫ن‬َ ‫ع‬ َ ‫ك‬َ ‫ن‬‫ُو‬ ‫ل‬َ ‫أ‬ْ‫س‬َ ‫ي‬ ‫َا‬ ‫م‬ِ ‫ه‬ِ ‫ع‬ْ‫ف‬ّ ‫ن‬ ‫ِن‬ ‫م‬ ُ ‫ر‬َ ‫ب‬ْ‫ك‬َ ‫أ‬ ‫َآ‬ ‫م‬ُ ‫ه‬ُ ‫م‬ْ‫ث‬ِ ‫إ‬َ ‫و‬ • Kemudian segera disusul dengan menyinggung efek khamr bagi pelaksanaan ibadah (al-Nisa’: 43) ٰ‫ى‬ّ ‫ت‬َ ‫ح‬ ٰ‫ى‬َ ‫ر‬‫َا‬ ‫ك‬ُ ‫س‬ ْ‫م‬ُ ‫ت‬‫َن‬ ‫أ‬َ ‫و‬ َ ‫ة‬َ ‫ل‬ّ ‫ص‬‫ال‬ ‫ُوا‬ ‫ب‬َ ‫ر‬ْ‫ق‬َ ‫ت‬ َ ‫ل‬ ‫ُوا‬ ‫ن‬َ ‫م‬‫آ‬ َ ‫ن‬‫ِي‬ ‫ذ‬ّ ‫ل‬‫ا‬ ‫َا‬ ‫ه‬ّ ‫ي‬َ ‫أ‬ ‫َا‬ ‫ي‬ َ ‫ن‬‫ُو‬ ‫ل‬‫ُو‬ ‫ق‬َ ‫ت‬ ‫َا‬ ‫م‬ ‫ُوا‬ ‫م‬َ ‫ل‬ْ‫ع‬َ ‫ت‬ • Ketiga, menetapkan hukum tegas. Dalam contoh tersebut, Syari’ (Allah dan Rasul-Nya) menetapkan hukum haram minum khamr secara tegas, sebagai
  • 15.
    D. Sejalan denganKemaslahatan Universal Seluruh hukum yang terdapat dalam al-Quran diperuntukkan demi kepentingan dan perbaikan kehidupan umat, baik mengenai jiwa, akal, keturunan, agama, maupun pengelolaan harta benda, sehingga penerapan hukumnya al-Quran senantiasa memperhitungkan lima kemaslahatan tsb. • ‘Abd al-Wahab Khalaf berkata, “Dalam membentuk hukum, Syãri’ (Allah dan Rasul-Nya) selalu membuat ‘illat (rasio logis) yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia, juga menunjukkan beberapa bukti bahwa tujuan legislasi hukum tersebut untuk mewujudkan kemashlahatan manusia. Disamping itu, Syãri’ menetapkan hukum-hukum itu sejalan dengan tiadanya ‘illat yang mengiringinya. Oleh karena itu, Allah mensyariatkan sebagian hukum kemudian merevisinya
  • 16.
    • Prinsip Persamaandan Keadilan (al-Musāwāh wa al-’Adālah) Persamaan hak adalah salah satu prinsip utama syariat Islam, baik yang berkaitan dengan ibadah atau muamalah. Persamaan hak tersebut tidak hanya berlaku bagi umat Islam, tapi juga bagi seluruh agama. Mereka diberi hak untuk memutuskan hukum sesuai dengan ajaran masing-masing, kecuali kalau mereka dengan sukarela meminta keputusan hukum sesuai hukum Islam. …ِ ‫ل‬ْ‫د‬َ ‫ع‬ْ‫ل‬‫ِا‬ ‫ب‬ ‫ُوا‬ ‫م‬ُ ‫ك‬ْ‫ح‬َ ‫ت‬ ْ‫ن‬َ ‫أ‬ ِ ‫س‬‫ّا‬ ‫ن‬‫ال‬ َ ‫ن‬ْ‫ي‬َ ‫ب‬ ْ‫م‬ُ ‫ت‬ْ‫م‬َ ‫ك‬َ ‫ح‬ ‫َا‬ ‫ذ‬ِ ‫إ‬َ ‫و‬ (QS. Al-Nisa’: 58)
  • 17.
    SYARIAT ISLAM vs.HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) ‘Abdul Qadir ‘Audah dalam bukunya “Al-Tasyri’ Al-Jina-i fi Al-Islam” (Hukum Pidana dalam Islam) menyebutkan beberapa keunggulan syariat Islam atas hukum dan undang-undang buatan manusia, di antaranya: 1. Hukum wadh’i tidak mengandung keadilan yang hakiki karena dibuat oleh manusia yang memiliki hawa nafsu serta kepentingan. Sedangkan syariat Islam bersumber dari Allah Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya sehingga keadilan-nya adalah sebuah kepastian.
  • 18.
    SYARIAT ISLAM vs.HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) 2. Manusia tidak tahu pasti apa yang akan terjadi di masa depan, maka hukum dan peraturan yang dibuatnya hanya mempertimbangkan ‘kekinian’ dan ‘kesinian’ serta pasti perlu diubah dan diperbaiki di lain tempat dan waktu. Berbeda dengan syariat Islam yang ber-sumber dari Dzat yang Maha Mengetahui masa lalu, kini dan masa depan, pasti mampu menjawab tantangan setiap tempat dan zaman.
  • 19.
    SYARIAT ISLAM vs.HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) 3. Hukum wadh’i memiliki prinsip-prinsip yang terbatas, diawali kemunculannya dari aturan keluarga, kemudian berkembang menjadi aturan suku atau kabilah dst. Dan baru memiliki teori- teori ilmiahnya pada abad ke-19. Berbeda dengan syariat Islam yang sejak masa kehidupan Rasulullah saw telah menjadi undang-undang yang lengkap dan sempurna memenuhi segala kebutuhan individu, keluarga, masyarakat, negara serta hubungan internasional. Syariat Islam tidak terbatas hanya untuk kaum atau bangsa tertentu melainkan untuk semua manusia sepanjang zaman
  • 20.
    4. Hukum wadh’ihanya mengatur hubungan sesama manusia tanpa memiliki konsep aqidah tauhid yang menghubungkan semua itu dengan Allah. Sedangkan syariat Islam dilandasi oleh tauhid dan keimanan kepada Allah dan hari akhir yang menjadi motivasi utama ketaatan seorang hamba kepada syariat Allah. Hukum wadh’i hanya mengandalkan sangsi hukum semata dan ini memberi kesempatan kepada para penjahat untuk mencari celah kelemahan hukum dan menggunakan berbagai tipu muslihat agar lepas dari jeratan hukum. Sedangkan syariat Islam, sanksi hukum hanyalah salah satu faktor untuk membuat masyarakat menjadi baik dan tertib. Motivasi spiritual, berupa pengawasan Allah, rasa harap akan ridha-Nya dan takut akan murka-Nya menjadi faktor utama ketaatan warga
  • 21.
    SYARIAT ISLAM vs.HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) 5. Hukum wadh’i mengabaikan faktor-faktor akhlaq dan menganggap pelanggaran hukum hanya terbatas pada hal-hal yang membahayakan individu atau masyarakat secara langsung. Namun hukum wadh’i tidak memberi sangsi atas perbuatan zina, misalnya, kecuali jika ada unsur paksaan dari salah satu pihak. Sedangkan syariat Islam adalah syariat akhlaq yang memperhatikan kebaikan mental dan fisik masyarakat secara umum, memperhatikan kebahagiaan dunia akhirat sekaligus. Islam melarang dan menetapkan sangsi atas zina karena ia adalah perbuatan keji yang diharamkan Allah Swt, meskipun dilakukan suka sama suka.
  • 22.
    SELAMAT BELAJAR Selamat membaca,menulis, searching, Selamat membaca, menulis, searching, Googling, diskusi, dan presentasi. Googling, diskusi, dan presentasi. Keaktifan dan kesungguhan Anda adalah Keaktifan dan kesungguhan Anda adalah kunci kesuksesan studi. kunci kesuksesan studi.