PROYEKSI DAN GAMBARAN RADIOGRAFI
KONVENSIONAL PADA TRAUMA VERTEBRA
PENDAHULUAN
 Trauma tulang belakang penting
- struktur tulang yang bersangkutan dan dapat juga
menimbulkan komplikasi ke medula spinalis
 Insiden : servikal > torakal dan lumbal
 Modalitas Imejing : konvensional, CT dan MRI, arteriografi
(kerusakan vaskuler)
 Pemeriksaan penunjang lain  lab. ( drh rutin, f.
pembekuan darah, gol drh , kreatinin )
ANATOMI
EPIDEMIOLOGI
 Insiden :
- trauma tumpul : 1,9 % - 4,6 %
- multipel trauma : 5,9 %
- Pada bayi dan anak < 1 %
- >> usia 16 – 30 tahun  63 %
- usia > 65 tahun  jarang
- ♂ > ♀ ( 4 : 1 )
 LEVEL DARI TRAUMA
- 50% setinggi level V.C VI / V.C VII
- 30% setinggi level V.C II .
 MORTALITAS DAN MORBIDITAS
- Di USA :
o 6000 orang meninggal /th
o 5000 orang ( + ) quadriplegia.
- 20 % kematian karena KLL disertai /disebabkan trauma berat pada servikal.
ETIOLOGI
- 40 % : >> kecelakaan kendaraan bermotor
- 20 % : Jatuh
- 14 % : luka tembak terbuka
- 14 % : kegiatan olahraga
KOMPLIKASI
a. Umum
24 jam pertama :
- syok hipovolemik krn perdarahan yang banyak
- syok neurogenik karena nyeri hebat
- gangguan fungsi pernafasan
Bbrp hari / minggu :
-emboli lemak, tetanus , gas gangren
b. Lokal
-nyeri & kaku leher krn pembengkakan daerah sekitar
trauma
-iritasi / kerusakan saraf kelumpuhan otot.
 Komplikasi lebih lanjut :
- infeksi (pada fraktur terbuka)
- Osteomielitis
- atropi otot (imobilisasi)
- terganggunya gerakan aktif otot karena terputusnya serabut otot
 Komplikasi setelah penanganan fraktur :
-delayed / malunion
-dekubitus
• PROYEKSI
- Pmx foto polos vertebra servikalis sulit dilakukan 
pasien tidak sadar .
- Gerakan – gerakan yang tidak perlu harus diminimalkan
menimbulkan resiko kerusakan pada saraf .
- Proyeksi standar  lateral dan anteroposterior
- Proyeksi tambahan  open mouth , swimmer’s, oblik
dan fuchs
•Proyeksi Lateral
- ± 80% - 90% trauma servikal dapat dideteksi
- Yang terlihat : semua V.C & perbatasan V.C - V.Th
- Posisi : penderita duduk / berdiri
- Sinar X-ray dari arah horisontal setinggi V.C IV.
- Pada proyeksi cross table lateral posisi penderita tidur di
atas meja dengan kaset yang diletakkan pada sisi leher
 sinar diarahkan horisontal ke titik point kurang lebih
2,5 – 3 cm kaudal dari ujung mastoid.
- pasien tidak boleh dimanipulasi
(Tindakan manipulasi :
kontraindikasi) meja & tube
disesuaikan kondisi pasien.
- Gambaran yang tampak  korpus vertebra, apophyseal
joints, prosesus spinosus dan diskus intervertebralis
 Yang dinilai :
1. Alignment  ada 5 garis kontur
- garis vertebralis anterior,
- garis vertebralis posterior,
- garis spinolaminar ,
- garis spinous posterior & garis klivus – odontoid.
 Disruption pada kontur garis vertebra  adanya trauma pada tulang atau ligamen
2 . Adakah diskontinuitas pada tiap – tiap vertebra servikalis
3. Perubahan pada soft tissue :
a. Ruang predental ( interval anterior atlanto – dens ) jarak
antara anterior odontoid dan posterior dari arkus anterior C
I.
N ≤ 3 mm dewasa , 5 mm anak
Jika lebih curiga kemungkinan fr pada C I/pro
.odontoid
b. Ruang prevertebral :
- Ruang retropharingeal  jarak antara batas anterior dari
vertebra dan dinding posterior dari pharing pada level C III
N ≤ 7 mm
- Ruang retrotrakeal jarak antara dinding posterior trakea
dan anteroinferior dari C VI
N ≤ 22 mm  dewasa , ≤ 14 mm  anak
4. Pelebaran ruang antara 2 ujung prosesus spinosus
 Proyeksi antero posterior
 Posisi pasien : erect / supine
 Tidak boleh dilakukan manipulasi ekstensi /fleksi dagu.
 collar neck tidak boleh dilepas.
 Sinar dari anterior ( setinggi C IV ) dengan sudut 15-20 derajat ke cephalad
- Tampak C III–VII dan diskus intervertebralis.
- Prosesus spinosus superposisi dengan korpus .
- C I-II tak akan terlihat jelas superposisi dengan
mandibula dan dasar kepala .
- Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik pasien
diinstruksikan untuk buka mulut .
• Proyeksi Open Mouth
- Posisi supine ~pemeriksaan AP dengan mulut dibuka
selebar mungkin.
- Sinar diarahkan ke titik tengah dari mulut.
- Selama ekspose, pasien diinstruksikan untuk
mengucapkan “ah” sehingga lidah tertekan ke dasar
mulut tidak menghalangi gambaran CI - CII.
- Gambaran yg tampak prosesus odontoid, korpus C II,
massa lateralis dari atlas & sendi atlantoaksial.
 Dilakukan jika pasien sadar dan kooperatif.
Yang dinilai :
1. Alignment dari lateral C I yang berhubungan dengan
prosesus odontoid.
Asimetri atau misalignment fraktur atau displacement
ke lateral
2. fraktur pada dens ( +/- )
•Proyeksi Swimmer’s
- Dilakukan  distal dari V.C (perbatasan servikotorakal
tak terlihat ) pada proyeksi lateral.
- Posisi prone pada meja dengan 1 lengan abduksi 180
derajat ( jika kondisi pasien memungkinkan ) & lengan
sisi yang lain ditarik ke bawah.
- Sinar horisontal dari aksila sisi lengan yang abduksi,
kaset menempel leher pada sisi yang berlawanan.
- Gambaran yg tampak vertebra C VII, Th I dan Th II
• Proyeksi Fuchs
- posisi pasien supine di atas meja dengan leher
hiperekstensi
- sinar dari arah vertikal ke leher dengan sentrasi di
bawah dagu.
- Gambaran yang tampak prosesus odontoid tu.
setengah bagian atas dapat terlihat jelas
• Proyeksi oblik
- posisi pasien erect .
- Pasien berdiri dengan badan rotasi 45 derajat ke salah
satu sisi,
- Sinar diarahkan ke V.C IV dengan sudut 15-20 derajat ke
cephalad .
- Gambaran yang tampak 
foramen neural intervertebralis
dan apophyseal joint
- Jika pasien rotasi ke ke sisi kiri
maka akan terlihat foramen
neural sisi kanan,demikian
juga sebaliknya
PATOFISIOLOGI
Trauma servikal diklasifikasikan berdasar :
a. mekanisme ,
- fleksi
- ekstensi
- kompresi
- shearing
- rotasi
- distraksi
b. Berdasarkan stabilitas :
- Stabil  terbatas pada korpus vertebra / elemen posterior , struktur ligamen intak.
- Unstabil  mengenai korpus maupun elemen post.
Ditandai :
 displacement vertebra
 pelebaran ruang interspinous / interlaminar
 pelebaran apophyseal joint
 disruption dari garis vertebra posterior.
Jika salah satu ada  fr. unstabil.
- Stabil tidaknya fraktur / dislokasi tergantung dari
keutuhan komponen utama vertebra, diskus
intervertebralis, apophyseal joint, dan struktur
ligamen.
- Ligamen  salah satu faktor terpenting untuk
mempertahankan stabilitas vertebra .
- Ligamen  jaringan fibrous yang
menghubungkan satu / beberapa tulang
vertebra dengan kartilago /struktur lain.
- Ligamen yang penting  ligamen supraspinous
dan interspinous, ligamen longitudinal posterior,
& ligamenta flava  membentuk ligamen
posterior kompleks of Holdsworth.
c. Berdasar levelnya ,
-level servikal atas ( C I-C II )
-level servikal bawah ( C III -C
VII )
A. FRAKTUR PADA VERTEBRA C I
1. Dislokasi atlanto – oksipital
- Disruption komplit semua ligamen antara occiput dan C I
- Mekanisme hiperekstensi dengan distraksi.
- Termasuk Type unstabil
- Insiden 1 % dari angka kejadian trauma servikal.
- Kematiankarena gagal nafas &70 % disertai tr .kepala.
- Proyeksi lateral  dasar occiput & arkus CI tidak saling
berhubungan.
- MRI  mengevaluasi trauma pada batang otak dan medula
spinalis
2. Subluksasi atlanto-aksial
, ada 2 Type
2.1 Subluksasi rotator atlanto aksial
-Merupakan dislokasi unilateral atlanto – aksial facet
-mekanisme fleksi disertai rotasi pada CI .
-Termasuk Type unstabil,
-Terjadi pada level atlanto – aksial joint C I,C II
- Jarang pada dewasa , > anak serta remaja krn facet joint yang lebih
kecil
- 2 penyebab utama  OR & kecelakaan kendaraan
- Klinis leher torticollis,kesulitan memutar kepala & nyeri pada
servikal atas.
- Proyeksi open mouth  gambaran asimetri massa lateralis dari C I,
unilateral terlihat lebih besar.
- Proyeksi AP  massa lateralis pada 1 sisi dari C I berputar ke depan terlihat
lebih dekat dengan midline, massa lateralis sisi yang 1 terlihat lebih sempit
dan menjauh dari midline.
2.2 Subluksasi anterior C I
- dislokasi anterior pada sendi atlantoaksial akibat trauma robekan pada
ligamentum transversum
- mekanisme fleksi tanpa adanya pergerakan ke lateral maupun perputaran
komponen pada level servikal atas.
- Termasuk Type unstabil.
- Proyeksi open mouth gambaran asimetris pada lateral korpus
- Proyeksi lateral 
tampak peningkatan ruang
predental .
3. Fraktur Jefferson
- Insiden + 10 % dari trauma servikal , umumnya disertai
dengan fr pada C II ( lebih dari 40 % kasus ).
- Klinis  keluhan nyeri leher serta sakit kepala unilateral
regio occipital dan jarang disertai dengan gangguan
neurologis.
- Mek. kompresi pada puncak kepala yang diteruskan
secara simetris melalui kranium dan kondilus occipital ke
permukaan artikularis superior dari massa lateralis  tjd
displacement ke lateral dari massa lateralis
menyebabkan fr pada arkus anterior dan posterior dari
V.C I dengan disertai ataupun tidak disruption dari
ligamen transversum
Klasifikasi ,
a.Fraktur hanya pada arkus anterior / posterior.
b.Fraktur pada pillar lateral ( terdapat 2 garis fraktur pada pillar
lateral bagian anterior dan posterior )
c.Fraktur Burst C I, melibatkan garis 3-4 fraktur, hubungan pillar
lateral satu dengan yang lain terputus . Merupakan fraktur
bilateral dari arkus posterior V.C I.
- Open mouth  proyeksi yang terbaik untuk
memperlihatkan kelainan yang ada tampak
displacement ke lateral dari massa lateralis C I dan
swelling pada anterior C I.
- Proyeksi lateral  adanya garis fraktur pada arkus
anterior dan posterior C I
B. FRAKTUR PADA VERTEBRA C II
1. Fraktur pada prosesus odontoid
- segmen C II >>
- Insiden : 10% - 15% dari seluruh fraktur segmen servikal
- ♂ > ♀, usia <40 tahun.
- 40 % disertai trauma kepala/leher ,terutama mandibula
- 15 % - 20 %  disertai trauma servikal level lain.
- mekanisme  fleksi, ekstensi dan rotasi kuat 
displacement ke anterior maupun posterior dari prosesus
odontoid ,tergantung dari kekuatan traumanya 
subluksasi C I atau C II ke anterior maupun posterior
Klasifikasi :
 Type 1,  fr oblik pada distal ( bagian atas ) odontoid 
fr avulsi dari ujung dens.
- Jarang terjadi ( 5% - 8 % )
- Termasuk fr stabil dengan angka kesembuhan yang
tinggi.
 Type 2  fr transversal pada basis dari odontoid, pada
perbatasan korpus.
- Type fr yang terbanyak ( 54 % - 67 % )
- fr unstabil, pengelolaan konservatif komplikasi non
union pada + 35 % kasus.
 Type 3  fr pada basis odontoid yang meluas sampai ke
korpus
- Insiden 30 - 33 %,
- Proyeksi  open mouth , AP
dan lateral
- CT dapat memberikan
gambaran fraktur yang tidak
tampak pada foto
konvensional.
2. Fraktur Hangman’s
- mekanisme hiperekstensi dan distraksi  fr bilateral melalui pedikel C II,
dislokasi korpus ke anterior dan selanjutnya  robekan pada korda spinalis.
- Sering disertai disruption ligamen dan trauma pada diskus intervertebralis.
- disebut juga Traumatic Spondylolisthesis dari C II
- Insiden  7 % dari trauma servikal, dapat disertai dengan trauma kepala ( 70
% – 80 % )
- Klinisnyeri leher, jarang didapatkan defisit neurologis.
- Proyeksi terbaik adalah lateral.
Terbagi atas 3 Type
 Type 1  fr yang melalui pedikel C II yang meluas antara superior dan inferior
facet.
- stabil,
- minimal displacement ( < 3 mm ), tanpa angulasi
 Type 2, seperti Type 1 disertai dengan disruption pada diskus intervertebralis C II –
III.
- unstabil
- Displacement > 3 mm disertai angulasi.
 Type 3, seperti Type 2 disertai dislokasi facet C II – III
Proyeksi terbaik adalah lateral.
3. Fraktur Ekstensi Tear Drop
- Merupakan fraktur stabil ,
- Melalui mekanisme hiperekstensi  ligamen
longitudinal anterior menarik fragmen tulang  terjadi
avulsi dari sudut anteroinferior korpus vertebra yang
berbentuk menyerupai tetesan air .
Proyeksi terbaik adalah lateral.
C. FRAKTUR PADA VERTEBRA
SERVIKALIS TENGAH DAN BAWAH
1. Fraktur Tear Drop
 paling tidak stabil
 ciri khas : displacement vertebra ke posterior ke kanalis
medula spinalis , fraktur pada elemen posterior dan
disruption dari soft tissue setinggi level trauma.
 mekanisme : fleksi pada vertebra dan kompresi vertikal
robekan pada ligamen longitudinal anterior serta avulsi
fragmen fraktur pada sudut anteroinferior korpus vertebra
yang displacement ke anterior, berbentuk segitiga
menyerupai tetesan air.
Proyeksi terbaik adalah lateral
2. Fraktur Burst
 Jarang terjadi.
 Mekanisme ≈ fr Jefferson yang melibatkan CI ttp terjadi pada level
vertebra servikalis bawah ( C III-VII ).
 Melalui mekanisme kompresi terjadi peningkatan tekanan tiba-tiba pada
korpus vertebra  korpus menjadi remuk  fraktur kominutif pada
korpus.
 Khas fragmen posterior displaced ke posterior & mengakibatkan cedera
pada korda spinalis.
 Fraktur stabil jika ligamen posterior kompleks tidak mengalami disruption,
fraktur tidak stabil jika terjadi disruption pada ligamen.
 Proyeksi ap  tampak garis
fraktur vertikal pada korpus
vertebra
 Proyeksi lateral tampak
gambaran fraktur kominutif
serta soft tissue swelling
prevertebral
3. Fraktur Clay-Shoveler’s
 Fr.oblik / vertikal pada prosesus spinosus C VI / C VII.
 Mekanisme fleksi leher yang mendadak
 Type stabil, ligamen posterior kompleks intak tidak menimbulkan
kerusakan neurologis
 Proyeksi konvensional terbaik :
lateral tampak gambaran fr
bentuk oblik / vertikal pada
prosesus spinosus C VI / C VII.
 Proyeksi ap  muncul
gambaran ghost sign ( akibat
displacement dari prosesus
spinosus yang fraktur ) .
4. Fraktur Simple Wedge
 Mekanisme : fleksi  terjadi kompresi anterior pada korpus vertebra.
 Ligamen posterior kompleks teregang tetapi masih intak Type stabil.
 >> regio toraks dan lumbal, jarang pada regio servikal ,umumnya pada
segmen tengah atau bawah.
 Proyeksi lateral  muncul
konfigurasi wedging serta
berkurangnya puncak anterior
dari corpus vertebra
5. Dislokasi faset bilateral
 Mekanisme: fleksi ekstrem pada kepala dan leher.
 Type unstabil.
 Terkuncinya faset artikular diawali dari gerakan ke depan dari faset
artikular inferior pada vertebra bagian atas sampai ke faset artikular
superior vertebra yang bersangkutan .
 Stadium lebih lanjut facet artikular inferior dari vertebra atas terkunci di
bagian depan faset artikular superior dari vertebra di bawahnya dislokasi
anterior komplit  disruption ligamen posterior kompleks, anulus fibrosus
dan kadang pada ligamen longitudinal ant.
 Proyeksi lateral ( cross
table lateral ) faset
bilateral terkunci,
adanya malalignment
dari vertebra disertai
disruption dari semua
garis vertebra servikalis
6. Dislokasi faset unilateral
 Mekanisme : fleksi kombinasi dengan rotasi  terjadi robekan kapsul joint
pada satu faset dan ligamen posterior kompleks.
 Termasuk Type stabil
 Terjadi pada semua level, >> level C VI – VII.
 Proyeksi lateral 
displacement vertebra
servikalis ke anterior < dari
½ diameter korpus
vertebra, adanya vertebra
yang rotasi.
 anterolisthesis C IV-C V
& perubahan ruang
laminar yang mendadak
antara C IV –C V
menunjukkan rotasi
vertebra tiba –tiba.
PENUTUP
 Keunggulan CT maupun MRI tidak diragukan lagi  radiografi
konvensional tetap menjadi pilihan I tu. di daerah yang belum mempunyai
fasilitas CT dan MRI.
 Prosedur pemeriksaan yg singkat , sederhana dan ringan dari segi biaya,
 Radiografi konvensional dapat mendiagnosis awal kelainan yg timbul pada
trauma servikal serta kemungkinan komplikasi apa yang dapat muncul
 Diperlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi dalam menilai
mendapatkan hasil yang akurat.
PPT TRAUMA VERTEBRA.pptx

PPT TRAUMA VERTEBRA.pptx

  • 1.
    PROYEKSI DAN GAMBARANRADIOGRAFI KONVENSIONAL PADA TRAUMA VERTEBRA
  • 2.
    PENDAHULUAN  Trauma tulangbelakang penting - struktur tulang yang bersangkutan dan dapat juga menimbulkan komplikasi ke medula spinalis  Insiden : servikal > torakal dan lumbal  Modalitas Imejing : konvensional, CT dan MRI, arteriografi (kerusakan vaskuler)  Pemeriksaan penunjang lain  lab. ( drh rutin, f. pembekuan darah, gol drh , kreatinin )
  • 3.
  • 8.
    EPIDEMIOLOGI  Insiden : -trauma tumpul : 1,9 % - 4,6 % - multipel trauma : 5,9 % - Pada bayi dan anak < 1 % - >> usia 16 – 30 tahun  63 % - usia > 65 tahun  jarang - ♂ > ♀ ( 4 : 1 )
  • 9.
     LEVEL DARITRAUMA - 50% setinggi level V.C VI / V.C VII - 30% setinggi level V.C II .  MORTALITAS DAN MORBIDITAS - Di USA : o 6000 orang meninggal /th o 5000 orang ( + ) quadriplegia. - 20 % kematian karena KLL disertai /disebabkan trauma berat pada servikal.
  • 10.
    ETIOLOGI - 40 %: >> kecelakaan kendaraan bermotor - 20 % : Jatuh - 14 % : luka tembak terbuka - 14 % : kegiatan olahraga
  • 11.
    KOMPLIKASI a. Umum 24 jampertama : - syok hipovolemik krn perdarahan yang banyak - syok neurogenik karena nyeri hebat - gangguan fungsi pernafasan Bbrp hari / minggu : -emboli lemak, tetanus , gas gangren b. Lokal -nyeri & kaku leher krn pembengkakan daerah sekitar trauma -iritasi / kerusakan saraf kelumpuhan otot.
  • 12.
     Komplikasi lebihlanjut : - infeksi (pada fraktur terbuka) - Osteomielitis - atropi otot (imobilisasi) - terganggunya gerakan aktif otot karena terputusnya serabut otot  Komplikasi setelah penanganan fraktur : -delayed / malunion -dekubitus
  • 13.
    • PROYEKSI - Pmxfoto polos vertebra servikalis sulit dilakukan  pasien tidak sadar . - Gerakan – gerakan yang tidak perlu harus diminimalkan menimbulkan resiko kerusakan pada saraf . - Proyeksi standar  lateral dan anteroposterior - Proyeksi tambahan  open mouth , swimmer’s, oblik dan fuchs
  • 14.
    •Proyeksi Lateral - ±80% - 90% trauma servikal dapat dideteksi - Yang terlihat : semua V.C & perbatasan V.C - V.Th - Posisi : penderita duduk / berdiri - Sinar X-ray dari arah horisontal setinggi V.C IV. - Pada proyeksi cross table lateral posisi penderita tidur di atas meja dengan kaset yang diletakkan pada sisi leher  sinar diarahkan horisontal ke titik point kurang lebih 2,5 – 3 cm kaudal dari ujung mastoid.
  • 16.
    - pasien tidakboleh dimanipulasi (Tindakan manipulasi : kontraindikasi) meja & tube disesuaikan kondisi pasien. - Gambaran yang tampak  korpus vertebra, apophyseal joints, prosesus spinosus dan diskus intervertebralis
  • 18.
     Yang dinilai: 1. Alignment  ada 5 garis kontur - garis vertebralis anterior, - garis vertebralis posterior, - garis spinolaminar , - garis spinous posterior & garis klivus – odontoid.  Disruption pada kontur garis vertebra  adanya trauma pada tulang atau ligamen 2 . Adakah diskontinuitas pada tiap – tiap vertebra servikalis
  • 20.
    3. Perubahan padasoft tissue : a. Ruang predental ( interval anterior atlanto – dens ) jarak antara anterior odontoid dan posterior dari arkus anterior C I. N ≤ 3 mm dewasa , 5 mm anak Jika lebih curiga kemungkinan fr pada C I/pro .odontoid b. Ruang prevertebral : - Ruang retropharingeal  jarak antara batas anterior dari vertebra dan dinding posterior dari pharing pada level C III N ≤ 7 mm - Ruang retrotrakeal jarak antara dinding posterior trakea dan anteroinferior dari C VI N ≤ 22 mm  dewasa , ≤ 14 mm  anak 4. Pelebaran ruang antara 2 ujung prosesus spinosus
  • 22.
     Proyeksi anteroposterior  Posisi pasien : erect / supine  Tidak boleh dilakukan manipulasi ekstensi /fleksi dagu.  collar neck tidak boleh dilepas.  Sinar dari anterior ( setinggi C IV ) dengan sudut 15-20 derajat ke cephalad
  • 24.
    - Tampak CIII–VII dan diskus intervertebralis. - Prosesus spinosus superposisi dengan korpus . - C I-II tak akan terlihat jelas superposisi dengan mandibula dan dasar kepala . - Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik pasien diinstruksikan untuk buka mulut .
  • 26.
    • Proyeksi OpenMouth - Posisi supine ~pemeriksaan AP dengan mulut dibuka selebar mungkin. - Sinar diarahkan ke titik tengah dari mulut. - Selama ekspose, pasien diinstruksikan untuk mengucapkan “ah” sehingga lidah tertekan ke dasar mulut tidak menghalangi gambaran CI - CII. - Gambaran yg tampak prosesus odontoid, korpus C II, massa lateralis dari atlas & sendi atlantoaksial.  Dilakukan jika pasien sadar dan kooperatif.
  • 28.
    Yang dinilai : 1.Alignment dari lateral C I yang berhubungan dengan prosesus odontoid. Asimetri atau misalignment fraktur atau displacement ke lateral 2. fraktur pada dens ( +/- )
  • 29.
    •Proyeksi Swimmer’s - Dilakukan distal dari V.C (perbatasan servikotorakal tak terlihat ) pada proyeksi lateral. - Posisi prone pada meja dengan 1 lengan abduksi 180 derajat ( jika kondisi pasien memungkinkan ) & lengan sisi yang lain ditarik ke bawah. - Sinar horisontal dari aksila sisi lengan yang abduksi, kaset menempel leher pada sisi yang berlawanan. - Gambaran yg tampak vertebra C VII, Th I dan Th II
  • 31.
    • Proyeksi Fuchs -posisi pasien supine di atas meja dengan leher hiperekstensi - sinar dari arah vertikal ke leher dengan sentrasi di bawah dagu. - Gambaran yang tampak prosesus odontoid tu. setengah bagian atas dapat terlihat jelas
  • 33.
    • Proyeksi oblik -posisi pasien erect . - Pasien berdiri dengan badan rotasi 45 derajat ke salah satu sisi, - Sinar diarahkan ke V.C IV dengan sudut 15-20 derajat ke cephalad .
  • 35.
    - Gambaran yangtampak  foramen neural intervertebralis dan apophyseal joint - Jika pasien rotasi ke ke sisi kiri maka akan terlihat foramen neural sisi kanan,demikian juga sebaliknya
  • 36.
    PATOFISIOLOGI Trauma servikal diklasifikasikanberdasar : a. mekanisme , - fleksi - ekstensi - kompresi - shearing - rotasi - distraksi
  • 38.
    b. Berdasarkan stabilitas: - Stabil  terbatas pada korpus vertebra / elemen posterior , struktur ligamen intak. - Unstabil  mengenai korpus maupun elemen post. Ditandai :  displacement vertebra  pelebaran ruang interspinous / interlaminar  pelebaran apophyseal joint  disruption dari garis vertebra posterior. Jika salah satu ada  fr. unstabil.
  • 39.
    - Stabil tidaknyafraktur / dislokasi tergantung dari keutuhan komponen utama vertebra, diskus intervertebralis, apophyseal joint, dan struktur ligamen. - Ligamen  salah satu faktor terpenting untuk mempertahankan stabilitas vertebra . - Ligamen  jaringan fibrous yang menghubungkan satu / beberapa tulang vertebra dengan kartilago /struktur lain. - Ligamen yang penting  ligamen supraspinous dan interspinous, ligamen longitudinal posterior, & ligamenta flava  membentuk ligamen posterior kompleks of Holdsworth.
  • 41.
    c. Berdasar levelnya, -level servikal atas ( C I-C II ) -level servikal bawah ( C III -C VII )
  • 42.
    A. FRAKTUR PADAVERTEBRA C I 1. Dislokasi atlanto – oksipital - Disruption komplit semua ligamen antara occiput dan C I - Mekanisme hiperekstensi dengan distraksi. - Termasuk Type unstabil - Insiden 1 % dari angka kejadian trauma servikal. - Kematiankarena gagal nafas &70 % disertai tr .kepala. - Proyeksi lateral  dasar occiput & arkus CI tidak saling berhubungan. - MRI  mengevaluasi trauma pada batang otak dan medula spinalis
  • 43.
    2. Subluksasi atlanto-aksial ,ada 2 Type 2.1 Subluksasi rotator atlanto aksial -Merupakan dislokasi unilateral atlanto – aksial facet -mekanisme fleksi disertai rotasi pada CI . -Termasuk Type unstabil, -Terjadi pada level atlanto – aksial joint C I,C II - Jarang pada dewasa , > anak serta remaja krn facet joint yang lebih kecil - 2 penyebab utama  OR & kecelakaan kendaraan - Klinis leher torticollis,kesulitan memutar kepala & nyeri pada servikal atas.
  • 44.
    - Proyeksi openmouth  gambaran asimetri massa lateralis dari C I, unilateral terlihat lebih besar. - Proyeksi AP  massa lateralis pada 1 sisi dari C I berputar ke depan terlihat lebih dekat dengan midline, massa lateralis sisi yang 1 terlihat lebih sempit dan menjauh dari midline.
  • 45.
    2.2 Subluksasi anteriorC I - dislokasi anterior pada sendi atlantoaksial akibat trauma robekan pada ligamentum transversum - mekanisme fleksi tanpa adanya pergerakan ke lateral maupun perputaran komponen pada level servikal atas. - Termasuk Type unstabil. - Proyeksi open mouth gambaran asimetris pada lateral korpus
  • 46.
    - Proyeksi lateral tampak peningkatan ruang predental .
  • 47.
    3. Fraktur Jefferson -Insiden + 10 % dari trauma servikal , umumnya disertai dengan fr pada C II ( lebih dari 40 % kasus ). - Klinis  keluhan nyeri leher serta sakit kepala unilateral regio occipital dan jarang disertai dengan gangguan neurologis. - Mek. kompresi pada puncak kepala yang diteruskan secara simetris melalui kranium dan kondilus occipital ke permukaan artikularis superior dari massa lateralis  tjd displacement ke lateral dari massa lateralis menyebabkan fr pada arkus anterior dan posterior dari V.C I dengan disertai ataupun tidak disruption dari ligamen transversum
  • 48.
    Klasifikasi , a.Fraktur hanyapada arkus anterior / posterior. b.Fraktur pada pillar lateral ( terdapat 2 garis fraktur pada pillar lateral bagian anterior dan posterior ) c.Fraktur Burst C I, melibatkan garis 3-4 fraktur, hubungan pillar lateral satu dengan yang lain terputus . Merupakan fraktur bilateral dari arkus posterior V.C I.
  • 50.
    - Open mouth proyeksi yang terbaik untuk memperlihatkan kelainan yang ada tampak displacement ke lateral dari massa lateralis C I dan swelling pada anterior C I. - Proyeksi lateral  adanya garis fraktur pada arkus anterior dan posterior C I
  • 52.
    B. FRAKTUR PADAVERTEBRA C II 1. Fraktur pada prosesus odontoid - segmen C II >> - Insiden : 10% - 15% dari seluruh fraktur segmen servikal - ♂ > ♀, usia <40 tahun. - 40 % disertai trauma kepala/leher ,terutama mandibula - 15 % - 20 %  disertai trauma servikal level lain. - mekanisme  fleksi, ekstensi dan rotasi kuat  displacement ke anterior maupun posterior dari prosesus odontoid ,tergantung dari kekuatan traumanya  subluksasi C I atau C II ke anterior maupun posterior
  • 53.
    Klasifikasi :  Type1,  fr oblik pada distal ( bagian atas ) odontoid  fr avulsi dari ujung dens. - Jarang terjadi ( 5% - 8 % ) - Termasuk fr stabil dengan angka kesembuhan yang tinggi.  Type 2  fr transversal pada basis dari odontoid, pada perbatasan korpus. - Type fr yang terbanyak ( 54 % - 67 % ) - fr unstabil, pengelolaan konservatif komplikasi non union pada + 35 % kasus.  Type 3  fr pada basis odontoid yang meluas sampai ke korpus - Insiden 30 - 33 %,
  • 55.
    - Proyeksi open mouth , AP dan lateral - CT dapat memberikan gambaran fraktur yang tidak tampak pada foto konvensional.
  • 56.
    2. Fraktur Hangman’s -mekanisme hiperekstensi dan distraksi  fr bilateral melalui pedikel C II, dislokasi korpus ke anterior dan selanjutnya  robekan pada korda spinalis. - Sering disertai disruption ligamen dan trauma pada diskus intervertebralis. - disebut juga Traumatic Spondylolisthesis dari C II - Insiden  7 % dari trauma servikal, dapat disertai dengan trauma kepala ( 70 % – 80 % ) - Klinisnyeri leher, jarang didapatkan defisit neurologis. - Proyeksi terbaik adalah lateral.
  • 57.
    Terbagi atas 3Type  Type 1  fr yang melalui pedikel C II yang meluas antara superior dan inferior facet. - stabil, - minimal displacement ( < 3 mm ), tanpa angulasi  Type 2, seperti Type 1 disertai dengan disruption pada diskus intervertebralis C II – III. - unstabil - Displacement > 3 mm disertai angulasi.  Type 3, seperti Type 2 disertai dislokasi facet C II – III
  • 59.
  • 60.
    3. Fraktur EkstensiTear Drop - Merupakan fraktur stabil , - Melalui mekanisme hiperekstensi  ligamen longitudinal anterior menarik fragmen tulang  terjadi avulsi dari sudut anteroinferior korpus vertebra yang berbentuk menyerupai tetesan air .
  • 61.
  • 62.
    C. FRAKTUR PADAVERTEBRA SERVIKALIS TENGAH DAN BAWAH 1. Fraktur Tear Drop  paling tidak stabil  ciri khas : displacement vertebra ke posterior ke kanalis medula spinalis , fraktur pada elemen posterior dan disruption dari soft tissue setinggi level trauma.  mekanisme : fleksi pada vertebra dan kompresi vertikal robekan pada ligamen longitudinal anterior serta avulsi fragmen fraktur pada sudut anteroinferior korpus vertebra yang displacement ke anterior, berbentuk segitiga menyerupai tetesan air.
  • 64.
  • 65.
    2. Fraktur Burst Jarang terjadi.  Mekanisme ≈ fr Jefferson yang melibatkan CI ttp terjadi pada level vertebra servikalis bawah ( C III-VII ).  Melalui mekanisme kompresi terjadi peningkatan tekanan tiba-tiba pada korpus vertebra  korpus menjadi remuk  fraktur kominutif pada korpus.  Khas fragmen posterior displaced ke posterior & mengakibatkan cedera pada korda spinalis.  Fraktur stabil jika ligamen posterior kompleks tidak mengalami disruption, fraktur tidak stabil jika terjadi disruption pada ligamen.
  • 66.
     Proyeksi ap tampak garis fraktur vertikal pada korpus vertebra  Proyeksi lateral tampak gambaran fraktur kominutif serta soft tissue swelling prevertebral
  • 67.
    3. Fraktur Clay-Shoveler’s Fr.oblik / vertikal pada prosesus spinosus C VI / C VII.  Mekanisme fleksi leher yang mendadak  Type stabil, ligamen posterior kompleks intak tidak menimbulkan kerusakan neurologis
  • 68.
     Proyeksi konvensionalterbaik : lateral tampak gambaran fr bentuk oblik / vertikal pada prosesus spinosus C VI / C VII.  Proyeksi ap  muncul gambaran ghost sign ( akibat displacement dari prosesus spinosus yang fraktur ) .
  • 69.
    4. Fraktur SimpleWedge  Mekanisme : fleksi  terjadi kompresi anterior pada korpus vertebra.  Ligamen posterior kompleks teregang tetapi masih intak Type stabil.  >> regio toraks dan lumbal, jarang pada regio servikal ,umumnya pada segmen tengah atau bawah.
  • 70.
     Proyeksi lateral muncul konfigurasi wedging serta berkurangnya puncak anterior dari corpus vertebra
  • 71.
    5. Dislokasi fasetbilateral  Mekanisme: fleksi ekstrem pada kepala dan leher.  Type unstabil.  Terkuncinya faset artikular diawali dari gerakan ke depan dari faset artikular inferior pada vertebra bagian atas sampai ke faset artikular superior vertebra yang bersangkutan .  Stadium lebih lanjut facet artikular inferior dari vertebra atas terkunci di bagian depan faset artikular superior dari vertebra di bawahnya dislokasi anterior komplit  disruption ligamen posterior kompleks, anulus fibrosus dan kadang pada ligamen longitudinal ant.
  • 72.
     Proyeksi lateral( cross table lateral ) faset bilateral terkunci, adanya malalignment dari vertebra disertai disruption dari semua garis vertebra servikalis
  • 73.
    6. Dislokasi fasetunilateral  Mekanisme : fleksi kombinasi dengan rotasi  terjadi robekan kapsul joint pada satu faset dan ligamen posterior kompleks.  Termasuk Type stabil  Terjadi pada semua level, >> level C VI – VII.
  • 74.
     Proyeksi lateral displacement vertebra servikalis ke anterior < dari ½ diameter korpus vertebra, adanya vertebra yang rotasi.  anterolisthesis C IV-C V & perubahan ruang laminar yang mendadak antara C IV –C V menunjukkan rotasi vertebra tiba –tiba.
  • 75.
    PENUTUP  Keunggulan CTmaupun MRI tidak diragukan lagi  radiografi konvensional tetap menjadi pilihan I tu. di daerah yang belum mempunyai fasilitas CT dan MRI.  Prosedur pemeriksaan yg singkat , sederhana dan ringan dari segi biaya,  Radiografi konvensional dapat mendiagnosis awal kelainan yg timbul pada trauma servikal serta kemungkinan komplikasi apa yang dapat muncul  Diperlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi dalam menilai mendapatkan hasil yang akurat.