MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA
Jajak pendapat yaitu survei tentang argumen atau pandangan yang
dilakukan dengan menggunakan teknik sampel. Jajak pendapat dirancang
untuk memperoleh gambaran tentang pandangan suatu populasi dengan
mengajukan serangkaian pertanyaan untuk beberapa orang yang dianggap
mewakili populasi, kemudian menyimpulkan jawaban-jawabannya sebagai
gambaran dari kumpulan yang semakin lapang.
MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA
MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA
Sejarah kolonisasi di Timor Timur bisa ditarik
sejak abad ke-15 Masehi. Kala itu, orang-orang
Portugis (Portugal) kerap singgah untuk
berdagang, namun tak lama berselang, bangsa
asing dari Eropa itu justru berhasil menduduki
pulau seluas 30.777 kilometer persegi itu.
Memasuki pertengahan abad ke-17, gangguan
datang dari Belanda yang juga ingin menguasai
Timor Timur. Setelah terjadi beberapa kali
bentrokan, Portugis terpaksa menjalin perjanjian
dan menyerahkan sisi barat pulau Timor kepada
Belanda.
Oleh karena itulah wilayah Timor Timur atau
pulau Timor bagian timur belum menjadi bagian
dari Indonesia sejak awal, berbeda dengan pulau
Timor bagian barat yang dikuasai Belanda atau
yang nantinya menjadi provinsi Nusa Tenggara
Timur (NTT).
Untuk merebut wilayah Timor Timur ke
Indonesia, pemerintah Orde Baru
mencanangkan operasi militer bernama Operasi
Seroja. Pemerintah Indonesia menerima
integrasi Timor Timur untuk menjadi bagian
NKRI pada tanggal 17 Juli 1976.
Sejak 17 Juli 1976, Timor Timur atau Timor Leste resmi
“bergabung” dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sejarah mencatat, proses integrasi Timtim didahului dengan
rangkaian invasi militer oleh rezim Orde Baru dan disebut-sebut
mendapat dukungan dari pemerintah Amerika Serikat (AS).
MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA
Hampir seperempat abad sejak tahun 1975 atau kurang lebih 23
tahun Timor-Timur menjadi propinsi ke 272, dari negara Republik
Indonesia. Selama waktu itu juga keinginan sebagian besar rakyat
Timor Timur untuk merdeka lepas dar Indonesia tidak pernah surut.
Keinginan merdeka ini semakin terakumulasi dengan adanya teror,
pembunuhan, pembantaian dan kekerasan yang dilakukan oleh
aparat keamanan terhadap rakyat Timor-Timur yang dinilai tidak
kooperatif terhadap ‘pembangunan’ yang dilakukan pemerintah.
Aparat keamanan, dalam hal ini tentara, bersikap sangat represif
terhadap rakyat yang berkeinginan merdeka maupun rakyat biasa
Keinginan sebagian besar rakyat ini semakin
diperkuat dengan kenyataan bahwa posisi
Indonesia di mata dunia pun belum aman karena
masalah Timor Timur masih menjadi agenda
yang belum final dibahas dalam persidangan-
persidangan di PBB. Secara sporadis peristiwa
demi peristiwa kekerasan sebagai bentuk
perlawanan rakyat terhadap pemerintah yang
berkuasa terus berlangsung. Menghadapi situasi
sulit ini pemerintah Indonesia akhirnya
mengambil sebuah sikap politik.
Pemerintah Indonesia pada tanggal 27 januari
1999 mengeluarkan pengumuman bahwa akan
dilaksanakan jajak pendapat bagi rakyat Timor
Timur pada tanggal 30 Agustus 1999 nanti.
Dunia menyambut baik pernyataan politik
Indonesia ini yang ditandai dengan adanya
bantuan dari badan dunia PBB untuk
mempersiapkan dan melaksanakan tugas jajak
pendapat. Dibentuklah United Nations
Assessment Mission in East Timor (UNAMET).
Pelaksanaan jajak pendapat tanggal 30 Agustus 1999 berlangsung
aman. Menurut rencana tanggal 7 September hasil jajak pendapat
tersebut sudah dapat diumumkan. Akan tetapi dalam perkembangannya
pengumuman ini dimajukan oleh karena situasi keamanan yang mulai
memanas. Sabtu, tanggal 4 September 1999 pengumuman resmi hasil
jajak pendapat rakyat Timor Timur dilakukan di dua tempat berbeda. Dari
markas besar PBB di New York, Sekjen PBB Kofi Anan mengumumkan
hasil resmi jajak pendapat rakyat Timor Timur, dan bertempat di Hotel
Mahkota Dili, Ian Martin selaku Ketua UNAMET juga melakukan hal yang
sama. Dari hasil pengumuman tersebut diketahui bahwa rakyat Timor
Timur yang memilih merdeka, menang mutlak.
Sorak-sorai kemenangan warga Maubere meluap di kota-kota besar
Indonesia dan di belahan bumi lainnya. Tidak demikian dengan situasi
di Timor Timur sendiri. Hanya beberapa jam setelah pengumuman hasil
jajak pendapat korban jatuh bergelimpangan. Dili berubah menjadi
mengerikan setelah melewati hari-hari menegangkan. Situasi chaos,
pembunuhan besar-besaran dan kehancuran total melanda Timor
Timur. Dalam sekejab wilayah ini luluh lantak. Para milisi pro Jakarta
bertindak sangat brutal tanpa dicegah oleh TNI sebagai penanggung
jawab keamanan saat itu. Perang atau konflik kekerasan pun meledak
antar sesama warga yang berbeda pilihan politik.
Walaupun Jenderal Wiranto sebagai Panglima TNI
membantah tegas keterlibatan TNI di balik
kekerasan yang terjadi dengan mengatakan
bahwa, namun Carter Center East Timor
Observation Mision (sebuah organisasi pemantau
di AS) menerbitkan sebuah dokumen yang
menunjukkan keberpihakan TNI pada kubu yang
kalah. Kesimpulan dokumen Carter ini cukup
gawat: tentara Indonesia telah mendanai,
mempersenjatai dan memberikan instruksi atas
segala sepak terjang milisi.
MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA
Pada tanggal 5 September 1999 situasi kota Dili semakin
memburuk ditandai dengan rentetan tembakan, pembakaran dan
penjarahan. Warga yang berlindung dan mengungsi di Camra
Eclesestica (Diosis Dili) diserang dan kantor Diosis dibakar. Pada
peristiwa ini telah jatuh korban sebanyak 25 orang
Pada tanggal 6 September, seorang perwira TNI berpangkat Letnan Kolonel
masuk ke kediaman Uskup Belo dan memintanya keluar kemudian
dievakuasi ke Mapolda. Setelah Uskup Belo keluar dari kediamannya,
kelompok milisi mulai melakukan penyerangan terhadap sekitar 5000
pengungsi yang berlindung di kompleks rumah tersebut. Para pengungsi
dipaksa mengikuti perintah para milisi keluar dari halaman kompleks
rumah Uskup Belo disertai dengan tindakan-tindakan kekerasan, dan
pembakaran. Serangan itu setidaknya berakibat jatuhnya korban 2 orang
tewas
Pada tanggal 4 September terjadi penyerangan oleh Milisi Laksaur dan
aparat TNI di Kampung Debos, yang mengakibatkan seorang pelajar SMA
tewas. Sementara masyarakat menyelamatkan diri ke kompleks Gereja
Nossa Senhora de Fatima atau Gereja Ave Maria Suai, dimana telah
terdapat banyak pengungsi yang berlindung sebelumnya. Pada tanggal 5
September malam, rumah-rumah penduduk dan gedung-gedung
pemerintah di kota Suai dibakar oleh milisi Laksaur dan anggota TNI.
Seorang wartawan dari Belanda bernama Sander Thoenes tewas pada
tanggal 21 September. Jenasahnya ditemukan oleh penduduk setempat di
Desa Becora, Dili Timur pada tanggal 22 September.
Kedua orang tersebut baru berjalan sejauh 300 meter ketika mereka
dihadang oleh orang-orang tidak dikenal yang menggunakan seragam TNI
dan bersenjata otomatis. Orang-orang yang tak dikenal tersebut
melepaskan tembakan terhadap Sander Thoenes dan Florinda da
Conceicao Araujo, tetapi Araujo dapat menyelamatkan diri.
Pada tanggal 25 September terjadi penyerangan terhadap rombongan
rohaniawan yang sedang dalam perjalanan menuju Baucau. Penyerangan
ini dilakukan oleh kelompok milisi Tim Alfa di bawah pimpinan Joni
Marques dan menewaskan 9 orang, termasuk wartawan Agus Mulyawan,
seperti diakuinya sendiri. Tindakan ini diduga dilakukan atas perintah
anggota satuan Kopassus yang tergabung dalam satuan tugas Tribuana.
Jenasah para korban dibuang ke sungai Raumoko dan mobil yang
mengangkut dibakar.
APAKAH ADA YANG INGIN
DITANYAKAN ?
MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA

PERISTIWA KEKERASAN.pptx

  • 4.
  • 5.
    Jajak pendapat yaitusurvei tentang argumen atau pandangan yang dilakukan dengan menggunakan teknik sampel. Jajak pendapat dirancang untuk memperoleh gambaran tentang pandangan suatu populasi dengan mengajukan serangkaian pertanyaan untuk beberapa orang yang dianggap mewakili populasi, kemudian menyimpulkan jawaban-jawabannya sebagai gambaran dari kumpulan yang semakin lapang.
  • 6.
  • 7.
  • 8.
    Sejarah kolonisasi diTimor Timur bisa ditarik sejak abad ke-15 Masehi. Kala itu, orang-orang Portugis (Portugal) kerap singgah untuk berdagang, namun tak lama berselang, bangsa asing dari Eropa itu justru berhasil menduduki pulau seluas 30.777 kilometer persegi itu. Memasuki pertengahan abad ke-17, gangguan datang dari Belanda yang juga ingin menguasai Timor Timur. Setelah terjadi beberapa kali bentrokan, Portugis terpaksa menjalin perjanjian dan menyerahkan sisi barat pulau Timor kepada Belanda.
  • 9.
    Oleh karena itulahwilayah Timor Timur atau pulau Timor bagian timur belum menjadi bagian dari Indonesia sejak awal, berbeda dengan pulau Timor bagian barat yang dikuasai Belanda atau yang nantinya menjadi provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk merebut wilayah Timor Timur ke Indonesia, pemerintah Orde Baru mencanangkan operasi militer bernama Operasi Seroja. Pemerintah Indonesia menerima integrasi Timor Timur untuk menjadi bagian NKRI pada tanggal 17 Juli 1976.
  • 10.
    Sejak 17 Juli1976, Timor Timur atau Timor Leste resmi “bergabung” dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah mencatat, proses integrasi Timtim didahului dengan rangkaian invasi militer oleh rezim Orde Baru dan disebut-sebut mendapat dukungan dari pemerintah Amerika Serikat (AS).
  • 12.
  • 13.
    Hampir seperempat abadsejak tahun 1975 atau kurang lebih 23 tahun Timor-Timur menjadi propinsi ke 272, dari negara Republik Indonesia. Selama waktu itu juga keinginan sebagian besar rakyat Timor Timur untuk merdeka lepas dar Indonesia tidak pernah surut. Keinginan merdeka ini semakin terakumulasi dengan adanya teror, pembunuhan, pembantaian dan kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan terhadap rakyat Timor-Timur yang dinilai tidak kooperatif terhadap ‘pembangunan’ yang dilakukan pemerintah. Aparat keamanan, dalam hal ini tentara, bersikap sangat represif terhadap rakyat yang berkeinginan merdeka maupun rakyat biasa
  • 14.
    Keinginan sebagian besarrakyat ini semakin diperkuat dengan kenyataan bahwa posisi Indonesia di mata dunia pun belum aman karena masalah Timor Timur masih menjadi agenda yang belum final dibahas dalam persidangan- persidangan di PBB. Secara sporadis peristiwa demi peristiwa kekerasan sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap pemerintah yang berkuasa terus berlangsung. Menghadapi situasi sulit ini pemerintah Indonesia akhirnya mengambil sebuah sikap politik.
  • 15.
    Pemerintah Indonesia padatanggal 27 januari 1999 mengeluarkan pengumuman bahwa akan dilaksanakan jajak pendapat bagi rakyat Timor Timur pada tanggal 30 Agustus 1999 nanti. Dunia menyambut baik pernyataan politik Indonesia ini yang ditandai dengan adanya bantuan dari badan dunia PBB untuk mempersiapkan dan melaksanakan tugas jajak pendapat. Dibentuklah United Nations Assessment Mission in East Timor (UNAMET).
  • 16.
    Pelaksanaan jajak pendapattanggal 30 Agustus 1999 berlangsung aman. Menurut rencana tanggal 7 September hasil jajak pendapat tersebut sudah dapat diumumkan. Akan tetapi dalam perkembangannya pengumuman ini dimajukan oleh karena situasi keamanan yang mulai memanas. Sabtu, tanggal 4 September 1999 pengumuman resmi hasil jajak pendapat rakyat Timor Timur dilakukan di dua tempat berbeda. Dari markas besar PBB di New York, Sekjen PBB Kofi Anan mengumumkan hasil resmi jajak pendapat rakyat Timor Timur, dan bertempat di Hotel Mahkota Dili, Ian Martin selaku Ketua UNAMET juga melakukan hal yang sama. Dari hasil pengumuman tersebut diketahui bahwa rakyat Timor Timur yang memilih merdeka, menang mutlak.
  • 17.
    Sorak-sorai kemenangan wargaMaubere meluap di kota-kota besar Indonesia dan di belahan bumi lainnya. Tidak demikian dengan situasi di Timor Timur sendiri. Hanya beberapa jam setelah pengumuman hasil jajak pendapat korban jatuh bergelimpangan. Dili berubah menjadi mengerikan setelah melewati hari-hari menegangkan. Situasi chaos, pembunuhan besar-besaran dan kehancuran total melanda Timor Timur. Dalam sekejab wilayah ini luluh lantak. Para milisi pro Jakarta bertindak sangat brutal tanpa dicegah oleh TNI sebagai penanggung jawab keamanan saat itu. Perang atau konflik kekerasan pun meledak antar sesama warga yang berbeda pilihan politik.
  • 18.
    Walaupun Jenderal Wirantosebagai Panglima TNI membantah tegas keterlibatan TNI di balik kekerasan yang terjadi dengan mengatakan bahwa, namun Carter Center East Timor Observation Mision (sebuah organisasi pemantau di AS) menerbitkan sebuah dokumen yang menunjukkan keberpihakan TNI pada kubu yang kalah. Kesimpulan dokumen Carter ini cukup gawat: tentara Indonesia telah mendanai, mempersenjatai dan memberikan instruksi atas segala sepak terjang milisi.
  • 20.
  • 21.
    Pada tanggal 5September 1999 situasi kota Dili semakin memburuk ditandai dengan rentetan tembakan, pembakaran dan penjarahan. Warga yang berlindung dan mengungsi di Camra Eclesestica (Diosis Dili) diserang dan kantor Diosis dibakar. Pada peristiwa ini telah jatuh korban sebanyak 25 orang
  • 22.
    Pada tanggal 6September, seorang perwira TNI berpangkat Letnan Kolonel masuk ke kediaman Uskup Belo dan memintanya keluar kemudian dievakuasi ke Mapolda. Setelah Uskup Belo keluar dari kediamannya, kelompok milisi mulai melakukan penyerangan terhadap sekitar 5000 pengungsi yang berlindung di kompleks rumah tersebut. Para pengungsi dipaksa mengikuti perintah para milisi keluar dari halaman kompleks rumah Uskup Belo disertai dengan tindakan-tindakan kekerasan, dan pembakaran. Serangan itu setidaknya berakibat jatuhnya korban 2 orang tewas
  • 23.
    Pada tanggal 4September terjadi penyerangan oleh Milisi Laksaur dan aparat TNI di Kampung Debos, yang mengakibatkan seorang pelajar SMA tewas. Sementara masyarakat menyelamatkan diri ke kompleks Gereja Nossa Senhora de Fatima atau Gereja Ave Maria Suai, dimana telah terdapat banyak pengungsi yang berlindung sebelumnya. Pada tanggal 5 September malam, rumah-rumah penduduk dan gedung-gedung pemerintah di kota Suai dibakar oleh milisi Laksaur dan anggota TNI.
  • 24.
    Seorang wartawan dariBelanda bernama Sander Thoenes tewas pada tanggal 21 September. Jenasahnya ditemukan oleh penduduk setempat di Desa Becora, Dili Timur pada tanggal 22 September. Kedua orang tersebut baru berjalan sejauh 300 meter ketika mereka dihadang oleh orang-orang tidak dikenal yang menggunakan seragam TNI dan bersenjata otomatis. Orang-orang yang tak dikenal tersebut melepaskan tembakan terhadap Sander Thoenes dan Florinda da Conceicao Araujo, tetapi Araujo dapat menyelamatkan diri.
  • 25.
    Pada tanggal 25September terjadi penyerangan terhadap rombongan rohaniawan yang sedang dalam perjalanan menuju Baucau. Penyerangan ini dilakukan oleh kelompok milisi Tim Alfa di bawah pimpinan Joni Marques dan menewaskan 9 orang, termasuk wartawan Agus Mulyawan, seperti diakuinya sendiri. Tindakan ini diduga dilakukan atas perintah anggota satuan Kopassus yang tergabung dalam satuan tugas Tribuana. Jenasah para korban dibuang ke sungai Raumoko dan mobil yang mengangkut dibakar.
  • 27.
    APAKAH ADA YANGINGIN DITANYAKAN ? MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA