SISTEM DRAINASE
SEMESTER ANTARA
NENNY ROOSTRIANAWATY, ST.,MT
KONTRAK PERKULIAHAN
CAPAIAN PEMBELAJARAN
Mahasiswa mampu memahami permasalahan banjir yang
terjadi di perkotaan dan membuat perencanaan sistem
drainase perkotaan sebagai solusi pemecahan masalah
SISTEM PENILAIAN
• 70 % Proses (kehadiran + tugas + UTS) + 30 % UAS
• Jumlah tatap muka (offline atau online) sebanyak 14x
MATERI :
1. PENDAHULUAN
2. SISTEM DRAINASE BERKELANJUTAN
3. PENANGGULANGAN BANJIR
4. PENAMPANG EKONOMIS SALURAN DRAINASE
5. HIDROLOGI SALURAN DRAINASE
6. BANGUNAN PELENGKAP SALURAN DRAINASE
7. DRAINASE BERKELANJUTAN
8. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN
DEFINISI DRAINASE
Drainase merupakan serangkaian bangunan air yang
berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang
kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga
lahan dapat difungsikan secara optimal.
DASAR HUKUM
Pengertian tentang drainase kota pada dasarnya telah
diatur dalam SK menteri PU 239 tahun 1987. Menurut SK
tersebut, yang dimaksud drainase kota adalah:
“Jaringan pembuangan air yang berfungsi
mengeringkan bagian-bagian wilayah administrasi kota
dan daerah urban dari genangan air, baik dari hujan
lokal maupun luapan sungai yang melintas di dalam
kota”.
JENIS-JENIS DRAINASE
Menurut sejarah terbentuknya
a.Drainase alamiah (natural drainage), yaitu sistem
drainase yang terbentuk secara alami dan tidak
ada unsur campur tangan manusia.
b.Drainase buatan, yaitu sistem drainase yang
dibentuk berdasarkan analisis ilmu drainase, untuk
menentukan debit akibat hujan, dan dimensi
saluran.
Menurut letak saluran
a. Drainase permukaan tanah (surface drainage), yaitu
saluran drainase yang berada di atas permukaan
tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan
permukaan.
b. Drainase bawah tanah (sub surface drainage), yaitu
saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air
limpasan permukaan melalui media di bawah
permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan alasan-
alasan tertentu.
Menurut konstruksi
a. Saluran terbuka, yaitu sistem saluran yang biasanya
direncanakan hanya untuk menampung dan
mengalirkan air hujan (sistem terpisah), namun
kebanyakan sistem saluran ini berfungsi sebagai saluran
campuran.
b. Saluran tertutup, yaitu saluran untuk air kotor yang
mengganggu kesehatan lingkungan. Sistem ini cukup
bagus digunakan di daerah perkotaan terutama dengan
tingkat kepadatan penduduk yang tinggi seperti kota
Metropolitan dan kota-kota besar lainnya.
Menurut fungsi
a. Single Purpose, yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu
jenis air buangan saja.
b. Multy Purpose, yaitu saluran yang berfungsi Mengalirkan
beberapa jenis buangan, baik secara bercampur maupun
bergantian.
SISTEM JARINGAN DRAINASE
Sistem Drainase Mayor
Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran/badan air
yang menampung dan mengalirkan air dari suatu
daerah tangkapan air hujan (Catchment Area).
Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai
dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan
pengukuran topografiyang detail mutlak diperlukan
dalam perencanaan sistem drainase ini.
Sistem Drainase Mikro
Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan
bangunan pelengkap drainase yang menampung dan
mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Pada
umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan
dengan masa ulang 2,5 atau 10 tahun tergantung
pada tata guna lahan yang ada.
FUNGSI DRAINASE PERKOTAAN
1. Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan sehingga
tidak menimbulkan dampak negatif.
2. Mengalirkan air permukaan ke badan air penerima terdekat
secepatnya.
3. Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat
dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan akuatik.
4. Meresapkan air pemukaan untuk menjaga kelestarian air
tanah (konservasi air).
5. Melindungi prasarana dan sarana yang sudah terbangun.
MENGAPA DRAINASE PENTING??
1. Tingkat kebutuhan perumahan di perkotaan meningkat seiring dengan
peningkatan jumlah penduduk
2. Pembangunan kawasan tempat tinggal perkotaan yang tidak diiukuti
dengan kajian perubahan penggunaan lahan dari lahan terbuka menjadi
lahan terbangun menimbulkan masalah yaitu masalah berkurangnya
daerah tangkapan air di perkotaan
3. Dampak negatif dari pembangunan perkotaan antara lain berupa semakin
berkurangnya daerah terbuka yang berfungsi sebagai daerah peresapan
air, timbulnya pemukiman-pemukiman ilegal di sepanjang sungai dan
permukaan lahan yang menurun (land subsidence) karena pengambilan air
tanah (discharge) yang melebihi besarnya imbuhan air tanah (recharge)
Ilustrasi dampak pengurangan daerah tangkapan air
(a) sebelum pemukiman bertambah
(b) setelah pemukiman bertambah
Akibat Yang Ditimbulkan :
1. Peningkatan debit limpasan dan penurunan daya infiltrasi
2. Terjadinya genangan atau banjir pada beberapa lokasi
PERENCANAAN DESAIN SAL
DRAINASE
Metode rasional adalah metode untuk memperkirakan debit puncak
limpasan (maksimum). Metode ini digunakan terbatas pada DAS yang relatif
kecil yaitu maksimum 300 ha. Dalam perhitungannnya metode rasional telah
memasukkan karakteristik hidrologi dan proses aliran yaitu:
(1) intensitas hujan,
(2) durasi hujan,
(3) luas DAS,
(4) kehilangan air akibat evaporasi, intersepsi, infiltrasi dan
(5) konsentrasi aliran.
Debit maksimum menurut metoda Rasional dihitung dengan
rumus :
Qp = 0.00277.C.I.A
Dengan :
Qp = debit puncak limpasan (m3/det)
C = koefisien limpasan (0 ≤ C ≤ 1)
I = intensitas hujan (mm/jam)
A = luas DAS (ha)
Koefisien limpasan (C) tergantung pada karakter permukaan dan
jenis penggunaan lahan
yang dapat dilihat pada tabel berikut
Koefisien Limpasan C,
untuk perhitungan
Metode Rasional
Perhitungan koefisien limpasan setiap subcatchment area (DTA)
yang memiliki lebih dari satu jenis tata guna lahan
menggunakan rumus koefisien limpasan rata-rata.
Dalam memperkirakan debit aliran puncak berdasarkan hujan
titik (satu stasiun pencatat hujan) maka digunakan perhitungan
dengan metode Mononobe. Mononobe adalah metode untuk
menentukan nilai intensitas hujan dengan durasi singkat
(5,10,15,...120 menit), sehingga dibutuhkan ata hujan dari stasiun
pencatat otomatis. Intensitas hujan dapat dihitung dengan
rumus
Dengan :
I = intensitas hujan (mm/jam)
tc = waktu konsentrasi (jam),
R24 = curah hujan maksimum harian
(mm)

PENDAHULUAN DRAINASE SEMESTR ANTARA.pptx

  • 1.
  • 2.
  • 3.
    CAPAIAN PEMBELAJARAN Mahasiswa mampumemahami permasalahan banjir yang terjadi di perkotaan dan membuat perencanaan sistem drainase perkotaan sebagai solusi pemecahan masalah SISTEM PENILAIAN • 70 % Proses (kehadiran + tugas + UTS) + 30 % UAS • Jumlah tatap muka (offline atau online) sebanyak 14x
  • 4.
    MATERI : 1. PENDAHULUAN 2.SISTEM DRAINASE BERKELANJUTAN 3. PENANGGULANGAN BANJIR 4. PENAMPANG EKONOMIS SALURAN DRAINASE 5. HIDROLOGI SALURAN DRAINASE 6. BANGUNAN PELENGKAP SALURAN DRAINASE 7. DRAINASE BERKELANJUTAN 8. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN
  • 5.
    DEFINISI DRAINASE Drainase merupakanserangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.
  • 6.
    DASAR HUKUM Pengertian tentangdrainase kota pada dasarnya telah diatur dalam SK menteri PU 239 tahun 1987. Menurut SK tersebut, yang dimaksud drainase kota adalah: “Jaringan pembuangan air yang berfungsi mengeringkan bagian-bagian wilayah administrasi kota dan daerah urban dari genangan air, baik dari hujan lokal maupun luapan sungai yang melintas di dalam kota”.
  • 7.
    JENIS-JENIS DRAINASE Menurut sejarahterbentuknya a.Drainase alamiah (natural drainage), yaitu sistem drainase yang terbentuk secara alami dan tidak ada unsur campur tangan manusia. b.Drainase buatan, yaitu sistem drainase yang dibentuk berdasarkan analisis ilmu drainase, untuk menentukan debit akibat hujan, dan dimensi saluran.
  • 8.
    Menurut letak saluran a.Drainase permukaan tanah (surface drainage), yaitu saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan. b. Drainase bawah tanah (sub surface drainage), yaitu saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan alasan- alasan tertentu.
  • 9.
    Menurut konstruksi a. Saluranterbuka, yaitu sistem saluran yang biasanya direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air hujan (sistem terpisah), namun kebanyakan sistem saluran ini berfungsi sebagai saluran campuran. b. Saluran tertutup, yaitu saluran untuk air kotor yang mengganggu kesehatan lingkungan. Sistem ini cukup bagus digunakan di daerah perkotaan terutama dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi seperti kota Metropolitan dan kota-kota besar lainnya.
  • 10.
    Menurut fungsi a. SinglePurpose, yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air buangan saja. b. Multy Purpose, yaitu saluran yang berfungsi Mengalirkan beberapa jenis buangan, baik secara bercampur maupun bergantian.
  • 11.
    SISTEM JARINGAN DRAINASE SistemDrainase Mayor Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area). Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografiyang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini.
  • 12.
    Sistem Drainase Mikro Sistemdrainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2,5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna lahan yang ada.
  • 13.
    FUNGSI DRAINASE PERKOTAAN 1.Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif. 2. Mengalirkan air permukaan ke badan air penerima terdekat secepatnya. 3. Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan akuatik. 4. Meresapkan air pemukaan untuk menjaga kelestarian air tanah (konservasi air). 5. Melindungi prasarana dan sarana yang sudah terbangun.
  • 14.
    MENGAPA DRAINASE PENTING?? 1.Tingkat kebutuhan perumahan di perkotaan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk 2. Pembangunan kawasan tempat tinggal perkotaan yang tidak diiukuti dengan kajian perubahan penggunaan lahan dari lahan terbuka menjadi lahan terbangun menimbulkan masalah yaitu masalah berkurangnya daerah tangkapan air di perkotaan 3. Dampak negatif dari pembangunan perkotaan antara lain berupa semakin berkurangnya daerah terbuka yang berfungsi sebagai daerah peresapan air, timbulnya pemukiman-pemukiman ilegal di sepanjang sungai dan permukaan lahan yang menurun (land subsidence) karena pengambilan air tanah (discharge) yang melebihi besarnya imbuhan air tanah (recharge)
  • 15.
    Ilustrasi dampak pengurangandaerah tangkapan air (a) sebelum pemukiman bertambah (b) setelah pemukiman bertambah
  • 16.
    Akibat Yang Ditimbulkan: 1. Peningkatan debit limpasan dan penurunan daya infiltrasi 2. Terjadinya genangan atau banjir pada beberapa lokasi
  • 17.
    PERENCANAAN DESAIN SAL DRAINASE Metoderasional adalah metode untuk memperkirakan debit puncak limpasan (maksimum). Metode ini digunakan terbatas pada DAS yang relatif kecil yaitu maksimum 300 ha. Dalam perhitungannnya metode rasional telah memasukkan karakteristik hidrologi dan proses aliran yaitu: (1) intensitas hujan, (2) durasi hujan, (3) luas DAS, (4) kehilangan air akibat evaporasi, intersepsi, infiltrasi dan (5) konsentrasi aliran.
  • 18.
    Debit maksimum menurutmetoda Rasional dihitung dengan rumus : Qp = 0.00277.C.I.A Dengan : Qp = debit puncak limpasan (m3/det) C = koefisien limpasan (0 ≤ C ≤ 1) I = intensitas hujan (mm/jam) A = luas DAS (ha) Koefisien limpasan (C) tergantung pada karakter permukaan dan jenis penggunaan lahan yang dapat dilihat pada tabel berikut
  • 19.
    Koefisien Limpasan C, untukperhitungan Metode Rasional
  • 20.
    Perhitungan koefisien limpasansetiap subcatchment area (DTA) yang memiliki lebih dari satu jenis tata guna lahan menggunakan rumus koefisien limpasan rata-rata. Dalam memperkirakan debit aliran puncak berdasarkan hujan titik (satu stasiun pencatat hujan) maka digunakan perhitungan dengan metode Mononobe. Mononobe adalah metode untuk menentukan nilai intensitas hujan dengan durasi singkat (5,10,15,...120 menit), sehingga dibutuhkan ata hujan dari stasiun pencatat otomatis. Intensitas hujan dapat dihitung dengan rumus
  • 21.
    Dengan : I =intensitas hujan (mm/jam) tc = waktu konsentrasi (jam), R24 = curah hujan maksimum harian (mm)