DESY MARLIANA, S.Pd,S.t Toto, S.Pd., M.M.Pd Ilma Uswatun H, S.Pd Rindi Ismiraj, S.Pd Amalia Laila N, S.Pd
SUWATI, S.Pd
CONTENT KNOWLEDGE
Pengembangan Kompetensi
PEDAGOGICAL
PEDAGOGICAL
KELAS 5 2025
KELAS 5 2025
2.
T I ME L I N E
GURU MELAKUKAN PENGEMBANGAN
KOMPETENSI BERDASARKAN INDIKATOR
PENGETAHUAN KONTEN PEMBELAJARAN DAN
CARA MENGAJARKANNYA
Maret
Februari April Juli
BANGUN
DATAR
Bagaimana cara
mengajarkan konsep
bangun datar dan
jenis bangun datar.
Konsep keliling
Konsep luas
Menghitung keliling
Menghitung luas
LUAS DAN KELILING
Bagaimana
Pengetahuan dan
Pemahaman, Sikap
belajar IPS, nilai-
nilai sosial dan
sikap,
keterampilan
dasar IPS pada
materi sejarah
PERJUANGAN BANGSA
INDONESIA MELAWAN
PENJAJAH
Agustus Agustus
IDE POKOK NORMA CAHAYA
Cara mengajarkan,
menentukan ide pokok,
kalimat utama dan
pendukung.
MENENTUKAN IDE
POKOK, KALIMAT UTAMA
DAN PENJELAS
Bagaimana cara
mengajarkan
macam norma
dalam kehidupan
sehari-hari serta
penerapan nilai
dan norma.
MENJELASKAN
DESKRIPSI
Bagaimana
mengajarkan
pemahaman
konsep cahaya dan
sifat cahaya pada
peserta didik
dengan
memperhatikan
keterampilan
proses sains.
KONSEP CAHAYA &
SIFAT CAHAYA
KONSEP BUNYI &SIFAT
BUNYI
PERJUANGAN BANGSA
INDONESIA MELAWAN
PENJAJAH
BUNYI
Bagaimana
mengajarkan
pemahaman
konsep bunyi dan
sifat bunyi pada
peserta didik
dengan
memperhatikan
keterampilan
proses sains.
September Oktober
EKOSISTEM
Bagaimana
mengajarkan
konsep biotik,
abiotik dan rantai
makanan dalam
ekosistem dengan
memperhatikan
keterampilan
proses sains.
EKOSISTEM STATISTIKA
STATISTIKA
Bagaimana cara
mengajarkan
konsep statistika,
cara
mengumpulkan
dan menyajikan
data.
November
HAK DAN KEWAJIBAN
HAK
&KEWAJIBAN
Bagaimana cara
mengajarkan
konsep hak dan
kewajiban dalam
kehidupan sehari-
hari serta
penerapan nilai
dan norma.
Mei
SUDUT
Bagaimana cara
mengajarkan
konsep sudut
kepada peserta
didik
MENENTUKAN SUDUT,
MENGGAMBAR SUDUT &
MENGUKUR SUDUT
KELAS 5
3.
Keliling Bangun Datar
PEDAGOGICALCONTENT
KNOWLEDGE
Ada beberapa karakteristik matematika materi keliling, anatara lain:
Objek yang dipelajari abstrak
Kebenaran berdasarkan logika
Pembelajaran secra bertingkat dan kontinu
Ada keterkaitan antara materi yang satu dengan materi lainnya
Menggunakan bahasa simbol
Diaplikasikan dibidang ilmu lain.
KARAKTERISTIK
MATEMATIKA
GEOMETRI
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Wati | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Tanggal: 25 Maret 2023
Geometri adalah cabang ilmu matematika yang mempelajari tentang
bangun ruang dan bangun datar. Banyak pemanfaatan ilmu yang dapat
dipakai dalam kehidupan sehari – hari tentang masalah kontekstual materi
keliling dan luas bangun datar. Diantaranya kita dapat menentukan :
a. menghitung jarak yang ditempuh dalam mengelilingi lapangan.
b. banyaknya keramik dalam pengubinan,
c. menentukan banyaknya panjang kawat saat kita ingin membuat pagar
kawat,
d. menghitung banyaknya biaya yang akan kita siapkan apabila kita ingin
menanam pohon di sekeliling tanah kita.
Keliling
Keliling adalah jarak sekeliling bangun
datar.
Keliling didapatkan dengan cara
menjumlahkan sisi terluar dari sebuah
bangun datar.
Membuat pemodelan
A B
C
D
Dalam memfasilitasi anak kinestetik :
1.Guru meminta siswa untuk mengelilingi ruang
kelas/ lapangan atau fasilitas lain yang ada di
sekolah untuk mengenalkan konsep keliling secara
nyata.
2.Guru menyiapkan tanda di setiap sudut
lapangan/kelas.
3.Siswa diberi instruksi untuk berdiri dari titik yang
telah ditentukan dan berjalan sesuai dengan
instruksi yang diberikan.
Siswa ke-1
Siswa berjalan disisi terluar
dari titik A kembali ke titik A.
Ini merupakan konsep keliling.
Siswa ke-2
Siswa berjalan lurus sesuai
dengan instruksi.
Ini bukan konsep keliling
karena titik E dan F bukan sisi
terluar.
4.
Membuat pemodelan
Siswa ke-3
Siswaberjalan lurus di sisi
terluar sesuai dengan instruksi
dari titik A kembali ke titik A.
Siswa mengamati instruksi siswa ke-1 dan ke-3. Lintasan
yang dilewati itu sama saja hanya berbeda arah. Konsep
ini termasuk konsep keliling juga. Jadi hendak dimulai
dari titik manapun sama saja.
Menentukan Keliling
Persegi Panjang
Panjang (p) adalah panjang garis
terluar pada bangun persegi panjang
yang lebih panjang dari sisi lainnya.
Lebar (l) adalah panjang garis terluar
pada bangun persegi panjang yang
lebih pendek dari sisi lainnya.
1.Gambarlah sebuah persegi panjang
pada kertas petak !
2.Berapa garis yang dapat menutupi
daerah persegi panjang tersebut? 10
garis
3.Guru dapat membantu siswa dalam
memahami bahwa tepi kiri dan kanan
sama panjang, kemudian tepi atas
dan bawah sama panjang.
Membuat pemodelan
Dalam memfasilitasi anak visual dan auditori:
Keliling persegi panjang diperoleh
dengan cara menjumlahkan dua
kali panjang dan dua kali lebar.
Dapat digambarkan sebagai
berikut:
4.
Menentukan Keliling
Persegi
Sisi adalah garis yang membatasi
bangun datar
1.Gambarlah sebuah persegi pada kertas petak !
2.Berapa garis yang dapat menutupi daerah persegi tersebut? 48 garis
3.Guru dapat membantu siswa dalam memahami bahwa tepi kiri,
kanan, atas dan bawah sama panjang.
4.Keliling persegi dapat diperoleh dengan cara menjumlahkan empat
kali sisinya.
5.
Menentukan Keliling
Segitiga
1.Gambarlah sebuahsegitiga pada kertas petak !
2.Berapa garis yang dapat menutupi daerah segitiga
tersebut? 38 garis
3.Guru dapat membantu siswa dalam memahami
segitiga memiliki tiga sisi.
4.Keliling segitiga dapat diperoleh dengan cara
menjumlahkan tiga sisinya.
6.
HARAPAN
Toto, S.Pd., M.M.Pd
Dalammengajarkan geometri keliling bangun datar dapat dilakukan dengan
memberikan tugas kepada siswa untuk membuat bangun datar dengan keliling tertentu.
REFLEKSI
Harapan bagi guru anak belajar keliling bangun datar
adalah agar anak dapat memahami, menerima, dan
mengasai materi tersebut dengan baik.
Harapan bagi guru dalaam pembelajaran luas
bangun datar adalah agar anak dapat memahami
konsep luas bangun datar dan menerapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Keliling Bangun Datar
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
REFLEKSI & HARAPAN
GURU KELAS 5
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Wati | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Tanggal: 25 Maret 2023
HARAPAN
DESY MARLIANA, S.Pd, S.t
Dalam mengajarkan materi keliling pada pelajaran matematika, pada intinya saya sudah bisa
memberikan penjelasan pada siswa tentang bagaimana mencari keliling bidang datar, tapi ada
beberapa hal yang menjadi bahan refleksi saya yaitu :
1.Pengenalan konsep : saya perlu mengevaluasi seberapa baik siswa memahami konsep
keliling persegi dan segitiga. Misalnya, apakah mereka dapat dengan mudah mengingat
rumus persegi dan segitiga, serta bagaimana cara siswa menghubungkan konsep ini dengan
kehidupan sehari-hari
2.Metoda Pengajaran : saya perlu memberikan instruksi yang cukup jelas dan mudah dipahami
oleh siswa, atau apakah ada bagian yang membingungkan yang perlu diperbaiki.
REFLEKSI
Siswa dapat mengbungkan antara
penerapan rumus keliling dalam kehidupan
sehari-hari, dan paham dengan konsep
dasar tentang mencari keliling bangun
datar
Rindi Ismiraj, S.Pd
Dalam mengajarkan materi geometri ini terutama tentang menemukan keliling suatu bangun datar
saya mengajak anak-anak untuk tau dulu apa itu keliling dengan mengajak mereka ke lapang sepak
bola dan mengajak mereka berkeliling dan kemudian anak-anak tersebut dapat mengetahui itu yang
disebut keliling selanjutnya saya memberikan tugas kepada siswa untuk menggambar lapang
tersebut dan membuat soal secara sederhana dengan menambahkan beberapa angka disekeliling
lapang tersebut yang kemudian mereka dapat hitung.
REFLEKSI
7.
Harapan saya sebagaiguru pada pembelajaran mencari
keliling bangun datar agar siswa dapat memahami konsep
keliling dengan baik, serta mampu mengaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Diharapkan pula siswa bisa
menghitung keliling berbagai bangun datar seperti persegi
panjang, persegi, dan segitiga dengan cara yang benar. Selain
itu, melalui pembelajaran ini siswa dapat mengembangkan
logika dan kemampuan berpikir sistematis
HARAPAN
Rindi Ismiraj, S.Pd
Harapan kedepannya saya dapat memberikan
kesempatan untuk siswa dalam mencari dan
menentukan rumus keliling bangun datar sendiri.
Siswa dapat bernalar dan mengkomunikasikan secara
sistematis
Siswa dapat memecahkan masalah terkait keliling
bangun datar.
HARAPAN
Ilma Uswatun H, S.Pd
Sebagai guru saya sudah memahami konsep bangun datar, termasuk konsep keliling yang
merupakan jumlah panjang seluruh sisi bangun datar sedangkan luas adalah ukuran permukaan
bangun datar. Saya memahami sifat berbagai macam bangun datar (persegi, persegi panjang,
segitiga, jajar genjang, belah ketupat, layang-layang dan trapesium).
Dalam mengajar konsep keliling bangun datar kepada siswa langkah pertama yang saya
lakukan adalah meminta siswa untuk berlari di lapangan sekolah dan mengukur jaraknya. Hasil
yang diperoleh merupakan keliling dan menjelaskan kepada siswa bahwa keliling merupakan
jumlah panjang seluruh sisi bangun datar. Namun dalam menemukan rumus keliling bangun datar
lainnya saya langsung memberikan rumus tanpa memberi kesempatan siswa untuk mencari rumus
sendiri karena keterbatasan waktu.
REFLEKSI
Amalia Laila N, S.Pd
Materi pembelajaran mengenai keliling sudah cukup Saya pahami, namun dalam mengajar
tidak sampai sedetail yang seharusnya. Untuk konsep keliling Saya sudah melaksanakan sesuai
dengan pemodelan yang dijabarkan, namun masuk dalam submateri rumus keliling persegi
panjang/persegi/segitiga, Saya tidak cukup memberikan waktu dan kesempatan pada siswa untuk
mengeksplorasi sendiri untuk menemukan rumus cara mencari keliling.
Dalam kegiatan mengeksplorasi sendiri rumus keliling, Saya kurang maksimal juga untuk
membimbing siswa karena kurangnya kemampuan bertanya yang merangsang cara berpikir kritis
pada siswa.
REFLEKSI
Saya dapat memberi siswa kesempatan yang lebih
banyak lagi dalam menemukan sendiri rumus
mencari keliling bangun datar.
Serta melatih kemampuan bertanya Saya untuk
membimbing siswa dalam mengeksplorasi materi dan
mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada
siswa.
HARAPAN
8.
Suwati, S.Pd
Sebagai guru,saya sudah memahami konsep bangun datar. Dalam menyampaikan konsep
ini saya menggunakan kertas lipat sebagai alat peraga. Dalam pembelajaran menentukan keliling
dan luas saya merasa kurang maksimal membimbing siswa dalam menyelesaikan dan menghasilkan
angka yang benar. Hal ini yang menjadikannya kurang waktu untuk mengajarkan kembali konsep
operasi hitung ( x, :, +, - ) yang sebagian besar peserta didik belum siap atau kurang menguasai.
REFLEKSI
Saya memiliki yang kurang banyak untuk
membimbing peserta didik agar lebih menguasai
operasi hitung terutama perkalian dan pembagian
peserta didik dalam bernalar dan menerapkan operasi
hitung dalam kehidupan sehari-hari.
HARAPAN
9.
Sejarah perjuangan bangsa
PEDAGOGICALCONTENT
KNOWLEDGE
Ada beberapa karakteristik sejarah perjuangan bangsa, antara lain:
Sejarah Bersifat Empiris. Sifat empiris ini berasal dari kata Yunani
"empeiria" berarti pengalaman.
Sejarah Memiliki Objek. Objek utama dalam sejarah adalah manusia
dan waktu.
Sejarah Memiliki Teori.
Sejarah Memiliki Metode.
Terdapat Generalisasi (Kesimpulan Umum)
KARAKTERISTIK
SEJARAH
SEJARAH
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Wati | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Tanggal: 25 Maret 2023
Kajian tentang peristiwa dan kejadian yang terjadi di masa lampau, yang
dipelajari dan dianalisis untuk memahami perkembangan manusia dan
masyarakat, serta memberikan pelajaran untuk masa depan.
Masa Pendudukan
Jepang di Indonesia
Masa pendudukan Jepang di Indonesia
berlangsung dari 8 Maret 1942 hingga 17
Agustus 1945. Pendudukan ini terjadi
setelah Belanda menyerah tanpa syarat
kepada Jepang.
Awal pendudukan Jepang
Jepang mulai menaklukkan hampir
seluruh wilayah Asia Tenggara pada
bulan Desember 1941.
Pada bulan yang sama, faksi dari
Sumatra menerima bantuan dari
Jepang untuk melakukan revolusi
terhadap pemerintah Belanda.
Pasukan Belanda terakhir yang
dikalahkan oleh Jepang adalah pada
Maret 1942.
Penandatanganan Kapitulasi Kalijati
menjadi tanda bahwa Indonesia
berada di bawah kekuasaan Jepang.
Storytelling
1.Menceritakan Kisah-Kisah Nyata: Gunakan kisah-
kisah nyata dari tokoh-tokoh perjuangan,
penderitaan rakyat, dan peristiwa penting selama
penjajahan untuk membuat sejarah lebih hidup dan
mudah diingat.
2.Menggunakan Bahasa yang Sederhana:Hindari
bahasa yang terlalu teknis dan gunakan bahasa
yang mudah dipahami oleh siswa.
3.Menciptakan Pembelajaran yang Interaktif: Libatkan
siswa dalam diskusi dan tanya jawab tentang
peristiwa sejarah, serta ajukan pertanyaan yang
menantang.
Studi Kasus dan Analisis:
1.Menganalisis Dampak Penjajahan: mengajarkan
kepada siswa untuk menganalisis dampak
penjajahan, baik dari segi politik, ekonomi, sosial,
dan budaya.
2.Menyajikan Studi Kasus: guru menyajikan studi
kasus tentang peristiwa-peristiwa penting selama
penjajahan, seperti perlawanan rakyat, kebijakan
pemerintah kolonial, dan pergeseran budaya.
3.Membandingkan Perspektif: mengajarkan siswa
untuk memahami berbagai perspektif tentang
penjajahan, baik dari sudut pandang penjajah
maupun yang dijajah.
10.
Nilai Sosial danSikap
Nilai-nilai sosial yang dapat timbul setelah belajar sejarah perjuangan
Indonesia adalah
1.nasionalisme
2.cinta tanah air,
3.persatuan,
4.rela berkorban.
Media Visual dan Multimodal
1.Menonton Film Dokumenter: guru menggunakan
film dokumenter tentang sejarah penjajahan
untuk membuat pembelajaran lebih menarik
dan interaktif.
2.Mengunjungi Museum dan Tempat Bersejarah:
melibatkan siswa dalam kunjungan ke museum
atau tempat bersejarah yang terkait dengan
sejarah penjajahan.
3.Menggunakan Gambar dan Peta: guru
menggunakan gambar dan peta untuk
membantu siswa memahami lokasi dan
kronologi peristiwa sejarah.
Pembelajaran Berbasis Projek dan
Role Playing
1.Menugaskan Proyek: Guru menugaskan siswa
untuk membuat proyek tentang sejarah
penjajahan, seperti naskah dialog, properti
untuk role playing secara berkelompok untuk
ditampilkan.
11.
HARAPAN
Toto, S.Pd., M.M.Pd
Sebagaiguru yang mengajar sejarah perjuangan melawan penjajah merefleksi kepada
siswa dengan memberikan tugas mengidentifikasi nama pahlawan, dari daerah asal
pahlawan dan bentuk perlawanan menghadapi penjajah.
REFLEKSI
Sebagai guru mempunyai harapan yaitu memahami
pengertian dari manfaat belajar sejarah menjadikan kita
untuk menambah wawasan baru mengenai latar sejarah
dunia dan perkembangannya yang jarang kita ketahui
sebagai orang awam. Dan menjadikan kita untuk turut
andil karena kita juga merupakan bagian dari sejarah
yang sedang berlangsung.
Sejarah perjuangan bangsa
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
REFLEKSI & HARAPAN
GURU KELAS 5
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Wati | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Tanggal: 25 Maret 2023
HARAPAN
DESY MARLIANA, S.Pd, S.t
1.Dalam mengajarkan materi tentang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, saya
sebagai guru merasa banyak kekurangan dalam persiapan materi, terutama dalah hal alur
cerita atau peristiwa.
2.Penyampaian metode yang masih belum optimal, sehingga membuat siswa terlihat bosan
REFLEKSI
Siswa dapat paham dengan lebih rinci dan
mendalam tentang alur perjuangan para pahlawan
dalam merebut kemerdekaan.
Siswa paham tentang nilai sosial dan sikap yang
harus diteladani terkait dengan perjuangan
pahlawan dalam merebut kemerdekaan.
12.
Sebagai guru sayaakan mencoba menggunakan strategi dan
model pembelajaran yang lain ditunjang dengan sarana
(infocus) agar siswa lebih memahami materi sejarah perjuangan
para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dan
memperjuangkan hak-hak bangsa. Selain itu juga siswa
diharapkan tidak hanya mengetahui peristiwa - peristiwa
sejarah tetapi juga menghargai nilai-nilai perjuangan,
persatuan dan nasionalisme yang terkandung dalam sejarah
bangsa.
HARAPAN
Ilma Uswatun H, S.Pd
Sebagai guru yang mengajar sejarah perjuangan Indonesia kadang saya belum bisa menjawab
pertanyaan siswa yang terlalu luas cakupan materinya. Terutama menghubungkan peristiwa di
tempat yang berbeda dakan satu waktu yang sama. Penyampaian materi sejarah yang kurang
menarik, hanya melalui story telling sehingga siswa merasa bosan dan mengantuk. Kurangnya
sarana seperti infocus sehingga terbatas dalam menyampaikan materi.
REFLEKSI
Rindi Ismiraj, S.Pd
Sebagai guru saya ketika mengajarkan materi tentang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia
telah membantu saya dalam merancang pembelajaran yang lebih efektif dan menarik bagi siswa.
Tetapi terkadang saya merasa kurang paham dan merasa bingung dan kadang lupa karena saking
banyak materi yang harus disampaikan dan terkadang banyak pertanyaan pertanyaan dari siswa
yang terlalu luas sehingga perlu pemahaman lebih tentang materi yang akan diajarkan.
REFLEKSI
Sebagai guru saya berharap pembelajaran materi sejarah
perjuangan bangsa agar siswa dapat memahami dengan lebih
mendalam perjuangan para pahlawan dalam merebut
kemerdekaan dan memperjuangkan hak-hak bangsa. Selain
itu juga siswa diharapkan tidak hanya mengetahui peristiwa -
peristiwa sejarah tetapi juga menghargai nilai-nilai
perjuangan, persatuan dan nasionalisme yang terkandung
dalam sejarah bangsa.
HARAPAN
13.
Amalia Laila N,S.Pd
Sebagai guru dalam mengajar sejarah perjuangan bangsa agak merasa dilema, antara ingin
menerapkan berbagai metode untuk mengajar, menyediakan berbagai media pembelajaran, serta
kemampuan diri untuk melaksanakannya disamping berbagai tugas guru seperti menilai hasil
belajar siswa yang cukup menyita waktu setiap harinya. Namun untuk sesekali masih bisa
menerapkan metode serta media yang menarik bagi siswa seperti bermain game dan bermain peran.
Sebagian besar mengajar perjuangan bangsa dilakukan dengan metode ceramah dan tanya jawab
dengan siswa, dibantu beberapa media sederhana seperti video yang berkaitan dengan materi.
Beberapa anak antusias mendengarkan penjelasan guru namun jika sudah terlalu lama akan bosan.
Hal ini terlihat dari respon siswa yang menguap saat pembelajaran. Sebagai guru Saya
mensiasatinya dengan melakukan break atau memberi pertanyaan dadakan.
Terkadangpun karena luasnya materi yang diajarkan, Saya juga lupa mengenai tanggal-tanggal
dan peristiwa yang terjadi dalam sejarah perjuangan bangsa. Ada juga pertanyaan-pertanyaan
siswa yang diluar ekspektasi dan cukup membuat kebingungan dalam menjawabnya.
REFLEKSI
Saya berharap dapat meningkatkan kompetensi profesional
saya sebagai guru dengan lebih banyak membaca dan
melatih otak agar tidak cepat lupa.
Lebih disiplin membuat rangkuman materi dengan bahasa
sendiri sebelum mulai pembelajaran IPAS karena banyak
materi yang perlu dihafal.
Lebih dapat memperkirakan dan mengatur waktu secara
efisien dalam memberika tugas kepada siswa dan
kemampuan untuk memeriksa tugas tersebut, sehingga hal-
hal lain seperti menyiapkan metode pembelajaran yang
menarik dapat dilakukan.
HARAPAN
Suwati, S.Pd
Dalam mengajar sejarah perjuangan bangsa, sebagai besar menyampaikan pengajaran
dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dengan siswa, kadang dibantu dengan
beberapa gambar atau tayangan video yang berkaitan dengan materi sebagai besar anak-anak
antusias mendengarkan penjelasan guru namun kadang ada anak yang tidak mendengarkan cerita
yang disampaikan. Sebagai guru untuk menganalisis kondisi peserta didik seperti itu saja melakukan
break atau memberikan pertanyaan - pertanyaan terkait materi, karena banyaknya materi yang
diajarkan, saya sering memberi ringkasan atau clu seputar materi seperti nama pahlawan, tempat
asal, tokoh dan lain-lain dengan harapan anak lebih mudah mengingat.
REFLEKSI
saya berharap dapat meningkatkan kompetensi profesional saya
sebagai guru kerja lebih banyak lagi membaca kisah sejarah
perjuangan Bangsa Indonesia dan kisah tokoh pahlawan lebih
banyak lagi membaca kisah sejarah perjuangan Indonesia dan
kisah tokoh-tokoh pahlawan.
Lebih disiplin membuat rangkuman materi dengan bahasa sendiri.
Lebih dapat mengatur waktu secara efisien dalam menyampaikan
materi dan memberi tugas kepada peserta didik.
HARAPAN
IDE POKOK, KALIMAT
UTAMADAN PENDUKUNG
Ide Pokok, Kalimat Utama dan Kalimat Pendukung
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
KARAKTERISTIK
BAHASA
INDONESIA
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Wati | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Tanggal: 25 April 2025
Ada beberapa karakteristik Bahasa Indonesia materi ide pokok,
kalimat utama dan kalimat pendukung, antara lain:
Berbasis Pemahaman Teks
Menekankan Pemikiran Kritis
Konsep yang Abstrak Tapi Dekat dengan Kehidupan
Bersifat kontinyu / bertahap
1.Siswa diarahkan untuk memahami isi teks, bukan hanya membaca.
2.Materi fokus pada kemampuan menyimak, membaca, menulis, dan
berbicara secara terpadu.
1.Siswa diajak untuk menganalisis isi teks, bukan hanya menghafal.
2.Siswa dilatih untuk membedakan bagian penting (utama) dan
bagian penjelas (pendukung).
1.Walau konsep seperti ide pokok bersifat abstrak, guru bisa
mengaitkannya dengan teks tentang binatang, alam, kegiatan
sehari-hari, dll.
1.Materi bersifat berjenjang: dari mengenal paragraf, lalu ke
kalimat utama, baru ke ide pokok dan pendukung.
Ide Pokok
Pengertian:
• Gagasan utama atau inti pembahasan
dalam sebuah paragraf.
• Menjadi dasar pengembangan paragraf.
Kalimat Utama
Pengertian:
• Kalimat yang mengandung ide pokok.
• Biasanya terletak di awal atau akhir
paragraf (kadang di awal dan diulang di
akhir).
Ciri-ciri:
• Bermakna umum
• Bisa berdiri sendiri
• Tidak bergantung pada kalimat lain
Kalimat Pendukung
Pengertian:
• Kalimat yang menjelaskan, memperjelas,
atau memberikan contoh dari kalimat
utama.
• Bersifat detail dan spesifik.
Membuat pemodelan
Dalam memfasilitasi anak mengenai materi ide
pokok, kalimat utama dan kalimat pendukung ,
sebaiknya dilakukan dengan kreatif, ada beberapa
contoh teknik yang dapat dilakukan yaitu sebagai
berikut sesuai dengan tujuan pembelajarannya :
Tujuan: Siswa dapat
membedakan ide
pokok, kalimat utama,
dan kalimat pendukung
melalui permainan
1. Guru menyiapkan kartu paragraf yang
telah dipotong-potong: 1 kartu kalimat
utama , 2–3 kartu kalimat pendukung
2.Siswa dibagi dalam kelompok kecil (3–4
orang).
3.Setiap kelompok mendapatkan satu set
kartu acak.
4.Tugas siswa: Menyusun kembali paragraf
yang utuh dan menentukan kalimat
utama, ide pokok, dan kalimat
pendukung.
Langkah-langkah:
Teknik “Paragraf
Potong Sambung”
(Matching Game)
16.
Membuat pemodelan
Contoh :
1.Kartu1: Ayam merupakan hewan yang banyak dipelihara oleh manusia.
2.Kartu 2: Daging dan telurnya dapat dimanfaatkan.
3.Kartu 3: Ayam mudah ditemukan di daerah pedesaan.
Kalimat utama: Kartu 1
Kalimat pendukung: Kartu 2 dan 3
Ide pokok: Ayam adalah hewan yang sering dipelihara
2. Teknik “Tebak
Ide Pokok” (Teka-
Teki Paragraf)
Tujuan: Melatih siswa
berpikir kritis dan
analisis isi paragraf.
1. Guru membacakan paragraf pendek
tanpa menyebutkan ide pokoknya.
2.Siswa mendengarkan dengan
saksama.
3.Guru bertanya: “Menurutmu, apa ide
pokok paragraf itu?”
4.Siswa menuliskan jawaban di kertas
atau papan tulis kecil.
Langkah-langkah:
3. Teknik “Tulis
Paragraf Berpasangan”
(Collaborative Writing)
Tujuan: Meningkatkan
keterampilan
menyusun paragraf
dengan kalimat utama
dan pendukung.
1. Siswa dibagi berpasangan.
2.Pasangan 1 menulis kalimat utama,
lalu pasangan 2 menambahkan
kalimat pendukung.
3.Bergantian hingga menjadi paragraf
utuh.
4.Setelah selesai, mereka
membacakan dan menjelaskan
bagian ide pokok, kalimat utama,
dan pendukungnya.
Langkah-langkah:
4. Teknik “Paragraf
Drama” (Bermain
Peran Paragraf)
Tujuan:
Memvisualisasikan
fungsi kalimat dalam
paragraf secara
kinestetik.
1. • Guru membagi siswa menjadi 4–5
kelompok.
2. • Tiap kelompok mendapatkan teks
paragraf.
3. • Tiap siswa memerankan satu kalimat:
4. • Satu siswa jadi kalimat utama (berdiri
di tengah, mengenakan topi warna
khusus).
5. • Sisanya jadi kalimat pendukung
(mengelilingi dan menambahkan
informasi).
6. • Setelah tampil, kelompok lain
menebak mana kalimat utama dan ide
pokoknya.
Langkah-langkah:
5. Teknik “Warna-
Warni Kalimat” (Color
Coding)
Tujuan:
Menguatkan
identifikasi visual
terhadap unsur
paragraf.
1.Guru memberi teks paragraf cetak.
2.Siswa diminta: Menandai kalimat
utama dengan stabilo biru.
3.Kalimat pendukung dengan stabilo
kuning.
4.Menuliskan ide pokok di bawah
paragraf.
Langkah-langkah:
17.
HARAPAN
Toto, S.Pd., M.M.Pd
Dalamproses pembelajaran mengenai ide pokok dan kalimat utama, saya menyadari bahwa
saya terlalu cepat beralih dari tahap pemahaman ke tahap latihan mandiri. Saya hanya
memberikan sedikit waktu untuk tahap "Pemodelan" yang konkret, seperti Teknik "Warna-
Warni Kalimat" (Color Coding). Hal ini mengakibatkan sebagian besar siswa kelas 5B masih
kesulitan dalam:
Membuat pemodelan atau mengidentifikasi kalimat utama yang bermakna umum dan
kalimat pendukung yang bersifat detail/spesifik.
Menentukan ide pokok sebagai inti pembahasan setelah berhasil menemukan kalimat
utamanya.
REFLEKSI
Menyediakan pemodelan yang lebih terstruktur dan
berulang (Explicit Instruction): Akan mengalokasikan 10-
15 menit khusus untuk sesi pemodelan, menunjukkan
secara langsung cara menandai kalimat utama (stabilo
biru) dan kalimat pendukung (stabilo kuning) sebelum
siswa berlatih mandiri.
Ide Pokok, Kalimat Utama dan Kalimat Pendukung
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
REFLEKSI & HARAPAN
GURU KELAS 5
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Wati | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Tanggal: 25 April 2024
HARAPAN
DESY MARLIANA, S.Pd, S.t
REFLEKSI
Pada pembelajaran ini, saya mengajak siswa untuk memahami konsep ide pokok, kalimat utama,
dan kalimat pendukung melalui berbagai teks pendek. Secara umum, siswa cukup antusias dan
aktif dalam berdiskusi. Mereka mampu menemukan ide pokok dengan bimbingan, walaupun
masih ada beberapa yang kesulitan membedakan antara kalimat utama dan kalimat pendukung.
Strategi yang saya gunakan adalah membaca teks bersama, menggarisbawahi kalimat penting,
lalu berdiskusi menentukan ide pokok. Metode ini cukup efektif untuk sebagian besar siswa.
Namun, saya menyadari kekurangan saya bahwa saya kurang memberikan cukup latihan
individu untuk mengukur pemahaman masing-masing siswa, dan beberapa siswa perlu
pendekatan tambahan dalam hal penggunaan media visual seperti mind map agar mereka lebih
mudah memahami hubungan antar kalimat.
Dengan menyiapkan lebih banyak contoh teks
pendek, memperbanyak latihan mandiri, penggunaan
media visual (mind map) dan memberikan umpan
balik lebih cepat, siswa akan lebih terampil
menemukan ide pokok, kalimat utama, dan kalimat
pendukung dengan tepat.
18.
Rindi Ismiraj, S.Pd
Padapembelajaran kali ini, saya telah mempelajari tentang ide pokok, kalimat utama, dan
kalimat pendukung dalam sebuah paragraf. Saya belajar cara menentukan ide pokok dengan
membaca paragraf secara cermat dan mencari kalimat yang paling mencerminkan isi keseluruhan
paragraf. Saya juga berlatih membedakan kalimat utama dan kalimat pendukung dalam beberapa
paragraf yang telah disediakan. Melalui kegiatan diskusi dan latihan soal, saya menjadi lebih
terbiasa dalam mengenali struktur paragraf yang baik. Saya menyadari bahwa memahami ide
pokok sangat penting agar saya dapat menangkap isi bacaan dengan lebih mudah dan tepat.
Namun, saya masih perlu lebih banyak berlatih untuk membedakan kalimat utama yang
terletak di awal, tengah, atau akhir paragraf, terutama jika kalimatnya tidak langsung menunjukan
gagasan utama secara jelas. Saya akan terus belajar agar lebih mahir dalam memahami dan
menyusun paragraf dengan struktur yang benar.
REFLEKSI
Saya berharap setelah mempelajari materi ini, siswa dapat lebih
memahami bagaimana cara menyusun dan memahami paragraf
dengan baik. Dengan mengenali ide pokok, kalimat utama, dan
kalimat pendukung, diharapkan siswa juga mampu untuk :
menyimpulkan isi bacaan secara tepat.
menyusun paragraf yang runtut dan logis.
meningkatkan kemampuan membaca dan menulis mereka
dengan lebih efektif.
Saya juga berharap siswa menjadi lebih teliti dan percaya diri dalam
mengidentifikasi struktur paragraf dalam berbagai jenis teks bacaan.
HARAPAN
Suwati, S.Pd
Pada materi pembelajaran ini, saya mengajak siswa untuk lebih memahami konsep ide pokok, kalimat
REFLEKSI
Mendorong kolaborasi dan konstruksi pengetahuan:
Menerapkan Teknik "Tulis Paragraf Berpasangan"
(Collaborative Writing) secara rutin. Pasangan siswa akan
bergantian menulis Kalimat Utama dan menambahkan
Kalimat Pendukung untuk menciptakan paragraf utuh.
HARAPAN
Saat melaksanakan pembelajaran, saya fokus utama pada keterampilan membaca dan
menyimak teks tetapi kurang menekankan aspek pemikiran kritis dan keterampilan menyusun
paragraf. Saya menyadari bahwa saya belum maksimal dalam:
Melatih siswa menganalisis isi teks dan membedakan bagian penting dari penjelas.
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menciptakan paragraf mereka sendiri dengan
kalimat utama dan kalimat pendukung. Latihan saya dominan pada identifikasi teks yang
sudah ada.
19.
Amalia Laila N,S.Pd
Dalam proses pembelajaran mengenai ide pokok, kalimat utama, dan kalimat pendukung,
saya menyadari masih terdapat beberapa kekurangan dalam kegiatan pembelajaran yang saya
lakukan sehingga berdampak pada efektivitas belajar siswa. Salah satunya adalah keterbatasan
waktu yang dimiliki untuk memahami kesulitan siswa baik mengidentifikasi secara sistematis letak
kesalahan siswa, apakah karena salah memahami istilah atau kurang latihan membedakan struktur
paragraf.
Selanjutnya saya menyadari bahwa belum sepenuhnya memberikan penjelasan yang
sederhana dan konkret terkait perbedaan antara ide pokok dan kalimat utama.
REFLEKSI
Menguatkan pemahaman konsep dasar dengan menyediakan
lebih banyak contoh konkrit dan latihan berpola agar siswa bisa
membedakan ide pokok, kalimat utama, dan pendukung dengan
jelas.
Meningkatkan variasi metode pembelajaran. Menggunakan
pendekatan visual (highlighting, bagan), kinestetik (peran
paragraf), dan kolaboratif (diskusi kelompok) agar siswa lebih
aktif dan tertarik.
Menyediakan media bantu yang menarik dengan mengembangkan
media pembelajaran seperti kartu paragraf, pohon ide pokok, dan
teks bergambar untuk mendukung pemahaman siswa.
Melatih refleksi siswa yaitu memberikan ruang bagi siswa untuk
menuliskan apa yang mereka pahami dan belum pahami setelah
pembelajaran, agar guru bisa merespons lebih baik.
HARAPAN
HARAPAN
Ilma Uswatun H, S.Pd
Dalam proses pembelajaran mengenai ide pokok, kalimat utama dan kalimat pendukung saya
mengajar dimulai dari huruf, suku kata, kata, kalimat dan paragraf. Jika siswa sudah paham
dilanjut dengan konsep kalimat utama dan kalimat penjelas, dalam pelaksanaannya siswa diminta
untuk membaca teks yang terdiri dari beberapa paragraf dan mengidentifikasi kalimat utama dan
kalimat penjelas. Setelah diidentifikasi kalimat utama dalam setiap paragraf siswa diminta
menentukan ide pokoknya dan disatukan menjadi kesimpulan.
Namun masih banyak siswa yang kesulitan dalam menentukan kalimat utama apalagi ide
pokok, setelah ditelusuri karena anak-anak hanya membaca tapi belum dapat memahami apa yang
dibacanya.
REFLEKSI
Kedepannya saya berharap dapat menjelaskan konsep
kalimat utama, kalimat penjelas dan ide pokok dengan
lebih sederhana sehingga anak-anak bisa lebih mudah
paham.
Lebih banyak menggunakan berbagai metode
pembelajaran seperti warna-warni kalimat, tulis
paragraf berpasangan, tebak ide pokok dan teknik
lainnya.
Tanggal: 16 Mei2025
Ada beberapa tahap dalam mengajarkan matematika dengan materi
sudut:
Hubungkan sudut dengan dunia nyata misalnya dalam kehidupan
sehari-hari seperti papan tulis, meja dan atap rumah dll (Benda-
benda yang memiliki pojok. Pojok pada benda disebut dengan sudut)
Memperkenalkan jenis-jenis seperti sudut lancip yang memiliki besar
sudut siku-siku memiliki besar , sudut tumpul memiliki besar
sudut lurus dan sudut refleks
Pengukuran sudut menggunakan busur derajat. Letakkan titik tengah
busur derajat pada bagian sudut bangun datar dan lihat angka pada
busur derajat yang mengarah pada sudut yang diukur.
Visualisasi sudut menggunakan media digital interaktif. Melalui media
ini siswa dapat memvisualisasikan sudut dalam berbagai konteks,
mengukur sudut dengan alat virtual dan melihat dampak perubahan
sudut terhadap bentuk dan ukuran objek. Selain itu, media interaktif
dapat memungkinkan siswa menguji hipotesis siswa, melakukan
eksperimen virtual dan menerima umpan balik langsung yang semuanya
membantu dalam memperkuat pemahaman siswa tentang sudut.
SUDUT
Kaki sudut merupakan sinar garis yang membentuk sudut.
Yang menunjukkan kaki sudut adalah sinar garis AB dan BC.
Paralel kelas 5: Pak Toto, Bu Desy, Bu Wati, Bu Rindi, Bu Ilma, Bu Amel
PEDAGOGICAL CONTENT
KONOWLEDGE
Sudut daerah yang dibentuk oleh dua garis yang
berpotongan atau dua sinar garis yang titik
pangkalnya saling berimpit.
Titik sudut adalah pangkal (titik temu) kedua sinar garis yang
membentuk sudut.
Daerah sudut adalah daerah yang dibatasi oleh dua kaki sudut.
22.
SUDUT
Tanggal: 16 Mei2025
Harapan
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE Paralel kelas 5: Pak Toto, Bu Desy, Bu Wati, Bu Rindi, Bu Ilma, Bu Amel
REFLEKSI & HARAPAN
GURU KELAS 5
DESY MARLIANA, S.Pd, S.t
REFLEKSI
Pada pembelajaran sudut, siswa siswa di kelas saya cukup aktif terlibat dan antusias dalam proses
pembelajarannya, mulai dari pengelompokan jenis sudut sampai dengan menggunakan busur derajat
untuk mengukur sudut berbagai bidang datar (segitiga dan segiempat).
Tapi dalam proses pembelajaran, tidak semua siswa memahami bagaimana penggunaan busur derajat
sebagai media utama dalam mengukur sudut, terutama pengukuran sudut refleks yaitu sudut antara 180
sampai 360 derajat. Bahkan untuk konsep penambahan dan pengurangan sudut yang melibatkan bidang
datar, hanya sebagian kecil saja yang memahaminya. Saya menyadari betul bahwa secara keseluruhan
mereka belum paham betul konsep dasar pengukuran sudut, sehingga perlu beberapa perbaikan dalam hal
metode dan media yang digunakan sehingga mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelaharan
pengukuran sudut.
Harapan saya dengan adanya perbaikan metode dan media yang
mendukung serta pemberian soal-soal tambahan yang berfokus
pada konsep yang belum dikuasai, dan juga berdiskusi dengan
rekan sejawat untuk berbagi pengalaman dan strategi, maka
diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam
memahami konsep pengukuran sudut.
Toto, S.Pd., M.M.Pd REFLEKSI
Secara keseluruhan, pembelajaran konsep sudut berjalan efektif dan interaktif berkat
penggunaan media yang bervariasi. Pencapaian utama adalah keberhasilan siswa dalam
mengidentifikasi dan mengklasifikasikan jenis-jenis sudut.
Harapan
Memperkuat keterampilan prosedural siswa,
khususnya dalam penggunaan alat ukur (busur
derajat), melalui latihan yang lebih terfokus dan
pendampingan personal. Saya juga akan
memastikan setiap konsep sudut
divisualisasikan dengan jelas agar tidak terjadi
miskonsepsi.
23.
SUDUT
Tanggal: 16 Mei2025
Harapan
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE Paralel kelas 5: Pak Toto, Bu Desy, Bu Wati, Bu Rindi, Bu Ilma, Bu Amel
REFLEKSI & HARAPAN
GURU KELAS 5
Suwati, S.Pd. Sd
REFLEKSI
Pada pembelajaran sudut saya mengajar mulai dengan menjelaskan pengertian sudut, garis sudut, dan titik sudut.
dilanjutkan dengan menjelaskan macam - macam sudut serta cirinya, melalui media peraga yang ada di dalam kelas,
sesekali menggunakan anggota tubuh(tangan & kaki) agar lebih mudah dipahami.
Setelah siswa memahami pengertian sudut, saya mendemonstrasikan cara mengukur besaran sudut
dengan menggunakan busur derajat, dijelaskan pula cara menggunakan angka - angka yang ada di busur
derajat. Dilanjutkan dengan berlatih membuat sudut dan mengukurnya. Setelah siswa paham, dilanjutkan
dengan aplikasi menghitung besaran sudut pada pangun datar (segitiga, persegi panjang dan lingkaran).
Pada saat mengerjakan soal aplikasi menghitung besar sudut sebuah bangun datar yang salah satu
sudutnya sudah diketahui/soal cerita, ada beberapa siswa yang kesulitan. Dalam hal ini saya sebagai
guru menyadari bahwa perlu mengadakan pendekatan yang lebih konkrit&kontekstual.
Harapan saya, dengan memperbaiki metode dan media
pembelajaran serta memberikan latihan soal yang berulang
akan lebih meningkatkan pemahaman siswa dalam
menyelesaikan soal mengenai sudut, yang berbasis pemecahan
masalah, hal ini penting karena berkaitan dengan kehidupan
sehari - hari.
contoh: membaca jam kaitan dengan besaran sudut..
Rindi Ismiraj, S.Pd
REFLEKSI
Pada pembelajaran tetang materi sudut dikelas saya siswa cukup antusias dalam mengikuti
pembelajaran, terutama saat mengamati sudut di lingkungan sekitar kelas. Tetapi untuk materi
sudut ini saya cukup mengalami beberapa kesulitan pada saat menjelaskan materi ini karena
masih ada beberapa siswa yang kesulitan membaca hasil pengukuran pada busur derajat,
terutama ketika sudutnya terletak di antara garis pembegi, yang kedua pada waktu untuk
latihan soal terasa kurang sehingga siswa tidak semua sempat mencoba soal pengukuran sudut,
dan perly variasi media pembelajaran agar siswa lebih mudah memahami perbedaan antarjenis
sudut.
Harapan
Saya berharap dapat terus meningkatkan
kemampuan dalam menyampaikan materi
secara lebih jelas, sabar dan penuh semangat,
agar pembeljaran tentang sudut menjadi lebih
efektif dan menyenangkan bagi siswa.
24.
SUDUT
Tanggal: 16 Mei2025
Harapan
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE Paralel kelas 5: Pak Toto, Bu Desy, Bu Wati, Bu Rindi, Bu Ilma, Bu Amel
REFLEKSI & HARAPAN
GURU KELAS 5
ILMA USWATUN h, S.Pd
REFLEKSI
Pada pembelajaran sudut,saya sudah mengajar mulai dari pengertian sudut, garis sudut lalu
menjelaskan jenis sudut. Setelah anak-anak paham, saya mendemonstrasikan bagaimana cara
mengukur sudut menggunakan busur derajat. Jika anak-anak sudah paham saya melakukan
demonstrasi cara membuat sudut. Dilanjut dengan aplikasi menghitung sudut pada bangun
datar (segitiga dan segiempat).
Saat pembelajaran ditemukan beberapa anak yang masih bingung jika menghitung besar salah
satu sudut pada segiempat jika hanya diketahui salah sudutnya secara eksplisit dan sisanya
secara implisit berdasarkan sifat bangun datarnya. Selain itu pada aplikasi langsung konsep
sudut seperti pada bianglala dan jam, anak-anak masih kesulitan untuk mengetahui bagaimana
cara menyelesaikan pertanyaan tersebut.
Sebagai guru dapat memberikan lebih banyak
latihan mengenai konsep sudut dalam aplikasi
sehari-hari dan dapat menjelaskan menggunakan
bahasa yang lebih mudah agar konsep sudut yang
abstrak bisa lebih mudah dipahami.
Amalia Laila N, S.Pd
REFLEKSI
Setelah melaksanakan pembelajaran tentang sudut dalam bangun datar, saya mengamati bahwa
sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep besar sudut, khususnya ketika harus
memecahkan masalah yang melibatkan penjumlahan atau pengurangan sudut pada bangun datar seperti
segitiga dan segiempat. Banyak siswa tampaknya belum menguasai dasar pengukuran sudut dan sifat-
sifat sudut dalam bangun datar, sehingga mereka mudah lupa langkah-langkah dalam menyelesaikan soal
cerita atau soal pemecahan masalah. Ini menunjukkan bahwa pemahaman konsep masih bersifat hafalan,
belum bermakna secara menyeluruh.
Saya menyadari bahwa perlu pendekatan yang lebih konkret dan kontekstual untuk membantu siswa
memahami konsep ini secara mendalam dan tahan lama di ingatan mereka untuk materi tersebut. Namun
untuk materi penerapan sudut dalam kehidupan nyata lainnya seperti besar sudut yang seharusnya
dalam pembangunan jembatan penyebrangan orang dan lain-lain siswa lebih memahaminya.
Harapan
Saya berharap, ke depannya siswa dapat memahami
konsep sudut dalam bangun datar secara lebih
mendalam, tidak hanya sekadar menghafal rumus
atau langkah-langkah penyelesaian soal, tetapi
benar-benar bisa mengaitkan konsep sudut dengan
kehidupan nyata khusussnya submateri sudut dalam
bangun datar
25.
DOKUMENTASI
Tanggal: 16 Mei2025
DOKUMENTASI
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE Paralel kelas 5: Pak Toto, Bu Desy, Bu Wati, Bu Rindi, Bu Ilma, Bu Amel
26.
NORMA
NORMA
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
KARAKTERISTIK
PENDIDIKAN
PANCASILA
Paralel kelas5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Wati | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Jumat 4 Juli 2025
Ada beberapa karakteristik Pendidikan Pancasila materi norma,
antara lain:
Fokus Utama: Jenis dan Penerapan
Keterkaitan dengan Pancasila (Integrasi Nilai)
Sifat Materi: Konkret dan Observasional
1.Materi berpusat pada pemahaman dan identifikasi Empat Jenis
Norma Utama (Agama, Kesusilaan, Kesopanan, dan Hukum).
2.Penekanan kuat pada penerapan nyata dan identifikasi
contoh/pelanggaran norma di tiga lingkungan utama peserta didik:
1.Kedekatan dengan Siswa: Materi ini sangat dekat dengan
pengalaman hidup sehari-hari peserta didik
2.Metode Pengajaran Ideal: Pembelajaran akan efektif jika
menggunakan metode konkret seperti studi kasus, simulasi (role-
playing), observasi perilaku, dan diskusi interaktif untuk
mengaitkan teori dengan praktik.
3.Aspek Afektif: Pembentukan sikap (afektif) dan perilaku
(psikomotorik) ketaatan terhadap norma lebih diutamakan
daripada sekadar hafalan kognitif.
1.Norma secara konsep adalah abstrak, untuk tujuan pengajaran di
kelas 5 SD, karakteristik utamanya harus didefinisikan sebagai
Konkret dan Observasional agar metode pembelajaran yang dipilih
(seperti studi kasus dan role-playing) menjadi efektif dan sesuai
dengan tingkat perkembangan kognitif siswa.
2.Harus menjembatani keabstrakan konsep tersebut menjadi perilaku
dan contoh nyata yang bisa:
Dilihat (Observasional): Siswa melihat temannya bersikap sopan.
Dirasakan (Afektif): Siswa merasakan penyesalan setelah
berbohong.
Diidentifikasi (Analitis): Siswa mengidentifikasi jenis sanksi dari
suatu pelanggaran yang mereka amati.
Sifat Materi Norma
Aspek Materi Sifat Konseptual (Abstrak) Sifat Pedagogis (Konkret) (Fokus Guru)
Norma Hukum Konsep "Peraturan
Negara"
Konkret: Aturan sekolah, rambu lalu lintas, dilarang
menyontek (ada wujud fisik/tertulis).
Norma
Kesopanan
Konsep "Tata Krama
Universal"
Konkret: Aturan sekolah, rambu lalu lintas, dilarang
menyontek (ada wujud fisik/tertulis).
Norma
Kesusilaan
Konsep "Hati Nurani" Konkret: Perilaku setelah melakukan kesalahan,
meminta maaf, mengembalikan barang teman (wujud
dari penyesalan yang terlihat).
Norma Agama Konsep "Tuhan/Kitab
Suci"
Konkret: Praktik ibadah (salat, berdoa), berkata jujur,
tidak berbohong.
27.
Mengembangkan Solusi
Siswa merumuskansolusi atau tata
tertib baru untuk mencegah
masalah tersebut.
Jelaskan Empat Jenis Norma
dan fokuskan pada perbedaan
sanksi, terutama sanksi batin
(Kesusilaan) untuk
menjembatani keabstrakan
Ajak siswa mengingat
aturan konkret di rumah
untuk memicu
kebutuhan akan norma.
Contoh :
Menganalisis dan menerapkan konsep pada kasus yang sudah
disiapkan/terjadi.
Siswa fokus pada mengidentifikasi dan mengevaluasi solusi yang sudah ada
atau yang seharusnya terjadi.
CBL (Case-Based Learning)
Gunakan Studi Kasus (terutama
tentang dilema etika/perilaku)
dan Simulasi/Role-Playing agar
siswa menerapkan dan
mempraktikkan norma secara
nyata.
Integrasi Nilai
Hubungkan praktik
norma yang
disimulasikan sebagai
perwujudan nilai-nilai
Pancasila.
Contoh :
Menganalisis dan menerapkan konsep pada kasus yang sudah
disiapkan/terjadi.
Model ini sangat kuat untuk mengembangkan Dimensi Penalaran Kritis dan
Kewargaan. Guru memberikan masalah atau studi kasus yang nyata dan
kompleks, yang harus diselesaikan siswa menggunakan pemahaman norma.
Problem Based Learning (PBL)
Guru menyajikan masalah
nyata (misalnya, kasus
perundungan/bullying atau
masalah sampah di
sekolah).
Siswa bekerja kelompok
untuk mengidentifikasi
jenis-jenis norma yang
dilanggar dalam masalah
tersebut (Hukum,
Kesusilaan, Kesopanan).
Membuat pemodelan
Langkah-langkah:
Kontektualisasi
Klarifikasi Konsep
Aplikasi & Praktik (CBL)
Refleksi & Komitmen
Minta siswa membuat Jurnal
Refleksi Mandiri tentang komitmen
ketaatan norma
Langkah-langkah:
Orientasi Masalah Mengorganisasi Siswa Membimbing
Penyelidikan
Siswa mencari data
tentang sanksi dan
solusi berdasarkan
norma yang berlaku
di
sekolah/masyarakat.
Siswa mempresentasikan
solusi mereka dan
merefleksikan pentingnya
ketaatan norma.
Analisis & Evaluasi
28.
Uji dan PresentasiHasil
Produk (misalnya Pohon Norma)
dipamerkan di kelas/sekolah. Siswa
menjelaskan isi produk (4 jenis
norma).
Contoh :
Model ini ideal untuk memadukan pembelajaran dengan
produk nyata, sangat cocok untuk materi yang membutuhkan
aplikasi dan kreasi, serta menguatkan Dimensi Kreativitas dan
Kolaborasi.
Project Based Learning / PjBL
Guru menantang siswa:
"Bagaimana cara membuat
teman-teman kita selalu
ingat untuk menaati Norma
Kesopanan di kelas?"
Siswa merencanakan
proyek, misalnya:
membuat Pohon Norma,
Poster Norma 4 Jenis, atau
Video Kampanye Norma30
detik.
Refleksi tentang kesulitan dan
keberhasilan dalam membuat
proyek dan bagaimana proyek
tersebut membantu mereka
memahami norma.
Membuat pemodelan
Langkah-langkah:
Pertanyaan Mendasar Mendesain
Perencanaan Proyek
Menyusun Jadwal
& Monitoring
Siswa (berkelompok)
mengumpulkan materi
dan membuat produk
tersebut. Guru memantau
penerapan norma saat
mereka bekerja (misalnya,
norma kesopanan saat
berdiskusi).
Evaluasi Pengalaman
29.
HARAPAN
Toto, S.Pd., M.M.Pd
ModelProject-Based Learning (PjBL), yaitu kegiatan membuat "Pohon Norma 4 Jenis,"
sangat berhasil dalam mengatasi masalah keabstrakan materi. Siswa dipaksa untuk
mengkonkretkan konsep norma dan sanksi ke dalam produk visual, yang secara
alami menghasilkan penjelasan yang lebih sederhana. Selain itu, kegiatan kolaboratif
ini efektif mengaktifkan siswa yang bergaya belajar kinestetik dan visual. Melalui
pengamatan proyek, saya juga dapat mengidentifikasi misconception siswa dalam
membedakan Norma Kesopanan dan Kesusilaan secara sistematis.
REFLEKSI
Manajemen Waktu: Waktu satu kali pertemuan untuk
PjBL terlalu singkat. Saya harus mendistribusikan tugas
pra-proyek ke rumah (misalnya, membawa alat dan
bahan) atau mengalokasikan dua sesi untuk proyek ini,
agar ada waktu yang cukup untuk refleksi dan
presentasi.
Norma (Pendidikan Pancasila)
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
REFLEKSI & HARAPAN
GURU KELAS 5
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Wati | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
HARAPAN
DESY MARLIANA, S.Pd, S.t
REFLEKSI
Penerapan model Case-Based Learning (CBL) yang berfokus pada analisis dilema di media sosial
terbukti sangat efektif untuk materi Norma. Strategi ini berhasil mengatasi masalah kesulitan
mengidentifikasi kesalahan siswakarena kasus yang digunakan sangat dekat dengan dunia
mereka. Diskusi kelompok CBL juga menyediakan platform yang kaya untuk menguatkan
pemahaman konsep dasar, terutama dalam membedakan empat jenis norma dan sanksi yang
berjenjang. Pendekatan ini berhasil meningkatkan keterlibatan verbal siswa yang sebelumnya
cenderung pasif.
Desain Kasus yang Mendalam: Kasus-kasus yang saya
sajikan kurang kompleks sehingga analisis siswa
cenderung dangkal dan cepat selesai. Saya perlu
merancang kasus ganda (double-dilemma) di mana satu
perilaku melanggar dua jenis norma sekaligus (misalnya,
melanggar Hukum dan Kesopanan), agar siswa lebih
tertantang dalam mengidentifikasi ide pokok dan kalimat
pendukung untuk setiap jenis norma.
4 Juli 2025
30.
Rindi Ismiraj, S.Pd
Penerapanmodel Case-Based Learning (CBL) terbukti sangat efektif dalam mengatasi masalah
perlunya variasi metode pembelajaran dan penjelasan yang konkret. Penyajian skenario kasus nyata
(dilema perilaku) membuat materi Norma menjadi sangat kontekstual dan relevan. Strategi analisis
kasus diikuti dengan simulasi/role-playing berhasil menjembatani pemahaman abstrak siswa
menjadi perilaku yang dapat diamati dan dipraktikkan. Saya juga dapat mengidentifikasi kesalahan
siswa (misalnya, kesulitan membedakan sanksi Kesusilaan dan Kesopanan) secara sistematis
melalui diskusi kelompok.
REFLEKSI
Pengelolaan Waktu Diskusi: Waktu yang dialokasikan untuk
setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis dan melakukan
role-playing kurang merata. Beberapa kelompok menghabiskan
waktu terlalu lama untuk diskusi, sehingga waktu simulasi
menjadi singkat. Saya perlu menetapkan batas waktu ketat
untuk setiap fase CBL, dan menunjuk time-keeper formal di setiap
kelompok.
HARAPAN
Suwati, S.Pd
REFLEKSI
Identifikasi Kesalahan Sistematis: Meskipun siswa aktif, saya masih
kesulitan mengidentifikasi secara sistematisapakah kesulitan siswa
terletak pada pemahaman istilah (vocabulary) atau struktur
paragraf saat membaca kasus. Saya akan menyertakan pre-test
mini berbasis kosa kata kunci norma dan lembar kerja analisis
paragraf wajib di awal sesi PBL, untuk memisahkan kedua jenis
kesulitan tersebut.
HARAPAN
Penerapan model Problem-Based Learning (PBL) dengan mengangkat masalah real-time di kelas
(misalnya, masalah ketidakjujuran dalam tugas) terbukti sangat efektif dalam menguatkan
pemahaman konsep dasar Norma Kesusilaan. Model ini berhasil menyediakan penjelasan yang
sederhana dan konkret karena siswa langsung menganalisis dampak dari perilaku tersebut pada
lingkungan mereka. Strategi identifikasi masalah dan pengembangan solusi membuat siswa aktif
mencari ide pokok tentang pentingnya norma dari berbagai sumber, sehingga keterlibatan siswa
meningkat drastis.
31.
Amalia Laila N,S.Pd
Pelaksanaan model Problem-Based Learning (PBL) untuk materi Norma terbukti sangat efektif
dalam mengatasi masalah utama yang saya identifikasi sebelumnya, yaitu perlunya penjelasan
yang lebih sederhana dan konkret.
Konkretisasi Konsep Sukar: Dengan meminta siswa menganalisis masalah nyata (misalnya, dilema
kejujuran atau tata krama di kelas), materi Norma yang sebelumnya terasa abstrak kini memiliki
wujud. Siswa langsung mengaplikasikan konsep dan mengidentifikasi sanksi yang nyata (sanksi
sosial/hukum sekolah), yang jauh lebih efektif daripada ceramah. Strategi ini berhasil
menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.
Identifikasi Kesulitan Siswa (Berbasis Data): Melalui pengamatan saat siswa berdiskusi dalam
kelompok PBL, saya dapat mengidentifikasi letak kesulitan siswa secara sistematis—bukan lagi
pada pemahaman Norma Hukum atau Kesopanan, melainkan pada pembedaan antara sanksi
batin (Kesusilaan) dan sanksi sosial (Kesopanan). Saya kini tahu persis bagian mana yang
membutuhkan re-teaching dengan skenario yang lebih jelas.
REFLEKSI
Struktur Tugas Kolaborasi: Strategi pembagian tugas kelompok
saya kurang terstruktur sehingga berpotensi menimbulkan
ketidakmerataan partisipasi. Saya perlu merancang lembar kerja
kelompok yang wajib mendistribusikan peran spesifik kepada
setiap siswa (misalnya, pencatat ide pokok, pembaca kasus,
penghubung, presenter) untuk memastikan semua siswa
mendapatkan pengalaman belajar yang setara dan aktif.
HARAPAN
Ilma Uswatun H, S.Pd
Penerapan model Project-Based Learning (PjBL), di mana siswa membuat Media Kampanye Norma
(misalnya, poster atau video pendek), terbukti sangat berhasil dalam mengatasi masalah
keterbatasan waktu untuk mengidentifikasi kesalahan dan perlunya variasi metode. Proyek ini
memaksa siswa untuk mencari ide pokok dan kalimat pendukungdari sumber mereka sendiri untuk
dimasukkan dalam media kampanye. Hal ini memungkinkan saya mengidentifikasi kesulitan siswa
dalam merangkum dan menggunakan bahasa yang lugas, sekaligus menyediakan pendekatan visual
dan kreatif yang sangat menarik bagi siswa.
REFLEKSI
HARAPAN Struktur Umpan Balik Individu: Fokus pada produk akhir
kelompok membuat saya sulit memberikan umpan balik
terpisah mengenai keterampilan individu (seperti
penggunaan kalimat efektif atau pemahaman ide pokok).
Saya harus merancang lembar kerja drafting awal wajib di
mana siswa harus menuliskan ide pokok norma yang akan
digunakan dalam poster mereka, untuk saya koreksi sebelum
proyek kelompok dimulai.
Karakteristik materi cahayadalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sangat
unik karena cahaya menunjukkan sifat dualisme gelombang dan
partikel.
Keterampilan mengamati/ observing (menggunakan panca
indera: penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba dan
pengecapan) fenomena cahaya dalam kehidupan sehari-hari.
Keterampilan mengelompokkan/classifying objek berdasarkan
persamaan dan perbedaan ciri-ciri (misalnya benda bening,
benda buram dan benda gelap)
Keterampilan mengukur/measuring misalnya mengukur panjang
bayangan.
Keterampilan memprediksi/predicting menduga apa yang akan
terjadi berdasarkan pemahaman tentang sifat cahaya.
Menyimpulkan/ inferring menghubungkan pengamatan dengan
teori untuk menyimpulkan sifat cahaya.
Mengkomunikasikan/communicating menjelaskan hasil
pengamatan atau percobaan tentang cahaya.
Tujuan pembelajaran cahaya pada siswa kelas 5 yaitu:
1.Siswa menguasai konsep cahaya dan perannya dalam proses melihat.
2.Siswa memiliki kemampuan keterampilan proses sains dasar untuk
memahami dan menerapkan konsepnya dalam kegiatan sehari-hari
yang terdiri dari:
CAHAYA
CAHAYA
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
KARAKTERISTIK
IPAS
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Kamis, 7 Agustus 2025
Sifat cahaya adalah sebuah konsep yang abstrak, tetapi fenomena dan
perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari adalah konkret dan dapat
diamati.
MODEL
PEMBELAJARAN
CAHAYA
INKUIRI TERBIMBING
DISCOVERY LEARNING
PROBLEM BASED
LEARNING
35.
INKUIRI TERBIMBING
Orientasi Gurumemulai dengan pertanyaan atau demonstrasi yang
memancing rasa ingin tahu (koin di air terlihat lebih dangkal).
Meminta siswa merumuskan (cahaya dibelokkan saat melewati
air) sebelum mereka mulai bereksperimen.
Merumuskan
hipotesis
Pengumpulan
Data
(Eksperimen)
Siswa melakukan percobaan sederhana (misalnya menggunakan
senter, koin, gelas berisi air) sesuai Lembar Kerja Siswa (LKS) yang
sudah disiapkan guru.
Analisis Data
Siswa menganalisis hasil pengamatan dari percobaan dan
mendiskusikannya dalam kelompok.
Kesimpulan
Siswa merumuskan kesimpulan mengenai sifat-sifat cahaya
berdasarkan bukti hasil eksperimen mereka sendiri.
Discovery Learning
Stimulasi Guru menyajikan fenomena atau gambar (misalnya
bayangan, pelangi).
Siswa mengidentifikasi masalah yang terdapat dalam LKS
terstruktur berisi langkah-langkah percobaan sifat
cahaya.
Identifikasi
Masalah
Pengumpulan
Data
(Eksperimen)
Melakukan percobaan, mengamati fenomena, dan
mencatat data dengan cermat di lembar kerja.
Kesimpulan
Siswa menemukan/membuktikan sifat cahaya (misalnya, Cahaya
merambat lurus). Guru lebih banyak membimbing data processing
dan verification dibandingkan membuat formula hipotesis
36.
Problem Based Learning
Orientasi
Siswapada
Masalah
Contoh: "Seorang nelayan kesulitan melihat ikan yang berada di dasar air
yang jernih, padahal mataharinya cerah. Mengapa posisi ikan yang
dilihatnya sering tidak sesuai dengan posisi aslinya?" atau "Mengapa kita
menggunakan kaca spion cembung dan bukan cermin datar pada
kendaraan?"
Membentuk kelompok dan mulai merencanakan cara memecahkan
masalah dengan mengidentifikasi sifat-sifat cahaya yang relevan.
Mengorganisasi
Siswa untuk
Belajar
Membimbing
Penyelidikan
Mandiri dan
Kelompok
Melakukan eksperimen, mengumpulkan data, dan
mencatat hasil untuk memecahkan masalah.
Mengembangkan
dan Menyajikan
Hasil Karya
Menganalisis data, merumuskan kesimpulan ilmiah dan
menyiapkan media presentasi (poster, presentasi lisan,
atau video sederhana).
Menganalisis dan
Mengevaluasi
Proses Pemecahan
Masalah
Menyajikan hasil, mendengarkan kritik dan saran, dan
membuat kesimpulan umum tentang sifat-sifat cahaya
yang telah terbukti
Mengajarkan sifat cahaya pada siswa kelas 5 SD
paling efektif menggunakan pendekatan praktikum
(eksperimen). Siswa akan lebih mudah paham
karena mereka mengamati dan menemukan konsep
secara langsung (learning by doing).
KESIMPULAN
37.
HARAPAN
Toto, S.Pd., M.M.Pd
Saatmenerapkan PBL dengan materi 'Cahaya dan Alat Optik,' saya menyadari
bahwa masalah yang saya berikan tentang 'Mengapa kita melihat dasar kolam lebih
dangkal dari yang sebenarnya' kurang memberikan tantangan kognitif yang merata.
Peserta didik yang cepat cenderung menyelesaikan masalah dengan mudah, sementara
yang lain kesulitan menghubungkan fenomena ke konsep pembiasan.
REFLEKSI
Saya perlu melakukan diferensiasi pada masalah yang
disajikan. Kelompok dengan kemampuan tinggi dapat
diberikan studi kasus yang lebih kompleks, seperti
masalah pada lensa kacamata atau teropong, untuk
memastikan semua peserta didik terlibat secara optimal
dalam analisis masalah.
CAHAYA
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
REFLEKSI & HARAPAN
GURU KELAS 5
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Kamis, 7 Agustus 2025
HARAPAN
DESY MARLIANA, S.Pd, S.t
REFLEKSI
Pada pembelajaran cahaya terutama tahap pengumpulan data, saya melihat sebagian besar
siswa masih cenderung meminta konfirmasi langsung atas hasil percobaan mereka. Refleksi saya
adalah: Saya harus lebih tegas dalam mempertahankan peran sebagai fasilitator dan pemandu
melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka (scaffolding) daripada memberikan petunjuk prosedural
yang terlalu detail.
Peserta didik mampu menunjukkan peningkatan
signifikan dalam keterampilan proses sains (KPS),
terutama dalam merumuskan masalah, membuat
hipotesis yang logis, merancang dan melaksanakan
eksperimen sederhana terkait sifat cahaya, serta
menafsirkan data hasil pengamatan
38.
Amalia Laila N,S.Pd
Proses eksplorasi dalam Inkuiri dan diskusi pemecahan masalah dalam PBL memakan waktu
lebih banyak dari yang saya rencanakan, yang berakibat pada tahap Generalisasi/Penarikan
Kesimpulan dan Presentasi Solusi menjadi terburu-buru. Dampaknya, kedalaman pemahaman
konsep cahaya seperti dispersi atau perambatan lurus tidak dapat dievaluasi secara maksimal
REFLEKSI
Saya perlu mengelola waktu dengan lebih ketat, mungkin dengan
menggunakan teknik pengatur waktu visual dan memberikan batas
waktu yang jelas di setiap fase model. Selain itu, saya harus
memprioritaskan hanya satu atau dua sifat cahaya utama per sesi,
untuk memastikan eksplorasi yang lebih mendalam dan berkualitas."
HARAPAN
HARAPAN
Ilma Uswatun H, S.Pd
Dalam proses pembelajaran mengenai cahaya saya menyadari masih terdapat beberapa
kekurangan dalam kegiatan pembelajaran yang saya lakukan sehingga berdampak pada efektivitas
belajar siswa. Salah satunya adalah keterbatasan waktu yang dimiliki untuk menemukan semua
sifat-sifat cahaya melalui percobaan yang dilakukan. Saya hanya melakukan beberapa percobaan
yang menggunakan alat dan bahan sederhana. Untuk mengkonkretan sifat cahaya lainnya, saya
menampilkan video mengenai sifat-sifat cahaya.
REFLEKSI
Kedepannya saya berharap dapat menjelaskan konsep
sifat-sifat cahaya dan kaitannya dengan indra
penglihatan melalui keterampilan proses berpikir sains.
Lebih banyak menggunakan berbagai model
pembelajaran seperti inquiri, discovery dan problem
based learning.
39.
Rindi Ismiraj, S.Pd
Meskipunpeserta didik aktif dalam melakukan eksperimen dan diskusi, lembar observasi saya
menunjukkan bahwa kemampuan mereka dalam membuat hipotesis (Inkuiri) dan mengevaluasi
solusi alternatif (PBL) masih perlu ditingkatkan. Pertanyaan yang saya ajukan di awal dan selama
proses cenderung hanya menguji pemahaman dasar hingga menengah.
REFLEKSI
Saya harus konsisten menggunakan pertanyaan-pertanyaan HOTS
yang mendorong peserta didik untuk memprediksi, menjustifikasi,
dan membandingkan fenomena cahaya. Misalnya, “Apa yang akan
terjadi jika medium yang dilalui cahaya bukan air, melainkan
minyak?. Hal ini akan mengoptimalkan potensi siswa untuk
mengembangkan daya nalar ilmiah."
HARAPAN
Bunyi termasuk materiyang konkret karena bisa didengar oleh telinga.
Pada IPAS kelas 5 materi bunyi berfokus pada:
Keterampilan mengamati/ observing (Menggunakan pancaindra
untuk mengumpulkan informasi tentang bunyi)
Keterampilan menanya/questioning (Mengajukan pertanyaan
tentang fenomena bunyi)
Keterampilan memprediksi/prediction misalnya membuat dugaan
sementara sesuai pengetahuan awal sebelum melakukan
percobaan.
Keterampilan melakukan percobaan/ experimenting (menggunakan
alat dan bahan untuk membuktikan konsep).
Keterampilan mengelompokkan/ classifying (jenis-jenis bunyi atau
sumber bunyi)
Menafsirkan Data/ Interpreting Data, menyimpulkan hasil
pengamatan atau percobaan.
Mengkomunikasikan/communicating menjelaskan hasil
pengamatan atau percobaan tentang bunyi.
Tujuan pembelajaran cahaya pada siswa kelas 5 yaitu:
1.Siswa menguasai konsep bunyi dan perannya dalam proses
mendengar.
2.Siswa memiliki kemampuan keterampilan proses sains dasar untuk
memahami dan menerapkan konsepnya dalam kegiatan sehari-hari
yang terdiri dari:
MODEL, METODE
PEMBELAJARAN
BUNYI
CAHAYA
BUNYI
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
KARAKTERISTIK
IPAS
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Jumat, 21 Agustus 2025
bunyi dihasilkan dari getaran.
menyelidiki cara bunyi merambat melalui berbagai medium.
menjelaskan perbedaan antara gema dan gaung.
mengidentifikasi manfaat bunyi dalam kehidupan sehari-hari.
INKUIRI TERBIMBING
DISCOVERY LEARNING
SIMULASI
43.
INKUIRI TERBIMBING
Percobaan Alat& Bahan Langkah Hasil / Kesimpulan
Getaran Karet Gelang
Karet gelang, kaleng
kosong
Ikatkan karet pada
kaleng dan petik
Karet bergetar dan
menimbulkan bunyi.
Gelas Berisi Air
3 gelas berisi air
dengan tinggi berbeda,
sendok logam
Ketuk satu per satu
gelas
Air bergetar →
menghasilkan bunyi
dengan nada berbeda.
Garpu Tala (atau
sendok logam)
Garpu tala/sendok,
meja
Getarkan garpu tala
lalu dekatkan ke meja
Meja ikut bergetar dan
menguatkan bunyi.
1. Orientasi Guru memulai dengan pertanyaan:
“Dari mana asal suara gitar atau lonceng yang kita dengar?”
“Apakah semua benda bisa menghasilkan bunyi?”
Meminta siswa siswa menebak apa yang menyebabkan bunyi itu
muncul.
2. Merumuskan
hipotesis
3. Pengumpulan
Data
(Eksperimen)
Siswa melakukan percobaan sederhana.
Contoh:
4. Analisis Data
Siswa menganalisis hasil pengamatan dari percobaan.
Apa yang sama dari semua percobaan tadi?
Jika benda berhenti bergetar, apakah bunyinya masih terdengar?
5. Kesimpulan
Siswa merumuskan kesimpulan mengenai bunyi berasal dari
benda yang bergetar.
Getaran adalah gerakan bolak-balik yang sangat cepat.
44.
DISCOVERY LEARNING
Jenis ZatAlat & Bahan Cara Melakukan Hasil / Kesimpulan
Padat
Dua gelas plastik + tali
panjang (telepon mainan)
Hubungkan kedua gelas
dengan tali, satu siswa
bicara, satu
mendengarkan.
Suara terdengar jelas
karena bunyi merambat
melalui tali (zat padat).
Cair
Baskom berisi air + dua
sendok logam
Celupkan dua sendok,
ketukkan satu sama lain
di bawah air.
Bunyi masih terdengar →
bunyi bisa merambat
melalui air (zat cair).
Gas (udara)
Bicara biasa atau ketuk
meja di udara
Bunyi terdengar di udara.
Bunyi bisa merambat
melalui udara (zat gas).
Ruang hampa
(konsep)
Tampilkan video atau
gambar luar angkasa
Diskusi: Mengapa
astronot butuh alat
komunikasi radio?
Karena tidak ada udara,
bunyi tidak bisa
merambat di ruang
hampa.
1. Stimulasi
Guru memulai dengan pertanyaan:
“Mengapa kita bisa mendengar suara orang lewat dinding?”
“Jika kita menyelam di air, apakah bisa mendengar suara dari atas?”
“Mengapa di luar angkasa tidak terdengar suara?”
Meminta siswa siswa menebak apakah bunyi bisa merambat melalui benda
padat, cair dan gas dan hampa udara.
2. Identifikasi
Masalah
3. Pengumpulan
Data (Eksperimen)
Siswa melakukan percobaan sederhana.
Contoh:
4. Membuat
kesimpulan
Siswa menganalisis hasil pengamatan dari percobaan.
Melalui zat apa bunyi merambat paling cepat?
Mengapa hal tersebut terjadi?
5.
Mengkomunikasikan
Siswa mempresentasikan hasil penemuannya kepada siswa
lainnya baik dalam bentuk lisan dan tulisan
45.
SIMULASI/ DEMONSTRASI
Aspek GemaGaung
Jarak sumber dan
pemantul
Jauh (≥17 m) Dekat (< 17 m)
Waktu bunyi pantul Terpisah dari bunyi asli Tumpang tindih dengan bunyi asli
Contoh tempat Tebing, lembah, pegunungan Aula, masjid, gedung besar
Kegunaan Sonar, pengukur kedalaman laut
Suara ruangan lebih nyaring
(kadang tidak diinginkan)
3. KESIMPULAN
“Bunyi bisa memantul seperti bola yang memantul ke tembok.
Kalau tempatnya jauh, pantulan terdengar terpisah — itu gema.
Kalau tempatnya dekat, pantulan bercampur dengan bunyi asli —
itu gaung.”
Apersepsi
Guru memulai dengan pertanyaan:
Pernahkah kamu berteriak di tempat luas, lalu mendengar
suaramu kembali?”
“Apakah suaranya terdengar sama atau terlambat?”
Putar suara “halo” tanpa efek (bunyi asli).
Putar lagi versi dengan efek gema (ada jeda).
Ajak siswa membedakan mana gema dan mana suara asli.
2a Simulasi
(Gema)
Guru atau siswa berbicara keras menggunakan mikrofon di ruangan besar
(aula, lorong sekolah)
Meminta siswa memperhatikan bahwa suara terdengar bergabung dan
menggema samar.
2b Simulasi
(Gaung)
46.
HARAPAN
HARAPAN
Toto, S.Pd., M.M.Pd
Saatmelakukan demonstrasi perambatan bunyi melalui berbagai medium, saya
menyadari bahwa peserta didik yang berada di belakang kesulitan mengamati detail
getaran yang dihasilkan. Hal ini memengaruhi akurasi data yang mereka kumpulkan di
tahap pengumpulan data.
REFLEKSI
Pada pembelajaran selanjutnya saya memastikan semua
peserta didik melakukan percobaan secara berkelompok
supaya hasil observasi atau data yang siswa peroleh
untuk penarikan kesimpulan menjadi lebih valid."
BUNYI
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
REFLEKSI & HARAPAN
GURU KELAS 5
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Jumat, 21 Agustus 2025
DESY MARLIANA, S.Pd, S.t
REFLEKSI
Di awal pembelajaran Inkuiri, saya hanya memberikan rangsangan berupa video
singkat tentang gema di gua. Respons peserta didik terbatas pada pertanyaan-pertanyaan
dasar.
Saya akan mengganti stimulasi menjadi masalah
nyata yang lebih kontroversial, misalnya 'Mengapa
peredam suara di studio musik harus menggunakan
material tertentu?' . Ini akan memaksa peserta didik
untuk merumuskan hipotesis yang lebih kompleks
tentang karakteristik bunyi (seperti penyerapan dan
pemantulan), bukan sekadar perambatan."
47.
Amalia Laila N,S.Pd
Menggabungkan tiga elemen (stimulasi Inkuiri, eksperimen Discovery, dan
Demonstrasi) membuat alokasi waktu menjadi sangat padat. Saya terlalu fokus pada
demonstrasi sehingga tahap Verifikasi dan Generalisasi peserta didik menjadi tergesa-gesa.
REFLEKSI
Saya harus lebih bijak dalam menentukan titik integrasi model.
Saya akan menggunakan Simulasi/Demonstrasi hanya sebagai
alat penguat visual setelah mereka mencoba eksperimen
Discovery sendiri, bukan sebagai aktivitas utama yang
menghabiskan waktu, sehingga waktu lebih banyak dialokasikan
untuk penemuan konsep dan diskusi."
HARAPAN
HARAPAN
Ilma Uswatun H, S.Pd
Dalam proses pembelajaran mengenai bunyi saya menyadari masih terdapat beberapa
kekurangan dalam kegiatan pembelajaran yang saya lakukan sehingga berdampak pada efektivitas
belajar siswa. Salah satunya adalah kesulitan menyampaikan konsep yang abstrak seperti
perambatan bunyi yang lebih cepat pada benda padat daripada gas dan konsep gema serta gaung.
Saya sudah melakukan beberapa percobaaan sederhana yang terkait dengan bunyi dan
menampilkan simulasi gaung serta gema menggunakan video, namun masih ada beberapa anak
yang mengalami miskonsepsi.
REFLEKSI
Kedepannya saya berharap dapat menjelaskan konsep
bunyi dengan bahasa yang mudah dimengerti dan
dipahami siswa.
Lebih banyak menggunakan berbagai model
pembelajaran seperti inquiri, discovery dan simulasi
dalam pembelajaran IPAS.
48.
Rindi Ismiraj, S.Pd
Konsepfrekuensi dan amplitudo bunyi adalah hal yang abstrak. Saya hanya
menggunakan penjelasan verbal dan papan tulis. Refleksi saya adalah: Saya kurang
memanfaatkan potensi simulasi digital untuk menjelaskan konsep-konsep abstrak ini.
REFLEKSI
Saya akan menggunakan simulasi interaktif (misalnya dari PhET
Colorado) untuk memungkinkan peserta didik secara mandiri
memanipulasi frekuensi dan amplitudo gelombang bunyi dan
melihat dampaknya secara visual. Ini akan memperkuat tahap
Pengolahan Data dan pemahaman mereka tentang hubungan
antara sifat fisik bunyi dan indra pendengaran.
HARAPAN
Aspek IPA
Ekosistem
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
KARAKTERISTIK
MATERIEKOSISTEM
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Tanggal: 25 September 2025
Ada beberapa karakteristik IPAS pada meteri Ekosistem , antara lain:
Karakteristik Konseptual
1.Materi ini bersifat konseptual sekaligus kontekstual, artinya
konsep ilmiah (interaksi makhluk hidup–lingkungan) dikaitkan
langsung dengan situasi nyata di sekitar siswa.
2.Menekankan pemahaman hubungan sebab-akibat, misalnya:
“Mengapa ikan mati jika air tercemar?”
3.Dapat dipelajari melalui pengamatan langsung, eksperimen
sederhana, dan simulasi rantai makanan.
Karakteristik Proses Pembelajaran
1.Mengutamakan kegiatan eksplorasi dan inkuiri ilmiah (mengamati,
menanya, menalar, mencoba, dan menyimpulkan).
2.Pembelajaran berbasis lingkungan nyata, seperti taman sekolah,
kebun, kolam, atau halaman rumah.
3.Mendorong siswa berpikir sistemik, memahami bahwa setiap
makhluk hidup memiliki peran penting dalam keseimbangan alam.
4.Cocok diterapkan dengan model Project-Based Learning (PjBL) atau
Discovery Learning.
Karakteristik Nilai dan Sikap yang Ditanamkan
1.Kepedulian terhadap lingkungan.
2.Rasa ingin tahu dan tanggung jawab terhadap alam.
3.Kerja sama dan gotong royong dalam menjaga keseimbangan
ekosistem.
4.Rasa syukur atas ciptaan Tuhan dan kesadaran akan pentingnya
menjaga kelestarian.
Karakteristik
Keterpaduan IPAS
Aspek IPS
1.Hubungan makhluk hidup dan
lingkungan (biotik–abiotik).
2.Aliran energi dan rantai makanan.
1.Aktivitas manusia yang mempengaruhi
lingkungan (pertanian, industri,
perikanan).
2.Pemanfaatan sumber daya alam secara
berkelanjutan.
Pendekatan dan
Metode
1.Pendekatan inkuiri dan kontekstual agar
siswa mengamati langsung lingkungan
sekitar.
2.Metode: diskusi kelompok, eksperimen
sederhana, observasi lapangan,
presentasi hasil temuan, dan pembuatan
peta konsep.
3.Model pembelajaran yang bisa
digunakan: Project-Based Learning (PjBL)
atau Discovery Learning.
52.
Siswa mengamati
lingkungan sekolah
ataugambar
ekosistem.
Membedakan
komponen biotik dan
abiotik.
Menyusun contoh
rantai makanan dari
hasil pengamatan.
Menarik kesimpulan
tentang keseimbangan
ekosistem.
Inti
Penutup
Cakupan Materi
(Ruang Lingkup)
Strategi
Pembelajaran
Materi ekosistem di kelas 5 membahas hubungan
antara makhluk hidup dan lingkungannya secara
menyeluruh, meliputi:
Pengertian ekosistem.
Komponen biotik (makhluk hidup) dan abiotik
(benda tak hidup).
Jenis-jenis ekosistem (alami dan buatan).
Peran makhluk hidup dalam ekosistem: produsen,
konsumen, dan pengurai.
Rantai makanan dan jaring-jaring makanan.
Keseimbangan ekosistem dan dampak kegiatan
manusia terhadap lingkungan.
Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara
makhluk hidup (biotik) dan lingkungan tidak hidup
(abiotik) di suatu tempat.
Komponen biotik: manusia, hewan, tumbuhan,
mikroorganisme.
Komponen abiotik: air, udara, tanah, cahaya
matahari, suhu.
Jenis-jenis ekosistem:
Rantai makanan dan jaring-jaring makanan
menggambarkan aliran energi antar makhluk hidup.
Peran makhluk hidup: produsen, konsumen, dan
pengurai.
Keseimbangan ekosistem dapat terganggu oleh
aktivitas manusia (penebangan hutan, pencemaran,
perburuan).
Konsep Utama
1.Ekosistem alami (hutan, laut, sungai, padang
rumput).
2.Ekosistem buatan (sawah, kolam ikan, kebun).
Guru menayangkan
gambar/video tentang
hutan atau sawah, lalu
mengajukan pertanyaan
pemantik:
“Mengapa ikan, tumbuhan
air, dan air saling
membutuhkan?”
Refleksi bersama
tentang pentingnya
menjaga keseimbangan
lingkungan.
Penugasan: membuat
poster “Menjaga
Ekosistem di
Sekitarku.”
Pendahuluan
53.
Tujuan
Pembelajaran
Setelah mempelajari materiekosistem, siswa
diharapkan:
Memahami hubungan antar makhluk hidup dan
lingkungannya.
Mampu memberikan contoh jenis-jenis ekosistem di
sekitar.
Menyadari pentingnya menjaga keseimbangan
alam.
Mampu menerapkan perilaku peduli lingkungan
dalam kehidupan sehari-hari.
Potensi Kesulitan Siswa dan
Solusi Guru
Kesulitan Siswa Strategi Guru
Siswa sulit membedakan
biotik dan abiotik.
Siswa sulit memahami
rantai makanan.
Siswa tidak memahami
konsep keseimbangan
ekosistem
Gunakan kartu gambar dan
permainan klasifikasi.
Gunakan model panah dari
tali atau gambar
interaktif.
Gunakan simulasi "Jika
satu makhluk hilang"
untuk menunjukkan
akibatnya.
54.
HARAPAN
Toto, S.Pd., M.M.PdREFLEKSI
Ekosistem
PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE
REFLEKSI & HARAPAN GURU KELAS 5
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Tanggal: 25 September 2025
HARAPAN
DESY MARLIANA, S.Pd, S.t
REFLEKSI
Setelah melaksanakan pembelajaran, saya menyadari bahwa pendekatan inkuiri yang
digunakan berhasil mendorong siswa untuk lebih aktif mengamati dan menemukan
konsep ekosistem secara mandiri. Namun, proses ini menunjukkan bahwa tidak semua
siswa dapat langsung memahami hubungan antara komponen biotik dan abiotik tanpa
dukungan media visual. Hal ini membuat saya berpikir bahwa saya perlu memperkuat
penggunaan alat bantu dan contoh konkret agar konsep yang sifatnya abstrak dapat
diterima oleh semua siswa dengan lebih baik.
Ke depan, saya berharap dapat menyediakan lebih
banyak media pembelajaran yang konkret dan interaktif,
seperti model mini ekosistem atau kartu peran makhluk
hidup. Dengan cara ini, siswa dapat lebih mudah
memahami konsep interaksi antar makhluk hidup dan
aliran energi dalam sebuah ekosistem melalui
pengalaman langsung, bukan hanya dari penjelasan
verbal.
Kegiatan observasi lingkungan di sekitar sekolah ternyata memberikan pengalaman
belajar yang sangat bermakna bagi siswa. Mereka terlihat antusias ketika
mengidentifikasi makhluk hidup dan benda tak hidup di sekeliling mereka. Namun, saya
merefleksikan bahwa waktu yang dialokasikan belum sepenuhnya mencukupi untuk
mendalami hasil temuan. Beberapa kelompok tidak sempat menyusun data pengamatan
secara lengkap, sehingga proses analisis dan diskusi menjadi kurang maksimal.
Saya ingin meningkatkan frekuensi kegiatan eksplorasi
lapangan agar siswa dapat melakukan investigasi
sederhana secara berulang. Observasi lingkungan nyata,
seperti taman sekolah atau sawah terdekat, akan
memberi kesempatan bagi mereka untuk menemukan
variasi ekosistem sambil melatih kemampuan
menganalisis data secara lebih sistematis.
55.
Rindi Ismiraj, S.Pd
Dalamproses asesmen, saya merasa bahwa penilaian formatif melalui tanya jawab
dan lembar observasi sudah cukup efektif dalam memantau pemahaman awal siswa.
Namun, ketika sampai pada penilaian sumatif, saya menemukan bahwa beberapa
siswa masih memberikan jawaban yang bersifat hafalan. Ini menunjukkan bahwa
saya perlu merancang soal evaluasi yang lebih menuntut pemahaman mendalam,
bukan sekadar mengingat fakta, agar lebih sesuai dengan tujuan pembelajaran
ekosistem.
REFLEKSI
Sebagai guru, saya berharap dapat memperbaiki strategi diferensiasi
pembelajaran. Dengan memahami kebutuhan belajar siswa yang
beragam, saya ingin menyediakan tugas dan aktivitas dengan
tingkat kesulitan berbeda, sehingga baik siswa yang cepat
memahami maupun yang memerlukan pendampingan tambahan bisa
belajar secara optimal tanpa tertinggal.
HARAPAN
Ilma Uswatun H, S.Pd
Penerapan model pembelajaran berbasis proyek membantu menumbuhkan sikap
kolaboratif dan rasa tanggung jawab dalam kelompok. Akan tetapi, saya melihat bahwa
dinamika kelompok belum sepenuhnya berjalan seimbang. Masih ada siswa yang cenderung
pasif atau kurang memberikan kontribusi. Dari pengalaman ini, saya menyadari pentingnya
memberi peran yang lebih jelas dalam kelompok, sehingga setiap siswa dapat terlibat secara
aktif dan memperoleh pengalaman belajar yang setara.
REFLEKSI
Saya berharap siswa mampu mengembangkan kemampuan bernalar
kritis secara lebih mendalam, khususnya dalam menilai dampak
aktivitas manusia terhadap keseimbangan ekosistem. Saya ingin
mendorong siswa untuk tidak sekadar menyebutkan contoh, tetapi
juga mampu menjelaskan penyebab dan akibat dari setiap perubahan
dalam lingkungan.
HARAPAN
56.
Amalia Laila N,S.Pd
Penggunaan media pembelajaran seperti gambar, video, dan model rantai makanan
membantu memperjelas hubungan antar makhluk hidup dalam ekosistem. Namun, saya
menyadari bahwa variasi media masih perlu ditingkatkan. Siswa sangat responsif terhadap
media yang interaktif, sehingga saya beranggapan bahwa pada pembelajaran berikutnya
saya harus menyiapkan alat peraga atau simulasi yang lebih kaya agar proses belajar
menjadi lebih menyenangkan dan efektif.
REFLEKSI
Saya berharap pembelajaran ekosistem ke depan dapat lebih
terintegrasi dengan mata pelajaran lain. Nilai-nilai kepedulian
lingkungan dapat saya hubungkan dengan IPS, Bahasa
Indonesia, dan Pendidikan Pancasila untuk memperkuat
karakter siswa. Dengan pembelajaran yang terintegrasi, konsep
ekosistem tidak hanya dipahami sebagai ilmu pengetahuan,
tetapi juga sebagai bagian dari cara hidup yang bertanggung
jawab terhadap lingkungan.
HARAPAN
Pedagogical Content
Knowledge Paralelkelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Wati | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
KONSEP DASAR DATA
Memahami arti data
(keterangan/fakta)
dan cara
mengumpulkan data
(misalnya, pencatatan
langsung, wawancara,
kuesioner).
Mampu mengurutkan
dan mengelompokkan
data.
PENYAJIAN DATA
Menguasai cara membuat dan
membaca Tabel Frekuensi
(memuat data, turus, dan
frekuensi).
Menguasai cara membuat dan
membaca berbagai jenis Diagram:
Diagram Gambar (Piktogram):
Menggunakan gambar untuk
mewakili sejumlah data.
Diagram Batang: Menyajikan data
menggunakan batang persegi
panjang.
Diagram Garis (jika sesuai
kurikulum): Menyajikan
perubahan data dari waktu ke
waktu.
PENAFSIRAN DATA
Mampu membaca data
(menyebutkan informasi
yang tertera pada
tabel/diagram).
Mampu menafsirkan data
(mengambil kesimpulan,
membandingkan,
menemukan data
terbesar/terkecil,
menghitung selisih/jumlah
total).
Mengenal istilah sederhana
seperti modus (data yang
paling sering muncul) jika
relevan dengan tujuan
pembelajaran.
Content Knowledge (Pengetahuan Konten)
PENGOLAHAN DATA / STATISTIKA
STRATEGI DAN
METODE PENGAJARAN
Menggunakan Pendekatan
Kontekstual: data hobi
teman sekelas, jenis
makanan kesukaan, nilai
ulangan).
Menerapkan Pembelajaran
Berbasis Proyek
Sederhana: Siswa secara
mandiri mengumpulkan
data (misalnya, tinggi
badan semua siswa di
kelas), mengolahnya, dan
menyajikannya dalam
bentuk tabel/diagram.
Menggunakan Demonstrasi
saat memperkenalkan cara
membuat diagram
(langkah demi langkah).
Mendorong Diskusi
Kelompok saat
menafsirkan data,
sehingga siswa dapat
berbagi pandangan dan
pemahaman
MATERI DAN
SUMBER BELAJAR
Memanfaatkan Media Visual
yang menarik (poster, slide
presentasi, atau alat peraga
sederhana) untuk menampilkan
berbagai jenis diagram.
Menggunakan kertas berpetak
atau aplikasi sederhana (seperti
MS Excel versi dasar) untuk
membantu siswa membuat
diagram batang atau garis
dengan rapi.
PENILAIAN
(ASESMEN)
Asesmen Diagnostik Awal:
Mengetahui sejauh mana
pengetahuan awal siswa
tentang mengumpulkan dan
membaca data sederhana.
Asesmen Formatif: Melalui
observasi saat siswa
membuat tabel atau
diagram, dan melalui
pertanyaan saat diskusi
menafsirkan data.
Asesmen Sumatif:
Memberikan soal yang
mencakup semua tahapan:
mengumpulkan,
menyajikan, dan
menafsirkan data.
Pedagogical Knowledge (Pengetahuan Pedagogi)
Rabu 14 Oktober 2025
60.
Proyek Mini:
"Statistik KelasKita"
Tujuan: Siswa mengalami
langsung 4 tahapan pengolahan
data: mengumpulkan,
mengorganisasi, menyajikan,
dan menafsirkan.
1.Mengumpulkan Data (Aktifitas Wawancara): Guru meminta siswa bekerja
berpasangan atau berkelompok untuk mengumpulkan data dari teman
temannya mengenai topik yang menarik (misalnya: Warna kesukaan, Jumlah
saudara kandung, atau Jarak rumah ke sekolah).
2.Mengorganisasi Data (Turus): Setelah data terkumpul, ajak siswa membuat Tabel
Frekuensi dengan menggunakan Turus (Tally Marks) untuk mempermudah
perhitungan.
3.Menyajikan Data (Kreatif): Setiap kelompok memilih satu metode penyajian:
Diagram Batang menggunakan kertas berpetak warna-warni, Diagram Gambar
(Piktogram) menggunakan stiker atau gambar kecil, atau Diagram Garis (jika
data berubah seiring waktu, seperti hasil nilai kuis mingguan).
4.Menafsirkan Data (Presentasi): Setiap kelompok mempresentasikan hasil
diagram mereka dan menjawab pertanyaan:
"Apa data yang paling banyak muncul (Modus)?"
"Berapa selisih antara data terbesar dan terkecil?"
"Apa kesimpulan yang didapat dari data ini?"
Langkah-langkah:
Kegiatan Pembelajaran
Permainan Edukasi:
"Lempar Dadu
Data"
Memahami konsep
frekuensi dan
menyajikan data dari
kejadian nyata.
Tujuan :
Langkah-langkah:
1.Siswa menyediakan satu atau dua buah
dadu dan siapkan Tabel Frekuensi kosong
di papan tulis/kertas besar.
2.Minta siswa bergantian melempar dadu
sebanyak 30-50 kali.
3.Setiap kali dadu dilempar, ajak siswa
mencatat hasil angka yang muncul (1, 2, 3,
4, 5, atau 6) menggunakan turus pada
tabel.
Langkah-langkah:
4. Setelah semua lemparan selesai, ajak siswa
menghitung frekuensi total untuk setiap
angka.
5. Tantang siswa untuk menyajikan data
lemparan dadu tersebut ke dalam bentuk
Diagram Batang secara cepat (misalnya,
membuat batang menggunakan balok atau
sticky notes di papan tulis).
61.
HARAPAN
Toto, S.Pd., M.M.PdREFLEKSI
Saya berharap ke depan dapat mengaitkan materi
dengan situasi nyata di sekitar siswa, sehingga
siswa lebih tertarik, mudah memahami, dan
melihat manfaat nyata dari pembelajaran
pengolahan data.
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
REFLEKSI & HARAPAN
GURU KELAS 5
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Rabu 14 Oktober 2025
HARAPAN
REFLEKSI
PENGOLAHAN DATA / STATISTIKA
Saya menyadari pada saat pembelajaran pengolahan data ini, saya terlalu fokus
pada angka dan tabel tanpa mengaitkan data dengan kehidupan nyata siswa,
sehingga siswa merasa pelajaran bersifat abstrak, dan siswa mengalami
kesulitan memahami makna data dan kurang termotivasi belajar.
Pada materi pembelajaran ini, saya menyadari masih terdapat beberapa kekurangan
salah satunya adalah pada penyampaian konsep dasar data agar siswa lebih
memahami arti data, cara mengumpulkan data, serta mampu mengurutkan dan
mengelompokkan data. Secara umum, siswa sudah cukup paham sampai ke tahap
penyajian data dan penafsiran data. Namun ada beberapa siswa yang merasa kesulitan
dalam menghitung frekuensi dengan teliti, terutama dari data yang masih acak.
saya berharap setiap siswa dapat mengembangkan kemampuan
berpikir logis dan teliti dalam mengolah data. Siswa yang semula
mengalami kesulitan diharapkan lebih percaya diri dan mampu
menyelesaikan perhitungan frekuensi serta menentukan skala
diagram dengan benar
DESY MARLIANA, S.Pd, S.t
62.
REFLEKSI
HARAPAN
Rindi Ismiraj, S.Pd
REFLEKSI
HARAPAN
IlmaUswatun H, S.Pd
Dalam pembelajaran pengolahan data ini, saya menyadari bahwa pada saat
menjelaskan konsep tabel dan diagram kepada siswa dilakukan terlalu
cepat tanpa memberi waktu bagi siswa untuk memahami setiap langkah,
sehingga siswa kebingungan saat harus membuat tabel atau diagram
sendiri.
Saya berharap dengan mengatur tempo mengajar lebih baik,
memberi waktu latihan di setiap langkah, dan lebih aktif
memantau pemahaman siswa sebelum melanjutkan ke tahap
berikutnya, siswa akan lebih paham dan dapat secara mandiri
mengerjakan tugasnya membuat tabel atau diagram.
Pada pembelajaran pengolahan data ini, saya menyadari bahwa saya
memberikan tugas yang sama untuk seluruh siswa tanpa menyesuaikan
dengan kemampuan individu. Siswa cepat bosan atau tertinggal; siswa
yang cepat selesai tidak mendapat tantangan tambahan.
Guru berharap dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi
agar setiap siswa belajar sesuai kemampuan dan potensinya—
siswa cepat mendapat tantangan tambahan, siswa lain
mendapat bimbingan sesuai kebutuhan.
63.
Amalia Laila N,S.Pd
REFLEKSI
HARAPAN
Dalam pembelajaran ini saya menyadari bahwa saya kurang mengantisipasi
bahwa beberapa siswa memiliki dasar matematika yang lemah (misalnya
perhitungan persentase), padahal kemampuan ini vital untuk memahami salah
satu bagian materi (pembuatan diagram lingkaran).
Saya berharap siswa akan memiliki pemahaman yang
kuat pada konsep dasar (seperti menghitung
persentase) sebelum beralih ke materi visualisasi data
yang kompleks (misalnya diagram lingkaran).
HAK DAN
KEWAJIBAN
Hak danKewajiban
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
KARAKTERISTIK
PENDIDIKAN
PANCASILA
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
Bulan : 11 November 2025
Ada beberapa karakteristik Pendidikan Pancasila materi hak dan kewajiban,
antara lain:
Materi berpusat pada pemahaman Hak, Kewajiban, dan Tanggung Jawab
di berbagai lingkungan (Keluarga, Sekolah, Masyarakat).
Penekanan kuat pada hubungan timbal balik (resiprokalitas) dan
keseimbangan antara Hak dan Kewajiban untuk menciptakan kehidupan
yang harmonis.
Kedekatan dengan Siswa: Materi ini sangat dekat dengan pengalaman
sehari-hari, terutama dalam interaksi di rumah dan sekolah
Aspek Afektif: Pembentukan sikap tanggung jawab dan disiplin dalam
melaksanakan kewajiban lebih diutamakan.
Sifat Materi Hak & Kewajiban
Aspek Materi Sifat Konseptual (Abstrak) Sifat Pedagogis (Konkret) (Fokus Guru)
Hak Konsep "Kepemilikan
yang Dijamin Undang-
Undang
Konkret: Mendapatkan ruang kelas yang bersih,
mendapat nilai, mendapat kasih sayang dari orang tua
(wujud nyata yang diterima).
Kewajiban Konsep "Tanggung
Jawab Universal"
Konkret: Membuang sampah pada tempatnya,
merapikan kamar, menaati peraturan sekolah (perilaku
yang dapat diobservasi).
Keseimbangan
Konsep "Harmoni Timbal
Balik"
Konkret: Jika ingin hak bermain terpenuhi, maka
kewajiban belajar harus dilaksanakan (contoh nyata
hubungan sebab-akibat/prasyarat).
Meskipun secara konseptual Hak dan Kewajiban bersifat abstrak, untuk
tujuan pengajaran di Kelas 5 SD, materi harus didefinisikan sebagai Konkret
dan Observasional agar metode pembelajaran berbasis praktik menjadi
efektif.
66.
Mengembangkan Solusi
Siswa merumuskanrencana aksi atau usulan
tata tertib baru untuk mengembalikan
keseimbangan, menekankan pada tanggung
jawab individu.
Siswa dibagi peran (siswa
yang menuntut hak, guru,
teman sekelas) dan
memainkan skenario tersebut.
Guru menyajikan
skenario dilema nyata,
misalnya: "Seorang
siswa menuntut haknya
untuk bermain, tetapi
tidak mau
melaksanakan
kewajiban
membersihkan kelas."
Contoh :
Model ini unggul dalam menjembatani konsep abstrak menjadi perilaku yang
terlihat (observasional) dan pembentukan sikap (afektif). Simulasi sangat
efektif untuk mengajarkan hubungan sebab-akibat (resiprokal) Hak dan
Kewajiban.
Role Playing/Simulasi (Bagian dari CBL)
Setelah simulasi, siswa
mendiskusikan: Hak apa yang
terlanggar? Kewajiban apa yang
diabaikan? Apa
konsekuensiyang terjadi?
Klarifikasi Konsep
& Nilai
Guru mengaitkan hasil
simulasi dengan konsep
keseimbangan Hak dan
Kewajiban, serta nilai
Keadilan Sosial.
Model ini sangat kuat untuk mengembangkan Dimensi Penalaran
Kritis dan Kewargaan, yang diperlukan siswa untuk menganalisis
masalah ketidakseimbangan Hak dan Kewajiban di lingkungan
yang lebih luas.
Problem Based Learning (PBL)
Guru menyajikan masalah
nyata yang kompleks
(misalnya, kasus masalah
sampah di lingkungan sekitar
sekolah).
Siswa bekerja kelompok
untuk mengidentifikasi Hak
Warga (lingkungan bersih)
yang terlanggar dan
Kewajiban Warga(menjaga
kebersihan) yang diabaikan.
Membuat pemodelan
Langkah-langkah:
Kontektualisasi
Simulasi Peran
Diskusi dan Analisis
Refleksi Afektif
Minta siswa untuk mendeskripsikan
perasaan (afektif) mereka ketika Hak
mereka tidak terpenuhi karena
kelalaian menjalankan kewajiban.
Langkah-langkah:
Orientasi Masalah Mengorganisasi Siswa
Membimbing
Penyelidikan
Siswa mencari data
tentang konsekuensi
dari kelalaian
kewajiban tersebut,
misalnya dampak
kesehatan, bau, dan
banjir.
Siswa mempresentasikan
solusi mereka dan
merefleksikan bahwa
Kewajiban harus didahulukan
untuk memastikan Hak orang
lain terpenuhi.
Analisis & Evaluasi
67.
Contoh :
Model inisangat ideal untuk memadukan konsep Hak dan Kewajiban
dengan produk nyata dan menguatkan Dimensi Kreativitas dan
Kolaborasi. Hak dan Kewajiban perlu dipraktikkan, dan PjBL
memberikan wadah untuk aplikasi tersebut.
Project Based Learning / PjBL
Guru menantang siswa:
"Bagaimana cara kita membuat
papan informasi yang selalu
mengingatkan teman-teman
untuk melaksanakan kewajiban
sebelum menuntut hak di kelas?"
Siswa merencanakan proyek
"Papan Keseimbangan Kelas"
(berisi daftar Hak yang bisa
didapatkan vs. Kewajiban yang
harus dilakukan).
Uji dan Presentasi Hasil
Papan Keseimbangan Kelas dipasang, dan
siswa menjelaskan bagaimana produk
tersebut berfungsi sebagai pengingat akan
pentingnya keseimbangan.
Refleksi tentang bagaimana
membuat proyek ini
mengajarkan mereka
pentingnya tanggung jawab
dan disiplin.
Evaluasi Pengalaman
Menyusun Jadwal
& Monitoring
Siswa (berkelompok)
mengumpulkan materi
dan membuat produk
tersebut. Guru
memantau penerapan
nilai tanggung jawab
dan gotong royong saat
mereka bekerja.
Membuat pemodelan
Langkah-langkah:
Pertanyaan Mendasar Mendesain
Perencanaan Proyek
68.
HARAPAN
Toto, S.Pd., M.M.Pd
ModelProject-Based Learning (PjBL), yaitu kegiatan membuat "Papan Keseimbangan
Keluarga & Sekolah,"sangat berhasil dalam mengatasi masalah keabstrakan materi.
Siswa dipaksa untuk mengkonkretkan konsep keseimbangan dan tanggung jawab ke
dalam produk visual yang sistematis (memetakan Kewajiban →Hak). Selain itu,
kegiatan kolaboratif ini efektif mengaktifkan siswa yang bergaya belajar kinestetik
dan visual. Melalui pengamatan proyek, saya juga dapat mengidentifikasi
misconception siswa dalam memprioritaskan Hak dan Kewajiban secara sistematis.
REFLEKSI
Diferensiasi Tahapan Proyek (Scaffolding): Saya menyadari
bahwa siswa dengan tingkat pemahaman konsep berbeda
memerlukan dukungan yang bervariasi. Saya berencana
menyediakan scaffolding bertingkat untuk proyek berikutnya,
misalnya: menyediakan template atau daftar periksa Hak dan
Kewajiban bagi kelompok yang kesulitan, dan memberikan
kebebasan penuh dalam desain bagi kelompok yang lebih mahir.
PEDAGOGICAL CONTENT
KNOWLEDGE
REFLEKSI & HARAPAN
GURU KELAS 5
Paralel kelas 5: Pak Toto | Bu Desy | Bu Rindi | Bu Ilma | Bu Amel
HARAPAN
DESY MARLIANA, S.Pd, S.t
REFLEKSI
Penerapan model Case-Based Learning (CBL) yang berfokus pada analisis skenario media sosial
(misalnya, keluhan tentang fasilitas umum yang rusak) terbukti sangat efektif untuk materi Hak
dan Kewajiban. Strategi ini berhasil mengatasi masalah kesulitan mengidentifikasi konsekuensi
karena siswa langsung melihat hubungan timbal balik: kewajiban apa yang diabaikan yang
menyebabkan hilangnya hak orang lain. Diskusi kelompok CBL juga menyediakan platform yang
kaya untuk menguatkan pemahaman konsep keseimbangan Hak dan Kewajiban. Pendekatan ini
berhasil meningkatkan keterlibatan verbal siswa dalam berargumen tentang solusi yang adil.
Skema Umpan Balik Kualitas Analisis: Agar analisis siswa
tidak hanya berhenti pada identifikasi kasus, saya perlu
merancang rubrik penilaian yang fokus pada kualitas
penalaran mereka. Rubrik tersebut harus menilai
kemampuan siswa dalam menyajikan bukti pendukung
dan membandingkan solusi alternatif untuk mencapai
keseimbangan Hak dan Kewajiban yang paling adil,
bukan sekadar benar atau salah.
Bulan: November 2025
Hak dan Kewajiban
69.
Rindi Ismiraj, S.Pd
Penerapanmodel Case-Based Learning (CBL) yang diikuti dengan Simulasi/Role-Playing terbukti
sangat efektif dalam mengatasi masalah perlunya variasi metode pembelajaran dan penjelasan
yang konkret. Penyajian skenario kasus nyata (dilema Hak/Kewajiban di rumah) membuat materi
menjadi sangat kontekstual. Strategi ini berhasil menjembatani pemahaman abstrak siswa tentang
Tanggung Jawab menjadi perilaku yang dapat diamati dan dipraktikkan. Saya juga dapat
mengidentifikasi kesalahan siswa (misalnya, kesulitan memprioritaskan Kewajiban sebelum Hak)
secara sistematis melalui diskusi kelompok.
REFLEKSI
Penguatan Pasca-Simulasi: Saya ingin memastikan hasil dari simulasi
diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Rencana saya adalah
membuat kegiatan "Pakta Komitmen Kelas" pasca-simulasi. Setiap
kelompok harus merumuskan satu kesepakatan tertulis tentang
Tanggung Jawab Bersama untuk menjamin Hak kelas terpenuhi. Pakta
ini akan ditandatangani dan ditempel sebagai pengingat di kelas
selama satu bulan.
HARAPAN
REFLEKSI
Integrasi Nilai Pancasila Formal: Untuk memperdalam dimensi
kewargaan, saya akan menjadikan Integrasi Nilai Pancasila sebagai
fase wajib dalam setiap penyelesaian masalah PBL. Siswa tidak
hanya mencari solusi, tetapi juga wajib mengaitkan dan
menjelaskan secara eksplisit bagaimana solusi mereka mewujudkan
nilai Keadilan Sosial (Sila ke-5) atau Persatuan (Sila ke-3) dalam
konteks Hak dan Kewajiban.
HARAPAN
Penerapan model Problem-Based Learning (PBL) dengan mengangkat masalah real-time di kelas
(misalnya, masalah fasilitas belajar yang kotor) terbukti sangat efektif dalam menguatkan
pemahaman konsep Tanggung Jawab dan Hak. Model ini berhasil menyediakan penjelasan yang
sederhana dan konkret karena siswa langsung menganalisis dampak dari kelalaian kewajiban pada
lingkungan mereka dan hak belajar mereka. Strategi identifikasi masalah dan pengembangan solusi
membuat siswa aktif mencari ide pokok tentang pentingnya tanggung jawab dari berbagai sumber,
sehingga keterlibatan siswa meningkat drastis.
Ilma Uswatun H, S.Pd
70.
Penerapan model Project-BasedLearning (PjBL), di mana siswa membuat Media Kampanye
Tanggung Jawab(misalnya, poster atau video pendek), terbukti sangat berhasil dalam mengatasi
masalah keterbatasan waktu untuk mengidentifikasi kesalahan dan perlunya variasi metode. Proyek
ini memaksa siswa untuk mencari ide pokok dan kalimat pendukung dari sumber mereka sendiri
untuk dimasukkan dalam media kampanye. Hal ini memungkinkan saya mengidentifikasi kesulitan
siswa dalam merangkum dan menggunakan bahasa yang persuasif tentang Tanggung Jawab
Kolektif, sekaligus menyediakan pendekatan visual dan kreatif yang sangat menarik bagi siswa.
REFLEKSI
HARAPAN Peningkatan Dampak Proyek: Agar pembelajaran memiliki
makna lebih luas, saya akan mengintegrasikan tahap
diseminasi yang lebih kuat. Produk akhir (Media Kampanye)
tidak hanya dipresentasikan di kelas, tetapi akan dipublikasikan
atau dipamerkan di area publik sekolah (misalnya, mading
sekolah, hall utama) atau diunggah ke platform internal, untuk
menumbuhkan rasa kepemilikan siswa terhadap proyek dan
meningkatkan kesadaran warga sekolah lain.
Amalia Laila N, S.Pd