Presented by Sugiyono,S.Pd
NU, AMALIYAH, TRADISI DAN DALIL
KEAGAMAAN
DISAMPAIKAN PADA PKD PAC GP ANSOR
KECAMATAN BINANGUN CILACAP
PROFIL INSTRUKTUR
NAMA : SUGIYONO,S.PD
TTL : CILACAP, 23-09-1985
ALAMAT : RT 08/06 UJUNGMANIK-KAWUNGANTEN-CILACAP
PENDIDIKAN : S1
PEKERJAAN : GURU MTS NEGERI 4 CILACAP
JABATAN : INSTRUKTUR PC GP ANSOR KAB.CILACAP
PENDIDIKAN NON FORMAL : PP ASMAUL HUSNA RANTE WRINGIN
BULUSPESANTREN KEBUMEN
JENJANG KADERISASI
PKD ( 2007)
PKL ( 2018)
LI 1 (2021)
Tahun 26 Lahire NU ...
Ijo ijo Benderane NU ...
Gambar Jagad Simbule NU ...
Bintang songo Lambange
NU ...
Suriyah Ulamane NU ...
Tanfidziyah pelaksana NU ...
GP Ansor pemuda NU ...
Fatayat Pemudi NU ...
Nganggo Usholli Sholate NU ...
Adzan pindo Jum'atane NU ...
Nganggo qunut subuhe NU ...
Dzikir bareng amalane NU ...
Tahlilan hadiahe NU ...
Manaqiban washilahe NU ...
wiridan rutinane NU ...
Maulidan sholawatane NU
Komite Hijaz
Embrio lahirnya NU juga berangkat dari sejarah pembentukan
Komite Hijaz. Problem keagamaan global yang dihadapi para ulama
pesantren ialah ketika Dinasti Saud di Arab Saudi ingin
membongkar makam Nabi Muhammad SAW karena menjadi tujuan
ziarah seluruh Muslim di dunia yang dianggap bid’ah. Selain itu,
Raja Saud juga ingin menerapkan kebijakan untuk menolak praktik
bermazhab di wilayah kekuasaannya. Karena ia hanya ingin
menerapkan Wahabi sebagai mazhab resmi kerajaan.
HISTORITAS KELAHIRAN NU
Di Indonesia, para ulama dari kalangan pesantren
dikeluarkan dari konggres Al Islam di Yogyakarta
pada tahun 1925 sehingga tidk diikutsertakan
sebagai delegasi dalam Mu’tamar Al Islami
(Konggres Islam Internasional) di Makkah yang
ingin mengesahkan penggusuran makam
Rosululloh SAW
UNTUK MEMPERJUANGKAN KEBEBASAN BERMADHAB DAN AGAR
MAKAM ROSULULLOH TIDAK DIGUSUR, MAKA PARA ULAMA
PESANTREN MEMBENTUK KOMITE HIJAZ YANG DIKETUAI OLEH KH.
WAHAB HASBULLOH
KOMUNITAS KECIL (KOMITE HIJAZ) INILAH YANG
MAMPU MENCEGAH NIAT RAJA IBNU SA’UD
MENGGUSUR MAKAM NABI MUHAMMAD SAW.
ADAPUN UTUSAN YG MENGHADAP RAJA IBNU SAUD
ADALAH KH. RADEN ASNAWI DAN KH. WAHAB
HASBULLOH
PADA 16 RAJAB 1344 H (31 JANUARI 1926 M)
NAHDLOTUL ULAMA (NU) LAHIR DENGAN FAHAM
AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH DAN DISEPAKATI
PULA KH. HASYIM AS’ARI SEBAGAI ROIS AKBAR.
NAMA NAHDLUTUL ULAMA SENDIRI DIUSULKAN
OLEH KH. MAS ALWI BIN ABDUL AZIZ
Referensi : Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU
(2010)
Riwayat-riwayat tersebut berkelindan satu sama
lain, yaitu ikhtiar lahir dan batin. Peristiwa sejarah
itu juga membuktikan bahwa NU lahir tidak hanya
untuk merespons kondisi rakyat yang sedang
terjajah, problem keagamaan, dan problem sosial di
tanah air, tetapi juga menegakkan warisan-warisan
kebudayaan dan peradaban Islam yang telah
diperjuangkan oleh Nabi Muhammad dan para
sahabatnya.
Dari pengertian secara harfiah di atas, bisa kita
simpulkan, bahwa Nahdlatul Ulama adalah
kebangkitan orang-orang yang memiliki dan
memahami ilmu agama serta mampu
mengamalkannya di tengah masyarakat.
PENGERTIAN SECARA BAHASA DAN ISTILAH
Nahdlatul Ulama secara bahasa diartikan dengan
kebangkitan ulama
MUSTASYAR (Penasehat)
SYURIAH (Pemimpin Tertinggi)
TANFIDZIAH (Pelaksana Tugas Harian)
TINGKATAN KEPENGURUSAN NAHDLOTUL ULAMA :
KEPENGURUSAN TINGKAT NASIONAL PENGURUS BESAR (PB)
KEPENGURUSAN TINGKAT PROVINSI PENGURUS WILAYAH (PW)
KEPENGURUSAN TINGKAT KABUPATEN PENGURUS CABANG (PC)
KEPENGURUSAN TINGKAT KECAMATAN MAJLIS WAKIL CABANG (MWC)
KEPENGURUSAN TINGKAT DESA PENGURUS RANTING (PR)
KEPENGURUSAN TINGKAT DUSUN PENGURUS ANAK RANTING (PAR)
ANGGOTA/WARGA NAHDLOTUL ULAMA MASYARAKAT
KEPENGURUSAN NU DI LUAR NEGERI PENGURUS CABANG ISTIMEWA NU
INDONESIA ......(NAMA NEGARA)
STRUKTUR DAN TINGKTAN
NAHDLOTUL ULAMA
Dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan
Indonesia
PERAN - PERAN NU
KH. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo
dan Teuku Hasan dari Sumatra
Dalam Piagam Jakarta Tokoh NU sebagai pencetus
penghapusan 7 kata setelah ketuhanan. (KH. Wahid Hasyim)
Melalui riyadloh ayahnya yaitu KH. Hasyim As’ari.
Dari : “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam
bagi Pemeluk-pemeluknya”
Menjadi : “Ketuhanan yang Maha Esa”
Resolusi Jihad yg dipelopori oleh pendiri NU KH.
Hasyim As’ari Perjuangan. Kemerdekaan merasa
belum berakhir meski proklamasi kemerdekaan
sudah dideklarasikan pada tgl 17 Agustus 1945.
Wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa dan Madura
berkumpul di Surabaya dan menyatakan
perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (perang
suci).
RESOLUSI JIHAD
Bismillahirrahmanirrahim
• Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesi bukanlah
agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk
menggantikan kedudukan agama.
• Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia
menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila
yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.
• Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syari’ah, meliputi aspek
hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia.
• Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya
umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.
• Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban
mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya
yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.
HUBUNGAN PANCASILA DAN ISLAM SEBAGAIMANA
TERTUANG DALAM RUMUSAN MUNAS ALIM ULAMA
NU DI SITUBONDO TAHUN 1983.
• Karena nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu
sendiri merupakan sesuatu yang baik (maslahat).
• alasan penerimaan pancasila ini karena fungsinya sebagai
mu’ahadah atau mitsaq. Yakni sebuah kesepakatan, antara
umat Islam dengan golongan lain di Indonesia untuk
mendirikan Negara
DUA ALASAN MENGAPA NU MENERIMA PANCASILA SEBAGAI DASAR
FALSAFAH NEGARA INDONESIA
•
‫ا‬َ
‫ذ‬ِ‫إ‬ ُ
‫ه‬َ
‫ع‬َ
‫م‬ ‫ا‬َ
‫ن‬َ‫أ‬َ
‫و‬ ،‫ي‬ِ
‫ب‬ ‫ِي‬
‫د‬ْ‫ب‬َ
‫ع‬ ِّ
‫ن‬ َ
‫ظ‬ َ
‫د‬ْ‫ن‬ِ
‫ع‬ ‫ا‬َ
‫ن‬َ‫أ‬ ‫ى‬َ‫ل‬‫ا‬َ
‫ع‬َ
‫ت‬ ُ‫اهلل‬ ُ
‫ول‬ُ
‫ق‬َ
‫ي‬ : ُّ
‫ي‬ِ
‫ب‬َّ
‫الن‬ َ
‫ال‬َ
‫ق‬ ، َ
‫ال‬َ
‫ق‬ َ
‫ة‬َ
‫ر‬ْ‫ي‬َ
‫ر‬ُ
‫ه‬ ‫ي‬ِ
‫ب‬َ‫أ‬ ْ
‫ن‬َ
‫ع‬
ٍ
‫ر‬ْ‫ي‬َ
‫خ‬ ٍ
‫إل‬َ
‫م‬ ‫ِي‬
‫ف‬ ُ
‫ه‬ُ
‫ت‬ْ
‫ر‬َ
‫ك‬َ
‫ذ‬ ٍ
‫إل‬َ
‫م‬ ‫ِي‬
‫ف‬ ‫ِي‬
‫ن‬َ
‫ر‬َ
‫ك‬َ
‫ذ‬ ْ
‫ن‬ِ‫إ‬َ
‫و‬ ‫ي‬ ِ
‫س‬ْ‫ف‬َ
‫ن‬ ‫ِي‬
‫ف‬ ُ
‫ه‬ُ
‫ت‬ْ
‫ر‬َ
‫ك‬َ
‫ذ‬ ِ
‫ه‬ ِ
‫س‬ْ‫ف‬َ
‫ن‬ ‫ِي‬
‫ف‬ ‫ِي‬
‫ن‬َ
‫ر‬َ
‫ك‬َ
‫ذ‬ ْ
‫ن‬ِ
‫إ‬َ
‫ف‬ ،‫ِي‬
‫ن‬َ
‫ر‬َ
‫ك‬َ
‫ذ‬
،‫البخاري‬ ‫(رواه‬ ْ
‫م‬ُ
‫ه‬ْ‫ن‬ِ
‫م‬
7857
،‫لم‬ ‫ومس‬ ،
4832
،‫والترمذي‬ ،
3528
،‫ه‬ ‫ماج‬ ‫ن‬ ‫واب‬ ،
3812
AMALIYAH NU
1.MENGERASKAN DZIKIR
“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata. Nabi SAW bersabda, “Allah ta’ala berfirman, “Saya akan berbuat sesuai dengan
keyakinan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku akan selalu bersamanya selama ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat
(berdzikir) kepada-Ku di dalam hatinya, maka Aku akan memperhatikannya. Dan jika ia menyebut Aku di dalam
suatu perkumpulan (dengan suara yang didengar orang lain) maka Aku akan ingat kepadanya di dalam
perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulan yang mereka adakan.” (HR. al-Bukhari [7857], Muslim [4832], al-
Tirmidzi [3528] dan Ibnu Majah [3812]).
Di samping itu banyak sekali do’a-do’a yang diajarkan oleh Nabi SAW yang
diriwayatkan para sahabat, itu artinya suara Nabi cukup keras sehingga para
sahabat dapat mendengar dan menghafalnya.
AMALIYAH NU
2.SHOLAT TARAWIH 20 RAKAAT
َ‫ع‬
‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ َ
‫ان‬ َ
‫ض‬َ
‫م‬َ
‫ر‬ ‫ي‬ ِ
‫ف‬ ً
‫ة‬َ‫ل‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ ُ
‫ه‬ْ‫ن‬َ
‫ع‬ ُ‫اهلل‬ َ
‫ي‬ ِ
‫ض‬َ
‫ر‬ ِ
‫اب‬ َّ
‫ط‬َ
‫خ‬ْ‫ال‬ ِ
‫ن‬ْ‫ب‬ َ
‫ر‬َ
‫م‬ُ
‫ع‬ َ
‫ع‬َ
‫م‬ ُ
‫ت‬ ْ
‫ج‬َ
‫ر‬َ
‫خ‬ : َ
‫ال‬َ
‫ق‬ ُ
‫ه‬َّ
‫ن‬َ‫أ‬ ِّ
‫ي‬ِ
‫ار‬َ
‫ق‬ْ‫ال‬ ٍ
‫د‬ْ‫ب‬َ
‫ع‬ ِ
‫ن‬ْ‫ب‬ ِ
‫ن‬َ
‫م‬ ْ
‫ح‬َّ
‫الر‬ ِ
‫د‬ْ‫ب‬َ
‫ع‬ ْ
‫ن‬
‫ى‬َ
‫ر‬َ‫أ‬ ‫ي‬ِّ
‫ن‬ِ‫إ‬ ُ
‫ر‬َ
‫م‬ُ
‫ع‬ َ
‫ال‬َ
‫ق‬َ
‫ف‬ ُ
‫ط‬ْ
‫ه‬َّ
‫الر‬ ِ
‫ه‬ِ
‫ت‬ ‫اَل‬ َ
‫ص‬ِ
‫ب‬ ‫ي‬ِّ‫ل‬ َ
‫ص‬ُ
‫ي‬َ
‫ف‬ ُ
‫ل‬ُ
‫ج‬َّ
‫الر‬ ‫ي‬ِّ‫ل‬ َ
‫ص‬ُ
‫ي‬َ
‫و‬ ِ
‫ه‬ ِ
‫س‬ْ‫ف‬َ
‫ن‬ِ‫ل‬ ُ
‫ل‬ُ
‫ج‬َّ
‫الر‬ ‫ي‬ِّ‫ل‬ َ
‫ص‬ُ
‫ي‬ َ
‫ون‬ُ
‫ق‬ِّ
‫ر‬َ
‫ف‬َ
‫ت‬ُ
‫م‬ ٌ
‫اع‬َ
‫ز‬ْ
‫و‬َ‫أ‬ ُ
‫اس‬َّ
‫الن‬ ‫ا‬َ
‫ذ‬ِ‫إ‬َ
‫ف‬ ِ
‫د‬ِ
‫ج‬ ْ
‫س‬َ
‫م‬ْ‫ال‬
ُ
‫اس‬َّ
‫الن‬َ
‫و‬ ‫ى‬َ
‫ر‬ ْ
‫خ‬ُ‫أ‬ ً
‫ة‬َ‫ل‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ ُ
‫ه‬َ
‫ع‬َ
‫م‬ ُ
‫ت‬ ْ
‫ج‬َ
‫ر‬َ
‫خ‬ َّ
‫م‬ُ
‫ث‬ ٍ
‫ب‬ْ
‫ع‬َ
‫ك‬ ِ
‫ن‬ْ‫ب‬ ِّ
‫ي‬َ
‫ب‬ُ‫أ‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ
‫ع‬ ْ
‫م‬ُ
‫ه‬َ
‫ع‬َ
‫م‬َ
‫ج‬َ
‫ف‬ َ
‫م‬َ
‫ز‬َ
‫ع‬ َّ
‫م‬ُ
‫ث‬ َ
‫ل‬َ
‫ث‬ْ
‫م‬َ‫أ‬ َ
‫ان‬َ
‫ك‬َ‫ل‬ ٍ
‫د‬ِ
‫اح‬َ
‫و‬ ٍ
‫ئ‬ِ
‫ار‬َ
‫ق‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ
‫ع‬ ِ
‫ء‬ ‫اَل‬ُ
‫ؤ‬َ
‫ه‬ ُ
‫ت‬ْ
‫ع‬َ
‫م‬َ
‫ج‬ ْ
‫و‬َ‫ل‬
ِ
‫ه‬ِ
‫ذ‬َ
‫ه‬ ُ
‫ة‬َ
‫ْع‬
‫د‬ِ
‫ب‬ْ‫ال‬ َ
‫م‬ْ
‫ع‬ِ
‫ن‬ ُ
‫ر‬َ
‫م‬ُ
‫ع‬ َ
‫ال‬َ
‫ق‬ ْ
‫م‬ِ
‫ِه‬
‫ئ‬ِ
‫ار‬َ
‫ق‬ ِ
‫ة‬َ
‫ال‬ َ
‫ص‬ِ
‫ب‬ َ
‫ون‬ُّ‫ل‬ َ
‫ص‬ُ
‫ي‬
Artinya: “Dari ‘Abdirrahman bin ‘Abdil Qari’, beliau berkata: ‘Saya keluar bersama Sayyidina Umar
bin Khattab radliyallahu ‘anh ke masjid pada bulan Ramadhan. (Didapati dalam masjid tersebut)
orang yang shalat tarawih berbeda-beda. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada juga yang
shalat berjamaah. Lalu Sayyidina Umar berkata: ‘Saya punya pendapat andai mereka aku
kumpulkan dalam jamaah satu imam, niscaya itu lebih bagus.” Lalu beliau mengumpulkan
kepada mereka dengan seorang imam, yakni sahabat Ubay bin Ka’ab. Kemudian satu malam
berikutnya, kami datang lagi ke masjid. Orang-orang sudah melaksanakan shalat tarawih
dengan berjamaah di belakang satu imam. Umar berkata, ‘Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini
(shalat tarawih dengan berjamaah),”
HR Bukhari (1871).
AMALIYAH NU
3.QUNUT SHOLAT SUBUH
‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫م‬ّ‫وسل‬ ‫ه‬ْ‫ي‬‫عل‬ ُ‫ه‬‫الل‬ ‫ى‬ّ‫صل‬ ِ‫ه‬ّ‫الل‬ ُ‫ول‬ُ‫س‬َ‫ر‬ َ
‫ت‬َ‫ن‬َ‫ق‬ ْ‫ل‬َ‫ه‬ :‫س‬َ‫ن‬‫ََأِل‬
ُ
‫ت‬ْ‫ل‬ُ‫ق‬ :‫ال‬َ‫ق‬ ‫د‬ّ‫م‬َ‫ح‬ُ‫م‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬
‫مسلم‬ ‫رواه‬ .‫ا‬ً‫ير‬ِ‫يس‬ ِ‫الركوع‬ َ‫د‬ْ‫ع‬‫ب‬ ْ‫م‬َ‫ع‬‫ن‬ :َ‫قال‬ ‫؟‬ِ‫ح‬ْ‫ب‬ّ‫ص‬‫ال‬ ِ‫ة‬‫ال‬َ‫ص‬
Artinya: Dari Muhammad bin Sirin, ia bertanya kepada Anas bin Malik:
Apakah Rasulullah qunut saat shalat Subuh? Anas menjawab: Ya,
setelah ruku', sedikit (dengan selisih waktu yang sebentar). (HR
Muslim)
.
‫أحمد‬ ‫(رواه‬ ‫ا‬َ‫ي‬ْ‫ن‬ُّ‫د‬‫ال‬ َ‫ق‬َ‫ار‬َ‫ف‬ ‫ى‬َّ‫ت‬َ‫ح‬ ِ‫ر‬ْ‫ج‬َ‫ف‬ْ‫ال‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ُ
‫ت‬ُ‫ن‬ْ‫ق‬َ‫ي‬ ِ‫ه‬‫الل‬ ُ‫ول‬ُ‫س‬َ‫ر‬ َ‫ال‬َ‫ز‬ ‫ا‬َ‫م‬ َ‫ال‬َ‫ق‬ ٍ‫ك‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ ِ‫ن‬ْ‫ب‬ ِ‫س‬َ‫ن‬‫َأ‬
ْ‫ن‬َ‫ع‬
)‫والدارقطني‬
Artinya: Diriwayatkan dari Anas Ibn Malik, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam senantiasa membaca qunut ketika shalat Subuh sehingga beliau wafat. (Musnad
Ahmad bin Hanbal, juz III, hal. 162 [12679], Sunan al-Daraquthni, juz II, hal. 39 [9])
.
AMALIYAH NU
4.TAWASUL
ِ‫د‬ْ‫ب‬َ‫ع‬ ِ‫ن‬ْ‫ب‬ ِ‫اس‬َّ‫ب‬َ‫ع‬ْ‫ال‬ِ‫ب‬ ‫ي‬ِ‫ق‬ْ‫س‬َ‫ت‬ْ‫س‬َ‫ي‬ ‫وا‬ُ‫ط‬ِ‫ح‬َ‫ق‬ ‫ا‬َ‫ذ‬‫ِإ‬ َ‫ن‬‫ا‬َ‫ك‬ - ‫عنه‬ ‫الله‬ ‫رضي‬ - َ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ع‬ َّ‫ن‬‫َأ‬ - ;ٍ‫س‬َ‫ن‬‫َأ‬
ْ‫ن‬َ‫ع‬َ‫و‬
ِ‫ب‬ِ‫ل‬َّ‫ط‬ُ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ا‬
،‫ا‬َ‫ن‬ِ‫ق‬ْ‫س‬‫ا‬َ‫ف‬ ‫ا‬َ‫ن‬ِّ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫ن‬ ِّ‫م‬َ‫ع‬ِ‫ب‬ َ‫ك‬ْ‫ي‬َ‫ل‬‫ِإ‬ ُ‫ل‬َّ‫س‬َ‫و‬َ‫ت‬َ‫ن‬ ‫ا‬َّ‫ن‬‫ِإ‬َ‫و‬ ,‫ا‬َ‫ين‬ِ‫ق‬ْ‫س‬َ‫ت‬َ‫ف‬ ‫ا‬َ‫ن‬ِّ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫ن‬ِ‫ب‬ َ‫ك‬ْ‫ي‬َ‫ل‬‫ِإ‬ ‫ي‬ِ‫ق‬ْ‫س‬َ‫ت‬ْ‫س‬َ‫ن‬ ‫ا‬َّ‫ن‬ُ‫ك‬ ‫ا‬َّ‫ن‬‫ِإ‬ َّ‫م‬ُ‫ه‬َّ‫لل‬َ‫ا‬ :َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬َ‫و‬
ُّ‫ي‬ِ‫ار‬َ‫خ‬ُ‫ب‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫ه‬‫ا‬َ‫و‬َ‫ر‬ - َ‫ن‬ْ‫َو‬‫ق‬ْ‫س‬ُ‫ي‬َ‫ف‬
Artinya, “Dari Sahabat Anas RA, Amirul Mukminin Umar bin Khatthab RA ketika
masyarakat mengalami kekeringan berkepanjangan bertawasul dalam istisqa
melalui sahabat Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib RA. Sayyidina Umar RA dalam
doa istisqanya mengatakan, ‘Allāhumma innā kunnā nastaqī ilaika bi nabiyyinā, fa
tasqīnā. Wa innā natawassalu ilaika bi ‘ammi nabiyyinā, fasqinā,’ lalu hujan pun
turun kepada mereka,” (HR Bukhari).
THANK
You

NU, AMALIYAH, TRADISI DAN DALIL KEAGAMAAN FIX.pptx

  • 1.
    Presented by Sugiyono,S.Pd NU,AMALIYAH, TRADISI DAN DALIL KEAGAMAAN DISAMPAIKAN PADA PKD PAC GP ANSOR KECAMATAN BINANGUN CILACAP
  • 2.
    PROFIL INSTRUKTUR NAMA :SUGIYONO,S.PD TTL : CILACAP, 23-09-1985 ALAMAT : RT 08/06 UJUNGMANIK-KAWUNGANTEN-CILACAP PENDIDIKAN : S1 PEKERJAAN : GURU MTS NEGERI 4 CILACAP JABATAN : INSTRUKTUR PC GP ANSOR KAB.CILACAP PENDIDIKAN NON FORMAL : PP ASMAUL HUSNA RANTE WRINGIN BULUSPESANTREN KEBUMEN JENJANG KADERISASI PKD ( 2007) PKL ( 2018) LI 1 (2021)
  • 3.
    Tahun 26 LahireNU ... Ijo ijo Benderane NU ... Gambar Jagad Simbule NU ... Bintang songo Lambange NU ... Suriyah Ulamane NU ... Tanfidziyah pelaksana NU ... GP Ansor pemuda NU ... Fatayat Pemudi NU ... Nganggo Usholli Sholate NU ... Adzan pindo Jum'atane NU ... Nganggo qunut subuhe NU ... Dzikir bareng amalane NU ... Tahlilan hadiahe NU ... Manaqiban washilahe NU ... wiridan rutinane NU ... Maulidan sholawatane NU
  • 4.
    Komite Hijaz Embrio lahirnyaNU juga berangkat dari sejarah pembentukan Komite Hijaz. Problem keagamaan global yang dihadapi para ulama pesantren ialah ketika Dinasti Saud di Arab Saudi ingin membongkar makam Nabi Muhammad SAW karena menjadi tujuan ziarah seluruh Muslim di dunia yang dianggap bid’ah. Selain itu, Raja Saud juga ingin menerapkan kebijakan untuk menolak praktik bermazhab di wilayah kekuasaannya. Karena ia hanya ingin menerapkan Wahabi sebagai mazhab resmi kerajaan. HISTORITAS KELAHIRAN NU
  • 5.
    Di Indonesia, paraulama dari kalangan pesantren dikeluarkan dari konggres Al Islam di Yogyakarta pada tahun 1925 sehingga tidk diikutsertakan sebagai delegasi dalam Mu’tamar Al Islami (Konggres Islam Internasional) di Makkah yang ingin mengesahkan penggusuran makam Rosululloh SAW UNTUK MEMPERJUANGKAN KEBEBASAN BERMADHAB DAN AGAR MAKAM ROSULULLOH TIDAK DIGUSUR, MAKA PARA ULAMA PESANTREN MEMBENTUK KOMITE HIJAZ YANG DIKETUAI OLEH KH. WAHAB HASBULLOH
  • 6.
    KOMUNITAS KECIL (KOMITEHIJAZ) INILAH YANG MAMPU MENCEGAH NIAT RAJA IBNU SA’UD MENGGUSUR MAKAM NABI MUHAMMAD SAW. ADAPUN UTUSAN YG MENGHADAP RAJA IBNU SAUD ADALAH KH. RADEN ASNAWI DAN KH. WAHAB HASBULLOH PADA 16 RAJAB 1344 H (31 JANUARI 1926 M) NAHDLOTUL ULAMA (NU) LAHIR DENGAN FAHAM AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH DAN DISEPAKATI PULA KH. HASYIM AS’ARI SEBAGAI ROIS AKBAR. NAMA NAHDLUTUL ULAMA SENDIRI DIUSULKAN OLEH KH. MAS ALWI BIN ABDUL AZIZ Referensi : Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU (2010)
  • 7.
    Riwayat-riwayat tersebut berkelindansatu sama lain, yaitu ikhtiar lahir dan batin. Peristiwa sejarah itu juga membuktikan bahwa NU lahir tidak hanya untuk merespons kondisi rakyat yang sedang terjajah, problem keagamaan, dan problem sosial di tanah air, tetapi juga menegakkan warisan-warisan kebudayaan dan peradaban Islam yang telah diperjuangkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya.
  • 8.
    Dari pengertian secaraharfiah di atas, bisa kita simpulkan, bahwa Nahdlatul Ulama adalah kebangkitan orang-orang yang memiliki dan memahami ilmu agama serta mampu mengamalkannya di tengah masyarakat. PENGERTIAN SECARA BAHASA DAN ISTILAH Nahdlatul Ulama secara bahasa diartikan dengan kebangkitan ulama
  • 9.
    MUSTASYAR (Penasehat) SYURIAH (PemimpinTertinggi) TANFIDZIAH (Pelaksana Tugas Harian) TINGKATAN KEPENGURUSAN NAHDLOTUL ULAMA : KEPENGURUSAN TINGKAT NASIONAL PENGURUS BESAR (PB) KEPENGURUSAN TINGKAT PROVINSI PENGURUS WILAYAH (PW) KEPENGURUSAN TINGKAT KABUPATEN PENGURUS CABANG (PC) KEPENGURUSAN TINGKAT KECAMATAN MAJLIS WAKIL CABANG (MWC) KEPENGURUSAN TINGKAT DESA PENGURUS RANTING (PR) KEPENGURUSAN TINGKAT DUSUN PENGURUS ANAK RANTING (PAR) ANGGOTA/WARGA NAHDLOTUL ULAMA MASYARAKAT KEPENGURUSAN NU DI LUAR NEGERI PENGURUS CABANG ISTIMEWA NU INDONESIA ......(NAMA NEGARA) STRUKTUR DAN TINGKTAN NAHDLOTUL ULAMA
  • 10.
    Dalam BPUPKI (BadanPenyelidik Persiapan Kemerdekaan Indonesia PERAN - PERAN NU KH. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo dan Teuku Hasan dari Sumatra Dalam Piagam Jakarta Tokoh NU sebagai pencetus penghapusan 7 kata setelah ketuhanan. (KH. Wahid Hasyim) Melalui riyadloh ayahnya yaitu KH. Hasyim As’ari. Dari : “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya” Menjadi : “Ketuhanan yang Maha Esa”
  • 11.
    Resolusi Jihad ygdipelopori oleh pendiri NU KH. Hasyim As’ari Perjuangan. Kemerdekaan merasa belum berakhir meski proklamasi kemerdekaan sudah dideklarasikan pada tgl 17 Agustus 1945. Wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya dan menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (perang suci). RESOLUSI JIHAD
  • 12.
    Bismillahirrahmanirrahim • Pancasila sebagaidasar dan falsafah Negara Republik Indonesi bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama. • Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam. • Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia. • Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya. • Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak. HUBUNGAN PANCASILA DAN ISLAM SEBAGAIMANA TERTUANG DALAM RUMUSAN MUNAS ALIM ULAMA NU DI SITUBONDO TAHUN 1983.
  • 13.
    • Karena nilai-nilaiyang terkandung dalam pancasila itu sendiri merupakan sesuatu yang baik (maslahat). • alasan penerimaan pancasila ini karena fungsinya sebagai mu’ahadah atau mitsaq. Yakni sebuah kesepakatan, antara umat Islam dengan golongan lain di Indonesia untuk mendirikan Negara DUA ALASAN MENGAPA NU MENERIMA PANCASILA SEBAGAI DASAR FALSAFAH NEGARA INDONESIA
  • 14.
    • ‫ا‬َ ‫ذ‬ِ‫إ‬ ُ ‫ه‬َ ‫ع‬َ ‫م‬ ‫ا‬َ ‫ن‬َ‫أ‬َ ‫و‬،‫ي‬ِ ‫ب‬ ‫ِي‬ ‫د‬ْ‫ب‬َ ‫ع‬ ِّ ‫ن‬ َ ‫ظ‬ َ ‫د‬ْ‫ن‬ِ ‫ع‬ ‫ا‬َ ‫ن‬َ‫أ‬ ‫ى‬َ‫ل‬‫ا‬َ ‫ع‬َ ‫ت‬ ُ‫اهلل‬ ُ ‫ول‬ُ ‫ق‬َ ‫ي‬ : ُّ ‫ي‬ِ ‫ب‬َّ ‫الن‬ َ ‫ال‬َ ‫ق‬ ، َ ‫ال‬َ ‫ق‬ َ ‫ة‬َ ‫ر‬ْ‫ي‬َ ‫ر‬ُ ‫ه‬ ‫ي‬ِ ‫ب‬َ‫أ‬ ْ ‫ن‬َ ‫ع‬ ٍ ‫ر‬ْ‫ي‬َ ‫خ‬ ٍ ‫إل‬َ ‫م‬ ‫ِي‬ ‫ف‬ ُ ‫ه‬ُ ‫ت‬ْ ‫ر‬َ ‫ك‬َ ‫ذ‬ ٍ ‫إل‬َ ‫م‬ ‫ِي‬ ‫ف‬ ‫ِي‬ ‫ن‬َ ‫ر‬َ ‫ك‬َ ‫ذ‬ ْ ‫ن‬ِ‫إ‬َ ‫و‬ ‫ي‬ ِ ‫س‬ْ‫ف‬َ ‫ن‬ ‫ِي‬ ‫ف‬ ُ ‫ه‬ُ ‫ت‬ْ ‫ر‬َ ‫ك‬َ ‫ذ‬ ِ ‫ه‬ ِ ‫س‬ْ‫ف‬َ ‫ن‬ ‫ِي‬ ‫ف‬ ‫ِي‬ ‫ن‬َ ‫ر‬َ ‫ك‬َ ‫ذ‬ ْ ‫ن‬ِ ‫إ‬َ ‫ف‬ ،‫ِي‬ ‫ن‬َ ‫ر‬َ ‫ك‬َ ‫ذ‬ ،‫البخاري‬ ‫(رواه‬ ْ ‫م‬ُ ‫ه‬ْ‫ن‬ِ ‫م‬ 7857 ،‫لم‬ ‫ومس‬ ، 4832 ،‫والترمذي‬ ، 3528 ،‫ه‬ ‫ماج‬ ‫ن‬ ‫واب‬ ، 3812 AMALIYAH NU 1.MENGERASKAN DZIKIR “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata. Nabi SAW bersabda, “Allah ta’ala berfirman, “Saya akan berbuat sesuai dengan keyakinan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku akan selalu bersamanya selama ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat (berdzikir) kepada-Ku di dalam hatinya, maka Aku akan memperhatikannya. Dan jika ia menyebut Aku di dalam suatu perkumpulan (dengan suara yang didengar orang lain) maka Aku akan ingat kepadanya di dalam perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulan yang mereka adakan.” (HR. al-Bukhari [7857], Muslim [4832], al- Tirmidzi [3528] dan Ibnu Majah [3812]). Di samping itu banyak sekali do’a-do’a yang diajarkan oleh Nabi SAW yang diriwayatkan para sahabat, itu artinya suara Nabi cukup keras sehingga para sahabat dapat mendengar dan menghafalnya.
  • 15.
    AMALIYAH NU 2.SHOLAT TARAWIH20 RAKAAT َ‫ع‬ ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ َ ‫ان‬ َ ‫ض‬َ ‫م‬َ ‫ر‬ ‫ي‬ ِ ‫ف‬ ً ‫ة‬َ‫ل‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ ُ ‫ه‬ْ‫ن‬َ ‫ع‬ ُ‫اهلل‬ َ ‫ي‬ ِ ‫ض‬َ ‫ر‬ ِ ‫اب‬ َّ ‫ط‬َ ‫خ‬ْ‫ال‬ ِ ‫ن‬ْ‫ب‬ َ ‫ر‬َ ‫م‬ُ ‫ع‬ َ ‫ع‬َ ‫م‬ ُ ‫ت‬ ْ ‫ج‬َ ‫ر‬َ ‫خ‬ : َ ‫ال‬َ ‫ق‬ ُ ‫ه‬َّ ‫ن‬َ‫أ‬ ِّ ‫ي‬ِ ‫ار‬َ ‫ق‬ْ‫ال‬ ٍ ‫د‬ْ‫ب‬َ ‫ع‬ ِ ‫ن‬ْ‫ب‬ ِ ‫ن‬َ ‫م‬ ْ ‫ح‬َّ ‫الر‬ ِ ‫د‬ْ‫ب‬َ ‫ع‬ ْ ‫ن‬ ‫ى‬َ ‫ر‬َ‫أ‬ ‫ي‬ِّ ‫ن‬ِ‫إ‬ ُ ‫ر‬َ ‫م‬ُ ‫ع‬ َ ‫ال‬َ ‫ق‬َ ‫ف‬ ُ ‫ط‬ْ ‫ه‬َّ ‫الر‬ ِ ‫ه‬ِ ‫ت‬ ‫اَل‬ َ ‫ص‬ِ ‫ب‬ ‫ي‬ِّ‫ل‬ َ ‫ص‬ُ ‫ي‬َ ‫ف‬ ُ ‫ل‬ُ ‫ج‬َّ ‫الر‬ ‫ي‬ِّ‫ل‬ َ ‫ص‬ُ ‫ي‬َ ‫و‬ ِ ‫ه‬ ِ ‫س‬ْ‫ف‬َ ‫ن‬ِ‫ل‬ ُ ‫ل‬ُ ‫ج‬َّ ‫الر‬ ‫ي‬ِّ‫ل‬ َ ‫ص‬ُ ‫ي‬ َ ‫ون‬ُ ‫ق‬ِّ ‫ر‬َ ‫ف‬َ ‫ت‬ُ ‫م‬ ٌ ‫اع‬َ ‫ز‬ْ ‫و‬َ‫أ‬ ُ ‫اس‬َّ ‫الن‬ ‫ا‬َ ‫ذ‬ِ‫إ‬َ ‫ف‬ ِ ‫د‬ِ ‫ج‬ ْ ‫س‬َ ‫م‬ْ‫ال‬ ُ ‫اس‬َّ ‫الن‬َ ‫و‬ ‫ى‬َ ‫ر‬ ْ ‫خ‬ُ‫أ‬ ً ‫ة‬َ‫ل‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ ُ ‫ه‬َ ‫ع‬َ ‫م‬ ُ ‫ت‬ ْ ‫ج‬َ ‫ر‬َ ‫خ‬ َّ ‫م‬ُ ‫ث‬ ٍ ‫ب‬ْ ‫ع‬َ ‫ك‬ ِ ‫ن‬ْ‫ب‬ ِّ ‫ي‬َ ‫ب‬ُ‫أ‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ ‫ع‬ ْ ‫م‬ُ ‫ه‬َ ‫ع‬َ ‫م‬َ ‫ج‬َ ‫ف‬ َ ‫م‬َ ‫ز‬َ ‫ع‬ َّ ‫م‬ُ ‫ث‬ َ ‫ل‬َ ‫ث‬ْ ‫م‬َ‫أ‬ َ ‫ان‬َ ‫ك‬َ‫ل‬ ٍ ‫د‬ِ ‫اح‬َ ‫و‬ ٍ ‫ئ‬ِ ‫ار‬َ ‫ق‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ ‫ع‬ ِ ‫ء‬ ‫اَل‬ُ ‫ؤ‬َ ‫ه‬ ُ ‫ت‬ْ ‫ع‬َ ‫م‬َ ‫ج‬ ْ ‫و‬َ‫ل‬ ِ ‫ه‬ِ ‫ذ‬َ ‫ه‬ ُ ‫ة‬َ ‫ْع‬ ‫د‬ِ ‫ب‬ْ‫ال‬ َ ‫م‬ْ ‫ع‬ِ ‫ن‬ ُ ‫ر‬َ ‫م‬ُ ‫ع‬ َ ‫ال‬َ ‫ق‬ ْ ‫م‬ِ ‫ِه‬ ‫ئ‬ِ ‫ار‬َ ‫ق‬ ِ ‫ة‬َ ‫ال‬ َ ‫ص‬ِ ‫ب‬ َ ‫ون‬ُّ‫ل‬ َ ‫ص‬ُ ‫ي‬ Artinya: “Dari ‘Abdirrahman bin ‘Abdil Qari’, beliau berkata: ‘Saya keluar bersama Sayyidina Umar bin Khattab radliyallahu ‘anh ke masjid pada bulan Ramadhan. (Didapati dalam masjid tersebut) orang yang shalat tarawih berbeda-beda. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada juga yang shalat berjamaah. Lalu Sayyidina Umar berkata: ‘Saya punya pendapat andai mereka aku kumpulkan dalam jamaah satu imam, niscaya itu lebih bagus.” Lalu beliau mengumpulkan kepada mereka dengan seorang imam, yakni sahabat Ubay bin Ka’ab. Kemudian satu malam berikutnya, kami datang lagi ke masjid. Orang-orang sudah melaksanakan shalat tarawih dengan berjamaah di belakang satu imam. Umar berkata, ‘Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat tarawih dengan berjamaah),” HR Bukhari (1871).
  • 16.
    AMALIYAH NU 3.QUNUT SHOLATSUBUH ‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫م‬ّ‫وسل‬ ‫ه‬ْ‫ي‬‫عل‬ ُ‫ه‬‫الل‬ ‫ى‬ّ‫صل‬ ِ‫ه‬ّ‫الل‬ ُ‫ول‬ُ‫س‬َ‫ر‬ َ ‫ت‬َ‫ن‬َ‫ق‬ ْ‫ل‬َ‫ه‬ :‫س‬َ‫ن‬‫ََأِل‬ ُ ‫ت‬ْ‫ل‬ُ‫ق‬ :‫ال‬َ‫ق‬ ‫د‬ّ‫م‬َ‫ح‬ُ‫م‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ ‫مسلم‬ ‫رواه‬ .‫ا‬ً‫ير‬ِ‫يس‬ ِ‫الركوع‬ َ‫د‬ْ‫ع‬‫ب‬ ْ‫م‬َ‫ع‬‫ن‬ :َ‫قال‬ ‫؟‬ِ‫ح‬ْ‫ب‬ّ‫ص‬‫ال‬ ِ‫ة‬‫ال‬َ‫ص‬ Artinya: Dari Muhammad bin Sirin, ia bertanya kepada Anas bin Malik: Apakah Rasulullah qunut saat shalat Subuh? Anas menjawab: Ya, setelah ruku', sedikit (dengan selisih waktu yang sebentar). (HR Muslim) . ‫أحمد‬ ‫(رواه‬ ‫ا‬َ‫ي‬ْ‫ن‬ُّ‫د‬‫ال‬ َ‫ق‬َ‫ار‬َ‫ف‬ ‫ى‬َّ‫ت‬َ‫ح‬ ِ‫ر‬ْ‫ج‬َ‫ف‬ْ‫ال‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ُ ‫ت‬ُ‫ن‬ْ‫ق‬َ‫ي‬ ِ‫ه‬‫الل‬ ُ‫ول‬ُ‫س‬َ‫ر‬ َ‫ال‬َ‫ز‬ ‫ا‬َ‫م‬ َ‫ال‬َ‫ق‬ ٍ‫ك‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ ِ‫ن‬ْ‫ب‬ ِ‫س‬َ‫ن‬‫َأ‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ )‫والدارقطني‬ Artinya: Diriwayatkan dari Anas Ibn Malik, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa membaca qunut ketika shalat Subuh sehingga beliau wafat. (Musnad Ahmad bin Hanbal, juz III, hal. 162 [12679], Sunan al-Daraquthni, juz II, hal. 39 [9]) .
  • 17.
    AMALIYAH NU 4.TAWASUL ِ‫د‬ْ‫ب‬َ‫ع‬ ِ‫ن‬ْ‫ب‬ِ‫اس‬َّ‫ب‬َ‫ع‬ْ‫ال‬ِ‫ب‬ ‫ي‬ِ‫ق‬ْ‫س‬َ‫ت‬ْ‫س‬َ‫ي‬ ‫وا‬ُ‫ط‬ِ‫ح‬َ‫ق‬ ‫ا‬َ‫ذ‬‫ِإ‬ َ‫ن‬‫ا‬َ‫ك‬ - ‫عنه‬ ‫الله‬ ‫رضي‬ - َ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ع‬ َّ‫ن‬‫َأ‬ - ;ٍ‫س‬َ‫ن‬‫َأ‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬َ‫و‬ ِ‫ب‬ِ‫ل‬َّ‫ط‬ُ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ،‫ا‬َ‫ن‬ِ‫ق‬ْ‫س‬‫ا‬َ‫ف‬ ‫ا‬َ‫ن‬ِّ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫ن‬ ِّ‫م‬َ‫ع‬ِ‫ب‬ َ‫ك‬ْ‫ي‬َ‫ل‬‫ِإ‬ ُ‫ل‬َّ‫س‬َ‫و‬َ‫ت‬َ‫ن‬ ‫ا‬َّ‫ن‬‫ِإ‬َ‫و‬ ,‫ا‬َ‫ين‬ِ‫ق‬ْ‫س‬َ‫ت‬َ‫ف‬ ‫ا‬َ‫ن‬ِّ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫ن‬ِ‫ب‬ َ‫ك‬ْ‫ي‬َ‫ل‬‫ِإ‬ ‫ي‬ِ‫ق‬ْ‫س‬َ‫ت‬ْ‫س‬َ‫ن‬ ‫ا‬َّ‫ن‬ُ‫ك‬ ‫ا‬َّ‫ن‬‫ِإ‬ َّ‫م‬ُ‫ه‬َّ‫لل‬َ‫ا‬ :َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬َ‫و‬ ُّ‫ي‬ِ‫ار‬َ‫خ‬ُ‫ب‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫ه‬‫ا‬َ‫و‬َ‫ر‬ - َ‫ن‬ْ‫َو‬‫ق‬ْ‫س‬ُ‫ي‬َ‫ف‬ Artinya, “Dari Sahabat Anas RA, Amirul Mukminin Umar bin Khatthab RA ketika masyarakat mengalami kekeringan berkepanjangan bertawasul dalam istisqa melalui sahabat Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib RA. Sayyidina Umar RA dalam doa istisqanya mengatakan, ‘Allāhumma innā kunnā nastaqī ilaika bi nabiyyinā, fa tasqīnā. Wa innā natawassalu ilaika bi ‘ammi nabiyyinā, fasqinā,’ lalu hujan pun turun kepada mereka,” (HR Bukhari).
  • 18.