TUGAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TENTANG KARAKTER DAN SIFAT ISLAM SEBAGAI AGAMA
FITRAH DAN TAUHID
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK II
NAMA :
- BAMBANG SASMITOAJI ( 141910301030
- - ELVIA NURBADDI S ( 141903103029
- KELAS : PAI 10
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN AJARAN 2017/2018
I
PENDAHULUAN
1,1 Latar Belakang
Pada zaman modern ini banyak krisis yang harus dihadapi manusia,
seperti krisis moneter, krisis pangan, krisis bahan bakar, dan yang patut kita
renungkan adalah krisis iman. Krisis iman dikarenakan kurangnya nutrisi
rohani serta kurangnya menjaga fitrah dan kurangnya fungsi tauhid dalam
kehidupan sehari-hari manusia saat ini. Kebanyakan manusia hanya
mementingkan kepentingan dunia dibanding kepentingan akhirat. Sehingga
yang terealisasi hanyalah sifat-sifat manusia yang berbau duniawi,
seperti hedonism, fashionism, kepuasan hawa nafsu, dan lain-lain. Hanya
sedikit manusia yang dapat memanfaatkan fungsi dan menempatkan peran
firah dan tauhid secara benar dan sesuai dengan keadaan zaman manusia
sekarang ini.
Padahal, jika, masyarakat modern saat ini menempatkan fitrah dan
tauhid dalam kehidupan sehari-harinya, insya allah, akan tercipta
masyarakat yang damai, aman, dan terjauh dari sifat-sifat tercela, seperti
korupsi, kolusi, nepotisme, penipuan, dan tindakan-tindakan yang
melanggar hukum agama, maupun hukum perdata dan pidana Negara.
Ada sebuah potensi dalam diri manusia, sebagai unsur dominan yang
sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia dalam menjalankan tugas dan
kedudukannya sebagai ‘abdullah dan Khalifatullah di muka bumi ini.
Potensi tersebut secara sederhana disebut dengan Fitrah. Allah menciptakan
manusia dalam keadaan fitrah dengan dibekali beberapa potensi yakni
potensi yang ada dalam jasmani dan rohani. Bekal yang dimiliki manusia
pun tidak hanya berupa asupan positif saja, karena dalarn diri manusia
tercipta satu potensi yang diberi nama nafsu. Dan nafsu ini yang sering
membawa manusia lupa dan ingkar dengan fitrahnya sebagai hamba dan
khalifah Allah di bumi. Untuk itu manusia perlu mengembangkan potensi
positif yang ada dalam dirinya untuk mencapai fitrah tersebut.
Manusia merupakan makhluk pilihan Allah yang mengembangkan tugas
ganda, yaitu sebagai khalifäh Allah dan Abdullah (Abdi Allah). Untuk
mengaktualisasikan kedua tugas tersebut, manusia dibekali dengan sejumlah
potensi didalam dirinya. Potensi-potensi tersebut berupa ruh, nafs, akal,
qalb, dan fitrah. Dan sesuai dengan fitrahnya itu, Allah menciptakan
manusia, yang dilengkapi dengan naluri beragama yaitu agama Tauhid.
Kalau ada seseorang yang tidak beragama atau ingkar adanya Allah, berarti
dia mengingkari fitrahnya atau nalurinya. Yang kemudian hal tersebutlah
yang disebut dengan Fitrah dan Tauhid.
Oleh karena itu, untuk menghadapi krisis iman pada perkembangan
zaman saat ini, perlu adanya penjelasan yang konkrit tentang beberapa hal
terkait Fitrah dan Tauhid. Semoga dengan adanya penjelsan tersebut kita
menjadi lebih paham tentang konsep Fitrah dan Tauhid.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Fitrah?
2. Bagaimana Mempertahankan Fitrah Manusia?
3. Apa Definisi Tauhid?
4. Bagaimana Kedudukan Tauhid dan Fungsinya Bagi Kehidupan?
II
PEMBAHASAN
2.1 FITRAH
2.1.1 Definisi Fitrah dan Hadistnya
Fitrah berasal dari akar kata f-t-r dalam (Bahasa Arab) yang artinya
menjadikan, menciptakan, membuat, mengadakan, membuka, menguak.
Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan
kembali ke asal.
Dalam Alqur’an, arti fitrah disebutkan dalam surat Ar-Ruum ayat
30:
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada Agama
Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut
fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah agama yang
lurus, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. (Q.S. Ar-
Ruum:30)
Menurut Imam Al-Qurtubi “fitrah” artinya “Ikutlah Agama Allah
(Islam) yang diciptakan untuk manusia.
Selanjutnya menurut pandangan islam, manusia sejak dilahirkan
telah diberi fitrah beragama islam, akan tetapi orang tuannyalah yang
membuat anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani, Masuji, sebagaimana
sabda Nabi SAW:“Dari Abu Burdah r.a. berkata Rasulloh bersabda;
tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan atas dasar fitrah, maka
orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi,
Nasrani atau Masuji”. (H.R. Bukhari Muslim)
Berdasarkan hadist diatas, dapat petunjuk bahwa fitrah adalah
potensi dasar beragama yang dibawa manusia sejak lahir dan bisa
dipengaruhi oleh lingkungan di luar dirinya sendiri.
Pengertian yang berasal dari dua dalil diatas, diperkuat oleh Syekh
Muhammad Abduh dalam tafsirnya yang berpendapat bahwa Agama
Islam adalah agama fitrah. Pendapat Muhammad Abduh ini serupa
dengan pendapat Abu A’la Al Maududi bahwa agama islam adalah
identik dengan watak tabi’i manusia (human nature). Demikian dengan
pendapat Sayyid Qutb, yang menyatakan islam diturunkan Allah untuk
mengembangkan watak asli (human nature), karena islam adalah agama
fitrah .
Demikianlah interprestasi tentang fitrah dapat dikemukakan disini
meskipun fitrah itu dapat dipengaruhi oleh lingkungan, namun keadaan
serta keadaan fitrah sebagai kemampuan dasar manusia yang
dianugrahkan oleh Allah kepadanya tidaklah bersifat netral terhadap
pengaruh dari luar. Hal ini dikarenakan potensi yang terkandung
didalamnya secara aktif dan efektif dinamis mengadakan reaksi sebagai
respon terhadap pengaruh tersebut.
2.1.2 Mempertahankan Fitrah Manusia
Tidak ada perubahan fitrah dalam manusia, maka jika ada manusia
yang tidak beragam islam, maka ia (manusia) telah keluar dari fitrahnya
sebagai manusia. Fitrah manusia adalah butuh makan, butuh tidur, dan
segala macam kebutuhan lainya, dan kalau ada ajaran yang keluar dari
segala yang dibutuhkan manusia, maka ia telah keluar dari fitrahnya.
Misalnya orang tidak menikah, tidak puasa terus menerus, tidak sholat
terus menerus, tidak tidur terus menerus dan seterusnya, adalah tidak
sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia. Tidak sesuai dengan ajaran
Allah dan Rosul Nya.
Oleh katrena itu marilah kita bersam-sama menjaga dan
mempertahankan fitrah yaitu dengan:
1. Habulumminallah
Habulumminallah adalah hubungan manusia dengan Allah
subhanahhu wata’alayang dimaksud disini ialah amalan-amalan
ibadah yang termasuk persoalan ibadah.
Contohnya: Sholat, Puasa, Haji, Baca Al-Quran, Zikir dan
sebagainya.
2. Habulumminannaas
Habulumminannaas adalah hubungan antar sesama manusia, yang
dimaksud disini ialah amalan-amalan lahir yang termasuk kedalam
bidang muamalat (kerja-kerja yang ada hubunganya dengan
masyarakat), munakahat (persoalan kekeluargaan), jinayah serta
tarbiyah islamiyah, soal-soal siasah, fisabillilah, jihad, dan persoalan
alam beserta isinya.
Contoh: Menjaga tali shilaturahmi, menjauhkan sikap su-udhon atau
berburuk sangka, tidak menghina orang lain dan lain sebagainya.
3. Rahmat Allah
Rahmat Allah adalah untuk seluruh alam, artinya disini ialah alam
tidak boleh kita rusak. Islam melarang manusia merusak lingkungan.
Hal tersebut dijelsakan pada surat Ar Ruum ayat 41:
Artinya: “Telah Nampak kerusakan didarat maupun dilaut yang
disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Supaya Allah
merasakan sebagian kepada mereka (akibat) perbuatan mereka agar
mereka kembali (kejalan yang benar)”
Padahal fitrah manusia adalah melestarikan alam dan menjaga alam
yang telah Allah berikan demi kenyamanan, kebutuhan, dan
kemaslahatan hidup manusia. Tetapi manusiannya yang merusak
alam. Padahal manusia dipersilahkan untuk mengambil hasil
alamnya. Memang itu semua Allah ciptakan untuk kita manusia.
Allah subhannahu wata’ala berfirman: “Jaga keseimbanganya,
kelestarianya, jangan dirusak”
Selain ha-hal yang disebutkan diatas, untuk menjaga fitrah
hendaknya kita juga selalu mengingat surat Al Adz Dzariyat ayat 56, Allah
subhannahu wata’ala berfirman:
Artinya: “Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku”
Maksudnya ialah, Allah menciptakan kita manusia dan jin, dengan
sungguh-sungguh,tidak main-main, kebetulan atau iseng-iseng, tetapi Allah
menghadirkan kita di muka bumi ini dengan sungguh-sungguh melalui
proses pemilihan, yang sanagat ketat dari sekian jutaan sperma, sehingga
menjadi bayi dalam kandungan ibu, dan lahir menjadi makhluk manusia
(makhluk pilihan).
Artinya kita manusia diciptakan bukan karena kebetulan atau sia-sia
atau iseng-iseng, tetapi mempunyai tujuan yaitu Allah menciptakan
manusia, tak lain dan tak bukan adalah untuk beribadah kepada Allah
subhannahu wata’ala. Selanjutnya dalam menjalani hidup disetiap detik ini,
setiap jam, setiap hari, setiap tahun yang kita lalui dan disaat itulah semakin
berkurang jumlah umur kita.
Maka sangat tidak masuk akal, sangat naïf jika seorang muslim
merayakan hari ulang tahunya dengan euphoria, dengan pesta-pesta, karena
demikian itu tidak sesuai dengan ajaran islam. Seharusnya dengan
Muhasabah (Introspeksi diri), dan umur yang telah dilaluinya semakin
mendekatkan diri dengan finish yang Allah sudah tentukan sebagai Camat
(Calon Mati). Akan mendekati saat mati. Lihat surat Al- Mulk ayat 1-2
Allah subhannahu wata’ala berfirman:
Artintya:
1.“Maha suci Allah subhannahu wata’ala ditangan-Nya segala
kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”.
2. ” Yang menjadikan mati dan hidup, supaya, Dia menguji kamu,
siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia
Mahaperkasa lagi Maha Pengampun”.
Yang dimaksud amal adalah untuk menyongsong kehidupan yang
kekal (abadi). Maka keliru kalau ada ungkapan : “Hidup hanya sekali” yang
benar adalah hidup adalah lima kali: di alam arwah (Ruh), Alam Rahim, di
Alam Dunia, di Alam Barzah, dan Alam Akhirat. Ketika kitamati, itulah
gerbang awal memasuki kehidupan yang abadi.
Hidup di dunia ini hanya menentukan kehidupan selanjutnya
(Akhirat) yang lamanya tidak terbatas. Bahagia atau sengsara di akhirat
ditentukan oleh kita manusia ketika hidup di dunia. Allah ingin lihat apa
amal kebaikan kita di dunia, dengan umur yang diberikan oleh Allah ketika
di dunia ini. Siapa paling pandai menggunakan dan memanfaatkan waktu
yang diberikan oleh Allah di dunia ini.
Maka pandai pandailah kita menjaga fitrah manusia, fitrah kita
sebagai hamba Allah. Kita mengabdi kepada Allah subhannahu wata’ala,
dalam arti luas, kita bekerja dengan penuh amanah, dengan penuh disiplin.
Itulah bagian dari ibadah kepada Allah subhannahu wata’ala.
2.2 TAUHID
2.2.1 Definisi Tauhid Dan Pembagiannya
Tauhid secara bahasa berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-
tauhiidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang
berarti satu dan kata ahad yang berarti Esa. Adapun secara istilah syar’i
tauhid berarti mengesakan Allah dalam hal Mencipta, Menguasai,
Mengatur, dan mengikhlaskan (memurnikan) peribadahan hanya kepada
Nya, meninggalkan penyembahan kepada selain Nya serta menetapkan
asma’ul husna (nama-nama yang bagus) dan sifat al ulya (sifat-sifat yang
tinggi) bagi Nya dan mensucikan Nya dari kekurangan dan cacat.
Dari pendefinisian tersebut, para ulama membagi tauhid menjadi tiga
bagian, yaitu: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Asma’ wa Shifat dan Tauhid
Uluhiyyah. Namun di samping itu, adapula sebagian ulama yang membagi
tauhid dalam dua bagian. Salah satu tokoh ulama yang membagi tauhid
menjadi dua bagian adalah Al ‘Alamah ibn Qayyim. Dia menjadikan tauhid
rububiyyah dan tauhid asma’ wa shifat sebagai satu bagian, dan
menyebutnya dengan tauhidul ma’rifah wal itsbat, sedangkan yang kedua
adalah tauhith thalah wal qashd atau tauhid ilahiyah dan ibadah.
Kendati para ulama berbeda-beda dalam pembagian tauhid, namun
pada dasarnya mereka mempunyai tujuan yang sama, yaitu agar
mempermudah pemahaman mereka terhadap kalimat tauhid. Dalam hal ini
seseorang tidak dapat dikatakan muslim hingga pada dirinya terhimpun
semua bagian-bagian tauhid tersebut. Jadi, satu bagian saja darinya tidak
cukup, tetapi semuanya harus ada dan harus diamalkan, baik secara lahir
maupun batin.
1. Tauhid Rububiyyah.
Tauhid rububiyyah ialah tauhid yang berhubungan dengan soal-soal
ketuhanan. Dengan kata lain, tauhid rububiyyah ialah meyakini bahwa tidak
ada yang membuat, mengurus dan mengatur semua makhluk ini selain Allah
swt. Mengenai tauhid rububiyyah ini Allah swt berfirman:
Artinya: “Sekiranya ada di langit dan bumi tuhan-tuhan selain
Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah
yang mempunyai ‘arsy dari apa yang mereka sifatkan” (QS. Al Anbiya’: 22)
2. Tauhid Asma’ wa Shifat
Tauhid asma’ wa shifat ialah suatu keyakinan yang menetapkan
asma-asma Allah dan sifat-sifat Nya, meniadakan sekutu bagi Nya dalam
asma-asma Nya dan tidak menyerupai asma’ dan sifat-Allah tersebut dengan
makhluk. Mengenai hal ini Allah swt berfirman:
Artinya:“Hanya milik Allah al Asmaa’ul Husna, maka bermohonlah
kepada Nya dengan menyebut al Asmaa’ul Husna itu…” (QS. Al A’raf:180)
“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha
Mendengar” (QS. Asy Syura’: 11)
3. Tauhid Uluhiyyah.
Tauhid ini merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul, dari yang
pertama hingga Rasul terakhir, Nabi Muhammad saw. Selain itu tauhid ini
pula yang menjadi tujuan Allah swt menciptakan jin dan manusia. Allah swt
berfirman yang artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat
(untuk menyerukan), “sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu…”
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu,
melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada tuhan
melainkan Aku,maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembah Ku”
Dalil yang menjelaskan tauhid :
Terjemahan Bacaan Surat Al Ikhlas
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
2.2.2 Kedudukan Tauhid Dan Fungsinya Bagi Kehidupan.
Kedudukannya (tauhid) di dalam Islam sangat tinggi, bahkan paling
tinggi. Berikut ini adalah beberapa keutamaan tauhid, yang dengannya kita
dapat mengetahui betapa tingginya kedudukannya di dalam Islam
1. Tauhid merupakan hak Allah swt yang paling besar atas hamba-hamba Nya.
Hal ini sebagaimana yang terlihat dalam hadits Mu’adz bin Jabal
ra. Rasulullah saw berkata kepadanya: “Hai Mu’adz, tahukah kamu hak
Allah atas hamba Nya dan hamba atas Allah?” Ia menjawab: “Allah dan
Rasul Nya yang lebih mengetahui”. Beliau mengatakan: ”Hak Allah atas
hamba Nya adalah mereka menyembah Nya dan tidak menyekutukan Nya
dengan sesuatupun”. (HR. Bukhari dan Muslim
2. Tauhid adalah hikmah diciptakannya jin dan manusia. Allah swt berfirman
yang artinya:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah Ku”
3. Tauhid merupakan sebab diutusny para Rasul, dan inti serta pembuka
dakwah mereka. Allah swt berfirman yang artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan), “sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu…”
4. Tauhid merupakan sebab diturunkannya kitab-kitab Allah swt.
“1) Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan
rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah)
Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. 2) Agar kamu tidak menyembah
selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan
dan pembawa kabar gembira kepadamu dari Nya ” (QS. Hud: 1-2)
5. Tauhid merupakan syarat diterimanya amalan seseorang. Allah saw
berfirman yang artinya:
“Dan sesungguhny telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi)
yang sebelummu, jika kamu mempersekutukan (Allah) niscaya akan
hapuslah amalmu dan teneulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”
(QS. Az Zumar: 65)
Dari perkataan Ibnu Taimiyah tersebut kita dapat mengetahui bahwa
tauhid merupakan suatu hal yang sentral dalam kehidupan ini. Sampai-
sampai ia mengatakan bahwa pada dasarnya sumber kebaikan di muka bumi
ini adalah ketauhidan. Dan sebaliknya, sumber keburukan di muka bumi
seperti fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain pada
dasarnya dikarenakan ketidak tauhidan manusia kepada Allah swt.
Apabila seseorang telah menganut akidah tauhid dalam pengertian
yang sebenarnya, maka akan lahir dari dirinya berbagai aktivitas yang
kesemuanya merupakan ibadah kepada Allah, baik ibadah dalam
pengertiannya yang sempit (ibadah murni) maupun pengertiannya yang luas.
Ini disebabkan akidah tauhid merupakan satu prinsip lengkap yang
menembus semua dimensi dan aksi manusia. Oleh karenanya, nampak jelas
bahwa tauhid memberikan dampak posoitif bagi kehidupan manusia. Bila
setiap individu memiliki komitmen tauhid yang kukuh dan utuh, maka akan
menjadi suatu kekuatan yang besar untuk membangun dunia yang lebih adil,
etis dan dinamis.
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Sabda Nabi SAW:“Dari Abu Burdah r.a. berkata Rasulloh bersabda;
tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan atas dasar fitrah, maka orang
tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani atau
Masuji”. (H.R. Bukhari Muslim). Berdasarkan hadist diatas, dapat petunjuk
bahwa fitrah adalah potensi dasar beragama yang dibawa manusia sejak
lahir dan bisa dipengaruhi oleh lingkungan di luar dirinya sendiri.
Fitrah pada diri manusia dapat dijaga dan dipertahnkan yaitu diantranya
dengan Habulumminallah, Habulumminannaas, dan Rahmat Allah
Secara istilah syar’i tauhid berarti mengesakan Allah dalam hal Mencipta,
Menguasai, Mengatur, dan mengikhlaskan (memurnikan) peribadahan
hanya kepada Nya, meninggalkan penyembahan kepada selain Nya serta
menetapkan asma’ul husna (nama-nama yang bagus) dan sifat al ulya
(sifat-sifat yang tinggi) bagi Nya dan mensucikan Nya dari kekurangan dan
cacat. Dari pendefinisian tersebut, para ulama membagi tauhid menjadi tiga
bagian, yaitu: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Asma’ wa Shifat dan Tauhid
Uluhiyyah.
Kedudukan tauhid dan fungsinya bagi kehidupan,
Tauhid merupakan hak Allah swt yang paling besar atas hamba-hamba Nya
Tauhid adalah hikmah diciptakannya jin dan manusia
Tauhid merupakan diutusny Rasul, dan inti serta pembuka dakwah mereka
Tauhid merupakan sebab diturunkannya kitab-kitab Allah swt
Tauhid merupakan syarat diterimanya amalan seseorang
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
Arifin, 1996, Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara: Jakarta
Sumber Internet:
http://kuliah-dhuha.blogspot.co.id/2015/04/fitrah-manusia-oleh-ustadz-
sulaiman.html
http://risalahwordpress-oneblog.blogspot.co.id/2011/07/kandungan-tauhid-
dalam-surat-al-ikhlas.html

Makalah pai kel 2

  • 1.
    TUGAS PENDIDIKAN AGAMAISLAM TENTANG KARAKTER DAN SIFAT ISLAM SEBAGAI AGAMA FITRAH DAN TAUHID DISUSUN OLEH : KELOMPOK II NAMA : - BAMBANG SASMITOAJI ( 141910301030 - - ELVIA NURBADDI S ( 141903103029 - KELAS : PAI 10 UNIVERSITAS JEMBER TAHUN AJARAN 2017/2018
  • 2.
    I PENDAHULUAN 1,1 Latar Belakang Padazaman modern ini banyak krisis yang harus dihadapi manusia, seperti krisis moneter, krisis pangan, krisis bahan bakar, dan yang patut kita renungkan adalah krisis iman. Krisis iman dikarenakan kurangnya nutrisi rohani serta kurangnya menjaga fitrah dan kurangnya fungsi tauhid dalam kehidupan sehari-hari manusia saat ini. Kebanyakan manusia hanya mementingkan kepentingan dunia dibanding kepentingan akhirat. Sehingga yang terealisasi hanyalah sifat-sifat manusia yang berbau duniawi, seperti hedonism, fashionism, kepuasan hawa nafsu, dan lain-lain. Hanya sedikit manusia yang dapat memanfaatkan fungsi dan menempatkan peran firah dan tauhid secara benar dan sesuai dengan keadaan zaman manusia sekarang ini. Padahal, jika, masyarakat modern saat ini menempatkan fitrah dan tauhid dalam kehidupan sehari-harinya, insya allah, akan tercipta masyarakat yang damai, aman, dan terjauh dari sifat-sifat tercela, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, penipuan, dan tindakan-tindakan yang melanggar hukum agama, maupun hukum perdata dan pidana Negara. Ada sebuah potensi dalam diri manusia, sebagai unsur dominan yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia dalam menjalankan tugas dan kedudukannya sebagai ‘abdullah dan Khalifatullah di muka bumi ini. Potensi tersebut secara sederhana disebut dengan Fitrah. Allah menciptakan manusia dalam keadaan fitrah dengan dibekali beberapa potensi yakni potensi yang ada dalam jasmani dan rohani. Bekal yang dimiliki manusia pun tidak hanya berupa asupan positif saja, karena dalarn diri manusia tercipta satu potensi yang diberi nama nafsu. Dan nafsu ini yang sering membawa manusia lupa dan ingkar dengan fitrahnya sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi. Untuk itu manusia perlu mengembangkan potensi positif yang ada dalam dirinya untuk mencapai fitrah tersebut.
  • 3.
    Manusia merupakan makhlukpilihan Allah yang mengembangkan tugas ganda, yaitu sebagai khalifäh Allah dan Abdullah (Abdi Allah). Untuk mengaktualisasikan kedua tugas tersebut, manusia dibekali dengan sejumlah potensi didalam dirinya. Potensi-potensi tersebut berupa ruh, nafs, akal, qalb, dan fitrah. Dan sesuai dengan fitrahnya itu, Allah menciptakan manusia, yang dilengkapi dengan naluri beragama yaitu agama Tauhid. Kalau ada seseorang yang tidak beragama atau ingkar adanya Allah, berarti dia mengingkari fitrahnya atau nalurinya. Yang kemudian hal tersebutlah yang disebut dengan Fitrah dan Tauhid. Oleh karena itu, untuk menghadapi krisis iman pada perkembangan zaman saat ini, perlu adanya penjelasan yang konkrit tentang beberapa hal terkait Fitrah dan Tauhid. Semoga dengan adanya penjelsan tersebut kita menjadi lebih paham tentang konsep Fitrah dan Tauhid. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa itu Fitrah? 2. Bagaimana Mempertahankan Fitrah Manusia? 3. Apa Definisi Tauhid? 4. Bagaimana Kedudukan Tauhid dan Fungsinya Bagi Kehidupan?
  • 4.
    II PEMBAHASAN 2.1 FITRAH 2.1.1 DefinisiFitrah dan Hadistnya Fitrah berasal dari akar kata f-t-r dalam (Bahasa Arab) yang artinya menjadikan, menciptakan, membuat, mengadakan, membuka, menguak. Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal. Dalam Alqur’an, arti fitrah disebutkan dalam surat Ar-Ruum ayat 30: Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada Agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah agama yang lurus, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. (Q.S. Ar- Ruum:30) Menurut Imam Al-Qurtubi “fitrah” artinya “Ikutlah Agama Allah (Islam) yang diciptakan untuk manusia. Selanjutnya menurut pandangan islam, manusia sejak dilahirkan telah diberi fitrah beragama islam, akan tetapi orang tuannyalah yang membuat anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani, Masuji, sebagaimana sabda Nabi SAW:“Dari Abu Burdah r.a. berkata Rasulloh bersabda; tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan atas dasar fitrah, maka
  • 5.
    orang tuanyalah yangmenjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani atau Masuji”. (H.R. Bukhari Muslim) Berdasarkan hadist diatas, dapat petunjuk bahwa fitrah adalah potensi dasar beragama yang dibawa manusia sejak lahir dan bisa dipengaruhi oleh lingkungan di luar dirinya sendiri. Pengertian yang berasal dari dua dalil diatas, diperkuat oleh Syekh Muhammad Abduh dalam tafsirnya yang berpendapat bahwa Agama Islam adalah agama fitrah. Pendapat Muhammad Abduh ini serupa dengan pendapat Abu A’la Al Maududi bahwa agama islam adalah identik dengan watak tabi’i manusia (human nature). Demikian dengan pendapat Sayyid Qutb, yang menyatakan islam diturunkan Allah untuk mengembangkan watak asli (human nature), karena islam adalah agama fitrah . Demikianlah interprestasi tentang fitrah dapat dikemukakan disini meskipun fitrah itu dapat dipengaruhi oleh lingkungan, namun keadaan serta keadaan fitrah sebagai kemampuan dasar manusia yang dianugrahkan oleh Allah kepadanya tidaklah bersifat netral terhadap pengaruh dari luar. Hal ini dikarenakan potensi yang terkandung didalamnya secara aktif dan efektif dinamis mengadakan reaksi sebagai respon terhadap pengaruh tersebut. 2.1.2 Mempertahankan Fitrah Manusia Tidak ada perubahan fitrah dalam manusia, maka jika ada manusia yang tidak beragam islam, maka ia (manusia) telah keluar dari fitrahnya sebagai manusia. Fitrah manusia adalah butuh makan, butuh tidur, dan segala macam kebutuhan lainya, dan kalau ada ajaran yang keluar dari segala yang dibutuhkan manusia, maka ia telah keluar dari fitrahnya. Misalnya orang tidak menikah, tidak puasa terus menerus, tidak sholat terus menerus, tidak tidur terus menerus dan seterusnya, adalah tidak sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia. Tidak sesuai dengan ajaran Allah dan Rosul Nya.
  • 6.
    Oleh katrena itumarilah kita bersam-sama menjaga dan mempertahankan fitrah yaitu dengan: 1. Habulumminallah Habulumminallah adalah hubungan manusia dengan Allah subhanahhu wata’alayang dimaksud disini ialah amalan-amalan ibadah yang termasuk persoalan ibadah. Contohnya: Sholat, Puasa, Haji, Baca Al-Quran, Zikir dan sebagainya. 2. Habulumminannaas Habulumminannaas adalah hubungan antar sesama manusia, yang dimaksud disini ialah amalan-amalan lahir yang termasuk kedalam bidang muamalat (kerja-kerja yang ada hubunganya dengan masyarakat), munakahat (persoalan kekeluargaan), jinayah serta tarbiyah islamiyah, soal-soal siasah, fisabillilah, jihad, dan persoalan alam beserta isinya. Contoh: Menjaga tali shilaturahmi, menjauhkan sikap su-udhon atau berburuk sangka, tidak menghina orang lain dan lain sebagainya. 3. Rahmat Allah Rahmat Allah adalah untuk seluruh alam, artinya disini ialah alam tidak boleh kita rusak. Islam melarang manusia merusak lingkungan. Hal tersebut dijelsakan pada surat Ar Ruum ayat 41: Artinya: “Telah Nampak kerusakan didarat maupun dilaut yang disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Supaya Allah merasakan sebagian kepada mereka (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (kejalan yang benar)” Padahal fitrah manusia adalah melestarikan alam dan menjaga alam yang telah Allah berikan demi kenyamanan, kebutuhan, dan kemaslahatan hidup manusia. Tetapi manusiannya yang merusak
  • 7.
    alam. Padahal manusiadipersilahkan untuk mengambil hasil alamnya. Memang itu semua Allah ciptakan untuk kita manusia. Allah subhannahu wata’ala berfirman: “Jaga keseimbanganya, kelestarianya, jangan dirusak” Selain ha-hal yang disebutkan diatas, untuk menjaga fitrah hendaknya kita juga selalu mengingat surat Al Adz Dzariyat ayat 56, Allah subhannahu wata’ala berfirman: Artinya: “Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” Maksudnya ialah, Allah menciptakan kita manusia dan jin, dengan sungguh-sungguh,tidak main-main, kebetulan atau iseng-iseng, tetapi Allah menghadirkan kita di muka bumi ini dengan sungguh-sungguh melalui proses pemilihan, yang sanagat ketat dari sekian jutaan sperma, sehingga menjadi bayi dalam kandungan ibu, dan lahir menjadi makhluk manusia (makhluk pilihan). Artinya kita manusia diciptakan bukan karena kebetulan atau sia-sia atau iseng-iseng, tetapi mempunyai tujuan yaitu Allah menciptakan manusia, tak lain dan tak bukan adalah untuk beribadah kepada Allah subhannahu wata’ala. Selanjutnya dalam menjalani hidup disetiap detik ini, setiap jam, setiap hari, setiap tahun yang kita lalui dan disaat itulah semakin berkurang jumlah umur kita. Maka sangat tidak masuk akal, sangat naïf jika seorang muslim merayakan hari ulang tahunya dengan euphoria, dengan pesta-pesta, karena demikian itu tidak sesuai dengan ajaran islam. Seharusnya dengan Muhasabah (Introspeksi diri), dan umur yang telah dilaluinya semakin mendekatkan diri dengan finish yang Allah sudah tentukan sebagai Camat (Calon Mati). Akan mendekati saat mati. Lihat surat Al- Mulk ayat 1-2 Allah subhannahu wata’ala berfirman:
  • 8.
    Artintya: 1.“Maha suci Allahsubhannahu wata’ala ditangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”. 2. ” Yang menjadikan mati dan hidup, supaya, Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun”. Yang dimaksud amal adalah untuk menyongsong kehidupan yang kekal (abadi). Maka keliru kalau ada ungkapan : “Hidup hanya sekali” yang benar adalah hidup adalah lima kali: di alam arwah (Ruh), Alam Rahim, di Alam Dunia, di Alam Barzah, dan Alam Akhirat. Ketika kitamati, itulah gerbang awal memasuki kehidupan yang abadi. Hidup di dunia ini hanya menentukan kehidupan selanjutnya (Akhirat) yang lamanya tidak terbatas. Bahagia atau sengsara di akhirat ditentukan oleh kita manusia ketika hidup di dunia. Allah ingin lihat apa amal kebaikan kita di dunia, dengan umur yang diberikan oleh Allah ketika di dunia ini. Siapa paling pandai menggunakan dan memanfaatkan waktu yang diberikan oleh Allah di dunia ini. Maka pandai pandailah kita menjaga fitrah manusia, fitrah kita sebagai hamba Allah. Kita mengabdi kepada Allah subhannahu wata’ala, dalam arti luas, kita bekerja dengan penuh amanah, dengan penuh disiplin. Itulah bagian dari ibadah kepada Allah subhannahu wata’ala.
  • 9.
    2.2 TAUHID 2.2.1 DefinisiTauhid Dan Pembagiannya Tauhid secara bahasa berasal dari kata wahhada-yuwahhidu- tauhiidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu dan kata ahad yang berarti Esa. Adapun secara istilah syar’i tauhid berarti mengesakan Allah dalam hal Mencipta, Menguasai, Mengatur, dan mengikhlaskan (memurnikan) peribadahan hanya kepada Nya, meninggalkan penyembahan kepada selain Nya serta menetapkan asma’ul husna (nama-nama yang bagus) dan sifat al ulya (sifat-sifat yang tinggi) bagi Nya dan mensucikan Nya dari kekurangan dan cacat. Dari pendefinisian tersebut, para ulama membagi tauhid menjadi tiga bagian, yaitu: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Asma’ wa Shifat dan Tauhid Uluhiyyah. Namun di samping itu, adapula sebagian ulama yang membagi tauhid dalam dua bagian. Salah satu tokoh ulama yang membagi tauhid menjadi dua bagian adalah Al ‘Alamah ibn Qayyim. Dia menjadikan tauhid rububiyyah dan tauhid asma’ wa shifat sebagai satu bagian, dan menyebutnya dengan tauhidul ma’rifah wal itsbat, sedangkan yang kedua adalah tauhith thalah wal qashd atau tauhid ilahiyah dan ibadah. Kendati para ulama berbeda-beda dalam pembagian tauhid, namun pada dasarnya mereka mempunyai tujuan yang sama, yaitu agar mempermudah pemahaman mereka terhadap kalimat tauhid. Dalam hal ini seseorang tidak dapat dikatakan muslim hingga pada dirinya terhimpun semua bagian-bagian tauhid tersebut. Jadi, satu bagian saja darinya tidak cukup, tetapi semuanya harus ada dan harus diamalkan, baik secara lahir maupun batin. 1. Tauhid Rububiyyah. Tauhid rububiyyah ialah tauhid yang berhubungan dengan soal-soal ketuhanan. Dengan kata lain, tauhid rububiyyah ialah meyakini bahwa tidak ada yang membuat, mengurus dan mengatur semua makhluk ini selain Allah swt. Mengenai tauhid rububiyyah ini Allah swt berfirman:
  • 10.
    Artinya: “Sekiranya adadi langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘arsy dari apa yang mereka sifatkan” (QS. Al Anbiya’: 22) 2. Tauhid Asma’ wa Shifat Tauhid asma’ wa shifat ialah suatu keyakinan yang menetapkan asma-asma Allah dan sifat-sifat Nya, meniadakan sekutu bagi Nya dalam asma-asma Nya dan tidak menyerupai asma’ dan sifat-Allah tersebut dengan makhluk. Mengenai hal ini Allah swt berfirman: Artinya:“Hanya milik Allah al Asmaa’ul Husna, maka bermohonlah kepada Nya dengan menyebut al Asmaa’ul Husna itu…” (QS. Al A’raf:180) “…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar” (QS. Asy Syura’: 11) 3. Tauhid Uluhiyyah. Tauhid ini merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul, dari yang pertama hingga Rasul terakhir, Nabi Muhammad saw. Selain itu tauhid ini pula yang menjadi tujuan Allah swt menciptakan jin dan manusia. Allah swt berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu…”
  • 11.
    “Dan Kami tidakmengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada tuhan melainkan Aku,maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku” Dalil yang menjelaskan tauhid : Terjemahan Bacaan Surat Al Ikhlas 1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa 2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu 3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan 4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia 2.2.2 Kedudukan Tauhid Dan Fungsinya Bagi Kehidupan. Kedudukannya (tauhid) di dalam Islam sangat tinggi, bahkan paling tinggi. Berikut ini adalah beberapa keutamaan tauhid, yang dengannya kita dapat mengetahui betapa tingginya kedudukannya di dalam Islam 1. Tauhid merupakan hak Allah swt yang paling besar atas hamba-hamba Nya. Hal ini sebagaimana yang terlihat dalam hadits Mu’adz bin Jabal ra. Rasulullah saw berkata kepadanya: “Hai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba Nya dan hamba atas Allah?” Ia menjawab: “Allah dan Rasul Nya yang lebih mengetahui”. Beliau mengatakan: ”Hak Allah atas hamba Nya adalah mereka menyembah Nya dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatupun”. (HR. Bukhari dan Muslim 2. Tauhid adalah hikmah diciptakannya jin dan manusia. Allah swt berfirman yang artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku”
  • 12.
    3. Tauhid merupakansebab diutusny para Rasul, dan inti serta pembuka dakwah mereka. Allah swt berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu…” 4. Tauhid merupakan sebab diturunkannya kitab-kitab Allah swt. “1) Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. 2) Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu dari Nya ” (QS. Hud: 1-2) 5. Tauhid merupakan syarat diterimanya amalan seseorang. Allah saw berfirman yang artinya: “Dan sesungguhny telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, jika kamu mempersekutukan (Allah) niscaya akan hapuslah amalmu dan teneulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Az Zumar: 65) Dari perkataan Ibnu Taimiyah tersebut kita dapat mengetahui bahwa tauhid merupakan suatu hal yang sentral dalam kehidupan ini. Sampai- sampai ia mengatakan bahwa pada dasarnya sumber kebaikan di muka bumi ini adalah ketauhidan. Dan sebaliknya, sumber keburukan di muka bumi seperti fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain pada dasarnya dikarenakan ketidak tauhidan manusia kepada Allah swt. Apabila seseorang telah menganut akidah tauhid dalam pengertian yang sebenarnya, maka akan lahir dari dirinya berbagai aktivitas yang kesemuanya merupakan ibadah kepada Allah, baik ibadah dalam pengertiannya yang sempit (ibadah murni) maupun pengertiannya yang luas. Ini disebabkan akidah tauhid merupakan satu prinsip lengkap yang menembus semua dimensi dan aksi manusia. Oleh karenanya, nampak jelas bahwa tauhid memberikan dampak posoitif bagi kehidupan manusia. Bila setiap individu memiliki komitmen tauhid yang kukuh dan utuh, maka akan menjadi suatu kekuatan yang besar untuk membangun dunia yang lebih adil, etis dan dinamis.
  • 13.
    III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Sabda NabiSAW:“Dari Abu Burdah r.a. berkata Rasulloh bersabda; tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan atas dasar fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani atau Masuji”. (H.R. Bukhari Muslim). Berdasarkan hadist diatas, dapat petunjuk bahwa fitrah adalah potensi dasar beragama yang dibawa manusia sejak lahir dan bisa dipengaruhi oleh lingkungan di luar dirinya sendiri. Fitrah pada diri manusia dapat dijaga dan dipertahnkan yaitu diantranya dengan Habulumminallah, Habulumminannaas, dan Rahmat Allah Secara istilah syar’i tauhid berarti mengesakan Allah dalam hal Mencipta, Menguasai, Mengatur, dan mengikhlaskan (memurnikan) peribadahan hanya kepada Nya, meninggalkan penyembahan kepada selain Nya serta menetapkan asma’ul husna (nama-nama yang bagus) dan sifat al ulya (sifat-sifat yang tinggi) bagi Nya dan mensucikan Nya dari kekurangan dan cacat. Dari pendefinisian tersebut, para ulama membagi tauhid menjadi tiga bagian, yaitu: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Asma’ wa Shifat dan Tauhid Uluhiyyah. Kedudukan tauhid dan fungsinya bagi kehidupan, Tauhid merupakan hak Allah swt yang paling besar atas hamba-hamba Nya Tauhid adalah hikmah diciptakannya jin dan manusia Tauhid merupakan diutusny Rasul, dan inti serta pembuka dakwah mereka Tauhid merupakan sebab diturunkannya kitab-kitab Allah swt Tauhid merupakan syarat diterimanya amalan seseorang
  • 14.
    DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku: Arifin,1996, Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara: Jakarta Sumber Internet: http://kuliah-dhuha.blogspot.co.id/2015/04/fitrah-manusia-oleh-ustadz- sulaiman.html http://risalahwordpress-oneblog.blogspot.co.id/2011/07/kandungan-tauhid- dalam-surat-al-ikhlas.html