Ruang Lingkup dan Paradigma
Keamanan Internaisonal
Dosen: Irmawan Effendi, M.Si
Pertemuan 1 Keamanan Internasional
Pertanyaan Utama
Keamanan untuk siapa?
Keamanan dari apa?
Bagaimana keamanan atau rasa aman bisa dicapai?
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Keamanan Internasional
State
Surviva
l
Anarki
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
People
Centric/
Human
Security
State
Centric
Keamanan
Internasional
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Keamanan
Internasional
Perspektif
Barat
Western
Centric
American
Centric
Perpektif
Dunia Ketiga
Acharya
(2001)
Krause dan
William
(1997)
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Political Science
International Relations
Security Studies
Strategic
Studies
Military
Studies
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Perspektif Utama
Realisme
Liberalisme
Konstruktivisme
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Realisme
• Negara adalah aktor rasional yang uniteral
• Prioritas kebijakan negara adalah memastikan
keamanan.
• Lingkungan internasional memiliki karakteristik
anarki –> self-help system
• Kompetisi keamanan melahirkan kebijakan yang
cenderung ekspansionis dalam bentuk penggunaan
militer –> struggle for power
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Realisme
•Sistem internasional bersifat anarki dan
kedaulatan negara bersifat absolut.
•Realisme terbagi dua:
1. Classic Realism
2. Neorealism
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Realisme Klasik
•Tokoh: E. H Carr, Reinhold Neihbur dan
Morgenthau
•Negara, seperti halnya manusia, memiliki
ketamakan dan egois sehingga interaksi
antar negara memiliki potensi konflik
yang besar.
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Realisme Klasik
•Kondisi internasional memiliki
karakteristik konflik, kecurigaan, dan
kompetisi antar negara.
•Kondisi damai bukanlah bentuk
permanen dalam sistem internasional,
karena perdamaian hanyalah waktu jeda
di antara dua perang.
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Power:
•“Man’s control over minds and
actions of other men”
(Morgenthau, 1985:13)
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Realisme Struktural / Neorealisme
• Sistem internasional sebagai elemen penting dari
lingkungan negara.
• Sistem internasional = struktur + interaksi antar
unit
• Berbeda dengan realisme klasik yang memandang
power sebagai ends, neorealisme menempatkan
power sebagai means (Waltz, 1998:40)
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Realisme Struktural / Neorealisme
• Sistem internasional hanya akan ditentukan oleh
distribusi kekuatan atau bagaimana kekuatan yang
dimiliki diatur. ->unipolar, bipolar, multipolar
• Perubahan distribution of power akan terjadi terus
menerus, dan akan melalui hegemonic wars
(Gilpin, 1981). Contoh Perang Dunia I dan II
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Great Power
Middle
Power
Peryphery
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Liberalisme
•Negara bukan satu-satunya aktor dalam
sistem internasional, ada aktor lain seperti
individu, organisasi non-pemerintah,
perusahaan multinasional dan organisasi
internasional.
•Negara adalah aktor rasional yang
tindakannya didasarkan atas kalkulasi
material dan ideasional.
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Liberalisme
•Kepentingan negara sangat situasional.
•Interdependensi, akumulasi norma, dan
hukum internasional dapat
mempengaruhi pilihan penggunaan
kekuatan oleh negara.
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Interdependensi, Perdagangan dan
Perang
• Interdependensi mampu menciptakan kendala
struktural global bagi perilaku perang.
• Jika perang terjadi perang terjadi di antara negara
interdependent, maka cost akan tinggi sehingga pihak
yang bertikai akan menjaga eskalasi perang.
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Institusi Internasional
Menurut Robert Keohane, institusi memiliki tiga fungsi:
1.Mengarahkan perilaku;
2.Membatasi aktivitas;
3.Membentuk espektasi (Keohane, 1989)
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Jus Ad Bellum (hak untuk berperang)
•Just Cause
•Legitimate
•Proportional
•Probability of Success
•Last Resort
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Jus in Bello (aturan dalam perang)
•Penggunaan militer hanya untuk
menghancurkan kemampuan tempur musuh.
•Penggunaan senjata harus proporsional
•Pembeda antara combatant dan non -
combatant
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Kontruktivisme
• Rational choice atau rationalism, yaitu teori sosial
yang menawarkan kerangka berfikir untuk
memahami bagaimana aktor bertindak untuk
memaksimalkan kepentingannya dalam lingkungan
yang penuh kendala (Barnett, 2008:162)
• Inti: konstruksi sosial atas realitas (social
contruction of reality)
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
Kontruktivisme
• Struktur ideasional:
1.Terdiri dari norma yang membentuk ekspektasi.
2.Adanya pemahaman bersama (shared
understanding).
3.Membentuk identitas -> struktur identitas ->norma
4.Tidak melekat pada material
Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si

Keamanan Internasional - Pertemuan 1.pptx

  • 1.
    Ruang Lingkup danParadigma Keamanan Internaisonal Dosen: Irmawan Effendi, M.Si Pertemuan 1 Keamanan Internasional
  • 2.
    Pertanyaan Utama Keamanan untuksiapa? Keamanan dari apa? Bagaimana keamanan atau rasa aman bisa dicapai? Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 3.
    Keamanan Internasional State Surviva l Anarki Pertemuan 1:Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 4.
  • 5.
  • 6.
    Political Science International Relations SecurityStudies Strategic Studies Military Studies Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 7.
    Perspektif Utama Realisme Liberalisme Konstruktivisme Pertemuan 1:Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 8.
    Realisme • Negara adalahaktor rasional yang uniteral • Prioritas kebijakan negara adalah memastikan keamanan. • Lingkungan internasional memiliki karakteristik anarki –> self-help system • Kompetisi keamanan melahirkan kebijakan yang cenderung ekspansionis dalam bentuk penggunaan militer –> struggle for power Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 9.
    Realisme •Sistem internasional bersifatanarki dan kedaulatan negara bersifat absolut. •Realisme terbagi dua: 1. Classic Realism 2. Neorealism Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 10.
    Realisme Klasik •Tokoh: E.H Carr, Reinhold Neihbur dan Morgenthau •Negara, seperti halnya manusia, memiliki ketamakan dan egois sehingga interaksi antar negara memiliki potensi konflik yang besar. Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 11.
    Realisme Klasik •Kondisi internasionalmemiliki karakteristik konflik, kecurigaan, dan kompetisi antar negara. •Kondisi damai bukanlah bentuk permanen dalam sistem internasional, karena perdamaian hanyalah waktu jeda di antara dua perang. Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 12.
    Power: •“Man’s control overminds and actions of other men” (Morgenthau, 1985:13) Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 13.
    Realisme Struktural /Neorealisme • Sistem internasional sebagai elemen penting dari lingkungan negara. • Sistem internasional = struktur + interaksi antar unit • Berbeda dengan realisme klasik yang memandang power sebagai ends, neorealisme menempatkan power sebagai means (Waltz, 1998:40) Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 14.
    Realisme Struktural /Neorealisme • Sistem internasional hanya akan ditentukan oleh distribusi kekuatan atau bagaimana kekuatan yang dimiliki diatur. ->unipolar, bipolar, multipolar • Perubahan distribution of power akan terjadi terus menerus, dan akan melalui hegemonic wars (Gilpin, 1981). Contoh Perang Dunia I dan II Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 15.
    Great Power Middle Power Peryphery Pertemuan 1:Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 16.
    Liberalisme •Negara bukan satu-satunyaaktor dalam sistem internasional, ada aktor lain seperti individu, organisasi non-pemerintah, perusahaan multinasional dan organisasi internasional. •Negara adalah aktor rasional yang tindakannya didasarkan atas kalkulasi material dan ideasional. Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 17.
    Liberalisme •Kepentingan negara sangatsituasional. •Interdependensi, akumulasi norma, dan hukum internasional dapat mempengaruhi pilihan penggunaan kekuatan oleh negara. Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 18.
    Interdependensi, Perdagangan dan Perang •Interdependensi mampu menciptakan kendala struktural global bagi perilaku perang. • Jika perang terjadi perang terjadi di antara negara interdependent, maka cost akan tinggi sehingga pihak yang bertikai akan menjaga eskalasi perang. Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 19.
    Institusi Internasional Menurut RobertKeohane, institusi memiliki tiga fungsi: 1.Mengarahkan perilaku; 2.Membatasi aktivitas; 3.Membentuk espektasi (Keohane, 1989) Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 20.
    Jus Ad Bellum(hak untuk berperang) •Just Cause •Legitimate •Proportional •Probability of Success •Last Resort Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 21.
    Jus in Bello(aturan dalam perang) •Penggunaan militer hanya untuk menghancurkan kemampuan tempur musuh. •Penggunaan senjata harus proporsional •Pembeda antara combatant dan non - combatant Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 22.
    Kontruktivisme • Rational choiceatau rationalism, yaitu teori sosial yang menawarkan kerangka berfikir untuk memahami bagaimana aktor bertindak untuk memaksimalkan kepentingannya dalam lingkungan yang penuh kendala (Barnett, 2008:162) • Inti: konstruksi sosial atas realitas (social contruction of reality) Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si
  • 23.
    Kontruktivisme • Struktur ideasional: 1.Terdiridari norma yang membentuk ekspektasi. 2.Adanya pemahaman bersama (shared understanding). 3.Membentuk identitas -> struktur identitas ->norma 4.Tidak melekat pada material Pertemuan 1: Keamanan Internasional– Irmawan Effendi, M.Si