Clostridium perfringens dalam Produk Daging
dan Daging
Cincinnati, Ohio

Fakultas Kesehatan Masyarakat
Unversitas Jember
2012
Sekilas Kasus
Sebanyak 262 sampel masakan daging dan
daging yang diperiksa untuk menemukan
Clostridium perfringens. Dari jumlah ini, 161
adalah daging sapi yang belum diproses serta
daging domba, babi, atau ayam dan 101
sisanya adalah daging olahan dan hidangan
daging.
Cont’d
Persentase tertinggi kontaminasi
Clostridium perfringens (82%)
ditemukan dalam pemotongan
sapi, dan terendah (4,7%) di irisan
daging Sandwich
Sumber
Daging sapi, domba, babi, atau ayam yang
belum diproses maupun daging olahan dan
hidangan daging.
Cont’d
Selain pada daging, bakteri ini dapat
tumbuh cepat pada makanan non
daging yang telah dimasak.
Sayuran, buah-buahan serta
makanan-makanan kering sering
menjadi sumber bakteri ini.
Penyebab
Makanan asal hewan (daging dan olahannya)
terkontaminasi dengan Clostridium
perfringens melalui proses pemotongan
dengan spora dari lingkungan atau dari
saluran usus hewan yang dipotong.
Cont’d
Hal yang sama juga terjadi pada
makanan non daging, sayuran dan
buah-buahan karena adanya
kontaminasi spora Clostridium
perfringens melalui tanah.
Efek
Beberapa strain Clostridium perfringens menghasilkan
enterotoksin yang kuat, terutama bila tumbuh dalam masakan
daging.
Kerja enterotoksin Clostridium perfringens meliputi hipersekresi
yag nyata dalam jejunum dan ileum, disertai kehilangan cairan
dan elektrolit pada diare.
Bila lebih dari 108 sel vegetative termakan dan
bersporulasi dalam usus, terbentuk
enterotoksin.

Enterotoksin adalah suatu protein yang
tampaknya identik dengan komponen
pembungkus spora, berbeda dengan toksin
klostridia lainnya, menyebabkan diare hebat
dalam 6-18 jam penyakit ini cenderung
sembuh sendiri.
Namun ada Strain lainnya menyebabkan
gastroenteritis berat, yang sering berakibat
fatal.

Gastroenteritis adalah salah satu penyakit
ang disebakan oleh Clostridium
perfringens. Gastroenteritis ini disebabkan
karena memakan makanan yang tercemar
oleh toksin (racun) yang dihasilkan oleh
bakteri Clostridium perfringens.
Pengendalian
Makanan (daging dan olahannya) yang dimasak dan
dipanaskan dengan melakukan pemasakan dengan
sempurna sebelum dihidangkan agar dapat tercegah
dari infeksi dan keracunan dan disimpan dengan
benar umumnya aman dikonsumsi.
Cont’d
Selain itu, Jangan membeli daging dengan ciri-ciri :
1. adanya perubahan bau menjadi tengik atau bau
busuk,
2. terbentuknya lendir,
3. adanya perubahan warna,
4. adanya perubahan rasa menjadi asam,
5. tumbuhnya kapang pada bahan/dendeng kering.
Saran
Akan lebih baik adanya antisipasi dini dalam menanggulangi
Clostridium perfringens, yaitu :
1. Dengan pemberian Pendidikan tentang dasar-dasar
kebersihan dalam sanitasi makanan,
2. Jangan biarkan makanan berada pada suhu kamar yang
memungkinkan mikroorganisme yang mengkontaminasi
berkembang biak.
Terima Kasih

Clostridium perfringens

  • 1.
    Clostridium perfringens dalamProduk Daging dan Daging Cincinnati, Ohio Fakultas Kesehatan Masyarakat Unversitas Jember 2012
  • 2.
    Sekilas Kasus Sebanyak 262sampel masakan daging dan daging yang diperiksa untuk menemukan Clostridium perfringens. Dari jumlah ini, 161 adalah daging sapi yang belum diproses serta daging domba, babi, atau ayam dan 101 sisanya adalah daging olahan dan hidangan daging.
  • 3.
    Cont’d Persentase tertinggi kontaminasi Clostridiumperfringens (82%) ditemukan dalam pemotongan sapi, dan terendah (4,7%) di irisan daging Sandwich
  • 4.
    Sumber Daging sapi, domba,babi, atau ayam yang belum diproses maupun daging olahan dan hidangan daging.
  • 5.
    Cont’d Selain pada daging,bakteri ini dapat tumbuh cepat pada makanan non daging yang telah dimasak. Sayuran, buah-buahan serta makanan-makanan kering sering menjadi sumber bakteri ini.
  • 6.
    Penyebab Makanan asal hewan(daging dan olahannya) terkontaminasi dengan Clostridium perfringens melalui proses pemotongan dengan spora dari lingkungan atau dari saluran usus hewan yang dipotong.
  • 7.
    Cont’d Hal yang samajuga terjadi pada makanan non daging, sayuran dan buah-buahan karena adanya kontaminasi spora Clostridium perfringens melalui tanah.
  • 8.
    Efek Beberapa strain Clostridiumperfringens menghasilkan enterotoksin yang kuat, terutama bila tumbuh dalam masakan daging. Kerja enterotoksin Clostridium perfringens meliputi hipersekresi yag nyata dalam jejunum dan ileum, disertai kehilangan cairan dan elektrolit pada diare.
  • 9.
    Bila lebih dari108 sel vegetative termakan dan bersporulasi dalam usus, terbentuk enterotoksin. Enterotoksin adalah suatu protein yang tampaknya identik dengan komponen pembungkus spora, berbeda dengan toksin klostridia lainnya, menyebabkan diare hebat dalam 6-18 jam penyakit ini cenderung sembuh sendiri.
  • 10.
    Namun ada Strainlainnya menyebabkan gastroenteritis berat, yang sering berakibat fatal. Gastroenteritis adalah salah satu penyakit ang disebakan oleh Clostridium perfringens. Gastroenteritis ini disebabkan karena memakan makanan yang tercemar oleh toksin (racun) yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium perfringens.
  • 11.
    Pengendalian Makanan (daging danolahannya) yang dimasak dan dipanaskan dengan melakukan pemasakan dengan sempurna sebelum dihidangkan agar dapat tercegah dari infeksi dan keracunan dan disimpan dengan benar umumnya aman dikonsumsi.
  • 12.
    Cont’d Selain itu, Janganmembeli daging dengan ciri-ciri : 1. adanya perubahan bau menjadi tengik atau bau busuk, 2. terbentuknya lendir, 3. adanya perubahan warna, 4. adanya perubahan rasa menjadi asam, 5. tumbuhnya kapang pada bahan/dendeng kering.
  • 13.
    Saran Akan lebih baikadanya antisipasi dini dalam menanggulangi Clostridium perfringens, yaitu : 1. Dengan pemberian Pendidikan tentang dasar-dasar kebersihan dalam sanitasi makanan, 2. Jangan biarkan makanan berada pada suhu kamar yang memungkinkan mikroorganisme yang mengkontaminasi berkembang biak.
  • 14.