Clinical Science Sessions
Presentan: Raihan Syah Ibrahim (1910311027)
Preseptor: dr. Russilawati, Sp. P (K)
PPOK Eksaserbasi
▪ Eksaserbasi penyakit paru obstruktif kronis (EPPOK) didefinisikan sebagai suatu kondisi
yang ditandai dengan peningkatan terjadinya sesak napas dan/atau batuk maupun
batuk berdahak yang mengalami perburukan dalam waktu kurang dari 14 hari.
▪ Kondisi ini dapat disertai dengan takipnea dan/atau takikardia, dan sering kali terjadi
dengan adanya peningkatan inflamasi lokal dan sistemik yang disebabkan oleh infeksi,
polusi, atau gangguan lain pada saluran pernapasan
Definisi Eksaserbasi PPOK
Pertimbangan
▪ Eksaserbasi PPOK dapat memberikan dampak negatif pada status
kesehatan, remisi, dan perkembangan penyakit pasien
▪ Gejala utama adalah peningkatan sesak napas, purulensi dan
bertambahnya volume dahak, serta peningkatan batuk dan wheezing.
▪ Pasien EPPOK berisiko lebih tinggi terhadap kejadian kondisi akut
lainnya seperti gagal jantung terkompensasi, pneumonia, dan emboli
paru.
▪ Peningkatan sesak napas dengan adanya batuk dan dahak yang purulen
dapat didiagnosis sebagai EPPOK, tetapi perlu juga dipertimbangkan
kemungkinan faktor lain yang dapat mempengaruhi kondisi pasien.
3
4
Diagnosis dan Assessment Eksaserbasi PPOK:
5
Klasifikasi Eksaserbasi PPOK:
▪ Mild: Diobati hanya dengan
bronkodilator kerja pendek
(SABDs).
▪ Moderate: Diobati dengan SABDs
dan kortikosteroid oral ±
antibiotik.
▪ Severe: Memerlukan rawat inap
atau rujukan ke IGD; dapat terkait
dengan gagal napas akut
6
Tingkatkan Keparahan Eksaserbasi PPOK dapat ditentukan dengan:
● Intensitas sesak napas: Menggunakan skala VAS 0-10.
● Frekuensi napas.
● Detak jantung.
● Tingkat saturasi oksigen.
● Jika tersedia, tingkat C-reactive protein (CRP) disarankan untuk diperiksa.
● Pengukuran gas darah arteri diperlukan untuk menentukan kebutuhan dukungan
ventilator, biasanya di ruang gawat darurat atau rumah sakit.
Penentuan Keparahan Eksaserbasi PPOK di Layanan Primer
● Eksaserbasi PPOK terutama dipicu oleh infeksi virus pernapasan, tetapi juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri dan faktor
lingkungan lain seperti polusi udara dan panas berlebih.
● Keterkaitan dengan Infeksi Virus: Eksaserbasi yang berhubungan dengan infeksi virus sering terjadi lebih parah, lebih lama,
dan menyebabkan lebih banyak pasien yang dirawat inap, terutama selama musim dingin
● Aspergillus dapat diidentifikasi dalam sampel dahak pada eksaserbasi sedang atau berat, tetapi relevansi klinisnya belum
jelas.
● Eksaserbasi dapat terjadi dengan adanya peningkatan produksi dahak, dan jika purulen kemungkinan disebabkan oleh infeksi
bakteri.
● Eosinofil meningkat di saluran pernapasan, paru-paru, dan darah pada banyak pasien PPOK. Kehadiran eosinofil dalam dahak
berkaitan dengan kerentanan pasien terhadap infeksi virus.
● Eksaserbasi dengan peningkatan eosinofil mungkin lebih responsif terhadap steroid sistemik, meskipun lebih banyak uji coba
prospektif diperlukan untuk mengujinya.
Pemicu Eksaserbasi PPOK
● Gejala eksaserbasi biasanya berlangsung 7 hingga 10 hari; 20% pasien mungkin belum pulih setelah 8 minggu.
● Beberapa pasien rentan terhadap eksaserbasi frekuensi tinggi (dua atau lebih per tahun), dan mereka memiliki status
kesehatan dan morbiditas yang lebih buruk.
● Persepsi kesulitan bernapas lebih besar pada pasien dengan eksaserbasi frekuensi tinggi, menunjukkan kontribusi persepsi
terhadap gejala.
● Jumlah eksaserbasi dalam tahun sebelumnya adalah prediktor terkuat untuk frekuensi eksaserbasi di masa yang akan datang.
● Pasien dengan eksaserbasi frekuensi tinggi membentuk fenotipe yang cukup stabil, meskipun beberapa pasien dapat
mengalami perubahan frekuensi eksaserbasi seiring dengan penurunan FEV1.
Pemicu Eksaserbasi PPOK
● Peningkatan rasio dimensi penampang arteri pulmonalis terhadap aorta (rasio > 1) berhubungan dengan risiko eksaserbasi
yang lebih tinggi.
● Persentase emfisema atau ketebalan dinding saluran napas yang lebih tinggi, yang diukur melalui CT scan Thorax, juga dapat
berkontribusi pada risiko dan keparahan eksaserbasi.
● Jika terdapat kondisi bronkitis kronis maka dapat meningkatkan risiko terjadinya eksaserbasi.
PeranVitamin D:
● Vitamin D memiliki peran dalam modifikasi sistem imun dan terlibat dalam patofisiologi eksaserbasi.
● Kadar vitamin D cenderung lebih rendah pada pasien PPOK dibandingkan pasien yang sehat.
● Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara kadar vitamin D dan eksaserbasi.
Pemicu Eksaserbasi PPOK
Pilihan pengobatan pada Eksaserbasi
PPOK
● Tujuan Pengobatan: Meminimalkan dampak negatif eksaserbasi yang sedang terjadi dan mencegah terjadinya
eksaserbasi pada masa yang akan datang.
● Eksaserbasi PPOK dapat ditangani pada settingan rawat jalan ataupun rawat inap, tergantung keparahannya.
● Lebih dari 80% kejadian eksaserbasi dikelola pada settingan rawat jalan.
● Terapi yang Digunakan dapat berupa bronkodilator, kortikosteroid, dan antibiotik.
● Keparahan eksaserbasi harus dikategorikan berdasarkan tanda klinis pasien, dengan klasifikasi yang
direkomendasikan.
Tata Cara Pengobatan
13
Tipe keparahan:
Tanpa Gagal Napas:
● Frekuensi pernapasan: ≤ 24 x per menit.
● Denyut jantung: < 95 x per menit.
● Tidak menggunakan otot bantu pernapasan.
● Tidak terdapat perubahan status mental.
● Hipoksemia membaik dengan oksigen tambahan melalui masker Venturi (FiO2 24-35%).
● Tidak terdapat peningkatan PaCO2.
Kegagalan Pernapasan Akut – Tidak Mengancam Nyawa:
● Frekuensi pernapasan: > 24 x per menit.
● Menggunakan otot bantu pernapasan.
● Tidak terdapat perubahan status mental.
● Hipoksemia membaik dengan oksigen tambahan melalui masker Venturi (FiO2 > 35%).
● Hiperkarbia (PaCO2 meningkat dibandingkan baseline atau 50-60 mmHg).
Kegagalan Pernapasan Akut – Mengancam Nyawa:
● Frekuensi pernapasan: > 24 x per menit.
● Menggunakan otot bantu pernapasan.
● Perubahan status mental akut.
● Hipoksemia tidak membaik dengan oksigen tambahan (memerlukan FiO2 > 40%).
● Hiperkarbia (PaCO2 meningkat dibandingkan baseline atau > 60 mmHg) atau adanya asidosis (pH ≤ 7.25).
15
16
Faktor yang Berhubungan dengan prognosis yang buruk pada PPOK adalah:
● Usia lebih tua.
● Indeks Massa Tubuh (BMI) lebih rendah.
● Penyakit penyerta (misalnya, penyakit kardiovaskular atau kanker paru).
● Riwayat rawat inap sebelumnya karena eksaserbasi COPD.
● Tingkat keparahan klinis dari eksaserbasi saat ini.
● Kebutuhan terapi oksigen jangka panjang saat pulang.
Risiko Kematian Meningkat pada Kondisi:
● Gejala pernapasan yang lebih parah dengan prevalensi yang lebih tinggi.
● Kualitas hidup yang buruk.
● Fungsi paru yang lebih buruk.
● Kapasitas olahraga yang lebih rendah.
● Risiko kematian meningkat saat cuaca dingin.
Penggunaan rencana aksi untuk eksaserbasi PPOK dengan komponen edukasi singkat dan support berkelanjutan dapat
mengurangi angka kunjungan ke rumah sakit.
Terapi Farmakologi pada Eksaserbasi
PPOK
Tiga golongan obat yang paling umum digunakan untuk eksaserbasi PPOK adalah
bronkodilator, kortikosteroid, dan antibiotik.
Rekomendasi pada Pengobatan Eksaserbasi PPOK:
● Inhalasi Beta2-agonis jangka pendek, dengan atau tanpa antikolinergik merupakan bronkodilator awal yang
direkomendasikan.
Rute Pemberian Bronkodilator:
● Tinjauan sistematik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada FEV1 antara penggunaan MDI dengan
nebulizer.
● Nebulizer mungkin lebih mudah digunakan oleh pasien yang lebih sakit.
Penggunaan MDI:
● Pasien tidak disarankan untuk menerima nebulisasi secara kontinu.
● Disarankan menggunakan MDI dengan satu atau dua puff setiap jam selama dua atau tiga dosis, kemudian setiap 2-
4 jam sesuai respons pasien.
Penggunaan Bronkodilator Jangka Panjang:
● Tidak ada penelitian klinis yang mengevaluasi penggunaan bronkodilator jangka panjang (beta2-agonis atau
antikolinergik) selama eksaserbasi.
● Dianjurkan untuk melanjutkan atau memulai pengobatan ini sesegera mungkin sebelum pulang dari rumah sakit.
1. Bronkodilator
● Glukokortikoid sistemik dalam eksaserbasi PPOK dapat memperpendek waktu pemulihan dan meningkatkan
fungsi paru (FEV1).
● Meningkatkan oksigenasi, mengurangi risiko kekambuhan awal, kegagalan pengobatan, dan memperpendek
durasi rawat inap.
● Dosis yang Direkomendasikan yaitu 40 mg prednisone per hari selama 5 hari.
● Penggunaan jangka panjang kortikosteroid oral dapat meningkatkan risiko pneumonia dan kematian.
Efektivitas Pemberian:
● Terapi dengan prednisolon oral sama efektifnya dengan pemberian intravena.
● Budesonide nebulasi dapat menjadi alternatif yang sesuai untuk beberapa pasien, memberikan manfaat yang mirip
dengan methylprednisolone intravena.
2. Glukokortikoid
● Antibiotik disarankan ketika pasien menunjukkan tanda infeksi bakteri, seperti sputum purulen yang meningkat,
Serta pasien yang memerlukan ventilasi mekanis (invasif atau noninvasif)
● Warna sputum dapat membantu memodulasi terapi antibiotik; sputum putih atau jernih tidak memerlukan
antibiotik.
● Tinjauan sistematik menunjukkan bahwa antibiotik dapat mengurangi risiko kematian jangka pendek (77%),
kegagalan pengobatan (53%), dan sputum yang purulen(44%).
● Antibiotik direkomendasikan pada pasien dengan eksaserbasi PPOK yang sedang atau parah dengan peningkatan
batuk ataupun sputum yang purulen.
● Kultur sputum tidak dianjurkan pada settingan rawat jalan karena memerlukan waktu dan tidak memberikan hasil
yang dapat diandalkan.
● Pemeriksaan kadar CRP juga dapat mengurangi pemberian antibiotik tanpa mengganggu hasil klinis pasien
● Penggunaan procalcitonin sebagai panduan pemberian terapi antibiotik menunjukkan hasil yang tidak konsisten,
sehingga tidak dianjurkan menggunakan protokol berbasis procalcitonin dalam mengambil keputusan penggunaan
antibiotik dalam eksaserbasi PPOK.
3. Antibiotik
Durasi Pemberian Antibiotik:
● Metaanalisis menunjukkan bahwa pemberian antibiotik selama ≤ 5 hari memiliki efikasi klinis dan bakterologis
yang sama dengan pengobatan konvensional yang lebih lama.
● Pemberian antibiotik dengan durasi lebih pendek dapat mengurangi risiko resistensi antibiotik dan komplikasi
lainnya.
● Durasi terapi antibiotik yang direkomendasikan adalah 5-7 hari, dengan saran ≤ 5 hari untuk pengobatan rawat
jalan.
Pemilihan Antibiotik:
● Pemilihan antibiotik harus berdasarkan pada pola resistensi bakteri lokal.
● Pengobatan empiris awal dapat berupa aminopenisilin dengan asam klavulanat, makrolida, tetrasiklin, atau pada
pasien tertentu dapat diberikan kinolon.
3. Antibiotik
Respiratory Support pada Eksaserbasi
PPOK
Terapi Oksigen:
Merupakan komponen kunci dalam pengobatan pasien di rumah sakit pada eksaserbasi PPOK. Oksigen tambahan harus
disesuaikan untuk meningkatkan hipoksemia pasien, dengan target saturasi 88-92%.
Analisis Gas Darah:
● Setelah oksigen dimulai, gas darah harus diperiksa secara berkala atau sesuai indikasi klinis untuk memastikan
oksigenasi yang memadai tanpa retensi karbon dioksida dan/atau asidosis yang memburuk.
● Pulse oximetry kurang akurat dibandingkan dengan AGD terutama pada individu dengan warna kulit lebih gelap.
Metode Pemberian Oksigen:
● Masker Venturi memberikan oksigen yang lebih akurat dan terkontrol dibandingkan dengan nasal kanul.
1. Terapi Oksigen
● Dapat memberikan campuran udara-oksigen yang dipanaskan dan dihumidifikasi melalui perangkat khusus
(misalnya, Vapotherm®, Comfort Flo®, atau Optiflow®) dengan laju hingga 8 L/menit untuk bayi dan hingga 60
L/menit untuk dewasa.
● HFNT dapat mengurangi frekuensi dan upaya pernapasan pasien, menurunkan kerja pernapasan, meningkatkan
pertukaran gas, volume paru, kepatuhan dinamis, serta tekanan transpulmoner.
● HFNT dapat memperbaiki oksigenasi, ventilasi, dan mengurangi hiperkarbia pada pasien.
● HFNT tidak menggantikan indikasi intubasi pada pasien yang dirawat karena eksaserbasi akut.
2. Hight Flow Nasal Terapy (HFNT)
● Beberapa pasien memerlukan ruang perawatan intensif seperti ICU.
● Pasien dengan eksaserbasi berat dapat dimasukkan ke ICU untuk mengidentifikasi dan mengelola gagal
pernapasan akut.
● Dukungan ventilasi dalam eksaserbasi dapat diberikan melalui ventilasi noninvasif (nasal atau masker wajah) atau
invasif (orotrakeal tube atau trakeostomi).
3. Penggunaan Ventilator
27
● Penggunaan ventilasi mekanik noninvasif (NIV) lebih disukai dibandingkan ventilasi invasif (intubasi dan ventilasi
tekanan positif) sebagai mode awal untuk mengobati kegagalan pernapasan akut pada pasien yang dirawat karena
eksaserbasi PPOK.
● NIV telah diteliti dalam penelitian uji coba acak dan menunjukkan tingkat keberhasilan 80-85%.
● NIV dapat Meningkatkan oksigenasi dan mengurangi asidosis respiratorik akut (NIV meningkatkan pH dan
menurunkan PaCO2).
● Mengurangi frekuensi pernapasan, kerja pernapasan, dan keparahan sesak napas.
● Menurunkan komplikasi seperti pneumonia terkait ventilator dan durasi rawat inap.
● Mengurangi angka kematian dan intubasi.
● Setelah pasien membaik dan dapat mentolerir setidaknya 4 jam bernapas tanpa bantuan, NIV dapat dihentikan
secara langsung tanpa perlu periode "weaning".
4. Non Invasif Mechanical Ventilator
29
● Dengan pengalaman penggunaan NIV yang lebih luas, beberapa indikasi untuk ventilasi invasif dapat berhasil
ditangani dengan NIV, sehingga menghilangkan ventilasi invasif sebagai pengobatan lini pertama untuk kegagalan
pernapasan akut selama eksaserbasi PPOK.
● Penggunaan ventilasi invasif pada pasien PPOK yang sangat parah dipengaruhi oleh kemungkinan reversibilitas
penyebab yang mendasari, keinginan pasien, dan ketersediaan fasilitas perawatan intensif.
● Bahaya utama ventilasi Invasif adalah pneumonia yang didapat dari ventilator, barotrauma, volutrauma, dan risiko
trakeostomi serta ventilasi berkepanjangan.
5. Invasif Mechanical Ventilator
31
● Tidak ada standar untuk waktu dan kategori pemulangan pasien
● Follow up awal (dalam satu bulan) setelah pasien dipulangkan harus dilakukan jika memungkinkan
● Masalah pasien seperti kepatuhan, akses terbatas ke perawatan medis, dan dukungan sosial yang
buruk dapat menghambat follow up awal.
● Follow up tambahan pada tiga bulan setelah pasien dipulangkan disarankan untuk memastikan
stabilitas klinis dan meninjau gejala serta fungsi paru.
● CT scan untuk menentukan keberadaan bronkiektasis dan emfisema perlu dilakukan pada pasien
dengan eksaserbasi atau rawat inap berulang
Pemulangan Pasien dan Follow Up
33
34
Setelah terjadinya eksaserbasi akut, langkah-langkah preventif untuk eksaserbasi lebih lanjut harus segera diambil
berdasarkan gambar berikut:
Pencegahan Eksaserbasi PPOK
TERIMA KASIH

Clinical Science Session GOLD PPOK EKSASERBASI

  • 1.
    Clinical Science Sessions Presentan:Raihan Syah Ibrahim (1910311027) Preseptor: dr. Russilawati, Sp. P (K) PPOK Eksaserbasi
  • 2.
    ▪ Eksaserbasi penyakitparu obstruktif kronis (EPPOK) didefinisikan sebagai suatu kondisi yang ditandai dengan peningkatan terjadinya sesak napas dan/atau batuk maupun batuk berdahak yang mengalami perburukan dalam waktu kurang dari 14 hari. ▪ Kondisi ini dapat disertai dengan takipnea dan/atau takikardia, dan sering kali terjadi dengan adanya peningkatan inflamasi lokal dan sistemik yang disebabkan oleh infeksi, polusi, atau gangguan lain pada saluran pernapasan Definisi Eksaserbasi PPOK
  • 3.
    Pertimbangan ▪ Eksaserbasi PPOKdapat memberikan dampak negatif pada status kesehatan, remisi, dan perkembangan penyakit pasien ▪ Gejala utama adalah peningkatan sesak napas, purulensi dan bertambahnya volume dahak, serta peningkatan batuk dan wheezing. ▪ Pasien EPPOK berisiko lebih tinggi terhadap kejadian kondisi akut lainnya seperti gagal jantung terkompensasi, pneumonia, dan emboli paru. ▪ Peningkatan sesak napas dengan adanya batuk dan dahak yang purulen dapat didiagnosis sebagai EPPOK, tetapi perlu juga dipertimbangkan kemungkinan faktor lain yang dapat mempengaruhi kondisi pasien. 3
  • 4.
  • 5.
    Diagnosis dan AssessmentEksaserbasi PPOK: 5
  • 6.
    Klasifikasi Eksaserbasi PPOK: ▪Mild: Diobati hanya dengan bronkodilator kerja pendek (SABDs). ▪ Moderate: Diobati dengan SABDs dan kortikosteroid oral ± antibiotik. ▪ Severe: Memerlukan rawat inap atau rujukan ke IGD; dapat terkait dengan gagal napas akut 6
  • 7.
    Tingkatkan Keparahan EksaserbasiPPOK dapat ditentukan dengan: ● Intensitas sesak napas: Menggunakan skala VAS 0-10. ● Frekuensi napas. ● Detak jantung. ● Tingkat saturasi oksigen. ● Jika tersedia, tingkat C-reactive protein (CRP) disarankan untuk diperiksa. ● Pengukuran gas darah arteri diperlukan untuk menentukan kebutuhan dukungan ventilator, biasanya di ruang gawat darurat atau rumah sakit. Penentuan Keparahan Eksaserbasi PPOK di Layanan Primer
  • 8.
    ● Eksaserbasi PPOKterutama dipicu oleh infeksi virus pernapasan, tetapi juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri dan faktor lingkungan lain seperti polusi udara dan panas berlebih. ● Keterkaitan dengan Infeksi Virus: Eksaserbasi yang berhubungan dengan infeksi virus sering terjadi lebih parah, lebih lama, dan menyebabkan lebih banyak pasien yang dirawat inap, terutama selama musim dingin ● Aspergillus dapat diidentifikasi dalam sampel dahak pada eksaserbasi sedang atau berat, tetapi relevansi klinisnya belum jelas. ● Eksaserbasi dapat terjadi dengan adanya peningkatan produksi dahak, dan jika purulen kemungkinan disebabkan oleh infeksi bakteri. ● Eosinofil meningkat di saluran pernapasan, paru-paru, dan darah pada banyak pasien PPOK. Kehadiran eosinofil dalam dahak berkaitan dengan kerentanan pasien terhadap infeksi virus. ● Eksaserbasi dengan peningkatan eosinofil mungkin lebih responsif terhadap steroid sistemik, meskipun lebih banyak uji coba prospektif diperlukan untuk mengujinya. Pemicu Eksaserbasi PPOK
  • 9.
    ● Gejala eksaserbasibiasanya berlangsung 7 hingga 10 hari; 20% pasien mungkin belum pulih setelah 8 minggu. ● Beberapa pasien rentan terhadap eksaserbasi frekuensi tinggi (dua atau lebih per tahun), dan mereka memiliki status kesehatan dan morbiditas yang lebih buruk. ● Persepsi kesulitan bernapas lebih besar pada pasien dengan eksaserbasi frekuensi tinggi, menunjukkan kontribusi persepsi terhadap gejala. ● Jumlah eksaserbasi dalam tahun sebelumnya adalah prediktor terkuat untuk frekuensi eksaserbasi di masa yang akan datang. ● Pasien dengan eksaserbasi frekuensi tinggi membentuk fenotipe yang cukup stabil, meskipun beberapa pasien dapat mengalami perubahan frekuensi eksaserbasi seiring dengan penurunan FEV1. Pemicu Eksaserbasi PPOK
  • 10.
    ● Peningkatan rasiodimensi penampang arteri pulmonalis terhadap aorta (rasio > 1) berhubungan dengan risiko eksaserbasi yang lebih tinggi. ● Persentase emfisema atau ketebalan dinding saluran napas yang lebih tinggi, yang diukur melalui CT scan Thorax, juga dapat berkontribusi pada risiko dan keparahan eksaserbasi. ● Jika terdapat kondisi bronkitis kronis maka dapat meningkatkan risiko terjadinya eksaserbasi. PeranVitamin D: ● Vitamin D memiliki peran dalam modifikasi sistem imun dan terlibat dalam patofisiologi eksaserbasi. ● Kadar vitamin D cenderung lebih rendah pada pasien PPOK dibandingkan pasien yang sehat. ● Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara kadar vitamin D dan eksaserbasi. Pemicu Eksaserbasi PPOK
  • 11.
    Pilihan pengobatan padaEksaserbasi PPOK
  • 12.
    ● Tujuan Pengobatan:Meminimalkan dampak negatif eksaserbasi yang sedang terjadi dan mencegah terjadinya eksaserbasi pada masa yang akan datang. ● Eksaserbasi PPOK dapat ditangani pada settingan rawat jalan ataupun rawat inap, tergantung keparahannya. ● Lebih dari 80% kejadian eksaserbasi dikelola pada settingan rawat jalan. ● Terapi yang Digunakan dapat berupa bronkodilator, kortikosteroid, dan antibiotik. ● Keparahan eksaserbasi harus dikategorikan berdasarkan tanda klinis pasien, dengan klasifikasi yang direkomendasikan. Tata Cara Pengobatan
  • 13.
  • 14.
    Tipe keparahan: Tanpa GagalNapas: ● Frekuensi pernapasan: ≤ 24 x per menit. ● Denyut jantung: < 95 x per menit. ● Tidak menggunakan otot bantu pernapasan. ● Tidak terdapat perubahan status mental. ● Hipoksemia membaik dengan oksigen tambahan melalui masker Venturi (FiO2 24-35%). ● Tidak terdapat peningkatan PaCO2. Kegagalan Pernapasan Akut – Tidak Mengancam Nyawa: ● Frekuensi pernapasan: > 24 x per menit. ● Menggunakan otot bantu pernapasan. ● Tidak terdapat perubahan status mental. ● Hipoksemia membaik dengan oksigen tambahan melalui masker Venturi (FiO2 > 35%). ● Hiperkarbia (PaCO2 meningkat dibandingkan baseline atau 50-60 mmHg). Kegagalan Pernapasan Akut – Mengancam Nyawa: ● Frekuensi pernapasan: > 24 x per menit. ● Menggunakan otot bantu pernapasan. ● Perubahan status mental akut. ● Hipoksemia tidak membaik dengan oksigen tambahan (memerlukan FiO2 > 40%). ● Hiperkarbia (PaCO2 meningkat dibandingkan baseline atau > 60 mmHg) atau adanya asidosis (pH ≤ 7.25).
  • 15.
  • 16.
  • 17.
    Faktor yang Berhubungandengan prognosis yang buruk pada PPOK adalah: ● Usia lebih tua. ● Indeks Massa Tubuh (BMI) lebih rendah. ● Penyakit penyerta (misalnya, penyakit kardiovaskular atau kanker paru). ● Riwayat rawat inap sebelumnya karena eksaserbasi COPD. ● Tingkat keparahan klinis dari eksaserbasi saat ini. ● Kebutuhan terapi oksigen jangka panjang saat pulang. Risiko Kematian Meningkat pada Kondisi: ● Gejala pernapasan yang lebih parah dengan prevalensi yang lebih tinggi. ● Kualitas hidup yang buruk. ● Fungsi paru yang lebih buruk. ● Kapasitas olahraga yang lebih rendah. ● Risiko kematian meningkat saat cuaca dingin. Penggunaan rencana aksi untuk eksaserbasi PPOK dengan komponen edukasi singkat dan support berkelanjutan dapat mengurangi angka kunjungan ke rumah sakit.
  • 18.
    Terapi Farmakologi padaEksaserbasi PPOK Tiga golongan obat yang paling umum digunakan untuk eksaserbasi PPOK adalah bronkodilator, kortikosteroid, dan antibiotik.
  • 19.
    Rekomendasi pada PengobatanEksaserbasi PPOK: ● Inhalasi Beta2-agonis jangka pendek, dengan atau tanpa antikolinergik merupakan bronkodilator awal yang direkomendasikan. Rute Pemberian Bronkodilator: ● Tinjauan sistematik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada FEV1 antara penggunaan MDI dengan nebulizer. ● Nebulizer mungkin lebih mudah digunakan oleh pasien yang lebih sakit. Penggunaan MDI: ● Pasien tidak disarankan untuk menerima nebulisasi secara kontinu. ● Disarankan menggunakan MDI dengan satu atau dua puff setiap jam selama dua atau tiga dosis, kemudian setiap 2- 4 jam sesuai respons pasien. Penggunaan Bronkodilator Jangka Panjang: ● Tidak ada penelitian klinis yang mengevaluasi penggunaan bronkodilator jangka panjang (beta2-agonis atau antikolinergik) selama eksaserbasi. ● Dianjurkan untuk melanjutkan atau memulai pengobatan ini sesegera mungkin sebelum pulang dari rumah sakit. 1. Bronkodilator
  • 20.
    ● Glukokortikoid sistemikdalam eksaserbasi PPOK dapat memperpendek waktu pemulihan dan meningkatkan fungsi paru (FEV1). ● Meningkatkan oksigenasi, mengurangi risiko kekambuhan awal, kegagalan pengobatan, dan memperpendek durasi rawat inap. ● Dosis yang Direkomendasikan yaitu 40 mg prednisone per hari selama 5 hari. ● Penggunaan jangka panjang kortikosteroid oral dapat meningkatkan risiko pneumonia dan kematian. Efektivitas Pemberian: ● Terapi dengan prednisolon oral sama efektifnya dengan pemberian intravena. ● Budesonide nebulasi dapat menjadi alternatif yang sesuai untuk beberapa pasien, memberikan manfaat yang mirip dengan methylprednisolone intravena. 2. Glukokortikoid
  • 21.
    ● Antibiotik disarankanketika pasien menunjukkan tanda infeksi bakteri, seperti sputum purulen yang meningkat, Serta pasien yang memerlukan ventilasi mekanis (invasif atau noninvasif) ● Warna sputum dapat membantu memodulasi terapi antibiotik; sputum putih atau jernih tidak memerlukan antibiotik. ● Tinjauan sistematik menunjukkan bahwa antibiotik dapat mengurangi risiko kematian jangka pendek (77%), kegagalan pengobatan (53%), dan sputum yang purulen(44%). ● Antibiotik direkomendasikan pada pasien dengan eksaserbasi PPOK yang sedang atau parah dengan peningkatan batuk ataupun sputum yang purulen. ● Kultur sputum tidak dianjurkan pada settingan rawat jalan karena memerlukan waktu dan tidak memberikan hasil yang dapat diandalkan. ● Pemeriksaan kadar CRP juga dapat mengurangi pemberian antibiotik tanpa mengganggu hasil klinis pasien ● Penggunaan procalcitonin sebagai panduan pemberian terapi antibiotik menunjukkan hasil yang tidak konsisten, sehingga tidak dianjurkan menggunakan protokol berbasis procalcitonin dalam mengambil keputusan penggunaan antibiotik dalam eksaserbasi PPOK. 3. Antibiotik
  • 22.
    Durasi Pemberian Antibiotik: ●Metaanalisis menunjukkan bahwa pemberian antibiotik selama ≤ 5 hari memiliki efikasi klinis dan bakterologis yang sama dengan pengobatan konvensional yang lebih lama. ● Pemberian antibiotik dengan durasi lebih pendek dapat mengurangi risiko resistensi antibiotik dan komplikasi lainnya. ● Durasi terapi antibiotik yang direkomendasikan adalah 5-7 hari, dengan saran ≤ 5 hari untuk pengobatan rawat jalan. Pemilihan Antibiotik: ● Pemilihan antibiotik harus berdasarkan pada pola resistensi bakteri lokal. ● Pengobatan empiris awal dapat berupa aminopenisilin dengan asam klavulanat, makrolida, tetrasiklin, atau pada pasien tertentu dapat diberikan kinolon. 3. Antibiotik
  • 23.
    Respiratory Support padaEksaserbasi PPOK
  • 24.
    Terapi Oksigen: Merupakan komponenkunci dalam pengobatan pasien di rumah sakit pada eksaserbasi PPOK. Oksigen tambahan harus disesuaikan untuk meningkatkan hipoksemia pasien, dengan target saturasi 88-92%. Analisis Gas Darah: ● Setelah oksigen dimulai, gas darah harus diperiksa secara berkala atau sesuai indikasi klinis untuk memastikan oksigenasi yang memadai tanpa retensi karbon dioksida dan/atau asidosis yang memburuk. ● Pulse oximetry kurang akurat dibandingkan dengan AGD terutama pada individu dengan warna kulit lebih gelap. Metode Pemberian Oksigen: ● Masker Venturi memberikan oksigen yang lebih akurat dan terkontrol dibandingkan dengan nasal kanul. 1. Terapi Oksigen
  • 25.
    ● Dapat memberikancampuran udara-oksigen yang dipanaskan dan dihumidifikasi melalui perangkat khusus (misalnya, Vapotherm®, Comfort Flo®, atau Optiflow®) dengan laju hingga 8 L/menit untuk bayi dan hingga 60 L/menit untuk dewasa. ● HFNT dapat mengurangi frekuensi dan upaya pernapasan pasien, menurunkan kerja pernapasan, meningkatkan pertukaran gas, volume paru, kepatuhan dinamis, serta tekanan transpulmoner. ● HFNT dapat memperbaiki oksigenasi, ventilasi, dan mengurangi hiperkarbia pada pasien. ● HFNT tidak menggantikan indikasi intubasi pada pasien yang dirawat karena eksaserbasi akut. 2. Hight Flow Nasal Terapy (HFNT)
  • 26.
    ● Beberapa pasienmemerlukan ruang perawatan intensif seperti ICU. ● Pasien dengan eksaserbasi berat dapat dimasukkan ke ICU untuk mengidentifikasi dan mengelola gagal pernapasan akut. ● Dukungan ventilasi dalam eksaserbasi dapat diberikan melalui ventilasi noninvasif (nasal atau masker wajah) atau invasif (orotrakeal tube atau trakeostomi). 3. Penggunaan Ventilator
  • 27.
  • 28.
    ● Penggunaan ventilasimekanik noninvasif (NIV) lebih disukai dibandingkan ventilasi invasif (intubasi dan ventilasi tekanan positif) sebagai mode awal untuk mengobati kegagalan pernapasan akut pada pasien yang dirawat karena eksaserbasi PPOK. ● NIV telah diteliti dalam penelitian uji coba acak dan menunjukkan tingkat keberhasilan 80-85%. ● NIV dapat Meningkatkan oksigenasi dan mengurangi asidosis respiratorik akut (NIV meningkatkan pH dan menurunkan PaCO2). ● Mengurangi frekuensi pernapasan, kerja pernapasan, dan keparahan sesak napas. ● Menurunkan komplikasi seperti pneumonia terkait ventilator dan durasi rawat inap. ● Mengurangi angka kematian dan intubasi. ● Setelah pasien membaik dan dapat mentolerir setidaknya 4 jam bernapas tanpa bantuan, NIV dapat dihentikan secara langsung tanpa perlu periode "weaning". 4. Non Invasif Mechanical Ventilator
  • 29.
  • 30.
    ● Dengan pengalamanpenggunaan NIV yang lebih luas, beberapa indikasi untuk ventilasi invasif dapat berhasil ditangani dengan NIV, sehingga menghilangkan ventilasi invasif sebagai pengobatan lini pertama untuk kegagalan pernapasan akut selama eksaserbasi PPOK. ● Penggunaan ventilasi invasif pada pasien PPOK yang sangat parah dipengaruhi oleh kemungkinan reversibilitas penyebab yang mendasari, keinginan pasien, dan ketersediaan fasilitas perawatan intensif. ● Bahaya utama ventilasi Invasif adalah pneumonia yang didapat dari ventilator, barotrauma, volutrauma, dan risiko trakeostomi serta ventilasi berkepanjangan. 5. Invasif Mechanical Ventilator
  • 31.
  • 32.
    ● Tidak adastandar untuk waktu dan kategori pemulangan pasien ● Follow up awal (dalam satu bulan) setelah pasien dipulangkan harus dilakukan jika memungkinkan ● Masalah pasien seperti kepatuhan, akses terbatas ke perawatan medis, dan dukungan sosial yang buruk dapat menghambat follow up awal. ● Follow up tambahan pada tiga bulan setelah pasien dipulangkan disarankan untuk memastikan stabilitas klinis dan meninjau gejala serta fungsi paru. ● CT scan untuk menentukan keberadaan bronkiektasis dan emfisema perlu dilakukan pada pasien dengan eksaserbasi atau rawat inap berulang Pemulangan Pasien dan Follow Up
  • 33.
  • 34.
  • 35.
    Setelah terjadinya eksaserbasiakut, langkah-langkah preventif untuk eksaserbasi lebih lanjut harus segera diambil berdasarkan gambar berikut: Pencegahan Eksaserbasi PPOK
  • 36.