TUJUAN PEMBELAJARAN
Pesertadapat menjelaskan perubahan CP pada tahun 2025
Peserta dapat menganalisis CP untuk membuat tujuan
Pembelajaran
Peserta dapat menjelaskan manfaat pembuatan tujuan
pembelajaran yang didasarkan dari proses analisis CP
4.
Mengenal Capaian Pembelajaran
(CP)
Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai
murid di akhir setiap fase, dimulai dari fase fondasi pada PAUD.
Rumusan kompetensi pada CP dapat menggunakan taksonomi SOLO atau taksonomi
lain (taksonomi Bloom, Wiggins dan Tighe, Marzano, dll.) yang sesuai dengan bidang
keilmuan masing-masing mata pelajaran.
CP terdiri atas rasional, tujuan, karakteristik, dan capaian per fase.
5.
CONTOH PEMANFAATAN CPDALAM
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Pengembangan rencana pembelajaran yang kolaboratif. Pada
umumnya, satu fase dilalui satu atau lebih tingkat kelas, misalnya
CP Fase D yang berlaku untuk Kelas VII, VIII, dan IX.
Pembelajaran yang fleksibel. Ada kalanya proses belajar berjalan
lebih lambat pada suatu periode (misalnya pembelajaran pada
masa darurat: ketika pembelajaran di masa pandemi COVID-19,
bencana alam, dll) sehingga dibutuhkan waktu lebih panjang
untuk mempelajari suatu konsep.
6.
PERUBAHAN CP 2024DAN CP 2025
Coba kita lihat Perbandingan CP 2024 dan 2025.docx
Penulisan tujuan pembelajaransebaiknya memuat 2
komponen, yaitu sebagai berikut.
1. Kompetensi, yaitu kesatuan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
menunjukkan kemampuan murid sebagai hasil dari proses pembelajaran.
2. Lingkup materi, yaitu konten dan konsep utama yang perlu dipahami pada
akhir satu unit pembelajaran. Lingkup materi berfokus pada materi esensial
yang mengacu pada konsep inti dan informasi yang dianggap penting bagi
murid untuk dipelajari.
9.
Alternatif merumuskan tujuanpembelajaran sesuai karakteristik setiap
mata pelajaran dengan beberapa alternatif di bawah ini.
1. Alternatif 1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara langsung
berdasarkan CP.
2. Alternatif 2. Merumuskan tujuan pembelajaran dengan
menganalisis ‘kompetensi’ dan ‘konten’ pada ruang lingkup
materi pada CP.
3. Alternatif 3. Merumuskan tujuan pembelajaran Lintas Elemen CP.
Perbandingan CP 2024 dan 2025.docx
10.
Catatan untuk PerumusanTujuan Pembelajaran:
Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, hendaknya guru
mempertimbangkan ketersedian waktu dan kedalaman dari tujuan
pembelajaran tersebut.
11.
Menyusun Alur TujuanPembelajaran
Setelah merumuskan tujuan pembelajaran, pendidik perlu menyusun alur tujuan
pembelajaran.
Alur tujuan pembelajaran merupakan tujuan pembelajaran yang diurutkan, bukan
turunan atau rincian dari tujuan pembelajaran.
Perbandingan CP 2024 dan 2025.docx
12.
Beberapa hal yangperlu diperhatikan dalam menyusun alur tujuan pembelajaran
adalah sebagai berikut :
Alur tujuan pembelajaran dikembangkan tiap fase selanjutnya ditetapkan per tahunnya.
Alur tujuan pembelajaran perlu dikembangkan secara kolaboratif. Apabila pendidik
mengembangkan alur tujuan pembelajaran secara mandiri, maka perlu kolaborasi
pendidik lintas kelas/tingkatan dalam satu fase atau merancang bersama komunitas atau
tim pendidik atau MGMP/KKG/KKT (Kelompok Kerja Tutor) di satuan pendidikan masing
masing.
Alur tujuan pembelajaran dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan kompetensi
yang dikembangkan setiap mata pelajaran.
Alur tujuan pembelajaran fokus pada pencapaian pembelajaran.
Alur tujuan pembelajaran yang disediakan pemerintah adalah contoh. Urutan tujuan
pembelajaran ditunjukkan dengan nomor atau huruf, tetapi pendidik atau satuan
Pendidikan dapat mengubah atau memodifikasi sesuai dengan kebutuhan.
Pada pendidikan khusus, penyusunan alur tujuan pembelajaran boleh dilakukan lintas
fase.
13.
Program Sekolah PenggerakKementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Pengurutan
Konkret →
Abstrak
Metode pengurutan dari konten yang konkret dan berwujud ke konten yang lebih abstrak dan
simbolis. Contoh : memulai pengajaran dengan menjelaskan tentang benda geometris (konkret)
terlebih dahulu sebelum mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak).
Pengurutan
Deduktif
Metode pengurutan dari konten bersifat umum ke konten yang spesifik. Contoh : mengajarkan
konsep
database terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang tipe database, seperti hierarki atau
relasional.
Pengurutan dari
Mudah → Sulit
Metode pengurutan dari konten paling mudah ke konten paling sulit. Contoh : mengajarkan cara
mengeja kata-kata pendek dalam kelas bahasa sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang.
Pengurutan
Hierarki
Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan keterampilan komponen konten yang lebih mudah
terlebih dahulu sebelum mengajarkan keterampilan yang lebih kompleks. Contoh : peserta didik
perlu belajar tentang penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep perkalian.
Pengurutan
Prosedural
Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan tahap pertama dari sebuah prosedur, kemudian
membantu peserta didik untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya. Contoh : dalam mengajarkan
cara menggunakan t- test dalam sebuah pertanyaan penelitian, ada beberapa tahap prosedur
yang harus dilalui, seperti menulis hipotesis, menentukan tipe tes yang akan digunakan,
memeriksa asumsi, dan menjalankan tes dalam sebuah perangkat lunak statistik.
Scaffolding Metode pengurutan yang meningkatkan standar performa sekaligus mengurangi bantuan secara
bertahap. Contoh : dalam mengajarkan berenang, guru perlu menunjukkan cara mengapung, dan
ketika peserta didik mencobanya, guru hanya butuh membantu. Setelah ini, bantuan yang
diberikan akan berkurang secara bertahap. Pada akhirnya, peserta didik dapat berenang sendiri.
MENGURUTKAN
ALUR
TUJUAN
PEMBELAJARAN
14.
Di bawahini adalah ilustrasi pemetaan alur tujuan pembelajaran dalam satu fase.
Setiap kotak tujuan pembelajaran merupakan hasil perumusan tujuan pembelajaran
yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Alur tujuan pembelajaran ini adalah
tujuan-tujuan pembelajaran yang telah diurutkandalam satu fase, selanjutnya
ditetapkan per tahunnya.
15.
Catatan:
Pendidik dapatmenggunakan contoh alur tujuan pembelajaran yang telah tersedia,
atau memodifikasi contoh alur tujuan pembelajaran menyesuaikan kebutuhan murid,
karakteristik, dan kesiapan satuan pendidikan.
Pendidik dapat menyusun alur tujuan pembelajaran secara mandiri sesuai dengan
kesiapan satuan pendidikan.
Tidak ada format komponen yang ditetapkan oleh Pemerintah. Komponen alur tujuan
pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan satuan pendidikan yang mudah
dimengerti oleh pendidik.