Kurikulum Merdeka
untuk Meningkatkan
Kualitas Pembelajaran
Iklim sekolah
yang aman,
inklusif, dan
merayakan
kebinekaan
Pendidik
reflektif,
gemar
belajar,
berbagi, dan
berkolaborasi
Pembelajaran yang
berpusat pada
murid
Murid
memiliki
kompetensi
dan
karakter
Pancasila
Merdeka Belajar ingin
mewujudkan sekolah
yang kita cita-
citakan, yaitu
sekolah yang
menumbuhkan
kompetensi dan
karakter semua
murid untuk menjadi
pelajar sepanjang
hayat dengan nilai-
nilai Pancasila
Mengapa Kurikulum Merdeka diperlukan?
Kurikulum Merdeka adalah salah
satu alat bantu utama untuk
melakukan transformasi
pendidikan dan mewujudkan
sekolah yang kita cita-citakan.
Kurikulum Merdeka memudahkan
guru dan kepala sekolah
meningkatkan kualitas pembelajaran
dan indikator lain yang diukur dalam
Asesmen Nasional/ Rapor Pendidikan,
akreditasi sekolah/ madrasah, serta
Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Pendidikan.
Dengan fokus pada materi esensial dan struktur yang fleksibel, Kurikulum
Merdeka memudahkan guru melakukan pembelajaran terdiferensiasi, mengasah
bakat dan minat, serta menumbuhkan karakter murid secara lebih menyeluruh.
Pengembangan Karakter
Pengembangan karakter (kompetensi
moral-spiritual, sosial, dan emosional)
tidak hanya melalui mata pelajaran,
tetapi juga melalui alokasi waktu
khusus untuk pembelajaran yang
aplikatif dan kolaboratif, seperti Projek
Penguatan Profil Pelajar Pancasila
(P5).
Muatan esensial juga dibuat lebih
relevan dengan tantangan zaman dan
isu terkini, seperti perubahan iklim,
literasi finansial, literasi digital, dan
literasi kesehatan.
Guru dapat menggunakan asesmen awal
untuk melakukan pembelajaran
terdiferensiasi (mengatur materi, alur,
dan kecepatan pembelajaran sesuai
minat dan tingkat kemampuan murid).
Fokus pada Muatan Esensial
Muatan wajib dikurangi untuk memberi
waktu bagi pembelajaran yang lebih
mendalam, bermakna, dan
terdiferensiasi.
Fleksibel dan Kontekstual
Kurikulum sekolah bisa disesuaikan
dengan karakteristik sekolah dan murid
serta konteks sosial budaya setempat.
Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 menetapkan Kurikulum Merdeka sebagai
kurikulum PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah secara nasional. Bagi sekolah
yang belum menerapkan memiliki waktu 2 tahun (bagi daerah non-3T) atau 3 tahun (bagi
daerah 3T) untuk belajar dan menyiapkan diri.
Penetapan ini memberi kepastian arah kebijakan pendidikan
nasional.
Sekolah yang belum menerapkan Kurikulum Merdeka masih
dapat menggunakan K-13 sampai tahun ajaran 2025/2026 (untuk
daerah non-3T) atau 2026/2027 (untuk daerah 3T), sambil
mempelajari dan mulai menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran
Kurikulum Merdeka.
Sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum Merdeka, baik melalui
program Sekolah Penggerak dan SMK PK maupun secara mandiri
(mandiri belajar, mandiri berubah, dan mandiri berbagi) didorong
dan dibantu untuk terus meningkatkan kualitas implementasi.
Kajian Akademik
sebagai landasan
kebijakan kurikulum
untuk pemulihan
pembelajaran
selama 2021-2023
Seri Studi Kesenjangan
Pembelajaran
Studi Bangkit
Lebih Kuat:
Pemulihan
Pembelajaran
Pasca Pandemi
Naskah
Akademik
Program Sekolah
Penggerak
(PSP)
Akses kajian akademis lebih lengkap melalui:
s.id/KajianAkademikKM
Berbagai kajian akademik untuk menyusun dan mengevaluasi Kurikulum Merdeka
telah dilakukan. Kajian akan terus dilakukan secara berkala untuk memperbaiki
kebijakan dan implementasi Kurikulum Merdeka.
Prinsip Pembelajaran dan Prinsip Asesmen
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
ASESMEN PEMBELAJARAN
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Pembelajaran diawali dengan penyusunan
perencanaan pembelajaran dan
perencanaan asesmen.
Perencanaan pembelajaran meliputi
tujuan pembelajaran, langkah atau
kegiatan pembelajaran, dan asesmen
pembelajaran.
Pelaksanaan pembelajaran dimulai dari
pendidik dapat melaksanakan pembelajaran
yang bervariasi (pembelajaran terdiferensiasi)
sesuai dengan tingkat
pemahaman/kompetensi peserta didik.
Bentuk asesmen meliputi asesmen formatif dan sumatif.
Asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki pembelajaran
serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran.
Asesmen sumatif bertujuan untuk menilai pencapaian hasil belajar peserta
didik sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dan kelulusan dari satuan
pendidikan.
PROSES PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Pendidik memiliki alternatif untuk merumuskan tujuan pembelajaran dengan
beberapa alternatif di bawah ini:
• Alternatif 1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara langsung berdasarkan
CP.
• Alternatif 2. Merumuskan tujuan pembelajaran dengan menganalisis
‘kompetensi’ dan ‘lingkup
Materi’ pada CP.
Merumuskan tujuan pembelajaran lintas elemen CP
Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran
Setelah merumuskan tujuan pembelajaran, pendidik perlu menyusun alur tujuan
pembelajaran. Alur tujuan pembelajaran merupakan tujuan pembelajaran yang
diurutkan, bukan turunan atau rincian dari tujuan pembelajaran.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun alur tujuan pembelajaran:
1. Alur tujuan pembelajaran harus tuntas satu fase, tidak terpotong di tengah jalan;
2. Alur tujuan pembelajaran perlu dikembangkan secara kolaboratif, apabila pendidik mengembangkan alur tujuan
pembelajaran secara mandiri, maka perlu kolaborasi pendidik lintas kelas/tingkatan dalam satu fase atau merancang
bersama komunitas atau tim pendidik atau MGMP/ KKG/KKT (Kelompok Kerja Tutor) di satuan pendidikan masing-
masing
3. Alur tujuan pembelajaran dikembangkan sesuai karakteristik dan kompetensi yang dikembangkan setiap mata
pelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya dikembangkan oleh pendidik yang memiliki pemahaman dalam mata pelajaran
tersebut;
4. Pada pendidikan khusus, penyusunan alur tujuan pembelajaran boleh dilakukan lintas fase;
5. Alur tujuan pembelajaran yang disediakan pemerintah adalah contoh. Urutan tujuan pembelajaran ditunjukkan
dengan nomor atau huruf, namun pendidik atau satuan pendidikan dapat mengubah atau memodifikasi sesuai
dengan kebutuhan; dan
6. Alur tujuan pembelajaran fokus pada pencapaian pembelajaran.
Cara-Cara Menyusun Tujuan Pembelajaran
Menjadi Alur Tujuan Pembelajaran
Pengurutan dari yang
Konkret ke yang Abstrak
Metode pengurutan dari konten yang konkret dan berwujud ke konten yang lebih abstrak dan
simbolis. Contoh: memulai pengajaran dengan menjelaskan tentang benda geometris (konkret)
terlebih dahulu sebelum mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak).
Pengurutan Deduktif Metode pengurutan dari konten bersifat umum ke konten yang spesifik. Contoh: mengajarkan
konsep database terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang tipe database, seperti hierarki
atau relasional.
Pengurutan dari Mudah ke
yang lebih Sulit
Metode pengurutan dari konten paling mudah ke konten paling sulit. Contoh: mengajarkan cara
mengeja kata-kata pendek dalam kelas bahasa sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang.
Pengurutan Hierarki Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan keterampilan komponen konten yang lebih mudah
terlebih dahulu sebelum mengajarkan keterampilan yang lebih kompleks. Contoh: siswa perlu
belajar tentang penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep perkalian.
Pengurutan Prosedural Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan tahap pertama dari sebuah prosedur, kemudian
membantu siswa untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya. Contoh: dalam mengajarkan cara
menggunakan t-test dalam sebuah pertanyaan penelitian, ada beberapa tahap prosedur yang
harus dilalui, seperti menulis hipotesis, menentukan tipe tes yang akan digunakan, memeriksa
asumsi, dan menjalankan tes dalam sebuah perangkat lunak statistik.
Scaffolding Metode pengurutan yang meningkatkan standar performa sekaligus mengurangi bantuan secara
bertahap. Contoh: dalam mengajarkan berenang, guru perlu menunjukkan cara mengapung, dan
ketika siswa mencobanya, guru hanya butuh membantu. Setelah ini, bantuan yang diberikan akan
berkurang secara bertahap. Pada akhirnya, siswa dapat berenang sendiri.
ILUSTRASI PEMETAAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
DALAM SATU FASE.
kurikulum.kemdikbud.go.i
d
@kurikulum.merdek
a
Pusat Layanan
0812 8143 5091

PAPARAN KURIKULUM MERDEKA 2024 2025.pptx

  • 1.
  • 2.
    Iklim sekolah yang aman, inklusif,dan merayakan kebinekaan Pendidik reflektif, gemar belajar, berbagi, dan berkolaborasi Pembelajaran yang berpusat pada murid Murid memiliki kompetensi dan karakter Pancasila Merdeka Belajar ingin mewujudkan sekolah yang kita cita- citakan, yaitu sekolah yang menumbuhkan kompetensi dan karakter semua murid untuk menjadi pelajar sepanjang hayat dengan nilai- nilai Pancasila Mengapa Kurikulum Merdeka diperlukan?
  • 3.
    Kurikulum Merdeka adalahsalah satu alat bantu utama untuk melakukan transformasi pendidikan dan mewujudkan sekolah yang kita cita-citakan. Kurikulum Merdeka memudahkan guru dan kepala sekolah meningkatkan kualitas pembelajaran dan indikator lain yang diukur dalam Asesmen Nasional/ Rapor Pendidikan, akreditasi sekolah/ madrasah, serta Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan.
  • 4.
    Dengan fokus padamateri esensial dan struktur yang fleksibel, Kurikulum Merdeka memudahkan guru melakukan pembelajaran terdiferensiasi, mengasah bakat dan minat, serta menumbuhkan karakter murid secara lebih menyeluruh. Pengembangan Karakter Pengembangan karakter (kompetensi moral-spiritual, sosial, dan emosional) tidak hanya melalui mata pelajaran, tetapi juga melalui alokasi waktu khusus untuk pembelajaran yang aplikatif dan kolaboratif, seperti Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Muatan esensial juga dibuat lebih relevan dengan tantangan zaman dan isu terkini, seperti perubahan iklim, literasi finansial, literasi digital, dan literasi kesehatan. Guru dapat menggunakan asesmen awal untuk melakukan pembelajaran terdiferensiasi (mengatur materi, alur, dan kecepatan pembelajaran sesuai minat dan tingkat kemampuan murid). Fokus pada Muatan Esensial Muatan wajib dikurangi untuk memberi waktu bagi pembelajaran yang lebih mendalam, bermakna, dan terdiferensiasi. Fleksibel dan Kontekstual Kurikulum sekolah bisa disesuaikan dengan karakteristik sekolah dan murid serta konteks sosial budaya setempat.
  • 5.
    Permendikbudristek Nomor 12Tahun 2024 menetapkan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah secara nasional. Bagi sekolah yang belum menerapkan memiliki waktu 2 tahun (bagi daerah non-3T) atau 3 tahun (bagi daerah 3T) untuk belajar dan menyiapkan diri. Penetapan ini memberi kepastian arah kebijakan pendidikan nasional. Sekolah yang belum menerapkan Kurikulum Merdeka masih dapat menggunakan K-13 sampai tahun ajaran 2025/2026 (untuk daerah non-3T) atau 2026/2027 (untuk daerah 3T), sambil mempelajari dan mulai menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran Kurikulum Merdeka. Sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum Merdeka, baik melalui program Sekolah Penggerak dan SMK PK maupun secara mandiri (mandiri belajar, mandiri berubah, dan mandiri berbagi) didorong dan dibantu untuk terus meningkatkan kualitas implementasi.
  • 6.
    Kajian Akademik sebagai landasan kebijakankurikulum untuk pemulihan pembelajaran selama 2021-2023 Seri Studi Kesenjangan Pembelajaran Studi Bangkit Lebih Kuat: Pemulihan Pembelajaran Pasca Pandemi Naskah Akademik Program Sekolah Penggerak (PSP) Akses kajian akademis lebih lengkap melalui: s.id/KajianAkademikKM Berbagai kajian akademik untuk menyusun dan mengevaluasi Kurikulum Merdeka telah dilakukan. Kajian akan terus dilakukan secara berkala untuk memperbaiki kebijakan dan implementasi Kurikulum Merdeka.
  • 9.
    Prinsip Pembelajaran danPrinsip Asesmen
  • 10.
    PERENCANAAN PEMBELAJARAN ASESMEN PEMBELAJARAN PELAKSANAANPEMBELAJARAN Pembelajaran diawali dengan penyusunan perencanaan pembelajaran dan perencanaan asesmen. Perencanaan pembelajaran meliputi tujuan pembelajaran, langkah atau kegiatan pembelajaran, dan asesmen pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran dimulai dari pendidik dapat melaksanakan pembelajaran yang bervariasi (pembelajaran terdiferensiasi) sesuai dengan tingkat pemahaman/kompetensi peserta didik. Bentuk asesmen meliputi asesmen formatif dan sumatif. Asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki pembelajaran serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen sumatif bertujuan untuk menilai pencapaian hasil belajar peserta didik sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dan kelulusan dari satuan pendidikan.
  • 11.
    PROSES PENYUSUNAN PERENCANAANPEMBELAJARAN Pendidik memiliki alternatif untuk merumuskan tujuan pembelajaran dengan beberapa alternatif di bawah ini: • Alternatif 1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara langsung berdasarkan CP. • Alternatif 2. Merumuskan tujuan pembelajaran dengan menganalisis ‘kompetensi’ dan ‘lingkup Materi’ pada CP.
  • 14.
  • 15.
    Menyusun Alur TujuanPembelajaran Setelah merumuskan tujuan pembelajaran, pendidik perlu menyusun alur tujuan pembelajaran. Alur tujuan pembelajaran merupakan tujuan pembelajaran yang diurutkan, bukan turunan atau rincian dari tujuan pembelajaran. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun alur tujuan pembelajaran: 1. Alur tujuan pembelajaran harus tuntas satu fase, tidak terpotong di tengah jalan; 2. Alur tujuan pembelajaran perlu dikembangkan secara kolaboratif, apabila pendidik mengembangkan alur tujuan pembelajaran secara mandiri, maka perlu kolaborasi pendidik lintas kelas/tingkatan dalam satu fase atau merancang bersama komunitas atau tim pendidik atau MGMP/ KKG/KKT (Kelompok Kerja Tutor) di satuan pendidikan masing- masing 3. Alur tujuan pembelajaran dikembangkan sesuai karakteristik dan kompetensi yang dikembangkan setiap mata pelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya dikembangkan oleh pendidik yang memiliki pemahaman dalam mata pelajaran tersebut; 4. Pada pendidikan khusus, penyusunan alur tujuan pembelajaran boleh dilakukan lintas fase; 5. Alur tujuan pembelajaran yang disediakan pemerintah adalah contoh. Urutan tujuan pembelajaran ditunjukkan dengan nomor atau huruf, namun pendidik atau satuan pendidikan dapat mengubah atau memodifikasi sesuai dengan kebutuhan; dan 6. Alur tujuan pembelajaran fokus pada pencapaian pembelajaran.
  • 16.
    Cara-Cara Menyusun TujuanPembelajaran Menjadi Alur Tujuan Pembelajaran Pengurutan dari yang Konkret ke yang Abstrak Metode pengurutan dari konten yang konkret dan berwujud ke konten yang lebih abstrak dan simbolis. Contoh: memulai pengajaran dengan menjelaskan tentang benda geometris (konkret) terlebih dahulu sebelum mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak). Pengurutan Deduktif Metode pengurutan dari konten bersifat umum ke konten yang spesifik. Contoh: mengajarkan konsep database terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang tipe database, seperti hierarki atau relasional. Pengurutan dari Mudah ke yang lebih Sulit Metode pengurutan dari konten paling mudah ke konten paling sulit. Contoh: mengajarkan cara mengeja kata-kata pendek dalam kelas bahasa sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang. Pengurutan Hierarki Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan keterampilan komponen konten yang lebih mudah terlebih dahulu sebelum mengajarkan keterampilan yang lebih kompleks. Contoh: siswa perlu belajar tentang penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep perkalian. Pengurutan Prosedural Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan tahap pertama dari sebuah prosedur, kemudian membantu siswa untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya. Contoh: dalam mengajarkan cara menggunakan t-test dalam sebuah pertanyaan penelitian, ada beberapa tahap prosedur yang harus dilalui, seperti menulis hipotesis, menentukan tipe tes yang akan digunakan, memeriksa asumsi, dan menjalankan tes dalam sebuah perangkat lunak statistik. Scaffolding Metode pengurutan yang meningkatkan standar performa sekaligus mengurangi bantuan secara bertahap. Contoh: dalam mengajarkan berenang, guru perlu menunjukkan cara mengapung, dan ketika siswa mencobanya, guru hanya butuh membantu. Setelah ini, bantuan yang diberikan akan berkurang secara bertahap. Pada akhirnya, siswa dapat berenang sendiri.
  • 17.
    ILUSTRASI PEMETAAN ALURTUJUAN PEMBELAJARAN DALAM SATU FASE.
  • 18.