INTERPRETASI
1
LANGKAH INTERPRETASI
✓ Rhythm
✓ Rate
✓ P wave
✓ PR Interval
✓ QRS duration
✓ Axis
✓ ST-T change – Q pathologis
✓ Hipertrofi
2
1. Irama/ Regularitas
CARA MENGUKUR IRAMA/ RYTHME
✓ Gunakan kertas atau alat bantu ,
letakan diatas kertas hasil EKG
✓ Cari puncak Gel R atau Gel Q/S
salah satu komplek QRS, kemudian
coret kertas tersebut dan
coret pula puncak Gel R atau Gel
Q/S pada komplek berikutnya
✓ Geser kertas atau alat bantu yang telah
dicoret pada puncak komplek QRS lainnya
✓ Bila Irama Teratur maka coretan akan jatuh
tepat pada Komplek QRS yang lainnya
3
4
© 2013 The McGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved.
Fast & Easy ECGs, 2E
Metode caliper/menggunakan jangka
• Tempatkan EKG pada
permukaan datar
• Posisikan satu titik jangka
pada titik awal gelombang P
atau R
• Buka kaliper dengan menarik
kaki lainnya sampai titik
diposisikan pada gelombang
R atau gelombang P
berikutnya
• Dengan jangka terbuka itu ,
pindahkan ke titik puncak
gelombang P berikutnya
atau gelombang R
I
5
© 2013 The McGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved.
Fast & Easy ECGs, 2E
Menghitung Metode Kotak
Kecil
• Tidak memerlukan alat khusus tapi memakan waktu.
• Hitung jumlah kotak kecil di antara puncak dua
gelombang R berturut-turut (atau gelombang P) dan
bandingkan dengan interval R-R (atau P-P) lainnya.
• Jika jumlahnya sama, irama teratur , kalau tidak itu
irama tidak teratur
I
a. Irama teratur/ Regular
Apabila jarak R – R inerval atau jarak R ke R berikutnya
sama/ teratur
6
b. Irama tidak teratur/ Irregular
• Apabila jarak dari R ke R berikutnya tidak teratur. Atau R –
R Interval tidak teratur
7
c. Irama Regular dengan Prematur Beat/ Irama
Ekstra
• Apabila irama dasar EKG terdapat gambaran R – R
Interval yang teratur, tetapi tiba tiba ada suatu beat yang
muncul sebelum waktunya
8
d. Irama Irregular dengan Prematur Beat
• Apabila Irama dasarnya sudah tidak teratur, ditambah ada
irama ekstra dari sumber impuls yang lain
9
2. Menghitung Heart Rate/ Denyut Jantung
Pada Irama Yang Teratur
• Hitung Jumlah Kotak Besar antara QRS satu
dengan QRS berikutnya.
• Rumus→ 300 Dibagi Jumlah Kotak Besar.
10
2. Menghitung Heart Rate/ Denyut Jantung
Pada Irama Yang Teratur
• Hitung Jumlah Kotak Kecil
antara satu QRS dengan QRS berikutnya .
• Rumus→ 1500 Dibagi Jumlah Kotak Kecil
11
R'
R
antara
kecil
kotak
Jumlah
1500
−
contoh
• LATIHAN
12
Menghitung HR pada irama irregular
• Ambil rekaman EKG sepanjang 6 detik / 30 kotak
besar,
• Hitung jumlah QRS dalam 6 detik tersebut
kemudian kalikan 10
• Ambil rekaman EKG sepanjang 12 detik, hitung
jumlah QRS kalikan 5.
13
contoh
14
Langkah Interpretasi
✓ Rhythm
✓ Rate
✓ P wave
✓ PR Interval
✓ QRS duration
✓ Axis
✓ ST-T change – Q Pathologis
✓ Hipertrofi
15
3. Gelombang P
✓ Gelombang P diidentifikasi untuk menentukan
suatu EKG berasal dari SA Node atau bukan.
✓ Perhatikan apakah gelombang P ada, bila
gelombang P ada apakah bentuknya normal :
Upright dan tumpul.
✓ Dalam satu lead bentuk gelombang P sama satu
dengan yang lainnya .
✓ Apakah setiap gelombang P selalu diikuti
gelombang QRS.
16
a. Gelombang P dari SA Node
• Gelombang P merupakan
hasil depolarisasi dan
repolarisasi dari atrium
• Di aktivasi oleh SA Node
• Bila diaktivasi SA Node ,
disebut IRAMA SINUS
17
Gelombang P
Normal
• Tinggi : < 0,3 Mvolt
• Lebar : < 0,12 Detik
Kepentingan
❖ Menganalisa Irama Sinus
❖ Mengetahui Kelainan
Di Atrium
Tinggi > 0,3 Mvolt RAH
Lebar > 0,12 Detik LAH
18
Vektor Gelombang P
✓ Positif : I, II, avF, V4, V5, V6, .
✓ Inverted : aVR.
✓ Variable : III, avL, V1, V2, V3
19
a. Gelombang P dari SA Node
✓ Dikatakan Irama Sinus
✓ Bentuk Positif/ keatas
✓ Bentuk Ujung tumpul
✓ Setiap Gelombang P diikuti Gelombang QRS
✓ Ratio Gelombang P dengan QRS , 1 : 1
✓ Bentuk gelombang P dalam satu lead : sama
20
1.
21
22
b. Gelombang P dari Atrial
✓ Impuls dimulai dari atrium menghasilkan bentuk
gel P yang berbeda dari gel P dari SA Node
✓ Bila Upright memiliki ujung yang tumpul dan
sempit
✓ Bentuk bisa bervariasi
23
b.1. Gel P dari Atrial : R – R Interval
Regular
✓ Bentuk Upright atau Aberrant terdapat pada
Atrial Flutter dan Atrial Takhikardia
✓ Bentuk berubah ubah 2 atau lebih dengan HR
> 100 X/ menit : Multi Atrial Takhikardia
✓ Bentuk berubah ubah 2 atau lebih dengan HR
60 – 100 x/mnt : Wandering Atrial Pacemaker
24
Gel P dari Atrial : R – R Interval
Regular
• Bentuk Upright atau Aberrant terdapat pada
Atrial Flutter dan Atrial Takhikardia
• Bentuk berubah ubah 2 atau lebih dengan HR
> 100 X/ menit : Multi Atrial Takhikardia
• Bentuk berubah ubah 2 atau lebih dengan HR
60 – 100 x/mnt : Wandering Atrial Pacemaker
27
Atrial Futter Dan Mat
28
Wap Dan Atrial Takhikardia
29
b.2. Gelombang P dari Atrial, R – R
Interval Irregular
✓ Bentuk gelombang P halus, keriting
✓ P – P Interval tridak teratu
✓ R – R Interval tak teratur
30
c. Gelombang P dari Junctional/ AV
Node/ Supra Ventrikular
✓ Impuls dari AV Node umumnya tanpa gelombang P
dengan QRS durasi sempit.
✓ Apabila ada Gel P , bentuknya Terbalik/ retrograde,
Burried/ kacau bisa terletak di dalam QRS atau
setelah QRS sebelum Gel T
31
Contoh
32
Langkah Interpretasi
✓ Rhythm
✓ Rate
✓ P wave
✓ PR Interval
✓ QRS duration
✓ Axis
✓ ST-T change – Q Pathologis
✓ Hipertrofi
33
4. Interval P - R
Dihitung dari awal gel P sampai Awal QRS Komplek
Normal 0,12 – 0,20 detik
Kurang dari 0,12 detik :
✓ terdapat WPW
Lebih dari 0,20 detik :
✓ terdapat gangguan Konduksi
34
Contoh EKG P-R Interval memanjang
35
5. Durasi QRS/Komplek
✓ Dihitung dari awal Q atau awal R
sampai Akhir S
✓ Lebar normal 0,06 – 0,12 dtk
✓ Tinggi R tergantung lead nya
36
5. QRS Durasi/ Komplek : lebar
Normal Duration pada
✓ Ekstremitas leads (I, II, III): 0.05 to 0.10
detik.
✓ Precordial leads (V1 sampai V6) : 0.06 to
0.12 detik.
Prolonged QRS komplex (lebih dari 0.12 detik) ;
Konduksi Abnormal interventricular
37
5. QRS Durasi/ Komplek : tinggi
• Low QRS amplitude :
Kurang dari 5 mm pada ekstremitas lead ;
Pericardial Effusion ,Obesity .
• High QRS amplitude ;
Lebih dari 20 mm pada Ekstremitas Lead,
Lebih dari 27 mm pada Prekordial lead:
Kaji kemungkinan adanya Left Ventricular
Hypertrophy
38
LANGKAH INTERPRETASI
✓ Rhythm
✓ Rate
✓ P wave
✓ PR Interval
✓ QRS duration
✓ AXIS
✓ ST-T change, Gel Q Pathologis
✓ Hipertrofi
39
6. AXIS
✓ Axis normal berada antara -30° sampai 110°.
✓ Kurang dari -30° disebut Axis LAD,
✓ Lebih dari +110° disebut Axis RAD dan
✓ Lebih dari +180° disebut Axis Ekstrem RAD
40
Cara Mengukur Axis
✓ Tentukan Lead I pada posisi NOL derajat sistem
heksasial.
✓ Hitung tinggi dan jumlah kotak gel R pada Lead I,
kemudian dikurangi jumlah kotak kedalaman Q atau
S
✓ Hasil Positif pada Lead I, ke kiri dari titik poros sumbu
horizontal
✓ Hasil Negatif pada Lead I, ke kanan dari titik poros
sumbu horizontal
41
lanjutan
✓ Tentukan Lead aVF pada posisi 90 derajat sistem
heksasial.
✓ Hitung tinggi dan jumlah kotak gel R pada Lead aVF,
kemudian dikurangi jumlah kotak kedalaman Q atau S
✓ Hasil Positif pada Lead aVF, kebawah dari titik poros
sumbu vertikal
✓ Hasil Negatif pada Lead aVF , keatas dari titik poros
sumbu vertikal
43
✓ Kemudian pertemukan titik dari ujung
kedua titik Lead I dan aVF tadi membentuk
sebuah kotak
✓ Sudut terluar sebagai titik untuk menghitung
besarnya sudut derajat dari axis tersebut
46
WHAT IS THIS
TOPIC ABOUT?
• 1. • 2.
Despite being red, Mars is actually a
cold place. It’s full of iron oxide dust,
which gives the planet its reddish
cast
Venus has a beautiful name and is
the second planet from the Sun. It’s
terribly hot and its atmosphere is
extremely poisonous
DEFINITION OF CONCEPTS
Despite being red, Mars is
actually a cold place
MARS
Venus is the second planet
from the Sun
VENUS
Saturn is composed mostly of
hydrogen and helium
SATURN
Mercury is the smallest planet
in the Solar System
MERCURY
FEATURES OF THE TOPIC
Jupiter is a gas giant
and the biggest planet
in the Solar System
Saturn is a gas giant,
composed mostly of
hydrogen and helium
Despite being red, Mars
is actually a cold place
full of iron oxide dust
NAME OF THE SECTION
You could enter a subtitle here if you need it
Latihan
51
7. SEGMENT S –T Dan Gel T
✓ Normal segment ST adalah isoelektris,
✓ Bila berada diatas garis isoelektris dikatakan
segment ST Elevasi
✓ Bila berada dibawah garis isoelektris disebut
segment ST Depresi.
✓ Normal Gel T Upright / Positif
✓ Apabila terbalik disebut Inverted
52
contoh
53
Gelombang Q Pathologis
✓ Normalnya gel Q pada Ekstremitas Lead
adalah < 1/3 dari Gel R
✓ Pada Lead Prekordial V1 normal tanpa gel R,
tetapi selanjutnya terjadi evolusi ditandai gel
R yang bertahap,
✓ Apabila pada Lead Prekordial terjadi
gambaran konstan tanpa Gel R disebut Q/S
atau Gel Q pathologis.
54
55
8. Hipertrophy
✓ Menilai adanya hipertrophy pada jantung
✓ Menggunakan gelombang P pada hipertrophy
Atrium
✓ Menggunakan Tinggi gelombang R dan kedalaman
gelombang S pada hipertrophy Ventrikel
56
End of session
58
4. INTERPRETASI ECG dan berbagai macam contohnya

4. INTERPRETASI ECG dan berbagai macam contohnya

  • 1.
  • 2.
    LANGKAH INTERPRETASI ✓ Rhythm ✓Rate ✓ P wave ✓ PR Interval ✓ QRS duration ✓ Axis ✓ ST-T change – Q pathologis ✓ Hipertrofi 2
  • 3.
    1. Irama/ Regularitas CARAMENGUKUR IRAMA/ RYTHME ✓ Gunakan kertas atau alat bantu , letakan diatas kertas hasil EKG ✓ Cari puncak Gel R atau Gel Q/S salah satu komplek QRS, kemudian coret kertas tersebut dan coret pula puncak Gel R atau Gel Q/S pada komplek berikutnya ✓ Geser kertas atau alat bantu yang telah dicoret pada puncak komplek QRS lainnya ✓ Bila Irama Teratur maka coretan akan jatuh tepat pada Komplek QRS yang lainnya 3
  • 4.
    4 © 2013 TheMcGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved. Fast & Easy ECGs, 2E Metode caliper/menggunakan jangka • Tempatkan EKG pada permukaan datar • Posisikan satu titik jangka pada titik awal gelombang P atau R • Buka kaliper dengan menarik kaki lainnya sampai titik diposisikan pada gelombang R atau gelombang P berikutnya • Dengan jangka terbuka itu , pindahkan ke titik puncak gelombang P berikutnya atau gelombang R I
  • 5.
    5 © 2013 TheMcGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved. Fast & Easy ECGs, 2E Menghitung Metode Kotak Kecil • Tidak memerlukan alat khusus tapi memakan waktu. • Hitung jumlah kotak kecil di antara puncak dua gelombang R berturut-turut (atau gelombang P) dan bandingkan dengan interval R-R (atau P-P) lainnya. • Jika jumlahnya sama, irama teratur , kalau tidak itu irama tidak teratur I
  • 6.
    a. Irama teratur/Regular Apabila jarak R – R inerval atau jarak R ke R berikutnya sama/ teratur 6
  • 7.
    b. Irama tidakteratur/ Irregular • Apabila jarak dari R ke R berikutnya tidak teratur. Atau R – R Interval tidak teratur 7
  • 8.
    c. Irama Regulardengan Prematur Beat/ Irama Ekstra • Apabila irama dasar EKG terdapat gambaran R – R Interval yang teratur, tetapi tiba tiba ada suatu beat yang muncul sebelum waktunya 8
  • 9.
    d. Irama Irregulardengan Prematur Beat • Apabila Irama dasarnya sudah tidak teratur, ditambah ada irama ekstra dari sumber impuls yang lain 9
  • 10.
    2. Menghitung HeartRate/ Denyut Jantung Pada Irama Yang Teratur • Hitung Jumlah Kotak Besar antara QRS satu dengan QRS berikutnya. • Rumus→ 300 Dibagi Jumlah Kotak Besar. 10
  • 11.
    2. Menghitung HeartRate/ Denyut Jantung Pada Irama Yang Teratur • Hitung Jumlah Kotak Kecil antara satu QRS dengan QRS berikutnya . • Rumus→ 1500 Dibagi Jumlah Kotak Kecil 11 R' R antara kecil kotak Jumlah 1500 −
  • 12.
  • 13.
    Menghitung HR padairama irregular • Ambil rekaman EKG sepanjang 6 detik / 30 kotak besar, • Hitung jumlah QRS dalam 6 detik tersebut kemudian kalikan 10 • Ambil rekaman EKG sepanjang 12 detik, hitung jumlah QRS kalikan 5. 13
  • 14.
  • 15.
    Langkah Interpretasi ✓ Rhythm ✓Rate ✓ P wave ✓ PR Interval ✓ QRS duration ✓ Axis ✓ ST-T change – Q Pathologis ✓ Hipertrofi 15
  • 16.
    3. Gelombang P ✓Gelombang P diidentifikasi untuk menentukan suatu EKG berasal dari SA Node atau bukan. ✓ Perhatikan apakah gelombang P ada, bila gelombang P ada apakah bentuknya normal : Upright dan tumpul. ✓ Dalam satu lead bentuk gelombang P sama satu dengan yang lainnya . ✓ Apakah setiap gelombang P selalu diikuti gelombang QRS. 16
  • 17.
    a. Gelombang Pdari SA Node • Gelombang P merupakan hasil depolarisasi dan repolarisasi dari atrium • Di aktivasi oleh SA Node • Bila diaktivasi SA Node , disebut IRAMA SINUS 17
  • 18.
    Gelombang P Normal • Tinggi: < 0,3 Mvolt • Lebar : < 0,12 Detik Kepentingan ❖ Menganalisa Irama Sinus ❖ Mengetahui Kelainan Di Atrium Tinggi > 0,3 Mvolt RAH Lebar > 0,12 Detik LAH 18
  • 19.
    Vektor Gelombang P ✓Positif : I, II, avF, V4, V5, V6, . ✓ Inverted : aVR. ✓ Variable : III, avL, V1, V2, V3 19
  • 20.
    a. Gelombang Pdari SA Node ✓ Dikatakan Irama Sinus ✓ Bentuk Positif/ keatas ✓ Bentuk Ujung tumpul ✓ Setiap Gelombang P diikuti Gelombang QRS ✓ Ratio Gelombang P dengan QRS , 1 : 1 ✓ Bentuk gelombang P dalam satu lead : sama 20
  • 21.
  • 22.
  • 23.
    b. Gelombang Pdari Atrial ✓ Impuls dimulai dari atrium menghasilkan bentuk gel P yang berbeda dari gel P dari SA Node ✓ Bila Upright memiliki ujung yang tumpul dan sempit ✓ Bentuk bisa bervariasi 23
  • 24.
    b.1. Gel Pdari Atrial : R – R Interval Regular ✓ Bentuk Upright atau Aberrant terdapat pada Atrial Flutter dan Atrial Takhikardia ✓ Bentuk berubah ubah 2 atau lebih dengan HR > 100 X/ menit : Multi Atrial Takhikardia ✓ Bentuk berubah ubah 2 atau lebih dengan HR 60 – 100 x/mnt : Wandering Atrial Pacemaker 24
  • 27.
    Gel P dariAtrial : R – R Interval Regular • Bentuk Upright atau Aberrant terdapat pada Atrial Flutter dan Atrial Takhikardia • Bentuk berubah ubah 2 atau lebih dengan HR > 100 X/ menit : Multi Atrial Takhikardia • Bentuk berubah ubah 2 atau lebih dengan HR 60 – 100 x/mnt : Wandering Atrial Pacemaker 27
  • 28.
  • 29.
    Wap Dan AtrialTakhikardia 29
  • 30.
    b.2. Gelombang Pdari Atrial, R – R Interval Irregular ✓ Bentuk gelombang P halus, keriting ✓ P – P Interval tridak teratu ✓ R – R Interval tak teratur 30
  • 31.
    c. Gelombang Pdari Junctional/ AV Node/ Supra Ventrikular ✓ Impuls dari AV Node umumnya tanpa gelombang P dengan QRS durasi sempit. ✓ Apabila ada Gel P , bentuknya Terbalik/ retrograde, Burried/ kacau bisa terletak di dalam QRS atau setelah QRS sebelum Gel T 31
  • 32.
  • 33.
    Langkah Interpretasi ✓ Rhythm ✓Rate ✓ P wave ✓ PR Interval ✓ QRS duration ✓ Axis ✓ ST-T change – Q Pathologis ✓ Hipertrofi 33
  • 34.
    4. Interval P- R Dihitung dari awal gel P sampai Awal QRS Komplek Normal 0,12 – 0,20 detik Kurang dari 0,12 detik : ✓ terdapat WPW Lebih dari 0,20 detik : ✓ terdapat gangguan Konduksi 34
  • 35.
    Contoh EKG P-RInterval memanjang 35
  • 36.
    5. Durasi QRS/Komplek ✓Dihitung dari awal Q atau awal R sampai Akhir S ✓ Lebar normal 0,06 – 0,12 dtk ✓ Tinggi R tergantung lead nya 36
  • 37.
    5. QRS Durasi/Komplek : lebar Normal Duration pada ✓ Ekstremitas leads (I, II, III): 0.05 to 0.10 detik. ✓ Precordial leads (V1 sampai V6) : 0.06 to 0.12 detik. Prolonged QRS komplex (lebih dari 0.12 detik) ; Konduksi Abnormal interventricular 37
  • 38.
    5. QRS Durasi/Komplek : tinggi • Low QRS amplitude : Kurang dari 5 mm pada ekstremitas lead ; Pericardial Effusion ,Obesity . • High QRS amplitude ; Lebih dari 20 mm pada Ekstremitas Lead, Lebih dari 27 mm pada Prekordial lead: Kaji kemungkinan adanya Left Ventricular Hypertrophy 38
  • 39.
    LANGKAH INTERPRETASI ✓ Rhythm ✓Rate ✓ P wave ✓ PR Interval ✓ QRS duration ✓ AXIS ✓ ST-T change, Gel Q Pathologis ✓ Hipertrofi 39
  • 40.
    6. AXIS ✓ Axisnormal berada antara -30° sampai 110°. ✓ Kurang dari -30° disebut Axis LAD, ✓ Lebih dari +110° disebut Axis RAD dan ✓ Lebih dari +180° disebut Axis Ekstrem RAD 40
  • 41.
    Cara Mengukur Axis ✓Tentukan Lead I pada posisi NOL derajat sistem heksasial. ✓ Hitung tinggi dan jumlah kotak gel R pada Lead I, kemudian dikurangi jumlah kotak kedalaman Q atau S ✓ Hasil Positif pada Lead I, ke kiri dari titik poros sumbu horizontal ✓ Hasil Negatif pada Lead I, ke kanan dari titik poros sumbu horizontal 41
  • 43.
    lanjutan ✓ Tentukan LeadaVF pada posisi 90 derajat sistem heksasial. ✓ Hitung tinggi dan jumlah kotak gel R pada Lead aVF, kemudian dikurangi jumlah kotak kedalaman Q atau S ✓ Hasil Positif pada Lead aVF, kebawah dari titik poros sumbu vertikal ✓ Hasil Negatif pada Lead aVF , keatas dari titik poros sumbu vertikal 43
  • 46.
    ✓ Kemudian pertemukantitik dari ujung kedua titik Lead I dan aVF tadi membentuk sebuah kotak ✓ Sudut terluar sebagai titik untuk menghitung besarnya sudut derajat dari axis tersebut 46
  • 47.
    WHAT IS THIS TOPICABOUT? • 1. • 2. Despite being red, Mars is actually a cold place. It’s full of iron oxide dust, which gives the planet its reddish cast Venus has a beautiful name and is the second planet from the Sun. It’s terribly hot and its atmosphere is extremely poisonous
  • 48.
    DEFINITION OF CONCEPTS Despitebeing red, Mars is actually a cold place MARS Venus is the second planet from the Sun VENUS Saturn is composed mostly of hydrogen and helium SATURN Mercury is the smallest planet in the Solar System MERCURY
  • 49.
    FEATURES OF THETOPIC Jupiter is a gas giant and the biggest planet in the Solar System Saturn is a gas giant, composed mostly of hydrogen and helium Despite being red, Mars is actually a cold place full of iron oxide dust
  • 50.
    NAME OF THESECTION You could enter a subtitle here if you need it
  • 51.
  • 52.
    7. SEGMENT S–T Dan Gel T ✓ Normal segment ST adalah isoelektris, ✓ Bila berada diatas garis isoelektris dikatakan segment ST Elevasi ✓ Bila berada dibawah garis isoelektris disebut segment ST Depresi. ✓ Normal Gel T Upright / Positif ✓ Apabila terbalik disebut Inverted 52
  • 53.
  • 54.
    Gelombang Q Pathologis ✓Normalnya gel Q pada Ekstremitas Lead adalah < 1/3 dari Gel R ✓ Pada Lead Prekordial V1 normal tanpa gel R, tetapi selanjutnya terjadi evolusi ditandai gel R yang bertahap, ✓ Apabila pada Lead Prekordial terjadi gambaran konstan tanpa Gel R disebut Q/S atau Gel Q pathologis. 54
  • 55.
  • 56.
    8. Hipertrophy ✓ Menilaiadanya hipertrophy pada jantung ✓ Menggunakan gelombang P pada hipertrophy Atrium ✓ Menggunakan Tinggi gelombang R dan kedalaman gelombang S pada hipertrophy Ventrikel 56
  • 57.
  • 58.