Selayar, Bumi Tana Doang
“Pagi itu kapal ferry terlihat di pelabuhan Tanjungbira, menandakan
tidak lama lagi jangkar akan dinaikkan dan kapal akan meluncur menuju suatu
kepulauan yang tidak banyak dijamah, Kepulauan Selayar. Kapal mulai bersiap
untuk berangkat tepat pukul delapan pagi. Perjalanan yang memakan waktu
kurang lebih dua jam tidak akan terasa lama, memandangi luasnya lautan dan
birunya laut seakan memandang ke atas langit, merasakan hembusan angin
yang cukup kencang dan panasnya terik matahari. Ombak bergelombang
mengantarkan kapal tersebut menuju ke sebuah pelabuhan di Selayar,
Pelabuhan Pamatata. Dari kejauhan terlihat putihnya pasir dan menciptakan
gradasi warna yang indah saat menyatu dengan birunya air laut. Kota Benteng
yang terletak jauh dari pelabuhan dan memakan waktu 1,5 jam perjalanan,
menjadi ibukota kabupaten Kepulauan Selayar.”
Kepulauan Selayar merupakan sebuah kabupaten dengan 128.744 jiwa penduduk dan
merupakan satu-satunya kabupaten yang terpisah dari daratan Sulawesi dan terdiri atas
gugusan-gugusan pulau di selatan Sulawesi yang memanjang ke arah utara. Kabupaten ini
terdiri atas 130 pulau-pulau dimana 7 diantaranya tidak akan terlihat ketika air laut sedang
pasang. Sejak dahulu kala kabupaten ini menjadi rute dagang menuju pusat rempah-rempah
di Maluku. Para pedagang yang melewati rute tersebut singgah untuk mengisi perbekalan
serta menunggu hari baik guna melanjutkan pelayaran.
Dalam kitab hukum pelayaran dan perdagangan Amanna Gappa pada abad ke-17
memang dikatakan bahwa pulau Selayar merupakan salah satu daerah yang strategis baik
sebagai tempat transit. Aktivitas itu menjadi alasan mengapa akhirnya pulau tersebut
dinamakan Pulau Selayar. Selayar pun sebenarnya diambil dari Bahasa Sansekerta yaitu
“cedaya” yang berarti satu layar karena saat itu banyak perahu satu layar yang singgah di
pulau tersebut.
Kepulauan Selayar pernah disinggahi oleh armada Gajah Mada dimana hal tersebut
dibuktikan dengan adanya tulisan mengenai cedaya yang diabadikan dalam Kitab
Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada abad ke-14. Dalam kitab tersebut dituliskan
bahwa pada pertengahan abad 14 saat Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk yang bergelar
Rajasanegara, menyebutkan Selayar digolongkan dalam Nusantara, yakni pulau-pulau lain di
luar Jawa yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. “Tana Doang” juga pernah menjadi
nama dari pulau ini yang memiliki arti tanah tempat berdoa. Pada masa itu disebutkan bahwa
para pelaut menjadikan Pulau Selayar sebagai tempat berdoa untuk keselamatan mereka
sebelum melakukan pelayaran baik menuju barat maupun timur.
Belanda pernah memerintah Selayar pada tahun 1739, pada masa itu Selayar
ditetapkan sebagai sebuah keresidenan dimana sang pemimpin disebut sebagai seorang
residen. 87 residen dipimpin oleh orang Belanda secara berturut-turut, hingga akhirnya
residen ke-88 dipimpin oleh orang Selayar bernama Moehammad Oepoe Patta Boendoe.
Suatu hari tepatnya pada tanggal 29 November 1945 segerombolan pemuda berjumlah dua
ratus orang, yang dipimpin seorang pemuda bekas Heiho bernama Rauf Rahman mengambil
alih kekuasaan dari tangan Belanda. Tanggal pada peristiwa itu digunakan sebagai hari jadi,
dimana tahun yang digunakan diambil pada saat Agama Islam memasuki Kepulauan Selayar
yang dibawa oleh Datuk Ribandang pada tahun 1605. Sehingga ditetapkan Hari Jadi
Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 29 November 1605.
Perkampungan Bitombang menjadi sebuah ikon objek wisata dari Kepulauan Selayar.
Berbeda dengan perkampungan pada umumnya, rumah-rumah yang ada pada perkampungan
ini sudah berumur lebih dari seratus tahun. Bahkan ada satu rumah yang diperkirakan sudah
berumur lebih dari dua ratus tahun. Karena itu perkampungan yang terletak sejauh tujuh
kilometer dari Kota Benteng ini disebut sebagai Kampung Tua Bitombang Kampung ini
terletak di lereng dan atas bukit, walaupun kebanyakan rumah berada di lereng bukit. Hal
unik dari rumah-rumah tersebut adalah perbedaan ukuran tiang yang digunakan untuk
menopang rumah, tiang pada bagian belakang bisa mencapai 10 hingga 20 meter, sedangkan
bagian depan hanya setinggi 2 hingga 3 meter. Tiang tersebut berukuran berbeda bukan
karena alasan, kondisi tanah yang tidak rata menjadi salah satu alasannya. Kayu yang
digunakan dalam pembuatan tiang pun harus berkualitas baik, maka dari itu orang-orang
Bitombang menggunakan kayu Bitti dari pohon Holasa karena kayu tersebut terkenal akan
kekokohannya.
Masyarakat Selayar memiliki pertimbangan-pertimbangan dalam membangun rumah-
rumah di perkampungan itu, seperti dimulai dengan pemilihan tanah passiringang dengan arti
tempat bernaung untuk mendirikan rumah. Untuk mendirikan satu rumah juga diperlukan
seorang mataguri, karena selain ahli dalam membangun rumah, mataguri juga dipercaya
memiliki kekuatan spiritual. Keahlian mataguri tidak hanya diperlihatkan pada saat
pemilihan passiringang saja tetapi juga dalam pemilihan pallangga―batu yang digunakan
sebagai penyangga keseimbangan rumah―. Kekuatan spiritual yang dimiliki oleh seorang
mataguri dipercaya akan menjadi penyokong kekokohan sebuah rumah beserta penghuninya.
Maka dari itu sejak ratusan tahun yang lalu pemilihan tanah passiringang dan batu pallangga
menjadi sebuah kegiatan yang sangat sakral.
Bagian lain yang sangat menarik dari perkampungan ini adalah keberadaan batu-batu
yang berada di lereng bukit tersebut. Bahkan antara tahun 1913 hingga 1932, beberapa
missionaris dan penjelajah dari Eropa yang mengunjungi perkampungan tersebut menaruh
perhatian pada batu-batu yang ada. Dengan keberadaan batu-batu tersebut pula orang-orang
Bitombang menyebut kampunya dengan sebutan kampong barakka yang berarti kampung
penuh berkat, sebab masyarakat percaya batu-batu tersebut membuat orang-orang Bitombang
cenderung memiliki usia yang lebih panjang dari orang Selayar pada umumnya dan masih
sanggup untuk bekerja.
Taman Nasional Laut Takabonerate juga menjadi wajah pariwisata di Selayar,
eindahan bawah laut yang sangat memukau dari taman nasional ini tidak akan ditemukan
dengan mudah di seluruh penjuru dunia manapun. Hal tersebut dibuktikan dengan
Takabonerate yang diakui sebagai atol terbesar ketiga di dunia setelah Kepulauan Marshall
dan Maladewa. Keadaan tersebut membuat Takabonerate dijadikan sebagai ikon wisata
bahari oleh pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Bahkan Takabonerate diajukan masuk
dalam daftar sementara Situs Warisan Dunia UNESCO oleh Kementerian Lingkungan Hidup
RI pada 7 Februari 2005 lalu. Aktivitas yang sering dilakukan oleh para wisatawan di taman
nasional ini yaitu dengan melakukan diving, snorkeling, dan canoing.
Karena keindahan Takabonerate yang tidak diragukan lagi, membuat Gubernur
Sulawesi Selatan yaitu Syahrul Yasin Limpo selalu mengadakan festival Takabonerate Island
Expedition (TIE) setiap tahunnya. Festival tersebut berisi kegiatan berbagai perlombaan
seperti memancing, menyelam, lomba foto di bawah air dan sebagainya. Dalam festival
tersebut juga akan disuguhkan tarian tradisional yang dapat dinikmati oleh para pengunjung.

24. Selayar

  • 1.
    Selayar, Bumi TanaDoang “Pagi itu kapal ferry terlihat di pelabuhan Tanjungbira, menandakan tidak lama lagi jangkar akan dinaikkan dan kapal akan meluncur menuju suatu kepulauan yang tidak banyak dijamah, Kepulauan Selayar. Kapal mulai bersiap untuk berangkat tepat pukul delapan pagi. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua jam tidak akan terasa lama, memandangi luasnya lautan dan birunya laut seakan memandang ke atas langit, merasakan hembusan angin yang cukup kencang dan panasnya terik matahari. Ombak bergelombang mengantarkan kapal tersebut menuju ke sebuah pelabuhan di Selayar, Pelabuhan Pamatata. Dari kejauhan terlihat putihnya pasir dan menciptakan gradasi warna yang indah saat menyatu dengan birunya air laut. Kota Benteng yang terletak jauh dari pelabuhan dan memakan waktu 1,5 jam perjalanan, menjadi ibukota kabupaten Kepulauan Selayar.” Kepulauan Selayar merupakan sebuah kabupaten dengan 128.744 jiwa penduduk dan merupakan satu-satunya kabupaten yang terpisah dari daratan Sulawesi dan terdiri atas gugusan-gugusan pulau di selatan Sulawesi yang memanjang ke arah utara. Kabupaten ini terdiri atas 130 pulau-pulau dimana 7 diantaranya tidak akan terlihat ketika air laut sedang pasang. Sejak dahulu kala kabupaten ini menjadi rute dagang menuju pusat rempah-rempah di Maluku. Para pedagang yang melewati rute tersebut singgah untuk mengisi perbekalan serta menunggu hari baik guna melanjutkan pelayaran. Dalam kitab hukum pelayaran dan perdagangan Amanna Gappa pada abad ke-17 memang dikatakan bahwa pulau Selayar merupakan salah satu daerah yang strategis baik sebagai tempat transit. Aktivitas itu menjadi alasan mengapa akhirnya pulau tersebut dinamakan Pulau Selayar. Selayar pun sebenarnya diambil dari Bahasa Sansekerta yaitu “cedaya” yang berarti satu layar karena saat itu banyak perahu satu layar yang singgah di pulau tersebut. Kepulauan Selayar pernah disinggahi oleh armada Gajah Mada dimana hal tersebut dibuktikan dengan adanya tulisan mengenai cedaya yang diabadikan dalam Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada abad ke-14. Dalam kitab tersebut dituliskan
  • 2.
    bahwa pada pertengahanabad 14 saat Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanegara, menyebutkan Selayar digolongkan dalam Nusantara, yakni pulau-pulau lain di luar Jawa yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. “Tana Doang” juga pernah menjadi nama dari pulau ini yang memiliki arti tanah tempat berdoa. Pada masa itu disebutkan bahwa para pelaut menjadikan Pulau Selayar sebagai tempat berdoa untuk keselamatan mereka sebelum melakukan pelayaran baik menuju barat maupun timur. Belanda pernah memerintah Selayar pada tahun 1739, pada masa itu Selayar ditetapkan sebagai sebuah keresidenan dimana sang pemimpin disebut sebagai seorang residen. 87 residen dipimpin oleh orang Belanda secara berturut-turut, hingga akhirnya residen ke-88 dipimpin oleh orang Selayar bernama Moehammad Oepoe Patta Boendoe. Suatu hari tepatnya pada tanggal 29 November 1945 segerombolan pemuda berjumlah dua ratus orang, yang dipimpin seorang pemuda bekas Heiho bernama Rauf Rahman mengambil alih kekuasaan dari tangan Belanda. Tanggal pada peristiwa itu digunakan sebagai hari jadi, dimana tahun yang digunakan diambil pada saat Agama Islam memasuki Kepulauan Selayar yang dibawa oleh Datuk Ribandang pada tahun 1605. Sehingga ditetapkan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 29 November 1605. Perkampungan Bitombang menjadi sebuah ikon objek wisata dari Kepulauan Selayar. Berbeda dengan perkampungan pada umumnya, rumah-rumah yang ada pada perkampungan ini sudah berumur lebih dari seratus tahun. Bahkan ada satu rumah yang diperkirakan sudah berumur lebih dari dua ratus tahun. Karena itu perkampungan yang terletak sejauh tujuh kilometer dari Kota Benteng ini disebut sebagai Kampung Tua Bitombang Kampung ini terletak di lereng dan atas bukit, walaupun kebanyakan rumah berada di lereng bukit. Hal unik dari rumah-rumah tersebut adalah perbedaan ukuran tiang yang digunakan untuk menopang rumah, tiang pada bagian belakang bisa mencapai 10 hingga 20 meter, sedangkan bagian depan hanya setinggi 2 hingga 3 meter. Tiang tersebut berukuran berbeda bukan karena alasan, kondisi tanah yang tidak rata menjadi salah satu alasannya. Kayu yang digunakan dalam pembuatan tiang pun harus berkualitas baik, maka dari itu orang-orang Bitombang menggunakan kayu Bitti dari pohon Holasa karena kayu tersebut terkenal akan kekokohannya. Masyarakat Selayar memiliki pertimbangan-pertimbangan dalam membangun rumah- rumah di perkampungan itu, seperti dimulai dengan pemilihan tanah passiringang dengan arti tempat bernaung untuk mendirikan rumah. Untuk mendirikan satu rumah juga diperlukan seorang mataguri, karena selain ahli dalam membangun rumah, mataguri juga dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Keahlian mataguri tidak hanya diperlihatkan pada saat
  • 3.
    pemilihan passiringang sajatetapi juga dalam pemilihan pallangga―batu yang digunakan sebagai penyangga keseimbangan rumah―. Kekuatan spiritual yang dimiliki oleh seorang mataguri dipercaya akan menjadi penyokong kekokohan sebuah rumah beserta penghuninya. Maka dari itu sejak ratusan tahun yang lalu pemilihan tanah passiringang dan batu pallangga menjadi sebuah kegiatan yang sangat sakral. Bagian lain yang sangat menarik dari perkampungan ini adalah keberadaan batu-batu yang berada di lereng bukit tersebut. Bahkan antara tahun 1913 hingga 1932, beberapa missionaris dan penjelajah dari Eropa yang mengunjungi perkampungan tersebut menaruh perhatian pada batu-batu yang ada. Dengan keberadaan batu-batu tersebut pula orang-orang Bitombang menyebut kampunya dengan sebutan kampong barakka yang berarti kampung penuh berkat, sebab masyarakat percaya batu-batu tersebut membuat orang-orang Bitombang cenderung memiliki usia yang lebih panjang dari orang Selayar pada umumnya dan masih sanggup untuk bekerja. Taman Nasional Laut Takabonerate juga menjadi wajah pariwisata di Selayar, eindahan bawah laut yang sangat memukau dari taman nasional ini tidak akan ditemukan dengan mudah di seluruh penjuru dunia manapun. Hal tersebut dibuktikan dengan Takabonerate yang diakui sebagai atol terbesar ketiga di dunia setelah Kepulauan Marshall dan Maladewa. Keadaan tersebut membuat Takabonerate dijadikan sebagai ikon wisata bahari oleh pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Bahkan Takabonerate diajukan masuk dalam daftar sementara Situs Warisan Dunia UNESCO oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI pada 7 Februari 2005 lalu. Aktivitas yang sering dilakukan oleh para wisatawan di taman nasional ini yaitu dengan melakukan diving, snorkeling, dan canoing. Karena keindahan Takabonerate yang tidak diragukan lagi, membuat Gubernur Sulawesi Selatan yaitu Syahrul Yasin Limpo selalu mengadakan festival Takabonerate Island Expedition (TIE) setiap tahunnya. Festival tersebut berisi kegiatan berbagai perlombaan seperti memancing, menyelam, lomba foto di bawah air dan sebagainya. Dalam festival tersebut juga akan disuguhkan tarian tradisional yang dapat dinikmati oleh para pengunjung.