18/8/2014 
--------- 
Citizen Journalism : 
Fair Journalism 
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh. 
Alhamdulillah, solawat dan salam kami haturkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihiwasallam. 
Kiriman ini sengaja saya beri judul 'Fair Journalism, bisa menjadi satu bidang kajian ilmu baru'. 
Merupakan hasil renungan setelah pelaksanaan Pilpres 2014 baru-baru ini, dimana banyaknya netizen 
yang menggunakan internet sebagai media kampanye. 
Sementara disisi lain, kekuatan kiri dan sekuler lebih banyak perannya didunia maya dibandingkan umat 
islam sendiri. 
Satu fenomena menarik, tatkala melihat banyaknya saling serang informasi, baik dari kaum muslimin 
maupun netizen dari kaum kafir dan sekuler demi mencitrakan positif presiden yang mereka dukung. 
Tidak dapat dihindari adanya berita bohong yang akhirnya banyak beredar, baik berita bohong yang 
sifatnya pencitraan, maupun skenario sebagai korban agar mendapat simpati. 
Satu hal yang sampai saat ini belum terselesaikan, adalah metode penyediaan berita kepada masyarakat 
yang bisa dilabeli jujur, bukan sekedar dilabeli โ€˜berita dari media islamโ€™, seolah-olah ada media berita 
yang hanya dikonsumsi oleh umat islam dan saat yang sama media sekuler adalah media umum baik 
muslim maupun kafir. Namun maksud saya disini adalah, umat islam mampu mensarikan suatu hukum 
cara pemberitahan yang bias diterima oleh semua orang didunia, dimana hukum itu diambil dari intisari 
ajaran islam. 
Dunia jurnalisme yang kini banyak dikuasai oleh perusahaan2 media sekuler, berimbas pada cara dan 
aturan media jurnalis itu sendiri, dimana setiap berita akan dilihat dari sudut pandang tertentu, bukan 
dari fakta maupun kebenaran hakiki. Sehingga Media berita menjadi perusahaan yang bisa bebas dari 
hukuman atas nama kebebasan pers.
Padahal dunia yang cenderung sekuler saat ini, membutuhkan media yang sekaligus mempunyai sistem 
standar terhadap cara pemuatan berita agar tidak mengorbankan kebenaran dan pembacanya. 
Sedangkan Islam memiliki aturan jurnalismenya sendiri : 
1. Dalam islam kita diajarkan untuk tabayyun setiap berita yang ada 
2. Harus mampu memisahkan antara pemberi berita dari orang fasik dan beriman. Sehingga wartawan 
haruslah orang jujur. Nah, bagaimana bahkan jika ada perselisihan maka 
urusan pemberikah membuat mekanisme perusahaan yang dengan sistem tertentu mampu merekrut 
wartawan yang berstandar 'jujur' itu? 
3. taan itu kita serahkan kepada Ulil Amri (Ulama masuk dalam kategori ulil amri).

18

  • 1.
    18/8/2014 --------- CitizenJournalism : Fair Journalism Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, solawat dan salam kami haturkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihiwasallam. Kiriman ini sengaja saya beri judul 'Fair Journalism, bisa menjadi satu bidang kajian ilmu baru'. Merupakan hasil renungan setelah pelaksanaan Pilpres 2014 baru-baru ini, dimana banyaknya netizen yang menggunakan internet sebagai media kampanye. Sementara disisi lain, kekuatan kiri dan sekuler lebih banyak perannya didunia maya dibandingkan umat islam sendiri. Satu fenomena menarik, tatkala melihat banyaknya saling serang informasi, baik dari kaum muslimin maupun netizen dari kaum kafir dan sekuler demi mencitrakan positif presiden yang mereka dukung. Tidak dapat dihindari adanya berita bohong yang akhirnya banyak beredar, baik berita bohong yang sifatnya pencitraan, maupun skenario sebagai korban agar mendapat simpati. Satu hal yang sampai saat ini belum terselesaikan, adalah metode penyediaan berita kepada masyarakat yang bisa dilabeli jujur, bukan sekedar dilabeli โ€˜berita dari media islamโ€™, seolah-olah ada media berita yang hanya dikonsumsi oleh umat islam dan saat yang sama media sekuler adalah media umum baik muslim maupun kafir. Namun maksud saya disini adalah, umat islam mampu mensarikan suatu hukum cara pemberitahan yang bias diterima oleh semua orang didunia, dimana hukum itu diambil dari intisari ajaran islam. Dunia jurnalisme yang kini banyak dikuasai oleh perusahaan2 media sekuler, berimbas pada cara dan aturan media jurnalis itu sendiri, dimana setiap berita akan dilihat dari sudut pandang tertentu, bukan dari fakta maupun kebenaran hakiki. Sehingga Media berita menjadi perusahaan yang bisa bebas dari hukuman atas nama kebebasan pers.
  • 2.
    Padahal dunia yangcenderung sekuler saat ini, membutuhkan media yang sekaligus mempunyai sistem standar terhadap cara pemuatan berita agar tidak mengorbankan kebenaran dan pembacanya. Sedangkan Islam memiliki aturan jurnalismenya sendiri : 1. Dalam islam kita diajarkan untuk tabayyun setiap berita yang ada 2. Harus mampu memisahkan antara pemberi berita dari orang fasik dan beriman. Sehingga wartawan haruslah orang jujur. Nah, bagaimana bahkan jika ada perselisihan maka urusan pemberikah membuat mekanisme perusahaan yang dengan sistem tertentu mampu merekrut wartawan yang berstandar 'jujur' itu? 3. taan itu kita serahkan kepada Ulil Amri (Ulama masuk dalam kategori ulil amri).