Naskah Drama - Jangan Pecat Saya, Bos

338 views

Published on

Ini cuma bagian dari empat problem wartawan yang bakal dirampung jadi satu naskah drama utuh. Drama musikal. Dan bakalan ditampilin buat talent show di diklat SU(Swara Unsada)--jurnalistik--antara tanggal 6-8 Februari 2015 :))

Published in: Entertainment & Humor
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Naskah Drama - Jangan Pecat Saya, Bos

  1. 1. Jangan Pecat Saya, Bos .... Di dalam sebuah lorong panjang bercat keemasan yang menghubungkan pintu utama dengan ruang kerja Jendral, seorang gadis terduduk dengan resah di atas kursi yang tak bisa dibilang nyaman. Kamera digital yang tergantung di leher beberapa kali bergerak sedikit kala ia menaik-turunkan punggung yang kini sudah teramat pegal. Sementara tape recorder yang ia genggam turut merasakan kegelisahan itu. Anis : (mendesah) “Udah lebih dari 5 jam, tapi beliau gak muncul juga. Padahal tiap hari aku datang kesini. Beberapa kali. Dari pertengahan bulan sampai sekarang.” (menghela dan mengembuskan napas perlahan) “Luar biasa sekali tantangan bos kali ini. Mewawancarai direktur jendral tertinggi di Indonesia. Yang pastinya susah banget buat ketemu sama beliau. Tapi seenggaknya ... aku udah ngehubungin dan beliau janji bakalan nemuin aku hari ini.” (memejamkan mata sejenak, membukanya lagi, lalu mulai bernyanyi) #bgm: Remake Yui-Goodbye Days (nyanyian Anis berhenti lantaran melihat sosok yang sudah ditunggu-tunggunya datang bersama dua orang pengawal) Anis : “Wah, Pak Jendral! Saya sudah lama menunggu Bapak. Izinkanlah saya untuk mewawancarai Anda seben—” Widya: “Tolong jangan halangi jalan kami!” Anis : (terkejut) “M-maaf. Tapi ... aku ada janji dengan Pak Jendral.” Widya: “Kau tidak lihat? Pak Jendral baru saja datang dari konferensi internasional. Beliau sudah teramat lelah. Kau bisa kemari lagi lain kali.” Anis : “Tapi, aku sudah menunggu dari kemarin-kemarin. Beliau sudah berjanji akan menemuiku hari ini. Lagipula ... lagipula deadline tugasku ya hari ini ....” Widya: (berhenti melangkah, menatap wajah Anis) “Mba, saya minta maaaaff yang sebesar besarnya. Tapi Mba juga harus ngerti. Emangnya gak ngeliat muka lelah Jendral tadi? Lagipula jika menginginkan informasi dari orang penting semacam jendral, ya harus siap menerima kegagalan. Permisi.” (kembali melangkah meninggalkan Anis yang bergeming) #bgm: Hokage’s Funeral Anis : (bergeming menatap punggung Widya yang menjauh) “Aku ... gak berhasil ngewawancarain Pak Jendral .... Pasti bos marah banget .... Sebelum deadline aja beliau sering ngomel, nuntut supaya tugas ini cepet selesai. Tapi sekarang ..... (mengangkat satu telapak tangan, menempelkannya di dahi, dan memejamkan mata) “Apa yang harus aku lakukan ...?” Anis melangkah pergi lantas berjalan menuju kantor redaksi Cakrawala dengan lunglai. Sesampainya di kantor tersebut ia memberanikan diri menemui pemimpin redaksi dan
  2. 2. menceritakan semuanya. Seperti yang telah diduga, sang pemimpin pun kesal, dan memakinya di dalam ruang kerja. Aulia: (melempar berkas-berkas ke meja kerja) “Buruk! Buruk sekali! Kau bilang bisa mengemban tugas ini. Tapi nyatanya apa? GAGAL!” Anis : (merunduk) “Maaf. Pak Jendral sulit sekali ditemui.” Aulia: “HAH? Jangan cari-cari alasan! Jelas susah dong! Kalo gampang ya gak ada tantangannya. Gak seru! Jika Anda bisa mengatur waktu, Anda tidak akan gagal seperti ini. Wong yang lain aja bisa kok.” (melihat Anis sekilas dengan tatapan dingin dan sinis) “Anda saya pecat!” #bgm: Remake Egoist-Departures Anis : (melebarkan bola mata) “Hah?” Aulia: “Ya, Anda saya pecat.” (bangkit dari duduknya lalu berjalan melewati Anis) Anis : (mengejar Widya) “T-tapi Bu, saya sangat menginginkan pekerjaan ini. Berikanlah saya kesempatan sekali lagi. Saya janji gak akan gagal lagi.” Aulia: “Omong kosong! Anda pikir saya percaya dengan janji palsu itu?” Anis : “Tapi Bu, bukankah setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua?” Aulia: (menaiki lift, meninggalkan Anis) Anis : (meratap) “Bu ....” #bgm: Egoist-Departures Anis yang sudah teramat lelah, meninggalkan kantor redaksi impiannya itu dengan amat lunglai. Ia tak tahu lagi kemana harus memilih jalan hidupnya kini. Untuk saat ini, ia benar-benar terpuruk.

×