Persaudaraan sesama muslim
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Persaudaraan sesama muslim

on

  • 14,200 views

 

Statistics

Views

Total Views
14,200
Views on SlideShare
14,200
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
168
Comments
1

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Persaudaraan sesama muslim Persaudaraan sesama muslim Document Transcript

  • Saling mencintai dan Persaudaraan sesama muslim<br />Hubungan di antara cinta dan persaudaraan adalah hubungan yang sangat kuat. Maka setiap orang yang dipertalikan oleh Allah di antara engkau dan dia dengan hubungan persaudaraan, niscaya ia mendapat hak untuk saling mencintai karena Allah . Dan setiap orang yang bergaul denganmu dengan kecintaan iman, niscaya ia berhak mendapatkan hak persaudaraan Islam.<br />Dalam larangan tentang sebagian gambaran perbuatan jahat terhadap muslim atau perintah sebagian gambaran kehidupan bersama, tolong menolong, dan saling berkasih sayang, Rasulullah melengkapi pengarahan beliau dengan sabdanya:<br />وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا<br />"Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara."<br />Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan pengertian persaudaraan yang dimaksudkan dalam hadits tersebut dengan ucapannya: 'Berusahalah agar kamu menjadi seperti saudara senasab dalam kasih sayang, tolong menolong, saling membantu, dan memberi nasehat.'<br />Dan standar pemahaman ukhuwah (persaudaraan) dan yang tidak sempurna iman kecuali dengannya adalah yang dijelaskan oleh Rasulullah dengan sabdanya:<br />وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ, لاَيُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ<br />"Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, seorang hamba tidak beriman (yang sempurna) sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia mencintai untuk dirinya sendiri dari kebaikan."<br />Al-Karmani memberikan komentar dengan katanya, 'Dan termasuk iman pula, bahwa ia membenci untuk saudaranya keburukan yang dibencinya untuk dirinya, dan beliau tidak menyebutkannya, karena mencintai sesuatu memberikan konsekuensi membenci lawannya, lalu beliau tidak menyebutkan hal itu karena sudah cukup.'<br />An-Nawawi rahimahullah mendefinisikan mahabbah bahwa ia adalah kecenderungan kepada sesuatu yang sesuai orang yang mencintai. Dan Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan: 'Maksud kecenderungan di sini adalah ikhtiyari (yang diusahakan), bukan alami, dan mahabbah adalah keinginan apa yang diyakininya sebagai kebaikan.' Dan keinginan atas mahabbah dan persaudaraan, mendorong seseorang seperti Abu Hurairah untuk mendapat doa dari Rasulullah untuk dirinya dan ibunya dengan mahabbah yang beredar bersama orang-orang yang beriman, maka Rasulullah mendoakan untuknya:<br />اَللّهُمَّ حَبِّبْ عُبَيْدَكَ هذَا وَأُمَّهُ إِلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِيْنَ, وَحَبِّبْ إِلَيْهِمْ الْمُؤْمِنِيْنَ...<br />"Ya Allah, cintakanlah hamba-Mu ini dan ibunya kepada hamba-hamba-Mu yang beriman, dan cintakanlah kepada mereka orang-orang yang beriman…"<br />Dan dasar dalam cinta dan benci bahwa ia adalah untuk sesuatu yang dicintai Allah atau dibenci-Nya. Allah mencintai (menyukai) orang-orang yang bertaubat dan bersuci, orang-orang yang berbuat baik dan bertaqwa, orang-orang yang sabar dan bertawakkal, orang-orang yang berbuat adil, dan orang-orang yang berjuang di jalan-Nya secara berbaris … dan tidak menyukai orang-orang zalim, melewati batas, israf (berlebih-lebihan), berbuat kerusakan, berkhianat, dan orang-orang yang sombong…<br />Sebagaimana dasar dalam cinta bahwa ia berlaku umum untuk semua orang-orang yang beriman, bervariasi mengikuti keshalihan mereka. Maka kita tidak bisa menegakkan permusuhan bagi orang yang terjatuh dalam perbuatan maksiat yang dia telah bertaubat darinya, atau telah dilaksanakan hukuman had padanya, dan sekalipun ia berbuat maksiat, ia tetap dalam lingkungan Islam. Rasulullah melarang mencela sahabat yang dilaksanakan hukuman cambuk beberapa kali karena meminum arak, beliau bersabda:<br />لاَ تَلْعَنُوْهُ فَوَاللهِ, مَا عَلِمْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ<br />"Janganlah kamu mengutuknya, demi Allah, aku tidak mengetahui, sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya."<br />Ibnu Hajar rahimahullah mengambil kesimpulan dari hadits tersebut: bahwa tidak ada kontradiksi di antara melakukan yang dilarang dan tetapnya rasa cinta kepada Allah dan rasul-Nya di dalam hati pelaku… dan sesungguhnya orang yang berulang kali melakukan maksiat, rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak dicabut darinya.<br />Dalam hadits yang lain, sebagian sahabat berdoa atas orang yang mabok agar Allah menghinakannya, maka Nabi bersabda dengan rasa cinta dan persaudaraan:<br />لاَ تَكُوْنُوْا عَوْنَ الشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيْكُمْ<br />"Janganlah kamu menjadi pembantu syetan atas saudaramu."<br />Agar memalingkan pandangan mereka untuk memohonkan ampunan baginya dan memberikan nasehat kepadanya, sebagai pengganti mendoakan celaka atasnya yang membuat syetan menjadi senang dan bertambah kuat.<br />Dalam sebuat atsar disebutkan: sesungguhnya Abu ad-Darda` melewati seorang laki-laki yang telah melakukan dosa, maka mereka mencelanya, maka ia berkata, 'Bagaimana pendapatnya jika kamu menemukannya di dalam lobang, apakah kamu mengeluarkannya? Mereka menjawab, 'Tentu.' Ia berkata, 'Maka janganlah kamu mencela saudaramu, dan pujilah Allah yang telah menyelamatmu (dari perbuatan dosa itu).' Mereka bertanya, 'Apakah engkau tidak membencinya?' Ia menjawab, 'Sesungguhnya aku membenci perbuatannya. Maka apabila ia telah meninggalkannya, maka ia adalah saudaraku."<br />Sudah berapa banyak ikat persaudaraan yang terputus. Berapa banyak hati yang ditikam permusuhan dan kebencian karena ijtihad yang salah. Padahal persoalannya luas untuk menjaga kasih sayang dan persaudaraan bersama orang yang terjerumus dalam perbuatan maksiat. Maka bagaimana dengan saudara-saudara yang terpeleset dalam pendapat atau tergelincir dalam ijtihad?... karena sumber persaudaraan dan cinta masih tetap ada, yaitu memuliakan aqidah iman yang dibawanya dan kalimah tauhid yang mengajak kepadanya. <br />Sesungguhnya Allah menjadikan cinta dan benci karena Allah sebagai ikatan Islam yang paling kuat. Dan dalam satu riwayat:<br />أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: اَلْمُوَالاَةُ فِى اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِى اللهِ, وَالْحُبُّ فِى اللهِ وَاْلبُغْضُ فِى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.<br />"Ikatan iman yang paling kuat adalah: loyalitas karena Allah dan saling memusuhi karena Allah , cinta karena Allah dan benci karena Allah ."<br />Sesungguhnya iman tidak sempurna kecuali dengan kebenaran perasaan ini dan mengikhlaskan ikatan ini:<br />مَنْ أَحَبَّ فِى اللهِ وَأَبْغَضَ فِى اللهِ وَأَعْطَى ِللهِ وَمَنَعَ ِللهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ اْلإِبْمَانَ<br />"Barangsiapa yang mencintai karena Allah , membenci karena Allah , memberi karena Allah , dan tidak memberi karena Allah , berarti ia telah menyempurnakan iman."<br />Dan barangsiapa yang ingin merasakan kenikmatan mujahadah terhadap syetan dan manisnya bersih dari hawa nafsu serta keagungan sikap loyalitas kepada Allah , Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, maka inilah jalannya:<br />ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا, وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ, وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ –بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ- كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُنْقَذَ فِى النَّارِ<br />"Ada tiga perkara, barangsiapa yang ada padanya, niscaya ia mendapatkan manisnya iman: bahwa Allah dan rasul-Nya lebih dicintai kepadanya dari pada selain keduanya, bahwa ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah , dan bahwa ia benci kembali dalam kekafiran –setelah Allah menyelamatkannya darinya- sebagaimana ia benci dijermuskan di neraka."<br />Dan Rasulullah menjadikan kelebihan di antara dua orang yang bersaudara yang saling mencintai, dengan sejauh kecintaan setiap orang dari keduanya terhadap saudaranya:<br />مَا تَحَابَّ اثْنَانِ فِى اللهِ تَعَالَى إِلاَّ كَانَ أَفْضَلُهُمَا أَشَدّهُمَا حُبًّا لِصَاحِبِهِ.<br />"Tidak saling mencintai di antara dua orang karena Allah , melainkan yang paling utama di antara keduanya adalah yang paling mencintai terhadap saudaranya."<br />Dan jika pada suatu hari syetan menyusup di antara keduanya, maka hendaklah keduanya melakukan introfeksi terhadap hatinya masing-masing, berdasarkan sabda Nabi :<br />مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِى اللهِ فَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إِلاّ بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا<br />"Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah , lalu dipisahkan di antara keduanya, melainkan karena dosa yang dilakukan salah seorang dari keduanya." <br />Dan untuk mendorong cinta kepada Allah , Dia memberi kabar gembira dengan memuliakan mereka saat huru hara di hari kiamat dan hisab, dengan memberikan naungan kepada mereka di bawah naungan arsy, dan termasuk tujuh golongan yang diberikan keistimewaan dengan keutamaan ini, seperti yang tersebut dalam hadits:<br />... وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللهِ, فَاجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَافْتَرَقَا عَلَيْهِ...<br />"… dan dua orang yang saling mencintai karena Allah , maka keduanya berkumpul atas hal itu dan berpisah karenanya…'<br />Dan supaya masyarakat muslim saling tolong menolong di atas kebaikan dan menanam nilai-nilai kebajikan, banyak sekali hadist-hadits yang mendorong agar memberitahukan saudara yang mempunyai kedudukan khusus dalam dirinya, dan cinta yang berbeda di atas persaudaraan secara umum bagi semua orang-orang yang beriman –bahwa engkau mencintainya, di antara hal itu adalah sabda Rasulullah :<br />إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ فَلْيَأْتِهِ فِى مَنْزِلِهِ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ ِللهِ.<br />"Apabila salah seorang darimu mencintai saudaranya, maka hendaklah ia mendatanginya di rumahnya, lalu mengabarkan kepadanya bahwa sesungguhnya ia mencintainya karena Allah ."<br />Dan di antara kebenaran persaudaraan dan murninya rasa cinta, bahwa engkau menghitung seperti perhitungan saudaramu dalam menarik manfaat untuk dirimu atau menolak bahaya darimu. Dan dalam wasiat Rasulullah kepada Abu Hurairah :<br />وَأَحِبَّ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُؤْمِنِيْنَ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ وَأَهْلِ بَيْتِكَ وَأَكْرِهْ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ وَأَهْلِ بَيْتِكَ, تَكُنْ مُؤْمِنًا ...<br />"Dan cintailah untuk kaum muslimin dan mukminin apa saja yang engkau cintai untuk dirimu dan keluargamu, dan bencilah untuk mereka apa-apa yang engkau benci untuk dirimu dan keluargamu, niscaya engkau menjadi beriman…"<br />Dan di ancara cara mengungkapkan kebenaran rasa persaudaraan dan hakekat kasih sayang, sesuatu yang engkau berikan untuk saudaramu berupa doa-doa yang baik, di tempat ia tidak mendengar dan tidak melihatmu. Di tempat yang tidak ada campuran perasaan riya dan berpura-pura, seperti dalam sabda Nabi :<br />دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ, عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ قَالَ اْلمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ وَلَكَ مِثْل.<br />"Doa seorang muslim untuk saudaranya dari belakang dikabulkan. Di sisi kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat yang ditugaskan dengannya berkata: Amin, dan untukmu semisalnya."<br />An-Nawawi rahimahullah berkata: Sebagian salafus shalih, apabila ingin berdoa untuk dirinya, ia berdoa untuk saudaranya yang muslim dengan doa tersebut, karena doa itu dikabulkan dan ia memperoleh hal serupa untuk dirinya sendiri.<br />Dan untuk persaudaraan, ada hak-haknya di dunia, berupa mendokan yang bersin (apabila membaca hamdalah), mengunjungi yang sakit, memenuhi undangan, memberikan penghormatan, dan mengiringi jenazah.<br />Sebagaimana syari'at mengharamkan saling tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari, dan tidak diangkat amal keduanya sampai keduanya berdamai, dan Allah tidak menjadikan ikatan persaudaraan bagi orang-orang beriman selain persaudaraan Islam. Dan Nabi telah memberikan isyarat bahwa jikalau ia menjadikan untuk dirinya seorang kekasih, niscaya ia adalah Abu Bakar , akan tetapi beliau lebih mengutamakan persaudaraan Islam. Maka beliau bersabda:<br />وَلكِنْ أُخُوَّةُ اْلإِسْلاَمِ أَفْضَلُ<br />"Akan tetapi persaudaraan Islam lebih utama."<br />Apakah kita lebih mengutamakan fanatisme jahiliyah di atas persaudaraan Islam?<br />Ikatan persaudaraan ini tetap berlangsung hingga ke negeri akhirat, di mana sebagian penghuni surga tidak melihat saudara mereka yang bersama mereka semasa di dunia. Maka mereka bertanya kepada Rabb tentang saudara-saudara mereka. Nabi menggambarkan keadaan tersebut dengan sabdanya:<br />فَمَا مُجَادَلَةُ أَحَدِكُمْ لِصَاحِبِهِ فِى الْحَقِّ يَكُوْنُ لَهُ فِى الدُّنْيَا أَشَدَّ مُجَادَلَةً مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ لِرَبِّهِمْ فِى إِخْوَانِهِمِ الَّذِيْنَ أُدْخِلُوْا النَّارَ. قاَلَ: يَقُوْلُوْنَ: رَبَّنَا! إِخْوَانُنَا كَانُوا يُصَلُّوْنَ مَعَنَا وَيَصُوْمُوْنَ مَعَنَا وَيَحُجُّوْنَ مَعَنَا فَأَدْخَلْتَهُمُ النَّارَ. فَقَالَ: اذْهَبُوْا فَأَخْرِجُوْا مَنْ عَرَفْتَهُمْ مِنْهُمْ...<br />"Tidak ada perdebatan seseorang kamu bagi sahabatnya dalam kebenaran yang ada di dunia yang lebih kuat dari pada perdebatan orang-orang beriman kepada Rabb mereka tentang saudara-saudara mereka yang dimasukkan ke dalam neraka. Dia bersabda, 'Mereka berkata, 'Rabb kami, saudara-saudara mereka shalat bersama kami, puasa bersama kami, berhaji bersama kami, lalu Engkau masukkan mereka ke dalam neraka.' Maka Dia berfirman, 'Pergilah, lalu keluarkanlah orang yang kamu kenal dari mereka…"<br />Lalu mereka mengeluarkan mereka (orang beriman yang berada di dalam neraka). Kemudian Dia memberi ijin bagi mereka, maka mereka mengeluarkan orang yang di hatinya ada iman seberat biji sawi. Sesungguhnya persaudaraan yang memiliki kedudukan seperti ini di sisi Allah , dan sesungguhnya kecintaan yang mempunyai keutamaan seperti itu di dunia dan akhirat sudah seharusnya ditekuni, disempurnakan hak-haknya, dan meminta tambahan darinya:<br />يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ <br />:"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang". (QS. Al-Hasyr:10)<br />Kesimpulan:<br />Ikatan persaudaraan harus berdasarkan iman dan mengharuskan hak-hak bagi seorang muslim.<br />Persaudaraan iman sudah seharusnya berada di atas persaudaraan nasab.<br />Kriteria (standar) persaudaraan adalah bahwa engkau menyukai kebaikan untuk saudaramu, sebagaimana engkau menyukai untuk dirimu sendiri.<br />Dasar dalam cinta adalah:<br />Memandang pada sesuatu yang dicintai Allah .<br />Berlaku umum bagi semua orang-orang beriman.<br />Mencintai orang yang beriman dan membenci maksiatnya.<br />Cinta karena Allah adalah ikatan iman paling kuat.<br />Orang yang paling utama di antara dua orang yang saling mengasihi adalah yang paling cinta di antara keduanya.<br />Di antara lorong-lorong syetan untuk memisahkan di antara dua orang yang saling mengasihi:<br />Dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya.<br />masuknya perasaan cemburu.<br />Di antara keutamaan cinta karena Allah : berhak mendapat cinta-Nya dan aman di bawah naungan arsy-Nya .<br />Cukup banyak himbauan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah untuk menjalin hubungan<br />persahabatan dan persaudaraan diantara kaum Muslimin, antara lain bisa dilihat<br />misalnya dalam :<br />"Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu saling bersaudara."<br />(Qs. al-Hujurat 49:10)<br />"Dan orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian dari mereka adalah<br />penolong [wali] bagi sebagian yang lain." (Qs. at-Taubah 9:71)<br />Dalam beberapa Haditsnya Rasulullah Saw pun bersabda :<br />"Janji keselamatan bagi kaum Muslim berlaku atas mereka semua, dan mereka semua<br />seia-sekata dalam menghadapi orang-orang selain mereka. Barangsiapa melanggar janji<br />keamanan seorang Muslim, maka kutukan Allah, Malaikat dan manusia sekalian tertuju<br />kepadanya dan tidak diterima darinya tebusan atau pengganti apapun pada hari kiamah<br />kelak."<br />"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Tidak boleh ia menganiayanya dan<br />tidak pula membiarkannya dianiaya. Barangsiapa mengurusi keperluan saudaranya sesama<br />Muslim, niscaya Allah akan memenuhi keperluannya sendiri. Dan barangsiapa<br />membebaskan beban penderitaan seorang Muslim, maka Allah akan membebaskan<br />penderitaannya dihari kiamat kelak. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Mukmin,<br />maka Allah akan menutupi aibnya dihari kiamat."<br />"Hindarkan dirimu dari persangkaan buruk, sesungguhnya yang demikian itu adalah<br />sebohong-bohong perkataan. Jangan mencari-cari aib orang lain, jangan memata-matai,<br />jangan bersaingan menawar barang dengan maksud merugikan orang lain, jangan saling<br />menghasut, jangan saling bermusuhan dan jangan saling membenci. Jadilah kalian<br />hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidaklah halal bagi seorang Muslim mendiamkan<br />saudaranya sesama Muslim lebih dari 3 hari."<br />"...Lantaran itu, damaikanlah diantara dua saudara kamu dan berbaktilah kepada Allah<br />agar kamu diberi rahmat."<br />(Qs. al-Hujurat 49:10)<br />"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya<br />sebagian dari prasangka itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintai-intai dan<br />janganlah sebagian dari kamu mengumpat sebagian yang lain; apakah suka seseorang<br />dari kamu memakan daging bangkai saudaranya ? Tentu kamu akan merasa jijik kepadanya<br />! Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Pengampun, Penyayang."<br />(Qs. al-Hujurat 49:12)<br />Telah diketahui secara pasti bahwa hanya dengan Islam dan beriman secara<br />sungguh-sungguh, seorang hamba dapat meraih puncak keridhoan Allah azza wajalla.<br />Ulama-ulama dari Ahlus-Sunnah bersepakat bahwa hakikat Islam dan Iman adalah<br />pengucapan 2 kalimah syahadat, pembenaran adanya hari kebangkitan, mendirikan sholat<br />5 waktu karena Allah, melaksanakan ibadah Haji bila mampu, berpuasa dibulan Ramadhan<br />serta mengeluarkan zakat.<br />Bukhari dalam kumpulan hadistnya telah meriwayatkan beberapa sabda Rasulullah Saw :<br />"Barangsiapa bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, menghadap kiblat kita,<br />mengerjakan sholat kita dan memakan hasil sembelihan kita, maka ia adalah seorang<br />Muslim. Baginya berlaku hak dan kewajiban yang sama sebagai Muslim lainnya."<br />Berdasarkan ayat-ayat Allah dan fatwa Nabi Muhammad Saw diatas, adalah tidak pada<br />tempatnya kita selaku manusia yang mengaku beragama Islam dan mengaku telah beriman<br />secara Kaffah menciptakan suasana rusuh dan mengobarkan semangat perpecahan<br />dikalangan sesama Muslim.<br />Maukah kita mendapatkan kecaman dari Allah dan Rasul-Nya ?<br />Umat Islam sudah cukup lama terombang-ambing dalam gelombang perpecahan aneka ragam<br />alirannya dan masing-masing pihak merasa hanya kaumnya sajalah yang paling benar<br />serta layak memasuki syurga dan selain kaum mereka ini maka kaum lainnya berada pada<br />posisi salah dan halal neraka baginya.<br />Tidak urung ayat-ayat al-Qur'an dan Hadist-hadist Nabi justru dijadikan ujung tombak<br />untuk menghantam lawan bicaranya sesama Muslim, entah itu mereka yang menisbatkan<br />diri dalam jemaah Ahlus-Sunnah, Syi'ah, Muktazilah, Khawarij, Ahmadiyah dan<br />sebagainya.<br />Tidakkah mereka sadar bahwa yang mereka perdebatkan ini tidak lain adalah sesuatu<br />penafsiran terhadap hal yang sama dalam sudut pandang yang berbeda.<br />Imam Ali bin Abu Thalib r.a, adalah contoh teladan kedua sesudah Rasulullah Saw yang<br />mengajarkan mengenai hakikat persaudaraan sesama Muslim, menghargai keutuhan<br />persatuan umat dibawah panji-panji kebenaran Tauhid.<br />Beliau menolak mengikuti keinginan sebagian dari para sahabat untuk melakukan<br />pemberontakan terhadap pemerintahan Khalifah Abu Bakar sepeninggal Rasulullah Saw,<br />dan disaat ia menjabat selaku Khalifah, sikap ini terus dipertahankannya bahkan<br />dalam medan pertempurannya menghadapi gerakan 'Aisyah pada peristiwa perang Jamal<br />dan disaat menghadapi pemberontakan kelompok Muawiyah.<br />Imam Ali bin Abu Thalib r.a, begitu mengedepankan rasa persaudaraan antar umat<br />Muslim diatas perasaan dirinya pribadi sehingga beliaupun rela mendapat kecaman dari<br />sejumlah orang atas sikapnya yang lunak dengan Muawiyah yang mengakibatkan pecahnya<br />pemberontakan kaum Khawarij sampai terbunuhnya beliau dalam salah satu kesempatan.<br />Tindakan dan sikap yang diambil oleh Khalifah ke-4 yang juga menantu Nabi Muhammad<br />Saw ini sudah pasti bukan tindakan yang tidak disertai pertimbangan dan kearifan<br />yang tinggi, sebagai salah seorang sahabat besar dan keluarga terdekat dari<br />Rasulullah, Imam Ali bin Abu Thalib r.a, tentunya merupakan orang yang paling<br />mengerti mengenai Islam dan ia bukan seorang yang pengecut. <br />Dengan demikian, hendaklah kiranya kaum Muslimin sekarang ini sudi untuk merenung<br />dan menganalisa secara bijak mengenai perpecahan yang terjadi diantara mereka,<br />perpecahan yang mengarah kepada permusuhan dan kebencian bukan menjadi satu rahmat<br />namun justru merupakan malapetaka.<br />Kehormatan seorang Muslim haruslah dijunjung tinggi meskipun mungkin Muslim tersebut<br />memiliki sudut pandang berbeda dengan kita terhadap hal-hal tertentu, ini bukan<br />alasan untuk mengkafirkan mereka apalagi menumpahkan darahnya dengan mengatasnamakan<br />kebenaran.<br />Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdu Dzar :<br />"Telah berkata Nabi Saw kepadaku, bahwa malaikat Jibril berkata: 'Barangsiapa<br />diantara umatmu meninggal dunia dalam keadaan tiada menyekutukan Allah dengan<br />sesuatu apapun, maka ia akan masuk syurga."; kemudian aku bertanya: 'Kendatipun ia<br />pernah berzina dan mencuri ?"; Jawab Nabi Muhammad Saw: "Ya, walaupun ia pernah<br />berbuat hal itu."<br />Hadist diatas ini bukan bertendensikan menghalalkan tindakan kejahatan atas umat<br />Muhammad Saw akan tetapi memiliki orientasi kepada pengagungan harkat dan martabat<br />seorang Muslim.<br />Jelas bahwa Allah tidak lalai dari apa yang kita kerjakan, suatu perbuatan yang<br />negatif, apabila dilakukan secara terus menerus tentunya akan menyebabkan<br />ketergeseran derajat kemanusiaan seseorang dihadapan Allah, dan lambat laun seorang<br />Muslim-pun dapat menjadi seorang yang fasik atau munafik dan tidak menutup<br />kemungkinan dia malah menjadi kafir kepada Allah sehingga jaminan Allah ini menjadi<br />hilang atas dirinya.<br />Diberbagai tempat kita meributkan masalah ke-Khalifahan, orang Syi'ah merasa lebih<br />tinggi dari ahlus-Sunnah dan sebaliknya kaum ahli-Sunnah pun tidak jarang malah<br />memperolok-olokkan kaum Syi'ah dan bahkan beberapa diantaranya sampai mengkafirkan<br />mereka hanya karena mereka lebih mencintai ahli Bait Nabi Muhammad Saw dan<br />mengeluarkan kritikan-kritikan pedas atas beberapa Muslim generasi awal.<br />Fenomena Ahmadiyah juga menggelitik sejumlah umat Islam untuk mendeskreditkan<br />sebagian dari mereka sampai mengeluarkan fatwa tidak syahnya status ke-Islaman semua<br />Jemaah ini.<br />Dikalangan ahlus-Sunnah terdapat banyak Madzhab yang dipimpin oleh Imamnya<br />masing-masing, diantaranya yang terbesar adalah Imam Hambali, Syafi'i, Maliki dan<br />Hanafi, ke-4 Jemaah ini memiliki banyak sekali perbedaan-perbedaan didalam<br />penafsiran atas ayat-ayat Allah dan juga petunjuk Rasul-Nya, dimulai dari masalah<br />Thaharah, Sholat, Puasa, Nikah, Talak dan seterusnya.<br />Dibalik beberapa kesamaannya, masing-masing mereka memberikan argumen dari sudut<br />pandang yang berbeda tentang banyak hal yang sama.<br />Padahal, apabila kita ingin berbicara jujur, perselisihan yang terjadi antar umat<br />Islam dan antar Jemaah maupun Mazhab hanyalah karena masing-masing memiliki<br />penafsiran berbeda tentang al-Qur'an dan Hadist Rasul, namun apakah hal ini bisa<br />menjadikan satu alasan untuk memberikan vonis kekafiran kepada mereka ?<br />Andaikanlah diantara penafsiran sebagian dari mereka ini menyimpang dari apa yang<br />seharusnya, namun ini tetap saja belum mengeluarkan status ke-Islaman yang melekat<br />pada diri mereka, tentunya selama mereka tetap berpegangkan kepada satu Kalimah<br />"Tidak ada Tuhan tempat mengabdi selain Allah, Tuhan yang memiliki nama-nama terbaik<br />dan memiliki sifat-sifat suci, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan."<br />Kehormatan seorang Muslim tetap terjamin meskipun dia mengucapkan kalimah "La ilaha<br />illa Allah" sebagai penyelamat dari suatu usaha pembunuhan, dan ini diceritakan oleh<br />banyak perawi Hadist.<br />Muslim dalam salah satu hadist yang diriwayatkannya dari berbagai saluran ada<br />menceritakan :<br />"Bahwa suatu hari 'Utban bin Malik al-Anshari mengunjungi Rasulullah Saw dan meminta<br />agar beliau mau singgah kerumahnya dan sholat didalamnya, karena ia ingin<br />menjadikannya Musholla. Dalam satu pembicaraan diantara mereka, Nabi menanyakan<br />keberadaan salah seorang dari sahabat 'Utban yang bernama Malik bin Ad-Dukhsyun bin<br />Ghunm bin 'Auf bin 'Amr bin 'Auf yang diketahui sebagai orang yang munafik.<br />Beberapa sahabat keheranan dan mencoba mengingatkan Nabi bahwa 'Utban itu adalah<br />orang yang munafik, tapi Nabi mengeluarkan jawaban : "Jangan berkata demikian,<br />tidakkah kamu melihatnya telah berucap "La ilaha illa Allah" semata-mata demi<br />keridhoan Allah ?"; diantara para sahabat masih ada yang penasaran dan mencoba<br />kembali mengeluarkan argumennya : "Memang benar ia mengucapkan yang demikian, namun<br />tidak disertai dengan ketulusan hatinya, sungguh kami sering melihatnya pergi dan<br />berkawan dengan orang-orang munafik."<br />Nabi menjawab : "Tiada seorangpun bersaksi bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah dan<br />bahwa aku adalah Rasul Allah yang akan dimasukkan kedalam api neraka atau menjadi<br />umpannya."<br />Demikianlah seharusnya kita didalam berpijak, tidak mudah melemparkan tuduhan kepada<br />seseorang atau sekelompok kaum hanya karena berbeda pendapat dengan diri kita,<br />sedangkan bagi orang yang jelas-jelas seperti Malik bin Ad-Dukhsyun saja Rasulullah<br />Saw tidak melemparkan ucapan kekafiran atasnya dan malah mengedepankan rasa baik<br />sangka sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.<br />Satu keselarasan yang bisa kita kemukakan disini satu ayat al-Qur'an :<br />"Sesungguhnya orang-orang Mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan<br />orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada<br />Allah, Hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima ganjaran dari Tuhan<br />mereka, tidak ada ketakutan terhadap mereka, dan tidak berduka cita."<br />(Qs. al-Baqarah  2:62)<br />Nyata sekali bahwa jangankan kepada orang yang mengakui ke-Rasulan Muhammad Saw bin<br />Abdullah, bahkan bagi mereka yang tidak mengakui kenabian Muhammad pun yang dalam<br />istilah kita sekarang ini termasuk dalam kategori Unitarian tetap mendapatkan<br />jaminan dari Allah untuk memperoleh ganjaran disisi-Nya selama mereka tidak<br />mengadakan Tuhan-Tuhan dalam bentuk apapun selain Allah yang Maha Esa, yang Tidak<br />beranak dan tidak diperanakkan, yang tidak memiliki kesetaraan dengan apapun dalam<br />keyakinan mereka.<br />Kita seringkali terlalu banyak memperturutkan rasa ke-egoismean semata didalam<br />menghadapi orang yang tidak sejalan dengan kita yang akibat dari semua ini akan<br />menyulut konflik berkepanjangan dan tidak berkesudahan.<br />al-Qur'an dalam surah ali Imran (3) ayat ke 159 menganjurkan untuk mengadakan<br />musyawarah didalam mencapai jalan keluar terbaik, selain itu ; juga dalam Surah yang<br />lain, al-Qur'an pun memberikan kebebasan bagi manusia untuk melakukan dialog<br />pertukar pikiran secara baik-baik dan saling menghargai.<br />Seorang manusia dilarang mencemooh manusia lainnya berdasarkan firman Allah dalam<br />surah al-Hujurat (49) ayat 11 dan beberapa firman Allah berikut ini pun harus<br />menjadi renungan tambahan bagi kita :<br />"Sesungguhnya mereka yang suka akan tersebarnya keburukan dikalangan kaum beriman<br />akan mendapatkan azab yang pedih didunia dan akhirat..."<br />(Qs. an-Nur 24:19)<br />"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena<br />Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian kamu atas satu kaum<br />menyebabkan kamu berlaku tidak adil.<br />Berbuatlah adil, ini lebih mendekatkan kamu kepada ketakwaan; takutlah kamu kepada<br />Allah sebab Allah amat mengetahui apa yang kamu kerjakan."<br />(Qs. al-Maidah 5:8)<br />Kita mungkin sering jengkel dengan penafsiran segelintir jemaah terhadap ayat-ayat<br />al-Qur'an dan juga al-Hadist, mereka memutar balikkan semuanya sekehendak hati<br />mereka sehingga masing-masing merasa bahwa ayat-ayat dan Hadist-hadist tersebut<br />memperkuat aliran mereka, namun sesuai amanat al-Qur'an, yang demikian tidak berarti<br />harus kita sikapi dengan anarkis dan menghilangkan sudut keobjektifitasan kita.<br />Dalam salah satu literatur Syi'ah (persisnya maaf saya lupa), saya pernah bertemu<br />hadis yang mirip dengan hadis versi Ahlussunnah menyangkut pembagian 73 firqah dalam<br />Islam, tetapi uniknya matannya kebalikan, jadi yang 72 itu berdasar literatur<br />tersebut masuk surga semua dan satu yang dineraka. <br />Meskipun tetap perlu diperdebatkan namun ini rasanya relatif lebih bisa diterima,<br />karena inti dari al~Qur'an adalah Tauhid, jadi selama kelompok-kelompok Islam<br />tersebut masih menganut konsep monotheisme maka selama itu juga mereka tetap<br />mendapat jaminan untuk masuk kedalam syurga, sekecil atau setipis apapun Tauhid<br />mereka.<br />Sementara yang satu kelompok, tentunya yang sudah barang tentu wilayahnya sudah<br />jelas bergeser dari batasan Tauhid yang mutlak sebagaimana menjadi misi dari para<br />Nabi dan Rasul.<br />Marilah kita saling bahu membahu antar sesama saudara seiman didalam menegakkan<br />ajaran Allah, para pengikut ahli Bait menjalin hubungan baik dengan mereka yang<br />mengaku sebagai pengikut sunnah Nabi; dan keduanya ini pun haruslah mau untuk tidak<br />memutuskan tali silaturahmi terhadap mereka yang berasal dari jemaah Ahmadiyah dan<br />begitulah seterusnya secara wajar.<br />Kita boleh bertukar pikiran dan kita juga tidak dilarang untuk saling berdebat, mari<br />kita kemukakan dalil-dalil yang kita miliki dan kita yakini menunjang apa yang kita<br />jalani, jikapun tidak terdapat jalan keluar terbaik, marilah kita benci pendapatnya<br />saja namun bukan orangnya.<br />"Apabila kamu berbantahan disatu permasalahan, hendaklah kamu mengembalikannya<br />kepada Allah dan Rasul apabila adalah kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian."<br />(Qs. an-Nisa' 4:59)<br />Banyak orang mengatakan bahwa melakukan Bai'at terhadap pemimpin itu wajib hukumnya,<br />namun ber-bai'at terhadap Allah dan Rasul-Nya Muhammad Saw jauh melebihi dari<br />kewajiban berbai'at kepada siapapun.<br />Jika mencintai ahli Bait adalah suatu keharusan, maka berpegang kepada Sunnah itu<br />pun merupakan bagian dari keimanan.<br />Mari kita hargai hasil ijtihad dari masing-masing manusia sebagaimana kita juga<br />ingin orang lain menghargai pendirian yang kita yakini.<br />Tulisan ini tidak untuk ditujukan pembenaran suatu klaim dari jemaah tertentu dan<br />tidak pula dimaksudkan untuk menyudutkan suatu pandangan tertentu pula, semua ini<br />hanyalah karena terdorong rasa kerinduan terhadap hadirnya kembali duplikasi<br />Muhammad dan Ali bin Abu Thalib r.a yang mencintai persaudaraan dan kesatuan umat<br />Islam. <br />"Sesungguhnya mereka yang memperdebatkan ayat-ayat Allah dengan tidak ada alasan<br />yang datang kepada mereka, tidak ada didada-dada mereka melainkan kesombongan yang<br />mereka tidak akan sampai kepadanya."<br />(Qs. al-Mu'min 40:56)<br />"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan didalamnya.<br />Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta<br />pertanggunganjawabnya."<br />(Qs. al-Israa 17:36)<br />