Vaksinasi booster untuk tenaga kesehatan supaya kebal virus
1.
12/15/2025 Sri Rezeki1
Pendidikan
Dokter umum – FK.UNPAD 1972
Spesialis anak – FK.UI 1983
Spesialis Anak Konsultan Infeksi & Ped Tropis FK.UI 1994
S3 – FK.UI 1996
Guru Besar – FK.UI 2000
Organisasi
Ketua Indonesian Technical Advisory Group on
Immunization (ITAGI)
Anggota Satgas Imunisasi IDAI
Anggota Dewan Etik IDAI
Anggota Pengurus Badan Penerbit IDAI
Anggota KOMNAS PP KIPI – DEPKES
President of International Society of Tropical Paediatrics
(ISTP)
Board member of Asian Society of Pediatric Infectious
Disease ( ASPID )
Board member of Asian Dengue Voice and Action (ADVA)
Member of Asian Strategic Alliance for Pneumococcal
Disease ( ASAP )
Curriculum Vitae
Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S.
Hadinegoro,Sp.A(K)
Staf Pengajar
Dep Ilmu Kes Anak Fakultas
Kedokteran Universitas
Indonesia/RSCM Jakarta
Ketua ITAGI
2.
Mengapa diperlukan vaksinasiCovid-19 dosis
ketiga
untuk tenaga kesehatan (booster revaccination)
Sri Rezeki Hadinegoro
Ketua ITAGI
Webinar 14 Juli 2021
Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional
Indonesian Technical Advisory Group on Immunization
(ITAGI)
3.
Topik bahasan
• Latarbelakang
• Situasi Covid-19 saat ini
• Ulangan Vaksinasi Covid-19 (booster)
• Vaksinasi booster dalam keadaan darurat
• Pengalaman negara lain
• Kesimpulan dan Saran
4.
Latar belakang
• Saatini banyak negara yang memikirkan
mengenai berapa lama kekebalan/imunitas
bertahan setelah seseorang mendapat vaksinasi
Covid-19 lengkap (dua kali)
• Hal ini belum dapat dijawab sepenuhnya, karena
memerlukan penilai vaccine effectiveness setelah
vaksin dipergunakan oleh masyarakat dalam
jumlah ratusan juta orang (real world); sehingga
memerlukan pengamatan jangka panjang
6.
Data menunjukkan kelompokterbanyak yang terkonfirmasi
Covid-19 adalah umur 19-59 tahun demikian pula yang
perlu perawatan sedangkan kematian meningkat sejak umur
30 tahun
8.
Situasi Covid-19 diIndonesia
• Kasus terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia meningkat
dengan sangat tajam disertai peningkatan kasus
berat dan kritis sehingga mengakibatkan peningkatan
kematian.
Dalam situasi peningkatan kasus
Covid-19 di rumah sakit dan sarana
kesehatan lainnya, tenaga kesehatan
(nakes) sebagai garda terdepan (front
liner) merupakan kelompok risiko
tinggi terpapar penularan virus SARS-
CoV-2 walaupun mereka telah
mendapat vaksinasi lengkap.
Nakes Jumlah NakesJumlah
Dokter, 434 Petugas ambulans 3
Perawat, 373 Tenaga farmasi 3
Bidan 167 Terapis gigi 3
Dokter gigi 46 Elektromedik 3
ATLM 32 Epidemiolog 2
Apoteker 10 Entomolog 1
Petugas rekam radiologi 6 Fisikawan medik 1
Sanitarian 5 Nakes lainnya 52
Total nakes yang meninggal 1.141
Nakes yang meninggal
Maret 2020-Juli 2021
www.cnnindonesia.com/nasional/20210709142930-20-665479/lapor-covid-19-74-
nakes-meninggal-dalam-3-hari-total-1141.
12.
Jumlah dokter yangmeninggal
• Jumlah : 458 dokter
• Dokter umum: 253 (4 guru besar)
• Spesialis : 199 (21 guru besar)
• PPDS : 6 dokter
Data PB IDI, 8 Juli 2021
Jumlah Spesialis
Dokter yang meninggal
dari berbagai
spesialisasi
13.
Keadaan darurat Nakes
•Risiko tersebut meningkat karena peningkatan jumlah kasus
yang harus dilayani, maka imunitas para nakes perlu
ditingkatkan
• Di pihak lain yang perlu mendapat perhatian adalah adanya
SARS-CoV-2 varian baru, lebih mudah menular dari pada virus
aslinya.
Vaksinasi ketiga untukkelompok rentan
(keadaan darurat)
• Setiap negara mempunyai masalah berbeda dan perlu
menentukan rencana mengenai pemberian vaksinasi ketiga ini.
• The Joint Committee on Vaccination and Immunization (JCVI-
UK) menganjurkan pemberian suntikan ketiga pada musim
dingin kepada kelompok rentan yaitu,
– Dewasa berumur 18 tahun yang menderita imunokompromais
atau secara klinis sangat rentan tertular
– Lansia berumur 70 tahun, termasuk mereka yang tinggal di panti
wreda
– Front-line health (garda terdepan, nakes) yang berhubungan dengan
pasien Covid-19 dan pekerja sosial yang merawat kelompok rentan
Pengalaman negara lain
•Beberapa negara melakukan penelitian untuk pemberian
vaksinasi ketiga dengan memperhatikan hal-hal sbb:
– Kapan vaksinasi ketiga diberikan (jarak antara vaksinasi
pertama dengan vaksinasi booster),
– Apa jenis platform vaksin yang digunakan untuk booster:
sama dengan platform untuk primary vaccination atau
platform yang berbeda.
• Pengalaman negara-negara yang telah melaksanakan,
interval dilakukan sekitar 3- 6 bulan atau 6-12 bulan
sedangkan jenis yang dipergunakan vaksin untuk booster
mayoritas menggunakan platform lain khususnya mRNA.
19.
Saran ITAGI (1)
•Mengatasi keadaan darurat
– Masalah yang dihadapi oleh para nakes merupakan hal darurat
yang harus segera diatasi, mengingat para nakes secara terus
menerus terpapar dalam lingkungan penularan Covid-19 yang
tinggi
– Penularan pada nakes dapat juga terjadi di luar fasilitas
kesehatan (terutama penularan dalam keluarga), walaupun
demikian imunitas para nakes perlu ditingkatkan
– Disarankan untuk memberikan vaksinasi booster kepada para
nakes 3-6 bulan dari vaksinasi pertama dengan
mempergunakan vaksin dengan platform yang sama atau vaksin
dengan platform yang berbeda.
•
Classical platform Next-generation platform
Classical platform
SARS-CoV-2
20.
12/15/2025 20
Respons ImunVaksin Covid-19
Slide Sri Rezeki
Antibody
Antibodi neutralisasi anti
RBD (receptor binding
domain)
• Efikasi Sinovac65,3% dibanding vaksin lain > 70%.
• Efikasi akan menurun dan melemah seiring waktu, sekarang
sudah 6 bulan sejak pemberian vaksin pertama bagi nakes
bulan Januari 2021
• Menurut data vaksin Moderna atau mRNA-1273 memiliki
efikasi 94,1%
• Indonesia mendapat hibah empat juta dosis vaksin Moderna
dari Amerika Serikat.
• BPOM-RI telah menyetujui penggunaan izin darurat (EUA)
vaksin Moderna beberapa hari yang lalu
Kajian Epidemiologi
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-57581787
Vaksin Covid-19 inactivated (Sinovac) 2x, booster vaksin mRNA (Moderna)
Pendapat para ahli
•Booster ini sangat
diperlukan untuk
memperkuat respons
antibodi terhadap varian
baru, terutama Delta dan
mungkin Delta plus.
• Selain meningkatkan
imunitas, juga
meningkatkan efikasinya
dari ancaman varian baru
Mengapa tenaga kesehatan yang telah
mendapatkan vaksin tetap meninggal
akibat Covid-19.
1. Kemungkinan pertama, telah terkena
virus sebelum atau saat proses
vaksinasi sehingga vaksin belum
membentuk antibodi (dalam masa
inkubasi)
2. Vaksin dibuat untuk melawan virus asli
sehingga ada kemungkinan vaksin
cocok dengan virus (mis-match)
3. Vaksin yang digunakan tidak efektif
dalam melawan virus corona varian
baru.
28.
Manufacture Platform AdministrationAE/SAE Efficacy Study site
Sinovac
Biotech, China
Inactivated virus
2-8o
C
2 dose, 0-14 days
Intramuscular
18-59 year
Safety: good
No AE grade 3
Turkey 90.25%
Indonesia 65,3%
Brazil 50,3%
Turkey, Indonesia,
Brazil Bangladesh,
Chile
Sinopharm
Wuhan & Beijing
Institute of Biological
Products
Inactivated virus
2-8o
C
2 dose, 0-14 or 0-21
days
Intramuscular
18-59 year
No SAE
AE: fatigue, fever, pain at
injection site
79%
United Arab
Emirates
China
AstraZeneca
University of Oxford
Viral vector (non
replicating)
2-8o
C
2 dosis, 0-28 days
Intramuscular
> 18 year
No SAE
AE: fever, headache pain
at injection site
62 to 9% USA, UK
CanSino
Beijing Institute of
Biotechnology
Viral vector (non
replicating)
2-8o
C
One dose, 0-21
days
Intramuscular
18-59 year
AE: fatigue, fever, pain
(50%). AE gr 3:
High dose 9%,
Low dose 1%
91.6%
Pakistan
Gamaleya (Sputnik)
Research Institute
Viral vector
2-8o
C
2 dose, 0-21 days
Intramuscular
>18 year
AE pain at site of
injection, fever, headache 95% Russia
Novavax
Canada
Protein subunit
2-8o
C
2 dosis, 0-21 days
Intramuscular
18-84 year
AE more in 2nd
dose
Fatique, headache 89.3% UK
Moderna
NIAID
RNA
-20o
C
2 dosis, 0-28 days
Intramuscular
18-55, 56+ year
Fever mod/high dose 40
to 67%; Low dose 54%
after 2nd
dose
95% USA
Pfizer/ BioNTech /
Fosun Pharma
RNA
-70o
C
2 dosis, 0-28 days
Intramuscular
18-85 year
AE: fever, fatigue,
headache after 2nd
dose 95%
USA, Argentina,
Brazil
29.
Saran ITAGI (1)
•
•Mengatasi keadaan darurat
– Masalah yang dihadapi oleh para nakes harus segera
diatasi
– Imunitas para nakes perlu segera ditingkatkan
– Vaksinasi booster kepada para nakes diberikan pada 3-6
bulan dari vaksinasi pertama
– Vaksin booster dapat mempergunakan vaksin dari platform
yang sama atau platform yang berbeda.
•
30.
Saran ITAGI (2)
•
•Pemberian vaksinasi booster
– Mengingat telah terjadi penurunan imunitas setelah 6
bulan dari pemberian vaksin Sinovac dua kali, perlu
direncanakan pemberian booster pada semua
masyarakat
– Untuk vaksinasi booster pada semua masyarakat
diperlukan perencanaan tersendiri dengan mengingat
masalah logistik dan sumber daya manusia yang
tersedia
– Dilaksanakan setelah 12 bulan dari vaksinasi pertama
•
31.
Saran ITAGI (3)
•
•Penelitian penunjang: untuk menentukan vaksinasi
booster pada semua masyarakat secara massal,
diperlukan penelitian pada nakes yang telah
mendapat vaksinasi booster. Penelitian yang
disarankan adalah,
– Pemeriksaan titer antibodi anti RBD pada 2-4 minggu
pasca vaksinasi booster, dilakukan secara random
(mengingat sarana dan biaya)
– Pemantauan break-through of severe Covid-19 cases pada
semua nakes yang mendapat vaksinasi booster
32.
Kesimpulan
• Hasil ujiklinis vaksin Sinovac baik di China maupun di
Bandung, pada pemberian dua dosis dengan interval 14
maupun 28 hari, pada pemantauan pasca vaksinasi ke-2
sejak 3 bulan titer antibodi telah menurun dan makin
menurun pada 6 bulan pemantauan
– ITAGI menyarankan pemberian vaksinasi booster pada nakes
dapat diberikan setelah 3-6 bulan pasca vaksinasi dosis kedua
• Platform vaksin yang sama atau berbeda dapat
dipertimbangkan
– asalkan vaksin tersebut menghasilkan antibodi neutralisasi
anti RBD (receptor binding domain).