TEORI
MEMBASMI
&
MENUMPAS
UMAT - ISLAM
Langkah pertama. Desak semua negara untuk
menganut teori demokrasi. Sebab dengan negara
menganut teori demokrasi, negara akan berbentuk
parlementer, dengan system parlementer, maka
umat Islam akan bersaing memperebutkan
kekuasaan keputusan negara dengan non muslim.
Langkah kedua. Berikan kebebasan kepada umat
Islam untuk membuat orpol. Dengan diberikan
kebebasan kepada umat Islam untuk membuat
orpol, umat Islam bisa bersaing dengan sesamanya
untuk kepentingan orpol dan melupakan
kemenangan Islam dan umat Islam. Dengan
demikian umat Islam akan cakar-cakaran dengan
sesama mereka, karena orpol yang dibuatnya.
Langkah ketiga. Beri kebebasan kepada umat Islam untuk
membuat ormas. Maka akan tampak perpecahan diantara
kekuatan Islam & umat Islam melalui kebebasan membuat
ormas. Dengan kebebasan membuat ormas, umat Islam akan
berlomba-lomba membuat ormas, sehingga umat Islam akan
pecah dan cakar-cakaran karena ormas yang mereka bentuk.
Langkah keempat. Beri kebebasan kepada umat Islam untuk
membuat yayasan-yayasan atau lembaga pendidikan dan
pesantren. Setelah nampak perpecahan karena orpol dan
ormas, saatnya kita beri kebebasan mereka membuat yayasan-
yayasan. Sebab dengan diberikan kebebasan membuat yayasan-
yayasan, maka umat Islam akan berlomba membuat berbagai
yayasan, berbagai kegiatan sosial dan pendidikan. Ini
diharapkan disuatu wilayah desa atau perkotaan, umat Islam
akan bersaing dengan sesamanya berebut lahan atau siswa dan
simpatisan demi kemajuan yayasan masing-masing, tanpa
menghiraukan kemajuan yayasan saudaranya yang lain di
wilayah dan aspek yang sama.
Langkah kelima. Beri kebebasan pentas di atas panggung.
Setelah tampak perpecahan kekuatan Islam dan umat
Islam lewat perbedaan orpol, ormas, yayasan, aspek
pendidikan dan social, itulah saatnya diberikan kebebasan
pentas di atas panggung atau siaran, dengan cara
mendesak umat Islam kearah pementasan tokoh-tokohnya
ke panggung atau siaran. Teori ini diharapkan agar
menumbuhkan rasa tinggi status social para tokoh Islam
diantara tokoh Islam lainnya, dan akan mengecilkan
wibawa tokoh Islam yang ada di wilayah domisili umat.
Dengan cara ini akan muncul tokoh kondang bertarap
menengah dan tokoh Islam yang bertarap rendah di tempat
domisilinya, yang mengajar Islam kepada masyarakat
tanpa dibayar. Dengan demikian akan terjadi persaingan
antar tokoh Islam dan bisa cakar-cakaran antar tokoh dan
memperebutkan lahan dakwah.
Langkah keenam. Beri kebebasan kepada masyarakat Islam
agar membuat seminar-seminar. Teori ini akan menyebabkan
panitia seminar mengundang tokoh Islam untuk membahas
ajaran Islam, tanggapan Islam terhadap situasi dan suasana
yang ada, sehingga mata dan pandangan mata umat Islam
terfokus kepada masalah masalah umum yang global dan lupa
memperhatikan nasib umat di tempat domisilinya, demi
kepentingan individu atau keluarga muslim khususnya.
Langkah ketujuh. Beri kebebasan kepada masyarakat Islam
untuk mengundang tokoh Islam demi kepentingan individu
atau keluarga muslim. Hidupkan kebiasaan umat Islam untuk
mengundang tokohnya ke rumah individu atau keluarga
muslim, agar tokoh Islam tersebut habis waktunya untuk
mendukung individu atau keluarga muslim, sehingga tidak ada
waktu untuk memikirkan Islam dan umat Islam secara global.
Langkah kedelapan. Berikan sanjungan dan penghargaan
kepada tokoh-tokoh dan ulama Islam dalam bentuk
penyediaan fasilitas hidup, juga kepada sebagian yayasan
atau ormas atau orpol Islam yang mendukung teori
demokrasi, agar dapat memicu atau mengumpan tokoh,
ulama, yayasan, ormas dan orpol Islam lainnya, agar
mereka merasa dibesarkan atau dikecilkan dimasyarakat,
sehingga terjadi kerenggangan hubungan antar sesama
mereka.
Langkah kesembilan. Dekati tokoh Islam yang
memegang jabatan strategis di dalam institusi atau Negara,
untuk mendesak membuat fatwa atau statemen yang dapat
menjinakkan umat Islam lain yang berhaluan keras.
Langkah kesepuluh. Lumpuhkan tokoh
atau ulama dan kelompok umat Islam
yang komit terhadap ajaran dan hukum
Islam. Teori ini digunakan atau
dilaksanakan dalam keadaan Negara dan
demokrasi dirongrong umat Islam dalam
bentuk pembunuhan tokoh atau ulama
kondang yang telah dicatat dan diditeksi
sebelumnya.
Langkah pertama : Hindarkan dan cegah ulama
Islam membagi wilayah binaan umat dan dorong
mereka untuk berebut umat, pendukung dan
simpatisan dalam wilayah yang tak terbatas,
sehingga tidak jelas bagi mereka, tugas, wewenang
dan tanggungjwabnya.
Langkah kedua : Budayakan mengundang dan
memberikan penghargaan kepada tokoh / ulama yg
pinter bicara & jumlah tarif yang menggairahkan,
agar dapat merangsang tokoh Islam / ulama untuk
berlomba mencari harta dan ketenaran di depan
pengikutnya, sehingga mereka tidak merasa
kerasan membina di lingkungannya sendiri.
Langkah ketiga : Pentaskan tokoh Islam / ulama
yang pandai berbicara dan menarik masyarakat di
depan tokoh / ulama / masyarakat, untuk meng-
hancurkan wibawa tokoh / ulama lokal.
Langkah keempat: Berikan kepada tokoh / ulama
Islam kesibukan diluar wilayah domisilinya atau
dorong orang Islam berduit untuk membuat
lembaga pendidikan, yang akan ditunggu oleh
tokoh atau ulama Islam tsb di wilayah domisilinya,
sehingga tokoh atau ulama tsb tidak punya waktu
untuk mengajar masyarakat Islam di lingkungan-
nya, karena kesibukan di luar dan atau di dalam
lembaga pendidikan yang ditunggunya.
Langkah kelima : Panggil ulama ke rumah untuk
mengajar Islam dengan cara prifat dan berikan tarif
bayaran yang lebih tinggi dibanding dengan tarif
mengajar di masyarakat, sehingga tidak ada
kesempatan bagi tokoh Islam / ulama untuk
mengajar di lingkungannya.
Langkah keenam : Tawari tokoh Islam / ulama
kondang suatu kedudukan, jabatan atau peranan
penting di lingkungan kenegaraan, sehingga
mereka menganggap kecil kepada tokoh Islam /
ulama atau umat Islam lainnya.
Langkah ketujuh : Gilirkan para tokoh Islam /
ulama dalam satu mimbar masyarakat pendengar
yang sama, perhatikan perbedaan pendapatnya dan
tumbuhkan perbedaan pendapat mereka di depan
masyarakat muslim, sehingga masyarakat bingung
memilih mana yg benar & mana ulama panutannya.
Langkah kedelapan : Tumbuh suburkan Orpol,
Ormas dan LSM, dan seret mereka agar memasuki
Orpol, Ormas dan LSM berbeda-beda, sehingga
mereka melakukan kegiatan yang sama pada
manejemen yang berbeda.
Langkah kesembilan : Fitnah, tangkap & penjarakan
tokoh Islam / ulama dalam waktu yang lama, agar tidak
banyak bersentuhan dgn umat Islam atau pengikutnya.
Hembusin kepada masyarakat lingkungannya, bahwa
mereka telah kena kasus pidana / subversi dan tidak
mendekatinya , agar tidak menimbulkan isu terlibat.
Langkah kesepuluh. Hancurkan sumber keuangan
ulama, agar mereka senantiasa bergantung kepada
sumbangan umat simpatisannya.
Langkah kesebelas. Hindarkan atau halangi tokoh
Islam atau ulama, agar tidak mempersatukan umat
Islam dan membentuk kepemimpinan Islam disuatu
wilayah.
Langkah Pertama. Dekati para mujahid dengan cara
tak kentara, misalnya pura-pura menjadi mujahid
atau simpatisan perjuangan Islam.
Langkah kedua. Masuklah ke dalam gerakan dan
komando mereka tanpa mencurigakan. Diteksi dan
catat data kekuatan personil, markas dan rencana
mereka.
Langkah ketiga. Tawarkan diri untuk berjuang
bersama untuk meyakinkan penyidikan sebagai
bahan untuk mengungkit dan menginterogasi.
Langkah keempat. Tawarkan dukungan janji setia
dan bantuan dukungan keuangan dan amunisi.
Langkah kelima. Pegang sasaran, ketahui rencana
waktu gerakan & markasnya. Buat acara sandiwara
yang sama diluar wilayah sasaran mujahid
sebelum waktu yg mereka rencanakan/tetapkan.
Langkah keenam. Umpan mereka dengan kata-
kata jihad dan kesediaan membantu penyediaan
logistic dan amunisi.
Langkah ketujuh. Ketahui personil, tempat
berkumpul dan tempat latihan mujahid dgn pasti.
Langkah kedelapan. Hantam mereka sebelum hari
H, aksi gerakan terornya dengan kekuatan personil
dan amunisi.
Langkah kesembilan. Tangkap gembong mujahid,
penjarakan dalam waktu yang lama, sehingga
pengikutnya kehilangan komando.
Langkah kesepuluh. Sogok tokoh Islam / ulama
yang sudah jinak dengan uang yang menggiurkan
untuk memberikan fatwa kepada masyarakat Islam
bahwa mujahid itu aliran sesat.
Langkah kesebelas. Tangkap gembong
mujahid, beri kedudukan semi strategis dan
lengkapi fasilitas hidup keluarganya untuk
mengungkap semua rahasianya dan jumlah
kawan-kawannya.
Langkah keduabelas. Bunuh para mujahid
dengan membeli tangan kawan-kawannya
atau oleh kekuatan Negara.
Langkah ketigabelas. Awasi pejuang dibawah
tanah dgn pendektesian melalui kawannya
yang dipermukaan.
Langkah keempatbelas. Culik dan bunuh para
mujahid untuk meredakan dan menakut-
nakuti umat Islam lainnya.
Langkah kelimabelas. Mandikan gembong
mujahid dengan uang dan penghargaan.
Dekati sanak keluarganya dengan penuh
hormat dan senyum agar bisa mengungkap
rahasia perjuangan dan kawan-kawan dari
suami mereka.
Langkah pertama. Jauhkan umat Islam dari Al
Qur`an dan Hadits nabinya, dan terbitkan buku-
buku pedoman (rukun Islam atau fiqih) yang telah
diterjemahkan.
Langkah kedua. Hindarkan pelajaran Al Qur`an
dan hadits Nabi masuk ke sekolah-sekolah formal,
agar mereka tidak mengetahui tentang ajaran
Islam, perintah dan larang Tuhannya.
Langkah ketiga. Dorong para tokoh Islam dan
ulama & sarjana agama Islam untuk jadi pengarang
& memperbanyak karangannya ttg ajaran Islam,
sehingga masyarakat Islam tidak mau mempelajari
ajaran Islam dari sumbernya (Al Qur`an & Hadits)
Langkah keempat. Kisahkan beberapa surat Al Qur`an
ke dalam buku-buku kecil untuk mengecilkan surat
lain & kisahkan bab pembahasan ajaran, aturan dan
hukum Islam kedalam buku-buku kecil yang terpisah
(bab ttg kekholifahan, politik, social, ekonomi &
pendidikan dll), agar mereka tidak mengetahui Islam
secara keseluruhannya, serta menganggap diantara
surat Al Qur`an ada yang lebih tinggi derajatnya.
Langkah kelima. Pisahkan penafsiran Al Qur`an
dengan Hadits nabi melalui peninggian derajat Al
Qur`an dari Hadits Nabi. Dan tumbuhkan pandangan
kepada mereka bahwa Hadits dho`if tidak terpakai,
sehingga mereka ber-Tuhan tak ber-Nabi.
.
Langkah keenam. Tumbuhkan pelajaran seni
membaca Al Qur`an sehingga mereka tekun kepada
memperbaiki suara, ilmu lagu, irama dan tidak
menyimak artinya, serta senang menyanyikan surat
tertentu dari Tuhan mereka.
Langkah ketujuh. Perbanyak acara festifal perlombaan
sani baca Al Qur`an dan tulisan kaligrafi, serta beri
hadiah yang menggiurkan bagi pemenangnya, agar
dapat merangsang masyarakat Islam lain ikut tekun
pada seni baca dan lagu daripada isinya.
Langkah kedelapan. Pisahkan lembaga pendidikan
negeri & swasta, pisahkan lembaga pendidikan swasta
yang mengajarkan mata ajaran umum & ajaran Islam.
Langkah kesembilan. Tumbuhkan pemahaman
kepada masyarakat bahwa semua agama itu baik
dan benar. Semua agama mengajarkan kebaikan
bagi manusia.
Langkah kesepuluh. Ciptakan aturan / perundang-
undangan yang dapat memperuncing perbedaan
antar umat Islam, dan biarkan perbedaan itu
menjadi polemic diantara mereka, sehingga
menjadi kasus dan permusuhan yang tak kentara
diantara mereka.
Langkah sesebalas. Tumbuhkan pemahaman
kepada umat Islam bahwa agama itu hanya untuk
hari akhirat saja.
Langkah keduabelas. Dorong mereka dan lembaga
pendidikan Islam / Pesantren untuk menyeleng-
garakan dan mempelajari ilmu sihir dan kekebalan
dengan alasan untuk bela diri dari serangan luar,
dan bukan melakukan persiapan bela diri dari
neraka.
Langkah ketigabelas. Jauhkan umat Islam dari
kewajiban pertamanya yaitu bersatu, berpemimpin
intern dalam satu wilayah, mengetahui jumlah dan
data keadaan umat dan program bersama.
Langkah keempatbelas. Permudah perizinan
pembentukan Organisasi, Orpol, Ormas, Lembaga
pendidikan, sosial atau yayasan, agar mereka
berjalan pada arah yang berbeda-beda.
Langkah kelimabelas. Hindarkan umat Islam
bersatu dan berkepemimpinan (satu komando)
dalam setiap pelaksanaan rukun Islam dengan
memfigurkan sebagian tokoh / ulama atau
memfigurkan sebagian Orpol atau Ormas yang ada
pada umat Islam.
Langkah keenambelas. Hidupkan adat istiadat dan
kebudayaan daerah yg dianggap mereka suatu yang
ritual seperti acara peringatan maulid, rajaban,
asyuro, tahlilan, yasinan, acara dzikir berjamaan dll,
agar umur mereka habis dengan acara rutin
tersebut dan keuangan umat tidak pernah bersatu.
Langkah ketujuhbelas. Tangani segala pelaksanaan
intern umat yg menghasilkan uang (infaq, sadaqah,
zakat mall, zakat fithrah, pernikahan, waris, wakaf
dan hibah haji / qurban) oleh lembaga Negara,
sehingga kekuatan dan sumber pembangunan
Islam tercecer dan berserakan dan salah guna.
Langkah pertama.
Jauhkan pergaulan anak dari pusat pendidikan
dan pengajaran Islam melalui pementasan
berbagai bentuk hiburan dan tontonan bagi
telinga maupun bagi mata.
Langkah kedua.
Jauhkan pergaulan orang dewasa dari pusat
pendidikan dan pengajaran Islam melalui
pementasan berbagai bentuk hiburan, pemadatan
jadwal olah raga, jadwal dan jam kerja, kerja
industri, acara pertemuan seminar dan wisata.
Langkah ketiga.
Persulit terjadinya pertemuan masyarakat
untuk membahas ilmu agama melalui acara
selamatan, ulang tahun, pesta adat dan
latihan seni suara dan music.
Langkah keempat.
Berikan kepada mereka kebebasan berbicara
dan berpendapat sehingga mereka berbicara
masalah agama berdasarkan pendapat dan
pikirannya.
Langkah kelima.
Angkat masalah kak azasi kepermukaan sehingga
mereka merasa bebas melakukan sesuatu
sekehendaknya dan tidak terikat dan malu sesama.
Langkah keenam.
Gubah selera orang agar membanggakan hasil
karyanya dan hasil penemuannya sendiri. Hargai
mereka dengan penghargaan seremonial, sehingga
mereka terpicu untuk mencari penemuan baru dan
menciptakan produk baru dan tak memperhatikan
perintah Tuhan mereka.
Langkah ketujuh.
Seret orang kearah kebutuhan konsumtif,
manopoli sumber produksinya. Manopoli pasar
barang konsumtif dengan cara simultan. Timbun
barang yang sangat dibutuhkan orang. Simpan
logam mulya dan uang pada bank swasta.
Persulit perkreditan dengan persyaratan ketat dan
tawari pinjaman dan kerjasama sehingga mereka
bergantung dalam segala aspek, dengan demikian
mereka dapat diarahkan kepada kehendak kita.
Teori konsep prinsip dan cara pencegahan dan
penghadangan ini sangat efektip bagi Negara
berhukum non Islam, baik yang umat
Islamnya telah bersatu dan pemimpin intern,
lebih-lebih bagi umat Islam yang belum
pernah bersatu dan berpemimpin intern dan
berada di negara-negara berhukum non
Islam. Indikasi keberhasilan teori ini
diperlihatkan dengan keadaan umat sebagai
berikut :
1. Umat Islam geraknya tak tentu arah, dan
berserakan pada berbagai institusi, misalnya di
Lembaga dan pegawai Negara, diberbagai Orpol,
Ormas, Yayasan dan kegiatan pada aspek kecil
sampai pada pernyataan bahwa “masalah agama
adalah masalah pribadi”
2. Umat Islam disuatu Negara tidak memiliki
pemimpin intern, tak jelas jenjang kepemimpinan-
nya, tak jelas jumlah umatnya, tak jelas asnafnya,
tak jelas jumlah ulamanya, tak jelas tugas
wewenang dan tanggung jawabnya.
4. Umat Islam disuatu Negara tidak memiliki
jumlah ulama, tak memiliki kurikulum, tak
memiliki masalah bersama dan tidak dapat
memecahkan masalah secara bersama.
5. Umat Islam terpecah pada beberapa istilah (di
Indonesia ada : ulama, ustadz, mubaligh, da`i,
tokoh Islam, cendekiawan muslim, guru agama,
mualim dsb). Tidak jelas apa yang digarap dan
tidak jelas wilayah tugas, wewenang dan
tanggung jawabnya, senang diundang, senang
dipentas dipermukaan.
5. Umat Islam disuatu Negara tidak memiliki
program, tak memiliki dana bersama, tak
jelas sumber dananya.
6. Umat Islam disuatu Negara bergerak
dibidang kajian masalah dan bukan
melakukan uji masalah.
7. Umat Islam disuatu Negara, bergabung
pada situasi senang membaca sejarah dan
tidak mau menjadi pelaku sejarah.
Seperti telah dijelaskan oleh Nabinya bahwa sumber dana perjuangan
Islam terdiri dari dua sumber.
1. Infaq sabilillah, yaitu dana untuk membuat management Islam
2. Zakat, yaitu dana untuk memelihara & membina umat. Menurut
Islam “zakat” dilaksanakan setelah management leadership umat
Islam di suatu wilayah mantap. Maka cara penghancuran kedua jenis
sumber dana perjuangan umat Islam di arahkan kepada pengacak-
acakan akan terjadi pada keuangan umat, baik bersatunya keuangan
pembentukan management leadership umat Islam (dari sumber
infaq sabilillah) maupun mengacak-acakan sumber keuangan zakat
(sumber dana pemeliharaan dan pembinaan umat Islam) Teori ini
sangat effektif bagi pembasmian dan penumpasan umat Islam
disuatu Negara atau di dunia yang belum memiliki pimpinan dan
kepemimpinan. Teori ini terdiri dari 9 langkah yaitu :
Langkah pertama. Jauhkan umat Islam berfikir
untuk mempersatukan management personalia dan
management keuangan umat melalui tidak diberi
kesempatan memiliki pemimpin umat dalam satu
wilayah hukum Negara.
Langkah kedua. Tangani sumber keuangan umat
melalui berbagai institusi Negara, Orpol, Ormas,
Yayasan, LSM, dengan menciptakan program baru,
misalnya zakat fitrah, infaq, sadaqah, haji,
pernikahan, waris, wakaf, hibah dll.
Langkah ketiga. Hindari umat Islam untuk
memiliki bank sendiri, agar semua keuangan
mereka berada pada bank-bank negara atau swasta
nasional.
Langkah keempat. Buat tandingan kegiatan
(institusi) untuk mengurus berbagai kegiatan
ekonomi, pendidikan dan social yang menghasilkan
keuangan dari umat Islam, untuk membantu
masyarakat umum, misalnya, panti jompo, panti
asuhan, anak yatim, lembaga bea siswa dsb, agar
keuangan umat Islam terpencar tak menyatu.
Langkah kelima. Dorong umat Islam disuatu
wilayah tingkat desa, agar membuat banyak proyek,
misalnya pembuatan masjid, musholah, madrasah
dan gedung pesantren, pemugaran, pelebaran
masjid atau mushola, sehingga sumber dana umat
dalam desa tersebut terkuras habis, tercecer dan
tidak menyatunya keuangan umat untuk satu arah.
Langkah keenam. Dorong umat Islam di berbagai institusi
secara (department), Orpol, Ormas, Yayasan, BUMN,
perusahaan-perusahaan milik umat Islam atau perusahaan
non muslim yang mayoritas karyawannya orang Islam,
masjid-masjid untuk mengumpulkan zakat umat Islam
disuatu Negara agar tidak terkumpul dalam suatu baitul
mall wilayah. Dengan demikian mereka memberikan
zakatnya tanpa menghitung asnaf dan jumlah per asnaf
dalam suatu wilayah, kemudian tekan lewat kewajiban
pajak.
Langkah ketujuh. Dorong umat Islam untuk bisnis
berpartner dengan kita, dan menyimpan permodalannya di
bank milik kita, sehingga uang mereka biasa digunakan
untuk melumpuhkan ekonomi mereka.
Langkah kedelapan. Manopoli barang produksi
seperti bahan mentah, logam mulia, hasil bumi,
kertas, pakaian, makanan, obat-obatan, export dan
import, agar keuangan umat Islam terserap kepada
kita semua.
Langkah kesembilan. Kembangkan asuransi dengan
berbagai nama, dan serap tenaga kerja dari umat
Islam sendiri sehingga keuangan umat Islam
terserap dan terkumpul pada kita dan dapat kita
gunakan untuk melumpuhkan mereka.
Langkah Pertama.
Pemungsian Undang-Undang, peraturan tentang
lisensi / perizinan & pendekatan kpd departemen
untuk menangani lisensi / perizinan, misalnya :
a. Izin pembentukan orpol, ormas, yayasan, kursus
dibidang pendidikan dll.
b. Izin pembentukan Usaha Perdagangan
Domestic, Koperasi, PT, CV, Export-Import,
Bank, bidang ekonomi dll.
c. Izin pembentukan rumah sakit, poliklinik, balai
pengobatan, praktek dokter dll di bidang
kesehatan
e. Izin pemilikan barang dari mewah sampai barang
digunakan umum (pemerintah)
f. Izin membangun gedung, rumah, rumah ibadah dll,
dibidang tata kota dan lingkungan.
g. Izin penggunaan barang milik pribadi dibidang
transportasi
g. Izin mengemukakan pendapat di depan umum,
muktamar, konperensi, seminar, pidato, siaran radio,
televisi, penerbit, majalah, pemasangan merek,
hiburan, periklanan dll.
h. Izin lewat, retribusi dan distribusi.
i. Izin memasuki kantor, pusat perdagangan dan izin
parkir
j. Izin nikah dll.
Semua perizinan tersebut disarankan
menghasilkan uang dari umat
Islam bagi Negara.
Teori ini dimaksudkan agar lebih
menguras mengacak-acak keuangan
umat Islam selain untuk membatasi
gerakan umat Islam
4 Langkah Pelumpuhan
Gerakan Islam
Langkah pertama.
Biayai dan dorong ulama dengan uang agar
membuat fatwa yang dapat menjinakkan
gerakan ulama dan umat lainnya.
Langkah kedua
Dekati pengusaha muslim agar tidak
memberikan dukungan terhadap gerakan
umat yang berbau Islam dan hembuskan
kepada mereka bahwa Islam itu identik
dengan sumbangan social dan Islam itu
membahayakan kepada martabat & usahanya.
Langkah ketiga
Deteksi semua gerakan dan kevokalan
tokoh, ulama Islam, catat dan monitor
untuk tindakan lanjutan.
Langkah keempat
Tangkap umat Islam yg anti demokrasi,
kucilkan atau bunuh yang hendak
menggantikan hukum Negara.
Tahap ini terdiri dari tiga langkah.
Pada umumnya keadaan umat Islam pada
tahap ini telah porak poranda keadaannya
yang ditandai dengan empat tiga (4-3)
Yang empat (4) yaitu :
Yang Empat (4) Yaitu :
Pertama : Umat Islam yang menjadi penguasa
negara sudah zalim (tidak dapat menempatkan
sesuatu pada tempatnya), mereka tidak dapat
membedakan mana perintah Allah swt, mana
perintah rakyat, perintah kawan didekatnya, mana
perintah Tuhannya dan mana yang benar menurut
umumnya serba terima, tidak memperhatikan
keadaan rakyatnya. Apalagi memperhatikan nasib
Islam dan umat Islam yang dipeluknya di
negaranya, malah mereka menjadi penghalang bagi
tegaknya hukum Islam dan menjadi musuh Islam.
Kedua : Umat Islam yang menjadi
pengusaha atau pedagang sudah menjadi
penghianat. Mereka melakukan korupsi,
pencurian, penyuapan, pemerkosaan
penipuan, sampai tingkat penjambretan dan
pencopetan.
Ketiga : Umat Islam yang kaya, kikir dan
tidak mau tahu nasib di lingkungannya.
Mereka membuat rumah mewah di
lingkungan masyarakat lemah yang kumuh.
Banyak rumah yang dipagar besi dan dijaga
satpam.
Keempat : Umat Islam yang menjadi tokoh,
ulama, kiyai, da`i, mubaligh, dan guru agama
dengki kepada sesama ulama (dengki kepada
se profesi), sulit bersatu dan saling silang
pendapat dan tidak memikirkan kebodohan
umat dan kemurnian agama. Mereka senang
diundang dan ditampilkan di media massa,
berebut tarif di tempat suci (masjid).
Pendengar dan pendukungnya di depan
mimbar bukan umat Islam di tetangganya.
Yang Tiga (3), Yaitu :
1. Umat Islam bagaikan serigala saling makan
dengan sesamanya, karena tidak ada
pemimpinnya.
2. Umat Islam sudah tidak dapat membedakan
mana perintah dan larangan agama, mana
tanggung jawab pribadi dan mana tanggung jawab
bersama. Mereka lebih memperhatikan pribadi dan
pergaulan dari pada kepentingan perintah agama,
tidak ada ulama yang dapat difigurkan dan saling
menyesatkan.
3. Umat Islam menginjak-injak ajaran
Islam dengan bangga, misalnya
melakukan do`a sambil bernyanyi dan
berjoget, mengucapkan Allah swt
(kalimat thoyibah) di dalam film dan
sinetron (atas perintah sutradara),
bersumpah di bawah Al Qur`an untuk
melaksanakan ajaran dan hukum non
muslim, menjual agama dan suara umat
Islam demi kepentingan kedudukan dsb.
Pertahankan dan perketat agar umat Islam tetap
berada dalam berbagai institusi (Negara, orpol,
ormas, yayasan, bergerak diberbagai aspek, bekerja
diberbagai perusahaan seperti BUMN, swasta,
swasta nasional dan swasta asing, serta pabrik atau
indistri) yang bekerja dengan jam kerja yang
panjang dan bersip-sip, sehingga mereka sulit
berkumpul dan bersatu, terutama di siang hari.
Putuskan hubungan generasi tua dan generasi muda secara
total dan tumbuhkan berbagai organisasi kepemudaan dan
padatkan kegiaatan mereka dengan kegiatan ektra agar
semarak kegiatan seremonial diberbagai kelompok
(politik, ekonomi, social, pendidikan, seni dan budaya),
misalnya konfrensi, muktamar, seminar, symposium, hari
ulang tahun, hari peringatan berbagai aspek, mode,
fashion, berbagai perlombaan, pentas drama, pentas music
dan periklanan usaha, pertemuan kesukuan dan kegiatan
lain untuk mengisi hari libur dan hari-hari besar nasional.
Taktis pelumpuhan kekuatan Islam dan
umat Islam disuatu Negara dan dunia
dalam rangka langkah yang ketiga ini
adalah langkah terakhir dari teori
pembasmian penumpasan umat Islam.
Ada beberapa teknik pembasmian gerakan umat Islam, a.l :
Taktik Main Yoyo
Pemerintah dengan secara diam-diam dan sangat rapih
melemparkan gagasan melalui kekuatan militer spionase
kepada ulama, mujahid, umat Islam yang vocal yang
diperkirakan ekstrim untuk membuat rencana gerakan
subversi terhadap pemerintah. Taktis ini digunakan
pemerintah untuk mengumpan kawan-kawan ulama,
mujahid, umat Islam yang vocal yg belum diketahui pasti.
Bila telah diketahui pasti semua kawan-kawannya, mereka
ditangkap & dijebloskan kepenjara sebagai tawanan politik
Taktik Main Bilyar.
Pemerintah menggunakan kekuatan non muslim atau
serpihan kelompok Islam untuk memberi kekuatan
keuangan, perhatin dan jaminan perlindungan kepada
kekuatan non Islam atau kelompok Islam untuk
menggulingkan kekuatan umat Islam lain, sehingga bahaya
kekuatan kelompok Islam yang hendak menyerang
pemerintah tidak terjadi.
Taktik Main Kartu.
Pemerintah memberi kekuatan, keuangan, pembinaan dan
perlindungan kepada semua kelompok penganut agama
agar kelompok Islam tidak membuat gerakan pemerintah,
karena merasa diperlakukan adil oleh pemerintah,
sehingga kebencian umat Islam terhadap permerintah
berkurang.
Falsafah Aritmatika (Demokrasi)
Yaitu falsafah tambah, kurang, kali, bagi, sama
dengan, artinya yang terbanyak adalah yang
menang sesuai dengan kesepakatan. Teori ini
sangat efektif digunakan bagi Negara non Islam
yang berpenduduk mayoritas Islam.
Taktik Rimba Atau Palu Arit.
Yang lemah disantap. Siapa berani memberontak
ditumpas. Siapa berani berbuat makar dibabad.
Taktik Lintah.
Siapa berani dekat diisap.
Bagi Umat Islam Yang Telah Berpemimpin Di
Negara Yang Diberlakukan Syari`at Islam, Maka
Penghancurannya Sebagai Berikut :
1. Usahakan pergantian sistem Negara dan hukum,
agar menjadi Negara demokrasi murni dan sekuler.
2. Tumbuhkan dan perbanyak orpol di lingkungan
umat Islam.
3. Adu domba pemimpin Islam dan pemimpin
partai Islam agar masing-masing memiliki
simpatisan terpisah.
4. Dukung partai Islam yang anti hukum Islam atau
umat yang demokrat dengan berbagai fasilitas dan
kemudahan.
1. Persempit masa jabatan pemerintah Islam
agar sering berganti pimpinan dan bila
Negara berbentuk kerajaan, hasut
keluarganya agar terjadi kedengkian antar
anggota keluarga.
6 . Kuasai sumber ekonomi dan perdagangan.
7. Pinjami keuangan yang tak mungkin dapat
membayar dalam waktu singkat, sehingga
tetap ada ketergantungan.
8. Ikat hasil produk eksportnya dengan
kontrak pembayaran hutang
9. Kendalikan ketergantungan ekonomi dan
tekan politik. Kacaukan rakyat dan tawari
senjata.
10. Sebarkan teknologi, manjakan masyrakat-
nya dan sebarkan sarana yang dapat mereka
berbuat maksiat kepada agama & sesamanya.
11. Ajak pemuda dan remaja agar sekolah di
luar negeri dan sering berlibur keluar negeri.
12. Kuasai dan kendalikan pejabat negaranya
dan perbudak rakyatnya.
TAHAPAN PENANGANAN &PERTAHANKAN
HASIL
Pertahankan kemenangan kita, deteksi dan kepung
posisi mereka diberbagai bidang, tekan terus, jangan
sampai bersatu dan berpemimpin (satu komando)
dalam satu wilayah, acak-acak keuangan dan sumber
keuangannya.
KESIMPULAN
Sempurnalah sudah kehancuran umat Islam, tanpa
terasa oleh mereka, sulit untuk bangun dan sulit untuk
membangun Islam, sehingga mau berbuat tak
memiliki bahan, mau membeli tak memiliki uang, dan
mau merebut, tak memiliki tangan (management)
Teori membasmi & menumpas umat islam

Teori membasmi & menumpas umat islam

  • 1.
  • 3.
    Langkah pertama. Desaksemua negara untuk menganut teori demokrasi. Sebab dengan negara menganut teori demokrasi, negara akan berbentuk parlementer, dengan system parlementer, maka umat Islam akan bersaing memperebutkan kekuasaan keputusan negara dengan non muslim. Langkah kedua. Berikan kebebasan kepada umat Islam untuk membuat orpol. Dengan diberikan kebebasan kepada umat Islam untuk membuat orpol, umat Islam bisa bersaing dengan sesamanya untuk kepentingan orpol dan melupakan kemenangan Islam dan umat Islam. Dengan demikian umat Islam akan cakar-cakaran dengan sesama mereka, karena orpol yang dibuatnya.
  • 4.
    Langkah ketiga. Berikebebasan kepada umat Islam untuk membuat ormas. Maka akan tampak perpecahan diantara kekuatan Islam & umat Islam melalui kebebasan membuat ormas. Dengan kebebasan membuat ormas, umat Islam akan berlomba-lomba membuat ormas, sehingga umat Islam akan pecah dan cakar-cakaran karena ormas yang mereka bentuk. Langkah keempat. Beri kebebasan kepada umat Islam untuk membuat yayasan-yayasan atau lembaga pendidikan dan pesantren. Setelah nampak perpecahan karena orpol dan ormas, saatnya kita beri kebebasan mereka membuat yayasan- yayasan. Sebab dengan diberikan kebebasan membuat yayasan- yayasan, maka umat Islam akan berlomba membuat berbagai yayasan, berbagai kegiatan sosial dan pendidikan. Ini diharapkan disuatu wilayah desa atau perkotaan, umat Islam akan bersaing dengan sesamanya berebut lahan atau siswa dan simpatisan demi kemajuan yayasan masing-masing, tanpa menghiraukan kemajuan yayasan saudaranya yang lain di wilayah dan aspek yang sama.
  • 5.
    Langkah kelima. Berikebebasan pentas di atas panggung. Setelah tampak perpecahan kekuatan Islam dan umat Islam lewat perbedaan orpol, ormas, yayasan, aspek pendidikan dan social, itulah saatnya diberikan kebebasan pentas di atas panggung atau siaran, dengan cara mendesak umat Islam kearah pementasan tokoh-tokohnya ke panggung atau siaran. Teori ini diharapkan agar menumbuhkan rasa tinggi status social para tokoh Islam diantara tokoh Islam lainnya, dan akan mengecilkan wibawa tokoh Islam yang ada di wilayah domisili umat. Dengan cara ini akan muncul tokoh kondang bertarap menengah dan tokoh Islam yang bertarap rendah di tempat domisilinya, yang mengajar Islam kepada masyarakat tanpa dibayar. Dengan demikian akan terjadi persaingan antar tokoh Islam dan bisa cakar-cakaran antar tokoh dan memperebutkan lahan dakwah.
  • 6.
    Langkah keenam. Berikebebasan kepada masyarakat Islam agar membuat seminar-seminar. Teori ini akan menyebabkan panitia seminar mengundang tokoh Islam untuk membahas ajaran Islam, tanggapan Islam terhadap situasi dan suasana yang ada, sehingga mata dan pandangan mata umat Islam terfokus kepada masalah masalah umum yang global dan lupa memperhatikan nasib umat di tempat domisilinya, demi kepentingan individu atau keluarga muslim khususnya. Langkah ketujuh. Beri kebebasan kepada masyarakat Islam untuk mengundang tokoh Islam demi kepentingan individu atau keluarga muslim. Hidupkan kebiasaan umat Islam untuk mengundang tokohnya ke rumah individu atau keluarga muslim, agar tokoh Islam tersebut habis waktunya untuk mendukung individu atau keluarga muslim, sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan Islam dan umat Islam secara global.
  • 7.
    Langkah kedelapan. Berikansanjungan dan penghargaan kepada tokoh-tokoh dan ulama Islam dalam bentuk penyediaan fasilitas hidup, juga kepada sebagian yayasan atau ormas atau orpol Islam yang mendukung teori demokrasi, agar dapat memicu atau mengumpan tokoh, ulama, yayasan, ormas dan orpol Islam lainnya, agar mereka merasa dibesarkan atau dikecilkan dimasyarakat, sehingga terjadi kerenggangan hubungan antar sesama mereka. Langkah kesembilan. Dekati tokoh Islam yang memegang jabatan strategis di dalam institusi atau Negara, untuk mendesak membuat fatwa atau statemen yang dapat menjinakkan umat Islam lain yang berhaluan keras.
  • 8.
    Langkah kesepuluh. Lumpuhkantokoh atau ulama dan kelompok umat Islam yang komit terhadap ajaran dan hukum Islam. Teori ini digunakan atau dilaksanakan dalam keadaan Negara dan demokrasi dirongrong umat Islam dalam bentuk pembunuhan tokoh atau ulama kondang yang telah dicatat dan diditeksi sebelumnya.
  • 10.
    Langkah pertama :Hindarkan dan cegah ulama Islam membagi wilayah binaan umat dan dorong mereka untuk berebut umat, pendukung dan simpatisan dalam wilayah yang tak terbatas, sehingga tidak jelas bagi mereka, tugas, wewenang dan tanggungjwabnya. Langkah kedua : Budayakan mengundang dan memberikan penghargaan kepada tokoh / ulama yg pinter bicara & jumlah tarif yang menggairahkan, agar dapat merangsang tokoh Islam / ulama untuk berlomba mencari harta dan ketenaran di depan pengikutnya, sehingga mereka tidak merasa kerasan membina di lingkungannya sendiri.
  • 11.
    Langkah ketiga :Pentaskan tokoh Islam / ulama yang pandai berbicara dan menarik masyarakat di depan tokoh / ulama / masyarakat, untuk meng- hancurkan wibawa tokoh / ulama lokal. Langkah keempat: Berikan kepada tokoh / ulama Islam kesibukan diluar wilayah domisilinya atau dorong orang Islam berduit untuk membuat lembaga pendidikan, yang akan ditunggu oleh tokoh atau ulama Islam tsb di wilayah domisilinya, sehingga tokoh atau ulama tsb tidak punya waktu untuk mengajar masyarakat Islam di lingkungan- nya, karena kesibukan di luar dan atau di dalam lembaga pendidikan yang ditunggunya.
  • 12.
    Langkah kelima :Panggil ulama ke rumah untuk mengajar Islam dengan cara prifat dan berikan tarif bayaran yang lebih tinggi dibanding dengan tarif mengajar di masyarakat, sehingga tidak ada kesempatan bagi tokoh Islam / ulama untuk mengajar di lingkungannya. Langkah keenam : Tawari tokoh Islam / ulama kondang suatu kedudukan, jabatan atau peranan penting di lingkungan kenegaraan, sehingga mereka menganggap kecil kepada tokoh Islam / ulama atau umat Islam lainnya.
  • 13.
    Langkah ketujuh :Gilirkan para tokoh Islam / ulama dalam satu mimbar masyarakat pendengar yang sama, perhatikan perbedaan pendapatnya dan tumbuhkan perbedaan pendapat mereka di depan masyarakat muslim, sehingga masyarakat bingung memilih mana yg benar & mana ulama panutannya. Langkah kedelapan : Tumbuh suburkan Orpol, Ormas dan LSM, dan seret mereka agar memasuki Orpol, Ormas dan LSM berbeda-beda, sehingga mereka melakukan kegiatan yang sama pada manejemen yang berbeda.
  • 14.
    Langkah kesembilan :Fitnah, tangkap & penjarakan tokoh Islam / ulama dalam waktu yang lama, agar tidak banyak bersentuhan dgn umat Islam atau pengikutnya. Hembusin kepada masyarakat lingkungannya, bahwa mereka telah kena kasus pidana / subversi dan tidak mendekatinya , agar tidak menimbulkan isu terlibat. Langkah kesepuluh. Hancurkan sumber keuangan ulama, agar mereka senantiasa bergantung kepada sumbangan umat simpatisannya. Langkah kesebelas. Hindarkan atau halangi tokoh Islam atau ulama, agar tidak mempersatukan umat Islam dan membentuk kepemimpinan Islam disuatu wilayah.
  • 16.
    Langkah Pertama. Dekatipara mujahid dengan cara tak kentara, misalnya pura-pura menjadi mujahid atau simpatisan perjuangan Islam. Langkah kedua. Masuklah ke dalam gerakan dan komando mereka tanpa mencurigakan. Diteksi dan catat data kekuatan personil, markas dan rencana mereka. Langkah ketiga. Tawarkan diri untuk berjuang bersama untuk meyakinkan penyidikan sebagai bahan untuk mengungkit dan menginterogasi.
  • 17.
    Langkah keempat. Tawarkandukungan janji setia dan bantuan dukungan keuangan dan amunisi. Langkah kelima. Pegang sasaran, ketahui rencana waktu gerakan & markasnya. Buat acara sandiwara yang sama diluar wilayah sasaran mujahid sebelum waktu yg mereka rencanakan/tetapkan. Langkah keenam. Umpan mereka dengan kata- kata jihad dan kesediaan membantu penyediaan logistic dan amunisi. Langkah ketujuh. Ketahui personil, tempat berkumpul dan tempat latihan mujahid dgn pasti.
  • 18.
    Langkah kedelapan. Hantammereka sebelum hari H, aksi gerakan terornya dengan kekuatan personil dan amunisi. Langkah kesembilan. Tangkap gembong mujahid, penjarakan dalam waktu yang lama, sehingga pengikutnya kehilangan komando. Langkah kesepuluh. Sogok tokoh Islam / ulama yang sudah jinak dengan uang yang menggiurkan untuk memberikan fatwa kepada masyarakat Islam bahwa mujahid itu aliran sesat.
  • 19.
    Langkah kesebelas. Tangkapgembong mujahid, beri kedudukan semi strategis dan lengkapi fasilitas hidup keluarganya untuk mengungkap semua rahasianya dan jumlah kawan-kawannya. Langkah keduabelas. Bunuh para mujahid dengan membeli tangan kawan-kawannya atau oleh kekuatan Negara. Langkah ketigabelas. Awasi pejuang dibawah tanah dgn pendektesian melalui kawannya yang dipermukaan.
  • 20.
    Langkah keempatbelas. Culikdan bunuh para mujahid untuk meredakan dan menakut- nakuti umat Islam lainnya. Langkah kelimabelas. Mandikan gembong mujahid dengan uang dan penghargaan. Dekati sanak keluarganya dengan penuh hormat dan senyum agar bisa mengungkap rahasia perjuangan dan kawan-kawan dari suami mereka.
  • 23.
    Langkah pertama. Jauhkanumat Islam dari Al Qur`an dan Hadits nabinya, dan terbitkan buku- buku pedoman (rukun Islam atau fiqih) yang telah diterjemahkan. Langkah kedua. Hindarkan pelajaran Al Qur`an dan hadits Nabi masuk ke sekolah-sekolah formal, agar mereka tidak mengetahui tentang ajaran Islam, perintah dan larang Tuhannya. Langkah ketiga. Dorong para tokoh Islam dan ulama & sarjana agama Islam untuk jadi pengarang & memperbanyak karangannya ttg ajaran Islam, sehingga masyarakat Islam tidak mau mempelajari ajaran Islam dari sumbernya (Al Qur`an & Hadits)
  • 24.
    Langkah keempat. Kisahkanbeberapa surat Al Qur`an ke dalam buku-buku kecil untuk mengecilkan surat lain & kisahkan bab pembahasan ajaran, aturan dan hukum Islam kedalam buku-buku kecil yang terpisah (bab ttg kekholifahan, politik, social, ekonomi & pendidikan dll), agar mereka tidak mengetahui Islam secara keseluruhannya, serta menganggap diantara surat Al Qur`an ada yang lebih tinggi derajatnya. Langkah kelima. Pisahkan penafsiran Al Qur`an dengan Hadits nabi melalui peninggian derajat Al Qur`an dari Hadits Nabi. Dan tumbuhkan pandangan kepada mereka bahwa Hadits dho`if tidak terpakai, sehingga mereka ber-Tuhan tak ber-Nabi. .
  • 25.
    Langkah keenam. Tumbuhkanpelajaran seni membaca Al Qur`an sehingga mereka tekun kepada memperbaiki suara, ilmu lagu, irama dan tidak menyimak artinya, serta senang menyanyikan surat tertentu dari Tuhan mereka. Langkah ketujuh. Perbanyak acara festifal perlombaan sani baca Al Qur`an dan tulisan kaligrafi, serta beri hadiah yang menggiurkan bagi pemenangnya, agar dapat merangsang masyarakat Islam lain ikut tekun pada seni baca dan lagu daripada isinya. Langkah kedelapan. Pisahkan lembaga pendidikan negeri & swasta, pisahkan lembaga pendidikan swasta yang mengajarkan mata ajaran umum & ajaran Islam.
  • 26.
    Langkah kesembilan. Tumbuhkanpemahaman kepada masyarakat bahwa semua agama itu baik dan benar. Semua agama mengajarkan kebaikan bagi manusia. Langkah kesepuluh. Ciptakan aturan / perundang- undangan yang dapat memperuncing perbedaan antar umat Islam, dan biarkan perbedaan itu menjadi polemic diantara mereka, sehingga menjadi kasus dan permusuhan yang tak kentara diantara mereka. Langkah sesebalas. Tumbuhkan pemahaman kepada umat Islam bahwa agama itu hanya untuk hari akhirat saja.
  • 27.
    Langkah keduabelas. Dorongmereka dan lembaga pendidikan Islam / Pesantren untuk menyeleng- garakan dan mempelajari ilmu sihir dan kekebalan dengan alasan untuk bela diri dari serangan luar, dan bukan melakukan persiapan bela diri dari neraka. Langkah ketigabelas. Jauhkan umat Islam dari kewajiban pertamanya yaitu bersatu, berpemimpin intern dalam satu wilayah, mengetahui jumlah dan data keadaan umat dan program bersama.
  • 28.
    Langkah keempatbelas. Permudahperizinan pembentukan Organisasi, Orpol, Ormas, Lembaga pendidikan, sosial atau yayasan, agar mereka berjalan pada arah yang berbeda-beda. Langkah kelimabelas. Hindarkan umat Islam bersatu dan berkepemimpinan (satu komando) dalam setiap pelaksanaan rukun Islam dengan memfigurkan sebagian tokoh / ulama atau memfigurkan sebagian Orpol atau Ormas yang ada pada umat Islam.
  • 29.
    Langkah keenambelas. Hidupkanadat istiadat dan kebudayaan daerah yg dianggap mereka suatu yang ritual seperti acara peringatan maulid, rajaban, asyuro, tahlilan, yasinan, acara dzikir berjamaan dll, agar umur mereka habis dengan acara rutin tersebut dan keuangan umat tidak pernah bersatu. Langkah ketujuhbelas. Tangani segala pelaksanaan intern umat yg menghasilkan uang (infaq, sadaqah, zakat mall, zakat fithrah, pernikahan, waris, wakaf dan hibah haji / qurban) oleh lembaga Negara, sehingga kekuatan dan sumber pembangunan Islam tercecer dan berserakan dan salah guna.
  • 31.
    Langkah pertama. Jauhkan pergaulananak dari pusat pendidikan dan pengajaran Islam melalui pementasan berbagai bentuk hiburan dan tontonan bagi telinga maupun bagi mata. Langkah kedua. Jauhkan pergaulan orang dewasa dari pusat pendidikan dan pengajaran Islam melalui pementasan berbagai bentuk hiburan, pemadatan jadwal olah raga, jadwal dan jam kerja, kerja industri, acara pertemuan seminar dan wisata.
  • 32.
    Langkah ketiga. Persulit terjadinyapertemuan masyarakat untuk membahas ilmu agama melalui acara selamatan, ulang tahun, pesta adat dan latihan seni suara dan music. Langkah keempat. Berikan kepada mereka kebebasan berbicara dan berpendapat sehingga mereka berbicara masalah agama berdasarkan pendapat dan pikirannya.
  • 33.
    Langkah kelima. Angkat masalahkak azasi kepermukaan sehingga mereka merasa bebas melakukan sesuatu sekehendaknya dan tidak terikat dan malu sesama. Langkah keenam. Gubah selera orang agar membanggakan hasil karyanya dan hasil penemuannya sendiri. Hargai mereka dengan penghargaan seremonial, sehingga mereka terpicu untuk mencari penemuan baru dan menciptakan produk baru dan tak memperhatikan perintah Tuhan mereka.
  • 34.
    Langkah ketujuh. Seret orangkearah kebutuhan konsumtif, manopoli sumber produksinya. Manopoli pasar barang konsumtif dengan cara simultan. Timbun barang yang sangat dibutuhkan orang. Simpan logam mulya dan uang pada bank swasta. Persulit perkreditan dengan persyaratan ketat dan tawari pinjaman dan kerjasama sehingga mereka bergantung dalam segala aspek, dengan demikian mereka dapat diarahkan kepada kehendak kita.
  • 35.
    Teori konsep prinsipdan cara pencegahan dan penghadangan ini sangat efektip bagi Negara berhukum non Islam, baik yang umat Islamnya telah bersatu dan pemimpin intern, lebih-lebih bagi umat Islam yang belum pernah bersatu dan berpemimpin intern dan berada di negara-negara berhukum non Islam. Indikasi keberhasilan teori ini diperlihatkan dengan keadaan umat sebagai berikut :
  • 36.
    1. Umat Islamgeraknya tak tentu arah, dan berserakan pada berbagai institusi, misalnya di Lembaga dan pegawai Negara, diberbagai Orpol, Ormas, Yayasan dan kegiatan pada aspek kecil sampai pada pernyataan bahwa “masalah agama adalah masalah pribadi” 2. Umat Islam disuatu Negara tidak memiliki pemimpin intern, tak jelas jenjang kepemimpinan- nya, tak jelas jumlah umatnya, tak jelas asnafnya, tak jelas jumlah ulamanya, tak jelas tugas wewenang dan tanggung jawabnya.
  • 37.
    4. Umat Islamdisuatu Negara tidak memiliki jumlah ulama, tak memiliki kurikulum, tak memiliki masalah bersama dan tidak dapat memecahkan masalah secara bersama. 5. Umat Islam terpecah pada beberapa istilah (di Indonesia ada : ulama, ustadz, mubaligh, da`i, tokoh Islam, cendekiawan muslim, guru agama, mualim dsb). Tidak jelas apa yang digarap dan tidak jelas wilayah tugas, wewenang dan tanggung jawabnya, senang diundang, senang dipentas dipermukaan.
  • 38.
    5. Umat Islamdisuatu Negara tidak memiliki program, tak memiliki dana bersama, tak jelas sumber dananya. 6. Umat Islam disuatu Negara bergerak dibidang kajian masalah dan bukan melakukan uji masalah. 7. Umat Islam disuatu Negara, bergabung pada situasi senang membaca sejarah dan tidak mau menjadi pelaku sejarah.
  • 40.
    Seperti telah dijelaskanoleh Nabinya bahwa sumber dana perjuangan Islam terdiri dari dua sumber. 1. Infaq sabilillah, yaitu dana untuk membuat management Islam 2. Zakat, yaitu dana untuk memelihara & membina umat. Menurut Islam “zakat” dilaksanakan setelah management leadership umat Islam di suatu wilayah mantap. Maka cara penghancuran kedua jenis sumber dana perjuangan umat Islam di arahkan kepada pengacak- acakan akan terjadi pada keuangan umat, baik bersatunya keuangan pembentukan management leadership umat Islam (dari sumber infaq sabilillah) maupun mengacak-acakan sumber keuangan zakat (sumber dana pemeliharaan dan pembinaan umat Islam) Teori ini sangat effektif bagi pembasmian dan penumpasan umat Islam disuatu Negara atau di dunia yang belum memiliki pimpinan dan kepemimpinan. Teori ini terdiri dari 9 langkah yaitu :
  • 41.
    Langkah pertama. Jauhkanumat Islam berfikir untuk mempersatukan management personalia dan management keuangan umat melalui tidak diberi kesempatan memiliki pemimpin umat dalam satu wilayah hukum Negara. Langkah kedua. Tangani sumber keuangan umat melalui berbagai institusi Negara, Orpol, Ormas, Yayasan, LSM, dengan menciptakan program baru, misalnya zakat fitrah, infaq, sadaqah, haji, pernikahan, waris, wakaf, hibah dll. Langkah ketiga. Hindari umat Islam untuk memiliki bank sendiri, agar semua keuangan mereka berada pada bank-bank negara atau swasta nasional.
  • 42.
    Langkah keempat. Buattandingan kegiatan (institusi) untuk mengurus berbagai kegiatan ekonomi, pendidikan dan social yang menghasilkan keuangan dari umat Islam, untuk membantu masyarakat umum, misalnya, panti jompo, panti asuhan, anak yatim, lembaga bea siswa dsb, agar keuangan umat Islam terpencar tak menyatu. Langkah kelima. Dorong umat Islam disuatu wilayah tingkat desa, agar membuat banyak proyek, misalnya pembuatan masjid, musholah, madrasah dan gedung pesantren, pemugaran, pelebaran masjid atau mushola, sehingga sumber dana umat dalam desa tersebut terkuras habis, tercecer dan tidak menyatunya keuangan umat untuk satu arah.
  • 43.
    Langkah keenam. Dorongumat Islam di berbagai institusi secara (department), Orpol, Ormas, Yayasan, BUMN, perusahaan-perusahaan milik umat Islam atau perusahaan non muslim yang mayoritas karyawannya orang Islam, masjid-masjid untuk mengumpulkan zakat umat Islam disuatu Negara agar tidak terkumpul dalam suatu baitul mall wilayah. Dengan demikian mereka memberikan zakatnya tanpa menghitung asnaf dan jumlah per asnaf dalam suatu wilayah, kemudian tekan lewat kewajiban pajak. Langkah ketujuh. Dorong umat Islam untuk bisnis berpartner dengan kita, dan menyimpan permodalannya di bank milik kita, sehingga uang mereka biasa digunakan untuk melumpuhkan ekonomi mereka.
  • 44.
    Langkah kedelapan. Manopolibarang produksi seperti bahan mentah, logam mulia, hasil bumi, kertas, pakaian, makanan, obat-obatan, export dan import, agar keuangan umat Islam terserap kepada kita semua. Langkah kesembilan. Kembangkan asuransi dengan berbagai nama, dan serap tenaga kerja dari umat Islam sendiri sehingga keuangan umat Islam terserap dan terkumpul pada kita dan dapat kita gunakan untuk melumpuhkan mereka.
  • 47.
    Langkah Pertama. Pemungsian Undang-Undang,peraturan tentang lisensi / perizinan & pendekatan kpd departemen untuk menangani lisensi / perizinan, misalnya : a. Izin pembentukan orpol, ormas, yayasan, kursus dibidang pendidikan dll. b. Izin pembentukan Usaha Perdagangan Domestic, Koperasi, PT, CV, Export-Import, Bank, bidang ekonomi dll. c. Izin pembentukan rumah sakit, poliklinik, balai pengobatan, praktek dokter dll di bidang kesehatan
  • 48.
    e. Izin pemilikanbarang dari mewah sampai barang digunakan umum (pemerintah) f. Izin membangun gedung, rumah, rumah ibadah dll, dibidang tata kota dan lingkungan. g. Izin penggunaan barang milik pribadi dibidang transportasi g. Izin mengemukakan pendapat di depan umum, muktamar, konperensi, seminar, pidato, siaran radio, televisi, penerbit, majalah, pemasangan merek, hiburan, periklanan dll. h. Izin lewat, retribusi dan distribusi. i. Izin memasuki kantor, pusat perdagangan dan izin parkir j. Izin nikah dll.
  • 49.
    Semua perizinan tersebutdisarankan menghasilkan uang dari umat Islam bagi Negara. Teori ini dimaksudkan agar lebih menguras mengacak-acak keuangan umat Islam selain untuk membatasi gerakan umat Islam 4 Langkah Pelumpuhan Gerakan Islam
  • 50.
    Langkah pertama. Biayai dandorong ulama dengan uang agar membuat fatwa yang dapat menjinakkan gerakan ulama dan umat lainnya. Langkah kedua Dekati pengusaha muslim agar tidak memberikan dukungan terhadap gerakan umat yang berbau Islam dan hembuskan kepada mereka bahwa Islam itu identik dengan sumbangan social dan Islam itu membahayakan kepada martabat & usahanya.
  • 51.
    Langkah ketiga Deteksi semuagerakan dan kevokalan tokoh, ulama Islam, catat dan monitor untuk tindakan lanjutan. Langkah keempat Tangkap umat Islam yg anti demokrasi, kucilkan atau bunuh yang hendak menggantikan hukum Negara.
  • 52.
    Tahap ini terdiridari tiga langkah. Pada umumnya keadaan umat Islam pada tahap ini telah porak poranda keadaannya yang ditandai dengan empat tiga (4-3) Yang empat (4) yaitu :
  • 53.
    Yang Empat (4)Yaitu : Pertama : Umat Islam yang menjadi penguasa negara sudah zalim (tidak dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya), mereka tidak dapat membedakan mana perintah Allah swt, mana perintah rakyat, perintah kawan didekatnya, mana perintah Tuhannya dan mana yang benar menurut umumnya serba terima, tidak memperhatikan keadaan rakyatnya. Apalagi memperhatikan nasib Islam dan umat Islam yang dipeluknya di negaranya, malah mereka menjadi penghalang bagi tegaknya hukum Islam dan menjadi musuh Islam.
  • 54.
    Kedua : UmatIslam yang menjadi pengusaha atau pedagang sudah menjadi penghianat. Mereka melakukan korupsi, pencurian, penyuapan, pemerkosaan penipuan, sampai tingkat penjambretan dan pencopetan. Ketiga : Umat Islam yang kaya, kikir dan tidak mau tahu nasib di lingkungannya. Mereka membuat rumah mewah di lingkungan masyarakat lemah yang kumuh. Banyak rumah yang dipagar besi dan dijaga satpam.
  • 55.
    Keempat : UmatIslam yang menjadi tokoh, ulama, kiyai, da`i, mubaligh, dan guru agama dengki kepada sesama ulama (dengki kepada se profesi), sulit bersatu dan saling silang pendapat dan tidak memikirkan kebodohan umat dan kemurnian agama. Mereka senang diundang dan ditampilkan di media massa, berebut tarif di tempat suci (masjid). Pendengar dan pendukungnya di depan mimbar bukan umat Islam di tetangganya.
  • 56.
    Yang Tiga (3),Yaitu : 1. Umat Islam bagaikan serigala saling makan dengan sesamanya, karena tidak ada pemimpinnya. 2. Umat Islam sudah tidak dapat membedakan mana perintah dan larangan agama, mana tanggung jawab pribadi dan mana tanggung jawab bersama. Mereka lebih memperhatikan pribadi dan pergaulan dari pada kepentingan perintah agama, tidak ada ulama yang dapat difigurkan dan saling menyesatkan.
  • 57.
    3. Umat Islammenginjak-injak ajaran Islam dengan bangga, misalnya melakukan do`a sambil bernyanyi dan berjoget, mengucapkan Allah swt (kalimat thoyibah) di dalam film dan sinetron (atas perintah sutradara), bersumpah di bawah Al Qur`an untuk melaksanakan ajaran dan hukum non muslim, menjual agama dan suara umat Islam demi kepentingan kedudukan dsb.
  • 59.
    Pertahankan dan perketatagar umat Islam tetap berada dalam berbagai institusi (Negara, orpol, ormas, yayasan, bergerak diberbagai aspek, bekerja diberbagai perusahaan seperti BUMN, swasta, swasta nasional dan swasta asing, serta pabrik atau indistri) yang bekerja dengan jam kerja yang panjang dan bersip-sip, sehingga mereka sulit berkumpul dan bersatu, terutama di siang hari.
  • 60.
    Putuskan hubungan generasitua dan generasi muda secara total dan tumbuhkan berbagai organisasi kepemudaan dan padatkan kegiaatan mereka dengan kegiatan ektra agar semarak kegiatan seremonial diberbagai kelompok (politik, ekonomi, social, pendidikan, seni dan budaya), misalnya konfrensi, muktamar, seminar, symposium, hari ulang tahun, hari peringatan berbagai aspek, mode, fashion, berbagai perlombaan, pentas drama, pentas music dan periklanan usaha, pertemuan kesukuan dan kegiatan lain untuk mengisi hari libur dan hari-hari besar nasional.
  • 61.
    Taktis pelumpuhan kekuatanIslam dan umat Islam disuatu Negara dan dunia dalam rangka langkah yang ketiga ini adalah langkah terakhir dari teori pembasmian penumpasan umat Islam.
  • 62.
    Ada beberapa teknikpembasmian gerakan umat Islam, a.l : Taktik Main Yoyo Pemerintah dengan secara diam-diam dan sangat rapih melemparkan gagasan melalui kekuatan militer spionase kepada ulama, mujahid, umat Islam yang vocal yang diperkirakan ekstrim untuk membuat rencana gerakan subversi terhadap pemerintah. Taktis ini digunakan pemerintah untuk mengumpan kawan-kawan ulama, mujahid, umat Islam yang vocal yg belum diketahui pasti. Bila telah diketahui pasti semua kawan-kawannya, mereka ditangkap & dijebloskan kepenjara sebagai tawanan politik
  • 63.
    Taktik Main Bilyar. Pemerintahmenggunakan kekuatan non muslim atau serpihan kelompok Islam untuk memberi kekuatan keuangan, perhatin dan jaminan perlindungan kepada kekuatan non Islam atau kelompok Islam untuk menggulingkan kekuatan umat Islam lain, sehingga bahaya kekuatan kelompok Islam yang hendak menyerang pemerintah tidak terjadi. Taktik Main Kartu. Pemerintah memberi kekuatan, keuangan, pembinaan dan perlindungan kepada semua kelompok penganut agama agar kelompok Islam tidak membuat gerakan pemerintah, karena merasa diperlakukan adil oleh pemerintah, sehingga kebencian umat Islam terhadap permerintah berkurang.
  • 64.
    Falsafah Aritmatika (Demokrasi) Yaitufalsafah tambah, kurang, kali, bagi, sama dengan, artinya yang terbanyak adalah yang menang sesuai dengan kesepakatan. Teori ini sangat efektif digunakan bagi Negara non Islam yang berpenduduk mayoritas Islam. Taktik Rimba Atau Palu Arit. Yang lemah disantap. Siapa berani memberontak ditumpas. Siapa berani berbuat makar dibabad. Taktik Lintah. Siapa berani dekat diisap.
  • 66.
    Bagi Umat IslamYang Telah Berpemimpin Di Negara Yang Diberlakukan Syari`at Islam, Maka Penghancurannya Sebagai Berikut : 1. Usahakan pergantian sistem Negara dan hukum, agar menjadi Negara demokrasi murni dan sekuler. 2. Tumbuhkan dan perbanyak orpol di lingkungan umat Islam. 3. Adu domba pemimpin Islam dan pemimpin partai Islam agar masing-masing memiliki simpatisan terpisah. 4. Dukung partai Islam yang anti hukum Islam atau umat yang demokrat dengan berbagai fasilitas dan kemudahan.
  • 67.
    1. Persempit masajabatan pemerintah Islam agar sering berganti pimpinan dan bila Negara berbentuk kerajaan, hasut keluarganya agar terjadi kedengkian antar anggota keluarga. 6 . Kuasai sumber ekonomi dan perdagangan. 7. Pinjami keuangan yang tak mungkin dapat membayar dalam waktu singkat, sehingga tetap ada ketergantungan. 8. Ikat hasil produk eksportnya dengan kontrak pembayaran hutang
  • 68.
    9. Kendalikan ketergantunganekonomi dan tekan politik. Kacaukan rakyat dan tawari senjata. 10. Sebarkan teknologi, manjakan masyrakat- nya dan sebarkan sarana yang dapat mereka berbuat maksiat kepada agama & sesamanya. 11. Ajak pemuda dan remaja agar sekolah di luar negeri dan sering berlibur keluar negeri. 12. Kuasai dan kendalikan pejabat negaranya dan perbudak rakyatnya.
  • 69.
    TAHAPAN PENANGANAN &PERTAHANKAN HASIL Pertahankankemenangan kita, deteksi dan kepung posisi mereka diberbagai bidang, tekan terus, jangan sampai bersatu dan berpemimpin (satu komando) dalam satu wilayah, acak-acak keuangan dan sumber keuangannya. KESIMPULAN Sempurnalah sudah kehancuran umat Islam, tanpa terasa oleh mereka, sulit untuk bangun dan sulit untuk membangun Islam, sehingga mau berbuat tak memiliki bahan, mau membeli tak memiliki uang, dan mau merebut, tak memiliki tangan (management)