ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI
                GULA DI PG PAGOTTAN




                      Oleh:
                TUTIK WIDARWATI
                    A14104134




       PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS
               FAKULTAS PERTANIAN
            INSTITUT PERTANIAN BOGOR
                       2008
RINGKASAN

TUTIK WIDARWATI. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi
Gula di PG Pagottan. Di bawah bimbingan HARMINI.

        Gula merupakan salah satu bahan pangan pokok yang memiliki arti
penting dan posisi yang strategis di Indonesia karena sebagian besar masyarakat
Indonesia mengkonsumsi gula. Permintaan gula akan terus meningkat tiap
tahunnya seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya beli
masyarakat, dan pertumbuhan industri yang menggunakan gula sebagai bahan
bakunya. Permintaan gula yang meningkat disebabkan konsumsi gula rumah
tangga di Indonesia yang mengalami kecenderungan yang meningkat dari tahun
2003 sampai tahun 2007. Meskipun terjadi peningkatan terhadap produksi gula
nasional namun angka produksi tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan gula
dalam negeri. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan gula nasional Indonesia harus
melakukan impor gula.
        Ketidakmampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan gula dalam
negeri disebabkan karena masih rendahnya produksi gula nasional. Rendahnya
produksi nasional antara lain disebabkan oleh : (1) Penurunan luas dan
produktivitas lahan, (2) Rendahnya rendemen industri gula Indonesia, (3)
Efisiensi pabrik gula yang masih rendah.
        Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan di lapang, maka diketahui
bahwa kondisi inefisiensi produksi tersebut diduga juga dialami oleh PG Pagottan
yang salah satunya diindikasikan oleh kualitas pasokan bahan baku tebu
(rendemen) yang masih rendah. Selain itu terjadi kecenderungan pemanfaatan
tenaga kerja yang berlebihan di dalam menjalankan kegiatan produksinya. Sesuai
dengan kondisi yang terdapat di PG Pagottan maka penelitian ini bertujuan untuk :
(1) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan
dan (2) Menganalisis tingkat efisiensi kegiatan produksi gula di PG Pagottan.
        Penelitian ini dilaksanakan di PG Pagottan Madiun yang merupakan salah
satu pabrik gula yang berada di bawah pengelolaan PTPN XI wilayah kerja Jawa
Timur. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Mei 2008. Data utama yang
digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder, meliputi: data output, input,
serta biaya rata-rata kegiatan produksi gula di PG Pagottan dari tahun 2001 hingga
tahun 2007.
        Analisis data yang dilakukan menggunakan model fungsi produksi Cobb-
Douglas yang diolah dengan pendugaan OLS (Ordinary Least Square). Kemudian
dilanjutkan dengan analisis terhadap efisiensi kegiatan produksi gula, dengan
asumsi terdapat kendala biaya. Pertumbuhan total produksi gula sejak tahun 2001
hingga tahun 2007 menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 3,48 persen
per periode. Peningkatan ini dipengaruhi oleh kecenderungan peningkatan
produksi gula tebu sendiri (TS) dan tebu rakyat (TR) masing-masing sebesar 8,73
persen per periode dan 23,38 persen per periode. Peningkatan produksi gula TR
terjadi tidak hanya karena perluasan areal tetapi juga disebabkan oleh perbaikan
mutu intensifikasi budidaya dan introduksi varietas unggul pada areal bongkaran
keprasan. Peningkatan juga terjadi pada jumlah tebu yang dipasok, rendemen, dan
tenaga kerja musiman. Sedangkan lama giling, jam mesin, dan bahan pembantu
mengalami kecenderungan yang menurun.
Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan,
yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja
musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dari hasil analisis regresi dengan
memenuhi asumsi OLS (uji normalitas, homoskedastisitas, non autokorelasi, tidak
terdapat gejala multikolinearitas) dan uji statistik , maka diperoleh faktor-faktor
yang secara nyata berpengaruh terhadap produksi gula di PG Pagottan. Faktor-
faktor produksi tersebut, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenaga
kerja pada selang kepercayaan 95 persen . Nilai koefisien regresi dari faktor-
faktor produksi tersebut masing-masing sebesar 0,066, 1,01, 1,03, dan -0,239.
Nilai elastisitas yang negatif menunjukkan bahwa jika terdapat peningkatan satu
persen tenaga kerja maka akan mengurangi produksi gula sebesar 0,239 persen.
        Selanjutnya dilakukan analisis efisiensi penggunaan faktor produksi di
dalam kegiatan produksi gula. Dalam penelitian ini faktor-faktor produksi yang
diukur tingkat efisiensinya adalah jumlah tebu karena faktor tersebut dapat diukur
tingkat harganya dan memenuhi syarat Cobb-Douglas, yaitu nilai koefisien
regrresi dari faktor poduksi tersebut antara nol dan satu.. Dengan menghitung nilai
rasio antara NPM (Nilai Produk Marjinal) dan BKM (Biaya Korbanan Marjinal)
diketahui bahwa nilai rasio antara NPM dan BKM faktor produksi jumlah tebu
sebesar 0,01menunjukkan bahwa penggunaan bahan baku belum efisien.
Berdasarkan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal
(BKM) dari faktor produksi jumlah tebu yang tidak sama dengan satu, maka dapat
disimpulkan bahwa penggunaan faktor produksi belum efisien. Penggunaan bahan
baku tebu dalam produksi gula harus mencapai kondisi optimal agar efisiensi
dapat tercapai. Kondisi optimal dari penggunaan factor produksi ini terjadi apabila
rasio NPM dan BKM dari faktor produksi harus sama dengan satu.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
       PRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN




                     Oleh :
               TUTIK WIDARWATI
                   A14104134




                         Skripsi
   Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
       Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian
                Institut Pertanian Bogor




   PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS
           FAKULTAS PERTANIAN
        INSTITUT PERTANIAN BOGOR
                   2008
Judul Skripsi     : Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di
                    PG Pagottan
Nama              : Tutik Widarwati
NRP               : A14104134




                                 Menyetujui,
                           Dosen Pembimbing Skripsi



                               Ir. Harmini, MS
                               NIP. 131 688 732




                                  Mengetahui
                            Dekan Fakultas Pertanian




                       Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr
                                NIP. 131 124 019




Tanggal Lulus :
PERNYATAAN

    DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG
BERJUDUL ”ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN” BENAR-BENAR HASIL KARYA
SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI
LAIN ATAU LEMBAGA MANAPUN. SUMBER INFORMASI YANG
BERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG DITERBITKAN MAUPUN
TIDAK DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN TELAH DISEBUTKAN
DALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA DI
BAGIAN AKHIR SKRIPSI INI.




                                       Bogor, September 2008


                                             Tutik Widarwati
                                                  A14104134
RIWAYAT HIDUP

       Penulis dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 14 Agustus 1986

dari keluarga Bapak Darno dan Ibu Minten Widarti. Penulis merupakan anak

pertama dari dua bersaudara.

       Pendidikan akademis penulis dimulai sejak tahun 1991 dengan bersekolah

di TK Islam Wahyu, Cimanggis, Depok. Pendidikan dasar diselesaikan penulis di

SD Negeri Curug IV Depok pada tahun 1998, yang dilanjutkan dengan

pendidikan lanjutan tingkat pertama di SLTP Negeri 1 Cimanggis sejak tahun

1998 hingga tahun 2001. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Depok dan

pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Seleksi Penerimaan

Mahasiswa Baru (SPMB). Penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi

Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian.
KATA PENGANTAR


      Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas segala

rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di PG Pagottan sebagai

syarat untuk melakukan penelitian yang menjadi bagian dari penelitian skripsi

pada Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian

Bogor.

         Skripsi ini berisi tentang penelitian mengenai PG Pagottan sebagai suatu

entitas usaha yang bergerak dalam pengolahan gula. Penelitian yang akan

dilakukan berupaya untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi

produksi gula di PG Pagottan serta tingkat efisiensi faktor-faktor produksi

tersebut.

         Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca, dan dapat diterima sebagi

syarat dalam penelitian skripsi.



                                                          Bogor, September 2008



                                                                          Penulis
UCAPAN TERIMA KASIH


     Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat, hidayah serta karunia-

Nya kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada

Nabi Muhammad SAW, keluaraga, sahabat serta para pengikutnya hingga akhir

zaman. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari

kerjasama dan bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini

penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1.   Ir. Harmini, MS, sebagai dosen pembimbing skripsi, yang tak hentinya

     memberikan nasihat, motivasi dan masukan yang sangat berguna demi

     kesempurnaan skripsi penulis.

2.   Dr.Ir. Nunung Kusnadi, MS, sebagai dosen penguji utama.

3.   Etriya, SP,MM, sebagai dosen penguji wakil komisi pendidkan.

4.   Amzul Rifin, SP. M. A. sebagai dosen Pembimbing Akademik yang juga

     memberikan masukan, saran dan kritikan serta motivasi selama penulis

     menyusun skripsi ini.

5.   Bapak Gampil, Bapak Arysad sebagai SKW Bagian Tanaman PG Pagottan

     yang telah memberikan banyak informasi kepada penulis.

6.   Bapak Darno, Mas Yiyin, Mba Riski, Mba Yeni atas kerjasama yang baik

     selama penulis melakukan penelitian.

7.   Pak Whumy, Pak Adit, Pak Budi, Pak Joseph yang banyak memberikan data

     dan informasi penting kepada penulis, pelajaran singkat mengenai gula,

     browsing gratis, dan kemudahannya lainnya yang telah diberikan kepada

     penulis.

8.   Dosen-dosen IPB yang telah memberikan ilmunya kepada penulis.
9.    Mas Ferry, Mba Etriya, Mas Yeka, Mas Arif, Mba Anita dan dosen lainnya

      yang pernah menjadi asdos dan memberikan ilmunya kepada penulis.

10.   Mba Dian, Mba Dewi, Ibu Ida dan staff lainnya atas bantuannya kepada

      penulis dalam mengurus birokrasi.

11.   Kedua orang tuaku, ibu dan bapak yang selalu memberikan bantuan baik

      dukungan moril maupun dukungan semangat serta kasih sayang yang tak

      hentinya dicurahkan kepada penulis.

12.   Adikku tercinta Ayub Dwi Prasetyo yang selalu meramaikan rumah dengan

      keisengan dan kejailannya.

13.   Sahabat-sahabat terbaikku di dunia Rizki Amelia, Sevia Fitrianingsih, Nur

      Novita Zayanty, Adisti Meisafitri, Imas Nunik Handayani, Rizal Syahrudin,

      Yustika Muharastri atas keceriaan, kebahagiaan, suka dan duka selama

      empat tahun. Semoga persahabatan kita akan selalu abadi, amin ya robbal

      alamin. Terimakasih setulusnya kuucapkan untuk kalian semua.

14.   Purdiyanti Pratiwi, Tantri Dewi Putriana, Nurhayati Zaenal, Vera Nova

      Gustrin, Jane Langking, dan Prety Elisabeth atas kebersamaan di rumah

      kontrakan Pak Ukun.

15.   Ss, Aries, Tejo, Yanti, Lukman, Neng-Q, Wanti, Rudi, Sastrow, Effendi,

      Pak De, Dian, serta teman-teman AGB 41 lainnya yang tidak bisa

      disebutkan satu-persatu, terimakasih atas kebersamaannya selama kuliah di

      IPB, menjadikan empat tahun ini warna-warni yang indah dalam hidupku,

      sungguh beruntung mengenal kalian semua.
16.   Madyastato Prabudi, seseorang yang baik hatinya, memotivasi penulis dan

      dengan tulus serta sabar membantu dan memfasilitasi penulis sehingga

      dapat menyelesaikan skripsi ini. Ni shi wo de hen ke ai nanpengyou.

17.   Tante-tanteku tercinta Lek Nur dan Lek Pis, terimakasih Lek atas pelajaran

      hidup yang bermakna.

18.   Sepupu perempuanku Ayu, yang dengan baiknya membantu penulis untuk

      mentranslet buku-buku asing. Danke.

19.   Teman-teman KKP desa Cikadu Cita, Rena, dan Roni terimakasih atas

      kebersamaannya selama masa KKP, pengalaman tak terlupakan.

20.   Fotocopy Prima yang banyak membantu terwujudnya skripsi ini serta pihak-

      pihak yang banyak membantu penulis selama penyusunan skripsi.
DAFTAR ISI


                                                                                                         Halaman
DAFTAR ISI ..................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xv
I PENDAHULUAN
      1.1     Latar Belakang ..................................................................................... 1
      1.2     Perumusan Masalah ............................................................................. 6
      1.3     Tujuan Penelitian ................................................................................. 7
      1.4     Kegunaan Penelitian ............................................................................ 7
      1.5     Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... 8

II TINJAUAN PUSTAKA
      2.1     Gambaran Umum Komoditi Tebu ........................................................ 9
      2.2     Pengusahaan Tebu ............................................................................. 12
      2.3     Pengusahaan Pabrik Gula ................................................................... 15
      2.4     Jenis Gula .......................................................................................... 16
      2.5     Penelitian Terdahulu .......................................................................... 18

III KERANGKA PEMIKIRAN
      3.1     Kerangka Pemikiran Teoritis
              3.1.1 Teori dan Fungsi Produksi ...................................................... 22
              3.1.2 Konsep Efisiensi Produksi ...................................................... 31
      3.2     Kerangka Pemikiran Operasional ....................................................... 36

IV METODE PENELITIAN
      4.1     Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................................. 39
      4.2     Sumber dan Jenis Data ....................................................................... 39
      4.3     Metode Analisis Data ......................................................................... 40
      4.4     Pengukuran Variabel .......................................................................... 45

V     GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
     5.1 Sejarah dan Struktur Organisasi Perusahaan
           5.1.1 Sejarah Perusahaan ................................................................. 49
           5.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan............................................... 50
     5.2 Tinjauan Geografis dan Iklim ................................................................ 53
     5.3 Kemittraan Antara Pabrik Gula dan Petani ............................................ 54
     5.4 Perkembangan Produksi Pabrik ............................................................. 55
5.5 Agribisnis Gula
          5.5.1 Usahatani Tebu ....................................................................... 62
          5.5.2 Pengolahan Tebu .................................................................... 66
          5.5.3 Distribusi Gula ....................................................................... 73

VI EFISIENSI PRODUKSI GULA PASIR
   6.1 Pemilihan Model Fungsi Produksi...................................................... 75
   6.2 Analisis Elastisitas Produksi............................................................... 80
   6.3 Analisis Efisiensi ............................................................................... 83

VII KESIMPULAN DAN SARAN
    7.1 Kesimpulan ........................................................................................ 87
    7.2 Saran.................................................................................................. 88

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 89

LAMPIRAN ..................................................................................................... 91




                                                     xii
DAFTAR TABEL

Nomor                                                                                            Halaman
1.   Perkembangan Konsumsi dan Produksi Gula Indonesia Tahun 2003-2007 .... 2
2.   Perkembangan Impor Gula Indonesia Tahun 2003-2007 ............................... 3
3.   Realisasi Produksi PG Pagottan Tahun 1997-2007 ........................................ 6
4.   Jenis dan Sumber Data ................................................................................ 40
5.   Varietas Tebu yang Digunakan PG Pagottan ............................................... 63
6.   Standardisasi Mutu Gula Kristal Putih......................................................... 72
7.   Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula dengan Tujuh Faktor Produksi ....... 76
8.   Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula Setelah Uji Validitas Asumsi OLS 79
9.   Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Kegiatan
     Produksi Gula Pasir pada PG Pagottan per Periode...................................... 85
DAFTAR GAMBAR

Nomor                                                                                        Halaman
1.   Proses Terbentuknya Gula di dalam Batang Tebu ....................................... 10
2.   Fungsi Produksi Klasik dan Tiga Tahap Produksi........................................ 28
3.   Bagan Kerangka Pemikiran Operasional ..................................................... 38
4.   Struktur Organisasi PG Pagottan ................................................................. 51
5.   Bagan Pemasaran Gula di PG Pagottan ....................................................... 74
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor                                                                                                    Halaman
1.  Luas Areal dan Produksi Gula Indonesia Tahun 1996-2008.......................... 92
2.  Angka Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 ........................................... 93
3.  Pertumbuhan Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 ................................. 96
4.  Perkembangan Luas Areal PG Pagottan ....................................................... 97
5.  Hasil Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi .................................. 98
6.  Hasil Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS ............................ 99
7.  Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Tujuh Faktor Produksi ......... 100
8.  Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor
    Produksi ..................................................................................................... 101
9. Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi
    OLS ........................................................................................................... 102
10. Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas
    Asumsi OLS .............................................................................................. 103
11. Dokumentasi PG Pagottan.......................................................................... 104
I   PENDAHULUAN


1.1        Latar Belakang

          Gula merupakan salah satu bahan pangan pokok yang memiliki arti

penting dan posisi yang strategis di Indonesia. Meskipun telah beredar bahan-

bahan pemanis lainnya, seperti : madu, gula merah, fruktosa, glukosa dan gula

tropika namun preferensi masyarakat Indonesia terhadap gula tebu masih lebih

tinggi. Alasan kepraktisan (bentuk butiran), ketersediaan, dan berbagai kelebihan

lainnya menjadikan gula tebu sebagai pilihan utama (Churmen, 2001). Hal ini

mengindikasikan bahwa permintaan gula akan terus meningkat tiap tahunnya

seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya beli masyarakat,

dan pertumbuhan industri yang menggunakan gula sebagai bahan bakunya1.

          Permintaan gula yang meningkat disebabkan konsumsi gula rumah tangga

di Indonesia mengalami kecenderungan yang meningkat dari tahun 2003 sampai

tahun 2007 (Tabel 1). Kecenderungan konsumsi yang meningkat seiring dengan

meningkatnya produksi gula. Namun, besarnya jumlah konsumsi gula tersebut

tidak diimbangi dengan jumlah produksi gula. Hal tersebut menyebabkan

terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dengan kebutuhan dalam negeri

yang terus meningkat.

          Pada Tabel 1 dapat dilihat nilai produksi gula nasional pada tahun 2003

hanya sebesar 1,63 juta ton padahal nilai konsumsi gula saat itu mencapai 2,29

juta ton. Kemudian pada tahun 2007 produksi gula nasional mengalami kenaikan

sebesar 4,7 persen dibandingkan tahun 2006 menjadi 2,42 juta ton, namun angka


1
    Simatupang, Pantjar. 2005. Analisis Kebijakan Tentang Kebijakan Komprehensif Pergulaan
     Nasional. www.pse.litbang.deptan.go.id diakses 10 April 2008.
2



ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan gula dalam negeri yang mencapai

2,69 juta ton. Peningkatan produksi gula nasional yang terjadi lima tahun terakhir

disebabkan oleh kebijakan yang dikeluarkan pemerintah mengenai penetapan

harga provenue gula pasir produksi petani yang bertujuan untuk menghindari

kerugian petani dan mendorong peningkatan produksi. Selain itu pemerintah juga

menetapkan tarif spesifik untuk impor gula mentah sebesar Rp 550 per kilogram

(setara 20 persen) dan gula putih Rp 700 per kilogram (setara 25 persen) yang

berlaku hingga sekarang untuk merangsang petani menanam tebu.

Tabel 1 Perkembangan Konsumsi dan Produksi Gula Indonesia Tahun
        2003-2007
                     Konsumsi Gula Rumah                                Kekurangan
   Tahun                                          Produksi Gula (ton)
                         Tangga (ton)                                      (ton)
    2003                   2.294.539                  1.634.918,9       1.435.105,3
    2004                   2.442.000                  2.051.643,8        825.304,1
    2005                   2.625.540                  2.241.742,0        151.126,2
    2006                   2.664.135                  2.307.027,0        383.798,0
    2007                   2.699.832                  2.415.625,0        357.108,0
Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007

        Salah satu penyebab rendahnya produksi gula nasional adalah bersumber

dari penurunan luas areal dan penurunan produktivitas. Sebagai contoh, rendemen

yang dicapai pada tahun 1970-an masih sekitar 10 persen, sedangkan rata-rata

rendemen pada sepuluh tahun terakhir hanya 7,19 persen (Lampiran 1).

Menurunnya rendemen tersebut selain disebabkan oleh faktor teknis di usahatani

tebu dan belum selarasnya hubungan antara PG dan petani, faktor teknis di pabrik

juga menjadi faktor penyebab (Susila, 2005).

        Rendahnya produktivitas usahatani tebu Indonesia disebabkan rendahnya

produktivitas ton tebu per hektar maupun rendemen yang dihasilkan oleh tebu.

Rendahnya produktivitas berkaitan dengan teknik budidaya yang belum optimal

dan belum terpadunya jadwal tanam dan tebang/giling antara petani dan PG.
3



Kurang terpadunya jadwal tanam dan tebang mempunyai pengaruh yang

signifikan terhadap produktivitas, khususnya yang berkaitan dengan rendemen.

Rendemen yang terus menurun juga berkaitan dengan rendahnya efisiensi di

tingkat pabrik.

          Angka rata-rata rendemen selama sepuluh tahun tersebut masih jauh di

bawah target rendemen rata-rata Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas

Gula Nasional sebesar 8,79 persen2. Adanya inefisiensi di pabrik gula ini

disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kondisi pabrik gula, terutama yang ada

di Jawa, umumnya sudah tua sehingga tidak dapat mencapai efisiensi yang

maksimal. Berbagai upaya untuk melakukan pembaharuan beberapa peralatan

masih belum mampu menghilangkan inefisiensi secara maksimal, baik karena

keterbatasan dana maupun teknologi (PTPN XI, 2000). Faktor kedua adalah

keterbatasan ketersediaan jumlah bahan baku sehingga pabrik beroperasi dibawah

kapasitas optimal (Susila, 2005).

          Dalam mencukupi kebutuhan gula dalam negeri gula dalam negeri,

pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang tataniaga impor gula yang mulai

diberlakukan sejak tahun 1967. Dari tahun 1993 hingga tahun 2004 impor gula

Indonesia terus mengalami peningkatan. Oleh karena itu, untuk mengurangi

ketergantungan       pada    impor    pada    pertengahan     tahun 2004      pemerintah

mengeluarkan kebijakan melalui SK Memperindag No. 527/2004 tentang

Ketentuan Impor Gula. Dalam SK tersebut disebutkan bahwa institusi yang

diizinkan untuk mengimpor gula (IT) adalah PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PT.




2
    RR Ariyani. 2006. Rendemen Gula PTPN XI Rendah. www.tempointeraktif.com diakses 10
    April 2008.
4



RNI, dan PT. PPI3. Selain itu, pada tahun 2007 pemerintah telah menerbitkan

persetujuan impor gula kristal putih sebesar 250.000 ton kepada para importir

terdaftar (IT) gula dan PT. PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) untuk

memenuhi kebutuhan dan mengantisipasi terjadinya defisit stok gula nasional4.

Impor gula Indonesia mengalami fluktuatif dari tahun 2003 sampai tahun 2007

(Tabel 2). Pada tahun 2003, Indonesia mengimpor gula sebesar 647 ribu ton.

Sedangkan tahun 2007, impor Indonesia mencapai 448 ribu ton.

Tabel 2 Perkembangan Impor Gula Indonesia Tahun 2003-2007
           Tahun                                    Impor Gula (ton)
            2003                                        647.908
            2004                                        256.644
            2005                                        453.160
            2006                                        216.490
            2007                                        448.681
Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007

        PTPN XI merupakan salah satu institusi yang berperan dalam produksi

gula nasional. Pada tahun 2008, produksi gula oleh PTPN XI diperkirakan

mencapai 458 ribu ton. Angka ini membuat PTPN XI menjadi perusahaan terbesar

kedua yang memberikan kontribusi terhadap stok gula nasional setelah PTPN X

(526 ribu ton) (Asosiasi Gula Indonesia, 2007). PTPN XI mengelola enam belas

pabrik gula (PG) yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Salah satu PG yang

dikelola oleh PTPN XI adalah PG Pagottan yang berada di Kabupaten Madiun.

Pada tahun 2006 PG Pagottan memiliki kapasitas giling yang cukup besar yaitu

2,26 ribu ton per hari. Selain itu, dilihat dari pertumbuhan rendemen dari tahun

1997-2007, rata-rata pertumbuhan rendemen PG Pagottan sebesar 4,93 persen per

tahun. Pada tahun 2007 rendemen PG Pagottan sebesar 7,96 persen dan

3
  Mansur, Natsir. 2007. Rancunya Distribusi Gula Nasional. www.bisnisindonesia.comdiakses 13
  Maret 2008.
4
  Departemen Pertanian. 2007. Impor Gula Diharapkan Tidak Mendistorsi Pasar.
  www2.kompas.com diakses 13 Maret 2008.
5



merupakan rendemen terbesar dibandingkan dengan pabrik gula lainnya di bawah

PTPN XI. Meskipun masih berada di bawah target rendemen pemerintah, namun

PG Pagottan memiliki potensi untuk mengoptimalkan nilai rendemennya.

       Tahun 2009 pemerintah menargetkan Indonesia mencapai swasembada

gula nasional dan tahun 2010 diharapkan Indonesia sudah memasuki era

liberalisasi perdagangan gula. Oleh karena itu, setiap pabrik gula termasuk PG

Pagottan diwajibkan untuk meningkatkan produksi dan efisiensinya. Hal ini

bertujuan untuk memenuhi target yang diharapkan, mencapai tujuan perusahaan

serta mampu bersaing dengan produsen-produsen gula negara lain.


1.2    Perumusan Masalah

       PG Pagottan merupakan satu dari 16 pabrik gula yang dikelola oleh PTPN

XI (Persero), Surabaya. PG Pagottan sudah mulai beroperasi pada tahun 1905.

Semakin tingginya konsumsi masyarakat terhadap gula merupakan peluang bisnis

sekaligus tantangan bagi PG Pagottan.

       Dengan tingginya permintaan dari masyarakat terhadap gula mendorong

peningkatan jumlah perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama, dengan

kata lain tingkat persaingan menjadi lebih tinggi. PG Pagottan harus mampu

bersaing dengan perusahan tersebut untuk tetap dapat melangsungkan proses

produksinya. Hasil realisasi produksi PG Pagottan periode tahun 1997 sampai

tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 3.

       Dalam Tabel 3 terlihat bahwa pada tahun 2000 luas areal tebu mengalami

penurunan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 19,25 persen dari tahun

sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh penurunan luas areal tebu sendiri sebesar

4,41 persen dan penurunan luas areal TR sebesar 35,06 persen. Penurunan luas
6



areal tebu ini tidak mempengaruhi produksi gula yang dihasilkan. Jumlah

produksi gula justru mengalami peningkatan sebesar 1,29 persen. Meningkatnya

produksi gula ini disebabkan oleh adanya PG sesaudara yang ikut menggilingkan

tebunya di PG Pagottan.

Tabel 3 Realisasi Produksi PG Pagottan Tahun 1998-2007
                                Produksi (ton)                     Hablur (ton)
   Tahun       Luas (ha)                           Rendemen %
                            /ha       Jumlah                    /ha       Jumlah
   1998        3.200,348   81,4      260.440,6        5,49      4,50    14.285,40
   1999        3.218,593   56,8      182.904,1        7,68      4,40    14.038,00
   2000        2.598,885   75,8      197.019,9        7,22      5,50    14.219,50
   2001        3.559,704   69,1      246.069,1        7,04      4,90    17.319,60
   2002        3.894,294   77,8      303.053,2        6,88      5,40    20.836,70
   2003        3.422,461   67,1      229.782,0        6,84      4,59    15.706,60
   2004        3.277,460   77,2      252.887,7        7,58      5,85    19.160,98
   2005        4.221,772   81,3      343.367,8        7,68      6,25    26.380,08
   2006        4.567,937   76,6      349.845,3        8,07      6,18    28.217,20
   2007        5.708,739   71,8      409.796,5        7,96      5,71    32.599,30
Sumber: Litbang Bagian Tanaman PG Pagottan, 2008

       Tahun 2003 produksi gula mulai mengalami kecenderungan yang

meningkat. Pada tahun 2007 produksi gula mencapai 32.599,30 ton namun tingkat

rendemen menurun dari 8,07 persen pada tahun 2006 menjadi 7,96 persen pada

tahun 2007. Angka tersebut masih jauh dari target pemerintah sebesar 8,79 persen.

Hal ini memperlihatkan bahwa terjadi ketidakefisienan dalam produksi gula di PG

Pagottan. Proses produksi yang efisien dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi

yang digunakan. Faktor-faktor produksi yang biasa digunakan dalam proses

produksi antara lain modal, tenaga kerja, bahan baku, dan lain-lain. Produksi yang

dilakukan akan menjadi efisien jika faktor-faktor produksi tersebut dimanfaatkan

secara optimal.

       PG Pagottan telah melakukan berbagai upaya yang sangat erat

hubungannya dengan pemanfaatan faktor-faktor produksinya untuk meningkatkan

produksi gula. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan penggantian varietas

unggul, intensifikasi budidaya dan perbaikan manajemen tebang-angkut, serta
7



penggunaan zat pemacu kemasakan (ZPK)5. Jika PG Pagottan mampu

memanfaatkan faktor-faktor produksinya secara optimal maka diharapkan

perusahaan mampu berproduksi secara efisien dan mempunyai daya saing tinggi.

Daya saing tersebut meliputi daya saing untuk mendapatkan bahan baku yang

berkualitas baik, mendapatkan sumberdaya manusia, penggunaan teknologi, dan

persaingan untuk mendapatkan konsumen. Oleh karena itu perlu ditelaah

mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula serta efisiensinya agar

target pemerintah dalam swasembada gula terwujud, tujuan perusahaan tercapai

dan mampu bersaing dengan produsen lain.

          Berdasarkan uraian di atas maka secara spesifik permasalahan yang akan

dianalisis dalam penelitian ini adalah :

1. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produksi gula di PG. Pagottan?

2. Bagaimana tingkat efisiensi produksi gula di PG. Pagottan?



1.3       Tujuan Penelitian

          Berdasarkan perumusan masalah di atas tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula.

2. Menganalisis tingkat efisiensi produksi gula.



1.4       Kegunaan Penelitian

          Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:




5
    PTPN XI. 2006. 16 Pabrik Gula PTPN XI Siap Giling. www.kapanlagi.com diakses 13 Maret
    2008.
8



1. Perusahaan, sebagai sumber informasi dan bahan pertimbangan dalam

      pengambilan keputusan dalam usahanya untuk dapat meningkatkan produksi

      dan efisiensinya.

2. Pemerintah, sebagai bahan masukan dan sumber informasi agar lebih

      memperhatikan sektor pertanian, terutama industri gula sehingga pemerintah

      dapat membuat kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan efisiensi

      produksi sehingga produksi gula nasional meningkat dan impor dapat

      dikurangi.

3. Penulis, penelitian ini berguna dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan

      dan menambah pengetahuan penulis mengenai industri gula di Indonesia serta

      dapat melatih kemampuan penulis dalam menganalisis setiap masalah sesuai

      dengan disiplin ilmu yang diperoleh selama di perguruan tinggi. Pembaca,

      penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi dan bahan perbandingan

      untuk penelitian-penelitian lebih lanjut.



1.5      Ruang Lingkup Penelitian

         Ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi hanya dalam pabrik dan

produksi gula tanpa membahas dan menganalisis hasil sampingan produksi gula.

Penelitian ini hanya berada pada sekup mikro, yaitu pabrik gula. Data yang

digunakan dalam penelitian ini berupa data perusahaan terutama produksi dari

masa giling tahun 2001-2007 per lima belas hari (per periode) dan data-data biaya

dari tahun 2001-2007. Penelitian ini juga hanya menganalisis efisiensi produksi

secara alokatif. Pengaruh yang diakibatkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah

tidak dibahas secara khusus dalam penelitian ini.
9



                          II    TINJAUAN PUSTAKA



2.1    Gambaran Umum Komoditi Tebu

       Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) merupakan tanaman perkebunan

semusim, yang mempunyai sifat tersendiri, sebab di dalam batangnya terdapat zat

gula (Supriyadi, 1992). Batang tanaman tebu beruas-ruas, dari bagian pangkal

sampai pertengahan ruasnya panjang-panjang, sedangkan di bagian pucuk ruasnya

pendek. Tinggi batang antara 2-5 meter, tergantung baik buruknya pertumbuhan,

jenis tebu maupun keadaan iklim. Pada pucuk batang tebu terdapat titik tumbuh

yang berperan penting dalam proses pertumbuhan. Akar tanaman tebu adalah akar

serabut, hal ini sebagai salah satu ciri bahwa tanaman ini termasuk ke dalam kelas

monocotyledone. Akar tebu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu akar stek dan akar

tunas. Akar stek disebut juga akar bibit yang masa hidupnya tidak lama, akar ini

tumbuh pada cincin akar dari stek batang. Sedangkan akar tunas merupakan

pengganti akar bibit. Pertumbuhan akar ada yang tegak lurus ke bawah dan ada

yang mendatar dekat permukaan tanah.

       Daun tanaman tebu adalah daun tidak lengkap karena terdiri dari helai

daun dan pelepah daun saja. Kedudukan daun berpangkal pada buku, dengan

panjang helaian daun berkisar 1-2 meter sedangkan lebarnya 4-7 cm. Ujung daun

meruncing, tepinya seperti gigi, dan mengandung kersik yang tajam. Bunga tebu

merupakan malai yang berbentuk piramida, panjangnya antara 70-90 cm. Bunga

tebu biasanya muncul pada bulan April-Mei. Bunganya terdiri dari tenda bunga,

yaitu tiga helai daun kelopak dan satu helai daun tajuk bunga. Bunga tebu

mempunyai satu bakal buah dan tiga benang sari,-kepala putiknya- berbentuk

bulu-bulu.
10



       Buah tanaman tebu termasuk buah padi-padian, bijinya hanya satu

sedangkan besar lembaga hanya sepertiga dari panjang biji. Daur kehidupan

tanaman tebu dimulai dari fase perkecambahan, fase pertunasan, fase

pemanjangan batang, fase kemasakan, dan fase kematian. Fase perkecambahan

dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur satu minggu

dan diakhiri pada fase kecambah pada umur lima minggu. Fase pertunasan mulai

dari umur lima minggu sampai umur 3,5 bulan, lalu dilanjutkan dengan fase

pemanjangan batang, yaitu pada umur 3,5 bulan sampai sembilan bulan. Fase

kemasakan merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun

dan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini kadar gula di dalam batang tebu

mulai terbentuk hingga titik optimal, kurang lebih terjadi pada bulan Agustus, dan

setelah itu rendemennya berangsur-angsur menurun. Tahap pemasakan inilah

yang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula. Proses terbentuknya gula

di dalam batang tebu dapat dilihat pada Gambar 1.

                kadar gula
                10




                 4



                                           Agustus
           Gambar 1 Proses Terbentuknya Gula di Dalam Batang Tebu
                             Sumber : Ahmad Supriyadi, 1992


       Pada Gambar 1 terlihat jelas bahwa rendemen berada pada masa optimal

sekitar bulan Agustus, setelah itu berangsur-angsur turun sampai titik akhir pada

fase kematian tanaman. Proses terbentuknya rendemen gula di dalam batang tebu

berjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada umur ruas.
11



Ruas di bawah (lebih tua) lebih banyak tingkat kandungan gulanya dibandingkan

dengan ruas di atasnya (lebih muda), demikian seterusnya sampai ruas bagian

pucuk. Oleh karena itu, tebu dikatakan sudah mencapai masak optimal apabila

kadar gula di sepanjang batang telah seragam, kecuali beberapa ruas di bagian

pucuk.

         Menurut Mubyarto dan Daryanti (1991), tanaman tebu merupakan

tanaman yang sangat peka terhadap perubahan unsur-unsur iklim. Oleh karena itu,

waktu tanam dan panen harus diperhatikan agar tebu dapat membentuk gula

dengan optimal. Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masa

pertumbuhan vegetatifnya dan membutuhkan sedikit air pada saat pertumbuhan

generatifnya.

         Terdapat dua cara penanaman tebu, yaitu di lahan sawah dengan sistem

Reynoso (cara pengolahan tanah sawah untuk tanaman tebu) dan di lahan tegalan

dengan sistem tebu lahan kering. Perbedaan antara dua cara ini terletak pada

tersedia tidaknya fasilitas pengairan dan lamanya penggenangan air di musim

hujan. Lahan sawah merupakan lahan pertanian yang memiliki pengairan dan

mengalami genangan air lebih dari 30 hari secara terus menerus (memiliki

pengairan yang cukup). Lahan sawah hanya terdapat di Pulau Jawa. Sedangkan

lahan kering tidak memiliki pengairan dan kemungkinan mengalami genangan air

kurang dari 30 hari berturut-turut, dan lahan kering ini hanya menggantungkan air

pada curah hujan (Adisasmito, 1989 dalam Nurrofiq, 2005).

         Mubyarto dan Daryanti (1991), menyatakan bahwa perbedaan mendasar

kedua jenis lahan tersebut adalah kondisi tanah yang membawa konsekuensi pada

teknis budidaya yang diharapkan dapat memberi kondisi yang cocok bagi
12



pertumbuhan tanaman tebu. Selanjutnya dikatakan bahwa budidaya tebu di lahan

sawah bercirikan penggunaan tenaga kerja dan drainase yang intensif disertai

pemberian air yang cukup. Sedangkan budidaya tebu di lahan kering dicirikan

pada tidak adanya pengairan, pendayagunaan air dalam tanah dan air hujan secara

optimal, pengolahan tanah sebagian atau seluruhnya secara mekanis yang

ditujukan pada kelestarian dan peningkatan produktivitas lahan. Selain itu,

perbedaan antara dua cara ini terletak pada pengolahan permukaan tanah. Pada

sistem Reynoso tidak semua permukaan tanah diolah, namun hanya dibuat saluran

dan guludan saja. Sedangkan di lahan tegalan dilakukan dengan pembajakan atau

dengan traktor.

       Teknologi budidaya yang tepat dan penggunaan varietas unggul yang

paling sesuai dengan kondisi lahannya dapat menghasilkan tebu dengan tingkat

rendemen yang tinggi. Selain itu perlu diperhatikan kegiatan pasca panennya

karena kerusakan tebu pada saat penebangan maupun pengangkutan dan

banyaknya kotoran pada tebu dapat menyebabkan penurunan tingkat rendemen.

Tebu yang berkualitas adalah tebu yang memenuhi kriteria MBS (manis, bersih,

segar). Manis berarti tebu sudah cukup tua atau masak dengan Faktor Kemasakan

25-30 persen, Koefisien Daya Tahan dan Koefisien Peningkatan sebesar 90-100

persen. Bersih berarti tebu terbebas dari unsur non tebu (kotoran) maksimal lima

persen. Sedangkan kriteria segar secara teoritis adalah saat tebu ditebang dan

digiling maksimal 36 jam, kriteria ini yang paling sulit untuk dideteksi.

2.2    Pengusahaan Tebu

       Pada masa penjajahan Belanda, di tahun 1930 Indonesia pernah menjadi

negara pengekspor gula terbesar di dunia setelah Kuba. Keberhasilan tersebut
13



salah   satunya   bersumber   pada   kemudahan     pabrik-pabrik   gula   dalalm

memanfaatkan lahan yang subur untuk pertanaman tebu dengan sistem sewa

paksa dari petani. Kemudahan itu dijamin dalam UU Agraria 1870 (Agrarische

Wet 1870) dan UU Sewa Tanah (Grondhuur Ordonantie 1918). Pada saat itu

Indonesia mampu memproduksi gula sebesar 3 juta ton dengan luas lahan sekitar

200.000 hektar. Setelah era kemerdekaan banyak pabrik-pabrik gula yang

dinasionalisasi. Walaupun pemerintah telah mengambil alih pabrik-pabrik gula

tersebut tetapi sistem sewa tetap digunakan, yaitu pabrik gula menyewa lahan

milik petani lalu mengusahakannya sendiri. Dengan sistem sewa tersebut petani

hanya memperoleh pendapatan dari sewanya dan petani tidak memperoleh

kesempatan untuk meningkatkan pendapatannya.

        Berdasarkan hal-hal di atas, maka pada tahun 1975 dikeluarkan Inpres No.

9 Tahun 1975 mengenai Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). Pokok-pokok pikiran

yang terkandung di dalamnya dapat diringkas sebagai berikut:

1) Mengganti sistem sewa yang biasa dijalankan oleh pabrik gula dengan sistem

   tebu rakyat. Petani melakukan usaha budidaya di lahannya sendiri dengan

   menerapkan teknologi yang telah dianjurkan. Dalam pengelolaan usahatani

   tebu dilakukan dalam satuan kelompok hamparan. Sedangkan pabrik gula

   berperan sebagai perusahaan pengelola, yaitu bertanggung jawab secara

   operasional dan sebagai pimpinan kerja pelaksana budidaya tanaman tebu di

   wilayah kerjanya, serta menyusun perencanaan areal, melaksanakan

   bimbingan teknis, menyediakan dan menyalurkan bibit.

2) Melaksanakan program intensifikasi tebu dengan sistem BIMAS (Bimbingan

   Masyarakat).
14



3) Mendudukkan pabrik gula sebagai penggiling tebu yang dihasilkan oleh

      rakyat hingga menjadi gula pasir dengan sistem bagi hasil.

          Program TRI ini sebenarnya telah berhasil meningkatkan luas areal tebu,

yaitu mencapai 428.000 hektar pada tahun 1994. Namun perluasan luas areal

tanaman tebu tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas karena sebagian

besar perluasan areal tebu dilakukan di lahan kering tanpa irigasi. Kemudian

kebijakan ini dihapuskan pada tahun 1997 mengikuti persyaratan IMF

(International Monetary Fund) sehingga menurunkan luas areal produksi yang

telah ada. Akibatnya produksi tebu yang dihasilkan juga rendah dan menurun.

          Pada tahun 2002, Departemen Pertanian menerapkan Program Akselerasi

Peningkatan Produktivitas Gula Nasional, yang meliputi kegiatan rehabilitasi atau

peremajaan perkebunan tebu               (bongkar     ratoon).    Program      ini bertujuan

memperbaiki komposisi tanaman dan varietas sehingga produktivitasnya

mendekati produktivitas potensial. Selain itu, program ini diperkirakan dapat

memberikan peningkatan hasil pada tahun-tahun mendatang. Hal ini disebabkan

oleh adanya pergantian ratoon seluas 7000 hektar, peningkatan produktivitas

lahan dengan adanya penggunaan bibit berkualitas, dan peningkatan modal

usahatani tebu melalui Kredit Ketahanan Pangan (KKP), serta pengendalian harga

melalui implementasi kebijakan tata niaga pergulaan nasional.

Selain itu bongkar ratoon ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat rendemen

tebu nasional dari 7,6 persen pada tahun 2007 menjadi delapan persen di tahun

2008. Sehingga pada tahun 2008 ditargetkan akan terjadi peningkatan produksi

gula nasional menjadi sebesar 2,6 juta – 2,7 juta ton6.


6
    www.els.bappenas.go.id “Deptan Optimis Tak Perlu Impor Gula” diakses 7 Februari 2008.
15



2.3      Pengusahaan Pabrik Gula

         Sejak tahun 1975 pabrik gula telah dinyatakan secara resmi sebagai usaha

pemroses atau pengolah tebu menjadi gula pasir. Pabrik gula juga berperan

sebagai pembimbing petani dalam budidaya tebu. Kerja sama tersebut dilakukan

untuk memperoleh jumlah dan kualitas tebu sesuai harapan. Sebagai imbalan atas

pemrosesan tebu menjadi gula pasir, pihak pabrik gula menerima “ongkos giling”

yang dinyatakan dalam persen dari keseluruhan hasil giling. Sistem pembagian

hasil ini ditetapkan oleh pemerintah. Prinsip dasar pembagian adalah semakin

tinggi rendemen tebu yang digilingkan semakin tinggi pula persentase bagian

yang diterima petani. Dengan demikian, semakin banyak hasil gula semakin

rendah ongkos gilingnya. Walaupun telah beberapa kali dilakukan peninjauan,

ketentuan bagi hasil ini tidak banyak berubah. Ketentuan bagi hasil yang

tercantum dalam SK Mentan No.03/SK/Mentan/BIMAS/VI/187 menyatakan

bahwa:

1) Petani tebu akan mendapatkan 62 persen gula yang dihasilkan dari tebu yang

      nilai rendemennya sampai dengan delapan persen, bila rendemen melampaui

      delapan persen maka petani mendapatkan tambahan hasil.

2) Petani tebu akan mendapatkan bagian tetes sebanyak 4,5 kilogram untuk

      setiap kuintal tebu yang digilingkan.

         Berdasarkan kepemilikannya sebagian besar pabrik gula di Indonesia

adalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan sisanya adalah BUMS (Badan

Usaha Milik Swasta). Pada tahun 1930, Indonesia memiliki 179 pabrik gula (PG).

Jumlah PG semakin menurun karena secara ekonomis tidak menguntungkan.

Tahun 2006 tercatat sebanyak 50 unit PG milik BUMN (diusahakan oleh PTPN
16



dan RNI) dan delapan PG milik swasta 7. Pada umumnya pabrik-pabrik yang ada

beroperasi dibawah kapasitas giling. Sebagian besar PG mempunyai kapasitas

giling yang kecil (kurang dari 3.000 TCD) karena mesin yang sudah tua serta

tidak mendapat perawatan yang memadai yang menyebabkan biaya produksi per

kilogram gula tinggi.


2.4        Jenis Gula

          Menurut Moerdokusumo (1993) sesuai dengan negara tujuan, secara

umum dikenal tiga jenis gula utama, yaitu gula mentah, gula merah (tidak

termasuk gula jawa, aren, dsb), dan gula putih (termasuk gula rafinade, SHS).

1) Gula mentah

          Yang dimaksud dengan gula mentah adalah sejenis gula merah yang

berbutir tidak terlalu halus, terutama diperuntukkan sebagai bahan baku pabrik

gula rafinade. Gula mentah ini meliputi HS, NA, dan Muscovado. Jenis

muscovado sudah sejak lama tidak lagi dipakai sebagai bahan baku pabrik

rafinade. Negara yang menggunakan gula mentah dari Indonesia untuk bahan

rafinadenya adalah Hongkong, Jepang, Australia, Selandia Baru, Korea, China,

India, dan beberapa negara di Eropa.

           Sebagai gula mentah untuk bahan rafinade, HS dan NA terutama harus

memenuhi persyaratan ukuran butiran kristal gula, kadar air dan polarisasi.

Pasaran gula mentah ini sebagian besar telah hilang karena Indonesia tidak

mampu mengekspor gulanya. Hal ini diakibatkan produksi yang sangat merosot

bahkan untuk konsumsi dalam negeri pun masih kurang. Dalam rangka

memantapkan kebijakan pangan, timbul gagasan untuk tidak mengimpor gula

7
    www.bei.co.id/images/_res/opini. “Mengembalikan Kejayaan Si Manis” diakses 10 April 2008.
17



putih melainkan mengimpor gula mentah (gula merah) untuk kemudian

diputihkan di pabrik gula tertentu di luar tahun gilingnya sendiri.

2) Gula merah

       Ada beberapa jenis gula merah, antara lain:

a) HS atau gula utama adalah jenis gula dengan polarisasi minimal 98°V.

   Kebanyakan HS yang dijual mempunyai polarisasi antara 99,4°V sampai

   99,5°V yang dapat lebih tinggi jika bahannya diambil dari SHS yang diberi

   campuran karamel. Berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu untuk konsumsi

   langsung atau bahan rafinade, HS masih dibagi lagi menjadi beberapa

   golongan menurut nomor tipe warna standar Belanda. Daerah pasaran HS

   untuk konsumsi langsung adalah Indonesia dan Malaysia.

b) NA (New Assortiment), yaitu gula dengan polarisasi 96,5°V – 97,25°V dan

   kadar bahan gula antara 2,5 sampai tiga persen. Faktor tahan simpan tidak

   boleh melebihi 0,27. Jenis NA tidak digolongkan khusus menurut tipe warna.

3) Muscovado

       Muscovado digolongkan dalam Java Assortiment dan termasuk gula merah

yang memiliki polarisasi minimal 96,5°V. Sebagai bahan mentah gula rafinade,

muscovado sudah jarang digunakan.

Meskipun polarisasinya sama dengan NA, pada dasarnya kedua jenis gula tersebut

berlainan terutama sifat fisik dan kimianya. Muscovado dibuat dengan cara

mencampurkan HS dengan karamel untuk memperendah warna. Muscovado lebih

mudah dikeringkan dan lebih tahan lama daripada NA.
18



4) Gula tetes MS, gula sirup SS, dan gula sirup superior SSS

       Meskipun warnanya merah, gula tetes tidak termasuk jenis gula kristal

merah tetapi jenis gula sirup. Gula sirup (SS) dan gula sirup superior (SSS)

dikenal sebagai soft sugar. Jenis gula ini tidak banyak diproduksi. SSS adalah

jenis gula berbutir halus merata yang telah dicampur dengan larutan gula invest.

5) Gula putih

       Gula putih yang dimaksud adalah SHS dan gula rafinade. Untuk SHS

tidak ada pembagian atas dasar spesifikasi butir yang ketat.

6) Gula pasir dan bahan pemanis non gula pasir

       Menurut Sawit et al. (1999) pemanis digolongkan menjadi dua, yaitu gula

dan non gula. Kelompok gula meliputi gula kristal, gula bukan kristal, dan gula

cair. Golongan non gula terdiri dari pemanis yang dibuat dari bahan tanaman

(misalnya dari Stevia) dan pemanis sintesis seperti saccharine (sodium).



2.5    Penelitian Terdahulu

       Meiditha (2003), menganalisis mengenai efisiensi produksi gula pasir di

PG Kebon Agung. Dalam pendugaan modelnya produksi gula dipengaruhi oleh

tujuh faktor produksi dan satu peubah dummy. Faktor produksi tersebut terdiri dari

bahan baku tebu, rendemen tebu, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja

musiman, residu dan jumlah bahan pembantu. Sedangkan variabel dummy

ditambahkan untuk mengetahui pengaruh dari kebijakan tataniaga gula dan

tataniaga impor terhadap produksi gula. Setelah dilakukan analisis regresi

dihasilkan lima variabel yang berpengaruh nyata, yaitu jumlah tebu, rendemen,

jam mesin, tenaga kerja tetap, dan tenaga kerja musiman serta variabel dummy.
19



Analisis efisiensi yang dilakukan dengan membandingkan antara NPMxi dengan

BKMxi hanya dapat menilai tiga faktor produksi, yaitu tebu, tenaga kerja tetap,

dan tenaga kerja musiman yang ketiganya dinyatakan belum efisien secara

ekonomis. Sedangkan dua faktor produksi lainnya, yaitu rendemen dan jam mesin

tidak dapat dilihat efisiensinya karena tidak dapat diukur tingkat harganya.

       Hidayat (2003), menganalisis kinerja produksi dan keuangan di PT PG

Rajawali II Unit PG Subang. Analisis yang dilakukan antara lain: Pertama,

analisis rasio untuk mengukur rentabilitas, aktivitas, dan leverage. Kedua, analisis

titik impas dan analisis profitabilitas untuk mengetahui hubungan biaya produksi

terhadap titik impas dan profitabilitas. Ketiga, analisis Du Pont untuk melakukan

identifikasi hubungan antara struktur biaya dengan kinerja keuangan. Hasil

analisis digunakan untuk merumuskan alternatif-alternatif perbaikan kondisi

perusahaan. Kinerja keuangan PG Subang cenderung naik pada tahun 1999-2001

dan menurun pada tahun 2002 untuk rentabilitas dan likuiditas.

       Nurrofiq (2005), menganalisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi

produksi gula di PG Djatiroto. Dalam analisisnya terdapat enam faktor produksi

yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula di PG Djatiroto, yaitu jumlah

tebu, rendemen, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan

lama giling. Dari keenam peubah tersebut hanya lima faktor produksi yang

berpengaruh nyata terhadap model produksi gula di PG Djatiroto, yaitu jumlah

tebu, rendemen, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, dan lama giling.

Pengolahan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan model regresi yang

menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi gula di PG Djatiroto serta rasio
20



NPM dan BKM untuk melihat efisiensi alokatif pabrik tersebut. Untuk perumusan

model produksi gula dipergunakan model fungsi produksi linier berganda.

       Wahyuni (2007), di dalam penelitiannya terdapat enam faktor produksi

yang diduga mempengaruhi produksi gula di PG Madukismo, Yogyakarta.

Faktor-faktor produksi tersebut antara lain: tenaga kerja tetap, tenaga kerja tidak

tetap, jumlah tebu, bahan pembantu, lama giling, dan jam mesin. Namun setelah

dianalisis menggunakan model regresi, ternyata hanya ada lima faktor produksi

yang berpengaruh nyata terhadap produksi gula, yaitu tenaga kerja tetap, tenaga

kerja tidak tetap, jumlah tebu, lama giling, dan jam mesin. Kemudian faktor-

faktor tersebut diukur tingkat efisiensinya dengan melihat perbandingan antara

nilai NPM dan BKM. Dalam penelitian ini, faktor-faktor produksi yang diukur

tingkat efisiensinya adalah jumlah tebu, tenaga kerja tetap, dan tenaga kerja

musiman karena ketiga faktor produksi tersebut dapat diukur tingkat harganya.

Dari nilai NPM dan BKM dari setiap faktor produksi dapat dijelaskan bahwa

pengalokasian sumberdaya dari ketiga faktor produksi belum optimal. Untuk

perumusan model produksi gula menggunakan model fungsi produksi linier

berganda.

       Dari penelitian-penelitian terdahulu, dapat disimpulkan faktor-faktor yang

diduga berpengaruh terhadap produksi gula dapat dilihat dari berbagai

karakteristik, yaitu usahatani, karakteristik dalam pabrik, keadaan pasar, serta

karakteristik kebijakan. Dalam segi usahatani faktor-faktor yang biasa diduga

berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu, dan tingkat rendemen.

Dalam pabrik faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula,

yaitu jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, residu, jumlah bahan
21



pembantu, dan lama giling. Sedangkan karakteristik di pasar berupa harga gula di

pasaran (domestik dan impor) serta kebijakan pergulaan yang dikeluarkan

pemerintah. Untuk penelitian yang dilakukan di pabrik gula Pagottan faktor-faktor

yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu, rendemen,

tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, jam mesin, serta lama

giling. Pendugaan ini berasal dari penelitian-penelitian terdahulu dan pengamatan

yang dilakukan di lapang. Dapat disimpulkan metode yang digunakan untuk

melihat faktor-faktor yang berpengaruh, yaitu metode OLS (Ordinary Least

Square). Model fungsi produksi yang biasa digunakan yaitu model fungsi Cobb-

Douglas dan model fungsi Linier.

       Dalam penelitian ini digunakan metode OLS (Ordinary Least Square)

dengan fungsi produksi Cobb-Douglas. Efisiensi merupakan hal penting yang

perlu diperhatikan dalam peningkatan produksi gula nasional. Efisiensi dapat

bermacam-macam, yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi

ekonomis. Efisiensi teknis dapat diukur dengan melihat perbandingan antara

persentase kapasitas giling dengan kapasitas terpasangnya, atau dapat juga dengan

mengukur antara rasio bahan baku dan gula yang dihasilkannya. Efisiensi alokatif

dapat diukur dengan membandingkan antara NPM dan BKM. Sedangkan efisiensi

ekonomis dapat dilihat dari persentase harga pokok dengan persentase harga

provenue, nilai titik impas serta nilai kemampuan laba. Dalam penelitian ini akan

dicari tingkat efisien alokatifnya. Dengan efisiensi alokatif ini maka diketahui

efisiensi dari faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula,

dimana efisiensi alokatif menilai pengorbanan yang dibutuhkan untuk menambah

suatu input terhadap hasil.
22



                         III   KERANGKA PEMIKIRAN


3.1     Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1   Teori Dan Fungsi Produksi

        Produksi merupakan kegiatan menghasilkan barang dan jasa. Untuk

memproduksi barang dan jasa tersebut digunakan sumberdaya yang disebut

sebagai faktor produksi (Lipsey et al, 1995). Faktor produksi seperti lahan, pupuk,

tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya

produksi yang diperoleh. Keputusan kombinasi penggunaan sumberdaya untuk

mencapai target produksi ditentukan oleh kebijaksanaan produsen. Untuk

menjelaskan kombinasi-kombinasi input yang diperlukan untuk menghasilkan

output, para ekonom menggunakan sebuah fungsi yang disebut fungsi produksi.

Pappas (1995) menambahkan fungsi produksi adalah sebuah pernyataan deskriptif

yang mengaitkan masukan dengan keluaran, yang memperlihatkan keluaran

maksimum yang dapat diproduksi dengan jumlah masukan tertentu. Umumnya

untuk menghasilkan output diperlukan lebih dari satu input. Secara matematis

fungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut:

        Y = f(X1, X2, X3,....,Xn)                                              (1)

Dimana:

        Y                      : output
        X1, X2, X3,....,Xn     : input-input yang digunakan dalam proses produksi


        Dengan fungsi produksi tersebut di atas, maka hubungan Y dan X dapat

diketahui dan sekaligus hubungan X1, X2,…, Xn dan X lainnya juga dapat
23



diketahui. Berbagai macam fungsi produksi telah dikenal dan dipergunakan oleh

berbagai peneliti, tetapi yang umum dan sering dipakai (Soekartawi, 1990), yaitu:

a. Fungsi Produksi Linier

       Secara matematis fungsi produksi linier dapat ditulis sebagai berikut:

       Y = f (X1, X2, X3,....,Xn)

Dimana:
       Y : variabel yang dijelaskan (dependent variable)
       X : variabel yang menjelaskan (independent variable)


       Fungsi produksi linier dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi produksi linier

sederhana dan linier berganda. Perbedaan ini terletak pada jumlah variabel X yang

dipakai pada model. Fungsi produksi linier sederhana biasa digunakan untuk

menjelaskan hubungan dua variabel. Model ini sering digunakan karena

analisisnya   dan   hasilnya    mudah   dimengerti    secara   cepat.   Sedangkan

kelemahannya terletak pada jumlah variabel X yang digunakan dalam model.

Karena hanya satu variabel yang dimasukkan maka peneliti akan kehilangan

informasi karena ada variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. Secara

matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

       Y = a + Bx + e

Dimana:

       a : intersep (perpotongan)

       b : koefisien regresi

       e : error term

       Untuk mengatasi masalah di atas maka peneliti biasanya menggunakan

fungsi produksi linier berganda. Berbeda dengan fungsi produksi linier sederhana,
24



fungsi produksi linier berganda menggunakan jumlah variabel lebih dari satu.

Secara matematis hal ini dapat ditulis berikut:

        Y = f (X1, X2, X3,....,Xn); atau

        Y = a + b1X1 + b2X2 + …. + biXi + … + b nXn + e

Dimana a, b, X,Y, dan e telah dijelaskan sebelumnya.

        Estimasi garis regresi linier berganda ini memerlukan bantuan asumsi dan

model estimasi tertentu sehingga diperoleh garis estimasi atau garis penduga yang

baik.

b. Fungsi Produksi Kuadatrik

        Rumus matematik dari fungsi produksi kuadratik atau juga disebut dengan

fungsi produksi polynomial kuadratik biasanya dituliskan sebagai berikut:

        Y = a + bX + cX2 + e

Dimana:

        Y       : variabel yang dijelaskan
        X       : variabel yang menjelaskan
        a,b,c   : parameter yang diduga
        e       : error term


        Berbeda dengan garis linier (sederhana dan berganda) yang tidak memiliki

nilai maksimum, maka fungsi kuadratik justru mempunyai nilai maksimum.

Dalam proses produksi pertanian, dimana berlaku hukum kenaikan hasil yang

semakin berkurang, maka fungsi kuadratik dapat dituliskan sebagai berikut:

        Y = a + bX – cX2 + e

c. Fungsi Produksi Eksponensial

        Secara umum fungsi produksi eksponensial dapat dituliskan sebagai

berikut:
25



       Y = aXb (biasanya disebut fungsi Cobb-Douglas)

       Menurut Soekartawi (2003) fungsi Cobb-Douglas adalah suatu fungsi atau

persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satu

disebut dengan variable yang dijelaskan (Y), dan yang lain disebut variabel yang

menjelaskan, (X). Penyelesaian hubungan antara Y dan X adalah biasanya dengan

cara regresi dimana variasi dari Y akan dipengaruhi oleh variasi dari X. Dengan

demikian kaidah-kaidah pada garis regresi juga berlaku dalam penyelesaian fungsi

Cobb-Douglas. Karena di dalam fungsi produksi eksponensial ini ada bilangan

berpangkat maka penyelesaiannya diperlukan bantuan logaritma.

d. Fungsi Produksi CES

       Fungsi produksi CES untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Arrow,

dkk (1960). Fungsi ini dipakai jika berlaku asumsi atau situasi constant return to

scale (CRS). Rumus matematik dari CES adalah sebagai berikut:

       Y = γ[δK-P + (1 - δ)L-P1-1/P]

Dimana:

       Y : output
       γ : parameter efisiensi (γ > 0)
       δ : distribusi parameter (0 < δ < 0)
       K : kapital
       L : input tenaga kerja
       p : parameter substitusi (p > -1)


       Oleh Fletcher (1968), fungsi produksi CES tersebut dimodifikasi dan juga

dipakai oleh Soskie (1968). Selanjutnya model CES yang telah di modifikasi ini

dilaporkan oleh Lau dan Fletcher (1969) dengan VES (variable elasticity of

substitution). Secara matematis fungsi VES dapat ditulis sebagai berikut:
26



        γ = γ [δK-p + (1 - δ)µ (KL)-C(1+p)L-p]-1/p

Dimana: µ dan C adalah konstan.

        Persamaan VES ini mempunyai cirri antara lain mempunyai produk

marjinal yang positif dan menurun ke bawah dan homogenitas. Persamaan VES

ini mempunyai ciri antara lain mempunyai produk marjinal yang positif dan

menurun ke bawah dan homogenitas derajat satu. Sedangkan kelemahan dari

fungsi VES ini adalah jumlah variabel yang dipakai terbatas, yaitu hanya dua

variabel. Bila digunakan lebih dari dua variabel maka penyelesaiannya akan

menjadi relatif lebih sulit.

e. Fungsi Produksi Transcendental

        Rumus umum dari fungsi produksi transcendental adalah sebagai berikut:

                 1   1 1   2   2 2
        Y=A     1          2         +u

Dimana:

        Y : output
        X : input
        a, b, c : parameter yang akan diduga
        e : bilangan konstan
        u : galat (disturbance term)


        Dalam kondisi-kondisi tertentu fungsi produksi transcendental ini akan

menjadi    fungsi    Cobb-Douglas.        Keunggulan   fungsi   ini   adalah   dapat

menggambarkan kondisi dimana produk marjinal dapat menaik, menurun, dan

menurun dalam “negatif” (negative marginal products). Sebaliknya kelemahan

dari fungsi ini adalah bila salah satu dari nilai X adalah nol maka fungsi tersebut

tidak dapat diselesaikan karena fungsi Y menjadi nol.
27



f. Fungsi Produksi Translog

       Fungsi produksi translog dapat dituliskan sebagai berikut:

       log Y = log A + b1 log X1 + b2 log X2 + b3 (log X1 log X2) + u

Dimana:

       Y : output
       X : input
       b1, b2, b3 : parameter yang diduga
       A : parameter yang juga berfungsi sebagai intersep
       u : galat (disturbance term)


       Fungsi produksi translog ini dapat berubah bentuknya menjadi fungsi

produksi Cobb-Douglas jika parameter b tidak berbeda nyata dengan nol.

       Bentuk fungsi produksi dipengaruhi oleh hukum ekonomi produksi, yaitu

“Hukum Kenaikan Hasil yang Semakin Berkurang (The Law of Diminishing

Return)”. Hukum ini menyatakan bahwa jika faktor produksi terus menerus

ditambahkan pada faktor produksi tetap maka tambahan jumlah produksi per

satuan akan semakin berkurang. Hukum ini menggambarkan adanya kenaikan

hasil yang negatif dalam kurva fungsi produksi. Fungsi produksi tersebut dapat

dilihat pada Gambar 2.

       Menurut Doll dan Orazem (1984) fungsi produksi klasik dapat dibagi

menjadi tiga wilayah atau tahap, masing-masing tahap tersebut penting dari segi

efisiensi penggunaan sumberdaya. Tiga tahap tersebut ditunjukkan pada Gambar

2. Tahap I terjadi ketika MPP lebih besar daripada APP. APP adalah peningkatan

seluruh Tahap I, mengindikasikan bahwa nilai rata-rata dimana input variabel, X,

ditransformasi menjadi produk, Y, meningkat hingga APP mencapai nilai

maksimum pada akhir Tahap I.
28



Y= output




                                          (a)             (b)                    TPP




                         I                      II              III

                                                                      X= input

MPP, APP




                         MPP



                      APP

                             I                  II              III

                                                                      X= input

               Gambar 2 Fungsi Produksi Klasik dan Tiga Tahap Produksi
                         Sumber: John P. Doll dan Frank Orazem, 1984

            Tahap II terjadi ketika MPP menurun dan kurang dari APP, tetapi lebih

besar dari nol. Efisiensi fisik dari input variabel mencapai puncak pada awal

Tahap II, hal ini terjadi ketika MPP sama dengan APP, batas ini ditunjukkan oleh

garis putus-putus (a). Di sisi lain, efisiensi input tetap terbesar adalah pada akhir

Tahap II. Hal ini dikarenakan angka unit-unit input tetap yang konstan, biasanya

pada angka satu. Oleh sebab itu, output per unit dari input tetap harus menjadi

yang terbesar ketika output total dari proses produksi mencapai nilai maksimum.
29



Tahap III terjadi dimana MPP bernilai negatif. Tahap III terjadi ketika jumlah

input variabel sudah berlebih dikombinasikan dengan input tetap yang sangat

besar, padahal total produksi sudah mulai menurun. Garis putus-putus (b) pada

Gambar 2. menunjukkan batas antara Tahap II dan Tahap III.

        Berdasarkan nilai elastisitasnya, fungsi produksi dibagi atas tiga daerah,

yaitu elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I), elastisitas produksi

antara nol dan satu (daerah II), dan elastisitas produksi lebih kecil dari nol (daerah

III). Daerah produksi I mempunyai nilai elastisitas produksi lebih dari satu,

artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan

penambahan produksi lebih besar dari satu persen. Keuntungan maksimum masih

belum tercapai karena produksi masih dapat ditingkatkan dengan penggunaan

faktor produksi yang lebih banyak. Oleh karena itu, daerah I disebut daerah

irrasional.

        Daerah II elastisitas produksinya bernilai antara nol dan satu. Hal ini

berarti bahwa setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan

menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah

nol. Pada tingkat penggunaan faktor produksi tertentu pada daerah ini akan

tercapai keuntungan maksimum. Oleh karena itu, daerah ini disebut daerah yang

rasional karena produsen harus menetapkan tingkat produksi yang dapat mencapai

maksimum.

        Elastisitas produksi pada daerah III adalah lebih kecil dari nol, yang

artinya setiap penambahan faktor-faktor produksi akan menyebabkan penurunan

jumlah produksi yang dihasilkan. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian

faktor-faktor produksi yang tidak efisien. Daerah ini disebut daerah irrasional.
30



Produsen yang rasional akan berhenti berusaha atau berupaya mencari alternatif

lain.

        Menurut Doll dan Orazem (1984) elastisitas produksi didefinisikan sebagai

sebuah konsep yang mengukur derajat responsivitas antara input dan output.

Elastisitas produksi, seperti elastisitas lainnya, tidak bergantung pada unit-unit

pengukuran. Elastisitas produksi ( p) dirumuskan sebagai berikut:


         p      =


Dari sini, elastisitas produksi ditentukan menjadi:

         p      = Y Y ÷       X X


                =   .     =


        Pada Tahap I, MPP lebih besar dari APP. Oleh sebab itu,     p lebih besar

dari satu. Pada Tahap II, MPP lebih kecil dari APP sehingga    p kurang dari satu

tetapi lebih besar dari nol. Pada Tahap III, MPP bernilai negatif sehingga      p

bernilai negatif.



        Menurut Lipsey et al (1990) ada beberapa macam nilai elastisitas baik

jangka panjang maupun jangka pendek, yaitu:

1. Jika nilai elastisitas sama dengan nol (E = 0), keadaan seperti ini dikatakan

    inelastis sempurna, dimana jumlah yang diminta atau yang ditawarkan tidak

    berubah dengan adanya perubahan harga.

2. Jika nilai elastisitas antara nol dan satu (0 < E < 1), keadaan ini dikatakan

    inelastis atau tidak responsif karena jumlah yang diminta atau yang
31



   ditawarkan berubah dengan persentase yang lebih kecil daripada perubahan

   harga. Pada kondisi ini perubahan satu persen variabel indepeden

   menyebabkan perubahan variabel dependen kurang dari satu persen.

3. Jika nilai elastisitas sama dengan satu (E = 1), keadaan seperti ini disebut

   unitary elastis, dimana jumlah yang diminta atau yang ditawarkan berubah

   dengan persentase yang sama dengan perubahan harga.

4. Jika nilai elastisitas lebih dari satu (E > 1), keadaan seperti ini dikatakan

   elastis atau responsif karena jumlah yang diminta atau yang ditawarkan

   berubah dalam persentase yang lebih besar daripada perubahan harga. Pada

   kondisi ini perubahan satu persen variabel independen akan menyebabkan

   perubahan variabel dependen lebih dari satu persen.


3.1.2 Konsep Efisiensi Produksi

       Pada umumnya efisiensi diartikan sebagai perbandingan antara nilai hasil

atau output terhadap nilai masukan atau input (Lipsey et al, 1995). Suatu metode

produksi dikatakan lebih efisien dari metode produksi lainnya apabila

menghasilkan produk yang lebih tinggi nilainya untuk nilai tingkat korbanan yang

sama atau dapat mengurangi korbanan untuk memperoleh produk yang sama. Jadi

konsep efisiensi merupakan konsep yang bersifat relatif (Soekartawi, 2003).

       Konsep efisiensi mengandung tiga pengertian, yaitu efisiensi teknis,

efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomi. Efisiensi teknis menyatakan sejumlah

produk yang dapat diperoleh dengan penggunaan kombinasi masukan yang paling

sedikit. Efisiensi teknis akan tercapai apabila di dalam mengalokasikan sumber-

sumber produksi tidak terdapat barang yang dapat diproduksi tanpa keharusan

untuk mengurangi produksi barang lainnya. Efisiensi alokatif menyatakan nilai
32



produk marginal sama dengan oportunitas dari masukan yang berarti setiap

tambahan biaya yang dikeluarkan untuk faktor produksi mampu menghasilkan

tambahan penerimaan yang besarnya sama dengan tambahan biaya. Produksi

output dikatakan efisien secara alokatif jika tidak ada cara lain untuk

memproduksi output yang dapat menggunakan seluruh nilai input dengan jumlah

yang lebih sedikit. Efisiensi teknis dan efisiensi alokatif merupakan komponen

dari efisiensi ekonomi (Semaoen, 1992 dalam Januarsini, 2000).

       Menurut Doll dan Orazem (1984) efisiensi ekonomi adalah kombinasi

input-input yang memaksimalkan tujuan individu atau sosial. Efisiensi ekonomi

ditentukan dalam dua syarat, yaitu syarat kebutuhan dan syarat kecukupan. Syarat

kebutuhan ditemukan pada proses produksi ketika: pertama tidak mungkin

memproduksi output dalam jumlah yang sama dengan input yang lebih sedikit,

dan kedua tidak mungkin memproduksi lebih banyak output dengan input yang

sama. Dalam analisis fungsi produksi, syarat ini ditemukan pada Tahap II dimana

jika elastisitas produksi sama dengan atau lebih dari nol dan sama dengan atau

kurang dari satu (0   p   1). Berbeda dengan syarat kebutuhan yang objektif, syarat

kecukupan untuk efisiensi meliputi tujuan-tujuan individu atau sosial.

       Kondisi efisien pada suatu perusahaan terkait dengan tujuan perusahaan

pada umumnya, yaitu untuk memaksimumkan keuntungan (profit). Keuntungan

tersebut dapat dicapai antara lain dengan cara memanfaatkan sejumlah input pada

tingkat optimumnya (Gambar 2). Secara matematis penggunaan input yang

optimum dapat diturunkan dari pengurangan keuntungan dengan biaya totalnya,

sesuai dengan persamaan berikut:

         = Py.Y – Px.X – TFC
33



  Dimana:

               : keuntungan
       Py      : harga output
       Px      : harga input
       Y       : output
       X       : input
       TFC     : biaya input total (Total Fixed Cost)
       Sedangkan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimum jika

diasumsikan bahwa di suatu perusahaan tidak terdapat kendala internal, maka

diisyaratkan bahwa turunan pertama dari persamaan di atas sama dengan nol.




            = Py          Px = 0
Sehingga persamaan umum menjadi:

                                                                             (2)


              = Py. MPPxi Pxi = 0                                            (3)



       Py. MPPxi = Pxi
       Atau

                                                                             (4)

Dengan membagi ruas kiri dan kanan dengan Py, maka persamaan menjadi:

       MPPxi =                                                               (5)


Dengan demikian secara matematis dapat diketahui besarnya marginal produk.

       Apabila harga faktor produksi tidak dipengaruhi oleh jumlah pembelian



       NPMXi = BKMxi
faktor produksi, persamaan dapat ditulis sebagai berikut:

                                                                             (6)


                =1                                                           (7)


       Untuk penggunaan lebih dari satu faktor produksi (i faktor produksi),

maka keuntungan maksimum dapat dicapai jika:
34



                  =                 =        =         =1                             (8)

                                NPM Xi
                                BKM xi
         Apabila rasio                   < 1, maka penggunaan faktor produksi telah

melampaui batas optimal sehingga produsen yang rasional akan mengurangi

penggunaan faktor produksi agar mencapai kondisi optimal. Namun di dalam

kegiatan untuk mencapai keuntungan yang maksimum, pada umumnya

perusahaan akan dihadapkan oleh beberapa kendala, terutama berupa kendala

internal. Kendala tersebut dapat berupa keterbatasan modal yang dimiliki

perusahaan untuk membeli faktor-faktor produksi sehingga dapat mencapai

kondisi yang efisien.

         Jika diasumsikan perusahaan menghadapi kendala internal berupa biaya



         Co =     i=1 xi   vi
produksi maka kondisi tersebut dapat ditulis dalam bentuk persamaan berikut:
                  n
                                                                                     (9)

Dimana:

         C : kendala biaya
         xi : faktor produksi ke-i
         vi : harga faktor produksi ke-i
         i : 1,2,3,...,n
         Dengan melibatkan unsur kendala berupa keterbatasan modal, maka untuk

mencapai kondisi maksimum profit dapat digunakan pendekatan teknik optimasi

klasik    (clasical        optimization       technique).   Dengan   menggunakan   fungsi

Lagrangian, maka pendapatan yang diperoleh perusahaan dapat dirumuskan



         L = Py + [ Co             i=1 xi   vi ]
sebagai berikut:
                                   n
                                                                                    (10)
35



Dimana:

       L : pendapatan perusahaan
       p : harga output
       y : jumlah output
          : multiplier Lagrange
       xi : faktor produksi ke-i
       vi : harga faktor produksi ke-i
       i : 1,2,3,...,n
       Sedangkan untuk mencapai kondisi keuntungan maksimum, maka

disyaratkan turunan pertama dari persamaan (10) terhadap variabel X dan




           =p              v =0
multiplier Lagrange ( ) sama dengan nol. Sehingga persamaan umum menjadi:

                                                                          (11)


          = C              x v =0                                         (12)

Dimana:

           : Marjinal produk dari xi


           : Nilai Produk Marjinal dari xi


Dari persamaan (11) dan (12), maka diperoleh persamaan sebagai berikut:

               =
       NPMxi
         vi
                                                                          (13)

       Jika di dalam produksi digunakan lebih dari 1 faktor produksi (i faktor

produksi), maka dapat diperoleh persamaan sebagai berikut:

               =            =
       NPMx1       NPMx2        NPMxi
         v1          v2           vi
                                                                          (14)
36



       Jika diasumsikan bahwa harga faktor produksi tidak dipengaruhi oleh

jumlah pembelian faktor produksi, maka persamaan (14) dapat dinyatakan dalam

bentuk:

                =              =        =                                           (15)


       Sehingga dapat diketahui bahwa dengan adanya kendala tertentu di
                                                                      NPM Xi
                                                                      BKM xi
perusahaan kondisi efisien tidak lagi mutlak terjadi pada saat                 = 1, namun

                          NPM Xi
                          BKM xi
dapat terjadi pada saat            = , dengan lamda ( ) adalah suatu nilai tertentu.



3.2    Kerangka Pemikiran Operasional

       PG Pagottan merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Timur.

Luas lahan HGB (Hak Guna Bangunan) PG Pagottan adalah 225.891 m2.

Kegiatan utama pabrik ini adalah memproduksi gula. Pabrik ini diindikasikan

mengalami masalah dalam penggunaan faktor-faktor produksi. Pabrik tersebut

mempunyai rata-rata produktivitas tebu per periode yang cukup besar, yaitu 75,8

ton per hektar selama tahun 2001 sampai 2007. Namun untuk rata-rata rendemen

dan produktivitas gula per periode dinilai masih rendah, yaitu sebesar 7,50 persen

dan 5,69 ton per hektar (Lampiran 3).

       Berdasarkan studi terdahulu, teori-teori serta pengamatan di lapang maka

produksi gula di Pabrik Gula Pagottan diperkirakan dipengaruhi oleh beberapa

variabel, yaitu jumlah tebu yang dipasok ke pabrik baik dari tebu rakyat maupun

tebu sendiri (tebu dari lahan sewa ke petani), rendemen tebu, jam mesin, tenaga

kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dugaan

pengaruh variabel tersebut terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu diduga
37



berpengaruh secara positif karena dengan semakin banyaknya tebu yang akan

digiling maka jumlah gula yang akan dihasilkan juga semakin banyak.

       Rendemen tebu diduga berpengaruh positif, dengan semakin tinggi

rendemen tebu maka jumlah gula yang dihasilkan juga akan semakin banyak. Jam

mesin diduga berpengaruh positif karena jika jumlah jam mesin yang tinggi maka

gula yang dihasilkan juga semakin banyak. Tenaga kerja tetap dan tenaga kerja

musiman diduga berpengaruh positif terhadap produksi gula, secara umum

semakin banyak tenaga kerja maka semakin banyak produksi gula yang

dihasilkan. Jumlah bahan pembantu diduga berpengaruh positif terhadap produksi

gula karena dengan semakin banyak jumlah bahan pembantu yang digunakan

maka kotoran-kotoran yang menganggu dalam proses produksi semakin sedikit

dan proses produksi semakin cepat sehingga gula yang dihasilkan juga akan

semakin banyak. Sedangkan lama giling diduga berpengaruh negatif terhadap

produksi gula karena semakin lama waktu giling maka rendemen akan semakin

turun dan selanjutnya produksi gula akan menurun.
38



PG Pagottan merupakan salah satu pabrik gula yang memiliki kapasitas
giling besar di bawah PTPN XI.



            Rendemen tebu yang dihasilkan masih rendah.



         Terjadi inefisiensi terhadap penggunaan faktor-
         faktor produksi.



Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula:



Karakteristik Usahatani:             Karakteristik Pabrik:

1. Jumlah tebu                        1. Tenaga kerja tetap
2. Rendemen                           2. Tenaga kerja musiman
                                      3. Lama giling


             Model Fungsi Produksi Cobb-Douglas
             dengan pendugaan OLS.




          Analisis Elastisitas           Analisis Efisiensi




                 Efisiensi Produksi Gula di PG Pagottan


       Gambar 3 Bagan Kerangka Pemikiran Operasional
39



                        IV    METODE PENELITIAN



4.1    Lokasi dan Waktu Penelitian

       Penelitian ini dilaksanakan di PG Pagottan, Madiun, Jawa Timur.

Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

bahwa pabrik gula ini merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Timur

yang masih dapat beroperasi dengan baik di saat banyak pabrik gula yang tutup

sehingga pabrik ini sangat berpotensi membantu penyediaan kebutuhan gula

nasional.

       Penyusunan rencana penelitian (proposal penelitian) dilakukan pada Bulan

Maret 2008 sampai dengan Bulan April 2008. Selanjutnya pengumpulan data di

lapang berlangsung mulai Bulan Mei 2008. Kegiatan pengolahan data dan

penyusunan skripsi dilakukan mulai Bulan Juni sampai Agustus 2008.



4.2    Sumber dan Jenis Data

       Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan berupa data primer dan data

sekunder. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder

diperoleh dari catatan atau dokumen yang terdapat di Pabrik Gula Pagottan dan

lembaga-lembaga lain yang terkait. Data sekunder yang merupakan data time

series (deret waktu) terdiri dari data output dan input sejak tahun 2001 sampai

tahun 2007 serta harga input dan output rata-rata di PG Pagottan dari tahun 2001-

2007. Sedangkan untuk data primer diperoleh dari wawancara terhadap

administratur, kepala bagian, karyawan pabrik, dan petani serta pengamatan
40



langsung untuk mendapatkan informasi tambahan. Secara terperinci jenis data

yang dibutuhkan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Jenis dan Sumber Data Penelitian
           Keterangan                         Jenis Data                  Sumber
                                  a. Sejarah Umum Pabrik
                                  b. Tinjauan Geografis dan Iklim
                                  c. Perkembangan Pabrik
  Gambaran Umum Perusahaan                                          Pabrik Gula Pagottan
                                  d. Proses Produksi Gula
                                  e. Struktur Organisasi
                                     Perusahaan
                                   Output
                                  a. Produksi Gula
                                  b. Produktivitas Gula
                                  c. Harga Gula

                                    Input
                                  a. Produksi Tebu
      Data Output dan Input       b. Rendemen Tebu                  Pabrik Gula Pagottan
                                  c. TK Tetap
                                  d. TK Musiman
                                  e. Bahan Pembantu
                                  f. Lama Giling
                                  g. Harga Tebu
                                  h. Gaji TK Tetap
                                  i. Upah TK Musiman




4.3     Metode Analisis Data

        Data dan informasi yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan

kuantitatif. Pengolahan secara kualitatif digambarkan dengan perkembangan

perusahaan secara umum, proses produksi serta sistem agribisnis gula.

Pengolahan kuantitatif menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas untuk

menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di Pabrik Gula
                        NPMx1
                        BKMx1
Pagottan serta rasio            untuk melihat efisiensi alokatif pabrik tersebut. Bentuk

model fungsi produksi yang digunakan untuk membuat fungsi produksi gula

adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas. Model ini dipilih karena fungsi

produksi Cobb-Douglas merupakan model yang umum digunakan dalam
41



penelitian ekonomi selain itu menurut Soekartawi (2003) terdapat tiga alasan

pokok mengapa fungsi produksi Cobb-Douglas lebih banyak dipakai oleh para

peneliti, yaitu: Pertama, penyelesaian fungsi produksi Cobb-Douglas relatif lebih

mudah dibandingkan dengan fungsi yang lain, seperti fungsi kuadratik karena

fungsi Cobb-Douglas dapat dengan mudah ditransfer ke bentuk linier. Kedua,

hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan koefisien

regresi yang sekaligus juga menunjukkan besaran elastis. Ketiga, besaran

elastisitas tersebut sekaligus menunjukkan tingkat besaran return to scale. Namun

karena penyelesaian fungsi Coob-Douglas selalu dilogaritmakan dan diubah

bentuk fungsinya menjadi fungsi linear, maka ada beberapa persyaratan yang

harus dipenuhi sebelum peneliti menggunakan fungsi Cobb-Douglas. Persyaratan

ini antara lain:

a. Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol. Sebab logaritma dari nol adalah

    suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui (infinite).

b. Dalam fungsi produksi, perlu asumsi bahwa tidak ada perbedaan teknologi

    pada    setiap   pengamatan    (non-neutral     difference   in   the   respective

    technologies). Ini artinya jika fungsi Cobb-Douglas yang dipakai sebagai

    model dalam suatu pengamatan dan diperlukan analisis lebih dari satu model

    (dua model) maka perbedaan model tersebut terletak pada intercept dan bukan

    pada kemiringan garis (slope) model tersebut.

c. Tiap variabel X adalah perfect competition.

d. Perbedaan lokasi (pada fungsi tersebut) seperti iklim adalah sudah tercakup

    pada faktor kesalahan, u.
42



          Fungsi produksi Cobb-Douglas untuk produksi gula dapat dituliskan

sebagai berikut:

                    i=1 Xi
                    7    bi
      Y=                      eu
Dimana:

          Y         : jumlah hasil produksi (kuintal)
          Xi        : faktor produksi ke-i
          i         : 1,2,3,…,7
          X1        : jumlah tebu (ton)
          X2        : rendemen (persen)
          X3        : jam mesin (jam)
          X4        : tenaga kerja tetap (orang)
          X5        : tenaga kerja musiman (orang)
          X6        : bahan pembantu (ton)
          X7        : lama giling (hari)
                    : intersep
          u         : error term (galat)
              1, 2,..., 6 : nilai dugaan besaran parameter



          Untuk variabel independent seperti jumlah tebu giling ( 1>0), rendemen

  2>0),   jam mesin ( 3>0), tenaga kerja tetap ( 4>0), tenaga kerja musiman ( 5>0),

bahan pembantu ( 6>0) diduga berpengaruh positif terhadap produksi gula,

artinya setiap penambahan satu satuan dalam variabel-variabel tersebut akan

menambah jumlah tertentu (satuan) variabel produksi gula di pabrik. Sedangkan

untuk lama giling ( 7<0) diduga berpengaruh negatif terhadap produksi gula,

artinya setiap penambahan jumlah hari giling dalam periode optimal (170-180

hari) akan mengurangi jumlah produksi gula di pabrik.

          Sebelum dilakukan analisis lanjutan, maka harus dilakukan pemilihan

fungsi produksi Cobb-Douglas terbaik, yang sesuai untuk data produksi yang
43



tersedia. Pemilihan fungsi tersebut antara lain didasarkan pada asumsi OLS.

Asumsi pertama dari model regresi adalah suatu model dikatakan baik jika

memenuhi asumsi normalitas. Normalitas menunjukkan bahwa residu atau sisa

diasumsikan mengikuti distribusi normal. Pengujian ini dapat dilihat melalui

grafik yang dihasilkan output komputer. Apabila tebaran sisaan membentuk suatu

garis lurus maka asumsi ini terpenuhi. Asumsi OLS lain yang harus terpenuhi

adalah bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas di dalam fungsi. Gejala

multikolinearitas tersebut dapat ditunjukkan oleh nilai Variance Inflation Factor

(VIF). Menurut Kleinbaum dalam Meidhita (2003) tingkat multikolinearitas yang

tinggi ditunjukkan oleh nilai VIF yang lebih besar dari 10. Nilai VIF tersebut

dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
                      1
                 (1       )
       VIFxj =
Dimana:


       R2
      VIFxj : Variance Inflation Factors peubah bebas ke-j

        j     : nilai koefisien determinasi pada xj yang merupakan fungsi dari
                 peubah bebas lainnya


       Selain itu suatu fungsi dikatakan baik apabila telah memenuhi asumsi OLS

yang lain, yaitu tidak terdapat gejala autokorelasi. Autokorelasi dapat

didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang

diurutkan menurut waktu seperti dalam data time series atau ruang seperti dalam

data cross-sectional (Gujarati, 1991). Salah satu metode yang dapat digunakan

untuk menguji gejala autokorelasi tersebut adalah dengan menggunakan Uji

Durbin-Watson (Gujarati, 1991) yang dapat diperoleh dari pengolahan data

dengan menggunakan program Minitab 14. Pada output komputer dapat dilihat
44



apabila nilai Durbin watson mendekati dua maka tidak terjadi masalah

autokorelasi (Pappas, 1995).

       Suatu fungsi dikatakan baik apabila memenuhi asumsi homoskedastisitas

(ragam error yang sama). Untuk dapat membuktikan kesamaan varians

(homoskedastisitas) secara visual dengan cara melihat penyebaran nilai-nilai

residual terhadap nilai-nilai prediksi. Jika penyebarannya tidak membentuk pola

tertentu seperti meningkat atau menurun, maka keadaan homoskedastisitas

terpenuhi.

       Model terbaik juga dapat dilihat dari nilai MSE yang merupakan akar dari

error term. Semakin kecil nilai MSE maka semakin baik suatu model karena

selisih jarak antara nilai aktual dan nilai model semakin kecil.

       Suatu fungsi produksi dikatakan semakin baik apabila memiliki nilai

koefisien determinasi (R2) yang semakin tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa

semakin tinggi nilai koefisien determinasi persamaan maka faktor-faktor produksi

di dalam persamaan model fungsi produksi semakin berpengaruh terhadap hasil

produksi. Dari fungsi produksi dugaan terbaik yang telah diperoleh sebelumnya,

maka dapat diketahui apakah faktor-faktor produksi telah dimanfaatkan secara

efisien. Yaitu dengan menghitung rasio antara nilai produk marjinal dan biaya

korbanan marjinal untuk faktor produksi tertentu.

       Di dalam fungsi produksi Cobb-Douglas besarnya produk marjinal faktor

produksi ke-i (MPPxi) adalah (Heady dalam Meiditha, 2003):

                       Y
                       Xi
       MPPxi =
                       Y
                   i


                       Xi
               =   i
45



Dimana:
      MPPxi                 : produk marjinal faktor produksi ke-i


          Xi
              i             : nilai dugaan parameter ke-i


          Y*                : nilai dugaan output
                            : rata-rata geometri faktor produksi ke-i


          i                 : 1,2,3,...,7

          Untuk mengetahui apakah rasio tersebut sudah memenuhi kondisi efisien,

maka diperlukan pengujian rasio tersebut secara statistik, yaitu dengan menguji
                  NPMx1
                  BKMx1
apakah nilai              secara signifikan berbeda dari satu. Apabila nilai rasio yang

dihasilkan lebih besar atau kurang dari satu maka faktor produksi yang digunakan

belum efisien, namun jika nilai rasionya sama dengan satu berarti faktor produksi

yang digunakan sudah efisien.



4.4       Pengukuran Variabel

          Konsep pengukuran variabel yang dipakai dalam penentuan pendugaan

fungsi produksi gula ini terdiri dari variabel bebas (independent variable) dan

variabel tidak bebas (dependent variable). Produksi gula merupakan variabel tak

bebas, yaitu peubah yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dalam model.

Sedangkan variabel bebas adalah variabel yang tidak dipengaruhi oleh faktor lain

dalam model, seperti jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap,

tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling.

          Dalam menganalisis efisiensi produksi gula, variabel-variabel yang diukur

adalah:
46



1. Produksi gula (Y)

       Gula yang dimaksud adalah gula tebu atau gula pasir atau gula putih

(refined sugar), gula ini dihasilkan dari tebu rakyat maupun tebu sendiri yang

dinyatakan dalam satuan ton. Setelah tata niaga gula lepas dari Bulog (Badan

Urusan Logistik) maka untuk pemasaran gula dilakukan dengan dijual sendiri

maupun dilelang dengan tingkat harga terendah sebesar harga provenue (harga

dasar yang ditetapkan pemerintah).

2. Jumlah tebu (X1)

       Jumlah tebu adalah tebu yang dihasilkan dari tebu sendiri (TS) yang

lahannya adalah lahan sewa dan lahan tebu rakyat (TR). Satuan yang digunakan

adalah ton. Harga tebu diperkirakan berasal dari biaya pengolahan tanah,

pembibitan, budidaya, dan tebang-angkut tebu.

3. Rendemen (X2)

       Rendemen tebu adalah kadar kandungan gula di dalam batang tebu yang

dinyatakan dalam satuan persen. Bila dinyatakan bahwa rendemen tebu 10 persen,

artinya bahwa dari 100 kilogram tebu yang digiling di PG akan diperoleh gula

sebanyak 10 kilogram. Nilai persentase rendemen tersebut diperoleh dari rumus:

       Rendemen       = Sejumlah hablur (gula yang dihasilkan)   x 100%

                             Sejumlah tebu yang digiling

       Rendemen ini diperkirakan tidak dapat dinilai efisiensi alokatifnya karena

tidak dapat ditentukan harganya, namun dengan menilai elastisitasnya maka dapat

diketahui pengaruhnya terhadap produksi gula.
47



4. Jam mesin (X3)

       Mesin merupakan salah satu faktor produksi yang digunakan dalam proses

produksi gula. Jam mesin yang digunakan akan berpengaruh terhadap keluaran

yang dihasilkan dari kegiatan produksi tersebut. Berdasarkan sifat proses produksi

gula yang kontinyu, apabila terjadi kerusakan atau kemacetan pada salah satu

mesin maka akan mengakibatkan kemacetan pada proses produksi secara

keseluruhan sehingga kegiatan produksi gula dipengaruhi oleh kemampuan mesin

untuk beroperasi, salah satunya ditunjukkan oleh nilai jam mesin. Satuan yang

digunakan untuk jam mesin adalah jam.

5. Tenaga kerja tetap (X4)

       Tenaga kerja tetap adalah pekerja yang sifat hubungan kerjanya tidak

ditentukan batas waktunya oleh peraturan-peraturan sehingga mereka harus

melakukan pekerjaannya baik pada saat giling maupun tidak giling. Satuan yang

digunakan adalah orang. Gaji tenaga kerja tetap dihitung berdasarkan tingkat

golongan pekerja.

6. Tenaga kerja musiman (X5)

       Tenaga kerja musiman adalah pekerja yang sifat hubungannya ditentukan

oleh batas waktu yang pada umumnya bekerja pada saat giling. Satuan tenaga

kerja musiman yang digunakan adalah orang. Upah tenaga kerja dihitung dari

upah yang diberikan dalam suatu proses pekerjaan.

7. Bahan pembantu (X6)

       Bahan pembantu yang banyak digunakan dalam proses produksi gula di

PG Pagottan adalah kapur tohor, belerang, P2O5, dan flokulant. Kapur tohor dan

belerang ini digunakan untuk memurnikan gula dengan sistem sulfitasi alkalis.
48



Sedangkan P2O5 digunakan sebagai peningkat kadar fosfat dalam nira mentah.

Flokulant berfungsi untuk mempercepat pengendapan kotoran di dalam nira

selama proses produksi berlangsung. Satuan yang digunakan adalah ton.

8. Lama giling (X7)

       Lama giling adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengolah tebu menjadi

gula dalam satu musim giling. Satuan lama giling adalah hari.
49



                 V     GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN



5.1    Sejarah dan Struktur Organisasi Perusahaan

5.1.1 Sejarah Perusahaan

       Pabrik Gula (PG) Pagottan didirikan oleh N.V. Kooy Coosteren Van

Voorhout pada tahun 1905. Sejarah perkembangan PG Pagottan terdiri dari

beberapa periode yang sering mengalami pergantian kepemilikan sesuai dengan

perubahan waktu dan perubahan pemerintahan sampai akhirnya PG Pagottan

menjadi sebuah BUMN. Berikut sejarah perkembangan PG Pagottan berdasarkan

pergantian kepemilikan:

1) Tahun 1941-1945 (masa pendudukan Jepang) : PG Pagottan digunakan untuk

  memproduksi semen dengan bahan baku gipa.

2) Tahun 1945-1948 (masa revolusi fisik) : PG Pagottan diambil alih oleh rakyat

  Indonesia dan dimanfaatkan untuk membuat ubin. Sedangkan sebagian

  halaman pabrik digunakan untuk membuat senjata (granat tangan).

3) Tahun 1948-1949 (masa agresi Belanda) : Belanda kembali menguasai

  Indonesia dan PG Pagottan dijadikan markas Belanda.

4) Tahun 1949-1956 (masa kedaulatan RI) : Dimulai pembangunan kembali PG

  Pagottan yang rusak akibat perang.

5) Tahun 1956-1957 : Pada periode ini Bank Industri Negara (BIN) mengelola

  Suiker Onderneming Pagottan dan merubah namanya menjadi Pabrik Gula

  Pagottan.

6) Tahun 1958-1967 : Berdasarkan Keputusan Pengesahan Militer dan Menteri

  Perkebunan N0. 1063/PMT/1957 tanggal 9 Desember 1957 PG Pagottan
50



  dikelola oleh Pusat Perkebunan Negara dan jawatan Kementrian Pertahanan

  dengan nama BPU-PPN Gula Daerah V yang berpusat di Surabaya.

7) Tahun 1968-1981 : Pemerintah membentuk badan hukum negara dengan nama

  Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) XX yang berpusat di Surabaya. PG

  Pagottan termasuk dalam wilayah pengelolaan PNP XX.

8) Periode 1981-1996 : Berdasarkan peraturan pemerintah No.6 Tahun 1973 dan

  PP No. 43 Tahun 1979, maka pada tanggal 2 Mei 1981 PNP XX berubah nama

  menjadi PT Perkebunan XX (Persero).

9) Periode 1996-2008 : Berdasarkan PP No.16 tanggal 14 Februari 1996 PTP XX

  dan PTP XXIV-XXV dibubarkan dan dibentuk badan usaha yang sama sekali

  baru dengan nama PT Perkebunan Nusantara XI (Persero).


5.1.2   Struktur Organisasi Perusahaan

        Pabrik Gula Pagottan merupakan salah satu unit usaha yang berada

dibawah naungan PTP Nusantara XI (Persero). Di dalam menjalankan kegiatan

produksinya, PG Pagottan mempunyai visi (Visi N-XI), yaitu PG Pagottan

menjadi perusahaan perkebunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan

stakeholders   secara   berkesinambungan.    Sedangkan    Misi   N-XI,    yaitu

menyelenggarakan usaha agribisnis utamanya yang berbasis tebu melalui

pemanfaatan sumberdaya secara optimal dengan memperhatikan kelestatrian

lingkungan. Selain visi dan misi, dalam menjalankan kegiatan operasionalnya PG

Pagottan juga menerapkan budaya perusahaan, yaitu: 1) Sukses merupakan hasil

kerja sama yang didukung prakarsa perseorangan, 2) Senantiasa berorientasi pada

pertumbuhan dengan menciptakan dan memanfaatkan peluang, 3) Mutu

melandasi setiap perilaku. Sistem organisasi di PG Pagottan secara garis besar
51



menganut sistem organisasi fungsional yang dipimpin oleh seorang administratur

dan dibantu oleh empat orang kepala bagian (Kabag), yaitu Kabag Tanaman,

Kabag TUK (Tata Usaha dan Keuangan), Kabag Pabrikasi/Pengolahan, dan

Kabag Instalasi. Untuk lebih jelasnya strktur organisasi dapat dilihat pada Gambar

4.

                                      ADMINISTRATUR




      KABAG                KABAG TUK                 KABAG           KABAG
     TANAMAN                                        PABRIKASI      INSTALASI




                                      KARYAWAN


              Gambar 4 Struktur Organisasi Pabrik Gula Pagottan
                            Sumber : Pabrik Gula Pagottan, 2008


         Adapun mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian adalah

sebagai berikut:

Administratur

1. Merencanakan dan menetapkan kebijaksanaan dalam pengelolaan perusahaan

     sesuai dengan yang telah digariskan.

2. Memimpin, mengendalikan, dan mengkoordinir secara fisik pelaksanaan tugas

     bagian Tata Usaha dan Keuangan (TUK), Tanaman, Pabrikasi, dan Instalasi

     agar tercapai kesatuan tindak.

3. Bertanggung jawab atas pelaksanaan rencana yang sudah ditetapkan direksi

     dengan RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan).

4. Menyelesaikan dan memutuskan masalah baik dengan intern maupun ekstern.
52



5. Mengkoordinir dan memberikan pengarahan kepada setiap Kabag.

Kabag Tanaman

1. Menyediakan bahan baku tebu siap giling untuk diolah menjadi gula produk.

2. Memberikan saran, pendapat, dan umpan balik kepada administratur dalam

  persoalan di bidang tanaman, tebang, dan angkutan tebu.

Kabag TUK (Tata Usaha dan Keuangan)

1. Menjalankan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan

  administratur dalam bidang TUK sesuai dengan yang digariskan oleh direksi

  secara berhasil guna dan berdaya guna.

2. Mengkoordinir dan melaksanakan tugas-tugas dalam bidang TUK, antara lain:

  a. Perencanaan, pembukuan, penggudangan, umum, kesekretariatan, dan

     tenaga kerja.

  b. Mengkoordinasi antar bagian dan mengawasi sub bagian.

  c. Berdasarkan penunjukan mewakili administratur bila sedang tidak ada.

Kabag Pabrikasi

1. Bertanggung jawab terhadap proses produksi dalam pabrik mulai dari

  penimbangan tebu sampai menjadi gula produk.

2. Bertanggung jawab terhadap penyimpanan gula di gudang sebelum di

  pasarkan.

3. Memberikan pendapat dan umpan balik yang berhubungan dengan bidangnya.

4. Membantu administratur secara aktif dalam menyusun rencana anggaran

  belanja di bidang pengolahan.

5. Bertanggung jawab atas lancarnya operasi produksi pabrik.
53



Kabag Instalasi

1. Bertanggung jawab terhadap pengadaan, operasi, dan pemeliharaan mesin-

  mesin serta perlengkapan lainnya.

2. Berkoordinasi dengan bagian-bagian lain yang berhubungan dengan masalah

  proses produksi, penyediaan sarana dan prasarana perkantoran serta perumahan

  karyawan.

3. Sebagai pembantu administratur dalam mengadakan hubungan dengan pihak

  luar yang berkaitan dengan permasalahan instalasi pabrik.


5.2    Tinjauan Geografis dan Iklim Wilayah PG Pagottan

       Pabrik Gula Pagottan berada di Desa Pagottan, Kecamatan Geger,

Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Secara geografis PG Pagottan terletak pada

7°42’11’’ - 7°48’25’’ Lintang Selatan dan 111°32”20 - 111°42’11’’ Bujur Timur

dengan ketinggian 94m di atas permukaan laut. PG Pagottan terletak 175 km dari

ibukota propinsi dan 9 km dari ibukota kabupaten.

       Iklim merupakan faktor yang sangat penting pengaruhnya terhadap proses

pertumbuhan tanaman tebu dan erat hubungannya dengan pelaksanaan pekerjaan

dengan mekanisasi pertanian terutama terhadap pengoperasian alat dan mesin

pertanian. Iklim secara umum terdiri dari curah hujan, jumlah hari hujan, tipe

iklim suhu udara, kelembaban udara, dan lama penyinaran. Bila diklasifikasikan

menurut Oldeman dan Syarifuddin, PG Pagottan termasuk ke dalam tipe iklim C3

dengan 6 bulan basah dan 6 bulan kering yang sangat sesuai untuk pertumbuhan

tebu. Sedangkan menurut Schmidt dan Ferguson PG Pagottan termasuk ke dalam

tipe iklim basah. Rata-rata curah hujan per tahun di wilayah PG dan sekitarnya,
54



yaitu sebesar 1.544 mm dengan jumlah hari hujan rata-rata 98 hari. Suhu udara

PG Pagottan rata-rata sebesar 26,5°C dan kelembaban nisbi sebesar 80 persen.


5.3    Kemitraan Antara PG dan Petani

       Setelah Inpres No. 9/1975 mengenai Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI)

dihentikan pelaksanaannya, maka PG “diwajibkan” untuk mengadakan hubungan

kemitraan dengan petani tebu, kemitraan ini juga didukung oleh Undang-undang

No. 9/1995 tentang Usaha Kecil dan PP No. 44/1997 tentang Kemitraan. Di

samping itu hubungan kemitraan merupakan tuntutan objektif dari PG-PG yang

tidak memiliki areal HGU tetapi masih memerlukan tambahan areal untuk

mencukupi kapasitas gilingnya seperti PG Pagottan.

       Pola kemitraan di PG Pagottan didasarkan pada prinsip saling

menguntungkan antar petani tebu sebagai pemasok dan PG sebagai pemroses

(mengolah tebu menjadi gula). Keduanya mempunyai hak dan kewajiban yang

dirumuskan bersama-sama mencakup segala aspek baik pengadaan input,

budidaya, pengolahan maupun pemasarannya. Kemitraan secara menyeluruh

penting karena kemitraan pada dasarnya adalah strategi bisnis yang dilakukan

oleh dua atau lebih lembaga dalam jangka waktu tertentu untuk meraih manfaat

bersama, ataupun keuntungan bersama sesuai prinsip saling membutuhkan dan

mengisi. Selain itu kemitraan merupakan instrumen kerjasama yang mengacu

pada terciptanya suasana antara keseimbangan dan keselarasan yang saling

bersinergi, saling membutuhkan, saling menguntungkan, saling memperkuat

(etika bisnis), keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta setara dalam hal

bargaining position.
55



       Dalam pengadaan input kemitraan yang dibangun antara PG dan petani,

yaitu untuk input modal kerja, PG menjadi penjamin (avalist) kredit yang

disalurkan oleh pemerintah melalui bank kepada petani seperti Kredit Ketahanan

Pangan (KKP). PG juga mengenalkan varietas-varietas yang cocok untuk

dikembangkan agar dapat menghasilkan produksi tebu yang optimal. Untuk input

lahan, PG berlaku sebagai penyewa karena PG tidak mempunyai lahan HGU.

Biasanya PG menyewa lahan petani selama satu musim tanam dengan ketentuan

yang telah disepakati bersama. Perbandingan antara jumlah tebu yang ditanam

sendiri dan tebu rakyat adalah 34 banding 66. Dalam budidaya kemitraan

dilakukan dengan cara PG memberikan pembinaan budidaya tebu yang baik serta

melakukan pengawasan terhadap kebun-kebun petani agar dihasilkan tebu dengan

kriteria MBS (Manis, Bersih, Segar). Dalam kegiatan pasca panen PG

memberikan bantuan transportasi tebu kepada para petani khususnya yang

menerima kredit. Dalam pengolahan kemitraan yang dilakukan, yaitu petani

memasok tebu ke PG yang sesuai kriteria (MBS) serta tepat waktu. Sedangkan di

dalam pemasaran kemitraan dilakukan dimana PG dan petani bersama-sama

memperjuangkan agar menerima harga gula secara layak.



5.4    Perkembangan Produksi Pabrik

       Perkembangan produksi di PG Pagottan dapat ditinjau dari beberapa hal,

antara lain penyediaan bahan baku, keberhasilan dalam proses pengolahan, serta

ketersediaan tenaga kerja. Data yang dianalisis merupakan data-data yang terjadi

selama tujuh tahun terakhir. Untuk melihat kinerja penyediaan bahan baku maka

dapat dilihat perkembangan dari luas lahan yang digunakan, jumlah tebu yang
56



dihasilkan, produktivitas tebu per ha serta tingkat rendemen yang dihasilkan.

Keberhasilan dalam proses pengolahan dapat dilihat dari data produksi gula, lama

giling serta pemakaian bahan pembantu, yaitu belerang, kapur tohor, P2O5, dan

flokulant. Sedangkan untuk melihat ketersediaan tenaga kerja dapat melihat

formasi karyawan PG Pagottan.

1) Luas lahan

       Bahan baku yang dipasok ke PG Pagottan berasal dari dua sumber, yaitu

tebu yang berasal dari petani yang disebut sebagai Tebu Rakyat (TR) dan tebu

yang berasal dari lahan yang disewa PG Pagottan yang disebut sebagai Tebu

Sendiri (TS). Luas lahan yang dimaksud adalah luas lahan tebu yang digiling.

Berdasarkan Lampiran 3 terlihat bahwa dari periode pertama masa giling 2001

hingga periode akhir masa giling 2007, luas lahan mengalami peningkatan sebesar

2,44 persen per periode. Pada Lampiran 2 juga dapat dilihat bahwa pada tahun

2004 luas lahan dalam satu periode giling tidak sama, hal ini disebabkan oleh

adanya penambahan areal dari PG sesaudara, yaitu PG yang berada di wilayah

kerja PTPN XI dan letaknya masih dalam satu kabupaten. Total luas lahan yang

berasal dari PG sesaudara pada tahun 2004 adalah 1,665 ha.

       Terdapat beberapa alasan mengapa PG sesaudara menggilingkan tebunya

di PG Pagottan. Pertama karena adanya kondisi cost major, yaitu kondisi tidak

normal yang dihadapi PG sesaudara, seperti terjadi kebakaran lahan tebu sebelum

waktunya giling sehingga dirasa lebih menguntungkan jika PG sesaudara ikut

menggilingkan tebunya pada PG yang telah memasuki masa giling. Alasan

lainnya adalah ketika PG sesaudara mengalami kerusakan mesin dan

membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperbaikinya, sehingga untuk
57



mengurangi kerugian maka PG sesaudara menggilingkan tebunya ke PG lain (PG

Pagottan).

2) Jumlah tebu

          Tanaman tebu merupakan bahan baku utama dalam kegiatan proses

produksi gula pasir, sehingga ketersediaannya sangat mempengaruhi kegiatan

produksi. Dari perkembangan jumlah pasokan tebu yang terlihat pada Lampiran 3,

dapat diperoleh gambaran bahwa pertumbuhan produksi tebu rata-rata di pabrik

dari periode awal masa giling 2001 sampai periode akhir masa giling 2007

cenderung mengalami peningkatan sebesar 1,45 persen per periode. Peningkatan

jumlah tebu ini sangat dipengaruhi oleh pasokan bahan baku dari tebu sendiri

yang mengalami peningkatan sebesar 4,68 persen per periode dan peningkatan

yang cukup signifikan dari tebu rakyat, yaitu sebesar 14,2 persen per periode.

Peningkatan produksi tebu, baik untuk tebu sendiri maupun tebu rakyat sangat

dipengaruhi oleh peningkatan luas lahan dan produktivitas tebu per hektar.

Penurunan produksi tebu yang cukup drastis terjadi pada tahun 2001 baik untuk

produksi tebu rakyat maupun tebu sendiri, dengan total penurunan mencapai 40

persen.

3) Kualitas tanaman tebu

          Selain kuantitas pasokan bahan baku tebu, produksi gula juga dipengaruhi

oleh kualitas pasokan tebu tersebut. Kualitas tebu didasarkan pada kadar gula

dalam tebu, yang dapat ditunjukkan oleh tingkat rendemen. Besarnya nilai

rendemen antara lain dipengaruhi oleh budidaya tebu (jenis lahan, iklim, varietas,

pupuk, tanaman pertama atau keprasan), tingkat kemasakan sebelum ditebang,

jarak waktu tebang-giling, serta kinerja pabrik. Pada budidaya tebu di lahan sawah
58



umumnya mempunyai rendemen yang lebih tinggi daripada lahan tegalan.

Rendemen akan tinggi bila iklim dan jumlah pupuk yang diberikan sesuai dengan

kebutuhan pertumbuhan tebu dimana pada umumnya tebu membutuhkan banyak

air dan pupuk pada saat tanam dan membutuhkan keadaan yang kering sebelum

tebang agar berfotosintesis secara optimal. Disamping itu membudidayakan

tanaman pertama akan mendapatkan rendemen yang lebih tinggi daripada

membudidayakan tanaman keprasan. Untuk tingkat kemasakan tebu sangat

dipengaruhi oleh periode penebangannya. Apabila tebu ditebang pada periode

optimal maka akan diperoleh tingkat rendemen yang tinggi. Sebaliknya, apabila

penebangan dilakukan sebelum maupun sesudah periode optimal maka akan

diperoleh tingkat rendemen yang rendah. Setelah tebang, tebu harus digiling

maksimal 36 jam dari waktu tebang agar rendemen tidak menurun. Sedangkan

kelancaran di dalam proses produksi ditentukan oleh pengelolaan dari kegiatan

produksi serta keadaan mesin dan peralatan yang digunakan.

       Perkembangan mengenai rendemen yang dihasilkan baik dari tebu rakyat

maupun tebu sendiri dapat dilihat pada Lampiran 3 pertumbuhan rendemen dari

periode awal masa giling 2001 hingga periode akhir masa giling 2007

menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 1,83 persen per periode,

peningkatan ini dipengaruhi oleh peningkatan rendemen tebu sendiri sebesar 6,5

persen per periode, dan peningkatan rendemen tebu rakyat sebesar 3,3 persen per

periode. Tingkat rendemen tebu rakyat tiap tahunnya selalu lebih kecil daripada

tebu sendiri. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pola tebang yang diperbaharui

dimana pelaksanaan tebang-giling sudah proporsional dimana tebu sendiri dan

tebu rakyat sama-sama digiling pada waktu optimalnya dengan memperhitungkan
59



rasio jumlah tebu rakyat dan tebu sendiri, yaitu 40-45 bagian tebu sendiri dan 55-

60 bagian tebu rakyat.

4) Produksi gula

       Gula produk yang dihasilkan PG Pagottan berupa gula kristal putih (direct

plantation white sugar) atau juga dikenal sebagai SHS (Superieur Hoofd Suiker).

Berdasarkan Lampiran 3, terlihat bahwa pertumbuhan total produksi gula sejak

tahun 2001 hingga 2007 menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 3,48

persen per periode, peningkatan ini dipengaruhi oleh kecenderungan peningkatan

produksi gula tebu sendiri dan tebu rakyat masing-masing sebesar 8,73 persen per

periode dan 23,38 persen per periode. Peningkatan produksi gula tebu rakyat yang

cukup signifikan terjadi tidak hanya karena perluasan areal tetapi juga disebabkan

oleh perbaikan mutu intensifikasi budidaya dan introduksi varietas unggul pada

areal bongkaran keprasan (bongkar ratoon).

       Pada tahun 2001 hingga 2007 jumlah produksi gula yang dihasilkan oleh

PG terlihat selalu lebih besar daripada Petani Tebu Rakyat (PTR), meskipun pada

beberapa tahun tertentu jumlah rendemen dan produksi gula tebu rakyat lebih

besar daripada PG. Hal ini dapat dipahami bahwa data produksi gula tersebut

merupakan data bagi hasil, dengan demikian jumlah tebu yang dimiliki PG selain

kontribusi dari tebu yang dihasilkan di lahan sewa juga dihasilkan dari bagi hasil

pengolahan tebu rakyat. Bagi hasil ini merupakan “upah” yang diberikan petani

karena PG telah menggiling tebu mereka, dengan perjanjian bagi hasil, yaitu 66

persen untuk petani dan 34 persen untuk PG.
60



5) Lama giling

       Lama giling merupakan waktu yang digunakan oleh pabrik untuk

mengolah tebu menjadi gula. Lama giling dinyatakan dengan satuan hari. Lama

giling sangat dipengaruhi oleh jumlah tebu yang akan digiling, semakin banyak

jumlah tebu yang akan digiling maka semakin lama waktu gilingnya demikian

pula sebaliknya. Di samping itu lama giling sangat mempengaruhi tingkat

rendemen gula yang dihasilkan, semakin banyak waktu yang digunakan untuk

menggiling maka tingkat rendemen akan turun sehingga akan mempengaruhi

jumlah gula yang dihasilkan. Namun bila lama giling terlalu cepat juga

menyebabkan rendemen turun karena tebu belum masak sudah digiling sehingga

dapat mempengaruhi jumlah gula yang dihasilkan. Pada umumnya waktu yang

optimal untuk lama giling, yaitu 170 sampai 180 hari. Sedangkan rata-rata lama

giling di PG Pagottan dari tahun 2001 hingga 2007 adalah 15 hari per periode.

       Secara umum perkembangan lama giling di PG Pagottan memperlihatkan

kecenderungan yang menurun sebesar 0,42 persen per periode selama tahun 2001

hingga 2007. Lama giling tercepat terjadi pada periode awal tahun 2002 dan

periode akhir tahun 2003 dengan lama giling 8 hari, hal ini terjadi karena jumlah

bahan baku yang sedikit dibandingkan periode sebelumnya.

6) Bahan pembantu

       Dalam proses produksi gula PG Pagottan banyak menggunakan bahan

pembantu. Bahan pembantu tersebut digunakan untuk memperlancar proses

produksi. Penambahan bahan pembantu tersebut disesuaikan dengan kondisi

bahan baku tebu baik kualitas maupun kuantitasnya. Bahan pembantu yang

banyak digunakan dalam proses produksi gula di PG Pagottan adalah kapur tohor,
61



belerang, P2O5, dan flokulant. Penggunaan bahan pembantu di PG Pagottan

selama periode awal masa giling 2001 hingga periode akhir masa giling 2007

cenderung mengalami penurunan sebesar 1,52 persen per periode. Penurunan

pemakaian bahan pembantu ini terutama disebabkan oleh penurunan penggunaan

belerang sebesar 3,63 per periode selama masa giling 2001-2007.

7) Tenaga kerja

       Ketersediaan tenaga kerja merupakan salah satu faktor dalam kegiatan

produksi. Tenaga kerja merupakan sumberdaya yang dapat mengelola dan

mengkombinasikan faktor-faktor produksi lain sehingga dapat menghasilkan

suatu output yang diinginkan. Di PG Pagottan terdapat dua jenis tenaga kerja,

yaitu karyawan staf atau karyawan pimpinan dan karyawan non staf atau

karyawan pelaksana. Karyawan pelaksana dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu

karyawan tetap bulanan dan karyawan tetap harian. Di samping itu juga ada

karyawan tidak tetap yang terdiri dari karyawan kampak, karyawan tebang,

karyawan musim tanam, karyawan musim lain-lain, dan karyawan ekstra atau

harian lepas.

       Karyawan yang akan dilihat perkembangannya adalah karyawan pelaksana

yang terbagi atas karyawan tetap dan karyawan tidak tetap atau musiman. Secara

umum perkembangan karyawan tetap dari periode awal tahun 2001 hingga

periode akhir tahun 2007 mengalami kecenderungan penurunan sebesar 0,23

persen per periode. Penurunan ini disebabkan oleh karyawan tetap yang pensiun

ataupun mutasi pekerjaan. Sedangkan jumlah karyawan musiman mengalami

peningkatan sebesar 0,33 persen per periode. Meskipun demikian jika ada

pengurangan jumlah karyawan itu bukan disebabkan oleh PHK namun karena
62



adanya peningkatan golongan dari karyawan harian menjadi karyawan kampanye.

Sehingga jumlah karyawan tetap namun dengan komposisi yang berbeda.

Berkurangnya jumlah karyawan juga disebabkan oleh faktor usia (sudah lanjut).


5.5    Agribisnis Gula

5.5.1 Usahatani Tebu

5.5.1.1 Pengadaan Bahan Tanam dan Persiapan Lahan Tebu Giling

       Pengadaan bahan tanam atau bibit merupakan kegiatan awal yang

memegang peranan penting dalam usaha mendapatkan pembibitan dengan

kualitas yang baik. Bibit tebu dengan varietas yang sesuai merupakan salah satu

modal utama dalam keberhasilan produksi tebu. Varietas tebu yang diusahakan di

PG Pagottan sangat beragam (17 varietas, namun yang sering digunakan 10

varietas) dan secara garis besar dibedakan atas empat kemasakan, yaitu masak

awal, masak awal tengah, masak tengah, dan masak tengah lambat (Tabel 5).

Untuk varietas yang diusahakan dalam pembibitan umumnya harus memenuhi

beberapa syarat, yaitu tingkat kemurnian tinggi (85 persen), bebas hama dan

penyakit, daya kecambah tinggi (90 persen), tahan kekeringan, tahan dikepras

(produksi tanaman keprasan tinggi), sesuai dengan bulan tanam serta sesuai lahan

dan iklim.

Tabel 5 Varietas Tebu yang Digunakan PG Pagottan
 No. Masak Awal            Awal Tengah        Tengah              Tengah Lambat
 1.    N XI 1-1            PS 85-1            BM 9605 (F 05)/KK   BL
 2.    PS 86-2             PS 82-1064         PS 92-1             PS 95-1
 3.    PS BM 88-144        PS 86-4            PS JT 941
 4.    PS CO 902           ROC 11
 5.    PS BM 89-95         ROC 12
 6.                        ROC 13
 7.                        PA 117
Sumber: Litbang Bagian Tanaman PG Pagottan, 2008
63



       Berdasarkan kepemilikan lahan PG Pagottan belum mempunyai Hak Guna

Usaha atau lahan Non HGU. Oleh karena itu, untuk budidaya tebu PG Pagottan

harus menyewa lahan dari petani atau masyarakat sekitar. Karena menggunakan

lahan sewa maka untuk mendapatkan lahan seluas satu hektar saja perlu menyewa

beberapa tempat. Luas lahan sewa yang digunakan PG Pagottan untuk tanaman

tebu per 2007 adalah 2.390,142 ha dengan komposisi lahan sawah sebesar

2.378,566 ha dan lahan tegalan sebesar 7,376 ha. Sisanya digunakan untuk kebun

bibit sebesar 4,2 ha. Lahan sewa tersebut dapat menghasilkan tebu sebesar

182.527,8 ton. Selain tebu sendiri PG Pagottan juga menampung tebu rakyat

sebesar 227.268,7 ton dari luas lahan 3.318,597 ha. Dari produksi tebu tersebut

terdapat perbedaan rendemen antara tebu sendiri dan tebu rakyat, yaitu masing-

masing sebesar 8,86 persen dan 7,23 persen. Perbedaan tersebut diduga berasal

dari sistem penanaman dan pemeliharaan tanaman.


5.5.1.2 Sistem Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

       Ada dua macam cara tanam yang biasa digunakan pada lahan khususnya

pada lahan tegalan, yaitu tanam kering dan basah. Tanam kering dilakukan jika

pengairan sulit. Proses tanam kering, yaitu dilakukan penanaman dahulu setelah

itu dilakukan pengairan. Sedangkan cara tanam basah, pengairan dilakukan

sebelum tanam sehingga keadaan alas tanam membentuk jenangan. Dibandingkan

dengan tanam kering, tanam basah lebih menguntungkan karena dapat menghemat

pengairan dan mata tunas lebih cepat berkecambah.
64



       Pemeliharaan tanaman bertujuan mendapatkan pertumbuhan tebu yang

baik. Pemeliharaan meliputi pemeliharaan tanaman pertama (plant cane/PC)

meliputi: penyulaman yang bertujuan mempertahankan populasi tanaman dalam

jumlah tetap pada satuan luas tertentu, pengairan, pengendalian gulma baik secara

mekanis maupun khemis, pemupukan, pembumbunan atau penimbunan tanah

disekitar tanaman, klentek atau membersihkan tebu dari kulit dan daun yang sudah

kering, pemberantasan hama dan penyakit serta kuras got yang bertujuan

memperdalam got sesuai ukuran standard agar mampu berfungsi dengan baik.

Sedangkan pemeliharaan tanaman keprasan pada umumnya sama dengan PC.

Adapun yang membedakan antara tanaman keprasan dan PC adalah kegiatan-

kegiatan seperti : pedot oyot yang dilakukan segera setelah tanaman dikepras.

Pedot oyot, yaitu memotong disamping kanan dan kiri barisan tanaman dengan

kedalaman 20 cm dengan tujuan memutus akar-akar lama dan mendorong

tumbuhnya akar-akar baru yang sehat dan kuat.


5.5.1.3 Tebang dan Angkut

       Tebang, muat, dan angkut merupakan pekerjaan terakhir dari kegiatan

pengadaan bahan baku industri gula. Pelaksanaan kegiatan tersebut harus

direncanakan secara matang karena tebu merupakan tanaman semusim yang

mempunyai nilai produksi yang ditentukan oleh batasan waktu. Agar diperoleh

tebu yang manis, bersih, dan segar maka pelaksanaan tebang harus tepat dan

proses penebangan serta angkutan harus berpegang pada batasan-batasan tertentu.

Sebagai dasar penentuan suatu kebun cukup optimal untuk ditebang adalah

dengan analisa pendahuluan yang akan menghasilkan angka rendemen, Koefisien

Daya Tahan (KDT) dan Koefisien Peningkatan (KP). Dari hasil analisa tersebut
65



kemudian diberi skor atau nilai yang selanjutnya dikalkulasikan. Kebun yang

mempunyai nilai tertinggi mendapat prioritas tebang terlebih dahulu. Analisa

pendahuluan dilakukan pada saat tebu berumur 1-45 hari. Tebu yang dianalisa

adalah tebu dari PC dan ratoon. Kegunaan dari analisa pendahuluan selain dari

yang disebutkan di atas, yaitu dengan analisa pendahaluan PG dapat menentukan

lahan mana yang akan diberikan perlakuan tambahan seperti pemberian ZPK (Zat

Pemacu Kemasakan).



5.5.1.4 Pasca Panen dan Kriteria Bahan Baku Tebu

       Pengaturan tebu dari lori maupun truk di PG Pagottan menggunakan

sistem FIFO (first in first out). Maksudnya adalah tebu yang masuk paling awal

akan digiling terlebih dahulu sesuai jadwal. Truk dari kebun sebelum ditimbang

biasanya diatur di emplasment sesuai dengan jadwal kedatangan. Sedangkan

untuk lori setelah ditimbang diatur di emplasment sesuai dengan jadwal

kedatangan.

       Kritera tebu giling sebagai bahan baku pabrik adalah manis, bersih, dan

segar. Yang dimaksud manis, yaitu tebu sudah cukup tua atau masak yang

ditebang pada saat rendemen puncak dan tebu ditebang dengan cara didongkel

atau pemotongan sampai tanah dengan Faktor Kemasakan (FK) sebesar 25-30

persen, Koefisien Daya Tahan (KDT) dan Koefisien Peningkatan (KP) sebesar

90-100 persen. Besarnya faktor-faktor tersebut tergantung pada varietas tebu yang

ditanam. Adapun yang dimaksud bersih adalah bahan baku tebu terbebas dari

unsur non tebu (kotoran) maksimal 5 persen, meliputi: pucukan, tebu muda

(sogolan), daun tebu (pucuk dan daun kering/daduk), akar dan tanah, serta barang
66



asing lain. Sedangkan yang dimaksud tebu segar secara teoritis adalah saat tebu

ditebang dan digiling maksimal 36 jam, tebu tidak kering, dan tebu tidak dibakar.



5.5.2 Pengolahan Tebu

5.5.2.1 Proses Pengolahan Tebu Menjadi Gula

       Proses produksi gula pasir di PG Pagottan pada dasarnya berupa aliran

proses produksi. Diagram tersebut menunjukkan bahwa proses pengolahan tebu

menjadi gula merupakan proses yang saling berhubungan, jika terjadi kemacetan

pada satu tahapan produksi akan mempengaruhi proses produksi selanjutnya.

       Tahapan kegiatan produksi di PG Pagottan dapat dibagi berdasarkan uni

stasiun pelaksana proses produksi, yaitu:

1.   Stasiun Gilingan

       Proses ini bertujuan mendapatkan nira mentah sebanyak-banyaknya dari

dalam batang tebu sehingga didapatkan kandungan gula semaksimal mungkin

dengan menekan kehilangan gula yang ikut bersama ampas sekecil mungkin.

Proses pada stasiun penggilingan tebu dimulai dari truk atau lori yang diterima

dibagian penerimaan kemudian dipindahkan ke keprak tebu melalui tipper atau

meja tebu yang selanjutnya dibawa ke cane cutter. Tebu yang masuk ke stasiun

gilingan dipotong dan dicacah, cacahan tebu kemudian digiling pada rol-rol

gilingan sehingga dihasilkan nira mentah dan ampas. Untuk memaksimalkan

pemerahan di stasiun gilingan PG Pagottan dilengkapi 5 unit rol penggiling.

Sedangkan untuk memperkecil kehilangan gula dalam ampas ditambahkan air

imbisisi pada gilingan ke IV dan V. Nira mentah yang dihasilkan dipompa ke

stasiun pemurnian dan ampas dipakai sebagai bahan bakar. Banyaknya komponen
67



di dalam nira akan membawa pengaruh terhadap sifat-sifat nira. Karena yang

diambil adalah saccharosa maka yang perlu dihilangkan adalah air dan komponen

bukan gula.

2.   Stasiun Pemurnian

         Tujuan dari pemurnian adalah menghilangkan atau membuang bahan

organik maupun anorganik bukan gula yang terdapat dalam nira dengan cara

kimia atau fisika sehingga diperoleh kadar sukrosa yang semaksimal mungkin dari

nira dan kerusakan sukrosa yang serendah mungkin. Proses pemurnian ini

dilakukan dengan sistem sulfitasi alkalis, yaitu cara pemurnian nira dengan

menggunakan bahan pembantu penetralan berupa susu kapur (Ca (OH)2) yang

berguna untuk mencegah terjadinya inversi (kerusakan), mengendapkan kotoran-

kotoran pada nira encer serta mengatur derajat keasaman (pH) nira. Selain itu di

dalam stasiun ini terdapat penambahan gas belerang (SO2) yang diperoleh dari

pembakaran belerang padat yang berguna untuk menetralkan kelebihan susu kapur

dalam nira. Pada penetralan dengan gas SO2 akan terjadi endapan ekstra kalsium

sulfit. Endapan ini akan mengabsorbsi kotoran-kotoran dalam nira.

         Di stasiun pemurnian diperoleh nira jernih (nira encer) dan nira kotor. Nira

jernih akan dialirkan ke stasiun penguapan sedangkan nira kotor dialirkan ke

vacum filter untuk memisahkan kotoran padat (blotong) dengan kotoran cair (nira

tapis). Nira tapis dikembalikan lagi pada bak nira mentah tertimbang, sedangkan

blotong dijadikan bahan pembuatan kompos yang selanjutnya digunakan sebagai

pupuk.

3.   Stasiun Penguapan
68



       Dalam stasiun ini terjadi proses penguapan (evaporasi) yang dialakukan

untuk menguapkan air yang terdapat dalam nira encer sehingga diperoleh nira

dengan kekentalan tertentu. Nira kental yang keluar dari pan penguapan dilakukan

pemberian gas SO2 sampai nilai pH nira kental mencapai 5,4-5,6 yang bertujuan

memucatkan warna nira kental agar kristal gula yang dihasilkan berwarna lebih

putih dan mencegah terjadinya perubahan warna karena gas SO2 mempunyai sifat

menahan peningkatan intensitas warna. Nira kental tersulfitir tersebut kemudian

dialirkan ke stasiun masakan untuk proses lebih lanjut. Di dalam proses

penguapan tersebut akan didapat hasil sampingan berupa air kondensat yang dapat

dimanfaatkan pada stasiun ketel.

4.   Stasiun Kristalisasi

       Nira yang dihasilkan di stasiun penguapan masih mempunyai kadar air

yang tinggi sehingga sukrosa dalam keadaan terlarut. Bila nira kental ini diuapkan

airnya maka akan mencapai titik jenuh dan jika penguapan masih berlanjut maka

larutan akan menjadi sangat jenuh yang akhirnya terjadi pengkristalan. Akan

tetapi gula yang terkandung dalam nira kental tidak dapat dikristalkan seluruhnya

dan harus dilakukan secara bertahap dengan menggunakan pan masakan yang

bertekanan vakum di atas 65 mmHg dan suhu 70°C, yaitu masakan A, C, dan D.

Pada stasiun ini akan dihasilkan larutan kristal gula (mascuite) serta hasil

sampingan berupa air kondensat yang dapat dimanfaatkan oleh stasiun ketel.

       Pada tingkat masakan A, nira kental dimasak pada masakan A dengan

bibitan magma C, hasil masakan (mascuite) diputar menjadi stroop A dan gula

A1. Gula A1 dicampur dengan klare A menjadi magma A kemudian diputar lagi

sehingga menjadi gula produk (GKP) dan klare A. Bahan untuk membuat
69



masakan C adalah stroop A dengan bibitan magma D. hasil masakan C adalah

mascuite dan diputar menjadi stroop C dan gula C. Setelah dicampur air, gula C

akan menjadi magma C kemudian dipakai sebagai bibitan masakan A. Bahan

untuk membuat masakan D adalah stroop A, stroop C, dan klare D dengan bibitan

Fondan. Mascuite D setelah didinginkan kemudian diputar dan dihasilkan tetes

dan gula D1. Magma D1 diputar menjadi klare D dan gula D2. Gula D2 dicampur

dengan air menjadi magma dan dipakai sebagai bibitan masakan C.

5.    Stasiun Puteran dan Penyelesaian

         Mascuite dari hasil proses pengkristalan dalam pan merupakan suatu

massa campuran yang terdiri dari larutan dan kristal sakarosa. Sesudah mengalami

pendinginan dalam palung pendingin selanjutnya dipisahkan kristal dan

larutannya. Pemisah dilakukan dalam suatu alat saringan (puteran) yang

menggunakan gaya sentrifugal sebagai kekuatan pendorongnya.

         Langkah-langkah yang terjadi pada pemutaran mascuite terbagi atas tiga

langkah, yaitu:

a. Penghilangan larutan yang ada disekitar kristal dan memenuhi ruangan-

     ruangan di antara kristal-kristal.

b. Penghilangan sisa larutan yang masih tertinggal di antara kristal sehingga

     hanya tinggal lapisan yang menempel pada kristal.

c. Mengurangi jumlah atau ketebalan lapisan larutan yang tertinggal pada

     permukaan kristal.

         Gula produk yang dihasilkan dari pemutaran mascuite A kondisinya masih

basah. Gula basah ini dijatuhkan pada talang goyang/getar. Pengeringan gula

dengan dihembus udara kering dan panas pada suhu 104° -132°C. Gula yang
70



dihasilkan dibagi menjadi gula halus, normal dan kasar. Gula halus dan kasar akan

dilebur lagi sebagai bahan masakan A. Gula normal dengan diameter 0,9-1,1 mm

dimasukkan ke gudang untuk disimpan.


5.5.2.2 Limbah

       Limbah diartikan sebagai bahan yang dihasilkan dalam suatu proses yang

tidak berguna lagi untuk proses tersebut. Semua proses menghasilkan limbah,

mulai dari proses hidup yang terjadi dalam tubuh organisme hidup, misalnya CO2

dan panas dari pernapasan serta O2 dari fotosintesis, sampai pada proses dalam

industri misalnya CO2, NO serta logam berat dari proses kimia tertentu dalam

pabrik. Limbah yang tidak berguna untuk proses tersebut keluar dari pabrik ke

lingkungan. Jika laju masukan limbah ke dalam lingkungan lebih besar daripada

laju asimilasi atau degradasi limbah maka akan merusak dan terjadilah

pencemaran.

       Limbah pabrik gula Pagottan dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu

limbah padat, limbah cair, dan limbah gas. Limbah padat terdiri dari blotong, abu

ketel dan ampas halus, namun limbah ini telah dapat dimanfaatkan oleh pabrik

baik menjadi pupuk maupun bahan berguna lainnya. Limbah cair dapat

digolongkan menjadi dua berdasarkan jumlah dan sifat pencemarannya, yaitu 1)

tingkat pencemaran rendah dengan jumlah besar seperti air bekas kondensor, 2)

tingkat pencemaran tinggi dengan jumlah sedikit seperti air cucian peralatan,

tumpahan nira, cucian tapisan, bocoran dari peralatan yang rusak, air cucian

evaporator, dan air buangan ketel. Limbah cair yang dihasilkan dapat diatasi

dengan sistem pengolahan limbah yang baik. Sedangkan untuk limbah gas terdiri
71



dari CO2, CO, SO2, dan asap cerobong. Limbah inilah yang masih belum dapat

dikelola dengan baik oleh PG Pagottan.


5.5.2.3 Hasil Samping Gula Tebu

       Dalam proses pengolahan tebu selain menghasilkan gula juga dihasilkan

produk-produk sampingan, yaitu berupa tetes, blotong, dan ampas. Tetes

merupakan larutan sisa yang tidak bisa lagi dimasukkan dalam proses untuk

diambil kristalnya. Saat ini tetes sudah bisa dijadikan barang produk dan sudah

merupakan kebutuhan yang tidak bisa dikesampingkan peranannya. Di PTPN XI

usaha diversifikasi yang telah dilakukan adalah mengolah tetes menjadi alkohol

dan spirtus yang pabriknya berlokasi di Djatiroto. Selain pembuatan alkohol di

Indonesia, tetes dapat dibuat bermacam-macam keperluan, misalnya bumbu

masak (MSG), pellet (makanan ternak), kecap, dan ragi. Blotong merupakan hasil

pemisahan di stasiun pemurnian, di PG Pagottan blotong dapat dijadikan pupuk

kompos yang dicampur abu ketel dan dijadikan bahan bakar karena mengandung

biogas. Sedangkan ampas adalah hasil pemisahan di stasiun gilingan. Ampas

dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan pulp kertas, solvent, particle

board, hard board, cellulose, dan lain-lain.


5.5.2.4 Standardisasi Mutu Gula

       Standardisasi mutu gula produk ditentukan oleh P3GI. Adapun

standardisasi mutu gula dapat dilihat pada Tabel 6.
72



Tabel 6 Standardisasi Mutu Gula Kristal Putih
 No.    Unsur                                Satuan     GKP          Metode
 1.     Warna
 1.1    Warna Kristal                        CT         5,0 – 10,0   Refleksi
 1.2    Warna larutan (ICUMSA)               IU         Max 300      Spektometris

 2.     Berat jenis butir                    mm         0,8 – 1,2    Ayakan
 3.     Susut pengeringan                    % bb       Max 0,15     Oven/IR driyer
 4.     Polarisasi                           °Z, 20°C   Min 99,5     Polarimetris
 5.     Abu konduktiviti                     % bb       Max 0,15     Konduktometris
 6.     Bahan tambahan makanan

 6.1    Belerang dioksida (SO2)              mg/kg      Max 30       Iodometri
Sumber: Bagian Pabrikasi PG Pagottan, 2008


5.5.2.5 Pengepakan dan Penyimpanan

        Gula produk yang telah ditimbang dimasukkkan ke dalam karung goni

yang bagian dalamnya telah dilapisi plastik, tujuannya adalah melindungi kristal

gula dari uap air selama penyimpanan. Berat setiap karung adalah 50 kg. karung

yang telah diisi kemudian dijahit dan disimpan di gudang.

        PG Pagottan mempunyai empat gudang penyimpanan gula (gudang A, B,

C, dan D) dan satu gudang cadangan (gudang E) dengan luas dan kapasitas yang

berbeda-beda. Luas gudang A, gudang B, gudang C, dan gudang D masing-

masing adalah 1830 m2, 774 m2, 968 m2, 968 m2. Dengan kapasitas gudang A

sebesar 56.881 kuintal, gudang B sebesar 26.803 kuintal, gudang C sebesar

35.556 kuintal, dan gudang D berkapasitas 34.455 kuintal. Sedangkan gudang E

merupakan gudang cadangan yang digunakan jika semua gudang tidak mampu

menampung jumlah produksi gula. Biasanya gudang E digunakan sebagai gudang

rabuk (pupuk).
73



5.5.3 Distribusi Gula

5.5.3.1 Bagi Hasil Giling Antara PG dan PTR

       PG Pagottan disamping mengolah tebu sendiri juga mengolah tebu rakyat.

Bagi hasil terhadap gula yang dihasilkan tebu rakyat mengacu pada kesepakatan

antara PTPN XI dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) mengenai tata cara atau

perhitungan bagi hasil gula, yaitu apabila rendemen tebu rakyat sampai dengan

enam persen maka petani mendapatkan 66 persen hasil sedangkan PG

mendapatkan 34 persen. Tetapi jika rendemen tebu rakyat di atas enam persen

maka hasil awal (rendemen enam persen) ditambah selisih di atas enam persen

dengan perhitungan bagi hasil 70 persen untuk petani dan 30 persen untuk PG.


5.5.3.2 Sistem Penjualan Gula PTR dan PG

       Setelah lepas dari monopoli BULOG pada tahun 1999, saat ini sistem

perdagangan gula dikelola oleh masing-masing perusahaan. Sebagian besar gula

milik PTR dan PG bersama-sama dijual dalam pelelangan. Dalam pelelangan gula

milik PTR dan PG telah mendapatkan dana talangan yang besarnya sesuai harga

dasar yang disepakati antara petani, perusahaan selaku penjamin bahwa petani

yang mendapatkan dana talangan benar-benar memiliki gula dari hasil

penggilingan tebu, investor dana talangan, dan pemerintah. Dana talangan ini

dimaksudkan agar petani dapat melakukan kegiatan budidaya dikebun tanpa harus

menunggu kapan gula akan terjual semua. Di samping itu dana talangan juga

dimaksudkan untuk melindungi para produsen tebu dari kerugian. Dana talangan

tersebut biasanya dibayarkan oleh investor dengan perjanjian bila harga gula di

pelelangan lebih tinggi dari dana talangan maka kelebihannya tersebut akan dibagi

menurut perhitungan 60 persen untuk PTR dan 40 persen untuk PG sisa dari
74



masing-masing tersebut, yaitu 40 dan 60 persen akan diberikan kepada investor

sebagai penyedia dana talangan.

       Selain dijual dalam pelelangan untuk gula milik PG sebagian kecil (lima

persen dari total produksinya) dijual dalam bentuk ritel ke perusahaan-perusahaan

seperti alfamart, indomaret, grosir, dan lain-lain dengan harga yang telah

disepakati bersama. Sedangkan untuk gula milik PTR (sepuluh persen dari total

produksinya) diberikan ke petani dalam bentuk natura. Natura ini diberikan agar

petani tebu mempunyai gula untuk konsumsinya sehari-hari. Untuk lebih jelasnya

mengenai pemasaran gula PG Pagottan dapat dilihat pada Gambar 5.

                                                                    KD PASAR
                                                  MILIK

                                                    PG
                                                                     PG RITEL
  TEBU          PABRIK            GULA                                  5%



                                                                     LELANG
                                                                       PTR
                                                   MILIK
                                                    PTR
                                                                     NATURA
                                                                       10%




             Gambar 5 Bagan Pemasaran Gula di PG Pagottan
                             Sumber: PG Pagottan, 2008
75



      VI    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI GULA PASIR



6.1    Pemilihan Model Fungsi Produksi

       Model fungsi yang digunakan di dalam penelitian ini adalah model fungsi

produksi Cobb-Douglass. Sebelum menerima model fungsi yang diajukan

tersebut, terlebih dahulu harus dilakukan pengujian terhadap ketepatan model

dengan mempertimbangkan asumsi-asumsi yang mendasarinya dengan melihat

koefisien determinasi (R2), F-hitung dan t-hitung untuk masing-masing parameter

dugaan. Hal ini perlu dilakukan agar validitasnya terjamin.

       Analisis regresi yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan.

Factor-fakor produksi yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu

bahan baku tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman,

bahan pembantu, dan lama giling yang digunakan dalam proses produksi dari

tahun 2001-2007 (per periode) (Lampiran 2). Dari variable-variabel yang terdapat

pada Lampiran 2, maka dapat dibentuk suatu model regresi berganda. Hasil

analisis dan model regresi kegiatan produksi gula dengan memanfaatkan ketujuh

faktor produksi tersebut adalah sebagai berikut.

       Hasil pendugaan awal yang diperoleh dari model Cobb-Douglas adalah :

Ln produksi gula = 2,60 + 0,0555 Ln jumlah tebu + 0,988 Ln rendemen + 1,126

                    Ln jam mesin + 0,329 Ln tenaga kerja tetap – 0,796 Ln

                    tenaga kerja musiman – 0,026 Ln bahan pembantu – 0,084

                    Ln lama giling
76



Tabel 7 Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula dengan Tujuh Faktor
        Produksi
 Variabel                      Koefisien   T-Hitung   Nilai Peluang-t   Nilai VIF
                               Dugaan


 Konstanta                     2,599       2,42       0,019
 Jumlah tebu (X1)              0,055       2,18       0,016             3,0
 Rendemen (X2)                 0,998       12,55      0,000             1,5
 Jam mesin (X3)                1,126       10,38      0,000             9,7
 Tenaga kerja tetap (X4)       0,329       1,98       0,220             4,1
 Tenaga kerja musiman (X5)     -0,796      -3,62      0,031             4,0
 Bahan pembantu (X6)           -0,029      -0,81      0,591             1,6
 Lama giling (X7)              -0,084      2,39       0,024             10,0
  2
 R        : 96,2%
 R2 adj    : 95,7%
 F- hitung : 214,85
 P-value : 0,000
 MS         : 0,00261
 Uji Durbin-Watson : 2,11653



        Suatu model terbaik harus memenuhi beberapa asumsi OLS antara lain

adalah normalitas (kenormalan sisaan), homoskedastisitas (kehomogenan ragam),

tidak terdapat multikolinearitas (hubungan antar variabel) dan autokorelasi. Pada

Lampiran 7 dapat dilihat bahwa pada analisis regresi dengan tujuh faktor produksi

asumsi normalitas terpenuhi. Asumsi ini terpenuhi karena tebaran sisaan

membentuk suatu garis lurus. Asumsi homoskedastisitas juga terpenuhi karena

penyebaran nilai-nilai residual tidak membentuk suatu pola tertentu (Lampiran 8).

        Dari hasil pengolahan, dapat dilihat bahwa nilai VIF lama giling sebesar

10,0. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa jika nilai VIF lebih besar

dari 10 maka diduga di dalam model terdapat gejala multikolinearitas. Variabel

independen lain yang diduga berkorelasi dengan variabel independen lama giling

adalah jam mesin yang memiliki nilai VIF sebesar 9,7. Nilai VIF kedua variabel

tersebut tidak berbeda nyata dari 10, sehingga diduga kedua faktor produksi
77



tersebut memiliki korelasi yang kuat. Hal ini sangat mungkin terjadi karena fakta

yang ada di lapang adalah jumlah jam mesin dipengaruhi oleh lamanya hari giling

atau lama kampanye. Jika lama giling meningkat maka jam mesin juga akan

meningkat (Lampiran 2).

       Adanya gejala multikolinearitas tersebut, mengakibatkan model fungsi

produksi Cobb-Douglass dengan tujuh faktor produksi belum dapat dikatakan

sebagai   model    fungsi   produksi   yang   baik.   Dengan     demikian    gejala

multikolinearitas tersebut harus diatasi. Menurut Soekartawi, 2003, salah satu cara

untuk mengatasi gejala multikolinearitas tersebut adalah dengan mengurangi salah

satu atau beberapa variabel bebas yang memiliki tingkat korelasi yang tinggi

diantara satu dengan yang lain. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka di

dalam penelitian ini variabel lama giling dihilangkan dari model fungsi produksi.

       Pengujian terhadap gejala autokorelasi sangat penting dilakukan karena

data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series. Pengujian

autokorelasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DW).

Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai hasil DW dari model Cobb-Douglas

dengan tujuh faktor produksi sebesar 2,11653. Hal ini berarti bahwa pada model

tersebut tidak terjadi masalah autokorelasi karena nilai DW yang mendekati dua.

       Setelah dilakukan pengujian terhadap asumsi OLS, maka selanjutnya

dilakukan pengujian secara statistik yang meliputi koefisien determinasi, uji-F,

dan uji-t. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan tujuh faktor produksi pada

taraf nyata lima persen menghasilkan koefisien determinasi (R2) yang tinggi,

yaitu 0,962. Hal ini berarti bahwa 96,2 persen dari variasi produksi gula dapat

dijelaskan oleh variasi faktor produksi jumlah tebu (X1), rendemen (X2), jam
78



mesin (X3), tenaga kerja tetap (X4), tenaga kerja musiman (X5), bahan pembantu

(X6), dan lama giling (X7) sedangkan sisanya 3,8 persen dijelaskan oleh faktor

lain yang tidak terdapat dalam model.

       Uji secara bersama-sama dengan menggunakan uji-F didapat nilai sebesar

214,85 lebih besar dari F-tabel yang nilainya sebesar 2,95 dan berbeda nyata pada

tingkat kepercayaan 95 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketujuh faktor

produksi secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi gula di PG

Pagottan. Untuk uji setiap faktor produksi dengan menggunakan t-hitung pada

tingkat kepercayaan 95 persen terlihat terdapat dua faktor produksi yang

pengaruhnya tidak nyata terhadap produksi gula di PG Pagottan, yaitu faktor

tenaga kerja tetap dan faktor bahan pembantu. Sehingga berdasarkan hasil

pengolahan fungsi produksi dengan tujuh faktor produksi menghasilkan lima

faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap kegiatan produksi di PG

Pagottan, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja musiman, dan

lama giling.

       Selain itu, faktor produksi tenaga kerja tetap dan tenaga kerja musiman

dijumlahkan menjadi tenaga kerja total. Penggabungan didasarkan atas

pertimbangan bahwa di dalam penggunaan faktor produksi tenaga kerja tetap

kurang adanya variasi sehingga kurang mencerminkan adanya pengaruh yang

signifikan antara penggunaan input tenaga kerja tetap terhadap produksi gula.

Sehingga faktor produksi yang digunakan dalam kegiatan produksi gula di Pabrik

Gula Pagottan berupa bahan baku tebu, rendemen tebu, tenaga kerja total, jam

mesin, dan bahan pembantu.
79



         Hasil pengolahan data dengan menghilangkan variabel independen lama

giling dan penggabungan faktor produksi tenaga kerja tetap dan tenaga kerja

musiman menjadi faktor produksi tenaga kerja total disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8 Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula setelah Uji Validitas Asumsi
        OLS
                           Koefisien                 Nilai
 Variabel                               T-Hitung                   Nilai VIF
                           Dugaan                    Peluang-t
 Konstanta                      2,841   2,80         0,007
 Jumlah tebu (X1)          0,066        2,54         0,014         2,7
 Rendemen (X2)             1,010        11,99        0,000         1,5
 Tenaga kerja total (X3)   -0,239       -2,25        0,029         1,4
 Jam mesin (X4)            1,030        16,84        0,000         2,7
 Bahan Pembantu (X5)       -0,01543     -0,40        0,688         1,6
     2
 R          : 96,0%
     2
 R adj      : 95,6%
 F- hitung : 255,65
 P-value     : 0,000
 MS         : 0,00259
 Uji Durbin-Watson : 1,983035



         Jika dibandingkan dengan hasil pendugaan dengan tujuh faktor produksi,

hasil dugaan lima faktor produksi dirasa lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari

asumsi normalitas yang terpenuhi (Lampiran 9). Asumsi ini terpenuhi karena

tebaran sisaan membentuk suatu garis lurus. Asumsi homoskedastisitas juga

terpenuhi karena penyebaran nilai-nilai residual tidak membentuk suatu pola

tertentu (Lampiran 10).

         Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai VIF dari semua faktor produksi

dugaan memiliki nilai VIF kurang dari 10 sehingga model memenuhi asumsi

OLS, yaitu tidak ada gejala multikolinearitas. Demikian halnya dengan pengujian

terhadap gejala autokorelasi pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai hasil DW dari
80



model Cobb-Douglas dengan lima faktor produksi sebesar 1,983035. Hal ini

berarti bahwa pada model tersebut tidak terjadi masalah autokorelasi karena nilai

DW yang mendekati dua.

         Demikian halnya dengan nilai R2 dan R2 adj yang tidak berbeda nyata

dibandingkan persamaan sebelumnya, yaitu masing-masing sebesar 96,0 persen

dan 95,6 persen dan memiliki nilai F hitung sebesar 255,65 yang nilainya lebih

besar dibandingkan nilai F tabel, yaitu 3,34 dan berbeda nyata pada tingkat

kepercayaan 99 persen. Sedangkan pengaruh faktor-faktor produksi secara parsial

dapat dilihat dengan menggunakan uji-t atau dengan melihat nilai dugaan-t (Tabel

8). Jika nilai dugaan-t lebih kecil dari   = 0,05 maka secara parsial faktor produksi

tersebut secara nyata berpengaruh terhadap produksi gula. Dari Tabel 8 dapat

dilihat bahwa terdapat empat faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi

gula di PG Pagottan, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenaga kerja

total.

         Dalam Tabel 8, terlihat bahwa persamaan dugaan dengan empat faktor

produksi koefisien dari variabel bebas jumlah tebu, rendemen, jam mesin

memiliki tanda yang sesuai dengan hipotesis yang diharapkan. Namun tanda

untuk variabel tenaga kerja total adalah negatif, tidak sesuai dengan hipotesa awal

yang diduga berpengaruh positif. Hal ini dapat dijelaskan bahwa jumlah tenaga

kerja total di PG Pagottan sudah melebihi batas normalnya sehingga bila ditambah

maka semakin memperkecil rasio antara jumlah tenaga kerja dengan produksi

gula yang dihasilkan.
81



6.2     Analisis Elastisitas Produksi

        Di dalam fungsi produksi Cobb-Douglass besaran koefisien regresi

merupakan nilai elastisitas produksi dari variabel-variabel yang digunakan dalam

fungsi. Sehingga pengaruh masing-masing faktor produksi gula pasir dapat

diketahui, yaitu sebagai berikut:

1. Jumlah tanaman tebu

        Berdasarkan analisis regresi, jumlah tebu mempunyai pengaruh yang

positif dan nyata pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil ini sesuai dengan

fungsi tebu sebagai bahan baku utama yang secara langsung mempengaruhi

produksi gula, dimana peningkatan jumlah tebu akan meningkatkan produksi

gula.

        Nilai koefisien regresi yang diperoleh adalah sebesar 0,066. Nilai ini

menunjukkan bahwa jika terjadi peningkatan pasokan jumlah tebu satu persen

maka produksi akan meningkat sebesar 0,066 persen, dengan asumsi semua

faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus).

2. Rendemen

        Kualitas tebu ditunjukkan oleh tingkat rendemen, pada taraf nyata lima

persen ternyata faktor rendemen berpengaruh nyata terhadap produksi gula pasir

di lokasi penelitian. Elastisitas produksi faktor rendemen adalah sebesar 1,01

persen, artinya bahwa setiap penambahan satu persen rendemen maka akan

memberikan peningkatan produksi gula pasir sebesar 1,01 persen, dengan asumsi

semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Hal ini berarti bahwa kualitas

tebu berpengaruh besar terhadap produksi gula pasir.
82



       Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa tingkat rendemen tebu

yang dipasok ke PG Pagottan dari tahun ke tahun cenderung mengalami

peningkatan.   Beberapa     kebijakan   perusahaan     telah   ditetapkan   untuk

meningkatkan kembali tingkat rendemen tersebut, antara lain dengan pemberian

pelatihan teknis kepada petani dan diperkenalkan beberapa varietas tebu unggul

kepada petani. Namun, tampaknya untuk beberapa tahun terakhir usaha tersebut

masih belum membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan rendemen

gula. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam rangka meningkatkan produksi gula

maka tingkat rendemen juga perlu ditingkatkan.

3. Jam mesin

       Sesuai dengan analisis regresi menunjukkan bahwa faktor jam mesin

berpengaruh nyata terhadap produksi gula pasir. Dengan nilai elastisitas produksi

sebesar 1,03 persen menunjukkan bahwa peningkatan sebesar satu persen jam

mesin akan meningkatkan produksi gula pasir sebesar 1,03 persen, dengan asumsi

semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Hal ini menunjukkan bahwa

jam mesin sangat berpengaruh terhadap produksi gula pasir dan dengan nilai

elastisitas produksi seperti ini produksi gula pasir masih dapat ditingkatkan

dengan melakukan penambahan jumlah jam mesin.

       Berdasarkan catatan angka produksi perusahaan, diketahui bahwa jumlah

jam mesin yang digunakan diduga belum optimal karena setiap bulannya dalam

masa giling sering terjadi jam berhenti giling yang sebagian besar disebabkan oleh

peralatan produksi yang sudah tua. Sehingga mengurangi jam giling yang

menyebabkan produksi gula belum mencapai tingkat optimalnya.
83



4. Tenaga kerja total

       Hasil analisis regresi pada taraf nyata lima persen menunjukkan bahwa

tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi gula pasir di lokasi penelitian.

Berdasarkan persamaan fungsi produksi dengan lima faktor produksi, nilai

koefisien regresi tenaga kerja total sebesar -0,239. Nilai koefisien ini

menunjukkan hubungan yang negatif antara faktor tenaga kerja total dan produksi

gula di PG Pagottan. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa dengan adanya

peningkatan tenaga kerja total sebanyak satu persen maka akan mengakibatkan

terjadinya penurunan terhadap produksi gula pasir sebesar 0,239 persen, dengan

asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus).

       Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa di lokasi penelitian terjadi

kelebihan pemanfaatan tenaga kerja total. Meskipun pemanfaatan jumlah tenaga

kerja total di PG Pagottan cenderung mengalami penurunan, namun ternyata

proporsi tersebut belum mampu mengatasi masalah inefisiensi dalam penggunaan

tenaga kerja. Oleh karena itu, untuk menghindari penurunan produksi gula pasir

lebih lanjut maka pihak perusahaan perlu melakukan pengaturan kembali terhadap

proporsi tenaga kerja yang dimanfaatkannya.


6.3    Analisis Efisiensi

       Sebelum melakukan analisis efisiensi terhadap faktor-faktor yang

mempengaruhi terhadap produksi gula penting untuk mengetahui apakah nilai

koefisien regresi dari faktor-faktor produksi yang akan dinilai efisiensinya sudah

memenuhi syarat dari model Cobb-Douglas, yaitu nilai koefisien regresi berada

antara nol dan satu. Dari hasil analisis elastisitas yang telah dilakukan sebelumnya

dapat diketahui bahwa nilai koefisien regresi dari faktor produksi tenaga kerja
84



total tidak memenuhi syarat model Cobb-Douglas karena mempunyai nilai

koefisien regresi yang negatif sehingga faktor tersebut tidak dapat dinilai tingkat

efisiensinya terhadap produksi gula di PG Pagottan.

       Efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi secara alokatif pada kegiatan

produksi gula pasir dapat dilihat dari nilai perbandingan Nilai Produk Marjinal

(NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Nilai produk marjinal diperoleh

dari perkalian antara harga rata-rata gula pasir di Pabrik Gula Pagottan dengan

nilai produk marjinalnya. Sedangkan biaya korbanan marjinal diperoleh dari harga

rata-rata input, yaitu berupa harga rata-rata tebu yang dipasok ke Pabrik Gula

Pagottan.

       Harga rata-rata tebu petani yang dipasok ke Pabrik Gula Pagottan

diperoleh dari bagi hasil dalam bentuk gula pasir (natura) yang diterima petani,

dengan mempertimbangkan tingkat rendemen nota gula yang telah ditetapkan

oleh pihak perusahaan. Besarnya bagi hasil petani tersebut nilainya bervariasi baik

dalam satu musim giling maupun antar musim giling. Dengan memperhitungkan

nilai bagi hasil rata-rata tersebut maka dapat diperoleh harga tebu per ton per

periode.

       Namun di dalam kenyataannya, perusahaan memiliki keterbatasan modal

yang digunakan untuk membeli faktor-faktor produksi. Sehingga kendala tersebut

juga harus diperhitungkan di dalam analisis efisiensi produksi. Kondisi tersebut

mengakibatkan nilai perbadingan antara NPM dan BKM belum tentu bernilai

sama dengan satu, melainkan sama dengan nilai tertentu. Faktor produksi yang

akan diukur tingkat efisiensinya di dalam penelitian ini adalah faktor produksi
85



jumlah tebu. Hal ini dilakukan karena mempertimbangkan bahwa faktor produksi

tersebut yang dapat diukur tingkat harganya.

        Rata-rata produksi gula pasir per periode dari tahun 2001-2007 adalah

sebesar 2510,22 ton dengan harga jual rata-rata sebesar Rp 4.002.530,- per ton

(Tabel 9). Penggunaan rata-rata bahan baku tebu dalam proses produksi gula pasir

sebesar 33.144,7 ton per periode. Harga tebu per ton adalah Rp 1.956.190 per

periode. Penggunaan rata-rata faktor produksi serta harga rata-ratanya digunakan

untuk menduga besarnya rasio NPM dan BKM. Tingkat efisiensi penggunaan

faktor produksi pada PG Pagottan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal
        Kegiatan Produksi Gula Pasir pada Pabik Gula Pagottan per
        Periode
                                                                       Rasio
                     Rata-rata    Koefisien
 Variabel                                      NPM (Rp)    BKM (Rp)    NPM-
                     Penggunaan   Regresi
                                                                       BKM
 Jumlah tebu (ton)   33.144,7     0,066        20.006,74   1.956.190   0,01



        Berdasarkan perhitungan pada Tabel 9, terlihat bahwa penggunaan faktor

produksi gula di PG Pagottan belum mencapai kondisi efisien. Hal ini ditunjukkan

oleh rasio antara NPM dan BKM faktor produksi jumlah tebu tidak sama dengan

satu.

        Jumlah tebu mempunyai NPM sebesar Rp 20.006,74 yang mempunyai arti

bahwa setiap penambahan pasokan satu ton tebu, akan memberikan tambahan

penerimaan sebesar Rp 20.006,74. Rasio NPM dan BKM diperoleh sebesar

0,01dengan harga rata-rata tebu sebesar Rp 1.956.190 per ton dan koefisien

regresi sebesar 0,066. Nilai rasio NPM dan BKM jumlah tebu kurang dari satu

menyatakan bahwa jumlah pasokan tebu sudah melampaui batas optimal. Oleh

karena itu, perusahaan harus mempertimbangkan kembali jadwal tebang angkut
86



sehingga tidak terlalu banyak tebu yang menurun rendemennya karena terlalu

lama menunggu di lori sehingga tebu tidak lagi memenuhi kriteria MBS yang

berakibat akan menurunkan jumlah produksi gula.

       Salah satu upaya yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan

mengurangi harga jual tebu petani ke PG, karena dengan menurunkan harga

pasokan tebu petani maka perusahaan akan memperkecil tambahan biaya yang

akan dikeluarkan untuk menambah satuan input sehingga tambahan biaya yang

dikeluarkan akan sama dengan tambahan penerimaan yang diperoleh. Namun

upaya ini tidak sesuai dengan visi perusahaan, yaitu PG Pagottan menjadi

perusahaan perkebunan yang mampu meningkatkan kesjahteraan stakeholders

secara berkesinambungan. Sehingga tidak mungkin perusahaan menilai harga tebu

petani lebih rendah.

       Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan harga gula

yang diproduksi. Upaya ini mungkin dilakukan jika pemerintah meningkatkan

tarif impor gula sehingga harga gula dalam negeri dapat lebih bersaing. Dengan

meningkatkan harga gula maka dengan rata-rata penggunaan faktor produksi tebu

di PG Pagottan yang sebesar 33.144,7 ton per periode dari tahun 2001 hingga

tahun 2007 dan harga tebu rata-rata Rp 1.956.190 per ton maka perusahaan akan

dapat beroperasi secara lebih efisien.

       Dari beberapa analisis yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwa

kegiatan produksi gula pasir di PG Pagottan belum efisien. Kondisi tersebut salah

satunya disebabkan oleh pengalokasian sumberdaya atau faktor-faktor produksi

yang kurang tepat. Akibatnya, pencapaian keuntungan perusahaan belum

mencapai tingkat yang maksimum.
87



                     VII     KESIMPULAN DAN SARAN



7.1    Kesimpulan

       Berdasarkan hasil analisis regresi dengan pendugaan OLS, maka dapat

diketahui terdapat empat faktor produksi yang berpengaruh nyata pada taraf nyata

  = 0,05 terhadap produksi gula di PG Pagottan. Faktor-faktor tersebut, yaitu

jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenaga kerja. Dari hasil tersebut diperoleh

bahwa jumlah tebu, rendemen, dan jam mesin berpengaruh positif terhadap

produksi gula di PG Pagottan.

       Berdasarkan analisis elastisitas diketahui nilai elastisitas untuk masing-

masing faktor produksi, yaitu jumlah tebu sebesar 0,066, nilai menunjukkan

bahwa jika terjadi peningkatan pasokan jumlah tebu sebesar satu persen maka

produksi akan meningkat sebesar 0,006 persen dengan asumsi semua faktor-faktor

lainnya tetap (cateris paribus). Elastisitas faktor produksi rendemen adalah

sebesar 1,01, artinya bahwa setiap penambahan satu persen rendemen maka akan

memberikan peningkatan produksi gula sebesar 1,01 persen dengan asumsi semua

faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Sedangkan nilai koefisien regresi jam

mesin sebesar 1,03, nilai ini menunjukkan bahwa setiap penambahan satu persen

jam mesin maka akan memberikan peningkatan produksi gula sebesar 1,03 persen

dengan asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Nilai koefisien

regresi tenaga kerja sebesar -0,239. Nilai koefisien ini menunjukkan hubungan

yang negatif antara faktor tenaga kerja dan produksi gula di PG Pagottan. Nilai

tersebut dapat diartikan bahwa jika tenaga kerja ditambah sebesar satu persen

maka produksi gula akan menurun sebesar 0,239 persen.
88



       Hasil analisis efisiensi alokatif dengan menggunakan rasio antara NPM

dan BKM jumlah tebu diperoleh nilai sebesar 0,01. Nilai ini menunjukkan bahwa

pemanfaatan faktor produksi tersebut belum efisien secara alokatif. Sehingga

perlu dilakukan upaya agar penggunaan jumlah tebu mencapai tingkat optimal

sehingga tercapai kondisi yang efisien.



7.2    Saran

       Dalam rangka meningkatkan produksinya maka sebaiknya perusahaan

meningkatkan kualitas dari pasokan bahan baku tersebut dengan melakukan

pengaturan kembali terhadap jadwal tanam dan tebang. Karena hampir sebagian

besar bahan baku tebu yang akan digiling memiliki waktu tunggu yang lebih dari

36 jam sehingga mempengaruhi kualitas dari bahan baku tebu itu sendiri. Pada

akhirnya akan berpengaruh terhadap jumlah gula yang dihasilkan oleh PG

Pagottan.

       Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan harga gula

yang diproduksi. Upaya ini mungkin dilakukan jika pemerintah meningkatkan

tarif impor gula sehingga harga gula dalam negeri dapat lebih bersaing. Dengan

meningkatkan harga gula maka dengan rata-rata penggunaan faktor produksi tebu

di PG Pagottan yang sebesar 33.144,7 ton per periode dari tahun 2001 hingga

tahun 2007 dan harga tebu rata-rata Rp 1.956.190 per ton maka perusahaan akan

dapat beroperasi secara lebih efisien.

       Karena tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap produksi gula maka

saran untuk peneliti selanjutnya dapat dilakukan penelitian mengenai tingkat

kinerja SDM di PG Pagottan.
89



                             DAFTAR PUSTAKA



Churmen, Imam. 2001. Menyelamatkan Industri Gula Indonesia Edisi 1. Jakarta :
    Millenium Publisher.

Djauhari, Aman. 1999. Pendekatan Fungsi Cobb-Douglas Dengan Elastisitas
     Variabel Dalam Studi Ekonomi Produksi. Suatu Contoh: Aplikasi Pada
     Padi Sawah. Informatika Pertanian Vol. 8 (Desember 1999).

Doll, J. P. dan Frank Orazem. 1984. Production Economics Theory With
      Application 2nd Edition. Canada : John Willey and Sons Inc.

Firdaus, M. 2004. Ekonometrika Suatu Pendekatan Aplikati. Jakarta : Bumi
     Aksara.

Gujarati, Damodar. 1978. Ekonometrika Dasar. Penerjemah Soemarno Zain.
     Jakarta : Erlangga.

Hafsah, M. Jafar. 2002. Bisnis Gula di Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Hidayat, Sutan Emir. 2003. Evaluasi Kinerja Produksi dan Keuangan PT PG
     Rajawali II Unit Pabrik Gula Subang di Subang, Jawa Barat. Skripsi.
     Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut
     Pertanian Bogor.

Kartasapoetra, A. G. 1988. Pengantar Ekonomi Produksi Pertanian. Jakarta :
     Bina Aksara.

Meiditha, Nilla. 2003. Analisis Efisiensi Produksi Gula Pasir di Pabrik Gula
     Kebon Agung, Kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial
     Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Moerdokusumo, A. 1993. Pengawasan Kualitas dan Teknologi Pembuatan Gula
      di Indonesia. Bandung : ITB.

Mubyarto dan Daryanti. 1991. Gula Kajian Sosial-Ekonomi. Yogyakarta:Aditya
    Media.

Mubyarto. 1979. Pengantar Ekonomi Petanian Edisi Ketiga. Jakarta : LP3ES.

           .1984. Masalah Industri Gula di Indonesia. Yogyakarta : BPFE.
Muin, G. M. 2006. Ilmu Teknologi Gula dan Pengawasan Fabrikasi. Situbondo :
      PG Assem Bagoes.

Muljana, Wahyu. 1983. Teori dan Praktek Cocok Tanam Tebu dengan Segala
      Permasalahannya. Semarang: Aneka Ilmu.
90




Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Nurrofiq, Akhmad. 2005. Analisis Efisiensi Produksi Pabrik Gula. Skripsi.
       Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut
       Pertanian Bogor.

Pappas, James L. dan Marks Hirschey. 1995. Ekonomi Manajerial Edisi Keenam
     Jilid 1. Jakarta : Binarupa Aksara.

Sawit, M. Husein, et al. 2004. Penyelamatan dan Penyehatan Industri Gula
     Nasional. Kajian Akademis. Jakarta : Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan.

Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian Teori dan Aplikasi. Jakarta:
     Rajawali Pers.

          . 2003. Teori Ekonomi produksi Dengan Poko Bahasan Analisis
       Fungsi Cobb-Douglas. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Sulastri, Indahsih. 2008. Sosiologi dan Kemitraan. Yogyakarta: Lembaga
        Pendidikan Perkebunan.

Supriyadi, Ahmad. 1992. Rendemen Tebu dan Liku-Liku Permasalahannya.
     Yogyakarta: Kanisius.

Susila, Wayan Reda. 2005. Pengembangan Industri Gula Indonesia Analisis
      Kebijakan dan Keterpaduan istem Produksi. Disertasi. Program Pasca
      Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Umar, Husein. 1996. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta:
      PT Rajagrafindo Persada.

Wahyuni, I. T. 2007. Analisis Efisiensi Produksi Gula di PG Madukismo,
    Yogyakarta. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas
    Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Wira, I. S. 2008. Taksasi Produksi dan Tebang Muat Angkut. Yogyakarta:
      Lembaga Pendidikan Perkebunan.

Yenni. 2005. Optimalisasi Pengadaan Tebu Sebagai Bahan Baku Gula. Skripsi.
     Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut
     Pertanian Bogor. Bogor.
91




LAMPIRAN
92




Lampiran 1 Luas Areal dan Produksi Gula di Indonesia Tahun 1996-2008
                               Jumlah Tebu                        Jumlah Hablur
            Luas Areal                              Rendemen
 Tahun
               (ha)          (ton)       (ton/ha)      %         (ton)     (ton/ha)

    1996      403.266       28.603.532      70,9      7,32     2.094.195     5,19
    1997      385.669       27.953.841      72,5      7,83     2.189.975     5,68
    1998      378.293       27.177.766      71,8      5,49     1.491.553     3,94
    1999      340.800       21.401.834      62,8      6,96     1.488.599     4,37
    2000      340.660       24.031.355      70,5      7,04     1.690.667     4,96
    2001      344.441       25.186.254      73,1      6,85     1.725.467     5,01
    2002      350.723       25.533.431      72,8      6,88     1.755.434     5,01
    2003      335.725       22.631.109      67,4      7,21     1.631.919     4,87
    2004      344.793       26.743.179      77,6      7,67     2.051.644     5,95
    2005      381.786       31.242.267      81,8      7,18     2.241.742     5,87
    2006      396.441       30.232.833      76,3      7,63     2.307.027     5,82
   2007*      418.506       32.332.327      77,3      7,47     2.415.625     5,77
   2008**     431.141       33.894.431      78,6      7,96     2.698.265     6,26
Keterangan :
*
   Hasil Kesepakatan rapat November 2007
**
   Sumber data Asosiasi Gula Indonesia 2007
Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007
93



Lampiran 2 Angka Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007

                                        Jumlah     ton           jmlh       jml        lm      jam                b.p   b.p      b.p     tot
                               Ha                        Rnd                                           b.p slf                                    tk          total
Masa giling      Luas (ha)               tebu     tebu          hablur    gula/ha   kmpny     mesin              P2O5 flk        kpt     bp             tkm
                             digiling                    (%)                                            (ton)                                   tetap          tk
                                         (ton)     /ha           (ton)     (ton)     (hari)   (jam)              (ton) (ton)    (ton)   (ton)
2001 14-Jun      3155,220    439,859    30239,5   68,7   6,82   2063,54     4,69        17    359,92    18,53     1,65   0,07   36,71   56,96     15    201   216
        01-Jul   3155,220    421,628    30500,9   72,3   6,54   1994,20     4,73        15    341,50    19,83     1,76   0,07   35,78   57,43     15    201   216
        16-Jul   3155,220    489,566    36286,0   74,1   6,82   2475,78     5,06        16    384,00    26,85     2,36   0,07   58,67   87,96     15    221   236
     01-Agust    3155,220    414,174    31035,8   74,9   6,96   2158,87     5,21        15    336,16    24,70     1,46   0,06   51,78   78,00     15    201   216
     16-Agust    3155,220    440,339    36557,0   83,0   7,13   2606,95     5,92        16    377,50    25,56     1,68   0,07   57,48   84,80     15    241   256
       01-Sep    3155,220    538,200    32424,5   60,2   7,35   2383,06     4,43        15    357,50    20,30     1,58   0,07   41,43   63,37     15    214   229
       16-Sep    3155,220    495,499    30133,4   60,8   7,71   2323,62     4,69        15    344,50    17,33     1,54   0,07   39,31   58,24     15    218   233
       01-Okt    3155,220    324,139    18892,0   58,3   6,95   1313,55     4,05        10    222,17    12,10     1,05   0,05   25,20   38,39     15    201   216
2002 8-Jun       3253,358    219,110    15873,5   72,4   6,82   1082,07     4,94         8    173,00    11,33     0,81   0,04   23,57   35,74     14    234   248
       16-Jun    3253,358    470,414    34775,5   73,9   6,75   2347,01     4,99        15    355,00    19,34     1,19   0,07   47,24   67,84     14    244   258
        01-Jul   3253,358    465,137    35075,6   75,4   6,55   2297,60     4,94        15    352,50    19,30     1,04   0,07   49,07   69,48     14    245   259
        16-Jul   3253,358    517,251    38990,7   75,4   6,96   2714,18     5,25        16    379,58    20,60     1,11   0,08   54,36   76,14     14    246   260
     01-Agust    3253,358    494,944    37375,8   75,5   7,39   2760,25     5,58        15    356,33    19,33     1,46   0,07   51,51   72,37     14    242   256
     16-Agust    3253,358    520,931    38423,3   73,8   7,22   2774,42     5,33        16    373,41    20,30     0,93   0,08   56,81   78,11     14    241   255
       01-Sep    3253,358    436,389    34105,9   78,2   7,40   2525,23     5,79        15    339,91    19,33     1,63   0,08   48,60   69,63     14    234   248
       16-Sep    3253,358    459,281    33708,1   73,4   7,12   2401,22     5,23        15    353,91    20,45     1,52   0,11   47,82   69,90     14    234   248
       01-Okt    3253,358    384,908    38216,4   99,3   5,92   2262,44     5,88        18    407,99    23,95     1,60   0,13   54,37   80,05     14    234   248
2003 11-Jun      3900,282    608,589    44585,3   73,3   6,51   2900,73     4,77        20    454,58    27,95     2,05   0,05   48,88   78,92     13    252   265
        01-Jul   3900,282    398,228    32682,9   82,1   6,53   2133,34     5,36        15    333,50    20,74     1,64   0,04   36,83   59,23     13    242   255
        16-Jul   3900,282    451,286    35975,7   79,7   6,59   2370,59     5,25        16    366,75    21,10     2,13   0,05   40,10   63,38     13    242   255
     01-Agust    3900,282    461,350    34213,7   74,2   6,55   2240,01     4,86        15    351,75    18,23     0,75   0,06   38,30   57,33     13    242   255
 200416-Agust    3900,282    494,519    35012,4   70,8   7,00   2449,31     4,95        16    371,50    18,50     4,75   0,11   39,99   63,34     13    248   261
       01-Sep    3900,282    527,369    32272,0   61,2   7,81   2519,09     4,78        15    353,50    18,70     4,50   0,06   38,41   61,67     13    250   263
94



Lanjutan Lampiran 2

      16-Sep 3,442.558 481,117 15040,0   31.3   7.27 1,093.55   2.27    8   183.25 10,34    2,15   0,03   19,24 31,76    13   242   255
2004 23-Mei 3090,435 205,304 15029,8     73,2   6,65   999,80   4,87    9   195,00 113,20   0,93   0,03   18,26 132,41   13   230   243
      01-Jun 3090,435 412,493 30397,9    73,7   6,63 2014,66    4,88   15   354,00 21,84    2,31   0,07   35,68 59,89    13   240   253
      16-Jun 3090,435 442,980 33860,4    76,4   6,87 2326,34    5,25   15   358,50 20,61    2,36   0,07   34,79 57,83    13   236   249
       01-Jul 3090,435 393,212 32140,9   81,7   7,34 2358,97    6,00   15   333,83 19,50    2,15   0,07   32,64 54,35    13   237   250
    01-Agust 3328,536 403,793 30099,1    74,5   8,01 2412,25    5,97   15   322,00 19,81    1,90   0,62   31,63 53,95    13   238   251
    16-Agust 3328,536 332,496 22396,6    67,4   7,94 1778,53    5,35   16   249,00 14,73    1,06   0,44   23,67 39,89    13   239   252
      01-Sep 3328,536 446,886 32885,4    73,6   8,82 2899,59    6,49   15   384,50 20,53    0,18   0,65   35,07 56,43    13   230   243
      16-Sep 3277,460 227,188 21981,1    96,8   8,38 1841,93    8,11   10   243,25   9,55   1,24   0,47   24,57 35,82    13   230   243
2005 25-Mei 3676,408 610,207 47828,4     78,4   6,65 3180,14    5,21   22   521,00 32,38    2,94   0,15   57,38 92,85    12   239   251
      16-Jun 3676,408 368,476 27757,0    75,3   6,97 1935,31    5,25   15   309,75 20,87    2,29   0,15   39,19 62,50    12   232   244
       01-Jul 3676,408 394,548 30812,8   78,1   7,51 2313,70    5,86   15   325,25 20,13    1,44   4,08   40,08 65,72    12   232   244
       16-Jul 3676,408 424,454 36723,8   86,5   7,47 2742,95    6,46   16   380,50 22,28    2,99   0,19   46,76 72,22    12   234   246
    01-Agust 3676,408 432,977 35004,2    80,8   7,71 2700,08    6,24   15   357,00 20,68    2,40   0,16   43,34 66,57    12   233   245
    16-Agust 3676,408 425,938 35220,7    82,7   8,29 2918,08    6,85   16   361,50 21,15    2,54   0,09   44,26 68,04    12   236   248
      01-Sep 3676,408 426,329 33719,3    79,1   8,53 2877,49    6,75   15   350,42 20,35    1,75   0,08   43,57 65,75    12   235   247
      16-Sep 3676,408 410,775 34561,7    84,1   8,52 2945,43    7,17   15   358,00 20,68    2,10   0,09   44,12 66,99    12   238   250
      01-Okt 3676,408 364,553 30341,1    83,2   8,22 2494,52    6,84   15   324,09 18,58    1,82   0,10   38,83 59,33    12   232   244
2006 11-Mei 3835,008 590,760 45372,5     76,8   7,01 3179,28    5,38   21   487,82 28,00    2,61   0,15   48,60 79,35    12   219   231
      01-Jun 3835,008 435,135 33942,4    78,0   7,42 2517,20    5,78   15   360,00 20,98    2,36   0,12   38,76 62,22    12   219   231
      16-Jun 3835,008 413,962 32216,7    77,8   7,68 2475,16    5,98   15   345,25 19,88    2,28   3,85   29,49 55,48    12   221   233
       01-Jul 3835,008 404,626 32381,2   80,0   8,82 2857,53    7,06   15   342,50 19,71    2,28   1,10   33,86 56,93    12   223   235
       16-Jul 3835,008 434,295 36719,0   84,5   8,42 3091,69    7,12   16   380,00 21,80    2,48   1,20   37,91 63,39    12   224   236
    01-Agust 3835,008 399,773 33180,8    83,0   8,85 2938,12    7,35   15   344,00 19,48    2,08   0,10   34,14 55,80    12   226   238
    16-Agust 3835,008 449,567 36627,6    81,5   8,71 3190,17    7,10   16   380,00 21,58    2,48   0,10   37,29 61,44    12   221   233
      01-Sep 3835,008 437,828 33920,6    77,5   8,46 2869,42    6,55   15   356,00 20,28    2,20   0,11   34,33 56,92    12   219   231
95



Lanjutan Lampiran 2

       16-Sep    3835,008    453,697   32442,8   71,5   8,51   2760,23   6,08   15   346,30   20,05   1,54   0,09   58,60   80,28   12   219   231
       01-Okt    3835,008    548,354   33041,7   60,3   7,89   2608,40   4,76   17   361,90   21,65   2,66   0,09   41,24   65,64   12   219   231
2007    3-Jun    4497,942    377,503   26698,0   70,7   6,60   1762,92   4,67   13   280,25   17,35   0,14   0,09   38,80   56,37   12   207   219
       16-Jun    4497,942    460,489   33874,2   73,6   6,89   2333,90   5,07   15   338,00   21,08   3,43   0,12   31,14   55,77   12   207   219
        01-Jul   4497,942    501,879   36945,5   73,6   7,25   2679,81   5,34   15   360,00   22,88   2,33   0,13   41,34   66,67   12   207   219
        16-Jul   4497,942    567,296   40749,8   71,8   7,73   3148,72   5,55   16   379,50   24,57   3,12   0,14   43,57   71,39   12   209   221
     01-Agust    4497,942    508,366   37617,8   74,0   8,20   3084,44   6,07   15   341,50   22,66   2,98   0,12   41,22   66,97   12   210   222
     16-Agust    4497,942    557,973   41501,3   74,4   8,72   3618,03   6,48   16   379,00   25,21   3,36   0,14   46,40   75,11   12   214   226
       01-Sep    4497,942    498,399   37881,7   76,0   8,96   3395,57   6,81   15   384,50   23,00   2,61   0,13   42,38   68,12   12   211   223
       16-Sep    4497,942    504,201   37267,2   73,9   8,71   3245,51   6,44   15   346,25   22,95   3,05   0,12   42,15   68,26   12   211   223
Rata-rata        3637,410    444,423   33144,7   75,8   7,50   2510,22   5,69   15   349,77   22,11   2,01   0,29   40,62   65,03   13   228   241
       Sumber : PG Pagottan, 2008
96



Lampiran 3 Pertumbuhan Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007
            Luas     Jumlah                 Jumlah    Lama      Jam     Bahan     Tenaga
 Tahun                           Rendemen
           Lahan       Tebu                 Hablur    Giling   Mesin   Pembantu   Kerja
  2001      -2,49      -4,65         0,40     -3,69    -6,32   -5,33     -5,66     -5,77
  2002     12,32       16,34        -1,49     14,43    13,54    2,30      2,15      2,17
  2003      -2,32     -13,40         2,03    -10,87   -11,81   -9,41     -7,76     -6,29
  2004       9,62      12,90         3,50     17,27     4,82    9,63     -2,55     -0,30
  2005      -4,92      -3,73         2,76     -1,11    -3,87    0,96      0,56      0,58
  2006       0,03      -2,84         1,52     -1,62    -1,60    0,94      0,75      0,79
  2007       4,84       5,51         4,08      9,91     2,32    3,57      1,85      2,27
  Rata-
            2,44       1,45          1,83    3,48     -0,42    0,38      -1,52     -0,93
  rata
Sumber : PG Pagottan, 2008 (diolah)
97



Lampiran 4 Perkembangan Luas Areal, Produktivitas Tebu, Rendemen,
           dan Produksi Gula PG Pagottan Tahun 2001-2007
                              Produksi(ton)                  Hablur (ton)
   Kategori      Luas (ha)                       Rendemen
                             /ha       jumlah               /ha     jumlah
 2001
 Tebu Sendiri     2287,995   66,9     105068,6     7,18     4,80    10768,30
 Tebu Rakyat       678,709   89,5     91528,2      7,26     6,50     6551,30
 2002
 Tebu Sendiri     1747,954   69,5     121549,7     7,20     5,00     8748,50
 Tebu Rakyat      2132,260   84,7     180624,1     6,67     5,70    12047,60
 2003
 Tebu Sendiri     1926,129   63,3     122486,8     7,12     4,52    8715,20
 Tebu Rakyat      1496,332   71,7     107295,2     6,52     4,67    6991,40
 2004
 Tebu Sendiri     1971,876   69,5     137089,1     8,13     5,65    11146,98
 Tebu Rakyat      1305,584   88,7     115798,6     6,92     6,14     8014,00
 2005
 Tebu Sendiri     2401,408   77,8     186777,0     8,36     6,50    15608,94
 Tebu Rakyat      1820,364   86,0     156590,8     6,88     5,92    10771,16
 2006
 Tebu Sendiri     2424,708   71,3     173000,5     8,97     6,40    15514,25
 Tebu Rakyat      1934,177   84,1     162632,8     7,13     6,00    11603,56
 2007
 Tebu Sendiri     2390,142   76,4     182827,8     8,86     6,76    16166,60
 Tebu Rakyat      3318,597   68,5     227268,7     7,23     4,95    16432,70
Sumber : PG Pagottan, 2008
98



Lampiran 5 Hasil Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi

Residual Plots for PG


Regression Analysis: PG versus JT; RND; JM; TKT; TKM; BP; LMG

The regression equation is
PG = 2,60 + 0,0555 JT + 0,999 RND + 1,13 JM + 0,330 TKT - 0797 TKM
     - 0,029 BP   0,084 LMG


Predictor       Coef      SE Coef        T       P    VIF
Constant       2,599        1,073     2,42   0,019
JT           0,05546      0,02550     2,18   0,016     3,0
RND          0,99897      0,07957    12,55   0,000     1,5
JM            1,1267       0,1085    10,38   0,000     9,7
TKT           0,3298       0,1664     1,98   0,220     4,1
TKM          -0,7969       0,2201    -3,62   0,031     4,0
BP          -0,02909      0,03575    -0,81   0,591     1,6
LMG          -0,0840       0,1166     2,39   0,024    10,0


S = 0,0547209    R-Sq = 96,2%     R-Sq(adj) = 95,7%


Analysis of Variance

Source            DF         SS        MS         F        P
Regression         7    3,90974   0,55853    214,85    0,000
Residual Error    51    0,15271   0,00299
Total             58    4,06246

Durbin-Watson statistic = 2,11653
99



Lampiran 6 Hasil Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS

Regression Analysis: PG versus JT; RND; JM; TTK; BP

The regression equation is
PG = 2,841 + 0,0664 JT + 1,01 RND      0,239 TTK + 1,03 JM     0,015 BP


Predictor       Coef     SE Coef         T       P     VIF
Constant       2,841       1,014      2,80   0,007
JT           0,06636     0,02616      2,54   0,014     2,7
RND          1,01122     0,08433     11,99   0,000     1,5
JM           1,03082     0,06121     16,84   0,000     2,7
TTK          -0,2386      0,1062     -2,25   0,029     1,4
BP          -0,01543     0,03820     -0,40   0,688     1,6


S = 0,0552418    R-Sq = 96,0%      R-Sq(adj) = 95,6%


Analysis of Variance

Source           DF         SS        MS          F        P
Regression        5    3,90072   0,78014     255,65    0,000
Residual Error   53    0,16174   0,00305
Total            58    4,06246


Durbin-Watson statistic = 1,983035
100



Lampiran 7 Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Tujuh Faktor
           Produksi

                        Normal Probability Plot of the Residuals
                                      (response is PG)
            99,9


             99

             95
             90
             80
             70
  Percent




             60
             50
             40
             30
             20
             10
              5

              1


             0,1
              -0,0010       -0,0005          0,0000        0,0005   0,0010
                                            Residual
101



Lampiran 8 Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi dengan
           Tujuh Faktor Produksi

                        Residuals Versus the Fitted Values
                                  (response is PG)
             0,00075


             0,00050


             0,00025
  Residual




             0,00000


             -0,00025


             -0,00050

                        7,00     7,25        7,50       7,75   8,00   8,25
                                         Fitted Value
102



Lampiran 9 Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Setelah Uji
           Validitas Asumsi OLS

                        Normal Probability Plot of the Residuals
                                      (response is PG)
            99,9


             99

             95
             90
             80
             70
  Percent




             60
             50
             40
             30
             20
             10
              5

              1


             0,1
              -0,0010       -0,0005          0,0000        0,0005     0,0010
                                            Residual
103



Lampiran 10 Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi
            Setelah Uji Validitas Asumsi OLS

                        Residuals Versus the Fitted Values
                                  (response is PG)
             0,00075


             0,00050


             0,00025
  Residual




             0,00000


             -0,00025


             -0,00050
                        7,00     7,25        7,50       7,75   8,00   8,25
                                         Fitted Value

Tebu

  • 1.
    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANGMEMPENGARUHI PRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN Oleh: TUTIK WIDARWATI A14104134 PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
  • 2.
    RINGKASAN TUTIK WIDARWATI. AnalisisFaktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di PG Pagottan. Di bawah bimbingan HARMINI. Gula merupakan salah satu bahan pangan pokok yang memiliki arti penting dan posisi yang strategis di Indonesia karena sebagian besar masyarakat Indonesia mengkonsumsi gula. Permintaan gula akan terus meningkat tiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya beli masyarakat, dan pertumbuhan industri yang menggunakan gula sebagai bahan bakunya. Permintaan gula yang meningkat disebabkan konsumsi gula rumah tangga di Indonesia yang mengalami kecenderungan yang meningkat dari tahun 2003 sampai tahun 2007. Meskipun terjadi peningkatan terhadap produksi gula nasional namun angka produksi tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan gula nasional Indonesia harus melakukan impor gula. Ketidakmampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan gula dalam negeri disebabkan karena masih rendahnya produksi gula nasional. Rendahnya produksi nasional antara lain disebabkan oleh : (1) Penurunan luas dan produktivitas lahan, (2) Rendahnya rendemen industri gula Indonesia, (3) Efisiensi pabrik gula yang masih rendah. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan di lapang, maka diketahui bahwa kondisi inefisiensi produksi tersebut diduga juga dialami oleh PG Pagottan yang salah satunya diindikasikan oleh kualitas pasokan bahan baku tebu (rendemen) yang masih rendah. Selain itu terjadi kecenderungan pemanfaatan tenaga kerja yang berlebihan di dalam menjalankan kegiatan produksinya. Sesuai dengan kondisi yang terdapat di PG Pagottan maka penelitian ini bertujuan untuk : (1) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan dan (2) Menganalisis tingkat efisiensi kegiatan produksi gula di PG Pagottan. Penelitian ini dilaksanakan di PG Pagottan Madiun yang merupakan salah satu pabrik gula yang berada di bawah pengelolaan PTPN XI wilayah kerja Jawa Timur. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Mei 2008. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder, meliputi: data output, input, serta biaya rata-rata kegiatan produksi gula di PG Pagottan dari tahun 2001 hingga tahun 2007. Analisis data yang dilakukan menggunakan model fungsi produksi Cobb- Douglas yang diolah dengan pendugaan OLS (Ordinary Least Square). Kemudian dilanjutkan dengan analisis terhadap efisiensi kegiatan produksi gula, dengan asumsi terdapat kendala biaya. Pertumbuhan total produksi gula sejak tahun 2001 hingga tahun 2007 menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 3,48 persen per periode. Peningkatan ini dipengaruhi oleh kecenderungan peningkatan produksi gula tebu sendiri (TS) dan tebu rakyat (TR) masing-masing sebesar 8,73 persen per periode dan 23,38 persen per periode. Peningkatan produksi gula TR terjadi tidak hanya karena perluasan areal tetapi juga disebabkan oleh perbaikan mutu intensifikasi budidaya dan introduksi varietas unggul pada areal bongkaran keprasan. Peningkatan juga terjadi pada jumlah tebu yang dipasok, rendemen, dan tenaga kerja musiman. Sedangkan lama giling, jam mesin, dan bahan pembantu mengalami kecenderungan yang menurun.
  • 3.
    Faktor-faktor yang didugamempengaruhi produksi gula di PG Pagottan, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dari hasil analisis regresi dengan memenuhi asumsi OLS (uji normalitas, homoskedastisitas, non autokorelasi, tidak terdapat gejala multikolinearitas) dan uji statistik , maka diperoleh faktor-faktor yang secara nyata berpengaruh terhadap produksi gula di PG Pagottan. Faktor- faktor produksi tersebut, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenaga kerja pada selang kepercayaan 95 persen . Nilai koefisien regresi dari faktor- faktor produksi tersebut masing-masing sebesar 0,066, 1,01, 1,03, dan -0,239. Nilai elastisitas yang negatif menunjukkan bahwa jika terdapat peningkatan satu persen tenaga kerja maka akan mengurangi produksi gula sebesar 0,239 persen. Selanjutnya dilakukan analisis efisiensi penggunaan faktor produksi di dalam kegiatan produksi gula. Dalam penelitian ini faktor-faktor produksi yang diukur tingkat efisiensinya adalah jumlah tebu karena faktor tersebut dapat diukur tingkat harganya dan memenuhi syarat Cobb-Douglas, yaitu nilai koefisien regrresi dari faktor poduksi tersebut antara nol dan satu.. Dengan menghitung nilai rasio antara NPM (Nilai Produk Marjinal) dan BKM (Biaya Korbanan Marjinal) diketahui bahwa nilai rasio antara NPM dan BKM faktor produksi jumlah tebu sebesar 0,01menunjukkan bahwa penggunaan bahan baku belum efisien. Berdasarkan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) dari faktor produksi jumlah tebu yang tidak sama dengan satu, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan faktor produksi belum efisien. Penggunaan bahan baku tebu dalam produksi gula harus mencapai kondisi optimal agar efisiensi dapat tercapai. Kondisi optimal dari penggunaan factor produksi ini terjadi apabila rasio NPM dan BKM dari faktor produksi harus sama dengan satu.
  • 4.
    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANGMEMPENGARUHI PRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN Oleh : TUTIK WIDARWATI A14104134 Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
  • 5.
    Judul Skripsi : Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di PG Pagottan Nama : Tutik Widarwati NRP : A14104134 Menyetujui, Dosen Pembimbing Skripsi Ir. Harmini, MS NIP. 131 688 732 Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019 Tanggal Lulus :
  • 6.
    PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ”ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN” BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA MANAPUN. SUMBER INFORMASI YANG BERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG DITERBITKAN MAUPUN TIDAK DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN TELAH DISEBUTKAN DALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA DI BAGIAN AKHIR SKRIPSI INI. Bogor, September 2008 Tutik Widarwati A14104134
  • 7.
    RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 14 Agustus 1986 dari keluarga Bapak Darno dan Ibu Minten Widarti. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Pendidikan akademis penulis dimulai sejak tahun 1991 dengan bersekolah di TK Islam Wahyu, Cimanggis, Depok. Pendidikan dasar diselesaikan penulis di SD Negeri Curug IV Depok pada tahun 1998, yang dilanjutkan dengan pendidikan lanjutan tingkat pertama di SLTP Negeri 1 Cimanggis sejak tahun 1998 hingga tahun 2001. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Depok dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian.
  • 8.
    KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas segala rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di PG Pagottan sebagai syarat untuk melakukan penelitian yang menjadi bagian dari penelitian skripsi pada Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini berisi tentang penelitian mengenai PG Pagottan sebagai suatu entitas usaha yang bergerak dalam pengolahan gula. Penelitian yang akan dilakukan berupaya untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan serta tingkat efisiensi faktor-faktor produksi tersebut. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca, dan dapat diterima sebagi syarat dalam penelitian skripsi. Bogor, September 2008 Penulis
  • 9.
    UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat, hidayah serta karunia- Nya kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluaraga, sahabat serta para pengikutnya hingga akhir zaman. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari kerjasama dan bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ir. Harmini, MS, sebagai dosen pembimbing skripsi, yang tak hentinya memberikan nasihat, motivasi dan masukan yang sangat berguna demi kesempurnaan skripsi penulis. 2. Dr.Ir. Nunung Kusnadi, MS, sebagai dosen penguji utama. 3. Etriya, SP,MM, sebagai dosen penguji wakil komisi pendidkan. 4. Amzul Rifin, SP. M. A. sebagai dosen Pembimbing Akademik yang juga memberikan masukan, saran dan kritikan serta motivasi selama penulis menyusun skripsi ini. 5. Bapak Gampil, Bapak Arysad sebagai SKW Bagian Tanaman PG Pagottan yang telah memberikan banyak informasi kepada penulis. 6. Bapak Darno, Mas Yiyin, Mba Riski, Mba Yeni atas kerjasama yang baik selama penulis melakukan penelitian. 7. Pak Whumy, Pak Adit, Pak Budi, Pak Joseph yang banyak memberikan data dan informasi penting kepada penulis, pelajaran singkat mengenai gula, browsing gratis, dan kemudahannya lainnya yang telah diberikan kepada penulis. 8. Dosen-dosen IPB yang telah memberikan ilmunya kepada penulis.
  • 10.
    9. Mas Ferry, Mba Etriya, Mas Yeka, Mas Arif, Mba Anita dan dosen lainnya yang pernah menjadi asdos dan memberikan ilmunya kepada penulis. 10. Mba Dian, Mba Dewi, Ibu Ida dan staff lainnya atas bantuannya kepada penulis dalam mengurus birokrasi. 11. Kedua orang tuaku, ibu dan bapak yang selalu memberikan bantuan baik dukungan moril maupun dukungan semangat serta kasih sayang yang tak hentinya dicurahkan kepada penulis. 12. Adikku tercinta Ayub Dwi Prasetyo yang selalu meramaikan rumah dengan keisengan dan kejailannya. 13. Sahabat-sahabat terbaikku di dunia Rizki Amelia, Sevia Fitrianingsih, Nur Novita Zayanty, Adisti Meisafitri, Imas Nunik Handayani, Rizal Syahrudin, Yustika Muharastri atas keceriaan, kebahagiaan, suka dan duka selama empat tahun. Semoga persahabatan kita akan selalu abadi, amin ya robbal alamin. Terimakasih setulusnya kuucapkan untuk kalian semua. 14. Purdiyanti Pratiwi, Tantri Dewi Putriana, Nurhayati Zaenal, Vera Nova Gustrin, Jane Langking, dan Prety Elisabeth atas kebersamaan di rumah kontrakan Pak Ukun. 15. Ss, Aries, Tejo, Yanti, Lukman, Neng-Q, Wanti, Rudi, Sastrow, Effendi, Pak De, Dian, serta teman-teman AGB 41 lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, terimakasih atas kebersamaannya selama kuliah di IPB, menjadikan empat tahun ini warna-warni yang indah dalam hidupku, sungguh beruntung mengenal kalian semua.
  • 11.
    16. Madyastato Prabudi, seseorang yang baik hatinya, memotivasi penulis dan dengan tulus serta sabar membantu dan memfasilitasi penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Ni shi wo de hen ke ai nanpengyou. 17. Tante-tanteku tercinta Lek Nur dan Lek Pis, terimakasih Lek atas pelajaran hidup yang bermakna. 18. Sepupu perempuanku Ayu, yang dengan baiknya membantu penulis untuk mentranslet buku-buku asing. Danke. 19. Teman-teman KKP desa Cikadu Cita, Rena, dan Roni terimakasih atas kebersamaannya selama masa KKP, pengalaman tak terlupakan. 20. Fotocopy Prima yang banyak membantu terwujudnya skripsi ini serta pihak- pihak yang banyak membantu penulis selama penyusunan skripsi.
  • 12.
    DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ..................................................................................................... xi DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xv I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1 1.2 Perumusan Masalah ............................................................................. 6 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 7 1.4 Kegunaan Penelitian ............................................................................ 7 1.5 Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... 8 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Komoditi Tebu ........................................................ 9 2.2 Pengusahaan Tebu ............................................................................. 12 2.3 Pengusahaan Pabrik Gula ................................................................... 15 2.4 Jenis Gula .......................................................................................... 16 2.5 Penelitian Terdahulu .......................................................................... 18 III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori dan Fungsi Produksi ...................................................... 22 3.1.2 Konsep Efisiensi Produksi ...................................................... 31 3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ....................................................... 36 IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................................. 39 4.2 Sumber dan Jenis Data ....................................................................... 39 4.3 Metode Analisis Data ......................................................................... 40 4.4 Pengukuran Variabel .......................................................................... 45 V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1 Sejarah dan Struktur Organisasi Perusahaan 5.1.1 Sejarah Perusahaan ................................................................. 49 5.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan............................................... 50 5.2 Tinjauan Geografis dan Iklim ................................................................ 53 5.3 Kemittraan Antara Pabrik Gula dan Petani ............................................ 54 5.4 Perkembangan Produksi Pabrik ............................................................. 55
  • 13.
    5.5 Agribisnis Gula 5.5.1 Usahatani Tebu ....................................................................... 62 5.5.2 Pengolahan Tebu .................................................................... 66 5.5.3 Distribusi Gula ....................................................................... 73 VI EFISIENSI PRODUKSI GULA PASIR 6.1 Pemilihan Model Fungsi Produksi...................................................... 75 6.2 Analisis Elastisitas Produksi............................................................... 80 6.3 Analisis Efisiensi ............................................................................... 83 VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan ........................................................................................ 87 7.2 Saran.................................................................................................. 88 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 89 LAMPIRAN ..................................................................................................... 91 xii
  • 14.
    DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Perkembangan Konsumsi dan Produksi Gula Indonesia Tahun 2003-2007 .... 2 2. Perkembangan Impor Gula Indonesia Tahun 2003-2007 ............................... 3 3. Realisasi Produksi PG Pagottan Tahun 1997-2007 ........................................ 6 4. Jenis dan Sumber Data ................................................................................ 40 5. Varietas Tebu yang Digunakan PG Pagottan ............................................... 63 6. Standardisasi Mutu Gula Kristal Putih......................................................... 72 7. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula dengan Tujuh Faktor Produksi ....... 76 8. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula Setelah Uji Validitas Asumsi OLS 79 9. Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Kegiatan Produksi Gula Pasir pada PG Pagottan per Periode...................................... 85
  • 15.
    DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Proses Terbentuknya Gula di dalam Batang Tebu ....................................... 10 2. Fungsi Produksi Klasik dan Tiga Tahap Produksi........................................ 28 3. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional ..................................................... 38 4. Struktur Organisasi PG Pagottan ................................................................. 51 5. Bagan Pemasaran Gula di PG Pagottan ....................................................... 74
  • 16.
    DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Luas Areal dan Produksi Gula Indonesia Tahun 1996-2008.......................... 92 2. Angka Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 ........................................... 93 3. Pertumbuhan Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 ................................. 96 4. Perkembangan Luas Areal PG Pagottan ....................................................... 97 5. Hasil Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi .................................. 98 6. Hasil Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS ............................ 99 7. Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Tujuh Faktor Produksi ......... 100 8. Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi ..................................................................................................... 101 9. Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS ........................................................................................................... 102 10. Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS .............................................................................................. 103 11. Dokumentasi PG Pagottan.......................................................................... 104
  • 17.
    I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gula merupakan salah satu bahan pangan pokok yang memiliki arti penting dan posisi yang strategis di Indonesia. Meskipun telah beredar bahan- bahan pemanis lainnya, seperti : madu, gula merah, fruktosa, glukosa dan gula tropika namun preferensi masyarakat Indonesia terhadap gula tebu masih lebih tinggi. Alasan kepraktisan (bentuk butiran), ketersediaan, dan berbagai kelebihan lainnya menjadikan gula tebu sebagai pilihan utama (Churmen, 2001). Hal ini mengindikasikan bahwa permintaan gula akan terus meningkat tiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya beli masyarakat, dan pertumbuhan industri yang menggunakan gula sebagai bahan bakunya1. Permintaan gula yang meningkat disebabkan konsumsi gula rumah tangga di Indonesia mengalami kecenderungan yang meningkat dari tahun 2003 sampai tahun 2007 (Tabel 1). Kecenderungan konsumsi yang meningkat seiring dengan meningkatnya produksi gula. Namun, besarnya jumlah konsumsi gula tersebut tidak diimbangi dengan jumlah produksi gula. Hal tersebut menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dengan kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat. Pada Tabel 1 dapat dilihat nilai produksi gula nasional pada tahun 2003 hanya sebesar 1,63 juta ton padahal nilai konsumsi gula saat itu mencapai 2,29 juta ton. Kemudian pada tahun 2007 produksi gula nasional mengalami kenaikan sebesar 4,7 persen dibandingkan tahun 2006 menjadi 2,42 juta ton, namun angka 1 Simatupang, Pantjar. 2005. Analisis Kebijakan Tentang Kebijakan Komprehensif Pergulaan Nasional. www.pse.litbang.deptan.go.id diakses 10 April 2008.
  • 18.
    2 ini masih belumdapat memenuhi kebutuhan gula dalam negeri yang mencapai 2,69 juta ton. Peningkatan produksi gula nasional yang terjadi lima tahun terakhir disebabkan oleh kebijakan yang dikeluarkan pemerintah mengenai penetapan harga provenue gula pasir produksi petani yang bertujuan untuk menghindari kerugian petani dan mendorong peningkatan produksi. Selain itu pemerintah juga menetapkan tarif spesifik untuk impor gula mentah sebesar Rp 550 per kilogram (setara 20 persen) dan gula putih Rp 700 per kilogram (setara 25 persen) yang berlaku hingga sekarang untuk merangsang petani menanam tebu. Tabel 1 Perkembangan Konsumsi dan Produksi Gula Indonesia Tahun 2003-2007 Konsumsi Gula Rumah Kekurangan Tahun Produksi Gula (ton) Tangga (ton) (ton) 2003 2.294.539 1.634.918,9 1.435.105,3 2004 2.442.000 2.051.643,8 825.304,1 2005 2.625.540 2.241.742,0 151.126,2 2006 2.664.135 2.307.027,0 383.798,0 2007 2.699.832 2.415.625,0 357.108,0 Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007 Salah satu penyebab rendahnya produksi gula nasional adalah bersumber dari penurunan luas areal dan penurunan produktivitas. Sebagai contoh, rendemen yang dicapai pada tahun 1970-an masih sekitar 10 persen, sedangkan rata-rata rendemen pada sepuluh tahun terakhir hanya 7,19 persen (Lampiran 1). Menurunnya rendemen tersebut selain disebabkan oleh faktor teknis di usahatani tebu dan belum selarasnya hubungan antara PG dan petani, faktor teknis di pabrik juga menjadi faktor penyebab (Susila, 2005). Rendahnya produktivitas usahatani tebu Indonesia disebabkan rendahnya produktivitas ton tebu per hektar maupun rendemen yang dihasilkan oleh tebu. Rendahnya produktivitas berkaitan dengan teknik budidaya yang belum optimal dan belum terpadunya jadwal tanam dan tebang/giling antara petani dan PG.
  • 19.
    3 Kurang terpadunya jadwaltanam dan tebang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas, khususnya yang berkaitan dengan rendemen. Rendemen yang terus menurun juga berkaitan dengan rendahnya efisiensi di tingkat pabrik. Angka rata-rata rendemen selama sepuluh tahun tersebut masih jauh di bawah target rendemen rata-rata Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional sebesar 8,79 persen2. Adanya inefisiensi di pabrik gula ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kondisi pabrik gula, terutama yang ada di Jawa, umumnya sudah tua sehingga tidak dapat mencapai efisiensi yang maksimal. Berbagai upaya untuk melakukan pembaharuan beberapa peralatan masih belum mampu menghilangkan inefisiensi secara maksimal, baik karena keterbatasan dana maupun teknologi (PTPN XI, 2000). Faktor kedua adalah keterbatasan ketersediaan jumlah bahan baku sehingga pabrik beroperasi dibawah kapasitas optimal (Susila, 2005). Dalam mencukupi kebutuhan gula dalam negeri gula dalam negeri, pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang tataniaga impor gula yang mulai diberlakukan sejak tahun 1967. Dari tahun 1993 hingga tahun 2004 impor gula Indonesia terus mengalami peningkatan. Oleh karena itu, untuk mengurangi ketergantungan pada impor pada pertengahan tahun 2004 pemerintah mengeluarkan kebijakan melalui SK Memperindag No. 527/2004 tentang Ketentuan Impor Gula. Dalam SK tersebut disebutkan bahwa institusi yang diizinkan untuk mengimpor gula (IT) adalah PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PT. 2 RR Ariyani. 2006. Rendemen Gula PTPN XI Rendah. www.tempointeraktif.com diakses 10 April 2008.
  • 20.
    4 RNI, dan PT.PPI3. Selain itu, pada tahun 2007 pemerintah telah menerbitkan persetujuan impor gula kristal putih sebesar 250.000 ton kepada para importir terdaftar (IT) gula dan PT. PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) untuk memenuhi kebutuhan dan mengantisipasi terjadinya defisit stok gula nasional4. Impor gula Indonesia mengalami fluktuatif dari tahun 2003 sampai tahun 2007 (Tabel 2). Pada tahun 2003, Indonesia mengimpor gula sebesar 647 ribu ton. Sedangkan tahun 2007, impor Indonesia mencapai 448 ribu ton. Tabel 2 Perkembangan Impor Gula Indonesia Tahun 2003-2007 Tahun Impor Gula (ton) 2003 647.908 2004 256.644 2005 453.160 2006 216.490 2007 448.681 Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007 PTPN XI merupakan salah satu institusi yang berperan dalam produksi gula nasional. Pada tahun 2008, produksi gula oleh PTPN XI diperkirakan mencapai 458 ribu ton. Angka ini membuat PTPN XI menjadi perusahaan terbesar kedua yang memberikan kontribusi terhadap stok gula nasional setelah PTPN X (526 ribu ton) (Asosiasi Gula Indonesia, 2007). PTPN XI mengelola enam belas pabrik gula (PG) yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Salah satu PG yang dikelola oleh PTPN XI adalah PG Pagottan yang berada di Kabupaten Madiun. Pada tahun 2006 PG Pagottan memiliki kapasitas giling yang cukup besar yaitu 2,26 ribu ton per hari. Selain itu, dilihat dari pertumbuhan rendemen dari tahun 1997-2007, rata-rata pertumbuhan rendemen PG Pagottan sebesar 4,93 persen per tahun. Pada tahun 2007 rendemen PG Pagottan sebesar 7,96 persen dan 3 Mansur, Natsir. 2007. Rancunya Distribusi Gula Nasional. www.bisnisindonesia.comdiakses 13 Maret 2008. 4 Departemen Pertanian. 2007. Impor Gula Diharapkan Tidak Mendistorsi Pasar. www2.kompas.com diakses 13 Maret 2008.
  • 21.
    5 merupakan rendemen terbesardibandingkan dengan pabrik gula lainnya di bawah PTPN XI. Meskipun masih berada di bawah target rendemen pemerintah, namun PG Pagottan memiliki potensi untuk mengoptimalkan nilai rendemennya. Tahun 2009 pemerintah menargetkan Indonesia mencapai swasembada gula nasional dan tahun 2010 diharapkan Indonesia sudah memasuki era liberalisasi perdagangan gula. Oleh karena itu, setiap pabrik gula termasuk PG Pagottan diwajibkan untuk meningkatkan produksi dan efisiensinya. Hal ini bertujuan untuk memenuhi target yang diharapkan, mencapai tujuan perusahaan serta mampu bersaing dengan produsen-produsen gula negara lain. 1.2 Perumusan Masalah PG Pagottan merupakan satu dari 16 pabrik gula yang dikelola oleh PTPN XI (Persero), Surabaya. PG Pagottan sudah mulai beroperasi pada tahun 1905. Semakin tingginya konsumsi masyarakat terhadap gula merupakan peluang bisnis sekaligus tantangan bagi PG Pagottan. Dengan tingginya permintaan dari masyarakat terhadap gula mendorong peningkatan jumlah perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama, dengan kata lain tingkat persaingan menjadi lebih tinggi. PG Pagottan harus mampu bersaing dengan perusahan tersebut untuk tetap dapat melangsungkan proses produksinya. Hasil realisasi produksi PG Pagottan periode tahun 1997 sampai tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 3. Dalam Tabel 3 terlihat bahwa pada tahun 2000 luas areal tebu mengalami penurunan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 19,25 persen dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh penurunan luas areal tebu sendiri sebesar 4,41 persen dan penurunan luas areal TR sebesar 35,06 persen. Penurunan luas
  • 22.
    6 areal tebu initidak mempengaruhi produksi gula yang dihasilkan. Jumlah produksi gula justru mengalami peningkatan sebesar 1,29 persen. Meningkatnya produksi gula ini disebabkan oleh adanya PG sesaudara yang ikut menggilingkan tebunya di PG Pagottan. Tabel 3 Realisasi Produksi PG Pagottan Tahun 1998-2007 Produksi (ton) Hablur (ton) Tahun Luas (ha) Rendemen % /ha Jumlah /ha Jumlah 1998 3.200,348 81,4 260.440,6 5,49 4,50 14.285,40 1999 3.218,593 56,8 182.904,1 7,68 4,40 14.038,00 2000 2.598,885 75,8 197.019,9 7,22 5,50 14.219,50 2001 3.559,704 69,1 246.069,1 7,04 4,90 17.319,60 2002 3.894,294 77,8 303.053,2 6,88 5,40 20.836,70 2003 3.422,461 67,1 229.782,0 6,84 4,59 15.706,60 2004 3.277,460 77,2 252.887,7 7,58 5,85 19.160,98 2005 4.221,772 81,3 343.367,8 7,68 6,25 26.380,08 2006 4.567,937 76,6 349.845,3 8,07 6,18 28.217,20 2007 5.708,739 71,8 409.796,5 7,96 5,71 32.599,30 Sumber: Litbang Bagian Tanaman PG Pagottan, 2008 Tahun 2003 produksi gula mulai mengalami kecenderungan yang meningkat. Pada tahun 2007 produksi gula mencapai 32.599,30 ton namun tingkat rendemen menurun dari 8,07 persen pada tahun 2006 menjadi 7,96 persen pada tahun 2007. Angka tersebut masih jauh dari target pemerintah sebesar 8,79 persen. Hal ini memperlihatkan bahwa terjadi ketidakefisienan dalam produksi gula di PG Pagottan. Proses produksi yang efisien dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi yang digunakan. Faktor-faktor produksi yang biasa digunakan dalam proses produksi antara lain modal, tenaga kerja, bahan baku, dan lain-lain. Produksi yang dilakukan akan menjadi efisien jika faktor-faktor produksi tersebut dimanfaatkan secara optimal. PG Pagottan telah melakukan berbagai upaya yang sangat erat hubungannya dengan pemanfaatan faktor-faktor produksinya untuk meningkatkan produksi gula. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan penggantian varietas unggul, intensifikasi budidaya dan perbaikan manajemen tebang-angkut, serta
  • 23.
    7 penggunaan zat pemacukemasakan (ZPK)5. Jika PG Pagottan mampu memanfaatkan faktor-faktor produksinya secara optimal maka diharapkan perusahaan mampu berproduksi secara efisien dan mempunyai daya saing tinggi. Daya saing tersebut meliputi daya saing untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas baik, mendapatkan sumberdaya manusia, penggunaan teknologi, dan persaingan untuk mendapatkan konsumen. Oleh karena itu perlu ditelaah mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula serta efisiensinya agar target pemerintah dalam swasembada gula terwujud, tujuan perusahaan tercapai dan mampu bersaing dengan produsen lain. Berdasarkan uraian di atas maka secara spesifik permasalahan yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah : 1. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produksi gula di PG. Pagottan? 2. Bagaimana tingkat efisiensi produksi gula di PG. Pagottan? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula. 2. Menganalisis tingkat efisiensi produksi gula. 1.4 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada: 5 PTPN XI. 2006. 16 Pabrik Gula PTPN XI Siap Giling. www.kapanlagi.com diakses 13 Maret 2008.
  • 24.
    8 1. Perusahaan, sebagaisumber informasi dan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam usahanya untuk dapat meningkatkan produksi dan efisiensinya. 2. Pemerintah, sebagai bahan masukan dan sumber informasi agar lebih memperhatikan sektor pertanian, terutama industri gula sehingga pemerintah dapat membuat kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan efisiensi produksi sehingga produksi gula nasional meningkat dan impor dapat dikurangi. 3. Penulis, penelitian ini berguna dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan dan menambah pengetahuan penulis mengenai industri gula di Indonesia serta dapat melatih kemampuan penulis dalam menganalisis setiap masalah sesuai dengan disiplin ilmu yang diperoleh selama di perguruan tinggi. Pembaca, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi dan bahan perbandingan untuk penelitian-penelitian lebih lanjut. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi hanya dalam pabrik dan produksi gula tanpa membahas dan menganalisis hasil sampingan produksi gula. Penelitian ini hanya berada pada sekup mikro, yaitu pabrik gula. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data perusahaan terutama produksi dari masa giling tahun 2001-2007 per lima belas hari (per periode) dan data-data biaya dari tahun 2001-2007. Penelitian ini juga hanya menganalisis efisiensi produksi secara alokatif. Pengaruh yang diakibatkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah tidak dibahas secara khusus dalam penelitian ini.
  • 25.
    9 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Komoditi Tebu Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) merupakan tanaman perkebunan semusim, yang mempunyai sifat tersendiri, sebab di dalam batangnya terdapat zat gula (Supriyadi, 1992). Batang tanaman tebu beruas-ruas, dari bagian pangkal sampai pertengahan ruasnya panjang-panjang, sedangkan di bagian pucuk ruasnya pendek. Tinggi batang antara 2-5 meter, tergantung baik buruknya pertumbuhan, jenis tebu maupun keadaan iklim. Pada pucuk batang tebu terdapat titik tumbuh yang berperan penting dalam proses pertumbuhan. Akar tanaman tebu adalah akar serabut, hal ini sebagai salah satu ciri bahwa tanaman ini termasuk ke dalam kelas monocotyledone. Akar tebu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu akar stek dan akar tunas. Akar stek disebut juga akar bibit yang masa hidupnya tidak lama, akar ini tumbuh pada cincin akar dari stek batang. Sedangkan akar tunas merupakan pengganti akar bibit. Pertumbuhan akar ada yang tegak lurus ke bawah dan ada yang mendatar dekat permukaan tanah. Daun tanaman tebu adalah daun tidak lengkap karena terdiri dari helai daun dan pelepah daun saja. Kedudukan daun berpangkal pada buku, dengan panjang helaian daun berkisar 1-2 meter sedangkan lebarnya 4-7 cm. Ujung daun meruncing, tepinya seperti gigi, dan mengandung kersik yang tajam. Bunga tebu merupakan malai yang berbentuk piramida, panjangnya antara 70-90 cm. Bunga tebu biasanya muncul pada bulan April-Mei. Bunganya terdiri dari tenda bunga, yaitu tiga helai daun kelopak dan satu helai daun tajuk bunga. Bunga tebu mempunyai satu bakal buah dan tiga benang sari,-kepala putiknya- berbentuk bulu-bulu.
  • 26.
    10 Buah tanaman tebu termasuk buah padi-padian, bijinya hanya satu sedangkan besar lembaga hanya sepertiga dari panjang biji. Daur kehidupan tanaman tebu dimulai dari fase perkecambahan, fase pertunasan, fase pemanjangan batang, fase kemasakan, dan fase kematian. Fase perkecambahan dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur satu minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur lima minggu. Fase pertunasan mulai dari umur lima minggu sampai umur 3,5 bulan, lalu dilanjutkan dengan fase pemanjangan batang, yaitu pada umur 3,5 bulan sampai sembilan bulan. Fase kemasakan merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini kadar gula di dalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal, kurang lebih terjadi pada bulan Agustus, dan setelah itu rendemennya berangsur-angsur menurun. Tahap pemasakan inilah yang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula. Proses terbentuknya gula di dalam batang tebu dapat dilihat pada Gambar 1. kadar gula 10 4 Agustus Gambar 1 Proses Terbentuknya Gula di Dalam Batang Tebu Sumber : Ahmad Supriyadi, 1992 Pada Gambar 1 terlihat jelas bahwa rendemen berada pada masa optimal sekitar bulan Agustus, setelah itu berangsur-angsur turun sampai titik akhir pada fase kematian tanaman. Proses terbentuknya rendemen gula di dalam batang tebu berjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada umur ruas.
  • 27.
    11 Ruas di bawah(lebih tua) lebih banyak tingkat kandungan gulanya dibandingkan dengan ruas di atasnya (lebih muda), demikian seterusnya sampai ruas bagian pucuk. Oleh karena itu, tebu dikatakan sudah mencapai masak optimal apabila kadar gula di sepanjang batang telah seragam, kecuali beberapa ruas di bagian pucuk. Menurut Mubyarto dan Daryanti (1991), tanaman tebu merupakan tanaman yang sangat peka terhadap perubahan unsur-unsur iklim. Oleh karena itu, waktu tanam dan panen harus diperhatikan agar tebu dapat membentuk gula dengan optimal. Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masa pertumbuhan vegetatifnya dan membutuhkan sedikit air pada saat pertumbuhan generatifnya. Terdapat dua cara penanaman tebu, yaitu di lahan sawah dengan sistem Reynoso (cara pengolahan tanah sawah untuk tanaman tebu) dan di lahan tegalan dengan sistem tebu lahan kering. Perbedaan antara dua cara ini terletak pada tersedia tidaknya fasilitas pengairan dan lamanya penggenangan air di musim hujan. Lahan sawah merupakan lahan pertanian yang memiliki pengairan dan mengalami genangan air lebih dari 30 hari secara terus menerus (memiliki pengairan yang cukup). Lahan sawah hanya terdapat di Pulau Jawa. Sedangkan lahan kering tidak memiliki pengairan dan kemungkinan mengalami genangan air kurang dari 30 hari berturut-turut, dan lahan kering ini hanya menggantungkan air pada curah hujan (Adisasmito, 1989 dalam Nurrofiq, 2005). Mubyarto dan Daryanti (1991), menyatakan bahwa perbedaan mendasar kedua jenis lahan tersebut adalah kondisi tanah yang membawa konsekuensi pada teknis budidaya yang diharapkan dapat memberi kondisi yang cocok bagi
  • 28.
    12 pertumbuhan tanaman tebu.Selanjutnya dikatakan bahwa budidaya tebu di lahan sawah bercirikan penggunaan tenaga kerja dan drainase yang intensif disertai pemberian air yang cukup. Sedangkan budidaya tebu di lahan kering dicirikan pada tidak adanya pengairan, pendayagunaan air dalam tanah dan air hujan secara optimal, pengolahan tanah sebagian atau seluruhnya secara mekanis yang ditujukan pada kelestarian dan peningkatan produktivitas lahan. Selain itu, perbedaan antara dua cara ini terletak pada pengolahan permukaan tanah. Pada sistem Reynoso tidak semua permukaan tanah diolah, namun hanya dibuat saluran dan guludan saja. Sedangkan di lahan tegalan dilakukan dengan pembajakan atau dengan traktor. Teknologi budidaya yang tepat dan penggunaan varietas unggul yang paling sesuai dengan kondisi lahannya dapat menghasilkan tebu dengan tingkat rendemen yang tinggi. Selain itu perlu diperhatikan kegiatan pasca panennya karena kerusakan tebu pada saat penebangan maupun pengangkutan dan banyaknya kotoran pada tebu dapat menyebabkan penurunan tingkat rendemen. Tebu yang berkualitas adalah tebu yang memenuhi kriteria MBS (manis, bersih, segar). Manis berarti tebu sudah cukup tua atau masak dengan Faktor Kemasakan 25-30 persen, Koefisien Daya Tahan dan Koefisien Peningkatan sebesar 90-100 persen. Bersih berarti tebu terbebas dari unsur non tebu (kotoran) maksimal lima persen. Sedangkan kriteria segar secara teoritis adalah saat tebu ditebang dan digiling maksimal 36 jam, kriteria ini yang paling sulit untuk dideteksi. 2.2 Pengusahaan Tebu Pada masa penjajahan Belanda, di tahun 1930 Indonesia pernah menjadi negara pengekspor gula terbesar di dunia setelah Kuba. Keberhasilan tersebut
  • 29.
    13 salah satunya bersumber pada kemudahan pabrik-pabrik gula dalalm memanfaatkan lahan yang subur untuk pertanaman tebu dengan sistem sewa paksa dari petani. Kemudahan itu dijamin dalam UU Agraria 1870 (Agrarische Wet 1870) dan UU Sewa Tanah (Grondhuur Ordonantie 1918). Pada saat itu Indonesia mampu memproduksi gula sebesar 3 juta ton dengan luas lahan sekitar 200.000 hektar. Setelah era kemerdekaan banyak pabrik-pabrik gula yang dinasionalisasi. Walaupun pemerintah telah mengambil alih pabrik-pabrik gula tersebut tetapi sistem sewa tetap digunakan, yaitu pabrik gula menyewa lahan milik petani lalu mengusahakannya sendiri. Dengan sistem sewa tersebut petani hanya memperoleh pendapatan dari sewanya dan petani tidak memperoleh kesempatan untuk meningkatkan pendapatannya. Berdasarkan hal-hal di atas, maka pada tahun 1975 dikeluarkan Inpres No. 9 Tahun 1975 mengenai Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). Pokok-pokok pikiran yang terkandung di dalamnya dapat diringkas sebagai berikut: 1) Mengganti sistem sewa yang biasa dijalankan oleh pabrik gula dengan sistem tebu rakyat. Petani melakukan usaha budidaya di lahannya sendiri dengan menerapkan teknologi yang telah dianjurkan. Dalam pengelolaan usahatani tebu dilakukan dalam satuan kelompok hamparan. Sedangkan pabrik gula berperan sebagai perusahaan pengelola, yaitu bertanggung jawab secara operasional dan sebagai pimpinan kerja pelaksana budidaya tanaman tebu di wilayah kerjanya, serta menyusun perencanaan areal, melaksanakan bimbingan teknis, menyediakan dan menyalurkan bibit. 2) Melaksanakan program intensifikasi tebu dengan sistem BIMAS (Bimbingan Masyarakat).
  • 30.
    14 3) Mendudukkan pabrikgula sebagai penggiling tebu yang dihasilkan oleh rakyat hingga menjadi gula pasir dengan sistem bagi hasil. Program TRI ini sebenarnya telah berhasil meningkatkan luas areal tebu, yaitu mencapai 428.000 hektar pada tahun 1994. Namun perluasan luas areal tanaman tebu tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas karena sebagian besar perluasan areal tebu dilakukan di lahan kering tanpa irigasi. Kemudian kebijakan ini dihapuskan pada tahun 1997 mengikuti persyaratan IMF (International Monetary Fund) sehingga menurunkan luas areal produksi yang telah ada. Akibatnya produksi tebu yang dihasilkan juga rendah dan menurun. Pada tahun 2002, Departemen Pertanian menerapkan Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional, yang meliputi kegiatan rehabilitasi atau peremajaan perkebunan tebu (bongkar ratoon). Program ini bertujuan memperbaiki komposisi tanaman dan varietas sehingga produktivitasnya mendekati produktivitas potensial. Selain itu, program ini diperkirakan dapat memberikan peningkatan hasil pada tahun-tahun mendatang. Hal ini disebabkan oleh adanya pergantian ratoon seluas 7000 hektar, peningkatan produktivitas lahan dengan adanya penggunaan bibit berkualitas, dan peningkatan modal usahatani tebu melalui Kredit Ketahanan Pangan (KKP), serta pengendalian harga melalui implementasi kebijakan tata niaga pergulaan nasional. Selain itu bongkar ratoon ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat rendemen tebu nasional dari 7,6 persen pada tahun 2007 menjadi delapan persen di tahun 2008. Sehingga pada tahun 2008 ditargetkan akan terjadi peningkatan produksi gula nasional menjadi sebesar 2,6 juta – 2,7 juta ton6. 6 www.els.bappenas.go.id “Deptan Optimis Tak Perlu Impor Gula” diakses 7 Februari 2008.
  • 31.
    15 2.3 Pengusahaan Pabrik Gula Sejak tahun 1975 pabrik gula telah dinyatakan secara resmi sebagai usaha pemroses atau pengolah tebu menjadi gula pasir. Pabrik gula juga berperan sebagai pembimbing petani dalam budidaya tebu. Kerja sama tersebut dilakukan untuk memperoleh jumlah dan kualitas tebu sesuai harapan. Sebagai imbalan atas pemrosesan tebu menjadi gula pasir, pihak pabrik gula menerima “ongkos giling” yang dinyatakan dalam persen dari keseluruhan hasil giling. Sistem pembagian hasil ini ditetapkan oleh pemerintah. Prinsip dasar pembagian adalah semakin tinggi rendemen tebu yang digilingkan semakin tinggi pula persentase bagian yang diterima petani. Dengan demikian, semakin banyak hasil gula semakin rendah ongkos gilingnya. Walaupun telah beberapa kali dilakukan peninjauan, ketentuan bagi hasil ini tidak banyak berubah. Ketentuan bagi hasil yang tercantum dalam SK Mentan No.03/SK/Mentan/BIMAS/VI/187 menyatakan bahwa: 1) Petani tebu akan mendapatkan 62 persen gula yang dihasilkan dari tebu yang nilai rendemennya sampai dengan delapan persen, bila rendemen melampaui delapan persen maka petani mendapatkan tambahan hasil. 2) Petani tebu akan mendapatkan bagian tetes sebanyak 4,5 kilogram untuk setiap kuintal tebu yang digilingkan. Berdasarkan kepemilikannya sebagian besar pabrik gula di Indonesia adalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan sisanya adalah BUMS (Badan Usaha Milik Swasta). Pada tahun 1930, Indonesia memiliki 179 pabrik gula (PG). Jumlah PG semakin menurun karena secara ekonomis tidak menguntungkan. Tahun 2006 tercatat sebanyak 50 unit PG milik BUMN (diusahakan oleh PTPN
  • 32.
    16 dan RNI) dandelapan PG milik swasta 7. Pada umumnya pabrik-pabrik yang ada beroperasi dibawah kapasitas giling. Sebagian besar PG mempunyai kapasitas giling yang kecil (kurang dari 3.000 TCD) karena mesin yang sudah tua serta tidak mendapat perawatan yang memadai yang menyebabkan biaya produksi per kilogram gula tinggi. 2.4 Jenis Gula Menurut Moerdokusumo (1993) sesuai dengan negara tujuan, secara umum dikenal tiga jenis gula utama, yaitu gula mentah, gula merah (tidak termasuk gula jawa, aren, dsb), dan gula putih (termasuk gula rafinade, SHS). 1) Gula mentah Yang dimaksud dengan gula mentah adalah sejenis gula merah yang berbutir tidak terlalu halus, terutama diperuntukkan sebagai bahan baku pabrik gula rafinade. Gula mentah ini meliputi HS, NA, dan Muscovado. Jenis muscovado sudah sejak lama tidak lagi dipakai sebagai bahan baku pabrik rafinade. Negara yang menggunakan gula mentah dari Indonesia untuk bahan rafinadenya adalah Hongkong, Jepang, Australia, Selandia Baru, Korea, China, India, dan beberapa negara di Eropa. Sebagai gula mentah untuk bahan rafinade, HS dan NA terutama harus memenuhi persyaratan ukuran butiran kristal gula, kadar air dan polarisasi. Pasaran gula mentah ini sebagian besar telah hilang karena Indonesia tidak mampu mengekspor gulanya. Hal ini diakibatkan produksi yang sangat merosot bahkan untuk konsumsi dalam negeri pun masih kurang. Dalam rangka memantapkan kebijakan pangan, timbul gagasan untuk tidak mengimpor gula 7 www.bei.co.id/images/_res/opini. “Mengembalikan Kejayaan Si Manis” diakses 10 April 2008.
  • 33.
    17 putih melainkan mengimporgula mentah (gula merah) untuk kemudian diputihkan di pabrik gula tertentu di luar tahun gilingnya sendiri. 2) Gula merah Ada beberapa jenis gula merah, antara lain: a) HS atau gula utama adalah jenis gula dengan polarisasi minimal 98°V. Kebanyakan HS yang dijual mempunyai polarisasi antara 99,4°V sampai 99,5°V yang dapat lebih tinggi jika bahannya diambil dari SHS yang diberi campuran karamel. Berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu untuk konsumsi langsung atau bahan rafinade, HS masih dibagi lagi menjadi beberapa golongan menurut nomor tipe warna standar Belanda. Daerah pasaran HS untuk konsumsi langsung adalah Indonesia dan Malaysia. b) NA (New Assortiment), yaitu gula dengan polarisasi 96,5°V – 97,25°V dan kadar bahan gula antara 2,5 sampai tiga persen. Faktor tahan simpan tidak boleh melebihi 0,27. Jenis NA tidak digolongkan khusus menurut tipe warna. 3) Muscovado Muscovado digolongkan dalam Java Assortiment dan termasuk gula merah yang memiliki polarisasi minimal 96,5°V. Sebagai bahan mentah gula rafinade, muscovado sudah jarang digunakan. Meskipun polarisasinya sama dengan NA, pada dasarnya kedua jenis gula tersebut berlainan terutama sifat fisik dan kimianya. Muscovado dibuat dengan cara mencampurkan HS dengan karamel untuk memperendah warna. Muscovado lebih mudah dikeringkan dan lebih tahan lama daripada NA.
  • 34.
    18 4) Gula tetesMS, gula sirup SS, dan gula sirup superior SSS Meskipun warnanya merah, gula tetes tidak termasuk jenis gula kristal merah tetapi jenis gula sirup. Gula sirup (SS) dan gula sirup superior (SSS) dikenal sebagai soft sugar. Jenis gula ini tidak banyak diproduksi. SSS adalah jenis gula berbutir halus merata yang telah dicampur dengan larutan gula invest. 5) Gula putih Gula putih yang dimaksud adalah SHS dan gula rafinade. Untuk SHS tidak ada pembagian atas dasar spesifikasi butir yang ketat. 6) Gula pasir dan bahan pemanis non gula pasir Menurut Sawit et al. (1999) pemanis digolongkan menjadi dua, yaitu gula dan non gula. Kelompok gula meliputi gula kristal, gula bukan kristal, dan gula cair. Golongan non gula terdiri dari pemanis yang dibuat dari bahan tanaman (misalnya dari Stevia) dan pemanis sintesis seperti saccharine (sodium). 2.5 Penelitian Terdahulu Meiditha (2003), menganalisis mengenai efisiensi produksi gula pasir di PG Kebon Agung. Dalam pendugaan modelnya produksi gula dipengaruhi oleh tujuh faktor produksi dan satu peubah dummy. Faktor produksi tersebut terdiri dari bahan baku tebu, rendemen tebu, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, residu dan jumlah bahan pembantu. Sedangkan variabel dummy ditambahkan untuk mengetahui pengaruh dari kebijakan tataniaga gula dan tataniaga impor terhadap produksi gula. Setelah dilakukan analisis regresi dihasilkan lima variabel yang berpengaruh nyata, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap, dan tenaga kerja musiman serta variabel dummy.
  • 35.
    19 Analisis efisiensi yangdilakukan dengan membandingkan antara NPMxi dengan BKMxi hanya dapat menilai tiga faktor produksi, yaitu tebu, tenaga kerja tetap, dan tenaga kerja musiman yang ketiganya dinyatakan belum efisien secara ekonomis. Sedangkan dua faktor produksi lainnya, yaitu rendemen dan jam mesin tidak dapat dilihat efisiensinya karena tidak dapat diukur tingkat harganya. Hidayat (2003), menganalisis kinerja produksi dan keuangan di PT PG Rajawali II Unit PG Subang. Analisis yang dilakukan antara lain: Pertama, analisis rasio untuk mengukur rentabilitas, aktivitas, dan leverage. Kedua, analisis titik impas dan analisis profitabilitas untuk mengetahui hubungan biaya produksi terhadap titik impas dan profitabilitas. Ketiga, analisis Du Pont untuk melakukan identifikasi hubungan antara struktur biaya dengan kinerja keuangan. Hasil analisis digunakan untuk merumuskan alternatif-alternatif perbaikan kondisi perusahaan. Kinerja keuangan PG Subang cenderung naik pada tahun 1999-2001 dan menurun pada tahun 2002 untuk rentabilitas dan likuiditas. Nurrofiq (2005), menganalisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di PG Djatiroto. Dalam analisisnya terdapat enam faktor produksi yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula di PG Djatiroto, yaitu jumlah tebu, rendemen, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dari keenam peubah tersebut hanya lima faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap model produksi gula di PG Djatiroto, yaitu jumlah tebu, rendemen, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, dan lama giling. Pengolahan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan model regresi yang menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi gula di PG Djatiroto serta rasio
  • 36.
    20 NPM dan BKMuntuk melihat efisiensi alokatif pabrik tersebut. Untuk perumusan model produksi gula dipergunakan model fungsi produksi linier berganda. Wahyuni (2007), di dalam penelitiannya terdapat enam faktor produksi yang diduga mempengaruhi produksi gula di PG Madukismo, Yogyakarta. Faktor-faktor produksi tersebut antara lain: tenaga kerja tetap, tenaga kerja tidak tetap, jumlah tebu, bahan pembantu, lama giling, dan jam mesin. Namun setelah dianalisis menggunakan model regresi, ternyata hanya ada lima faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi gula, yaitu tenaga kerja tetap, tenaga kerja tidak tetap, jumlah tebu, lama giling, dan jam mesin. Kemudian faktor- faktor tersebut diukur tingkat efisiensinya dengan melihat perbandingan antara nilai NPM dan BKM. Dalam penelitian ini, faktor-faktor produksi yang diukur tingkat efisiensinya adalah jumlah tebu, tenaga kerja tetap, dan tenaga kerja musiman karena ketiga faktor produksi tersebut dapat diukur tingkat harganya. Dari nilai NPM dan BKM dari setiap faktor produksi dapat dijelaskan bahwa pengalokasian sumberdaya dari ketiga faktor produksi belum optimal. Untuk perumusan model produksi gula menggunakan model fungsi produksi linier berganda. Dari penelitian-penelitian terdahulu, dapat disimpulkan faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula dapat dilihat dari berbagai karakteristik, yaitu usahatani, karakteristik dalam pabrik, keadaan pasar, serta karakteristik kebijakan. Dalam segi usahatani faktor-faktor yang biasa diduga berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu, dan tingkat rendemen. Dalam pabrik faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, residu, jumlah bahan
  • 37.
    21 pembantu, dan lamagiling. Sedangkan karakteristik di pasar berupa harga gula di pasaran (domestik dan impor) serta kebijakan pergulaan yang dikeluarkan pemerintah. Untuk penelitian yang dilakukan di pabrik gula Pagottan faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu, rendemen, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, jam mesin, serta lama giling. Pendugaan ini berasal dari penelitian-penelitian terdahulu dan pengamatan yang dilakukan di lapang. Dapat disimpulkan metode yang digunakan untuk melihat faktor-faktor yang berpengaruh, yaitu metode OLS (Ordinary Least Square). Model fungsi produksi yang biasa digunakan yaitu model fungsi Cobb- Douglas dan model fungsi Linier. Dalam penelitian ini digunakan metode OLS (Ordinary Least Square) dengan fungsi produksi Cobb-Douglas. Efisiensi merupakan hal penting yang perlu diperhatikan dalam peningkatan produksi gula nasional. Efisiensi dapat bermacam-macam, yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknis dapat diukur dengan melihat perbandingan antara persentase kapasitas giling dengan kapasitas terpasangnya, atau dapat juga dengan mengukur antara rasio bahan baku dan gula yang dihasilkannya. Efisiensi alokatif dapat diukur dengan membandingkan antara NPM dan BKM. Sedangkan efisiensi ekonomis dapat dilihat dari persentase harga pokok dengan persentase harga provenue, nilai titik impas serta nilai kemampuan laba. Dalam penelitian ini akan dicari tingkat efisien alokatifnya. Dengan efisiensi alokatif ini maka diketahui efisiensi dari faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula, dimana efisiensi alokatif menilai pengorbanan yang dibutuhkan untuk menambah suatu input terhadap hasil.
  • 38.
    22 III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori Dan Fungsi Produksi Produksi merupakan kegiatan menghasilkan barang dan jasa. Untuk memproduksi barang dan jasa tersebut digunakan sumberdaya yang disebut sebagai faktor produksi (Lipsey et al, 1995). Faktor produksi seperti lahan, pupuk, tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya produksi yang diperoleh. Keputusan kombinasi penggunaan sumberdaya untuk mencapai target produksi ditentukan oleh kebijaksanaan produsen. Untuk menjelaskan kombinasi-kombinasi input yang diperlukan untuk menghasilkan output, para ekonom menggunakan sebuah fungsi yang disebut fungsi produksi. Pappas (1995) menambahkan fungsi produksi adalah sebuah pernyataan deskriptif yang mengaitkan masukan dengan keluaran, yang memperlihatkan keluaran maksimum yang dapat diproduksi dengan jumlah masukan tertentu. Umumnya untuk menghasilkan output diperlukan lebih dari satu input. Secara matematis fungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut: Y = f(X1, X2, X3,....,Xn) (1) Dimana: Y : output X1, X2, X3,....,Xn : input-input yang digunakan dalam proses produksi Dengan fungsi produksi tersebut di atas, maka hubungan Y dan X dapat diketahui dan sekaligus hubungan X1, X2,…, Xn dan X lainnya juga dapat
  • 39.
    23 diketahui. Berbagai macamfungsi produksi telah dikenal dan dipergunakan oleh berbagai peneliti, tetapi yang umum dan sering dipakai (Soekartawi, 1990), yaitu: a. Fungsi Produksi Linier Secara matematis fungsi produksi linier dapat ditulis sebagai berikut: Y = f (X1, X2, X3,....,Xn) Dimana: Y : variabel yang dijelaskan (dependent variable) X : variabel yang menjelaskan (independent variable) Fungsi produksi linier dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi produksi linier sederhana dan linier berganda. Perbedaan ini terletak pada jumlah variabel X yang dipakai pada model. Fungsi produksi linier sederhana biasa digunakan untuk menjelaskan hubungan dua variabel. Model ini sering digunakan karena analisisnya dan hasilnya mudah dimengerti secara cepat. Sedangkan kelemahannya terletak pada jumlah variabel X yang digunakan dalam model. Karena hanya satu variabel yang dimasukkan maka peneliti akan kehilangan informasi karena ada variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut: Y = a + Bx + e Dimana: a : intersep (perpotongan) b : koefisien regresi e : error term Untuk mengatasi masalah di atas maka peneliti biasanya menggunakan fungsi produksi linier berganda. Berbeda dengan fungsi produksi linier sederhana,
  • 40.
    24 fungsi produksi linierberganda menggunakan jumlah variabel lebih dari satu. Secara matematis hal ini dapat ditulis berikut: Y = f (X1, X2, X3,....,Xn); atau Y = a + b1X1 + b2X2 + …. + biXi + … + b nXn + e Dimana a, b, X,Y, dan e telah dijelaskan sebelumnya. Estimasi garis regresi linier berganda ini memerlukan bantuan asumsi dan model estimasi tertentu sehingga diperoleh garis estimasi atau garis penduga yang baik. b. Fungsi Produksi Kuadatrik Rumus matematik dari fungsi produksi kuadratik atau juga disebut dengan fungsi produksi polynomial kuadratik biasanya dituliskan sebagai berikut: Y = a + bX + cX2 + e Dimana: Y : variabel yang dijelaskan X : variabel yang menjelaskan a,b,c : parameter yang diduga e : error term Berbeda dengan garis linier (sederhana dan berganda) yang tidak memiliki nilai maksimum, maka fungsi kuadratik justru mempunyai nilai maksimum. Dalam proses produksi pertanian, dimana berlaku hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang, maka fungsi kuadratik dapat dituliskan sebagai berikut: Y = a + bX – cX2 + e c. Fungsi Produksi Eksponensial Secara umum fungsi produksi eksponensial dapat dituliskan sebagai berikut:
  • 41.
    25 Y = aXb (biasanya disebut fungsi Cobb-Douglas) Menurut Soekartawi (2003) fungsi Cobb-Douglas adalah suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satu disebut dengan variable yang dijelaskan (Y), dan yang lain disebut variabel yang menjelaskan, (X). Penyelesaian hubungan antara Y dan X adalah biasanya dengan cara regresi dimana variasi dari Y akan dipengaruhi oleh variasi dari X. Dengan demikian kaidah-kaidah pada garis regresi juga berlaku dalam penyelesaian fungsi Cobb-Douglas. Karena di dalam fungsi produksi eksponensial ini ada bilangan berpangkat maka penyelesaiannya diperlukan bantuan logaritma. d. Fungsi Produksi CES Fungsi produksi CES untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Arrow, dkk (1960). Fungsi ini dipakai jika berlaku asumsi atau situasi constant return to scale (CRS). Rumus matematik dari CES adalah sebagai berikut: Y = γ[δK-P + (1 - δ)L-P1-1/P] Dimana: Y : output γ : parameter efisiensi (γ > 0) δ : distribusi parameter (0 < δ < 0) K : kapital L : input tenaga kerja p : parameter substitusi (p > -1) Oleh Fletcher (1968), fungsi produksi CES tersebut dimodifikasi dan juga dipakai oleh Soskie (1968). Selanjutnya model CES yang telah di modifikasi ini dilaporkan oleh Lau dan Fletcher (1969) dengan VES (variable elasticity of substitution). Secara matematis fungsi VES dapat ditulis sebagai berikut:
  • 42.
    26 γ = γ [δK-p + (1 - δ)µ (KL)-C(1+p)L-p]-1/p Dimana: µ dan C adalah konstan. Persamaan VES ini mempunyai cirri antara lain mempunyai produk marjinal yang positif dan menurun ke bawah dan homogenitas. Persamaan VES ini mempunyai ciri antara lain mempunyai produk marjinal yang positif dan menurun ke bawah dan homogenitas derajat satu. Sedangkan kelemahan dari fungsi VES ini adalah jumlah variabel yang dipakai terbatas, yaitu hanya dua variabel. Bila digunakan lebih dari dua variabel maka penyelesaiannya akan menjadi relatif lebih sulit. e. Fungsi Produksi Transcendental Rumus umum dari fungsi produksi transcendental adalah sebagai berikut: 1 1 1 2 2 2 Y=A 1 2 +u Dimana: Y : output X : input a, b, c : parameter yang akan diduga e : bilangan konstan u : galat (disturbance term) Dalam kondisi-kondisi tertentu fungsi produksi transcendental ini akan menjadi fungsi Cobb-Douglas. Keunggulan fungsi ini adalah dapat menggambarkan kondisi dimana produk marjinal dapat menaik, menurun, dan menurun dalam “negatif” (negative marginal products). Sebaliknya kelemahan dari fungsi ini adalah bila salah satu dari nilai X adalah nol maka fungsi tersebut tidak dapat diselesaikan karena fungsi Y menjadi nol.
  • 43.
    27 f. Fungsi ProduksiTranslog Fungsi produksi translog dapat dituliskan sebagai berikut: log Y = log A + b1 log X1 + b2 log X2 + b3 (log X1 log X2) + u Dimana: Y : output X : input b1, b2, b3 : parameter yang diduga A : parameter yang juga berfungsi sebagai intersep u : galat (disturbance term) Fungsi produksi translog ini dapat berubah bentuknya menjadi fungsi produksi Cobb-Douglas jika parameter b tidak berbeda nyata dengan nol. Bentuk fungsi produksi dipengaruhi oleh hukum ekonomi produksi, yaitu “Hukum Kenaikan Hasil yang Semakin Berkurang (The Law of Diminishing Return)”. Hukum ini menyatakan bahwa jika faktor produksi terus menerus ditambahkan pada faktor produksi tetap maka tambahan jumlah produksi per satuan akan semakin berkurang. Hukum ini menggambarkan adanya kenaikan hasil yang negatif dalam kurva fungsi produksi. Fungsi produksi tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. Menurut Doll dan Orazem (1984) fungsi produksi klasik dapat dibagi menjadi tiga wilayah atau tahap, masing-masing tahap tersebut penting dari segi efisiensi penggunaan sumberdaya. Tiga tahap tersebut ditunjukkan pada Gambar 2. Tahap I terjadi ketika MPP lebih besar daripada APP. APP adalah peningkatan seluruh Tahap I, mengindikasikan bahwa nilai rata-rata dimana input variabel, X, ditransformasi menjadi produk, Y, meningkat hingga APP mencapai nilai maksimum pada akhir Tahap I.
  • 44.
    28 Y= output (a) (b) TPP I II III X= input MPP, APP MPP APP I II III X= input Gambar 2 Fungsi Produksi Klasik dan Tiga Tahap Produksi Sumber: John P. Doll dan Frank Orazem, 1984 Tahap II terjadi ketika MPP menurun dan kurang dari APP, tetapi lebih besar dari nol. Efisiensi fisik dari input variabel mencapai puncak pada awal Tahap II, hal ini terjadi ketika MPP sama dengan APP, batas ini ditunjukkan oleh garis putus-putus (a). Di sisi lain, efisiensi input tetap terbesar adalah pada akhir Tahap II. Hal ini dikarenakan angka unit-unit input tetap yang konstan, biasanya pada angka satu. Oleh sebab itu, output per unit dari input tetap harus menjadi yang terbesar ketika output total dari proses produksi mencapai nilai maksimum.
  • 45.
    29 Tahap III terjadidimana MPP bernilai negatif. Tahap III terjadi ketika jumlah input variabel sudah berlebih dikombinasikan dengan input tetap yang sangat besar, padahal total produksi sudah mulai menurun. Garis putus-putus (b) pada Gambar 2. menunjukkan batas antara Tahap II dan Tahap III. Berdasarkan nilai elastisitasnya, fungsi produksi dibagi atas tiga daerah, yaitu elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I), elastisitas produksi antara nol dan satu (daerah II), dan elastisitas produksi lebih kecil dari nol (daerah III). Daerah produksi I mempunyai nilai elastisitas produksi lebih dari satu, artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi lebih besar dari satu persen. Keuntungan maksimum masih belum tercapai karena produksi masih dapat ditingkatkan dengan penggunaan faktor produksi yang lebih banyak. Oleh karena itu, daerah I disebut daerah irrasional. Daerah II elastisitas produksinya bernilai antara nol dan satu. Hal ini berarti bahwa setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah nol. Pada tingkat penggunaan faktor produksi tertentu pada daerah ini akan tercapai keuntungan maksimum. Oleh karena itu, daerah ini disebut daerah yang rasional karena produsen harus menetapkan tingkat produksi yang dapat mencapai maksimum. Elastisitas produksi pada daerah III adalah lebih kecil dari nol, yang artinya setiap penambahan faktor-faktor produksi akan menyebabkan penurunan jumlah produksi yang dihasilkan. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian faktor-faktor produksi yang tidak efisien. Daerah ini disebut daerah irrasional.
  • 46.
    30 Produsen yang rasionalakan berhenti berusaha atau berupaya mencari alternatif lain. Menurut Doll dan Orazem (1984) elastisitas produksi didefinisikan sebagai sebuah konsep yang mengukur derajat responsivitas antara input dan output. Elastisitas produksi, seperti elastisitas lainnya, tidak bergantung pada unit-unit pengukuran. Elastisitas produksi ( p) dirumuskan sebagai berikut: p = Dari sini, elastisitas produksi ditentukan menjadi: p = Y Y ÷ X X = . = Pada Tahap I, MPP lebih besar dari APP. Oleh sebab itu, p lebih besar dari satu. Pada Tahap II, MPP lebih kecil dari APP sehingga p kurang dari satu tetapi lebih besar dari nol. Pada Tahap III, MPP bernilai negatif sehingga p bernilai negatif. Menurut Lipsey et al (1990) ada beberapa macam nilai elastisitas baik jangka panjang maupun jangka pendek, yaitu: 1. Jika nilai elastisitas sama dengan nol (E = 0), keadaan seperti ini dikatakan inelastis sempurna, dimana jumlah yang diminta atau yang ditawarkan tidak berubah dengan adanya perubahan harga. 2. Jika nilai elastisitas antara nol dan satu (0 < E < 1), keadaan ini dikatakan inelastis atau tidak responsif karena jumlah yang diminta atau yang
  • 47.
    31 ditawarkan berubah dengan persentase yang lebih kecil daripada perubahan harga. Pada kondisi ini perubahan satu persen variabel indepeden menyebabkan perubahan variabel dependen kurang dari satu persen. 3. Jika nilai elastisitas sama dengan satu (E = 1), keadaan seperti ini disebut unitary elastis, dimana jumlah yang diminta atau yang ditawarkan berubah dengan persentase yang sama dengan perubahan harga. 4. Jika nilai elastisitas lebih dari satu (E > 1), keadaan seperti ini dikatakan elastis atau responsif karena jumlah yang diminta atau yang ditawarkan berubah dalam persentase yang lebih besar daripada perubahan harga. Pada kondisi ini perubahan satu persen variabel independen akan menyebabkan perubahan variabel dependen lebih dari satu persen. 3.1.2 Konsep Efisiensi Produksi Pada umumnya efisiensi diartikan sebagai perbandingan antara nilai hasil atau output terhadap nilai masukan atau input (Lipsey et al, 1995). Suatu metode produksi dikatakan lebih efisien dari metode produksi lainnya apabila menghasilkan produk yang lebih tinggi nilainya untuk nilai tingkat korbanan yang sama atau dapat mengurangi korbanan untuk memperoleh produk yang sama. Jadi konsep efisiensi merupakan konsep yang bersifat relatif (Soekartawi, 2003). Konsep efisiensi mengandung tiga pengertian, yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomi. Efisiensi teknis menyatakan sejumlah produk yang dapat diperoleh dengan penggunaan kombinasi masukan yang paling sedikit. Efisiensi teknis akan tercapai apabila di dalam mengalokasikan sumber- sumber produksi tidak terdapat barang yang dapat diproduksi tanpa keharusan untuk mengurangi produksi barang lainnya. Efisiensi alokatif menyatakan nilai
  • 48.
    32 produk marginal samadengan oportunitas dari masukan yang berarti setiap tambahan biaya yang dikeluarkan untuk faktor produksi mampu menghasilkan tambahan penerimaan yang besarnya sama dengan tambahan biaya. Produksi output dikatakan efisien secara alokatif jika tidak ada cara lain untuk memproduksi output yang dapat menggunakan seluruh nilai input dengan jumlah yang lebih sedikit. Efisiensi teknis dan efisiensi alokatif merupakan komponen dari efisiensi ekonomi (Semaoen, 1992 dalam Januarsini, 2000). Menurut Doll dan Orazem (1984) efisiensi ekonomi adalah kombinasi input-input yang memaksimalkan tujuan individu atau sosial. Efisiensi ekonomi ditentukan dalam dua syarat, yaitu syarat kebutuhan dan syarat kecukupan. Syarat kebutuhan ditemukan pada proses produksi ketika: pertama tidak mungkin memproduksi output dalam jumlah yang sama dengan input yang lebih sedikit, dan kedua tidak mungkin memproduksi lebih banyak output dengan input yang sama. Dalam analisis fungsi produksi, syarat ini ditemukan pada Tahap II dimana jika elastisitas produksi sama dengan atau lebih dari nol dan sama dengan atau kurang dari satu (0 p 1). Berbeda dengan syarat kebutuhan yang objektif, syarat kecukupan untuk efisiensi meliputi tujuan-tujuan individu atau sosial. Kondisi efisien pada suatu perusahaan terkait dengan tujuan perusahaan pada umumnya, yaitu untuk memaksimumkan keuntungan (profit). Keuntungan tersebut dapat dicapai antara lain dengan cara memanfaatkan sejumlah input pada tingkat optimumnya (Gambar 2). Secara matematis penggunaan input yang optimum dapat diturunkan dari pengurangan keuntungan dengan biaya totalnya, sesuai dengan persamaan berikut: = Py.Y – Px.X – TFC
  • 49.
    33 Dimana: : keuntungan Py : harga output Px : harga input Y : output X : input TFC : biaya input total (Total Fixed Cost) Sedangkan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimum jika diasumsikan bahwa di suatu perusahaan tidak terdapat kendala internal, maka diisyaratkan bahwa turunan pertama dari persamaan di atas sama dengan nol. = Py Px = 0 Sehingga persamaan umum menjadi: (2) = Py. MPPxi Pxi = 0 (3) Py. MPPxi = Pxi Atau (4) Dengan membagi ruas kiri dan kanan dengan Py, maka persamaan menjadi: MPPxi = (5) Dengan demikian secara matematis dapat diketahui besarnya marginal produk. Apabila harga faktor produksi tidak dipengaruhi oleh jumlah pembelian NPMXi = BKMxi faktor produksi, persamaan dapat ditulis sebagai berikut: (6) =1 (7) Untuk penggunaan lebih dari satu faktor produksi (i faktor produksi), maka keuntungan maksimum dapat dicapai jika:
  • 50.
    34 = = = =1 (8) NPM Xi BKM xi Apabila rasio < 1, maka penggunaan faktor produksi telah melampaui batas optimal sehingga produsen yang rasional akan mengurangi penggunaan faktor produksi agar mencapai kondisi optimal. Namun di dalam kegiatan untuk mencapai keuntungan yang maksimum, pada umumnya perusahaan akan dihadapkan oleh beberapa kendala, terutama berupa kendala internal. Kendala tersebut dapat berupa keterbatasan modal yang dimiliki perusahaan untuk membeli faktor-faktor produksi sehingga dapat mencapai kondisi yang efisien. Jika diasumsikan perusahaan menghadapi kendala internal berupa biaya Co = i=1 xi vi produksi maka kondisi tersebut dapat ditulis dalam bentuk persamaan berikut: n (9) Dimana: C : kendala biaya xi : faktor produksi ke-i vi : harga faktor produksi ke-i i : 1,2,3,...,n Dengan melibatkan unsur kendala berupa keterbatasan modal, maka untuk mencapai kondisi maksimum profit dapat digunakan pendekatan teknik optimasi klasik (clasical optimization technique). Dengan menggunakan fungsi Lagrangian, maka pendapatan yang diperoleh perusahaan dapat dirumuskan L = Py + [ Co i=1 xi vi ] sebagai berikut: n (10)
  • 51.
    35 Dimana: L : pendapatan perusahaan p : harga output y : jumlah output : multiplier Lagrange xi : faktor produksi ke-i vi : harga faktor produksi ke-i i : 1,2,3,...,n Sedangkan untuk mencapai kondisi keuntungan maksimum, maka disyaratkan turunan pertama dari persamaan (10) terhadap variabel X dan =p v =0 multiplier Lagrange ( ) sama dengan nol. Sehingga persamaan umum menjadi: (11) = C x v =0 (12) Dimana: : Marjinal produk dari xi : Nilai Produk Marjinal dari xi Dari persamaan (11) dan (12), maka diperoleh persamaan sebagai berikut: = NPMxi vi (13) Jika di dalam produksi digunakan lebih dari 1 faktor produksi (i faktor produksi), maka dapat diperoleh persamaan sebagai berikut: = = NPMx1 NPMx2 NPMxi v1 v2 vi (14)
  • 52.
    36 Jika diasumsikan bahwa harga faktor produksi tidak dipengaruhi oleh jumlah pembelian faktor produksi, maka persamaan (14) dapat dinyatakan dalam bentuk: = = = (15) Sehingga dapat diketahui bahwa dengan adanya kendala tertentu di NPM Xi BKM xi perusahaan kondisi efisien tidak lagi mutlak terjadi pada saat = 1, namun NPM Xi BKM xi dapat terjadi pada saat = , dengan lamda ( ) adalah suatu nilai tertentu. 3.2 Kerangka Pemikiran Operasional PG Pagottan merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Timur. Luas lahan HGB (Hak Guna Bangunan) PG Pagottan adalah 225.891 m2. Kegiatan utama pabrik ini adalah memproduksi gula. Pabrik ini diindikasikan mengalami masalah dalam penggunaan faktor-faktor produksi. Pabrik tersebut mempunyai rata-rata produktivitas tebu per periode yang cukup besar, yaitu 75,8 ton per hektar selama tahun 2001 sampai 2007. Namun untuk rata-rata rendemen dan produktivitas gula per periode dinilai masih rendah, yaitu sebesar 7,50 persen dan 5,69 ton per hektar (Lampiran 3). Berdasarkan studi terdahulu, teori-teori serta pengamatan di lapang maka produksi gula di Pabrik Gula Pagottan diperkirakan dipengaruhi oleh beberapa variabel, yaitu jumlah tebu yang dipasok ke pabrik baik dari tebu rakyat maupun tebu sendiri (tebu dari lahan sewa ke petani), rendemen tebu, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dugaan pengaruh variabel tersebut terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu diduga
  • 53.
    37 berpengaruh secara positifkarena dengan semakin banyaknya tebu yang akan digiling maka jumlah gula yang akan dihasilkan juga semakin banyak. Rendemen tebu diduga berpengaruh positif, dengan semakin tinggi rendemen tebu maka jumlah gula yang dihasilkan juga akan semakin banyak. Jam mesin diduga berpengaruh positif karena jika jumlah jam mesin yang tinggi maka gula yang dihasilkan juga semakin banyak. Tenaga kerja tetap dan tenaga kerja musiman diduga berpengaruh positif terhadap produksi gula, secara umum semakin banyak tenaga kerja maka semakin banyak produksi gula yang dihasilkan. Jumlah bahan pembantu diduga berpengaruh positif terhadap produksi gula karena dengan semakin banyak jumlah bahan pembantu yang digunakan maka kotoran-kotoran yang menganggu dalam proses produksi semakin sedikit dan proses produksi semakin cepat sehingga gula yang dihasilkan juga akan semakin banyak. Sedangkan lama giling diduga berpengaruh negatif terhadap produksi gula karena semakin lama waktu giling maka rendemen akan semakin turun dan selanjutnya produksi gula akan menurun.
  • 54.
    38 PG Pagottan merupakansalah satu pabrik gula yang memiliki kapasitas giling besar di bawah PTPN XI. Rendemen tebu yang dihasilkan masih rendah. Terjadi inefisiensi terhadap penggunaan faktor- faktor produksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula: Karakteristik Usahatani: Karakteristik Pabrik: 1. Jumlah tebu 1. Tenaga kerja tetap 2. Rendemen 2. Tenaga kerja musiman 3. Lama giling Model Fungsi Produksi Cobb-Douglas dengan pendugaan OLS. Analisis Elastisitas Analisis Efisiensi Efisiensi Produksi Gula di PG Pagottan Gambar 3 Bagan Kerangka Pemikiran Operasional
  • 55.
    39 IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di PG Pagottan, Madiun, Jawa Timur. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa pabrik gula ini merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Timur yang masih dapat beroperasi dengan baik di saat banyak pabrik gula yang tutup sehingga pabrik ini sangat berpotensi membantu penyediaan kebutuhan gula nasional. Penyusunan rencana penelitian (proposal penelitian) dilakukan pada Bulan Maret 2008 sampai dengan Bulan April 2008. Selanjutnya pengumpulan data di lapang berlangsung mulai Bulan Mei 2008. Kegiatan pengolahan data dan penyusunan skripsi dilakukan mulai Bulan Juni sampai Agustus 2008. 4.2 Sumber dan Jenis Data Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder diperoleh dari catatan atau dokumen yang terdapat di Pabrik Gula Pagottan dan lembaga-lembaga lain yang terkait. Data sekunder yang merupakan data time series (deret waktu) terdiri dari data output dan input sejak tahun 2001 sampai tahun 2007 serta harga input dan output rata-rata di PG Pagottan dari tahun 2001- 2007. Sedangkan untuk data primer diperoleh dari wawancara terhadap administratur, kepala bagian, karyawan pabrik, dan petani serta pengamatan
  • 56.
    40 langsung untuk mendapatkaninformasi tambahan. Secara terperinci jenis data yang dibutuhkan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Jenis dan Sumber Data Penelitian Keterangan Jenis Data Sumber a. Sejarah Umum Pabrik b. Tinjauan Geografis dan Iklim c. Perkembangan Pabrik Gambaran Umum Perusahaan Pabrik Gula Pagottan d. Proses Produksi Gula e. Struktur Organisasi Perusahaan Output a. Produksi Gula b. Produktivitas Gula c. Harga Gula Input a. Produksi Tebu Data Output dan Input b. Rendemen Tebu Pabrik Gula Pagottan c. TK Tetap d. TK Musiman e. Bahan Pembantu f. Lama Giling g. Harga Tebu h. Gaji TK Tetap i. Upah TK Musiman 4.3 Metode Analisis Data Data dan informasi yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan secara kualitatif digambarkan dengan perkembangan perusahaan secara umum, proses produksi serta sistem agribisnis gula. Pengolahan kuantitatif menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di Pabrik Gula NPMx1 BKMx1 Pagottan serta rasio untuk melihat efisiensi alokatif pabrik tersebut. Bentuk model fungsi produksi yang digunakan untuk membuat fungsi produksi gula adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas. Model ini dipilih karena fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan model yang umum digunakan dalam
  • 57.
    41 penelitian ekonomi selainitu menurut Soekartawi (2003) terdapat tiga alasan pokok mengapa fungsi produksi Cobb-Douglas lebih banyak dipakai oleh para peneliti, yaitu: Pertama, penyelesaian fungsi produksi Cobb-Douglas relatif lebih mudah dibandingkan dengan fungsi yang lain, seperti fungsi kuadratik karena fungsi Cobb-Douglas dapat dengan mudah ditransfer ke bentuk linier. Kedua, hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan koefisien regresi yang sekaligus juga menunjukkan besaran elastis. Ketiga, besaran elastisitas tersebut sekaligus menunjukkan tingkat besaran return to scale. Namun karena penyelesaian fungsi Coob-Douglas selalu dilogaritmakan dan diubah bentuk fungsinya menjadi fungsi linear, maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum peneliti menggunakan fungsi Cobb-Douglas. Persyaratan ini antara lain: a. Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol. Sebab logaritma dari nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui (infinite). b. Dalam fungsi produksi, perlu asumsi bahwa tidak ada perbedaan teknologi pada setiap pengamatan (non-neutral difference in the respective technologies). Ini artinya jika fungsi Cobb-Douglas yang dipakai sebagai model dalam suatu pengamatan dan diperlukan analisis lebih dari satu model (dua model) maka perbedaan model tersebut terletak pada intercept dan bukan pada kemiringan garis (slope) model tersebut. c. Tiap variabel X adalah perfect competition. d. Perbedaan lokasi (pada fungsi tersebut) seperti iklim adalah sudah tercakup pada faktor kesalahan, u.
  • 58.
    42 Fungsi produksi Cobb-Douglas untuk produksi gula dapat dituliskan sebagai berikut: i=1 Xi 7 bi Y= eu Dimana: Y : jumlah hasil produksi (kuintal) Xi : faktor produksi ke-i i : 1,2,3,…,7 X1 : jumlah tebu (ton) X2 : rendemen (persen) X3 : jam mesin (jam) X4 : tenaga kerja tetap (orang) X5 : tenaga kerja musiman (orang) X6 : bahan pembantu (ton) X7 : lama giling (hari) : intersep u : error term (galat) 1, 2,..., 6 : nilai dugaan besaran parameter Untuk variabel independent seperti jumlah tebu giling ( 1>0), rendemen 2>0), jam mesin ( 3>0), tenaga kerja tetap ( 4>0), tenaga kerja musiman ( 5>0), bahan pembantu ( 6>0) diduga berpengaruh positif terhadap produksi gula, artinya setiap penambahan satu satuan dalam variabel-variabel tersebut akan menambah jumlah tertentu (satuan) variabel produksi gula di pabrik. Sedangkan untuk lama giling ( 7<0) diduga berpengaruh negatif terhadap produksi gula, artinya setiap penambahan jumlah hari giling dalam periode optimal (170-180 hari) akan mengurangi jumlah produksi gula di pabrik. Sebelum dilakukan analisis lanjutan, maka harus dilakukan pemilihan fungsi produksi Cobb-Douglas terbaik, yang sesuai untuk data produksi yang
  • 59.
    43 tersedia. Pemilihan fungsitersebut antara lain didasarkan pada asumsi OLS. Asumsi pertama dari model regresi adalah suatu model dikatakan baik jika memenuhi asumsi normalitas. Normalitas menunjukkan bahwa residu atau sisa diasumsikan mengikuti distribusi normal. Pengujian ini dapat dilihat melalui grafik yang dihasilkan output komputer. Apabila tebaran sisaan membentuk suatu garis lurus maka asumsi ini terpenuhi. Asumsi OLS lain yang harus terpenuhi adalah bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas di dalam fungsi. Gejala multikolinearitas tersebut dapat ditunjukkan oleh nilai Variance Inflation Factor (VIF). Menurut Kleinbaum dalam Meidhita (2003) tingkat multikolinearitas yang tinggi ditunjukkan oleh nilai VIF yang lebih besar dari 10. Nilai VIF tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 1 (1 ) VIFxj = Dimana: R2 VIFxj : Variance Inflation Factors peubah bebas ke-j j : nilai koefisien determinasi pada xj yang merupakan fungsi dari peubah bebas lainnya Selain itu suatu fungsi dikatakan baik apabila telah memenuhi asumsi OLS yang lain, yaitu tidak terdapat gejala autokorelasi. Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu seperti dalam data time series atau ruang seperti dalam data cross-sectional (Gujarati, 1991). Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menguji gejala autokorelasi tersebut adalah dengan menggunakan Uji Durbin-Watson (Gujarati, 1991) yang dapat diperoleh dari pengolahan data dengan menggunakan program Minitab 14. Pada output komputer dapat dilihat
  • 60.
    44 apabila nilai Durbinwatson mendekati dua maka tidak terjadi masalah autokorelasi (Pappas, 1995). Suatu fungsi dikatakan baik apabila memenuhi asumsi homoskedastisitas (ragam error yang sama). Untuk dapat membuktikan kesamaan varians (homoskedastisitas) secara visual dengan cara melihat penyebaran nilai-nilai residual terhadap nilai-nilai prediksi. Jika penyebarannya tidak membentuk pola tertentu seperti meningkat atau menurun, maka keadaan homoskedastisitas terpenuhi. Model terbaik juga dapat dilihat dari nilai MSE yang merupakan akar dari error term. Semakin kecil nilai MSE maka semakin baik suatu model karena selisih jarak antara nilai aktual dan nilai model semakin kecil. Suatu fungsi produksi dikatakan semakin baik apabila memiliki nilai koefisien determinasi (R2) yang semakin tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai koefisien determinasi persamaan maka faktor-faktor produksi di dalam persamaan model fungsi produksi semakin berpengaruh terhadap hasil produksi. Dari fungsi produksi dugaan terbaik yang telah diperoleh sebelumnya, maka dapat diketahui apakah faktor-faktor produksi telah dimanfaatkan secara efisien. Yaitu dengan menghitung rasio antara nilai produk marjinal dan biaya korbanan marjinal untuk faktor produksi tertentu. Di dalam fungsi produksi Cobb-Douglas besarnya produk marjinal faktor produksi ke-i (MPPxi) adalah (Heady dalam Meiditha, 2003): Y Xi MPPxi = Y i Xi = i
  • 61.
    45 Dimana: MPPxi : produk marjinal faktor produksi ke-i Xi i : nilai dugaan parameter ke-i Y* : nilai dugaan output : rata-rata geometri faktor produksi ke-i i : 1,2,3,...,7 Untuk mengetahui apakah rasio tersebut sudah memenuhi kondisi efisien, maka diperlukan pengujian rasio tersebut secara statistik, yaitu dengan menguji NPMx1 BKMx1 apakah nilai secara signifikan berbeda dari satu. Apabila nilai rasio yang dihasilkan lebih besar atau kurang dari satu maka faktor produksi yang digunakan belum efisien, namun jika nilai rasionya sama dengan satu berarti faktor produksi yang digunakan sudah efisien. 4.4 Pengukuran Variabel Konsep pengukuran variabel yang dipakai dalam penentuan pendugaan fungsi produksi gula ini terdiri dari variabel bebas (independent variable) dan variabel tidak bebas (dependent variable). Produksi gula merupakan variabel tak bebas, yaitu peubah yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dalam model. Sedangkan variabel bebas adalah variabel yang tidak dipengaruhi oleh faktor lain dalam model, seperti jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dalam menganalisis efisiensi produksi gula, variabel-variabel yang diukur adalah:
  • 62.
    46 1. Produksi gula(Y) Gula yang dimaksud adalah gula tebu atau gula pasir atau gula putih (refined sugar), gula ini dihasilkan dari tebu rakyat maupun tebu sendiri yang dinyatakan dalam satuan ton. Setelah tata niaga gula lepas dari Bulog (Badan Urusan Logistik) maka untuk pemasaran gula dilakukan dengan dijual sendiri maupun dilelang dengan tingkat harga terendah sebesar harga provenue (harga dasar yang ditetapkan pemerintah). 2. Jumlah tebu (X1) Jumlah tebu adalah tebu yang dihasilkan dari tebu sendiri (TS) yang lahannya adalah lahan sewa dan lahan tebu rakyat (TR). Satuan yang digunakan adalah ton. Harga tebu diperkirakan berasal dari biaya pengolahan tanah, pembibitan, budidaya, dan tebang-angkut tebu. 3. Rendemen (X2) Rendemen tebu adalah kadar kandungan gula di dalam batang tebu yang dinyatakan dalam satuan persen. Bila dinyatakan bahwa rendemen tebu 10 persen, artinya bahwa dari 100 kilogram tebu yang digiling di PG akan diperoleh gula sebanyak 10 kilogram. Nilai persentase rendemen tersebut diperoleh dari rumus: Rendemen = Sejumlah hablur (gula yang dihasilkan) x 100% Sejumlah tebu yang digiling Rendemen ini diperkirakan tidak dapat dinilai efisiensi alokatifnya karena tidak dapat ditentukan harganya, namun dengan menilai elastisitasnya maka dapat diketahui pengaruhnya terhadap produksi gula.
  • 63.
    47 4. Jam mesin(X3) Mesin merupakan salah satu faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi gula. Jam mesin yang digunakan akan berpengaruh terhadap keluaran yang dihasilkan dari kegiatan produksi tersebut. Berdasarkan sifat proses produksi gula yang kontinyu, apabila terjadi kerusakan atau kemacetan pada salah satu mesin maka akan mengakibatkan kemacetan pada proses produksi secara keseluruhan sehingga kegiatan produksi gula dipengaruhi oleh kemampuan mesin untuk beroperasi, salah satunya ditunjukkan oleh nilai jam mesin. Satuan yang digunakan untuk jam mesin adalah jam. 5. Tenaga kerja tetap (X4) Tenaga kerja tetap adalah pekerja yang sifat hubungan kerjanya tidak ditentukan batas waktunya oleh peraturan-peraturan sehingga mereka harus melakukan pekerjaannya baik pada saat giling maupun tidak giling. Satuan yang digunakan adalah orang. Gaji tenaga kerja tetap dihitung berdasarkan tingkat golongan pekerja. 6. Tenaga kerja musiman (X5) Tenaga kerja musiman adalah pekerja yang sifat hubungannya ditentukan oleh batas waktu yang pada umumnya bekerja pada saat giling. Satuan tenaga kerja musiman yang digunakan adalah orang. Upah tenaga kerja dihitung dari upah yang diberikan dalam suatu proses pekerjaan. 7. Bahan pembantu (X6) Bahan pembantu yang banyak digunakan dalam proses produksi gula di PG Pagottan adalah kapur tohor, belerang, P2O5, dan flokulant. Kapur tohor dan belerang ini digunakan untuk memurnikan gula dengan sistem sulfitasi alkalis.
  • 64.
    48 Sedangkan P2O5 digunakansebagai peningkat kadar fosfat dalam nira mentah. Flokulant berfungsi untuk mempercepat pengendapan kotoran di dalam nira selama proses produksi berlangsung. Satuan yang digunakan adalah ton. 8. Lama giling (X7) Lama giling adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengolah tebu menjadi gula dalam satu musim giling. Satuan lama giling adalah hari.
  • 65.
    49 V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1 Sejarah dan Struktur Organisasi Perusahaan 5.1.1 Sejarah Perusahaan Pabrik Gula (PG) Pagottan didirikan oleh N.V. Kooy Coosteren Van Voorhout pada tahun 1905. Sejarah perkembangan PG Pagottan terdiri dari beberapa periode yang sering mengalami pergantian kepemilikan sesuai dengan perubahan waktu dan perubahan pemerintahan sampai akhirnya PG Pagottan menjadi sebuah BUMN. Berikut sejarah perkembangan PG Pagottan berdasarkan pergantian kepemilikan: 1) Tahun 1941-1945 (masa pendudukan Jepang) : PG Pagottan digunakan untuk memproduksi semen dengan bahan baku gipa. 2) Tahun 1945-1948 (masa revolusi fisik) : PG Pagottan diambil alih oleh rakyat Indonesia dan dimanfaatkan untuk membuat ubin. Sedangkan sebagian halaman pabrik digunakan untuk membuat senjata (granat tangan). 3) Tahun 1948-1949 (masa agresi Belanda) : Belanda kembali menguasai Indonesia dan PG Pagottan dijadikan markas Belanda. 4) Tahun 1949-1956 (masa kedaulatan RI) : Dimulai pembangunan kembali PG Pagottan yang rusak akibat perang. 5) Tahun 1956-1957 : Pada periode ini Bank Industri Negara (BIN) mengelola Suiker Onderneming Pagottan dan merubah namanya menjadi Pabrik Gula Pagottan. 6) Tahun 1958-1967 : Berdasarkan Keputusan Pengesahan Militer dan Menteri Perkebunan N0. 1063/PMT/1957 tanggal 9 Desember 1957 PG Pagottan
  • 66.
    50 dikelolaoleh Pusat Perkebunan Negara dan jawatan Kementrian Pertahanan dengan nama BPU-PPN Gula Daerah V yang berpusat di Surabaya. 7) Tahun 1968-1981 : Pemerintah membentuk badan hukum negara dengan nama Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) XX yang berpusat di Surabaya. PG Pagottan termasuk dalam wilayah pengelolaan PNP XX. 8) Periode 1981-1996 : Berdasarkan peraturan pemerintah No.6 Tahun 1973 dan PP No. 43 Tahun 1979, maka pada tanggal 2 Mei 1981 PNP XX berubah nama menjadi PT Perkebunan XX (Persero). 9) Periode 1996-2008 : Berdasarkan PP No.16 tanggal 14 Februari 1996 PTP XX dan PTP XXIV-XXV dibubarkan dan dibentuk badan usaha yang sama sekali baru dengan nama PT Perkebunan Nusantara XI (Persero). 5.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan Pabrik Gula Pagottan merupakan salah satu unit usaha yang berada dibawah naungan PTP Nusantara XI (Persero). Di dalam menjalankan kegiatan produksinya, PG Pagottan mempunyai visi (Visi N-XI), yaitu PG Pagottan menjadi perusahaan perkebunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan stakeholders secara berkesinambungan. Sedangkan Misi N-XI, yaitu menyelenggarakan usaha agribisnis utamanya yang berbasis tebu melalui pemanfaatan sumberdaya secara optimal dengan memperhatikan kelestatrian lingkungan. Selain visi dan misi, dalam menjalankan kegiatan operasionalnya PG Pagottan juga menerapkan budaya perusahaan, yaitu: 1) Sukses merupakan hasil kerja sama yang didukung prakarsa perseorangan, 2) Senantiasa berorientasi pada pertumbuhan dengan menciptakan dan memanfaatkan peluang, 3) Mutu melandasi setiap perilaku. Sistem organisasi di PG Pagottan secara garis besar
  • 67.
    51 menganut sistem organisasifungsional yang dipimpin oleh seorang administratur dan dibantu oleh empat orang kepala bagian (Kabag), yaitu Kabag Tanaman, Kabag TUK (Tata Usaha dan Keuangan), Kabag Pabrikasi/Pengolahan, dan Kabag Instalasi. Untuk lebih jelasnya strktur organisasi dapat dilihat pada Gambar 4. ADMINISTRATUR KABAG KABAG TUK KABAG KABAG TANAMAN PABRIKASI INSTALASI KARYAWAN Gambar 4 Struktur Organisasi Pabrik Gula Pagottan Sumber : Pabrik Gula Pagottan, 2008 Adapun mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian adalah sebagai berikut: Administratur 1. Merencanakan dan menetapkan kebijaksanaan dalam pengelolaan perusahaan sesuai dengan yang telah digariskan. 2. Memimpin, mengendalikan, dan mengkoordinir secara fisik pelaksanaan tugas bagian Tata Usaha dan Keuangan (TUK), Tanaman, Pabrikasi, dan Instalasi agar tercapai kesatuan tindak. 3. Bertanggung jawab atas pelaksanaan rencana yang sudah ditetapkan direksi dengan RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan). 4. Menyelesaikan dan memutuskan masalah baik dengan intern maupun ekstern.
  • 68.
    52 5. Mengkoordinir danmemberikan pengarahan kepada setiap Kabag. Kabag Tanaman 1. Menyediakan bahan baku tebu siap giling untuk diolah menjadi gula produk. 2. Memberikan saran, pendapat, dan umpan balik kepada administratur dalam persoalan di bidang tanaman, tebang, dan angkutan tebu. Kabag TUK (Tata Usaha dan Keuangan) 1. Menjalankan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan administratur dalam bidang TUK sesuai dengan yang digariskan oleh direksi secara berhasil guna dan berdaya guna. 2. Mengkoordinir dan melaksanakan tugas-tugas dalam bidang TUK, antara lain: a. Perencanaan, pembukuan, penggudangan, umum, kesekretariatan, dan tenaga kerja. b. Mengkoordinasi antar bagian dan mengawasi sub bagian. c. Berdasarkan penunjukan mewakili administratur bila sedang tidak ada. Kabag Pabrikasi 1. Bertanggung jawab terhadap proses produksi dalam pabrik mulai dari penimbangan tebu sampai menjadi gula produk. 2. Bertanggung jawab terhadap penyimpanan gula di gudang sebelum di pasarkan. 3. Memberikan pendapat dan umpan balik yang berhubungan dengan bidangnya. 4. Membantu administratur secara aktif dalam menyusun rencana anggaran belanja di bidang pengolahan. 5. Bertanggung jawab atas lancarnya operasi produksi pabrik.
  • 69.
    53 Kabag Instalasi 1. Bertanggungjawab terhadap pengadaan, operasi, dan pemeliharaan mesin- mesin serta perlengkapan lainnya. 2. Berkoordinasi dengan bagian-bagian lain yang berhubungan dengan masalah proses produksi, penyediaan sarana dan prasarana perkantoran serta perumahan karyawan. 3. Sebagai pembantu administratur dalam mengadakan hubungan dengan pihak luar yang berkaitan dengan permasalahan instalasi pabrik. 5.2 Tinjauan Geografis dan Iklim Wilayah PG Pagottan Pabrik Gula Pagottan berada di Desa Pagottan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Secara geografis PG Pagottan terletak pada 7°42’11’’ - 7°48’25’’ Lintang Selatan dan 111°32”20 - 111°42’11’’ Bujur Timur dengan ketinggian 94m di atas permukaan laut. PG Pagottan terletak 175 km dari ibukota propinsi dan 9 km dari ibukota kabupaten. Iklim merupakan faktor yang sangat penting pengaruhnya terhadap proses pertumbuhan tanaman tebu dan erat hubungannya dengan pelaksanaan pekerjaan dengan mekanisasi pertanian terutama terhadap pengoperasian alat dan mesin pertanian. Iklim secara umum terdiri dari curah hujan, jumlah hari hujan, tipe iklim suhu udara, kelembaban udara, dan lama penyinaran. Bila diklasifikasikan menurut Oldeman dan Syarifuddin, PG Pagottan termasuk ke dalam tipe iklim C3 dengan 6 bulan basah dan 6 bulan kering yang sangat sesuai untuk pertumbuhan tebu. Sedangkan menurut Schmidt dan Ferguson PG Pagottan termasuk ke dalam tipe iklim basah. Rata-rata curah hujan per tahun di wilayah PG dan sekitarnya,
  • 70.
    54 yaitu sebesar 1.544mm dengan jumlah hari hujan rata-rata 98 hari. Suhu udara PG Pagottan rata-rata sebesar 26,5°C dan kelembaban nisbi sebesar 80 persen. 5.3 Kemitraan Antara PG dan Petani Setelah Inpres No. 9/1975 mengenai Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) dihentikan pelaksanaannya, maka PG “diwajibkan” untuk mengadakan hubungan kemitraan dengan petani tebu, kemitraan ini juga didukung oleh Undang-undang No. 9/1995 tentang Usaha Kecil dan PP No. 44/1997 tentang Kemitraan. Di samping itu hubungan kemitraan merupakan tuntutan objektif dari PG-PG yang tidak memiliki areal HGU tetapi masih memerlukan tambahan areal untuk mencukupi kapasitas gilingnya seperti PG Pagottan. Pola kemitraan di PG Pagottan didasarkan pada prinsip saling menguntungkan antar petani tebu sebagai pemasok dan PG sebagai pemroses (mengolah tebu menjadi gula). Keduanya mempunyai hak dan kewajiban yang dirumuskan bersama-sama mencakup segala aspek baik pengadaan input, budidaya, pengolahan maupun pemasarannya. Kemitraan secara menyeluruh penting karena kemitraan pada dasarnya adalah strategi bisnis yang dilakukan oleh dua atau lebih lembaga dalam jangka waktu tertentu untuk meraih manfaat bersama, ataupun keuntungan bersama sesuai prinsip saling membutuhkan dan mengisi. Selain itu kemitraan merupakan instrumen kerjasama yang mengacu pada terciptanya suasana antara keseimbangan dan keselarasan yang saling bersinergi, saling membutuhkan, saling menguntungkan, saling memperkuat (etika bisnis), keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta setara dalam hal bargaining position.
  • 71.
    55 Dalam pengadaan input kemitraan yang dibangun antara PG dan petani, yaitu untuk input modal kerja, PG menjadi penjamin (avalist) kredit yang disalurkan oleh pemerintah melalui bank kepada petani seperti Kredit Ketahanan Pangan (KKP). PG juga mengenalkan varietas-varietas yang cocok untuk dikembangkan agar dapat menghasilkan produksi tebu yang optimal. Untuk input lahan, PG berlaku sebagai penyewa karena PG tidak mempunyai lahan HGU. Biasanya PG menyewa lahan petani selama satu musim tanam dengan ketentuan yang telah disepakati bersama. Perbandingan antara jumlah tebu yang ditanam sendiri dan tebu rakyat adalah 34 banding 66. Dalam budidaya kemitraan dilakukan dengan cara PG memberikan pembinaan budidaya tebu yang baik serta melakukan pengawasan terhadap kebun-kebun petani agar dihasilkan tebu dengan kriteria MBS (Manis, Bersih, Segar). Dalam kegiatan pasca panen PG memberikan bantuan transportasi tebu kepada para petani khususnya yang menerima kredit. Dalam pengolahan kemitraan yang dilakukan, yaitu petani memasok tebu ke PG yang sesuai kriteria (MBS) serta tepat waktu. Sedangkan di dalam pemasaran kemitraan dilakukan dimana PG dan petani bersama-sama memperjuangkan agar menerima harga gula secara layak. 5.4 Perkembangan Produksi Pabrik Perkembangan produksi di PG Pagottan dapat ditinjau dari beberapa hal, antara lain penyediaan bahan baku, keberhasilan dalam proses pengolahan, serta ketersediaan tenaga kerja. Data yang dianalisis merupakan data-data yang terjadi selama tujuh tahun terakhir. Untuk melihat kinerja penyediaan bahan baku maka dapat dilihat perkembangan dari luas lahan yang digunakan, jumlah tebu yang
  • 72.
    56 dihasilkan, produktivitas tebuper ha serta tingkat rendemen yang dihasilkan. Keberhasilan dalam proses pengolahan dapat dilihat dari data produksi gula, lama giling serta pemakaian bahan pembantu, yaitu belerang, kapur tohor, P2O5, dan flokulant. Sedangkan untuk melihat ketersediaan tenaga kerja dapat melihat formasi karyawan PG Pagottan. 1) Luas lahan Bahan baku yang dipasok ke PG Pagottan berasal dari dua sumber, yaitu tebu yang berasal dari petani yang disebut sebagai Tebu Rakyat (TR) dan tebu yang berasal dari lahan yang disewa PG Pagottan yang disebut sebagai Tebu Sendiri (TS). Luas lahan yang dimaksud adalah luas lahan tebu yang digiling. Berdasarkan Lampiran 3 terlihat bahwa dari periode pertama masa giling 2001 hingga periode akhir masa giling 2007, luas lahan mengalami peningkatan sebesar 2,44 persen per periode. Pada Lampiran 2 juga dapat dilihat bahwa pada tahun 2004 luas lahan dalam satu periode giling tidak sama, hal ini disebabkan oleh adanya penambahan areal dari PG sesaudara, yaitu PG yang berada di wilayah kerja PTPN XI dan letaknya masih dalam satu kabupaten. Total luas lahan yang berasal dari PG sesaudara pada tahun 2004 adalah 1,665 ha. Terdapat beberapa alasan mengapa PG sesaudara menggilingkan tebunya di PG Pagottan. Pertama karena adanya kondisi cost major, yaitu kondisi tidak normal yang dihadapi PG sesaudara, seperti terjadi kebakaran lahan tebu sebelum waktunya giling sehingga dirasa lebih menguntungkan jika PG sesaudara ikut menggilingkan tebunya pada PG yang telah memasuki masa giling. Alasan lainnya adalah ketika PG sesaudara mengalami kerusakan mesin dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperbaikinya, sehingga untuk
  • 73.
    57 mengurangi kerugian makaPG sesaudara menggilingkan tebunya ke PG lain (PG Pagottan). 2) Jumlah tebu Tanaman tebu merupakan bahan baku utama dalam kegiatan proses produksi gula pasir, sehingga ketersediaannya sangat mempengaruhi kegiatan produksi. Dari perkembangan jumlah pasokan tebu yang terlihat pada Lampiran 3, dapat diperoleh gambaran bahwa pertumbuhan produksi tebu rata-rata di pabrik dari periode awal masa giling 2001 sampai periode akhir masa giling 2007 cenderung mengalami peningkatan sebesar 1,45 persen per periode. Peningkatan jumlah tebu ini sangat dipengaruhi oleh pasokan bahan baku dari tebu sendiri yang mengalami peningkatan sebesar 4,68 persen per periode dan peningkatan yang cukup signifikan dari tebu rakyat, yaitu sebesar 14,2 persen per periode. Peningkatan produksi tebu, baik untuk tebu sendiri maupun tebu rakyat sangat dipengaruhi oleh peningkatan luas lahan dan produktivitas tebu per hektar. Penurunan produksi tebu yang cukup drastis terjadi pada tahun 2001 baik untuk produksi tebu rakyat maupun tebu sendiri, dengan total penurunan mencapai 40 persen. 3) Kualitas tanaman tebu Selain kuantitas pasokan bahan baku tebu, produksi gula juga dipengaruhi oleh kualitas pasokan tebu tersebut. Kualitas tebu didasarkan pada kadar gula dalam tebu, yang dapat ditunjukkan oleh tingkat rendemen. Besarnya nilai rendemen antara lain dipengaruhi oleh budidaya tebu (jenis lahan, iklim, varietas, pupuk, tanaman pertama atau keprasan), tingkat kemasakan sebelum ditebang, jarak waktu tebang-giling, serta kinerja pabrik. Pada budidaya tebu di lahan sawah
  • 74.
    58 umumnya mempunyai rendemenyang lebih tinggi daripada lahan tegalan. Rendemen akan tinggi bila iklim dan jumlah pupuk yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan tebu dimana pada umumnya tebu membutuhkan banyak air dan pupuk pada saat tanam dan membutuhkan keadaan yang kering sebelum tebang agar berfotosintesis secara optimal. Disamping itu membudidayakan tanaman pertama akan mendapatkan rendemen yang lebih tinggi daripada membudidayakan tanaman keprasan. Untuk tingkat kemasakan tebu sangat dipengaruhi oleh periode penebangannya. Apabila tebu ditebang pada periode optimal maka akan diperoleh tingkat rendemen yang tinggi. Sebaliknya, apabila penebangan dilakukan sebelum maupun sesudah periode optimal maka akan diperoleh tingkat rendemen yang rendah. Setelah tebang, tebu harus digiling maksimal 36 jam dari waktu tebang agar rendemen tidak menurun. Sedangkan kelancaran di dalam proses produksi ditentukan oleh pengelolaan dari kegiatan produksi serta keadaan mesin dan peralatan yang digunakan. Perkembangan mengenai rendemen yang dihasilkan baik dari tebu rakyat maupun tebu sendiri dapat dilihat pada Lampiran 3 pertumbuhan rendemen dari periode awal masa giling 2001 hingga periode akhir masa giling 2007 menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 1,83 persen per periode, peningkatan ini dipengaruhi oleh peningkatan rendemen tebu sendiri sebesar 6,5 persen per periode, dan peningkatan rendemen tebu rakyat sebesar 3,3 persen per periode. Tingkat rendemen tebu rakyat tiap tahunnya selalu lebih kecil daripada tebu sendiri. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pola tebang yang diperbaharui dimana pelaksanaan tebang-giling sudah proporsional dimana tebu sendiri dan tebu rakyat sama-sama digiling pada waktu optimalnya dengan memperhitungkan
  • 75.
    59 rasio jumlah teburakyat dan tebu sendiri, yaitu 40-45 bagian tebu sendiri dan 55- 60 bagian tebu rakyat. 4) Produksi gula Gula produk yang dihasilkan PG Pagottan berupa gula kristal putih (direct plantation white sugar) atau juga dikenal sebagai SHS (Superieur Hoofd Suiker). Berdasarkan Lampiran 3, terlihat bahwa pertumbuhan total produksi gula sejak tahun 2001 hingga 2007 menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 3,48 persen per periode, peningkatan ini dipengaruhi oleh kecenderungan peningkatan produksi gula tebu sendiri dan tebu rakyat masing-masing sebesar 8,73 persen per periode dan 23,38 persen per periode. Peningkatan produksi gula tebu rakyat yang cukup signifikan terjadi tidak hanya karena perluasan areal tetapi juga disebabkan oleh perbaikan mutu intensifikasi budidaya dan introduksi varietas unggul pada areal bongkaran keprasan (bongkar ratoon). Pada tahun 2001 hingga 2007 jumlah produksi gula yang dihasilkan oleh PG terlihat selalu lebih besar daripada Petani Tebu Rakyat (PTR), meskipun pada beberapa tahun tertentu jumlah rendemen dan produksi gula tebu rakyat lebih besar daripada PG. Hal ini dapat dipahami bahwa data produksi gula tersebut merupakan data bagi hasil, dengan demikian jumlah tebu yang dimiliki PG selain kontribusi dari tebu yang dihasilkan di lahan sewa juga dihasilkan dari bagi hasil pengolahan tebu rakyat. Bagi hasil ini merupakan “upah” yang diberikan petani karena PG telah menggiling tebu mereka, dengan perjanjian bagi hasil, yaitu 66 persen untuk petani dan 34 persen untuk PG.
  • 76.
    60 5) Lama giling Lama giling merupakan waktu yang digunakan oleh pabrik untuk mengolah tebu menjadi gula. Lama giling dinyatakan dengan satuan hari. Lama giling sangat dipengaruhi oleh jumlah tebu yang akan digiling, semakin banyak jumlah tebu yang akan digiling maka semakin lama waktu gilingnya demikian pula sebaliknya. Di samping itu lama giling sangat mempengaruhi tingkat rendemen gula yang dihasilkan, semakin banyak waktu yang digunakan untuk menggiling maka tingkat rendemen akan turun sehingga akan mempengaruhi jumlah gula yang dihasilkan. Namun bila lama giling terlalu cepat juga menyebabkan rendemen turun karena tebu belum masak sudah digiling sehingga dapat mempengaruhi jumlah gula yang dihasilkan. Pada umumnya waktu yang optimal untuk lama giling, yaitu 170 sampai 180 hari. Sedangkan rata-rata lama giling di PG Pagottan dari tahun 2001 hingga 2007 adalah 15 hari per periode. Secara umum perkembangan lama giling di PG Pagottan memperlihatkan kecenderungan yang menurun sebesar 0,42 persen per periode selama tahun 2001 hingga 2007. Lama giling tercepat terjadi pada periode awal tahun 2002 dan periode akhir tahun 2003 dengan lama giling 8 hari, hal ini terjadi karena jumlah bahan baku yang sedikit dibandingkan periode sebelumnya. 6) Bahan pembantu Dalam proses produksi gula PG Pagottan banyak menggunakan bahan pembantu. Bahan pembantu tersebut digunakan untuk memperlancar proses produksi. Penambahan bahan pembantu tersebut disesuaikan dengan kondisi bahan baku tebu baik kualitas maupun kuantitasnya. Bahan pembantu yang banyak digunakan dalam proses produksi gula di PG Pagottan adalah kapur tohor,
  • 77.
    61 belerang, P2O5, danflokulant. Penggunaan bahan pembantu di PG Pagottan selama periode awal masa giling 2001 hingga periode akhir masa giling 2007 cenderung mengalami penurunan sebesar 1,52 persen per periode. Penurunan pemakaian bahan pembantu ini terutama disebabkan oleh penurunan penggunaan belerang sebesar 3,63 per periode selama masa giling 2001-2007. 7) Tenaga kerja Ketersediaan tenaga kerja merupakan salah satu faktor dalam kegiatan produksi. Tenaga kerja merupakan sumberdaya yang dapat mengelola dan mengkombinasikan faktor-faktor produksi lain sehingga dapat menghasilkan suatu output yang diinginkan. Di PG Pagottan terdapat dua jenis tenaga kerja, yaitu karyawan staf atau karyawan pimpinan dan karyawan non staf atau karyawan pelaksana. Karyawan pelaksana dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu karyawan tetap bulanan dan karyawan tetap harian. Di samping itu juga ada karyawan tidak tetap yang terdiri dari karyawan kampak, karyawan tebang, karyawan musim tanam, karyawan musim lain-lain, dan karyawan ekstra atau harian lepas. Karyawan yang akan dilihat perkembangannya adalah karyawan pelaksana yang terbagi atas karyawan tetap dan karyawan tidak tetap atau musiman. Secara umum perkembangan karyawan tetap dari periode awal tahun 2001 hingga periode akhir tahun 2007 mengalami kecenderungan penurunan sebesar 0,23 persen per periode. Penurunan ini disebabkan oleh karyawan tetap yang pensiun ataupun mutasi pekerjaan. Sedangkan jumlah karyawan musiman mengalami peningkatan sebesar 0,33 persen per periode. Meskipun demikian jika ada pengurangan jumlah karyawan itu bukan disebabkan oleh PHK namun karena
  • 78.
    62 adanya peningkatan golongandari karyawan harian menjadi karyawan kampanye. Sehingga jumlah karyawan tetap namun dengan komposisi yang berbeda. Berkurangnya jumlah karyawan juga disebabkan oleh faktor usia (sudah lanjut). 5.5 Agribisnis Gula 5.5.1 Usahatani Tebu 5.5.1.1 Pengadaan Bahan Tanam dan Persiapan Lahan Tebu Giling Pengadaan bahan tanam atau bibit merupakan kegiatan awal yang memegang peranan penting dalam usaha mendapatkan pembibitan dengan kualitas yang baik. Bibit tebu dengan varietas yang sesuai merupakan salah satu modal utama dalam keberhasilan produksi tebu. Varietas tebu yang diusahakan di PG Pagottan sangat beragam (17 varietas, namun yang sering digunakan 10 varietas) dan secara garis besar dibedakan atas empat kemasakan, yaitu masak awal, masak awal tengah, masak tengah, dan masak tengah lambat (Tabel 5). Untuk varietas yang diusahakan dalam pembibitan umumnya harus memenuhi beberapa syarat, yaitu tingkat kemurnian tinggi (85 persen), bebas hama dan penyakit, daya kecambah tinggi (90 persen), tahan kekeringan, tahan dikepras (produksi tanaman keprasan tinggi), sesuai dengan bulan tanam serta sesuai lahan dan iklim. Tabel 5 Varietas Tebu yang Digunakan PG Pagottan No. Masak Awal Awal Tengah Tengah Tengah Lambat 1. N XI 1-1 PS 85-1 BM 9605 (F 05)/KK BL 2. PS 86-2 PS 82-1064 PS 92-1 PS 95-1 3. PS BM 88-144 PS 86-4 PS JT 941 4. PS CO 902 ROC 11 5. PS BM 89-95 ROC 12 6. ROC 13 7. PA 117 Sumber: Litbang Bagian Tanaman PG Pagottan, 2008
  • 79.
    63 Berdasarkan kepemilikan lahan PG Pagottan belum mempunyai Hak Guna Usaha atau lahan Non HGU. Oleh karena itu, untuk budidaya tebu PG Pagottan harus menyewa lahan dari petani atau masyarakat sekitar. Karena menggunakan lahan sewa maka untuk mendapatkan lahan seluas satu hektar saja perlu menyewa beberapa tempat. Luas lahan sewa yang digunakan PG Pagottan untuk tanaman tebu per 2007 adalah 2.390,142 ha dengan komposisi lahan sawah sebesar 2.378,566 ha dan lahan tegalan sebesar 7,376 ha. Sisanya digunakan untuk kebun bibit sebesar 4,2 ha. Lahan sewa tersebut dapat menghasilkan tebu sebesar 182.527,8 ton. Selain tebu sendiri PG Pagottan juga menampung tebu rakyat sebesar 227.268,7 ton dari luas lahan 3.318,597 ha. Dari produksi tebu tersebut terdapat perbedaan rendemen antara tebu sendiri dan tebu rakyat, yaitu masing- masing sebesar 8,86 persen dan 7,23 persen. Perbedaan tersebut diduga berasal dari sistem penanaman dan pemeliharaan tanaman. 5.5.1.2 Sistem Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Ada dua macam cara tanam yang biasa digunakan pada lahan khususnya pada lahan tegalan, yaitu tanam kering dan basah. Tanam kering dilakukan jika pengairan sulit. Proses tanam kering, yaitu dilakukan penanaman dahulu setelah itu dilakukan pengairan. Sedangkan cara tanam basah, pengairan dilakukan sebelum tanam sehingga keadaan alas tanam membentuk jenangan. Dibandingkan dengan tanam kering, tanam basah lebih menguntungkan karena dapat menghemat pengairan dan mata tunas lebih cepat berkecambah.
  • 80.
    64 Pemeliharaan tanaman bertujuan mendapatkan pertumbuhan tebu yang baik. Pemeliharaan meliputi pemeliharaan tanaman pertama (plant cane/PC) meliputi: penyulaman yang bertujuan mempertahankan populasi tanaman dalam jumlah tetap pada satuan luas tertentu, pengairan, pengendalian gulma baik secara mekanis maupun khemis, pemupukan, pembumbunan atau penimbunan tanah disekitar tanaman, klentek atau membersihkan tebu dari kulit dan daun yang sudah kering, pemberantasan hama dan penyakit serta kuras got yang bertujuan memperdalam got sesuai ukuran standard agar mampu berfungsi dengan baik. Sedangkan pemeliharaan tanaman keprasan pada umumnya sama dengan PC. Adapun yang membedakan antara tanaman keprasan dan PC adalah kegiatan- kegiatan seperti : pedot oyot yang dilakukan segera setelah tanaman dikepras. Pedot oyot, yaitu memotong disamping kanan dan kiri barisan tanaman dengan kedalaman 20 cm dengan tujuan memutus akar-akar lama dan mendorong tumbuhnya akar-akar baru yang sehat dan kuat. 5.5.1.3 Tebang dan Angkut Tebang, muat, dan angkut merupakan pekerjaan terakhir dari kegiatan pengadaan bahan baku industri gula. Pelaksanaan kegiatan tersebut harus direncanakan secara matang karena tebu merupakan tanaman semusim yang mempunyai nilai produksi yang ditentukan oleh batasan waktu. Agar diperoleh tebu yang manis, bersih, dan segar maka pelaksanaan tebang harus tepat dan proses penebangan serta angkutan harus berpegang pada batasan-batasan tertentu. Sebagai dasar penentuan suatu kebun cukup optimal untuk ditebang adalah dengan analisa pendahuluan yang akan menghasilkan angka rendemen, Koefisien Daya Tahan (KDT) dan Koefisien Peningkatan (KP). Dari hasil analisa tersebut
  • 81.
    65 kemudian diberi skoratau nilai yang selanjutnya dikalkulasikan. Kebun yang mempunyai nilai tertinggi mendapat prioritas tebang terlebih dahulu. Analisa pendahuluan dilakukan pada saat tebu berumur 1-45 hari. Tebu yang dianalisa adalah tebu dari PC dan ratoon. Kegunaan dari analisa pendahuluan selain dari yang disebutkan di atas, yaitu dengan analisa pendahaluan PG dapat menentukan lahan mana yang akan diberikan perlakuan tambahan seperti pemberian ZPK (Zat Pemacu Kemasakan). 5.5.1.4 Pasca Panen dan Kriteria Bahan Baku Tebu Pengaturan tebu dari lori maupun truk di PG Pagottan menggunakan sistem FIFO (first in first out). Maksudnya adalah tebu yang masuk paling awal akan digiling terlebih dahulu sesuai jadwal. Truk dari kebun sebelum ditimbang biasanya diatur di emplasment sesuai dengan jadwal kedatangan. Sedangkan untuk lori setelah ditimbang diatur di emplasment sesuai dengan jadwal kedatangan. Kritera tebu giling sebagai bahan baku pabrik adalah manis, bersih, dan segar. Yang dimaksud manis, yaitu tebu sudah cukup tua atau masak yang ditebang pada saat rendemen puncak dan tebu ditebang dengan cara didongkel atau pemotongan sampai tanah dengan Faktor Kemasakan (FK) sebesar 25-30 persen, Koefisien Daya Tahan (KDT) dan Koefisien Peningkatan (KP) sebesar 90-100 persen. Besarnya faktor-faktor tersebut tergantung pada varietas tebu yang ditanam. Adapun yang dimaksud bersih adalah bahan baku tebu terbebas dari unsur non tebu (kotoran) maksimal 5 persen, meliputi: pucukan, tebu muda (sogolan), daun tebu (pucuk dan daun kering/daduk), akar dan tanah, serta barang
  • 82.
    66 asing lain. Sedangkanyang dimaksud tebu segar secara teoritis adalah saat tebu ditebang dan digiling maksimal 36 jam, tebu tidak kering, dan tebu tidak dibakar. 5.5.2 Pengolahan Tebu 5.5.2.1 Proses Pengolahan Tebu Menjadi Gula Proses produksi gula pasir di PG Pagottan pada dasarnya berupa aliran proses produksi. Diagram tersebut menunjukkan bahwa proses pengolahan tebu menjadi gula merupakan proses yang saling berhubungan, jika terjadi kemacetan pada satu tahapan produksi akan mempengaruhi proses produksi selanjutnya. Tahapan kegiatan produksi di PG Pagottan dapat dibagi berdasarkan uni stasiun pelaksana proses produksi, yaitu: 1. Stasiun Gilingan Proses ini bertujuan mendapatkan nira mentah sebanyak-banyaknya dari dalam batang tebu sehingga didapatkan kandungan gula semaksimal mungkin dengan menekan kehilangan gula yang ikut bersama ampas sekecil mungkin. Proses pada stasiun penggilingan tebu dimulai dari truk atau lori yang diterima dibagian penerimaan kemudian dipindahkan ke keprak tebu melalui tipper atau meja tebu yang selanjutnya dibawa ke cane cutter. Tebu yang masuk ke stasiun gilingan dipotong dan dicacah, cacahan tebu kemudian digiling pada rol-rol gilingan sehingga dihasilkan nira mentah dan ampas. Untuk memaksimalkan pemerahan di stasiun gilingan PG Pagottan dilengkapi 5 unit rol penggiling. Sedangkan untuk memperkecil kehilangan gula dalam ampas ditambahkan air imbisisi pada gilingan ke IV dan V. Nira mentah yang dihasilkan dipompa ke stasiun pemurnian dan ampas dipakai sebagai bahan bakar. Banyaknya komponen
  • 83.
    67 di dalam niraakan membawa pengaruh terhadap sifat-sifat nira. Karena yang diambil adalah saccharosa maka yang perlu dihilangkan adalah air dan komponen bukan gula. 2. Stasiun Pemurnian Tujuan dari pemurnian adalah menghilangkan atau membuang bahan organik maupun anorganik bukan gula yang terdapat dalam nira dengan cara kimia atau fisika sehingga diperoleh kadar sukrosa yang semaksimal mungkin dari nira dan kerusakan sukrosa yang serendah mungkin. Proses pemurnian ini dilakukan dengan sistem sulfitasi alkalis, yaitu cara pemurnian nira dengan menggunakan bahan pembantu penetralan berupa susu kapur (Ca (OH)2) yang berguna untuk mencegah terjadinya inversi (kerusakan), mengendapkan kotoran- kotoran pada nira encer serta mengatur derajat keasaman (pH) nira. Selain itu di dalam stasiun ini terdapat penambahan gas belerang (SO2) yang diperoleh dari pembakaran belerang padat yang berguna untuk menetralkan kelebihan susu kapur dalam nira. Pada penetralan dengan gas SO2 akan terjadi endapan ekstra kalsium sulfit. Endapan ini akan mengabsorbsi kotoran-kotoran dalam nira. Di stasiun pemurnian diperoleh nira jernih (nira encer) dan nira kotor. Nira jernih akan dialirkan ke stasiun penguapan sedangkan nira kotor dialirkan ke vacum filter untuk memisahkan kotoran padat (blotong) dengan kotoran cair (nira tapis). Nira tapis dikembalikan lagi pada bak nira mentah tertimbang, sedangkan blotong dijadikan bahan pembuatan kompos yang selanjutnya digunakan sebagai pupuk. 3. Stasiun Penguapan
  • 84.
    68 Dalam stasiun ini terjadi proses penguapan (evaporasi) yang dialakukan untuk menguapkan air yang terdapat dalam nira encer sehingga diperoleh nira dengan kekentalan tertentu. Nira kental yang keluar dari pan penguapan dilakukan pemberian gas SO2 sampai nilai pH nira kental mencapai 5,4-5,6 yang bertujuan memucatkan warna nira kental agar kristal gula yang dihasilkan berwarna lebih putih dan mencegah terjadinya perubahan warna karena gas SO2 mempunyai sifat menahan peningkatan intensitas warna. Nira kental tersulfitir tersebut kemudian dialirkan ke stasiun masakan untuk proses lebih lanjut. Di dalam proses penguapan tersebut akan didapat hasil sampingan berupa air kondensat yang dapat dimanfaatkan pada stasiun ketel. 4. Stasiun Kristalisasi Nira yang dihasilkan di stasiun penguapan masih mempunyai kadar air yang tinggi sehingga sukrosa dalam keadaan terlarut. Bila nira kental ini diuapkan airnya maka akan mencapai titik jenuh dan jika penguapan masih berlanjut maka larutan akan menjadi sangat jenuh yang akhirnya terjadi pengkristalan. Akan tetapi gula yang terkandung dalam nira kental tidak dapat dikristalkan seluruhnya dan harus dilakukan secara bertahap dengan menggunakan pan masakan yang bertekanan vakum di atas 65 mmHg dan suhu 70°C, yaitu masakan A, C, dan D. Pada stasiun ini akan dihasilkan larutan kristal gula (mascuite) serta hasil sampingan berupa air kondensat yang dapat dimanfaatkan oleh stasiun ketel. Pada tingkat masakan A, nira kental dimasak pada masakan A dengan bibitan magma C, hasil masakan (mascuite) diputar menjadi stroop A dan gula A1. Gula A1 dicampur dengan klare A menjadi magma A kemudian diputar lagi sehingga menjadi gula produk (GKP) dan klare A. Bahan untuk membuat
  • 85.
    69 masakan C adalahstroop A dengan bibitan magma D. hasil masakan C adalah mascuite dan diputar menjadi stroop C dan gula C. Setelah dicampur air, gula C akan menjadi magma C kemudian dipakai sebagai bibitan masakan A. Bahan untuk membuat masakan D adalah stroop A, stroop C, dan klare D dengan bibitan Fondan. Mascuite D setelah didinginkan kemudian diputar dan dihasilkan tetes dan gula D1. Magma D1 diputar menjadi klare D dan gula D2. Gula D2 dicampur dengan air menjadi magma dan dipakai sebagai bibitan masakan C. 5. Stasiun Puteran dan Penyelesaian Mascuite dari hasil proses pengkristalan dalam pan merupakan suatu massa campuran yang terdiri dari larutan dan kristal sakarosa. Sesudah mengalami pendinginan dalam palung pendingin selanjutnya dipisahkan kristal dan larutannya. Pemisah dilakukan dalam suatu alat saringan (puteran) yang menggunakan gaya sentrifugal sebagai kekuatan pendorongnya. Langkah-langkah yang terjadi pada pemutaran mascuite terbagi atas tiga langkah, yaitu: a. Penghilangan larutan yang ada disekitar kristal dan memenuhi ruangan- ruangan di antara kristal-kristal. b. Penghilangan sisa larutan yang masih tertinggal di antara kristal sehingga hanya tinggal lapisan yang menempel pada kristal. c. Mengurangi jumlah atau ketebalan lapisan larutan yang tertinggal pada permukaan kristal. Gula produk yang dihasilkan dari pemutaran mascuite A kondisinya masih basah. Gula basah ini dijatuhkan pada talang goyang/getar. Pengeringan gula dengan dihembus udara kering dan panas pada suhu 104° -132°C. Gula yang
  • 86.
    70 dihasilkan dibagi menjadigula halus, normal dan kasar. Gula halus dan kasar akan dilebur lagi sebagai bahan masakan A. Gula normal dengan diameter 0,9-1,1 mm dimasukkan ke gudang untuk disimpan. 5.5.2.2 Limbah Limbah diartikan sebagai bahan yang dihasilkan dalam suatu proses yang tidak berguna lagi untuk proses tersebut. Semua proses menghasilkan limbah, mulai dari proses hidup yang terjadi dalam tubuh organisme hidup, misalnya CO2 dan panas dari pernapasan serta O2 dari fotosintesis, sampai pada proses dalam industri misalnya CO2, NO serta logam berat dari proses kimia tertentu dalam pabrik. Limbah yang tidak berguna untuk proses tersebut keluar dari pabrik ke lingkungan. Jika laju masukan limbah ke dalam lingkungan lebih besar daripada laju asimilasi atau degradasi limbah maka akan merusak dan terjadilah pencemaran. Limbah pabrik gula Pagottan dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu limbah padat, limbah cair, dan limbah gas. Limbah padat terdiri dari blotong, abu ketel dan ampas halus, namun limbah ini telah dapat dimanfaatkan oleh pabrik baik menjadi pupuk maupun bahan berguna lainnya. Limbah cair dapat digolongkan menjadi dua berdasarkan jumlah dan sifat pencemarannya, yaitu 1) tingkat pencemaran rendah dengan jumlah besar seperti air bekas kondensor, 2) tingkat pencemaran tinggi dengan jumlah sedikit seperti air cucian peralatan, tumpahan nira, cucian tapisan, bocoran dari peralatan yang rusak, air cucian evaporator, dan air buangan ketel. Limbah cair yang dihasilkan dapat diatasi dengan sistem pengolahan limbah yang baik. Sedangkan untuk limbah gas terdiri
  • 87.
    71 dari CO2, CO,SO2, dan asap cerobong. Limbah inilah yang masih belum dapat dikelola dengan baik oleh PG Pagottan. 5.5.2.3 Hasil Samping Gula Tebu Dalam proses pengolahan tebu selain menghasilkan gula juga dihasilkan produk-produk sampingan, yaitu berupa tetes, blotong, dan ampas. Tetes merupakan larutan sisa yang tidak bisa lagi dimasukkan dalam proses untuk diambil kristalnya. Saat ini tetes sudah bisa dijadikan barang produk dan sudah merupakan kebutuhan yang tidak bisa dikesampingkan peranannya. Di PTPN XI usaha diversifikasi yang telah dilakukan adalah mengolah tetes menjadi alkohol dan spirtus yang pabriknya berlokasi di Djatiroto. Selain pembuatan alkohol di Indonesia, tetes dapat dibuat bermacam-macam keperluan, misalnya bumbu masak (MSG), pellet (makanan ternak), kecap, dan ragi. Blotong merupakan hasil pemisahan di stasiun pemurnian, di PG Pagottan blotong dapat dijadikan pupuk kompos yang dicampur abu ketel dan dijadikan bahan bakar karena mengandung biogas. Sedangkan ampas adalah hasil pemisahan di stasiun gilingan. Ampas dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan pulp kertas, solvent, particle board, hard board, cellulose, dan lain-lain. 5.5.2.4 Standardisasi Mutu Gula Standardisasi mutu gula produk ditentukan oleh P3GI. Adapun standardisasi mutu gula dapat dilihat pada Tabel 6.
  • 88.
    72 Tabel 6 StandardisasiMutu Gula Kristal Putih No. Unsur Satuan GKP Metode 1. Warna 1.1 Warna Kristal CT 5,0 – 10,0 Refleksi 1.2 Warna larutan (ICUMSA) IU Max 300 Spektometris 2. Berat jenis butir mm 0,8 – 1,2 Ayakan 3. Susut pengeringan % bb Max 0,15 Oven/IR driyer 4. Polarisasi °Z, 20°C Min 99,5 Polarimetris 5. Abu konduktiviti % bb Max 0,15 Konduktometris 6. Bahan tambahan makanan 6.1 Belerang dioksida (SO2) mg/kg Max 30 Iodometri Sumber: Bagian Pabrikasi PG Pagottan, 2008 5.5.2.5 Pengepakan dan Penyimpanan Gula produk yang telah ditimbang dimasukkkan ke dalam karung goni yang bagian dalamnya telah dilapisi plastik, tujuannya adalah melindungi kristal gula dari uap air selama penyimpanan. Berat setiap karung adalah 50 kg. karung yang telah diisi kemudian dijahit dan disimpan di gudang. PG Pagottan mempunyai empat gudang penyimpanan gula (gudang A, B, C, dan D) dan satu gudang cadangan (gudang E) dengan luas dan kapasitas yang berbeda-beda. Luas gudang A, gudang B, gudang C, dan gudang D masing- masing adalah 1830 m2, 774 m2, 968 m2, 968 m2. Dengan kapasitas gudang A sebesar 56.881 kuintal, gudang B sebesar 26.803 kuintal, gudang C sebesar 35.556 kuintal, dan gudang D berkapasitas 34.455 kuintal. Sedangkan gudang E merupakan gudang cadangan yang digunakan jika semua gudang tidak mampu menampung jumlah produksi gula. Biasanya gudang E digunakan sebagai gudang rabuk (pupuk).
  • 89.
    73 5.5.3 Distribusi Gula 5.5.3.1Bagi Hasil Giling Antara PG dan PTR PG Pagottan disamping mengolah tebu sendiri juga mengolah tebu rakyat. Bagi hasil terhadap gula yang dihasilkan tebu rakyat mengacu pada kesepakatan antara PTPN XI dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) mengenai tata cara atau perhitungan bagi hasil gula, yaitu apabila rendemen tebu rakyat sampai dengan enam persen maka petani mendapatkan 66 persen hasil sedangkan PG mendapatkan 34 persen. Tetapi jika rendemen tebu rakyat di atas enam persen maka hasil awal (rendemen enam persen) ditambah selisih di atas enam persen dengan perhitungan bagi hasil 70 persen untuk petani dan 30 persen untuk PG. 5.5.3.2 Sistem Penjualan Gula PTR dan PG Setelah lepas dari monopoli BULOG pada tahun 1999, saat ini sistem perdagangan gula dikelola oleh masing-masing perusahaan. Sebagian besar gula milik PTR dan PG bersama-sama dijual dalam pelelangan. Dalam pelelangan gula milik PTR dan PG telah mendapatkan dana talangan yang besarnya sesuai harga dasar yang disepakati antara petani, perusahaan selaku penjamin bahwa petani yang mendapatkan dana talangan benar-benar memiliki gula dari hasil penggilingan tebu, investor dana talangan, dan pemerintah. Dana talangan ini dimaksudkan agar petani dapat melakukan kegiatan budidaya dikebun tanpa harus menunggu kapan gula akan terjual semua. Di samping itu dana talangan juga dimaksudkan untuk melindungi para produsen tebu dari kerugian. Dana talangan tersebut biasanya dibayarkan oleh investor dengan perjanjian bila harga gula di pelelangan lebih tinggi dari dana talangan maka kelebihannya tersebut akan dibagi menurut perhitungan 60 persen untuk PTR dan 40 persen untuk PG sisa dari
  • 90.
    74 masing-masing tersebut, yaitu40 dan 60 persen akan diberikan kepada investor sebagai penyedia dana talangan. Selain dijual dalam pelelangan untuk gula milik PG sebagian kecil (lima persen dari total produksinya) dijual dalam bentuk ritel ke perusahaan-perusahaan seperti alfamart, indomaret, grosir, dan lain-lain dengan harga yang telah disepakati bersama. Sedangkan untuk gula milik PTR (sepuluh persen dari total produksinya) diberikan ke petani dalam bentuk natura. Natura ini diberikan agar petani tebu mempunyai gula untuk konsumsinya sehari-hari. Untuk lebih jelasnya mengenai pemasaran gula PG Pagottan dapat dilihat pada Gambar 5. KD PASAR MILIK PG PG RITEL TEBU PABRIK GULA 5% LELANG PTR MILIK PTR NATURA 10% Gambar 5 Bagan Pemasaran Gula di PG Pagottan Sumber: PG Pagottan, 2008
  • 91.
    75 VI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI GULA PASIR 6.1 Pemilihan Model Fungsi Produksi Model fungsi yang digunakan di dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi Cobb-Douglass. Sebelum menerima model fungsi yang diajukan tersebut, terlebih dahulu harus dilakukan pengujian terhadap ketepatan model dengan mempertimbangkan asumsi-asumsi yang mendasarinya dengan melihat koefisien determinasi (R2), F-hitung dan t-hitung untuk masing-masing parameter dugaan. Hal ini perlu dilakukan agar validitasnya terjamin. Analisis regresi yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan. Factor-fakor produksi yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu bahan baku tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling yang digunakan dalam proses produksi dari tahun 2001-2007 (per periode) (Lampiran 2). Dari variable-variabel yang terdapat pada Lampiran 2, maka dapat dibentuk suatu model regresi berganda. Hasil analisis dan model regresi kegiatan produksi gula dengan memanfaatkan ketujuh faktor produksi tersebut adalah sebagai berikut. Hasil pendugaan awal yang diperoleh dari model Cobb-Douglas adalah : Ln produksi gula = 2,60 + 0,0555 Ln jumlah tebu + 0,988 Ln rendemen + 1,126 Ln jam mesin + 0,329 Ln tenaga kerja tetap – 0,796 Ln tenaga kerja musiman – 0,026 Ln bahan pembantu – 0,084 Ln lama giling
  • 92.
    76 Tabel 7 HasilPendugaan Fungsi Produksi Gula dengan Tujuh Faktor Produksi Variabel Koefisien T-Hitung Nilai Peluang-t Nilai VIF Dugaan Konstanta 2,599 2,42 0,019 Jumlah tebu (X1) 0,055 2,18 0,016 3,0 Rendemen (X2) 0,998 12,55 0,000 1,5 Jam mesin (X3) 1,126 10,38 0,000 9,7 Tenaga kerja tetap (X4) 0,329 1,98 0,220 4,1 Tenaga kerja musiman (X5) -0,796 -3,62 0,031 4,0 Bahan pembantu (X6) -0,029 -0,81 0,591 1,6 Lama giling (X7) -0,084 2,39 0,024 10,0 2 R : 96,2% R2 adj : 95,7% F- hitung : 214,85 P-value : 0,000 MS : 0,00261 Uji Durbin-Watson : 2,11653 Suatu model terbaik harus memenuhi beberapa asumsi OLS antara lain adalah normalitas (kenormalan sisaan), homoskedastisitas (kehomogenan ragam), tidak terdapat multikolinearitas (hubungan antar variabel) dan autokorelasi. Pada Lampiran 7 dapat dilihat bahwa pada analisis regresi dengan tujuh faktor produksi asumsi normalitas terpenuhi. Asumsi ini terpenuhi karena tebaran sisaan membentuk suatu garis lurus. Asumsi homoskedastisitas juga terpenuhi karena penyebaran nilai-nilai residual tidak membentuk suatu pola tertentu (Lampiran 8). Dari hasil pengolahan, dapat dilihat bahwa nilai VIF lama giling sebesar 10,0. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa jika nilai VIF lebih besar dari 10 maka diduga di dalam model terdapat gejala multikolinearitas. Variabel independen lain yang diduga berkorelasi dengan variabel independen lama giling adalah jam mesin yang memiliki nilai VIF sebesar 9,7. Nilai VIF kedua variabel tersebut tidak berbeda nyata dari 10, sehingga diduga kedua faktor produksi
  • 93.
    77 tersebut memiliki korelasiyang kuat. Hal ini sangat mungkin terjadi karena fakta yang ada di lapang adalah jumlah jam mesin dipengaruhi oleh lamanya hari giling atau lama kampanye. Jika lama giling meningkat maka jam mesin juga akan meningkat (Lampiran 2). Adanya gejala multikolinearitas tersebut, mengakibatkan model fungsi produksi Cobb-Douglass dengan tujuh faktor produksi belum dapat dikatakan sebagai model fungsi produksi yang baik. Dengan demikian gejala multikolinearitas tersebut harus diatasi. Menurut Soekartawi, 2003, salah satu cara untuk mengatasi gejala multikolinearitas tersebut adalah dengan mengurangi salah satu atau beberapa variabel bebas yang memiliki tingkat korelasi yang tinggi diantara satu dengan yang lain. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka di dalam penelitian ini variabel lama giling dihilangkan dari model fungsi produksi. Pengujian terhadap gejala autokorelasi sangat penting dilakukan karena data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series. Pengujian autokorelasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DW). Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai hasil DW dari model Cobb-Douglas dengan tujuh faktor produksi sebesar 2,11653. Hal ini berarti bahwa pada model tersebut tidak terjadi masalah autokorelasi karena nilai DW yang mendekati dua. Setelah dilakukan pengujian terhadap asumsi OLS, maka selanjutnya dilakukan pengujian secara statistik yang meliputi koefisien determinasi, uji-F, dan uji-t. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan tujuh faktor produksi pada taraf nyata lima persen menghasilkan koefisien determinasi (R2) yang tinggi, yaitu 0,962. Hal ini berarti bahwa 96,2 persen dari variasi produksi gula dapat dijelaskan oleh variasi faktor produksi jumlah tebu (X1), rendemen (X2), jam
  • 94.
    78 mesin (X3), tenagakerja tetap (X4), tenaga kerja musiman (X5), bahan pembantu (X6), dan lama giling (X7) sedangkan sisanya 3,8 persen dijelaskan oleh faktor lain yang tidak terdapat dalam model. Uji secara bersama-sama dengan menggunakan uji-F didapat nilai sebesar 214,85 lebih besar dari F-tabel yang nilainya sebesar 2,95 dan berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketujuh faktor produksi secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi gula di PG Pagottan. Untuk uji setiap faktor produksi dengan menggunakan t-hitung pada tingkat kepercayaan 95 persen terlihat terdapat dua faktor produksi yang pengaruhnya tidak nyata terhadap produksi gula di PG Pagottan, yaitu faktor tenaga kerja tetap dan faktor bahan pembantu. Sehingga berdasarkan hasil pengolahan fungsi produksi dengan tujuh faktor produksi menghasilkan lima faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap kegiatan produksi di PG Pagottan, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja musiman, dan lama giling. Selain itu, faktor produksi tenaga kerja tetap dan tenaga kerja musiman dijumlahkan menjadi tenaga kerja total. Penggabungan didasarkan atas pertimbangan bahwa di dalam penggunaan faktor produksi tenaga kerja tetap kurang adanya variasi sehingga kurang mencerminkan adanya pengaruh yang signifikan antara penggunaan input tenaga kerja tetap terhadap produksi gula. Sehingga faktor produksi yang digunakan dalam kegiatan produksi gula di Pabrik Gula Pagottan berupa bahan baku tebu, rendemen tebu, tenaga kerja total, jam mesin, dan bahan pembantu.
  • 95.
    79 Hasil pengolahan data dengan menghilangkan variabel independen lama giling dan penggabungan faktor produksi tenaga kerja tetap dan tenaga kerja musiman menjadi faktor produksi tenaga kerja total disajikan pada Tabel 8. Tabel 8 Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula setelah Uji Validitas Asumsi OLS Koefisien Nilai Variabel T-Hitung Nilai VIF Dugaan Peluang-t Konstanta 2,841 2,80 0,007 Jumlah tebu (X1) 0,066 2,54 0,014 2,7 Rendemen (X2) 1,010 11,99 0,000 1,5 Tenaga kerja total (X3) -0,239 -2,25 0,029 1,4 Jam mesin (X4) 1,030 16,84 0,000 2,7 Bahan Pembantu (X5) -0,01543 -0,40 0,688 1,6 2 R : 96,0% 2 R adj : 95,6% F- hitung : 255,65 P-value : 0,000 MS : 0,00259 Uji Durbin-Watson : 1,983035 Jika dibandingkan dengan hasil pendugaan dengan tujuh faktor produksi, hasil dugaan lima faktor produksi dirasa lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari asumsi normalitas yang terpenuhi (Lampiran 9). Asumsi ini terpenuhi karena tebaran sisaan membentuk suatu garis lurus. Asumsi homoskedastisitas juga terpenuhi karena penyebaran nilai-nilai residual tidak membentuk suatu pola tertentu (Lampiran 10). Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai VIF dari semua faktor produksi dugaan memiliki nilai VIF kurang dari 10 sehingga model memenuhi asumsi OLS, yaitu tidak ada gejala multikolinearitas. Demikian halnya dengan pengujian terhadap gejala autokorelasi pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai hasil DW dari
  • 96.
    80 model Cobb-Douglas denganlima faktor produksi sebesar 1,983035. Hal ini berarti bahwa pada model tersebut tidak terjadi masalah autokorelasi karena nilai DW yang mendekati dua. Demikian halnya dengan nilai R2 dan R2 adj yang tidak berbeda nyata dibandingkan persamaan sebelumnya, yaitu masing-masing sebesar 96,0 persen dan 95,6 persen dan memiliki nilai F hitung sebesar 255,65 yang nilainya lebih besar dibandingkan nilai F tabel, yaitu 3,34 dan berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 99 persen. Sedangkan pengaruh faktor-faktor produksi secara parsial dapat dilihat dengan menggunakan uji-t atau dengan melihat nilai dugaan-t (Tabel 8). Jika nilai dugaan-t lebih kecil dari = 0,05 maka secara parsial faktor produksi tersebut secara nyata berpengaruh terhadap produksi gula. Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa terdapat empat faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi gula di PG Pagottan, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenaga kerja total. Dalam Tabel 8, terlihat bahwa persamaan dugaan dengan empat faktor produksi koefisien dari variabel bebas jumlah tebu, rendemen, jam mesin memiliki tanda yang sesuai dengan hipotesis yang diharapkan. Namun tanda untuk variabel tenaga kerja total adalah negatif, tidak sesuai dengan hipotesa awal yang diduga berpengaruh positif. Hal ini dapat dijelaskan bahwa jumlah tenaga kerja total di PG Pagottan sudah melebihi batas normalnya sehingga bila ditambah maka semakin memperkecil rasio antara jumlah tenaga kerja dengan produksi gula yang dihasilkan.
  • 97.
    81 6.2 Analisis Elastisitas Produksi Di dalam fungsi produksi Cobb-Douglass besaran koefisien regresi merupakan nilai elastisitas produksi dari variabel-variabel yang digunakan dalam fungsi. Sehingga pengaruh masing-masing faktor produksi gula pasir dapat diketahui, yaitu sebagai berikut: 1. Jumlah tanaman tebu Berdasarkan analisis regresi, jumlah tebu mempunyai pengaruh yang positif dan nyata pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil ini sesuai dengan fungsi tebu sebagai bahan baku utama yang secara langsung mempengaruhi produksi gula, dimana peningkatan jumlah tebu akan meningkatkan produksi gula. Nilai koefisien regresi yang diperoleh adalah sebesar 0,066. Nilai ini menunjukkan bahwa jika terjadi peningkatan pasokan jumlah tebu satu persen maka produksi akan meningkat sebesar 0,066 persen, dengan asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). 2. Rendemen Kualitas tebu ditunjukkan oleh tingkat rendemen, pada taraf nyata lima persen ternyata faktor rendemen berpengaruh nyata terhadap produksi gula pasir di lokasi penelitian. Elastisitas produksi faktor rendemen adalah sebesar 1,01 persen, artinya bahwa setiap penambahan satu persen rendemen maka akan memberikan peningkatan produksi gula pasir sebesar 1,01 persen, dengan asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Hal ini berarti bahwa kualitas tebu berpengaruh besar terhadap produksi gula pasir.
  • 98.
    82 Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa tingkat rendemen tebu yang dipasok ke PG Pagottan dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Beberapa kebijakan perusahaan telah ditetapkan untuk meningkatkan kembali tingkat rendemen tersebut, antara lain dengan pemberian pelatihan teknis kepada petani dan diperkenalkan beberapa varietas tebu unggul kepada petani. Namun, tampaknya untuk beberapa tahun terakhir usaha tersebut masih belum membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan rendemen gula. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam rangka meningkatkan produksi gula maka tingkat rendemen juga perlu ditingkatkan. 3. Jam mesin Sesuai dengan analisis regresi menunjukkan bahwa faktor jam mesin berpengaruh nyata terhadap produksi gula pasir. Dengan nilai elastisitas produksi sebesar 1,03 persen menunjukkan bahwa peningkatan sebesar satu persen jam mesin akan meningkatkan produksi gula pasir sebesar 1,03 persen, dengan asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Hal ini menunjukkan bahwa jam mesin sangat berpengaruh terhadap produksi gula pasir dan dengan nilai elastisitas produksi seperti ini produksi gula pasir masih dapat ditingkatkan dengan melakukan penambahan jumlah jam mesin. Berdasarkan catatan angka produksi perusahaan, diketahui bahwa jumlah jam mesin yang digunakan diduga belum optimal karena setiap bulannya dalam masa giling sering terjadi jam berhenti giling yang sebagian besar disebabkan oleh peralatan produksi yang sudah tua. Sehingga mengurangi jam giling yang menyebabkan produksi gula belum mencapai tingkat optimalnya.
  • 99.
    83 4. Tenaga kerjatotal Hasil analisis regresi pada taraf nyata lima persen menunjukkan bahwa tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi gula pasir di lokasi penelitian. Berdasarkan persamaan fungsi produksi dengan lima faktor produksi, nilai koefisien regresi tenaga kerja total sebesar -0,239. Nilai koefisien ini menunjukkan hubungan yang negatif antara faktor tenaga kerja total dan produksi gula di PG Pagottan. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa dengan adanya peningkatan tenaga kerja total sebanyak satu persen maka akan mengakibatkan terjadinya penurunan terhadap produksi gula pasir sebesar 0,239 persen, dengan asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa di lokasi penelitian terjadi kelebihan pemanfaatan tenaga kerja total. Meskipun pemanfaatan jumlah tenaga kerja total di PG Pagottan cenderung mengalami penurunan, namun ternyata proporsi tersebut belum mampu mengatasi masalah inefisiensi dalam penggunaan tenaga kerja. Oleh karena itu, untuk menghindari penurunan produksi gula pasir lebih lanjut maka pihak perusahaan perlu melakukan pengaturan kembali terhadap proporsi tenaga kerja yang dimanfaatkannya. 6.3 Analisis Efisiensi Sebelum melakukan analisis efisiensi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap produksi gula penting untuk mengetahui apakah nilai koefisien regresi dari faktor-faktor produksi yang akan dinilai efisiensinya sudah memenuhi syarat dari model Cobb-Douglas, yaitu nilai koefisien regresi berada antara nol dan satu. Dari hasil analisis elastisitas yang telah dilakukan sebelumnya dapat diketahui bahwa nilai koefisien regresi dari faktor produksi tenaga kerja
  • 100.
    84 total tidak memenuhisyarat model Cobb-Douglas karena mempunyai nilai koefisien regresi yang negatif sehingga faktor tersebut tidak dapat dinilai tingkat efisiensinya terhadap produksi gula di PG Pagottan. Efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi secara alokatif pada kegiatan produksi gula pasir dapat dilihat dari nilai perbandingan Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Nilai produk marjinal diperoleh dari perkalian antara harga rata-rata gula pasir di Pabrik Gula Pagottan dengan nilai produk marjinalnya. Sedangkan biaya korbanan marjinal diperoleh dari harga rata-rata input, yaitu berupa harga rata-rata tebu yang dipasok ke Pabrik Gula Pagottan. Harga rata-rata tebu petani yang dipasok ke Pabrik Gula Pagottan diperoleh dari bagi hasil dalam bentuk gula pasir (natura) yang diterima petani, dengan mempertimbangkan tingkat rendemen nota gula yang telah ditetapkan oleh pihak perusahaan. Besarnya bagi hasil petani tersebut nilainya bervariasi baik dalam satu musim giling maupun antar musim giling. Dengan memperhitungkan nilai bagi hasil rata-rata tersebut maka dapat diperoleh harga tebu per ton per periode. Namun di dalam kenyataannya, perusahaan memiliki keterbatasan modal yang digunakan untuk membeli faktor-faktor produksi. Sehingga kendala tersebut juga harus diperhitungkan di dalam analisis efisiensi produksi. Kondisi tersebut mengakibatkan nilai perbadingan antara NPM dan BKM belum tentu bernilai sama dengan satu, melainkan sama dengan nilai tertentu. Faktor produksi yang akan diukur tingkat efisiensinya di dalam penelitian ini adalah faktor produksi
  • 101.
    85 jumlah tebu. Halini dilakukan karena mempertimbangkan bahwa faktor produksi tersebut yang dapat diukur tingkat harganya. Rata-rata produksi gula pasir per periode dari tahun 2001-2007 adalah sebesar 2510,22 ton dengan harga jual rata-rata sebesar Rp 4.002.530,- per ton (Tabel 9). Penggunaan rata-rata bahan baku tebu dalam proses produksi gula pasir sebesar 33.144,7 ton per periode. Harga tebu per ton adalah Rp 1.956.190 per periode. Penggunaan rata-rata faktor produksi serta harga rata-ratanya digunakan untuk menduga besarnya rasio NPM dan BKM. Tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi pada PG Pagottan dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9 Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Kegiatan Produksi Gula Pasir pada Pabik Gula Pagottan per Periode Rasio Rata-rata Koefisien Variabel NPM (Rp) BKM (Rp) NPM- Penggunaan Regresi BKM Jumlah tebu (ton) 33.144,7 0,066 20.006,74 1.956.190 0,01 Berdasarkan perhitungan pada Tabel 9, terlihat bahwa penggunaan faktor produksi gula di PG Pagottan belum mencapai kondisi efisien. Hal ini ditunjukkan oleh rasio antara NPM dan BKM faktor produksi jumlah tebu tidak sama dengan satu. Jumlah tebu mempunyai NPM sebesar Rp 20.006,74 yang mempunyai arti bahwa setiap penambahan pasokan satu ton tebu, akan memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 20.006,74. Rasio NPM dan BKM diperoleh sebesar 0,01dengan harga rata-rata tebu sebesar Rp 1.956.190 per ton dan koefisien regresi sebesar 0,066. Nilai rasio NPM dan BKM jumlah tebu kurang dari satu menyatakan bahwa jumlah pasokan tebu sudah melampaui batas optimal. Oleh karena itu, perusahaan harus mempertimbangkan kembali jadwal tebang angkut
  • 102.
    86 sehingga tidak terlalubanyak tebu yang menurun rendemennya karena terlalu lama menunggu di lori sehingga tebu tidak lagi memenuhi kriteria MBS yang berakibat akan menurunkan jumlah produksi gula. Salah satu upaya yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan mengurangi harga jual tebu petani ke PG, karena dengan menurunkan harga pasokan tebu petani maka perusahaan akan memperkecil tambahan biaya yang akan dikeluarkan untuk menambah satuan input sehingga tambahan biaya yang dikeluarkan akan sama dengan tambahan penerimaan yang diperoleh. Namun upaya ini tidak sesuai dengan visi perusahaan, yaitu PG Pagottan menjadi perusahaan perkebunan yang mampu meningkatkan kesjahteraan stakeholders secara berkesinambungan. Sehingga tidak mungkin perusahaan menilai harga tebu petani lebih rendah. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan harga gula yang diproduksi. Upaya ini mungkin dilakukan jika pemerintah meningkatkan tarif impor gula sehingga harga gula dalam negeri dapat lebih bersaing. Dengan meningkatkan harga gula maka dengan rata-rata penggunaan faktor produksi tebu di PG Pagottan yang sebesar 33.144,7 ton per periode dari tahun 2001 hingga tahun 2007 dan harga tebu rata-rata Rp 1.956.190 per ton maka perusahaan akan dapat beroperasi secara lebih efisien. Dari beberapa analisis yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwa kegiatan produksi gula pasir di PG Pagottan belum efisien. Kondisi tersebut salah satunya disebabkan oleh pengalokasian sumberdaya atau faktor-faktor produksi yang kurang tepat. Akibatnya, pencapaian keuntungan perusahaan belum mencapai tingkat yang maksimum.
  • 103.
    87 VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis regresi dengan pendugaan OLS, maka dapat diketahui terdapat empat faktor produksi yang berpengaruh nyata pada taraf nyata = 0,05 terhadap produksi gula di PG Pagottan. Faktor-faktor tersebut, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenaga kerja. Dari hasil tersebut diperoleh bahwa jumlah tebu, rendemen, dan jam mesin berpengaruh positif terhadap produksi gula di PG Pagottan. Berdasarkan analisis elastisitas diketahui nilai elastisitas untuk masing- masing faktor produksi, yaitu jumlah tebu sebesar 0,066, nilai menunjukkan bahwa jika terjadi peningkatan pasokan jumlah tebu sebesar satu persen maka produksi akan meningkat sebesar 0,006 persen dengan asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Elastisitas faktor produksi rendemen adalah sebesar 1,01, artinya bahwa setiap penambahan satu persen rendemen maka akan memberikan peningkatan produksi gula sebesar 1,01 persen dengan asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Sedangkan nilai koefisien regresi jam mesin sebesar 1,03, nilai ini menunjukkan bahwa setiap penambahan satu persen jam mesin maka akan memberikan peningkatan produksi gula sebesar 1,03 persen dengan asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Nilai koefisien regresi tenaga kerja sebesar -0,239. Nilai koefisien ini menunjukkan hubungan yang negatif antara faktor tenaga kerja dan produksi gula di PG Pagottan. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa jika tenaga kerja ditambah sebesar satu persen maka produksi gula akan menurun sebesar 0,239 persen.
  • 104.
    88 Hasil analisis efisiensi alokatif dengan menggunakan rasio antara NPM dan BKM jumlah tebu diperoleh nilai sebesar 0,01. Nilai ini menunjukkan bahwa pemanfaatan faktor produksi tersebut belum efisien secara alokatif. Sehingga perlu dilakukan upaya agar penggunaan jumlah tebu mencapai tingkat optimal sehingga tercapai kondisi yang efisien. 7.2 Saran Dalam rangka meningkatkan produksinya maka sebaiknya perusahaan meningkatkan kualitas dari pasokan bahan baku tersebut dengan melakukan pengaturan kembali terhadap jadwal tanam dan tebang. Karena hampir sebagian besar bahan baku tebu yang akan digiling memiliki waktu tunggu yang lebih dari 36 jam sehingga mempengaruhi kualitas dari bahan baku tebu itu sendiri. Pada akhirnya akan berpengaruh terhadap jumlah gula yang dihasilkan oleh PG Pagottan. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan harga gula yang diproduksi. Upaya ini mungkin dilakukan jika pemerintah meningkatkan tarif impor gula sehingga harga gula dalam negeri dapat lebih bersaing. Dengan meningkatkan harga gula maka dengan rata-rata penggunaan faktor produksi tebu di PG Pagottan yang sebesar 33.144,7 ton per periode dari tahun 2001 hingga tahun 2007 dan harga tebu rata-rata Rp 1.956.190 per ton maka perusahaan akan dapat beroperasi secara lebih efisien. Karena tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap produksi gula maka saran untuk peneliti selanjutnya dapat dilakukan penelitian mengenai tingkat kinerja SDM di PG Pagottan.
  • 105.
    89 DAFTAR PUSTAKA Churmen, Imam. 2001. Menyelamatkan Industri Gula Indonesia Edisi 1. Jakarta : Millenium Publisher. Djauhari, Aman. 1999. Pendekatan Fungsi Cobb-Douglas Dengan Elastisitas Variabel Dalam Studi Ekonomi Produksi. Suatu Contoh: Aplikasi Pada Padi Sawah. Informatika Pertanian Vol. 8 (Desember 1999). Doll, J. P. dan Frank Orazem. 1984. Production Economics Theory With Application 2nd Edition. Canada : John Willey and Sons Inc. Firdaus, M. 2004. Ekonometrika Suatu Pendekatan Aplikati. Jakarta : Bumi Aksara. Gujarati, Damodar. 1978. Ekonometrika Dasar. Penerjemah Soemarno Zain. Jakarta : Erlangga. Hafsah, M. Jafar. 2002. Bisnis Gula di Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Hidayat, Sutan Emir. 2003. Evaluasi Kinerja Produksi dan Keuangan PT PG Rajawali II Unit Pabrik Gula Subang di Subang, Jawa Barat. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Kartasapoetra, A. G. 1988. Pengantar Ekonomi Produksi Pertanian. Jakarta : Bina Aksara. Meiditha, Nilla. 2003. Analisis Efisiensi Produksi Gula Pasir di Pabrik Gula Kebon Agung, Kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Moerdokusumo, A. 1993. Pengawasan Kualitas dan Teknologi Pembuatan Gula di Indonesia. Bandung : ITB. Mubyarto dan Daryanti. 1991. Gula Kajian Sosial-Ekonomi. Yogyakarta:Aditya Media. Mubyarto. 1979. Pengantar Ekonomi Petanian Edisi Ketiga. Jakarta : LP3ES. .1984. Masalah Industri Gula di Indonesia. Yogyakarta : BPFE. Muin, G. M. 2006. Ilmu Teknologi Gula dan Pengawasan Fabrikasi. Situbondo : PG Assem Bagoes. Muljana, Wahyu. 1983. Teori dan Praktek Cocok Tanam Tebu dengan Segala Permasalahannya. Semarang: Aneka Ilmu.
  • 106.
    90 Nazir, M. 1988.Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta. Nurrofiq, Akhmad. 2005. Analisis Efisiensi Produksi Pabrik Gula. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Pappas, James L. dan Marks Hirschey. 1995. Ekonomi Manajerial Edisi Keenam Jilid 1. Jakarta : Binarupa Aksara. Sawit, M. Husein, et al. 2004. Penyelamatan dan Penyehatan Industri Gula Nasional. Kajian Akademis. Jakarta : Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan. Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers. . 2003. Teori Ekonomi produksi Dengan Poko Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Sulastri, Indahsih. 2008. Sosiologi dan Kemitraan. Yogyakarta: Lembaga Pendidikan Perkebunan. Supriyadi, Ahmad. 1992. Rendemen Tebu dan Liku-Liku Permasalahannya. Yogyakarta: Kanisius. Susila, Wayan Reda. 2005. Pengembangan Industri Gula Indonesia Analisis Kebijakan dan Keterpaduan istem Produksi. Disertasi. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Umar, Husein. 1996. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Wahyuni, I. T. 2007. Analisis Efisiensi Produksi Gula di PG Madukismo, Yogyakarta. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Wira, I. S. 2008. Taksasi Produksi dan Tebang Muat Angkut. Yogyakarta: Lembaga Pendidikan Perkebunan. Yenni. 2005. Optimalisasi Pengadaan Tebu Sebagai Bahan Baku Gula. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
  • 107.
  • 108.
    92 Lampiran 1 LuasAreal dan Produksi Gula di Indonesia Tahun 1996-2008 Jumlah Tebu Jumlah Hablur Luas Areal Rendemen Tahun (ha) (ton) (ton/ha) % (ton) (ton/ha) 1996 403.266 28.603.532 70,9 7,32 2.094.195 5,19 1997 385.669 27.953.841 72,5 7,83 2.189.975 5,68 1998 378.293 27.177.766 71,8 5,49 1.491.553 3,94 1999 340.800 21.401.834 62,8 6,96 1.488.599 4,37 2000 340.660 24.031.355 70,5 7,04 1.690.667 4,96 2001 344.441 25.186.254 73,1 6,85 1.725.467 5,01 2002 350.723 25.533.431 72,8 6,88 1.755.434 5,01 2003 335.725 22.631.109 67,4 7,21 1.631.919 4,87 2004 344.793 26.743.179 77,6 7,67 2.051.644 5,95 2005 381.786 31.242.267 81,8 7,18 2.241.742 5,87 2006 396.441 30.232.833 76,3 7,63 2.307.027 5,82 2007* 418.506 32.332.327 77,3 7,47 2.415.625 5,77 2008** 431.141 33.894.431 78,6 7,96 2.698.265 6,26 Keterangan : * Hasil Kesepakatan rapat November 2007 ** Sumber data Asosiasi Gula Indonesia 2007 Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007
  • 109.
    93 Lampiran 2 AngkaProduksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 Jumlah ton jmlh jml lm jam b.p b.p b.p tot Ha Rnd b.p slf tk total Masa giling Luas (ha) tebu tebu hablur gula/ha kmpny mesin P2O5 flk kpt bp tkm digiling (%) (ton) tetap tk (ton) /ha (ton) (ton) (hari) (jam) (ton) (ton) (ton) (ton) 2001 14-Jun 3155,220 439,859 30239,5 68,7 6,82 2063,54 4,69 17 359,92 18,53 1,65 0,07 36,71 56,96 15 201 216 01-Jul 3155,220 421,628 30500,9 72,3 6,54 1994,20 4,73 15 341,50 19,83 1,76 0,07 35,78 57,43 15 201 216 16-Jul 3155,220 489,566 36286,0 74,1 6,82 2475,78 5,06 16 384,00 26,85 2,36 0,07 58,67 87,96 15 221 236 01-Agust 3155,220 414,174 31035,8 74,9 6,96 2158,87 5,21 15 336,16 24,70 1,46 0,06 51,78 78,00 15 201 216 16-Agust 3155,220 440,339 36557,0 83,0 7,13 2606,95 5,92 16 377,50 25,56 1,68 0,07 57,48 84,80 15 241 256 01-Sep 3155,220 538,200 32424,5 60,2 7,35 2383,06 4,43 15 357,50 20,30 1,58 0,07 41,43 63,37 15 214 229 16-Sep 3155,220 495,499 30133,4 60,8 7,71 2323,62 4,69 15 344,50 17,33 1,54 0,07 39,31 58,24 15 218 233 01-Okt 3155,220 324,139 18892,0 58,3 6,95 1313,55 4,05 10 222,17 12,10 1,05 0,05 25,20 38,39 15 201 216 2002 8-Jun 3253,358 219,110 15873,5 72,4 6,82 1082,07 4,94 8 173,00 11,33 0,81 0,04 23,57 35,74 14 234 248 16-Jun 3253,358 470,414 34775,5 73,9 6,75 2347,01 4,99 15 355,00 19,34 1,19 0,07 47,24 67,84 14 244 258 01-Jul 3253,358 465,137 35075,6 75,4 6,55 2297,60 4,94 15 352,50 19,30 1,04 0,07 49,07 69,48 14 245 259 16-Jul 3253,358 517,251 38990,7 75,4 6,96 2714,18 5,25 16 379,58 20,60 1,11 0,08 54,36 76,14 14 246 260 01-Agust 3253,358 494,944 37375,8 75,5 7,39 2760,25 5,58 15 356,33 19,33 1,46 0,07 51,51 72,37 14 242 256 16-Agust 3253,358 520,931 38423,3 73,8 7,22 2774,42 5,33 16 373,41 20,30 0,93 0,08 56,81 78,11 14 241 255 01-Sep 3253,358 436,389 34105,9 78,2 7,40 2525,23 5,79 15 339,91 19,33 1,63 0,08 48,60 69,63 14 234 248 16-Sep 3253,358 459,281 33708,1 73,4 7,12 2401,22 5,23 15 353,91 20,45 1,52 0,11 47,82 69,90 14 234 248 01-Okt 3253,358 384,908 38216,4 99,3 5,92 2262,44 5,88 18 407,99 23,95 1,60 0,13 54,37 80,05 14 234 248 2003 11-Jun 3900,282 608,589 44585,3 73,3 6,51 2900,73 4,77 20 454,58 27,95 2,05 0,05 48,88 78,92 13 252 265 01-Jul 3900,282 398,228 32682,9 82,1 6,53 2133,34 5,36 15 333,50 20,74 1,64 0,04 36,83 59,23 13 242 255 16-Jul 3900,282 451,286 35975,7 79,7 6,59 2370,59 5,25 16 366,75 21,10 2,13 0,05 40,10 63,38 13 242 255 01-Agust 3900,282 461,350 34213,7 74,2 6,55 2240,01 4,86 15 351,75 18,23 0,75 0,06 38,30 57,33 13 242 255 200416-Agust 3900,282 494,519 35012,4 70,8 7,00 2449,31 4,95 16 371,50 18,50 4,75 0,11 39,99 63,34 13 248 261 01-Sep 3900,282 527,369 32272,0 61,2 7,81 2519,09 4,78 15 353,50 18,70 4,50 0,06 38,41 61,67 13 250 263
  • 110.
    94 Lanjutan Lampiran 2 16-Sep 3,442.558 481,117 15040,0 31.3 7.27 1,093.55 2.27 8 183.25 10,34 2,15 0,03 19,24 31,76 13 242 255 2004 23-Mei 3090,435 205,304 15029,8 73,2 6,65 999,80 4,87 9 195,00 113,20 0,93 0,03 18,26 132,41 13 230 243 01-Jun 3090,435 412,493 30397,9 73,7 6,63 2014,66 4,88 15 354,00 21,84 2,31 0,07 35,68 59,89 13 240 253 16-Jun 3090,435 442,980 33860,4 76,4 6,87 2326,34 5,25 15 358,50 20,61 2,36 0,07 34,79 57,83 13 236 249 01-Jul 3090,435 393,212 32140,9 81,7 7,34 2358,97 6,00 15 333,83 19,50 2,15 0,07 32,64 54,35 13 237 250 01-Agust 3328,536 403,793 30099,1 74,5 8,01 2412,25 5,97 15 322,00 19,81 1,90 0,62 31,63 53,95 13 238 251 16-Agust 3328,536 332,496 22396,6 67,4 7,94 1778,53 5,35 16 249,00 14,73 1,06 0,44 23,67 39,89 13 239 252 01-Sep 3328,536 446,886 32885,4 73,6 8,82 2899,59 6,49 15 384,50 20,53 0,18 0,65 35,07 56,43 13 230 243 16-Sep 3277,460 227,188 21981,1 96,8 8,38 1841,93 8,11 10 243,25 9,55 1,24 0,47 24,57 35,82 13 230 243 2005 25-Mei 3676,408 610,207 47828,4 78,4 6,65 3180,14 5,21 22 521,00 32,38 2,94 0,15 57,38 92,85 12 239 251 16-Jun 3676,408 368,476 27757,0 75,3 6,97 1935,31 5,25 15 309,75 20,87 2,29 0,15 39,19 62,50 12 232 244 01-Jul 3676,408 394,548 30812,8 78,1 7,51 2313,70 5,86 15 325,25 20,13 1,44 4,08 40,08 65,72 12 232 244 16-Jul 3676,408 424,454 36723,8 86,5 7,47 2742,95 6,46 16 380,50 22,28 2,99 0,19 46,76 72,22 12 234 246 01-Agust 3676,408 432,977 35004,2 80,8 7,71 2700,08 6,24 15 357,00 20,68 2,40 0,16 43,34 66,57 12 233 245 16-Agust 3676,408 425,938 35220,7 82,7 8,29 2918,08 6,85 16 361,50 21,15 2,54 0,09 44,26 68,04 12 236 248 01-Sep 3676,408 426,329 33719,3 79,1 8,53 2877,49 6,75 15 350,42 20,35 1,75 0,08 43,57 65,75 12 235 247 16-Sep 3676,408 410,775 34561,7 84,1 8,52 2945,43 7,17 15 358,00 20,68 2,10 0,09 44,12 66,99 12 238 250 01-Okt 3676,408 364,553 30341,1 83,2 8,22 2494,52 6,84 15 324,09 18,58 1,82 0,10 38,83 59,33 12 232 244 2006 11-Mei 3835,008 590,760 45372,5 76,8 7,01 3179,28 5,38 21 487,82 28,00 2,61 0,15 48,60 79,35 12 219 231 01-Jun 3835,008 435,135 33942,4 78,0 7,42 2517,20 5,78 15 360,00 20,98 2,36 0,12 38,76 62,22 12 219 231 16-Jun 3835,008 413,962 32216,7 77,8 7,68 2475,16 5,98 15 345,25 19,88 2,28 3,85 29,49 55,48 12 221 233 01-Jul 3835,008 404,626 32381,2 80,0 8,82 2857,53 7,06 15 342,50 19,71 2,28 1,10 33,86 56,93 12 223 235 16-Jul 3835,008 434,295 36719,0 84,5 8,42 3091,69 7,12 16 380,00 21,80 2,48 1,20 37,91 63,39 12 224 236 01-Agust 3835,008 399,773 33180,8 83,0 8,85 2938,12 7,35 15 344,00 19,48 2,08 0,10 34,14 55,80 12 226 238 16-Agust 3835,008 449,567 36627,6 81,5 8,71 3190,17 7,10 16 380,00 21,58 2,48 0,10 37,29 61,44 12 221 233 01-Sep 3835,008 437,828 33920,6 77,5 8,46 2869,42 6,55 15 356,00 20,28 2,20 0,11 34,33 56,92 12 219 231
  • 111.
    95 Lanjutan Lampiran 2 16-Sep 3835,008 453,697 32442,8 71,5 8,51 2760,23 6,08 15 346,30 20,05 1,54 0,09 58,60 80,28 12 219 231 01-Okt 3835,008 548,354 33041,7 60,3 7,89 2608,40 4,76 17 361,90 21,65 2,66 0,09 41,24 65,64 12 219 231 2007 3-Jun 4497,942 377,503 26698,0 70,7 6,60 1762,92 4,67 13 280,25 17,35 0,14 0,09 38,80 56,37 12 207 219 16-Jun 4497,942 460,489 33874,2 73,6 6,89 2333,90 5,07 15 338,00 21,08 3,43 0,12 31,14 55,77 12 207 219 01-Jul 4497,942 501,879 36945,5 73,6 7,25 2679,81 5,34 15 360,00 22,88 2,33 0,13 41,34 66,67 12 207 219 16-Jul 4497,942 567,296 40749,8 71,8 7,73 3148,72 5,55 16 379,50 24,57 3,12 0,14 43,57 71,39 12 209 221 01-Agust 4497,942 508,366 37617,8 74,0 8,20 3084,44 6,07 15 341,50 22,66 2,98 0,12 41,22 66,97 12 210 222 16-Agust 4497,942 557,973 41501,3 74,4 8,72 3618,03 6,48 16 379,00 25,21 3,36 0,14 46,40 75,11 12 214 226 01-Sep 4497,942 498,399 37881,7 76,0 8,96 3395,57 6,81 15 384,50 23,00 2,61 0,13 42,38 68,12 12 211 223 16-Sep 4497,942 504,201 37267,2 73,9 8,71 3245,51 6,44 15 346,25 22,95 3,05 0,12 42,15 68,26 12 211 223 Rata-rata 3637,410 444,423 33144,7 75,8 7,50 2510,22 5,69 15 349,77 22,11 2,01 0,29 40,62 65,03 13 228 241 Sumber : PG Pagottan, 2008
  • 112.
    96 Lampiran 3 PertumbuhanProduksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 Luas Jumlah Jumlah Lama Jam Bahan Tenaga Tahun Rendemen Lahan Tebu Hablur Giling Mesin Pembantu Kerja 2001 -2,49 -4,65 0,40 -3,69 -6,32 -5,33 -5,66 -5,77 2002 12,32 16,34 -1,49 14,43 13,54 2,30 2,15 2,17 2003 -2,32 -13,40 2,03 -10,87 -11,81 -9,41 -7,76 -6,29 2004 9,62 12,90 3,50 17,27 4,82 9,63 -2,55 -0,30 2005 -4,92 -3,73 2,76 -1,11 -3,87 0,96 0,56 0,58 2006 0,03 -2,84 1,52 -1,62 -1,60 0,94 0,75 0,79 2007 4,84 5,51 4,08 9,91 2,32 3,57 1,85 2,27 Rata- 2,44 1,45 1,83 3,48 -0,42 0,38 -1,52 -0,93 rata Sumber : PG Pagottan, 2008 (diolah)
  • 113.
    97 Lampiran 4 PerkembanganLuas Areal, Produktivitas Tebu, Rendemen, dan Produksi Gula PG Pagottan Tahun 2001-2007 Produksi(ton) Hablur (ton) Kategori Luas (ha) Rendemen /ha jumlah /ha jumlah 2001 Tebu Sendiri 2287,995 66,9 105068,6 7,18 4,80 10768,30 Tebu Rakyat 678,709 89,5 91528,2 7,26 6,50 6551,30 2002 Tebu Sendiri 1747,954 69,5 121549,7 7,20 5,00 8748,50 Tebu Rakyat 2132,260 84,7 180624,1 6,67 5,70 12047,60 2003 Tebu Sendiri 1926,129 63,3 122486,8 7,12 4,52 8715,20 Tebu Rakyat 1496,332 71,7 107295,2 6,52 4,67 6991,40 2004 Tebu Sendiri 1971,876 69,5 137089,1 8,13 5,65 11146,98 Tebu Rakyat 1305,584 88,7 115798,6 6,92 6,14 8014,00 2005 Tebu Sendiri 2401,408 77,8 186777,0 8,36 6,50 15608,94 Tebu Rakyat 1820,364 86,0 156590,8 6,88 5,92 10771,16 2006 Tebu Sendiri 2424,708 71,3 173000,5 8,97 6,40 15514,25 Tebu Rakyat 1934,177 84,1 162632,8 7,13 6,00 11603,56 2007 Tebu Sendiri 2390,142 76,4 182827,8 8,86 6,76 16166,60 Tebu Rakyat 3318,597 68,5 227268,7 7,23 4,95 16432,70 Sumber : PG Pagottan, 2008
  • 114.
    98 Lampiran 5 HasilAnalisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi Residual Plots for PG Regression Analysis: PG versus JT; RND; JM; TKT; TKM; BP; LMG The regression equation is PG = 2,60 + 0,0555 JT + 0,999 RND + 1,13 JM + 0,330 TKT - 0797 TKM - 0,029 BP 0,084 LMG Predictor Coef SE Coef T P VIF Constant 2,599 1,073 2,42 0,019 JT 0,05546 0,02550 2,18 0,016 3,0 RND 0,99897 0,07957 12,55 0,000 1,5 JM 1,1267 0,1085 10,38 0,000 9,7 TKT 0,3298 0,1664 1,98 0,220 4,1 TKM -0,7969 0,2201 -3,62 0,031 4,0 BP -0,02909 0,03575 -0,81 0,591 1,6 LMG -0,0840 0,1166 2,39 0,024 10,0 S = 0,0547209 R-Sq = 96,2% R-Sq(adj) = 95,7% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 7 3,90974 0,55853 214,85 0,000 Residual Error 51 0,15271 0,00299 Total 58 4,06246 Durbin-Watson statistic = 2,11653
  • 115.
    99 Lampiran 6 HasilAnalisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS Regression Analysis: PG versus JT; RND; JM; TTK; BP The regression equation is PG = 2,841 + 0,0664 JT + 1,01 RND 0,239 TTK + 1,03 JM 0,015 BP Predictor Coef SE Coef T P VIF Constant 2,841 1,014 2,80 0,007 JT 0,06636 0,02616 2,54 0,014 2,7 RND 1,01122 0,08433 11,99 0,000 1,5 JM 1,03082 0,06121 16,84 0,000 2,7 TTK -0,2386 0,1062 -2,25 0,029 1,4 BP -0,01543 0,03820 -0,40 0,688 1,6 S = 0,0552418 R-Sq = 96,0% R-Sq(adj) = 95,6% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 5 3,90072 0,78014 255,65 0,000 Residual Error 53 0,16174 0,00305 Total 58 4,06246 Durbin-Watson statistic = 1,983035
  • 116.
    100 Lampiran 7 HasilVisual Uji Normalitas Analisis Regresi Tujuh Faktor Produksi Normal Probability Plot of the Residuals (response is PG) 99,9 99 95 90 80 70 Percent 60 50 40 30 20 10 5 1 0,1 -0,0010 -0,0005 0,0000 0,0005 0,0010 Residual
  • 117.
    101 Lampiran 8 HasilVisual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi Residuals Versus the Fitted Values (response is PG) 0,00075 0,00050 0,00025 Residual 0,00000 -0,00025 -0,00050 7,00 7,25 7,50 7,75 8,00 8,25 Fitted Value
  • 118.
    102 Lampiran 9 HasilVisual Uji Normalitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS Normal Probability Plot of the Residuals (response is PG) 99,9 99 95 90 80 70 Percent 60 50 40 30 20 10 5 1 0,1 -0,0010 -0,0005 0,0000 0,0005 0,0010 Residual
  • 119.
    103 Lampiran 10 HasilVisual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS Residuals Versus the Fitted Values (response is PG) 0,00075 0,00050 0,00025 Residual 0,00000 -0,00025 -0,00050 7,00 7,25 7,50 7,75 8,00 8,25 Fitted Value