DepartemenIlmuKesehatanKulitdanKelaminFKUNPAD/
RSDr.HasanSadikinBandung/
KelompokStudiInfeksiMenularSeksualIndonesia
Pati Aji Achdiat
(Refreshment) Tatalaksana Penyakit Infeksi Menular Seksual
Tujuan
1. Menjelaskan duh tubuh
2. Menjelaskan ulkus genital
3. Menjelaskan vegetasi
Pedoman di Indonesia
1.DuhTubuh
1.DuhTubuh
1. DuhTubuh A. Duhtubuhpada Wanita (vagina)
Normal Vulvovaginitis
Kandidiasis
Trikomoniasis Vaginosis
Bakterialis
Etiologi Lactobacillus C. albicans T. vaginalis
G. vaginalis, M.
hominis,
Mobiluncus sp.
Gejala Tidak ada
Pruritus vulva
dan/atau iritasi,
keputihan
Pruritus vulva,
keputihan
Bau tak sedap
pada vagina,
keputihan
Keputihan
- Jumlah Bervariasi (biasanya
sedikit)
Sedikit- sedang Banyak Sedikit- sedang
- Warna Jernih / putih Putih atau kuning Kuning Biasanya putih
- Konsistensi
Tidak homogen,
berflokuasi
Menggumpal,
melekat Homogen
Homogen,
viskositas rendah
Vaginitis:
Servisitis
Servisitis gonore Servisitis non-gonore
Etiologi Neisseria gonorrhoeae Chlamydia trachomatis
Masa Inkubasi 2–5 hari 1–5 minggu
Gejala
50% tanpa gejala, keputihan,
perdarahan vagina 70% tanpa gejala, keputihan
Kondisi Serviks
Eritema, mudah berdarah,
cairan purulen, dapat tampak
normal
Eritema, mudah berdarah,
serviks ektopik, cairan
purulen (37%)
Manajemen IMS
Pendekatan klinis:
• Cepat, murah,
infrastruktur↓
• Kurang akurat,
• Infeksi multipel
tidak terdeteksi,
• Under/over
treatment
Pendekatan etiologi:
• Biaya↑
• Pemeriksaan
laboratorium
kompleks
• Petugas
berpengalaman
• Quality insurrance
• Infrastruktur
Pendekatan Sindrom:
• Tidak mahal,
terstandar, mudah
• Overtreatment
• Tidak spesifik
• Pemborosan
antibiotik
• Penurunan
kemampuan
petugas kesehatan
• Surveilance↓
Manajemen IMS
Pendekatan klinis:
• Cepat, murah,
infrastruktur↓
• Kurang akurat,
• Infeksi multipel
tidak terdeteksi,
• Under/over
treatment
Pendekatan etiologi:
• Biaya↑
• Pemeriksaan
laboratorium
kompleks
• Petugas
berpengalaman
• Quality insurrance
• Infrastruktur
Pendekatan Sindrom:
• Tidak mahal,
terstandar, mudah
• Overtreatment
• Tidak spesifik
• Pemborosan
antibiotik
• Penurunan
kemampuan
petugas kesehatan
• Surveilance↓
Duh Tubuh Vagina
Pendekatan Sindrom
Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Posisi litotomi
Duh Tubuh Vagina
Pendekatan Inspekulo
Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Duh Tubuh Vagina
Pendekatan Inspekulo
Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Cara insersi spekulum
Insersi spekulum dengan sudut
mengarah ke sakrum
 buka spekulum untuk
pemeriksaan serviks
Duh Tubuh Vagina
Pendekatan Sindrom
Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Duh Tubuh Vagina
Pendekatan Pemeriksaan
Mikroskopis
Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Pasien yang memiliki infeksi gonore dan HIV
harus mendapatkan regimen terapi yang
sama seperti pada pasien tanpa HIV.
Tatalaksana
Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Pasien yang memiliki infeksi gonore dan HIV
harus mendapatkan regimen terapi yang
sama seperti pada pasien tanpa HIV.
Tatalaksana
1. DuhTubuh B. Duhtubuhpada pria
Uretritis Gonore Uretritis non-gonore
Etiologi Neisseria gonorrhoeae C. trachomatis, M. genitalium, T.
vaginalis, U. urealyticum, dan HSV.
Masa
inkubasi
1-14 hari atau
lebih, rerata 2-5 hari.
Masa inkubasi 1-5 minggu
Gambaran
klinis
Duh tubuh mukopurulen > 80%
tampak lebih kental, kemudian
berubah menjadi purulen
Duh tubuh mukoid hingga purulen,
sering pada pagi hari (morning
drops), atau terdapat bercak di
celana dalam
Dapat disertai dengan eritema dan
edema pada meatus uretra
Disuria >50% Disuria (tidak separah gonore
10% asimtomatik 50% asimtomatik
B. Duh tubuh pada pria
Duh Tubuh Uretra
Laki-Laki Pendekatan
Sindrom
Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Duh Tubuh Uretra Laki-laki
Pendekatan Pemeriksaan Mikroskopis
Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Pasien yang memiliki infeksi gonore dan HIV
harus mendapatkan regimen terapi yang
sama seperti pada pasien tanpa HIV.
Tatalaksana
2.UlkusGenital
2.UlkusGenital
2.UlkusGenital
19-39% 32-35%
Syphilis primer
T. pallidum
Genital herpes
HSV 1&2
Chanroid
H. ducreyi
20-60%
2.UlkusGenital
A.Sifilis
2.UlkusGenital
a. Sifilis Dini < 1 tahun
i. Sifilis stadium primer
ii. Sifilis stadium sekunder
iii. Sifilis laten dini
b. Sifilis Lanjut > 1tahun
i. Sifilis laten lanjut
ii. Sifilis tersier: gumma, neurosifilis lanjut, sifilis
kardiovaskular
Stadium Klinis Sifilis Akuisita
Sifilis Stadium Primer
(3-4 minggu setelah infeksi)
• Objektif:
Papula 0,5–1,5cm “ulkus durum” 1–2 cm, soliter, bulat/ lonjong,
tidak nyeri, dasar bersih, batas tegas, indurasi.
• Lokasi: genital, anus, sekitar rongga mulut (faring), serviks, atau
rektum.
• Subjektif: tidak nyeri.
• Sangat infeksius
• Dapat hilang spontan
• Limfadenopati: inguinal, bilateral, tidak nyeri
Sifilis Stadium Primer (3-4 minggu setelah infeksi)
Sifilis Stadium Sekunder (4-8 minggu setelah infeksi)
• SUBJEKTIF: Tidak nyeri, TIDAK GATAL
• LOKASI DAN OBJEKTIF
o Sebagian besar tubuh (telapak tangan dan kaki): ruam kulit makulopapular cokelat kemerahan (70%),
pseudovesikular, likenoid, papuloskuamosa, korimbiformis.
o Area lembab/lipatan: kondiloma lata: lesi hipertropik >> T. pallidum sangat menular
o Kulit kepala: mouth-eaten alopecia/ patchy alopecia.
o Mukosa mulut: mucous patches, ulkus dangkal.
o HIV: Sifilis maligna: ulkus datar berkrusta.
o Lesi S-1 dan S-2 dapat terlihat dalam waktu yang sama
o Lesi menyembuh spontan
• LIMFADENOPATI: generalisata, bilateral, simetris.
• GEJALA SISTEMIK: Dapat disertai gejala mirip flu seperti demam dan malaise.
SifilisStadiumSekunder (4-8 minggu setelah infeksi)
SifilisStadiumSekunder (4-8 minggu setelah infeksi)
SifilisStadiumSekunder (4-8 minggu setelah infeksi)
Lesi Psoriasiform Sifilis Maligna
Sifilis Laten Dini:
Asimtomatik <1 tahun dan tes serologis sifilis treponemal dan
nontreponemal reaktif
Sifilis Laten Lanjut:
Asimtomatik >1 tahun dan tes serologis sifilis treponemal
dan nontreponemal reaktif.
SIFILIS LANJUT > 1TAHUN
Sifilistersier
• Gumma (1–46 tahun):
Destruksi jaringan di organ dan lokasi yang terinfeksi. Lesi pada kulit atau mukosa
dapat berupa nodul atau nodular ulseratif.
• Sifilis kardiovaskuler (10–30 tahun):
Aneurisma aorta, insufisiensi aorta, regurgitasi aorta, stenosis osteum, miokarditis,
aortitis.
• Neurosifilis lanjut.
Menular melalui
hubungan seksual atau
transmisi ibu ke anak
Menular melalui
transmisi ibu ke anak
Tidak menular
Sifilis kardiovaskular
(10%)
Awitan 20-30 tahun
Pascainfeksi
Guma
(15%)
Awitan 1-46 tahun
Pascainfeksi
Sifilis Tersier
Pajanan
Sifilis Primer
Pembentukan Chancre
Sifilis laten dini
(Asimptomatis)
≤ 1 tahun pascainfeksi
Sifilis laten lanjut
(Asimptomatis)
> 1 tahun pascainfeksi
Inkubasi primer
(10-90 hari setelah pajanan)
Inkubasi Sekunder
4-10 minggu setelah
Adanya chancre
Sifilis Sekunder
Neurosifilis dini
Invasi CNS
(25%-60%)
Asimptomatis
Simptomatis
(5%)
Meningitis
Penyakit
Meningo
Vaskular
Neurosifilis lanjut
Paresis Tabes Dorsalis
(2%-5%)
(2-9%)
Awitan 2-30 tahun Awitan 3-50 tahun
pascainfeksi
pasceinfeksi
Sifilis Tersier
25%
Sifilis
Kongenita
l
P E R J A L A N A N
S I F I L I S T
A N P A T E R A P I
.
J of Clin Invest. 2011;121(12):4584-92.
a. Sifilis Kongenital Dini < 2 tahun
b. Sifilis Kongenital Lanjut > 2 tahun
Stadium Klinis Sifilis Kongenital
• 70% asimtomatis.
• Manifestasi klinis paling umum terdiri atas lesi makulopapul kecil berwarna merah tembaga terutama pada
tangan dan kaki.
• Rinitis, kondiloma lata daerah perioral dan perineum yang berlanjut menjadi fisura menghasilkan jaringan
parut halus (rhagades).
• Gangguan tulang: Periostitis, osteokondritis, dan pseudoparalisis Parrot.
• Sindroma nefrotik, anemia, hepatosplenomegali, neurosifilis, korioretinitis, uveitis.
a. Sifilis Kongenital Dini < 2 tahun
a. Sifilis Kongenital Dini < 2
tahun
Stafford IA, Workowski KA, Bachmann LH. Syphilis Complicating Pregnancy
and Congenital Syphilis. N Engl J Med. 2024 Jan 18;390(3):242-253. doi:
10.1056/NEJMra2202762. PMID: 38231625; PMCID: PMC11804940.
a. Sifilis Kongenital Dini < 2 tahun
Rinitis
Rhagades
Limfadenopati Cluttonjoint
Indian J Sex
Transm
Dis.2013;34:35(7)
Case Rep Pediatr.
2012:1-4cc
Stafford IA, Workowski KA, Bachmann LH. Syphilis
Complicating Pregnancy and Congenital Syphilis. N Engl J
Med. 2024 Jan 18;390(3):242-253. doi:
10.1056/NEJMra2202762. PMID: 38231625; PMCID:
PMC11804940.
• Saddle nose,
• Frontal bossing,
• Shaber shin,
• Trias Hutchinson
1. keratitis interstisial,
2. Gigi Hutchinson,
3. Tuli saraf ke delapan,
a. Sifilis Kongenital Lanjut > 2 tahun
• Mulberry molars,
• Limfadenopati,
• Hepatosplenomegali,
• Kerusakan tulang,
• Anemia,
• Neurosifilis
a. Sifilis Kongenital Lanjut > 2 tahun
Hutchinson
teeth
Interstiti
al
keratitis
Sensoryneural
deaffnes
Trias
Hutchinso
n
Saber
shins
Saddle nose &
perforating
palate
Case Rep Pediatr. 2012:1-
PemeriksaanPenunjang
a. PCR
b. Pemeriksaan Lapangan Gelap
a. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung
a. Tes serologis Treponemal
b. Tes serologis Non Treponemal
a. Pemeriksaan Penunjang Langsung
a. Deteksi molekular menggunakan pemeriksaan polymerase chain
reaction (PCR) yang dapat mendeteksi T. pallidum pada lesi.
b. Pemeriksaan lapangan gelap dengan spesimen berasal dari lesi ulkus
atau kulit yang erosi.
a. Pemeriksaan Penunjang Langsung
a. Tes Serologis Sifilis Treponema
- Treponema pallidum Haemaglutination Assay (TPHA), Treponema pallidum
Rapid (TP-Rapid), Treponema pallidum Particle Aglutination Assay (TP-PA),
atau Flourescent Treponemal Antibody Absorption (FTA-ABS).
- Mulai terdeteksi 14 hari setelah terinfeksi.
- Evaluasi keberhasilan terapi
b. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung
a. Tes Serologis Sifilis Treponema
- Treponema pallidum Haemaglutination Assay (TPHA), Treponema pallidum
Rapid (TP-Rapid), Treponema pallidum Particle Aglutination Assay (TP-PA),
atau Flourescent Treponemal Antibody Absorption (FTA-ABS).
- Mulai terdeteksi 14 hari setelah terinfeksi.
- Tidak akan non-reaktif konfirmasievaluasi keberhasilan terapi
- Hasil positif treponema: frambusia (T. pallidum subsp. pertenue)
b. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung
b. Tes serologis sifilis nontreponemal
- Rapid Plasma Reagen (RPR) atau Venereal Disease Research
Laboratory (VDRL).
- Mulai terdeteksi 4 minggu setelah terinfeksi.
-Titer menurun setelah terapi  nonreaktif,
serofast (menetap rendah ≤1:8
dalam 1–2 tahun sifilis dini).
- Digunakan untuk evaluasi keberhasilan terapi.
b. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung
IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis
A. TPHA/TP-Rapid reaktif, dan VDRL/RPR reaktif
B. TPHA/TP-Rapid non-reaktif, VDRL/RPR non-reaktif
C. TPHA/TP-Rapid reaktif, dan VdanDRL/RPR non-reaktif
D. TPHA/TP-Rapid non-reaktif, dan VDRL/RPR reaktif
IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis
• Sifilis yang belum diobati, atau
• Sifilis yang sudah diterapi, serofast
• Frambusia
A. TPHA/TP-Rapid reaktif, dan VDRL/RPR reaktif
IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis
B. TPHA/TP-Rapid non-reaktif, dan VDRL/RPR non-reaktif :
• Bukan sifilis.
• Masa inkubasi (belum serokonversi).
IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis
C. TPHA/TP-Rapid reaktif, dan VDRL/RPR non-reaktif :
• Sifilis yang sudah diobati dan sembuh, atau
• Sifilis primer dini (belum serokonversi), atau
• Sifilis laten lanjut/sifilis tersier yang belum diobati, atau
• Konsentrasi antibodi non treponemal >>>tinggi Prozone effect
• Frambusia
IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis
D. TPHA/TP-Rapid non-reaktif, dan VDRL/RPR reaktif :
Tes nontreponemal positif palsu
Titer ≤1:4
IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis
D. TPHA/TP-Rapid non-reaktif, dan VDRL/RPR reaktif :
Tes nontreponemal positif palsu
Titer ≤1:4
Akut <6 bulan:
Infeksi lain (malaria, cacar air, hepatitis,
atau morbili), setelah pemberian
vaksinasi/imunisasi, kehamilan.
IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis
D. TPHA/TP-Rapid non-reaktif, dan VDRL/RPR reaktif :
Tes nontreponemal positif palsu
Titer ≤1:4
Akut <6 bulan:
Infeksi lain (malaria, cacar air, hepatitis,
atau morbili), setelah pemberian
vaksinasi/imunisasi, kehamilan.
Kronis >6 bulan:
Usia tua, penyakit jaringan ikat,
keganasan, infeksi kronis pada lepra,
penyalahgunaan obat intravena, lupus
eritematosus sistemik, reumatoid artritis,
dan kelainan autoimun lainnya.
1. Neurosifilis: asimptomatik, Sakit kepala, kaku kuduk, kelumpuhan
2. Sifilis okular: Mata kemerahan, fotofobia, nyeri pada mata, gangguan
penglihatan, gangguan pergerakan bola mata, dan gangguan lapang
pandang.
3. Sifilis otikus: Gangguan pendengaran dan suara berdenging.
Sp DVE Subsp Ven.
Sp Neurologi Sp Mata Sp THT-KL
Komplikasi
1. Neurosifilis: asimptomatik:
 Pasien sifilis disertai infeksi HIV terutama dengan nilai CD4≤ 350
sel/mm3
, atau titer nontreponemal ≥1/32.
 Gagal terapi.
 Sifilis lanjut yang mendapatkan terapi alternatif (bukan golongan
penisilin).
Sp DVE Subsp Ven.
Sp Neurologi Sp Mata Sp THT-KL
Komplikasi
Terapi Edukasi
Tatalaksana
Pasangan Seksual
Tatalaksana
SifilisAkuisita Dini
LINI PERTAMA:
Benzatin benzilpenisilin G 2,4 juta IU,
injeksi intramuskular, dosis tunggal,
disuntikan pada tiap sisi bokong sebanyak
1,2 juta IU.
Lakukan uji penisilin terlebih dulu.
Observasi 30 menit setelah injeksi penisilin.
LINI KEDUA:
Penisilin-prokain 600.000 U/hari, injeksi
intramuskular selama 10–14 hari
ALERGI PENISILIN:
Hamil:
Desensitisasi penisilin, apabila tidak
memungkinkan:
Eritromisin 500mg 4x/hari selama 14 hari.
Saat bayi dilahirkan, perlu diberikan terapi
sifilis kongenital, ATAU
Seftriakson 1 gram IV, 1x/hari selama 10
hari
Eritromisin dan azitromisin tidak menembus
sawar plasenta, saat bayinya dilahirkan
diterapi sifilis kongenital
Terapi
Terapi Sifilis Akuisita Lanjut
LINI PERTAMA:
Benzatin benzilpenisilin G 2,4 juta IU,
injeksi intramuskular 1x/minggu, 3 minggu,
interval maksimal 14 hari.
LINI KEDUA:
Penisilin-prokain 600.000 U/hari, injeksi
intramuskular selama 17–21 hari.
ALERGI PENISILIN:
Hamil:
Eritromisin 500mg 4x/hari selama 30 hari.
Saat bayi dilahirkan, perlu diberikan terapi
sifilis kongenital
Tidak Hamil:
Doksisiklin 100 mg 2x/hari, peroral, selama
21–28 hari
Terapi Sifilis Akuisita Lanjut
LINI PERTAMA:
Benzatin benzilpenisilin G 2,4 juta IU,
injeksi intramuskular 1x/minggu, 3 minggu,
interval maksimal 14 hari.
LINI KEDUA:
Penisilin-prokain 600.000 U/hari, injeksi
intramuskular selama 17–21 hari.
ALERGI PENISILIN:
Hamil:
Eritromisin 500mg 4x/hari selama 30 hari.
Saat bayi dilahirkan, perlu diberikan terapi
sifilis kongenital
Pengobatan adekuat >4 minggu dari
persalinan.
Keterlambatan per minggu, risiko↑ 125%
Umur kehamilan ≥28 minggu, risiko↑ 2x
lipat
Terapi SifilisAkuisita Lanjut
Pasien sifilis disertai infeksi HIV diberikan terapi yang sama dengan
pasien sifilis tanpa infeksi HIV
Reaksi Jarish-Herxheimer
4–6 jam sesudah terapi
Menggigil, demam, nyeri sendi, nyeri kepala.
menghilang perlahan selama 24 jam.
Terapi SifilisAkuisita Lanjut
: Follow-Up
• Lakukan monitoring kepatuhan pengobatan baik injeksi maupun peroral.
• Penilaian klinis dan serologis (VDRL/RPR) bulan ke-1, 3, 6, 9, 12, 18, dan
24.
• Terapi BERHASIL: penurunan titer VDRL/RPR ≥4x titer dari sebelum
terapi.
• Penurunan titer sifilis dini  6–12 bulan pada sifilis dini, sifilis lanjut 12–
24 bulan.
• Penurunan titer diamati sampai non-reaktif atau serofast.
Terapi SifilisAkuisita Lanjut
: Follow-Up
• Terapi dikatakan GAGAL bila:
o Sifilis primer dan sekunder:
 Tidak terjadi penurunan titer VDRL/RPR ≥4x dibandingkan titer sebelum terapi
pada sifilis dini, atau
 Titer meningkat ≥4x sejak terapi (menetap >2 minggu)
 Keluhan/gejala menetap/rekuren.
o Sifilis laten dini dan lanjut:
 Ditemukan keluhan dan gejala klinis sifilis
 Titer tidak menurun 4x dalam 12 – 24 bulan, atau
 Titer meningkat ≥4 kali sejak terapi diberikan (menetap lebih dari dua minggu)
Terapi SifilisAkuisita Lanjut
: Follow-Up
• Pada kasus gagal terapi, rujuk subspesialis venereologi untuk evaluasi kemungkinan
faktor-faktor penyebab:
- Reinfeksi,
- Gagal terapi:
O Kepatuhan pengobatan,
O Regimen non-penisilin, atau
O Neurosifilis asimtomatik.
•
Terapi Sifilis Akuisita Lanjut
Kongenital
Pengobatan sifilis kongenital diberikan pada kondisi:
1) Terkonfirmasi sifilis kongenital secara klinis;
2) Secara klinis normal, tetapi ibu belum mendapat pengobatan sifilis;
3) Baru mendapatkan terapi benzatin penisilin <30 hari dari waktu persalinan;
atau
4) Sebelumnya mendapatkan regimen non-penisilin.
Terapi Sifilis Akuisita Lanjut
Kongenital
• Aqueous benzyl penicillin 100.000–150.000 units (IU)/kg berat
badan/hari, intravena selama 10–15 hari.
• Penisilin prokain 50.000 U/kg berat badan/hari intramuskular
selama 10–15 hari.
Terapi SifilisKongenital
Pada bayi yang secara klinis normal dengan ibu yang telah
mendapat terapi sifilis adekuat tanpa tanda-tanda reinfeksi:
• Lakukan pemantauan ketat terhadap bayi.
• Jika diperlukan terapi, dapat diberikan Benzatin penisilin G
50.000 U/kg berat badan/hari, intramuskular dosis tunggal.
B. HerpesGenital
2.UlkusGenital
•Herpes genital merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang umum
•Ditandai oleh lesi vesikular multipel yang berkelompok di atas dasar eritematosa
• Disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) tipe 1 dan 2, dengan HSV tipe 2
bertanggung jawab atas sekitar 90% kasus
•Penularan terjadi melalui proses viral shedding (pelepasan virus dari mukosa/lesi,
meskipun tanpa gejala)
•Antibodi tidak mampu mencegah rekurensi mengurangi derajat keparahan saat
rekurensi
•Disfungsi atau defisiensi imunitas seluler (cell-mediated immunity/CMI)manifestasi
klinis yang berat, berkepanjangan, dan sering kambuh
•Herpes genital merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang umum
•Ditandai oleh lesi vesikular multipel yang berkelompok di atas dasar eritematosa
• Disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) tipe 1 dan 2, dengan HSV tipe 2
bertanggung jawab atas sekitar 90% kasus
•Penularan terjadi melalui proses viral shedding (pelepasan virus dari mukosa/lesi,
meskipun tanpa gejala)
•Antibodi tidak mampu mencegah rekurensi mengurangi derajat keparahan saat
rekurensi
•Disfungsi atau defisiensi imunitas seluler (cell-mediated immunity/CMI)manifestasi
klinis yang berat, berkepanjangan, dan sering kambuh
MANIFESTASI KLINIS
•Masa inkubasi: ±1 minggu (rentang 2–12 hari)
•Lesi primer:
•Vesikel multipel, nyeri, terpisah, pada dasar eritematosa
•Berkembang menjadi:
•Pustula
•Erosi
•Ulkus
•Krusta berupa plak keabu-abuan
•Gejala sistemik (misalnya demam, malais, limfadenopati) sering ditemukan
•Lesi baru dapat terus muncul hingga hari ke-10
•Reepitelisasi terjadi dalam 15–20 hari
•Pelepasan virus (viral shedding) berlangsung selama 10–12 hari
MANIFESTASI KLINIS
Episode pertama
primer
Episode pertama
non primer
Rekuren Asimtomatik
Riwayat herpes
sebelumnya
Tidak ada Tidak ada ada Ada
Tingkat keparahan Paling berat Berat Ringan-berat Tidak bergejala
Pemeriksaan
Serologis IgG-IGM
HSV-1/2
negatif positif positif positif
MANIFESTASI KLINIS EPISODE PERTAMA PRIMER
•Masa inkubasi: ±1 minggu (rentang 2–12 hari)
•Lesi primer:
•Vesikel multipel, nyeri, terpisah, pada dasar eritematosa
•Berkembang menjadi:
•Pustula
•Erosi
•Ulkus
•Krusta berupa plak keabu-abuan
•Gejala sistemik (misalnya demam, malais, limfadenopati) sering ditemukan
•Lesi baru dapat terus muncul hingga hari ke-10
•Reepitelisasi terjadi dalam 15–20 hari
•Pelepasan virus (viral shedding) berlangsung selama 10–12 hari
MANIFESTASI KLINIS EPISODE PERTAMA PRIMER
•Masa inkubasi: ±1 minggu (rentang 2–12 hari)
•Lesi primer:
•Vesikel multipel, nyeri, terpisah, pada dasar eritematosa
•Berkembang menjadi:
•Pustula
•Erosi
•Ulkus
•Krusta berupa plak keabu-abuan
•Gejala sistemik (misalnya demam, malais, limfadenopati) sering ditemukan
•Lesi baru dapat terus muncul hingga hari ke-10
•Reepitelisasi terjadi dalam 15–20 hari
•Pelepasan virus (viral shedding) berlangsung selama 10–12 hari
MANIFESTASI KLINIS EPISODE PERTAMA PRIMER
Lokasi
Laki-laki:
•Glans penis, sulkus koronal, uretra
•Batang penis, regio perineum
•Jarang: skrotum, area mons pubis, paha, bokong
Perempuan:
•Introitus vagina, meatus urinarius, labia, serviks (70%)
•Kurang sering: perineum, regio perineum, paha, bokong
Komplikasi
•Komplikasi neurologis (13–35%)
• Meningitis aseptik
• Mielitis transversa
• Radikulitis sakral → retensi urin
MANIFESTASI KLINIS REKUREN
• Episode berulang
• Faktor pencetus: stres, kelelahan, menstruasi
• Gejala dan tanda lebih ringan dibanding infeksi primer
• Pelepasan virus tanpa gejala (asimptomatik) → dapat menyebabkan
ketidaknyamanan berat pada pasangan
• Gejala prodromal: rasa gatal, terbakar, kesemutan, disuria
• Prodrom yang tidak berkembang (aborted prodrome) tetapi tetap dapat
menimbulkan nyeri
• Vesikel berkelompok pada dasar eritematosa
• Reepitelisasi sekitar ±10 hari
• Pelepasan virus (viral shedding) sekitar ±4 hari
• Frekuensi rekurensi: 5–8 kali per tahun
• Tingkat kekambuhan HSV-2 lebih tinggi dibanding HSV-1
MANIFESTASI KLINIS REKUREN
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Sens
(%)
Spec (%)
HSV
1
91-96 96-100
HSV
2
92-95 96-97
ELISA
Seroconversion IgM HSV
- 6 weeks after infection
- decline 12 week
Seroconversion IgG HSV
- 10 weeks afterion infection
- rective for live
3.Vegetasi
A.KutilAnogenital
3.Vegetasi
A.KutilAnogenital
3.Vegetasi
A.KutilAnogenital
3.Vegetasi
Manifestasi klnis AGWs
A. Kondiloma akuminata
B. Papular
C. Keratotik
D. Flat-topped
A.KutilAnogenital
3.Vegetasi
A.KutilAnogenital
3.Vegetasi
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
Molluscum contagiosum is a common benign
cutaneous infection with associated signs isolated
to the skin
Cause by Molluscipoxvirus (MCV)
a large, brick-shaped double-stranded
DNA poxvirus with genomic similarities to
other poxviruses
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
Molluscum contagiosum is a common benign
cutaneous infection with associated signs isolated
to the skin
Cause by Molluscipoxvirus (MCV)
a large, brick-shaped double-stranded
DNA poxvirus with genomic similarities to
other poxviruses
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
The flesh-colored papules are:
smooth, firm, and dome-shaped,
with a highly characteristic
central umbilication
with caseous material
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
B. MoluskumKontagiosum
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
Jenis Tindakan Metode
Destruksi Fisik
- Kuretase
- Krioterapi
- Laser CO₂
- Laser pulsed-dye
- Elektrodesikasi
Destruksi Kimia
- Perak nitrat
- Asam trikloroasetat
- Fenol
- Kantaridin
- Kalium hidroksida (KOH)
Tatalaksana:wait and see, Destruksi untuk Mengangkat Sel Epidermis yang Terinfeksi
TERIM A KA SIH
Soal
Seorang perempuan, 21 tahun, datang dengan
keluhan keputihan sejak 1 minggu yang lalu.
Pasien bekerja sebagai SPG. Pasien
menyangkal riwayat hubungan seksual
berisiko.
Pertanyaan
4. Apakah terapi yang tepat untuk pasien ini?
A. Terapi kandidiasis vulvovaginalis
B. Terapi bakterial vaginosis
C. Terapi kandidiasis vulvovaginalis dan bakterial
vaginosis
D. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial
vaginosis, dan trikomoniasis
E. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial
vaginosis, trikomoniasis, servisistis gonore, dan
servisitis nongonore
Pertanyaan
Pada pasien dilakukan pemeriksaan menggunakan
spekulum
terapi yang tepat untuk pasien ini?
A. Terapi kandidiasis vulvovaginalis
B. Terapi bakterial vaginosis
C. Terapi kandidiasis vulvovaginalis dan bakterial
vaginosis
D. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial
vaginosis, dan trikomoniasis
E. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial
vaginosis, trikomoniasis, servisistis gonore, dan
servisitis nongonore

Tatalaksana Infeksi Menular Seksual Mei 2025.pptx

  • 1.
  • 2.
    Tujuan 1. Menjelaskan duhtubuh 2. Menjelaskan ulkus genital 3. Menjelaskan vegetasi
  • 3.
  • 4.
  • 5.
  • 6.
    1. DuhTubuh A.Duhtubuhpada Wanita (vagina)
  • 9.
    Normal Vulvovaginitis Kandidiasis Trikomoniasis Vaginosis Bakterialis EtiologiLactobacillus C. albicans T. vaginalis G. vaginalis, M. hominis, Mobiluncus sp. Gejala Tidak ada Pruritus vulva dan/atau iritasi, keputihan Pruritus vulva, keputihan Bau tak sedap pada vagina, keputihan Keputihan - Jumlah Bervariasi (biasanya sedikit) Sedikit- sedang Banyak Sedikit- sedang - Warna Jernih / putih Putih atau kuning Kuning Biasanya putih - Konsistensi Tidak homogen, berflokuasi Menggumpal, melekat Homogen Homogen, viskositas rendah Vaginitis:
  • 10.
    Servisitis Servisitis gonore Servisitisnon-gonore Etiologi Neisseria gonorrhoeae Chlamydia trachomatis Masa Inkubasi 2–5 hari 1–5 minggu Gejala 50% tanpa gejala, keputihan, perdarahan vagina 70% tanpa gejala, keputihan Kondisi Serviks Eritema, mudah berdarah, cairan purulen, dapat tampak normal Eritema, mudah berdarah, serviks ektopik, cairan purulen (37%)
  • 11.
    Manajemen IMS Pendekatan klinis: •Cepat, murah, infrastruktur↓ • Kurang akurat, • Infeksi multipel tidak terdeteksi, • Under/over treatment Pendekatan etiologi: • Biaya↑ • Pemeriksaan laboratorium kompleks • Petugas berpengalaman • Quality insurrance • Infrastruktur Pendekatan Sindrom: • Tidak mahal, terstandar, mudah • Overtreatment • Tidak spesifik • Pemborosan antibiotik • Penurunan kemampuan petugas kesehatan • Surveilance↓
  • 12.
    Manajemen IMS Pendekatan klinis: •Cepat, murah, infrastruktur↓ • Kurang akurat, • Infeksi multipel tidak terdeteksi, • Under/over treatment Pendekatan etiologi: • Biaya↑ • Pemeriksaan laboratorium kompleks • Petugas berpengalaman • Quality insurrance • Infrastruktur Pendekatan Sindrom: • Tidak mahal, terstandar, mudah • Overtreatment • Tidak spesifik • Pemborosan antibiotik • Penurunan kemampuan petugas kesehatan • Surveilance↓
  • 13.
    Duh Tubuh Vagina PendekatanSindrom Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
  • 15.
  • 16.
    Duh Tubuh Vagina PendekatanInspekulo Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
  • 17.
    Duh Tubuh Vagina PendekatanInspekulo Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
  • 19.
  • 20.
    Insersi spekulum dengansudut mengarah ke sakrum  buka spekulum untuk pemeriksaan serviks
  • 25.
    Duh Tubuh Vagina PendekatanSindrom Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
  • 26.
    Reference: Pedoman NasionalPenanganan Infeksi Menular Seksual 2015 Duh Tubuh Vagina Pendekatan Pemeriksaan Mikroskopis
  • 27.
    Reference: Pedoman NasionalPenanganan Infeksi Menular Seksual 2015 Pasien yang memiliki infeksi gonore dan HIV harus mendapatkan regimen terapi yang sama seperti pada pasien tanpa HIV. Tatalaksana
  • 28.
    Reference: Pedoman NasionalPenanganan Infeksi Menular Seksual 2015 Pasien yang memiliki infeksi gonore dan HIV harus mendapatkan regimen terapi yang sama seperti pada pasien tanpa HIV. Tatalaksana
  • 29.
    1. DuhTubuh B.Duhtubuhpada pria
  • 30.
    Uretritis Gonore Uretritisnon-gonore Etiologi Neisseria gonorrhoeae C. trachomatis, M. genitalium, T. vaginalis, U. urealyticum, dan HSV. Masa inkubasi 1-14 hari atau lebih, rerata 2-5 hari. Masa inkubasi 1-5 minggu Gambaran klinis Duh tubuh mukopurulen > 80% tampak lebih kental, kemudian berubah menjadi purulen Duh tubuh mukoid hingga purulen, sering pada pagi hari (morning drops), atau terdapat bercak di celana dalam Dapat disertai dengan eritema dan edema pada meatus uretra Disuria >50% Disuria (tidak separah gonore 10% asimtomatik 50% asimtomatik B. Duh tubuh pada pria
  • 32.
    Duh Tubuh Uretra Laki-LakiPendekatan Sindrom Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
  • 33.
    Reference: Pedoman NasionalPenanganan Infeksi Menular Seksual 2015 Duh Tubuh Uretra Laki-laki Pendekatan Pemeriksaan Mikroskopis
  • 35.
    Reference: Pedoman NasionalPenanganan Infeksi Menular Seksual 2015 Pasien yang memiliki infeksi gonore dan HIV harus mendapatkan regimen terapi yang sama seperti pada pasien tanpa HIV. Tatalaksana
  • 36.
  • 37.
  • 38.
    2.UlkusGenital 19-39% 32-35% Syphilis primer T.pallidum Genital herpes HSV 1&2 Chanroid H. ducreyi 20-60%
  • 39.
  • 40.
  • 45.
    a. Sifilis Dini< 1 tahun i. Sifilis stadium primer ii. Sifilis stadium sekunder iii. Sifilis laten dini b. Sifilis Lanjut > 1tahun i. Sifilis laten lanjut ii. Sifilis tersier: gumma, neurosifilis lanjut, sifilis kardiovaskular Stadium Klinis Sifilis Akuisita
  • 46.
    Sifilis Stadium Primer (3-4minggu setelah infeksi) • Objektif: Papula 0,5–1,5cm “ulkus durum” 1–2 cm, soliter, bulat/ lonjong, tidak nyeri, dasar bersih, batas tegas, indurasi. • Lokasi: genital, anus, sekitar rongga mulut (faring), serviks, atau rektum. • Subjektif: tidak nyeri. • Sangat infeksius • Dapat hilang spontan • Limfadenopati: inguinal, bilateral, tidak nyeri
  • 47.
    Sifilis Stadium Primer(3-4 minggu setelah infeksi)
  • 48.
    Sifilis Stadium Sekunder(4-8 minggu setelah infeksi) • SUBJEKTIF: Tidak nyeri, TIDAK GATAL • LOKASI DAN OBJEKTIF o Sebagian besar tubuh (telapak tangan dan kaki): ruam kulit makulopapular cokelat kemerahan (70%), pseudovesikular, likenoid, papuloskuamosa, korimbiformis. o Area lembab/lipatan: kondiloma lata: lesi hipertropik >> T. pallidum sangat menular o Kulit kepala: mouth-eaten alopecia/ patchy alopecia. o Mukosa mulut: mucous patches, ulkus dangkal. o HIV: Sifilis maligna: ulkus datar berkrusta. o Lesi S-1 dan S-2 dapat terlihat dalam waktu yang sama o Lesi menyembuh spontan • LIMFADENOPATI: generalisata, bilateral, simetris. • GEJALA SISTEMIK: Dapat disertai gejala mirip flu seperti demam dan malaise.
  • 49.
  • 50.
  • 51.
    SifilisStadiumSekunder (4-8 minggusetelah infeksi) Lesi Psoriasiform Sifilis Maligna
  • 52.
    Sifilis Laten Dini: Asimtomatik<1 tahun dan tes serologis sifilis treponemal dan nontreponemal reaktif Sifilis Laten Lanjut: Asimtomatik >1 tahun dan tes serologis sifilis treponemal dan nontreponemal reaktif. SIFILIS LANJUT > 1TAHUN
  • 53.
    Sifilistersier • Gumma (1–46tahun): Destruksi jaringan di organ dan lokasi yang terinfeksi. Lesi pada kulit atau mukosa dapat berupa nodul atau nodular ulseratif. • Sifilis kardiovaskuler (10–30 tahun): Aneurisma aorta, insufisiensi aorta, regurgitasi aorta, stenosis osteum, miokarditis, aortitis. • Neurosifilis lanjut.
  • 54.
    Menular melalui hubungan seksualatau transmisi ibu ke anak Menular melalui transmisi ibu ke anak Tidak menular Sifilis kardiovaskular (10%) Awitan 20-30 tahun Pascainfeksi Guma (15%) Awitan 1-46 tahun Pascainfeksi Sifilis Tersier Pajanan Sifilis Primer Pembentukan Chancre Sifilis laten dini (Asimptomatis) ≤ 1 tahun pascainfeksi Sifilis laten lanjut (Asimptomatis) > 1 tahun pascainfeksi Inkubasi primer (10-90 hari setelah pajanan) Inkubasi Sekunder 4-10 minggu setelah Adanya chancre Sifilis Sekunder Neurosifilis dini Invasi CNS (25%-60%) Asimptomatis Simptomatis (5%) Meningitis Penyakit Meningo Vaskular Neurosifilis lanjut Paresis Tabes Dorsalis (2%-5%) (2-9%) Awitan 2-30 tahun Awitan 3-50 tahun pascainfeksi pasceinfeksi Sifilis Tersier 25% Sifilis Kongenita l P E R J A L A N A N S I F I L I S T A N P A T E R A P I . J of Clin Invest. 2011;121(12):4584-92.
  • 55.
    a. Sifilis KongenitalDini < 2 tahun b. Sifilis Kongenital Lanjut > 2 tahun Stadium Klinis Sifilis Kongenital
  • 56.
    • 70% asimtomatis. •Manifestasi klinis paling umum terdiri atas lesi makulopapul kecil berwarna merah tembaga terutama pada tangan dan kaki. • Rinitis, kondiloma lata daerah perioral dan perineum yang berlanjut menjadi fisura menghasilkan jaringan parut halus (rhagades). • Gangguan tulang: Periostitis, osteokondritis, dan pseudoparalisis Parrot. • Sindroma nefrotik, anemia, hepatosplenomegali, neurosifilis, korioretinitis, uveitis. a. Sifilis Kongenital Dini < 2 tahun
  • 57.
    a. Sifilis KongenitalDini < 2 tahun Stafford IA, Workowski KA, Bachmann LH. Syphilis Complicating Pregnancy and Congenital Syphilis. N Engl J Med. 2024 Jan 18;390(3):242-253. doi: 10.1056/NEJMra2202762. PMID: 38231625; PMCID: PMC11804940.
  • 58.
    a. Sifilis KongenitalDini < 2 tahun Rinitis Rhagades Limfadenopati Cluttonjoint Indian J Sex Transm Dis.2013;34:35(7) Case Rep Pediatr. 2012:1-4cc Stafford IA, Workowski KA, Bachmann LH. Syphilis Complicating Pregnancy and Congenital Syphilis. N Engl J Med. 2024 Jan 18;390(3):242-253. doi: 10.1056/NEJMra2202762. PMID: 38231625; PMCID: PMC11804940.
  • 59.
    • Saddle nose, •Frontal bossing, • Shaber shin, • Trias Hutchinson 1. keratitis interstisial, 2. Gigi Hutchinson, 3. Tuli saraf ke delapan, a. Sifilis Kongenital Lanjut > 2 tahun • Mulberry molars, • Limfadenopati, • Hepatosplenomegali, • Kerusakan tulang, • Anemia, • Neurosifilis
  • 60.
    a. Sifilis KongenitalLanjut > 2 tahun Hutchinson teeth Interstiti al keratitis Sensoryneural deaffnes Trias Hutchinso n Saber shins Saddle nose & perforating palate Case Rep Pediatr. 2012:1-
  • 61.
    PemeriksaanPenunjang a. PCR b. PemeriksaanLapangan Gelap a. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung a. Tes serologis Treponemal b. Tes serologis Non Treponemal a. Pemeriksaan Penunjang Langsung
  • 62.
    a. Deteksi molekularmenggunakan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) yang dapat mendeteksi T. pallidum pada lesi. b. Pemeriksaan lapangan gelap dengan spesimen berasal dari lesi ulkus atau kulit yang erosi. a. Pemeriksaan Penunjang Langsung
  • 63.
    a. Tes SerologisSifilis Treponema - Treponema pallidum Haemaglutination Assay (TPHA), Treponema pallidum Rapid (TP-Rapid), Treponema pallidum Particle Aglutination Assay (TP-PA), atau Flourescent Treponemal Antibody Absorption (FTA-ABS). - Mulai terdeteksi 14 hari setelah terinfeksi. - Evaluasi keberhasilan terapi b. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung
  • 64.
    a. Tes SerologisSifilis Treponema - Treponema pallidum Haemaglutination Assay (TPHA), Treponema pallidum Rapid (TP-Rapid), Treponema pallidum Particle Aglutination Assay (TP-PA), atau Flourescent Treponemal Antibody Absorption (FTA-ABS). - Mulai terdeteksi 14 hari setelah terinfeksi. - Tidak akan non-reaktif konfirmasievaluasi keberhasilan terapi - Hasil positif treponema: frambusia (T. pallidum subsp. pertenue) b. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung
  • 65.
    b. Tes serologissifilis nontreponemal - Rapid Plasma Reagen (RPR) atau Venereal Disease Research Laboratory (VDRL). - Mulai terdeteksi 4 minggu setelah terinfeksi. -Titer menurun setelah terapi  nonreaktif, serofast (menetap rendah ≤1:8 dalam 1–2 tahun sifilis dini). - Digunakan untuk evaluasi keberhasilan terapi. b. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung
  • 67.
    IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis A. TPHA/TP-Rapidreaktif, dan VDRL/RPR reaktif B. TPHA/TP-Rapid non-reaktif, VDRL/RPR non-reaktif C. TPHA/TP-Rapid reaktif, dan VdanDRL/RPR non-reaktif D. TPHA/TP-Rapid non-reaktif, dan VDRL/RPR reaktif
  • 68.
    IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis • Sifilisyang belum diobati, atau • Sifilis yang sudah diterapi, serofast • Frambusia A. TPHA/TP-Rapid reaktif, dan VDRL/RPR reaktif
  • 69.
    IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis B. TPHA/TP-Rapidnon-reaktif, dan VDRL/RPR non-reaktif : • Bukan sifilis. • Masa inkubasi (belum serokonversi).
  • 70.
    IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis C. TPHA/TP-Rapidreaktif, dan VDRL/RPR non-reaktif : • Sifilis yang sudah diobati dan sembuh, atau • Sifilis primer dini (belum serokonversi), atau • Sifilis laten lanjut/sifilis tersier yang belum diobati, atau • Konsentrasi antibodi non treponemal >>>tinggi Prozone effect • Frambusia
  • 71.
    IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis D. TPHA/TP-Rapidnon-reaktif, dan VDRL/RPR reaktif : Tes nontreponemal positif palsu Titer ≤1:4
  • 72.
    IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis D. TPHA/TP-Rapidnon-reaktif, dan VDRL/RPR reaktif : Tes nontreponemal positif palsu Titer ≤1:4 Akut <6 bulan: Infeksi lain (malaria, cacar air, hepatitis, atau morbili), setelah pemberian vaksinasi/imunisasi, kehamilan.
  • 73.
    IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis D. TPHA/TP-Rapidnon-reaktif, dan VDRL/RPR reaktif : Tes nontreponemal positif palsu Titer ≤1:4 Akut <6 bulan: Infeksi lain (malaria, cacar air, hepatitis, atau morbili), setelah pemberian vaksinasi/imunisasi, kehamilan. Kronis >6 bulan: Usia tua, penyakit jaringan ikat, keganasan, infeksi kronis pada lepra, penyalahgunaan obat intravena, lupus eritematosus sistemik, reumatoid artritis, dan kelainan autoimun lainnya.
  • 74.
    1. Neurosifilis: asimptomatik,Sakit kepala, kaku kuduk, kelumpuhan 2. Sifilis okular: Mata kemerahan, fotofobia, nyeri pada mata, gangguan penglihatan, gangguan pergerakan bola mata, dan gangguan lapang pandang. 3. Sifilis otikus: Gangguan pendengaran dan suara berdenging. Sp DVE Subsp Ven. Sp Neurologi Sp Mata Sp THT-KL Komplikasi
  • 75.
    1. Neurosifilis: asimptomatik: Pasien sifilis disertai infeksi HIV terutama dengan nilai CD4≤ 350 sel/mm3 , atau titer nontreponemal ≥1/32.  Gagal terapi.  Sifilis lanjut yang mendapatkan terapi alternatif (bukan golongan penisilin). Sp DVE Subsp Ven. Sp Neurologi Sp Mata Sp THT-KL Komplikasi
  • 76.
  • 77.
    SifilisAkuisita Dini LINI PERTAMA: Benzatinbenzilpenisilin G 2,4 juta IU, injeksi intramuskular, dosis tunggal, disuntikan pada tiap sisi bokong sebanyak 1,2 juta IU. Lakukan uji penisilin terlebih dulu. Observasi 30 menit setelah injeksi penisilin. LINI KEDUA: Penisilin-prokain 600.000 U/hari, injeksi intramuskular selama 10–14 hari ALERGI PENISILIN: Hamil: Desensitisasi penisilin, apabila tidak memungkinkan: Eritromisin 500mg 4x/hari selama 14 hari. Saat bayi dilahirkan, perlu diberikan terapi sifilis kongenital, ATAU Seftriakson 1 gram IV, 1x/hari selama 10 hari Eritromisin dan azitromisin tidak menembus sawar plasenta, saat bayinya dilahirkan diterapi sifilis kongenital Terapi
  • 78.
    Terapi Sifilis AkuisitaLanjut LINI PERTAMA: Benzatin benzilpenisilin G 2,4 juta IU, injeksi intramuskular 1x/minggu, 3 minggu, interval maksimal 14 hari. LINI KEDUA: Penisilin-prokain 600.000 U/hari, injeksi intramuskular selama 17–21 hari. ALERGI PENISILIN: Hamil: Eritromisin 500mg 4x/hari selama 30 hari. Saat bayi dilahirkan, perlu diberikan terapi sifilis kongenital Tidak Hamil: Doksisiklin 100 mg 2x/hari, peroral, selama 21–28 hari
  • 79.
    Terapi Sifilis AkuisitaLanjut LINI PERTAMA: Benzatin benzilpenisilin G 2,4 juta IU, injeksi intramuskular 1x/minggu, 3 minggu, interval maksimal 14 hari. LINI KEDUA: Penisilin-prokain 600.000 U/hari, injeksi intramuskular selama 17–21 hari. ALERGI PENISILIN: Hamil: Eritromisin 500mg 4x/hari selama 30 hari. Saat bayi dilahirkan, perlu diberikan terapi sifilis kongenital Pengobatan adekuat >4 minggu dari persalinan. Keterlambatan per minggu, risiko↑ 125% Umur kehamilan ≥28 minggu, risiko↑ 2x lipat
  • 80.
    Terapi SifilisAkuisita Lanjut Pasiensifilis disertai infeksi HIV diberikan terapi yang sama dengan pasien sifilis tanpa infeksi HIV Reaksi Jarish-Herxheimer 4–6 jam sesudah terapi Menggigil, demam, nyeri sendi, nyeri kepala. menghilang perlahan selama 24 jam.
  • 81.
    Terapi SifilisAkuisita Lanjut :Follow-Up • Lakukan monitoring kepatuhan pengobatan baik injeksi maupun peroral. • Penilaian klinis dan serologis (VDRL/RPR) bulan ke-1, 3, 6, 9, 12, 18, dan 24. • Terapi BERHASIL: penurunan titer VDRL/RPR ≥4x titer dari sebelum terapi. • Penurunan titer sifilis dini  6–12 bulan pada sifilis dini, sifilis lanjut 12– 24 bulan. • Penurunan titer diamati sampai non-reaktif atau serofast.
  • 82.
    Terapi SifilisAkuisita Lanjut :Follow-Up • Terapi dikatakan GAGAL bila: o Sifilis primer dan sekunder:  Tidak terjadi penurunan titer VDRL/RPR ≥4x dibandingkan titer sebelum terapi pada sifilis dini, atau  Titer meningkat ≥4x sejak terapi (menetap >2 minggu)  Keluhan/gejala menetap/rekuren. o Sifilis laten dini dan lanjut:  Ditemukan keluhan dan gejala klinis sifilis  Titer tidak menurun 4x dalam 12 – 24 bulan, atau  Titer meningkat ≥4 kali sejak terapi diberikan (menetap lebih dari dua minggu)
  • 83.
    Terapi SifilisAkuisita Lanjut :Follow-Up • Pada kasus gagal terapi, rujuk subspesialis venereologi untuk evaluasi kemungkinan faktor-faktor penyebab: - Reinfeksi, - Gagal terapi: O Kepatuhan pengobatan, O Regimen non-penisilin, atau O Neurosifilis asimtomatik. •
  • 84.
    Terapi Sifilis AkuisitaLanjut Kongenital Pengobatan sifilis kongenital diberikan pada kondisi: 1) Terkonfirmasi sifilis kongenital secara klinis; 2) Secara klinis normal, tetapi ibu belum mendapat pengobatan sifilis; 3) Baru mendapatkan terapi benzatin penisilin <30 hari dari waktu persalinan; atau 4) Sebelumnya mendapatkan regimen non-penisilin.
  • 85.
    Terapi Sifilis AkuisitaLanjut Kongenital • Aqueous benzyl penicillin 100.000–150.000 units (IU)/kg berat badan/hari, intravena selama 10–15 hari. • Penisilin prokain 50.000 U/kg berat badan/hari intramuskular selama 10–15 hari.
  • 86.
    Terapi SifilisKongenital Pada bayiyang secara klinis normal dengan ibu yang telah mendapat terapi sifilis adekuat tanpa tanda-tanda reinfeksi: • Lakukan pemantauan ketat terhadap bayi. • Jika diperlukan terapi, dapat diberikan Benzatin penisilin G 50.000 U/kg berat badan/hari, intramuskular dosis tunggal.
  • 87.
  • 89.
    •Herpes genital merupakanInfeksi Menular Seksual (IMS) yang umum •Ditandai oleh lesi vesikular multipel yang berkelompok di atas dasar eritematosa • Disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) tipe 1 dan 2, dengan HSV tipe 2 bertanggung jawab atas sekitar 90% kasus •Penularan terjadi melalui proses viral shedding (pelepasan virus dari mukosa/lesi, meskipun tanpa gejala) •Antibodi tidak mampu mencegah rekurensi mengurangi derajat keparahan saat rekurensi •Disfungsi atau defisiensi imunitas seluler (cell-mediated immunity/CMI)manifestasi klinis yang berat, berkepanjangan, dan sering kambuh
  • 90.
    •Herpes genital merupakanInfeksi Menular Seksual (IMS) yang umum •Ditandai oleh lesi vesikular multipel yang berkelompok di atas dasar eritematosa • Disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) tipe 1 dan 2, dengan HSV tipe 2 bertanggung jawab atas sekitar 90% kasus •Penularan terjadi melalui proses viral shedding (pelepasan virus dari mukosa/lesi, meskipun tanpa gejala) •Antibodi tidak mampu mencegah rekurensi mengurangi derajat keparahan saat rekurensi •Disfungsi atau defisiensi imunitas seluler (cell-mediated immunity/CMI)manifestasi klinis yang berat, berkepanjangan, dan sering kambuh
  • 91.
    MANIFESTASI KLINIS •Masa inkubasi:±1 minggu (rentang 2–12 hari) •Lesi primer: •Vesikel multipel, nyeri, terpisah, pada dasar eritematosa •Berkembang menjadi: •Pustula •Erosi •Ulkus •Krusta berupa plak keabu-abuan •Gejala sistemik (misalnya demam, malais, limfadenopati) sering ditemukan •Lesi baru dapat terus muncul hingga hari ke-10 •Reepitelisasi terjadi dalam 15–20 hari •Pelepasan virus (viral shedding) berlangsung selama 10–12 hari
  • 92.
    MANIFESTASI KLINIS Episode pertama primer Episodepertama non primer Rekuren Asimtomatik Riwayat herpes sebelumnya Tidak ada Tidak ada ada Ada Tingkat keparahan Paling berat Berat Ringan-berat Tidak bergejala Pemeriksaan Serologis IgG-IGM HSV-1/2 negatif positif positif positif
  • 93.
    MANIFESTASI KLINIS EPISODEPERTAMA PRIMER •Masa inkubasi: ±1 minggu (rentang 2–12 hari) •Lesi primer: •Vesikel multipel, nyeri, terpisah, pada dasar eritematosa •Berkembang menjadi: •Pustula •Erosi •Ulkus •Krusta berupa plak keabu-abuan •Gejala sistemik (misalnya demam, malais, limfadenopati) sering ditemukan •Lesi baru dapat terus muncul hingga hari ke-10 •Reepitelisasi terjadi dalam 15–20 hari •Pelepasan virus (viral shedding) berlangsung selama 10–12 hari
  • 94.
    MANIFESTASI KLINIS EPISODEPERTAMA PRIMER •Masa inkubasi: ±1 minggu (rentang 2–12 hari) •Lesi primer: •Vesikel multipel, nyeri, terpisah, pada dasar eritematosa •Berkembang menjadi: •Pustula •Erosi •Ulkus •Krusta berupa plak keabu-abuan •Gejala sistemik (misalnya demam, malais, limfadenopati) sering ditemukan •Lesi baru dapat terus muncul hingga hari ke-10 •Reepitelisasi terjadi dalam 15–20 hari •Pelepasan virus (viral shedding) berlangsung selama 10–12 hari
  • 95.
    MANIFESTASI KLINIS EPISODEPERTAMA PRIMER Lokasi Laki-laki: •Glans penis, sulkus koronal, uretra •Batang penis, regio perineum •Jarang: skrotum, area mons pubis, paha, bokong Perempuan: •Introitus vagina, meatus urinarius, labia, serviks (70%) •Kurang sering: perineum, regio perineum, paha, bokong Komplikasi •Komplikasi neurologis (13–35%) • Meningitis aseptik • Mielitis transversa • Radikulitis sakral → retensi urin
  • 96.
    MANIFESTASI KLINIS REKUREN •Episode berulang • Faktor pencetus: stres, kelelahan, menstruasi • Gejala dan tanda lebih ringan dibanding infeksi primer • Pelepasan virus tanpa gejala (asimptomatik) → dapat menyebabkan ketidaknyamanan berat pada pasangan • Gejala prodromal: rasa gatal, terbakar, kesemutan, disuria • Prodrom yang tidak berkembang (aborted prodrome) tetapi tetap dapat menimbulkan nyeri • Vesikel berkelompok pada dasar eritematosa • Reepitelisasi sekitar ±10 hari • Pelepasan virus (viral shedding) sekitar ±4 hari • Frekuensi rekurensi: 5–8 kali per tahun • Tingkat kekambuhan HSV-2 lebih tinggi dibanding HSV-1
  • 97.
  • 98.
    PEMERIKSAAN PENUNJANG Sens (%) Spec (%) HSV 1 91-9696-100 HSV 2 92-95 96-97 ELISA Seroconversion IgM HSV - 6 weeks after infection - decline 12 week Seroconversion IgG HSV - 10 weeks afterion infection - rective for live
  • 101.
  • 102.
  • 103.
  • 104.
    A.KutilAnogenital 3.Vegetasi Manifestasi klnis AGWs A.Kondiloma akuminata B. Papular C. Keratotik D. Flat-topped
  • 105.
  • 106.
  • 107.
  • 108.
    B. MoluskumKontagiosum 3.Vegetasi Molluscum contagiosumis a common benign cutaneous infection with associated signs isolated to the skin Cause by Molluscipoxvirus (MCV) a large, brick-shaped double-stranded DNA poxvirus with genomic similarities to other poxviruses
  • 109.
    B. MoluskumKontagiosum 3.Vegetasi Molluscum contagiosumis a common benign cutaneous infection with associated signs isolated to the skin Cause by Molluscipoxvirus (MCV) a large, brick-shaped double-stranded DNA poxvirus with genomic similarities to other poxviruses
  • 110.
    B. MoluskumKontagiosum 3.Vegetasi The flesh-coloredpapules are: smooth, firm, and dome-shaped, with a highly characteristic central umbilication with caseous material
  • 111.
  • 112.
  • 113.
  • 114.
  • 115.
  • 116.
    B. MoluskumKontagiosum 3.Vegetasi Jenis TindakanMetode Destruksi Fisik - Kuretase - Krioterapi - Laser CO₂ - Laser pulsed-dye - Elektrodesikasi Destruksi Kimia - Perak nitrat - Asam trikloroasetat - Fenol - Kantaridin - Kalium hidroksida (KOH) Tatalaksana:wait and see, Destruksi untuk Mengangkat Sel Epidermis yang Terinfeksi
  • 117.
  • 118.
    Soal Seorang perempuan, 21tahun, datang dengan keluhan keputihan sejak 1 minggu yang lalu. Pasien bekerja sebagai SPG. Pasien menyangkal riwayat hubungan seksual berisiko.
  • 119.
    Pertanyaan 4. Apakah terapiyang tepat untuk pasien ini? A. Terapi kandidiasis vulvovaginalis B. Terapi bakterial vaginosis C. Terapi kandidiasis vulvovaginalis dan bakterial vaginosis D. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial vaginosis, dan trikomoniasis E. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial vaginosis, trikomoniasis, servisistis gonore, dan servisitis nongonore
  • 123.
    Pertanyaan Pada pasien dilakukanpemeriksaan menggunakan spekulum terapi yang tepat untuk pasien ini? A. Terapi kandidiasis vulvovaginalis B. Terapi bakterial vaginosis C. Terapi kandidiasis vulvovaginalis dan bakterial vaginosis D. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial vaginosis, dan trikomoniasis E. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial vaginosis, trikomoniasis, servisistis gonore, dan servisitis nongonore