Normal Vulvovaginitis
Kandidiasis
Trikomoniasis Vaginosis
Bakterialis
EtiologiLactobacillus C. albicans T. vaginalis
G. vaginalis, M.
hominis,
Mobiluncus sp.
Gejala Tidak ada
Pruritus vulva
dan/atau iritasi,
keputihan
Pruritus vulva,
keputihan
Bau tak sedap
pada vagina,
keputihan
Keputihan
- Jumlah Bervariasi (biasanya
sedikit)
Sedikit- sedang Banyak Sedikit- sedang
- Warna Jernih / putih Putih atau kuning Kuning Biasanya putih
- Konsistensi
Tidak homogen,
berflokuasi
Menggumpal,
melekat Homogen
Homogen,
viskositas rendah
Vaginitis:
10.
Servisitis
Servisitis gonore Servisitisnon-gonore
Etiologi Neisseria gonorrhoeae Chlamydia trachomatis
Masa Inkubasi 2–5 hari 1–5 minggu
Gejala
50% tanpa gejala, keputihan,
perdarahan vagina 70% tanpa gejala, keputihan
Kondisi Serviks
Eritema, mudah berdarah,
cairan purulen, dapat tampak
normal
Eritema, mudah berdarah,
serviks ektopik, cairan
purulen (37%)
11.
Manajemen IMS
Pendekatan klinis:
•Cepat, murah,
infrastruktur↓
• Kurang akurat,
• Infeksi multipel
tidak terdeteksi,
• Under/over
treatment
Pendekatan etiologi:
• Biaya↑
• Pemeriksaan
laboratorium
kompleks
• Petugas
berpengalaman
• Quality insurrance
• Infrastruktur
Pendekatan Sindrom:
• Tidak mahal,
terstandar, mudah
• Overtreatment
• Tidak spesifik
• Pemborosan
antibiotik
• Penurunan
kemampuan
petugas kesehatan
• Surveilance↓
12.
Manajemen IMS
Pendekatan klinis:
•Cepat, murah,
infrastruktur↓
• Kurang akurat,
• Infeksi multipel
tidak terdeteksi,
• Under/over
treatment
Pendekatan etiologi:
• Biaya↑
• Pemeriksaan
laboratorium
kompleks
• Petugas
berpengalaman
• Quality insurrance
• Infrastruktur
Pendekatan Sindrom:
• Tidak mahal,
terstandar, mudah
• Overtreatment
• Tidak spesifik
• Pemborosan
antibiotik
• Penurunan
kemampuan
petugas kesehatan
• Surveilance↓
Reference: Pedoman NasionalPenanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Pasien yang memiliki infeksi gonore dan HIV
harus mendapatkan regimen terapi yang
sama seperti pada pasien tanpa HIV.
Tatalaksana
28.
Reference: Pedoman NasionalPenanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Pasien yang memiliki infeksi gonore dan HIV
harus mendapatkan regimen terapi yang
sama seperti pada pasien tanpa HIV.
Tatalaksana
Uretritis Gonore Uretritisnon-gonore
Etiologi Neisseria gonorrhoeae C. trachomatis, M. genitalium, T.
vaginalis, U. urealyticum, dan HSV.
Masa
inkubasi
1-14 hari atau
lebih, rerata 2-5 hari.
Masa inkubasi 1-5 minggu
Gambaran
klinis
Duh tubuh mukopurulen > 80%
tampak lebih kental, kemudian
berubah menjadi purulen
Duh tubuh mukoid hingga purulen,
sering pada pagi hari (morning
drops), atau terdapat bercak di
celana dalam
Dapat disertai dengan eritema dan
edema pada meatus uretra
Disuria >50% Disuria (tidak separah gonore
10% asimtomatik 50% asimtomatik
B. Duh tubuh pada pria
32.
Duh Tubuh Uretra
Laki-LakiPendekatan
Sindrom
Reference: Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Reference: Pedoman NasionalPenanganan Infeksi Menular Seksual 2015
Pasien yang memiliki infeksi gonore dan HIV
harus mendapatkan regimen terapi yang
sama seperti pada pasien tanpa HIV.
Tatalaksana
a. Sifilis Dini< 1 tahun
i. Sifilis stadium primer
ii. Sifilis stadium sekunder
iii. Sifilis laten dini
b. Sifilis Lanjut > 1tahun
i. Sifilis laten lanjut
ii. Sifilis tersier: gumma, neurosifilis lanjut, sifilis
kardiovaskular
Stadium Klinis Sifilis Akuisita
46.
Sifilis Stadium Primer
(3-4minggu setelah infeksi)
• Objektif:
Papula 0,5–1,5cm “ulkus durum” 1–2 cm, soliter, bulat/ lonjong,
tidak nyeri, dasar bersih, batas tegas, indurasi.
• Lokasi: genital, anus, sekitar rongga mulut (faring), serviks, atau
rektum.
• Subjektif: tidak nyeri.
• Sangat infeksius
• Dapat hilang spontan
• Limfadenopati: inguinal, bilateral, tidak nyeri
Sifilis Stadium Sekunder(4-8 minggu setelah infeksi)
• SUBJEKTIF: Tidak nyeri, TIDAK GATAL
• LOKASI DAN OBJEKTIF
o Sebagian besar tubuh (telapak tangan dan kaki): ruam kulit makulopapular cokelat kemerahan (70%),
pseudovesikular, likenoid, papuloskuamosa, korimbiformis.
o Area lembab/lipatan: kondiloma lata: lesi hipertropik >> T. pallidum sangat menular
o Kulit kepala: mouth-eaten alopecia/ patchy alopecia.
o Mukosa mulut: mucous patches, ulkus dangkal.
o HIV: Sifilis maligna: ulkus datar berkrusta.
o Lesi S-1 dan S-2 dapat terlihat dalam waktu yang sama
o Lesi menyembuh spontan
• LIMFADENOPATI: generalisata, bilateral, simetris.
• GEJALA SISTEMIK: Dapat disertai gejala mirip flu seperti demam dan malaise.
Sifilis Laten Dini:
Asimtomatik<1 tahun dan tes serologis sifilis treponemal dan
nontreponemal reaktif
Sifilis Laten Lanjut:
Asimtomatik >1 tahun dan tes serologis sifilis treponemal
dan nontreponemal reaktif.
SIFILIS LANJUT > 1TAHUN
53.
Sifilistersier
• Gumma (1–46tahun):
Destruksi jaringan di organ dan lokasi yang terinfeksi. Lesi pada kulit atau mukosa
dapat berupa nodul atau nodular ulseratif.
• Sifilis kardiovaskuler (10–30 tahun):
Aneurisma aorta, insufisiensi aorta, regurgitasi aorta, stenosis osteum, miokarditis,
aortitis.
• Neurosifilis lanjut.
54.
Menular melalui
hubungan seksualatau
transmisi ibu ke anak
Menular melalui
transmisi ibu ke anak
Tidak menular
Sifilis kardiovaskular
(10%)
Awitan 20-30 tahun
Pascainfeksi
Guma
(15%)
Awitan 1-46 tahun
Pascainfeksi
Sifilis Tersier
Pajanan
Sifilis Primer
Pembentukan Chancre
Sifilis laten dini
(Asimptomatis)
≤ 1 tahun pascainfeksi
Sifilis laten lanjut
(Asimptomatis)
> 1 tahun pascainfeksi
Inkubasi primer
(10-90 hari setelah pajanan)
Inkubasi Sekunder
4-10 minggu setelah
Adanya chancre
Sifilis Sekunder
Neurosifilis dini
Invasi CNS
(25%-60%)
Asimptomatis
Simptomatis
(5%)
Meningitis
Penyakit
Meningo
Vaskular
Neurosifilis lanjut
Paresis Tabes Dorsalis
(2%-5%)
(2-9%)
Awitan 2-30 tahun Awitan 3-50 tahun
pascainfeksi
pasceinfeksi
Sifilis Tersier
25%
Sifilis
Kongenita
l
P E R J A L A N A N
S I F I L I S T
A N P A T E R A P I
.
J of Clin Invest. 2011;121(12):4584-92.
55.
a. Sifilis KongenitalDini < 2 tahun
b. Sifilis Kongenital Lanjut > 2 tahun
Stadium Klinis Sifilis Kongenital
56.
• 70% asimtomatis.
•Manifestasi klinis paling umum terdiri atas lesi makulopapul kecil berwarna merah tembaga terutama pada
tangan dan kaki.
• Rinitis, kondiloma lata daerah perioral dan perineum yang berlanjut menjadi fisura menghasilkan jaringan
parut halus (rhagades).
• Gangguan tulang: Periostitis, osteokondritis, dan pseudoparalisis Parrot.
• Sindroma nefrotik, anemia, hepatosplenomegali, neurosifilis, korioretinitis, uveitis.
a. Sifilis Kongenital Dini < 2 tahun
57.
a. Sifilis KongenitalDini < 2
tahun
Stafford IA, Workowski KA, Bachmann LH. Syphilis Complicating Pregnancy
and Congenital Syphilis. N Engl J Med. 2024 Jan 18;390(3):242-253. doi:
10.1056/NEJMra2202762. PMID: 38231625; PMCID: PMC11804940.
58.
a. Sifilis KongenitalDini < 2 tahun
Rinitis
Rhagades
Limfadenopati Cluttonjoint
Indian J Sex
Transm
Dis.2013;34:35(7)
Case Rep Pediatr.
2012:1-4cc
Stafford IA, Workowski KA, Bachmann LH. Syphilis
Complicating Pregnancy and Congenital Syphilis. N Engl J
Med. 2024 Jan 18;390(3):242-253. doi:
10.1056/NEJMra2202762. PMID: 38231625; PMCID:
PMC11804940.
a. Sifilis KongenitalLanjut > 2 tahun
Hutchinson
teeth
Interstiti
al
keratitis
Sensoryneural
deaffnes
Trias
Hutchinso
n
Saber
shins
Saddle nose &
perforating
palate
Case Rep Pediatr. 2012:1-
61.
PemeriksaanPenunjang
a. PCR
b. PemeriksaanLapangan Gelap
a. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung
a. Tes serologis Treponemal
b. Tes serologis Non Treponemal
a. Pemeriksaan Penunjang Langsung
62.
a. Deteksi molekularmenggunakan pemeriksaan polymerase chain
reaction (PCR) yang dapat mendeteksi T. pallidum pada lesi.
b. Pemeriksaan lapangan gelap dengan spesimen berasal dari lesi ulkus
atau kulit yang erosi.
a. Pemeriksaan Penunjang Langsung
63.
a. Tes SerologisSifilis Treponema
- Treponema pallidum Haemaglutination Assay (TPHA), Treponema pallidum
Rapid (TP-Rapid), Treponema pallidum Particle Aglutination Assay (TP-PA),
atau Flourescent Treponemal Antibody Absorption (FTA-ABS).
- Mulai terdeteksi 14 hari setelah terinfeksi.
- Evaluasi keberhasilan terapi
b. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung
64.
a. Tes SerologisSifilis Treponema
- Treponema pallidum Haemaglutination Assay (TPHA), Treponema pallidum
Rapid (TP-Rapid), Treponema pallidum Particle Aglutination Assay (TP-PA),
atau Flourescent Treponemal Antibody Absorption (FTA-ABS).
- Mulai terdeteksi 14 hari setelah terinfeksi.
- Tidak akan non-reaktif konfirmasievaluasi keberhasilan terapi
- Hasil positif treponema: frambusia (T. pallidum subsp. pertenue)
b. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung
65.
b. Tes serologissifilis nontreponemal
- Rapid Plasma Reagen (RPR) atau Venereal Disease Research
Laboratory (VDRL).
- Mulai terdeteksi 4 minggu setelah terinfeksi.
-Titer menurun setelah terapi nonreaktif,
serofast (menetap rendah ≤1:8
dalam 1–2 tahun sifilis dini).
- Digunakan untuk evaluasi keberhasilan terapi.
b. Pemeriksaan Penunjang Tidak Langsung
IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis
C. TPHA/TP-Rapidreaktif, dan VDRL/RPR non-reaktif :
• Sifilis yang sudah diobati dan sembuh, atau
• Sifilis primer dini (belum serokonversi), atau
• Sifilis laten lanjut/sifilis tersier yang belum diobati, atau
• Konsentrasi antibodi non treponemal >>>tinggi Prozone effect
• Frambusia
IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis
D. TPHA/TP-Rapidnon-reaktif, dan VDRL/RPR reaktif :
Tes nontreponemal positif palsu
Titer ≤1:4
Akut <6 bulan:
Infeksi lain (malaria, cacar air, hepatitis,
atau morbili), setelah pemberian
vaksinasi/imunisasi, kehamilan.
73.
IntepretasiHasil PemeriksaanTesSerologisSifilis
D. TPHA/TP-Rapidnon-reaktif, dan VDRL/RPR reaktif :
Tes nontreponemal positif palsu
Titer ≤1:4
Akut <6 bulan:
Infeksi lain (malaria, cacar air, hepatitis,
atau morbili), setelah pemberian
vaksinasi/imunisasi, kehamilan.
Kronis >6 bulan:
Usia tua, penyakit jaringan ikat,
keganasan, infeksi kronis pada lepra,
penyalahgunaan obat intravena, lupus
eritematosus sistemik, reumatoid artritis,
dan kelainan autoimun lainnya.
74.
1. Neurosifilis: asimptomatik,Sakit kepala, kaku kuduk, kelumpuhan
2. Sifilis okular: Mata kemerahan, fotofobia, nyeri pada mata, gangguan
penglihatan, gangguan pergerakan bola mata, dan gangguan lapang
pandang.
3. Sifilis otikus: Gangguan pendengaran dan suara berdenging.
Sp DVE Subsp Ven.
Sp Neurologi Sp Mata Sp THT-KL
Komplikasi
75.
1. Neurosifilis: asimptomatik:
Pasien sifilis disertai infeksi HIV terutama dengan nilai CD4≤ 350
sel/mm3
, atau titer nontreponemal ≥1/32.
Gagal terapi.
Sifilis lanjut yang mendapatkan terapi alternatif (bukan golongan
penisilin).
Sp DVE Subsp Ven.
Sp Neurologi Sp Mata Sp THT-KL
Komplikasi
SifilisAkuisita Dini
LINI PERTAMA:
Benzatinbenzilpenisilin G 2,4 juta IU,
injeksi intramuskular, dosis tunggal,
disuntikan pada tiap sisi bokong sebanyak
1,2 juta IU.
Lakukan uji penisilin terlebih dulu.
Observasi 30 menit setelah injeksi penisilin.
LINI KEDUA:
Penisilin-prokain 600.000 U/hari, injeksi
intramuskular selama 10–14 hari
ALERGI PENISILIN:
Hamil:
Desensitisasi penisilin, apabila tidak
memungkinkan:
Eritromisin 500mg 4x/hari selama 14 hari.
Saat bayi dilahirkan, perlu diberikan terapi
sifilis kongenital, ATAU
Seftriakson 1 gram IV, 1x/hari selama 10
hari
Eritromisin dan azitromisin tidak menembus
sawar plasenta, saat bayinya dilahirkan
diterapi sifilis kongenital
Terapi
78.
Terapi Sifilis AkuisitaLanjut
LINI PERTAMA:
Benzatin benzilpenisilin G 2,4 juta IU,
injeksi intramuskular 1x/minggu, 3 minggu,
interval maksimal 14 hari.
LINI KEDUA:
Penisilin-prokain 600.000 U/hari, injeksi
intramuskular selama 17–21 hari.
ALERGI PENISILIN:
Hamil:
Eritromisin 500mg 4x/hari selama 30 hari.
Saat bayi dilahirkan, perlu diberikan terapi
sifilis kongenital
Tidak Hamil:
Doksisiklin 100 mg 2x/hari, peroral, selama
21–28 hari
79.
Terapi Sifilis AkuisitaLanjut
LINI PERTAMA:
Benzatin benzilpenisilin G 2,4 juta IU,
injeksi intramuskular 1x/minggu, 3 minggu,
interval maksimal 14 hari.
LINI KEDUA:
Penisilin-prokain 600.000 U/hari, injeksi
intramuskular selama 17–21 hari.
ALERGI PENISILIN:
Hamil:
Eritromisin 500mg 4x/hari selama 30 hari.
Saat bayi dilahirkan, perlu diberikan terapi
sifilis kongenital
Pengobatan adekuat >4 minggu dari
persalinan.
Keterlambatan per minggu, risiko↑ 125%
Umur kehamilan ≥28 minggu, risiko↑ 2x
lipat
80.
Terapi SifilisAkuisita Lanjut
Pasiensifilis disertai infeksi HIV diberikan terapi yang sama dengan
pasien sifilis tanpa infeksi HIV
Reaksi Jarish-Herxheimer
4–6 jam sesudah terapi
Menggigil, demam, nyeri sendi, nyeri kepala.
menghilang perlahan selama 24 jam.
81.
Terapi SifilisAkuisita Lanjut
:Follow-Up
• Lakukan monitoring kepatuhan pengobatan baik injeksi maupun peroral.
• Penilaian klinis dan serologis (VDRL/RPR) bulan ke-1, 3, 6, 9, 12, 18, dan
24.
• Terapi BERHASIL: penurunan titer VDRL/RPR ≥4x titer dari sebelum
terapi.
• Penurunan titer sifilis dini 6–12 bulan pada sifilis dini, sifilis lanjut 12–
24 bulan.
• Penurunan titer diamati sampai non-reaktif atau serofast.
82.
Terapi SifilisAkuisita Lanjut
:Follow-Up
• Terapi dikatakan GAGAL bila:
o Sifilis primer dan sekunder:
Tidak terjadi penurunan titer VDRL/RPR ≥4x dibandingkan titer sebelum terapi
pada sifilis dini, atau
Titer meningkat ≥4x sejak terapi (menetap >2 minggu)
Keluhan/gejala menetap/rekuren.
o Sifilis laten dini dan lanjut:
Ditemukan keluhan dan gejala klinis sifilis
Titer tidak menurun 4x dalam 12 – 24 bulan, atau
Titer meningkat ≥4 kali sejak terapi diberikan (menetap lebih dari dua minggu)
83.
Terapi SifilisAkuisita Lanjut
:Follow-Up
• Pada kasus gagal terapi, rujuk subspesialis venereologi untuk evaluasi kemungkinan
faktor-faktor penyebab:
- Reinfeksi,
- Gagal terapi:
O Kepatuhan pengobatan,
O Regimen non-penisilin, atau
O Neurosifilis asimtomatik.
•
84.
Terapi Sifilis AkuisitaLanjut
Kongenital
Pengobatan sifilis kongenital diberikan pada kondisi:
1) Terkonfirmasi sifilis kongenital secara klinis;
2) Secara klinis normal, tetapi ibu belum mendapat pengobatan sifilis;
3) Baru mendapatkan terapi benzatin penisilin <30 hari dari waktu persalinan;
atau
4) Sebelumnya mendapatkan regimen non-penisilin.
85.
Terapi Sifilis AkuisitaLanjut
Kongenital
• Aqueous benzyl penicillin 100.000–150.000 units (IU)/kg berat
badan/hari, intravena selama 10–15 hari.
• Penisilin prokain 50.000 U/kg berat badan/hari intramuskular
selama 10–15 hari.
86.
Terapi SifilisKongenital
Pada bayiyang secara klinis normal dengan ibu yang telah
mendapat terapi sifilis adekuat tanpa tanda-tanda reinfeksi:
• Lakukan pemantauan ketat terhadap bayi.
• Jika diperlukan terapi, dapat diberikan Benzatin penisilin G
50.000 U/kg berat badan/hari, intramuskular dosis tunggal.
•Herpes genital merupakanInfeksi Menular Seksual (IMS) yang umum
•Ditandai oleh lesi vesikular multipel yang berkelompok di atas dasar eritematosa
• Disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) tipe 1 dan 2, dengan HSV tipe 2
bertanggung jawab atas sekitar 90% kasus
•Penularan terjadi melalui proses viral shedding (pelepasan virus dari mukosa/lesi,
meskipun tanpa gejala)
•Antibodi tidak mampu mencegah rekurensi mengurangi derajat keparahan saat
rekurensi
•Disfungsi atau defisiensi imunitas seluler (cell-mediated immunity/CMI)manifestasi
klinis yang berat, berkepanjangan, dan sering kambuh
90.
•Herpes genital merupakanInfeksi Menular Seksual (IMS) yang umum
•Ditandai oleh lesi vesikular multipel yang berkelompok di atas dasar eritematosa
• Disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) tipe 1 dan 2, dengan HSV tipe 2
bertanggung jawab atas sekitar 90% kasus
•Penularan terjadi melalui proses viral shedding (pelepasan virus dari mukosa/lesi,
meskipun tanpa gejala)
•Antibodi tidak mampu mencegah rekurensi mengurangi derajat keparahan saat
rekurensi
•Disfungsi atau defisiensi imunitas seluler (cell-mediated immunity/CMI)manifestasi
klinis yang berat, berkepanjangan, dan sering kambuh
91.
MANIFESTASI KLINIS
•Masa inkubasi:±1 minggu (rentang 2–12 hari)
•Lesi primer:
•Vesikel multipel, nyeri, terpisah, pada dasar eritematosa
•Berkembang menjadi:
•Pustula
•Erosi
•Ulkus
•Krusta berupa plak keabu-abuan
•Gejala sistemik (misalnya demam, malais, limfadenopati) sering ditemukan
•Lesi baru dapat terus muncul hingga hari ke-10
•Reepitelisasi terjadi dalam 15–20 hari
•Pelepasan virus (viral shedding) berlangsung selama 10–12 hari
92.
MANIFESTASI KLINIS
Episode pertama
primer
Episodepertama
non primer
Rekuren Asimtomatik
Riwayat herpes
sebelumnya
Tidak ada Tidak ada ada Ada
Tingkat keparahan Paling berat Berat Ringan-berat Tidak bergejala
Pemeriksaan
Serologis IgG-IGM
HSV-1/2
negatif positif positif positif
93.
MANIFESTASI KLINIS EPISODEPERTAMA PRIMER
•Masa inkubasi: ±1 minggu (rentang 2–12 hari)
•Lesi primer:
•Vesikel multipel, nyeri, terpisah, pada dasar eritematosa
•Berkembang menjadi:
•Pustula
•Erosi
•Ulkus
•Krusta berupa plak keabu-abuan
•Gejala sistemik (misalnya demam, malais, limfadenopati) sering ditemukan
•Lesi baru dapat terus muncul hingga hari ke-10
•Reepitelisasi terjadi dalam 15–20 hari
•Pelepasan virus (viral shedding) berlangsung selama 10–12 hari
94.
MANIFESTASI KLINIS EPISODEPERTAMA PRIMER
•Masa inkubasi: ±1 minggu (rentang 2–12 hari)
•Lesi primer:
•Vesikel multipel, nyeri, terpisah, pada dasar eritematosa
•Berkembang menjadi:
•Pustula
•Erosi
•Ulkus
•Krusta berupa plak keabu-abuan
•Gejala sistemik (misalnya demam, malais, limfadenopati) sering ditemukan
•Lesi baru dapat terus muncul hingga hari ke-10
•Reepitelisasi terjadi dalam 15–20 hari
•Pelepasan virus (viral shedding) berlangsung selama 10–12 hari
95.
MANIFESTASI KLINIS EPISODEPERTAMA PRIMER
Lokasi
Laki-laki:
•Glans penis, sulkus koronal, uretra
•Batang penis, regio perineum
•Jarang: skrotum, area mons pubis, paha, bokong
Perempuan:
•Introitus vagina, meatus urinarius, labia, serviks (70%)
•Kurang sering: perineum, regio perineum, paha, bokong
Komplikasi
•Komplikasi neurologis (13–35%)
• Meningitis aseptik
• Mielitis transversa
• Radikulitis sakral → retensi urin
96.
MANIFESTASI KLINIS REKUREN
•Episode berulang
• Faktor pencetus: stres, kelelahan, menstruasi
• Gejala dan tanda lebih ringan dibanding infeksi primer
• Pelepasan virus tanpa gejala (asimptomatik) → dapat menyebabkan
ketidaknyamanan berat pada pasangan
• Gejala prodromal: rasa gatal, terbakar, kesemutan, disuria
• Prodrom yang tidak berkembang (aborted prodrome) tetapi tetap dapat
menimbulkan nyeri
• Vesikel berkelompok pada dasar eritematosa
• Reepitelisasi sekitar ±10 hari
• Pelepasan virus (viral shedding) sekitar ±4 hari
• Frekuensi rekurensi: 5–8 kali per tahun
• Tingkat kekambuhan HSV-2 lebih tinggi dibanding HSV-1
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
Molluscum contagiosumis a common benign
cutaneous infection with associated signs isolated
to the skin
Cause by Molluscipoxvirus (MCV)
a large, brick-shaped double-stranded
DNA poxvirus with genomic similarities to
other poxviruses
109.
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
Molluscum contagiosumis a common benign
cutaneous infection with associated signs isolated
to the skin
Cause by Molluscipoxvirus (MCV)
a large, brick-shaped double-stranded
DNA poxvirus with genomic similarities to
other poxviruses
B. MoluskumKontagiosum
3.Vegetasi
Jenis TindakanMetode
Destruksi Fisik
- Kuretase
- Krioterapi
- Laser CO₂
- Laser pulsed-dye
- Elektrodesikasi
Destruksi Kimia
- Perak nitrat
- Asam trikloroasetat
- Fenol
- Kantaridin
- Kalium hidroksida (KOH)
Tatalaksana:wait and see, Destruksi untuk Mengangkat Sel Epidermis yang Terinfeksi
Soal
Seorang perempuan, 21tahun, datang dengan
keluhan keputihan sejak 1 minggu yang lalu.
Pasien bekerja sebagai SPG. Pasien
menyangkal riwayat hubungan seksual
berisiko.
119.
Pertanyaan
4. Apakah terapiyang tepat untuk pasien ini?
A. Terapi kandidiasis vulvovaginalis
B. Terapi bakterial vaginosis
C. Terapi kandidiasis vulvovaginalis dan bakterial
vaginosis
D. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial
vaginosis, dan trikomoniasis
E. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial
vaginosis, trikomoniasis, servisistis gonore, dan
servisitis nongonore
123.
Pertanyaan
Pada pasien dilakukanpemeriksaan menggunakan
spekulum
terapi yang tepat untuk pasien ini?
A. Terapi kandidiasis vulvovaginalis
B. Terapi bakterial vaginosis
C. Terapi kandidiasis vulvovaginalis dan bakterial
vaginosis
D. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial
vaginosis, dan trikomoniasis
E. Terapi Kandidiasis vulvovaginalis, bakterial
vaginosis, trikomoniasis, servisistis gonore, dan
servisitis nongonore