Surat At-Tin
1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,
2. dan demi bukit Sinai,
3. dan demi kota (Mekah) ini yang aman,
4. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya.
5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya
(neraka),
6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka
bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari)
pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
8. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?
Mad Arid Lisukun
ikhfa
izhar
Qolqolah sugro
Gunnah musadah
izhar
Mad Layin
Asbabun Nuzul Surah At-Tin
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah S.95:5
mengandung arti ke tingkat pikun (seperti bayi lagi). Oleh
karena itu Rasulullah saw. ditanya tentang (kedudukan) orang
yang telah pikun itu. Maka Allah menurunkan ayat
selanjutnya (S.95:6) yang menegaskan bahwa mereka yang
beriman dan beramal shalih sebelum pikun akan mendapat
pahala yang tidak putus-putusnya.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-'ufi yang bersumber dari
Ibnu Abbas.)
1. Allah bersumpah atas nama makhluk-Nya
(Ayat 1) Allah SWT bersumpah dengan dua pohon yang terkenal ini, yaitu Tin
dan Zaitun, karena buah dan pohonnya mempunyai banyak manfaat.
2. Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna
(Ayat 4) Sedangkan obyek yang disumpahkan adalah firman-Nya berikut ini,
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna,
tetapi dia bisa menjadi makhluk yang paling rendah manakala tidak mampu
menggunakan nikmat
3. Allah adalah hakim yang paling adil
(Ayat 7) Lalu Allah swt menutup surat ini dengan melontarkan sebuah
pertanyaan kepada hamba-Nya: Wahai manusia, apa gerangan yang
menyebabkan kamu mendustakan hari pembalasan atas semua amal
perbuatan?
(Ayat 8] Lalu dalam penghujung surat, Allah bertanya tetapi tidak untuk dijawab
(karena jawabannya pasti ya): “Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?”
1. Wat tiini waz zaituun
"Demi Tin dan Zaitun,"
Allah SWT bersumpah kepada ciptaannya bukan lain agar
manusia berfikir tentang apa - apa yang telah diciptakan
oleh ALLAH SWT, karena buah tin dan zaitun mempunyai
kebaikan dan manfaat yang banyak sekali, buah tersebut
tampak terlihat keras namun bagi sistem pencernaan
buah tersebut amatlah lembut, Buah tersebut hanya
dapat tumbuh di tempat yang ALLAH SWT tentukan dan
jarang ditemukan di indonesia, karena memang buah
tersebut tumbuh di daerah timur tengah.Buah tersebut
banyak sekali manfaatnya,
2. Wa thuuri siiniin
dan demi bukit sinai
wa tuurisyiinin berarti bukit sinai atau gunung sinai atau
gunung tsabir yang berada di daerah mesir yang juga
disebut dengan "jabal musa" mengapa ALLAH SWT
membuat sumpa demi bukit sinai, Pasti ada sesuatu yang
sangat tak biasa dan sesuatu bukti tanda kekuasaan ALLAH
SWT disana. Memang bukit sinai dijadikan oleh ALLAH
SWT sebagai tempat untuk memanggil nabi Musa as untuk
berbicara kepada Nabi Musa as,
3. Wa haadzal baladil amiin
dan demi kota Mekkah ini yang aman"
Mahasuci Allah SWT dengan segala apa yang
diciptakan dan ditetapkan, kita tidak dapat
memungkiri bahwasannya jikalau kita memasuki
kota mekkah maka yang kita rasakan adalah
ketenangan dan juga ketentraman, rasanya kita
seakan tidak ingin keluar dari kota tersebut, karena
memang kota tersebut telah dijanjikan oleh ALLAH
SWT akan dijaga dan tidak akan pernah hancur
meski apapun yang terjadi kecuali pada hari AKHIR
yaitu kiamat,
4. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim
"sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dengan bentuk yang sebaik-
baiknya,"
Allah swt. dalam ayat ini menegaskan secara eksplisit bahwa
manusia itu diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna. Ar-
Raghib Al-Asfahani, seorang pakar bahasa Al Quran
menyebutkan bahwa kata 'taqwiim' pada ayat ini merupakan
isarat tentang keistimewaan manusia dibanding binatang,
yaitu dengan dikaruniainya akal, pemahaman, dan bentuk fisik
yang tegak dan lurus. Jadi 'ahsani taqwiim' berarti bentuk fisik dan
psikis yang sebaik-baiknya.
5. Tsumma radadnaahu asfala saafiliin
"Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya,"
Kalau binatang menghalalkan segala cara untuk
memenuhi kebutuhan perut dan syahwat biologisnya,
kita tidak bisa mengategorikannya sebagai perbuatan
hina, karena binatang tidak diberi akal dan nurani.
Namun, kalau manusia melakukan hal yang sama seperti
binatang, kita mengategorikannya sebagai perbuatan
hina karena manusia diberi akal dan nurani untuk
mengontrol perbuatannya. Nah, kalau kita tidak pernah
menggunakan akal sehat dan nurani untuk
mengarungi kehidupan, berarti derajat kita anjlok ke
level yang serendah-rendahnya.
6. Illalladziina aamanuu wa'amilushshaalihaati falahum ajrun
ghairu mamnuun
"Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh;
maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya."
Orang yang tidak akan turun pada derajat yang
paling rendah adalah orang-orang beriman. Iman
secara bahasa bermakna "pembenaran".
Maksudnya pembenaran terhadap apa yang
disampaikan oleh Nabi Muhammad saw., yang
pokok-pokoknya tergambar dalam rukun iman yang
enam; yakni (1) keesaan Allah swt., (2) malaikat, (3)
kitab-kitab suci, (4) para nabi dan rasul Allah, (5) hari
kemudian, (6) takdir yang baik & buruk.
7. Famaa yukadzdzibuka ba'du biddiin
"Maka apakah yang menyebabkan kamu
mendustakan hari pembalasan sesudah adanya
keterangan-keterangan itu?"
Bentuk pertanyaan pada ayat ini, dalam bahasa
Arab disebut "istifham inkari", mengandung
penegasan bahwa tidak ada alasan apapun yang
patut membuat manusia mendustakan hari
pembalasan dan mengingkari ajaran-ajaran Allah
swt., setelah mengetahui bahwa manusia
diciptakan sebagai makhluk yang paling mulia.
8. Alaisallaahu biahkamil haakimiin
"Bukankah Allah itu Hakim yang seadil-
adilnya?"
Seolah ayat ini mengatakan, "Pikirkanlah wahai
manusia, hanya Allah swt. Hakim yang Maha Adil dan
Maha Mengetahui kebutuhan kamu. Oleh sebab itu hanya
aturan-aturan-Nya yang bisa memenuhi kebutuhanmu!"
Semoga kita menjadi orang-orang yang dapat menjaga
kemuliaan yang Allah berikan dengan selalu meningkatkan
iman dan mengerjakan amal saleh.
Dalam ayat-ayat ini Allah bersumpah dengan masa Adam, masa
Nuh, dan tempat Musa Bermunajat dengan Allah, serta tempat
nabi Muhammad dilahirkan. Bahwa dia telah menjadikan manusia
dalam bentuk yang paling indah dan rupa yang paling sempurna.
Tetapi Allah akan mengembalikan manusia menjadi mahlik yang
paling hina derajatnya, apabila mereka menyamakan dirinya
dengan binatang-binatang liar. Yaitu suka mendendam, bertengkar
dan bermusuh-musuhan. Orang-orang mukmin dan yang beramal
saleh yang akan memperoleh pahala yang tiada putus-putusnya.
Allah lah yang paling adil dan paling tepat hukum-Nya.
Surat at tin

Surat at tin

  • 3.
  • 4.
    1. Demi (buah)Tin dan (buah) Zaitun, 2. dan demi bukit Sinai, 3. dan demi kota (Mekah) ini yang aman, 4. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. 5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), 6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. 7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? 8. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?
  • 6.
    Mad Arid Lisukun ikhfa izhar Qolqolahsugro Gunnah musadah izhar Mad Layin
  • 7.
    Asbabun Nuzul SurahAt-Tin Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah S.95:5 mengandung arti ke tingkat pikun (seperti bayi lagi). Oleh karena itu Rasulullah saw. ditanya tentang (kedudukan) orang yang telah pikun itu. Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (S.95:6) yang menegaskan bahwa mereka yang beriman dan beramal shalih sebelum pikun akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-'ufi yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
  • 9.
    1. Allah bersumpahatas nama makhluk-Nya (Ayat 1) Allah SWT bersumpah dengan dua pohon yang terkenal ini, yaitu Tin dan Zaitun, karena buah dan pohonnya mempunyai banyak manfaat. 2. Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna (Ayat 4) Sedangkan obyek yang disumpahkan adalah firman-Nya berikut ini, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, tetapi dia bisa menjadi makhluk yang paling rendah manakala tidak mampu menggunakan nikmat 3. Allah adalah hakim yang paling adil (Ayat 7) Lalu Allah swt menutup surat ini dengan melontarkan sebuah pertanyaan kepada hamba-Nya: Wahai manusia, apa gerangan yang menyebabkan kamu mendustakan hari pembalasan atas semua amal perbuatan? (Ayat 8] Lalu dalam penghujung surat, Allah bertanya tetapi tidak untuk dijawab (karena jawabannya pasti ya): “Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?”
  • 11.
    1. Wat tiiniwaz zaituun "Demi Tin dan Zaitun," Allah SWT bersumpah kepada ciptaannya bukan lain agar manusia berfikir tentang apa - apa yang telah diciptakan oleh ALLAH SWT, karena buah tin dan zaitun mempunyai kebaikan dan manfaat yang banyak sekali, buah tersebut tampak terlihat keras namun bagi sistem pencernaan buah tersebut amatlah lembut, Buah tersebut hanya dapat tumbuh di tempat yang ALLAH SWT tentukan dan jarang ditemukan di indonesia, karena memang buah tersebut tumbuh di daerah timur tengah.Buah tersebut banyak sekali manfaatnya,
  • 12.
    2. Wa thuurisiiniin dan demi bukit sinai wa tuurisyiinin berarti bukit sinai atau gunung sinai atau gunung tsabir yang berada di daerah mesir yang juga disebut dengan "jabal musa" mengapa ALLAH SWT membuat sumpa demi bukit sinai, Pasti ada sesuatu yang sangat tak biasa dan sesuatu bukti tanda kekuasaan ALLAH SWT disana. Memang bukit sinai dijadikan oleh ALLAH SWT sebagai tempat untuk memanggil nabi Musa as untuk berbicara kepada Nabi Musa as,
  • 13.
    3. Wa haadzalbaladil amiin dan demi kota Mekkah ini yang aman" Mahasuci Allah SWT dengan segala apa yang diciptakan dan ditetapkan, kita tidak dapat memungkiri bahwasannya jikalau kita memasuki kota mekkah maka yang kita rasakan adalah ketenangan dan juga ketentraman, rasanya kita seakan tidak ingin keluar dari kota tersebut, karena memang kota tersebut telah dijanjikan oleh ALLAH SWT akan dijaga dan tidak akan pernah hancur meski apapun yang terjadi kecuali pada hari AKHIR yaitu kiamat,
  • 14.
    4. Laqad khalaqnalinsaana fii ahsani taqwiim "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik- baiknya," Allah swt. dalam ayat ini menegaskan secara eksplisit bahwa manusia itu diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna. Ar- Raghib Al-Asfahani, seorang pakar bahasa Al Quran menyebutkan bahwa kata 'taqwiim' pada ayat ini merupakan isarat tentang keistimewaan manusia dibanding binatang, yaitu dengan dikaruniainya akal, pemahaman, dan bentuk fisik yang tegak dan lurus. Jadi 'ahsani taqwiim' berarti bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya.
  • 15.
    5. Tsumma radadnaahuasfala saafiliin "Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya," Kalau binatang menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan perut dan syahwat biologisnya, kita tidak bisa mengategorikannya sebagai perbuatan hina, karena binatang tidak diberi akal dan nurani. Namun, kalau manusia melakukan hal yang sama seperti binatang, kita mengategorikannya sebagai perbuatan hina karena manusia diberi akal dan nurani untuk mengontrol perbuatannya. Nah, kalau kita tidak pernah menggunakan akal sehat dan nurani untuk mengarungi kehidupan, berarti derajat kita anjlok ke level yang serendah-rendahnya.
  • 16.
    6. Illalladziina aamanuuwa'amilushshaalihaati falahum ajrun ghairu mamnuun "Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya." Orang yang tidak akan turun pada derajat yang paling rendah adalah orang-orang beriman. Iman secara bahasa bermakna "pembenaran". Maksudnya pembenaran terhadap apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw., yang pokok-pokoknya tergambar dalam rukun iman yang enam; yakni (1) keesaan Allah swt., (2) malaikat, (3) kitab-kitab suci, (4) para nabi dan rasul Allah, (5) hari kemudian, (6) takdir yang baik & buruk.
  • 17.
    7. Famaa yukadzdzibukaba'du biddiin "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan hari pembalasan sesudah adanya keterangan-keterangan itu?" Bentuk pertanyaan pada ayat ini, dalam bahasa Arab disebut "istifham inkari", mengandung penegasan bahwa tidak ada alasan apapun yang patut membuat manusia mendustakan hari pembalasan dan mengingkari ajaran-ajaran Allah swt., setelah mengetahui bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling mulia.
  • 18.
    8. Alaisallaahu biahkamilhaakimiin "Bukankah Allah itu Hakim yang seadil- adilnya?" Seolah ayat ini mengatakan, "Pikirkanlah wahai manusia, hanya Allah swt. Hakim yang Maha Adil dan Maha Mengetahui kebutuhan kamu. Oleh sebab itu hanya aturan-aturan-Nya yang bisa memenuhi kebutuhanmu!" Semoga kita menjadi orang-orang yang dapat menjaga kemuliaan yang Allah berikan dengan selalu meningkatkan iman dan mengerjakan amal saleh.
  • 19.
    Dalam ayat-ayat iniAllah bersumpah dengan masa Adam, masa Nuh, dan tempat Musa Bermunajat dengan Allah, serta tempat nabi Muhammad dilahirkan. Bahwa dia telah menjadikan manusia dalam bentuk yang paling indah dan rupa yang paling sempurna. Tetapi Allah akan mengembalikan manusia menjadi mahlik yang paling hina derajatnya, apabila mereka menyamakan dirinya dengan binatang-binatang liar. Yaitu suka mendendam, bertengkar dan bermusuh-musuhan. Orang-orang mukmin dan yang beramal saleh yang akan memperoleh pahala yang tiada putus-putusnya. Allah lah yang paling adil dan paling tepat hukum-Nya.