Intisari Buku Rijalud Daulah
Bersama Dakwah
Intisari Buku Rijalud Daulah
Rijalud Daulah
Judul Buku : Rijalud Daulah; Sosok Kader Mihwar Daulah
Penulis : Umar Hidayat
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Rabiul Akhir 1431 H/Maret 2010
Tebal Buku : xxiv + 216 halaman
Li kulli marhalatin rijaaluha. Setiap fase dakwah
memerlukan kader yang tepat. Setiap mihwar membutuhkan
kader dengan karakter dan kompetensi yang khas, sebab
tantangan di setiap mihwar juga berbeda. Lalu kader seperti
apa yang dibutuhkan dalam mihwar daulah? Umar Hidayat
melalui buku ini mengistilahkan kader itu sebagai Rijalud
Daulah. Sosok kader mihwar daulah adalah Rijalud Daulah
yang juga dijadikan judul buku ini.
Buku Rijalud Daulah; Sosok Kader Mihwar Daulah
secara umum dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama
berisi landasan filosofis yang mengantarkan lahirnya Rijalud
Daulah dan bagaimana deskripsi karakter Rijalud Daulah
serta kontribusi yang harus diperankannya. Sedangkan bagian
kedua membahas 10 langkah tradisi Rijalud Daulah yang
meliputi:
1. Menemukan mutiara di akar rumput
2. Rumahku markas perubahan
3. Mengubah telatan menjadi teladan
4. Menyambung sayap-sayap patah masyarakat kita
5. Menata kekuatan ta'aruf
Bersama Dakwah
Intisari Buku Rijalud Daulah
6. Menyirami jiwa silaturahmi
7. Bersalaman dengan 'musuh'
8. Pilot project dapur ngebul bukan gagasan
9. Visi majelis iman kaum sarungan
10.Mencari maqam kemuliaan gerakan pemberdayaan
wanita.
Dalam buku ini, Rijalud Daulah sering disebut dengan istilah
Sang Pejuang. Sebab ia memang berjuang untuk Islam dan
untuk negara. Keduanya bukan merupakan dua kepentingan
yang harus didikotomikan. Sebab negara saat sudah diwarnai
dakwah, ia juga akan sejalan dengan Islam. Dan inilah yang
dicita-citakan dalam mihwar daulah.
Konteks Dakwah Kenegaraan di Indonesia
Sebelum berbicara lebih jauh tentang Rijalud Daulah, bagian
pertama buku ini terlebih dulu mengajak kita untuk
memahami konteks dakwah kenegaraan di Indonesia.
Diawali perspektif negara dalam Islam, dikemukakan oleh
Umar Hidayat bahwa negara Islam itu berdiri di atas landasan
akidah Islam. Segala peraturan dan sistem dalam negara
Islam harus bersumber dari akidah Islam. Sedangkan sistem
pemerintahan Islam ditegakkan di atas empat pilar utama:
1. Kedaulatan di tangan syara'
2. Kekuasaan milik umat
3. Mengangkat satu khalifah hukumnya fardhu bagi seluruh
kaum muslimin
4. Hanya khalifah yang berhak melakukan tabanni (adopsi)
terhadap hukum-hukum syara'
Bersama Dakwah
Intisari Buku Rijalud Daulah
Namun dalam konteks keindonesiaan, yang hendak
diwujudkan Rijalud Daulah jelas bukan Islamic State atau
Negara Islam. Rijalud Daulah ingin menegakkan masyarakat
madani; bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dengan tidak
memprioritaskan hal-hal yang bersifat simbolik.
Karakter Rijalud Daulah
Rijalud daulah adalah manusia biasa yang memiliki jiwa
besar, lahir dari sejarah, besar karena belajar dari sejarah
hingga ia bisa membuat sejarah baru. Dengan demikian,
siapapun bisa menjadi Rijalud Daulah; asalkan ia menempa
dirinya dan selalu memetik hikmah, menyediakan diri
menjadi agen perubahan, dan berupaya membentuk
karakternya sebagai Rijalud Daulah.
Karakter Rijalud Daulah yang dimaksudkan untuk dicapai
dan dimiliki adalah sebegai berikut:
1. Pribadi Muslim. Rijalud Daulah harus memiliki
kepribadian islami (syakshiyah islamiyah). Kepribadian
ini yang kemudian mendasari setiap langkahnya, cara
berpikirnya, dan cara bersikap dalam kehidupannya.
2. Murabbi Produktif. Rijaluddaulah harus terlibat aktif
dalam aktifitas tarbiyah dengan menjadi murabbi yang
melahirkan kader-kader dakwah.
3. Menghargai Waktu. Rijalud Daulah adalah sosok yang
disiplin dan menghargai waktu; memiliki manajemen
waktu yang baik sekaligus manajemen prioritas sehingga
bisa bertindak efektif dalam memanfaatkan waktu.
4. Militansi. Rijalud Daulah adalah manusia yang memiliki
militansi unggul. Seperti halnya Yahya yang
diperintahkan Allah untuk mengemban amanah dengan
Bersama Dakwah
Intisari Buku Rijalud Daulah
penuh kesungguhan (jiddiyah) dan azzam yang tinggi
seperti Ulul Azmi. Militansi juga berarti komitmen dan
loyalitas yang tinggi kepada dakwah, kebenaran, dan
jamaah dalam beramal jamai.
5. Visioner. Dengan visi yang jauh ke depan, membawa
Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun
Ghafur, Rijalud Daulah bisa mengarahkan segala
langkahnya agar efektif dan tidak salah arah.
6. Komunikatif. Sebelum menjadi Rijalud Daulah, ia sudah
terlatih lebih dulu sebagai Rijalud Dakwah, yang akrab
dengan fiqih dakwah dan pendekatan sesuai kadar akal
dan medan yang dihadapi.
7. Profesional. Rijalud Daulah harus mampu menunjukkan
keunggulan kompetitif dan komparatifnya, di samping
bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi serta memenuhi
SOP dan amanah.
8. Moderat dan Toleran. Rijalud Daulah bukan sosok yang
ekstrem dan mengedepankan ashabiyah, melainkan
menguasai dan menerapkan fiqih dakwah dan fiqih
muwazanah dengan baik.
9. Berwawasan politik, kebangsaan, dan ketatanegaraan.
Karena Rijalud Daulah bekerja dalam konteks
kepemimpinan dan kenegaraan (menurut level atau
domain amalnya masing-masing), maka ketiga wawasan
ini sangat penting dan menjadi bekal yang sangat urgen di
mihwar daulah.
10. Jiwa Kepemimpinan dan ketokohan. Rijalud Daulah
harus menjadi pemimpin sesuai lingkup amanahnya. Ia
juga harus membangun ketokohan, yang sesungguhnya
ketokohan ini bisa direkayasa dengan difasilitasi oleh
amal jamai.
Bersama Dakwah
Intisari Buku Rijalud Daulah
11. Pelopor perubahan. Rijalud Daulah yang menjadi
pengganti generasi sebelumnya dalam mengelola negara
ini, harus bisa menjadi pelopor perubahan ke arah
perbaikan.
12. Sederhana dalam hidupnya. Rijalud Daulah adalah sosok
yang berkhidmat pada tugas-tugasnya, karenanya ia
pandai mengelola hartanya untuk sekadar mencukup
kehidupan. Berlaku zuhud mungkin adalah bahasa yang
tepat, yang justru semakin meneguhkan kemulian.
Pada akhirnya, dalam kontkes ke-Indonesia-an, Rijalud
Daulah harus berkontribusi bagi bangsa ini. Kontribusi itu
meliputi kontribusi pemikiran, kontribusi harta, kontribusi
(pengorbanan) jiwa, kontribusi pengetahuan, kontribusi
ketrampilan, dan kontribusi waktu.
Langkah Tradisi Rijalud Daulah
1. Menemukan mutiara di akar rumput
Yakni kemampuan melakukan isti'ab khariji (rekrutmen
eksternal), mencari orang-orang terbaik di masyarakat
untuk diberdayakan menjadi bagian dari proyek
kebaikan.
2. Rumahku markas perubahan
Yakni kemampuan untuk mengelola keluarga menjadi
keluarga muslim dan keluarga dakwah. Keluarga yang
menjadi contoh dan teladan. Keluarga yang mampu
melakukan taurits tarbawi (pewarisan tarbiyah) kepada
generasi berikutnya.
3. Mengubah telatan menjadi teladan
Bersama Dakwah
Intisari Buku Rijalud Daulah
Rijalud Daulah harus membiasakan diri bertindak cepat
dan tepat. Menjadi teladan. Tradisi telat harus diubah.
Entah itu telat merespon, telat mengambil keputusan,
telat mengantisipasi perubahan, dan sebagainya.
4. Menyambung sayap-sayap patah masyarakat kita
Bahwa kondisi kaum muda dan pelajar di negeri ini yang
masih perlu peningkatan pendidikan bisa diibaratkan
sayap-sayap patah. Mereka tidak bisa terbang. Maka
mendidik generasi muda dan para pelajar adalah
kebutuhan yang harus dibiasakan, ditradisikan.
Bersamaan dengan itu, Rijalud Daulah juga berupaya
merekonstrukri tata nilai dan orientasi kebutuhan hidup
masyarakat yang sejalan dengan Islam.
5. Menata kekuatan ta'aruf kita
Bagian terpenting dari bahasa komunikasi publik adalah
identitas. Jika identitas kita jelas dan kita memahami
identitas masyarakat dengan jelas pula, terlebih mampu
membentuk identitas mereka maka kohesi sosial dan
politik lebih mudah terjadi. Identitas yang baik harus
dibarengi dengan kualitas amal baik secara pribadi
Rijalud Daulah maupun secara jama'ah.
6. Menyirami jiwa silaturahmi
Silaturahim harus ditradisikan oleh Rijalud Daulah dan
jamaah. Secara individu dengan masyarakat, dan secara
jamaah dengan berbagai institusi di negeri ini terutama
kepada sesama gerakan Islam. Silaturahim ini merupakan
buah dari keimanan, dan ia akan membawa dampak
positif berupa perluasan dan penguatan jaringan.
Bersama Dakwah
Intisari Buku Rijalud Daulah
7. Bersalaman dengan 'musuh'
Seni berkawan dan berkoalisi bukan hanya menuntut
kemampuan mengartikulasikan diri dan nilai-nilai kita
secara baik dan mempesona, melainkan juga menuntut
kemampuan memahami orang lain, memasuki ruang dan
hati mereka, mengelola perbedaan-perbedaan menjadi
kekuatan yang dinamis, dan mengantisipasi potensi
ancaman untuk tidak terkristalisasi menjadi kekuatan
destruktif.
8. Pilot project dapur ngebul bukan gagasan melainkan
wajihah
Dakwah yang merupakan proyek besar dan
membutuhkan kesinambungan di era modern mutlak
membutuhkan wajihah/kelembagaan. Dengan wajihah
maka tangan dakwah lebih luas menjangkau ruang-ruang
yang semula sulit disentuh sekaligus solusi yang banyak
dan tepat dapat dirasakan masyarakat. Maka
pengembangan wajihah menjadi sangat urgen untuk
dilakukan dengan berbagai upaya yang sebagian
rumusannya ada dalam buku ini.
9. Masjid markas dakwah kita
Sejauh apapun dakwah telah melangkah dan mihwar
apapun yang dimasuki dakwah, masjid harus tetap
menjadi markas dakwah. Rijalud Daulah dengan
demikian juga merupakan Rijalul Masjid, kader-kader
penggerak dakwah dan pemakmur masjid.
Bersama Dakwah
Intisari Buku Rijalud Daulah
10. Mencari maqam kemuliaan gerakan pemberdayaan
wanita.
Wanita, selain jumlahnya yang lebih besar daripada laki-
laki, ia juga yang sangat menentukan generasi penerus
nanti. Maka gerakan pemberdayaan wanita menjadi
prioritas utama dalam proyek perbaikan bangsa dan
negara. Dakwah wanita setidaknya memiliki tiga urgensi;
bahwa dakwah kewajiban siapapun baik pria maupun
wanita, bahwa dakwah wanita merupakan bentuk
pembelaan sekaligus perlawanan atas musuh-musuh
Islam yang menjadikan wanita sebagai obyeknya, dan
sejalan fiqih dakwah dan prioritas dakwah yang lebih
wajib menjalankan dakwah kepada wanita adalah wanita.
Dan sebagai istri dan ibu dalam keluarga, wanita akan
sangat mempengaruhi keluarga dan kemudian menetukan
warna masyarakat dan nasib negara.
Buku Keempat 100 Buku Pengokohan Tarbiyah
Buku Rijalud Daulah; Sosok Kader Mihwar Daulah ini
merupakan buku keempat dari 100 buku pengokohan
tarbiyah, seri mihwar daulah. Bahasanya yang khas tarbiyah
disertai langkah-langkah aplikatif menjadikan buku ini
berkualitas dan enak dibaca. Kader dakwah perlu memiliki,
membaca, dan mengaplikasikannya. Setelah itu, semoga kita
termasuk bagian dari Rijalud Daulah; sosok kader yang tepat
untuk mengisi mihwar daulah.
Bersama Dakwah

rijalud daulah

  • 1.
    Intisari Buku RijaludDaulah Bersama Dakwah
  • 2.
    Intisari Buku RijaludDaulah Rijalud Daulah Judul Buku : Rijalud Daulah; Sosok Kader Mihwar Daulah Penulis : Umar Hidayat Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo Cetakan Ke : 1 Tahun Terbit : Rabiul Akhir 1431 H/Maret 2010 Tebal Buku : xxiv + 216 halaman Li kulli marhalatin rijaaluha. Setiap fase dakwah memerlukan kader yang tepat. Setiap mihwar membutuhkan kader dengan karakter dan kompetensi yang khas, sebab tantangan di setiap mihwar juga berbeda. Lalu kader seperti apa yang dibutuhkan dalam mihwar daulah? Umar Hidayat melalui buku ini mengistilahkan kader itu sebagai Rijalud Daulah. Sosok kader mihwar daulah adalah Rijalud Daulah yang juga dijadikan judul buku ini. Buku Rijalud Daulah; Sosok Kader Mihwar Daulah secara umum dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi landasan filosofis yang mengantarkan lahirnya Rijalud Daulah dan bagaimana deskripsi karakter Rijalud Daulah serta kontribusi yang harus diperankannya. Sedangkan bagian kedua membahas 10 langkah tradisi Rijalud Daulah yang meliputi: 1. Menemukan mutiara di akar rumput 2. Rumahku markas perubahan 3. Mengubah telatan menjadi teladan 4. Menyambung sayap-sayap patah masyarakat kita 5. Menata kekuatan ta'aruf Bersama Dakwah
  • 3.
    Intisari Buku RijaludDaulah 6. Menyirami jiwa silaturahmi 7. Bersalaman dengan 'musuh' 8. Pilot project dapur ngebul bukan gagasan 9. Visi majelis iman kaum sarungan 10.Mencari maqam kemuliaan gerakan pemberdayaan wanita. Dalam buku ini, Rijalud Daulah sering disebut dengan istilah Sang Pejuang. Sebab ia memang berjuang untuk Islam dan untuk negara. Keduanya bukan merupakan dua kepentingan yang harus didikotomikan. Sebab negara saat sudah diwarnai dakwah, ia juga akan sejalan dengan Islam. Dan inilah yang dicita-citakan dalam mihwar daulah. Konteks Dakwah Kenegaraan di Indonesia Sebelum berbicara lebih jauh tentang Rijalud Daulah, bagian pertama buku ini terlebih dulu mengajak kita untuk memahami konteks dakwah kenegaraan di Indonesia. Diawali perspektif negara dalam Islam, dikemukakan oleh Umar Hidayat bahwa negara Islam itu berdiri di atas landasan akidah Islam. Segala peraturan dan sistem dalam negara Islam harus bersumber dari akidah Islam. Sedangkan sistem pemerintahan Islam ditegakkan di atas empat pilar utama: 1. Kedaulatan di tangan syara' 2. Kekuasaan milik umat 3. Mengangkat satu khalifah hukumnya fardhu bagi seluruh kaum muslimin 4. Hanya khalifah yang berhak melakukan tabanni (adopsi) terhadap hukum-hukum syara' Bersama Dakwah
  • 4.
    Intisari Buku RijaludDaulah Namun dalam konteks keindonesiaan, yang hendak diwujudkan Rijalud Daulah jelas bukan Islamic State atau Negara Islam. Rijalud Daulah ingin menegakkan masyarakat madani; bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dengan tidak memprioritaskan hal-hal yang bersifat simbolik. Karakter Rijalud Daulah Rijalud daulah adalah manusia biasa yang memiliki jiwa besar, lahir dari sejarah, besar karena belajar dari sejarah hingga ia bisa membuat sejarah baru. Dengan demikian, siapapun bisa menjadi Rijalud Daulah; asalkan ia menempa dirinya dan selalu memetik hikmah, menyediakan diri menjadi agen perubahan, dan berupaya membentuk karakternya sebagai Rijalud Daulah. Karakter Rijalud Daulah yang dimaksudkan untuk dicapai dan dimiliki adalah sebegai berikut: 1. Pribadi Muslim. Rijalud Daulah harus memiliki kepribadian islami (syakshiyah islamiyah). Kepribadian ini yang kemudian mendasari setiap langkahnya, cara berpikirnya, dan cara bersikap dalam kehidupannya. 2. Murabbi Produktif. Rijaluddaulah harus terlibat aktif dalam aktifitas tarbiyah dengan menjadi murabbi yang melahirkan kader-kader dakwah. 3. Menghargai Waktu. Rijalud Daulah adalah sosok yang disiplin dan menghargai waktu; memiliki manajemen waktu yang baik sekaligus manajemen prioritas sehingga bisa bertindak efektif dalam memanfaatkan waktu. 4. Militansi. Rijalud Daulah adalah manusia yang memiliki militansi unggul. Seperti halnya Yahya yang diperintahkan Allah untuk mengemban amanah dengan Bersama Dakwah
  • 5.
    Intisari Buku RijaludDaulah penuh kesungguhan (jiddiyah) dan azzam yang tinggi seperti Ulul Azmi. Militansi juga berarti komitmen dan loyalitas yang tinggi kepada dakwah, kebenaran, dan jamaah dalam beramal jamai. 5. Visioner. Dengan visi yang jauh ke depan, membawa Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur, Rijalud Daulah bisa mengarahkan segala langkahnya agar efektif dan tidak salah arah. 6. Komunikatif. Sebelum menjadi Rijalud Daulah, ia sudah terlatih lebih dulu sebagai Rijalud Dakwah, yang akrab dengan fiqih dakwah dan pendekatan sesuai kadar akal dan medan yang dihadapi. 7. Profesional. Rijalud Daulah harus mampu menunjukkan keunggulan kompetitif dan komparatifnya, di samping bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi serta memenuhi SOP dan amanah. 8. Moderat dan Toleran. Rijalud Daulah bukan sosok yang ekstrem dan mengedepankan ashabiyah, melainkan menguasai dan menerapkan fiqih dakwah dan fiqih muwazanah dengan baik. 9. Berwawasan politik, kebangsaan, dan ketatanegaraan. Karena Rijalud Daulah bekerja dalam konteks kepemimpinan dan kenegaraan (menurut level atau domain amalnya masing-masing), maka ketiga wawasan ini sangat penting dan menjadi bekal yang sangat urgen di mihwar daulah. 10. Jiwa Kepemimpinan dan ketokohan. Rijalud Daulah harus menjadi pemimpin sesuai lingkup amanahnya. Ia juga harus membangun ketokohan, yang sesungguhnya ketokohan ini bisa direkayasa dengan difasilitasi oleh amal jamai. Bersama Dakwah
  • 6.
    Intisari Buku RijaludDaulah 11. Pelopor perubahan. Rijalud Daulah yang menjadi pengganti generasi sebelumnya dalam mengelola negara ini, harus bisa menjadi pelopor perubahan ke arah perbaikan. 12. Sederhana dalam hidupnya. Rijalud Daulah adalah sosok yang berkhidmat pada tugas-tugasnya, karenanya ia pandai mengelola hartanya untuk sekadar mencukup kehidupan. Berlaku zuhud mungkin adalah bahasa yang tepat, yang justru semakin meneguhkan kemulian. Pada akhirnya, dalam kontkes ke-Indonesia-an, Rijalud Daulah harus berkontribusi bagi bangsa ini. Kontribusi itu meliputi kontribusi pemikiran, kontribusi harta, kontribusi (pengorbanan) jiwa, kontribusi pengetahuan, kontribusi ketrampilan, dan kontribusi waktu. Langkah Tradisi Rijalud Daulah 1. Menemukan mutiara di akar rumput Yakni kemampuan melakukan isti'ab khariji (rekrutmen eksternal), mencari orang-orang terbaik di masyarakat untuk diberdayakan menjadi bagian dari proyek kebaikan. 2. Rumahku markas perubahan Yakni kemampuan untuk mengelola keluarga menjadi keluarga muslim dan keluarga dakwah. Keluarga yang menjadi contoh dan teladan. Keluarga yang mampu melakukan taurits tarbawi (pewarisan tarbiyah) kepada generasi berikutnya. 3. Mengubah telatan menjadi teladan Bersama Dakwah
  • 7.
    Intisari Buku RijaludDaulah Rijalud Daulah harus membiasakan diri bertindak cepat dan tepat. Menjadi teladan. Tradisi telat harus diubah. Entah itu telat merespon, telat mengambil keputusan, telat mengantisipasi perubahan, dan sebagainya. 4. Menyambung sayap-sayap patah masyarakat kita Bahwa kondisi kaum muda dan pelajar di negeri ini yang masih perlu peningkatan pendidikan bisa diibaratkan sayap-sayap patah. Mereka tidak bisa terbang. Maka mendidik generasi muda dan para pelajar adalah kebutuhan yang harus dibiasakan, ditradisikan. Bersamaan dengan itu, Rijalud Daulah juga berupaya merekonstrukri tata nilai dan orientasi kebutuhan hidup masyarakat yang sejalan dengan Islam. 5. Menata kekuatan ta'aruf kita Bagian terpenting dari bahasa komunikasi publik adalah identitas. Jika identitas kita jelas dan kita memahami identitas masyarakat dengan jelas pula, terlebih mampu membentuk identitas mereka maka kohesi sosial dan politik lebih mudah terjadi. Identitas yang baik harus dibarengi dengan kualitas amal baik secara pribadi Rijalud Daulah maupun secara jama'ah. 6. Menyirami jiwa silaturahmi Silaturahim harus ditradisikan oleh Rijalud Daulah dan jamaah. Secara individu dengan masyarakat, dan secara jamaah dengan berbagai institusi di negeri ini terutama kepada sesama gerakan Islam. Silaturahim ini merupakan buah dari keimanan, dan ia akan membawa dampak positif berupa perluasan dan penguatan jaringan. Bersama Dakwah
  • 8.
    Intisari Buku RijaludDaulah 7. Bersalaman dengan 'musuh' Seni berkawan dan berkoalisi bukan hanya menuntut kemampuan mengartikulasikan diri dan nilai-nilai kita secara baik dan mempesona, melainkan juga menuntut kemampuan memahami orang lain, memasuki ruang dan hati mereka, mengelola perbedaan-perbedaan menjadi kekuatan yang dinamis, dan mengantisipasi potensi ancaman untuk tidak terkristalisasi menjadi kekuatan destruktif. 8. Pilot project dapur ngebul bukan gagasan melainkan wajihah Dakwah yang merupakan proyek besar dan membutuhkan kesinambungan di era modern mutlak membutuhkan wajihah/kelembagaan. Dengan wajihah maka tangan dakwah lebih luas menjangkau ruang-ruang yang semula sulit disentuh sekaligus solusi yang banyak dan tepat dapat dirasakan masyarakat. Maka pengembangan wajihah menjadi sangat urgen untuk dilakukan dengan berbagai upaya yang sebagian rumusannya ada dalam buku ini. 9. Masjid markas dakwah kita Sejauh apapun dakwah telah melangkah dan mihwar apapun yang dimasuki dakwah, masjid harus tetap menjadi markas dakwah. Rijalud Daulah dengan demikian juga merupakan Rijalul Masjid, kader-kader penggerak dakwah dan pemakmur masjid. Bersama Dakwah
  • 9.
    Intisari Buku RijaludDaulah 10. Mencari maqam kemuliaan gerakan pemberdayaan wanita. Wanita, selain jumlahnya yang lebih besar daripada laki- laki, ia juga yang sangat menentukan generasi penerus nanti. Maka gerakan pemberdayaan wanita menjadi prioritas utama dalam proyek perbaikan bangsa dan negara. Dakwah wanita setidaknya memiliki tiga urgensi; bahwa dakwah kewajiban siapapun baik pria maupun wanita, bahwa dakwah wanita merupakan bentuk pembelaan sekaligus perlawanan atas musuh-musuh Islam yang menjadikan wanita sebagai obyeknya, dan sejalan fiqih dakwah dan prioritas dakwah yang lebih wajib menjalankan dakwah kepada wanita adalah wanita. Dan sebagai istri dan ibu dalam keluarga, wanita akan sangat mempengaruhi keluarga dan kemudian menetukan warna masyarakat dan nasib negara. Buku Keempat 100 Buku Pengokohan Tarbiyah Buku Rijalud Daulah; Sosok Kader Mihwar Daulah ini merupakan buku keempat dari 100 buku pengokohan tarbiyah, seri mihwar daulah. Bahasanya yang khas tarbiyah disertai langkah-langkah aplikatif menjadikan buku ini berkualitas dan enak dibaca. Kader dakwah perlu memiliki, membaca, dan mengaplikasikannya. Setelah itu, semoga kita termasuk bagian dari Rijalud Daulah; sosok kader yang tepat untuk mengisi mihwar daulah. Bersama Dakwah