RENUNGAN HARIAN
Ulangan 9 :13 Lagi TUHAN berfirman kepadaku: Telah Kulihat
bangsan
ini dan sesungguhnya mereka adalah bangsa yang tegar
tengkuk.
Beberapa waktu lalu , sebuah film yang mengisahkan tentang Musa yang
memimpin Bangsa Israel keluar dari Mesir diputar di bioskop.EXODUS
adalah judul filmnya. Ketika Allah memimpin Israel keluar dari
Mesir, yang menjadi tujuan adalah tanah perjanjian yang kaya akan
madu dan susunya. Alkitab mencatat ada 600.000 orang tidak termasuk
anak-anak dan perempuan yang keluar dari Mesir Tetapi berapa yang
berhasil masuk tanah perjanjian? Apakah 500,000 apakah 100,000 ,
1000 atau 100 ? Hanya 2 orang yang berhasil masuk yaitu Yosua dan
Kaleb.
Mengapa orang-orang Israel lain tidak berhasil masuk tanah
perjanjian?Orang Israel tegar tengkuk dan bersungut-sungut. Ketika
di Mesir, Israel sudah melihat bagaimana Allah mengadakan mukjikat
dengan mengadakan tulah-tulah untuk Mesir, bahkan ketika mereka
keluar dari Mesir mereka dapat menyebrang laut merah karena laut
terbelah , air membentuk seperti dinding. Namun demikian, belum
cukup bagi mereka melihat mukjijat dan kebaikan Tuhan, dan mereka
tetap bersungut-sungut sehingga Allah membuat mereka berputar-putar
di padang gurun selama 40 tahun. Mereka bersungut-sungut, kalau kita
pakai bahasa sekarang mungkin bunyinya seperti ini , “ Kenapa juga
Musa bawa kita ke sini….susah hidup kita sekarang…..Lebih enak di
Mesir, gampang dapat air” Mereka mengeluh pada Musa, namun Allah
tetap sabar dan memberikan kebaikan-kebaikanNya kepada Israel .
Allah memberikan tiang awan dan tiang api supaya mereka tidak
kepanasan dan kedinginan, Allah memberikan roti manna dan telur
puyuh, Allah memberikan jalan keluar ketika mereka dipatuk ular
tedung. Tapi kebaikan-kebaikan Tuhan tersebut tidak mampu dilihat
dan disyukuri oleh orang Israel.
Kalau kita melihat diri kita saat ini, sepertinya sifat Israel ada
di dalam kita. Begitu banyak kebaikan yang Tuhan berikan kepada kita
setiap hari yang tidak kita anggap. Kita anggap itu hal yang biasa.
Tetapi begitu kita mendapatkan masalah walaupun itu mungkin kecil,
kita lihat masalah sebagai sesuatu yang besar.
Marilah mulai belajar bersyukur mulai dari hal-hal yang kecil
sehingga kita dilayakkan untuk menikmati janji-janji Allah seperti
Josua dan Kaleb. (alv)
RENUNGAN HARIAN
1Samuel 1:6 Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, o
karena TUHAN telah menutup
kandungannya. 1:7 Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina
menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan
Tidak sedikit umat Kristiani yang tiba-tiba menjadi malah beribadah,
malas melakukan kegiatan rohani lain di gereja, alasannya antara
yang cukup umum adalah , sakit hari dengan Tuhan karena kehidupannya
malang terus , atau menjadi tidak cocok dengan teman sepelayanan
Kita bisa membayangkan hancurnya hati Hana saat itu ketika ia sudah
benar-benar tidak tahan menghadapi keadaan yang begitu buruk bagi
dirinya. Hati Hana sudah sejak lama hancur ketika dia menyadari
bahwa dia bukan perempuan sempurna, ketika sampai dalam usia yang
demikian ia belum juga dikaruniai seorang anak. Alkitab mencatat
bahwa Tuhan telah menutup kandungannya. Perempuan manapun pasti
lebih hancur lagi hatinya ketika suaminya mengambil perempuan lain
untuk dijadikan madu, Ketika Elkana mengambil Penina menjadi istri
kedua sudah dipastikan kegusaran dan kesedihan Hana bertambah.
Ketika akhirnya Penina , saingannya bisa melahirkan banyak anak, dan
sengaja memanas-manasi Hana supaya menjadi gusar, pasti kesedihan
itu sangat mendalam
Tetapi lihat respon Hana di dalam kesemuanya itu : Hana tetap
setiap beribadah kepada Allah, memberikan korban , pergi ke Silo
setiap tahun walaupun ia sangat yakin akan menderita. Ibadah untuk
Tuhan mengalahkan kegusaran hatinya. Dari kisah Elkana, Hana dan
Penina coba kita lihat Hana, sudah jelas setiap tahun dia akan
menderita karena sikap Penina yang membuatnya gusar dan itu terjadi
berulang-ulang.
Saya yakin, ketika tahun ke sekian mereka sekeluarga pergi ke Silo
pasti jauh hari sebelumya Hana sudah gusar karena sangat tahu akan
sangat sakit hati di sana. Penina mengolok-olok atau dalam bahasa
sekarang “membully “ Hana karena tidak bisa punya anak , tetapi
Alkitab menulis bahwa bertahun-tahun ia tetap setia , ikut
mempersembahkan korban walaupun dia sudah yakin pasti ia akan
mengalami susah hati.
Bagaimanakah kita merespon kemalangan kita ? Apakah kita
emosional ? Apakah kita menjadi tidak mau beribadah kepada Allah?
Apakah kita suka bangga dengan keterpurukan kita dan menceritakan
kepada semua orang? Mari belajar dari Hana, yang mampu mengendalikan
emosi sehingga hubungan dengan Tuhan dan sesamanya dapat terjaga.
Tetap setia beribadah walaupun sedang di dalam perkara yang berat.
Tetap sabar walaupun berada di dalam tekanan. Tuhan memberkati.
(alv)
RENUNGAN HARIAN
1Samuel 1:9 Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana,
sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci r
TUHAN, 1:10 dan dengan hati pedih s
ia
berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu.
Di dalam menyikapi kondisi kehidupan yang tidak sesuai dengan
harapan kita biasanya banyak orang merasa tertekan atau stress.
Kecenderungan masyarakat saat ini adalah mengumbar kesedihan apalagi
dengan banyaknya sosial media seperti Facebook, Path, Instagram atau
sejenisnya. Apabila orang tersebut termasuk yang emosional, sangat
mungkin dia it curcol dengan penuh emosi kepada semua orang di
sekelilingnya.
Kalau kita lihat kisah dari Hana di dalam 1 Samuel, Hana pada saat
itu sudah sangat pasti dalam kondisi yang tertekan. Kesedihan yang
sudah terakumulasi bertahun-tahun. Karena dimadu suaminya, kemudian
madunya itu menyakiti dia, kemudian suaminya Elkanajuga mungkin
kurang peka sehingga masih bertanya, “ Mengapa engkau bersedih?”.
Dalam kondisi demikian, Hana berdoa kepada Tuhan mencurahkan isi
hatinya. Tetapi cobaan belum cukup sampai di situ, Imam Eli sebagai
orang yang dihormati sebagai pemimpin keagamaan malah menuduh ia
mabuk oleh anggur.
Kalau kita tinjau dari sudut ilmu pengetahuan modern, saya yakin
bahwa Hana memiliki EQ (Emotional Intelligence) yang tinggi, dimana
ia bisa sangat menguasai diri dan emosinya. Buktinya adalah :
1. Tidak menjelek-jelekan orang yang menyakiti dia: Ketika Elkana
menanyakan, mengapa ia bersedih, ia tidak berkata yang jelek-
jelek mengenai Penina padahal sangat mungkin ia mengadu kepada
Elkana atas kelakuan Penina yang semena-mena.
2. Tidak show off kemalangan: Ketika dalam kondisi stress tak
tertahan , Hana memilih untuk pergi sendiri ke bait Allah
untuk berdoa , ia tidak “show off” kesedihannya di depan orang
banyak karena menjaga martabatnya.  Berepa banyak dari kita
yang suka menjadi “Drama Queen” , bangga akan keterpurukan
kita dan mengumbar-umbar di depan orang banyak, apalagi
sekarang ada social media, berapa banyak yang suka umbar
masalah di status-status kita . Apakah itu menyelesaikan
masalah? Tentu tidak bukan.
3. Mempu mengendalikan emosi : Coba bayangkan, ketika dalam
kondisi sangat stress ,menangis dan bedoa sendirian , Imam Eli
yang dihormati menuduh ia mabuk. Dalam kondisi yang demikian
kemarahan Hana tidak meledak, tapi mampu menjawab kata-kata
Imam Eli dengan dengan jawaban yang sopan.
Apakah kita cukup rendah hati untuk belajar dari Hana ? Ketika
ditimpa masalah dan kemalangan, kita tetap bisa menjaga sikap,
menjaga perkataan, serta cukup dewasa dalam mengendalikan emosi ?
(alv)
RENUNGAN HARIAN
“Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-
murid-Ku yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35)
Salah satu kata yang seringkali kita dengar dan jumpai akhir-akhir
ini adalah kata PEDULI atau CARE. Sebelum kita mendalami soal
peduli, saya mau memberikan sebuah cerita : Di sebuah peternakan,
hiduplah sepasang suami istri petani yang memiliki seekor ayam,
seekor sapi, seekor kambing dan di sana juga hidup seekor binatang
pengerat yaitu tikus. Ketika menyadari di rumahnya ada seekor tikus
maka petani membeli sebuah perangkap tikus. Tikus melihat perangkap
untuknya berteriak minta tolong kepada kambing, ayam dan sapi,
tetapi tidak seekor pun yang mau menolong. Mereka kompak berkata, “
Itu masalahmu tikus, bukan masalah kami “. Tikus sangat sedih
sekali. Pada malam hari terdengar kalau perangkap tikus itu
menangkap mangsanya “Cetarrrr” suaranya keras membangunkan pasangan
suami istri tersebur. Mereka melongok dan menjumpai ternyata yang
tertangkap perangkap bukan tikus melainkan seekor ular kecil. Ketika
istri petani mendekat, tiba-tiba saya ular tersebut menggigit
tangannya . Rupanya ular itu ular berbisa . Istri petani terserang
demam tinggi , sehingga petani memotong si ayam untuk dibuatkan sup
ayam. Namun, si istri tetap sakit walau sudah diobati dan diberi sup
ayam. Atas saran saudara-saudara dan kerabatnya, petani menyuguhkan
hati kambing karenanya si kambing juga disembelih. Ternyata istri
petani tidak dapat tertolong dan meninggal dunia. Ada banyak orang
yang hadir ke pemakamannya. Untuk memberikan makanan kepada para
tamu maka petani terpaksa memotong si sapi untuk dibuat rendang. Si
tikus melihat kesemuanya itu dengan heran , karena perangkap yang
seharusnya ditujukan untuknya ternyata berakibat fatal bukan untuk
si tikus sendiri melainkan untuk teman-teman yang lain.
Dari kisah ini kita dapat menarik benang merah dengan apa yang
dikatakan Yesus ““Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu
adalah murid-murid-Ku yaitu jikalau kamu saling mengasihi” . Salah
satu tanda mengasihi orang lain adalah dengan peduli atau CARE.
Kadang kita tidak peduli dengan orang-orang yang kita anggap tidak
ada kepentingannya untuk kita. Tapi sebenarnya tidak seharusnya
seperti itu. Di dalam ilustrasi cerita tadi, ketidakpedulian
terhadap Sesuatu yang menurut kita tidak penting ternyata bisa juga
berdampak tidak langsung dalam kehidupan kita. Kepedulian bukan
karena kita berkepentingan, tetapi lebih karena kita mengasihi orang
lain. (alv)
RENUNGAN HARIAN
1Tim4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua.
Saudara-saudara, beberapa dari kita mungkin sudah Kristen sejak
lahir dan beberapa dari kita mungkin baru saya menjadi Kristen di
saat kita sudah berusia dewasa. Walaupun kita Kristen sejak kecil
ataupun Kristen saat sudah dewasa, hidup kita tidak terlepas dari
dongeng-dongeng nenek kita dan tahayul . Dalam kehidupan sehari-
hari di dalam pertemanan saya, sering kita menjumpai dan mendengar
orang tua membahas soal ramalan dan takhayul-takhayul, seperti :
1. Tanda di badan: misalnya garis tangan itu menentukan
kesuksesan hidup seseorang . Kalau demikian, bagaimana dengan
Nick Vujicic yang tidak mempunyai tangan. Ada orang yang
sengaja mengoperasi bentuk hidung karena “tidak hoki”.
2. Hari baik dan hari buruk : Misalnya kalau mau menikah, pindah
rumah, harus mengecek dulu apakah harinya membawa berkah atau
kesialan.
3. Pantangan-pantangan : Tidak boleh tiduran tengkurap sambil
mengangkat kaki karena menyumpahi orang tua meninggal, tidak
boleh keramas dan menyapu saat tahun baru karena membuang-
buang rejeki, Tidak boleh ini..tidak boleh itu.
Setiap hari disuguhi oleh hal-hal seperti itu secara terus menerus
dan intensitas yang cukup banyak, secara tidak langsung alam bawah
sadar kita akan terpengaruh. Acara-acara televisi dan radio
terkadang ikut “menyemarakkan” seakan memberi dukungan untuk hal-hal
macam ini. Bagi kita yang dewasa saja mungkin kalau itu terus
menerus kita dengar dan lihat, sedikit banyak bisa merubah cara
pandang kita terhadap hal-hal tersebut. Apalagi dengan anak-anak
kita yang masih berusia dini?
Oleh karena itu, marilah kita baik terus menggali firman Allah, yang
memberi makanan rohani kita . Jangan sampai kita memberi jasmani
kita makan 3x sehari tapi rohani hanya sekenanya saja. Jauhilah
tayangan-tayangan yang sifatnya tidak berguna dan bisa membahayakan
keteguhan iman kita. Di dalam Amsal tertulis “Pergaulan buruk
merusak kebiasaan baik”. Jangan sampai kita bergaul akrab dengan
berita-berita atau tayangan yang membahas soal ramalan, horoskop,
pantangan dll, sehingga itu merusak iman kita bahwa roh yang ada di
dalam kita lebih besar dari roh apapun yang ada di dunia ini. Be
careful. (alv)
renungan the way2

renungan the way2

  • 1.
    RENUNGAN HARIAN Ulangan 9:13 Lagi TUHAN berfirman kepadaku: Telah Kulihat bangsan ini dan sesungguhnya mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk. Beberapa waktu lalu , sebuah film yang mengisahkan tentang Musa yang memimpin Bangsa Israel keluar dari Mesir diputar di bioskop.EXODUS adalah judul filmnya. Ketika Allah memimpin Israel keluar dari Mesir, yang menjadi tujuan adalah tanah perjanjian yang kaya akan madu dan susunya. Alkitab mencatat ada 600.000 orang tidak termasuk anak-anak dan perempuan yang keluar dari Mesir Tetapi berapa yang berhasil masuk tanah perjanjian? Apakah 500,000 apakah 100,000 , 1000 atau 100 ? Hanya 2 orang yang berhasil masuk yaitu Yosua dan Kaleb. Mengapa orang-orang Israel lain tidak berhasil masuk tanah perjanjian?Orang Israel tegar tengkuk dan bersungut-sungut. Ketika di Mesir, Israel sudah melihat bagaimana Allah mengadakan mukjikat dengan mengadakan tulah-tulah untuk Mesir, bahkan ketika mereka keluar dari Mesir mereka dapat menyebrang laut merah karena laut terbelah , air membentuk seperti dinding. Namun demikian, belum cukup bagi mereka melihat mukjijat dan kebaikan Tuhan, dan mereka tetap bersungut-sungut sehingga Allah membuat mereka berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun. Mereka bersungut-sungut, kalau kita pakai bahasa sekarang mungkin bunyinya seperti ini , “ Kenapa juga Musa bawa kita ke sini….susah hidup kita sekarang…..Lebih enak di Mesir, gampang dapat air” Mereka mengeluh pada Musa, namun Allah tetap sabar dan memberikan kebaikan-kebaikanNya kepada Israel . Allah memberikan tiang awan dan tiang api supaya mereka tidak kepanasan dan kedinginan, Allah memberikan roti manna dan telur puyuh, Allah memberikan jalan keluar ketika mereka dipatuk ular tedung. Tapi kebaikan-kebaikan Tuhan tersebut tidak mampu dilihat dan disyukuri oleh orang Israel. Kalau kita melihat diri kita saat ini, sepertinya sifat Israel ada di dalam kita. Begitu banyak kebaikan yang Tuhan berikan kepada kita setiap hari yang tidak kita anggap. Kita anggap itu hal yang biasa. Tetapi begitu kita mendapatkan masalah walaupun itu mungkin kecil, kita lihat masalah sebagai sesuatu yang besar. Marilah mulai belajar bersyukur mulai dari hal-hal yang kecil sehingga kita dilayakkan untuk menikmati janji-janji Allah seperti Josua dan Kaleb. (alv)
  • 2.
    RENUNGAN HARIAN 1Samuel 1:6Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, o karena TUHAN telah menutup kandungannya. 1:7 Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan Tidak sedikit umat Kristiani yang tiba-tiba menjadi malah beribadah, malas melakukan kegiatan rohani lain di gereja, alasannya antara yang cukup umum adalah , sakit hari dengan Tuhan karena kehidupannya malang terus , atau menjadi tidak cocok dengan teman sepelayanan Kita bisa membayangkan hancurnya hati Hana saat itu ketika ia sudah benar-benar tidak tahan menghadapi keadaan yang begitu buruk bagi dirinya. Hati Hana sudah sejak lama hancur ketika dia menyadari bahwa dia bukan perempuan sempurna, ketika sampai dalam usia yang demikian ia belum juga dikaruniai seorang anak. Alkitab mencatat bahwa Tuhan telah menutup kandungannya. Perempuan manapun pasti lebih hancur lagi hatinya ketika suaminya mengambil perempuan lain untuk dijadikan madu, Ketika Elkana mengambil Penina menjadi istri kedua sudah dipastikan kegusaran dan kesedihan Hana bertambah. Ketika akhirnya Penina , saingannya bisa melahirkan banyak anak, dan sengaja memanas-manasi Hana supaya menjadi gusar, pasti kesedihan itu sangat mendalam Tetapi lihat respon Hana di dalam kesemuanya itu : Hana tetap setiap beribadah kepada Allah, memberikan korban , pergi ke Silo setiap tahun walaupun ia sangat yakin akan menderita. Ibadah untuk Tuhan mengalahkan kegusaran hatinya. Dari kisah Elkana, Hana dan Penina coba kita lihat Hana, sudah jelas setiap tahun dia akan menderita karena sikap Penina yang membuatnya gusar dan itu terjadi berulang-ulang. Saya yakin, ketika tahun ke sekian mereka sekeluarga pergi ke Silo pasti jauh hari sebelumya Hana sudah gusar karena sangat tahu akan sangat sakit hati di sana. Penina mengolok-olok atau dalam bahasa sekarang “membully “ Hana karena tidak bisa punya anak , tetapi Alkitab menulis bahwa bertahun-tahun ia tetap setia , ikut mempersembahkan korban walaupun dia sudah yakin pasti ia akan mengalami susah hati. Bagaimanakah kita merespon kemalangan kita ? Apakah kita emosional ? Apakah kita menjadi tidak mau beribadah kepada Allah? Apakah kita suka bangga dengan keterpurukan kita dan menceritakan kepada semua orang? Mari belajar dari Hana, yang mampu mengendalikan emosi sehingga hubungan dengan Tuhan dan sesamanya dapat terjaga. Tetap setia beribadah walaupun sedang di dalam perkara yang berat. Tetap sabar walaupun berada di dalam tekanan. Tuhan memberkati. (alv)
  • 3.
    RENUNGAN HARIAN 1Samuel 1:9Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci r TUHAN, 1:10 dan dengan hati pedih s ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Di dalam menyikapi kondisi kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan kita biasanya banyak orang merasa tertekan atau stress. Kecenderungan masyarakat saat ini adalah mengumbar kesedihan apalagi dengan banyaknya sosial media seperti Facebook, Path, Instagram atau sejenisnya. Apabila orang tersebut termasuk yang emosional, sangat mungkin dia it curcol dengan penuh emosi kepada semua orang di sekelilingnya. Kalau kita lihat kisah dari Hana di dalam 1 Samuel, Hana pada saat itu sudah sangat pasti dalam kondisi yang tertekan. Kesedihan yang sudah terakumulasi bertahun-tahun. Karena dimadu suaminya, kemudian madunya itu menyakiti dia, kemudian suaminya Elkanajuga mungkin kurang peka sehingga masih bertanya, “ Mengapa engkau bersedih?”. Dalam kondisi demikian, Hana berdoa kepada Tuhan mencurahkan isi hatinya. Tetapi cobaan belum cukup sampai di situ, Imam Eli sebagai orang yang dihormati sebagai pemimpin keagamaan malah menuduh ia mabuk oleh anggur. Kalau kita tinjau dari sudut ilmu pengetahuan modern, saya yakin bahwa Hana memiliki EQ (Emotional Intelligence) yang tinggi, dimana ia bisa sangat menguasai diri dan emosinya. Buktinya adalah : 1. Tidak menjelek-jelekan orang yang menyakiti dia: Ketika Elkana menanyakan, mengapa ia bersedih, ia tidak berkata yang jelek- jelek mengenai Penina padahal sangat mungkin ia mengadu kepada Elkana atas kelakuan Penina yang semena-mena. 2. Tidak show off kemalangan: Ketika dalam kondisi stress tak tertahan , Hana memilih untuk pergi sendiri ke bait Allah untuk berdoa , ia tidak “show off” kesedihannya di depan orang banyak karena menjaga martabatnya.  Berepa banyak dari kita yang suka menjadi “Drama Queen” , bangga akan keterpurukan kita dan mengumbar-umbar di depan orang banyak, apalagi sekarang ada social media, berapa banyak yang suka umbar masalah di status-status kita . Apakah itu menyelesaikan masalah? Tentu tidak bukan. 3. Mempu mengendalikan emosi : Coba bayangkan, ketika dalam kondisi sangat stress ,menangis dan bedoa sendirian , Imam Eli yang dihormati menuduh ia mabuk. Dalam kondisi yang demikian
  • 4.
    kemarahan Hana tidakmeledak, tapi mampu menjawab kata-kata Imam Eli dengan dengan jawaban yang sopan. Apakah kita cukup rendah hati untuk belajar dari Hana ? Ketika ditimpa masalah dan kemalangan, kita tetap bisa menjaga sikap, menjaga perkataan, serta cukup dewasa dalam mengendalikan emosi ? (alv)
  • 5.
    RENUNGAN HARIAN “Dengan demikiansemua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid- murid-Ku yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35) Salah satu kata yang seringkali kita dengar dan jumpai akhir-akhir ini adalah kata PEDULI atau CARE. Sebelum kita mendalami soal peduli, saya mau memberikan sebuah cerita : Di sebuah peternakan, hiduplah sepasang suami istri petani yang memiliki seekor ayam, seekor sapi, seekor kambing dan di sana juga hidup seekor binatang pengerat yaitu tikus. Ketika menyadari di rumahnya ada seekor tikus maka petani membeli sebuah perangkap tikus. Tikus melihat perangkap untuknya berteriak minta tolong kepada kambing, ayam dan sapi, tetapi tidak seekor pun yang mau menolong. Mereka kompak berkata, “ Itu masalahmu tikus, bukan masalah kami “. Tikus sangat sedih sekali. Pada malam hari terdengar kalau perangkap tikus itu menangkap mangsanya “Cetarrrr” suaranya keras membangunkan pasangan suami istri tersebur. Mereka melongok dan menjumpai ternyata yang tertangkap perangkap bukan tikus melainkan seekor ular kecil. Ketika istri petani mendekat, tiba-tiba saya ular tersebut menggigit tangannya . Rupanya ular itu ular berbisa . Istri petani terserang demam tinggi , sehingga petani memotong si ayam untuk dibuatkan sup ayam. Namun, si istri tetap sakit walau sudah diobati dan diberi sup ayam. Atas saran saudara-saudara dan kerabatnya, petani menyuguhkan hati kambing karenanya si kambing juga disembelih. Ternyata istri petani tidak dapat tertolong dan meninggal dunia. Ada banyak orang yang hadir ke pemakamannya. Untuk memberikan makanan kepada para tamu maka petani terpaksa memotong si sapi untuk dibuat rendang. Si tikus melihat kesemuanya itu dengan heran , karena perangkap yang seharusnya ditujukan untuknya ternyata berakibat fatal bukan untuk si tikus sendiri melainkan untuk teman-teman yang lain. Dari kisah ini kita dapat menarik benang merah dengan apa yang dikatakan Yesus ““Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku yaitu jikalau kamu saling mengasihi” . Salah satu tanda mengasihi orang lain adalah dengan peduli atau CARE. Kadang kita tidak peduli dengan orang-orang yang kita anggap tidak ada kepentingannya untuk kita. Tapi sebenarnya tidak seharusnya seperti itu. Di dalam ilustrasi cerita tadi, ketidakpedulian terhadap Sesuatu yang menurut kita tidak penting ternyata bisa juga berdampak tidak langsung dalam kehidupan kita. Kepedulian bukan karena kita berkepentingan, tetapi lebih karena kita mengasihi orang lain. (alv)
  • 6.
    RENUNGAN HARIAN 1Tim4:7 Tetapijauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Saudara-saudara, beberapa dari kita mungkin sudah Kristen sejak lahir dan beberapa dari kita mungkin baru saya menjadi Kristen di saat kita sudah berusia dewasa. Walaupun kita Kristen sejak kecil ataupun Kristen saat sudah dewasa, hidup kita tidak terlepas dari dongeng-dongeng nenek kita dan tahayul . Dalam kehidupan sehari- hari di dalam pertemanan saya, sering kita menjumpai dan mendengar orang tua membahas soal ramalan dan takhayul-takhayul, seperti : 1. Tanda di badan: misalnya garis tangan itu menentukan kesuksesan hidup seseorang . Kalau demikian, bagaimana dengan Nick Vujicic yang tidak mempunyai tangan. Ada orang yang sengaja mengoperasi bentuk hidung karena “tidak hoki”. 2. Hari baik dan hari buruk : Misalnya kalau mau menikah, pindah rumah, harus mengecek dulu apakah harinya membawa berkah atau kesialan. 3. Pantangan-pantangan : Tidak boleh tiduran tengkurap sambil mengangkat kaki karena menyumpahi orang tua meninggal, tidak boleh keramas dan menyapu saat tahun baru karena membuang- buang rejeki, Tidak boleh ini..tidak boleh itu. Setiap hari disuguhi oleh hal-hal seperti itu secara terus menerus dan intensitas yang cukup banyak, secara tidak langsung alam bawah sadar kita akan terpengaruh. Acara-acara televisi dan radio terkadang ikut “menyemarakkan” seakan memberi dukungan untuk hal-hal macam ini. Bagi kita yang dewasa saja mungkin kalau itu terus menerus kita dengar dan lihat, sedikit banyak bisa merubah cara pandang kita terhadap hal-hal tersebut. Apalagi dengan anak-anak kita yang masih berusia dini? Oleh karena itu, marilah kita baik terus menggali firman Allah, yang memberi makanan rohani kita . Jangan sampai kita memberi jasmani kita makan 3x sehari tapi rohani hanya sekenanya saja. Jauhilah tayangan-tayangan yang sifatnya tidak berguna dan bisa membahayakan keteguhan iman kita. Di dalam Amsal tertulis “Pergaulan buruk merusak kebiasaan baik”. Jangan sampai kita bergaul akrab dengan berita-berita atau tayangan yang membahas soal ramalan, horoskop, pantangan dll, sehingga itu merusak iman kita bahwa roh yang ada di dalam kita lebih besar dari roh apapun yang ada di dunia ini. Be careful. (alv)