Pembelajaran Koding dan
Kecerdasan Artifisial
• Naskah Akademik - Kemendikdasmen, 2025
• Disusun oleh:
• Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen
Pendidikan
• Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
• Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed.
Latar Belakang
• • Era digital ditandai oleh AI, IoT, dan Big Data
• • Indonesia butuh SDM unggul dan adaptif
• • Kurikulum harus mengintegrasikan literasi
digital, koding, dan KA
• • Dukung transformasi ekonomi dan
pembangunan berkelanjutan
Tujuan & Manfaat
• Tujuan:
• 1. Memahami urgensi koding dan KA
• 2. Memahami kerangka landasan filosofis,
yuridis, sosiologis, empiris
• 3. Mengidentifikasi praktik baik & tantangan
• 4. Menjelaskan desain, strategi, dan model
pembelajaran
• 5. Mendeskripsikan arah kebijakan
Ruang Lingkup
• • Konsep akademik koding dan KA
• • Strategi implementasi pembelajaran koding
dan KA
• - Infrastruktur
• - SDM (guru, pelatihan)
• - Kebijakan dan kurikulum
Landasan Filosofis & Pedagogis
• • Berbasis pemikiran Ki Hadjar Dewantara:
merdeka belajar, berpihak pada peserta didik
• • Teori pendidikan: Konstruktivisme (Piaget,
Vygotsky), PBL, 6C
• • Computational Thinking (Wing):
dekomposisi, abstraksi, pola, algoritma
• • Pembelajaran kontekstual, fleksibel dan
berdiferensiasi (Kurikulum Merdeka)
Landasan Sosiologis
• • Transformasi masyarakat digital dan Revolusi
Industri 4.0
• • Society 5.0: teknologi berpusat pada
manusia
• • Kesenjangan akses & literasi digital masih
tinggi
• • Tantangan sosial: ketimpangan, hoaks, etika
digital
• • Potensi teknologi untuk inklusi sosial dan
ekonomi
Landasan Yuridis
• • UUD 1945: mencerdaskan kehidupan bangsa
• • UU No. 20/2003: Pendidikan Nasional
• • UU No. 59/2024 RPJPN 2025–2045
• • PP No. 57/2021 SNP
• • Permendikbudristek No. 5/2022 & No.
12/2024
• • Visi Indonesia Emas 2045
Konsep Koding dan KA
• • Koding = keterampilan dasar berpikir logis
dan sistematis
• • Kecerdasan Artifisial = pemrosesan data
untuk solusi cerdas
• • Elemen: computational thinking, algoritma,
human-centered mindset, etika KA, design
system KA, teknik dan aplikasi KA
Praktik dan Tantangan
• • Negara maju: integrasi sejak dini (Singapura,
Korea, Tiongkok)
• • Tantangan di Indonesia:
• - Infrastruktur belum merata
• - SDM terbatas
• - Kurikulum belum seragam
• - Kesenjangan digital
Arah Kebijakan
• • Kurikulum:
• - SD (kelas 5-6), SMP (7-9), SMA/SMK (10) = 2
JP/minggu
• - SMA 11–12 = 5 JP; SMK 11–12 = 4 JP
• • Fleksibel: mapel pilihan, terintegrasi atau
ekstrakurikuler
• • Dasar regulasi dan capaian pembelajaran
disusun selaras mapel Informatika
Strategi Implementasi
• • Metode:
• - Project-Based Learning
• - Problem-Based Learning
• - Pembelajaran unplugged & plugged
• • Media:
• - Komputer, modul interaktif, kartu, papan
• • Pelatihan guru & LMS
• • Kemitraan multi-stakeholder
• • Evaluasi & pemantauan berkala
Penutup
• • Koding & KA = kunci daya saing di era digital
• • Membekali peserta didik keterampilan abad
21
• • Perlu kolaborasi lintas sektor
• • Indonesia harus menjadi produsen inovasi,
bukan sekadar pengguna teknologi

PPT_Koding_dan_Kecerdasan_Artifisial_Lengkap.pptx

  • 1.
    Pembelajaran Koding dan KecerdasanArtifisial • Naskah Akademik - Kemendikdasmen, 2025 • Disusun oleh: • Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan • Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah • Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed.
  • 2.
    Latar Belakang • •Era digital ditandai oleh AI, IoT, dan Big Data • • Indonesia butuh SDM unggul dan adaptif • • Kurikulum harus mengintegrasikan literasi digital, koding, dan KA • • Dukung transformasi ekonomi dan pembangunan berkelanjutan
  • 3.
    Tujuan & Manfaat •Tujuan: • 1. Memahami urgensi koding dan KA • 2. Memahami kerangka landasan filosofis, yuridis, sosiologis, empiris • 3. Mengidentifikasi praktik baik & tantangan • 4. Menjelaskan desain, strategi, dan model pembelajaran • 5. Mendeskripsikan arah kebijakan
  • 4.
    Ruang Lingkup • •Konsep akademik koding dan KA • • Strategi implementasi pembelajaran koding dan KA • - Infrastruktur • - SDM (guru, pelatihan) • - Kebijakan dan kurikulum
  • 5.
    Landasan Filosofis &Pedagogis • • Berbasis pemikiran Ki Hadjar Dewantara: merdeka belajar, berpihak pada peserta didik • • Teori pendidikan: Konstruktivisme (Piaget, Vygotsky), PBL, 6C • • Computational Thinking (Wing): dekomposisi, abstraksi, pola, algoritma • • Pembelajaran kontekstual, fleksibel dan berdiferensiasi (Kurikulum Merdeka)
  • 6.
    Landasan Sosiologis • •Transformasi masyarakat digital dan Revolusi Industri 4.0 • • Society 5.0: teknologi berpusat pada manusia • • Kesenjangan akses & literasi digital masih tinggi • • Tantangan sosial: ketimpangan, hoaks, etika digital • • Potensi teknologi untuk inklusi sosial dan ekonomi
  • 7.
    Landasan Yuridis • •UUD 1945: mencerdaskan kehidupan bangsa • • UU No. 20/2003: Pendidikan Nasional • • UU No. 59/2024 RPJPN 2025–2045 • • PP No. 57/2021 SNP • • Permendikbudristek No. 5/2022 & No. 12/2024 • • Visi Indonesia Emas 2045
  • 8.
    Konsep Koding danKA • • Koding = keterampilan dasar berpikir logis dan sistematis • • Kecerdasan Artifisial = pemrosesan data untuk solusi cerdas • • Elemen: computational thinking, algoritma, human-centered mindset, etika KA, design system KA, teknik dan aplikasi KA
  • 9.
    Praktik dan Tantangan •• Negara maju: integrasi sejak dini (Singapura, Korea, Tiongkok) • • Tantangan di Indonesia: • - Infrastruktur belum merata • - SDM terbatas • - Kurikulum belum seragam • - Kesenjangan digital
  • 10.
    Arah Kebijakan • •Kurikulum: • - SD (kelas 5-6), SMP (7-9), SMA/SMK (10) = 2 JP/minggu • - SMA 11–12 = 5 JP; SMK 11–12 = 4 JP • • Fleksibel: mapel pilihan, terintegrasi atau ekstrakurikuler • • Dasar regulasi dan capaian pembelajaran disusun selaras mapel Informatika
  • 11.
    Strategi Implementasi • •Metode: • - Project-Based Learning • - Problem-Based Learning • - Pembelajaran unplugged & plugged • • Media: • - Komputer, modul interaktif, kartu, papan • • Pelatihan guru & LMS • • Kemitraan multi-stakeholder • • Evaluasi & pemantauan berkala
  • 12.
    Penutup • • Koding& KA = kunci daya saing di era digital • • Membekali peserta didik keterampilan abad 21 • • Perlu kolaborasi lintas sektor • • Indonesia harus menjadi produsen inovasi, bukan sekadar pengguna teknologi