Didukung
oleh
Pengelolaan diabetes melitus tipe 2
tingkat primer secara
komprehensif
M A T E R I P E L A T I H A N I
N T I 2
1
Untuk Pelatihan Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara
Komprehensif bagi Dokter Umum di Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama (FKTP)
Ringkasan
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
2
Deskripsi Singkat Mata pelatihan ini membahas tentang penegakan diagnosis diabetes melitus tipe 2 dan
pengelolaan diagnosis diabetes melitus tipe 2 meliputi edukasi, terapi nutrisi medis,
aktivitas fisik, dan terapi farmakologis baik Obat Antihiperglikemik Oral maupun Obat
Antihiperglikemik Suntik insulin.
Hasil Belajar Setelah mengikuti mata pelatihan ini peserta diharapkan mampu melakukan
pengelolaan diabetes melitus tipe 2 tingkat primer secara komprehensif sesuai
pedoman dan standar yang ditetapkan.
Indikator Hasil Belajar Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
1. Menegakkan diagnosis diabetes melitus tipe 2
2. Menjelaskan pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara komprehensif
3. Melakukan edukasi diabetes melitus tipe 2
4. Melakukan terapi nutrisi medis
5. Merancang aktivitas fisik
6. Melakukan terapi farmakologis oral
7. Melakukan terapi farmakologis suntik insulin
Alokasi Waktu 7 JPL (T=2, P=5, PL=0)
1. Diagnosis diabetes melitus tipe 2
2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara
komprehensif
3. Edukasi diabetes melitus tipe 2
4. Terapi nutrisi medis
5. Aktivitas fisik
6. Terapi farmakologis oral
7. Terapi farmakologis suntik insulin
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Materi
3
Gejala Diabetes Melitus Tipe 2
4
Keluhan klasik atau keluhan utama Keluhan lain
Sumber: Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di INDONESIA - 2021 (pbperkeni.or.id)
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2
5
Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL.
Puasa adalah kondisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam
Atau
Pemeriksaan glukosa plasma ≥ 200 mg/dL 2-jam setelah TTGO
Tes Toleransi Glukosa Oral dengan beban glukosa 75 gram
Atau
Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL
+
Keluhan klasik atau krisis hiperglikemia.
Atau
Pemeriksaan HbA1c ≥ 6,5%
dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin
Standarization Program (NGSP) dan Diabetes Control and Complications Trial assay
(DCCT)
Catatan: Saat ini tidak semua laboratorium di Indonesia memenuhi
standard NGSP
, sehingga harus hati-hati dalam membuat interpretasi
terhadap hasil pemeriksaan HbA1c. Pada kondisi tertentu seperti:
anemia, hemoglobinopati, riwayat transfusi darah 2 - 3 bulan terakhir,
kondisi-kondisi yang memengaruhi umur eritrosit dan gangguan fungsi
ginjal maka HbA1c tidak dapat dipakai sebagai alat diagnosis maupun
evaluasi.
Sumber: Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di INDONESIA - 2021 (pbperkeni.or.id)
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2
Sumber: Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di INDONESIA - 2021 (pbperkeni.or.id)
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
6
HbA1c (%)
Glukosa
darah
puasa
(mg/dL)
Glukosa
plasma 2
jam setelah
TTGO
(mg/dL)
Diabetes ≥ 6.5 ≥ 126 ≥ 200
Pre-
Diabetes
5.7 – 6.4 100 - 125 140 – 199
Normal < 5.7 70 - 99 70 - 139
Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1994)
1. Tiga hari sebelum pemriksaan, pasien tetap makan
(dengankarbohidrat yang cukup) dan melakukan
kegiatan jasmani seperti kebiasaan sehari-hari.
2. Berpuasa plaing sedikit 8 jam (mulai malam hari)
sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa glukosa
tetap diperbolehkan.
3. Dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa
4. Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau
1.75 g/kgBB (anak-anak), dilarutkan dalam
air 250 ml dan diminum dalam waktu 5
menit
5. Berpuasa Kembali sampai pengambian sampel
darah
untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan
glukosa selesai
6. Dilakukan pemeriksaan glukosa darah 2 jam
sesudah beban glukosa
7. Selama pemeriksaan, subyek yang diperiksa tetap
istirahat
dan tidak merokok.
Kadar Tes Laboratorium Darah untuk
Diagnosa Diabetes & Pre-diabetes
Catatan:
Pada keadaan yang tidak memungkinkan dan tidak tersedia fasilitas pemeriksaan
TTGO, maka pemeriksaan penyaring dengan mengunakan pemeriksaan glukosa
darah kapiler diperbolehkan untuk patokan diagnosis DM.
1. Diagnosis diabetes melitus tipe 2
2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara
komprehensif
3. Edukasi diabetes melitus tipe 2
4. Terapi nutrisi medis
5. Aktivitas fisik
6. Terapi farmakologis oral
7. Terapi farmakologis suntik insulin
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Materi
7
Tujuan Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2
8
• Menghilangkan keluhan
DM
• Memperbaiki kualitas hidup
• Mengurangi risiko
komplikasi akut
Tujuan Jangka
Pendek
• Mencegah dan menghambat
progresivitas penyulit
mikroangiopati &
makroangiopati
Tujuan Jangka
Panjang
• Menurunkan
mortalitas
• Menurunkan
morbiditas
Tujuan
akhir
Makrongiopati
Stroke
Penyakit Jantung
Koroner
Gagal Jantung
Penyakit Arteri Perifer
Mikroangiopati
Mata: retinopati, katarak
Gagal Ginjal
Kelainan Saraf
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Mencegah & menghambat
progresivitas
penyulit/komplikasi
Langkah-langkah Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2
9
Edukasi
Terapi Nutrisi Medis
(TNM) Latihan Fisik
Terapi Farmakologis
Pemantauan glukosa
mandiri
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
1. Diagnosis diabetes melitus tipe 2
2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara
komprehensif
3. Edukasi diabetes melitus tipe 2
4. Terapi nutrisi medis
5. Aktivitas fisik
6. Terapi farmakologis oral
7. Terapi farmakologis suntik insulin
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Materi
10
Materi Edukasi Diabetes Melitus Tipe 2 di Tingkat
Layanan Primer
11
RS
Tersier
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
RS
Sekunder
FKTP
• Materi tentang perjalanan penyakit DM.
• Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM
secara berkelanjutan.
• Penyulit DM dan risikonya.
• Intervensi non-farmakologi dan farmakologis serta
target pengobatan.
• Interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan
obat antihiperglikemia oral atau insulin serta obat-
obatan lain.
• Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa
darah atau urin mandiri (hanya jika alat pemantauan glukosa
darah mandiri tidak tersedia).
• Mengenal gejala dan penanganan awal hipoglikemia
• Pentingnya latihan jasmani yang teratur
• Pentingnya perawatan kaki.
• Cara menggunakan fasilitas perawatan kesehatan
Edukasi Perawatan
Kaki
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
12
Edukasi perawatan kaki diberikan secara rinci pada semua orang dengan ulkus maupun neuropati
perifer dan penyakit arteri perifer (peripheral arterial disease [PAD])
1 Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir dan dalam air
2 Periksa kaki setiap hari dan dilaporkan pada dokter apabila kulit terkelupas, kemerahan, atau
luka
3 Periksa alas kaki dari benda asing sebelum memakainya
4 Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih, tidak basah, dan mengoleskan krimpelembab
pada kulit kaki yang kering
5 Potong kuku secara teratur
6 Keringkan kaki dan sela-sela kaki secara teratur setelah dari kamar mandi
7 Gunakan kaos kaki dan bahan katun yang tidak menyebabkan lipatan pada ujung-ujung jari
kaki
8 Kalau ada kalus atau mata ikan, tipiskan secara teratur
9 Jika sudah ada kelainan bentuk kaki, gunakan alas kaki yang dibuat khusus
10 Sepatu tidaka boleh terlalu sempit atau longgar, jangan gunakan hak tinggi
11 Hindari penggunaan bantal atau botol berisi air panas/batu untuk menghangatkan kaki
Teknik komunikasi efektif pada pasien DMT2 & keluarganya
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
• Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta hindari terjadinya
kecemasan.
• Memberikan informasi secara bertahap, dimulai dengan hal-hal yang sederhana
dan dengan cara yang mudah dimengerti.
• Melakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan melakukan simulasi.
• Mendiskusikan program pengobatan secara terbuka, perhatikan keinginan
pasien. Berikan penjelasan secara sederhana dan lengkap tentang program
pengobatan yang diperlukan oleh pasien dan diskusikan hasil pemeriksaan
laboratorium.
• Melakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat diterima.
• Memberikan motivasi dengan memberikan penghargaan.
• Melibatkan keluarga/pendamping dalam proses edukasi.
• Perhatikan kondisi jasmani dan psikologis serta tingkat pendidikan pasien dan
keluarganya.
• Gunakan alat bantu audio visual.
13
Edukasi pemantauan glukosa mandiri
• Tujuan pemeriksaan glukosa darah :
• Mengetahui apakah sasaran terapi telah
tercapai
• Melakukan penyesuaian dosis obat, bila
belum tercapai sasaran terapi.
• Waktu pelaksanaan glukosa darah pada saat
puasa, 1 atau 2 jam setelah makan, atau
secara acak berkala sesuai dengan
kebutuhan.
• Frekuensi pemeriksaan dilakukan setidaknya
satu
bulan sekali.
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Pemantauan
HbA1c
• Digunakan untuk menilai efek perubahan terapi 8
- 12
minggu sebelumnya.
• Untuk melihat hasil terapi dan rencana
perubahan terapi, HbA1c diperiksa setiap 3
bulan.
• Pada pasien yang telah mencapai sasaran terapi
disertai kendali glikemik yang stabil HbA1c
diperiksa paling sedikit 2 kali dalam 1 tahun.
• HbA1c tidak dapat dipergunakan sebagai alat
untuk
evaluasi pada kondisi tertentu seperti: anemia,
hemoglobinopati, riwayat transfusi darah 2 – 3
bulan
terakhir, keadaan lain yang memengaruhi umur
eritrosit dan gangguan fungsi ginjal.
• Karena keterbatasan pemeriksaan HbA1c akibat
faktor – faktor di atas, maka terdapat cara lain
seperti
pemeriksaan glycated albumin (GA) yang
dapat dipergunakan dalam pemantauan.
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Konversi Glukosa Darah Rerata ke Perkiraan HbA1c
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
HbA1c Rerata Glukosa Plasma selama
3 bulan terakhir (mg/dL)
Rerata Glukosa Darah Puasa 3
bulan terakhir (mg/dL)
Rerata Glukosa Darah Post
Prandial 3 bulan terakhir (mg/dl)
6.0 126 (100-152)
5.5-6.49 122 (117-127) 144 (139-148)
6.5-6.99 142 (135-150) 164 (159-169)
7.0 154 (123-185)
7.0-7.49 152 (143-162) 176 (170-183)
7.5-7.99 167 (157-177) 189 (180-197)
8.0 183 (147-217)
8.0-8.5 178 (164-192) 206 (195-217)
9 212
10 240
11 269
12 298
1. Diagnosis diabetes melitus tipe 2
2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara
komprehensif
3. Edukasi diabetes melitus tipe 2
4. Terapi nutrisi medis
5. Aktivitas fisik
6. Terapi farmakologis oral
7. Terapi farmakologis suntik insulin
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Materi
17
Tujuan & sasaran terapi nutrisi pada orang dengan
DMT2
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
• Mencapai dan memelihara kadar glukosa darah dalam batas normal
atau mendekati normal seaman mungkin
• Mencapai dan memelihara kadar profil lipid dan lipoprotein
untuk mengurangi risiko penyakit vascular
• Mempertahankan tekanan darah dalam batas normal atau mendekati
normal seaman mungkin.
• Mencegah, memperlambat laju perkembangan komplikasi kronis dari
diabetes dengan memodifikasi asupan zat gizi, gaya hidup, dan untuk
memenuhi kebutuhan gizi individu, dengan tetap mempertimbangkan
preferensi pribadi atau kebiasaan budaya setempat, serta
mempertahankan kenikmatan dalam mengonsumsi makanan.
18
Tumiwa, Langi; Terapi Gizi Medis pada Diabetes Melitus. Jurnal Biomedik, Volume 2, Nomor 2, Juli 2010, hlm. 78-
87 846-1678-2-PB.pdf
Prinsip perencanaan
makan
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
19
• Karbohidrat 45-65% total kalori
• Serat tinggi
• Pembatasan karbohidrat total < 130 g/hari tidak dianjurkan.
• Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.
• Protein 10-20%
• Pada pasien dengan nefropati diabetik perlu penurunan asupan
protein menjadi 0,8 g/kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan
energi, dengan 65% diantaranya bernilai biologik tinggi.
• Lemak 20 – 25%
• Lemak jenuh <7%
• Lemak tidak jenuh ganda <10%
• Lemak tidak jenuh tunggal 12-15%
• Kolesterol <200 mg/hari
• Cukup vitamin & mineral
• Na : <1500 mg/hari
• Kebutuhan energi basal: 25-30 kcal/hari/BB ideal
• Rumus Broca: 90% (TB [cm] – 100) x 1 kg
• IMT: BB (kg)/TB (m2)
Strategi terapi gizi
medis
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
20
Mengatur jumlah kalori yang dibutuhkan dimana dipengaruhi oleh beberapa faktor dibawah
ini:
Jenis kelamin Kebutuhan kalori basal perhari
• Perempuan 25 kal/kgBB, paling sedikit 1000 – 1200 kal/hari
• Pria 30 kal/kgBB, paling sedikit 1200 – 1600 kal/hari
Usia • Usia ≥ 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk setiap dekade antara 40-59 tahun.
• Usia di antara 60-69 tahun, dikurangi 10%.
• Usia ≥ 70 tahun, dikurangi 20%.
Aktivitas fisik
atau pekerjaan
• Keadaan istirahat  +10% dari kebutuhan basal
• Aktivitas ringan: pegawai kantor, guru, ibu rumah tangga  +20% dari kebutuhan basal
• Aktivitas sedang: pegawai industri ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak perang 
+30% dari kebutuhan basal
• Aktivitas berat: petani, buruh, atlet, militer dalam keadaan latihan  +40% dari kebutuhan
basal
• Aktivitas sangat berat : tukang becak, tukang gali  +50% dari kebutuhan basal
Stress metabolik • Penambahan 10 – 30% tergantung dari beratnya stress metabolik (sepsis, operasi, trauma).
Berat Badan • Pasien DM yang gemuk dikurangi sekitar 20 – 30% tergantung kepada tingkat kegemukan.
• Pasien DM kurus  ditambah sekitar 20 – 30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan
BB.
1. Diagnosis diabetes melitus tipe 2
2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara
komprehensif
3. Edukasi diabetes melitus tipe 2
4. Terapi nutrisi medis
5. Aktivitas fisik
6. Terapi farmakologis oral
7. Terapi farmakologis suntik insulin
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Materi
21
Latihan fisik untuk pencegahan
DMT2
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
• Tujuan latihan fisik:
• Meningkatkan regulasi insulin terutama pada pasien prediabetes
• Mencegah terjadinya komplikasi diabetes melitus
• Membantu penurunan berat badan
• Mencapai kualitas hidup yang optimal.
• Capaian: Pasien mengerti tingkat aktivitas fisik dan intensitas latihan
aerobik yang efektif – dapat dilihat di MPI 1.
22
23
Prinsip
aktivitas
fisik
European Practical and
Patient-Centred Guidelines
for Adult Obesity
Management in Primary
Care
Aktivitas fisik sehari-hari
Bersih rumah, naik tangga (hindari pakai lift), jalan dengan
anjing, jalan kaki ke tempat belanja, berkebun, berhenti pada
2-3 penghentian bus sebelum tujuan
Latihan
aerobik
Berenang, aquajim,
jalan, bersepeda, menari,
judo, ski lintas alam, golf,
mendaki, bola basket, tenis
meja, dll
Aktivitas fisik
seperti biasa
Jalan 4-6 km/jam
tergantung tinggi badan
(makin tinggi makin
cepat)
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
5x/minggu
minimal 30
menit
Latihan otot
(Sebagian anaerobik)
Angkat berat, Latihan fitness,
fleksi,
peregangan kekuatan otot,
yoga…
Setiap hari
2-3x
per minggu
Jarang
Tidak lebih dari 30 menit - 1 jam
secara terus menerus
Tanpa
aktivitas
fisik
Nonton TV,
video game
Untuk meningkatkan masa otot, 2-3 sesi Latihan
resistensi, 2x per minggu, terdiri dari 8-10 Latihan
termasuk kelompok otot besar
Schutz DD et al. Obes Facts 2019;12:40–66
Prinsip Pengelolaan Faktor Risiko:
Prediabetes
Aktivitas Fisik
Langkah yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan cakupan aktivitas dan latihan
fisik:
1. Tingkatkan kesadaran individu akan pentingnya
aktivitas dan latihan fisik dalam tatalaksana
prediabetes & dapat mengenali jenis aktivitas fisik
menengah atau berat.
2. Berikan keleluasaan untuk memilih aktivitas fisik
yang disukai.
3. Diskusikan target jangka pendek, menengah atau
panjang, contoh: berapa lama atau berapa jauh
bersepeda, jalan kaki atau lari, berapa lama dalam
seminggu, dorong individu untuk melakukan
pencatatan.
4. Rujuk kepada tenaga kesehatan yang berkecimpung
dibidang latihan fisik untuk individu yang
membutuhkan Latihan khusus.
24
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Prinsip Pengelolaan Faktor Risiko: Prediabetes
Aktivitas Fisik
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
25
FITT Indikator Latihan Aerobik Latihan Resistance
FREKUENSI Berapa sering • Minimum 3 kali dalam seminggu
• Jarak antar latihan paling lama dua
hari
2-3 kali dalam seminggu
INTENSITAS Berapa besar • Ringan-sedang (target 40-60% dari
VO2 max atau 50-70% dari nadi
maksimal)
• Berat (misalnya jogging, 8-10
km/jam)
Ringan sampai dengan
sedang (kelelahan otot
ringan)
TIME Berapa lama • Ringan-sedang (45-60 menit, sekitar
150 menit dalam seminggu)
• Berat (30-40 menit, sekitar 90
menit dalam seminggu)
1-3 set, 1 set sekitar 8-15 repetisi untuk
setiap latihan
TIPE Bagaimana
modelnya
Jalan kaki, jogging, bersepeda, hiking Sekitar 8 latihan kekuatan yang
berbeda (fokus kepada otot-otot
utama dari tubuh, bisa
menggunakan mesin, tali resistan,
ataupun mengandalkan berat badan)
Latihan fisik untuk pasien DMT2 dengan komplikasi
27
• Tujuan: mengendalikan kadar glukosa darah dan penyakit premorbid, menurunkan
risiko
disabilitas, serta memperbaiki kualitas hidup.
• Target capaian: kemandirian dalam mobilitas dan aktivitas kehidupan sehari-hari
yang optimal, kontrol nyeri, kemandirian pasien saat dirawat, serta menghindari re-
hospitalisasi
• Prinsip: Resistance Training
• Frekuensi: 2-3 kali per minggu sesuai dengan petunjuk dokter
• Intensitas: ringan sampai sedang (kelelahan otot ringan)
• Time/Waktu: 1-3 set, 1 set sekitar 8-15 repetisi untuk setiap latihan
• Tipe: sekitar 8 latihan kekuatan yang berbeda
Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan (kemkes.go.id) Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksanan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa. KMK
No.01.07/MENKES/603/2020
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Perubahan
perilaku
Misalnya: Hidup sedentary,
merokok, kelebihan
belanja makanan,
konsumsi makan tidak
sehat
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
1. Diagnosis diabetes melitus tipe 2
2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara
komprehensif
3. Edukasi diabetes melitus tipe 2
4. Terapi nutrisi medis
5. Aktivitas fisik
6. Terapi farmakologis oral
7. Terapi farmakologis suntik insulin
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Materi
29
Tujuan Terapi Farmakologi
Oral
30
Capai target gula darah
HbA1c < 7%
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Penggolongan, mekanisme kerja dan efek samping
obat antihiperglikemia oral
31
Golongan obat Cara kerja utama Efek samping utama Penurunan HbA1c
1. Insulin Sensitizer
Metformin Menurunkan produksi glukosa
hati dan meningkatkan
sensitifitas terhadap insulin
Dispepsia, diare,
asidosis laktat
1.0-1.3 %
Tiazolidinedion Meningkatkan
sensitifitas terhadap
insulin
Edema 0.5-1.4%
2. Insulin Secretagogue
Sulfonilurea Meningkatkan sekresi insulin BB naik, hipoglikemia 0.4-1.2%
Glinid Meningkatkan sekresi insulin BB naik, hipoglikemia 0.5-1.0%
3. Penghambat alfa
glukosidase
Menghambat absorpsi glukosa
di usus
Flatulen, tinja lembek 0.5-0.8%
4. Penghambat DPP-4 Meningkatkan sekresi insulin dan
menghambat sekresi glukagon
Sebah, muntah 0.5-0.9%
5. Penghambat SGLT-2 Menghambat reabsorpsi
glukosa di tubulus distal
Infeksi saluran kemih
dan genital
0.5-0.9%
Obat yang tersedia di
FKTP
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Pemilihan
obat
antihiperglikemia
oral
yang tepat
sesuai dengan
kondisi pasien
32
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Pemberian Obat Antihiperglikemia Oral yang tersedia di
FKTP
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
33
Nama Generik Sediaan dan
Kekuatan
Dosis Awal Titrasi Dosis Dosis Maksimal
Metformin Tab 500
Tab 850 mg
500 – 1000 mg/hari (1x
atau terbagi), sesudah
makan
Dapat ditingkatkan 500
mg/minggu setiap 2 minggu
2000 mg/hari (dosis terbagi)
Sulfonilurea
Glibenklamid Tab 2,5 mg
Tab 5 mg
2.5 – 5 mg/hari Dapat ditingkatkan 2.5
mg/minggu setiap 2 minggu
20 mg/hari. Dosis yang lebih
dari 10 mg per hari perlu
dibagi dalam 2 jadwal
konsumsi.
Gliclazide Tab 80 mg 40–80 mg per hari Dapat ditingkatkan secara bertahap
sampai 320 mg/hari. Jika dosis lebih
dari 160 mg per hari, obat perlu
diminum 2 kali, yaitu saat sarapan
dan saat makan malam.
320 mg/hari
Glimepirid Tab 1, 2 ,3,4 mg 1 mg, 1 kali sehari Dapat ditingkatkan dalam interval
1–2 minggu sesuai kondisi dan
respons pasien terhadap
pengobatan. Dosis pemeliharaan 4
mg/hari.
6 mg/hari.
Glipizide Tab 5 mg
Tab 10 mg
2,5 - 5 mg/hari; diminum
secepatnya sebelum
makan pagi atau makan
siang
Dapat ditingkatkan sampai 15 mg
dapat diberikan sebagai dosis
tunggal, lebih tinggi dalam dosis
terbagi.
20 mg/hari.
1. Diagnosis diabetes melitus tipe 2
2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara
komprehensif
3. Edukasi diabetes melitus tipe 2
4. Terapi nutrisi medis
5. Aktivitas fisik
6. Terapi farmakologis oral
7. Terapi farmakologis suntik insulin
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Materi
34
Terapi farmakologis
Obat Antihiperglikemia
Suntik
• Insulin
• Agonis reseptor GLP-1 (GLP-
1RA)
• Kombinasi insulin + GLP-1 RA
35
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Tujuan terapi
insulin
36
• Meningkatkan penyerapan glukosa oleh
sel
target
• Meningkatkan glycolysis: glukosa 
energi
• Menyimpan glukosa  glikogen
(glycogenesis)
• Menghambat pembentukan glukosa
baru dari
sumber karbohidrat (gluconeogenesis) atau
produksi glukosa oleh hati
• Menekan lipolysis atau pemecahan lemak
Capai target gula darah
HbA1c < 7%
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Indikasi terapi insulin pada pasien
DMT2
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
• Pasien DMT2 yang sudah diterapi OHO
• HbA1c saat diperiksa >7.5% dan
sudah menggunakan satu atau dua
obat antidiabetes
• Gagal dengan kombinasi OHO dosis
optimal
• Pasien naive
• HbA1c saat diperiksa > 9%, disertai
dengan
• Penurunan berat badan yang cepat
• Hiperglikemia berat yang disertai
ketosis
• Krisis hiperglikemia
• Pasien DMT2 dengan kondisi tertentu
• Stres berat (infeksi sistemik, operasi
besar,
infark miokard akut, stroke)
• Kehamilan dengan DM/diabetes
melitus gestasional yang tidak
terkendali dengan perencanaan
makan
• Gangguan fungsi ginjal atau hati yang
berat
• Kontraindikasi dan atau alergi
terhadap OHO
• Kondisi perioperatif sesuai dengan
indikasi
Profil fisiologi insulin
2000
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
2400
0
10
20
40
30
50
0400 0800
Ekskursi insulin
prandial
Cepat naik, durasi
pendek
Insulin
serum
(mU/L)
Profil insulin basal
Merata dan
menetap
0800
Makan
pagi
1600
Makan
malam
1200
Makan
siang
Konsep Insulin Basal dan Prandial
• Pada individu normal, insulin disekresikan oleh sel beta
pada kondisi basal (puasa) untuk mengendalikan glukosa
darah puasa. Insulin juga disekresikan pada saat makan
untuk mengendalikan glukosa darah sesudah makan.
• Insulin eksogen dibuat berusaha menyerupai insulin
endogen
• Insulin basal  insulin kerja panjang untuk memenuhi
kebutuhan insulin basal metabolik tubuh (mengatur
produksi glukosa hepar).
• Insulin prandial  insulin kerja pendek yang
berfungsi terutama menurunkan glukosa darah
setelah makan (meningkatkan masukan glukosa di
otot dan lemak)
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Jenis
Insulin
40
GIR
(mg/kg/min)
12
Time (h)
0 4 8 16 20 24
BASAL INSULIN
PRE-MIX INSULIN
FAST-ACTING INSULIN
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Profil
Kerja
Insulin
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
NPH = Neutral protamine hagedorn.
Cahn A et al. Lancet Diabetes Endocrinol 2015. http://dx.doi.org/10.1016/ S2213-
8587(15)00097-2
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Regular human insulin
Rapid acting
analogues
Aspart
Glulisine
Lispro
Intermed
iate-
acting
human/a
nalogues
NPH
Lispro
protami
ne
Long-
acting
analogu
es
30-60
min
Puncak
kerja
2-4 h
Lama
kerja
5-8 h
12-18
min
12-30
min
15-30
min
30-90
min
30-90
min
30-90
min
3-5 h
3-5 h
3-5 h
1-2 h 4-12h 12-16 h
30-60
min
4-12 h 12-16 h
Detemir
Glargine
Glargine
U300
Degludec
1-2 h
1-2 h
1-2 h
30-90 min
6-8h
None
None
None
up to 24 h
20-26 h
up to 36 h
>42 h
Pre-mixed
70% NPH, 30% regular 30-60 min 2-4 h 10-16 h
50% NPH, 50% regular 30-60 min 2-5 h 10-16 h
30% aspart protamine, 70% aspart 5-15 min 1-4 h 10-16 h
50% aspart protamine, 50% aspart 15-30 min 1-4 h 10-16 h
70% aspart protamine, 30% aspart 15-30 min 1-12 h 10-16 h
50% lispro protamine, 50% aspart 10-15 min 1-4 h 10-16 h
75% lispro protamine, 25% aspart 10-15 min 1-12 h 10-16 h
Awitan
kerja
Farmakokinetik Sediaan
Insulin
Konsep inisiasi, titrasi dan intensifikasi pada
pemberian insulin
43
1. Inisiasi: dimulainya pemberian insulin pertama kali kepada pasien. Membutuhkan
pemilihan
regimen insulin, tipe insulin dan penyesuaian dosis awal terapi.
2. Optimisasi, titrasi atau penyesuaian dosis. Dosis insulin perlu disesuaikan minimal
dalam mingguan untuk mencapai target.
3. Intensifikasi, modifikasi regimen insulin untuk mencapai kontrol glikemik lebih baik,
diperlukan perubahan ke regimen insulin yang lebih intensif untuk kontrol glikemik lebih
baik.
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Algoritma Pengelolaan DM Tipe 2 Tanpa Dekompensasi
Metabolik
Sasaran kendali glukosa darah: HbA1c <7%
(individualisasi)
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
1. Pemilihan dan penggunaan obat mempertimbangkan faktor pembiayaan, ketersediaan obat, efektivitas, manfaat kardiorenal, efek samping, efek terhadap berat badan, serta pilihan pasien
2. Pengelolaan bukan hanya meliputi gula darah, tetapi juga penanganan faktor risiko kardiorenal yang lain secara terintegrasi.
3. Obat agonis GLP-1 dan penghambat SGLT2 tertentu menunjukkan manfaat untuk pasien dengan koorbid penyakit kardiorenal aterosklerosis, gagal jantung dan gagal ginjal. Kedua golongan obat ini
disarankan
menjadi pilihan untuk pasien dengan komorbid/komplikasi penyakittersebut
4. Bila HbA1c tidak bisa diperiksa maka sebagai pedoman dipakai glukosa darah rerata yang dikonversikan ke HbA1c (poin 7 penjelasan algoritma)
Jika ada keterbatasan pembiayaan: Pada pasien
tanpa komplikasi PKVAS dan GGK
45
SU
*
TZ
D
TZ
D
SU
*
If
A1C
above
targe
t
If
A1C
above
targe
t
• Insulin therapy
basal insulin with
lowest acquisition
cost
OR
• Consider DPP4i
OR SGLT2i with
lowest acquisition
cost
*Choose later generation SU with lower risk of
hypoglycemia
American Diabetes Association. Diabetes Care. 2020 Jan;43(Suppl 1):S1-S212.
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Sasaran
pengendalian
diabetes
Parameter Sasaran
Indeks Masa Tubuh (IMT)
• IMT (kg/m2) 18.5-22.9
Tekanan darah
• TD Sistolik (mmHg) <140
• TD Diastolik (mmHg) <90
Kendali glikemik
• HbA1c (%) <7 atau individual
• Gula darah kapiler puasa/sebelum
makan (mg/dL)
80-130
• Gula darah kapiler 1-2 setelah
makan (mg/dL)
<180
Lipid
• LDL-C (mg/dL) <100, <70 jika risiko tinggi PKV
• Triglyceride (mg/dL) <150
• HDL-C (mg/dL) <40 untuk laki-laki
<50 untuk perempuan
• Apo-B (mg/dL) <90
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Terima
kasih
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
48
Studi
Kasus
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
49
Studi Kasus 4
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
50
Ibu D berusia 45 tahun, datang ke Puskesmas dengan keluhan cepat lelah dalam 3 bulan
terakhir. Pasien juga mengeluh sering BAK di malam hari, sampai terbangun 2-3 kali. Berat
badan pasien turun 5 kg walaupun tidak diet. Pasien mengaku tidak mengalami peningkatan
nafsu makan.
Ibu D sebagai penjual sembako di desanya dengan pendidikan terakhir SMP. Setiap hari ia
habiskan waktu untuk menjaga tokonya tanpa sempat berolahraga.
Ayah meninggal karena jantung saat berusia 42 tahun. Ibu D memiliki 3 orang anak dengan
perawakan gemuk.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan: BB = 60 kg, TB 153 cm, TD = 120/80 mmHg, S = 36,3 C, RR =
20 x menit, pemeriksaan fisik lain dalam batas normal dan GDS = 210 mg/dL.
Sebutkan faktor risiko Diabetes yang dimiliki oleh Ibu
D! Bagaimana pengelolaan pasien ini secara
komprehensif?
Studi Kasus 5
51
Bapak E berusia 37 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan
berat badan turun 15 kg dalam 6 bulan. Bapak E mengalami luka di
kaki kanan sejak 1 bulan yang lalu dan terlihat basah. Pasien juga
mengeluh sering haus dan sering BAK.
Bapak E tidak bekerja dan menghabiskan waktu dengan memancing
dan kumpul-kumpul bersama teman-temannya. Tidak ada aktivitas
fisik atau olahraga rutin yang dilakukan. Pasien telah menikah dan
memiliki 2 orang anak. Istri pasien sebagai buruh cuci.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan: BB = 65 kg, TB = 165 cm, TD =
145/90 mmHg, S = 37,9 C, RR = 22x menit, Cruris dextra didapatkan
ulkus ukuran 8x5 cm tertutup debris dan GDS = 355 mg/dL.
Sebutkan faktor risiko Diabetes yang dimiliki oleh Bapak
E! Bagaimana pengelolaan pasien ini secara
komprehensif?
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
Studi Kasus 6
Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di
FKTP
52
Bapak F usia 55 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan lemas sejak 6 bulan sebelumnya.
Pasien sudah diddiagnosis diabetes melitus sejak 5 tahun yang lalu dan diberikan metformin 3 x
500 mg dan glimepiride 2 mg. Namun pasien hanya kontrol dan minum obat jika merasa ada
keluhan. Saat ini pasien juga mengeluhkan sering BAK malam, sering haus dan juga sering
minum. Nafsu makan biasa saja dan BB turun 5 kg dalam 3 bulan terakhir. Pasien juga memiliki
hipertensi dan mengkonsumsi Ramipril 5 mg, namun pasien jarang meminumnya
Pasien adalah seorang petani dengan pendidikan terakhirnya adalah Sekolah Dasar. Sekitar 1
tahun yang lalu, pasien pernah berkunjung ke Puskesmas dengan keluhan luka di kaki
kanannya yang tidak kunjung sembuh setelah satu bulan lamanya.
Kedua orangtuanya dulu meninggal karena sakit jantung dan stroke. Pasien memiliki 2 orang
anak
Dari pemeriksaan fisik didapatkan tampak sakit sedang, compos mentis, TD = 168/100 mmHg, S =
36,7 C, RR = 19 x menit, BB = 74 kg, TB 160 cm, terdapat skar bekas luka di kruris dan pedis dextra,
GDS = 225 mg/dL.
Sebutkan faktor risiko Diabetes yang dimiliki oleh Bapak F!
Bagaimana pengelolaan pasien ini secara komprehensif?

Pengelolaan DMT2 secara komprehensif_v2.pptx

  • 1.
    Didukung oleh Pengelolaan diabetes melitustipe 2 tingkat primer secara komprehensif M A T E R I P E L A T I H A N I N T I 2 1 Untuk Pelatihan Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter Umum di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)
  • 2.
    Ringkasan Pelatihan Terakreditasi: PengelolaanDiabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 2 Deskripsi Singkat Mata pelatihan ini membahas tentang penegakan diagnosis diabetes melitus tipe 2 dan pengelolaan diagnosis diabetes melitus tipe 2 meliputi edukasi, terapi nutrisi medis, aktivitas fisik, dan terapi farmakologis baik Obat Antihiperglikemik Oral maupun Obat Antihiperglikemik Suntik insulin. Hasil Belajar Setelah mengikuti mata pelatihan ini peserta diharapkan mampu melakukan pengelolaan diabetes melitus tipe 2 tingkat primer secara komprehensif sesuai pedoman dan standar yang ditetapkan. Indikator Hasil Belajar Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta diharapkan mampu: 1. Menegakkan diagnosis diabetes melitus tipe 2 2. Menjelaskan pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara komprehensif 3. Melakukan edukasi diabetes melitus tipe 2 4. Melakukan terapi nutrisi medis 5. Merancang aktivitas fisik 6. Melakukan terapi farmakologis oral 7. Melakukan terapi farmakologis suntik insulin Alokasi Waktu 7 JPL (T=2, P=5, PL=0)
  • 3.
    1. Diagnosis diabetesmelitus tipe 2 2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara komprehensif 3. Edukasi diabetes melitus tipe 2 4. Terapi nutrisi medis 5. Aktivitas fisik 6. Terapi farmakologis oral 7. Terapi farmakologis suntik insulin Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP Materi 3
  • 4.
    Gejala Diabetes MelitusTipe 2 4 Keluhan klasik atau keluhan utama Keluhan lain Sumber: Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di INDONESIA - 2021 (pbperkeni.or.id) Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 5.
    Kriteria Diagnosis DiabetesMelitus Tipe 2 5 Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL. Puasa adalah kondisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam Atau Pemeriksaan glukosa plasma ≥ 200 mg/dL 2-jam setelah TTGO Tes Toleransi Glukosa Oral dengan beban glukosa 75 gram Atau Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL + Keluhan klasik atau krisis hiperglikemia. Atau Pemeriksaan HbA1c ≥ 6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP) dan Diabetes Control and Complications Trial assay (DCCT) Catatan: Saat ini tidak semua laboratorium di Indonesia memenuhi standard NGSP , sehingga harus hati-hati dalam membuat interpretasi terhadap hasil pemeriksaan HbA1c. Pada kondisi tertentu seperti: anemia, hemoglobinopati, riwayat transfusi darah 2 - 3 bulan terakhir, kondisi-kondisi yang memengaruhi umur eritrosit dan gangguan fungsi ginjal maka HbA1c tidak dapat dipakai sebagai alat diagnosis maupun evaluasi. Sumber: Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di INDONESIA - 2021 (pbperkeni.or.id) Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 6.
    Kriteria Diagnosis DiabetesMelitus Tipe 2 Sumber: Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di INDONESIA - 2021 (pbperkeni.or.id) Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 6 HbA1c (%) Glukosa darah puasa (mg/dL) Glukosa plasma 2 jam setelah TTGO (mg/dL) Diabetes ≥ 6.5 ≥ 126 ≥ 200 Pre- Diabetes 5.7 – 6.4 100 - 125 140 – 199 Normal < 5.7 70 - 99 70 - 139 Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1994) 1. Tiga hari sebelum pemriksaan, pasien tetap makan (dengankarbohidrat yang cukup) dan melakukan kegiatan jasmani seperti kebiasaan sehari-hari. 2. Berpuasa plaing sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa glukosa tetap diperbolehkan. 3. Dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa 4. Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau 1.75 g/kgBB (anak-anak), dilarutkan dalam air 250 ml dan diminum dalam waktu 5 menit 5. Berpuasa Kembali sampai pengambian sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai 6. Dilakukan pemeriksaan glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa 7. Selama pemeriksaan, subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok. Kadar Tes Laboratorium Darah untuk Diagnosa Diabetes & Pre-diabetes Catatan: Pada keadaan yang tidak memungkinkan dan tidak tersedia fasilitas pemeriksaan TTGO, maka pemeriksaan penyaring dengan mengunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler diperbolehkan untuk patokan diagnosis DM.
  • 7.
    1. Diagnosis diabetesmelitus tipe 2 2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara komprehensif 3. Edukasi diabetes melitus tipe 2 4. Terapi nutrisi medis 5. Aktivitas fisik 6. Terapi farmakologis oral 7. Terapi farmakologis suntik insulin Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP Materi 7
  • 8.
    Tujuan Pengelolaan DiabetesMelitus Tipe 2 8 • Menghilangkan keluhan DM • Memperbaiki kualitas hidup • Mengurangi risiko komplikasi akut Tujuan Jangka Pendek • Mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati & makroangiopati Tujuan Jangka Panjang • Menurunkan mortalitas • Menurunkan morbiditas Tujuan akhir Makrongiopati Stroke Penyakit Jantung Koroner Gagal Jantung Penyakit Arteri Perifer Mikroangiopati Mata: retinopati, katarak Gagal Ginjal Kelainan Saraf Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP Mencegah & menghambat progresivitas penyulit/komplikasi
  • 9.
    Langkah-langkah Pengelolaan DiabetesMelitus Tipe 2 9 Edukasi Terapi Nutrisi Medis (TNM) Latihan Fisik Terapi Farmakologis Pemantauan glukosa mandiri Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 10.
    1. Diagnosis diabetesmelitus tipe 2 2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara komprehensif 3. Edukasi diabetes melitus tipe 2 4. Terapi nutrisi medis 5. Aktivitas fisik 6. Terapi farmakologis oral 7. Terapi farmakologis suntik insulin Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP Materi 10
  • 11.
    Materi Edukasi DiabetesMelitus Tipe 2 di Tingkat Layanan Primer 11 RS Tersier Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP RS Sekunder FKTP • Materi tentang perjalanan penyakit DM. • Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM secara berkelanjutan. • Penyulit DM dan risikonya. • Intervensi non-farmakologi dan farmakologis serta target pengobatan. • Interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan obat antihiperglikemia oral atau insulin serta obat- obatan lain. • Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah atau urin mandiri (hanya jika alat pemantauan glukosa darah mandiri tidak tersedia). • Mengenal gejala dan penanganan awal hipoglikemia • Pentingnya latihan jasmani yang teratur • Pentingnya perawatan kaki. • Cara menggunakan fasilitas perawatan kesehatan
  • 12.
    Edukasi Perawatan Kaki Pelatihan Terakreditasi:Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 12 Edukasi perawatan kaki diberikan secara rinci pada semua orang dengan ulkus maupun neuropati perifer dan penyakit arteri perifer (peripheral arterial disease [PAD]) 1 Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir dan dalam air 2 Periksa kaki setiap hari dan dilaporkan pada dokter apabila kulit terkelupas, kemerahan, atau luka 3 Periksa alas kaki dari benda asing sebelum memakainya 4 Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih, tidak basah, dan mengoleskan krimpelembab pada kulit kaki yang kering 5 Potong kuku secara teratur 6 Keringkan kaki dan sela-sela kaki secara teratur setelah dari kamar mandi 7 Gunakan kaos kaki dan bahan katun yang tidak menyebabkan lipatan pada ujung-ujung jari kaki 8 Kalau ada kalus atau mata ikan, tipiskan secara teratur 9 Jika sudah ada kelainan bentuk kaki, gunakan alas kaki yang dibuat khusus 10 Sepatu tidaka boleh terlalu sempit atau longgar, jangan gunakan hak tinggi 11 Hindari penggunaan bantal atau botol berisi air panas/batu untuk menghangatkan kaki
  • 13.
    Teknik komunikasi efektifpada pasien DMT2 & keluarganya Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP • Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta hindari terjadinya kecemasan. • Memberikan informasi secara bertahap, dimulai dengan hal-hal yang sederhana dan dengan cara yang mudah dimengerti. • Melakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan melakukan simulasi. • Mendiskusikan program pengobatan secara terbuka, perhatikan keinginan pasien. Berikan penjelasan secara sederhana dan lengkap tentang program pengobatan yang diperlukan oleh pasien dan diskusikan hasil pemeriksaan laboratorium. • Melakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat diterima. • Memberikan motivasi dengan memberikan penghargaan. • Melibatkan keluarga/pendamping dalam proses edukasi. • Perhatikan kondisi jasmani dan psikologis serta tingkat pendidikan pasien dan keluarganya. • Gunakan alat bantu audio visual. 13
  • 14.
    Edukasi pemantauan glukosamandiri • Tujuan pemeriksaan glukosa darah : • Mengetahui apakah sasaran terapi telah tercapai • Melakukan penyesuaian dosis obat, bila belum tercapai sasaran terapi. • Waktu pelaksanaan glukosa darah pada saat puasa, 1 atau 2 jam setelah makan, atau secara acak berkala sesuai dengan kebutuhan. • Frekuensi pemeriksaan dilakukan setidaknya satu bulan sekali. Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 15.
    Pemantauan HbA1c • Digunakan untukmenilai efek perubahan terapi 8 - 12 minggu sebelumnya. • Untuk melihat hasil terapi dan rencana perubahan terapi, HbA1c diperiksa setiap 3 bulan. • Pada pasien yang telah mencapai sasaran terapi disertai kendali glikemik yang stabil HbA1c diperiksa paling sedikit 2 kali dalam 1 tahun. • HbA1c tidak dapat dipergunakan sebagai alat untuk evaluasi pada kondisi tertentu seperti: anemia, hemoglobinopati, riwayat transfusi darah 2 – 3 bulan terakhir, keadaan lain yang memengaruhi umur eritrosit dan gangguan fungsi ginjal. • Karena keterbatasan pemeriksaan HbA1c akibat faktor – faktor di atas, maka terdapat cara lain seperti pemeriksaan glycated albumin (GA) yang dapat dipergunakan dalam pemantauan. Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 16.
    Konversi Glukosa DarahRerata ke Perkiraan HbA1c Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP HbA1c Rerata Glukosa Plasma selama 3 bulan terakhir (mg/dL) Rerata Glukosa Darah Puasa 3 bulan terakhir (mg/dL) Rerata Glukosa Darah Post Prandial 3 bulan terakhir (mg/dl) 6.0 126 (100-152) 5.5-6.49 122 (117-127) 144 (139-148) 6.5-6.99 142 (135-150) 164 (159-169) 7.0 154 (123-185) 7.0-7.49 152 (143-162) 176 (170-183) 7.5-7.99 167 (157-177) 189 (180-197) 8.0 183 (147-217) 8.0-8.5 178 (164-192) 206 (195-217) 9 212 10 240 11 269 12 298
  • 17.
    1. Diagnosis diabetesmelitus tipe 2 2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara komprehensif 3. Edukasi diabetes melitus tipe 2 4. Terapi nutrisi medis 5. Aktivitas fisik 6. Terapi farmakologis oral 7. Terapi farmakologis suntik insulin Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP Materi 17
  • 18.
    Tujuan & sasaranterapi nutrisi pada orang dengan DMT2 Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP • Mencapai dan memelihara kadar glukosa darah dalam batas normal atau mendekati normal seaman mungkin • Mencapai dan memelihara kadar profil lipid dan lipoprotein untuk mengurangi risiko penyakit vascular • Mempertahankan tekanan darah dalam batas normal atau mendekati normal seaman mungkin. • Mencegah, memperlambat laju perkembangan komplikasi kronis dari diabetes dengan memodifikasi asupan zat gizi, gaya hidup, dan untuk memenuhi kebutuhan gizi individu, dengan tetap mempertimbangkan preferensi pribadi atau kebiasaan budaya setempat, serta mempertahankan kenikmatan dalam mengonsumsi makanan. 18 Tumiwa, Langi; Terapi Gizi Medis pada Diabetes Melitus. Jurnal Biomedik, Volume 2, Nomor 2, Juli 2010, hlm. 78- 87 846-1678-2-PB.pdf
  • 19.
    Prinsip perencanaan makan Pelatihan Terakreditasi:Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 19 • Karbohidrat 45-65% total kalori • Serat tinggi • Pembatasan karbohidrat total < 130 g/hari tidak dianjurkan. • Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi. • Protein 10-20% • Pada pasien dengan nefropati diabetik perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi, dengan 65% diantaranya bernilai biologik tinggi. • Lemak 20 – 25% • Lemak jenuh <7% • Lemak tidak jenuh ganda <10% • Lemak tidak jenuh tunggal 12-15% • Kolesterol <200 mg/hari • Cukup vitamin & mineral • Na : <1500 mg/hari • Kebutuhan energi basal: 25-30 kcal/hari/BB ideal • Rumus Broca: 90% (TB [cm] – 100) x 1 kg • IMT: BB (kg)/TB (m2)
  • 20.
    Strategi terapi gizi medis PelatihanTerakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 20 Mengatur jumlah kalori yang dibutuhkan dimana dipengaruhi oleh beberapa faktor dibawah ini: Jenis kelamin Kebutuhan kalori basal perhari • Perempuan 25 kal/kgBB, paling sedikit 1000 – 1200 kal/hari • Pria 30 kal/kgBB, paling sedikit 1200 – 1600 kal/hari Usia • Usia ≥ 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk setiap dekade antara 40-59 tahun. • Usia di antara 60-69 tahun, dikurangi 10%. • Usia ≥ 70 tahun, dikurangi 20%. Aktivitas fisik atau pekerjaan • Keadaan istirahat  +10% dari kebutuhan basal • Aktivitas ringan: pegawai kantor, guru, ibu rumah tangga  +20% dari kebutuhan basal • Aktivitas sedang: pegawai industri ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak perang  +30% dari kebutuhan basal • Aktivitas berat: petani, buruh, atlet, militer dalam keadaan latihan  +40% dari kebutuhan basal • Aktivitas sangat berat : tukang becak, tukang gali  +50% dari kebutuhan basal Stress metabolik • Penambahan 10 – 30% tergantung dari beratnya stress metabolik (sepsis, operasi, trauma). Berat Badan • Pasien DM yang gemuk dikurangi sekitar 20 – 30% tergantung kepada tingkat kegemukan. • Pasien DM kurus  ditambah sekitar 20 – 30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB.
  • 21.
    1. Diagnosis diabetesmelitus tipe 2 2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara komprehensif 3. Edukasi diabetes melitus tipe 2 4. Terapi nutrisi medis 5. Aktivitas fisik 6. Terapi farmakologis oral 7. Terapi farmakologis suntik insulin Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP Materi 21
  • 22.
    Latihan fisik untukpencegahan DMT2 Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP • Tujuan latihan fisik: • Meningkatkan regulasi insulin terutama pada pasien prediabetes • Mencegah terjadinya komplikasi diabetes melitus • Membantu penurunan berat badan • Mencapai kualitas hidup yang optimal. • Capaian: Pasien mengerti tingkat aktivitas fisik dan intensitas latihan aerobik yang efektif – dapat dilihat di MPI 1. 22
  • 23.
    23 Prinsip aktivitas fisik European Practical and Patient-CentredGuidelines for Adult Obesity Management in Primary Care Aktivitas fisik sehari-hari Bersih rumah, naik tangga (hindari pakai lift), jalan dengan anjing, jalan kaki ke tempat belanja, berkebun, berhenti pada 2-3 penghentian bus sebelum tujuan Latihan aerobik Berenang, aquajim, jalan, bersepeda, menari, judo, ski lintas alam, golf, mendaki, bola basket, tenis meja, dll Aktivitas fisik seperti biasa Jalan 4-6 km/jam tergantung tinggi badan (makin tinggi makin cepat) Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 5x/minggu minimal 30 menit Latihan otot (Sebagian anaerobik) Angkat berat, Latihan fitness, fleksi, peregangan kekuatan otot, yoga… Setiap hari 2-3x per minggu Jarang Tidak lebih dari 30 menit - 1 jam secara terus menerus Tanpa aktivitas fisik Nonton TV, video game Untuk meningkatkan masa otot, 2-3 sesi Latihan resistensi, 2x per minggu, terdiri dari 8-10 Latihan termasuk kelompok otot besar Schutz DD et al. Obes Facts 2019;12:40–66
  • 24.
    Prinsip Pengelolaan FaktorRisiko: Prediabetes Aktivitas Fisik Langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan cakupan aktivitas dan latihan fisik: 1. Tingkatkan kesadaran individu akan pentingnya aktivitas dan latihan fisik dalam tatalaksana prediabetes & dapat mengenali jenis aktivitas fisik menengah atau berat. 2. Berikan keleluasaan untuk memilih aktivitas fisik yang disukai. 3. Diskusikan target jangka pendek, menengah atau panjang, contoh: berapa lama atau berapa jauh bersepeda, jalan kaki atau lari, berapa lama dalam seminggu, dorong individu untuk melakukan pencatatan. 4. Rujuk kepada tenaga kesehatan yang berkecimpung dibidang latihan fisik untuk individu yang membutuhkan Latihan khusus. 24 Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 25.
    Prinsip Pengelolaan FaktorRisiko: Prediabetes Aktivitas Fisik Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 25 FITT Indikator Latihan Aerobik Latihan Resistance FREKUENSI Berapa sering • Minimum 3 kali dalam seminggu • Jarak antar latihan paling lama dua hari 2-3 kali dalam seminggu INTENSITAS Berapa besar • Ringan-sedang (target 40-60% dari VO2 max atau 50-70% dari nadi maksimal) • Berat (misalnya jogging, 8-10 km/jam) Ringan sampai dengan sedang (kelelahan otot ringan) TIME Berapa lama • Ringan-sedang (45-60 menit, sekitar 150 menit dalam seminggu) • Berat (30-40 menit, sekitar 90 menit dalam seminggu) 1-3 set, 1 set sekitar 8-15 repetisi untuk setiap latihan TIPE Bagaimana modelnya Jalan kaki, jogging, bersepeda, hiking Sekitar 8 latihan kekuatan yang berbeda (fokus kepada otot-otot utama dari tubuh, bisa menggunakan mesin, tali resistan, ataupun mengandalkan berat badan)
  • 26.
    Latihan fisik untukpasien DMT2 dengan komplikasi 27 • Tujuan: mengendalikan kadar glukosa darah dan penyakit premorbid, menurunkan risiko disabilitas, serta memperbaiki kualitas hidup. • Target capaian: kemandirian dalam mobilitas dan aktivitas kehidupan sehari-hari yang optimal, kontrol nyeri, kemandirian pasien saat dirawat, serta menghindari re- hospitalisasi • Prinsip: Resistance Training • Frekuensi: 2-3 kali per minggu sesuai dengan petunjuk dokter • Intensitas: ringan sampai sedang (kelelahan otot ringan) • Time/Waktu: 1-3 set, 1 set sekitar 8-15 repetisi untuk setiap latihan • Tipe: sekitar 8 latihan kekuatan yang berbeda Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan (kemkes.go.id) Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksanan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa. KMK No.01.07/MENKES/603/2020 Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 27.
    Perubahan perilaku Misalnya: Hidup sedentary, merokok,kelebihan belanja makanan, konsumsi makan tidak sehat Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 28.
    1. Diagnosis diabetesmelitus tipe 2 2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara komprehensif 3. Edukasi diabetes melitus tipe 2 4. Terapi nutrisi medis 5. Aktivitas fisik 6. Terapi farmakologis oral 7. Terapi farmakologis suntik insulin Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP Materi 29
  • 29.
    Tujuan Terapi Farmakologi Oral 30 Capaitarget gula darah HbA1c < 7% Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 30.
    Penggolongan, mekanisme kerjadan efek samping obat antihiperglikemia oral 31 Golongan obat Cara kerja utama Efek samping utama Penurunan HbA1c 1. Insulin Sensitizer Metformin Menurunkan produksi glukosa hati dan meningkatkan sensitifitas terhadap insulin Dispepsia, diare, asidosis laktat 1.0-1.3 % Tiazolidinedion Meningkatkan sensitifitas terhadap insulin Edema 0.5-1.4% 2. Insulin Secretagogue Sulfonilurea Meningkatkan sekresi insulin BB naik, hipoglikemia 0.4-1.2% Glinid Meningkatkan sekresi insulin BB naik, hipoglikemia 0.5-1.0% 3. Penghambat alfa glukosidase Menghambat absorpsi glukosa di usus Flatulen, tinja lembek 0.5-0.8% 4. Penghambat DPP-4 Meningkatkan sekresi insulin dan menghambat sekresi glukagon Sebah, muntah 0.5-0.9% 5. Penghambat SGLT-2 Menghambat reabsorpsi glukosa di tubulus distal Infeksi saluran kemih dan genital 0.5-0.9% Obat yang tersedia di FKTP Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 31.
    Pemilihan obat antihiperglikemia oral yang tepat sesuai dengan kondisipasien 32 Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 32.
    Pemberian Obat AntihiperglikemiaOral yang tersedia di FKTP Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 33 Nama Generik Sediaan dan Kekuatan Dosis Awal Titrasi Dosis Dosis Maksimal Metformin Tab 500 Tab 850 mg 500 – 1000 mg/hari (1x atau terbagi), sesudah makan Dapat ditingkatkan 500 mg/minggu setiap 2 minggu 2000 mg/hari (dosis terbagi) Sulfonilurea Glibenklamid Tab 2,5 mg Tab 5 mg 2.5 – 5 mg/hari Dapat ditingkatkan 2.5 mg/minggu setiap 2 minggu 20 mg/hari. Dosis yang lebih dari 10 mg per hari perlu dibagi dalam 2 jadwal konsumsi. Gliclazide Tab 80 mg 40–80 mg per hari Dapat ditingkatkan secara bertahap sampai 320 mg/hari. Jika dosis lebih dari 160 mg per hari, obat perlu diminum 2 kali, yaitu saat sarapan dan saat makan malam. 320 mg/hari Glimepirid Tab 1, 2 ,3,4 mg 1 mg, 1 kali sehari Dapat ditingkatkan dalam interval 1–2 minggu sesuai kondisi dan respons pasien terhadap pengobatan. Dosis pemeliharaan 4 mg/hari. 6 mg/hari. Glipizide Tab 5 mg Tab 10 mg 2,5 - 5 mg/hari; diminum secepatnya sebelum makan pagi atau makan siang Dapat ditingkatkan sampai 15 mg dapat diberikan sebagai dosis tunggal, lebih tinggi dalam dosis terbagi. 20 mg/hari.
  • 33.
    1. Diagnosis diabetesmelitus tipe 2 2. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara komprehensif 3. Edukasi diabetes melitus tipe 2 4. Terapi nutrisi medis 5. Aktivitas fisik 6. Terapi farmakologis oral 7. Terapi farmakologis suntik insulin Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP Materi 34
  • 34.
    Terapi farmakologis Obat Antihiperglikemia Suntik •Insulin • Agonis reseptor GLP-1 (GLP- 1RA) • Kombinasi insulin + GLP-1 RA 35 Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 35.
    Tujuan terapi insulin 36 • Meningkatkanpenyerapan glukosa oleh sel target • Meningkatkan glycolysis: glukosa  energi • Menyimpan glukosa  glikogen (glycogenesis) • Menghambat pembentukan glukosa baru dari sumber karbohidrat (gluconeogenesis) atau produksi glukosa oleh hati • Menekan lipolysis atau pemecahan lemak Capai target gula darah HbA1c < 7% Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 36.
    Indikasi terapi insulinpada pasien DMT2 Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP • Pasien DMT2 yang sudah diterapi OHO • HbA1c saat diperiksa >7.5% dan sudah menggunakan satu atau dua obat antidiabetes • Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal • Pasien naive • HbA1c saat diperiksa > 9%, disertai dengan • Penurunan berat badan yang cepat • Hiperglikemia berat yang disertai ketosis • Krisis hiperglikemia • Pasien DMT2 dengan kondisi tertentu • Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, infark miokard akut, stroke) • Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan • Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat • Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO • Kondisi perioperatif sesuai dengan indikasi
  • 37.
    Profil fisiologi insulin 2000 PelatihanTerakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 2400 0 10 20 40 30 50 0400 0800 Ekskursi insulin prandial Cepat naik, durasi pendek Insulin serum (mU/L) Profil insulin basal Merata dan menetap 0800 Makan pagi 1600 Makan malam 1200 Makan siang
  • 38.
    Konsep Insulin Basaldan Prandial • Pada individu normal, insulin disekresikan oleh sel beta pada kondisi basal (puasa) untuk mengendalikan glukosa darah puasa. Insulin juga disekresikan pada saat makan untuk mengendalikan glukosa darah sesudah makan. • Insulin eksogen dibuat berusaha menyerupai insulin endogen • Insulin basal  insulin kerja panjang untuk memenuhi kebutuhan insulin basal metabolik tubuh (mengatur produksi glukosa hepar). • Insulin prandial  insulin kerja pendek yang berfungsi terutama menurunkan glukosa darah setelah makan (meningkatkan masukan glukosa di otot dan lemak) Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 39.
    Jenis Insulin 40 GIR (mg/kg/min) 12 Time (h) 0 48 16 20 24 BASAL INSULIN PRE-MIX INSULIN FAST-ACTING INSULIN Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 40.
    Profil Kerja Insulin Pelatihan Terakreditasi: PengelolaanDiabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 41.
    NPH = Neutralprotamine hagedorn. Cahn A et al. Lancet Diabetes Endocrinol 2015. http://dx.doi.org/10.1016/ S2213- 8587(15)00097-2 Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP Regular human insulin Rapid acting analogues Aspart Glulisine Lispro Intermed iate- acting human/a nalogues NPH Lispro protami ne Long- acting analogu es 30-60 min Puncak kerja 2-4 h Lama kerja 5-8 h 12-18 min 12-30 min 15-30 min 30-90 min 30-90 min 30-90 min 3-5 h 3-5 h 3-5 h 1-2 h 4-12h 12-16 h 30-60 min 4-12 h 12-16 h Detemir Glargine Glargine U300 Degludec 1-2 h 1-2 h 1-2 h 30-90 min 6-8h None None None up to 24 h 20-26 h up to 36 h >42 h Pre-mixed 70% NPH, 30% regular 30-60 min 2-4 h 10-16 h 50% NPH, 50% regular 30-60 min 2-5 h 10-16 h 30% aspart protamine, 70% aspart 5-15 min 1-4 h 10-16 h 50% aspart protamine, 50% aspart 15-30 min 1-4 h 10-16 h 70% aspart protamine, 30% aspart 15-30 min 1-12 h 10-16 h 50% lispro protamine, 50% aspart 10-15 min 1-4 h 10-16 h 75% lispro protamine, 25% aspart 10-15 min 1-12 h 10-16 h Awitan kerja Farmakokinetik Sediaan Insulin
  • 42.
    Konsep inisiasi, titrasidan intensifikasi pada pemberian insulin 43 1. Inisiasi: dimulainya pemberian insulin pertama kali kepada pasien. Membutuhkan pemilihan regimen insulin, tipe insulin dan penyesuaian dosis awal terapi. 2. Optimisasi, titrasi atau penyesuaian dosis. Dosis insulin perlu disesuaikan minimal dalam mingguan untuk mencapai target. 3. Intensifikasi, modifikasi regimen insulin untuk mencapai kontrol glikemik lebih baik, diperlukan perubahan ke regimen insulin yang lebih intensif untuk kontrol glikemik lebih baik. Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 43.
    Algoritma Pengelolaan DMTipe 2 Tanpa Dekompensasi Metabolik Sasaran kendali glukosa darah: HbA1c <7% (individualisasi) Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 1. Pemilihan dan penggunaan obat mempertimbangkan faktor pembiayaan, ketersediaan obat, efektivitas, manfaat kardiorenal, efek samping, efek terhadap berat badan, serta pilihan pasien 2. Pengelolaan bukan hanya meliputi gula darah, tetapi juga penanganan faktor risiko kardiorenal yang lain secara terintegrasi. 3. Obat agonis GLP-1 dan penghambat SGLT2 tertentu menunjukkan manfaat untuk pasien dengan koorbid penyakit kardiorenal aterosklerosis, gagal jantung dan gagal ginjal. Kedua golongan obat ini disarankan menjadi pilihan untuk pasien dengan komorbid/komplikasi penyakittersebut 4. Bila HbA1c tidak bisa diperiksa maka sebagai pedoman dipakai glukosa darah rerata yang dikonversikan ke HbA1c (poin 7 penjelasan algoritma)
  • 44.
    Jika ada keterbatasanpembiayaan: Pada pasien tanpa komplikasi PKVAS dan GGK 45 SU * TZ D TZ D SU * If A1C above targe t If A1C above targe t • Insulin therapy basal insulin with lowest acquisition cost OR • Consider DPP4i OR SGLT2i with lowest acquisition cost *Choose later generation SU with lower risk of hypoglycemia American Diabetes Association. Diabetes Care. 2020 Jan;43(Suppl 1):S1-S212. Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 45.
    Sasaran pengendalian diabetes Parameter Sasaran Indeks MasaTubuh (IMT) • IMT (kg/m2) 18.5-22.9 Tekanan darah • TD Sistolik (mmHg) <140 • TD Diastolik (mmHg) <90 Kendali glikemik • HbA1c (%) <7 atau individual • Gula darah kapiler puasa/sebelum makan (mg/dL) 80-130 • Gula darah kapiler 1-2 setelah makan (mg/dL) <180 Lipid • LDL-C (mg/dL) <100, <70 jika risiko tinggi PKV • Triglyceride (mg/dL) <150 • HDL-C (mg/dL) <40 untuk laki-laki <50 untuk perempuan • Apo-B (mg/dL) <90 Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 46.
    Terima kasih Pelatihan Terakreditasi: PengelolaanDiabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 48
  • 47.
    Studi Kasus Pelatihan Terakreditasi: PengelolaanDiabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 49
  • 48.
    Studi Kasus 4 PelatihanTerakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 50 Ibu D berusia 45 tahun, datang ke Puskesmas dengan keluhan cepat lelah dalam 3 bulan terakhir. Pasien juga mengeluh sering BAK di malam hari, sampai terbangun 2-3 kali. Berat badan pasien turun 5 kg walaupun tidak diet. Pasien mengaku tidak mengalami peningkatan nafsu makan. Ibu D sebagai penjual sembako di desanya dengan pendidikan terakhir SMP. Setiap hari ia habiskan waktu untuk menjaga tokonya tanpa sempat berolahraga. Ayah meninggal karena jantung saat berusia 42 tahun. Ibu D memiliki 3 orang anak dengan perawakan gemuk. Dari pemeriksaan fisik didapatkan: BB = 60 kg, TB 153 cm, TD = 120/80 mmHg, S = 36,3 C, RR = 20 x menit, pemeriksaan fisik lain dalam batas normal dan GDS = 210 mg/dL. Sebutkan faktor risiko Diabetes yang dimiliki oleh Ibu D! Bagaimana pengelolaan pasien ini secara komprehensif?
  • 49.
    Studi Kasus 5 51 BapakE berusia 37 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan berat badan turun 15 kg dalam 6 bulan. Bapak E mengalami luka di kaki kanan sejak 1 bulan yang lalu dan terlihat basah. Pasien juga mengeluh sering haus dan sering BAK. Bapak E tidak bekerja dan menghabiskan waktu dengan memancing dan kumpul-kumpul bersama teman-temannya. Tidak ada aktivitas fisik atau olahraga rutin yang dilakukan. Pasien telah menikah dan memiliki 2 orang anak. Istri pasien sebagai buruh cuci. Dari pemeriksaan fisik didapatkan: BB = 65 kg, TB = 165 cm, TD = 145/90 mmHg, S = 37,9 C, RR = 22x menit, Cruris dextra didapatkan ulkus ukuran 8x5 cm tertutup debris dan GDS = 355 mg/dL. Sebutkan faktor risiko Diabetes yang dimiliki oleh Bapak E! Bagaimana pengelolaan pasien ini secara komprehensif? Pelatihan Terakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP
  • 50.
    Studi Kasus 6 PelatihanTerakreditasi: Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 secara Komprehensif bagi Dokter di FKTP 52 Bapak F usia 55 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan lemas sejak 6 bulan sebelumnya. Pasien sudah diddiagnosis diabetes melitus sejak 5 tahun yang lalu dan diberikan metformin 3 x 500 mg dan glimepiride 2 mg. Namun pasien hanya kontrol dan minum obat jika merasa ada keluhan. Saat ini pasien juga mengeluhkan sering BAK malam, sering haus dan juga sering minum. Nafsu makan biasa saja dan BB turun 5 kg dalam 3 bulan terakhir. Pasien juga memiliki hipertensi dan mengkonsumsi Ramipril 5 mg, namun pasien jarang meminumnya Pasien adalah seorang petani dengan pendidikan terakhirnya adalah Sekolah Dasar. Sekitar 1 tahun yang lalu, pasien pernah berkunjung ke Puskesmas dengan keluhan luka di kaki kanannya yang tidak kunjung sembuh setelah satu bulan lamanya. Kedua orangtuanya dulu meninggal karena sakit jantung dan stroke. Pasien memiliki 2 orang anak Dari pemeriksaan fisik didapatkan tampak sakit sedang, compos mentis, TD = 168/100 mmHg, S = 36,7 C, RR = 19 x menit, BB = 74 kg, TB 160 cm, terdapat skar bekas luka di kruris dan pedis dextra, GDS = 225 mg/dL. Sebutkan faktor risiko Diabetes yang dimiliki oleh Bapak F! Bagaimana pengelolaan pasien ini secara komprehensif?