Konsep dan Manajemen
Pelaksanaan
One Stop Service
TB-HIV, TB ANAK, TB-DM
Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran,
2024
PENTINGNYA PELAYANAN TB ONE STOP SERVICE
TUBERCULOSIS  10
PENYEBAB KEMATIAN
TERBESAR DI DUNIA
(WHO, 2023)
INDONESIA PERINGKAT KE-
2 KASUS TUBERCULOSIS
TERBANYAK (SETELAH
INDIA).
(GLOBAL TB REPORT, 2023)
TUBERCULOSIS PENYAKIT
MENULAR DENGAN ANGKA
KEMATIAN TERTINGGI (SETELAH
COVID-19)
(Kemenkes, 2023)
KOMORBID TERTINGGI
TERJADI TUBERKULOSIS DI
INDONESIA : HIV, DM,
ASMA
Jurnal BIKFOKES UI, 2021
JAWA BARAT MENDUDUKI
CAKUPAN PENEMUAN TB ANAK
TERTINGGI
(Kemenkes, 2023)
PPI TB sesuai WHO Guidelines :
Triase, penyuluhan, pemisahan,
pemberian pelayanan segera,
rujuk investigasi/pengobatan TB
(WHO, 2022)
Sources:
1. WHO. 2023. 2023 Global TB Report.
2. Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
3. Laporan Program Penanggulangan TB Tahun 2022. Kemenkes RI 2023
4. Sesar Dayu dan Sona Setiawan. Faktor Risiko kejadian Tuberkulosis di Indonesia 9Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan informatika kesehatan. 2021.
PATIENT
SAFETY
DATA TUBERKULOSIS DI INDONESIA
● Estimasi kasus TBC : 1.060.000 kasus
(385 / 100.000)
● Mortalitas kasus TBC : 141.000
(51 / 100.000)
● Estimasi Kasus TBC-HIV : 24.000 kasus
● Penemuan kasus TBC-HIV : 15.375
● TBC anak 17%
● Pasien DM positif TBC  22%
Source: Global TBC Report 2023.
DATA TUBERKULOSIS DI
PANGANDARAN
● TB + status HIV+ : 7 orang
● TB dites HIV : 501 orang
● TB + DM : 32 kasus
● TB anak : 127 kasus
Sumber : SITB Januari – September 2024
Source: Global TBC Report 2023.
Konsep TB One Stop Service
Pelayanan Terpadu
Satu Atap
Pelayanan
diberikan oleh
SDM yang terlatih
Pengobatan
bersifat kolaboratif
dan Koordinatif
Mudah diakses
dalam 1 lokasi
RUMAH SAKIT DENGAN PELAYANAN
TB
ONE STOP SERVICE
Konsep dan Manajemen Pelaksanaan
One Stop Service
TB-HIV
Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran,
2024
Mengapa Harus Tercipta TB-HIV
Joint Planning?
44% ODHIV dengan TBC tidak
terdiagnosa
(WHO, 2020)
50% ODHIV dengan Ko-
infeksi TBC tidak akses
pelayanan Kesehatan.
(WHO, 2020)
Insidensi TB-HIV Co-Infection di
Indonesia mencapai 15.375
kasus di 2022 (4% dari Total
Kasus TBC)
(Kemenkes, 2023)
TB merupakan penyebab
kematian ODHIV terbanyak.
30% dari kematian ODHIV
disebabkan TBC (WHO, 2020)
Koinfeksi TB-HIV menyumbang
angka kematian tinggi diantara
pasien TB.
15% kematian pasien TBC adalah ODHIV
(WHO, 2020)
Status HIV+ berisiko 18
kali lebih banyak
menderita TBC
8,2% dari 10 juta penderita TBC
merupakan ODHIV di 2019. (WHO,
2020)
Sources:
1. WHO. 2020. 2020 Global TB Report. https://www.who.int/teams/global-hiv-hepatitis-and-stis-programmes/hiv/treatment/tuberculosis-hiv (accessed on July 2024),
2. Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
Konsep One Stop Service
Pemberian inisiasi ARV dilakukan di
layanan TBC. Kemudian untuk kegiatan
perawatan, pengobatan lanjutan, dan
dukungan berkelanjutan dapat
dilakukan di layanan HIV pada
kunjungan selanjutnya.
Pengobatan OAT dimulai di layanan
HIV dan pengobatan selanjutnya
dapat dilanjutkan di layanan TBC.
Bagi layanan TBC dan HIV yang
berada pada satu poliklinik
dapat dilakukan mekanisme
pembagian hari pelayanan untuk
memastikan PPI TBC terjaga.
Pencatatan dan pelaporan yang digunakan sesuai dengan sistem informasi yang digunakan untuk program TBC
dan HIV
Pasien TBC yang terdiagnosis HIV ODHIV yang terdiagnosis
TBC
Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
One Stop Service TB-HIV
Layanan yang menyediakan paket komprehensif TB-HIV
Skrinning TBC Skrinning HIV Pengobatan OAT
Pengobatan ARV
Monitoring
Pengobatan
ARV/OAT
Dukungan dan
Skrinning Lain
Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
Manajemen Tatalaksana TBC-HIV
● Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada
ODHIV
● Pemberian pengobatan TBC HIV
○ Pemberian OAT pada pasien TBC HIV
○ Pemberian ARV pada pasien TBC HIV
○ Pengecahan Kotrimoksazol (PPK) Pada pasien TBC HIV
○ Pemberian Kortikosteroid pada pasien TBC HIV
● Pengendalian Penyakit Infeksi (PPI) TBC pada ODHIV
Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
Indikator utama TBC HIV
● % Pasien TBC mengetahui status HIV
● % ODHIV baru memulai ART di skrinning TBC
● % ODHIV di skrinning TBC di Fasyankes
● % ODHIV yang mendapat TPT
Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
Koordinator Pada Tingkat
Puskesmas :
1. Melakukan koordinasi antara penanggung jawab kluster TBC dan penanggung jawab kluster HIV
untuk melakukan kolaborasi pelayanan TBC dan HIV.
2. Memastikan kegiatan skrining TBC, tes HIV, pemberian ARV, pemberian OAT, pemberian TPT, dan
PPK dilakukan oleh semua kluster terkait.
3. Memastikan ketersediaan logistik obat ARV, OAT, Kotrimoksasol, TPT, reagen dan bahan habis
pakai tersedia di puskesmas.
4. Melakukan perhitungan dan permintaan logistik obat TPT, ARV, OAT, PPK, reagen dan bahan
habis pakai tersedia di puskesmas ke dinas kabupaten/kota.
5. Memastikan formulir laporan TBC dan HIV tersedia di puskesmas.
6. Memastikan kelengkapan dan ketepatan waktu pencatatan dan pelaporan pada SITB dan SIHA.
Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC HIV 29
7. Memastikan komunitas yang memberikan pendampingan ODHIV melakukan skrining TBC dengan
menggunakan 4 pertanyaan dan 1 tanda gejala serta memastikan ODHIV mendapatkan TPT, ARV,
OAT dan PPK.
8. Memantau cakupan pemberian TPT, ARV, OAT, dan PPK pada pasien TBC HIV.
Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
Koordinator Pada Tingkat RS :
1. Melakukan koordinasi antara poliklinik TBC dan HIV untuk melakukan kolaborasi pelayanan TBC
dan HIV.
2. Memastikan ketersediaan logistik obat TPT, ARV, OAT, Kotrimoksasol, reagen dan bahan habis
pakai tersedia di rumah sakit.
3. Memastikan penanggung jawab poliklinik TBC dan HIV melakukan kegiatan skrining TBC dan HIV,
pemberian ARV ,TPT, OAT, dan PPK.
4. Melakukan perhitungan dan permintaan logistik obat TPT, ARV, OAT, PPK, reagen dan bahan
habis pakai tersedia di rumah sakit ke dinas kabupaten/kota.
5. Memastikan fomulir laporan TBC dan HIV terdapat di rumah sakit.
6. Memastikan kelengkapan dan ketepatan waktu pencatatan dan pelaporan pada SITB dan SIHA.
7. Memantau cakupan pemberian TPT, ARV, OAT, dan PPK pada pasien TBC HIV.
8. Memastikan komunitas yang memberikan pendampingan pada ODHIV melakukan skrining TBC
dengan menggunakan lima pertanyaan (4 gejala dan 1 tanda) serta memastikan ODHIV
mendapatkan TPT, ARV, OAT, dan PPK.
Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
Koordinator Dinas Kesehatan :
1. Membuat perencanaan dan implementasi one stop services.
2. Mengembangkan dan memastikan jejaring rujukan dalam rangka kolaborasi TBC HIV tersedia dan
berjalan.
3. Memastikan semua fasyankes menjalankan kolaborasi TBC HIV.
4. Melakukan analisa permintaan dan perhitungan logistik seperti obat TPT, ARV, OAT, PPK, reagen dan
bahan habis sesuai dengan kebutuhan.
5. Melakukan permintaan logistik sesuai dengan kebutuhan secara berjenjang ke dinas kesehatan
provinsi.
6. Melakukan relokasi logistik jika diperlukan.
7. Memastikan ketersediaan logistik tersedia di wilayah sesuai kebutuhan.
8. Memastikan formulir laporan tersedia untuk semua fasyankes.
9. Melakuan validasi data antara SITB dan SIHA.
10. Memastikan komunitas mendukung kolaborasi TBC HIV dengan menggunakan indikator
keberhasilan yang sama.
Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
Tantangan Penerapan One Stop Service TB-HIV
Sistem pencatatan
dan pelaporan yang
berbeda
Berbedanya system
logistic pada TBC dan
HIV
Sistem layanan TB
dan HIV yang sudah
berjalan terpisah. Pertimbangan infeksi
TB pada ODHIV
Jumlah layanan TBC lebih
banyak daripada HIV ->
memungkinkan lost
follow up pasien rujuk
Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
Skenario Implementasi One Stop Service TB HIV
Satu
Ruangan
Layanan TBC dan HIV
dalam satu ruangan
(poliklinik) di fasyankes
Poliklinik
Berbeda
Layanan TBC dan HIV di
Poliklinik berbeda di
satu fasyankes
Klinik Terpisah
Fasyankes yang
mampu menyediakan
poliklinik TBC atau HIV
saja
Layanan One Stop
Service TB-HIV
Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
ALUR PEMBERIAN TPT
OSS TB-HIV: Satu Ruangan
OSS TB-HIV: Poliklinik Berbeda (TBC)
OSS TB-HIV: Poliklinik Berbeda (HIV)
OSS TBHIV: Klinik Terpisah (TBC)
OSS TBHIV: Klinik Terpisah (HIV)
TERIMA KASIH

ONE STOP SERVICE TB_dr Rangny pangandaran

  • 1.
    Konsep dan Manajemen Pelaksanaan OneStop Service TB-HIV, TB ANAK, TB-DM Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran, 2024
  • 2.
    PENTINGNYA PELAYANAN TBONE STOP SERVICE TUBERCULOSIS  10 PENYEBAB KEMATIAN TERBESAR DI DUNIA (WHO, 2023) INDONESIA PERINGKAT KE- 2 KASUS TUBERCULOSIS TERBANYAK (SETELAH INDIA). (GLOBAL TB REPORT, 2023) TUBERCULOSIS PENYAKIT MENULAR DENGAN ANGKA KEMATIAN TERTINGGI (SETELAH COVID-19) (Kemenkes, 2023) KOMORBID TERTINGGI TERJADI TUBERKULOSIS DI INDONESIA : HIV, DM, ASMA Jurnal BIKFOKES UI, 2021 JAWA BARAT MENDUDUKI CAKUPAN PENEMUAN TB ANAK TERTINGGI (Kemenkes, 2023) PPI TB sesuai WHO Guidelines : Triase, penyuluhan, pemisahan, pemberian pelayanan segera, rujuk investigasi/pengobatan TB (WHO, 2022) Sources: 1. WHO. 2023. 2023 Global TB Report. 2. Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023. 3. Laporan Program Penanggulangan TB Tahun 2022. Kemenkes RI 2023 4. Sesar Dayu dan Sona Setiawan. Faktor Risiko kejadian Tuberkulosis di Indonesia 9Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan informatika kesehatan. 2021. PATIENT SAFETY
  • 5.
    DATA TUBERKULOSIS DIINDONESIA ● Estimasi kasus TBC : 1.060.000 kasus (385 / 100.000) ● Mortalitas kasus TBC : 141.000 (51 / 100.000) ● Estimasi Kasus TBC-HIV : 24.000 kasus ● Penemuan kasus TBC-HIV : 15.375 ● TBC anak 17% ● Pasien DM positif TBC  22% Source: Global TBC Report 2023.
  • 6.
    DATA TUBERKULOSIS DI PANGANDARAN ●TB + status HIV+ : 7 orang ● TB dites HIV : 501 orang ● TB + DM : 32 kasus ● TB anak : 127 kasus Sumber : SITB Januari – September 2024 Source: Global TBC Report 2023.
  • 7.
    Konsep TB OneStop Service Pelayanan Terpadu Satu Atap Pelayanan diberikan oleh SDM yang terlatih Pengobatan bersifat kolaboratif dan Koordinatif Mudah diakses dalam 1 lokasi
  • 8.
    RUMAH SAKIT DENGANPELAYANAN TB ONE STOP SERVICE
  • 12.
    Konsep dan ManajemenPelaksanaan One Stop Service TB-HIV Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran, 2024
  • 13.
    Mengapa Harus TerciptaTB-HIV Joint Planning? 44% ODHIV dengan TBC tidak terdiagnosa (WHO, 2020) 50% ODHIV dengan Ko- infeksi TBC tidak akses pelayanan Kesehatan. (WHO, 2020) Insidensi TB-HIV Co-Infection di Indonesia mencapai 15.375 kasus di 2022 (4% dari Total Kasus TBC) (Kemenkes, 2023) TB merupakan penyebab kematian ODHIV terbanyak. 30% dari kematian ODHIV disebabkan TBC (WHO, 2020) Koinfeksi TB-HIV menyumbang angka kematian tinggi diantara pasien TB. 15% kematian pasien TBC adalah ODHIV (WHO, 2020) Status HIV+ berisiko 18 kali lebih banyak menderita TBC 8,2% dari 10 juta penderita TBC merupakan ODHIV di 2019. (WHO, 2020) Sources: 1. WHO. 2020. 2020 Global TB Report. https://www.who.int/teams/global-hiv-hepatitis-and-stis-programmes/hiv/treatment/tuberculosis-hiv (accessed on July 2024), 2. Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
  • 14.
    Konsep One StopService Pemberian inisiasi ARV dilakukan di layanan TBC. Kemudian untuk kegiatan perawatan, pengobatan lanjutan, dan dukungan berkelanjutan dapat dilakukan di layanan HIV pada kunjungan selanjutnya. Pengobatan OAT dimulai di layanan HIV dan pengobatan selanjutnya dapat dilanjutkan di layanan TBC. Bagi layanan TBC dan HIV yang berada pada satu poliklinik dapat dilakukan mekanisme pembagian hari pelayanan untuk memastikan PPI TBC terjaga. Pencatatan dan pelaporan yang digunakan sesuai dengan sistem informasi yang digunakan untuk program TBC dan HIV Pasien TBC yang terdiagnosis HIV ODHIV yang terdiagnosis TBC Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
  • 15.
    One Stop ServiceTB-HIV Layanan yang menyediakan paket komprehensif TB-HIV Skrinning TBC Skrinning HIV Pengobatan OAT Pengobatan ARV Monitoring Pengobatan ARV/OAT Dukungan dan Skrinning Lain Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
  • 16.
    Manajemen Tatalaksana TBC-HIV ●Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada ODHIV ● Pemberian pengobatan TBC HIV ○ Pemberian OAT pada pasien TBC HIV ○ Pemberian ARV pada pasien TBC HIV ○ Pengecahan Kotrimoksazol (PPK) Pada pasien TBC HIV ○ Pemberian Kortikosteroid pada pasien TBC HIV ● Pengendalian Penyakit Infeksi (PPI) TBC pada ODHIV Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
  • 17.
    Indikator utama TBCHIV ● % Pasien TBC mengetahui status HIV ● % ODHIV baru memulai ART di skrinning TBC ● % ODHIV di skrinning TBC di Fasyankes ● % ODHIV yang mendapat TPT Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
  • 18.
    Koordinator Pada Tingkat Puskesmas: 1. Melakukan koordinasi antara penanggung jawab kluster TBC dan penanggung jawab kluster HIV untuk melakukan kolaborasi pelayanan TBC dan HIV. 2. Memastikan kegiatan skrining TBC, tes HIV, pemberian ARV, pemberian OAT, pemberian TPT, dan PPK dilakukan oleh semua kluster terkait. 3. Memastikan ketersediaan logistik obat ARV, OAT, Kotrimoksasol, TPT, reagen dan bahan habis pakai tersedia di puskesmas. 4. Melakukan perhitungan dan permintaan logistik obat TPT, ARV, OAT, PPK, reagen dan bahan habis pakai tersedia di puskesmas ke dinas kabupaten/kota. 5. Memastikan formulir laporan TBC dan HIV tersedia di puskesmas. 6. Memastikan kelengkapan dan ketepatan waktu pencatatan dan pelaporan pada SITB dan SIHA. Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC HIV 29 7. Memastikan komunitas yang memberikan pendampingan ODHIV melakukan skrining TBC dengan menggunakan 4 pertanyaan dan 1 tanda gejala serta memastikan ODHIV mendapatkan TPT, ARV, OAT dan PPK. 8. Memantau cakupan pemberian TPT, ARV, OAT, dan PPK pada pasien TBC HIV. Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
  • 19.
    Koordinator Pada TingkatRS : 1. Melakukan koordinasi antara poliklinik TBC dan HIV untuk melakukan kolaborasi pelayanan TBC dan HIV. 2. Memastikan ketersediaan logistik obat TPT, ARV, OAT, Kotrimoksasol, reagen dan bahan habis pakai tersedia di rumah sakit. 3. Memastikan penanggung jawab poliklinik TBC dan HIV melakukan kegiatan skrining TBC dan HIV, pemberian ARV ,TPT, OAT, dan PPK. 4. Melakukan perhitungan dan permintaan logistik obat TPT, ARV, OAT, PPK, reagen dan bahan habis pakai tersedia di rumah sakit ke dinas kabupaten/kota. 5. Memastikan fomulir laporan TBC dan HIV terdapat di rumah sakit. 6. Memastikan kelengkapan dan ketepatan waktu pencatatan dan pelaporan pada SITB dan SIHA. 7. Memantau cakupan pemberian TPT, ARV, OAT, dan PPK pada pasien TBC HIV. 8. Memastikan komunitas yang memberikan pendampingan pada ODHIV melakukan skrining TBC dengan menggunakan lima pertanyaan (4 gejala dan 1 tanda) serta memastikan ODHIV mendapatkan TPT, ARV, OAT, dan PPK. Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
  • 20.
    Koordinator Dinas Kesehatan: 1. Membuat perencanaan dan implementasi one stop services. 2. Mengembangkan dan memastikan jejaring rujukan dalam rangka kolaborasi TBC HIV tersedia dan berjalan. 3. Memastikan semua fasyankes menjalankan kolaborasi TBC HIV. 4. Melakukan analisa permintaan dan perhitungan logistik seperti obat TPT, ARV, OAT, PPK, reagen dan bahan habis sesuai dengan kebutuhan. 5. Melakukan permintaan logistik sesuai dengan kebutuhan secara berjenjang ke dinas kesehatan provinsi. 6. Melakukan relokasi logistik jika diperlukan. 7. Memastikan ketersediaan logistik tersedia di wilayah sesuai kebutuhan. 8. Memastikan formulir laporan tersedia untuk semua fasyankes. 9. Melakuan validasi data antara SITB dan SIHA. 10. Memastikan komunitas mendukung kolaborasi TBC HIV dengan menggunakan indikator keberhasilan yang sama. Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
  • 21.
    Tantangan Penerapan OneStop Service TB-HIV Sistem pencatatan dan pelaporan yang berbeda Berbedanya system logistic pada TBC dan HIV Sistem layanan TB dan HIV yang sudah berjalan terpisah. Pertimbangan infeksi TB pada ODHIV Jumlah layanan TBC lebih banyak daripada HIV -> memungkinkan lost follow up pasien rujuk Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
  • 22.
    Skenario Implementasi OneStop Service TB HIV Satu Ruangan Layanan TBC dan HIV dalam satu ruangan (poliklinik) di fasyankes Poliklinik Berbeda Layanan TBC dan HIV di Poliklinik berbeda di satu fasyankes Klinik Terpisah Fasyankes yang mampu menyediakan poliklinik TBC atau HIV saja Layanan One Stop Service TB-HIV Source: Kemenkes RI. 2023. Juknis Kolaborasi TBC HIV Tahun 2023.
  • 23.
  • 24.
  • 25.
  • 26.
  • 27.
    OSS TBHIV: KlinikTerpisah (TBC)
  • 28.
    OSS TBHIV: KlinikTerpisah (HIV)
  • 29.