MAKALAH
BIOLOGI REPRODUKSI
(Sistem Imun Spesifik Dalam Tubuh Manusia, Antigen (Ag) dan Antibodi)
Diajukan sebagai tugas mata kuliah Biologi Reproduksi
Dosen Pembimbing : Wenny Indah Purnama Eka Sari, SST, M. Keb
Disusun Oleh :
HESTINA REKSI UTAMI P01740322 115
ISTIKA MAHARANI P01740322 116
JARNELIA RENITA P01740322 117
KRISNAWATI ANGGERAINI P01740322 118
LELI ARYENI P01740322 119
LEVIMAH P01740322 120
MARDALENA P01740322 121
MARLINDA P01740322 122
MELLA AFRI SANTI P01740322 123
NETTA PAMELA DEWI P01740322 124
NIA ENI KUSRINI P01740322 125
NURTRISNA NOVRIYANTI P01740322 126
PETI MELY P01740322 127
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BENGKULU
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
PRODI D4 ALIH JENJANG
TAHUN 2022/2023
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah Biologi Reproduksi
sesuai dengan waktu yang telah diberikan, dalam penyusunan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan namun demikian penyusun telah berusaha semaksimal
mungkin agar hasil dari tulisan ini tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan
yang ada.
Atas dukungan dari berbagai pihak akhirnya penunyusun bisa menyelesaikan
makalah ini. Untuk itu, dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih
kepada Dosen yang mengajar mata kuliah Biologi Reproduksi yang memberikan
pengajaran dan arahan dalam penyusunan makalah ini, dan tidak lupa kepada
teman-teman semua yang telah ikut berpartisipasi membantu penyusun dalam
upaya penyusunan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
karena tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini, dan mudah-mudahan ini
dapat bermanfaat bagi kita semua.
Bengkulu, Oktober 2022
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................ii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang ......................................................................1
B. Rumusan Masalah ................................................................2
C. Tujuan ..................................................................................2
BAB II Tinjauan Pustaka
A. Sistem Imun Spesifik Dalam Tubuh Manusia ......................3
B. Antigen (Ag) ........................................................................7
C. Antibodi (Ab)........................................................................16
BAB III Penutup
A. Kesimpulan ..........................................................................19
B. Saran ……………………………………………………….19
Daftar Pustaka ……………………………………………………….. 20
iii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur
mikroba patogen, misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit yang
dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Mikroba dapat hidup
ekstraseluler, melepas enzim dan menggunakan makanan yang banyak
mengandung gizi yang diperlukannya. Mikroba lain menginfeksi sel pejamu
dan berkembang biak intraseluler dengan menggunakan sumber energi sel
pejamu. Baik mikroba ekstraseluler maupun intraseluler dapat menginfeksi
subyek lain, menimbulkan penyakit dan kematian, tetapi banyak juga yang
tidak berbahaya bahkan berguna untuk pejamu.
Infeksi yang terjadi pada manusia normal umumnya singkat dan
jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh
manusia memiliki suatu sistem yaitu sistem imun yang melindungi tubuh
terhadap unsur-unsur patogen. Sistem ini mendeteksi berbagai macam
pengaruh biologis luar yang luas, melindungi tubuh dari infeksi bakteri,
virus, fungus, protozoa dan parasit serta menghancurkan zat-zat asing lain
dan memusnahkan mereka dari sel yang sehat dan jaringan agar tetap dapat
berfungsi seperti biasa. Sistem imun yang sehat adalah jika dalam tubuh
bisa membedakan antara diri sendiri dan benda asing yang masuk ke dalam
tubuh. Biasanya ketika ada benda asing yang memicu respons imun masuk
ke dalam tubuh (antigen) dikenali maka terjadilah proses pertahanan diri.
Sistem imun merupakan suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari
sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara
kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman
penyakit ataupun racun yang masuk ke dalam tubuh yang disebut antigen.
Namun, banyak diantara kita yang kurang memiliki pengetahuan mengenai
antigen, bagian antigen, contoh-contoh antigen, klasifikasi antigen,
2
karakteristik dan sifat dari antigen, serta mekanisme masuknya antigen
dalam tubuh.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diambil beberapa rumusan
masalah sebagai berikut :
1. Apa itu sistem imun spesifik dalam tubu manusia ?
2. Apa itu konsep antigen (Ag) ?
3. Apa itu konsep antibodi (Ab) ?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa itu sistem imun spesifik dalam tubuh manusia
2. Mengetahui konsep antigen (Ag)
3. Mengetahui konsep antibodi (Ab)
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sistem Imun Spesifik
1. Pengertian Sistem Imun Spesifik
Sistem imun spesifik ialah sistem pertahanan tubuh kedua ketika
sistem imun non spesifik tidak dapat mengeliminasi agen penyakit. Hal
ini terjadi apabila fagosit tidak mengenali agen infeksius karena hanya
sedikit reseptor yang cocok untuk agen infeksius atau agen tidak
bertindak sebagai faktor antigen terlarut (soluble antigen) yang aktif.
Sehingga diperlukan molekul spesifik yang akan berikatan langsung
dengan agen infeksius yang dikenali oleh antibodi untuk selanjutnya
terjadi fagositosis (Andika, 2020)
Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal
benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama
kali terpajan dengan tubuh segera dikenal oleh sistem imun spesifik.
Pajanan tersebut menimbulkan sensitifitatasi, sehingga antigen yang
sama dan masuk tubuh untuk kedua kali akan dikenal lebih cepat
dan kemudian dihancurkan. Oleh karena itu, sistem tersebut disebut
spesifik. Untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi
tubuh, sistem imun spesifik dapat bekerja tanpa bantuan sistem imun
nonspesifik. Namun pada umumnya terjalin kerjasama yang baik
antara sistem imun nonspesifik dan spesifik seperti antara
komplemen-fagosit-antibodi dan antara makrofag dengan sel T
(Baratawidjaja dan Rengganis, 2010).
2. Karakteristik Respon Imun Spesifik/Adaptif
Respon imun spesifik/adaptif berbeda dengan respon imun non
spesifik/non adptif. Karakteristiknya berbeda dengan respon imun non
spesifik. Karakteristik dari respon imun spesifik adalah baru terbentuk
jika terjadi infeksi dari patogen, sifat responnya spesifik untuk setiap
4
infeksi (mis. Infeksi polio akan menghasilkan respon imun spesifik
terhadap virus polio saja, tidak terhadap patogen lain), jangka waktu
responnya juga lama bahkan ada yang bertahan seumur hidup, terdapat
mekanisme memori sehingga apabila terjadi infeksi dari patogen yang
sama respon imun yang dihasilkan lebih cepat dan adekuat. Meskipun
demikian, respon imun spesifik dan non spesifik akan bekerja sama
dalam mengeliminasi patogen di dalam tubuh
3. Komponen Respon Imun Spesifik/Adaptif
Komponen respon imun spesifik ada 2, yaitu system imun
spesifik humoral dan system imun spesifik seluler.
a) Sistem Imun Spesifik Humoral
Limfosit B atau sel B berperan dalam sistem imun spesifik
humoral. Sel B tersebut berasal dari sel asal multipoten. Pada
unggas sel asal tersebut akan berdiferensiasi menjadi sel B di dalam
alat yang disebut Bursa Fabricius yang terletak dekat kloaka. Bila
sel B dirangsang oleh benda asing, maka sel tersebut akan
berproliferasi dan berkembang menjadi sel plasma yang dapat
membentuk zat antibodi. Antibodi yang dilepas dapat ditemukan di
dalam serum. Fungsi utama antibodi ini ialah untuk pertahanan
terhadap infeksi virus, bakteri (ekstraselular), dan dapat
menetralkan toksinnya.
Sel B merupakan asal dari sel plasma yang membentuk
imunoglobulin (Ig) yang terdiri atas IgG, IgM, IgA, IgE dan IgD.
IgD berfungsi sebagai opsonin, dapat mengaglutinasikan
kuman/virus, menetralisir toksin dan virus, mengaktifkan
komplemen (jalur klasik) dan berperanan pada Antibody
Dependent Cellular Cytotoxicity (ADCC). ADCC tidak hanya
merusak sel tunggal tetapi juga mikroorganisme multiselular
seperti telur skistosoma, kanker, penolakan transplan, sedang
ADCC melalui neutrofil dan eosinofil berperan pada imunitas
5
parasit. IgM dibentuk terdahulu pada respons imun primer
sehingga kadar IgM yang tinggi menunjukkan adanya infeksi
dini. IgM merupakan aglutinator antigen serta aktivator
komplemen (jalur klasik) yang poten. IgA ditemukan sedikit
dalam sekresi saluran napas, cerna dan kemih, air mata, keringat,
ludah dan air susu ibu dalam bentuk IgA sekretori (sIgA). IgA
dan sIgA dapat menetralisir toksin, virus, mengaglutinasikan
kuman dan mengaktifkan komplemen (jalur alternatif). IgE
berperanan pada alergi, infeksi cacing, skistosomiasis, penyakit
hidatid, trikinosis. Peranan IgD belum banyak diketahui dan
diduga mempunyai efek antibodi pada alergi makanan dan
autoantigen.
Sel B mengenali epitop pada permukaan antigen dengan
menggunakan molekul antibodi. Jika dirangsang melalui kontak
langsung, sel B berproliferasi, dan klon yang dihasilkan dapat
mengeluarkan antibodi yang spesifisitas adalah sama dengan
reseptor permukaan sel yang mengikat epitop tersebut. Tanggapan
biasanya melibatkan klon yang berbeda dari limfosit dan oleh
karena itu disebut sebagai poliklonal. Untuk setiap epitop terdapat
beberapa klon limfosit yang berbeda dengan berbagai sel B
reseptor, yang masing-masing mengenali epitop dengan cara yang
sedikit berbeda dan dengan kekuatan mengikat yang berbeda pula
(afinitas).
b) Sistem Imun Spesifik Seluler
Imunitas seluler ditengahi oleh sekelompok limfosit yang
berdiferensiasi di bawah pengaruh timus (Thymus), sehingga
diberi nama sel T. Cabang efektor imunitas spesifik ini
dilaksanakan langsung oleh limfosit yang tersensitisasi spesifik
atau oleh produk-produk sel spesifik yang dibentuk pada interaksi
antara imunogen dengan limfosit-limfosit tersensitisasi spesifik.
Produk-produk sel spesifikasi ini ialah limfokin-limfokin termasuk
6
penghambat migrasi (migration inhibition factor = MIF),
sitotoksin, interferon dan lain sebagainya yang menjadi efektor
molekul-molekul dari imunitas seluler (Desti, 2019).
Sel T merupakan 65-80% dari semua limfosit dalam sirkulasi.
Kebanyakan sel T mempunyai 3 glikoprotein permukaan yang
dapat diketahui dengan antibodi monoklonal T11, T1 dan T3
(singkatan T berasal dari Ortho yang membuat antibodi tersebut)
Fungsi sel T umumnya ialah:
1) Membantu sel B dalam memproduksi antibodi
2) Mengenal dan menghancurkan sel yang diinfeksi virus
3) Mengaktifkan makrofag dalam fagositosis
4) Mengontrol ambang dan kualitas sistem imun
Pada tubuh ditemui beberapa jenis sel T, yaitu T”helper” atau Th;
T”inducer”, T”delayed hypersensitivity” atau Td, T”cytotoxic”
atau Tc dan T”supressor” atau Ts. T”helper” atau Th membantu sel
B dalam pembuatan “antibodi”. Untuk membuat antibodi terhadap
kebanyakan antigen, baik sel B maupun sel T harus mampu
mengenali kembali bagian-bagian tertentu dari antigennya. Th
bekerja sama juga dengan Tc dalam pengenalan kembali sel-sel
yang dilanda infeksi viral dan jaringan cangkokan alogenik.
Th membuat dan melepaskan limfokin yang diperlukan untuk
menggalakkan makrofag dan tipe sel lainnya. T”inducer” adalah
istilah yang digunakan untuk Th yang sedang menggalakkan jenis
sel T lainnya. T”delayed hypersensitivity” atau Td adalah sel T
yang bertanggungjawab atas pengarahan makrofag dan sel-sel
inflamasi lainnya ke tempat-tempat dimana terjadi reaksi
hipersensitivitas yang terlambat. Mungkin sekali Td bukan suatu
sub jenis sel T melainkan kelompok Th yang sangat aktif.
T”citotoxic” atau Tc adalah sel T yang bertugas memusnahkan sel
atau jaringan cangkokan alogenik dan sel-sel yang dilanda infeksi
7
viral, yang dikenali kembali dalam interaksi dengan berbagai
antigen dalam MHC molekul pada permukaaan sel tujuannya.
T”supressor” atau Ts mengatur kegiatan sel T lain dan sel B. Sel
tersebut dapat dikelompokkan dalam 2 golongan , yaitu Tc yang
dapat menekan aktivitas sel yang memiliki reseptor antigen
spesifik atau yang non-spesifik.
B. Antigen (Ag)
1. Pengertian Antigen
Antigen adalah suatu zat asing terhadap inang yang mula-mula
dihadapi oleh faktor-faktor alamiah diikuti oleh pengaktifan HI atau
CMI. Zat ini terikat pada reseptor permukaan antigen spesifik koloni
sel-sel-T atau sel-sel-B.
Antigen merupakan substansi atau molekul yang dapat
merangsang pembentukan antibodi. Namun, kini antigen didefinisikan
sebagai substansi yang mampu bereaksi dengan antibodi yang
diproduksi oleh sel B atas rangsangan imunogen, tanpa
mempertimbangkan apakah antigen bersifat imunogenik. Ini artinya
semua imunogen adalah antigen, namun tidak semua antigen adalah
imunogen. Imunogen memiliki kemampuan dalam menginduksi respon
imun dengan bantuan sel T. Tidak semua bagian dari antigen dapat
berinteraksi dengan molekul sistem imun. Bagian dari antigen yang
dapat berikatan dengan antibodi atau dengan reseptor spesifik pada
limfosit T disebut epitop. Ini menandakan bahwa antigen mempunyai
beberapa epitop. Sedangkan hapten merupakan molekul organik kecil
yang mampu mengikat bagian reseptor antigen (Andik, 2020).
8
2. Klasifikasi dan Contoh-contoh Antigen
a. Klasifikasi Antigen
1) Pembagian antigen menurut epitop :
a) Unideterminan, univalent : hanya satu jenis
determinan/epitope pada satu molekul.
b) Unideterminan, multivalen : hanya satu jenis determinan
tetapi dua atau lebih determinan tersebut pada satu
molekul.
c) Multideterminan, univalen : banyak epitop yang
bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap
macamnya (kebanyakan protein).
d) Multideterminan, multivalen : banyak macam
determinan dan banyak dari setiap macam pada satu
molekul.
2) Pembagian antigen menurut spesitisitas :
a) Heteroantinogen, yang dimiliki oleh banyak spesies
b) Xenoantinogen, yang hanya dimiliki oleh banyak
spesies tertentu.
c) Aloantinogen, yang spesifik untuk individu dalam satu
spesies
d) Antigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ
tertentu.
e) Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri
3) Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T:
a) T dependen, yang memerlukan pengenalan sel T
terlebih dahulu untuk dapat menimbulkan respon
antibodi.
b) T independen, yang dapat merangsang sel B tanpa
bantuan sel T untuk membentuk antibodi.
9
4) Cara masuk dalam tubuh :
a) Melalui pembuluh darah (jarum suntik)
b) Makanan
c) Berhubungan badan
b. Contoh Antigen
1) Bakteri
Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya
dan lebih tersebar luas dibandingkan makhluk hidup yang lain.
Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat
hingga lautan dan pada tempat-tempat yang ekstrim. Bakteri
ada yang menguntungkan tetapi ada juga yang merugikan.
Bakteri adalah organisme uniseluler dan prokariot serta
umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik.
2) Virus
Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi
sel organisme biologis. Istilah virus biasanya merujuk pada
partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota. Virus
bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus
hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan
menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus
tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi
sendiri.
3) Sel darah yang asing
Sel darah yang asing dapat diperoleh dari pendonoran darah.
Transfusi darah merupakan jenis transplantasi yang paling
sering dilakukan. Dan apabila darah yang masuk ke dalam
tubuh resipien tidak kompatibel maka tubuh akan
mengenalinya sebagai antigen.
10
4) Sel-sel dari transplantasi organ
Transplantasi adalah pemindahan sel, jaringan maupun organ
hidup dari seseorang kepada orang lain dengan tujuan
mengembalikan fungsi yang telah hilang. Namun sel-sel
tersebut dapat menjadi antigen ketika sel tidak cocok dengan
tubuh resipien.
5) Toksin
Toksin adalah segala bentuk zat yang memiliki efek destruktif
bagi fungsi sel dan struktur sel tubuh. Beberapa jenis toksin
bersifat fatal, dan beberapa jenis lain bersifat lebih ringan.
3. Karakteristik Antigen
Karakteristik antigen meliputi bentuk, ukuran, rigiditas, lokasi
determinan dan struktur tersier.
1) Ukuran, antigen lengkap (imunogen) biasanya mempunyai berat
molekul yang besar. Tetapi molekul kecil dapat bergabung dengan
protein inang sehingga dapat bersifat imunogen dengan
membentuk kompleks kecil (hapten) dan protein inang (carrier).
2) Bentuk, bentuk determinan sangat penting sebagai komponen
utama, seperti DNP dalam DNP-L-lisin yang memberi bentuk
molekul yang tidak dapat ditemukan dalam homolog primer.
3) Rigiditas, Gelatin yang mempunyai berat molekul yang sangat
besar, hampir semuanya non imunogenik. Kespesifitasnya dari
produksi antigen secara langsung diangkut ke gelatin.
4) Lokasi determinan, bagian protein yang terdenaturasi
mengindikasikan determinan antigen yang penting yang dapat
dimasukkan oleh molekul besar.
5) Struktur tersier, struktur tersier dari protein penting dalam
mendeterminasi kespesifikasan dari respon suatu antibodi.
Produksi antibodi rantai A dari insulin tidak bereaksi dengan
molekul alami. Reduksi dan reoksidasi dari ribonuklease di bawah
11
kondisi kontrol diproduksi dari campuran molekul protein yang
berbeda hanya dalam struktur tiga dimensi. Jika katabolisme
terjadi, struktur tersier dari imunogen akan dihancurkan.
4. Sifat-sifat Antigen
Antigen memiliki beberapa sifat-sifat yang khas sebagai berikut :
1) Keasingan
Kebutuhan utama dan pertama suatu molekul untuk memenuhi
syarat sebagai imunogen adalah bahwa zat tersebut secara
genetik asing terhadap hospes.
2) Sifat-sifat Fisik
Agar suatu zat dapat menjadi imunogen, ia harus mempunyai
ukuran minimum tertentu, yaitu mempunyai berat molekul
>40.000 dalton, respon terhadap hospes minimal, umumnya
berupa protein asing, alergen bersifat stabil (tahan bila
dipanaskan, sukar dipecahkan), mampu merangsang
terbentuknya AB serta antigen poten alamiahnya berupa
makromolekul dan kompleks polisakarida, serta fungsi zat
tersebut sebagai hapten sesudah bergabung dengan protein-
protein jaringan. Hapten dapat merangsang terjadinya respon
imun yang kuat jika bergabung proten pembawa dengan ukuran
sesuai.
3) Kompleksitas
Faktor-faktor yang mempengaruhi kompleksitas imunogen
meliputi sifat fisik dan kimia molekul.
4) Bentuk-bentuk (Conformation)
Tidak adanya bentuk dari molekul tertentu yang imunogen.
Polipeptid linear atau bercabang, karbohidrat linear atau
bercabang, serta protein globular, semuanya mampu merangsang
terjadinya respon imun.
12
5) Muatan (Charge)
Imunogenitas tidak terbatas pada molekuler tertentu, zat-zat yang
bermuatan positif, negatif, dan netral dapat imunogen. Namun
demikian imunogen tanpa muatan akan memunculkan antibodi
yang tanpa kekuatan.
6) Kemampuan Masuk
Kemampuan masuk suatu kelompok determinan pada sistem
pengenalan akan menentukan hasil respon imun.
5. Mekanisme Masuknya Antigen dalam Tubuh
Dalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi
bermolekul kecil yang bisa masuk ke dalam tubuh. Substansi kecil
tersebut bisa menjadi antigen bila dia melekat pada protein tubuh
kita. Substansi kecil yang bisa berubah menjadi antigen tersebut
dikenal dengan istilah hapten. Substansi-substansi tersebut lolos dari
barier respon non spesifik (eksternal maupun internal), kemudian
substansi tersebut masuk dan berikatan dengan sel limfosit B yang
akan mensintesis pembentukan antibodi. Contoh hapten diantaranya
adalah toksin poison ivy, berbagai macam obat (seperti penisilin),
dan zat kimia lainya yang dapat membawa efek alergik.
Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan dengan
reseptor sel limfosit B. Pengikatan tersebut menyebabkan sel
limfosit B berdiferensiasi menjadi sel plasma. Sel plasma kemudian
akan membentuk antibodi yang mampu berikatan dengan antigen
yang merangsang pembentukan antibodi itu sendiri. Tempat
melekatnya antibodi pada antigen disebut epitop, sedangkan tempat
melekatnya antigen pada antibodi disebut variabel.
13
Terdapat berbagai kategori Interaksi antigen-antibodi, kategori
tersebut antara lain:
1) Primer
Interaksi tingkat primer adalah saat kejadian awal terikatnya
antigen dengan antibodi pada situs identik yang kecil, bernama
epitop.
2) Sekunder
Interaksi tingkat sekunder terdiri atas beberapa jenis interaksi, di
antaranya:
a. Netralisasi
Netralisasi adalah jika antibodi secara fisik dapat menghalangi
sebagian antigen menimbulkan effect yang merugikan.
Contohnya adalah dengan mengikat toksin bakteri, antibody
mencegah zat kimia ini berinteraksi dengan sel yang rentan.
b. Aglutinasi
Aglutinasi adalah jika sel-sel asing yang masuk, misalnya
bakteri atau transfusi darah yang tidak cocok berikatan
bersama-sama membentuk gumpalan
c. Presipitasi
Presipitasi adalah jika komplek antigen-antibodi yang
terbentuk berukuran terlalu besar, sehingga tidak dapat
bertahan untuk terus berada di larutan dan akhirnya
mengendap.
d. Fagositosis
Fagositosis adalah jika bagian ekor antibodi yang berikatan
dengan antigen mampu mengikat reseptor fagosit (sel
penghancur) sehingga memudahkan fagositosis korban yang
mengandung antigen tersebut.
e. Sitotoksis
Sitotoksis adalah saat pengikatan antibodi ke antigen juga
menginduksi serangan sel pembawa antigen oleh killer cell
14
(sel K). Sel K serupa dengan natural killer cell kecuali bahwa
sel K mensyaratkan sel sasaran dilapisi oleh antibodi sebelum
dapat dihancurkan melalui proses lisis membran plasmanya.
3) Tersier
Interaksi tingkat tersier adalah munculnya tanda-tanda biologik
dari interaksi antigen-antibodi yang dapat berguna atau merusak
bagi penderitanya. Pengaruh menguntungkan yaitu aglutinasi
bakteri, lisis bakteri, immnunitas mikroba,dan lain-lain. Sedangkan
pengaruh merusak antara lain: edema, reaksi sitolitik berat, dan
defisiensi yang menyebabkan kerentanan terhadap infeksi.
6. Antigen dalam Bidang Kesehatan
Pengetahuan tentang antigen, imunogenitas, imunogen, dan
epitop sangat penting dalam aplikasi klinik, khususnya untuk
imunisasi dengan tujuan pencegahan terhadap penyakit-penyakit
infeksi tertentu. Pengetahuan mengenai antigen juga dimanfaatkan
untuk membuat vaksin.
1) Vaksin Bakteri
a. Diphteria, Pertussis dan Tetanus (DPT)
DPT merupakan vaksin polivalen yang mengandung toksoid
dari Corynebacterium diphteriae dan Closteridium tetani
dengan dibubuhi bakteri Bordetella pertussis (penyebab
batuk rejang) yang telah dimatikan. Toksoid adalah toksin
yang telah dihilangkan toksisitasnya, tetapi masih bersifat
sebagai imunogen.
b. Haemophilus influenzae tibe b (Hib)
Vaksin ini terdiri atas polisakarida berasal dari Haemophilus
influenzae tipe b yang dikonjugasikan dengan toksoid atau
protein membran luar dari meningococus yang digunakan
untuk mencegah meningitis (radang selaput otak) oleh
Haemophilus influenzae. Tetapi karbohidrat yang dimurnikan
15
tersebut kurang imunogenik pada anak-anak berumur
dibawah 2 tahun. Polisakarida tersebut hanya akan memiliki
imunogenisitas jika secara kimiawi dikaitkan dengan molekul
protein sebagai carrier.
c. Neiseria meniitis
Vaksin ini digunakan untuk mencegah penyakit meningitis.
Vaksin ini terdiri atas karbohidrat yang berasal dari kapsul
meningococcus dari galur A, C, Y dan W-135.
d. Polisakharida pneumococcus
Vaksin ini dipersiapkan dari kapsul polisakharida dari 23 tipe
antigenik Streptococcus pmeumoniae. Vaksin ini akan
dilindungi terhadap 90 % galur pneumococcus yang
menyerang manusia.
e. Baccili Calmette-Guerin (BCG)
Vaksin ini mengandung bakteri hidup yang telah dilemahkan
dari galur Mycobacterium bovis yang digunakan untuk
melindungi terhadap infeksi tbc manusia.
2) Vaksin virus
a. Rubella
Vaksin rubella mengandung virus hidup yang telah
dilemahkan yang dibiakkan dalam jaringan hewan atau sel-sel
diploid manusia.
b. Virus influenza
Mengandung virus influenza tipe A dan B secara utuh yang
dibiakkan dalam embrio ayam dan dinonaktifkan dengan
formalin.
c. Hepatitis B
Vaksin hepatitis B terdiri dari partikel antigen permukaan
virus hepatitis B (HbsAg) yang diperoleh dari plasma manusia
penyandang carrier.
16
d. Varicella
Vaksin varicella digunakan untuk mencegah terhadap infeksi
cacar air.
e. Hepatitis A
Vaksin yang mengandung virus hepatitis A yang
dinonaktifkan.
f. Rabies
Vaksin rabies tersedia dalam dua bentuk :
a) Virus rabies yang telah dimatikan untuk vaksinisasi
manusia
b) Virus rabies hidup yang dilemahkan untuk vaksinisasi
hewan piaraan.
C. Antibodi (Ab)
a) Pengertian Antibodi
Antibodi (imunoglobulin) adalah molekul yang disintesis oleh
sel B / sel plasma (bentuk soluble dari reseptor antigen pada sel B).
Membran imunoglobulin merupakan reseptor antigen pada permukaan
sel B. Secara fungsional antibodi adalah molekul yang dapat bereaksi
dengan antigen.Sedangkan paratop adalah bagian antibodi yang
bereaksi dengan antigen. Antibodi mempunyai struktur dasar yang
sama, terdiri atas fragmen Fab (yang mengikat antigen) dan Fc yang
berinteraksi dengan unsur-unsur lain dari sistem imun yang mempunyai
reseptor Fc. Berbentuk huruf Y, tersusun atas 2 rantai berat (heavy
chain) dan 2 rantai ringan (light chain) yang dihubungkan dengan
jembatan disulfida (S-S). Heavy chain mempunyai berat molekul
50.000 dalton sedangkan light chain mepunyai berat molekul 25.000
dalton.
17
b) Sturuktur Antibodi
Antibodi terdiri dari unit efektor dan unit pengikatan yang berbeda.
Dalam suatu penelitian mengenai Imunoglobulin G yang merupakan
antibodi utama dalam serum dipecah menjadi fragmen-fragmen yang
tetap mempunyai. Pada tahun 1959 Rodney Porter menunjukkan bahwa
immunoglobulin G dapat dipecah menjadi tiga fragmen aktif yaitu 2 Fab
dan 1 Fc. Dua diantara fragmen di atas mengikat antigen. Keduanya
disebut Fab (ab singkatan untuk pengikatan antigen atau “antigen
binding”, F untuk fragmen). Tiap Fab mengandung satu situs pengikatan
untuk antigen. Fragmen I lainnya yaitu Fc yang tidak mengikat antigen
tetapi dapat berfungsi sebagai efektor.
Selanjutnya, pada struktur antibodi terdapat dua rantai ringan ( light
chain) dan dua rantai berat (heavy chain). Tiap rantai L (ringan) terikat
pada rantai berat (H) dengan suatu ikatan disulfida dan ratai H saling
berikatan dengan paling sedikit satu ikatan disulfida. Panjang rantai H
yang mengandung 446 residu asam amino, kira-kira dua kali panjang
rantai L. Analisis menunjukkan bahwa semua perbedaan urutan asam
amino terdapat pada 108 residu di ujung amino terminal. Jadi rantai
panjang, seperti juga rantai pendek, terdiri dari bagian yang variabel dan
bagian yang konstan. Bagian variabel pada rantai panjang mempunyai
panjang yang sama dengan yang di rantai pendek, sedang bagian yang
konstan kira-kira tiga kali panjang bagian konstan pada rantai pendek
(Stryer, 2000, ).
c) Jenis-jenis Antibodi
Ada 5 jenis antibodi yaitu Ig M; Ig G; Ig A; Ig D dan Ig E. Antibodi
dapat di treatment oleh enzim papain dan pepsin. Jika antibodi di
treatment oleh enzim papain maka akan pecah menjadi 2 Fab dan Fc,
sedangkan jika di treatment oleh enzim pepsin maka akan pecah menjadi
F(ab’)2 dan fragmen minor.
18
Berikut adalah jenis-jenis dari antibody :
1. IgM
a) Antibody yang pertama terbentuk setelah bertemu antigen
b) 4-5 hari setelah terpapar
c) Jumlah banyak
d) Berkurang dan lenyap : 10-11 hari setelah terpapar
2. IgG
a) Merupakan tulang punggung system kebal humoral
b) Timbul setelah dan lebih terkecil dari IgM
c) Dibentuk 5 hari setelah terpapar
d) Mencapai puncak 2-3 minggu setelah terpapar, kemudian turun
secra perlahan
e) Serum diambil 2-3 minggu setelah vaksin / setelah proses
penyembuhan karena infeksi alam guna mengetahui titer antibody
3. IgA
a) Timbul bersamaan dengan IgG
b) Terdapat 2 bentuk
c) Bentuk dalam serum, 1 tempat pengikat antigen
d) Bentuk sekretori, terdapat di mata, saluran pernafasan, saluran
pencernaan,
e) Dihasilkan oleh sel mukosa
f) Hanya sedikit memberikan perlindungan terhadap antigen yang
masuk secara intra muskuler atau intravena
g) Perlindungan yang besar terhadap antigen yang masuk melalui
saluran pencernaan dan pernapasan
4. IgD
a) Fungsi utamanya adalah reseptor antigen atau dengan kata lain
sebagai pengenalan antigen oleh sel B
5. IgE
a) Berperan dalam pristiwa alergi
19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis
yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem
kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap
infeksi. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh
juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang
menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Jika sistem
ini terlalu aktif akan terjadi autoimunitas seperti alergi atau
hipersensitivitas.
Sistem imun non-spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan
dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, karena dapat
memberikan respon langsung terhadap antigen sedangkan sistem imun
spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap
asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama kali terpajan dengan tubuh
segera dikenal oleh sistem imun spesifik. Pajanan tersebut menimbulkan
sensitifitatasi, sehingga antigen yang sama dan masuk tubuh untuk
kedua kali akan dikenal lebih cepat dan kemudian dihancurkan.
B. Saran
Setelah mengetahui teori dasar tentang imunologi, sistem imun non
spesifik dan sistem imun spesifik, kita diharapkan mampu meningkatkan
atau mempertahankan kekebalan tubuh kita dengan menjalankan gaya hidup
yang sehat agar terhindar dari berbagai macam infeksi.
20
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, A.K., Lichtman, A.H., and Pillai, S. (2018). Cellular and molecular
immunology. Philadelphia: Elsevier.
Baratawidjaja, Karnen Garna. 2010. Imunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit
Fakultas Kedoketeran Universitas Indonesia
Sudiono, J. (2014). Sistem kekebalan tubuh. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Subowo. 2009. Imunobiologi. Jakarta : Sagung Seto.
Suryawidjaja, Julius. 2011. Buku Saku Imunologi. Jakarta : Binarupa Aksara
Publisher
Wahid, S., dan Miskad, U.A. (2016). Imunologi: lebih mudah dipahami. Surabaya:
Brilian Internasional.

MAKALAH Kel 2 Biore (3).docx

  • 1.
    MAKALAH BIOLOGI REPRODUKSI (Sistem ImunSpesifik Dalam Tubuh Manusia, Antigen (Ag) dan Antibodi) Diajukan sebagai tugas mata kuliah Biologi Reproduksi Dosen Pembimbing : Wenny Indah Purnama Eka Sari, SST, M. Keb Disusun Oleh : HESTINA REKSI UTAMI P01740322 115 ISTIKA MAHARANI P01740322 116 JARNELIA RENITA P01740322 117 KRISNAWATI ANGGERAINI P01740322 118 LELI ARYENI P01740322 119 LEVIMAH P01740322 120 MARDALENA P01740322 121 MARLINDA P01740322 122 MELLA AFRI SANTI P01740322 123 NETTA PAMELA DEWI P01740322 124 NIA ENI KUSRINI P01740322 125 NURTRISNA NOVRIYANTI P01740322 126 PETI MELY P01740322 127 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN BENGKULU PROGRAM STUDI KEBIDANAN PRODI D4 ALIH JENJANG TAHUN 2022/2023
  • 2.
    i KATA PENGANTAR Puji syukurkami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah Biologi Reproduksi sesuai dengan waktu yang telah diberikan, dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan namun demikian penyusun telah berusaha semaksimal mungkin agar hasil dari tulisan ini tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang ada. Atas dukungan dari berbagai pihak akhirnya penunyusun bisa menyelesaikan makalah ini. Untuk itu, dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada Dosen yang mengajar mata kuliah Biologi Reproduksi yang memberikan pengajaran dan arahan dalam penyusunan makalah ini, dan tidak lupa kepada teman-teman semua yang telah ikut berpartisipasi membantu penyusun dalam upaya penyusunan makalah ini. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini, dan mudah-mudahan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Bengkulu, Oktober 2022 Penyusun
  • 3.
    ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...........................................................................i DAFTARISI..........................................................................................ii BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang ......................................................................1 B. Rumusan Masalah ................................................................2 C. Tujuan ..................................................................................2 BAB II Tinjauan Pustaka A. Sistem Imun Spesifik Dalam Tubuh Manusia ......................3 B. Antigen (Ag) ........................................................................7 C. Antibodi (Ab)........................................................................16 BAB III Penutup A. Kesimpulan ..........................................................................19 B. Saran ……………………………………………………….19 Daftar Pustaka ……………………………………………………….. 20
  • 4.
  • 5.
    1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur mikroba patogen, misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Mikroba dapat hidup ekstraseluler, melepas enzim dan menggunakan makanan yang banyak mengandung gizi yang diperlukannya. Mikroba lain menginfeksi sel pejamu dan berkembang biak intraseluler dengan menggunakan sumber energi sel pejamu. Baik mikroba ekstraseluler maupun intraseluler dapat menginfeksi subyek lain, menimbulkan penyakit dan kematian, tetapi banyak juga yang tidak berbahaya bahkan berguna untuk pejamu. Infeksi yang terjadi pada manusia normal umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia memiliki suatu sistem yaitu sistem imun yang melindungi tubuh terhadap unsur-unsur patogen. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, melindungi tubuh dari infeksi bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit serta menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel yang sehat dan jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa. Sistem imun yang sehat adalah jika dalam tubuh bisa membedakan antara diri sendiri dan benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Biasanya ketika ada benda asing yang memicu respons imun masuk ke dalam tubuh (antigen) dikenali maka terjadilah proses pertahanan diri. Sistem imun merupakan suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit ataupun racun yang masuk ke dalam tubuh yang disebut antigen. Namun, banyak diantara kita yang kurang memiliki pengetahuan mengenai antigen, bagian antigen, contoh-contoh antigen, klasifikasi antigen,
  • 6.
    2 karakteristik dan sifatdari antigen, serta mekanisme masuknya antigen dalam tubuh. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diambil beberapa rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa itu sistem imun spesifik dalam tubu manusia ? 2. Apa itu konsep antigen (Ag) ? 3. Apa itu konsep antibodi (Ab) ? C. Tujuan 1. Mengetahui apa itu sistem imun spesifik dalam tubuh manusia 2. Mengetahui konsep antigen (Ag) 3. Mengetahui konsep antibodi (Ab)
  • 7.
    3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.Sistem Imun Spesifik 1. Pengertian Sistem Imun Spesifik Sistem imun spesifik ialah sistem pertahanan tubuh kedua ketika sistem imun non spesifik tidak dapat mengeliminasi agen penyakit. Hal ini terjadi apabila fagosit tidak mengenali agen infeksius karena hanya sedikit reseptor yang cocok untuk agen infeksius atau agen tidak bertindak sebagai faktor antigen terlarut (soluble antigen) yang aktif. Sehingga diperlukan molekul spesifik yang akan berikatan langsung dengan agen infeksius yang dikenali oleh antibodi untuk selanjutnya terjadi fagositosis (Andika, 2020) Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama kali terpajan dengan tubuh segera dikenal oleh sistem imun spesifik. Pajanan tersebut menimbulkan sensitifitatasi, sehingga antigen yang sama dan masuk tubuh untuk kedua kali akan dikenal lebih cepat dan kemudian dihancurkan. Oleh karena itu, sistem tersebut disebut spesifik. Untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi tubuh, sistem imun spesifik dapat bekerja tanpa bantuan sistem imun nonspesifik. Namun pada umumnya terjalin kerjasama yang baik antara sistem imun nonspesifik dan spesifik seperti antara komplemen-fagosit-antibodi dan antara makrofag dengan sel T (Baratawidjaja dan Rengganis, 2010). 2. Karakteristik Respon Imun Spesifik/Adaptif Respon imun spesifik/adaptif berbeda dengan respon imun non spesifik/non adptif. Karakteristiknya berbeda dengan respon imun non spesifik. Karakteristik dari respon imun spesifik adalah baru terbentuk jika terjadi infeksi dari patogen, sifat responnya spesifik untuk setiap
  • 8.
    4 infeksi (mis. Infeksipolio akan menghasilkan respon imun spesifik terhadap virus polio saja, tidak terhadap patogen lain), jangka waktu responnya juga lama bahkan ada yang bertahan seumur hidup, terdapat mekanisme memori sehingga apabila terjadi infeksi dari patogen yang sama respon imun yang dihasilkan lebih cepat dan adekuat. Meskipun demikian, respon imun spesifik dan non spesifik akan bekerja sama dalam mengeliminasi patogen di dalam tubuh 3. Komponen Respon Imun Spesifik/Adaptif Komponen respon imun spesifik ada 2, yaitu system imun spesifik humoral dan system imun spesifik seluler. a) Sistem Imun Spesifik Humoral Limfosit B atau sel B berperan dalam sistem imun spesifik humoral. Sel B tersebut berasal dari sel asal multipoten. Pada unggas sel asal tersebut akan berdiferensiasi menjadi sel B di dalam alat yang disebut Bursa Fabricius yang terletak dekat kloaka. Bila sel B dirangsang oleh benda asing, maka sel tersebut akan berproliferasi dan berkembang menjadi sel plasma yang dapat membentuk zat antibodi. Antibodi yang dilepas dapat ditemukan di dalam serum. Fungsi utama antibodi ini ialah untuk pertahanan terhadap infeksi virus, bakteri (ekstraselular), dan dapat menetralkan toksinnya. Sel B merupakan asal dari sel plasma yang membentuk imunoglobulin (Ig) yang terdiri atas IgG, IgM, IgA, IgE dan IgD. IgD berfungsi sebagai opsonin, dapat mengaglutinasikan kuman/virus, menetralisir toksin dan virus, mengaktifkan komplemen (jalur klasik) dan berperanan pada Antibody Dependent Cellular Cytotoxicity (ADCC). ADCC tidak hanya merusak sel tunggal tetapi juga mikroorganisme multiselular seperti telur skistosoma, kanker, penolakan transplan, sedang ADCC melalui neutrofil dan eosinofil berperan pada imunitas
  • 9.
    5 parasit. IgM dibentukterdahulu pada respons imun primer sehingga kadar IgM yang tinggi menunjukkan adanya infeksi dini. IgM merupakan aglutinator antigen serta aktivator komplemen (jalur klasik) yang poten. IgA ditemukan sedikit dalam sekresi saluran napas, cerna dan kemih, air mata, keringat, ludah dan air susu ibu dalam bentuk IgA sekretori (sIgA). IgA dan sIgA dapat menetralisir toksin, virus, mengaglutinasikan kuman dan mengaktifkan komplemen (jalur alternatif). IgE berperanan pada alergi, infeksi cacing, skistosomiasis, penyakit hidatid, trikinosis. Peranan IgD belum banyak diketahui dan diduga mempunyai efek antibodi pada alergi makanan dan autoantigen. Sel B mengenali epitop pada permukaan antigen dengan menggunakan molekul antibodi. Jika dirangsang melalui kontak langsung, sel B berproliferasi, dan klon yang dihasilkan dapat mengeluarkan antibodi yang spesifisitas adalah sama dengan reseptor permukaan sel yang mengikat epitop tersebut. Tanggapan biasanya melibatkan klon yang berbeda dari limfosit dan oleh karena itu disebut sebagai poliklonal. Untuk setiap epitop terdapat beberapa klon limfosit yang berbeda dengan berbagai sel B reseptor, yang masing-masing mengenali epitop dengan cara yang sedikit berbeda dan dengan kekuatan mengikat yang berbeda pula (afinitas). b) Sistem Imun Spesifik Seluler Imunitas seluler ditengahi oleh sekelompok limfosit yang berdiferensiasi di bawah pengaruh timus (Thymus), sehingga diberi nama sel T. Cabang efektor imunitas spesifik ini dilaksanakan langsung oleh limfosit yang tersensitisasi spesifik atau oleh produk-produk sel spesifik yang dibentuk pada interaksi antara imunogen dengan limfosit-limfosit tersensitisasi spesifik. Produk-produk sel spesifikasi ini ialah limfokin-limfokin termasuk
  • 10.
    6 penghambat migrasi (migrationinhibition factor = MIF), sitotoksin, interferon dan lain sebagainya yang menjadi efektor molekul-molekul dari imunitas seluler (Desti, 2019). Sel T merupakan 65-80% dari semua limfosit dalam sirkulasi. Kebanyakan sel T mempunyai 3 glikoprotein permukaan yang dapat diketahui dengan antibodi monoklonal T11, T1 dan T3 (singkatan T berasal dari Ortho yang membuat antibodi tersebut) Fungsi sel T umumnya ialah: 1) Membantu sel B dalam memproduksi antibodi 2) Mengenal dan menghancurkan sel yang diinfeksi virus 3) Mengaktifkan makrofag dalam fagositosis 4) Mengontrol ambang dan kualitas sistem imun Pada tubuh ditemui beberapa jenis sel T, yaitu T”helper” atau Th; T”inducer”, T”delayed hypersensitivity” atau Td, T”cytotoxic” atau Tc dan T”supressor” atau Ts. T”helper” atau Th membantu sel B dalam pembuatan “antibodi”. Untuk membuat antibodi terhadap kebanyakan antigen, baik sel B maupun sel T harus mampu mengenali kembali bagian-bagian tertentu dari antigennya. Th bekerja sama juga dengan Tc dalam pengenalan kembali sel-sel yang dilanda infeksi viral dan jaringan cangkokan alogenik. Th membuat dan melepaskan limfokin yang diperlukan untuk menggalakkan makrofag dan tipe sel lainnya. T”inducer” adalah istilah yang digunakan untuk Th yang sedang menggalakkan jenis sel T lainnya. T”delayed hypersensitivity” atau Td adalah sel T yang bertanggungjawab atas pengarahan makrofag dan sel-sel inflamasi lainnya ke tempat-tempat dimana terjadi reaksi hipersensitivitas yang terlambat. Mungkin sekali Td bukan suatu sub jenis sel T melainkan kelompok Th yang sangat aktif. T”citotoxic” atau Tc adalah sel T yang bertugas memusnahkan sel atau jaringan cangkokan alogenik dan sel-sel yang dilanda infeksi
  • 11.
    7 viral, yang dikenalikembali dalam interaksi dengan berbagai antigen dalam MHC molekul pada permukaaan sel tujuannya. T”supressor” atau Ts mengatur kegiatan sel T lain dan sel B. Sel tersebut dapat dikelompokkan dalam 2 golongan , yaitu Tc yang dapat menekan aktivitas sel yang memiliki reseptor antigen spesifik atau yang non-spesifik. B. Antigen (Ag) 1. Pengertian Antigen Antigen adalah suatu zat asing terhadap inang yang mula-mula dihadapi oleh faktor-faktor alamiah diikuti oleh pengaktifan HI atau CMI. Zat ini terikat pada reseptor permukaan antigen spesifik koloni sel-sel-T atau sel-sel-B. Antigen merupakan substansi atau molekul yang dapat merangsang pembentukan antibodi. Namun, kini antigen didefinisikan sebagai substansi yang mampu bereaksi dengan antibodi yang diproduksi oleh sel B atas rangsangan imunogen, tanpa mempertimbangkan apakah antigen bersifat imunogenik. Ini artinya semua imunogen adalah antigen, namun tidak semua antigen adalah imunogen. Imunogen memiliki kemampuan dalam menginduksi respon imun dengan bantuan sel T. Tidak semua bagian dari antigen dapat berinteraksi dengan molekul sistem imun. Bagian dari antigen yang dapat berikatan dengan antibodi atau dengan reseptor spesifik pada limfosit T disebut epitop. Ini menandakan bahwa antigen mempunyai beberapa epitop. Sedangkan hapten merupakan molekul organik kecil yang mampu mengikat bagian reseptor antigen (Andik, 2020).
  • 12.
    8 2. Klasifikasi danContoh-contoh Antigen a. Klasifikasi Antigen 1) Pembagian antigen menurut epitop : a) Unideterminan, univalent : hanya satu jenis determinan/epitope pada satu molekul. b) Unideterminan, multivalen : hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut pada satu molekul. c) Multideterminan, univalen : banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap macamnya (kebanyakan protein). d) Multideterminan, multivalen : banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu molekul. 2) Pembagian antigen menurut spesitisitas : a) Heteroantinogen, yang dimiliki oleh banyak spesies b) Xenoantinogen, yang hanya dimiliki oleh banyak spesies tertentu. c) Aloantinogen, yang spesifik untuk individu dalam satu spesies d) Antigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ tertentu. e) Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri 3) Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T: a) T dependen, yang memerlukan pengenalan sel T terlebih dahulu untuk dapat menimbulkan respon antibodi. b) T independen, yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk membentuk antibodi.
  • 13.
    9 4) Cara masukdalam tubuh : a) Melalui pembuluh darah (jarum suntik) b) Makanan c) Berhubungan badan b. Contoh Antigen 1) Bakteri Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan makhluk hidup yang lain. Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada tempat-tempat yang ekstrim. Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada juga yang merugikan. Bakteri adalah organisme uniseluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik. 2) Virus Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota. Virus bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. 3) Sel darah yang asing Sel darah yang asing dapat diperoleh dari pendonoran darah. Transfusi darah merupakan jenis transplantasi yang paling sering dilakukan. Dan apabila darah yang masuk ke dalam tubuh resipien tidak kompatibel maka tubuh akan mengenalinya sebagai antigen.
  • 14.
    10 4) Sel-sel daritransplantasi organ Transplantasi adalah pemindahan sel, jaringan maupun organ hidup dari seseorang kepada orang lain dengan tujuan mengembalikan fungsi yang telah hilang. Namun sel-sel tersebut dapat menjadi antigen ketika sel tidak cocok dengan tubuh resipien. 5) Toksin Toksin adalah segala bentuk zat yang memiliki efek destruktif bagi fungsi sel dan struktur sel tubuh. Beberapa jenis toksin bersifat fatal, dan beberapa jenis lain bersifat lebih ringan. 3. Karakteristik Antigen Karakteristik antigen meliputi bentuk, ukuran, rigiditas, lokasi determinan dan struktur tersier. 1) Ukuran, antigen lengkap (imunogen) biasanya mempunyai berat molekul yang besar. Tetapi molekul kecil dapat bergabung dengan protein inang sehingga dapat bersifat imunogen dengan membentuk kompleks kecil (hapten) dan protein inang (carrier). 2) Bentuk, bentuk determinan sangat penting sebagai komponen utama, seperti DNP dalam DNP-L-lisin yang memberi bentuk molekul yang tidak dapat ditemukan dalam homolog primer. 3) Rigiditas, Gelatin yang mempunyai berat molekul yang sangat besar, hampir semuanya non imunogenik. Kespesifitasnya dari produksi antigen secara langsung diangkut ke gelatin. 4) Lokasi determinan, bagian protein yang terdenaturasi mengindikasikan determinan antigen yang penting yang dapat dimasukkan oleh molekul besar. 5) Struktur tersier, struktur tersier dari protein penting dalam mendeterminasi kespesifikasan dari respon suatu antibodi. Produksi antibodi rantai A dari insulin tidak bereaksi dengan molekul alami. Reduksi dan reoksidasi dari ribonuklease di bawah
  • 15.
    11 kondisi kontrol diproduksidari campuran molekul protein yang berbeda hanya dalam struktur tiga dimensi. Jika katabolisme terjadi, struktur tersier dari imunogen akan dihancurkan. 4. Sifat-sifat Antigen Antigen memiliki beberapa sifat-sifat yang khas sebagai berikut : 1) Keasingan Kebutuhan utama dan pertama suatu molekul untuk memenuhi syarat sebagai imunogen adalah bahwa zat tersebut secara genetik asing terhadap hospes. 2) Sifat-sifat Fisik Agar suatu zat dapat menjadi imunogen, ia harus mempunyai ukuran minimum tertentu, yaitu mempunyai berat molekul >40.000 dalton, respon terhadap hospes minimal, umumnya berupa protein asing, alergen bersifat stabil (tahan bila dipanaskan, sukar dipecahkan), mampu merangsang terbentuknya AB serta antigen poten alamiahnya berupa makromolekul dan kompleks polisakarida, serta fungsi zat tersebut sebagai hapten sesudah bergabung dengan protein- protein jaringan. Hapten dapat merangsang terjadinya respon imun yang kuat jika bergabung proten pembawa dengan ukuran sesuai. 3) Kompleksitas Faktor-faktor yang mempengaruhi kompleksitas imunogen meliputi sifat fisik dan kimia molekul. 4) Bentuk-bentuk (Conformation) Tidak adanya bentuk dari molekul tertentu yang imunogen. Polipeptid linear atau bercabang, karbohidrat linear atau bercabang, serta protein globular, semuanya mampu merangsang terjadinya respon imun.
  • 16.
    12 5) Muatan (Charge) Imunogenitastidak terbatas pada molekuler tertentu, zat-zat yang bermuatan positif, negatif, dan netral dapat imunogen. Namun demikian imunogen tanpa muatan akan memunculkan antibodi yang tanpa kekuatan. 6) Kemampuan Masuk Kemampuan masuk suatu kelompok determinan pada sistem pengenalan akan menentukan hasil respon imun. 5. Mekanisme Masuknya Antigen dalam Tubuh Dalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekul kecil yang bisa masuk ke dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa menjadi antigen bila dia melekat pada protein tubuh kita. Substansi kecil yang bisa berubah menjadi antigen tersebut dikenal dengan istilah hapten. Substansi-substansi tersebut lolos dari barier respon non spesifik (eksternal maupun internal), kemudian substansi tersebut masuk dan berikatan dengan sel limfosit B yang akan mensintesis pembentukan antibodi. Contoh hapten diantaranya adalah toksin poison ivy, berbagai macam obat (seperti penisilin), dan zat kimia lainya yang dapat membawa efek alergik. Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan dengan reseptor sel limfosit B. Pengikatan tersebut menyebabkan sel limfosit B berdiferensiasi menjadi sel plasma. Sel plasma kemudian akan membentuk antibodi yang mampu berikatan dengan antigen yang merangsang pembentukan antibodi itu sendiri. Tempat melekatnya antibodi pada antigen disebut epitop, sedangkan tempat melekatnya antigen pada antibodi disebut variabel.
  • 17.
    13 Terdapat berbagai kategoriInteraksi antigen-antibodi, kategori tersebut antara lain: 1) Primer Interaksi tingkat primer adalah saat kejadian awal terikatnya antigen dengan antibodi pada situs identik yang kecil, bernama epitop. 2) Sekunder Interaksi tingkat sekunder terdiri atas beberapa jenis interaksi, di antaranya: a. Netralisasi Netralisasi adalah jika antibodi secara fisik dapat menghalangi sebagian antigen menimbulkan effect yang merugikan. Contohnya adalah dengan mengikat toksin bakteri, antibody mencegah zat kimia ini berinteraksi dengan sel yang rentan. b. Aglutinasi Aglutinasi adalah jika sel-sel asing yang masuk, misalnya bakteri atau transfusi darah yang tidak cocok berikatan bersama-sama membentuk gumpalan c. Presipitasi Presipitasi adalah jika komplek antigen-antibodi yang terbentuk berukuran terlalu besar, sehingga tidak dapat bertahan untuk terus berada di larutan dan akhirnya mengendap. d. Fagositosis Fagositosis adalah jika bagian ekor antibodi yang berikatan dengan antigen mampu mengikat reseptor fagosit (sel penghancur) sehingga memudahkan fagositosis korban yang mengandung antigen tersebut. e. Sitotoksis Sitotoksis adalah saat pengikatan antibodi ke antigen juga menginduksi serangan sel pembawa antigen oleh killer cell
  • 18.
    14 (sel K). SelK serupa dengan natural killer cell kecuali bahwa sel K mensyaratkan sel sasaran dilapisi oleh antibodi sebelum dapat dihancurkan melalui proses lisis membran plasmanya. 3) Tersier Interaksi tingkat tersier adalah munculnya tanda-tanda biologik dari interaksi antigen-antibodi yang dapat berguna atau merusak bagi penderitanya. Pengaruh menguntungkan yaitu aglutinasi bakteri, lisis bakteri, immnunitas mikroba,dan lain-lain. Sedangkan pengaruh merusak antara lain: edema, reaksi sitolitik berat, dan defisiensi yang menyebabkan kerentanan terhadap infeksi. 6. Antigen dalam Bidang Kesehatan Pengetahuan tentang antigen, imunogenitas, imunogen, dan epitop sangat penting dalam aplikasi klinik, khususnya untuk imunisasi dengan tujuan pencegahan terhadap penyakit-penyakit infeksi tertentu. Pengetahuan mengenai antigen juga dimanfaatkan untuk membuat vaksin. 1) Vaksin Bakteri a. Diphteria, Pertussis dan Tetanus (DPT) DPT merupakan vaksin polivalen yang mengandung toksoid dari Corynebacterium diphteriae dan Closteridium tetani dengan dibubuhi bakteri Bordetella pertussis (penyebab batuk rejang) yang telah dimatikan. Toksoid adalah toksin yang telah dihilangkan toksisitasnya, tetapi masih bersifat sebagai imunogen. b. Haemophilus influenzae tibe b (Hib) Vaksin ini terdiri atas polisakarida berasal dari Haemophilus influenzae tipe b yang dikonjugasikan dengan toksoid atau protein membran luar dari meningococus yang digunakan untuk mencegah meningitis (radang selaput otak) oleh Haemophilus influenzae. Tetapi karbohidrat yang dimurnikan
  • 19.
    15 tersebut kurang imunogenikpada anak-anak berumur dibawah 2 tahun. Polisakarida tersebut hanya akan memiliki imunogenisitas jika secara kimiawi dikaitkan dengan molekul protein sebagai carrier. c. Neiseria meniitis Vaksin ini digunakan untuk mencegah penyakit meningitis. Vaksin ini terdiri atas karbohidrat yang berasal dari kapsul meningococcus dari galur A, C, Y dan W-135. d. Polisakharida pneumococcus Vaksin ini dipersiapkan dari kapsul polisakharida dari 23 tipe antigenik Streptococcus pmeumoniae. Vaksin ini akan dilindungi terhadap 90 % galur pneumococcus yang menyerang manusia. e. Baccili Calmette-Guerin (BCG) Vaksin ini mengandung bakteri hidup yang telah dilemahkan dari galur Mycobacterium bovis yang digunakan untuk melindungi terhadap infeksi tbc manusia. 2) Vaksin virus a. Rubella Vaksin rubella mengandung virus hidup yang telah dilemahkan yang dibiakkan dalam jaringan hewan atau sel-sel diploid manusia. b. Virus influenza Mengandung virus influenza tipe A dan B secara utuh yang dibiakkan dalam embrio ayam dan dinonaktifkan dengan formalin. c. Hepatitis B Vaksin hepatitis B terdiri dari partikel antigen permukaan virus hepatitis B (HbsAg) yang diperoleh dari plasma manusia penyandang carrier.
  • 20.
    16 d. Varicella Vaksin varicelladigunakan untuk mencegah terhadap infeksi cacar air. e. Hepatitis A Vaksin yang mengandung virus hepatitis A yang dinonaktifkan. f. Rabies Vaksin rabies tersedia dalam dua bentuk : a) Virus rabies yang telah dimatikan untuk vaksinisasi manusia b) Virus rabies hidup yang dilemahkan untuk vaksinisasi hewan piaraan. C. Antibodi (Ab) a) Pengertian Antibodi Antibodi (imunoglobulin) adalah molekul yang disintesis oleh sel B / sel plasma (bentuk soluble dari reseptor antigen pada sel B). Membran imunoglobulin merupakan reseptor antigen pada permukaan sel B. Secara fungsional antibodi adalah molekul yang dapat bereaksi dengan antigen.Sedangkan paratop adalah bagian antibodi yang bereaksi dengan antigen. Antibodi mempunyai struktur dasar yang sama, terdiri atas fragmen Fab (yang mengikat antigen) dan Fc yang berinteraksi dengan unsur-unsur lain dari sistem imun yang mempunyai reseptor Fc. Berbentuk huruf Y, tersusun atas 2 rantai berat (heavy chain) dan 2 rantai ringan (light chain) yang dihubungkan dengan jembatan disulfida (S-S). Heavy chain mempunyai berat molekul 50.000 dalton sedangkan light chain mepunyai berat molekul 25.000 dalton.
  • 21.
    17 b) Sturuktur Antibodi Antiboditerdiri dari unit efektor dan unit pengikatan yang berbeda. Dalam suatu penelitian mengenai Imunoglobulin G yang merupakan antibodi utama dalam serum dipecah menjadi fragmen-fragmen yang tetap mempunyai. Pada tahun 1959 Rodney Porter menunjukkan bahwa immunoglobulin G dapat dipecah menjadi tiga fragmen aktif yaitu 2 Fab dan 1 Fc. Dua diantara fragmen di atas mengikat antigen. Keduanya disebut Fab (ab singkatan untuk pengikatan antigen atau “antigen binding”, F untuk fragmen). Tiap Fab mengandung satu situs pengikatan untuk antigen. Fragmen I lainnya yaitu Fc yang tidak mengikat antigen tetapi dapat berfungsi sebagai efektor. Selanjutnya, pada struktur antibodi terdapat dua rantai ringan ( light chain) dan dua rantai berat (heavy chain). Tiap rantai L (ringan) terikat pada rantai berat (H) dengan suatu ikatan disulfida dan ratai H saling berikatan dengan paling sedikit satu ikatan disulfida. Panjang rantai H yang mengandung 446 residu asam amino, kira-kira dua kali panjang rantai L. Analisis menunjukkan bahwa semua perbedaan urutan asam amino terdapat pada 108 residu di ujung amino terminal. Jadi rantai panjang, seperti juga rantai pendek, terdiri dari bagian yang variabel dan bagian yang konstan. Bagian variabel pada rantai panjang mempunyai panjang yang sama dengan yang di rantai pendek, sedang bagian yang konstan kira-kira tiga kali panjang bagian konstan pada rantai pendek (Stryer, 2000, ). c) Jenis-jenis Antibodi Ada 5 jenis antibodi yaitu Ig M; Ig G; Ig A; Ig D dan Ig E. Antibodi dapat di treatment oleh enzim papain dan pepsin. Jika antibodi di treatment oleh enzim papain maka akan pecah menjadi 2 Fab dan Fc, sedangkan jika di treatment oleh enzim pepsin maka akan pecah menjadi F(ab’)2 dan fragmen minor.
  • 22.
    18 Berikut adalah jenis-jenisdari antibody : 1. IgM a) Antibody yang pertama terbentuk setelah bertemu antigen b) 4-5 hari setelah terpapar c) Jumlah banyak d) Berkurang dan lenyap : 10-11 hari setelah terpapar 2. IgG a) Merupakan tulang punggung system kebal humoral b) Timbul setelah dan lebih terkecil dari IgM c) Dibentuk 5 hari setelah terpapar d) Mencapai puncak 2-3 minggu setelah terpapar, kemudian turun secra perlahan e) Serum diambil 2-3 minggu setelah vaksin / setelah proses penyembuhan karena infeksi alam guna mengetahui titer antibody 3. IgA a) Timbul bersamaan dengan IgG b) Terdapat 2 bentuk c) Bentuk dalam serum, 1 tempat pengikat antigen d) Bentuk sekretori, terdapat di mata, saluran pernafasan, saluran pencernaan, e) Dihasilkan oleh sel mukosa f) Hanya sedikit memberikan perlindungan terhadap antigen yang masuk secara intra muskuler atau intravena g) Perlindungan yang besar terhadap antigen yang masuk melalui saluran pencernaan dan pernapasan 4. IgD a) Fungsi utamanya adalah reseptor antigen atau dengan kata lain sebagai pengenalan antigen oleh sel B 5. IgE a) Berperan dalam pristiwa alergi
  • 23.
    19 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Sistemimun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Jika sistem ini terlalu aktif akan terjadi autoimunitas seperti alergi atau hipersensitivitas. Sistem imun non-spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, karena dapat memberikan respon langsung terhadap antigen sedangkan sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama kali terpajan dengan tubuh segera dikenal oleh sistem imun spesifik. Pajanan tersebut menimbulkan sensitifitatasi, sehingga antigen yang sama dan masuk tubuh untuk kedua kali akan dikenal lebih cepat dan kemudian dihancurkan. B. Saran Setelah mengetahui teori dasar tentang imunologi, sistem imun non spesifik dan sistem imun spesifik, kita diharapkan mampu meningkatkan atau mempertahankan kekebalan tubuh kita dengan menjalankan gaya hidup yang sehat agar terhindar dari berbagai macam infeksi.
  • 24.
    20 DAFTAR PUSTAKA Abbas, A.K.,Lichtman, A.H., and Pillai, S. (2018). Cellular and molecular immunology. Philadelphia: Elsevier. Baratawidjaja, Karnen Garna. 2010. Imunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedoketeran Universitas Indonesia Sudiono, J. (2014). Sistem kekebalan tubuh. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Subowo. 2009. Imunobiologi. Jakarta : Sagung Seto. Suryawidjaja, Julius. 2011. Buku Saku Imunologi. Jakarta : Binarupa Aksara Publisher Wahid, S., dan Miskad, U.A. (2016). Imunologi: lebih mudah dipahami. Surabaya: Brilian Internasional.