PENGALAMAN MEMBANGUN HUTAN
TANAMAN MERANTI
PT. SARI BUMI KUSUMA
KALIMANTAN TENGAH
Tanaman Jalur dan Tegakan Tinggal di foto dari udara
NO TAHUN
ASAL DAN JUMLAH PRODUKSI
TOTAL
RKT HUTAN
ALAM
HUTAN
TANAMAN
IPK
1.
2.
3.
4.
5.
1998/1999
1999/2000
2000*)
2001
2002
10.179.406
10.373.932
3.450.430
1.809.099
3.019.839
2.791.363
2.974.101
5.783.514
5.918.766
4.933.756
6.056.173
7.271.907
4.564.591
2.323.614
182.708
19.026.942
20.619.940
13.798.535
10.051.479
8.136.303
JUMLAH 28.832.706 22.401.500 20.302.993 71.633.199
Sumber : Ditjen BPK Tahun 2002 dan Statistik Kehutanan Indonesia 2002
Keterangan : *) Produksi mulai April s/d Desember
Prediksi kebutuhan kayu bulat tahun 2004 untuk plywood,
wood working, furniture dan pulp & paper menurut BPK
(Kebijakan Restrukturisasi Industri Kehutanan, 2003) adalah
42,3 juta m3, yang akan diupayakan dipenuhi dari :
a. Hutan alam produksi = 5,7 juta m3
b. Perhutani = 0,7 juta m3
c. HTI = 15,6 juta m3
d. Hutan Rakyat = 10,7 juta m3
e. Kebun = 7,5 juta m3
f. Import = 2,0 juta m3
Jumlah = 42,3 juta m3
Keterangan :
 : Adalah titik tanam dengan jarak dalam jalur 5 m dan jarak antara
jalurnya 25 m
a – b : Adalah jalur bersih dan bebas naungan dengan lebar 3 meter
c – d : Adalah jalur antara dengan lebar 22 meter
Limit diameter tebang pada jalur antara 45 cm
Jalur bebas naungan secara bertahap diperlebar sesuai dengan perkembangan
tanaman maksimal 10 meter
Jalur Bersih Dan
Bebas Naungan
3 m
a b
Jalur Bersih Dan
Bebas Naungan
3 m
a b
c d
5
m
5
m
22 m
Sketsa Teknis Penerapan Sistem TPTJ di PT. SBK Kalteng
Kelebihan Sistem TPTJ
1. Produksi kayu per hektar lebih tinggi, batas limit diameter diturunkan sampai 40 Cm.
2. Dengan penurunan limit diameter kayu yang ditebang menciptakan ruang tumbuh
(tapak lahan) yang memungkinkan ditanamnya pohon-pohon meranti secara intensif
dengan sistem jalur.
3. Areal-areal bekas tebangan TPTI dapat dibudidayakan tanpa menunggu 35 tahun.
4. Pembangunan tanaman meranti dapat dilakukan secara intensif dan mudah
diperiksa.
5. Penyerapan tenaga-tenaga profesional kehutanan dan tenaga kerja lainnya 100%
lebih tinggi.
6. Multiplier effect terhadap aspek ekonomi meningkat.
7. Membuka peluang terjaganya areal-areal bekas tebangan yang sudah ditanami dari
perladangan berpindah dan perambahan hutan. Karena secara hukum adat areal-
areal yang ditanamai dan ada pemiliknya akan dihormati.
Kelemahan Sistem TPTJ
1. Tingkat keterbukaan tajuk dan kerusakan tanah pada tahap awal menjadi lebih besar,
tetapi pada tahap berikutnya akan tertutup kembali dengan pohon-pohon yang
ditanam. (lihat foto-foto)
2. Terjadi perubahan struktur dan komposisi jenis penyusun tegakan, Karena ada
simplikasi jenis pada jalur-jalur tanam. Tetapi pada jalur antara tetap dipertahankan
sebagai hutan alam.
Perkembangan tanaman Kelompok Meranti (Shorea sp.) umur 15 tahun (ditanam th. 1987)
pada areal bekas tebang pilih dari jumlah tanaman awal 660/ph/ha x 3 ha = 1.980 ph
No Kondisi Tanaman
Tanaman yg hidup Diameter (cm) Tinggi Total (m)
Jumlah % Rerata Riap Rerata Riap
1. Kelompok I
Tajuk tertutup oleh
Permudaan alam
298 55,8 12,8 0,85 16,1 1,07
2. Kelompok II;
Tajuk tanaman setengah
Permudaan alam
224 41,9 20,6 1,37 21,3 1,42
3. Kelompok III;
Tajuk tanaman terbuka
Penuh
12 2,3 26,1 1,74 23,6 1,57
Jumlah/Rata-rata 534 27,0 19,8 1,32 20,33 1,35
Keterangan : Ruang tumbuh yang diciptakan oleh sistem TPTI dengan limit 60 Cm ternyata tidak
memadai untuk pertumbuhan tanaman meranti yang optimal, disamping itu 73%
tanaman mati karena pertumbuhannya tertekan
Grafik Perkembangan Riap Diameter Tanaman Kelompok Meranti Pada
Uji Coba Tanaman Jalur Bekas TPTI s/d Umur 15 tahun
0.95
1.00
0.95
0.97
0.97
0.88
0.88
0.84
1.27
1.37
1.38
1.41
1.44
1.38
1.41
1.37
1.27
1.46
1.58
1.64
1.69
1.69
1.74
1.74
0.84
1.12
0.70
0.00
0.50
1.00
1.50
2.00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Umur (tahun)
Riap
Diameter/tahun
(cm)
Kelompok I Kelompok II Kelompok III
L
Lampiran 1
PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN MERANTI
Dipterocarpaceae Asal biji & cabutan
Pengadaan Bibit
Persemaian permanen & Semi Permanen
Metode Generatif
~ Bibit asal Biji dan Cabutan
MetodeVegetatif
~ Stek Pucuk
~ Stek Batang
Pada musim buah, biji 50%
cabutann 30%,sedangkan pada
saat tidak berbuah, cabutan
70% dan sisanya stek.
Jenis yang diusahakan pada
awalnya ada 10 jenis Shorea.
Saat ini Bibit yang diadakan
lebih dari 90%nya jenis Shorea
leprosula, Shorea johorensis
dan Shorea farvifolia.
Prosen jadi rata-rata bibit:
Biji 98%, Cabutan 70%,
Stek Meranti 64% dan
Stek Sungkai 71%.
GRAFIK PROSENTASE
JENIS BIBIT DIPTEROCARPACEAE
YANG DITANAM
BAGAN ALUR
PENGADAAN BIBIT
BIJI
BIJI/BENIH
DIALAM ,TB
- SELEKSI
- BUANG SAYAP
CABUT BIJI
DIALAM ,TB
- SELEKSI
- PANGKAS DAUN &
AKAR
- PERENDAM AN
- HORM ON
- ROOT ONE F
STEK
PUCUK
- KEBUN PANGKAS
- M ASA RESTING
- OTOTROP
- PANGKAS DAUN
-
FUNGISIDA,BAKTERISIDA
- HORM ON
STEK
BATAN
G
- POHON INDUK
- PENGAM BILAN
BATANG
- PEM OTONGAN
BATANG
SEPANJANG 2 RUAS
- PENYELEKSIAN
- PERENDAM AN
- HORM ON
- ROOT ONE F
PENANAM AN
DI POLYBAG
- M EDIA TUM BUH
- M IKORIZA
- PENYUNGKUPAN
- INTENSITAS CAHAYA
(NAUNGAN 50%
)
- PENYIRAM AN
- 2 BULAN
BAK
STEK
- STERIL
- PASIR
- SUHU, KELEM BABAN,
CAHAYA
DIKENDALIKAN
- 2 BULAN
PENANAM AN
DI POLYBAG
- M EDIA
TUM BUH
- PENANAM AN
PENANAM AN
DI POLYBAG
- M EDIA TUM BUH
- M IKORIZA
- PENYUNGKUPAN
- INTENSITAS CAHAYA
(NAUNGAN 75%
)
- 2 BULAN
PEM ELIHARAAN - PENYELEKSIAN
- PENYUSUNAN
(PERENGGANGAN
& SAM A TINGGI)
- PENYIRAM AN
- PEM UPUKAN
-
PENANGGULANGAN
HAM A, PENYAKIT &
GULM A
- 6 BULAN
PRAKONDISI
DGN ALAM &
PENANAM AN
I. TANPA SUNGKUP
- INTENSITAS CAHAYA
(NAUNGAN 50%
)
- PENYIRAM AN
- B(3), C(2), S(2)
- INTENSITAS CAHAYA
(NAUNGAN 25%
)
- PENYIRAM AN
- PEM UPUKAN
- PENANGGULANGAN HAM A &
PENYAKIT
- B(3), C(2), S(2)
BIBIT SIAP TANAM
CABUTAN STEK
REALISASI
PENGADAAN BIBIT
TAHUNRKT PENGADAAN BIBIT (BTG)
1999/2000 402.439
2000 335.545
2001 492.829
2002 481.133
2003 472.611
TOTAL 2.184.557
Biayabibitperbatang
Cabutan,BijidanStekSungkai : Rp.2.003
StekMeranti : Rp.5.875
BiayaRata-rata : Rp.3.166
BiayaOprasionalbelumtermasukbiayaPenyusutan,
Pengawas,Saranadanprasaranadanoverheadcostlainnya.
Shorea parvifolia
Shorea leprosula
Shorea johorensis
PENYIAPAN LAHAN
1. Pembuatan jalur bersih lebar 3 meter, jarak antar jalur 25 meter.
Pembuatan jalur bersih dikerjakan secara manual.
2. Pemasangan ajir, jarak antar ajir 5 meter atau 2,5 meter, ajir dibuat dari
kayu keras diameter 5 - 7 Cm.
3. Pembuatan lubang tanam, ukuran lubang lebar x panjang x dalam,
30cm x 30cm x 30cm.
4. Penimbunan lubang tanam, lubang tanam diisi dengan top soil yang
diambil dari sekitar pohon induk yang cukup mengadung mikoriza.
5. Pembebasan naungan, kegiatan ini dikerjakan secara semi mekanis
dengan menggunakn Chain Saw, yaitu dengan menebang pohon-pohon
yang menaungi jalur tanam.
6. Dalam penyiapan lahan baik manual maupun semi mekanis apabila
didalam jalur bersih ditemukan anakan alam, permudaan jenis komersil
dan pohon yang dilindungai tetap dipertahankan dan dipelihara
PENANAMAN
 PENGANGKUTAN BIBIT
 PENGECERAN
 PENANAMAN
 PEMULSAAN
Lay out Regu Penyiapan Lahan
Keterangan :
A : Perintis
B : Penebas
C : Pengompas A A
D : P. Piringan
E : P. Lubang B B
C
P : Pengawas P
D
E
Lay out Regu Penanaman
Keterangan :
A
A : Pengecer Bibit A
B : Penanam A
P : Pengawas A
P
B
B
B
A. SEBELUM DIBERSIHKAN B. JALUR BERSIH
1 1
a
2 2
3 3
4 4 b
5 5
Ket. 1,2,3,dst : Titik Tanam
a, b : Pohon Buah, Jenis Komersial,
dan yang dilindungi
( Tengkawang, Rambutan, dll.)
JALUR TANAM
REALISASI KEGIATAN
PENYIAPAN LAHAN DAN PENANAMAN
TAHUN RKT RENCANA REALISASI
( Ha ) ( Ha )
1999/2000 3.566 3.522
2000 2.417 2.415
2001 3.005 3.005
2002 3.598 3.590
2003 3.588 3.242
Total 15.774
Catatan : Realisasi sampai dengan Bulan Desember 2003
PEMELIHARAAN DAN
PERLINDUNGAN TANAMAN
PEMELIHARAAN AWAL
 Penyiangan (Wedding)
 Penyulaman
 Pendangiran
 Pemupukan (Tpn & J.sarad)
 Pembebasan Naungan
PEMELIHARAAN LANJUTAN
 3 Tahun keatas
 Pembebasan Vertikal & Horizontal
PERLINDUNGAN TANAMAN
 Pengendalian Hama & Penyakit
 Kebakaran
Keterangan :
- Penyiangan
- Pendangiran
- Penyulaman
- Pelebaran Bebas Naungan 1 M
- Umur tanaman 6 Bln s/d 1 Thn
Keterangan :
- Penyiangan
- Piringan
- Peneresan / Peracunan
- Pemangkasan
- Pelebaran Bebas Naungan 2 M
- Umur tanaman 2 Thn
Keterangan :
- Penyiangan
- Peneresan / Peracunan
- Pelebaran Bebas Naungan 4 M
- Umur tanaman 3 - 4 Thn
15 M
PEMELIHARAAN III
PROGRES JALUR
PEMELIHARAAN I
PEMELIHARAAN II
21 M
19 M
SATGASDAMKARHUT
Hama & Penyakit
Tanaman Jalur Setelah dipelihara
Prestasi Kerja dan Biaya
No Kegiatan
Prestasi kerja
Ha/Regu/Hari
Biaya Langsung
Per Ha
1
2
3
4
5
Penyiapan Lahan Manual
Penyiapan Lahan Semi Mekanis
Penanaman
Pemeliharaan Awal ( 5 Kali )
Pengadaan bibit
0,4
1,1
2,2
1,7
Rp. 968.550
Rp. 141.450
Rp. 219.026
Rp. 1.618.005
Rp. 316.595
Jumlah Biaya Operasional Langsung Rp. 2.947.031
No Jenis Tanaman Umur Diameter Tinggi Diameter Tinggi Keterangan
Th Cm M Cm M
1 Shorea leprosula 4.50 9.06 7.62 2.01 1.69 Prosen hidup
2 Shorea johorensis 4.50 8.69 7.54 1.93 1.68 rata-rata
3 Shorea parvifolia 4.50 8.42 7.07 1.87 1.57 diatas 80%
4 Shorea compresa 4.50 7.61 6.29 1.69 1.40
5 Shorea seminis 4.50 5.98 4.17 1.33 0.93 Riap Diameter
6 Shorea virescens 3.30 4.38 3.67 1.33 1.11 Rata-rata 3 jns
7 Shorea fallax 4.50 5.46 4.45 1.21 0.99 Unggulan =
8 Shorea macroptera 3.28 3.25 3.22 0.99 0.98 1,94 Cm/TH
9 Hopea mangerawan 3.23 2.25 2.98 0.70 0.92
10 Shorea leavis 3.42 2.19 2.79 0.64 0.82
Rata-rata Riap rata-rata/Th
REKAPITULASI PENGUKURAN
10 JENIS TANAMAN JALUR
BLOK RKT 1999/2000
2.01
1.93
1.87
1.69
1.33 1.33
1.21
0.99
0.70 0.64
0.00
0.50
1.00
1.50
2.00
2.50
CENTIMETER
Shorea
leprosula
Shorea
johorensis
Shorea
parvifolia
Shorea
compresa
Shorea
seminis
Shorea
virescens
Shorea fallax Shorea
macroptera
Hopea
mangerawan
Shorea leavis
JENIS
GRAFIK RIAP DIAMETER PERTAHUN
1.69 1.68
1.57
1.40
0.93
1.11
0.99 0.98
0.92
0.82
0.00
0.20
0.40
0.60
0.80
1.00
1.20
1.40
1.60
1.80
METER
Shorea
leprosula
Shorea
johorensis
Shorea
parvifolia
Shorea
compresa
Shorea
seminis
Shorea
virescens
Shorea fallax Shorea
macroptera
Hopea
mangerawan
Shorea leavis
JENIS
GRAFIK RIAP TINGGI PERTAHUN
Tanaman Umur 1 Tahun
PERTUMBUHAN
TANAMAN
Tanaman Umur 2 Tahun
Tanaman Umur 6 Bulan
Tanaman Umur 4 Tahun
Tanaman Umur 3 Tahun
Prediksi Daur Tebang dan Produksi Kayu
Prediksi daur tebang
Riap diameter rata-rata dari jenis-jenis meranti unggulan sampai umur 4,5 tahun
adalah 1,94 cm/th.
Berdasarkan uji coba tanaman jalur jenis kelompok Meranti sebelumnya
(Lampiran 1) ternyata s/d umur 15 tahun , pada selang umur 5-10 tahun adalah
merupakan masa dimana tanaman meranti mempunyai riap diameter yang terus
bertambah, dan umur selanjutnya relatif tetap.
Kemudian berdasarkan hasil analisa dari pengukuran pertumbuhan pohon pada
Petak Ukur Permanen (PUP) seri I ternyata riap diameter terbesar kelompok
Dipterocarpaceae dengan perlakuan adalah pada klas diameter 30-40 cm.
Dengan demikian penulis menduga, apabila limit diameter 50 cm yang
dipakai acuan sebagai limit diameter tebang, maka umur daur tebangnya
adalah dibawah 25 th.
Kelompok Tanaman dalam Jalur
- Perkiraan Diameter rata-rata jenis unggulan pada umur 35 tahun = 67,9 Cm
- Jumlah pohon yang ditanam : 80 ph/ha
- Tinggi bebas cabang pada klas diameter tersebut diperkirakan = 18 meter.
Volume per pohon diperkirakan = 6,51M3/ph
Prediksi produksi
 Jumlah produksi kayu per ha dari kelompok tanaman dalam jalur diperkirakan
:80 ph x 90% x 70% x 6,51M3/ph x 85% = 278,89 M3/ha
Kelompok pohon dalam jalur antara
- Jumlah pohon inti per ha = 37 ph/ ha (Lampiran 8)
- Berdasarkan hasil analisa Petak Ukur Permanen (PUP) tanpa perlakuan,
riap diameter rata-rata pohon inti pada jalur antara diprediksikan sebesar 0,76
cm/th. Sehingga diameter rata-rata pohon inti pada tahun ke depan = 58.6 cm.
Tinggi pohon bebas cabang diperkirakan 18 meter.
Volume pohon rata-rata = 4,85 M3/ph.
 Volume produksi lestari per ha dari pohon-pohon dalam jalur antara daur tebang
adalah :37Ph/ha x 0,8 x 0,75 x 4,85M3/ph x 0,8 = 86,14 M3/ha
Pada 35 tahun kedepan dalam sistim TPTJ PT. SBK dari kedua sumber tersebut
diprediksikan sebesar : 278,89M3/ha + 86,14M3/ha = 363,03 M3/ha.
Dengan daur tebang 35 tahun , berarti produktivitas sistim TPTJ di PT. SBK pada
siklus tebang berikut adalah : 10,37 M3/ha/th.
Bandingkan dengan sistim TPTI konvensional dimana produktivitasnya hanya + 48
m3/ha/35 th atau + 1,37 M3/ha/th.
Foto areal TPTJ PT. SBK Petak 1.P, 1.Q, 1.B, 1.J, 1.A dan 1.I
(Umur Tanaman Jalur 4,5 Tahun) Yang diambil dari Udara Tg. 13 Februari 2004
Base Camp TPTJ dan Persemaian PT. SBK
Foto Jalur-jalur Tanaman di Petak 1.J dan 1.P Dengan Arah Memotong Jalan, diambil dari Udara Pada
Tanggal 13 Februari 2004
Kesimpulan Dan Saran
Kesimpulan
1. Sistim Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) merupakan salah satu alternatif cara pengelolaan hutan
alam bekas tabangan yang memberikan harapan cukup baik, dimana dengan cara ini produktivitas
hasil hutan kayu per satuan luas hutan alam bekas tebangan ditingkatkan secara sangat berarti
(7,5 kali) tanpa melepaskan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari dan areal hutan bekas
tebangan yang ditanam terjaga dari kegiatan perladangan berpindah.
2. Kekhawatiran yang berlebihan bahwa sistim TPTJ yang diterapkan pada hutan dengan status Hutan
Produksi Terbatas akan merusak lingkungan ternyata tidak sepenuhnya benar, karena areal kerja
PT. Sari Bumi Kusuma berstatus Hutan Produksi Terbatas.
3. Simplikasi jenis pada jalur bersih dan bebas naungan selebar 3-10 meter pada tiap jarak 25 meter
atau seluas 12%- 40%, akan merubah struktur dan komposisi jenis, tetapi keadaan ini masih jauh
lebih baik dari pada bila hutan bekas tebangan dengan sistim TPTI tidak dilakukan penanaman
secara intensif.
4. Berdasarkan hasil penelitian mahasiswa Untan, ternyata pada hutan yang dikelola dengan sistim
TPTJ malah terjadi penambahan keanekaragaman hayati, tetapi memang terjadi penurunan jumlah
pohon pada setiap jenisnya.
5. Sistim TPTJ menyerap tenaga kerja lebih dari 2 kali lipat dari pada sistim TPTI. Tentu hal ini juga
berdampak pada peningkatan ekonomi.
Saran
Dalam rangka memotivasi para pengelola hutan alam membangun tanaman di areal hutan bekas
tebangannya, perlu dibangun suatu mekanisme pengembalian DR yang dikaitkan dengan realisasi
penanaman di hutan-hutan bekas tebangannya.
D
A
N
T
E
R
I
M
A
K
A

M14-TPTJ SBK.ppt

  • 1.
    PENGALAMAN MEMBANGUN HUTAN TANAMANMERANTI PT. SARI BUMI KUSUMA KALIMANTAN TENGAH Tanaman Jalur dan Tegakan Tinggal di foto dari udara
  • 2.
    NO TAHUN ASAL DANJUMLAH PRODUKSI TOTAL RKT HUTAN ALAM HUTAN TANAMAN IPK 1. 2. 3. 4. 5. 1998/1999 1999/2000 2000*) 2001 2002 10.179.406 10.373.932 3.450.430 1.809.099 3.019.839 2.791.363 2.974.101 5.783.514 5.918.766 4.933.756 6.056.173 7.271.907 4.564.591 2.323.614 182.708 19.026.942 20.619.940 13.798.535 10.051.479 8.136.303 JUMLAH 28.832.706 22.401.500 20.302.993 71.633.199 Sumber : Ditjen BPK Tahun 2002 dan Statistik Kehutanan Indonesia 2002 Keterangan : *) Produksi mulai April s/d Desember
  • 3.
    Prediksi kebutuhan kayubulat tahun 2004 untuk plywood, wood working, furniture dan pulp & paper menurut BPK (Kebijakan Restrukturisasi Industri Kehutanan, 2003) adalah 42,3 juta m3, yang akan diupayakan dipenuhi dari : a. Hutan alam produksi = 5,7 juta m3 b. Perhutani = 0,7 juta m3 c. HTI = 15,6 juta m3 d. Hutan Rakyat = 10,7 juta m3 e. Kebun = 7,5 juta m3 f. Import = 2,0 juta m3 Jumlah = 42,3 juta m3
  • 4.
    Keterangan :  :Adalah titik tanam dengan jarak dalam jalur 5 m dan jarak antara jalurnya 25 m a – b : Adalah jalur bersih dan bebas naungan dengan lebar 3 meter c – d : Adalah jalur antara dengan lebar 22 meter Limit diameter tebang pada jalur antara 45 cm Jalur bebas naungan secara bertahap diperlebar sesuai dengan perkembangan tanaman maksimal 10 meter Jalur Bersih Dan Bebas Naungan 3 m a b Jalur Bersih Dan Bebas Naungan 3 m a b c d 5 m 5 m 22 m Sketsa Teknis Penerapan Sistem TPTJ di PT. SBK Kalteng
  • 5.
    Kelebihan Sistem TPTJ 1.Produksi kayu per hektar lebih tinggi, batas limit diameter diturunkan sampai 40 Cm. 2. Dengan penurunan limit diameter kayu yang ditebang menciptakan ruang tumbuh (tapak lahan) yang memungkinkan ditanamnya pohon-pohon meranti secara intensif dengan sistem jalur. 3. Areal-areal bekas tebangan TPTI dapat dibudidayakan tanpa menunggu 35 tahun. 4. Pembangunan tanaman meranti dapat dilakukan secara intensif dan mudah diperiksa. 5. Penyerapan tenaga-tenaga profesional kehutanan dan tenaga kerja lainnya 100% lebih tinggi. 6. Multiplier effect terhadap aspek ekonomi meningkat. 7. Membuka peluang terjaganya areal-areal bekas tebangan yang sudah ditanami dari perladangan berpindah dan perambahan hutan. Karena secara hukum adat areal- areal yang ditanamai dan ada pemiliknya akan dihormati. Kelemahan Sistem TPTJ 1. Tingkat keterbukaan tajuk dan kerusakan tanah pada tahap awal menjadi lebih besar, tetapi pada tahap berikutnya akan tertutup kembali dengan pohon-pohon yang ditanam. (lihat foto-foto) 2. Terjadi perubahan struktur dan komposisi jenis penyusun tegakan, Karena ada simplikasi jenis pada jalur-jalur tanam. Tetapi pada jalur antara tetap dipertahankan sebagai hutan alam.
  • 8.
    Perkembangan tanaman KelompokMeranti (Shorea sp.) umur 15 tahun (ditanam th. 1987) pada areal bekas tebang pilih dari jumlah tanaman awal 660/ph/ha x 3 ha = 1.980 ph No Kondisi Tanaman Tanaman yg hidup Diameter (cm) Tinggi Total (m) Jumlah % Rerata Riap Rerata Riap 1. Kelompok I Tajuk tertutup oleh Permudaan alam 298 55,8 12,8 0,85 16,1 1,07 2. Kelompok II; Tajuk tanaman setengah Permudaan alam 224 41,9 20,6 1,37 21,3 1,42 3. Kelompok III; Tajuk tanaman terbuka Penuh 12 2,3 26,1 1,74 23,6 1,57 Jumlah/Rata-rata 534 27,0 19,8 1,32 20,33 1,35 Keterangan : Ruang tumbuh yang diciptakan oleh sistem TPTI dengan limit 60 Cm ternyata tidak memadai untuk pertumbuhan tanaman meranti yang optimal, disamping itu 73% tanaman mati karena pertumbuhannya tertekan
  • 9.
    Grafik Perkembangan RiapDiameter Tanaman Kelompok Meranti Pada Uji Coba Tanaman Jalur Bekas TPTI s/d Umur 15 tahun 0.95 1.00 0.95 0.97 0.97 0.88 0.88 0.84 1.27 1.37 1.38 1.41 1.44 1.38 1.41 1.37 1.27 1.46 1.58 1.64 1.69 1.69 1.74 1.74 0.84 1.12 0.70 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Umur (tahun) Riap Diameter/tahun (cm) Kelompok I Kelompok II Kelompok III L Lampiran 1
  • 11.
    PEMBANGUNAN HUTAN TANAMANMERANTI Dipterocarpaceae Asal biji & cabutan Pengadaan Bibit Persemaian permanen & Semi Permanen Metode Generatif ~ Bibit asal Biji dan Cabutan MetodeVegetatif ~ Stek Pucuk ~ Stek Batang
  • 12.
    Pada musim buah,biji 50% cabutann 30%,sedangkan pada saat tidak berbuah, cabutan 70% dan sisanya stek. Jenis yang diusahakan pada awalnya ada 10 jenis Shorea. Saat ini Bibit yang diadakan lebih dari 90%nya jenis Shorea leprosula, Shorea johorensis dan Shorea farvifolia. Prosen jadi rata-rata bibit: Biji 98%, Cabutan 70%, Stek Meranti 64% dan Stek Sungkai 71%.
  • 13.
    GRAFIK PROSENTASE JENIS BIBITDIPTEROCARPACEAE YANG DITANAM
  • 14.
    BAGAN ALUR PENGADAAN BIBIT BIJI BIJI/BENIH DIALAM,TB - SELEKSI - BUANG SAYAP CABUT BIJI DIALAM ,TB - SELEKSI - PANGKAS DAUN & AKAR - PERENDAM AN - HORM ON - ROOT ONE F STEK PUCUK - KEBUN PANGKAS - M ASA RESTING - OTOTROP - PANGKAS DAUN - FUNGISIDA,BAKTERISIDA - HORM ON STEK BATAN G - POHON INDUK - PENGAM BILAN BATANG - PEM OTONGAN BATANG SEPANJANG 2 RUAS - PENYELEKSIAN - PERENDAM AN - HORM ON - ROOT ONE F PENANAM AN DI POLYBAG - M EDIA TUM BUH - M IKORIZA - PENYUNGKUPAN - INTENSITAS CAHAYA (NAUNGAN 50% ) - PENYIRAM AN - 2 BULAN BAK STEK - STERIL - PASIR - SUHU, KELEM BABAN, CAHAYA DIKENDALIKAN - 2 BULAN PENANAM AN DI POLYBAG - M EDIA TUM BUH - PENANAM AN PENANAM AN DI POLYBAG - M EDIA TUM BUH - M IKORIZA - PENYUNGKUPAN - INTENSITAS CAHAYA (NAUNGAN 75% ) - 2 BULAN PEM ELIHARAAN - PENYELEKSIAN - PENYUSUNAN (PERENGGANGAN & SAM A TINGGI) - PENYIRAM AN - PEM UPUKAN - PENANGGULANGAN HAM A, PENYAKIT & GULM A - 6 BULAN PRAKONDISI DGN ALAM & PENANAM AN I. TANPA SUNGKUP - INTENSITAS CAHAYA (NAUNGAN 50% ) - PENYIRAM AN - B(3), C(2), S(2) - INTENSITAS CAHAYA (NAUNGAN 25% ) - PENYIRAM AN - PEM UPUKAN - PENANGGULANGAN HAM A & PENYAKIT - B(3), C(2), S(2) BIBIT SIAP TANAM CABUTAN STEK
  • 15.
    REALISASI PENGADAAN BIBIT TAHUNRKT PENGADAANBIBIT (BTG) 1999/2000 402.439 2000 335.545 2001 492.829 2002 481.133 2003 472.611 TOTAL 2.184.557 Biayabibitperbatang Cabutan,BijidanStekSungkai : Rp.2.003 StekMeranti : Rp.5.875 BiayaRata-rata : Rp.3.166 BiayaOprasionalbelumtermasukbiayaPenyusutan, Pengawas,Saranadanprasaranadanoverheadcostlainnya. Shorea parvifolia Shorea leprosula Shorea johorensis
  • 16.
    PENYIAPAN LAHAN 1. Pembuatanjalur bersih lebar 3 meter, jarak antar jalur 25 meter. Pembuatan jalur bersih dikerjakan secara manual. 2. Pemasangan ajir, jarak antar ajir 5 meter atau 2,5 meter, ajir dibuat dari kayu keras diameter 5 - 7 Cm. 3. Pembuatan lubang tanam, ukuran lubang lebar x panjang x dalam, 30cm x 30cm x 30cm. 4. Penimbunan lubang tanam, lubang tanam diisi dengan top soil yang diambil dari sekitar pohon induk yang cukup mengadung mikoriza. 5. Pembebasan naungan, kegiatan ini dikerjakan secara semi mekanis dengan menggunakn Chain Saw, yaitu dengan menebang pohon-pohon yang menaungi jalur tanam. 6. Dalam penyiapan lahan baik manual maupun semi mekanis apabila didalam jalur bersih ditemukan anakan alam, permudaan jenis komersil dan pohon yang dilindungai tetap dipertahankan dan dipelihara
  • 17.
    PENANAMAN  PENGANGKUTAN BIBIT PENGECERAN  PENANAMAN  PEMULSAAN
  • 18.
    Lay out ReguPenyiapan Lahan Keterangan : A : Perintis B : Penebas C : Pengompas A A D : P. Piringan E : P. Lubang B B C P : Pengawas P D E Lay out Regu Penanaman Keterangan : A A : Pengecer Bibit A B : Penanam A P : Pengawas A P B B B A. SEBELUM DIBERSIHKAN B. JALUR BERSIH 1 1 a 2 2 3 3 4 4 b 5 5 Ket. 1,2,3,dst : Titik Tanam a, b : Pohon Buah, Jenis Komersial, dan yang dilindungi ( Tengkawang, Rambutan, dll.) JALUR TANAM
  • 19.
    REALISASI KEGIATAN PENYIAPAN LAHANDAN PENANAMAN TAHUN RKT RENCANA REALISASI ( Ha ) ( Ha ) 1999/2000 3.566 3.522 2000 2.417 2.415 2001 3.005 3.005 2002 3.598 3.590 2003 3.588 3.242 Total 15.774 Catatan : Realisasi sampai dengan Bulan Desember 2003
  • 20.
    PEMELIHARAAN DAN PERLINDUNGAN TANAMAN PEMELIHARAANAWAL  Penyiangan (Wedding)  Penyulaman  Pendangiran  Pemupukan (Tpn & J.sarad)  Pembebasan Naungan PEMELIHARAAN LANJUTAN  3 Tahun keatas  Pembebasan Vertikal & Horizontal PERLINDUNGAN TANAMAN  Pengendalian Hama & Penyakit  Kebakaran
  • 21.
    Keterangan : - Penyiangan -Pendangiran - Penyulaman - Pelebaran Bebas Naungan 1 M - Umur tanaman 6 Bln s/d 1 Thn Keterangan : - Penyiangan - Piringan - Peneresan / Peracunan - Pemangkasan - Pelebaran Bebas Naungan 2 M - Umur tanaman 2 Thn Keterangan : - Penyiangan - Peneresan / Peracunan - Pelebaran Bebas Naungan 4 M - Umur tanaman 3 - 4 Thn 15 M PEMELIHARAAN III PROGRES JALUR PEMELIHARAAN I PEMELIHARAAN II 21 M 19 M
  • 22.
  • 23.
    Prestasi Kerja danBiaya No Kegiatan Prestasi kerja Ha/Regu/Hari Biaya Langsung Per Ha 1 2 3 4 5 Penyiapan Lahan Manual Penyiapan Lahan Semi Mekanis Penanaman Pemeliharaan Awal ( 5 Kali ) Pengadaan bibit 0,4 1,1 2,2 1,7 Rp. 968.550 Rp. 141.450 Rp. 219.026 Rp. 1.618.005 Rp. 316.595 Jumlah Biaya Operasional Langsung Rp. 2.947.031
  • 24.
    No Jenis TanamanUmur Diameter Tinggi Diameter Tinggi Keterangan Th Cm M Cm M 1 Shorea leprosula 4.50 9.06 7.62 2.01 1.69 Prosen hidup 2 Shorea johorensis 4.50 8.69 7.54 1.93 1.68 rata-rata 3 Shorea parvifolia 4.50 8.42 7.07 1.87 1.57 diatas 80% 4 Shorea compresa 4.50 7.61 6.29 1.69 1.40 5 Shorea seminis 4.50 5.98 4.17 1.33 0.93 Riap Diameter 6 Shorea virescens 3.30 4.38 3.67 1.33 1.11 Rata-rata 3 jns 7 Shorea fallax 4.50 5.46 4.45 1.21 0.99 Unggulan = 8 Shorea macroptera 3.28 3.25 3.22 0.99 0.98 1,94 Cm/TH 9 Hopea mangerawan 3.23 2.25 2.98 0.70 0.92 10 Shorea leavis 3.42 2.19 2.79 0.64 0.82 Rata-rata Riap rata-rata/Th REKAPITULASI PENGUKURAN 10 JENIS TANAMAN JALUR BLOK RKT 1999/2000
  • 25.
    2.01 1.93 1.87 1.69 1.33 1.33 1.21 0.99 0.70 0.64 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 CENTIMETER Shorea leprosula Shorea johorensis Shorea parvifolia Shorea compresa Shorea seminis Shorea virescens Shoreafallax Shorea macroptera Hopea mangerawan Shorea leavis JENIS GRAFIK RIAP DIAMETER PERTAHUN 1.69 1.68 1.57 1.40 0.93 1.11 0.99 0.98 0.92 0.82 0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80 METER Shorea leprosula Shorea johorensis Shorea parvifolia Shorea compresa Shorea seminis Shorea virescens Shorea fallax Shorea macroptera Hopea mangerawan Shorea leavis JENIS GRAFIK RIAP TINGGI PERTAHUN
  • 26.
    Tanaman Umur 1Tahun PERTUMBUHAN TANAMAN Tanaman Umur 2 Tahun Tanaman Umur 6 Bulan
  • 27.
    Tanaman Umur 4Tahun Tanaman Umur 3 Tahun
  • 28.
    Prediksi Daur Tebangdan Produksi Kayu Prediksi daur tebang Riap diameter rata-rata dari jenis-jenis meranti unggulan sampai umur 4,5 tahun adalah 1,94 cm/th. Berdasarkan uji coba tanaman jalur jenis kelompok Meranti sebelumnya (Lampiran 1) ternyata s/d umur 15 tahun , pada selang umur 5-10 tahun adalah merupakan masa dimana tanaman meranti mempunyai riap diameter yang terus bertambah, dan umur selanjutnya relatif tetap. Kemudian berdasarkan hasil analisa dari pengukuran pertumbuhan pohon pada Petak Ukur Permanen (PUP) seri I ternyata riap diameter terbesar kelompok Dipterocarpaceae dengan perlakuan adalah pada klas diameter 30-40 cm. Dengan demikian penulis menduga, apabila limit diameter 50 cm yang dipakai acuan sebagai limit diameter tebang, maka umur daur tebangnya adalah dibawah 25 th.
  • 29.
    Kelompok Tanaman dalamJalur - Perkiraan Diameter rata-rata jenis unggulan pada umur 35 tahun = 67,9 Cm - Jumlah pohon yang ditanam : 80 ph/ha - Tinggi bebas cabang pada klas diameter tersebut diperkirakan = 18 meter. Volume per pohon diperkirakan = 6,51M3/ph Prediksi produksi  Jumlah produksi kayu per ha dari kelompok tanaman dalam jalur diperkirakan :80 ph x 90% x 70% x 6,51M3/ph x 85% = 278,89 M3/ha Kelompok pohon dalam jalur antara - Jumlah pohon inti per ha = 37 ph/ ha (Lampiran 8) - Berdasarkan hasil analisa Petak Ukur Permanen (PUP) tanpa perlakuan, riap diameter rata-rata pohon inti pada jalur antara diprediksikan sebesar 0,76 cm/th. Sehingga diameter rata-rata pohon inti pada tahun ke depan = 58.6 cm. Tinggi pohon bebas cabang diperkirakan 18 meter. Volume pohon rata-rata = 4,85 M3/ph.  Volume produksi lestari per ha dari pohon-pohon dalam jalur antara daur tebang adalah :37Ph/ha x 0,8 x 0,75 x 4,85M3/ph x 0,8 = 86,14 M3/ha Pada 35 tahun kedepan dalam sistim TPTJ PT. SBK dari kedua sumber tersebut diprediksikan sebesar : 278,89M3/ha + 86,14M3/ha = 363,03 M3/ha. Dengan daur tebang 35 tahun , berarti produktivitas sistim TPTJ di PT. SBK pada siklus tebang berikut adalah : 10,37 M3/ha/th. Bandingkan dengan sistim TPTI konvensional dimana produktivitasnya hanya + 48 m3/ha/35 th atau + 1,37 M3/ha/th.
  • 30.
    Foto areal TPTJPT. SBK Petak 1.P, 1.Q, 1.B, 1.J, 1.A dan 1.I (Umur Tanaman Jalur 4,5 Tahun) Yang diambil dari Udara Tg. 13 Februari 2004
  • 31.
    Base Camp TPTJdan Persemaian PT. SBK
  • 32.
    Foto Jalur-jalur Tanamandi Petak 1.J dan 1.P Dengan Arah Memotong Jalan, diambil dari Udara Pada Tanggal 13 Februari 2004
  • 33.
    Kesimpulan Dan Saran Kesimpulan 1.Sistim Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) merupakan salah satu alternatif cara pengelolaan hutan alam bekas tabangan yang memberikan harapan cukup baik, dimana dengan cara ini produktivitas hasil hutan kayu per satuan luas hutan alam bekas tebangan ditingkatkan secara sangat berarti (7,5 kali) tanpa melepaskan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari dan areal hutan bekas tebangan yang ditanam terjaga dari kegiatan perladangan berpindah. 2. Kekhawatiran yang berlebihan bahwa sistim TPTJ yang diterapkan pada hutan dengan status Hutan Produksi Terbatas akan merusak lingkungan ternyata tidak sepenuhnya benar, karena areal kerja PT. Sari Bumi Kusuma berstatus Hutan Produksi Terbatas. 3. Simplikasi jenis pada jalur bersih dan bebas naungan selebar 3-10 meter pada tiap jarak 25 meter atau seluas 12%- 40%, akan merubah struktur dan komposisi jenis, tetapi keadaan ini masih jauh lebih baik dari pada bila hutan bekas tebangan dengan sistim TPTI tidak dilakukan penanaman secara intensif. 4. Berdasarkan hasil penelitian mahasiswa Untan, ternyata pada hutan yang dikelola dengan sistim TPTJ malah terjadi penambahan keanekaragaman hayati, tetapi memang terjadi penurunan jumlah pohon pada setiap jenisnya. 5. Sistim TPTJ menyerap tenaga kerja lebih dari 2 kali lipat dari pada sistim TPTI. Tentu hal ini juga berdampak pada peningkatan ekonomi. Saran Dalam rangka memotivasi para pengelola hutan alam membangun tanaman di areal hutan bekas tebangannya, perlu dibangun suatu mekanisme pengembalian DR yang dikaitkan dengan realisasi penanaman di hutan-hutan bekas tebangannya.
  • 34.