PENTAHAPAN PENGUSULAN
KAWASAN GEOPARK (TAMAN BUMI)
DI INDONESIA
LANDASAN HUKUM UTAMA:
• UU 23/2014:
Pemerintahan Daerah;
• Perpres 9/2019:
Pengembangan Taman Bumi (Geopark);
• Permenparekraf 2/2020:
Pedoman Pengembangan Geopark
Sebagai Destinasi Pariwisata;
• Permen ESDM 1/2020:
Penetapan Geoheritage.
DIAGRAM ALUR PENGUSULAN
KAWASAN GEOPARK
 BUPATI / WALIKOTA
1. Penyelenggaraan Forum Diskusi:
• Menyepakati pengembangan Geopark sebagai bagian dari program daerah yang akan berimplikasi pada
dokumen RTRW, Ripparda dan RPJMD.
• Menyepakati perlunya pembentukan Tim Persiapan Geopark (TPGp), dengan tugas dan wewenang sbb:
• Penyusunan dokumen proposal penetapan Geo-heritage;
• Penyusunan rancangan Peraturan Bupati / Walikota tentang Badan Pengelola Geopark (BP-Gp);
• Penyusunan Masterplan Geopark.
• Menyepakati perlunya pembentukan Badan Pengelola Geopark (BP-Gp), dengan tugas dan wewenang sbb:
• Implementasi pembangunan kawasan berdasarkan Masterplan Geopark;
• Penyusunan dokumen proposal peningkatan hirarki kawasan menuju Geopark Nasional;
• Penyusunan dokumen proposal (Dossier) peningkatan hirarki kawasan menuju Unesco Global Geopark.
• Peresmian komitmen daerah (surat dukungan bupati//walikota) terhadap pengembangan Geopark.
2. Penerbitan SK Pembentukan Tim Persiapan Geopark (TPGp):
• Mengatur tugas, wewenang dan mekanisme kerja (termasuk skema insentif dan disinsentif);
• Menetapkan masa kerja, struktur dan personil organisasi.
3. Koordinasi intensif terhadap kinerja Tim Persiapan Geopark (TPGp).
 BUPATI / WALIKOTA
4. Koordinasi Intensif Permohonan Proposal Penetapan Geoheritage
(Setelah TPG menyelesaikan Proposal Penetapan Geoheritage)
• Menerbitkan surat permohonan ke Gubernur (dengan melampirkan dokumen proposal hasil kerja TPGp);
• Melakukan koordinasi terhadap Perangkat Daerah Provinsi untuk meneruskan dokumen permohonan ke
Menteri ESDM cq. Badan Geologi;
• Melakukan koordinasi terhadap Kemenkomarves cq. Komisi Nasional Geopark Indonesia (KNGI) untuk
mendapat dukungan dalam proses pengusulan Geoheritage dan percepatan pengusulan Geopark;
• Mengakomodir kegiatan verifikasi lapangan oleh tim dari Badan Geologi;
• Melakukan koordinasi terhadap Kementerian ESDM hingga terbitnya Permen ESDM tentang Penetapan
Geoheritage.
5. Penerbitan Peraturan Bupati/Walikota tentang Badan Pengelola Geopark:
(Setelah TPG menyelesaikan Rancangan Peraturan tentang Badan Pengelola Geopark (BP-Gp))
• Mengatur tugas, wewenang dan mekanisme kerja (termasuk skema insentif dan disinsentif);
• Mengatur masa kerja dan struktur lembaga;
6. Penerbitan SK Pembentukan Badan Pengelola Geopark (BP-Gp):
• Mengatur tugas, wewenang dan mekanisme kerja (termasuk skema insentif dan disinsentif);
• Menetapkan masa kerja, struktur dan personil organisasi.
7. Koordinasi intensif terhadap kinerja Badan Pengelola Geopark (BP-Gp).
 TIM PERSIAPAN GEOPARK (TPGp)
KOMPOSISI TIM:
Ahli Geologi, Ahli PWK, Ahli Biologi, Ahli Budaya dan Sejarah, Ahli Pariwisata, Perwakilan Perangkat
Daerah, Perwakilan UPT K/L Pemerintah Pusat, Perwakilan Asosiasi, dan Perwakilan Masyarakat.
1. Penyusunan dokumen proposal penetapan Geoheritage:
(Mengacu Permen ESDM Nomor 1 / 2020: Penetapan Geoheritage)
• Melakukan pengkriteriaan geoheritage berdasarkan nilai, makna dan fungsi;
• Melakukan pemeringkatan geoheritage;
• Menentukan rekomendasi pemanfaatan geoheritage berdasarkan nilai saintifik, edukasi dan pariwisata serta
memperhitungkan resiko degradasi;
• Merangkum inventarisir geoheritage dalam format matriks dan peta sesuai pedoman.
2. Penyusunan Ranper Bupati/Walikota ttg Badan Pengelola Geopark:
• Mengkaji tugas, wewenang dan mekanisme kerja (termasuk skema insentif dan disinsentif);
• Menentukan masa kerja dan merancang struktur lembaga.
3. Penyusunan Masterplan Geopark:
(Mengacu Permenparekraf Nomor 2/ 2020: Pedoman Pengembangan Geopark Sbg Destinasi Pariwisata)
• Menentukan deliniasi kawasan (single boundary);
• Menetapkan lokasi situs geologi, situs biologi dan situs budaya (benda dan tak benda);
• Menyusun matriks perencanaan program yang mengakomodir 9 target SDGs dan 10 focus area.
 BADAN PENGELOLA GEOPARK (BP-Gp)
KOMPOSISI PERSONIL:
Perwakilan Perangkat Daerah, Perwakilan UPT K/L Pemerintah Pusat, Perwakilan Universitas, Perwakilan
Asosiasi, Perwakilan profesi terkait kawasan dan Perwakilan situs geologi dan non-geologi.
1. Implementasi pembangunan kawasan berdasarkan Masterplan Geopark;
(Setelah TPG menyelesaikan Masterplan Geopark)
• Menjalin kerjasama secara resmi terhadap stakeholder terkait;
• Melakukan pembangunan kawasan, khususnya terkait intrastruktur visibilitas;
• Melakukan upaya perlindungan kawasan;
• Mengakomodir penyelenggaraan berbagai kegiatan yang terkait dengan geopark;
• Melakukan upaya peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan sertifikasi.
2. Penyusunan dokumen proposal menuju Geopark Nasional (GN):
(Setelah beroperasi (menjalankan Poin 1) minimal selama 6 bulan)
• Membentuk tim penyusun dokumen proposal;
• Koordinasi intensif hingga dokumen proposal selesai tersusun sesuai ketentuan;
• Melakukan koordinasi untuk mendapat dukungan dari Gubernur, JGI, KNGI dan Badan Geologi.
• Mengakomodir kegiatan assesment lapangan oleh tim dari Badan Geologi, JGI dan KNGI;
• Melakukan koordinasi terhadap Kementerian ESDM hingga terbitnya sertifikat Geopark Nasional.
 BADAN PENGELOLA GEOPARK (BP-Gp)
KOMPOSISI PERSONIL:
Perwakilan Perangkat Daerah, Perwakilan UPT K/L Pemerintah Pusat, Perwakilan Universitas, Perwakilan
Asosiasi, Perwakilan profesi terkait kawasan dan Perwakilan situs geologi dan non-geologi.
3. Penyusunan dokumen proposal (Dossier) Unesco Global Geopark (UGG):
(Setelah penetapan sebagai Geopark Nasional minimal selama 1 tahun)
• Membentuk tim penyusun dokumen proposal (dossier);
• Koordinasi intensif hingga dokumen proposal (dossier) selesai tersusun sesuai ketentuan dari UNESCO
(termasuk kegiatan konsultasi kepada KNGI dan asistensi kepada Badan Geologi)
• Melakukan koordinasi untuk mendapat dukungan dari Gubernur, Badan Geologi, JGI, KNGI dan KNIU.
• Mengakomodir kegiatan assesment lapangan oleh tim assdari Unesco dan GGN;
• Melakukan koordinasi terhadap KNGI dan KNIU hingga terbitnya sertifikat UNESCO Global Geopark.
4. Penguatan implementasi pengembangan kawasan berdasarkan
Masterplan Geopark selama 4 tahun.
5. Persiapan menghadapi revalidasi dari UNESCO dan GGN per 4 tahun.
Konsep Alur Pentahapan Pengusulan Geopark.pdf

Konsep Alur Pentahapan Pengusulan Geopark.pdf

  • 1.
    PENTAHAPAN PENGUSULAN KAWASAN GEOPARK(TAMAN BUMI) DI INDONESIA
  • 2.
    LANDASAN HUKUM UTAMA: •UU 23/2014: Pemerintahan Daerah; • Perpres 9/2019: Pengembangan Taman Bumi (Geopark); • Permenparekraf 2/2020: Pedoman Pengembangan Geopark Sebagai Destinasi Pariwisata; • Permen ESDM 1/2020: Penetapan Geoheritage. DIAGRAM ALUR PENGUSULAN KAWASAN GEOPARK
  • 3.
     BUPATI /WALIKOTA 1. Penyelenggaraan Forum Diskusi: • Menyepakati pengembangan Geopark sebagai bagian dari program daerah yang akan berimplikasi pada dokumen RTRW, Ripparda dan RPJMD. • Menyepakati perlunya pembentukan Tim Persiapan Geopark (TPGp), dengan tugas dan wewenang sbb: • Penyusunan dokumen proposal penetapan Geo-heritage; • Penyusunan rancangan Peraturan Bupati / Walikota tentang Badan Pengelola Geopark (BP-Gp); • Penyusunan Masterplan Geopark. • Menyepakati perlunya pembentukan Badan Pengelola Geopark (BP-Gp), dengan tugas dan wewenang sbb: • Implementasi pembangunan kawasan berdasarkan Masterplan Geopark; • Penyusunan dokumen proposal peningkatan hirarki kawasan menuju Geopark Nasional; • Penyusunan dokumen proposal (Dossier) peningkatan hirarki kawasan menuju Unesco Global Geopark. • Peresmian komitmen daerah (surat dukungan bupati//walikota) terhadap pengembangan Geopark. 2. Penerbitan SK Pembentukan Tim Persiapan Geopark (TPGp): • Mengatur tugas, wewenang dan mekanisme kerja (termasuk skema insentif dan disinsentif); • Menetapkan masa kerja, struktur dan personil organisasi. 3. Koordinasi intensif terhadap kinerja Tim Persiapan Geopark (TPGp).
  • 4.
     BUPATI /WALIKOTA 4. Koordinasi Intensif Permohonan Proposal Penetapan Geoheritage (Setelah TPG menyelesaikan Proposal Penetapan Geoheritage) • Menerbitkan surat permohonan ke Gubernur (dengan melampirkan dokumen proposal hasil kerja TPGp); • Melakukan koordinasi terhadap Perangkat Daerah Provinsi untuk meneruskan dokumen permohonan ke Menteri ESDM cq. Badan Geologi; • Melakukan koordinasi terhadap Kemenkomarves cq. Komisi Nasional Geopark Indonesia (KNGI) untuk mendapat dukungan dalam proses pengusulan Geoheritage dan percepatan pengusulan Geopark; • Mengakomodir kegiatan verifikasi lapangan oleh tim dari Badan Geologi; • Melakukan koordinasi terhadap Kementerian ESDM hingga terbitnya Permen ESDM tentang Penetapan Geoheritage. 5. Penerbitan Peraturan Bupati/Walikota tentang Badan Pengelola Geopark: (Setelah TPG menyelesaikan Rancangan Peraturan tentang Badan Pengelola Geopark (BP-Gp)) • Mengatur tugas, wewenang dan mekanisme kerja (termasuk skema insentif dan disinsentif); • Mengatur masa kerja dan struktur lembaga; 6. Penerbitan SK Pembentukan Badan Pengelola Geopark (BP-Gp): • Mengatur tugas, wewenang dan mekanisme kerja (termasuk skema insentif dan disinsentif); • Menetapkan masa kerja, struktur dan personil organisasi. 7. Koordinasi intensif terhadap kinerja Badan Pengelola Geopark (BP-Gp).
  • 5.
     TIM PERSIAPANGEOPARK (TPGp) KOMPOSISI TIM: Ahli Geologi, Ahli PWK, Ahli Biologi, Ahli Budaya dan Sejarah, Ahli Pariwisata, Perwakilan Perangkat Daerah, Perwakilan UPT K/L Pemerintah Pusat, Perwakilan Asosiasi, dan Perwakilan Masyarakat. 1. Penyusunan dokumen proposal penetapan Geoheritage: (Mengacu Permen ESDM Nomor 1 / 2020: Penetapan Geoheritage) • Melakukan pengkriteriaan geoheritage berdasarkan nilai, makna dan fungsi; • Melakukan pemeringkatan geoheritage; • Menentukan rekomendasi pemanfaatan geoheritage berdasarkan nilai saintifik, edukasi dan pariwisata serta memperhitungkan resiko degradasi; • Merangkum inventarisir geoheritage dalam format matriks dan peta sesuai pedoman. 2. Penyusunan Ranper Bupati/Walikota ttg Badan Pengelola Geopark: • Mengkaji tugas, wewenang dan mekanisme kerja (termasuk skema insentif dan disinsentif); • Menentukan masa kerja dan merancang struktur lembaga. 3. Penyusunan Masterplan Geopark: (Mengacu Permenparekraf Nomor 2/ 2020: Pedoman Pengembangan Geopark Sbg Destinasi Pariwisata) • Menentukan deliniasi kawasan (single boundary); • Menetapkan lokasi situs geologi, situs biologi dan situs budaya (benda dan tak benda); • Menyusun matriks perencanaan program yang mengakomodir 9 target SDGs dan 10 focus area.
  • 6.
     BADAN PENGELOLAGEOPARK (BP-Gp) KOMPOSISI PERSONIL: Perwakilan Perangkat Daerah, Perwakilan UPT K/L Pemerintah Pusat, Perwakilan Universitas, Perwakilan Asosiasi, Perwakilan profesi terkait kawasan dan Perwakilan situs geologi dan non-geologi. 1. Implementasi pembangunan kawasan berdasarkan Masterplan Geopark; (Setelah TPG menyelesaikan Masterplan Geopark) • Menjalin kerjasama secara resmi terhadap stakeholder terkait; • Melakukan pembangunan kawasan, khususnya terkait intrastruktur visibilitas; • Melakukan upaya perlindungan kawasan; • Mengakomodir penyelenggaraan berbagai kegiatan yang terkait dengan geopark; • Melakukan upaya peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan sertifikasi. 2. Penyusunan dokumen proposal menuju Geopark Nasional (GN): (Setelah beroperasi (menjalankan Poin 1) minimal selama 6 bulan) • Membentuk tim penyusun dokumen proposal; • Koordinasi intensif hingga dokumen proposal selesai tersusun sesuai ketentuan; • Melakukan koordinasi untuk mendapat dukungan dari Gubernur, JGI, KNGI dan Badan Geologi. • Mengakomodir kegiatan assesment lapangan oleh tim dari Badan Geologi, JGI dan KNGI; • Melakukan koordinasi terhadap Kementerian ESDM hingga terbitnya sertifikat Geopark Nasional.
  • 7.
     BADAN PENGELOLAGEOPARK (BP-Gp) KOMPOSISI PERSONIL: Perwakilan Perangkat Daerah, Perwakilan UPT K/L Pemerintah Pusat, Perwakilan Universitas, Perwakilan Asosiasi, Perwakilan profesi terkait kawasan dan Perwakilan situs geologi dan non-geologi. 3. Penyusunan dokumen proposal (Dossier) Unesco Global Geopark (UGG): (Setelah penetapan sebagai Geopark Nasional minimal selama 1 tahun) • Membentuk tim penyusun dokumen proposal (dossier); • Koordinasi intensif hingga dokumen proposal (dossier) selesai tersusun sesuai ketentuan dari UNESCO (termasuk kegiatan konsultasi kepada KNGI dan asistensi kepada Badan Geologi) • Melakukan koordinasi untuk mendapat dukungan dari Gubernur, Badan Geologi, JGI, KNGI dan KNIU. • Mengakomodir kegiatan assesment lapangan oleh tim assdari Unesco dan GGN; • Melakukan koordinasi terhadap KNGI dan KNIU hingga terbitnya sertifikat UNESCO Global Geopark. 4. Penguatan implementasi pengembangan kawasan berdasarkan Masterplan Geopark selama 4 tahun. 5. Persiapan menghadapi revalidasi dari UNESCO dan GGN per 4 tahun.