PEMBINAAN DAN
PENGEMBANGAN BAHASA
INDONESIA
Abdul Rahman (1551041018)
Ismail Pure Langoday (1551041022)
Sitti Nurmuthmainnah Isma (1951040001)
Konsep Dasar Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa
Indonesia
(Kelompok 1)
PBSI A 2019
1. Pengertian Pembinaan Bahasa Indonesia
Hasil perumusan bahasa Seminar Politik
Bahasa Nasional (1975) telah disebutkan
bahwa pembinaan dan pengembangan
bahasa adalah usaha dan kegiatan yang
ditujukan untuk memelihara dan
mengembangkan bahasa Indonesia, bahasa
daerah, dan pengajaran bahasa asing supaya
dapat memenuhi fungsi dan kedudukannya.
2
Pembinaan dan pengembangan bahasa
Indonesia dilakukan meliputi usaha-usaha
pembakuan agar tercapai pemakaian bahasa
yang cermat, tetap dan efesien dalam
komunikasi. Untuk kepentingan praktis, telah
diambil sikap bahwa pembinaan terutama
ditujukan kepada penuturnya, yaitu
masyarakat pemakai bahasa Indonesia, dan
pengembangan bahasa dalam segala aspeknya.
2. Tujuan Pembinaan Bahasa Indonesia
3
1. Penumbuhan Sikap
Sikap bahasa adalah salah satu sikap dari berbagai sikap yang mungkin ada. Sikap adalah kesiapan beraksi. Sikap adalah
kesiapan mental dan saraf yang terbentuk melalui pengalaman yang memberikan arah kepada reaksi seseorang terhadap semua
objek dan keadaan yang menyangkut sikap itu (Halim,1976:68).
Sikap itu memiliki tiga komponen, yaitu komponen kognitif, afektif, dan perilaku.
a. Komponen kognitif adalah pengetahuan kita tentang bahasa secara keseluruhan sampai dengan penggolongan serta
hubungan-hubungan bahasa tersebut sebagai bahasa Indonesia, bahasa asing, atau bahasa daerah.
b. Komponen afektif menyangkut perasaan atau emosi yang mewarnai atau menjiwai pengetahuan yang terdapat di dalam
komponen kognitif. Komponen afektif menyangkut nilai rasa, baik atau tidak baik, suka atau tidak suka. Target yang hendak
dicapai dalam kegiatan “pembinaan” bahasa yang amat penting adalah menumbuhkan sikap yang positif terhadap bahasa
Indonesia. Sikap positif tersebut tidak dapat diukur dengan angka-angka, tetapi dapat dilihat dalam komponen perilaku.
c. Komponen perilaku terdapat nilai moral yang muncul dan berhubungan erat dengan kecenderungan berbuat atau beraksi
dengan cara tertentu.
4
2. Meningkatkan Kegairahan
Kegiatan pembinaan juga mempunyai target dalam meningkatkan kegairahan berbahasa Indonesia. Target ini dapat diukur
dengan pertanyaan, seberapa banyak seseorang itu secara konsisten bergairah memakai bahasa Indonesia? Jika seseorang telah
bergairah memakai bahasa Indonesia dalam berkomunikaasi dengan orang lain, orang itu harus meningkatkan lagi
kegairahannya itu dalam mempergunakan bahasa Indonesia.
Contoh: Dalam suatu rapat resmi seorang pejabat menyampaikan pidatonya sebagai sambutan resmi sebagai berikut: Saudara-
saudara. Seperti hal yang saya sampaikan tadi bahwa untuk mendrop beberapa spare part yang kita pesan dari luar negeri di
airport sore ini, saya menganjurkan dan meminta agar tenaga-tenaga yang telah di-upgradinglah yang harus berangkat ke sana.
Jika policy ini disalahgunakan, saya akan melakukan feedback terhadap tindakan itu. Perlu juga saudara ketahui bahwa apa
yang saya katakan terakhir itu bersifat off the record.
Kutipan pidato di atas, memperlihatkan bahwa pejabat yang berbicara itu tidak bergairah memakai bahasa Indonesia. Pejabat
tersebut harus dibina pemakaian bahasanya sehingga dia tidak menggunakan kata-kata asing yang sudah ada padanannya dalam
bahasa Indonesia. Jika Anda berhasil meyakinkan pejabat itu bahwa semua kata asing tersebut sudah ada padanannya dalam
bahasa Indonesia, berarti Anda telah berhasil melakukan pembinaan bahasa dengan baik.
5
3. Meningkatkan Keikutsertaan
Kegiatan pembinaan harus pula terlihat dalam kegiatan meningkatkan keikutsertaan khalayak sasaran di dalam menjaga mutu
bahasa Indonesia. Apa yang disebut dengan “mutu” bahasa itu harus dihubungkan dengan bermacam-macam persoalan, seperti
persoalan hubungan kata tabu, persoalan kependengaran yang tidak menyinggung perasaan, dan ketidaklaziman yang agak
mencolok. Kalau Anda telah menyangsikan suatu bentuk bahasa, baik kata dan frase, maupun kalimat berarti Anda telah ikut
serta menjaga mutu bahasa. Jika Anda bertanya, “Apakah bentuk frase mengejar ketinggalan sudah benar dalam bahasa
Indonesia,” maka Anda sudah membina bahasa, Anda sudah melibatkan diri dalam kegiatan pembinaan bahasa. Dengan
demikian, target mudah diukur, seberapa jauh orang bertanya tentang kebenaran kata, frase, dan kalimat. Jadi, jika orang telah
meragukan tentang bentuk-bentuk bahasa dan ingin tahu bentuk yang benar dari suatu untaian kata, frase, atau kalimat berarti
sudah terbina bahasanya dengan baik.
4. Meningkatkan Mutu Bahasa
Dalam hal ini berhubungan erat dengan menjaga mutu bahasa para pendukung bahasa. Mutu bahasa yang dimaksudkan itu
berhubungan erat dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam menggunakan bahasa Indonesia
dengan baik dan benar adalah persoalan kepantasan penempatan suatu unsur bahasa dan persoalan ketepatan kaidah yang
diterapkan pada kata, frase, dan kalimat.
3. Sasaran Umum Pembinaan Bahasa Indonesia
6
1. Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana dalam kegiatan manusia, seperti bidang kebudayaan, ilmu dan
teknologi. Kebudayaan, ilmu dan teknologi berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Perkembangan
kebudayaan, ilmu, dan teknologi itu membuat bahasa juga ikut berkembang. Selain itu, luas wilayah
pemakaian bahasa Indonesia yang tersebar di pulau pula yang secara geografis terpisahkan oleh laut
memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan di tiap-tiap daerah. Oleh karena itu, perlu diadakan upaya
pembinaan dan pengembangan bahasa yang berkesinambungan. Di dalam hasil rumusan Seminar Politik
Bahasa Nasional (1975) disebutkan bahwa yang dimaksud pembinaan adalah upaya untuk meningkatkan mutu
pemakaian bahasa. Usaha-usaha pembinaan ini mencakup upaya peningkatan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan berbahasa. Usaha pembinaan yang dilakukan, antara lain, melalui pengajaran dan
pemasyarakatan. Sedangkan, yang dimaksud dengan pengembangan adalah upaya meningkatkan mutu bahasa
agar keperluan masyarakat terpenuhi
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembinaan Bahasa Indonesia adalah tujuan, siswa,
lingkungan yang meliputi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat dan Sarana kurikulum, guru, metode, alat
pengajaran dan evaluasi.
4. Proses Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
7
1. Perencanaan
a. Perencanaan Bahasa
Tugas Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, yaitu dapat dirumuskan sebagai berikut.
1) Penelitian di bidang bahasa dan susastra mengenai bahasa bahasa Indonesia dan bahasa
Nusantara, termasuk perkamusan dan peristilahannya.
2) Pengendalian kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa dan susastra.
3) Penelitian di bidang pengajaran bahasa dan susastra mengenai bahasa Indonesia, bahasa daerah
Nusantara, dan bahasa Asing yang diajarkan di Indonesia.
4) Penelaahan hasil kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa dan susastra (Maman
Sumantri et al. 1978 via Moeliono 1981).
8
b. Sasaran Perencanaan
Sasaran perencanaan dalam garis besarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu: bahasa
yang pengembangan dan/atau pembinaannya jadi tujuan usaha dan khalayak di dalam masyarakat
yang diharapkan menerima dan memakai sasaran dan patokan yang diusulkan dan ditetapkan.
Jenis-jenis sasaran perencanaan jika dipandang dari jurusan bahasa.
1) Perencanaan pengembangan sandi bahasa di bidang pengaksaraan dan ejaan, di bidang
peristilahan, dan di bidang pemekaran ragam wacana.
2) Perencanaan pembinaan pemakaian bahasa di bidang penyuluhan dan pengajaran bahasa.
3) Perencanaan pembangkitan bahasa.
9
c. Garis Haluan dalam pelaksanaan
Sebelum garis halauan atau kebijakan ditentukan bagi taraf pelaksanaan, perlu dikenali
sejumlah faktor lain di bidang politik, kemasyarakatan, ekonomi, dan pendidikan. Perencanaan bahasa
beserta pelaksanaannya, yang diusahakan pada taraf nasional, memerlukan dukungan yang nyata dari
pihak pemerintah dan dewan perwakilan rakyat. Perencanaan bahasa sepatutnya didasari pengenalan tata
nilai yang direncanakan pengembangan dan pembinaannya, dan ganjaran yang dapat diberikan jika orang
mau menerima hasil kodifikasi dan menggunakannya dalam hidupnya setiap hari.
Keadaan ekonomi dari sudut pandangan perbedaan tingkat kelas sosial, perbedaan kawasan
yang mudah dan yang sukar dicapai oleh alat angkutan, serta perbedaan antara golongan penduduk yang
mobil dan statis akan mempengaruhi kadar lajunya tahap pelaksanaan perencanaan bahasa. Taraf
pendidikan dan tingkat keberaksaraan penduduk turut mempengaruhi corak perencanaan. Berdasarkan
identifikasi masalah dan bertumpu pada analisis data sosiolinguistik kemudian dapat ditentukan garis
halauan atau kebijakan yang akan dianut di bidang pengembangan atau pembinaan bahasa.
10
d. Rancangan alternatif dan strategi
Setelah garis halauan ditetapkan, maka disusun berbagai rancangan alternatif yang lebih konkret dan yang memerinci
sasaran dari jurusan bahasa yang khalayak yang hendak dicapai. Di samping komponen waktu, sumber daya, dan keuangan
yang harus diperkirakan, dalam rancangan itu masih ada komponen lain yang amat penting, yakni strategi. Strategi itu
menentukan urutan arus kegiatan yang menjamin atau sekurang-kurangnya dapat meramalkan, bahwa pada tahap pelaksanaan
tujuan perencanaan akan tercapai. Strategi itu juga menentukan sarana dan saluran apa yang terbaik untuk menyebarkan hasil
usaha perencanaan diantara khalayak sasaran. Setelah berbagai rancangan dan strategi itu siap disusun, barulah diambil putusan
untuk memilih salah satu di antara alternatif yang ada.
e. Pengambilan keputusan
Proses pengambilan keputusan akan ditinjau dari segi kewenangan dan dari sudut persyaratan putusan yang menyangkut
penetapan norma kebahasaan. Hal pertama yang perlu dibicarakan ialah sumber kewenangan yang diperoleh badan perencana
bahasa. Jika badan itu dibentuk berdasarkan undang-undang, maka dalam teori putusan yang diambil oleh badan itu mempunyai
kekuatan pengikut secara pasti. Agar putusan yang menyangkut masalah bahasa itu menjamin keberhasilan, Haugen (1996a) via
Moeliono (1981: 26) menyarankan tiga kriteria, yakni keefisienan, keadekuatan, dan keberterimaan.
2. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaannya dibedakan menjadi :
1) Pengembangan Sandi Bahasa
Jika pelaksanaan menyangkut pengembangan bahasa, maka kegiatannya ialah kodifikasi
norma yang dinyatakan berlaku untuk tata ejaan, tata bahasa, kosa kata, dan norma berbagai ragam
fungsional bahasa yang dipamerkan sehingga sandi bahasa itu dapat memenuhi syarat kepadanan yang
dituntut oleh berbagai jenis wacana. Bentuk kodifikasi itu berupa pernyataan eksplisit tentang norma.
Proses kodifikasi di bidang pengembangan sandi bahasa dan pemekaran ragam fungsional itu berupa
pedoman ejaan, buku tata bahasa, pedoman pembentukan istilah, berbagai jenis kamus, seperti: kamus
umum, kamus baku, kamus sinonim dan antonim, kamus geografi, kamus istilah, pedoman surat-
menyurat, dan berbagai buku pedoman ragam wacana yang berhubungan dengan dunia ilmu, jurnalistik,
kesusastraan, dan sebagainya.
12
2) Pembinaan Pemakaian Bahasa
Jika pelaksanaan itu berkenaan dengan pembinaan bahasa, maka kegiatannya ialah penyebaran hasil
kodifikasi itu di kalangan khalayak sasaran, berbagai usaha penyuluhan dan pembimbingan dalam
pemakaian bahasa yang baik dan benar.
3) Masalah “pemasaran”
Soal yang sangat penting pada tahap implementasi ini adalah pemasaran hasil kodifikasi dan
elaborasi itu. Alisjahbana (1962, 1971a) via Moeliono (1985: 28) menekankan batapa pentingnya sistem
persekolahan bagi penyebaran bahasa baku dan tentu juga penyebaran bahasa kebangsaan di dalam masyarakat
yang aneka bahasa sifatnya.
Akhir-akhir ini dapat dikatakan bahwa negeri yang sedang membangun, media massa lisan telah
mengambil alih bagian besar peranan sekolah penyalur utama hasil pengembangan dan pembinaan bahasa.
Peranan media massa menjadi lebih jelas lagi jika teori pembakuan bahasa Ray (1963) dikemukakan di sini
sebagai ilustrasi.
13
3. Penilaian
Penilaian atau evaluasi bertalian dengan pemonitoran dan penimbangan usaha
perencanaan dan hasil pelaksanaan. Termasuk juga di dalamnya pengumpulan data balikan
(feedback) mengenai perubahan bahasa yang terjadi, atau tidak terjadi, yang selanjutnya
merupakan bahan masukan baru untuk tahap perencanaan dan pelaksanaan yang berikut. Data
balikan itu dapat mewajibkan para perencana atau pengembang memodifikasi rancangannya
atau kegiatannya (Karam 1974) via Moeliono (1985: 30).
SEKIAN DAN TERIMA KASIH

Kelompok 1.pptxmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm

  • 1.
    PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA INDONESIA AbdulRahman (1551041018) Ismail Pure Langoday (1551041022) Sitti Nurmuthmainnah Isma (1951040001) Konsep Dasar Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia (Kelompok 1) PBSI A 2019
  • 2.
    1. Pengertian PembinaanBahasa Indonesia Hasil perumusan bahasa Seminar Politik Bahasa Nasional (1975) telah disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa adalah usaha dan kegiatan yang ditujukan untuk memelihara dan mengembangkan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan pengajaran bahasa asing supaya dapat memenuhi fungsi dan kedudukannya. 2 Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dilakukan meliputi usaha-usaha pembakuan agar tercapai pemakaian bahasa yang cermat, tetap dan efesien dalam komunikasi. Untuk kepentingan praktis, telah diambil sikap bahwa pembinaan terutama ditujukan kepada penuturnya, yaitu masyarakat pemakai bahasa Indonesia, dan pengembangan bahasa dalam segala aspeknya.
  • 3.
    2. Tujuan PembinaanBahasa Indonesia 3 1. Penumbuhan Sikap Sikap bahasa adalah salah satu sikap dari berbagai sikap yang mungkin ada. Sikap adalah kesiapan beraksi. Sikap adalah kesiapan mental dan saraf yang terbentuk melalui pengalaman yang memberikan arah kepada reaksi seseorang terhadap semua objek dan keadaan yang menyangkut sikap itu (Halim,1976:68). Sikap itu memiliki tiga komponen, yaitu komponen kognitif, afektif, dan perilaku. a. Komponen kognitif adalah pengetahuan kita tentang bahasa secara keseluruhan sampai dengan penggolongan serta hubungan-hubungan bahasa tersebut sebagai bahasa Indonesia, bahasa asing, atau bahasa daerah. b. Komponen afektif menyangkut perasaan atau emosi yang mewarnai atau menjiwai pengetahuan yang terdapat di dalam komponen kognitif. Komponen afektif menyangkut nilai rasa, baik atau tidak baik, suka atau tidak suka. Target yang hendak dicapai dalam kegiatan “pembinaan” bahasa yang amat penting adalah menumbuhkan sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia. Sikap positif tersebut tidak dapat diukur dengan angka-angka, tetapi dapat dilihat dalam komponen perilaku. c. Komponen perilaku terdapat nilai moral yang muncul dan berhubungan erat dengan kecenderungan berbuat atau beraksi dengan cara tertentu.
  • 4.
    4 2. Meningkatkan Kegairahan Kegiatanpembinaan juga mempunyai target dalam meningkatkan kegairahan berbahasa Indonesia. Target ini dapat diukur dengan pertanyaan, seberapa banyak seseorang itu secara konsisten bergairah memakai bahasa Indonesia? Jika seseorang telah bergairah memakai bahasa Indonesia dalam berkomunikaasi dengan orang lain, orang itu harus meningkatkan lagi kegairahannya itu dalam mempergunakan bahasa Indonesia. Contoh: Dalam suatu rapat resmi seorang pejabat menyampaikan pidatonya sebagai sambutan resmi sebagai berikut: Saudara- saudara. Seperti hal yang saya sampaikan tadi bahwa untuk mendrop beberapa spare part yang kita pesan dari luar negeri di airport sore ini, saya menganjurkan dan meminta agar tenaga-tenaga yang telah di-upgradinglah yang harus berangkat ke sana. Jika policy ini disalahgunakan, saya akan melakukan feedback terhadap tindakan itu. Perlu juga saudara ketahui bahwa apa yang saya katakan terakhir itu bersifat off the record. Kutipan pidato di atas, memperlihatkan bahwa pejabat yang berbicara itu tidak bergairah memakai bahasa Indonesia. Pejabat tersebut harus dibina pemakaian bahasanya sehingga dia tidak menggunakan kata-kata asing yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Jika Anda berhasil meyakinkan pejabat itu bahwa semua kata asing tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, berarti Anda telah berhasil melakukan pembinaan bahasa dengan baik.
  • 5.
    5 3. Meningkatkan Keikutsertaan Kegiatanpembinaan harus pula terlihat dalam kegiatan meningkatkan keikutsertaan khalayak sasaran di dalam menjaga mutu bahasa Indonesia. Apa yang disebut dengan “mutu” bahasa itu harus dihubungkan dengan bermacam-macam persoalan, seperti persoalan hubungan kata tabu, persoalan kependengaran yang tidak menyinggung perasaan, dan ketidaklaziman yang agak mencolok. Kalau Anda telah menyangsikan suatu bentuk bahasa, baik kata dan frase, maupun kalimat berarti Anda telah ikut serta menjaga mutu bahasa. Jika Anda bertanya, “Apakah bentuk frase mengejar ketinggalan sudah benar dalam bahasa Indonesia,” maka Anda sudah membina bahasa, Anda sudah melibatkan diri dalam kegiatan pembinaan bahasa. Dengan demikian, target mudah diukur, seberapa jauh orang bertanya tentang kebenaran kata, frase, dan kalimat. Jadi, jika orang telah meragukan tentang bentuk-bentuk bahasa dan ingin tahu bentuk yang benar dari suatu untaian kata, frase, atau kalimat berarti sudah terbina bahasanya dengan baik. 4. Meningkatkan Mutu Bahasa Dalam hal ini berhubungan erat dengan menjaga mutu bahasa para pendukung bahasa. Mutu bahasa yang dimaksudkan itu berhubungan erat dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah persoalan kepantasan penempatan suatu unsur bahasa dan persoalan ketepatan kaidah yang diterapkan pada kata, frase, dan kalimat.
  • 6.
    3. Sasaran UmumPembinaan Bahasa Indonesia 6 1. Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana dalam kegiatan manusia, seperti bidang kebudayaan, ilmu dan teknologi. Kebudayaan, ilmu dan teknologi berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Perkembangan kebudayaan, ilmu, dan teknologi itu membuat bahasa juga ikut berkembang. Selain itu, luas wilayah pemakaian bahasa Indonesia yang tersebar di pulau pula yang secara geografis terpisahkan oleh laut memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan di tiap-tiap daerah. Oleh karena itu, perlu diadakan upaya pembinaan dan pengembangan bahasa yang berkesinambungan. Di dalam hasil rumusan Seminar Politik Bahasa Nasional (1975) disebutkan bahwa yang dimaksud pembinaan adalah upaya untuk meningkatkan mutu pemakaian bahasa. Usaha-usaha pembinaan ini mencakup upaya peningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa. Usaha pembinaan yang dilakukan, antara lain, melalui pengajaran dan pemasyarakatan. Sedangkan, yang dimaksud dengan pengembangan adalah upaya meningkatkan mutu bahasa agar keperluan masyarakat terpenuhi Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembinaan Bahasa Indonesia adalah tujuan, siswa, lingkungan yang meliputi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat dan Sarana kurikulum, guru, metode, alat pengajaran dan evaluasi.
  • 7.
    4. Proses Pengembangandan Pembinaan Bahasa 7 1. Perencanaan a. Perencanaan Bahasa Tugas Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, yaitu dapat dirumuskan sebagai berikut. 1) Penelitian di bidang bahasa dan susastra mengenai bahasa bahasa Indonesia dan bahasa Nusantara, termasuk perkamusan dan peristilahannya. 2) Pengendalian kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa dan susastra. 3) Penelitian di bidang pengajaran bahasa dan susastra mengenai bahasa Indonesia, bahasa daerah Nusantara, dan bahasa Asing yang diajarkan di Indonesia. 4) Penelaahan hasil kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa dan susastra (Maman Sumantri et al. 1978 via Moeliono 1981).
  • 8.
    8 b. Sasaran Perencanaan Sasaranperencanaan dalam garis besarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu: bahasa yang pengembangan dan/atau pembinaannya jadi tujuan usaha dan khalayak di dalam masyarakat yang diharapkan menerima dan memakai sasaran dan patokan yang diusulkan dan ditetapkan. Jenis-jenis sasaran perencanaan jika dipandang dari jurusan bahasa. 1) Perencanaan pengembangan sandi bahasa di bidang pengaksaraan dan ejaan, di bidang peristilahan, dan di bidang pemekaran ragam wacana. 2) Perencanaan pembinaan pemakaian bahasa di bidang penyuluhan dan pengajaran bahasa. 3) Perencanaan pembangkitan bahasa.
  • 9.
    9 c. Garis Haluandalam pelaksanaan Sebelum garis halauan atau kebijakan ditentukan bagi taraf pelaksanaan, perlu dikenali sejumlah faktor lain di bidang politik, kemasyarakatan, ekonomi, dan pendidikan. Perencanaan bahasa beserta pelaksanaannya, yang diusahakan pada taraf nasional, memerlukan dukungan yang nyata dari pihak pemerintah dan dewan perwakilan rakyat. Perencanaan bahasa sepatutnya didasari pengenalan tata nilai yang direncanakan pengembangan dan pembinaannya, dan ganjaran yang dapat diberikan jika orang mau menerima hasil kodifikasi dan menggunakannya dalam hidupnya setiap hari. Keadaan ekonomi dari sudut pandangan perbedaan tingkat kelas sosial, perbedaan kawasan yang mudah dan yang sukar dicapai oleh alat angkutan, serta perbedaan antara golongan penduduk yang mobil dan statis akan mempengaruhi kadar lajunya tahap pelaksanaan perencanaan bahasa. Taraf pendidikan dan tingkat keberaksaraan penduduk turut mempengaruhi corak perencanaan. Berdasarkan identifikasi masalah dan bertumpu pada analisis data sosiolinguistik kemudian dapat ditentukan garis halauan atau kebijakan yang akan dianut di bidang pengembangan atau pembinaan bahasa.
  • 10.
    10 d. Rancangan alternatifdan strategi Setelah garis halauan ditetapkan, maka disusun berbagai rancangan alternatif yang lebih konkret dan yang memerinci sasaran dari jurusan bahasa yang khalayak yang hendak dicapai. Di samping komponen waktu, sumber daya, dan keuangan yang harus diperkirakan, dalam rancangan itu masih ada komponen lain yang amat penting, yakni strategi. Strategi itu menentukan urutan arus kegiatan yang menjamin atau sekurang-kurangnya dapat meramalkan, bahwa pada tahap pelaksanaan tujuan perencanaan akan tercapai. Strategi itu juga menentukan sarana dan saluran apa yang terbaik untuk menyebarkan hasil usaha perencanaan diantara khalayak sasaran. Setelah berbagai rancangan dan strategi itu siap disusun, barulah diambil putusan untuk memilih salah satu di antara alternatif yang ada. e. Pengambilan keputusan Proses pengambilan keputusan akan ditinjau dari segi kewenangan dan dari sudut persyaratan putusan yang menyangkut penetapan norma kebahasaan. Hal pertama yang perlu dibicarakan ialah sumber kewenangan yang diperoleh badan perencana bahasa. Jika badan itu dibentuk berdasarkan undang-undang, maka dalam teori putusan yang diambil oleh badan itu mempunyai kekuatan pengikut secara pasti. Agar putusan yang menyangkut masalah bahasa itu menjamin keberhasilan, Haugen (1996a) via Moeliono (1981: 26) menyarankan tiga kriteria, yakni keefisienan, keadekuatan, dan keberterimaan.
  • 11.
    2. Pelaksanaan Dalam pelaksanaannyadibedakan menjadi : 1) Pengembangan Sandi Bahasa Jika pelaksanaan menyangkut pengembangan bahasa, maka kegiatannya ialah kodifikasi norma yang dinyatakan berlaku untuk tata ejaan, tata bahasa, kosa kata, dan norma berbagai ragam fungsional bahasa yang dipamerkan sehingga sandi bahasa itu dapat memenuhi syarat kepadanan yang dituntut oleh berbagai jenis wacana. Bentuk kodifikasi itu berupa pernyataan eksplisit tentang norma. Proses kodifikasi di bidang pengembangan sandi bahasa dan pemekaran ragam fungsional itu berupa pedoman ejaan, buku tata bahasa, pedoman pembentukan istilah, berbagai jenis kamus, seperti: kamus umum, kamus baku, kamus sinonim dan antonim, kamus geografi, kamus istilah, pedoman surat- menyurat, dan berbagai buku pedoman ragam wacana yang berhubungan dengan dunia ilmu, jurnalistik, kesusastraan, dan sebagainya.
  • 12.
    12 2) Pembinaan PemakaianBahasa Jika pelaksanaan itu berkenaan dengan pembinaan bahasa, maka kegiatannya ialah penyebaran hasil kodifikasi itu di kalangan khalayak sasaran, berbagai usaha penyuluhan dan pembimbingan dalam pemakaian bahasa yang baik dan benar. 3) Masalah “pemasaran” Soal yang sangat penting pada tahap implementasi ini adalah pemasaran hasil kodifikasi dan elaborasi itu. Alisjahbana (1962, 1971a) via Moeliono (1985: 28) menekankan batapa pentingnya sistem persekolahan bagi penyebaran bahasa baku dan tentu juga penyebaran bahasa kebangsaan di dalam masyarakat yang aneka bahasa sifatnya. Akhir-akhir ini dapat dikatakan bahwa negeri yang sedang membangun, media massa lisan telah mengambil alih bagian besar peranan sekolah penyalur utama hasil pengembangan dan pembinaan bahasa. Peranan media massa menjadi lebih jelas lagi jika teori pembakuan bahasa Ray (1963) dikemukakan di sini sebagai ilustrasi.
  • 13.
    13 3. Penilaian Penilaian atauevaluasi bertalian dengan pemonitoran dan penimbangan usaha perencanaan dan hasil pelaksanaan. Termasuk juga di dalamnya pengumpulan data balikan (feedback) mengenai perubahan bahasa yang terjadi, atau tidak terjadi, yang selanjutnya merupakan bahan masukan baru untuk tahap perencanaan dan pelaksanaan yang berikut. Data balikan itu dapat mewajibkan para perencana atau pengembang memodifikasi rancangannya atau kegiatannya (Karam 1974) via Moeliono (1985: 30).
  • 14.